akibat hukum pendaftaran jaminan fidusia dalam sistem

advertisement
TESIS
AKIBAT HUKUM PENDAFTARAN
JAMINAN FIDUSIA DALAM SISTEM ONLINE
IDA AYU MADE WIDYARI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
TESIS
AKIBAT HUKUM PENDAFTARAN
JAMINAN FIDUSIA DALAM SISTEM ONLINE
IDA AYU MADE WIDYARI
NIM 1292462005
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI KENOTARIATAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
i
AKIBAT HUKUM PENDAFTARAN
JAMINAN FIDUSIA DALAM SISTEM ONLINE
Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister
pada Program Magister, Program Studi Kenotariatan, Program Pascasarjana
Universitas Udayana
IDA AYU MADE WIDYARI
NIM 1292462005
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI KENOTARIATAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
ii
Lembar Pengesahan
TESIS INI TELAH DISETUJUI
PADA TANGGAL : 17 APRIL 2015
KOMISI PEMBIMBING
PEMBIMBING I
PEMBIMBING II
Prof. Dr. I Nyoman Sirtha, SH., MS
NIP. 19440929 197302 1 001
Dr. I Made Sarjana, SH., MH
NIP. 19611231 198601 1 001
MENGETAHUI :
Ketua Program Magister Kenotariatan
Program Pascasarjana Universitas Udayana
Dr. Desak Putu Dewi Kasih, SH., M.Hum
NIP. 19640402 198911 2 001
Direktur Program Pascasarjana
Universitas Udayana
Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp. S(K)
NIP. 19590215 198510 2 001
iii
Tesis Ini Telah Diuji pada
Tanggal 15 April 2015
Panitia Penguji Tesis Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Udayana
Nomor :185/IV/M.Kn/UN14.4/DT/2015
Tanggal :10 April 2015
Ketua
:
Prof. Dr. I Nyoman Sirtha, SH., MS
Anggota
:
1. Dr. I Made Sarjana, SH., MH
2. Prof. Dr. I Made Arya Utama, SH., M.Hum
3. Dr. Wayan Wiryawan, SH., MH
4. Dr. Desak Putu Dewi Kasih, SH., M.Hum
iv
PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Saya yang bertandatangan di bawah ini :
Nama
: IDA AYU MADE WIDYARI
NIM
: 1292462005
Program Studi
: Kenotariatan
Judul Tesis
: Akibat Hukum Pendaftaran Jaminan Fidusia Dalam
Sistem Online
Dengan ini menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya ilmiah tesis ini bebas
dari plagiat. Apabila dikemudian hari karya ilmiah tesis ini terbukti plagiat, maka
saya bersedia menerima sanksi sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 dan Peraturan Perundang-undangan
yang berlaku.
Denpasar, 16 Februari 2015
Yang Membuat Pernyataan
(Ida Ayu Made Widyari)
v
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Adapun
judul tesis ini adalah “AKIBAT HUKUM PENDAFTARAN JAMINAN
FIDUSIA DALAM SISTEM ONLINE”. Dalam penulisan tesis ini, penulis
menyadari masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu besar harapan penulis
semoga tesis ini memenuhi kriteria sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar
Magister Kenotariatan pada Program Studi Kenotariatan Program Pascasarjana
Universitas Udayana.
Penulisan tesis ini tidak akan terwujud tanpa bantuan serta dukungan dari
para pembimbing dan berbagai pihak. Untuk itu melalui tulisan ini, penulis ingin
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. I Nyoman
Sirtha, SH.,MS pembimbing pertama dan Dr. I Made Sarjana, SH.,MH
pembimbing kedua penulis yang telah sabar memberikan dukungan, bimbingan
dan juga saran kepada penulis dalam proses penyelesaian tesis ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. dr. Ketut Suastika,
Sp.PD-KEMD, Rektor Universitas Udayana atas kesempatan yang diberikan
untuk mengikuti dan menyelesaikan studi pada Program Pascasarjana Universitas
Udayana, kepada Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana Prof. Dr.
A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K) atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk
menjadi mahasiswa Program Magister pada Program Pascasarjana Universitas
Udayana, kepada Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana Prof. Dr. I Gusti
Ngurah Wairocana, SH.,MH atas izin yang diberikan kepada penulis untuk
vi
mengikuti Program Magister. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Universitas
Udayana Dr. Desak Putu Dewi Kasih, SH.,M.Hum atas kesempatan dan dukungan
yang telah diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan
pendidikan pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana.
Terima kasih juga penulis tujukan kepada Bapak/Ibu Dosen Pengajar pada
Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana
yang telah
memberikan tambahan ilmu kepada penulis, kepada Bapak/Ibu staff administrasi
Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana yang turut membantu
saya dalam proses administrasi tesis ini.
Terima kasih penulis ucapkan kepada keluarga tercinta, Bapak Ida Bagus
Ketut Bayuna, Ibu Made Puspawati, Ida Ayu Putu Wedayani dan Ida Bagus Ketut
Agastya atas segala doa, dukungan dan dorongan semangat dalam penulisan tesis
ini, serta kepada yang terkasih Ida Bagus Eka Wisadha Yoga atas doa, dukungan
dan semangat selama ini.
Terima kasih kepada teman-teman tercinta Sisilia Prabandari, Oka
Cahyaning Mustika Sari, Adi Sumiarta, Pelo Periyawan, Prapta Jaya, Yoga
Bharata, Etha Prianjaya, Ajung, Desak Diah, Wahyu Resta, Wily Pramana, Gung
Mita serta teman-teman seperjuangan Angkatan V Mandiri Magister Kenotariatan
Universitas Udayana yang telah membantu memberikan semangat dan dorongan
dalam penulisan tesis ini. Serta semua pihak yang namanya tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu yang telah mendukung dalam proses pembuatan tesis ini.
vii
Akhirnya segala doa, cita serta harapan semoga Tuhan Yang Maha Esa
memberikan batasan yang lebih dari apa yang telah mereka persembahkan kepada
pribadi penulis selama ini. Semoga tesis ini tidak hanya dapat memberikan
sumbangan pikiran bagi ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu kenotariatan
pada khususnya, tetapi juga bermanfaat bagi yang membutuhkannya.
Denpasar, 16 Februari 2015
Penulis
viii
ABSTRAK
AKIBAT HUKUM PENDAFTARAN
JAMINAN FIDUSIA DALAM SISTEM ONLINE
Lembaga jaminan fidusia diatur melalui peraturan perundang-undangan
yaitu Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999. Pada undang-undang ini mengatur
tentang kewajiban pendaftaran jaminan fidusia, agar memberikan kepastian
hukum kepada para pihak yang berkepentingan. Pada tahun 2013, pemerintah
mengeluarkan peraturan dengan Sistem Administrasi Pendaftaran Jaminan Fidusia
secara Elektronik, dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
yang memerlukan jasa hukum di bidang jaminan fidusia. UU Jaminan Fidusia
adalah hukum positif yang berlaku bagi jaminan fidusia, namun terdapat beberapa
hal yang tidak diatur dengan tegas dalam undang-undang tersebut dan peraturan
pelaksanaannya yaitu pengaturan tata cara pendaftaran jaminan fidusia terhadap
permohonan pendaftaran jaminan fidusia yang lewat waktu dari 60 hari setelah
Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013 ditetapkan dan akibat hukum jaminan
fidusia yang tidak didafarkan dalam sistem online.
Jenis penelitian yang digunakan untuk penulisan tesis ini adalah
menggunakan penelitian hukum normatif, yang menjelaskan adanya kekaburan
norma dalam Pasal 8 Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013 tentang tata cara
pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik. Penelitian ini menggunakan
sumber bahan hukum yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tertier.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pendaftaran jaminan fidusia yang
lewat waktu dari 60 hari menjadi gugur, karena persyaratan essesinya tidak
terpenuhi yaitu pembayaran PNBP, sehingga harus mendaftar kembali dengan
menggunakan sistem pendaftaran jaminan fidusia online. Akibat hukum dari
perjanjian jaminan fidusia yang tidak didaftarkan dalam system online adalah
tidak mempunyai status yang didahulukan terhadap kreditur lainnya.
Kata Kunci : Jaminan Fidusia, Jaminan Yang Tidak Didaftarkan, Akibat Hukum
Pendaftaran, Sistem Online.
ix
ABSTRACT
LEGAL CONSEQUENCE OFTHE ONLINESYSTEM OF
FIDUCIARY SECURITY REGISTRATION
Fiduciary security institutions are regulated through legislation, Act
No.42of 1999. This law governs the obligation of the registration of fiduciary
security in order to provide legal certainty to the interested parties and this
fiduciary security registration gives the rights of preference to the fiduciary
recipient of other creditors. In 2013, the government issued a regulation to
Administration System of Fiduciary Security Registration electronically in order
to improve services to people who need legal services in the field of fiduciary
security. Laws of Fiduciary Security are positive law applicable to the fiduciary
security, but there are somethings that are not clearly regulated in the law, that is,
setting procedures for the registrati on of the application for registration
fiduciary passing time 60 days after the Regulation of the Minister of Justice and
Human Rights of the Republic of Indonesia Number 10 Year 2013 set and the
legal consequences that are not registered.
This study used normative legal research, which explains the existence
ofthe haziness of norms in the Law of FiduciarySecurity, i.e. the registration done
with the online system and the legal consequences of fiduciary security which are
not registered. This study used a source of legal materials consisting of primary,
secondary and tertiary legal materials.
The results showed that the registration fiduciary passing time from 60
days to fall, because the requirements are not met essesinya ie PNBP payments.
so have to register again using the online registration system fiduciary. Due to the
law of fiduciary agreements that are not listed in the online system is not having
that status prior to other creditors.
Keywords: Fiduciary Security, Non-registered Security, Legal Consequence of
Registration,Online System.
x
RINGKASAN
Tesis ini menganalisis mengenai akibat hukum pendaftaran jaminan
fidusia dengan system online. Bab I menguraikan tentang latar belakang masalah
yang disebabkan karena adanya kekaburan norma dalam Undang-Undang No 42
tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. UU Jaminan Fidusia mengatur tentang
kewajiban pendaftaran jaminan fidusia agar memberikan kepastian hukum kepada
para pihak yang berkepentingan dan pendaftaran jaminan fidusia ini memberikan
hak yang didahulukan (preference) kepada penerima fidusia terhadap kreditor
lain, namun terdapat beberapa hal yang tidak diatur dengan tegas dalam UU dan
peraturan pelaksananya tersebut yaitu pengaturan tata cara pendaftaran jaminan
fidusia terhadap permohonan pendaftaran jaminan fidusia yang lewat waktu dari
60 hari setelah Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013 ditetapkan dan akibat
hukum jaminan fidusia yang tidak didafarkan. Berdasarkan latar belakang
masalah tersebut maka pada sub ini diuraikan mengenai rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, landasan teoritis, metode penelitian yang akan
digunakan.
Bab II menguraikan tinjauan umum tentang akta jaminan fidusia. Tinjauan
umum tentang akta jaminan fidusia dijabarkan lagi menjadi 2 (dua) sub bab, yaitu
tinjauan umum tentang pengaturan jaminan fidusia dan tinjauan umum pengaturan
akta jaminan fidusia. Sub bab pertama menguraikan tentang pengertian jaminan,
pengertian jaminan fidusia, ruang lingkup, subjek dan objek jaminan fidusia dan
pengaturan jaminan fidusia. Pada sub bab kedua menguraikan tentang pengertian
akta dan pengaturan akta jaminan fidusia.
Bab III menguraikan pembahasan terhadap rumusan permasalahan
pertama yang diuraikan dalam empat (5) sub bab, sub bab pertama menguraikan
tentang perkembangan pengaturan pendaftaran akta jaminan fidusia dalam sistem
manual dan online, sub bab kedua menguraikan tentang hubungan hukum antara
kreditur dengan notaris pada pendaftaran jaminan fidusia online, sub bab ketiga
menguraikan tentang prosedur pendaftaran akta jaminan fidusia dalam sistem
manual dan online, sub bab keempat menguraikan tentang kedudukan dan status
pendaftaran akta jaminan fidusia dan sub bab kelima menguraikan tentang
pendaftaran akta jaminan fidusia yang lewat waktu dari saat berlakunya Peraturan
Menteri Nomor 10 Tahun 2013.
Bab IV menguraikan pembahasan terhadap rumusan permasalahan kedua
yang diuraikan dalam empat (3) sub bab, sub bab pertama menguraikan tentang
praktik pendaftaran jaminan fidusia dalam system online, sub bab kedua
menguraikan tentang kebutuhan pengaturan pendaftaran akta jaminan fidusia dan
sub bab ketiga menguraikan tentang akibat hukum jaminan fidusia yang tidak
didaftarkan.
Bab V sebagai bab penutup yang menguraikan mengenai simpulan dan
saran. Adapun simpulan dalam penelitian ini adalah jaminan fidusia yang lewat
waktu dari 60 (enam puluh) hari setelah Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013
ditetapkan menjadi gugur. Jaminan fidusia tersebut harus melakukan pendaftaran
kembali dengan menggunakan sistem pendaftaran jaminan fidusia yang baru yaitu
dengan sistem pendaftaran jaminan fidusia online. Gugurnya pendaftaran jaminan
xi
fidusia tersebut dikarenakan persyaratan yang paling essensi dari tata cara
pendaftaran jaminan fidusia tidak terpenuhi, yaitu tidak melakukan pembayaran
PNBP, sehingga pemohon harus mendaftarkan
kembali dengan sistem
pendaftaran jaminan fidusia online. Akibat hukum pendaftaran jaminan fidusia
yang tidak terdaftar dalam sistem online adalah tidak mempunyai status sebagai
kreditur yang didahulukan (preference) terhadap kreditur lainnya sehingga terjadi
perubahan status dari kreditur prefecence menjadi kreditur konkuren.
Saran yang diberikan terhadap kedua permasalahan yang dikaji dalam
penelitian ini adalah kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang
telah membuat peraturan tentang fidusia online maka dapat menambahkan
peraturan tentang pengecualian pendaftaran jaminan fidusia secara system online
pada tempat-tempat yang tidak dapat mengakses internet, sehingga mereka tetap
dapat melakukan pendaftaran jaminan fidusia dengan sistem konvensional atau
manual untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum dan kepada
penerima fidusia agar segera melakukan pendaftaran jaminan fidusia, untuk
mewujudkan kepastian hukum dan perlindungan hukum serta memenuhi asas
publisitas. Kemudian kepada notaris agar dapat memberikan informasi tentang
pentingnya pendaftaran jaminan fidusia bagi penerima fidusia karena pendaftaran
dengan fidusia online saat ini sudah lebih mudah, cepat, murah dan nyaman.
xii
DAFTAR ISI
SAMPUL DEPAN ………………………………………………………. ........ i
SAMPUL DALAM ……………………………………………………… ........ i
PRASYARAT GELAR ………………………………………………….......... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ………………………………….………….......... iii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ……………………………………. ........ iv
UCAPAN TERIMA KASIH …………………………………………….. ........ v
ABSTRAK ………………………………………………………………. ........ viii
ABSTRACT ……………………………………………………………..... ...... ix
RINGKASAN ………………………………………………………….… ....... x
DAFTAR ISI ……………………………………………………………... ....... xii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………..………. ....... 1
1.1 Latar Belakang ………………………………………………... .................. 1
1.2 Rumusan Masalah …………………………………………..… .................. 16
1.3 Tujuan Penelitian ……………………………………….…….. .................. 16
a. Tujuan Umum …………………………………….………. .................... 16
b. Tujuan Khusus ……………………………………..……… ................... 17
1.4 Manfaat Penelitian ……………………………………..……… ................. 17
a. Manfaat Teoritis ………………………………..…………. .................... 17
b. Manfaat Praktis …………………………………..……….. .................... 18
xiii
1.5 Landasan Teoritis…………………………………...…………. .................. 18
1.6 Metode Penelitian ………………………………….…………........ ........... 28
1.6.1 Jenis Penelitian ………………………………….....…… .................. 29
1.6.2 Jenis Pendekatan ………………………………..………. .................. 31
1.6.3 Sumber Bahan Hukum ……………………….………… ................... 32
1.6.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum …………..………. ................... 34
1.6.5 Teknik Analisis Bahan Hukum……….……..……….….................... 34
BAB II. TINJAUAN UMUM TENTANG AKTA JAMINAN FIDUSIA ..…... 37
2.1 Pengaturan Jaminan Fidusia …………………………..………............. 37
2.1.1 Pengertian Jaminan ……………………………..……… ............. 37
2.1.2 Pengertian Jaminan Fidusia ………………………….… ............. 44
2.1.3 Ruang Lingkup, Subjek dan Objek Jaminan Fidusia…................. 49
2.1.4 Pengaturan Jaminan Fidusia ……………………….…… ............ 54
2.2 Pengaturan Akta Jaminan Fidusia ……………………..………. ........... 61
2.2.1 Pengertian Akta ………………………………….……... ............. 61
2.2.2 Pengaturan Akta Jaminan Fidusia ……………..……….. ............. 72
BAB III. PENDAFTARAN JAMINAN FIDUSIA TERHADAP
PERMOHONAN PENDAFTARAN JAMINAN FIDUSIA
YANG LEWAT WAKTU ………………………………………… . 76
3.1 Perkembangan Pengaturan Pendaftaran Akta Jaminan Fidusia
Dalam Sistem Manual dan Online…………………..………... ............ 76
3.2 Hubungan Hukum Antara Kreditur Dengan Notaris Pada
Pendaftaran Jaminan Fidusia Online …………....…………..……… .... 82
xiv
3.3 Prosedur Pendaftaran Akta Jaminan Fidusia Dalam Sistem
Manual dan Online ……………………..…………………………… 86
3.4 Kedudukan dan Status Pendaftaran Akta Jaminan Fidusia ………….. 102
3.5 Pendaftaran Akta Jaminan Fidusia Yang Lewat Waktu Dari
Saat Berlakunya Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013 ……....… 106
BAB IV. AKIBAT HUKUM PENDAFTARAN JAMINAN FIDUSIA
YANG TIDAK TERDAFTAR DALAM SISTEM
ONLINE ………………………………………………………..… ... 121
4.1 Praktik Pendaftaran Jaminan Fidusia Dalam Sistem Online ………...... 121
4.2 Kebutuhan Pengaturan Pendaftaran Akta Jaminan Fidusia …..……... .. 125
4.3 Akibat Hukum Akta Jaminan Fidusia yang Tidak Didaftarkan ............. 128
BAB V. PENUTUP ........................................................................................ 138
5.1 Kesimpulan…………………………………………………...……....... 138
5.2 Saran …………………………………………………………………. .. 139
Daftar Pustaka …………………………………………………..……………. . 140
Lampiran
xv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hukum jaminan tergolong bidang hukum, yang popular disebut the
economic law (hukum ekonomi), wiertschafrecht atau droit economique yang
mempunyai fungsi menunjang kemajuan ekonomi dan kemajuan pembangunan
pada umumnya, sehingga bidang hukum demikian pengaturannya dalam undangundang perlu diprioritaskan. 1 Pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967
tentang Pokok-pokok Perbankan, tidak dikenal istilah agunan, yang ada adalah
istilah jaminan. Sementara itu dalam UU no 7 tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah dirubah dengan UU No. 10 Tahun 1998 (selanjutnya disebut
UU Perbankan), memberikan pengertian yang tidak sama dengan istilah jaminan
menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967.2
Arti jaminan menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 diberi
istilah agunan atau tanggungan sedangkan jaminan menurut UU Perbankan
diberikan arti yang lain yaitu keyakinan atas itikad dan kemampuan serta
kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan
pembiayaan dimaksud sesuai dengan diperjanjikan.3 Adapun istilah agunan
menurut ketentuan Pasal 1 angka 23 UU Perbankan diartikan sebagai berikut:
1
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, 1980, Hukum Jaminan Di Indonesia
(Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perseorangan), Liberty, Yogyakarta,
hal. 1
2
Rachmadi Usman, 2009, Hukum Jaminan Keperdatan, Sinar Grafika,
Jakarta, (selanjutnya disingkat Rachmadi Usman I), hal. 66.
3
Ibid
1
2
“Agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitur kepada bank
dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip
syariah”.
Hal ini menunjukkan bahwa, istilah agunan merupakan terjemahan dari
istilah collateral yang merupakan bagian dari istilah jaminan pemberian kredit
atau pembiayaan. Pengertian jaminan lebih luas dari pengertian agunan, dimana
pengertian agunan berkaitan dengan barang, sementara jaminan tidak hanya
berkaitan dengan barang, tetapi juga berkaitan dengan character, capacity, capital
dan condition of economy dari nasabah debitur yang bersangkutan. 4
Jaminan menurut hukum perdata dapat dibedakan menjadi dua yaitu
jaminan perorangan dan jaminan kebendaan.
1. Jaminan perorangan (personal guaranty), yaitu jaminan seseorang pihak
ketiga yang bertindak untuk menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban
si debitur. Jaminan ini dapat dilakukan tanpa sepengetahuan si debitur.
Menurt Subekti jaminan perorangan adalah selalu suatu perjanjian antara
seorang berpiutang (kreditur) dengan seorang ketiga, yang menjamin
dipenuhinya kewajiban si berhutang (debitur). Ia bahkan dapat diadakan
diluar (tanpa) pengetahuan si berhutang tersebut.5
2. Jaminan kebendaan (persoonlijke en zekelijke zekerheid), yaitu jaminan
yang dilakukan oleh kreditur dengan debiturnya, ataupun antara kreditur
4
Rachmadi Usman, 2001, Aspek-Aspek Hukum Perbankan Di Indonesia,
PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, (selanjutnya disingkat Rachmadi Usman
II), hal. 282.
5
Johannes Ibrahim, 2004, Cross Default & Cross Collateral Sebagai Upaya
Penyelesaian Kredit Bermasalah, Refika Aditama, Bandung, hal.79.
3
dengan seseorang pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajibankewajiban si debitur.6
Dalam praktek jaminan kebendaan diadakan suatu pemisahan bagian dari
kekayaan seseorang (pemberi jaminan) yaitu melepaskan sebagaian kekuasaan
atas sebagaian kekayaan tersebut dan semuanya itu diperuntukkan guna
memenuhi kewajiban debitur bila diperlukan. Kekayaan tersebut dapat berupa
kekayaan debitur itu sendiri, ataupun kekayaan pihak ketiga. Menurut Soebekti,
maka pemberiaan jaminan kebendaan kepada kreditur, memberikan suatu
keistimewaan baginya terhadap kreditur lainnya. 7
Ada beberapa jaminan kebendaan yang dikenal oleh hukum, pertama
adalah jaminan dalam bentuk gadai, yang diatur dalam Pasal 1150 sampai dengan
1160 KUHPerdata. Pasal 1150 KUHPerdata mendefinikan gadai sebagai suatu
hak yang diperoleh kreditor atas suatu kebendaan bergerak, yang diserahkan
kepadanya oleh seorang debitur atau oleh orang lain atas nama debitur dan yang
memberikan kekuasaan kepada kreditor untuk mengambil pelunasan dari barang
tersebut secara didahulukan dari para kreditor lainnya. Sesuai dengan pengertian
yang diberikan oleh KUHPerdata, gadai merupakan jaminan dalam bentuk benda
bergerak, yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara penyerahan kebendaan
bergerak yang digadaikan tersebut kedalam kekuasaan kreditor. Dalam gadai ada
kewajiban dari seorang debitur untuk menyerahkan barang bergerak yang
dimilikinya sebagai jaminan pelunasan utang serta memberikan hak kepada si
6
Muhamad Djumhana, 1996, Hukum Perbankan Di Indonesia, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung, hal. 248.
7
Ibid.
4
berpiutang (kreditor) untuk melakukan penjualan atau pelelangan atas barang
tersebut apabila debitur tidak mampu menebus kembali barang yang dimaksud
dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Dengan pernyataan lain kewajiban
debitur untuk menyerahkan harta bergerak miliknya sebagai agunan kepada kantor
pegadaian, disertai dengan pemberian hak kepada kantor pegadaian untuk
melakukan penjualan (lelang) dalam kondisi ditentukan. 8
Kedua adalah hipotek, yang diatur dalam Pasal 1162 sampai Pasal 1178
KUHPerdata. Pasal 1162 KUHPerdata mendefinikan hipotek sebagai suatu hak
kebendaan atas benda-benda tidak bergerak untuk mengambil penggantian
daripadanya bagi pelunasan suatu perikatan. Dalam Pasal 1162 disebutkan bendabenda yang dapat dibebani hipotek adalah barang tidak bergerak yang dibuat
dengan akta hipotek. Sejalan dengan berlakunya UU No. 4 Tahun 1996 tentang
Hak Tanggungan, maka pemberlakuan hipotek atas barang tidak bergerak tidak
berlaku lagi untuk kebendaan hak-hak atas tanah berikut benda-benda yang secara
hukum dianggap melekat atas bidang tanah yang diberikan hak-hak atas tanah
tersebut. Pasal 1163 ayat (1) KUHPerdata menetapkan bahwa hipotek tidak dapat
dibagai-bagi. Asas ini disebut tidak terbagi-bagi atau ondeelbaarheid dari hipotek,
artinya jika benda yang dibebani hipotek lebih dari satu maka hipotek tadi tetap
membebani masing-masing benda tersebut dalam keseluruhannya.
Ketiga adalah hak tanggungan sebagaimana yang diatur dalam UU Nomor
4 Tahun 1996 yang mengenai penjaminan terhadap hak-hak atas tanah tertentu
8
Abdul R. Saliman, Hermansyah dan Ahmad Jalis, 2006, Hukum Bisnis
Untuk Perusahaan (Teori & Contoh Kasus), Kencana Prenada Media Group,
Jakarta, hal. 38.
5
berikut kebendaan yang dianggap melekat dan diperuntukkan untuk dipergunakan
secara bersama-sama dengan bidang tanah yang diatasnya terdapat hak-hak atas
tanah yang dijaminkan dengan hak tanggungan. Hak tanggungan adalah hak
jaminan yang dibebankan atas hak tanah yang dimaksudkan sebagai pelunasan
utang tertentu, yang diberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor
tertentu (kreditor pemegang hak tanggungan) dibandingkan dengan kreditor
lainnya. Jadi hak tanggungan adalah hak yang dibebankan pada hak atas tanah
beserta benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah. Bendabenda lain yang dimaksud adalah bangunan, tanaman dan hasil karya yang
melekat secara tetap pada bangunan.
Keempat adalah jaminan fidusia, yang diatur dalam Undang-Undang
Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia (selanjutnya disebut UU Jaminan
Fidusia). Sebelum dikeluarkan UU Jaminan Fidusia eksistensi jaminan fidusia
sebagai pranata jaminan yang diakui berdasarkan yurisprudensi. UU Jaminan
Fidusia ini adalah untuk menampung kebutuhan masyarakat mengenai pengaturan
jaminan fidusia sebagai salah satu sarana untuk membantu kegiatan uasaha dan
untuk memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang berkepentingan, oleh
pemerintah disusun suatu peraturan mengenai fidusia dalam suatu undang-undang.
Jaminan fidusia telah digunakan di Indonesia sejak zaman penjajahan
Belanda sebagai suatu bentuk jaminan yang lahir dari yurisprudensi, yang semula
berasal dari zaman Romawi. Jaminan Fidusia, selain merupakan bentuk jaminan
juga merupakan lembaga titipan. Dalam hukum Romawi lembaga ini dikenal
dengan nama fiducia cum creditore contracta yang berarti janji kepercayaan yang
6
dibuat oleh kreditor. Isi janji yang dibuat oleh kreditor dengan debitur adalah
bahwa debitur akan mengalihkan kepemilikan atas suatu benda sebagai jaminan
utang dengan kesepakatan bahwa debitur tetap menguasai secara fisik benda
tersebut dan kreditur akan mengalihkan kembali kepemilikan tersebut kepada
debitur bilamana utangnya sudah dibayar lunas. Dengan demikian berbeda dari
pignus (gadai) yang mengharuskan penyerahan secara fisik benda yang
digadaikan. Dalam hal fiducia cum creditore pemberi fidusia tetap menguasai
benda yang menjadi objek fidusia, dengan tetap menguasai benda tersebut,
pemberi fidusia dapat menggunakan benda dimaksudkan dalam menjalankan
usahanya. 9 Keduanya timbul dari perjanjian yang disebut pacium fiduciae yang
kemudian diikuti dengan penyerahan hak atau in iure cession.10
Krisis dalam bidang hukum jaminan pada pertengahan sampai dengan
akhir abad 19, mengakibatkan pertentangan berbagai kepentingan, yang ditandai
dengan permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan pertanian yang
melanda negara Belanda bahkan seluruh negara di Eropa. Krisis tersebut
melahirkan lembaga jaminan fidusia yang keberadaannya didasarkan pada
yurisprudensi. Untuk mengatasi masalah itu lahirlah peraturan tentang ikatan
panen atau Oogstverband (Staatsblad 1886 Nomor 57). Peraturan ini mengatur
mengenai peminjaman uang, yang diberikan dengan jaminan panen yang akan
diperoleh dari suatu perkebunan. Dengan adanya peraturan ini maka
dimungkinkan untuk mengadakan jaminan atas barang-barang bergerak, atau
9
Rachmadi Usman I, Op.Cit, hal.150
Henny Tanuwidjaja, 2012, Pranata Hukum Jaminan Utang & Sejarah
Lembaga Hukum Notariat, Refika Aditama, Bandung, hal. 51.
10
7
setidak-tidaknya kemudian menjadi barang bergerak, sedangkan barang-barang itu
tetap berada dalam kekuasaan debitor.11
Di Belanda untuk pertama kali lembaga fidusia diakui melalui
Bierbrouwerry Arrest tanggal 29 Januari 1929, yang kemudian diikuti dengan
arrest lainnya, diantaranya Hakkers van Tilburg Arrest tanggal 21 Juni 1929,
Boerenleenbank-Los Arrest tanggal 3 Januari 1941, Sio Arrest tanggal 22 Mei
1953 dan van Gend en Loos Arrest tanggaal 7 Maret 1975.12 Lembaga fidusia
lahir di Indonesia berdasarkan Arrest Hoggerechtsof 18 Agustus 1932. Lahirnya
Arrest Hoggerechtsof karena pengaruh dari asas konkordansi yang dipengaruhi
oleh kebutuhan-kebutuhan yang mendesak dari pengusaha-pengusaha kecil,
pengecer, pedagang menegah, pedagang grosir yang memerlukan fasilitas kredit
untuk usahanya. Terutama setelah perang Dunia I dimana kebutuhan akan kredit
bagi pengusaha kecil sangat tinggi untuk keperluan menjalankan, menghidupkan
usahanya. Perkembangan perundang-undangan fidusia sangat lambat, karena
undang-undang yang mengatur tentang jaminan fidusia baru diundangkan pada
tanggal 30 September tahun 1999, berkenaan dengan bergulirnya era reformasi.
Lembaga jaminan fidusia diatur melalui peraturan perundang-undangan
yaitu Undang-Undang No. 42 Tahun 1999, dengan berlakunya UU Jaminan
Fidusia, pengikatan jaminan hutang yang dilakukan melalui jaminan fidusia wajib
mematuhi ketentuan undang-undangnya. Undang-undang ini dibentuk karena
terdapat beberapa pertimbangan yaitu pertama bahwa kebutuhan yang sangat
besar dan terus meningkat bagi dunia usaha atas tersedianya dana, dimana perlu
11
12
Ibid, hal. 154.
Ibid, hal. 156.
8
diimbangi dengan adanya ketentuan hukum yang jelas dan lengkap yang mengatur
lembaga jaminan, kedua jaminan fidusia sebagai salah satu bentuk lembaga
jaminan sampai saat ini masih didasarkan pada yurisprudensi dan belum diatur
dalam peraturan perundang-undangan secara lengkap dan komprehensif dan
ketiga untuk memenuhi kebutuhan hukum yang dapat lebih memacu
pembangunan nasional dan untuk menjamin kepastian hukum serta mampu
memberikan perlindungan hukum bagi pihak yang berkepentingan, maka perlu
dibentuk ketentuan yang lengkap mengenai jaminan fidusia dan jaminan tersebut
perlu didaftarkan pada kantor pendaftaran fidusia.
