Data Kalibrasi hara K - Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo

advertisement
JURNAL AGROTEKNOS Nopember 2011
Vol. 1 No. 3. Hal 135-140
ISSN: 2087-7706
PERKEMBANGAN DAN HAMBATAN MAKAN LARVA Crocidolomia
pavonana YANG DIBERI SEDIAAN FRAKSI DIKLORMETAN KULIT
BATANG Calophyllum soulattri
Develovment Time, and Feeding Inhibity of Crocidolomia pavonana
Larvae Fed Dichloromethana Fraction of Calophyllum soulattri Bark
Preparation
EDY SYAHPUTRA1*) , DJOKO PRIJONO2)
1)Laboratorium
Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian
Universitas Tanjungpura, Jalan Ahmad Yani, Pontianak, 78124
2) Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
ABSTRACT
The objectives of this study were to evaluate the develovment time, and feeding
inhibity of Crocidolomia pavonana larvae fed dichloromethana fraction of Calophyllum
soulattri bark preparation. Fractionation of C. soulattri fraction was performed with
vaccuum liquid chromatography. Bioassay was conducted against C. pavonana larvae by
leaf-feeding method. Second-instar C. pavonana larvae were fed extract-treated broccoli
leaves for 48 haurs, then were presented with untreated leaves until the surviving larvae
reached the fourth-instar stage. The number of dead larvae was recorded. For feeding
inhibity, preparation was assayed using leaf-disc choice and no-choice test towards thirdinstar C. pavonana larvae. The results showed that dichloromethan fraction of C. soulattri
barks possessed strong insecticidal activity against C. pavonana larvae with LC50 of 0,06%.
The dichloromethan fraction at 0,06%-0,09% could prolong development time of instar II-III
larvae by 1,7-2,7 days. In choice and no-choice leaf disc methods, the dichloromethan
fraction at 0,02%-0,075% inhibited feeding of instar III larvae by 54,8%-100%. Concerning
with their potentiality, further studies are needed to identify insecticidal compounds in
those active extracts.
Keywords: Calophyllum soulattri, Crocidolomia pavonana, feeding inhibity, insecticidal activity
4
PENDAHULUAN
Penggunaan insektisida sintetik dalam
pengendalian hama merupakan kegiatan
sehari-hari yang dapat dilihat di lapangan.
Selain memiliki keunggulan penggunaan
insektisida sintetik terbukti juga memiliki
permasalahan tersendiri.
Permasalahanpermasalahan ini membangkitkan kesadaran
akan sekaligus mendasari orang mencari
pengendalian yang lebih aman. Salah satu
alternatif yang dapat dilakukan adalah
mencari sumber insektisida alami dari bahan
Alamat korespondensi:
E-mail : [email protected]
*)
alam.
Berbagai famili tumbuhan telah
diketahui memiliki bioaktivitas terhadap
serangga, di antaranya ialah Clusiaceae dan
Meliaceae.
Informasi
aktivitas
tanaman
famili
Clusiaceae lebih sedikit dibandingkan dengan
informasi aktivitas tanaman Meliaceae. Hal
tersebut menunjukkan bahwa kegiatan
penelitian tentang aktivitas jenis-jenis
tanaman tersebut belum berkembang.
Syahputra et al. (2001) melaporkan bahwa
ekstrak air Calophyllum soulattri memiliki
aktivitas
insektisida
terhadap
larva
Crocidolomia pavonana. Selanjutnya pada
percobaan lainnya disebutkan bahwa ekstrak
kulit batang yang disiapkan dengan air yang
mengandung metanol 0,75% dan diterjen
0,1% pada konsentrasi 100 g/l dapat
136
SYAHPUTRA DAN PRIJONO
menyebabkan mortalitas larva C. pavonana
hingga lebih 60%.
Selain aktif sebagai insektisida, senyawa
aktif asal tanaman dapat juga bersifat sebagai
penghambat makan (antifeedant). Senyawa
penghambat makan merupakan senyawa
sekunder tanaman yang dapat menyebabkan
pengurangan atau penghentian kegiatan
memakan serangga.
Sebagai agens
pengendalian serangga hama, penggunaan
senyawa-senyawa kimia tersebut merupakan
alternatif pengendalian yang menarik untuk
dikembangkan.
Hingga kini pengujian
aktivitas sediaan C. soulattri baru dilakukan
pada ekstrak kasar.
