Pemanasan Global

advertisement
LAPORAN
Indonesia di tengah
Pemanasan Global
EDISI 18/III/NOVEMBER-DESEMBER 2007
www.inti.or.id
sumarecon
Editorial
JANGAN BIARKAN NASIB KITA SEPERTI KATAK
Masih ingat cerita katak yang dimasukan ke air di dalam
panci, lalu dipanaskan perlahan-perlahan?
Karena merasa nyaman, sang katak tidak menyadari kalau
suhu panci telah semakin meninggi. Akhirnya ia menjadi korban, mati karena suhu panas tak tertanggungkan. Sang katak
tak bisa merasakan perubahan suhu yang bertahap. Berbeda
kalau ia dimasukan ke panci panas seketika. Dia akan meloncat merasakan perbedaan suhu yang mencolok.
Nah, sekarang coba kita merenungkan cerita sang katak di
atas. Jangan-jangan nasib kita lama-lama (atau tidak terlalu
lama lagi?) sama seperti sang katak. Akan mati karena suhu
bumi yang semakin memanas tapi kita tidak menyadarinya?
Kenaikan suhu bumi dari tahun ke tahun tidak kita rasakan.
Karena selain kecil kenaikannya, kita kerap merasa tetap sejuk terlena hembusan air-conditioner sepanjang waktu.
Kekhawatiran di atas bukan muskil akan terjadi, bila kita
tidak peduli akan perubahan lingkungan yang telah terjadi
selama ini. Memang ratusan dan bahkan ribuan seminar telah
digelar untuk mengatasi pemanasan global. Namun langkah
nyata pengelolaan lingkungan masih sekedar retorika. Kalaupun ada sifatnya sporadis dan kalah dengan kepentingan
ekonomi.
Celakanya bumi terus semakin memanas. Sementara retorika yang ada belum signifikan mengarah pada tindakan nyata
dan menyeluruh. Saatnya bagi kita melakukan perbuatan nyata
untuk mengurangi pemanasan global. Meski bukan merupakan
langkah besar, tindakan seperti menanam pohon dan mengurangi penggunaan air conditioner, misalnya, sudah merupakan
bentuk partisipasi aktif membantu menyelamatkan bumi.
Saat menjelang akhir ini, ada baiknya kita menghitung-hitung seluruh tindakan secara saksama, dalam kaitan perbaikan
dan perusakan lingkungan.
Bagaimana saldonya? Apakah masih positif? Jika negatif, sa­at
segera berbenah diri. Tindakan bijak kita saat ini, akan dikenang sepanjang masa oleh ratusan generasi anak cucu mendatang. Sementara kebodohan dan keserakahan kita, bukan
mustahil akan membuat “kiamat” terjadi di masa hidup kita.
Redaksi
4
6
8
26
27
48
58
62
64
66
Editorial
Surat Pembaca
Tahukah Anda?
Opini
Eka Budianta
Tentang INTI
Denyut INTI 8 Pekan
Hukum
Bantuan responsif
Sejarah
Ziarah ke Situs Batujaya
Renny Turangga
Suara Muda
Kesehatan
HIV / AIDS
Teknologi Kontribusi IT terhadap Global Warming
10
Laporan Utama
Bagaimana posisi Indonesia di tengah
perubahan iklim dan pemanasan
global? Tak hanya bahaya dari alam,
ternyata kita rentan terjebak dalam
permainan ekonomi dan politik global.
24 Referensi
Sebuah kalkulasi ekonomis antara
pembukaan ladang kelapa sawit vs
penjualan karbon. Mana yang lebih
untung?
44 Jendela Tionghoa
Benarkah Sastra Melayu Tionghoa yang
dianggap bergaya bahasa ‘rendah’
ternyata menjadi mata rantai pokok
dalam Kesastraan Indonesia? Claudine
Salmon membeberkan buktinya.
50 Nasional
Jakarta mengeluarkan Peraturan
­Daerah tentang ketertiban umum.
Upaya penyelesaian yang tak berpijak
pada kaum marjinal.
54 Budaya
Gambang Kromong, tempat berkaca
yang mulai kusam.
PEMIMPIN UMUM Rachman Hakim WAKIL PEMIMPIN UMUM Budi S. Tanuwibowo PEMIMPIN USAHA Kuncoro Wibowo WAKIL PEMIMPIN USAHA Haris Chandra PENASIHAT Akie Setiawan,
Arief Budiman, Benny G. Setiono, Bondan Winarno, Eddie Lembong, Gilbert Wiryadinata, Henry Boen, Karta Winata, Lim Ko Phing, Lu Ik Kun, Mely G. Tan, Michael Utama Purnama, Mona Lohanda, Myra
Sidharta, Nancy Widjaya, Dr. Siauw Tiong Djien, Thung Ju Lan PEMIMPIN REDAKSI Lisa Suroso DEWAN REDAKSI Ester Indahyani Jusuf, Mega Christina, Stanley Prasetyo, Ulung Rusman, Wahyu
Effendi, T.B Heckman KONTRIBUTOR Abraham Suroso, Ahmad Suwandi, Aryanto Harun, Christine Susanna Tjhin, Frumentius Amas, Hayfa Fakkhurozzi, John Gebze, dr. Ivan Fintan, Kemal Firdaus,
Kurnia Setiawan, Lorenz Gunadi, Marcellius Moa, Nova Satyadi, Sugeng Wibowo, Yayan Ahdiyat FOTOGRAFER Eric Satyadi DESAIN VISUAL Ico IKLAN & SIRKULASI Dede Supendi, Erie Puspa,
Reuben Pelenkahu, Yovanska Pramesti COVER Qiarazkha Laeticia Pelenkahu ALAMAT REDAKSI Superblok Mega Glodok Kemayoran, Office Tower B No.10, Jl. Angkasa Kav. B-6, Kota Baru
Bandar Kemayoran, Jakarta 10610 Telp. 021-26646828, 26646829 Faks. 021-26646597 EMAIL [email protected] HOMEPAGE www.inti.or.id NOMOR REKENING Bank Harda Internasional
a/c no. 0100.20788.0 a/n Perhimpunan Indonesia Tionghoa PERCETAKAN PT. Interact Corp - Isi di luar tanggung jawab percetakan ISSN 1411-4240
4 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
kirin
Suara Pembaca
Kerjasama dengan INTI Bali
Senang sekali membaca kegiatan
yang dilakukan INTI. Saya ingin dapat
bekerja sama dengan INTI, mudah-mudahan ada yang bisa memfasilitasi.
Institusi Rumah Sakit Tabanan punya
Tim Siaga Bencana yang sudah pernah
menjalankan misi kemanusiaan pada
musibah Bom Bali I, Tsunami Aceh,
Bom Bali II dan Gempa Jogjakarta.
Tim ini terdiri dari spesialis bedah
tulang, spesialis bedah umum, dokter
umum terlatih, perawat terlatih dan
tenaga pendukung lainnya.
Mudah-mudahan INTI Pusat melalui INTI Bali berkenan meninjau
keberadaan dan fasilitas kami di RS
Tabanan. Terima kasih,
dr. Agus Bintang Suryadhi M. Kes
Koordinator TMERT (Tabanan Medical
Emergency Response Team)
RS. Tabanan Bali
Jln Pahlawan 14 Tabanan Bali
Phone: 0361 811027
Fax: 0361 811202
dan jahitan sudah dilepas. Semoga
semua dokter INTI sehat.Wassalam,
Khaerudin, Bengkulu
Terimakasih, redaksi akan menyampaikannya ke INTI Pusat dan INTI Bali.
Tim dokter gembira atas pulihnya
bapak dan menyampaikan salam.
Tertarik Ikut Baksos
Terimakasih dari Porong
Tolong dong kalau ada baksos
pengobatan kabari saya. Saya tertarik
untuk join. Maju terus INTI...! GBU!
dr. Frans Susanto
Mewakili teman-teman koban lumpur
Lapindo-Porong, saya mengucapkan
terimakasih atas bantuannya. Semoga
Tuhan membalas budi baik ini.
Paring
Koordinator Pengungsi Lumpur
Lapindo, Sidoarjo
Senang sekali akan ketertarikan dokter untuk bergabung. Pasti akan kami
kabari via email.
Apakabar Dokter INTI?
Apakabar? Tidak lupa ‘kan?
Saya yang dioperasi oleh dr. Henry
dari Tim INTI di SP-10 Mukomuko,
Bengkulu. Luka saya sudah membaik
Terimakasih atas pertisipasi pembaca pada
Suara Anda. Tanggapan redaksi dapat Anda
lihat di
www.inti.or.id
Perhimpunan INTI dan
Majalah Suara Baru
Mengucapkan
Selamat Atas Perluasan
Kepengurusan Pengurus
Pusat Perhimpunan INTI
2005-2009
Semoga para pengurus yang
dilantik dapat bekerja dan
berkarya dengan baik.
6 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 7
Tahukah Anda ?
Keunikan Seputar Natal
Lomba Menulis
Cerita Pendek
Menurut survey
tahun 1995, 7 dari
10 anjing di Inggris
mendapatkan hadiah
natal dari majikan
tersayang mereka.
Di Ukraina, labalaba tiruan seka­ligus
dengan jaring-jemaringnya sering
disertakan dalam
dekorasi pohon natal. Ini dikarenakan
kepercayaan bahwa
sarang laba-laba
yang ditemukan
pada pagi hari di
waktu natal akan
membawa keberunfunnydogs.com
tungan.
Lain lagi di Norwegia, setelah makan malam dan membuka
hadiah natal, keluarga disana akan menyembunyikan semua
sapu yang ada di dalam rumah. Orang Norwegia percaya
mitos kuno yang mengatakan bahwa roh-roh jahat dan para
penyihir akan keluar di malam natal, kemudian mencuri
sapu milik mereka untuk ditunggangi.
Dalam rangka memperingati Satu Abad Hari Kebangkitan
Nasional pada 20 Mei 2008, Perhimpunan Indonesia Tionghoa
(INTI) DKI Jakarta menyelenggarakan Lomba Menulis Cerita
Pendek (Cerpen) dengan tema “Memperkokoh Persatuan
Bangsa”
Lomba terbuka untuk umum
Syarat dan ketentuan:
Kasim
Kekaisaran
Tradisi pengebirian terhadap pelayan istana pria
kekaisaran Tiongkok atau
yang disebut kaum kasim,
telah dilakukan sejak
2000 tahun yang lalu.
Pada awal zaman
Dinasti Qing – sekitar
tahun 1644 – kekaisaran
memiliki sekitar 9000
kaum kasim, menyusut
terus hingga tinggal 1500
orang di tahun 1908. Potongan alat vital mereka
diawetkan dan ditaruh di dalam semacam kendi, dan akan
ikut dikuburkan bersama ketika mereka meninggal.
Banyak dari kaum kasim yang mencapai posisi terhormat
dan berpengaruh di lingkungan istana.
8 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
• Lampirkan foto copy KTP/kartu identitas lainnya.
• Menggunakan Bahasa Indonesia sesuai EYD.
• Naskah harus asli bukan terjemahan atau saduran, dan belum pernah dipublikasikan baik melalui media cetak maupun elektronik.
• Tiap peserta paling banyak mengirim 2 (dua) buah naskah.
• Diketik dengan Microsoft Word di atas kertas HVS ukuran kwarto. Jarak 2 (dua) spasi, font Arial ukuran 12 (duabelas).
• Panjang naskah 1.500 – 2.000 kata. Dikirim rangkap 3 (tiga) disertai sebuah CD berisi naskah.
• Naskah dikirim melalui Pos ke alamat PERHIMPUNAN INTI DKI JAKARTA paling lambat cap pos 15 Maret 2008.
Superblok Mega Glodok Kemayoran (MGK), Office Tower B lantai 10, Jl. Angkasa kav. B-6, Kota Baru Bandar Kemayoran, JAKARTA 10610.
• Tulis ”Sayembara Menulis Cerpen INTI 2008” pada bagian kiri amplop.
• Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat.
• Hak cipta milik Perhimpunan INTI DKI JAKARTA termasuk hak untuk menyunting judul dan isi.
• Naskah yang tidak memenuhi syarat/ketentuan akan diabaikan.
• Dua puluh cerpen terbaik akan diterbitkan.
• Hasil lomba akan diumumkan dalam suatu acara memperingati Satu Abad Hari Kebangkitan Nasional, Mei 2008, dan akan dipublikasikan melalui Website Perhimpunan INTI (www.inti.or.id), Majalah Suara Baru dan Majalah Sinergi.
Hadiah :
1.
2.
3.
4.
Juara pertama uang sejumlah 5 (lima) juta rupiah.
Juara kedua uang sejumlah 3 (tiga) juta rupiah.
Juara ketiga uang sejumlah 2 (dua) juta rupiah.
Juara harapan lima orang masing-masing 1 (satu) juta rupiah.
Jakarta, 20 November 2007
Benny G.Setiono
Ketua
Henry Boen
Sekretaris
Laporan Utama
Indonesia di tengah Ancaman Global
Indonesia di tengah Ancaman Global
PULAU Serangan pernah melambungkan
namanya ke mancanegara karena penyu, karang yang indah dan habitat laut
yang kaya. Masyarakatnya hidup damai
dengan tradisi agama Hindu dan Muslim
yang kuat.
Akhir 1980, sekelompok investor didukung penguasa dan militer,
mengeruk laut dan memperlebar pulau
yang terletak di kawasan Bali itu.
Masyarakat diusir paksa dan tempattempat suci direlokasi dengan impian
pariwisata akan maju pesat setelah
proyek usai.
Apa mau dikata, krisis 1998 membuyarkan impian itu. Investor pergi
meninggalkan hamparan alam rusak
dan gersang. Seluruh aspek kehidupan
sosial, ekonomi, budaya dan rohani
masyarakat Serangan berubah. Laut
tidak lagi memberikan hasil, ekosistem
ganggang rusak, penyu tidak datang
lagi.
Akibatnya masyarakat
hidup miskin, rentan penyakit dan konflik sosial merebak. Kesucian upacara
agama tidak lagi sempurna. Karena
sulit mendapatkan ganggang merah,
kini masyarakat terpaksa mengganti
salah satu syarat upacara agama itu
dengan agar-agar instan.
Menurut data perhitungan ekonomi Lembaga Penelitian Universitas
Udayana, nilai produksi Pulau Se­rangan
sebelum proyek berjalan, adalah sekitar 2 trilyun rupiah per tahun. Saat ini
mereka mengalami kerugian hingga 8
trilyun rupiah per tahun.
Nasib masyarakat pulau Serangan
adalah salah satu contoh kecil terhadap dampak ketidakarifan dalam menjaga alam di negara kita. Kepentingan
ekonomi seringkali diatasnamakan
untuk mengeruk dan mengeksploitasi
alam, diikuti dengan penyingkiran ma-
syarakatnya. Hampir setiap hari media
mencatat kerusakan hutan, pence­
maran lingkungan, perdagangan satwa
atau tumbuhan, pembalakan liar, dan
sebagainya.
Akibatnya bisa ditebak. Banjir,
longsor, dan keke­ringan yang berujung
pada gagal panen dan kekurangan pa­
ngan menjadi berita sehari-hari.
Akibat jangka panjang dari kerusakan ini justru lebih merugikan daripada keuntungan yang didapat saat ini.
Kondisi geografis Indonesia sesungguhnya sudah cukup membuat negeri
ini berlangganan bencana. Sebagai
negara kepulauan terbesar di dunia,
pertemuan tiga lempeng bumi membuat Indonesia rentan gempa bumi
dan gelombang pasang. Indonesia juga
mempunyai ratusan gunung berapi
aktif. Kondisi geografis Indonesia di
sisi lain memberi potensi kekayaan
alam yang melimpah. Hutan
kita adalah hutan tropis
nomor dua terbesar di dunia.
Kita dianugerahi hasil tambang, tanah
yang subur dan keanekaragaman hayati
terkaya di dunia. Ironisnya, hampir
sebagian besar kekayaan alam Indonesia rusak parah. Dari sektor kehutanan
saja, Indonesia menghabiskan 300 kali
luas lapangan bola per jam melalui
deforestasi dan pembalakan liar.
Di tengah kondisi bangsa yang belum
sepenuhnya pulih dari multi krisis 1998,
kita berhadapan dengan kenyataan
yang tak nyaman: Masyarakat yang
belum bisa bangkit dari kemiskinan
terikat dengan model pembiayaan
pembangunan via hutang. Birokrasi
yang masih korup didukung penegakan
hukum yang lemah. Alam yang terlanjur
rusak tetap saja tereksploitasi. Indonesia juga dirudung ancaman bencana,
baik bencana alam dan bencana akibat
perbuatan manusia.
Saat ini kembali kita disadarkan oleh
sinyal-sinyal peringatan alam. Global
warming atau pemanasan global yang
diikuti oleh perubahan iklim bukan lagi
sebuah ramalan, tapi sudah menjadi
kenyataan. Bagi Indonesia, jelas ini
bukan pertanda baik.
Pengaruh Perubahan Iklim pada
Indonesia
Corak khas geografis, biologis dan
sosial Indonesia, menjadikannya sangat
peka akan perubahan iklim, seperti
gejala cuaca dan iklim ekstrim, naiknya
permukaan air laut, serta tingginya
kandungan karbon dalam atmosfer.
Sebagian besar penduduk Indonesia
masih sangat tergantung pada layanan
alam dari sumber daya hayati dalam
mencari nafkah. Seperti pertanian,
perhutanan, dan perikanan. Dengan letak
kota-kota besar dan tingkat sebaran penduduk yang padat di daerah pesisir dan
dataran rendah, Indonesia berada pada
posisi genting dalam perubahan iklim.
Gejala-gejala dari dampak peru­
bahan iklim sudah mulai dirasakan di
Indonesia. Misalnya saja anomali cuaca
ekstrem yang makin sering muncul,
intensitas badai siklon, puting beliung dan gelombang tinggi meningkat,
musim hujan yang makin pendek namun
dengan curah makin besar, sebaliknya
kekeringan melanda banyak daerah dan
membuat air tanah menyusut.
­Perubahan ini berdampak langsung
pada kehidupan masyarakat. Petani
padi di Jawa, Lampung dan Sulawesi
Selatan tahun ini merugi, pembuat garam di pesisir utara Jawa gagal panen,
pemilik tambak udang Indramayu
terkena abrasi. Belum lagi menghitung
berapa puluh ribu orang yang kehi­
langan tempat tinggal akibat banjir dan
longsor. Ini hanyalah sebagian contoh.
Laporan kedua Panel Ahli untuk
Perubahan Iklim (IPCC) April 2007 mencatat bahwa kenaikan rata-rata suhu
tahunan di Indonesia antara 1970-2004
mencapai 0,1-1 derajat celcius. Sedikit
kenaikan suhu ini saja, sudah menyebabkan rantai perubahan yang berujung
pada penurunan produksi pangan, meningkatnya gizi buruk, ­mengubah pola
distribusi hewan dan serangga, meningkatkan berbagai penyakit dan merusak
daerah pesisir pantai.
FILOSOFI BACK TO NATURE
Resiko yang dihadapi Indonesia
terlalu besar jika tetap mengabaikan
alam.
Usaha menjaga alam pun dilakukan
lewat mekanisme internasional se­
perti komitmen dalam Protokol Kyoto.
Desember ini Indonesia menjadi tuan
rumah dari Conference of Parties (CoP)
ke-13 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).
Di tingkat lokal Kementrian Negara
Lingkungan Hidup membuat Rencana
Aksi Nasional Dalam Menghadapi Perubahan Iklim. Payung hukum konsep
restorasi ekosistem dibuat oleh Kementrian Kehutanan. Berbagai LSM pun giat
mengkampayekan bahaya dari pemanasan global.
Yang perlu dicermati adalah bagaimana proses penyadaran filosofi kembali
ke alam ini bisa dipahami oleh seluruh
lapisan masyarakat Indonesia.
Mulai dari pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan negosiator antar
negara, sektor usaha yang kerap mengabaikan pelestarian lingkungan demi
keuntungan ekonomi, masyarakat kota
yang terlanjur mengenal gaya hidup
boros energi, sampai pada lapisan
masyarakat bawah yang tidak mengerti
apa-apa, tapi paling justru rentan akan
dampak kerusakan lingkungan.
Filosofi yang membela alam tak bisa
lagi dipandang sebagai penghambat
kemajuan ekonomi, tapi justru me­
nyelamatkannya.
Untuk bisa memerintah alam, kita
perlu ikut aturan mainnya. n
Apa Itu Pemanasan Global ?
Siklus Karbon dan Efek Rumah Kaca
Karbon adalah dasar dari semua materi organik, dari fosil hingga sel manusia. Karbon terus berputar dalam bumi, menempuh siklus alami
melalui mahluk hidup, tanah, laut, dan atmosfer. Apa yang terjadi ketika manusia mulai merusak siklus karbon? Dampak seriusnya telah kita
rasakan, meningkatnya level karbon dalam atmosfer. Saat ini kita tidak tahu persis kemana karbon yang dihasilkan dari pembakaran fosil
pergi. Sebagian besar jelas terperangkap di atmosfer, tapi tiap tahun kita kehilangan data sebanyak 15-30% dari karbon itu (NASA).
10 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Pemanasan global merupakan
kejadian yang diakibatkan oleh
meningkatnya temperatur ratarata pada lapisan atmosfer, air
laut dan daratan.
Penyebab utamanya adalah
aktivitas manusia dalam pembakaran bahan bakar berbasis fosil
seperti batu bara, minyak bumi
dan gas alam, serta kegiatan lain
yang berhubungan dengan hutan,
pertanian dan peternakan.
Aktivitas manusia itu secara
langsung maupun tidak langsung,
menyebabkan perubahan komposisi alami atmosfer, yaitu mening-
katnya selimut karbon dioksida
dan gas-gas lain sehingga mele­
bihi konsentrasi yang seharusnya.
Gas-gas ini membentuk
selimut yang menghambat pantulan sinar matahari ke angkasa,
sehingga mengakibatkan efek
rumah kaca. Panas matahari
yang terperangkap menimbulkan
peningkatan temperatur bumi
secara global yang akan diikuti
dengan perubahan iklim.
Pemanasan global dan peru­
bahan iklim sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Suhu
yang meningkat membuat es di
kutub utara mencair, volume permukaan air laut pun bertambah.
Kelembaban terjadi karena lebih
banyak air menguap dari lautan,
akibatnya curah hujan dan badai
meningkat. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih
ekstrim. Data pada akhir abad
ke-20 mencatat:
Sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir
terjadi setelah tahun 1990.
Tiga tahun terpanas terjadi
setelah tahun 1990.
Waktu paling panas terjadi
pada 1998.
Meskipun konsentrasi gas
rumah kaca belum ber­
tambah lagi pascatahun 2000, iklim
terus menghangat
karena emisi yang
dilepaskan pada
periode sebelumnya.
Lama karbon dioksida berada
di atmosfer diperkirakan 100 tahun lebih, sebelum alam mampu
menyerapnya kembali.
Jika emisi gas rumah kaca
terus naik, maka pada awal abad
ke-22 suhu bumi akan meningkat
tiga kali lipat dari saat ini.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 10
Laporan Utama
Indonesia di tengah Ancaman Global
Perubahan di Tangan Kita!
Hutan Hilang Bencana Datang
Tanpa ancaman pemanasan global dan perubahan iklim, kondisi geografis Indonesia sudah cukup membuat bencana alam sering terjadi.
Kondisi sosial, politik, hukum, dan ekonomi Indonesia yang belum stabil, menempatkan masyarakat dalam posisi yang
sulit meraih kesejahteraan. Peringatan akan adanya pemanasan global tidak bisa diabaikan.
Saatnya melakukan perubahan.
tsunami
gunung api
titik api
lempeng bumi
jalur patahan
Skala Daerah Rawan Pangan 2005
Jumlah Bencana Alam Indonesia 1998-2007*
*Oktober 2007
Diolah dari data WALHI, Bakornas, Departemen Kesehatan, Media
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA
Pangan
Produktivitas
pertanian
dan hasil laut
menurun
Lahan tani
beralih fungsi
Ekosistem
20-30% tanaman hewan
darat dan laut
punah
Pemutihan
karang
Kesehatan
Penyakit tropis
(DBD, flu burung,
dll) lebih cepat
menyebar
Virus bertahan
makin lama
Daerah Pesisir
Erosi dan abrasi
pantai
Pulau-pulau
tenggelam
Wisata pantai
bangkrut
Hutan
Produksi hutan
menurun
Kebakaran
hutan
meningkat
Sumber Air
P
erhatian dunia sedang terarah ke Indonesia. Selain menjadi tuan rumah Konferensi
Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang
­Perubahan Iklim pada Desember 2007 ini, Indonesia meraih rekor baru: penyumbang nomor satu
emisi karbon dioksida dari sektor kehutanan.
Hutan memegang peranan sangat penting
dalam siklus karbon dunia, dimana karbon tersimpan dalam jumlah besar dan proses fotosintesa
serta respirasi, memperlancar pertukaran karbon
dengan atmosfer. Tapi ketika hutan dirusak oleh
manusia dengan pembalakan liar, kebakaran,
konversi tata guna lahan dan prosedur panen yang
salah, hutan menjadi sumber penyumbang emisi
karbon.
Jumlah total area hutan Indonesia adalah 187,9
juta hektar. Jumlah ini menyusut menjadi 144
juta hektar pada akhir 1960, dan menyusut lagi
menjadi 120,55 juta hektar di tahun 2005. Ironisnya, dari luas terakhir, 53,9 juta hektar dalam
keadaan rusak dan kritis. Angka resmi Depertemen Kehutanan mencatat laju kerusakan hutan
2,8 juta hektar per tahun, dengan laju penurunan
tertinggi terjadi di Sumatera, diikuti oleh Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Gambaran
sederhananya, dalam sehari, 51 km persegi hutan
dihancurkan. Lagi-lagi, ini rekor tercepat dalam hal
penghancuran hutan.
Hilangnya hutan berkaitan erat dengan runtutan
bencana yang terjadi. Kekeringan mata air, kabut
asap, banjir dan longsor telah menyengsarakan
masyarakat disertai dengan kerugian ekonomi
yang tidak sedikit. Dari pembalakan liar saja
negara dirugikan Rp. 30 triliun dengan total kayu
curian 70 juta meter kubik per tahun.
Pembalakan liar di hutan Indonesia memang
sulit dikendalikan. Hal ini terkait dengan keterlibatan oknum instansi terkait seperti Departemen
dan Dinas Kehutanan, Kepolisian, TNI, hakim
dan jaksa. Pelaku yang dijerat masih pada level
operator, sementara cukong-cukong besar bebas
melenggang. Undang-undang dan Surat Keputusan
yang mengatur Pengelolaan Hutan dan Tata Niaga
Kayu belum sepenuhnya dapat menjerat pelaku
di balik layar, terutama pemodal. Yang dijerat kebanyakan pelaku kelas teri seperti nahkoda kapal,
supir truk atau penebang. Hukumannya pun ringan
bahkan banyak yang divonis bebas. Berdasarkan
data tahun 2005, kasus pene­bangan liar di hutan
konservasi berjumlah 276 kasus, namun hanya
15 kasus yang divonis. Keterlibatan oknum aparat
dalam kegiatan kayu ilegal juga merambah sektor
bisnis. Data dari Telapak Indonesia, 80% perusahaan kayu di Surabaya menampung kayu ilegal.
Kabarnya, diantara perusahaan itu banyak yang
dimodali Primkopad dan Primkopal.
Selain itu, pencurian kayu telah menjadi bagian
dari jaringan sindikat internasional yang rapi dan
solid. Vietnam, Malaysia, China, Hongkong dan Uni
Eropa cenderung melegalkan perdagangan kayu
ilegal dari hutan tropis. Sebagai contoh, di tahun
1999, Uni Eropa mengimpor 10 juta meter kubik
kayu, dimana nyaris setengahnya berasal dari tiga
negara – Indonesia, Brazil, dan Kamerun - yang
disinyalir liar, senilai US$ 1,5 miliar per tahun.
(Timber Traficking, TELAPAK/EIA, 2001).
Dari negara anggota Uni Eropa, Inggris merupakan pengimpor kayu liar terbesar ( 1,6 juta
meter di tahun 1999 ), 60 persen kayu yang diimpor ke Inggris merupakan kayu liar senilai US$
200 juta. Pengimpor terbesar berikutnya adalah
Perancis, Belgia, Jerman, dan Belanda.
