Rohmat - E

advertisement
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
Ketentuan Tentang Keharusan Pencatatan Pernikahan Dalam Hukum Positif
Rohmat
Abstrak: Masyarakat Indonesia yang heterogen baik
dari segi agama, ras, ataupun budaya dan adat
istiadat merupakan masyarakat yang sudah barang
tentu mempunyai norma-norma adat yang berlaku
bagi masing-masing kelompok itu. Agama Islam
adalah agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat
Indonesia sejak Islam mulai masuk di Perlak, Aceh
sampai sekarang.
Hukum Islam yang telah lama dianut dan diamalkan oleh
mayoritas bangsa ini, layak untuk menduduki posisi yang
penting. Maka tidaklah diskriminatif manakala hukum
positif Indonesia mendapat sumbnagan dari hukum Islam.
Salah satu realisasi konkritnya adalah UU No. 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan.
Bagaimana sumbangan hukum Islam dalam pembentukan
hukum Positif, dan bagaimana pelaksanaan hukum Islam
yang telah teradopsi dalam hukum Positif itu, serta
bagaimana tentang pencatatan pernikahan itu sendiri.
Kata Kunci: Pencatatan Pernikahan, Hukum Positif
A. Pendahuluan
Allah swt. menciptakan manusia sudah dibekali dengan nafsu
di samping akal dan intuisi atau perasaan. Dengan nafsu ini manusia
mempunyai syahwat, kecenderungan dorongan, semangat dan
kemauan, tergantung mana yang lebih dominan dan sejauh mana
kemampuannya untuk mengelola potensi tersebut agar sesuai dengan
norma-norma hukum Syari’at maupun norma bermasyarakat.
Pernikahan bukanlah sekedar pintu masuk untuk pemenuhan
kebutuhan biologis semata, tapi lebih dari itu yakni merupakan sunnah
Rasul. Setiap insan tentu ingin membina rumah tangga dengan jalan
melangsungkan pernikahan. dalam diri manusia terdapat hajah atau
syahwah jinsiyah (kebutuhan atau nafsu biologis), yang diberikan oleh
Allah dalam rangka untuk menjaga perkembang biakan manusia
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 143
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
(tannasul) bagai prasyarat proses imarah al-ardh (memakmurkan
bumi) secara berkesinambungan.1
Sudah bisa dipastikan pula, perkawinan tersebut diharapkan
dapat memberikan kebahagiaan lahir batin, suatu kondisi yang sering
kita istilahkan dengan penuh mawaddah, mahabbah dan rahmah. Oleh
karenanya, gagasan tentang “rumahku adalah surgaku di dunia” dapat
menjadi kenyataan.
Memperbincangkan masalah pernikahan sudah barang tentu
terkait erat dengan aturan-aturan yang telah digariskan oleh hukum
syari’at, hukum positif dan adat istiadat yang berlaku di daerah
tersebut. Perihal aturan-aturan hukum perkawinan baik hukum Islam,
hukum adat maupun hukum formal tidak selamanya seiring sejalan.
Hal ini disebabkan oleh produk hukum itu sendiri, hukum Islam
berasal dari aturan aturan wahyu Ilahi, hadits maupun ijtihad ulama,
sedangkan dalam hukum positif murni buah pemikiran manusia. Jadi
tidak mengherankan bila pada gilirannya menyebabkan perbedaan
materi hukumnya meskipun pada masalah yang sama, meskipun
demikian pada sisi-sisi tertentu ada banyak kesamaan tapi tidak pada
hal-hal yang prinsipil.
Dalam kaitan ini, penulis ingin mencermati salah satu materi
dalam Kompilasi Hukum Islam perihal keharusan pencatatan
pernikahan bagi mempelai yang ingin mengikatkan dirinya dalam
sebuah tali pernikahan. Kompilasi Hukum Islam sebagai salah satu
undang undang hukum positif yang berlaku di negeri ini. Di dalam
pasal 5 Kompilasi Hukum Islam disebutkan agar terjaminnya
ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam “harus” dicatat.2 Dalam
pasal 6 ayat juga mengulangi pengertian pencatatan dalam artian
setiap perkawinan “harus” dilangsungkan dihadapan dan di bawah
pengawasan Pegawai Pencatat Nikah.3
Apabila kita memahami lebih dalam isi Kompilasi Hukum
Islam, kata “harus” di sini adalah “wajib” menurut pengertian hukum
Islam.4 Oleh karenanya pernikahan yang dilakukan di luar
pengawasan Pegawai Pencatat Nikah maka “tidak mempunyai
kekuatan hukum”. Sedangkan dalam 7 ayat (1) menyebutkan
perkawinan “hanya” dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat
oleh Pegawai Pencatat Nikah. Dengan demikian, mencatatkan
1
MA. Sahal Mahfudh, Solusi Problematika Umat, Surabaya: LTN NU Jawa
Timur, 2003, hlm. 243.
2
Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam, Jakarta:
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan agama Islam, 2000, hlm. 15
3
Ibid.
4
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta: Akademika
Pressindo, 1992, hlm. 68.
