sapaan dalam bahasa weejewa di kabupaten

advertisement
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
SAPAAN DALAM BAHASA WEEJEWA
DI KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA
NUSA TENGGARA TIMUR
Tugas Akhir
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia
Program Studi Sastra Indonesia
Oleh
Heronima Rosalia Ate
NIIM: 134114040
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2017
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
SAPAAN DALAM BAHASA WEEJEWA
DI KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA
NUSA TENGGARA TIMUR
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia
Program Studi Sastra Indonesia
Oleh
Heronima Rosalia Ate
NIIM: 134114040
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
JULI 2017
i
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini
tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan
dalam kutipan dan daftar pustaka sebagimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 31 Juli 2017
Penulis
Heronima Rosalia Ate
iv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah
Untuk Kepentingan Akademis
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata
Dharma:
Nama
: Heronima Rosalia Ate
NIM
: 134114040
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan
Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul Sapaan Dalam
Bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba Barat Daya Nusa Tenggara Timur beserta
perangkat yang diperlukan (bila ada).
Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata
Dharma hak menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam
bentuk
pangkalan
data,
mendistribusikan
secara
terbatas
dan
mempublikasikannya di internet atau media yang lain untuk kepentingan
akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royaliti
kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta,
Pada tanggal 31 Juli 2017
Yang menyatakan,
Heronima Rosalia Ate
v
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai
Kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan
rancangan kecelakaan untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”
(Yer 29: 11)
Semangat yang kuat mematahkan segala keputusasaan
dan rasa kecewa dalam diri, serta yakinlah bahwa segala sesuatu
indah pada waktunya
Skripsi ini saya persembahakan untuk orang-orang terkasih:
Bapak Agustinus Ngongo Bulu dan Mama Kristina Peda Bulu
Kakak Fabianus Ama Kii,
Kakak Yosefhina Noviana Milla Ate,
Adik Marcelina Susana Ate,
dan Apolonius Dolu.
vi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yesus Kristus karena atas berkat dan
rahmant-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini
dibuat untuk memenuhi salah satu syarat mencapai derajat Sarjana Sastra
Indonesia pada Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terwujud tanpa bantuan
dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang dengan caranya masing-masing telah membantu
penulis dalam menyusun skripsi ini:
1. Bapak Dr. Paulus Ari Subagyo, M.Hum. selaku dosen pembimbing yang
telah sabar dan meluangkan waktu memberikan bimbingan, saran, kritik
yang sangat berarti dalam penyempurnaan skripsi ini.
2. Bapak Dr. Yoseph Yapi Taum,M.Hum. selaku Dosen Pembimbing
Akademik yang juga ikut mendorong dan menyemangati penulis.
3. Segenap dosen Program Studi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta, Bapak Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., Bapak Drs. A.
Hery Antono, M.Hum. (alm), Ibu S.E. Peni Adji, S.S., M.Hum., Bapak
Drs. F.X. Santosa, M.S., Bapak Drs. B. Rahmanto, M.Hum., Ibu Dra.
Fransisca Tjandrasih Adji, M.Hum., Bapak Sony Christian Sudarsono,
S.S., M.A., dan Ibu Maria Magdalena Sinta Wardani, S.S., M.A. serta
vii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
dosen-dosen pengampu mata kuliah tertentu yang tidak dapat penulis
sebutkan satu per satu.
4. Segenap Staf Sekretariat Fakultas Sastra dan Staf Biro Administrasi
Akademik Universitas Sanata Dharma yang telah membantu kelancaran
urusan kuliah.
5. Segenap Staf Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah
membantu menyediakan buku-buku yang penulis perlukan.
6. Kedua orangtua tercinta, Bapak Agustinus Ngongo Bulu dan Mama
Kristina Peda Bulu yang tidak pernah lelah berjuang, mendukung, dan
mendoakan selama proses pendidikan hingga saat ini. Terima kasih juga
kepada Nenek Bela Pati, Nenek Lero Kaka, Om Ngongo, Tante Ngalu,
Kakak Yanus, Kakak Evi, Kakak Dion, Kakak Murri, Kakak Pippi, Adik
Marce yang selalu mendukung, menyemangati serta mendokan penulis.
7. Kakak Apolonius Dolu yang selalu mendukung dan mendoakan penulis.
8. Seluruh teman-teman di Prodi Sastra Indonesia, secara khusus angkatan
2013 yang telah berjuang bersama-sama hingga saat ini.
9. Semua pihak yang turut membantu penulis baik secara langsung maupun
tidak langsung membantu penulis menyusun dan menyelesaikan skripsi
ini.
viii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Meskipun banyak pihak telah terlibat dalam penelitian dan penyusunan
skripsi ini, namun tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan penulis. Oleh
karena itu segala kritik, saran, dan masukan dapat disampaikan kepada penulis.
Yogyakarta, 31 Juli 2017
Heronima Rosalia Ate
ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ABSTRAK
Ate, Heronima Rosalia. 2017. “Sapaan Dalam Bahasa Weejewa Di
Kabupaten Sumba Barat Daya” Skripsi. Yogyakarta: Program Studi
Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.
Skripsi ini membahas sapaan dalam bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba
Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tujuan dari penelitian ini
mendeskripsikan jenis-jenis kata sapaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi
penggunaan sapaan dalam bahasa Weejewa.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Pendekatan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiolinguistik. Metode pengumpulan data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode cakap dan metode simak.
Pada tahap analisis data digunakan metode padan referensial dan metode padan
pragmatis. Metode penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal
dan metode formal.
Penelitian ini menghasilkan dua temuan. Pertama, jenis-jenis kata sapaan
dalam bahasa Weejewa berdasarkan referennya mencakup (a) sapaan kekerabatan,
(b) sapaan nonkekerabatan, (c) sapaan berdasarkan nama diri, (d) sapaan
berdasarkan kata ganti, (e) sapaan berdasarkan profesi/jabatan, (f) sapaan
berdasarkan status sosial. Kedua, faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan
kata sapaan dalam bahasa Weejewa adalah (a) faktor kekerabatan, (b) faktor
perbedaan profesi/jabatan, (c) faktor perbedaan usia, (d) faktor perbedaan jenis
kelamin, (e) faktor status sosial, (f) faktor keakraban, (g) faktor situasi, (h) faktor
asal penutur.
x
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ABSTRACT
Ate, Heronima Rosalia. 2017. “Sapaan Dalam Bahasa Weejewa Di
KAbupaten Sumba Barat Daya”. Thesis. Yogyakarta: Department of
Indonesian Literature, Faculty of Leterature, Sanata Dharma
University.
This thesis discusses about address terms in Weejewa Language at
Sumba Barat Daya regency of East Nusa Tenggara Province. The objective is to
describe the types of address terms in Weejewa language and factors influencing
its choice in Weejewa language.
This is a descriptive study with sociolinguistic approach. The colllection
method used in this thesis are cakap and simak. Data analysis method used are
padan refensial and padan pragmatis. Presentation of the result of data analysis
methods used are informal and formal methods.
The result of this thesis are first, the types of address terms in Weejewa
language are (a) types of address terms based on kinship, (b) types of address
terms based on non kinship, (c) types of address terms by name, (d) types of
address terms based on pronouns, (e) types of address terms based on profession,
(f) types of address terms based on social status. Second, the factors that affect the
use of the address are (a) kinship factor, (b) the factor of profession difference, (c)
the factor of difference in age, (d) the factor of gender difference, (e) the factor of
social status, (f) difference in familiarity factor, (g) the factor of situation, (h) the
factor of speaker origin.
xi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................ v
HALAMAN PERSEMBAHAN DAN MOTO ...................................................... vi
KATA PENGANTAR .......................................................................................... vii
ABSTRAK ............................................................................................................ x
ABSTRACT ............................................................................................................ xi
DAFTAR ISI ......................................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xiv
DAFTAR TABEL ................................................................................................. xv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 7
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................ 7
1.4 Manfaat Hasil Penelitian ................................................................................. 7
1.5 Tinjauan Pustaka ............................................................................................. 8
1.6 Landasan Teori ................................................................................................ 10
1.7 Metodologi Penelitian ..................................................................................... 13
1.7.1 Pengumpulan Data ................................................................................. 13
1.7.2 Analisis Data .......................................................................................... 14
1.7.3 Penyajian Hasil Analisis Data ................................................................ 15
1.8 Sistematika Penyajian ..................................................................................... 16
xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB
II JENIS-JENIS SAPAAN DALAM BAHASA WEEJEWA DI
KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA
2.1 Pengantar ......................................................................................................... 17
2.2 Kata Sapaan hubungan Kekerabatan ............................................................... 17
2.3 Kata Sapaan Nonkekerabatan ......................................................................... 36
2.4 Kata Sapaan Dengan Menyebut Nama ........................................................... 40
2.5 Kata Sapaan Berdasarkan Kata Ganti ............................................................. 43
2.6 Kata Sapaan Berdasarkan Status Sosial .......................................................... 45
2.7 Kata Sapaan Berdasarkan Jabatan/Profesi ...................................................... 48
BAB III FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PENGGUNAAN SAPAAN DALAM BAHASA WEEJEWA
3.1 Pengantar ......................................................................................................... 51
3.2 Faktor Hubungan Kekerabatan ....................................................................... 51
3.3 Faktor Perbedaan Jabatan/Profesi ................................................................... 62
3.4 Faktor Status Sosial ......................................................................................... 64
3.5 Faktor Perbedaan Usia .................................................................................... 66
3.6 Faktor Keakraban ............................................................................................ 67
3.7 Faktor Jenis Kelamin ....................................................................................... 70
3.8 Faktor Situasi ................................................................................................... 72
3.9 Faktor Asal Penutur ......................................................................................... 74
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 76
4.2 Saran
............................................................................................................ 77
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 78
LAMPIRAN 1 ........................................................................................................ 81
LAMPIRAN II ...................................................................................................... 84
xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Sumba Barat Daya ............ . 3
Gambar 2.
Bagan Keluarga Inti ...................................................................... 53
Gambar 3.
Bagan Keluarga Luas I Ayah ........................................................ 56
Gambar 4.
Bagan Keluarga Luas I Ibu............................................................. 58
Gambar 5.
Bagan Keluarga Luas II .................................................................. 60
xiv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Sapaan Hubungan Kekerabatan ............................................................... 35
Tabel 2. Sapaan Nonkekerabatan ........................................................................... 39
Tabel 3. Sapaan Berdasarkan Nama Diri (mitra tutur) .......................................... 43
Tabel 4 .Sapaan Berdasarkan Kata Ganti. .............................................................. 45
Tabel 5. Sapaan Berdasarkan Status sosial ............................................................ 47
Tabel 6. Sapaan Berdasarkan Jabatan/Profesi………………………………….. 50
Tabel 7. Penggunaan Kata Sapaan Keluarga Inti ................................................... 54
Tabel 8. Keluarga Luas I Ayah .............................................................................. 57
Tabel 9. Penggunaan Sapaan Keluarga Luas I Ibu ................................................ 59
Tabel 10.Penggunaan Sapaan Keluarga Luas II .................................................... 61
xv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan bagian penting dari pola tingkah laku dan pola budaya
manusia. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan keanekaragaman
bahasa. Indonesia yang terdiri dari ribuan kepulauan dan suku tentu memiliki
berbagai bahasa yang berbeda-beda. Bahasa-bahasa tersebut cenderung menjadi
ciri khas dan keunikan dari suatu suku atau daerah tertentu. Bahasa tersebut sering
disebut sebagai bahasa daerah misalnya, bahasa Jawa, bahasa Minangkabau,
bahasa Aceh, bahasa Agam, bahasa betawi, dsb. Bahasa Weejewa juga merupakan
salah satu bahasa daerah yang terdapat di wilayah Timur Indonesia tepatnya di
Pulau Sumba Kabupaten Sumba Barat Daya.
