analisis rasio efisiensi keuangan kpri kuwera

advertisement
e-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Manajemen (Volume 2 Tahun 2014)
ANALISIS RASIO EFISIENSI KEUANGAN KPRI KUWERA: SEBUAH
KAJIAN DARI PERSPEKTIF MANAJEMEN KEUANGAN
Ni Kadek Santi Juliantari, I Wayan Bagia, Fridayana Yudiaatmaja
Jurusan Manajemen
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected], [email protected],
[email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh temuan deskriptif mengenai (1) penyebab
tingginya rasio efisiensi, (2) dampak tingginya rasio efisiensi terhadap kesejahteraan
anggota dan kinerja KPRI Kuwera, dan (3) Upaya yang dilakukan untuk menurunkan
rasio efisiensi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara
mendalam, dan dokumentasi yang selanjutnya dianalisis dengan analisis deskriptif
kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) penyebab tingginya rasio efisiensi
adalah: modal luar terlalu besar, beban biaya yang cukup besar, perputaran total
aktiva yang masih kurang memenuhi standar, penggunaan dana sosial sangat tinggi,
selisih antara bunga pinjaman dengan bunga tabungan kecil, dan sebesar 45% SHU
dibagikan untuk anggota, (2) tingginya rasio efisiensi tidak berdampak terhadap
kesejahteraan anggota, tetapi berdampak terhadap kinerja KPRI Kuwera, yaitu
kemampuan koperasi dalam memupuk modal sendiri akan kecil dan koperasi tidak
akan kuat berdiri, (3) upaya yang dilakukan untuk menurunkan rasio efisiensi, yaitu
meningkatkan modal sendiri, menekan biaya, memaksimalkan perputaran total
aktiva, menekan penggunaan dana sosial, menaikkan suku bunga kredit, tidak
membagikan SHU untuk beberapa tahun, meningkatkan pendapatan, menurunkan
suku bunga tabungan, dan lebih selektif dalam memberikan pinjaman.
Kata kunci: rasio efisiensi, KPRI
Abstract
This research aimed to obtain descriptive finding about (1) the caused of the high
efficiency ratio, (2) the impact of the high efficiency ratio to the welfare of the member
and KPRI Kuwera performance, and (3) efforts have to do to decrease efficiency
ratio. This research is a descriptive research with qualitative approach. This data
where collected using observation, in-depth interviews, and documentations, and it is
analysed using descriptive qualitative technique. The result of this study indicates that
(1) the cause of the high efficiency ratio are cost of capital is very high, the costs are
high, total asset turnover is out of the standards, very high use of social funds, the
interest margin is small, and SHU by 45% distributed to members, (2) high efficiency
ratio has no impact on the welfare of the members, but it is influence the performance
of KPRI Kuwera which is the ability of cooperative to cultivate their own capital and
strong cooperative will not be able to stand, (3) efforts made to lower the efficiency
ratio are increase capital, reduce costs, maximize the total asset turnover, to
decrease the use of social funds, raising interest rates, not share SHU for several
years, increasing revenue, lowering interest rate on saving and more selective in
lending.
Keywords : efficiency ratio, KPRI
e-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Manajemen (Volume 2 Tahun 2014)
PENDAHULUAN
Koperasi
Pegawai
Republik
Indonesia (KPRI) merupakan koperasi
primer yang anggotanya para pegawai
negeri sipil di Indonesia. KPRI berfungsi
sebagai wadah untuk usaha bersama dalam
rangka
meningkatkan
kesejahteraan
anggota pada khususnya dan masyarakat
sekitar pada umumnya. Keberhasilan
koperasi dalam mencapai tujuannya
tergantung dari aktivitas para anggotanya.
Oleh karena itu, agar sasaran kegiatan
pokok KPRI tercapai, maka KPRI harus
mengadakan usaha-usaha yang bertujuan
untuk membantu memenuhi kebutuhan
anggota-anggotanya secara efisien.
