analisis pengaruh f dan demograf menganggur lulus

advertisement
TESIS
ANALISIS PENGARUH FAKTOR SOSIAL, EKONOMI
DAN DEMOGRAFI TERHADAP LAMA
MENGANGGUR LULUSAN PERGURUAN TINGGI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
NI KADEK MEINDRAYANI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
TESIS
ANALISIS PENGARUH FAKTOR
SOSIAL, EKONOMI DAN DEMOGRAFI TERHADAP
LAMA MENGANGGUR LULUSAN PERGURUAN TINGGI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
NI KADEK MEINDRAYANI
NIM: 1291462014
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
i
ANALISIS PENGARUH FAKTOR
SOSIAL, EKONOMI DAN DEMOGRAFI YANG TERHADAP
LAMA MENGANGGUR LULUSAN PERGURUAN TINGGI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
Tesis untuk memperoleh Gelar Magister
Pada Program Magister, Program Studi Ilmu Ekonomi,
Program Pascasarjana Universitas Udayana
NI KADEK MEINDRAYANI
NIM: 1291462014
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
ii
Lembar Pengesahan
TESIS INI TELAH DISETUJUI
TANGGAL 08 JULI 2015
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Prof. Dr. I Ketut Sudibia SE.,SU.
NIP. 19581231 197302 1 001
Dr. I G.W. Murjana Yasa,SE,M.Si.
NIP. 19570727 198403 1 005
Mengetahui
Ketua Program Magister Ilmu Ekonomi
Program Pasca Sarjana
Universitas Udayana
Prof. Dr. N. Djinar Setiawina,SE.MS.
NIP. 19530730 198303 1001
iii
Direktur
Program Pasca Sarjana
Universitas Udayana
Prof. Dr.dr.AA Raka Sudewi,Sp.S (K).
NIP. 19590215 198510 2001
Usulan l Tesis Ini Telah Diuji dan Dinilai
Oleh Panitia Penguji di Program Pascasarjana Universitas Udayana
Pada Tanggal 08 Juli 2015
Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana
No.
: 1885/UN.14.4/HK/2015
Tanggal
: 29 Juni 2015
Panitia Penguji Usulan Penelitian Tesis adalah :
Ketua
: Prof. Dr. I Ketut Sudibia,SE.,SU.
Anggota
:
1. Dr. I G.W. Murjana Yasa,SE.,M.Si.
2. Dr. A.A.I.N.Marhaeni,SE.,MS.
3. Dr.I Ketut Djayastra, SE., SU.
4. Dr. I.B.P. Purbadharmaja, SE. ME.
iv
Surat Pernyataan Bebas Plagiat
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
: Ni Kadek Meindrayani
NIM
: 1291462014
Program Studi
: Magister Ilmu Ekonomi
Judul Tesis
: Analisis
Demografi
Perguruan
Pengaruh
Faktor
terhadap
Tinggi
Lama
Fakultas
Sosial,
Ekonomi
Menganggur
Ekonomi
dan
Lulusan
dan
Bisnis
Universitas Udayana
Dengan ini menyatakan bahwa karya ilmiah Tesis ini bebas plagiat.
Apabila ada dikemudian hari terbukti plagiat dalam karya ilmiah ini, maka saya
bersedia menerima sanksi sesuai peraturan Mendiknas RI No. 17 Tahun 2010 dan
Peraturan Peundang-Undangan yang berlaku.
Denpasar, 08 Juli 2015
Yang membuat pernyataan
( Ni Kadek Meindrayani)
v
UCAPAN TERIMA KASIH
Pertama-tama
perkenankanlah
penulis
memanjatkan
puji
syukur
kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/Ida sang Hyang Widhi Wasa, karena atas
segala rahmat dan petunjuk-Nya, tesis ini dapat penulis selesaikan. Pada
kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada Prof. Dr. I Ketut Sudibia SE.,SU sebagai pembimbing I dan Dr.I
G.W. Murjana Yasa,SE.,M.Si sebagai pembimbing II yang dengan penuh
perhatian telah memberikan dorongan, semangat, bimbingan dan saran kepada
penulis dalam menyelesaikan tesis ini, Ucapan terima kasih penulis sampaikan
juga
kepada
Ibu
Dr.
A.A.I.N.Marhaeni,SE.,MS.,
Bapak
Dr.
I
Ketut
Djayastra,SE.,SU., dan Bapak Dr. I.B.P. Purbadharmaja,SE.,ME. selaku dosen
penguji yang telah memberikan masukan dan penyempurnaan dalam tulisan ini.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Rektor Universitas
Udayana Prof. Dr. dr I Ketut Suastika, SpPD KEMD atas kesempatan dan fasilitas
yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan
Megister Ilmu Ekonomi di Universitas Udayana. Ucapan terima kasih juga
penulis tujukan kepada Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana Prof.
Dr. dr A.A Raka Sudewi,Sp.S (K) atas kesempatan yang diberikan kepada penulis
unruk menjadi mahasiswa Program Magister Ilmu Ekonomi pada Program
Pascasarjana Universitas Udayana. Tidak lupa pula penulis ucapkan terima kasih
kepada Prof. Dr. I Gusti
Bagus Wiksuana, SE,MS sebagai Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Udayana serta Prof. Dr. I Nyoman Djinar Setiawina,SE.,MS
selaku Ketua Program Magister Ilmu Ekonomi atas ijin yang diberikan penulis
mendapat kesempatan untuk menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Program Studi Magister Ilmu Ekonomi.
Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak berhasil tanpa bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis
ucapkan terima kasih serta mempersembahkan tesis ini kepada kedua orang tua I
Nyoman Remben dan Ni Nengah Darini beserta keluarga yang terus memberikan
motivasi atas penyelesaian tesis ini. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih
vi
kepada I Made Yadnya Tresna Putra,S.Pd.,M.Pd atas dukungan, motivasi dan
doanya. Serta rekan-rekan seperjuangan mahasiswa MIE Angkatan XXIII,
Rosnata Maryanti, I Gusti Agung Putra dan Karyawan-Karyawati PT.BPD BALI
Cabang Mangupura atas semangat dan kebersamaan yang sudah terjalin.
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa dalam penyusunan tesis ini
masih belum sempurna yang disebabkan karena keterbatasan kemampuan serta
pengalaman penulis. Namun demikian, tesis ini diharapkan dapat memberikan
manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Denpasar, Juli 2015
Penulis
vii
ANALISIS PENGARUH FAKTOR
SOSIAL, EKONOMI DAN DEMOGRAFI TERHADAP
LAMA MENGANGGUR LULUSAN PERGURUAN TINGGI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
ABSTRAK
Permasalahan pengangguran merupakan permasalahan klasik yang
dihadapi oleh setiap negara termasuk Indonesia. Salah satunya adalah tingginya
tingkat pengangguran terbuka yang berasal dari lulusan perguruan tinggi. Apabila
terjadi ketidaksiapan lulusan dalam memenuhi kebutuhan industri di segala
bidang akan menimbulkan kesenjangan (gap) yang menyebabkan tingginya masa
tunggu (lama menganggur). Lamanya menganggur lulusan dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya adalah pendapatan rumah tangga, keterampilan,
jumlah tanggungan, jarak dan aspirasi kerja.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pendapatan rumah
tangga, keterampilan, jumlah tanggungan, dan jarak terhadap aspirasi kerja
lulusan perguruan tinggi FEB Unud. Untuk menganalisis pengaruh pendapatan
rumah tangga, keterampilan, jumlah tanggungan, jarak dan aspirasi kerja terhadap
lama menganggur lulusan perguruan tinggi FEB Unud.Untuk menganalisis
adanya pengaruh tidak langsung antara pendapatan rumah tangga, keterampilan,
jumlah tanggungan dan jarak melalui aspirasi kerja terhadap lama menganggur
lulusan perguruan tinggi FEB Unud.
Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 1096 orang , sedangkan
sampel yang di pergunakan adalah 111 orang. Metode penentuan sampel yang
dipergunakan adalah accidental sampling dan snowball sampling. Alat analisis
yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik inferensia menggunakan
teknik analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
koefisien determinasi total sebesar 0,891yang berarti 89.10 persen informasi yang
terkandung
dapat dijelaskan oleh model yang terbentuk, sedangkan sisanya
sebesar 10,9 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Pendapatan rumah
tangga, jarak berpengaruh positif dan signifikan terhadap aspirasi kerja,
sedangkan keterampilan dan jumlah tanggungan berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap aspirasi kerja lulusan perguruan tinggi FEB Unud. Pendapatan
rumah tangga, jarak dan aspirasi kerja berpengaruh positif dan signifikan
sedangkan keterampilan dan jumlah tanggungan berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap lama menganggur lulusan perguruan tinggi FEB Unud.
Pendapatan rumah tangga, keterampilan, jumlah tanggungan dan jarak
berpengaruh tidak langsung secara signifikan melalui aspirasi kerja terhadap lama
menganggur lulusan perguruan tinggi FEB Unud. Disarankan Merubah mindset
para lulusan dan menanamkan jiwa kewirausahaan
Kata
kunci: Pendapatan Rumah Tangga, Keterampilan, Jumlah
Tanggungan, Jarak, Aspirasi kerja dan Lama Menganggur
viii
ANALYSIS OF INFLUENCE FACTORS SOCIAL, ECONOMIC AND
DEMOGRAPHIC ON LONG-TERM UNEMPLOYED GRADUATES
FACULTY OF ECONOMICS AND BUSINESS
UDAYANA UNIVERSITY
ABSTRACT
The unemployment problem is a classic problem faced by every country,
including Indonesia. One of them is the high rate of open unemployment
graduated from college. In the event of unpreparedness graduates to meet the
needs of industry in all fields will cause gaps (gap) that causes high waiting period
(idle time). The long-term unemployed graduates is influenced by several factors
such as household income, skills, number of dependents, distance and work
aspirations.
The purpose of this study was to analyze the effect of household income,
skills, number of dependents, and the distance to the work aspirations of college
graduates of the Faculty of Economics and Business, Udayana University. To
analyze the effect of household income, skills, number of dependents, distance
and work aspirations on long-term unemployed graduates of the Faculty of
Economics and Business, Udayana University. To analyze the indirect influence
between household income, skills, the number of dependents and the distance
through work aspirations on long-term unemployed graduates of the Faculty of
Economics and Business, Udayana University.
The number of population in this study as many as 1096 people, while this
sample used is 111 people. Sample determination method used is accidental
sampling and snowball sampling. Analyzer used in this research is the statistical
inferensia using technique path analysis (path analysis). The results showed that
the total coefficient of 0.891, which means 89.10 percent of the information
contained can be explained by the model is formed, while the remaining 10.9
percent is explained by other variables outside the model. Household income and
distance positive and significant effect on employment aspirations, while the skills
and number of dependents a significant negative effect on the employment
aspirations of college graduates of the Faculty of Economics and Business,
Udayana University. Household income, distance and work aspirations positive
and significant impact, while the skills and number of dependents a significant
negative effect on the long-term unemployed graduates of the Faculty of
Economics and Business, Udayana University. Household income, skills, number
of dependents and the distance significantly influence indirectly through work
aspirations on long-term unemployed graduates of the Faculty of Economics and
Business, Udayana University. Advise the graduates to chance the mindset and
instill enterpreneurial spirit.
Keywords: Household income, skills, number of dependents, distance, work
aspirations and long-term unemployed
ix
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ......................................................................................................................... i
PRASYARAT GELAR................................................................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN.......................................................................................... iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI ............................................................................ iv
SURAT PERNYATAAN............................................................................................. v
UCAPAN TERIMA KASIH ........................................................................................ vi
ABSTRAK ................................................................................................................... viii
ABSTRACT ................................................................................................................. ix
DAFTAR ISI ................................................................................................................ x
DAFTAR TABEL ........................................................................................................ xiv
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................ xvii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 16
1.3 Tujuan Penelitian....................................................................................... 16
1.4 Manfaat Penelitian..................................................................................... 17
BAB II KAJIAN PUSTAKA ...................................................................................... 18
2.1 Konsep dan Definisi .................................................................................. 18
2.1.1 Konsep Tenaga Kerja ................................................................ 18
2.1.2 Peranan Tenaga Kerja dalam Pembangunan Ekonomi ............. 20
2.1.3 Konsep Pengangguran dan Jenis-Jenis Pengangguran .............. 22
2.1.4 Konsep Pasar Kerja.................................................................... 26
2.1.5 Pengertian Lama Menganggur dan Faktor-Faktor yang
Berpengaruh............................................................................... 27
x
2.1.6 Teori Pencarian Kerja ( Job Search Theory) ............................. 28
2.1.7 Teori Perkembangan Karier Ginzberg ...................................... 30
2.1.8 Proses Pemilihan Karir .............................................................. 31
2.1.9 Pengertian Pendapatan .............................................................. 32
2.1.10 Hubungan Pendapatan dengan Lama Menganggur................... 33
2.1.11 Teori Strategi Kelangsungan Hidup Keluarga .......................... 34
2.1.12 Konsep Pendidikan.................................................................... 35
2.1.13 Hubungan Pendidikan terhadap Lama Menganggur Lulusan
Perguruan Tinggi ....................................................................... 36
2.1.14 Teori Human Capital................................................................. 37
2.1.15 Keterampilan yang Dimiliki ...................................................... 38
2.1.16 Hubungan Keterampilan dengan Lama menganggur ................ 38
2.1.17 Jumlah Tanggungan Keluarga................................................... 39
2.1.18 Hubungan Jumlah Tanggungan dengan Lama
Menganggur Lulusan Perguruan Tinggi ............................. ..... 40
2.1.19 Jarak …..…………………………………………………. ....... 41
2.1.20 Hubungan Jarak dengan Lama Menganggur............................. 42
2.2 Keaslian Penelitian ..................................................................................... 43
BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN..... 48
3.1 Kerangka Berpikir dan Konsep Penelitian ................................................ 48
3.1.1 Kerangka Berpikir ....................................................................... 48
3.1.2 Konsep Penelitian ....................................................................... 50
3.2 Hipotesis Penelitian ................................................................................... 54
BAB IV METODE PENELITIAN.............................................................................. 56
4.1 Rancangan Penelitian ................................................................................ 56
4.2 Lokasi, Ruang Lingkup dan Waktu Penelitian.......................................... 57
4.3 Identifikasi Variabel Penelitian ................................................................. 57
xi
4.4 Definisi Operasional Variabel Penelitian .................................................. 58
4.5 Jenis dan Sumber Data .............................................................................. 59
4.5.1 Jenis Data Menurut Sifat ............................................................. 59
4.5.2 Jenis Data Menurut Sumber ........................................................ 60
4.6 Populasi, Sampel dan Metode Penentuan Sampel..................................... 60
4.6.1 Populasi....................................................................................... 60
4.6.2 Sampel ........................................................................................ 61
4.7 Instrumen Penelitian ................................................................................. 63
4.7.1 Uji Validitas Instrumen Penelitian ............................................. 64
4.7.2 Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian ......................................... 65
4.8 Metode Pengumpulan Data ....................................................................... 65
4.9 Teknik Analisis Data ................................................................................. 67
4.9.1 Analisis Deskriptif ...................................................................... 67
4.9.2 Analisis Jalur .............................................................................. 67
4.9.3 Metode Sobel .............................................................................. 77
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................................. 79
5.1 Deskrispsi Hasil Penelitian......................................................................... 79
5.1.1 Pendidikan Responden ................................................................ 79
5.1.2 Pendapatan Rumah Tangga Responden ...................................... 81
5.1.3 Keterampilan yang Dimiliki Responden ..................................... 82
5.1.4 Jumlah Tanggungan Responden.................................................. 85
5.1.5 Jarak Responden.......................................................................... 87
5.1.6 Lama Menganggur Responden.................................................... 88
5.1.7 Aspirasi untuk Memilih Pekerjaan .............................................. 89
5.1.8 Hubungan Pendidikan dengan Lama Menganggur Lulusan FEB
Unud ........................................................................................... 90
5.1.9 Hubungan Pendapatan RT dengan Lama Menganggur Lulusan
FEB Unud.................................................................................... 92
xii
5.1.10 Hubungan Keterampilan yang Dimiliki dengan Lama
Menganggur Lulusan FEB Unud ................................................ 94
5.1.11 Hubungan Jumlah Tanggungan dengan Lama Menganggur
Lulusan FEB Unud ...................................................................... 95
5.1.12 Hubungan Jarak dengan Lama Menganggur Lulusan FEB
Unud ........................................................................................... 97
5.2 Analisis Data ............................................................................................. 99
5.2.1 Analisis Validitas Model ............................................................. 99
5.2.2 Evaluasi Terhadap Model............................................................ 107
5.3 Pembahasan ................................................................................................ 115
5.3.1 Pengaruh Langsung Pendapatan Rumah Tangga, Keterampilan
Jumlah Tanggungan, dan Jarak terhadap Aspirasi Kerja ............ 116
5.3.2 Pengaruh Tidak Langsung Pendapatan Rumah Tangga,
Keterampilan, Jumlah Tanggungan, dan Jarak terhadap Lama
Menganggur................................................................................. 120
5.4 Keterbatasan Penelitian .............................................................................. 123
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN........................................................................... 125
6.1 Simpulan .................................................................................................... 125
6.2 Saran........................................................................................................... 126
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 127
LAMPIRAN-LAMPIRAN........................................................................................... 134
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
1.1 Penduduk yang Bekerja, Persentase Pengangguran dan Partisipasi Angkatan
Kerja menurut Kabupaten/Kota Agustus 2013 Provinsi Bali........................... . 4
1.2
Penduduk Bali Berumur 15 Tahun Ke atas yang Bekerja Selama Seminggu
yang Lalu Menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Pendidikan Tertinggi yang
Ditamatkan ............................................................................................................. 9
1.3
Jumlah Lulusan Program S1 Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana yang Menamatkan Pendidikan Tahun 2012-2013 per
Triwulan (orang).................................................................................................... 12
2.1
Rangkuman Hasil Penelitian Terdahulu ................................................................ 44
5.1
Lama Menamatkan Pendidikan Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Udayana Tahun 2012-2013 ..................................................... 80
5.2
Jumlah dan Rata-Rata Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012-2013 Menurut Pendapatan Rumah Tangga .... 82
5.3
Jumlah dan Rata-Rata Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012-2013 Menurut Keterampilan yang Dimiliki ... 83
5.4
Jumlah dan Rata-Rata Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012-2013 Menurut Jumlah Tanggungan................ 86
5.5
Jumlah dan Rata-Rata Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012-2013 Menurut Jarak........................................ 87
5.6
Jumlah dan Rata-Rata Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012-2013 Menurut Lama Menganggur.................. 88
xiv
5.7
Jumlah dan Rata-Rata Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012-2013 Menurut Aspirasi untuk Memilih
Pekerjaan ............................................................................................................... 90
5.8
Hubungan Pendidikan dengan Lama Menganggur Lulusan Fakultas Ekonomi
Dan Bisnis Universitas Udayana Tahun 2012-2013 ............................................. 91
5.9
Hubungan Pendapatan Rumah Tangga dengan Lama Menganggur Lulusan
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana Tahun 2012-2013 ............... 93
5.10 Hubungan Keterampilan yang Dimiliki dengan Lama Menganggur Lulusan
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana Tahun 2012-2013 ............... 95
5.11 Hubungan Jumlah Tanggungan dengan Lama Menganggur Lulusan Fakultas
Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana Tahun 2012-2013.............................. 96
5.12 Hubungan Jarak dengan Lama Menganggur Lulusan Fakultas Ekonomi Dan
Bisnis Universitas Udayana Tahun 2012-2013 ..................................................... 98
5.13 Klasifikasi Variabel
dan Persamaan Model Jalur Analisis Faktor Sosial,
Ekonomi dan Demografi yang Berpengaruh terhadap Lama Menganggur
Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana................................ 101
5.14 Ringkasan Analisis Regresi Model Pertama Analisis Faktor Sosial, Ekonomi
dan Demografi yang Berpengaruh terhadap Lama Menganggur Lulusan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.............................................. 102
5.15 Ringkasan Analisis Regresi Model Kedua Analisis Faktor Sosial, Ekonomi dan
Demografi yang Berpengaruh terhadap Lama Menganggur Lulusan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana ............................................................ 104
5.16 Ringkasan Koefisien Jalur Analisis Faktor Sosial, Ekonomi dan Demografi
yang Berpengaruh terhadap Lama Menganggur Lulusan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Udayana................................................................................... 105
5.17 Perhitungan Pengaruh Langsung, Pengaruh Tidak Langsung dan Pengaruh
Total....................................................................................................................... 114
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
1.2 Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan
Provinsi Bali 2011-2013 ....................................................................................... 6
3.1 Kerangka Berpikir Penelitian Analisis Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi dan
Demografi terhadap Lama Menganggur Lulusan Perguruan Tinggi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.............................................................. 49
3.2 Kerangka Konsep Penelitian Analisis Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi dan
Demografi terhadap Lama Menganggur Lulusan Perguruan Tinggi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.............................................................. 53
4.2 Diagram Jalur Variabel Penelitian .......................................................................... 71
5.2 Pengaruh Pendapatan Rumah Tangga (
Tanggungan (
), Jarak (
), Keterampilan (
), Jumlah
) dan Aspirasi Kerja ( ) Terhadap Lama
Menganggur ( ) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana .................. 106
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
No Lampiran
Halaman
1. Kuesioner ................................................................................................................. 133
2. Tabulasi Data............................................................................................................ 138
3. Hasil Regresi ............................................................................................................ 143
4. Perhitungan Koefisien Determinasi.......................................................................... 149
5. Daftar Akreditasi Program Studi Universitas Udayana ........................................... 150
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Indonesia memiliki jumlah penduduk sampai dengan bulan Februari 2014
ini mencapai 237.641.326 jiwa (BPS, 2014). Menurut Jhingan (2003) jumlah
penduduk yang besar merupakan salah satu potensi bangsa dalam pembangunan
nasional. Apabila penduduk terserap sebagai tenaga terampil, akan menjadi modal
pembangunan yang besar di segala bidang. Pertumbuhan penduduk yang semakin
tinggi dapat mengakibatkan pertumbuhan angkatan kerja yang semakin tinggi
pula. Ini berarti semakin banyak dampak yang ditimbulkan akibat semakin
tingginya jumlah orang yang mencari pekerjaan. Hal ini tentu akan menimbulkan
berbagai permasalahan salah satunya adalah kekurangan lapangan pekerjaan yang
menimbulkan pengangguran.
Permasalahan pengangguran merupakan permasalahan klasik yang
dihadapi oleh setiap negara termasuk Indonesia. Berbagai cara untuk mengatasi
masalah pengangguran ini menurut Sukirno (2004) seperti kebijakan dari sisi
permintaan yaitu dengan menurunkan atau menaikkan tingkat suku bunga dan
menambah pengeluaran pemerintah yang diikuti pula dengan pengurangan pajak.
Sedangkan menurut Sukirno (2004) kebijakan dari sisi penawaran salah satunya
adalah mendorong lebih banyak investasi, mengembangkan infrastruktur,
meningkatkan efisiensi, memberi subsidi, namun masalah ini belum juga dapat
terselesaikan.
1
2
Menurut Manik Pratiwi (2009) pengangguran ini muncul karena jumlah
angkatan kerja yang ada secara relatif atau absolut lebih banyak dibandingkan
dengan kesempatan kerja yang tersedia sehingga mengakibatkan sebagian
angkatan kerja tidak dapat diserap oleh pasar kerja. Menurut Todaro (2006),
terjadinya pengangguran tidak semata-mata akibat adanya kelebihan tenaga kerja
tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, seperti kualitas angkatan kerja,
dan distorsi dalam pasar kerja baik itu dari segi permintaan maupun penawaran
terhadap tenaga kerja. Menganggur, menyebabkan penduduk tidak dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Lebih dari itu, menurut Kembar Sri Budhi
(2008) karena menganggur, manusia kehilangan kesempatan mengaktualiasasikan
hidupnya. Penyebabnya, berkembang paradigma, manusia akan dihargai oleh
orang lain kalau ia bekerja dan tidak bergantung pada orang lain untuk mencukupi
kebutuhan hidupnya.
Ketenagakerjaan merupakan salah satu indikator perekonomian yang dapat
digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan suatu daerah (Nugraha
Setiawan,2006). Indikator ketenagakerjaan yang sering digunakan antara lain
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka
(TPT). Menurut Mulyadi (2003) semakin tinggi TPAK semakin baik, karena itu
berarti partisipasi angkatan kerja juga akan semakin meningkat. Bila peningkatan
angkatan kerja seiring dengan bertambahnya partisipasi penduduk yang bekerja,
hal ini dapat berarti peningkatan TPAK diiringi dengan menurunnya partisipasi
penduduk yang bekerja, ini pertanda bahwa pemicu tingginya TPAK adalah
meningkatnya
penduduk
yang
mencari
pekerjaan.
Dengan
kata
lain,
3
mengakibatkan bertambahnya pengangguran. Kondisi ketenagakerjaan suatu
daerah dapat menggambarkan tingkat perkembangan perekonomian dan tingkat
perkembangan kesejahteraan masyarakatnya. Gambaran ini sangat penting bagi
perencanaan pembangunan, pengambilan kebijakan maupun pemerhati masalah
sosial ekonomi dan kependudukan (BPS, 2011)
Permasalah pengangguran juga terjadi di Bali, dimana Provinsi Bali
merupakan salah satu daerah yang memiliki jumlah penduduk yang cukup besar.
Struktur perekonomian Provinsi Bali sangat spesifik dan mempunyai karakteristik
tersendiri dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Menurut Manik
Pratiwi (2009), perekonomian yang dibangun dengan mengandalkan industri
pariwisata sebagai leading sector, telah mampu mendorong terjadinya perubahan
struktur perekonomian daerah Provinsi Bali. Perubahan struktur perekonomian
dari yang sebelumnya sektor pertanian beralih ke jasa disebabkan oleh
pertumbuhan industri pariwisata Manik Pratiwi (2009). Perubahan struktur
ekonomi tersebut juga mengakibatkan terjadinya perubahan dalam
struktur
penyerapan tenaga kerja.
Selain itu pengangguran terbuka pada tahun 2013 di Bali lebih banyak
didominasi oleh daerah perkotaan. Arus urbanisasi dan migrasi merupakan salah
satu faktor penyebab meningkatnya jumlah pengangguran di perkotaan. Data
mengenai jumlah dan tingkat pengangguran menurut kabupaten/ kota di Provinsi
Bali dapat dilihat dalam Tabel 1.1
4
Tabel 1.1
Penduduk yang Bekerja, Persentase Pengangguran,dan Partisipasi Angkatan
Kerja Menurut Kabupaten/Kota Agustus 2013 Provinsi Bali
Kabupaten/
Kota
Penduduk
15+
(Orang)
Angkatan
Kerja
(Orang)
Bekerja
(Orang)
Pengangguran
(Orang)
Bukan
Angkatan
Kerja
(Orang)
TP AK
(%)
TPT
(%)
Jembrana
Tabanan
Badung
Gianyar
Klungkung
Bangli
Karangasem
Buleleng
Denpasar
Bali
196.920
335.640
409.910
362.220
129.700
159.270
296.090
461.840
600.950
2.952.550
152.910
259.920
313.110
272.940
98.170
125.790
226.970
351.470
455.990
2.257.260
145.590
255.250
305.900
267.050
96.420
124.530
222.450
344.540
439.150
2.204.870
3.320
4.670
7.210
5.890
1.750
1.260
4.510
6.930
16.840
52.380
44.020
75.730
96.800
89.270
31.530
33.480
69.120
110.370
144.970
695.290
77.65
77.44
76.38
75.35
75.69
78.98
76.65
76.1
75.88
76.45
2.17
1.80
2.30
2.16
1.78
1.00
1.99
1.97
3.69
2.32
Sumber : SAKERNAS, BPS Provinsi Bali, 2013
Berdasarkan Tabel 1.1 menurut kabupaten/kota, Kota Denpasar memiliki
tingkat pengangguran terbuka yang paling tinggi yakni sebesar 3,69 persen
disusul oleh Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Jembrana.
Kabupaten lain memiliki tingkat pengangguran terbuka relatif rendah (kurang dari
3 persen). Kota Denpasar sebagai ibu kota provinsi dan sebagai pusat
pemerintahan di provinsi ini memiliki jumlah pengangguran yang cenderung
meningkat dari tahun ke tahun. Pengangguran di Kota Denpasar tidak hanya
berasal dari penduduk lokal tetapi juga bertambah seiring dengan semakin
besarnya arus urbanisasi ke Kota Denpasar. Data pengangguran terbuka di Kota
Denpasar,dijelaskan bahwa pengangguran terbuka banyak terjadi di kalangan
masyarakat dengan pendidikannya baik. Komposisi pengangguran terbuka yang
terjadi di Kota Denpasar menurut data SAKERNAS tahun 2013 diperoleh sekitar
1,9 % pengangguran di Kota Denpasar adalah yang berasal dari masyarakat tidak
pernah sekolah, 4,0% masyarakat yang pendidikannya belum tamat SD, kemudian
5
12,5 % berasal dari masyarakat yang hanya menamatkan pendidikan sampai SD,
kemudian 18,4% pengangguran yang hanya menamatkan pendidikan sampai
SMP. Selanjutnya pengangguran terdidik yang berasal dari tingkat pendidikan
SMA dan perguruan tinggi yaitu 42,3% berasal dari masyarakat dengan tingkat
pendidikan SMA dan sisanya yaitu 20,8% didominasi oleh masyarakat dengan
pendidikan perguruan tinggi.
Hal ini diperkuat menurut Dhanani (2004) dalam Anton A Setyawan,
pengangguran di perkotaan tiga kali lipat lebih besar dari pengangguran
dipedesaan. Pernyataan tersebut diperkuat juga oleh Byrne dan Strobl (2004)
dalam Anton A Setyawan, karena diperkotaan pekerjaan lebih dianggap
mempunyai arti daripada di wilayah pedesaan. Kata arti yang dimaksud tersebut
adalah adanya aspek mendapat keuntungan dan manfaat yang lebih yang dapat
dirasakan dengan mencari pekerjaan di wilayah perkotaan dibandingan dengan
daerah pedesaan. Selain itu menurut Todaro (2000) adanya perbedaan ekspektasi
pendapatan yang sangat lebar antara tingkat upah di perkotaan dibandingkan
dengan pedesaan membuat seseorang melalukan pilihan bermigrasi dari desa
menuju kota.
Selain itu fenomena yang menarik untuk dicermati khususnya di Provinsi
Bali ialah tingginya tingkat pengangguran terbuka yang berasal dari lulusan
perguruan tinggi. Berdasarkan Gambar 1.1 terlihat bahwa pada tahun 2011 sampai
dengan tahun 2013 Tingkat Pengangguran Terbuka terbesar terdapat pada
kelompok penduduk berpendidikan perguruan tinggi. Persentase tingkat
pengangguran terbuka paling tinggi terjadi ditahun 2011 yaitu sebesar 8.47 persen
6
dan 6.45 persen dibandingkan tahun-tahun setelahnya. Tingginya pengangguran
yang berasal dari penduduk kelompok berpendidikan tinggi menurut A. Ihsan
(2011) disebabkan karena adanya kualifikasi pekerjaan yang diinginkan yang
tidak sesuai dengan kualifikasi kompetensi yang dimiliki oleh pekerja. Kondisi ini
yang akan menciptakan missmatch antara ketersediaan kompetensi pekerja dengan
kualifikasi perusahaan yang diinginkan.
Meskipun persentase tingkat pengangguran terbuka dari tahun 2011
sampai tahun 2013 mengalami penurunan, namun tidak berarti terjadi penurunan
yang absolut terhadap tingginya pengangguran terbuka yang berasal dari lulusan
perguruan tinggi. Berikut ini akan disampaikan data mengenai tingkat
pengangguran terbuka menurut pendidikan yang ditamatkan, Provinsi Bali tahun
2011-2013 dalam Gambar 1.1.