144 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
perkawinan adalah merupakan kewajiban bagi mereka yang akan
melangsungkan perkawinan. Sedangkan di dalam aturan hukum
syari’at sama sekali tidak menyebutkan tentang kewajiban pencatatan
perkawinan ini.5
Apa yang terkandung dalam Undang Undang Perkawinan dan
Kompilasi Hukum Islam, perihal keharusan pencatatan perkawinan ini
menurut hemat penulis terkait erat dengan tujuan hukum (maqashid
syari’ah) yakni kemaslahatan kedua mempelai di dalam terlindungi
secara hukum. Mengingat hukum yang berlaku di negeri ini bukanlah
hukum Islam.
B. Hukum Positif di Indonesia
Perkataan hukum yang sering kali kita gunakan sehari-hari,
berasal dari kata hukm dalam bahasa Arab. Artinya norma atau kaidah
ukuran, tolok ukur, patokan, pedoman yang dipergunakan untuk
menilai tingkah laku atau perbuatan manusia dan benda. Hubungan
antara perkataan hukum dalam bahasa Indonesia tersebut dengan
hukum dalam pengertian norma dalam bahasa arab tersebut memang
sangat erat sekali, sebab setiap peraturan, apapun bentuk dan
sumbernya, dapat dipastikan mengandung unsur norma atau kaidah
sebagi intinya.6
Perangkat kaidah-kaidah hukum dalam masyarakat, biasanya
mengatur pelbagai bidang kehidupan, sehingga menimbulkan tata
hukum tertentu. Masyarakat dan warga-warganya hidup dalam suatu
wadah yang disebut negara yang berinteraksi dengan adanya sistem
pemerintahan. Hubungan antara warga masyarakat dengan negara dan
pemerintahan diatur oleh hukum negara. Untuk lebih jelasnya, berikut
ini adalah pendapat para pakar hukum tentang pengertian hukum
positif:
1. Menurut C.S.T. Kansil, hukum positif adalah hukum yang sedang
berlaku pada suatu masyarakat.7
2. Menurut Muhammad Daud Ali, hukum positif adalah sistem atau
susunan hukum yang berlaku di suatu daerah atau negara tertentu8
3. Sedangkan menurut Soerjono Soekanto, hukum positif adalah
hukum perundang-undangan yang mencakup semua hasil
keputusan resmi yang tertulis dari penguasa/pemerintah, yang
mengikat secara umum. Perundang-undangan tersebut terikat oleh
5
Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991, loc., cit.
Muhammad Daud Ali, Hukum Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2004, hlm. 44.
7
C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia,
Jakarta: Balai Pustaka, 1989, hlm. 73.
8
Muhammad Daud Ali, op., cit., hlm. 231.
6
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 145
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
hierarki atau tingkatan tertentu dimana perundang-undangan yang
lebih rendah harus mengacu pada yang lebih tinggi derajatnya.
Misalnya, Undang Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan
Presiden, dan peraturan perundang-undangan daerah seperti
Perda.9
Dengan demikian, kiranya dapat diambil pengertian bahwa
hukum positif adalah suatu sistem dan aturan-aturan tentang hukum
yang sedang berlaku atau diberlakukan dalam sebuah
negara/pemerintahan. Lebih konkretnya adalah bahwa yang di maksud
dengan hukum positif Indonesia adalah hukum yang sedang berlaku di
dalam wilayah negara Republik Indonesia dan dalam penetapannya
dilakukan oleh negara atau atas nama negara. Hukum positif Indonesia
bisa juga disebut dengan hukum Nasional Indonesia, karena secara
definitif, hukum Nasional adalah hukum yang berlaku dalam suatu
negara.
C. Perkawinan dalam Perspektif Hukum Positif
Menurut pasal 26 Burgerlijk Wetboek, perkawinan adalah
pertalian yang sah antara seorang lelaki dan seorang perempuan untuk
waktu yang lama. Undang-undang ini juga memandang perkawinan
hanyalah hubungan keperdataan saja.10
Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor I Tahun 1974,
Perkawinan adalah “ikatan lahir batin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk
keluarga, rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa”.11 Sedangkan di dalam Kompilasi
Hukum Islam (KHI). Yang juga merupakan Instruksi Presiden Nomor
I tahun 1991, mendefinisikan pengertian perkawinan sebagai berikut:
“perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad
yang sangat kuat atau mitsaqan ghalidzan untuk mentaati perintah
Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah”.12 Ketentuan ini
terdapat pada bab II pasal 2 Kompilasi Hukum Islam.
Mengenai pengertian perkawinan yang dirumuskan dalam
konteks dasar-dasar perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam,
dirumuskan sedikit berbeda dengan apa yang disepakati dalam
9
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas
Indonesia Press, 1986, hlm. 85.
10
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Jakarta: Intermasa, Tanpa Tahun,
hlm. 23.
11
Undang-Undang Nomor I Tahun 1974, Direktorat Pembinaan Peradilan
Agama, Jakarta: 2004, hlm. 117.
12
Instruksi Presiden RI No. I Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam, Jakarta:
Direktorat Jenderal Pembinaan kelembagaan Agama Islam, 2000, hlm. 14
146 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
Undang-undang No. I Tahun 1974. Dalam Kompilasi, menyebut
perkawinan sebagai “akad” tanpa menjelaskan maknanya, apalagi
dalam artian “aqad yang kuat” atau “mitsaqan ghalidzan” sebenarnya
masih memerlukan penjelasan lebih lanjut, apakah sama, lebih luas
atau bahkan lebih sempit dari kalimat “ikatan lahir batin” yang
terdapat pada Undang-undang No. I Tahun 1974.13
Terlepas dari perbedaan definisi di atas, secara umum
pengertian perkawinan menurut ketiga keterangan di atas
perbedaannya tidaklah terlalu prinsipil. Maka dari itu dapat
disimpulkan, secara garis besar perkawinan adalah:
1. Perkawinan adalah sebuah ikatan lahir batin maupun janji yang
sangat mengikat di antara keduanya.
