6 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Remaja a

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Remaja
a. Pengertian Remaja
Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari
masa anak menuju masa dewasa yang ditandai dengan perubahan
baik fisik maupun psikis. Perubahan fisik yang tampak lebih jelas
tubuh berkembang pesat mencapai bentuk tubuh orang dewasa
yang disertai pula dengan berkembangnya kapasitas reproduksi
(Agustiani, 2006).
Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya
perubahan fisik, emosi dan psikis dimana usianya yaitu antara 1019 tahun. Masa ini adalah suatu periode pematangan organ
reproduksi manusia, dan sering disebut masa pubertas (Widyastuti
et all., 2009).
b. Pembatasan Usia Remaja
Masa remaja dianggap mulai pada saat anak secara seksual
menjadi matang dan berakhir saat ia mencapai usia matang secara
hukum. Menurut WHO disebut remaja apabila anak telah mencapai
usia 10-18 tahun. Menurut Depkes RI adalah antara 10-19 tahun
6
7
dan belum kawin (Widyastuti et all., 2009). Undang-undang No. 4
tahun 1978, remaja adalah individu yang belum mencapai usia 21
tahun dan belum menikah. Namun, menurut undang-undang
perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah mencapai usia 1618 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal.
Menurut undang- undang perkawinan No. 1 tahun 1974, anak
dianggap sudah remaja apabila cukup matang untuk menikah, yaitu
usia 16 tahun untuk anak perempuan dan 19 tahun untuk anak lakilaki (Proverawati & Misaroh, 2009).
c. Karakteristik remaja
Seperti halnya dengan semua periode yang penting selama
rentang waktu kehidupan, masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu
yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya.
Hurlock (1994) dalam Widaningsih (2008) mengemukakan ciri-ciri
masa remaja sebagai berikut.
1) Masa remaja sebagai periode yang penting
Masa remaja dalam kehidupan ini penting, namun kadar
kepentingannya berbeda-beda. Terdapat beberapa periode yang
lebih penting dibandingkan dengan periode lainnya karena
akibat langsung terhadap sikap dan perilaku dan ada lagi yang
penting karena akibat-akibat jangka panjangnya. Pada periode
remaja, baik akibat langsung maupun akibat jangka panjangnya
tetap sama pentingnya.
8
2) Masa remaja sebagai periode peralihan
Peralihan di sini tidak berarti terputus dengan masa
sebelumnya tetapi merupakan peralihan dari satu tahap
perkembangan
ke
perkembangan
berikutnya
secara
berkesinambungan. Artinya, apa yang telah terjadi sebelumnya
akan memberi dampak pada tahap perkembangan selanjutnya.
Pada masa ini remaja bukan lagi seorang anak tetapi juga bukan
seorang dewasa. Status ini menguntungkan karena memberi
waktu pada remaja untuk membentuk gaya hidup dan
menentukan pola perilaku, nilai dan sifat-sifat yang sesuai
dengan yang diinginkannya.
3) Masa remaja sebagai periode perubahan
Sejak awal masa remaja dimana perubahan fisik terjadi
dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berkembang.
Terdapat empat perubahan yang terjadi pada masa remaja, yaitu:
a) Perubahan emosi
Meningkatnya emosi yang intensitasnya tergantung
pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi
karena perubahan emosi biasanya terjadi lebih cepat selama
awal masa remaja, maka meningkatnya emosi lebih menonjol
pada masa awal periode akhir masa remaja.
9
b) Perubahan tubuh, minat dan peran
Perubahan tubuh, minat dan peran sesuai dengan yang
diharapkan oleh kelompok sosial akan menimbulkan masalah
baru yang lebih banyak dan lebih sulit diselesaikan oleh
remaja
dibandingkan
dengan
masalah
yang
dihadapi
sebelumnya. Remaja akan tetap merasa banyak masalah
sampai dia sendiri menyelesaikannya.
c) Perubahan minat dan pola perilaku
Perubahan minat dan pola perilaku menyebabkan
nilai-nilai yang dianut juga berubah. Nilai yang pada masa
kanak-kanak dianggap penting, pada masa remaja menjadi
tidak penting lagi.
d) Perubahan sikap
Perubahan
sikap
menyebabkan
remaja
menjadi
ambivalen. Di satu pihak remaja menginginkan dan menuntut
kebebasan, tetapi di pihak lain remaja yang sering merasa
takut untuk bertanggung jawab akan akibatnya dan
meragukan kemampuannya untuk mengatasi masalah yang
akan timbul.
e) Masa remaja sebagai masa bermasalah
Masalah remaja seringkali menjadi masalah yang sulit
untuk diatasi. Hal ini terjadi karena pertama remaja tidak
mempunyai pengalaman dalam mengatasi masalah karena
10
sepanjang
masa
anak-anak
bila
ada
masalah
selalu
diselesaikan oleh orang tua. Kedua karena remaja merasa
dirinya mandiri dan merasa mampu mengatasi masalahnya
sendiri tanpa minta bantuan orang lain. Akibatnya seringkali
terjadi penyelesaian yang tidak sesuai dengan yang
diharapkan.
f) Masa remaja sebagai usia mencari identitas
Identitas diri yang dicari remaja adalah berupa
kejelasan siapa dirinya dan apa peran dirinya di masyarakat.
