1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Salah satu kewenangan absolut Pengadilan Agama antara lain adalah
menerima, memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara itsbat nikah bagi
pasangan suami istri yang tidak mempunyai akta nikah. Aturan pengesahan
perkawinan/itsbat nikah, dibuat atas dasar adanya perkawinan yang dilangsungkan
berdasarkan agama atau tidak dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah yang
berwenang1. Hal ini diatur dalam penjelasan pasal 49 angka 22 Undang-Undang
Nomor 50 tahun 2009 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, yang pada awalnya perkawinan yang
1
Mahkamah Agung RI, Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Agama, Buku II Edisi
2009, hal. 207.
1
2
disahkan hanya perkawinan yang dilangsungkan sebelum berlakuknya UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, akan tetapi pasal 7 Kompilasi
Hukum Islam memberikan peluang untuk pengesahan perkawinan yang tidak
dicatat oleh PPN yang dilangsungkan sebelum atau sesudah berlakunya UndangUndang Nomor 1 tahun 1974 untuk kepentingan perceraian, bahkan dalam
perkembangannya juga untuk melegalkan pernikahan dengan istri kedua, ketiga
dan seterusnya dengan mengajukan itsbat nikah ke Pengadilan Agama.
Melaksanakan perkawinan merupakan hak azasi setiap warga Negara,
penegasan tersebut termuat dalam pasal 28 B ayat (1) Undang-Undang Dasar
1945 hasil perubahan kedua. Dalam pasal tersebut dinyatakan : (1) Setiap orang
berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang
sah.
Meskipun perkawinan merupakan hak azasi, bukan berarti bahwa setiap
warga Negara secara bebas dapat melaksanakan perkawinan, akan tetapi harus
mengikuti peraturan perundangan yang berlaku, yang menurut pasal 2 ayat ( 2 )
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku yang dibuktikan dengan
Akta Nikah, Jo. Pasal 5, dan 6 Kompilasi Hukum Islam.
Fakta yang terjadi saat ini adalah banyak praktek kawin liar atau nikah sirri
atau tidak dicatatkan, disebut juga nikah bawah tangan, menurut pelaku nikah
bawah tangan alasan tersebut antara lain :
3
a.
Adanya pandangan bahwa pernikahan yang dilakukan berdasarkan agama,
telah memenuhi syarat dan rukunnya, maka perkawinan tersebut dianggap
sah, karenanya tak perlu dicatatkan.
b.
Untuk menghilangkan jejak, sehingga bebas dari tuntutan hukum dan
hukuman administrasi dari instansinya.
c.
Takut diketahui istri tua, sehingga melakukan poligami liar dan sebagainya.
d.
Atau alasan klasik yaitu biaya yang mahal atau segudang alasan pribadi
lainnya.
Para pelaku nikah bawah tangan pada umumnya tidak mempunyai akta
nikah, yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah dalam kehidupan
selanjutnya, karena tanpa akta nikah segala perbuatan hukum yang berkaitan
dengan akibat pernikahan, seperti saat ia membutuhkan akta nikah guna
memperoleh kepastian hukum perkawinannya dan umumnya untuk persyaratan
administrasi anaknya, dan salah satunya digunakan untuk mengurus surat
keterangan pensiun janda atas suaminya yang telah
meninggal dunia, untuk
mengurus paspor haji, dan lain sebagainya, sekarang ini dapat diatasi dengan
itsbat nikah. Dengan itsbat nikah tersebut pasangan nikah bawah tangan bisa
diputihkan atau dilegalkan status perkawinannya berdasarkan waktu saat nikah
bawah tangan dilakukannya, dengan cara begitu anak-anak yang lahir juga
memiliki kedudukan hukum yang kuat. Anak juga memiliki hak memperoleh
pelayanan administrasi kependudukan, berupa akta kelahiran, selain itu tentu saja
hak hukumnya sebagai ahli waris dari orang tuanya juga terjamin atau pada
4
pokoknya suami istri maupun anaknya mendapatkan perlindungan hukum setelah
itsbat nikah.
