343 PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HAK

advertisement
KNIT-2 Nusa Mandiri
ISBN: 978-602-72850-1-9
PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HAK-HAK MASYARAKAT ADAT DARI
PERSPEKTIF HUKUM NASIONAL
Nurhidayati
Pogram Studi Sekretaris, Akademi Sekretari dan Manajemen BSI
[email protected]
Abstract:
Indigenous peoples are part of the original Indonesian citizens who have lived tens of years in the home land.
The reality of indigenous peoples often experience problems in controlling the source of economic resources
which they are entitled. Within the framework of national legal recognition and protection of the rights of
indigenous peoples contained in some legislation. But until now there has been no specific legislation governing
indigenous peoples as mandated in pasal 18B UUD 1945, despite Putusan Mahkamah Konstitusi No.35 Tahun
2012 that strengthen the wording of Pasal 18B UUD1 945 To consider the decision of the Constitutional Court
Bill drafted oF Rancangan Undang-Undang Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat
(RUU PPHMA) in 2012. Until 2016 RUU PPHMA bill has not been included in the agenda of the National
Legislation Program. The study was conducted through literature, with normative juridical approach, using
secondary data. The results showed that the recognition and protection of indigenous peoples' rights of
indigenous peoples has not been reflected in the order of practical life. For it is important for the legislature to
immediately draft agenda RUU PPHMA, as mandated by the Constitution that the state shall provide protection
to all communities within the framework of NKRI.
Keywords: Indigenous Peoples, Rights of Indigenous Peoples, RUU PPHMA
PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara pluralis, terdiri
dari beraneka macam suku bangsa yang tersebar
mulai dari Sabang sampai Merauke dengan
berbagai macam adat istiadat, bahasa, kesenian,
dan kepercayaannya. Sebagian besar dari suku
bangsa tersebut hidup di daerah terpencil sebagai
komunitas adat. Saat ini terdapat 2.302 kelompok
masyarakat adat dan 70 juta warganya tersebar di
sejumlah daerah Indonesia. Masyarakat adat sudah
ada jauh sebelum kemerdekaan. Aktivitas sosial
masyarakat adat dan interaksinya dengan
lingkungan telah melembaga sehingga terbentuk
komunitas sosial yang mandiri yang memiliki
budaya sendiri seperti sistem kemasyarakatan
(sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem
hukum), bahasa, sistem kepercayaan, yang
diturunkan secara terus menerus dari generasi ke
generasi berikutnya. Perbincangan hak -hak
masyarakat adat selalu menjadi topik yang
menarik, karena sampai sekarang mereka hidup
dalam kondisi yang kurang beruntung dibanding
masyarakat yang lain dalam negara kesatuan
Republik Indonesia. Di satu sisi keberadaan
masyarakat adat sudah diakui secara konstitusi.
Bahkan jika ditelusuri antara tahun 1979 sampai
dengan 2015 terdapat 124 produk hukum daerah
yang mengatur masyarakat adat. Sebarannya 23
persen atau 28 peraturan berada pada tingkat
provinsi, sementara 77 persen berada di tingkat
kabupaten/kota. Namun produk hukum yang ada
kurang memadai. Banyak permasalahan tentang
hak-hak masyarakat adat belum mendapat
perlindungan secara maksimal.