Pada
awal
masa
remaja
penyesuaian
diri
dengan
kelompoknya masih tetap penting bagi remaja. Lama
kelamaan remaja mulai mendambakan identitas diri, remaja
tidak puas lagi bila dirinya sama dengan orang kebanyakan.
Remaja ingin memperlihatkan dirinya sebagai individu,
sementara
pada
saat
yang
sama
remaja
ingin
mempertahankan dirinya terhadap kelompok sebaya.
g) Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa remaja
mempunyai arti yang bernilai, tetapi banyak pula yang
bersikap negatif dan stereotif bahwa remaja adalah anak-anak
yang tidak dapat dipercaya, tidak rapih dan cenderung
berperilaku merusak, sehingga menyebabkan orang dewasa
harus
selalu
mengawasi
dan
membimbing
mereka.
11
Pandangan seperti ini akan menyebabkan masa peralihan
remaja ke masa dewasa menjadi sulit karena orang tua yang
memiliki pandangan seperti ini akan mencurigai remaja
sehingga akan timbul pertentangan antara orang tua dengan
remaja serta menyebabkan adanya jarak diantara keduanya.
h) Masa remaja sebagai masa yang tidak objektif terhadap
penilaian terhadap diri sendiri dan orang lain.
Remaja seringkali memandang kehidupan melalui
kacamatanya sendiri, baik dalam melihat dirinya sendiri
maupun melihat orang lain. Mereka belum mampu melihat
secara apa adanya dan apabila ada ketidaksesuaian antara
yang diharapkan dengan kenyataannya maka remaja akan
meningkat emosinya.
i) Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
Berlalunya usia belasan menyebabkan remaja menjadi
gelisah untuk meninggalkan stereotip yang negatif dan
berusaha memberi kesan seorang yang hampir dewasa
misalnya dalam berpakaian dan bertindak. Remaja mulai
memusatkan perhatian pada perilaku yang dihubungkan
dengan status orang dewasa seperti perilaku merokok,
minum-minuman keras, mengggunakan obat-obatan dan
terlibat dalam perubahan seksual. Dengan berperilaku seperti
12
itu, remaja beranggapan akan memberikan citra remaja yang
diinginkan.
Beberapa masalah yang sering dihadapi oleh remaja dalam
kaitannya dengan penyesuaian diri terhadap lingkungannya antara
lain:
a) Kesulitan dalam hubungannya dengan orang tua
b) Masalah keretakan keluarga
c) Masalah dengan teman sebaya
d) Kesulitan belajar dan mendapat pekerjaan
e) Masalah penyalahgunaan obat
f) Masalah seksualitas
2. Perilaku Seks Pranikah
a. Pengertian
Pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang
berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan
dengan perkara hubungan intim antara laki-laki dan perempuan
(Poltekkes Depkes, 2010).
Hubungan seks pranikah adalah perilaku yang dilakukan
sepasang individu karena adanya dorongan seksual dalam bentuk
penetrasi penis kedalam vagina. Perilaku ini disebut juga koitus,
koitus secara moralitas hanya dilakukan oleh sepasang individu
yang telah menikah. Tidak ada satu agamapun yang mengijinkan
seks diluar ikatan pernikahan (Wahid, 2011)
13
Seks pranikah adalah hubungan seksual yang dilakukan
remaja tanpa adanya ikatan pernikahan, sedangkan perilaku seksual
pranikah merupakan perilaku seksual yang dilakukan tanpa melalui
proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut
agama dan kepercayaan masing- masing (Sarwono, 2012).
Berdasarkan definisi yang telah diuraikan di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa perilaku seks pranikah adalah segala
tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual dengan lawan
jenisnya, melalui perbuatan yang tercermin dalam tahap-tahap
perilaku seksual dari tahap yang paling ringan hingga tahap yang
paling berat yang dilakukan sebelum pernikahan yang resmi
menurut hukum maupun agama.
b. Bentuk-bentuk perilaku seks pranikah pada remaja
Bentuk-bentuk perilaku seks pranikah pada remaja antara
lain:
1) Berpelukan
Perilaku seksual berpelukan akan membuat jantung berdegup
lebih cepat dan menimbulkan rangsangan seksual pada
individu (Irawati dan Prihyugiarto, 2005).
