BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Komunikasi Jika kita

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Komunikasi
Jika kita membahas tentang komunikasi, seperti kita ketahui bahwa
komunikasi bersifat omnipresent atau dapat hadir dimana saja dan bersifat
multi disipliner, sehingga komunikasi dikenal dengan adanya kenyataan
bahwa tidak mungkin manusia untuk tidak berkomunikasi.
Komunikasi adalah prasyarat kehidupan manusia. Kehidupan manusia
akan tampak hampa atau tiada kehidupan sama sekali apabila tidak ada
komunikasi. Karena tanpa komunikasi, interaksi antar manusia, baik secara
perorangan, kelompok, ataupun organisasi tidak mungkin dapat terjadi. Dua
orang dikatakan berinteraksi apabila masing-masing melakukan aksi dan
reaksi. Aksi dan reaksi yang dilakukan manusia ini (baik secara perorangan,
kelompok, ataupun organisasi), dalam ilmu komunikasi disebut sebagai
tindakan komunikasi1
Bermacam-macam definisi komunikasi yang dikemukakan orang
untuk memberikan batasan tentang komunikasi. Istilah komunikasi atau
dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata latin communicatio,
dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini
maksudnya adalah sama makna.2
1
2
Sasa Djuarsa Sendjaja, Pengantar Komunikasi, Jakarta, Universitas Terbuka, 2005. Hal.1.3
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek , Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2006,
hal.9
12 13 Theodore M. Newcomb dalam Deddy Mulyana menyatakan “Setiap
tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi, terdiri
dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima”3
Carl I. Hovland dalam Deddy Mulyana menjelaskan ; Komunikasi
adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan
rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku
orang lain (comunicate)4
Masih dalam bukunya Ilmu Komunikasi Suatu pengantar Deddy
Mulyana menjelaskan prinsip-prinsip komunikasi sebagai berikut ;
1. Komunikasi adalah sebagi proses simbolik.
2. Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi.
3. Komunikasi punya dimensi isi dan dimensi hubungan.
4. Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan.
5. Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu
6. Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi[p
7. Komunikasi bersifat sistemik.
8. Semakin mirip latar belakang sosial-budaya, semakin efektiflah
komunikasi.
9. Komunikasi bersifat nonsekuensial.
10. Komunikasi bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional.
11. Komunikasi bersifat Irreversible.
12. Komunikasi bukan panasea (obat mujarab) untuk menyelesaikan berbagai
masalah.5
Menurut professor Wilbur Schramm dalam Hafied menyebutkan
bahwa “komunikasi dan masyarakat adalah dua kata kembar yang tidak
dapat dipisahkan satu sama lainnya. Sebab tanpa komunikasi tidak mungkin
masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat maka manusia tidak
mungkin dapat mengembangkan komunikasi.6
3
Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung, PT.Remaja Rosdakarya, 2007
hal.68
4
Ibid. hal 68
5
Ibid. hal 68
6
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi,Jakarta ; PT.Raja Grafindo Persada, 2002 hal. 1
14 2.2. Komunikasi Organisasi
Istilah Organisasi mengisyaratkan bahwa sesuatu yang nyata
merangkum orang-orang, hubungan-hubungan dan tujuan-tujuan. ”Jika
dilihat dari pendekatan subjektif, organisasi berarti proses, sedangkan
pandangan objektif mengenai organisasi, organisasi berarti struktur”.
Penekanan pada perilaku atau struktur bergantung pada pandangan mana
yang dianut organisasi secara khas dianggap sebagai kata benda,
sementara pengorganisasian dianggap sebagai kata kerja.7
Kelangsungan hidup suatu organisasi bergantung pada
kemampuannya untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan.
Manusia dilihat sebagai pemproses informasi yang memberi respon
terhadap informasi yang ditemukannya dalam lingkungan. 8
Ada beberapa pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan
organisasi seperti dikemukakan oleh Schein (1982) dalam Arni
Muhammad 9 mengatakan bahwa organisasi adalah suatu koordinasi
rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai beberapa tujuan umum
melalui pembagian pekerjaaan dan fungsi melalui hierarki otoritas dan
tanggung jawab. Schein juga mengatakan bahwa organisasi juga
mempunyai karakteristik tertentu yaitu mempunyai struktur, tujuan, saling
berhubungan satu bagian dengan bagian lain dan tergantung kepada
komunikasi manusia untuk mengkoordinasikan aktivitas dalam organisasi
tersebut. Sifat tergantung antara satu bagian dengan bagian lain
menandakan bahwa organisasi yang di maksudkan Schein ini adalah
merupakan suatu sistem.
Seperti dijelaskan bahwa suatu organisasi memiliki struktur yang
menjadi satu kesatuan antara satu bagian dengan bagian lainnya karena ini
merupakan suatu sistem, dimana bila satu bagian mengalami masalah
maka akan menggangu bagian lainnya, dan komunikasi orang-orang
didalamnyalah yang membangun koordinasi aktivitas didalam organisasi
untuk mencapai tujuan organisasi.
7
Pace, R Wayne dan Faules Don F, 2006, Komunikasi Organisasi, Bandung, PT Remaja
Rosdakarya, hal.11
8
ibid hal.14
9
Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, Jakarta, PT, Bumi Aksara, 2005, hal.23
15 Selanjutnya Kochler (1976) dalam Arni Muhammad mengatakan bahwa :
organisasi adalah sistem hubungan yang terstruktur yang
mengkoordinasi usaha suatu kelompok orang untuk mencapai tujuan
tertentu. Lain lagi dengan pendapat;
Wright (1977) dalam Arni Muhammad; dia mengatakan bahwa
organisasi adalah suatu bentuk sistem terbuka dari aktivitas yang
dikoordinasi oleh dua orang atau lebih untuk mencapai suatu tujuan
bersama.10
Komunikasi
merupakan
bagian
penting
dalam
organisasi.
