kesesuaian temuan perluasan tumor dan limfadenopati kanker

advertisement
KESESUAIAN TEMUAN PERLUASAN TUMOR DAN
LIMFADENOPATI KANKER SERVIKS STADIUM AWAL (IB
DAN IIA) BERDASARKAN COMPUTED TOMOGRAPHY SCAN
DAN HISTEREKTOMI RADIKAL
TESIS
GALUH AYU TRESWARI
0906565816
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I RADIOLOGI
JAKARTA
AGUSTUS 2013
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
KESESUAIAN TEMUAN PERLUASAN TUMOR DAN
LIMFADENOPATI KANKER SERVIKS STADIUM AWAL (IB
DAN IIA) BERDASARKAN COMPUTED TOMOGRAPHY SCAN
DAN HISTEREKTOMI RADIKAL
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Spesialis Radiologi
GALUH AYU TRESWARI
0906565816
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I RADIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS INDONESIA
JAKARTA
AGUSTUS 2013
i
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri,
dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar
Nama
: Galuh Ayu Treswari
NPM
: 0906565816
Tanda tangan :
Tanggal
: 15 Agustus 2013
ii
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
HALAMAN PENGESAHAN
Tesis ini diajukan oleh :
Nama
: dr. Galuh Ayu Treswari
NPM
: 0906565816
Program Studi
: Program Pendidikan Spesialis I Radiologi
Judul
: Kesesuaian Temuan Perluasan Tumor dan Limfadenopati
Kanker Serviks Stadium Awal (IB dan IIA) berdasarkan
Computed Tomography Scan dan Histerektomi Radikal
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai
bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Spesialis Radiologi
pada Program Pendidikan Dokter Spesialis I Radiologi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
DEWAN PENGUJI
Pembimbing : dr. Kardinah, SpRad
(
)
Pembimbing : dr. Evlina Suzana, SpPA
(
)
Pembimbing : dr. M. Soemanadi, SpOG
(
)
Pembimbing : Dr. dr. Joedo Prihartono, MPH
(
)
Penguji
: Dr. dr. Jacub Pandelaki, SpRad(K) (
)
Penguji
: dr. Rahmad Mulyadi, SpRad (K)
)
(
Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal
: 15 Agustus 2013
iii
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT karena atas berkat dan rahmatNya, sehingga tesis ini dapat terselesaikan. Penulisan tesis ini dilakukan dalam
rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Spesialis I Radiologi
di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Saya menyadari bahwa tanpa
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, sangatlah sulit bagi saya untuk
menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih
kepada :
1.
dr. Kardinah, SpRad, selaku pembimbing radiologis yang telah menyediakan
waktu, tenaga dan pikirannya untuk membantu saya menyusun tesis ini.
2.
dr. M. Soemanadi, SpOG, selaku pembimbing klinis yang telah menyediakan
waktu, tenaga dan pikirannya untuk membantu saya menyusun tesis ini.
3.
dr. Evlina Suzana, SpPA, selaku pembimbing patologi anatomi yang telah
menyediakan waktu, tenaga dan pikirannya untuk membantu saya menyusun
tesis ini.
4.
Dr. dr Joedo Prihartono, MPH, selaku pembimbing statistik yang telah
menyediakan waktu, tenaga dan pikirannya untuk membantu saya menyusun
tesis ini.
5.
dr. Rahmad Mulyadi, SpRad (K), selaku penguji pokja yang telah
memberikan arahan dan masukan yang bermanfaat dalam penyusunan tesis
ini.
6.
Dr. dr. Jacub Pandelaki, SpRad (K) selaku penguji metodologi yang telah
memberikan masukan yang bermanfaat dalam penyusunan tesis ini.
7.
dr. Vally Wulani, SpRad (K) sebagai moderator yang telah memberikan
memberikan masukan yang bermanfaat dalam penyusunan tesis ini.
8.
dr. Sawitri Darmiati, SpRad(K) sebagai Ketua Program Studi yang telah
memberi bimbingan selama saya menjalani proses pendidikan.
9.
dr. Rahmi Afifi SpRad dan Dr. dr. Arman Adel Abdullah SpRad, sebagai
pembimbing akademik yang telah memberi bimbingan selama saya menjalani
proses pendidikan.
iv
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
10. dr. Benny Zulkarnaien, SpRad (K), sebagai Kepala Departemen Radiologi
yang telah membagi ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.
11. Guru-guru saya lainnya di RSUPN Cipto Mangunkusumo, RSPAD Gatot
Subroto, RSUP Fatmawati, RSUP Persahabatan, RS Jantung Harapan Kita,
RSAB Harapan Kita dan RS Kanker Dharmais yang tidak dapat saya
sebutkan namanya satu-persatu yang telah membimbing saya selama proses
pendidikan.
12. Seluruh staf dan karyawan Departemen Radiologi RS Kanker Dharmais yang
telah membantu saya menyelesaikan tesis ini.
13. Seluruh
staf
dan
Mangunkusumo,
karyawan
RSPAD
departemen
Gatot
Subroto,
Radiologi
RSUP
RSUPN
Cipto
Fatmawati,
RSUP
Persahabatan, RS Jantung Harapan Kita, dan RSAB Harapan Kita yang telah
bekerjasama dan membantu saya dalam menjalani pendidikan.
14. Orang tua, adik, keluarga dan sahabat-sahabat saya tercinta yang telah
memberikan dukungan moral dan doa selama saya menjalani proses
pendidikan.
15. Rekan-rekan sejawat PPDS I Radiologi yang telah memberikan dukungan
selama saya menjalani pendidikan terutama rekan-rekan satu angkatan Juli
2009.
Akhir kata semoga Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak
yang telah membantu. Semoga tesis ini dapat memberikan manfaat dalam
pengembangan ilmu dan pelayanan masyarakat.
Jakarta, 15 Agustus 2013
Hormat saya,
Penulis
v
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS
AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di
bawah ini :
Nama
: dr. Galuh Ayu Treswari
NPM
: 0906565816
Program Studi
: Program Pendidikan Spesialis I Radiologi
Fakultas
: Kedokteran
Jenis karya
: Tesis
Demi pengembagan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Kesesuaian Temuan Perluasan Tumor dan Limfadenopati
Kanker Serviks Stadium Awal (IB dan IIA) berdasarkan Computed
Tomography Scan dan Histerektomi Radikal
Beserta perangkat yang ada (bila diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalih media
/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan
mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap
mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak
Cipta.
Demikian pernyatan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Jakarta
Pada tanggal : 15 Agustus 2013
Yang menyatakan,
(dr. Galuh Ayu T.)
vi
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
ABSTRAK
Nama
Program studi
Judul
: Galuh Ayu Treswari
: Radiologi
: Kesesuaian Temuan Perluasan Tumor dan Limfadenopati
Kanker Serviks Stadium Awal (IB dan IIA) berdasarkan
Computed Tomography Scan dan Histerektomi Radikal
Sistem staging klinis kanker serviks tidak selalu akurat terutama dalam
mengevaluasi invasi parametrium, dinding pelvis, metastasis kelenjar getah
bening (KGB), serta estimasi ukuran tumor. Pencitraan seperti CT-scan
bermanfaat dalam mengevaluasi hal-hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk
melihat kesesuaian perluasan tumor dan penyebaran limfatik dari kanker serviks
stadium awal berdasarkan CT-scan dibandingkan temuan patologi anatomi (PA)
post histerektomi. Dari penelitian ini didapatkan tidak adanya perbedaan
bermakna antara temuan CT-scan dan temuan PA dalam menilai metastasis KGB
regional, sehingga CT-scan bermanfaat dalam pemetaan KGB saat
limfadenektomi. Stadium IB memiliki tingkat kesesuaian terbesar antara stadium
CT-scan dengan stadium PA, sedangkan ketidaksesuaian terbesar pada stadium
IIB.
Kata kunci : Kanker serviks, limfadenopati, CT-scan
ABSTRACT
Name
Study Program
Title
: Galuh Ayu Treswari
: Radiology
: “Compatibility between the Tumor’s Expansion and the
Lymphatic Spread of the Early-stage Cervical Cancer
Based on Computed Tomography Scan and Radical
Hysterectomy”
Clinical staging system of cervical cancer not always accurate, especially in
evaluating parametrial invasion, pelvic wall, lymph node metastasis, and the
estimated size of the tumor. Imaging such as CT-scan is useful in evaluating such
matters. This study aimed to see the compatibility between the tumor’s expansion
and the lymphatic spread of the early-stage cervical cancer, by using CT-scan
compared to the histopathology results. The result showed that there was no
significant difference between the CT-scan findings and the histopathology
findings in assessing regional lymph nodes metastasis, so that CT-scan is useful in
mapping the lymph nodes when lymphadenectomy. Stage IB has the greatest level
of concordance between stage CT-scan with stage PA, while the largest
discrepancy in stage IIB.
Keyword: Cervical Cancer, Lymphadenopathy, CT-scan
vii
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………………………………….............................
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS.……………………........
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………..............
KATA PENGANTAR …………………………………………….............
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS………...........
ABSTRAK/ABSTRACT…………………………………………………….
DAFTAR ISI……………………………………………………………......
DAFTAR TABEL DAN GRAFIK…………………………………………
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………..
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………..
vi
vii
viii
x
xi
xii
1. PENDAHULUAN.......................................................................................
1.1 Latar Belakang...............................................................................
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................
1.3 Pertanyaan Penelitian.....................................................................
1.4 Hipotesis........................................................................................
1.5 Tujuan Penelitian...........................................................................
1.6 Manfaat Penelitian.........................................................................
1
1
3
3
4
4
4
2. TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................
2.1 Definisi...................................................................................
2.2 Epidemiologi..........................................................................
2.3 Anatomi.................................................................................
2.4 Patofisiologi...........................................................................
2.5 Manifestasi Klinis...................................................................
2.6 Pemeriksaan Fisik...................................................................
2.7 Diagnosis................................................................................
2.8 Histopatologis.......................................................................... 10
2.9 Pemeriksaan Radiologis............................................................
2.9.1 Ultrasonografi..........................................................
2.9.2 Pemeriksaan Barium Enema.......................................
2.9.3 CT scan abdomen/pelvis.............................................
2.9.4 MRI pelvis...............................................................
2.9.5 Pyelogram Intravena (IVP)........................................
2.9.6 PET scan..................................................................
2.9.7 Radiografi Konvensional Toraks.................................
2.10 Sistem Staging......................................................................
2.11 Standar Pelaporan..................................................................
2.12 Pemeriksaan Laboratorium.....................................................
2.13 Terapi..................................................................................
2.14 Prognosis.............................................................................
2.15 Kerangka Teori.....................................................................
2.16 Kerangka Konsep...................................................................
5
5
5
6
9
10
10
10
viii
i
ii
iii
iv
12
12
12
12
17
18
18
18
18
20
21
21
22
24
24
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
3. METODE PENELITIAN......................................................................
3.1 Desain Penelitian.......................................................................
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian.....................................................
3.3 Populasi dan Sampel.................................................................
3.4 Alur Penelitian.........................................................................
3.5 Cara Kerja...............................................................................
3.6 Batasan Operasional.................................................................
3.7 Analisis Data...........................................................................
3.8 Pertimbangan Etik...................................................................
3.9 Pendanaan..............................................................................
25
25
25
25
27
27
28
31
31
31
4. HASIL PENELITIAN...........................................................................
5. PEMBAHASAN....................................................................................
6. KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................
32
45
53
DAFTAR REFERENSI............................................................................
55
ix
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel 4.3
Tabel 4.4
Tabel 4.5
Tabel 4.6
Tabel 4.7
Tabel 4.8
Tabel 4.9
Sebaran subyek menurut karakteristik.........................................
Nilai rerata, SD dan median umur................................................
Karakteristik temuan PA post histerektomi radikal...................
Sebaran subyek menurut stadium PA..........................................
Karakteristik infiltrasi organ berdasarkan temuan CT scan....
Sebaran limfadenopati berdasarkan temuan CT scan...............
Karakteristik infiltrasi parametrium pada temuan CT scan.......
Sebaran stadium klinis, stadium CT scan, dan stadium PA.....
Kesesuaian temuan infiltrasi parametrium kriteria 3 dan 4
pada CT-scan dengan temuan PA................................................
Tabel 4.10 Kesesuaian temuan infiltrasi korpus uteri pada CT scan
dengan temuan PA..............................
Tabel 4.11 Kesesuaian metastasis KGB regional sisi kanan pada
CT scan dibandingkan temuan PA..............................................
Tabel 4.12 Kesesuaian metastasis KGB regional sisi kiri pada
CT scan dibandingkan temuan PA..............................................
Tabel 4.13 Kesesuaian stadium klinis dengan temuan infiltrasi
parametrium post histerektomi.....................................................
Tabel 4.14 Kesesuaian stadium klinis dengan temuan metastasis KGB
post histerektomi...........................................................................
Tabel 4.15 Sebaran subyek stadium CT scan dibandingkan stadium PA......
Tabel 4.16 Kesesuaian stadium CT scan dengan stadium PA
post histerektomi...........................................................................
Tabel 4.17 Kesesuaian stadium klinis dengan stadium PA.........................
Tabel 4.18 Kesesuaian temuan CT scan dengan temuan PA ...................
Tabel 4.19 Kesesuaian stadium klinis, CT scan, dan histopatologis..........
Tabel 4.20 Stadium klinis awal (IB dan IIA) yang menjadi stadium IIIB
pada stadium CT scan dan PA.....................................................
Tabel 4.21 Temuan perluasan tumor dan limfadenopati berdasarkan
CT scan dan histopatologis...........................................................
x
32
33
33
34
34
35
35
37
37
38
39
40
41
40
41
41
42
42
43
43
43
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Anatomi uterus dan serviks......................................................... 6
Gambar 2.2 Pemetaan kelenjar getah bening pelvis.................................... 8
Gambar 2.3 Potongan aksial pelvis wanita................................................... 15
Gambar 2.4 CT scan pelvis normal................................................................ 15
Gambar 2.5 CT-scan pelvis potongan aksial post kontras........................
16
Gambar 2.6 CT-scan pelvis dengan invasi parametrium bilateral...........
16
Gambar 4.1 Nilai rerata dan SD variabel umur............................................ 33
Gambar 4.2 Persentase infiltrasi organ berdasarkan stadium klinis.............. 36
Gambar 4.3 Persentase limfadenopati organ berdasarkan stadium klinis..... 36
Gambar 5.1 Obliterasi periureteral fat plane, jaringan lunak
parametrium prominen, batas serviks iregular...................... 52
Gambar 5.2 Perirektal fat batas tidak tegas, dinding rektum menebal...
52
Gambar 5.3 Infiltrasi korpus.......................................................................... 52
xi
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
: Formulir Penelitian
: Data Penelitian
: Perbandingan antara stadium klinis, stadium CT scan, dan
stadium PA post histerektomi sebagai gold standard
: Keterangan Lolos Kaji Etik
xii