Oleh karena ada kebutuhan yang mendesak, demi kepastian hukum atas
perkawinannya dan kepastian hukum tentang status anaknya, maka keduanya
(suami istri) mengajukan perkara permohonan itsbat nikah (voluntair) ke
Pengadilan Agama, kasus suami istri yang mengajukan permohonan itsbat nikah
tersebut adalah hal biasa. Akan tetapi itsbat nikah menjadi luar biasa bahkan
sangat menarik untuk dibahas jika itsbat nikah diajukan oleh orang yang sudah
mempunyai akta nikah, karena dalam kasus ini para Pemohon telah menikah
secara sah yang tercatat pada KUA kecamatan Tekung dan telah mendapat
kutipan Akta Nikah nomor : 104/13/V/2008 tanggal 14 Mei 2008 .
Bermula dari pengakuan suami istri (para Pemohon) pada tahun 2006 telah
menikah sirri, dari pernikahan tersebut lalu mempunyai anak dan pada tahun 2008
para pemohon menikah secara sah dan dicatatkan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku dengan mendapatkan Akta Nikah, lalu para Pemohon
mengajukan permohonan untuk mendapatkan Akta kelahiran anaknya, lalu
pejabat yang berwenang menolaknya dengan alasan tanggal kelahiran anaknya
tidak sesuai dengan peristiwa perkawinan dalam Akta Nikah yang dimilikinya,
karena tanggal kalahiran anak lebih dulu dari pada pernikahan resminya, sehingga
para Pemohon tidak akan menggunakan Akta Nikah tersebut.
Selanjutnya para Pemohon mengajukan itsbat nikah terhadap nikah sirrinya
yang telah dilaksanakan pada tanggal 13 Januari 2006 ke Pengadilan Agama
Lumajang, mungkin para Pemohon sadar bahwa nikah sirrinya tidak mempunyai
5
kepastian hukum maupun perlindungan hukum, bahkan banyak madlorotnya dari
pada manfaatnya.
Dalam menghadapi kasus itsbat nikah bagi para Pemohon yang sudah
mempunyai Akta Nikah tersebut, Pengadilan Agama dihadapkan pada persoalan
yang dilematis yaitu mengabulkan atau menolaknya, bila dikabulkan akan
melegalkan nikah di bawah tangan, di sisi lain itsbat nikah terhadap nikah di
bawah tangan yang telah memenuhi syarat dan rukunnya serta tidak melanggar
hukum perkawinan dapat disahkah melalui itsbat nikah, jika ditolak berarti
Pengadilan Agama menafikan akad nikah yang sah menurut syari’at Islam, selain
itu banyak perempuan dan anak-anak yang tidak mendapatkan perlindungan
hukum dan keadilan. Oleh karena itu Pengadilan Agama dituntut untuk
memberikan putusan dengan pertimbangan yang mengandung kemaslahatan yang
lebih besar sesuai dengan rasa keadilan dengan tetap berpegang pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Rupanya majelis hakim Pengadilan Agama Lumajang dalam memeriksa,
mengadili dan menyelesaikan perkara itsbat nikah ini menggunakan hukum
pembuktian, dengan mempertimbangkan keterangan para saksi yang diajukan
para Pemohon yang akhirnya Majlis Hakim Pengadilan Agama Lumajang
berkesimpulan untuk menolak permohonan para Pemohon2
Disamping itu dalam mengambil putusan atas permohonan itsbat nikah
tersebut, ternyata salah satu hakim anggota mengajukan Dessenting Opinion,
dengan alasan antara lain, Para Pemohon dengan Termohon tidak mempunyai
2
Salinan Putusan Pengadilan Agama Lumajang Nomor : 314/Pdt.G/2010/PA. Lmj. Tanggal 12
Mei 2011.