Dalam makalah ini
dilaporkan hasil penelitian mengenai aktivitas
fraksi aktif kulit batang C. soulattri terhadap
perkembangan larva C. pavonana serta
aktivitas hambatan makannya.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium
Fisiologi
dan
Toksikologi
(Fistok),
Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan
(HPT), Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor.
Tumbuhan Sumber Ekstrak.
Bahan
tumbuhan uji yang digunakan ialah kulit
batang Calophyllum soulattri. Bahan tanaman
diperoleh dari Kecamatan Teluk Melano,
Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan
Barat. Kulit batang yang digunakan terlebih
dahulu diblender hingga menjadi serbuk dan
diayak
menggunakan
pengayak
kasa
berjalinan 1 mm. Serbuk ayakan ditimbang
untuk keperluan ekstraksi. Kadar air bahan
yang digunakan ialah 13,4%.
Serangga Uji. Serangga uji C. pavonana
diperbanyak di Laboratorium Fisiologi dan
Toksikologi Serangga, Jurusan Hama dan
Penyakit Tumbuhan , Institut Pertanian
Bogor. Serangga uji yang digunakan dalam
pengujian ialah larva instar II.
Fraksinasi. Ekstraksi awalnya dilakukan
dengan metanol dengan metode maserasi
kemudian diuapkan dengan rotary evaporator
pada suhu 55 – 60 °C dan penghampaan pada
tekanan 580 - 600 mmHg sehingga diperoleh
ekstrak. Ekstrak metanol yang diperoleh
dipartisi dalam campuran heksana dan
metanol 95% dalam labu pemisah. Fase
metanol (lapisan pelarut bagian bawah) yang
terbentuk
ditampung
dan
diuapkan
J. AGROTEKNOS
pelarutnya. Fraksi metanol dipartisi lebih
lanjut dalam labu pemisah lainnya dalam
campuran pelarut etil asetat dan air (1:1).
Perbandingan
bobot
ekstrak
dengan
campuran pelarut 1:40 (w/v). Fase etil asetat
yang
diperoleh
selanjutnya
diuapkan
pelarutnya seperti di atas. Fraksi etil asetat
difraksinasi lebih lanjut menggunakan teknik
kromotografi vakum cair (KVC) (vaccuum
liquid chromatography).
Eluen yang
digunakan
berturut-turut
heksana,
diklorometanaa, etil asetat, dan metanol
dengan fase diam gel silika (Merck; 0,04-0,063
mm). Semua fraksi diuapkan pelarutnya dan
diuji aktivitasnya.
Metode Pengujian
Pengaruh Sediaan Kulit Batang C.
soulattri terhadap Lama Perkembangan
Larva C. pavonana. Sediaan yang digunakan
dalam
pengujian
ini
adalah
fraksi
diklorometana. Pengujian dilakukan dengan
metode residu pada daun. Sediaan diuji pada
lima taraf konsentrasi yang ditentukan melalui
uji pendahuluan. Untuk mendapatkan larutan
sediaan konsentrasi tertentu fraksi dilarutkan
dengan aseton. Sediaan dioleskan secara
merata pada setiap permukaan bundaran
daun brokoli berdiameter 3 cm menggunakan
sonde mikro (microsyringe) sebanyak 25
l/permukaan. Setelah pelarut menguap, dua
potong daun perlakuan diletakkan dalam
cawan petri berdiameter 9 cm yang dialasi
tisu. Selanjutnya ke dalam setiap cawan petri
dimasukkan 15 ekor larva instar II. Larva
kontrol diberi pakan daun yang diolesi pelarut
saja sesuai dengan pelarut sediaan yang
digunakan. Pemberian pakan daun perlakuan
dilakukan selama 48 jam, selanjutnya larva
diberi pakan daun tanpa perlakuan hingga
mencapai instar IV. Lama perkembangan
larva yang bertahan hidup dihitung
berdasarkan jumlah larva yang mati. Data
lama perkembangan dinyatakan sebagai nilai
rata-rata ± simpangan baku.
Pengaruh Sediaan Kulit Batang C.
soulattri terhadap Hambatan Makan Larva
C. pavonana. Cara perlakuan pengujian
hambatan makan dilakukan seperti pengujian
di atas. Konsentrasi fraksi diklorometana
0,02%; 0,03%; 0,05%; dan 0,075% yang
setara dengan LC15, LC50, LC85, dan LC99.