Gambar 1.1
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Tingkat Pendidikan yang
Ditamatkan, Provinsi Bali 2011-2013
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan
9.00
8.00
7.00
(%)
6.00
5.00
4.00
3.00
2.00
1.00
0.00
Tidak
sekolah
Tidak
tamat
SD
SD
SLTP
SMA
SMA Kej
Dip
I/II/III
Dip
IV/S1
S2/S3
2011
0.19
0.79
1.16
2.36
5.59
6.33
8.47
6.45
5.60
2012
1.53
1.33
1.44
2.17
5.41
4.66
5.70
5.66
2.58
2013
1.75
0.59
0.65
2.60
2.85
4.67
4.69
4.21
3.11
7
Sumber :SAKERNAS, BPS Provinsi Bali, 2013
Data tersebut memberikan indikasi bahwa jumlah penduduk yang bekerja
pada kelompok ini sedikit. Penduduk yang berpendidikan tinggi cenderung
memilih-milih pekerjaan atau tidak asal bekerja padahal lapangan pekerjaan yang
tersedia terbatas.
Biasanya, penduduk pada kelompok tersebut cenderung
memilih menganggur sambil menunggu pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan
mereka. Kondisi ini akan berbeda jika dikaitkan dengan pendudukan yang
berpendidikan rendah misalnya lulusan Sekolah Dasar, yang banyak terserap di
lapangan pekerjaan karena mereka tidak memilih-milih pekerjaan. Bagi mereka
yang penting adalah bekerja, sehingga dengan demikian, Tingkat Pengangguran
Terbuka pada kelompok penduduk tersebut kecil (BPS, 2013).
Menurut Vincent dalam Wiwiek (2007), fenomena mengenai tingginya
pengangguran yang didominasi oleh lulusan perguruan tinggi disebabkan oleh
ketidakmampuan lulusan itu beradaptasi dengan kebutuhan dunia industri modern.
Sementara perubahan lingkungan
yang dihadapi oleh industri modern
memerlukan kemampuan adaptasi yang tinggi akan infrastruktur suatu
perekonomian. Selain itu adanya aspek pengakuan menurut The International
Labor Office (ILO) dalam Nehen (2012) yaitu didalam negara berkembang yang
dikatakan sebagai pekerja apabila pekerja memberikan pengakuan kepada
seseorang bahwa dia terikat dengan sesuatu yang layak bagi hidupnya membuat
pekerja itu sendiri dapat mempengaruhi pilihan sesorang terhadap pekerjaan yang
diambil.
8
Menurut Moh Farid Najib (2007), secara umum orientasi pencari kerja
lulusan perguruan tinggi berorientasi pada proses pelamaran kerja dengan
mengandalkan pada ijazah dan gelar akademiknya berdasarkan program studi
yang diambil. Menurut Susanto dalam Moh Farid Najib (2007), mengemukakan
adanya suatu kecenderungan empiris yang telah membuktikan bahwa lulusan
perguruan tinggi mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan. Hal ini
mengakibatkan munculnya kesan bahwa lulusan perguruan tinggi cenderung
menjadi pencari kerja (job seeker) dibandingkan pencipta kerja (job keeper).
Menurut Juhdi dalam Wiwiek (2007) sebuah studi terhadap lulusan
perguruan tinggi di Malaysia menyebutkan bahwa masalah yang dihadapi
pengguna lulusan adalah bukan pada technical skill tetapi pada soft skill alumni.
Para lulusan ini sangat menguasai bidang teknis, seperti penguasaan teknologi dan
informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology),
manajemen, teknik (engineering) dan pemasaran dengan baik. Sebaliknya para
lulusan perguruan tinggi mempunyai kemampuan yang rendah dalam kemampuan
komunikasi, kepemimpinan, kemampuan dalam adaptasi terhadap pekerjaan dan
lingkungan, kemampuan kerjasama dalam tim dan kemampuan dalam hal
pemecahan masalah. Hal ini berdampak pada tingginya tingkat pengangguran
lulusan perguruan tinggi dari tahun ke tahun
Adanya beberapa lapangan pekerjaan yang dipilih oleh para lulusan
perguruan tinggi setelah menamatkan bangku kuliahnya merupakan salah satu
penyebab ke sektor mana saja minat atau aspirasi kerja lulusan perguruan tinggi
tersebut untuk bekerja. Memilih-milih pekerjaan sesuai dengan aspirasi kerja yang
9
diinginkan
menjadi
penyebab
lama
tunggunya
seorang
pengangguran
mendapatkan pekerjaan baik itu di daerah perkotaan maupun pedesaan terutama di
Provinsi Bali. Menurut Mulyadi (2003) struktur perekonomian suatu negara
ataupun daerah dapat dicerminkan antara lain struktur lapangan pekerjaan utama,
struktur jenis pekerjaan utama, dan status pekerjaan utama dari para pekerjanya.
Lapangan pekerjaan utama seseorang adalah bidang kegiatan utama pekerja
tersebut. Berikut ini data mengenai penduduk Bali berumur 15 tahun ke atas yang
bekerja selama seminggu yang lalu menurut lapangan pekerjaan utama dan
pendidikan tertinggi yang ditamatkan dalam Tabel 1.2.
Tabel 1.2
Penduduk Bali Berumur 15 Tahun Ke atas yang Bekerja
Selama Seminggu yang Lalu Menurut Lapangan Pekerjaan Utama
dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Tahun 2013
No
Lapangan Pekerjaan Utama
1
Pertanian, Perkebunan, Kehutanan,
Perburuan, dan Perikanan
2 Pertambangan dan Penggalian
3 Industri Pengolahan
4 Listrik, Gas dan Air Minum
5 Konstruksi
6 Perdagangan,Rumah Makan dan Jasa
Akomodasi
7 Transportasi,Pergudangan, dan
Komunikasi
8 Lmbg Keuangan, Real Estate, Ush
Persewaan, & Js Perusahaan
Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan
9 Perorangan
10 Lainnya
Jumlah
Sumber : SAKERNAS, BPS Provinsi Bali,2013
Pendidikan Tertinggi
yang Ditamatkan
Program Diploma IV/S1
(Orang)
2.386
7.128
2.119
6.979
25.536
8.409
17.953
66.517
137.027
10
Dari Tabel 1.2 terlihat pada tahun 2013 adanya sebaran lulusan perguruan
tinggi Diploma IV/S1 di Bali bekerja pada beberapa sektor pekerjaan
menunjukkan semakin banyaknya lulusan yang terserap di beberapa sektor
tersebut.
Apabila
dilihat
dari
sektor
yang
mendominasi
sektor
jasa
kemasyarakatan, sosial dan perorangan berada di posisi tertinggi yaitu 66.517
orang, atau tingginya minat masyarakat untuk bekerja di sektor informal. Menurut
A. Ihsan (2011), hal ini disebabkan kecenderungan yang terjadi di masyarakat
adalah kesempatan kerja yang tercipta tidak dapat dinikmati oleh semua
masyarakat khususnya pada sektor formal, karena di sektor ini diperlukannya
sumber daya manusia yang memenuhi standar tingkat pendidikan yang telah
ditentukan oleh badan usaha atau instansi terkait.
Kemudian sektor lain yang cukup diminati oleh para lulusan perguruan
tinggi tersebut adalah sektor perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi yaitu
sekitar 25.536. Mengingat Bali sebagai daerah tujuan wisata maka tidak
mengherankan sektor ini juga cukup kuat mendominasi lulusan untuk memilih
pekerjaan disektor tersebut. Namun cukup disayangkan pada sektor pertanian,
perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan serta sektor pengolahan listrik,
gas dan air minum tidak terlalu diminati oleh lulusan perguruan tinggi sekitar
2.386 dan 2.119.
Hal ini terjadi mengingat mulai enggannya para lulusan
perguruan tinggi tersebut untuk bekerja di sektor pertanian, disebabkan karena
adanya pola pikir yang sudah mulai berubah yaitu semakin tinggi tingkat
pendidikan seseorang yang ditempuh, maka semakin mahal pula bentuk
pertambahan hasil kerja atau penghasilan yang dapat dia peroleh.
11
Tidak hanya dikenal dengan pariwisatanya, dalam kategori dunia
pendidikan pun pulau Bali banyak memiliki perguruan tinggi negeri yang patut
dipertimbangkan kualitasnya. Salah satunya adalah Universitas Udayana
merupakan perguruan tinggi negeri yang ada di Bali yang berdiri secara resmi
pada tanggal 17 Agustus 1962 dengan surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi
dan Ilmu Pengetahuan Nomor 104 Tanggal 9 Agustus 1962 dan selanjutnya
diperkuat oleh Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 tanggal
31 Januari 1963. Universitas Udayana memiliki 12 program pendidikan yang
telah disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan pembangunan daerah dan
nasional.
Program pendidikan yang menjadi salah satunya adalah Fakultas
Ekonomi.
Fakultas Ekonomi berdiri sejak tahun 1967, yang pada tanggal 21 Juni
2013 berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana Nomor 100A/UN14/HK/2013
berganti nama menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
Sampai tahun 1975 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana belum
diijinkan menamatkan sarjana (S1), akan tetapi hanya terbatas pada jenjang
Sarjana Muda. Ijin penyelenggaraan program S1 baru diperoleh pada tahun 1976.
Selama itu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana juga memiliki
beberapa strata pendidikan yaitu Diploma 3 yang terdiri dari 4 program studi,
Strata 1 yang terdiri dari 3 program studi serta Strata 2 yang terdiri dari 3 program
studi yang merupakan kelanjutan dari program pendidikan Sarjana 1, serta dua
program Strata 3 yaitu S3 Ilmu Ekonomi dan S3 Ilmu Manajemen. Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana hingga saat ini telah menghasilkan
12
ribuan lulusan yang menamatkan pendidikan tiap tahunnya. Berikut ini adalah
data mengenai jumlah lulusan yang menamatkan pendidikannya dari tahun 20122013 per triwulan pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3
Jumlah Lulusan Program S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana yang Menamatkan Pendidikan pada Tahun 2012-2013 per
Triwulan (orang)
No
1
2
Periode Wisuda (Bulan)
Februari
Mei
2012
Agustus
Nopember
Januari
Maret
2013
Mei
Agustus
Nopember
Jumlah
Sumber : Universitas Udayana (Data diolah), 2013
Program Pendidikan S1
(Orang)
172
110
291
53
50
88
78
115
139
1096
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana merupakan salah satu
industri jasa pendidikan yang ada di Bali sangat perlu melakukan perbaikan secara
terus menerus dan secara berkelanjutan dalam hal penyelenggaraan pendidikan
sehingga menghasilkan lulusan yang berkualitas. Mengingat tiga program studi
yang dimiliki Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana yaitu program
S1 Akuntansi, S1 Manajemen dan S1 Ekonomi Pembangunan berhasil meraih
akreditas A (http://banpt.blogspot.com,20/11/2014) asumsinya lulusan yang
dihasilkan tergolong baik atau sangat baik. Berdasarkan atas asumsi tersebut,
13
harusnya lulusan yang berasal dari FEB Unud dengan mudah beradaptasi dan
diterima di dunia kerja.
Apabila terjadi ketidaksiapan lulusan dalam memenuhi kebutuhan industri
di segala bidang akan menimbulkan kesenjangan (gap) yang menyebabkan
tingginya masa tunggu (lama menganggur) lulusan di perguruan tinggi, khususnya
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Menurut Fadhilah
Rahmawati dan Vincent Hadiwiyono dalam Reza Primanda (2011) yang apabila
kesenjangan ini terjadi berarti perguruan tinggi sebagai proses untuk menyiapkan
lulusan atau tenaga kerja siap pakai belum berfungsi sebagaimana mestinya.
Terdapat
banyak
faktor
yang
mempengaruhi
tingginya
tingkat
pengangguran terutama lulusan perguruan tinggi. Selain ketimpangan dalam
permintaan dan penawaran tenaga kerja, permasalahan ketenagakerjaan juga
menyangkut ketimpangan antara struktur angkatan kerja, dengan struktur
kesempatan kerja, dan ketimpangan dalam struktur pasar kerja. Ketimpangan
dalam struktur angkatan kerja dan kesempatan kerja terlihat dari kemampuan daya
serap pasar kerja pada tingkat pendidikan angkatan kerja yang semakin tinggi
semakin terbatas.
Tingkat pendidikan yang semakin tinggi ditemui tingkat pengangguran
yang lebih tinggi, hal ini harus dipersepsikan bahwa terdapat keterbatasan
kesempatan kerja yang dianggap sesuai untuk kelompok pendidikan tersebut.
Mungkin juga terjadi mereka yang terdidik lebih bersedia menganggur karena
ditopang oleh keluarganya yang mampu. Jadilah mereka orang-orang yang
mampu menganggur (BPS, 2009).
14
Selain faktor pendidikan dan pendapatan rumah tangga juga merupakan
faktor yang berpengaruh terhadap lama menganggur. Menurut Setiawan (2010)
tenaga kerja terdidik umumnya datang dari keluarga yang lebih berada terutama
untuk masyarakat kalangan berpendapatan rendah yang menganggap pendidikan
masih dirasa mahal. Dengan demikian tenaga kerja dari keluarga berpendapatan
rendah umumnya tidak mampu meneruskan pendidikannya dan terpaksa mencari
kerja. Sehingga tenaga kerja terdidik akan selalu berusaha mencari pekerjaan
dengan upah, jaminan sosial, dan lingkungan kerja yang baik. Maka dari itu,
tingkat pendapatan seseorang mempengaruhi lama menganggurnya lulusan.
Selain itu terdapat faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi lama
menganggur seseorang. Lowongan pekerjaan sering kali mencantumkan
pengalaman kerja atau keterampilan yang dimiliki sebagai prasyarat utama.
Adanya prasyarat tersebut, mengakibatkan adanya perbedaan lama menganggur
antara pencari kerja baru yang belum memiliki pengalaman kerja atau
keterampilan dan pencari kerja lama yang sebelumnya telah memiliki pengalaman
kerja. Menurut Sutomo dkk dalam Setiawan (2010), dengan memiliki pengalaman
kerja atau keterampilan didukung pula dengan tingkat pendidikan yang tinggi,
maka tenaga kerja akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan
pekerjaan.
Menurut Mantra (2003), jumlah tanggungan responden dapat diartikan
sebagai jumlah seluruh anggota keluarga yang harus ditanggung
dalam satu
keluarga. Setiap keluarga memiliki jumlah tanggungan keluarga yang berbedabeda. Asumsinya semakin banyak jumlah tanggungan keluarga maka kebutuhan
15
dalam keluarga tersebut semakin banyak. Oleh karena itu, semakin banyak
tanggungan seseorang semakin sedikit pula responden menyia-nyiakan lowongan
pekerjaan yang ada untuk memenuhi kebutuhan.
Jarak tempat tinggal seorang pencari kerja ke tempat bekerja merupakan
jarak yang harus ditempuh sorang pencari kerja menuju ke tempat bekerja.
Semakin jauh jarak yang harus ditempuh maka ketersediaan informasi antara
pencari kerja dengan lowongan pekerjaan yang tersedia akan semakin jauh juga.
Menurut Simanjuntak (2001), pengangguran dapat pula diakibatkan oleh adanya
proses seleksi pekerjaan, faktor jarak serta kurangnya informasi. Akibatnya
lamanya seorang menganggur akan semakin panjang.
Adanya aspirasi kerja yang mendasari para pekerja mencari kerja
membuat sesorang semakin lama menganggur. Hal ini disebabkan karena adanya
pilihan-pilihan pekerjaan yang ada baik itu dari sudut lingkungan kerja, pribadi
dan perkembangannya, dan interaksi pribadi dengan lingkungannya. Banyaknya
pencari kerja yang tetap bersedia menganggur dikarenakan adanya kecenderungan
memandang pekerjaan sesuai dengan stereotipnya. Menururt Fadhilah Rahmawati
dkk dalam Setiawan (2010) adanya aspirasi kerja dari golongan berpendidikan
tinggi yang menganggap bahwa semakin tinggi pendidikan yang ditempuh maka
masa menganggur akan semakin lama karena masyarakat golongan pendidikan
tinggi akan menginginkan pekerjaan yang sesuai dan sebanding dengan return
biaya pendidikannya.
16
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka yang
menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Bagaimanakah pengaruh pendapatan rumah tangga, keterampilan, Jumlah
tanggungan dan jarak terhadap aspirasi kerja lulusan perguruan tinggi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana?
2) Bagaimanakah pengaruh pendapatan rumah tangga, keterampilan, jumlah
tanggungan, jarak dan aspirasi kerja terhadap lama menganggur lulusan
perguruan tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana?
3) Adakah pengaruh tidak langsung pendapatan rumah tangga, keterampilan,
jumlah tanggungan dan jarak terhadap lama menganggur melalui aspirasi
kerja lulusan perguruan tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana?
1.3
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disampaikan diatas, maka yang
menjadi tujuan penelitian adalah sebagai berikut.
1) Untuk menganalisis pengaruh pendapatan rumah tangga, keterampilan,
jumlah tanggungan, dan jarak terhadap aspirasi kerja lulusan perguruan
tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
2) Untuk menganalisis pengaruh pendapatan rumah tangga, keterampilan,
jumlah tanggungan, jarak dan aspirasi kerja terhadap lama menganggur
17
lulusan perguruan tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana
3) Untuk menganalisis adanya pengaruh tidak langsung antara pendapatan
rumah tangga, keterampilan, jumlah tanggungan dan jarak melalui aspirasi
kerja terhadap lama menganggur lulusan perguruan tinggi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
1.4
Manfaat Penelitian
1) Manfaat Teoritis
Penelitian ini berguna bagi aplikasi teori-teori ekonomi, perencanaan
pembangunan yang selama ini diberikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana, serta berguna dalam memperkaya ragam penelitian
dan mampu menambah pengetahuan serta wawasan khususnya bagi
mahasiswa mengenai pendapatan rumah tangga, keterampilan yang
dimiliki, jumlah tanggungan, jarak dan aspirasi kerja yang berpengaruh
terhadap lama menganggur lulusan perguruan tinggi di Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Udayana.
2) Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran
kepada pemerintah terutama pemerintah daerah, maupun lembaga yang
dalam hal ini adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana
dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan dan
pengendalian masalah pengangguran, sehingga nantinya dapat bekerja
lebih baik, efektif dan efisien dalam mencapai tujuan bersama.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Konsep-Konsep dan Definisi
2.1.1 Konsep Tenaga Kerja
Istilah employment dalam bahasa Inggris berasal dari kata to employ yang
berarti menggunakan dalam suatu proses atau usaha memberikan pekerjaan atau
sumber penghidupan. Kata employment berarti keadaan orang yang sedang
mempunyai pekerjaan. Penggunaan istilah employment sehari-hari biasa
dinyatakan dengan jumlah orang dan yang dimaksudkan adalah sejumlah orang
yang dalam pekerjaan atau mempunyai pekerjaan. Pengertian ini memiliki dua
unsur yaitu lapangan atau kesempatan kerja dan orang yang dipekerjakan atau
yang melakukan pekerjaan tersebut. Pengertian employment dalam bahasa Inggris
sudah jelas yaitu kesempatan kerja yang sudah diduduki (Soeroto, 1983)
Di Indonesia, pengertian tenaga kerja atau manpower mulai sering
digunakan. Tenaga kerja mencakup angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.
Pembagian angkatan kerja terdiri dari menganggur dan bekerja, sedangkan bukan
angkatan kerja mencakup penduduk yang bersekolah, mengurus rumah tangga dan
penerima pendapatan. Tiga golongan yang disebut terakhir pada bukan angkatan
kerja seperti bersekolah, penerima pendapatan dan mengurus rumah tangga,
walaupun sedang tidak bekerja, mereka dianggap secara fisik mampu dan
sewaktu-waktu dapat ikut bekerja.
18
19
Menurut Lembaga Demografi FEUI (1981) tenaga kerja (manpower)
adalah jumlah seluruh penduduk dalam suatu Negara yang dapat memproduksi
barang dan jasa. Jika ada permintaan terhadap tenaga mereka, dan jika mereka
mau berpartisipasi dalam aktivitas tersebut. Indonesia, pemilihan umur minimum
seorang tenaga kerja adalah 15 tahun tanpa batasan umur maksimum. Pemilihan
15 tahun sebagai batas umur minimum adalah berdasarkan kenyataan bahwa
dalam umur tersebut sudah banyak penduduk berumur muda terutama di desadesa sudah bekerja atau mencari pekerjaan. Pemilihan umur 15 tahun sebagai
batas umur minimum disebabkan bertambahnya kegiatan penduduk dalam
mengenyam pendidikan. Hal ini didasarkan bila wajib sekolah 9 tahun diterapkan,
maka anak-anak sampai dengan umur 14 tahun akan berada di sekolah, dengan
kata lain jumlah penduduk yang bekerja dalam batas umur tersebut akan menjadi
sangat kecil, sehingga batas minimum lebih tepat dinaikkan menjadi 15 tahun.
Menurut pertimbangan tersebut, Undang- undang No. 25 tahun 1997 tentang
ketenagakerjaan telah menetapkan batas usia kerja menjadi 15 tahun. Menurut
pertimbangan tersebut, sesuai dengan mulai berlakunya Undang-undang ini, mulai
tanggal 1 Oktober 1998, tenaga kerja didefinisikan sebagai penduduk berumur 15
tahun atau lebih.
Menurut Simanjuntak (2001), tenagakerja atau manpower terdiri dari
angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja atau Labor Force
terdiri dari (1) golongan yang bekerja, dan (2) golongan yang menganggur dan
mencari pekerjaan. Kelompok bukan angkatan kerja terdiri dari (1) golongan
yang bersekolah, (2) golongan yang mengurus rumah tangga, (3) golongan lain-
20
lain atau penerima pendapatan. Ketiga golongan dalam kelompok angkatan kerja
sewaktu-waktu dapat menawarkan jasanya untuk bekerja. Oleh karena itu,
kelompok ini sering juga dinamakan sebagai potential labor force.
2.1.2 Peranan Tenaga Kerja dalam Pembangunan Ekonomi
Menurut Sergej Vojtovich (2011) adanya hubungan yang tidak dapat
dipisahkan atau dikecualikan antara pertumbuhan ekonomi dan pengangguran,
meskipun beralasan, terdapat hubungan yang langsung secara aritmatik antara
tingginya GDP dengan cepatnya tingkat pertumbuhan pengangguran. Laju
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi merupakan laju pertumbuhan yang di
bentuk dari beberapa sektor ekonomi yang secara tidak langsung menggambarkan
tingkat pertumbuhan ekonomi yang terjadi didaerah tersebut (Prahutama, 2013).
Salah satu sektor pembentuknya adalah ketenagakerjaan, karena sebagai salah
satu syarat yang signifikan untuk membangun dan menumbuhkan ekonomi adalah
dengan menghasilkan tenaga kerja (Celik, 2011). Menurut pendekatan Gainful
Worker, beranggapan bahwa dalam perekenomian suatu negara atau daerah,
tingkat keberhasilan yang dicapai dapat diukur melalui luasnya kesempatan kerja
yang dapat diciptakan atau dihitung dari jumlah orang yang berhasil mendapatkan
pekerjaan ( Daryono Soebagiyo, 2007).
Profil ketenagakerjaan pada saat ini tidak dapat diidentikkan dengan
angkatan kerja. Menurut Tan Gong Tiang dalam Mantra (2003) Tenaga Kerja
(Man Power ) ialah besarnya bagian dari penduduk yang dapat diikutsertakan
dalam proses ekonomi. Sedangkan yang dimaksud dengan angkatan kerja adalah
21
penduduk yang berusia 15 tahun keatas yang secara aktif melakukan kegiatan
ekonomi. Meskipun adanya perbedaan definisi dari kedua konsep tersebut namun
dalam konteks pembangunan nasional keduanya saling memperkuat satu sama
lain. Adanya peran sumber daya manusia dalam hal ini adalah ketenagakerjaan
dalam proses pembangunan menjadi sektor penting yang tentunya tidak dapat
diabaikan begitu saja.
Menurut Mulyadi (2003) minimal ada empat kebijaksanaan pokok dalam
upaya peningkatan sumber daya manusia untuk memperbaiki ketenagakerjaan
disuatu daerah yaitu : (1) Peningkatan kualitas hidup manusianya seperti jasmani,
rohani dan keuangan. (2) Pemerataan penyebaran penduduk. (3) Memanfaatkan,
mengembangkan dan menguasai IPTEK yang berwawasan lingkungan. (4)
Pengembangan pranata yang meliputi kelembagaan dan perangkat hukum.
Diharapkan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia juga akan
mempengaruhi peningkatan kualitas serta produktivitas tenaga kerja yang
tentunya berpengaruh terhadap pembangunan. Peningkatan produktivitas tenaga
kerja dilakukan dengan peningkatan kemampuan/keterampilan, disiplin, etos kerja
produktif, sikap kreatif dan inovatif dan membina lingkungan kerja yang sehat
untuk memacu prestasi. Pelatihan tenaga kerja lebih diarahkan pada
pengembangan usaha yang mandiri dan profesional, sehingga diharapkan dapat
berkembang menjadi bibit-bibit wirausaha yang mampu menciptakan lapangan
pekerjaan. Kemudian, mobilitas sumber daya, terutama tenaga kerja dari kegiatan
yang dianggap kurang produktif diarahkan pada kegiatan yang lebih produktif,
disertai oleh pengembangan sistem perlindungan tenaga kerja.
22
Adanya proses peningkatan efektivitas dan efisiensi dari sumber daya
manusia tersebut, maka diharapkan adanya koordinasi antar lembaga pemerintah,
maupun antar lembaga-lembaga dimasyarakat serta sektor swasta. Apabila proses
terintegrasi tersebut terjadi maka pembangunan ekonomi yang diidamkan pasti
akan terjadi. Adanya partisipasi aktif antar lembaga tersebut menjadi suatu upaya
yang mendorong dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia yang
mengarah pada peningkatan pembangunan daerah maupun nasional kedepan.
2.1.3 Konsep Pengangguran dan Jenis-Jenis Pengangguran
Menurut Berzinskiene (2011), tingkat pasar tenaga kerja menggambarkan
dari situasi ekonomi di sebuah negara dan dapat menunjukkan kelemahannya.
Salah satunya adalah pengangguran (unemployment), pengangguran merupakan
kenyataan yang dihadapi tidak saja oleh negara-negara sedang berkembang
(developing countries), akan tetapi juga oleh negara-negara yang sudah maju
(developed countries). Umumnya kriteria yang digunakan untuk membandingkan
performa ekonomi disuatu negara dalam kondisi umum pada pasar tenaga kerja,
adalah
tingginya
tingkat
pengangguran
(Kavler,2009).
Secara
umum,
pengangguran didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang yang
tergolong dalam kategori angkatan kerja (labor force) tidak memiliki pekerjaan
dan secara aktif sedang mencari pekerjaan. Seseorang yang tidak bekerja, tetapi
secara aktif mencari pekerjaan tidak dapat digolongkan sebagai penganggur.
Untuk mengukur pengangguran didalam suatu negara biasanya digunakan apa
23
yang dinamakan tingkat pengangguran (unemployement rate), yaitu jumlah
penganggur dinyatakan sebagai presentase dari total angkatan kerja (labor force).
Menurut Mantra dalam Marhaeni dan Manuati Dewi (2004), seseorang
dikatakan menganggur apabia tidak bekerja atau tidak memiliki pekerjaan.
Terdapat dua kemungkinan berkaitan dengan orang yang bersangkutan. Pertama,
ia tidak bekerja karena memang tidak ingin bekerja atau tidak bekerja secara
sukarela. Kedua, ia tidak bekerja karena tidak memperoleh pekerjaan, padahal
sedang mencari pekerjaan. Menurut Edy Priyono (2002) menganggur hanya dapat
dilakukan oleh orang yang punya tabungan atau transfer dari orang lain untuk
mempertahankan hidupnya. Menurut Sensus Penduduk 1980, 1990, dan 2000
dalam Marhaeni dan Manuati Dewi (2004), di Indonesia penggolongan penduduk
yang mencari pekerjaan adalah :
1) Mereka yang belum pernah bekerja dan sedang berusaha mendapatkan
pekerjaan atau disebut pencari kerja baru.
2) Mereka yang pernah bekerja, pada saat pencacahan sedang menganggur
dan berusaha mendapatkan pekerjaan atau pencari kerja lama.
3) Mereka yang dibebastugaskan dan sedang berusaha mendapatkan
pekerjaan atau pencari kerja lama.
Didaerah maju ketika adanya proses restrukturisasi perusahaan manufaktur
yang dihapuskan, banyak meninggalkan tingginya angka pengangguran, yang
mana sulitnya menemukan pekerjaan dikarenakan ada dua alasan : sulitnya
permintaan akan kualifikasi pekerjaan disektor lain dan permasalahan secara
24
keseluruhan adalah rendahnya permintaan akan tenaga kerja (Borsic and Alenka
Kavler 2009).
Jenis Pengangguran
Menurut Nanga (2005), dilihat dari sebab-sebab timbulnya, pengangguran
dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis sebagai berikut.
1) Pengangguran
Friksional
atau
Transisi
(frictional
or
transition
unemployment). Pengangguran friksional adalah jenis pengangguran yang
timbul sebagai akibat adanya perubahan di dalam syarat-syarat kerja, yang
terjadi seiring dengan perkembangan atau dinamika ekonomi yang terjadi.
2) Pengangguran Struktural (structural unemployment). Adapun yang
dimaksud dengan pengangguran struktural adalah jenis pengangguran
yang terjadi sebagai akibat adanya perubahan di dalam struktur pasar
tenaga kerja yang menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian antara
penawaran dan permintaan tenaga kerja.
3) Pengangguran Alamiah (natural unemployement) atau yang dikenal
dengan tingkat pengangguran alamiah (natural rate of unemployement).
Pengangguran Alamiah adalah tingkat pengangguran yang terjadi pada
kesempatan kerja penuh (Sachs and Larrain,1993), atau tingkat
pengangguran dimana inflasi yang diharapkan (expected inflation) sama
dengan tingkat inflasi aktual (actual inflation).
4) Pengangguran Siklis atau Konjungtural (cyclical unemployement) adalah
jenis pengangguran yang terjadi sebagai akibat dari merosotnya kegiatan
ekonomi atau terlampau kecilnya permintaan agregat (aggregate effective
25
demand ) di dalam perekonomian dibandingkan dengan penawaran agregat
(AS).
Menurut Nanga (2005), dampak pengangguran yang terjadi di dalam suatu
perekonomian dapat membawa dampak atau akibat buruk, baik terhadap
perekonomian maupun individu dan masyarakat seperti.
1) Dampak Pengangguran terhadap Perekonomian
(1) Pengangguran
menyebabkan
masyarakat
tidak
dapat
memaksimumkan tingkat kesejahteraan yang mungkin dicapainya.
Pengangguran menyebabkan output aktual (actual output) yang
dicapai lebih rendah dari atau berada dibawah output potensial
(potential output). Keadaan ini berarti tingkat kemakmuran
masyarakat yang dicapai adalah lebih rendah dari tingkat yang
mungkin akan dicapainya.
(2) Pengangguran menyebabkan pendapatan pajak (tax revenue)
pemerintah berkurang. Pengangguran yang disebabkan oleh
rendahnya tingkat kegiatan ekonomi, pada gilirannya akan
menyebabkan
pendapatan
pajak
yang
mungkin
diperoleh
pemerintah akan menjadi semakin sedikit.
2) Pengangguran yang tinggi akan menghambat, dalam arti tidak akan
menggalakkan pertumbuhan ekonomi. Pengangguran menimbulkan dua
akibat buruk kepada kegiatan sektor swasta.