KPRI Kuwera Undiksha Singaraja
merupakan Koperasi Pegawai Republik
Indonesia yang beranggotakan dosen dan
pegawai dilingkungan Undiksha yang
bergerak dibidang simpan pinjam. Kinerja
KPRI Kuwera dapat diukur dengan
menggunakan rasio keuangan di antaranya
rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio
rentabilitas, dan rasio efisiensi. Adapun
standar dari keempat rasio tersebut di
antaranya rasio likuiditas 125-200%, rasio
solvabilitas 110-150%, rasio rentabilitas 810%, dan rasio efisiensi 40-60%. Realita
pada KPRI Kuwera menunjukkan bahwa
rasio efisiensi sebesar 68,94%. Hal ini
mengindikasikan bahwa rasio tersebut tidak
efisien.
Alasan kenapa tidak efisiennya rasio
ini dalam laporan keuangan tahun 2012
tidak jelas dan hasil wawancara dengan
pengurus juga belum menemukan jawaban.
Oleh karena itu, dipandang perlu dilakukan
penelitian.
Hasil penelitian ini diharapkan
memberikan manfaat berupa manfaat
praktis
dan
teoritis,
memberikan
sumbangan dalam pengembangan teori
rasio efisiensi khususnya koperasi serta
proposisi hipotesis mengenai rasio efisiensi
yang akan diuji pada penelitian berikutnya,
dan dapat memberikan solusi terhadap
tingginya rasio efisiensi KPRI Kuwera agar
bisa berada pada standar yang ditentukan.
Rasio efisiensi adalah rasio antara
hasil yang diperoleh dengan unsur
manajemen yang dipergunakan atau
perbandingan antara output dengan input
(Komarudin, 1994). Efesiensi adalah
penghematan input yang di ukur dengan
cara membandingkan input anggaran
dengan input realisasi. Efisiensi koperasi
diukur berdasarkan tercapainya tujuan dan
sistem tujuan dari berbagai pihak yang
berkepentingan terhadap koperasi (Dezhi,
2009). Senada dengan teori Halim, dkk.
(2000:72)
yang
menyatakan
bahwa
“efisiensi adalah rasio antara output dengan
input atau jumlah output per unit
dibandingkan dengan input per unit. Ukuran
efisiensi bisa dikembangkan dengan
menghubungkan
antara
biaya
yang
sesungguhnya dengan biaya standar yang
telah ditetapkan sebelumnya misalnya
anggaran.”
Biaya harus ditetapkan, diukur, dan
dialokasikan dengan tepat, lebih jauh lagi,
produksi keluaran harus berhubungan
dengan masukan yang dibuat, dan
keseluruhan efek finansial perubahan
produktivitas
harus
dikalkulasi,
agar
pengukuran efisiensi menjadi bernilai.
Perusahaan bisa memilih proses dengan
biaya
yang
paling
rendah
untuk
menghasilkan keluaran tertentu yaitu suatu
proses yang secara ekonomis paling
efisien.
Bagus,
dkk.
(2001:
13)
mengungkapkan
bahwa
manajemen
keuangan merupakan salah satu bidang
manajemen
fungsional
dalam
suatu
perusahaan, yang mempelajari tentang
penggunaan dana, memperoleh dana dan
pembagian hasil operasi perusahaan. Hal
yang sama juga dikemukakan oleh Moeljadi
(2006)
yang
berpendapat
bahwa
manajemen keuangan dapat didefinisikan
dari tugas dan tanggung jawab manajer
keuangan. Meskipun tugas dan tanggung
jawabnya berlainan di setiap perusahaan,
tugas pokok manajemen keuangan antara
lain meliputi: keputusan tentang investasi,
pembiayaan
kegiatan
usaha
dan
e-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Manajemen (Volume 2 Tahun 2014)
pembagian dividen suatu perusahaan. Di
samping itu, Martono dan Harjito (2007: 4)
juga berpendapat bahwa manajemen
keuangan merupakan segala aktivitas
perusahaan yang berhubungan dengan
METODE
Rancangan
penelitian
yang
digunakan dalam penelitian ini deskriptif
kualitatif. Dalam penelitian ini, sampel
sumber data dipilih secara purposive
sampling dan snowball sampling.