Konsumsi kayu Uni Eropa yang tak mengindahkan asal-usul kayu membuat mereka secara
langsung ikut bertanggung jawab atas kerusakan
hutan di negara-negara tropis. Sampai saat ini
belum ada payung hukum yang melarang negara
anggota Uni Eropa untuk mengkonsumsi kayu
ilegal yang jauh lebih murah dari harga pasar internasional. Konsumsi kayu tropis Uni Eropa setara
dengan penebangan hutan seluas 700 ribu hektar
setiap tahunnya. n
Jalur Pembalakan Kayu Ramin
Air berkurang
Perbandingan Emisi Gas Rumah Kaca
Hutan Susut, Titik Api Bertambah
Penyusutan Hutan Kalimantan
Ekspor Kayu Indonesia ke Negara Lain
Kayu Ramin dikirim ke China,
Jepang, Hongkong, Amerika Utara,
Eropa
Perebutan
sumber
mata air
Kuala Lumpur
MALAYSIA
Jepang
22%
Kuching Sibu
SINGAPURA
Pontianak
Amerika Utara
11%
Palangkaraya
KELAPARAN, KEKERINGAN, PENYUSUTAN DARATAN, IMIGRASI, KEMISKINAN,
STRUKTUR EKONOMI RUNTUH, KONFLIK SOSIAL, KERUSUHAN,
PERANG, PERDAMAIAN DUNIA TERANCAM
12 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Kawasan
dilindungi
yang ditumbuhi
Ramin
Rute Pembalakan
Liar
Rute Ekspor
INDONESIA
Jakarta
Wilayah Lain
5%
JAWA
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 13
Laporan Utama
M
TARIK ULUR TANGGUNG JAWAB
Protokol Kyoto yang lahir pada Desember 1997 dibentuk sebagai sarana
teknis untuk mencapai tujuan Konvensi
Perubahan Iklim.
Negara yang meratifikasi Konvensi
Perubahan Iklim dibagi dalam dua
kelompok, yaitu negara Annex I, yang
dianggap telah menyumbangkan emisi
14 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
gas rumah kaca sejak revolusi
industri tahun 1850-an; dan
negara Non-Annex I, yaitu
negara yang tidak termasuk dalam Annex I, dimana
kontribusi gas rumah kacanya
jauh lebih sedikit, serta memiliki pertum­buhan ekonomi
yang jauh lebih rendah.
Protokol Kyoto mewajibkan
penurunan emisi gas rumah
kaca oleh negara Annex I
sebesar 5,2% di bawah tingkat
emisi 1990 dalam kurun
waktu 2008-2012. Negara
Non-Annex I tidak diwajibkan menurunkan emisi tapi
boleh melakukannya dengan
sukarela.
Protokol ini mulai mengikat secara hukum setelah
Rusia meratifikasinya pada 2004 sebagai
negara ke-55, dan membuat total
emisi negara Anex I berjumlah 61,79%
dari total emisi tahun 1990. Sesuai ke­
sepakatan, protokol mulai berlaku jika
sedikitnya diratifikasi oleh 55 negara
dan berjumlah total emisi 55%.
Dalam Protokol Kyoto ditawarkan tiga
mekanisme fleksibel untuk membantu
negara industri menekan laju emisi gas
rumah kaca, yaitu Joint Implementation (JI), Emission Trading (ET) dan
Clean Development Mechanism (CDM)
atau Mekanisme Pembangunan Bersih.
Tiga mekanisme ini memungkinkan
pengalihan penurunan emisi dengan
cara membuat proyek bersama yang
meningkatkan resapan gas rumah kaca,
saling memperjual belikan kelebihan
jatah emisi, dan melakukan investasi
dalam program yang berpotensi me­
ngurangi emisi di negara Non-Annex
I. (Lihat Boks: Berbagai Macam Pasar
Karbon, halaman 18).
Political Advisor Greenpeace,
Arief Wicaksono menyatakan bahwa
ke­sepakatan yang lahir dalam Proto-
Ilustrasi: rio
eningkatnya bukti-bukti ilmiah akan adanya pengaruh aktivitas manusia terhadap ­perubahan
iklim telah menjadi salah satu isu pen­
ting dalam agenda politik internasional.
Perubahan iklim bukan lagi sekadar
masalah lingkungan, namun sesuatu
yang mengancam perdamaian dan
keamanan internasional, kemakmuran
dan pembangunan. Tanpa usaha serius,
pemanasan global akan menjadi sumber
konflik baru antar negara.
Menyadari bahwa masalah ini
­menyangkut kehidupan seluruh planet
bumi, Panel Antar Pemerintahan Me­
ngenai Perubahan Iklim (IPCC) dibentuk.
Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang
Perubahan Iklim (UNFCCC) ditetapkan
untuk menstabilkan konsentrasi gas
rumah kaca. Sebuah kesepakatan antar
negara untuk mengatur upaya penurunan emisi lahir di Kyoto (Protokol
Kyoto). Isu ini bahkan digiring untuk
dibahas oleh Dewan Keamanan PBB.
Namun perjuangan untuk me­
nyelamatkan bumi dan manusia di
dalamnya, tak semulus yang diperkirakan. Implementasi Protokol Kyoto
menuai banyak kritik. Berbagai blok
negara terbentuk untuk lebih memperjuangkan kepentingan nasionalnya
masing-masing dibandingkan dengan
kepentingan global bumi. Isu perubahan
iklim menjadi ajang pertarungan dan
ajang bisnis baru antara negara maju
dan negara berkembang. Salah satu
pertarungan yang menentukan dilaksanakan di Bali pada Desember 2007 ini.
Diantara Hijaunya Daun
dan Hijaunya Dollar
kol Kyoto adalah kompromi di antara
negara-negara Annex I untuk saling
toleran kewajiban terhadap nilai emisi
gas rumah kaca. “Keengganan negara
Annex I menekan laju petumbuhan ekonomi mereka yang agresif, diungkapkan
dalam siasat-siasat moneter. JI, ET dan
CDM adalah bentuk siasat itu,” ungkapnya. Melalui mekanisme di atas, negara
industri sebagai penyumbang terbesar
emisi gas rumah kaca, bisa membayar
suatu negara berkembang yang mampu
mengupayakan pengurangan emisi karbon, tanpa harus menekan laju agresif
pertumbuhan ekonominya.
Ketergantungan tinggi akan konsumsi bahan bakar pada negara industri
memang menyebabkan mereka sulit
menekan emisi gas rumah kaca. Protokol Kyoto juga dianggap bisa menggangu roda perekonomian mereka.
Sampai saat ini Amerika Serikat sebagai
penghasil emisi terbesar dunia masih
menolak Protokol Kyoto. Pilihan yang
sama diambil oleh Australia.
Dilema Negara Berkembang
Negara berkembang seperti Indonesia
Indonesia di tengah Ancaman Global
menghadapi dilema dalam usaha pene­
rapan mekanisme Protokol Kyoto. Saat
negara maju bebas mengumbar emisi
dan bisa memenuhi kewajiban menurunkan dengan membeli kredit dari negara berkembang, posisi negara miskin dan
berkembang paling rentan saat dampak
perubahan iklim itu terjadi.
Di satu sisi, CDM sebagai satu-satunya
mekanisme Protokol Kyoto yang melibatkan negara berkembang, membuka
berbagai peluang untuk membangkitkan
ekonomi sekaligus menciptakan kondisi
lingkungan yang relatif lebih baik.
CDM menghasilkan proyek yang
dapat menurunkan emisi gas rumah
kaca serta mendukung pembangunan
berkelan­jutan. Proyek-proyek ini meliputi proyek energi terbarukan, seperti
tenaga matahari, angin, gelombang,
panas bumi, air dan biomassa; menurunkan tingkat konsumsi bahan bakar
(efisiensi energi); mengganti bahan
bakar fosil dengan bahan bakar lain
yang lebih rendah tingkat emisi gas
rumah kacanya (misalnya dari minyak
bumi menjadi gas); dan jenis-jenis lain
seperti pemanfaatan gas metan dari
pengelolaan sampah.
Bukti bahwa proyek-proyek tersebut
telah menurunkan emisi gas rumah
kaca adalah diterbitkannya sertifikat
pengurangan emisi (Certified Emission
Reductions-CER) oleh Komite Nasional
CDM atas proyek yang bersangkutan.
Sertifikat inilah yang kemudian dapat
dijual negara berkembang ke negara
maju bak surat berharga. Harga selembar CER berkisar antara US$ 5-15.
Tren bisnis baru yang memutar
milyaran dollar pun dimulai. Berdasar-
kan data Komisi Nasional Mekanisme
Pembangunan Bersih, dalam kurun
waktu 2008-2012, Indonesia berpotensi
menangguk laba antara 81,5 juta sampai 1,26 milyar dollar AS.
Dalam CoP-13 di Bali nanti, pemerintah Indonesia akan mengajukan usulan
untuk memasukkan upaya pencegahan
deforestasi dan kerusakan hutan atau
REDD (reducing emission from deforestation and degradation) untuk diadopsi
sebagai salah satu skema pendanaan
dari pengurangan emisi karbon pascatahun 2012. Hutan dianggap komponen
penting yang mampu menyerap emisi
(carbon sink). Dari mekanisme ini, Indonesia berharap akan memperoleh 2
milliar dolar AS per tahun.
Hiruk-pikuk dunia dalam mengatasi
efek pemanasan global dan putaran
uang yang terjadi di belakangnya,
memancing berbagai pendapat pro dan
kontra. Di satu sisi, pemerintah-peme­
rintah negara berkembang mengharap
kompensasi dari negara maju, apabila
mereka berhasil menurunkan kerusakan
hutan dan menja­ganya. Namun di sisi
lain, mekanisme ini memancing komentar sinis, bahwa bisnis karbon lebih
populer daripada esensinya se­bagai
usaha pencegahan efek pemanasan
global dan pelestarian lingkungan.
Para environmentalis maupun komunitas masyarakat adat juga khawatir
akan masuknya carbon sink dalam mekanisme CDM. The First International
Forum of Indigenous Peoples on Climate Change menyatakan bahwa masuknya carbon sink dalam mekanisme
CDM akan mengandung strategi skala
dunia dalam rangka pengambil-alihan
tanah dan hutan. Demi membayar
hutang, negara berkembang dan miskin
akan mengambil kesem­patan untuk
‘menyewakan’ hutannya ke pasar karbon. Sebagai contoh, proyek di Uganda
dan Ecuador telah menyingkirkan
ribuan komunitas lokal dari hutan, akibat privatisasi hutan oleh perusahaan
negara maju yang dibekingi pemerintah
masing-masing.
Peta Jalan Bali
Pertemuan Para Pihak (COP) ke-13 di
Bali mempunyai se­mangat melahirkan
kesepakatan baru tentang roadmap atau
peta jalan menuju pertemuan di Denmark pada 2009, sebagai tahun sasaran
peram­pungan protokol baru post-2012.
Diharapkan peta ini mampu menciptakan pola pembangunan abad
ke-21 yang rendah karbon, sekaligus me­
ngurangi kemiskinan, menghapus ketim­
pangan pendapatan dan meningkatkan
ke­sejahteraan sosial menuju dunia glo­
bal yang lebih adil antara negara maju
dan negara berkembang. Pertemuan ini
adalah ruang pertarungan antara negara
kaya/maju dan negara miskin/berkembang yang rentan dimenangkan oleh
kelompok bisnis (business as usual).
Target kesepakatan baru di Bali harus
lebih menekankan pada akar masalah
perubahan iklim, dan bukan menjadi
ajang tawar-menawar dollar dalam mekanisme pasar, dimana pada akhirnya
tidak ada perubahan pada tingkat emisi
karbon di atmosfer kita. Karena masyarakat yang paling miskin, yang tidak
menyumbangkan gas rumah kaca secara
berarti, mempertaruhkan nyawanya
dalam dampak perubahan iklim. n
Hadiah Nobel di Tengah Ketidakpedulian Global
Tahun ini Nobel Perdamaian dianugerahkan
pada Al Gore dan Panel Antar Pemerintahan
tentang Perubahan Iklim (IPCC). Film dokumenter yang dibintanginya, ‘An Inconvenience
Truth’ juga meraih Academy Award 2007 se­
bagai film dokumentasi terbaik.
Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat era
Bill Clinton ini dianggap sebagai satu-satunya
orang yang paling berperan dalam meningkatkan
Al Gore
pemahaman masyarakat dunia tentang perlunya
mencegah pema­nasan global.
Komite Nobel memang sepakat mengaitkan isu pema­nasan global
dan perubahan iklim dalam konteks perdamaian dunia.
Walaupun isu pemanasan global dan perubahan iklim makin gencar
belakangan ini, namun tingkat ketidakpedulian dan keawaman publik
masih tinngi. Politisi dunia pun masih acuh, dan banyak yang lebih
tertarik pada sisi bisnisnya. Sebuah ironi, bahwa penerima Nobel Perdamaian berasal dari negara adikuasa yang memilih tidak ikut dalam
usaha global, bersama sebagian besar negara di dunia. Padahal AS
adalah negara penyumbang emisi tertinggi.
Penolakan mati-matian AS terhadap Protokol Kyoto didasari akan
kekhawatiran terganggunya roda perekonomian dan anggapan bahwa
keuntungan ekonomi yang mereka dapat tidak signifikan.
James L. Connaughton, penasihat senior urusan lingkungan untuk
Presiden Bush, juga ­mengungkapkan alasan lain, yaitu bebasnya
China dan India untuk tidak menurun­kan emisinya. Ia berpendapat
bahwa bila AS, India dan China bekerjasama menanggulangi emisi,
hasilnya akan 20 kali lipat lebih baik. Di lain pihak, AS mengaku mempunyai kebijakan alternatif sendiri untuk mengurangi emisi gas rumah
kaca sebanyak 18% pada 2012.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 15
Laporan Utama
Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxx
Carbon Trading: Godaan Trend Bisnis
Milyaran Dollar
PT.
Bumi Makmur Selaras - BMS founded in 2002 & P.T Makmur Jaya Lestari – MJL
founded in 2004 respectively; are actively involved in Mining Metals & Minerals Industry in
Indonesia. The companies instituted basic services as to discover, perform mining activites
& sales of the ores.
Dalam kurun waktu kurang dari lima tahun,
carbon trading atau perdagangan karbon
sudah memutar milyaran dollar AS di pasar
karbon. Sebuah tren bisnis baru dengan
semangat menjaga lingkungan atau
upaya cuci dosa?
At present, the companies aim to expand our horizons, polishing the talents & gifts, developing relevant experience & effective technology transfer; seeking to improve the well-being of
the locals, to engrave positively lasting impressions & establishing infrastructures within the
vicinity of the regional domains in the feasible future.
16 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Ilustrasi: rio
P
erdagangan karbon muncul setelah Protokol Kyoto
yang melibatkan 169 negara mengikat secara hukum di
tahun 2005. Perjanjian ini mewajibkan negara industri
mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) mereka seba­nyak
5,2% di bawah kadar yang mereka lepaskan pada tahun 1990
dalam kurun waktu 5 tahun (mulai 2008-2012).
Setelah melalui perdebatan panjang, Protokol Kyoto
menyetujui tiga mekanisme lentur untuk membantu negara
industri menekan emisi, yaitu: Implementasi Bersama (Joint
Implementation/JI), Perdagangan Emisi (Emission Trading/
ET) dan Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development
Mechanism/CDM). (Lihat Boks)
Di bawah peraturan Protokol Kyoto inilah pasar karbon
terbesar di dunia lahir. Secara sederhana, laju emisi gas
rumah kaca yang dihasilkan, bisa diturunkan dengan cara
membeli kredit karbon atau membayar proyek yang me­
ngurangi, menetralisir atau menyerap emisi gas rumah kaca,
melalui lembaran sertifikat semacam surat berharga yang
beredar di pasar karbon. Karbon disini merujuk kepada enam
gas rumah kaca yang dianggap mempunyai peran besar dalam
pema­nasan global, yaitu karbondioksida (CO), metana (CH),
nitrogen oksida (NO), hidrofluorokarbon (HFCs), perfluorokarbon (PFCs) dan sulfur hexaflourida (SF6).
Sejak upaya penurunan emisi gas rumah kaca menjadi
kewajiban, bisnis karbon tumbuh menjadi sebuah komoditas
baru yang sangat menjanjikan. Tingginya permintaan kredit
karbon dari negara industri diikuti dengan tren kampanye
pemanasan global yang telah menggaet Nobel dan Piala Oscar, membuat sertifikat karbon ini laris manis.
Mulai dari perusahaan-perusahaan di negara Eropa yang
terikat perjanjian, bank besar macam HSBC yang menyatakan diri ‘carbon neutral’ dengan mengalokasikan 7 juta
dolar AS dalam pasar karbon, sampai Grup Rolling Stones
yang membeli kredit secara sukarela demi menjaga image.
Sebuah agen perjalanan di Inggris bahkan menciptakan
kalkulator online yang bisa menghitung berapa banyak CO2
yang kita hasilkan selama perjalanan dengan pesawat.
Kalkulator ini terhubung dengan salah satu pusat manajemen
karbon yang menggelitik niat baik penumpang untuk meng-
PT. Bumi Makmur Selaras
ganti emisi mereka dengan harga 4,5 poundsterling per ton
karbon.
Barclays Capital, salah satu perusahaan investasi terbesar di Inggris, menyatakan bahwa perdagangan karbon bisa
menjadi perdagangan terbesar di dunia dengan ET sebagai
segmen tercepatnya. Transaksi mereka sudah mencapai 30
milyar dollar AS. Kini mereka menargetkan 1 triliun dollar AS
dalam 10 tahun mendatang.
Deutsche Bank menyatakan bahwa usaha mencegah pemanasan global sudah menjadi sebuah kesempatan investasi
megatren yang menggoda. “Percaya atau tidak, pasar-pasar
investasi telah diciptakan dan investasi ini akan tumbuh secara signifikan sampai 20-30 tahun yang akan datang,” kata
Mark Fulton, Kepala Strategic Planning and Climate Change
Strategist Deutsche Bank. Bank ini sudah menarik 6 milyar
euro dalam transaksi karbon dan memprediksi transaksi sebesar 60 milyar euro per tahun akan menguasai pasar karbon
Eropa di tahun 2013.
Para pemain besar perdagangan karbon itu pun memancangkan kaki di Indonesia. Tapi karena Indonesia adalah
negara berkembang, mekanisme perdagangan karbon ala
Protokol Kyoto yang bisa diterapkan adalah melalui CDM atau
Mekanisme Pembangunan Bersih (lihat boks). EcoSecurities
misalnya, yang dinyatakan sebagai perusahaan carbon trading terbaik 2006, membuka kantor cabangnya di Indonesia
iklan
富 域有限公司和伟丰有限公司是活跃在金属和矿物开采行业的印尼公
司。其中富域有限公司成立于2002年,伟丰有限公司成立于2004年。公司
主要从事探矿采矿,以及销售矿物等活动。公司全体职员致力于:开阔视
野;磨炼意志;积累经验提高专业技能;保障社区安宁;保持良好形象以
及社区未来的基础设施建设。
P. T. BMS. P.T. MJL.
Menara Batavia, 25th floor,
JL. K. H. Mas Mansyur, Kav. 126,
Jakarta 10220, Indonesia
Telp.: +62-21-5793 0294, Fax: +62-21-5793 0295
E-mail: [email protected]
PT. Makmur Jaya Lestari
Laporan Utama
Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxx
Uang yang Beredar di Pasar Karbon. Menggiurkan?
2006 Volume
(Million tCO2)
Voluntary OTC Offset Market
2006 Value
(US$ Million)
13.4
54.9
CCX
10.3
36.1
Total Voluntary Market
23.7
91
1,101
24,357
Transaksi Pasar Kyoto
EU ETS Trading Schemes2
Primary Clean Development
Mechanism
450
4,813
Secondary Clean Development
Mechanism
25
444
Joint Implementation 16
141
2
World Bank, State and Trends of The Carbon Market, 2007
Source: State of the Voluntary Carbon Markets 2007-Picking Up Steam
18 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Berbagai Macam Pasar Karbon
Perdagangan emisi (ET) adalah sistem tran­
saksi yang mengijinkan negara maju/industri
saling membeli atau menjual kredit karbon
untuk memenuhi kewajibannya. Karena terikat
kewajiban dalam Protokol Kyoto, maka setiap
negara maju/industri mempunyai batas total
emisi GRK yang boleh dihasilkan dalam satu ta­
hun. Bila ia tidak bisa memenuhi kewajibannya,
maka ia diperbolehkan membeli kredit emisi dari negara maju/industri
lain. Dengan demikian total emisi gas rumah kacanya dikurangi kredit
karbon yang ia beli, sehingga impas dengan kewajibannya. Sebaliknya
bila berhasil menekan total emisi gas rumah kaca di bawah yang diwa­
jibkan, ia boleh menjual kelebihan kredit karbonnya itu pada negara
maju/industri lain. Mekanisme ini melahirkan European Union Emission
Trading Scheme (EU ETS) yang melibatkan semua negara Uni Eropa dan
kini menjadi skema perdagangan emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.
Kredit yang ditransaksikan disebut European Union Allowance (EUAs)
dimana pada 2006 lalu sudah menghasilkan 24,357 miliar dollar AS.
Ilustrasi: rio
tahun lalu. “Idenya adalah memberi nilai moneter dalam
usaha perbaikan lingkungan,” kata Agus P. Sari, Country
Director Ecosecurities Indonesia. “Konservasi lingkungan dianggap biaya dan beban selama ini. Dengan mekanisme CDM,
pengelolaan lingkungan menjadi aset berharga.”
Ecosecurities bekerjasama dengan peternakan sapi Aust­
Asia Lampung Bekri. Limbah kotoran sapi dibuatkan instalasi
pengolahan dengan sistem bilas ke kolam fermentasi yang
diperkirakan menurunkan emisi 25.000 ton CO2e per tahun,
atau setara dengan 25.000 lembar sertifikat karbon. Pemilik
peternakan sudah terikat penjanjian untuk menjual sertifikat
dengan harga kesepakatan. Sertifikat ini akan dijual lebih
tinggi di pasar karbon oleh Ecosecurities.
Saat ini sedikitnya ada 24 proyek berbasis CDM yang telah
disetujui Komnas CDM dan telah diverifikasi serta divalidasi
badan validator independen yang ditunjuk PBB.
Proyek-proyek ini menyangkut sektor energi alternatif
seperti kompor tenaga matahari yang diajukan PT. Petromat
Agrotech, biogas yang diolah PT. Indotirta Suaka Bulan dari
kotoran babi, listrik yang dihasilkan dari pengelolaan sampah
kota Pontianak yang dilakukan PT. Gikoko Kogyo Indonesia
atau proyek pembangkit listrik mikrohidro yang diinvestasikan PT. Indonesia Power dan PT. Fajar Futura. Dari proyekproyek CDM ini, Indonesia bisa meraup laba antara 81,5 juta
sampai 1,26 milyar dollar AS.
Indonesia juga giat melirik pasar karbon sukarela atau vo­
luntary carbon market, untuk proyek-proyek yang tidak bisa
masuk ke pasar dengan skema CDM. Seperti yang dilakukan
Kabupaten Manilau-Kalimantan Timur dan Yayasan Borneo
Tropical Rain Forest, yang memasukkan kawasan hutan
lin­dung seluas 325.041,6 hektar pada kesepakatan dengan
Global Eco Rescue, dengan harga 1 euro per hektar.
Kabar gembira? Tunggu dulu. Carbon trading memang
menggoda. Namun perlu diingat bahwa mekanisme ini
diciptakan untuk memperbaiki efek pemanasan global, bukan
sekedar bisnis yang ujung-ujungnya duit, apalagi membuat
diri merasa bersih setelah mencuci dosa dengan cara membayar. n
Implementasi bersama (JI), mengijinkan negara maju/industri mem­
peroleh kredit karbon melalui proyek-proyek yang menurun­kan emisi
gas rumah kaca, bersama negara maju/industri lainnya. Emisi yang di­
turunkan dalam JI dihitung dengan satuan Emission Reduction Unites
(ERUs). Tahun 2006 lalu transaksi JI mencapai 141 juta dolar AS.
Clean Development Mechanism (CDM) atau mekanisme Pemba­
ngunan Bersih, adalah transaksi ber­basis proyek yang dilakukan
negara maju/industri di negara miskin/berkembang. CDM adalah
satu-satunya mekanisme Protokol Kyoto yang melibatkan negara
berkembang. Setiap upaya penurunan emisi yang setara dengan satu
ton karbon akan diganjar satu Certified Emissions Reductions (CERs).
Transaksi pertama dari pemilik kredit kepada pembeli disebut Primary
CDM. Pada 2006, transaksi Primary CDM meraih 4,8 milyar dollar AS.
Kredit dalam pasar Primary CDM ini sebagian dijual kembali dengan
sebutan Secondary CDM. Total nilai transaksinya 444 juta dollar AS.
Harga rata-rata CER tahun 2006 adalah 10,90 dolar AS per sertifikat.
Selain pasar karbon yang terikat dibawah peraturan Protokol Kyoto,
muncul sebuah pasar karbon lain yang dinamakan Voluntary Carbon
Market atau pasar karbon sukarela. Dalam pasar kabon sukarela, pem­
beli/penjual berinisyatif membeli/menjual sertifikat kredit karbon bukan
karena kewajiban, namun karena alasan-alasan lain seperti menjaga
image dan kredibilitas, sebagai investasi untuk dijual kembali, strategi
pemasaran, antisipasi akan peraturan di masa depan, penyelarasan
perusahaan dengan agenda corporate social responsibility (CSR) atau
memang ingin berpartisipasi dalam menurunkan emisi gas rumah
kaca dunia. Pembeli disini bisa peme­rintah, perusahaan, organisasi,
sampai perorangan. Pasar karbon sukarela dibagi menjadi dua pasar
utama, yaitu The Chicago Climate Exchange (CCX) yang sifatnya su­
karela tapi mengikat dan pasar Over The Counter (OTC) atau voluntary offset market dimana sifatnya sukarela sekaligus tidak mengikat.
Kredit yang beredar di pasar OTC disebut Verified Emission Reductions
(VERs). Transaksi yang dihasilkan dari Voluntary Carbon Market ti­
dak bisa dianggap sepele, yaitu mencapai 91 juta dolar AS pada 2006.
LaporanUtama
Utama
Laporan
Tangkahan,
Saksi Pertobatan Para Illegal Logger
Seh Ukur Depari pernah dikenal sebagai penebang kayu ilegal.
Ratusan ton batang kayu dari hutan Tangkahan-Sumatera Utara, rebah di tangannya.
Tapi kini ia lebih dikenal sebagai aktivis Lembaga Pariwisata Tangkahan.
Mewartakan pentingnya kelestarian hutan untuk mencegah pemanasan global,
sekarang menjadi tujuan hidupnya.
M
atahari senja hampir hilang dibalik pepohonan, ketika
sekelompok manusia muncul bersama lima ekor gajah
dari balik hutan. Mereka baru saja menyelesaikan
perjalanan tiga jam melintasi hutan Tangkahan yang terletak
di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Sebuah
suaka alam tropis terbesar dan terkaya di dunia yang dihuni
4000 spesies tumbuhan, mamalia, burung, ikan, amphibi
hingga invertebrata, termasuk 15 jenis tanaman langka se­
perti bunga Rafflesia.
Perjalanannya cukup unik. Mereka digendong oleh gajahgajah itu sambil mendengarkan celotehan informatif para
ranger (pemandu hutan) dan mahout (pelatih gajah), tentang
berbagai macam spesies yang mereka jumpai di perjal­anan.
Siapa yang menyangka, bahwa para ranger itu dulunya
Pasukan gajah berpatroli di hutan Tangkahan.
20 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
adalah para pembalak liar
hutan itu.
Apa yang mengubah
hidup mereka? “Ceritanya
cukup panjang,” tutur Seh
Ukur Depari. Pria 51 tahun
itu memulai kisah dengan
sejarah keluarga yang sudah
menjadi pembalak sejak zaman
Seh Ukur
kakeknya hidup. Bagi kebanyakan
Depari
masyarakat Desa Sungai Serdang dan Desa
Namo Sialang kala itu, hidup di pinggiran hutan Tangkahan
bagai hidup bersama harta karun. Berbagai macam pohon
besar yang tumbuh dianggap milik Tuhan yang bebas diambil.
Apalagi permintaan kayu gelondongan cukup tinggi. Bermodal gergaji, kampak, dan seekor kerbau, mereka menebang
pohon-pohon besar dan memotongnya. Kerbau akan menarik
kayu-kayu itu melalui jalan yang sudah disiapkan sebelumnya, untuk lalu dihanyutkan di Sungai Batang Serangan.
“Bekas jalan itu sekarang menjadi rute trekking,” paparnya.
Cukup lama Ukur Depari berprofesi sebagai pembalak
liar. Dalam sehari ia bisa memperoleh pendapatan sebanyak
Rp. 50.000,- sampai Rp. 100.000,- dari cukong-cukong yang
membeli kayunya di daerah Tanjung Pura. Namun kegiatannya terhenti ketika di tahun 1986 ia tertangkap dan masuk
penjara. Selama dua tahun mendekam, tabungannya ludes.
Mulailah ia memikirkan masa depan ketiga anaknya. “Saya
tidak ingin anak-anak mengalami apa yang saya alami.” Ia
pun banyak merenungkan akibat dari perbuatannya.
Akhirnya pada tahun 1989 ia bertekad mengubah desanya
untuk tidak lagi hidup mengandalkan hasil membalak. “Memang mudah mendapatkan uang dari hasil membalak. Tapi
berapa lama lagi hutan akan kuat menanggung kebutuhan
hidup kami? Lama-lama hutan akan habis,” katanya. Bersama
dengan teman sesama pembalak, Njuhang Pinem, mereka
mencetuskan ide untuk membuat tempat wisata berbasis
lingkungan dan mengembangkan pertanian rakyat.
Ide ini memang cemerlang. Tapi bukan tanpa rintangan.