2. Perkawinan tersebut dilakukan oleh seorang pria dan seorang
wanita yang selanjutnya disebut sebagai pasangan suami isteri.
3. Perkawinan tersebut mempunyai tujuan membangun keluarga
yang bahagia dan kekal.
4. Perkawinan dilakukan dengan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa.
Dari pengertian-pengertian diatas, jelaslah bahwa perkawinan
dalam perspektif hukum positif ini, mempunyai implikasi hukum yang
mengikat yang pada gilirannya terkait penuh dengan aturan-aturan
baku yang telah mempunyai ketentuan-ketentuan dan akibat-akibat
hukum tersendiri.
Keharusan Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
Keharusan pencatatan pernikahan adalah sebuah langkah yang
mesti dilakukan oleh pihak-pihak yang akan melaksanakan atau
meresmikan sebuah ikatan pernikahan. Adapun lebih jelasnya berikut
ini dipaparkan oleh para ahli hukum:
1. Menurut M. Atho’ Muzdar, keharusan pencatatan pernikahan
diharuskan sebagai akibat banyaknya orang yang melakukan
kawin di bawah tangan yang pada waktunya dapat mengacaukan
proses-proses hukum yang akan terjadi berikutnya atau
mengacaukan hak-hak hukum anak yang dihasilkannya.14
2. Menurut M. Yahya Harahap, bahwa keharusan pencatatan
pernikahan
merupakan
landasan
yuridis
bagi
yang
melaksanakannya. Dengan keharusan ini setidaknya mempertegas
13
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta:
Akademika Pressindo, 1992, hlm. 67.
14
M. Atho’ Muzdhar dan Khairuddin Nasution, Hukum Keluarga di Dunia
Islam Modern, Jakarta: Ciputat Press, hlm. 211.
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 147
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
sekaligus upaya mengaktualkan ketertiban perkawinan masyarakat
Islam.15
3. Menurut Wirjono Prodjodikoro, bahwa keharusan pencatatan
pernikahan dalam sebuah perkawinan adalah dalam rangka
terjaminnya kepastian hukum, kepastian hukum dalam
keseluruhannya hanya dapat dicapai, apabila segala ketentuan
dalam Undang-undang dipenuhi.16
4. Menurut Sudarsono, bahwa pencatatan tiap-tiap pernikahan adalah
sama halnya dengan pencatatan peristiwa-peristiwa penting dalam
kehidupan seseorang, misalnya, pencatatan kelahiran, kematian,
yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan suatu akte yang juga
di muat dalam daftar pencatatan.17
Ketentuan-Ketentuan
Tentang
Keharusan
Pencatatan
Pernikahan dalam Hukum Positif
1. Menurut Undang-Undang Nomor I tahun 1974
Merupakan sebuah kewajaran apabila dalam suatu bangsa
yang terjajah sekian abad lamanya, lantas setelah merdeka,
kemudian muncul desakan-desakan untuk menghapuskan hukumhukum yang telah diwariskan oleh negara penjajah.
Dengan asumsi bahwa hukum warisan tersebut diganti
dengan hukum yang dianggap cocok dengan corak alam
keindonesiaan yang digali dari nilai-nilai yang dianut oleh
masyarakat. Diharapkan, aturan hukum-hukum yang baru tersebut
mampu untuk menampung dan mengikuti perubahan perubahan
yang dialami oleh masyarakat dalam negara tersebut.
Selain itu, terdapat kehendak dan usaha untuk
menempatkan hukum, selain sebagai alat untuk mengendalikan
masyarakat, juga sebagai alat untuk mengubah masyarakat.18
Kemudian aspirasi ini dinyatakan dalam bentuk politik hukum
nasional, yaitu sebuah pernyataan kehendak penguasa negara
mengenai hukum yang berlaku secara nasional dan ke arah mana
sistem hukum yang dianut itu akan dikembangkan lebih lanjut.
Seperti yang dimaklumi bersama, bahwa hukum diterapkan
meliputi bidang kehidupan yang sangat luas, meliputi berbagai
15
M. Yahya Harahap, Kompilasi Hukum Islam dan Peradilan Agama
Dalam Sistem Hukum Nasional, Jakarta, Logos, 1992, hlm. 52.
16
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta: Sumur
Bandung, Cetakan keempat, 1960, hlm. 52.
17
Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, Jakarta: Rineka Cipta, 1994,
hlm. 8.
18
Soerjono Soekanto, Pokok Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 1999, hlm. 87.