Teknik pengumpulan data dilakukan
dengan
teknik
observasi
partisipatif,
wawancara mendalam, dokumentasi, dan
DAN
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh peneliti, maka diperoleh hasil
dari faktor penyebab tingginya rasio
efisiensi, dampak tingginya rasio efisiensi,
bagaimana
memperoleh
dana,
menggunakan dana, dan mengelola asset
sesuai
tujuan
perusahaan
secara
menyeluruh.
gabungan ketiganya atau trianggulasi.
Untuk memperoleh data yang diperlukan,
maka peneliti menjadi instrumen penelitian
dalam mengumpulkan data, kemudian data
dianalisis secara deskriptif kualitatif.
HASIL
serta upaya menurunkan rasio efisiensi.
Secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 1 di
bawah
ini.
Tabel 1: penyebab, dampak, dan upaya menurunkan rasio efisiensi
Penyebab Tingginya
Rasio Efisiensi
Modal luar telalu besar
Beban biaya yang cukup besar,
di antaranya:
- biaya simpanan wajib
- RAT
- Biaya kematian
- biaya yang ditimbulkan
dari perbedaan persepsi
perhitungan pajak badan
antara
pihak
pajak
dengan pihak koperasi
Perputaran total aktiva yang
masih kurang memenuhi standar
Penggunaan dana sosial sangat
tinggi
Selisih antara bunga pinjaman
dengan bunga tabungan kecil
Dampak Tingginya Rasio
Efisiensi
Tingginya rasio efisiensi tidak
berdampak
terhadap
kesejahteraan anggota, tetapi
berdampak terhadap kinerja
KPRI Kuwera yaitu komponen
neraca akan terlihat jelek dan
pendapatan yang diperoleh oleh
koperasi
akan
berkurang,
sehingga hal tersebut akan
berdampak
terhadap
kemampuan koperasi dalam
memupuk modal sendiri akan
kecil dan koperasi tidak akan
kuat berdiri
Sebesar 45% SHU dibagikan
untuk anggota
Sumber:
Hasil
Olah
Penelitian
Upaya Menurunkan Rasio
Efisiensi
Meningkatkan modal sendiri
Menekan
biaya-biaya
di
antaranya biaya simpanan wajib,
RAT, dan menugaskan satu
pegawai
khusus
untuk
menangani pajak
Memaksimalkan perputaran total
aktiva,
meningkatkan
pendapatan
Menekan penggunaan dana
sosial
Menurunkan bunga tabungan
dan menaikkan bunga pinjaman
Lebih selektif dalam memberikan
pinjaman
Tidak membagikan SHU untuk
beberapa tahun
e-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Manajemen (Volume 2 Tahun 2014)
(1) Faktor Penyebab Tingginya Rasio
Efisiensi
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan melalui studi dokumentasi dan
wawancara maka diperoleh beberapa
penyebab tingginya rasio efisiensi yaitu
sebagai berikut.
Pertama, tingginya rasio efisiensi
KPRI Kuwera terjadi karena modal luar
terlalu besar. Modal luar yang dimaksud
adalah modal yang diperoleh dari anggota
koperasi yang berupa simpanan sukarela.
Modal luar bersifat sementara yang
merupakan hutang koperasi dimana hutang
tersebut menimbulkan beban bunga bagi
koperasi dan harus dibayarkan untuk setiap
anggota yang menyimpan dananya di
koperasi,
sehingga
dengan
adanya
pembebanan
bunga
tersebut
maka
pendapatan dari koperasi itu sendiri akan
berkurang. Penelitian ini sejalan dengan
teori Mutis (1992) yang menyatakan bahwa
efisiensi berkaitan dengan pemanfaatan
sumber daya dan dana yang biasanya
dilihat pada perbandingan pertumbuhan
simpanan sukarela dan modal sendiri
dengan pertumbuhan pinjaman, silang
pinjam atau investasi tahunan.