Berdasarkan ketiga
pertimbangan tersebut maka dipandang perlu untuk membentuk UU Jaminan
Fidusia.
Berlakunya UU Jaminan Fidusia, maka objek jaminan fidusia diberikan
pengertian yang luas. Berdasarkan undang-undang ini, objek jaminan fidusia
dibagi dua (2) macam, yaitu:13
1. Benda bergerak, baik yang berwujud maupun tidak berwujud; dan
2. Benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak dibebani hak
tanggungan.
Subjek dari jaminan fidusia adalah pemberi dan penerima fidusia. Pemberi fidusia
adalah orang perorangan atau korporasi pemilik benda yang menjadi objek
jaminan fidusia sedangkan penerima fidusia adalah orang perorangan atau
korporasi yang mempunyai piutang yang pembayarannya dijamin dengan jaminan
13
H. Salim. HS, 2014, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, PT.
RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal. 64.
9
fidusia. Pengertian tentang jaminan fidusia terdapat di Pasal 1 angka (2) UndangUndang Fidusia yang menyebutkan bahwa:
Jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda yang bergerak baik yang
berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya
bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang
tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia, sebagai agunan bagi
pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan diutamakan kepada
pemberi fidusia terhadap kreditor lainnya.
Suatu perubahan yang cukup mendasar dari perkembangan jaminan fidusia
adalah mengenai pendaftaran. Sebelum terbitnya UU Jaminan Fidusia, masalah
pendaftaran jaminan fidusia bukanlah menjadi suatu kewajiban, tetapi setelah
keluarnya UU Jaminan Fidusia masalah pendaftran jaminan fidusia semakin
krusial. Pendaftaran tersebut memiliki arti yuridis sebagai suatu rangkaian yang
tidak terpisah dari proses terjadinya perjanjian jaminan fidusia. Selain itu,
pendaftaran jaminan fidusia merupakan perwujudan dari asas publisitas dan
kepastian hukum. 14
UU Jaminan Fidusia mengatur tentang kewajiban pendaftaran jaminan
fidusia
agar
memberikan
kepastian
hukum
kepada
para
pihak
yang
berkepentingan dan pendaftaran jaminan fidusia ini memberikan hak yang
didahulukan (preference) kepada penerima fidusia terhadap kreditor lain.
Pendaftaran jaminan fidusia diatur pada Pasal 11 UU Jaminan Fidusia yaitu:
(1) Benda yang dibebani dengan jaminan fidusia wajib didaftarkan.
14
H. Tan Kamelo, 2006, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang
Didambakan, Pt. Alumni, Bandung, hal. 213.
10
(2) Dalam hal benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia berada di luar
wilayah negara Republik Indonesia, kewajiban sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tetap berlaku.
Sesuai dengan UU Jaminan Fidusia, proses pendaftaran Jaminan Fidusia
dimulai dengan pembuatan Akta Jaminan Fidusia oleh notaris, yang kemudian
dilakukan pendaftaran di kantor pendaftaran fidusia. Sesuai dengan ketentuan
dalam Pasal 13 ayat (1) UU Jaminan Fidusia, pendaftaran jaminan fidusia
dilakukan dengan mengajukan surat permohonan kepada kantor pendaftaran
fidusia dengan melampirkan surat pernyataan pendaftaran jaminan fidusia.
Permohonan pendaftaran jaminan fidusia tersebut diajukan oleh penerima fidusia
sendiri, kuasa atau wakilnya. Pasal 13 ayat (1) menentukan pula, bahwa
permohonan pendaftaran jaminan fidusia tidak harus dilakukan oleh penerima
fidusia, melainkan dapat dilakukan kuasa atau wakil dari penerima fidusia.
Akta jaminan fidusia merupakan akta autentik, sebenarnya cukup
dikatakan, bahwa pernyataan pendaftaran harus dilengkapi dengan salinan akta
autentik penjaminan fidusia. Hal ini berkaitan dengan masalah pendaftaran ikatan
jaminan fidusia bukan benda jaminan fidusia sehingga semua klausul yang
termuat dalam perjanjian penjaminan fidusia turut terdaftar, agar mempunyai daya
mengikat pihak ketiga.15 Akta pembebanan fidusia ini telah dibakukan oleh
pemerintah, dengan tujuan untuk melindungi nasabah yang ekonominya lemah.
a. Pasal 5
1. Pembebanan benda jaminan dengan Jaminan Fidusia dibuat dengan
akta notaris dalam bahasa Indonesia dan merupakan Akta Jaminan
Fidusia.
15
Rachmadi Usman I, Op.Cit, hal. 211.
11
2. Terhadap pembuatan Akta Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), dikenakan biaya yang besarnya diatur lebih lanjut
dengan peraturan pemerintah.
b. Pasal 6
Akta Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sekurang
kurangnya memuat:
1. Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia;
2. Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia;
3. Uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan fidusia;
4. Nilai penjaminan, dan
5. Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
Akta notaris adalah akta autentik dan mempunyai kekuatan pembuktian
yang paling sempurna, karenanya pembebanan benda jaminan fidusia dituangkan
dalam akta notaris yang merupakan akta jaminan fidusia. Pasal 1870 KUHPerdata
menyatakan bahwa, suatu akta autentik memberikan suatu bukti yang sempurna
tentang apa yang dimuat di dalamnya di antara para pihak beserta para ahli
warisnya ataupun orang-orang yang mendapatkan hak dari mereka selaku
penggantinya. Atas dasar itulah UU Jaminan Fidusia mengharuskan atau
mewajibkan pembebanan benda yang dijamin dengan jaminan fidusia dilakukan
dengan akta notaris.16
Pendaftaran jaminan fidusia secara manual melalui kantor jaminan fidusia
dirasakan proses pengurusan dan pengeluaran sertifikat jaminan fidusianya
membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang dikeluarkan juga cukup mahal,
dengan adanya sistem administrasi pendaftaran jaminan fidusia secara online
system menciptakan kemudahan dalam pendaftaran jaminan fidusia. Pendaftaran
jaminan fidusia secara sistem online semakin jelas setelah dikeluarkannya
Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 9
16
Ibid, hal. 189.
12
Tahun 2013 Tentang Pemberlakuan Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara
Elektronik
dan Peraturan Menteri Hukum dan Hak asasi Manusia Republik
Indonesia Nomor 10 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia
Secara Elektronik dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
yang memerlukan jasa hukum di bidang jaminan fidusia. Tujuan diberlakukannya
pendaftran jaminan fidusia secara elektronik yaitu untuk meningkatkan pelayanan
jasa hukum pendaftran jaminan fidusia dengan mudah, cepat, murah dan nyaman
maka permohonan pendaftaran jaminan fidusia dilakukan secara elektronik.
Pengertian pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik terdapat pada
Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 9
Tahun 2013 Tentang Pemberlakuan Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara
Elektronik bahwa pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik adalah
pendaftaran jaminan fidusia yang dilakukan oleh pemohon dengan mengisi
aplikasi secara elektronik, pemohon adalah pemerima fidusia, kuasa atau
wakilnya. Pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik dapat dilakukan melalui
kios pelayanan jaminan secara elektronik di seluruh pendaftaran fidusia.
Walaupun pendaftaran jaminan fidusia sangat penting dan saat ini dengan
berlakunya system online membuat pendaftaran jaminan fidusia semakin mudah
dan cepat, namun dalam perkreditan di lingkungan bank masih ada perjanjian
jaminan fidusia yang tidak didaftarkan. Demikian pula, terjadi pada perjanjian
jaminan fidusia di lingkungan lembaga pembiayaan bisnis. Hal ini karena masih
ada ketidakpastian mengenai pendaftaran jaminan fidusia. Sehingga masih banyak
pihak kreditur penerima fidusia yang tidak mendaftarkan akta jaminannya. Faktor
13
penyebabnya antara lain jangka waktu kreditnya hanya berlangsung selama tidak
lebih dari satu tahun, nilai pinjaman kecil, biaya pembuatan akta jaminan fidusia
yang mahal dan debiturnya sudah dikenal dengan baik oleh bank yang
bersangkutan.17 UU Jaminan Fidusia adalah hukum positif yang berlaku bagi
jaminan fidusia, namun terdapat beberapa hal yang tidak diatur dengan jelas
dalam undang-undang tersebut yaitu tentang pengaturan tata cara pendaftaran
jaminan fidusia terhadap permohonan pendaftaran jaminan fidusia yang lewat
waktu dari 60 (enam puluh) hari setelah Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013
ditetapkan dan akibat hukum jaminan fidusia yang tidak terdaftar dalam system
online.
Setelah didaftarkannya akta jaminan fidusia maka dikeluarkanlah sertifikat
jaminan fidusia. Sertifikat jaminan fidusia lahir pada tanggal yang sama dengan
tanggal dicatatnya jaminan fidusia dalam Buku daftar Fidusia. Dalam sertifikat
jaminan fidusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) dicantumkan katakata “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA
ESA”, yang bermaksud untuk memberikan kekuatan eksekusitorial, yang sama
dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Dengan adanya kekuatan eksekutorial ini, sertifikat jaminan fidusia tersebut
langsung dapat dilaksanakan tanpa melalui pengadilan dan bersifat final serta
mengikat para pihak untuk melaksanakan putusan tersebut.
Akibat hukum dari perjanjian jaminan fidusia yang tidak didaftarkan
adalah tidak melahirkan perjanjian kebendaan bagi jaminan fidusia tersebut,
17
H. Tan Kamelo, Op. Cit, hal. 213.
14
sehingga karakter kebendaan seperti droit de suite dan hak preferensinya tidak
melekat pada kreditur pemberi jaminan fidusia. Disinilah mengapa diperlukannya
pengaturan yang tegas terhadap pendaftaran jaminan fidusia yang dilakukan lewat
dari 60 hari setelah Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013 ditetapkandan akibat
hukum jaminan fidusia yang tidak terdaftar dalam system online. Akibat yang
ditimbulkan adalah terjadinya ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Hal
inilah yang menyebabkan kebingungan dalam masyarakat mengenai aturan apa
yang harus dipakai atau diterapkan. Dalam masyarakat menjadi tidak ada
kepastian aturan yang diterapkan untuk mengatur hal-hal atau keadaan yang
terjadi.
Setelah ditelusuri judul-judul tesis yang ada di Indonesia melalui
penelusuran dengan media internet ditemukan beberapa judul tesis yang
menyangkut jaminan fidusia. Adapun judul-judulnya adalah sebagai berikut:
a. Tesis yang berjudul “Tanggung Jawab Debitur Terhadap musnahnya Benda
Jaminan Fidusia Dalam Perjanjian Kredit Bank”oleh Ni Made Trisna Dewi,
Universitas Udayana, Tahun 2011. Penulisan ini dilakukan berdasarkan jenis
penulisan Hukum Normatif, dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaturan tanggung jawab debitur terhadap benda jaminan
fidusia yang musnah dalam suatu perjanjian kredit bank menurut
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia?
2. Bagaimana perlindungan hukum bagi para pihak dalam perjanjian kredit
bank terhadap masalah musnahnya benda jaminan fidusia?
15
b. Tesis Tesis yang berjudul “Kekuatan Mengikat Perjanjian Kredit Dengan
Akta Fidusia Yang Tidak Didaftarkan (Studi Kasus Pada Koperasi Di
Wilayah Kota Denpasar)”, oleh Putu Helena Evie Oktyavina Sridana,
Universitas Udayana, Tahun 2013. Penulisan ini dilakukan berdasarkan jenis
penulisan Yuridis Empiris, dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Mengapa perjanjian kredit dengan jaminan fidusia tidak didaftarkan oleh
koperasi?
2. Bagaimanakah kekuatan mengikat dari jaminan fidusia yang tidak
didaftarkan dalam perjanjian kredit koperasi?
3. Bagaimanakah eksekusi terhadap benda jaminan fidusia yang tidak
didaftarkan dalam perjanjian kredit koperasi?
c. Tesis yang berjudul “Akibat Hukum Pendaftaran Jaminan Fidusia Setelah
Debitur Wanprestasi” oleh Desak Putu Thiarina Mahaswari Agastia,
Universitas Udayana, Tahun 2014. Penulisan ini dilakukan berdasarkan jenis
penulisan Hukum Normatif, dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pengaturan pendaftaran Jaminan Fidusia dalam sistem
Hukum Indonesia?
2. Bagaimanakah akibat hukum terhadap Jaminan Fidusia yang didaftarkan
setelah debitur wanprestasi?
Penelitian tersebut di atas berbeda penulisannya dengan penelitian ini
dimana dalam penelitian ini menekankan padaakibat hukum pendaftaran jaminan
fidusia dalam sistem online mengenai pengaturan tata cara pendaftaran jaminan
fidusia terhadap permohonan pendaftaran jaminan fidusia yang lewat waktu dari
16
60 (enam puluh) hari setelah Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013 ditetapkan
dan akibat pendaftaran jaminan fidusia yang tidak didaftarkan dalam system
online, sehingga tesis ini adalah asli, ada unsur kebaruan dan dapat dipertanggung
jawabkan secara ilmiah. Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk
meneliti, membahas serta mengangkatnya menjadi sebuah karya tulis/tesis yang
berjudul “Akibat Hukum Pendaftaran Jaminan Fidusia Dalam Sistem Online”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan pokokpokok permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pengaturan tata cara pendaftaran jaminan fidusia terhadap
permohonan pendaftaran jaminan fidusia yang lewat waktu dari 60 (enam
puluh) hari setelah Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013 ditetapkan?
2. Bagaimanakah akibat hukum jaminan fidusia yang tidak terdaftar dalam
sistem online?
1.3 Tujuan Penelitian
a.
Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk pengembangan ilmu
hukum terkait dengan paradigma science as a process (ilmu sebagai proses),
dengan paradigma ini ilmu tidak akan pernah mandeg (final) dalam panggilannya
17
atas kebenaran di bidang obyeknya masing-masing.18 Dalam penelitian ini
bertujuan untuk melakukan penelitian lebih mendalam tentang akibat hukum
pendaftaran jaminan fidusia dalam sistem online.
b.
Tujuan Khusus
Selain untuk mencapai tujuan umum yang telah tersebut diatas, juga
terdapat tujuan khusus. Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai sesuai dengan
permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu:
1. Untuk mengetahui dan menjelaskanpengaturan tata cara pendaftaran jaminan
fidusia terhadap permohonan pendaftaran jaminan fidusia yang lewat waktu
dari 60 (enam puluh) hari setelah Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013
ditetapkan.
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan akibat hukum jaminan fidusia yang tidak
terdaftar dalam sistem online.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diharapkan dan dicapai dari hasil penelitian terhadap
pokok permasalahan adalah:
a.
Manfaat Teoritis
Penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberi manfaat positif
bagi perkembangan ilmu hukum. Manfaat positif yang diharapkan dikhususkan
18
Program Studi Magister Kenotariatan Universita Udayana, 2013, Buku
Pedoman Pendidikan, hal. 57.
18
pada bidang hukum jaminan fidusia terkait dengan akibat hukum pendaftaran
jaminan fidusia dalam sistem online.
b.
Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan
kontribusi antara lain bagi pemerintah, akademisi, notaris dan masyarakat umum.
Manfaat yang dapat diberikan yaitu terkait dengan akibat hukum pendaftaran
jaminan fidusia dalam sistem online.
1.5 Landasan Teoritis
Landasan teoritis adalah upaya untuk mengidentifikasi teori hukum
umum/teori khusus, konsep-konsep hukum, asas-asas hukum, aturan hukum,
norma-norma dan lain-lain yang akan dipakai sebagai landasan untuk membahas
permasalahan penelitian.19 Teori juga sangat diperlukan dalam penulisan karya
ilmiah dalam tatanan hukum positif konkrit.
Teori berasal dari kata teoritik, dapat didefenisikan adalah alur logika atau
penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang
disusun secara sistematis. Secara umum, teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk
menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction) dan pengedalian (control)
suatu gejala. Menurut Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, teori adalah suatu
penjelasan yang berupaya untuk menyederhanakan pemahaman mengenai suatu
fenomena atau teori juga merupakan simpulan dari rangkaian berbagai fenomena
19
Ibid, hal. 58.
19
menjadi sebuah penjelasan yang sifatnya umum.20 Pendapat lain oleh Jan Gijssels
dan Mark Van Koecke “Eendegelijk inzicht in deze rechtsteoretissche kwesties
wordt blijkens het voorwoord beschouwd alseen noodzakelijke basis voor elke
wetenschappelijke studie van een konkreet positief rechtsstelsel”21 (dalam teori
hukum diperlukan suatu pandangan yang merupakan pendahuluan dan dianggap
mutlak perlu ada sebagai dasar dari studi ilmu pengetahuan terhadap aturan
hukum positif).
Robert K. Yin, menyatakan bahwa Theory means the design of research
steps according to some relationship to the literature, policy issues or other
substance source22 (teori berarti desain langkah-langkah penelitian menurut
beberapa hubungan dengan literatur, isu-isu kebijakan atau sumber bahan
lainnya). Landasan teoritis yang dimaksudkan yang berhubungan dengan akibat
hukum pendaftaran akta jaminan fidusia dalam sistem online yaitu teori kepastian
hukum, teori perlindungan hukum dan asas publisitas.
a. Teori Kepastian Hukum
Adanya kepastian hukum merupakan harapan bagi pencari keadilan
terhadap tindakan sewenang-wenang dari aparat penegak hukum yang terkadang
selalu arogansi dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum. Karena
dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan tahu kejelasan akan hak dan
20
Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum
Normatif & Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 134.
21
Jan Gijssels en Mark Van Koecke, 1982, What Is Rechtsteorie?,
Antwepen, Nederland, hal. 57.
22
Robert K. Yin, 1993, Applications of Case Study Research, Sage
Publications International Educational and Profesional Publisher Newbury Park,
New Delhi, hal. 4.
20
kewajiban menurut hukum. Tanpa ada kepastian hukum maka orang akan tidak
tahu apa yang harus diperbuat, tidak mengetahui perbuatanya benar atau salah,
dilarang atau tidak dilarang oleh hukum. Kepastian hukum ini dapat diwujudkan
melalui penormaan yang baik dan jelas dalam suatu undang-undang dan akan jelas
pulah penerapanya, dengan kata lain kepastian hukum itu berarti tepat hukumnya,
subjeknya dan objeknya serta ancaman hukumanya. Akan tetapi kepastian hukum
mungkin sebaiknya tidak dianggap sebagai elemen yang mutlak ada setiap saat,
tapi sarana yang digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi dengan
memperhatikan asas manfaat dan efisiensi.
Dalam suatu undang-undang, kepastian hukum meliputi dua hal yakni
pertama kepastian perumusan norma dan prinsip hukum yang tidak bertentangan
satu dengan lainnya baik dari pasal-pasal undang-undang itu secara keseluruhan
maupun kaitannya dengan pasal-pasal lainnya yang berada di luar undang-undang
tersebut. Kedua kepastian dalam melaksanakan norma-norma dan prinsip hukum
undang-undang tersebut. Jika perumusan norma dan prinsip hukum itu sudah
memiliki kepastian hukum tetapi hanya berlaku secara yuridis saja dalam arti
hanya demi undang-undang semata-mata, berarti kepastian hukum itu tidak
pernah menyentuh kepada masyarakatnya. 23
Teori Kepastian Hukum dikembangkan oleh Rene Descrates, seorang
filsuf dari Prancis. Descartes berpendapat suatu kepastian hukum dapat diperoleh
dari metode sanksi yang diberlakukan kepada subjek hukum baik perorangan
maupun badan hukum yang lebih menekankan pada proses orientasi proses
23
H. Tan Kamelo, Op.Cit, hal. 117.
21
pelaksanaan bukan pada hasil pelaksanaan. Kepastian memberikan kejelasan
dalam melakukan perbuatan hukum saat pelaksanaankontrak dalam bentuk
prestasi bahkan saat kontrak tersebut wanprestasi. 24
Salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam penegakan hukum yaitu
kepastian hukum. Asas kepastian hukum mengandung arti, sikap atau keputusan
pejabat
administrasi
negara
yang
manapun
tidak
boleh
menimbulkan
ketidakadilan hukum.25 Dalam menegakkan hukum ada tiga unsur yang harus
diperhatikan, yaitu kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan. Ketiga unsur
tersebut harus mendapat perhatian secara proporsional seimbang. Tetapi dalam
praktek tidak selalu mudah mengusahakan secara proporsional seimbang antara
ketiga unsur tersebut. Tanpa kepastian hukum orang tidak tahu apa yang harus
diperbuatnya dan akhirnya timbul keresahan. Tetapi terlalu menitikberatkan pada
kepastian hukum, terlalu ketat mentaati peraturan hukum akibatnya kaku dan akan
menimbulkan rasa tidak adil.
Kepastian hukum secara normatif adalah suatu peraturan dibuat dan
diundangkan secara pasti digunakan untuk mengatur secara jelas dan logis suatu
hal. Jelas tidak menimbulkan keragu-raguan dan logis dalam artian bahwa ia
menjadi suatu sistem norma dengan norma lain sehingga tidak berbenturan atau
menimbulkan konflik norma, kekosongan norma ataupun adanya kekaburan
24
Mariotedja, 2013, “Teori Kepastian Dalam Perspektif Hukum”,
Marotedja.blogspot.com (diakses pada tanggal 25 Agustus 2014).
25
Prajudi Atmosudirdjo, 1983, Hukum Administrasi Negara, Ghalia
Indonesia, Jakarta, hal. 88.
22
norma. Menurut Gustaf Radbruch hukum memiliki tujuan yang berorientasi pada
tiga hal yaitu kepastian hukum, keadilan dan daya guna. 26
Kepastian kata dasarnya adalah pasti, yang memiliki arti suatu hal yang
sudah tentu, sudah tetap dan tidak boleh tidak. Gustaf Radbruch seperti yang
dikutip oleh Theo Huijber mengenai kepastian hukum mengemukakan bahwa:27
pengertian hukum dapat dibedakan menjadi tiga aspek yang ketiga-tiganya
diperlukan untuk sampai pada pengertian hukum yang memadai. Aspek
pertama adalah keadilan dalam arti yang sempit. Keadilan ini berarti
kesamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. Aspek yang kedua
adalah tujuan keadilan atau finalitas dan aspek yang ketiga adalah kepastian
hukum atau legalitas.
Menurut Peter Mahmud Marzuki berkaitan dengan pengertian kepastian
hukum dikemukakan sebagai berikut:
Pertama adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui
perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan dan kedua, berupa
keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena
dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa
saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu.
Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang,
melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan yang
satu dengan putusan hakim yang lain untuk kasus serupa yang telah diputus.28
Pendapat lainnya mengenai kepastian hukum diberikan oleh M. Yahya Harahap,
yang menyatakan bahwa kepastian hukum dibutuhkan di dalam masyarakat demi
terciptanya ketertiban dan keadilan. Ketidakpastian hukum akan menimbulkan
26
O. Notohamidjojo, 2011, Soal-Soal Pokok Filsafat Hukum, Griya Media,
hal. 33.
27
Theo Huijbers, 2007, Filsafat Hukum Dalam Lintas Sejarah, Kanisius,
Yogyakarta, hal. 163.
28
Peter Mahmud Marzuki, 2008, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana,
Jakarta, (selanjutnya disingkat Peter Mahmud Marzuki I), hal. 158.
23
kekacauan dalam kehidupan masyarakat dan setiap anggota masyarakat akan
bertindak main hakim sendiri.29
Agar hukum dapat berlaku dengan sempurna dan menjamin kepastian
hukum, maka diperlukan tiga nilai dasar tersebut. Kepastian hukum dengan
demikian berkaitan dengan kepastian aturan hukum, bukan kepastian tindakan
terhadap atau tindakan yang sesuai dengan aturan hukum. Asas kepastian hukum
adalah asas dalam negara hukum yang menggunakan landasan peraturan
perundang-undangan,
kepatutan
dan
keadilan
dalam
setiap
kebijakan
penyelenggaraan negara yang dilaksanakan oleh pemerintah.
Dari semua teori mengenai kepastian hukum diatas, teori menurut Gustaf
Radbruch lebih mendekati untuk dipergunakan sebagai penyelesaian persoalan
mengenai pengaturan tata cara pendaftaran jaminan fidusia terhadap permohonan
pendaftaran jaminan fidusia yang lewat waktu dari 60 (enam puluh) hari setelah
Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013 ditetapkan dan akibat hukum jaminan
fidusia yang tidak terdaftar dalam sistem online. Dengan kata lain, adanya unsur
keadilan, tujuan keadilan dan kepastian hukum dalam pendaftaran akta jaminan
fidusia akan dapat memberikan jaminan perlindungan bagi setiap orang,
mengingat kepastian hukum itu sendiri adalah alat atau syarat untuk memberikan
perlindungan bagi yang berhak.
Dalam pelaksanaan pendaftaran jaminan fidusia dengan sistem online
tentunya kepastian hukum harus dapat dijamin baik itu bagi pemberi fidusia,
29
M. Yahya Harahap, 2006, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan
KUHAP, Sinar Grafika, Jakarta, (selanjutnya disingkat M. Yahya Harahap I), hal.
76.
24
penerima fidusia maupun bagi pihak ketiga. Memberikan kepastian hukum
sebagai tujuan dari dilakukannya pendaftaran jaminan fidusia menjadi hal
terpenting dalam pendaftaran Jaminan Fidusia secara elektronik terutama
menyangkut benda yang menjadi objek Jaminan.
b. Teori Perlindungan Hukum
Hakekatnya setiap orang berhak mendapatkan perlindungan dari hukum.
Hampir seluruh hubungan hukum harus mendapat perlindungan dari hukum.
Perlindungan hukum harus melihat tahapan yakni perlindungan hukum lahir dari
suatu ketentuan hukum dan segala peraturan hukum yang diberikan oleh
masyarakat yang pada dasarnya merupakan kesepakatan masyarakat tersebut
untuk mengatur hubungan prilaku antara anggota-anggota masyarakat dan antara
perseoranan dengan pemerintah yang dianggap mewakili kepentingan masyarakat.
Menurut Satijipto Raharjo, perlindungan hukum adalah memberikan
pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan
perlindungan itu di berikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hakhak yang diberikan oleh hukum.30 Philipus M. Hadjon mengemukakan
perlindungan hukum dalam kepustakaan hukum berbahasa Belanda dikenal
dengan sebutan rechbescherming van de burgers.31 Dari pendapat tersebut, bahwa
perlindungan hukum berasal dari bahasa Belanda yakni rechbescherming dengan
mengandung pengertian bahwa dalam kata perlindungan terdapat suatu usaha
untuk memberikan hak-hak pihak yang dilindungi sesuai dengan kewajiban yang
30
Ibid, hal. 54.
Phillipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia,
PT. Bina Ilmu, Surabaya, hal. 1.
31
25
dilakukan. Phillipus M. Hadjon, bahwa perlindungan hukum bagi rakyat sebagai
tindakan pemerintah yang bersifat preventif dan represif.
1. Perlindungan hukum yang preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya
sengketa, yang mengarahkan tindakan pemerintah bersikap hati-hati dalam
pengambilan keputusan berdasarkan diskresi.
2. Perlindungan hukum represif, yakni bentuk perlindungan hukum dimana
lebih ditujukan dalam penyelesian sengketa, berupa sanksi seperti denda,
penjara, dan hukuman tambahan. Perlindungan yang represif bertujuan
untuk menyelesaikan terjadinya sengketa, termasuk penangananya di
lembaga peradilan.32
Pendaftaran jaminan fidusia merupakan perlindungan hukum preventif,
dengan mendaftarkan jaminan fidusia ke kantor pendaftaran fidusia maka
penerima fidusia akan memperoleh sertifikat jaminan fidusia yang dapat
memberikan kekuatan eksekutorial, yang sama dengan putusan pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Sertifikat jaminan fidusia tersebut dapat
digunakan untuk melakukan eksekusi terhadap jaminan fidusia, jika sewaktuwaktu pemberi fidusia cedera janji.
Upaya untuk mendapatkan perlindungan hukum tentunya yang diinginkan
oleh manusia adalah ketertiban dan keteraturan antara nilai dasar dari hukum
yakni adanya kepastian hukum, kegunaan hukum serta keadilan hukum, meskipun
pada umumnya dalam praktek ketiga nilai dasar tersebut belum tercipta dengan
baik, namun haruslah diusahakan untuk ketiga nilai dasar tersebut bersamaan.
32
Phillipus M. Hadjon, Op.Cit, hal. 2.
26
Fungsi primer hukum, yakni melindungi rakyat dari bahaya dan tindakan yang
dapat merugikan dan menderitakan hidupnya dari orang lain, masyarakat maupun
penguasa. Di samping itu berfungsi pula untuk memberikan keadilan serta
menjadi sarana untuk mewujudkan kesejahteraan bagi
seluruh rakyat.
Perlindungan, keadilan, dan kesejahteraan tersebut ditujukan pada subyek hukum
yaitu pendukung hak dan kewajiban, tidak terkecuali kaum wanita.
Teori perlindungan hukum yang digunakan adalah teori menurut Phillipus
M. Hadjon, yang lebih mendekati untuk dipergunakan sebagai penyelesaian
persoalan mengenai pengaturan tata cara pendaftaran jaminan fidusia terhadap
permohonan pendaftaran jaminan fidusia yang lewat waktu dari 60 (enam puluh)
hari setelah Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013 ditetapkan. Perlindungan
hukum ini ditujukan agar mampu melindungi pihak penerima fidusia dari keadaan
wanprestasi debitur (pemberi fidusia). Dengan mendaftarkan benda jaminan
fidusia maka pihak penerima fidusia mempunyai alat bukti berupa sertifikat
jaminan fidusia yang dapat digunakan untuk melakukan eksekusi pada benda
jaminan fidusia.
c. Asas Publisitas
Pencatatan dan publikasi pada hukum kebendaan pelaksanaannya
diserahkan sepenuhnya pada kehendak para pihak yang melangsungkan perbuatan
hukumnya. Publikasi ini karena memang ditujukan untuk melindungi kepentingan
pihak ketiga adalah terbuka untuk umum. Tidak dilakukannya pencatatan dan
publikasi, berakibat tidak berlakunya perbuatan hukum yang dikehendaki oleh
27
para pihak terhadap pihak ketiga, berarti bahwa apabila pencatatan dan publikasi
tersebut diabaikan, para pihak tidak dapat mendalilkan hubungan hukum yang ada
di antara para pihak terhadap pihak ketiga. Kewajiban pencatatan dan publikasi
atas suatu perjanjian penjaminan yang merupakan perjanjian assesoir dari suatu
perjanjian pokok yang bersifat perorangan, timbullah/terbitlah suatu hak
kebendaan yang bersifat droit de suite dan droit de preference. Pemegang hak atas
jaminan kebendaan yang dijaminkan secara kebendaan tersebut yaitu hak yang
melekat atas kebendaan yang dijaminkan kemanapun kebendaan tersebut
dialihkan.33
Sesuai ketentuan Pasal 28 UU Jaminan Fidusia, sifat mendahului droit de
preference ini berlaku sejak tanggal pendaftarannya pada kantor pendaftaran
fidusia. Jadi dalam hal ini berlaku adagium first registered first scured. Hak yang
didahulukan adalah hak penerima fidusia untuk mengambil pelunasan piutangnya
atas hasil eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Hak untuk
mengambil pelunasan ini mendahului kreditor-kreditor lainnya. 34
UU Jaminan Fidusia mengatur tentang kewajiban pendaftaran jaminan
fidusia
agar
memberikan
kepastian
hukum
kepada
para
pihak
yang
berkepentingan dan pendaftaran jaminan fidusia ini memberikan hak yang
didahulukan (preference) kepada penerima fidusia terhadap kreditor lain. Jaminan
fidusia memberikan hak kepada pihak penerima fidusia untuk tetap menguasai
benda yang menjadi objek jaminan fidusia berdasarkan kepercayaan, diharapkan
33
Herlien Budiono, 2008, Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang
Kenotariatan, Pt. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 230.