26
Dampak Pengangguran terhadap Individu dan Masyarakat
(1) Pengangguran menyebabkan kehilangan mata pencaharian dan
pendapatan. Negara-negara maju, para penganggur memperoleh
tunjangan (bantuan keuangan) dari badan asuransi pengangguran,
dan oleh sebab itu, mereka masih mempunyai pendapatan untuk
membiayai kehidupannya dan keluarganya.
(2) Pengangguran dapat menyebabkan kehilangan atau berkurangnya
keterampilan. Keterampilan dalam mengerjakan suatu pekerjaan
hanya dapat
dipertahankan
apabila
keterampilan
tersebut
digunakan dalam praktek. Pengangguran dalam kurun waktu yang
lama akan menyebabkan tingkat keterampilan (skills) pekerja
menjadi semakin merosot.
(3) Pengangguran dapat pula menimbulkan ketidakstabilan sosial dan
politik. Kegiatan ekonomi yang lesu dan pengangguran yang tinggi
dapat menimbulkan
rasa
tidak
puas
masyarakat
kepada
pemerintah yang berkuasa.
2.1.4 Konsep Pasar Kerja
Pasar kerja adalah seluruh aktivitas dari pelaku-pelaku yang bertujuan
untuk mempertemukan antara pencari kerja dengan lowongan pekerjaan (Manuati
dan Marheni, 2004). Pelaku-pelaku yang berkiprah di pasar kerja adalah 1)
pengusaha/produsen/pihak manajemen suatu organisasi yang membutuhkan
tenaga kerja, 2) pencari kerja, dan 3) perantara atau pihak ketiga yang
27
memberikan kemudahan bagi pengusaha dan pencari kerja untuk saling
berhubungan. Besarnya penempatan (jumlah orang yang bekerja atau tingkat
employement) dipengaruhi oleh faktor kekuatan penyediaan dan permintaan
tersebut. Selanjutnya, besarnya penyediaan dan penawaran tenaga kerja
dipengaruhi oleh tingkat upah.
Menurut Marheni dan Manuati Dewi (2004), dalam konsep dasar pasar
kerja perlu juga dipahami tentang aktivitas – aktivitas dalam pasar kerja. Aktivitas
dalam pasar kerja secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yaitu aktivitas
permintaan tenaga kerja dan aktivitas penawaran tenaga kerja. Aktivitas
permintaan tenaga kerja dilakukan oleh pengusaha/ produsen/pihak manajemen
organiasasi yang membutuhkan tenaga kerja. Aktivitas penawaran tenaga kerja
dilakukan oleh angkatan kerja yang mencari pekerjaan. Mereka yang mencari
pekerjaan ini mungkin saja saat ini tidak bekerja atau sudah bekerja tetapi ingin
pindah pekerjaan.
2.1.5 Pengertian Lama Menganggur dan Faktor-Faktor yang Berpengaruh
terhadap Lama Menganggur
Menurut Tjiptoherijanto (1989), lama menganggur berarti menunggu
seseorang angkatan kerja untuk memperoleh pekerjaan. Menurut Rudiger (2008),
lama menganggur identik dengan durasi menganggur yang artinya rata-rata
lamanya seseorang tetap menganggur. Penelitian mengenai lama menganggur
yang digunakan adalah lama menganggur secara terbuka, yaitu waktu menunggu
seseorang penganggur terbuka untuk memperoleh pekerjaan. Jangka waktu
28
menunggu untuk memperoleh pekerjaan bagi seseorang dapat dipergunakan
sebagai indikator kasar mengenai tingkat kekurangan tenaga kerja di bidang
tertentu. Menurut Kusyono (2014), lama menganggur tenaga kerja terdidik hanya
terjadi selama lulusan mengalami masa tunggu (job search periode) yang dikenal
dengan pengangguran friksional. Lama masa tunggu atau lama menganggur itu
juga bervariasi menurut tingkat pendidikan. Terdapat kecenderungan bahwa
semakin tinggi tingkat pendidikan angkatan kerja semakin lama masa tunggunya.
Lamanya masa tunggu atau lama menganggur angkatan kerja yang memiliki
tingkat pendidikan yang tinggi juga disebabkan karena tingginya reservation
wage yang ditargetkan.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap lama menganggur seseorang
pencari kerja adalah pengalaman kerja, umur, status perkawinan, pendidikan,
status migran, pendapatan rumah tangga dan jenis pekerjaan (Tjiptoherijanto,
1989). Menurut Sengupta (2009), untuk mengukur jumlah pengangguran yang
didasarkan pada lamanya menganggur atau durasi menganggur dipergunakan dua
cara konvesional statistik – tingkat pengangguran dan rata-rata durasi dari
pengangguran – umumnya yang dipergunakan adalah indeks agregrat dari
pengangguran.
2.1.6 Teori Pencarian Kerja (Job Search Theory)
Menurut Sutomo dkk dalam Setiawan (2010) Job Search Theory adalah
suatu metode yang menjelaskan masalah pengangguran dari sudut penawaran
yaitu keputusan seseorang individu untuk berpartisipasi dipasar kerja berdasarkan
29
karakteristik individu pencari kerja. Job Search Theory merupakan bagian dari
economic uncertainty yang timbul karena informasi dipasar kerja tidak sempurna,
artinya para penganggur tidak mengetahui secara pasti kualifikasi yang
dibutuhkan maupun tingkat upah yang ditawarkan pada lowongan-lowongan
pekerjaan yang ada di pasar. Informasi yang diketahui pekerja hanyalah distribusi
frekuensi dari seluruh tawaran pekerjaan yang didistribusikan secara acak dan
sektor upah menurut tingkat keahlian. Job Search Theory mengasumsikan bahwa
pencari kerja adalah individu yang risk
neutral, artinya mereka akan
memaksimasi expected income-nya. Dengan tujuan maksimasi expected net
income dan reservation wage sebagai kriteria menerima atau menolak suatu
pekerjaan. Menurut Ehrenberg dan Smith (1987) teori keputusan untuk bekerja
atau mencari pekerjaan pada akhirnya menjadi sebuah keputusan untuk
menghabiskan waktu luang. Salah satu cara yang dipergunakan untuk
menghabiskan
waktu
yang
tersedia
adalah
melakukan
kegiatan
yang
menyenangkan di waktu luang. Salah satu caranya adalah dengan bekerja.
Pencari kerja akan mengakhiri proses mencari kerja pada saat tambahan
biaya (marginal cost) dari tambahan satu tawaran kerja tepat sama dengan
tambahan imbalan (marginal return) dari tawaran kerja tersebut. Pencari kerja
mengahadapi ketidakpastian tentang tingkat upah serta berbagai sistem imbalan
jasa yang ditawarkan oleh beberapa lowongan pekerjaan. Kalaupun informasi
tentang hal ini ada, tetapi biaya untuk memperolehnya mahal. Dengan informasi
yang sempurna, seseorang akan mengetahui perusahaan mana yang akan
menawarkan upah yang lebih baik, dan proses kerja menjadi tidak perlu
30
dilakukan. Karena hal tersebut tidak akan terjadi, seseorang akan menganggur
dalam waktu tertentu untuk mencari pekerjaan yang terbaik.
2.1.7 Teori Perkembangan Karir Ginzberg (Development Career Choice
Theory)
Teori perkembangan karir (development career choice theory) Ginzberg
merupakan hasil kerjasama suatu tim yang mempelajari tentang pengaruh
perkembangan terhadap pemilihan karir yang diinginkan seseorang. Menurut
Ginzber dalam Agus Wirawan (2012), mengatakan bahwa anak dan remaja
melewati tiga tahap pemilihan karir yaitu tahap fantasy, tentative dan realistis.
Konsep perkembangan dan pemilihan pekerjaan atau karier oleh Ginzberg
dikelompokkan kedalam tiga unsur yaitu : proses (bahwa pilihan pekerjaan itu
merupakan suatu proses); irreversibilitas (bahwa pilihan pekerjaan itu tidak dapat
diubah atau dibalik); kompromi (bahwa pilihan pekerjaan itu merupakan
kompromi antara faktor-faktor yang terlibat yaitu minat, kemampuan, dan nilai);
dan optimisasi yang merupakan penyempurnaan teori (individu yang mencari
kecocokan kerja. Selain itu adanya teori pendukung lain dari adanya pilihanpilihan kerja adalah Teori Holland. Teori ini berusaha memadukan pandanganpandangan lain yang dinilainya terlalu luas atau terlalu khusus. Holland berusaha
menjelaskan soal pilihan atau aspirasi kerja dari sudut lingkungan kerja, pribadi
dan perkembangannya, dan interaksi pribadi dengan lingkungannya. Holland juga
menyatakan adanya stereotipe pekerjaan dari orang-orang yang melakukan pilihan
31
kerja dan bahwa cenderung orang memandang pekerjaan sesuai dengan
stereotipnya atau aspirasi kerja yang diinginkannya.
2.1.8 Proses Pemilihan Karir
Menurut Ginzberg dalam Agus Wirawan (2012), perkembangan dalam
pemilihan pekerjaan mencakup tiga tahap utama fantasy,tentatif, dan realistik.
1) Masa Fantasy
Masa ini berlangsung pada individu dengan tahap usia kira-kira 10 tahun
atau 12 tahun (masa sekolah dasar). Pada masa ini, proses pemilihan
pekerjaan masi bersifat sembarangan atau asal pilih, tanpa didasarkan pada
pertimbangan yang matang (rasional dan objektif) mengenai kenyataan
yang ada dan hanya berdasarkan pada kesan dan khayalan belaka. Menurut
Ginzberg, kegiatan bermain pada masa fantasi secara bertahap menjadi
orientasi kerja dan merefleksikan preferensi awal untuk jenis aktifitas
tertentu.
2) Masa Tentatif
Pada masa tentatif, pilihan karir anak akan mengalami perkembangan.
Mula-mula pertimbangan karir itu hanya berdasarkan kesenangan,
ketertarikan, dan minat saja tanpa pertimbangan apapun, sedangkan faktorfaktor lainnya tidak dipertimbangkan. Menyadari bahwa minatnya terus
berubah-ubah, maka anak diusia tersebut mulai memikirkan dan mulai
bertanya pada dirinya sendiri tentang kemampuan atau kapasitasnya dalam
32
melakukan pekerjaan yang dia inginkan dan apakah pekerjaan tersebut
sesuai dengan minat atau aspirasi kerjanya kedepan.
3) Masa Realistik
Pada tahap realistik anak akan melakukan eksplorasi dengan memberikan
penilaian atas pengalaman-pengalaman kerja dalam kaitan dengan tuntutan
sebenarnya, sebagai syarat untuk dapat memasuki lapangan pekerjaan atau
memilih untuk tidak bekerja, dengan kata lain melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi. Pada masa ini, okupasi terhadap pekerjaan telah
mengalami perkembangan yang lebih realistis. Orientasi minat, kapasitas,
dan nilai yang dimiliki individu terhadap pekerjaan akan direfleksikan dan
diintegrasikan secara runtut dan terstruktur dalam frame vokasional
(kristalisasi pola-pola okupasi) untuk memilih jenis pekerjaan atau aspirasi
kerja mereka sesuai dengan arah tentatif mereka (spesifikasi).
2.1.9 Pengertian Pendapatan
Pada dasarnya pendapatan dibedakan menjadi 2 (dua ) yaitu : Pendapatan
Nasional dan Pendapatan Perorangan. Pendapatan Nasional merupakan nilai
produksi barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan suatu perekonomian (negara
dalam waktu setahun). Pendapatan perorangan merupakan pendapatan yang
diterima seluruh rumah tangga dalam perekonomian dari pembayaran atas faktorfaktor produksi yang dimiliki dari sumber dan lain. Dalam penelitian ini
pendapatan yang digunakan adalah pendapatan rumah tangga, menurut Nanga
(2005), pendapatan rumah tangga adalah merupakan pendapatan agregat (yang
33
berasal dari berbagai sumber) yang secara aktual diterima oleh seseorang atau
rumah tangga (house hold).
2.1.10 Hubungan Pendapatan dengan Lama Menganggur
Pendapatan sangat penting peranannya dalam meningkatkan kualitas
penduduk. Mengingat sebagian besar pelayanan yang diminta oleh masyarakat
harus dibayar. Salah satunya adalah kesempatan dalam mengenyam jenjang
pendidikan. Perbedaan pendapatan masyarakat mengakibatkan perbedaan dalam
kesempatan mendapatkan pendidikan formal yang diinginkan. Bila satu keluarga
telah mampu menyekolahkan anaknya beberapa tahun di perguruan tinggi,
biasanya keluarga tersebut juga mampu membiayai anaknya menganggur selama
satu sampai dua tahun lagi dalam proses mencari pekerjaan yang lebih baik.
Melihat dari pernyataan tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa keluarga
berpenghasilan besar relatif terhadap biaya hidup cenderung memperkecil jumlah
anggota keluarga untuk bekerja, sehingga tingkat partisipasi kerja cenderung
relatif rendah (Simanjuntak, 2001). Dapat dikatakan bahwa semakin besar
pendapatan rumah tangga suatu keluarga, maka lama menganggur lulusan
perguruan tinggi tersebut semakin lama. Dapat ditarik sebuah korelasi bahwa
terdapat hubungan yang positif antara pendapatan dan lama menganggur.
34
2.1.11 Teori Strategi Kelangsungan Hidup Keluarga (Household Survival
Strategy Theory)
Menurut Eboiyehi (2013) Teori Harbinson yang dikenal dengan teori
strategi kelangsungan hidup keluarga (household survival strategy)
masyarakat menghadapi perubahan
bahwa
situasi ekonomi yang semakin buruk
sehingga pendapatan keluarga dan tingkat kesejahteraan menurun. Salah satu
upaya untuk beradaptasi dalam situasi ini adalah mengarahkan seluruh sumber
daya yang dimiliki termasuk mengikutsertakan anggota keluarga dalam kegiatan
ekonomi. Menurut Ehrenberg dan Smith (1987) keluarga menjadi dasar yang
paling penting untuk membuat keputusan didalam kehidupan sosial, dan
keputusan penting lainnya yang berfokus pada pola konsumsi dan penawaran
tenaga kerja yang di buat dalam konteks keluarga.
Menurut Singarimbun dan Sofian Effendi dalam Hidayati (2013) strategi
kelangsungan hidup manusia dalam memenuhi kebutuhan keluarga adalah
merupakan suatu cara atau usaha yang dilakukan mereka untuk terus dapat
bertahan diri untuk hidup dengan melakukan alternatif atau langkah-langkah yang
ditempuh dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Menurut Hidayati (2013) untuk
dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya, perlu mencari usaha lain untuk
meningkatkan pendapatannya. Salah satu usahanya adalah melakukan aktifitas
penganekaragaman sumber pendapatan, yaitu dengan cara bekerja, baik yang
berasal dari pekerjaan pokok atau diluar pekerjaan pokok
35
2.1.12 Konsep Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya
dan masyarakat (Wikipedia, 31/08/2014). Pendidikan dapat dikatakan sebagai
katalisator untuk pengembangan sumber daya manusia, dengan asumsi bahwa
semakin terdidik seseorang, semakin tinggi pula
kesadaran terhadap
pembentukan keluarga sejahtera.
Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
sesuai dengan amanat pancasila yang telah dituangkan dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945. Hal tersebut merupakan landasan yang kuat bagi
pemerintah untuk mencanangkan program wajib belajar. Program wajib belajar
tersebut dimaksudkan untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada
seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan.
Banyak studi telah memperlihatkan bahwa pendidikan mempunyai
hubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi. Mereka yang terdidik lebih cepat
menyerap informasi dan menerapkan perkembangan yang terbaru sehingga
mereka menjadi lebih produktif (Bendesa, 2005). Pendidikan berorientasi pada
penyiapan tenaga kerja terdidik, terampil dan terlatih sesuai dengan kebutuhan
pasar kerja.
Pendidikan memberikan sumbangan langsung terhadap pertumbuhan
pendapatan nasional melalui peningkatan keterampilan dan produktivitas kerja.
36
Pendidikan diharapkan dapat mengatasi keterbelakangan ekonomi lewat efeknya
pada peningkatan kemampuan manusia dan motivasi manusia untuk berprestasi.
Pendidikan berfungsi untuk menyiapkan salah satu input dalam proses produksi
yaitu tenaga kerja, agar dapat bekerja dengan produktif karena kualitasnya.
2.1.13 Hubungan
Perguruan
Pendidikan
terhadap
Lama
Menganggur
Lulusan
Tinggi
Tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh angkatan kerja dapat menjadi
salah satu indikator kualitas angkatan kerja. Semakin rendahnya pendidikan yang
ditamatkan oleh angkatan kerja semakin rendah pula kualitas angkatan kerja
tersebut yang pada akhirnya akan berakibat semakin rendahnya peluang angkatan
kerja tersebut untuk bersaing di pasar kerja. Pencari kerja terdidik selalu berusaha
mencari pekerjaan dengan upah, jaminan sosial, dan lingkungan kerja yang baik.
Biasanya kecenderungan mereka yang baru menyelesaikan pendidikan berusaha
mencari kerja sesuai dengan aspirasi mereka. Aspirasi mereka adalah bekerja
disektor modern atau kantor, untuk mendapatkan pekerjaan itu mereka bersedia
menunggu untuk beberapa lama (Kuncoro,2003). Sebaliknya pencari kerja tenaga
tidak terdidik yang biasanya datang dari keluarga miskin, tidak mampu
menganggur lebih lama dan terpaksa menerima pekerjaan apa saja yang tersedia
(Simanjuntak,2001). Dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang positif
antara pendidikan dengan lama menganggur.
37
2.1.14 Teori Human Capital
Menurut Simanjuntak (1998) asumsi dasar teori human capital adalah
bahwa seseorang dapat meningkatkan penghasilannya melalui peningkatan
pendidikan. Setiap tambahan satu tahun sekolah berarti, disatu pihak,
meningkatkan kemampuan kerja dan tingkat penghasilan sesorang, akan tetapi,
dipihak lain, menunda penerimaan penghasilan selama satu tahun dalam
mengikuti sekolah. Menurut Ace Suryadi dalam Setiawan (2010), pendidikan
memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi karena pendidikan berperan
dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Adanya anggapan atas teori ini
dimana meningkatnya pertumbuhan ekonomi ataupun pembangunan suatu daerah
tergantung dari produktivitas perorangan dari suatu kelompok masyarakat
tersebut. Teori Human Capital ini menganggap pendidikan formal merupakan
suatu investasi, baik itu bagi individu maupun suatu masyarakat.
Selain itu ide dasar yang sebenarnya terdapat pada teori The Human
Capital Model adalah adanya investasi dalam rangka peningkatan produktivitas.
Dalam model ini selain menjelaskan tentang pentingnya pendidikan, kesehatan,
dan pelatihan dalam peningkatan produktivitas dalam model ini juga menjelaskan
bahwa adanya niat untuk melakukan migrasi dipengaruhi oleh motivasi untuk
mencari kesempatan kerja dan pendapatan yang lebih tinggi. Maka dari itu, salah
satu penyebab adanya pengangguran adalah adanya arus migrasi dari desa ke kota.
Perbedaan pendapatan yang terjadi antara daerah yang mobilitas ekonominya
kurang baik dengan daerah yang mobilitas ekonominya baik inilah yang menjadi
penyebab adanya arus mobilisasi penduduk.
38
2.1.15 Keterampilan yang dimiliki
Keterampilan atau skill tambahan biasanya sangat membantu seseorang
dalam mempercepat seseorang dalam memperoleh pekerjaan. Dari adanya skill
atau keterampilan yang dimiliki membuat seorang pencari kerja memiliki nilai
plus didalam dunia kerja. Dari adanya skill tambahan yang dimiliki pencari kerja
didapat dari mengikuti kursus atau pelatihan-pelatihan tertentu sesuai dengan
bidang yang ditekuni. Semakin banyak skill yang dimiliki maka semakin mudah
pula sesorang tersebut memasuki dunia kerja, sedangkan sebaliknya semakin
sedikitnya sesorang atau tidak memiliki kemampuan tambahan maka semakin
sulitnya seseorang dapat diterima di dalam dunia kerja. Diperkirakan bahwa
dengan semakin banyak keterampilan yang dimiliki, pencari kerja lebih sanggup
untuk mendapat pekerjaan yang sesuai, selain itu keterampilan yang dimiliki
menggambarkan pengetahuan pasar kerja (Setiawan, 2010).
2.1.16 Hubungan Keterampilan dengan Lama Menganggur
Diperkirakan bahwa dengan keterampilan yang dimiliki pencari kerja lebih
sanggup untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Selain itu keterampilan yang
dimiliki menggambarkan pengetahuan para pekerja terhadap pasar kerja yang
akan dituju. Menurut Sumoto dkk dalam Setiawan (2010), dengan memiliki
keterampilan didukung dengan pendidikan yang tinggi, maka tenaga kerja akan
mempunyai lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan. Jadi, ada
pengaruh yang negatif antara keterampilan yang dimiliki dengan lama
menganggur.
39
2.1.17 Jumlah Tanggungan Keluarga
Menurut Simanjuntak (2001), komposisi ketenagakerjaan dibagi menjadi
dua kelompok, yaitu:
1) Angkatan Kerja
Adalah bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlibat, atau berusaha
untuk terlibat, dalam kegiatan produktif yaitu produksi barang dan jasa.
2) Bukan Angkatan Kerja
Penduduk yang termasuk dalam kelompok bukan angkatan kerja adalah
mereka yang berumur kurang dari 15 tahun dan lebih dari 64 tahun.
Menurut Vivi Silvia (2009) besarnya angkatan kerja dapat dipengaruhi
oleh komposisi demografi penduduk dan bagaimana Tingkat Partisipasi Angkatan
Kerja yang relatif tinggi dengan jumlah usia kerja yang besar akan mengakibatkan
jumlah angkatan kerja yang tinggi. Dari komposisi penduduk tersebut, maka yang
termasuk kedalam jumlah tanggungan rumah tangga adalah penduduk yang tidak
termasuk dalam angkatan kerja, karena pada umumnya penduduk tersebut belum
dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri sehingga membutuhkan tanggungan
orang lain. Menurut Mantra (2003), yang termasuk dalam jumlah tanggungan
rumah tangga adalah jumlah anggota rumah tangga yang tinggal dan makan dari
satu dapur dengan kelompok penduduk yang sudah termasuk dalam kelompok
tenaga kerja. Kelompok yang dimaksud makan dari satu dapur adalah jika
pengurusan kebutuhan sehari-harinya dikelola bersama-sama menjadi satu.
Selanjutnya menurut Mantra (2003), kelompok penduduk yang termasuk
dalam beban tanggungan rumah tangga adalah kelompok penduduk umur 0-14
40
tahun, dianggap sebagai kelompok penduduk yang belum produktif secara
ekonomis. Kelompok umur 15-64 tahun sebagai kelompok produktif dan
penduduk umur 65 tahun keatas sebagai kelompok penduduk yang tidak lagi
produktif. Maka rasio beban tanggungan rumah tangga dapat dihitung dengan
rumus sebagai berikut:
Rasio Beban Tanggungan =
(
(
)
)
x100%.......................................(2.1)
Apabila rasio beban tanggungan yang dihasilkan tinggi maka akan
menjadi faktor penghambat pembangunan ekonomi suatu daerah khususnya,
karena sebagian dari pendapatan yang diperoleh oleh golongan yang produktif,
terpaksa harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang belum
produktif.
2.1.18 Hubungan Jumlah Tanggungan dengan Lama Menganggur Lulusan
Perguruan Tinggi
Tanggungan keluarga merupakan salah satu alasan utama bagi para pencari
kerja bekerja untuk memperoleh penghasilan. Besarnya jumlah tanggungan keluarga
merupakan faktor yang mempengaruhi kemauan untuk melakukan pekerjaan.
Semakin banyak responden mempunyai
tanggungan, maka semakin tinggi pula
jumlah pencari kerja yang ingin mendapatkan pekerjaan, serta semakin rendah pula
keinginan seseorang untuk menyia-nyiakan perkerjaan yang ada sehingga lama
menganggurpun semakin kecil. Jadi, terdapat hubungan yang negatif antara jumlah
tanggungan dengan lama menganggur.
41
2.1.19 Jarak
Perpindahan penduduk dianggap sebagai sebuah proses alamiah yang akan
menyalurkan surplus tenaga kerja di daerah yang jaraknya jauh dengan akses
informasi tentang lowongan pekerjaan ke daerah yang memiliki akses yang baik
tentang informasi lowongan pekerjaan. Menurut Todaro (2000), hal ini dipandang
proses positif secara sosial, karena kemungkinan berlangsungnya suatu pergeseran
sumber daya manusia dari tempat yang produk marjinal sosialnya nol ke lokasi
lain yang produk marjinalnya tidak hanya positif tetapi juga terus meningkat
sehubungan dengan adanya akumulasi modal dan kemajuan teknologi. Menurut
Mulyadi (2003), adanya
proses tersebut menyebabkan lahirnya mobilitas
penduduk berdasarkan jenis pekerjaan dan memilih daerah-daerah umum yang
mampu menyediakan cukup lapangan kerja walaupun para pencari kerja harus
menempuh jarak tempuh yang jauh sekalipun dari tempat tinggalnya untuk
mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.
Menurut Harri Yulianto (2006), semakin maju suatu wilayah, akan
semakin menarik bagi para pendatang yang memberikan kontribusi positif bagi
peningkatan aksesibilitas sosial ekonomi, sebaliknya semakin tertinggal suatu
daerah dalam aspek ekonomi dapat dijadikan salah satu pendorong bagi seseorang
untuk pindah atau mencari peluang kerja ke daerah lain dengan jarak tempuh yang
berbeda-beda. Sehingga ide dasar dari The Human Capital Model ini adalah
keputusan seseorang untuk melakukan perpindahan dari suatu daerah yang
jaraknya jauh dari perkotaan dengan daerah yang jaraknya lebih dekat menuju
42
akses ekonomi maupun sosial yang merupakan respon dari harapan untuk
memperoleh kesempatan kerja dan pendapatan yang baik.
2.1.20 Hubungan Jarak dengan Lama Menganggur
Menurut Harri Yulianto (2006), jarak yang ditempuh untuk mendapatkan
pekerjaan merupakan suatu proses yang secara selektif mempengaruhi setiap
individu dengan ciri-ciri ekonomi, sosial, pendidikan, dan demografi tertentu,
maka segenap pengaruhnya secara relatif terhadap faktor-faktor ekonomi dan non
ekonomi dari masing-masing individu tertentu akan bervariasi. Hal ini dapat
dikatakan bahwa semakin dekat akses atau jarak yang diperlukan untuk
mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya yang diberikan di suatu wilayah
maka lama menganggur seseorang juga akan semakin sedikit pula. Hal ini
dikarenakan pencari kerja akan mencari pekerjaan di suatu daerah yang mampu
menyediakan peluang ekonomi yang lebih baik terkait dengan peningkatan
kualitas hidup sesorang baik dari segi pendapatan, fasilitas kesehatan dan sosialekonomi lainnya. Selain itu biasanya para pencari kerja yang jarak mencari
kerjanya jauh dengan tempat tinggal biasanya mengandalkan semua jaringan
sosial untuk mencari kerja (Frijters,2005). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada
pengaruh positif antara jarak dengan lama menganggur lulusan.
43
2.2
Keaslian Penelitian
Penelitian mengacu kepada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya,
hal ini dilakukan agar memberi dasar yang kuat dalam penyajian materi,
pemantapan variabel maupun konsep-konsep yang dipakai peneliti dalam
penelitian ini. Dimana penelitian ini didukung oleh adanya teori-teori, konsepkonsep penelitian sebelumnya yang dikaitkan sehingga dihasilkan penelitian yang
memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya. Penelitian ini menambahkan
beberapan variabel seperti variabel aspirasi kerja sebagai variabel antara. Selain
itu penelitian ini juga menambahkan variabel pendapatan rumah tangga,
keterampilan, jumlah tanggungan dan jarak sebagai variabel independen.
Sehingga memberikan perbedaan dari masing-masing penelitian terdahulu.
Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Ratih Pratiwi (2012), Satrio Adi Setiawan
(2010), A. Ihsan Triputrajaya (2011), Kiki Suko Suroso (2012), dan Peter Khun
dan Mikal Skuterud (2004). Studi tersebut dapat dipergunakan sebagai rujukan
yang sangat relevan bagi penelitian ini. Pemaparan yang lebih lanjut tentang
penelitian sebelumnya dapat dilihat dalam Tabel 2.1
Tabel 2.1
Rangkuman Hasil Penelitian Terdahulu
No
1.
Penulisan Judul dan Tahun
Penerbitan
Variabel
Penelitian
Ratih Pratiwi. (2012), dalam
penelitian yang berjudul “Analisis
Faktor yang Mempengaruhi Lama
Mencari Kerja Lulusan Sekolah
Menengah dan Pendidikan Tinggi
di Indonesia pada Tahun 2012
Lama Mencari
Kerja
Jenis Kelamin,
Umur, Tempat
Tinggal , Tingkat
Pendidikan,
Pendidikan
Teknis, Metode
Mencari kerja dan
Jenis Pekerjaan
yang Dicari.
Model Analisis
Hasil
1)
Variabel
jenis
kelamin, umur dan
metode mencari kerja
berpengaruh signifikan
terhadap lama mencari
kerja
lulusan,
sedangkan
variabel
tempat
tinggal,
pelatihan
teknis,
pendidikan dan jenis
2) Metode Logit
pekerjaan yang dicari
(Logistic
berpengaruh
negatif
Method) :
terhadap lama mencari
Ln (Pi/1-Pi) = Genderi - kerja lulusan.
Agei + Areai
+Trainingi
2) Terdapat perbedaan
+Educ_SMKi +
lama mencari kerja
Educ_Diplomai +
antara pencari kerja
Educ_Sarjanai laki-laki dengan pencari
Method1i + Method3i + kerja perempuan. Hasil
Method4i + Jobi + νi
ini
penelitian
menunjukkan
bahwa
variabel jenis
kelamin
memiliki
pengaruh yang negatif
1) Metode Regresi
Berganda
(OLS) : Ln Dur =
Genderi + Agei - Areai Trainingi + Educ_SMKi
- Educ_Diplomai Educ_Sarjanai
+Method1i-Method3iMethod4i - Jobi + νi
Perbedaan dan Persamaan
Perbedaan penelitian ini
dengan
penelitian
sebelumnya adalah adanya
penggunaan variabel jenis
kelamin, umur, tingkat
pendidikan,
pendidikan
teknis dan metode dalam
mencari kerja sebagai
faktor-faktor
yang
dianggap mempengaruhi
lama mencari kerja lulusan
sekolah menengah dan
pendidikan tinggi.
Sedangkan persamaannya
adalah adanya variabel
independen yaitu variabel
tempat
tinggal
yang
berpengaruh
terhadap
lama mencari kerja, serta
variabel dependen yaitu
lama mencari kerja atau
lama menganggur lulusan
perguruan tinggi.
44
lama mencari kerja
berarti
terdapat
kecenderungan bahwa
pencari
kerja
perempuan
untuk
mengakhiri
masa
mencari kerja kurang
dari setahun semakin
menurun.
2.
Satrio Adi
Setiawan. (2010),
dalam penelitian yang berjudul
“Pengaruh Umur, Pendidikan,
Pendapatan, Pengalaman Kerja dan
Jenis Kelamin terhadap Lama
Mencari Kerja Terdidik di Kota
Magelang”
Lama
Mencari
Kerja,
Umur,
Pendidikan,
Pendapatan,
Pengalaman Kerja
dan Jenis Kelamin
Metode
Regresi Berganda
(OLS) LMK = a0 +
a1+ Umur + Pendidikan
+ Pendapatan +
Pengalaman Kerja Jenis Kelamin
Variabel Umur,
Pendidikan,
Pendapatan,
Pengalaman Kerja
tersebut berpengaruh
positif dan signifikan
terhadap lama mencari
kerja bagi tenaga kerja
terdidik.