148 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
etnik, budaya, agama yang berbeda-beda dan masing-masing telah
membentuk sebuah kebudayaan tersendiri yang satu sama lain
tidaklah sama. Dengan kondisi yang demikian, merupakan sebuah
keniscayaan untuk mengganti hukum perseorangan menjadi
hukum territorial, hukum spesial diganti menjadi hukum umum,
disamping itu, tata hubungan manusia yang semula dipandang
sebagai urusan pribadi, diganti menjadi urusan publik dan urusan
negara.19
Dalam konteks ini, rupanya materi dalam Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974, tentang Perkawinan, merupakan salah satu
dari keinginan dan upaya mengakulturasikan dengan nilai-nilai
yang dianut dalam masyarakat luas tersebut. Sesuai dengan
konsideran Undang-undang Nomor I tahun 1974, bahwa sesuai
dengan falsafah Pancasila serta cita-cita untuk pembinaan hukum
nasional, perlu adanya Undang-undang tentang Perkawinan yang
berlaku bagi semua warga negara.20
Pasal 2 ayat (2) Undang-undang No. 1 Tahun 1974
menyatakan bahwa tiap-tiap perkawinan di catat menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku.21 Pasal ini termasuk
asas dan prinsip yang tercantum dalam Undang-undang tersebut.
Dalam Undang-undang ini dinyatakan bahwa suatu perkawinan
adalah sah bilamana dilakukan menurut agamanya dan
kepercayaannya itu.
Di samping itu, peristiwa perkawinan tersebut juga harus
dicatat sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku.
Pencatatan tiap-tiap perkawinan ini menjadi penting mengingat
pencatatan ini dimaksudkan demi ketertiban dan keteraturan dalam
masyarakat. Baik di dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1946 jo
Undang-undang No.32 Tahun 1954 maupun Undang-undang No.
1 Tahun 1974, semuanya mengharuskan pencatatan tiap-tiap
perkawinan.22
Menurut Sudarsono, pasal 2 ayat (2) Undang-undang No. 1
Tahun 1974 ini menitikberatkan pada adanya keharusan
pencatatan perkawinan.23 Dengan demikian, aturan ini semenjak
19
Cik Hasan Bisri, Kompilasi Hukum Islam dan Peradilan Agama dalam
Sistem Hukum Nasional, Jakarta: Logos, 1992, hlm. 3.
20
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Surabaya:
Karya Anda, 1975, hlm. 5.
21
Ibid. hlm. 6.
22
Arso Sastroatmojo dan A. Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di
Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1981, hlm. 55.
23
Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, Jakarta: Rineka Cipta, 1994,
hlm. 17.
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 149
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
disahkannya hingga sekarang berlaku dan bersifat mengikat, bagi
seluruh warga negara tanpa terkecuali. Untuk menjamin kepastian
hukum, maka perkawinan berikut segala sesuatu yang
berhubungan dengan perkawinan yang terjadi sebelum Undangundang ini berlaku, yang dijalankan menurut hukum yang telah
ada adalah sah. Demikian pula apabila mengenai sesuatu hal
Undang-undang ini tidak mengatur, dengan sendirinya berlaku
ketentuan yang ada.24
2. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9
Tahun 1975
Meskipun telah diundangkan pada tanggal 2 Januari 1974
sebagai sebuah Undang-undang, tapi Undang-undang No. 1 Tahun
1974 tentang perkawinan tersebut, belum dapat berjalan maksimal
dan efektif sebelum dikeluarkannya Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 9 Tahun 1975, (Pasal 67 ayat 1). Akan tetapi
setelah mengalami proses panjang kurang lebih selama 15 bulan
sejak diundangkannya Undang-undang Perkawinan, maka pada
tanggal 1 April 1975 telah berhasil diundangkan Peraturan
Pemerintah No. 9 tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-undang
No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.25
Selain pertimbangan di atas, sesuai dengan konsideran
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975,
bahwa untuk kelancaran pelaksanaan Undang-Undang No. 1
Tahun 1974, dipandang perlu untuk mengeluarkan Peraturan
Pemerintah yang mengatur ketentuan-ketentuan pelaksanaan dari
Undang-undang tersebut.26
Adapun aturan rinciannya sebagai berikut:
a. Ketentuan tentang pencatatan perkawinan. (Bab II Pasal 2)
1) Pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan
perkawinannya menurut agama Islam dilakukan oleh
Pegawai Pencatat sebagaimana dimaksud dalam Undangundang No. 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah,
Talak, dan Rujuk.
2) Bagi mereka yang selain beragama Islam, pencatatannya
dilakukan oleh Pegawai Pencatat perkawinan pada Kantor
Catatan Sipil.
24
Ibid., hlm. 9.
Arso Sastroatmojo dan A. Wasit Aulawi, op. cit., hlm. 53.
26
Depag, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975,
Jakarta: 2004, hlm.141.
25
150 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
b.
c.
d.
e.
3) Tata cara pencatatan perkawinan dilakukan sebagaimana
ditentukan dalam pasal 3 sampai dengan pasal 9 Peraturan
Pemerintah ini.
Ketentuan mengenai tempat pemberitahuan dan tenggang
waktu antara saat memberitahukan dengan pelaksanaanya.
(Pasal 3)
1) Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan
memberitahukan kehendaknya kepada Pegawai Pencatat di
tempat perkawinan akan dilangsungkan.
2) Pemberitahuan tersebut dalam ayat 1 dilakukan sekurangkurangnya 10 hari (sepuluh) hari kerja sebelum
perkawinan dilangsungkan.