2) Cium kering
Perilaku seksual cium kering berupa sentuhan pipi dengan pipi
dan pipi dengan bibir (Ginting, 2008). Dampak dari cium pipi
dapat mengakibatkan imajinasi atau fantasi seksual menjadi
14
berkembang di samping juga dapat menimbulkan keinginan
untuk melanjutkan ke bentuk aktivitas seksual lainnya yang
lebih dapat dinikmati (Irawati dan Prihyugiarto, 2005).
3) Cium basah
Aktivitas cium basah berupa sentuhan bibir dengan bibir
(Irawati dan Prihyugiarto, 2005). Dampak dari cium bibir
dapat
menimbulkan
sensasi
seksual
yang
kuat
dan
menimbulkan dorongan seksual hingga tidak terkendali, dan
apabila dilakukan terus menerus akan menimbulkan perasaan
ingin mengulanginya lagi (Ginting, 2008).
4) Meraba bagian tubuh yang sensitif
Merupakan suatu kegiatan meraba atau memegang bagian
tubuh yang sensitif seperti payudara, vagina dan penis
(Ginting, 2008). Dampak dari tersentuhnya bagian yang paling
sensitif tersebut akan menimbulkan rangsangan seksual
sehingga melemahkan kontrol diri dan akal sehat, akibatnya
dapat
melakukan
aktivitas
seksual
selanjutnya
seperti
intercourse (Irawati dan Prihyugiarto, 2005).
5) Petting
Merupakan keseluruhan aktivitas seksual non intercourse
(hingga menempel kan alat kelamin), dampak dari petting
yaitu timbulnya ketagihan (Ginting, 2008).
15
6) Oral seksual.
Oral
seksual
pada
laki-laki
adalah
ketika
seseorang
menggunakan bibir, mulut dan lidahnya pada penis dan
sekitarnya, sedangkan pada wanita bagian di sekitar vulva
yaitu labia, klitoris, dan bagian dalam (Ginting, 2008).
7) Intercourse atau bersenggama
Merupakan aktivitas seksual dengan memasukan alat kelamin
laki-laki.
c. Faktor- Faktor yang menyebabkan remaja melakukan hubungan
seks pranikah
Faktor –faktor yang menyebabkan perilaku seks pranikah
pada remaja dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1) Faktor Internal
Menurut Havighurt dalam Sarwono (2011), faktor
internal atau lebih lazimnya dari dalam diri seseorang remaja
itu sendiri. Seorang remaja akan menghadapi tugas-tugas
perkembangan sehubungan dengan perubahan fisik dan peran
sosial. Keinginan untuk dimengerti lebih dari orang lain dapat
menjadi penyebab remaja melakukan tindakan penyimpangan,
sikap yang terlalu merendakan diri sendiri atau selalu
meninggikan diri sendiri. Jika terlalu merendahkan diri sendiri
remaja lebih mencari jalan pintas untuk menyelesaikan sesuatu,
16
dia beranggapan jika saya tidak begini saya dapat dianggap
orang lain tidak gaul, tidak mengikuti perkembangan zaman.
Faktor internal yang menjadi penyebab seks pranikah
pada remaja antara lain, pengetahuan, aspek-aspek kesehatan
reproduksi, sikap terhadap seksualitas, kerentanan yang
dirasakan terhadap risiko kesehatan reproduksi, gaya hidup,
pengendalian diri, aktivitas sosial, usia, dan agama (Suryoputro
et all, 2006).
a) Faktor Hormonal
Perkembangan fisik termasuk organ seksual yaitu
terjadinya kematangan serta peningkatan kadar hormon
reproduksi atau hormon seks baik pada laki-laki maupun
pada perempuan yang akan menyebabkan perubahan
perilaku seksual remaja secara keseluruhan. Pada kehidupan
psikologis remaja, perkembangan organ seksual mempunyai
pengaruh kuat dalam minat remaja terhadap lawan jenis.
Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap lawan
jenis sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan
fisik selama periode pubertas (Santrock, 2003).
Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah
seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan yang
lebih matang dengan lawan jenis. Matangnya fungsi-fungsi
seksual
maka
timbul
pula
dorongan-dorongan
dan
17
keinginan-keinginan untuk pemuasan seksual. Sebagian
besar dari remaja biasanya sudah mengembangkan perilaku
seksualnya dengan lawan jenis dalam bentuk pacaran atau
percintaan. Bila ada kesempatan para remaja melakukan
sentuhan fisik, mengadakan pertemuan untuk bercumbu
bahkan kadang-kadang remaja tersebut mencari kesempatan
untuk melakukan hubungan seksual (Pangkahila dalam
Soetjiningsih, 2004).