Pulau Sumba adalah sebuah pulau kecil di Provinsi Nusa Tenggara Timur,
Indonesia. Luas wilayahnya 10.710 km², dan titik tertingginya adalah Gunung
Wanggameti (1.225 m). Pulau Sumba berbatasan dengan Sumbawa di sebelah
barat laut, Flores di timur laut, Timor di timur, dan Australia di selatan dan
tenggara. Di bagian timur terletak Laut Sawu serta Samudra Hindia terletak di
sebelah selatan dan barat. Pulau ini sendiri terdiri dari empat kabupaten yaitu,
Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba
Tengah, dan Kabupaten Sumba Timur.
Wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan pemekaran dari
Kabupaten Sumba Barat (Induk). Luas wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya
adalah 1.445,77 Km², meliputi tujuh wilayah kecamatan dan masing-masing
1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2
kecamatan terbagi lagi dalam desa dan kelurahan, yaitu ada sebanyak 129 desa
dan 2 kelurahan. Secara geografik wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya terletak
pada 9º,18 – 10º,20 LS (Lintang Selatan) dan 118º,55 – 120º,23 BT (Bujur
Timur). Batas Wilayah administratif Kabupaten Sumba Barat Daya adalah sebelah
Utara berbatasan dengan Laut Sumba, sebelah Selatan berbatasan dengan
Samudra Indonesia dan Kabupaten Sumba Barat, sebelah Barat berbatasan dengan
Samudra Indonesia dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sumba
Barat.
Dataran Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan dataran yang berbukit –
bukit dengan ketinggian dari permukaan laut berkisar ± 0 hingga 850 MSL (Mean
Sea Level) untuk kemiringan lahan wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya dan
sepanjang pantai relatif datar. Topografi Kabupaten Sumba Barat Daya berbukit
dan mengakibatkan tanah rentan terhadap erosi.
Ibu Kota Kabupaten Sumba Barat Daya adalah Tambolaka. Kabupaten
Sumba Barat Daya terdiri dari tujuh Kecamatan yakni, Kecamatan Wewewa
Barat, Kecamatan Wewewa Timur, Kecamatan Wewewa Utara, Kecamatan
Wewewa Selatan, Kecamatan Kodi, Kecamatan Kodi Bangedo, Kecamatan Kodi
Besar, dan Kecamatan Loura. Untuk lebih jelasnya berikut akan ditampilkan peta
wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3
Sumber : http://sbdkab.go.id
Gambar 1. Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Sumba Barat
Daya.
Bahasa yang digunakan di kabupaten Sumba Barat Daya adalah bahasa
Weejewa dan bahasa Kodi. Bahasa Weejewa digunakan di kecamatan Wewewa
Barat, Kecamatan Wewewa Timur, Kecamatan Wewewa Utara, Kecamatan
Wewewa Selatan, dan Kecamatan Loura. Sedangkan bahasa kodi hanya
digunakan di kecamatan Kodi, Kecamatan Kodi Bangedo, dan Kecamatan Kodi
Besar.
Bahasa Weejewa merupakan salah satu bahasa daerah yang hidup dan
berkembang di Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Dibandingkan dengan bahasa Kodi , bahasa Weejewa memiliki jumlah penutur
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
4
yang paling banyak. Penutur bahasa Weejewa tersebar di seluruh Kabupaten
Sumba Barat Daya dan Kabupaten Sumba Barat (induk). Bahasa Weejewa
merupakan bahasa yang mudah dipelajari dibandingkan dengan bahasa kodi
sehingga bahasa Weejewa menjadi media yang digunakan untuk berinteraksi dan
berkomunikasi.
Sapaan merupakan salah satu fenomena unik yang sering muncul dalam
tuturan. Dikatakan unik karena lawan bicara dapat disapa dengan nama diri, istilah
kekerabatan, gelar atau istilah sapaan lain. Dalam kegiatan komunikasi seharihari, pemakaian kata sapaan untuk sapa menyapa antar anggota masyarakat
senantiasa berlangsung setiap saat. Tujuannya adalah untuk menyampaikan
maksud-maksud tertentu kepada orang yang disapa (Gustia, dkk,2014). Sapaan
dalam bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba Barat Daya berfungsi sebagai sarana
dalam menjaga komunikasi yang baik antar masyarakat dan juga berfungsi untuk
menunjukkan rasa saling menghormati antar masyarakat.
Penggunaan kata sapaan dalam suatu komunikasi tentu dipengaruhi oleh
beberapa hal, seperti siapa yang menyapa, siapa yang disapa, dan bagaimana
hubungan antara penyapa dan pesapa. Selain itu, kata sapaan yang digunakan
untuk bertegur sapa tidak selalu sama untuk setiap lawan bicara. Penggunaan
sapaan yang bervariasi ini merupakan alasan untuk menganalisis faktor-faktor
pemakaian sapaan khususnya penggunaan sapaan dalam bahasa Weejewa di
kabupaten Sumba Barat Daya.
Sebagai sebuah bahasa, bahasa Weejewa memiliki sistem tertentu dalam
bertegur sapa. Sistem sapaan itu digunakan untuk membedakan dan menghargai
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
5
orang yang disapa. Berikut beberapa contoh penggunaan kata sapaan dalam
bahasa Weejewa.
(1) Inna, ba loddo igha wai pertemuan orangtua ne skolah jam 7
dukki
jam 9.
„Mama, hari senin akan ada pertemuan orang tua di sekolah dari
jam 7 sampai jam 9 pagi.‟
(2) Pa’ina, pirra igha tandan ne kalowo?
„Ibu, pisang satu tandan ini harganya berapa?
(3)
Nyora, ge kako nia mu?
„Nyonya, mau pergi ke mana?‟
Sapaan pada contoh (1) yaitu Inna yang berarti „mama‟ merupakan sapaan
yang termasuk dalam jenis hubungan kekerabatan. Sapaan Inna digunakan untuk
menyapa ibu kandung. Sapaan Pa’ina pada contoh (2) yang berarti „ibu‟
merupakan sapaan yang termasuk dalam jenis hubungan nonkekerabatan. Sapaan
Pa’ina merupakan sapaan yang digunakan untuk menyapa seorang wanita yang
sebaya dengan ibu/mama. Sedangkan sapaan Nyora pada contoh (3) merupakan
sapaan yang digunakan untuk menyapa seorang wanita yang memiliki status
sosial lebih tinggi daripada penyapa.
Dalam penelitian ini, ada dua hal yang akan dianalisis. Pertama, analisis
mengenai jenis-jenis sapaan dalam bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba Barat
Daya. Kedua, faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan kata sapaan dalam
bahasa Weejewa.
Analisis mengenai jenis-jenis sapaan akan menghasilkan klasifikasi jenisjenis sapaan dalam bahasa Weejewa berdasarkan referennya. Pemakaian sapaansapaan tersebut dalam peristiwa komunikasi dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
6
siapa yang menyapa, siapa yang disapa dan bagaimana hubungan antara penyapa
dan pesapa.
Penggunaan sapaan yang bervariasi dalam bahasa Weejewa merupakan
salah satu alasan utama menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
pemakaian sapaan dalam bahasa Weejewa. Analisis pada faktor-faktor pemakaian
sapaan dalam bahasa Weejewa menghasilkan deskripsi mengenai beberapa faktor
yang mempengaruhi penggunaan sapaan dalam bahasa Weejewa. Faktor-faktor
tersebut adalah adalah faktor hubungan kekerabatan, faktor perbedaan
jabatan/profesi, faktor status sosial, faktor perbedaan usia, faktor keakraban,
faktor perbedaan jenis kelamin, dan faktor asal penutur. Faktor-faktor tersebutlah
yang mempengaruhi seseorang memakai kata sapaan dalam pelaksanaan bahasa.
Berdasarkan ulasan diatas, peneliti melakukan penelitian berkaitan dengan
sapaan khususnya sapaan dalam bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba Barat
Daya. Pemilihan topik penelitian ini disebabkan masih belum ditemukan
penelitian berkaitan dengan sapaan dalam bahasa Weejewa Kabupaten Sumba
Barat Daya sehingga penelitian ini layak dilakukan. Selain itu juga karena
ketertarikan peneliti terhadap bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba Barat Daya.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengenalkan sekaligus melestarikan bahasa
daerah di kabupaten Sumba Barat Daya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
7
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dalam butiran 1.1, permasalahan yang akan
dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut:
1.2.1
Apa saja jenis-jenis sapaan yang terdapat dalam bahasa Weejewa
di Kabupaten Sumba Barat Daya?
1.2.2
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan sapaan dalam
di bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba Barat Daya?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai dua tujuan sebagai berikut:
1.3.1
Mendeskripsikan jenis-jenis sapaan dalam bahasa Weejewa
di Kabupaten Sumba Barat Daya.
1.3.2
Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan sapaan
dalam bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba Barat Daya.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini adalah deskripsi jenis-jenis sapaan dalam bahasa
Weejewa Kabupaten Sumba Barat Daya berdasarkan referennya serta faktorfaktor yang mempengaruhi penggunaan sapaan. Penelitian ini memberikan
manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis penelitian ini adalah
memberikan sumbangan atau menambah kajian sosiolinguistik terutama
menunjukkan keunikan bahasa Weejewa.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
8
Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi rujukan/referensi untuk
penelitian berkaitan dengan sapaan dan memberikan tambahan pengetahuan dan
informasi kepada pembaca, baik mahasiswa jurusan sastra Indonesia maupun
pembaca lainnya yang tertarik untuk mempelajari dan memahami lebih dalam
mengenai bentuk sapaan. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi dokumentasi
mengenai sapaan dalam bahasa Weejewa di kabupaten Sumba Barat Daya.
1.5 Tinjauan Pustaka
Dalam tinjauan pustaka telah ditemukan beberapa pembahasan tentang
sistem sapaan. Suhardi (1985) dalam bukunya Sistem Sapaan Bahasa Jawa
menyimpulkan bahwa bentuk-bentuk sapaan bahasa Jawa berhubungan erat
dengan sistem kekerabatan, dan berkaitan dengan gelar kebangsawanan serta
pemilihan bentuk-bentuk sapaan di dalam komunikasi ditentukan oleh berbagai
faktor yang berhubungan dengan penutur, lawan bicara, dan situasi bicara. Selain
itu, Kata-kata sapaan bahasa Jawa tidak jarang mengalami perubahan (perluasan
dan penyempitan) arti sehingga sangat sulit dirunut bentuknya secara etimologis.