Pengujian dilaksanakan dengan metode
pilihan dan tanpa pilihan. Pada metode
Perkembangan dan Hambatan Makan Larva Crocidolomia pavonana
pilihan, empat potong daun brokoli yang
berbentuk bulat berdiameter 3 cm (terdiri
dari 2 daun perlakuan dan 2 daun kontrol)
dimasukkan secara berseling ke dalam satu
cawan petri berdiameter 9 cm yang dialasi
tisu.
Pada metode tanpa pilihan pilihan,
empat potong daun yang diberi perlakuan dan
empat potongan daun kontrol dimasukkan
dalam cawan petri yang terpisah. Pada setiap
cawan petri dimasukkan 5 ekor larva C.
pavonana instar III awal (umur 5 jam).
Sebelum perlakuan semua potongan daun
ditimbang untuk mengetahui bobot segarnya.
Sebagai faktor pengoreksi bobot basah
potongan daun perlakuan, diambil satu potong
contoh daun dari tiap helai daun yang
digunakan dan ditimbang bobot segarnya.
Potongan contoh daun tersebut dikeringkan
dalam oven pada suhu 100 oC selama 2 hari
dan ditimbang untuk mengetahui bobot kering
dan dihitung proporsinya. Hasil perkalian
proporsi dengan bobot basah daun
merupakan bobot kering awal daun terkoreksi
(BKAwD). Pemberian pakan perlakuan dan
kontrol dilakukan selama 24 jam. Sisa daun
perlakuan dan kontrol yang tertinggal
dikeringkan
dan
ditimbang
untuk
mendapatkan bobot daun yang dikonsumsi.
Persentase hambatan makan (HM) dihitung
dengan rumus:
Metode pilihan: HM (%)  ( K  KP )  100%
Metode tanpa pilihan: HM (%)  ( K  KP P )  100%
Keterangan : P dan K berturut-turut adalah
rata-rata bobot daun perlakuan dan daun
kontrol yang dimakan larva uji.
Analisis
data
hasil
percobaan
penghambatan makan metode pilihan
menggunakan uji t-berpasangan pada taraf
5%. Percobaan pengujian aktivitas hambatan
makan dengan metode tanpa pilihan disusun
dalam rancangan acak lengkap dengan lima
ulangan. Data persentase hambatan makan
dianalisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan
dengan uji selang berganda Duncan pada taraf
nyata 5% menggunakan paket program SAS.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh terhadap Lama Perkembangan
Larva C. pavonana. Perlakuan sediaan yang
diuji pada hari-hari pertama setelah perlakuan
telah menunjukkan kematian larva (Gambar 1).
137
Pada konsentrasi dua pertama tertinggi, pada
hari ketiga telah mengakibatkan mortalitas
tertinggi yakni di atas 50%. Bila dilihat pola
perkembangan mortalitas larva secara umum
dapat dikatakan bahwa mortalitas larva akibat
sediaan tinggi pada awal-awal pengamatan
dan relatif konstan pada pengamatanpengamatan berikutnya. Pola perkembangan
mortalitas ini mengindikasikan bahwa
senyawa aktif yang terkandung pada sediaan
memiliki cara kerja yang cepat dalam
menimbulkan mortalitas larva.
100
Mortalitas kumulatif (%)
Vol. 1 No.3, 2011
Kont
rol
0,02
%
0,03
%
80
60
40
20
0
1
Gambar 1
2
3
4 5 6 7 8
Hari setelah perlakuan
9
Pola perkembangan mortalitas larva C.
pavonana instar II yang diberi perlakuan
fraksi diklorometana kulit batang C.
soulattri selama 48 jam pada berbagai
konsentrasi dengan metode residu pada
daun.
Secara umum, lama perkembangan larva
yang bertahan hidup makin panjang setelah
memakan daun yang diberi perlakuan sediaan
C. soulattri (Tabel 1).
Perlakuan fraksi
diklorometana pada selang konsentrasi
0,06%-0,09% mengakibatkan perpanjangan
lama stadium larva instar II-IV selama 1,69
hingga 2,06 hari dibandingkan kontrol. Secara
umum dapat dikemukakan bahwa senyawa
aktif yang terdapat dalam sediaan C. soulattri
selain menyebabkan mortalitas larva C.
pavonana
juga
dapat
menghambat
perkembangannya.
