ISSN No. 2337-5299 Volume 2 / Nomor 1 / Tahun 2014

advertisement
ISSN No. 2337-5299
Volume 2 / Nomor 1 / Tahun 2014 / Hal.89-195
Partisipasi Politik Penyandang Disabilitas Netra Dalam Pemilihan Umum
Tahun 2014 Di Panti Sosial Bina Netra “Wyata Guna” Bandung
Ayi Haryani dan Enung Huripah
Studi Kelayakan Pemekaran Wilayah Kabupaten Bekasi
Fernandes Simangunsong
Reformasi Birokrasi Kabinet Kerja Jokowi-JK
Ilham Gemiharto
Zigzag Kebijakan State of the Art Ilmu Pemerintahan di Indonesia
Pipin Hanapiah
Konstruksi Pemberitaan Surat Kabar Dalam Kampanye Jokowi
Dalam Pencalonan Sebagai Presiden
R.Indriyati
Pelaksanaan Fungsi Sosialisasi Politik Dewan Pimpinan Daerah
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Provinsi Jawa Barat
(Studi Tentang Peningkatan Pendidikan Politik Masyarakat)
Ronald Al Kausar dan Dadan Kurnia
Kualitas Pelayanan Aparatur Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
Dalam Program Unggulan Website www.disnakjabar.prov.go.id
Tatik Rohmawati dan Ari Yunadi
ISSN NO. 2337-5299 Volume 2/Nomor 1/Tahun 2014/ Hal.89-195
Jurnal ini memuat berbagai hasil penelitian, konsep atau gagasan pemikiran
yang terkait dengan reformasi pemerintahan
DEWAN REDAKSI
Pembina :
Dekan FISIP Unikom
Prof. Dr. Samugyo Ibnu Redjo, Drs., MA.
Penanggung jawab :
Kaprodi Ilmu Pemerintahan Unikom
Dr. Dewi Kurniasih, S.IP., M.Si.
Pimpinan Redaksi :
Nia Karniawati, S.IP.,M.Si.
Penyunting Ahli :
Prof. Dr. Samugyo Ibnu Redjo, Drs., MA.
Prof. Dr. Hj. Aelina Surya, Dra.
Tim Editing :
Tatik Rohmawati, S.IP.,M.Si.
Tatik Fidowaty, S.IP.,M.Si.
Poni Sukaesih K, S.IP.,M.Si.
Rino Adibowo, S.IP.,M.I.POL
Sekretariat :
Airinawati, A.Md.
Alamat Redaksi :
Prodi Ilmu Pemerintahan Unikom
Jl. Dipati Ukur 112-114 Bandung 40132
Telp. 022.2533676
Fax. 022.2506577
Email :http://www.ip.unikom.ac.id
i
ISSN NO. 2337-5299 Vol. 2 / Nomor 1 / Tahun 2014/Hal.89-195
DAFTAR ISI
Dewan Redaksi
I
Daftar Isi
ii
Partisipasi Politik Penyandang Disabilitas Netra Dalam Pemilihan Umum
Tahun 2014 Di Panti Sosial Bina Netra “Wyata Guna” Bandung
Ayi Haryani dan Enung Huripah
89 – 104
Studi Kelayakan Pemekaran Wilayah Kabupaten Bekasi
Fernandes Simangunsong
105 – 129
Reformasi Birokrasi Kabinet Kerja Jokowi-JK
Ilham Gemiharto
130 – 140
Zigzag Kebijakan State of the Art Ilmu Pemerintahan di Indonesia
Pipin Hanapiah
141 – 150
Konstruksi Pemberitaan Surat Kabar Dalam Kampanye Jokowi
Dalam Pencalonan Sebagai Presiden
R.Indriyati
151 – 159
Pelaksanaan Fungsi Sosialisasi Politik Dewan Pimpinan Daerah
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Provinsi Jawa Barat
(Studi Tentang Peningkatan Pendidikan Politik Masyarakat)
Ronald Al Kausar dan Dadan Kurnia
160 - 176
Kualitas Pelayanan Aparatur Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
Dalam Program Unggulan Website www.disnakjabar.prov.go.id
Tatik Rohmawati dan Ari Yunadi
177 – 195
Tata cara Penulisan dan Pengiriman Artikel
196
lxxxix
PARTISIPASI POLITIK PENYANDANG DISABILITAS NETRA
DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014
DI PANTI SOSIAL BINA NETRA “WYATA GUNA” BANDUNG
Ayi Haryani1
dan
Enung Huripah2
ABSTRAK
Penelitian ini untuk mengkaji seberapa besar keterlibatan penyandang disabilitas dalam
berpartisipasi politik khususnya pada proses pemilihan calon Presiden dan Wakil Presiden
Republik Indonesia tahun 2014 di Panti Sosial Bina Netra “Wyata Guna” Bandung. Dengan
menggunakan metode kualitatif, diperoleh berupa data primer yang diambil langsung dari
lapangan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi mengenai
proses pemilihan calon presiden dan wakil presiden RI tahun 2014, serta data sekunder yang
merupakan data tidak langsung, berupa kebijakan-kebijakan baik pada tingkat pusat maupun
daerah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi politik yang dilakukan oleh penyandang
disabilitas netra dalam pemilihan calon presiden dan wakil presiden tahun 2014 di PSBN “Wyata
Guna” Bandung, belum menunjukan adanya partisipasi penuh dan efektif berdasarkan
kesetaraan dengan warga negara lainnya. Namun, kesadaran mereka atas hak partisipasi
politiknya telah cukup terbangun dengan baik, hal ini sudah disadarinya bahwa suara mereka
juga dibutuhkan untuk mengangkat kepedulian pemerintah terhadap hak-haknya, namun
perhatian pemerintah terhadap hak politik mereka belum disertai dengan upaya implementasi
yang terencana, sistematis, dan praktis dalam menyiapkan fasilitas dan mengurangi kendala
yang akan dialami penyandang disabilitas dalam pelaksanaan pemilu, termasuk menghilangkan
hak dan perlakuan yang bernuansa diskriminatif dalam pelayanan oleh penyelenggara lokal.
Kata kunci: Partisipasi Politik, Penyandang Disabilitas Netra, Pemilihan Umum
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Politik adalah kajian ilmu sosial, yang
tidak bisa lepas dari aktivitas kehidupan
manusia. Karena manusia adalah makhluk
sosial. Sehingga bagaimanapun orang
memandang politik, selama manusia ada
dan
berupaya
untuk
melanjutkan
peradabannya, maka selama itu pula politik
akan ada bersama berdampingan dengan
manusia. Sekalipun saat ini politik telah
mengalami berbagai pergeseran, namun
rasanya kita tidak harus dan tidak bisa
begitu saja dalam menilai baik tidak politik,
karena
pada
dasarnya
politik
itu
dikendalikan oleh manusia, maka wajar
kalau suatu ketika politik mengalami sedikit
perubahan makna Karena manusia sendiri
pada dasarnya selalu berupaya untuk
berubah. Hanya tingal kita bisa tidaknya
melihat sisi baik dari politik itu.
1
2
Demokrasi menjadi salah satu sistem
politik yang paling banyak dianut oleh
negara-negara di Dunia. Namun demikian,
implementasi demokrasi disetiap negara
bisa berbeda-beda. Bahkan tidak jarang,
negara yang otoriter sekalipun,seperti di
negara-negara komunis atau negara yang
didominasi militer juga mengklaim sebagai
negara demokrasi. Secara formal, di negara
tersebut memang ada ornamen demokrasi,
seperti partai politik, pemilu, organisasi
kemasyarakatan,
media
massa
dan
parlemen. Akan tetapi, kesemuanya itu
berada di bawah kontrol kekuasaan yang
sentralistik.
Untuk menilai sebuah sistem politik
demokratis atau tidak, ada sejumlah
parameter yang bisa digunakan untuk
menilainya. M. Amien Rais (2008),
mengajukan sepuluh kriteria demokrasi,
yaitu: adanya partisipasi masyarakat dalam
pembuatan keputusan; persamaan di depan
Dosen STKS Bandung
Dosen STKS Bandung
89
hukum; distribusi pendapatan secara adil;
kesempatan pendidikan yang sama;
pengakuan dan penghargaan terhadap
empat macam kebebasan (kebebasan
mengeluarkan pendapat, kebebasan media
massa,
kebebasan
berkumpul,
dan
kebebasan beragama); ketersediaan dan
keterbukaan
informasi;
mengindahkan
fatsoen (tata krama); kebebasan individu;
semangat kerjasama; dan hak untuk protes.
Politik
sebagai
suatu
proses
pembentukan dan pembagian kekuasaan
dalam masyarakat untuk pembuatan
keputusan
dalam
suatu
negara.
Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17
Agustus 1945 menjadi modal awal
terbentuknya sistem politik di Indonesia.
Sudah 11 (sebelas) kali Bangsa Indonesia
melakukan pesta demokrasi/ pemilu
(pemilihan umum) dengan asas luber
(langsung umum bebas dan rahasia) yang
dilakukan setiap 5 tahun sekali. Sejak
pemilihan umum pertama kali dilakukan di
Indonesia tahun 1955 sampai saat ini, masih
terdapat sebagian dari kelompok minoritas
seperti penyandang disabilitas tidak dapat
terlibat dalam pesta demokrasi ini Kaum
disabilitas masih sedikit menikmati hak
politiknya,
dalam
kegiatan pemilu,
jangankan afirmasi berbentuk kuota
keanggotaan partai, pencalonan atau kursi,
jaminan akses memilih saja tidak ditoleh
banyak pihak
belum ada pihak-pihak
berkomitmen
dan
konsisten
memperjuangkan hak politik penyandang
disabilitas, khususnya pemenuhan akses
memilih di pemilu. sehingga sampai saat ini
partisipasi aktif penyandang disabilitas
masih harus terus diperjuangkan.
Partisipasi setiap warga negara
dalam pemilu merupakan hak asasi yang
harus dijunjung tinggi. Setiap warga negara
berhak terlibat dalam mengambil kebijakan
politik dan negara wajib melindungi hak-hak
tersebut. Partisipasi politik masyarakat
merupakan salah satu bentuk aktualisasi
dari proses demokratisasi. Keinginan ini
menjadi sangat penting bagi masyarakat
dalam proses pembangunan politik bagi
negara-negara berkembang seperti di
indonesia, karena di dalamnya ada hak dan
kewajiban masyarakat yang dapat dilakukan
salah satunya adalah berlangsung dimana
proses pemilihan kepala negara sampai
dengan pemilihan walikota dan bupati
dilakukan secara langsng. Sistem ini
membuka ruang dan membawa masyarkat
untuk terlibat langsung dalam proses
tersebut.
Ketentuan tentang partisipasi secara
aktif dalam kehidupan berpolitik terkandung
dalam pasal 21 Deklarasi Universal Hak
Asasi Manusia, pasal 25 Kovenan
Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan
Politik, pasal 28D ayat (3), pasal 28H ayat 2
dan pasal 28I ayat (2) UUD 1945 setelah
amandemen dan pasal 43 ayat (1) dan (2)
UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi
Manusia. Inti pasal-pasal tersebut antara
lain
setiap
warga
negara
berhak
mendapatkan kesempatan yang sama
dalam pemerintahan, baik kesempatan
untuk berpartisipasi dalam pemerintahan
berupa dipilih dan memilih dalam pemilu
maupun aksesibilitas untuk mendapatkan
kesempatan tersebut tanpa diskriminasi.
Landasan hukum tersebut berlaku pula bagi
penyandang disabilitas dan diperkuat
dengan UU No. 4 tahun 1997 tentang
Penyandang disabilitas.
Upaya untuk memperoleh gambaran
besarnya masalah disabilitas dilakukan
oleh Kementrian Sosial RI. bersama BPS,
masukkan survei disabilitas dalam Susenas
di 27 provinsi di Indonesia pada tahun 1998
adalah sebanyak 6,056,875 orang yang
terdiri dari 1,752,793 orang penyandang
disabilitas netra 1,655,416 orang disabilitas
daksa 1,265,906 orang penyandang
Penyakit kronis 779,019 orang, disabilitas
Mental
603,740
orang,
disabilitas
rungu/wicara
6,056,875 orang. Julah
terbesar berada di provinsi Jawa Barat yaitu
sebanyak 1,219,331 orang yang terdiri dari :
352,861 orang penyandang disabilitas netra,
333,258 penyandang disabilitas daksa
254,844 orang penyandang penyakit kronis
156,827 orang penyandang
disabilitas
mental dan 121,541 orang rungu wicara.
Data Dinas Sosial Provinsi Jawa
Barat tahun 2009, jumlah penyandang
disabilitas tercatat sebanyak 154.967 jiwa.
Sementara data yang dilansir dari organisasi
kesehatan dunia atau World Health
Organization (WHO) mengatakan, jumlah 10
persen penduduk setiap daerah adalah
penyandang disabilitas. Artinya di Provinsi
Jawa Barat yang kini penduduknya sudah
mencapai 44 juta jiwa, sehingga 4,4 juta
orang adalah penyandang disabilitas. Data
lain
dari Ikatan Tunanetra Muslim
Indonesia (ITMI) tahun 2014, jumlah
penyandang disabilitas netra di Jawa Barat
saat ini sekitar 150 ribu orang, sementara
Persatuan
Penyandang
disabilitas
90
Indonesia
(PPCI)
cabang
Jawa
Barat meyakini bahwa sejumlah 90.000
suara tunanetra di Jawa Barat memiliki hak
suara untuk mengikuti pemilihan umum di
tahun 2014.
Untuk
menjamin
pasal-pasal
dilaksanakan secara konsekuen, KPU
merumuskan peraturan-peraturan yang
mengatur lebih khusus partisipasi berpolitik
penyandang disabilitas dalam pemilu. Pasal
8 ayat (3) Peraturan KPU No. 3 tahun 2009
tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan
Pemungutan dan Penghitungan Suara di
Tempat
Pemungutan
Suara
dalam
Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPR
Provinsi dan Kabupaten/Kota dan pasal 9
ayat (2) Peraturan KPU No. 29 Tahun 2009
tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan
Pemungutan dan Penghitungan Suara
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
menegaskan kembali demi
menjaga
keamanan, kerahasiaan, dan kelancaran
pelaksanaan pemungutan suara dan
penghitungan suara KPU Kabupaten/Kota
menyerahkan alat bantu tuna netra kepada
KPPS.
Meskipun
peraturan-peraturan
tersebut diberlakukan dan KPU untuk
menjamin semua warga negara termasuk
penyandang disabilitas berhak memberikan
suaranya dalam pemilu, kenyataannya hak
berpolitik penyandang disabilitas masih
dientengkan. Rendahnya kesadaran dan
pengetahuan tentang sistem, tahapan dan
mekanisme pemilu mengakibatkan hak
suara penyandang disabilitas rentan
dimanipulasi.
Temuan penelitian yang dilakukan
oleh PusHAM UII pada tahun 2003 yang
menemukan fakta, bahwa penyediaan
aksesibilitas fisik/fasilitas umum bagi
penyandang disabilitas di beberapa daerah
di Indonesia masih sangat minim, sehingga
membatasi ruang gerak penyandang
disabilitas. Meskipun hak-hak penyandang
disabilitas tersebut sudah dijamin oleh
Resolusi PBB No. 48/96 tahun 1993
mengenai Peraturan Standar tentang
Persamaan Kesempatan bagi Penyandang
disabilitas, UUD 1945, UUHAM, dan UU
Penyandang disabilitas, namun realisasi
pemenuhan hak-hak itu masih terlupakan
dan terabaikan.
Salah satu fenomena yang terjadi
dalam proses pemilihan umum khususnya
bagi penyandang disabilitas netra adalah
kurangnya sosialisasi dan simulasi pemilu.
Pemilih penyandang disabilitas tidak
memahami
mekanisme
dan
teknis
pengambilan suara. Petugas KPU banyak
yang tidak memahami cara menangani
pemilih penyandang disabilitas seperti
penggunaan alat bantu tuna netra seperti
kertas suara dengan Braile. Selain itu
kesulitan lain dirasakan ketika mereka akan
menuju bilik suara, penentuan tempat
pemungutan suara (TPS) yang sulit diakses
seperti becek, melalui jalan bertangga, serta
lokasi tempat pemilihan yang tidak
dilengkapi dengan aksesibilitas bagi
penyandang disabilitas netra.
Fenomena lainnya adalah belum ada
data kongkrit di setiap wilayah di Indonesia
yang menyatakan jumlah penyandang
disabilitas yang memiliki hak suara,
sehingga banyak penyandang disabilitas
yang kehilangan hak suaranya karena tidak
terdaftar sebagai warga negara yang
mempunyai hak untuk memilih.
Para
petugas pendataan calon pemilih sering kali
beranggapan
bahwa
penyandang
diasabilitas tidak dapat menggunakan hak
suaranya karena keterbatasan fisiknya,
sehingga sebagian dari penyandang
disabilitas tidak dimasukan kedalam data
calon pemilih.
Catatan berbagai media (seperti
artikel kmpas.com) menyebutkan Pemilihan
Umum
(KPU)
Jawa
Barat
belum
sepenuhnya memfasilitasi penyandang
disabilitas
khususnya
penyandang
disabilitas untuk dapat memberikan hak
suaranya. Padahal hak politik bagi
penyandang disabilitas telah dijamin bahkan
oleh dunia internasional. Tetapi fasilitas dan
akses bagi penyandang disabilitas untuk
dapat
memberikan
suara
belum
sepenuhnya terpenuhi, sehingga tidak
sedikit penyandang disabilitas yang tidak
memberikan hak suaranya.
Rumusan Masalah
Partisipasi
setiap
warga
negara dalam pemilu merupakan hak asasi
yang harus dijunjung tinggi. Setiap warga
negara berhak terlibat dalam mengambil
kebijakan politik dan negara wajib
melindungi hak-hak tersebut. setiap warga
negara berhak mendapatkan kesempatan
yang sama dalam pemerintahan, baik
kesempatan untuk berpartisipasi dalam
pemerintahan berupa dipilih dan memilih
dalam pemilu maupun aksesibilitas untuk
mendapatkan kesempatan tersebut tanpa
diskriminasi.
91
Berbagai
permasalahan
yang
berkaitan dengan hak dan kewajiban
penyandang disabilitas Netra sebagai warga
negara Indonesia dalam pemilihan umum
(pemilu) baik calon anggota legislatif
maupun capres dan cawapres yaitu adanya
kecenderungan ketidaksiapan KPU dan
pemerintah daerah dalam memfasilitasi dan
memberikan jaminan kepada penyandang
disabilitas dalam memenuhi hak dan
kewajibannya dalam pelaksanaan Pemilu,
sehingga berdampak pada hilangnya
kesempatan sebagian dari penyandang
disabilitas dalam
menggunakan hak
suaranya. Bahkan beberapa simbol-simbol
konflik terkait dengan diskriminasi terhadap
penyandang disabilitas khususnya dalam
pemilihan calon presiden dan wakil presiden
RI. Tahun 2014 banyak terdengar
diberbagai media. Apabila hal ini kurang
memperoleh perhatian, maka persamaan
hak dan kewajiban penyandang disabilitas
sebagai warga negara Indonesia tidak dapat
tercapi di Negara ini.
Berdasarkan identifikasi masalah
tersebut diatas, maka penelitian tentang
partisipasi politik penyandang disabilitas
Netra dalam mengikuti pemilihan calon
presiden dan wakil presiden RI. Tahun 2014
sangat relevan untuk diteliti, selanjutnya
rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah:Bagaimana
partisipasi
politik
penyandang
disabilitas
netra
dalam
pemilihan calon presiden dan wakil presiden
tahun 2014 di PSBN Wyata Guna Bandung
?.
Selanjutnya penelitian ini akan di
fokuskan pada :
1) Bagaimana Karakteristik Informan ?
2) Bagaimana
Pemberian
Suara
Penyandang Disabilitas Netra Pada
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
RI Tahun 2014 ?
3) Bagaimana Keterlibatan Penyandang
Disabilitas Netra
dalam Kegiatan
Sosialisasi/ Kampanye Pemilu 2014 ?
4) Bagaimana Kerlibatan Penyandang
Disabilitas Netra dalam Organisasi
Politik?
5) Bagaimana Keterlibatan Penyandang
Disabilitas dalam Melakukan Diskusi
Publik/Rapat Umum ?
6) Bagaimana Hambatan Penyandang
Disabilitas Netra
dalam Proses
Pemilihan Calon Presiden dan Wakil
Presiden Tahun 2014 ?
7) Bagaimana Harapan
Disabilitas
dalam
Pemilihan Umum?
Penyandang
Pelaksanaan
Tujuan Penelitian
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
mengetahui dan mengkaji tentang :
partisipasi politik penyandang disabilitas
netra dalam pemilihan calon presiden dan
wakil presiden tahun 2014 di PSBN Wyata
Guna Bandung, terkait dengan karakteristik
Informan; pemberian suara; keterlibatan
penyandang disabilitas netra
dalam
kegiatan sosialisasi/ kampanye pemilu
2014; kerlibatan penyandang disabilitas
netra dalam organisasi politik; keterlibatan
penyandang disabilitas dalam melakukan
diskusi publik/rapat umum serta mengkaji
hambatan penyandang disabilitas netra
dalam proses pemilihan calon presiden dan
wakil presiden tahun 2014; serta harapan
penyandang disabilitas dalam pelaksanaan
pemilihan umum.
Manfaat Penelitian
Secara teoritis, hasil penelitian ini akan
memberikan informasi dan menambah teori
praktek pekerjaan sosial dengan disabilitas
terutama berkaitan dengan pemenuhan hakhak
penyandang
disabilitas
dalam
melakukan partisipasi politik dalam pemilihan
umum. Secara praktis, hasil penelitian ini
diharapkan akan menghasilkan rekomendasi
kepada pemerintah, Komisi Pemilihan Umum
(KPU) dan Lembaga-lembaga lain yang
terkait dalam proses pemilihan umum.
KAJIAN PUSTAKA
Tinjauan tentang partisipasi Politik
Politik adalah kajian ilmu social, yang
tidak bisa lepas dari aktivitas kehidupan
manusia. Karena manusia adalah makhluk
social. Sehingga bagaimanapun orang
memandang politik, selama manusia ada
dan
berupaya
untuk
melanjutkan
peradabannya, maka selama itu pula politik
akan ada bersama berdampingan dengan
manusia. Sekalipun saat ini politik telah
mengalami berbagai pergeseran, namun
rasanya kita tidak harus dan tidak bisa
begitu saja dalam menilai baik tidak politik,
karena pada dasarnya poltik itu dikendalikan
oleh manusia, maka wajar kalau suatu
ketika politik mengalami sedikit perubahan
makna Karena manusia sendiri pada
dasarnya selalu berupaya untuk berubah.
Hanya tingal kita bisa tidak melihat sisi baik
dari politik itu.
92
Menurut para pakar dan ahli politik.
Thomas M. Magstadt dan Peter M. Schotten
(1988:7), politik adalah segala sesuatu
mengenai bagaimana manusia diperintah,
yang berkaitan dengan tatanan, kekuasaan,
dan keadilan. Sedangkan menurut Budiarjo
(2002), politik ialah segala sesuatu yang
berkenaan dengan negara, termasuk
didalamnya
kekuasaan,
pengambilan
keputusan, kebijakan, maupun pembagian
dan pengalokasian nilai-nilai didalam
masyarakat yang bersangkutan.
Berdasarkan kedua pengertian politik
diatas terdapat persamaan pandangan
dalam memaknai tentang
politik yang
mengandung makna bahwa politik itu terkait
dengan kekuasaan, keadilan dan kebijakan
pemerintah serta pengalokasian nilai-nilai
yang berlaku di dalam masyarakat yang
bersangkutan
Definisi partisipasi politik yang cukup
senada disampaikan oleh Silvia Bolgherini
(2010), partisipasi politik " ... a series of
activities related to political life, aimed at
influencing public decisions in a more or less
direct way—legal, conventional, pacific, or
contentious. Bagi Bolgherini, partisipasi
politik adalah segala aktivitas yang berkaitan
dengan kehidupan politik, yang ditujukan
untuk
memengaruhi
pengambilan
keputusan baik secara langsung maupun
tidak langsung -- dengan cara legal,
konvensional, damai, ataupun memaksa.
Studi klasik mengenai partisipasi politik
diadakan oleh Samuel P. Huntington dan
Joan Nelson (1990), dalam karya
penelitiannya No Easy Choice: Political
Participation in Developing Countries. Lewat
penelitian mereka, Huntington and Nelson
memberikan suatu catatan: Partisipasi yang
bersifat mobilized (dipaksa) juga termasuk
ke dalam kajian partisipasi politik. Hal ini
senada dengan yang disampaikan oleh
Bolgherini yaitu bahwa dalam melakukan
partisipasi politik, cara yang digunakan
salah satunya yang bersifat paksaan
(contentious). Bagi Huntington and Nelson,
perbedaan partisipasi politik sukarela dan
mobilisasi (diarahkan, senada dengan
dipaksa) hanya dalam aspek prinsip, bukan
kenyataan tindakan: Intinya baik sukarela
ataupun dipaksa, warganegara tetap
melakukan partisipasi politik.
Ruang bagi partisipasi politik adalah
sistem politik. Sistem politik memiliki
pengaruh untuk menuai perbedaan dalam
pola partisipasi politik warga negaranya.
Pola partisipasi politik di negara dengan
sistem politik Demokrasi Liberal tentu
berbeda dengan di negara dengan sistem
Komunis atau Otoritarian. Bahkan, di
negara-negara dengan sistem politik
Demokrasi Liberal juga terdapat perbedaan,
seperti yang ditunjukkan Oscar Garcia
Luengo (2006), dalam penelitiannya
mengenai E-Activism: New Media and
Political
Participation
in
Europe.
Warganegara di negara-negara Eropa Utara
(Swedia, Swiss, Denmark) cenderung lebih
tinggi tingkat partisipasi politiknya ketimbang
negara-negara Eropa bagian selatan
(Spanyol, Italia, Portugal, dan Yunani).
Landasan partisipasi politik adalah
asal-usul individu atau kelompok yang
melakukan kegiatan partisipasi politik.
Huntington dan Nelson (2010) membagi
landasan partisipasi politik ini menjadi: kelas
individu-individu dengan status sosial,
pendapatan, dan pekerjaan yang serupa.
kelompok atau komunal individu-individu
dengan asal-usul ras, agama, bahasa, atau
etnis yang serupa. lingkungan individuindividu yang jarak tempat tinggal
(domisilinya) berdekatan. Partai individuindividu yang mengidentifikasi diri dengan
organisasi formal yang sama yang berusaha
untuk meraih atau mempertahankan kontrol
atas bidang-bidang eksekutif dan legislatif
pemerintahan, dan golongan atau faksi
individu-individu yang dipersatukan oleh
interaksi yang terus menerus antara satu
sama lain, yang akhirnya membentuk
hubungan patron-client, yang berlaku atas
orang-orang dengan tingkat status sosial,
pendidikan, dan ekonomi yang tidak
sederajat.
Model partisipasi politik adalah tata
cara orang melakukan partisipasi politik.
Model ini terbagi ke dalam 2 bagian besar:
Conventional
dan
Unconventional.
Conventional adalah mode klasik partisipasi
politik seperti Pemilu dan kegiatan
kampanye. Model partisipasi politik ini sudah
cukup lama ada, tepatnya sejak tahun 1940an dan 1950-an. Unconventional adalah
mode partisipasi politik yang tumbuh seiring
munculkan Gerakan Sosial Baru (New
Social Movements). Dalam gerakan sosial
baru ini muncul gerakan pro lingkungan
(environmentalist), gerakan perempuan
gelombang-gelombang (feminist), protes
mahasiswa (students protest), dan teror.
Jika mode partisipasi politik bersumber
pada faktor “kebiasaan” partisipasi politik di
suatu zaman, maka bentuk partisipasi politik
mengacu pada wujud nyata kegiatan politik
93
tersebut. Samuel P. Huntington dan Joan
Nelson (1990) membagi bentuk-bentuk
partisipasi politik menjadi:
a. Kegiatan Pemilihan yaitu kegiatan
pemberian suara dalam pemilihan
umum, mencari dana partai, menjadi
tim sukses, mencari dukungan bagi
calon legislatif atau eksekutif, atau
tindakan
lain
yang
berusaha
mempengaruhi hasil pemilu;
b. Lobby/Terlibat dalam kampanye yaitu
upaya perorangan atau kelompok
menghubungi
pimpinan
politik
dengan
maksud
mempengaruhi
keputusan mereka tentang suatu isu;
c. Kegiatan Organisasi /Membentuk dan
bergabung
dalam
organisasi
kemasyarakatan yaitu partisipasi
individu ke dalam organisasi, baik
selaku
anggota
maupun
pemimpinnya, guna mempengaruhi
pengambilan
keputusan
oleh
pemerintah;
d. Contacting /Melakukan diskusi publik
yaitu upaya individu atau kelompok
dalam membangun jaringan dengan
pejabat-pejabat pemerintah guna
mempengaruhi keputusan mereka,
dan
e. Tindakan Kekerasan (violence) yaitu
tindakan individu atau kelompok guna
mempengaruhi
keputusan
pemerintah dengan cara menciptakan
kerugian fisik manusia atau harta
benda, termasuk di sini adalah huruhara, teror, kudeta, pembutuhan
politik (assassination), revolusi dan
pemberontakan.
Kelima bentuk partisipasi politik
menurut Huntington dan Nelson telah
menjadi bentuk klasik dalam studi partisipasi
politik. Keduanya tidak membedakan
apakah tindakan individu atau kelompok di
tiap bentuk partisipasi politik legal atau
ilegal. Sebab itu, penyuapan, ancaman,
pemerasan, dan sejenisnya di tiap bentuk
partisipasi politik adalah masuk ke dalam
kajian ini.
kurang dari 12 bulan. World Health
Organization
(WHO)
tahun
2008,
memberikan definisi disabilitas sebagai
keadaan
terbatasnya
kemampuan
(disebabkan karena adanya hendaya) untuk
melakukan aktivitas dalam batas-batas yang
dianggap normal oleh manusia.
Lebih
lanjut
organisasi
kesehatan dunia (WHO)
memberikan
definisi kecacatan ke dalam 3 kategori,
yaitu: “impairment,
disability,
dan handicap”. Impairment disebutkan
sebagai kondisi ketidaknormalan atau
hilangnya struktur atau fungsi psikologis
atau anatomis. Sedangkan disability adalah
ketidakmampuan
atau
keterbatasan
sebagai akibat adanya impairment untuk
melakukan aktivitas dengan cara yang
dianggap
normal
bagi
manusia.
Adapun handicap, merupakan keadaan
yang merugikan bagi seseorang akibat
adanya
impairment,
disability
yang
mencegahnya dari pemenuhan peranan
yang normal (dalam konteks usia, jenis
kelamin, serta faktor budaya) bagi orang
yang bersangkutan.
Tiga syarat yang harus dipenuhi untuk
mengatakan terdapat disabilitas yaitu durasi
waktu, tidak adanya aktivitas penting yang
berguna, dan adanya keterbatasan yang
dapat ditentukan secara medis. Seseorang
tidak dapat dikatakan memiliki disabilitas
bila ia dapat memiliki penghasilan lebih
besar daripada penghasilan minimum yang
ditentukan walaupun ia mungkin hanya bisa
bekerja paruh waktu pada pekerjaan mereka
yang lama dan pendapatannya lebih rendah
daripada pendapatan sebelumnya.
Beberapa definisi lain tentang
disabilitas dikemukakan oleh para ahli,
diantaranya yaitu : Vash (1981;22-33)
membuat perbedaan antara kata disability“.
Mengacu pada adanya kekurangan secara
fisiologis, anatomis maupun psikologis yang
disebabkan oleh luka, kecelakaan maupun
cacat sejak lahir dan cenderung menetap,
dengan kata handicap, mengacu pada
rintangan yang dialami individu saat dia
berupaya melakukan tugas sehari-hari, yang
diakibatkan oleh kekurangan tersebut”.
Definisi tersebut serupa dengan yang
diutarakan oleh Wright (1960:9). “Disability
merupakan kondisi yang tidak lengkap, baik
secara fisisk maupun mental, sementara
handicap adalah rintangan-rintangan yang
dialami individu saat dia mencoba
mengerahkan kemampuan maksimalnya,
namun terhalang oleh kondisi yang ia alami”.
Tinjauan tentang Disabilitas
Disabilitas
didefinisikan
sebagai
ketidakmampuan untuk terlibat dalam
aktivitas penting yang berguna oleh karena
keterbatasan fisik/mental yang dapat
ditentukan secara medis dan dapat
berakibat kematian atau telah berlangsung
atau diperkirakan akan berlangsung secara
terus menerus dalam kurun waktu tidak
94
Penyandang disabilitas adalah setiap
orang yang mempunyai kelainan fisik
dan/atau mental, yang dapat mengganggu
atau merupakan rintangan dan hambatan
baginya
untuk
melakukan
secara
selayaknya (UU Nomor 4 tahun 1997).
Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 1980
tentang Usaha Kesejahteraan Sosial
Penyandang Cacat menyatakan bahwa:
”Penderita cacat adalah seseorang yang
menurut ilmu kedokteran dinyatakan
mempunyai kelainan fisik atau mental yang
oleh karenanya merupakan suatu rintangan
atau
hambatan
baginya
untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan secara
layak”. Terdiri dari : cacat tubuh, cacat netra,
cacat mental, cacat rungu wicara, dan cacat
bekas penyandang penyakit kronis.
Menurut UU Nomor 4 tahun 1997,
penyandang disabilitas netra adalah
seseorang yang berusia lebih dari 18
tahun yang buta kedua matanya atau
kurang awas (low vision) sehingga
menimbulkan gangguan atau menjadi
lambat untuk melakukan kegiatan seharihari secara layak/wajar.
Indikator :
a. Seseorang (laki-laki/perempuan) yang
berusia lebih dari 18 tahun
b. Buta total (buta kedua mata), yang kedua
matanya tidak dapat melihat (hanya
dapat meraba hal yang diperlukannya
saat itu)
c. Masih mempunyai sisa penglihatan atau
kurang awas (low vision) yaitu pasien
dengan penurunan fungsi penglihatan
keadaan ini masih dapat diatasi dengan
rehabilitasi ataupun alat bantu seperti
kaca mata khusus low vision untuk
melakukan kegiatan sehari-hari.
Semua
aspek
diatas
dapat
menimbulkan gangguan seperti aspek fisik,
psikis, sosial, vokasional :
Aspek fisik : Hambatan untuk
melakukan suatu aktivitas sehari-hari
(makan, Mandi Cuci Kakus serta beribadah);
kerbatasnya untuk melakukan kegiatan fisik
(berlari atau berjalan);kKetidaknormalan
bentuk mata (mata tidak dapat melihat)
Aspek psikis : meskipun tidak selalu
namun cenderung : menutup diri kurangnya
keinginan untuk mengutarakan maksud
terlihat dari jarang keluar rumah karena
merasa malu untuk keluar rumah; kurang
percaya diri tidak mau menampilkan dirinya
untuk berkomunikasi dengan orang lain baik
di lingkungan keluarga, tetangga; pesimis,
ketidakyakinan pada kemampuan diri sendiri
untuk memperoleh yang diharapkan; masa
bodoh yaitu
tidak
perduli
terhadap
lingkungan dan orang disekitarnya; malu
bergaul karena merasa dirinya memiliki
kekurangan dibandingkan dengan orang
lain; cepat putus asa (mudah menyerah
terhadap apa yang dia kejar atau
diharapkan); mudah tersinggung dan marah
karena merasa disakiti, dihina dan
dipermalukan.
Aspek sosial : kemampuan bergaul
terbatas karena cenderung untuk menutup
diri sehingga ia tidak memiliki banyak teman;
Relasi sosial cenderung inklusif/tertutup
karena dengan keadaannya, ia merasa malu
untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial;
Integrasi sosial lamban (sulit menyesuaikan
diri terhadap lingkungan sosial).
Aspek vokasional : kesempatan
kerja menjadi terbatas, sulit mendapat
pekerjaan atau bahkan tidak memiliki
pekerjaan karena kurangnya fungsi anggota
tubuh.
Tinjauan Tentang Pemilu
Berdasarkan UU no 3 tahun 2009,
pemilihan umum merupakan sarana politik
untuk mewujudkan kehendak rakyat dalam
hal memilih wakil-wakil mereka di lembaga
legislatif
serta
memilih
pemegang
kekuasaan eksekutif baik itu presiden/wakil
presiden maupun kepala daerah. Pemilihan
umum bagi suatu Negara demokrasi
berkedudukan sebagai sarana untuk
menyalurkan hak asasi politik rakyat.
Pemilihan umum memiliki arti penting
sebagai berikut:
a. Untuk mendukung atau mengubah
personel dalam lembaga legislative.
b. Membentuk dukungan yang mayoritas
rakyat dalam menentukan pemegang
kekuasaan eksekutif untuk jangka
tertentu.
c. Rakyat melalui perwakilannya secara
berkala
dapat
mengoreksi
atau
mengawasi kekuatan eksekutif.
Pada pemerintahan yang demokratis,
pemilihan
umum
merupakan
pesta
demokrasi. Secara umum tujuan pemilihan
umum adalah :
a. Melaksanakan kedaulatan rakyat
b. Sebagai perwujudan hak asas politik
rakyat
c. Untuk memilih wakil-wakil rakyat yang
duduk di lembaga legislatif serta memilih
Presiden dan wakil Presiden.
95
d. Melaksanakan
pergantian
personel
pemerintahan secara aman, damai, dan
tertib.
e. Menjamin
kesinambungan
pembangunan nasional
mandat rakyat kepada pemimpin yang dipilih
untuk menjalankan roda pemerintahan.
Pemimpin politik yang terpilih berarti
mendapatkan legitimasi (keabsahan) politik
dari rakyat. Kelima, pemilu merupakan
sarana partisipasi politik masyarakat untuk
turut serta menetapkan kebijakan publik.
Melalui pemilu rakyat secara langsung dapat
menetapkan kebijakan publik melalui
dukungannya kepada kontestan yang
memiliki program-program yang dinilai
aspiratif dengan kepentingan rakyat.
Kontestan yang menang karena didukung
rakyat harus merealisasikan janji-janjinya itu
ketika
telah
memegang
tampuk
pemerintahan.
Menurut Ramlan Surbakti (1992),
kegiatan pemilihan umum berkedudukan
sabagai :
a. Mekanisme untuk menyeleksi para
pemimpin dan alternatif kebijakan
umum
b. Makanisme untuk memindahkan
konflik kepentingan dari masyarakat
ke lembagag-lembaga perwakilan
melalui wakil rakyat yang terpilih,
sehingga integrasi masyarakat tetap
terjaga.
c. Sarana
untuk
memobilisasikan
dukungan rakyat terhadap Negara
dan pemerintahan dengan jalan ikut
serta dalam proses politik.
Hak
dan
Kewajiban
Penyandang
Disabilitas Dalam Pemilihan Umum
Penyandang
Disabilitas
adalah
Orang yang memiliki keterbatasan fisik,
mental, intelektual, atau sensorik dalam
jangka waktu lama yang dalam berinteraksi
dengan
lingkungan
dan
sikap
masyarakatnya menemui hambatan yang
menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan
efektif berdasarkan kesamaan hak. Oleh
karena itu, pengakuan bahwa diskriminasi
berdasarkan
disabilitas
merupakan
pelanggaran terhadap martabat dan
nilai
yang melekat pada setiap orang/manusia
(UU
No.19
Tahun
2011
Tentang
pengesahan
hak-hak
penyandang
disabilitas).
Setiap
warga
Negara,
tanpa
membedakan jenis disabilitas baik yang
bersifat mental, fisik, kejiwaan, syaraf, atau
jenis disabilitas lainnya, memiliki hak dan
kesempatan :
a. Untuk mendapatkan akses berdasarkan
persyaratan umum tentang persamaan
hak untuk melaksanakan kegiatan
masyarakat baik secara langsung
maupun tidak langsung melalui wakil
yang dipilih secara bebas.
b. Untuk beerperan serta berdasarkan
persyaratan umum tentang persamaan
hak dalam melakukan pemilihan.
c. Untuk mendaftar bagi, dan untuk
memberikan hak suara dalam pemilihan
secara murni dan berkala, pemungutan
suara dan yang bersifat plebesit
berdasarkan hak pilih yang sama.
d. Untuk
memberikan
suara
dalam
pemungutan suara yang bersifat rahasia.
e. Untuk memilih, dipilih, dan untuk
menjalankan perintah setelah dipilih.
Dalam perspektif demokrasi, pemilu
memiliki beberapa manfaat. Pertama,
pemilu
merupakan
implementasi
perwujudan kedaulatan rakyat. Asumsi
demokrasi adalah kedaulatan terletak di
tangan rakyat. Karena rakyat yang berdaulat
itu tidak bisa memerintah secara langsung
maka melalui pemilu rakyat dapat
menentukan wakil-wakilnya dan para wakil
rakyat tersebut akan menentukan siapa
yang
akan
memegang
tampuk
pemerintahan. Kedua, pemilu merupakan
sarana untuk membentuk perwakilan politik.
Melalui pemilu, rakyat dapat memilih wakilwakilnya
yang
dipercaya
dapat
mengartikulasikan
aspirasi
dan
pepentingannya. Semakin tinggi kualitas
pemilu, semakin baik pula kualitas para
wakil rakyat yang bisa terpilih dalam
lembaga perwakilan rakyat. Ketiga, pemilu
merupakan sarana untuk melakukan
penggantian
pemimpin
secara
konstitusional. Pemilu bisa mengukuhkan
pemerintahan yang sedang berjalan atau
untuk mewujudkan reformasi pemerintahan.
Melalui pemilu, pemerintahan yang aspiratif
akan dipercaya rakyat untuk memimpin
kembali dan sebaliknya jika rakyat tidak
percaya maka pemerintahan itu akan
berakhir dan diganti dengan pemerintahan
baru yang didukung oleh rakyat. Keempat,
pemilu merupakan sarana bagi pemimpin
politik untuk memperoleh legitimasi.
Pemberian suara para pemilih dalam pemilu
pada dasarnya merupakan pemberian
96
Hak-hak
ini
dijamin
tanpa
membedakan
golongan,
termasuk
penyandang
disabilitas,
dan
tanpa
perkecualian selain yang di benarkan dalam
suatu masyarakat yang bebas dan bersifat
demokrasi. (covenan hak sipil dan politik)
Demokrasi adalah pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Negara
yang demokratis adalah negara yang
kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat.
Penyandang disabilitas sebagai bagian
rakyat Indonesia yang berjumlah 10%
memiliki
hak
kedaulatan
rakyat
sebagaimana
warga
Negara
lainya.
Terdapat sejumlah prinsip dasar dalam
demokrasi, yakni:
a. Adanya kesempatan yang sama bagi
anggota masyarakat termasuk warga
disabilitas
untuk
mengungkapkan
pandangan dan kepentingannya dalam
pembuatan, pelaksanaan dan evaluasi
kebijakan.
b. Adanya kesempatan bagi penyandang
disabilitas dan kelompoknya untuk
memperjuangkan
pandangan
dan
kepentingan baik secara individual
maupun bersama-sama.
c. Adanya perlakuan yang sama dari
pemerintah terhadap pandangan dan
kepentingan yang diperjuangkan itu,
tanpa
membeda-bedakan
warga
disabilitas dan non disabilitas.
Pemilu bagi penyandang disabilitas
memberikan dampak kesejahteraan sosial.
Penyelenggaraan pemilu yang aksesibel
dan non diskriminasi berdampak pada
peningkatan dan kepedulian masyarakat
luas terhadap penyandang disabilitas.
Stigma negatif dan prasangka buruk selama
ini akan terikikis. Masyarakat sadar bahwa
penyandang disabilitas mempunyai hak
politik yang sama.
Partisipasi penyandang disabilitas
dalam politik diawali oleh Panitia Hari
Intenasional Penyandang Cacat (HIPENCA)
yang mengadakan seminar sehari dengan
tema “Demokratisasi Politik Melalui Sistem
Pemilu” pada tanggal 1 Desember 2001 di
Jakarta. Seminar sehari itu terus ditindak
lanjuti dengan berbagai pertemuan dari
berbagai organisai disabilitas.Hasilnya pada
tanggal 24 April 2002 terbentuklah
organisasi Pusat Pemilihan Umum Akses
Penyandang Cacat.
Sebagai
puncak dari gerakan
advokasi hak politik disabilitas ialah
ditandatanganinya
nota
kesepahaman
antara ketua KPU dengan Ketua Umum
PPUA PENCA Tentang Peningkatan
Partisipasi Penyandang Disabilitas Dalam
Pemilihan
Umum
Anggota
Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan
Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Dan Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil
Presiden Serta Pemilihan Gubernur, Bupati
Dan Walikota Dalam Rangka Perwujudan
Kesetaraan Hak Politik Setiap Warga
Negara Republik Indonesia.Diharapkan
setelah adanya Nota Kesepahaman ini
partisipasi politik pemilih disabilitas dapat
meningkat di seluruh Indonesia. MOU ini
akan menjadikan kerjasama antara KPUD
dengan jaringan PPUA Penca di 33 Provinsi
berjalan lancar dan bermanfaat.
Dengan meningkatnya partisipasi
politik disabilitas dalam Pemilu diharapkan
akan menghilangkan diskriminasi dan
mewujudkan kesetaraan perlakuan dibidang
Pemilu yang akan merembet ke berbagai
bidang kehidupan dan kesejahteraan
penyandang disabilitas.
OBJEK DAN METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kualitatif, dimana
peneliti bertujuan untuk mendeskripsikan
dan
menganalisa
partisipasi
politik
penyandang disabilitas netra dalam proses
pemilihan umum tahun 2014 di Kota
Bandung.
Penelitian ini dilaksanakan di Panti
Sosial Bina Netra (PSBN) “Wyata Guna”
Bandung, dimana sebagian besar dari
penyandang disabilitas Netra melakukan
pencoblosan/menggunakan hak suaranya
dalam pemilihan calon presiden dan wakil
presiden 2014 periode 2014-2019 di 2 (dua)
TPS yang diselenggarakan di PSBN Wyata
Guna Bandung.
Penelitian ini difokuskan di Panti Sosial
Bina Netra (PSBN) “Wyata Guana”
Bandung, dengan beberapa pertimbangan.
Pertama, pertimbangan praktis, yaitu
kemudahan akses bagi peneliti, karena
peneliti bertempat tinggal di Kota Bandung,
kedua, PSBN Wyata Guna Bandung
merupakan salah satu tempat pembinaan
khusus bagi penyandang disabilitas Netra di
Jawa Barat serta memiliki jumlah yang
cukup banyak dibandingkan tempat yang
lainnya, ketiga permasalah yang terkait
dengan pertisipasi politik penyandang
disabilitas merupakan masalah yang umum
terjadi di Indonesia, sehingga kota Bandung
97
cukup mewakili daerah yang bisa dijadikan
lokasi penelitian ini.
Teknik penarikan sampel dilakukan
dengan menggunakan Purposive, yaitu
penarikan sampel berdasarkan tujuan
penelitian dengan menggunakan kriteria
sebagai berikut :
1) Penyandang Disabilitas netra yang telah
memiliki hak suraya yaitu berumur diatas
17 tahun atau sudah menikah dan
sedang mengikuti pembinaan di PSBN
Wyata Guna Bandung,
2) Petugas
KPU
yang
bertugas
melaksanakan
pemilu
di
Lokasi
Penelitian
3) Tokoh masyarakat/aparat pemerintahan
4) Bersedia dan memiliki waktu untuk
menjadi informan
Melalui teknik Purposive diperoleh
informan sebanyak 7 orang penyandang
disabilitas Netra
yang
satu
orang
diantaranya sebagai pegawai di PSBN
Wyata Guna Bandung, 2 orang Ketua RT
dan 1 orang ketua RW 03, 2 orang Petugas
KPU yang bertugas di TPS 5 dan 6 di
Wilayah PSBN Wyata Guna Bandung.
Sumber data yang dibutuhkan dalam
penelitian ini meliputi data primer dan data
sekunder.
1) Data Primer, merupakan data yang
diperoleh secara langsung dari sumber
data /informen tanpa melalui perantara.
Untuk mengumpulkan data primer dalam
penelitian
ini
digunakan
teknik
wawancara, observasi dan FGD (Focus
Group Discusion). Sumber data Primer
dalam
penelitian
ini
adalah
penyandang disabilitas, pegawai panti
sosial bina netra “Wyata Guna” Bandung,
Petugas KPU, Ketua RT dan RW. yang
berada di lokasi lokasi penelitian
2) Data Sekunder, merupakan data yang
diperoleh tidak secara langsung dari
sumber data. Untuk mengumpulkan data
sekunder dalam penelitian ini digunakan
teknik dokumentasi dan observasi. Data
sekunder yang dibutuhkan berupa
jumlah
Penyandang
disabilitas,
kebijakan-kebijakan yang terkait dengan
hak
dan
kewajiban
penyandang
disabilitas dalam melakukan partisipasi
politiknya dalam pemilihan umum.
Sumber data sekunder dalam penelitian
ini adalah dokumen-dokumen, data foto,
laporan-laporan yang berkaitan dengan
proses pendataan, sosialisasi dan
pelaksanaan pemilihan calon presiden
dan Wakil Presiden 2014 di PSBN Wyata
Guna Bandung.
Teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah: pertama :Indepth
interview, Wawancara dilakukan dalam
bentuk
wawancara
bebas
maupun
wawancara terpimpin. Dalam penelitian ini
wawancara dilakukan dengan memadukan
bentuk wawancara bebas dan terpimpin,
yaitu peneliti telah menyiapkan daftar
pertanyaan yang sistematis dan terperinci
untuk memperoleh data yang dibutuhkan
dari informan, namun juga memungkinkan
bagi peneliti untuk mencari informasi lebih
jauh dari daftar pertanyaan yang sudah ada
dengan indepth interview. Wawancara
dilakukan terhadap semua informan mulai
dari proses pendataan, sosialisasi sampai
pelaksanaan pemilu 2014.
Kedua studi dokumentasi dengan cara
pengumpulan data yang dilakukan dengan
kategorisasi dan klasifikasi bahan-bahan
tertulis
yang
berhubungan
dengan
penelitian, baik dari jurnal, buku, koran,
majalah ilmiah, dan lain-lain. Atau cara
mengumpulkan data tertulis berupa arsiparsip, termasuk juga buku-buku tentang
pendapat, teori, dalil, hukum, dan lain-lain
yang
berhubungan
dengan
proses
sosialisasi dan pelaksanaan pemilu 2014.
Ketiga,
Observasi
dilakukan
untuk
memperhatikan keadaan fisik dan ekspresi
informan ketika melakukan wawancara.
Observasi
juga
dilakukan
untuk
memperhatikan aktivitas informan dalam
melakukan kegiatan pada setiap tahapan
pemilu, mulai dari tahap pendataan,
sosialisasi sampai pada tahap pelaksanaan
pemilu tahun 2014.
Teknik analisa data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah teknik analisa
kualitatif. Analisa data, menurut Patton,
adalah proses mengatur urutan data,
mengorganisasikannya ke dalam satu pola,
kategori, dan satuan uraian dasar (Moleong,
1990; 103). Proses analisa data dimulai
dengan menelaah seluruh data yang telah
diperoleh dari berbagai sumber Kemudian
dilakukan reduksi data dengan jalan
membuat abstraksi Langkah selanjutnya
adalah menyusun data dalam satuansatuan. Satuan- satuan itu kemudian
dikategorisasikan pada langkah berikutnya
Pengkategorian itu dilakukan sambil
membuat koding. Tahap terakhir adalah
mengadakan pemeriksaan keabsahan data.
Setelah tahap ini selesai, maka baru
dilakukan penafsiran data (Moleong, 1990).
98
Sehingga tahap-tahap dalam analisa data
kualitatif meliputi: pemrosesan satuan data,
reduksi data, pengkategorisasian data
termasuk pemeriksaan keabsahan data, dan
penafsiran data.
Terakhir, peneliti menggunakan teknik
triangulasi yaitu melalui tiga tahapan
pengecekan: Pertama, triangulasi sumber
data, yaitu membandingkan data yang
diperoleh melalui teknik wawancara dengan
data hasil observasi dan survei. Kedua,
melakukan peer review untuk mengetahui
pendapat para peneliti dan pakar lain yang
melakukan penelitian serupa. Ketiga, peneliti
akan melakukan triangulasi teori, yaitu
membandingkan data empiris dengan kajian
teoritis yang telah berkembang dan diakui
kebenarannya.
Dalam penelitian ini Data diolah
dengan teknik kualitatif, dimulai dari
melakukan kategorisasi terhadap data yang
telah dikumpulkan berdasarkan aspek
Partisipasi Potitik. Kemudian pencermatan
terhadap hubungan antar data tersebut yang
dikaitkan dengan Hak dan kewajiban
penyandang disabilitas dalam mengikuti
pesta demokrasi pemilihan Calon presiden
dan wakil presiden tahun 2014 yang
dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali di
PSBN Wyata Guna Bandung.
orang sudah menetap di Wyata Guna antara
2-5 tahun. Satu orang peserta telah bekerja
di Wyata Guna selama 20 tahun, namun
tinggal di luar yang berjarak sekitar 15 km
dari kompleks Wyata Guna.
2)
Pemberian
Suara
Penyandang
Disabilitas Netra Pada Pemilihan
Presiden dan Wakil Presiden RI
Tahun 2014
Pemberian suara yaitu kegiatan yang
dilakukan oleh penyandang disabilitas Netra
di Panti Sosial “Wyata Guna” Bandung pada
pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI
tahun 2014. Kegiatan tersebut dilakukan
dengan cara mendatangi tangsung tempat
pemungutan suara (TPS) tanpa ada
paksaan dari pihak manapun. Tahap
pemungutan/pengambilan
suara
merupakan
puncak
dalam
kegiatan
pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI,
pada saat inilah masyarakat akan
mendatangi ke Tempat Pemungutan Suara
(TPS) yang disediakan untuk menyalurkan
suaranya, dengan memilih salah satu calon
Presiden dan wakil Presiden yang
ditawarkan oleh partai-partai/simpatisan
dalam Pilpres 2014.
Pemberian suara yang dilakukan oleh
penyandang disabilitas Netra di PSBN
“Wyata Guna” Bandung dalam pilpres tahun
2014 dapat terlihat pada proses pemberian
suara. Pertama dalam proses pemberian
suara penyandang disabilitas Netra tidak
dibedakan dengan masyarakat normal dari
prosedur maupun yang lainnya, adapun
proses pemberian suara, pertama pemilih
yaitu penyandang disabilitas Netra datang
ke tempat pemungutan suara (TPS) dan
langsung menerima surat suara, memasuki
bilik suara untuk melakukan pencoblosan
pasangan calon presiden dan wakil presiden
RI. Tahun 2014. Setelah melakukan
pencoblosan
pemilih
memperlihatkan
kepada panitia pemungutan suara (PPS)
untuk memastikan bahwa surat suara sudah
terlipat
dengan
benar
kemudian
memasukan surat suara ke dalam kotak
suara.
Berdasarkan hasil wawancara dan
observasi, tidak semua penyandang
disabilitas Netra turut serta berpartisipasi
memberikan suara/ hak pilihnya dalam
pemilihan presiden dan wakil presiden tahun
2014. Hal ini terjadi karena sebagian dari
penyandang
disabilitas
netra
tidak
mendapatkan surat panggilan. Hanya 4
(empat) orang dari 7 orang informan yang
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian yang dideskripsikan
pada bagian ini berdasarkan hasil
wawancara mendalam, observasi, studi
dokumentasi serta FGD (Forum Geoup
Discusion) yang dialnjutkan dengan proses
analisis data kualitatif
terkait dengan
rumusan permasalahan tentang Partisipasi
Politik Penyandang Disabilitas Netra di Panti
Sosial “Wyata Guna” Bandung dalam
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
Republik Indonesia tahun 2014 periode
2014-2019.