Meskipun fungsi seksual remaja perempuan lebih
cepat matang dari pada remaja laki-laki, tetapi pada
perkembangannya remaja laki-laki lebih aktif secara seksual
dari pada remaja perempuan. Banyak ahli berpendapat hal
ini dikarenakan adanya perbedaan sosialisasi seksual antara
remaja perempuan dan remaja laki-laki. Bahkan hubungan
seks sebelum menikah dianggap ”benar” apabila orangorang yang terlibat saling mencintai ataupun saling terikat.
Mereka sering merasionalisasikan tingkah laku seksual
mereka dengan mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa
mereka terhanyut cinta. Sejumlah peneliti menemukan
bahwa remaja perempuan, lebih dari pada remaja laki-laki,
mengatakan bahwa alasan utama mereka aktif secara
seksual adalah karena jatuh cinta (Santrock, 2003).
18
b) Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi
Kurangnya pengetahuan atau mempunyai konsep
yang salah tentang kesehatan tentang reproduksi pada
remaja dapat disebabkan karena masyarakat tempat remaja
tumbuh memberi gambaran sempit tentang kesehatan
reproduksi sebagai hubungan seksual. Biasanya topik terkait
reproduksi
tabu
dibicarakan
dengan
anak
(remaja).
Sehingga saluran informasi yang benar tentang kesehatan
reproduksi menjadi sangat kurang (Poltekkes Depkes,
2010).
Kurangnya pengetahuan juga dapat dilihat pada
waktu/ saat mengalami pubertas, mereka tidak pernah
memahami
tentang
apa
yang
akan
dialaminya
(Soetjiningsih, 2010).
Pengetahuan seksualitas yang baik dapat menjadikan
remaja memiliki tingkah laku seksual yang sehat dan
bertanggung jawab. Pemahaman yang keliru mengenai
seksualitas pada remaja menjadikan mereka mencoba untuk
bereksperimen mengenai masalah seks tanpa menyadari
bahaya yang timbul dari perbuatannya, dan ketika
permasalahan yang ditimbulkan oleh perilaku seksnya
mulai bermunculan, remaja takut untuk mengutarakan
permasalahan tersebut kepada orang tua.
19
c) Sikap terhadap perilaku seks pranikah
Azwar (2009) berpendapat, sikap seksual pranikah
remaja dipengaruhi oleh banyak hal, selain dari faktor
pengetahuan juga dipengaruhi oleh faktor kebudayaan,
orang
lain
yang
dianggap
penting,
media
massa,
pengalaman pribadi, lembaga pendidikan, lembaga agama
dan
emosi
dari
dalam
individu.
Remaja
mulai
mempersiapkan diri menuju kehidupan dewasa, termasuk
dalam aspek seksualnya. Dengan demikian memang
dibutuhkan sikap yang bijaksana dari para orang tua,
pendidik dan masyarakat pada umumnya serta tentunya dari
remaja itu sendiri, agar mereka dapat melewati masa
transisi itu dengan selamat (Sarwono, 2006).
Sikap dapat bersifat positif dan pula sifat negatif
(Azwar, 2009):
a) Sikap
positif
kecenderungan
tindakan
adalah
mendekati, menyenangi mengharapkan objek tertentu
b) Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi,
menghindari, membenci, tidak menyukai objek tertentu.
Remaja
yang mendapat informasi
yang benar
cenderung mempunyai sifat negatif sebaliknya remaja yang
kurang
pengetahuannyan
tentang
seksual
cenderung
20
mempunyai sikap positif/sikap menerima adanya perilaku
seksual sebagai kenyataan sosiologis (Bungin, 2001).
Dari hasil penelitian di Palembang tentang sikap
remaja
terhadap
perilaku
seksual
berisiko
berat,
menunjukkan bahwa 42,5% yang bersifat permisif, yaitu
sikap yang memperbolehkan apa yang dulunya tidak
diperbolehkan dengan alasan tabu (Soleha, 2007).
d) Gaya hidup
Gaya hidup remaja pada era globalisasi banyak
dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Pengaruh teknologi
terutama media massa memberikan kontribusi pada
perubahan gaya hidup remaja. Remaja yang memiliki
aktivitas dan hobi dalam memanfaatkan media visual
seperti menonton video dan film pornografi bisa saja tanpa
mereka sadari akan mempengaruhi pengetahuan serta sikap
dalam bertindak ke arah gaya hidup yang berisiko
melakukan perilaku seksual pranikah.
Gaya hidup berikutnya yang berkaitan dengan
perilaku seksual adalah konsumsi makanan. Konsumsi
makanan seafood seperti kerang dapat meningkatkan hasrat
perilaku seksual karena mengandung zat aphrosidiak.