Banyak penelitian tentang masyarakat adat, seperti
penelitian yang dilakukan oleh Ismi (2013) yaitu
tentang pengakuan hak ulayat dalam tata hukum
Indonesia berdasar UU No.5 Tahun 1960 tentang
Undang-Undang Pokok Agraria. Penelitian oleh
Erniwati dan Yusi (2015) mengenai kedudukan hak
atas tanah masyarakat hukum adat dalam
pembangunan perkebunan berdasarkan perundangundangan di Indonesia. Sedangkan penelitian
masyarakat adat oleh Hikmah (2007) adalah
tentang hak hak komunitas adat terpencil dari
perspektif hak asasi manusia. Dari ke tiga
penelitian tersebut di atas semuanya menghasilkan
kesimpulan bahwa secara konstitusi adanya
perlindungan dan pengakuan terhadap hak-hak
masyarakat adat. Namun demikian sampai sekarang
belum ada undang-undang khusus yang mengatur
tentang hak-hak masyarakat adat sebagaimana yang
diamanatkan konstitusi. Penelitian ini akan
membahas tentang kedudukan masyarakat adat
dalam Rancangan Undang-Undang Pengakuan dan
Perlindungan masyakat adat, yang sudah diajukan
sejak keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi
Nomor 35 Tahun 2012 yang diantaranya
menyatakan bahwa hutan adat adalah hutan yang
berada dalam masyarakat adat, jadi bukan hutan
negara. Putusan ini sangat penting bagi masyarakat
adat untuk bisa menguasai wilayah adatnya, yang
selama ini diambil oleh negara maupun korporasi
untuk membuka perkebunan, pertambangan, serta
pertanian. Rancangan Undang-Undang Pengakuan
dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat (RUU
PPHMA) sangat berarti bagi masyarakat adat,
karena memberi harapan bagi masyarakat adat
untuk dapat mempertahankan, memperjuangkan
343
KNIT-2 Nusa Mandiri
dan memulihkan hak-haknya yang dirampas oleh
perusahaan maupun oleh pemerintah sehingga lebih
terjamin kelangsungan hidupnya. RUU PPHMA,
akan memberi kepastian hukum bagi masyarakat
adat dalam mempertahankan tradisi dan budayanya.
Meskipun RUU PPHMA telah masuk dalam
agenda program legislasi nasional (Prolegnas) sejak
tahun 2012, sampai sekarang rancangan undangundang tersebut belum diagendakan di tahun 2016.
Belum diakomodasinya Rancangan UndangUndang Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak
Masyarakat Adat dalam Prolegnas, membuat
masyarakat adat termarjinalkan. Untuk itu sangat
penting bagi masyarakat adat berdialog dengan
pemerintah untuk kembali mendorong RUU
Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat
Adat dimasukkan dalam Program Legislasi
Nasional.
ISBN: 978-602-72850-1-9
leluhur (secara turun temurun) di wilayah geografis
tertentu, serta memiliki sistem nilai, ideologi,
ekonomi, politik, budaya, sosial dan wilayah
sendiri”.Dalam
RUU
PPHMA
angka
1
menyebutkan “masyarakat adat adalah kelompok
masyarakat yang secara turun temurun bermukim
di wilayah geografis tertentu di Negara Indonesia
karena adanya ikatan pada asal usul leluhur, adanya
hubungan yang kuat dengan tanah, wilayah dan
sumber daya alam di wilayah adatnya, serta adanya
sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi,
politik, sosial dan hukum yang berbeda, baik
sebagian maupun seluruhnya dari masyarakat pada
umumnya. Hak-Hak masyarakat adat menurut
RUU PPHMA angka 6 adalah “hak yang bersifat
asal usul yang melekat pada masyarakat adat, yang
bersumber dari tatanan politik, ekonomi, struktur
sosial dan budaya mereka, khususnya hak-hak atas
tanah, wilayah dan sumber daya alam”.
BAHAN DAN METODE
Jenis Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan pendekatan Yuridis-Normatif yaitu
dengan menelaah peraturan peraturan tentang
pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum
adat. Sumber datanya adalah data sekunder yang
dikumpulkan dari bahan hukum primer yaitu
peraturan perundang-undangan,
melalui studi
kepustakaan. Data yang diperoleh dari penelitian
dikumpulkan, disistematisasi dan dianalisis secara
kualitatif yaitu analisis yang dilakukan dengan
memahami dan mengkaji data yang telah
dikumpulkan secara sistematis sehingga diperoleh
suatu gambaran mengenai masalah atau keadaan
yang diteliti. Selanjutnya metode berpikir yang
digunakan dalam menganalisis data tersebut adalah
metode berpikir secara deduktif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Konsep Pengakuan dan Perlindungan
masyarakat adat
Pengakuan masyarakat adat menurut RUU
PPHMA adalah “pernyataan tertulis maupun tidak
tertulis atas keberadaan masyarakat adat beserta
hak-haknya yang diberikan oleh negara dan/atau
pihak-pihak lain diluar negara.