Nika, dkk. (2013), mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia Universitas Negeri Padang menulis sebuah artikel yang berjudul
“Sistem Kata Sapaan Kekerabatan dalam Bahasa Melayu Di Kepenghuluan
Bangko Kiri Provinsi Riau” dalam jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia. Artikel
tersebut menghasilkan bentuk dan pemakaian kata sapaan
kekerabatan berdasarkan garis keturunan dan garis perkawinan.
Ricardo (2012), mahasiswa Universitas Sumatera Utara juga menulis
skripsi yang berjudul “Kata Sapaan dalam Bahasa Batak Toba”. Penelitian
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
9
tersebut dilakukan dengan menggunakan teori sosiolinguistik. Dari hasil penelitan
tersebut, Ricardo (2012) menyimpulkan bahwa kata sapaan dalam Bahasa Batak
Toba terbentuk berdasarkan sistem kekerabatan.
Penelitian mengenai kata sapaan juga pernah dilakukan oleh Syafyahya
dkk. (2002) dengan judul penelitiannya “Kata Sapaan Bahasa Minangkabau di
Kabupaten Agam”. Hasna (1995) dalam skripsinya berjudul “Kata Sapaan Bahasa
Minangkabau dalam Hubungan Perkawinan di Kecamatan Koto Kampung Dalam
Periaman”. Gusthia, dkk. (2014) melakukan penelitian mengenai sapaan yang
berjudul “Kata Sapaan Bahasa Minangkabau di Kanagarian Lubuk Ulang Aling
Selatan Kecamatan Sangi Batang Hari Kabupaten Solok Selatan”. Jenis penelitian
tersebut adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil
penelitian-penelitian tersebut mendeskripsikan bentuk kata sapaan kekerabatan
yang ada di Kanagarian Lubuk Ulang Aling Selatan Kecamatan Sangir Batang
Hari Kabupaten Solok Selatan.
Sartika (2013), mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas
Sanata Dharma menulis skripsi berjudul “Sapaan dalam Bahasa Manggarai
Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur”. Penelitian tersebut
menyimpulkan bahwa jenis sapaan dalam bahasa Manggarai berdasarkan
referennya dibedakan atas hubungan kekerabatan, profesi, jabatan, kata ganti dan
sapaan gabungan. Adapun faktor yang mempengaruhi penggunaan sapaan
tersebut, yaitu faktor peran dalam masyarakat, faktor status sosial, faktor jenis
kelamin, faktor keakraban, faktor usia, dan faktor kekerabatan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
10
Berdasarkan tinjauan pustaka, dapat dikemukakan dua catatan, yaitu
pertama, telah terdapat berbagai penelitian mengenai kata sapaan dalam bahasa
Minangkabau, bahasa Jawa, dan bahasa melayu. Kedua, kata sapaan dalam bahasa
Weejewa Kabupaten Sumba Barat Daya belum pernah diteliti sehingga penelitian
mengenai kata sapaan dalam bahasa Weejewa layak dilakukan.
1.6 Landasan Teori
1.6.1
Pengertian Sapaan
Sistem sapaan yang digunakan di dalam masyarakat berlainan tergantung
pada pola budaya lokal. Dalam literatur sosiolinguistik, kata sapaan disebut
dengan address terms, yaitu kata atau frasa yang lazim digunakan untuk
memanggil orang (Subagyo, 2010: 236).
Menurut Kridalaksana (1985:14), sistem sapaan adalah sistem yang
mempertautkan seperangkat kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang dipakai
untuk menyebut atau memanggil para pelaku dalam suatu peristiwa bahasa. Kata
yang digunakan dalam sistem tersebut disebut kata sapaan. Chaer (1998: 107)
menyatakan bahwa kata sapaan adalah kata-kata yang digunakan untuk menyapa,
mengatur, atau menyebut orang kedua, atau orang yang diajak bicara.
Wardhaugh (2010: 281) menyatakan bahwa kata sapaan merupakan kata
yang digunakan untuk menyebut orang yang diajak bicara. Orang mungkin
menyapa atau menyebut orang lain dengan gelar (T), dengan nama pertama ( FN),
dengan marga (LN), dengan nama panggilan, atau bahkan oleh beberapa
kombinasi dari bentuk-bentuk tersebut.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
11
Istilah menyapa (term of address) merupakan istilah yang dipakai Ego
untuk memanggil seseorang kerabat apabila ia berhadapan langsung dengan
kerabat tadi dalam hubungan pembicaraan langsung. Misalnya, istilah menyapa
ayah adalah Bapak atau Pak (Koentjaraningrat, 1974: 137).
1.6.2. Jenis Sapaan Berdasarkan Referen
Pateda
(1986:67)
menyatakan
referen
adalah
kenyataan
yang
disegmentasikan dan merupakan fokus lambang. Referen yang merupakan acuan
menunjuk kepada hubungan antara elemen-elemen linguistik berupa leksem, kata,
frasa, kalimat dan atau pengalaman. Dalam Wijana (2011:4-5) dikatakan bahwa
referen adalah sesuatu atau hal yang ada di luar bahasa. Jenis-jenis sapaan dalam
bahasa Weejewa berdasarkan referen dapat diartikan sebagai penggolongan
sapaan berdasarkan hal yang diacu oleh sapaan tersebut.
Dalam skripsi ini, klasifikasi jenis-jenis sapaan diasarkan pada hal yang
diacu (referen) oleh sapaan tersebut. Misalnya, sapaan Inna menunjuk referen
hubungan kekerebatan karena sapaan Inna merupakan kata sapaan yang
digunakan untuk menyapa ibu kandung.
1.6.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Sapaan
Bahasa bervariasi berdasarkan penggunaanya serta penggunanya, dalam
hal ini bahasa itu bervariasi berdasarkan kapan bahasa itu digunakan dan kepada
siapa, serta siapa penggunanya (Holmes, 2013:223). Lebih lanjut Holmes
menyatakan:
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
12
“Hubungan pembicara dengan mitra bicara sangat penting dalam menentukan
gaya bicara yang sesuai saat terjadi komunikasi. Seberapa besar penutur
mengenal atau seberapa dekat penutur dengan mitra tutur (jarak hubungan
sosial/solidaritas) merupakan dimensi yang penting dari sebuah hubungan
sosial. Ada banyak faktor yang mungkin dapat berkontribusi dalam
menentukan hubungan sosial dengan orang lain, misalnya faktor usia, jenis
kelamin, peran dalam masyarakat (profesi/jabatan), pekerjaan yang sama,
atau bagian/berasal dari keluarga yang sama, dan sebagainya. Faktor-faktor
tersebut mungkin juga relevan dengan status sosial di dalam masyarakat”
(Holmes, 2013: 240).
Tanner (dikutip Supriyanto dkk, 1986: 9) mengatakan bahwa dalam tindak
bahasa pada hakikatnya seorang penutur telah mengambil keputusan untuk
memilih suatu variasi tertentu yang berupa bentuk-bentuk linguistik. Pengambilan
keputusan ini sebenarnya melalui suatu proses yang banyak ditentukan oleh
berbagai faktor. Faktor-faktor yang menentukan adalah jarak sosial, situasi, dan
topik pembicaraan.
Fishman (dalam Supriyanto, 1986: 9) menyatakan jarak sosial dapat dilihat
dari sudut vertikal maupun horisontal. Dimensi vertikal akan menunjukkan
apakah seseorang itu berada di atas atau di bawah (berkedudukan tiggi atau lebih
rendah).
Dimensi vertikal ini merupakan sebuah alat untuk menempatkan
seseorang dalam komitmen hormat dan tidak hormat. Dimensi sosial ini misalnya
kelompok umur, kelas, status perkawinan. Adapun dimensi horizontal
menunjukkan komitmen akrab dan tidak akrab. Misalnya derajat persahabatan,
jenis kelmain, latar belakang etnik atau agama, latar belakang pendidikan, jarak
tempat tinggal, dsb.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
13
1.7 Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu salah satu jenis
penelitian yang memerikan objek penelitian berdasarkan fakta yang ada
(Sudaryanto, 1988: 62). Penilitian ini dilaksanakan dengan cara mendeskripsikan
fakta yang disusul dengan analisis. Penelitian deskriptif digunakan untuk
mendeskripsikan serta menginterpretasikan bentuk-bentuk sapaan dalam bahasa
Weejewa.
Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah sosiolinguistik ialah
studi atau pembahasan dari bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai
anggota masyarakat. Boleh juga dikatakan bahwa sosiolinguistik mempelajari dan
membahas aspek-aspek kemasyarakatan bahasa, khususnya perbedaan (variasi)
yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan faktor-faktor kemasyarakatan
(sosial) (Nababan, 1984: 2).
1.7.1 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu
metode simak dan metode cakap. Menurut Sudaryanto (2015: 203) metode simak,
yaitu metode yang dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa.
Pada metode simak, peneliti menggunakan teknik dasar, yaitu teknik sadap
dengan teknik lanjutan yakni teknik simak libat cakap dan teknik simak bebas
libat cakap. Teknik simak libat cakap, yaitu kegiatan penyadapan data yang
dilakukan dengan menyadap penggunaan bahasa seseorang atau beberapa orang
dapat dilakukan dengan ikut terlibat atau berpartisipasi dengan menyimak, baik
secara aktif atau reseptif. Teknik simak bebas libat cakap, yaitu kegiatan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
14
penyadapan data yang dilakukan dengan tidak berpartisipasi ketika menyimak.
Peneliti
tidak
terlibat
dalam
dialog,
konversasi,
atau
imbal
wicara
(Sudaryanto,2015:203-204). Kemudian dilanjutkan lagi dengan teknik catat, yaitu
dengan melakukan pencatatan pada kartu data yang segera dilanjutkan dengan
klasifikasi.
Pada metode cakap, peneliti menggunakan teknik dasar, yaitu teknik
pancing dengan teknik lanjutan, yakni teknik cakap sekemuka. Teknik cakap
sekemuka adalah kegiatan memancing bicara itu dilakukan dengan percakapan
langsung, tatap muka, atau bersemuka; jadi lisan (Sudaryanto, 2015: 209).
1.7.2 Metode Analisis Data
Dalam tahap ini digunakan metode padan referensial dan metode padan
pragmatis. Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya dari
luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan.
Metode padan referensial adalah metode yang alat penentunya merupakan
kenyataan yang ditunjuk atau diacu oleh bahasa atau referen bahasa. Dalam hal
ini, identitas konstituen kalimat (yang berupa satuan lingual tertentu, dapat kata
dapat frasa), penentunya didasarkan pada unsur kenyataan yang berada di luar
bahasa tetapi memang diacu oleh bahasa yang bersangkutan yang sedang diteliti
itu (Sudaryanto, 2015:15-16). Metode padan referensial digunakan untuk
menentukan identitas satuan kebahasaan menurut referen yang ditunjuk
(Sudaryanto, 1993:13).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
15
Contoh penerapan metode padan refensial sebagai berikut.
(4) Loka, jam pirra kako pancing ikana?
„Paman, jam berapa pergi memancing Ikan?‟
(5) Rini, baba tobba kalambe?