Berdasarkan analisis peneliti, komunikasi merupakan proses penyampaian
informasi atau pesan dari komunikator ke komunikan melalui media/cara
tertentu agar pesan atau informasi tersebut tersampaikan secara efektif
sehingga menimbulkan dampak/efek yang diharapkan. Setiap organisasi
atau perusahaan mempunyai struktur yang di dalamnya terdiri dari
berbagai tingkat jabatan. Ketika masing-masing orang dari berbagai
jabatan itu mulai berkomunikasi maka akan berkembang dengan
sendirinya “ siapa berbicara dengan siapa ”.
Komunikasi organisasi sangat penting dan layak untuk dipelajari
karena sekarang ini banyak orang yang tertarik dan memberikan perhatian
kepadanya guna mengetahui prinsip dan keahlian komunikasi yang dapat
dimanfaatkan untuk tujuan organisasi, baik organisasi kormersial seperti
lembaga bisnis dan industri maupun organisasi-organisasi sosial seperti
lembaga-lembaga pemerintah maupun lembaga-lembaga swasta.
10 Ibid, hal.24
16 Komunikasi organisasi adalah suatu disiplin studi yang dapat
mengambil sejumlah arah yang sah dan bermanfaat. Bahkan studi
komunikasi organisasi sebagai landasan kuat bagi karir dalam manajemen,
pengembangan sumber daya manusia, dan komunikasi perusahaan, dan
tugas-tugas lain yang berorientasikan manusia dalam organisasi.
Komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukan dan
penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian
dari suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari unit-unit
komunikasi dalam hubungan-hubungan hierarkis antara satu dengan
lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan. Komunikasi organisasi
terjadi kapanpun juga, setidak- tidaknya ada satu orang yang menduduki
suatu jabatan dalam suatu organisasi menafsirkan suatu pertunjukan pesan.
Secara tradisio nal
(fungsionalis
dan
objektif)
komunikasi
organisasi cenderung menekankan kegiatan penanganan pesan yang
terkandung dalam suatu ”batas organisasional (organizational boundary).
Fokus utamanya adalah menerima, menafsirkan dan bertindak berdasarkan
informasi dalam suatu konteks. Dimana tekanannya adalah pada
komunikasi sebagai suatu alat yang memungkinkan orang beradaptasi
dengan lingkungan mereka.
Komunikasi organisasi merupakan fungsi kegiatan yang terdapat
dalam organisasi untuk menunjukkan kepada anggota organisasi bahwa
organisasi tersebut mempercayai mereka, memberikan kebebasan dalam
17 mengambil resiko, memotivasi mereka, dan memberi tanggung jawab
dalam mengerjakan tugas-tugas mereka, menyediakan informasi yang
cukup dan terbuka tentang organisasi, mendengarkan dengan penuh
perhatian, memperoleh informasi yang dapat dipercaya dan terus terang
dari organisasi, secara aktif memberi informasi kepada anggota sehingga
mereka tahu bahwa mereka berperan dan terlibat dalam penyusunan
keputusan dalam organisasi dan menaruh perhatian terhadap pekerjaan
yang bermutu tinggi dan memberi tantangan.
Para anggota menentukan keberadaan pengaruh komunikasi, jadi
melalui interaksi para anggota memeriksa dan mengevaluasi keberadaan
kepercayaan,
dukungan,
keterbukaan,
penyuluhan,
perhatian
dan
keterusterangan. Dengan demikian pengaruh komunikasi dapat berubah
tergantung dari cara-cara pengaruh komunikasi itu ditentukan melalui
interaksi diantara para anggota.
Wayne Pace dalam bukunya mendefinisikan komunikasi organisasi
sebagai pertunjukan dan penafsiran peran diantara unit-unit komunikasi
yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi
terdiri dari unit- unit komuniksi dalam hubungan hierarkis antara yang
satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan. Komunikasi
organisasi adalah proses penciptaan makna atas interaksi yang
diciptakan.11
Ketika terdapat suatu komunikasi di dalam organisasi maka yang
menjadi salah satu tantangan besar dalam komunikasi organisasi adalah
bagai mana menyampaikan informasi keseluruh bagian organisasi dan
11
R. Wayne Pace Don F. Faules, Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja
Perusahaan, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2005 hal.31-33
18 bagaimana menerima informasi dari seluruh bagian organisasi. Proses ini
berhubungan dengan aliran informasi. Proses aliran informasi merupakan
proses yang rumit. Apa yang dikemukakan dalam struktur dapat saja
bukan yang sebenarnya terjadi. Efisiensi dapat bergantung pada aliran
informasi, tetapi ini bukan pertimbangan satu-satunya. Organisasi
mengandalkan inovasi dan harus mampu menghasilkan informasi dari para
anggotanya. Aliran informasi dapat membantu menentukan iklim dan
moral organisasi, yang pada gilirannya berpengaruh pada aliran informasi.
Aliran informasi dalam suatu organisasi, sebenarnya adalah suatu
proses dinamik, dalam proses inilah pesan-pesan secara tetap dan
berkesinambungan diciptakan, ditampilkan dan diinterpretasikan. Proses
ini berlangsung terus dan berubah secara konstan, artinya ; komunikasi
organisasi bukanlah sesuatu yang terjadi kemudian berhenti. Komunikasi
terjadi sepanjang waktu.12
Aliran informasi dalam suatu organisasi dapat terjadi dengan cara :
serentak, berurutan, atau kombinasi dari kedua cara ini. Dengan
berkembangnya teknologi yang ada sekarang semakin memungkinkan
untuk menyampaikan pesan secara serentak atau bersamaan misalnya jika
di dalam sebuah perusahaan atau organisasi memiliki jaringan intranet
maka hanya dengan sekali pengiriman surat elektronik atau e-mail maka
akan di terima oleh seluruh anggota-anggotanya, yang tetap berada di
tempat kerja masing-masing. Penyebaran pesan secara serentak mungkin
suatu cara yang lebih umum dan lebih efisien daripada cara lainnya untuk
melancarkan aliran informasi dalam suatu organisasi.
12
Ibid hal.170-171
19 Sementara peyampaian pesan secara berurutan adalah bentuk
komunikasi yang paling umum atau lazim terjadi di dalam organisasi
karena biasanya mengikuti hierakhi atau susunan struktur. Bila pesan
disampaikan dengan cara yang berurutan maka pesan akan sampai dalam
waktu yang berbeda pula, bisa terjadi berbagai kendala seperti masalah
dalam koordinasi, kemungkinan ketelambatan pesan itu sampai, semakin
banyak orang yang peru diberi informasi maka akan semakin lama waktu
yang diperlukan untuk pesan tersebut sampai.