Sedangkan sumber makanan hewani dapat
berisiko
melakukan perilaku seksual dikarenakan bumbu yang
21
digunakan seperti cabai, jahe, merica dalam jumlah banyak
dimana
rempah
ini
mengandung
zat
aphrosidiak
(perangsang gairah seks) (Andriani, 2013).
e) Pengendalian diri
Menurut Smet (2008) kontrol diri yaitu kemampuan
mengenal apa yang dapat dan tidak dapat dipengaruhi
melalui tindakan pribadi dalam sebuah situasi, ketika
memfokuskan pada bagian yang dapat dikontrol melalui
tindakan pribadi. Kontrol diri dapat diartikan sebagai suatu
aktivitas pengendalian tingkah laku yang mengandung
makna, yaitu untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan
terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk
bertindak. Semakin tinggi kontrol diri seseorang, maka akan
semakin
intens
pula
orang
tersebut
mengadakan
pengendalian terhadap tingkah laku
f) Aktivitas sosial
Remaja yang tidak dapat memanfaatkan waktu luang
dengan baik, cenderung melakukan aktivitas-aktivitas yang
kurang berguna. Kekosongan aktivitas dapat membuat
remaja memikirkan hal-hal yang negatif dan berusaha
mencari kesenangan dan kepuasan dalam dirinya, seperti
melakukan masturbasi, onani dan melamun. Remaja yang
melakukan aktivitas yang padat, kecil kemungkinan
22
mempunyai
kesempatan
berpikir
yang
negatif
atau
melakukan perilaku seksualitas bebas (Hudson, 2003).
g) Usia
Peningkatan umur akan mempengaruhi kematangan
seks seseorang. Dalam kaitannya dengan kematangan fisik,
Sanderowitz (1985) dalam sarwono (2010) mencatat bahwa
di berbagai masyarakat sekarang ada kecenderungan
menurunnya
usia
kematangan
seksual
seseorang
sebagaimana tercermin dalam menurunnya usia menarche.
Secara biologis rata-rata waktu menstruasi pertama
(menarche) cenderung terjadi pada usia lebih muda. Hal ini
disebabkan adanya hormon-hormon seksual yang bekerja
dalam diri seseorang. Peristiwa ini adalah normal terjadi
pada setiap anak, untuk anak perempuan 10-15 tahun dan
12-16 tahun untuk anak laki-laki. Masing-masing individu
bervariasi usia pubertasnya.
Menurunnya usia kematangan seksual sehubungan
dengan membaiknya gizi sejak masa kanak-kanak di satu
pihak dan meningkatnya informasi melalui media massa
atau hubungan antar orang di pihak lain. Penelitian lain juga
berpendapat bahwa gejala menurunnya usia menarche (haid
yang pertama) disebabkan oleh hubungan antar jenis yang
serba boleh (permissif) sehingga mempercepat pematangan
23
tubuh. Menurunnya usia kematangan seksual ini akan
diiukuti oleh meningkatnya aktivitas seksual pada usia-usia
dini (Sarwono, 2010).
h) Agama
Agama
merupakan
hal
yang
penting
dalam
kehidupan remaja. Menurut Santrock (2007), salah satu
pengaruh agama terhadap perkembangan remaja adalah
berkaitan dengan aktivitas seksual. Meskipun pengajaran
agama yang bervariasi dan berubah-ubah itu dapat
mempersulit dalam menyimpulkan doktrin-doktrin religius,
namun pada umumnya ajaran agama tidak menganjurkan
hubungan seks pranikah. Para remaja yang sering
mengunjungi layanan religius cenderung lebih banyak
mendengar pesan-pesan agar menjauhkan diri dari seks.
Keterlibatan remaja dalam organisai religius juga dapat
meningkatkan peluang bahwa mereka akan berteman
dengan remaja lain yang memiliki sikap yang tidak
menyetujui seks pranikah.
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor dari luar diri seorang
remaja. Menurut Havinghurt dalam Sarwono (2011), faktor
eksternal terbesar yang memberi dampak terjadinya perilaku
menyimpang seorang remaja yaitu lingkungan dan sahabat.
24
Seorang sahabat yang sering berkumpul bersama dalam satu
geng, otomatis dia akan tertular oleh sikap dan sifat kawannya
tersebut. Kasih sayang dan perhatian orang tua tidak
sepenuhnya tercurahkan, membuat seorang anak tidak betah
berada di dalam rumah tersebut, mereka lebih sering untuk
berada di luar bersama kawan-kawannya. Apalagi keluarga
yang kurang harmonis dan kurang komunikasi dengan orang
tua
dapat
menyebabkan
seorang
anak
melakukan
penyimpangan sosial serta seks bebas yang melanggar nilainilai dan norma social.