„Rini, apakah kamu sudah selesai mencuci pakaian?‟
Kata sapaan Loka pada contoh (4) dan Rini pada contoh (5) merupakan
contoh kata sapaan dalam bahasa Weejewa. Kata sapaan Loka merupakan kata
sapaan yang menunjuk kekerabatan sedangkan Rini pada contoh (5) menunjuk
nama diri (mitra tutur).
Metode padan pragmatis adalah metode yang alat penentunya mitra wicara
atau mitra tutur. Dalam hal ini, orang yang diajak bicara dengan segala reaksi atau
tanggapannya menjadi penentu identitas satuan lingual-satuan lingual tertentu
(Sudaryanto, 2015:18). Dalam penelitian ini, metode padan pragmatis digunakan
untuk menentukkan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan sapaan dalam
bahasa Weejewa.
1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data
Hasil analisis data dalam penelitian ini disajikan dengan menggunakan
metode penyajian informal dan metode formal. Metode penyajian informal yaitu
perumusan kaidah tersebut dengan kata-kata biasa, dimana rumus-rumus atau
kaidah-kaidah disampaikan dengan kata-kata biasa, kata-kata yang apabila dibaca
langsung dapat dipahami. Metode penyajian formal adalah penyajian hasil analisis
data dengan kaidah. Kaidah tersebut dapat berupa tanda/ lambang, rumus, tabel,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
16
gambar (Sudaryanto, 1993: 145). Dalam skripsi ini, penyajian hasil analisi data
dengan metode formal digunakan tanda/lambang, tabel dan gambar.
1.7.4 Sistematika Penyajian
Laporan hasil penelitian ini terdiri dari dalam empat bab. Bab pertama
merupakan pendahuluan. Pendahuluan berisi latar belakang, rumusan masalah,
tujuan pnelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metodologi
penelitan, dan sistematika penyajian. Bab kedua berisi uraian mengenai jenisjenis sapaan dalam bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba Barat Daya berdasarkan
referennya.. Bab ketiga berisi pembahasan mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi penggunaaan sapaan dalam bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba
Barat Daya. Bab IV merupakan penutup yang berisi kesimpulan
penelitian dan saran.
mengenai
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB II
JENIS-JENIS SAPAAN DALAM BAHASA WEEJEWA di
KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA
2.1 Pengantar
Menurut Chaer (1998: 107), kata sapaan tidak mempunyai perbendaharaan
kata sendiri, tetapi menggunakan kata-kata dari perbendaharaan kata nama diri
dan kata nama perkerabatan. Subiyakto-Nababan (1992: 153) menyatakan bahwa
sapaan terdiri atas nama kecil, gelar, istilah perkerabatan, nama keluarga (bagi
suku bangsa yang mempunyai sistem itu), nama hubungan perkerabatan dengan
nama seorang kerabatnya (disebut tektonimi).
Dalam bab ini dibahas jenis-jenis sapaan dalam bahasa Weejewa di
kabupaten Sumba Barat Daya. Jenis-jenis kata sapaan dalam bahasa Weejewa di
kabupaten Sumba Barat Daya dibedakan berdasarkan referennya, yakni kata
sapaan berdasarkan (a) hubungan kekerabatan, (b) nonkekerabatan, (c) nama diri,
(d) kata ganti, (e) status sosial, (f) jabatan/profesi.
2.2 Sapaan Hubungan Kekerabatan
Sapaan hubungan kekerabatan yang dimaksud adalah penggunaan istilah
kekerabatan dalam komunikasi sehari-hari. Istilah kekerabatan yang digunakan
berdasarkan pengertian Kridalaksana (1985:14). Kridalaksana menggunakan
formulasi istilah kekerabatan kerabat ialah orang „sedarah‟ yang dipanggil
dan/atau disebut dengan satu istilah kekekerabatan (Koentjaraningrat, 1984:94).
17
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
18
Istilah kekerabatan adalah istilah untuk menyebut atau menyapa orang yang
terikat kepada diri sendiri karena hubungan keturunan, darah, atau perkawinan.
Seseorang disebut berkerabat apabila ada pertalian darah atau pertalian
perkawinan (Syafyahya, dkk, 2000:7). Istilah-istilah kekerabatan dalam suatu
bahasa timbul karena keperluan untuk menyatakan kedudukan diri seseorang
secara komunikatif dalam suatu keluarga.
Kerabat dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu pertama, kerabat
yang terbentuk karena hubungan darah, dan kedua kerabat yang terbentuk karena
hubungan tali perkawinan antara penutur dengan mitra tutur. Kata sapaan yang
dipergunakan untuk menyapa kerabat meliputi sapaan yang dipergunakan
untuk menyapa nenek dan kakek, bapak dan ibu, saudara bapak dan ibu,
saudara kandung, saudara sepupu, anak, keponakan, cucu, dan cicit. Kata
sapaan yang dipergunakan untuk menyapa kerabat yang terbentuk karena tali
perkawinan, meliputi sapaan yang dipergunakan untuk menyapa mertua, sapaan
untuk menyapa besan, suami, istri, dan saudara ipar.
Kata sapaan yang menyatakan hubungan kekerabatan dalam bahasa
Weejewa di Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan jenis sapaan yang paling
banyak ditemui. Jenis sapaan yang menyatakan hubungan kekerabatan dalam
bahasa Weejewa Kabupaten Sumba Barat Daya mencakup dua puluh empat kata,
yaitu Ama, Inna, Ana Mane, Ana Mawine, Leiro, Na’a, Wotto, Ama Kaweda, Inna
Kaweda, Umbu, Tamoama, Tamoina, Aiba, Amaangua, Inaangua, Loka, Cama,
Anakabine, Anguleba, Olebei, Wera, Olesawa, Wasse, Ippa. Berikut ini akan
diuraikan kata-kata sapaan hubungan kekerabatan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
19
2.2.1
Sapaan Hubungan Kekerabatan Ama
Kata sapaan Ama muncul dalam tiga variasi. Tiga variasi yang dimaksud,
yaitu Ama „ayah/bapak‟, Ama Kaweda „kakek‟, Ama + Nama Anak I.
Kata sapaan Ama secara harafiah berarti „ayah atau bapak‟. Sapaan Ama
adalah sapaan yang dipergunakan oleh penyapa pria muda atau wanita muda
untuk menyapa ayah kandung. Sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dan
dalam hubungan akrab. Contoh kalimat (6) berikut menunjukkan bagaimana
penyapa berbicara dengan ayah kandung.
(6) Ama, ku dengi ijin kako deku acara na olegu ba yodikia male
jam pittu.
„Ayah, saya minta izin untuk pergi ke acaranya teman hari ini
jam tujuh malam.‟
Dalam perkembangannya, kata sapaan Ama mengalami perluasan
penggunaan. Sapaan Ama bisa juga digunakan oleh seorang cucu untuk menyapa
kakek kandungnya. Selain itu, sapaan Ama dapat digunakan untuk menyapa anak
laki-laki. Dalam penggunaannya, sapaan Ama merupakan sapaan yang sangat
sopan.
Sapaan Ama Kaweda adalah sapaan yang digunakan oleh penyapa pria
atau wanita untuk menyapa kakek kandung. Sapaan ini digunakan dalam situasi
tidak
resmi dan dalam hubungan akrab. Contoh kalimat (7) berikut ini menunjukkan
bagaimana seorang cucu berbicara dengan kakeknya.
(7) Ama Kaweda, gei kako niamu tarra lodo ne?
‘Kakek, mau pergi ke mana siang-siang begini?‟
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
20
Bentuk sapaan Ama + Nama Anak I digunakan oleh penyapa pria tua dan
wanita tua untuk menyapa pria (tua, sebaya, dan muda) yang sudah mempunyai
anak. Sapaan ini dapat digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dan dalam
hubungan akrab dan tidak akrab. Contoh kalimat (8) berikut menujukkan
bagaimana penyapa berbicara dengan orang yang disapa menggunakan sapaan
Ama + Nama Anak I.
(8) Ama Ria, bisa pinjam gai gergaji belli?
„Bapak Ria, apakah saya boleh pinjam gergaji?‟
2.2.2
Sapaan Hubungan Kekerabatan Inna
Kata sapaan Inna juga muncul dalam tiga variasi, yaitu Inna „ibu/mama‟,
Inna kaweda „nenek‟, Inna + nama anak I.
Bentuk variasi tersebut sangat dipengaruhi oleh pola hubungan penyapa
dengan pesapa atau yang disapa. Kata sapaan Inna secara harafiah berarti „mama‟
atau „ibu‟ adalah sapaan yang dipergunakan oleh penyapa pria muda atau wanita
muda untuk menyapa ibu kandung. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan
tidak resmi dan dalam hubungan akrab. Contoh kalimat (9) berikut menunjukkan
bagaimana penyapa berbicara dengan ibu kandung.
(9) Inna wo’i gai kalambe baru!
„Mama, belikan saya baju baru!‟
Dalam perkembangannya, sapaan Inna juga mengalami perluasan
penggunaan yaitu sapaan Inna bisa juga digunakan oleh seorang cucu untuk
menyapa nenek kandung. Selain itu, kata Inna merupakan sapaan yang sangat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
21
sopan sehingga kebanyakan pria Sumba Barat Daya menyapa seorang wanita
yang mereka hormati dengan sapaan Inna. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(10) Na mimi ba nga’a Inna?
„Nenek, apakah nasinya sudah masak?‟
(11) Inna, ku bei takka gu!
‘Nona, saya benar-benar menyukaimu!’
Contoh (10) menunjukkan penggunaan sapaan Inna oleh seorang cucu kepada
neneknya. Adapun contoh (11) menunjukkan penggunaan sapaan Inna oleh
seorang pemuda yang mengungkapkan perasaan cinta kepada gadis yang
disukainya.
Sapaan Inna Kaweda merupakan sapaan yang digunakan oleh penyapa
pria atau wanita untuk menyapa nenek kandung. Sapaan ini digunakan dalam
situasi tidak resmi dan dalam hubungan akrab. Berikut ini contoh dan
penjelasannya.
(12) Inna Kaweda Yaggu ne pamama?
„Nenek mau siri dan pinang lagi?‟
Contoh (12) menunjukkan penggunaan sapaan Inna Kaweda. Contoh
tersebut melukiskan mengenai seorang cucu yang menawarkan kepada neneknya
untuk makan siri dan pinang. Kata sapaan Inna Kaweda dalam perkembangannya
mengalami perluasan penggunaan. Sapaan tersebut dapat digunakan oleh penyapa
kepada orang yang tidak memiliki hubungan darah melainkan karena keadaan
lawan bicara yang sudah tua.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
22
Sapaan Inna + Nama Anak I merupakan sapaan yang digunakan oleh
penyapa pria tua dan wanita tua untuk menyapa wanita (tua, sebaya, dan muda)
yang sudah mempunyai anak. Sapaan ini dapat digunakan dalam situasi resmi dan
tidak resmi dan dalam hubungan akrab dan tidak akrab. Contoh kalimat (13)
berikut
menunjukkankan
bagaimana
penyapa
berbicara
dengan
pesapa
menggunakan sapaan Inna + nama anak I.
(13) Inna Evi, jam pirra latihan koor ba koka?