Sedangkan variabel
jenis kelamin
berpengaruh negatif
terhadap lama mencari
kerja terdidik.
Perbedaan penelitian ini
adalah
adanya
penambahan
variabel
jumlah tanggungan, jarak
sebagai
variabel
independen serta variabel
aspirasi kerja sebagai
variabel
antara
yang
mempengaruhi
lama
menganggur
lulusan
perguruan
tinggi.
Penelitian
sebelumnya
menggunakan
variabel
umur dan jenis kelamin
yang mempengaruhi lama
mencari kerja terdidik.
Sedangkan persamaanya
adalah
sama-sama
45
menggunakan
variabel
pendapatan
dan
pengalaman kerja sebagai
variabel independen dan
variabel lama mencari
kerja
atau
lama
menganggur
sebagai
variabel dependen.
3.
A. Ihsan Triputrajaya. (2011),
dalam penelitian yang berjudul “
Preferensi Pekerja dalam Memilih
Pekerjaan Sektor Formal”
Preferensi Jenis
Pekerjaan
yang
Dipilih,
Lama
studi, Pendapatan
Tahun Pertama,
Jam
Kerja,
Kesesuaian
Jurusan,
Lingkungan
Kerja,
Status
Pekerjaan
Sebelumnya dan
Status
Prestise
Kerja
Analisis regresi biner
Logistic
Y= f
(X1,X2,X3,X4,X5,X6,X7)
Y1 = β0+β1X1+β2X2+
β3X3+β4X4+ β5X5+β6X6+
β7X7+µ
Hasil
penelitian
tersebut
diperoleh
bahwa variabel lama
studi,
jam
kerja,
kesesuaian
jurusan,
status pekerjaan tidak
berpengaruh terhadap
preferensi
pekerja
dalam
memilih
pekerjaan di sektor
formal.
Sedangkan, pendapatan
ditahun pertama dan
lingkungan
kerja
berpengaruh terhadap
preferensi
pekerja
dalam
memilih
pekerjaan di sektor
formal.
Perbedaan penelitian ini
adalah adanya variabel
pendapatan rumah tangga,
jumlah
tanggungan,
keterampilan,
jarak
terhadap
lama
menganggur.
Sedangkan persamaannya
adalah
preferensi
pekerjaan atau aspirasi
kerja yang mempengaruhi
pilihan seseorang untuk
mendapatkan
pekerjaan
yang diinginkan.
46
4.
Kiki Suko Suroso. (2012), dalam
penelitian yang berjudul “ Analisis
Pengaruh
Pendidikan,
Keterampilan dan Upah terhadap
Lama Mencari Kerja pada Tenaga
Kerja Terdidik di Beberapa
Kecamatan di Kabupaten Demak”
Lama Mencari
LMK = + 1 TP + 2
Kerja, Pendidikan, TK D+ 3 WAGE + 
Keterampilan dan 
Upah







5.
Peter Khun dan Mikal Skuterud
(2004), dalam penelitian yang
berjudul “Internet Job Search and
Unemployment Duration”
Umur,
status Metode Analisis Probit
perkawinan,
Status Pekerjaan,
tingkat
pendidikan,
Migran,
Akses
Internet
Hasil
penelitian
tersebut
bahwa
diperoleh
variabel
pendidikan,
keterampilan dan upah
berpengaruh positif dan
signifikan
terhadap
lama mencari kerja
tenaga kerja terdidik.
Perbedaan penelitian ini
adalah adanya variabel
pendapatan rumah tangga,
jarak, jumlah tanggungan
dan aspirasi kerja yang
mempengaruhi
lama
menganggur lulusan.
Sedangkan persamaannya
adalah adanya variabel
keterampilan
yang
berpengaruh
terhadap
lama
mencari
kerja
terdidik.
Hasil
penelitian
tersebut
diperoleh
kesimpulan
bahwa
pencarian
kerja
menggunakan internet
tidak
mempersingkat
waktu mencari kerja.
Perbedaan
dalam
penelitian
ini
adalah
penggunaan
variabel
adanya variabel umur,
status perkawinan , status
pekerjaan dan adanya
akses
internet
yang
mempengaruhi durasi dari
seseorang menganggur.
47
BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1
Kerangka Berpikir dan Konsep Penelitian
3.1.1 Kerangka Berpikir
Masih tingginya angka pengangguran yang berasal dari perguruan tinggi
memang menjadi suatu masalah yang perlu dipecahkan dalam setiap
perekonomian. Pemecahan masalah ini perlu dilakukan mengingat makin
besarnya jumlah pencari kerja baru terutama fresh graduate (yang berasal dari
lulusan perguruan tinggi) setiap tahunnya yang masuk dalam pasar kerja. Jumlah
penduduk yang makin besar telah membawa akibat jumlah angkatan kerja yang
makin besar pula. Ini berarti makin besar pula jumlah orang yang mencari pekerja
atau menganggur. Agar terjadi keseimbangan antara permintaan dan penawaran
tenaga kerja maka seyogyanya mereka semua dapat tertampung dalam suatu
pekerjaan yang cocok dan sesuai dengan keinginan serta keterampilan mereka.
Waktu yang dibutuhkan hingga mereka mendapat pekerjaan yang cocok dan
sesuai dengan keinginan serta keterampilan yang dimiliki inilah yang menjadi
sorotan pada penelitian ini. Kesesuaian pekerjaan yang diinginkan serta
kecocokan dengan keahlian yang dimiliki menjadikan pencari kerja lebih selektif
memilih pekerjaan yang diinginkan. Hal ini mengakibatkan kesediaanya para
pencari kerja untuk menjadi seorang pengangguran hingga mendapatkan
pekerjaan yang cocok sesuai dengan aspirasi kerja yang diinginkan. Adanya
faktor-faktor pendukung
seperti faktor sosial, ekonomi serta adanya faktor
48
49
demografi menyebabkan para pencari kerja tersebut bersedia untuk beberapa
waktu yang lama untuk menjadi seorang penganggur.
Berdasarkan identifikasi dan tujuan masalah yang telah dipaparkan
sebelumnya, kemudian ditetapkan variabel-variabel yang dapat mempengaruhi
lama menganggur lulusan perguruan tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana. Gambaran tentang alur pemikirian penulis untuk
memberikan jawab sementara terhadap masalah yang diteliti, dapat digambarkan
kerangka berpikir pada Gambar 3.1.
Penelitian
Terdahulu
Konsep Pengangguran,
Teori Human Capital,
Teori Pencarian Kerja,
Teori Perkembangan
Karir, Teori
Keberlangsungan Hidup
Terdapat kecenderungan lulusan
perguruan tinggi lama menganggur
yang relatif lama
Faktor-faktor yang mempengaruhi :
Pendapatan
RT,
Keterampilan,
Jumlah
Tanggungan, Jarak.
Aspirasi Kerja
Lama Menganggur Lulusan
Perguruan Tinggi
Gambar 3.1
Kerangka Berpikir Penelitian Pengaruh Faktor Sosial, Ekonomi dan
Demografi terhadap Lama Menganggur Lulusan Perguruan Tinggi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana
50
3.2
Konsep Penelitian
Konsep penelitian ini menganalisis tentang lama menganggur lulusan
perguruan tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Beberapa
faktor seperti pendapatan rumah tangga, keterampilan yang dimiliki, jumlah
tanggungan, jarak akan mempengaruhi aspirasi kerja lulusan sehingga dapat
mengetahui faktor penyebab lama menganggur lulusan.
Menurut Tjiptoherijanto (1989), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
lama mencari kerja seorang pencari kerja yaitu pengalaman kerja, umur, status
perkawinan, pendidikan, status migran, pendapatan rumah tangga dan jenis
pekerjaan. Dimana variabel dependen dalam penelitian ini adalah lama
menganggur yang merupakan waktu yang dibutuhkan seseorang lulusan
perguruan tinggi menganggur sampai mendapatkan pekerjaan pertamanya yang
diukur dalam satuan minggu. Variabel independen dalam penelitian ini adalah
pendapatan rumah tangga, keterampilan, jumlah tanggungan dan jarak. Variabel
antara (intervening) adalah aspirasi kerja yang diukur dengan scoring data.
Menurut Kusyono (2014), pendapatan keluarga juga mempengaruhi
reservation wage
dan
lama seseorang mencari
kerja. Keluarga
yang
berpendapatan tinggi, anggota keluarga cenderung memiliki tingkan pendidikan
yang relatif lebih tinggi pula. Tenaga kerja yang berasal dari keluarga yang
memiliki pendapatan yang tinggi pada umumnya senang memilih-milih pekerjaan
dan selalu berusaha mencari dan mendapatkan pekerjaan dengan upah, jaminan
sosial dan lingkungan kerja yang baik pula. Hal inilah yang menyebabkan adanya
waktu tunggu seorang pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan yang
51
diinginkannya, sehingga mempengaruhi lama menganggur seseorang pencari
kerja.
Menurut Nur Antyanto (2014), pada teori human capital
menyebutkan
bahwa individu dapat meningkatkan pendapatannya melalui peningkatan
pendidikan dan keterampilan yang dimiliki. Semakin terampil seorang tenaga
kerja, akan semakin mahal harganya di pasar tenaga kerja sehingga akan memiliki
kesempatan yang lebih besar untuk memilih pekerjaan yang menawarkan upah
tertinggi. Sehingga secara teori, individu yang memiliki keterampilan yang baik
akan lebih cepat mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan orang yang kurang
memiliki keterampilan karena keterampilan yang dimiliki merupakan indikator
mutu produktivitas tenaga kerja. Sedangkan dari sisi permintaan tenaga kerja,
pemberi kerja akan cenderung memilih tenaga kerja terdidik dan sudah lebih
terlatih untuk memperkecil biaya pelatihan yang akan nantinya dikeluarkan oleh
perusahaan dalam melatih karyawan baru nantinya. Sehingga keterampilan yang
dimiliki seseorang pencari kerja akan mempengaruhi aspirasi seseorang untuk
bekerja ke sektor mana yang diinginkan untuk bekerja selanjutnya. Adanya
aspirasi kerja tersebut mempengaruhi keinginan seseorang untuk segera bekerja
atau tidak.
Menurut Rofik (2007), jumlah anggota keluarga yang tertanggung dalam
suatu keluarga akan berdampak pada besar kecilnya pengeluaran dalam suatu
keluarga. Demikian juga baik itu anak-anak, anggota keluarga yang cacat maupun
yang sudah lanjut usia, mereka tidak bisa menanggung biaya hidupnya sendiri dan
pastinya akan bergantung pada kepala keluarganya. Jumlah anggota keluarga
52
menentukan jumlah kebutuhan keluarga. Semakin banyak anggota keluarga
berarti semakin banyak pula jumlah kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi juga.
Sehingga mempengaruhi keputusan seseorang untuk segera bekerja atau tidak.
Jumlah tanggungan yang banyak pula akan mempengaruhi keinginan sesorang
untuk mendapatkan pekerjaan. Jumlah tanggungan yang banyak membuat
sesorang melakukan pilihan terhadap pekerjaan semakin kecil, mengingat
banyaknya kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Selain itu jumlah tanggungan
yang dimiliki oleh satu keluarga tentunya akan mempengaruhi lama menganggur
seseorang, mengingat banyaknya kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi
keluarga tersebut.
Selain itu jarak juga mempengaruhi aspirasi atau keinginan sesorang untuk
mencari kerja sehingga berdampak pada keputusan seseorang untuk segera
bekerja atau tidak. Adanya jarak sebagai suatu penghalang seseorang untuk
mendapatkan pekerjaan merupakan salah satu faktor penyebab dari adanya
pengangguran friksional. Terjadinya pengangguran friksional dapat dikarenakan
jarak yang jauh antara pencari kerja dengan lowongan yang tersedia, kurangnya
informasi adanya lowongan kerja akibat terbatasnya ruang gerak pencari kerja
dengan daerah atau sektor kerja yang dicari, lowongan pekerjaan yang tersedia
justru berada bukan di sekitar pencari kerja, serta pengusaha tidak mengetahui
dimana tersedianya tenaga kerja yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Menurut Jensen (1989), selain itu pengangguran friksional biasanya normal terjadi
di negara yang sedang terkena krisis ekonomi. Hal ini sangat sesuai dengan waktu
yang dihabiskan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Akibat adanya faktor
53
tersebut, tentu akan mempengaruhi lama menganggur para pencari kerja sebagai
akibat adanya limitasi di dalam proses pencarian kerja.
Jadi dalam penelitian ini, faktor-faktor yang mempengaruhi lama mencari
kerja lulusan perguruan tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana
adalah pendapatan rumah tangga, keterampilan, jumlah tanggungan, jarak dan
aspirasi kerja. Pendapatan rumah tangga, keterampilan, jumlah tanggungan, dan
jarak secara tidak langsung mempengaruhi lama mencari kerja melalui aspirasi
kerjanya. Adapun kerangka konsep penelitian ini adalah seperti yang dijelaskan
dalam Gambar 3.2 sebagai berikut.
Gambar 3.2
Kerangka Konsep Penelitian Analisis Pengaruh Faktor Sosial, Ekonomi dan
Demografi terhadap Lama Menganggur Lulusan Perguruan Tinggi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana
54
Berdasarkan Gambar 3.2 dapat dijelaskan adanya pengaruh langsung
variabel X1 pendapatan rumah tangga, variabel X2 keterampilan yang dimiliki,
variabel X3 jumlah tanggungan, X4 jarak dan Y1 aspirasi kerja terhadap lama
menganggur lulusan perguruan tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana. Adanya pengaruh tidak langsung variabel X1 pendapatan rumah tangga,
variabel X2 keterampilan yang dimiliki, variabel X3 jumlah tanggungan, X4 jarak,
melalui Y1 aspirasi kerja terhadap Y2 lama menganggur lulusan perguruan tinggi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
3.3
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan pokok masalah dan landasan teori yang telah dipaparkan
maka dapat dirumuskan hipotesis yang akan diuji penelitian ini sebagai berikut.
1) Pendapatan rumah tangga dan jarak berpengaruh positif dan signifikan
sedangkan keterampilan dan jumlah tanggungan berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap aspirasi kerja lulusan perguruan tinggi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
2) Pendapatan rumah tangga, jarak dan aspirasi kerja berpengaruh positif dan
signifikan sedangkan keterampilan dan jumlah tanggungan berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap lama menganggur lulusan perguruan tinggi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
3) Ada pengaruh tidak langsung pendapatan rumah tangga dan jarak secara
positif dan signifikan terhadap lama menganggur melalui aspirasi kerja
lulusan perguruan tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana.
55
4) Ada pengaruh tidak langsung keterampilan dan jumlah tanggungan secara
negatif dan signifikan terhadap lama menganggur melalui aspirasi kerja
lulusan perguruan tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana.
5) Aspirasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap lama
menganggur lulusan perguruan tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1
Rancangan Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif yang memiliki tingkat
eksplanasi asosiatif, yaitu penelitian yang didasarkan jumlah banyaknya objek
yang diteliti, yang didesain secara spesifik yaitu untuk mengetahui objek tertentu
atau benar-benar fokus pada satu masalah saja. Dalam hal ini objek yang diteliti
yaitu lama menganggur lulusan perguruan tinggi. Penelitian ini didukung dengan
konsep teori yang relevan dan penelitian terdahulu dalam merumuskan masalah
untuk pengambilan hipotesis. Dalam pengambilan kesimpulan penelitian
menggunakan teknik path analysis (analisis jalur).
Masih tingginya jumlah pengangguran atau pencari kerja yang berasal dari
perguruan tinggi dewasa ini perlu mendapat perhatian dan pembinaan dari
pemerintah selaku pemegang kebijakan. Dalam kaitan ini diharapkan adanya
respon dan pembinaan secara optimal dari pemerintah terhadap sumber daya
manusia
sehingga membantu meningkatkan pembangunan ekonomi disuatu
daerah ataupun disuatu negara. Dengan adanya pembinaan secara optimal tersebut
pemerintah nantinya mampu mengidentifikasi variabel-varibel yang dapat
mempengaruhi lama menganggur lulusan perguruan tinggi Fakultas Ekonomi
Universitas Udayana. Variabel-variabel bebas yang mempengaruhi antara lain
variabel X1 pendapatan rumah tangga, variabel X2 keterampilan yang dimiliki,
variabel X3 jumlah tanggungan, X4 jarak, dan Y1 aspirasi kerja.
56
57
4.2 Lokasi Penelitian, Ruang Lingkup dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana. Alasannya karena Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana
merupakan fakultas dengan lulusan terbanyak yang menamatkan mahasiswanya
setiap tahun. Selain itu akreditas A yang dimiliki tiga jurusan FEB Unud
diasumsikan bahwa lulusan yang dihasilkan harusnya memiliki kompetensi yang
sangat baik dan memiliki kemampuan untuk mudah diterima di dunia kerja.
Waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah selama periode 2012 - 2013.
4.3
Identifikasi Variabel
Berdasarkan hipotesis yang telah dikemukakan, maka variabel yang akan
dianalisis dikelompokkan sebagai berikut.
1) Variabel Bebas (Indpendent Variable)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab
timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2007). Variabel bebas dalam
penelitian ini adalah pendapatan rumah tangga,
keterampilan yang
dimiliki, jumlah tanggungan, jarak.
2) Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat dari
adanya variabel independen (Sugiyono, 2007). Dalam penelitian ini yang
menjadi variabel terikat adalah lama menganggur lulusan perguruan tinggi
dan aspirasi kerja (variabel perantara).
58
4.4
Definisi Operasional Variabel
Untuk memperoleh gambaran lebih jelas terhadap variabel yang diteliti,
maka berikut ini diuraikan definisi operasional setiap variabel.
1) Lama menganggur lulusan perguruan tinggi adalah rata-rata lamanya
seorang lulusan perguruan tinggi menganggur sampai mendapatkan
pekerjaanya yang pertama. Satuan yang digunakan adalah minggu.
2) Pendapatan Rumah Tangga adalah pendapatan seluruh anggota keluarga
yang sudah bekerja dan pendapatan lainnya, yang dihitung selama satu
bulan. Satuan yang digunakan adalah rupiah.
3) Keterampilan yang dimiliki
Keterampilan yang dimiliki adalah jumlah kursus/pelatihan yang pernah
diikuti oleh seorang responden/pencari kerja atau soft skill yang dimiliki
selain pendidikan formal yang pernah ditempuh ditunjukkan dengan
menggunakan
waktu
yang
sudah
ditempuh
dalam
mengikuti
pelatihan/kursus. Satuan yang digunakan adalah minggu.
4) Jumlah Tanggungan
Jumlah tanggungan keluarga adalah banyaknya tanggungan yang terdapat
dalam keluarga itu sendiri yang terdiri dari anak di bawah umur atau orang
tua yang sudah tidak bekerja yang menjadi tanggungan pada keluarga
pekerja lulusan baik yang tinggal bersama di tempat kerja maupun yang
tinggal di jarak, tetapi menjadi tanggungan lulusan tersebut, yang dihitung
dalam satuan orang.
59
5) Jarak
Adalah jarak yang dibutuhkan atau ditempuh seorang pekerja untuk pergi
ke lokasi pekerjaan pertamanya. Satuan yang digunakan adalah kilometer
6) Aspirasi Kerja
Alasan sesorang memilih untuk bekerja sesuai dengan keinginan atau
menolak perkerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan. Tinggi rendahnya
aspirasi kerja seseorang responden dapat dilihat dari nilai kasar aspirasi
kerja yang diinginkan. Semakin tinggi nilai aspirasi kerja maka semakin
tinggi aspirasi kerjanya dan semakin rendah nilainya maka akan semakin
rendah pula keinginan sesorang akan pekerjaan yang diinginkannya, atau
dengan scoring data.
4.5
Jenis dan Sumber Data
4.5.1 Jenis Data Menurut Sifat
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang dapat dihitung atau diukur berupa angkaangka seperti, jumlah lulusan yang menamatkan pendidikannya di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, jumlah lulusan yang
menganggur, serta data hasil kuesioner.
60
4.5.2 Jenis Data Menurut Sumber
1) Data primer
Data primer adalah data yang berasal langsung dari sumber data yang
dikumpulkan secara khusus dan berhubungan langsung dengan masalah
penelitian yang akan diteliti (Sugiyono, 2007). Data primer penelitian ini
diperoleh melalui penyebaran kuesioner dengan pertanyaan yang meliputi
pendapatan rumah tangga, keterampilan yang dimiliki, jumlah tanggungan
keluarga, jarak dan aspirasi kerja.
2) Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil publikasi baik yang
berasal dari buku-buku pedoman baik yang berasal dari Badan Pusat
Statistik ataupun buku wisuda Universitas Udayana, jurnal. Data sekunder
yang dipergunakan dalam penelitian ini diperoleh dari BPS Provinsi Bali
dan Universitas Udayana.
4.6
Populasi, Sampel dan Metode Penentuan Sampel
4.6.1 Populasi
Menurut Ridwan (2004), populasi adalah keseluruhan dari karakteristik
atau unit hasil pengukuran yang menjadi objek penelitian. Populasi terjangkau
adalah bagian dari populasi target yang dibatasi oleh tempat dan waktu. Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh lulusan perguruan tinggi di Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Udayana yang lulus pada tahun 2012 - 2013 sebanyak
61
1096 dan yang memasuki pasar kerja baik pencari kerja lama maupun pencari
kerja baru, dimana selanjutnya akan diambil beberapa responden.
4.6.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang karakteristiknya hendak
diselidiki (Wirawan, 2002). Untuk mengambil sampel dapat menggambarkan
keadaan populasi yang sebenarnya diperlukan metode pengumpulan sampel yang
tepat. Sampel yang baik adalah yang dapat mewakili karakteristik populasinya.
Dalam bahasa pengukuran, artinya sampel harus valid, yaitu dapat mengukur
sesuatu yang seharusnya diukur. Sampel yang valid ditentukan dua pertimbangan,
pertama akurasi atau ketepatan, yaitu tingkat “bias” (penyimpangan) dalam
sampel.
Ukuran sampel atau jumlah sampel yang diambil menjadi persoalan yang
penting manakala jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian yang
menggunakan analisis kuantitatif. Pada penelitian yang menggunakan analisis
kualitatif, ukuran sampel bukan menjadi nomor satu, karena yang dipentingkan
adalah adanya informasi bersifat kualitatif. Jumlah sampel yang digunakan dalam
penelitian ini ditentukan berdasarkan pendekatan Slovin, yang dapat ditentukan
dengan rumus berikut.
=
..........................................................................................................(4.1)
Keterangan:
n
: Ukuran Sampel
N
: Ukuran Populasi
62
e
: Nilai Kritis (9%)
Berdasarkan jumlah populasi mahasiswa lulusan S1 Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Udayana yang lulus pada tahun 2012 - 2013 sebanyak 1096
orang maka perhitungan sampelnya adalah sebagai berikut.
n=
(
n = 110.95
× ,
)
n = 111
Berdasarkan perhitungan di atas, maka jumlah sampel yang akan diambil
sebanyak 111 sampel (lulusan FEB Unud). Agar populasi dapat terwakili secara
utuh maka penarikan sampel pada masing-masing lulusan dari masing-masing
jurusan dan program studi ditentukan sebagai berikut.
1) Ilmu Ekonomi
=
2) Manajemen
=
3) Akuntansi
=
4) Ekstensi IE
=
5) Ekstensi Manajemen
=
6) Ekstensi Akuntansi
=
111 = 11
111 = 21
111 = 26
111 = 5
111 = 21
111 = 27
Teknik sampling yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah
nonprobability sampling, dimana teknik ini tidak memberikan peluang atau
kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih
menjadi sampel (Nanang, 2010). Metode penentuan sampel yang digunakan pada
63
penelitian ini adalah teknik accidental sampling dipadukan dengan snowball
sampling. Dimana teknik accidental sampling yaitu teknik penentuan sampel
berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan
peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan
ditemui itu cocok sebagai sumber data ( Nanang, 2010). Sedangkan snowball
sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan bantuan key-informan, dan dari
key-informan inilah akan berkembang sesuai petunjuknya (Nanang, 2010)
4.7
Instrumen Penelitian
Pengujian terhadap instrumen penelitian dilakukan untuk mengetahui
validitas setiap indikator dari masing-masing konstruk yang digunakan untuk
mengumpulkan data. Hasil pengolahan data dilihat dari koefisien korelasi Pearson
Correlation yang memiliki nilai ≥ 0.5atau koefisien signifikannya ≤ 0.05 dapat
dinyatakan bahwa seluruh indikator dalam instrumen penelitian telah valid.
Selain ukuran validitas, pengujian terhadap instrument penelitian juga
dilakukan dengan menggunakan ukuran reliabilitas. Reliabilitas yang digunakan
pada penelitian adalah reliabilitas konstruk seluruh Cronbach’s Alpha untuk
seluruh konstruk penelitian harus menunjukkan hasil lebih besar dari 0.6 yang
merupakan ukuran nilai minimum reliabilitas. Instrument atau kuesioner
penelitian harus berkualitas yang sudah distandarkan sesuai dengan kriteria teknik
pengujian validitas dan reliabilitas.
64
4.7.1 Uji Validitas Instrumen Penelitian
Berkaitan dengan pengujian validitas instrumen, Ridwan (2010)
menjelaskan bahwa validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat
keandalan suatu alat ukur. Alat ukur yang kurang valid berarti memiliki validitas
rendah. Validitas dapat diukur dengan koefisien korelasi antara skor masingmasing indikator/item pertanyaan dengan skor totalnya. Koefisien korelasi diukur
dari Pearson Correlation dengan rumus sebagai berikut.
r hitung
Keterangan :
{ ∑
( ∑ ) (∑ ).(∑ )
...........................................(4.2)
(∑ ) } . { ∑
(∑ ) }
r hitung = Koefisien korelasi
∑xi
= Jumlah skor item
∑yi
= Jumlah skor item total (seluruh item)
n
= Jumlah responden
Tingkat Validitas instrumen dalam penelitian ini diukur dengan
membandingkan dengan r
hitung
dengan r tabel , untuk degree of freedom (df) = n-k,
dimana n adalah jumlah responden dan k adalah konstruk. Dapat dikatakan atau
dengan kata lain tingkat validitas instrumen dalam penelitian ini dapat dilihat dari
koefisien Pearson Correlation yang memiliki nilai ≥ 0,05 atau koefisien
signifikansinya ≤0,05. Apabila nilai
≥ 0,05 maka dapat dinyatakan bahwa
seluruh indikator dalam instrumen penelitian telah valid. Jika r
hitung
(corrected
item-total correlation) lebih besar dari r tabel, maka pertanyaan dikatakan valid.
65
4.7.2 Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian
Ghozali (2002) berpendapat bahwa instrumen dikatakan reliabel apabila
instrumen tersebut digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama dan
mampu menghasilkan data yang relatif sama dan mampu menghasilkan data yang
relatif sama. Uji reliabilitas dilakukan dengan uji varians alpha-cronbanch,
rumus yang digunakan.
r1= (
Keterangan :
∑
{1)
}...................................................................................(4.3)
r1
=
Nilai Reliabilitas
si 2
= Jumlah Varian Item
st 2
= Varian total item
k
= Jumlah item
Secara empiris, reliabilitas konsistensi internal dapat diterima jika nilai
Cronbach’s Alpha α ≥ 0,6. Reliabilitas konsistensi internal adalah suatu
pendekatan yang digunakan untuk menaksir konsistensi internal dari kumpulan
item/indikator, dimana beberapa item dijumlahkan untuk menghasilkan skor total
untuk skala.
4.8
Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan metode
berikut.
66
1) Wawancara terstruktur
Untuk mendapatkan data primer atau data yang langsung diperoleh dari
obyek penelitian seperti variabel pendapatan rumah tangga, variabel
variabel keterampilan yang dimiliki, variabel jumlah tanggungan, variabel
jarak dan variabel aspirasi kerja dipergunakan teknik wawancara
terstruktur kepada responden didasarkan atas kuesioner/daftar pertanyaan
yang telah disiapkan sebelumnya.
2) Observasi non perilaku yaitu pengumpulan data-data yang berasal dari
dokumen-dokumen yang berhubungan dengan rumusan masalah. dalam
Penelitian ini data mengenai jumlah lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012 - 2013 dilakukan dengan teknik
observasi.
3) Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam adalah proses mencari informasi secara mendalam,
terbuka serta bebas dengan masalah yang difokuskan dalam penelitian.
Wawancara dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang
sebelumnya telah disusun untuk ditanyakan kepada informan sebagai
acuan dan sifatnya tidak mengikat sehingga banyak pertanyaan baru yang
muncul pada saat wawancara. Informan yang dimaksudkan antara lain
para lulusan, pengambil kebijakan terkait dan lain-lainnya yang memiliki
kemampuan untuk menjelaskan tentang pokok permasalahan yang dicari.
67
4.9
Teknik Analisis Data
Analisis ini digunakan untuk mengetahui bagaimana lama menganggur
lulusan FEB UNUD. Dalam penelitian ini dilakukan beberapa metode dalam
menganalisis data yaitu dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis jalur
(path analysis). Analisis jalur yaitu teknis analisis yang digunakan untuk
mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat baik secara
langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan SPSS.
4.9.1 Analisis Deskriptif
Penerapan statistik deskriptif dalam studi ini yaitu menganalisa dengan
data dengan cara mendeskripsikannya dari hasil pengumpulan data yang telah
diperoleh dilapangan. Pendeskripsian ini berlaku umum dan sebagaimana adanya
tanpa bermaksud untuk membuat kesimpulan (Sugiyono). Pendeskripsian ini
antara lain perhitungan rata-rata, dilengkapi dengan tabel-tabel, gambar-gambar
dan sebagainya yang dibuat atau dihitung dengan paket program SPSS dan excell.
4.9.2
Analisis Jalur
Analisis Jalur (Path Analysis) pertama kali diperkenalkan oleh Sewall
Wright (1934). Wright mengembangakan metode tersebut sebagai alat untuk
mempelajari efek langsung dan efek tidak langsung dari suatu variabel, dimana
beberapa variabel dipandang sebagai variabel penyebab (variabel eksogenus)
terhadap seperangkat variabel akibat (variabel endogenus). Kegunaannya untuk
mengetahui hubungan struktural antara variabel eksogen (yang mempengaruhi)
terhadap variabel endogen (yang dipengaruhi).
68
Metode analisis jalur atau analisis lintasan merupakan perluasan dari
analisis regresi linier berganda untuk menaksir hubungan kausalitas antar variabel
(model causal) yang telah ditetapkan sebelumnya (Ghozali, 2007). Pemilihan
analisis jalur dengan pertimbangan bahwa bentuk hubungan sebab akibat yang
muncul dalam studi ini merupakan model yang kompleks, yaitu adanya variabel
yang berperan ganda, sebagai variabel independen pada suatu hubungan, namun
menjadi variabel dependen dalam hubungan lain mengingat adanya hubungan
kausalitas yang berjenjang. Bentuk hubungan seperti ini membutuhkan alat
analisis yang mampu menjelaskan sistem secara simultan. Menurut Kerlinger
(2002) menyebutkan bahwa dengan menggunakan analisis jalur akan dapat
dihitung antara pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung.
Analisis jalur juga dapat digunakan untuk menganalisis hubungan sebab
akibat antara satu variabel dengan variabel lainnya.Variabel eksogen adalah
variabel penyebab, yang memberikan efek kepada variabel lainnya. Dalam
diagram jalur, variabel eksogen ini secara eksplisit diketahui sebagai variabel
yang tidak ada panah tunggal yang menuju ke arahnya. Jika ada lebih dari satu
variabel eksogen dalam sistem, maka ditandai oleh circle-path (tanda panah yang
melingkar) yang menunjukkan hubungan korelasional variabel eksogen. Variabel
endogen adalah variabel yang dijelaskan oleh variabel eksogen atau merupakan
efek dari variabel eksogen. Dalam diagram jalur secara eksplisit variabel endogen
ditandai oleh kepala panah yang menujunya. Baik tanda panah dari variabel
eksogen maupun variabel eror. Variabel eror didefinisikan sebagai kumpulan
variabel-variabel eksogen lainnya yang tidak dimasukkan dalam sistem penelitian
69
yang dimungkinkan masih mempengaruhi variabel endogen. Koefisien jalur
adalah suatu koefisian regresi terstandardisasi yang menunjukkan efek langsung
dari suatu variabel eksogen terhadap variabel endogen (Yamin & Kurniawan
2009).