34
Henny Tanuwidjaja, Op.Cit, hal. 59.
28
sistem pendaftaran yang diatur dalam UU Jaminan Fidusia tersebut dapat
memberikan jaminan kepada pihak penerima fidusia dan pihak yang mempunyai
kepentingan terhadap benda tersebut.
Pasal 11 UU Jaminan Fidusia menjelaskan bahwa, pendaftaran benda yang
dibebani dengan jaminan fidusia dilaksanakan di tempat kedudukan pemberi
fidusia dan pendaftarannya mencakup benda, baik yang berada di dalam maupun
di luar wilayah negara Republik Indonesia untuk memenuhi asas publisitas,
sekaligus merupakan jaminan kepastian terhadap kreditor lainnya mengenai benda
yang telah dibebani jaminan fidusia. Berdasarkan uraian tersebut maka untuk
menjawab permasalahan tentang pengaturan tata cara pendaftaran jaminan fidusia
terhadap permohonan pendaftaran jaminan fidusia yang lewat waktu dari 60
(enam puluh) hari setelah Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013 ditetapkandan
akibat hukum jaminan fidusia yang tidak terdaftar dalam sistem online.
Pendaftaran dengan asas publisitas ini dimaksudkan agar mempunyai
pengaruh/efek terhadap pihak ketiga, agar pihak ketiga terikat dengan pendaftaran
tersebut. Artinya pihak ketiga tidak dapat lagi mengemukakan alasan itikad baik,
untuk mengelak dari kelelaiannya untuk mengontrol daftar yang bersangkutan
sebelum melakukan transaksi yang menyangkut benda terdaftar.
1.6 Metode Penelitian
Metode penelitian adalah tata cara atau langkah-langkah yang digunakan
untuk menganasilis atau menjawab suatu permasahan yang di teliti. Menurut
Soerjono Soekanto, metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara
29
memecahkan sutu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hatihati, tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan
manusia, maka metode penelitian dapat diartikan sebagai proses, prinsip-prinsip
dan tata cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melakukan
penelitian.35
1.6.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan untuk penulisan tesis ini adalah
menggunakan penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif yaitu
penelitian yang mendekati masalah dan norma hukum yang berlaku. Norma
hukum yang berlaku berupa norma hukum positif tertulis seperti undang-undang
dasar, undang-undang dan peraturan pemerintah.
Penelitian hukum normatif merupakan sebuah upaya untuk mencari dan
menemukan asas-asas hukum, aturan-aturan hukum positif yang dapat diterapkan
untuk menjawab atau menyelesaikan permasalahan atau isu hukum tertentu.
Penelitian hukum ini termasuk dalam penelitian teoritik (theoretical research).
Theoritical research sebagaimana dinyatakan oleh Terry Hutchinson yaitu;
Research which fosters a more complete understanding of the conceptual
bases of legal principles and of the combined effects of a range of rules and
procedures that touch on a particular area ofactivity36 (Penelitian yang
meningkatkan pemahaman yang lebih lengkap dari basis konseptual prinsipprinsip hukum dan efek gabungan dari berbagai aturan dan prosedur yang
menyentuh pada area tertentu dari kegiatan).
35
Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UII Press,
Jakarta, hal. 6.
36
Terry Hutchinson, 2002, Researching and Writing in Law, Lawbook Co,
Sydney, Australia, hal. 9.
30
Peter Mahmud Marzuki berpendapat, penelitian hukum adalah suatuproses
untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin
hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Hal ini sesuai dengan karakter
preskriptif ilmu hukum.37 Oleh karena itu penelitian hukum normatif diartikan
sebagai suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip hukum maupun
doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Penelitian
hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi, sehingga hasil yang diperoleh tersebut,
sudah mengandung nilai.38
Menurut Abdulkadir Muhammad, penelitian hukum normatif adalah
penelitian yang mengkaji hukum tertulis dari berbagai aspek, yaitu aspek teori,
sejarah, filosofi, perbandingan, struktur dan komposisi, lingkup dan materi,
konsistensi, penjelasan umum dan pasal demi pasal, formalitas dan kekuatan
mengikat suatu undang-undang, serta bahasa hukum yang digunakan, tetapi tidak
mengkaji aspek terapan atau pelaksanaan.39 Penelitian hukum normatif disebut
juga dengan penelitian hukum doktrinal yakni yang berfokus pada peraturan yang
tertulis (law in book),40 yang beranjak dari adanya kekaburan norma dalam
peraturan menteri tentang tata cara pendaftaran jaminan fidusia dengan system
37
Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Prenada Media,
Jakarta, (selanjutnya disebut Peter Mahmud Marzuki II), hal. 35.
38
Ibid, hal. 35.
39
Abdulkadir Muhammad,1992, Hukum Perikatan, Citra Aditya, Bandung,
(selanjutnya disebut Abdulkadir Muhammad I), hal. 102.
40
Amiruddin dan H. Zainal, 2008, Pengantar Metode Penelitian Hukum,
PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal. 18.
31
online dan akibat hukum jaminan fidusia yang tidak terdaftarkan dalam sistem
online.
1.6.2 Jenis Pendekatan
Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
pendekatan konsep (conceptual approach) dan pendekatan perundang-undangan
(statute approach). Pada umumnya dalam penelitian hukum terdapat beberapa
pendekatan yang lain selain pendekatan konsep (conceptual approach) dan
pendekatan perundang-undangan (statute approach), yakni pendekatan kasus (The
Case Approach), pendekatan sejarah (Historical Approach) dan pendekatan
komparatif (Comparative Approach).41
Pendekatan perundang-undangan (statute approach), yakni dengan
menggunakan peraturan perundang-undangan sebagai bahan hukum primer.
Pendekatan perundang-undangan (statute approach) dilakukan dengan menelaah
semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang
sedang ditangani. Dalam metode pendekatan perundang-undangan perlu
memahami hierarki dan asas-asas dalam peraturan perundang-undangan.
Pendekatan konseptual beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin
yang berkembang di dalamilmu hukum. Dengan mempelajari pandanganpandangan dan doktrin-doktrin di dalam ilmu hukum, maka akan ditemukan ideide yang melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum dan
asas-asas hukum yang relevan dengan isu yang dihadapi. Pemahaman akan
41
Peter Mahmud Marzuki II, Op.Cit, hal. 93.
32
pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin tersebut merupakan sandaran dalam
membangun suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi.42
1.6.3 Sumber Bahan Hukum
Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari
kepustakaan, yang terdiri dari:
1. Bahan Hukum Primer.
Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan
mengikat secara umum (perundang-undangan) atau mempunyai kekuatan
mengikat bagi pihak-pihak berkepentingan (kontrak, konvensi, dokumen hukum
dan putusan hakim).43 Bahan hukum primer dalam penilitian ini yakni:
a) Kitab Undang-Undang hukum Perdata
b) Undang-UndangRepublik Indonesia Nomor 42 tahun 1999 tentang Jaminan
Fidusia.
c) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.
d) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.
e) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 86 Tahun 2000 tentang Tata
Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia Dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan
Fidusia.
42
Ibid.
Abdulkadir Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra
Aditya Bakti, Bandung, (selanjutnya disebut Abdulkadir Muhammand II), hal. 81.
43
33
f) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor
8 Tahun 2013 tentang Pendelegasian Penandatanganan Sertifikat Jaminan
Fidusia Secara Elektronik.
g) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor
9 Tahun 2013 tentang Pemberlakuan Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara
Elektronik.
h) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor
10 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara
Elektronik.
2. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberi penjelasan
terhadap bahan hukum primer (buku ilmu hukum, jurnal hukum, laporan hukum
dan media cetak atau elektronik). 44 Bahan hukum sekunder dalam penelitian ini
yaitu buku-buku hasil karya para sarjana yang menguraikan tentang pengaturan
tata cara pendaftaran jaminan fidusia terhadap permohonan pendaftaran jaminan
fidusia yang lewat waktu dari 60 (enam puluh) hari setelah Peraturan Menteri
Nomor 10 Tahun 2013 ditetapkan dan akibat hukum jaminan fidusia yang tidak
terdaftar dalam sistem online.
3. Bahan hukum Tertier.
44
Abdulkadir Muhammad I, Op.Cit, hal. 102.
34
Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk atau
penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus hukum,
internet dengan menyebut nama situsnya. 45
1.6.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan yaitu dengan
membaca dan mencatat literatur-literatur yang terkait dengan permasalahan yang
akan diteliti dengan sistem kartu. Sistem kartu yaitu bahan hukum yang telah
dikumpulkan dicatat dan dibuat dalam bentuk kartu-kartu. Dalam kartu tersebut
dicatat mengenai sumber bahan hukum yang didapat baik nama penulis, tahun
terbit, judul bahan hukum, penerbit, halaman dan informasi lain yang diperlukan.
Kartu-kartu tersebut kemudian akan disusun berdasarkan pokok bahasan untuk
memudahkan analisis.
Menurut Soejono Soekanto sistem kartu yaitu dengan menyusun dan
mengklasifikasikan kartu-kartu tersebut kartu ikhtiar, kartu kutipan dan kartu
ulasan kemudian dicocokan juga dengan perencanaan sistematika tesis yang
dibuat. Selanjutnya diberi tulisan tentang sumber kutipan yang diperoleh secara
lengkap.46
45
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2007, Penelitian Hukum Normatif
Suatu Tinjauan Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. l3.
46
Soejono Soekanto, Op.Cit,hal. 36.
35
1.6.5 Teknik Analisis Bahan Hukum
Teknik analisis bahan hukum dalam penelitian ini adalah setelah semua
bahan hukum terkumpul baik dari bahan hukum primer dan sekunder kemudian
diklasifikasikan secara kualitatif sesuai dengan permasalahan. Bahan hukum
tersebut dianalisa dengan teori-teori yang relevan kemudian disimpulkan untuk
menjawab permasalahan dan akhirnya bahan hukum disajikan dalam deskritif
analitis.
Menurut Zainuddin Ali metode penelitian yang menggunakan bahan
hukum primer, bahan hukum sekunder, maupun bahan hukum tertier, maka
penelitian tersebut menggunakan teknik deskriptif analitis yang menganalisis
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan teori-teori hukum yang
menjadi obyek penelitian dan bahan hukum ini bersifat:
a. Deskripsi
Tahapan pendeskripsian atau
penggambaran
dengan menguraikan
proposisi-proposisi hukum sesuai dengan pokok permasalahan yang dikaji
yakni dengan adaya akibat hukum pendaftaran jaminan fidusia dalam
sistem online.
b. Sitematisasi
Dalam proses sistematisasi ini terbentuk atau dirumuskan sejumlah
aturanumum dan pengertian-pengertian hukum atau konsep hukum
(legalconsept) yang digunakan untuk memudahkan pengolahan bahan
hukum dalam proses sistematisasi bahan hukum tersebut.
36
c. Evaluasi
Tahapan evaluasi atau analisis dengan memberi penilaian berupa tepat atau
tidak tepat, setuju atau tidak setuju, benar atau salah syah atau tidak syah
oleh peneliti terhadap suatu pandangan, proposisi, pernyataan rumusan
norma, keputusan baik yang tertera dalam bahan hukum primer maupun
dalam bahan hukum sekunder.
d. Argumentasi.
Teknik argumentasi, teknik argumentasi tidak bisa dilepaskan dari teknik
evaluasi karena penilaian harus didasarkan pada alasan-alasan yang
bersifat penalaran hukum.47
47
hal. 105.
Zainuddin Ali, 2010, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta,
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG AKTA JAMINAN FIDUSIA
2.1 Pengaturan Jaminan Fidusia
2.1.1 Pengertian Jaminan
Istilah jaminan merupakan terjemahan dari istilah zekerheid atau
cautie,
yaitu
kemampuan debitur untuk memenuhi atau
melunasi
perutangannya kepada kreditor, yang dilakukan dengan cara menahan benda
tertentu yang bernilai ekonomis sebagai tanggungan atas pinjaman atau utang
yang diterima debitur kepada kreditornya. Mariam Darus Badrulzaman
merumuskan jaminan sebagai suatu tanggungan yang diberikan oleh seorang
debitur dan/atau pihak ketiga kepada kreditur untuk menjamin kewajibannya
dalam suatu perikatan.95 Thomas Suyanto, ahli Perbankan menyatakan bahwa
jaminan adalah penyerahan kekayaan atau pernyataan kesanggupan seseorang
untuk menanggung pembayaran kembali suatu hutang.96
Dalam
seminar
badan
pembinaan
hukum
nasional
yang
diselenggarakan di Yogyakarta dari tanggal 20 sampai dengan 30 Juli 1977
disimpulkan pengertian jaminan. Jaminan adalah menjamin dipenuhinya
kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan
hukum, oleh karena itu hukum jaminan erat sekali dengan hukum benda.
Kontruksi jaminan dalam definisi ini ada kesamaan dengan yang
95
96
Rachmadi Usman I, Op.Cit, hal. 66.
Thomas Suyatno, 1989, Dasar-Dasar Perkreditan, PT Gramedia, Jakarta,
hal.70.
37
38
dikemukakan oleh Mariam Darus Badrulzaman, Hartono Hadisoeprapto dan
M. Bahsan. Hartono Hadisoeprapto berpendapat bahwa jaminan adalah
sesuatu yang diberikan kepada kreditur untuk menimbulkan keyakinan bahwa
debitur akan memenuhi kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang
timbul dari sutu perikatan. M. Bahsan berpendapat bahwa jaminan adalah
segala sesuatu yang diterima kreditur dan diserahkan debitur untuk menjamin
suatu utang piutang dalam masyarakat. 97
Menurut ketentuan Pasal 2 ayat (1) Surat Keputusan Direksi Bank
Indonesia No. 23/69/KEP/DIR tanggal 28 Februari 1991 tentang jaminan
pemberian kredit, bahwa jaminan adalah suatu keyakinan bank atas
kesanggupan
debitur
untuk
melunasi
kredit
sesuai
dengan
yang
diperjanjikan.98 Berdasakan pada pengertian jaminan diatas, maka dapat
dikemukakan bahwa fungsi utama dari jaminan adalah untuk menyakinkan
bank atau kreditor bahwa debitor mempunyai kemampuan untuk melunasi
kredit yang diberikan kepadanya sesuai dengan perjanjian kredit yang telah
disepakati bersama.99
Jaminan difokuskan pada pemenuhan kewajiban kepada kreditur
(bank), timbulnya jaminan karena adanya perikatan antara kreditur dengan
debitur dan jaminan itu suatu tanggungan yang dapat dinilai dengan uang
yaitu berupa kebendaan tertentu yang diserahkan debitur kepada kreditor
97
98
Salim. HS, Op.cit, hal. 22.
Sentosa Sembiring, 2008, Hukum Perbankan, Mandar Maju, Bandung,
hal.70.
99
Hermansyah, 2005, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana,
Jakarta, hal. 73.
39
sebagai akibat dari suatu hubungan perjanjian utang piutang. Kebendaan
tertentu diserahkan debitur kepada kreditur dimaksudkan sebagai tanggungan
atas pinjaman atau fasilitas kredit yang diberikan kreditur kepada debitur
sampai debitur melunasi pinjamnanya tersebut. Apabila debitur wanprestasi
kebendaan tertentu tersebut akan dinilai dengan uang selanjutnya akan
dipergunakan untuk pelunasan seluruh atau sebagian dari pinjaman atau
utang debitur kepada krediturnya.
Istilah jaminan telah lazim digunakan dalam bidang ilmu hukum dan
telah digunakan dalam beberapa peraturan perundang-undangan tentang
lembaga jaminan daripada istilah agunan. Oleh karena itu, istilah yang
digunakan bukan hukum agunan, lembaga agunan, agunan kebendaan,
agunan perseorangan atau hak agunan melainkan hukum jaminan, lembaga
jaminan, jaminan kebendaan jaminan perseorangan dan hak jaminan. Hak
jaminan melingkupi hak jaminan yang bersifat umum dan hak jaminan yang
bersifat khusus. Hukum jaminan merupakan terjemahan dari istilah security
of law, zekerheidsstelling atau zekerheidsrechten. Dalam keputusan seminar
hukum jaminan yang diseleengarakan oleh Badan Pembinaan Hukum
Nasional Departemen Kehakiman bekerja sama dengan Fakultas Hukum
Universitas Gadjah Mada tanggal 9 sampai dengan 11 Oktober 1978 di
Yogyakarta menyimpulkan bahwa istilah hukum jaminan itu meliputi
pengertian baik jaminan kebendaan maupun perorangan. Berdasarkan
kesimpulan tersebut, pengertian hukum jaminan yang diberikan didasarkan
kepada pembagian jenis lembaga hak jaminan artinya tidak memberikan
40
perumusan pengertian hukum jaminan, melainkan jaminan kebendaan dan
jaminan perorangan. 100
J. Satrio, hukum jaminan itu diartikan peraturan hukum yang
mengatur tentang jaminan-jaminan piutang seorang kreditor terhadap seorang
debitur.101 Definisi ini difokuskan pada pengaturan hak-hak kreditur sematamata, tetapi tidak memperhatikan hak-hak debitur. Padahal subjek kajian
hukum jaminan tidak hanya menyangkut kreditur semata-mata, tetapi juga
erat kaitannya dengan debitur, sedangkan yang menjadi objek kajiannya
adalah benda jaminan.
Sri Soedewi Masjhoen Sofwan, mengemukakan bahwa hukum
jaminan adalah mengatur kontruksi yuridis yang memungkinkan pemberian
fasilitas kredit, dengan menjaminkan benda-benda yang dibelinya sebagai
jaminan. 102 Peraturan demikian harus cukup meyakinkan dan memberikan
kepastian hukum bagi lembaga-lembaga kredit, baik dari dalam negeri
maupun luar negeri. Adanya lembaga jaminan dan lembaga demikian kiranya
harus dibarengi dengan adanya lembaga kredit dengan jumlah besar dengan
jangka waktu yang lama dan bunga relatif rendah. Pengertian hukum jaminan
menurut Sri Soedewi Masjhoen Sofwan merupakan konsep yuridis yang
berkaitan dengan penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan jaminan. M. Bahsan, hukum jaminan merupakan himpunan ketentuan
yang mengatur atau berkaitan dengan penjaminan dalam rangka utang
100
Rachmadi Usman I, Op.Cit, hal. 1.
Ibid.
102
M. Bahsan, 2008, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan
Indonesia, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal. 3.
101
41
piutang (pinjaman uang) yang terdapat dalam berbagai peraturan perundangundangan yang berlaku saat ini.103
Pendapat terakhir dari pengertian hukum jaminan adalah menurut
Salim HS, bahwa hukum jaminan adalah keseluruhan dari kaidah-kaidah
hukum yang mengatur hubungan hukum antara pemberi dan penerima
jaminan dalam kaitannya dengan pembebanan jaminan untuk mendapatkan
fasilitas kredit.104 Berdasarkan pengertian di atas unsur-unsur yang
terkandung di dalam perumusan hukum jaminan, yakni sebagai berikut:
1. Adanya kaidah hukum
Kaidah hukum dalam bidang jaminan, dapat dibedakan menjadi dua
macam yaitu kaidah hukum jaminan tertulis dan kaidah hukum jaminan
tidak tertulis. Kaidah hukum jaminan tertulis adalah kaidah-kaidah
hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan, traktat dan
yurisprudensi, sedangkan kaidah hukum jaminan tidak tertulis adalah
kaidah-kaidah hukum jaminan yang tumbuh, hidup dan berkembang
dalam masyarakat, hal ini terlihat pada gadai tanah dalam masyarakat
yang dilakukan secara lisan.
2. Adanya pemberi dan penerima jaminan
Pemberi
jaminan
adalah
orang-orang
atau
badan
hukum
yang
menyerahkan barang jaminan kepada penerima jaminan, yang bertindak
sebagai pemberi pemberi jaminan ini adalah orang atau badan hukum yang
membutuhkan fasilitas kredit. Orang ini lazim disebut dengan debitur.
103
104
Ibid.
Salim. HS, Op.Cit, hal. 6.
42
Penerima jaminan adalah orang atau badan hukum yang menerima barang
jaminan dari pemberi jaminan, yang bertindak sebagai penerima jaminan
ini adalah orang atau badan hukum. Badan hukum adalah lembaga yang
memberikan fasilitas kredit, dapat berupa lembaga perbankan dan atau
lembaga keuangan nonbank.
3. Adanya jaminan
Pada dasarnya, jaminan yang diserahkan kepada kreditur adalah jaminan
materiil dan imateriil. Jamianan materiil merupakan jaminan yang berupa
hak-hak kebendaan seperti jaminan atas benda bergerak dan benda tidak
bergerak. Jaminan imateriil merupakan jaminan nonkebendaan.
4. Adanya fasilitas kredit
Pembebanan jaminan yang dilakukan oleh pemberi jaminan bertujuan
untuk mendapatkan fasilitas kredit dari bank atau lembaga keuangan
nonbank. Pemberian kredit merupakan pemberian uang berdasarkan
kepercayaan, dalam arti bank atau lembaga keuangan nonbank percaya
bahwa debitur sanggup untuk mengembalikan pokok pinjaman dan
bunganya, begitu pula debitur percaya bahwa bank atau lembaga keuangan
nonbank dapat memberikan kredit kepadanya. 105
Berdasarkan hasil analisis terhadap berbagai peraturan perundangundangan yang mengatur tentang jaminan maupun kajian terhadap berbagai
literatur tentang jaminan, maka ditemukan lima asas penting dalam hukum
jaminan, yaitu:
105
Ibid, hal. 7.
43
1. Asas publicitet yaitu asas bahwa semua hak, baik hak tanggungan, hak
fidusia dan hipotek harus didaftarkan. Pendaftaran ini dimaksudkan
supaya pihak ketiga dapat mengetahui bahwa benda jaminan tersebut
sedang dilakukan pembebanan jaminan. Pendaftaran hak tanggungan di
kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten/Kota, pendaftaran fidusia
dilakukan di kantor pendaftaran fidusia pada kantor Departemen
Kehakiman dan Hak Asasi Manusia sedangkan pendaftaran hipotek kapal
laut dilakukan di depan pejabat pendaftar dan pencatat balik nama yaitu
syahbandar.
2. Asas specialitet, yaitu bahwa hak tanggungan, hak fidusia dan hipotek
hanya dapat dibebankan atas percil atau atas barang-barang yang sudah
terdaftar atas nama orang tertentu.
3. Asas tidak dapat dibagi-bagi, yaitu asas dapat dibaginya hutang tidak dapat
mengakibatkan dapat dibaginya hak tanggungan, hak fidusia, hipotek dan
hak gadai walaupun telah dilakukan pembayaran sebagaian.
4. Asas inbezittstelling yaitu barang jaminan (gadai) harus berada pada
penerima gadai.
5. Asas horizontal yaitu bangunan dan tanah bukan merupakan satu kesatuan,
hal ini dapat dilihat dalam penggunaan hak pakai, baik tanah negara
maupun tanah hak milik. Bangunannya milik dari yang bersangkutan atau
pemberi tanggungan, tetapi tanahnya milik orang lain, berdasarkan hak
pakai.106
106
Ibid, hal. 9.
44
Hukum jaminan di Indonesia ditinjau dari sudut perkembangan
perekonomian baik nasional maupun internasional mempunyai peran yang
besar terkait dengan kegiatan pinjam meminjam uang. Berbagai lembaga
keuangan sangat berperan dalam membantu pemenuhan kebutuhan dana bagi
kegiatan perekonomian dengan memberi pinjaman uang baik dalam bentuk
kredit maupun gadai, yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang memerlukan
dana.
2.1.2 Pengertian Jaminan Fidusia
Fidusia berasal dari kata fiduciair atau fides yang artinya kepercayaan
yakni penyerahan hak milik atas benda secara kepercayaan sebagai jaminan
bagi pelunasan piutang kreditor. Penyerahan hak milik atas benda ini
dimaksudkan hanya sebagai jaminan bagi pelunasan utang tertentu, dimana
memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia (kreditor)
terhadap kreditor lainnya. Dalam berbagai literatur fidusia lazim disebut
dengan fiduciaire eigendom overdract (FEO) yaitu penyerahan hak milik
berdasarkan atas kepercayaan.107
Istilah fidusia yang berasal dari bahasa Belanda yaitu fiducie,
sedangkan dalam bahasa inggris disebut fiduciary transfer of ownership yang
artinya kepercayaan. Fiduciary mempunyai arti yaitu a fiduciary means a
trustee or other person subject to fiduciary duties under the settlement
(fidusia berarti kepercayaan atau seseorang yang diberikan kewajiban untuk
107
Ibid, hal. 55.
45
menyelesaikan fidusia).108 Dalam sistem Anglo Saxon, dikenal istilah
fiduciary yang artinya sebagai berikut:
The term is derived from the roman law, and means (as a noun) a person
holding the character analogous to that of a trustee, in respect to the
trust and confidence involved in it and the scrupulous good faith and
candor which it requires. A person having duty, created by his
undertaking, to act primarily for another’s benefit in matter connected
which such undertaking.As an adjective it means of the nature of a trust;
having the characteristics of a trust; analogous to a trust; relating to or
founded upon a trust or confiden109 (istilah ini berasal dari hukum
Romawi, dan sarana (sebagai kata benda) seseorang memegang karakter
analog dengan wali, sehubungan dengan kepercayaan dan keyakinan
yang terlibat di dalamnya dan itikad baik teliti dan keterusterangan yang
membutuhkan. Seseorang yang memiliki tugas, yang diciptakan oleh
usaha, untuk bertindak terutama untuk orang lain. Seperti kata sifat itu
berarti sifat kepercayaan; memiliki karakteristik kepercayaan; analog
dengan kepercayaan; berkaitan dengan atau didasarkan atas kepercayaan
atau percaya diri).
Pasal 1 angka 1 UU Jaminan Fidusia menyatakan bahwa fidusia
adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan
dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya yang diadakan
tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda itu. Pengalihan hak
kepemilikan dalam pengertian tersebut adalah pemindahan hak kepemilikan
dari pemberi fidusia kepada penerima fidusia atas dasar kepercayaan dengan
syarat bahwa benda yang menjadi objeknya tetap berada di tangan pemberi
fidusia.
A Hamzah dan Senjum Manulang memberikan pengertian fidusia,
bahwa fidusia adalah:
108
James Kessles dan Fiona Hunter, Drafting Trust and Will Trust In
Canada, 2007, Lexis Nexis, Canada, hal. 73.
109
Henry Campbell Black, 1991, Black’s Law Dictionary, Definitions of
the Terms and Phrases of American and English Jurisprudence Ancient and
Modern, St Paul, Minn: West Publishing Co, hal. 431.
46
Suatu cara pengoperan hak milik dari pemiliknya (debitur) berdasarkan
adanya perjanjian pokok (perjanjian utang piutang) kepada kreditur,
akan tetapi yang diserahkan hanya haknya saja secara yuridise-levering
dan hanya dimiliki oleh kreditur secara kepercayaan saja (sebagai
jaminanutang debitur) sedangkan barangnya tetap dikuasai oleh debitur,
tetapi bukan lagi sebagai eigenaar maupun bezitter, melainkan hanya
sebagai detentor atau houder dan atas nama kreditur-eigenaar.110
Definisi fidusia menurut Oey Hoey Tiong bahwa, Fidusia atau lengkapnya
Fiduciaire Eigendoms Overdracht sering disebut sebagai Jaminan Hak Milik
Secara Kepercayaan, merupakan suatu bentuk jaminan atas benda-benda
bergerak di samping gadai yang dikembangkan oleh yurisprudensi.111 Dari
pengertian fidusia diatas maka dapat diketahui unsur-unsur fidusia itu, yaitu:
1. Pengalihan hak kepemilikan suatu benda.
2. Dilakukan atas dasar kepercayaan.
3. Kebendaannya tetap dalam penguasaan pemilik benda.
Istilah jaminan fidusia terdapat dalam Pasal 1 angka 2 UU Jaminan
Fidusia, bahwa jaminan fidusia adalah:
Hak jaminan atas benda bergerak, baik yang berwujud maupun yang
tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bagunan yang tidak
dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Nomor 4 Tahun 1966 tentang Hak Tanggungan yang tetap
berada dalam penguasaan pemberi fidusia, sebagai agunan bagi
pelunasan hutang tertentu, yang memberikan kedudukan diutamakan
kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya.
Berdasarkan perumusan ketentuan dalam Pasal 1 angka 2 UU Jaminan
Fidusia, unsur-unsur dari jaminan fidusia yaitu:
110
A. Hamzah dan Senjun Manullang, 1987, Lembaga Fidusia Dan
Penerapannya Di Indonesia, Indhill Co, Jakarta, hal. 37.
111
Oey Hoey Tiong, 1985, Fidusia Sebagai Jaminan Unsur-Unsur
Perikatan, Cet. II, Ghalia Indonesia, Jakarta, hal. 21.
47
1. Sebagai lembaga hak jaminan kebendaan dan hak yang diutamakan.
2. Adanya objek yaitu benda bergerak baik yang berwujud maupun tidak
berwujud dan benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak
dibebani hak tanggungan. Hal ini berkaitan dengan pembebanan
jaminan rumah susun.
3. Benda yang menjadi objek jaminan tetap berada dalam penguasaan
pemberi fidusia.
4. Untuk pelunasan suatu utang tertentu.
5. Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia
terhadap kreditor lainnya.
Pengertian jaminan fidusia yang diatur dalam UU Jaminan Fidusia
membedakan pengertian fidusia dari jaminan fidusia, dimana fidusia
merupakan suatu proses pengalihan hak kepemilikan dan jaminan fidusia
adalah jaminan yang diberikan dalam bentuk fidusia. Ini berarti bahwa
jaminan fidusia yang dimaksud adalah termasuk fiducia cum creditore
contracta. Lembaga jaminan fidusia dalam bentuk fiduciaire eigendoms
overdracht atau FEO berarti pengalihan hak milik secara kepercayaan.
Pranata jaminan FEO ini timbul berkenaan dengan ketentuan dalam Pasal
1152 ayat (2) KUHPerdata yang mengatur tentang gadai. Sesuai dengan pasal
ini kekuasaan atas benda yang digadaikan tidak boleh berada pada pemberi
gadai. Larangan tersebut mengakibatkan bahwa pemberi gadai tidak dapat
mempergunakan benda yang digadaikan untuk keperluan usahanya. 112
112
Henny Tanuwidjaja, Op.Cit, hal. 58.
48
Pengertian jaminan fidusia pada Pasal 1 angka 2 UU Jaminan Fidusia,
secara tegas menyatakan bahwa jamian fidusia adalah jaminan kebendaan
yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia,
yaitu hak yang didahulukan terhadap kreditor lainnya. Dengan demikian
jaminan fidusia merupakan perjanjian assesoir dari suatu perjanjian pokok
yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi
yang berupa memberikan sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu
yang dapat dinilai dengan uang. Sebagai suatu perjanjian assesoir, perjanjian
jaminan fidusia memiliki sifat sebagai berikut:
1. Sifat ketergantungan terhadap perjanjian pokok.
2. Keabsahannya semata-mata ditentukan oleh sah tidaknya perjanjian
pokok.
3. Sebagai perjanjian bersyarat, maka hanya dapat dilaksanakan jika
ketentuan yang disyaratkan dalam perjanjian pokok telah atau tidak
dipenuhi.113
Perjanjian pemberian jaminan fidusia samaseperti perjanjian
penjaminan lain,yang merupakan perjanjian yang bersifat accesoir,
sebagaimana ditegaskan pada Pasal 4 Undang-Undang Nomor 42 Tahun
1999, berbunyi: Jaminan Fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu
perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak
untukmemenuhisuatu prestasi. Perjanjian accesoir mempunyai ciri-ciri
113
Ibid, hal. 59.