Rochajat
memerlukan
13
menambahkan
komunikasi
keatas
bahwa
yang
Organisasi
sama
yang
banyaknya
efektif
dengan
kebutuhannya akan komunikasi ke bawah.
2.2.1. Tujuan Komunikasi Organisasi
Komunikasi dalam organisasi dapat berjalan efektif bila setiap
individu dalam organisasi dapat memahami tujuan dari komunikasi
organisasi itu sendiri. Tujuan komunikasi organisasi menurut Joseph A.
Devito dirumuskan menjadi 4 hal yaitu14 :
1. Untuk Penemuan Diri (Personal Discovery)
Bila kita berkomunikasi dengan orang lain, maka kita belajar mengenai
diri sendiri juga tentang orang lain. Penemuan diri juga dapat melalui
proses perbandingan sosial, sebagian besar cara kita mengevaluasi diri
sendiri adalah dengan cara membandingkan diri kita dengan orang lain.
Berkomunikasi juga bisa memungkinkan kita untuk menemukan dunia
luar yang tidak sepenuhnya terjangkau oleh kita sebelumnya
13 Harun Rochajat, Komunikasi Organisasi, Bandung. Mandar Maju 2008 hal. 47
14 Joseph A. Devito, Komunikasi Antar Manusia, Profesional Books, Jakarta. 1997, hal 31-32
20 2. Untuk Berhubungan
Salah satu motivasi kita yang paling kuat adalah berhubungan dengan
orang lain, membina dan memelihara hubungan dengan orang lain. Kita
menghabiskan banyak waktu dan energi komunikasi kita untuk membina
dan memelihara hubungan sosial.
3. Untuk Meyakinkan
Dalam perjuampaan antar pribadi sehari-hari kita berusaha mengubah
sikap dan perilaku orang lain, yang menghabiskan banyak waktu untuk
melakukan peruasi antar pribadi, baik sebagai sumber atau sebagai
penerima. Hanya sedikit dari komunikasi antar pribadi kita yang tidak
berupaya mengubah sikap atau perilaku.
4. Untuk Bermain
Kita menggunakan banyak perilaku komunikasi kita untuk bermain dan
menghibur diri. Kita banyak mendengarkan pelawak, pembicaraan. Musik
dan film sebagian besar untuk hiburan. Demikian pula banyak dari
perilaku komunikasi dirancang untuk mengibur orang lain.
2.2.2. Pola komunikasi organisasi
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pola komunikasi
merupakan suatu sistem penyampaian pesan melalui lambang-lambang
tertentu, mengandung arti tertentu dan pengoperan langsung untuk
mengubah tingkah laku individu yang lain untuk tingkah laku individu
yang lain.
Meskipun semua organisasi harus melakukan komunikasi dengan
berbagai pihak untuk mencapai tujuannya, pendekatan dan sistim pesan
yang dipakai antara satu organisasi dengan organisasi yang lain bervariasi
atau
berbeda-beda.
Untuk
organisasi
berskala
kecil
mungkin
pengaturannya tidak terlalu sulit sedangkan untuk perusahaan besar yang
21 memiliki ribuan karyawan maka penyampaian informasi kepada mereka
merupakan pekerjaan yang cukup rumit.
Salah satu tantangan besar dalam menentukan pola komunikasi
organisasi adalah proses yang berhubungan dengan jaringan komunikasi.
Jaringan komunikasi dapat membantu menentukan iklim dan moral
organisasi, yang pada gilirannya akan berpengaruh pada jaringan
komunikasi. Tantangan dalam menentukan pola komunikasi organisasi
adalah bagaimana menyampaikan informasi keseluruh bagian organisasi
dan bagaimana menerima informasi dari seluruh bagian organisasi. Untuk
menjalankan dan mencapai tujuan tersebut maka dalam organisasi terdapat
beberapa arah formal dan informal jaringan komunikasi dalam organisasi.
Untuk itu, menentukan suatu pola komunikasi yang tepat dalam
suatu organisasi merupakan suatu keharusan. Pola komunikasi yang terjadi
dalam organisasi dapat dilihat dalam bentuk aktivitas regular meeting.
Dimana pola komunikasi yang terdapat dalam aktivitas regular meeting itu
sendiri banyak dipengaruhi oleh jaringan komunikasi. Secara umum pola
komunikasi yang terdapat dalam aktivitas regular meeting dikelompokkan
menjadi jaringan komunikasi formal dan informal.
22 2.2.3. Komunikasi Informal
Menurut Ivancevich, kelompok informal adalah pengelompokan
alamiah yang dilakukan sejumlah orang dalam lingkungan kerja sebagai
respons terhadap kebutuhan-kebutuhan sosial. Dengan kata lain,
kelompok-kelompok informal tidak dengan sengaja diciptakan. Mereka
berkembang secara alamiah.15
Dengan demikian komunikasi informal dapat dilakukan oleh
orang-orang yang ada dalam organisasi tanpa memperdulikan jenjang
hirarki, pangkat dan kedudukan/jabatan, mereka dapat berkomunikasi
secara leluasa. Hal-hal yang mereka perbincangkan biasanya bersifat
umum, seperti memperbincangkan tentang masalah ekonomi, politik,
sosial sampai pada acara yang baru saja didengar atau dilihat di radio dan
tivi seperti acara musik, film dan sinetron. Bahkan dapat juga berbicara
mengenai masalah keluarga, anak-anak, kadang kala mereka juga
membicarakan hal yang berkaitan denan situasi kerja dalam organisasinya.