Kedua, tingginya rasio efisiensi
terjadi karena biaya-biaya yang ditanggung
cukup besar. Biaya yang tidak bisa ditekan
dan ditambah dengan adanya kebutuhankebutuhan yang terkadang kurang riil di
dalam mengalokasikan suatu biaya dapat
mempengaruhi tingginya rasio efisiensi.
Sementara pendapatan sudah pasti bisa
dihitung. Dengan dialokasikannya biayabiaya dalam RAT yang tujuannya yaitu
untuk kesejahteraan anggota, agar anggota
merasakan
bagaimana
manfaatnya
berkoperasi. Disitulah muncul semacam
pembebanan yang cukup tinggi, sehingga
akan mempengaruhi tingkat efisiensi.
Penelitian ini sejalan dengan teori yang
dikemukakan oleh Sugiyanto (2000) yang
menyatakan bahwa tingkat efisiensi akan
semakin tinggi atau semakin efisien jika
terdapat input yang lebih kecil dari output.
Sebaliknya, jika input lebih besar dari output
maka akan tidak efisien. Sejalan juga
dengan teori dari Halim, dkk. (2000: 72)
yang menyatakan bahwa “efisiensi adalah
rasio antara output dengan input atau
jumlah output per unit dibandingkan dengan
input per unit. Ukuran efisiensi bisa
dikembangkan dengan menghubungkan
antara biaya yang sesungguhnya dengan
biaya standar yang telah ditetapkan
sebelumnya misalnya anggaran.” Adapun
biaya-biaya yang ditanggung oleh KPRI
Kuwera
yang
merupakan
penyebab
tingginya rasio efisiensi yang pertama yaitu
biaya simpanan wajib yang merupakan
biaya yang dikeluarkan koperasi untuk
anggota yang besarnya 5% dari jumlah
simpanan wajib. Kedua, biaya Rapat
Anggota Tahunan (RAT) yang dikeluarkan
koperasi setiap tahunnya yang jumlahnya
sangat besar yaitu Rp 61.994.300,00.
Ketiga, biaya kematian yaitu biaya yang
dikeluarkan koperasi. Biaya ini merupakan
biaya yang tidak terduga yang tujuannya
untuk mengurangi risiko terjadinya hutang
tak tertagih akibat adanya kematian. Biaya
ini dialokasikan dari dana risiko, dimana
dana risiko ini merupakan modal sendiri dari
koperasi. Keempat, biaya yang ditimbulkan
dari perbedaan persepsi perhitungan pajak
badan antara pihak pajak dengan pihak
koperasi yang menimbulkan hutang bagi
koperasi
karena
adanya
kesalahan
perhitungan.
Ketiga, perputaran total aktiva yang
masih kurang memenuhi standar yang
diakibatkan oleh modal luar yang lebih
besar dari modal sendiri. Perbandingan
modal luar dengan modal sendiri yaitu
besarnya modal luar pada tahun 2012 yaitu
Rp 26.891.223.993,00, sedangkan modal
sendirinya
yaitu
sebesar
Rp
8.833.456.808,00. Perputaran total aktiva
menunjukkan
bagaimana
perusahaan
menggunakan seluruh aktivanya untuk
menciptakan penjualan dan memperoleh
laba. Dengan melihat perbandingan modal
luar dengan modal sendiri dari koperasi
tersebut sudah bisa dipastikan kalau
pendapatan yang diperoleh koperasi akan
e-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Manajemen (Volume 2 Tahun 2014)
kecil, dimana pendapatan tersebut 1,1%
dari hasil peminjaman modal sendiri dan
0,1% dari hasil peminjaman modal luar
setelah dikurangi dengan biaya bunga dari
simpanan sukarela. Besarnya modal luar
akan mempengaruhi rentabilitas dari modal
sendiri dimana yang dimaksud adalah
kemampuan
perusahaan
dalam
menghasilkan laba bersih dari modal sendiri
akan kecil. Penelitian ini sejalan dengan
teori dari Sartono (2001:120) yang
mengemukakan bahwa perputaran total
aktiva menunjukkan bagaimana efektivitas
perusahaan menggunakan keseluruhan
aktiva untuk menciptakan penjualan dan
mendapatkan laba. Tingkat perputaran ini
juga ditentukan oleh elemen aktiva itu
sendiri.