1) Karakteristik Informan
Karakteristik adalah ciri-ciri khusus,
mempunyai kekhususan atau suatu sifat
yang khas, yang melekat pada seseorang
atau suatu objek, seperti : jenis kelamin,
usia, dan ciri-ciri khusus lainnya seperti
jenis/tingkat kecacatan dll. Informan dalam
penelitian ini sebanyak 7 orang penyandang
disabilitas netra, 6 orang laki-laki, 1 orang
perempuan, yang berusia antara 20-43
tahun, dengan tingkat kecacatan 4 low
vision, 3 orang buta total, seluruh informan
berasal dari berbagai daerah di Indonesia. 6
99
mendapatkan
surat
panggilan
dan
menggunakan hak pilihnya, sementara 3
orang lainnya tidak bisa menggunakan hak
pilihnya
kerena
tidak
mendapatkan
panggilan.
Berdasarkan
pengakuan
informan dan penuturan pengelola panti,
pendataan calon pemilih dilakukan oleh
petugas dengan menggunakan data yang
ada di kantor Wyata Guna yang belum
diperbaharui selama beberapa tahun,
sehingga sebagian informan dianggap
belum memenuhi usia hak pilih. Para
informan yang tidak mendapatkan kartu
panggilan memilih sempat mempertanyakan
haknya untuk memilih meskipun tidak
tercatat sebagai penduduk setempat
dengan menggunakan KTP dan diganti
dengan lembar form A, tetapi tidak ada
tindak lanjut sampai waktu pemilihan.
Para informan menyebutkan jumlah
seluruh klien PSBN Wyata guna yang
memiliki hak suara ada sebanyak 220 orang,
namun
hanya
sekitar
120
yang
menggunakan hak suaranya di pemilihan
presiden tahun 2014, sedangkan sisanya
sekitar 100 orang tidak menggunakan hak
suaranya
karena
berbagai
alasan
diantaranya: tidak mendapatkan panggilan
(kartu suara), segaja tidak menggunakan
karena berpikiran tidak akan berpengaruh
terhadap kehidupannya, merasa tidak yakin
dengan pilihannya, dan sebagian lagi
beralasan tidak yakin bahwa janji-janji para
capres itu akan direalisasikan (bohong).
Terkait
dengan
upaya
para
penyandang disabilitas netra (yang tidak
mendapatkan surat panggilan) dalam
memperjuangkan hak suaranya mereka
sudah melapor ke RT setempat, dan ketua
RT
sudah
melanjutkan
ke
pihak
panitia/KPUD, namun sampai pada akhir
masa pemilihan para penyandang disabilitas
netra tidak mendapatkan surat panggilan
maupun jawaban/ alasan yang pasti kenapa
mereka tidak dapat menggunakan hak
suaranya.
Kesadaran penyandang disabilitas
untuk memberikan suara pada pemilihan
umum (pemilu) sudah cukup baik, tetapi hal
ini belum ditunjang dengan pendataan yang
jelas dari pihak komisi pemilihan umum
(KPU) maupun panitia pemungutan suara
(PPS).
Berdasarkan
hasil
wawancara
dengan salah satu penyandang disabilitas
fisik mengatakan bahwa pemilihan Presiden
dan Wakil Presiden RI. tahun 2014,
merupakan pertama kalinya ikut dalam
pemilihan umum (pemilu). Usianya saat ini
37 tahun dan sangat disayangkan sekali
baru mengikuti pencoblosan satu kali.
Menurutnya penyebab tidak mengikuti
pemilu bukan karena tidak ingin, tetapi ia
tidak memilih karena sebelumnya tidak
pernah terdaftar oleh panitia pemungutan
suara (PPS). Setelah lama tidak terdaftar
sebagi pemilih, pada tahun 2014 akhirnya
terdaftar sebagai pemilih dalam pemilihan
Pilpres RI. Tahun 2014.
Berdasarkan uraian diatas partisipasi
penyandang disabilitas dalam proses
pemberian suara pada pemilihan presiden
dan Wakil Presiden RI tahun 2014 dapat
dikatakan kurang baik, karena hanya 4
orang dari 7 orang informan yang
mendapatkan
surat
panggilan
dan
menggunakan hak pilihnya, sementara 3
orang lainnya tidak bisa menggunakan hak
pilihnya kerena tidak mendapatkan kertas
panggilan.
3) Keterlibatan Penyandang Disabilitas
Netra
dalam
Kegiatan
Sosialisasi/Kampanye Pemilu 2014
Pengakuan dari ke 7 informan
menyatakan
bahwa
mereka
tidak
mendapatkan panggilan/informasi untuk
mengikuti kegiatan sosialisasi dan tidak ada
simulasi praktek/tata cara memungutan
suara pada saat persiapan pemilihan calon
presiden 2014. Mereka tahu tentang
kegiatan simulasi karena pernah dilibatkan
pada proses sosialisasi/simulasi pada saat
pemilihan legislatif. Namun menurut mereka
simulasi tersebut berbeda dengan proses
pemilihan presiden, hanya saja karna calon
presiden dan wakil presiden RI tahun 2014
hanya dua pilihan, mereka merasa lebih
mudah dibandingkan dengan saat pemilihan
legislatif, cukup menghapalkan kiri dan
kanan.
Pada kegiatan kampanye semua
responden
menyatakan
pernah
terlibat/diikutsertakan
untuk
mengikuti
kegiatan kampanye yang diselenggarakan
oleh tim sukses atau simpatisan salah satu
calon presiden bekerjasama dengan
komunitas
disabilitas
netra
dan
menggunakan fasilitas panti dalam bentuk
sosialisasi program dan dukungan/janji
apabila calon tersebut terpilih akan
memberikan dukungan penuh terhadap
penyandang disabilitas untuk diprioritaskan
dalam pemenuhan kebutuhannya. Kegiatan
kampanye ini dilaksanakan di gedung
Auditorium PSBN Wyata Guna yang
100
diselenggarakan pada bulan ramadhan
yang diawali dengan buka puasa bersama
dan diikuti oleh hampir seluruh klien yang
tinggal di PSBN Wyata Guna.
Selain itu 4 orang dari 7 informan
menyatakan
mengikuti
dan
menandatangani
deklarasi
dukungan
terhadap salah satu calon dan mengikuti
kampanye/ dukungannya di Jakarta.
Kesertaan mereka bersama-sama dengan
klien panti lainnya, menggunakan 3 buah
bis, difasilitasi oleh simpatisan salah satu
calon presiden dan komunitas disabilitas
netra.
Berdasarkan uraian diatas dapat
dikatakan
bahwa
partisipasi
politik
penyandang disabilitas Netra dalam
Keterlibatan penyandang disabilitas dalam
kegiatan sosialisasi/ kampanye Pemilu 2014
dapat dikatakan cukup baik. Dilihat dari
empat orang dari tujuh dari informan ikut
terlibat dalam kegiatan kampanye dan
menandatangani deklarasi dukungan yang
mewakili penyandang disabilitas.
kesejahteraan maupun berpihak pada
penyandang
disabilitas.
Sehingga
penyandang disabilitas merasa tidak ada
yang perlu di dukung. Tetapi meskipun
demikian ketua PPCI Kota Bandung tidak
melakukan golongan putih (golput) dan tetap
memberikan
hak
suaranya,
dan
menghimbau
sesama
penyandang
disabilitas di Kota Bandung untuk turut
berpartisipasi dan mensukseskan Pemilihan
Calon Presiden dan Wakil Presiden RI tahun
2014.
Berdasarkan uraian diatas dapat
dikatakan
bahwa
partisipasi
politik
penyandang disabilitas Netra dalam
keterlibatan penyandang disabilitas dalam
organisasi politik dapat dikatakan belum
cukup baik. Dilihat dari ketujuh informan
tidak ada satupun yang ikut terlibat dalam
organisasi politik karena tidak ada yang
mewakili penyandang disabilitas.
5) Keterlibatan Penyandang Disabilitas
dalam
Melakukan
Diskusi
Publik/Rapat Umum
Diskusi publik/Rapat umum adalah
kegaiatan yang dilakukan penyandang
disabilitas Netra disuatu tempat guna
membahas
masalah-masalah
maupun
mengajukan kebijakan yang berhubungan
dengan
masalah
disabilitas
kepada
pemerintah. Dalam perumusan kebijakan
penyandang disabilitas mempunyai hak
untuk berpendapat dan memberikan
masukan
kepada
pemerintah
untuk
membuat kebijakan yang berpihak kepada
penyandang disabilitas Kota Bandung, rapat
umum meliputi : diskusi formal ditingkat Kota
Madya, diskusi formal ditingkat Provinsi dan
Lokasi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan
salah satu pengurus Panti Sosial Bina Netra
“Wyata Guna” Bandung, Penyandang
Disabilitas Netra netra dapat diakatakan
bahwa penyandang tuna netra cukup sering
mengikuti diskusi formal di tingkat Kota
Bandung, tetapi dengan bentuk audensi.
Audensi biasa diselenggarakan oleh Dinas
sosial, Dinas Bina Marga, DPRD Kota
Bandung dan komisi pemilihan umum (KPU)
Kota Bandung. Dalam audensi materi yang
dibahas mengenai masalah pemberdayaan
dan fasilitas bagi penyandang disabilitas di
Kota Bandung, penyandang disabilitas netra
diberi kesempatan untuk melakukan tanya
jawab dan mengajukan pendapat.
Berdasarkan hasil wawancara dengan
ke-7
orang
informan
(penyandang
4) Kerlibatan Penyandang Disabilitas
Netra dalam Organisasi Politik
Keterlibatan dalam organisasi politik
sangat penting dalam pemilihan calon
presiden dan Wakil presiden RI. Tahun 2014
karena
dapat
membantu
dalam
meningkatkan hasil perolehan suara bahkan
bisa memenangkan pemilihan salah satu
calon presiden dan wakil presiden.
Berdasarkan hasil wawancara dengan
pengurus PSBN “Wyata Guna Bandung,
ada beberapa penyandang disabilitas netra
yang terlibat dalam organisani politik dan
menjadi Tim sukses dalam pemilihan calon
presiden dan wakil presiden RI. Hal ini
terjadi karena banyak para pejabat/partai
politik/anggota
dewan
yang
sering
berkunjung ke PSBN Wyata guna, sehingga
beberapa penyandang disabilitas dilibatkan
oleh beberapa partai politik untuk menjadi
Tim sukses salah satu calon presiden dan
wakil presiden RI.
Berdasarkan hasil wawancara, semua
informan (7orang) mengatakan dirinya tidak
pernah dan tidak berminat untuk terlibat
dalam organisasi politik yang berafiliasi atau
yang menjadi bagian dari organisasi
pendukung salah satu calon presiden
karena menurutnya dalam menyampaikan
visi dan misi serta mempromosikan program
kerja seluruh pasangan calon presiden dan
wakil presiden RI periode 2014-2019 tidak
ada yang mempunyai program khusus bagi
101
Disabilitas Netra) menyatakan tidak pernah
mengikuti diskusi formal, Faktor penyebab
tidak mengikuti diskusi formal tersebut
akibat keterbatasan fisik dan keberanian/
kemampuan untuk berbicara di depan
umum. Tetapi secara informal, 5 orang dari
7 orang informan menyatakan ikut terlibat
dalam diskusi kelompok secara informal
(bukan pormal/publik), hal ini biasa
dilakukan setelah selesai mendengarkan
debat calon presiden dan wakil presiden
yang disiarkan langsung di televisi, serta
selesai
mengikuti
kampanye
yang
diselenggarakan di Auditorium PSBN Wyata
Guna.
Dari acara debat, ke-5 informan
menentukan pilihannya dengan kriteria visi
terkait kemandirian bangsa, ketegasan, dan
kepedulian
terhadap
penyandang
disabilitas. Satu orang peserta sesekali
mengikuti acara debat di TV, namun tidak
mempercayai isi yang dijanjikan, dan
memilih berdasarkan simpati terhadap salah
satu capres yang menurutnya banyak
dipandang rendah oleh rekan-rekannya
yang lain, sedangkan 2 orang lainnya
menentukan pilihan berdasarkan simpatisan
salah satu tim sukses capres dan cawapres
yang pernah melakukan kampanye di Wyata
Guna.
Berdasarkan uraian diatas dapat
dikatakan
bahwa
partisipasi
politik
penyandang disabilitas Netra dalam
Keterlibatan penyandang disabilitas dalam
melakukan diskusi publik/rapat umum dapat
dikatakan belum cukup baik. Dilihat dari
ketujuh informan tidak ada satupun yang ikut
terlibat dalam diskusi publik/rapat umum
karena tidak ada minat dan tidak
mempunyai kemampuan untuk berbicara
didepan umum.
Kekhususannya, di kedua TPS sudah
disediakan kertas suara yang diperuntukkan
khusus bagi penyandang disabilitas netra
dengan menggunakan tulisan braile,
walaupun menurut pengakuan informan
kertas suaranya tidak jelas (kurang timbul,
sehingga masih sulit diraba). Selain itu ada
petugas yang membantu mereka menuju
bilik suara, dan tempat pemungutan
suaranya pun ada di lokasi panti Wyata
Guna mudah diakses oleh informan.
Sedangkan
satu
informan
menggunakan hak pilihnya di lokasi TPS
umum di dekat tempat tinggalnya di luar
Wyata Guna. Menurutnya, tidak ada
kesulitan berarti dalam mencapai lokasi
karena berdekatan dengan rumahnya.
Dalam proses pun tidak ada kesulitan
karena dipandu oleh petugas TPPS mulai
dari pendaftaran, mengenali surat suara,
menuju bilik pemilihan, sampai selesai. Ia
tidak mengalami kesulitan dalam mencoblos
karena pilihannya hanya 2, dan mudah
menentukan antara posisi gambar kiri dan
kanan.
Empat informan yang memiliki kertas
suara tetap merasakan adanya diskriminasi
disaat
informan
mendatangi
TPS
berbarengan dengan warga yang normal.
Mereka disuruh menunggu karena panitia
mendahulukan orang normal) menurut
pengakuan informan mungkin karena akan
menghambat proses pemberian suara,
karna penyandang disabilitas akan lebih
lama dan perlu pendamping. Hal ini tidak
dialami oleh informan yang memilih di luar
Wyata Guna, sementara 3 informan lainnya
yang
tidak
memiliki
kertas
suara
menyatakan sangat kecewa sebab mereka
diinformasikan untuk berkumpul
pukul
13.00 dengan membawa KTP, tapi sampai
waktu akhir prmungutan suara mereka tidak
diberikan kesempatan untuk melakukan
pemilihan.
6) Hambatan Penyandang Disabilitas
Netra dalam proses Pemilihan Calon
Presiden dan wakil Presiden tahun
2014
Dalam pelaksanaannya, 5 dari 7
informan menggunakan hak pilihnya. Empat
diantaranya
yang
mengikuti
proses
pemilihan menyatakan tidak mendapatkan
kedala/hambatan yang berarti pada proses
pemilu,
karena
disediakan
tempat
pemungutan suara (TPS) di dalam area
Wyata Guna TPS 5 dan 6 RW 03 Kelurahan
Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Kota
Bandung (ada 2 TPS). Kedua TPS tersebut
digunakan bersama-sama dengan pemilih
lain
yang
bukan
disabilitas netra.
7) Harapan
Penyandang
Disabilitas
dalam Pelaksanaan Pemilihan Umum
a. Untuk pemilihan presiden sudah cukup
baik, namun untuk pemilihan anggota
legislatif
diharapkan
ada
penyederhanaan dalam hal kertas suara
karena terlalu banyak pilihannya. Bahkan
diharapkan agar diubah dengan hanya
memilih partainya saja agar lebih
sederhana.
b. Untuk pemilih penyandang disabilitas
netra sebaiknya disiapkan kartu suara
yang menggunakan huruf braille dengan
102
Saran
1) Bagi penyelenggara pemilu supaya
mempertimbangkan secara menyeluruh
atas kepentingan penyandang disabilitas
dalam mempersiapkan norma, struktur,
infrastruktur, aparatur, dan
proses
penyelenggaraan pemilu, sejak dari
mulai tahap pendataan pemilih. Serta
melakukan pendataan mengenai jumlah
pemilih penyandang disabilitas. Karena
data yang masuk tidak dibedakan antara
masyarakat normal dan masyarakat
penyandang disabilitas. Sehingga jumlah
penyandang disabilitas yang berhak
memberikan suara pada pemilihan
Presiden dan Wakil presiden RI. tahun
2014 tidak dapat diketahui dengan pasti.
2) Bagi pengelola Wyata Guna perlu
memastikan aktualitas data warga,
melakukan sosialisasi dan simulasi
secara memadai untuk menjamin seluruh
warga terdaftar, faham dan mau
menggunakan hak suaranya serta
memfasilitasi
atau
membantu
penyelenggara
pemilu
dalam
penyediaan TPS yang dilengkapi dengan
fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan
penyandang disabilitas netra. Masalah
tersebut mungkin akan dapat teratasi
apabila pendataan daftar pemilih
penyandang
disabilitas
lebih
di
tingkatkan. Karena berdasarkan hasil
observasi dilapangan di komisi pemilihan
umum (KPU) Kota Bandung dan KPU
Jawa Barat tidak tersedia.
kualitas baik, tidak seperti sekarang yang
hanya ada di Wyata Guna dan
kualitasnya pun kurang teraba, agar tidak
perlu dipandu oleh petugas hingga ke
tahap pencoblosan, demi kerahasiaan
pilihan. Juga perlunya penambahan dan
perbaikan fasilitas lain di lokasi TPS
untuk mempermudah pemilih disabilitas
netra
c. Ada perlakuan yang sama terhadap
disabilitas netra sebagai pemegang hak
suara, jangan dipandang sebagai
penambah kesulitan proses pemilu di
TPS
sehingga
dinomorduakan
pelayanannya.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Kesadaran penyandang Disabilitas
Netra atas hak partisipasi politiknya telah
cukup terbangun dengan melihat bahwa
suara mereka juga dibutuhkan untuk
mengangkat
kepedulian
pemerintah
terhadap hak-hak penyandang diasbilitas.
Namun pada pelaksanaannya, masih
banyak penyandang disabilitas netra gagal
menggunakan
hak
suaranya
dalam
pemilihan presiden karena persoalan proses
pendataan dan administrasi yang lemah dari
penyelenggara pemilihan. Pada tahap
proses sosialisasi tidak ada sosialisasi
khusus tentang pemilihan umum presiden
kepada
warga
disabilitas netra
di
WyataGuna, sehingga sebagian warga
disabilitas netra memilih untuk tidak
menggunakan hak pilihnya.
Secara umum, sebagian warga
disabilitas netra menunjukkan minat dan
keterlibatan yang tinggi dalam proses
menentukan pilihan, dengan cara mengikuti
acara debat capres di televisi dan mengikuti
kegiatan
kampanye
capres
secara
terorganisasi, dan menggunakan kriteria
yang logis dalam menentukan pilihannya
berdasar pengenalannya terhadap capres.
Namun sangat disanyangnya, bahwa
perhatian pemerintah terhadap hak politik
penyandang
disabilitas,
utamanya
Penyandang disabilitas netra, belum disertai
dengan
upaya
implementasi
yang
terencana, sistematis, dan praktis untuk
menyiapkan fasilitas dan mengurangi
kendala,
termasuk
menghilangkan
perlakuan yang bernuansa diskriminatif
dalam pelayanan oleh penyelenggara lokal.
DAFTAR RUJUKAN
Amien Rais, Mohammad. 2008. Agenda
Mendesak
Bangsa
Selamatkan
Indonesia. Yogyakarta, PPSK Press.
Budiarjo, Miriam, 2002. Dasar- Dasar Ilmu
Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama
Isbandi Rukminto Adi. (2007). Perencanaan
Partisipatoris
Berbasis
Aset
Komunitas: dari Pemikiran Menuju
Penerapan. Depok: FISIP UI Press.
Leisher, Susannah Hopkins & Stefan
Nachuk. 2006. Making Services Work
for the Poor: A Syinthesis of Nine
Case Studies from Indonesia.
Available
online
at
http://www.innovations.harvard.edu/
Moloeng, Lexy, 1990, Metode Penelitian
Kualitatif,
Bandung:
Remaja
Rosdakarya.
103
Nawawi, Hadari dan Martini Hadari, 1995,
Instrumen Penelitian Bidang Sosial,
Yogyakarta.
Ramlan, A, Sistem Politik Indonesia,
2007.Yogyakarta: Penerbit Graha
Ilmu,.
Samuel
P.
Huntington
dan
Joan
Nelson, 1990.Partisipasi Politik di
Negara Berkembang, Jakarta: Rineka
Cipta, h. 9-10. Ibid.
Silvia Bolgherini , 2010. “Participation”
Hyperpolitics:
An
Interactive
Dictionary of Political Science
Concept (Chicago: The University of
Chicago) p. 169.
Subakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu
Politik. Jakarta: Gramedia.
Thomas M. Magstadt and Peter M.
Schotten, 1988. Understanding
Politics, : Ideas, Institutions and
Issues
(Belmont:
Cengage
Learning) pp. 273-82
Oscar Garcia Luengo, 2006.E-Activism
New
Media
and
Political
Participation in Europe, (CONFines
2/4 agosto-diciembre).
Vash, C.L., 1981. The Psychology of
disability. New York : Spinger
publihing company.
Wright, B.A., 1960. Psycal disability : A
Psychologycal Approach. New York :
Harper & Brother Publishers
LAN,
2008, Kajian Pelayanan Untuk
Masyarakat
Dengan
Kebutuhan
Khusus, LAN RI. Jakarta
World Heald Organizations. 2008.
Magnitude and cause of visual impairment,
diunduh 28 april 2014.
http://www.who.Int/mediacenter/factsheets/f
s 282/en/
Sumber Lain :
Undang-undang Dasar 45.
Undang-undang No. 4 tahun 1997 tentang
Penyandang cacat.
Peraturan
Menteri
Sosial
Republik
Indonesia Nomor 08 tahun 2012
tentang Pedoman Pendataan dan
pengelolaan Penyandang Masalah
Kesejahteraan Sosial dan Potensi
dan Sumber Kesejahteraan Sosial.
Peraturan KPU No. 3 tahun 2009 tentang
Pedoman
Teknis
Pelaksanaan
Pemungutan
dan
Penghitungan
Suara
UU No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia
Resolusi PBB No. 48 tahun 1993 mengenai
Peraturan
Standar
tentang
Persamaan
Kesempatan
bagi
Penyandang disabilitas
Peraturan KPU No. 29 tahun 2009 tentang
Pedoman
teknis
pelaksanaan
pemungutan suara dan perhitungan
suara pemilihan presiden dan wakil
presiden.
104
STUDI KELAYAKAN PEMEKARAN WILAYAH KABUPATEN BEKASI
Fernandes Simangunsong 3
Abstrak
Data menunjukkan di era reformasi sejak tahun 1999 hingga sekarang tercatat 171 daerah
otonom baru telah terbentuk, terdiri atas 7 (tujuh) provinsi, 135 kabupaten dan 31 kota, yang
diusulkan oleh daerah berdasarkan aspirasi masyarakat. Fakta tersebut menggambarkan bahwa
dalam perjalanan implementasi kebijakan otonomi daerah, pemekaran/pembentukan daerah baik
di provinsi maupun kabupaten/kota telah banyak dilakukan. Hal ini dapat dimaklumi, sebab
substansi pemekaran/pembentukan daerah dimaksudkan untuk mendekatkan pelayanan
organisasi pemerintah kepada masyarakat. Melalui pemekaran/pembentukan daerah diharapkan
tujuan kebijakan otonomi daerah seperti peningkatan pelayanan, demokratisasi dan
pemberdayaan masyarakat dapat terwujud.
Kata kunci : Pemerintah Daerah, Otonomi Daerah, Pelayanan Publik.
Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Bekasi
Sumber : Kab. Bekasi Dalam Angka 2007
PENDAHULUAN
Kondisi faktual Kabupaten Bekasi
saat ini dengan wilayah seluas 127.388 ha,
dan jumlah penduduk sebanyak 2.027.092
jiwa, dengan tingkat kepadatan 1.465 jiwa
per km2, serta susunan administrasi
pemerintahan yang terdiri dari 23
kecamatan, 187 desa, dapat memberikan
gambaran
beban
penyelenggaraan
pemerintahan yang dilaksanakan.
Adanya aspirasi masyarakat di
Kabupaten Bekasi yang menghendaki
adanya pemekaran/pembentukan daerah
otonom baru di wilayah Bekasi Selatan perlu
mendapat respon dari berbagai pihak
utamanya Pemerintah Daerah dan DPRD
3
sebagai wakil rakyat. Hal ini seiring dengan
penjelasan
undang-undang
dimaksud
bahwa penyelenggaraan otonomi daerah
harus selalu berorientasi pada peningkatan
kesejahteraan masyarakat dengan selalu
memperhatikan kepentingan dan aspirasi
yang
tumbuh
dalam
masyarakat.
Persoalannya apakah aspirasi yang muncul
ini dapat menjamin peningkatan pelayanan
umum dan kesejahteraan bagi seluruh
masyarakat di Kabupaten Bekasi.
Persoalan itu hanya dapat dijawab
secara obyektif jika terlebih dahulu
dilakukan pengkajian terhadap potensi dan
masalah yang ada di Kabupaten Bekasi, dan
sekaligus menggali aspirasi dan pendapat
Dosen IPDN
105
masyarakat melalui instrumen wawancara
langsung dan kuesioner atau daftar
pertanyaan
yang
ditujukan
kepada
responden
sesuai
tujuan
penelitian.
Pemekaran Kabupaten Bekasi sebaiknya
dilakukan jika terjadinya pemekaran akan
berdampak positif terhadap peningkatan
dan pemerataan pembangunan dan
pelayanan umum.
Pengkajian kemungkinan pemekaran
wilayah Kabupaten Bekasi tersebut sejalan
dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku, dimana Undang-undang
Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 4 ayat (3)
menyebutkan bahwa pembentukan daerah
dapat berupa penggabungan beberapa
daerah
atau
bagian
daerah
yang
bersandingan atau pemekaran dari satu
daerah menjadi dua daerah atau lebih.
Salah
satu
prosedur
pembentukan/pemekaran daerah menurut
ketentuan tersebut adalah ada kemauan
politik dari pemerintahan daerah dan
masyarakat yang bersangkutan.
1) Bagaimanakah
gambaran
tingkat
kemampuan daerah kabupaten Bekasi
dalam
mendorong
keberhasilan
implementasi kebijakan otonomi daerah;
2) Apakah dimungkinkan untuk melakukan
pemekaran wilayah berdasarkan kriteria
pemekaran daerah yang sesuai dengan
persyaratan 11 (sebelas) faktor antara
lain : kependudukan, kemampuan
ekonomi, potensi daerah, kemampuan
keuangan, sosial budaya, sosial politik,
luas daerah, pertahanan, keamanan,
tingkat kesejahteraan masyarakat dan
rentang kendali.
3) Bagaimanakah
gambaran
aspirasi
masyarakat
mengenai
wacana
pemekaran wilayah di Kabupaten Bekasi
saat ini?
4) Bagaimanakah
kualitas
penyelenggaraan
pelayanan
di
Kabupaten Bekasi?
5) Bagaimanakah ketersediaan pelayanan
dasar di Kabupaten Bekasi?
Sejalan dengan hal tersebut, masalah
penelitian dapat dibatasi dengan fokus
penelitian berupa pengukuran dan penilaian
terhadap
variabel
yang
merupakan
persyaratan pembentukan dan kriteria
pemekaran
daerah,
antara
lain
kependudukan,
kemampuan
ekonomi,
potensi daerah, sosial budaya, sosial politik,
kemampuan keuangan, luas wilayah,
pertahanan, keamanan, dan rentang
kendali,
yang
memungkinkan
terselenggaranya otonomi daerah seperti
faktor keamanan, ketersediaan sarana
pemerintahan
dan
rentang
kendali.
Penelitian ini juga menyertakan jajak
pendapat guna memastikan kemurnian
aspirasi masyarakat untuk membentuk
daerah otonom baru dalam wilayah
Kabupaten Bekasi. Selain itu, fokus dalam
penelitian ini adalah seluruh kecamatan di
Kabupaten Bekasi.
Disamping itu pengkajian ini juga
dimaksudkan untuk
memenuhi syarat
teknis, sebagaimana yang tersebut dalam
Pasal 5 ayat (4) Undang Undang Nomor 32
Tahun 2004 bahwa pemekaran daerah
dapat dilakukan berdasarkan syarat teknis
yang mencakup faktor kependudukan,
kemampuan ekonomi, potensi daerah,
sosial budaya, sosial politik, luas daerah,
pertahanan,
keamanan,
tingkat
kesejahteraan masyarakat dan rentang
kendali
yang
memungkinkan
terselenggaranya Otonomi Daerah. Dalam
penjelasan ketentuan dimaksud disebutkan
pula bahwa pembentukan, pemekaran,
penghapusan dan penggabungan daerah
otonom memerlukan penilaian dengan
menggunakan indikator yang tersedia.
Sehubungan dengan itu, kiranya perlu
segera dilakukan pengkajian potensi daerah
dalam rangka mengukur dan mengevaluasi
variabel atau kriteria potensi daerah yang
dipersyaratkan untuk mengetahui dapat
atau tidaknya pembentukan daerah otonom
baru di Kabupaten Bekasi melalui penelitian
mendalam terhadap ”Studi Kelayakan
Pemekaran Kabupaten Bekasi”.
KERANGKA PEMIKIRAN
Tujuan kebijakan otonomi daerah
sebagaimana dimuat dalam Undangundang Nomor 32 Tahun 2004 adalah
peningkatan pelayanan dan kesejahteraan
masyarakat
yang
semakin
baik,
pengembangan kehidupan demokratisasi,
keadilan
dan
pemerataan
serta
pemeliharaan hubungan yang serasi antara
pemerintah pusat dan daerah serta antar
daerah dalam rangka menjaga keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Perumusan Masalah
Dalam konteks upaya pemekaran
Kabupaten
Bekasi,
permasalahan
sementara
yang
dapat
diidentifikasi
diantaranya adalah :
106
(lima) tingkatan yaitu : Sangat Mampu,
Mampu, Kurang Mampu, Tidak Mampu
dan Sangat Tidak Mampu.
Hasil penilaian merupakan rekomendasi
kebijakan, sebagai berikut:
(i) Suatu daerah direkomendasikan menjadi
daerah otonom apabila daerah induk dan
calon daerah yang akan dibentuk
mempunyai nilai total dengan kategori
sangat mampu (420-500) atau mampu
(340-419) dan perolehan jumlah nilai
fajtor
kependudukan
(80-100),
kemampuan ekonomi (60-75), faktor
potensi daerah (60-75) dan faktor
kemampuan keuangan (60-75)
(ii) Usulan pembentukan daerah ditolak
apabila daerah induk atau calon daerah
yang akan dibentuk mempunyai nilai
dengan kategori kurang mampu, tidak
mampu, dan sangat tidak mampu dalam
menyelenggarakan otonomi daerah, atau
perolehan
jumlah
nilai
faktor
kependudukan kurang dari 80, faktor
kemampuan ekonomi kurang dari 60,
atau perolehan jumlah nilai faktor potensi
daerah kurang dari 60, atau perolehan
jumlah nilai faktor kemampuan keuangan
kurang dari 60.
Jelasnya kerangka pemikiran pemekaran
Kabupaten Bekasi dapat dilihat pada
diagram berikut:
Tercapainya
tujuan
kebijakan
otonomi daerah, sangat ditentukan oleh
tingkat
kemampuan
daerah
dalam
memanfaatkan kewenangan daerah otonom
yang luas, nyata dan bertanggung jawab
untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa
sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.
Tingkat
kemampuan
daerah
dalam
menyelenggarakan otonominya dapat dilihat
dari kemampuan ekonomi, potensi daerah,
sosial budaya sosial politik, jumlah
penduduk, luas wilayah dan pertimbangan
lain yang memungkinkan terselenggaranya
otonomi daerah.
Atas dasar itu, kesimpulan sementara
yang dapat diambil bahwa tingkat
kemampuan daerah direfleksikan oleh
kemampuan ekonomi, potensi daerah,
sosial budaya, sosial politik, jumlah
penduduk, luas wilayah, dan pertimbangan
lain yang memungkinkan terselenggaranya
otonomi daerah merupakan faktor dominan
dalam menentukan keberhasilan dan
sekaligus kegagalan pencapaian tujuan
kebijakan otonomi daerah.
Jika
dicermati,
Undang-undang
Nomor 32 Tahun 2004 pada Bab II tentang
Pembentukan Daerah dan Kawasan
Khusus, terutama Pasal 4 ayat (1) tampak
bahwa dalam rangka pendayagunaan
kemampuan
daerah
untuk
menyelenggarakan
otonomi
daerah,
dimungkinkan diambil kebijakan setingkat
undang-undang
untuk
pembentukan,
pemekaran,
penghapusan
dan
penggabungan daerah otonom.
Kebijakan berupa pedoman yang
mengatur
syarat
pembentukan,
penghapusan dan penggabungan daerah
yang diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 78 Tahun 2007. Pengukuran dan
penilaian dilakukan terhadap tingkat
kemampuan daerah yang digambakan oleh
indikator dan sub indikator dari faktor
kependudukan,
kemampuan
ekonomi,
potensi daerah, kemampuan keuangan,
sosial budaya, sosial politik, luas wilayah,
pertahanan,
keamanan,
tingkat
kesejahteraan dan rentang kendali.
Hasil pengukuran adalah jumlah skor
tertentu dari tingkat kemampuan daerah
yang merupakan dasar penilaian apakah
suatu daerah layak atau tidak untuk
dimekarkan. Penilaian tingkat kemampuan
daerah dalam rangka pemekaran adalah
penilaian terhadap potensi kecamatan. Hasil
penilaian dapat dikategorikan ke dalam 5
107
GAMBAR
KERANGKA PEMIKIRAN
Pengukuran
Potensi
Evaluasi
Potensi
Desain
Kemungkinan
Pemekaran
Kabupaten
Bekasi
Kriteria
Kelulusan
Pilihan
Tindakan
Sangat Mampu
Memenuhi syarat
lain :
Dan jika nilai total faktor :
420≤ TS < 500
Kependudukan : 80-100
11 (sebelas) Faktor
Mampu
1. Kependudukan
2. Kemampuan Ekonomi
3. Potensi Daerah
4. Kemampuan Keuangan
5. Sosial Budaya
6. Sosial Politik
7. Luas Daerah
8. Pertahanan
9. Keamanan
Tingkat
Kemampuan
Kabupaten
Bekasi
Calon
340≤ TS < 419
Dibentuk
daerah
otonom baru
yahan
Kemampuan Ekonomi : 60-75
Potensi daerah : 60-75
Kurang Mampu
dan Calon
260≤ TS < 339
Atau jika nilai total faktor :
Tidak Mampu
180≤ TS < 259
Kependudukan : < 80
Kemampuan Ekonomi : < 60
2. Pelayanan
-Admnistrasi
-Fisik kewila-
Daerah Pemekaran
10. Tingkat Kes. Masy.
1. Aspirasi Masyarakat
Rekome
ndasi
Sangat Tidak Mampu
100 ≤ TS < 179
108
Ditolak
Tidak dapat dibentuk
daerah otonom baru
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1) Untuk mengetahui gambaran tingkat
kemampuan daerah Kabupaten Bekasi
dalam penyelenggaraan pemerintahan
daerah;
2) Untuk mengetahui disain kemungkinan
pembentukan daerah otonom baru
berdasarkan kriteria pemekaran daerah
sebagai dasar penentuan rekomendasi
kebijakan dapat atau tidaknya dibentuk
daerah otonom baru dalam wilayah
Kabupaten Bekasi.
3) Untuk mengetahui gambaran tingkat
partisipasi masyarakat terhadap wacana
pembentukan daerah otonom baru di
Kabupaten Bekasi.
4) Untuk mengetahui tingkat ketersediaan
pelayanan dan tingkat kepuasan
masyarakat terhadap pelayanan yang
diselenggarakan
oleh
pemerintah
Kabupaten Bekasi saat ini.
Tabel
Jumlah Kecamatan dan Desa
di Kabupaten Bekasi
No.
1
2
3
4
Kecamatan
Setu
Serang Baru
Cikarang Pusat
Cikarang
Selatan
5
Cibarusah
6
Bojongmangu
7
Cikarang Timur
8
Kedungwaringin
9
Cikarang Utara
10
Karang Bahagia
11
Cibitung
12
Cikarang Barat
13
Tambun
Selatan
14
Tambun Utara
15
Babelan
16
Tarumajaya
17
Tambelang
18
Sukawangi
19
Sukatani
20
Sukakarya
21
Pebayuran
22
Cabangbungin
23
Muaragembong
Kabupaten Bekasi
METODOLOGI
Penelitian ini merupakan aplikasi model
pengukuran
dan
evaluasi
terhadap
kemampuan daerah Kabupaten Bekasi yang
akan menggambarkan dan menjelaskan
tingkat kekuatan atau pengaruh variabel
yang diamati terhadap tingkat kemampuan
penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Melalui pendekatan ini dapat diketahui
secara obyektif dan mendapat tingkat
kemampuan daerah Kabupaten Bekasi
dalam
penyelenggaraan
otonominya
melalui pengukuran terhadap indikator dan
sub indikator dari faktor kependudukan
kemampuan ekonomi, potensi daerah,
kemampuan keuangan, sosial budaya,
sosial politik, luas daerah, pertahanan,
keamanan,
tingkat
kesejahteraan
masyarakat
dan
rentang
kendali
pemerintahan.
Berdasarkan
pegenalan
terhadap
tingkat kemampuan daerah, maka selain
dapat disusun berbagai alternatif desain
pemekaran
wilayah
dan
sekaligus
ditentukan disain pemekaran terbaik, dapat
pula ditentukan pilihan prioritas tindakan
guna peningkatan potensi daerah.
Unit analisis pengkajian kemampuan
daerah adalah organisasi pemerintah
daerah pada tingkat kabupaten dan
kecamatan. Sedangkan populasi organisasi
pemerintah daerah dalam penelitian ini
adalah seluruh kecamatan yang ada di
Kabupaten Bekasi atau 23 (dua puluh tiga)
kecamatan dan 187 desa yaitu :
Luas Wilayah
Ha
%
6.216
4,88
6.380
5,01
4.760
4,06
5.174
3,74
Jlh
Desa
11
8
6
7
5.039
6.006
5.131
3.153
4.330
4.610
4.530
4.369
4.310
4,03
4,21
3,40
3,96
4,71
2,48
3,62
3,56
3,38
7
6
8
7
11
8
7
11
10
3.442
6.360
5.463
3.791
6.719
3.752
4.240
9.634
4.970
14.009
127.388
2,70
4,99
4,29
5,27
2,98
2,95
3,33
7,56
3,90
11,00
100
8
9
8
7
7
7
7
13
8
6
187
Operasionalisasi
variabel
kajian
dibatasi berdasarkan 11 (sebelas) faktor
sebagai variabel penelitian. Data yang
diperlukan dalam penelitian ini adalah data
kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan
atas variabel kemampuan ekonomi, potensi
daerah, sosial budaya, sosial politik, jumlah
penduduk, luas daerah, dan pertimbangan
lain yang merupakan fokus pengamatan
yang dibedakan atas :
1) Data Primer, diperoleh dengan penelitian
lapangan, dilakukan dengan jalan
melihat, mengamati, mencatat serta
mewawancarai secara langsung pejabat
politik,
aparatur
daerah,
tokoh
masyarakat dan kelompok sasaran
lainnya;
2) Data Sekunder, dikumpulkan untuk
melengkapi data primer, baik yang
tersedia di BPS setempat, Sekretariat
Daerah, Bappeda, Dinas Daerah,
Badan/Kantor baik tingkat kabupaten
maupun provinsi, dan instansi lain yang
mempunyai
informasinya
berkaitan
dengan topik penelitian ini terutama pada
tingkat kecamatan. Data sekunder ini
diperoleh dengan penelitian terhadap
dokumen, laporan, brosur, surat kabar
dan bahan kepustakaan lainnya.
109
Adapun teknik pengumpulan data yang
dipilih dalam riset lapangan adalah:
1) Observasi, suatu teknik pengumpulan
data dan informasi yang dilakukan
dengan cara mengadakan pengamatan
dan pencatatan secara sistematis
terhadap gejala, peristiwa dan aspekaspek yang diteliti di lokasi penelitian;
2) Wawancara,
mengumpulkan
data
dengan
komunikasi
langsung
berdasarkan kerangka atau pedoman
yang telah disusun sebelumnya dengan
pihak yang berkompeten dan berwenang
terhadap masalah yang diteliti;
3) Kuesioner, penyebaran angket atau
daftar pertanyaan yang telah tersedia
yang relevan dengan masalah yang
diteliti. Kuesioner ini dimaksudkan untuk
memperoleh data yang obyektif dan
merupakan salah satu pengumpulan
data yang diketahui dan dipahami oleh
responden sehingga hasilnya obyektif.
4) Studi literatur, mengumpulkan data
dengan mempelajari, menelaah dan
menganalisa
literatur,
dokumen,
peraturan serta referensi lainnya yang
erat kaitannya dengan masalah yang
diteliti.
kemampuan
daerah
untuk
menyelenggarakan otonomi daerah.
Kategori penilaian berdasarkan skala
tertentu dan ditetapkan menurut klasifikasi
sangat mampu, mampu, kurang mampu
tidak mampu dan sangat tidak mampu
berdasarkan jumlah skor tertentu yang
representatif, dimana kategori penilaian
menjadi dasar pilihan tindakan untuk
memekarkan atau tidak memekarkan
daerah otonomi dan pendayagunaan
potensi daerah.
Metode penilaian yang digunakan adalah
sistem skoring yang terdiri dari 2 (dua)
macam metode sebagai berikut:
 Metode 1 (Metode Rata-rata)
Metode rata-rata adalah metode yang
membandingkan besaran/nilai tiap calon
daerah dan daerah induk terhadap
besaran/nilai
rata-rata
keseluruhan
daerah disekitarnya. Semakin tinggi
perolehan besaran/nilai calon daerah
dan daerah induk (apabila dimekarkan)
terhadap besaran/nilai rata-rata, maka
semakin besar skornya. Metode 1
digunakan
untuk
menghitung
besaran/nilai indikator 2 s.d. 28 dan 30
s.d 34.
 Metode 2 (Metode Kuota)
Metode kuota adalah metode yang
menggunakan angka tertentu sebagai
kuota penentuan skoring terhadap calon
daerah maupun daerah induk. Metode 2
khusus digunakan untuk indikator 1,
yakni indikator jumlah penduduk.
Data kualitatif akan dianalisa melalui
pendekatan
isi
dan
kedalaman
menterjemahkan
suatu
fenomena
kependudukan,
kemampuan
ekonomi,
potensi daerah, kemampuan keuangan,
sosial budaya, sosial politik, luas daerah,
pertahanan, keamanan dan rentang kendali.
Cara mengakomodasi analisa kualitatif
adalah dengan menstimulasi berbagai
kecenderungan jawaban kualitatif dari
responden terhadap fenomena tersebut.
Dari daftar struktur pertanyaan terbuka,
kemudian dilengkapi dengan kompilasi hasil
wawancara secara mendalam, kemudian
dengan pengamatan di lapangan kemudian
variabel itu akan dikompilasi melalui file
terstruktur. Namun sebagian dari data
kualitatif direnovasi menjadi data kuantitatif
melalui non-parametric process.
Sedangkan
data
kuantitatif
akan
dikategorikan, diklasifikasi dan diolah
sebagai dasar pengukuran dan analisis
untuk memberikan penjelasan dan
penilaian
terhadap
kekuatan
dan
kelemahan variabel kemampuan ekonomi,
potensi daerah, sosial budaya, sosial politik,
jumlah penduduk, luas daerah, dan
pertimbangan lain dalam mendorong
Setiap indikator mempunyai skor dengan
skala
1-5.
besaran/nilai
rata-rata
pembanding dan besaran jumlah kuota
sebagai dasar untuk pemberian skor.
Pemberian skor 5 apabila besaran/nilai
indikator lebih besar atau sama dengan
besaran/nilai rata-rata, pemberian skor 4
apabila besaran/nilai indikator lebih besar
atau sama dengan 80% besaran/nilai ratarata, pemberian skor 3 apabila besaran/nilai
indikator lebih besar atau sama dengan 60%
besaran/nilai rata-rata, pemberian skor 2
apabila besaran/nilai indikator lebih besar
atau sama dengan 40% besaran/nilai ratarata, dan pemberian skor 1 apabila
besaran/nilai indikator lebih besar atau
sama dengan 40% besaran/nilai rata-rata.
Pemberian skor untuk pembentukan
provinsi
menggunakan
Pembanding
Provinsi,
pembentukan
kabupaten
menggunakan Pembanding Kabupaten dan
pembentukan
kota
menggunakan
110
Pembanding Kota. Pembanding Kabupaten
adalah kabupaten-kabupaten di provinsi
yang
bersangkutan,
sedangkan
pembanding Kota adalah kota-kota sejenis
(tidak termasuk kota yang menjadi ibukota
provinsi) di provinsi yang bersangkutan dan
atau provinsi di sekitarnya minimal 3 (tiga)
kota. Dalam hal menentukan pembanding
provinsi, pembanding kabupaten dan
pembanding
kota
terdapat
provinsi,
kabupaten dan kota yang memiliki
besaran/nilai indikator yang sangat berbeda
(di atas 5 kali dari besaran/nilai terendah),
maka
besaran/nilai
tersebut
tidak
diperhitungkan.
Khusus indikator karakteristik wilayah
(No. 31), pemberian skor ditentukan
berdasarkan ciri yang ditunjukkan oleh
hamparan permukaan fisik calon daerah
otonom (berupa daratan, atau daratan dan
pantai/laut, atau kepulauan, dan posisi calon
daerah otonom berbatasan dengan negara
lain atau tidak berbatasan dengan negara
lain). Pemberian skor pada indikator
karakteristik wilayah, diukur dengan kriteria
sebagai berikut :
TABEL
KRITERIA DAN SKOR
KARAKTERISTIK WILAYAH
NO
1.
2.
3.
4.
KRITERIA
Berbatasan dengan negara
lain, hamparan fisik wilayah
berupa kepulauan
Berbatasan dengan negara
lain, hamparan fisik wilayah
berupa daratan dan pantai
Berbatasan dengan negara
lain, hamparan fisik wilayah
berupa daratan
Tidak berbatasan dengan
negara lain, hamparan fisik
wilayah berupa kepulauan,
daratan dan pantai, atau
daratan
3.
SKOR
5
4
3
2
Asumsi yang digunakan dalam
pembobotan adalah setiap faktor dan
indikator kriteria mempunyai bobot yang
berbeda-beda sesuai dengan perannya
dalam pembentukan daerah otonom.
No
1
1.
2.
FAKTOR DAN
INDIKATOR
2
Kependudukan
1. Jumlah Penduduk
2. Kepadatan
Kemampuan Ekonomi
4.
BOBOT
3
20
15
5
5.
15
111
3. PDRB Non Migas Per
Kapita
4. Pertumbuhan
Ekonomi
5. Kontribusi PDRB non
migas
Potensi Daerah
6. Rasio Bank dan
Lembaga Keuangan
Non Bank per 10.000
penduduk
7. Rasio Kelompok
Pertokoan per 10.000
penduduk
8. Rasio pasar per
10.000 penduduk
9. Rasio sekolah SD
per penduduk usia
SD
10. Rasio sekolah SLTP
per penduduk usia
SLTP
11. Rasio sekolah SLTA
per penduduk usia
SLTA
12. Rasio Fasilitas
kesehatan per per
10.000 penduduk
13. Rasio tenaga medis
per 10.000 penduduk
14. Persentase rumah
tangga yang
mempunyai
kendaraan bermotor
atau perahu atau
perahu motor atau
perahu kapal motor
15. Persentase
pelanggan listrik
terhadap jumlah
rumah tangga
16. Rasio panjang jalan
terhadap jumlah
kendaraan motor
17. Persrentase pekerja
yang berpendidikan
minimal SLTA
terhadap penduduk
usia 18 tahun ke atas
18. Persentase
penduduk yang
bekerja
19. Rasio Pegawai
Negeri Sipil terhadap
penduduk
Kemampuan Keuangan
20. Jumlah PDS
21. Rasio PDS terhadap
jumlah penduduk
22. Rasio PDS terhadap
PDRB
Sosial Budaya
5
5
5
15
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
15
5
5
5
5
6.
7.
8.
9.
10
11
23. Rasio Sarana
Peribadatan per
10.000 penduduk
24. Rasio Fasilitas
Lapangan Olahraga
per 10.000
Penduduk
25. Jumlah Balai
Pertemuan
Sosial Politik
26. Rasio penduduk
yang ikut Pemilu
legislatif penduduk
yang mempunyai hak
pilih
27. Jumlah organisasi
kemasyarakatan
Luas Daerah
28. Luas wilayah
keseluruhan
29. Luas wilayah efektif
yang dapat
dimanfaatkan
Pertahanan
30. Rasio Jumlah
Personil aparat
pertahanan terhadap
luas wilayah
31. Karakteristik Wilayah,
dilihat dari sudut
pandang pertahanan
Keamanan
32. Rasio jumlah personil
aparat keamanan
terhadap jumlah
penduduk
Tingkat kesejahteraan
masyarakat
33. Indeks
Pembangunan
Manusia
Rentang Kendali
34. Rata-rata jarak
kecamatan ke pusat
pemerinatahan
35. Rata-rata waktu
perjalanan dari
kecamatan ke pusat
pemerintahan
Total
Tabel Kategori Penilaian
2
KATEGO
RI
1. Sangat
Mampu
2.
Mampu
3. Kurang
Mampu
4. Tidak
Mampu
5. Sangat
Tidak
Mampu
2
1
5
3
2
420
s.d.
500
340
s.d.
419
260
s.d.
339
KETERA
NGAN
Rekomen
dasi
Rekomen
dasi
Ditolak
180
s.d.
259
Ditolak
100
s.d.
179
Ditolak
NILAI
Suatu
daerah
direkomendasikan
menjadi daerah otonom apabila daerah
induk dan calon daerah yang akan dibentuk
mempunyai nilai total nilai dengan kategori
sangat mampu (420-500) atau mampu
(340-419), dan perolehan jumlah nilai faktor
kependudukan
(80-100),
kemampuan
ekonomi (60-75), faktor potensi daerah (6075), dan faktor kemampuan keuangan (6075).
Usulan pembentukan daerah ditolak
apabila daerah induk atau calon daerah
yang akan dibentuk mempunyai total nilai
dengan kategori kurang mampu, tidak
mampu dan sangat tidak mampu dalam
menyelenggarakan otonomi daerah, atau
perolehan jumalh nilai faktor kependudukan
kurang dari 80, atau faktor kemampuan
ekonomi kurang dari 60, atau perolehan
jumlah nilai faktor potensi daerah kurang
dari 60, atau perolehan jumlah nilai faktor
kemampuan keuangan kurang dari 60.
Seluruh perhitungan dan analisa statistik
dalam tulisan ini menggunakan alat bantu
komputer dengan paket program Microsoft
Excel dan Microstat.
5
2
3
5
3
2
5
5
5
5
5
2
HASIL PENELITIAN
Analisis dan Interpretasi Data Tentang
Aspirasi Masyarakat
Hasil pengolahan dan analisa data
aspirasi masyarakat secara keseluruhan di
Kabupaten
Bekasi
dalam
rangka
pembentukan
daerah
otonom
baru
(pemekaran Kabupaten Bekasi) dapat
digambarkan dan dijelaskan sebagaimana
tabel dan diagram berikut ini :
3
100
Skor minimal kelulusan adalah jumlah
nilai indikator pada setiap faktor kriteria
dikali skor di atas rata-rata untuk setiap
variabel atau kelompok kriteria dikali bobot
untuk setiap kelompok indikator. Kelulusan
ditentukan oleh jumlah nilai faktor dengan
kategori :
112
TABEL
BERITA RENCANA PEMBENTUKAN DAERAH OTONOM BARU
(PEMEKARAN KABUPATEN BEKASI)
Sudah
F
%
561
81%
Belum
F
%
129
19%
Agama
532
77%
158
23%
690
Pertanyaan
Tokoh
1. Apakah Bapak/Ibu sudah
mendengar
keinginan
dari
beberapa
komponen/
bagian
masyarakat
mengenai
rencana
pembentukan
daerah otonom?
Masyarakat
Jumlah
690
Pendidikan
556
81%
134
19%
690
Perempuan
527
76%
163
24%
690
Pemuda
571
83%
119
17%
690
3450
Total
DIAGRAM
BERITA RENCANA PEMBENTUKAN DAERAH OTONOM BARU
(PEMEKARAN KABUPATEN BEKASI)
600
500
400
300
Sudah
Belum
200
100
0
Masyarakat
Agama
Pendidikan
Perempuan
Pemuda
Tokoh
Sumber : Hasil Pengolahan Angket
Responden
dalam
menjawab
pertanyaan “Apakah Bapak/Ibu sudah
mendengar keinginan dari beberapa
komponen/ bagian masyarakat mengenai
rencana pembentukan daerah otonom baru
(Pemekaran Kabupaten Bekasi) ? Tokoh
masyarakat yang menjawab sudah yaitu 561
orang dan sisanya menjawab belum yaitu
129 orang, Tokoh agama yang menjawab
sudah yaitu 532 orang dan sisanya
menjawab belum yaitu 158 orang, Tokoh
pendidikan yang menjawab sudah yaitu 556
orang dan sisanya menjawab belum yaitu
134 orang, Tokoh perempuan yang
menjawab sudah yaitu 527 orang dan
sisanya menjawab belum yaitu 163 orang,
Tokoh pemuda yang menjawab sudah yaitu
571 orang dan sisanya menjawab belum
yaitu 119 orang. Dengan demikian sebagian
besar masyarakat cenderung sudah
mendengar
mengenai
rencana
pembentukan
daerah
otonom
baru
(Pemekaran Kabupaten Bekasi).
TABEL
TANGGAPAN RESPONDEN DI KABUPATEN BEKASI
YANG SUDAH MENDENGAR
Pertanyaan
Tokoh
2. Bila sudah
mendengar, bagaimana
tanggapan Bapak/Ibu?
Masyarakat
Agama
Pendidikan
Perempuan
Pemuda
Setuju
f
486
469
448
443
494
%
89%
90%
83%
82%
86%
Total
113
Tidak Setuju
f
%
58
11%
54
10%
92
17%
95
18%
78
14%
Jumlah
sudah
544
523
540
538
572
2717
DIAGRAM
TANGGAPAN RESPONDEN DI KABUPATEN BEKASI YANG SUDAH MENDENGAR
500
450
400
350
300
250
Setuju
200
Tidak Setuju
150
100
50
0
Masyarakat
Agama
Pendidikan
Perempuan
Pemuda
Tokoh
Sumber : Hasil Pengolahan Angket
Responden
dalam
menjawab
pertanyaan “Bila sudah mendengar,
bagaimana tanggapan Bapak/Ibu Tokoh
masyarakat yang menjawab setuju yaitu 486
orang dan sisanya menjawab tidak setuju
yaitu 58 orang , Tokoh agama yang
menjawab setuju yaitu 469 orang dan
sisanya menjawab tidak setuju yaitu 54,
Tokoh pendidikan yang menjawab setuju
yaitu 448 orang dan sisanya menjawab tidak
setuju yaitu 92 orang, Tokoh perempuan
yang menjawab setuju yaitu 443 orang dan
sisanya menjawab tidak setuju yaitu 95
orang, Tokoh pemuda yang menjawab
setuju yaitu 494 orang
dan sisanya
menjawab tidak setuju yaitu 78 orang.