Lambat laun wisata Tangkahan mulai berkembang, tapi
aktivitas pembalakan tetap berjalan. Beberapa warga yang
masih membalak bahkan sempat memusuhi mereka. Masalah
lain juga timbul. Walaupun jumlah wisatawan yang hadir
pernah mencapai 7000 orang dalam satu hari, premanisme
bermunculan dan sampah bertebaran dimana-mana. Tapi
Indonesia di tengah Ancaman Global
masalah tidak menghentikan tekad mereka.
Melalui para pemuda, dibentuklah organisasi pemuda
Simalem Ranger yang bertukar informasi dan ilmu dengan
mahasiswa pecinta alam. Mereka bertekad untuk belajar
mengobservasi, mengkonservasi dan berlatih SAR (search and
rescue).
Akhirnya di tahun 2001, digelar Kongres Desa yang berhasil
menyepakati Peraturan Desa untuk melarang setiap ak­tivitas
eksploitasi hutan dan satwa secara illegal, sekaligus melahirkan lembaga yang mengatur pengelolaan ekowisata, yaitu
Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT).
Tangkahan pun berseri kembali. Hutan menghijau. Ber­
bagai fasilitas wisata dirancang. Mulai dari trekking (menyusuri) hutan, tubbing (menyusuri sungan dengan ban), kem­
ping, mengamati burung, dan lain sebagainya. Tangkahan
memang berpotensi sebagai tempat wisata. Ia dibelah dua
sungai jernih berwarna kehijauan. Ada sebelas air terjun, beberapa diantaranya di pinggiran sugai. Dua sumber air panas
dan gua kelelawar memancing wisatawan. Pantai kupu-kupu
dan bunga raflesia juga menjadi daya tarik. “Dengan ekowisata, hutan dan alam terjaga, tidak akan pernah habis. Kami
juga dapat uang dari keindahan hutan,” katanya.
Pada 2002, MoU dengan TNGL pun disepakati untuk menyerahkan pengelolaan 17.500 ha kawasan Tangkahan pada
desa setempat.
Semangat masyarakat pun bertambah ketika Fauna dan
Flora Internasional (FFI), sebuah organisasi konservasi,
membentuk Conservation and Response Unit (CRU). CRU
membuat program dengan melibatkan masyarakat sekitar
untuk ikut menjaga alam yang juga sekaligus meningkatkan
kesejahteraan. Salah satu programnya adalah pelatihan
gajah liar untuk mengatasi konflik gajah dan manusia yang
meruncing di Sumatera. Melalui CRU, dilakukan juga pelatihan-pelatihan intensif kepada para ranger dan mahout.
Pelatihan ini tidak main-main. Banyak pelatih didatangkan
dari luar negeri. Bahkan dalam waktu dekat empat orang
mahout akan mendapat latihan khusus di Australia. Karena
itu mereka juga dibekali dengan keahlian berbahasa inggris.
LPT adalah sebuah contoh nyata mengenai pengelolaan kawasan konservasi yang mengikutsertakan masyarakat. Hal ini
pernah ������������������������������������������
dicanangkan Kongres Taman Nasional Dunia (World
Parks Congress/WPC) Ke-5 di Durban, Afrika Selatan pada
September 2003. Salah satu keputusannya adalah melibatkan
masyarakat sekitar kawasan konservasi, dalam pengelolaan
kawasan konservasi itu, serta memanfaatkan keberadaan kawasan konservasi untuk mengentaskan masyarakat sekitarnya
dari kemiskinan.
Apa yang terjadi di LPT tidak hanya membawa manfaat
bagi pelestarian hutan, namun juga memajukan masyarakat
sekitarnya. Wahdi Azmi dari FFI menuturkan bahwa hutan
Tangkahan kembali lebat dan sehat. Konflik hewan dan
manusia pun menurun. ”Kasus pembalakan liar di Tangkahan
kini nol. Tidak ada sama sekali,” katanya. Masyarakat pun
memperoleh manfaat ekonomis. Ukur Depari manyatakan
bahwa tiap tahun jumlah wisatawan yang datang meningkat
100%. ”Di tahun 2006-2007 bahkan mencapai 200%,” se-
nyumnya puas. Para pemuda juga mendapatkan kesem­patan
baru dalam hidupnya. ”Bila tidak ada ekowisata, mana
mungkin kami bisa dapat kesempatan belajar sampai ke luar
negeri?” sambungnya. Beberapa diantara mereka bahkan
memperistri wanita asing.
Juni 2007 lalu, LPT dan FFI menggelar Konferensi Rakyat
Pedesaan Leuser yang bertujuan membuat gelombang lahirnya gerakan ekologis nasional melalui solidaritas horisontal
seluruh penduduk desa yang berbatasan dengan sumber daya
alam. Dalam acara yang melibatkan perwakilan dari 60 desa
sekitar TNGL ini, direkomendasikan terwujudnya kelompok
masyarakat yang membantu pengamanan hutan sekaligus
meningkatan pendapatan masyarakat dan memulihkan kea-
Salah satu batang sisa pembalakan liar yang tak sempat diolah.
rifan lokal. Target mereka pada 2009, konferensi yang sama
akan melibatkan seluruh Sumatera dan menjadi contoh nyata
ke seluruh Indonesia.
Dengan pengelolaan partisipatif semacam ini, konservasi
menjadi dambaan warga sekitar. Masyarakat yang diberdayakan secara aktif memiliki sense of belonging yang tinggi. Mereka bukan lagi sekedar penonton atau pihak yang
’diperdaya’. Dengan mengakui hak dan kepentingan mereka
sebagai pemangku alam, rasa tanggung jawab muncul. Terjadilah sinergi atas kelestarian lingkungan dan peningkatan
kemakmuran rakyat.��
Bila seluruh hutan Indonesia mengalami nasib baik seperti
ini, pasti Indonesia tidak akan duduk di peringkat ketiga
dunia sebagai penghasil emisi terbesar dari pengalihan fungsi
hutan.n
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 21
Laporan Utama
Indonesia di tengah Ancaman Global
Salah satu pemandangan di Pejaten, Pasar Minggu-Jakarta.
Usaha Rakyat Ramah Lingkungan
Melakukan kegiatan ramah lingkungan ternyata tidak sulit.
Beberapa diantaranya justru menhasilkan uang!
foto: XS Project
D
uduk bertelanjang dada, dengan serius
dan cekatan ia menggunakan gunting
untuk membelah kemasan odol bekas.
Jufri namanya, salah satu tukang potong yang
bekerja untuk XSProject. Sebuah
proyek bengkel kerja yang di­
rintis oleh seniwati asal Amerika
bernama Ann Wizer. Bermula
dari tumpukan sampah yang ia
lihat di penampungan belakang
rumah di bilangan Jakarta Selatan, ia menggagas ide untuk
memanfaatkan limbah plastik
yang tidak bisa didaur-ulang,
menjadi kerajinan yang
memiliki nilai seni dan nilai
jual.
Bengkel kerja yang berlokasi di Jl H Muhammad Naim
I no.49 ini menampung sekitar 7 orang
22 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
penjahit, 3 orang tukang potong, 3 orang
tukang cuci, dan seorang staf quality control. Produk-produk yang dihasilkan antara
lain tas jinjing berbagai ukuran, tempat
pinsil, dompet, sampai keranjang sampah.
Semuanya dibuat dari limbah plastik produk
rumah tangga sehari-hari, terutama dari jenis
kemasan sabun cuci cair, odol, dan minuman
ringan.
Menurut keterangan Adityarini, salah
seorang staf, bahan dasar produk XSProject
dibeli dari para pemulung di penampungan
sampah Cirendeu-Jakarta Selatan, dengan
harga di atas harga pasar.
Awalnya, Ann berinisiatif mengajak serta
para produsen produk untuk turut membantu
proyek usaha ramah lingkungan ini, sekaligus
meningkatkan taraf hidup para pemulung.
Tapi ternyata tanggapan yang ia terima tak
bersahabat. Bahkan produsen minuman ringan
Anak-anak para pemulung.
foto: XS Project
asal Jerman mengancam menuntut karena dianggap mencatut merk dagang mereka.
Akhirnya ia memasarkan sendiri karya limbah plastik itu ke
luar negeri, melalui galeri seni milik teman seprofesi atau
pameran-pameran yang berhubungan dengan lingkungan. Tak
main-main, XSProject sudah berhasil menjual 25.000 tas yang
berasal dari 11,6 ton sampah. Keuntungannya? Dikembalikan
kepada para pemulung dalam bentuk beasiswa, asuransi, dan
lain-lain.
Lain lagi usaha yang dilakukan oleh Juminta dan Sudarno
Kedua orang ini sama-sama membuat bata dari limbah.
Juminta dan kawan-kawan sewarga Kampung Rawa Gaga
Kumpeni Kamal-Jakarta Barat, memanfaatkan lumpur selokan. Ide pemanfaatan lumpur selokan ini didapat setelah ikut
pelatihan pengolahan sampah yang diadakan Pemda Jakarta
Barat. Walau mereka tidak mempunyai mesin cetak, sema­
ngat mereka tak patah. Menurut Nur Rohman, Petugas dari
PT Survindo yang memberi bantuan teknis, batako lumpur
selokan ini tak kalah kuat dibanding batako pabrikan, dan ia
berencana membantu pemasarannya.
Sedangkan Sudarno membuat batako biasa yang ronggarongganya dipadatkan dengan sampah. Ia meraih penghargaan Kalpataru kategori pengabdi lingkungan atas karyanya,
yang diberi nama Batem (bata dengan isi macem-macem).
Proses pembuatannya terhitung sederhana. Pertama-tama
sampah yang akan dimasukkan ke dalam rongga batako
terlebih dahulu dicetak, kemudian dibungkus oleh campuran
pasir dan semen. Jadilah bata yang kuat menahan beban
hingga 2,5 ton. Padahal batako biasa hanya mampu menahan
beban seberat 250 kilogram.
Menurutnya ini adalah cara
murah yang bermanfaat.
Karena meski batem melekat
pada rumah, ia menjadi tempat pembuangan sampah yang
abadi dan aman.
Upaya swadaya masyarakat untuk sadar lingkungan
dan mengurangi pencemaran
de­ngan memanfaatkan limbah
rumah tangga juga dilakukan
oleh warga RW 02 Jalan Asem
Pejaten Indah-Pasar Ming­gu.
Warga daerah tersebut
secara swadaya memanfaatkan sampah basah rumah
tangga seperti sisa makanan
dan sayur-mayur untuk diolah
menjadi kompos kering yang
bermutu baik dan dimanfaatkan untuk menghijaukan
lingkungan sekitar. Hasilnya
lingkungan perumahan padat
tersebut menjadi sangat asri
dan hijau. Melewati daerah
mereka, kita dibuat lupa kalau
masih berada di Jakarta.
Selain mengolah sampah basah/organik, warga juga mulai
mencoba membuat kerajinan dari sampah anorganik. Hasil
karya seperti keset dari kain perca limbah kemudian dijual.
Ditengah gegap-gempitanya bisnis ramah lingkungan skala
besar, seperti carbon trading, bio-fuel, bio-plastic, atau
geothermal yang melibatkan uang jutaan bahkan ratusan
juta dollar, usaha-usaha yang dilakukan oleh “orang biasa”
ternyata bisa menjadi sesuatu yang signifkan bagi kelestarian lingkungan. Walau kelihatan sepele, hasilnya sangat
nyata. Bayangkan bila semua gang di Jakarta seperti di Jalan
Asem...hmmm betapa indahnya Jakarta. Apalagi pohon-pohon itu menyumbang penurunan emisi CO2 yang bisa menyebabkan pemanasan global. n
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 23
Referensi
Konservasi Lahan Gambut vs Kebun Sawit
Dapatkah Konservasi Lahan Gambut
Jadi Lebih Menguntungkan daripada
Minyak Kelapa?
Rhett A. Butler dan Sarah Conway
Pengamat hutan tropis, tinggal beberapa tahun di hutan Borneo
Lahan Sawit yang siap ditanam.
B
ulan Juni lalu, Bank Dunia me­
ngeluarkan laporan yang memperingatkan bahwa peru­bahan iklim
memunculkan resiko serius bagi Indonesia, termasuk kemungkinan hilangnya
2.000 pulau saat permukaan laut makin
tinggi. Walau skenario ini terdengar
mengerikan, beberapa mekanisme yang
diusulkan untuk mengatasi perubahan
iklim, terutama kredit karbon melalui
penghindaran penggundulan hutan,
menawarkan kesempatan unik bagi Indonesia untuk memperkuat ekonominya
bersamaan dengan menerapkan
kepemimpinan di dunia yang inovatif di
bidang lingkungan dan politis.
Kami berargumen bahwa di beberapa
kasus, melestarikan ekosistem dengan
kredit karbon bisa jadi lebih menguntungkan daripada menjual kelapa sawit,
menghasilkan nilai pajak yang lebih
tinggi bagi kekayaan Indonesia, dan
pada saat yang bersamaan memberikan
hasil ekonomis yang menarik bagi para
investor.
Sebagai tinjauan, penghindaran
penggundulan hutan adalah proses
dimana para pemiliknya, bisa jadi
pemerintah, masyarakat, atau tuan
tanah, menjual hak karbon di wilayah
tertentu pada investor swasta. Investor swasta ini kemudian menjual kredit
24 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
karbon di pasar internasional kepada
perusahaan-­perusahaan yang berusaha
mengim­bangi emisi mereka. Penghindaran hutan gundul saat ini hanya
diketahui sebagai skema pengurangan
emisi sukarela (voluntary emission
re­duction/VER), namun diharapkan
konsep ini akan diterapkan pada pertemuan PBB mengenai iklim (COP-13) di
bulan Desember di Bali, terutama jika
proyek pembuktian konsep menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.
Berkat hampir dari 20 juta hektar
dari rawa lahan gambut yang dimi­
likinya, Indonesia mempunyai posisi
yang baik untuk menimbun mekanisme
pertumbuhan kredit karbon di masa
datang. Bahkan, pengubahan, penge­
ringan, dan pembakaran lahan-lahan
gambut saat ini (seringkali dilakukan
saat membuat perkebunan kelapa
sawit) diperkirakan oleh Wetlands
International, sebuah LSM Belanda,
akan melepaskan 2 miliar ton karbon ke
atmosfer setiap tahunnya. Ini seban­
ding dengan 8 persen dari emisi karbon
manusia secara global, dan ini adalah
penyebab kenapa Indonesia menjadi
pembuang emisi karbon ketiga terbesar
di dunia setelah Cina dan AS. Walau
kebijakan konvensional me­ngatakan
bahwa mengubah lahan gambut
menjadi kelapa sawit ini adalah cara
ekonomis terbaik untuk menggunakan
lahan tersebut, analisa kami menunjukkan bahwa kredit karbon dapat menyediakan investasi jangka panjang yang
lebih baik bagi bisnis dan pemerintahan
Indonesia. Bahkan, memperlambat
penggundulan hutan dan melindungi
ekosistem kaya karbon tak hanya akan
member kesempatan Indonesia untuk
menerima milyaran dollar per tahun
melalui pasar karbon, namun itu juga
akan menurunkan resiko terbukanya
negara Indonesia pada fluktuasi harga
kelapa sawit, dan juga resiko potensial
dari serangan balik Eropa terhadap
kelapa sawit sebagai biofuel.
Kita akan melihat lebih dekat pada
kemungkinan-kemungkinan ini, menggunakan contoh spesifik dari lahan
gambut di Kalimantan Tengah.
KALIMANTAN TENGAH
Beberapa daerah lebih cocok untuk
proyek finansial karbon dibandingkan
Kalimantan Tengah, yang mempu­nyai 3
juta hektar lahan gambut yang menyimpan 6,3 gigaton karbon. Untuk
mengilustrasikan potensi ekonomi dari
kredit karbon dengan kelapa sawit, kita
mengkomparasi nilai uang sekarang
(net present value – NPV) dari 1.000
hektar perkebunan kelapa sawit standar
dengan 1.000 hektar rawa gambut yang
dilindungi atas nilai karbonnya.
Asumsi perkebunan kelapa sawit:
•
•
•
Biaya $2.700 per hektar untuk pemba­­ngun-
an perkebunan baru, dibayar pada 10% (figur tercetak)
Hasil rata-rata dari 4,8 ton kelapa sawit per ha selama 25 tahun (IOPRI/ICRAF)
Harga sawit $750 per ton persegi
(harga sekarang)
• Pemasukan bersih 30% (figur tercetak)
• Pajak 7%, diskon 16%
Asumsi pelestarian lahan gambut untuk kredit karbon:
•
•
•
•
•
•
•
Biaya manajemen 10%
Pencegahan emisi karbon yang sebanding untuk kelapa sawit: 100 ton per ha untuk pembukaan hutan; 27 ton per tahun di tahun selanjutnya
Kredit karbon berdasar pada raata-rata nilai
pasar dunia 2006
EU ETS Trading Scheme ($22.12)
Secondary Clean Development Mechanism ($17.76)
Laporan The State of the Voluntary Markets yang dikeluarkan bulan lalu oleh Ecosys-
tem Marketplace and New Carbon Finance ($14.00)
Pajak 7%
HASIL UNTUK BISNIS
Hasil kami menunjukkan bahwa melestarikan lahan untuk nilai karbonnya,
berharga lebih dari kelapa sawit, untuk
harga karbon saat ini di pasar: $9,99 juta
untuk EU ETS Trading Scheme, $8,02
juta untuk Secondary Clean Development Mechanism, dan $6,32 juta untuk
laporan State of the Voluntary Markets.
Ini dibandingkan dengan $6,58 juta
pemasukan bersih selama masa 25 tahun
perkebunan kelapa sawit. Bahkan jika
harga kelapa sawit naik hingga $1.000
per ton persegi, pemasukan bersih tetap
akan kurang dari harga ETS saat ini.
sekarang dari pendapatan pajak bagi
pemerintah Indonesia berkisar dari
$476.000 hingga $752.000, sementara
perkebunan kelapa sawit menghasilkan
$495.000. Bahkan, contoh tersebut
menunjukkan bahwa pada beberapa
harga karbon, pemerintah Indonesia
dapat mengenakan nilai pajak yang
sedikit lebih tinggi pada kredit karbon
dibandingkan dengan kelapa sawit,
dan bisnis di Indonesia tetap lebih baik
secara finansial daripada jika mereka
bergantung pada kelapa sawit.
Hasil dibawah ini menunjukkan
bahwa kredit karbon menawarkan
potensi ekonomi yang besar dengan
investasi yang rendah bagi Kalimantan
Tengah. Lebih lanjut lagi, pengganti
kerugian dari karbon ini bisa diterapkan
pada daerah manapun di Indonesia yang
memiliki lahan gambut dan hutan yang
utuh. Pengembangan ini bisa membuat
konservasi menjadi menguntungkan
di Indonesia, sebuah langkah pen­ting
dalam melindungi lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Dengan besarnya kemungkinan untuk
menjadi pasar karbon nantinya, para
pemilik lahan seharusnya memberikan
pertimbangan serius mengenai nilainilai karbon saat memutuskan penggunaan lahannya. Walau kelapa sawit
dapat dan akan terus berperan penting
dalam ekonomi, penggantian kerugian
karbon menawarkan mekanisme untuk
mendukung dan memberikan variasi
pada terbukanya finansial Indonesia,
sementara pada saat yang bersamaan
juga meminimalisir jejak negatif me­
reka pada lingkungan. n
Net present value (NPV): Perkebunan Minyak Sawit vs Hutan Gambut di indonesia.
Pendapatan dari produksi minyak sawit vs pelestarian lahan gambut untuk carbon offset
$ 14
$ 12
$ 10
$8
Nilai 3 hektar Perkebunan
Minyak Sawit
(NPV, US$1000)
Karbon: $22.12/t
(2006 harga EU ETS)
Minyak sawit:
$750/t
(harga terkini)
$6
HASIL UNTUK PEMERINTAHAN
Kredit karbon juga menghasilkan
pendapatan pajak yang lebih besar bagi
keuangan Indonesia, lebih dari kelapa
sawit, terutama dengan adanya laporan
bahwa 90% dari perkebunan nasional
tidak membayar pajaknya dengan utuh
(Jakarta Post, 14 Agustus 2007). Pada 7
persen nilai pajak untuk karbon, harga
Nilai 1 hektar hutan
pelestarian gambut
untuk kredit karbon
(NPV, US$1000)
Minyak sawit:
$1000/t
Karbon: $14.00/t
(2007 laporan SVM)
$4
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
tingkat bunga 10% ;
tingkat potongan tunai 15%
Minyak sawit:
$500/t
(harga thn 2006)
$2
0
ASUMSI
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
Minyak Sawit
24
25
set-up coat $2700,
batas profil 40% ;
hasil rata-rata atas
(Above average yield)
53 t/ha selama 25 tahun
Hutan gambut
10% biaya manajemen;
100 t/ha kredit awal;
27 t/ha/thn hasil berikutnya
$(2)
NPV dari 1000ha (2500 akre) rawa gambut vs perkebunan minyak sawit. Grafik menunjukkan efek minyak sawit pada berbagai harga dan rancangan
perdagangan karbon yang berbeda. Asumsi: 15% tingkat potongan/10% tingkat bunga; Tahun 1: 100 ton Karbon/hektar, 27 ton karbon/hektar
(=100 tCO2e/ha) pada tahun berikutnya; hasil rata-rata tengah minyak sawit 5.3 ton per hektar selam periode lebih dari 25 tahun.
Kalkulasi dan grafik oleh Rhett A. Butler.
Catatan mengenai pembaca yang diharapkan pada artikel ini.
Artikel ini ditujukan kepada masyarakat bisnis di Indonesia.Terutama bagi perusahaan yang telah memiliki lahan hutan dan sedang
mempertimbangkan untuk membukanya demi kelapa sawit. Dimana,
fokusnya adalah keuntungan.
Jika melihat keuntungan yang lebih luas dari pembayaran karbon,
lebih baik menggunakan pendapatan total dibandingkan dengan
pendapatan bersih, seperti menggabungkan beberapa dari pelayanan
ekosistem lain yang dihasilkan oleh hutan yang utuh.
Komponen penting dalam pembayaran karbon ini adalah memastikan ini semua terstruktur agar masyarakat lokal dapat mendapatkan keuntungan finansial, terutama melalui tenaga kerja. Pada
lahan milik pemerintah dan masyarakat, pembayaran karbon dapat
digunakan untuk membiayai inisiatif-inisiatif bagi pembangunan
yang berkelanjutan, seperti menanam tanaman yang menghasilkan
pada lahan gundul atau reboisasi hutan. Penduduk lokal dapat terus
mendapatkan hasil dari wilayah hutan (mungkin dengan mengambil hasil kayu, berburu, dan hasil-hasil produk hutan seperti rotan,
buah-buahan, dan kacang-kacangan – yang tidak untuk dijual)
tanpa menurunkan nilai karbon dari lahan tersebut. Lebih lanjut,
beberapa wilayah mungkin dapat dijadikan eko-turisme. Seluruh
inisiatif tersebut akan dibiayai oleh pemasukan dari pengganti
kerugian karbon.
Pengganti kerugian karbon nantinya mungkin akan memberikan
penawaran pada daerah-daerah yang dilindungi untuk dapat mencari
kompensasi untuk nilai karbon mereka. Walau kompensasi tersebut
akan disediakan dengan harga “penghindaran penggundulan hutan”,
itu masih meningkatkan prospek bahwa taman suaka dapat berlanjut
secara mandiri dari sebuah titik ekonomis.
www.mongabay.com
Rhett A. Butler - San Francisco, CA.
2000-2007.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 25
Opini
Kolase
Opini
Ayo
Merayu Alam
Eka Budianta
Konsultan Jababeka Botanic Gardens, alumnus
Leadership for Enviroment And Development (LEAD
­International), pemenang hadiah Ashoka.
S
ejak 20 tahun terakhir, Indonesia dan banyak negara
lain ikut merayakan tanggal 22 April sebagai Hari Bumi.
Tanggal itu sebenarnya adalah hari ulang tahun Julius
Sterling Morton, tokoh pertanian Amerika yang mencanangkan
Hari Pohon. ���������������������������������������������
Pertama kali diadakan pada1872 di Nebraska.
Satu juta batang pohon berhasil ditanam pada suatu hari.
Sekarang, Indonesia ikut-ikutan dengan program sejuta
pohon. Tidak puas dengan sejuta pohon, Menteri Kehutanan,
M. S. Kaban menyatakan merehabilitasi sejuta hektar lahan.
Hal itu penting untuk menangani 59 juta hektar hutan tropis
kita diakui rusak, akibat pembalakan, kebakaran, atau alih
fungsi jadi kebon, ladang, bahkan perumahan. Kalau satu
tahun bisa merehabilitasi satu juta hektar, Indonesia perlu
59 tahun untuk memulihkan seluruhnya.
Itulah kerja keras yang harus dilakukan sekuat tenaga,
mulai dari kita sekarang hingga cucu dan cicit kita. Mengapa
hutan perlu dipulihkan? Jawaban singkat: karena hutan adalah rumah kita. Kalau hutan rusak, rumah kita juga kacau.
Artinya pasokan air terganggu, kualitas udara memburuk,
cadangan pangan berkurang, iklim memanas, bencana banjir,
tanah longsor, kelaparan dan kekeringan mengancam.
Pada awal Desember 2007, diperhitungkan 15.000 orang
akan datang ke Bali untuk membahas masalah perubahan
iklim ini. Di antara peserta konferensi “para pihak” yang
berkepentingan itu ada 100-an menteri lingkungan hidup,
20-an menteri perdagangan, dan 15-an menteri keuangan.
Berapa menteri kehutanan dan pertanian yang hadir?
Mungkin banyak juga. Yang jelas, bukan hanya Menteri lingkungan Rachmat Witoelar, Memperindag Marie Pangestu, dan
Menkeu Sri Mulyani juga bakal sibuk. Semua ingin membuktikan
Indonesia serius merayu alam. Menteri Kehutanan M.S. Kaban
menerang-jelaskan Kampanye Indonesia Menanam (KIM).
Di berbagai penjuru Indonesia, berjuta-juta pohon ditanam
pada musim hujan ini. Sengon, pinus, jati, bakau, dan bermacam buah-buahan akan dikerahkan untuk mengatasi akibat perubahan iklim. Ternyata, kalau air laut pasang, hanya bakau,
nipah dan hutan kelapa yang dapat melindungi daratan.
Demikian juga kalau suhu di daratan naik dan angin mengganas. Hanya pohon yang dapat menjadi penangkis, pemecah
angin, sekaligus pelindung berbagai kehidupan. �������������
Pohon adalah
sumber makanan, pengatur suhu (thermo regulator), dan
yang paling penting: penghasil oksigen untuk nafas manusia
26 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
dan mahluk lainnya.
Udara adalah substansi paling merdeka. ������������
Maka, kalau
terjadi perubahan pada iklim, udara yang membungkus
permukaan planet kelahiran kita paling terkena akibatnya.
Padahal udara menyebarkan benih jamur dan bunga. Bahkan
telur-telur ikan mujahir yang menguap bersama air danau
di Afrika dibawa angin, terbang ke Asia dan turun bersama
hujan di Pulau Jawa.
Boleh saja dicemaskan, betapa dahsyatnya pengaruh
udara. Terlebih setelah para ilmuwan menengarai bahwa
absorbsi karbon dioksida (CO2) oleh samudera Atlantik ter­
nyata sebesar yang diharapkan. Biasanya berbagai racun yang
terkandung di udara segera dinetralisir oleh laut dan hutan.
Tetapi kemampuan laut menghisap zat asam arang menurun
cukup besar selama 10 tahun terakhir.
Belum ada ramalan, apalagi perhitungan, bagaimana komposisi udara kita akibat perubahan iklim. Tetapi yang jelas,
kualitas air dan udara di berbagai tempat telah merosot.
Akibatnya, kita tahu, berbagai pola bisnis telah ikut berubah.
Di Amerika, premi asuransi untuk rumah di tepi pantai
melejit, atau ditiadakan. Tanggungan resiko untuk bangunan
yang menghadap ke laut dianggap terlalu mengkhawatirkan.
Padahal dulu orang berlomba membuat rumah di tepi pantai.
Di Indonesia pun masih demam “water front city” –sebelum
terusik oleh kemungkinan naiknya permukaan laut.
Sudah jelas bahwa kita meniru pola hidup modern yang dimotori oleh bangsa Amerika. Termasuk pola konsumsi listrik,
barang-barang tambang (terutama nickel untuk baja nirkarat–stainless steel), kegemaran bermobil di jalan tol dan
terbang. Jadi, kalau ternyata pembangunan yang eksploratif,
lapar lahan dan boros energi, mengantar kita pada penderitaan Ibu Pertiwi, kita pun telah siap dengan pencegahnya.
Gerakan menanam sejuta pohon pun kita contek dari sana,
yang telah berjalan sejak 1872 di Nebraska. Berbagai inovasi
yang mengarahkan hidup lebih ramah lingkungan juga kita
impor dan pelajari dari seluruh dunia. Lebih dari itu, kita
berdoa semoga perubahan iklim tidak bersifat permanen.
Semoga hanya sementara.