6
hubungan hukum yang menjadikan permohonan. Para Pemohon tidak jelas/kabur
dan Para Pemohon telah mempunyai Akta Nikah, sehingga perkara itsbat nikah ini
seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima (Niet Onvankelijke Verklaard) bukan
ditolak.
Berawal dari kasus yang telah penulis paparkan diatas, penulis tertarik untuk
membahasnya dalam sebuah karya ilmiyah dalam bentuk Skripsi yang berjudul
“Dissenting
Opinion
Hakim
Dalam
Perkara
Itsbat
Nikah
No
0314/Pdt.G/2011/P.A.Lmj di Pengadilan Agama Lumajang.”
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, maka terdapat rumusan masalah
sebagaimana berikut :
1.
Bagaimana pertimbangan hukum dan latar belakang hakim yang sepakat
(majority
opinion)
dalam
menolak
perkara
itsbat
nikah
Nomor:
0314/Pdt.G/2011/PA.Lmj?
2.
Apa pertimbangan hukum yang melatar belakangi hakim yang dissenting
opinion memutus negatif (niet onvankelijke verklaard) dalam perkara itsbat
nikah Nomor: 0314/Pdt.G/2011/PA.Lmj?
3.
Bagaimana akibat hukum bagi para Pemohon setelah perkara Permohonan
Itsbat Nikahnya diputus?
7
C.
Tujuan Penelitian
1.
Untuk mendeskripsikan pertimbangan hukum dan latar belakang hakim
yang sepakat (majority opinion) dalam menolak perkara itsbat nikah Nomor:
0314/Pdt.G/2011/PA.Lmj.
2.
Untuk menganalisis pertimbangan hukum yang melatar belakangi hakim
yang dissenting opinion memutus negatif (niet onvankelijke verklaard)
dalam perkara itsbat nikah Nomor: 0314/Pdt.G/2011/PA.Lmj
3.
Untuk menganalisis akibat hukum bagi para Pemohon setelah perkara
Permohonan Itsbat Nikahnya diputus.
D.
Kegunaan Penelitian
1.
Sebagai bahan kajian ilmiah tentang bagaimana hakim menerapkan hukum
acara dalam perkara itsbat nikah yang para Pemohonnya telah memiliki
Akta Nikah.
2.
Untuk mengetahui sejauh mana penulis dapat menguasai dan menganalisa
kasus itsbat nikah dan pranata dissenting opinion dalam penerapan hukum
oleh hakim.
3.
Untuk mencari solusi yang tepat dan memberikan rekomendasi kepada
pihak yang terkait dengan masalah perkawinan, agar di masyarakat tidak
ditemukan lagi pernikahan sirri /bawah tangan.
4.
Sebagai persyaratan bagi penulis untuk memperoleh gelar Sarjana (S1) pada
Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
8
E.
Batasan Penelitian
Penelitian dalam karya ilmiah ini terbatas pada pertimbangan hukum majelis
hakim pada kasus perkara itsbat Nikah Nomor : 0314/ Pdt.G/2010/ PA. Lmj.
Tanggal 12 Mei 2011 yang dalam amar putusannya menyatakan
bahwa
Pengadilan Agama Lumajang, Menolak permohonan para Pemohon. kemudian
penulis berusaha menganalisanya dengan menuangkan hasil analisa tersebut ke
dalam bab III Skripsi ini
F.
Definisi Operasional
Dalam setiap usulan atau rancangan penelitian, apapun format penelitian
yang digunakan, perlu penegasan batasan pengertian yang operasional dari setiap
istilah, konsep dan variable yang terdapat, baik dalam judul penelitian, rumusan
masalah, tujuan penelitian, dan hipotesis penelitian. Pendefinisian tersebut
bukannya kata per kata, tetapi per “istilahan” yang dipandang masih belum
operasional. 3 Pemberian definisi operasional terhadap sesuatu istilah bukanlah
untuk keperluan mengkomunikasikannya semata-mata kepada pihak lain,
sehingga tidak menimbulkan salah tafsir, tetapi juga untuk menuntun peneliti itu
sendiri di dalam menangani rangkaian proses penelitian bersangkutan (misalnya
di dalam menyusun instrument atau variable-varibel yang hendak diteliti, dan juga
dalam menetapkan populasi dan sampel, serta di dalam menginterpretasikan hasil
penelitian).4
3
4
Sanapiah Faisal, Format-Format Penelitian Sosial, (Jakarta; Rajawali Pers, 1999), 107.