Dengan
demikian
sebagian
besar
masyarakat cenderung setuju mengenai
rencana pembentukan daerah otonom baru
(pemekaran Kabupaten Bekasi).
TABEL
TINGKAT KEMAMPUAN PEMERINTAHAN KABUPATEN BEKASI YANG SEKARANG
DIRASAKAN SETUJU MAMPU DITINJAU DARI SEGI SOSIAL, EKONOMI, POLITIK, BUDAYA
DAN KEAMANAN
Masih
Mampu
f
%
Tokoh
Pertanyaan
3. Menurut Bapak/Ibu,
apakah kondisi
pemerintahan kabupaten
Bekasi yang sekarang
dirasakan sudah mampu
ditinjau dari segi sosial,
ekonomi, politik, budaya dan
keamanan sehingga perlu
dilakukan pemventukan
daerah otonom?
Kurang
Mampu
f
%
Tidak
Mampu
f
%
Jumlah
Masyarakat
304
44.7
334
49.1
42
6.2
680
Agama
282
41.0
359
52.3
46
6.7
687
Pendidikan
324
47.2
327
47.6
36
5.2
687
Perempuan
264
38.7
366
53.6
53
7.8
683
Pemuda
308
45.2
340
49.9
33
4.8
Total
681
3418
DIAGRAM
TINGKAT KEMAMPUAN PEMERINTAHAN KABUPATEN BEKASI YANG SEKARANG
DIRASAKAN SETUJU MAMPU DITINJAU DARI SEGI SOSIAL, EKONOMI, POLITIK, BUDAYA
DAN KEAMANAN
400
350
300
250
200
Masih Mampu
Kurang Mampu
150
Tidak Mampu
100
50
0
Masyarakat
Agama
Pendidikan
Perempuan
Tokoh
Sumber : Hasil Pengolahan Angket
114
Pemuda
Responden
dalam
menjawab
pertanyaan
“Menurut
Bapak/Ibu,
bagaimanakah
Tingkat
Kemampuan
Pemerintahan
Kabupaten Bekasi yang
Sekarang Dirasakan Setuju Mampu Ditinjau
dari Segi Sosial, Ekonomi, Politik, Budaya
dan Keamanan ?”. Tokoh masyarakat yang
menjawab masih mampu yaitu 304 orang ,
kurang mampu yaitu 334 orang ,dan sisanya
menjawab tidak mampu yaitu 42 orang,
Tokoh agama yang menjawab masih
mampu yaitu 282 orang, kurang mampu
yaitu 359 orang ,dan sisanya menjawab
tidak mampu yaitu 46 orang, Tokoh
pendidikan yang menjawab masih mampu
yaitu 324 orang , kurang mampu yaitu 327
orang dan sisanya menjawab tidak mampu
yaitu 36 orang, Tokoh perempuan yang
menjawab masih mampu yaitu 264 orang,
kurang mampu yaitu 366 orang dan sisanya
menjawab tidak mampu yaitu 53 orang,
Tokoh pemuda yang menjawab masih
mampu yaitu 308 orang, kurang mampu
yaitu 340 orang dan sisanya
yang
menjawab tidak mampu yaitu 33 orang.
Dengan
demikian
sebagian
besar
masyarakat cenderung menjawab kurang
mampu terkait dengan tingkat kemampuan
pemerintahan Kabupaten Bekasi.
TABEL
PEMBENTUKAN DAERAH OTONOM BARU
(PEMEKARAN KABUPATEN BEKASI) SUDAH MENDESAK
Pertanyaan
4. Apakah menurut bapak/Ibu
pembentukan daerah otonom
baru (pemekaran Kabupaten
Bekasi) sudah mendesak ?
Masyarakat
Agama
Sudah
sangat
mendesak
f
%
430
64%
415
62%
Belum Perlu
f
%
244
36%
250
38%
Tokoh
Jumlah
674
665
Pendidikan
438
64%
244
36%
682
Perempuan
436
65%
239
35%
675
Pemuda
461
68%
214
32%
Total
675
3371
DIAGRAM
PEMBENTUKAN DAERAH OTONOM BARU (PEMEKARAN KABUPATEN BEKASI) SUDAH
MENDESAK.
500
450
400
350
300
250
Sudah sangat mendesak
200
Belum Perlu
150
100
50
0
Masyarakat
Pendidikan
Pemuda
Tokoh
Sumber : Hasil Pengolahan Angket
sisanya menjawab setuju sangat mendesak
yaitu 438 orang, Tokoh perempuan yang
menjawab belum perlu yaitu 239 orang dan
sisanya menjawab setuju sangat mendesak
yaitu 436 orang, Tokoh pemuda yang
menjawab belum perlu yaitu 214 orang dan
sisanya menjawab setuju sangat mendesak
yaitu 461 orang. Dengan demikian sebagian
besar masyarakat cenderung setuju sangat
mendesak mengenai rencana Pembentukan
Daerah
Otonom
Baru
(Pemekaran
Kabupaten Bekasi).
Responden
dalam
menjawab
pertanyaan “Apakah menurut Bapak/Ibu
Dilakukan Pembentukan Daerah Otonom
Baru (Pemekaran Kabupaten Bekasi) Sudah
mendesak ?” Tokoh masyarakat yang
menjawab belum perlu yaitu 244 orang dan
sisanya menjawab setuju sangat mendesak
yaitu 430 orang, Tokoh agama yang
menjawab belum perlu yaitu 250 orang dan
sisanya menjawab setuju sangat mendesak
yaitu 415 orang, Tokoh pendidikan yang
menjawab belum perlu yaitu 244 orang dan
115
TABEL
SAAT YANG TEPAT UNTUK PEMBENTUKAN DAERAH OTONOM BARU (PEMEKARAN
KABUPATEN BEKASI)
1 - 3 tahun
3-5
tahun
> 5 tahun
Lainnya
Pertanyaan
Tokoh
Jumlah
5. Bila
mendesak,
kapan saat yang
tepat untuk
pemekaran
Kabupaten
Bekasi tersebut
dilakukan?
Masyarakat
Agama
Pendidikan
Perempuan
f
327
286
328
362
%
47
41
48
52
f
186
244
209
220
%
27
35
30
32
f
134
115
116
81
%
19
17
17
12
f
43
45
37
27
%
6
7
5
4
690
690
690
690
Pemuda
334
48
199
29
110
16
47
7
690
Total
DIAGRAM :
3450
SAAT YANG TEPAT UNTUK PEMBENTUKAN DAERAH OTONOM BARU
(PEMEKARAN KABUPATEN BEKASI)
400
350
300
250
1 - 3 tahun
200
3 - 5 tahun
> 5 tahun
150
lainnya
100
50
0
Masyarakat
Agama
Pendidikan
Perempuan
Pemuda
Tokoh
Sumber : Hasil Pengolahan Angket
Responden
dalam
menjawab
pertanyaan “Bila mendesak, kapan saat
yang tepat untuk Pembentukan Daerah
Otonom Baru (Pemekaran Kabupaten
Bekasi)dilakukan?”, Tokoh masyarakat
yang
menjawab
waktu
pemekaran
kabupaten Bekasi 1-3 tahun yaitu 327
orang, 3-5 tahun yaitu 186 orang dan lebih
dari 5 tahun yaitu 134 orang, Tokoh agama
yang
menjawab
waktu
pemekaran
kabupaten Bekasi 1-3 tahun yaitu 286
orang, 3-5 tahun yaitu 115 orang dan lebih
dari 5 tahun yaitu 115 orang, Tokoh
pendidikan
yang
menjawab
waktu
pemekaran kabupaten Bekasi 1-3 tahun
yaitu 328 orang, 3-5 tahun yaitu 209 orang
dan lebih dari 5 tahun yaitu 116 orang,
Tokoh perempuan yang menjawab waktu
pemekaran kabupaten Bekasi 1-3 tahun
yaitu 362 orang, 3-5 tahun yaitu 220 orang
dan lebih dari 5 tahun yaitu 81 orang, Tokoh
pemuda yang menjawab waktu pemekaran
kabupaten Bekasi 1-3 tahun yaitu 334
orang, 3-5 tahun yaitu 119 orang dan lebih
dari 5 tahun yaitu 110 orang. Dengan
demikian masyarakat yang merasa untuk
pembentukan
daerah
otonom
baru
(pemekaran kabupaten bekasi ) cenderung
menginginkan perubahan dalam waktu 1-3
tahun.
Berdasarkan jawaban responden di
lapangan, maka ditarik kesimpulan bahwa
terdapat 5 (lima) kecenderungan pembagian
daerah
otonom
menurut
aspirasi
masyarakat Kabupaten Bekasi saat ini yaitu
:
116
1. Kecenderungan 1 : daerah otonom baru dengan 13 kecamatan dan daerah otonom
induk 10 kecamatan.
DIAGRAM
DAERAH OTONOM BARU KECENDERUNGAN 1
Cibitung, Tambelang, Sukatani, Pebayuran, Cabangbungin, Muaragembong, Tambun Utara
Suka Wangi, Taruma Jaya, Babelan, Karang Bahagia, Tambun Selatan, Sukakarya
8%
15%
masyarakat
46%
agama
pendidikan
perempuan
12%
pemuda
19%
DIAGRAM
DAERAH OTONOM INDUK KECENDERUNGAN 1
Cibarusah, Bojong Mangu, Serang Baru, Setu, Cikarang Barat, Cikarang Selatan, Cikarang Pusat,
Cikarang Timur, Cikarang Utara, Kedungwaringin
8%
12%
masyarakat
agama
pendidikan
51%
11%
perempuan
pemuda
18%
117
2. Kecenderungan 2 : daerah otonom baru dengan 11 kecamatan dan daerah otonom
induk 12 kecamatan.
DIAGRAM
DAERAH OTONOM BARU KECENDERUNGAN 2
Cibitung, Tambelang, Sukatani, Pebayuran, Cabangbungin, Muara Gembong, Sukawangi
Tarumajaya, Babelan, Karang Bahagia, Suka Karya
11%
23%
masyarakat
22%
agama
pendidikan
perempuan
pemuda
27%
17%
DIAGRAM
DAERAH OTONOM INDUK KECENDERUNGAN 2
Cibarusah, Bojong Mangu, Serang Baru, Setu, Cikarang Barat, Cikarang Selatan, Cikarang Pusat,
Cikarang Timur, Cikarang Utara, Kedung Waringin, Tambun Utara, Tambun Selatan
12%
38%
16%
masyarakat
agama
pendidikan
perempuan
pemuda
13%
21%
118
3. Kecenderungan 3 : daerah otonom baru dengan 11 kecamatan dan daerah otonom
induk 12 kecamatan.
DIAGRAM
DAERAH OTONOM BARU KECENDERUNGAN 3
Tambun Utara, Tambelang, Sukatani, Pebayuran, Cabangbungin, Muara Gembong, Suka
wangi, taruma jaya, babelan, karang bahagia, suka karya
11%
23%
masyarakat
22%
agama
pendidikan
perempuan
pemuda
27%
17%
DIAGRAM
DAERAH OTONOM INDUK KECENDERUNGAN 3
Cibarusah, Bojong Mangu, Serang Baru, Setu, Cikarang Barat, Cikarang Selatan, Cikarang Pusat,
Cikarang Timur, Cikarang Utara, Kedung Waringin, Cibitung, Tambun Selatan
12%
38%
16%
masyarakat
agama
pendidikan
perempuan
pemuda
13%
21%
119
4. Kecenderungan 4 : daerah otonom baru dengan 10 kecamatan dan daerah otonom
induk 13 kecamatan.
DIAGRAM
DAERAH OTONOM BARU KECENDERUNGAN 4
tambelang, sukatani, pebayuran, cabangbungin, muara gembong, suka wangi,
taruma jaya, babelan, karang bahagia, suka karya
11%
14%
38%
masyarakat
agama
pendidikan
perempuan
12%
pemuda
25%
DIAGRAM
DAERAH OTONOM INDUK KECENDERUNGAN 4
Cibitung, Cibarusah, bojong mangu, serang baru, setu, cikarang barat, cikarang selatan,
cikarang pusat, cikarang timur, cikarang utara, kedung waringin, tambun selatan, tambun utara
16%
36%
masyarakat
14%
agama
pendidikan
perempuan
pemuda
13%
21%
120
5. Kecenderungan 5 : daerah otonom baru dengan 9 kecamatan sebagai calon kota baru
dan daerah otonom induk 14 kecamatan
DIAGRAM
DAERAH OTONOM BARU KECENDERUNGAN 5
Tambelang, Sukatani, Pebayuran, Cabangbungin, Muara Gembong, Suka Wangi, Tarumajaya,
Babelan, Karang Bahagia, Sukakarya, Kedungwaringin, Cinitung, Tambun Utara, Tambun Selatan
11%
33%
masyarakat
17%
agama
pendidikan
perempuan
pemuda
13%
26%
DIAGRAM
DAERAH OTONOM BARU KECENDERUNGAN 5
Cikarang Barat, Cikarang Selatan, Cikarang Pusat, Cikarang Timur, Cikarang Utara,
Setu, Serang Baru, Cibarusah, Bojongmangu
12%
19%
masyarakat
19%
agama
pendidikan
perempuan
31%
19%
121
pemuda
Tentang pertanyaan mengenai :
“Dimana
kedudukan
pusat
pemerintahan/ibu kota daerah otonom baru
yang strategis untuk alternative ke-1?”,
hasilnya dapat dilihat pada tabel dan
diagram berikut :
TABEL
PUSAT PEMERINTAHAN DAERAH BARU YANG STRATEGIS APABILA
TERJADI PEMBENTUKAN DAERAH OTONOM BARU
Pertanyaan
Tokoh
Menurut Anda
dimanakah calon
ibukota daerah
pemekaran yang
paling strategis?
Masyarakat
Agama
Pendidikan
Perempuan
Pemuda
Total
Sukatani
435
174
130
87
43
870
Tambelang
303
121
91
61
30
606
Kecamatan
Suka- Babewangi
lan
184
119
74
47
55
36
37
24
18
12
369
237
Sukakarya
79
32
24
16
8
158
lainlain
198
79
59
40
20
395
Total
1318
527
395
264
132
2635
DIAGRAM
CALON IBUKOTA KABUPATEN PEMEKARAN MENURUT PERSEPSI TOKOH-TOKOH DI
KAB. BEKASI
Calon Ibukota
Kabupaten
Pemekaran,
lain-lain, 96,
15%
Calon Ibukota
Kabupaten
Pemekaran,
Sukakarya, 38, 6%
Calon Ibukota
Kabupaten
Pemekaran,
Babelan, 55, 9%
Calon Ibukota Kabupaten Pemekaran
Calon Ibukota
Kabupaten
Pemekaran,
Sukatani, 210, 33%
Calon Ibukota
Kabupaten
Pemekaran,
Tambelang, 147,
23%
Calon Ibukota Kabupaten
Pemekaran, Sukawangi,
89, 14%
Sumber : Hasil Pengolahan Angket
mampu dalam menyelenggarakan otonomi
daerah. Adapun kriteria yang ditetapkan
untuk kelulusan atau rekomendasi untuk
menjadi daerah otonom baru, dapat dilihat
sebagaimana tabel berikut :
TABEL
KATEGORI PENILAIAN
Berdasarkan penilaian masingmasing calon daerah otonom di atas, maka
perlu dievaluasi dan ditetapkan tingkat
kemampuan calon daerah otonom sekaligus
dikaji secara cermat kekuatan dan
kelemahan
masing-masing
indikator
sebagai dasar atau masukan rekomendasi
kebijakan
pembinaan
peningkatan
kemampuan pada setiap calon daerah
otonom untuk menjamin dan menunjang
keberhasilan
penyelenggaraan
pemerintahan daerah.
Total skor dalam jumlah tertentu
ditetapkan sebagai standar evaluasi untuk
menetapkan apakah suatu calon daerah
otonom sangat mampu, mampu, kurang
mampu, tidak mampu dan sangat tidak
KATEGORI
1. Sangat Mampu
2. Mampu
3. Kurang Mampu
4. Tidak Mampu
5. Sangat Tidak
Mampu
122
NILAI
420-500
340-419
260-339
180-259
100-179
KETERANGAN
Rekomendasi
Rekomendasi
Ditolak
Ditolak
Ditolak
mampu dan sangat tidak mampu dalam
menyelenggarakan otonomi daerah, atau
perolehan jumalh nilai faktor kependudukan
kurang dari 80, atau faktor kemampuan
ekonomi kurang dari 60, atau perolehan
jumlah nilai faktor potensi daerah kurang
dari 60, atau perolehan jumlah nilai faktor
kemampuan keuangan kurang dari 60.
Berdasarkan
5
(lima)
alternatif
pemekaran yang telah ditentukan sebagai
wilayah kajian, maka diperoleh hasil analisis
sebagaimana tabel berikut :
Suatu daerah direkomendasikan menjadi
daerah otonom apabila daerah induk dan
calon daerah yang akan dibentuk
mempunyai nilai total nilai dengan kategori
sangat mampu (420-500) atau mampu
(340-419), dan perolehan jumlah nilai faktor
kependudukan (80-100), kemampuan
ekonomi (60-75), faktor potensi daerah
(60-75), dan faktor kemampuan keuangan
(60-75).
Usulan pembentukan daerah ditolak
apabila daerah induk atau calon daerah
yang akan dibentuk mempunyai total nilai
dengan kategori kurang mampu, tidak
TABEL
PERBANDINGAN KEMAMPUAN
KABUPATEN BEKASI DAN CALON DAERAH OTONOM
SKOR x BOBOT
NO
VARIABEL
KAB.
BEKASI
(existing)
CALON DAERAH
INDUK
CALON DAERAH
PEMEKARAN
ALTERNATIF
ALTERNATIF
I
II
III
IV
V
I
II
III
IV
V
1.
Kependudukan
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
80
2.
Kemampuan
Ekonomi
75
75
75
75
75
75
75
45
65
45
70
3.
Potensi Daerah
67
71
67
68
68
63
63
66
64
66
63
4.
Kemampuan
Keuangan
70
70
65
70
65
75
75
75
75
75
75
5.
Sosial Budaya
17
19
13
13
13
11
11
17
15
17
23
6.
Sosial Politik
20
17
21
19
21
16
19
17
17
17
17
7.
Luas Daerah
21
17
17
17
17
19
19
11
8
8
25
8.
Pertahanan
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
9.
Keamanan
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
10
.
Tingkat
Kesejahteraan
25
25
25
25
25
25
20
20
20
20
20
11
.
Rentang
Kendali
13
5
5
8
8
18
18
18
18
18
20
Jumlah
420
411
400
407
404
414
412
381
394
378
405
Sumber : Hasil Perhitungan
123
Atas dasar perhitungan di atas, maka
dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut :
a. Dari hasil perhitungan ternyata calon
daerah pemekaraan pada alternatif II dan
IV, tidak dapat direkomendasikan
untuk menjadi daerah otonom. Meskipun
nilai total yang diperoleh kedua calon
daerah
pemekaran
pada
kedua
alternatiof tersebut di atas skor 420, akan
tetapi skor untuk kemampuan ekonomi
hanya mencapai skor 45 yang berarti
masih berada di bawah nilai minimum
yang ditetapkan untuk nilai kemampuan
ekonomi. Dengan demikian alternatif II
dan IV untuk saat ini berdasarkan hasil
perhitungan
tidak
dapat
direkomendasikan
untuk
menjadi
daerah otonom.
b. Prinsip
utama
dalam
melakukan
pemekaran wilayah adalah Pemekaran
kabupaten tidak boleh mengakibatkan
calon daerah otonom induk nantinya
menjadi lemah atau tidak mampu
menjalankan
otonominya,
atau
perbedaan kemampuan antara aalon
daerah otonom yang akan dibentuk dan
calon daerah otonom induk setelah
terjadi pemekaran tidak boleh memiliki
kesenjangan yang tajam. Dari Tabel
diatas sebagai hasil analisis dapat
diketahui selisih antara calon daerah
otonom yang dapat dihitung sebagai
berikut :
TABEL
SELISIH SKOR ANTAR CALON DAERAH OTONOM
No.
1.
2.
3.
4.
5.
Alternatif
Pemekaran
Alternatif I
Alternatif II
Alternatif III
Alternatif IV
Alternatif V
Selisih Antar Calon
Daerah Otonom
(Induk-Pemekaran)
(411 – 412) = 1 (-)
(400 – 381) = 19 (+)
(407 – 394) = 13 (+)
(404 – 378) = 26 (+)
(414 – 405) = 9 (+)
Tanda negatif pada hasil pengurangan
di atas menunjukkan bahwa potensi calon
daerah otonom pemekaran lebih besar
dibandingkan calon daerah otonom induk.
Sedangkan tanda positif berarti bahwa
potensi calon daerah otonom induk lebih
besar dibanding calon daerah otonom
pemekaran. Tabel di atas menunjukkan
bahwa selisih skor yang paling minimal
adalah Alternatif I dengan selisih 1(-),
sedangkan yang tertinggi adalah alternative
IV dengan selisih 26(+). Akan tetapi hasil
perhitungan indikator alternative II dan IV
ditolak
karena
faktor
kemampuan
ekonominya tidak memenuhi persyaratan.
Namun tidak berarti bahwa alternatif II dan
IV sama sekali tertutup kemungkinan untuk
dapat dijadikan pilihan kebijakan oleh
karena skor total cukup memenuhi syarat
untuk dimekarkan. Alternatif II dan IV dapat
dijadikan pilihan kebijakan pemekaran
dengan
catatan
bahwa
Pemerintah
Kabupaten Bekasi dalam waktu singkat
harus mengembangkan dulu kemampuan
ekonomi di wilayah calon daerah pemekaran
hingga mencapai skor kemampuan ekonomi
yang memenuhi persyaratan.
Keterangan
Rekomendasi
Ditolak
Rekomendasi
Ditolak
Rekomendasi
Jadi prioritas pilihan tindakan untuk
pemekaran berdasarkan selisih total skor
seluruh indikator adalah :
1) Alternatif I (calon kabupaten induk 10
kecamatan dan calon kabupaten
pemekaran 13 kecamatan)
2) Alternatif V (calon kabupaten induk 14
kecamatan dan calon kota pemekaran 9
kecamatan)
3) Aleterantif III (calon kabupaten induk 12
kecamatan dan calon kabupaten
pemekaran 11 kecamatan)
4) Alternatif II (calon kabupaten induk 12
kecamatan dan calon kabupaten
pemekaran 11 kecamatan).
5) Alternatif IV (calon kabupaten induk 13
kecamatan dan calon kabupaten
pemekaran 10 kecamatan).
Keseimbangan kemampuan riil dan
potensi yang dimiliki masing-masing antara
daerah yang akan dibentuk dan calon
daerah otonom
induk setelah terjadi
pemekaran harus relatif terjaga. Oleh
karena itu sebaiknya pilihan tindakan
berdasarkan selisih total skor paling rendah.
Pemekaran juga harus menjamin adanya
peningkatan
pelayanan
publik,
124
demokratisasi
dan
kesejahteraan
masyarakat baik pada calon daerah otonom
yang akan dibentuk maupun calon daerah
otonom induk setelah dimekarkan.
Pilihan prioritas pemekaran Kabupaten
Bekasi sebaiknya ditentukan menurut
kriteria berdasarkan selisih terendah dari
setiap calon daerah otonom
hasil
pemekaran baik untuk calon daerah otonom
yang akan dibentuk maupun calon daerah
otonom yang akan dimekarkan/calon daerah
otonom induk setelah dimekarkan, dengan
memperhatikan
aspirasi
masyarakat.
Kriteria ini dipilih berdasarkan pertimbangan
sebagai berikut :
1. Pemekaran kabupaten tidak boleh
mengakibatkan calon daerah otonom
induk nantinya menjadi lemah atau
tidak mampu menjalankan otonominya;
2. Perbedaan kemampuan antara calon
daerah otonom yang akan dibentuk
dan calon daerah otonom induk setelah
terjadi pemekaran tidak boleh memiliki
kesenjangan yang tajam;
3. Keseimbangan kemampuan riil dan
potensi yang dimiliki masing-masing
antara kabupaten yang akan dibentuk
dan calon daerah otonom
induk
setelah terjadi pemekaran harus relatif
terjaga;
4. Pemekaran harus menjamin adanya
peningkatan
pelayanan
publik,
demokratisasi
dan
kesejahteraan
masyarakat baik pada calon daerah
otonom yang akan dibentuk maupun
calon daerah otonom induk setelah
terjadi pemekaran.
Koperasi, pegadaian dan asuransi
terutama pada pusat pertumbuhan
ekonomi.
 Peningkatan kuantitas dan kualitas
penyebaran pusat perekonomian
terutama pertokoan.
 Peningkatan kuantitas dan kualitas
fasilitas
pendidikan
terutama
jenjang pendidikan SLTA menurut
kebutuhan daerah.
 Peningkatan kuantitas dan kualitas
fasilitas pelayanan kesehatan bagi
masyarakat berupa rumah sakit,
puskesmas dan poliklinik.
 Penyediaan jasa pelayanan umum
yang terjangkau oleh masyarakat
terutama
kendaraan
umum,
kemudahan kepemilikan fasilitas
kendaraan bermotor roda 2,
penyediaan sarana komunikasi
seperti telepon, listrik dan kantor
pos dan jasa-jasa lainnya.
 Penyediaan
sarana
pariwisata/rekreasi bagi masyarakat
dan penyediaan fasilitas akomodasi
yang memadai seperti rumah
makan.
 Membuka lapangan kerja yang
menyerap banyak tenaga kerja
untuk meningkatkan pendapatan
masyarakat.
3. Peningkatan Kemampuan Keuangan
 Penggalian potensi PAD.
 Efisiensi pengeluaran rutin melalui
penetapan SAB dan SPM.
4. Pengembangan
Kapasitas
Sosial
Budaya
 Pembangunan
sarana
dan
prasarana sosial bagi masyarakat
seperti
tempat
pertunjukan
seni/kesenian dan panti sosial.
5. Pengembangan Kapasitas Sosial Politik
Berdasarkan hasil analisis, maka
terdapat beberapa faktor yang perlu
diperhatikan dalam rangka meningkatkan
kemampuan daerah untuk menjamin
keberhasilan
pelaksanaan
kebijakan
otonomi daerah. Kebijakan yang dapat
diambil pada calon daerah otonom yang
akan dibentuk dengan calon daerah otonom
induk antara lain sebagai berikut :
1. Peningkatan
kemampuan
ekonomi
daerah melalui kebijakan :
 Membuka peluang investasi dengan
memperhatikan sub sektor PDRB
yang
paling
elastis
dalam
meningkatkan produktivitas dan
penyerapan tenaga kerja.
2. Pengembangan Potensi Daerah
 Peningkatan kuantitas lembaga
keuangan perbankan dan lembaga
keuangan non perbankan seperti

Fasilitasi
pembentukan
dan
pemberdayaan
organisasi
kemasyarakatan serta peningkatan
pembangunan kesadaran politik
masyarakat.
6. Pemanfaatan Luas Daerah
 Efisiensi dan optimalisasi lahan
untuk
sektor
industri
dan
perdagangan,
serta
kawasan
pemukiman penduduk.
7. Pertahanan dan Keamanan
 Peningkatan
kemampuan
pertahanan rakyat, keamanan dan
ketertiban masyarakat dengan
melibatkan peran serta masyarakat.
125
8. Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat
 Peningkatan taraf hidup masyarakat
yang diukur dari pendidikan,
kesehatan dan daya beli.
9. Peningkatan jangkauan pelayanan
 Pemanfaatan teknologi informasi
dalam penyelenggaraan pelayanan
kepada masyarakat dalam rangka
efisiensi dan efektivitas pelayanan.
 Optimalisasi
peran
Kecamatan
sebagai pusat pelayanan.
REKOMENDASI
Hasil
penelitian
terhadap
kemampuan daerah Kabupaten
adalah sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil pengukuran dan
penilaian terhadap kemampuan daerah,
ternyata Kabupaten Bekasi memiliki
skor 420. Ini berarti Kabupaten Bekasi
termasuk kategori sangat mampu dan
dapat
direkomendasikan
untuk
dimekarkan.
2. Berdasarkan jawaban responden hasil
penjaringan aspirasi masyarakat melalui
kuesioner menunjukkan bahwa lebih
dari 80% persen responden dari 2717
responden yang memberikan jawaban
menyatakan setuju untuk pemekaran di
Kabupaten Bekasi.
tingkat
Bekasi
Diagram 1
Tanggapan Masyarakat Terhadap Pemekaran
90
80
2. Tanggapan
70
Tidak setuju
14%
60
50
40
30
20
Setuju %
10
Tidak Setuju %
Setuju
86%
Total
Pemuda
Perempuan
Pendidikan
Agama
Masyarakat
0
Bila sudah mendengar, bagaimana tanggapan
Bapak/Ibu?
N = 2717
ï‚·
Hasil kajian tersebut diatas sejalan dengan
hasil jajak pendapat dari Pemerintah
Kabupaten Bekasi terhadap seluruh Badan
Permusyawaratan
Desa
(BPD)
di
Kabupaten Bekasi dari 187 Desa diperoleh
kesimpulan bahwa :
a. Sebanyak 178 BPD atau sekitar 80%
setuju pemekaran
b. Sebanyak 29 BPD atau sekitar 16% tidak
setuju pemekaran
c. Sebanyak 9 BPD atau sekitar 4% belum
memberikan pendapat (data belum
masuk).
Calon kabupaten pemekaran
dengan 13 kecamatan :
Cibitung,
Tambun
Utara,
Tambun
Selatan,
Karang
Bahagia, Tambelang, Sukatani,
Pebayuran,
Sukawangi,
Tarumajaya,
Babelan,
Sukakarya,
Cabangbungin,
Muaragembong.
b. Alternatif II terdiri dari :
ï‚· Calon kabupaten induk dengan
12 kecamatan : Setu, Serang
Baru, Cikarang Pusat, Cikarang
Selatan,
Cibarusah,
Bojongmangu, Cikarang Timur,
Kedungwaringin,
Cikarang
Utara, Cibitung, Cikarang Barat,
Tambun Selatan.
ï‚· Calon kabupaten pemekaran
dengan 11 kecamatan: Karang
Bahagia,
Tambun
Utara,
Babelan,
Tarumajaya,
Tambelang,
Sukawangi,
Sukatani,
Sukakarya,
3. Berdasarkan
jawaban
responden
terdapat 5 (lima) kecenderungan
wilayah pemekaran, yaitu :
a. Alternatif I terdiri dari :
ï‚· Calon kabupaten induk dengan
10 kecamatan : Cikarang Pusat,
Cikarang Selatan, Cikarang
barat, Cikarang Utara, Cikarang
Timur,
Cibarusah,
Bojongmangu, Serang Baru,
Setu, Kedungwaringin.
126
c.
Pebayuran,
Cabangbungin,
Muaragembong.
Alternatif III terdiri dari :
ï‚· Calon kabupaten induk dengan
12 kecamatan : Setu, Serang
Baru, Cikarang Pusat, Cikarang
Selatan,
Cibarusah,
Bojongmangu, Cikarang Timur,
Kedungwaringin,
Cikarang
Utara, Tambun Utara, Cikarang
Barat, Tambun Selatan.
ï‚· Calon kabupaten pemekaran
dengan 11 kecamatan : Karang
Bahagia, Cibitung, Babelan,
Tarumajaya,
Tambelang,
Sukawangi,
Sukatani,
Sukakarya,
Pebayuran,
Cabangbungin,
Muaragembong.
Tambun
Selatan,
Tambun
Utara.
ï‚· Calon kabupaten pemekaran
dengan 10 kecamatan : Karang
Bahagia, Babelan, Tarumajaya,
Tambelang,
Sukawangi,
Sukatani,
Sukakarya,
Pebayuran,
Cabangbungin,
Muaragembong.
e. Alternatif V terdiri dari :
ï‚· Calon kabupaten induk dengan
14
kecamatan
:
Kedungwaringin,
Cibitung,
Tambun
Selatan,
Tambun
Utara,
Karang
Bahagia,
Babelan,
Tarumajaya,
Tambelang,
Sukawangi,
Sukatani,
Sukakarya,
Pebayuran,
Cabangbungin,
Muaragembong.
ï‚· Calon kota pemekaran dengan
9 kecamatan : Cikarang Pusat,
Cikarang Selatan, Cikarang
barat, Cikarang Utara, Cikarang
Timur,
Cibarusah,
Bojongmangu, Serang Baru,
Setu.
d. Alternatif IV terdiri dari :
ï‚· Calon kabupaten induk dengan
13 kecamatan : Setu, Serang
Baru, Cikarang Pusat, Cikarang
Selatan,
Cibarusah,
Bojongmangu, Cikarang Timur,
Kedungwaringin,
Cikarang
Utara, Cibitung, Cikarang Barat,
TABEL
SELISIH SKOR ANTAR CALON DAERAH OTONOM
No.
1.
2.
3.
4.
5.
Alternatif Pemekaran
Alternatif I
Alternatif II
Alternatif III
Alternatif IV
Alternatif V
Selisih Antar Calon
Daerah Otonom
(Induk-Pemekaran)
(411 – 412) = 1 (-)
(400 – 381) = 19 (+)
(407 – 394) = 13 (+)
(404 – 378) = 26 (+)
(414 – 405) = 9 (+)
4. Pilihan pengembangan pemekaran
Kabupaten Bekasi didasarkan atas
besaran selisih kemampuan relatif
wilayah dari hasil kajian akademis
berdasarkan PP No. 78 Tahun 2007,
dengan urutan alternatif sebagai berikut
:
1) Alternatif
I,
dapat
langsung
direkomendasikan
karena
memenuhi jumlah skor total dan
skor untuk faktor kependudukan,
kemampuan
ekonomi,
potensi
daerah dan kemampuan keuangan.
2) Alternatif
V, dapat langsung
direkomendasikan
karena
memenuhi jumlah skor total dan
skor untuk faktor kependudukan,
Keterangan
Rekomendasi
Ditolak
Rekomendasi
Ditolak
Rekomendasi
kemampuan
ekonomi,
potensi
daerah dan kemampuan keuangan.
3) Aleterantif III dapat langsung
direkomendasikan
karena
memenuhi jumlah skor total dan
skor untuk faktor kependudukan,
kemampuan
ekonomi,
potensi
daerah dan kemampuan keuangan..
4) Alternatif
II
dapat
direkomendasikan, dengan catatan
dikembangkan dulu kemampuan
ekonominya hingga mencapai skor
yang memenuhi persyaratan.
5) Alternatif
IV
dapat
direkomendasikan, dengan catatan
dikembangkan dulu kemampuan
127
ekonominya hingga mencapai skor
yang memenuhi persyaratan.
Alternative.
The
Mit
Press,
Cambridge, Massachusetts, 1998.
Denhardt, Robert B., Theory of Public
Organization, Brooks Colle Publishing
Company Montery California USA,
1979.
Dunn, William N., Public Policy Analysis an
Introduction, Prentice Hall Inc. New
Jersey, 1994.
Dwiyanto,
Agus,
Penilaian
Kinerja
Organisasi
Pelayanan
Publik,
Makalah yang disampaikan dalam
Seminar
Kinerja
Organisasi
Pelayanan Publik, Fisipol UGM, 1995.
Edward III, George, Implementing Public
Policy, Congressional Quartely Press
Washington DC, 1980.
Effendi, Sofian, Kebijakan Pembinaan
Organisasi
Pelayanan
Publik
(Percikan Pemikiran Awal), Fisipol
UGM, 1995.
Frederickson, Administrasi Negara Baru,
LP3ES Jakarta, 1984.
Grindle
MS,
Politics
and
Policy
Implementation in the Third World,
Princenton University Press, New
Jersey, 1980.
Goggin, Malcom II, Implementation Theory
and Practice – Toward a Third
General, Illinois, London England,
1990.
James L. Perry, Ed. 1990, Handbook of
Public Administration, Jossey Bass
Inc, San Francisco, California, 1990.
Jones, Charles O., An Introduction to The
Study of Public Policy, Brook/Cole
Publishing
Company
Montere
California, 1984.
Mardiasmo, 2002, Otonomi dan Manajemen
Keuangan
Daerah,
Penerbit,
Jogajakarta.
Nasir, M. Safar, dkk, 2003, Pengukuran
Kinerja
Pemerintah
Daerah
(Prosiding Seminar Nasional), UAD
Press, Yogyakarta.
-----------, 1996. Membahas Pembangunan
Desa, Jakarta: Aditya Media.
Ndraha, Taliziduhu, 2003. Ilmu
Pemerintahan (Kybernology), Jakarta
: PT. Rineka Cipta.
Oentarto, dkk, 2004, Menggagas Format
Otonomi Daerah Masa Depan,
Samitra Media Utama, Jakarta.
Pranarka A.W. dan Ony S. Prijono, 1996,
Pemberdayaan Konsep Kebijakan
dan Implementasi, Jakarta: CSIS.
Rasyid, Ryaas, Makna Pemerintahan,
Wasrif Watampone, Jakarta, 2001.
5. Adapun untuk rekomendasi langkah
lebih lanjut sebagai bagian dari rencana
pemekaran wilayah Kabupaten Bekasi
setelah dilakukannya kajian ini adalah :
1) Penentuan wilayah kecamatan yang
akan dimekarkan sesuai hasil
perhitungan
potensi
dan
pertimbangan lainnya, dalam bentuk
Keputusan Bupati.
2) Penentuan ibukota calon daerah
otonom melalui pengkajian yang
lebih teknis tentang wilayah yang
strategis untuk dijadikan ibukota
baru, seperti ketersediaan air,
aksesibilitas, dan lain-lain. Wilayah
calon ibukota daerah otonom yang
baru juga harus dilengkapi dengan
surat keterangan kepemilikan tanah
yang sah dari pemerintah.
3) Melakukan
pemotretan
calon
daerah pemekaran dan daerah
induk untuk memastikan batasbatas daerah dan calon ibukota
dengan
melibatkan
instansi
berwenang antara lain dengan
BAKOSURTANAL.
4) Menyiapkan dokumen kelengkapan
pemekaran untuk diajukan ke DPRD
Propinsi dan Gubernur Jawa Barat,
antara lain dokumen aspirasi yakni
Keputusan
BPD
tentang
persetujuan
pemekaran,
Hasil
Kajian Daerah, Keputusan Bupati
dan Keputusan DPRD Kab. Bekasi
tentang persetujuan pemekaran,
serta peta wilayah yang akan
dimekarkan.
DAFTAR ACUAN
Anderson, JE, Public Policy Making, Halt
Renehart and Winston USA, 1978.
Badri J., 1953, Otonomi Daerah – Masalah
dan
Beberapa
Perbandingan,
Tintamas, Jakarta.
Basri, Faisal, 2005, Kita Harus Berubah,
Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Charless H. Lenvile, et. al, Public
Administration Challenges, Choices,
Consequences. Scott Foreman/Little
Brown Higher Education : Glenview,
Illionis, 1990.
Charless Wolf, Jr., Market or Government :
Choosing
Between
Imperfect
128
Ripley, Randall B. and Franklin Grace A.,
Policy
Implementation
and
Bureucracy, The Dorcey Press,
Chicago, Illnois, …
Sadu Wasistiono, 2002 Esensi UU Nomor
22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah (Bunga Rampai) Alqaprint
Jatinangor, 2002.
---------------------, 2001, Etika Hubungan
Legislatif-Eksekutif Dalam Rangka
Pelaksanaan
Otonomi
Daerah,
Alqaprint, Jatinangor.
Sarundajang, S.H., 1999. Arus Balik
Kekuasaan Pusat ke Daerah,
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Syaukani, H.R., dkk, 2002, Otonomi Daerah
dalam Negara Kesartuan, Pustaka
Pelajar Offset, Jogjakarta.
Peraturan – Peraturan
Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun
2005 tentang Pembinaan dan
Pengawasan atas Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah.
Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2007
tentang Tatacara Pembentukan,
Penghapusan dan Penggabungan
Daerah.
129
Reformasi Birokrasi Kabinet Kerja Jokowi-JK
Ilham Gemiharto 4
ABSTRAK
Reformasi Birokrasi menjadi kata kunci bagi pemerintahan Jokowi yang telah mematok
target 7% pertumbuhan ekonomi nasional dalam masa kepemimpinannya. Meskipun target
tersebut sulit dicapai dalam kondisi perekonomian saat ini, namun juga bukan hal yang mustahil.
Diperlukan pembangunan infrastruktur yang massif dan ditunjang oleh penguatan sumber daya
manusia untuk mencapai target tersebut. Namun yang jauh lebih mendasar sebetulnya adalah
penguatan institusi birokrasi sebagai penyelenggara negara. Penguatan institusi birokrasi melalui
reformasi birokrasi Kabinet Kerja Jokowi-JK dapat dijadikan sebagai tolak ukur awal.
Salah satu misi utama pemerintahan Jokowi-JK adalah membangun tata kelola
pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya, dengan restrukturisasi
kelembagaan, perbaikan kualitas pelayanan publik, meningkatkan kompetensi aparatur,
memperkuat monitoring dan supervisi atas kinerja pelayanan publik, serta membuka ruang
partisipasi publik.
Pembentukan Kabinet Kerja yang terdiri dari para profesional dan profesional partai
meskipun masih mencerminkan adanya kompromi politik, namun memberikan harapan baru bagi
upaya pelaksanaan reformasi birokrasi. Evaluasi 100 hari pertama Kabinet Kerja Jokowi-JK
menunjukkan upaya yang serius dalam menjalankan agenda reformasi birokrasi dari beberapa
menteri di Kabinet Kerja. Apabila mereka tetap konsisten dengan kinerjanya saat ini niscaya
target pertumbuhan ekonomi 7% dapat tercapai dalam masa pemerintahan Jokowi-JK.
Kata kunci: Reformasi Birokrasi, Kabinet Kerja, Jokowi-JK
PENDAHULUAN
Reformasi Birokrasi adalah suatu
perubahan
signifikan
elemen-elemen
birokrasi seperti kelembagaan, sumber daya
manusia
aparatur,
ketatalaksanaan,
akuntabilitas, aparatur, pengawasan dan
pelayanan publik, yang dilakukan secara
sadar untuk memposisikan diri (birokrasi)
kembali, dalam rangka menyesuaikan diri
dengan dinamika lingkungan yang dinamis.
Perubahan tersebut dilakukan untuk
melaksanakan peran dan fungsi birokrasi
secara tepat, cepat dan konsisten, guna
menghasilkan manfaat sesuai diamanatkan
konstitusi. Perubahan kearah yang lebih
baik, merupakan cerminan dari seluruh
kebutuhan yang bertitik tolak dari fakta
adanya peran birokrasi saat ini yang masih
jauh dari harapan.
Sejak memaparkan visi dan misinya
dalam masa kampanye Pemilu Presiden
2014, Jokowi-JK selalu menekankan
pentingnya membentuk pemerintahan yang
bersih dan memiliki integritas yang tinggi.
Salah satu visi utama pemerintahan JokowiJK adalah membangun tata kelola
pemerintahan
yang
bersih,
efektif,
demokratis dan terpercaya. Langkah utama
4
yang dilakukan adalah dengan memulihkan
kembali kepercayaan publik terhadap
institusi-institusi
demokrasi,
melalui
reformasi sistem kepartaian, pemilu dan
lembaga perwakilan. Upaya tersebut
kemudian disertai dengan mewujudkan tata
kelola pemerintahan yang transparan.
Jokowi-JK juga akan secara konsisten
menjalankan agenda reformasi birokrasi
dengan
restrukturisasi
kelembagaan,
perbaikan kualitas pelayanan publik,
meningkatkan
kompetensi
aparatur,
memperkuat monitoring dan suvervisi atas
kinerja pelayanan publik, serta membuka
ruang partisipasi publik.
Pembentukan Kabinet Kerja pada
akhir Oktober 2014 yang terdiri dari
kalangan profesional dan profesional partai
memunculkan
sejumlah
respon
dari
kalangan masyarakat. Secara umum,
masyarakat merasa puas dengan struktur
dan susunan Kabinet Kerja dan memiliki
harapan dalam menciptakan perubahan
positif bagi bangsa.
Meskipun masih
menyisakan beberapa catatan mengenai
adanya kompromi politik dengan partai
pendukung, para menteri Kabinet Kerja
Jokowi-JK selayaknya para menteri baru
Dosen Tetap Jurusan Manajemen Komunikasi FIKOM UNPAD
130
diberikan kesempatan untuk menunjukkan
kinerjanya selama 100 hari pertama masa
jabatan
mereka.
Beberapa
menteri
menunjukkan gebrakan yang tidak pernah
dilakukan oleh menteri-menteri sebelumnya
dalam mendukung upaya reformasi birokrasi
yang telah dicanangkan oleh Presiden
Jokowi-JK. Tulisan ini akan mengulas telah
sejauh
mana
reformasi
birokrasi
diaplikasikan dalam kebijakan mereka
dalam 100 hari pertama pemerintahan
Jokowi-JK.
serta konsensus antara prinsip-prinsip
dalam masyarakat.
Khan (1981) memberi pengertian
reformasi sebagai suatu usaha perubahan
pokok dalam suatu sistem birokrasi yang
bertujuan mengubah struktur, tingkah laku,
dan keberadaan atau kebiasaan yang telah
lama.
Sedangkan
Quah
(1976)
mendefinisikan reformasi sebagai suatu
proses untuk mengubah proses, prosedur
birokrasi publik dan sikap serta tingkah laku
birokrat untuk mencapai efektivitas birokrasi
dan tujuan pembangunan nasional. Aktivitas
reformasi sebagai padanan lain dari change,
improvement, atau modernization. Dari
pengertian ini, maka reformasi ruang
lingkupnya tidak hanya terbatas pada
proses dan prosedur, tetapi juga mengaitkan
perubahan pada tingkat struktur dan sikap
tingkah laku (the ethics being). Arah yang
akan dicapai reformasi antara lain adalah
tercapainya pelayanan masyarakat secara
efektif dan efisien. Reformasi bertujuan
mengoreksi
dan
membaharui
terusmenerus arah pembangunan bangsa yang
selama ini jauh menyimpang, kembali ke
cita-cita proklamasi. Reformasi birokrasi
penting dilakukan agar bangsa ini tidak
termarginalisasi oleh arus globalisasi.
Reformasi ini harus dilakukan mulai
dari pejabat tertinggi, seperti presiden dalam
suatu negara atau menteri/kepala lembaga
pada suatu departemen dan kementerian
negara/lembaga negara, sebagai motor
penggerak utama diikuti oleh seluruh
aparatur dibawahnya. Reformasi birokrasi di
Indonesia untuk saat ini dapat dikatakan
belum
berjalan
dengan
maksimal.
Indikasinya adalah buruknya pelayanan
publik dan masih maraknya perkara korupsi.
Berbagai
permasalahan
dan
hambatan yang mengakibatkan sistem
penyelenggaraan
pemerintahan
tidak
berjalan atau diperkirakan tidak akan
berjalan dengan baik harus ditata ulang atau
diperharui.
Reformasi
birokrasi
dilaksanakan dalam rangka mewujudkan
tata kelola pemerintahan yang baik (good
governance). Dengan kata lain, reformasi
birokrasi adalah langkah strategis untuk
membangun aparatur negara agar lebih
berdaya guna dan berhasil guna dalam
mengemban tugas umum pemerintahan dan
pembangunan nasional. Selain itu dengan
sangat
pesatnya
kemajuan
ilmu
pengetahuan, teknologi informasi dan
komunikasi serta perubahan lingkungan
strategis menuntut birokrasi pemerintahan
PEMBAHASAN
Reformasi Birokrasi
Reformasi secara bahasa berarti
mengubah atau membuat sesuatu menjadi
lebih baik daripada yang sudah ada.
Reformasi ini diarahkan pada perubahan
masyarakat yang termasuk didalamnya
masyarakat birokrasi, dalam pengertian
perubahan ke arah kemajuan. Dalam
pengertian ini perubahan masyarakat
diarahkan
pada
development.
Karl
Mannheim menjelaskan bahwa perubahan
masyarakat adalah berkaitan dengan
norma-normanya. Development adalah
perkembangan yang tertuju pada kemajuan
keadaan dan hidup anggota masyarakat,
dimana kemajuan kehidupan ini akhirnya
juga dinikmati oleh masyarakat.
Reformasi
birokrasi
pada
hakikatnya
merupakan
upaya
untuk
melakukan pembaharuan dan perubahan
mendasar
terhadap
sistem
penyelenggaraan pemerintahan terutama
menyangkut aspek-aspek kelembagaan
(organisasi), ketatalaksanaan dan sumber
daya manusia aparatur”
Sangat menarik membicarakan
tentang birokrasi, karena dalam realita
kehidupan birokrasi terkesan negatif dan
menyulitkan dalam melayani masyarakat,
padahal para pegawai birokrasi itu dibayar
dari pajak rakyat. Seringkali wewenang yang
diberikan kepada pegawai dari birokrasi
disalahgunakan. Oleh karena itu sangat
diperlukan adanya reformasi birokrasi.
Dengan demikian maka perubahan
masyarakat dijadikan sebagai peningkatan
martabat manusia, sehingga hakekatnya
perubahan masyarakat berkait erat dengan
kemajuan masyarakat. Dilihat dari aspek
perkembangan masyarakat tersebut maka
terjadilah keseimbangan antara tuntutan
ekonomi, politik, sosial dan hukum,
keseimbangan antara hak dan kewajiban,
131
untuk direformasi dan disesuaikan dengan
dinamika tuntutan masyarakat. Oleh karena
itu harus segera diambil langkah-langkah
yang bersifat mendasar, komprehensif, dan
sistematik, sehingga tujuan dan sasaran
yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan
efektif dan efisien. Reformasi di sini
merupakan proses pembaharuan yang
dilakukan
secara
bertahap
dan
berkelanjutan, sehingga tidak termasuk
upaya dan/atau tindakan yang bersifat
radikal dan revolusioner.
Reformasi birokrasi dilatarbelakangi
oleh adanya ketidakpercayaan yang meluas
pada kinerja pemerintah yang ditandai
dengan adanya praktek Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme (KKN) yang mewabah pada
lembaga
birokrasi.
Korupsi
menurut
“Transparency International” adalah perilaku
pejabat publik, baik politikus politisi maupun
pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan
tidak
legal
memperkaya
diri
atau
memperkaya
mereka
yang
dekat
dengannya, dengan menyalahgunakan
kekuasaan publik yang di percayakan
kepada mereka. Korupsi dapat membuat
pelayanan pemerintah menjadi tidak
maksimal dikarenakan adanya penyaluran
anggaran yang kurang sempurna sehinggga
masyarakat dirugikan karena tindakan
korupsi yang dilakukan oleh aparatur yang
berkaitan. Dalam arti luas korupsi atau
korupsi politis adalah penyalahgunaan
jabatan resmi untuk kepentingan pribadi.
Korupsi menurut “Kamus Besar Bahasa
Indonesia” adalah penyelewengan atau
penggelapan
(uang
negara
atau
perusahaan) untuk kepentingan pribadi atau
orang lain. Korupsi di definisikan oleh “Bank
Dunia” sebagai penyalahgunaan jabatan
publik untuk mendapatkan keuntungan
pribadi.
Kolusi merupakan sikap dan
perbuatan tidak jujur dengan membuat
kesepakatan secara tersembunyi dalam
melakukan kesepakatan perjanjian yang
diwarnai dengan pemberian uang atau
fasilitas tertentu sebagai pelicin agar segala
urusannya menjadi lancar. Sedangkan
nepotisme berarti lebih memilih saudara
atau
teman
akrab
berdasarkan
hubungannya
bukan
berdasarkan
kemampuannya.
Tuntutan akan reformasi birokrasi
juga didasari karena tingkat kualitas
pelayanan publik yang tidak memenuhi
harapan masyarakat. Contoh yang paling
mudah adalah pelayanan kantor kelurahan
dalam pengurusan KTP, apabila sebelum
reformasi birokrasi pelayanan pembuatan
KTP di kantor kelurahan bisa mencapai
waktu 2 minggu atau 3 bulan lebih, namun
setelah reformasi birokrasi harusnya
pembuatan KTP bisa diselesaikan dalam
waktu kurang dari satu hari.
Sebelum
era
reformasi
perencanaan anggaran masih bersifat
perencanaan kegiatan/program. Hal ini
membuat sistem birokrasi sibuk dengan
kegiatan dan program namun tidak tahu apa
yang harus dicapai melalui kegiatan
tersebut. Pendekatan ini bukan hanya
berpotensi membelanjakan dana publik
untuk hal yang tidak perlu, tetapi juga
membuat struktur birokasi tidak tahu persis
apa yang harus dilakukan.
Melalui reformasi birokrasi maka
pendekatan ini harus diubah, anggaran
pemerintahan harus berorientasi pada hasil.
Merencanakan hasil, menganggarkan untuk
hasil, memonitor hasil dan melaporkan hasil.
Hasil yang dimaksud dapat berupa
revitalisasi pasar tradisional sehingga tidak
kumuh lagi, jalanan yang tidak macet,
pendidikan dan kesehatan yang terjangkau
bagi semua orang, lapangan kerja yang
banyak dan iklim berusaha yang kondusif.
Saat ini masyarakat menilai bahwa
transparansi dan akuntabilitas birokrasi
masih rendah. Transparansi adalah suatu
proses keterbukaan dari para pengelola
manajemen, utamanya manajemen publik,
untuk membangun akses dalam proses
pengelolaannya sehingga arus informasi
keluar dan masuk secara berimbang. dalam
proses transparansi informasi tidak hanya
diberikan oleh pengelola manajemen publik,
tetapi masyarakat memiliki hak untuk
memperoleh informasi yang menyangkut
kepentingan
publik.
Transparansi
Pemerintahan adalah terjaminnya akses
masyarakat dalam berpartisipasi, utamanya
dalam proses pengambilan keputusan. Jika
penyelenggaraan pemerintahan dilakukan
dengan tertutup dan tidak transparan secara
umum akan berdampak pada tidak
tercapainya kesejahteraan masyarakat atau
warga Negara, sebagaimana tercantum
dalam kontitusi Negara, yaitu pencapaian
masyarakat yang adil dan makmur.
Keterbukaan adalah keadaan yang
memungkinkan ketersediaan informasi yang
dapat
diberikan
dan
didapat
oleh
masyarakat luas. Keterbukan merupakan
kondisi yang memungkinkan partisipasi
masyarakat dalam kehidupan bernegara.
132
Keterbukaan arus informasi di bidang
hukum penting agar setiap warga negara
mendapatkan suatu jaminan keadilan. Sikap
keterbukaan juga menuntut komitmen
masyarakat dan mentalitas aparat dalam
melaksanakan peraturan tersebut. Kesiapan
infrastruktur fisik dan mental aparat sangat
menentukan jalannya “jaminan keadilan”.
Dalam
mewujudkan
suatu
pemerintahan atau kepemerintahan yang
demokratis maka hal yang paling utama
yang harus diwujudkan oleh pemerintah
adalah transparansi (keterbukaan). Adapun
indikasi dari suatu pemerintahan atau
kepemerintahan yang transparan (terbuka)
adalah apabila di dalam penyelenggaraan
pemerintahannya terdapat kebebasan aliran
informasi
dalam
berbagai
proses
kelembagaan. Berbagai informasi harus
disediakan secara memadai dan mudah
dimengerti sehingga dapat digunakan
sebagai alat monitoring dan evaluasi.