Menanam pohon, baru satu upaya kecil untuk merayu
alam. Kita masih harus berlatih keras untuk menghemat
energi, dan membatasi konsumsi mineral, kertas, plastik,
serta bermacam sumber energi maupun pangan.n
Tentang INTI
Perhimpunan INTI adalah organisasi massa yang bersifat
kebangsaan sesuai semangat Mukadimah UUD 1945,
bebas, egaliter, pluralis, inklusif, demokratis,
tidak bernaung atau mengikatkan diri kepada salah satu
partai politik dan terbuka bagi semua Warga Negara
Indonesia yang setuju pada AD-ART Perhimpunan INTI.
Tujuan didirikannya Perhimpunan INTI adalah untuk
menjadi organisasi yang maju, modern,
bercitra internasional, berorientasi pada
Kebangsaan Indonesia,
menghargai hak asasi manusia, egaliter, pluralis,
inklusif, demokratis, dan transparan untuk
berperan aktif dalam dinamika proses
pembangunan bangsa (nation building),
antara lain menyelesaikan
“Masalah Tionghoa di Indonesia”,
sebagai warisan sejarah masa lalu,
menuju terwujudnya Kebangsaan
Indonesia yang kokoh, rukun bersatu dalam
keharmonisan, bhinneka, saling menghargai,
dan saling percaya.
Berbekal kesadaran penuh bahwa Masalah Tionghoa
di Indonesia merupakan warisan sejarah kolonial yang telah
membebani perjalanan sejarah bangsa Indonesia selama ini,
Perhimpunan INTI yang didirikan
pada tanggal 5 Februari 1999 di Jakarta,
berkeyakinan bahwa pengikutsertaan seluruh
WNI beretnis Tionghoa secara
menyeluruh, bulat, dan utuh ke dalam dinamika kehidupan
berbangsa Indonesia, adalah syarat mutlak
penyelesaian masalah Tionghoa di Indonesia.
VISI
Menyelesaikan masalah Tionghoa di Indonesia,
haruslah dengan cara mengikutsertakan secara
menyeluruh, bulat, dan utuh seluruh WNI beretnis Tionghoa
sebagai komponen bangsa, ke dalam arus besar pembangunan
kembali bangsa di segala bidang (aspek) kehidupan berbangsa dan
bernegara, menuju
Indonesia Baru yang makin unggul dan kompetitif,
di dalam dunia yang makin mengglobal.
MISI
Mempersatukan, membina, mengembangkan, dan
mengarahkan seluruh potensi WNI beretnis Tionghoa di
Indonesia menjadi komponen Bangsa Indonesia yang diterima
secara tulus serta mengabdi secara total pada
pembangunan Nusa dan Bangsa Indonesia.
Sebuah Catatan Di Akhir Tahun
K
alau kita amati perjalanan Suara Baru selama setahun ini,
bolehlah kalau kita sedikit merasa puas. Kalau ada 5 (lima)
ukuran atau tingkatan sukses untuk sebuah media (massa),
maka seti­daknya Suara Baru boleh dikatakan telah mencapai sukses
tingkatan kedua. Sukses tingkatan pertama terbit dalam kualitas
baik dan berkala. Sukses tingkatan kedua mandiri secara ekonomi
untuk ukuran tingkatannya.
Bagaimana dengan tahun 2008? Mari kita doakan Suara Baru bisa
menapak sukses ke tingkatan ketiga, dalam arti topik bahasannya
lebih berkualitas dan mampu menyajikan sesuatu yang baru, atau
setidaknya dengan sudut pandang baru atau berbeda dibanding majalah atau media (massa) lainnya. Apakah hal ini bisa diwujudkan?
Dengan semakin luasnya jaringan dan sumber daya INTI, rasanya ini
bukan impian di siang hari bolong. Redaksi tinggal memanfaatkan
secara optimal narasumber-narasumber yang dipunyai.
Meski belum menjadi target 2008, tidak ada salahnya kalau kita
juga tahu sukses tingkatan keempat dan kelima. Bila Suara Baru
mampu bersaing dijual bebas di pasaran dan bisa hidup sebagaimana layaknya media massa yang otonom, maka bolehlah disebut
sudah mencapai sukses tingkatan keempat. Lebih jauh lagi kalau
bisa mempengaruhi pola pikir dan benak pembacanya. Ini bisa
disebut sukses di tingkatan paling tinggi. Apakah mungkin? Dunia
ini selalu memberi kesempatan kepada orang-orang yang tak kenal
menyerah.
Tapi pembaca yang budiman, Suara Baru tidak mau bermimpi
terlalu jauh dulu. Sementara cukup bicara agenda 2008. Mari
kita canangkan langkah bersama menuju sukses tingkatan ketiga.
Redaksi dan jajarannya siap, selama Anda semua siap membantu
mensukseskan misi bersama itu. Sambil mengucap selamat tinggal tahun 2007, mari kita songsong bersama fajar tahun 2008 yang
penuh harapan.
Selamat Tahun Baru 2008: Sehat, sukses dan sejahtera.
Budi S. Tanuwibowo
Sekretaris Jenderal Perhimpunan INTI
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 27
Denyut INTI 8 Pekan
soalan yang dihadapi warga etnis Tionghoa untuk turut serta
dalam pembangunan bangsa Indonesia dengan masyarakat
dari etnis lainnya.
Sedangkan Ketua INTI Sumsel terpilih, Yusuf Masawan
dalam sambutannya mengatakan bahwa tugas awal yang
akan dijalankan adalah bekerjasama dengan paguyuban dan
organisasi Tionghoa yang ada untuk dalam pembangunan
kebersamaan. Ia juga menyatakan mendukung visi-misi INTI
sepenuhnya agar dapat dilaksanakan secara nyata. “Kita
harus mengutamakan persatuan dan kesatuan serta bergandengan tangan untuk menjadikan bangsa Indonesia semakin
maju,” himbaunya.
Pataka INTI Berkibar di Sumsel
Pataka merah dengan logo kipas putih berkibar, menandakan pengukuhan berdirinya Pengurus Daerah Perhimpunan
Indonesia Tionghoa Sumatera Selatan (PD INTI Sumsel). Kibaran pataka tersebut diharapkan akan memberi angin segar
kepada kemajuan usaha mencapai kesetaraan bagi warga
etnis Tionghoa khususnya dan seluruh masyarakat Sumatera
Selatan pada umumnya.
Pelantikan dan peresmian ini dilaksanakan 9 Oktober
2007 lalu, bertempat di Ballroom Hotel Aston Palembang. ­Pe­ngukuhan dilakukan oleh Ketua Umum INTI Pusat, ­Rachman Hakim yang datang ke Palembang bersama
jajaran ­pe­ngurus pusat lainnya yang terdiri dari: Wakil
Ketua Umum, Teddy Sugianto; Bendahara Umum, Kuncoro
Wibowo; Wakil Sekretaris Jendral, Ulung Rusman; Ketua
Departemen, Ronald Sjarif dan Dr. Lie A. Dharmawan;
Ketua INTI DKI Jakarta, Benny G. Setiono; Ketua
PC INTI Jakarta Barat yang juga penanggung jawab
Departemen Hukum, Lorenz Gunadi SH; dan anggota
pengurus Muliawan Jahja.
Sebelum acara utama, digelar pertemuan pendahuluan di Lotus Room, bertempat di hotel yang sama.
Dalam acara tersebut Lorenz Gunadi menerangkan
bahwa INTI adalah sebuah organisasi berbadan hukum
resmi. Ini adalah sebuah nilai lebih karena hal dapat
28 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
mencegah pertikaian tentang aset organisasi, yang biasa
terjadi pada perkumpulan yang tak berbadan hukum.
Dalam kesempatan yang sama, Kuncoro Wibowo menjelaskan adanya audit transparan, sehingga jalur keuangan orga­
nisasi menjadi jelas dan terhindar dari preseden buruk.
Sementara itu Benny G Setiono menegaskan bahwa ke­
giatan INTI tidak akan berbenturan dengan kegiatan orga­
nisasi atau paguyuban Tionghoa yang lain. INTI justru ingin
bergandengan tangan dengan semua organisasi dan pagu­
yuban yang ada, demi kebaikan bersama.
Peresmian dan Pelantikan
Suasana khidmat menaungi ruangan ballroom seiring
berdirinya seluruh hadirin untuk melantunkan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” sebagai awal acara.
Setelah itu dilakukan pembacaan surat keputusan Pengurus INTI Pusat No.0033/PP/INTI PUSAT yang mengukuhkan
berdirinya PD INTI Sumsel sebagai PD ke-12 dan menetapkan
tokoh lokal terpilih, Yusuf Masawan sebagi Ketua PD INTI
Sumsel.
Dalam pidato sambutannya, Rachman Halim selaku Ketua
Umum INTI mengatakan bahwa Kepengurusan INTI Sumsel
adalah salah satu dari 52 cabang INTI yang telah terbentuk
dan semuanya memiliki misi yang sama, yaitu mengatasi per-
Seminar Organisasi Tionghoa
Setelah pengukuhan kepengurusan, malam itu INTI Sumsel
langsung menggelar seminar bertajuk “Peranan Organisasi
Tionghoa di Indonesia” dengan nara sumber bereputasi, yaitu: pakar ekonomi Faisal Basri, Anggota Komnas HAM Stanley
Prasetyo, dan Peneliti LIPI Thung Ju lan. Dari Perhimpunan
INTI Benny G. Setiono dan Rachman Hakim juga menjadi nara
sumber. Bertindak sebagai moderator adalah Lorenz Gunadi.
Seminar ini membahas peranan organisasi Tionghoa dalam
bidang sosial dan ekonomi kerakyatan. Para narasumber
membeberkan fakta dan solusi yang berkaitan dengan hal
tersebut.
Faisal Basri mengangkat ketimpangan antara baiknya
indikator pertumbuhan ekonomi Indonesia - seperti ca­dangan
devisa dan indeks saham gabungan - dengan kenyataan
bahwa keadaan rakyat kebanyakan yang tak tampak membaik. “Yang tumbuh adalah sektor-sektor yang kebetulan
tak menyerap banyak tenaga kerja,” paparnya. Untuk
menjembatani hal tersebut ia menyarankan pemberdayaan
keragaman yang terdapat dalam masyarakat sehingga semua
elemen termasuk organisasi Tionghoa untuk dapat bekerjasama.
Sementara Stanley Prasetyo menyoroti belum berhasilnya
pembangunan sistem demokrasi di Indonesia. Menurutnya,
di titik dimana negara kita belum punya pemimpin yang
memikirkan kepentingan rakyat banyak dan indeks pem­
bangunan manusia kita yang cukup rendah, yaitu urutan 104
dari sekitar 170 negara. Warga etnis Tionghoa sebaiknya
turut berperan aktif dalam saluran demokrasi apapun yang
dapat membantu memecahkan persoalan kebangsaan.
Peneliti LIPI Thung Ju Lan mengetengahkan perlunya
keikutsertaan masyarakat dalam mengatasi permasalahan
bangsa. “Jangan hanya mengandalkan pemerintah saja...”
katanya. Mengembangkan nilai-nilai yang dimi­
liki etnis Tionghoa seperti etika dan keuletan
dalam kehidupan bermasyarakat juga merupakan peran.
Benny G Setiono mengajak warga etnis Tionghoa untuk
turun ke akar rumput dan meningkatkan kekedulian kepada
rakyat kecil. Ia mengatakan, “Perlidungan (dari kejadian
seperti Mei 1998) bukan datang dari penguasa, penguasa
boleh berganti-ganti, tapi perlindungan akan datang dari
sesama masyarakat Indonesia.”
Ketua Terpilih
Ada kejutan terselip di sela acara resmi pelantikan. Hari
itu ternyata bertepatan dengan ulang tahun ke-61 Ketua PD
Sumsel terpilih, Yusuf Masawan. Pria yang dikenal religius ini
terkejut sekaligus bahagia ketika kue ulang tahun dibawa ke
tengah acara pelantikan diiringi lagu “Happy Birthday” dari
segenap hadirin dan anggota keluarga.
Yusuf Masawan, suami dari Julia Susanti, lahir di Palembang tahun 1946. Mengenyam pendidikan menengah di
Palembang Chinese School dan pendidikan tinggi di Sun Yat
Sen University, Guang Zhou. Ia gemar berorganisasi. Selain di
Perhimpunan INTI ia juga tercatat sebagai anggota atau penasehat di organisasi dan paguyuban Tionghoa di Palembang.
Dia juga menjabat sebagai Ketua I Komisi Olahraga
Nasional Indonesia (KONI) Palembang.
Ayah empat anak ini mempunyai moto hidup, “Kantong
boleh kosong, tapi semangat tidak boleh miskin”. Inilah yang
mengantarnya menjadi salah satu figur sukses di Palembang.
Tempaan hidup dan pelajaran dari kegagalan telah mengantarnya dari seorang salesman toko eceran menjadi pengusaha
besar pemilik bisnis ritel JM (Julia-Masawan) yang diambil
dari inisial namanya dan istrinya.
Selain pelantikan dan seminar, juga ada pameran buku
berbahasa Mandarin. Hasil penjualannya disumbangkan kepada Yayasan Sosial Sukamaju yang mengelola sebuah panti
jompo. Keseluruhan acara ditutup dengan pembagian doorprize berupa sepeda motor dan peralatan rumah tangga yang
diserahkan secara langsung oleh Rachman Hakim dan Yusuf
Masawan. n
Susunan Kepengurusan INTI Sumsel
Ketua Kehormatan: Dewan Penasehat: Ketua Pembina: Ketua: Wakil Ketua: Sekretaris: Bendahara: Anggota: Suryanto, Rachmad Chandra
Koko Gunawan, Indra Mulyawan, Wilson Sutatio, Chandra Husein, Ahmad Tolip, H Herryanto, Johny Prima, Sukendro,
Moesa, Kiman Toha, Hadi Lukito,
Arifin Ham, Korius Hinuardi
Sengman Tjahja, Judi timodius,
Arifin Kusuma
Yusuf Masawan
Hendry Kushadi, Wiet Sagito,
Fahidin Bunyamin
Herry Timodius, Melisa
Herman Tjahja, Rinawati Wandra
Adam Sautin, Anang Kosim, Dr Nico,
Merryanti Timodius, Hasei
Suyanto, Lie Suy Kiauw, Roslana Timodius, Rita Amsan, Robin Cahyadi.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 29
Denyut INTI 8 Pekan
Bedah Buku “Filosofi Kuno dan Manajemen Modern”
PUSAT
Ketua Umum Perhimpunan INTI, Rachman Hakim rapat bersama beberapa Ketua Pengurus Pusat INTI dan tokoh-tokoh delegasi World Eminence
Business Chinese Association.
RAPAT PERSIAPAN
“Kegiatan Kunjungan 500 Pengusaha Tionghoa Terbesar Dunia ke Indonesia”
Jelang diadakannya kegiatan Kunjungan 500 Pengusaha
Tionghoa Terbesar Dunia ke Indonesia, yang menurut rencana akan digelar pada 13-15 Januari 2008, diadakan rapat
persiapan untuk koordinasi. �������������������������������
Rapat tersebut diselenggarakan
di convention room sekretariat INTI Pusat, Mega Glodok
Kemayoran pada 4 Oktober 2007.
Hadir pada rapat tersebut Ketua INTI Pusat Rachman
Hakim beserta pengurus INTI dan tokoh Tionghoa lainnya
seperti Benny G Setiono, Abdul Alek, Kho Sian Kauw, Djamsu
Papan, Jotje Wantah, Kuncoro Wibowo, Nancy Widjaja,
Su­djono Barak Rimba, Sudjianto, Ulung Rusman, Untung
Krishna Wijaya, dan beberapa tokoh lainnya.
Dalam rapat tersebut Rachman Hakim mengharapkan
dukungan dan kerjasama semua pihak untuk mensukseskan
pelaksanaan Kegiatan Kunjungan 500 Pengusaha Terbesar
Dunia ke Indonesia nanti.
Pada tanggal 8 September 2007
Perhimpunan INTI menggelar bedah buku karya
Dr. Mochtar Riyadi berjudul “Filosofi Kuno
dan Manajemen Modern”. Acara diadakan di
sekretariat INTI Pusat, Superblok Mega Glodok
kemayoran, Jakarta.
Bertindak sebagai komentator adalah pengusaha Idris Sutarji dan Akie Setiawan, yang
dimoderatori ketua penasihat harian umum
berbahasa Mandarin, Guo Ji Re Bao, Ted Sioeng.
Dipaparkan bahwa filosofi Tiongkok kuno
sarat makna dan bermanfaat dalam berbagai
bidang usaha, serta dapat diterapkan dalam
zaman dan generasi manapun.
Ketua Umum INTI
Rachman Hakim menyerahkan kenangkenangan kepada Dr.
Mochtar Riyadi
Pertemuan dengan Delegasi Shanghai Municipal Health Bureau
KerjaSAMA yang terjalin baik oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia-RRC tidak hanya berkutat dibidang ekonomi
dan bisnis. Bidang kesehatan juga menjadi salah satu perhatian. Hal ini ditunjukkan dengan kunjungan delegasi Shanghai Municipal Health Bureau yang dipimpin Dr. Ji Wei Ping ke
RS. POLRI pada 4 September 2007 yang lalu.
Kunjungan ini diprakarsai oleh Prof. Yenni Thamrin, yang
ditujukan untuk mengadakan kerjasama dalam bidang pendidikan dan pelatihan ilmu pengobatan tradisional.
Ketua Umum INTI Rachman Hakim dan Wakil Ketua Umum,
Teddy Sugianto turut hadir dalam acara tersebut.
Standarisasi Metode
Bahasa Mandarin
Zhang Wei Chao memberikan cinderamata berupa tulisan kaligrafi kepada
Wakil Ketua Umum Perhimpunan INTI, Teddy Sugianto disaksikan (ki-ka) Akie
Setiawan, Rachman Hakim dan Sumadi Kusuma.
Perkembangan bahasa Mandarin di Indonesia menjadi
salah satu hal yang menjadi perhatian INTI. Berlandaskan hal itu, ketika Chinese Language Education Foundation dari Beijing mengadakan kunjungan ke Indonesia,
INTI melakukan dengar pendapat secara informal di
restoran Nelayan-Ancol, 6 September 2007.
Dalam kesempatan ini Ketua INTI Rachman hakim
­me­ngajukan saran mengenai standarisasi metode pengajaran bahasa Mandarin. Bertolak dari pertemuan ini diharapkan akan ada pembahasan lebih mendalam tentang
standarisasi metode pengajaran dikemudian hari.
BAWAH: Wakil Sekretaris Jendral Perhimpunan INTI, Ulung
Rusman membacakan Ikrar Kaum Muda bersama Rieke
Dyah Pitaloka.
Pengurus INTI Ikut Serta dalam
Ikrar Kaum Muda
Sejumlah pengurus INTI ambil bagian dalam Ikrar Kaum Muda yang
diselenggarakan Pergerakan Kaum Muda Indonesia di gedung Arsip
Nasional-Jakarta pada 28 Oktober 2007. Hadir Sekretaris Jendral INTI,
Budi S. Tanuwibowo disertai Dr. Lie A. Dharmawan, Benny G Setiono,
Ulung Rusman dan beberapa anggota Tim Kesehatan INTI. Acara juga
dihadiri sejumlah tokoh nasional seperti Faisal Basri, Sukardi Rinakit,
Mudji Sutrisno SJ, Thung Ju Lan, Rm. Sandiawan Sumardi SJ, Olga
Lidya, Franky Sahilatua, Yudi Latif, dan lain-lain.
Dalam sambutannya, Budi S. Tanuwibowo menekankan pentingnya
keterlibatan kaum muda secara terus-menerus dalam mengisi
kemerdekaan dan pembangunan bangsa.
30 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Ketua Umum INTI Rachman Hakim
menyerahkan tanda mata kepada
Prof. Yenny Thamrin.
Delegasi Shanghai Municipal Health Bureau di bawah pimpinan Prof. Dr. Ji Wei Ping berfoto bersama Brigjen
Pol Dr Eddy Saparwoko, Atase Gong Xun, Prof. Yenny Thamrin dan sejumlah tokoh Tionghoa lainnya
Wajah-Wajah Baru
Pendirian Departemen Perdagangan
akan Perkuat
& Industri Perhimpunan INTI
Kepengurusan INTI Pusat pengurus Pusat Perhimpunan INTI akan segera meresmikan pendirian
SEJUMlah wajah baru akan menambah
kepengungusan INTI Pusat. Mereka adalah
tokoh masyarakat Tionghoa, tokoh nasional
dan beberapa simpatisan yang sudah aktif
dalam kegiatan INTI selama ini.
Acara sambutan yang dirangkai dengan
pelantikan direncanakan akan digelar pada
Desember 2007. Dalam acara ini juga akan
diperkenalkan Klinik Kesehatan INTI yang
segera akan beroperasi di daerah Bojong,
Tangerang dan juga pendirian Departemen
Perdagangan dan Industri Perhimpunan INTI.
Departemen Perdagangan dan Industri Perhimpunan INTI. Departemen ini
berada di bawah wewenang Bidang Keuangan dan Pengembangan Bisnis.
Pendirian departemen ini ditujukan sebagai wadah informasi seluruh potensi bisnis dan ekonomi anggota INTI. Akan mengidentifikasi
berbagai peluang usaha yang akan digarap secara profesional, dengan
hasil keuntungan didonasikan untuk kegiatan operasional INTI.
Perhimpunan INTI
Resmi Menjadi Badan Hukum
Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor C-11.HT.01.03.TH.2007.
tanggal 09 Februari 2007, telah mensahkan Perhimpunan INTI sebagai
sebuah badan hukum.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 31
Denyut INTI 8 Pekan
BOGOR
Mandarin Night Live RRI-INTI
BALI
BERTEPATAN dengan peringatan ulang tahun RRI ke62, INTI Bogor mengisi acara Mandarin Night Live yang
menjadi pembuka dari rangkaian panggung publik Radio
Republik Indonesia (RRI) Bogor pada 2 September 2007.
Acara tidak hanya menampilkan tarian dan lagu berbahasa
Mandarin, tapi juga lagu-lagu perjuangan.
Menurut Kepala RRI Bogor, Dra. Dwi Hernuningsih, acara ini
sesuai dengan misi RRI yaitu melestarikan budaya bangsa dan
menjadi perekat sosial antar etnis di masyarakat. Koordinator
pengisi acara Haryanto Oetama dari INTI Bogor yang juga pemimpin kelompok barongsai Golden Lion Club yang menjadi
salah satu pengisi acara, berharap dapat merangkul lebih banyak lagi perkumpulan dan organisasi lainnya di Bogor dalam
kegiatan berikutnya.
Bazaar Ramadhan GEMA Kepri
KEPULAUAN RIAU
GERAKAN Muda (GEMA) INTI Kepulauan Riau mengadakan
bazaar Ramadhan dengan tema “BERSAMA KITA MEMBANGUN
INDONESIA” di BCS Mall-Batam, pada 1 Oktober 2007.
Dalam acara tersebut Gema INTI Kepri bekerjasama dengan
banyak elemen masyarakat untuk mesukseskan acara yang
menonjolkan multikulturalisme dan pluralisme, sepeti tarian
balada, tarian Melayu, tarian Buddhis, dan lain-lain.
Sejumlah tamu kehormatan dari pemerintah kota Batam,
Otorita Batam, Polda Kepri, tokoh-tokoh agama seperti NU
datang untuk ikut berpartisipasi.
SUMATERA UTARA
SUMATERA SELATAN
Pasar Malam Amal GEMA INTI Bali
Menunjukkan kepedulian kepada sesama bisa dilakukan dengan berbagi cara. Gerakan Muda (GEMA)
INTI Bali yang diketuai oleh Hendrik SKom, MBA, mengadakan kegiatan amal yang diberinama Kya Kya
Pasar Malam Amal, digelar pada tanggal 16 September 2007 lalu. Kegiatan pasar malam ini diikuti oleh
62 stand yang menjual berbagai produk. Pendapatan penjualan tersebut diserahkan kepada sejumlah
rumah yatim piatu dan panti jompo. Selain pasar malam, diadakan juga layanan gratis periksa tekanan
darah, gula darah dan asam urat yang dilakukan oleh CHI Indonesia. Acara ini juga dimeriahkan dengan
Ketua Gema INTI Bali
pagelaran
tari barong dan atraksi barongsai.
Hendrik, S.Kom, MBA
Gema Perdamaian 2007
PD INTI Bali turut berperan serta dalam kegiatan Gema
Perdamaian 2007 Bali yang digelar di Lapangan Puputan
Renon Denpasar pada tanggal 11 Oktober 2007.
Ketua DPR-RI Agung Laksono menghadiri kegiatan yang
dikuti oleh 15 ribu orang lebih itu, berasal dari 162 ormas
yang ada di seluruh Bali. Acara ini diselenggarakan dalam
rangka memperingati 5 tahun peristiwa bom Bali.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dair Kapolda
Bali Irjen Pol Paulus Purwoko MDA, dengan menerjunkan
berbagai kesatuan kepolisian untuk membantu keamanan
dan kesuksesan acara ini. Dukungan terhadap acara ini
telah ia tegaskan pada tangal 24 September 2007 lalu saat
bertatap muka dengan dewan ketua panitia yang salah
satunya adalah Ketua PD Bali Cahaya Wirawan Hadi.
Kelompok Tari 3000 Pasien
INTI Sumut di CAEXPO Mendapat Layanan Gratis
Nanning, China
KELOMPOK tari INTI Sumatera Utara dan kelompok vokal Hua
Xianzi berpartisipasi dalam Pagelaran Malam Sing Sing So yang
merupakan bagian dari acara China Asean Expo (CAEXPO) ke-4.
Delegasi kesenian yang terdiri dari 36 orang ini dipimpin oleh
Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disbudpa) Provinsi
Sumatera utara, Ir Imam Pandia.
Acara yang dibuka tanggal 28 Oktober 2007 ini membawakan
tarian tradisional Sumatera Utara seperti Piso Surit, Tatak
Garo-Garo, dan lain sebagainya. Bersama rombongan turut
serta penasehat INTI Sumut Zheng Song Ji, Wakil Sekretaris
INTI Sumut Wang Chun Cheng, pengurus Huang Rong Xiang, dan
Pimpinan kelompok Hua Xianzi, Li Su Xiang.
32 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Arisan Gotong Royong INTI Bali
RESTORAN Hongkong Garden Bali menjadi tempat
diselenggarakannya acara Arisan Gotong Royong pada
tanggal 30 Oktober 2007. Acara yang dihadiri seluruh
Pengurus INTI Bali, PINTI Bali dan GEMA INTI Bali berhasil
menghimpun dana arisan sebesar Rp. 300 juta dan
terkumpul juga sumbangan sukarela untuk 12 bulan dari
berbagai pengurus INTI Bali sebesar Rp. 150 juta dimana
hasilnya langsung diumumkan oleh Wakil Ketua INTI
Bali, Hendra Pangestu. Dengan dana ini diharapkan INTI
Bali dapat menyelaraskan kepentingan umum dengan
kepentingan warga Tionghoa Bali.
Peringatan Sumpah Pemuda
GEMA INTI Bali
DALAM usianya yang masih sangat belia, PD INTI Sumsel
langsung terjun ke masyarakat dengan menggelar
pengobatan gratis.
Sebanyak 28 tenaga dokter dari Tim Kesehatan
INTI yang dikoordinir oleh Dr. Lie A Dharmawan turut
memperkuat 10 apoteker dari INTI Sumsel dan 6 tenaga
medis dari Polsek Seberang Ulu.
Sekitar 3000 pasien menerima pelayanan kesehatan,
8 warga menerima operasi minor pada kegiatan yang
dilakukan pada 20-21 Oktober 2007. Hadir Ketua
INTI Sumsel Yusuf Masawan, Wakil Gubernur Sumsel
Mahyuddin NS, Walikota Palembang Eddy Santana Putra
dan Kapolsek Seberang Ulu I Zainul Arifin.
GERAKAN Muda (GEMA) INTI Bali bersama dengan tiga ormas
kepemudaan setempat yaitu KNPI, HIPMI, dan Sabha Yowana
menggelar upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Nikki
International Hote-Bali pada 28 Oktober 2007 lalu.
Upacara ini dihadiri oleh perwakilan ormas kepemudaan, mantan
aktivis pergerakan mahasiswa dan tokoh masyarakat setempat.
Ketua PD INTI Bali, Cahaya Wirawan Hadi menyatakan bahwa
Peringatan Sumpah Pemuda ini adalah bagian dari empat rangkai
langkah persiapan bagi generasi muda INTI Bali. Langkah pertama
adalah mengunjungi taman makam pahlawan. Langkah kedua adalah kunjungan kepada para veteran perjuangan yang
diikuti dengan pengobatan, langkah ketiga adalah upacara peringatan 17 Agustus, dan yang terakhir adalah Peringatan
Sumpah Pemuda. Menurut Ketua Dewan Pembina INTI Bali Ir Frans B Siswanto MM, tujuan dan makna peringatan ini
adalah untuk mendidik generasi muda agar hidup disiplin dan berusaha keras demi bangsa dan negara.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 33
Denyut INTI 8 Pekan
DKI JAKARTA
PERMATA & Tim Kesehatan INTI Bantu Korban Gempa
di Padang, Bengkulu dan Mentawai
Menanggapi gempa 8,2 SR dan puluhan gempa berskala
5-6 SR yang mengguncang Bengkulu, Padang, dan Mentawai
pada bulan September 2007, 13 dokter bedah dan umum,
2 paramedis dan 7 relawan, yang tergabung dalam relawan
Persatuan Masyarakat Indonesia Tionghoa Peduli Bencana
Alam (PERMATA) dan Tim Kesehatan Perhimpunan INTI,
tiba di Padang pada 17 September 2007. Rombongan
dibawah pimpinan Dr. Lie Dharwaman ini menyusul satu
tim pendahulu yang telah diutus seminggu sebelumnya. Tim
pendahulu memetakan lokasi bencana bersama tim Air Putih,
LSM yang menyiapkan jaringan internet di lokasi bencana.