Prosedur ini dapat mengestimasi koefisien-koefisien sejumlah persamaan
struktur linier yang mewakili hubungan sebab akibat tersebut mencakup dua jenis
variabel, yaitu variabel penjelas, biasa dinotasikan X1, X2,.......Xn dan variabel
yang dijelaskan yaitu Y1, Y2..... Yn. Berbeda dengan persamaan regresi dimana
pengaruh variabel X terhadap variabel Y hanya bentuk pengaruh langsung, dalam
persamaan struktural linier pengaruh variabel X terhadap variabel Y dapat berupa
pengaruh langsung dan tidak langsung. Pengaruh tidak langsung dari variabel X
terhadap variabel Y adalah melalui variabel lain yang disebut variabel intervening
atau variabel antara. Pengaruh total variabel X terhadap variabel Y tersebut
merupakan penjumlahan dari pengaruh langsung dari seluruh pengaruh tidak
langsung (Daryanto dan Hafizrianda, 2010). Adapun ada beberapa langkah yang
perlu diperhatikan dalam penggunaan analisis jalur ini dapat dilihat pada uraian
sebagai berikut.
1) Pertama
Langkah pertama didalam analisis jalur adalah merancang model
berdasarkan konsep teori.
(1)
Pendapatan rumah tangga berpengaruh terhadap aspirasi kerja
lulusan perguruan tinggi.
70
(2)
Keterampilan berpengaruh terhadap aspirasi kerja lulusan perguruan
tinggi.
(3)
Jumlah tanggungan berpengaruh terhadap aspirasi kerja lulusan
perguruan tinggi.
(4)
Jarak berpengaruh terhadap aspirasi kerja lulusan perguruan tinggi.
(5)
Pendapatan rumah tangga berpengaruh terhadap lama menganggur
lulusan perguruan tinggi.
(6)
Keterampilan berpengaruh terhadap lama menganggur lulusan
perguruan tinggi.
(7)
Jumlah tanggungan berpengaruh terhadap lama menganggur lulusan
perguruan tinggi.
(8)
Jarak berpengaruh terhadap lama menganggur lulusan perguruan
tinggi.
(9)
Aspirasi kerja berpengaruh terhadap lama menganggur lulusan
perguruan tinggi.
(10) Pendapatan rumah tangga berpengaruh secara tidak langsung
terhadap lama menganggur lulusan perguruan tinggi melalui aspirasi
kerja.
(11) Keterampilan berpengaruh secara tidak langsung terhadap lama
menganggur lulusan perguruan tinggi melalui aspirasi kerja.
(12) Jumlah tanggungan berpengaruh secara tidak langsung terhadap
lama menganggur lulusan perguruan tinggi melalui aspirasi kerja.
71
(13) Jarak berpengaruh secara tidak langsung terhadap lama menganggur
lulusan perguruan tinggi melalui aspirasi kerja.
Hubungan antar variabel berdasarkan uraian tersebut dapat diilustrasikan
seperti Gambar 4.2
Gambar 4.2
Diagram Jalur Variabel Penelitian
Model tersebut juga dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan sehingga
membentuk sistem persamaan. Sistem persamaan ini ada yang menamakan sistem
persamaan simultan atau ada juga yang menyebutkan model struktural.
Berdasarkan diagram jalur pada Gambar 4.2 menghasilkan dua persamaan
struktural. Persamaan strukturalnya dapat disajikan sebagai berikut.
(1) Hubungan antara X1, X2, X3,X4, dan Y1 terhadap Y2
=
+
+
+
+ ε … … … … … … … … … … … . . (4.1)
72
Keterangan :
b1 adalah koefisien jalur X1 dengan Y1
b2 adalah koefisien jalur X2 dengan Y1
b3 adalah koefisien jalur X3 dengan Y1
b4 adalah koefisien jalur X4 dengan Y1
X1 adalah pendapatan rumah tangga
X2 adalah keterampilan yang dimiliki
X3 adalah jumlah tanggungan
X4 adalah jarak
(2) Hubungan antara X1, X2, X3, X4, Y1, terhadap Y2
=
+
+
+
+
+
b5 adalah koefisien jalur X1 dengan
… … … … … … … … … . . (4.2)
b6 adalah koefisien jalur X2 dengan
b7 adalah koefisien jalur X3 dengan
b8 adalah koefisien jalur X4 dengan
b9 adalah koefisien jalur
dengan
.
2) Kedua
Langkah kedua dari analisis jalur adalah pemeriksaan terhadap asumsi
yang melandasi. Menurut Sarwono (2007) prinsip-prinsip dasar yang
sebaiknya dipenuhi dalam analisis jalur adalah.
(1) Didalam model analisis jalur, hubungan antar variabel adalah
linier aditif
73
(2) Hanya model rekursif dapat dipertimbangkan, yaitu hanya system
aliran kausal resiprokal tidak dapat dilakukan analisis jalur.
(3) Variabel endogen minimal dalam skala ukur interval
(4) Pengamatan diukur tanpa kesalahan (instrument pengukuran valid
dan reliable)
(5) Model yang dianalisis dispesifikasikan (diidentifikasi) dengan
benar berdasarkan teori-teori dan konsep-konsep yang relevan.
Uji linieritas menggunakan cueve fit dan menerapkan prinsip
partisimony yaitu bilamana seluruh model significant atau nonsignificant berarti dapat dikatakan model berbentuk linier.
3) Ketiga
Langkah ketiga dalam analisis jalur adalah pendugaan parameter atau
koefisien path. Perhitungan koefisien path pada gambar diagram jalur pada
uraian sebelumnya dijelaskan.
(1) Untuk anak panah bolak-balik
koefisiennya merupakan
koefisien relasi,r.
(2) Untuk anak panah satu arah
digunakan perhitungan
regresi variabel yang distandarkan, secara parsial pada tiap-tiap
persamaan. Metode yang digunakan Ordinary Least Square (OLS)
yaitu metode kuadrat terkecil biasa. Hal ini dapat dilakukan
mengingat modelnya rekrusif (satu arah). Dari perhitungan
diperoleh koefisien jalur pengaruh langsung.
74
Didalam analisis jalur disamping ada pengaruh langsung juga ada
pengaruh tidak langsung dan pengaruh total. Koefisien beta dinamakan
koefisien jalur merupakan pengaruh langsung, sedangkan pengaruh
tidak langsung dilakukan dengan mengalikan koefisien beta dari
variabel yang dilalui. Pengaruh total dihitung dengan menjumlahkan
pengaruh langsung dan tidak langsung (Ghozali, 2001) berdasarkan
Gambar 4.2 dapat dilakukan perhitungan pengaruh tidak langsung dan
pengaruh total.
(1)
Pengaruh langsung pendapatan rumah tangga terhadap lama
menganggur sama dengan b5.
(2)
Pengaruh tidak langsung pendapatan rumah tangga melalui
aspirasi kerja sama dengan b1x b9.
(3)
Pengaruh total pendapatan rumah tangga terhadap lama
menganggur melalui aspirasi kerja b5+(b1xb9).
(4)
Pengaruh langsung keterampilan yang dimiliki
terhadap
lama menganggur sama dengan b6.
(5)
Pengaruh tidak langsung keterampilan yang dimiliki melalui
aspirasi kerja sama dengan b2 x b9
(6)
Pengaruh total terhadap lama menganggur melalui aspirasi
kerja b6+(b2 x b9)
(7)
Pengaruh langsung jumlah tanggungan terhadap lama
menganggur sama dengan b7.
75
(8)
Pengaruh tidak langsung jumlah tanggungan melalui aspirasi
kerja sama dengan b3 x b9
(9)
Pengaruh
total
jumlah
tanggungan
terhadap
lama
menganggur melalui aspirasi kerja b7+(b3 x b9)
(10) Pengaruh langsung jarak terhadap lama menganggur sama
dengan b8.
(11) Pengaruh tidak langsung jarak melalui aspirasi kerja sama
dengan b4 x b9.
(12) Pengaruh total jarak terhadap lama menganggur
melalui
aspirasi kerja b8+(b4 x b9).
(13) Pendugaan parameter b1, b2, b3, b4, b5, b6, b7, b8, dan b9,
dilakukan dengan model (OLS) ordinary least square untuk
tiap-tiap model persamaan dengan software SPSS versi 22
selanjutnya dilakukan uji statistik.
4) Keempat
Langkah keempat didalam analisis jalur adalah pemeriksaan validitas atau
kesahihan model. Sahih adalah tidaknya suatu hasil analisis tergantung
dari terpenuhi atau tidaknya asumsi yang melandasinya. Terdapat dua
indikator validitas model didalam analisis jalur, yaitu koefisien
determinasi total theory trimming.
(1) Koefisien Determinasi Total
Total keragaman data yang dapat dijelaskan oleh model diukur
dengan:
=1-
…..
…………………………..(4.3)
76
koefisien determinasi total yatu koefisien yang menyatakan
seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.
Koefisien determinasi total mirip dengan koefisien determinasi
pada analisis regresi. Interpretasinya pun hampir sama. P ei yang
merupakan standar error of estimate dari model regresi dihitung
dengan rumus:
Pei = √1-R2……..………………………………………………(4.4)
(2) Theory Trimming
Uji validitas koefisien jalur pada setiap jalur untuk pengaruh
langsung adalah sama dengan yang terdapat pada analisis regresi,
menggunakan nilai p (pvalue) dari uji t, yaitu pengujian koefisien regresi
variabel yang dilakukan secara parsial. Berdasarkan theory trimming,
maka jalur-jalur yang non significant diperbaiki dan diuji kembali
sehingga diperoleh model tertentu yang didukung oleh konsep atau teori.
Jadi, model trimming terjadi ketika koefisien jalur diuji secara keseluruhan
ternyata ada variabel yang tidak signifikan. Walaupun ada satu, dua atau
lebih variabel yang tidak signifikan, peneliti perlu memperbaiki model
struktur analisis jalur yang sudah dihipotesiskan. Cara menggunakan
metode trimming yaitu menghitung ulang koefisien jalur tanpa
menyertakan variabel eksogen atau variabel bebas yang koefisien jalurnya
tidak signifikan. Pengujian dilakukan dengan tingkat signifikansi atau
kepercayaan 95% atau (α) = 0,05 dengan kriteria pengujian :
77
(1) Jika nilai signifikansi α < 0,05 dan βeta dengan arah positif, maka
hipotesis diterima.
(2) Jika nilai signifikansi α > 0,05 dan βeta dengan arah negatif, maka
hipotesis ditolak.
5) Kelima
Langkah terakhir dalam analisis jalur adalah melakukan intepretasi hasil
yaitu
menentukan
jalur-jalur
pengaruh
yang
signifikan
dan
mengidentifikasi jalur yang pengaruhnya lebih kuat, yaitu dengan
membandingkan besarnya koefisien jalur yang terstandar.
4.9.3 Metode Sobel
Penelitian ini menggunakan variabel antara atau intervening yaitu aspirasi
kerja. Menurut Baron dan Kenny dalam Ghozali (2002) suatu variabel disebut
intervening jika variabel tersebut ikut mempengaruhi hubungan antar variabel
prediktor (independen) dan variabel kriterion (dependen). Pengujian hipotesis
mediasi atau antara dapat dilakukan dengan prosedur yang dikembangkan oleh
Sobel ( 1982) dan dikenal dengan uji Sobel (Sobel test). Uji Sobel dapat dilakukan
dengan cara menguji kekuatan pengaruh tidak langsung variabel independen (X)
ke variabel dependen (Y) melalui variabel intervening (M). Adanya pengaruh
tidak langsung dari X ke Y melalui M dihitung dengan cara mengalikan jalur
X→M (a) dengan jalur M→Y (b) atau ab. Jadi koefisien ab = (c – c’), dimana c
adalah pengaruh X terhadap Y tanpa mengontrol M, sedangkan c’ adalah
koefisien pengaruh X terhadap Y setelah mengontrol M. Standar error koefisien a
78
dan b dapat ditulis Sa dan Sb, besarnya standar error pengaruh tidak langsung
(indirect effect) Sab dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Sab = √
+
+
… … … … … … … … … … (4.10)
Untuk menguji signifikansi pengaruh tidak langsung, maka kita perlu
menghitung nilai t dari koefisien ab dengan rumus sebagai berikut:
t=
...................................................................................(4.11)
Nilai t hitung ini selanjutnya akan dibandingkan dengan nilai t tabel yaitu
≥ 1,65 Jika nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel maka dapat disimpulkan
terjadinya pengaruh mediasi (Ghozali, 2002).
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1
Deskripsi Hasil Penelitian
Jumlah sampel responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 111
responden yang mencakup lulusan yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012 - 2013. Sehingga akan dikumpulkan berbagai
informasi yang didapat berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan. Berdasarkan
data dan informasi yang telah dikumpulkan, maka akan dilakukan pengkajian
terhadap karakteristik responden seperti ini.
5.1.1 Pendidikan Responden
Salah satu faktor penentu dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk
adalah faktor pendidikan. Pendidikan yang dicapai seseorang akan menentukan
bagaimana seseorang memperoleh pekerjaan dengan imbalan yang tinggi.
Tingginya tingkat pendidikan yang dicapai seseorang biasanya berkaitan dengan
pekerjaan yang diinginkan dan akhirnya berpengaruh terhadap lama menganggur
seseorang. Salah satu indikator untuk mengukur kemajuan pendidikan responden
adalah melalui
lama studi. Berikut ini adalah jumlah
lama menamatkan
pendidikan dari masing-masing jurusan lulusan perguruan tinggi di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana tahun 2012 - 2013 pada Tabel 5.1
79
80
Tabel 5.1
Lama Menamatkan Pendidikan Responden Lulusan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana Tahun 2012 - 2013
Program
Pendidikan
S1 Reguler
S1 Ekstensi
Jurusan
Lulusan FEB Unud
Jumlah
Lama Studi
Responden
(tahun)
(Orang)
Ekonomi Pembangunan
11
3
Akuntansi
26
3,2
Manajemen
21
3,2
Ekonomi Pembangunan
5
4
Akuntansi
27
3,3
Manajemen
21
3,3
16
48
47
3,5
3,2
3,2
3,3
Total S1
Ekonomi Pembangunan
Akuntansi
Manajemen
Rata-Rata Keseluruhan
Sumber : Hasil penelitian (Lampiran 2)
Dari Tabel 5.1 dijelaskan bahwa lulusan yang menamatkan pendidikannya
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana dari masing-masing jurusan
dan program menghabiskan waktu rata-rata 3,3 tahun untuk menuntaskan
pendidikannya. Dimana jurusan yang paling cepat menamatkan pendidikannya
adalah program reguler dengan rata-rata lama studi 3,2 tahun. Selanjutnya lulusan
yang berasal dari program studi ekstensi dengan rentan waktu yang dibutuhkan
untuk menamatkan lulusannya adalah 3,5 tahun.
Tingginya tingkat pendidikan yang ditempuh hingga pada jenjang
perguruan tinggi mengindikasikan bahwa semakin tingginya tingkat kesadaran
masyarakat akan pentingnya pendidikan untuk memasuki dunia kerja. Kesadaran
lulusan tersebut akan pentingnya pendidikan ini tentu saja akan mempengaruhi
lulusan dalam memilih pekerjaan yang sesuai dengan tingkat pendidikannya serta
81
aspirasi kerja yang diinginkan. Tingkat pendidikan lulusan juga mempengaruhi
lama menganggur lulusan.
5.1.2 Pendapatan Rumah Tangga Responden
Pendapatan rumah tangga adalah pendapatan yang diterima seluruh
anggota keluarga yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh
anggota keluarga selama sebulan. Pendapatan rumah tangga dari setiap lulusan
berbeda-beda, hal ini terjadi karena perbedaan kondisi ekonomi dari setiap rumah
tangga. Sesorang lulusan yang memiliki kondisi ekonomi yang memadai dapat
mencari pekerjaan dengan lebih lama sedangkan lulusan yang memiliki kondisi
ekonomi yang lemah akan berusaha untuk memperoleh pekerjaan, hal ini akan
mempengaruhi lama menganggur seseorang lulusan. Berikut ini adalah jumlah
dan rata-rata pendapatan rumah tangga responden lulusan perguruan tinggi di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana tahun 2012 - 2013 pada Tabel
5.2.
Berdasarkan Tabel 5.2 dapat dilihat bahwa pendapatan rumah tangga
responden bervariasi mulai dari tingkat pendapatan responden yang paling besar
yang berkisar lebih dari Rp. 30.000.000 sampai tingkat pendapatan responden
yang paling kecil sekitar kurang dari Rp. 4.000.000 dengan rata-rata tingkat
pendapatan secara keseluruhan dalam satu keluarga tersebut yaitu Rp. 7.577.000
dari seluruh total keseluruhan jumlah responden.
82
Tabel 5.2
Jumlah dan Rata-Rata Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012-2013 Menurut Pendapatan Rumah Tangga
Program
Pendidikan
S1 Reguler
S1 Ekstensi
Total S1
Jurusan
Ekonomi Pembangunan
Lulusan FEB Unud
Rata-Rata
Jumlah Responden
Pendapatan RT
(Orang)
(Ribuan
Rupiah/Bulan)
11
7.481
Akuntansi
26
7.790
Manajemen
21
8.395
Ekonomi Pembangunan
5
5.190
Akuntansi
27
7.276
Manajemen
21
9.333
Ekonomi Pembangunan
16
6.335
Akuntansi
48
7.533
Manajemen
47
8.864
Rata-Rata Keseluruhan
7.577
Sumber: Hasil Penelitian (Lampiran 2)
Pendapatan rumah tangga akan mempengaruhi lama seorang lulusan
menganggur. Lulusan yang memiliki pendapatan rumah tangga yang tinggi pada
saat mencari pekerjaan sebelumnya akan bersedia lebih lama menganggur akibat
tingginya tingkat ketergantungan pekerja pada keluarga sehingga enggan untuk
mencari pekerjaan. Serta semakin tingginya keinginan untuk bekerja sesuai
dengan aspirasi kerjanya mengingat keluarga yang memiliki tingkat pendapatan
yang tinggi masih bersedia menanggung anaknya untuk mendapatkan pekerjaan
yang sesuai dengan keinginan.
5.1.3 Keterampilan yang Dimiliki Responden
Keterampilan yang dimiliki seseorang sangat menentukan cepat atau
tidaknya seseorang diterima dalam pasar kerja. Seseorang pekerja yang memiliki
83
tingkat pendidikan tinggi belum tentu dapat diterima langsung dalam sebuah
pekerjaan. Beberapa lowongan pekerjaan biasanya mencantumkan keterampilan
yang dimiliki sebagai salah satu prasyarat yang harus dimiliki pencari kerja.
Berikut
ini
adalah
informasi
tentang
lamanya
waktu
mengikuti
pelatihan/keterampilan responden yang diperoleh sebelum bekerja lulusan
perguruan tinggi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana tahun 2012
- 2013 pada Tabel 5.3
Tabel 5.3
Jumlah dan Rata-Rata Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012 - 2013 Menurut Keterampilan
Program
Pendidikan
Jurusan
S1 Reguler
Ekonomi Pembangunan
Akuntansi
Manajemen
S1 Ekstensi Ekonomi Pembangunan
Akuntansi
Manajemen
Total S1
Ekonomi Pembangunan
Akuntansi
Manajemen
Rata-Rata Keseluruhan
Lulusan FEB Unud
Rata-Rata
Lamanya
Jumlah Responden
Mengikuti
(Orang)
Pelatihan
(Minggu)
11
8
26
13
21
15
5
28
27
16
21
11
16
18
48
15
47
13
15
Sumber: Hasil Penelitian (Lampiran 2)
Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa rata-rata dari lulusan yang
mengikuti pelatihan sebanyak 15 minggu. Dimana rata-rata
mengikuti
pelatihan
ataupun
keterampilan
baik
sebelum
lulusan yang
menamatkan
pendidikannya ataupun setelah menamatkan pendidikannya adalah sekitar 28
minggu yang lebih banyak diikuti oleh lulusan yang berasal dari program S1
84
ekstensi jurusan ekonomi pembangunan. Hal ini dikarenakan rata-rata yang
lulusan yang berasal dari program ekstensi sudah lebih banyak diterima didunia
kerja, ataupun melanjutkan usaha keluarga dengan mengandalkan ijazah SMA
sebelum mereka akhirnya memilih untuk melanjutkan pendidikan di bangku
kuliah atau kuliah sambil bekerja. Penjelasan tersebut menjelaskan bahwa
keterampilan yang mereka miliki sudah lebih banyak diterima sebelum mereka
menamatkan pendidikannya di bangku kuliah.
Adapun jenis keterampilan atau kursus atau pendidikan non formal yang
pernah mereka ikuti diluar jam pekuliahan selama menempuh ataupun setelah
lulusan dari pendidikan formal di bangku kuliah adalah kursus bahasa seperti
bahasa inggris, kursus komputasi akuntansi baik itu MYOB, pelatihan audit,
pelatihan saham, training sistem akuntansi, pelatihan sekretaris BLK Prov Bali,
pelatihan kredit analys, pelatihan class room frontliner serta kursus mengemudi.
Adapun alasan mereka mengikuti pelatihan tersebut adalah karena kemauan dan
kemampuan
keluarga
mereka
membiayai
keluarganya
untuk
mengikuti
pendidikan non formal. Adanya anggapan keterampilan non formal yang mereka
miliki akan menambah skill dan pengetahuan selain pendidikan akademik yang
mereka miliki sehingga dirasa akan memudahkan untuk mendapatkan pekerjaan
nantinya. Selain itu adanya institusi terkait yang menyediakan sendiri baik itu dari
perusahaan tempat mereka bekerja langsung yang memberikan pelatihan secara
gratis dengan harapan mereka dapat menguasai bidang tertentu sesuai dengan
posisi pekerjaannya. Tingginya jumlah responden yang mengikuti kursus ataupun
pelatihan memperlihatkan bahwa tingginya minat responden untuk menambah
85
keahliannya dibidang non formal yang juga berpengaruh terhadap lamanya
menganggur selain itu juga sebagai kesiapan para responden untuk menghadapi
persaingan
dalam
pasar
kerja.
Selain
itu
keterampilan
yang dimiliki
mengakibatkan sesorang akan bekerja dan menginginkan pekerjaan pada posisi
pekerjaan yang sesuai dan keterampilan yang sudah dimiliki.
5.1.4 Jumlah Tanggungan Responden
Jumlah tanggungan menjadi salah satu alasan lulusan responden untuk
segera bekerja atau tetap berada dirumah sambil menunggu lowongan pekerjaan
yang sesuai dengan keinginan. Jumlah tanggungan anak/keluarga mempengaruhi
volume kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Semakin banyak jumlah anak
maka akan semakin besar pula biaya hidup yang harus dikeluarkan (Isty Laura,
2013). Semakin besar jumlah anak/tanggungan keluarga maka semakin besar pula
biaya hidup mereka dan semakin besar pula kemungkinan seseorang untuk masuk
dalam dunia kerja (Simanjuntak, 2001). Berikut ini adalah jumlah dan persentase
tanggungan responden lulusan perguruan tinggi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana tahun 2012 - 2013 pada Tabel 5.4
86
Tabel 5.4
Jumlah dan Rata-Rata Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012 – 2013 Menurut Jumlah Tanggungan
Lulusan FEB Unud
Jumlah Responden
(Orang)
Rata-rata Jumlah
Tanggungan
Responden
(Orang)
Ekonomi Pembangunan
11
2
Akuntansi
26
3
Manajemen
21
2
Ekonomi Pembangunan
5
3
Akuntansi
27
3
Manajemen
21
3
Ekonomi Pembangunan
16
3
Akuntansi
48
3
Manajemen
47
3
Program
Pendidikan
S1 Reguler
S1 Ekstensi
Total S1
Jurusan
Rata-Rata Keseluruhan
3
Sumber : Hasil Penelitian (Lampiran 2)
Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat jumlah dan rata-rata tanggungan
lulusan responden dimana jumlah tanggungan tertinggi sebanyak 3 orang.
Semakin banyakknya jumlah tanggungan yang ditanggung dalam satu keluarga
responden tentu akan mempengaruhi aspirasi sesorang dalam mencari ataupun
memilih-milih pekerjaan dan lama menganggur lulusan. Karena semakin banyak
jumlah tanggungan maka semakin banyak pula biaya hidup yang harus
dikeluarkan serta semakin tinggi pula probabilitas seseorang untuk bekerja.
87
5.1.5 Jarak Responden
Variabel jarak juga berpengaruh terhadap aspirasi kerja yang dimiliki
responden serta lama menganggur. Pencari kerja beranggapan pekerjaan lebih
tersedia di daerah yang mobilitas perekonomiannya baik, sehingga mereka
mencari kerja di dekat dengan akses informasi, kesehatan dan lainnya (Yuliatin,
2011). Hal ini sesuai dengan teori bahwa seseorang yang berletak tinggal di
daerah dengan akses ekonomi, sosial dan kesehatan yang baik dapat
mempersingkat waktu tunggu kerja atau lama menganggurnya (Ratih Pratiwi,
2012). Berikut ini adalah jumlah dan rata-rata jarak ke tempat bekerja responden
lulusan perguruan tinggi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana
tahun 2012 - 2013 pada Tabel 5.5
Tabel 5.5
Jumlah dan Rata-Rata Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012 - 2013 Menurut Jarak
Program
Pendidikan
Jurusan
S1 Reguler
Ekonomi Pembangunan
Akuntansi
Manajemen
S1 Ekstensi Ekonomi Pembangunan
Akuntansi
Manajemen
Total S1
Ekonomi Pembangunan
Akuntansi
Manajemen
Rata-Rata Keseluruhan
Sumber : Hasil Penelitian ( Lampiran 2 )
Lulusan FEB Unud
Rata-Rata
Jumlah
Jarak ke
Responden
Lokasi Kerja
(Orang)
Pertama (Km)
11
26
21
5
27
21
16
48
47
6
6
5
0
4
4
6
5
4,5
5,2
88
Adanya kesempatan kerja yang lebih besar serta tersedianya fasilitas dan
infrastruktur yang lebih lengkap, memudahkan seseorang untuk mendapat
pekerjaan. Berdasarkan tabel 5.5 rata-rata jarak yang ditempuh dari tempat
tinggalnya ke tempat kerjanya paling banyak jaraknya adalah 5,2 km. Mengingat
banyak responden yang bekerja sebagai wirausaha baik yang melanjutkan usaha
orang tuanya atau usaha yang dibangun sendiri.
5.1.6 Lama Menganggur Responden
Menurut Tjiptoherijanto (1989) lama menganggur berarti
waktu
menganggur seorang angkatan kerja untuk memperoleh pekerjaan. Penelitian ini
menggunakan lama menganggur secara terbuka, yaitu waktu menunggu seorang
penganggur terbuka untuk memperoleh pekerjaan. Berikut ini adalah jumlah dan
rata-rata lama menganggur responden lulusan perguruan tinggi di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana tahun 2012 - 2013 pada Tabel 5.6
Tabel 5.6
Jumlah dan Rata-rata Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012 – 2013 Menurut Lama Menganggur
Program
Pendidikan
S1 Reguler
S1 Ekstensi
Total S1
Jurusan
Ekonomi Pembangunan
Akuntansi
Manajemen
Ekonomi Pembangunan
Akuntansi
Manajemen
Ekonomi Pembangunan
Akuntansi
Manajemen
Rata-Rata Keseluruhan
Sumber: Hasil Penelitian (Lampiran 2)
Lulusan FEB Unud
Rata-Rata Lama
Jumlah Responden
Menganggur
(Orang)
(Minggu)
11
6,5
26
5,7
21
5,8
5
0
27
2,8
21
5,5
16
48
47
6,5
4,2
5,6
5,4
89
Berdasarkan Tabel 5.6 rata-rata lama menganggur responden selama tahun
2012-2013 yaitu dari 5,4 minggu dan lama menganggur dengan waktu yang relatif
lebih lama yaitu lebih dari 21 minggu. Dari data terlihat bahwa dalam pasar kerja
saat ini terjadi kelebihan penawaran tenaga kerja tanpa disertai penambahan dari
adanya permintaan terhadap tenaga kerja. Masih adanya kecenderungan
masyarakat untuk bersedia menganggur juga mempengaruhi lama menganggur
seseorang.
5.1.7 Aspirasi untuk Memilih Pekerjaan
Setiap responden memiliki aspirasi atau motivasi yang mendasari
seseorang ingin mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Adanya aspirasi kerja
yang berbeda-beda dalam menentukan pekerjaan yang ingin diperolehnya
mengakibatkan lama menganggur setiap responden juga berbeda-beda. Berikut ini
adalah jumlah dan persentase aspirasi kerja responden lulusan perguruan tinggi di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana tahun 2012 - 2013 pada Tabel
5.7.
Berdasarkan Tabel 5.7 dijelaskan bahwa responden akan memilih
pekerjaan saat ini karena gaji pertama yang diinginkan tidak sesuai dengan yaitu
rata-rata sebanyak 10 responden, sedangkan dengan jumlah yang sama pula yaitu
sebanyak 10 orang memilih pekerjaannya saat ini disebabkan karena hal tersebut
merupakan pekerjaan pertamanya dan masih bekerja sampai sekarang. Sedangkan
sisanya menginginkan situasi pekerjaan yang kondusif, karena melanjutkan usaha
keluarga serta sisanya ada yang memilih untuk mengisi waktu luang, kepastian
90
kerja yang lebih baik, memilih kerja sesuai dengan ilmu dan lain-lainnya
sebanyak rata-rata 18 responden. Adanya kondisi kerja yang berbeda-beda seperti
ini, responden yang memiliki alasan asal bekerja atau mengisi waktu luang ini
lebih memilih melalukan pekerjaan yang responden sukai tanpa dituntut target
pasti misalnya bekerja secara freelance ataupun sebagai seorang wirausahawan
baru.