Kepemerintahan yang tidak transparan,
cepat atau lambat cenderung akan menuju
ke pemerintahan yang korup, otoriter, atau
diktator.
Reformasi birokrasi bertujuan untuk
menciptakan
suatu
penyelenggaran
pemerintahan yang baik dan terbuka.
Penyelenggaraan negara yang baik dapat
menciptakan pemerintahan yang baik (good
governance). Dan untuk mewujudkan
pemerintahan yang baik, ada beberapa asas
yang perlu diperhatikan, yaitu Asas
Kepastian
Hukum,
Asas
Tertib
Penyelenggaran Negara, Asas Kepentingan
Umum,
Asas
Keterbukaan,
Asas
Proposionalitas, Asas Profesionalitas, dan
Asas Akuntabilitas
Salah
satu
aspek
reformasi
birokrasi adalah peningkatan disiplin dan
etos kerja yang masih rendah. Etos kerja
adalah perilaku kerja yang menjadi
kebiasaan kerja dengan berlandaskan pada
etika. Dengan kata lain etos kerja yaitu
semua kebiasaan baik yang berlandaskan
etika yang harus dilakukan di tempat kerja,
seperti disiplin, jujur, tanggung jawab, tekun,
sabar, berwawasan, kreatif, bersemangat,
mampu bekerja sama, sadar lingkungan,
loyal, berdedikasi, bersikap santun, dan
sebagainya.
Seorang
pekerja
atau
pemimpin
betapa
hebat
kepandaian/kecakapannya, tetapi tidak jujur
atau tidak bertanggung jawab, tidak disiplin
atau tidak loyal, apalagi tak mampu bekerja
sama, pasti merugikan lembaga. Tanpa etos
kerja tinggi seperti disebutkan di atas
lembaga
pemerintah
tak
mungkin
meningkatkan produktivitas sebagaimana
yang diharapkan. Kinerja (performance)
lembaga pemerintahan sangat ditentukan
oleh etos kerja pegawainya. Menumbuhkan
etos kerja kepada bawahan memang tidak
mudah, karena etos kerja tak dapat
dipaksakan dan harus tumbuh dari dua
pihak yaitu atasan dan bawahan. Atasan
perlu memberi perhatian melalui system
reward and punishment sehingga bawahan
memiliki motivasi untuk bekerja lebih
produktif dan memiliki tanggung jawab.
Atasan juga harus bersikap adil dan
bijaksana sehingga tercipta loyalitas dan
dedikasi, namun juga mampu bersikap
tegas sehingga bawahan akan memiliki
disiplin dalam bekerja. Atasan juga harus
menjadi
teladan
sehingga
mampu
menciptakan
filosofi
atau
budaya
perusahaan yang baik. Memimpin manusia
memang tidak mudah. Apalagi memotivasi
bawahan untuk menciptakan etos kerja yang
baik.
Reformasi birokrasi merupakan
upaya pemerintah untuk mencapai good
governance. Melihat pengalaman sejumlah
negara menunjukkan bahwa reformasi
birokrasi merupakan langkah awal untuk
mencapai kemajuan sebuah negara. Melalui
reformasi birokrasi, dilakukan penataan
terhadap
sistem
penyelenggaraan
pemerintahan yang tidak hanya efektif dan
efesien tapi juga reformasi birokrasi menjadi
tulang
punggung
dalam
kehidupan
berbangsa dan bernegara. Reformasi
birokrasi
kementerian
dan
lembaga
memang harus dilakukan karena birokrasi
dituntut untuk dapat melayani masyarakat
secara cepat, tepat dan profesional.
Birokrasi merupakan faktor penentu
dalam mencapai tujuan pembangunan
nasional. Oleh sebab itu cita-cita reformasi
birokrasi
adalah
terwujudnya
penyelenggaraan
pemerintahan
yang
profesional, memiliki kepastian hukum,
transparan, partisipatif, akuntabel dan
memiliki kredibilitas serta berkembangnya
budaya dan perilaku birokrasi yang didasari
oleh
etika,
pelayanan
dan
pertanggungjawaban publik serta integritas
pengabdian dalam mengemban misi
perjuangan bangsa mewujudkan cita-cita
dan tujuan bernegara.
Reformasi
birokrasi
pada
hakikatnya
merupakan
upaya
untuk
melakukan pembaharuan dan perubahan
mendasar
terhadap
sistem
133
penyelenggaraan pemerintahan terutama
menyangkut aspek-aspek kelembagaan,
ketatalaksanaan dan sumber daya manusia
aparatur. Reformasi birokrasi di Indonesia
menempatkan pentingnya rasionalisasi
birokrasi yang menciptakan efesiensi,
efektifitas,
dan
produktifitas
melalui
pembagian kerja hirarkikal dan horizontal
yang seimbang, diukur dengan rasio antara
volume atau beban tugas dengan jumlah
sumber daya disertai tata kerja formal dan
pengawasan yang ketat.
Penataan organisasi pemerintah
baik pusat maupun daerah didasarkan pada
visi, misi dan sasaran startegis, agenda
kebijakan, program dan kinerja kegiatan
yang
terencana
dan
diarahkan
terbangunannya sosok birokrasi dengan
tugas dan bertanggungjawaban terbuka dan
aksessif. Penyederhanaan tata kerja dalam
hubungan intra dan antar aparatur serta
antar aparatur dengan masyarakat dan
dunia usaha yang berorientasi pada kriteria
dan mekanisme yang impersonal terarah
pada
penerapan
pelayanan
prima.
Reformasi birokrasi juga merupakan
langkah strategis membangun sumber daya
aparatur Negara yang professional, memiliki
daya guna dan hasil guna yang professional
dalam
rangka
menunjang
jalannya
pemerintah dan pembangunan nasional.
Pelaksanaan reformasi birokrasi
telah mendapatkan landasan hukum yang
kuat melalui penerbitan Peraturan Presiden
Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand
Design Reformasi Birokrasi 2010-2025.
Selanjutnya, dalam implementasinya telah
ditetapkan landasan operasional dalam
bentuk Peraturan Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(Menpan dan RB) Nomor 20 tahun 2010
tentang Road Map Reformasi Birokrasi
2010-2014. Sebanyak lebih dari 15
Kementerian/Lembaga telah melaksanakan
tahapan Reformasi Birokrasi Instansi (RBI).
Dalam rangka meningkatkan koordinasi,
menajamkan dan mengawal pelaksanaan
reformasi birokrasi, telah ditempuh langkahlangkah kebijakan, antara lain; penerbitan
Keppres
14
Tahun
2010
tentang
Pembentukan Komite Pengarah Reformasi
Birokrasi Nasional dan Tim Reformasi
Birokrasi Nasional, yang disempurnakan
menjadi Keppres Nomor 23 Tahun 2010;
Keputusan Menpan dan RB Nomor 355
Tahun 2010 tentang Pembentukan Tim
Independen, dan Keputusan Menpan dan
RB Nomor 356 Tahun 2010 tentang
Pembentukan Tim Penjamin Kualitas
(Quality Assurance). Kualitas pelaksanaan
reformasi birokrasi khususnya dampaknya
pada peningkatan kinerja dan pelayanan
publik terus diawasi melalui Tim Quality
Assurance.
Keberhasilan
pelaksanaan
reformasi birokrasi akan sangat mendukung
dalam penciptaan good governance karena
reformasi birokrasi merupakan inti dari
upaya penciptaan good governance,
sehingga
akan dapat
meningkatkan
pelayanan
kepada
masyarakat
dan
meningkatkan investasi di Indonesia yang
berujung pada peningkatan pertumbuhan
perekonomian Indonesia yang membawa
implikasi
terhadap
peningkatan
kesejahteraan rakyat.
Agenda
Reformasi
Birokrasi
Pemerintahan Jokowi-JK
Reformasi
sistem
birokrasi
merupakan salah satu agenda utama dalam
pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla
(Jokowi-JK). Selama masa kampanye, salah
satu kata kunci bagi Jokowi adalah
reformasi birokrasi. Jokowi mematok target
7% pertumbuhan ekonomi di masa
kepemimpinannya. Untuk itu diperlukan
pembangunan infrastruktur yang massif
yang ditunjang oleh penguatan sumber daya
manusia untuk mencapai impian itu. Namun
yang jauh lebih mendasar sebetulnya
adalah penguatan institusi birokrasi sebagai
penyelenggara negara.
Makna dari reformasi birokrasi
adalah
bagaimana
menggerakkan
manajemen organisasi agar semuanya
efektif dan bisa menguasai lapangan. Untuk
menanggulangi masalah korupsi dalam
birokrasi misalnya, Jokowi mengajukan
reformasi birokrasi sebagai jawabannya
karena proses rekrutmen kaum birokrat
merupakan unsur yang sangat penting yang
akan menentukan pengurangan korupsi di
Indonesia
Pemerintahan Jokowi-JK memiliki
agenda untuk melanjutkan Grand Design
Reformasi Birokrasi 2010-2025 melalui
Rancangan Road Map Reformasi Birokrasi
2014-2019 yang diwujudkan melalui
peningkatan kinerja birokrasi dengan
serangkaian program reformasi birokrasi
yang bersifat masif. Proses rekrutmen
birokrasi pemerintahan merupakan unsur
yang sangat penting yang akan mereduksi
jumlah pelaku korupsi dari aparat
pemerintahan, sehingga sebaiknya sistem
134
rekrutmen PNS harus dilakukan secara atau
open recruitment.
Salah satu visi utama pemerintahan
Jokowi-JK adalah membangun tata kelola
pemerintahan
yang
bersih,
efektif,
demokratis dan terpercaya. Langkah utama
yang dilakukan adalah dengan memulihkan
kembali kepercayaan publik terhadap
institusi-institusi
demokrasi,
melalui
reformasi sistem kepartaian, pemilu dan
lembaga perwakilan. Upaya tersebut
kemudian disertai dengan mewujudkan tata
kelola pemerintahan yang transparan.
Jokowi-JK juga akan secara konsisten
menjalankan agenda reformasi birokrasi
dengan
restrukturisasi
kelembagaan,
perbaikan kualitas pelayanan publik,
meningkatkan
kompetensi
aparatur,
memperkuat monitoring dan suvervisi atas
kinerja pelayanan publik, serta membuka
ruang partisipasi publik.
Reformasi Birokrasi kini merupakan
tantangan utama pemerintahan baru.
Jokowi-JK langsung dihadapkan pada
berbagai permasalahan struktural mulai dari
tumpang tindihnya aturan dan kebijakan,
politik birokrasi yang kental, birokrasi gemuk
dan boros, kualitas dan kuantitas sumber
daya aparatur, hingga korupsi yang melekat
pada sistem. Reformasi birokrasi yang telah
dicanangkan pemerintahan SBY dan telah
berjalan selama beberapa tahun terakhir ini
belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan
yang dicita-citakan. Tujuan reformasi
birokrasi adalah upaya untuk melakukan
perbaikan kondisi birokrasi sehingga akan
mampu meningkatkan efektivitas dan
efisiensi
birokrasi
pemerintah
guna
meningkatkan kualitas pelayanan terhadap
masyarakat. Reformasi birokrasi tidak hanya
program dan kegiatan saja, tetapi harus
menjadi gerakan nasional bersama-sama
antara pemerintah pusat dan daerah dan
seluruh pemangku kepentingan termasuk
masyarakat. Sebagai langkah percepatan
pelaksanaan reformasi birokrasi telah
ditetapkan enam undang-undang (UU)
sebagai pilar pondasi hukum di dalam
melaksanakan reformasi birokrasi. Ada tiga
UU yang telah ditetapkan, yaitu UU Nomor
39 Tahun 2008 tentang Kementerian
Negara, UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik, dan UU Nomor 5 Tahun
2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Tiga
UU masih dalam proses legislasi, yaitu RUU
Administrasi Pemerintahan, RUU Tata
Hubungan Kewenangan antara Pemerintah
Pusat Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta
RUU tentang Sistem Pengawasan Internal
Pemerintah. Apabila seluruh UndangUndang itu telah ditetapkan paling tidak
menjadi kerangka dasar atau hukum
reformasi birokrasi yang kuat sehingga
pelaksanaan reformasi birokrasi dapat
berjalan dengan efektif.
Hingga saat ini birokrasi di
Indonesia setidaknya masih melekat dengan
dua permasalahan utama. Pertama,
perekrutan pegawai negeri sipil (PNS) yang
masih kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN).
Kedua, promosi jabatan dan eselon masih
mengenal sistem setoran kepada atasan,
seperti kepada kepala dari suatau institusi
atau departemen, serta kepada kepala
daerah. Berdasarkan riset tentang kesulitan
dan kegagalan reformasi birokrasi di
negara-negara Asia, penyebab utamanya
ialah disebabkan oleh budaya patronase
yang sangat kuat. Patronase adalah
semangat perkawanan di mana individu
yang memiliki status sosio-ekonomi yang
lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh
dan sumberdayanya untuk melindungi dan
memberi
keuntungan
bagi
yang
berkedudukan
lebih
rendah
(client),
sementara sang client pada gilirannya
memberi dukungan dan bantuan termasuk
pelayanan personal bagi sang patron.
Definisi
ini
menjelaskan
bagaimana
hubungan antar birokrat di Indonesia,
dimana yang berposisi lebih tinggi
‘mengayomi' yang lebih rendah, sementara
pegawai rendah memberi pelayanan.
Untuk menghadapi permasalahan
klasik dalam birokrasi di Indonesia, maka
diperlukan suatu terobosan birokrasi yang
sangat berani oleh Jokowi. Pada saat
menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta,
Jokowi telah melaksanakan rekrutmen
terbuka (open recruitment) dengan sistem
lelang
jabatan.
Hanya
orang-orang
berkualifikasi dan berintegritaslah yang
diharapkan bisa mengisi suatu jabatan
publik. Dengan rekrutmen terbuka akan
membuat pengisian jabatan tak lagi
berdasarkan suka atau tidak suka,
berdasarkan kekerabatan, dan atau timbal
balik politik. Pada level nasional, sebetulnya
sistem open recruitment sudah menjadi satu
dari 10 agenda reformasi nasional.
Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara bahkan sudah merinci langkah demi
langkah penerapan sistem lelang terbuka
untuk jabatan-jabatan tertentu dalam
birokrasi. Ketika rekrutmen terbuka sudah
berjalan dengan baik, maka para birokrat
135
inilah yang akan merupakan ujung tombak
pemerintah untuk melayani masyarakat.
Mereka bukanlah birokrat yang hanya duduk
di belakang meja, namun harus menjadi
pegawai negeri yang turun ke lapangan dan
memahami
semua
problematika
masyarakat di wilayahnya.
Saat ini terjadi, maka konsep
birokrasi level lapangan atau street-level
bureaucracy bisa dijalankan. Konsep inilah
yang sudah dicoba dijalankan di Jakarta,
ketika para lurah dan camat menjadi ujung
tombak
penyelenggaraan
negara.
Merekalah yang sesungguhnya secara
langsung berhadapan dengan masyarakat.
Mereka pula yang mengetahui detil
persoalan. Para pemimpin yang terpilih
melalui proses politik tidak akan bisa
berbuat banyak, jika birokrasi level lapangan
ini tidak memiliki kualitas yang baik.
Langkah reformasi birokrasi yang
dilakukan oleh Jokowi dan dilanjutkan oleh
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai
Gubernur DKI Jakarta bisa menjadi contoh
bagaimana seharusnya reformasi birokrasi
dilaksanakan. Pencapaian kerja yang
ditunjukan selama dua tahun memimpin
jakarta sudah lumayan banyak. Dari sisi
layanan publik, Pemprov DKI sudah memiliki
jaringan optik fiber sampai ke tingkat
kelurahan untuk memberikan Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (PTSP), dimana semua
kantor lurah dan camat bisa menjadi kantor
PTSP.
Dalam urusan birokrasi, Pemprov
DKI mengharuskan pegawai negeri sipil
melamar posisi yang diinginkan dan
meminta mereka menyampaikan program
dan strategi mencapai program itu dan
mengungkapkan apa kelemahan selama ini.
Jika tes seperti ini jalan, Pemprov DKI sudah
satu langkah lebih maju lagi untuk mencapai
Jakarta Baru yang lebih baik. Kemudian juga
pejabat eselon dua, tiga, dan empat yang
kinerjanya tidak bagus tidak perlu lagi
dicarikan posisi dalam struktur yang sama.
Mereka akan langsung dipindahkan ke
posisi fungsional. Jika ada yang tidak puas
dengan sistem ini, Pemprov DKI akan
memindahkan PNS tersebut ke tempat lain,
misalnya Pulau Seribu. Kalau ternyata tidak
hadir hingga tiga kali, PNS yang
bersangkutan harus mundur karena telah
melanggar disiplin. Kemudian Sekretaris
(Sekda) diambil dari wali kota terbaik.
Sementara wali kota diambil dari wakil wali
kota, sekretaris kota, atau asisten yang telah
bekerja dengan baik. Sementara itu posisi
asisten, wakil wali kota, atau kepala dinas
merupakan posisi hadiah bagi camat terbaik
di Jakarta.
Dalam hal penggunaan keuangan,
Pemprov DKI mulai menerapkan sistem
manajemen tunai secara online, sehingga
dapat
mengontrol
pemasukan
dan
pengeluaran keuangan daerah real time.
Dari sisi transportasi, Pemprov DKI mulai
membenahi angkutan publik berbasis bus.
Targetnya, tahun 2016 semua pengelolaan
transportasi umum di Jakarta ada di bawah
pengelolaan PT Transportasi Jakarta.
Semua menggunakan tiket tunggal. Tahun
ini program integrasi dengan kereta sudah
mulai jalan. Berikutnya Pemprov DKI akan
mengembangkan Light Rail Transit (LRT).
Pembenahan juga dilakukan di sektor
pendidikan.
Lelang
kepala
sekolah
membuat
pengelolaan
sekolah
lebh
profesional dari sebelumnya, karena kepala
sekolah memang sosok terbaik untuk
menduduki jabatan tersebut.
Mengenai
penanganan
banjir,
Pemprov DKI menyiapkan National Capital
Integrated Coastal Development (NCICD).
Program
ini
dilakukan
dengan
memanfaatkan kawasan utara sebagai
pertahanan dari ancaman banjir. Pada tahap
pertama, Pemprov DKI akan mereklamasi
17 pulau. Pemprov juga mewajibkan swasta
untuk ikut partisipasi mengatasi banjir di
kawasan utara Jakarta. Mereka juga
diwajibkan membantu penyediaan rumah
susun. Dengan cara tersebut, Pemprov
dapat memindahkan orang yang selama ini
tinggal di bantaran sungai sebagai
penyebab banjir. Jika skenario itu berjalan,
kawasan utara Jakarta bisa terhindar dari
banjir.
Di sektor kesehatan, Pemprov DKI
berencana mengubah 18 Puskesmas
menjadi RSUD. Pemprov DKI juga
mengembangkan sistem rujukan pasien
miskin yang telah diberlakukan. Terkait
program ini, Pemprov DKI menjalin kerja
sama dengan pemerintah pusat, Sehingga
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)
dapat membantu mencarikan sarana darurat
untuk pasien miskin dari rumah sakit swasta.
Untuk membangun Jakarta Baru,
Pemprov DKI berencana untuk membangun
Jakarta dengan memanfaatkan ruang
bawah tanah, ruang udara, dan pantai.
Semua potensi ini memiliki nilai komersial.
Saat ini sedang disiapkan peraturan daerah
dalam pemanfaatan ruang-ruang tersebut.
Tujuannya agar tidak ada dampak
136
lingkungan ketika kawasan itu dimanfaatkan
menjadi kawasan komersial. Pemprov DKI
juga telah memiliki Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR) yang akan menjadi pedoman
penting dalam mengembangkan Kota
Jakarta 25 tahun ke depan.
Dalam hal transparansi informasi,
Pemprov DKI telah membuka seluruh
informasi ke publik, mulai dari anggaran
pendapatan dan belanja daerah, dokumen
RDTR, hingga kegiatan yang ada di balai
kota. Dahulu, rapat pimpinan tidak bisa
diakses publik, sekarang setiap anggota
masyarakat dapat mengakses informasi
tersebut secara luas. Untuk Informasi soal
tata ruang, misalnya, Pemprov DKI tengah
menyiapkan aplikasi yang memudahkan
warga mengunduh informasi di mana pun
dan kapan pun. Jika ada warga ingin tahu
KLB (koefisien luas bangunan) di satu
tempat, tinggal mengakses lewat ponsel.
Tantangan terhadap reformasi
birokrasi yang dilakukan Pemprov DKI era
Jokowi-Ahok dan kini Ahok-Jarot adalah
kinerja sebagian birokrat yang masih
bekerja dengan pola lama. Karena itu setiap
rapat
pimpinan,
Gubernur
selalu
memberikan pekerjaan rumah masingmasing. Setiap rapat juga diunggah lewat
situs berbagi video YouTube, jadi publik
dapat memantau secara langsung.
Selain itu perbaikan juga dilakukan
di sektor pelayanan publik, terutama dari
sistem kerja. Sistem kerja yang ideal adalah
seperti layanan di bank, dengan petugas
yang tidak terlalu banyak, tetapi dapat
melayani orang dengan jumlah maksimal,
sehingga seluruh warga dapat terlayani
dengan baik. Saat ini birokrat dan sistem
kerja birokrat belum bisa kerja cepat karena
tidak ada dananya. Karena itu dana APBD
DKI yang tidak terpakai dialihkan untuk
alokasi
lain.
Pemprov
DKI
juga
memanfaatkan
peran
BUMD
untuk
membantu program pemerintah. Jika ada
sisa lebih penggunaan anggaran (Silpa),
segera dialihkan ke program lain, sehingga
serapan anggaran tetap tinggi.
harapan dalam menciptakan perubahan
positif bagi bangsa. Cara pengumuman
kabinet yang berbeda dengan tradisi
pengumuman kabinet sebelumnya, dimana
Presiden Jokowi mengumumkan para
menterinya di halaman Istana Negara dan
memperkenalkan satu per satu sosok para
pembantunya itu. Saat memperkenalkan,
Jokowi juga menyebutkan profesi dan
pengalaman mereka. Para menteri saat itu
berseragam kemeja putih lengan panjang
dan celana panjang hitam.
Cara mengumumkan kabinet yang
di luar tradisi pemerintahan sebelumnya itu
memberi makna simbolis tertentu bagi
publik. Kemeja putih dan celana panjang
hitam adalah pakaian khas Jokowi setiap
kali blusukan hingga ke berbagai pelosok.
Suasana tak formal saat pengumuman
menteri menciptakan makna bahwa mereka
para pembantu Presiden yang siap bekerja.
Cara pengumuman itu merupakan cerminan
dari postur kabinet yang mau bekerja cepat.
Sebenarnya, nama Kabinet Kerja
bukan yang pertama kali dipakai di
Indonesia. Nama ini pernah digunakan
Presiden Soekarno. Pada masa Demokrasi
Terpimpin ada empat Kabinet Kerja, yakni
Kabinet Kerja I (1959-1960), Kabinet Kerja II
(1960 -1962), Kabinet Kerja III (1962 -1963),
dan Kabinet Kerja IV (1963-1964). Lima
puluh tahun kemudian, muncul kembali
Kabinet Kerja di bawah Presiden Jokowi dan
Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Konotasi kerja yang melekat dalam
kabinet baru disuarakan mayoritas publik
jajak
pendapat.
Hal
itu
terutama
menyangkut struktur kabinet. Masyarakat
mengapresiasi proporsi menteri non-partai
politik yang lebih besar dibandingkan
menteri berlatar belakang partai politik.
Dengan komposisi kabinet seperti itu,
Kabinet
Kerja
Jokowi-JK,
menurut
responden,
memiliki
kelebihan
dibandingkan kabinet sebelumnya, yaitu
lebih tampak sebagai kabinet profesional.
Struktur kabinet seperti itu akan lebih
menjamin perwujudan program-program
untuk rakyat dibandingkan kepentingan
segelintir kelompok.
Salah seorang menteri yang
mendapat sorotan luas adalah Menteri
Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
Sosoknya dinilai tak biasa karena tingkat
pendidikan yang tidak tamat SMA, tetapi
mampu berprestasi sebagai pengusaha
tangguh.
Keberhasilannya
sebagai
pengusaha
bidang
perikanan
dan
IV. Reformasi Birokrasi Kabinet Kerja
Jokowi-JK
Pembentukan Kabinet Kerja pada
26 Oktober 2014 yang terdiri dari kalangan
profesional
dan
profesional
partai
memunculkan
sejumlah
respon
dari
kalangan masyarakat. Secara umum,
masyarakat merasa puas dengan struktur
dan susunan Kabinet Kerja dan memiliki
137
penerbangan mampu meyakinkan publik
bahwa ia akan bisa mewujudkan visi-misi
Jokowi-JK yang ingin menjadikan Indonesia
sebagai poros maritim dunia. Susi
Pudjiastuti
dinilai
cukup
mampu
menyelesaikan problem perikanan dan
kelautan meski ia tidak menyelesaikan level
pendidikan menengahnya. Bagi publik, gelar
sarjana tak menjamin seseorang mampu
bekerja dengan baik, termasuk di
kementerian. Daya kerja yang baik dan
kemampuan menggerakkan kinerja orang
banyak menjadi yang terpenting dalam
mengukur kapasitas menteri.
Penunjukkan
Sudirman
Said
sebagai menteri ESDM yang bukan berlatar
pendidikan
pertambangan
atau
perminyakan juga mendapat apresiasi dari
KPK, karena Sudirman Said sudah dikenal
sebagai ahli keuangan yang anti korupsi.
Demikian juga seorang petani sederhana
dari Makassar Amran Sulaiman diangkat
jadi menteri pertanian. Padahal di masa lalu
para menteri sarat dengan dengan gelar
profesor doktor dengan gaya bicara yang
sangat aduhai, tapi kali ini Presiden Jokowi
memilih pendekatan baru.
Di samping itu Presiden Jokowi
memilih delapan menteri wanita sekaligus
dalam Kabinet Kerja ini, menjadikannya
yang terbanyak sepanjang sejarah. Ini juga
akan mendorong kaum perempuan untuk
lebih bersemangat belajar karena ternyata
mereka mempunyai kesempatan yang sama
dengan pria dalam membangun negeri ini.
Demi kerja keras dan cepat
merealisasikan program-programnya, para
menteri membuat aturan baru untuk anak
buah mulai dari pemberlakukan jam kerja
hingga memotong mata rantai birokrasi yang
berbelit-belit.
Aturan-aturan
baru
diberlakukan oleh Menteri Kelautan dan
Perikanan,
Susi
Pujiastuti,
yang
menerapkan jam masuk kerja mulai pukul
07.00 WIB. Susi Pudjiastuti juga ingin
pejabat eselon I dan II di Kementerian
Kelautan dan Perikanan bergabung di satu
gedung dan tidak terpisah-pisah.
Pemberlakukan aturan baru juga
diterapkan Menteri Perhubungan Ignasius
Jonan. Ia akan membuat jadwal piket Sabtu
dan Minggu secara bergilir. Aturan ini telah
diterapkan Jonan saat menjabat sebagai
Dirut PT KAI. Konsep ini diberlakukan
karena aktivitas layanan transportasi tidak
pernah berhenti meskipun hari libur.
Beberapa langkah strategis telah
dilaksanakan pemerintahan Jokowi-JK
dalam sebagai bagian dari reformasi
birokrasi. Salah satunya adalah melalui
pembentukan Komite Reformasi Tata Kelola
Minyak dan Gas Bumi. Ekonom dari
Universitas Indonesia Faisal Basri ditunjuk
sebagai ketua tim tersebut dengan anggota
gabungan perwakilan pemerintahan dan
masyarakat. Komite Reformasi Tata Kelola
Minyak dan Gas Bumi memiliki empat tugas
pokok, yaitu pertama, meninjau ulang dan
mengkaji seluruh proses perizinan dari hulu
hingga hilir. Harapannya, kebijakan dan
aturan yang teridentifikasi menyuburkan
praktik mafia migas akan dihapus atau
diubah. Tugas kedua, menata ulang
kelembagaan, termasuk di dalammya
memotong mata rantai birokrasi yang tidak
efisien, contohnya kelanjutan lembaga SKK
dan BPH Migas dan bagaimana hubungan
Dirjen Migas dengan kedua lembaga
tersebut. Tugas ketiga, yakni mempercepat
revisi UU Migas dan memastikan seluruh
substansinya sesuai dengan konstitusi dan
memiliki keberpihakan yang kuat terhadap
kepentingan rakyat, dan yang keempat,
mendorong lahirnya iklim industri migas di
Indonesia yang bebas dari para pemburu
rente di setiap rantai nilai aktivitasnya,
sebagai contoh banyak pemegang wilayah
kerja yang tidak dikerjakan dengan baik,
banyak pekerjaan di belakang meja yang
tidak transparan. Dalam waktu enam bulan
pertama, tim ini diharapkan dapat
menghasilkan rekomendasi yang bisa
diajukan oleh Kementerian ESDM kepada
pemerintahan.
Gebrakan lainnya yang dilakukan
oleh pemerintahan Jokowi-JK adalah
penenggelaman kapal nelayan asing yang
mencuri ikan (Illegal fishing) di wilayah
perairan Indonesia yang begitu luas. Selama
ini kerugian akibat pencurian ikan ini
diperkirakan mencapai 10 triliun rupiah per
tahun. Jika dana tersebut digunakan untuk
memajukan nelayan nasional maka tidak
ada lagi nelayan yang hidup di bawah garis
kemiskinan
di
Indonesia.
Meskipun
kebijakan tersebut sempat diprotes oleh
beberapa negara tetangga, namun efek
positifnya sudah mulai terasa dengan
berkurangnya kapal-kapal nelayan asing
yang melakukan illegal fishing di wilayah laut
Indonesia dan meningkatnya jumlah
tangkapan para nelayan tradisional di
beberapa wilayah kepulauan.
Kepemimpinan presiden Jokowi
sangat mempengaruhi kualitas menteri
pilihannya.
Seorang
presiden
dapat
138
dibedakan antara sosok yang memiliki
kepemimpinan atau tidak adalah pada saat
memilih pembantu-pembantunya. Secara
alamiah seseorang akan memilih orangorang yang membantu pekerjaannya
dengan orang-orang yang kepintarannya
setara atau di bawah dirinya. Apabila sang
presiden mengandalkan perilaku alamiah
ini, maka tentu dapat dipastikan beliau tidak
memiliki sosok pemimpin dalam dirinya.
Tetapi bila presiden mampu menghadirkan
orang-orang
hebat,
profesional
di
bidangnya,
yang
mumpuni
melebihi
kapabilitas sang presiden sendiri, maka hal
ini menunjukkan pengaruh sosok pemimpin
yang melekat pada dirinya. Pemimpin hebat
akan lahir dari kehebatan tim yang
dibentuknya.
Kualitas menteri yang dipilih
presiden Jokowi memberikan gambaran
tentang kualitas sang presiden itu sendiri.
Jika presiden hanya sebagai petugas partai,
maka pasti menteri-menterinya adalah
lingkaran partainya. Jika dia orang yang
penuh rasa takut terhadap rival politiknya,
maka menteri-menterinya akan menjadi
kabinet pelangi yang menampung semua
kepentingan politiknya. Jika presiden adalah
sosok pemimpin bangsa yang jiwa dan
raganya ingin diabdikan bagi negara, maka
pilihan-pilihan
sang
menteri
akan
berlandaskan pada kepentingan rakyat yang
ia layani, berdasarkan visi bangsa dan janjijanji kampanyenya kepada rakyat, yakni
menteri yang siap bekerja untuk rakyat,
yang siap menghadapi berbagai kesulitan
demi kepentingan bangsa dan tidak memiliki
tendensi apa pun selain aktualisasi diri dan
pengabdian
serta
aksi
pada
profesionalismenya.
Masyarakat akan terus menunggu
gebrakan-gebrakan besar dari Kabinet Kerja
pemerintahan Jokowi-JK dan berharap para
menteri yang telah memiliki prestasi yang
baik dalam 100 hari pertama pemerintahan
Jokowi dapat terus konsisten dengan
langkah-langkah dan komitmen yang telah
diambilnya. Selain itu Presiden Jokowi juga
harus berani melakukan evaluasi terhadap
kinerja menteri Kabinet Kerja yang tidak
berprestasi bahkan tidak ragu untuk
melakukan reshuffle kabinet apabila dirasa
kedudukan
seorang
menteri
malah
menghambat
upaya-uoaya
reformasi
birokrasi. Sehingga apa yang menjadi target
pertumbuhan ekonomi 7% dapat tercapai
dalam masa pemerintahan Jokowi-JK yang
akan berakhir pada tahun 2019.
PENUTUP
Melakukan
reformasi
birokrasi
menjadi tantangan utama yang sama sekali
tidak mudah bagi pemerintahan Jokowi-JK
dan Kabinet Kerja. Untuk membereskan
aneka masalah struktural, mulai dari
tumpang tindih peraturan dan kebijakan,
postur birokrasi yang gemuk dan boros,
korupsi yang melekat pada sistem, dan
kinerja yang masih diwarnai kepentingan
politik diperlukan kebulatan tekad dan upaya
yang masif.
Paling tidak terdapat dua langkah
besar yang harus diambil, yaitu penataan
kelembagaan dan pembenahan sumber
daya manusia. Agar kedua langkah ini tak
hanya di atas kertas, diperlukan upaya
menjadikan reformasi birokrasi sebagai
gerakan sosial yang dikawal terus-menerus.
karena reformasi birokrasi berkaitan dengan
ribuan proses tumpang tindih antarfungsifungsi pemerintahan, melibatkan jutaan
pegawai, dan memerlukan anggaran yang
tidak sedikit. Penataan kelembagaan ulang
dengan
cara
memperjelas prosedur
operasional dalam pemerintahan dan
menjalankan fungsi koordinasi secara
struktural tak bisa dibentuk sekali jadi dan
seketika. Kedua langkah ini memerlukan
waktu dan konsolidasi terus menerus. Di sisi
lain, pembenahan profesionalitas dan
integritas aparatur sipil negara harus selalu
berjalan. Rambu pengawasan hingga
pemberian
reward
and
punishment
berdasarkan sistem merit sebenarnya sudah
tersirat dalam UU Nomor 5 tahun 2014
tentang Aparatur Sipil Negara (ASN).
Hanya saja, dalam menerapkannya,
pemerintah Jokowi-JK harus mengubah
pola pikir dan budaya kerja birokrasi yang
umumnya dipenuhi oleh patologi-patologi
yang
dianggap
lumrah.
Selain
itu
menyembuhkan penyakit birokrasi yang
akut dan memperbaiki mutu layanannya
membutuhkan manajemen perubahan yang
konsisten dan persisten.
Kedua solusi tersebut tampaknya
menjadi tanggung jawab berat yang besar
dari Kabinet Kerja dan pemerintahan
Jokowi-JK. Namun, pelaksanaannya tidak
hanya bergantung pada birokrat dan
teknokrat saja. Tak kalah penting adalah
peran serta publik dalam proses birokrasi.
Reformasi birokrasi terlampau penting untuk
diserahkan
hanya
kepada
birokrat.
Masyarakat perlu terlibat bukan cuma
sebagai pengguna layanan birokrasi, tapi
139
juga sebagai para pembayar pajak yang
aktif mendukung perbaikan birokrasi.
Reformasi birokrasi juga harus
mengubah citra pelayanan publik yang
selama ini kaku dan sulit menjadi ramah dan
transparan bagi publik. Banyak kebijakan
yang tak perlu, terlebih menyangkut
kebijakan perizinan. Reformasi birokrasi
hanya bisa diawali dengan perubahan pola
pikir birokrat agar berorientasi konsumen,
yaitu kepuasan masyarakat sebagai
penikmat jasa layanan publik. Kabinet Kerja
dan seluruh jajaran pemerintahan daerah
harus lebih transparan kepada publik.
Caranya dengan mengunggah semua
informasi program, kegiatan, pejabat yang
terlibat, hingga perincian anggarannya ke
situsnya, seperti yang telah dilakukan oleh
Pemprov DKI Jakarta. Dengan keterbukaan
informasi seperti ini, 10% masalah birokrasi
yaitu soal transparansi bisa selesai. Birokrat
akan
terdorong
membuat
program
berkualitas dengan anggaran yang masuk
akal. Masyarakat juga bisa tergerak untuk
mengawasi dan memberi masukan.
Dengan begitu, reformasi birokrasi
tak
lagi
menjadi
urusan
internal
pemerintahan, tapi akan menjadi gerakan
sosial. Geliat semangat masyarakat dalam
gerakan sosial dalam mengawal proses
Pemilu Presiden yang lalu menjadi bekal
penting
yang
dapat
dimanfaatkan
pemerintahan Jokowi-JK untuk menuju
birokrasi pemerintahan yang lebih bersih,
efektif, demokratis dan terpercaya.
Brooks
and
Cole
Publishing
Company.
Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi.
2011. Peraturan Presiden RI nomor
80 tahun 2011 tentang Grand
Design
Reformasi
Birokrasi
Indonesia 2010-2025. Jakarta:
Kemenpan-RB.
Kumorotomo, Wahyudi. 2005. Akuntabilitas
Birokrasi Publik Sketsa Pada Masa
Transisi. Yogyakarta : Penerbit
Pustaka Pelajar.
Osborne, David dan Peter Plastrik (2000),
Memangkas Birokrasi: Lima strategi
menuju Pemerintahan Wira Usaha,
Edisi Terjemahan. Penerbit PPM,
Jakarta.
Osborne, David dan Ted Gaebler. 1996.
Mewirausahakan
Birokrasi
(Reinventing
Government)
:
Mentrasformasi
Semangat
Wirausaha ke Dalam Sektor Publik.
Edisi
Terjemahan.
Jakarta
:
Penerbit
Pustaka
Binaman
Pressindo.
Peter, B. Guy. 1984. American Public Policy.
Franklin Watts, New York : Tulano
University.
Quah, John ST. 2003. Curbing Corruption in
Asia: A Comparative Study of Six
Countries
Singapore:
Eastern
Universities Press.
Silo, Akbar. 2005. Kinerja Pemerintahan
Dalam Rangka Pelayanan Publik di
Kabupaten
Sarmi.
Laporan
Penelitian kerjasama UNDP dan
UNCEN.
Thoha, Miftah. 2008. Reformasi Pemerintah
Indonesia di Era Reformasi.
Jakarta: Prenada Media Group.
DAFTAR PUSTAKA
Dwiyanto, Agus dan Kusumasari. 2001.
Public Service Performance dalam
Policy Brief. Yogyakarta: CPPSGadjah Mada University.
Dwiyanto, Agus, dkk. 2002. Reformasi
Birokrasi Publik di Indonesia.
Yogyakarta : Penerbit PSKK-UGM.
Frederickson, George H. 2005. The State of
Social Equity in American Public
Administration . American Society
for Public Administration-Vol.28
No.3- March 2005.
Gibson, James L., dkk, 1995. Organizations
Behaviour Structure and Process.
Homewood, Illinois : Richard D.
Irwin Inc.
Kahn, Robert L. 1981. Bureaucracy:
Organizations and The System
Concept. Pacific Grove, California:
Media Online:
Detik.com
Kompas.com
Okezone.com
Republika.co.id
Tempo.co
Vivanews.co.id
140
Zigzag Kebijakan
State of the Art Ilmu Pemerintahan di Indonesia
Pipin Hanapiah5
ABSTRAK
Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan zigzag State of the Art (SotA) Ilmu
Pemerintahan di Indonesia pada perguruan-perguruan tinggi penyelenggara program studi Ilmu
Pemerintahan. Obyek dan kasus dalam artikel ini adalah SotA Ilmu Pemerintahan, yang berfokus
pada dinamikanya yang berjalan secara zigzag. Artikel ditulis menggunakan kajian Ilmu
Pemerintahan, pendekatan kualitatif, dan metode deskriptif dengan pengumpulan informasi
melalui teknik-teknik studi dokumentasi dan kepustakaan.
Setiap kebijakan publik mengalami perubahan dalam kurun waktu tertentu secara
periodik, baik dalam perumusan, implementasi, maupun evaluasinya. Perubahan seperti ini
dikenal dengan dinamika kebijakan publik. Dinamika ini bisa terjadi dalam jangka panjang
(longterm/longitudinal) atau jangka pendek (shortterm/snapshot).
Dari hasil kajian ditemukan kebijakan SotA Ilmu Pemerintahan di Indonesia berjalan
secara zigzag. Namun demikian, di masa depan diperkirakan menjadi kuat pada jatidiri landasanlandasan ontologi, epistemologi, dan aksiologinya sehingga jatidiri keilmuannya pada pilar-pilar
terminologi, metodologi, dan applied-sciencenya akan semakin mapan.
Untuk lebih memapankan SotA-nya itu, otoritas Perguruan Tinggi penyelenggara
program studi Ilmu Pemerintahan di Indonesia perlu semakin meningkatkan inovasi dan kinerja
akademiknya sehingga semakin mampu berkompetisi dengan mereka yang ada di luar negeri
secara berkesinambungan.
Kata Kunci: zigzag kebijakan, state of the art, ilmu pemerintahan.
1. LATAR BELAKANG KAJIAN
SotA6 Ilmu Pemerintahan di
Indonesia selalu menjadi isu7, baik pada
kalangan akademisi (kampus) maupun
stakeholders (alumni, praktisi, masyarakat,
swasta, dan lembaga pemerintahan). Isu ini
berkaitan dengan ketidakpastian SotA Ilmu
Pemerintahan yang seringkali bertumpangtindih8 terutama dengan SotA Ilmu Politik
dan Administrasi Publik (Administrasi
Negara). Ketidakpastian ini terutama
berkaitan dengan ruanglingkup kajiannya
(khususnya tentang isu-isu, konsep-konsep
dasar, topik dan/atau judul penelitian,
variabel
penelitian,
dan
teori-teori
pembentuk ilmu pengetahuannya) di satu
pihak serta dengan konteks kajiannya
(khususnya tentang substansi-material dan
fokus kajiannya) di lain pihak.
Dari waktu ke waktu—dalam kurun
perkembangan kajian Ilmu Pemerintahan di
Indonesia—seakan-akan sedang terjadi
dinamika ‘belok-kanan, belok-kiri, belokkanan lagi, dan belok-kiri’ lagi secara terusmenerus atau berkelanjutan menuju SotA
yang benar dan tepat bagi dirinya. Menurut
penulis, belok kanan-kiri secara terusmenerus ini merupakan suatu bentuk
adanya dinamika SotA Ilmu Pemerintahan di
Indonesia. Dinamika seperti ini dikenal
dengan istilah ‘zigzag’9.
5
Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan Unpad
Dalam kamus Hornby dimaksudkan sebagai ‘using the most modern of advanced techniques or methods’.
Diterjemahkan-bebas oleh penulis sebagai ‘jatidiri atau profil’.
7 Isu berasal dari kata ‘issue’, yang oleh Hornby dimaksudkan sebagai ‘topic of discussion’ atau
‘problem/worry’. Diterjemahkan-bebas oleh penulis sebagai ‘masalah yang belum terselesaikan dan perlu
keputusan untuk mengatasinya’.
8 Penelitian Pipin Hanapiah menunjukan adanya rerata 32,86% ketumpangtindihan substansi-material
topik/judul tesis pada Prodi Administrasi Publik, Ilmu Pemerintahan, dan Ilmu Politik berdasarkan data
pada web Pascasarjana FISIP Unpad sampai dengan tanggal 2/1/2014 pukul 10:09.
9 Dalam kamus Hornby dimaksudkan sebagai ‘ a line or pattern that looks like a series of letter bends to the
left and then to the right again’; yang dalam Bahasa Indonesia pun diterjemahkan sebagai zigzag. Ini
berbeda dengan istilah naik-turun atau pasang-surut (rise and fall) yang terkesan ada nuansa positif6
141
Zigzag SotA Ilmu Pemerintahan ini
merupakan salahsatu bentuk dan contoh
serta termasuk dalam materi kajian tentang
dinamika kebijakan publik. Mengapa
demikian? SotA ini disepakati dan
diputuskan
oleh
lembaga
publik/pemerintahan (Perguruan Tinggi
Negeri sebagai lembaga pendidikan tinggi
milik Pemerintah) yang berada dalam
sebuah
struktur
Departemen
atau
Kementerian Negara. Di samping itu,
kebijakannya berkaitan dengan urusan dan
kepentingan publik.
Atas dasar latarbelakang itu, artikel
membahas tentang “Zigzag Kebijakan State
of the Art Ilmu Pemerintahan di Indonesia”.
Indonesia yang sebagai proses, bersifat
temporer, dan dapat berubah.
4. Kerangka Teoretik
4.1 Dinamika Kebijakan Publik
Adrian
Kay
(2006:3-4)
memahamkan dinamika kebijakan publik
sebagai ‘temporality and change at different
scale. Dynamic analysis is the use of
concepts and theories to understand and
explain longitudinal data of policy
development’, yang dalam menganalisisnya
berkaitan dengan tiga hal penting, yaitu
bersifat ‘temporality, change, and different
processes and scales.
Dalam pemahaman itu, kebijakan
adalah10 pilihan tentang tujuan yang ingin
dicapai, alasan yang melandasi kebijakan,
serta instrumen yang dipakai untuk
melaksanakan kebijakan. Sesuatu yang
bersifat dinamis artinya proses yang bersifat
temporer dan dapat berubah pada berbagai
level. Analisis tentang dinamika kebijakan
adalah penggunaan konsep dan teori untuk
memahami dan menjelaskan suatu periode
data tentang perkembangan kebijakan.
Dengan demikian, inti dari dinamika
kebijakan publik adalah 3 hal: (1) sebagai
proses (berupa tahapan, level, tingkat, atau
siklus), (2) bersifat temporer (dalam periode
waktu tertentu, rangkaian waktu lalu-kinidepan, atau keterkaitan antarwaktu dalam
kurun tertentu), serta (3) dapat berubah
(baik dalam bentuk dampak maupun
perubahan yang maju-mundur, pasangsurut, naik-turun, atau zigzag). Ketiga hal
tersebut terjadi dalam proses kebijakan
publik baik dalam level formulasi,
implementasi, evaluasi, maupun perubahan
kebijakannya.
Dengan
demikian,
memahami
dinamika kebijakan publik berarti memahami
perubahan
kebijakan
publik
yang
berkesinambungan dalam kurun waktu
tertentu, baik dalam secara sebentar
(snapshot) maupun jangka waktu yang
panjang (longterm). Fokus perubahan ini
terletak pada perumusan kebijakan dan
proses implementasi kebijakannya. Apakah
2. Rumusan Masalah
Zigzag kebijakan State of the Art
Ilmu Pemerintahan (SotA-IP) di Indonesia
terjadi
pada
tingkat
perumusan,
implementasi, dan evaluasinya. Ini terjadi
sejak penjajahan Belanda sampai dengan
saat ini di era reformasi.
Zigzag ini berkaitan dengan
dinamika kebijakan Sota-IP yang sebagai
proses,
bersifat temporer, dan dapat
berubah
di
masa
pertumbuhan,
perkembangan, dan pemapanannya.
Berdasarkan rumusan masalah
tersebut, pertanyaannya adalah:
1) Bagaimana pertumbuhan kebijakan
SotA-IP di Indonesia?
2) Bagaimana perkembangan kebijakan
SotA-IP di Indonesia?
3) Bagaimana
pemapanan
kebijakan
SotA-IP di Indonesia?
3. Objek dan Metode Kajian
Object
kajian
ini
adalah
pertumbuhan,
perkembangan,
dan
pemapanan kebijakan Sota-IP di Indonesia.
Kajian ini menggunakan perspektif studi
Ilmu Pemerintahan melalui metode deskriptif
dengan pendekatan kualitatif.
Kajian
menggunakan
analisis
dinamika kebijakan publik dari Adrian Kay,
dengan alasan karena lebih cocok dengan
permasalahan yang dikaji, yaitu fenomena
tentang zigzag kebijakan SotA-IP di
negatif, untung-rugi, benar-salah, atau baikburuk. Menurut penulis, dalam istilah zigzag,
kesan ini tidak-ada, akan tetapi apa pun
dianggap benar karena memang begitulah
keadaannya.
10 Dikutip dan dikembangkan penulis dari powerpoint materi kuliah “Dinamika Kebijakan Publik”
oleh Prof. Dr. Drs. H. Dede Mariana, M.Si. pada
Mahasiswa
S3
Program
Studi
Ilmu
Pemerintahan tanggal 25 September 2013 di
Kampus Program Pascasarjana FISIP Unpad,
Dago.
142
memahami dinamika kebijakan publik itu
penting?
Dinamika kebijakan publik itu
berlangsung dalam suatu sistem. Tidak
semua sistem itu dinamis, tetapi dinamika
bisa terjadi dalam suatu sistem. Robert
Jervis (1997:6)11 mendefinisikan sistem
sebagai serangkaian unit elemen yang
saling berhubungan sehingga perubahan
dalam satu elemen akan merubah
keseluruhan sistem tersebut. Terkait dengan
dinamika, terdapat sistem yang terbuka
sistem yang tertutup. Sistem yang tertutup
yakni sistem yang responsif terhadap
perubahan yang diawali dari dalam sistem
itu sendiri. Sistem yang terbuka ialah sistem
yang responsif; tidak hanya dari dalam tetapi
juga dari lingkungan di sekitarnya.
Dinamika kebijakan publik pasti
terjadi
dalam
suatu
sistem,
yang
dinamikanya dipengaruhi baik dari internal
maupun eksternal suatu sistem. Pada
sistem terbuka, dinamika terjadi secara
fleksibel. Dalam kebijakan publik, dinamika
terjadi
dalam
usaha
melakukan
keseimbangan di dalam elemennya. Salah
satu
dinamika
demi
keseimbangan
diproyeksikan dalam skema ‘iron triangle’.
Suatu kebijakan publik pasti memiliki
momentum sebagai pergerakan dalam
mencapai tujuan, sekaligus memberi
dorongan pada pemangku kepentingannya.
Kebijakan
publik
itu
harus
didiskusikan
terlebih
dahulu
karena
kebijakan publik itu terkait dengan agenda
perumusan permasalahan. Akan tetapi tidak
menutup kepentingan bahwa kebijakan
publik juga mengalami pengulangan
(repetisi) yang berpotensi menghambat atau
mempercepat
perumusan
agenda
permasalahan. hampir setiap kebijakan
yang mencakup hal-hal penting akan
dikaitkan dengan suatu sistem sosial,
ekonomi, politik, dan budaya yang
kompleks.
kepentingan publik atau tidak. Yang kedua,
adalah faktor visi, misi, dan program para
pemimpin negara ketika kebijakan publik itu
dirumuskan. Yang ketiga, yang terakhir,
adalah berkaitan dengan faktor ilmu
pengetahuan
dan
teknologi
yang
berkembang ketika kebijakan publik itu
dirumuskan.
Faktor yang ketiga itulah yang
kemudian menentukan pada adanya
pemahaman-kembali
(reinterpretasi)
terhadap faktor yang pertama dan faktor
yang kedua. Atas dasar ini, dinamika
kebijakan publik tentang ‘zigzag SotA Ilmu
Pemerintahan
di
Indonesia’
sangat
ditentukan
oleh
perkembangan
paradigma/pendekatan
Public
Policy
Sciences, yang di antaranya adalah Ilmu
Pemerintahan dan Ilmu Administrasi Publik
atau Administrasi Publik atau Administrasi
Negara. Dalam kedua disiplin ilmu ini
tampak begitu kuat kajian dan pemahaman
tentang manajemen publiknya dan/atau
pelayanan
publiknya—karena
efektif
tidaknya suatu kebijakan publik apabila ia
mampu berkontribusi pada peningkatan
kualitas pelayanan publiknya. Untuk itu,
penulis
memandang
perlu
untuk
membahasnya terlebih dahulu melalui
pemahaman OPA, NPM, dan NPS.
4.3 OPA, NPM, dan NPS
Paradigma atau pendekatan NPM
atas manajemen publik bangkit sebagai
kritik atas birokrasi pemerintahan yang
selama ini dianggap erat berkaitan dengan
keengganan maju, kompleksitas khirarki
jabatan dan tugas, serta mekanisme
pembuatan kebijakan yang top-down. Selain
itu, birokrasi dituduh telah menjauhkan diri
dari harapan publik terutama dari
kesejahteraan publik (welfare-state).
Mulai
tahun
1990-an
Ilmu
Administrasi
Publik
mengenalkan
paradigma baru yang sering disebut New
Public Management/NPM (Hood, 1991).
Walaupun juga disebut dengan nama lain
misalnya
Post-bureaucratic
Paradigm
(Barzeley,
1992),
dan
Reinventing
Government (Osborne dan Gaebler, 1992),
tetapi secara umum disebut NPM karena
berangkat dari gagasan Christopher Hood
sebagai awal mula paradigma alternatif.
Dalam memahami teori Administrasi
Publik secara paradigmatik, tulisan Janet V.
4.2 Kebijakan Publik Berorientasi pada
Kepentingan Publik
Menurut penulis, kebijakan publik
yang berorientasi pada kepentingan publik
sangat terkait dengan banyak faktor. Yang
pertama, adalah berkaitan dengan faktor
ideologi, konstitusi, dan lingkungan negara
yang akan menentukan apakah suatu
kebijakan publik itu berorientasi pada
11
Yang dikutif di dalam buku Eugene
Bardach, 2005.
143
New Public Management (NPM)
Paradigma OPA dikritik oleh
paradigma NPM. Secara konseptual OPA
berbeda dengan NPM. NPM adalah suatu
gerakan yang mencoba menginjeksikan
prinsip-prinsip organisasi sektor privat ke
dalam organisasi pemerintah. Pemerintahan
yang kaku dan sentralistik—sebagaimana
yang dianut oleh OPA—harus diganti
dengan
pemerintahan
yang
berjiwa
wirausaha dan profitable market-based
public
administration
(Land
dan
Rosenbloom), post-bureaucratic paradigm
(Barzelay), dan entrepreneurial government
(Osborne dan Gaebler)—yang dianut oleh
NPM.
NPM merupakan genealogis dari
ideologi
neoliberalisme
karena
menganjurkan pelepasan fungsi-fungsi
pemerintah kepada sektor swasta. Inti dari
ajaran NPM dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Pemerintah diajak untuk meninggalkan
paradigma administrasi tradisional dan
menggantikannya dengan perhatian
terhadap kinerja atau hasil kerja.
2) Pemerintah sebaiknya melepaskan diri
dari birokrasi klasik dan membuat
situasi dan kondisi organisasi, pegawai
dan para pekerja lebih fleksibel.
3) Menetapkan
tujuan
dan
target
organisasi dan personel lebih jelas
sehingga memungkinkan pengukuran
hasil melalui indikator yang jelas.
4) Staf senior lebih berkomitmen dengan
pemerintah sehari-hari secara politis
daripada netral.
5) Fungsi
pemerintah
adalah
memperhatikan pasar, kontrak kerja
keluar,
yang
berarti
pemberian
pelayanan tidak selamanya melalui
birokrasi, melainkan bisa diberikan oleh
sektor swasta.
6) Fungsi pemerintah dikurangi melalui
privatisasi.
Denhardt dan Robert B. Denhardt dalam
dua bukunya12 yang berjudul ‘The New
Public Service: Serving, not Steering' dan
‘The New Public Service: An Approach to
Reform’ memperkenalkan perkembangan
paradigma Administrasi Publik dari yang
klasik [Old Public Administration (OPA)]
sampai dengan yang kontemporer [New
Public Service (NPS)]. Mereka membagi
paradigma Administrasi Publik atas tiga
kelompok besar, yaitu paradigma The Old
Public Administration (OPA), The New
Public Management (NPM), dan The New
Public Service (NPS).