Di Padang Tim Kesehatan INTI dan Relawan PERMATA
bergabung dengan Paguyuban Santo Yusuf yang diketuai oleh
Lie Hap Kiang. Kerjasama dengan dua organisasi lainnya yaitu
Himpunan Tjinta Teman dan Himpunan Bersatu Teguh juga
dilakukan untuk membantu kelancaran aksi kemanusiaan ini.
Bantuan logistik berupa makanan instan, air mineral,
tenda dan sarung diserahkan pada para pengungsi
di Painan, Sumatera Barat. Tim lalu bergegas ke
Mukomuko, Bengkulu Utara melalui jalan darat selama
8 jam untuk menyalurkan pengobatan dan juga bantuan
logistik. Rombongan sempat disambut oleh Bupati
Mukomuko, Ichwan Yunus yang langsung mempersilakan
Tim untuk mencapai lokasi-lokasi pengungsian.
Dalam misi kemanusiaan ini Tim menghadapi medan
yang tidak mudah. Selain perjalanan yang cukup
34 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
memakan waktu, sarana dan prasarana minim di lokasi
membuat Tim bekerja ekstra keras. Cuaca yang tidak
bersahabat sempat membuat Tim terjebak beberapa jam di
atas pengunungan menuju ke sebuah desa terisolir. Namun
semua kelelahan itu hilang ketika melihat sorot mata harap
dari para korban gempa yang belum tersentuh bantuan.
PERMATA dan INTI juga mengirim Tim kemanusiaan ke
kepulauan Mentawai. Tim kemanusiaan ini bergabung dengan
Team 9, Yayasan Kerabat Desa Kota Indonesia, The Humanity
Forum Singapura, PD Dian Niaga dan Catholic Relief Services.
Mereka tiba di Mentawai pada 29 September 2007.
Kembali Tim menempuh perjalanan yang tidak mudah saat
menuju lokasi. Mereka harus menempuh perjalanan selama
12 jam dengan kapal barang dari Padang menuju Sikakap,
Mentawai.
Tim kemudian terjun ke desa terpencil, Nemnem Leuleu
yang belum tersentuh bantuan medis. Desa yang terletak 30
km di Tenggara Pulau Sipora ini hanya bisa dicapai dengan
motor tempel selama 45 menit dari
pelabuhan Sioban.
Itupun harus melihat kondisi
cuaca
yang kerap tidak bersahabat.
Disana tak ada listrik ataupun
sinyal telepon selular. Penduduk
hanya memperoleh pendidikan
setingkat SD. Mereka hidup
dalam keadaan serba kekurangan. Pengobatan gratis dan
pembagian logistik pun
digelar. Tim membawa bantuan berupa beras, biskuit,
susu, sabun, obat nyamuk,
sarung dan ikan asin.
Bantuan ini disesuaikan
dengan kebutuhan penduduk setempat.
Relawan PERMATA dan Tim 9 diatas perahu.
foto: William, The Humanity Forum Singapura
Benny G. Setiono Raih Penghargaan
WERTHEIM AWARD 2008
Wertheim Foundation (Stichting Wertheim,
Leiden-Amsterdam) menganugerahkan ‘WER­
THEIM AWARD 2008’ kepada BENNY G. SETIONO, sebagai pengakuan dan penghargaan
terhadap usaha, kegiatan dan karya, dalam
rangka emansipasi Kebangsaan Indonesia,
salah satunya dalam karya buku “TIONGHOA
DALAM PUSARAN POLITIK”.
Buku setebal 300 halaman ini memuat
peranan etnis Tionghoa di Indonesia selama
hampir 500 tahun, dengan tidak mengkotakkotakkan atau memisahkannya dari perkembangan sejarah bangsa Indonesia.
Dengan rendah hati, pria yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar INTI dan
Ketua PD INTI DKI Jakarta ini membagikan isi
buku secara gratis melalui website Perhim­
punan INTI, sebuah organisasi yang ia lahirkan
bersama rekan-rekannya di tahun 1999.
Nama Benny G. Setiono, dengan demikian,
turut menghias daftar nama tokoh Indonesia
yang dianugerahi Wertheim Award, yaitu
Pramoedya Ananta Toer (novelis), WS. Rendra
(penyair), Widji Thukul (penyair), Goenawan
Mohammad (budayawan) dan Joesoef Isak
(wartawan/publisis).
Menurut rencana, malam penganugerahan
akan dihelat bersamaan dengan peringatan
satu abad Prof. W.F. WERTHEIM, tepatnya
pada kwartal ke-2 tahun 2008 di Amsterdam.
Acara ini digagas bersama Internationaal
Instituut voor Sociaal Geschiedenis (Institut
Internasional untuk Sejarah Sosial), salah satu
lembaga dokumentasi dan penelitian terbesar
di dunia yang melakukan kegiatan di bidang
ilmu sejarah sosial dunia.
Wertheim Foundation memberikan
­pengakuan dan penghargaan kepada mereka
yang dianggap mempunyai peran aktif peduli
­terhadap usaha pembebasan bangsa.
Download
GRATIS!!
di www.inti.or.id
Bantuan Bagi Warga Tambora
KEBAKARAN yang menimpa warga RW 04 Duri Selatan
Tambora membuat Persatuan Masyarakat Tionghoa Peduli
bencana (PERMATA) dan Tim Kesehatan INTI tergerak untuk
memberi bantuan logistik dan pengobatan gratis bagi warga
yang berduka pada 7 Oktober 2007. Bantuan berupa tikar,
selimut, sarung dan tenda diserahkan langsung ke ketua RW
setempat.
Layanan Sosial
bersama
Yayasan Bhakti
Djajakusumah
PERHIMPUNAN INTI DKI, Tim
Kesehatan INTI dan Yayasan
Bhakti Djajakusumah pim­pinan
Ibu Umar Wirahadikusuma
melakukan pelayanan medis
kepada 800 warga sekitar
Masjid Bani Umar, Pondok
Aren, Tangerang pada Sabtu,
3 November 2007. Ibu Umar
Wirahadikusuma yang hadir
dengan gaun biru cerah tampak antusias melihat berbagai
pelayanan medis, termasuk
11 tindakan bedah minor
dengan kasus penyakit kista
ateroma, veruca, lipoma dan
nevus. Kegiatan ini melibatkan
20 tenaga dokter bedah dan
umum serta 15 relawan dari
Tim Kesehatan INTI.
KERJASAMA DENGAN KALBE FARMA, HOTEL KARLITA &
CHRISTOPHER NUGROHO PRODUCTION
Pengobatan Gratis untuk Warga
Nelayan Tegal
SEBANYAK 1220 warga RW 8, 10
dan 11 Desa Tegal Sari, Tegal
mendapat layanan pengobatan
gratis dari Tim Kesehatan
INTI pada 11 November 2007.
Layanan ini terselenggara
berkat kerjasama INTI DKI,
Kalbe Farma, Hotel Karlita dan
Christopher Nugroho Production.
Sebelas warga yang rata-rata
berprofesi sebagai nelayan
mendapat tindakan bedah
minor karena penyakit ganglion,
extrasi lipom, kista aterom,
claus, dan lain-lain.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 35
Denyut INTI 8 Pekan / Kabar Saudara
JAWA TIMUR
Bantuan bagi Korban Lumpur Sidoarjo
PERHIMPUNAN INTI PC Surabaya dan
PD Jawa Timur melakukan aksi sosial
di lokasi pengungsian korban lumpur
Sidoarjo (Lapindo) pada 17 Juni 2007.
Acara meliputi pembagian bingkisan
bagi 878 kepala keluarga, snack bagi
3.000 lebih pengungsi, panggung
JOMBANG
hiburan, ceramah rohani dan motivasi dari Gus Lutfi Muhammad (Pondok Pesantren Mahad Teebee), serta
­pengobatan gratis bagi para pengungsi.
Aksi sosial ini adalah kerjasama INTI
dengan Yayasan Bangun Sehat Indonesia, Walubi (Perwakilan Umat Buddha
Indonesia), Majelis Agama Khonghucu
Indonesia Pak Kik Bio, Yayasan Hwee
Tiau Ka, Samator Group, Prudential Group, Toko Buku Toga Mas,
Yayasan UNION, dan sejumlah donatur
perseorangan dan institusi yang peduli.
Pada 15 Juli 2007, kembali digelar
bakti sosial di lokasi yang sama dalam
rangka HUT ke-37 Bank Bukopin Cabang Syariah Surabaya. Selain pengo-
batan gratis, kegiatan senam sehat,
pengajian, pertunjukan barongsai,
lawak, dan berbagai lomba untuk anak
ikut memeriahkan.
Bakti Sosial yang kedua didukung
Yayasan Bangun Sehat Indonesia, PT.
Prestasi Pustaka Raya, PT. Coca Cola
­Bottling Indonesia, KSU Jaya Abadi,
Asu­ransi Jasindo, Asuransi Bumida
Syariah, Asuransi Tripakarta Syariah,
Asuransi Tafakul, Notaris Rekanan Bank
Bukopin Syariah Surabaya, RS Mata Undaan Surabaya, dan Bapak Prihartoyo.
Diharapkan para pe­ngungsi bisa
terhibur sekaligus menambah motivasi
serta semangat.
Balai Pengobatan
Tri Dharma Gudo,Jombang
MUSYAWARAH DAERAH I
Perhimpunan INTI
JawaTimur
22 September 2007
36 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Partisipasi PINTI di Panen Raya Singkawang
PADA 4 September 2007, tujuh orang anggota Perempuan
Perhimpunan INTI (PINTI) yang dipimpin wakil ketua PINTI,
Frida Tjendera berkunjung ke Singkawang Kalimantan Barat
dan berpartisipasi dalam acara Singkawang Petani Sagatani
Panen Raya.
Dalam acara tersebut rombongan PINTI didampingi oleh
MATAKIN
SAHUR KELILING DENGAN SHINTA NURIYAH
Buka Puasa Bersama di Kelenteng
Forum PINTI Jabar Ke-4
PERTEMUAN Forum PINTI Jawa Barat ke - 4 berlangsung sukses
pada 4 September 2007. Dibahas masa depan PINTI Jabar yang
bertujuan meningkatkan wawasan, pengetahuan dan status
wanita, serta mencapai kemandirian dan membangun masyarakat madani Indonesia.
Pertemuan ini menghadirkan Dr. Kikit Miranti, SH, Dr. Herlin
Budiono, SH dan Dra. Irene sebagai nara sumber.
DR. Kikit W., SH, seorang kader unggulan PINTI Jabar yang
juga calon anggota DPR-RI, mendorong PINTI untuk aktif
dibidang sosial. Demi mencapai tujuan masa depan PINTI juga
perlu mempunyai SDM yang kuat. Dra. Irene sebagai psikolog
memberi arahan akan kuatnya peranan wanita terhadap keluarga dan masyarakat di era globalisasi.
Dalam kesempatan ini, Ketua INTI Jabar, Prof. Dr. dr. Demin
Shen, M,.Kes., memberi pendapat bahwa hubungan PINTI di
bawah naungan INTI dan semua kegiatannya akan memperkuat
cita-cita luhur bagi pembangunan bangsa dan negara Indonesia.
Dalam pertemuan ini dihadirkan pula hiburan bernuansa multikulturalisme yang menonjolkan keragaman budaya. Seperti
Silvester, pakar seni suara dari seorang guru me­ngaji yang
terkenal di Indonesia, menghibur dengan suara merdunya.
ketua dan pengurus Majelis Adat Tionghoa (MABT).
Dalam acara Panen Raya tersebut hadir Walikota Singkawang Drs. Awang Ishak, selain itu juga beberapa tetua adat masyarakat Dayak. Selain
berpartisipasi dalam acara panen raya, rombongan juga
menghadiri upacara peresmian sebuah sekolah dasar.
Jakarta menjadi Tuan Rumah
Konferensi Khonghucu
Internasional ke-IV
JAWA BARAT
GRAND OPENING
SEJUMLAH lurah di kecamatan
Gudo, Jombang, menjadi tamu
istimewa dalam acara Pembukaan Balai Pengobatan Tri
Dharma Gudo pada 21 Juni 2007
yang diresmikan oleh Drs. H. Soejanto, selaku Bupati Jombang.
Tjandra Iewanto, Ketua Komisaris Balai Pengobatan
menyampaikan misi-visi sebagai fungsi sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan di bidang pelayanan kesehatan dalam rangka menjalin tali silaturahmi dengan masyarakat sekitar. Balai Pengobatan Tri Dharma Gudo ini
dikelola oleh rekan-rekan Perhimpunan INTI Jombang.
PINTI
DENGAN semangat toleransi dan upaya membangun kerukunan umat beragama, Majelis Agama Konghucu Indonesia ­(MAKIN) Tegal mengadakan acara buka puasa pada 19
September 2007. Uniknya, buka puasa ini pertama kalinya
diadakan di halaman kelenteng. Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid hadir dalam acara itu sebagai rangkaian Kegiatan
Sahur Keliling 2007.
Di Jakarta, MATAKIN didukung Paguyuban Meizhou
Indonesia ikut memeriahkan acara Sahur Keliling di Mesjid
Nurul Falah, Teluk Gong Jakarta Utara dan di Jelambar,
Jakarta Barat pada 15 September 2007.
Sahur keliling tahun ini adalah yang kedelapan kali, sejak
periode kepresidenan K.H. Abdurrahman Wahid.
KONFERENSI Khonghucu Internasional IV dan Konferensi
Agama Khonghucu Internasional I dihelat pada 20-22
November 2007 di Hotel Sahid Jaya, Jakarta.
Konferensi ini menghadirkan peserta mancanegara
seperti Australia, Hongkong, Korea Selatan, Malaysia,
Singapura, Taiwan, dan Tiongkok.
Bertema “Menggali Nilai-Nilai Agama Khonghucu untuk
Memperkuat Dunia yang Damai dan Harmonis”, konfe­
rensi membahas sejumlah permasalahan di bidang sosial,
budaya, ekonomi, lingkungan, pendidikan keluarga dan
hubungan antar agama.
“Hal-hal ini akan menjadi tugas seluruh peserta
konferensi untuk menggalinya dengan tuntas, kemudian
menyumbangkannya pada masyarakat luas,” ujar Budi.
S. Tanuwibowo selaku Ketua Umum MATAKIN. Ditambahkannya bahwa cita-cita Tian Zhi Mu Duo Kong Zi akan
dijabarkan dengan menggali ajaranya seperti Zhi, Ren,
dan Yong.
Perlehatan internasional yang diselenggarakan MATAKIN ini dibuka Menteri Agama RI, M. Maftuh Basyuni.
Mantan Presiden RI, K.H. Abdurrahman Wahid dan Ketua
Mahkamah Konstitusi, Prof. Dr. Jimly Asshidiqie turut
hadir dalam acara ini.
Kunjungan
Dewan Matakin ke
Mahkamah Konstitusi
Dewan Pengurus Majelis Tinggi Agama
Khonghucu Indonesia (MATAKIN),
­pengurus Majelis Agama Konghucu
Indonesia (MAKIN) se-Jabotabek, tokoh
agama Konghucu se-Jabotabek, Perempuan Konghucu Indonesia (PERKHIN),
dan Generasi Muda Konghucu (GEMAKU)
melakukan kunjungan ke kantor Mahkamah Konstitusi (MK) pada tanggal 24
Oktober 2007.
Ketua MK RI, Prof. Dr. Jimly Asshi­
ddiqie, SH menerima rombongan yang
dipimpin oleh Ketua Umum MATAKIN
Budi S Tanuwibowo. Kunjungan dilakukan atas undangan MK dalam rangka
mensosialisasikan keberadaan, fungsi
dan tugas MK, serta mengenai konstitusi Indonesia. Menurut Ketua MK, tokoh
agama dan lembaga keagamaan merupakan saluran yang
efektif untuk mensosialisasikan
keberadaan lembaga baru ini.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 37
Kabar Saudara
Suara Daerah
Malam Penyerahan Penghargaan Nabil Award 2007
Pemahaman Antar Etnis sebagai
Upaya Pembangunan Kebangsaan
Drs. Eddie Lembong sebagai pendiri Yayasan
Nabil yang juga Ketua Umum INTI Pertama,
mengungkap hal yang sama, bahwa orang Indonesia-Tionghoa mempunyai peran dalam bidang
agama, kebudayaan dan kesusasteraan Indonesia.
“Kita (Yayasan Nabil) akan terus mengungkit hal
ini, dengan tujuan untuk meyakinkan semua pihak
bahwa bangsa Indonesia terdiri dari multi etnik
dan bahwa etnis Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia.” Eddie juga menyatakan
bahwa masalah Tionghoa di Indonesia adalah
Drs. Eddie Lembong, didampingi Melly Lembong menyerahkan penghargaan
hasil manipulasi sejarah sejak zaman kolonial
Nabil Award I kepada Claudine Salmon
serta penyalahgunaan kekuatan politik di zaman
kemerdekaan.
“Proses menjadi Indonesia bukanlah proses yang sudah
Karenanya, Yayasan Nabil akan berusaha dengan keras unrampung, tidak saja berlaku bagi orang-orang Tionghoa, tapi
tuk menyelesaikannya, diantaranya melalui beberapa program
juga berlaku bagi seluruh anak suku bangsa yang lain, yang
mendasar di bidang politik, hukum, ekonomi, budaya dan
jumlahnya puluhan jika bukan ratusan, dengan bangsa, adat
sosial. Namun ditegaskan bahwa program Yayasan Nabil tidak
istiadat yang beragam dan kaya.”
hanya mengkhususkan diri dalam masalah Tionghoa-Indonesia
Demikian ungkap Prof. Dr. H. Ahmad Syafi’i Ma’arif dalam
saja. “Kami akan mendatangkan pakar-pakar yang mampu
sambutannya, pada Malam Penyerahan Nabil Award 2007,
memetakan masalah di bidang sosial, politik dan budaya
Kamis (25/10) malam. Nabil Award 2007 yang juga merupakan
untuk merumuskan kebijakan-kebijakan yang akan menjadi
Nabil Award pertama dianugerahkan kepada Dr. Claudine
masukan ke pemerintah dan rakyat Indonesia. Kami sangat
Salmon, seorang peneliti dari Pusat Penelitian Ilmu Pengetaserius…!” paparnya.
huan Perancis. Acara penganugerahan ini sekaligus menjadi
Dewan juri dalam penghargaan ini terdiri dari Dr. Siti
peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober.
Musdah Mulia, MA, Dr. (HC) Jakoeb Utama, Prof. Dr. Franz
Nabil Award merupakan sebuah penghargaan yang diaMagnis-Suseno, SJ, Prof. Dr. Adrian B. Lapian serta Prof. Dr.
nugerahkan kepada para tokoh yang berjasa besar dalam
bidang “Nation Building” atau pembangunan kebangsaan demi Dorodjatun Kuntjoro Jakti. Dewan juri yang diketuai Prof.
Dr. H. Ahmad Syafi’I Ma’arif ini memberikan penilaian dan
memajukan dan meningkatkan hubungan antar etnik yang
persetujuan atas nama calon penerima penghargaan yang
makin harmonis dalam masyarakat Indonesia. Penghargaan ini
diajukan oleh Dewan Pakar Yayasan Nabil. Adapun Dewan
merupakan salah satu proyek khusus dari Yayasan Melly-Eddie
Pakar Yayasan Nabil diisi oleh sederetan cendikiawan dan
Lembong untuk Nation Building (Yayasan Nabil) yang didirikan
peneliti ternama, yaitu Mely G. Tan, Ph.D, Dra Myra Sidharta,
pada September 2006. Yayasan ini memfokuskan diri melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan pemahaman antar Dr. Asvi Warman Adam, Yudi Latief, Ph.D, Prof. Dr. Bambang
Purwanto, Didi Kwartanada dan Yerry Wirawan.
etnis dan intra-etnis yang dapat memajukan proses nation
Claudine Salmon yang menerima piagam penghargaan,
building Indonesia.
pin emas Nabil Award, plakat kristal dan hadiah uang Rp.
Dalam sambutan yang dibacakan cendekiawan Muslim
50 juta menyatakan terimakasih yang mendalam. Ia memYudi Latief, Ph.D. itu juga dinyatakan bahwa etnis Inpersembahkan penghargaan itu kepada semua orang yang
donesia-Tionghoa telah turut menyumbangkan peran
telah membantu penelitian dan kajiannya di Indonesia selama
penting dalam pembentukan Indonesia diantaranya
bertahun-tahun. Ia juga menyatakan bahwa penghargaan ini
dalam hal penyebaran bahasa Melayu Pasar dan Sastra
merupakan pertanda makin diterimanya peran etnis Tionghoa
Melayu-Tionghoa yang pada gilirannya memperkokoh
di Indonesia. “Masyarakat Indonesia sedang berubah…,” ucapposisi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
nya perlahan. Ketika disinggung akan hubungan yang makin
Golongan Indonesia-Tionghoa bersama umat Islam yang
dekat antara pemerintah Indonesia dan RRC, Claudine hanya
lain juga telah bahu-membahu mempercepat proses
menjawab singkat, “Hubungan antar negara berbeda dengan
Islamisasi di Nusantara. Hal-hal ini berhasil dibuktikan
hubungan antar masyarakat. Tidak bisa disamakan…” n
secara ilmiah oleh Claudine Salmon.
38 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 37
印尼华人应该韬光养晦
民族愛國氛围的印尼华人
ORANG TIONGHOA-INDONESIA PERLU BELAJAR RENDAH HATI
DAN TIDAK SUKA PA���
MER
Drs. Soeria Disastra (���
Bu Ruliang�
��������/卜汝亮)
���������������
因为历史的转折,印尼走进改革开
放的年代,中国崛起,突飞猛进,在世
这样,反华排华的势力和影响力就可
以慢慢地、有效地受到限制、抵制和削
ETNIS TIONGHOA INDONESIA DI TENGAH KEBANGSAAN
Josef Purnama Widyatmadja
政治问题观察员
在新秩序时代,大多數的印尼华人
鲜的空气。在民主改革的氛围,我国
的,华人可以在国家统一领土发挥整
关爱,甚至做出我们的贡献。有所作
经历了惨痛的历史。新秩序继承了荷
华人的法律地位,政府还需要继续给
合的作用;所有以华人为基础的团
予保障,而华人也要有明智和负责任
体,要避免过份出格的举措和态度,
学习其他兄弟族群的文化,表现我们的
界上扬眉吐气,因此印尼华人就好像长
弱而失去市场。这就需要我们的才智、
为,有所贡献的华族将会得到其他兄弟
兰殖民政府分而治之的政策;只有一
时间受束缚而突然从马厩释放出来的马
理智,需要我们的宽阔的胸怀、度量,
族群的尊重和爱护。在华人的作为和贡
小撮华人被扶养为财阀,新秩序政府
的态度。我国华人在改革氛围中组建
因为这是会伤害祖国其它族群的感
献中,他们会看到和感受中华文化。
在全国范围系统的使用媒体宣传和政
了很多团体,有华人当了内阁部长;
情。
戒,需要我们长期工作的热诚、付出和
府政策,煽动了社会民众对华人的仇
撤销了对华文禁令后,华语补习班像
华人公民在克服民族多层面危机,
劳心劳力。
恨。
雨后春笋开遍祖国大地,准许华人宗
能够发挥重要的作用。华人拥有的优
群一样,自由不拘,任意奔驰。
印尼华人在绿色的国度里,在危机四
伏、天灾人祸频频侵扰的是非之地,划
了一个小圈子,建立龙的小王国,到处
需要我们时时刻刻的思想的清醒、警
华人华族,首先要摆正、摆好自己
华人不必自道是华人,我们的肤色和
眼睛会告诉别人我们是华人;中华文化
从1965年新秩序上台至到1998年下
教信仰传统仪式和文化活动,承认孔
良品格以及现有的全球网络,是建设
教为正式宗教,对华人是一个大喜
公正和繁荣的印尼祖国的强大力量。
讯。
目前我国华人拥有最好的时机,为殊
张红灯结红彩,大书特书中华的文字和
在印尼民族、印尼国家、印尼社会中
不必自吹优秀博大精深,我们的美言善
台,印尼华人在这期间成为代罪羊,
文化,锐气飞扬、金光四射。
的定位。
举和文化内在素质自然流动,潜移默
又是被榨取的奶牛。印尼华人的活动
化,滋润千岛之国的文化。
范围被限制在经济领域。1965年事件
其次是中国的改革开放和崛起的因
途同归的印尼民族贡献力量。摆在华
达尔文的适者生存的名言常被人误解
韬光养晦是中国一句成语。韬光
为强者生存。生物的进化史和人类的历
表示收藏锋芒、收敛锐气、养晦表示潜
的创伤使他们对政治恐惧,不敢批评
素。21世纪是亚洲的世纪,中国和印
人面前的问题是,这个机遇是不是就
史证明动物界和人世间的强者常常被淘
心含蓄、保持低姿态、谦逊待人。须
杜甫的《春望》有这样的诗句:“好
政府的措施或违反政府的旨意。在新
度是这个区域的经济动力。中国政治
让它轻易地溜走了呢?