Tabel 5.7
Jumlah dan Rata-rata Responden Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Tahun 2012 - 2013 Menurut Aspirasi
untuk Memilih Pekerjaan
Lulusan FEB Unud
Program
Pendidikan
S1 Reguler
S1 Ekstensi
Total S1
Motivasi Untuk Memilih Pekerjaan Saat ini
Jurusan
Jumlah
Responden
(Orang)
Ekonomi
Pembangunan
Akuntansi
Gaji
Pekerjaan Situasi
PertamaTidak Pertama
Kerja
Sesuai
Usaha
Keluarga
Lainnya
11
1
6
0
1
3
26
9
7
3
3
4
Manajemen
Ekonomi
Pembangunan
Akuntansi
21
6
2
2
6
5
5
1
1
1
1
1
27
6
9
3
3
6
Manajemen
21
6
4
2
0
9
16
2
7
1
2
4
48
15
16
6
6
10
47
12
6
4
6
14
10
10
4
5
9
Ekonomi
Pembangunan
Akuntansi
Manajemen
Rata-Rata Keseluruhan
Sumber: Hasil Penelitian (Lampiran 2)
5.1.8 Hubungan Pendidikan dengan Lama Menganggur Lulusan FEB
Unud
Diasumsikan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka
semakin tinggi pula lama menganggur seorang lulusan. Tingginya tingkat
91
pendidikan yang ditamatkan responden yang berasal dari lulusan terdidik
menyebabkan masih adanya motivasi dalam memilih-memilih pekerjaan yang
diinginkan atau sesuai dengan aspirasi mereka yaitu bekerja di sektor formal yang
modern, lingungan kerja yang baik dan suasana yang kondusif (Ratih Pratiwi,
2012). Selain itu menurut Mauled Moelyono dalam Reza P (2011), proses untuk
mencari kerja yang lebih lama pada kelompok pencari kerja terdidik disebabkan
karena mereka lebih mengetahui perkembangan informasi di pasar kerja dan
mereka lebih berkemampuan untuk memilih pekerjaan yang diminati dan menolak
pekerjaan yang tidak disukai. Hal ini berbeda dengan orang yang pendidikannya
lebih rendah seperti lulusan SMA atau dibawahnya. Tingginya jenjang pendidikan
yang ditamatkan lulusan akan mempengaruhi lama menganggur seorang
responden. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.8
Tabel 5.8
Hubungan Pendidikan dengan Lama Menganggur Lulusan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Tahun 2012 – 2013 Universitas Udayana
Lulusan FEB Unud
Program
Pendidikan
S1 Reguler
S1 Ekstensi
Total S1
Lama Menganggur (Minggu)
Jumlah
Responden
(Orang)
≤5
Ekonomi Pembangunan
11
6
3
Akuntansi
26
19
Manajemen
21
Ekonomi Pembangunan
Jurusan
16-20
≥21
1
0
1
1
1
1
4
16
0
2
0
3
5
5
0
0
0
0
Akuntansi
27
24
0
2
0
1
Manajemen
21
16
1
0
1
3
Ekonomi Pembangunan
16
11
3
1
0
1
Akuntansi
48
43
1
3
1
2
Manajemen
47
32
1
2
1
6
29
2
2
1
3
Rata-Rata Keseluruhan (Orang)
Sumber : Hasil Penelitian (Lampiran 2)
6-10
11-15
92
Berdasarkan Tabel 5.8 dapat dilihat bahwa rata-rata waktu yang
dibutuhkan lulusan dari masing- masing jurusan untuk mendapatkan pekerjaan
adalah kurang dari 5 minggu dengan rata-rata jumlah lulusan adalah 86 orang.
Lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan bisa dikatakan relatif
singkat dari masing-masing jurusan. Hal ini dapat memberikan indikasi bahwa
lulusan yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana
cukup diperhitungkan di dunia kerja, sehingga mayoritas responden dapat dengan
segera diterima pada lapangan pekerjaan yang tersedia. Namun ada pula yang
durasi waktu menganggur dari masing-masing jurusan cukup tinggi yaitu lebih
dari 21 minggu, karena ketika semakin lama seseorang menganggur maka akan
semakin berdampak pada perkembangan karirnya seperti kemampuan yang
semakin berkurang, pendapatan yang cenderung menurun, rendahnya kesempatan
untuk memperoleh pekerjaan yang baru serta semakin tingginya peluang untuk
memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang cenderung kurang stabil (Arif
Rahman, 2008).
5.1.9 Hubungan Pendapatan Rumah Tangga dengan Lama Menganggur
Lulusan FEB Unud
Pendapatan yang tinggi sangat penting peranannya dalam meningkatkan
kualitas sebuah penduduk. Kualitas penduduk yang dimaksud ini salah satunya
adalah kesempatan dalam mengenyam pendidikan. Kemampuan suatu keluarga
dalam membiayai hidup anggota keluarga hingga kejenjang pendidikan yang lebih
tinggi juga berimplikasi pada kemampuan suatu keluarga dalam membiayai
anaknya untuk menganggur sementara waktu hingga mendapatkan pekerjaan yang
93
diinginkannnya. Melihat hubungan tersebut lebih jelasnya dapat dilihat pada
Tabel 5.9
Berdasarkan Tabel 5.9 dapat dijelaskan bahwa pendapatan rumah tangga
yang kurang dari Rp. 5.000.000 per bulan lama menganggur yang terjadi adalah
sebanyak 37 responden, hal ini dikarenakan bahwa responden yang pendapatan
rumah tanggannya pada tingkat tersebut harus segera memperoleh pekerjaan
untuk memenuhi dan membantu kebutuhan dari keluarga responden tersebut.
Responden yang pendapatan rumah tangganya berada diatas atau lebih dari Rp.
20.100.000 cenderung lama menganggurnya lebih lama yaitu lebih dari 21
minggu dengan jumlah responden 5 orang. Berikut ini adalah hubungan
pendapatan rumah tangga responden dengan lama menganggu lulusan perguruan
tinggi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana tahun 2012 - 2013
pada Tabel 5.9
Tabel 5.9
Hubungan Pendapatan Rumah Tangga dengan Lama Menganggur Lulusan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udyana Tahun 2012 – 2013
No
1
2
3
4
5
Pendapatan RT
( Ribu/bulan)
Lama Menganggur Responden (Minggu)
≤5
6 - 10
11 – 15
16 - 20
≥ 21
≤ Rp 5.000
37
0
0
0
0
47
0
1
1
5
0
0
0
3
2
0
1
1
0
0
1
4
5
1
2
86
5
6
2
12
Rp 5.100 - Rp. 10.000
Rp 10.100 - Rp 15.000
Rp 15.100 - Rp 20.000
≥Rp 20.100
Jumlah
Sumber : Hasil Penelitian (Lampiran 2)
Kecenderungan untuk lebih lama menjadi seorang pengangguran
diakibatkan keluarga yang tingkat pendapatannya lebih besar diasumsikan mampu
94
membiayai anaknya untuk sementara waktu untuk menjadi penganggur hingga
mendapatkan pekerjaan yang dianggap sesuai dengan aspirasi responden. Selain
itu, menurut Simanjuntak dalam Azhar Putera (2001), bila satu keluarga memiliki
pendapatan rumah tangga yang lebih baik, biasanya keluarga tersebut mampu
membiayai anaknya menganggur selama satu sampai dua tahun lagi dalam proses
mencari kerja yang lebih baik. Selain itu responden yang mampu lebih lama
menganggur biasanya hanya dapat dilakukan oleh orang yang punya tabungan
atau transfer dari orang lain untuk mempertahankan hidupnya.
5.1.10 Hubungan Keterampilan yang Dimiliki dengan Lama Menganggur
Lulusan FEB Unud
Keterampilan yang dimiliki seringkali menjadi prasyarat utama yang
dicantumkan suatu perusahaan dalam menerima tenaga kerja yang diinginkan.
Adanya prasyarat tersebut akan mempengaruhi masa menganggur seseorang,
diasumsikan bahwa lulusan yang memiliki keterampilan kerja atau pengalaman
kerja sebelumnya akan memiliki peluang lebih banyak diterima dalam pasar kerja
dibandingkan dengan lulusan yang baru memasuki pasar kerja yang tidak
memiliki keterampilan sama sekali. Penjelasan mengenai hubungan keterampilan
yang dimiliki dengan lama menganggur dijelaskan pada Tabel 5.10
95
Tabel 5.10
Hubungan Keterampilan yang Dimiliki dengan Lama Menganggur Lulusan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana Tahun 2012 – 2013
No
1
2
3
4
5
Pelatihan ( Minggu)
≤10
11 - 20
21 - 30
31 – 40
≥41
Jumlah
Sumber : Hasil Penelitian (Lampiran 2)
Lama Menganggur Responden (Minggu)
≤5
6 - 10
11 - 15
16 - 20
≥ 21
35
5
5
2
11
13
0
0
0
1
28
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10
0
1
0
0
86
5
6
2
12
Berdasarkan Tabel 5.10 menjelaskan tentang hubungan keterampilan yang
dimiliki dengan lama menganggur lulusan. Terlihat bahwa lulusan yang memiliki
keterampilan sebelumnya masa menganggurnya lebih cepat yaitu kurang dari 5
minggu bila dibandingkan dengan responden yang tidak memilki keterampilan.
Hal ini diasumsikan bahwa lulusan yang memilki keterampilan lebih cepat
memperoleh pekerjaan dalam pasar kerja dibandingkan yang tidak memiliki
keterampilan yaitu lama menganggurnya lebih dari 21 minggu, sehingga
membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan pekerjaan yang
diinginkan. Menurut Ratih Pratiwi (2012), individu yang memiliki keterampilan
akan lebih cepat mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan dengan orang yang
kurang memiliki keterampilan karena keterampilan juga merupakan indikator
mutu produktivitas tenaga kerja
5.2.11 Hubungan Jumlah Tanggungan dengan Lama Menganggur Lulusan
FEB Unud
Hal lain yang dapat mempengaruhi lama menganggur seseorang pencari
kerja adalah adanya jumlah tanggungan keluarga yang dimiliki, semakin banyak
96
jumlah tanggungan keluarga yang dimiliki, maka akan semakin tinggi tingkat
partisipasi angkatan kerja untuk mencari pekerjaan. Asumsinya, semakin banyak
jumlah tanggungan keluarga maka kebutuhan dalam keluarga tersebut juga akan
semakin banyak. Oleh karena itu, lama menganggurnya atau mencari kerjanya
akan kecil mengingat semakin cepat mendapatkan pendapatan dengan bekerja
maka kebutuhan yang dibutuhkan akan segera terpenuhi. Penjelasan mengenai
hubungan jumlah tanggungan dengan lama menganggur dapat dijelaskan pada
Tabel 5.11
Tabel 5.11
Hubungan Jumlah Tanggungan dengan Lama Menganggur Lulusan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana Tahun 2012 – 2013
No
1
2
3
4
5
Jumlah Tanggungan
(Orang)
≤1
2
3
4
≥5
Jumlah
Sumber : Hasil Penelitian (Lampiran)
Lama Menganggur Responden (Minggu)
≤5
6 - 10
11 - 15
16 - 20
≥ 21
25
3
5
2
11
10
2
0
0
1
2
0
0
0
0
22
0
1
0
0
27
0
0
0
0
86
5
6
2
12
Berdasarkan Tabel 5.11 dapat dijelaskan bahwa jumlah tanggungan yang
ditanggung dalam satu keluarga akan mempengaruhi berapa lama waktu yang
dibutuhkan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan. Jumlah tanggungan yang
lebih dari 5 orang waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan adalah
kurang dari 5 minggu, dengan jumlah responden adalah 27 orang. Hal ini
dikarenakan banyaknya kebutuhan keluarga yang harus dikeluarkan karena
banyaknya jumlah tanggungan yang dimiliki. Namun hal yang menarik untuk
97
dicermati yaitu jumlah tanggungan kurang dari 1 orang dengan lama
menganggurnya adalah kurang dari 5 minggu dengan jumlah responden 25 orang.
Hal ini memberikan indikasi akan kesadaran status sosial sesorang dimasyarakat,
sesuai dengan pendapat Kembar Sri Budhi (2008) karena menganggur, manusia
kehilangan
kesempatan
mengaktualiasasikan
hidupnya.
Penyebabnya,
berkembang paradigma, manusia akan dihargai oleh orang lain kalau ia bekerja
dan tidak bergantung pada orang lain untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
5.2.12 Hubungan Jarak dengan Lama Menganggur Lulusan FEB Unud
Jarak juga memiliki peranan dalam menentukan keputusan sesorang untuk
segera bekerja pada lapangan pekerjaan yang tersedia atau tidak. Biasanya para
pencari kerja akan mendatangi tempat yang memberikan peluang ekonomi yang
lebih tinggi, mengingat kebutuhan hidup yang harus mereka penuhi. Biasanya
daerah yang memberikan peluang ekonomi yang tinggi untuk mendapatkan
pekerjaan yang dipilih oleh para pencari kerja adalah daerah perkotaan. Berikut
ini adalah hubungan jarak responden dengan lama menganggu lulusan perguruan
tinggi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana tahun 2012 - 2013
pada Tabel 5.12
Berdasarkan Tabel 5.12 dapat dijelaskan bahwa adanya hubungan antara
variabel jarak terhadap lama menganggur. Jumlah responden yang membutuhkan
waktu untuk menuju tempat mereka bekerja pertama yang kurang dari 5 km
adalah 76 orang. Dekatnya jarak yang dibutuhkan pekerja dengan daerah kerja
mengindikasikan bahwa mudahnya informasi dan fasilitas yang mereka dapatkan
98
untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Askses serta fasilitas yang mudah serta
peluang ekonomi yang tinggi membuat banyak orang untuk memilih tinggal
secara menetap dan mencari kerja di daerah yang jaraknya mudah diakses.
Tabel 5.12
Hubungan Jarak dengan Lama Menganggur Lulusan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Udayana Tahun 2012 – 2013
Lama Menganggur Responden (Minggu)
No
1
2
3
4
5
Jarak (Km)
≤5
06 - 10
11 - 15
16 - 20
≥21
Jumlah
Sumber : Hasil Penelitian (Lampiran)
≤5
6 - 10
11 - 15
16 - 20
≥ 21
76
9
0
1
0
86
4
1
0
0
0
5
2
1
2
0
1
6
0
0
1
1
0
2
1
4
5
0
2
12
Hal ini sesuai menurut Spies (2006), salah satu asumsi yang seringkali
digunakan untuk mengukur kepuasan yang tinggi akan jarak yang ditempuh ke
tempat kerja, biasanya dijelaskan dengan insentif yang tinggi serta waktu luang
yang tinggi pula. Seseorang yang bertempat tinggal di wilayah yang jaraknya
dekat dengan fasilitas memiliki lebih banyak akses yang dapat mempersingkat
waktu tunggu kerja responden. Pernyataan ini sesuai dengan temuan yang ada
dilapangan yaitu umumnya pekerja yang mencari kerja hingga menempuh jarak
lebih dari 21 kilometer, selain itu faktor potensial yang mempengaruhi adanya
jarak yang bersedia ditempuh yaitu, ketimpangan pembangunan didalam
lingkungan keluarga, selain itu kondisi hidup yang berbeda (Spies, 2006).
Menurut responden yaitu Adhi Widiana dalam wawancara 10 Mei 2015 di
Denpasar menyatakan bahwa :
99
“saya tinggal di Tabanan dan memilih nyari kerja di Denpasar karna saya
tahu peluang kerja di Denpasar lebih bagus,walaupun jaraknya jauh. Saya
males nyari kerja di Tabanan soalnya peluang kerjanya tidak menantang
dan saya malu kalo kerja masih di satu wilayah dengan tempat tinggal”.
Pendapat responden diatas menunjukkan bahwa seberapapun jauh jarak
yang harus responden korbankan untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan
tidak mengurangi minat responden untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan
keinginan dan aspirasi kerjanya. Responden sengaja mencari kerja meskipun
jaraknya jauh dari tempat tinggalnya untuk menutupi kebutuhan hidup anggota
keluarga. Rata-rata lamanya waktu tunggu atau menganggur sampai mendapatkan
pekerjaan dari jarak ke lokasi mencari kerja yaitu kurang dari 5 minggu dengan
jarak yang bervariasi.
5.2
Analisis Data
5.2.1 Analisis Validitas Model
Perhitungan Koefisien jalur dalam penelitian ini menggunakan metode regresi
sederhana, yaitu Ordinary Least Square (OLS). Pertimbangan menggunakan
metode ini dikarena model hubungan antar variable satu dengan variabel lainnya
dalam penelitian ini bersifat rekursif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
dan menganalisis pengaruh pendapatan rumah tangga, keterampilan, jumlah
tanggungan, jarak dan aspirasi kerja terhadap lama menganggur lulusan FEB
Unud. Koefisien jalur serta data dianalisis dari hasil analisis perhitungan regresi
sederhana dengan menggunakan program SPSS versi 17. Model persamaan
struktural mengenai pendapat rumah tangga, keterampilan, jumlah tanggungan,
100
jarak dan aspirasi kerja terhadap lama menganggur lulusan FEB Unud. Klasifikasi
variabel dari model regresi yang disusun adalah sebagai berikut.
1) Model Pertama : Pengaruh pendapatan rumah tangga (X1),
keterampilan (X2), jumlah tanggungan (X3), jarak (X4) terhadap
aspirasi kerja (Y1).
2) Model Kedua : Pengaruh pendapatan rumah tangga (X1), keterampilan
(X2), jumlah tanggungan (X3), jarak (X4) terhadap lama menganggur
(Y2) melalui aspirasi kerja (Y1).
Kedua model yang telah diklasifikasikan berdasarkan variabel eksogen dan
endogen, kemudian dibuat persamaan model jalur seperti yang disajikan pada
Tabel 5.13 sebagai berikut.
Kedua model tersebut dapat dijelaskan secara klasifikasi dan persamaan
menurut Tabel 5.13 dimana merupakan persamaan struktural yang sudah
dibakukan. Berdasarkan persamaan-persamaan pada model yang sudah disebutkan
maka disusun penaksiran parameter regresi, dimana koefisien jalur diambil dari
koefisien standar (beta) dengan memperhatikan analisis varians atau uji F serta
nilai signifikan masing-masing variabel yang dihitung dengan nilai p-value.
101
Tabel 5.13
Klasifikasi Variabel dan Persamaan Model Jalur Analisis Faktor Sosial,
Ekonomi dan Demografi yang Berpengaruh terhadap Lama Menganggur
Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana
Model
1
Variabel
Variabel
Eksogen
Endogen
Pendapatan RT
Aspirasi Kerja
Keterampilan
Jumlah Tanggungan
Jarak
2
Pendapatan RT
Lama
Keterampilan
Menganggur
Jumlah Tanggungan
Jarak
Aspirasi Kerja
Sumber : Gambar 2
Persamaan
=
=
+
+
+
+
+
+
+
+
+
1) Pengaruh Pendapatan Rumah Tangga, Keterampilan, Jumlah Tanggungan
dan Jarak terhadap Aspirasi Kerja Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana.
Berdasarkan hasil data yang telah diolah pada lampiran 3, model pertama
mengenai pengaruh pendapatan rumah tangga ( ), keterampilan (
), jumlah
tanggungan ( ), dan jarak ( ) terhadap aspirasi kerja ( ) dapat diringkas pada
tabel 5.14
102
Tabel 5.14
Ringkasan Analisis Regresi Model Pertama Analisis Faktor Sosial,
Ekonomi dan Demografi yang Berpengaruh terhadap Lama
Menganggur Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana
Coefficients
Model
1
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
B
(Constant)
a
Std. Error
.127
.195
3.250E-5
.000
Keterampilan
-.014
Tanggungan
Beta
t
Sig.
.652
.516
.160
2.155
.033
.004
-.199
-3.294
.001
-.179
.035
-.343
-5.104
.000
Jarak
.067
.014
.396
4.966
.000
R Square
.660
PendapatanRT
Prob F (Statistik)
51.355
a. Dependent Variable: AspirasiKerja
Sumber : Lampiran 3
Tabel 5.14 dapat dijelaskan bahwa pendapatan rumah tangga berpengaruh
positif dan signifikan terhadap aspirasi kerja 0,160 dengan p value 0,033 < 0.05
persen, hasil tersebut memberikan arti bahwa pendapatan rumah tangga
berpengaruh secara langsung dan signifikan terhadap aspirasi kerja. Dilanjutkan
dengan keterampilan berpengaruh negatif terhadap aspirasi kerja dengan koefisien
-0,199 dengan p value sebesar 0,001 < 0,05 persen. Selain itu jumlah tanggungan
juga berpengaruh negatif terhadap aspirasi sebesar -0,343 dan p value 0,000 <
0,05. Variabel jarak berpengaruh positif dan signifikan terhadap aspirasi kerja
dengan nilai koefisiennya sebesar 0,396 dengan nilai p value 0,000 < 0,05.
Berdasarkan urairan tersebut maka hal ini sesuai dengan pengujian hipotesis satu
yaitu pendapatan rumah tangga dan jarak berpengaruh positif dan signifikan
103
sedangkan keterampilan dan jumlah tanggungan berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap aspirasi kerja lulusan perguruan tinggi Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Udayana. Setelah dijelaskan nilai koefisien dan pengaruhnya
dari masing-masing variabel dan nilai p valuenya maka dapat diambil persamaan
regresi sebagai berikut :
Y1 = 0,160 X1 - 0,199 X2 - 0,343 X3 + 0,396 X4 ..............................................(5.1)
Keterangan :
X1
X2
X3
X4
Y1
= Pendapatan Rumah Tangga
= Keterampilan
= Jumlah Tanggungan
= Jarak
= Aspirasi Kerja
2) Pengaruh Pendapatan Rumah Tangga, Keterampilan, Jumlah Tanggungan,
Jarak dan Aspirasi Kerja terhadap Lama Menganggur Lulusan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
Berdasarkan hasil data yang telah diolah pada lampiran 3, model kedua
mengenai pengaruh pendapatan rumah tangga ( ), keterampilan (
tanggungan ( ), dan jarak ( ) terhadap lama menganggur (
2)
), jumlah
melalui aspirasi
kerja ( ) dapat diringkas pada Tabel 5.15. Tabel 5.15 dapat dijelaskan bahwa
pendapatan rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan terhadap lama
menganggur dengan koefisien 0,230 dengan nilai p value 0,002 < 0,05 persen
yang berarti jumlah penduduk berpengaruh secara langsung terhadap lama
menganggur lulusan FEB UNUD. Variabel selanjutnya adalah keterampilan
memiliki pengaruh yang negatif terhadap lama menganggur dengan nilai
koefisiennya adalah -0,127 dan nilai p value 0,044 < 0,05 persen. Variabel jumlah
tanggungan juga memiliki pengaruh negatif terhadap lama menganggur dengan
104
nilai koefisiennya adalah sebesar -0,201 dengan nilai p value yaitu 0,007 < 0,05
persen. Sedangkan varibel jarak dan aspirasi kerja sama-sama berpengaruh positif
dan signifikan terhadap lama menganggur dengan nilai masing-masing koefisien
yaitu 0,310 dan 0,195 dengan nilai p value sebesar 0,001 < 0,05 dan 0,043 < 0,05.
Berdasarkan urairan tersebut maka hal ini sesuai dengan pengujian hipotesis dua
yaitu pendapatan rumah tangga, jarak dan aspirasi kerja berpengaruh positif dan
signifikan sedangkan keterampilan dan jumlah tanggungan berpengaruh negatif
dan signifikan terhadap
lama menganggur lulusan perguruan tinggi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
Tabel 5.15
Ringkasan Analisis Regresi Model Kedua Analisis Faktor Sosial,
Ekonomi dan Demografi yang Berpengaruh terhadap Lama
Menganggur Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana
Coefficients
a
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1
B
(Constant)
Std. Error
3.372
1.476
.000
.000
Keterampilan
-.067
Tanggungan
PendapatanRT
Jarak
AspirasiKerja
R Square
Prob F (Statistik)
Sumber : Lampiran 3
Coefficients
Beta
t
Sig.
2.284
.024
.230
3.106
.002
.033
-.127
-2.039
.044
-.812
.296
-.201
-2.740
.007
.407
.114
.310
3.577
.001
1.504
.735
.195
2.045
.043
.66 .676
43.839
105
Setelah dijelaskan nilai koefisien dari masing-masing variabel dan nilai p
valuenya maka dapat diambil persamaan regresi sebagai berikut :
Y2 = 0,230 X1 - 0,127 X2 - 0,201 X3 + 0,310 X4 + 0,195 Y1.............................(5.2)
Keterangan :
X1
X2
X3
X4
Y1
Y2
= Pendapatan Rumah Tangga
= Keterampilan
= Jumlah Tanggungan
= Jarak
= Aspirasi Kerja
= Lama Menganggur
5.3.2 Pendugaan Parameter (Perhitungan Koefisien Jalur)
Berdasarkan hasil perhitungan koefisien regresi yang disajikan pada Tabel
5.14 dan 5.15 maka dapat dibuat ringkasan koefisien jalur seperti yang disajikan
pada Tabel 5.16 berikut.
Tabel 5.16
Ringkasan Koefisien Jalur Analisis Faktor Sosial, Ekonomi dan Demografi
yang Berpengaruh terhadap Lama Menganggur Lulusan Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Udayana
Regresi
Koef Reg.
Standar
X1
Y1
0,160
X2
Y1
-0,199
X3
Y1
-0,343
X4
Y1
0,396
X1
Y2
0,230
X2
Y2
-0,127
X3
Y2
-0,201
X4
Y2
0,310
Y1
Y2
0,195
Sumber : Lampiran 3
Standar
Error
0,000
0,004
0,035
0,014
0,000
0,033
0,296
0,114
0,735
t hitung
2,155
-3,294
-5,104
4,966
3,106
-2,039
-2,740
3,577
2,045
P-value
0,033
0,001
0,000
0,000
0,002
0,044
0,007
0,001
0,043
Keterangan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Berdasarkan Tabel 5.16 dengan menggunakan koefisien regresi terstandar
dapat dibuat ringkasan koefisien jalur seperti disajikan pada Gambar 5.2 berikut.
106
Gambar 5.2
Pengaruh Pendapatan RT ( ), Keterampilan ( ),
Jumlah Tanggungan ( ), Jarak ( ) dan Aspirasi Kerja (
Terhadap Lama Menganggur ( )
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana
)
Berdasarkan Tabel 5.16 dan Gambar 5.2 dapat dijelaskan bahwa
pendapatan rumah tangga ( ), keterampilan ( ), jumlah tanggungan ( ), dan
jarak ( ) secara langsung berpengaruh positif dan signifikan terhadap aspirasi
kerja ( ). Selanjutnya pendapatan rumah tangga ( ), jarak ( ) dan aspirasi kerja
( ) secara langsung berpengaruh positif dan signifikan sedangkan keterampilan
( ), jumlah tangga ( ), berpengaruh negatif dan signifikan terhadap lama
menganggur ( ) lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
Selain pengaruh langsung terdapat juga pengaruh tidak langsung antara variabel
pendapatan rumah tangga ( ), keterampilan ( ), jumlah tanggungan ( ), dan
107
jarak ( ) terhadap lama menganggur ( ) melalui aspirasi kerja ( ) lulusan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
5.2.2 Evaluasi Terhadap Model
1) Koefisien determinasi total
Berpedoman pada rumus 4.1 dan rumus 4.2 koefisien total dari
persamaan struktural pada model penelitian sesuai dengan perhitungan SPSS
maka diperoleh nilai
= 0,891. Koefisien determinasi total sebesar 0,891
memiliki arti bahwa sebesar 89,1 persen informasi yang terkandung dapat
dijelaskan oleh model yang terbentuk, sedangkan sisanya sebesar 10,9 persen
dijelaskan oleh variabel lain diluar model.
2) Pengujian pengaruh tidak langsung variabel pendapatan rumah tangga,
keterampilan, jumlah tanggungan, jarak dan aspirasi kerja terhadap lama
menganggur lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
Pengujian hipotesis ketiga untuk pengaruh tidak langsung variabel
pendapatan rumah tangga, keterampilan, jumlah tanggungan dan jarak melalui
aspirasi kerja dilakukan dengan mengetahui hasil pengujian terhadap pengaruh
lama menganggur. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh
tidak langsung dari masing-masing variabel terhadap variabel endogen melalui
variabel intervening. Pengujian pengaruh mediasi ini dilakukan dengan
menggunakan rumus Sobel.
108
(1)
Pengaruh Tidak Langsung Pendapatan Rumah Tangga terhadap Lama
Menganggur Melalui Aspirasi Kerja
Besarnya koefisien tidak langsung variabel pendapatan rumah tangga
terhadap lama menganggur melalui aspirasi kerja merupakan perkalian dari
pengaruh variabel pendapatan rumah tangga terhadap aspirasi kerja dengan
variabel aspirasi kerja terhadap lama menganggur sebesar 0.160
0.195 =
0.0312. Besarnya standard error tidak langsung variabel pendapatan rumah
tangga terhadap lama menganggur dapat diperoleh sebagai berikut.
Sab1
Sab1
+
√
=
+
= √1.504 0.0001 + 0.0000325 0.735 +0.0001 0.735
= 0.0000238
Dengan demikian nilai uji t diperoleh sebagai berikut :
=
=
.
.
.
= 2.046
Nilai
hitung sebesar 2.046 tersebut lebih besar dari 1.65 yang berarti
bahwa parameter mediasi tersebut signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa
koefisien pengaruh tidak langsung sebesar 0.0312 memiliki pengaruh mediasi
positif dan signifikan. Dengan demikian hipotesis model pengaruh tidak langsung
dari variabel pendapatan rumah tangga terhadap lama menganggur melalui
aspirasi kerja dapat diterima.
109
Selanjutnya hasil olahan data yang disajikan pada lampiran 3 dapat
diketahui bahwa pendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap lama
menganggur dengan koefisien sebesar 0.261 dengan p valuae 0,001 dan setelah
memasukkan variabel mediasi yaitu aspirasi kerja, maka pengaruh pendapatan
rumah tangga terhadap lama menganggur menurun menjadi 0.230 dengan p value
0,002 tetapi tetap signifikan sehingga variabel pendapatan rumah tangga
dikatakan sebagai variabel mediasi parsial atau partial mediator.
(2)
Pengaruh Tidak Langsung Keterampilan terhadap Lama Menganggur
Melalui Aspirasi Kerja
Besarnya koefisien tidak langsung variabel keterampilan terhadap lama
menganggur melalui aspirasi kerja merupakan perkalian dari pengaruh variabel
keterampilan terhadap aspirasi kerja dengan variabel aspirasi kerja terhadap lama
menganggur sebesar −0.199
0.195 = −0.038. Besarnya standard error tidak
langsung variabel keterampilan terhadap lama menganggur dapat diperoleh
sebagai berikut.
Sab1
Sab1
=
√
+
+
= √1.504 0.004 +0.014 0.735 +0.004 0.735
= 0.0122
110
Dengan demikian nilai uji t diperoleh sebagai berikut :
=
=
.
.
.
= 1.715
Nilai
hitung sebesar 1.715 tersebut lebih besar dari 1.65 yang berarti
bahwa parameter mediasi tersebut signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa
koefisien pengaruh tidak langsung sebesar -0.038 memiliki pengaruh mediasi
negatif. Dengan demikian hipotesis model pengaruh tidak langsung dari variabel
keterampilan terhadap lama menganggur melalui aspirasi kerja dapat diterima.
Selanjutnya hasil olahan data yang disajikan pada lampiran 3 dapat
diketahui bahwa keterampilan berpengaruh negatif terhadap lama menganggur
dengan koefisien sebesar -0.166 dengan p valuae 0,007 dan setelah memasukkan
variabel mediasi yaitu aspirasi kerja, maka pengaruh keterampilan terhadap lama
menganggur menurun menjadi -0.127 dengan p value 0,044 tetapi tetap signifikan
sehingga variabel keterampilan dikatakan sebagai variabel mediasi parsial atau
partial mediator.
(3)
Pengaruh Tidak Langsung Jumlah
Menganggur Melalui Aspirasi Kerja
Tanggungan
terhadap
Lama
Besarnya koefisien tidak langsung variabel jumlah tanggungan terhadap
lama menganggur melalui aspirasi kerja merupakan perkalian dari pengaruh
variabel jumlah tanggungan terhadap aspirasi kerja dengan variabel aspirasi kerja
111
terhadap lama menganggur sebesar −0.343
0.195 = −0.066. Besarnya
standard error tidak langsung variabel jumlah tanggungan terhadap lama
menganggur dapat diperoleh sebagai berikut.
Sab1
Sab1
+
√
=
+
= √1.504 0.035 +0.179 0.735 +0.035 0.735
= 0.144
Dengan demikian nilai uji t diperoleh sebagai berikut :
=
=
.
.
.
= 1.869
Nilai
hitung sebesar 1.869 tersebut lebih besar dari 1.65 yang berarti
bahwa parameter mediasi tersebut signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa
koefisien pengaruh tidak langsung sebesar -0.066 memiliki pengaruh mediasi
negatif. Dengan demikian hipotesis model pengaruh tidak langsung dari variabel
jumlah tanggungan terhadap lama menganggur melalui aspirasi kerja dapat
diterima.