Perlindungan masyarakat adat menurut RUU
PPHMA adalah “suatu bentuk pelayanan yang
wajib diberikan oleh negara kepada masyarakat
adat dalam rangka menjamin terpenuhi hak-haknya,
agar dapat hidup tumbuh dan berkembang sebagai
satu kelompok masyarakat, berpartisipasi sesuai
dengan harkat dan martabat kemanusiannya serta
terlindungi dari tindakan diskriminasi.
2. Hak-Hak Masyarakat Adat
Menurut Kongres Masyarakat Adat Nusantara I
(Maret 1999), masyarakat adat dirumuskan sebagai
“kelompok masyarakat yang memiliki asal-usul
344
3. Pengakuan dan Perlindungan Hukum HakHak Masyarakat Adat
Sebelum Negara Indonesia berdiri masyarakat
adat sudah bermukim di Indonesia, dengan
membentuk komunitas adat. Mereka hidup di
daerah-daerah terpencil dari sabang sampai
merauke. Kriteria masyarakat hukum adat antara
lain dapat diketahui dalam UU No. 39 Tahun 2014
tentang Perkebunan yang berbunyi: “kriteria
masyarakat adat adalah adalah sekelompok orang
yang secara turun-temurun bermukim di wilayah
geografis tertentu di Negara Kesatuan Republik
Indonesia karena adanya ikatan pada asal usul
leluhur, hubungan yang kuat dengan Tanah,
wilayah, sumber daya alam yang memiliki pranata
pemerintahan adat dan tatanan hukum adat di
wilayah adatnya”. Secara hukum identitas budaya
dan hak-hak masyarakat telah diakui dalam
beberapa peraturan . Hal ini dapat dilihat dalam
beberapa peraturan antara lain:
a. Pasal 18B ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi
“Negara mengakui dan menghormati kesatuankesatuan masyarakat hukum adat beserta hakhak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan
sesuai dengan perkembangan masyarakat dan
prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia,
yang diatur dalam undang-undang”. Lebih jauh
dikemukakan lagi dalam Amandemen II UUD
45 pasal 28 I (HAM) sebagai berikut: (3)
Identitas budaya dan hak masyarakat
tradisional
dihormati
selaras
dengan
perkembangan zaman dan peradaban.
b. Undang Undang Pokok Agraria (UUPA)
Nomor 5 tahun 1960 Dasar hukum yang dapat
digunakan untuk memberikan hak pengelolaan
terhadap sumber daya hutan bagi masyarakat
hukum adat adalah Undang Undang Nomor 5
Tahun 1960 pasal 2 ayat 4 (UUPA), Hak
menguasai dari negara tersebut di atas
pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada
KNIT-2 Nusa Mandiri
c.
d.
e.
f.
g.
h.
daerah-daerah Swatantra dan masyarakatmasyarakat hukum adat, sekedar diperlukan
dan tidak bertentangan dengan kepentingan
nasional, menurut ketentuan – ketentuan
peraturan pemerintah. Dengan demikian hak
masyarakat hukum adat untuk mengelola
sumber daya hutan adalah hak yang menurut
hukum nasional bersumber dari pendelegasian
wewenang hak menguasai negara kepada
masyarakat hukum adat yang bersangkutan.
Walaupun dalam masyarakat hukum adat
diposisikan sebagai bagian subordinat dari
negara, dengan pernyataan pasal 2 ayat 4 ini
membuktikan bahwa keberadaan masyarakat
adat tetap tidak dapat dihilangkan.
Keputusan Presiden No. 111 Tahun 1999
tentang Pemberdayaan Komunitas Adat
Terpencil.
Keputusan
presiden
ini
menempatkan masyarakat hukum adat sebagai
komunitas adat terpencil untuk dijadikan
sebagai pihak yang akan menerima program
program pemberdayaan pemerintah karena
lokasi dan keadaannya dipandang terpencil.
UU No. 22 Tahun 2001 Pasal 11 ayat 3
tentang Minyak dan Gas Bumi yang berbunyi
“Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) wajib memuat paling sedikit
ketentuan-ketentuan pokok yaitu :... p.
pengembangan masyarakat sekitarnya dan
jaminan hak-hak masyarakat adat”.
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Pasal 5 ayat 3
menyebutkan :”Warga negara di daerah
terpencil atau terbelakang serta masyarakat
adat yang terpencil berhak memperoleh
pendidikan layanan khusus”.
UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi, Pasal 51 ayat 1 menyebutkan (1)
Pemohon adalah pihak yang menganggap hak
dan/atau
kewenangan
konstitusionalnya
dirugikan oleh berlakunya undang-undang,
yaitu: a. perorangan warga negara Indonesia; b.
kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang
masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang diatur dalam undangundang;
UU No. 27 Tahun 2003 tentang Panas bumi
Pasal 16 ayat 3 yang berbunyi “Kegiatan
Usaha Pertambangan Panas Bumi tidak dapat
dilaksanakan di : a. tempat pemakaman, tempat
yang dianggap suci, tempat umum, sarana dan
prasarana umum, cagar alam, cagar budaya,
serta tanah milik masyarakat adat”.
UU No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan
Pasal 12 berbunyi: (1) Dalam hal tanah yang
diperlukan untuk usaha perkebunan merupakan
tanah hak ulayat masyarakat hukum adat,
Pelaku Usaha Perkebunan harus melakukan
musyawarah dengan masyarakat hukum adat
ISBN: 978-602-72850-1-9
pemegang hak ulayat untuk memperoleh
persetujuan mengenai tanah dan imbalannya.
(2) Musyawarah dengan Masyarakat Hukum
Adat pemegang Hak Ulayat sebagaimana
dimaksud ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan.
Banyaknya undang-undang ini menunjukkan
adanya pengakuan negara/pemerintah terhadap
masyarakat adat. Sesuai dengan yang diamanatkan
dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945, maka perlu
dibentuk undang-undang khusus yang mengatur
tentang masyarakat adat. Hal ini diperkuat dengan
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUUX/2012 yang berbunyi “Undang-Undang yang
diperintahkan Pasal 18 B ayat (2) UUD 1945
hingga saat ini belum terbentuk. Oleh karena
kebutuhan yang mendesak, banyak peraturan
perundang-undangan yang lahir sebelum UndangUndang yang dimaksud terbentuk”. Namun sampai
saat ini undang-undang tersebut belum terwujud.
Putusan Mahkamah Konstitusi ini menghendaki
bahwa diperlukan sebuah undang undang khusus
mengenai masyarakat hukum adat sebagaimana
diamanatkan dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945.
Oleh karena itu, semua peraturan perundangundangan baik pada level undang-undang,
peraturan pemerintah maupun peraturan daerah
haruslah dianggap sebagai peraturan yang dibuat
untuk mengisi kekosongan undang undang khusus
tentang masyarakat hukum adat.
Dari uraian diatas walau telah terdapat cukup
banyak
peraturan
perundangan
mengenai
pengakuan dan perlindungan masyarakat adat,
namun belum cukup memadai sebagi dasar
perlindungan dan pengakuan terhadap masyarakat
adat dalam beberapa hal berikut ini:
1) Hak – hak masyarakat adat sebagai subyek
hukum
2) Tanggung jawab Pemerintah terhadap hak-hak
masyarakat adat.
3) Bentuk
Pengakuan
hukum
terhadap
keberadaan masyarakat adat.
Sebagai akibatnya masyarakat adat sangat rentan
terhadap perlakuan ketidakadilan dari pihak yang
tidak bertanggungjawab. Undang-Undang khusus
yang mengatur masyarakat adat sangat penting
sebagai dasar hukum perlindungan dan pengakuan
terhadap masyarakat adat yang sering mengalami
ketidakadilan, seperti pemaksaan pembangunan
wilayah adat tidak sesuai dengan kebutuhan
masyarakat adat, pengambilalihan hak atas tanah,
wilayah dan sumber daya alam, sehingga
menghalangi mereka untuk berdaulat, mandiri dan
bermartabat sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
4. Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak
Masyarakat Adat
dalam Rancangan
Undang-Undang
Pengakuan
dan
Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat
(RUU PPHMA).
345
KNIT-2 Nusa Mandiri
Pengaturan masyarakat adat
menurut RUU
PPHMA bertujuan mewujudkan masyarakat adat
yang sejahtera, aman, tumbuh dan berkembang
sebagai kelompok masyarakat sesuai dengan harkat
dan martabat kemanusiannya serta terlindungi dari
tindakan diskriminasi, serta mengakui dan
melindungi hak-hak masyarakat adat sebagai dasar
dalam
penyelenggaraan
pemerintahan
dan
pengembangan program pembangunan; serta
memfasilitasi masyarakat adat agar dapat
berpartisipasi dalam pembangunan.
a.