Jika suatu serangga termakan senyawa
aktif, sebagai reaksi serangga tertentu yang
tidak tahan akan mengalami kematian,
sebaliknya serangga yang toleran akan tetap
bertahan. Bagi serangga yang toleran, sebagai
bentuk pertahanan akan menetralkan atau
mendetoksifikasi senyawa tersebut menjadi
tidak aktif atau serangga dapat beradaptasi
dengan senyawa tersebut. Dalam proses
penetralan atau adaptasi tersebut dibutuhkan
banyak energi. Energi yang digunakan untuk
detoksifikasi diperoleh dari energi yang
seharusnya
untuk
pertumbuhan
dan
perkembangan serangga. Sebagai akibatnya
138
SYAHPUTRA DAN PRIJONO
pertumbuhan serangga akan terganggu.
Beberapa jenis serangga dapat beradaptasi
dengan senyawa aktif tertentu (Farrar, 1989).
Bagi serangga yang tidak tahan senyawa
aktif tersebut sebelum akhirnya mati serangga
dapat tetap bertahan melalui pemaksimalan
pemanfaatan sumber energi di dalam
tubuhnya.
Sebagai konsekuensinya dari
keadaan ini larva akan mengalami hambatan
perkembangan.
Syahputra et al. (2004)
melaporkan
bahwa
bahwa
fraksi
diklorometana kulit batang C. soulattri pada
konsentrasi 0,03% dan 0,05% dapat
mengganggu pertumbuhan larva C. pavonana.
J. AGROTEKNOS
Fraksi tersebut dapat menekan aktivitas
enzim metabolik, invertase dan enzim
protease larva C. pavonana.
Gangguan
aktivitas enzim metabolik tersebut secara
keseluruhan sebelum akhirnya larva mati
dapat
mengakibatkan
terhambatnya
pertumbuhan larva. Untuk penggunaan di
lapangan, senyawa aktif yang yang bersifat
racun perut relatif lebih aman terhadap
musuh alami, dan hama yang tertunda
perkembangannya akan memiliki risiko yang
lebih besar untuk ditemukan oleh musuh
alaminya.
Tabel 1. Aktivitas sediaan fraksi diklorometana C. soulattri terhadap lama perkembangan larva C.
pavonana
Rata-rata lama perkembangan ± SB (hari) (N)a
Konsentrasi (%,
w/v)
Instar II
Instar II – IV
Kontrol
(90)
(90)
1,96  0,26
4,08  0,29
0,02
(85)
(83)
2,05  0,21
4,30  0,46
0,03
(90)
(82)
2,07  0,27
4,37  0,58
0,04
(72)
(69)
2,13  0,47
4,88  0,63
0,06
(47)
(22)
2,92  1,08
5,77  0,87
0,09
(11)
(7)
3,36  1,02
6,14  0,90
Keteranga: a SB: Simpangan baku. N : Jumlah larva yang bertahan hidup pada periode perkembangan
yang ditunjukkan.
Pengaruh terhadap Hambatan Makan
Larva C. pavonana.
Percobaan Pilihan.
Setelah larva uji diletakkan dalam cawan petri
yang berisi potongan daun perlakuan dan
kontrol, awalnya larva berjalan gelisah dalam
mecari potongan daun pakan. Bila larva
pertama kali menemukan pakan yang diberi
perlakuan, larva tersebut mencoba memakan
pakan dan setelah beberapa waktu larva
meninggalkan potongan pakan tersebut.
Sebaliknya larva yang sampai pada potongan
daun yang tidak diberi perlakuan, larva tetap
tinggal pada potongan daun tersebut dan
meneruskan makannya.
Sebelum makan,
larva terlebih dahulu mencicipi makanannya
untuk mendeteksi adanya zat-zat nutrisi dan
tidak adanya senyawa sekunder yang
berbahaya bagi dirinya melalui sensori yang
terdapat pada alat mulutnya seperti sensori
yang terdapat pada palpus maksila dan papila
yang terdapat pada bagian dalam labrum
(Schoonhoven 1987).
Perlakuan fraksi heksana KVC dan fraksi
diklorometana pada kisaran konsentrasi
0,02%-0,075% mengakibatkan persentase
hambatan makan yang hampir sama yakni
37,8%-100% (Tabel 2).