Old Public Administration (OPA)
Secara ringkas, Denhardt dan
Denhardt menguraikan karakteristik OPA
sebagai berikut:
• Fokus utama adalah penyediaan
pelayanan
publik
melalui
organisasi/badan resmi pemerintah.
• Kebijakan publik dan administrasi negara
dipahami
sebagai
penataan
dan
implementasi kebijakan yang berfokus
pada satu cara terbaik (on a single) dan
sebagai tujuan yang bersifat politik.
• Administrator publik memainkan peranan
yang
terbatas dalam perumusan
kebijakan publik/pemerintahan; mereka
hanya
bertanggung-jawab
mengimplementasikannya.
• Pelayanan publik harus diselenggarakan
oleh administrator yang bertanggungjawab kepada pejabat politik (elected
officials) dan dengan diskresi terbatas.
• Administrator
bertanggung-jawab
kepada pimpinan pejabat politik (elected
political leaders) yang telah terpilih
secara demokratis.
• Program-program publik dilaksanakan
melalui organisasi yang hirarkis dengan
kontrol yang ketat oleh pimpinan
organisasi.
• Nilai pokok yang dikejar oleh organisasi
publik adalah efisiensi dan rasionalitas.
• Organisasi publik melaksanakan sistem
tertutup
sehingga
keterlibatan
warganegara dibatasi.
• Peranan administrator publik adalah
melaksanakan
prinsip-prinsip
POSDCoRB
(planning,
organizing,
staffing, directing, coordinating, reporting
dan budgetting).
12
Penerapan
paradigma/pendekatan
NPM sangat sukses di Amerika Serikat,
Inggris, dan Selandia Baru sehingga
“virusnya” mulai menyebar ke negaranegara lain. Praktik NPM di Amerika Serikat
populer dengan pemerintahan wirausaha
(entrepreneurial
government)
yang
dirancang oleh David Osborne dan Ted
Gaebler. Osborne dan Gaebler menawarkan
dan (2003) dalam “The New Public Service: An
Approach to Reform”. International Review of
Public Administration 8 (1).
Baca Denhardt and Denhardt (2000) dalam
“The New Public Service: Service Rather than
Steering”. Public Administration Review 60 (6)
144
10 prinsip pemerintahan yang berjiwa
wirausaha.
1) Pemerintahan
katalis;
yang
mengarahkan bukan mengayuh.
2) Pemerintahan milik masyarakat; yang
memberdayakan bukan melayani.
3) Pemerintahan kompetitif; pendorong
semangat kompetisi dalam pelayanan
publik.
4) Pemerintahan yang digerakkan oleh
misi; yang mampu merubah orientasi
dari pemerintahan yang digerakkan
oleh aturan.
5) Pemerintahan yang berorientasi hasil;
yang membiayai hasil bukan input.
6) Pemerintahan
yang
berorientasi
pelanggan; yang memenuhi kebutuhan
pelanggan bukan birokrasi.
7) Pemerintahan
wirausaha;
yang
menghasilkan
profit
bukan
menghabiskan.
8) Pemerintahan
antisipatif;
yang
berorientasi
pencegahan
bukan
penyembuhan.
9) Pemerintahan desentralisasi; yang
digerakkan oleh hirarki menjadi
pemerintahan
partisipatif
dan
kerjasama tim (teamwork).
10. Pemerintahan yang berorientasi pasar;
yang mendorong perubahan melalui
pasar.
persoalan publik daripada menggunakan
one best way perspective.
Seperti halnya Osborne dan
Gaebler, Denhardt dan Denhardt juga
merumuskan prinsip-prinsip NPS yang
memiliki diferensiasi dengan prinsip-prinsip
OPA dan NPM. NPS mengajak pemerintah
untuk:
1) Melayani masyarakat sebagai warga
negara, bukan pelanggan; melalui pajak
yang mereka bayarkan maka warga
negara adalah pemilik sah (legitimate)
negara.
2) Memenuhi
kepentingan
publik;
kepentingan publik seringkali berbeda
dan
kompleks,
tetapi
negara
berkewajiban
untuk
memenuhinya.
Negara tidak boleh melempar tanggungjawabnya kepada pihak lain dalam
memenuhi kepentingan publik.
3) Mengutamakan warganegara di atas
kewirausahaan;
kewirausahaan
itu
penting, tetapi warga negara berada di
atas segala-galanya.
4) Berpikir
strategis
dan
bertindak
demokratis; pemerintah harus mampu
bertindak cepat dan menggunakan
pendekatan dialog dalam menyelesaikan
persoalan publik.
5) Menyadari komplekstitas akuntabilitas;
pertanggungjawaban merupakan proses
yang sulit dan terukur sehingga harus
dilakukan dengan metode yang tepat.
6) Melayani bukan mengarahkan; fungsi
utama pemerintah adalah melayani
warga negara bukan mengarahkan.
7) Mengutamakan
kepentingan
masyarakat,
bukan
produktivitas;
kepentingan masyarakat harus menjadi
prioritas meskipun bertentangan dengan
nilai-nilai produktivitas.
New Public Service (NPS)
Akar NPS adalah dari berbagai ide
tentang
demokrasi
yang
pernah
dikemukakan oleh Dimock, Dahl, dan
Waldo, yang meliputi:
1) Teori
tentang
demokrasi
kewarganegaraan; perlunya pelibatan
warganegara
dalam
pengambilan
kebijakan dan pentingnya deliberalisasi
untuk membangun solidaritas dan
komitmen guna menghindari konflik.
2) Model komunitas dan masyarakat sipil;
akomodatif terhadap peran masyarakat
sipil dengan membangun social trust,
kohesi sosial, dan jaringan sosial dalam
tata pemerintahan yang demokratis.
3) Teori
organisasi
humanis
dan
administrasi negara baru; yang berfokus
pada organisasi yang menghargai nilainilai kemanusiaan (human beings) dan
respon terhadap nilai-nilai kemanusiaan,
keadilan, dan isu-isu sosial lainnya.
4) Administrasi
negara
postmodern;
mengutamakan
dialog
(dirkursus)
terhadap teori dalam memecahkan
145
Diferensiasi OPA, NPM, dan NPS
Atas dasar ketiga paradigma/pendekatan di atas, berikut adalah diferensiasi ketiganya13:
Aspek
Dasar teoretis
dan
fondasi
epistemologi
Old Public
Administration
(OPA)
Teori politik
Rasionalitas
Rasionalitas
Synoptic
dan model perilaku
(administrative man)
manusia
Kepentingan
publik
secara
politis
Konsep
dijelaskan
dan
kepentingan publik
diekspresikan dalam
aturan hukum
13
New Public
Management
(NPM)
New Public Service
(NPS)
Teori ekonomi
Teori demokrasi
Teknis
dan
rasionalitas ekonomi
(economic man)
Rasionalitas strategis atau
rasionalitas formal (politik,
ekonomi, dan organisasi)
Kepentingan
publik
mewakili
agregasi
kepentingan individu
Kepentingan publik
adalah hasil dialog
berbagai nilai
Responsivitas
birokrasi publik
Clients dan constituent
Customer
Citizen’s
Peran pemerintah
Rowing
Steering
Serving
Pencapaian tujuan
Badan pemerintah
Organisasi privat dan
nonprofit
Koalisi antarorganisasi publik,
nonprofit, dan privat
Akuntabilitas
Hirarki administratif
dengan jenjang yang
tegas
Bekerja
sesuai
dengan
kehendak
pasar
(keinginan
pelanggan)
Diskresi
administrasi
Diskresi terbatas
Diskresi diberikan
secara luas
Multiaspek: akuntabilitas
hukum, nilai-nilai, komunitas,
norma politik, dan standar
profesional
Diskresi dibutuhkan tetapi
dibatasi dan bertanggungjawab
Struktur organisasi
Birokratik
yang
ditandai
dengan
otoritas top-down
Desentralisasi
organisasi
dengan
kontrol utama berada
pada para agen
Struktur kolaboratif dengan
kepemilikan
yang berbagi
secara internal dan eksternal
Asumsi terhadap
motivasi pegawai
dan administrator
Gaji, keuntungan, dan
proteksi
Semangat
entrepreneur
Pelayanan publik dengan
keinginan melayani
masyarakat
Denhardt dan Denhardt, 2003:28-29.
146
Berdasarkan
perkembangan
paradigma/pendekatan ilmu kepublikan
tersebut, maka analisis dinamika kebijakan
publik mengenai ‘Zigzag State of the Art
(SotA) Ilmu Pemerintahaan di Indonesia’
akan dengan mudah dipahami.
Pemerintahan di masa ini didominasi
dengan menerapkan kajian kualitatif,
deskriptif, normatif, dan monovariat. Ini
terjadi karena belum menggunakan alatbantu eksakta, matematika, statistika,
komputika, dan digitika. Landasan aksiologi
dan applied-science-nya begitu kuat. Ini
terjadi karena memang sejak semula
kebijakan SotA-IP itu diperuntukkan bagi
kepentingan penjajah. Sementara di pihak
lain, landasan aksiologi dan applied-science
pada aspek akademiknya begitu kurang dan
lemah.
Evaluasi kebijakan publik tentang
SotA-IP di masa ini kurang dilakukan secara
periodik dan berkesinambungan. Ini terjadi
karena memang kebijakan tersebut adalah
untuk mempertahankan kekuasaan bagi
kepentingan penjajah. Selain itu, karena
sistem pendidikan nasional di Indonesia
pasca kemerdekaan belum begitu kuat
diperhatikan oleh pemerintah.
5. Analisis Zigzag State of the Art Ilmu
Pemerintahan di Indonesia
Pertumbuhan Kebijakan SotA-IP di
Indonesia.
Proses
pertumbuhan
SotA-IP
pertama kali dibawa oleh penjajah Belanda
sebagai ilmu pangreh (pamong) praja dan
berwatak normatif. Bentuk atau jenis
kebijakannya di antaranya berupa Surat
Keputusan Menteri yang bersangkutan yang
bersifat jangka panjang (puluhan tahun).
Perubahan kebijakannya sebagai yang
‘belok kiri’ (atau semula berada di kiri)
karena berwatak normatif, mengacu pada
peraturan yang bersifat praktis, dan jauh dari
kajian yang ilmiah. Lebih berdomain pada
paradigma Filsafat, Yuridis, dan Historik;
lebih dominan pada pendekatan kualitatif
dan metode deskriptif; serta dengan tujuan
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,
khususnya pasca kemerdekaan NKRI.
Struktur perumusan, implementasi,
dan evaluasi kebijakan SotA-IP begitu
formal, struktural, dan top-down policy. Di
masa pertumbuhan ini lebih banyak
berfungsi/berperan
sebagai
ilmunyapemerintah yang bernuansa kebijakan
pemerintah; berinstrumen sebagai lembaga
pendidikan tinggi pemerintah yang ilmiah;
Pemerintah Pusat atau penjajah Belanda
sebagai aktor atau agen yang dominan
dalam kebijakan SotA-IP. Karenanya,
kajiannya lebih banyak beraspek politik dan
hukum
nasional
untuk
kepentingan
pemerintah pusat sebagai penjajah,
sehingga
orientasi
isi
kebijakan
kurikulumnya
lebih
banyak
pada
kepentingan pemerintah pusat selaku
penguasa negara.
Berefektivitas
kuat
melahirkan
akajian akademik dan alumninya bagi
kewibawaan pemerintah atau penjajah di
Indonesia.
Berdampak
kuat
pada
penyediaan aparatur pemerintah yang
melahirkan peraturan dan perilaku birokratis
yang mengabdi kepada pemerintah atau
penjajah di Indonesia.
SotA-IP
tampak
berlandasan
ontologi dan berterminologi ‘perintah’ atau
‘ilmunya
pemerintah’.
Landasan
epistemologi
dan
metodologi
Ilmu
Perkembangan Kebijakan SotA-IP di
Indonesia
Pasca 1945 SotA-IP berubah
menjadi berwatak politik, administrasi
negara/publik, dan militer. Bentuk atau jenis
kebijakannya di antaranya berupa Surat
Keputusan Dirjen Dikti pada Depdikbud
yang bersifat jangka panjang (puluhan
tahun). Perubahan kebijakannya ‘belok
kanan menuju ke kanan’ karena berwatak
politik dan administratif (serumpun Ilmu
Politik) tetapi mulai dekat dengan kajian
yang ilmiah. Lebih berdomain pada
paradigma
Politik,
Administrasi
Negara/Publik, dan Ilmiah. Lebih dominan
pada pendekatan kualitatif dan metode
deskriptif,
serta
bertujuan
untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dan
meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
Struktur perumusan, implementasi,
dan evaluasi kebijakan SotA-IP lebih formal,
struktural, dan top-down and buttom-up
policies. SotA-IP di masa ini lebih banyak
berfungsi/berperan
sebagai
ilmu
pemerintahan yang bernuansa politik,
administrasi negara/publik, dan kebijakan
publik. Kebijakannya berinstrumen sebagai
lembaga pendidikan tinggi yang ilmiah milik
pemerintah. Di masa ini Pemerintah Pusat
dan Pemerintah Daerah sebagai aktor atau
agen yang saling menguatkan dalam
kebijakan SotA-IP. Kajiannya lebih banyak
beraspek politik dan administrasi negara
untuk kepentingan pemerintah pusat dan
pemerintah daerah sebagai keunggulan
147
daerah. Orientasi isi kebijakan kurikulumnya
lebih banyak pada kepentingan pemerintah
pusat dan pemerintah daerah sebagai
tempat Perguruan Tinggi Ilmu Pemerintahan
berada/berlokasi.
Cukup efektif melahirkan kajian
akademik
dan
alumninya
bagi
pembangunan nasional dan daerah di
tempat Perguruan Tinggi Ilmu Pemerintahan
berada/berlokasi. Berdampak cukup kuat
pada penyediaan aparatur pemerintah yang
melahirkan peraturan dan perilaku politis
dan administratif yang mengabdi kepada
pemerintah secara sentralistis tetapi juga
etnosentris.
SotA-IP di masa ini tampak
berlandasan ontologi dan berterminologi
‘kekuasaan’ dan ‘administratif’. Landasan
epistemologi
dan
metodologi
Ilmu
Pemerintahan di masa ini lebih banyak
menerapkan kajian kualitatif, deskriptif, dan
monovariat
tetapi
sudah
mulai
menggunakan
statistika
deskriptif.
Landasan aksiologi dan applied-science
SotA-IP di masa ini tampak kurang. Hal ini
terjadi karena pada kenyataannya masih
bercampur dengan kajian Ilmu Politik dan
Administrasi Negara/Publik. Di samping itu,
sentuhan metodologinya masih belum kuat,
sehingga landasan aksiologi dan appliedscience-nya di masa ini tampak kurang.
Evaluasi kebijakan publik tentang
SotA-IP di masa ini mulai dilakukan secara
periodik. Namun demikian, evaluasinya
masih belum serempak dan merata
dilakukan oleh setiap Perguruan Tinggi Ilmu
Pemerintahan. Ini terjadi karena UU-nya
belum kuat, anggarannya masih kurang,
SDM-nya terbatas, dan orientasi kualitas
akademiknya masih lemah.
dengan jatidiri SotA-IP untuk menjadi ilmu
yang mandiri, kuat, dan berkajian ilmiah.
Lebih
berdomain
pada
paradigma
Pemerintahan dan Ilmiah. Lebih dominan
pada pendekatan kualitatif dan kuantitatif
serta metode deskriptif dan eksplanatif.
Kebijakannya
bertujuan
untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dan
meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
Struktur perumusan, implementasi, dan
evaluasi kebijakannya cukup formal,
struktural, dan buttom-up policy. SotA-IP di
masa ini lebih banyak berfungsi/berperan
sebagai ilmu pemerintahan yang mandiri
pada obyek-materianya sendiri berupa
pemerintahan. Kebijakannya berinstrumen
sebagai lembaga pendidikan tinggi yang
ilmiah. Di masa ini dan di masa depan
tampaknya
Perguruan
Tinggi
yang
bersangkutan sebagai aktor atau agen yang
otonom dan kuat dalam kebijakan SotA-IP.
Kajiannya
lebih
banyak
beraspek
pemerintahan
untuk
kepentingan
kemapanan Ilmu Pemerintahan itu sendiri
dan juga yang dapat dipergunakan untuk
kepentingan pembangunan nasional di
Indonesia.
Orientasi
isi
kebijakan
kurikulumnya
lebih
banyak
pada
kepentingan Ilmu Pemerintahan itu sendiri
sebagai
yang
berorientasi
pada
pengembangan ilmu pengetahuan dan
kemanfaatan praktis bagi pembangunan
nasional.
Kebijakannya pun mulai efektif
melahirkan kajian akademik dan alumninya
bagi penguatan Ilmu Pemerintahan dan
berkontribusi dalam sumbangan kajian
akademik bagi pembangunan nasional yang
berwawasan global. Mulai berdampak cukup
kuat pada penyediaan aparatur pemerintah
yang melahirkan peraturan dan perilaku
pemerintahan yang mengabdi kepada
kepentingan nasional dan kesejahteraan
rakyat serta yang mau dan mampu bekerja
pada sektor-sektor swasta, masyarakat,
dan publik yang lain selain menjadi aparatur
pemerintah.
SotA-IP di masa ini tampak
berlandasan ontologi dan berterminologi
pada ‘pemerintahan’ atau ‘hubunganpemerintahan’.
Di
masa
depan,
‘pemerintahan’ ini perlu dielaborasi pada
‘responsibility,
obligation,
and
accountability 14’. Landasan epistemologi
Pemapanan
Kebijakan
SotA-IP
di
Indonesia
Sejak 1980-an SotA-IP berubah
menjadi ilmu pengetahuan yang mandiri
yang berbeda dengan Ilmu Politik atau
Administrasi Negara/Publik. Bentuk dan
jenis kebijakannya di antaranya berupa UU
Sisdiknas dan Surat Keputusan Mendikbud
tentang
Statuta
Perguruan
Tinggi.
Diperkirakan yang bersifat jangka panjang
(ratusan tahun). Perubahan kebijakannya
‘belok kiri-lagi menuju ke tengah’ dan
diperkirakan menjadi ‘lurus ke depan’ sesuai
14
Lihat Spiro (1969) dalam ‘Responsibility in
Government: Theory and Practice’, New
York: Van Nostrand Reinhold Company.
148
dan metodologi Ilmu Pemerintahan15 di
masa ini—dan diperkirakan di masa
depan—akan
tetap
lebih
banyak
menerapkan kajian kualitatif, deskriptif, dan
monovariat
serta
semakin
sering
menggunakan
statistika
deskriptif.
Penggunaan statistika inferensial pada
kajian
bivariat—bahkan
multivariat—
tampaknya mulai akan banyak diminati
sesuai dengan tuntutan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang semakin
menantang. Landasan aksiologi dan
applied-science Sota-IP di masa ini tampak
mulai kuat. Ini terjadi karena mulai ada
kepastian
objek-materia
kajiannya.
Sentuhan metodologinya mulai kuat,
sehingga
kegunaan
penelitian
dan
penulisan karya ilmiahnya pun mulai fokus
pada kegunaan aspek akademik atau
teoretik-konseptual.
Evaluasi kebijakan publik tentang
SotA-IP —terutama terhadap kurikulum—
mulai dilakukan lebih fokus, masif,
serempak, dan merata oleh setiap
Perguruan Tinggi Ilmu Pemerintahan. Ini
terjadi karena UU-nya mulai kuat,
anggarannya mulai cukup, SDM-nya mulai
berkualifikasi, lembaga penyelenggara dan
pelaksana pendidikan tingginya mulai
diakreditasi,
dan
orientasi
kualitas
akademiknya mulai dipacu. Evaluasinya pun
melibatkan
stakeholders,
seperti
mahasiswa, alumnus, masyarakat, swasta,
publik, ‘pemerintah’ di tingkat atasnya
sampai ke tingkat Pusat, pemerintah daerah
di ‘sampingnya’. Bahkan ini dilanjutkan oleh
lembaga swasta dan/atau pemerintah dari
negara-negara
yang
ikutserta
mendonasikan dananya sebagai mitra-kerja
akademik.
6. Catatan Akhir
Sebagai cacatan akhir, mengacu
pada pendapat Herbert J. Spiro16, kebijakan
tentang SotA-IP di masa depan tampaknya
perlu mempertimbangkan konsep-konsep
dasar
dan/atau
teori-teori
tentang
‘responsibility,
obligation,
and
accountability’17,
yang
ringkasannya18
seperti berikut ini:
ALL GOVERNMENT SHOULD BE RESPONSIBLE
BUREAUCRATS should be responsible on national
administration, public service, etc.
DIPLOMATS should be responsible on international
diplomacy, advocating national interest , etc.
GOVERNMENT should be responsible on
leading, achieving, and realizing a national
goals.
PARTIES should be responsible on public interest
agregation, making a rule, political control, etc.
15
Untuk lebih lengkap, lihat Hanapiah (2007)
tentang “Metodologi Ilmu Pemerintahan”
dalam
Jurnal
Ilmu
Pemerintahan
PublicSphere, FISIP UNPAD, Vol. 1 No. 1, hal
39—48.
16
Lihat Spiro (1969) dalam
‘Responsibility in
Government: Theory and Practice’, New York: Van
Nostrand Reinhold Company.
CITIZENS should be responsible on electing leaders,
delegating an interest, public participation, etc.
17
18
Responsibility is a duty to deal with or take care
because of job, position, etc. Obligation is the
state of being force to do something because it is a
duty or because of a law or a rule. Accountability
is
responsibility for decisions or actions and
expected to explain them when asked.
Created and adapted by Pipin Hanapiah,
26/01/2014.
149
SOLUTION FOR PROBLEM OF RESPONSIBILITY IN GOVERNMENT
(1)
Government
as the Structure
of
Responsibility
Solution for the
Problem of
Responsibility
in
Government:
(3)
(2)
Responsibility
Responsibility
as
as
Accountability
Obligation
Zigzag kebijakan SotA-IP dari
masing-masing
Perguruan
Tinggi
penyelenggara
Program
Studi
Ilmu
Pemerintahan perlu bertemu dalam forum
ilmiah secara berkala. Hal ini akan efektif
untuk saling berwacana akademik agar di
masa depan tidak lagi terjadi zigzag, baik
dalam tataran ontologi, epistemologi,
maupun aksiologinya.
Begitu
juga,
penelitian
dan
analisisnya dalam menghadapi arus
globalisasi terutama dengan konsep/teori
governance-nya
(termasuk
good
governance
dan/atau
cosmopolitan
government) dan dengan saling-silang
hubungan/pengaruh konsep/teori dalam
kajian Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu-ilmu
Humaniora khususnya—apakah berperan
sebagai variabel pendahulu atau anteseden,
variabel bebas atau pengaruh, variabel
antara (intervening), atau variabel terikat—
perlu diantisipasi dengan cermat. Walaupun
begitu,
pada
tataran
terminologi,
metodologi, dan applied-science-nya perlu
tetap menjadi otoritas Perguruan Tinggi
sesuai dengan dinamika tradisi akademik
masing-masing.
Semoga.
Search for A Paradigm, Boulder
Colorado: Westview Press.
Hanapiah, Pipin, 2014. “Substansi-Material
atas Judul Penelitian dan Penulisan
Tesis Konsentrasi Administrasi Publik,
Ilmu Pemerintahan, dan Ilmu Politik
pada Program Pascasarjana Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Padjadjaran” (Makalah). Bandung:
Program Pascasarjana FISIP UNPAD.
-----, 2007. “Metodologi Ilmu Pemerintahan”
(Artikel). Jurnal Ilmu Pemerintahan
PublicSphere. Bandung: Laboratorium
Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD.
Hornby, A.S., 2000. Oxford Advanced
Learner’s Dictionary of Current English.
Oxford: Oxford University Press.
Kay, Adrian. 2006. The Dynamics of Public
Policy.
UK/USA:
Edward
Elgar
Publishing Limited.
Ndraha, Taliziduhu, 2005. Kybernologi:
Sebuah
Rekonstruksi
Ilmu
Pemerintahan, Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Osborne, David dan Ted Gaebler. 2003.
Reinventing
Government
(Mewirausahakan Birokrasi): Sepuluh
Prinsip
untuk
Mewujudkan
Pemerintahan Wirausaha. Jakarta:
PPM.
Spiro, Herbert J., 1969. Responsibility in
Government: Theory and Practice. New
York:
Van
Nostrand
Reinhold
Company.
DAFTAR RUJUKAN
Bardach, Eugene, 2005. Policy Dynamics.
(Michael Moran, et.al. “Handbook of
Foreign Policy”).
Blondel, J., 1995. Comparative Government:
An Introduction (2nd edition),
London:
Prentice-Hall/Harvester
Wheatsheaf.
Chilcote, Ronald H., 1981. Theories of
Comparative
Politics:
The
150
KONSTRUKSI PEMBERITAAN SURAT KABAR DALAM KAMPANYE
JOKOWI DALAM PENCALONAN SEBAGAI PRESIDEN
R.Indriyati19
ABSTRAK
Berita mempunyai posisi terdepan dalam media massa. Berita merupakan salah satu
bagian dari produk informasi tentang segala hal yang berguna dan bermanfaat dalam rangka
memberikan pencerahan bagi peradaban kehidupan manusia. Realitas-realitas peristiwa yang
terjadi dalam semua aspek kehidupan yang meliputi : aspek sosial, hukum, ekonomi, politik,
agama semuanya merupakan bahan-bahan utama proses dalam membuat suatu berita yang
akan disajikan pada masyarakat. Para pemegang kepentingan dalam produk berita suatu media
massa yaitu Pemimpin Redaksi, Dewan Redaksi, Redaktur pelaksana, Sekretaris Redaksi, Staf
Redaksi, Redaktur Desk hingga wartawan mempunyai peran penting bagaimana suatu berita
dapat di olah dengan kadar kualitas jurnalisme yang baik.
Diantara semua pemegang kepentingan, peran terdepan dan strategis adalah wartawan,
karena wartawan adalah insan jurnalis yang pertama kali meliput suatu pemberitaan dilapangan,
dalam peran ini pulalah suatu kualitas berita dengan bobot baik sangat menentukan. Prinsipprinsip jurnalisme yang senantiasa mengutamakan aspek Aktualitas, faktualitas, Impartialitas
senantiasa menjadi rujukan utama semua wartawan. Rambu-rambu regulasi UU Pers no 40
tahun 1999 maupun kode etik jurnalistik menjadi batasan gerak profesional para wartawan akan
senantiasa dijadikan sebagai pegangan.
Kata Kunci : Konstruksi Berita, Kampanye Politik,Penyeleksian issu dan Pencalonan Presiden
PENDAHULUAN
Media massa dewasa ini menjadi
primadona yang dijadikan sumber informasi
baik kalangan terpelajar maupun awam.
Khususnya media cetak seperti surat kabar,
tabloid dan majalah, merupakan salah satu
wujud dari era informasi dan keterbukaan.
Berbagai pandangan pun berkembang
seakan tiada mengenal henti. Semua pesan
dari media massa di konsumsi oleh
masyarakat serta menjadi bahan informasi
dan referensi pengetahuan mereka. Secara
garis besar, isi media cetak terdiri dari fakta
dan opini. Fakta adalah sesuatu yang bisa
dilihat dan diraba, dan dirasakan oleh setiap
orang. sedangkan opini adalah pendapat
yang berkembang dalam masyarakat yang
dijadikan
sumber
informasi
oleh
masyarakat.
Laporan
dari
wartawan dari lapangan berdasarkan
sesuatu yang dilihatnya atau kesaksian
orang lain, laporan faktual biasanya bersifat
objektif. Isi media cetak yang berdasarkan
fakta adalah berita. Misalnya berita peristiwa
kebakaran, tabrakan, kriminalitas, olah raga
dan lain-lain yang semuanya bisa dilihat
kejadiannya baik secara langsung oleh
19
wartawan atau melalui saksi. Sedangkan
opini adalah pendapat atau pandangan
mengenai sesuatu hal. Karena itu opini
bersifat subjektif, karena pandangan atau
penampilan seseorang yang selalu berbeda.
Jadi kendati faktanya sama, namun ketika
beropini antara yang satu dengan yang
lainnya memperlihatkan adanya perbedaan.
Seperti halnya berita seputar pencalonan
Jokowi sebagai presiden Republik Indonesia
2014-2019 yang akan penulis dalam tulisan
ini.
Peristiwa
atau
fakta
yang
dikonstruksi selalu menjadi bagian dari
media massa sebagai bahan liputan. Media
adalah agen konstruksi pesan. Fakta atau
peristiwa yang ditulis adalah hasil
konstruksi. Bagi kaum konstruksionis
realitas itu bersifat subjektif, realitas itu hadir
karena dihadirkan oleh konsep subjektif
wartawan. Realitas tercipta lewat konstruksi,
sudut pandang tertentu oleh wartawan.
realitas bisa berbeda-beda tergantug
bagaimana ketika realitas itu dipahami oleh
wartawan yang mempunyai sudut pandang
yang berbeda. Karena fakta itu diproduksi
dan ditampilkan secara simbolik, maka
Dosen Universitas Langlangbuana Bandung
151
realitas tergantung pada bagaimana ia
dilihat dan bagaimana fakta tersebut
dikonstruksi dalam kata-kata yang ekstrim,
realitas atau fakta itu tergantung bagaimana
ia dilihat oleh pembuat berita.
Konstruktivis memandang realitas
kehidupan sosial bukanlah realitas yang
natural,
konstruktivisme
menolak
pandangan positivism yang memisahkan
subjek dan objek komunikasi. Dalam
pandangan konstruktivisme; bahasa tidak
lagi hanya dilihat sebagai alat untuk
memahami realitas objektif belaka dan
dipisahkan dari subjek sebagai penyampai
pesan. Konstruktivisme justru menganggap
subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan
komunikasi
serta
hubungan-hubungan
sosialnya. Subjek memiliki kemampuan
melakuan kontrol terhadap maksud-maksud
tertentu dalam setiap wacana. Komunikasi
dipahami diatur dan dihidupkan oleh
pernyataan-pernyataan yang bertujuan.
Setiap pernyataan pada dasarnya adalah
tindakan penciptaan makna, yakni tindakan
pembentukan diri serta pengungkapan jati
diri sang pembicara. Oleh karena itu analisis
dapat dilakukan demi membongkar maksud
dan makna-makna tertentu dari komunikasi.
Konstruktivisme
berpendapat
bahwa semesta secara epistimologi
merupakan
hasil
konstruksi
sosial.
Pengetahuan manusia adalah konstruksi
yang dibangun dari proses kognitif dengan
interaksinya dengan dunia objek material.
Pengalaman manusia terdiri dari interpretasi
bermakna terhadap kenyataan dan bukan
reproduksi kenyataan. Dengan demikian
duia muncul dalam pengalaman manusia
secara terorganisasi dan bermakna.
Keberagaman pola konseptual atau kognitif
merupakan hasil dari lingkungan historis,
kultural, dan personal yang digali secara
terus-menerus. Jadi tidak ada pengetahuan
yang koheren, sepenuhnya transparan dan
indepnden dari subjek yang mengamati.
Manusia ikut berperan, ia menentukan
pilihan perencanaan yang lengkap, dan
menuntaskan tujunnya di dunia. Pilihanpilihan yang mereka buat dalam kehidupan
sehari-hari lebih sering didasarkan pada
pengalaman sebelumnya, bukan pada
prediksi secara ilmiah-teoritis.
Bagi kaum konstruktivis, semesta
adalah konstruksi, artinya bahwa semesta
bukan dimengerti sebagai semesta yang
otonom, akan tetapi dikonstruksi secara
sosial, dan karenanya plural. Kontruktivisme
menolak pengertian ilmu sebagai yang
"terberi" dari objek pada subjek yang
mengetahui. Unsur subjek dan objek samasama berperan dalam mengkontruksi ilmu
pengetahuan.
Konstruksi
membuat
cakrawala baru dengan mengakui adanya
hubungan antara pikiran yang membentuk
ilmu pengetahuan dengan objek atau
eksistensi manusia. Dengan demikian
paradigm
konstruktivis
mencoba
menjembatani
dualism
objektivismesubjektivisme dengan mengafirmasi peran
subjek dan objek dalam konstruksi ilmu
pengetahuan. Pandangan konstruktivis
mengakui adanya interaksi antara ilmuwan
dengan fenomena yang dapat memayungi
berbagai pendekatan atau paradigm dalam
ilmu pengetahuan, bahkan bukan hanya
pada ilmu-ilmu alam, seperti yang ditunjukan
dalam fisika kuantum.
Penerimaan
adanya
berbagai
paradigma, kerangka konseptual, perspektif
dalam mengkonstruksi ilmu sebagaimana
dikemukakan di atas, mengakibatkan
pengakuan adanya pluralitas kebenaran
ilmiah. Kebenaran teori lebih dilihat bersifat
lokal dan kontekstual, artinya sesuai dengan
paradigm, kerangka konseptual, perspektif
yang dipilih.
Konstruksi adalah setiap upaya
untuk menceritakan sesuatu. Sedangkan
realita berarti peristiwa, keadaan, atau pun
benda. Jadi konstruksi realitas pada
prinsipnya merupakan suatu upaya untuk
menceritakan peristiwa, keadaan, atau pun
benda. Dalam kehidupan masyarakat,
konstruksi realitas banyak berhubungan
dengan profesi wartawan. Pekerjaan utama
dari seorang wartawan adalah mengisahkan
hasil reportasenya kepada khalayak.
Dengan demikian mereka selalu terlibat
dengan usaha-usaha mengkonstruksikan
realitas, yakni menyusun fakta yang
dikumpulkannya kedalam sebuah laporan
jurnalistik yaitu berita (news), karangan khas
(feature), atau pun gabungan keduanya
(news feature).
Konstruksi realitas yang
terjadi dalam media massa adalah dengan
pengaturan bahasa. Di dalam media cetak,
bahasa diwujudkan dalam bentuk tertulis
baik berbentuk kata, angka, gambar, atau
pun grafis. Pemilihan kata, penggunaan
bahasa-bahasa
tertentu,
atau
pun
penampilan gambar merupakan bagian dari
proses
kontruksi
tersebut.
Bahasa
merupakan bahan baku suatu media massa
dalam memproduksi berita.
Namun,
dalam media massa, bahasa tidak sekedar
152
Teori Fenomenologi (Phenomenology
Theory)
Fenomenologi berasal dari bahasa
Yunani
phainomai
yang
berarti
"menampak", Phainomenon merujuk pada
"yang menampak". Fenomena tiada lain
adalah fakta yang disadari, dan masuk ke
dalam pemahaman manusia. Jadi suatu
objek itu ada dalam relasi dengan
kesadaran. Fenomena bukanlah dirinya
seperti tampak secara kasat mata,
melainkan justru ada didepan kesadaran,
dan disajikan dengan kesadaran pula.
Berkaitan
dengan
hal
ini,
maka
fenomonologi mereflesikan pengalaman
langsung manusia, sejauh pengalaman itu
secara intensif berhubungan dengan suatu
objek.
Fenomelogi sebagai salah satu
cabang filsafat, pertama kali dikembangkan
di universitas-universitas Jerman sebelum
Perang Dunia I, khususnya oleh Edmund
Husserl, yang kemudian dilanjutkan oleh
Martin Heidegger dan yang lainnya seperti
Jean Paul Sartre. (Kuswarno, 2009: hlm.23).
Edmund
Husserl
memahami
fenomenologi sebagai suatu analisis
deskriptif serta introspektif mengenai
kedalaman dari semua bentuk kesadaran
dan pengalaman-pengalaman langsung;
religius, moral, estetis, konseptual, serta
indrawi. Perhatian filsafat, menurutnya,
hendaknya difokuskan pada penyelidikan
tentang Labenswelt (dunia kehidupan) atau
Erlebnisse
(kehidupan
subjektif
dan
batiniah).
dimaknai sebagai alat komunikasi untuk
menyampaikan fakta, informasi atau opini.
Bahasa juga bukan sekedar alat komunikasi
untuk menggambarkan realitas, namun juga
menentukan gambaran atau citra tertentu
yang hendak ditanamkan pada publik.
Bahkan bahasa bukan saja mampu untuk
menceritakan realitas, tetapi sekaligus
menciptakan
realitas.
Yaitu
dengan
penggunaan
bahasa-bahasa
tertentu,
pilihan kata dan juga cara penyajian realitas
yang kemudian berimplikasi terhadap
kemunculan makna tertentu.
TINJAUAN PUSTAKA
Teori Framing
Sosiolog
Erving
Goffman
menggunakan framing sebagai dasar bagi
pembatasan
dan
penelitian
human
interaction (interaksi antar manusia) serta
mengembangkan sistem elaborasi untuk
menganalisis
interaksi
manusia.
Pembingkaian
situasi
secara
rutin
digunakan
oleh
organisasi
untuk
menjelaskan
tindakan.
Pembingkaian
situasi secara rutin digunakan oleh
organisasi untuk menjelaskan tindakan.
Pembingkaian juga sebuah komponen kritis
yang digunakan dalam bargaining and
negotiation
(tawar-menawar
dan
perundingan) (Ardianto, 2010 : hlm.24)
Konsep
pembingkaian
sesungguhnya dapat dibagi dua; bingkai
media (media framing) dan bingkai khalayak
(audience framing). Bingkai media adalah
mengorganisasikan realitas sehari-hari.
Bingkai berita adalah bagian dari kemasan
realitas sehari-hari. Definisi lain, framing
adalah memilih beberapa aspek realitas
yang terpresepsikan dan membuatnya lebih
penting dalam suatu pengomunikasian teks
sedemikian rupa untuk mempromosikan
definisi tertentu tentang suatu persoalan,
interpretasi, penialian moral dan atau
pemberian saran. Bingkai khayalak adalah
gagasan tersimpan dalam pemikiran yang
dapat membimbing seseorang dalam
memproses informasi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi bingkai media adalah
sosiokultural (organisasi), variabel individu
(wartawan), dan variabel ideologi. Faktorfaktor yang mempengaruhi bingkai khalayak
adalah media framing, latar belakang,
sosiokultural, tokoh masyarakat. (Ardianto,
2010: 25).
Tinjauan Umum Tentang Komunikasi
Politik
Komunikasi politik mencakup dua
disiplin dalam ilmu-ilmu sosial, yaitu ilmu
politik dan ilmu komunikasi. Dalam ilmu
politik, istilah komunikasi politik mulai
banyak disebut-sebut bermula dari tulisan
Gabriel Almond yang berjudul The Politics of
the Development Areas pada tahun 1960.
Almond berpendapat bahwa komunikasi
politik adalah salah satu fungsi yang selalu
ada dalam dalam setiap sistem politik.
Menurutnya, komunikasi politik bukanlah
fungsi yang berdiri sendiri, akan tetapi
merupakan proses penyampaian pesan
yang terjadi pada saat keenam fungsi
lainnya itu dijalankan. Dalam hal ini, Easton
(dalam System Analysis of Political Life)
memberi batasan sistem politik pada
berbagai hal yang berkaitan dengan
153
pembuatan dan pelaksanaan keputusan
otoritatif (Rakhmat, 2006:hlm. 20-21).
Berbeda dengan ilmuwan politik
yang lebih membahas komunikasi politik
berkenaan dengan sistem politiknya, yaitu
proses pembuatan dan pelaksanaan
keputusan otoritatif. Ilmuwan komunikasi
membahas komunikasi politik berkenaan
dengan unsur-unsur komunikasinya sebagai
upaya merumuskan suatu komunikasi politik
yang efektif . Pada umumnya para teoritisi
menempatkan komunikasi politik dari dua
sisi yang terpisah yaitu komunikasi di satu
sisi dan politik di sisi lain kemudian
dipadukan dalam satu pengertian. Dengan
demikian,
kita
bisa
mendefinisikan
komunikasi politik berdasarkan pandangan
politik (klasik, kekuasaan, kelembagaan,
fungsionalis, atau konflik) yang kita
gunakan. Menurut Jalaludin Rakhmat
definisi komunikasi politik sebagai berikut, "
proses komunikasi yang menyangkut
interaksi pemerintah dan masyarakat, dalam
rangka proses pembuatan dan pelaksanaan
keputusan yang mengikat tentang kebaikan
bersama bagi masyarakat yang tinggal
dalam suatu wilayah tertentu." (Rakhmat,
2006: hlm. 22-30).
mengasingkan para kandidat atau calon
dengan para pemilihnya atau dengan
memperlambat dengan penjelasan rinci
programnya. Misalnya, dalam Pemilu 2008
dari
pihak
John
McCain
awalnya
mempergunakan pesan yang berfokus pada
patriotisme dan pengalaman politik; pesan
itu kemudian ditangkap dan diubah menjadi
perhatian beralih ke peran sebagai
"maverick" di dalam pendirian politiknya
sedangkan Barack Obama tetap pada
konsistensi, pesan yang sederhana yang
"mengubah"
seluruh
kampanye
itu
(Abizadeh, 2005: hlm.20-49).
Tinjauan Umum Tentang Profil Jokowi
Joko Widodo atau yang lebih
dikenal dengan nama julukan Jokowi
merupakan sosok yang saat ini cukup
fenomenal di Indonesia. Jokowi yang
merupakan Walikota Surakarta ini telah
menjadi buah bibir di tengah-tengah
masyarakat
luas,
semenjak
dirinya
mempopulerkan mobil SMK beberapa saat
yang lalu. Jokowi yang lahir di Surakarta
pada 21 Juni 1961 ini semakin menjadi
perbincangan masyarakat ketika secara
resmi mencalonkan diri sebagai calon
Gubernur untuk DKI Jakarta yang diusung
oleh
Partai
Demokrasi
Indonesia
Pembangunan (PDI-P) yang berkolaborasi
dengan Partai Gerindra. Dalam pencalonan
Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berpasangan
dengan Basuki Tjahaja Purnama yang juga
sering dijuluki sebagai Ahok.
Sebelum menjadi calon Gubernur DKI
Jakarta, Jokowi sebenarnya sudah lebih
duluan populer dimata masyarakat Solo.
Terbukti selama 2 priode terakhir menjabat
sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi telah
mampu melakukan perubahan yang sangat
pesat di kota ini. Dibawah kepemimpinan
Jokowi, Kota Solo telah menjadi branding
dengan slogan Kota, yaitu "Solo: The Spirit
of Java".
Berbagai langkah yang
dilakukan Jokowi dalam kepemimpinannya
di Kota Solo dinilai cukup progresif bila
dibandingkan dengan ukuran kota-kota
lainnya yang ada di Pulau Jawa. Salah satu
hal yang paling fenomenal dan telah berhasil
dilakukan oleh Joko Widodo, yaitu
melakukan relokasi pedagang barang bekas
di Taman Banjarsari tanpa adanya gejolak
dari para pedagang.
Tinjauan Umum Tentang Kampanye
Politik
Kampanye politik adalah sebuah
upaya yang terorganisir bertujuan untuk
memengaruhi
proses
pengambilan
keputusan para pemilih dan kampanye
politik selalu merujuk pada kampanye pada
pemilihan umum. Pesan dari kampanye
adalah penonjolan ide bahwa sang kandidat
atau calon ingin berbagi dengan pemilih.
Pesan sering terdiri dari beberapa poin
berbicara tentang isu-isu kebijakan. Poinpoin ini akan dirangkum dari ide utama dari
kampanye dan sering diulang untuk
menciptakan kesan abadi kepada pemilih.
Dalam banyak pemilihan, para kandidat
partai politik akan selalu mencoba untuk
membuat para kandidat atau calon lain
menjadi "tanpa pesan" berkaitan dengan
kebijakannya
atau
berusaha
untuk
pengalihan pada pembicaraan yang tidak
berkaitan dengan poin kebijakan atau
program (Abizadeh, 2005: hlm. 7-20).
Sebagian besar strategis kampanye
menjatuhkan kandidat atau calon lain yang
lebih memilih untuk menyimpan pesan
secara luas dalam rangka untuk menarik
pemilih yang paling potensial. Sebuah
pesan yang terlalu sempit akan dapat
METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan
adalah metode analisis isi kualitatif.
154
HASIL PENELITIAN
Istilah konstruksi sosial atas realitas
(social construction of reality) menjadi
terkenal ketika diperkenalkan oleh Peter L.
Berger dan Thomas Luckmann. Kedua
pemikir ini hanya meneruskan apa yang
digagas oleh Giambitissta Vico yang
kemudian banyak disebut sebagai cikal
bakal konstruktivisme. Proses konstruksi
realitas,prinsipnya
setiap
upaya
"menceritakan" (konseptualisasi) sebuah
peristiwa,keadaan,
atau
benda
tak
terkecuali mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan politik adalah usaha mengkonstruksi
realitas. Laporan tentang kegiatan orang
berkumpul di sebuah lapangan terbuka guna
mendengarkan pidato politik pada musim
pemilu,misalnya adalah hasil konstruksi
realitas mengenai peristiwa yang lazimnya
disebut kampanye pemilu itu. Begitulah
setiap hasil laporan adalah hasil konstruksi
realitas atas kejadian yang dilaporkan.
Karena sifat dan faktanya bahwa pekerjaan
media
massa
adalah
menceritakan
peristiwa-peristiwa,maka kesibukan utama
media massa adalah mengkonstruksi
berbagai realitas yang akan disiarkan.
Media menyusun realitas dari berbagai
peristiwa yang terjadi hingga menjadi cerita
atau wacana yang bermakna.Dengan
demikian seluruh isi media tiada lain adalah
realitas
yang
telah
dikonstruksikan
(Constructed reality) dalam bentuk wacana
yang bermakna.
Dalam
proses
konstruksi realitas,bahasa adalah unsur
utama. Ia merupakan instrument pokok
untuk menceritakan realitas.Bahasa adalah
alat konseptualisasi dan alat narasi.Dalam
konteks media massa ,keberadaan bahasa
ini tidak lagi sebagai alat semata untuk
menggambarkan sebuah realitas melainkan
bisa menentukan gambaran (makna citra)
mengenai suatu realitas realitas media yang
akan muncul di benak khalayak.Oleh karena
persoalan makna itulah,maka penggunaan
bahasa berpengaruh terhadap konstruksi
realitas,terlebih atas hasilnya (makna atau
citra). Penggunaan bahasa tertentu dengan
demikian
berimplikasi
pada
bentuk
konstruksi realitas dan makna yang
dikandungnya.Pilihan kata dan cara
penyajian suatu realitas ikut menentukan
struktur konstruksi realitas dan makna yang
muncul darinya.
Wartawan
bisa
mempunyai pandangan dan konsepsi yang
berbeda ketika melihat suatu peristiwa dan
itu dapat dilihat dari bagaimana mereka
mengkonstruksi
peristiwa
itu,yang
Prosedur disini menghasilkan temuan yang
diperoleh dari data-data yang dikumpulkan
dengan menggunakan beragam sarana.
Teknik
pengumpulan
data
melalui
observasi,
wawancara
dan
studi
dokumentasi dengan teknik analisis data
interaktif oleh Miles dan Hubermas
(1992),meliputi pengumpulan data, reduksi
data, penyajian data, dan pengambilan
kesimpulan.Adapun yang menjadi subjek
penelitian adalah: Redaktur Politik dan
Wartawan Pikiran Rakyat.
Penerimaan
adanya
berbagai
paradigma, kerangka konseptual, perspektif
dalam mengkonstruksi ilmu sebagaimana
dikemukakan di atas, mengakibatkan
pengakuan adanya pluralitas kebenaran
ilmiah. Kebenaran teori lebih dilihat bersifat
lokal dan kontekstual, artinya sesuai dengan
paradigm, kerangka konseptual, perspektif
yang dipilih. Tambahan bagi kebenaran teori
selalu dilihat tentatif. Sifat tentatif teori ini
seiring dengan asumsi bahwa paradigma,
kerangka konseptual kita dapat berubah
dalam melihat fenomena alami (atom,
cahaya, dan lain-lain). Asumsi ini membawa
ilmu
pengetahuan
pada
pengakuan
keterkaitannya dengan konteks sosialhistoris.
Konsekuensinya,
kaum
konstrukitivis menganggap bahwa tidak ada
makna yang mandiri, tidak ada deskripsi
yang murni objektif. Kita tidak dapat secara
transparan melihat "apa yang ada disana"
atau "yang ada di sini" tanpa termediasi oleh
teori. Kerangka konseptual atau bahasa
yang disepakati secara sosial. Semesta
yang ada dihadapan kita bukan suatu yang
ditemukan, melainkan selalu termediasi oleh
paradigm, kerangka konseptual, dan bahasa
yang dipakai. Karena itu, pendekatan yang
aprioristik terhadap semesta menjadi tidak
mungkin. Ide tentang tidak adanya satu
representatif dan ketersembunyian semesta
membuka peluang pluralisme metodologi,
karena tidak adanya satu representasi yang
memiliki akses istimewa terhadap semesta
Bahasan bukan cerminan semesta akan
tetapi
sebaliknya
bahasa
berperan
membentuk semesta. Setiap bahasa
mengkonstruksi aspek-aspek spesifik dari
semesta dengan caranya sendiri (bahasa
puisi/sastra, bahasa sehari-hari, bahasa
siang, bahasa ilmiah). Bahasa merupakan
hasil kesepakatan sosial serta memiliki sifat
yang tidak permanen, sehingga terbuka dan
mengalami proses evolusi.
155
diwujudkan dalam teks berita.Berita dalam
pandangan
konstruksi
social,bukan
merupakan peristiwa atau fakta dalam arti
yang riil. Disini realitas bukan dioper begitu
saja sebagai berita. Ia adalah produk
interaksi antara wartawan dengan fakta.
Dalam
proses
internalisasi,wartawan
menceburkan dirinya untuk memaknai
realitas.
Konsepsi
tentang
fakta
diekspresikan untuk melihat realitas.Hasil
dari berita adalah produk dari proses
interaksi dan dialektika tersebut .
Dari
uraian tersebut maka media telah menjadi
sumber informasi yang dominan tidak saja
bagi individu tetapi juga bagi masyarakat
dalam memperoleh gambaran realitas
mengenai suatu peristiwa. Ada dua konsep
dalam melihat realitas yang direfleksikan
media. Pertama,konsep media secara aktif
yang memandang media sebagai partisipan
yang turut mengkonstruksi pesan sehingga
muncul pandangan bahwa tidak ada realitas
sesungguhnya dalam media.Kedua,konsep
media secara pasif yang memandang media
hanya sebagai saluran yang menyalurkan
pesan-pesan sesungguhnya,dalam hal ini
media berfungsi sebagai sarana yang
netral,media menampilkan suatu realitas
apa adanya. Dalam konteks ini,maka
konsep media secara aktif menjadi relevan
dalam kaitannya dengan permasalahan
yang akan diteliti. Hal ini juga sesuai dengan
paradigm
konstruksionis
yang
digunakan,yang memandang media dilihat
bukan sebagai saluran yang bebas atau
netral melainkan sebagai subyek yang
mengkonstruksi
realitas,dimana
para
pekerja yang terlibat dalam memproduksi
pesan juga menyertakan pandangan,bias
dan pemihakannya. Karenanya,sangat
potensial terjadi peristiwa yang sama
dikonstruksi secara berbeda.
Menurut kaum konstruktivis, berita
adalah hasil konstruksi sosial di mana selalu
melibatkan pandangan, ideologi, dan nilainilai dari wartawan atau media. Berita yang
kita baca adalah hasil dari konstruksi kerja
jurnalistik.
Menurut
pandangan
konstruksionis, berita bersifat subjektif. Ini
dikarenakan opini tidak bisa dihilangkan
karena ketika meliput, wartawan melihat
dengan perspektif dan pertimbangan
subjektif. Penyampaian sebuah berita
ternyata menyimpan subjektivitas penulis.
Bagi masyarakat biasa, pesan dari sebuah
berita akan dinilai apa adanya. Berita akan
dipandang sebagai barang suci yang penuh
dengan objektivitas. Tapi, berbeda dengan
kalangan tertentu yang memahami betul
gerak pers. Mereka akan menilai lebih
dalam terhadap pemberitaan, yaitu dalam
setiap
penulisan
berita
menyimpan
ideologis/latar belakang seorang penulis
Selain itu, kebijakan perusahaan juga
mempengaruhi pemberitaan. Para atasan
seringkali punya kekuasaan untuk memberi
keputusan. Para eksekutif terkadang
membuat keputusan tentang peliputan
berdasar kepentingan mereka. Bisa juga
berdasar ideologi yang mereka anut.
Hal penting lainnya dalam produksi
berita adalah gatekeeping. Proses ini
berfungsi untuk menghilangkan, meringkas
dan menambahi berita agar pesan lebih baik
dalam penyajiannya. Proses gatekeeping
juga
melibatkan
penilaian,
dan
mempengaruhi semua berita. Dalam proses
ini juga terjadi proses konstruksi realitas
atas sebuah peristiwa. Mungkin melalui
penonjolan atau penghilangan isu-isu
tertentu agar diperhatikan atau dihiraukan
publik. Gatekeeper tidak terlihat oleh
audiens berita, bekerja dibelakang layar dan
membuat keputusan penting tentang
bagaimana
sebuah
peristiwa
akan
digambarkan dalam sebuah pemberitaan di
dalam surat kabar. Sementara menurut
Fishman, berita adalah apa yang pembuat
berita
tulis.
Menurutnya
ada
dua
kecenderungan
studi
dalam melihat
produksi berita. Pandangan pertama ialah
selectivity of news (seleksi berita). Intinya,
proses produksi berita ialah proses seleksi.
Pandangan ini melahirkan teori gatekeeper
seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Pandangan kedua ialah creation of news
(pembentukan berita). Menurut perspektif ini
peristiwa itu dibentuk, bukannya diseleksi.
Wartawanlah yang membentuk peristiwa,
dan dianggap aktif dalam proses pencatatan
suatu peristiwa. Berita dihasilkan dari
pengetahuan dan pikiran, bukan karena ada
realitas subjektif yang berada di luar, tetapi
karena orang akan mengorganisasikan
dunia menjadi koheren dan beraturan yang
memiliki makna. Di Indonesia, media
menjadi kekuatan yang cukup besar dalam
menggiring opini publik. Kenapa? Ini tak
lepas dari
masifnya media
dalam
memberitakan suatu fenomena atau
peristiwa. Sementara di sisi lain, masyarakat
sebagai audiens yang menelan mentahmentah apa yang disajikan oleh media
melalui beritanya. Padahal seperti yang
telah dijelaskan diatas, media tidak selalu
menyajikan fakta secara apa adanya.
156
Ketergantungan yang tinggi terhadap media
akan mendudukkan media sebagai alat
yang ikut menentukan dan membentuk apa
dan bagaimana masyarakat.
Pernyataan ini selaras dengan
pandangan bahwa media adalah agen
konstruksi
realitas,
karena
ketika
masyarakat tergantung kepada media,
kemungkinan akan tergiring oleh konstruksi
yang dilakukan media menjadi cukup besar.
Ketika korporasi media sudah berbicara,
arah kebijakan redaksi media seringkali
harus patuh pada titah sang pemilik media.
Sudah menjadi rahasia umum jika media di
Indonesia saat ini dipegang dan mendapat
pengaruh dari kekuatan-kekuatan politik di
belakangnya. Tak perlulah dicontohkan
media mana saja yang pemiliknya memiliki
latar belakang dunia politik. Inilah yang
ditakutkan, pasti akan ada benturan
kepentingan antara pemilik media dan
keharusan redaksi dalam menjaga netralitas
dan independensi media. Akibatnya, berita
menjadi sasaran utama dalam proses
konstruksi realitas. Melalui berbagai strategi
dan proses yang panjang, sebuah peristiwa
yang sama bisa saja dikemas secara
berbeda oleh media yang berbeda pula.