„Mama Evi, besok latihan koor jam berapa?‟
2.2.3
Sapaan Hubungan Kekerabatan Ana Mane
Kata sapaan hubungan kekerabatan Ana Mane secara harafiah berarti
„anak laki-laki‟. Sapaan Ana Mane digunakan oleh penyapa pria dan wanita untuk
menyapa anak laki-laki kandung. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan
tidak resmi dan dalam hubungan akrab. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(14) Ana Mane Ngeta yoddi kako skolah, jam piira ba nebehinna?
„Anak, segera berangkat ke sekolah, sudah jam berapa ini?‟
Contoh (14) menunjukkan mengenai penggunaan kata sapaan Ana Mane oleh
seorang Ibu yang memarahi anaknya untuk segera berangkat ke sekolah agar tidak
terlambat.
2.2.4
Sapaan Hubungan Kekerabatan Ana Mawinne
Kata sapaan hubungan kekerabatan Ana Mawine secara harafiah berarti
„anak perempuan‟. Sapaan Ana Mawine digunakan oleh penyapa pria dan wanita
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
23
untuk menyapa anak perempuan kandung. Sapaan ini digunakan dalam situasi
resmi dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab. Berikut ini contoh dan
penjelasannya.
(15) Ana Mawine, pati’i ba bubur ina kawedamu?
„Anak, apakah bubur untuk nenek sudah dimasak?‟
Contoh (15) menunjukkan mengenai penggunaan kata sapaan Ana Mawinne oleh
seorang ibu kepada anak gadisnya mengenai makanan untuk sang nenek.
2.2.5
Sapaan Hubungan Kekerabatan Leiro
Kata sapaan hubungan kekerabatan Leiro memiliki arti „Sayang‟. Kata
sapaan Leiro merupakan kata sapaan yang sangat lembut dan digunakan oleh
penyapa pria dan wanita untuk menyapa anak perempuan yang memiliki
hubungan kekerabatan dengan penyapa. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi
dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(16) Leiro, mu nga’a ba? Ne wai ngana’a pangindigu!
„Sayang, kamu sudah makan? Ini mama ada bawakan daging!‟
Contoh (16) menunjukkan penggunaan kata sapaan Leiro. Sapaan tersebut biasa
digunakan oleh seorang Ibu untuk menyapa dengan sangat lembut anak
perempuannya.
2.2.6
Sapaan Hubungan Kekerabatan Na’a
Kata sapaan hubungan kekerabatan Na’a secara harafiah berarti „saudara‟.
Kata sapaan Na’a digunakan oleh penyapa wanita untuk menyapa adik maupun
kakak laki-laki kandung. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak
resmi dan dalam hubungan akrab. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
24
(17) Na’a, pirra budi kako deke ruta na karambo?
„Adik, kapan pergi ambil rumput untuk kerbau?‟
Contoh (17) menjelaskan mengenai penggunaan sapaan Na’a yang digunakan
oleh seorang kakak perempuan untuk menyuruh adiknya agar segera mengambil
makanan untuk kerbau.
2.2.7
Sapaan Hubungan Kekerabatan Wotto
Kata sapaan hubungan kekerabatan Wotto secara harafiah juga berarti
„saudara‟ tetapi dapat juga diartikan „nona‟. Kata sapaan Wotto digunakan oleh
penyapa pria untuk menyapa adik maupun kakak perempuan kandung. Sapaan ini
digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab.
Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(18) Wotto, ge bondala niamu kalambe gu patobamu manna?
„Adik, baju yang sudah dicuci di simpan di mana?
Pada contoh (18) menjelaskan mengenai penggunaan sapaan Wotto yang
digunakan oleh seorang kakak laki-laki untuk memanggil saudara perempuannya.
2.2.8
Sapaan Hubungan Kekerabatan Ama Kaweda
Kata sapaan hubungan kekerabatan Ama Kaweda merupakan sapaan yang
digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk menyapa kakek kandung. Sapaan
ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab.
Berikut ini merupakan contoh pemakaian kata sapaan kekerabatan Ama Kaweda.
(19) Ama Kaweda, baba enu ba morromu wali dotera?
„Kakek sudah habis minum obat dari dokter?
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
25
Contoh (19) menunjukkan penggunaan sapaan Ama Kaweda oleh seorang
cucu kepada kakeknya. Contoh tersebut menunjukkan tentang seorang cucu yang
bertanya kepada sang kakek apakah kakeknya sudah selesai meminum obat dari
dokter.
Sapaan Ama Kaweda tersebut sudah jarang digunakan khususnya di
daerah perkotaan. Masyarakat perkotaan di Kabupaten Sumba Barat Daya sering
menggunakan kata Sapaan Opa untuk menyapa kakek kandung. Contoh berikut
menunjukkan penggunaan kata sapaan Opa.
(20) Opa, woi gai sepeda baru!
Opa, belikan saya sepeda baru!
2.2.9
Sapaan Hubungan Kekerabatan Inna Kaweda
Kata sapaan hubungan kekerbatan Inna Kaweda yang berarti „nenek‟
merupakan sapaan yang digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk menyapa
nenek kandung. Sapaan Ina Kaweda digunakan dalam situasi resmi dan tidak
resmi dan dalam hubungan akrab. Berikut ini merupakan contoh pemakaian kata
sapaan kekerabatan Inna Kaweda.
(21) Ina Kaweda, omana nga’a pamamadebehinna kana pia belli ne
sariawanmu!
„Nenek, jangan makan sirih pinang lagi agar sariawannya
sembuh!‟
Contoh (21) menunjukkan penggunaan sapaan Inna Kaweda oleh seorang
cucu kepada neneknya. Sama halnya dengan sapaan Ama Kaweda, sapaan Inna
Kaweda tersebut sudah jarang digunakan khususnya di daerah perkotaan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
26
Masyarakat perkotaan di kabupaten Sumba Barat Daya sering menggunakan kata
Sapaan Oma untuk menyapa nenek kandung. Contoh berikut menunjukkan
penggunaan kata sapaan Oma.
(22) Oma, ge ne nia ingigu?
„Oma, Dimana sarung saya?‟
2.2.10 Sapaan Hubungan Kekerabatan Umbu
Kata sapaan hubungan kekerabatan Umbu memiliki arti „cucu‟. Kata
sapaan ini digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk menyapa cucu
perempuan dan cucu laki-laki kandung. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi
dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(23) Umbu, kako eta beli na wawi apana kana kaweka!
„Cucu, lihat dulu babi itu kenapa tiba-tiba berteriak!‟
Contoh (23) menunjukkan penggunaan sapaan Umbu oleh penyapa kepada
cucunya. Contoh tersebut tampak menunjukkan seorang nenek/kakek yang
menyuruh cucunya untuk memeriksa keadaan seekor babi yang tiba-tiba berteriak.
2.2.11 Sapaan Hubungan Kekerabatan Tamoama
Kata sapaan hubungan kekerabatan Tamoama merupakan sapaan yang
digunakan oleh penyapa pria dan wanita untuk menyapa anak laki-laki (cucu)
yang memiliki nama panggilan atau menggunakan nama yang diturunkan dari
kakek kandung (nama sang cucu merupakan nama yang diambil dari nama kakek
kandung). Sapaan ini juga merupakan sapaan lembut kepada anak laki-laki.
Berikut ini contoh dan penjelasannya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
27
(24) Tamoama, yawe ne ate na manu mbarana marapu!
„Cucu, bawakan hati ayam ini ke Marapu!‟
Contoh (23) menunjukkan penggunaan sapaan Tamoama. Dalam contoh tersebut
tampak kakek menyuruh
cucu laki-lakinya utnuk membawakan sesaji atau
makanan persembahan kepada leluhur.
2.2.12 Sapaan Hubungan Kekerabatan Tamoina
Kata sapaan hubungan kekerabatan Tamoina memiliki arti yang sama
dengan sapaan Tamoama, yaitu „cucu‟. Sapaan ini merupakan sapaan digunakan
oeh penyapa pria atau wanita untuk menyapa anak perempuan (cucu) yang
memiliki nama panggilan atau menggunakan nama yang diturunkan dari nenek
kandung (nama sang cucu merupakan nama yang diambil dari nama nenek
kandung). Sapaan ini juga merupakan sapaan yang lembut kepada anak
perempuan. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dan dalam
hubungan akrab. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(25) Tamoina, pati’i beli ne ro’o sambiloto kaku enu beli dana dua
ki ne ti’a gu!
‘Cucu, rebus daun sambiloto ini, saya mau minum karena perut
saya sedang tidak enak!‟
Contoh (25) menunjukkan penggunaan kata sapaan Tamoina. Contoh tersebut
menggambarkan seorang nenek/kakek menyuruh cucu perempuan untuk memasak
obat dari dedaunan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2.2.13 Sapaan Hubungan Kekerabatan Aiba
Kata sapaan hubungan kekerabatan Aiba merupakan sapaan yang
digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk menyapa cicit laki-laki atau cicit
perempuan. Kata sapaan Aiba digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dan
dalam hubungan akrab. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(26) Aiba, ngindi belli neme ingigu ne’e bali katonga!
„Cicit, bawakan ke sini sarung nenek yang ada di bale-bale!‟
Contoh (26) menunjukkan mengenai penggunaan kata sapaan Aiba. Dalam contoh
tersebut tampak seorang nenek menyuruh cicitnya untuk mengambil sarung sang
nenek yang tertinggal di bale-bale.
2.2.14 Sapaan Hubungan Kekerabatan Amaangua
Kata sapaan
hubungan kekerabat Amaangua merupakan sapaan yang
digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk menyapa saudara laki-laki
kandung dari pihak ayah. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak
resmi dan dalam hubungan akrab. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(27) Amaangua, mado’I dapa daku eta kango kareko pongu ge?
„Bapak, lama tidak betemu kenapa bapak terlihat kurus?‟
Contoh (27) menunjukkan penggunaan kata sapaan Amaangua. Tampak
dalam contoh tersebut penyapa berbicara kepada saudara laki-laki dari pihak ayah.
Namun, penggunaan kata sapaan Amaangua sudah jarang digunakan. Hal tersebut
disebabkan sapaan Amaangua memiliki arti yang sama dengan kata sapaan Ama
28
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
29
sehingga masyarakat Weejewa di kabupaten Sumba Barat Daya terkadang
menyapa saudara laki-laki dari pihak ayah dengan menggunakan kata sapaan Ama
saja. Penggunaannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
2.2.15 Sapaan Hubungan Kekerabatan Inaangua
Kata sapaan hubungan kekerabatan Inaangua merupakan sapaan yang
digunakan oleh penyapa pria dan wanita untuk menyapa adik atau kakak
perempuan dari pihak ibu atau mama. Kata sapaan tersebut digunakan dalam
situasi resmi dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab. Berikut ini contoh dan
penjelasannya.
(28) Inaangua, waipo kambe tana lakka yodi?
„Mama, masih ada sisa kacang tanah sedikit?‟
Contoh (28) menunjukkan penggunaan kata sapaan Inaangua. Dalam
contoh tersebut penyapa bertanya kepada saudara perempuan dari pihak Ibunya
apakah masih ada sisa kacang tanah.