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kanker serviks merupakan penyebab kedua terbesar tingkat kesakitan dan
kematian akibat kanker pada wanita dari segala usia di Indonesia setelah kanker
payudara.1 Di Amerika Serikat, kanker serviks menempati peringkat ke-4 terbesar
keganasan pada wanita.1 Setiap tahun ditemukan kurang lebih 500.000 kasus baru
kanker serviks dan tiga perempatnya terjadi di negara berkembang.1 Di Rumah
Sakit “Dharmais”, kanker serviks menempati peringkat kedua terbesar dari
seluruh kanker yang ada di rumah sakit tersebut dengan rata-rata penderitanya
berusia 40-50 tahun.2
Sistem staging klinis menurut International Federation of Gynecology and
Obstetrics (FIGO) tidak selalu akurat. Bila dibandingkan dengan penentuan
stadium post operasi terdapat kesalahan sebesar 17-32% pada stadium IB dan
sebesar 67% pada stadium II-IV. Kesulitan terbesar pada evaluasi klinis yaitu
dalam menilai invasi parametrium dan dinding pelvis, estimasi ukuran tumor, dan
dalam mengevaluasi ada tidaknya metastasis kelenjar getah bening (KGB).
Beberapa laporan yang sudah dipublikasikan menunjukkan keunggulan Computed
Tomography (CT)-scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dibanding
staging klinis.3
Kanker serviks didiagnosis berdasarkan pemeriksaan histopatologis, tetapi
pencitraan seperti CT-scan atau MRI bermanfaat dalam penentuan stadium,
mengevaluasi ukuran tumor dan perluasan tumor, menentukan ada tidaknya
metastasis kelenjar getah bening serta ada tidaknya kekambuhan.1 Penentuan
stadium akan berpengaruh terhadap prognosis dan terapi yang akan diberikan.
Berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah ada dikatakan CT-scan maupun
MRI sama-sama memiliki sensitivitas dan positive predictive value yang rendah,
tetapi memiliki negative predictive value dan spesifisitas yang tinggi. American
1
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
2
College of Radiology Imaging Network (ACRIN)4 and Gynecologic Oncology
Group (GOG)4 mengemukakan bahwa pada kanker serviks stadium awal, MRI
lebih superior dibandingkan CT-scan dalam menentukan stadium preoperatif.4
Tetapi mengingat tidak tersedianya MRI di semua rumah sakit di Indonesia dan
biaya pemeriksaan yang lebih mahal, serta masih digunakannya CT-scan
abdomen/pelvis dalam protap penentuan stadium preoperatif di Rumah Sakit
Kanker Dharmais, maka data mengenai akurasi CT-scan sangat diperlukan.
Keunggulan CT-scan yaitu untuk melihat penyebaran limfatik dan metastasis
jauh, waktu pemeriksaan yang lebih cepat, biaya yang lebih murah, resolusi
spasial lebih tinggi, dan minimalnya artefak akibat peristaltik usus.5
ACRIN5 mengemukakan bahwa CT-scan lebih akurat dalam mengevaluasi kanker
serviks stadium lanjut dibandingkan stadium awal, yaitu akurasinya sebesar 92%.5
Pada penelitian ini, peneliti ingin melihat akurasi CT-scan dalam mengevaluasi
kesesuaian antara perluasan tumor dan penyebaran limfatik dari kanker serviks
stadium awal (IB dan IIA) dibandingkan dengan hasil operasinya.
Invasi dari kanker serviks ke struktur sekitar dapat dilihat berdasarkan hasil
spesimen post bedah maupun berdasarkan hasil pencitraan.6 Penetapan stadium
oleh klinisi berdasarkan klasifikasi FIGO akan dibandingkan dengan hasil CTscan abdomen/pelvis yang kemudian dikonfirmasi dengan hasil histerektomi,
sehingga dapat diketahui adakah perbedaan yang bermakna antara hasil CT-scan
dengan hasil histerektomi. Dikarenakan penetapan stadium sangat mempengaruhi
prognosis pasien dan terapi selanjutnya, maka diharapkan hasil CT-scan
preoperatif tidak jauh berbeda dari hasil histerektomi.
Ada tidaknya metastasis KGB sangat berpengaruh terhadap stadium. Bila dari
temuan histerektomi ditemukan metastasis KGB walaupun pada stadium preoperatif menunjukkan stadium awal, maka stadiumnya akan langsung berubah
menjadi stadium IIIB dan prognosis pasien pun akan menjadi lebih buruk.
Pencitraan pre-operatif diharapkan dapat membantu dalam menentukan stadium
dengan lebih tepat.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
3
1.2 Rumusan Masalah
Perluasan kanker serviks ke struktur sekitar, dan metastasis KGB berpengaruh
dalam penentuan stadium, dan stadium kanker serviks akan menentukan prognosis
serta terapi yang akan diberikan.
Walaupun CT-scan memiliki sensitivitas dan positive predictive value yang
rendah, tetapi memiliki negative predictive value dan spesifisitas yang tinggi.3
CT-scan baik dalam mengevaluasi penyebaran limfatik dan metastasis jauh.4
Selain itu CT-scan memiliki waktu pemeriksaan yang lebih cepat, biaya lebih
murah, resolusi spasial lebih tinggi, dan minimalnya artefak akibat peristaltik
usus.5
Ada tidaknya metastasis kelenjar getah bening menentukan stadium penyakit.
Misalkan saja yang semula ditetapkan sebagai stadium awal (I atau II), bila
kemudian pada post histerektomi ditemukan adanya metastasis KGB maka
stadiumnya akan langsung berubah menjadi stadium IIIB, sehingga prognosis
pasien pun akan menjadi lebih buruk. Pencitraan pre-operatif diharapkan dapat
lebih tepat dalam menentukan stadium.
1.3 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka dibuat pertanyaan-pertanyaan
penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana kesesuaian perluasan tumor pada kanker serviks stadium awal (IB
dan IIA) berdasarkan temuan post histerektomi dibandingkan dengan temuan
CT-scan abdomen/pelvis preoperatif ?
2. Adakah pembesaran kelenjar getah bening pada kanker serviks stadium awal
(IB dan IIA) ?
3. Bila ditemukan pembesaran KGB, bagaimana kesesuaian distribusinya
berdasarkan CT-scan dibandingkan dengan temuan post histerektomi ?
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
4
1.4 Hipotesis
Terdapat kesesuaian antara temuan perluasan kanker serviks dan pembesaran
kelenjar getah bening pada CT-scan abdomen/pelvis dengan temuan post
histerektomi.
1.5 Tujuan Penelitian
1.5.1 Tujuan Umum
Mengetahui peran CT-scan abdomen/pelvis preoperatif dalam mengevaluasi
perluasan kanker serviks stadium awal ke struktur sekitar serta mengevaluasi ada
tidaknya metastasis kelenjar getah bening.
1.5.2 Tujuan khusus
Mengidentifikasi perluasan tumor ke parametrium, korpus uteri, m.obturator
interna, m. piriformis, lemak perirektal dan perivesika serta untuk melihat ada
tidaknya metastasis kelenjar getah bening pada kanker serviks stadium awal di
Rumah Sakit Kanker “Dharmais”. Kemudian dilihat tingkat kesesuaian hasil
operasi histerektomi dengan hasil pemeriksaan CT-scan preoperatif.
1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Segi pendidikan
Untuk melatih cara berpikir, menulis dan melakukan penelitian.
1.6.2 Segi pelayanan masyarakat
Mengetahui tingkat keakuratan CT-scan abdomen/pelvis preoperatif dalam
mendeteksi perluasan kanker dan metastasis kelenjar getah bening pada
kanker serviks stadium awal.
1.6.3 Segi pengembangan penelitian
Penelitian ini dapat menjadi acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Kanker serviks merupakan tumor ganas primer di serviks (daerah yang
menghubungkan uterus dan vagina) akibat metaplasia epitel di daerah
squamocolumnar junction (daerah peralihan mukosa vagina dan mukosa kanalis
servikalis).7 Kanker serviks hampir selalu disebabkan oleh infeksi Human
Papilloma Virus (HPV).8 Pada tipe karsinoma sel skuamosa, sel ganas berasal dari
sel skuamosa yang berada di permukaan ektoserviks (bagian serviks yang dekat
dengan vagina), sedangkan sel ganas pada tipe adenokarsinoma berasal dari sel
yang memproduksi mukus yang berada di permukaan endoserviks (bagian serviks
yang dekat dengan korpus uteri).9
2.2 Epidemiologi Kanker Serviks
Setiap tahun ditemukan kurang lebih 500.000 kasus baru kanker serviks dan tiga
perempatnya terjadi di negara berkembang. Rata-rata penderita kanker serviks
berusia 40-50 tahun. Di Indonesia terutama di RS Kanker Dharmais, kanker
serviks menempati peringkat kedua terbesar keganasan pada wanita dari segala
usia setelah kanker payudara.1,2
Beberapa penelitian epidemiologis mengidentifikasi beberapa faktor risiko dari
kanker serviks yang mencakup aktivitas seksual pada usia muda (<16 tahun)
terutama dengan beberapa pasangan, kebiasaan merokok, daya tahan tubuh yang
rendah, riwayat kanker dalam keluarga, dan infeksi Human Papilloma Virus
(HPV). Tipe HPV yang paling sering menyebabkan kanker serviks yaitu HPV-16
dan HPV-18. Kanker serviks dapat dicegah dengan menghindari seks sebelum
menikah, rutin menjalani tes pap smear secara teratur, atau dengan vaksinasi
HPV.10
5
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
6
Jenis histopatologis yang paling sering ditemukan yaitu karsinoma sel skuamosa
(95-97%), kemudian adenokarsinoma, clear cell carcinoma, dan yang paling
jarang sarkoma.11
Berdasarkan penelitian yang pernah ada, ditemukan bahwa pada stadium IB1
dapat dijumpai keterlibatan KGB positif sebanyak 33,3% kasus, pada stadium IB2
dijumpai keterlibatan KGB sebanyak 58,3% kasus, sedangkan pada stadium IIA
dijumpai keterlibatan KGB positif sebanyak 66,6% kasus.12
2.3 Anatomi
Gambar 2.1 Anatomi uterus dan serviks 13,14
Serviks merupakan organ yang menghubungkan uterus dan vagina.9 Serviks
panjangnya 3-4 cm dan berdiameter 2,5 cm, tetapi ukuran dan bentuknya dapat
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
7
bervariasi sesuai dengan usia, parietas dan status menstruasi.14 Pada wanita hamil
ukuran serviks lebih besar.15 Di sekitar serviks terdapat ligamentum kardinale dan
uterosakral, yang membentang antara bagian lateral dan posterior dari serviks dan
dinding pelvis.14 Serviks dibagi oleh vagina menjadi regio supravagina dan portio
vaginalis. Ektoserviks merupakan bagian serviks yang dekat dengan vagina
sedangkan endoserviks merupakan bagian serviks yang dekat dengan korpus
uteri.10
Vagina dibatasi oleh vulva di bagian eksternanya dan serviks uteri di bagian
internanya. Vagina terletak di anterior dari rektum dan posterior dari buli. Vagina
mendapatkan vaskularisasi dari arteri vaginalis, yang merupakan cabang anterior
dari a. iliaka interna. Drainase limfatik dari vagina menuju ke kelenjar getah
bening iliaka eksterna, iliaka interna dan komunis, dan kelenjar getah bening
inguinal superfisial.13
Vagina dilapisi oleh epitel skuamosa berstratifikasi yang bertemu dengan epitel
kolumnar dari canalis endoservikal pada pertemuan skuamosa-kolumnar.10
Hampir seluruh manifestasi kanker serviks terjadi di zona pertemuan skuamosakolumnar ini.14 Zona pertemuan skuamosa-kolumnar terletak di ektoserviks pada
usia muda dan semakin berpindah ke arah kanalis endoservikal mulai usia 35
tahun ke atas.10 Kanalis endoservikal ukurannya bervariasi tergantung usia dan
status hormonal.14
Uterus terletak antara buli dan rektum. Area pendek konstriksi di segmen bawah
uterus disebut isthmus, sedangkan puncaknya disebut fundus yang paling banyak
mengandung jaringan otot. Ukuran normal uterus tergantung pada kehamilan
sebelumnya dan status hormonal masing-masing individu. Uterus pada nullipara
berukuran panjang 8 cm, lebar 5 cm, tebal 2,5 cm. Sedangkan pada pasien
multipara ukurannya lebih besar 1,2 cm dibandingkan nullipara. Setelah
menopause uterus akan atrofi.14 Korpus dan serviks uteri dihubungkan oleh
isthmus uteri. Ukuran isthmus pada wanita yang tidak hamil yaitu 1 cm.13
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
8
Uterus dihubungkan dengan struktur sekitarnya melalui ligamentum dan jaringan
penyambung. Broad ligament menghubungkan uterus dengan dinding lateral
pelvis. Sedangkan round ligament menghubungkan uterus dengan dinding
abdomen anterolateral. Di dalam round ligament terdapat arteri Sampson yang
harus diligasi saat histerektomi.13
Serviks uteri dan uterus mendapatkan vaskularisasi dari cabang descendens a.
uterina, yang merupakan cabang dari arteri iliaka interna. Cabang descendens a.
uterina berjalan di lateral dari serviks arah jam 3 dan 9.14,16 Vena dari serviks
berjalan paralel dengan arteri dan menuju ke pleksus vena hipogastrikus.14
Terdapat tiga rute aliran limfe dari serviks uteri sebagai rute penyebarannya. Rute
pertama yaitu rute lateral di sepanjang pembuluh darah iliaka eksterna; rute kedua
(hipogastrika) di sepanjang pembuluh darah iliaka interna; dan rute presakral
sepanjang ligamentum uterosakral. Ketiga rute ini berakhir di sepanjang
pembuluh darah iliaka komunis, yang kemudian dapat melibatkan kelenjar getah
bening paraorta.5 Penyebaran tersering yaitu melalui rute lateral. Kelenjar limfe
obturator dapat menjadi sentinel lymph node dari kanker serviks. Insidens
metastasis kelenjar limfe pelvik pada stadium IB dan IIA sebanyak 11.5% dan
26.7%.17
D
C
B
A
Gambar 2.2 Pemetaan kelenjar getah bening pelvis. A). Nodul parametrium; B). Nodul sepanjang
a. iliaka komunis dan a. iliaka eksterna; C). Nodul presakral; D). Nodul para-aorta.18
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
9
Parametrium merupakan jaringan ikat di antara broad ligament. Sisi medial
berbatasan dengan uterus, serviks, dan proksimal vagina. Sisi lateral berbatasan
dengan fascia ekstraperitoneal di sekitar dinding pelvis. Sisi inferior berbatasan
dengan ligamentum kardinale.5
Ovarium ukurannya kecil dan berbentuk oval. Ukurannya bergantung pada usia
dan status hormonal. Ligamentum ovarian menghubungkan uterus dan ovarium.
Ligamentum pelvik infundibular menghubungkan ovarium dengan dinding pelvis.
Ovarium mendapatkan vaskularisasi dari arteri ovarian yang merupakan cabang
langsung dari aorta descending pada level vertebrae L2.13
2.4 Patofisiologi
Kanker serviks ditandai dengan ditemukannya sel atipikal dari serviks, yang
berkembang menjadi kanker in situ dan kemudian menjadi kanker invasif. Sel
atipikal berbeda dengan epitel skuamosa servikal normal dimana terjadi
perubahan bagian sitoplasma dan inti dari sel, ukuran serta bentuk selnya lebih
bervariasi (displasia).19
Kanker serviks dapat dibagi menjadi lesi preinvasif (sebelum menembus
membran basal) dan lesi invasif. Invasif karsinoma tampak sebagai sebagai tumor
yang menonjol, ulseratif, atau infiltratif. Kanker serviks menyebar melalui
perluasan langsung terhadap struktur di dekatnya (korpus uteri, vagina,
parametrium, rektum, dan vesika urinaria) atau melalui sistem limfatik ke kelenjar
regional dan jarang melalui hematogen. 10
Metastasis KGB biasanya pertama kali melibatkan kelenjar getah bening
parametrium, sepanjang arteri iliaka interna dan eksterna, kemudian menyebar ke
kelenjar getah bening sekunder presakral, sepanjang arteri iliaka komunis, dan
kelenjar getah bening para-aorta. Yang kemudian dapat menyebar ke kelenjar
getah bening ekstra abdominal, misalkan ke kelenjar limfe supraklavikula.18
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
10
2.5 Manifestasi Klinis
Gejala klinis kanker serviks biasanya berupa perdarahan pervaginal dengan
frekuensi yang lebih sering dan tidak berhubungan dengan siklus menstruasi
normal; perdarahan setelah koitus; sekret vagina yang berair, purulen, atau
berbau.1 Lebih dari 60% kanker serviks pada stadium dini tidak menimbulkan
gejala, sedangkan pada stadium lanjut dapat berupa pengeluaran sekret vagina
yang kuning dan berbau, nyeri hebat dan penurunan berat badan. 20
2.6 Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan dalam pelvis, pemeriksaan rektal
digital (DRE) untuk merasakan adanya benjolan atau penebalan dari vagina,
meraba ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening di inguinal dan di atas
tulang selangka.21 Dapat pula dilakukan kolposkopi untuk melihat permukaan
serviks dengan lebih jelas. Jika pada serviks terlihat area tidak normal maka
dilakukan biopsi. Kemudian sampel dikirim ke ahli patologi untuk dilihat secara
mikroskopis.22
2.7 Diagnosis
Diagnosis dapat diperoleh berdasarkan Papanicolau smear, kolposkopi, dan
biopsi. Bila pada screening dengan pap smear ditemukan sel atipikal, maka harus
dilakukan follow-up pap test tiap 3-6 bulan. Sedangkan bila tidak ditemukan
kelainan, pap smear sebaiknya dilakukan setiap 2 tahun. Bila ditemukan lesi
mencurigakan maka diperlukan pemeriksaan biopsi. Pemeriksaan histopatologis
merupakan baku emas dalam menentukan diagnosis kanker serviks.19
2.8 Histopatologis
Ada dua tipe utama histopatologis kanker serviks yaitu karsinoma sel skuamosa
(±90%) dan adenokarsinoma (5%).5,23 Tipe karsinoma sel skuamosa berasal dari
sel skuamosa yang berada di permukaan ektoserviks. Sedangkan
tipe
adenokarsinoma berasal dari sel yang memproduksi mukus, yang berada di
permukaan endoserviks. 9
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
11
Adenokarsinoma jarang ditemukan dan tidak jarang dua atau lebih tipe
histopatologis adenokarsinoma terdapat dalam satu tumor. Jenis adenokarsinoma
yang paling sering ditemukan di serviks adalah adenokarsinoma musinosa tipe
endoserviks. Tiga derajat karsinoma endoserviks yaitu yang berdiferensiasi baik,
berdiferensiasi sedang dan berdiferensiasi buruk tergantung pada kesamaan dari
sel tumor pada lapisan epitel kelenjar endoserviks. 24
Tipe histologi kanker serviks berdasarkan klasifikasi WHO : 24