Perlakuan dua
konsentrasi tertinggi (0,05% dan 0,075%)
menyebabkan larva tidak memakan daun
perlakuan (HM 100%). Adanya hambatan
makan ini kemungkinan disebabkan oleh
adanya
senyawa-senyawa
asing
yang
terkandung dalam ekstrak ataupun fraksi yang
aktif sebagai penghambat makan yang
memperpendek
aktivitas
makan
atau
menghentikan aktivitas makan. Hambatan
makan yang terjadi kemungkinan juga
disebabkan oleh senyawa-senyawa yang
terdapat pada sediaan menutupi ataupun
mengacaukan sinyal-sinyal rangsangan makan
yang terdapat pada pakan.
Penerimaan
tanaman untuk pakan melibatkan sistem
syaraf pusat yang merespons berbagai faktor
yang bersifat menarik (attractant) dan
penghambat (deterrent) (Miller & Strickler,
1984).
Dalam percobaan ini komponen
penghambat yang terdapat dalam sediaan
kulit batang C. soulattri tampaknya cukup
mampu membuat larva tidak banyak makan
daun yang diberi perlakuan dengan berbagai
macam mekanismenya.
Dadang dan Ohsawa (2000) melaporkan
bahwa ekstrak biji Swietenia mahogani pada
konsentrasi 5% serta fraksi aktifnya 0,2%
Vol. 1 No.3, 2011
Perkembangan dan Hambatan Makan Larva Crocidolomia pavonana
memberikan penghambatan makan larva
Plutella xylostella di atas 98%. Charnelis et al.
(1998) melaporkan bahwa ekstrak biji
Dysoxylum mollisimum pada konsentrasi
139
0,25% dapat menghambat makan larva C.
pavonana sebesar 90,4%, sedangkan ekstrak
Aglaia elliptica pada konsentrasi 0,05%
menghambat makan larva C. pavonana >70%.
Tabel 2. Pengaruh sediaan fraksi diklorometana kulit batang C. soulattri terhadap penghambatan makan
larva C. pavonana instar III dengan metode pilihana
Rataan bobot daun yang dimakan (mg) ± SBb
Konsentrasi
HMc (%)
(%)
Perlakuan
Kontrol
0,020
14 ±
7a
31 ±
8b
37,8
0,030
10 ±
9a
27 ±
13 b
45,9
0,050
0
26 ±
9b
100
0,075
0
28 ±
13 b
100
Keterangan: a Jumlah larva yang digunakan tiap taraf konsentrasi 25 ekor. b SB: Simpangan baku, untuk
setiap konsentrasi, rataan yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut
uji t-berpasangan ( = 5%). c HM = Hambatan makan (%) = (1–P/K) x 100%
Percobaan Tanpa Pilihan. Perlakuan
fraksi tidak seluruh perlakuan dapat
menyebabkan penurunan konsumsi daun yang
diberi perlakuan (Tabel 3). Perlakuan fraksi
diklorometana menghambat makan larva uji
10,9%-57,7%.
Secara umum dapat dikatakan bahwa baik
pada kondisi dengan pilihan ataupun tanpa
pilihan,
sediaan
memiliki
aktivitas
penghambat makan yang kuat.
Hal ini
berimplikasi di lapangan bahwa larva C.
pavonana akan dapat membedakan antara
bagian tanaman yang diberi perlakuan dengan
bagian tanaman yang tidak mendapat
perlakuan.
Tabel 3. Pengaruh sediaan fraksi diklorometana
kulit batang C. soulattri terhadap
penghambatan makan larva C. pavonana
instar III dengan metode tanpa pilihan1
Konsentrasi
(%)
Kontrol
0,020
0,030
0,050
0,075
Keterangan:
Rataan bobot daun yang
HM3
dimakan (mg) ± SB2
34 ± 6 a
30 ± 5 ab
10,9
24 ± 7 b
28,5
15 ± 8 c
56,3
15 ± 7 c
57,7
1 Jumlah larva yang digunakan tiap
taraf konsentrasi 25 ekor. 2 SB :
Simpangan baku, untuk setiap
konsentrasi rataan yang diikuti huruf
yang sama tidak berbeda nyata
berdasarkan uji Duncan ( = 5%). 3
HM = Hambatan makan (%) = (1–
P/K) x 100%
Larva uji masih mengonsumsi daun yang
diberi perlakuan meskipun hanya sedikit. Hal
ini kemungkinan mengindikasikan bahwa
senyawa aktif penghambat makan larva lebih
bekerja sebagai penghambat makan primer.