Sama halnya dengan kata sapaan
Amaangua, sapaan Inaangua juga sudah jarang digunakan karena memiliki arti
yang sama dengan kata sapaan Inna sehingga terkadang penyapa menyapa
saudara dari pihak ibu hanya dengan menggunakan sapaan Inna. Penggunaannya
disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
2.2.16 Sapaan Hubungan Kekerabatan Loka
Kata sapaan hubungan kekerabatan Loka memiliki arti „paman‟. Kata
sapaan Loka merupakan kata sapaan yang digunakan oleh penyapa pria atau
wanita untuk menyapa kakak atau adik laki-laki dari pihak Ibu. Kata sapaan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
30
tersebut digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dan dalam hubungan
akrab. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(29) Loka, ba koka sore bisa antargai ne sekolah
„Om, Apakah besok bisa antarkan saya ke sekolah?‟
Contoh (29) menunjukkan penggunaan kata sapaan Loka oleh penyapa
kepada saudara laki-laki dari pihak Ibu. Dalam contoh tersebut penyapa bertanya
kesediaan pamannya untuk mengantarkannya ke sekolah.
Kata Sapaan Loka sudah jarang digunakan khususnya di daerah perkotaan.
Masyarakat perkotaan di kabupaten Sumba Barat Daya sering menggunakan kata
Sapaan Om untuk menyapa paman kandung.
2.2.17 Sapaan Hubungan Kekerabatan Cama
Kata sapaan hubungan kekerabatan Cama memiliki arti „bibi‟. Sapaan ini
digunakan oleh penyapa pria dan wanita untuk menyapa kakak atau adik
perempuan dari pihak ayah. Kata sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan
tidak resmi dan dalam hubungan akrab. Berikut contoh dan penjelasannya.
(30) Cama, raigu we’e mutu teh ato kopi?
„Tante, mau saya buatkan teh atau kopi?‟
Contoh (30) menunjukkan penggunaan kata sapaan Cama oleh penyapa
kepada saudara perempuan dari pihak ayah. Dalam contoh tersebut tampak
penyapa menawarkan minuman kepada bibinya. Sama halnya dengan kata sapaan
Loka, sapaan cama juga sudah jarang digunakan khususnya di daerah perkotaan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
31
Masyarakat perkotaan di kabupaten Sumba Barat Daya sering menggunakan
sapaan tante untuk menyapa paman kandung.
2.2.18 Sapaan Hubungan Kekerabatan Anakabine
Kata sapaan hubungan kekerabatan Anakabine memiliki arti „keponakan‟.
Sapaan ini digunakan oleh penyapa untuk menyapa keponakan kandung
perempuan maupun laki-laki. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak
resmi dan dalam hubungan akrab. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(31) Anakabine, lodo pirra buddi deimba raport mi?
„Ponaan, hari apa kalian akan menerima raport?‟
Contoh (31) menunjukkan penggunaan sapaan Anakabine. Contoh tersebut
menjelaskan bagaimana penyapa bertanya kepada keponakannya (perempuan atau
laki-laki) mengenai hari apa sang keponakan akan menerima raport.
2.2.19 Sapaan Hubungan Kekerabatan Anguleba
Kata sapaan hubungan kekerabatan Anguleba merupakan sapaan yang
berarti „sepupu‟. Sapaan tersebut digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk
menyapa anak-anak dari kakak/adik laki-laki dan perempuan ayah. Sapaan ini
digunakan dalam situasi resmi maupun tidak resmi dan dalam hubungan akrab.
Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(32) Anguleba, dubula kai ba koka ami todaka watara ne
oma!
„Sepupu, besok jangan lupa untuk datang ikut tanam
jagung di kebun!‟
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
32
Contoh (32) menunjukkan penggunaan sapaan Anguleba oleh penyapa
kepada sepupu dari pihak ayah. Contoh tersebut menujukkan tentang penyapa
yang mengingatkan sepupu dari pihak ayahnya untuk datang ikut serta menanam
jagung di kebun.
2.2.20 Sapaan Hubungan Kekerabatan Olebei
Kata sapaan Olebei memiliki arti yang sama dengan Anguleba, yaitu
„sepupu‟. Sapaan tersebut digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk
menyapa anak-anak dari kakak/adik laki-laki dan perempuan Ibu. Sapaan ini
digunakan dalam situasi resmi maupun tidak resmi dan dalam hubungan akrab.
Berikut Ini contoh dan penjelasannya.
(33) Olebei, gei wali nia mu mana male?
„Sepupu, engkau dari mana kemarin malam?‟
Contoh (33) menunjukkan penggunaan sapaan Olebei. Contoh tersebut
menjelaskan tentang seorang penyapa yang bertanya kepada saudara sepupu dari
pihak ibunya.
2.2.21 Sapaan Hubungan Kekerabatan Wera
Kata sapaan hubungan kekerabatan Wera memiliki dua arti, yaitu „mertua‟
dan „besan‟. Sapaan istilah kekerabatan Wera yang memiliki arti „mertua‟
digunakan oleh penyapa pria dan wanita untuk menyapa bapak atau ibu
mertuanya. Sedangkan Wera yang memiliki arti „besan‟ digunakan oleh penyapa
pria dan wanita untuk menyapa orang tua dari menantu baik menantu pria maupun
menantu wanita. Sapaan tersebut digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
33
serta dalam hubungan akrab. Penggunaan kata sapaan Wera disesuaikan dengan
situasi dan kondisi. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(34) Wera, maiga dengi wasu kaku rai golu wawi. Na kalada lolo ba
wawi ne uma.
„Mertua, saya datang meminta kayu untuk membuat kandang
babi. Babi dirumah sudah cukup besar.‟
(35) Slamata siang! peina kabar yodi, Wera?
‘Selamat siang! Bagaimana kabarmu, Besan?‟
Contoh (34) menunjukkan penggunaan kata sapaan oleh penyapa terhadap
ibu mertua atau ayah mertua sedangkan contoh (35) menunjukkan penggunaan
kata sapaan oleh penyapa terhadap orang tua dari menantu (besan). Namun,
penggunaan kata sapaan „wera‟ yang memiliki arti „mertua‟ sudah jarang
digunakan oleh masyarakat Sumba Barat Daya untuk menyapa ibu mertua atau
ayah mertua. Sekarang ini cenderung terjadi pergeseran penggunaan kata sapaan
untuk bapa dan ibu mertua menjadi Inna „mama‟ atau Ama „Bapak‟. Pergeseran
penggunaan kata sapaan tersebut menunjukkan terjadinya hubungan yang lebih
erat antara menantu dan mertua.
2.2.22 Sapaan Hubungan Kekerabatan Wasse
Sapaan hubungan kekerabatan Wasse memilik arti „anak‟. Sapaan Wasse
digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk menyapa anak menantu baik lakilaki maupun perempuan. Kata sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak
resmi dan dalam hubungan akrab berikut ini contoh dan penjelasannya.
(36) Wasse, jam pirra kako ne posyandu?
„Anak, jam berapa berangkat ke posyandu?‟
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
34
Contoh (36) menunjukkan penggunaan kata sapaan Wasse oleh penyapa kepada
anak menantu perempuan. Tampak dalam contoh tersebut bapak atau ibu mertua
bertanya kapan anak menantunya berangkat ke posyandu.
2.2.23 Sapaan Hubungan Kekerabatan Ippa
Kata sapaan hubungan kekerabatan Ippa memiliki arti „ipar‟. Sapaan Ippa
merupakan sapaan yang digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk menyapa
saudara ipar perempuan. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi
dan dalam hubungan akrab. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(37) Ippa, bisa panunga gai belli pei pata pati’i ne kana’a simbi?
„Ipar, apakah bisa ajarkan kepada saya bagaimana caranya
memasak daging kambing ini?‟
Contoh (37) menunjukkan penggunaan sapaan Ippa oleh penyapa kepada saudara
ipar perempuannya. Contoh tersebut menjelaskan tentang penyapa yang meminta
kepada saudara ipar perempuannya untuk mengajarinya bagaimana cara memasak
daging kambing.
2.2.24 Sapaan Hubungan Kekerabatan Olesawa
Kata sapaan hubungan kekerabatan Olesawa memiliki arti yang sama
dengan kata sapaan Ippa, yaitu „ipar‟. Sapaan Olesawa merupakan kata sapaan
yang digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk menyapa saudara ipar lakilaki. Kata sapaan tersebut digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dan
dalam hubungan akrab. Berikut ini contoh dan penjelasannya.
(38) Dengi belli bu’bumu iya, Olesawa!
„Berikan saya rokokmu satu batang, Ipar!‟
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
35
Contoh (38) menunjukkan penggunaan kata sapaan Olesawa. Dalam contoh
tersebut tampak penyapa meminta sebatang rokok kepada saudara ipar laki-laki.
Tabel 1. Sapaan Hubungan Kekerabatan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
Hubungan Kekerabatan
Kakek Kandung
Nenek Kandung
Ayah
Ibu
Anak (laki-laki)
Anak (perempuan)
Sayang
Kakak/adik Laki-laki kandung
Kakak/adik perempuan kandung
Cucu laki-laki/perempuan
Cucu Laki-laki
Cucu Perempuan
Cicit
Kakak/adik laki-laki Ayah
Kakak/adik perempuan Ibu
Adik/kakak Laki-laki Ibu
Adik/kakak perempuan Ayah
Keponakan
Sepupu dari pihak ayah
Sepupu dari pihak Ibu
Mertua
Ipar (laki-laki)
Menantu laki-laki/perempuan
Ipar (perempuan)
Kata Sapaan
Ama Kaweda
Inna Kaweda
Ama
Inna
Ana Mane
Ana Mawine
Leiro
Na’a
Wotto
Umbu
Tamoama
Tamoina
Aiba
Amaangua
Inaangua
Loka
Cama
Anakabine
Anguleba
Olebei
Wera
Olesawa
Wasse
Ippa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
36
2.3 Sapaan Hubungan Nonkekerabatan
Kata sapaan nonkekerabatan merupakan kata sapaan yang digunakan
untuk menyapa orang yang tidak memiliki hubungan darah baik karena keturunan
maupun karena hubungan perkawinan. Kata sapaan yang dipergunakan kepada
bukan kerabat (nonkerabat) meliputi sapaan yang dipergunakan untuk menyapa
orang sebaya dengan kakek dan nenek, sebaya dengan orang tua, lebih tua
dari orang tua, lebih muda dari orang tua, sebaya dengan kakak, sebaya dengan
adik, sebaya dengan penutur. Kata sapaan yang menyatakan hubungan nonkekerabatan dalam bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba Barat Daya, yaitu
Kaweda, Paiina, Tante, Paama, Om, Ka’a, Alli.
2.3.1 Sapaan Nonkekerabatan Kaweda
Kata sapaan nonkekerabatan Kaweda secara harafiah berarti „tua‟. Sapaan
Kaweda merupakan sapaan yang digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk
menyapa kakek atau nenek bukan kandung. Sapaan ini dapat digunakan dalam
situasi resmi dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab maupun tidak akrab.
Berikut contoh kalimat (39) menunjukkan bagaimana penyapa berbicara dengan
orang yang disapa menggunakan sapaan kaweda.