Karsinoma sel skuamosa (karsinoma epidermoid)
o
Keratinizing (berdiferensiasi baik dan sedang)
o
Non keratinizing (tipe sel besar dan kecil)
o
Karsinoma sel spindel
Adenokarsinoma endoservikal
o
Variasi : adenoma malignum
o
Variasi : villoglandular papillary adenocarcinoma

Adenokarsinoma endometrioid

Clear cell adenocarcinoma

Adenokarsinoma serosa

Adenokarsinoma mesonefrik

Adenokarsinoma tipe intestinal (signet ring)

Tumor epitelial lain
o
Adenosquamous carcinoma
o
Adenoid cystic carcinoma

Small cell carcinoma

Undifferentiated carcinoma

Tumor metastasis (payudara, ovarium, kolon, dan penyebaran langsung
endometrial carcinoma)
Berdasarkan keterlibatan dari epitelial serviks, Cervical Intraepitelial Neoplasia
(CIN) terbagi menjadi beberapa grading. Grade 1, melibatkan 1/3 dari lapisan
epitelial. Grade 2, melibatkan 1/3 – 2/3 lapisan epitelial, sedangkan grade 3
melibatkan 2/3 – seluruh tebal lapisan epitelial.19
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
12
Fasilitas lain yang dapat membantu untuk diagnosis dan perencanaan terapi
termasuk CT-scan, CT-guided aspirasi kelenjar getah bening, MRI, Positron
Emission Tomograghy (PET) scan, hitung jumlah darah, profil kimia serum, dan
urinalisis.25
2. 9 Pemeriksaan Radiologis
2.9.1 Ultrasonografi (USG)
Terlihat
sebagai
massa
hipoekoik
yang
melibatkan
serviks.17,26 USG
transabdominal dapat digunakan untuk melihat ada tidaknya hidronefrosis, tetapi
di luar itu modalitas ini terbatas peranannya dalam penentuan stadium kanker
serviks. Sonografi transvaginal digunakan untuk mengevaluasi perluasan lokal
dari tumor tetapi tidak adekuat untuk mendeteksi keterlibatan dinding pelvis.
Sonografi endorektal digunakan untuk melihat keterlibatan parametrium dengan
akurasi sekitar 87-95%; sonografi transvaginal digunakan untuk melihat invasi
buli dengan akurasi sekitar 95% dibandingkan akurasi 76% dengan CT-scan dan
80% dengan MRI.10
2.9.2 Pemeriksaan Barium Enema
Pemeriksaan Barium enema dilakukan untuk mengetahui apakah sudah ada
perluasan ke rektum. 17,26
2.9.3 Computed Tomography (CT) scan abdomen/pelvis
CT-scan diperlukan untuk mengetahui perluasan tumor serviks, melihat
karakterisasi lesi, melihat ada tidaknya metastasis di hepar dan paru-paru, melihat
adakah keterlibatan kelenjar getah bening sekitar, evaluasi obstruksi usus halus
atau usus besar, panduan biopsi, perencanaan terapi radiasi dan kemoterapi serta
untuk mengevaluasi respon tumor terhadap terapi. 17,21,22
CT-scan abdomen/pelvis dengan kontras harus lebih berhati-hati pada pasien yang
alergi terhadap kontras. Pemeriksaan ini kontraindikasi untuk pasien yang sedang
hamil karena dikhawatirkan bahaya radiasinya.21
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
13
Sensitivitas CT-scan untuk melihat keterlibatan parametrium, keterlibatan KGB,
keterlibatan buli, dan keterlibatan rektum yaitu 55%, 43%, 71%, dan 71%.
Sedangkan spesifisitas CT-scan untuk melihat keterlibatan parametrium,
keterlibatan KGB, dan keterlibatan buli yaitu 75%, 91%, 73%.27 Keakuratan CTscan untuk mengidentifikasi invasi parametrial sekitar 76-80%.10 Untuk
mendeteksi metastasis kelenjar getah bening, keakuratan CT-scan sebesar 8385%.10
CT-scan kurang akurat dalam menggambarkan ukuran tumor maupun adanya
infiltrasi parametrium dikarenakan kontras antara tumor lokal dan parametrium
rendah.4 Tetapi walaupun kontras jaringan lunaknya rendah, CT-scan memiliki
beberapa keunggulan yaitu waktu pemeriksaan lebih cepat, resolusi spasialnya
lebih tinggi, dan minimal efek artefak yang timbul akibat peristaltik usus.5,18 CTscan biasanya digunakan sebagai pemeriksaan tambahan setelah dilakukan
pemeriksaan fisik, terutama bila dari pemeriksaan fisik tidak cukup informatif
misalnya karena adanya nyeri pelvik, pada pasien dengan obesitas, atau dapat
sebagai alternatif pemeriksaan pelvik yang memerlukan anestesi. Tetapi
berdasarkan penelitian terdahulu dikatakan CT-scan sulit untuk membedakan lesi
stadium IB dengan stadium IIB.28
2.9.3.1 Prosedur Pemeriksaan CT-scan Abdomen dan Pelvis
Pada CT-scan abdomen, scan dimulai dari puncak diafragma sampai krista
iliaka.29 Sedangkan pada CT-scan pelvis, scan dimulai dari batas terbawah krista
iliaka sampai tuberositas ischii.5
CT-scan abdomen/pelvis menggunakan kontras intravena berupa medium kontras
non-ionik yang diinjeksikan menggunakan injektor dengan kecepatan 2 mL/detik
sebanyak 120-130 mL.30 Diberikan kontras Barium peroral sebanyak 750-1000 ml
pada 2 jam sebelum pemeriksaan untuk mengoptimalkan opasifikasi colon.30
Pemberian kontras media negatif per oral dan per rektal diperlukan untuk
membedakan lumen mukosa dan lumen intestinal.5,30 Pemeriksaan CT-scan pelvis
dilakukan dalam posisi supine dan dipuasakan paling tidak 4 jam sebelum
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
14
pemeriksaan, dan sebaiknya pemeriksaan dilakukan saat buli penuh sehingga
korpus uteri posisinya lebih vertikal dan mendesak loop usus ke luar dari pelvis
minor.5,31
Fase arteri umumnya tidak diperlukan, sedangkan fase vena (sekitar 70 detik
setelah injeksi media kontras) sangat penting. Fase lanjut (setelah 3-5 menit)
mungkin berguna untuk evaluasi kemungkinan keterlibatan patologis dinding buli
atau ureter distal. 30
2.9.3.2 Gambaran CT-scan abdomen/pelvis
Korpus uteri biasanya berbentuk triangular, sementara serviks uteri lebih silinder.
Meskipun demikian, gambaran uterus pada CT-scan bervariasi, tergantung bidang
scan, orientasi spasial dari organ itu sendiri dan tentu saja, bidang yang digunakan
dalam rekonstruksi multiplanar (MPR). 31
Serviks uteri normal pada CT-scan setelah pemberian kontras intravena akan
memberikan penyangatan di bagian sentralnya,
yang merupakan epitel dari
serviks, dan memiliki tepi terluar berbatas tegas yang dibatasi oleh lemak
parametrial.28,31 Stroma serviks di bagian perifer juga menyangat ringan, begitu
pula dengan vagina normal pada CT-scan akan menyangat di bagian sentralnya
yang merupakan mukosa vagina.31 Pembagian regio dari serviks yaitu area
supravaginal dan pars vaginalis sulit dibedakan dengan CT-scan.28
Dimensi dan posisi dari uterus bervariasi, dipengaruhi beberapa faktor seperti usia
dan status hormonal. Pada dasarnya sekresi dari endometrium menyebabkan area
hipodens di sentral yang memanjang. Selama siklus menstruasi, variasi ketebalan
endometrium dan miometrium dapat diamati. Secara umum serviks tampak
berdensitas seragam, sering sedikit hipodens dibandingkan uterus.31
Pada wanita usia subur, korpus uteri berukuran 5-8 cm, sedangkan serviks normal
berukuran tidak lebih dari 3 cm pada potongan aksial.31 Serviks uteri normalnya
membentuk sudut 90° terhadap aksis vagina. Korpus uteri antefleksi, membentuk
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
15
sudut 70-100° terhadap serviks. Pada masa pubertas ratio serviks terhadap korpus
uteri sebesar 1 : 2, kemudian korpus mengecil setelah menopause dan turun ke
true pelvic.18
Ovarium terletak di fossa ovarium, anterior terhadap ureter dan posterolateral
terhadap uterus. Ureter bagian distal terletak 2 cm lateral dari serviks uteri.31
Parametrium dilalui pembuluh darah uterina, pembuluh saraf, jaringan fibrosa,
dan pembuluh limfe. Pada CT-scan, parametrium terlihat sebagai serat jaringan
lunak berdensitas dominan lemak yang membatasi tepi lateral dari uterus, serviks,
dan proksimal vagina, yang tebalnya kurang dari 3-4 mm.5,28
Gambar 2.3 Potongan aksial dari pelvis wanita, viscera dan ligamen pada level korpus uteri dan
serviks.30
Gambar 2.4 CT-scan Pelvis normal. Kavitas endometrium (titik putih); lapisan basal endometrium
(kepala panah) yang menyangat setelah pemberian kontras; serviks (bintang) tampak hipodens
dibandingkan miometrium dari korpus uteri dan fundus karena lebih banyak mengandung
komponen stromal; ovarium (panah); buli (B). 31
Kanker serviks pada CT-scan pre kontras terlihat sebagai pembesaran ukuran
serviks lebih dari 3,5 cm.5 Tumor tampak hipodens atau isodens heterogen
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
16
dibandingkan stroma serviks normal setelah pemberian kontras intravena.16,18
Tumor primer tampak hipodens karena adanya area nekrosis, ulserasi, atau
berkurangnya vaskularisasi, dan tidak menyangat atau menyangat minimal bila
dibandingkan dengan stroma normal serviks dan miometrium.5
Pada CT-scan, parametrium sering tidak memiliki batas yang tegas dikarenakan
broad ligament, sebagai penanda batas anatomisnya, tidak selalu terlihat, serta
pembuluh darah uterina dan vaginalis yang berjalan di dalam parametrium tidak
selalu menyangat post pemberian kontras.28 Infiltrasi parametrium dapat dinilai
secara tidak langsung berdasarkan batas serviks yang iregular dan tidak tegas,
parametrial stranding yang prominen, obliterasi periureteral fat plane, adanya
massa jaringan lunak parametrial, adanya invasi perivaskular, dan penebalan
ligamentum uterosakral (>0,5–2 cm).5,28 Prominennya parametrial stranding
merupakan gambaran yang paling sering terlihat bila terdapat invasi tumor ke
parametrium, tetapi dapat juga terlihat bila terdapat inflamasi parametrium.28
Gambar 2.5 CT-scan pelvis potongan aksial post kontras. Kanker serviks sebagai massa hipodens
(panah) yang tidak menyangat atau menyangat minimal dibandingkan stroma normal dari serviks
dan miometrium (panah terbuka).5
Gambar 2.6 CT-scan pelvis post kontras pasien kanker serviks dengan invasi parametrium
bilateral. Tampak pembesaran ukuran serviks berdensitas heterogen berbatas iregular disertai
parametrial stranding yang prominen dan obliterasi periureteral fat plane sisi kanan-kiri.28
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
17
Bila fat yang mengelilingi rektum atau buli batasnya tidak tegas, dindingnya
menebal, atau adanya massa tumor yang menonjol ke dalam lumen, maka dapat
dicurigai adanya infiltrasi ke rektum atau buli.17 Bila terdapat keterlibatan m.
obturator interna, m. piriformis, m. levator ani, serta jarak antara tepi tumor
dengan otot dinding pelvis kurang dari 3 mm dan sudah mengelilingi vaskular
maka harus dicurigai adanya invasi dinding pelvis.5
Secara umum dikatakan pembesaran KGB bila diameter terpendeknya lebih dari 1
cm maka dapat dicurigai sebagai metastasis KGB. Limfadenopati iliaka interna
dicurigai bila diameter terpendek lebih dari 7 mm, di sepanjang iliaka komunis
bila diameter terpendek lebih dari 9 mm, dan di sepanjang iliaka eksterna bila
diameter terpendeknya lebih dari 10 mm. Kelenjar getah bening parametrium
merupakan kelenjar limfe yang pertama kali terlibat.5 Limfadenopati parametrium
dicurigai bila diameter terpendeknya ≥ 5 mm, kelenjar getah bening pelvis atau
para-aorta diameter terpendeknya berukuran lebih dari 10 mm dan berbentuk oval;
atau diameter terpendeknya lebih dari 8 mm dan berbentuk bulat.5
Selain ukuran, kriteria morfologi limfadenopati lainnya yaitu tepi yang iregular,
penyangatan kontras inhomogen, adanya nekrosis sentral, tidak ada central fatty
hilum, dan berbentuk bulat. Pemberian kontras intravena dapat membedakan KGB
dengan struktur vaskular. 18
2.9.4 Magnetic Resonance Imaging (MRI) pelvis
Fungsi MRI hampir sama seperti CT-scan yaitu untuk mengetahui perluasan
tumor serviks dan melihat adakah metastasis KGB. 10
MRI merupakan modalitas terbaik untuk staging preoperatif terutama untuk
massa yang ukurannya masih kecil (stadium awal).22 Sensitivitas MRI untuk
melihat keterlibatan parametrium, keterlibatan KGB, keterlibatan buli dan rektum
yaitu 85%, 60%, 75%, 71%. Sedangkan spesifisitasnya untuk melihat keterlibatan
parametrium, keterlibatan KGB, dan keterlibatan buli yaitu 85%, 91%, dan 91%.27
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
18
Akurasi MRI untuk melihat invasi parametrium sekitar 75-96%, sedangkan
akurasi MRI untuk melihat metastasis kelenjar getah bening sekitar 88-89%.10
Pada T1-WI (Weighted Image), tumor tampak isointens dibandingkan otot-otot
pelvis, yang akan menyangat post pemberian kontras. Pada T2-WI, stroma serviks
yang normal akan tampak hipointens, sedangkan tumor serviks akan tampak
hiperintens. Jika pada T2-WI, cincin serviks yaang hipointens tampak intak maka
invasi parametrial dapat disingkirkan.16 Sekuens T2-WI memberikan gambaran
kontras jaringan lunak yang paling baik sehingga lebih baik untuk menunjukkan
lokasi tumor dan perluasan dari kanker serviks.18
2.9.5 Pyelogram Intravena (IVP)
Pyelogram intravena (IVP) untuk melihat adakah perluasan tumor yang
menimbulkan hambatan ureter. IVP mungkin tidak diperlukan jika telah dilakukan
CT-scan dengan kontras ataupun MRI.16,22
2.9.6 Positron emission tomography (PET) scan
PET-scan biasanya dilakukan bersamaan dengan CT-scan (PET/CT). Hal ini
digunakan untuk melihat apakah kanker telah menyebar ke luar serviks dan
melihat metastasis KGB. PET-scan jarang dilakukan pada orang dengan kanker
serviks stadium awal. Sensitivitas dan spesifisitas PET/CT untuk melihat
metastasis KGB sebesar 82% dan 95%. 16,22
2.9.7 Radiografi Konvensional Toraks
Radiografi konvensional toraks diperlukan untuk mendeteksi adanya metastasis ke
paru-paru, biasanya bila sudah stadium lanjut.17
2.10 Staging System
Ada 2 sistem yang dapat digunakan untuk menentukan stadium dari kanker
serviks, yaitu berdasarkan sistem FIGO (International Federation of Gynecology
and Obstetrics) dan AJCC (American Joint Committee on Cancer) TNM staging
system. Sistem AJCC mengklasifikasikan kanker serviks berdasarkan 3 faktor :
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
19
perluasan dari tumor (T), penyebaran ke kelenjar getah bening (N) dan adakah
metastasis jauh (M).22
TNM
FIGO
TX
-
Tumor primer tidak dapat dievaluasi
T0
-
Tidak adanya tumor primer
Tisb
0
Ca in situ (membran basalis masih utuh)
T1
I
Ca serviks terbatas di uterus (perluasan ke korpus diabaikan).
T1a
IA
Invasif karsinoma didiagnosis hanya berdasarkan mikroskopis. Invasi stromal
dengan kedalaman maksimum 5 mm yang diukur dari basis epitelium dan
perluasan horizontal ≤ 7 mm. Keterlibatan ruang vaskular, vena atau limfatik,
tidak berpengaruh terhadap klasifikasi.
T1a1
IA1
Invasi stromal kedalamannya ≤ 3 mm dan perluasan horizontal ≤ 7 mm
T1a2
IA2
Invasi stromal >3 mm dan tidak > 5 mm dengan perluasan horizontal ≤ 7 mm.
T1b
IB
Secara klinis terlihat lesi terbatas di serviks atau secara mikroskopis
>T1A/IA2.
T1b1
IB1
Secara klinis lesi terlihat diameter terbesarnya ≤4 cm.
T1b2
IB2
T2
II
Secara klinis lesi terlihat diameter terbesarnya >4 cm
Ca serviks menginvasi di luar uterus tetapi tidak ke dinding pelvis atau ke 1/3
bawah vagina
T2a
IIA
Tumor tanpa invasi parametrial.
T2a1
IIA1 Secara klinis lesi terlihat diameter terbesarnya ≤4 cm
T2a2
IIA2 Secara klinis lesi terlihat diameter terbesarnya >4 cm
T2b
IIB
T3
III
T3a
IIIA
T3b
IIIB
T4a
IVA
T4b
IVB
Tumor dengan invasi parametrial
Tumor meluas ke dinding pelvis dan/atau melibatkan 1/3 bawah vagina, dan
atau menyebabkan hidronefrosis atau non fungsi ginjal.
Tumor melibatkan 1/3 bawah vagina, tidak ada perluasan ke dinding pelvis.
Tumor meluas ke dinding pelvis dan atau menyebabkan hidronefrosis atau non
fungsi ginjal.
Tumor menginvasi mukosa buli atau rektum, dan/atau meluas ke luar true
pelvis (edema bullous tidak memadai untuk mengklasifikasikan tumor sebagai
T4).
Metastasis jauh
Kelenjar Limfe Regional (N)
N0
Tidak ada metastasis kelenjar limfe regional
N1
Metastasis kelenjar limfe regional
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
20
Metastasis (M)
M0
Tidak ada metastasis jauh
M1
Terdapat metastasis jauh
Stadium IA
T1
N0 M0
T1a N0 M0
T1a1 N0 M0
T1a2 N0 M0
Stadium IB
T1b N0 M0
T1b1 N0 M0
T1b2 N0 M0
Stadium II
T2 N0 M0
T2a N0 M0
T2b N0 M0
Stadium IIIA
T3 N0 M0
T3a N0 M0
Stadium IIIB
T1 N1 M0
T2 N1 M0
T3a N1 M0
T3b Setiap N M0
Stadium IVA
T4 Setiap N M0
Stadium IVB
Setiap T setiap N M1
Sumber : Rubin P, Hansen JT. TNM Staging Atlas with Oncoanatomy 2ed. Lippincot Williams &
Wilkins. 32
2.11 Standar Pelaporan
Tumor Primer (T) 33
 Lokasi
 Ukuran Tumor : dalam 1 atau 2 dimensi. Dipilih diameter yang terpanjang
pada bidang apapun dan diameter aksial dari tumor.
 Karakteristik tumor
 Perluasan ke struktur sekitar seperti korpus uteri, vagina, parametrium, ureter,
dinding pelvis, rektum, atau vesika urinaria.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
21
Kelenjar Getah Bening (N)33
 Ukuran  KGB terbesar diukur diameter aksis terpendeknya. Nodul
abnormal berdasarkan RECIST 1.1 (Response Evaluation Criteria In Solid
Tumours) umumnya menggunakan cut off 10 mm pada aksis terpendeknya.