Ibid.
9
Berkaitan dengan hal tersebut penulis akan mendeskripsikan beberapa
istilah yang digunakan dalam judul karya ilmiah ini, dengan maksud agar penulis
lebih terarah terhadap hal yang diteliti. Adapun kata dan istilah tersebut sebagai
berikut:
1.
Putusan adalah kesimpulan akhir yang diambil oleh majelis hakim yang
diberi wewenang untuk itu dalam menyelesaikan atau mengakhiri suatu
sengketa antara pihak-pihak yang berberkara dan diucapkan dalam sidang
terbuka untuk umum. Sedangkan menurut Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo,
S.H Putusan adalah suatu pernyataan oleh hakim sebagai pejabat Negara
yang diberi wewenang untuk itu dan diucapkan di dalam persidangan yang
terbuka untuk umum dengan tujuan untuk menyelesaikan suatu perkara atau
sengketa antara pihak yang berperkara.5
2.
Menurut
Bagir
Manan
Dissenting
opinion
adalah
pranata
yang
membenarkan perbedaan pendapat hakim (minoritas) atas putusan
pengadilan.6 Menurut Artidjo Alkostar dissenting opinion merupakan suatu
perbedaan pendapat hakim dengan hakim lain.7 Sedangkan menurut Pontang
Moerad dissenting opinion merupakan opini atau pendapat yang dibuat oleh
satu atau lebih anggota majelis hakim yang tidak setuju (disagree) dengan
keputusan yang diambil oleh mayoritas anggota majelis hakim.8
5
Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Agama, (Jakarta;
Yayasan Al- Hikmah, 2000), 173.
6
Bagir Manan. Dissenting Opinion. (Jakarta: IKAHI, 2006) , 11.
7
Artidjo Alkostar, Dissenting Opinions are Important, (Jakarta,Kompas, 2000), 1.
8
Pontang Moerad. Pembentukan Hukum Melalui Putusan Pengadilan Dalam Perkara Pidana.
(Bandung: PT.Alumni, 2005), 111.
10
3.
Permohonan ialah suatu permohonan yang di dalamnya berisi tuntutan hak
perdata oleh suatu pihak yang berkepentingan terhadap suatu hal yang tidak
mengandung sengketa, sehingga badan peradilan yang mengadili dapat
dianggap sebagai suatu proses peradilan yang bukan sebenarnya. 9
4.
Menurut Hukum Islam, Pengertian Itsbat Nikah ini berasal dari bahasa arab
yaitu Al Itsbat yang berarti penetapan. Itsbat Nikah secara hukum
merupakan permohonan Pengesahan Nikah yang diajukan ke Pengadilan
Agama untuk dinyatakan sahnya pernikahan dan memiliki kekuatan
hukum.10
G.
Penelitian Terdahulu
Penelitian oleh Siti Aisyah tahun 2008, 11 skripsi berjudul “Pandangan
Hakim Terhadap Itsbat Nikah Poligami Di Pengadilan Agama Bondowoso “.
Penelitian ini berfokus pada pendapat para hakim pengadilan agama bondowoso
terkait perkara itsbath poligami yang mana disinyalir belum pun materiil pada
hukum positip yang berlaku namun dikomparasikan dengan dengan merujuk pada
pasal 56 ayat (1): “pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan
memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau
kurang jelas, melainkan wajib memeriksa dan memutuskannya”. peneliti ingin
menggali sejauh mana pandangan Hakim Pengadilan Agama Bondowoso dalam
menyikapi kasus itsbat poligami baik dari segi yuridis maupun proseduralnya.