49
yaitu tidak bisa berdiri sendiri, ada/lahirnya, berpindahnya dan
berakhirnya bergantung dari perjanjian pokoknya.
Mengenai fidusia sebagai perjanjian assessoir, dijelaskan Munir
Fuady lebih lanjut sebagai berikut:
Sebagaimana perjanjian jaminan hutang lainnya, seperti perjanjian gadai,
hipotek atau hak tanggungan, maka perjanjian fidusia juga merupakan
suatu perjanjian yang assessoir (perjanjian buntutan). Maksudnya adalah
perjanjian assecoir itu tidak mungkin berdiri sendiri, tetapi
mengikuti/membuntuti perjanjian lainnya yang merupakan perjanjian
pokok. Dalam hal ini yang merupakan perjanjian pokok adalah hutang
piutang. Karena itu konsekuensi dari perjanjian assesoir ini adalah jika
perjanjikan pokok tidak sah, atau karena sebab apapun hilang berlakunya
atau dinyatakan tidak berlaku, maka secara hukum perjanjian fidusia
sebagai perjanjian assessoir juga ikut menjadi batal.114
2.1.3 Ruang Lingkup, Subjek dan Objek Jaminan Fidusia
Ruang lingkup kajian hukum jaminan meliputi jaminan umum dan
jaminan khusus. Jaminan khusus dibagi menjadi dua macam yaitu jaminan
kebendaan dan perorangan. Jaminan kebendaan dibagi menjadi jaminan
benda bergerak dan tidak bergerak, yang termasuk dalam jaminan benda
bergerak meliputi gadai dan fidusia sedangkan jaminan benda tidak bergerak
meliputi hak tanggungan, fidusia, khususnya rumah susun, hipotek kapal laut
dan pesawat udara, sedangkan jaminan perorangan meliputi borg, tanggungmenanggung (tanggung renteng) dan garansi bank. 115
Ruang lingkup berlakunya undang-undang jaminan fidusia menurut
Pasal 2 UU Jaminan Fidusia yang menyatakan bahwa undang-undang ini
114
Munir Fuady, 2003, Jaminan Fidusia, PT. Aditya Bakti, Bandung,
hal.19.
115
Salim. HS, Op.Cit, hal. 8.
50
berlaku terhadap setiap perjanjian fidusia yang bertujuan untuk membebani
jaminan fidusia, sedangkan yang dapat menjadi subyek atau para pihak dari
jaminan fidusia adalah orang perorangan atau korporasi. 116
Pembebanan benda dengan jaminan fidusia didasarkan pada
kesepakatan antara pemberi fidusia dan penerima fidusia, artinya harus
terdapat kesepakatan di antara kedua belah pihak untuk terjadinya
pemfidusiaan, dengan sendirinya pula pemberian jaminan fidusia tidak dapat
dibatalkan secara sepihak oleh salah satu pihak pemberi fidusia atau
penerima fidusia. Namun demikian pemberi fidusia dan penerima fidusia
tidak dapat sekehendak hati menjanjikan pemberian jaminan fidusia tersebut,
artinya perjanjian yang bertujuan untuk membebani suatu benda dengan
jaminan fidusia harus mengikuti ketentuan dalam pasal-pasal UU Jaminan
Fidusia.
Prosedur yang biasa dilakukan dalam pembebanan jaminan fidusia
melalui fidusia, dilakukan dengan bentuk perjanjian penyerahan jaminan dan
pemberian kuasa yang didasarkan atas perjanjian kredit yang telah dibuatnya.
Secara jelasnya proses terjadinya fidusia menempuh beberapa fase, yaitu:
1. Fase pertama berupa perjanjian obligatoir
Diantara pihak pemberi dan penerima fidusia dibedakan perjanjian,
dimana ditentukan bahwa debitur meminjam sejumlah uang dengan
janji akan menyerahkan hak miliknya secara fidusia sebagai jaminan
kepada pemberi kredit. Perjanjian ini bersifat konsensual, obligatoir.
116
Djaja S. Meliala, 2007, Perkembangan Hukum Perdata Tentang Benda
dan Hukum Perikatan, CV. Nuansa Aulia, Bandung, hal. 67.
51
2. Fase kedua merupakan perjanjian kebendaan.
Diantara kedua pihak dilakukan penyerahan secara constitutum
possessorium.
3. Fase ketiga berupa perjanjian pinjam pakai (bruiklening).
Diantara kedua pihak diadakan perjanjian, bahwa pemilik fidusia
meminjampakaikan hak miliknya yang telah berada di dalam
kekuasaan pemberi fidusia, kepada penerima fidusia. 117
Sebelum UU Jaminan Fidusia, pada umumnya benda yang menjadi
objek jaminan fidusia itu benda bergerak yang terdiri atas benda dalam
persediaan, benda dagangan, piutang, peralatan mesin dan kendaraan
bermotor. Dengan kata lain objek jaminan fidusia terbatas pada kebendaan
bergerak, guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang,
menurut UU Jaminan Fidusia objek jaminan fidusia diberikan pengertian
yang lebih luas antara lain:
1. benda bergerak yang berwujud
2. benda tidak bergerak yang tidak dapat dibebani hak tanggungan
3. benda bergerak yang tidak berwujud118
Pasal 1 angka 4 UU Jaminan Fidusia diberikan batasan yang menjadi
objek jaminan fidusia antara lain:
a. benda tersebut harus dapat dialihkan dan dimiliki secara hukum
b. benda berwujud dan benda tidak berwujud
c. benda tidak bergerak yang tidak dijaminkan dengan Hak
Tanggungan (HT)
d. benda yang sudah ada dan benda yang akan ada
117
118
Muhamad Djumhana, Op.Cit, hal. 32.
Rachmadi Usman I, Op.Cit, hal. 176.
52
e. hasil benda yang menjadi objek fidusia
f. klaim asuransi dari objek fidusia
g. benda persediaan (Inventory Stock Perdagangan)
Dalam ketentuan Pasal 3 UU Jaminan Fidusia menegaskan mengenai
Undang-Undang ini tidak berlaku terhadap:
a. Hak tanggungan yang berkaitan dengan tanah dan bangunan,
sepanjang peraturan perundang-undangan yang berlaku menentukan
jaminan atas benda-benda tersebut wajib didaftar.
b. Hipotek atas kapal yang terdaftar dengan isi kotor berukuran 20M
atau lebih
c. Hipotek atas pesawat terbang dan
d. Gadai.
Dalam penjelasan Pasal 3 huruf a dalam UU Jaminan Fidusia menyatakan
bahwa berdasarkan ketentuan ini maka bangunan diatas tanah milik orang
lain yang tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan berdasarkan UndangUndang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan dapat dijadikan
objek jaminan fidusia.
Dari
uraian
tersebutmaka
dapat
diketahui
bahwa
sejarah
perkembangan fidusia, pada awalnya yaitu zaman Romawi, objek fidusia
adalah meliputibarang bergerak maupun barang tidak bergerak, hal ini dapat
dimaklumi karena pada waktu itu tidak dikenal hak-hak jaminan yang lain.
Pemisahan mulai diadakan ketika kemudian orang-orang Romawi mengenal
gadai dan hipotek, ketentuan ini juga diikuti oleh negara Belanda dalam
Burgerlijke Wetboek-nya. Pada saat fidusia muncul kembali di negara
Belanda maka pemisahan antara barang bergerak yang berlaku untuk gadai
dan barang tidak bergerak untuk hipotek juga diberlakukan. Objek fidusia
disamakan dengan gadai yaitu barang bergerak karena pada waktu itu
53
dianggap sebagai jalan keluar untuk menghindari larangan yang terdapat
dalam gadai. Hal ini terus menjadi yurisprudensi tetap baik di Belanda dan
Indonesia. 119
Perkembangan selanjutnya adalah dengan lahirnya Undang-Undang
Pokok Agraria yang tidak membedakan atas barang bergerak dan barang
tidak bergerak melainkan pembedaan atas tanah dan bukan tanah.
Bangunan-bangunan yang terletak diatas tanah tidak dapat dijamin akan
terlepas dari tanahnya, jadi orang yang memiliki bangunan di atas tanah
dengan hak sewa misalnya tidak dapat membenaninya dengan hak
tanggungan tersebut, oleh karenanya jalan satu-satunya adalah dengan
fidusia. Lahirnya UU Jaminan Fidusia yaitu dengan mengacu pada Pasal 1
angka 2 dan 4 serta Pasal 3, dapat dikatakan bahwa yang menjadi objek
jaminan fidusia adalah benda apapun yang dapat dimiliki dan dialihkan hak
kepemilikannya. Benda itu dapat berupa berwujud maupun tidak berwujud,
terdaftar maupun tidak terdaftar, bergerak maupun tidak bergerak, dengan
syarat bahwa benda tersebut tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang
hak tanggungan atau hipotek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 314
KUHD jo Pasal 1162 dan seterusnya KUHPerdata.120
Subjek jaminan fidusia adalah mereka yang mengikat diri dalam
perjanjian jaminan fidusia yang terdiri atas pihak pemberi fidusia dan
penerima fidusia. Menurut ketentuan dalam Pasal 1 angka 5 UU Jaminan
119
120
Hemmy Tanuwidjaja, Op.Cit, hal. 63.
Ibid, hal. 64.
54
Fidusia yang menjadi pemberi fidusia, bisa orang perorangan atau korporasi
pemilik benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Pengertian tersebut
berarti pemberi fidusia tidak harus debiturnya sendiri, bisa pihak lain dalam
hal ini bertindak sebagai penjamin pihak ketiga, yaitu mereka yang
merupakan pemilik objek jaminan fidusia yang menyerahkan benda
miliknya untuk dijadikan sebagai jaminan fidusia. Hal yang terpenting
adalah pemberi fidusia harus memiliki hak kepemilikan atas benda yang
akan menjadi objek jaminan fidusia pada saat pemberian fidusia tersebut
dilakukan.121
Pasal 1 angka 6 UU Jaminan Fidusia, bahwa penerima fidusia bisa
orang perorangan atau
korporasi
yang mempunyai piutang
yang
pembayarannya dijamin dengan jaminan fidusia. Dalam UU Jaminan
Fidusia tidak terdapat pengaturan khusus berkaitan dengan syarat penerima
fidusia, berarti perorangan atau korporasi yang bertindak sebagai penerima
fidusia ini bisa warga negara Indonesia atau pihak asing, baik yang
berkedudukan di dalam maupun di luar negeri sepanjang dipergunakan
untuk kepentingan pembangunan di wilayah negara Indonesia. 122
2.1.4 Pengaturan Jaminan Fidusia
Dalam Burgelijk Wetboek
(BW) Belanda, pranata jaminan yang
diatur adalah gadai untuk barang bergerak dan hipotek untuk barang tidak
bergerak. Pada mulanya kedua pranata jaminan dirasakan cukup memenuhi
kebutuhan masyarakat pada saat itu dalam bidang prekreditan. Tetapi karena
121
122
Ibid, hal. 185.
Rachmadi Usman I, Op.Cit, hal. 186.
55
terjadi krisis pertanian yang melanda negara Eropa pada pertengahan sampai
akhir abad ke- 19, terjadi penghambatan pada perusahaan-perusahaan
pertanian untuk memperoleh kredit. Pada waktu itu tanah sebagai jaminan
kredit menjadi agak kurang popular dan kreditor menghendaki jaminan gadai
sebagai jaminan tambahan di samping jaminan tanah tadi. Kondisi seperti
ini menyulitkan perusahaan-perusahaan pertanian. Dengan menyerahkan
alat-alat pertaniannya sebagai jaminan gadai dalam pengambilan kredit
sama saja dengan bunuh diri, apalah artinya kredit yang diperoleh kalau
alat-alat pertanian yang dibutuhkan untuk mengolah tanah sudah berada
dalam penguasaan kreditor. Terjadilah perbedaan kepentingan antara
kreditor dan debitor yang cukup menyulitkan kedua pihak. Untuk
melakukan gadai tanpa penguasaan terbentur pada ketentuan Pasal 1152
ayat (2) BW yang melarangnya. Untuk mengatasi hal tersebut dicarilah
terobosan-terobosan dengan mengingat konstruksi hukum yang ada, yaitu
jual beli dengan hak membeli kembali dengan sedikit penyimpangan. Bentuk
ini digunakan untuk menutupi suatu perjanjian peminjaman dengan jaminan,
untuk sementara hal ini dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi
pada waktu itu. Tetapi hal itu bukan bentuk jaminan yang sebenarnya, tentu
akan timbul keragu-raguan dalam prakteknya.123
Keadaan seperti itu berlangsung terus sampai dikeluarkannya
keputusan oleh Hoge Road (HR) Belanda tanggal 29 Januari 1929 yang
123
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, 2007, Jaminan Fidusia, PT.
RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal. 122.
56
terkenal dengan nama Bierbrouwerij Arrest. Kasusnya adalah sebagai
berikut: NV Heineken Bierbrouwerij Maatschappij meminjamkan uang
sejumlah f 6000 dari P. Bos pemilik warung kopi “Sneek”, dengan jaminan
berupa hipotek keempat atas tanah dan bangunan yang digunakan Bos
sebagai tempat usahanya. Untuk lebih menjamin pelunasan hutangnya, Bos
menjual inventaris warungnya kepada Bierbrouwerij dengan hak membeli
kembali dengan syarat bahwa inventaris itu untuk sementara dikuasai oleh
Bos sebagai peminjam pakai. Pinjam pakai itu yang akan berakhit jika Bos
tidak membayar utang pada waktunya atau bilamana Bos jatuh pailit.
Ternyata Bos benar-benar jatuh pailit dan hartanya diurus oleh kurator
kepailitan (Mr. AW de Haan), termasuk inventaris tadi. Bierbrouwerij
kemudian menuntut kepada kurator kepailitan untuk menyerahkan inventaris
tadi dengan sitaan revindikasi. Kurator menolak dengan alasan bahwa
perjanjian jual beli dengan hak membeli kembali tersebut adalah tidak sah,
karena hanya berpura-pura saja. Dalam gugatan rekonversi kurator kepailitan
menuntut pembatalan perjanjian jual beli dengan membeli kembali tersebut.
Dalam sidang pengadilan tingkat pertama, pengadilan Rechbank dalam
putusannya
menolak
gugatan
Bierbrouwerij
dan
dalam
rekonversi
mengabulkan gugatan rekonversi dengan membatalkan perjanjian jual beli
dengan hak membeli kembali tersebut. Alasannya adalah para pihak hanya
berpura-pura mengadakan perjanjian jual beli dengan hak membeli kembali
tersebut, yang sesungguhnya terjadi adalah perjanjian pemberian jaminan
dalam bentuk gadai. Akan tetapi gadai tersebut adalah tidak sah karena
57
barangnya tetap
berada dalam kekuasaan pemberi gadai sehingga
bertentangan dengan larangan Pasal 1152 ayat (2) KUHPerdata Pasal 1198
ayat (2). Atas putusan ini Bierbrouwerij menyatakan banding yang
keputusannya adalah menyatakan jual beli dengan hak membeli kembali
tersebut adalah sah. Dengan demikian Kurator Kepailitan diperintahkan
untuk menyerahkan inventaris warung kopi Bos kepada Bierbrouwerij.
Atas keputusan ini Kurator Kepailitian menyatakan kasasi dan dalam
putusannya Hoge Raad menyatakan bahwa yang dimaksud oleh para
pihak adalah perjanjian penyerahan hak milik sebagai jaminan dan
merupakan title yang sah. Kurator Kepailitan diperintahkan untuk
menyerahkan inventaris Bos kepada Bierbrouwerij. Hal ini telah
melahirkan pranata jaminan dengan jaminan penyerahan hak milik secara
kepercayaan yang dikenal dengan Fidusia.124
Sebagai salah satu jajahan negara Belanda, Indonesia pada abad ke-19
juga merasakan imbasnya, untuk mengatasi masalah itu lahirlah peraturan
tentang ikatan panen atau Oogstverband (Staatsblad 1886 Nomor 57).
Peraturan ini mengatur mengenai peminjaman uang, yang diberikan
dengan jaminan panenan yang akan diperoleh dari suatu perkebunan.
Dengan adanya peraturan ini maka dimungkinkan untuk mengadakan
jaminan atas barang-barang bergerak atau setidak-tidaknya kemudian
124
Ibid, hal. 123.
58
menjadi barang bergerak, sedangkan barang-barang itu tetap berada dalam
kekuasaan debiturnya.125
Ada tiga hal yang cukup penting harus diketahui dari pengertian
Oogstverband. Pertama oogstverband sebagai lembaga jaminan memiliki
karakter kebendaan (zakelijke karakter), kedua objek oogstbverband
adalah hasil-hasil pertanian yang belum dipetik atau sudah dipetik beserta
perusahaan serta peralatan yang dipakai untuk mengolah hasil pertanian;
ketiga hakikat oogstverband.126
Lembaga fidusia di Indonesia untuk pertama kalinya mendapatkan
pengakuan dalam keputusan Arrest Hoggerechtshof tanggal 18 Agustus
1932, dalam perkara antara Bataafsche Petroeum Maatschappij melawan
Clignet, dalam mana dikatakan bahwa title XX Buku II Kitab UndangUndang Hukum Perdata memang mengatur tentang gadai, akan tetapi
tidak menghalang-halangi para pihak untuk mengadakan perjanjian yang
lain daripada perjanjian gadai, bilamana perjanjian gadai tidak cocok
untuk mengatur hubungan hukum antara mereka. Perjanjian fidusia
dianggap bersifat memberikan jaminan dan tidak dimaksudkan sebagai
jaminan gadai.127 Kasusnya adalah sebagai berikut:
Pedro Clignett meminjam uang dari Bataatsche Petroeum
Maatschappij (BPM) dengan jaminan hak milik atas sebuah mobil secara
125
Ibid, hal. 126.
H. Tan Kamelo, Op.Cit. hal. 49.
127
J. Satrio, 2007, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, Pt. Citra
Aditya Bakti, Bandung, hal. 178.
126
59
kepercayaan. Clignett tetap menguasai mobil itu atas dasar perjanjian
pinjam pakai yang akan berakhir jika Clignett lalai membayar utangnya
dan mobil tersebut akan diambil oleh BPM. Ketika Clignett benar-benar
tidak melunasi utangnya pada waktu yang ditentukan, BPM memnuntut
penyerahan mobil dari Clignett namun ditolaknya dengan alasan bahwa
perjanjian yang dibuat itu tidak sah. Menurut Cligneet jaminan yang ada
adalah gadai, tetapi karena barang gadai dibiarkan tetap berada dalam
kekuasaan debitor maka gadai tersebut tidak sah sesuai dengan Pasal 1152
ayat (2) KUHPerdata. Dalam putusannya HGH menolak alasan Clignett
karena menurut HGH jaminan yang dibuat antara BPM dan Clignett
bukan gadai, melainkan penyerahan hak milik secara kepercayaan atau
fidusia yang telah diakui oleh Hoge Raad dalam Bierbrouwerij Arrest.
Clignett diwajibkan untuk menyerahkan jaminan itu kepada BPM.128
Perkembangan yurisprudensi dan peraturan perundang-undangan
yang menjadi dasar hukum berlakunya fidusia yaitu Arrest Hoge Raad
tertanggal 25 Januari 1929 tentang Bierbrouwerij Arrest selanjutnya Arrest
Hoggerechtshof tanggal 18 Agustus 1932 tentang BPM-Clynet Arrest dan
barulah muncul Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan
Fidusia. Dari yurisprudensi-yurisprudensi tersebut dapat diketahui yang
melatarbelakangi dan menjadi penyebab timbulnya lembaga fidusia ini, yaitu:
1. Mengatasi masalah yuridis ketentuan gadai yang mensyaratkan
adanya penguasaan kebendaan gadai oleh kreditor pemegang gadai.
128
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Op.Cit, hal. 126.
60
2. Memenuhi kebutuhan masyarakat akan lembaga hak jaminan baru.
3. Menampung kebendaan bergerak yang tidak dapat dibebani dengan
hak gadai atau kebendaan tidak bergerak yang tidak dapat dibebani
dengan hak tanggungan atau hipotek.
4. Menciptakan
bentuk
lembaga
hak
jaminan
yang
proses
pembebanannya lebih sederhana, mudah dan cepat.
5. Memungkinkan pembebanan benda-benda dalam persediaan, benda
dagangan, piutang, peralatan mesin dan kendaraan motor
6. Sudah dikenal masyarakat secara meluas.129
Dikeluarkannya UU Jaminan Fidusia merupakan pengakuan resmi
dari pembuat undang-undang akan lembaga jaminan fidusia, yang selama itu
baru memperoleh pengakuannya melalui yurisprudensi. UU Jaminan Fidusia
bertujuan untuk memberikan suatu pengaturan yang lengkap dan memberikan
perlindungan hukum yang lebih baik bagi para pihak yang berkepentingan.
Dalam penjelasan UU Jaminan Fidusia pada bagian umum dikatakan, bahwa
UU Jaminan Fidusia selain menampung kebutuhan praktek yang selama ini
ada, juga memberikan kepastian hukum kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.130
Sejalan dengan prinsip memberikan kepastian hukum, maka UU
Jaminan Fidusia mengambil prinsip pendaftaran jaminan fidusia. Pendaftaran
tersebut diharapkan memberikan kepastian hukum kepada pemberi dan
129
Racmadi Usman, 2011, Hukum Kebendaan, Sinar Grafika, Jakarta,
(selanjutnya disebut Rachmadi Usman III), hal. 281.
130
Ibid, hal. 179.
61
penerima fidusia maupun kepada pihak ketiga. Pemberian sifat hak
kebendaan kepada hak kreditor penerima fidusia dapat dikeluarkan grosse
sertifikat jaminan fidusia, diberikannya hak parate eksekusi dan diberikan
status sebagai kreditur separatis menunjukkan maksud untuk memberikan
kedudukan yang kuat kepada kreditur. Beberapa asas yang dianut dalam UU
Jaminan Fidusia adalah:
1. Asas kepastian hukum.
2. Asas pendaftaran.
3. Asas perlindungan yang seimbang.
4. Asas menampung kebutuhan praktek.
5. Asas tertulis otentik.
6. Asas pemberian kedudukan yang kuat kepada kreditur.131
2.2 Pengaturan Akta Jaminan Fidusia
2.2.1 Pengertian Akta
Hukum pembuktian mengenal adanya alat bukti yang berupa surat
sebagai alat bukti tertulis. Surat adalah segala sesuatu yang memuat tandatanda bacaan yang dimaksudkan untuk menyampaikan buah pikiran
seseorang dan dipergunakan sebagai pembuktian. Surat sebagai alat bukti
tertulis dibagi menjadi dua yaitu surat yang merupakan akta dan surat-surat
131
Ibid.
62
yang bukan akta, sedangkan akta dibagi lebih lanjut menjadi akta otentik dan
akta di bawah tangan.132
Pada umumnya akta itu adalah suatu surat yang ditanda tangani,
memuat keterangan tentang kejadian-kejadian atau hal-hal yang merupakan
dasar dari suatu perjanjian. Dengan kata lain akta itu adalah suatu tulisan
dengan mana dinyatakan sesuatu perbuatan hukum, Pasal 1867 KUHPerdata
menyatakan Pembuktian dengan tulisan dilakukan dengan tulisan-tulisan
otentik maupun dengan tulisan-tulisan di bawah tangan.133
Sudikno Martokusumo mengatakan bahwa, akta adalah surat yang
diberi tanda tangan yang memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar dari
suatu hak, atau perikatan yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk
pembuktian134 sedangkan Tan Thong Kie berpendapat bahwa perbedaan
antara tulisan dan akta terletak pada tanda tangan yang tertera di bawah
akta.135
S.
J
Fockema
Andrea,
dalam
bukunya
Recht
gellerd
Handwoorddenbock, kata akta itu berasal dari bahasa latin yaitu acta yang
artinya geschrift atau surat,136 dan R. Subekti dan Tjitrosudibio, bahwa kata
132
Abdul Ghofur Anshori, 2009, Lembaga Kenotariatan Indonesia
Persfektif Hukum & Etika, UII Press, Yogyakarta, hal. 17.
133
R.Subekti, 1986, Pokok-pokok Hukum Perdata, Cetakan XXIV, PT.
Intermasa, Jakarta, hal. 475.
134
Sudikno Mertokusumo, 2009, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty,
Yogyakarta, (selanjutnya disingkat Sudikno Mertokusumo I), hal. 151.
135
Tan Thong Kie, 1994, Studi Notariat Serba-Serbi Praktek Notaris,
Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, hal. 233.
136
Walter Siregar, 1951, Bij J. B. Wolter Uitgeversmaat Schappij, N. V.
Gronogen, Jakarta, hal. 9.
63
“acta” merupakan bentuk jamak dari kata “actum” yang berasal dari
bahasa latin yang berarti perbuatan-perbuatan.137
Menurut bentuknya suatu akta dapat dibagi menjadi akta otentik dan
akta di bawah tangan. Secara teoritis yang dimaksud dengan akta otentik
adalah surat atau akta yang sejak semula dengan segaja secara resmi dibuat
untuk pembuktian. Sejak semula dengan segaja berarti bahwa sejak awal
dibuatnya surat itu tujuannya adalah untuk pembuktian dikemudian hari jika
terjadi sengketa, dikatakan secara resmi karena tidak dibuat secara dibawah
tangan, secara dogmatis menurut hukum posisitif yang dimaksud dengan akta
otentik terdapat dalam Pasal 1868 KUHPerdata.138
Pasal 1868, akta otentik merupakan salah satu akta bukti tulisan di
dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau di
hadapan pejabat/pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana
akta dibuatnya. Pegawai umum yang dimaksud di sini ialah pegawai-pegawai
yang dinyatakan dengan undang-undang mempunyai wewenang untuk
membuat akta otentik, misalnya notaris, panitera juru sita, pegawai catatan
sipil, hakim, pejabat pembuat akta tanah dan sebagainya.
Berdasarkan Pasal 1868 KUHPerdata maka dapat diketahui unsurunsur dari akta otentik, yaitu:
1. Bahwa akta tersebut dibuat dan diresmikan (verleden) dalam bentuk
menurut hukum.
137
R. Subekti, dan R. Tjitrosoedibio, 1980, Kamus Hukum, Pradnya
Paramita, Jakarta, hal. 9.
138
Sudikno Mertokusumo I, Op.Cit, hal. 155.
64
2. Bahwa akta tersebut dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum.
3. Bahwa akta tersebut dibuat oleh atau di hadapan pejabat yang
berwenang untuk membuatnya di tempat akta tersebut dibuat, jadi akta
itu harus ditempat wewenang pejabat yang membuatnya. 139
R. Soeroso, menyatakan bahwa akta di bawah tangan atau onderhands
acte adalah akta yang dibuat tidak oleh atau tanpa perantaraan seseorang
pejabat umum, melainkan dibuat dan ditandatangani sendiri oleh para pihak
yang mengadakan perjanjian misalnya perjanjian jual beli atau perjanjian
sewa menyewa.140 Sudikno Mertokusumo, akta di bawah tangan adalah akta
yang segaja dibuat untuk pembuktian oleh para pihak tanpa bantuan dari
seorang pejabat, jadi semata-mata dibuat antara para pihak yang
berkepentingan. Akta di bawah tangan ini tidak diatur di dalam HIR, tetapi
diatur dalam S. 1867 No. 29 untuk Jawa dan Madura, sedangkan di luar Jawa
dan Madura diatur dalam Pasal 286 sampai dengan 305 Rbg. Termasuk
dalam pengertian surat-surat dibawah tangan adalah akta di bawah tangan,
surat-surat daftar, catatan mengenai rumah tangga dan surat-surat lainnya
yang dibuat tanpa bantuan seorang pejabat.141
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, maka terdapat dua macam
akta yaitu akta yang sifatnya otentik dan ada yang sifatnya di bawah tangan.
Akta yang dibuat dengan tidak memenuhi Pasal 1868 Kitab Undang-undang
Hukum Perdata bukanlah akta otentik atau disebut juga akta dibawah tangan,
139
140
Abdul Ghofur Anshori, Op.Cit, hal. 18.
R. Soeroso, 2010, Perjanjian Di Bawah Tangan, Sinar Grafika, Jakarta,
hal.8.
141
Sudikno Mertokusumo I, Op.Cit, hal. 160.
65
perbedaan terbesar antara akta otentik dan akta yang dibuat dibawah tangan
ialah:
1. Akta autentik (Pasal 1868 KUHPerdata):
a. Akta autentik dibuat dalam bentuk sesuai dengan yang ditentukan
oleh undang-undang.
b. Harus dibuat oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang.
c. Mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna, terutama mengenai
waktu, tanggal pembuatan dan dasar hukumnya.
d. Kalau
kebenarannya
disangkal,
maka
si
penyangkal
harus
membuktikan ketidakbenarannya.
2. Adapun akta di bawah tangan:
a. Tidak terikat bentuk formal, melainkan bebas.
b. Dapat dibuat bebas oleh setiap subjek hukum yang berkepentingan.
c. Apabila diakui oleh penanda tangan atau tidak disangkal akta tersebut
mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna sama halnya seperti
akta autentik.
d. Tetapi bila kebenarnanya disangkal, maka pihak yang mengajukan
sebagai bukti yang harus membuktikan kebenarannya (melalui bukti
atau saksi-saksi). 142
Pengertian akta notaris dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang
Jabatan Notaris (selanjutnya disebut UU Jabatan Notaris) terdapat pada Pasal
142
R. Soeroso, Op.Cit, hal. 9.
66
1 angka 7 bahwa akta notaris yang selanjutnya disebut akta adalah akta
autentik yang dibuat oleh atau di hadapan notaris menurut bentuk dan tata
cara yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini. Pada kamus hukum akta
notariil berarti akta yang dibuat di hadapan dan di muka pejabat yang
berwenang untuk itu.143
Mengamati bunyi ketentuan Pasal 15 ayat (1) UU Jabatan Notaris dan
dihubungkan dengan Pasal 1867 dan 1868 KUHPerdata tersebut dapatlah
diambil kesimpulan bahwa:
1. Akta otentik merupakan alat bukti tertulis.
2. Memuat tentang semua perbutan, perjanjian dan penetapan yang
diharuskan oleh suatu peraturan umum atau atas permintaan dari para
klien notaris.
3. Dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum yang berkuasa untuk itu di
tempat dimana akta dibuatnya.144
Akta otentik yang dibuat oleh notaris terbagi menjadi 2 bentuk yaitu
pertamaakta yang dibuat oleh (door) notaris atau yang dinamakan akta relaas
atau akta pejabat (ambtelijke akten). Akta pejabat/akta relaas merupakan akta
yang dibuat oleh pejabat yang diberi wewenang untuk itu, dimana pejabat
menerangkan apa yang dilihat serta apa yang dilakukannya, jadi inisiatif tidak
berasal dari orang/para pihak yang namanya diterangkan didalam akta
tersebut. Ciri khas dalam akta ini adalah tidak adanya komparisi dan notaris
143
144
_______, 2008, Kamus Hukum, Citra Umbara, Bandung.
Herlien Budiono, Op.Cit, hal. 267.
67
bertanggung jawab penuh atas pembuatan akta.145 Dalam pembuatan akta
pejabat/akta relaas tidak menjadi masalah apakah orang-orang yang hadir
tersebut menolak untuk menandatangani akta itu, misalnya dalam pembuatan
Akta Berita Acara Rapat Para Pemegang Saham dalam Perseroan Terbatas.