3) Pengecualian terhadap jangka waktu tersebut, dalam ayat
(2) disebabkan sesuatu alasan yang penting, diberikan oleh
Camat atas nama Bupati Kepala Daerah.
Tata cara pemberitahuan kehendak untuk melakukan
perkawinan ditentukan bahwa Pemberitahuan dilakukan secara
lisan atau tertulis oleh calon mempelai atau oleh orang tua atau
wakilnya.(Pasal 4)
Ketentuan-ketentuan beberapa unsur yang harus disampaikan.
Yaitu
pemberiathuan
memuat
nama,
umur,
agama/kepercayaan, pekerjaan, tempat kediaman calon
mempelai dan apabila salah seorang atau keduanya pernah
kawin, disebutkan juga nama isteri atau suami yang terdahulu.
(Pasal 5).
Menurut penjelasannya dinyatakan bagi mereka yang punya
nama kecil dan nama keluarga, maka dalam pemberitahuan
kehendak melangsungkan pernikahan, dicantumkan baik nama
kecil maupun nama keluarga. Sedangkan bagi mereka yang
tidak memiliki nama kecil maupun nama keluarga, maka
cukup mencantumkan nama kecilnya saja ataupun namanya
saja. Tidak adanya nama kecil atau nama keluarga sekali-kali
tidak dapat dijadikan alasan untuk penolakan berlangsungnya
perkawinan.
Ketentuan mengenai tindakan Pegawai Pencatat setelah
pemberitahuan. (Pasal 6).
1) Pegawai Pencatat yang menerima pemberitahuan kehendak
melangsungkan perkawinan, meneliti apakah syarat-syarat
perkawinan telah dipenuhi dan apakah tidak terdapat
halangan perkawinan menurut Undang-undang.
2) Selain penelitian terhadap hal sebagai dimaksud diatas,
Pegawai Pencatat meneliti pula:
a) kutipan surat kelahiran
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 151
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
b) keterangan mengenai nama, agama/kepercayaan,
pekerjaan, dan tempat tinggal orang tua calon
mempelai.
c) izin tertulis dari Pengadilan apabila salah seorang calon
mempelai atau keduanya belum mencapai umur 21
(dua puluh satu) tahun.
d) izin Pengadilan sebagaimana dimaksudkan Pasal 4
Undang-undang, dalam hal calon mempelai adalah
seorang suami yang masih mempunyai isteri.
e) dispensasi Pengadilan/Pejabat sebagimana dimaksud
Pasal 7 ayat (2) Undang-undang.
f) surat kematian isteri atau suami yang terdahulu atau
dalam hal perceraian surat keterangan perceraian, bagi
perkawinan untuk kedua kalinya atau lebih.
g) izin tertulis dari pejabat yang ditunjuk oleh Menteri
HANKAM/PANGAB, apabila salah seorang calon
mempelai atau keduanya anggota Angkatan Bersenjata.
h) surat kuasa otentikatau di bawah tangan yang disahkan
oleh Pegawai Pencatat, apabila salah seorang calon
mempelai atau keduanya tidak dapat hadir sendiri
karena sesuatu alasan yang penting, sehingga
mewakilkan kepada orang lain.
f. Ketentuan tindak lanjut dari penelitian Pasal 6 di atas, maka
kemudian diatur bahwa:
1) Hasil penelitian sebagai dimaksud pasal 6 oleh Pegawai
Pencatat ditulis dalam sebuah daftar yang diperuntukkan
untuk itu.
2) Apabila ternyata dari hasil penelitian terdapat halangan
perkawinan sebagai dimaksud undang-undang dan atua
belum dipenuhinya persyaratan tersebut dalam pasal 6 ayat
(2) Peraturan Pemerintah ini, keadaan ini segera
diberitahukan kepada calon mempelai atau kepada orang
tua atau kepada wakilnya. (Pasal 7).
Ketentuan ini diatur dalam pasal 7 di mana ayat (2)
pasal tersebut memerlukan penjelasan bahwa yang
dimaksud dengan “diberitahukan kepada mempelai atau
kepada orang tuanya atau kepada wakilnya” adalah bahwa
pemberitahuan mengenai adanya halangan perkawinan itu
harus ditujukan dan disampaikan kepada salah satu
daripada mereka itu yang datang memberitahukan
kehendak untuk melangsungkan perkawinan.
g. Ketentuan
mengenai
penyelenggaraan
pengumuman
melangsungkan perkawinan oleh Pegawai Pencatat. Bahwa
152 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
setelah dipenuhi tata cara dan syarat-syarat pemberitahuan
serta tiada sesuatu halangan perkawinan. Pegawai Pencatat
menyelenggarakan pengumuman tentang pemberitahuan
kehendak
melangsungkan
perkawinan
dengan
cara
menempelkan surat pengumuman menurut formulir yang
ditetapkan pada kantor Pencatatan Perkawinan pada suatu
tempat yang sudah ditentukan dan mudah dibaca oleh umum.
(Pasal 8)
Memahami pada pasal 8 diatas ditegaskan bahwa maksud
pengumuman tersebut adalah untuk memberi kesempatan
kepada umum untuk mengetahui dan mengajukan keberatankeberatan bagi dilangsungkannya suatu perkawinan apabila
yang demikian itu diketahui bertentangan dengan hukum
agamanya dan kepercayaannya itu yang bersangkutan atau
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
lainnya.
h. Ketentuan mengenai isi pengumuman yang ditanda tangani
Pegawai Pencatat dan memuat:
1) Nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, tempat
kediaman, dari calon mempelai dan dari orang tua calon
mempelai, apabila salah seorang atau keduanya pernah
kawin disebutkan nama isteri atau suami mereka terdahulu.