9
Mukti Arto, Prkatek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, (Yogyakarta; Pustaka Pelajar.
1996), 39
10
Tim Penyusun, Panduan Itsbat Nikah, (Tarakan; Pengadilan Agama Tarakan , 2011), 2.
11
Siti Aisyah, Judul Skripsi “Pandangan Hakim Terhadap Itsbat Nikah Poligami DiPengadilan
Agama Bondowoso “ (Malang; Pustaka UIN MALIKI, 2008)
11
Yang mana penelitian ini lebih menekankan substansi ke arah hukum acara
peradilan agamanya dibandingkan substansi materiil daripada dokumen-dokumen
resmi sesuai dengan kesimpulan dari penelitian ini yang secara garis besar dapat
digambarkan bahwasannya menurut para hakim pengadilan agama bondowoso,
dalam perkara perdata ini tidak ada perbedaan antara itsbat poligami dan itsbat
nikah yang mana landasan hukumnya dirujukkan pada KHI
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Nurul Huda tahun 2008, 12 skripsi
berjudul “Pandangan Hakim Pengadilan Agama Dalam Pelaksanaan Itsbat Nikah
Terhadap Pernikahan Sirri Yang Dilakukan Pasca Berlakunya UU No. 1 Tahun
1974 (Studi Kasus Di Pengadilan Agama Malang). Sekali lagi seperti
sebelumnya, Penelitian ini berfokus pada pandangan para hakim yang dalam hal
ini di dasarkan pada pendapat para hakim Pengadilan Agama Kota Malang
dengan substansi itsbat nikah terhadap pernikahan sirri yang dilakukan pasca
berlakunya UU No. 1 tahun 1974. Dalam penelitiannya, dipakai pendekatan
kualitatif yang secara khusus didasarkan pada sumber-sumber utamanya yaitu
pendapat para hakim dengan menganalisa data-data yang diperoleh dan
mendeskripsikannya (bukan berdasar dokumen-dokumen resmi). Seperti pada
kesimpulannya penelitian tersebut menunjukkan Pandangan Majelis hakim
Pengadilan Agama Kota Malang dalam mengabulkan perkara tersebut adalah
sudah benar berdasarkan pertimbangan-pertimbangan khusus seperti penggunaan
12
Nurul Huda tahun 2008, Judul Skripsi “Pandangan Hakim Pengadilan Agama Dalam
Pelaksanaan Itsbat Nikah Terhadap Pernikahan Sirri Yang Dilakukan Pasca Berlakunya UU
No. 1 Tahun 1974 (Studi Kasus Di Pengadilan Agama Malang” (Malang; Pustaka UIN MALIKI
2010)
12
kaedah-kaedah fiqh,Kompilasi Hukum Islam, serta pertimbangan-pertimbangan
lainnya.
Penelitian berikutnya oleh Siti Rokhma tahun 2010, 13 skripsi berjudul
“Pandangan Hakim Pengadilan Agama Bangil Terhadap Itsbat Nikah Pada
Orang Yang Telah Meninggal Dunia”. Seperti sebelumnya, Penelitian ini
berfokus pada pandangan para hakim yang dalam hal ini di dasarkan pada
pendapat para hakim Pengadilan Agama Bangil dengan substansi itsbat nikah
pada orang yang telah meninggal dunia. Dalam penelitiannya, dipakai pendekatan
kualitatif dengan jenis penelitian sosiologis (empiris). Yang mana dalam
penjabarannya tidak secara khusus membahas kasus sesuai dengan dokumen
resmi tertentu. Penelitian tersebut didasarkan pada kegelisahan peneliti jika pada
praktiknya ditemukan adanya kasus itsbat dengan latar belakang subjek hukum
yang telah meninggal dunia. Pada kesimpulannya, merujuk pada pendapat para
Hakim Pengadilan Agama Bangil, disebutkan bahwa perkara itsbat tersebut dapat
diproses asalkan pemohon harus dapat memenuhi persyaratan-persyaratan yang
telah ditentukan oleh Pengadilan Agama.