Bila
mengindahkan
pegawai
berkomunikasi
posisinya
dalam
satu
sama
berorganisasi,
lainnya
faktor-faktor
tanpa
yang
mengarahkan aliran informasi lebih bersifat pribadi. Arah aliran informasi
kurang stabil, informasi bisa mengalir ke atas, ke bawah, horizontal, dan
melintasi saluran. Karena informasi informal/personal ini muncul dari
interaksi diantara orang-orang, informasi ini tampaknya mengalir dengan
arah yang tidak dapat diduga, dan jaringanya digolongkan sebagai sebagai
selentingan (grapevine)
15
Ivancevich, Konopaske, Metteson, Perilaku Dan Manajemen Organisasi, 2005, Penerbit
Erlangga. Hal 6.
23 Dalam komunikasi organisasi, aliran informasi mengalir dari
berbagai arah. Hal seperti itu sangat sering kita temui di berbagai
perusahaan, dimana komunikasi informal berperan lebih besar daripada
komunikasi formal. Kurang efektifnya jaringan komunikasi formal dalam
menyampaikan informasi menjadi salah satu pemicu penyebab jaringan
komunikasi informal menjadi sarana mencari informasi.
Jaringan komunikasi penting bagi suatu perusahaan karena
terbukanya peluang sarana dan fasilitas komunikasi antar sesama
karyawan maupun atasan. Dengan memahami dan memberikan perhatian
tentang isu yang tengah berkembang didalam jaringan komunikasi
informal ini pimpinan dapat segera mengetahui tentang apa yang terjadi
dikalangan bawahnya. Peran jaringan komunikasi menjadi begitu penting
sebagai sarana atau wadah untuk mewakili berbagai kepentingan maupun
segala bentuk aktivitas perusahaan. Oleh sebab itu, jaringan komunikasi
telah disebutkan pula sebagai sistem penunjang dalam kehidupan sosial
(social support systems). Orang-orang yang kita kenal dan kepada siapa
kita bergantung, dapat mempengaruhi keberhasilan, keamanan dan
kesejahteraan kita.
Kita mungkin telah mengetahui bahwa jika didalam suatu
organisasi yang memiliki komunikasi ke bawahnya tidak efektif, maka
akan membuat informasi di dalam organisasi menjadi vakum atau tidak
berkembang, dan hal ini dapat diisi dengan rumor-rumor(desas-desus) atau
biasa juga dikenal dengan sebutan Grapevine Tubbs menyatakan bahwa
24 saluran komunikasi informal digunakan dalam organisasi, saluran-saluran
seperti itu biasanya disebut dengan “rumor mills” dan “grapevine”
informal channels of communication used in organizations. Such channels
are often labeled “rumor mills” and the “grapevine”.16
Eric Foster seorang psikologi di Temple University menyatakan
bahwa “rumor untuk melumasi roda-roda sosial, dan rumor diperlukan
untuk tetap merasa nyaman, membuktikan kepercayaan, dan mengetahui
segala macam yang terjadi sehari-hari “Gossip greases the social wheels.
We need to gossip to establish the trust, to feel comfortable, to find out all
kinds of things that allow us to operate effectively on an everyday basis.”17
Jaringan komunikasi informal lebih dikenal dengan desas-desus
(grapevine) atau kabar angin. Informasi yang mengalir dalam jaringan
grapevine ini, kelihatannya berubah-ubah dan tersembunyi. Dalam istilah
komunikasi grapevine dikatakan sebagai metode untuk menyampaikan
rahasia dari orang ke orang yang tidak dapat melalui jaringan komunikasi
formal. Komunikasi informal cenderung berisi laporan rahasia mengenai
orang dan kejadian-kejadian yang tidak mengalir secara resmi. Informasi
yang diperoleh dari desas-desus adalah yang berkenaan dengan apa yang
didengar atau apa yang dikatakan orang bukan apa yang diumumkan oleh
yang berkuasa. Jaringan komunikasi informal memiliki kelebihan dan
kelemahan yang memberikan dampak kepada organisasi. Adapun
kelebihannya adalah dapat berfungsi sebagai papan pengumuman yang
menyuarakan kepenatan pegawai, membantu menyalurkan berita yang
16 Tubbs L Stewart, Moss Sylvia Human communication,McGraw-Hill,New York,
Americas,2008 hal. 493
17
Ibid hal.494
25 tidak bisa dikirim lewat jaringan formal, memperlancar proses
penyelesaian
tugas-tugas
pekerjaan
dan
membantu
memperbaiki
kehidupan sosial dan organisasi karena pegawai saling berbagi berita
selentingan, sehingga satu sama lain menjadi pemain kelompok yang
kompak. Sedangkan kelemahannya adalah meskipun akurasi berita bisa
75% sampai 95% kebenaran namun seringkali kesalahan terjadi juga,
pegawai terkadang dapat mengubah fakta sesuai kepentingan pribadinya
dari pada menyampaikan fakta sebenarnya dan sulit memastikan siapa
yang harus bertanggung jawab terhadap fakta selentingan tersebut dimana
pesan dikirim secara tidak tepat.
Efek negatif dari grapevine dapat dikontrol oleh pimpinan dengan
menjaga jaringan komunikasi formal yang bersifat terbuka, jujur, teliti dan
sensitif terhadap komunikasi, ke atas, ke bawah dan horizontal. Pimpinan
dapat memanfaatkan kelebihan jaringan ini untuk menunjang dan
melengkapi pesan yang diperlukan, seperti suasana emosi, sentimen dan
sikap karyawan terhadap berbagai masalah organisasi dan menajemen
yang berkaitan dengan kepentingan pegawai dan keluarganya yang sulit
didapat melalui jaringan formal, sehingga pimpinan dapat lebih arif dalam
mengambil keputusan.
26 2.2.4. Jaringan Komunikasi
Jaringan
komunikasi
adalah
saluran
yang
digunakan
untuk
meneruskan pesan dari satu orang ke orang lain.
Dua perspektif jaringan:
1. Kelompok kecil sesuai dengan sumber daya yang dimiliknya akan
mengembangkan pola komunikasi yang menggabungkan beberapa
struktur jaringan komunikasi.
2. Jaringan komunikasi dipandang sebagai struktur yang diformalkan, yang
diciptakan organisasi sebagai sarana komunikasi organisasi dan
kelompok.
3. Jaringan komunikasi merupakan jenis umum pola komunikasi kelompok
dan dapat dijumpai umumnya dalam organisasi dan kelompok.