Apabila orang-orang yang hadir dalam rapat telah meninggalkan rapat
sebelum akta itu ditandatangani, maka notaris cukup menerangkan di dalam
akta bahwa para pemegang saham atau peserta rapat yang hadir telah
meninggalkan rapat sebelum menandatangani akta tersebut dan akta tersebut
tetap merupakan suatu akta otentik.
Kedua, akta yang dibuat di hadapan (ten overstaan) notaris atau yang
dinamakan akta partij (partij akten). Partij akta adalah akta yang dibuat
dihadapan para pejabat yang diberi wewenang untuk itu dan akta itu dibuat
atas permintaan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Ciri khas pada akta
ini adalah adanya komparisi yang menjelaskan kewenangan para pihak yang
menghadap notaris untuk membuat akta.146
Pasal 38 ayat (1) UU Jabatan Notaris menyatakan bahwa setiap akta
notaris terdiri atas awal akta atau kepala akta dan akhir atau penutup akta.
Kepala akta dan akhir akta mengandung unsur-unsur dari akta otentik. Pasal
38 ayat (2) UU Jabatan Notaris menyebutkan bahwa kepala akta memuat:
1. Judul akta;
2. Nomor akta;
145
Sjaifurrachman dan Habib Adjie, 2011, Aspek Pertanggungjawaban
Notaris Dalam Pembuatan Akta, Mandar Maju, Bandung, hal. 109.
146
Ibid
68
3. Jam, hari, tanggal, bulan dan tahun; serta
4. Nama lengkap dan tempat kedudukan notaris.
Disamping pembagian dari suatu akta dalam bagian yang disebut di atas,
menurut Lumban Tobing dikenal pula kerangka akta, yang pada umumnya
terdiri atas judul akta, komparisi, premise, isi akta itu sendiri dan penutup
akta.147
Akta dapat mempunyai fungsi formil (formalitas causa) yang berarti
bahwa untuk lengkapnya atau sempurnya suatu perbuatan hukum, haruslah
dibuat suatu akta. Disamping fungsinya yang formil akta mempunyai fungsi
sebagai alat bukti (probationis causa), yang mana akta itu dibuat sejak
semula dengan segaja untuk pembuktian dikemudian hari.Kekuatan
pembuktian dari akta, akta otentik dan akta di bawah tangan sebagai alat
bukti umumnya dapat dibedakan menjadi tiga macam kekuatan pembuktian
yakni kekuatan pembuktian lahir, kekuatan pembuktian formil dan kekuatan
pembuktian materiil.
1. Kekuatan pembuktian akta.
a. Kekuatan pembuktian lahir
Kekuatan pembuktian lahir adalah kekuatan pembuktian yang
didasarkan atas keadaan lahir, apa yang tampak pada lahirnya yaitu
bahwa surat yang tampaknya seperti akta dianggap seperti akta
sepanjang tidak terbukti sebaliknya.
147
G.H.S Lumban Tobing, 1999, Peraturan Jabatan Notaris, Erlangga,
Jakarta, hal. 215.
69
b. Kekuatan pembuktian formil
Kekuatan pembuktian formil ini didasarkan atas benar tidaknya ada
pertanyaan yang bertanda tangan di bawah akta itu. Kekuatan
pembuktian formil ini member kepastian tentang peristiwa bahwa
pejabat dan para pihak menyatakan dan melakukan apa yang dimuat
dalam akta.
c. Kekuatan pembuktian materiil
Kekuatan pembuktian materiil ini member kepastian tentang materi
suatu akta, member kepastian tentang peristiwa bahwa pejabat atau
para pihak menyatakan dan melakukan seperti yang dimuat dalam
akta.148
2. Kekuatan pembuktian akta otentik.
a. Kekuatan pembuktian lahiriah akta otentik (uitwendige bewijskracht)
Uitwendige bewijskracht merupakan kekuatan pembuktian dalam
artian kemampuan dari akta itu sendiri untuk membuktikan dirinya
sebagai akta otentik. Kemampuan ini berdasarkan Pasal 1875
KUHPerdata tidak dapat diberikan kepada akta yang dibuat dibawah
tangan. Akta otentik membuktikan sendiri keabsahannya (acta
publica probant sese ipsa). Apabila suatu akta nampak sebagai akta
otentik, artinya menadakan dirinya dari luar, dari kata-katanya
sebagai yang berasal dari seseorang pejabat umum, maka akta itu
148
Sudikno Mertokusumo I, Op.Cit, hal. 162.
70
terhadap setiap orang dianggap sebagai akta otentik sampai dapat
dibuktikan bahwa akta tersebut bukanlah suatu akta otentik.
b. Kekuatan pembuktian formal akta otentik (formale bewijskracht)
Formale bewijskracht ialah kepastian bahwa sesuatu kejadian dan
fakta tersebut dalam akta betul-betul dilakukan oleh notaris atau
diterangkan oleh pihak-pihak yang menghadap, artinya bahwa
penjabat yang bersangkutan telah menyatakan dalam tulisan
sebagaimana yang tercantum dalam akta itu dan selain dari itu
kebenaran dari apa yang diuraikan oleh pejabat dalam akta itu sebagai
yang dilakukan dan disaksikannya di dalam jabatannya itu.
c. Kekuatan pembuktian material akta otentik (materiele bewijkracht)
Materiele bewijkracht ialah kepastian hukum bahwa apa yang
tersebut dalam akta itu merupakan pembuktian yang sah terhadap
pihak-pihak yang membuat akta atau mereka yang mendapat hak dan
berlaku
untuk
umum,
kecuali
ada
pembuktian
sebaliknya
(tegenbewijs). Artinya tidak hanya kenyatan yang dibuktikan oleh
suatu akta otentik, namun isi dari akta itu dianggap dibuktikan sebagai
yang benar terhadap setiap orang, yang menyuruh adakan/buatkan
akta itu sebagai tanda bukti terhadap dirinya (prevue preconstituee).
Akta otentik dapat dibagi menjadi akta yang dibuat oleh pejabat (acta
ambtelijk, procesverbaal acta, verbaalakte) dan akta yang dibuat oleh
para pihak (partij acta). Acta ambtelijk merupakan akta yang dibuat
oleh pejabat yang diberi wewenang untuk itu, pejabat tersebut
71
menerangkan apa yang dilihat serta apa yang dilakukannya. Partij
acta dibuat oleh pejabat atas permintaan pihak-pihak yang
berkepentingan.149
3. Kekuatan pembuktian akta di bawah tangan.
a. Kekuatan pembuktian lahir akta di bawah tangan.
Terhadap akta di bawah tangan, jika tanda tangan diakui oleh yang
bersangkutan, maka akta di bawah tangan itu mempunyai kekuatan
dan menjadi bukti sempurna yang berlaku terhadap para pihak yang
bersangkutan dan isi pernyataan di dalam akta di bawah tangan itu
tidak dapat disangkal. Oleh karena tanda tangan pada akta di bawah
tangan kemungkinannya masih dapat diungkiri, maka akta di bawah
tangan itu tidak mempunyai kekuatan pembuktian lahir. Terhadap
pihak ketiga suatu akta di bawah tangan mempunyai kekuatan
pembuktian yang bebas.
b. Kekuatan pembuktian formil akta di bawah tangan.
Kalau tanda tangan akta di bawah tangan telah diakui, maka itu
berarti bahwa keterangan atau pernyataan di atas tanda tangan itu
adalah keterangan atau pernyataan daripada si penanda tangan.
Kekuatan pembuktian formil dari akta di bawah tangan ini sama
dengan kekuatan pembuktian formil dari akta otentik, jadi disini telah
pasti siapapun bahwa si penda tangan menyatakan seperti yang
terdapat di atas tanda tangannya.
149
Abdul Ghofur Anshori, Op.Cit. hal. 19.
72
c. Kekuatan pembuktian materiil akta di bawah tangan.
Menurut Pasal 1875 BW maka akta di bawah tangan yang diakui oleh
orang terhadap siapa akta itu digunakan atau yang dapat dianggap
diakui menurut undang-undang, bagi yang menanda tangani, ahli
warisnya serta orang-orang yang mendapat hak dari mereka,
merupakan bukti sempurna seperti akta otentik. Jadi isi keterangan di
dalam akta di bawah tangan itu berlaku sebagai benar terhadap siapa
yang membuatnya dan demi keuntungan orang untuk siapa
pernyataan itu dibuat. Suatu akta di bawah tangan hanyalah
memberikan pembuktian sempurna demi keuntungan orang kepada
siapa di penanda tangan hendak member bukti. Terhadap setiap orang
lainnya kekuatan pembuktiannya adalah bebas.150
2.2.2
Pengaturan Akta Jaminan Fidusia
Sesuai dengan UU Jaminan Fidusia, pembebanan suatu benda atas
jaminan fidusia dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia.
Pembebanan benda dengan Jaminan Fidusia diatur Pasal 5 yaitu:
(1) Pembebanan benda dengan jaminan fidusia dibuat dengan akta
notaris dalam bahasa Indonesia dan merupakan akta Jaminan
Fidusia;
(2) Terhadap pembuatan Akta jaminan fidusia dikenakan biaya yang
besarnya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 5 ayat (1) UU Jaminan Fidusia dapat ditafsirkan, bahwa
terhitung sejak berlakunya UU Jaminan Fidusia untuk pelaksanaan hak-hak
150
Sudikno Mertokusumo I, Op.Cit, hal. 165.
73
dari pemberi dan penerima fidusia sebagai yang disebutkan dalam UU
Jaminan Fidusia harus dipenuhi syarat, bahwa jaminan fidusia itu harus
dituangkan dalam bentuk akta notariil dan disyaratkan (harus) akta jaminan
fidusia yang dibuat oleh notaris, ditulis dalam bahasa Indonesia, tidak dapat
ditulis dalam bahasa selain bahasa Indonesia. Akta notaris ini merupakan
syarat materiil berlakunya ketentuan-ketentuan UU Jaminan Fidusia atas
perjanjian penjaminan fidusia yang ditutup para pihak, disamping itu juga
sebagai alat bukti.151
Akta notaris merupakan akta autentik dan mempunyai kekuatan
pembuktian yang paling sempurna, karenanya pembebanan benda dengan
jaminan fidusia dituangkan dalam akta notaris yang merupakan akta jaminan
fidusia (AJF). Pasal 1870 KUHPerdata dinyatakan, bahwa suatu akta autentik
memberikan suatu bukti yang sempurna tentang apa yang dimuat di
dalamnya di antara para pihak beserta para ahli warisnya ataupun orangorang yang mendapatkan hak dari mereka selaku penggantinya, atas dasar
itulah, UU Jaminan Fidusia mengharuskan atau mewajibkan pembenanan
benda yang dijamin dengan jaminan fidusia dilakukan dengan akta notaris.
Pasal 5 ayat (2) UU Jaminan fidusia menetapkan bahwa, terhadap
pembuatan akta jaminan fidusia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dikenakan biaya yang besarnya akan diatur lebih lanjut dengan peraturan
pemerintah. Ketentuan biaya akta notaris dalam rangka pembuatan akta
jaminan fidusia diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 86
151
Rachmadi Usman I, Op.Cit, hal. 189.
74
Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya
Pembuatan Akta Jaminan Fidusia, yang besarnya biaya pembuatan akta
jaminan fidusia ditentukan berdasarkan katagori, yang disesuaikan dengan
nilai penjaminannya.152
Pasal 6 UU Jaminan Fidusia ditentukan isi minimum akta jaminan
fidusia dalam rangka memenuhi asas spesialitas, yaitu akta jaminan fidusia
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sekurang-kurangnya memuat:
a.
b.
c.
d.
e.
Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia;
Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia;
Uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan fidusia;
Nilai penjaminan;
Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
Sebelumnya dalam penjelasan atas Pasal 5 ayat (1) UU Jaminan Fidusia
disebutkan pula, dalam akta jaminan fidusia selain dicantumkan hari dan
tanggal, juga dicantumkan mengenai waktu (jam) pembuatan akta tersebut.
Akta jaminan fidusia merupakan akta notariil (akta notaris) tentu
dengan sendirinya bentuk, substansi dan prosedurnya pembuatan akta
jaminan fidusia harus mengikuti bentuk dan syarat-syarat serta prosedur
pembuatan akta noatriil sebagaimana diatur di dalam ketentuan pasal-pasal
dari UU Jabatan Notaris, oleh karena itu pencantuman ketentuan dalam Pasal
6 UU Jaminan Fidusia tidak diperlukan, karena dengan sendirinya akan
tunduk kepada ketentuan-ketentuan Peraturan Jabatan Notaris. Namun
deminikian ketentuan dalam Pasal 6 UU Jaminan Fidusia setidaknya
152
Ibid, hal. 192.
75
bermaksud mengingatkan atas hal-hal yang pokok yang harus atau wajib
dicantumkan dalam akta jaminan fidusia.
Dari ketentuan Pasal 6 dan dihunungkan dengan penjelasan atas Pasal
5 ayat (1) UU Jaminan Fidusia, hal-hal pokok atau minimum yang wajib
dicantumkan dalam akta jaminan fidusia, yaitu:
a. Identitas pemberi dan penerima fidusia.
b. Uraian data perjanjian pokok.
c. Uraian data benda jaminan.
d. Nilai penjaminan.
e. Nilai benda objek jaminan.
f. Nomor, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun.153
Disyaratkan penyebutan data-data tersebut di dalam akta jaminan fidusia
berkaitan dengan prinsip spesialitas yang dianut oleh UU Jaminan Fidusia
dan yang mendukung prinsip kepastian hukum yang menjadi salah satu
tujuan UU Jaminan Fidusia.
153
Ibid, hal. 193.
BAB III
PENDAFTARAN JAMINAN FIDUSIA TERHADAP PERMOHONAN
PENDAFTARAN JAMINAN FIDUSIA YANG LEWAT WAKTU
3.1 Perkembangan Pengaturan Pendaftaran Jaminan Fidusia Dalam Sistem
Manual dan Online.
Jaminan fidusia telah digunakan di Indonesia sejak zaman penjajahan
Belanda sebagi suatu bentuk jaminan yang lahir dari yurisprudensi, yang berasal
dari zaman romawi. Bentuk jaminan ini digunakan secara luas dalam transaksi
pinjam-meminjam karena proses pembebanannya dianggap sederhana, mudah dan
cepat baik oleh pemberi fidusia maupun oleh pihak penerima fidusia, tetapi tidak
menjamin kepastian hukum. Pada saat itu jaminan fidusia tidak (perlu) didaftarkan
pada suatu lembaga pendaftaran jaminan fidusia. Di satu pihak jaminan fidusia
memberikan kemudahaan bagi para pihak yang menggunakannya terutama pihak
yang menerima fidusia. Pemberi fidusia mungkin saja menjaminkan lagi benda
yang telah dibebani dengan fidusia kepada pihak lain tanpa sepengetahuan
penerima fidusia. Hal ini dimungkinkan karena belum ada pengaturan mengenai
jaminan fidusia.213
Ketidakadaan kewajiban pendaftaran tersebut sangat dirasakan dalam
praktik sebagai kekurangan dan kelemahan bagi pranata hukum jaminan fidusia,
disamping menimbulkan ketidakpastian hukum, tidak terpenuhinya kewajiban
pendaftaran jaminan fidusia tersebut menyebabkan jaminan fidusia tidak
213
Rachmadi Usman I, Op.Cit, hal. 199.
76
77
memenuhi unsur publisistas. Hal ini dapat menimbulkan hal-hal yang tidak sehat
dalam praktiknya. Atas pertimbangan tersebut, maka di dalam UU Jaminan
Fidusia mengatur tentang (kewajiban) pendaftaran jaminan fiduisia yaitu pada
Pasal 11 UU Jaminan Fidusia:
(1) Benda yang dibebani dengan jaminan fidusia wajib didaftarkan.
(2) Dalam hal benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia berada di luar
wilayah negara Republik Indonesia, kewajiban sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tetap berlaku.
Pendaftaran jaminan fidusia dimaksudkan untuk memberikan kepastian
hukum bagi para pihak, baik bagi pemberi fidusia dan bagi penerima fidusia
sehingga dapat memberikan perlindungan hukum terhadap kreditor (penerima
fidusia) dan pihak ketiga yang lainnya. Dengan adanya pendaftaran jaminan
fidusia akan lebih menjamin hak preference dari kreditor terhadap kreditor lain
atas hasil penjualan benda objek jaminan fidusia yang bersangkutan, selain itu
pendaftaran jaminan fidusia menentukan pula kelahiran hakpreference kreditor
(penerima fidusia). Hal tersebut dikarenakan jaminan fidusia memberikan hak
kepada pemberi fidusia untuk tetap menguasai benda yang menjadi objek jaminan
fidusia berdasarkan kepercayaan, diharapkan sistem pendaftaran jaminan fidusia
ini dapat memberikan jaminan kepada pihak penerima fidusia dari pihak yang
mempunyai kepentingan terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia
tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, maksud dan tujuan sistem
pendaftaran jaminan fidusia adalah untuk:
78
1. Memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang berkepentingan,
terutama terhadap kreditur lain mengenai benda yang telah dibebani
dengan jaminan fidusia.
2. Melahirkan ikatan jaminan fidusia bagi kreditur (penerima fidusia)
3. Memberikan hak yang didahulukan (preference) kepada kreditur
(penerima fidusia) terhadap kreditur lain, berhubung pemberi fidusia
tetap menguasai benda yang menjadi objek jaminan fidusia berdasarkan
kepercayaan
4. Memenuhi asas publisitas.214
Pendaftaran jaminan fidusia secara manual melalui kantor jaminan fidusia
dirasakan proses pengurusan dan pengeluaran sertifikat jaminan fidusianya
membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang dikeluarkan juga cukup mahal.
Saat ini dengan perkembangan teknologi informasi mempengaruhi berbagai aspek
kehidupan baik itu pendidikan, ekonomi, politik, serta hukum.Jaminan Fidusia
juga merasakan perubahan tersebut, di mana sekarang ini tata cara pendaftaran
jaminan fidusia sudah beralih dari yang secara manual atau konvensional menjadi
secara elektronik atau system online.
Terbukti dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Pemberlakuan
Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Elektronik dan Peraturan Menteri Hukum,
Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 8
Tahun 2013 Tentang Pendelegasian Penandatangan Sertifikat Jaminan Fidusia
214
Ibid, hal. 200.
79
Secara Elektronik dan Hak asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 10 Tahun
2013 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Elektronik dalam
rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang memerlukan jasa
hukum di bidang jaminan fidusia. Tentunya hal inimerupakan salah satu jawaban
pemerintah terhadap globalisasi era perkembangan teknologi informasi.Harapan
bahwa dengan diluncurkannya program pendaftaran jaminan fidusia secara online
pelayanan jasa hukum di bidang fidusia dapat berjalan dengan cepat, akurat, bebas
dari pungutan liar dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia
demi tercapainya kesejahteraan masyarakat.
Kecepatan dan ketepatan dari masyarakat maupun pemerintah sangat
dibutuhkan untuk dapat mengimbangi cepatnya perkembangan kemajuan
teknologi di masa kini maupun di masa mendatang.Teknologi informasi dianggap
dapat membawa suatu keuntungan serta perubahan bagi negara. Setidaknya
beberapa hal berikut dapat membuktikan betapa pentingnya peran teknologi
informasi bagi suatu negara. Pertama,teknologi informasi mampu memberikan
kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi yang dapat menambah
wawasan dalam waktu yang singkat. Kedua,memudahkan transaksi bisnis karena
memberikan kemudahan bagi para pelaku bisnis dalam bertransaksi,di mana dunia
semakin menjadi tanpa batas (borderless). Ketiga, pada saat sekarang ini
teknologi informasi sudah menjadi alat untuk menjadi tempat penyimpanan
dokumen-dokumen penting, seperti yang diatur dalam Undang-Undang No. 43
Tahun 2009 tentang Kearsipan. Dapat dikatakan bahwa teknologi informasi telah
sukses mengawali perubahan tatanan kehidupan masyarakat baik di bidang
80
ekonomi maupun sosial, yang notabene pada awalnya bertransaksi dan
bersosialisasi dilakukan dengan menggunakan cara konvensional menjadi
transaksi dan sosialisasi secara elektronik.
Globalisasi dalam dunia ekonomi khususnya dalam dunia perdagangan
adalah salah satu aspek kehidupan yang mendapatkan imbas dari kehadiran media
komunikasi yang cepat dan handal sehingga aktivitas bisnis di berbagai negara
cenderung meningkat. Berkenaan dengan adanya peningkatan aktivitas bisnis di
berbagai negara sebagai dampak dari penggunaan informasi dan komunikasi maka
sudah barang tentu hal ini akan berimbas juga pada munculnya percepatan baik itu
dalam sistem pelayanan jasa dan dalam sektor pembangunan ekonomi di negara
yang bersangkutan, seperti di Indonesia.215
Tujuan diberlakukannya pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik
yaitu untuk meningkatkan pelayanan jasa hukum pendaftran jaminan fidusia
dengan mudah, cepat, murah dan nyaman maka permohonan pendaftaran jaminan
fidusia dilakukan secara elektronik. Sejak berlakunya sistem administrasi
pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik (online system), Kantor Pendaftaran
Fidusia diseluruh Indonesia dalam menjalankan tugas dan fungsinya tidak lagi
menerima permohonan pendaftaran jaminan fidusia secara manual dan turut
menginformasikan kepada pemohon untuk melakukan permohonan pendaftaran
jaminan fidusia secara elektronik.
Dalam peraturan-peraturan yang mengatur tentang pendaftaran jaminan
fidusia baik dari UU Jaminan Fidusia, Peraturan Pemerintah dan Peraturan
215
R.A. Emma Nurita, 2012, Cyber Notary: Pemahaman Awal dalam
Konsep Pemikiran, Refika Aditama, Bandung, hal. 13.
81
Menteri tentang pendaftaran jaminan fidusia, masih terdapat ketidakpastian dalam
sistem pendaftaran yang dilakukan lewat dari 60 (enam puluh) hari setelah
peraturan menteri tersebut ditetapkan. Pengaturan pendaftaran jaminan fidusia
mengenai tata cara pendaftaran jaminan fidusia jika dirumuskan melalui Pasal 13
ayat (4) bahwa “ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pendaftaran jaminan
fidusia dan biaya pendaftaran diatur dengan Peraturan Pemerintah. Peraturan
Pemerintah yang mengatur tentang tata cara pendafatran jaminan fidusia yaitu
pada Pasal 2 PP Nomor 86 Tahun 2000 bahwa, “permohonan pendaftaran jaminan
fidusia diajukan kepada Menteri” dan Pasal 6 yang menyatakan bahwa “ketentuan
mengenai pelaksanaan tata cara pendaftaran jaminan fidusia diatur lebih lanjut
dengan Keputusan Menteri.
Keputusan Menteri yang digunakan setelah dikeluarkannya peraturan
tentang pendaftaran jaminan fidusia secara online yaitu Peraturan Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2013 Tentang
Pemberlakuan Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Elektronik, Peraturan Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2013 tentang
Pendelegasian Penandatanganan Sertifikat Jaminan Fidusia Secara Elektronik dan
Peraturan Menteri Hukum dan Hak asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 10
Tahun 2013 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Elektronik.
Peraturan pendaftaran jaminan fidusia online ditegaskan lagi pada Pasal 9
Peraturan Menteri Hukum dan Hak asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 10
Tahun 2013 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Elektronik
menyatakan bahwa “pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Keputusan
82
Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Nomor M.01.UM.01.06 Tahun 2000
tentang Bentuk Formulir dan Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia, dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku”, dengan tidak berlakunya keputusan ini maka pelayanan
pendaftaran jaminan fidusia secara manual dengan mengisi suatu formulir di
kantor pendaftaran fidusia tidak dapat dilakukan lagi, sehingga pendaftaran
jaminan fidusia beralih dengan menggunakan sistem pendaftaran jaminan fidusia
secara online.
3.2 Hubungan Hukum Antara Kreditur Dengan Notaris Pada Pendaftaran
Jaminan Fidusia Online
Pendaftaran jaminan fidusia diatur pada Pasal 11 UU Jaminan Fidusia,
yang menyebutkan bahwa:
(1) Benda yang dibebani dengan jaminan fidusia wajib didaftarkan.
(2) Dalam hal benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia berada di luar
wilayah negara Republik Indonesia, kewajiban sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tetap berlaku.
Permohonan pendaftaran jaminan fidusia berdasarkan Pasal 13 ayat (1)
UU Jaminan fidusia yaitu permohonan pendaftaran jaminan fidusia dilakukan oleh
penerima fidusia, kuasa atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan
pendaftaran jaminan fidusia, sehingga berdasarkan pasal tersebut bahwa yang
dapat mendaftarkan jaminan fidusia adalah kreditur sebagai penerima fidusia dan
dapat pula kreditur memberikan kuasa atau di wakilkan dengan melampirkan surat
83
pernyataan jaminan fidusia. Surat pernyataan jaminan fidusia memuat hal-hal
yang diatur pada ayat (2) Pasal 13 UU Jaminan Fidusia yaitu:
a. identitas pihak Pemberi dan Penerima Fidusia;
b. tanggal, nomor akta jaminan Fidusia, nama, tempat kedudukan notaris
yang membuat akta Jaminan Fidusia;
c. data perjanjian pokok yang dijamin fidusia;
d. uraian mengenai benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia;
e. nilai penjaminan; dan
f. nilai benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia.
Pengertian dari kuasa dan wakil yang disebutkan terdapat pada
penjelasan Pasal 8 UU Jaminan Fidusia bahwa yang dimaksud dengan kuasa
adalah kuasa adalah mereka yang menerima pelimpahan wewenang berdasarkan
surat kuasa dari penerima fidusia untuk melakukan pendaftaran jaminan fidusia.
Sedangkan wakil adalah mereka yang berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan berwenang untuk melakukan pendaftaran jaminan fidusia.
Kuasa menurut hukum disebut juga wettelijke vertegenwoordig atau legal
mandatory (legal representative). Maksudnya, undang-undang sendiri telah
menetapkan seseorang atau suatu badan hukum untuk dengan sendirinya menurut
hukum bertindak mewakili orang atau badan tersebut tanpa memerlukan surat
kuasa. Jadi undang-undang sendiri yang menetapkan bahwa yang bersangkutan
menjadi kuasa atau wakil yang berhak bertindak untuk dan atas nama orang atau
badan itu.216
Pemberian kuasa sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 1792
KUHPerdata adalah suatu persetujuan dengan mana seorang memberikan
kekuasaan (wewenang) kepada orang lain, yang menerimanya, untuk atas
216
M. Yahya Harahap, 2012, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta,
(selanjutnya disingkat M. Yahya Harahap II), hal. 8.
84
namanya menyelenggarakan suatuurusan. Ketentuan Pasal 1795 KUHPerdata
dapat dibedakan adanya dua jenis pemberian kuasa, yaitu:
1.
Kuasa Khusus
Sebagaimana rumusan Pasal 1795 KUHPerdata tersebut menyatakan,
kuasa khusus hanya mengenai satu atau lebih kepentingan tertentu. Dalam
pemberiankuasa khusus harus disebutkan secara tegas tindakan atau
perbuatan apa yangboleh dan dapat dilakukan oleh pemberi kuasa.
2.
Kuasa Umum
Dalam Pasal 1796 ayat (1) KUHPerdata menyebutkan:
“Pemberian kuasa yang dirumuskan dalam kata-kata umum, hanyameliputi
perbuatan-perbuatan pengurusan”. Pemberian kuasa yang dirumuskan
dalam kata-kata umum dimaksudkan untuk memberikan kewenangan pada
seseorang (yang diberi kuasa) untuk dan bagi kepentingan pemberi kuasa
melakukan perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan yang mengenai
urusan, yang meliputi segala macam kepentingan dari pemberi kuasa, tidak
termasuk perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan yang mengenai
pemilikan dan hal-hal lain yang bersifat sangat pribadi, seperti pembuatan
surat wasiat.
Pendaftaran jaminan fidusia dilakukan pada kantor pendaftaran jaminan
fidusia sebagaimana yang telah diatur pada Pasal 12 yaitu:
1.
Pendaftaran Jaminan fidusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat
(1) dilakukan pada Kantor Pendaftaran Fidusia.
2. Untuk pertama kali, Kantor Pendaftaran Fidusia didirikan di Jakarta
dengan wilayah kerja mencakup seluruh wilayah negara Republik
Indonesia.
85
3.
Kantor Pendaftaran Fidusia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) berada
dalam lingkup tugas Departemen Kehakiman.
4. Ketentuan mengenai pembentukan Kantor Pendaftaran Fidusia untuk
daerah lain dan penetapan wilayah kerjanya diatur dengan Keputusan
Presiden.
Berdasarkan Pasal 12 maka permohonan pendaftaran jaminan fidusia dilakukan
pada kantor pendaftaran jaminan fidusia di seluruh wilayah negara Republik
Indonesia.
Berlakunya
Peraturan
Menteri
Nomor
9
Tahun
2013
tentang
Pemberlakukan Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara elektronik, terdapat
perbedaan tempat pendaftaran jaminan fidusia yang telah diatur terlebih dahulu
pada Pasal 12 UU Jaminan Fidusia. Pada Peraturan Menteri ini menyatakan pada
Pasal 3 bahwa “pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 dapat dilakukan melalui kios pelayanan pendaftaran
jaminan fidusia secara elektronik diseluruh kantor pendaftaran fidusia”. Kantor
pendaftaran fidusia pada Pasal 1 angka 5 Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun
2013 menyatakan bahwa “kantor pendaftaran fidusia adalah kantor yang
menerima permohonan pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik”.
UU Jaminan fidusia tempat pendaftaran dilakukan pada kantor
pendaftaran jaminan fidusia sedangkan dengan adanya peraturan menteri ini
pendaftaran jaminan fidusia dilakukan pada kios pelayanan pendaftaran jaminan
fidusia yang menerima permohonan pendaftaran jaminan fidusia secara
elektronik. Kios pelayanan pendaftaran jaminan fidusia yang dimaksud tidak
terdapat penjelasannya pada peraturan menteri tersebut.
86
Jika dilihat pada prakteknya pendaftaran jaminan fidusia secara
elektronik atau online dilakukan melalui perantara notaris dan pada kantor notaris.
Dilakukan oleh notaris dan di kantor notaris karena berhubungan dengan sistem
pendaftaran yang memerlukan bagi pendaftar untuk mempunyai user name dan
password ketika mengakses sistem pendaftaran jamian fidusia online. User name
dan password tersebut diberikan hanya kepada notaris oleh Direktorat Jenderal
Administrasi Hukum Umum agar dapat melayani kebutuhan masayarakat
terhadap pendaftaran jaminan fidusia secara sistem online. Notaris pada saat
melakukan pendaftaran jaminan fidusia hanya menggunakan surat pernyataan
pendaftaran jaminan fidusia. Surat pernyataan pendaftaran jaminan fidusia
tersebut, digunakan sebagai dasar untuk dapat mendaftarkan jaminan fidusia
secara online.
3.3 Prosedur Pendaftaran Akta Jaminan Fidusia Dalam Sistem Manual dan
Online.
a.
Tempat pendaftaran jaminan fidusia
Pendaftaran benda yang dibebani dengan jaminan fidusia dilaksanakan di
tempat kedudukan pemberi fidusia dan pendaftarannya mencakup benda, baik
yang berada di dalam maupun di luar wilayah negara Republik Indonesia untuk
memnuhi asas publisitas, sekaligus merupakan jaminan kepastian terhadap
kreditor lainnya mengenai benda yang telah dibebani jaminan fidusia. Prosedur
dalam pendaftaran jaminan fidusia, diatur dalam Pasal 11 sampai dengan Pasal 18
UU Jaminan Fidusia dan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 Tentang
87
Tata cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan
Fidusia. Pendaftaran dilakukan melalui suatu permohonan yang ditujukan kepada
Kantor Pendaftaran Jaminan Fidusia yang untuk pertama kalinya diadakan di
Jakarta, yang wilayah kerjanya meliputi seluruh Indonesia, yang nantinya akan
didirikan di setiap ibukota provinsi.217
Dalam hal kantor pendaftaran jaminan fidusia belum didirikan di tiap
daerah kabupaten/kota maka wilayah kerja kantor pendaftran fidusia di ibukota
propinsi meliputi seluruh daerah kabupaten/kota yang berada di lingkungan
wilayahnya.