汰和成为失败者。其原因不是因为强的
知,锋芒太露容易招人中伤猜忌。含蓄
雨知时节,当春乃发生。随风潜入夜,
秩序政权下敢持批判立场的华人屈指
倾向的变化,使她更能为亚洲和国际
必须抛开把自己当作少数族群和
润物细无声。”好雨在春天的好时候,
可数,只有像已故叶添兴.,苏福仁等
所接受。国际上大多数国家,不再相
非“原住民”的感觉,因为人不是从数
在静晚间潜入,不动声势,滋润万物,
人。投入政治舞台的华人大部份是加
信冷战时代宣扬的:中国作为共产
量和来源,而是从成绩和品格来评
入当时的执政党。
主义国家的崛起是危险的理论。很多
价。倘若这个塑造巩固的民族理念的
因素,而是因为强者不能适应环境,不
能顺应自然环境的发展规律不断地做自
是中华文化的一种境界。
印尼华人的历史告诉我们,十九世纪
我调整和自我改变,结果为四围环境所
前的华人先辈飘扬过海,移居千岛之
带来春色,迎来春的气象。如果自信自
不容,自取灭亡。
国,与当地的居民和平相处,在文化上
认是好雨,印尼华人大可不必电闪雷响
苏哈多下台后,我国并没有脱离危
国家视中国的崛起是机遇,而不是威
时机,不被整个民族成员包括华族充
自然交流、交融,甚至相互融化、相
而惊天动地,大可不必疾风暴雨从天而
机的困境。虽然民主进程不断向前发
胁。“中国的和平崛起”推动海外华人
份把握和利用,那末,就会给民族包
互同化。
下。和风细雨滋润印尼大地吧。 展,更尊重基本人权,但是危机没有
在他们的所在国作出积极的贡献。
括对华族带来灾难。
印尼民族是一个多元化的友善和开放
的民族。但是长期的殖民主义统治和分
十九世纪后,当荷印殖民政府正式统
过去。改革反而留下多层面的危机。
再次是全球化的因素。移民到世界
自以为比其它群体更了不起,只争
治印尼之后,实行分而治之的政策,分
这个民族面对几个主要危机:贫穷、
各个角落的华人,是在先进国家自由
取自己利益的态度,必须抛弃掉。华
弊病,至今还留存其后遗症潜伏着,伺
化华族和当地原住民,从中挑拨、离
经济、生态环境、政府贪污、树立法
市场的全球化之前,华人并没有通过
人必须在热爱印尼的氛围下,持有包
机待发。
间。在以后的历史发展中,华人逐渐被
治、分离主义、国家统一领土、民族
殖民或征服手段散布到世界各地。总
容的思想和行为。相反的,政府和政
主义信念和民族特格的危机。我国民
的来说,华人移民到世界各地的过程
治或宗教领袖,需要抛弃歧视华人的
族要解决危机,民族要成为嬴家,就
是和平的,为所在国的建设和人民的
猜忌态度和条例措施。
需要有国家领袖作风的领导人。
繁荣作出了积极的贡献。
化政策以及世界帝国主义强国的侵扰和
干涉,使这个国家染上了反华排华的
在这样的国内大环境里,我们理应适
应环境。华族不能自恃经济的强势、自
视文化的优势。
华族不能不放下唯我独尊的架势,不
视为经济和文化方面威胁、控制其他族
Artikel ini juga dimuat di
Harian Internasional 10-09-2007
群并占优势的族群。
在现今的时代,作为相对少数族群的
华人,特别是其祖籍国是一个先进的社
能不重视与四围族群亲善为邻,建立互
会主义中国的印尼华人,更应该韬光
惠互利的、水乳交融的关系。我们在日
养晦。 文化是人与人之间沟通交
常生活中,在经济贸易、文化教育、
往的媒介和通道。而在多元文化的交
政治社交和媒体舆论等各个领域各个层
往中,开放和包容的态度和心胸是最
面广交朋友,结识广泛的同盟者,使我
印尼文翻译:Willy
要紧的。
一位外国的撰稿人曾经写道,新秩
Versi Bahasa Indonesia
dalam dua artikel ini bisa
dilihat di website
Perhimpunan INTI,
www.inti.or.id
郑和下西洋是人类民族之间进行平
天掉下来,也不是靠政府或者什么人
序时代后,印尼华人进入了黄金时
等交往的光辉典范。在当今弱国受边
的施舍的,而是要靠斗争争取的。它
代,在改革以后的社会生活和国计民
缘化的经济全球化竞争中,华人可以
要求华人年轻一代改变和建立自己的
生,有几个因素使华人能够发挥更大
为印尼不变成一个败者,发挥积极的
品格。
的作用。
作用。华人也可以在国际反恐战争
首先是开放的政府和社会的因素。
中,为避免文明冲突,发挥自己的作
们成为印尼民族的整体的不可分割的
我国华人逐步地取得法律的同等地
一部分。
位,作为公民一员获得更人道和平等
华人需要对改革后出现的变化和氛
的权利。新的国籍法对我国华人是新
围,采取明智的态度。道路还是遥远
印尼华人首先要认同、包容、尊重、
对华人的歧视政策的撤销,不会从
用。
安瓦尔沙尼译自2007年9月1日
《革新之声》
Alih bahasa: Lu Ik Kun
PENGURUS DAERAH BALI
Jl. IMAM BONJOL NO. 126
DENPASAR 80119
Telp. (0361) 484879
Faks. (0361) 484420
PENGURUS CABANG
BADUNG
JL. RAYA KUTA 142
DENPASAR
Telp. (0361) 7973948
PENGURUS CABANG
BANGLI
JL. RAYA KINTAMANI, BANGLI
Telp. (0366) 51103
PENGURUS CABANG
DENPASAR
JL. JAYAKARTA II/7
DENPASAR
Telp. (0361) 425071
PENGURUS CABANG GIANYAR
JL. AIRLANGGA 21, GIANYAR
PENGURUS CABANG
KARANGASEM
JL. GAJAH MADA 70 B,
AMLAPURA
Telp. (0363) 21030
PENGURUS CABANG
KLUNGKUNG
JL. DIPONEGORO,
SEMARAPURA
Telp. (0366) 21142
PENGURUS CABANG
TABANAN
JL. MAWAR 49 TABANAN, BALI
Telp. (0361) 7832191
PENGURUS DAERAH
DKI JAKARTA
JL. ROA MALAKA UTARA
NO. 5 C-D
JAKARTA 11230
Telp.(021) 691 5891
Faks.(021) 6915893
PENGURUS CABANG
JAKARTA BARAT
GREEN GARDEN
BLOK A 12 NO. 9
JAKARTA 11520
ATTN. BAPAK LORENZ GUNADI
PENGURUS CABANG
JAKARTA PUSAT
ATTN. BAPAK SUFENDI
DHARMADI
JL. CEMPAKA NO. 3
PASAR BARU TIMUR
JAKARTA 10710
Telp.(021)345 1087
Faks.(021)350 2543
PENGURUS CABANG
JAKARTA TIMUR
JL. PULO MAS BARAT V NO. 20
JAKARTA 13210
Telp.(021)4711627
Faks.(021)4705464
PENGURUS CABANG
JAKARTA UTARA
ATTN. BAPAK HERI LIM
BLOK N 7 UTARA NO. 9
MUARA KARANG
JAKARTA 14440
Telp.(021)6678704
PENGURUS DAERAH
ISTIMEWA YOGYAKARTA
JL. K.H. AHMAD DAHLAN
NO. 93 (d/h 87)
YOGYAKARTA 55262
Telp. (0274) 381849
Faks. (0274) 374842
PENGURUS DAERAH
JAWA BARAT
JL. GAJAH LUMANTUNG NO. 30
BANDUNG 40117
Telp.(022) 423 4957
Faks.(022) 423 1086
PENGURUS CABANG
KAB. SUKABUMI
ATTN. BAPAK ANTONIUS
JL. SILIWANGI NO. 12
CICURUG SUKABUMI 43359
PANDI LUNADI
Telp.(0266) 731700
Faks.(0266) 731408
PENGURUS CABANG
TASIKMALAYA
JL. DR. SUKARJO NO. 45
TASIKMALAYA 46112
Telp.(0265) 330993, 331902
Faks.(0265) 336606
PENGURUS DAERAH
JAWA TENGAH
JL. CEMPOLOREJO NO. 15
SEMARANG 50141
Telp.(024) 761 4500
Faks.(024) 761 4506
PENGURUS CABANG
BANDUNG
JL. SOEKARNO-HATTA NO. 224
BANDUNG 40235
Telp.(022) 5403026; 5406344
Faks.(022) 5406050
PENGURUS CABANG
BANYUMAS
RUKO KEBON DALAM
BLOK D NO. 7
JL. K.H. MOCH. SYAFEI
PURWOKERTO 53114
Telp.(0281) 639930
Faks.(0281) 639930; 640644
PENGURUS CABANG
BOGOR JL. RODA II NO. 7
KOMPLEK RODA INDAH
BOGOR 16141
Telp.(0251) 377912
Faks.(0251) 377912
PENGURUS CABANG DEMAK
PONDOK RADEN PATAH
BLOK Z 1 NO. 7
SAYUNG, SRIWULAN
DEMAK
Telp.(024) 659 1372
PENGURUS CABANG
CIREBON
TOKO LINAJATI
JL. KANOMAN NO. 54
CIREBON 45117
Telp.(0231) 203302
Faks.(0231) 203302
PENGURUS CABANG KLATEN
JL. RAYA JAGALAN NO. 28
KARANG NONGKO
KLATEN 57483
PENGURUS CABANG
KAB. CIREBON
ATTN. BAPAK SUYANTO, SE
JL. SAPUTRA IX NO. 25
TUPAREV CIREBON 45153
Telp.(0231) 3387490;3384090
Faks.(0231) 204498; 209654
PENGURUS CABANG
GARUT
JL. PASAR BARU NO. 88
GARUT 44115
Telp.(0262) 233709
Faks.(0262) 233 554
PENGURUS CABANG
KARAWANG
JL. SATRIA RAYA
BLOK II NO. 4
BUMI SATRIA KENCANA
BEKASI 17144
Telp.(021) 8843134
Faks.(021) 8842980
PENGURUS CABANG
SUKABUMI
TOKO TIGA
JL. PASAR CIWANGI NO. 2
SUKABUMI 43131
Telp.(0266) 221794
Faks.(0266) 221793
42 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
PENGURUS CABANG
SEMARANG
JL. TELOGOMUKTI II NO. 1157
PERUMAHAN GRAHA MUKTI
TLOGO SARI
SEMARANG 50196
Telp.(024) 6712215
PENGURUS CABANG SOLO
JL. MAHABARATA NO. 52
BANARAN, PALUR
SOLO 57772
Telp.(0271) 827015
Faks.(0271) 827015
PENGURUS CABANG
TEMANGGUNG
ATTN. BAPAK IGNATIUS
SUDIJANTO
JL. TLOGOMULYO
RT 007/01 NO. 42
MUNGSENG
TEMANGGUNG 56225
Telp.(0293) 493162;
0815 684 39831
PENGURUS DAERAH
JAWA TIMUR
JL. KARET NO. 21-23
SURABAYA 60162
Telp.(031) 3522612; 3521670
Faks.(031) 3532762
PENGURUS CABANG
JOMBANG
TOKO MULIA
JL. A. YANI NO. 6
JOMBANG 61415
Telp.(0321) 861 797
Faks.(0321) 862274
PENGURUS CABANG
SURABAYA
JL. KARET NO. 21-23
SURABAYA 60162
Telp.(031) 3522612;
3521670
Faks.(031) 3532762
PENGURUS DAERAH
KALIMANTAN BARAT
ATTN. DRS. CHRISTIANDY
SANJAYA, SE, MM
SMK IMANUEL
JL. LETJEND. SUTOYO
PONTIANAK 78121
Telp.(0561) 766476
PENGURUS DAERAH
KEPULAUAN RIAU
MITRA UTAMA MOTOR
KOMPLEK RUKO AKU TAHU
BLOK A 2 NO. 1 SEI PANAS
BATAM CENTER, BATAM 29433
Telp.(0778) 472 505; 472 506
Faks.(0778) 462 969; 428 896
PENGURUS CABANG
TANJUNGPINANG
JL. IR. SUTAMI NO. 55
TANJUNG PINANG 29122
KEPULAUAN RIAU
Telp.(0771) 21377; 22116;
21042
Faks.(0771) 21344
PENGURUS DAERAH
NANGGROE ACEH DARUSSALAM
ATTN. BAPAK HARYANTO
TOKO SKYNET
JL. RA KARTINI NO 16
BANDA ACEH 23122
Telp.(0651) 25178
Faks.(0651) 26501
PENGURUS DAERAH
SUMATERA SELATAN
KOMPLEK ILIR BARAT PERMAI
Lt.2 Blok F No.4
Jl. LETKOL ISKANDAR
PALEMBANG 30134
PENGURUS DAERAH
SULAWESI SELATAN
PT WIRA EKA PERSADATAMA
JL. ANDI MAPPANYUKI
NO. 44-46
(DEPAN PEGADAIAN)
MAKASSAR 90125
Telp.(0411) 856767
Faks.(0411) 832117
PENGURUS DAERAH
SUMATERA UTARA
HARIAN ANDALAS
JL. JEND. A. YANI
NO. 45-49
MEDAN 20111
Telp.(061) 451 6004
Faks.(061) 451 6006
PENGURUS CABANG
BINJAI
ATTN. IR. MINHUI
PT DAYA MEGA PRATAMA
GEDUNG ANTARA LT. 3
JL. PUTRI HIJAU NO. 12
MEDAN 20111
Telp.(061) 4564933
Faks.(061) 4564976
PENGURUS CABANG
DELI SERDANG
ATTN. DR. WALI
HOSANA KERAMIK
JL. DAHLAN TANJUNG
NO. 90 TANJUNG MORAWA
DELI SERDANG
Telp.(061) 7945549
Faks.(061) 7945548
PENGURUS CABANG
LABUHAN BATU
ATTN. BAPAK SUJIAN/ACAN
JL. JEND. SUDIRMAN NO. 8/33
RANTAU PRAPAT
LABUHAN BATU 21412
Telp.(0624) 21227
PENGURUS CABANG
LANGKAT
TOKO JAM “WAKTU”
JL. SUDIRMAN NO. 199
TANJUNG PURA
LANGKAT 20853
Telp.(061) 8960059
PENGURUS CABANG
MEDAN
HARIAN ANDALAS
JL. JEND. A. YANI NO. 45-49
MEDAN 20111
Telp.(061) 451 6004
Faks.(061) 451 6006
PENGURUS CABANG
PEMATANG SIANTAR
ATTN. DR. PETRUS YUSUF
JL. MERDEKA NO. 242
PEMATANG SIANTAR 21110
Telp.(0622) 25210
Faks.(0622) 25210
PENGURUS CABANG
SERDANG BEDAGAI
ATTN. BUDI SUMALIN, SE
GG. ANDIKA NO. 7
JL. BRIGJEND. KATAMSO
MEDAN 20150
PENGURUS CABANG
SIBOLGA
JL. DIPONEGORO NO. 24 A
SIBOLGA 22524
Telp.(0631) 22170
PENGURUS CABANG
TEBING TINGGI
ATTN. BAPAK RIYANTO
JL. SUPRAPTO NO. 21 LK IV
PASAR GAMBIR,
PADANG HULU
TEBING TINGGI 20627
Telp.(0621) 21998
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 43
Jendela
Tionghoa
Laporan Utama
Sastra Melayu Tionghoa
Claudine Salmon dalam Bingkai
Sastra Melayu-Tionghoa
“Apa angkau perna banyak bergaulan dengen pranakan?”
“Ho. Ho, trima kasi, tida!”
“Kalu tidak perna bergaulan, cara bagimana angkau brani unjuk kajelekannya? Angkau toch tida tau jeleknya bagimana dan apakah di antara kajelekankajelekan itu tida ada kebaikan yang menyelip barang sedikit?…Kalu saya
musti cela betul-betul kita punya kaum Hok Kian…angkau sendiri ada singke
juga seperti saya, tetapi saya heran kenapa angkau bicara Melayu sama angkau
punya anak?”
S
epenggal paragaf dengan gaya bahasa ‘aneh’ diatas
diambil dari kisah berjudul Dengen Duwa Cent Jadi
Kaya 1 karya Thio Tjin Boen yang ditulis pada 1920.
Tulisan ini termasuk salah satu karya sastra Melayu-Tionghoa
yang tumbuh subur di tahun 1870-1960.
Karena pengaruh kebijakan politik, Sastra Melayu Tionghoa
tidak diperhitungkan dalam khazanah Sastra Indonesia. Antara lain alasannya adalah dalih bahwa karya sastra ini menggunakan Bahasa Melayu pasar yang dianggap rendah, sementara karya sastra Balai Pustaka menggunakan Bahasa Melayu
tinggi yang dianggap sebagai bagian kebudayaan bangsa.
Argumentasi di atas terbantah ketika Literature in Malay
by the Chinese of Indonesia, a Provisial Annotated Biblio­
graphy (Paris:1981), terbit. Katalog karya sastra peranakan
yang ditulis oleh Claudine Salmon ini memuat 806 penulis
dengan 3005 karya yang terdiri dari drama asli, syair asli,
terjemahan karya penulis Barat, terjemahan cerita-cerita
Tiongkok, novel dan cerita pendek asli. Sebanyak 2757 karya
bisa diidentifikasi pengarangnya, sementara 248 lainnya
anonim.
Jumlah ini bisa dibilang fantastis, karena jumlah pengarang
Indonesia yang tercatat dalam buku Modern Indonesian Lite­
rature (1967, revisi 1979) hanya sebanyak 284 nama dengan
770 karya. Literatur ini adalah karya Profesor A. Teeuw,
seorang ahli Sastra Indonesia dari Universitas Leiden yang
amat membawa pengaruh besar dalam penulisan sejarah
Sastra Indonesia.
Claudine memang bukan orang pertama yang menulis tentang kesastraan Melayu-Tionghoa. Sebelumnya ada Nio Joe
Lan yang di tahun 1930 pernah menganjurkan agar karya Sastra Melayu-Tionghoa dikaji dari bidang sejarah, kesusastraan
dan psikologi. Ia menyebutnya Kesastraan Indo-Tionghoa.
Setelah Indonesia merdeka, Pramoedya Ananta Toer
berkali-kali menyebut masa perkembangan kesastraan
Melayu-Tionghoa sebagai masa asimilasi, yaitu masa transisi
dari kesastraan lama ke kesastraan baru. Di tahun 1971,
C.W. Watson menyebutnya Pendahulu Kesastraan Indonesia
Modern, dan pada 1977, John B. Kwee dalam disertasinya,
menyebut Kesastraan Melayu Tionghoa.
44 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Claudine Salmon
(berkemeja hitam)
dan Myra Sidharta.
Namun demikian melalui karya
Claudine-lah, mampu dibuktikan secara ilmiah, bah­wa genre kesastraan ini se­betulnya adalah bagian tak terpisah dalam sastra Indonesia.
Profesor A Teeuw bahkan menyatakan, bahwa buku
Claudine telah memberi landasan kuat bagi kritik sastra yang
sangat diperlukan untuk lebih memajukan penelitian sastra
Indonesia modern. “Alasan yang diajukan Salmon itu tak
terbantahkan dan begitu meyakinkan, para peneliti perlu
melepaskan sikap apriori bahwa Sastra Indonesia awal dan
manifestasi satu-satunya sebelum Perang Dunia Kedua adalah
novel-novel Balai Pustaka. Dengan terbitnya buku tersebut,
tak diragukan lagi bahwa Sastra Peranakan Tionghoa merupakan mata rantai pokok dari perkembangan Sastra Indonesia
masa kini…”
Dalam penelitian Claudine, ditemukan bahwa Oey Se
karya Thio Tjin Boen dan Lo Fen Koei karya Gouw Peng Liang
adalah dua prosa asli pertama Kesastraan Melayu-Tionghoa
yang terbit di tahun 1903. Ini berarti karya-karya itu telah
muncul 20 tahun lebih awal dibandingkan karya Sastra Balai
Pustaka yang antara lain ditandai dengan terbitnya novel
Azab dan Sengsara: Kisah kehidupan Anak Gadis karya Merari
Siregar pada 1920 dan Sitti Nurbaja karya Marah Rusli pada
tahun 1922.
Dalam literature Claudine tersebut juga diperlihatkan
bahwa pers Melayu-Tionghoa dan para penulis peranakan
Tionghoa memainkan peranan besar dalam menyebarluaskan
Bahasa Melayu sebagai lingua franca di Indonesia sejak tahun
1890-an. Nyata bahwa Bahasa Melayu yang digunakan pe­
ngarang peranakan tidak ada bedanya dengan Bahasa Melayu
kaum nasionalis Indonesia awal abad XX. Bahasa inilah yang
menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 45
Jendela
Tionghoa
Laporan Utama
Kemunculan Literature in Malay by the Chinese of Indonesia di tahun 1981 juga membangkitkan kesadaran, bahwa
golongan Tionghoa bukanlah binatang ekonomi seperti citra
yang disuguhkan kepada publik di masa itu. Penelitian ini
mendorong terbukanya genre sastra Melayu-Tionghoa ke
hadapan publik nasional di masa akhir kekuasaan Orde Baru,
yang sempat membatasi gerak golongan Tionghoa untuk
hanya berkarya di bidang ekonomi.
…
Alasan-alasan diatas telah membuat lima dewan juri yang
dipimpin Dr. Syafi’I Maarif untuk menganugerahkan Nabil
Award I kepada Claudine Salmon. Penghargaan Nabil diberikan kepada mereka yang dinilai berjasa dalam proses nationbuilding Indonesia.
Istri dari Alm. Denys Lombart ini lahir di Perancis Timur
69 tahun lalu. Minatnya terhadap kebudayaan Tiongkok
telah membawa hidupnya untuk mempelajari studi Bahasa
­Ti­onghoa. Perkenalannya dengan Indonesia dimulai tahun
1966 ketika suaminya ditempatkan sebagai perwakilan Ecole
Francais d’Extreme Orient, lembaga penelitian nasional
Perancis mengenai Timur Jauh (Asia). Wanita yang fasih
berbahasa Indonesia, Perancis, Inggris dan Mandarin ini menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat Indonesia Tionghoa
mengalami berbagai macam pembatasan terhadap ekspresi
budaya pasca Gerakan 30 September. Kehidupan singkat di
Jakarta telah mengubah minat kajiannya dari Tiongkok ke
wilayah Lautan Selatan (Asia Tenggara).
Sepanjang hidupnya, Claudine telah menulis paling tidak
300 karya akademis berupa buku, artikel, jurnal dan resensi. Secara garis besar karyanya mengenai etnis Indonesia
Ti­onghoa bisa dibagi dalam kelompok Sastra, Bahasa dan Percetakan Melayu Tionghoa; Agama dan Kepercayaan Ti­onghoa;
Sastra Melayu Tionghoa
Prasasti Tionghoa sebagai Sumber Sejarah; ­Hubu­ngan Ti­
onghoa-Islam; Sejarah Keluarga dan Biografi Tokoh Tionghoa;
Sejarah Perempuan Tionghoa; Sejarah Komunitas Tionghoa
Berdasarkan Dialek dan Domisili; Pendidikan Tionghoa; dan
Hubungan Nusantara dengan Tiongkok, Vietnam dan Thailand. Tulisan-tulisannya menunjukkan pemupukan silang
budaya Tionghoa-Indonesia, dimana etnis Tionghoa telah
berada di Indonesia sejak masa paling awal dan memainkan
peran penting dalam perkembangan ekonomi, politik dan
sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia. n
Claudine Salmon
Tempat dan tahun lahir: Bruyeres, Prancis Timur, 1938
Keluarga: Denys Lombart (suami, 1938-1998)
Pendidikan: Studi Bahasa Tionghoa di Ecole Nationales des Langues
Orientales (1962); studi hukum (1963) dan studi humaniora (1964)
di Faculte de Droit, Universitas Sorbonne; dan meraih gelar doktor
dari Universitas Sorbonne (1970).
Pekerjaan: Ahli peneliti utama di Pusat Nasional untuk Penelitian
Ilmiah (CNRS)
Karya ilmiah: selama 1965-2007 (termasuk yang akan terbit)
Claudine Salmon telah menghasilkan tiga buku (termasuk terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia), lima buku bersama penulis lain
(termasuk terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia dan Thailand),
menjadi editor 9 buku dimana biasanya ia memberikan anotasi
detail atas subjeknya yang juga diterjemahkan ke dalam Bahasa
Mandarin dan Vietnam, 53 artikel dalam buku (termasuk terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia, Malaysia dan Italia), 103 artikel
dan terjemahan dalam jurnal (termasuk terjemahannya ke dalam
Bahasa China, Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Spanyol) serta 128
buku yang diresensi dalam berbagai macam bahasa.
Mengintip Sejarah dari Karya Sastra Melayu Tionghoa
Cukup mengasyikkan membaca karya sastra para peranakan
Tionghoa di masa 1870-1960. Karya Sastra Melayu Tionghoa menggambarkan dinamika yang terjadi semasa puncak Pax Nederlandica
(masa keemasan penjajahan Belanda) dan beberapa dekade awal
kemerdekaan Indonesia. Dari sana kita bisa merasakan bagaimana
hidup di zaman itu dan bagaimana hubungan sosial yang terjadi di
masyarakat pada masa kisah tersebut ditulis.
Ada kisah tentang kedatangan Raja Siam di Betawi pada 1870,
pembuatan jalan kereta api pertama dari Batavia ke Karawang di awal
abad 19, biografi seorang petinju masyur, kisah percintaan yang ditentang karena perbedaan, drama berlatar belakang meletusnya gunung
Krakatau sampai kisah keseharian masyarakat pada krisis ekonomi
tahun 1930-an. Kita juga bisa melihat bahwa buku tentang belajar
bahasa Melayu yang berisi ejaan, penggalan kata sampai peribahasa
ternyata sudah terbit di tahun 1884.
Ada pula Novel Drama di Boven Digoel karya Kwee Tek Hoay yang
berani menyentuh masalah hakiki dan kontradiksi pokok masyarakat
jajahan pada kurun 1920-an dan secara terbuka mengaspirasikan
semangat ke-Indonesiaan. Setting novel ini dianggap luar biasa karena
mengangkat peristiwa sejarah Pemberontakan November 1926 yang
tidak berani disentuh para pengarang Balai Pustaka.
Hubungan interaksi sosial dalam masyarakat juga terbaca jelas.
46 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Seperti karya-karya Thio Tjin Boen
yang mempunyai ciri khas penggambaran masyarakat peranakan
Tionghoa dalam interaksi dengan
etnis lain, seperti Jawa, Sunda,
Arab dan sebagainya. Ia bahkan
menyatakan konflik antara
masyarakat totok yang menyebut dirinya
singke dengan golongan peranakan, karena adanya
sifat, kebiasaan dan pola pikir yang berbeda.
Gambaran sejarah lain juga terungkap jelas dalam kisah-kisah
tentang perkembangan organisasi Tiong Hoa Hwe Koan (THHK),
potret perempuan di zaman kolonial, organisasi perempuan yang
sulit berkembang, dan emansipasi kaum perempuan melawan kung­
kungan tradisi untuk meraih cita-citanya.
Kisah-kisah dalam Karya Sastra Melayu-Tionghoa menggambarkan pergulatan mencari identitas dan pengakuan yang dialami etnis
Tionghoa di Indonesia. Tampak pula keragaman dalam masyarakat
Tionghoa yang berorientasi ke tanah leluhur, memuja kolonialisme Belanda atau berusaha menjadi orang Indonesia. Sebuah fakta lagi yang
menguak betapa heterogennya masyarakat Tionghoa di Indonesia,
dimana sering disamaratakan dengan stereotype tertentu.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 47
Hukum
Laporan Utama
Organisasi Bantuan Hukum
Bantuan Responsif adalah
Jawaban Terhadap Tuntutan Masa Kini
Frans Hendra Winarta
Pengacara, Ketua Yayasan Pengkajian Hukum Indonesia, Ketua Perhimpunan INTI
P
eraturan Daerah Penyelenggaraan Ketertiban Umum
(PERDA TIBUM) yang dikeluarkan oleh Pemda DKI Jakarta mengenai jeratan hukum terhadap para pengamen, pengasong, pengemis, dan pedangan kecil pinggir jalan
seakan menjadi tanda verbieden besar bagi orang miskin di
Jakarta.
Bila ditelaah lebih jauh, masalah ketertiban yang menjadi
alasan diberlakukannya peraturan ini sesungguhnya bukan
terletak pada manusianya, tetapi pada kemiskinan yang
menekan hidup rakyat.
Di pihak lain penduduk miskin merupakan subyek hukum
yang menjadi tanggung jawab negara. Berhak atas kesejahteraan, kesempatan mendapatkan penghidupan layak dan
perlakuan adil di muka hukum.
Frans Hendrawinata SH, seorang praktisi hukum yang dikenal berdedikasi dalam hal hak hukum orang-orang terpinggirkan, menuang keprihatinannya dalam artikel yang berjudul
“Bantuan Hukum Responsif adalah Jawaban Terhadap Tuntutan Masa Kini”. Di bawah ini adalah ringkasan artikel yang
selengkapnya dapat dibaca di situs www.inti.or.id.
...
Setelah krisis monoter 1998, jumlah kemiskinan melonjak
menjadi 49,5 juta orang atau sekitar 24,2 persen dari 22,5
juta orang atau sekitar 11,3 persen di tahun 1996. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kemiskinan pada
bulan Maret 2007 adalah sebesar 37,17 juta orang (16,58%).
Bertitik tolak dari Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 yang menjamin adanya persamaan kedudukan di hadapan hukum, dapat
disimpulkan bahwa UUD 1945 mengakui bahwa baik orang
mampu maupun fakir miskin mempunyai hak yang sama
untuk dibela oleh advokat atau pembela umum. Persamaan
di hadapan hukum (equality before the law) yang dijamin
di dalam konstitusi harus diimbangi pula dengan persamaan
perlakuan (equal treatment).
Program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan
seharusnya disertai dengan program bantuan hukum yang
dilakukan secara menyeluruh dan merupakan suatu gerakan
nasional. Gerakan ini secara simultan dilakukan secara bersama antara pemerintah dan semua unsur dalam masyarakat.
Namun, apa yang terjadi selama ini di masyarakat adalah
sebaliknya, yaitu terjadi kesemerawutan dalam konsep
bantuan hukum berupa adanya kantor-kantor advokat yang
mengaku sebagai organisasi bantuan hukum tetapi sebe48 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
narnya berpraktik komersial dan memungut biaya, dimana
menyimpang dari konsep pro bono publico yang sebenarnya
merupakan kewajiban dari advokat.
YLBHI sebagai pioneer dalam pemberian bantuan hukum,
menerapkan konsep bantuan hukum struktural yang ��������
mengacu
kepada upaya merombak ketidakadilan dalam sistem sosial.
Bantuan hukum ini tak saja diarahkan untuk membantu
individu dalam kasus-kasus tertentu, tetapi juga menekankan
kasus-kasus yang bersifat struktural. Bantuan hukum struktural merupakan segala aksi atau kegiatan yang dilakukan
tidak semata-mata ditujukan untuk membela kepentingan
atau hak hukum masyarakat yang tidak mampu dalam proses
peradilan, namun lebih luas lagi, bantuan hukum struktural
bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan pengertian
masyarakat akan pentingnya hukum
Pada tahun 1980 konsep bantuan hukum struktural menjadi
arus utama LBH menuju kerangka untuk pembelaan hukum secara kolektif. Dengan diperkenalkannya konsep ini,
bantuan hukum diharapkan menjadi aktivitas jangka panjang dan tertuju pada arah yang benar menuju perubahan
struktur yang berguna. Oleh karena itu, fokus akhir LBH telah
diubah dari skema litigasi menjadi non litigasi. Namun perlu
dikaji apakah bantuan hukum struktural masih sesuai dengan
suasana sekarang yang sudah berubah.
Pasca-Orde Baru, pemerintah sudah tidak serepresif dulu
lagi. Hal ini dapat dilihat dari dibentuknya Komisi Hukum Nasional, Komisi Ombudsman, Komisi Pemberantasan
Korupsi, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi dalam
rangka memperbaiki struktur hukum di Indonesia. Tidak
ada lagi lembaga extra-judicial seperti Komando Operasi
Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Dicabutnya UU No.
11/PNPS/1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi,
dan diundangkannya Undang-Undang No. 39 Tahun 1999
tentang hak asasi manusia. Dikeluarkannya Putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan tidak berlakunya lagi Pasal
154 dan Pasal 155 KUHP mengenai penyebaran permusuhan,
kebencian atau penghinaan terhadap pemerintah yang lebih
dikenal sebagai haatzaai artiekelen. Selain Pasal 154 dan
155 KUHP, Mahkamah Konstitusi juga telah menyatakan tidak
berlakunya lagi Pasal 134, 136 bis, dan 137 KUHP mengenai
penghinaan terhadap presiden.