Hak-Hak Masyarakat Adat
Rancangan Undang-Undang Pengakuan dan
Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat (RUU
PPHMA) menyebutkan bahwa masyarakat adat
berkedudukan sebagai subyek hukum. Karena itu
masyarakat adat berhak untuk menikmati secara
penuh, baik secara bersama-sama atau sendirisendiri, semua hak asasi manusia dan kebebasankebebasan dasar yang melekat pada dirinya sebagai
manusia, juga melakukan perbuatan-perbuatan
hukum berkaitan dengan hak-hak mereka, termasuk
hak atas tanah, wilayah, dan sumber daya alam
yang ada di dalam wilayah adatnya. Hak-hak
tersebut adalah:
1) Hak Atas Tanah, Wilayah dan Sumber Daya
Alam
Masyarakat adat memiliki hak atas tanah, wilayah
dan sumber daya alam yang mereka miliki atau
duduki secara turun temurun dan juga tanah,
wilayah dan sumber daya alam yang berada
dipermukaan maupun di dalam tanah melalui
mekanisme lain yang sah menurut hukum adat
setempat. Hak atas tanah, wilayah dan sumber daya
alam ini
mencakup hak untuk memiliki,
menggunakan,
mengembangkan
dan
mengendalikan.
Hak atas tanah dapat bersifat komunal/kolektif dan
bersifat perseorangan sesuai dengan hukum adat
yang berlaku, dan tidak dapat dipindah tangankan
kepada pihak lain. Pemanfaatan tanah yang bersifat
komunal/kolektif dan perseorangan didalam
wilayah adat oleh pihak lain hanya dapat dilakukan
melalui mekanisme pengambilan keputusan
bersama masyarakat adat yang bersangkutan
berdasarkan hukum adat.
Masyarakat adat berhak untuk mendapatkan
restitusi dan kompensasi yang layak dan adil atas
tanah, wilayah dan sumber daya alam yang dimiliki
secara turun temurun yang diambil alih, dikuasai,
digunakan atau dirusak tanpa persetujuan bebas
tanpa paksaan dari masyarakat adat yang
bersangkutan; Mekanisme pelaksanaan restitusi dan
kompensasi tersebut akan diatur lebih lanjut
melalui Peraturan Presiden paling lama satu tahun
sejak RUU PPHMA ini diundangkan.
346
ISBN: 978-602-72850-1-9
2) Hak Atas Pembangunan
Masyarakat adat memiliki hak untuk mengakses
semua layanan publik seperti layanan pendidikan,
kesehatan, ekonomi dan layanan publik lainnya;
selain itu, masyarakat adat berhak menentukan dan
mengembangkan
sendiri
bentuk-bentuk
pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan
kebudayaan mereka.
Masyarakat adat memiliki hak untuk terlibat secara
penuh dalam program pogram pembangunan
negara mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan
dan pengawasan;serta mendapatkan informasi yang
lengkap
dan
akurat
mengenai
program
pembangunan yang ditawarkan oleh pemerintah
dan pihak-pihak lain di luar pemerintah yang akan
berdampak pada tanah, wilayah, sumber daya alam,
budaya dan sistem pemerintahan adat; selain itu
masyarakat adat berhak untuk menolak bentukbentuk pembangunan yang dinilai tidak sesuai
dengan kebutuhan dan kebudayaannya; Dan
mengusulkan bentuk-bentuk pembangunan yang
lain yang sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan
mereka.