Keempat, penggunaan dana sosial
sangat tinggi. Koperasi sebagai wadah
demokrasi ekonomi juga tidak terlepas dari
kegiatan sosial. Kegiatan Sosial yang
dilakukan koperasi tentu membutuhkan
dana. Dana yang dikeluarkan untuk
kegiatan sosial pada KPRI Kuwera disebut
dengan dana sosial. Dana sosial yang
dikeluarkan oleh koperasi ini cukup tinggi
yaitu sebesar Rp 73.146.959,-. Dana sosial
ini diambil dari modal sendiri. Jadi, semakin
tinggi pengeluaran untuk kegiatan sosial
maka semakin tinggi juga pengeluaran dari
modal sendiri. Pengeluaran tersebut akan
mengakibatkan
berkurangnya
modal
sendiri.
Berkurangnya
modal sendiri
membuat koperasi membutuhkan modal
luar lebih besar untuk menalangi arus
pinjaman dari anggota koperasi, sehingga
akan mempengaruhi rentabilitas dari modal
sendiri koperasi. Penelitian ini sejalan
dengan teori Riyanto (2010: 4) yang
menyatakan bahwa
“fungsi penggunaan dana harus dilakukan
secara efisien, ini berarti bahwa setiap
rupiah dana yang tertanam dalam aktiva
harus dapat digunakan seefisien mungkin
untuk
dapat
menghasilkan
tingkat
keuntungan investasi atau rentabilitas yang
maksimal. Efisiensi penggunaan dana
secara langsung akan menentukan besar
kecilnya tingkat keuntungan yang dihasilkan
dari investasi tersebut atau rentabilitas.”
Kelima,
yang
menyebabkan
tingginya rasio efisiensi KPRI Kuwera yaitu
selisih bunga kecil, yang dimaksudkan
adalah selisih bunga antara bunga yang
diperoleh dari hasil usaha dengan bunga
yang dikeluarkan oleh koperasi untuk
membayar bunga dari simpanan sukarela
yang besarnya yaitu 1,1% berbanding 1%.
Selisih yang 0,1% ini digunakan untuk
pembiayaan segala aktivitas koperasi, maka
tidak dapat dipungkiri rasio efisiensi KPRI
Kuwera tidak efisien.
Keenam, yang merupakan faktor
terakhir yang menyebabkan tingginya rasio
efisiensi KPRI Kuwera yaitu 45% Sisa Hasil
Usaha (SHU) dibagikan untuk anggota.
SHU yang dibagikan untuk anggota cukup
besar yaitu 45% dari SHU yang diperoleh
koperasi dengan nominal sebesar Rp
366.206.767,00. Seharusnya, jika ingin
menekan pengeluaran maka SHU yang
sebesar itu bisa dipakai untuk menambah
modal sendiri sehingga kebutuhan akan
modal luar akan bisa dikurangi dan
pengeluaran yang dirimbulkan dari modal
luar yang berupa biaya bunga bisa
dikurangi juga.
(2) Dampak Tingginya Rasio Efisiensi
Terhadap Kesejahteraan Anggota
dan Kinerja Koperasi
Koperasi
di
dalam
menjalankan
usahanya tidak efisien tetapi hal ini tidak
berdampak
terhadap
kesejahteraan
anggota, karena anggota sudah merasakan
manfaat dari koperasi itu. Hal tersebut
dapat dilihat dari semakin banyaknya
anggota yang menabung yang dikarenakan
oleh bunga tabungan yang ditawarkan oleh
koperasi cukup besar yaitu sebesar 1%,
dan banyaknya anggota yang meminjam
dana yang dikarenakan oleh kecilnya bunga
pinjaman dari koperasi yaitu sebesar 1,1%.