Struktur jaringan komunikasi terbagi kedalam beberapa model 18:
1.
Model Lingkaran (Circle)
Pada strukur jaringan ini, model lingkaran ini tidak memiliki
pemimpin. Semua anggota klik memiliki posisi, wewenang dan
kekuatan yang sama untuk mempengaruhi kelompok ataupun
komunitas. Dan Antara anggota klik hanya berkomunikasi dengan dua
anggota klik lainnya.
2.
Model Roda (Wheel)
Sistem jaringan komunikasi pada model roda terpusat pada satu
orang pemimpin. Dan Pemimpin tersebut memiliki posisi di pusat.
Hanya seseorang yang dapat mengirim dan menerima pesan dari
semua anggota klik. Pesan komunikasi disampaikan melalui
pemimpin dan yang ingin memberikan pesan kepada anggota klik
yang lain harus disampaikan kepada pemimpin terlebih dahulu.
3.
Model huruf “Y”
Model jaringan komunikasi dalam kelompok ini tidak jauh
berbeda dengan model rantai (chain), yaitu memiliki dua pemimpin.
18
Joseph A.Devito,Loc Cit.1997.Hal.344
27 Terdapat satu orang pemimpin, tetapi satu anggota lain berperan
sebagai pemimpin kedua. Satu anggota klik dapat menerima pesan
dari dua orang anggota klik yang lainnya. Dan komunikasi terbatas,
hanya dengan satu orang anggota klik lainnya.
4.
Model Rantai (Chain)
Model jaringan komunikasi ini terdapat lima tingkatan, anggota
klik yang berada di posisi tengah lebih berperan sebagai pemimpin
daripada mereka yang berada di posisi lain. Dan Anggota yang paling
ujung hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja.
5.
Model Semua Saluran / Saluran Bebas (All Channel)
Model jaringan komunikasi system ini adalah pengembangan
model lingkaran (circle) dimana dari semua level tersebut dapat
melakukan interaksi secara timbal balik tanpa menganut siapa yang
menjadi tokoh sentralnya. Semua salauran komunikasi antar tingkatan
jenjang hierarkinya tidak dibatasi dan setiap karyawan dapat bebas
dapat melakukan interaksinya dengan karyawan lainya.
Sumber : Joseph A. Devito, 1997 : 344 – 345
28 2.2.4.1. Jaringan Komunikasi Informal
Jaringan komunikasi informal merupakan analisis jaringan yang
menggambarkan hubungan atau korelasi orang-orang serta kelompok
tertentu (klik), keterbukaan satu sama lain dan tidak memandang jabatan
atau posisi dalam organisasi. Dalam jaringan komunikasi informal terdapat
individu-individu yang memegang suatu peran dalam jaringan, dimana
individu-individu lainnya akan berdiskusi dan mendapatkan informasi
dirinya. Dan juga terdapat individu yang menghubungkan kelompokkelompok tersebut. Mereka akan berkomunikasi secara berkesinambungan
dan membentuk pola jaringan komunikasi yang khas dari masing-masing
individu dan klik.
Klik adalah bagian dari suatu sistem jaringan komunikasi yang
anggotanya relatif lebih sering berhubungan dengan satu sama lain antar
anggotanya.19 Syarat klik adalah sebagai berikut:
a. Setiap klik paling sedikit terdiri dari tiga anggota
b. Setiap anggota klik tidak memiliki 50% hubungan
c. Semua anggota klik harus berhubungan satu sama lain secara langsung
maupun tidak langsung artinya tidak memperhatikan arah hubungan.
Rogers dan Agrawala mendefinisikan klik sebagai sub sistem yang
anggotanya berinteraksi lebih banyak dibandingkan anggota lainnya.
Rogers juga mengatakan kelompok kecil atau klik yang muncul akan
membentuk suatu strukur organisasi formal, ‘perekat’ yang
menghubungkan klik dalam suatu struktur jaringan adalah liason dan
bridge, dimana mereka menjembatani hubungan interpersonal dalam
suatu klik.20
19
Rogers and Kincaid, Communication Networks Toward a New Paradigm for Research,
1981.Hal:177)
20
Rogers and Agrawala Op.cit, 1976 hal : 113
29 Satu syarat bagi anggota klik adalah bahwa individu-individu harus
mampu melakukan kontak satu dengan yang lainnya bahkan dengan cara
tidak langsung. Hal ini terjadi dalam klik, pada saat berkomunikasi mereka
cenderung lebih suka melakukan komunikasi tatap muka
Mengenai bentuk atau model klik, Alex Bavelas dalam bukunya membagi
tiga yaitu :
a. Bentuk Wheel (Roda), dimana dalam suatu klik terdapat individu yang
menjadi pusat anggota lainnya untuk berdiskusi dan bertanya.
b. Bentuk Circle (Lingkaran), pada model ini tidak terdapat pemusatan
lembar informasi pada satu orang saja dalam klikm tetapi lebih merata
kepada semua anggota klik.
c. Bentuk All Channel (semua saluran), pada model ini hubungan antar
anggota klik berlangsung secara maksimal karena setiap anggota.21
Sedangkan Laumann dan Rogers (1973) menggolonglan pola komunikasi
dalam jaringan menjadi tiga yaitu :
a) Tipe Interlocking, yaitu tipe komunikasi individu yang mengunci
dimana satu sama lain saling memilih
b) Tipe Mutual Pair, yaitu dimana antar individu saling memilih dan
dipilih sehingga akan terjadi hubungan timbal balik.
c) Tipe Radial, yaitu membuka keluar dimana anggota klik tidak saling
memilik tapi memiliki pilihan lain.22
Meskipun tidak terbentuk secara formal namun jaringan komunikasi
informal mempunyai beberapa kegunaan, yaitu :
1. Jaringan komunikasi informal dapat memuaskan salah satu kebutuhan
karyawan, yaitu dapat memelihara dan menikmati hubungan
persahabatan dengan rekan sekerjanya.
2. Jaringan komunikasi informal dapat membantu karyawan, dalam
memahami lingkungan kerjanya terutama dalam menginterpretasikan
perintah yang kurang jelas dari atasan.