Langkah ini tergantung dari ideologi media
tersebut, bisa pula karena kekuatan
"invisible hand" yang mengatur media dari
belakang layar. Jika kita sebagai khalayak
tak pandai dan cermat dalam melihat
sebuah berita, bersiaplah pemahaman kita
akan digiring ke titik tertentu oleh
pemberitaan media.
Produksi
teks dalam sebuah media elektronik dan
cetak seharusnya tidak berada di salah satu
pihak serta lebih menonjolkan subjektifitas
daripada objektifitas karena mirror of reality
merupakan salah satu tugas media yang
harus merefleksikan realita sebenarnya
tanpa adanya bias maupun intervensi.
Terjadinya pemahaman yang berbeda
dalam menyikapi sebuah peristiwa antara
kaum pluralis dengan kaum kritis membuat
produksi teks mempunyai persepsi sendiri
dalam menganalisis peristiwa. Bagi kaum
prluralis, media mempunyai kewenangan
untuk merepresentasikan setiap peristiwa
berdasarkan subjektifitasnya. Sedangkan
kaum kritis berpendapat bahwa media harus
menggunakan politik pemaknaan dalam
menganalisa peristiwa, tidak cukup dengan
membuat berita, akan tetapi mengapa dan
bisa terjadi. Oleh sebab itu, kaum kritis
menekankan agar tidak memahami berita
secara tekstual tanpa melakukan analisa.
Publik perlu memahami sebuah teks tidak
muncul dengan sendirinya, akan tetapi teks
ditentukan
oleh
pelaku
dengan
menggunakan retorika bahasa tulis yang
mempunyai maksud agar berita bisa
dianggap benar.
Belum pasti apa yang diberitakan
media berdasarkan realita sebenarnya,
akan tetapi bisa berbelok dari kenyataan.
Oleh sebab itu, media harus benar-benar
memahami persoalan sedetail mungkin
sehingga
sesuai
dengan
konteks
sebenarnya serta tidak terjadi persepsi yang
berdasarkan pada subjektifitas. Tindakan
manipulasi makna dalam berita harus
dihilangkan dari media sehingga teks yang
direpresentasikan benar-benar mewakili
realita. Selain itu, pembelokan makna dalam
berita yang hanya mengedepankan ideologi
politik sama halnya melakukan pembodohan
publiks. Ada tiga komponen yang harus
diperhatikan dalam menganalisis wacana.
Pertama, teks. Teks dalam media tidak
muncul dengan sendirinya, akan tetapi ada
pelaku yang menciptakannya sehingga
menjadi sebuah wacana. Dalam analisis
wacana perlu memahami hal-hal yang
berkaitan dengan penciptaan sebuah teks,
di antaranya ; tematik berkaitan dengan
topik yang hendak dikedepankan, skematik
berkaitan dengan urutan dalam pembuatan
media, semantic yang berkaitan dengan
makna yang ingin ditekankan dalam teks
berita,
sintaksis
berkaitan
dengan
bagaimana penyusunan kalimat, stalistika
berkaitan dengan pilihan katadalam berita
dan retoris berkaitan dengan penekanan
dalam teks berita.
Kedua,
Kognisi sosial. Di mana lebih mengarah
terhadap produksi teks dan munculnya
wacana, karena teks dihasilkan atas
kesadaran,
pengetahuan,
prasangka
tertentu. Keberadaan wacana yang sudah
menyebar ke masyarakat apakah memang
berdasarkan realita atau hanya konstruksi
pihak dominant sebagai alat demi
kepentingan.
Ketiga, Analisis Sosial (konteks).
Melakukan pengkajian wacana yang
berkembang
si
masyarakat
dengan
memahami konteks yang terjadi di lapangan
tanpa ada intervensi pihak manapun. Oleh
sebab itu, publik sebagai objek dalam
pertarungan wacana seharusnya cerdas
dan cermat dalam memaknai sebuah berita.
Sebagai contoh, saat ini, banyak
pemberitaan tentang kasus Century yang
melibatkan pejabat Negara di dalamnya. Hal
157
itu merupakan sebuah wacana yang harus
dianalisis, bukan hanya sekedar mengikuti
pemaknaan dari media tanpa memahami
konteks sebenarnya, siapa yang salah dan
benar. Begitu besarnya pemahaman atau
ideologi berpengaruh dalam penciptaan
sebuah teks sehingga dapat menentukan
maksud dari sebuah peristiwa yang benar
bisa menjadi salah atau sebaliknya. Ideologi
mandiri yang harus dipegang oleh para
pembuat berita sehingga masyarakat tidak
dibohongi oleh teks media yang merupakan
representasi dari sebuah kejadian. Dalam
buku analisis Wacana, terdapat beberapa
tokoh yang mempunyai pandangan berbeda
dalam menaganalisis sebuah wacana di
media. Namun, terdapat kesamaan tiga hal
dalam
mengkritisi
sebuah
wacana.
Kesamaan tersebut berkaitan dengan
konstruksi dalam produksi teks di media
yang sering tidak didasarkan pada fakta
yang nyata. Pertama, Ideologi. Unsur sentral
yang
menjadikan
sebuah
teks
dilegetimasikan dan dimanipulasi untuk
maksud tertentu tanpa menyertakan
kebenaran dalam teks. Kedua, Kekuasaan
(Power). Kelompok yang berkuasa akan
lebih berperan besar dalam membuat
wacana guna memperbesar kuasanya.
Ketiga,
kelompok
dominant
dalam
masyarakat.
Tindakan
memanipulasi
wacana bisa dilakukan bagi kelompok yang
mempunyai
peranan
besar
dalam
kehidupan masyarakat.
Terciptanya teks dalam media harus
didasarkan
pada
kontek
dengan
menggunakan berbagai analisa, jangan
sampai teks yang meluas di masyarakat
ditumpangi oleh kelompok dominant yang
mengkonstruksi makna atau opini tertentu.
Teks dalam media jangan dianggap sebagai
wujud tulisan semata, akan tetapi dapat
menentukan
maksud
yang
mampu
mempengaruhi pembaca. Oleh sebab itu,
pembaca media harus cerdas dalam
memaknai teks mass media yang beredar.
Melalui
berita-berita
yang
ditampilkan,
media
massa
selain
menyajikan informasi juga memberikan
pemahaman kepada khalayaknya. Berita
yang ditampilkan memiliki pengaruh yang
cukup signifikan bagi khalayak, terutama
yang kurang memiliki media literacy atau
tingkat melek media yang tinggi. Tanpa
memilah-memilah dan memahami lebih
dalam apa yang disajikan dalam berita,
khalayak bisa terbawa dalam arahan
konstruksi yang dibangun oleh media. Lalu
bagaimana solusinya? Bagi media massa
terutama media cetak sebaiknya lebih
menekankan asas keberimbangan dalam
pembuatan suatu berita. Selain itu dituntut
harus lebih objektif dan independen dalam
memberitakan sebuah peristiwa, terutama
konflik. Tidak terjebak dalam keberpihakan
terhadap salah satu pihak.
Bagi masyarakat pada umumnya, dan
pembaca pada khususnya sebaiknya tidak
terlalu mudah terbawa pemahamannya oleh
apa yang disampaikan dalam berita. Ini
dikarenkan media massa terkadang tidak
memberitakan fakta secara apa adanya,
melainkan dikonstruksi sedemikian rupa
melalui strategi-strategi tertentu. Oleh
karena itu disarankan agar tidak hanya
mengkonsumsi berita dari satu jenis media
saja. Hal ini dimaksudkan agar ada
semacam pembanding dan perimbangan
informasi dari berbagai media. Diharapkan
dengan cara demikian, tidak akan terlalu
mudah percaya dengan apa yang
disampaikan media, karena ada balance
dan kroscek jika ternyata ada perbedaan
dalam pemberitaan. Selain itu penting sekali
penanaman akan media literacy bagi
masyarakat awam, agar pemahaman
masyarakat akan media lebih meningkat.
Untuk itu diperlukan kerjasama yang
komprehensif dan serius dari berbagai
pihak, baik pemerintah selaku regulator,
media massa, maupun masyarakat sendiri.
KESIMPULAN
1) Penyeleksian Issue
Seleksi issu yang dilakukan oleh Harian
Umum Pikiran Rakyat mengenai berita
terkait kegiatan kampanye Jokowi dalam
pencalonan sebagai Presiden Republik
Indonesia melalui tahapan-tahapan yang
dilakukan oleh staff redaksi yang terdiri
dari Redaktur Politik, Redaktur Halaman,
Wartawan, Asisten Redaktur dan
Pimpinan redaksi, mereka adalah orangorang yang berkepentingan untuk
menentukan tema apa yang akan
diterbitkan setiap harinya, menentukan
headline news serta issue apa saja yang
sedang hangat dan layak untuk
diberitakan kepada masyarakat. Berita
yang disuguhkan tidak dibuat secara
asal-asalan, mereka pun memikirkan
cara agar berita tersebut bisa langsung
dipahami masyarakat tanpa mengurangi
kualitas berita itu sendiri.
158
2) Isi Berita
Isi pemberitaan dalam pembahasan
penelitian
ini
mengenai
kegiatan
kampanye pencalonan Jokowi sebagai
presiden tahun 2014, berita yang mereka
buat adalah suatu konstruksi sang
pembuat teksi berita. Realitas yang
mereka dapatkan melalui fakta-fakta
yang ada mereka olah lagi agar menjadi
suatu pemeberitaan yang menarik bagi
khakayal. Isi suatu berita sangat penting
untuk
mempengaruhi
persepsi
masyarakat dalam memandang suatu
obyek, akankah berpandangan subjektif
atau obyektif. Oleh karena itu Wartawan
Harian Umum Pikiran Rakyat selalu
menggunakan prinsip independensi,
netralitas dan juga 5W+1H yang mereka
terapkans selamam membuat suatu
pemberitaan. Karena seyogyanya berita
di media cetak merupakan informasi
yang mampu mempengaruhi masyarakat
ke arah pandangan yang objektif bukan
sebaliknya
3) Frekuensi Pemuatan Berita
Frekuensi pemuatan berita di Harian
Umum Pikiran
Rakyat
mengenai
kegiatan terkait kampanye Pilpres,
mendapatkan porsi yang seimbang
dengan pemberitaan lain, tetapi ketika
kegiatan
kampanye
masih
terus
berlangsung tentunya pemuatan berita
politik terkait kegiatan kampanye
mendapatkan porsi yang lebih banyak,
selain berita politik menarik untuk
diberitakan, berita politik terkait kegiatan
kampanye pun seringkali menjadi
headline news kala itu karena kegitan
yang dilakukan secara masif oleh
masing-masing
kubu
sehingga
pemuatan beritanya lebih sering dimuat
menjadi berita utama juga di rubrik politik.
Rekatama
Media,
Bandung.
Budiardjo,
Miriam.2008.DasardasarIlmuPolitik.
PT
GramediaPustakaUtama, Jakarta
Eriyanto, 2011. Analisis Framing :
Konstruksi, Ideologi dan Politik edia.
Edisi I, PT Lkis Printing Cemerlang,
Yogyakarta.
Kovach, Bill danRosentiel, Tom. 2001. The
Elements of Journalism. New York:
Crown Publishers.
Kuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi:
MetodologiPenelitianKomunikasi.
WidyaPadjajaran, Bandung.
Miles,B.B.,dan
A.M.Huberman,1992,
Analisa Data Kualitatif. UI Press:
Jakarta.
Nimmo, Dan. 2006. KomunikasiPolitik
(Khalayakdanefek). Cetakan IV,
RemajaRosdakarya,
Rakhmat,
Jalaluddin.
2006.
Metode
Penelitian Komunikasi: Dilengkapi
Dengan Contoh Analistik Statistik .
Rosdakarya: Bandung.
Sobur, Alex. 2006. AnalisisTeks Media.
Cetakan
IV.
PT
Remaja
Rosadakarya, Bandung
B.Data Lain
Arsip berita kampanye Harian Umum Pikiran
Rakyat
www.jokowicenter.com
DAFTAR PUSTAKA
A.Buku
Arifin, Anwar. 2002. Ilmu Komunikasi
Sebuah Pengantar Ringkas. Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
Abizadeh,
Arash.2005.
Democratic
Elections
without
Campaigns?.Normative
Foundations of National Baha'i
Elections."World Order.
A
Ardianto,
Elvinaro.
2010,Komunikasi
Massa: SuatuPengantar. Simbiosa
Rekatama Media, Bandung.
B
_______________,
2010,
MetodePenelitianKualitatif.Simbiosa
159
PELAKSANAAN FUNGSI SOSIALISASI POLITIK
DEWAN PIMPINAN DAERAH PARTAI DEMOKRASI INDONESIA
PERJUANGAN PROVINSI JAWA BARAT
(Studi Tentang Peningkatan Pendidikan Politik Masyarakat)
Ronald Al Kausar20
dan
Dadan Kurnia21
Abstrak
Pelaksanaan fungsi sosialisasi politik di lingkungan Provinsi Jawa Barat saat ini menjadikan
fokus utama pada peningkatan pendidikan politik masyarakat. Hal tersebut dikarenakan minimnya
agen sosialisasi politik, pemberian materi politik, mekanisme politik dan pola sosialiasi politik kepada
masyarakat. Partai politik sebagai agen utama dalam menyampaikan sosialisasi politik kepada
masyarakat Provinsi Jawa Barat dapat memberi pengetahuan dan pemahaman politik yang disajikan
serta mewujudkan terciptanya partai politik yang baik dan berkualitas. Hal tersebut tentunya akan
berdampak pada peningkatan partai politik terutama pada fungsi sosialisasi politik masyarakat
Provinsi Jawa Barat.
Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan)
Provinsi Jawa Barat merupakan organisasi partai politik PDI Perjuangan yang berada di Provinsi
Jawa Barat memiliki kewenangan tugas, pokok dan fungsi untuk mengurus partai di daerah seperti
Dewan Pengurus Cabang (DPC) sampai tingkat ranting sesuai dengan pedoman Anggaran Dasar
(AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) yang berlaku.
Berdasarkan hasil penelitian, agen sosialisasi politik tersebut masih minim dalam memberikan
sosialisasi politik kepada masyarakat. Hal tersebut dikarenakan terbatasnya hubungan kerjasama
antara DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat terhadap agen-agen sosialisasi lainnya. Materi
sosialisasi politik yang diberikan kepada masyarakat tidak secara penuh tersampaikan. Hal tersebut
dikarenakan mobilisasi politik kepada masyarakat terlihat hanya untuk pemenangan partai saja,
sedangkan kebijakan, ideologi, visi, misi dan tujuan partai bersifat terbatas hanya kepada anggota
internal partai dan simpatisan. Mekanisme sosialisasi politik dilihat dari imitasi, instruksi, dan motivasi
saat ini masih minim. Hal tersebut dikarenakan minimnya prestasi dan sejumlah tokoh panutan politik
yang dapat mempengaruhi kebijakan dan perkembangan gagasan ideologi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat. Pola sosialisasi politik dilihat dari pola repsresif dan pola
partisipatoris sebagian besar masyarakat tidak memahami konteks politik.
Kata Kunci: Sosialisasi Politik, Partai Politik, Pendidikan Politik
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Partai politik menjadikan pilar utama
dalam mewujudkan negara ke arah yang lebih
demokratis sebagai tolok ukur warga negara
untuk berpartisipasi dalam pengelolaan
kehidupan berbangsa dan bernegara serta
memperjuangkan kepentingan publik yang
mengarah kepada negara kuat dan rakyat
sejahtera dengan menumbuhkan orientasiorientasi politik pada masyarakat. Hal tersebut
merupakan
proses
pembelajaran
dan
20
21
pemahaman tentang hak, kewajiban dan
tanggung jawab setiap warga negara dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Partai politik sebagai pilar demokrasi
diarahkan pada dua hal utama, yaitu pertama,
membentuk sikap dan perilaku partai politik
yang terpola atau sistemik sehingga terbentuk
budaya politik yang mendukung prinsip-prinsip
dasar sistem demokrasi. Hal ini ditunjukkan
dengan sikap dan perilaku partai politik yang
memiliki sistem seleksi dan rekrutmen
keanggotaan
yang
memadai
serta
Alumni IP Unikom
Dosen Tetap Prodi Ilmu Pemerintahan UNJANI
160
mengembangkan sistem pengkaderan dan
kepemimpinan politik yang kuat. Kedua,
memaksimalkan fungsi partai politik baik
fungsi partai politik terhadap negara maupun
fungsi partai politik terhadap rakyat melalui
sosialisasi politik dan pengkaderan serta
rekrutmen
politik yang efektif untuk
menghasilkan kader-kader calon pemimpin
yang memiliki kemampuan di bidang politik.
Masyarakat Provinsi Jawa Barat
sebagian besar masih memiliki pola pikir yang
tradisional,
dimana
menjadikan
suatu
anggapan bahwa masyarakat lebih baik
memimpin dari pada dipimpin dan lebih baik
berkuasa dari pada dikuasai. Terbukti
banyaknya kalangan masyarakat menegah ke
bawah yang ikut ke dalam dunia politik. Pada
dasarnya Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 telah
mengamanatkan setiap warga negara berhak
memperoleh kesempatan yang sama dalam
pemerintahan, namun menjadi suatu masalah
bilamana
masyarakat
tersebut
yang
mencalonkan diri sebagai anggota eksekutif
maupun legislatif tidak memiliki latar belakang
pendidikan politik maupun pemerintahan yang
mana nantinya mereka akan menjadi wakil
rakyat yang menyerap aspirasi dan yang
mempertahankan
hak
dan
kewajiban
masyarakat tersebut. Belum lagi dengan
pemikiran masyarakat yang menganggap
politik sebagai ajang kecocokan, kesukaan
dan ketertarikan masyarakat yang sesuai
dengan perilaku dan gaya hidup masyarakat
saat itu dengan adanya stiker, poster, baliho,
spanduk dan sejenisnya para calon anggota
legislatif yang memampang dirinya demi
perolehan dan menarik perhatian masyarakat
lain untuk memilih mereka.
Berdasarkan hasil observasi dalam
penelitian sosialisasi politik Dewan Pimpinan
Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDI Perjuangan) Provinsi Jawa
Barat terdapat beberapa masalah yang
ditemukan
dilapangan.
Pertama,
permasalahan minimnya kerjasama DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat terhadap
agen-agen sosialisasi lainnya misalnya
kerjasama terhadap agen pendidikan seperti
institusi perguruan tinggi, agen kelompok
agama seperti tokoh masyarakat, agen
kelompok masyarakat seperti organisasi
masyarakat dan lain sebagainya. Jika diamati
di lapangan, DPD PDI Perjuangan Provinsi
Jawa Barat hanya menekankan pada agen
media massa saja baik cetak maupun
elektronik secara nasional dengan iklan politik
dan seruan mengajak masyarakat untuk
memilih saja tanpa secara detail menjelaskan
dan memaparkan tentang visi, misi dan
strategi politik. Terbatasnya penyampaian
politik mengindikasikan bahwa minimnya
sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat dalam pendidikan politik
masyarakat Provinsi Jawa Barat.
Kedua,
permasalahan
materi
sosialisasi politik yang diberikan kepada
masyarakat tidak secara penuh tersampaikan,
sehingga
sebagian
masyarakat
tidak
mengetahui pengetahuan lebih dari nilai-nilai
dan sikap politik baik visi, misi dan program
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, alat
peraga atau sarana pendukung sosialisasi
politik seperti stiker, famplet dan baliho masih
mendominasi, sehingga banyaknya para
calon kepala daerah dan calon anggota
legislatif daerah yang menampangkan dirinya
bersama dengan tokoh-tokoh pimpinan partai
politik, pendiri partai politik atau tak jarang
negarawan dan lain sebagainya. Hal tersebut
dapat diindikasikan bahwa partai politik
sebagai agen sosialisasi politik yang memiliki
krisis kurang percaya diri yang mengarahkan
masyarakat kepada pemikiran partai yang
terfokus pada masalah kewibawaan dan yang
terpikat masa lalu, sehingga mengakibatkan
penguasaan
mobilisasi
politik
kepada
masyarakat
secara
berlebihan
dan
memberikan pendidikan politik yang minim.
Ketiga, permasalahan mekanisme
sosialisasi politik di lapangan yang terfokus
pada masalah kewibawaan dan yang terpikat
masa lalu tersebut membuat masyarakat tidak
berpikir secara luas. Masyarakat diarahkan
untuk mengikuti alur yang diharapkan, dimana
pelaksanaan sosialisasi politik dilakukan
hanya pada saat tertentu saja misalnya
menjelang pemilihan umum untuk perolehan
suara. Masih adanya sikap dan tingkah laku
anggota partai yang menjadi kepala daerah
dan legislatif yang melakukan tindakan
penyalahgunaan wewenang seperti Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam
menjalankan tugas pemerintahannya yang
mempengaruhi sosialisasi politik. Masih
minimnya anggota partai politik yang memiliki
prestasi tinggi dalam kinerja pemerintahan
161
dan perpolitikan yang dapat memberikan
pengalamannya untuk memotivasi.
Keempat, pola sosialisasi politik yang
dilakukan tidak mengenai sasaran yang tepat
yaitu masyarakat. Pola sosialisasi politik yang
dilakukan hanya pada masa-masa dan waktu
tertentu saja misalnya pada saat kampanye
pemilihan kepala daerah baik tingkat provinsi,
kabupaten dan kota, pemilu legislatif dan
pemilihan presiden. Berdasarkan pengamatan
awal di lapangan sosialisasi politik yang
dilakukan DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat hanya menekankan kepada kader dan
anggota internal saja tanpa secara penuh
kepada masyarakat, sehingga minimnya
partisipasi dan reaksi masyarakat terhadap
program-program yang ada pada DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat.
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat melalui fungsi partai politik sebagai agen
utama dalam sosialisasi politik kepada
masyarakat Provinsi Jawa Barat, maka DPD
PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat berupaya
meningkatkan kualitas sosialisasi politik
secara cerdas sebagai upaya peningkatan
pendidikan politik kepada masyarakat Provinsi
Jawa Barat. DPD PDI Perjuangan Provinsi
Jawa Barat yang memperjuangkan hak dan
kewajiban masyarakat Provinsi Jawa Barat
juga memiliki kebutuhan dan harapan
penyelenggara sosialisasi politik yang
profesional dalam memberikan sosialisasi
politik kepada masyarakat yang mampu
mencerdaskan, membangun etika, dan
menciptakan budaya politik pada masyarakat
Provinsi Jawa Barat.
Sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat sangat tergantung pada
pimpinan, pejabat dan kader PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat karena merupakan unsur
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
yang bertugas memberikan sosialisasi politik
kepada masyarakat Provinsi Jawa Barat.
Sosialisasi politik yang disajikan merupakan
salah satu upaya yang dicanangkan oleh DPD
PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat dan
pemerintah. DPD PDI Perjuangan Provinsi
Jawa Barat yang memberikan fungsi politik
kepada masyarakat tentang sosialisasi politik
kepada masyarakat Provinsi Jawa Barat. Hal
tersebut diharapkan dapat bekerja secara
optimal dan terkoordinir dengan baik. DPD
PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat dalam
menyampaikan sosialisasi politik kepada
masyarakat Provinsi Jawa Barat diharapkan
dapat memberi pengetahuan dan pemahaman
politik yang disajikan serta mewujudkan
terciptanya partai politik yang baik dan
berkualitas. Hal tersebut tentunya akan
berdampak pada peningkatan partai politik
terutama pada fungsi sosialisasi politik
masyarakat Provinsi Jawa Barat yang
memprioritaskan terwujudnya pembelajaran
dan pemahaman tentang hak, kewajiban dan
tanggung jawab setiap warga negara dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara serta
mampu mencerdaskan, membangun etika
dan menciptakan budaya politik pada
masyarakat Provinsi Jawa Barat.
Fokus Penelitian
Pelaksanaan fungsi sosialisasi politik DPD
PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat melalui
peningkatan pendidikan politik masyarakat.
Maksud dan Tujuan
Maksud dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui dan menggambarkan bagaimana
pelaksanaan fungsi sosialisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat melalui
pendidikan politik masyarakat. Sedangkan
tujuanya adalah :
1) Untuk mengetahui dan menganalisis
hubungan agen sosialisasi terhadap DPD
PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
melalui peningkatan pendidikan politik
masyarakat.
2) Untuk mengetahui dan menganalisis
materi sosialisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat melalui
peningkatan
pendidikan
politik
masyarakat.
3) Untuk mengetahui dan menganalisis
mekanisme sosialisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat melalui
peningkatan
pendidikan
politik
masyarakat.
4) Untuk mengetahui dan menganalisis pola
sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat melalui peningkatan
pendidikan politik masyarakat.
Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian yang
ditinjau dari sudut pendekatan keilmuan
sebagai berikut :
1. Bagi peneliti, penelitian ini dapat berguna
untuk
menambah
wawasan
dan
162
pengetahuan
peneliti
mengenai
pelaksanaan fungsi sosialisasi politik DPD
PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
tentang peningkatan pendidikan politik
masyarakat dan bahan perbandingan bagi
penelitian sejenis bagi pihak-pihak yang
berkepentingan.
2. Secara teoritis, penelitian ini untuk
menerangkan dan mengembangkan teoriteori yang peneliti gunakan dan relevan
pada permasalahan dalam penelitian ini
berkenaan dengan pelaksanaan fungsi
sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat tentang peningkatan
pendidikan politik masyarakat, sehingga
dapat memberikan kontribusi positif bagi
perkembangan ilmu pemerintahan dalam
pelaksanaan pelayanan, pemberdayaan
dan pembangunan serta perkembangan
ilmu
politik
dalam
pelaksanaan
perpolitikan.
3. Kegunaan Praktis, penelitan ini diharapkan
dapat bermanfaat bagi DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat dalam
meningkatkan fungsi sosialisasi politik
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
kepada masyarakat Provinsi Jawa Barat
guna mewujudkan pembelajaran dan
pemahaman tentang hak, kewajiban, dan
tanggung jawab setiap warga negara
dalam
kehidupan
berbangsa
dan
bernegara serta mampu mencerdaskan,
membangun etika dan menciptakan
budaya politik pada masyarakat.
perkembangan yang ada dan berjalan terus
dengan segala daya tiruannya.
Miriam Budiardjo menjelaskan konsep
politik menurutnya, “politik adalah usaha untuk
menentukan peraturan-peraturan yang dapat
diterima baik oleh sebagian besar warga,
untuk membawa masyarakat ke arah
kehidupan
bersama
yang
harmonis”.
(Budiardjo, 2008:15). Berdasarkan pendapat
tersebut dapat dikatakan bahwa politik
merupakan usaha untuk menggapai good life,
ini menyangkut bermacam-macam kegiatan
yang antara lain menyangkut proses
penentuan tujuan dari sistem politik serta
cara-cara melaksanakan tujuan politik itu.
Masyarakat mengambil keputusan yang dari
sistem itu untuk melaksanakan kebijakankebijakan
umum
yang
menyangkut
pengaturan dan alokasi dari sumber daya
yang mana perlu memiliki kekuasaan serta
wewenang dimana kekuasaan ini diperlukan
baik untuk membina kerjasama maupun untuk
menyelesaikan konflik yang mungkin timbul
dalam proses ini. Konsep politik tersebut
berkaitan dengan negara, kekuasaan,
pengambilan
keputusan,
kesejahteraan
umum, pembagian dan alokasi nilai-nilai di
dalam masyarakat.
Sosialisasi politik menurut Michael
Rush, sebagai berikut, “political socialization
may be defined is the process by which
individuals in a given society become
acquainted with the political system and which
to a certaint degree determines their
pereptions and their reactions to political
phenomena”. (Rush, 1992:92). Berdasarkan
pendapat di atas maka sosialisasi politik
merupakan proses yang melaluinya orang
dalam masyarakat tertentu belajar mengenai
sistem politik atau suatu proses bagaimana
orang tersebut menentukan tanggapan serta
reaksi-reaksinya
terhadap
gejala-gejala
politik.
Secara lebih rinci Michael Rush dan
Phillip Althoff mengemukakan pendapatnya
tentang sosialisasi politik sebagai berikut,
“sosialisasi politik adalah proses oleh
pengaruh mana seorang individu bisa
mengenali sistem politik, yang kemudian
menetukan
sifat
persepsi-persepsinya
mengenai politik serta reaksi-reaksinya
terhadap gejala-gejala politik. Sosialisasi
politik mencakup pemeriksaan mengenai
lingkungan kultural, lingkungan politik dan
KAJIAN PUSTAKA
Sosialisasi Politik
Konsep
sosialisasi
menurut
M.
Munandar
Soelaeman,
“Sosialisasi
merupakan salah satu proses belajar
kebudayaan dari anggota masyarakat dan
hubungannya
dengan
sistem
sosial”.
(Soelaeman, 2001:166-167). Berdasarkan
pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa
sosialisasi
merupakan
proses
belajar
kebudayaan dari anggota masyarakat dimana
masyarakat belajar pola-pola tindakan dalam
interaksi dengan segala macam masyarakat
disekelilingnya yang menduduki beraneka
macam peranan sosial yang mungkin ada
dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan
masyarakat akan selalu tampak karena dapat
menerapkan
pengalaman
baru
dari
163
lingkungan sosial dari masyarakat individu
yang bersangkutan; juga mempelajari sikapsikap politik serta penilaiannya terhadap
politik”.
(Rush
&
Althoff,
2013:22).
Berdasarkan pendapat di atas maka
sosialisasi
politik
merupakan
proses
seseorang atau masyarakat bisa mempelajari
dan mengenali sistem politik yang mampu
memahami tentang politik serta kejadiankejadian politik yang dipengaruhi oleh
lingkungan yang ada di dalam masyarakat
tersebut
termasuk
juga
memahami
bagaimana sikap dan penilaian politik itu
terjadi.
Michael Rush dan Phillip Althoff
berpendapat bahwa setiap keberhasilan suatu
proses sosialisasi politik ditentukan oleh faktor
lingkungan (kultural, politik dan sosial) dan
keterkaitan
unsur-unsur
yang
mempengaruhinya adalah sebagai berikut:
1. Agen sosialisasi politik, yang terdiri dari
keluarga, pendidikan, media massa,
kelompok sebaya, kelompok kerja,
kelompok
agama.
Selain
itu
keberadaan kelompok kepentingan dan
organisasi kemasyarakatan memberi
pengaruh sebagai agen sosialisasi
politik terhadap partisipasi masyarakat.
2. Materi
sosialisasi
politik,
yaitu
pengetahuan, nilai-nilai dan sikap-sikap
politik yang hidup di masyarakat.
3. Mekanisme sosialisasi politik, di bagi
menjadi tiga yaitu imitasi, instruksi dan
motivasi.
4. Pola sosialisasi politik proses yang
terus
berkesinambungan,
untuk
mengetahui proses sosialisasi, yang
terdiri dari badan atau instansi yang
melakukan
proses
sosialisasi,
hubungan antara badan atau instansi
tersebut dalam melakukan proses
sosialisasi”.
(Rush & Althoff, 2013:35-40).
Berdasarkan pendapat di atas maka
proses keberhasilan sosialisasi politik yaitu
pertama, agen sosialisasi politik merupakan
pihak yang melaksanakan sosialisasi politik.
Agen sosialisasi merupakan pemeran utama
dalam keberhasilan proses sosialisasi politik
untuk menyebarkan atau menanamkan nilainilai dan norma norma yang terdapat dalam
materi sosialisasi politik. Keberhasilan
tersebut ditentukan oleh mekanisme yang
terencana dan digambarkan dalam pola
proses sosialisasi yang baik apabila prosesproses tersebut dapat tersusun, maka
penyebaran informasi mengenai materi
sosialisasi politik dapat dengan tepat
disampaikan ke sasaran sosialisasi. Agen
sosialisasi politik adalah pihak-pihak yang
melaksanakan atau melakukan sosialisasi.
Agen sosialisasi politik tersebut antara lain:
a. Keluarga adalah agen sosialisasi terdiri
atas orang tua dan saudara kandung.
(Sunarto,
2004:24).
Berdasarkan
pernyataan tersebut bahwa ayah, ibu,
kakek, nenek, kakak, adik, paman, bibi dan
saudara lainnya merupakan agen pertama
dalam sosialiasi politik.
b. Kelompok pendidikan adalah agen
sosialisasi yang berada pada sistem
pendidikan formal. Mempersiapkan untuk
menguasaan
peran-peran
baru
dikemudian hari, dikala seseorang tidak
tergantung lagi pada orang tuanya.
(Sunarto,
2004:25).
Berdasarkan
pernyataan tersebut bahwa pendidikan
formal akan membentuk pengetahuan dan
pengalaman baru seseorang.
c. Media massa adalah sebagai agen
sosialisasi
yang
berpengaruh
pula
terhadap perilaku khalayaknya. Sunarto
secara rinci menjelaskan tentang agen
media massa sebagai berikut, “agen media
massa ini merupakan bentuk peningkatan
teknologi
yang
memungkinkan
peningkatan
kualitas
pesan
serta
peningkatan
frekuensi
penerapan
masyarakat pun memberi peluang bagi
media massa untuk berperan sebagai
agen sosialisasi yang semakin penting”.
(Sunarto, 2004:26). Berdasarkan hal
tersebut, maka media massa seperti koran,
majalah, siaran televisi, internet dan lain
sebagainya merupakan bentuk informasi
yang kuat dalam masyarakat mengingat
tampilan tiga dimensi dalam media massa
dapat memberikan kesan adanya kualitas
yang dapat meyakinkan masyarakat dalam
hal sosialisasi.
d. Kelompok sebaya adalah seseorang
belajar berinteraksi dengan orang yang
sebaya dan sederajat. (Sunarto, 2004:25).
Pada tahap ini seseorang memasuki tahap
mempelajari aturan yang mengatur peran
seseorang yang kedudukannya sederajat
dalam kelompok ini seseorang mulai
belajar nilai-nilai keadilan.
164
e. Kelompok kerja adalah kelompok yang
melakukan
pekerjaan
sejenis.
Berdasarkan hal tersebut, maka kelompok
kerja merupakan kumpulan orang-orang
yang melakukan pekerjaaan yang sama,
dimana seseorang dengan mudah untuk
diarahkan kepada suatu keadaan yang
diharapkan.
f. Kelompok agama adalah kelompok yang
tumbuh berdasarkan rasa solidaritas pada
sanak saudara, kerabat, agama, wilayah
kelompok etnis dan pekerjaan.
g. Kelompok kepentingan adalah agen
sosialisasi dalam kelompok asosiasional
seperti Asosiasi Ilmu Politik Indonesia
(AIPI), kelompok nonasosiasional seperti
paguyuban pasundan dan Lembaga
Swadaya Masyarakat
(LSM) seperti
organisasi masyarakat.
Kedua, materi sosialisasi politik
merupakan isi yang akan disampaikan kepada
sasaran sosialisasi. Pada dasarnya, materi
sosialisasi harus mengandung pengetahuan,
nilai-nilai dan sikap-sikap politik yang hidup di
masyarakat adalah sebagai berikut:
1. Pengetahuan adalah bila seseorang
memiliki pengertian (understanding) atau
sikap (attitude) tertentu, yang diperoleh
melalui pendidikan dan pengalaman
sendiri. (Syafiie, 2005:2). Pengetahuan
merupakan bagian dari suatu ilmu dan ilmu
dapat dimiliki dari pendidikan yang didapat
baik formal maupun informal dan
pengalaman yang pernah terjadi.
2. Nilai-nilai politik adalah nilai-nilai yang
mempedominani
manusia
untuk
mewujudkan nilai-nilai keadilan dan
kebenaran memberi pengalaman kepada
manusia tentang kehidupan manusia.
(Soemarno, 2004:55). Nilai-nilai yang
bermanfaat mendorong masyarakat untuk
berupaya mempertahankan dan sekaligus
untuk melestarikannya. Nilai-nilai itu
adalah sebagai berikut:
1. Tradisi; terutama agama, tetapi juga
termasuk ikatan-ikatan kekeluargaan
dan tradisi pada umumnya.
2. Prestasi; ketekunan, pencapaian atau
perolehan, ganjaran-ganjaran material,
mobilitas sosial.
3. Pribadi; kejujuran, ketulusan, keadilan,
dan kemurahan hati
4. Penyesuaian diri; bergaul dengan baik,
menjauhkan diri dari kericuhan,
menjaga keamanan dan kententraman.
5. Intelektual; belajar dan pengetahuan
sebagai tujuan.
6. Politik; sikap-sikap dan kepercayaan
berkaitan dengan pemerintahan.
(Syarbaini, 2004:71).
Nilai-nilai politik berprinsip pada etika yang
dipegang dengan kuat oleh partai politik
sehingga
mengikatnya dan
sangat
berpengaruh pada prilakunya misalnya
prestasi,
pribadi
dan
intelektual,
sedangkan norma yaitu aturan-aturan baku
tentang perilaku politik yang harus dipatuhi
oleh setiap partai politik misalnya tradisi,
penyesuaian diri, serta sikap-sikap dan
kepercayaan lainnya sehingga siap untuk
menerima penilaian baik dan buruk dalam
partai politik tersebut.
3. Sikap-sikap politik adalah berkaitan
dengan nilai-nilai dalam kepercayaankepercayaan individu dapat memainkan
peranan yang penting dalam penentuan
reaksi terhadap rangsangan khusus dan
terhadap
pembentukan
sikap-sikap
ataupun pendapat-pendapat khusus akan
tetapi sikap-sikap dapat mendahului nilainilai khususnya yang berlangsung pada
dasar imitatif (dengan jalan menirukan)”.
(Rush & Althoff, 2013:36-37). Berdasarkan
hal tersebut, maka sikap-sikap politik
merupakan nilai dan kepercayaan politik
misalnya pada partai politik dalam
menjalankan tugas dan fungsinya untuk
dapat menarik perhatian masyarakat.
Sikap
politik
akan
memunculkan
pengalaman
sebagai
gambaran
masyarakat untuk menilai baik atau buruk
yang akan mempengaruhi terhadap
informasi yang didapatkan.
Ketiga, mekanisme sosialisasi politik
adalah cara mentransmisikan elemen-elemen
dari sosialisasi melalui beberapa cara:
1. Imitasi, merupakan peniruan terhadap
tingkah
laku
individu-individu,dan
merupakan hal yang penting dalam
sosialisasi pada masa kanak-kanak.
2. Intruksi, merupakan peristiwa penjelasan
diri, akan tetapi para ahli mengatakan hal
tersebut tidak terlalu diperlukan karena
terbatas pada proses belajar formal.
165
3. Motivasi, lebih banyak diidentifikasikan
dengan pengalaman. Motivasi adalah
merupakan bentuk tingkah laku yang tepat
yang dipelajari melalui proses coba-coba
dan gagal, individu yang bersangkutan
secara langsung belajar dari pengalaman
mengenai tindakan-tindakan sama cocok
dengan sikap-sikap dan pendapatpendapat sendiri.
(Rush & Allthof, 2013:38).
Berdasarkan
pendapat
di
atas
mekanisme sosialisasi politik berupa cara
imitasi lebih cocok diterapkan dalam
sosialisasi untuk masa kanak-kanak atau
pada masa awal. Intruksi lebih banyak
dilakukan pada proses belajar formal. Imitasi
dan intruksi merupakan tipe-tipe khusus dari
pengalaman akan tetapi motivasi lebih banyak
diidentifikasikan
dengan
pengalaman.
Sosialisasi
merupakan
proses
yang
berlangsung lama dan rumit yang dihasilkan
dari usaha saling mempengaruhi diantara
kepribadian individu dengan pengalamanpengalaman
yang
relevan
untuk
mempermudah hasil proses sosialisasi politik
dibentuklah
pola
sosialisasi
yang
diilustrasikan
dalam
sebuah
gambar.
Pembuatan pola tersebut dilakukan setelah
proses sosialisasi berjalan yang akan
berkaitan dengan unsur-unsur sebelumnya.
Keempat, pola sosialisasi politik adalah
proses yang terus berkesinambungan untuk
mengetahui proses sosialisasi, yang terdiri
dari organisasi dan hubungan organisasi
tersebut dalam melakukan proses sosialisasi
misalnya pemerintah dan partai politik kepada
yang diberikan sosialisasi misalnya aparatur
pemerintah, anggota partai dan masyarakat.
Menurut Jaeger dalam Sunarto, pola
sosialisasi politik terdiri atas sosialisasi
represif dan sosialisasi partisipatoris adalah
sebagai berikut:
1. Sosialisasi repsresif adalah menekankan
pada pengunaan hukuman terhadap
kesalahan. Sosialisasi represif pun
mempunyai ciri lain seperti penekanan
pada penggunaan materi dalam hukuman
dan imbalan, penekanan pada kepatuhan
masyarakat pada agen sosialisasi,
penekanan pada komunikasi yang bersifat
satu arah, nonverbal dan berisi perintah,
penekanan titik berat sosialisasi pada agen
sosialisasi dan pada keinginan agen
sosialisasi, dan peran masyarakat sebagai
significant other.
2. Sosialisasi partisipatoris adalah pola yang
di dalamnya diberi imbalan manakala
berperilaku baik, penekanan diletakan
pada interaksi, komunikasi bersifat lisan,
masyarakat menjadi pusat sosialisasi,
keperluan masyarakat dianggap penting
dan masyarakat menjadi generalized
other. (Sunarto, 2004:31). Berdasarkan
pendapat di atas pola sosialisasi ada yang
bersifat memaksa dan ada pula yang
bersifat mengarahkan. Pola sosialisasi
yang
bersifat
memaksa
bersifat
indoktrinasi artinya komunikasi satu arah
dan menekankan pada tujuan tertentu
secara mengikat dan tunduk terhadap
perintah untuk mengikuti keinginannya.
Pola sosialisasi yang bersifat komunikatif
dan
partisipatif
mengarah
kepada
memberikan pengajaran dan contoh
perilaku yang baik, komunikatif dan tidak
berpihak pada keinginan tertentu secara
memaksa.
Partai Politik
Partai politik merupakan kegiatan politik
yang berkembang untuk mengatur pendukung
dari berbagai golongan masyarakat dan
kelompok-kelompok untuk mengembangkan
organisasi
yang
berkembang
menjadi
penghubung antara rakyat dan para penguasa
atau pemerintah, maka dari sini peneliti akan
menguraikan definisi partai politik yang
menurut Miriam Budiardjo sebagai berikut,
“partai politik adalah suatu kelompok
terorganisir yang anggotaanggotanya
mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita
yang sama. Tujuan kelompok ini adalah untuk
memperoleh kekuasaan politik dan merebut
kedudukan politik (biasanya) dengan cara
konstitusional
untuk
melaksanakan
programnya”. (Budiardjo, 2008:402-403).
Berdasarkan pendapat di atas maka partai
politik merupakan sarana atau wadah yang
dapat menyatukan warga negara yang
mempunyai pikiran berupa paham dan
ideologi yang sama sehingga pikiran dan
orientasi mereka bisa dikonsolidasikan
sehingga dengan begitu pengaruh mereka
bisa lebih besar dalam pembuatan dan
pelaksanaan keputusan. Pendapat di atas pun
mengarah kepada beberapa konsep pokok
politik yang berkaitan dengan negara,
166
kekuasaan,
pengambilan
keputusan,
kebijaksanaan umum, pembagian dan alokasi
nilai-nilai di dalam masyarakat.
Sigmund Neumann mengemukakan
pendapatnya tentang partai politik, sebagai
berikut,“a political party is the articulate
organization of society’s active political
agents; those who are concerned with the
control of government polity power, and who
complete for popular support with other groups
holding
divergent
views”.
(Neumann,
1963:352). Berdasarkan pendapat di atas
maka partai politik merupakan organisasi atau
wadah dari bentuk kegiatan aktivis-aktivis
politik yang berusaha untuk menguasai
kekuasaan pemerintahan serta merebut
dukungan rakyat melalui persaingan dengan
suatu golongan atau golongan lain yang
mempunyai pandangan yang berbeda.
mereka sehingga pemahaman tersebut dapat
mengarahkan kepada kesadaran terhadap
peran, fungsi, serta hak dan kewajiban
sebagai warga negara.
Alvian mengemukakan pendidikan
politik sebagai berikut, “pendidikan politik
(dalam arti kata yang lebih ketat) dapat
diartikan sebagai usaha yang sadar untuk
mengubah
proses
sosialisasi
politik
masyarakat sehingga mereka memahami dan
menghayati betul nilai-nilai yang terkandung
dalam suatu sistem politik yang ideal yang
hendak dibangun. Hasil dari penghayatan itu
akan melahirkan sikap dan tingkah laku politik
baru yang mendukung sistem politik yang
ideal itu, dan bersamaan dengan itu lahir
pulalah kebudayaan politik baru”. (Alfian,
1992:235). Berdasarkan pendapat di atas
pendidikan politik merupakan suatu agenda
setting dalam sosialisasi politik yang
mengarahkan
kepada
penguatan
pengembangan wawasan dan pengetahuan
masyarakat tetang hak dan kewajiban sebagai
warga negara kemudian mendapatkan
pemahaman secara luas tentang politik dan
perjalanan politik serta unsur-unsur yang ada
didalamnya sehingga seiring perubahannya
timbullah paradigma baru yang dapat
mempengaruhi sistem politik tersebut dengan
munculnya kebudayaan politik baru di
masyarakat
yang
sesuai
dengan
perkembangannya.
Pendidikan Politik
Pendidikan politik dilaksanakan atas
dasar salah satu fungsi partai politik yang
utama dalam proses pembelajaran dan
pemahaman tentang hak, kewajiban dan
tanggung jawab setiap warga negara dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Di
negara demokrasi, masyarakat harus mampu
berpartisipasi. Pendidikan politik merupakan
salah satu bentuk peningkatan pengetahuan
politik kepada masyarakat agar mereka dapat
berpartisipasi secara maksimal dalam sistem
politik.
Maka dari itu peneliti akan
menguraikan definisi pendidikan politik
menurut Firmanzah, “pendidikan politik
merupakan usaha dalam mentransformasikan
hal-hal yang berkenaan dengan politik kepada
pengurus, kader dan konstituen supaya sadar
terhadap peran, fungsi, serta hak dan
kewajibannya sebagai warga negara”.
(Firmanzah, 2011:80). Berdasarkan pendapat
di atas maka pendidikan politik merupakan
bagian dari pengajaran dan pengembangan
tentang politik dan ideologi negara, baik
diberikan kepada partai politik yaitu kepada
pengurus, kader dan para simpatisan partai
politik kemudian kepada konstituen yaitu
masyarakat
umum.
Pendidikan
politik
menunjukkan cara berpolitik yang sehat,
berkompetisi yang baik, dan menghormati
peraturan yang telah disepakati bersama
karena masyarakat mengharapkan sosok
pemimpin yang dapat mengarahkan mereka
sekaligus mampu menjadi suri tauladan
Kerangka Pemikiran
Sosialisasi politik merupakan hal yang
sangat penting dalam kehidupan masyarakat
terutama dalam peningkatan pendidikan
politik. Berdasarkan hal tersebut proses
sosialisasi politik dalam masyarakat belajar
mengenai sistem politik dan budaya politik.
Sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat merupakan suatu agenda
penting sebagai upaya proses pembelajaran
dan pemahaman tentang hak, kewajiban dan
tanggung jawab setiap warga negara dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara serta
pemahaman-pemahaman lain tentang politik
dan sistem politik yang sedang berjalan.
Fokus utama dalam sosialisasi politik ini
sebenarnya adalah DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat sebagai fungsi utamanya
dalam menjalankan aktifitas kepartaiannya.
Penelitian ini untuk melihat pencapaian
sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
167
Provinsi Jawa Barat, maka dibutuhkan suatu
ukuran pencapaian sosialisasi politik dimana
hal tersebut dipengaruhi oleh faktor
lingkungan yang ada di dalam masyarakat
antara lain adalah faktor budaya, faktor politik
dan faktor sosial. Pengukuran keberhasilan
suatu proses sosialisasi politik ditentukan
oleh: agen sosialisasi politik, materi sosialisasi
politik, mekanisme sosialisasi politik dan pola
sosialisasi politik. (Rush & Althoff, 2013:3540).
Pertama, agen sosialisasi politik adalah
pihak-pihak
yang
melaksanakan
atau
melakukan sosialisasi dalam penelitian ini
adalah DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat. Provinsi Jawa Barat yang syarat akan
sosial dan budaya yang tinggi, pelaksana
sosialisasi politik tersebut meliputi keluarga
sebagai anggota masyarakat kecil; Lembaga
pendidikan baik formal maupun informal;
Media massa baik dari media televisi, radio,
surat kabar dan lain sebagainya; Kelompok
kerja seperti buruh, karyawan pabrik dan lain
sebagainya; Kelompok agama seperti pemuka
agama, para kiai, ustadz; Kelompok
kepentingan
dari
berbagai
macam
kepentingan seperti asosiasi masyarakat dan
organisasi
masyarakat
(ormas).
Agen
sosialisasi politik merupakan faktor penting
yang harus ada sebagai pelaksana sosialisasi
politik dan hubungannya terhadap agen-agen
sosialisasi lainnya.
Kedua, materi sosialisasi politik adalah
isi yang akan disampaikan kepada sasaran
sosialisasi yang mengandung nilai-nilai dan
norma-norma.
Materi sosialisasi
politik tersebut meliputi pengetahuan yang
didalamnya ada nilai-nilai dan sikap politik
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat.
Materi sosialisasi ini akan mengarah pada
tingkat prestasi berkenaan dengan ketekunan,
pencapaian atau perolehan, ganjaranganjaran material, mobilitas sosial dalam
partai politik. Materi sosialisasi ini akan
membenahi pribadi partai politik dan
masyarakat
dengan
dasarkejujuran,
ketulusan, keadilan. Penyesuaian diri dengan
bergaul dengan baik, menjauhkan diri dari
kericuhan,
menjaga
keamanan
dan
kententraman dimana memiliki intelektualitas
dari proses belajar dan pengetahuan politik
dan sikap-sikap politik serta kepercayaan
berkaitan dengan partai politik.
Ketiga, mekanisme sosialisasi politik
adalah proses berjalannya sosialisasi politik
yaitu dengan imitasi, instruksi dan motivasi.
Mekanisme sosialisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat dapat dilihat
dengan imitasi. Di Jawa Barat, peniruan
terhadap tingkah laku individu-individu
merupakan hal penting dalam sosialisasi
politik. Mengingat banyaknya anak-anak kecil
dalam menyaksikan dan pembentukan
pendidikan politik di usia dini. Intruksi sebagai
peristiwa penjelasan diri akan tetapi para ahli
mengatakan hal tersebut tidak terlalu
diperlukan karena terbatas pada proses
belajar formal. Di Jawa Barat, banyaknya
institusi pendidikan seperti sekolah tinggi dan
perguruan tinggi yang mempelajari politik. Hal
tersebut mampu menekan fungsi sosialisasi
politik ini untuk berjalan lebih baik lagi dan
sampai kepada sasaran yang diharapkan.
Adanya motivasi berupa tingkah laku yang
tepat yang dipelajari melalui proses coba-coba
dan gagal individu yang bersangkutan secara
langsung belajar dari pengalaman mengenai
tindakan-tindakan sama cocok dengan sikapsikap dan pendapat-pendapat sendiri karena
dengan itu masyarakat dapat mengambil
pengalaman-pengalaman yang ada dan
memahaminya lalu menerapkannya.
Keempat, pola sosialisasi adalah
bentuk
penyampaian
sosialisasi
yang
dilakukan berdasarkan aturan atau ukuran
tertentu dilakukan setelah proses sosialisasi
berjalan yang akan berkaitan dengan unsurunsur sebelumnya. Pola sosialisasi politik
dilakukan dalam dua bentuk yaitu oleh
organisasi baik organisasi pemerintahan dan
partai politik. Segi penyampaian pesannya
sosialisasi politik oleh DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat dengan mengindikasikan
pendidikan politik sebagai proses komunikasi
diantara pemberi dan penerima pesan, melalui
proses ini masyarakat Provinsi Jawa Barat
dapat mengenal dan mempelajari nilai-nilai,
norma-norma dan simbol-simbol politik
negaranya dari berbagai pihak dalam sistem
politik, seperti sekolah pemerintah dan partai
politik. Indoktrinasi politik sebagai proses
sepihak ketika penguasa memobilisasi dan
memanipulasi warga masyarakat Provinsi
Jawa Barat untuk menerima nilai, norma dan
simbol yang dianggap pihak yang berkuasa
sebagai ideal dan baik melalui berbagai forum
pengarahan yang penuh paksaan psikologis
168
dan latihan yang penuh disiplin serta
sosialisasi politik yang diselenggarakan oleh
pemerintah berupa pendidikan formal,
seminar dan pola sosialisasi lainnya.
Ukuran pencapaian di atas sangat
berpengaruh terhadap pengukuran sosialisasi
politik karena dapat melihat seberapa besar
keberhasilan yang telah berjalan dengan baik
khususnya mengetahui Sosialisasi politik DPD
PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat melalui
pendidikan politik masyarakat Provinsi Jawa
Barat. Sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat dapat dilihat dari agen
sosialisasi politik, materi sosialisasi politik,
mekanisme sosialisasi politik dan pola
sosialisasi politik,
dimana faktor–faktor
tersebut diharapkan mampu meningkatkan
partisipasi politik masyarakat di Provinsi Jawa
Barat. Sosialisasi politik merupakan suatu
proses pembelajaran dan pemahaman
tentang hak, kewajibandan tanggung jawab
kepada
masyarakat
dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara serta mampu
mencerdaskan, membangun etika, dan
menciptakan budaya politik pada masyarakat.
Oleh karena itu, sosialisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat sangat
dibutuhkan dan diharapkan dapat berjalan
dengan baik sehingga akan meningkatnya
pendidikan politik masyarakat di Provinsi Jawa
Barat. Optimalisasi sosialisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat merupakan
hal yang ingin dicapai dalam sebuah program
yang telah direncanakan. Meningkatnya
sosialisasi politik masyarakat di Provinsi Jawa
Barat menjadikan Provinsi Jawa Barat
sebagai daerah yang unggul, cerdas,
berpengetahuan dan berpartisipatif.
Berdasarkan kerangka pemikiran di
atas, maka definisi operasional dalam
penelitian ini adalah:
1. Sosialisasi adalah satu proses belajar
kebudayaan politik atau kegiatan yang
dilaksanakan DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat.
2. Politik adalah usaha DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat untuk mempengaruhi
masyarakat Provinsi Jawa Barat dalam
memberikan pendidikan politik untuk
mewujudkan pemahaman ide-ide, asasasas, sejarah pembentukan negara,
hakekat negara, bentuk negara, tujuan
negara dan keberadaan pemilihan umum
sebagai usaha DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat untuk membentuk
hubungan dengan masyarakat Provinsi
Jawa Barat sehingga terbentuknya suatu
aturan, kewenangan, perilaku pejabat,
legalitas
kekuasaan
dan
akhirnya
kekuasaan.
3. Sosialisasi Politik adalah proses DPD PDI
Perjuangan
Provinsi
Jawa
Barat
mempengaruhi masyarakat Provinsi Jawa
Barat untuk mengenali sistem politik, yang
kemudian menetukan sifat persepsipersepsinya mengenai politik serta reaksireaksinya terhadap gejala-gejala politik.
4. DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
adalah suatu bagian partai politik dari PDI
Perjuangan berada di tingkat daerah
provinsi yang bekerja melaksanakan tugas
dan fungsinya untuk mensosialisasikan
politik di Provinsi Jawa Barat.