(39) Kaweda, gei nia ummamu kako antara gu’
„Tua, rumahnya dimana supaya saya antar?‟
2.3.2
Sapaan Hubungan Nonkekerabatan Painna
Kata sapaan nonkekerabatan Painna secara harafiah berarti „Ibu‟ adalah
sapaan yang digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk menyapa ibu-ibu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
37
bukan kandung yang sudah memilik anak. Sapaan ini digunakan dalam situasi
tidak resmi dan dalam hubungan akrab maupun tidak akrab. Berikut contoh
kalimat (40) menunjukkan bagaimana penyapa berbicara dengan orang yang
disapa menggunakan sapaan paiinna.
(40) Paiina, pirra ia kobba we ne gaga?
„Ibu, Lombok satu mangkuk ini harganya berapa?
2.3.3 Sapaan Hubungan Nonkekerabatan Tante
Kata sapaan nonkekerabatan Tante yang berarti „bibi‟ adalah sapaan yang
digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk menyapa wanita bukan kandung
yang sudah memilik anak maupun masih bujang. Sapaan ini dapat digunakan
dalam situasi resmi dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab maupun tidak
akrab. Berikut contoh kalimat (41) menunjukkan bagaimana penyapa berbicara
dengan orang yang disapa menggunakan sapaan Tante.
(41) Tante, permisi, tua yoddi ge nei ne ummana Bapak Maya
„Tante, permisi, saya mau bertanya. Dimana rumah Bapak
Maya?
2.3.4
Sapaan Hubungan Nonkekerabatan Pa’ama
Kata sapaan nonkekerabatan Paama secara harafiah berarti „bapak‟.
Sapaan ini merupakan sapaan yang digunakan oleh penyapa pria atau wanita
untuk menyapa bapak-bapak bukan kandung yang sudah memiliki anak. Sapaan
ini digunakan dalam situasi tidak resmi dan dalam hubungan akrab maupun tidak
akrab. Berikut contoh kalimat (42) menunjukkan bagaimana penyapa berbicara
dengan orang yang disapa menggunakan sapaan pa’ama.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
38
(42) Pa’ama, Garra olemu kadi karambo?
„Bapak dengan siapa mengembala kerbau?‟
2.3.5
Sapaan Hubungan Nonkekerabatan Om
Kata sapaan nonkekerabatan Om yang berarti „paman‟ adalah sapaan yang
digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk menyapa pria bukan kandung
yang sudah memilik anak maupun masih bujang. Sapaan ini dapat digunakan
dalam situasi resmi dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab maupun tidak
akrab. Berikut ini contoh kalimat (43) menunjukkan bagaimana penyapa berbicara
dengan orang yang disapa dengan menggunakan sapaan Om.
(43) Pirra harga ne rowe iga ikat Om?
„Om, sayur ini harganya berapa satu ikat?‟
2.3.6
Sapaan Hubungan Nonkekerabatan Ka’a
Kata sapaan nonkekerabatan ka’a yang berarti „kakak‟ adalah sapaan
yang digunakan oleh penyapa pria atau wanita untuk menyapa pria atau wanita
bukan kandung dan usianya lebih tua daripada penyapa. Sapaan ka’a dapat juga
digunakan untuk menyapa pria/wanita yang memiliki hubungan kekerabatan
dengan penyapa Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dan
dalam hubungan akrab maupun tidak akrab. Berikut contoh kalimat (44)
menunjukkan bagaimana penyapa berbicara dengan orang yang tidak dikenal
menggunakan sapaan ka’a.
(44) Ka’a, bisa b’ubu ne loura?
„Kakak, bisa tolong merokok di luar?‟
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
39
2.3.7
Sapaan Hubungan Nonkekerabatan Alli
Kata sapaan Alli yang berarti „adik‟ adalah sapaan yang digunakan oleh
penyapa pria atau wanita untuk menyapa pria atau wanita bukan kandung dan
usianya lebih muda daripada penyapa. Sapaan alli dapat juga digunakan untuk
menyapa pria/wanita yang memiliki hubungan kekerabatan dengan penyapa.
Sapaan ini juga dapat digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dan dalam
hubungan akrab maupun tidak akrab. Berikut ini contoh kalimat (45)
menunjukkan bagaimana penyapa berbicara dengan orang yang tidak di kenal
menggunakan sapaan alli.
(45) Alli, klas pirra ba nebe hinna?
„Adik, sudah kelas berapa sekarang?
Tabel 2. Sapaan Hubungan Nonkekerabatan
No
Nonkekerabatan
1
Orang yang sebaya kakek/nenek
Kaweda
2
3
4
Orang sebaya Ibu
Orang sebaya Ayah
Orang sebaya kakak
perempuan/laki-laki
Orang sebaya adik lakilaki/perempuan
painna
pa’ama
5
Kata sapaan
Ka’a
Alli
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
40
2.4 Sapaan Dengan Menyebut Nama
Sistem sapaan yang dengan menyebut nama dalam bahasa Weejewa di
kabupaten Sumba Barat Daya dapat dikelompokkan menjadi sistem sapaan
dengan menyebut nama diri dan sistem sapaan dengan menyebut nama anak
pertama atau anak terakhir.
2.4.1 Sapaan dengan Menyebut Nama Panggilan
Nama diri adalah nama yang dipakai dengan menyebutkan nama seseorang
(KBBI, 1995: 681). Sapaan nama diri merupakan nama yang diperoleh seseorang
ketika lahir. Nama diri merupakan bentuk sapaan yang dipakai untuk mengetahui
identitas seseorang, misalnya Gusti, Ratna, Sinta dan lain-lain. Sapaan nama diri
dapat berupa nama diri tanpa diikuti bentuk lain dan nama diri yang yang
dikombinasikan atau disertai sapaan lain. Bentuk sapaan dengan menyebut nama
diri sangat dipengaruhi oleh pola hubungan antara penyapa dengan pesapa.
Pemakaian bentuk sapaan nama diri sering digunakan oleh penutur yang memiliki
usia sebaya dengan mitra tutur dan penutur yang usianya lebih tua dari mitra tutur
atau orang yang disapa. Selain itu, penggunaan kata sapaan nama diri ditemukan
dalam situasi tidak resmi, memiliki hubungan yang akrab dan biasanya sudah
lama saling mengenal.
Dalam peneltian ini, kata sapaan dengan menyebut nama diri terbagi
menjadi dua bagian, yaitu penggunaan sapaan dengan nama panggilan lengkap
dan penggunaan sapaan dengan nama panggilan penggal.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
41
2.4.1.1 Sapaan dengan Menyebut Nama Panggilan Lengkap
Pada sapaan ini, nama seseorang disebut dengan utuh atau lengkap.
Contoh kalimat berikut ini menunjukkan bagaimana penggunaan kata sapaan
dengan menyebut nama panggilan secara lengkap.
(46)
Tina, keketa kalambe ammi ba urra!
„Tina, angkat jemurannya karena akan turun hujan!‟
2.4.1.2 Sapaan Dengan Menyebut Nama Panggilan Penggal
Pada sapaan ini nama seseorang akan disingkat atau terjadi pemenggalan.
Contoh kalimat berikut ini menunjukkan bagaimana penggunaan kata sapaan
dengan menyebut nama panggilan penggal.
(47) Tinus, ne riti kako woi belli ga roko igha!
„Tinus, ini uang. Pergi belikan ayah sebatang rokok!‟
(48) Ce, ne pi’a wai danamu na duwa ba?
„Ce, apakah lukamu di kaki sudah sembuh?‟
Sapaan nama diri yang dipakai dalam contoh (47) dan (48) adalah nama
seorang laik-laki yang bernama lengkap Martinus dan seorang perempuan yang
bernama lengkap Marce. Pada contoh (47) menjelaskan mengenai penggunaan
sapaan yang dibentuk berdasarkan nama diri ‘Martinus’ yang dipakai secara tidak
utuh atau dipenggal oleh penutur menjadi Tinus. Sedangkan pada contoh (48)
menjelaskan mengenai penggunaan sapaan yang dibentuk berdasarkan nama diri
yang dipakai secara tidak utuh atau dipenggal, yaitu Ce, merupakan penggalan
dari sapaan yang dibentuk berdasarkan nama diri Marce.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
42
2.4.2 Sapaan dengan Menyebut Nama Anak Pertama atau
Terakhir
Kata sapaan dengan menyebut nama anak ini biasanya digunakan untuk
menyapa pria atau wanita (tua, muda atau sebaya) yang sudah berkeluarga.
Bentuk sapaan dengan menyebut nama anak sangat dipengaruhi oleh pola
hubungan antara penyapa dengan pesapa. Dalam penggunaannya biasanya selalu
diawali dengan kata sapaan Ama atau Bapak dan Inna atau mama kemudian
diikuti dengan nama anak sulung atau anak bungsu. Berikut ini contoh dan
penjelasannya.
(49) Bapa Yanus, tanggal pira ba kako ne Surabaya?
„Bapak Yanus, tanggal berapa berangkat ke Surabaya?‟
(50) Ama Rinto, tekki ne mama Rinto kana deke gula mono kopi
ne uma!
„Bapak Rinto, tolong beritahu mama Rinto untuk datang
mengambil gula dan kopi di rumah!‟
Contoh (48) dan contoh (49) menunjukkan tentang penggunaan kata
sapaan dengan menyebut nama anak sulung dan anak bungsu. Pada contoh (48),
Yanus merupakan anak sulung dari lawan tutur sehingga penutur menyapa lawan
tuturnya dengan kata sapaan bapak kemudian diikuti dengan nama anak sulung
menjadi Bapak Yanus. Adapun contoh (49), Rinto merupakan anak bungsu dari
lawan tutur sehingga penutur menyapa lawan tuturnya dengan kata sapaan Ama
kemudian diikuti dengan nama anak bungsu sehingga menjadi Ama Rinto.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
43
Tabel 3. Sapaan Berdasarkan Nama Diri (mitra tutur)
No
1
2
3
Nama Diri (mitra tutur)
Menyebut Nama Panggilan
Lengkap
Menyebut Nama Panggilan
Penggal
Menyebut Nama Anak Pertama
atau Terakhir
Kata Sapaan
Tina, dsb.
Martinus menjadi tinus/nus, dsb
Ama/Bapak diikuti nama anak
pertama/terakhir, dan Inna/mama diikuti
nama anak pertama/terakhir.
2.5 Sapaan Berdasarkan Kata Ganti
Jenis sapaan berdasarkan kata ganti adalah jenis sapaan yang sering
digunakan untuk menyapa orang yang sudah dikenal ataupun belum dikenal.
Dalam penelitian ini, sapaan berdasarkan kata ganti dibagi menjadi dua jenis yaitu
sapaan kata ganti orang kedua tunggal dan sapaan kata ganti orang kedua jamak.
2.5.1
Sapaan Kata Ganti Orang Kedua Tunggal
Sapaan kata ganti orang kedua tunggal merupakan kata ganti yang
digunakan untuk menunjuk pada orang kedua atau orang yang diajak bicara (mitra
tutur). Sapaan kata ganti orang kedua tunggal dalam bahasa Weejewa ada tiga
yaitu Wo’u, Oda, dan Ole.