3. Jaringan komunikasi informal dapat memastikan salah satu kebutuhan
karyawan yaitu dapat memelihara
dan menikmati hubungan
23
persahabatan dengan rekan sekerjanya
21
22
23
Ibid.hal.120
J.A Suparman, Pengantar Sosiometri, hal: 321
Jack Halloran, Applied Human Relation Organization Approach, New York, 1998, hal 77
30 2.2.4.2. Desas Desus (Grapevine)
Bila karyawan berkomunikasi dengan karyawan yang lain tanpa
memperhatikan posisi dan kedudukan mereka dalam organisasi, maka
pengarahan arus informasi bersifat pribadi. Jaringan komunikasi informal
dikatakan sebagai hubungan antara pengurus-pengurus dan anggota suatu
organisasi yang terbentuk secara alami dimana terdapat proses penyampaian
pesan, informasi dan isu-isu mengenai hal, baik yang berhubungan dengan
pekerjaan maupun intern.
Jaringan komunikasi ini lebih dikenal dengan desas – desus
(grapevine) atau kabar angin atau gosip. Menurut robbins
“grapevine”
adalah the organization’s informal communication network atau dengan kata
lain grapevine adalah suatu jaringan akan komunikasi informal dalam suatu
organisasi, layaknya tanaman anggur dengan ranting yang bercabang.24
Rosnow mendefinisikan desas–desus sebagai proposisi untuk
dipercaya tersebar tanpa pembuktian resmi. Selain itu Rosnow juga
beranggapan bahwa desas–desus merupakan sebuah fungsi ambiguitas
situasi yang diperkuat oleh pentingnya sebuah isu Peneliti berteori bahwa
desas –desus mengurangi ketegangan emosional dan biasanya timbul dari
lingkungan yang ambigu25
24
James A. F Stoner dan R. Edward Freeman, Manajemen Jilid I, Jakarta : PT. Indeks Gramedia
Group, 2003, hal 307
25
Deddy Mulyana, Konteks-konteks komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000, hal 188
31 Sifat grapevine (desas desus) yang digambarkan oleh W. L. Davis &
Connor, adalah26 :
1. Selentingan berjalan terutama melalui interaksi mulut ke mulut
2. Selentingan umumnya bebas dari kendala – kendala organisasi dan
posisi
3. Selentingan menyebarkan informasi dengan cepat
4. Jaringan kerja selentingan digambarkan sebagai suatu ”rantai
kelompok” karena setiap orang yang menyampaikan selentingan
cenderung mengabarkannya kepada sekelompok orang daripada hanya
kepada satu orang saja.
5. Para peserta dalam jaringan kerja selentingan cenderung menjalankan
satu dari tiga peranan yaitu penghubung, penyendiri atau pengakhir.
Mereka ini biasanya yang tidak melanjutkan informasi.
6. Selentingan cenderung lebih merupakan produk suatu situasi daripada
produk orang – orang dalam organisasi tersebut.
7. Semakin cepat seseorang mengetahui suatu peristiwa yang baru saja
terjadi, semakin besar kemungkinan ia menceritakannya kepada orang –
orang lainnya.
8. Bila suatu informasi yang disampaikan pada seseorang menyangkut
sesuatu yang menarik perhatiannya, semakin besar kemungkinan ia
menyampaikan informasi tersebut kepada orang lain.
9. Aliran utama informasi dalam selentingan cenderung terjadi dalam
kelompok-kelompok tersebut.
10. Umumnya, 75% - 90 % dari rincian pesan yang disampaikan adalah
cermat.
11. Informasi selentingan biasanya tidak lengkap, menghasilkan kesalahan
interpretasi bahkan bila rinciannya cermat.
12. Selentingan cenderung mempengaruhi organisasi, apakah untuk
kebaikan atau keburukan, jadi pemahaman mengenai selentingan dan
bagaimana selentingan ini dapat memberi andil positif kepada
organisasi yang merupakan hal penting
2.2.4.3. Peran-peran dalam Jaringan Komunikasi
Dalam
jaringan
komunikasi
terdapat
peran
sebagaimana
dikemukakan oleh Rogers. Terdapat individu-individu yang memegang
suatu peran dalam jaringan, dimana individu-individu lainnya akan
berdiskusi dan mendapatkan informasi dirinya. Beberapa peran-peran
26
R.Wayne and Don Faules, op.cit.,200 - 201
32 tersebut adalah Opinion Leader, Gate Keeper, Liason, Isolate dan
Bridge.27 Peran-peran inilah yang nantinya mengubungkan individu satu
dengan individu lainnya.
Dalam hubungan antar klik terdapat peran-peran khusus yang
dimainkan oleh individu tertentu adalah jaringan komunikasi. Sesuai
dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka peranperan individu akan didefiniskan sebagai berikut :
1.
Opinion Leader adalah orang yang banyak dipilih sebagai sumber
informasi., Pemimpin informal dapat memmpengaruhi sikap para
anggota kelompok dengan membantu mereka menginterpretasikan
informasi baru dan menentukan situasi dan kerja. Dan mereka
bukanlah selalu orang yang mempunyai otoritas formal dalam
organisasi tetapi membimbing tingkah laku anggota organisasi dan
mempengaruhi keputusan mereka.
2. Gate Keeper adalah orang yang berada dalam struktur jaringan
komunikasi yang memungkinkan, dia melakukan kontrol arus
komunikasi.
Mereka
berada
ditengah
suatu
jaringan
dan
menyampaikan pesan dari satu orang kepada orang lain atau tidak
memberikan informasi. Dalam hal ini penjaga gawang atau gate
keeper mempunyai kekuasaan dalam memutuskan apakah suatu
informasi penting atau tidak. Jika penjaga gawang memutuskan bahwa
informasi
tersebut
tidak
penting,
27
Arni Muhamad, Komunikasi Organisasi, hal: 102
kemudian
seseorang
harus
33 mendapatkan informasi tersebut, maka mungkin informasi tersebut
tidak diberikan. Nyatalah bahwa peranan penjaga gawang ini sangat
penting dalam jaringan komunikasi.
3. Kosmopolit adalah orang yang melakukan kontak dengan dunia luar,
dengan
individu-individu
diluar
perusahan.