Pendirian
kantor
pendaftaran
jaminan
fidusia
di
daerah
kabupaten/kota, dapat disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2014 tentang Pemerintahan Daerah. Keberadaan kantor pendaftaran fidusia ini
berada dalam lingkup tugas Departemen Kehakiman dan bukan instansi yang
mandiri atau unit pelaksana teknis.218
Saat ini dengan adanya sistem online dalam pendaftaran jaminan fidusia
maka sesuai dengan Peraturan Mentri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 9
Tahun 2013, Pasal 3 menyatakan bahwa “Pendaftaran jaminan fidusia secara
elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dapat dilakukan melalui kios
pelayanan pendaftaran jaminan fidusia secara eletronik diseluruh kantor
pendaftaran fidusia”. Kios pelayanan pendaftaran jaminan fidusia yang dimaksud
tidak terdapat penjelasannya pada peraturan menteri tersebut. Selanjutnya
pengertian kantor pendaftaran fidusia terdapat pada Pasal 1 angka 5 Peraturan
Menteri Nomor 10 Tahun 2013 menyatakan bahwa “kantor pendaftaran fidusia
217
218
J. Satrio, Op.Cit, hal.197.
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Op.Cit, hal. 146.
88
adalah kantor yang menerima permohonan pendaftaran jaminan fidusia secara
elektronik”. Pada pengertian ini pun tidak jelas kantor mana yang menerima
permohonan pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik.
Pada prakteknya pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik atau online
dilakukan pada kantor notaris, karena hanya notaris yang dapat mengakses
website www.sisminbakum.go.id. untuk melakukan pendaftaran akta jaminan
fidusia. Notaris sendiri yang akan melakukan pendaftaran jaminan fidusia secara
online dengan menginput data sesuai dengan akta pembebanan yang dibuatnya,
karena mengingat username dan password untuk masuk ke dalam menu layanan
Pendaftaran Jaminan fidusia secara online yang hanya dimiliki oleh notaris.
Username dan password yang diberikan oleh Direktorat Jenderal
Administrasi Hukum Umum dalam mengakses menu fidusia online hanyalah
dimiliki oleh para notaris. Sehingga diharapkan kehati-hatian dari para notaris
agar supaya username dan password yang dimiliki tidak diketahui dan digunakan
oleh orang-orang yang tidak berkepentingan. Kepemilikan notaris akan username
dan password dalam mengakses menu fidusia online yang diselenggarakan oleh
Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia khususnya Direktorat Jenderal
Administrasi Hukum Umum secara jelas menyatakan bahwa notaris menjadi
pejabat umum yang berwenang dalam melakukan pendaftaran Jaminan Fidusia.
b. Permohonan dan pernyataan pendaftaran jaminan fidusia
Proses pendaftaran jaminan fidusia dimulai dengan pembuatan akta
jaminan fidusia oleh notaris, yang kemudian dilakukan pendaftaran di kantor
pendaftaran fidusia, sesuai dengan Pasal 13 ayat (1) UU Jaminan Fidusia,
89
pendaftran jaminan fidusia dilakukan dengan mengajukan surat permohonan
kepada kantor Pendaftaran fidusia dengan melampirkan surat pernyataan
pendaftaran jaminan fidusia. Pasal ini menentukan pula bahwa permohonan
pendaftaran jaminan fidusia tidak harus dilakukan oleh penerima fidusia,
melainkan dapat dilakukan kuasa atau wakil dari penerima fidusia.
Tata cara pendaftaran jaminan fidusia berdasarkan pada Pasal 2 Peraturan
Pemerintah Nomor 86 tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia
dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia (selanjutnya disebut PP No 86 Tahun
2000) adalah:
(1) Permohonan pendaftaran Jaminan Fidusia diajukan kepada Menteri.
(2) Permohonan pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan
secara tertulis dalam bahasa Indonesia melalui Kantor oleh Penerima
Fidusia, kuasa, atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan pendaftaran
Jaminan Fidusia.
(3) Permohonan pendaftaran Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) dikenakan biaya yang besarnya ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah tersendiri mengenai Penerimaan Negara Bukan Pajak.
(4) Permohonan pendaftaran Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) dilengkapi dengan :
a. salinan akta notaris tentang pembebanan Jaminan Fidusia;
b. surat kuasa atau surat pendelegasian wewenang untuk melakukan
pendaftaran Jaminan Fidusia;
c. bukti pembayaran biaya pendaftaran Jaminan Fidusia sebagaimana
dimaksud dalam ayat (3).
(5) Pernyataan pendaftaran Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) dilakukan dengan mengisi formulir yang bentuk dan isinya
ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
Permohonan pendaftaran jaminan fidusia dilakukan oleh penerima fidusia,
kuasa atau wakilnya sesuai dengan Pasal 13 ayat (2) UU Jaminan Fidusia
melampirkan pernyataan pendaftaran jaminan fidusia yang memuat:
a. Identitas pihak pemberi fidusia dan penrima fidusia
b. Tanggal, nomor akta jaminan fidusia, nama dan tempat kedudukan notaris
yang membuat akta jaminan fidusia
90
c.
d.
e.
f.
Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia
Uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan fidusia
Nilai penjaminan, dan
Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
Ketentuan mengenai pelaksanaan tata cara pendaftaran jaminan fidusia
diatur pada Pasal 6 PP No 86 Tahun 2000 bahwa “ketentuan mengenai
pelaksanaan tata cara pendaftaran jaminan fidusia diatur lebih lanjut dengan
keputusan menteri”. Selanjutnya untuk melaksanakan secara teknis ketentuan
dalam pasal-pasal PP No 86 Tahun 2000, maka ditetapkanlah Keputusan Menteri
Kehakiman dan Hak Asasi ManusiaNomor M.01.UM.01.06 Tahun 2000 tentang
Bentuk Formulir dan Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia.
Pejabat pendaftaran jaminan fidusia pada kantor pendaftaran fidusia yang
menerima permohonan pendaftaran jaminan fidusia, kemudian memeriksa
kelengkapan persyaratan permohonan pendaftaran jaminan fidusia yang telah
ditetapkan. Kelengkapan persyaratan meliputi kelengkapan dokumen yang
ditetapkan dan ketepatan dalam mengisi formulir sesuai dengan data yang
diperlukan. Dalam hal ini pejabat pendaftaran jaminan fidusia tidak melakukan
penilaian terhadap kebenaran yang dicantumkan dalam penyataan pendaftaran
jaminan fidusia, tetapi hanya melakukan pengecekan data yang tercantum dalm
formulir
pernyataan
pendaftaran
jaminan
fidusia.
Apabila
permohonan
pendaftaran jaminan fidusia yang diajukan tersebut tidak memenuhi kelengkapan
persyaratan, pejabat pendaftaran jaminan fidusia harus segera dan langsung
mengembalikan berkas permohonan pendaftaran jaminan fidusia kepada pemohon
untuk dilengkapi, namun sebaliknya bila kelengkapan persyaratan permohonan
pendaftaran jaminan fidusia telah dipenuhi dan dinyatakan lengkap, permohonan
91
pendaftaran jaminan fidusia segera dan langsung diproses dengan cara
menbubuhkan nomor, tanggal, dan jam penerimaan pendaftaran jaminan fidusia
pada formulir pernyataan pedaftaran jaminan fidusia. 219
Untuk melancarkan proses pendaftaran jaminan fidusia secara sistem
online maka dibuat pengaturan tentang tata cara pendaftaran jaminan fidusia
secara elektronik yaitu pada Pasal 2, Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Nomor 10 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia
Secara Elektronik menyatakan bahwa:
(1) Permohonan Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Elektronik diajukan
kepada Menteri.
(2) Pendaftaran Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. pendaftaran permohonan Jaminan Fidusia;
b. pendaftaran perubahan Jaminan Fidusia; dan
c. penghapusan Jaminan Fidusia.
Pasal 3 mengatur tentang tata cara pendaftaran permohonan jaminan fidusia
secara elektronik, yaitu:
(1) Pendaftaran permohonan Jaminan Fidusia secara elektronik dilakukan
dengan mengisi formulir aplikasi.
(2) Pengisian formulir aplikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. identitas Pemohon;
b. identitas pemberi fidusia;
c. identitas penerima fidusia;
d. akta Jaminan Fidusia;
e. perjanjian pokok;
f. nilai penjaminan; dan
g. nilai benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia.
(3) Pemohon mencetak bukti pendaftaran setelah selesai melakukan
pengisian formulir aplikasi.
(4) Bukti pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memuat:
a. nomor pendaftaran;
b. tanggal pengisian aplikasi;
219
Ibid.
92
c.
d.
e.
f.
nama Pemohon;
nama Kantor Pendaftaran Fidusia;
jenis permohonan; dan
biaya pendaftaran permohonan Jaminan Fidusia sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Berdasarkan bukti pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (4),
pemohon melakukan pembayaran biaya pendaftaran permohonan
Jaminan Fidusia melalui Bank Persepsi.
(6) Setelah melakukan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5),
Pemohon mencetak sertifikat Jaminan Fidusia yang telah
ditandatangani secara elektronik oleh Pejabat Pendaftaran Jaminan
Fidusia.
Sistem pendaftaran jaminan fidusia manual diperlukan adanya penyerahan
dokumen fisik berupa pernyataan pendaftaran jaminan fidusia yang blangkonya
disediakan oleh kantor pendaftaran fidusia, surat permohonan pendaftaran
jaminan fidusia, salinan Akta Jaminan Fidusia, surat kuasa untuk melakukan
pendaftaran, bukti pembayaran PNBP dan fotokopi bukti kepemilikan objek
kepada kantor pendaftaran fidusia sebagai persyaratan pendaftaran. Kemudian
pada sistem administrasi pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik tidak ada
penyerahan dokumen fisik ke kantor pendaftaran fidusia di Kementerian Hukum
dan Hak Asasi Manusia, tetapi dokumen fisik tersebut diserahkan ke kantor
pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik.
Pendaftaran jaminan fidusia yang dilakukan dengan sistem online tidak
memerlukan pengiriman ataupun mengirim softcopy dari data fisik yang berupa
akta jaminan fidusia, perjanjian kredit dari bank, fotocopy KTP dan kartu keluarga
dari debitur, semua dokumen tersebut diserahkan kepada pemohon untuk
keperluan menginput data pendaftaran secara online. Selanjutnya semua dokumen
tersebut disimpan oleh pemohon. Surat pernyataan bahwa tidak adanya pengirim
93
softcopy data fisik secara online oleh pemohon yaitu notaris terlampir pada tesis
ini.
Karena tidak adanya penyerahan data fisik secara online yang bertujuan
untuk menjamin kepastian akta jaminan fidusia dan data-data yang telah di input
dalam sistem online, maka pada sistem pendaftaran jaminan fidusia online
tersebut terdapat keterangan peringatan, yang isinya sebagai berikut: saya
menyatakan dengan sesungguhnya bahwa:
1. Seluruh data yang tertuang dalam permohonan pendaftaran jaminan
fidusia ini adalah benar.
2. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tidak
bertanggung jawab atas segala akibat hukum yang timbul atas pengisian
permohonan pendaftaran jaminan fidusia.Seluruh data yang di input
merupakan tanggung jawab pemohon.
Sehingga dengan adanya peringatan yang terdapat dalam pendaftaran jaminan
fidusia online tersebut mengakibatkan atas semua yang sudah dicantumkan pada
pendaftaran online tersebut menjadi tanggungjawab pemohon pendaftar fidusia.
c.
Buku Daftar Fidusia
Kantor pendaftaran fidusia untuk melaksanakan pencatatan jaminan
fidusia, menyediakan buku daftar fidusia. Kewajiban menyediakan buku daftar
fidusia bagi kantor pendaftaran fidusia ini dinyatakan secara tegas dalam Pasal 13
ayat (3) UU Jaminan Fidusia, yang bunyinya “Kantor pendaftaran fidusia
mencatat jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia pada tanggal yang sama
dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran”. Berdasarkan pada Pasal 13
94
ayat (3) UU Jaminan fidusia dapat diketahui bahwa jaminan fidusia (harus) dicatat
di Kantor Pendaftaran Fidusia dalam suatu register khusus yang diadakan untuk
itu, yang dinamakan dengan buku daftar fidusia. Pencatatannya dilakukan pada
tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran jaminan
fidusia tersebut.
Pada sistem manual pencatatan fidusia dilakukan oleh pejabat yang
berwenang untuk itu, dimana perlu adanya penyerahan dokumen terlebih dahulu.
Hal tersebut berbeda dalam system online, pada system online pencatatan
jaminanfidusiatetap dilakukan, namun tidak dicatatkan secara manual melalui
buku daftar fidusia tetapi dengan system online. Setelah menginput seluruh data,
maka secara otomatis jaminan fidusia telah dicatatkan dengan system online.
Setelah dicatatkan melalui system online, barulah dapat dicetak sertifikat jaminan
fidusia.
d. Saat lahirnya jaminan fidusia
Jaminan fidusia sebagaimana yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 14
ayat (3) UU Jaminan Fidusia, lahir pada tanggal yang sama dengan tanggal
dicatatnya jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia. Tanggal pencatatan jaminan
fidusia dalam buku daftar fidusia ini dianggap sebagai alat saat lahirnya jaminan
fidusia, dengan demikian pendaftaran jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia
merupakan perbuatan konstitutif yang melahirkan jaminan fidusia. Penegasan
lebih lanjut terdapat dalam ketentuan Pasal 28 UU Jaminan Fidusia yang
menyatakan apabila atas benda yang sama menjadi objek jaminan fidusia lebih
dari 1 (satu) perjanjian jaminan fidusia, maka kreditor yang lebih dahulu
95
mendaftarkannya adalah penerima fidusia. Hal ini penting diperhatikan oleh
kreditor, karena hanya penerima fidusia, kuasa atau wakilnya yang boleh
melakukan pendaftaran jaminan fidusia. 220
Lahirnya jaminan fidusia melalui system online adalah sama dengan sistem
manual yaitu pada saat dicatatkannya jaminan fidusia. Jaminan Fidusia, lahir pada
tanggal yang sama dengan tanggal dicatatnya jaminan fidusia dalam system
online.
e.
Biaya pendaftaran jaminan fidusia
Biaya pendaftaran fidusia diatur dalam PP No 86 Tahun 2000, pada Pasal
13 ayat (4) UU Jaminan Fidusia dan Pasal 2 ayat (3) PP No 86 Tahun 2000, dapat
diketahui bahwa besarnya biaya pendaftaran jaminan fidusia pada kantor
pendaftaran fidusia diatur dengan Peraturan Pemerintah tersendiri mengenai
Penerimaan Negara Bukan Pajak. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun
2000 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1999
tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada
Departemen Kehakiman telah diatur tiga jenis penerimaan negara bukan pajak
yang bertalian dengan pelayanan jasa hukum dalam pendaftaran jaminan fidusia
yaitu mengenai biaya pendaftaran jaminan fidusia, biaya permohonan perubahan
hal-hal yang tercantum dalam sertifikat jaminan fidusia dan biaya permohonan
penggantian sertifikat jaminan fidusia yang rusak atau hilang.221
220
221
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Op.Cit, hal. 148.
Rachmadi Usman I, Op.Cit, hal. 213.
96
Pada tahun 2014 telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun
2014 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang
Berlaku Pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (selanjutnya disebut
PP 45 Tahun 2014) yang mengantikan Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun
2009 tentang Jenis dan Tarif Atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang
Berlaku Pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Berdasarkan PP 45
Tahun 2014 Tarif Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bertalian dengan
biaya permohonan pendaftaran jaminan fidusia dan perubahan serta penggantian
sertifikat jaminan fidusia dapat dilihat dari table berikut:
No
Jenis PNBP
1
Pendaftaran jaminan fidusia
a. Untuk nilai penjaminan sampai
dengan Rp. 50.000.000
b. Untuk nilai penjaminan di atas
Rp. 50.000.000
c. Untuk nilai penjaminan di atas
Rp.
100.000.000
sampai
dengan Rp. 250.000.000
d. Untuk nilai penjaminan di atas
Rp.
250.000.000
sampai
dengan Rp. 500.000.000
e. Untuk nilai penjaminan di atas
Rp.
500.000.000
sampai
dengan Rp. 1.000.000.000
f. Untuk nilai penjaminan di atas
Rp. 1.000.000.000 sampai
dengan Rp. 100.000.000.000
g. Untuk nilai penjaminan di atas
Rp. 100.000.000.000 sampai
dengan Rp. 500.000.000.000
Satuan
Tarif (Rp)
Per Akta
Per Akta
Per Akta
Rp. 50.000
Rp. 100.000
Per Akta
Per Akta
Rp. 200.000
Per Akta
Per Akta
Rp. 400.000
h. Untuk nilai penjaminan di atas
Rp. 500.000.000.000 sampai Per Akta
dengan Rp. 1.000.000.000.000 Per Akta
i. Untuk nilai penjaminan di atas
Rp. 800.000
Rp. 1.600.000
Rp. 3.200.000
Rp. 6.400.000
97
Rp. 1.000.000.000.000
2
3
f.
Permohonan perubahan hal yang Per Permohonan
tercantum
dalam
sertifikat
jaminan fidusia
Penghapusan atau pencoretan Per Permohonan
sertifikat jaminan fidusia
Rp. 12.800.000
Rp. 200.000
Rp. 100.000
Sertifikat jaminan fidusia
Sebagai tanda bukti adanya jaminan fidusia, sesuai dengan ketentuan
dalam Pasal 14 ayat (1) UU Jaminan Fidusia, kantor pendaftaran fidusia
menerbitkan sertifikat jaminan fidusia untuk selanjutnya menyerahkan kepada
penerima fidusia sertifikat jaminan fidusia tersebut pada tanggal yang sama
dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran jaminan fidusia. Ketentuan
Pasal 6 ayat (3) Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Nomor
M.01.UM.01.06 Tahun 2001 bahwa, nomor, tanggal dan jam penerimaan
pendaftaran jaminan fidusia harus sama dengan nomor, tanggal dan jam yang
tercantum dalam sertifikat jaminan fidusia yang diterbitkan untuk permohonan
tersebut.222
Sertifikat jaminan fidusia merupakan salinan dari buku daftar fidusia. Halhal yang tercantum dalam sertifikat jaminan fidusia adalah:
a. Dalam judul sertifikat jaminan fidusia dicantumkan kata-kata “DEMI
KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”.
Sertifikat jaminan ini mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama
dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang
tetap. Apabila debitur cedera janji, penerima fidusia mempunyai hak
222
Ibid, hal. 214.
98
untuk menjual benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas
kekuasaannya sendiri;
b. Di dalam sertifikat jaminan fidusia dicantumkan hal-hal berikut:
1) Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia
2) Tempat, nomor akta jaminan fidusia, nama dan tempat kedudukan
notaris yang membuat akta jaminan fidusia
3) Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia
4) Uraian mengenai objek benda jaminan yang menjadi objek jaminan
fidusia
5) Nilai penjaminan
6) Nilai benda yang menjadi objek benda jaminan fidusia.223
Apabila terjadi kekeliruan penulisan dalam sertifikat jaminan fidusia yang
telah diterima oleh pemohon dalam jangka waktu 60 hari setelah menerima
sertifikat tersebut, pemohon memberitahukan kepada kantor pendaftaran fidusia
untuk diterbitkan sertifikat perbaikan. Sertifikat perbaikan memuat tanggal yang
sama dengan tanggal sertifikat semula dan penerbitan sertifikat tidak dikenai
biaya (Pasal 5 ayat (1), (2) dan ayat (3) PP 86 Tahun 2000).224
Sertifikat jaminan fidusia juga tidak menutup kemungkinan terjadi
perubahan terhadap substansi, yang dimaksud dengan perubahan substansi antara
lain perubahan penerima jaminan fidusia, perubahan perjanjian pokok yang
dijamin fidusia dan perubahan nilai jaminan. Apabila terjadi hal tersebut prosedur
yang ditempuh untuk mengadakan perubahan substansi sebagai berikut:
223
224
H. Salim. HS, Op.Cit, hal. 83.
Ibid, hal. 86.
99
1. Penerima fidusia wajib mengajukan permohonan pendaftaran atas
perubahan tersebut kepada kantor pendaftaran fidusia.
2. Kantor pendaftaran fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal
penerimaan permohonan perubahan, melakukan pencatatan perubahan
tersebut dalam buku daftar fidusia dan menerbitkan pernyataan perubahan
yang merupakan bagian tak terpisah dari sertifikat jaminan fidusia.225
Setelah berlakunya pendaftaran jaminan fidusia secara online terjadi
perbedaan terhadap pihak yang menerbitkan sertifikat jaminan fidusia. Pada
sistem manual sertifikat jaminan fidusia dikeluarkan oleh instansi yang sah dan
berwenang, dalam hal ini kantor pendaftaran fidusia sedangkan dengan
berlakunya sistem online pada Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013 tentang
Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Elektronik Pasal 3 ayat (6) bahwa
yang mencetak sertifikat jaminan fdiusia adalah pemohon.Pasal 3 ayat (6)
menyatakan bahwa, “setelah melakukan pembayaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) pemohon mencetak sertifikat jaminan fidusia yang telah ditandatangani
secara elektronik oleh pejabat pendaftaran jaminan fidusia”.
Dalam prakteknya pihak yang mencetak sertifikat jaminan fidusia adalah
notaris di kantor notaris. Tanda tangan dalam Sertifikat Jaminan Fidusia secara
elektronik hal ini berbeda pada sistem pendaftaran jaminan fidusia manual,
dimana tanda tangan yang diberikan adalah tanda tangan basah. Pada Peraturan
Pemerintah
225
Nomor
Ibid.
8
Tahun
2013
diatur
mengenai
Pendelegasian
100
Penandatanganan Sertifikat Jaminan Fidusia Secara Elektronik yaitu pada Pasal 2
dan Pasal 3 bahwa:
Pasal 2
1) Penandatanganan sertifikat jaminan fidusia secara elektronik dilakukan
oleh Pejabat Pendaftaran Jaminan Fidusia atas nama Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia.
2) Sertifikat jaminan fidusia ditandatangani pada tanggal yang sama dengan
tanggal penerimaan permohonan Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara
Elektronik.
Pasal 3
1) Dalam hal Pejabat Pendaftaran Jaminan Fidusia berhalangan, kewenangan
penandatanganan sertifikat jaminan fidusia secara elektronik dapat
didelegasikan kepada Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan Hak Asasi
Manusia.
2) Dalam hal Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusia
berhalangan, Pejabat Pendaftaran Jaminan Fidusia dapat mendelegasikan
kewenangan penandatanganan sertifikat jaminan fidusia secara elektronik
kepada Kepala Divisi Administrasi.
Tanda tangan elektronik pada dasarnya adalah teknik dan mekanisme yang
digunakan untuk memberikan kesamaan fungsi dan karakteristik tanda tangan
tertulis (basah) yang dapat diterapkan dalam lingkungan elektronik (fungsional
equivalence approach). Tanda tangan elektronik merupakan data dalam bentuk
elektronik yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan informasi elektronik
yang berguna untuk mengidentifikasi penanda tangan dan menunjukkan
persetujuan penanda tangan atas informasi elektronik yang dimaksud. Dengan
kata lain, tanda tangan elektronik berfungsi sebagai alat verifikasi atau
autentikasi.226 Terkait dengan kedudukan tanda tangan elektronik, Penjelasan
Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik
(selanjutnya disebut UU ITE) menyebutkan bahwa tanda tangan elektronik
226
Josua Sitompul, 2012, Cyberspace Cybercrimes Cyberlaw Tinjauan
Aspek Hukum Pidana, PT. Tatanusa, Jakarta, hal. 93.
101
memiliki kedudukan yang sama dengan tanda tangan manual pada umumnya yang
memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum sejauh memenuhi persyaratan
minimum yang ditentukan dalam Pasal 11 dan Pasal 12 UU ITE.
Pasal 11
1) Tanda Tangan Elektronik memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum
yang sah selama memenuhipersyaratan sebagai berikut:
a. data pembuatan Tanda Tangan Elektronik terkait hanya kepada
Penanda Tangan;
b. data pembuatan Tanda Tangan Elektronik pada saat proses
penandatanganan elektronik hanya berada dalam kuasa Penanda
Tangan;
c. segala perubahan terhadap Tanda Tangan Elektronik yang terjadi
setelah waktu penandatanganan dapat diketahui;
d. segala perubahan terhadap Informasi Elektronik yang terkait dengan
Tanda Tangan Elektronik tersebut setelah waktu penandatanganan
dapat diketahui;
e. terdapat cara tertentu yang dipakai untuk mengidentifikasi siapa
Penandatangannya; dan
f. terdapat cara tertentu untuk menunjukkan bahwa Penanda Tangan
telah memberikan persetujuan terhadap Informasi Elektronik yang
terkait.
2) Ketentuan lebih lanjut tentang Tanda Tangan Elektronik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 12
1) Setiap orang yang terlibat dalam Tanda Tangan Elektronik berkewajiban
memberikan pengamanan atas Tanda Tangan Elektronik yang
digunakannya.
2) Pengamanan Tanda Tangan Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) sekurang-kurangnya meliputi:
a. sistem tidak dapat diakses oleh orang lain yang tidak berhak;
b. Penanda Tangan harus menerapkan prinsip kehati-hatian untuk
menghindari penggunaan secara tidak sah terhadap data terkait
pembuatan Tanda Tangan Elektronik;
c. Penanda Tangan harus tanpa menunda-nunda, menggunakan cara
yang dianjurkan oleh penyelenggara Tanda Tangan Elektronik
ataupun cara lain yang layak dan sepatutnya harus segera
memberitahukan kepada seseorang yang oleh Penanda Tangan
dianggap memercayaiTanda Tangan Elektronik atau kepada pihak
pendukung layanan Tanda Tangan Elektronijika:
1. Penanda Tangan mengetahui bahwa data pembuatan Tanda
Tangan Elektronik telah dibobol; atau
102
2.
keadaan yang diketahui oleh Penanda Tangan dapat
menimbulkan risiko yang berarti, kemungkinan akibat bobolnya
data pembuatan Tanda Tangan Elektronik; dan
d. dalam hal Sertifikat Elektronik digunakan untuk mendukung Tanda
Tangan Elektronik, Penanda Tangan harus memastikan kebenaran
dan keutuhan semua informasi yang terkait dengan Sertifikat
Elektronik tersebut.
3) Setiap Orang yang melakukan pelanggaran ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), bertanggung jawab atas segala kerugian dan
konsekuensi hukum yang timbul.
3.4 Kedudukan dan Status Pendaftaran Akta Jaminan Fidusia
Pasal 1 angka 1 UU Jaminan Fidusia menyatakan bahwa fidusia adalah
pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan
bahwa benda yang hak kepemilikannya yang diadakan tersebut tetap dalam
penguasaan pemilik benda. Dari pengertian fidusia diatas maka dapat diketahui
unsur-unsur fidusia itu, yaitu:
4. Pengalihan hak kepemilikan suatu benda.
5. Atas dasar kepercayaan.
6. Benda tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.227
Jadi, hak milik atas benda yang diberikan sebagai jaminan dialihkan oleh
pemiliknya kepada kreditur penerima jaminan, sehingga selanjutnya hak milik
atas benda jaminan ada pada kreditur penerima-jaminan sedangkan, benda
jaminan secara fisik masih berada dibawah penguasaan Debitur/Pemberi Fidusia.
Penyerahan hak milik yang terdapat dalam pengertian fidusia sebenarnya
bukan dimaksudkan untuk benar-benar menjadikan kreditor pemilik atas benda
jaminan, tetapi hanya mau memberikan hak jaminan saja kepada kreditor, hal ini
227
J. Satrio, Op.Cit, hal. 181
103
adalah sesuai dengan maksud penyerahan benda jaminan pada lembaga fidusia
yang maksdunya tidak lain adalah memberikan jaminan atas suatu tagihan. Kata
kepercayaan yang terdapat dalam pengertian fidusia mempunyai arti bahwa
pemberi jaminan percaya bahwa penyerahan hak miliknya tidak dimaksudkan
untuk benar-benar menjadikan kreditor pemilik atas benda yang diserahkan
kepadanya dan bahwa nantinya kalau kewajiban perikatan pokok untuk mana
diberikan jaminan fidusia dilunasi maka benda jaminan akan kembali menjadi
milik pemberi jaminan. Kata-kata tetap dalam penguasaan pemilik benda sesuai
dengan penafsiran dokrin yang selama ini berlaku maksudanya adalah bahwa
penyerahan itu dilaksanakan secara constitutum possessorium yang artinya
penyerahan hak milik dilakukan dengan janji bahwa bendanya sendiri secra fisik
tetap dikuasai oleh pemberi jaminan, jadi kata-kata dalam penguasaan diartikan
tetap dipegang oleh pemberi jaminan. Dalam hal ini yang diserahkan adalah hak
yuridisnya atas benda tersebut sedangkan hak pemanfaatanya tetap ada pada
pemberi jaminan. 228
Jaminan yang memiliki hak mendahului artinya kreditor sebagai penerima
fidusia memiliki hak yang didahulukan (preference) terhadap kreditor lainnya
untuk menjual atau mengeksekusi benda jaminan dan hak didahulukan untuk
mendapatkan pelunasan hutang dari hasil eksekusi benda jaminan fidusia tersebut
dalam hal debitur wanprestasi sebagaimana diatur dalam Pasal 27 dan Pasal 28
UU Jaminan Fidusia. Pasal 27 UU Jaminan Fidusia menyatakan bahwa:
(1) Penerima fidusia memiliki hak yang didahulukan terhadap kreditor
lainnya.
228
Ibid, hal. 182.
104
(2) Hak yang didahulukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah hak
penerima fidusia untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil
eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
(3) Hak yang didahulukan dari penerima fidusia tidak hapus karena adanya
kepailitan dan atau likuidasi pemberi fidusia.
Pasal 28 UU Jaminan Fidusia menyatakan bahwa “apabila atas benda yang sama
menjadi objek jaminan fidusia lebih dari satu (1) perjanjian jaminan fidusia, maka
hak yang didahulukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, diberikan kepada
pihak yang lebih dahulu mendaftarkannya pada kantor pendaftaran fidusia”.
Ketentuan Pasal 1133 KUHPerdata menyebutkan terdapat tiga hak
kebendaan yang memberikan kedudukan yang didahulukan kepada pemegangnya
yaitu privelege, gadai dan hipotek, di luar KUHPerdata terdapat dua hak
kebendaan lainnya yaitu hak tanggungan dan jaminan fidusia, yang juga
memberikan kedudukan yang didahulukan kepada pemegangnya. Ketiga-tiganya
disebut hak yang didahulukan (hak-hak mendahului) atau hak preference di antara
orang-orang yang berpiutang, inilah yang dinamakan dengan hak untuk
didahulukan dalam arti luas. Sementara itu hak yang didahulukan dalam arti
sempit adalah hak tagihan yang oleh undang-undang digolongkan dalam hak
istimewa (privelege). Tagihannya disebut tagihan yang didahulukan atau tagihan
preference (bevoorrechte schulden), sedangkan kreditornya disebut kreditor yang
didahulukan (bevoorrechte schuldeiser), kreditor preference.229
Privilege diatur secara tersendiri yaitu sebelum aturan mengenai gadai dan
hipotek. Pengaturan privilege dapat dijumpai dalam buku kedua title kesembilan
belas di bawah title piutang-piutang yang diistimewakan yakni mulai Pasal 1131
229
Rachmadi Usman I, Op.Cit. hal. 519.