Regio yang terlibat  KGB regional didefinisikan sebagai KGB di sekitar
lokasi tumor primer, sedangkan KGB yang lokasinya jauh diperhitungkan
sebagai metastasis (M1).
 Untuk tujuan RECIST, hanya 2 nodul yang memerlukan pengukuran.
2.12 Pemeriksaan Laboratorium
Untuk karsinoma sel skuamosa, antigen Ca sel skuamosa (SCC) sebagai penanda
tumor dapat meningkat. Konsentrasi SCC dalam serum berhubungan dengan
stadium tumor, ukuran tumor, tumor residu setelah terapi, dan adanya rekurensi
atau progresifitas. Carcinoembryonic antigen (CEA) dan CA-125 dapat meningkat
pada kanker serviks tipe adenokarsinoma.26
Beberapa pustaka menyebutkan bahwa peningkatan SCC sebelum terapi (>10
µg/L) dapat dijadikan marker adanya metastasis kelenjar getah bening (KGB).
Tetapi berdasarkan National Academy of Clinical Biochemistry (NACB)
recommendations dikatakan bahwa SCC tidak dapat digunakan untuk screening
maupun untuk mendiagnosis kanker serviks. 26
2.13 Terapi
Penatalaksanaan dari kanker serviks yaitu tindakan bedah, radiasi, kemoterapi,
immunoterapi, dll. Perbedaan penatalaksanaan tergantung pada stadium kanker,
jenisnya, dan kondisi umum dari penderita.9
Simple histerektomi merupakan terapi kanker serviks untuk stadium 0 dan IA.
Biasanya hanya uterus yang dibuang dan vagina tetap intak, tetapi terkadang tuba
fallopi dan ovarium juga ikut dibuang. Pada histerektomi radikal, uterus, ovarium,
dan bagian vagina dekat serviks dibuang, serta dilakukan limfadenektomi.
Histerektomi radikal merupakan terapi untuk kanker serviks stadium IA2, IB, dan
IIA. Tindakan histerektomi radikal sering dikombinasi dengan radioterapi dan
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
22
kemoterapi. Kanker serviks stadium IIB, III, IV, dan kanker serviks rekuren
diterapi dengan kombinasi radiasi eksternal-internal serta kemoterapi.9
Radioterapi post operasi diberikan pada pasien dengan limfadenopati positif, bila
terdapat keterlibatan parametrial, dan batas sayatan operasi tidak bebas tumor.
Tetapi dapat juga diberikan pada pasien yang tidak disertai limfadenopati tetapi
pada gambaran histopatologisnya menunjukkan resiko tinggi. Dosis radioterapi
yang diberikan yaitu 45-50,4 Gy dengan fraksi 1,8 Gy. Batas lapangan radiasi
yaitu 1,5 cm di atas batas inferior dari sendi sakroiliaka pada proyeksi anteroposterior sebagai batas superiornya; batas lateralnya terbatas pada true pelvic; dan
batas inferiornya pada batas terbawah dari foramina obturator. Pada proyeksi
lateral, batas anteriornya yaitu sisi terdalam dari batas bawah simfisis pubis dan
batas posteriornya S2-S3. 34
Pasien menerima External Beam Radioterapi (EBRT) dan Intracavitary
brachytherapy (ICRT) selama 7-10 hari. EBRT terdiri dari 40 G dalam 20 fraksi
untuk seluruh panggul atau 45 Gy dalam 1,8 fraksi Gy. ICRT terdiri dari 30 Gy
dalam 5 fraksi yang diberikan 2 kali seminggu.34 Keuntungan dari ICRT yaitu
dosis sangat tinggi radiasi dapat diterapkan pada tumor dengan penetrasi kurang
dari jaringan normal di sekitarnya.25 Brachytherapy biasanya digunakan bila
ukuran tumor lebih dari 2 cm.35
2.14 Prognosis
Untuk kanker serviks yang didiagnosis pada stadium preinvasif memiliki 5 years
survival rate hampir 100%. Bila terdeteksi pada stadium invasif awal, 5 years
survival rate sekitar 91%.8 5 years survival rate untuk stadium IA, IB, IIA, IIB,
IIIA, IIIB, IVA, IVB yaitu 93%, 80%, 63%, 58%, 35%, 32%, 16%, dan 15%.23
Untuk stadium IB, survival rate sebesar 85%-95% bila hasil limfadenektominya
negatif dan sebesar 45%-55% bila disertai limfadenopati positif.5 5 years survival
rate untuk seluruh kanker serviks sekitar 70%. 9
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
23
Prognosis bergantung pada stadium, ukuran tumor, perluasan tumor dan status
dari kelenjar getah bening.1 5 year survival rate dari kanker serviks menurun
sesuai dengan bertambahnya usia.18,23 Berdasarkan hasil histopatologis, prognosis
dari Ca serviks tipe large-cell nonkeratinizing squamous cell, lebih baik
dibandingkan adenokarsinoma berdiferensiasi buruk.36
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
24
2.15 Kerangka Teori
Faktor resiko :
aktivitas
seksual usia
dini, sering
berganti
pasangan seks
Infeksi HPV (Human
papilloma virus) tipe 16 & 18
Faktor lingkungan
(merokok,
defisiensi vitamin)
Immunocompromise
Keluarga dengan
riwayat penyakit
kanker.
Jaringan
serviks normal
Proses karsinogenesis
Kanker serviks
Staging klinik
Klasifikasi FIGO
Tatalaksana
 Histerektomi + limfadenektomi
 Histerektomi + radioterapi
 Radioterapi + kemoterapi
 Anamnesa
 Pemeriksaan dalam pelvis
 Kolposkopi
Pemeriksaan Radiologi
 USG
 Barium enema
 IVP
 MRI abdomen/pelvis
 CT scan abdomen/pelvis
 PET CT
Pemeriksaan Histopatologis
Klasifikasi WHO
2.16 Kerangka Konsep
CT scan
abdomen/pelvis
Kanker Serviks stadium IB dan IIA
Histerektomi
Radikal
 Perluasan tumor
 Limfadenopati
Kesesuaian Histopatologis
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional study) dengan
data sekunder untuk menilai kesesuaian temuan perluasan tumor dan
limfadenopati pada kanker serviks stadium awal (IB dan IIA) berdasarkan CTscan abdomen/pelvis preoperatif dibandingkan temuan histerektomi.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Instalasi Radiodiagnostik Rumah Sakit Kanker
“Dharmais” Jakarta yang berlangsung mulai bulan Februari 2013 sampai Agustus
2013 dengan jadwal sebagai berikut :
Kegiatan
Februari Maret April Mei
Juni
Juli
Agustus
Usulan
penelitian
Administrasi
Perijinan
Pengumpulan
data
Analisa data
Pelaporan
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi adalah pasien kanker serviks stadium klinis awal (IB dan IIA) yang
melakukan pemeriksaan CT-scan abdomen/pelvis sebelum dilakukan tindakan
histerektomi di RS Kanker “Dharmais” (RSKD) periode Januari 2009 sampai Mei
2013.
25
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
26
Kriteria Penerimaan (inklusi) :

Data rekam medis pasien kanker serviks stadium klinis awal (IB dan IIA)
poliklinik ginekologi RSKD yang sudah menjalani tindakan histerektomi
radikal dan telah dilakukan pemeriksaan histopatologis.