5. Sosialisasi Politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat dapat dilihat tingkat
keberhasilannya meliputi:
1) Agen sosialisasi politik adalah pihak
yang melaksanakan sosialisasi politik
dalam penelitian ini adalah DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat
kepada masyarakat Provinsi Jawa
Barat dan hubungan antara DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat
dengan agen sosialisasi politik lainnya
meliputi:
a. Keluarga adalah bagian terkecil
dalam suatu kelompok masyarakat
dalam memberikan sosialisasi politik
masyarakat Provinsi Jawa Barat.
b. Kelompok pendidikan adalah agen
sosialisasi yang berada pada sistem
pendidikan formal misalnya para
akademisi baik perguruan tinggi
maupun pendidikan di Provinsi Jawa
Barat.
c. Media massa adalah komunikator
yang cepat dan meluas menjadi
daya tarik masyarakat dalam
memberikan
sosialisasi
politik
masyarakat Provinsi Jawa Barat
baik elektronik berupa televisi dan
radio, media cetak berupa koran,
majalah dan surat kabar lainnya
serta media teknologi seperti
internet.
d. Kelompok kerja adalah kelompok
yang melakukan pekerjaan sejenis
169
Provinsi Jawa Barat secara pribadi
dan menyeluruh.
e. Kelompok agama adalah kelompok
yang tumbuh berdasarkan rasa
solidaritas misalnya para tokoh
pemuka agama, tokoh masyarakat
dan tokoh-tokoh lainnya dalam
memberikan
sosialisasi
politik
masyarakat Provinsi Jawa Barat.
f. Kelompok
kepentingan
adalah
komunitas
kelompok
baik
berasosiasi seperti Asosiasi Ilmu
Politik Indonesia (AIPI), kelompok
nonasosiasi seperti Paguyuban dan
Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM) serta organisasi masyarakat
lainnya
dalam
memberikan
sosialisasi
politik
masyarakat
Provinsi Jawa Barat.
2) Materi sosialisasi politik adalah muatan
isi dari pesan yang disampaikan DPD
PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
kepada masyarakat dalam memberikan
sosialisasi politik masyarakat Provinsi
Jawa Barat. Materi sosialisasi politik
tersebut meliputi:
a. Pengetahuan adalah sesuatu yang
didapatkan dari sebuah pendidikan
dan
pengalaman
DPD
PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat
dalam memberikan sosialisasi politik
masyarakat Provinsi Jawa Barat.
b. Nilai-nilai politik adalah etika dan
prilaku politik yang dimiliki DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat
untuk mewujudkan keadilan dan
kebenaran memberi pengalaman
kepada masyarakat tentang politik.
c. Sikap-sikap politik adalah nilai-nilai
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat dalam memberikan sosialisasi
politik masyarakat Provinsi Jawa
Barat.
3) Mekanisme sosialisasi politik adalah
cara menyampaikan materi sosialisasi
politik DPD PDI Perjuangan Provinsi
Jawa Barat kepada masyarakat
Provinsi Jawa Barat. Mekanisme
sosialisasi politik tersebut meliputi:
a. Imitasi adalah peniruan atau tingkah
laku DPD PDI Perjuangan Provinsi
Jawa Barat dalam memberikan
sosialisasi
politik
masyarakat
Provinsi Jawa Barat.
b. Instruksi adalah penjelasan secara
langsung dari DPD PDI Perjuangan
Provinsi
Jawa
Barat
dalam
memberikan
sosialisasi
politik
masyarakat Provinsi Jawa Barat.
c. Motivasi adalah berupa pengalaman
atau tingkah laku DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat
baik dalam prestasi maupun
inspiratif
dalam
memberikan
sosialisasi
politik
masyarakat
Provinsi Jawa Barat.
4) Pola sosialisasi politik adalah proses
sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi
Jawa
Barat
kepada
masyarakat Provinsi Jawa Barat. Pola
sosialisasi politik tersebut meliputi:
a. Pola repsresif adalah penekanan
formal pada internal partai untuk
mengikuti kesepakatan, aturan, arah
kebijakan dan perjuangan partai
dalam hal memberikan sosialisasi
politik DPD PDI Perjuangan Provinsi
Jawa Barat. Pola repsresif ini
ditekankan pada penggunaan materi
sosialisasi
politik
yang
akan
disampaikan
kepada
anggota
internal partai maupun simpatisan
yang bersifat satu arah dan
nonverbal.
b. Pola partisipatoris adalah pola yang
penekanannya
diletakan
pada
interaksi, komunikasi dua arah yaitu
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat sebagai komunikator dan
masyarakat sebagai komunikan
yang menjadi pusat sosialisasi,
dimana keperluan masyarakat itu
dianggap penting.
Berdasarkan kerangka pemikiran di
atas, peneliti membuat kerangkat pemikiran
sebagai berikut:
170
Model Kerangka Pemikiran
1.
Menegakkan Negara Kesatuan Republik
Indonesia, Pancasila, dan UUD 1945
serta menjaga kebhinekaan bangsa.
2. Memperkokoh budaya gotong royong
dalam memecahkan masalah bersama.
3. Memperkuat ekonomi rakyat melalui
penataan sistem produksi, reform
agrarian, pemberian proteksi, perluasan
akses pasar dan permodalan.
4. Menyediakan pangan dan perumahan
yang sehat dan layak bagi rakyat.
5. Membebaskan biaya berobat dan biaya
pendidikan bagi rakyat.
6. Memberikan pelayanan umum secara
pasti, cepat dan murah.
7. Melestarikan lingkungan hidup dan
sumber daya alam, serta menerapkan
aturan tata ruang secara konsisten.
8. Mereformasi birokrasi pemerintahan
dalam membangun tata pemerintahan
yang baik, bebas dari praktek korupsi,
kolusi dan nepotisme.
9. Menegakkan prinsip-prinsip demokrasi
partisipatoris dalam proses pengambilan
keputusan.
10. Menegakkan hukum dengan menjunjung
tinggi asas keadilan dan hak asasi
manusia.
(DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat, 2014).
Arah umum atau pandangan DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat adalah
mengarah kepada empat pilar kebangsaan
Indonesia yaitu Pancasila, Undang-Undang
Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika dengan
prinsip gotong royong dan ekonomi
kerakyatan memfasilitasi dan melayani
kebutuhan serta kepentingan rakyat Provinsi
Jawa Barat. DPD PDI Perjuangan Provinsi
Jawa Barat ikut serta dalam penyelenggaraan
pemerintahan sebagai stabilitas politik dengan
memberikan stimulus reformasi birokrasi
dalam membangun tata berpemerintahan
yang baik dan benar serta bebas dari praktek
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dengan
berprinsip pada demokrasi partisipasi dan
menjunjung tinggi keadilan dan hak asasi
manusia.
Pedoman dan penghayatan Pancasila
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
sebagai berikut:
1. Kebangsaan;
2. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan;
Pelaksanaan Fungsi Sosialisasi Politik
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
1) Agen Sosialisasi Politik, meliputi:
a. Keluarga
b. Kelompok Pendidikan
c. Media Massa
d. Kelompok Kerja
e. Kelompok Agama
f. Kelompok Kepentingan
2) Materi Sosialisasi Politik, meliputi:
a. Pengetahuan
b. Nilai-nilai
c. Sikap Politik
3) Mekanisme Sosialisasi Politik, meliputi:
a. Imitasi
b. Instruksi
c. Motivasi
4) Pola Sosialisasi Politik, meliputi:
a. Repsresif
b. Partisipatoris
Meningkatnya Partisipasi Politik Masyarakat
Provinsi Jawa Barat
OBJEK DAN METODE PENELITIAN
Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini
adalah DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat dalam memberikan sosialisasi politik
kepada masyarakat di
Provinsi Jawa
Barat.
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat merupakan organisasi partai politik PDI
Perjuangan yang berada di Provinsi Jawa
Barat memiliki kewenangan tugas, pokok dan
fungsi untuk mengurus partai di daerah seperti
Dewan Pengurus Cabang (DPC) sampai
tingkat ranting sesuai dengan pedoman
Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah
Tangga (ART) yang berlaku.
Dasa prasetya atau arah umum
program partai sebagai doktrin perjuangan
yang wajib dilaksanakan sebagai berikut:
171
3. Mufakat atau Demokrasi;
4. Kesejahteraan Sosial;
5. Ketuhanan.
(DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat,
2014).
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat mempedomani dan berpenghayatan
terhadap
Pancasila
sebagai
wujud
kebangsaan dan kebhinekaan bangsa,
kemudian berperi kemanusiaan yaitu memiliki
kesamaan hak dan menjalankan kewajiban
terhadap pelaksanaan tugas, pokok dan
fungsi partai. Demokrasi sebagai pilar dalam
memutuskan putusan secara tegas, adil dan
mufakat untuk tujuan dan kepentingan
bersama. DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat mengangkat derajat hidup masyarakat
Provinsi Jawa Barat dengan mewujudkan
kesejahteraan sosial dan adab menjunjung
tinggi nilai-nilai budaya dengan berprinsip
kepada toleransi antar masyarakat terhadap
keyakinan, keagamaan dan ketuhanan.
dikumpulkan sebagai bahan acuan yang
dijadikan
landasan
dalam
menyusun
penelitian sosialisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat.
Teknik pengumpulan data dengan
Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi.
Pertimbangan penentuan informan
dalam penelitian ini didasarkan sesuai dengan
informan yang bersangkutan dalam sosialisasi
politik dengan teknik purposive. Pengambilan
informan penelitian yang berkaitan dengan
sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat yaitu Pimpinan DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat, Pimpinan
DPC PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat,
masyarakat Provinsi Jawa Barat, tokoh
masyarakat Provinsi Jawa Barat, media
massa, institusi perguruan tinggi dan
organisasi masyarakat maupun paguyuban di
Provinsi Jawa Barat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Agen Sosialisasi Dalam Pelaksanaan
Fungsi Sosialisasi Politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat
Sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat melalui agen-agen
sosialisasi lainnya sangat penting dalam
memberikan sosialisasi politik kepada
masyarakat. Tetapi jika dilihat dari peranan
agen sosialisasi yang dikemukakan oleh
Michael Rush dan Phillip Althoff tingkat
partisipasi politik masyarakat akan meningkat,
apabila agen sosialisasi tersebut berjalan dan
berhubungan dengan agen sosialisasi pelaku
utamanya, sehingga sosialisasi politik DPD
PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat melalui
agen-agen sosialisasi lainnya perlu untuk
ditingkatkan, dikarenakan saat ini minimnya
hubungan dan kerjasama antara DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat dengan
agen-agen sosialisasi tersebut. Tetapi jika
peranan dan hubungan antara hierarki
organisasi DPD PDI Perjuangan Provinsi
Jawa Barat dengan DPC kabupaten atau kota
dapat bersinergis, fokus dan berjalan dengan
baik, maka sebagai pelaku utama sosialisasi
politik yang dilakukan oleh DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat kepada
masyarakat akan mengenai dan tepat pada
sasaran.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan
adalah
metode
deskriptif
yaitu
menggambarkan dan menganalisa data yang
dilakukan dengan cara mengumpulkan data
berdasarkan keadaan yang nyata. Metode
penelitian
deskriptif
pertama
peneliti
merumuskan masalah, selanjutnya mencari
informasi mengenai masalah kemudian
menggambarkan permasalahan yang terjadi
yang kemudian meringkas dan menarik
gambaran tentang kondisi dan situasi yang
menjadi masalah dalam penelitian ini.
Berdasarkan metode tersebut, peneliti
menggunakan pendekatan kualitatif, dimana
pendekatan ini bagi peneliti dapat mempelajari
dan menggambarkan berbagai fenomena,
semua kegiatan, keadaan dan kejadian yang
dipengaruhi oleh sosialisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat, dimana
peneliti harus dapat memahami proses
interpretasi dan melihat segala sesuatu dari
sudut pandang yang diteliti.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dengan studi
pustaka, peneliti akan menganalisis beberapa
data berupa referensi berdasarkan buku yang
berkaitan dengan teori-teori yang menjadi
acuan peneliti serta diktat perkuliahan, artikel,
buku-buku dan dokumentasi lainnya untuk
172
Materi
Dalam
Pelaksanaan
Fungsi
Sosialisasi Politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat
Materi sosialisasi politik adalah muatan
isi yang disampaikan oleh DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat kepada
anggota internal partai maupun masyarakat
umum. Materi sosialisasi ini akan mengarah
pada tingkat prestasi berkenaan dengan
ketekunan, pencapaian atau perolehan,
ganjaran-ganjaran material, mobilitas sosial
pada DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat.
Esensi materi sosialisasi politik
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
secara umum bersifat faktual. Materi
sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat meliputi pengetahuan
yang didalamnya memiliki nilai-nilai dan sikap
politik. Pengetahuan yang disampaikan
mendukung untuk memberikan pendidikan
politik kepada masyarakat sebagai suatu nilai
khusus atau suatu sikap pada masyarakat,
sehingga membentuk suatu kepercayaankepercayaan
masyarakat
yang
dapat
memainkan
peranan
penting
dalam
berpartisipasi politik. Materi sosialisasi politik
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
sesuatu yang didapatkan dari sebuah
pendidikan dan pengalaman politik kepada
masyarakat Provinsi Jawa Barat, dimana
untuk mewujudkan suatu keadilan dan
kebenaran memberi pengalaman kepada
masyarakat tentang politik, maka sikap-sikap
politik berupa nilai-nilai dan kepercayaan
politik DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat dalam menjalankan tugas dan fungsinya
untuk dapat menarik perhatian masyarakat.
Sikap politik akan memunculkan pengalaman
sebagai gambaran masyarakat untuk menilai
baik atau buruk yang akan mempengaruhi
terhadap informasi yang didapatkan.
Sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat melalui materi sosialisasi
politik yang diberikan kepada masyarakat
belum sepenuhnya mengenai sasaran.
Muatan materi sosialisasi politik yang dimiliki
masyarakat
saat
ini
hanya
sebatas
pemahaman yang dimiliki dari orang tua,
kakek dan nenek mereka saja yang
didapatkan dari pengetahuan sejak jaman
dahulu yang kemudian mereka sampaikan
secara keberlangsungan kepada anak dan
cucu mereka, kemudian media massa dan
agen sosialisasi lainnya. Paradigma dan
ideologi politik serta perubahan nilai-nilai
politik yang ada, mereka tidak memahami
benar apa yang ada di DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat saat ini. Jika dilihat dari
muatan materi sosialisasi politik yang
dikemukakan oleh Michael Rush dan Phillip
Althoff dimulai dari pengetahuan, nilai-nilai
politik dan sikap-sikap politik, DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat telah memiliki
semuanya bahkan jika dilihat semua aspek itu
sangat baik, namun disayangkan yang
menjadi kendala yaitu DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat memberikan materi
sosialisasi politik itu secara penuh hanya
kepada kader internal partai bukan kepada
masyarakat.
Sebenarnya
teori
yang
dikemukakan oleh Michael Rush dan Phillip
Althoff merupakan idealnya teori yang
digunakan dalam sosialisasi politik. Jika saja
teori ini diterapkan oleh DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat, maka materi sosialisasi
politik ini dapat membantu menambah
pengetahuan pendidikan politik di masyarakat
Provinsi Jawa Barat secara luas.
Mekanisme Dalam Pelaksanaan Fungsi
Sosialisasi Politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat
Mekanisme sosialisasi politik adalah
cara mentransmisikan atau menyampaikan
pengetahuan politik, nilai-nilai politik, dan
sikap-sikap politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat kepada masyarakat
umum.
Mekanisme sosialisasi politik ini
akan
mengarah
pada
keberhasilan
mempengaruhi anggota internal partai
maupun masyarakat umum pada saat
sosialisasi
berlangsung.
Mekanisme
sosialisasi politik tersebut meliputi mekanisme
imitasi, instruksi dan motivasi yang ada di
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat.
Mekanisme sosialisasi politik tersebut secara
rinci berupa peniruan atau tingkah laku,
kemudian penjelasan secara langsung dan
berupa pengalaman DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat baik dalam prestasi
maupun
inspiratif
dalam
memberikan
sosialisasi politik masyarakat Provinsi Jawa
Barat.
Mekanisme
sosialisasi
politik
merupakan strategi DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat dalam menarik perhatian
masyarakat maupun simpatisan untuk
bersama-sama mendukung gagasan dan
ideologi politik DPD PDI Perjuangan Provinsi
173
Pola
Dalam
Pelaksanaan
Fungsi
Sosialisasi Politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat
Pola sosialisasi politik adalah cara
penyampaian
materi
dan
mekanisme
sosialisasi politik dilakukan oleh DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat dalam hal
melakukan proses sosialisasi politik kepada
masyarakat umum.
Pola
sosialisasi politik ini akan mengarah pada
keberhasilan mempengaruhi anggota internal
partai maupun masyarakat umum pada saat
sosialisasi berlangsung. Pola sosialisasi politik
tersebut dipengaruhi oleh pemerintah seperti
KPU dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik
(Kesbangpol) baik dipusat maupun di daerah
dan partai politik seperti DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat. Pola sosialisasi politik
tersebut meliputi pola repsresif dan pola
partisipatoris.
Sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat melalui pola sosialisasi
politik yang diberikan kepada masyarakat
dapat dikatakan masih sangat penting dan
belum sepenuhnya mengenai sasaran
masyarakat. Umumnya sekarang pada pola
sosialisasi politik yang dilakukan dalam
sosialisasi politik oleh partai politik pada
masyarakat
itu
tidak
dibangkitkan.
Seharusnya sosialisasi itu mendengarkan dan
kemudian membangkitkan gagasan-gagasan
politik
yang
disampaikan,
sehingga
masyarakat itu bangkit dan mengerti apa yang
disampaikan dalam konteks politik. Sosialisasi
politik yang disampaikan berakibat kepada
masyarakat
yang
mendengarkan
dan
kemudian berakibat melakukan pada tindakan
lanjutan. Pola sosialisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat dalam hal
sosialisasi politik itu penting, akan tetapi yang
lebih penting lagi bagaimana ideologi DPD
PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat yang
disosialisaikan itu bisa membangkitkan
masyarakat. Salah satu strategi bagaimana
pola sosialisasi politik dapat tercapai adalah
melalui marketing politic bagaimana DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat mampu
mempromosikan program dan gagasan politik
yang ada. Program dan gagasan tentu harus
menarik bagi masyarakat, sehingga akan ada
feedback yang didapatkan dari masyarakat.
Jika program dan gagasan itu tidak menarik
untuk masyarakat, maka sosialisasi politik
yang dilakukan kepada masyarakat akan
Jawa Barat. Hal tersebut dilakukan dari
berbagai kalangan masyakat yang ada dimulai
dari tingkatan masyarakat bawah, menengah
dan atas kemudian kategori masyarakat anakanak, remaja dan dewasa. Mekanisme
sosialisasi politik ini diatur dan direncanakan
untuk
dapat
mentransformasikan
pengetahuan, nilai-nilai dan sikap politik DPD
PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat kepada
masyarakat, sehingga pendidikan politik
masyarakat Provinsi Jawa Barat secara umum
dapat meningkat.
Sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat melalui mekanisme
sosialisasi politik yang diberikan kepada
masyarakat dapat dikatakan sangat penting
dan belum sepenuhnya dapat berjalan dengan
baik. Imitasi yang diperlukan misalnya hanya
untuk mencari sosok karakter, sehingga
bentuk prestasi dapat menjadi contoh dalam
upaya sosialisasi politik kepada masyarakat.
Instruksi mengenai program-program partai,
ideologi partai maupun arah tujuan partai
sebenarnya dalam hierarki organisasi telah
dilakukan melalui rapat internal, musyawarah
partai dan kongres, namun ketika instruksi
tersebut hendak akan disosialisasikan sedikit
ada kendala misalnya ada beberapa daerah
yang membutuhkan strategi agar materi
sosialisasi atau mekanisme sosialisasi yang
diberikan kepada masyarakat ini tercapai,
sehingga
instruksi
yang
seharusnya
dijalankan sesuai musyawarah tersebut
menjadi berubah ketika di lapangan. Motivasi
yang dilakukan oleh DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat terlebih oleh tokoh-tokoh
dan elit politik, sangat minim. Tokoh dan elit
politik DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat hanya terfokus dikancah nasional dan
pusat saja sekalipun ada memberikan arahan,
masukan dan motivasi baik kepada kader
internal partai maupun masyarakat secara
langsung hanya pada saat tertentu saja,
sehingga saat ini sebenarnya motivasi
khususnya kepada kader atau anggota
internal partai sangat dibutuhkan terlebih
dalam hal sosialisasi politik kepada
masyarakat.
174
berlalu begitu saja, salah satunya adalah
komunikasi untuk memasarkan gagasan dan
ideologi politik yang mengakibat masyarakat
kurang memahami esensi materi sosialisasi
politik dimulai dari pengetahuan, nilai-nilai dan
sikap politik pada saat sosialisasi politik
berlangsung.
1. DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
dalam hal sosialisasi politik hendaknya
meningkatkan jalinan hubungan kerjasama
kepada agen-agen sosialisasi lainnya
misalnya dengan melakukan MoU,
seminar atau diskusi interaktif politik yang
diadakan setiap sebulan sekali sebagai
kontrol atau transformasi ideologi politik
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat.
2. Pengetahuan, nilai-nilai dan sikap politik
DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
hendaknya disampaikan secara penuh
kepada masyarakat minimal membuat
buku pedoman tentang gagasan ideologi
politik DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat sendiri mengenai sejarah partai,
lambang partai, visi dan misi partai, tokohtokoh politik partai dan lain sebagainya
yang dikemas dengan kajian dan sajian
yang menarik.
3. Prestasi dan karakter pada kader atau
anggota internal DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat harus lebih di
tingkatkan misalnya dengan menerapkan
sistem reward dan punishment dengan
berbagai rangkaian acara misalnya
pemilihan DPC, PAC, Ranting terbaik,
pemilihan kader teladan, dan lain-lain.
4. Management Marketing Politic DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat sebagai
promosi program dan gagasan politik
kepada masyarakat harus di tingkatkan,
dimana secara sinergis bekerjasama
dengan instansi pemerintahan misalnya
Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik
(Kesbangpol) baik di tingkat pemerintahan
provinsi maupun kabupaten dan kota.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan mengenai pelaksanaan fungsi
sosialisasi politik DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat melalui peningkatan
pendidikan politik masyarakat dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Agen sosialisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat dilihat dari
tugas dan
kemampuan
agen-agen
sosialisasi saat ini sangat penting. Hal
tersebut
dikarenakan
terbatasnya
hubungan kerjasama antara DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat terhadap
agen-agen sosialisasi lainnya.
2. Materi sosialisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat tidak
secara penuh tersampaikan, dilihat dari
pengetahuan, nilai-nilai dan sikap politik
yang dimiliki masyarakat saat ini sebagian
besar belum memahami. Hal tersebut
dikarenakan mobilisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat kepada
masyarakat terlihat pada internal partai
dan simpatisan.
3. Mekanisme sosialisasi politik dilihat dari
imitasi, instruksi, dan motivasi yang
dilaksanakan oleh DPD PDI Perjuangan
Provinsi Jawa Barat saat ini sangat
penting, sehingga perlunya peningkatan
prestasi dan sejumlah tokoh politik yang
ada di DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa
Barat.
4. Pola
sosialisasi politik DPD PDI
Perjuangan Provinsi Jawa Barat saat ini
sangat penting. Hal tersebut dikarenakan
sebagai upaya strategi penyampaian
gagasan dan ideologi politik kepada
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Aini, Nurul dan Ng. Philipus. 2004. Sosiologi
dan Politik. Jakarta: PT. Raja Grasindo
Persada.
Alfian. 1992. Pemikiran dan Perubahan Politik
Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.
Althoff, Michael Rush dan Phillip. 2013.
Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu
Politik (Edisi Revisi).
Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Firmanzah. 2011. Mengelola Partai Politik
Komunikasi dan Positioning Ideologi
Rekomendasi
Berdasarkan pada kesimpulan di atas,
maka
peneliti
mengajukan
beberapa
rekomendasi yaitu:
175
Politik di Era Demokrasi. Jakarta:
Yayasan Pusaka Obor.
Friedrich, Carl J. 1967. An Introduction to
Political Theory: Twelve Lectures at
Harvard. New York: Harper and Row.
Herdiansyah, Haris. 2012. Metodologi
Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu-Ilmu
Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
Neumann, Sigmund. 1963. Modern Political
Parties in Comparative Politics: A
Reader. London: The Free Pressof
Glencoe.
Rush, Michael. 1992. Politics and Society: An
Introduction to Political Sociology. Hemel
Hempstead: Harvest Wheatsheap.
Soelaeman, M. Munandar. 2001. Ilmu Sosial
Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial.
Bandung: PT. Refika Aditama.
Sunarto,
Kamanto.
2004.
Pengantar
Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit
Universitas Indonesia.
Surbakti, Ramlan. 1999. Memahami Ilmu
Politik. Jakarta:Rajawali Press.
Susanto.1992. Pengantar sosialisasi. Jakarta:
Rajawali Press.
Sutaryo. 2005. Dasar-Dasar Sosialisasi.
Jakarta: Rajawali Press.
Syafiie, Inu Kencana. 2005. Pengantar Ilmu
Pemerintahan. Bandung: PT. Refika
Aditama.
.
2007.
Pengantar
Filsafat. Bandung: PT. Refika Aditama.
Syarbaini, Syahrial. 2004. Sosiologi dan
Politik. Jakarta: Ghalia Indonesia.
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/39511
7-golput-pilkada-jawa-barat-meningkatkanbanding-2008. Diakses pada tanggal 21
Maret 2014, pada pukul 14:12 WIB.
Dokumen :
Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan Provinsi Jawa
Barat 2014.
Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 (Amanden I, II, III
dan IV).
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011
Tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang
Partai Politik.
Rujukan Elektronik :
http://jabarprov.go.id/index.php. Diakses pada
tanggal 14 Maret 2014, pada pukul 19:16
WIB.
176
KUALITAS PELAYANAN APARATUR DINAS PETERNAKAN
PROVINSI JAWA BARAT DALAM PROGRAM UNGGULAN
WEBSITE www.disnakjabar.prov.go.id
Tatik Rohmawati22
dan
Ari Yunadi23
ABSTRAK
Website www.disnakjabar.prov.go.id. merupakan wujud dari pelaksanaan e-Government
di Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. Proses Pelayanan dalam memberikan informasi tentang
peternakan kepada masyarakat yang dilakukan melalui Website www.disnakjabar.prov.go.id.
sangat diperlukan dan dibutuhkan oleh masyarakat karena dapat membantu dalam mendapatkan
informasi seputar hewan ternak. Permasalahan yang timbul dalam proses pelayanan yang
diberikan kepada masyarakat melalui Website www.disnakjabar.prov.go.id. yaitu masih ada
kekurangan dalam memberikan informasi peternakan atau merespon pertanyaan-pertanyaan
serta keluhan yang dilakukan masyarakat melalui Website www.disnakjabar.prov.go.id.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori Kualitas Pelayanan Prima yang
dikemukakan oleh Lijan Poltak Sinambela, yang terdiri dari empat model yang mempengaruhi
kualitas pelayanan, yaitu transparansi, akuntabilitas, partisipatif, kesamaan hak. kondisional,
partisipatif, kesamaan hak dan keseimbangan hak dan kewajiban. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode deskriftif dengan pendekatan kualitatif. Teknik penentuan informan
yang digunakan adalah purposive.
Kata kunci : Kualitas pelayanan, Aparatur, Program Unggulan
dan peluang interaksi antara masyarakat
dengan aparatur, serta ruang dan peluang
suatu proses jual beli yang terjadi di dalam
salah satu fitur tersebut. Dari beberapa fitur
yang disediakan oleh Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat, peneliti mendapatkan
informasi tentang bagaimana tanggapan
dari masyarakat pengguna pelayanan
website yang disediakan oleh Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat. Dalam
pelayanan yang disediakan oleh Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat terdapat
beberapa permasalahan dalam pelayanan,
yang seringkali dijumpai saat memproses
data yang akan dijual atau dipasarkan,
website sering mengalami gangguan atau
berupa link error, serta adanya fitur yang di
luar tanggung jawab Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat seperti kontak bisnis,
semua produk yang ditawarkan oleh
masyarakat yamg mengiklankan hasil
produk mereka, itu di luar tanggung jawab
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat,
dikarenakan forum kontak bisnis diluar
produk binaan atau para pelaku ternak
binaan Dinas Peternakan Provinsi Jawa
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berdasarkan Peraturan Gubernur
Provinsi Jawa Barat No. 07 Tahun 2009
tentang
pendayagunaan
website
di
lingkungan lembaga pemerintahan, Dinas
Peternakan membuat suatu terobosan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan terhadap
masyarakat yang khususnya dibidang
website. Kuliatas pelayanan berangkat dari
bagaimana kinerja aparatur
agar
mementingkan
pelayanan
terhadap
masyarakat dan mendapatkan respon atau
tanggapan positif dari masyarakat. Dalam
penelitian ini, peneliti tertarik khususnya
membahas program unggulan yang ada di
dalam fitur website Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat, Program unggulan di
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
adalah wadah bagi masyarakat untuk
memasarkan hasil ternak mereka, fitur dari
program unggulan di Dinas Perternakan
Provinsi jawa Barat terdiri dari, kontak
bisnis, forum kunsultasi, serta produk
ternak. Dalam fitur tersebut tersedia ruang
22
23
Dosen Tetap Prodi Ilmu Pemerintahan Unikom
Alumni IP Unikom
177
Barat. Hal ini memungkinkan terjadinya
penipuan terhadap calon pembeli, serta
keterlambatan
membalas
pertanyaan
disalah satu forum yang di sediakan, dan
mengenai sikap yang diberkan kepada
masyarakat, serta hasil yang dapat
dirasakan langsung oleh masyarakat.
2)
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
untuk memperjelas fokus masalah yang
akan diteliti maka, ditetapkan rumusan
masalahnya yaitu. Bagaimana Kualitas
Pelayanan Aparatur Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat Dalam Program
Unggulan
Website
www.disnak
jabar.prov.go.id
3)
Maksud dan Tujuan
Maksud dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui kualitas pelayanan
Aparatur Dinas Peternakan Jawa Barat
dalam meningkatkan kualitas pelayanan
publik
melalui
Website
www.disnakjabar.prov.go.id.
Sedangkan tujuan penelitian ini
adalah :
1) Untuk
mengetahui
transparansi
pelayanan aparatur Dinas Peternakan
Jawa Barat
dalam meningkatkan
kualitas pelayanan publik melalui
program
unggulan
website
www.disnakjabar.prov.go.id.
2) Untuk mengetahui akuntabilitas Dinas
Peternakan
Jawa Barat
dalam
meningkatkan
kualitas
pelayanan
publik melalui program unggulan
website www.disnakjabar.prov.go.id.
3) Untuk mengetahui aparatur Dinas
Peternakan
dalam
mendorong
partispasi
atau
keikut
sertaan
masyarakat ternak dalam mengakses
website www.disnaskjabar.prov.go.id.
4) Untuk mengetahui perlakuan aparatur
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
terhadap masyarakat ternak dalam
mengakses program unggulan website
www.disnakjabar.prov.go.id
Provinsi
Jawa
Barat
dalam
meningkatkan
kualitas
pelayanan
publik melalui Website www.disnak
jabar.prov.go.id,
sehingga
dapat
memperoleh gambaran mengenai
kesesuaian fakta dilapangan dengan
teori yang ada.
Secara teoritis, diharapkan berguna
untuk mengembangkan teori-teori yang
relevan dengan permasalahan dalam
penelitian ini dan dapat memberikan
kontribusi positif bagi perkembangan
Ilmu Pemerintahan khususnya eGovernment.
Secara praktis, diharapkan bermanfaat
untuk Aparatur Dinas Peternakan
Provinsi
Jawa
Barat
dalam
meningkatkan
kualitas
pelayanan
publik
melalui
Website
www.disnakjabar.prov.go.id.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian atau makna atas konsep
kualitas telah diberikan oleh banyak pakar
dengan berbagai sudut pandang yang
berbeda, sehingga menghasilkan definisidefinisi yang berbeda pula. Goesth dan
Davis yang dikutip Tjiptono, mengemukakan
bahwa kualitas diartikan “sebagai suatu
kondisi dinamis dimana yang berhubungan
dengan produk, jasa, manusia, proses dan
lingkungan yang memenuhi atau melebihi
harapan” (Tjiptono, 2004:51).
Konsep atau definisi kualitas yang
dikemukakan oleh Davis L. Goetsch:
“Quality is a dynamics state associated
with product, service, people, process
and environment that meet or exceeds
expectation”. (Kualitas adalah sebuah
keadaan dinamis, dapat berubah – ubah
sejalan
dengan
waktu.
Kualitas
dihubungkan tidak hanya pada produk
dan jasa tetapi juga pada manusia
sebagai penghasil produk atau jasa
tersebut). (Goetsch, 2000 : 50)
Berdasarkan pernyataan diatas
dapat dikatakan bahwa sesuatu yang
berkualitas itu akan dapat berubah
berdasarkan waktu dan perkembangan
jaman. Kualitas tidak hanya berorientasi
pada layanan produk dan jasa. Aparatur
sangat menentukan bentuk dari kualitas.
Kualitas pelayanan aparatur memiliki kaitan
dengan kepuasan masyarakat.
Menurut Triguno dalam buku yang
berjudul Budaya Kerja, Menciptakan
Lingkungan
yang
Kondusif
untuk
Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan
memiliki kegunaan yang bersifat teoritis dan
praktis, sebagai berikut :
1) Bagi
peneliti,
berguna
untuk
menambah pengalaman, wawasan,
pengetahuan
dan
memahami
Pelayanan Aparatur Dinas Peternakan
178
Meningkatkan Produktivitas Kerja, kualitas
merupakan:
“standar yang harus dicapai oleh seseorang
atau kelompok atau lembaga organisasi
mengenai kualitas sumber daya manusia,
kualitas cara kerja, proses dan hasil kerja
atau produk yang berupa jasa. Berkualitas
mempunyai arti memuaskan kepada yang
dilayani, baik internal maupun eksternal
dalam arti optimal pemenuhan atas tuntutan
masyarakat”. (Triguno, 1997:76).
Berdasarkan pernyataan diatas,
bahwa kualitas merupakan hasil yang harus
dicapai oleh seseoarang atau lembaga
organisasi, yang mencangkup segala aspek,
serta
memberikan
dampak
yang
memuaskan kepada konsumen, serta dapat
memenuhi kebutuhan konsumen. Hal ini
sejalan dengan pendapat Tjiptono dalam
bukunya Manajemen Jasa:
“Kualitas adalah kesesuaian dengan
persyaratan,
kecocokan
pada
pemakaian,
perbaikan
atau
penyempurnaan, berkesinambungan,
bebas dari kerusakan atau cacat,
pemenuhan kebutuhan pelanggan baik
sejak awal maupun setiap saat,
melakukan segala sesuatu dengan
benar sejak awal dan sesuatu dilakukan
untuk
membahagiakan
pelanggan“(Tjiptono, 2004 : 42).
Berdasarkan definisi kualitas di
atas, dapat dikatakan bahwa, kualitas
merupakan suatu patokan dasar yang harus
dicapai oleh seseorang maupun kelompok
dalam memenuhi kebutuhan masyarakat,
Serta pemenuhan segala kebutuhan
masyarakat, memberikan pelayanan yang
harus dilakukan dengan benar dan sesuai
dengan keinginan masyarakat dan harus
dilakukan demi kepuasan pelanggan, serta
proses pemenuhan dilaksanakan dengan
benar dan memuaskan masyarakat.
Undang-Undang
Pelayanan
Publik secara resmi bernama UndangUndang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan
Publik.
Undang-Undang
Pelayanan
Publik
adalah undangundang yang mengatur tentang prinsipprinsip pemerintahan yang baik yang
merupakan
efektifitas
fungsi-fungsi
pemerintahan itu sendiri. pelayanan publik
yang dilakukan oleh pemerintahan atau
koporasi yang efektif dapat memperkuat
demokrasi dan hak asasi manusia,
mempromosikan kemakmuran ekonomi,
kohesi sosial, mengurangi kemiskinan,
meningkatkan perlindungan lingkungan,
bijak dalam pemanfaatan sumber daya
alam, memperdalam kepercayaan pada
pemerintahan dan administrasi publik.
Negara berkewajiban melayani
setiap warga negara dan penduduk untuk
memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya
dalam pelayanan publik yang merupakan
amanat Undang-Undang Dasar Negara
Republik
Indonesia
Tahun
1945,
membangun kepercayaan masyarakat atas
pelayanan
publik
yang
dilakukan
penyelenggara
pelayanan
publik
merupakan kegiatan yang harus dilakukan
seiring dengan harapan dan tuntutan
seluruh warga negara dan penduduk
tentang peningkatan pelayanan publik,
sebagai upaya untuk mempertegas hak dan
kewajiban setiap warga negara dan
penduduk serta terwujudnya tanggung
jawab negara dan korporasi dalam
penyelenggaraan
pelayanan
publik,
diperlukan norma hukum yang memberi
pengaturan secara jelas, sebagai upaya
untuk meningkatkan kualitas dan menjamin
penyediaan pelayanan publik sesuai dengan
asas-asas umum pemerintahan dan
korporasi yang baik serta untuk memberi
perlindungan bagi setiap warga negara dan
penduduk dari penyalahgunaan wewenang
di dalam penyelenggaraan pelayanan publik
Sebelum membahas pengertian
pelayanan publik, sebaiknya terlebih dahulu
dibahas mengenai pengertian pelayanan.
Arti pelayanan berdasarkan Keputusan
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
Nomor 81 Tahun 1993 adalah . “Pelayanan
umum adalah segala bentuk pelayanan
yang diberikan oleh pemerintah pusat atau
daerah, BUMN / BUMD, dalam rangka
pemenuhan kebutuhan masyarakat, dan
atau peraturan perundang-undangan yang
berlaku” (KEPMENPAN, 1993 : 6).
Pengertian tersebut sejalan dengan
pendapat Moenir, dalam memberikan
pelayanan terbaik kepada publik harus
dilakukan dengan cara :
1) Memberikan kemudahan dalam
pengurusan hal – hal yang dianggap
penting,
2) Memberikan pelayanan secara
wajar,
3) Memberikan perlakuan yang sama
tanpa pilih kasih,
4) Bersikap jujur dan terus terang.
(Moenir, 2006 : 47)
Menurut kedua pendapat di atas
bahwa pelayanan adalah hasil kerja
pemerintah dalam memenuhi kebutuhan
179
masyarakat. Menyiapkan dan memberikan
kemudahan bagi masyarakat dalam
pengurusan
hal-hal
yang
penting.
Pelayanan yang diberikan berdasarkan
aturan yang berlaku. Pelayanan yang sesuai
dengan
kebutuhan
masyarakat
dan
dilaksanakan secara wajar. Agar tidak timbul
kecemburuan
sosial
di
masyarakat.
Pemerintah harus bersikap jujur dan terbuka
dalam melayani masyarakat. Pemerintah
tidak membeda-bedakan perlakuan dalam
memberikan pelayanan.
Menurut Sinambela dalam bukunya
yang berjudul Reformasi Pelayanan Publik,
bahwa pelayanan publik dapat didefinisikan
sebagai berikut:
“Pelayanan publik adalah pemenuhan
keinginan dan kebutuhan masyarakat
oleh
penyelenggara
pemerintah
serangkaian aktivitas yang dilakukan
oleh birokrasi publik untuk memenuhi
kebutuhan
masyarakat,
Negara
didirikan oleh publik (masyarakat) tentu
saja dengan tujuan agar dapat
meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat”. (Sinambela, 2006:5)
Sesuai dengan definisi di atas,
pelayanan publik merupakan pemenuhan
kebutuhan masyarakat oleh aparatur
pemerintahan.
Aparatur
bekerja
menjalankan roda birokrasi. Aparatur
bekerja dengan tujuan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan
definisi-definisi
pelayanan di atas, dapat dilihat bahwa
pemberian pelayanan merupakan proses
yang dilakukan organisasi pemerintah untuk
memenuhi kebutuhan bersama. Pelayanan
publik merupakan pemberian layanan dari
organisasi pemerintah dalam upaya
pemenuhan kebutuhan masyarakat serta
dalam
rangka
mengimplementasikan
ketentuan yang tercantum dalam peraturan
perundang-undangan.
Pendapat lain mengenai definisi
pelayanan publik dikemukakan oleh Moenir
adalah, “kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan
landasan faktor materil melalui sistem,
prosedur, dan metode tertentu dalam rangka
usaha memenuhi kepentingan orang lain
sesuai dengan haknya” (Moenir, 1995:26).
Sejalan dengan pendapat tersebut, Sadu
Wasistiono mengemukakan bahwa:
“pelayanan publik adalah pemberian
jasa baik oleh pemerintah, pihak swasta
atas nama pemerintah ataupun pihak
swasta kepada masyarakat, dengan
atau
tanpa
pembayaran
guna
memenuhi
kebutuhan
dan
atau
kepentingan masyarakat”. (Wasistiono,
2001:51-52).
Berdasarkan kedua pendapat di
atas
bahwa
pelayanan
publik
itu
diselenggarakan sesuai dengan sistem atau
prosedur dan bukan hanya diberikan
instansi atau lembaga pemerintah saja,
melainkan juga diberikan oleh pihak swasta
kepada masyarakat. Kegiatan pelayanan
publik yang diselenggarakan pemerintah
untuk masyarakat meliputi banyak hal, yaitu
yang menyangkut semua kebutuhan
masyarakat baik berupa barang maupun
jasa. Hal ini sejalan dengan pendapat
Pamudji bahwa:
“Jasa pelayanan pemerintah yaitu
berbagai kegiatan yang bertujuan
memenuhi kebutuhan masyarakat akan
barang-barang dan jasa-jasa, jenis
pelayanan publik dalam arti jasa-jasa,
yaitu seperti pelayanan kesehatan,
pelayanan
keluarga,
pelayanan
pendidikan,
pelayanan
pencarian
keadilan”. (Pamudji, 1994:21-22).
Berdasarkan pendapat di atas, jasa
pelayanan yang diberikan oleh pemerintah
kepada masyarakat yaitu berbagai kegiatan
yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat akan barang-barang dan jasajasa, jenis pelayanan publik dalam arti jasajasa yaitu seperti pelayanan kesehatan,
pelayanan pendidikan, pelayanan keluarga,
serta pelayanan administrasi misalnya
pelayanan pembuatan IMB.
Menurut
Sinambela
mengenai
kualitas adalah, “ kualitas adalah segala
sesuatu yang dapat memenuhi keinginan
atau kebutuhan pelanggan (meeting the
needs of costumers)”. (Sinambela, 2006:
13). Dengan demikian pelayanan yang
berkualitas adalah pelayanan yang mampu
memenuhi keinginan dan kebutuhan
pelanggan. Untuk itu, penyedia layanan
harus berupaya mencari tahu apa yang
menjadi keinginan pelanggannya, sehingga
sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
pelanggan tersebut. Hal itu perlu dilakukan
agar pelanggan merasa puas karena
kualitas pelayanan yang diberikan semakin
meningkat. Ada suatu kebutuhan pelanggan
yaitu, meningkatnya pelayanan yang
diberikan aparatur selalu meningkat.
Harapan pelanggan itulah yang harus di
pahami oleh penyedia layanan dan perlu
dicari jawabannya. Menurut Sinambela pada
dasarnya pelayanan merupakan usaha
180
memuaskan masyarakat. Agar masyarakat
merasa puas, dituntut kaulitas pelayanan
prima, yang tercermin dari :
1. transparansi,
2. akuntabilitas,
3. partisipatif,
4. kesamaan hak.
(Sinambela, 2010: 6).
Transparansi, yaitu pelayanan yang
bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses
oleh semua pihak yang membutuhkan dan
disediakan secara memadai, serta mudah
dimengerti.(Sinambela,
2010:
6).
Transparansi, memiliki makna keterbukaan
dalam pelayanan. Transparansi terdiri dari
kemudahan aksebilitas dan kelangkapan
informasi serta keterbukaan pelayanan.
Kemudahan aksebilitas adalah, kemudahan
masyarakat dalam mengakses layanan
yang disediakan oleh penyedia layanan.
Transparansi, memiliki makna keterbukaan
dalam pelayanan.
Pelayanan akan menjadi transparan
apabila pelayanan tersebut diinformasikan
kepada para pelanggan/ konsumen. Dengan
demikian,
apabila
penyedia
ingin
pelayanannya menjadi transparan, maka
pelayanan tersebut harus diinformasikan
atau diberitahukan kepada para pelanggan/
konsumen terlebih dahulu, baik dari segi
waktu, biaya dan prosedur pelayanan.
Bentuk penginfomasian pelayanan tersebut
dapat dilakukan melalui media informasi,
seperti media televisi, koran, website dan
media infromasi lainnya.
Akuntabilitas, yakni pelayanan yang
dapat dipertanggung jawabkan sesuai
dengan aturan perundang- undangan.
Penyelanggaraan pelayanan publik yang
baik adalah penyelanggaraan publik yang
bertanggung jawab kepada publik itu sendiri
atas apa yang mereka lakukan kepada
publik, khusunya dalam hal ini dalam hal
pelayanan itu sendiri. Pertanggung jawaban
itu dilakukan kepada masyarakat sebagai
penerima layanan, dan kepada atasannya
sebagai orang yang menyuruh. Sedangkan
menurut mahsun, akunatabilitas adalah:
“suatu bentuk pertanggung jawaban
yang dilakukan oleh oleh para pejabat
atau aparat kepada masyarakat atas
apa saja yang telah mereka lakukan.
Adapun bentuk dari akuntabilitas itu
terdiri dari fiscal accountability, legal
accountability, program accountability,
process accountability dan outcome
accountability ”.(Mahsun, 2006:85).
Pertama,
fiscal
accountability
adalah bentuk pertanggungjawaban oleh
penyedia layanan kepada masyarakat
terkait pemanfaatan keuangan yang
diterima dari masyarakat. Kedua, legal
accountability
adalah
bentuk
pertanggungjawaban penyedia layanan
terhadap undang- undang atau peraturanperaturan layanan. Hal itu dilihat apakah
undang- undang atau peraturan- peraturan
layanan tersebut dapat dilaaksanakan
dengan baik oleh penyedia layanan. Ketiga,
program accountability adalah bentuk
pertangung jawaban tentang bagaimana
penyedia layanan berupaya mencapai
program- program yang telah ditetapkan.
Keempat, process accountability adalah
bentuk pertangung jawaban tentang
berkaitan dengan bagaimana peyedia
layanan mengelola dan memberdayakan
sumber- sumber potensi atau sarana dan
prasarana pelayanan yang ada secara
ekonomis dan efesien. Kelima, outcome
accountability adalah bentuk pertangung
jawaban berkaitan dengan bagaimana
efektifis (hasil) dari layanan yang diberikan
dapat bermanfaat memenuhi harapan dan
kebutuhan masyarakat
Partisipatif,
menurut
Susiloadi
bahwa
pelayanan
partisipatif,
yaitu
“pelayanan yang mendorong peran serta
masyarakat
dalam
penyelenggaraan
pelayanan publik dengan memperhatikan
aspirasi,
kebutuhan,
dan
harapan
masyarakat”.
(http://priyantosusiloadi.staff.fisip.uns.ac.id/
Januari 2013). Partisipasi dapat dilihat dari:
1. Metode adalah cara yang dilakukan
oleh penyediaan layanan
untuk
mendorong keikutsertaan masyarakat
2. Instrumen adalah alat atau wadah yang
digunakan untuk menumbuhkan dan
meningkatkan partisipasi.
(http://priyantosusiloadi.staff.fisip.uns.a
c.id/ Januari 2013).
Penyedia layanan mesti mendorong
agar masyarakat juga dapat ikut serta dalam
penyelenggaraan pelayanan tersebut baik
secara langsung, maupun secara tidak
langsung (seperti sumbangan pendapat
atau ide). Untuk itu, penyedia harus memiliki
cara agar masyarakat ikut berperan serta
dalam pelayana tesebut, misalnya mengajak
masyarakat untuk berpatisipasi melalui
media website, televisi dan seminarseminar, sehingga masyarakat dapat ikut
ambil
bagian
dan
mejadi
jelas
181
keikutsertaannya dalam partisipasi
di
pelayanan tersebut.
Kesamaan hak, menurut Susiloadi
bahwa kesamaan hak pelayanan yaitu,
“pelayanan
yang
tidak
melakukan
diskriminasi dilihat dari aspek apapun,
seperti suku, ras, agama, golongan, status
sosial dan lain- lain yang ditunjukan dari
ketegasan
dan
keteguhan
pemberi
layanan”.
(http://priyantosusiloadi.staff.fisip.uns.ac.id/
Januari 2013).
Penyedia layanan harus berlaku adil
antara penerima layanan yang satu dengan
penerima layanan lainnya. Penyedia
layanan tidak boleh berlaku diskriminatif
kepada para penerima layanan. Kesamaan
hak tersebut dapat dilihat dari sikap prilaku
pemberi layananan yang teguh pada prinsipprinsip dan aturan pelayanan dan juga
ditunjukan dengan prilaku tegas kepada
penerima layanan tersebut tanpa ada
perbedaan perlakuan antara penerima
layanan satu dengan yang lainnya
Penyedia layanan harus berlaku adil
antara penerima layanan yang satu dengan
penerima layanan lainnya. Penyedia
layanan tidak boleh berlaku diskriminatif
kepada para penerima layanan. Kesamaan
hak tersebut dapat dilihat dari sikap prilaku
pemberi layananan yang teguh pada prinsipprinsip dan aturan pelayanan dan juga
ditunjukkan dengan prilaku tegas kepada
penerima layanan tersebut tanpa ada
perbedaan perlakuan antara penerima
layanan satu dengan yang lainnya .
Pemerintah
dituntut
untuk
memberikan
pelayanan
publik
yang
berkualitas, hubungan kualitas dengan
pelayanan dikemukakan oleh Sampara
Lukman bahwa:
“kualitas pelayanan adalah pelayanan yang
diberikan kepada pelanggan sesuai dengan
standar pelayanan yang telah dibakukan
sebagai pedoman dalam memberikan
layanan. Standar pelayanan adalah ukuran
yang telah ditentukan sebagai suatu
pembakuan pelayanan yang baik”. (Lukman,
1999:14).
Sejalan dengan pendapat Lovelock
kualitas pelayanan adalah “sebagai tingkat
keunggulan
yang
diharapkan
dan
pengendalian atas tingkat keunggulan
tersebut untuk memenuhi keinginan
pelanggan” (Lovelock dalam Tjiptono,
1996:59). Hal ini berarti apabila jasa atau
layanan yang diterima rendah, dari yang
diharapkan oleh pelanggan atau masyarakat
maka dipersepsikan buruk, suatu layanan
yang diberikan aparatur pemerintah itu
harus menjamin efisiensi dan keadilan serta
harus memiliki kualitas yang mantap.
Kualitas merupakan harapan semua orang
atau pelanggan.
Supranto menyebutkan beberapa
dimensi atau ukuran dari kualitas pelayanan,
yaitu:
“meliputi keandalan (reliability), kemampuan
untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan
dengan tepat dan terpercaya, keresposifan
(responsiveness),
kemampuan
untuk
membantu pelanggan dan ketanggapan,
keyakinan (confidence) pengetahuan dan
kesopanan karyawan serta kemampuan
mereka untuk menimbulkan kepercayaan
dan keyakinan atau (assurance), empati
(empaty) syarat untuk peduli memberikan
perhatian pada pelanggan, berwujud
(tangibles), penampilan fasilitas fisik,
peralatan, personil, dan media komunikasi”.
(Supranto, 1997:107).
Pasuraman mengemukakan lima
prinsip pelayanan publik agar kualitas
pelayanan dapat dicapai, yaitu :
1) bukti langsung (tangibles), meliputi
fasilitas fisik, perlengkapan pegawai dan
sarana komunikasi
2) keandalan
(reliability),
yakni
kemampuan memberikan pelayanan
yang dijanjikan dengan segera, akurat,
dan memuaskan
3) daya tanggap (resposiveness), yaitu
keinginan para staff untuk membantu
para pelanggan dan memberikan
pelayanan dengan tanggap
4) jaminan
(assurance),
mencakup
pengetahuan, kemampuan, kesopanan,
dan dapat dipercaya yang dimiliki para
staff, bebas dari bahaya, resiko atau
keragu-raguan
5) empati (empaty), meliputi kemudahan
dalam melakukan hubungan komunikasi
yang baik, perhatian pribadi, dan
memahami kebutuhan para pelanggan
(Pasuraman dalam Tjiptono, 1996:70).
Berdasarkan pendapat di atas,
bahwa ukuran kualitas pelayanan terdiri dari
reliability,
tangibles,
resposiveness,
assurance, empaty, dan confidence.
Komponen tersebut merupakan satu
kesatuan
yang
terintegrasi,
artinya
pelayanan menjadi tidak sempurna bila ada
komponen yang kurang. Kualitas jasa atau
layanan yang baik akan dapat memberikan
kepuasan kepada masyarakat, dan dapat
dilihat bahwa kepuasan pelangganlah yang
182
harus diprioritaskan bukan keinginan
penyedia jasa (pemerintah).
Selain itu, pelayanan publik harus
berlandaskan pada rasa pengabdian diiringi
dengan kemampuan dan keterampilan
setiap pegawai dalam melaksanakan
tugasnya. Untuk memberikan pelayanan
publik yang baik atau memberikan
pelayanan publik yang berkualitas tinggi,
aparatur pemerintah harus memiliki tiga
aspek yang diuraikan oleh Supriatna adalah:
1) memiliki tanggung jawab yang tinggi
selaku abdi negara dan abdi masyarakat
2) responsif terhadap masalah yang
dihadapi masyarakat khususnya yang
membutuhkan pelayanan masyarakat
dalam arti luas
3) komitmen dan konsisten terhadap nilai
standar
dan
moralitas
dalam
menjalankan kekuasaan pemerintah
(Supriatna, 1996:98)
Berdasarkan hal di atas, aparatur
pemerintah tidak boleh lepas dari
konsistensi terhadap landasan falsafah dan
hukum sebagai nilai dan moral yang
dijunjung tinggi, dan harus berorientasi pada
kepentingan masyarakat karena aparatur
pemerintah adalah pelayan masyarakat dan
harus
memperhatikan
aspirasi
dan
kebutuhan masyarakat. Berkaitan dengan
hal tersebut, berdasarkan Keputusan
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
(Menpan) Nomor 81 Tahun 1993 tentang
Pedoman Tata Laksana Pelayanan Umum
menyebutkan bahwa dalam memberikan
pelayanan publik harus menerapkan prinsip,
dan pola dalam penyelenggaraan pelayanan
publik dan harus memenuhi beberapa
prinsip sebagai berikut:
1) kesederhanaan
yaitu
prosedur
pelayanan publik tidak berbelit-belit,
mudah
dipahami
dan
mudah
dilaksanakan;
2) kejelasan yaitu mencakup persyaratan
teknis dan administrasi, pejabat yang
berwenang dan bertanggungjawab
dalam memberikan pelayanan dan
penyelesaian keluhan sengketa dalam
pelaksanaan pelayanan publik serta
rincian biaya dan tata cara pembayaran;
3) kepastian waktu yaitu pelaksanaan
pelayanan publik dapat diselesaikan
dalam kurun waktu yang telah
ditentukan;
4) akurasi yaitu produk pelayanan publik
diterima dengan benar, tepat, dan sah;
5) keamanan
proses
dan
produk
pelayanan publik memberikan rasa
aman dan kepastian hukum;
6) tanggung jawab yaitu pimpinan atau
pejabat
penyelenggara
pelayanan
publik yang ditunjuk bertanggungjawab
atas penyelenggaraan pelayanan dan
penyelesaian keluhan atau persoalan
dalam pelaksanaan pelayanan publik;
7) kelengkapan sarana dan prasarana
yaitu tersedianya sarana dan prasarana
kerja, peralatan kerja dan pendukung
lainnya yang memadai termasuk
penyediaan
sarana
teknologi
telekomunikasi
dan
informatika
(telematika);
8) kemudahan akses yaitu tempat dan
lokasi serta sarana pelayanan yang
memadai, mudah dijangkau oleh
masyarakat, dan dapat memanfaatkan
teknologi telekomunikasi informatika
(telematika);
9) kedisipilinan,
kesopanan,
dan
keramahan yaitu pemberi layanan harus
bersikap disiplin, sopan dan santun,
ramah, serta memberikan pelayanan
dengan ikhlas;
10) kenyamanan
yaitu
lingkungan
pelayanan
harus
tertib,
teratur,
disediakan ruang tunggu yang nyaman,
bersih, rapi, lingkungan yang indah dan
sehat serta dilengkapi dengan fasilitas
pendukung pelayanan sepert toilet,
tempat parkir dan tempat ibadah;
(dalam Ratminto, 2006:22-23).