Sebagaimana yang sudah peneliti jelaskan di atas, bahwa dengan adanya
penelitian terdahulu ini dimaksudkan untuk membedakan penelitian yang peneliti
lakukan. Penelitian yang peneliti lakukan secara esensi memiliki perbedaan
dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu seperti yang peneliti
sebutkan di atas. Paling tidak terdapat perbedaan tentang sebab terjadinya itsbat
nikah, dimana sesuai dengan yang peneliti lakukan sekarang berdasarkan atas
13
Siti Rokhma tahun 2010,Judul Skripsi “Pandangan Hakim Pengadilan Agama Bangil Terhadap
Itsbat Nikah Pada Orang Yang Telah Meninggal Dunia” Pustaka UIN MALIKI, 2010
13
fenomena nyata sesuai dengan objek kajian dokumen resmi berupa putusan
majelis hakim. Meskipun objek penelitian (itsbat nikah) sama, namun peneliti
memiliki asumsi bahwasannya perkara yang peneliti teliti dikaji lebih khusus serta
terfokus pada kasus faktual yang sesuai dengan dokumen resmi yaitu itsbath nikah
sesuai putusan perkara nomor: 0314/Pdt.G/2011/PA.Lmj, dimana juga terdapat
suatu hal yang menarik berupa dissenting opinion salah satu hakim. Sehingga
peneliti menempatkannya sebagai salah satu kajian utama dalam penelitian ini, hal
tersebut juga merupakan salah satu poin perbedaan krusial antara ketiga penelitian
sebelumnya dengan penenelitian yang dilakukan peneliti. Dan satu hal lagi, hakim
yang mengadili perkara yang peneliti teliti berbeda dengan hakim yang dijadikan
sumber penelitian yang diangkat oleh ketiga peneliti terdahulu tersebut.
Ada tiga permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, yakni tentang
dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan yang menolak baik oleh
hakim yang Majority Opinion maupun hakim yang menyatakan Dissenting
Opinion, dan macam-macam latar belakang terjadinya perbedaan pendapat
tersebut pada kasus perkara ini serta akibat hukum terhadap perkawinan yang
telah dilakukan oleh yang bersangkutan setelah adanya putusan yang telah
berkekuatan hukum tetap. Lebih khususnya berkaitan dengan status akta nikah
yang telah dikantongi pemohon.
H.
1.
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Dilihat dari jenis penelitiannya, penelitian ini termasuk penelitian hukum
normatif, yang dilakukan dengan cara menelaah data-data sekunder. Penelitian
14
normatif ini termasuk penelitian kepustakaan (library research) atau studi
dokumen, karena obyek yang diteliti berupa dokumen resmi yang bersifat publik,
yaitu data resmi dari pihak Pengadilan Agama.
14
Penelitian hukum yang
dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka, dapat
dinamakan penelitian hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan.15
Penelitian hukum normatif disebut juga penelitian hukum doktrinal. Pada
penelitian hukum jenis ini, acapkali hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis
dalam peraturan perundang-undangan (law in books) atau hukum dikonsepkan
sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berperilaku manusia yang
dianggap pantas. 16 Oleh karena itu, sebagai sumber datanya hanyalah data
sekunder,17 yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder; atau
data tersier.18
2.
Pendekatan Penelitian
Yang dimaksud yaitu penelitian yang objeknya adalah permasalahan hukum,
sedangkan hukum adalah kaidah atau norma yang ada dalam masyarakat, maka
tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif, yakni penelitian
yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah atau norma dalam hukum
positif. Oleh karena tipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian yuridis
normatif, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang-
14
Bambang Waluyo. Penelitian Hukum Dalam Praktek. (Jakarta : Sinar Grafika, 2002), 13-14.
Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji. Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat.
(Jakarta : PT. RajGrafindo Persada, 2006),13.
16
Amiruddin dan Zainal Asikin. Pengantar Metode Penelitian Hukum. (Jakarta : PT. RajaGrafindo
Persada), 118.
17
Ronny Hanitijo Soemitro. Masalah-Masalah Sosiologi Hukum. (Bandung : Sinar Grafika,
1984),110.
18
Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum. (Jakarta; UI Press, 1984),54.
15
15
undangan (statute approach).
19
Pendekatan tersebut melakukan pengkajian
peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan tema sentral penelitian,
yang mana dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisa berbagai peraturan
hukum perkawinan.
3.
Sumber Penelitian
Sumber-sumber penelitian hukum dapat dibedakan menjadi sumber-sumber
penelitian yang berupa bahan-bahan hukum primer dan bahan-bahan hukum
sekunder.20 Karakteristik utama penelitian ilmu hukum normatif dalam melakukan
pengkajian hukum ialah sumber utamanya adalah bahan hukum bukan data atau
fakta sosial, karena dalam penelitian ilmu hukum normatif yang dikaji adalah
bahan hukum yang berisi aturan-aturan yang bersifat normatif. 21 Bahan-bahan
hukum tersebut terdiri dari :
a.
Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif
artinya mempunyai otoritas, bahan hukum primer terdiri dari perundangundangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundangundangan dan putusan-putusan hakim. Dalam penelitian ini bahan hukum
primernya berupa putusan hakim yang sudah mempunyai kekuatan hukum
tetap yaitu putusan perkara nomor : 0314/Pdt.G/2011/PA.Lmj.
b.
19
Bahan Hukum Sekunder
Johnny Ibrahim. Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif. (Malang; Bayumedia
Publishing, 2006), 295.
20
Peter Mahmud Marzuki. Penelitian Hukum. (Jakarta; Kencana, 2005), 141.
21
Bahder Johan Nasution. Metode Penelitian Ilmu Hukum. (Bandung; Mandar Maju , 2002), 86.
16
Sedangkan bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tentang hukum
yang bukan merupakan dokumen resmi. Dalam penelitian ini bahan hukum
sekunder berupa literatur atau buku-buku referensi ilmiah seputar Hukum
Acara Peradilan Agama, buku-buku yang membahas tentang itsbat nikah
dan buku tentang metodologi penelitian.
4.
Metode Pengumpulan Data
untuk memperoleh data yang benar-benar valid dalam penelitian ini perlu
ditentukan teknik-teknik pengumpulan data yang sesuai, maka peneliti ini
menggunakan metode-metode sebagai berikut:
a.
Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau varibel yang
berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya. 22
Metode pengumpulan data studi kepustakaan atau dokumentasi dilakukan
dengan pencatatan berkas-berkas atau dokumen yang berhubungan dengan
masalah yang dikaji.23 Data yang diperoleh dengan metode ini berupa datadata
yang
berkenaan
dengan
arsip
putusan
perkara
nomor:
0314/Pdt.G/2011/PA.Lmj yang dijadikan objek dalam penelitian ini.
Metode ini juga yang digunakan oleh peneliti dalam mengakses kajian teori
berupa buku-buku yang berhubungan dengan materi penelitian.
b.
Metode Interview
Metode interview atau wawancara yaitu proses Tanya jawab lisan antara
dua orang atau lebih yang saling berhadapan secara fisik dengan ketentuan
22
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, PT. Rineka Cipta : Jakarta.
2006, hal.231
23
Soerjono soekanto, sosiologi suatu pengantar, PT. Raja Grafindo : Jakarta. 2005, hal. 66
17
yang satu dapat melihat wajah yang lain, juga dapat mendengar dengan
telinganya sendiri.