(Pasal 9).
2) Hari, tanggal, jam perkawinan akan dilangsungkan.
Dalam penjelasannya dinyatakan bahwa pengumuman
dilakukan di: kantor pencatatan perkawinan yang daerah
hukumnya meliputi wilayah tempat perkawinan
dilangsungkan dan di kantor/kantor-kantor pencatatan
perkawinan tempat kediaman masing-masing calon
mempelai.27
3. Menurut Instruksi Presiden RI No. I Tahun 1991, Kompilasi
Hukum Islam (KHI).
Salah satu prestasi gemilang umat Islam pada era sembilan
puluhan adalah keberhasilan untuk “membumikan” hukum Islam,
menjadi hukum positif di Indonesia. Dengan keberhasilan tersebut,
umat Islam kini mendapat kenyamanan dan jaminan untuk
menjalankan aturan-aturan agama dan keyakinannya.
Keberhasilan tersebut berupa tersusunnya Kompilasi
hukum Islam (KHI). Kata “Kompilasi” sendiri berasal dari bahasa
27
Depag, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975,
op. cit.,hlm.142-143.
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 153
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
Latin “Compilatie” yang berarti kumpulan atau pemberkasan.28
Ditinjau dari sudut bahasa, kompilasi adalah kegiatan
pengumpulan dari berbagai bahan tertulis yang diambil dari
berbagai buku/tulisan mengenai persoalan tertentu.29
Sedangkan dalam pengertian terminologinya, Kompilasi
Hukum Islam adalah merupakan rangkuman dari berbagai
pendapat hukum yang diambil dari berbagai kitab yang ditulis oleh
para ulama Fiqh yang biasa dipergunakan sebagai referensi pada
Pengadilan Agama untuk diolah dan dikembangkan serta
dihimpun ke dalam satu himpunan.30
KHI merupakan himpunan materi hukum Islam, yang
terdiri dari tiga buku, yaitu buku 1 tentang Hukum Perkawinan,
buku II tentang Hukum Kewarisan dan buku tiga tentang Hukum
Perwakafan. KHI telah diberlakukan sebagai Undang-undang
dengan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991
dan Keputusan Menteri Agama No. 154 Tahun 1991 tanggal 22
Juli 1991. 31
Di dalam Bab II pasal 5 Kompilasi Hukum Islam
menyatakan, agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat
Islam setiap perkawinan harus di catat. Pencatatan perkawinan
tersebut dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah sebagaimana
yang diatur dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1946 jo
Undang-undang No. 32 Tahun 1954.32 Kemudian pasal 6 (1)
menyatakan, untuk memenuhi ketentuan dalam pasal 5, setiap
perkawinan harus dilangsungkan dihadapan dan di bawah
pengawasan Pegawai Pencatat Nikah.
Pasal 6 ayat (2) menegaskan, bahwa perkawinan yang
dilakukan di luar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah tidak
mempunyai kekuatan hukum. Sedangkan pasal 7 ayat (1)
menyebutkan, perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta
Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah.33
Dengan demikian, perkawinan yang dilakukan di luar
pengawasan Pegawai Pencatat Nikah, maka perkawinannya
tersebut termasuk “tidak mempunyai kekuatan hukum, selain hal
tersebut, perkawinan juga hanya dapat dibuktikan melalui surat
28
S. Adiwinata, Istilah Hukum Latin-Indonesia, Jakarta: Intermasa, 1986,
hlm. 24
29
Abdurrahman, op. cit., hlm. 11.
Abdurrahman, op., cit., hlm. 14.
31
Suparman Usman, Hukum Islam Asas-asas dan Pengantar Studi Hukum
Islam dalam Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001, hlm. 132.
32
Instruksi Presiden RI No. I Tahun 1991, op. cit., hlm. 15.
33
Instruksi Presiden RI No. I Tahun 1991, loc., cit.
30
154 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah, maka dari
itu mencatatkan perkawinan adalah merupakan kewajiban bagi
mereka yang akan melangsungkan perkawinan.
Dari keterangan ketiga hukum positif di atas, jelaslah
bahwasanya perundang undangan yang berlaku, mengatur dengan
tegas peraturan tentang pencatatan perkawinan. Dengan demikian,
landasan yuridis bagi pasangan calon mempelai yang akan
melangsungkan perkawinan telah diatur sedemikian rupa dalam
rangka menjamin kepastian hukum dan ketertiban hukum
perkawinan di masyarakat
Dengan landasan yuridis dalam KHI, (mengacu pada
ketentuan pasal 2 undang-undang No. 1 Tahun 1974), setidaknya
KHI telah mengakui sepenuhnya campur tangan penguasa dalam
setiap perkawinan. Hal ini sekaligus melepaskan jauh-jauh dogma
yang dikembangkan dan dipahami selama ini yang mengajarkan
perkawinan sebagai individual affairs atau urusan pribadi. Bagi
yang tidak mau mematuhi aturan, maka akan menanggung resiko
yuridis.