Selanjutnya hasil olahan data yang disajikan pada lampiran 3 dapat
diketahui bahwa jumlah tanggungan berpengaruh positif dan signifikan terhadap
lama menganggur dengan koefisien sebesar -0.268 dengan p valuae 0,000 dan
setelah memasukkan variabel mediasi yaitu aspirasi kerja, maka pengaruh jumlah
tanggungan terhadap lama menganggur menurun menjadi -0.201 dengan p value
112
0,007 tetapi tetap signifikan sehingga variabel jumlah tanggungan dikatakan
sebagai variabel mediasi parsial atau partial mediator.
(4)
Pengaruh Tidak Langsung Jarak terhadap Lama Menganggur Melalui
Aspirasi Kerja
Besarnya koefisien tidak langsung variabel jarak terhadap lama
menganggur melalui aspirasi kerja merupakan perkalian dari pengaruh variabel
jarak terhadap aspirasi kerja dengan variabel aspirasi kerja terhadap lama
menganggur sebesar 0.396 0.195 = 0.077. Besarnya standard error tidak
langsung variabel jarak terhadap lama menganggur dapat diperoleh sebagai
berikut.
Sab1
Sab1
+
√
=
+
= √1.504 0.014 + 0.067 0.735 +0.014 0.735
= 0.054
Dengan demikian nilai uji t diperoleh sebagai berikut :
=
=
.
.
.
= 1.847
Nilai
sebesar 1.847 tersebut lebih besar dari 1.65 yang berarti bahwa
parameter mediasi tersebut signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa koefisien
pengaruh tidak langsung sebesar 0.077 memiliki pengaruh mediasi positif dan
113
signifikan. Dengan demikian hipotesis model pengaruh tidak langsung dari
variabel jarak terhadap lama menganggur melalui aspirasi kerja dapat diterima.
Selanjutnya hasil olahan data yang disajikan pada lampiran 3 dapat
diketahui bahwa jarak berpengaruh positif dan signifikan terhadap lama
menganggur dengan koefisien sebesar 0.387 dengan p valuae 0,000 dan setelah
memasukkan variabel mediasi yaitu aspirasi kerja, maka pengaruh jarak terhadap
lama menganggur menurun menjadi 0.195 dengan p value 0,043 tetapi tetap
signifikan sehingga variable jarak dikatakan sebagai variabel mediasi parsial atau
partial mediator.
3) Pengaruh langsung, tidak langsung dan pengaruh total pendapatan rumah
tangga, keterampilan, jumlah tanggungan, jarak dan aspirasi kerja terhadap
lama menganggur lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
Analisis pengaruh langsung, tidak langsung maupun pengaruh total dapat
menjelaskan hubungan antar variabel penelitian yaitu pengaruh pendapatan rumah
tangga, keterampilan, jarak dan aspirasi kerja terhadap lama menganggur lulusan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Pengaruh langsung ditunjukan
oleh koefisien semua anak panah dengan satu ujung, pengaruh tidak langsung
terjadi melalui peran variabel antara yaitu aspirasi kerja, serta pengaruh total
merupakan penjumlahan pengaruh langsung dengan pengaruh tidak langsung.
Berdasarkan Tabel 5.17 dan Gambar 5.2 dapat diketahui pengaruh langsung dan
pengaruh tidak langsung serta pengaruh total antar variabel pendapatan rumah
tangga, keterampilan, jumlah tanggungan, jarak dan aspirasi kerja terhadap lama
menganggur seperti pada tabel 5.17 berikut.
114
Berdasarkan Tabel 5.17 dan Gambar 5.2 dapat dijelaskan bahwa
pendapatan rumah tangga (
) berpengaruh langsung terhadap lama menganggur
( ) dengan koefisien jalur sebesar 0,230. Pengaruh tidak langsung pendapatan
rumah tangga (
) terhadap lama menganggur ( ) melalui aspirasi kerja ( )
sebesar 0,261. Pengaruh total variabel pendapatan rumah tangga (
lama menganggur ( ) sebesar 0,491. Variabel keterampilan (
) terhadap
) berpengaruh
secara langsung terhadap lama menganggur ( ) dengan koefisien jalur sebesar 0,127. Pengaruh tidak langsung keterampilan (
) terhadap lama menganggur ( )
melalui aspirasi kerja ( ) sebesar -0,166. Pengaruh total variabel keterampilan
(
) terhadap lama menganggur ( ) sebesar -0,293. Variabel jumlah tanggungan
(
) berpengaruh langsung terhadap lama menganggur ( ) dengan koefisien jalur
sebesar -0,201. Pengaruh tidak langsung jumlah tanggungan (
) terhadap lama
menganggur ( ) melalui aspirasi kerja ( ) sebesar -0,286. Pengaruh total
variabel jumlah tanggungan (
Variabel jarak (
) terhadap lama menganggur ( ) sebesar -0,487.
) berpengaruh langsung terhadap lama menganggur ( ) dengan
koefisien jalur sebesar 0,310. Pengaruh tidak langsung jarak (
) terhadap lama
menganggur ( ) melalui aspirasi kerja ( ) sebesar 0,387. Pengaruh total variabel
jarak (
) terhadap lama menganggur ( ) sebesar 0,697.
115
Tabel 5.17
Perhitungan Pengaruh Langsung,
Pengaruh Tidak Langsung dan Pengaruh Total
Y1
PL
PTL
X1
PT
PL
PTL
X2
PT
PL
PTL
X3
PT
PL
PTL
X4
PT
PL
PTL
Y1
PT
Sumber : Lampiran 3
Y2
0,160
0,160
-0,199
-0,199
-0,343
-0,343
-0,396
-0,396
-
0,230
0,031
0,261
-0,127
-0,038
-0,165
-0,201
-0,066
-0,267
0,310
0,077
0,387
0,195
0,195
Keterangan :
: Pendapatan Rumah Tangga
: Keterampilan
: Jumlah Tanggungan
: Jarak
: Aspirasi Kerja
: Lama Menganggur
PL
: Pengaruh Langsung
PLT : Pengaruh Tidak Langsung
PT
: Pengaruh Total
5.3
Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendapatan rumah
tangga, keterampilan, jumlah tanggungan, jarak dan aspirasi kerja terhadap lama
menganggur lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Model
teoritis ini dibangun melalui beberapa tinjauan pustaka dan pengembangan model
116
yang didapat adalah lama menganggur dipengaruhi oleh pendapatan rumah
tangga, keterampilan, jumlah tanggungan, jarak melalui aspirasi kerja akan
berpengaruh langsung terhadap lama menganggur lulusan perguruan tinggi, maka
diperoleh hasil sebagai berikut.
5.3.1 Pengaruh Langsung Pendapatan Rumah Tangga, Keterampilan,
Jumlah Tanggungan, dan Jarak terhadap Aspirasi Kerja.
Faktor pendapatan rumah tangga yang dimiliki dalam satu keluarga sangat
berpengaruh dan menentukan keinginan seseorang untuk bersedia bekerja dalam
pasar kerja atau tidak. Menurut Nanda Ayu (2012) perolehan penghasilan
merupakan alasan utama seseorang untuk bekerja. Tenaga kerja terdidik pada
umumnya berasal dari keluarga yang memiliki tingkat pendapatan yang memadai
yang bagi masyarakat ekonomi lemah pendidikan dirasa masih belum sepenuhnya
mampu dijangkau dan mahal. Dimana penduduk yang ekonominya masih
tergolong rendah umumnya tidak mampu meneruskan pendidikannya dan terpaksa
mencari kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga lamanya mencari
kerja atau menganggur seseorang yang berasal dari tenaga kerja terdidik lebih
panjang apabila dibandingkan dengan tenaga kerja yang tidak terdidik. Hal ini
dikarenakan pencari kerja tenaga terdidik bersedia menunggu lebih lama dengan
harapan akan mendapatkan upah, jaminan sosial dan lingkungan kerja yang lebih
baik. Menurut Simanjuntak (2001), bila satu keluarga mempunyai pendapatan
rumah tangga yang baik, biasanya keluarga tersebut juga mampu membiayai
anaknya menganggur selama satu sampai dua tahun lagi dalam proses mencari
117
pekerjaan yang lebih baik. Namun, sebaliknya pencari kerja tenaga tidak terdidik
yang biasanya datang dari keluarga miskin, tidak mampu menganggur lebih lama
dan terpaksa menerima pekerjaan apa saja yang tersedia. Penelitian ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Setiawan (2010) bahwa pendapatan rumah
tangga memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap lama menganggur
lulusan.
Diperkirakan bahwa dengan keterampilan yang dimiliki sesorang pencari
kerja akan lebih sanggup untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai, selain itu
keterampilan yang dimiliki sesorang dapat menggambarkan pengetahuan akan
pasar kerja yang akan dicari. Menurut Sutomo dalam Setiawan (2010), dengan
memiliki keterampilan didukung dengan pendidikan yang tinggi, maka tenaga
kerja akan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mendapatkan pekerjaan.
Namun, dengan semakin tingginya keterampilan yang dimiliki oleh seseorang
lulusan menyebabkan semakin tinggi pula aspirasi seorang lulusan untuk mencari
kerja. Menurut Primanda (2011), proses untuk mencari kerja yang lebih lama pada
kelompok pencari kerja dengan tingkat keterampilan yang lebih tinggi disebabkan
mereka lebih mengetahui perkembangan informasi di pasar kerja dan mereka
lebih berkemampuan untuk memilih pekerjaan yang diminati dan menolak
pekerjaan yang tidak disukai. Sehingga keterampilan yang dimiliki seseorang
dapat mencerminkan kemampuan dan kesiapan seseorang dalam suatu bidang
pekerjaan yang dapat menjadi pertimbangan dalam pasar tenaga kerja. Penelitian
ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Reza Adi Primanda (2011) yang
118
menyimpulkan bahwa keterampilan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
aspirasi kerjda dan lama menganggur lulusan.
Jumlah tanggungan keluarga dapat menjadi alasan seseorang pencari kerja
untuk segera mencari pekerjaan dan bekerja. Keputusan tersebut merupakan
langkah untuk menanggulangi ketidakberdayaan dalam pemenuhan kebutuhan
hidup. Selain itu menurut Kaisar Hasudangan P (2013), jumlah tanggungan
keluarga menjadi motivasi seseorang untuk mencari pekerjaan didaerah perkotaan
dan memperoleh pendapatan yang diharapkan besar sehingga menopang
kebutuhan hidup keluarga. Jumlah tanggungan suatu keluarga juga berpengaruh
langsung terhadap lama menganggur seseorang, selain itu jumlah tanggungan
keluarga juga berpengaruh terhadap pencurahan tenaga kerja. Hal ini dikarenakan
pada dasarnya sumber daya manusia itu dimulai dari lingkungan keluarga.
Apabila tidak ada pengembangan dari sumber daya manusia, berarti tidak ada
usaha untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan bekerja (Nining
Purnamaningsih, 2011). Menurut Nining Purnamaningsih (2011), besarnya jumlah
tanggungan keluarga dapat mempengaruhi
keputusan seseorang untuk
menentukan berapa lama dia akan bekerja karena semakin banyak anggota
keluarga yang menjadi tanggungannya maka akan semakin banyak pula
kebutuhan hidup yang harus dipenuhinya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Nanda Ayu Kusumastuti (2012).
Selalu terdapat sejumlah rintangan yang dihadapi pencari kerja dalam
mendapatkan pekerjaannya. Salah satu rintangan yang dihadapi yaitu jarak antara
sumber informasi pekerjaan dengan jarak tempat tinggal pencari kerja. Semakin
119
jauh jarak yang ditempuh untuk mendapatkan informasi terkait dengan pekerjaan
yang akan dicari maka semakin lama pula keinginan sesorang untuk mendapatkan
pekerjaan. Mengingat terbatasnya ruang lingkup informasi serta akses baik dari
segi sosial maupun ekonomi untuk mendapatkan kemudahan dalam memperoleh
pekerjaan. Hal inilah yang juga mempengaruhi keinginan seseorang untuk segera
bekerja atau tidak. Selain jarak mempengaruhi lama menganggur seorang pencari
kerja, variabel jarak juga berpengaruh terhadap aspirasi kerja seseorang . Hal ini
tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ratih Pratiwi (2012), bahwa
variabel jarak berpengaruh negatif terhadap lama menganggur responden.
Menurut Kuncoro (2003), pengangguran terbuka yang biasanya terjadi
pada generasai muda yang baru menyelesaikan pendidikan menengah dan tinggi.
Adanya kecenderungan mereka yang baru menyelesaikan pendidikan berusaha
mencari pekerjaan sesuai dengan aspirasi kerja mereka. Menurut Kuncoro (2003),
aspirasi mereka biasanya adalah bekerja di sektor modern atau di kantor. Demi
mendapatkan pekerjaan tersebut, mereka bersedia menunggu untuk beberapa
waktu yang lama. Selain itu adanya ketidaksesuaian atau missmatch antara
ketersediaan kompetensi pencari kerja dengan kualifikasi yang diinginkan
perusahaan menimbulkan keinginan sesorang untuk menganggur lebih lama
hingga mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan aspirasi kerjanya. Hal ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ihsan Triputrajaya (2011), bahwa
aspirasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap lama menganggur
lulusan.
120
5.3.2 Pengaruh Tidak Langsung Pendapatan Rumah Tangga,
Keterampilan, Jumlah Tanggungan, dan Jarak terhadap Lama
Menganggur
Suatu keluarga dapat mengatur siapa saja yang bekerja, bersekolah dan
mengurus rumah tangga dan hal ini tentu saja tergantung dari pendapatan rumah
tangga dan jumlah tanggungannya. Tenaga kerja terdidik umumnya datang dari
keluarga yang lebih berada terutama bagi suatu masyarakat yang merasa
pendidikan masih dirasa mahal. Oleh karena itu tenaga kerja yang berasal dari
keluarga miskin biasanya tidak mampu meneruskan pendidikannya dan terpaksa
mencari pekerjaan dengan segera. Sedangkan pencari kerja yang berasal dari
tenaga kerja terdidik selalu berusaha mencari pekerjaan dengan upah, jaminan
sosial, dan lingkungan kerja yang lebih baik. Oleh karena itu, para pencari kerja
yang berasal dari tenaga kerja tidak terdidik yang biasanya berasal dari keluarga
miskin, tidak mampu menganggur lebih lama dan terpaksa menerima pekerjaan
apa saja yang tersedia (Simanjuntak, 2001). Pada penelitian ini variabel
pendapatan rumah tangga selain berpengaruh langsung, tapi juga variabel
pendapatan rumah tangga berpengaruh secara tidak langsung melalui aspirasi
kerja. Hal ini disebabkan karena tingginya pendapatan suatu keluarga akan
mempengaruhi keputusannya dalam memilih pekerjaan yang diinginkan dan
dicari atau mencari pekerjaan atas aspirasi kerja yang diinginkan yang pastinya
mempengaruhi lama menganggur dari seorang pencari kerja. Oleh karena itu
pengaruh tidak langsung pendapatan rumah tangga terhadap lama menganggur
lulusan melalui aspirasi kerja adalah signifikan, maka dapat dikatakan bahwa
121
aspirasi kerja memediasi secara parsial pengaruh pendapatan rumah tangga
terhadap lama menganggur.
Diperkirakan dengan keterampilan yang dimiliki seorang responden
pencari kerja lebih sanggup untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan
keinginannya atau aspirasi kerjanya, selain itu keterampilan yang dimiliki seorang
pencari kerja dapat menggambarkan pengetahuan responden akan pasar kerja
yang diinginkannya nanti. Dengan memiliki keterampilan kerja didukung pula
dengan tingkat pendidikan yang tinggi, maka tenaga kerja akan memiliki lebih
banyak kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan (Setiawan, 2010). Sehingga
mempengaruhi keputusan responden untuk mencari pekerjaan sesuai dengan
aspirasi kerjanya. Selain berpengaruh langsung, keterampilan secara tidak
langsung berpengaruh secara signifikan terhadap lama menganggur lulusan.
Secara teori individu yang memiliki keterampilan akan lebih cepat mendapatkan
pekerjaan dibandingkan dengan orang yang kurang memiliki keterampilan. Hal
ini disebabkan karena semakin tinggi keterampilan yang dimiliki maka aspirasi
kerjanya atau yang dimaksud disini adalah memilih-milih pekerjaan akan semakin
kecil. Oleh karena adanya pengaruh yang tidak langsung keterampilan secara
signifikan terhadap lama menganggur melalui aspirasi kerja, maka dapat
dikatakan bahwa aspirasi kerja memediasi secara parsial pengaruh keterampilan
terhadap lama menganggur.
Tanggungan keluarga merupakan salah satu alasan utama seorang pencari
kerja turut serta dalam membantu keluarga untuk memutuskan diri untuk bekerja
untuk mendapatkan pengahasilan. Banyaknya jumlah tanggungan dalam suatu
122
keluarga merupakan faktor yang mempengaruhi keinginan atau aspirasi seseorang
untuk melakukan pekerjaan. Karena semakin banyak responden memiliki
tanggungan, maka waktu yang dipilih untuk menjadi seorang pengangguran akan
semakin kecil. Begitu juga terkait dengan aspirasi kerja atau keinginan untuk
memilih-milih pekerjaan, semakin banyaknya jumlah tanggungan keinginan untuk
memilih-milih pekerjaan akan semakin kecil mengingat kebutuhan ekonomi yang
harus dan segera dipenuhi. Oleh karena adanya pengaruh tidak langsung jumlah
tanggungan secara signifikan terhadap lama menganggur melalui aspirasi kerja,
maka dapat dikatakan bahwa aspirasi kerja memediasi secara parsial pengaruh
jumlah tanggungan terhadap lama menganggur.
Jarak juga berpengaruh secara positif dan signifikan baik secara langsung
maupun tidak langsung terhadap lama menganggur lulusan. Hal ini dikarenakan
bahwa lama menganggur lulusan atau pencari kerja yang jarak tinggalnya lebih
dengan pusat informasi memiliki waktu tunggu lebih singkat dibandingkan
dengan pencari kerja yang jarak tinggalnya jauh dari pusat informasi dengan
asumsi faktor – faktor lain dianggap tidak berubah (Cateris Paribus) seperti
keputusan sesorang untuk bekerja atau tidak yang dengan kata lain berpengaruh
terhadap aspirasi kerjanya (Ratih Pratiwi, 2012). Hal ini sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa sesorang yang jarak tinggalnya lebih dekat dengan daerah
yang memiliki infomasi tentang lowongan pekerjaan yang baik memiliki banyak
akses yang dapat mempersingkat waktu tunggu kerja. Adanya kesempatan kerja
yang lebih besar serta tersedianya fasilitas dan infrastruktur yang lebih lengkap,
memudahkan sesorang untuk mendapatkan pekerjaan (Ratih Pratiwi, 2012). Oleh
123
karena adanya pengaruh tidak langsung variabel jarak secara positif dan signifikan
terhadap lama menganggur melalui aspirasi kerja, maka dapat dikatakan bahwa
aspirasi kerja memediasi secara parsial pengaruh jarak terhadap lama
menganggur.
5.4
Keterbatasan Penelitian
Hasil penelitian ini telah menjelaskan atau mengkonfirmasi beberapa teori
dan beberapa kajian sebelumnya tentang pengaruh pendapatan rumah tangga,
keterampilan, jumlah tanggungan, jarak dan aspirasi kerja baik secara langsung
maupun secara tidak langsung terhadap lama menganggur lulusan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Informasi terkait penelitian yang
menyebabkan
lama
menganggur
yang
berasal
dari
perguruan
tinggi,
membutuhkan informasi yang mendalam untuk menganalisa dan meneliti
fenomena yang sebenarnya terjadi, namun masih banyak terdapat keterbatasan
dalam penelitian ini terutama berkaitan dengan jangka waktu penelitian yang
masih relatif pendek, jumlah sampel yang digunakan masih sedikit dan jumlah
variabel masih terbatas dan perlu lebih bervariasi.
Bagi peneliti selanjutnya kedepan diharapkan jangka waktunya dapat
diperpanjang agar data pengamatannya lebih banyak sehingga hasilnya lebih
mendekati kebenaran atau mewakili keadaan sesungguhnya yang terjadi di
lapangan. Sedangkan variabel yang digunakan dalam penelitian ini hanya terdiri
dari empat varaibel eksogen yaitu pendapatan rumah tangga, keterampilan, jumlah
tanggungan, dan jarak sehingga diharapkan selanjutnya dapat menambah variabel
124
maupun indikator lainnya yang berkaitan dengan aspirasi kerja dan lama
menganggur lulusan terdidik.
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
6.1
Simpulan
Berdasarkan hasil yang telah diuraikan sebelumnya maka disusun
beberapa simpulan, yaitu:
1) Pendapatan rumah tangga, jarak berpengaruh positif dan signifikan
terhadap aspirasi kerja, sedangkan keterampilan dan jumlah tanggungan
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap aspirasi kerja lulusan
perguruan tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
2) Pendapatan rumah tangga, jarak dan aspirasi kerja berpengaruh positif dan
signifikan sedangkan keterampilan dan jumlah tanggungan berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap lama menganggur lulusan perguruan tinggi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana
3) Pendapatan rumah tangga, keterampilan, jumlah tanggungan dan jarak
berpengaruh tidak langsung secara signifikan melalui aspirasi kerja
terhadap lama menganggur lulusan perguruan tinggi Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Udayana
125
126
6.2
Saran
Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil analisis dan simpulan yang
telah disampaikan adalah sebagai berikut.
1) Merubah mindset para lulusan yang lebih banyak mengarah pada peluang
kerja sebagai karyawan dengan menanamkan jiwa kewirausahaan.
Perubahan pola pikir lulusan dapat memberikan implikasi bahwa jika
melakukan kegiatan berwirausaha akan menjadi solusi dalam menciptakan
lapangan pekerjaan, sehingga para pencari kerja dengan pendidikan yang
tinggi dituntut untuk bisa lebih kreatif dan lebih bisa berinovasi. Selain itu
perlunya penelitian- penelitian kembali yang lebih mendalam mengenai
lama
menganggur
di
masing-masing
jurusan
ataupun
program
dilingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana sangat
diperlukan untuk menjadikan perbandingan atas lama menganggur antara
masing-masing jurusan ataupun program, sehingga lebih mendekati
informasi pada fenomena yang sesungguhnya yang diharapkan pihak
terkait mampu memberikan kebijakan atas fenomena tersebut.
2) Perlu adanya penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja saat
ini, sehingga alumni siap memasuki dunia kerja dengan membuka peluang
kerja sendiri (wirausaha). Seperti adanya seminar motivasi secara berkala
kepada lulusan dengan harapan dapat merubah reorientasi lulusan pencari
kerja (job seeker) menjadi pencipta lapangan kerja (job keeper)
126
DAFTAR PUSTAKA
Adawiyah, Wiwiek R. 2007. Kepuasan Penggunaan Terhadap Lulusan Fakultas
Ekonomi. Dalam Jurnal Bisnis dan Manajemen, 7(2) : h: 233 – 242.
Agus Wirawan. 2012. Makalah Teori Perkembangan Karir Ginzberg.[Kuliah]
Universitas Pendidikan Ganesha, Maret.
. 2013. Buku Wisuda ke-106. Bukit Jimbaran : Udayana University Press.
. 1981. Dasar-Dasar Demografi. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.
. 2012. Kuesioner Survey Angkatan Kerja Nasional : BPS Jakarta.
. 2014. Laporan Bulanan Sosial Ekonomi : BPS Jakarta.
. 2012. Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis. Denpasar.
. 2010. Statistik Ketenagakerjaan Provinsi Bali : BPS Kota Denpasar.
. 2011. Statistik Ketenagakerjaan Provinsi Bali : BPS Kota Denpasar.
. 2012. Statistik Ketenagakerjaan Provinsi Bali : BPS Kota Denpasar.
. 2013. Statistik Ketenagakerjaan Provinsi Bali : BPS Kota Denpasar.
. 2009. Tinjauan Perekonomian Bali : BPS Kota Denpasar.
Asri Agustina, Ni Nyoman. 2009. “Analisis Beberapa Variabel yang Berpengaruh
Terhadap Pekerjaan yang Diinginkan Angkatan Kerja di Kecamatan
Denpasar Timur, Kota Denpasar”(skripsi). Denpasar: Universitas
Udayana.
Bendesa, I K.G. 2005. Peningkatan Kualitas SDM : Prasyarat Ketahanan Ekonomi
dalam Era Globalisasi. Dalam Jurnal Piramida, 1 (1), h: 1-10.
Berzinskiene, Daiva and Liongina Juozaitiene. 2011. Impact of Labour Market
Measures on Unemployment. Dalam Journal Engineering Economics, 22
(2), p : 186-195.
127
Budiani, Ni Wayan. 2007. Efektivitas Program Penanggulangan Pengangguran
Karang Taruna ”Eka Taruna Bhakti” Desa Sumerta Kelod Kecamatan
Denpasar Timur Kota Denpasar. Dalam Jurnal Input Ekonomi dan Sosial,
2(1), h:49-57.
Bosic, Darja and Alenka Kavler. 2009. Duration of Regional Unemployment
Spells in Slovenia. Dalam Journal of Managing Global Transition. 7 (2), p
: 123-146.
Celik, Mucahit and Mehmet Tatar. 2011.Employment-Unemployment Issues and
Solution Suggestions Adiyama Example. Dalam Interdisciplinary Journal
of Contemporary Research in Business. 3(2), p: 1211-1226.
Daryanto, Arief dan Yundy Hafizrianda, 2010. Model-Model Kuantitatif untuk
Perencanaan Pembangunan EkonomI Daerah : Konsep dan
Aplikasi.Cetakan Pertama. Bogor : IPB Press.
Eboiyehi, Friday Asiazobor. 2013. Our Lives are in Your Hands : Survival
Strategies of Elderly Women Heads Household in Rural Nigeria. Dalam
International Journal of Humanities and Social Science. 3, p : 292-302.
Ehrenberg, Ronald G and Robert S. Smith. 1987. Modern Labor Economics
Theory and Public Policy , Eight Edition. London : Scott, Foresman and
Company.
Farid, Najib Moh. 2007. Pengangguran dan Kewirausahaan Re-Orientasi
Mahasiswa dari Job-Seeker ke Job-Creators. Dalam Jurnal Ekonomi dan
Manajemen, 8 (1), h:156-162.
Frijters,Paul, Michael A.Shields and Stephen Wheatley Price. 2005. Comparing
the Success of Native and Immigrant Job Search in The UK. Dalam The
Economic Journal.11, p: 1-25.
Gujarati, Damodar. 1997. Ekonometrika Dasar. Jakarta : Erlangga
Ghozali, Imam. 2002. Apilkasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Harri Yulianto A, Eko. 2006. Pengaruh Migrasi Tenaga Kerja terhadap
Pengangguran pada Wilayah Kalimantan Timur. (serial online), Tersedia
di : http://pustaka.unpad.ac.id.wp.content/upload/2015/05.[diunduh: 5 Mei
2015].
Hasyim H. 2006. Analisis Hubungan Karakteristik Petani Kopi terhadap
Pendapatan (Studi Kasus Desa Dolok Seribu Kecamatan Paguran Tapanuli
Utara). Dalam Jurnal Komunikasi Penelitian, 18 (1), h: 22-27.
128
Hasudangan Pangaribuan, Kaisar. 2013. “Analisis Pengaruh Pendapatan,
Pendidikan, Pekerjaan, Daerah Asal, Jumlah Tanggungan, dan Status
Perkawinan terhadap Keputusan Migrasi Sirkuler ke Kota Semarang
(Studi Kasus : Kec.Tembalang dan Kec. Pedurungan)”. (skripsi).
Semarang : Universitas Diponegoro.
Hidayati, Dewi Ayu. 2013. Strategi Kelangsungan Hidup Perempuan dalam
Memenuhi Kebutuhan Hidup Keluarga dan Jaminan Sosial Bagi Rumah
Tangga Miskin (Studi di Kelurahan Jagabaya II Kecamatan Sukabumi
Kota Bandar Lampung. Dalam Jurnal Ilmiah dan Administrasi Publik dan
Pembangunan, 4 (1), Januari –Juni 2013
Ihsan Triputrajaya, A. 2011. Preferensi Pekerja dalam Memilih Pekerjaan Sektor
Formal. Dalam Jurnal ILTEK, 6 (12), h : 877-881.
Jensen, Richard J. 1989. The Causes and Cures OF Unemployment in the Great
Depression. Dalam Journal of Interdisciplinary History. 19 (4), p : 553583.
Jhingan, M.L. 2003. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan . Terjemahan : D.
Guritno. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Kembar Sri Budhi, Made. 2008. Mengelola Sumber Daya Manusia dalam
Menyongsong Millenium Development Goals (MDGs). Dalam Jurnal
Input Ekonomi dan Sosial, 1(2), h : 79-82.
Kavler, Alenka. 2009.Cox Regression Models for Unemployment Duration in
Romania, Austria, Slovenia, Croatia dan Macedonia. Dalam Romania
Journal of Economic Forecasting, 2, p: 81-104.
Kerlinger. 2002. Penelitian Behavior. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Kieffer, Nicholas M. 1988. Economic Duration Data and Hazard Functions.
Dalam Journal of Economic Literatur, 26, p: 646-679.
Kuhn, Peter. 2004. Internet Job Search and Unemployment Durations. Dalam
Journal The American Economic Review, 94 (1), p: 218-232.
Kuncoro, Mudrajat. 2003. Ekonomi Pembangunan, Teori, Masalah dan
Kebijakan. Yogyakarta : UPP AMP YKPN.
Kusyono, Chris. 2014. “ Pengaruh Karakteristik Individu terhadap Lama Mencari
Kerja Bagi PNS di Kota Makassar “. (Skripsi). Makassar : Universitas
Hasanuddin.
129
Manning, Chris dan Tadjuddin Noer Effendi. 1996. Urbanisasi, Pengangguran,
dan Sector Informal di Kota. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Mankiw, N. Gregory. 2007. Makroekonomi. Edisi Keenam. Jakarta : Erlangga
Marhaeni, A.A.I.N dan I.G.A. Manuati Dewi. 2004. Ekonomi Sumber Daya
Manusia . Buku Ajar Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Denpasar.
Mantra, Ida Bagoes. 2003. Demografi Umum. Edisi ke 2. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar
Martono, Nanang. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Analisis Isi dan Analisis
Data Sekunder. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Mulyadi S. 2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia, dalam Perspektif
Pembangunan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Murjana Yasa, I Gusti Wayan. 2006. Membangun Daya Saing Daerah Bali
Berbagai Pemikiran. Komite Kerja sama FE Unud.
Nanga, Muana. 2005. Makro Ekonomi Teori, Masalah dan kebijakan. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Nata Wirawan. 2002. Pengantar Statistik Untuk Ekonomi dan Bisnis. Edisi
Pertama. Denpasar : Keraras Mas.
Nehen, Ketut. 2012. Perekonomian Indonesia. Denpasar : Udayana University
Press.
Nur Antyanto, Ikhwan. 2014. “ Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Tenaga Kerja Memilih Sektor Informal Sebagai Mata Pencaharian (Studi
Kasus pada Pasar Penampungan Sementara Merjosari, Malang)” (skripsi).
Malang : Universitas Brawijaya.
Pratiwi, Manik. 2009.“Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Lama
Menganggur Secara Terbuka Pekerja Kota Denpasar” (skripsi). Denpasar :
Universitas Udayana.
Pratiwi, Ratih. 2012. “ Analisis Faktor yang Mempengaruhi Lama Mencari Kerja
Lulusan Sekolah Menengah dan Pendidikan Tinggi di Indonesia pada
Tahun
2012.
(serial
online),
Tersedia
di
:
http://pustaka.unpad.ac.id.wp.content/upload/2014/07.[diunduh: 5 Oktober
2014].
130
Prahutama, Alan. 2013. Model Regresi Non Parametrik dengan Pendekatan Deret
Fourier pada Kasus Tingkat Pengangguran Terbuka di Jawa Timur.