24
Fungsi wawancara dalam penelitian ini adalah
melengkapi data yang ada, guna mengetahui dasar pertimbangan hakim
dalam memutus perkara nomor: 0314/Pdt.G/2011/PA.Lmj Dalam penelitian
ini peneliti langsung melakukan wawancara dengan hakim yang menangani
dan memutus perkara tersebut serta pejabat struktural atau fungsional
Pengadilan Agama terkait.
5.
Metode Analisis
Menurut pakar penelitian hukum Soerjono Soekanto, metode analisis data
pada hakikatnya memberikan pedoman tentang cara seorang ilmuan mempelajari,
menganalisis dan memahami lingkungan yang dihadapinya. Dalam penelitian ini
menggunakan metode deskriptif analitis, dimana penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan
apa-apa
yang
berlaku.
Didalamnya
terdapat
upaya
mendeskripsikan, mencatat, analisis, dan menginterpretasikan kondisi riil yang
sedang terjadi, dengan kata lain penelitian deskriptif bertujuan untuk memperoleh
informasi mengenai keadaan saat ini, dan melihat kaitan antara variabel-variabel
yang ada. Penelitian ini tidak menggunakan hipotesa melainkan hanya
mendeskripsikan apa adanya sesuai dengan variabel yang diteliti.25
Deskriptif di sini adalah menjabarkan, menggambarkan kajian tentang itsbat
nikah, alasan-alasan pengajuan itsbat nikah, serta hal-hal yang menjadi
pertimbangan hakim dalam memutus perkara tersebut secara jelas sesuai yang
diatur dalam undang-undang perkawinan.
24
25
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Andi Offset : Jakarta. hal 192
Mardalis. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta; Bumi Aksara, 2003), 26.
18
Adapun analisa di sini adalah kelanjutan dari metode deskriptif yang
menganalisa faktor-faktor yang dijadikan dasar pertimbangan hakim dalam
memutus perkara ini, pertimbangan hakim yang dissenting opinion, maupun yang
majority opinion serta menganalisa kedua pendapat tersebut dan menganalisa
tentang akibat hukum atas perkara permohonan itsbat nikah yang dijatuhi putusan
dengan menolak perkara tersebut.
I.
Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah dalam pembahasan Skripsi ini penulis akan membagi
ke dalam lima bab :
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini membahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, penelitian
terdahulu dan metodologi penelitian.
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini membahas tentang pencatatan perkawinan dan sahnya
perkawinan yang terdiri dari kriteria sahnya perkawinan, urgensi pencatatan
perkawinan, tatacara perkawinan, perkawinan di bawah tangan dan
penyelesaian hukum mengenai pelanggaran pencatatan perkawinan. Itsbat
nikah yang terdiri dari dasar hukum itsbat nikah dan para pihak dalam
perkara itsbat nikah. Dissenting opinion yang terdiri dari pengertian
dissenting opinion, praktek pengadilan memeriksa dan memutus perkara
19
sebelum ada pranata dissenting opinion dan praktek pengadilan memeriksa
dan memutus perkara setelah ada pranata dissenting opinion.
BAB III: TEMUAN DATA DAN ANALISIS
Pada bab ini membahas mengenai temuan data dan analisisnya, membahas
tentang dasar pertimbangan hukum oleh hakim yang menolak perkara itsbat
nikahnya, dasar pertimbangan hukum oleh hakim yang dissenting opinion
dengan menyatakan tidak dapat diterima itsbat nikahnya. Kemudian
dilanjutkan pada akibat hukum terhadap itsbat nikah bagi orang yang sudah
mempunyai akta nikah pada putusan ditolaknya atas perkara nomor:
0314/Pdt.G/2011/P.A.Lmj.
BAB IV: PENUTUP
Dalam bab terakhir ini membahas mengenai kesimpulan dan saran disertai
lampiran yang khususnya berkaitan dengan masalah dalam penelitian ini.
Download