Selain itu, SHU yang diperoleh oleh
koperasi pada tahun 2012 juga meningkat
dari Rp 813.792.815,00 menjadi Rp
1.243.996.040,00, sehingga pembagian
SHU yang diperoleh anggota pun akan
meningkat juga. Tetapi, jika dilihat dari
e-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Manajemen (Volume 2 Tahun 2014)
kinerja koperasi hal tersebut akan
berdampak negatif, karena komponen
neraca akan terlihat jelek dan pendapatan
yang diperoleh oleh koperasi akan
berkurang
yang
diakibatkan
dari
penggunaan biaya yang kurang efisien,
sehingga hal tersebut akan berdampak
terhadap kemampuan koperasi dalam
memupuk modal sendiri akan kecil dan
koperasi tidak akan kuat berdiri karena
modal luar yang besar.
(3) Upaya Menurunkan Tingginya Rasio
Efisiensi
Dalam mencegah tingginya rasio
efisiensi terjadi lagi, maka harus dilakukan
upaya dalam menurunkan rasio efisiensi
KPRI Kuwera sehingga bisa lebih efisien
sesuai dengan standar bahkan bisa
mencapai di bawah standar. adapun upaya
yang dapat dilakukan yaitu meningkatkan
modal
sendiri,
menekan
biaya,
memaksimalkan perputaran total aktiva,
menekan
penggunaan
dana
sosial,
menaikkan suku bunga kredit, tidak
membagikan SHU untuk beberapa tahun,
meningkatkan pendapatan dengan cara
menaikkan omset, menurunkan suku bunga
tabungan, dan lebih selektif dalam
memberikan pinjaman.
Dari hasil penelitian ini, diperoleh
pengembangan teori dari Abdul Halim, dkk.
(2000), yang menyatakan bahwa “efisiensi
adalah rasio antara output dengan input
atau jumlah output per unit dibandingkan
dengan input per unit. Ukuran efisiensi bisa
dikembangkan dengan menghubungkan
antara biaya yang sesungguhnya dengan
biaya standar yang telah ditetapkan
sebelumnya
misalnya
anggaran.”
Keterkaitan teori ini yaitu apabila terjadi
kegiatan di luar program kerja koperasi
yang menimbulkan biaya-biaya yang tak
terduga yang tidak sesuai dengan
anggaran, sehingga input suatu koperasi
lebih besar dari luarannya, maka koperasi
bisa
dikatakan
tidak
efisien.
jadi,
kesimpulannya apabila input lebih bessar
dari output koperasi maka koperasi tersebut
tidak efisien. Di samping itu, modal luar
yang terlalu besar, perputaran total aktiva
yang
kurang
memenuhi
standar,
penggunaan dana sosial yang tinggi, selisih
antara bunga pinjaman dengan bunga
tabungan yang kecil, dan sebesar 45% SHU
dibagikan untuk anggota, juga akan
mempengaruhi tingginya rasio efisiensi.
Adapun proposisi hipotesis yang
dihasilkan dari penelitian ini yang nantinya
dapat diuji pada penelitian berikutnya, yaitu
sebagai berikut.
1. Jika modal luar besar, maka rasio
efisiensi akan tinggi. Asumsi ini berlaku
pada saat modal sendiri lebih besar dari
pada modal luar.
2. Jika beban biaya tinggi, maka rasio
efisiensi akan tinggi. Asumsi ini berlaku
pada saat penggunaan biaya sudah
sesuai dengan standar koperasi.
3. Jika perputaran total aktiva kurang
memenuhi standar, maka rasio efisiensi
akan tinggi. Asumsi ini berlaku pada
saat perputaran total aktiva memenuhi
standar.
4. Jika penggunaan dana sosial tinggi,
maka rasio efisiensi akan tinggi. Asumsi
ini berlaku
pada saat penggunaan
biaya memenuhi standar koperasi.