Dalam situasi sekarang, dimana negara tidak dominan lagi
terhadap masyarakat dan individu, konsep bantuan hukum
yang digunakan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi
yang terjadi saat ini.
Organisasi bantuan hukum saat ini seyogianya menempatkan diri sebagai mitra kerja dan bukan sebagai pihak yang
berseberangan dengan pemerintah. Masyarakat c.q. fakir
miskin menginginkan bantuan hukum yang tidak bersifat
diskriminatif, dimana masyarakat c.q. fakir miskin mengingin­
kan pembelaan di dalam menghadapi masalah-masalah
hukum tanpa membedakan bidang hukum apa yang sedang
dihadapi dan jenis hak asasi manusia apa yang dilanggar.
Konsekuensi dari konsep yang menyeluruh ini tentunya
memerlukan dana yang besar. Oleh karena itu, negara harus
menyediakan dana bantuan hukum dalam APBN yang akan
datang untuk merealisasikan tanggung jawab konstitusio­
nalnya mendanai program bantuan hukum demi memenuhi
kewajiban konstitusionalnya bersama semua unsur dalam
masyarakat.
Di sinilah letak pentingnya dibentuk federasi bantuan hukum seluruh Indonesia, yang akan mengkoordinasi kerjasama
antarorganisasi-organisasi bantuan hukum di seluruh Indonesia agar semua jenis perkara fakir miskin yang menyangkut
pelanggaran semua hak asasi manusia dan semua bidang
hukum dapat dibela oleh organisasi bantuan hukum.
Untuk dapat menjadi anggota federasi bantuan hukum
harus memiliki standarisasi tertentu misalnya, organisasi
bantuan hukum harus memiliki beberapa kantor di beberapa
provinsi, penggalangan dana yang mampu dilakukan sendiri,
mempunyai 2 (dua) kendaraan operasional seperti van dan
10 (sepuluh) sepeda motor dan 10 (sepuluh) pembela umum,
dan paling tidak telah menangani 120 (seratus dua puluh)
perkara pidana dan 120 (seratus dua puluh) perkara perdata
setiap tahun. Apabila standarisasi tersebut telah terpenuhi
barulah suatu organisasi bantuan hukum dapat menjadi anggota federasi.
Organisasi bantuan hukum harus berbentuk yayasan, sehingga dalam memberikan konsultasi dan pembelaan hukum
tidak bersifat komersial, melainkan bersifat sosial yaitu
semata-mata untuk membantu fakir miskin secara cumacuma. Dalam federasi diperlukan juga adanya tim pemikir
(think tank). Untuk mengatur terselenggaranya bantuan
hukum responsif, diperlukan undang-undang bantuan hukum
yang mengatur semua mekanisme dan hal-hal teknis seperti
pendirian organisasi bantuan hukum, pengumpulan dana,
pemberian bantuan hukum, penerima bantuan hukum, dan
pendanaan kegiatan operasional.
Undang-undang bantuan hukum inilah yang nantinya akan
diandalkan untuk merekayasa masyarakat (social engineering) c.q. fakir miskin agar menjadi tahu dan mengerti akan
hak-haknya dan tahu cara memperoleh bantuan hukum
sebagai hak konstitusional mereka. Undang-undang bantuan
hukum juga harus mengamanatkan alokasi dari APBN untuk
didistribusikan kepada semua organisasi bantuan hukum yang
tergabung dalam federasi bantuan hukum, sebagai wujud
dari tanggung jawab negara terhadap fakir miskin yang diatur dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945.
Data BPS pada bulan Maret tahun 2007 menunjukkan
63,52% fakir miskin
berada di pedesaan. Oleh
karena itu,
adalah tepat waktunya
bagi gerakan bantuan
hukum di Indonesia
untuk secara
aktif
menjangkau
desa.
Beberapa faktor
menjadi kendala mengapa fakir miskin tidak memperoleh
pembelaan advokat. Faktor finansial yang tidak mampu
membayar jasa advokat, dan kurangnya pengetahuan tentang
cara memperoleh bantuan hukum secara cuma-cuma. Para
pekerja bantuan hukum (pembela umum) harus bersifat
pro aktif mendatangi dan menjelaskan kepada masyarakat
c.q. fakir miskin tentang hak-haknya dan cara memperoleh
bantuan hukum. Tanpa adanya sifat pro aktif dari organisasi
bantuan hukum maka fakir miskin tidak akan tahu hak asasi
manusianya dan hak untuk memperoleh bantuan hukum.
Jawaban terhadap tuntutan masyarakat akan konsep
bantuan hukum yang sesuai dengan situasi dan kondisi saat
ini adalah konsep bantuan hukum responsif. Bantuan hukum
responsif harus ditunjang dengan berbagai ketentuan yang
memberikan tanggung jawab kepada pemerintah untuk mendukung program bantuan hukum dalam bentuk pemberian
dana operasional.
Mengingat bantuan hukum merupakan hak konstitusional
dari fakir miskin, dan karena selama ini UUD 1945 tidak
mengatur secara tegas tentang bantuan hukum, maka
bantuan hukum sebagai hak dasar perlu diatur dalam UUD
1945. Pencantuman pemberian bantuan hukum dalam UUD
1945, memberikan jaminan yang kuat bagi fakir miskin untuk
memperoleh bantuan hukum. Apabila ketentuan mengenai
bantuan hukum telah dicantumkan dalam UUD 1945 maka
ketentuan operasionalnya dijabarkan lebih lanjut di dalam
suatu undang-undang bantuan hukum.
Semoga dengan dicantumkannya jaminan pemberian bantuan hukum dalam UUD 1945 dan undang-undang bantuan hukum, fakir miskin dapat memperoleh akses bagi pembelaan
hak-haknya, baik itu hak ekonomi, sosial, budaya, maupun
hak sipil dan politik.
Dengan demikian fakir miskin dapat memperoleh dan
mempertahankan hak-haknya tersebut sehingga harkat dan
martabat fakir miskin dapat terangkat melalui pemberian
bantuan hukum. n
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 49
Nasional
Laporan Utama
Perda No.8/2007
JAKARTA,
Daerah Bebas Orang Miskin?
Tinjauan terhadap PERDA No. 8 Tahun 2007
Wahyu Effendi
Ketua Advokasi Pengurus Pusat Perhimpunan INTI dan Ketua Umum Gerakan Anti Diskriminasi
S
elepas liburan panjang Idul Fitri 1428 H, kembali
Pemerintah Daerah DKI Jakarta mengumumkan akan
melakukan Operasi Yustisi Kependudukan (OYK).
Kendati bukan merupakan program anyar, pelaksanaan OYK
kali ini terasa berbeda lantaran Satuan Polisi Pamong Praja
(Satpol PP) yang merupakan ujung tombak ‘penertiban’ ini,
mendapatkan legitimasi hukum Peraturan Daerah DKI Jakarta
No. 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, yang baru saja
definitif di’ketok’ oleh DPRD DKI Jakarta.
Bukan hanya ditujukan bagi penertiban penduduk tidak
berdokumen kependudukan DKI Jakarta, tetapi Perda tersebut juga memberikan ‘kuasa’ penertiban atas 101 pelang­
garan seperti yang diatur dalam Perda tersebut. Diantaranya
beberapa ketentuan yang cukup kontroversial yaitu pembatasan yang disertai ketentuan pidana terhadap pengemis,
pedagang kaki lima, pengamen, dan lain-lain.
Perda tersebut seakan ingin melabeli DKI Jakarta sebagai
kawasan verbodeen orang miskin.
Inkonstitusionalitas Perda No. 8/2007 dan HAM
Perda No. 8/2001 bukan saja secara substansi kontroversial. Dari segi konstitusionalitas, Perda ini mengatur ber­
bagai pembatasan, diantaranya mengatur pembatasan atas
hak asasi manusia mendasar, yang dijamin secara tersurat
dalam UUD 1945. Antara lain kebebasan warga negara untuk
berdiam dan berpindah dalam wilayah negara Kesatuan Republik Indonesia dan kebebasan manusia untuk mendapatkan
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
pembatasan atas hak asasi manusia mungkin saja dilakukan
sepanjang menyangkut hak-hak yang bukan non-derogable
rights. Pembatasan tersebut harus dilakukan melalui suatu
Undang-Undang (UU) – bukan Peraturan Daerah (Perda).
Dengan demikian, Peraturan Daerah DKI Jakarta tersebut
jelas inkonstitusional dan bertentangan dengan UU No. 39
tahun 1999.
Berdasarkan amanat UU No. 32 Tahun 2004 tentang
Otonomi Daerah, Departemen Dalam Negeri layak untuk
50 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
mempertimbangkan pembatalkan Perda No.8/2007 tersebut.
Bahkan secara prinsip -terlepas dari wacana ‘NKRI vs negara
Federasi’- bahwasanya NKRI dengan otonomi daerah sudah
diterima sebagai konsepsi negara RI yang tentu saja wajib
diimplementasikan secara konsekuen, termasuk di antaranya
konsekuensi seorang WNI dapat berdiam dan berpindah
dalam setiap ‘inchi’ wilayah NKRI.
Mengingat betapa gigihnya pemerintah RI dalam menegakkan NKRI –dalam kasus NAD, Papua, atau Maluku– seharusnya
kegigihan yang sama harus ditegaskan atas kebebasan mobilisasi WNI dalam wilayah NKRI. Pengingkaran atas hak WNI
tersebut sama saja dengan bentuk separatisasi dalam format
yang lain yang patut ditindak.
Inkonsistensi Pengentasan Kemiskinan
Pembatasan terhadap pedagang kaki lima, pendatang dari
daerah lain yang berharap memperbaiki kehidupan ekonomi,
dan sebagainya, merupakan bentuk pembatasan atas hak untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak bagi kemanusiaan seperti yang dijamin oleh UUD 1945. UUD 1945 bahkan
menjamin perlindungan dan pemeliharaan terhadap anak
terlantar dan kaum miskin. Munculnya Perda tersebut justru
menunjukkan bentuk ‘cuci-tangan’ pemerintah DKI Jakarta
atas kewajiban negara yang diamanatkan oleh UUD 1945.
Dengan belum merembesnya pembangunan sampai ke
wilayah pedesaan (apalagi dengan permasalahan melesunya kegiatan perekonomian yang diakibatkan naiknya harga
mi­nyak dunia) pembatasan akses masuk ke wilayah Jakarta
ataupun perkotaan lainnya yang merupakan satu-satunya
harapan bagi penduduk pedesaan untuk memperbaiki kehi­
dupannya yang miskin, akan menjadi ‘pemiskinan’ bagi
mereka yang sudah miskin.
Pemerintah Daerah DKI Jakarta ataupun pemerintah Pusat
dapat saja berkilah bahwa kemiskinan di daerah lain di luar
yurisdiksi Pemda DKI Jakarta atau bahwa pembangunan
di pedesaan sedang dilakukan dan butuh waktu. Namun
sejatinya Pemerintah Pusat dan DKI Jakarta tidak bijaksana
‘mencuci-tangan’ melalui Perda No.8/2007.
Permasalahan urbanisasi dan kemiskinan yang terjadi di Jakarta atau kota-kota besar di Indonesia, menunjukkan betapa
belum konsistennya program pembangunan dan pe­ngentasan
kemiskinan di Indonesia, dengan tidak sejalannya koordinasi
antara pemerintah pusat dan daerah.
Dengan masih lamban dan belum berjalannya pem­­ba­ngunan serta kegiatan perekonomian di pedesaan, adalah
sangat tidak bijaksana membatasi seseorang yang terbelit
kemiskinan untuk mencari dan memperbaiki kehidupan yang
lebih baik di daerah perkotaan.
Tidaklah mengherankan bila kemiskinan semakin me­
ningkat dari waktu ke waktu. Ironisnya, adalah sebuah
kenyataan, bahwa pesatnya pembangunan dan terpusatnya ke­giatan perekonomian di daerah perkotaan, juga
membutuhkan tenaga kerja tidak terampil untuk mengisi
kesem­patan kerja yang tak dimasuki tenaga kerja wilayah
perkotaan.
Perda No. 8/2007: Jakarta dan Kuala Lumpur?
Lahirnya Perda No. 8 Tahun 2007 menunjukkan putus­
asanya pemerintah dan DPRD DKI Jakarta dalam mengatasi
permasalahan- permasalahan Jakarta yang sangat kompleks,
mulai dari banjir, kemacetan, pengangguran, dan lain
­sebagainya.
Perilaku masyarakat, yang dalam Perda itu digolongkan
sebagai pelanggaran, sebenarnya merupakan ekses dari kebijakan nasional yang inkonsisten dan manajemen perkotaaan
DKI Jakarta yang tanpa arah, dimana lebih berorientasi pada
pembangunan fisik semata.
Kebijakan Pemda DKI Jakarta (dan bahkan beberapa perkotaan lain seperti Cilegon, Depok yang akan membatasi masuknya
penduduk dari luar daerah dengan Operasi Yustisi Kependu­
dukan) kembali mengingatkan kita atas perlakuan satgas RELA
Malaysia di Kuala Lumpur yang me’razia’ warga negara Indonesia (WNI), dimana secara rasis mereka sebut ‘indon’.
Tanpa membenarkan perlakuan pemerintah Malaysia itu,
secara prinsip kenegaraan, perlakuan Pemda DKI Jakarta
justru jauh lebih buruk, karena perlakuan tersebut ditujukan
kepada warga negara Indonesia sendiri.
Kalau begitu keadaanya, apakah sebenarnya kita berada di
Jakarta atau Kuala Lumpur?
Kalau pemerintah ndonesia sendiri tidak menghargai warga
negaranya, bagaimana negara lain akan menghargai Warga
Negara Indonesia? n
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 51
Nasional
Laporan Utama
9 Tahun Tragedi Semanggi
Peluru Yang Sama dari
Tragedi Tri Sakti hingga Tragedi Semanggi
Mega Christina
Dewan Redaksi
“Sekolah disubsidi rakyat, jadi harus berjuang demi rakyat banyak juga....”
B
egitu kata-kata Yap Yun Hap yang lekat di ingatan
rekan semahasiwanya. Tampaknya tidak berlebihan,
mengingat sebagian pendidikannya ia jalani di sekolah
negeri, terakhir di SMA 78 Jakarta dan Jurusan Teknik Elek­
tro - Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI).
Tak heran di tahun 1997, diam-diam pemuda kelahiran
Bangka ini ikut membela nasib kaum
petani. Ketika marak demonstrasi
kampus, dengan gagah ia menantang, “Apa gunanya demonstrasi di
kampus, kalau berani kita keluar.”
Tak pelak ia turut dalam demonstrasi
di Universitas Tri Sakti, yang tak jauh
dari kediamannya di Gang Mangga
XVII.
Bahkan pertengahan Mei 1998 ia
pun ikut menduduki tempat wakil
rakyat, Gedung DPR/MPR hingga
Soeharto lengser.
“Seminggu ia tidak pulang.
Demi kebenaran, dia berani,” kata
ayahnya, Yap Pit Sing dengan nada
bersemangat. Jelas tersirat rasa
bangga pada putra sulungnya.
Namun tingkah polah pemuda yang
biasa disapa Yun Hap ini meresahkan
hati ibundanya, Ho Kim Ngo. Sering
ia mengingat Tragedi Tri Sakti yang
merenggut empat nyawa mahasiswanya.
“Mati tua: Hari ini mati, besok orang lupa. Kalau begini
(Tragedi Tri Sakti, red), selamanya diingat orang,” begitu
jawaban Yun Hap ditirukan ayahandanya ketika penulis berkunjung ke kediamannya di kawasan Tanjung Duren.
Kata-kata pemuda kelahiran 17 Oktober 1977 ini tidak
salah. ���������������������������������������������
Tanggal 23 November 1999 malam, ia menelepon.
Memberitahu kalau ia tidak pulang, meski ayahnya mendesak
pulang. Semalaman hati sang ayah gelisah. Ada suatu pe­
rasaan yang belum hilang, karena sembilan hari sebelumnya
putra adiknya tewas ditabrak bus.
Keesokan harinya pikiran sang ayah tersita, karena toko
tempatnya bekerja dibobol perampok dengan menjebol tembok. Tapi malam itu ia mengetahui si
putra sulung menurut pulang, meski
kemudian berangkat lagi.
Malang tak dapat ditolak. Sekitar
pukul sebelas malam, pihak UI mene­
lepon, mengabarkan Yun Hap berada
di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
(RSCM). Sebersit perasaan me­nyergap.
Putra tercintanya telah tiada.
“Pelurunya 5,6 milimeter. Penembaknya Kostrad,” tegas Pit Sing.
Pikirannya kembali pada waktu ia
menyaksikan dengan mata kepala
sendiri, tubuh anaknya terbujur kaku,
ditembus peluru tajam.
“ Mati tua:
Hari ini mati,
besok
orang lupa.
Kalau begini,
selamanya
diingat orang.
“
52 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Peluru yang Sama
Yap Yun Hap adalah satu di antara sekian banyak korban impunitas
(impunity) Republik ini dengan membiarkan penguasa tidak bertanggung
jawab atas nyawa rakyatnya. Padahal
kasus ini bukanlah kasus yang berdiri
sendiri.
“Banyak kemiripan antara Tragedi Semanggi I dan Tragedi
Semanggi II. Belum ada penjelasan resmi siapa yang bertanggung jawab dalam kasus ini.” Begitulah kesimpulan Tim
Pencari Fakta Independen (TPFI) Tragedi Semanggi II yang
dipimpin Hermawan Sulistiyo.
“Mahasiswa ditembak dengan peluru tajam secara brutal
oleh aparat militer. Ini kebijakan institusional dan bukan
kesalahan prosedur,” lanjut Hermawan yang juga peneliti
LIPI kepada wartawan saat itu.
Karena itu, tanggung jawab harus dipikul oleh pimpinan
TNI/Polri dan pemerintah atau presiden, bukan oleh ko­
mandan pasukan yang melaksanakan kebijakan tersebut.
Bukti bahwa penembakan itu merupakan kebijakan
institusional, adalah karena jenis peluru dan senjata yang
digunakan pada Tragedi Semanggi II sama dengan yang digunakan pada Peristiwa Trisakti, Kerusuhan Mei, Semanggi
I, dan kasus penembakan mahasiswa di Lampung.
“Adanya empat kasus dengan menggunakan peluru tajam
tidak bisa dikatakan lagi sebagai kesalahan prosedur,”
tegas Hermawan.
Dari tes proyektil, terlihat bahwa sebelum mengenai Yap
Yun Hap, peluru tajam tersebut mengenai benda lain dan
memantul. Kesimpulan TPFI menunjukkan bahwa penembakan dilakukan secara membabi buta dan tak mungkin
dilakukan oleh penembak jitu (sniper) dari kendaraan lain.
Dari peluru itu juga disimpulkan bahwa senjata yang
digunakan diduga jenis SS1, Steyr atau M16-A1.
Temuan ini sejalan dengan kesimpulan tim forensik FKUI
yang dipimpin Budi Sampurno. Ia mengatakan bahwa peluru
yang bersarang ditubuh Yap Yun Hap bukan berasal dari
pistol. ���������������������������������������������������
Berdasarkan pengujian, peluru berasal dari senjata
laras panjang.
“Kemungkinan peluru tersebut ditembakkan dari senjata
jenis SS1,” kata Budi.
Peluru yang bersarang di tubuh Yap Yun Hap memiliki
panjang 20,9 mm dengan diameter 5,6 milimeter (mm)
dan berat 3,6365 gram. Kesimpulan tim forensik FKUI ini
diserahkan Budi kepada Komandan Pomdam Jaya Kolonel
Mungkono (Majalah Panji No.26/Tahun III, 13 OKTOBER
1999).
ADA DALANGNYA
Lebih dari delapan tahun sudah Tragedi Tri Sakti, Semanggi I dan II berlalu, tanpa ada kemajuan yang berarti.
Sama seperti tragedi yang lain, sebatas prajurit yang
diadili, kalau tidak sekedar janji-janji berbagai institusi.
“Kita terbentur di DPR. Mereka semua partai. di bibir
saja bela rakyat. Kenyataannya (rakyat) mau mampus,
mampus saja,” sergah Yap Pit Sing dengan nada tinggi.
Ia menilai mahasiswa masih lugu, dipermainkan politik.
“Mahasiswa jadi tumbal,” tegas Pit Sing.
Menurutnya, tanpa mahasiswa, Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan Megawati tak bisa menjadi presiden. Tapi keduanya
tidak pernah mengurusi mahasiswa, bahkan tidak menggubris
urusan macam Tragedi Semanggi, orang hilang, dan sebagainya.
Padahal, tuntutan keluarga korban sederhana. Ibarat film,
pasti ada sutradaranya. Ibarat wayang, pasti ada dalangnya.
“Prajurit tidak bisa menembak seenaknya. Kita kerja saja,
diperintah bos, ya bos yang tanggung jawab. ’Kan tidak
masuk akal kalau prajurit. Kami mau keadilan!” tegas Yap
Pit Sing.
Demonstrasi mahasiswa di depan gedung MPR tahun 1998.
Ho Kim Ngo dan Yap Pit Sing menjadi satu di antara puluhan atau bahkan ratusan keluarga-keluarga korban yang
marah, terluka dan prihatin atas kematian buah hatinya.
Hampir satu dasawarsa lelehan airmata para orangtua tak
sedikit pun melunakkan kekerasan hati para politisi. Ge­rakan
para ibu berdiri dekat pagar istana setiap Kamis, meniru ibuibu Plaza de Mayo, tak menorehkan belas kasih pada para
pencari keadilan yang berjuang tanpa kenal lelah ini.
Sejarah telah mencatat, anak-anak bangsa yang menyerahkan nyawa bagi rakyatnya. Namun perjuangan saat ini adalah
perjuangan agar kita tak melupakan tetesan darah putraputri terbaik, yang menjadi landasan reformasi saat ini.
Perjuangan saat ini adalah perjuangan melawan lupa. n
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 53
Kolase
Budaya
Gambang Kromong
Gambang Kromong
Tempat Berkaca yang Mulai Kusam
S
ayup-sayup alunan musik
tradi­sional terdengar di antara
hingar-bingar pengunjung Pekan
Raya Jakarta (PRJ). Terlihat seorang
penyanyi melantunkan lagu berjudul
‘Tukang Perahu’ dengan iringan kelompok musik Gambang Kromong Sinar
Jaya. Se­deretan alat musik modern
seperti gitar, bass dan organ listrik ikut
menyumbang bunyi, selain alat musik
tradisional utama Gambang Kromong
yang mengi­ringi goyangan sang penyanyi.
Musik Gambang Kromong itu termasuk “Gambang Kromong Kombinasi”
karena sudah memasukkan instrumen
musik modern. Ada Gambang Kromong model lain, yang mengandalkan
alat-alat musik tradisional. Namanya
“Gambang Kromong Asli” atau “Polos”. Istilah yang digunakan Ong Gian,
seorang pemusik Gambang Kromong
dalam film dokumenter ‘Anak Naga
Beranak Naga’.
Instrumen dasar Gambang Kromong
54 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
terdiri dari percampuran instrumen asal
Tiongkok dengan yang ada di Sunda dan
Jawa.
Alat musik Tiongkok adalah: Sukong/Shigong (士工), semacam rebab
ukuran besar. Kong-a-hian/Guanzixian
(管子線)���������������������������
, rebab ukuran sedang. TheHian/Tixian (提線), rebab ukuran kecil.
Suling atau Tongsiau/Dongxiao (洞箫).
Ningnong atau Siolo/Xiaoluo (小锣).
­Kecrek atau Pan/Ban (板), beberapa bilah lempeng logam (biasanya perunggu)
yang ditumpuk di atas landasan kayu
sehingga mengeluarkan bunyi crek-crek
bila dipukul.
Sedangkan alat yang merupakan
unsur lokal adalah: Gambang, yaitu
perkusi melodis yang mempunyai 18
buah bilah kayu sebagai sumber bunyi.
Kromong, perkusi melodis dari gamelan
Sunda atau Jawa yang terdiri dari 10
sumber suara dari logam. Berbentuk
seperti mangkok dengan benjolan
di tengahnya. Gong, lempeng logam
berukuran cukup besar yang bersuara
rendah dan dalam. Kenong dan Kempul, semacam gong kecil berasal dari
gamelan Sunda dan Jawa. Kendang,
alat tabuh khas dengan dua permukaan
yang dapat ditemukan dalam musik
Sunda dan Jawa.
Awalnya pengombinasian hanya
dilakukan terhadap instrumen musik
Tionghoa dengan Gambang, sebagai
pengganti peran lang-khim/Yangqin (洋
琴) karena sulit didapat. Pada perkembangannya kemudian barulah instrumen
lokal lainnya ditambahkan ke dalam
susunan Gambang Kromong.
AWAL KEMUNCULAN
Musik Gambang Kromong tumbuh di
pusat kota Jakarta, seiring keberadaan
orang Tionghoa yang didatangkan
Belanda untuk mengisi dan membangun
kota. Saat itu kota dinyatakan “kosong”
karena menyingkirnya penduduk Sunda
setelah keruntuhan Jayakarta.
Eddy Prabowo, seorang Sinolog dari
Universitas Indonesia menyebutkan
ada beberapa alasan mengapa Belanda
menggunakan orang-orang Tionghoa,
alih-alih menarik kembali penduduk
Sunda yang sudah menyingkir tersebut.
Alasannya adalah mereka bukan
orang lokal setempat yang berpotensi
besar untuk memberontak. Selain itu
orang-orang Tionghoa adalah pekerja keras yang ulet dan mereka mau
dibayar murah.
Setelah kota ini tumbuh dan berkembang, jumlah orang Tionghoa pe­ranakan
sebagai keturunan Tionghoa totok
semakin banyak. Kedudukannya pun
semakin mapan.
Untuk menghibur diri, mereka
memainkan musik. Mereka memilih
memainkan musik Tionghoa terutama
dari daerah asal mereka khususnya lagu
daerah Hokkian/Fujian (福建)
selatan.
Gambang Kromong adalah ketika diadakan pesta besar untuk menyambut kembalinya pemimpin masyarakat Tionghoa
bernama Keptein Nie Hoa/Lian Fu 连富
dari pengasingannya di Makassar pascakejadian pembantaian orang Tionghoa
tahun 1740.
Pada pesta itu dimainkan lima perangkat orkestra gambang yang diklasifikasi setelah mengalami pengujian.
Istilah “Gambang Kromong” sendiri
baru timbul sekitar tahun 1880-an,
ketika orkestra gambang mulai memasukkan instrumen kromong, kempul,
ken­dang, dan gong seiring dengan masuknya budaya ngibing yang diadaptasi
dari budaya Sunda.
Seorang bek atau wijkmeester
Tionghoa di daerah Pasar Senen yang
bernama Teng Tjoe adalah yang pertama kali memainkan gambang dengan
iringan kromong, kempul, kendang, dan
gong. Seperti yang ditulis oleh Phoa
kian Sioe sebagai berikut: “Pertjobaan
wijkmeester Teng Tjoe telah berhasil,
lagoe-lagoe gambang ditaboeh dengan tambahan alat terseboet di atas
membikin tambah gembira Tjio kek
dan pendenger-pendengernya. Dan
moelai itoe waktu lagoe-lagoe Soenda
banyak dipake oleh orkes gambang.
Djoega orang, mulai brani pasang
slendang boeat mengibing’.
NADA DAN LAGU
Nada-nada dalam kromong menggunakan tangga nada
penta-
Berbeda dengan
Ti­onghoa ­peranakan di Jawa Tengah
atau Jawa Timur yang lebih memilih
mempelajari budaya setempat,
Tionghoa Peranakan Batavia tak
mempunyai desakan untuk masuk ke
budaya ‘pribumi’. Hal ini disebabkan
tersingkirnya penduduk Sunda yang
sebelumnya mayoritas, tergantikan
dengan keragaman etnis lain di kota
itu. Akibatnya bisa dikatakan Batavia
tidak memiliki kesenian lokal.
Catatan awal tentang keberadaan
tonis
do, re, mi, sol, la.
Tanpa nada fa dan si, seperti yang
dijabarkan oleh Tan De Seng, musikus
dari Bandung.
Pada awalnya menurut penuturan
Lim Go Lin dari Kedawung Wetan, salah
seorang panjak (sebutan bagi pemusik
gambang yang masih bisa memainkan
lagu klasik Gambang Kromong de­ngan
membaca notasi huruf Tionghoa),
dalam dialek Hokkian selatan ada delapan nada, yaitu: ho 合(sol rendah), su
士(la rendah), siang 上(do), che 叉(re),
kong 工(mi), liuh 六(sol), dan u 五(la).
Instrumen gesek dilaras dalam nada
dasar yang berbeda satu sama lain. Sukong bernada dasar dari su (la rendah)
sampai kong (mi). The-hian dari siang
(do) sampai liuh (sol). Kong-a-hian dari
liuh (sol) sampai che (re). Kromong terdiri dari dua oktaf dan dipukul secara
berpasangan. Gambang terbagi dalam
tiga setengah oktaf, nada terendah liuh
(sol) dan tertinggi siang (do). Dua buah
gong yang biasanya digantung bernada
do dan do tinggi. Sedangkan kenong
bernada kong (mi).