3) Hak atas Spiritualitas dan Kebudayaan
Masyarakat
adat
berhak
menganut
dan
mempraktekkan sistem kepercayaan dan ritual yang
diwarisi
dari
leluhurnya;
termasuk
mengembangkan tradisi, adat istiadat yang meliputi
hak untuk mempertahankan, melindungi dan
mengembangkan wujud kebudayaannya di masa
lalu, sekarang dan yang akan datang, seperti situssitus arkeologi, sejarah, artefak dan upacaraupacara adat; Masyarakat adat juga memiliki hak
untuk menjaga, mengendalikan, melindungi dan
mengembangkan pengetahuan tradisional dan
kekayaan intelektual serta praktik-praktiknya
seperti teknologi, budidaya, benih, obat-obatan,
desain, permainan tradisional, seni pertunjukan,
seni visual dan kesusasteraan. Masyarakat adat juga
memiliki hak untuk membentuk media mereka
sendiri dalam bahasa-bahasa mereka sendiri, dan
memiliki akses terhadap semua bentuk media
umum tanpa diskriminasi; melalui program siaran,
penerbitan, penelitian dan pemberitaan yang
menghormati sistem nilai dan cara hidup mereka.
4) Hak atas Lingkungan Hidup
Masyarakat adat mempunyai hak atas
perlindungan lingkungan hidup; mencakup hak
untuk mendapatkan pendidikan lingkungan hidup,
akses atas informasi, dan partisipasi yang luas
terhadap pengelolaan dan perlindungan lingkungan
hidup sesuai dengan kearifan lokal mereka;
Masyarakat adat berhak untuk memastikan bahwa
tidak ada penyimpanan atau pembuangan bahanbahan berbahaya di atas tanah-tanah dan wilayahwilayah masyarakat adat tanpa persetujuan bebas,
diutamakan, diinformasikan dan tanpa paksaan dari
mereka. Masyarakat adat mempunyai hak atas
KNIT-2 Nusa Mandiri
pemulihan lingkungan hidup di wilayah adat yang
mengalami kerusakan.
5) Hak Untuk Mengurus Dirinya Sendiri
Masyarakat adat memiliki hak untuk
menentukan nasib sendiri, dan berdasarkan hak
tersebut secara bebas mengatur dan mengurus diri
sendiri dan menentukan kemajuan pembangunan
ekonomi, sosial dan budaya mereka. Masyarakat
adat mempunyai hak untuk mengurus diri sendiri
secara otonom, melalui kelembagaan adat yang
sudah ada secara turun temurun dan lembaga
lembaga baru yang disepakati pembentukannya
secara bersama untuk menangani urusan
internal/lokal didalam masyarakat adat dan urusanurusan eksternal yang berhubungan dengan
keberadaan masyarakat adat dan hak haknya;
Dalam pengurusan diri sendiri sebagaimana
dimaksud masyarakat adat mempunyai hak untuk
mendapatkan dukungan pendanaan dan sarana
prasarana yang diperlukan dari pemerintah melalui
APBN dan APBD.
Masyarakat adat, khususnya yang terbagi oleh
batas-batas internasional, memiliki hak untuk
mempertahankan dan membangun hubungan dan
kerja sama, termasuk kegiatan-kegiatan untuk
tujuan spiritual, kultural, politik, ekonomi dan
sosial,
dengan anggota-anggotanya
sendiri
sebagaimana juga dengan kelompok-kelompok
masyarakat lain di seberang perbatasan.
Masyarakat adat mempunyai hak untuk menjaga
dan memperkuat ciri-ciri mereka yang berbeda di
bidang politik, hukum, ekonomi, sosial, dan
institusi-institusi
budaya,
seraya
tetap
mempertahankan hak mereka untuk berpartisipasi
secara penuh dalam kehidupan politik, ekonomi,
sosial dan budaya negara.
6) Hak Untuk Menjalankan Hukum dan
Peradilan Adat
Masyarakat adat berhak untuk menyelenggarkan
sistem peradilan adat dalam penyelesaian sengketa
terkait dengan hak-hak adat dan pelanggaran atas
hukum adat; Selanjutnya untuk pengaturan lebih
lanjut mengenai hak untuk menjalankan hukum dan
peradilan adat akan diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
b. Tanggung Jawab Pemerintah
Tanggung jawab pemerintah adalah melakukan
pengakuan, perlindungan dan pemenuhan terhadap
hak-hak masyarakat adat. Tanggung jawab
Pemerintah mencakup: memastikan semua pihak
yang terlibat dalam penyelenggaraan pemerintahan
dan pembangunan untuk menghormati dan
melindungi keberadaan masyarakat adat beserta
hak-haknya;
memastikan partisipasi penuh
masyarakat adat dalam pembuatan kebijakan dan
perencanaan program pembangunan yang akan
dilaksanakan di wilayah-wilayah adat dan
ISBN: 978-602-72850-1-9
berdampak terhadap mereka; mencegah setiap
tindakan yang bertujuan atau akan berakibat pada
tercerabutnya masyarakat adat dari tanah, wilayah
atau sumber daya alam mereka; menyelesaikan
konflik dan sengketa yang timbul dari pelanggaran
hak-hak masyarakat adat dengan memperhatikan
hukum adat dan kebiasaan yang berlaku dalam
masyarakat adat; memberikan pendampingan dan
fasilitas lainnya kepada masyarakat adat yang
sedang
memperjuangkan
hak-haknya
di
pengadilan; mengembangkan dan melaksanakan
program program untuk memberikan pelayanan
yang efektif kepada masyarakat adat termasuk
pendidikan, kesehatan, dan program-program lain
dalam rangka meningkatkan kapasitas masyarakat
adat untuk dapat berpartisipasi penuh.