Data CT-scan abdomen/pelvis Instalasi Radiodiagnostik RSKD pasien kanker
serviks stadium klinis awal (IB dan IIA), sesuai data rekam medis dan data
histopatologis.
Kriteria Penolakan (eksklusi) :

Data CT-scan abdomen/pelvis pasien kanker serviks stadium klinis awal (IB
dan IIA) poliklinik ginekologi RSKD yang berasal dari rumah sakit lain.

Data rekam medis pasien kanker serviks stadium klinis awal (IB dan IIA)
poliklinik ginekologi RSKD yang sudah mendapatkan radioterapi maupun
kemoterapi sebelum dilakukan tindakan histerektomi dan sebelum dilakukan
CT-scan.

Catatan medis pasien tidak lengkap.

Jarak antara data CT-scan dengan data laporan operasi lebih dari 1 bulan.
3.3.2 Sampel
Sampel diambil dari data sekunder pasien kanker serviks stadium klinis awal (IB
dan IIA) yang mempunyai catatan medis (medical record) dengan riwayat
histerektomi dan telah menjalani pemeriksaan CT-scan abdomen/pelvis di RS
Kanker Dharmais selama periode Januari 2009 sampai Mei 2013, yang memenuhi
kriteria penerimaan dan tidak termasuk dalam kriteria penolakan.
Besar sampel ditentukan menggunakan rumus :
n = Zα2PQ
d2
X
1
p
n
: jumlah sampel minimal.
Z
: nilai standard distribusi normal, pada α = 5% adalah 1,96.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
27
P
: spesifisitas CT-scan (80%).
Q
: 1 – P = 20%.
d
: nilai ketepatan absolut yang dikehendaki (15%)
p
: proporsi metastasis KGB pada kanker serviks stadium awal
(50%)
Berdasarkan perhitungan di atas, didapatkan besar sampel (n) = 55.
3.4 Alur Penelitian
Data histopatologi kanker serviks Januari 2009 – Mei 2013
dari Departemen Patologi Anatomi RSKD
Penderita kanker serviks yang secara klinis ditetapkan
sebagai stadium awal (IB dan IIA) yang menjalani
pemeriksaan CT scan abdomen/pelvis sebelum dilakukan
tindakan histerektomi radikal di RS Kanker Dharmais
Kriteria Penerimaan
Kriteria Penolakan
Pembacaan ulang hasil
CT-scan abdomen/pelvis
Tidak Diteliti
Pencatatan Data
Analisis Data
3.5. Cara Kerja
 Tahap Pertama :
Seleksi pasien kanker serviks berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang
dilakukan dengan melihat rekam medik untuk mendapatkan hasil laporan operasi.
 Tahap Kedua :
Melakukan pembacaan ulang CT-scan abdomen/pelvis terhadap penilaian
perluasan tumor dan pola penyebaran limfadenopati. Pembacaan CT-scan
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
28
abdomen/pelvis dilakukan oleh 1 orang ahli radiologi dan 1 orang residen
radiologi senior. Bila didapatkan ketidaksesuaian hasil pembacaan maka
dilakukan pembacaan oleh ahli radiologi ke-2.
Adapun protokol pemeriksaan CT yang diambil dalam seleksi penerimaan data
adalah:

CT-scan abdomen/pelvis menggunakan Multi Slice Computed Tomography
16 Slice (Siemens, Jerman).

Rekonstruksi tebal potongan 5 mm.

Kontras intravena, medium kontras non-ionik (ultravist 350, Schering, Berlin,
Germany) diinjeksikan menggunakan injektor dengan kecepatan 2 mL/detik
sebanyak 120-130 mL. 2 jam sebelum pemeriksaan diberikan kontras Barium
peroral sebanyak 750-1000 ml, untuk mengoptimalkan opasifikasi colon.

Dilakukan scanning sebelum dan setelah pemberian kontras, serta delay
phase pada daerah pelvis yang diambil 10-15 menit setelah pemberian
kontras.

Scanning abdomen diambil mulai dari puncak diafragma sampai krista iliaka.
Sedangkan scanning pelvis diambil mulai dari batas terbawah krista iliaka
sampai tuberositas ischii.
 Tahap ketiga : Melakukan analisa data perluasan tumor dan pola penyebaran
limfadenopati pada CT-scan yang kemudian dibandingkan dengan hasil
histerektomi.
3.6 Batasan Operasional
3.6.1 Variabel
Variabel tergantung adalah perluasan tumor stadium IB dan IIA serta
limfadenopati regional pelvik dan paraaorta.
Variabel bebas adalah usia, tipe histopatologis, dan faktor resiko.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
29
3.6.2 Definisi Operasional

Kanker serviks adalah tumor ganas primer di serviks, yang dapat berasal
dari sel skuamosa yang berada di permukaan ektoserviks (karsinoma sel
skuamosa) atau berasal dari sel yang memproduksi mukus yang berada di
permukaan endoserviks (adenokarsinoma).

Berdasarkan klasifikasi FIGO, kanker serviks stadium klinis IB adalah
tumor yang terbatas di serviks sedangkan kanker serviks stadium klinis
IIA adalah tumor yang sudah menginvasi ke luar uterus tetapi belum
menginvasi parametrial.

Berdasarkan CT-scan, stadium IB terlihat sebagai pembesaran ukuran
serviks berbatas relatif tegas dengan tumor yang masih terbatas di serviks
dan tidak ditemukan metastasis KGB; pada stadium IIA terlihat kanker
serviks sudah menginvasi ke luar uterus tetapi belum menginvasi
parametrial, dinding pelvis maupun 1/3 bawah vagina dan tidak ditemukan
metastasis KGB; pada stadium IIB terlihat sebagai pembesaran ukuran
serviks tepi iregular, disertai adanya infiltrasi parametrium; pada stadium
IIIB terlihat tumor sudah meluas ke dinding pelvis dan atau melibatkan 1/3
bawah vagina disertai adanya metastasis KGB; dan stadium IVA yang
sudah disertai invasi mukosa rektum atau buli dan atau meluas ke luar true
pelvic serta ada/tidaknya metastasis KGB.

Serviks uteri normal pada CT-scan sedikit lebih hipodens dibandingkan
uterus dan setelah pemberian kontras akan memberikan penyangatan
(peningkatan densitas sebesar 26 HU) di bagian sentralnya, sedangkan
bagian perifernya menyangat ringan. Begitu pula vagina normal pada CTscan akan menyangat di bagian sentralnya yang merupakan mukosa
vagina. Pada CT-scan, parametrium normal terlihat sebagai serat jaringan
lunak yang tebalnya kurang dari 3-4 mm.

Pada CT-scan abdomen/pelvis pre kontras, kanker serviks terlihat sebagai
pembesaran ukuran serviks lebih dari 3,5 cm. Setelah pemberian kontras
intravena, tumor tampak hipodens atau isodens heterogen dibandingkan
stroma serviks normal.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
30

Pada CT-scan adanya infiltrasi parametrium dapat dinilai secara tidak
langsung berdasarkan 4 kriteria temuan di bawah ini :
1.
Batas serviks tampak iregular dan tidak tegas
2.
Parametrial
stranding
yang
prominen
didefinisikan
sebagai
meningkatnya attenuasi dan tampak kesuraman dari jaringan lunak
parametrial
3.
Obliterasi periureteral fat plane didefinisikan sebagai kesuraman dari
fat periureteral sehingga tidak terlihat lagi batas massa dengan ureter.
4.

Adanya massa jaringan lunak parametrial.
Dikarenakan evaluasi perluasan parametrium secara histopatologis
dilakukan pada sisi paling lateral dari spesimen, maka penilaian infiltrasi
parametrium pada CT-scan didasarkan pada kriteria 3 dan 4, yaitu adanya
obliterasi periureteral fat plane dan adanya massa jaringan lunak
parametrium.

Berdasarkan CT-scan dikatakan infiltrasi korpus uteri apabila batas antara
massa dan korpus uteri tidak jelas terlihat dan tampak menyangat setelah
pemberian kontras.

Berdasarkan CT-scan dikatakan terdapat metastasis KGB regional pelvik
dan paraaorta adalah adanya pembesaran kelenjar getah bening dengan
diameter terkecil lebih dari 1 cm.

Berdasarkan CT-scan dikatakan infiltrasi ke rektum atau buli bila terdapat
kesuraman lemak perirektal ataupun perivesika sehingga batas massa
dengan dinding buli maupun dinding rektum tidak terlihat lagi, selain itu
juga dapat terlihat sebagai penebalan dinding buli atau rektum, atau
adanya massa tumor yang menonjol ke dalam lumen.

Berdasarkan CT-scan dicurigai invasi ke dinding pelvis bila batas tumor
dengan m. obturator interna, m. piriformis, m. levator ani tidak jelas, serta
jarak antara tepi tumor dengan otot dinding pelvis kurang dari 3 mm.