Mereka
ini
mengumpulkan informasi dari sumber–sumber yang ada dalam
lingkungan dan memberikan informasi mengenai organisasi kepada
orang – orang tertentu dalam lingkungannya.
4. Liason adalah sama perannya dengan Bridge tetapi individu itu sendiri
bukanlah anggota dari satu kelompok tetapi dia merupakan
penghubung diantara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Liason
adalah seseorang yang mengubungkan dua atau lebih individu dalam
suatu system yang menghubungkan dua tau lebih individu dalam suatu
system tetapi ia tidak menjadi anggota dari klik-klik tersbut.
5. Isolate adalah individu yang berada dalam jaringan komunikasi
tersebut, namun tidak melakukan pilihan ataupun terpilih oleh anggota
lainnya. Individu ini menyembunyikan diri dan diasingkan oleh
teman-temannya.
Goldhaber
merumuskan
sifat-sifat
khusus
penyendiri. Penyendiri berbeda dengan anggota kelompok lainnya
dalam arti kurang aman dalam konsep diri mereka diantaranya adalah:
a.
Kurang termotivasi oleh cita-cita
b.
Kurang bersedia berinteraksi dengan orang lain
c.
Lebih muda dan kurang berpengalaman dalam system
34 d.
Lebih jarang menduduki posisi yang kuat
e.
Lebih cenderung menahan daripada melancarkan aliran informasi.
f.
Relatif tidak puas dengan system komunikasi
g.
Beranggapan bahwa system komunikasi tertutup bagi mereka.
2.3.
Public Relations
2.3.1
Pengertian Public Relations.
Kegiatan public relations membutuhkan kepekaan terhadap peristiwa dan
kecendrungan dalam masyarakat. masalah hubungan masyarakat sering timbul
bila kelompok atau perorangan berkomunikasi dan menimbulkan kesalah fahaman
satu sama lain. Beberapa pengertian mengenai Public Relations :
“Public Relations adalah bentuk komunikasi yang terencana, baik itu
kedalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya
dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling
pengertian”28
Kebutuhan akan sebuah komunikasi yang harmonis antara perusahaan
dengan berbagai publiknya baik eksternal maupun internal, telah meningkatkan
perhatian terhadap Public Relations. Berawal dari kesuksesan yang dicapai Ivy
Lee di Pennsylvania Railroad, kini penggunaan konsep dan kegiatan Public
Relations modern telah sangat luas di berbagai bidang dan perusahaan. Meski
fokusnya tetap pada pembentukan citra yang baik, konsep Public Relations
menjadi salah satu komponen penting dalam pembuatan keputusan atau Policy
Making.
28 Frank
Jefkins. Effective Public Relations, edisi kelima. Jakarta, Erlangga: 2003, hal 10
35 Menurut Oemi dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Public Relations
mengemukakan bahwa :
Public Relations dinyatakan sebagai kebijaksanaan dari perusahaan yang
berhubungan dengan publik dalam usaha untuk membangun Good Will,
menanamkan kepercayaan, pengertian dan penghargaan. Usaha untuk
mewujudkan hubungan yang harmonis antara suatu badan dengan publiknya
adalah untuk memberikan atau menanamkan kesan yang menyenangkan,
sehingga timbul opini publik yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup
badan atau perusahaan itu29, dan yang dikutip dari Bonham bahwa : ”Public
Relations sebagai suatu seni untuk menciptakan pengertian publik yang baik,
yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seseorang atau suatu
organisasi atau badan”. 30
Adapun pengertian Public Relations adalah upaya yang sungguh-sungguh
terencanakan dan berkesinambungan untuk menciptakan dan membina saling
pengertian antara organisasi dengan publiknya.
Definisi menurut pakar Public Relations yang mengadakan pertemuan
pada bulan agustus 1987 dinamakan The Statement of Mexico yang dikutip Ruslan
dalam bukunya Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi berbunyi:
“Praktik Public Relations adalah seni dan ilmu pengetahuan sosial untuk
menganalisis
kecenderungan,
memprediksi
konsekuensi-konsekuensinya,
menasehati para pemimpin organisasi, dan melakukan program yang terencana
mengenai kegiatan-kegiatan yang melayani, baik kepentingan organisasi maupun
publik atau umum”.31
Hubungan masyarakat merupakan segala bentuk komunikasi berencana
keluar dan dalam antara sebuah organisasi dengan masyarakat untuk memperoleh
sasaran
tertentu
yang
berhubungan
dengan
saling
pengertian
(mutual
understanding)
29
Abdurrachman Oemi, Dasar Dasar Public Relations,Bandung, Citra Aditya Bhakti1993, Hal 27
ibid hal 25
31 Rosady Ruslan, Manajemen Humas dan Komunikasi, Jakarta, Raja Grafindo Perkasa: 1998 hal 18 30
36 Definisi tersebut menyatakan bahwa dalam Public Relations itu adalah
suatu keinginan untuk menanamkan pengertian, good will, kepercayaan,
penghargaan dari publik kepada suatu badan khususnya masyarakat umum.
Sekecil apapun penilaian dari publik dapat mempengaruhi eksistensi suatu
perusahaan karena secara langsung dan tidak langsung kegiatan suatu perusahaan
akan selalu berhubungan dengan publik. Baik publik ekternal maupun publik
internal.
Sedangkan menurut Ruslan mengutip, Edward. L Bernay, dalam bukunya
Public Relations, University of Oklalahoma Press, yang menjelaskan bahwa
humas tersebut mempunyai tiga fungsi utama sebagai berikut :
1. Memberikan penerangan kepada masyarakat.
2. Melaksanakan persuasi untuk mengubah sikap dan perbuatan masyarakat
secara langsung.
3. Berupaya untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan masyarakat atau
sebaliknya.32
Pada dasarnya, Public Relations merupakan bidang atau fungsi tertentu
yang diperlukan oleh setiap organisasi, baik itu organisasi yang bersifat komersial
(perusahaan) maupun organisasi yang non komersial. Karena Public Relations
merupakan salah satu elemen yang menentukan kelangsungan suatu organisasi
secara positif. Arti penting Public Relations sebagai sumber informasi terpercaya
kian terasa pada era globalisasi dan “banjir informasi” seperti saat ini.