105
sampai dengan Pasal 1149 KUHPerdata. Bab tersebut tersendiri atas tiga bagian
yang mengatur mengenai hal-hal sebagai berikut:
1. Piutang-piutang yang diistimewakan pada umumnya.
2. Hak-hak istimewa yang mengenai benda-benda tertentu.
3. Hak-hak istimewa atas semua benda bergerak dan tidak bergerak pada
umumnya.230
Secara yuridis pengertian privilege dirumuskan dalam Pasal 1134 ayat (1)
KUHPerdata yaitu hak istimewa adalah suatu hak yang oleh undang-undang
diberikan kepada seorang berpiutang, sehingga tingkatanya lebih tinggi daripada
orang berpiutang lainnya, semata-mata berdasarkan sifatnya piutang. Dari pasal
diatas jelaslah, bahwa hak privilege atau hak istimewa itu suatu hak yang
diberikan undang-undang artinya undang-undang (secara limitatif) telah
menetapkan atau menyebutkan piutang-piutang tertentu, yang didasarkan kepada
sifatnya dari piutang-piutang tertentu tersebut sebagai piutang yang diistimewakan
atau didahulukan, sehingga memberikan kedudukan yang lebih didahulukan
kepada pemegangnya dalam mengambil pelunasan piutang dibandingkan dengan
kreditor lainnya.231
Undang-undang membedakan 2 (dua) kelompok hak-hak istimewa yaitu
piutang yang di istimewakan atas barang-barang tertentu, barang-barang yang
disebutkan/ditentukan secara khusus dan piutang yang diistimewakan atas semua
benda milik debitur, benda debitur pada umumnya dan karenanya disebut dengan
istilah privelege khusus dan privilege umum. Pasal 1138 KUHPerdata secara
230
231
Ibid. hal. 520.
Ibid.
106
umum menetapkan tingkatan antara kedua kelompok hak istimewa tersebut,
dalam hal pelaksanaannya kedua macam hak tersebut bertabrakan satu sama
lainnya.232
Privilege khusus tidak dibayarkan secara berurutan, sebab piutangnya
dikaitkan dengan kebendaan tertentu saja, bukan dengan kebendaan pada
umumnya. Pelunasan piutang diambil dari hasil penjualan kebendaan tertentu
yang bersangkutan. Sementara privilege umum diatur di dalam ketentuan Pasal
1149 KUHPerdata yang menetapkan, bahwa pelunasan piutang-piutang yang
didahulukan tersebut dilakukan secara berurutan sesuai dengan urutannya.233
3.5 Pendaftaran Akta Jaminan Fidusia Yang Lewat Waktu Dari Saat
Berlakunya Peraturan Menteri Nomor 10 tahun 2013.
Pendaftaran jaminan fidusia menjadi pertimbangan di dalam konsideran
UU Jaminan Fidusia. Jaminan fidusia perlu didaftarkan pada kantor pendaftaran
fidusiauntuk menjamin kepastian hukum dan serta mampu memberikan
perlindungan hukum bagi para pihak yang berkepentingan khususnya kreditor.
Kewajiban pembebanan benda jaminan fidusia berikut dengan pendaftarannya
sangat diperlukan mengingat adanya kemungkinan kelalaian dari para pihak
terhadap pembebanan benda jaminan termasuk pendaftarannya.Pendaftaran
jaminan fidusia diatur pada Pasal 11 UU JaminanFidusia, yang menyebutkan
bahwa:
232
233
J. Satrio, Op.Cit, hal. 38.
Rachmadi Usman I, Op.Cit. hal. 523.
107
(1) Benda yang dibebani dengan jaminan fidusia wajib didaftarkan.
(2) Dalam hal benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia berada di luar
wilayah negara Republik Indonesia, kewajiban sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tetap berlaku.
Proses pendaftaran jaminan fidusia diawali terlebih dahulu dengan
membebankan benda jaminan fidusia tersebut yang dituangkan didalam akta
notariil oleh notaris dan disebut dengan akta jaminan fidusia, selanjutnya
pembebanan benda jaminan fidusia dilanjutkan dengan pendaftaran. Pendaftaran
jaminan fidusia sangatlah penting karena berpengaruh terhadap kepastian hukum.
Tujuan pendaftaran jaminan fidusia adalah untuk melindungi pihak kreditor
sebagai penerima fidusia dari debitur yang melakukan wanprestasi. Pembebanan
yang dilanjutkan dengan pendaftaran jaminan fidusia tersebut untuk memenuhi
asas-asas jaminan fidusia dan untuk menghindarkan kerugian bagi pihak kreditor,
sehingga dengan adanya pengaturan tentang jaminan fidusia yang tidak
didaftarkan akan menghindari kerugian para pihak.
Permasalahan yang muncul mengingat ada kemungkinan kesegajaan dari
kreditor untuk tidak mendaftarkan jaminan fidusia pada saat setelah benda
jaminan fidusia telah dibebani dengan jaminan fidusia. Hal ini dikatakan sangat
mendasar karena penerima fidusia sangat lemah posisinya, apabila benda yang
telah dibebani jaminan fidusia tidak dilakukan pendaftaran. Selain memberikan
perlindungan terhadap kreditor dan pihak ketiga. Namun dalam prakteknya, bisa
saja setelah benda yang dibebani jaminan fidusia oleh notaris dalam bentuk
notariil yang disebut akta jaminan fidusia tidak langsung didaftarkan oleh notaris
108
atau bahkan hanya dibuatkan salinan dan diberikan kepada pihak penerima fidusia
tanpa ada pendaftaran.
Secara garis besar dapat ditemukan norma-norma umum dalam UU
Jaminan Fidusia yang membentuk seperangkan bangunan norma yang ditujukan
untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi para pihak yang
berkepentingan, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Norma fasilitatif
Dikatakan norma fasilitatif karena norma itu membuka pintu selebarlebarnya terhadap setiap perjanjian yang bertujuan membebani benda jaminan
dalam bentuk apapun dengan jaminan fidusia. Pengaturan ini memberikan
kebebasan seluas-luasnya guna memfasilitasi para pihak yang terkait membuat
perjanjian dengan tujuan untuk membebani benda jaminan dengan jaminan
fidusia. Norma fasilitatif dapat ditemukan dalam Pasal 2 UU Jaminan Fidusia
yang menegaskan bahwa undnag-undang ini berlaku terhadap setiap perjanjian
yang bertujuan untuk membebani benda dengan jaminan fidusia.
2. Norma regulatif
Norma regulatif merupakan norma yang bersifat mengatur. Norma-norma
ini dapat dilihat pada semua atau sebagian besar pasal-pasal dalam UU Jaminan
Fidusia. Mulai dari Pasal 1 sampai dengan Pasal 41, pada dasarnya adalah normanorma yang bersifat mengatur. Dalam UU Jaminan Fidusia merupakan regulasi
yang diamatkan dalam norma yang harus dipatuhi karena kepastian hukum
diperoleh dari dipatuhinya norma-norma yang telah ditetapkan dalam bentuk
undang-undang.
109
3. Norma-norma larangan
Norma-norma larangan dapat ditemukan dalam Pasal 35 dan Pasal 36 UU
Jaminan Fidusia. Pada Pasal 35 menegaskan larangan-larangan sebagai berikut:
setiap orang dengan segaja memalsukan, mengubah, menghilangkan, atau dengan
cara apapun memberikan keterangan secara menyesatkan, yang jika hal tersebut
diketahui oleh salah satu pihak tidak melahirkan jaminan fidusia, dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun penjara dan paling lama 5 (lima)
tahun dan denda paling sedikit Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling
banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).234
Dalam kamus besar bahasa Indonesia yang dikeluarkan oleh Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, norma diartikan sebagai:
1. Peraturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam
masyarakat dipakai sebagai panduan, ukuran, dan kendali tingkah laku
yang sesuai dan diterima.
2. Peraturan, ukuran atau kaedah yang dipakai sebagai tolak ukur untuk
menilai dan membandingkan sesuatu.235
Hans kelsen menguraikan bahwa makna hukum yang khas dari tindakan adalah
bersumber dari norma yang isinya mengacu pada tindakan itu sehingga ia
ditafsirkan sesuai dengan norma tersebut. Oleh karena itu, pertimbangan bahwa
234
I Gusti Ngurah Bagus Eka Putra, 2012, Pendaftaran Jaminan Fidusia
Dalam Memberikan Perlindungan Hukum Bagi Kreditor (Tesis), Denpasar,
Universitas Udayana, hal. 111.
235
Anton M Muliono, dkk, 1989, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, Jakarta, hal. 617.
110
suatu tindakan dari pelaku manusia dilakukan dalam suatu dan tempat, yakni yang
legal dan illegal merupakan sebuah penafsiran dari norma khusus.236
Dalam tataran dogmatik hukum kondisi norma yang konflik (geschijld van
normen), norma yang kabur atau tidak jelas (vegue van normen) atau norma
kosong (leemten van normen) diprediksi dapat menimbulkan pertentangan secara
vertikal dan horisontal terhadap peraturan perundang-undangan serta keraguraguan dan ketidakpastian dalam penerapan peraturan perundang-undangan,
sehingga diperlukan peraturan hukum baru dalam merespon dinamika
perkembangan masyarakat. Berdasarkan tataran teori hukum, kondisi seperti itu
dapat berakibat hingga pada peninjauan kembali asas-asas (meta norma) hukum
yang mungkin tidak sesuai lagi atau penciptaan atau pengadopsian asas hukum
asing ke dalam hukum nasional. 237
Norma hukum merupakan konkretisasi asas hukum, apabila tata cara
penormaan pembuatan undang-undang tidak didasarkan pada asas hukum, maka
akan mempunyai dampak yang serius. Hal tersebut tidak menciptakan kepastian
hukum tetapi menimbulkan permasalahan-permasalahan yang akan menggangu
dan menjadi beban para pelaku usaha baik perbankan ataupun lembaga
pembiayaan. Salah satu permasalahan yang terlihat yaitu tentang pengaturan
pendaftaran jaminan fidusia dalam sistem online, yang dalam peraturannya tidak
ada kewajiban untuk dilakukanpendaftaran jaminan fidusia secara online,sehingga
236
Hans Kelsen, 2011, Teori Hukum Murni, Dasar-Dasar Ilmu Hukum
Normatif, Nusa Media, Bandung, hal. 4.
237
Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana, Op.Cit,
hal. 52.
111
dapat saja jika dilakukan pendaftaran jaminan fidusia secara manual, hal ini
karena terjadi kekaburan norma tentang pendaftaran jaminan fidusia online.
Penemuan hukum bukanlah merupakan ilmu baru, tetapi telah lama
dikenal dan dipraktikkan selama ini oleh hakim, pembentuk undang-undang dan
para sarjana hukum yang tugasnya memecahkan masalah-masalah hukum. Dalam
literatur Belanda telah banyak orang yang menulis mengenai penemuan hukum
(rechtsvinding). Penemuan hukum pada dasarnya merupakan kegiatan dalam
praktik hukum (hakim, pembentuk undang-undang dan sebagainya), akan tetapi
penemuan hukum tidak dapat dipisahkan dari ilmu (teori) hukum. Walaupun
secara historis teoritis praktik hukum itu lahirnya lebih dulu daripada ilmu hukum,
tetapi dalam perkembangannya praktik hukum memerlukan landasan teoritis dari
ilmu hukum. Sebaliknya ilmu hukum memerlukan materialnya dari praktik
hukum. Jadi dalam praktiknya, praktik hukum dan ilmu hukum itu saling
memerlukan satu sama lain.238
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang
Kekuasaan Kehakiman (selanjutnya disebut UU Kekuasaan Kehakiman)
ditentukan bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka
untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan
berdasarkan pancasila demi terselengaranya negara hukum Republik Indonesia.
Kebebasan kekuasaan kehakiman atau kebebasan peradilan atau kebebasan hakim
merupakan asas universal yang terdapat di mana-mana, baik di negara Eropa
238
Sudikno Mertokusumo, 2014, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar,
Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta, (selanjutnya disingkat Sudikno Mertokusumo
II), hal. 1.
112
Timur, maupun di Amerika, Jepang, Indonesia dan sebagainya.Asas kebebasan
peradilan merupakan dambaan setiap bangsa. Kebebasan peradilan atau hakim
adalah bebas untuk mengadili dan bebas dari campur tangan dari pihak ekstra
yudisiil. Kebebasan hakim ini member wewenang kepada hakim untuk melakukan
penemuan hukum secara leluasa.239
Selanjutnya Pasal 4 ayat (1) UU Kekuasaan Kehakimanditentukan bahwa
hakim harus mengadili menurut hukum dengan tidak membedakan orang. Ini
berarti bahwa hakim pada dasarnya harus tetap ada di dalam sistem hukum, tidak
boleh keluar dari hukum sehingga harus menemukan hukumnya. Pasal 10 ayat (1)
UU Kekuasan Kehakiman menentukan bahwa pengadilan tidak boleh menolak
untuk memeriksa dan mengadili suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa
hukum tidak atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan
mengadilinya. Selain didasarkan pada ketentuan-ketentuan tersebut di atas,
menenukan dasar hukumnya dengan jelas dan tegas pada Pasal 5 ayat (1) UU
Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi hakim sebagai penegak hukum dan
keadilan wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup
dalam masyarakat. Kata menggali diasumsikan bahwa hukumnya itu ada,
tetapitersembunyi. Jadi hukumnya itu ada tetapi masih harus digali, dicari dan
diketemukan. Scholten mengatakan bahwa di dalam perilaku manusia itu
sendirilah terdapat hukumnya, sedangkan setiap saat manusia dalam masyarakat
239
Ibid, hal. 60.
113
berprilaku, berbuat atau berkarya, karena itu hukumnya sudah ada, tinggal
menggali, mencari atau menemukannya.240
Untuk dapat menemukan hukum, hakim dalam memeriksa dan memutus
suatu perkara menggunakan metode penemuan hukum. Metode penemuan hukum
yang dianut dewasa ini, seperti yang dikemukakan antara lain oleh J.J.H.
Bruggink meliputi metode interpretasi (interpretation methoden) dan konstruksi
hukum ini terdiri atas nalar analogi yang gandengannya (spiegelbeeld) a
contrario, dan ditambah bentuk ketiga oleh Paul Scholten penghalusan hukum
(rechtsverfijning) yang dalam bahasa Indonesia oleh Soedikno Mertokusumo
disebut penyempitan hukum.241
Mengenai sumber-sumber dalam melakukan penemuan hukum terhadap
pendaftaran jaminan fidusia yang dilakukan dengan sistem online bersumber pada
UU Jaminan Fidusia yang didalam pelaksanaannya dilengkapi dengan:
1. Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000, tentang Tata Cara
Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia
(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 170, Tambahan Negara Nomor
4005).
2. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Atas
Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Tahun 2008
Nomor 176, Tambahan Negara Nomor 4924).
240
Ibid.
Philipus M. Hadjon& Tatiek Sri Djatmiati, 2009, Argumentasi Hukum,
Cetakan Keempat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, hal. 26.
241
114
3. Keputusan Presiden Nomor 139 Tahun 2000 tentang Pembentukan Kantor
Pendaftaran Fidusia di Setiap Ibu Kota Provinsi di Wilayah Negara
Republik Indonesia.
4. Peraturan
Menteri
Keuangan
Nomor
130/PMK.010/2012
tentang
Pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan Yang
Melakukan Pembiayaan Konsumen Untuk Kendaraan Bermotor Dengan
Pembebanan Jaminan Fidusia.
5. Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Nomor 8 Tahun 2013 tentang Pendelegasian Penandatanganan Sertifikat
Jaminan Fidusia Secara Elektronik.
6. Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pemberlakuan Pendaftaran Jaminan Fidusia
Secara Elektronik.
7. Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Nomor10 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia
Secara Elektronik.
Sebelum berlakunya sistem pendaftaran secara sistem online, pendaftaran
jaminan fidusia dilakukan dengan cara konvensional atau manual. Selanjutnya,
pada tahun 2013 berlakunya sistem pendaftran jaminan fidusia online, maka
pendaftaran jaminan fidusia dapat dilakukan dengan sistem online.
Pada pasal 8 Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2013 menyatakan bahwa
“terhadap permohonan pendaftaran jaminan fidusia yang diajukan sebelum
berlakunya Peraturan Menteri ini, harus diselesaikan secara manual dalam jangka
115
waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung sejak Peraturan Menteri ini
ditetapkan”. Dalam pasal tersebut terhadap benda jaminan yang lewat dari 60
(enam puluh) hari tidak terdapat peraturannya, sehingga terhadap pendaftaran
jaminan fidusia yang belum selesai didaftarkan dan lewat waktu dari 60 hari maka
dapat dikatakan pertama dapat dilanjutkan dengan sistem pendaftaran jaminan
fidusia secara manual atau kedua harus beralih menggunakan sistem pendaftaran
jaminan fidusia online.
Dalam metode konstruksi hukum ada 4 (empat) metode yang digunakan
oleh hakim pada saat melakukan penemuan hukum, yaitu:
1. Argumentum Per Analogiam (analogi) merupakan metode penemuan
hukum dimana hakim mencari esensi yang lebih umum dari sebuah
peristiwa hukum atau perbuatan hukum yang baik yang telah diatur oleh
undang-undang maupun yang belum ada peraturan nya;
2. Argumentum a Contrario, yaitu dimana hakim melakukan penemuan
hukum dengan pertimbangan bahwa apabila undang-undang menetapkan
hal-hal tertentu untuk peristiwa tertentu, berarti peraturan itu terbatas pada
peristiwa tertentu itu dan bagi peristiwa di luarnya berlaku kebalikannya;
3. Penyempitan/Pengkonkretan hukum (rechtsverfijning) bertujuan untuk
mengkonkretkan/menyempitkan suatu aturan hukum yang terlalu abstrak,
pasif, serta sangat umum agar dapat diterapkan terhadap suatu peristiwa
tertentu;
116
4. Fiksi hukum merupakan metode penemuan hukum yang mengemukakan
fakta-fakta baru, sehingga tampil suatu personifikasi yang baru di hadapan
kita.242
Berdasarkan keempat metode kontruksi hukum tersebut, maka kontruksi
hukum yang digunakan adalah kontruksi hukum argumentum per analogiam
(analogi).243 Analogi suatu bentuk penalaran yang dapat dikatakan dengan
memperluas berlakunya suatu pasal dari aturan hukum atau terhadap peristiwa
hukum yang eksplisit (jelas-jelas) tidak disebut dalam aturan hukum dimaksud.
Penalaran analogi digunakan kalau hakim harus menjatuhkan putusan dalam suatu
konflik yang tidak tersedia peraturan-peraturannya. Dalam hal ini hakim bersikap
seperti pembentuk undang-undang yang mengetahui adanya kekosongan hukum,
akan melengkapinya dengan peraturan-peraturan yang serupa seperti yang
dibuatnya untuk peristiwa-peristiwa yang telah ada peraturannya. Maka hakim
akan mencari pemecahan untuk peristiwa yang tidak diatur, dengan penerapan
peraturan untuk peristiwa-peristiwa yang telah diatur yang sesuai secara analog. 244
Dengan menggunakan analisa analogi, yang mana analogi merupakan metode
penemuan hukum yang hakim mencari esensi yang lebih umum dari sebuah
peristiwa hukum atau perbuatan hukum baik yang telah diatur oleh undangundang maupun yang belum ada peraturannya.245 Dengan demikian analogi
242
Ibid, hal. 74.
I Dewa Gede Atmadja, 2009, Pengantar Penalaran Hukum dan
Argumentasi Hukum, Bali Aga, Bali, hal. 48.
244
Sudikno Mertokusumo II, Op.Cit, hal. 87.
245
Ahmad Rifai, 2010, Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif
Hukum Progresif, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 75.
243
117
merupakan peristiwa yang serupa, sejenis atau mirip yang diatur dalam undangundang diberlakukan sama.
Peraturan yang serupa, sejenis atau mirip dapat ditemukan pada Peraturan
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.HH-01.AH.01.01 Tahun 2011
tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Pengesahan Badan Hukum dan
Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar Serta Penyampaian Pemberitahuan
Perubahan Anggaran Dasar dan Perubahan Data Perseroan, yaitu pada Pasal 5.
Bunyi dari ketentuan Pasal 5 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Nomor M.HH-01.AH.01.01 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengajuan
Permohonan Pengesahan Badan Hukum dan Persetujuan Perubahan Anggaran
Dasar Serta Penyampaian Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar dan
Perubahan data Perseroan yaitu:
(1) Jika biaya persetujuan pemakaian nama Perseroan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) telah dipenuhi, Pemohon mengisi
Format Pendirian dalam waktu paling lama 60 (enam puluh) hari
terhitung sejak tanggal pemakaian nama Perseroan disetujui.
(2) Apabila dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Pemohon tidak mengisi Format Pendirian,
persetujuan untuk pemakaian nama Perseroan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (2) menjadi gugur.
Untuk lebih menjamin kepastian dan kemiripan antara peraturan-peraturan
tersebut maka dapat dilihat juga dari tata cara pendaftarannaya. Tata cara
pengajuan permohonan pengesahan badan hukum yaitu:
1. Permohonan pengesahan badan hukum Perseroan diajukan oleh Pemohon
kepada Menteri atau Pejabat yang Ditunjuk.
2. Permohonan diajukan melalui SABH.
118
3. Permohonan diajukan dengan cara mengisi Format Pendirian dilengkapi
keterangan mengenai dokumen pendukung.
4. Pengisian Format Pendirian harus didahului dengan permohonan
pengajuan pemakaian nama Perseroan.
5. Permohonan pengajuan pemakaian nama Perseroan diajukan oleh
Pemohon dengan mengisi Format Pengajuan Nama.
6. Jika permohonan pengajuan pemakaian nama Perseroan disetujui Menteri
atau Pejabat yang Ditunjuk, Pemohon wajib membayar biaya persetujuan
pemakaian nama Perseroan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
7. Jika biaya persetujuan pemakaian nama Perseroan, Pemohon mengisi
Format Pendirian.
8. Menteri atau Pejabat yang Ditunjuk menerbitkan keputusan tentang
pengesahan badan
hukum Perseroan yang
ditandatangani secara
elektronik.
Kemudian dapat dilihat juga mengenai tahapan tata cara pendaftaran jaminan
fidusia yaitu:
1. Permohonan perdaftaran jaminan fidusia disampaikan kepada Menteri
melalui kantor pendaftaran fidusia.
2. Kelengkapan persyaratan meliputi kelengkapan dokumen yang ditetapkan
dan ketetapan dalam mengisi formulir sesuai dengan data yang diperlukan.
3. Setelah persyaratan dokumen lengkap maka pemohon dapat melakukan
pembayaran PNBP
119
4. Setelah melalukan pembayaran PNBP maka pejabat harus membubuhkan
nomor, tanggal dan jam penerimaan pendaftaran jaminan fidusia pada
formulir pernyataan pendaftaran jaminan fidusia dan kemudian di catat
dalam buku daftar fidusia.
5. Nomor tanggal dan jam yang tercantum pada sertifikat jaminan fidusia
yang diterbitkan adalah sama dengan nomor tanggal dan jam pada saat
penerimaan permohonan perndaftaran jaminan fidusia.
Persamaan antara pendaftaran jaminan fidusia dan pengesahan pendirian
perseroan terbatas tersebut adalah
1. Sama-sama permohonan pendaftaran dan pengesahan diajukan kepada
Menteri.
2. Sama-sama mengisi formulir untuk kelengkapan dokumen
3. Sama-sama membayar sejumlah biaya
Dengan melihat persamaan-persamaan antara tata cara pengesahan badan hukum
perseroan dan tata cara pendaftaran jaminan fidusia maka dapat dianalogikan
bahwa peraturan menteri tentang pengesahan badan hukum perseroan tersebut
dengan peraturan menteri pendaftaran jaminan fidusia adalah suatu peristiwa yang
mirip atau sejenis, yang sama-sama mengatur tentang lewat waktu.
Dari tata cara pendaftaran tersebut dapat dilihat bahwa pendaftaran
jaminan fidusia dapat diproses jika pemohon telah membayar PNBP, sehingga
syarat yang paling essesi agar dapat melakukan pendaftaran jaminan fidusia yaitu
setelah pemohon membayar PNBP. Setelah pemohon membayar PNBP maka
barulah pendaftaran jaminan fidusia dapat di proses.
Terhadap pendaftaran
120
jaminan fidusia yang lewat waktu dari 60 (enam puluh) hari setelah peraturan
menteri Nomor 10 tahun 2013 ditetapkan, maka pendaftaran jaminan fidusia
hanya dapat dilangsungkan bagi pemohon yang telah membayar PNBP. Kepada
pemohon pendaftaran jaminan fidusia yang belum membayar PNBP, dokumen
pendaftaran jaminan fidusia tersebut dikembalikan dan harus mendaftar kembali
dengan sistem pendaftaran jaminan fidusia online.
BAB IV
AKIBAT HUKUM PENDAFTARAN JAMINAN FIDUSIA
YANG TIDAK TERDAFTAR DALAM SISTEM ONLINE
4.1
Praktik Pendaftaran Jaminan Fidusia Dalam Sistem Online
Pada tahun 2013 Kementerian Hukum dan HAM meluncurkan Sistem
Administrasi Pendaftaran Jaminan Fidusia secara Elektronik. Hal tersebut
dibuktikan dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Pemberlakuan
Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Elektronik dan Peraturan Menteri Hukum
dan Hak asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2013 Tentang Tata
Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Elektronik dalam rangka meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat yang memerlukan jasa hukum di bidang jaminan
fidusia. Tujuan diberlakukannya pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik
yaitu untuk meningkatkan pelayanan jasa hukum pendaftaran jaminan fidusia
dengan mudah, cepat, murah dan nyaman maka permohonan pendaftaran jaminan
fidusia dilakukan secara elektronik.
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia kemudian menerbitkan buku
panduan fidusia online demi kelancaran proses pendaftaran secara online system.
Buku panduan tersebut memuat tentang tahapan-tahapan dalam melakukan
pendaftaran akta jaminan fidusia online. Tahapan-tahapannya adalah menu log in,
proses pendaftaran, proses pencetakan sertifikat, proses perubahan sertifikat,
proses penghapusan sertifikat, proses pencarian objek dan pencarian data.
121
122
Pada menu log in, dalam menu ini terdapat username dan password.
Username diisi dengan username notaris yang telah diberikan sedangkan
password diisi dengan password yang telah diberikan. Baik username dan
password diisi sesuai yang diberikan oleh Ditjen AHU, kemudian di klik tombol
submit untuk melanjutkan proses ke memu pemohon. Pada menu pemohon
terdapat empat pilihan menu utama, yaitu sebagai berikut:
1. Menu pendaftaran digunakan untuk melakukan pengisian formulir
pendaftaran jaminan fidusia.
2. Menu perubahan digunakan untuk melakukan perubahan terhadap
sertifikat jaminan fidusia.
3. Menu penghapusan digunakan untuk melakukan penghapusan terhadap
sertifikat jaminan fidusia.
4. Daftar transaksi digunakan melihat daftar transaksi yang telah dilakukan.
Proses pendaftaran akta jaminan fidusia secara online, terdapat tujuh
tahapan, yaitu:
1. Mengklik menu pendaftaran dan mengisikan informasi secara bertahap
sebagai berikut:
Tahap pertama pemohon mengisikan identitas pihak pemberi dan
pemerima fidusia, baik pemberi maupun penerima fidusia dapat berupa
perusahaan atau perorangan. Biodata pemberi fidusia terdiri dari nama pemberi,
NPWP/NIK, alamat, nama debitur dan tempat pemberi fidusia. Biodata penerima
fidusia terdiri dari penerima fidusia, nama penerima, NPWP/No.SK dan alamat.
Kemudian tahap kedua setelah data tersebut lengkap pemohon mengisikan akta
123
notaris jaminan fidusia berupa nomor akta jaminan fidusia, tanggal, nama dan
tempat kedudukan notaris yang membuat akta jaminan fidusia. Tahap ketiga
pemohon mengisikan data perjanjian pokok yang dijamin fidusia. Pada data
perjanjian pokok terdapat tiga keterangan fasilitas yang tersedia, yaitu:
1. Pilihan untuk nilai hutang, apabila hanya menggunakan satu mata uang.
2. Pilihan untuk nilai hutang, apabila menggunakan lebih dari satu mata
uang.
3. Pilihan untuk mengganti mata uang dari negara lain.
Tahap keempat pemohon mengisikan uraian mengenai benda yang
menjadi objek jaminan fidusia. Katagori objek terdiri dari objek berserial nomor
(kendaraan roda dua, kendaraan roda empat, mesin dan lainnya) dan objek yang
tidak berserial nomor (hewan ternak, asset perusahaan dan lainnya). Kemudian
akan keluar pilihan jenis objek yang dikehendaki, jika data objek lebih dari satu
maka dapat ditambahkan. Tahap kelima adalah pemohon mencantumkan nilai
jaminan. Dalam halaman ini terdapat kolom kategori nilai dan penjamin.Tahap
terkhir adalah nilai benda jaminan yang menjadi objek jaminan fidusia sudah
tertuang dalam akta notaris jaminan fidusia.
2. Pemohon melanjutkan akses dengan menyetujui ketentuan peringatan yang
terdapat pada formulir isian dengan cara menandai pernyataan.
Ketentuan peringatan ini isinya sebagai berikut: saya menyatakan dengan
sesungguhnya bahwa:
a. Seluruh data yang tertuang dalam permohonan pendaftaran jaminan
fidusia ini adalah benar.
124
b. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tidak
bertanggung jawab atas segala akibat hukum yang timbul atas pengisian
permohonan pendaftaran jaminan fidusia.
c. Seluruh data yang di input merupakan tanggung jawab pemohon.
Sehingga dengan adanya peringatan yang terdapat dalam pendaftaran jaminan
fidusia online tersebut mengakibatkan atas semua yang sudah dicantumkan
pada pendaftaran online tersebut menjadi tanggungjawab pemohon pendaftar
fidusia.
3. Pemohon mengklik proses untuk menyimpan ke dalam basis data dan
melakukan proses berikutnya atau menekan tombol ulangi untuk kembali ke
proses sebelumnya.
4. Setelah melakukan submit maka akan muncul konfirmasi bahwa data berhasil
diproses, lalu klik ok.
5. Pemohon mencetak bukti permohonan pendaftaran untuk melakukan
pembayaran ke bank persepsi. Apabila tidak melakukan pembayaran selama
tiga hari maka data permohonan pendaftaran akan dibataalkan atau dihapus
dari database.
6. Pemohon melakukan pembayaran pendaftaran jaminan fidusia di bank
persepsi dan memperoleh bukti register pendaftaran jamian fidusia dari bank
persepsi.
7. Untuk melihat daftar pendaftaran jaminan fidusia yang telah dimasukkan
dapat menekan menu daftar transaksi. Dalam menu data transaksi terdapat tiga
tahapan yaitu:
125
a. Klik tanda untuk mencetak bukti pendaftaran fidusia
b. Klik pernyataan untuk mencetak pernyataan pendaftaran fidusia.
c. Klik sertifikat untuk mencetak sertifikat jaminan fidusia. Tombol sertifikat
akan muncul jika pemohon sudah melakukan pembayaran pendaftaran
jaminan fidusia.
Proses pencetakan sertifikat, pada proses ini pertama pemohon mengakses
kembali situs fidusia online, kedua pemohon notaris memasukkan username dan
password sesuai dengan yang telah diberikan oleh Ditjen AHU, lalu klik submit
dan terakhir masuk ke menu pemohon, daftar transaksi akan muncul daftar
transaksi yang telah dilakukan. Kemudian klik sertifikat untuk melihat tampilan
cetak sertifikat, lalu klik cetak untuk mencetak sertifikat.