Down-staging didefinisikan sebagai temuan stadium histopatologis yang
lebih rendah dibandingkan temuan stadium klinis dan CT-scan. Sedangkan
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
31
dikatakan up-staging bila temuan stadium histopatologis lebih tinggi
dibandingkan temuan stadium klinis dan CT-scan.
3.7 Analisis Data
Seluruh data dari sampel penelitian dicatat pada formulir penelitian untuk diedit
dan dikoding. Data direkam pada komputer dan dilakukan validasi. Data yang
sudah bersih dilakukan tabulasi dan diolah secara statistik menggunakan program
SPSS 11.5. Dilakukan uji kesesuaian (McNemar), diukur nilai Kappa antara hasil
gambaran CT-scan abdomen/pelvis dengan hasil temuan operasi. Berdasarkan
pedoman nilai Kappa yang digunakan adalah bila nilai Kappa lebih dari 0,75
berarti terdapat kesesuaian yang baik (excellent), nilai antara 0,4 sampai 0,8
berarti ada kesesuaian yang cukup (fair to good) dan kurang dari 0,4 terdapat
kesesuaian yang kurang baik (poor).
3.8 Pertimbangan Etik
Penelitian dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari komite etik. Data
penelitian ini hanya dipergunakan untuk kepentingan pendidikan dan dijaga
kerahasiaannya.
3.9 Pendanaan
Biaya pengadaan literatur, pembuatan makalah, pengolahan dan penyimpanan
data, dan biaya tak terduga lainnya ditanggung oleh peneliti.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
BAB 4
HASIL PENELITIAN
Selama periode Februari 2013 sampai Agustus 2013 telah dilakukan pengumpulan
data dengan diagnosis kerja kanker serviks stadium awal (IB dan IIA) yang
dilakukan pemeriksaan CT-scan abdomen/pelvis sebelum dilakukan tindakan
histerektomi di RS Kanker “Dharmais” (RSKD) periode Januari 2009 sampai Mei
2013, yaitu sebanyak 180 pasien. Sebanyak 125 pasien dikeluarkan karena tidak
masuk dalam kriteria inklusi, sehingga jumlah pasien yang memenuhi kriteria
untuk analisis data penelitian sebanyak 55 pasien.
4.1 Karakteristik Subyek Penelitian
Tabel 4.1 Sebaran Subyek menurut Karakteristik (n=55).
Karakteristik
Kelompok umur
< 40 thn
40 – 50 thn
51+ thn
Stadium klinis kanker
Stadium IB
Stadium IIA
Tipe PA
Karsinoma Sel Skuamosa
Adenokarsinoma
Tipe lain
Jumlah
Persen
7
30
18
12,7
54,5
32,7
34
21
61,8
38,2
38
14
3
69,0
25,5
5,5
Berdasarkan kelompok umur sebagian besar pasien berusia antara 40 sampai 50
tahun yaitu sebanyak 30 orang (54,5%), diikuti kelompok umur >50 tahun yaitu
sebanyak 18 orang (32,7%) dan kelompok umur <40 tahun yaitu sebanyak 7
orang (12,7%). Sedangkan berdasarkan stadium klinis kanker serviks, pasien yang
terdeteksi pada stadium IB sebanyak 34 orang (61,8%), dan stadium IIA sebanyak
21 orang (38,2%).
Berdasarkan tipe PA, yang paling sering ditemukan yaitu tipe karsinoma sel
skuamosa sebanyak 38 orang (69,0%), kemudian tipe adenokarsinoma sebanyak
14 orang (25,5%) dan tipe lain sebanyak 3 orang (5,5%).
32
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
33
Tabel 4.2 Nilai Rerata, SD dan Median Umur (n=55)
Variabel
Mean
Umur subyek
SD
47,5
7,3
95% CI
Low
High
45,5
49,4
Median
47,0
Nilai rerata (mean) umur pasien pada penelitian ini adalah 47,5 tahun dengan
umur minimum 45,5 tahun dan maksimum 49,4 tahun.
10
8
6
4
2
Std. Dev = 7,34
Mean = 47,5
N = 55,00
0
35,0
40,0
37,5
45,0
42,5
50,0
47,5
55,0
52,5
60,0
57,5
65,0
62,5
usia ps
Gambar 4.1 Nilai Rerata dan SD Variabel Umur (n=55)
Tabel 4.3 Karakteristik Temuan PA Post Histerektomi Radikal
Temuan PA
Infiltrasi parametrium
Ya
Tidak
Infiltrasi korpus uteri
Ya
Tidak
Limfadenopati regional positif
Ya
Tidak
Limfadenopati paraaorta positif
Ya
Tidak
Jumlah
Persen
3
52
5,5
94,5
3
52
5,5
94,5
11
44
20
80
1
54
1,8
98,2
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
34
Berdasarkan karakteristik temuan histopatologis post histerektomi pada kanker
serviks stadium awal, ditemukannya gambaran infiltrasi parametrium dan
infiltrasi korpus uteri sama-sama sebanyak 3 orang (5,5%), sedangkan
ditemukannya metastasis KGB regional sebanyak 11 orang (20%) dan metastasis
KGB paraaorta sebanyak 1 orang (1,8%).
Tabel 4.4 Sebaran Subyek menurut Stadium PA
Stadium PA
Jumlah
Persen
IB
40
72,7
IIA
5
9
IIIB
10
18,2
Berdasarkan sebaran stadium PA ditemukan stadium IB sebanyak 40 orang
(72,7%), stadium IIA sebanyak 5 orang (9%), stadium IIIB sebanyak 10 orang
(18,2%).
Tabel 4.5 Karakteristik Infiltrasi Organ berdasarkan Temuan CT-scan (n=55)
Infiltrasi organ
Parametrium
Ya
Tidak
Korpus uteri
Ya
Tidak
Obturator interna
Ya
Tidak
m. Piriformis
Ya
Tidak
Lemak perirektal
Ya
Tidak
Lemak perivesika
Ya
Tidak
Jumlah
Persen
26
29
47,3
52,7
27
28
49,1
50,9
2
53
3,6
96,4
0
55
0,0
100,0
6
49
10,9
89,1
2
53
3,6
96,4
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
35
Berdasarkan hasil CT-scan pada kanker serviks dengan stadium klinis awal
ditemukan bahwa sebagian besar kasus kanker serviks stadium awal terlihat
menginfiltrasi korpus uteri sebanyak 27 orang (49,1%) dan parametrium sebanyak
26 orang (47,3%). Sedangkan yang terlihat menginfiltrasi m. obturator interna
hanya 2 orang (3,6%), lemak perirektal sebanyak 6 orang (10,9%), dan lemak
perivesika sebanyak 2 orang (3,6%). Untuk infiltrasi ke m. piriformis tidak
ditemukan kasusnya sama sekali.
Tabel 4.6 Sebaran Limfadenopati berdasarkan Temuan CT-scan (n=55)
Limfadenopati
KGB regional
Ya
Tidak
KGB paraaorta
Ya
Tidak
Jumlah
Persen
51
4
92,7
7,3
2
53
3,6
96,4
Berdasarkan hasil CT-scan pada kanker serviks yang secara klinis ditetapkan
sebagai stadium awal ditemukan limfadenopati regional sebanyak 51 orang
(92,7%) dan limfadenopati paraaorta sebanyak 2 orang (3,6%).
Tabel 4.7 Karakteristik Kriteria Infiltrasi Parametrium pada Temuan CT-scan
Temuan CT-scan
Jumlah
Persen
Batas serviks iregular dan tidak tegas
55
100
Parametrial stranding prominen
55
100
Obliterasi periureteral fat plane
7
12,7
Adanya massa jaringan lunak parametrium
11
20
Berdasarkan karakteristik kriteria infiltrasi parametrium pada CT-scan, yang
paling sering ditemukan yaitu temuan batas serviks yang iregular dan tidak tegas
serta parametrial stranding yang prominen yaitu masing-masing sebanyak 55
orang (100%). Sedangkan gambaran massa jaringan lunak parametrium sebanyak
11 orang (20%) dan obliterasi periureteral fat plane sebanyak 7 orang (12,7%).
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
36
4.2 Faktor Penentu Infiltrasi Organ dan Limfadenopati
Gambar 4.2 Persentase Infiltrasi Organ pada Temuan CT-scan berdasarkan Stadium Klinis
Berdasarkan persentase infiltrasi organ yang ditemukan pada CT-scan disesuaikan
dengan stadium klinis ditemukan bahwa terlihatnya infiltrasi ke parametrium
lebih sering dijumpai pada stadium IB sebanyak 52,9%, infiltrasi ke korpus uteri
lebih sering dijumpai pada stadium IIA sebanyak 66,7%, sedangkan infiltrasi ke
lemak perirektal dan lemak perivesika lebih banyak terlihat pada stadium IB
sebanyak 14,7%, dan 5,9%.
9,5%
limf
paraaorta
5,9%
Stad IIA
Stad IB
95,2%
limf reg
91,2%
0,0%
50,0%
100,0%
Gambar 4.3 Persentase Limfadenopati Organ pada Temuan CT-scan berdasarkan Stadium Klinis
Berdasarkan persentase penyebaran limfadenopati dari temuan CT-scan pada
kanker serviks stadium klinis awal didapatkan bahwa limfadenopati regional dan
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
37
limfadenopati paraaorta lebih banyak ditemukan pada stadium IIA, yaitu sebanyak
95,2% dan 9,5%.
Tabel 4.8 Sebaran Temuan Stadium Klinis, Stadium CT-scan, dan Stadium PA
Stadium
CT-scan
PA
Stadium klinis
IB
19
40
34
IIA
6
5
21
IIB
17
0
-
IIIB
8
10
-
Dari tabel di atas ditemukan bahwa jumlah sebaran stadium IB sebanyak 19 orang
pada temuan CT-scan, 40 orang pada temuan PA, 34 orang pada temuan klinis.
Sedangkan jumlah sebaran stadium IIA sebanyak 6 orang pada temuan CT-scan, 5
orang pada temuan PA, dan 21 orang pada temuan klinis. Jumlah sebaran stadium
IIB sebanyak 17 orang pada temuan CT-scan dan tidak ditemukan pada temuan
PA. Sedangkan jumlah sebaran stadium IIIB sebanyak 8 orang pada temuan CTscan dan 10 orang pada temuan PA.
Tabel 4.9 Kesesuaian Temuan Infiltrasi Parametrium (berdasarkan kriteria nomor
3 dan atau 4) pada CT-scan dengan Temuan PA
CT-scan
Temuan PA
Ada
Infiltrasi parametrium
(kriteria 3 dan 4)
Total
Total
Tidak
Ada
3
12
15
Tidak
0
40
40
3
52
55
a
Keterangan : Dengan uji statistik McNemar didapatkan p= 0,000 dan nilai Kappa sebesar 0,27
Adanya infiltrasi parametrium berdasarkan gambaran CT-scan kriteria 3 dan 4
disesuaikan dengan temuan PA, yang memberikan hasil positif di CT-scan dan
positif di temuan PA sebanyak 3 orang, sedangkan yang memberikan hasil positif
di CT-scan dan negatif di temuan PA sebanyak 12 orang. Yang memberikan hasil
negatif di temuan CT-scan maupun temuan PA sebanyak 40 orang. Setelah
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
38
dilakukan perhitungan nilai Kappa sebesar 0,27. Adapun sensitivitas dan
spesifisitas dari CT-scan dalam menilai ada tidaknya infiltrasi ke parametrium
berdasarkan gambaran CT-scan kriteria 3 dan 4 sebesar 100% dan 76,9%,dengan
akurasi sebesar 78,2%
Tabel 4.10 Kesesuaian Temuan Infiltrasi Korpus Uteri pada CT-scan dengan
Temuan Infiltrasi Korpus Uteri Post Histerektomi
CT-scan
Temuan PA
Ada
Infiltrasi korpus
Total
Total
Tidak
Ada
2
25
27
Tidak
1
27
28
3
52
55
Keterangan : Dengan uji statistik McNemar didapatkan p= 0,000a dan nilai Kappa sebesar 0,03.
Adanya infiltrasi korpus uteri yang terlihat pada CT-scan dan terbukti pada
temuan PA sebanyak 2 orang, sedangkan yang pada CT-scan terlihat infiltrasi ke
korpus uteri tetapi pada temuan PA tidak terdapat infiltrasi sebanyak 25 orang.
Dan yang pada CT-scan tidak terdapat infiltrasi ke korpus uteri tetapi pada
temuan post histerektominya terdapat infiltrasi sebanyak 1 orang. Yang tidak
terlihat adanya infiltrasi korpus pada CT-scan maupun temuan PA sebanyak 27
orang. Setelah dilakukan perhitungan nilai Kappa
untuk melihat kesesuaian
gambaran infiltrasi korpus uteri pada CT-scan dengan temuan PA didapatkan
sebesar 0,03. Sensitivitas dan spesifisitas CT-scan dalam menilai ada tidaknya
infiltrasi korpus uteri pada kanker serviks stadium awal sebesar 66,7% dan 51,9%.
Akurasi CT-scan untuk menilai infiltrasi korpus uteri sebesar 52,7%.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
39
Tabel 4.11 Kesesuaian Metastasis KGB Regional Sisi Kanan pada Temuan CTscan Dibandingkan Temuan PA
CT-scan
Temuan PA
KGB regional kanan
Ada
Tidak
Metastasis KGB regional
kanan
Total
Ada
5
3
8
Tidak
3
44
47
8
47
55
Total
Keterangan : Dengan uji statistik McNemar didapatkan p= 1,000 dan nilai Kappa sebesar 0,56.
Pada hasil CT-scan pasien dengan metastasis KGB regional sisi kanan dan
terbukti positif pada temuan PA didapatkan sebanyak 5 orang, sedangkan yang
berdasarkan hasil CT-scan ditemukan metastasis KGB regional tetapi pada
temuan PA tidak terbukti positif sebanyak 3 orang. Pada CT-scan tidak ditemukan
metastasis KGB tetapi pada temuan PA terbukti ada KGB positif sebanyak 3
orang. Dengan uji statistik McNemar didapatkan p=1,000 dan nilai Kappa
sebesar 0,56. Sensitivitas dan spesifisitas CT-scan dalam menilai metastasis KGB
regional kanan sebesar 62,5% dan 93,6%, serta akurasinya sebesar 89%.
Tabel 4.12 Kesesuaian Metastasis KGB Regional Sisi Kiri pada Temuan CT-scan
Dibandingkan Temuan PA
CT-scan
Metastasis KGB regional
kiri
Total
Ada
Tidak
Temuan PA
KGB regional kiri
Ada
Tidak
3
0
Total
3
4
48
52
7
48
55
Keterangan : Dengan uji statistik McNemar didapatkan p= 0,125 dan nilai Kappa sebesar 0,57.
Pada temuan CT-scan tampak metastasis KGB regional sisi kiri dan terbukti
positif pada temuan PA regio yang sama didapatkan sebanyak 3 orang. Pada CTscan yang tidak ditemukan metastasis KGB tetapi pada temuan PA terbukti ada
KGB positif sebanyak 4 orang. Dengan uji statistik McNemar didapatkan p=0,125
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
40
dan nilai Kappa sebesar 0,57. Sensitivitas dan spesifisitas CT-scan dalam menilai
metastasis KGB regional kiri sebesar 42,8% dan 100%, serta akurasinya sebesar
92,7%.
Tabel 4.13 Kesesuaian Stadium Klinis dengan Temuan Infiltrasi Parametrium
Post Histerektomi
Stadium klinis
Temuan infiltrasi parametrium
pada PA
Ada
Tidak
Total
stadium IB
2
32
34
stadium IIA
1
20
21
3
52
Total
55
a
Keterangan : Dengan uji statistik McNemar didapatkan p= 0,000 dan nilai Kappa sebesar 0,01.
Pada stadium klinis IB dapat dijumpai adanya infiltrasi parametrium sebanyak 2
orang (5,8%), sedangkan pada stadium IIA dijumpai infiltrasi parametrium
sebanyak sebanyak 1 orang (4,76%). Setelah dilakukan perhitungan nilai Kappa
untuk melihat kesesuaian adanya infiltrasi parametrium pada temuan histerektomi
dengan stadium klinis didapatkan sebesar 0,01.
Tabel 4.14 Kesesuaian Stadium Klinis dengan Temuan Metastasis KGB pada
Hasil PA
Stadium klinis
Temuan KGB positif pada hasil
PA
Ada
Tidak
Total
stadium IB
4
30
34
stadium IIA
7
14
21
11
44
Total
55
a
Keterangan : Dengan uji statistik McNemar didapatkan p= 0,000 dan nilai Kappa sebesar -0,18.
Pada stadium klinis IB dapat dijumpai keterlibatan KGB positif sebanyak 4 orang
(11,76%) sedangkan pada stadium IIA sebanyak 7 orang (33,3%). Setelah
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
41
dilakukan perhitungan nilai Kappa
untuk melihat kesesuaian stadium klinis
dengan temuan metastasis KGB post histerektomi didapatkan sebesar -0,18.
Tabel 4.15 Sebaran Subyek Menurut Stadium CT-scan Dibandingkan Stadium
Patologi Anatomi (PA)
Karakteristik
Jumlah
Persen
Down-staging
25
45,5
Sesuai
27
49
Up-staging
3
5,5
Stadium CT-scan vs stadium PA
Stadium CT-scan preoperatif pada kanker serviks stadium klinis awal (IB dan
IIA) yang sesuai dengan stadium PA post histerektomi sebanyak 27 orang (49%),
sedangkan yang tidak sesuai sebanyak 28 orang (50,9%). Dari kasus yang tidak