Sebagai akibatnya larva uji tidak langsung
mati karena kelaparan melainkan dengan
aktivitas makan yang rendah larva masih
dapat bertahan hingga batas waktu tertentu
sebelum mati.
Bila dikaitkan dengan
pengendalian hama di lapangan keadaan ini
menguntungkan karena larva yang masih
bertahan hidup tersebut dapat dimanfaatkan
predator-predator hama sebagai makanan.
Pengendalian
serangga
hama
menggunakan
senyawa-senyawa
yang
memiliki aktivitas penghambat makan – selain
mudah terurai dan relatif tidak beracun bagi
organisme bukan sasaran –
mempunyai
beberapa kelebihan di antaranya tidak
menimbulkan resistensi (bahkan membantu
pemecahan masalah resistensi) dan memiliki
selektivitas yang tinggi.
Keunggulankeunggulan tersebut menjadikan senyawa
penghambat makan dapat digunakan dalam
pengendalian hama dan aplikasinya dapat
dipadukan dengan cara pengendalian lain
dalam PHT.
Azadirakhtin merupakan
senyawa aktif yang diisolasi dari tanaman
mimba Azadirachta indica merupakan contoh
senyawa yang memiliki aktivitas penghambat
makan terhadap berbagai jenis hama
(Schmutterer, 1995).
Meskipun hasil
penelitian tentang antifidan telah banyak
dilaporkan, namun mekanisme kerja antifidan
terhadap serangga secara pasti belum pernah
dilaporkan. Aktivitas antifidant azadirachtin
diketahui berkorelasi dengan sensitivitas
gustatory neuron dari larva Lepidoptera
(Simmonds & Blaney, 1984).
140
SYAHPUTRA DAN PRIJONO
SIMPULAN
Sediaan fraksi diklorometana kulit batang
C. soulattri dapat mengganggu perkembangan
larva C. pavonana. Sediaan fraksi tersebut
juga memiliki aktivitas antifeedant terhadap
larva. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan
untuk mengidentifikasi senyawa insektisida.
DAFTAR PUSTAKA
Dadang and K. Ohsawa. 2000. Penghambatan
aktivitas makan larva Plutella xylostella (L.)
(Lepidoptera:
Yponomeutidae)
yang
diperlakukan ekstrak biji Swietenia
mahogany Jacq. (Meliaceae). Bul. Hama
Penyakit Tumbuhan. 12:27-32.
Farrar, R.R,, J.D. Barbour and G.G. Kennedy.
1989. Quantifying food comsumtion and
growth in insects. Entomol Soc. Amer.
89:593-598.
Isman, M.B. 1995. Lead and prospects for
development of new botanical insecticides.
Rev. Pestic. Toxicol. 3:1-20.
J. AGROTEKNOS
Miller, J.R and K.L. Strickler. 1984. Finding
and accepting host plant,. Dalam W.J. Bell
and R.T. Carde (Eds.), Chemical ecology of
insects. Sunderland. P. 127-157
Simmonds, M.S.J. & W.M. Blaney. 1984. Some
neurophysiological effect of azadirachtin on
Lepidopterous larvae and their feeding
responses. Dalam H. Schumetterer, K.R.S.
Ascher (Eds). Natural pesticides from the
neem tree (Azadirachta indica A. Juss) and
other tropical plants. Proceeding of the
second international neem conference, 2528 May 1983.
Federal Republic of
Germany.
Syahputra, E., F. Rianto, D. Prijono. 2001.
Aktivitas insektisida ekstrak tumbuhan asal
Kalimantan Barat terhadap kumbang
kacang Callosobruchus maculatus (F.) dan
ulat kubis Crocidolomia binotalis Zeller. J.
Ilmu Pert. Indon. 10:8-13.
Syahputra, E., D. Prijono, Dadang, S.
Manuwoto,
L.K.
Darusman
(2004).
Aktivitas insektisida bagian tumbuhan
Calophyllum soulattri Burm. f. (Clusiaceae)
terhadap larva Lepidoptera. J. Hama &
Penyakit Tumbuhan Tropika, 4:23-31
Download