Bagi mereka yang tidak mendaftarkan perkawinan atau
enggan melangsungkan perkawinan di hadapan Pegawai Pencatat
Nikah, maka perkawinannya dikualifikasikan sebagai perkawinan
liar dalam bentuk compassionate marriage atau kawin kumpul
kerbau.34
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pencatatan
pernikahan bagi setiap pasangan suami isteri yang akan
melangsungkan sebuah perkawinan, menurut undang-undang yang
berlaku, diharuskan untuk dicatatkan kepada Pegawai Pencatat
Nikah. Apabila aturan hukum positif ini dilanggar maka
pernikahan yang bersangkutan, tidak mempunyai kekuatan hukum.
Proses Perumusan dalam Kompilasi Hukum Islam
Menurut A. Qadri Azizi, proses perumusan hukum fiqh harus
menggunakan 2 (dua) metode, yaitu: deduktif dan induktif. Dalam
proses deduktif, pertama yang dilakukan adalah melalui penelitian
dalil-dalil nash, kemudian ditafsirkan, diuraikan dan diberi penjelasan.
Cara yang kedua adalah induktif, yaitu: pola pikir kontekstualis, cara
yang diambil adalah dalil diposisikan sebagai inspirasi proposisi atau
landasan (starting points) analisa hukum.35
34
M. Yahya Harahap, op., cit., hlm. 53.
A. Qadri Azizi, Eklektisisme Hukum Nasional, Jakarta: Gama Media,
1999, hlm. 46.
35
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 155
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
Terkait dengan hal tersebut, ide pengadaan kompilasi Hukum
Islam muncul sekitar tahun 1985 dan mencuatnya ide ini adalah
merupakan hasil kompromi antara pihak Mahkamah Agung dengan
Departemen Agama. Kemudian pada bulan Maret 1985 Presiden
Soeharto mengambil prakarsa sehingga terbitlah Surat Keputusan
Bersama (SKB), antara Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Agama,
yang kemudian membentuk proyek Kompilasi Hukum Islam (KHI).36
Melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tersebut kemudian
Kompilasi Hukum Islam (KHI) mendapat pengakuan ulama dari
berbagai unsur, secara resmi KHI merupakan hasil konsesnsus (ijma’)
ulama dari berbagai mazhab, yang kemudian mendapat legalisasi dari
kekuasaan negara. Dengan demikian, keberhasilan penyusunan KHI
merupakan suatu proses tranformasi hukum Islam ke dalam hukum
perundang-undangan nasional.
Dalam perumusannya, secara substansial dilakukan dengan
mengacu kepada sumber hukum Islam, yakni al-Qur’an dan Sunnah
Rasul, dan ijtihad ulama Indonesia dengan menggunakan metode alIstihsan, al-urf dan metode istidlal lainnya dengan tujuan yang pasti
yaitu jalbul mashalih wa dar’u al-mafasid (menarik kebaikan dan
menolak kerusakan).37
Selain itu, para perumus Kompilasi Hukum Islam juga
memperhatikan tatanan hukum barat tertulis dan tatanan hukum adat
yang memiliki titik temu dengan hukum Islam. dengan demikian,
terjadi proses eklektisisme antara tatanan hukum Islam, hukum
nasional dan hukum adat, ke dalam Kompilasi Hukum Islam, dengan
kata lain, KHI dapat dikatakan sebagai wujud hukum Islam yang
bercorak keindonesiaan.38
Proses perumusan tersebut menurut M. Yahya harahap,
meliputi 4 (empat) pendekatan, yaitu:39
5. Pendekatan melalui al-Qur’an dan Sunnah, dengan mengacu
kepada tiga hal,
a. Bila nash-nash tersebut bersifat qath’I, maka ruang gerak dan
ruang lingkup untuk melenturkan dan menafsirkan menjadi
sangat terbatas.
b. Bila masih bersifat zanni, maka kemungkinan untuk
melakukan reinterpretasi sangat terbuka lebar.
36
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Akademika
Pressindo, 1992, hlm. 33.
37
Ibid., hlm. 19.
38
Cik Hasan Bisri, KHI dan Peradilan Agama; Dalam System Hukum
Nasional, Jakarta: Logos, 1992, hlm. 9.
39
Ibid, hlm. 39.
156 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
c. Bila tidak ditemukan dalam nash dan Sunnah maka
menggunakan ijtihad.
6. Mengutamakan pemecahan masalah masa kini, dengan mengacu
kepada:
a. Menghindari dari pengkajian perbandingan fiqh yang berlarutlarut.
b. Memilih alternatif yang lebih rasional, praktis, operasional,
dan aktual yang mempunyai potensi dan berorientasi kepada
ketertiban dan kemaslahatan hukum.
7. Mengedepankan ciri hukum fiqh yang sarat dengan corak
keindonesiaan.