c.
Bentuk Pengakuan hukum terhadap
keberadaan masyarakat adat.
Pengakuan hukum terhadap keberadaan
masyarakat adat dan hak-haknya dilaksanakan
melalui proses identifikasi diri sendiri yang
dilakukan oleh masyarakat adat; Verifikasi
dilakukan oleh Komisi Daerah Urusan Masyarakat
Adat (Komda) yaitu badan yang secara khusus
dibentuk di tingkat daerah untuk melindungi dan
mempromosikan kepentingan dan kesejahteraan
masyarakat adat dengan memperhatikan keyakinan
mereka, kebiasaan, tradisi, dan kelembagaan
mereka yang dibentuk oleh pemerintah daerah
Pemerintah
juga
membentuk
Komnas
Masyarakat Adat baik di tingkat nasional untuk
selanjutnya disebut Komnas Masyarakat Adat dan
Komisi Daerah Urusan Masyarakat Adat di tingkat
Provinsi dan Kabupaten/Kota yang selanjutnya
disebut dengan Komda Masyarakat Adat. Fungsi
lembaga ini adalah melakukan pendataan dan
pengkajian,
konsultasi
kebijakan
dan
pengembangan
standar,
pendidikan
dan
penyuluhan, pemantauan, penyelesaian sengketa
dan konflik.
Rancangan Undang-Undang Pengakuan dan
Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat (RUU
PPHMA) sangat penting segera diwujudkan
menjadi Undang-Undang untuk melindungi hakhak masyarakat adat, mengingat permasalahan
dalam masyarakat adat sangat kompleks, mulai dari
kepemilikan atas wilayah, penguasaan sumber daya
alam, (Data dari Epistema Institute: dari 6,8 juta
hektar tanah adat, hanya 15.577 hektar luas wilayah
adat yang ditetapkan), adanya wilayah adat yang
diambil alih oleh negara dan diserahkan kepada
pihak lain (Contohnya masalah yang menimpa
Kasepuhan Banten Kidul, wilayah adatnya
dijadikan taman nasional dan arena Perhutani),
masalah sistem sosial dan agama yang berada
diluar agama yang diakui oleh negara, contohnya
pada masyarakat adat Samin (Sedulur Sikep di
Blora ) sampai akses terhadap kesehatan yang
minim, terjadi pada Orang Rimba di Jambi, yang
347
KNIT-2 Nusa Mandiri
sedang menghadapi ancaman kepunahan karena
penyempitan dan kerusakan hutan yang menjadi
ruang hidup mereka, dan menghadapi infeksi
penyakit menular khususnya hepatitis dan malaria
yang pada taraf sangat mengkuatirkan,(hasil riset
lembaga biologi molekuler Eijkman Kementrian
Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi) lain.
Dalam kenyataannya RUU PPHMA sampai
sekarang belum masuk dalam agenda Program
Legislasi Nasional 2016. Hal ini dapat
menyebabkan masyarakat adat tidak hanya rentan
kehilangan tanah dan sumber daya alam, tetapi juga
kehilangan identitas budayanya. Pemerintah
berkewajiban melindungi hak-hak masyarakat adat
seperti yang diamanatkan UUD 1945,maupun
perundang-undangan yang telah disebutkan di atas ,
tidak hanya melalui pembangunan fisik saja,tetapi
juga mencakup pengembangan nilai-nilai kearifan
lokal dan memberdayakan potensi di masyarakat
adat. Negara masih belum optimal dalam
melindungi dan melayani masyarakat adat.