5. Jika selisih antara bunga pinjaman
dengan bunga tabungan kecil, maka
rasio efisiensi akan tinggi. Asumsi ini
berlaku pada saat selisih antara bunga
pinjaman dengan bunga tabungan
besar.
6. Jika sebesar 45% SHU dibagikan untuk
anggota, maka rasio efisiensi akan
tinggi. Asumsi ini berlaku pada saat
SHU tidak dibagikan, namun digunakan
untuk
modal
sendiri.
e-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Manajemen (Volume 2 Tahun 2014)
PENUTUP
Berdasarkan analisis yang dilakukan
pada hasil penelitian, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut.
1. Penyebab tingginya rasio efisiensi
KPRI Kuwera pada tahun 2012 adalah
(a) modal luar terlalu besar, (b) biaya
yang ditanggung terlalu besar, (c)
perputaran total aktiva yang masih
kurang
memenuhi
standar,
(d)
penggunaan dana sosial sangat tinggi,
(e) Selisih antara bunga tabungan
dengan bunga pinjaman kecil, dan (f)
Sebesar 45% Sisa Hasil Usaha (SHU)
dibagikan untuk anggota.
2. Adapun dampak yang ditimbulkan dari
tingginya rasio efisiensi yaitu hal ini
tidak
berdampak
terhadap
kesejahteraan
anggota,
karena
anggota sudah merasakan manfaat
dari koperasi itu. Tetapi, jika dilihat
dari kinerja koperasi hal tersebut akan
berdampak negatif, karena komponen
neraca akan terlihat jelek dan
pendapatan yang diperoleh oleh
koperasi akan
berkurang
yang
diakibatkan dari penggunaan biaya
yang kurang efisien, sehingga hal
tersebut akan berdampak terhadap
kemampuan
koperasi
dalam
memupuk modal sendiri akan kecil
dan koperasi tidak akan kuat berdiri
karena modal luar yang besar.
3. Upaya
yang
dilakukan
untuk
menurunkan rasio efisiensi KPRI
Kuwera sesuai dengan indikasi yang
tampak adalah (1) meningkatkan
modal sendiri, (2) menekan biaya, (3)
memaksimalkan
perputaran
total
aktiva, (4) menekan penggunaan dana
sosial, (5) menaikkan suku bunga
kredit, (6) tidak membagikan SHU
untuk
beberapa
tahun,
(7)
meningkatkan pendapatan dengan
cara
manaikkan
omset,
(8)
menurunkan suku bunga tabungan,
dan
(9)
lebih
selektif
dalam
memberikan
pinjaman.
DAFTAR RUJUKAN
Bagus, Gusti, Putu Wiagustini, dan Bagus
Panji. 2001. Manajemen Keuangan.
Denpasar : Universitas Udayana.
Dezhi,
2009.
Pengertian
efisiensi
(http://dansite.wordpress.com/2009
/03/28/pengertian-efisiensi) diakses
pada tanggal 27-oktober-2012.
Halim, Abdul, Achmad, dan Fakhri. 2000.
Sistem Pengendalian Manajemen
Edisi Revisi Cetakan Pertama.
Yogyakarta: AMP YKPN.
Komarudin. 1994, Ensiklopedia Manajemen.
Jakarta : Bumi Aksara.
Martono
dan
Harjito,
Agus.
2008.
Manajemen
Keuangan.
Yogyakarta: Ekonisa.
Moeljadi. 2006. Manjemen Keuangan
Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif.
Malang : Bayumedia.
Mutis, Thoby. 1992. Pengembangan
Koperasi,
Kumpulan
Karangan.
Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia.
Riyanto, Bambang. 2010. Dasar-dasar
Pembelanjaan
Perusahaan.
Yogyakarta: BPFE.
Sartono, R. Agus. 2001. Manajemen
Keuangan
Teori
Dan
Aplikasi.
Yogyakarta: BPFE.
e-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Manajemen (Volume 2 Tahun 2014)
Sugiyanto. 2000.
Bandung:
Jurnal
Ilmiah
FMK.
Ikopin.
Download