4.2
Kebutuhan Pengaturan Pendaftaran Akta Jaminan Fidusia
Lembaga jaminan fidusia ini berkembang karena terdapat berbagai alasan
di masyarakat. Masyarakat membutuhkan suatu lembaga jaminan yang lain
daripada gadai dan hipotek hanya untuk benda-benda tetap yang disamping
memungkinkan peminjam uang untuk tetap menggunakan benda jaminannya, juga
memberikan perlindungan yang kuat kepada kreditur dalam upaya mendapatkan
pelunasan piutang dari debitur. Sehingga sebab-sebab fidusia berkembang di
dalam praktik yaitu:
1. Kebutuhan praktek akan jaminan yang kuat karena gadai kadang-kadang
kalah terhadap privilege.
2. Resiko atas barang gadai.
126
3. Jaminan yang diberikan kepada pembeli yang beritikad baik seperti dalam
Pasal 1977 ayat (2) jo 582 KUHPerdata tidak melindungi pemegang
gadai.279
Jaminan fidusia digunakan di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda
sebagai suatu bentuk jaminan yang lahir dari yurisprudensi. Bentuk jaminan ini
digunakan secara luas dalam transaksi pinjam meminjam karena proses
pembebanannya dianggap sederhana, mudah dan cepat tetapi tidak menjamin
kepastian hukum.280 Pada lembaga jaminan fidusia, pemberi fidusia tetap
menguasai benda yang dijaminkan, untuk melakukan kegiatan usaha yang
dibiayai dari pinjaman dengan menggunakan jaminan fidusia.
Pada awalnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia terbatas pada
kekayaan benda bergerak yang berwujud dalam bentuk peralatan, dalam
perkembangannya benda yang menjadi objek jaminan fidusia diberikan lebih luas
meliputi kekayaan benda bergerak yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak.
Dalam UU Jaminan Fidusia diatur mengenai pendaftaran jaminan fidusia guna
memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang berkepentingan dan
pendaftaran jaminan fidusia memberikan hak yang didahulukan (preference)
kepada penerima fidusia terhadap kreditor lain. Diharapkan sistem pendaftaran
yang diatur dalam undang-undang ini dapat memberikan jaminan kepada
penerima fidusia dan pihak yang mempunyai kepentingan terhadap benda
tersebut.
279
280
J. Satrio, Op.Cit, hal. 171.
Racmadi Usman II, Op.Cit, hal. 290.
127
Berdasarkan pada buku panduan fidusia online, dalam sistem pendaftaran
secara manual terdapat beberapa permasalahan yaitu sebagai berikut:
1. Ketentuan one day service tidak terpenuhi.
2. Belum ada keseragaman dalam pelayanan (SOP) sebagai panduan
pelayanan permohonan jaminan fidusia.
3. Tingkat pemahaman sumber daya manusia di kanwil/kantor pendaftaran
fidusia (KPF) masih tidak seragam.
4. Lonjakan permohonan pendaftaran jaminan fidusia yang signifikan
melampaui kemampuan SDM dan sarana prasarana di setiap KPF.
5. Kepastian hukum tidak terpenuhi karena KPF belum memberikan
kepastian penerbitan sertifikat jaminan fidusia karena tumpukan
permohonan mencapai 1000 s/d 2000 permohonan setiap hari.
6. Belum ada pusat data yang terintegrasi antara kanwil dengan Ditjen AHU
selaku Pembina teknis.
7. Terjadi penumpukan
arsip
pendaftaran
fidusia
di
kanwil
yang
membutuhkan ruangan luas.
8. Adanya pungutan liar.
9. Biaya tinggi karena notaris ke KPF yang ada di ibukota provinsi.
Berkaitan dengan hal tersebut dan untuk memberikan pelayanan yang
optimal dalam pendaftaran jaminan fidusia maka Direktorat Jenderal Administrasi
Hukum Umum memberlakukan pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik
yang merubah sistem pendaftaran manual ke pelayanan pendaftaran yang berbasis
elektronik (online). Fidusia online merupakan terobosan dari Direktorat Jenderal
128
Administrasi Hukum Umum dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat
demi Indonesia yang lebih baik.
Kelebihan yang dapat dirasakan dengan adanya sistem pendaftaran
jaminan fidusia secara online, sebagai berikut:
1. Pemohon tidak perlu datang ke kantor pendaftaran fidusia (KPF).
2. Pemohon tidak perlu mengambil dan mengisi formulir.
3. Pemohon tidak perlu membawa berkas dokumen terkait pendaftranan
fidusia.
4. Pemohon dapat mengajukan permohonan pendaftaran jaminan fidusia dari
mana saja dengan hanya membuka website pendaftaran jaminan fidusia.
5. Memberikan kepastian hukum kepada masyarakat.
6. Menghemat pengeluaran anggaran negara tidak memerlukan biaya
pencetakan sertifikat.
7. Memberikan pelayanan yang aman, cepat, nyaman, bersih dan bebas
pungutan liar.
Tujuan pendaftaran jaminan fidusia online yaitu dengan adanya fidusia online
diharapkan pelayanan jasa hukum di bidang fidusia dapat berjalan dengan cepat,
akurat bebas dari pungutan liar dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di
Indonesia demi tercapainya kesejahteraan masyarakat.
4.3
Akibat Hukum Akta Jaminan Fidusia Yang Tidak Didafarkan
Pada dasarnya, sesuai ketentuan Pasal 14 ayat (3) UU Jaminan Fidusia,
jaminan fidusia baru lahir pada tanggal yang sama dengan tanggal dicatatnya
129
jaminan Fidusia dalam Buku Daftar Fidusia dan kreditur akan memperoleh
sertifikat jaminan fidusia berirah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa”,
dengan mendapat
sertifikat
jaminan fidusia
maka
kreditur/penerima fidusia serta merta mempunyai hak eksekusi langsung (parate
executie), seperti terjadi dalam pinjam meminjam dalam perbankan. Kekuatan
hukum sertifikat tersebut sama dengan putusan pengadilan yang sudah
mempunyai kekuatan hukum yang tetap.
Pembebanan jaminan fidusia, berdasarkan Pasal 5 ayat (1) UU Jaminan
Fidusia mengamanatkan pembebanan benda dengan jaminan fidusia dibuat
dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia dan merupakan akta Jaminan Fidusia.
Saat ini, banyak lembaga pembiayaan (finance) dan bank (bank umum maupun
perkreditan) menyelenggarakan pembiayaan bagi konsumen (consumer finance),
sewa guna usaha (leasing), anjak piutang (factoring), mereka umumnya
menggunakan tata cara perjanjian yang mengikutkan adanya jaminan fidusia bagi
objek benda jaminan fidusia, namun saat ini banyak yang tidak dibuat dalam
bentuk akta notaris dan tidak didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia untuk
mendapat sertifikat. Akta semacam itu dapat disebut akta jaminan fidusia di
bawah tangan.281 Akta bawah tangan adalah akta yang dibuat antara para pihak
dimana pembuatanya tidak dibuat dihadapan pejabat pembuat akta yang sah yang
ditetapkan oleh Undang-undang (Notaris/PPAT).
281
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl4588/akibathukumjaminanfidusia-yang-belum-didaftarkan (diakses pada hari rabu tanggal 19 November
2014)
130
Namun, sesuai dengan amanat UU Jaminan Fidusia, untuk mendapatkan
perlindungan hukum sebagaimana diatur dalam UU Jaminan Fidusia, pembebanan
benda dengan akta jaminan fidusia harus dibuat dengan akta otentik dan
dicatatkan dalam buku daftar fidusia, jika ketentuan tersebut tidak dipenuhi, hakhak kreditur tidak mendapat perlindungan sebagaimana disebutkan dalam
UUJaminan Fidusia. Jaminan fidusia yang tidak didaftarkan atau dibuatkan
sertifikat jaminan fidusia mempunyai akibat hukum yang kompleks dan berisiko
sehingga perjanjian jaminan fidusia yang tidak didaftarkan di Kantor Pendaftaran
Fidusia tidak mempunyai kekuatan eksekutorial.
Berlakunya sistem pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik
mengakibatkan pendaftaran jaminan fidusia dilakukan secara elektronik sesuai
dengan Peraturan Menteri Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pemberlakuan
Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara Elektronik. Terhadap benda jaminan fidusia
yang telah didaftarkan pada sistem pendaftaran jaminan fidusia manual tetap sah
berlaku selama tidak lewat waktu dari 60 (enam puluh) hari setelah peraturan
menteri tersebut ditetapkan. Akibat hukum terhadap jaminan fidusia yang tidak
terdaftar dalam sistem online mempunyai akibat hukum yang sama dengan
jaminan fidusia yang tidak didaftarkan dengan sistem manual.
Dalam konsideran UU Jaminan Fidusia menyatakan tujuan dibentuknya
pengaturan mengenai jaminan fidusia adalah memberikan perlindungan yang
lebih baik bagi yang berkepentingan, untuk mewujudkan hal tersebut benda yang
telah dibebani jaminan fidusia harus didaftarkan pada kantor pendaftaran fidusia.
Pendaftaran jaminan fidusia telah diatur di dalam Pasal 11 sampai dengan Pasal
131
18 UU Jaminan Fidusia dan Peraturan Pemerintah Nomor 86 tahun 2000 tentang
tata cara pendaftaran jaminan fidusia dan biaya pembuatan akta jainan fidusia. Di
dalam pasal tersebut menjelaskan mengenai benda yang dibebani jaminan fidusia
wajib didaftarkan, tempat pendaftaran jaminan fidusia, cara pendaftaran hingga
lahirnya sertifikat jaminan fidusia. Pendaftaran jaminan fidusia merupakan
perwujudan dari asas publisitas dan kepastian hukum.
Maksud dan tujuan dari adanya sistem pendaftaran jaminan fidusia antara
lain sebagai berikut:
1. Memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang berkepentingan,
terutama terhadap kreditor lain mengenai benda yang telah dibebani
dengan jaminan fidusia.
2. Melahirkan ikatan jaminan fidusia bagi kreditor (penerima fidusia).
3. Memberikan hak yang didahulukan (preference) kepada kreditor
(penerima fidusia) terhadap kreditor lain, berhubung pemberi fidusia tetap
menguasai benda yang menjadi objek jaminan fidusia berdasarkan
kepercayaan.
4. Memenuhi asas publisitas.282
UU Jaminan Fidusia mensyaratkan bahwa benda yang dibebani jaminan
fidusia wajib didaftarkan, manfaat yang didapat dengan adanya pendaftaran antara
lain:
282
Rachmadi Usman I, Op.Cit, hal. 200.
132
1. Mempunyai hak mendahului (preference)
Kedudukan preference berkaitan dengan hasil eksekusi, hal ini nampak
jelas bila dihubungkan dengan Pasal 1132 BW yang pada asasnya para kreditor
berbagi atas hasil eksekusi harta benda milik debitor, dengan adanya pembebanan
jaminan fidusia maka kreditor menjadi preference atas hasil penjualan benda
tertentu milik debitor, dan ia berhak mengambil lebih dahulu uang hasil eksekusi
benda jaminan fidusia.
Jaminan yang memiliki hak mendahului artinya kreditor sebagai penerima
fidusia memiliki hak yang didahulukan (preference) terhadap kreditor lainnya
untuk menjual atau mengeksekusi benda jaminan dan hak didahulukan untuk
mendapatkan pelunasan hutang dari hasil eksekusi benda jaminan fidusia tersebut
dalam hal debitur wanprestasi sebagaimana diatur dalam Pasal 27 dan Pasal 28
UU Jaminan Fidusia. Pasal 27 UU Jaminan Fidusia menyatakan bahwa:
(4) Penerima fidusia memiliki hak yang didahulukan terhadap kreditor
lainnya.
(5) Hak yang didahulukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah hak
penerima fidusia untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil
eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
(6) Hak yang didahulukan dari penerima fidusia tidak hapus karena adanya
kepailitan dan atau likuidasi pemberi fidusia.
Dari ketentuan Pasal 27 UU Jaminan Fidusia di atas, dapat diketahui bahwa
penerima fidusia memiliki hak yang didahulukan atau diutamakan terhadap
kreditor lainnya, yaitu hak penerima fidusia untuk mengambil pelunasan
piutangnya atas hasil eksekusi (penjualan) dari benda yang menjadi objek jaminan
fidusia. Hak untuk mengambil pelunasan piutang ini mendahului dari kreditur
lainnya yang tidak dijamin dengan fidusia, walaupun penerima fidusia termasuk
133
orang yang pailit atau dilikuidasi. Hak utama fidusia tidak hapus karena adanya
kepailitan dan/atau likuidasi dari pemberi fidusia, berhubung benda yang menjadi
objek jaminan fidusia tidak termasuk dalam budel kepailitan pemberi fidusia.
Ketentuan ini berhubungan dengan ketentuan bahwa jaminan fidusia merupakan
hak agunan atas kebendaan bagi pelunasan hutang. 283
Pasal 28 UU Jaminan Fidusia menyatakan bahwa “apabila atas benda yang
sama menjadi objek jaminan fidusia lebih dari satu (1) perjanjian jaminan fidusia,
maka hak yang didahulukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, diberikan
kepada pihak yang lebih dahulu mendaftarkannya pada kantor pendaftaran
fidusia”. Sehingga berdasarkan Pasal 28 tersebut terhadap benda yang sama
dibebani pada lebih dari satu jaminan fidusia, hak yang didahulukan tersebut
diberikan kepada pihak yang lebih dahulu mendaftarkan jaminan fidusianya. Ini
berarti penerima fidusia (kreditor) peringkat pertama mempunyai hak lebih dahulu
mengambil pelunasan daripada penerima fidusia peringkat kedua. Peringkat hak
yang didahulukan dari penerima fidusia didasarkan pada tanggal pendaftarannya.
Penjelasan atas Pasal 27 ayat (1) UU Jaminan Fidusia antara lain menyatakan,
bahwa hak yang didahulukan dihitung sejak tanggal pendaftaran benda yang
menjadi objek jaminan fidusia. 284
2. Mempunyai kekuatan eksekutorial
Salah satu ciri jaminan fidusia yang kuat itu mudah dan pasti dalam
pelaksanaan eksekusinya, jika debitur (pemberi fidusia) cedera janji atau
283
284
Ibid, hal. 172.
Ibid, hal 174.
134
wanprestasi. Wanprestasi artinya tidak memenuhi kewajiban yang telah disepakati
dalam suatu perikatan. 285 Seseorang dapat dikatakan melakukan wanprestasi jika
Tidak memenuhi janjinya atau tidak memenuhi sebagaimana mestinya dan
kesemuanya itu dapat dipersalahkan kepadanya, maka dikatakan bahwa debitur
wanprestasi. Wujud wanprestasi bisa:
1. Debitur sama sekali tidak berprestasi
2. Debitur keliru berprestasi
3. Debitur terlambat berprestasi286
Ketentuan dalam Pasal 29 ayat (1) UU Jaminan Fidusia telah mengatur
pelaksanaan eksekusi atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia, yang
menyatakan sebagai berikut:
Apabila debitur atau pemberi fidusia cedera janji, eksekusi terhadap benda
yang menjadi objek jaminan fidusia dapat dilakukan dengan cara:
a. Pelaksanaan title eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat
(2) oleh penerima fidusia.
b. Penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan
penerima fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil
pelunasaan piutangnya dari hasil penjualan.
c. Penjualan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan
pemberi dan penerima fidusia jika dengan cara demikian dapat diperoleh
harga tertinggi yang menguntungkan para pihak.
Dengan demikian UU Jaminan Fidusia telah mengatur cara atau
menciptakan bebrapa model eksekusi atas benda yang menjadi objek jaminan
fidusia. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 29 ayat (1) UU Jaminan Fidusia,
dapat diketahui bahwa apabila debitur atau pemberi fidusia cedera janji eksekusi
285
Abdulkadir Muhammad, 2010, Hukum Perikatan Indonesia, Citra
Aditya Bakti, Bandung, (selanjutnya disingkat Abdulkadir Muhammad III),
hal. 241.
286
J. Satrio, 1999, Hukum Perikatan (Perikatan Pada Umumnya), Alumni,
Bandung, (selanjutnya disingkat J. Satrio I), hal. 22.
135
terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
a. Eksekusi berdasarkan grosse sertifikat jaminan fidusia atau title
eksekutorial (secara fiat eksekusi) yang terdapat dalam sertifikat jaminan
fidusia, yang dilakukan oleh penerima fidusia, berarti eksekusi langsung
dapat dilaksanakan tanpa melalui pengadilan dan bersifat final serta
mengikat para pihak untuk melaksanakan putusan tersebut.
b. Eksekusi berdasarkan pelaksanaan parate eksekusi melalui pelelangan
umum oleh penerima fidusia.
c. Eksekusi secara penjualan di bawah tangan oleh kreditor pemberi fidusia
sendiri. Pelaksanaan penjualan di bawah tangan dilakukan setelah lewat
waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh para pihak
kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikitnya
dalam 2 (dua) surat kabar di daerah yang bersangkutan.287
Eksekusi terhadap objek jaminan fidusia dapat dilakukan berdasarkan
grosse sertifikat jaminan fidusia sesuai dengan ketentuan Pasal 29 ayat (1) sub a
UU Jaminan Fidusia atau dengan title eksekutorial sertifikat jaminan fidusia yang
diberikan Pasal 15 ayat (2) UU Jaminan Fidusiatersebut. Sertifikat jaminan fidusia
mempunyai kekuatan eksekutorial sama seperti putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap, maka pelaksanaan eksekusi objek jaminan
fidusia berdasarkan grosse sertifikat jaminan fidusia atau dengan title eksekutorial
sertifikat jaminan fidusia mengikuti pelaksanaan suatu putusan pengadilan. Atas
287
Henny Tanuwidjaja, Op.Cit, hal. 71.
136
dasar ini, penerima fidusia dengan sendirinya dapat mengeksekusi benda yang
dijadikan sebagai objek jaminan fidusia jika debitur atau pemberi fidusia cedera
janji, tanpa harus menunggu adanya surat perintah (putusan) dari pengadilan.288
Pelaksanaan eksekusi objek jaminan fidusia berdasarkan grosse atau title
eksekutorial sertifikat jaminan fidusia, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 196
HIR/207RBg, diawali dengan pengajuan permohonan pelaksanaan eksekusi oleh
kreditor (penerima Fidusia) kepada ketua pengadilan negeri yang bersangkutan
untuk menjalankan eksekusi objek jaminan fidusia, selanjutnya ketua pengadilan
negeri akan memanggil debitur (pemberi fidusia) dan memerintahkan segera
mungkin dalam tempo 8 (delapan) hari debitur supaya memenuhi kewajibannya,
maka sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 197/HIR/209 RBg, ketua pengadilan
negeri yang bersangkutan akan memerintahkan kepada juru sita dengan surat
perintah untuk menyita sejumlah benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
Menurut ketentuan dalam Pasal 200HIR/215 RBg, pelaksanaan eksekusi objek
jaminan fidusia, dilakukan penjualan secara umum (pelelangan) dengan bantuan
kantor lelang atau dengan cara yang dianggap menguntungkan oleh ketua
pengadilan negeri yang bersangkutan. 289
Pengeksekusian benda yang menjadi objek jaminan fidusia dengan cara
diatas, ternyata bersifat mengikat dan tidak dapat dikesampingkan oleh para pihak
pemberi dan penerima fidusia, dikarenakan diancam dengan kebatalan secara
hukum. Oleh karena itu pemberi fidusia dan penerima fidusia tidak dapat
menempuh atau memperjanjikan cara lain untuk mengeksekusi benda yang
288
289
Ibid, hal. 232.
Rachmadi Usman I, Op.Cit, hal. 234.
137
menjadi objek jaminan, selain daripada cara-cara sebagaimana telah disebutkan
dalam ketentuan Pasal 29 dan Pasal 31 UU Jaminan Fidusia.
Ketentuan Pasal 32 UU Jaminan Fidusia yaitu “setiap janji untuk
melaksanakan eksekusi terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia
dengan cara yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 29 dan Pasal 31, batal demi hukum”. Artinya dapat ditafsirkan, antara
pemberi fidusia dan penerima fidusia dapat saja memeprjanjiakan cara
pengeksekusian benda yang menjadi objek jaminan fidusia secara tersendiri,
namun sepanjang cara pengeksekusian benda yang menjadi objek jaminan fidusia
sebagaimana telah diatur dalam ketentuan Pasal 29 dan Pasal 31 UU Jaminan
Fidusia.290
Fungsi pendaftaran jaminan fidusia bagi masyarakat khususnya untuk
memberikan kepastian dan perlindungan hukum dalam hal pelunasan hutang bagi
kepentingan kreditur, sedangkan penerima fidusia yang mendaftarakan jaminan
fidusia di kantor pendaftraan fidusia mendapatkan hak yang sudah diberikan
undang-undnag yakni memiliki kekuatan eksekutorial yang legal apabila terjadi
wanprestasi. Oleh sebab itu kreditur harus cermat dan sunggung-sungguh dalam
memanfaatkan lembaga pendaftaran yang telah disediakan dan diatur di dalam
UU Jaminan Fidusia. Adanya kewajiban untuk pendaftaran diatur pada Pasal 11
ayat (1) UU Jaminan Fidusia, tetapi di masyarakat banyak jaminan fidusia yang
tidak didaftarkan.
290
Ibid, hal. 242.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dari bab-bab sebelumnya dalam tesis ini
penelitian terkait terkait pokok permasalahan pertama dan kedua maka dapat
disimpulkan ,yaitu:
1
Jaminan fidusia yang lewat waktu dari 60 (enam puluh) hari setelah Peraturan
Menteri Nomor 10 Tahun 2013 ditetapkan menjadi gugur. Gugurnya
pendaftaran jaminan fidusia tersebut dikarenakan persyaratan yang paling
essensi dari tata cara pendaftaran jaminan fidusia tidak terpenuhi, yaitu tidak
melakukan pembayaran PNBP, sehingga pemohon harus mendaftarkan
kembali dengan sistem pendaftaran jaminan fidusia online.
2
Akibat hukum pendaftaran jaminan fidusia yang tidak terdaftar dalam sistem
online adalah tidak mempunyai status sebagai kreditur yang didahulukan
(preference) terhadap kreditur lainnya sehingga terjadi perubahan status dari
kreditur prefecence menjadi kreditur konkuren. Akibat lain dari jamian
fidusia yang tidak terdaftar dalam system online yaitu:
a. Tidak memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum bagi para
pihak yang berkepentingan.
b. Tidak memenuhi asas publisitas.
138
139
c. Pihak penerima jaminan fidusia tidak mempunyai sertifikat jaminan
fidusia yang mana dapat digunakan untuk mengeksekusi benda jaminan
fidusia.
5.2
Saran
Terkait dengan pokok permasalahan dalam penelitian ini yang telah
diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat dikemukakan saran-saran
sebagai berikut:
1. Kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang telah membuat
peraturan tentang fidusia online maka dapat menambahkan peraturan
tentang pengecualian pendaftaran jaminan fidusia secara system online
pada tempat-tempat yang tidak dapat mengakses internet, sehingga mereka
tetap dapat melakukan pendaftaran jaminan fidusia dengan system
konvensional atau manual untuk memberikan kepastian hukum dan
perlindungan hukum.
2. Kepada penerima fidusia agar segera melakukan pendaftaran jaminan
fidusia, untuk mewujudkan kepastian hukum dan perlindungan hukum
serta memenuhi asas publisitas. Kemudian kepada notaris agar dapat
memberikan informasi tentang pentingnya pendaftaran jaminan fidusia
bagi penerima fidusia karena pendaftaran dengan fidusia online saat ini
sudah lebih mudah, cepat, murah dan nyaman.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU-BUKU
Ali, Zainuddin, 2010, Metode Penelitian Hukum, Cet. lI, Sinar Grafika, Jakarta.
Amiruddin dan H. Zainal, 2008, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT.
RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Atmaja, I Dewa Gede, 2009, Pengantar Penalaran Hukum dan Argumentasi
Hukum, Bali Aga, Bali.
Atmosudirdjo, Prajudi, 1983, Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia,
Jakarta.
Bahsan, M, 2008, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, PT.
RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Budiono, Herlien, 2008, Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang
Kenotariatan, Pt.Citra Aditya Bakti, Bandung.
Djumhana, Muhamad, 1996, Hukum Perbankan Di Indonesia, PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung.
Emma, R. A. Nurita, 2012, Cyber Notary: Pemahaman Awal Dalam Konsep
Pemikiran, Refika Aditama, Bandung.
Fajar, Mukti dan Yulianto Achmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum Normatif
& Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Fuady, Munir, 2003, Jaminan Fidusia, PT. Aditya Bakti, Bandung.
Ghofur, Abdul Anshori, 2009, Lembaga Kenotariatan Indonesia Persfektif Hukum
& Etika, UII Press, Yogyakarta.
Hadjon, Phillipus M, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, PT.
Bina Ilmu, Surabaya.
Hadjon, Philipus M & Tatiek Sri Djatmiati, 2009, Argumentasi Hukum, Cetakan
Keempat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Hamzah, A dan Senjun Manullang, 1987, Lembaga Fidusia Dan Penerapannya Di
Indonesia, Indhill Co, Jakarta.
Hermansyah, 2005, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana, Jakarta.
140
141
Hoey, Oey Tiong, 1985, Fidusia Sebagai Jaminan Unsur-Unsur Perikatan, Cet. II,
Ghalia Indonesia, Jakarta.
Hutchinson, Terry, 2002, Researching and Writing in Law, Lawbook Co, Sydney,
Australia.
Ibrahim, Johannes, 2004, Cross Default & Cross Collateral Sebagai Upaya
Penyelesaian Kredit Bermasalah, Refika Aditama, Bandung.
Sitompul, Josua, 2012, Cyberspace Cybercrimes Cyberlaw Tinjauan Aspek
Hukum Pidana, PT. Tatanusa, Jakarta.
Jan Gijssels en Mark Van Koecke, 1982, What Is Rechtsteorie?,Antwepen,
Nederland.
Kelsen, Hans, 2011, Teori Hukum Murni, Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif,
Nusa Media, Bandung.
Kessles, James dan Fiona Hunter, Drafting Trust and Will Trust In Canada, 2007,
Lexis Nexis, Canada.
Lumban, G.H.S Tobing, 1999, Peraturan Jabatan Notaris, Erlangga, Jakarta.
Mahmud, Peter Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta.
_______, 2008, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana, Jakarta.
Meliala, Djaja S, 2007, Perkembangan Hukum Perdata Tentang Benda dan
Hukum Perikatan, CV. Nuansa Aulia, Bandung.
Mertokusumo, Sudikno, 2009, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty,
Yogyakarta.
_______, 2014, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Cahaya Atma Pustaka,
Yogyakarta.
Muhammad, Abdulkadir,1992, Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung.
_______, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung
_______, 2010, Hukum Perikatan Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Notohamidjojo, O, 2011, Soal-Soal Pokok Filsafat Hukum, Griya Media.
Program Studi Magister Kenotariatan Universita Udayana, 2013, Buku Pedoman
Pendidikan.
142
Rifai, Ahmad, 2010, Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum
Progresif, Sinar Grafika, Jakarta.
Salim, H. HS, 2014, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, PT.
RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Saliman, Abdul R. Hermansyah dan Ahmad Jalis, 2006, Hukum Bisnis Untuk
Perusahaan (Teori & Contoh Kasus), KencanaPrenada Media Group,
Jakarta.
Satrio, J, 1999, Hukum Perikatan (Perikatan Pada Umumnya), Alumni, Bandung.
_______, 2007, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, Pt. Citra Aditya Bakti,
Bandung.
Sembiring, Sentosa, 2008, Hukum Perbankan, Mandar Maju, Bandung.
Siregar, Walter, 1951, Bij J. B. Wolter Uitgeversmaat Schappij, N. V. Gronogen,
Jakarta.
Sjaifurrachman dan Habib Adjie, 2011, Aspek Pertanggungjawaban Notaris
Dalam Pembuatan Akta, Mandar Maju, Bandung.
Soekanto, Soerjono, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UII Press, Jakarta.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, 2007, Penelitian Hukum Normatif Suatu
Tinjauan Singkat, RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Soeroso, R, 2010, Perjanjian Di Bawah Tangan, Sinar Grafika, Jakarta.
Sofwan, Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, 1980, Hukum Jaminan Di Indonesia
(Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perseorangan), Liberty,
Yogyakarta.
Subekti, R, 1986, Pokok-pokok Hukum Perdata, Cetakan XXIV, PT. Intermasa,
Jakarta.
Suyatno, Thomas, 1989, Dasar-Dasar Perkreditan, PT Gramedia, Jakarta.
Tan, H. Kamelo, 2006, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang
Didambakan, Pt. Alumni, Bandung.
Tanuwidjaja, Henny, 2012, Pranata Hukum Jaminan Utang & Sejarah Lembaga
Hukum Notariat, Refika Aditama, Bandung.
143
Thong, Tan Kie, 1994, Studi Notariat Serba-Serbi Praktek Notaris, Ichtiar Baru
Van Hoeve, Jakarta.
Usman, Rachmadi, 2001, Aspek-Aspek Hukum Perbankan Di Indonesia, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
_______, 2009, Hukum Jaminan Keperdatan, Sinar Grafika, Jakarta.
_______, 2011, Hukum Kebendaan, Sinar Grafika, Jakarta.
Widjaja, Gunawan dan Ahmad Yani, 2007, Jaminan Fidusia, PT. RajaGrafindo
Persada, Jakarta.
Yahya, M. Harahap, 2006, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP,
Sinar Grafika, Jakarta.
_______, 2012, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta.
Yin, Robert K, 1993, Applications of Case Study Research, Sage Publications
International Educational and Profesional Publisher, Newbury Park, New
Delhi.
KAMUS
Campbell, Henry Black, 1991, Black’s Law Dictionary, Definitions of the Terms
and Phrases of American and English Jurisprudence Ancient and Modern,
St Paul, Minn: West Publishing Co.
Muliono, Anton M, et al, 1989, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, Jakarta.
Subekti, R, dan R. Tjitrosoedibio, 1980,Kamus Hukum, Pradnya Paramita,
Jakarta.
_______, 2008, Kamus Hukum, Citra Umbara, Bandung.
TESIS
I Gusti Ngurah Bagus Eka Putra, 2012, Pendaftaran Jaminan Fidusia Dalam
Memberikan Perlindungan Hukum Bagi Kreditor (Tesis), Denpasar,
Universitas Udayana.
144
INTERNET
Mariotedja,
2013,
“Teori Kepastian
Dalam
Perspektif
Hukum”,
Marotedja.blogspot.com (diakses pada tanggal 25 Agustus 2014).
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl4588/akibathukumjaminan-fidusiayang-belum-didaftarkan (diakses pada hari rabu tanggal 19 November
2014)
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Burgerlijk Wetboek .Stb, 1847 No.23 (terjemahan R. Soebekti danTjitrosudibio,
2003, KitabUndang-Undang Hukum Perdata, PT. Pradnya Paramita,
Jakarta).
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1998 Nomor 182 dan Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3790).
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 168 dan Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3632).
Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117 dan Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4432).
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 3 dan Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5491).
Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000, tentang Tata Cara Pendaftaran
Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia (Lembaran
Negara Tahun 2000 Nomor 170, Tambahan Negara Nomor 4005).
Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis
Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor
176, Tambahan Negara Nomor 4924).
Keputusan Presiden Nomor 139 Tahun 2000 tentang Pembentukan Kantor
Pendaftaran Fidusia di Setiap Ibu Kota Provinsi di Wilayah Negara
Republik Indonesia.
145
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.010/2012 tentang Pendaftaran
Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan Yang Melakukan
Pembiayaan Konsumen Untuk Kendaraan Bermotor Dengan Pembebanan
Jaminan Fidusia.
Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 8
Tahun 2013 tentang Pendelegasian Penandatangan Sertifikat Jaminan
Fidusia Secara Elektronik.
Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 9
Tahun 2013 tentang Pemberlakuan Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara
Elektronik.
Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor10
Tahun 2013 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia Secara
Elektronik.
Download