Faktor eksternal yang menjadi penyebab perilaku seks
pranikah pada remaja antara lain, kontak dengan media
informasi, keluarga, sosial-budaya, nilai dan norma sebagai
pendukung sosial untuk perilaku tertentu (Suryoputro et al.,
2006).
a) Media Informasi
Menurut Rohmahwati (2008), paparan media massa,
baik cetak (Koran, majalah, buku-buku porno) maupun
elektronik (TV, VCD, Internet), mempunyai pengaruh
terhadap remaja untuk melakukan hubungan seksual
pranikah. Pada dasarnya media pornografi sangat besar
pengaruhnya
pada
remaja
saat
ini,
akibat
faktor
pengaplikasian yang salah banyak remaja menyalagunakan
25
media pornografi sehingga terjadilah tindakan seksual yang
tidak sehat.
Kecenderungan
pelanggaran
makin
meningkat
karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan
melalui media massa yang dengan teknologi yang canggih
(contoh: VCD, buku pornografi, foto, majalah, internet, dan
lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang
sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba akan
meniru apa yang dilihat atau didengar dari media massa,
karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui
masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya (Sarwono,
2010).
b) Keluarga
Orang tua, baik karena ketidaktahuan maupun
sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai
seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada
anak. Bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam
masalah ini (Sarwono, 2010).
Hubungan
orang-tua
yang
harmonis
akan
menumbuhkan kehidupan emosional yang optimal terhadap
perkembangan kepribadian anak sebaliknya. Orang tua yang
sering bertengkar akan menghambat komunikasi dalam
keluarga, dan anak akan “melarikan diri“ dari keluarga.
26
Keluarga yang tidak lengkap misalnya karena perceraian,
kematian,dan keluarga dengan keadaan ekonomi yang
kurang, dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak
(Rohmahwati, 2008).
c) Sosial budaya
Sarwono (2012) mengatakan, walaupun pada zaman
sekarang ini banyak terjadi perilaku seks bebas tetapi
sebenarnya dalam masyarakat Indonesia masih menjunjung
tinggi nilai tradisional. Nilai tradisional dalam perilaku
seksual yang paling utama adalah tidak melakukan
hubungan seksual sebelum menikah.
Nilai
ini
tercermin
dalam
bentuk
keinginan
mempertahankan kegadisan seseorang sebelum menikah.
Orang tua belum memiliki kesiapan dengan perubahan dan
kemampuan anak-anak dalam beradaptasi dengan nilai-nilai
yang baru. Mereka masih khawatir anak-anak akan
mendapatkan pengaruh negatif dari nilai-nilai baru tersebut.
Hal ini yang membuat anak mengalami kebingungan
dalam memahami nilai-nilai kontradiktif yang diterapkan
orang tua kepada mereka. Tidak mengherankan jika pada
usianya
mereka
masih
memperlihatkan
kehidupan
emosional yang kurang matang dan relasi sosial yang
kurang berkembang. Mereka juga kesulitan untuk menjadi
27
individu yang lebih berbudaya, yang mewarnai kehidupan
perilaku mereka sehari-hari.
Budaya
mempunyai
peranan
penting
dalam
membentuk pola berpikir dan pola pergaulan dalam
masyarakat, yang berarti juga membentuk kepribadian dan
pola pikir masyarakat tertentu. Budaya mencakup perbuatan
atau aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh suatu individu
maupun masyarakat, pola berpikir mereka, kepercayaan,
dan ideologi
yang mereka anut. Tentu saja pada
kenyataannya budaya antara satu masyarakat dengan
masyarakat lainnya berbeda, terlepas dari perbedaan
karakter masing-masing kelompok masyarakat ataupun
kebiasaan mereka.
Peran budaya yang ada dalam masyarakat dapat
dijadikan titik acuan dalam membentuk kepribadian
seseorang atau kelompok masyarakat. Karena melalui
kebudayaan manusia dapat bertukar pikiran. Apalagi di
jaman sekarang yang dimana teknologi informasi sangat
menjadi acuan atau pengaruh dalam pertukaran kebudayaan
dalam
masyarakat
berbangsa
maupun
bernegara.
Masyarakat sering sekali menerima langsung kebudayaankebudayaan
negatif
yang
seharusnya
dan
memang
bertentangan dengan norma-norma, karena kebudayaan
28
negatif inilah yang tidak dapat mengubah kepribadian
seseorang/masyarakat sehingga remaja menelan begitu saja
apa yang dilihatnya dari budaya barat.
d) Nilai dan norma
Kasus mengenai perilaku seksual pada remaja dari
waktu ke waktu semakin mengkhawatirkan, sementara di
masyarakat terjadi pergeseran nilai–nilai moral yang
semakin jauh sehingga masalah tersebut sepertinya sudah
menjadi hal biasa, padahal perilaku seksual pranikah
merupakan sesuatu yang harus dihindari oleh setiap
individu (Sarwono, 2010).