Prosiding Seminar Nasional Statistika Universitas Diponegoro. Semarang,
Jawa Tengah. h : 69-76.
Primanda Adi, Reza. 2011. “Analisis Lama Mencari Kerja bagi Tenaga Kerja
Terdidik di Kecamatan Pedurungan” (skripsi). Semarang : Universitas
Diponegoro.
Priyono, Edy. 2002. Situasi Ketenagakerjaan Indonesia dan Tinjauan Kritis
terhadap Kebijakan Upah Minimum. Dalam Jurnal Analisis Sosial. 7 (1),
h :1-12.
Purnamaningsih, Nining. 2011. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Tenaga Kerja Wanita Bekerja di Luar Negeri ( Studi Kasus di Kediri).
Dalam Jurnal Ilmiah Bekala Universitas Kadiri. Edisi Juni 2011September 2011, h : 13-26.
Putera Kurniawan, Azhar dan Herniwati Retno Handayani. 2013. Analisis Lama
Mencari Kerja bagi Tenaga Kerja Terdidik di Kabupaten Purworejo.
Dalam Diponegoro Journal of Economics. 2 (4), h :1-11.s
Rahman, Arif. 2008. “ Analisis Eksistensi Persistensi Pengangguran di Indonesia”
(skripsi). Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Rahyuda, I Ketut dan I G.W. Murjana Yasa. 2004. Metodologi Penelitian. Buku
Ajar Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.
Rofik, Muhamad. 2007. ” Analisis Faktor yang Mempengaruhi Lama Mencari
Kerja Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Jember”. (skripsi). Jember :
Universitas Jember.
Sarwono, Jonathan. 2007. Analisis Jalur untuk Riset Bisnis dengan SPSS.
Yogyakarta : ANDI.
Sengupta, Manimay. 2009. Unemployment Duration and The Measurement of
Unemployment. Dalam Journal Econ Inequal, 7, p : 273-294.
Setiawan, Nugraha. 2006. “Struktur Ketenagakerjaan dan Partisipasi Angkatan
Kerja di Pedesaan Indonesia” (skripsi). Jatinangor : Universitas Padjajaran.
Setiawan, Satrio Adi. 2010. “Pengaruh Umur, Pendidikan, Pendapatan,
Pengalaman Kerja dan Jenis Kelamin terhadap Lama Mencari Kerja bagi
Tenaga Kerja Terdidik di Kota Magelang” (skripsi). Semarang:
Universitas Diponegoro.
131
Setyawan, Anton A. 2008. Foreign Direct Investment (FDI), Kebijakan Industri,
dan Masalah Pengangguran : Studi Empirik di Indonesia. Dalam Jurnal
Ekonomi Pembangunan. 9 (1) , h :107-119.
Silvia, Vivi. 2009. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja Wanita di Provinsi Aceh. Dalam Jurnal Ekonomi dan
Bisnis. 8 (1), h : 77-91.
Simanjuntak, Payaman. 1990. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia.
Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
, Payaman. 2001. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sipayung, Isty Laura Tofelisa. 2013. “ Analisis Keputusan Wanita Menikah untuk
Bekerja Studi Kasus di Kota Surakarta Jawa Tengah” (skripsi). Semarang :
Universitas Diponegoro.
Soebagiyo, Daryono. 2007. Kausalitas Granger PDRB terhadap Kesempatan
Kerja di Provinsi Dati I Jawa Tengah. Dalam Jurnal Ekonomi
Pembangunan. 8 (2), h : 177- 192.
Soeroto. 1983. Strategi Pembangunan dan Perencanaan Tenaga Kerja.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
. 1992. Strategi Pembangunan dan Perencanaan Tenaga Kerja.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Spies, Mattias. 2006. Distance Between Home and Workplace as a Factor for Job
Satisfaction in the North –West Russian Oil Industry. Dalam Journal
Fenni 184:2, p : 133-149.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : CV Alfabeta.
. 2008. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : CV Alfabeta.
Suharti, Lieli dan Hani Sirine. 2011. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap
Niat Kewirausahaan (Enterpreneurial Intention) Studi Terhadap
Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana. Dalam Jurnal
Manajemen dan Kewirausahaan. 13 (2), h 124-134.
Sukirno, Sadono. 2004. Makroekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga . Jakarta :
Raja Grafindo Persada.
132
Suroso, Kiki Suko. 2012.“Analisis Pengaruh Pendidikan, Keterampilan dan Upah
terhadap Lama Mencari Kerja pada Tenaga Kerja Terdidik di Beberapa
Kecamatan di Kabupaten Demak”(Skripsi). Semarang : Universitas
Diponegoro.
Suyana Utama, Made. 2010. Ekonometrika. Buku Ajar Fakultas Ekonomi
Universitas Udayana.
Taliziduhu, Ndraha.1997. Pengantar Teori Pengembangan Sumber Daya
Manusia. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Tjiptoherijanto, Priyono. 1989. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta :
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Todaro, Michael. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi Ketujuh
Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Todaro, Michael dan Stephen C. Smith. 2006. Pembangunan Ekonomi. Edisi
Kesembilan. Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Vojtovich, Sergej. 2011. Economic Development and The Level of
Unemployment in The Conditions of Economic Recession. Dalam Journal
Economic and Management, 16, p : 459 – 464.
Yuliati dan Tun Huseno. 2011. Pengaruh Karakteristik Kependudukan Terhadap
Pengangguran di Sumatera Barat. Dalam Jurnal Manajemen dan
Kewirausahaan. 2 (2), h 15-43.
Wikipedia. Indonesia. Definisi Pendidikan (Citied 31-08-2014). Avalaible from
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan.
133
Lampiran 1
KUISIONER PENELITIAN
Analisis Faktor Sosial, Ekonomi dan Demografi yang Berpengaruh terhadap Lama
Menganggur Lulusan Perguruan Tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana.
Dengan Hormat,
Bersama ini saya
:
Nama
:
Ni Kadek Meindrayani
Mahasiswa
:
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana
Program
:
S2 Pasca Sarjana Ekonomi Pembangunan
Semester
:
IV (Empat)
Nim
:
1291462014
Sedang melakukan penelitian Analisis Pengaruh Faktor Sosial, Ekonomi dan Demografi
terhadap Lama Menganggur Lulusan Perguruan Tinggi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana
yang hasilnya nanti dapat dijadikan masukan bagi masyarakat maupun pemerintah. Berdasarkan
maksud tersebut saya mohon Bapak/Ibu/Sudara/i agar berkenan mengisi kuisioner ini sematamata hanya untuk kepentingan ilmiah yaitu dalam rangka penyusunan tesis.
Demikian saya sampaikan dan atas kerjasama serta bantuan Bapak/Ibu/Saudara/i saya
ucapkan terima kasih.
134
Berikan jawaban atas pertanyaan
dibawah ini dengan mengisi titik-titik
Kuesioner Penelitian
A. IDENTITAS RESPONDEN
B.
C.
D.
atau menyilang jawaban yang telah
tersedia.
No. Responden :
1. Nama
: .................................................................................................
2. Umur
: ...................... Tahun
3. Jenis Kelamin
: 1) Laki-laki
2) Perempuan
4. Status Perkawinan : 1) Belum Kawin
2) Janda/Duda
3) Kawin
5. Status dalam Rumah Tangga
: 1) Kepala Keluarga
2) Anggota
PENDIDIKAN
1. Tahun lulus responden
: 1) 2012
2) 2013
2. IPK terakhir
: ...................................................................................................
3. Pendidikan Formal Lulusan Perguruan Tinggi Terakhir :
1) S1,
Sebutkan.........................................................................................................
4. Jumlah Tahun Menamatkan Pendidikan di Perguruan Tinggi ........................ Tahun
5. Apakah Saudara/i pernah mendapatkan kesempatan untuk menambah keahlian di
sektor pendidikan non formal atau pelatihan kerja ?
1) Kursus, Sebutkan............................................................................................
2) Tidak ada
6. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengikuti pelatihan non formal atau
pelatihan kerja tersebut .................................................................................Minggu
7. Apakah kesempatan menambah keahlian di sektor pendidikan non formal
mempengaruhi kesempatan kerja saudara/i ?
1) Ya, alasan........................................................................................................
2) Tidak ...............................................................................................................
KONDISI RUMAH TANGGA RESPONDEN
1. Berapakah besarnya pendapatan total dari seluruh anggota rumah tangga selama
satu bulan yang lalu ?
1) Saudara/i
= Rp. ..............................................
2) Suami/istri
= Rp. ..............................................
3) Anak
= Rp. ...............................................
4) Orang tua
= Rp. ...............................................
5) Lainnya
= Rp. ...............................................
2. Jumlah tanggungan dalam rumah tangga keluarga ..........................................(jiwa)
1) Anak-anak (0-14 th) ........................................................ (orang)
2) Orang dewasa (15-64 th) ................................................. (orang)
3) Orang tua (65 th keatas) .................................................. (orang)
INFORMASI TENTANG PEKERJAAN PERTAMA
1. Apakah anda bekerja saat ini ?
1) Ya
2) Tidak
2. Apakah setelah lulus S1 anda langsung bekerja (dalam jangka waktu ≤ 1 bulan)
1) Ya (lanjutkan)
2) Tidak ( langsung ke no 7)
3. Berapa lama waktu yang dilalui sejak lulus sampai anda memiliki
pekerjaan?................(bulan)
135
4.
E.
Apakah status pekerjaan anda ?
1) Wirausaha yang dibangun sendiri
2) Wirausaha melanjutkan usaha keluarga
3) Karyawan swasta
4) Karyawan pemerintah
5) Lainnya, sebutkan.........................................................................
5. Darimanakah sumber informasi pertama tentang lowongan pekerjaan ?
1) Pusat Pengembangan Karir Unud (CDC Unud)
2) Website Fakultas/Program studi
3) Media massa (cetak, elektronik)
4) Organisasi alumni (Ikayana Unud)
5) Kerabat/relasi
6) Lainnya (sebutkan.............................................................................)
6. Saat pertama kali bekerja, berapakah penghasilan yang diterima setiap bulan ? Rp.
1) < Rp. 1.400.000
2) Rp. 1.400.000 - < Rp. 2.000.000
3) Rp. 2.000.000 - < Rp. 2.600.000
4) Rp. 2.600.000 - < Rp. 3.200.000
5) ≥ Rp. 3.200.000
7. Mengapa anda tidak langsung bekerja setelah lulus kuliah ?
1) Melanjutkan studi ke jenjang S2 (Program Studi............... Di Univ.............)
2) Melanjutkan ke Program Profesi
3) Mengikuti training untuk menambah pengetahuan/ket (jenis........................)
4) Menikah
5) Lainnya
INFORMASI TENTANG PEKERJAAN SAAT INI
1. Apakah saat ini anda bekerja di organisasi/perusahaan (pemberi kerja) yang sama
dengan pekerjaan pertama kali ?
1) Ya
2) Tidak Langsung ( langsung ke no 3 )
2. Jika Ya, berapa lama anda sudah bekerja disana….Tahun....Bulan (langsung ke
nomor 5)
3. Jika Tidak, berapa lama anda bertahan di tempat kerja
pertama..........tahun.........bulan
4. Jika Tidak, apakah status pekerjaan saat ini ?
1) Wirausaha yang dibangun sendiri
2) Wirausaha melanjutkan usaha keluarga
3) Karyawan swasta
4) Karyawan pemerintah
5) Lainnya …………………………………………………………................
5. Apakah alasan Anda meninggalkan pekerjaan yang pertama ? Boleh memilih 1-3
jawaban
1) Penghasilan atau kompensasi (gaji dan tunjangan yang diterima tidak
sesuai dengan harapan)
136
2) Kondisi/suasana kerja kurang kondusif
3) Karena memiliki hubungan suami/istri dengan karyawan ditempat kerja
yang sama.
4) Karena harus mengikuti tugas suami/istri
5) Masa kontrak kerja sudah habis dan tidak diperpanjang lagi
6) Jenis usaha yang ditekuni tidak berkembang sesuai harapan
7) Lainnya……………………………………………………………..
6. Sampai saat ini, berapa kali anda sudah berganti pekerjaan?
1) Satu kali 2) Dua kali
3) Tiga kali 4) Lebih dari tiga kali
7. Apakah Posisi Jabatan anda saat ini ?
1) Staf
2) Suvervisor/Penyelia (Kepala Seksi)
3) Manajer madya (kepala bagian/divisi/unit)
4) Manajer puncak (direktur/kep. kantor/kep. cabang)
5) Pemilik Usaha
6) Lainnya…………………………………………………………………........
8. Berapa penghasilan atau gaji anda saat ini setiap bulan ?
1) < Rp.1.400.000
2) Rp.1.400.000 - < Rp.2.000.000
3) Rp.2.000.000 - < Rp.2.600.000
4) Rp.2.600.000 - < Rp.3.200.000
5) Rp.3.200.000 - < Rp.3.800.000
6) ≥ Rp.3.800.000
PERSEPSI RESPONDEN TERHADAP ASPIRASI KERJA
No
Pertanyaan
Autonomy dan Authority
1
2
1
2
1
2
Saya menginginkan pekerjaan yang
mandiri
Saya memilih karir sebagai wirausaha
yang melanjutkan usaha keluarga
Economic Opportunity & Challenge
Saya memilih pekerjaan yang memiliki
peluang ekonomis
Pekerjaan yang saya tekuni sekarang
telah sesuai dengan aspirasi kerja saya
Security dan Work load
Posisi pekerjaan saya sudah memenuhi
aspirasi kerja saya
Butuh waktu yang lama bagi saya untuk
mendapatkan pekerjaan yang sesuai
dengan harapan saya
Sangat
Setuju
Setuju
RaguRagu
Tidak
setuju
Sangat
tidak
setuju
137
F.
INFORMASI TENTANG LOKASI KERJA
1. Dimanakah lokasi tempat anda bekerja saat ini ?
1) Provinsi
2) Kabupaten
2. Apabila di luar kabupaten/kota tempat tinggal, apakah anda pergi dan pulang
ke/dari tempat kerja setiap hari, setiap minggu, atau setiap bulan ?
1) Setiap hari
2) Setiap minggu
3) Setiap bulan
3. Berapakah jarak tempuh dari rumah ke tempat kerja
1) < 10 Km
3) > 30 Km
2) 10 – 29 Km
4) Lainnya.....................................................................
4. Berapa lama perjalanan dari rumah ke tempat kerja
1) < 30 menit
3) 61 – 120 Menit
2) 31 – 60 menit
4) > 120 Menit
TERIMAKASIH
Lampiran 2 Tabulasi Data
No
Pendapatan
RT
Keterampil
an
Jumlah
Tanggung
an
X1
X2
X3
Aspirasi Kerja
Jarak Autonomy
X4
Y11
Authority
Eco
Opp
Y12
Y13
Challenge Security
Y14
Y15
Work
Load
Y16
Lama
Aspirasi
Menganggur
Kerja
(Y1)
Y2
Motivasi Memilih
Pekerjaan Saat Ini
Sumber
Informasi
1
4000
48
4
4
4
4
3
4
4
2
-0.35
0
Kurang Kondusif
Media Masa
2
10000
8
0
10
4
5
5
4
4
2
1.45
24
Pekerjaan Pertama
Media Masa
3
8000
4
4
5
3
5
4
4
4
3
0.87
4
Gaji tdk sesuai harapan
Kerabat
4
9000
6
0
8
4
4
5
4
3
3
1.12
8
Media Masa
5
9000
2
4
5
4
4
4
3
3
3
0.15
4
6
5000
24
4
0
5
3
4
4
4
3
-0.41
0
Gaji tdk sesuai harapan
Melanjutkan Usaha
Keluarga
Melanjutkan Usaha
Keluarga
7
8000
4
4
5
4
4
4
4
4
4
0.23
4
Media Masa
8
10000
6
0
8
4
4
5
4
3
4
1.12
24
9
15000
0
0
10
5
5
4
3
3
2
1.37
24
Pekerjaan Pertama
Melanjutkan Usaha
Keluarga
Melanjutkan Usaha
Keluarga
10
7000
22
0
5
3
3
5
5
5
2
0.31
2
Pekerjaan Pertama
Media Masa
11
11500
8
0
11
5
5
4
3
4
3
1.06
24
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
12
25000
0
0
12
5
5
5
3
4
3
1.63
24
Media Masa
13
5000
4
4
0
4
4
4
4
4
4
-0.71
0
Gaji tdk sesuai harapan
Mencari kerja yang lebih
baik
14
8000
2
2
20
5
5
5
5
5
3
0.95
4
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
15
6500
24
5
0
5
3
5
4
5
4
-0.14
0
Media Masa
16
5000
24
5
0
4
3
5
5
4
3
-0.48
0
Status kontrak tidak jelas
Memilih kerja sesuai
ilmu
17
9750
6
2
11
5
4
5
4
3
3
1.12
24
Pekerjaan Pertama
Media Masa
18
7000
16
4
8
5
4
4
3
3
3
0.73
4
Pekerjaan Pertama
Media Masa
19
7000
16
4
8
5
4
4
3
3
3
0.26
4
Pekerjaan Pertama
Media Masa
Kerabat
Kerabat
Kerabat
Kerabat
Media Masa
Kerabat
138
20
13000
4
0
15
5
5
5
4
4
5
1.45
24
Pekerjaan Pertama
Melanjutkan Usaha
Keluarga
Media Masa
21
6000
48
5
0
4
4
3
3
4
4
-0.63
0
22
17000
4
0
25
5
5
5
4
4
3
1.76
24
Kerabat
24
Saran orang lain
Melanjutkan Usaha
Keluarga
23
8000
12
1
10
5
5
5
5
5
2
0.95
24
5000
48
1
0
4
4
4
5
4
2
-0.43
0
Pekerjaan Pertama
Kerabat
25
4500
48
1
0
4
2
4
4
4
4
-1.51
0
Gaji tdk sesuai harapan
Kerabat
26
5000
48
1
0
4
4
4
4
4
4
-0.24
0
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
27
7000
12
3
8
5
4
5
5
5
2
0.31
2
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
28
5000
24
2
0
3
3
4
4
4
2
-1.34
0
Masa kerja sudah habis
Media Masa
29
7500
12
3
8
4
4
4
3
3
4
0.26
2
Gaji tdk sesuai harapan
Kerabat
30
5000
24
1
0
31
5500
24
1
0
4
2
4
4
4
4
-0.88
0
Masa kerja sudah habis
Media Masa
4
4
1
2
3
2
-0.71
0
Pekerjaan Pertama
Kerabat
32
7500
4
2
7
4
4
4
2
1
4
0.76
2
Pekerjaan Pertama
Kerabat
33
5500
48
1
0
3
3
4
4
5
2
-1.66
0
Pekerjaan Pertama
Media Masa
34
6000
48
2
0
4
3
3
4
4
4
-1.45
0
Masa kerja sudah habis
Kerabat
35
7500
24
2
8
5
4
4
3
4
4
0.42
2
Gaji tdk sesuai harapan
Kerabat
36
7600
24
2
9
5
4
5
4
4
2
0.81
2
Pekerjaan Pertama
Kerabat
37
7800
6
2
5
4
2
5
2
2
4
0.06
2
Kurang Kondusif
Media Masa
38
7800
0
2
5
4
4
5
4
4
4
0.34
2
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
39
5000
24
2
0
4
4
4
4
4
4
-0.24
0
Lainnya
Website
40
27000
5
0
15
5
5
5
4
4
4
1.45
16
Lainnya
Kerabat
41
7900
6
1
2
4
4
4
4
3
4
0.07
0
Lainnya
Website
42
30000
2
0
30
5
5
5
3
3
4
2.13
28
Lainnya
Website
43
5000
0
5
0
3
3
1
2
3
5
-1.81
0
Lainnya
Kerabat
44
7600
0
0
4
5
5
4
4
4
2
0.87
2
Media Masa
45
7500
4
1
4
4
4
4
4
4
2
0.39
2
Gaji tdk sesuai harapan
Memilih kerja sesuai
ilmu
Kerabat
Orang tua
Media Masa
139
46
5000
24
5
0
4
2
2
3
4
2
-1.90
0
Pekerjaan Pertama
Melanjutkan Usaha
Keluarga
Media Masa
47
5750
24
5
0
2
3
4
3
4
4
-1.62
0
48
8000
4
1
13
5
5
5
3
3
2
1.95
12
Gaji tdk sesuai harapan
Melanjutkan Usaha
Keluarga
Media Masa
49
9000
0
4
15
5
5
5
5
4
2
1.26
12
50
5000
24
6
0
5
3
5
5
4
4
-0.02
0
Kurang Kondusif
Kerabat
51
5000
24
5
0
4
3
4
4
5
5
-1.19
0
Gaji tdk sesuai harapan
Kerabat
52
8500
12
1
5
5
4
3
2
2
4
0.65
2
Kurang Kondusif
Media Masa
53
5000
24
4
0
5
1
5
5
3
4
-0.98
0
Gaji tdk sesuai harapan
Kerabat
54
5000
24
4
0
4
3
4
4
4
4
-0.88
0
Lainnya
Media Masa
55
7500
12
1
2
4
4
4
3
3
3
0.26
2
Gaji tdk sesuai harapan
4
5
3
3
2
1.31
24
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
Organisasi
Alumni
56
12000
0
0
13
5
57
5700
24
4
0
4
3
4
3
3
4
-0.38
0
Kurang Kondusif
Kerabat
58
5800
24
4
0
4
3
4
4
5
3
-1.19
0
Gaji tdk sesuai harapan
Kerabat
59
8000
16
1
4
2
5
5
4
2
1
0.66
2
Kurang Kondusif
Kerabat
60
5500
24
4
0
4
3
4
4
4
2
-0.88
0
Dosen
6500
2
2
0
4
5
5
4
4
2
0.98
8
Gaji tdk sesuai harapan
Melanjutkan Usaha
Keluarga
61
62
7000
2
2
3
4
5
5
4
4
2
0.98
8
Lainnya
Media Masa
63
9500
2
1
16
4
5
5
3
3
2
1.48
16
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
64
5000
0
5
0
4
2
4
4
4
2
-1.51
0
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
65
5000
0
5
0
5
2
5
3
4
4
-0.28
0
Lainnya
Media Masa
66
5000
0
5
0
4
2
4
5
5
3
-2.01
0
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
67
7500
12
1
2
5
4
4
4
4
3
0.23
2
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
68
5000
24
4
0
3
2
4
4
5
4
-1.71
0
Media Masa
69
7700
2
1
2
4
4
5
4
5
4
0.03
2
Lainnya
Mencari kerja yang lebih
baik
70
7800
2
1
2
4
4
4
3
2
2
0.57
12
Pekerjaan Pertama
Media Masa
71
9000
0
2
2
4
3
4
2
2
2
0.12
4
Masa kerja sudah habis
Kerabat
Kerabat
Orang tua
Kerabat
Kerabat
140
72
14000
4
1
24
2
5
5
2
2
5
1.04
12
Melanjutkan Usaha
Keluarga
Orang tua
73
5000
2
6
0
4
2
4
4
4
2
-1.51
0
Pekerjaan Pertama
Kerabat
74
5000
2
4
0
3
3
4
4
2
2
-0.72
0
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
75
5500
2
4
0
4
2
4
4
4
2
-1.51
0
Gaji tdk sesuai harapan
Kerabat
76
5700
2
5
0
4
2
4
4
4
2
-1.51
0
Pekerjaan Pertama
Website
77
15000
2
1
2
4
5
5
4
4
2
0.98
24
Kurang Kondusif
Kerabat
78
5400
22
4
0
4
4
4
5
4
4
-0.43
0
Kurang Kondusif
Kerabat
79
5400
24
5
0
4
4
4
4
4
4
-0.24
0
Gaji tdk sesuai harapan
Kerabat
80
8000
0
1
2
4
4
5
4
3
2
0.65
4
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
81
5500
2
5
0
4
2
5
5
2
3
-0.50
0
Kurang Kondusif
Kepastian kerja yang
lebih baik
Kerabat
Kerabat
82
5000
2
4
0
3
3
4
4
4
2
-1.34
0
83
26000
48
1
8
4
5
5
4
4
2
0.98
12
84
7000
0
1
5
4
5
4
3
3
4
0.90
10
Lainnya
Melanjutkan Usaha
Keluarga
Kerabat
85
5000
2
1
5
3
4
5
3
3
4
0.37
4
Pekerjaan Pertama
Media Masa
86
7000
2
1
5
5
5
4
4
4
4
0.87
8
Pekerjaan Pertama
Kerabat
87
6000
24
5
0
4
4
4
4
4
3
-0.24
0
88
19500
24
1
2
5
4
4
3
3
4
0.73
4
Pekerjaan Pertama
Tidak memperpanjang
kontrak
Kerabat
Mencoba
Sendiri
89
5000
2
4
0
4
2
4
4
4
4
-1.51
0
Mengisi waktu
Kerabat
90
5000
24
5
0
4
2
4
4
5
4
-1.82
0
Lainnya
Jobfair
91
8000
0
1
0
4
4
5
4
4
3
0.34
2
Lainnya
Kerabat
92
25000
4
5
2
4
4
4
3
3
4
0.26
2
Pekerjaan Pertama
Media Masa
93
5000
0
5
0
4
3
4
3
4
3
-0.69
0
Pekerjaan Pertama
Kerabat
94
5000
48
1
0
4
4
4
4
4
4
-0.24
0
Gaji tdk sesuai harapan
Kerabat
95
4500
2
1
2
4
4
5
4
4
2
0.34
2
Pekerjaan Pertama
Website
96
4000
48
1
2
5
3
5
3
5
1
0.05
2
Kurang Kondusif
Kerabat
97
5000
48
1
2
4
3
5
4
3
2
0.02
2
Lainnya
Jobfair
Orang tua
141
98
4000
0
5
0
4
3
5
3
5
4
-0.42
0
Melanjutkan Usaha
Keluarga
Orang tua
99
4600
16
4
0
3
2
4
4
3
4
-1.67
0
Pekerjaan Pertama
Kerabat
100
7000
2
5
2
4
5
4
3
3
4
0.90
4
Lainnya
Website
101
6550
2
5
9
3
4
5
3
3
4
0.37
4
Website
102
5700
22
4
0
4
2
4
4
4
2
-1.51
0
103
8000
12
1
9
5
3
4
4
4
3
0.17
4
Pekerjaan Pertama
Melanjutkan Usaha
Keluarga
Melanjutkan Usaha
Keluarga
104
5500
0
5
0
4
4
4
4
4
4
-0.43
0
Pekerjaan Pertama
Website
105
5000
16
5
0
3
5
4
4
4
3
-0.07
0
Gaji tdk sesuai harapan
Media Masa
106
8500
0
5
2
4
4
5
4
3
3
0.65
4
Pekerjaan Pertama
Kerabat
107
5000
16
5
0
4
3
4
4
5
3
-1.37
0
Kurang Kondusif
Website
108
12000
4
0
3
2
5
5
4
2
1
1.13
12
Lainnya
Website
109
5000
16
6
0
4
4
4
4
4
4
-0.24
0
Pekerjaan Pertama
Media Masa
110
5000
22
4
0
5
3
5
4
5
4
-0.14
0
Pekerjaan Pertama
Media Masa
111
7500
28
0
5
4
4
4
5
4
2
0.04
4
Pekerjaan Pertama
Media Masa
Orang tua
Orang tua
142
143
Lampiran 3 Hasil Regresi
1) Hasil Regresi variabel Pendapatan RT, Keterampilan, Jumlah Tanggungan, Jarak
terhadap Aspirasi Kerja
Analisis Jalur I
Variables Entered/Removed
Model
1
Variables
Variables
Entered
Removed
Jarak,
Method
. Enter
Keterampilan,
Tanggungan,
a
PendapatanRT
a. All requested variables entered.
b
ANOVA
Model
1
Sum of Squares
df
Mean Square
Regression
72.541
4
18.135
Residual
37.432
106
.353
109.973
110
Total
a. Predictors: (Constant), Jarak, Keterampilan, Tanggungan, PendapatanRT
b. Dependent Variable: AspirasiKerja
Model Summary
Model
R
1
.812
R Square
a
.660
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
.647
a. Predictors: (Constant), Jarak, Keterampilan, Tanggungan,
PendapatanRT
.59425
F
51.355
Sig.
.000
a
144
Coefficients
a
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1
B
(Constant)
Std. Error
.127
.195
3.250E-5
.000
Keterampilan
-.014
Tanggungan
PendapatanRT
Jarak
a. Dependent Variable: AspirasiKerja
Coefficients
Beta
t
Sig.
.652
.516
.160
2.155
.033
.004
-.199
-3.294
.001
-.179
.035
-.343
-5.104
.000
.067
.014
.396
4.966
.000
145
2) Hasil Regresi variabel Pendapatan RT, Keterampilan, Jumlah Tanggungan, Jarak dan
Aspirasi Kerja terhadap Lama Menganggur
Analisis Jalur II
Variables Entered/Removed
Model
1
Variables
Variables
Entered
Removed
AspirasiKerja,
Method
. Enter
Keterampilan,
PendapatanRT,
Tanggungan,
Jarak
a
a. All requested variables entered.
Model Summary
Model
R
1
.822
R Square
a
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
.676
.661
4.49981
a. Predictors: (Constant), AspirasiKerja, Keterampilan, PendapatanRT,
Tanggungan, Jarak
b
ANOVA
Model
1
Sum of Squares
df
Mean Square
Regression
4438.323
5
887.665
Residual
2126.073
105
20.248
Total
6564.396
110
F
Sig.
43.839
a. Predictors: (Constant), AspirasiKerja, Keterampilan, PendapatanRT, Tanggungan, Jarak
b. Dependent Variable: LamaMenganggur
.000
a
146
Coefficients
a
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1
B
(Constant)
Std. Error
3.372
1.476
.000
.000
Keterampilan
-.067
Tanggungan
PendapatanRT
Jarak
AspirasiKerja
Coefficients
Beta
t
Sig.
2.284
.024
.230
3.106
.002
.033
-.127
-2.039
.044
-.812
.296
-.201
-2.740
.007
.407
.114
.310
3.577
.001
1.504
.735
.195
2.045
.043
a. Dependent Variable: LamaMenganggur
147
3) Hasil Regresi variabel Pendapatan RT, Keterampilan, Jumlah Tanggungan, Jarak
terhadap Lama Menganggur
Analisis Jalur III
Variables Entered/Removed
Model
1
Variables
Variables
Entered
Removed
Jarak,
Method
. Enter
Keterampilan,
Tanggungan,
a
PendapatanRT
a. All requested variables entered.
Model Summary
Model
R
1
.814
R Square
a
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
.663
.651
4.56687
a. Predictors: (Constant), DaerahAsal, Keterampilan, Tanggungan,
PendapatanRT
b
ANOVA
Model
1
Sum of Squares
df
Mean Square
Regression
4353.630
4
1088.407
Residual
2210.767
106
20.856
Total
6564.396
110
a. Predictors: (Constant), Jarak, Keterampilan, Tanggungan, PendapatanRT
b. Dependent Variable: LamaMenganggur
F
52.186
Sig.
.000
a
148
Coefficients
a
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1
B
(Constant)
Std. Error
3.563
1.495
.000
.000
Keterampilan
-.087
Tanggungan
PendapatanRT
Jarak
Coefficients
Beta
t
Sig.
2.383
.019
.261
3.548
.001
.032
-.166
-2.754
.007
-1.081
.269
-.268
-4.013
.000
.508
.104
.387
4.885
.000
a. Dependent Variable: LamaMenganggur
149
Lampiran 4 Perhitungan Koefisien Determinasi
1) Perhitungan Standar Eror
=
1−
=
1−
=
1 − 0,660
= 0,583
=
1 − 0,676
= 0,569
2) Perhitungan Standar Eror
= 1= 1-(0,583 )(0,569 )
= 1- 0,109
= 0,891
Download