Mengingat apabila ada hukum yang tidak sejalan atau
bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya oleh
bangsa Indonesia, terutama oleh umat Islam, maka
konsekwensinya hukum itu pasti tidak akan bisa dilaksanakan,
sebagaimana seharusnya hukum tersebut berlaku. Bahkan
mungkin hukum tersebut akan menjadi pemicu pertentangan
antara rakyat dengan penguasa, sebab rakyat memandang bahwa
penguasa telah menyimpang dari nilai-nilai kebenaran yang
diyakini oleh mayoritas warga negara.40
8. Melalui pendekatan kompromi dengan hukum adat.
Pendekatan perumusan ini dilakukan dalam kaitan
terbatasnya nilai-nilai hukum yang terkandung dalam Nash dan
Sunnah. Disamping itu, nilai-nilai hukum tersebut telah tumbuh
dan berkembang sebagai norma adat dan kebiasaan masyarakat
Indonesia.
Dengan pendekatan 4 (empat) perumusan di atas, maka
semakin memantapkan langkah dan posisi Kompilasi Hukum Islam
sebagai salah satu acuan hukum formal yang diberlakukan untuk umat
Islam di Indonesia. Sekaligus sebagai upaya penyeragaman hukum
dan menjamin kepastian hukum di lingkungan lembaga Peradilan
Agama, yang sebelumnya belum mempunyai acuan dan landasan
hukum yang kuat.
B. Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan di atas, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut.
1. Dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 maupun
dalam Kompilasi Hukum Islam, terdapat kesamaan tentang
ketentuan keharusan pencatatan pernikahan.alasan keduaanya pun
40
Suparman Usman, Hukum Islam: Asas-asas dan Pengantar Studi Hukum
Islam dalam Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001, hlm. 146.
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 157
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
sama, yakni demi ketertiban perkawinan dan mempunyai landasan
serta kekuatan hukum.
2. Al-Syatibi memiliki konsep yang cukup brilian tentang maqashid
syari’ah. Konsep tersebut kemudian mengilhami para ilmuan
untuk mengekplorasi kedua sumber hukum Islam, yakni al-Qur’an
dan Hadits dengan analisa maslahah.
3. Keharusan pencatatan pernikahan merupakan produk hukum
Undang-undang perkawinan yang berorientasi pada ketertiban
hukum perkawinan masyarakat dalam skala luas dan untuk
menjamin kepastian hukum serta melindungi kedua belah pihak
dari tindakan hukumnya tersebut. Terdapat korelasi yang positif
dan signifikan antara pandangan al-Syatibi dengan keharusan
pencatatan perkawinan yang terdapat dalam Undang-undang
Perkawinan No. 1 Tahun 1974 maupun Kompilasi Hukum Islam.
Sisi korelatifnya terletak pada Maqashid al-Daruriyat yang
dimaksudkan untuk memelihara lima unsur pokok (kulliyatul
khoms) kehidupan manusia dalam hal ini khusus pada aspek hifdz
al-Nasl (memelihara keturunan). Selain itu juga mempunyai titik
temu dalam hal penekanan pentingnya segi kemaslahatan umum
dan menghindari kemudaratan.
158 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Daud Ali, Hukum Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2004, hlm. 44.
C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia,
Jakarta: Balai Pustaka, 1989, hlm. 73.
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas
Indonesia Press, 1986, hlm. 85.
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Jakarta: Intermasa, Tanpa
Tahun, hlm. 23.
Undang-Undang Nomor I Tahun 1974, Direktorat Pembinaan
Peradilan Agama, Jakarta: 2004, hlm. 117.
Instruksi Presiden RI No. I Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam,
Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan kelembagaan Agama
Islam, 2000, hlm. 14
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta:
Akademika Pressindo, 1992, hlm. 67.
M. Atho’ Muzdhar dan Khairuddin Nasution, Hukum Keluarga di
Dunia Islam Modern, Jakarta: Ciputat Press, hlm. 211.
M. Yahya Harahap, Kompilasi Hukum Islam dan Peradilan Agama
Dalam Sistem Hukum Nasional, Jakarta, Logos, 1992, hlm. 52.
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta:
Sumur Bandung, Cetakan keempat, 1960, hlm. 52.
Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, Jakarta: Rineka Cipta,
1994, hlm. 8.
Soerjono Soekanto, Pokok Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 1999, hlm. 87.
Cik Hasan Bisri, Kompilasi Hukum Islam dan Peradilan Agama
dalam Sistem Hukum Nasional, Jakarta: Logos, 1992, hlm. 3.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan,
Surabaya: Karya Anda, 1975, hlm. 5.
Arso Sastroatmojo dan A. Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di
Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1981, hlm. 55.
Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, Jakarta: Rineka Cipta,
1994, hlm. 17.
Depag, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun
1975, Jakarta: 2004, hlm.141.
S. Adiwinata, Istilah Hukum Latin-Indonesia, Jakarta: Intermasa,
1986, hlm. 24
Suparman Usman, Hukum Islam Asas-asas dan Pengantar Studi
Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Gaya
Media Pratama, 2001, hlm. 132.
Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006 159
Rohmat: Pencatatan Pernikahan dalam Hukum Positif
A. Qadri Azizi, Eklektisisme Hukum Nasional, Jakarta: Gama Media,
1999, hlm. 46.
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta:
Akademika Pressindo, 1992, hlm. 33.
Cik Hasan Bisri, KHI dan Peradilan Agama; Dalam System Hukum
Nasional, Jakarta: Logos, 1992, hlm. 9.
Suparman Usman, Hukum Islam: Asas-asas dan Pengantar Studi
Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Gaya
Media Pratama, 2001, hlm. 146.
160 Tribakti, Volume 16 No. 2 Juli 2006
Download