Selain fakto-faktor di atas, ada beberapa faktor yang
menyebabkan remaja melakukan perilaku seks pranikah, antara
lain:
1) Adanya dorongan biologis
Dorongan biologis untuk melakukan hubungan seksual
merupakan insting alamiah dari berfungsinya organ sistem
reproduksi dan kerja hormon. Dorongan dapat meningkat
karena ada pengaruh dari luar. Misalnya dengan membaca
buku atau melihat film atau majalah yang menampilkan
gambar-gambar yang membangkitkan erotisme. Di era
teknologi informasi yang tinggi sekarang ini. Remaja sangat
mudah mengakses gambar-gambar tersebut melalui telepon
29
genggam dan akan selalu dibawa dalam setiap langkah remaja
(Politeknik Kesehatan, 2010).
Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan
hasrat seksual remaja. Peningkatan hasrat seksual ini
membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual
tertentu. Penyaluran itu tidak dapat segera dilakukan karena
adanya penundaan usia perkawinan maupun karena norma
sosial yang makin lama makin menuntut persyaratan yang
makin meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan,
persiapan mental dan lain-lain).
Sementara usia kawin ditunda, norma-norma agama
yang berlaku di mana seseorang dilarang untuk melakukan
hubungan seks sebelum menikah. Remaja yang tidak dapat
menahan diri akan terdapat kecenderungan untuk melakukan
hal tersebut (Sarwono, 2010).
2) Ketidakmampuan mengendalikan dorongan biologis
Kemampuan
mengendalikan
dorongan
biologis
dipengaruhi oleh nilai-nilai moral dan keimanan seseorang.
Remaja yang memiliki keimanan kuat tidak akan melakukan
seks pranikah karena mengingat ini merupakan dosa besar
yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan Yang
Maha Kuasa. Namun keimanan ini dapat hilang dan tidak
tersisa bila remaja dipengaruhi oleh obat-obat misalnya shabu-
30
shabu. Obat ini akan mempengaruhi pikiran remaja sehingga
pelanggaran terhadap nilai-nilai agama dan moral dinikmati
dengan tanpa rasa bersalah.
3) Adanya kesempatan melakukan hubungan seks pranikah
Faktor kesempatan melakukan hubungan seks pranikah
sangat penting, adanya kesempatan baik ruang maupun waktu
untuk dipertimbangkan karena bila tidak, maka hubungan seks
pranikah tidak akan terjadi. Terbukanya kesempatan pada
remaja untuk melakukan hubungan seksual didukung oleh halhal sebagai berikut.
a) Kesibukan orang tua yang memyebabkan kurangnya
perhatian pada remaja.
b) Pemberian fasilitas (termasuk uang) pada remaja secara
berlebihan.
c) Pergesaran nilai-nilai moral dan etika di masyarakat dapat
membuka peluang yang mendukung hubungan seksual
pranikah pada remaja.
d) Kemiskinan.
4) Adanya kecenderungan yang makin bebas
Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria
dan
wanita
dalam
masyarakat,
sebagai
akibat
dari
berkembangnya peran dan pendidikan wanita, sehingga
31
kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria (Politeknik
Kesehatan, 2010).
5) Hubungan dengan pacar
Ada
beberapa
hubungan
dengan
pacar
yang
menyebabkan perilaku seks pranikah, antara lain:
a) Frekuensi pertemuan dengan pacarnya yang makin sering
tanpa kontrol yang baik menyebakan hubungan akan
makin mendalam.
b) Hubungan antar mereka makin romantis.
c) Penerimaan aktivitas seksual pacarnya.
d) Adanya keinginan untuk
menunjukkan cinta pada
pacarnya (Soetjiningsih, 2010).
6) Status ekonomi
Mereka yang hidup dengan fasilitas berkecukupan akan
mudah melakukan pesiar ke tempat-tempat rawan yang
memungkinkan adanya kesempatan melakukan hubungan
seksual. Sebaliknya yang ekonomi lemah tetapi banyak
kebutuhan atau tuntunan, mereka mencari kesempatan untuk
memanfaatkan dorongan seksnya demi mendapatkan sesuatu
(Soetjiningsih, 2010).
7) Tekanan dari teman sebaya
Kelompok
sebaya
kadang-kadang
saling
ingin
menunjukkan penampilan diri yang salah untuk menunjukkan
32
kemantapannya, misal mereka ingin menunjukkan bahwa
mereka sudah mampu seorang perempuan untuk melayani
kepuasan seksnya.
8) Karakteristik remaja
Remaja merasa sudah saatnya untuk melakukan
aktivitas seksual sebab mereka merasa matang secara fisik.
Dengan
melakukan
aktivitas
seksual
mereka
ingin
menunjukkan kegagahan dan kemampuan fisiknya. Mereka
juga kehilangan kontrol sebab tidak tahu batas-batasnya mana
yang boleh dan mana tidak boleh (Soetjiningsih, 2010).
d. Dampak dari melakukan hubungan seks pranikah
Menurut Depkes RI (2005) dan Sarwono (2003), perilaku
seks pranikah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada
remaja, diantaranya sebagai berikut.