Berdasarkan pengertian di atas
bahwa dalam menyelenggarakan pelayanan
publik yang berkualitas, aparatur pemerintah
yang menyelenggarakan pelayanan publik
perlu memperhatikan dan menerapkan
kesepuluh
prinsip
tersebut
karena
kesepuluh prinsip adalah pedoman tata
laksana dalam penyelenggaraan pelayanan
publik yang wajib dilaksanakan oleh seluruh
instansi pemerintah.
Ratminto mengemukakan bahwa
pelayanan yang baik hanya akan dapat
diwujudkan apabila :
”penguatan posisi tawar pengguna
jasa
pelayanan
(masyarakat)
mendapatkan
prioritas
utama.
Dengan demikian, pengguna jasa
diletakkan
di
pusat
yang
mendapatkan dukungan dari a) Kultur
organisasi
pelayanan
yang
mengutamakan
kepentingan
masyarakat, khususnya pengguna
jasa, b) Sistem pelayanan dalam
183
“Aparatur
ialah
aspek-aspek
administrasi yang diperlukan dalam
penyelenggaraan pemerintahan atau
negara, sebagai alat untuk mencapai
tujuan
organisasi.
Aspek-aspek
administrasi itu terutama ialah
kelembagaan atau organisasi dan
kepegawaian”.
(Handayaningrat,1982:154).
Aparatur pemerintahan sebagai alat
untuk mencapai tujuan organisasi dalam
penyelenggaraan
pemerintahan
atau
negara.Maka
diperlukan
aspek-aspek
administrasi terutama kelembagaan atau
organisasi dan kepegawaian.Maka dalam
penyelenggaraan
pemerintahan
atau
negara dibutuhkan suatu alat untuk
mencapai tujuan organisasi, maksud alat
disini adalah seorang aparatur atau pegawai
yang ada dalam suatu pemerintahan atau
negara.
Aparatur merupakan salah satu
faktor yang sangat penting dalam suatu
lembaga pemerintahan disamping faktor lain
seperti uang, alat-alat yang berbasis
teknologi misalnya komputer dan internet.
Oleh karena itu, sumber daya aparatur
harus dikelola dengan
baik untuk
meningkatkan efektivitas dan efisiensi
organisasi pemerintahan untuk mewujudkan
profesional
pegawai
dalammelakukan
pekerjaan.
Pendapat tersebut mengemukakan
bahwa aparatur merupakan aspek-aspek
administrasi
yang
diperlukaan
oleh
pemerintah
dalam
penyelenggaran
pemerintahan atau Negara.
Berkaitan dengan pelayanan publik
secara online melalui internet, maka
diperlukan upaya untuk meningkatkan
pelayanan publik. Salah satu upayanya yaitu
dengan mengembangkan e-Government
dalam lembaga pemerintahan. Selain
sebagai
upaya
untuk
meningkatkan
pembangunan, penerapan e-Government
juga merupakan bentuk upaya pemerintah,
baik pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah dalam meningkatkan pelayanan
kepada masyarakatnya, e-Government
memiliki beragam definisi tergantung
kepada sudut pandang mana pihak yang
mendefinisikan
serta
tingkatan
perkembangan yang ada. Pemerintah
Federal Amerika Serikat mendefinisikan eGovernment sebagai berikut:
”e-Government refers to the delivery of
government information and services
online through the internet or other
organisasi penyelenggara pelayanan,
dan c) Sumber daya manusia yang
berorientasi
pada
kepentingan
pengguna jasa”. (Ratminto, 2006:5253).
Berdasarkan Pendapat diatas bahwa
terwujudnya pelayanan yang baik apabila
masyarakat mendapatkan prioritas utama
serta pelayanan yang mengutamakan
kepentingan
masyarakat
khususnya
pengguna jasa agar segala kebutuhan
pelayanan dapat dirasakan langsung oleh
masyarakat atau pengguna jasa.
Birokrat yaitu aparatur yang
bertindak secara birokratis, Menjunjung
tinggi nilai-nilai secara sistematis. Birokrat
menjunjung tinggi inovasi dalam bekerja.
Kemajuan
bukanlah
sesuatu
yang
ditargetkan karena terlalu berpacu pada
aturan yang ada. Aparatur Pegawai Negri
sebagai pelaksana jalannya birokrasi sering
melupakan tujuan pemerintah sebagai
pelayan
masyarakat.Aparatur
lebih
memprioritaskan kepada bentuk organisasi
dan cara-cara yang sering dilaksanakan.
Bambang
Yudoyono
dalam
bukunya yang berjudul Otonomi Daerah
berpendapat bahwa, “Aparatur pemerintah
Daerah adalah pelaksana kebijakan publik”,
(Yudoyono, 2011:61). Aparatur yang berada
di
daerah
merupakan
pelaksana
birokrasi.Aparatur merupakan pegawai yang
melaksanakan setiap kebijakan yang
berlaku.
Pengertian mengenai aparatur
pemerintahan disebutkan oleh Dharma
Setyawan Salam dalam buku yang berjudul
Manajemen Pemerintahan Indonesia yang
menjelaskan bahwa ”Aparat Pemerintah
adalah pekerja yang digaji pemerintah
melaksanakan
tugas-tugas
teknis
pemerintahan
melakukan
pelayanan
kepada masyarakat berdasarkan ketentuan
yang berlaku” (Setyawan, 2004:169).
Peningkatan pelayanan kinerja
aparatur kepada masyarakat merupakan
suatu tujuan yang ingin dicapai.Aparatur
suatu
instansi
pemerintahan
dalam
menjalankan tugasnya harus dilandasi
dengan rasa penuh tanggung jawab, agar
terciptanya kualitas suatu kinerja yang
optimal yang dapat dirasakan langsung oleh
masyarakat pada umunya. Suatu instansi
pemerintah tidak akan lepas dari aparatur
sebagai
pelaksana
penyelenggaraan
pemerintahan,
sebagaimana
yang
dikemukakan oleh Surwono Handayaningrat
yang mengatakan bahwa:
184
digital means” (e-Government mengacu
pada penyampaian mengenai informasi
pemerintah dengan melalui Internet
pelayanan online atau digital lainnya)
(Pemerintah Federal Amerika Serikat
dalam Andrianto” 2007:46).
Sementara
itu
konsep
eGovernment, dideskripsikan cukup beragam
oleh
masing-masing
individu
atau
komunitas, e-Government menurut Bank
Dunia (World Bank) adalah:
”e-Government refers to the use by
government agencies of information
technologies (such as wide area
network, the internet and mobile
computing) that have the ability to
transform
relations
with
citizen,
businesses, and other arms of
government (e-Government mengacu
pada penggunaan teknologi informasi
oleh lembaga pemerintahan (seperti
area network yang luas, internet dan
mobile komputer) yang mempunyai
kemampuan
untuk
mengubah
hubungan dengan penduduk, pebisnis
dan cabang lain dari pemerintah) (Bank
Dunia dalam Indrajit” 2006: 2).
Menurut definisi yang dikemukakan
di
atas,
pelayanan
publik
yang
diselenggarakan oleh pemerintah secara
online merupakan suatu mekanisme
interaksi baru antara pemerintah dengan
masyarakat
dengan
melibatkan
penggunaan teknologi informasi dengan
tujuan memperbaiki mutu atau kualitas
pelayanan pemerintah kepada masyarakat
Pelayanan publik merupakan suatu
usaha untuk memenuhi kebutuhan orang
lain atas apa yang mereka butuhkan.
Namun
demikian,
aparatur
Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat
tidak
hanya memenuhi kebutuhan penerima
layanan, tetapi juga aparatur Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat harus
memuaskan
masyarakat
dalam
hal
pemenuhan kebutuhan tersebut. Untuk
memuaskan masyarakat, aparatur Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat harus
memberikan pelayanan yang berkualitas
kepada para Masyarakat pelaku ternak baik
dari pelayanan langsung maupun tidak
langsung, yang sesuai dengan proses dan
prosedurnya.
E-Government saat ini menjadi topik
berbagai pihak baik pemerintah, swasta,
maupun perguruan tinggi yang mencoba
untuk memberikan
kontribusi
dalam
pengembangannya.E-Government
merupakan sistem teknologi informasi
pemerintah untuk mewujudkan praktik
pemerintahan yang lebih efisien dan efektif
dalam meningkatkan hubungan dan
pelayanan yang lebih terjangkau serta
memperluas akses publik antara pemerintah
dengan masyarakat
Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat, merupakan suatu suatu lembaga
yang menjalankan tugas dan fungsi bidang
peternakan di Provinsi Jawa Barat. Untuk
meningkatkan kualitas pelayanan maka
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
menyediakan website yang menjadi wadah
bagi masyarakat khusus nya para pelaku
peternakan . Untuk itu, dalam menilai
kualitas pelayanan menurut Sinambela ada
empat dimensi yang perlu diperhatikan,
yaitu:
Pertama,
Transparansi,
yaitu
pelayanan yang bersifat terbuka, mudah dan
dapat diakses oleh semua pihak yang
membutuhkan dan disediakan secara
memadai, serta mudah dimengerti. Hal- hal
yang berkaitan dengan transparansi
pelayanan meliputi keterbukaan prosedural/
tata cara, persyaratan, kejelasan satuan
kerja/ pejabat yang bertanggung jawab
dalam pemberi pelayanan umum, kejelasan
waktu penyelesaian, kejelasan rincian biaya/
tarif, kejelasan hak- hak pasien.
Kedua,
Akuntabilitas,
yaitu
pelayanan yang dapat dipertanggung
jawabkan sesuai dengan aturan perundangundangan. Akuntabilitas dapat diartikan juga
sebagai suatu bentuk pertanggung jawaban
yang dilakukan oleh oleh para pejabat atau
aparat kepada masyarakat atas apa saja
yang telah mereka lakukan. Ruang lingkup
dari
akuntabilitas
adalah
Fiscal
accountability, bentuk pertanggungjawaban
terkait pemanfaatan keaungan yang
diterima
dari
masyarakat.
Legal
accountability, berkaitan dengan kepatuhan
aparatur pelayanan dalam mematuhi
peraturan- peraturan pelayanan yang
berlaku. Program accountability, berkaitan
dengan upaya mencapai program- program
yang
telah
ditetapkan.
Process
accountability,
berkaitan
dengan
pengelolaan dan pemberdayakan sumbersumber yang ada secara ekonomis dan
efesien. Outcome accountability, berkaitan
dengan pertanggungjawaban terhadapa
efektifitas pelayanan yang diberikan oleh
penyedia atau pemberi layanan.
Ketiga, Partisipatif, yaitu pelayanan
yang mendorong peran serta masyarakat
185
dalam penyelenggaraan pelayanan publik
dengan
memperhatikan
aspirasi,
kebutuhan, dan harapan masyarakat.
penggun jasa layanan yang disediakan oleh
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat.
Pengusaha yang dibina oleh dinas
peternakan dapat mempromosikan Hasil
Ternak Mereka dalam website resmi dari
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat.
Konsumen atau masyakat dapat melihat
hasil dari usaha ternak pengusaha yang
dibina oleh dinas peternakan. Pengusaha
binaan tersebut mendapatkan aplikasi user
untuk masuk dan mengupdate segala
macam bentuk dari hasil ternak. Hal ini
menjadi wadah bagi pengusaha binaan
disnak jabar, dalam pembinaan tersebut
para pengusaha binaan disnak jabar tidak di
pungut biaya dalam hal promosi hasil ternak
melalui website
Kedua, forum konsultasi, Sebagi
forum tanya jawab bagi masyarakat dengan
aparatur dinas tersebut, hal ini menjawab
tantangan global dalam hal komunikasi yang
semakin berkembang, salah satu hal yang di
lakukan
oleh
disnak
jabar
untuk
meningkatkan kualitas pelayanan khusus
nya dalam bidang website menyangkut
masalah peternakan. Masyarakat dapat
berkomuniksi langsung dengan aparatur
dinas peternakan melalui forum konsultasi
yang telah di sediakan oleh dinas
peternakan provinsi jawa barat, aparatur
dinas peternakan jawa barat sangat
berperan penting dalam hal ini, aparatur
dinas peternakan jawa barat akan
menampung permasalahan yang berkaitan
langsung dengan produk ternak dan
memberikan solusi kepada masyarakat
yang membutuhkan
Ketiga, kontak bisnis, Kontak bisnis
merupakan sarana untuk mempromosikan
hewan ternak yang akan mereka jual.
Secara sekilas mungkin telihat sama
dengan forum produk ternak, namun ini
berbeda, yang sama hanya bentuk konsep
dari kontak bisnis. Fitur kontak bisnis siapa
saja bisa masuk kedalam menu kontak
bisnis untuk mempromosikan barang namun
dalam fitur kontak bisnis terdapat batasanbatasan yang hanya bisa men upload
produk ternak yang akan di jual kemudian
dinas peternakan menyeleksi kelayakan
barang yang akan di jaul, jadi dalam arti luar
fitur kontak bisnis yang di sediakan Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat menjadi
penghubung antar masyarakat yang
membutuhkan hewan ternak maupun yang
akan menjual hewan ternak.
OBJEK DAN METODE PENELITIAN
Objek Penelitian
Berkaitan dengan pelayanan publik
secara online, ada tiga tingkatan yang
dicerminkan oleh tampilan website (website)
Pemerintah dalam melaksanakan eGovernment, Pertama publish yaitu dimana
pemerintah hanya mempublikasikan data
dan informasi agar dapat diakses secara
langsung oleh masyarakat dan pihak-pihak
lainnya yang berkepentingan. Kedua,
interact
yaitu
masyarakat
dapat
berkomunikasi dengan pemerintah melalui
media yang telah di sediakan seperti
Chatting, e-mail dan mailing list. Ketiga,
transact yaitu tingkatan ini sudah terjadi
perpindahan (transfer) uang dari satu pihak
lain sebagai sebuah konsekuensi dan
deberikan layanan jasa oleh pemerintahan.
Dengan dikeluarkan Pergub No 07 Tahun
2009 tentang pendayagunaan website,
Dinas
Peternakan
telah
menjawab
tantangan itu, Website Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat memiliki tiga fitur
andalan yang dapat
diakses oleh
masyarakat diantara beberapa fitur yang
menjadi unggulan, Kontak bisnis, Forum
Konsultasi, Produk ternak, dan ada satu
informasi yang dapat dilihat di
dalam
tampilan awal website disnak jabar, terdapat
infomasi tentang hargahasilprodukternak
yang selalu update setiap hari nya
Program
unggulan
di
Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat adalah
program yang menjadi wadah bagi
masyarakat ternak, yang bertujuan untuk
memudahkan masyarakat ternak dalam
memasarkan hasil ternak dari para pelaku
ternak. Program unggulan terdiri dari forum
konsultasi, forum produk ternak dan forum
kontak bisnis.
Pertama, produk ternak adalah
suatu wadah bagi masyarakat agar dapat
mempromosikan hasil ternak, meraka harus
memasukan data hasil ternak melalui
Bagian
Pengembangan
yang
akan
dipromosikan melalui website resmi Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat yang dip
roses melalui Prasarana dan Sarana,
setelah di proses pengusaha ternak
mendapatkan account untuk mengakses
layanan tersebut. Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat memberikan layanan online
yang bisa diakses oleh masyakat atau
186
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan
adalah
metode
deskriptif
dengan
pendekatan kualitatif yaitu menggambarkan
dan menganalisa data yang dilakukan
dengan
cara
mengumpulkan
data
berdasarkan keadaan yang nyata tentang
kinerja aparatur Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat dalam mengoperasikan website
www.disnakjabar.prov.go.id,
serta
mendeskripsikan sejumlah konsep yang
berkenaan
dengan
masalah
www.disnakjabar.prov.go.id tersebut.
kemudahan akses dan kelengkapan
informasi
yang
ada
di
website
www.disnakjabar.prov.go.id. Kemudahan
akses yang ada di fitur website yang telah
tersedia dapat diakses oleh masyarakat
dengan mudah dikarenan fitur-fitur sudah
dilengkapi dengan informasi-informasi yang
khusus, sehingga tidak membinggungkan
para pengguna website. Kelengkapan
informasi yang tersedia di Dinas peternakan
Provinsi Jawa Barat dilihat dari kebutuhan
masyarakat pelaku ternak tentang informasi
sudah cukup terpenuhi, hanya saja apabila
masyarakat membutuhkan hal-hal khusus
masyarakat harus menunggu balasan dari
pertanyaan yang diajukan untuk diproses
dan
dijawab
oleh
bidang
yang
bersangkutan. Selain itu, masyarakat juga
dapat berpartisipasi dalam pelayan website
yang di sediakan oleh Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat agar bentuk pelayanan
yang diberikan dapat digunak oleh
masyarakat luas. Untuk mengetahui
ketransparansian pelayanan di Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat
Kemudahan aksebilitas adalah sifat
kemudahan yang dimiliki oleh pelayanan
tersebut.
Pelayanan
website
:
www.disnakjabar.prov.go.id
dikatakan
mudah apabila dengan mudah diakses oleh
masyarakat. Kebutuhan akan data dari
hewan ternak di Provinsi Jawa Barat sangat
besar, karena dilihat dari penghidupan
beberapa masyarakat bergantung pada
hasil ternak, untuk sebab itu data serta
informasi
sangatlah
penting
guna
meningkatkan hasil ternak mereka dan juga
dapat
megatasi
beberapa
masalah
peternakan, Untuk megetahui menganai
keterbukaan
pelayanan
website
www.disnakjabar.prov.go.id, maka peneliti
mewawancarai aparatur pelakasana dan
aparatur teknis. Tentang kemudahan akses
website
www.disnakjabar.prov.go.id
aparatur pelaksana dan aparatur teknis,
mengatakan:
“Sangat mudah dan tampilan sangat
menarik, masyarakat tentu akan mudah
dalam mengakses website tersebut,
kemudian didalamnya terdapat berbagai
forum yang dapat berguna bagi
masyarakat
ternak,
tidak
ada
persyaratan apa-apa, hanya megisi
nama serta e-mail untuk dapat
mengakses fitur-fitur yang ada di
website”(3/6/2013)
Berdasarkan
hasil
wawancara
dengan aparatur pelakasana dan aparatur
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kualitas pelayanan merupakan
suatu kegiatan pemenuhan kebutuhan
keinginan
masyarakat
serta
tingkat
keunggulan untuk memenuhi harapan
masyarakat terhadap pelayanan yang
diberikan oleh Dinas Peternakan Provinsi
Jawa
Barat
melalui
www.disnakjabar.prov.go.id
Kualitas
pelayanan yang baik, maka pada akhirnya
timbul
kesesuaian
antara
harapan
masyarakat dengan kinerja yang dirasakan
oleh aparatur Peternakan Provinsi Jawa
Barat. Pelayanan yang baik merupakan
suatu harapan setiap orang yang berurusan
dengan badan atau instansi yang memiliki
tugas melayani masyarakat.
Kualitas pelayanan aparatur Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat yang
dimaksud adalah kepuasan pelayanan
informasi yang diberikan aparatur Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat kepada
masyarakat, sesuai dengan informasi
peternakan yang ada di Provinsi Jawa Barat
melalui
www.disnakjabar.prov.go.id.
Pemberian informasi peternakan yang ada
di Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
www.disnakjabar.prov.go.id
tersebut
dimaksudkan untuk memberikan informasi
kepada masyarakat atau para pelaku ternak
yang ada di Provinsi Jawa Barat.
Transparansi, yaitu pelayanan yang
bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses
oleh semua pihak yang membutuhkan dan
disediakan secara memadai, serta mudah
dimengerti. Pelayanan website di Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat dikatan
tranparan apabila terbuka untuk semua
masyarakat umum, mudah untuk diakses
dan disediakan secara memadai.
Transparansi Pelayanan Aparatur
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
Dalam
Program
Unggulan
Website
www.disnakjabar.prov.go.id, dilihat dari
187
teknis., kemudahan akses dari website
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
sudah didesain dengan sangat mudah,
sehingga masyarakat pelaku ternak tidak
mengalami kesulitan dalam megakses
website dinas peternakan provinsi jawa
Barat. Website ini dapat digunakan untuk
masyarakat luas dalam hal seputar
peternakan.
Berdasakan hasil wawancara yang
dilakukan peneliti dengan salah satu pelaku
ternak dalam usahanya untuk melayani
pengaduan
keluhan
yang
dilakukan
masyarakat, informan masyarakat yang di
wawancarai mengatakan,“Kemudahan nya
cukup mudah, dan tidak terlalus sulit karena
fitur-fitur yang ada sudah dapat mudah
diakses serta data-data yang ada dapat
diakses dengan mudah”(4/6/2013)
Berdasarkan hasil wawancara di
atas, kualitas pelayanan sudah sangat
mudah. Serta dapat digunakan untuk
masyarakat umum khususnya para pelaku
ternak Dengan demikian. Pelayanan di
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
sudah cukup baik dikernakan masyarakat
pelaku ternak merasa tidak mengalami
kesulitan untuk mengakses segala fitur-fitur
yang ada serta data-data yang dibutuhkan
sudah tersedia. Dan juga persyaratanpersyaratan khusus tidak didapat dalam
megkses fitur yang disediakan oleh Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat. Oleh
karena itu masyarakat sudah cukup puas
dengan kemudahan akses layanan yang
telah diberikan oleh Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat. Hal ini dapat
memberikan suatu dorongan atau perlakuan
aparatur
Dinas
Peternakan
untuk
memberikan pelayan yang lebig baik guna
terwujudnya suatu pelayan yang maksimal.
Berdasarkan
hasil
wawancara
dengan pelakasana dan aparatur teknis.
dan hasil wawancara dengan pengguna
website: www.disnakjabar.prov.go.id, maka
kemudahan
pelayanan
website:
www.disnakjabar.prov.go.id sudah cukup
mudah untuk diakses bagi masyarakat
ramai khususnya masyarakat ternak.
Kelengkapan informasi adalah suatu
ketersediaan data-data yang cukup bagi
masyarakat pelaku ternak terhadap pelaku
ternak. Dinas Peternakan memberikan data
informasi yang sesuai dengan kebutuhan
para pelaku ternak agar mewujudkan
pelayanan yang bersifat terbuka dan
berguna
bagi
masyarakat
luas.
Kelengkapan
informasi
dilihat
dari
pengunjung yang mengakses website serta
respon dari aparatur Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat yang sangat merespon
berbagai masalah seputar peternakan yang
nantinya membuahkan suatu kepuasan bagi
masyarakat pengguna layanan website
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat.
Informasi-informasi
yang
bisa
didapatkan
oleh
masyarakat
ternak
merupakan informasi yang terjadi pada
masalah hewan ternak sehari-hari, dan juga
seputar info harga hewan ternak yang selalu
di update oleh Dinas Peternakan setiap
harinya, serta berita-berita yang berguna
bagi masyarakat ternak guna mengetahui
permasalahan yang terjadi pada hewan
ternak.
Untuk
megetahui
mengenai
kelengkapan informasi pelayanan website:
www.disnakjabar.prov.go.id,maka peneliti
mewawancarai Kepala Kasi Data dan
Informasi, mengatakan, “semua hal yang
berkaitan masalah-masalah peternakan,
seperti info harga ternak yang selalu update,
berita tentang hewan, berita statistik,
menawarkan
jasa
penjualan
hewan”(6/6/2013)
Berdasarkan
hasil
wawancara
dengan Kepala Kasi Data dan Informasi,
informasi-informasi yang disediakan oleh
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat,
kelengkapan informasi seputar peternakan
sudah cukup lengkap untuk masyarakat
pelaku ternak. Dimana informasi-informasi
yang bisa didapatkan oleh masyarakat
ternak seperti informasi tentang harga
hewan ternak, seputar berita tentang hewan
ternak, dan berbagai informasi yang dapat
ditanyakan langsung kepada aparatur Dinas
Peternakan itu sendiri. Dengan ketersediaan
informasi yang ada masyarakat pelaku
ternak dapat mengatasi permaslahanpermasalahan seputar hewan ternak. Selain
itu, masyarakat juga dapat bertukar pikiran
dengan para pelaku ternak lainnya dan juga
dapat menjalin kerja sama dengan para
peternak lainya.
Kemudian
masyarakat
pelaku
ternak dapat melihat informasi tentang
harga hewan ternak yang selalu update
setiap hari nya. Dengan terupdate nya harga
hewan ternak masyarakat pelaku ternak
dapat menjual hewan ternak nya dengan
harga yang sesuai, info harga hewan ternak
tentu sangat dibutuhkan oleh pelaku ternak
guna memberikan suatu dorongan atau
semacam motivasi agar dapat memproduksi
hasil hewan ternak yang lebih baik.
188
Pelayanan yang diberikan oleh
Dinas Peternakan sudah cukup baik,
dikarenakan adanya suatu forum yang dapat
membeikan informasi tentang peluang
pemasaran yang telah disediakan oleh
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat.
Forum ini berguna bagi masyarakat pelaku
ternak, karena permaslahan terbesar dalam
dunia peternakan adalah pemasaran,
dengan adanya wadah pemasaran para
pelaku ternak sangat terbantu, oleh sebab
itu pelayanan yang diberikan oleh aparatur
Dinas peternakan Provinsi Jawa Barat
sudah cukup baik, dikarenakan respon dari
masyarakat pelaku ternak sangat baik dan
memuaskan.
Untuk mengetahui kelengkapan
informasi yang disediakan oleh Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat melalui
website resmi Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat www.disnakjabar.prov.go.id
peneliti mewawancarai masyarakat ternak
yang menggunakan pelayanan website
www.disnakjabar.prov.go.id
Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat, adalah :
“selama dalam menggunakan website
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
data yang dibutuhkan sudah tersedia,
hanya saja apabila
menginginkan
sesuatu
yang
khusus
harus
menggunakan fitur forum kunsultasi
untuk mengajukan pertanyaan yang
dibutuhkan”(7/6/2013)
Ketersediaan data yang diberikan
oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
sudah cukup lengkap, dan memang data
yang sangat dibutuhkan oleh para pelaku
ternak, sehingga data yang diberikan dapat
digunakan dengan baik, hal itu dapat dilihat
dari forum konsultasi yang ada di dalam fitur
website Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat.
Masyarakat
tidak
hanya
mendapatkan informasi dari aparatur Dinas
Peternakan
Provinsi
Jawa
Barat,
masyarakat pelaku ternak juga bisa
berinteraksi dengan pelaku ternak lainnya
guna menambah informasi yang belum
tersedia, hanya saja informasi yang
diberikan oleh Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat merupakan hasil informasi yang
didapatkan dari beberapa sumber serta
proses penjawaban pertanyaan dari pelaku
ternak di sesuaikan dengan jam kerja
aparatur. Masyarakat luas juga dapat
meberikan
kontribusi
dalam
penyelenggaran pelayanan yang diberikan
oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa barat.
Hala
dapat
menambah
kekurangan
informasi yang dimiliki dalam website serta
keterbukaan Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat dalam penyelenggaran website
dan
pelayana
secara
online
bagi
masyarakat luas.
Dari hasil wawancara dengan
aparatur
dan
para
pelaku
ternak,
ketersediaan
informasi
di
website
www,disnakjabar,prov.go.id sudah cukup
lengkap, hal itu dibuktikan dengan informasi
yang disediakan oleh Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat sudah cukup membantu
masyarakat ternak dalam menghadapi
permasalahan ternak yang ada. Serta
bentuk pelayanan dan informasi yang
tersedia bersifat umum dan dapat diakses
bagi masyarakat luas.
Akuntabilitas, yaitu pelayanan yang
dapat dipertanggung jawabkan sesuai
dengan aturan perundang- undangan.
Penyelanggaraan pelayanan publik yang
baik adalah penyelanggaraan publik yang
bertanggungjawab kepada publik itu sendiri
atas apa yang mereka lakukan kepada
publik, khusunya dalam hal ini dalam hal
pelayanan itu sendiri. Pertanggung jawaban
itu dilakukan kepada masyarakat sebagai
penerima layanan, dan kepada atasannya
sebagai laporan pertanggungjawaban
Akuntabilitas yang dimaksud di sini
adalah,
pelayanan
website
www.disnakjabar.prov.go.id
merupakan
pelayanan yang dapat dipertanggung
jawabkan secara aturan yang berlaku. Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat mempunyai
tanggung jawab untuk memaksimalkan
website agar manfaatnya dapat dirasakan
oleh
masyarakat,
bentuk-bentuk
akuntabilitas pelayanan website Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat terdiri dari,
Fiscal Accountability, Legal Accountability,
Program
Accountability,
Proses
Accountability, Outcome
Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat harus selalu berupaya untuk selalu
memfaatkan sumber keungan agar berguna
dan dapat dipertanggung jawabkan, hal ini
berguna untuk menjaga berjalannya suatu
program
yang
baik,
untuk
dapat
menggunakan keuangan dengan baik,
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
selalu melakukan perencanaan anggaran
keuangan agar hasil yang di dapat berjalan
dengan semestinya.
Berdasarkan
hasil
wawancara
peneliti dengan Kepala Bidang sarana dan
prasarana (sapras) mengenai penggunaan
189
anggaran
website
www.disnakjabar.prov.go.id
mengatakan
bahwa, “penggunaan anggaran untuk
website sudah sesuai dengan kebutuhan
Dinas Peternakan Jawa Barat dan juga telah
sesuai dengan Daftar Penggunaan Anggran
(DPA)”(8/6/2013)
Legal accountability adalah bentuk
pertanggung jawaban Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat terhadap aturan yang di
tetapkan. Adapun aturan- aturan pokok yang
harus ditaati dalam penyelenggaraan
website Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat adalah Peraturan Gubernur Provinsi
Jawa Barat No.07 tahun 2009 Tentang
Pendayagunaan Website dilingkungan
pemerintahan dan Panduan Pembangunan
Website Web Pemda Peserta yang
dikeluarkan oleh Dikominfo.
Program accountability adalah upaya yang
dilakukan oleh Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat dalam tingkat ketercapaian
website memenuhi target yang telah
ditentukan oleh Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat, yang memberikan pelayanan
secara online yang dapat digukan oleh
seluruh masyarakat ternak sebagai sarana
pemasaran serta tempat bertukar pendapat
antara masyarakat, program unggulan
website Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat memiliki fitur yang dapat membantu
masyarakat dalam pemasaran, masyarakat
juga mendapatkan keuntungan melalui
pelayanan website yang disediakan, Dinas
Peternakan
Provinsi
Jawa
Barat
memberikan pelayanan dengan mudah dan
dapat digunakan oleh masyarakat
Proses accountability adalah, upaya yang
dilakukan oleh Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat agar sumber-sumber daya yang
ada dapat digukan secara efektif, guna
dalam penyelenggaraan website dapat
berjalan dengan sebagaimana mestinya,
sumber daya menjadi suatu keharusan bagi
pelaksana pelayanan, agar dapat terwujud
suatu pelayan yang baik dan berguna serta
bermanfaat bagi masyarakat penggunan
jasa pelayanan, sumber daya yang
dimaksud dalam proses pelayanan website
di Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
adalah sumber daya manusia yang mampu
mengelola website yang baik agar
mendapatkan hasil maksimal, sumber daya
manusia yang baik tidak akan terlaksana
tanpa adanya sumber daya penunjang
seperti peralatan yang baik pula, hal ini
saling berkaitan dikarenakan sumber daya
manusia menjadi pengelola peralatan yang
telah tersedia, sumber daya manusia yang
baik harus diiringi dengan peralatan yang
baik pula
Outcome Accountability adalah
berkaitan dengan pertanggungjawaban
terhadap efektifitas pelayanan website yang
diberikan oleh Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat agar bermanfaat bagi
masyarakat ternak, serta dapat dirasakan
langsung oleh masyarakat ternak, tanpa
adanya pengguna jasa pelayanan website
yang disediakan oleh Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat, program tersebut tidak
akan berjalan dengan bagaimana mestinya,
aparatur Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat sangat berupaya untuk dapat
memberikan pelayanan yang langsung
dirasakan manfaatnya oleh masyarakat
pelaku ternak, dan juga dapat berinteraksi
dengan para pelaku ternak.
Partisipatif
merupakan
keikut
sertaaan masyarakat terhadap program
pelayanan website yang di berikan oleh
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat,
dimana dalam program tersebut, Dinas
Peternakan mempunyai beberapa program
yang menjadi alat bagi masyarakat dalam
keikutsertaan masyarakat pelaku ternak
melalui program website yang telah di
sediakan bagi masyarakat ternak, serta
aparatur Dinas Peternakan mempunyai cara
agar masyarakat pelaku ternak dapat
mengikutsertakan diri mereka terhadat
pelayanan website yang diberikan oleh
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat.
Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat melakukan beberapa upaya untuk
mendorong
keikutsertaan
masyarakat
ternak khusunya agar terlibat dalam
pelayanan website yang disediakan oleh
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat.
Upaya-upaya yang dilakukan seperti
sosialisasi, pameran ternak, memberikan
dan bantuan sosial. Melalui sosialisasi Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat mendorong
upaya dengan memberikan informasi dan
pelatihan bagi masyarakat ternak, serta
dengan adanya pameran masyarakat akan
lebih mengenal produk ternak binaan yang
telah bekerja sama dengan Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat, hal itu
dapat
meningkatkan
kemauan
dari
masyarakat ternak agar dapat ikut serta
dalam pelayanan website yang telah
disediakan.
Keikutsertaan masyarakat sangat
dibutuhkan
dalam
penyelenggaraan
pelayanan
website,
dikarenakan
190
keikutsertaan menjadi kewajiban serta
tanggung jawab Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat dalam membimbing serta
mefasilitasi para pelaku ternak. Hal itu guna
memberikan pelayanan secara langsung
dan dapat dirasakan langsung oleh
masyarakat, dengan adanya bantuan dan
peninjauan langsung oleh aparatur Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat, para
pelaku ternak dapat menanyakan langsung
seputar permasalahan hewan ternak, serta
para pelaku ternak merasakan pelayanan
yang diberikan oleh Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat.
Berdasarkan
hasil
wawancara
peneliti dengan Kepala Kasi Data dan
Informasi mengenai cara yang dilakukan
oleh aparatur Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat untuk mendorong keikutsertaan
masyarakat dalam pelayanan
website
mengatakan, bahwa:
“kami selalu memberikan beberapa
program seperti
bantuan
sosial,
kunjungan-kunjungan ke para pelaku
ternak seta kami menghimbau untuk ikut
serta terhadap pelayanan website yang
kami sediakan melalui media cetak serta
media elektronik dan itulah bentuk
fasilitasi kami”(6/6/2013)
Berdasarkan
hasil
wawancara
diatas, aparatur Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat telah melakukan upaya agar
masyarakat dapat ikut serta dalam
pelayanan website yang telah disediakan,
hal itu bertujuan agar dapat terlaksana
segala program yang telah direncanakan
dan dapat berjalan dengan bagaimana
mestinya, para aparatur Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat, meninjau langsung ke
para pelaku ternak agar segala apa yang
dibutuhkan oleh masyarakat ternak dapat
terpenuhi, serta aparatur Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat menghimbau secara
langsung kepada pelaku ternak agar turut
berpatisipasi dalam program yang telah di
sediakan, melalui beberapa media yang
telah tersedia.
Hal
itu
dibuktikan
melalui
wawancara peneliti dengan pengguna
website Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat mengenai cara yang dilakukan oleh
aparatur Dinas Peternakan Provinisi Jawa
Barat mengatakan, bahwa :
“pelaku ternak mengetahui website ini
melalui pameran, dan di sarankan untuk
mengakses website Dinas Peternakan
Provinsi
Jawa
Barat
untuk
mempermudah
tranksaksi
tentang
peternakan dan kebutuhan infomasi
tentang
peternakan
serta
kami
mendapatkan bantuan sosial yang
cukup untuk mengembangkan usaha
kami”(8/6/2013)
Dari hasil wawancara diatas,
masyarakat sangat merasakan upaya yang
dilkukan aparatur Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat agar masyarakat pelaku ternak
bisa mendapatkan hasil yang lebih baik,
masyarakat mendapatkan bantuan sosial
yang digunakan untuk pemengembangkan
usaha, pengembangan usaha sangat
dibutuhkan oleh masyarakat pelaku ternak
agar hasil ternak yang mereka hasilkan
dapat memenuhi permintaan dari para
konsumen, kemudian aparatur Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat sangat
terbuka dalam pemberian informasi kepada
masyarakat ternak dan turun secara
langsung untuk meninjau kegiatan-kegitan
yang dilakukan para pelaku ternak. Hal ini
dilakukan agar apa yang telah menjadi
target pencapaian dapat terpenuhi, hal itulah
yang dilakukan oleh aparatur Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat agar segala
sesuatu dapat dilakuka dengan mudah dan
efektif.
Metode yang digunakan oleh
aparatur Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat untuk mendorong keikutsertaan
masayarakat
ternak
dalam
website
www.disnakjabar.prov.co.id dinilai sudah
cukup baik, dilihat dari upaya yang
dikakukan oleh aparatur Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat dalam mendorong
keikutsertaan masayarakat ternak, seperti
adanya kunjungan langsung kepada para
pelaku ternak serta Dinas Peternakan
Memberikan bantuan sosial kepada para
pelaku ternak, hal itu memang sangat
dibutuhkan oleh masayarakat pelaku ternak,
dikarenakan kunjungan serta bantuan sosial
dapat menjadi solusi dalam permasalahan
seputar peternakan. Dan diharapkan segala
apa yang telah dilakukan oleh Dinas
peternakan Provinsi Jawa Barat dalam
mendorong keikutsertaan masayarakat agar
dapat ditingkatkan, untuk mewujudkan suatu
pelayanan yang lebih baik. Hanya saja
tingkat ketercapaian dari program website
yang dijalankan belum maksimal. Para
aparatur Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat diharpakan dapat terus meningkatkan
metode atau cara yang lebeih efektif agar
masyarakat memahami kegunaan website
serta dapat digunakan oleh semua
kalangan.
191
“didalam website ada suatu forum yang
menjadi sarana bagi pemasaran produk
ternak, karena bagi pelaku ternak
masalah yang sering terjadi adalah
pemasaran, dengan adanya sarana
website yang didalamnya ada forum
yang disediakan oleh Dinas Peternakan
Provinsi untuk bertranksaksi itu sangat
membantu dalam hal pemasaran, tapi
kami
mengalami
kesulitan,
dan
mengalami beberapa gangguan link
error dalam mengakses website dan
kurang nya pengetahuan mengenai
website atau media website”(4/6/2013)
Dari hasil wawancara diatas
mengatakan mereka sangat terbantu
mengenai pemasaran melalui salah satu
forum yang disediakan, dan telah menjadi
sarana bagi masyarakat pelaku ternak
dalam pemasaran hasil ternak mereka,
tetapi yang menjadi masalah bagi para
pelaku
ternak
adalaha,
kurangnya
pengetahuan
mereka
terhadap
perkembangan teknologi yang ada pada
saat ini, serta dalam mengakses tidak sedikit
yang mengalami masalah gangguan link
error.
Hal ini menjadi tugas besar bagi
aparatur Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat dalam memberikan pelayanan serta
bimbingan yang extra bagi masyarakat
pelaku ternak, hal ini bertujuan agar
meningkatkan kualitas pelayanan yang
diberikan oleh aparatur Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat. Serta pelayanan yang
diberikan oleh Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat dapat dirasakan secara merata
oleh setiap golongan para pelaku ternak.
Instruman yang digukan oleh Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat dalam
memberikan pelayanan melaui website
www.disnakjabar.prov.go.id dinilai sudah
cukup baik, dilihat dari kesediaan wadah
bagi
masayarakat
ternak
untuk
berpartisipasi
dalam
penyelenggaraan
website. Website Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat menjadi suatu kebutuhan yang
intim bagi para pelaku ternak, dikarenakan
para pelaku ternak mendapatkan suata
pelayanan yang dapat dinikmakti serta di
rasakan langsung oleh para pelakut ternak
melalui konten yang ada di dalam website
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat,
salah satu konten tersebut, menjadi sarana
pamasaran serta tempat berbagi solusi
mengenai masalah peternakan, serta
informasi produk ternak yang mereka
pasarkan dapat menjadi lebih luas, melalui
Instruman merupakan alat serta
wadah bagi masyarakat ternak dalam
pemasaran dan tempat dimana keluhan
para pelaku ternak dapat tersampaikan,
dengan adanya instruman atau alat yang
diberikan kepada masyarakat pelaku ternak
dapat
mengembangkan
usaha
dan
pemasaran mereka melaui website Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat, Dinas
Peternakan tidak hanya memberikan wadah
secara langsung kepada masyarakat, dalam
hal ini para aparatur Dinas peternakan
Provinsi Jawa Barat selalu memberikan
pelatihan kepada para pelaku ternak sesuai
dengan bidangnya masing-masing.
Berdasarkan
hasil
wawancara
peneliti dengan Kepala Kasi Data dan
Informasi mengenai instruman atau wadah
bagi masyarakat ternak mengatakan,
bahwa:
“kami meyediakan beberapa konten
aplikasi , itu berjutuan untuk
memberikan sarana bagi masyarakat
peternakan, dan konten atau sarana
yang
kami
berikan
kepada
masyarakat dapat digunakan sebagai
suatu forum atau media bagi
masyarakat ternak agar usaha
mereka dapat berjalan dengan
baik”(6/6/2013)
Berdasarkan
hasil
wawancara
diatas, Dinas Peternakan provinsi Jawa
Barat memang telah mediakan sarana serta
wadah bagi pelaku ternak agar dapat
menggunakan bentuk pelayanan melalui
website yang telah disediakan oleh Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat, didalam
website tersebut, terdapat beberapa konten
yang dapat diakses dan di jadikan sebagai
suatu forum serta media bagi pemasaran
hasil ternak dari para pelaku ternak, tujuan
dalam pembuatan konten tersebut, agar
para pelaku ternak dapat terwadahi dengan
baik serta ter arah.
Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat
selalu
berupaya
memberikan
pelayanan yang baik bagi masyarakat,
dikarenakan itu menjadi salah satu tugas
dari aparatur Dinas Peternakan, dari
sebagian besar masyarakat pelaku ternak
banyak
mengalami
kesulitan
dalam
mengakses website tersebut.
Hal
itu
dibuktikan
melaui
wawancara peneliti dengan salah satu
pelaku
ternak
yang
manggunakan
pelayanan website Dinas peternakan
provinsi Jawa Barat mengatakan, bahwa:
192
“bagi saya sama saja, selama
menanyakan seputar permasalahan
ternak
dan
menggunakan
jasa
pelayanan ini dengan baik, dan saya
selalu mendapatkan perlakuan yang
baik dari aparatur nya, website ini
sangat bagus untuk masyarakat luas
serta berguna bagi kepentingan
pemasaran dan juga untuk berbagai
macam kendala seputar peternakan,
dam saya sangat mengaharapkan,
Dinas Peternakan provinsi Jawa Barat
dapat memberikan pelayanan yang
lebih baik lagi”(8/6/2013)
Dari hasil wawancara diatas,
aparatur Dinas peternakan provinsi Jawa
Barat sudah menberikan pelayanan dengan
baik, hal itu ditunjukan bahwa, tidak ada
perbedaan perlakuan yang diberiakan,
selama hal yang diajukan masih sesuai
dengan permasalahan peternakan, para
pelaku
ternak
selalu
mendapatkan
perlakuan serta tanggapan yang baik dari
aparatur Dinas Peternakan provinsi Jawa
Barat. Masyarakat berpendapat bentuk
pelayanan website yang disediakan sangat
berguna bagi masyarakat luas, serta
berguna bagi kepentingan pemasaran, serta
masyarakat menginginkan agar pelayanan
yang diberikan dapat lebih baik lagi guna
meningkatkan pelayanan online yang
berguna bagi masyarakat luas.
Ketegasan
aparatur
Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat dalam
memberikan pelayanan dinilai baik, hal ini
dilihat dari berbagai tanggapan yang
diberikan oleh para pelaku ternak selalu
ditanggapi dengan cepat dan dapat
dimengerti, serta tidak adanya perbedaan
perlakuan yang ditunjukan, aparatur Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat mempunyai
kewajiban dalam memberikan pelayanan
bagi masyarakat khususnya para pelaku
ternak, dan dalam hal ini, agar aparatur
Dinas Peternakan provinsi Jawa Barat dapat
meningkatkan
pelayanan
kepada
masyarakat pelaku ternak agar terwujudnya
suatu pelayanan yang lebih baik dan
dirasakan manfaat bagi masyarakat, dan
dapat memenuhi sesuatu keterbutuhan bagi
para pelaku ternak.
forum kontak bisnis yang telah disediakan,
hal itu diharapkan dapat berlangsung
dengan baik guna pelayanan yang lebih
baik.
Ketegasan
menjadi
suatu
keharusan serta kewajiban bagi aparatur
Dinas peternakan Provinsi Jawa Barat
dalam memberikan pelayanan, hal ini
bertujuan agar tidak adanya perbedaan
perlakuan terhadap penerima pelayanan,
dengan tidak adanya perbedaan perlakuan
yang diberikan, maka masyarakat pelaku
ternak tidak akan merasakan kesenjangan
perlakuan antara satu dengan lainya, hal itu
dapat terlihat dengan keterbukaan informasi
yang ada di dalam salah satu fitur website
yang disediakan oleh Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat, setiap pertanyaan
serta keluhan yang disampaikan dapat
dilihat jelas oelh masyarakat ternak, dan
website tersebut bersifat terbukan bagi
masyarakat serta pelaku ternak khususnya.
Hal itu sesuai dengan hasil
wawancara dengan aparatur pelaksana
pengelola website Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat mengenai bagaimana
aparatur Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat dalam memberikan pelayanan melalui
website
www.disnakjabar.prov.go.id
mengatakan, bahwa:
“bagi kami tidak ada perlakuan khusus
terhadap siapa yang memasukan
produk atau mengiklankan hasil
ternak mereka, maupun pelaku ternak
kecil atau besar kami tidak pernah
mambedakan, dan kami berkewajiban
memberikan
pelayanan
bagi
masyarakat ternak”(3/6/2013)
Berdasarkan
hasil
wawancara
diatas aparatur Dinas Peternakan Provinsi
tidak melakukan perbedaan perlakuan
dalam memberi
pelayanan kepada
masyarakat
ternak.
Aparatur
Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat tidak
memandang status seperti pedagang kecil
atau besar, semua mendapatkan pelayanan
yang sama. Hal itu dilakuakan karna
perlakuan yang sama merupakan suatau
kewajiban yang harus dilakukan sesuai
dengan prinsip pelayanan yang baik.
Sejalan dengan pernyataan diatas,
peneliti mewawancarai salah satu pelaku
ternak mengenai sikap yang diberikan
aparatur Dinas Peternakan Provinsi Jawa
Barat dalam memberikan pelayanan melalui
website
www.disnakjabar.prov.go.id
mengatakan, bahwa:
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam peneitian ini
sebagai berikut :
1) Transparansi pelayanan website Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat dinilai
193
sudah cukup baik hal itu dilihat dari
keterbukaan data yang diberikan
kepada masyarakat sudah memenuhi
kebutuhan
masayarakat
ternak,
kemudahan dalam mengakses website,
dan ketersediaan informasi yang
memadai bagi keperluan peternakan.
2) Akuntabilitas penyelenggaran website
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
sudah dinilai cukup baik, dikarenakan
telah terlaksana dengan cukup baik dan
cukup optimal karena adanya bukti
nyata sebagai penunjang kualitas
pelayanan itu sendiri yang telah
memenuhi standar pelayanan yang
berlaku di Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat.
3) Partisipatif penyelenggaraan website
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
sudah cukup baik, hal itu dilihat dari
metode yang digunakan oleh aparatur
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat
sudah
mampu
mendorong
keikutsertaan
masyarakat
dalam
penyelenggaraan pelayanan website,
serta alat yang disediakan kepada
masyarakat dapat digunakan dengan
baik dan berdampak langsung terhadap
masyarakat pelaku ternak.
4) Kesamaan hak pelayanan website yang
diberikan
oleh
aparatur
Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat dapat
dinilai sudah cukup baik hal itu dilihat
dari, tidak adanya perbedaan perlakuan
yang diberikan terhadap masyarakat
pengakses website Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat dan keteguhan
prinsip pelayanan yang dipegang oleh
aparatur Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat untuk selalu berupaya
memberikan solusi terhadap berbagai
macam masalah yang dihadapai oleh
masyarakat ternak melalui salah satu
forum konsultasi.
2)
Bagi
masyarakat
sebaiknya
memanfaatkan
sarana
teknologi
informasi yang telah disediakan melalui
media website, sehingga masyarakat
dapat mengetahui berbagai informasi
dan menjalin kerjasama melaui forum
yang telah di sediakan.
3) Aparatur Dinas Peternakan Provinsi
Jawa
Barat
diharapkan
dapat
meningkatkan kembali tanggung jawab
didalam melaksanakan tugas dan
tanggung
jawabnya
dengan
melaksanakan
peraturan-peraturan
yang diterapkan di Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat sesuai dengan
tugas dan fungsi nya, guna mewujudkan
kualitas pelayanan publik yang optimal
kepada masyarakat Provinsi Jawa
Barat.
4) Diharapkan Aparatur Dinas Peternakan
Provinsi Jawa Barat Dapat merawat
atau melakukan pengecekan rutin
terhadap website agar tidak terjadi
system error Hal ini untuk menjaga
kualitas pelayan publik yang berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
Andrianto, Nico. 2007. Transparansi dan
Akuntabilitas Publik Melalui
EGovernment.Malang :Bayumedia
Goetsch,
L.
Davis
2000.
Quality
Management
for
Production,
Processing,
and
Services.
Columbus: Prentice Hall
Handayaningrat
Suwarno,
1982.
Administrasi Pemerintahan Dalam
Pembangunan
Nasional.Jakarta:
Eka Parayangan
Indrajit, Richardus Eko 2006. Electronic
Govermant, Strategi Pembangunan
dan
Pengembangan
Seitem
Pelayanan Publik Berbasis Teknologi
Digital. Yogyakarta: Andi
Lukman, Sampara. 1999. Manajeman
Kualitas Pelayanan. Jakarta: STIA
LAN PRESS
Mahsun, Moehamad. 2006. Pengukuran
Kinerja Sektor Publik. Jakarta:
BPFE
Moenir,
H.A.S.
2006.
Manajemen
Pelayanan Umum di Indonesia.
Jakarta: Bumi Aksara.
Pamudji, 1994.Profesionalisme Aparatur
Negara
dalam
Meningkatkan
Pelayanan dan Perilaku Politik
Publik. Jakarta: Widya Praja
Ratminto 2006. Manajemen Pelayanan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rekomendasi
Berdasarkan pada kesimpulan di atas,
berikut ini penulis memberikan rekomendasi
sebagai berikut:
1) Bagi aparatur Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Barat sebaiknya meningkatkan
sosialisasi secara langsung kepada
masyarakat
berupa
kunjungan
langsung kepada pelaku ternak, serta
memberikan
pelatihan
khusus
mengenai
website
www.disnak.jabarprov.go.id
194
Setyawan, Dharma. 2004. Manajemen
Pemerintahan Indonesia. Jakarta:
Penerbit Djambatan.
Sinambela, Lijan Poltak 2010. Reformasi
Pelayanan Publik Teori Kebijakan,
Implementrasi.
Jakarta:
Bumi
Aksara
2006.
Reformasi
Pelayanan
Publik:Teori,
Kebijakan,
dan
Implementasi. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
Supranto,
1997.Pengukuran
Tingkat
Kepuasan untuk Menaikkan Pangsa
Pasar. Jakarta: Rineka Cipta.
Supriatna, Tjahya. 1996. Aspek Sikap
Mental dalam Manajemen Sumber
Daya Manusia. Jakarta: Nimas
Multima.
Tjiptono, Fandi. 2004. Pemasaran Jasa,
Malang: Bayumedia.
Triguno. 1997. Budaya Kerja Menciptakan
Lingkungan Yang Kondusif Untuk
Meningkatkan
Produktifitas
Kerja.Jakarta: Puskap
Wasistiono, dkk 2001. Manajemen Sumber
Daya
Aparatur
Pemerintah
Daerah.Jatinangor:Pusat
Kajian
Pemerintahan STPDN.
Yudoyono, Bambang. 2011. Otonomi
Daerah. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
RujukanElektronik
http://www.disnak.jabarprov.go.id diakses
Januari 2013 19.20 WIB
Priyanto
Susiloadi.
PPT. Asas dan
Prinsip Pelayanan Publik. Melalui:
http://priyantosusiloadi.staff.fisip.un
s.ac.id/ Januari 2013 20.20 WIB
B. Dokumen – dokumen
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009
tentang Pelayanan Publik.
195
TATA CARA PENULISAN DAN PENGIRIMAN ARTIKEL
1. Artikel merupakan hasil penelitian dan/ pemikiran kritis analisis tentang
fenomena yang berkaitan dengan reformasi pemerintahan dan belum pernah di
publikasikan pada media manapun.
2. Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia sebanyak 17 sampai 20 halaman di kertas
ukuran A4 yang dibuat 2 kolom dengan margin atas: 3cm; bawah: 3cm; kiri: 4cm;
kanan: 3 cm. Jenis huruf Arial ukuran 10 dengan ukuran spasi 1, termasuk untuk
abstrak dibuat dalam satu spasi.
3. Sistematika penulisan naskah disusun dengan urutan sebagai berikut :
A. Untuk hasil penelitian : (a) Judul, (b) Nama penulis, ditulis lengkap tanpa
gelar, dan alamat email, (c) Abstrak, (d) Kata-kata kunci, (e) Pendahuluan,
yang berisi latar belakang penelitian, rumusan masalah penelitian, maksud
dan tujuan penelitian, kegunaan penelitian, (g) Kajian Pustaka, (h) Objek dan
Metode penelitian, (i) Hasil Penelitian dan Pembahasan, (j) Kesimpulan dan
Rekomendasi, (k) Daftar Rujukan.
B. Untuk hasil pemikiran kritis analisis : a) Judul, (b) Nama penulis, ditulis
lengkap tanpa gelar, dan alamat email, (c) Abstrak, (d) Kata-kata kunci, (e)
Pendahuluan, (f) Pembahasan, (g) Penutup, (h) Daftar Rujukan.
4. Tabel dan gambar (bila ada) diberi judul dan keterangan yang jelas.
5. Penulisan daftar rujukan sesuai dengan aturan baku.
6. Penyunting berhak menetapkan tulisan yang akan dimuat, mengadakan
perubahan susunan redaksi, dan teknis lainnya.
Artikel dapat dikirim melalui email ke www.ip.unikom.ac.id
196
Download