sesuai, sebanyak 25 orang (45,5%) memberikan hasil down-staging dan sebanyak
3 orang (5,5%) memberikan hasil up-staging.
Tabel 4.16 Kesesuaian Stadium CT-scan dengan Stadium PA Post Histerektomi
Stadium CT
Stadium PA
Sesuai
Tidak Sesuai
IB
19
0
IIA
2
4
IIB
0
17
IIIB
6
2
IVA
0
5
Kesesuaian terbesar yaitu pada stadium IB sebanyak 19 orang (100%), kemudian
stadium IIIB sebanyak 6 orang (75%), stadium IIA sebanyak 2 orang (33,3%),
stadium IIB dan IVA sebanyak 0%. Ketidaksesuaian terbesar pada stadium IIB
sebanyak 17 orang (100%) dan stadium IVA sebanyak 5 orang (100%).
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
42
Ketidaksesuaian pada stadium IIA sebanyak 4 orang (66,7%) dan stadium IIIB
sebanyak 2 orang (25%).
Tabel 4.17 Kesesuaian Stadium Klinis dengan Stadium PA
Stadium klinis
Stadium PA
Total
Sesuai
Tidak Sesuai
IB
29
5
34
IIA
3
18
21
32
23
55
Total
Kesesuaian stadium klinis dengan stadium PA terbesar ditemukan pada stadium
klinis IB sebanyak 29 orang ( 85,3%), sedangkan pada stadium klinis IIA yang
sesuai hanya sebanyak 3 orang (14,3%). Ketidaksesuaian stadium klinis dengan
stadium PA, sebanyak 5 orang (14,7%) pada stadium IB dan 18 orang (85,7%)
pada stadium IIA.
Tabel 4.18 Kesesuaian Temuan CT-scan dengan Temuan PA Post Histerektomi
Temuan CT-scan
Temuan PA
Sesuai
Tidak Sesuai
Infiltrasi
parametrium
(kriteria 3 dan 4)
Infiltrasi korpus
43
12
29
26
Metastase KGB regional
kanan
49
6
Metastase KGB regional
kiri
51
4
Kesesuaian temuan CT-scan terbesar yaitu pada temuan metastase KGB regional
kiri sebanyak 51 orang (92,7%) dan pada temuan metastase KGB regional kanan
sebanyak 49 orang (89%). Kesesuaian temuan infiltrasi parametrium berdasarkan
kriteria 3 dan 4 pada temuan CT-scan sebanyak 43 orang (78,2%), dan infiltrasi
korpus sebanyak 29 orang (52,7%). Ketidaksesuaian terbesar dijumpai pada
temuan infiltrasi korpus sebanyak 26 orang (47,3%).
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
43
Tabel 4.19 Kesesuaian Stadium Klinis, CT-scan, dan Histopatologis
Stadium Klinis
IB
IIA
Total
Stadium CT-scan dan PA
Sesuai
Tidak Sesuai
14 (41,2%)
20 (58,8%)
1 (4,8%)
20 (95,2%)
15
40
Total
34
21
55
Kesesuaian stadium klinis dengan stadium CT-scan dan PA sebanyak 14 orang
pada stadium klinis IB (41,2%) dan sebanyak 1 orang pada stadium IIA (4,8%).
Tabel 4.20 Stadium Klinis Awal (IB dan IIA) yang Menjadi Stadium IIIB pada
Stadium CT-scan dan PA
Karakteristik
Jumlah
Persen
IB
1
2,9
IIA
5
23,8
Stadium
Stadium klinis IB yang menjadi stadium IIIB pada stadium CT-scan dan PA
sebanyak 1 orang dari 34 orang (2,9%), sedangkan pada stadium klinis IIA yang
menjadi stadium IIIB sebanyak 5 orang dari 21 orang (23,8%).
Tabel 4.21 Temuan Perluasan Tumor dan Limfadenopati berdasarkan CT-scan
dan Histopatologis
Temuan
CT-scan
PA
Infiltrasi parametrium (kriteria 3 & 4)
15
3
Infiltrasi korpus
27
3
Metastasis KGB regional kanan
8
8
Metastasis KGB regional kiri
3
7
Gambaran infiltrasi parametrium berdasarkan temuan CT-scan kriteria 3 dan 4
ditemukan sebanyak 15 orang, sedangkan pada temuan histopatologis hanya
ditemukan sebanyak 3 orang. Temuan infiltrasi ke korpus uteri pada CT-scan
sebanyak 27 orang, sedangkan pada temuan histopatologis hanya ditemukan
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
44
sebanyak 3 orang. Temuan metastasis KGB regional kanan pada CT-scan
sebanyak 8 orang, sedangkan berdasarkan temuan histopatologis sebanyak 8
orang. Sedangkan temuan metastasis KGB regional kiri pada CT-scan sebanyak 3
orang, sedangkan berdasarkan temuan histopatologis sebanyak 7 orang.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
BAB 5
PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan di Instalasi Radiodiagnostik Rumah Sakit Kanker
“Dharmais” Jakarta yang berlangsung mulai bulan Februari 2013 sampai Agustus
2013. Telah dilakukan pengumpulan data terhadap 180 pasien dengan diagnosa
kanker serviks stadium awal (IB dan IIA) periode Januari 2009 sampai Mei 2013
yang bertujuan untuk menilai kesesuaian temuan perluasan tumor dan
limfadenopati berdasarkan Computed Tomography Scan (CT-scan) dengan hasil
histopatologis post histerektomi radikal. Pada penelitian ini sebanyak 125 pasien
dikeluarkan karena tidak masuk dalam kriteria inklusi, sehingga jumlah pasien
yang memenuhi kriteria untuk analisis data penelitian sebanyak 55 pasien.
Keterbatasan penelitian ini adalah beberapa data penelitian tidak tersimpan dalam
compact disc (CD) karena yang tersimpan di work station hanya sejak tahun 2012,
sebagian
catatan
medis
tidak
lengkap,
pemeriksaan
CT-scan
ataupun
histerektominya dilakukan di rumah sakit luar Dharmais, dan ada pasien yang
secara klinis ditetapkan sebagai stadium awal tetapi mendapatkan terapi
kemoradiasi terlebih dahulu sebelum dilakukan histerektomi radikal. Selain itu
kelemahan dari penelitian ini yaitu bersifat retrospektif sehingga kriteria perluasan
kanker serviks masih sesuai dengan keahlian bidang masing-masing, sehingga
memungkinkan adanya perbedaan kriteria perluasan kanker secara radiologis
maupun histopatologis.
Pada penelitian ini kelompok umur yang terbesar pada kelompok usia antara 40
sampai 50 tahun sebanyak 30 orang (54,5%), diikuti kelompok usia lebih dari 50
tahun sebanyak 18 orang (32,7%) dan kelompok usia kurang dari 40 tahun
sebanyak 7 orang (12,7%). Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa rata-rata
penderita kanker serviks berusia 40-50 tahun.1,2 Dari tabel 4.2 dapat dilihat nilai
rerata (mean) usia pasien pada penelitian ini adalah 47,5 tahun dengan usia
minimum 45,5 tahun dan usia maksimum 49,4 tahun.
45
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
46
Stadium klinis kanker serviks yang paling banyak ditemukan pada penelitian ini
yaitu stadium klinis IB sebanyak 34 orang (61,8%) diikuti stadium klinis IIA
sebanyak 21 orang (38,2%). Tipe histopatologis yang paling sering ditemukan
yaitu karsinoma sel skuamosa sebanyak 38 orang (69,0%), kemudian
adenokarsinoma sebanyak 14 orang (25,5%) dan tipe lain sebanyak 3 orang
(5,5%). Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyebutkan bahwa tipe
histopatologis yang paling sering ditemukan yaitu karsinoma sel skuamosa (9597%).11
Berdasarkan temuan histopatologis post histerektomi, ditemukannya infiltrasi
parametrium dan infiltrasi korpus uteri masing-masing sebanyak 3 orang (5,5%),
sedangkan ditemukannya metastasis KGB regional sebanyak 11 orang (20%) dan
metastasis KGB paraorta sebanyak 1 orang (1,8%).
Dari tabel 4.8 didapatkan bahwa jumlah sebaran stadium IB sebanyak 19 orang
pada temuan CT-scan, 40 orang pada temuan PA, 34 orang pada temuan klinis.
Sedangkan jumlah sebaran stadium IIA sebanyak 6 orang pada temuan CT-scan, 5
orang pada temuan PA, dan 21 orang pada temuan klinis. Jumlah sebaran stadium
IIB sebanyak 17 orang pada temuan CT-scan dan pada temuan PA tidak
ditemukan stadium IIB sama sekali. Sedangkan jumlah sebaran stadium IIIB
sebanyak 8 orang pada temuan CT-scan dan 10 orang pada temuan PA.
Berdasarkan temuan perluasan tumor pada CT-scan terlihat bahwa pada kanker
serviks stadium awal terlihat infiltrasi korpus uteri sebanyak 27 orang (49,1%),
infiltrasi parametrium sebanyak 26 orang (47,3%), infiltrasi m. obturator interna
sebanyak 2 orang (3,6%), lemak perirektal sebanyak 6 orang (10,9%), dan lemak
perivesika sebanyak 2 orang (3,6%). Untuk infiltrasi ke m. piriformis tidak
ditemukan kasusnya sama sekali. Dalam kepustakaan disebutkan bahwa kanker
serviks menyebar melalui perluasan langsung terhadap struktur di dekatnya
(korpus uteri, vagina, parametrium, rektum,
vesika urinaria, atau ke dinding
pelvis) atau melalui sistem limfatik ke kelenjar regional dan jarang melalui
hematogen.10
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
47
Berdasarkan temuan limfadenopati pada CT-scan ditemukan limfadenopati
regional sebanyak 51 orang (92,7%), sedangkan limfadenopati paraaorta sebanyak
4 orang (7,3%). Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa penyebaran ke sistem
limfatik pertama kali melibatkan kelenjar regional pelvik yang terdiri dari kelenjar
getah bening parametrium, kelenjar getah bening para iliaka interna-eksterna,
kelenjar getah bening presakral, sepanjang arteri iliaka komunis, dan kemudian
menyebar ke kelenjar getah bening paraaorta.18 Pada penelitian ini juga ditemukan
bahwa limfadenopati regional dan paraaorta lebih sering dijumpai pada stadium
IIA.
Berdasarkan karakteristik gambaran infiltrasi parametrium pada CT-scan, yang
paling sering ditemukan yaitu gambaran batas serviks yang iregular dan tidak
tegas serta parametrial stranding yang prominen, masing-masing sebanyak 55
orang (100%). Sedangkan gambaran massa jaringan lunak parametrium sebanyak
11 orang (20%) dan obliterasi periureteral fat plane sebanyak 7 orang (12,7%).
Dikarenakan evaluasi perluasan parametrium secara histopatologis dilakukan
mulai dari sisi paling lateral dari spesimen, maka dengan dilakukannya penilaian
infiltrasi parametrium dari CT-scan berdasarkan kriteria 3 dan 4, yaitu adanya
obliterasi periureteral fat plane dan adanya massa jaringan lunak parametrium,
diharapkan dapat mewakili temuan infiltrasi parametrium berdasarkan hasil PA.
Berdasarkan gambaran CT-scan kriteria 3 dan 4, pada penelitian ini ditemukan
jumlah kasus yang memberikan hasil positif di CT-scan dan positif di temuan PA
sebanyak 3 orang, sedangkan yang memberikan hasil positif di CT-scan dan
negatif di temuan PA sebanyak 12 orang. Yang memberikan hasil negatif di
temuan CT-scan maupun temuan PA sebanyak 40 orang. Sehingga didapatkan
sensitivitas dan spesifisitas CT-scan berdasarkan temuan infiltrasi parametrium
kriteria 3 dan 4 sebesar 100% dan 76,9%, dan akurasi sebesar 78,2%.
Dari penelitian ini terlihat bahwa CT-scan sangat sensitif untuk melihat adanya
infiltrasi parametrium tetapi kurang spesifik untuk membedakan apakah benarbenar terdapat infiltrasi atau hanya merupakan suatu proses inflamasi. Sedangkan
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
48
pada kepustakaan ditemukan sensitivitas dan spesifisitas CT-scan untuk melihat
keterlibatan parametrium sebesar 55% dan 75%, serta akurasinya sekitar 7680%.10,27 Dalam kepustakaan juga dikatakan CT-scan kurang akurat dalam
menggambarkan adanya infiltrasi parametrium dikarenakan rendahnya kontras
antara tumor lokal dan parametrium.4 Parametrial stranding yang prominen dapat
juga terlihat bila ada reaksi inflamasi parametrium.28
Pada grafik 4.2 terlihat bahwa, berdasarkan hasil CT-scan, temuan infiltrasi
parametrium ditemukan tersering pada stadium IB sebesar 52,9%, sedangkan
temuan infiltrasi korpus uteri ditemukan tersering pada stadium IIA sebesar
66,7% kasus. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa invasi ke korpus
uteri lebih banyak ditemui pada kanker serviks stadium II sebanyak 60% kasus.6
Temuan infiltrasi m. obturator interna, lemak perivesika maupun perirektal
walaupun jarang ditemukan tetapi tersering ditemukan pada stadium IB.
Adanya infiltrasi korpus uteri pada temuan CT-scan dan terbukti pada temuan
post histerektomi sebanyak 2 orang, sedangkan yang pada temuan CT-scan
terlihat infiltrasi ke korpus uteri tetapi pada temuan post histerektomi tidak
terbukti sebanyak 25 orang. Dan yang pada CT-scan tidak terdapat infiltrasi ke
korpus uteri tetapi pada post histerektominya terdapat infiltrasi sebanyak 1 orang.
Berdasarkan hasil perhitungan ditemukan sensitivitas dan spesifisitas CT-scan
dalam menilai ada tidaknya infiltrasi korpus uteri pada kanker serviks stadium
awal sebesar 66,7% dan 51,9%, sedangkan akurasinya sebesar 52,7%.
Temuan metastasis KGB regional sisi kanan pada hasil CT-scan dan terbukti
positif pada temuan PA didapatkan sebanyak 5 orang, sedangkan yang
berdasarkan hasil CT-scan
ditemukan metastasis KGB regional tetapi pada
temuan PA tidak terbukti positif sebanyak 3 orang. Dari temuan PA terbukti ada
KGB positif tetapi pada CT-scan tidak ditemukan metastasis KGB sebanyak 3
orang. Dengan uji statistik McNemar didapatkan p=1,000 dan nilai Kappa
sebesar 0,56, menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna dan
derajat kesesuaiannya cukup. Sensitivitas dan spesifisitas CT-scan dalam menilai
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
49
metastasis KGB regional kanan sebesar 62,5% dan 93,6%, serta akurasinya
sebesar 89%. Sedangkan pada hasil CT-scan pasien dengan metastasis KGB
regional sisi kiri dan terbukti positif pada temuan PA didapatkan sebanyak 3
orang. Dari kasus yang pada temuan CT-scan nya tidak ditemukan metastasis
KGB tetapi pada temuan PA terbukti ada KGB positif sebanyak 4 orang. Dengan
uji statistik McNemar didapatkan p=0,125 dan nilai Kappa
menunjukkan
bahwa
tidak
terdapat
perbedaan
bermakna
sebesar 0,57,
dan
derajat
kesesuaiannya cukup. Sensitivitas dan spesifisitas CT-scan dalam menilai
metastasis KGB regional kiri sebesar 42,8% dan 100%, serta akurasinya sebesar
92,7%. Pada kepustakaan dikatakan bahwa sensitivitas dan spesifisitas CT-scan
untuk melihat metastasis KGB sebesar 43% dan 91%, dan akurasinya sebesar 8385%.10,27
Pada penelitian ini ditemukan adanya infiltrasi parametrium berdasarkan hasil PA
sebanyak 2 orang (5,8%) pada stadium klinis IB, dan sebanyak 1 orang (4,76%)
pada stadium klinis IIA. Sedangkan adanya keterlibatan KGB positif berdasarkan
hasil PA sebanyak 4 orang (11,76%) pada stadium klinis IB dan sebanyak 7 orang
(33,3%) pada stadium klinis IIA. Hal ini tidak jauh berbeda dengan kepustakaan
yaitu dijumpai metastasis KGB sebanyak 11,5% kasus pada stadium IB, dan
sebanyak 26,7% kasus pada stadium IIA.17 Pada kepustakaan dikatakan bahwa
stadium IIA terkait dengan risiko metastasis kelenjar getah bening pelvis dan
penurunan kelangsungan hidup 5 tahun.1