1) Bagi Remaja
a) Remaja pria menjadi tidak perjaka, dan remaja wanita tidak
perawan.
b) Menambah risiko tertular PMS, seperti GO, Sifilis, herpes
simpleks (genitalis), clamidia, HIV/AIDS, dan hepatitis.
c) Remaja putri terancam kehamilan yang tidak diinginkan,
pengguguran kandungan yang tidak aman, infeksi organorgan reproduksi, anemia, kemandulan dan kematian karena
perdarahan atau keracunan kehamilan.
33
d) Trauma kejiwaan (depresi, rendah diri, rasa berdosa, hilang
harapan masa depan.
e) Kemungkinan hilangnya kesempatan untuk melanjutkan
pendidikan dan kesempatan bekerja.
f) Melahirkan bayi yang kurang/tidak
g) Dikucilkan, putus sekolah pada remaja perempuan yang
hamil, dan perubahan peran menjadi ibu. Belum lagi
tekanan dari masyarakat yang mencela dan menolak
keadaan tersebut.
2) Bagi keluarga
a) Menimbulkan aib keluarga.
b) Menambah beban ekonomi keluarga.
c) Pengaruh kejiwaan bagi anak yang dilahirkan akibat
tekanan masyarakat di lingkungannya (ejekan).
3) Bagi Masyarakat.
a) Meningkatnya remaja putus sekolah, sehingga kualitas
masyarakat menurun.
b) Meningkatnya angka kematian ibu dan bayi.
c) Menambah beban ekonomi masyarakat, sehingga derajat
kesejahteraan masyarakat menurun.
34
B. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Seks Pranikah Pada Remaja
Peneliti dalam hal ini ingin menggali secara mendalam fenomena
perilaku seks pranikah pada remaja di Kabupaten Tegal. Berdasarkan latar
belakang di atas, remaja sudah melakukan perilaku seks pranikah mulai dari
berpegangan tangan sampai melakukan hubungan seksual. Perilaku seks
didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenisnya, melalui perbuatan yang
tercermin dalam tahap-tahap perilaku seksual dari tahap yang paling ringan
hingga tahap yang paling berat yang dilakukan sebelum pernikahan yang
resmi menurut hukum maupun agama.
Perilaku sek pranikah banyak dilakukan remaja. Remaja merupakan
masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak
mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun
perkembangan psikisnya. Secara fisik perkembangan remaja pada masa
seperti ini ditandai dengan percepatan pertumbuhan fisik yang dimulai dari
pembentukan
menimbulkan
hormon
mamotropin
rangsangan
seksual.
dan
hormon
Sedangkan
gonadotropin
secara
yang
psikologis
perkembangannya ditandai dengan rasa keingintahuan yang tinggi mengenai
seks
dan
seksualitas
(Santrock,
2006).
Ketidakmampuan
remaja
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut dapat menyebabkan
perilaku menyimpang yang salah satunya adalah perilaku seks pranikah.
Banyaknya perilaku seks pranikah di kalangan remaja juga
dipengaruhi oleh berbagai hal, yaitu faktor dari dalam diri remaja
(pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap terhadap layanan kesehatan seksual
35
dan reproduksi, perilaku kerentanan yang dirasakan terhadap risiko kesehatan
reproduksi, gaya hidup, pengendalian diri, aktivitas sosial, rasa percaya diri,
usia, agama, dan status perkawinan), dan faktor dari luar remaja (peran
keluarga, peran teman sebaya, kontak dengan sumber-sumber informasi,
sosial-budaya, nilai, dan norma sebagai pendukung sosial untuk perilaku
tertentu).
Apabila terdapat faktor lain di luar dugaan peneliti, maka peneliti
berharap dapat menemukannya pada saat pengambilan data dengan metode
wawancara mendalam.
36
C. KERANGKA KONSEP
Remaja
Terjadi perubahan:
Fisik, emosi, minat, peran, pola
perilaku
Ketidakmampuan
mengendalikan diri terhadap
perubahan dorongan seksual
Rasa keingintahuan akan seks
yang tinggi
Perilaku Seks pranikah
Faktor Internal
1. Faktor hormonal
2. Pengetahuan
kesehatan reproduksi
3. Sikap
terhadap
seksualitas
4. Pengendalian diri
5. Pemahaman
tingkat
agama
6. Aktivitas sosial
7. Gaya hidup
8. Usia
Faktor Eksternal
1. Peran keluarga
2. Peran teman sebaya
3. Media Informasi
4. Situasi dan Kondisi
5. Nilai dan norma
6. Sosial budaya
Keterangan:
--------------
: tidak diteliti
__________
: diteliti
Gambar 1. Kerangka Konsep
Download