KESIMPULAN
Masyarakat adat sebagai bagian dari
masyarakat Indonesia secara keseluruhan memiliki
kepentingan yang harus dihormati oleh pemerintah
atau negara. Penghormatan terhadap masyarakat
adat dilakukan dengan memberikan pengakuan dan
perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat.
Pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak
masyarakat adat secara konstitusi diatur dalam
beberapa peraturan perundang-undangan.
Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35
Tahun 2012 menghendaki dibuat undang-undang
khusus untuk mengatur masyarakat hukum adat
sebagaimana diamanatkan dalam UUD1945.
Undang-Undang khusus yang mengatur masyarakat
adat sangat penting sebagai dasar hukum
perlindungan dan pengakuan terhadap masyarakat
adat. Untuk mengakomodasi putusan Mahkamah
Konstitusi Tahun 2012 dibuatlah
Rancangan
Undang-Undang Pengakuan dan Perlindungan
Hak-Hak Masyarakat Adat (RUU PPHMA).
Namun sampai sekarang RUU PPHMA masih
menggantung, karena belum masuk dalam Program
Legislasi Nasional (Prolegnas)
Rancangan Undang-Undang Pengakuan
dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat (RUU
PPHMA) diantaranya mengatur tentang Hak
masyarakat adat Atas Tanah, Wilayah dan Sumber
Daya Alam, Hak Atas Pembangunan, Hak atas
Spiritualitas
dan
Kebudayaan,
Hak
atas
Lingkungan Hidup, Hak Untuk Mengurus Dirinya
Sendiri, Hak Untuk Mengurus Dirinya Sendiri,
selain itu juga mengatur tentang bentuk tanggung
jawab pemerintah terhadap masyarakat adat, dan
bentuk pengakuan hukum terhadap keberadaan
masyarakat adat.
348
ISBN: 978-602-72850-1-9
Perlunya dialog antara masyarakat adat dan
pemerintah untuk mendorong
Pemerintah
memasukkan
Rancangan
Undang-Undang
Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat
Adat (RUU PPHMA) dalam program Legislasi
Nasional sehingga dapat terwujud undang-undang
khusus yang mengatur masyarakat hukum adat
sebagaimana putusan Mahkamah Konstitusi.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih saya ucapkan kepada teman teman
yang membantu dan mendukung penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Erniwati dan Suryani.Jurnal Justici V0l.7 No.1
Tahun 2015, Kedudukan Hak Atas Tanah
Masyarakat Hukum Adat
Dalam
Pembangunan Perkebunan Berdasarkan
Perundang-Undangan
Di
Indonesia.
www.slideshare.net/.../jurnal-penelitianmasyarakat-ad
Hikmah, Mutiara, Karya Tulis; Hak-Hak
Komunitas Adat Terpencil Dari Perspektif
Hak Asasi Manusia.(Dipersiapkan dalam
rangka mengikuti lomba karya tulis
pemberdayaan komunitas adat terpencil
yang diselenggarakan oleh Departemen
Sosial RI). Depok 2007
Ismi, Hayatul. Jurnal Ilmu Hukum, volume 3 no.1
2013. Pengakuan Dan Perlindungan Hukum
Hak. Masyarakat Adat Atas Tanah Ulayat
Dalam Upaya Pembaharuan Hukum
Nasional,
download.
portalgaruda.org/article.php?article...val...
Indonesia. Undang-Undang Dasar 1945 yang telah
diamandemen.
Indonesia. Undang Undang Pokok Agraria (UUPA)
Nomor 5 tahun 1960.
Indonesia. UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak
dan Gas Bumi
Indonesia. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
Indonesia. UU No. 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi .
Indonesia. UU No. 27 Tahun 2003 tentang Panas
bumi.
Indonesia. UU No. 39 Tahun 2014 tentang
Perkebunan.
Indonesia. Rancangan Undang-Undang Pengakuan
dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat
Adat (RUU PPHMA).
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUUX/2012.
Keputusan Presiden No. 111 Tahun 1999 tentang
Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil.
Download