LAGU DALEM DAN LAGU SAYUR
Philip Yampolsky dari Ford Foundation mengatakan bahwa jenis lagu
Gambang Kromong terbagi dalam dua
kategori, yaitu lagu dalem dan lagu
sayur.
Lagu dalem adalah lagu berirama
tenang dan jernih yang sebenarnya
merupakan lagu populer zaman dahulu.
Diantaranya adalah: Semar Gunem, Mas
Nona, Mawar Tumpa, Gula Ganting,
Indung-indung, dan lain-lain.
Lagu dalem bukan untuk iringan
tarian atau ngibing, tapi untuk menghibur tetamu yang sedang menikmati
hidangan dalam suatu perhelatan. Juga
sebagai sarana untuk mengetahui kualitas vokal seorang penyanyi gambang
atau wayang cokek.
Lagu sayur diciptakan ketika
budaya ngibing menjadi hiburan
po­puler di kalangan Tionghoa peranakan sekitar tahun 1880-an. Lirik
lagu jenis ini umumnya menggunakan
bahasa Melayu yang disisipi dialek Betawi. Tidak jelas mengapa disebut lagu
sayur, ada yang berpendapat mungkin
karena tema yang digunakan biasanya
ringan dan berisi hal-hal keseharian
seperti dalam lagu Jali-jali, Ujung Menteng, Pasar Malem, Stambul, Centeh
Manis.
Tapi ada juga lagu sayur yang
menceritakan suatu kejadian besar se­
perti lagu Kramat Karem (memperingati
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 55
Budaya
Gambang Kromong
karem atau tenggelamnya desa kramat
yang terletak di antara Tanjung Burung
dan Tanjung Kait di Utara dan Barat
Laut Tanggerang karena meletusnya
gunung Karakatau tahun 1883).
Khazanah lagu sayur juga diperkaya
dengan masuknya lagu berbahasa
Sunda, yang mungkin masuk ketika penyebaran Gambang Kromong mencapai
daerah pinggiran Jawa Barat terutama
daerah Bogor. Diantaranya adalah: Awi
Ngambat, Gaplek, Kembang Kacang,
Kembang Beureum, Lampu Tempel dan
Wawayangan.
Menurut David Kwa, budayawan
Tionghoa, selain lagu dalem dan lagu
sayur, jenis lagu yang dimainkan oleh
Gambang Kromong adalah lagu pobin
dan lagu pengiring wayang Sin-pe,
Lagu Pobin, adalah lagu Tionghoa
yang umumnya merupakan lagu
instrumentalia diantaranya
adalah Ma To Jin/Ma dao
Ren 妈道人(Pendeta
Wanita), Lui Kong/Lei
Gong 雷公(Dewa Halilintar). Selain itu
ada juga yang
berisi vokal
dalam dialek
Hokkian
selatan se­
perti Poa
Si Li
Tan/
56 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Ban Si Lie Dan 半死李旦Li Tan (Sete­
ngah Mati).
Wayang Sin-pe adalah semacam
sandiwara yang diperankan biasanya
oleh anak-anak kecil, memainkan kisah
Tionghoa populer seperti Sih Jin Kui
Ceng Tang (Sih Jin Kui Bertempur di
Timur).
Tahap selanjutnya dalam perkembangan Gambang Kromong, adalah satu
kategori lagi yaitu jenis lagu modern.
Termasuk jenis ini adalah lagu-lagu
yang mulai mengadaptasi gaya musik
pop atau rock seperti yang diterapkan
oleh seniman besar betawi H. Benyamin
S. (alm), Ida Royani, Herlina Efendi,
dan lain-lain.
GAMBANG KROMONG MASA KINI
Jika ingin mencari kelompok musik
Gambang Kromong saat ini, akan sulit
ditemukan di pusat kota Jakarta. Kita
harus pergi ke daerah pinggiran untuk
menemukannya.
Eddy Prabowo berpendapat bahwa
penyebabnya adalah perkembangan
masyarakat pusat kota yang menengah
ke atas, tidak terbuka sepenuhnya
untuk menyesuaikan diri dengan
budaya lokal. Sementara itu masyarakat kelas bawah yang tidak memiliki
posisi tawar kuat harus membuka diri
terhadap budaya setempat agar bisa
diterima. Maka akhirnya kesenian ini
berkembang di daerah pinggiran.
Keadaan Gambang Kromong sekarang
semakin merosot. David Kwa me­nyebut
dua faktor terbesar yang menyebabkan
menurunnya keberadaan dan pamor
musik legendaris ini.
Pertama adalah faktor eksternal.
Musik ini semakin termarjinalisasi
dengan membanjirnya kaum pendatang
yang menyebabkan tergesernya ke­
senian ini hingga hanya mampu bertahan di pinggiran.
Kantong-kantong musik Gambang
Kromong saat ini tersebar di pinggiran
Jakarta. Di daerah barat, ada di sekitar
Tanggerang. Di daerah selatan ada di
sekitar Bogor seperti Cileungsi, Jonggol, dan Gunung Sindur. Sementara di
daerah timur ia mondok di kawasanBekasi, seperti Babelan, dan
Teluk Angsa.
Faktor kedua yang membuat
Gambang Kromong makin tersingkir
adalah faktor internal. Tuntutan zaman
dan kebutuhan ekonomi membuat
musik ini terpaksa dikomersialisasi oleh
para pelaku seninya sendiri.
Seperti penuturan Aang dan Ong
Gian, para panjak yang masih bisa
memainkan lagu klasik dari daerah
Serpong Tanggerang. Mereka mengatakan bahwa bila sekarang ada tanggapan
(panggilan panggung), jangankan lagu
dalem, lagu sayur pun hanya dimainkan
satu atau dua lagu, sisanya adalah lagu
dangdut yang lagi ngetren.
Begitupun komentar yang diberikan
oleh Masnah, penyanyi wayang cokek
senior yang sudah berusia 80 tahun.
Nenek yang masih prima dalam melantunkan lagu-lagu dalem ini bertutur,
”Wayang-wayang sekarang...boro-boro
nyanyi begituan (lagu dalem-red),
­nyanyi biasa saja kagak ada yang
mampu. Kalau lagu joget (maksudnya,
dangdut) sih banyak.”
Derasnya arus budaya luar dan
kendurnya semangat anak muda untuk
mewarisi keahlian pendahulunya di
bidang musik tradisional boleh saja
tidak bisa dihindari. Tapi usaha untuk
memajukan kesenian ini harus tetap
dilakukan, jangan sampai kesenian ini
hilang ditelan masa.
Apabila kesenian ini bisa ditingkatkan
kembali mutunya, kemudian ”didandani” dengan make-up yang sesuai, bisa
mendapat tempat yang layak di tengah
masyarakat modern.
Sama halnya de­­­­­­­ngan seni Sunda Ketuk
Tilu yang setelah didandani menjadi
Jaipongan kini sering ditampilkan di
hotel-hotel berbintang tanpa harus risih
dengan label ”kampung­an”.
Gambang kromong yang berasal dari
unsur budaya berbeda, yaitu Tionghoa dan Lokal (Jawa dan Sunda), bisa
menjadi satu sinergi kesenian Betawi
tanpa prasangka rasial atau primordial
apapun.
Disinilah keunikan warisan budaya ini
yang patut dipertahankan.
Ia menjadi tempat berkaca. Dimana
unsur yang berbeda bisa menghasilkan
suatu yang indah bila dicari keharmonisannya.
Sayang, kini tempat berkaca itu sudah
mulai kusam dan kurang perhatian. n
toto
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 57
Sejarah
Situs Batujaya
ZIARAH KE SITUS BATUJAYA
Bukti Jatidiri yang Terhimpit Ekonomi
Para ahli menyebutnya sebagai penemuan arkeologi terbesar selama 50 tahun ini.
Ternyata lokasinya tak jauh dari Jakarta.
K
ILAT keemasan hamparan padi siap panen, mengiringi
langkah menuju kompleks percandian Batujaya. Di
perbatasaan Desa Segaran-Kecamataan Batujaya dan
Desa Telagajaya-Kecamatan Pakis Jaya, Karawang terlihat
beberapa bukit kecil menyembul. Enam km menuju Utara,
Pantai Jawa Barat membentang.
Situs ini pertama kali ditemukan di tahun 1984 oleh tim
arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (kini bernama
Fakultas Ilmu Budaya UI). Bukit-bukit kecil di tengah sawah
itu disebut unur-unur oleh warga setempat. Mereka sudah
lama mengetahui bahwa terdapat tumpukan bata di bawah
unur itu, tapi tidak mengira bahwa bata tersebut adalah
bagian dari kompleks bangunan candi. Masih banyak unurunur berukuran cukup besar yang belum digali dan diteliti.
Berbentuk bukit-bukit, lengkap dengan pepohonan yang
tumbuh lebat di atasnya.
Para peneliti cukup kagum dengan temuan luas situs yang
mencapai lima km persegi. Sejak awal penelitian di tahun
1985 sampai 1999, ditemukan tidak kurang dari 13 situs di
Desa Segaran dan 11 situs di Desa Tegaljaya.
Berdasarkan penelitian dari temuan artefak dan gerabah,
58 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
diketahui bahwa kronologi paling tua berasal dari abad
ke-2 dan yang paling muda berasal dari abad ke-12 Masehi.
Sementara bangunan-bangunan di situs itu memperlihatkan
rentang waktu abad ke-5 hingga ke-6 Masehi yang berarti
dibangun di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara.
Amulet dan gerabah –terutama yang dikenal sebagai Romano-Indian roulleted pouttery- berasal dari kota pelabuhan
kuno Arikamedu di India Selatan. Ini membuktikan bahwa
tempat ini didatangi oleh pelayar dari India yang lalu me­
ninggalkan pengaruh budaya.
Sumber lain yang memperkuat adalah laporan perjalanan
Fa Hsien yang berjudul Fo Kuo Chi pada tahun 414 Masehi dimana disebutkan keadaan Ya-Wa-Di atau Jawadipa. Catatan
di Negeri Tiongkok juga menyatakan bahwa raja To-Lo-Mo
(Tarumanagara) dengan rajanya Pa-da-do-a-la-pa-mo atau
Purnawarman pernah berkunjung ke Tiongkok pada tahun
435 Masehi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
Candi-candi Batujaya adalah candi tertua di tanah Jawa.
Saat ini ada dua candi berukuran cukup besar yang sudah
dan sedang dieskavasi di desa Segaran, yaitu Candi Jiwa dan
Candi Blandongan.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 59
Sejarah
Laporan Utama
Situs Batujaya
Candi Jiwa yang sudah diekskavasi sepenuhnya, diba­ngun
di atas lapik bujur sangkar. Bagian atas lapik ini bergelombang membentuk helai bunga teratai. Sedangkan Candi
Blandongan yang masih dalam tahap rekonstruksi, memiliki
undakan tangga di keempat sisinya dan semacam ruang
lapang di bagian tengahnya. Diperkirakan ruang lapang ini
dipakai untuk pertemuan atau peribadatan. Di sekitar candi
Blandongan ditemukan amulet yang menggambarkan relief
Buddha. Jadi bisa disimpulkan bahwa bangunan di kompleks
ini adalah bangunan candi Buddha.
Kedua bangunan candi itu terbuat dari bata. Lain de­
ngan bata biasa, bata candi ini dicampur dengan pecahan
kulit kerang. Begitu pula lapisan dinding dan hiasan candi
Blan­dongan. Terbuat dari campuran pasir, kerikil dan kulit
kerang. Bahan campuran ini disebut stuko.
Penemuan ini meruntuhkan mitos bahwa di Jawa Barat
tak ada candi lain selain Candi Cangkuang (candi Syiwa) di
Leles Garut. Candi Batujaya justru adalah candi tertua di
tanah Jawa. Candi Batujaya juga meruntuhkan mitos bahwa
candi yang berumur lebih muda dibangun dari bata merah,
sementara candi yang lebih tua dibangun dari batuan gunung
(andesitik), seperti model candi-candi di Jawa Tengah ke
Jawa Timur.
Selain bangunan candi dan artefak, pada bulan Juli 2005
sebuah tim kerja sama Puslitbang Arkeologi Nasional dan
Ecole Francaise d’Extreme-Orient dari Perancis menemukan
kerangka manusia yang masih utuh lengkap bersama bekal
kuburnya di Unur Lempeng. Ia dikuburkan memakai gelang
emas di tangan kanan sambil memegang pisau (parang) besi.
Di antara dua lutut dan dan di bagian punggungnya juga
terdapat senjata dari besi. Di bagian kaki dan atas kepalanya
terdapat wadah tembikar. Di dekat kerangka tersebut juga
ditemukan lima kerangka lain yang semuanya ditemukan bersama bekal kubur berupa tembikar. Penemuan ini menggembirakan, tak pernah dalam sejarah arkeologi ditemukan arte-
fak dan kerangka manusia pembuatnya, dalam satu tempat
secara sangat lengkap.
Penemuan situs di pinggir Sungai Citarum ini begitu pen­
ting dalam menyumbang informasi prasejarah dan awal sejarah bangsa Indonesia. Situs Batujaya menunjukkan bahwa
masyarakat purbakala Indonesia telah cukup terorganisasi
dan siap meningkatkan peradaban. Ia adalah bukti, bahwa Indonesia (Nusantara) sudah melakukan globalisasi sejak akhir
zaman prasejarahnya.
Penelitian situs Batujaya, bagaimanapun terhimpit ber­
bagai kepentingan. Penelitian arkeologi harus berdampingan
dengan kepentingan ekonomi pesawahan Karawang sebagai
lumbung padi nasional. Ada pula rencana Pertamina dalam
mengembangkan penemuan minyak di Pondok Tengah. Ini
berarti akan ada tumpang tindih antara lahan penelitian dan
kepentingan ekonomi.
Ditilik melalui keuntungan ekonomi, situs Batujaya bisa
saja dianggap tak menguntungkan. Tapi dari sudut pandang
kepentingan jati diri dan sejarah bangsa, paling tidak harus
ada usaha merekonstruksi bangunan-bangunan terbesar yang
ada di kompleks percandian itu. Agar bukti bahwa Indonesia
adalah bangsa
yang telah lama
memiliki budaya tinggi, tak
lantas menjadi
gundukan
tanah tak terurus, seperti
rasa perca­ya
diri bangsa
kita,
yang kian
hari, makin
tak terurus.
n
Stuko Batujaya,
terbuat dari pasir,
kerikil dan kulit
kerang
Samping: Tengkorak
manusia yang ditemukan
di lokasi penggalian.
60 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Atas: Peta daerah
jelajah Kerajaan
Tarumanagara
Atas: Candi Jiwa, terletak tak jauh dari Batujaya,
sudah dipugar seluruhnya. Bila dilihat dari atas,
bangunan ini menyerupai bentuk bunga teratai.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 61
Suara
Muda
Laporan
Utama
Renny Turangga
Global Warming
Berawal dari Kita
Global warming sedang mengancam planet kita.
Tapi tidak perlu jadi Superman untuk
menyelamatkan bumi.
Dengan langkah-langkah kecil,
perubahan besar bisa terjadi.
Saya tinggal di sebuah kota yang kadar polusi udaranya
dijamin cukup untuk merusak paru-paru. Di siang hari, sinar
matahari membakar kulit dengan sempurna. Ada cara-cara
praktis untuk melarikan diri dari situasi ini. Pertama, langsung cari kendaraan umum yang ber-air conditioner (AC).
Kedua, bila terpaksa harus berjalan di jalan raya pada siang
hari, segera oleskan sun block, bila perlu yang SPF 50 dan
jangan lupa, masker penutup hidung!
Banyak orang, tak terkecuali anak muda, yang sepertinya cuek saja dengan masalah lingkungan yang menggerogoti
wilayah masing-masing. Istilahnya, ‘elo-elo, gue-gue’.
Sampah, polusi udara, global warming? Emang gue pikirin!
Tapi masalahnya, kalau bukan elo-elo dan kita semua yang
mikirin, lalu siapa? Pemerintah? Menteri Lingkungan Hidup?
Saya percaya, bahwa nasib di tangan sendiri. Artinya,
kitalah yang menentukan perubahan. Bukan gubernur, menteri, atau presiden sekalipun. Presiden hanya satu orang,
tapi rakyat ada jutaan jumlahnya. Salah satunya adalah
Anda, kalian, kita.
Bayangkan, jika setiap orang di atas bumi ini mengubah
kebiasaan-kebiasaan kecilnya setiap hari.
Bayangkan, bila semua orang tidak membiarkan air
­ engalir terus-menerus tanpa digunakan, saat mencuci
m
mobil, menyikat gigi, atau mandi dengan pancuran. Jika satu
orang menghemat satu liter air setiap hari, maka 200 juta
liter air dihemat orang Indonesia tiap harinya.
Bayangkan jika lebih banyak orang lagi yang mematikan
AC dan lampu saat tidak digunakan, dan tidak membiarkan
komputer stand by berjam-jam tanpa disentuh sedikitpun.
Mencabut charger handphone saat tidak lagi digunakan,
ternyata bisa menghemat pasokan listrik untuk 85.000 rumah
dalam setahun.
Bayangkan lagi, jika makin banyak orang yang membawa kantung plastik sendiri saat belanja dan menggunakannya kembali dikemudian hari. Demikian juga dengan kertaskertas bekas, yang bisa didaur ulang atau digunakan kembali
pada halaman sebaliknya. Bayangkan jika semua orang
62 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
terbiasa
demikian.
Lalu
bayangkan
bila semua
pemilik
kendaraan
merawat
mesinnya
dengan
baik, sehingga tidak menyembulkan asap yang bisa mencekik
pernapasan. Di Indonesia, sebesar 70% pencemaran udara
disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. Akibatnya, asal
tahu saja, kematian akibat penyakit-penyakit yang ditimbulkan dari pencemaran udara berjumlah antara 50.000100.000 per tahun. Jadi bukan bumi saja yang makin panas,
lambat laun kita pun bisa mati karena polusi udara.
Terakhir , bayangkan juga bila makin banyak orang yang
suka menanam pohon di pekarangannya, atau sekedar menanam di pot-pot kecil. Betapa indahnya bumi tempat tinggal
kita ini!
Bayangkan, jika hal-hal sederhana tersebut bisa kita
lakukan. Meski sederhana, tak kalah hebatnya dengan Superman saat berusaha menyelamatkan bumi. Maka, berhentilah
membayangkan dan mulai melakukan! Saat AC tidak lagi
cukup mendinginkan, saat sun block SPF 50 tidak lagi ampuh
melindungi kulit, mungkin saat itu kita baru menyadari, ­
ada sesuatu yang salah dan dibiarkan terus terjadi di muka
bumi ini. Ironisnya, itu bukan salah jajaran pemerintah atau
kepala negara. Tapi salah kita sendiri, karena kita tidak
peduli. n
Renny Turangga
Duta Indonesia untuk Bayer Young Environmental
Envoy di Leverkusen, Germany, 2006.
Lahir di Jakarta, 19 Maret 1982.
Lulusan Psikologi, Universitas Tarumanagara, Jakarta.
NOVEMBER-DESEMBER 2007 SUARA BARU 63
Kolase
Kesehatan
HIV/AIDS
dr. Ivan Fintan
Tim Kesehatan Perhimpunan INTI
Setiap tanggal 1 Desember, kita
memperingati Hari HIV/AIDS sedunia.
Tahukah Anda bahwa 4 juta orang lebih
mendapatkan penyakit ini tiap tahunnya?
K
ASUS penyakit dengan gejala kekebalan tubuh yang
tidak ditemukan pada manusia sehat, terjadi pada
tahun 1982 di Amerika Serikat. Saat itu penyakit ini
disebut GRID - Gay Related Immunodeficiency atau penyakit
yang ditularkan oleh sesama kaum homoseksual. Virus HIV
sendiri diketahui muncul dalam darah pada 1959 di Kongo.
Kasus AIDS pertama di Indonesia tercatat tahun 1987 lewat
kematian seorang turis Belanda di Bali.
Menurut data Statistik WHO, jumlah orang yang hidup de­
ngan HIV pada tahun 2006 adalah 39,5 juta orang. Sedangkan kasus baru yang terinfeksi HIV sebanyak 4,3 juta orang,
dan kematian karena AIDS pada tahun yang sama sebanyak
2,9 juta orang.
Penularan HIV/AIDS
Penyebab penyakit AIDS adalah virus HIV. HIV me­nyerang
limfosit, yaitu sel darah putih yang termasuk dalam sistem
pertahanan atau imunitas, melalui pertukaran cairan tubuh,
seperti:
Hubungan seks dengan orang yang mengidap HIV.
Penggunaan jarum suntik dan alat yang ber­potensi menimbulkan luka (pisau cukur, tato, tindik, dan lainnya).
Transfusi darah yang mengandung HIV.
Ibu hamil pada bayi yang dikandungnya.
Penularan HIV tidak menular melalui bersin
atau batuk, ciuman pipi, bersalaman tangan,
menggunakan alat makan bersama, berenang, gigitan nyamuk dan fasilitas kloset/toilet umum. Maka kontak dengan penderita HIV
tanpa pertukaran cairan tubuh, tidak berpotensi
menularkan virus.
Gejala dan Diagnosa
Karena yang diserang adalah sistem kekebalan tubuh,
maka infeksi HIV menyebabkan penurunan kekebalan
tubuh, ditandai dengan menurunnya kadar CD-4 bila
diukur. Penurunan sistem kekebalan ini menyebabkan
tubuh rentan terhadap penyakit yang seharusnya bisa
diatasi oleh kekebalan tubuh manusia sehat. Maka
AIDS lebih tepat dikatakan sebagai kumpulan gejala
penyakit daripada penyakit.
64 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
HIV/AIDS
Dari waktu pertama kali terinfeksi sampai dengan timbulnya gejala, memakan waktu 3-6 minggu. Gejala awal karena
infeksi virus HIV secara umum adalah:
Demam.
Faringitis (radang tenggorokan).
Pembesaran kelenjar tanpa sebab yang jelas.
Sakit kepala.
Sakit otot atau sendi.
Kelelahan.
Penurunan berat badan.
Diare yang berkepanjangan biasanya lebih 1 bulan tanpa sebab.
Bercak merah-kebiruan pada kulit.
Dalam masa setelah tertular, tubuh terinfeksi belum
membentuk antibodi secara sempurna, sehingga pemeriksaan
darah seringkali memberikan hasil negatif (window period).
Bila pemeriksaan darah sudah positif HIV, maka penderita
akan masuk ke dalam fase laten (latency period) dimana
tidak timbul gejala selama 5-10 tahun.
Infeksi virus akan terus terjadi, dan virus terus memperbanyak diri sampai ke stadium AIDS, dimana timbulnya
gejala penyakit yang disebabkan oleh berbagai macam agen
penyakit mulai dari paru-paru (co. pneumonia pneumocystis
carinii, TBC), kulit (co. kandidiasis), syaraf, jantung, saluran
cerna, ginjal, endokrin sampai ke penyakit ganas seperti
sarcoma kaposi (sejenis tumor ganas).
Pengobatan
Banyak obat yang beredar untuk menekan jumlah dan
laju pertumbuhan virus dalam tubuh yang terinfeksi oleh
HIV. Yang biasa dipakai adalah obat anti retro viral (ARV).
­Mekanisme kerjanya dengan menekan petumbuhan virus
yang mengakibatkan penghancuran sel-sel kekebalan tubuh.
Penanganan AIDS tak hanya tercakup dalam obat-obatan
tapi juga dukungan dan perhatian kepada orang yang hidup
dengan HIV/AIDS (ODHA). Dengan informasi lengkap
tentang HIV/AIDS dan mengetahui sumber serta
mekanisme penularan, kita bisa memproteksi
diri.
Dukungan yang diberikan kepada ODHA
akan sangat berarti bagi mereka, juga
akan membantu secara psikologis agar
mereka tetap mempunyai semangat
hidup. Pola hidup dari ODHA pun harus
diperhatikan dengan memperhatikan
makanan dengan gizi yang baik, olahraga
yang teratur, istirahat yang cukup dan
berkonsultasi pada dokter secara rutin. n
re You Next?
Teknologi
Global Warming
Kontribusi IT terhadap Masalah
Global Warming
Sugeng Wibowo
Direktur PT. Myindo Cyber Media
T
opik perubahan iklim yang berdampak
pada global warming atau pemanasan
global sebe­tulnya sudah ramai dibicarakan sejak bertahun-tahun lalu.
Saat ini, seiring perubahan cuaca yang makin
tak menentu dan bencana alam yang terjadi
di berbagai belahan dunia, pemanasan global
kembali hangat dibicarakan dan disinyalir menjadi salah satu penyebabnya.
IT atau teknologi informasi dengan kecanggihan perangkatnya yang selama ini telah
membantu kehidupan manusia memiliki peran
penting dalam pencegahan pemanasan global.
Sebagai contoh, melalui situs youtube.com,
kita bisa melihat beberapa tayangan video
­mengenai dampak pemanasan global yang terjadi di berbagai tempat di dunia, seperti proses
salju yang mencair di kutub.
Selain itu, coba tengok www.ipcc.ch yang
dikelola oleh Intergovernmental Panel on
Climate Change (IPCC) atau “Panel Antarpeme­
rintah Tentang Perubahan Iklim”, yakni suatu
panel ilmiah yang terdiri dari para ilmuwan dari
seluruh dunia. IPCC didirikan pada tahun 1988
oleh dua organisasi PBB, World Meteorological
Organization (WMO) dan United Nations Environment Programme (UNEP).
Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan, terancam mengalami pengurangan garis
pantai, yang artinya pulau-pulau di Indonesia
akan berkurang luasnya, karena garis pantai
semakin naik menuju daratan. Menurut sebuah penelitian, sepersepuluh penduduk dunia
atau sekitar 634 juta orang tinggal di pesisir
lautan. (http://akuinginhijau.wordpress.
com/2007/08/25/perubahan-iklim-global-jakarta-bisa-tinggal-nama/).
Artinya, dengan semakin berkurangnya luas
garis pantai, semakin berkurang juga lahan bagi
orang-orang yang tinggal di sekitar pantai.
Portal PEMANASAN GLOBAL
Pembuatan portal mengenai perubahan iklim
dan pemanasan global bisa menjadi salah satu
kontribusi. Misalnya portal kumpulan artikel
mengenai apa yang bisa dilakukan oleh setiap orang untuk mengurangi efek pemanasan
global, atau informasi penting mengenai kondisi
alam dunia. Pembuatan portal ini tentunya
tidak terlepas dari dukungan be­rbagai pihak,
terutama pihak-pihak yang berkompeten dalam
menyampaikan berita.
Bukan hanya mengenai fakta yang disajikan
tanpa solusi. Informasi tersebut disebarluaskan
melalui portal agar menginspirasi banyak orang
untuk berbagi solusi dan melakukan aksi.
Portal tersebut bisa di-link dengan komunitas lain, mi­salnya komunitas lingkungan
hidup, sehingga mereka dapat turut melakukan
tindakan sesuai bidangnya. Misalnya membuat
program ‘tanam 1000 pohon’ atau bekerjasama
dengan pemerintah untuk menerbitkan aturan
yang lebih ketat dalam hal ketentuan gas buang
kendaraan. Ide lain, menyediakan lahan untuk
program ‘tanam 1000 pohon’, pemba­ngunan
paru-paru kota, atau bekerjasama dengan
­pengusaha property untuk menyediakan ruang
bagi penghijauan dalam kantor, dan lain sebagainya.
Portal ini juga tidak tertutup bagi penggemar
hiburan, misalnya dengan menyediakan forum
resensi film untuk film-film dokumenter atau
film-film yang berhubungan dengan bencana
alam, sehingga mereka juga bisa tergerak untuk
memberikan kontribusi bagi kelestarian bumi.
Misalnya film dokumenter ‘An Inconvenient
Truth’ yang dibintangi oleh Al Gore, mantan
wakil presiden Amerika Serikat pada era Bill
Clinton.
Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita
cukup sadar dan perduli dengan ancaman perubahan iklim ini? n
Goes Global
The first and only USA-based JCI accredited hospital in Indonesia
Siloam Hospitals Lippo Karawaci is officially the first and only hospital in Indonesia to receive hospital
accreditation by USA-based Joint Commission International (JCI). JCI accreditation is the world’s leading
internationally recognised hospital quality award.
As the global chase intensifies for a share of the US$60 billion medical tourism market, this achievement places
Indonesia on the map as destination for thousands of health travellers from the USA, Europe, Australia and South
East Asia who look abroad for life-altering care at an affordable price. JCI accreditation means truly international
treatment is now available to everyone, here in Jakarta, and will give both Indonesian and international patients
tremendous confidence in healthcare provision in Indonesia.
www.siloamhospitals.com
Lippo Karawaci (JCI) Kebon Jeruk Lippo Cikarang Surabaya Semanggi Spesialist Clinic
Opening soon: Siloam Hospital Semanggi and The Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre
66 SUARA BARU NOVEMBER-DESEMBER 2007
Siloam Hospital Kemang
World class healthcare experience
Siloam Hospital Bandung
Download