Definisi public relations yang telah dikemukakan di atas dapat
disimpulkan sebagai kegiatan komunikasi yang diadakan oleh suatu organisasi
32 ibid hal 19 37 atau perusahaan tertentu kepada khalayak internal dan eksternal perusahaan
dengan maksud terjalinnya hubungan yang harmonis serta adanya saling
pengertian dan kerja sama antara keduanya yang saling menguntungkan.
2.3.2. Tujuan dan Fungsi Public Relations
2.3.2.1. Tujuan Public Relations
Adapun tujuan Public Relations secara umum adalah menciptakan dan
memelihara saling pengertian, maksudnya adalah untuk memastikan bahwa
organisasi tersebut senantiasa dimengerti oleh pihak lain yang berkepentingan.
Dengan adanya kata ‘saling’ maka organisasi pun harus dapat memahami
publiknya.
Oxley menurut Yosal tujuan PR sesungguhnya tidak bisa lepas dari tujuan
organisasi, mengingat PR adalah fungsi manajemen satu organisasi dan PR pun
bekerja di dalam organisasi itu. Dan ditegaskan bahwa prinsipnya Tujuan PR jelas
dan mutlak memberi sumbangan pada objektif organisasi secara keseluruhan.
Sedangkan tujuannya adalah mengikhtiarkan dan memelihara saling pengertian
antara organisasi dan publiknya.
Rincian tujuan PR itu ternyata begitu luas. Namun pada intinya tetap
menjalin hubungan baik dengan para pihak atau publik-publik organisasi.
Hubungan yang baik yang terjalin bukan semata demi keuntungan dan
kemaslahatan kedua belah pihak. Organisasi menikmati keuntungan dan manfaat
dari hubungan baik itu publik organisasi bisa menikmati keuntungan dan
manfaatnya. Tak ada yang ditinggalkan atau diperalat dalam hubungan yang
terjalin dengan baik.
38 2.3.2.2 Fungsi Public Relations
Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku Hubungan Masyarakat
Suatu Studi Kriminologis, dirumuskan fungsi PR sebagi berikut33:
1. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi
2. Membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publik, baik publik
eksternal maupun internal
3. Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik dengan menyebarkan
informasi dari organisasi kepada publik dan menyalurkan opini publik kepada
organisasi
4. Melayani publik dan menasehati pimpinan organisasi demi kepentingan
umum.
2.3.3 Lingkup Public Relations
Pada umumnya kegiatan Public Relations ditujukan kepada dua jenis
sasaran/publik yaitu Publik Internal dan Publik Eksternal. Kedua macam publik
ini dapat pula dikenal dengan istilah Stakeholder. Publik Internal adalah publik
yang berada di dalam organisasi dan yang dimaksud dengan Publik Eksternal
yaitu Publik yang berada di luar organisasi. Berdasarkan pembagian tersebut,
Public Relations harus senantiasa memelihara komunikasi yang baik kepada
internal dan eksternal publiknya.
2.3.3.1. Public Internal Relation
Konsep Public Relations bukan hanya menyangkut masalah hubungan
antara perusahaan dengan pelanggan saja tetapi juga hubungan dengan publikpublik lainnya yang berhubungan dengan perusahaan, termasuk hubungan dengan
33
Onong Uchajana Effendy, Hubungan Masyarakat: Suatu Studikomunikologis, PT Remaja
Rosdakarya, Bandung, 2002. Hal 24
39 karyawan. Karena hubungan antara perusahaan dengan para karyawan menjadi
ujung tombak terhadap terbentuknya motivasi kerja para karyawan perusahaan.
Sebagai suatu seni, Public Relations bukan sekedar teori dengan
konsepnya, namun seperti halnya seni pada umumnya, melibatkan jiwa manusia
dengan kompleksitasnya. Sebagai seni pendekatan yang digunakan harus
mengandung unsur psikologi manusia. Pelaksanaan Public Relations sebagai seni
tidak terbatas dari Human Relations. Dimana dalam pembangunan hubungan
antara perusahaan dengan karyawan harus melihat sudut pandang bahwa
karyawan adalah pribadi yang ingin diperlakukan dengan respect (hormat) dan
dignity (penghargaan).
Yulianita dalam bukunya Dasar-dasar Public Relations, menyatakan
hubungan yang terbentuk dalam publik internal pada suatu organasasi/perusahaan
adalah sebagai berikut :34
1. Employee Relations, merupakan suatu kegiatan public realtions untuk
memelihara hubungan antara pihak manajemen dan para karyawannya.
Dapat dilakukan melalui berbagai hal misalnya memberikan upah yang
cukup, perlakuan yang adil, memeberikan jaminan kesehatan, ketenangan
dalam bekerja, memberikan penghargaan atas hasil kerja yang telah di raih.
2. Manajer Relations, merupakan suatu kegiatan public relations untuk
memelihara hubungan baik antara para manajer di lingkungan perusahaan.
3. Labour Relations, merupakan suatu kegiatan public relations untuk
memelihara hubungan antara pimpinan dengan serikat buruh yang berada di
dalam di dalam perusahaan dan turut menyelesaikan maslah-masalah yang
timbul diantara keduanya.
4. Stakeholder Relations, merupakan suatu kegiatan public relations untuk
memelihara hubungan baik antar pemegang saham dengan tujuan membina
hubungan dan untuk memajukan perusahaan. Contoh kegiatannya,
34
Yulianita,Neni, Dasar-Dasar Public Relations, Penerbit Pusat Penerbit Universitas (P2U), 2005.
hal 57
40 menyatakan selamat kepada pemegang saham baru, memberikan laporan,
mengirimkan majalah organisasi.
5. Human Relations, merupakan suatu kegiatan public retaions untuk
memelihara hubungan antar sesama warga perusahaan dengan tujuan
mempererat rasa persaudaraan dan meningkatkan kesejahteraan demi
kepuasaan bersama.
Kelima kegiatan yang tertulis diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
kegiatan Internal Relations yang mencakup hubungan antara manajemen dengan
karyawan, para manajer
Download