Pada penelitian ini yang dievaluasi hanya sensitivitas dan spesifisitas CT-scan
dalam menilai ada tidaknya infiltrasi ke parametrium dan korpus uteri,
dikarenakan pada histerektomi radikal yang diambil hanya jaringan uterus, serviks
dan adneksa, sehingga ada tidaknya infiltrasi ke perirektal maupun perivesika
tidak dapat dinilai pada penelitian ini.
Berdasarkan tabel 4.15 dapat disimpulkan bahwa banyaknya kasus yang sesuai
antara stadium CT-scan dengan stadium PA post histerektomi sebanyak 27 orang
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
50
(49%), yang down-staging sebanyak 25 orang (45,5%), dan yang up-staging
sebanyak 3 orang (5,5%).
Tingkat kesesuaian terbesar antara stadium CT-scan dan stadium PA ditemukan
pada stadium IB yaitu sebanyak 100%, kemudian diikuti stadium IIIB sebanyak
75%, stadium IIA sebanyak 33,3%. Ketidaksesuaian terbesar pada stadium IIB
dan IVA sebanyak 100%, diikuti stadium IIA sebanyak 66,7%, dan stadium IIIB
sebanyak 25%. Hal ini menunjukkan bahwa CT-scan paling baik dalam
mengevaluasi stadium IB, sedangkan tidak baik dalam mengevaluasi stadium IIB
dan IVA. Pada stadium IIIB, dimana ditemukan perluasan tumor seberapapun
asalkan sudah terdapat metastasis KGB, dengan adanya kesesuaian yang baik
antara temuan CT-scan dan temuan histopatologis, sehingga dapat disimpulkan
bahwa CT-scan cukup baik dalam mengevaluasi metastasis KGB. Dapat
disimpulkan pula bahwa CT-scan bermanfaat dalam pemetaan KGB, sehingga
memudahkan seorang ginekolog dalam melakukan limfadenektomi saat
histerektomi.
Kesesuaian terbesar antara temuan CT-scan dan temuan PA yaitu pada temuan
metastase KGB regional kanan dan kiri, masing-masing sebesar 89% dan 92,7%,
diikuti kesesuaian temuan infiltrasi parametrium berdasarkan kriteria 3 dan 4
sekitar 78,2%. Sedangkan ketidaksesuaian terbesar antara temuan CT-scan dan
temuan PA yaitu pada temuan infiltrasi korpus sebesar 47,3%.
Penelitian ini terutama membahas mengenai stadium klinis awal dari kanker
serviks (stadium IB dan IIA), sehingga didapatkan kesesuaian stadium klinis
dengan stadium CT-scan dan PA sebanyak 41,2% pada stadium klinis IB dan
sebanyak 4,8% pada stadium IIA. Berdasarkan jumlah kasus yang up-staging,
sebaran stadium klinis IB yang berubah menjadi stadium IIIB pada stadium CTscan dan PA sebanyak 2,9%, sedangkan stadium klinis IIA yang berubah menjadi
stadium IIIB sebanyak 23,8%.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
51
Berdasarkan tabel 4.21 gambaran infiltrasi parametrium kriteria 3 dan 4 pada CTscan ditemukan sebanyak 15 orang, sedangkan pada temuan histopatologis hanya
ditemukan sebanyak 3 orang. Temuan infiltrasi ke korpus uteri pada CT-scan
sebanyak 27 orang, sedangkan pada temuan histopatologis hanya ditemukan
sebanyak 3 orang. Temuan metastasis KGB regional kanan pada CT-scan dan
temuan histopatologis masing-masing sebanyak 8 orang. Sedangkan temuan
metastasis KGB regional kiri pada CT-scan sebanyak 3 orang, sedangkan
berdasarkan temuan histopatologis sebanyak 7 orang.
Mengingat adanya temuan CT-scan yang seolah-olah menunjukkan invasi
perirektal sedangkan tidak terbukti pada temuan PA, sehingga memungkinkan
diperlukannya perubahan protokol CT-scan untuk kanker serviks stadium awal,
yaitu misalnya selain diberikan kontras intravena juga diberikan kontras media
negatif per rektal untuk membedakan lumen mukosa dan lumen intestinal.5,30
Pada penelitian ini stadium IB berdasarkan CT-scan sebagian besar sesuai dengan
stadium PA. Adapun gambaran yang dapat dijumpai pada CT-scan stadium IB
yaitu pembesaran ukuran serviks lebih dari 3,5 cm; serviks tampak hipodens
heterogen dengan penyangatan di parenkim yang masih normal; batas serviks
relatif masih tegas dan reguler; periureteral fat plane, lemak perirektal dan
perivesika masih tegas.
Adapun temuan invasi parametrium pada CT-scan yang sesuai dengan temuan PA
yaitu batas serviks yang iregular dan tidak tegas, serat jaringan lunak parametrium
prominen, obliterasi periureteral fat plane, dan adanya massa jaringan lunak
parametrial.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
52
Gambar 5.1 Batas serviks kiri iregular dan tidak tegas, obliterasi periureteral fat plane,
prominennya jaringan lunak parametrium.
Gambar 5.2 Perirektal fat batasnya tidak tegas, dinding rektum menebal.
Gambar 5.3 Terdapat infiltrasi korpus.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 KESIMPULAN
1.
Sebanyak 49% kasus memberikan hasil yang sesuai antara temuan stadium
CT-scan dengan stadium PA. Sedangkan banyaknya kasus yang mengalami
down-staging sebesar 45,5% dan yang up-staging sebesar 5,5%.
2.
Kesesuaian terbesar stadium CT-scan dengan stadium PA post histerektomi
radikal terlihat pada stadium IB, sedangkan ketidaksesuaian terbesar terlihat
pada stadium IIB, dengan presentase masing-masing sebesar 100%.
3.
Kesesuaian temuan CT-scan dengan temuan PA terutama dijumpai pada
temuan metastase KGB regional kiri sebesar 92,7% dan temuan metastase
KGB regional kanan sebesar 89%, diikuti kesesuaian temuan infiltrasi
parametrium sebesar 78,2%.
4.
Sensitivitas dan spesifisitas CT-scan dalam menilai adanya infiltrasi
parametrium berdasarkan adanya obliterasi periureteral fat plane dan adanya
massa jaringan lunak parametrium (kriteria 3 dan 4) pada kanker serviks
stadium klinis awal sebesar 100% dan 76,9%, dengan akurasi sebesar 78,2%.
Hal ini menunjukkan bahwa CT-scan sangat sensitif untuk melihat
keterlibatan parametrium tetapi kurang spesifik untuk membedakan apakah
benar-benar terdapat infiltrasi atau hanya merupakan suatu proses inflamasi.
5.
Sensitivitas dan spesifisitas CT-scan dalam menilai metastasis KGB regional
kanan sebesar 62,5% dan 93,6%, serta akurasinya sebesar 89%. Sensitivitas
dan spesifisitas CT-scan dalam menilai metastasis KGB regional kiri sebesar
42,8% dan 100%, serta akurasinya sebesar 92,7%. Dari penelitian ini juga
didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara temuan CT-scan
dan temuan PA dalam menilai metastasis KGB regional dengan tingkat
kesesuaian yang cukup. Dapat disimpulkan bahwa CT-scan dapat bermanfaat
dalam pemetaan KGB saat limfadenektomi.
6.
Sensitivitas dan spesifisitas CT-scan dalam menilai ada tidaknya infiltrasi
korpus uteri pada kanker serviks stadium awal sebesar 66,7% dan 51,9%,
sedangkan akurasinya sebesar 52,7%.
53
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
54
7.
Pada stadium klinis IB dapat dijumpai keterlibatan KGB positif sebanyak
11,76% dan sebanyak 33,3% pada stadium IIA.
8.
Berdasarkan karakteristik gambaran infiltrasi parametrium pada CT-scan,
yang paling sering ditemukan yaitu gambaran batas serviks yang iregular dan
tidak tegas serta parametrial stranding yang prominen, masing-masing
sebanyak 100%. Sedangkan gambaran massa jaringan lunak parametrium
ditemukan sebanyak 20%, dan gambaran obliterasi periureteral fat plane
sebanyak 12,7%.
6.2 SARAN
1. Dibutuhkan jumlah sampel yang lebih besar lagi untuk dapat melakukan uji
statistik dengan tingkat kepercayaan lebih baik.
2. Dilakukan penelitian prospektif untuk pemetaan KGB secara lebih rinci dan
diharapkan dapat diperoleh kesesuaian dalam menentukan batasan infiltrasi
parametrium secara radiologis maupun histopatologis.
3. Mengingat adanya temuan CT-scan yang seolah-olah menunjukkan invasi
perirektal sedangkan tidak terbukti pada temuan PA nya, maka diperlukan
perubahan protokol CT-scan untuk kanker serviks stadium awal yaitu misalnya
selain diberikan kontras intravena juga diberikan kontras media negatif per
rektal untuk membedakan lumen mukosa dan lumen intestinal.
5. Diperlukan sosialisasi pelaporan kasus-kasus onkologi bagi dokter spesialis
radiologi terutama pada kasus kanker serviks.
6. Dapat dipertimbangkan modalitas pencitraan lain seperti MRI pelvis yang
berdasarkan kepustakaan merupakan modalitas terbaik untuk staging
preoperatif terutama untuk yang ukuran massanya masih kecil (stadium awal).
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
55
DAFTAR REFERENSI
1.
Arnold KP, Lieberman G. Cervical Cancer : Staging and surveillance
[Internet]. Sept 2005. Available from : http://eradiology.bidmc.harvard.edu.
2.
Nuranna L, Aziz MF, Cornain S, Purwoto G, Purbadi S, Budiningsih S,
Sirega B, Peters AAW. Cervical cancer prevention program in Jakarta,
Indonesia: See and Treat model in developing country. J. Gynecol Oncol.
2012 July; 23(3):147–152.
3.
Hricak H and Yu KK. Radiology in Invasive Cervical Cancer. AJR
1996;167:1101-1108.
4.
Hricak H, Gatsonis C, Coakley FV, Snyder B, Reinhold C, Schwartz LH et
al. Early Invasive Cervical Cancer: CT and MR Imaging in Preoperative
Evaluation—ACRIN/GOG Comparative Study of Diagnostic Performance
and Interobserver Variability. Radiology 2007;245:491-498.
5.
Pannu HK, Corl FM, Fishman EK. CT Evaluation of Cervical Cancer:
Spectrum of Disease. RadioGraphics 2001; 21:1155–1168.
6.
Kim H, Kim W, Lee M, Song E, Loh JJ. Tumor Volume and Uterine Body
Invasion Assessed by MRI for Prediction of Outcome in Cervical Carcinoma
Treated with Concurrent Chemotherapy and Radiotherapy. Jpn J Clin Oncol
2007;37(11):858–866.
7.
Bab 2. Tinjauan Pustaka Kanker Serviks [Internet]. Diunduh dari :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21557/4/Chapter%20II.pdf
8.
National Cancer Institute at the National Institutes of Health. Cervical Cancer
Treatment (PDQ®) Health Professional Version [Internet]. [cited 2012 June
22]. Available from : http://www.cancer.gov.
9.
The Gale Group, Inc. Gale Encyclopedia of Medicine. Cervical cancer
[Internet].
2008.
Available
from
:
http://medical-
dictionary.thefreedictionary.com.
10. Kaur H, Silverman PM, Iyer RB, Verschraegen CF, Eifel PJ, Charnsangavej
C. Diagnosis, Staging, and Surveillance of Cervical Carcinoma. AJR
2003;180:1621–1632.
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
56
11. Karya tulis ilmiah kebidanan: Karsinoma Serviks Uteri [Internet]. Diunduh
dari : http://karya-tulis-ilmiahkebidanan.blogspot.com/2010/11/karsinomaserviks uteri.html.
12. Karya ilmiah : Histerektomi Radikal Pada Kanker Serviks di RSUP [Internet].
Diunduh dari : http://karya-ilmiah.com/tag/histerektomi-radikal-pada-kankerserviks-di-rsup
13. Anatomy of Female Reproductive System [Internet]. Available from :
http://medicinembbs.blogspot.com
14. International Agency for Research on Cancer WHO. An introduction to the
anatomy of the uterine cervix [Internet]. 2012. Available from :
http://screening.iarc.fr
15. Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, Katz VL. Comprehensive
Gynecology: Expert Consult - Online and Print. Philadelphia : Elsevier
Mosby. 2012.
16. Weerakkody Y, et al. Carcinoma of the cervix [Internet]. Available from :
http://radiopaedia.org
17. Sakuragi N, Satoh C, Takeda N, Hareyama H, et al. Incidence and
distribution pattern of pelvic and paraaortic lymph node metastasis in patients
with stages IB, IIA, and IIB cervical carcinoma treated with radical
hysterectomy. Cancer 1999;85(7):1547–1554.
18. Hamm B, Forstner R. MRI and CT of the pelvis. Germany:Springer. 2007.
19. BAB 2. Tinjauan Pustaka, Definisi Kanker Serviks [Internet]. Diunduh dari:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22334/4/Chapter%20II.pdf.
20. Ginting H. Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Optimisme Pada
Penderita Kanker Serviks [tesis]. Bandung : Universitas Pendidikan
Indonesia; 2012. Available from : http://repository.upi.edu.
21. Diagnosing cervical cancer. Canadian Cancer Society 2013 [Internet].
Available from : http://info.cancer.ca
22. Chang E, Daly JM, Elliott D. Pathophysiology: Applied to Nursing Practice.
Australia:Elsevier. 2006. p 284.
23. American Cancer Society. Cervical Cancer [Internet]. 2012. Available from :
http://www.cancer.org
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
57
24. Coleman DV. Cervical cancer: Epidemiology, aetiology, pathogenesis and
main
histological
types
[Internet].
Available
from
:
http://www.eurocytology.eu.
25. Scott DA. Cervix Cancer. Armenian Medical Network. May 2011. Available
from : http://www.health.am.
26. Chapter 4 Tumor Markers in Cervical Cancer [Internet]. Available from :
http://www.aacc.org
27. Bipat S, Glas AS, van der Velden J, Bossuyt PM, Stoker J. Computed
tomography and magnetic resonance imaging in staging of uterine cervical
carcinoma: a systematic review. Gynecologic Oncology 2003;91(1):59–66.
28. Vick CW, Walsh JW, Wheelock JB, Brewer WH. CT of the Normal and
Abnormal Parametria in Cervical cancer. AJR 1984; 143:597-603.
29. Reiser MF, Becker CR, Nikolaou K. Multislice CT 3rd Revised Edition.
Germany: Springer. 2009.
30. Mitchell DG, Snyder B, Coakley F, Reinhold C, Thomas G, Amendola M,
Schwartz LH, Woodward P, Pannu H, Hrica H. Early Invasive Cervical
Cancer: Tumor Delineation byMagnetic Resonance Imaging, Computed
Tomography, and Clinical Examination, Verified by Pathologic Results. J
Clin Oncol. 2006;24:5687-5694.
31. Olivetti L, Grazioli L. Imaging of Urogenital Diseases. Italia : Springer. 2009.
32. Rubin P, Hansen JT. TNM Staging Atlas with Oncoanatomy 2ed. Lippincot
Williams & Wilkins.
33. Gormly K. Discussion-Standardized TNM oncology reports [Internet]. 2012.
Available from : http://arganz.org.
34. Narayan K, Fisher R, Bernshaw D. Significance of tumor volume and corpus
uteri invasion in cervical cancer patients treated by radiotherapy. Int J
Gynecol Cancer 2006;16, 623–630.
35. Ros PR, Mortele KJ. CT and MRI of The Abdomen and Pelvis : A Teaching
File, 2nd Ed. Canada: Lippincott Williams & Wilkins. 2007.
36. Gattoc L, Perez CA, Tew WP, Makhija S. Cervical Cancer [Internet]. October
28, 2011. Available from : http://www.cancernetwork.com
Universitas Indonesia
Kesesuaian temuan…., Galuh Ayu Treswari, FK UI, 2013
Download