Kata sapaan Wo’u yang berarti „kau‟ digunakan untuk menyapa pria atau
wanita yang usianya lebih muda atau sebaya dengan penutur. Kata sapaan wo’u
digunakan untuk menyapa orang yang belum dikenal maupun sudah dikenal tetapi
dalam hubungan yang tidak akrab. Berikut contoh kalimat (51) dan (52)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
44
menunjukkan bagaimana penyapa berbicara dengan orang yang disapa
menggunakan sapaan Wo’u.
(51) Ge nei nia umamamu wo’u?
„Dimana rumah kamu?
(52) Wo’u deke pena gu?
„Apakah kamu mengambil penaku?
Kata sapaan Oda atau Ole memiliki arti „teman/kawan‟. Namun,
penggunaan kedua sapaan tersebut berbeda. Kata Sapaan Oda digunakan untuk
menyapa mitra tutur yang usianya sebaya dan lebih muda dari penutur.
Penggunaan kata sapaan Oda dalam masyarakat Sumba Barat Daya biasanya
digunakan kepada orang yang baru dikenal dan dalam hubungan yang tidak begitu
akrab. Sedangkan kata sapaan Ole biasanya digunakan untuk menyapa orang yang
lebih muda,tua atau seumuran dengan penyapa dan dalam hubungan yang sudah
akrab. Berikut ini contoh penggunaan kata sapaan Oda dan Ole.
(53) Oda, b’alimu weti rowe ne omadana?
„Teman, apakah kamu baru pulang dari memetik sayur?‟
(54) Ole, ya tuddu pu gai ritimu lima ngau!,
„Teman, pinjamkan saya uang lima puluh ribu rupiah.‟
2.5.2
Sapaan Kata Ganti Orang Kedua Jamak
Kata ganti orang kedua jamak dalam bahasa Weejewa Kabupaten Sumba
Barat Daya, yaitu Yemmi yang berarti kalian. Sapaan yemmi biasanya digunakan
untuk menyapa kawan sebaya maupun orang yang lebih tua. Sapaan tersebut
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
45
dapat digunakan dalam situasi resmi maupun tidak resmi. Berikut contoh (55) dan
(56) menunjukkan penggunaan kata sapaan Yemmi;
(55) Yemmi, nga’a ba ne loddo nena?
„Kalian sudah makan, siang ini?
(56) Daiki urra ne podo’u mi Yemmi?
„Apakah tidak turun hujan ditempat kalian?
No
Tabel 4. Sapaan Berdasarkan Kata Ganti.
Kata ganti
Kata sapaan
1
Kata ganti orang kedua tunggal
2
Kata ganti orang kedua jamak
Wou
Oda
Ole
Yemmi
2.6 Kata Sapaan Berdasarkan Status Sosial
Kata sapaan dalam bahasa Weejewa Kabupaten Sumba Barat Daya
dibedakan juga jenisnya berdasarkan status sosial. Walaupun peenggunaannya
sudah jarang, masyarakat di kabupaten Sumba barat Daya masih memperhatikan
perbedaan status, atau perbedaan kedudukan dalam masyarakat. Masyarakat
Sumba Barat Daya menghormati status sosial yang lebih tinggi daripada lawan
bicara. Beberapa bentuk sapaan dalam bahasa Weejewa berdasarkan status sosial
antara lain : Nyora, Maromba, tokko, rato, dawa,
Kata Sapaan Nyora yang berarti „Nyonya‟ digunakan oleh penyapa pria
dan wanita untuk menyapa wanita dewasa yang memiliki status sosial tinggi
dalam suatu masyarakat. Selain itu juga digunakan untuk menyebut orang yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
46
memiliki usaha tertentu atau kekayaan. Sapaan ini digunakan dalam situasi resmi
dan tidak resmi dan dalam hubungan tidak akrab. Berikut merupakan contoh
pemakaian sapaan Nyora.
(57) Nyora, ge kako niamu? Mai kaku antargu!
‘Nyonya, mau ke mana? Ayo saya antar!‟
Kata sapaan Maromba secara harafia berarti „Tuan‟. Kata sapaan
Maromba merupakan sapaan yang hanya digunakan untuk menyapa seorang
Pastor atau Romo. Kata sapaan ini digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi
dan dalam hubungan akrab maupun tidak akrab. Berikut merupakan contoh
pemakaian sapaan Maromba kepada seorang Pastor/Romo.
(58) Maromba, jadi we pimpin misa ne wano danagu ba malam
paskah?
„Romo, apakah jadi memimpin misa malam paskah di kampung
saya?
Kata sapaan Tokko dan Rato secara harafiah berarti „raja‟. Namun,
Penggunaan kata sapaan Tokko dan Rato berbeda. Sapaan Tokko digunakan oleh
penyapa pria dan wanita untuk menyapa kepala adat sedangkan sapaan Rato
merupakan sapaan yang digunakan untuk menyapa seorang raja. Sapaan ini
digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dan dalam hubungan akrab maupun
tidak akrab. Berikut contoh dan penjelasannya.
(59) Tokko, tua ne Marapu appa we a salah kana mate kua ne pare!
„Raja, tanyakan ke Marapu apakah ada yang salah sehingga padi
di sawah mati!‟
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
47
(60) Rato, nati dara kaka na mua ba’!
„Raja, kuda putihnya sudah hilang!
Contoh (59) menunjukkan penggunaan sapaan kepada kepala adat
sedangkan contoh (60) menunjukkan penggunaan kata sapaan kepada seorang
raja. Namun, untuk kata sapaan Rato telah mengalami pergeseran penggunaan.
Sapaan Rato yang digunakan kepada raja tidak lagi digunakan untuk menyapa raja
tetapi digunakan untuk menyapa anak laki-laki yang paling disayang. Hal tersebut
disebabkan bahwa saat ini masyarakat Sumba tidak lagi memiliki raja.
Kata sapaan Dawa secara harafiah berarti „orang kota‟. Sapaan ini
digunakan oleh penyapa pria dan wanita untuk menyapa orang yang berasal dari
kota. Kata sapaan ini digunakan dalam situasi tidak resmi dan dalam hubungan
akrab. Berikut contoh penggunaan kata sapaan Dawa.
(61) Wai kai luwa yemmi ne kota dana, Dawa?
‘Apakah kalian dikota juga memilik ubi, orang kota?‟
No
1
2
3
4
5
Tabel 5. Sapaan Berdasarkan Status sosial
Status Sosial
Kata Sapaan
Nyonya
Tuan
Raja
Raja
Orang kota
Nyora
Maromba
Tokko
Rato
Dawa
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
48
2.7 Sapaan Berdasarkan Jabatan/Profesi
Identitas seseorang dapat juga ditentukan oleh jabatan/profesi yang
dipangkunya. Biasanya ada yang menyapa seseorang menurut jabatan/profesi
yang dipangkunya.
Dalam masyarakat Sumba, pemakaian sapaan dalam peristiwa komunikasi
sudah semakin banyak, baik dari segi jumlah maupun dilihat dari segi variasi
pemakaiannya. Hal ini dimungkinkan karena banyak jabatan/profesi kedinasan
yang dimunculkan diberbagai bidang untuk merealisasikan tatanan masyarakat
yang lebih baik dan teratur. Dalam penggunaannya, sapaan jabatan/profesi ini
biasanya didahului oleh kata (ba)pak atau (i)bu, seperti (ba)pak polisi, (ba)pak
Lurah, (i)bu dokter dan lain sebagainya. Dalam bahasa Weejewa di kabupaten
Sumba Barat Daya terdapat beberapa sapaan yang digunakan untuk menyapa
orang yang memiliki profesi/jabatan.
Di bidang pemerintahan timbul berbagai jabatan, antara lain, bupati,
camat, sekretaris camat (sekcam), lurah. Mereka biasanya disapa sesuai dengan
jabatan masing-masing. Berikut contoh (62) dan (63) menujukkan penggunaan
kata
sapaan
dalam
bahasa
Weejewa
berdasarkan
pekerjaan
pemerintahan.
(62) Ge wali niamu Pa Lurah?
Dari mana, Pak Lurah?
(63) Mai belii ne uma ge Ibu sekcam!
„Mari mampirlah ke rumah sebentar, Ibu sekcam!‟
dibidang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
49
Kata sapaan yang dijumpai dalam bidang pendidikan, yaitu Toung guru
yang berarti ‘Tuan Guru‟, Toung guru kabani (laki-laki), toung guru mawine
(perempuan), (ba)pak atau (i)bu, (ba)pak atau (i)bu guru. Berikut contoh (64) dan
(65) menujukkan penggunaan kata sapaan dalam bahasa Weejewa berdasarkan
pekerjaan dibidang pendidikan.
(64) Toung guru, pirra libura penne kelasa?
„Tuan Guru, kapan libur kenaikan kelas?‟
(65) Ibu Guru, na anagu nena karoduka bisa na ijin beli dana deku
ulangan ne lodo?
„Ibu Guru, anak saya sedang sakit. Apakah bisa dia ijin untuk
tidak mengikuti ulangan hari ini?‟
Kata sapaan yang ditemui dalam bidang kesehatan, yaitu Dotera „dokter‟,
sutera ‘suster‟, bidan. Berikut contoh penggunaan sapaan dibidang kesehatan.
(66) Bu dotera, appa we penyakit na anagu?
„Ibu dokter, apakah penyakit anak saya ini?
(67) Ibu Bidan,ge dangi niamu nebe hinna?
„Ibu Bidan tinggal dimana sekarang?‟
Berdasarkan uraian diatas, sapaan-sapaan berdasarkan profesi/jabatan
dalam bahasa Weejewa muncul dalam beberapa bidang, yaitu bidang
pemerintahan, pendidikan dan kesehatan. Sapaan-sapaan tersebut dipakai oleh
penyapa pria maupun wanita, baik tua maupun muda untuk menyapa orang yang
memiliki profesi/jabatan tersebut baik tua, seusia, maupun yang lebih muda dari
penyapa. Sapaan tersebut juga digunakan dalam situasi resmi dan tidak resmi dan
dalam hubungan akrab dan tidak akrab.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
50
Tabel 6. Sapaan Berdasarkan Jabatan/Profesi
No
Jabatan/profesi
Kata Sapaan
1
Bupati
Pak Bupati, Bapak Bupati
2
Camat
Pak camata, Pak, Bapak Camata
3
sekcam
Pak/bu sekcam, Bapak/ibu sekcam.
4
Lurah
5
Guru (laki-laki)
6
Guru (perempuan)
7
8
Suster
Dokter
Pak lurah, Bapak Lurah, Pak
Toung guru, Toung guru kabani, Pak, Pak
guru, Bapak Guru, Guru
Toung guru, Toungguru mawine, Bu, Bu
Guru, Ibu Guru, Guru
Sutera, Bu suter, ibu suter
Dotera, Pak Dotera, bapak dokter
9
Bidan
Bu bidan, Ibu bidan, Ibu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB III
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN SAPAAN
DALAM BAHASA WEEJEWA
3.1 Pengantar
Dalam bab ini dibahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
pemakaian sapaan dalam bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba Barat Daya. Hal
ini dilakukan untuk membuktikan faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi
pemakaian sapaan dalam suatu perstiwa komunikasi.
Menurut Kartomihardjo (dikutip Suhardi, 1985: 6) faktor-faktor yang
menentukan pemilihan sapaan, yaitu situasi, etnik, kekerabatan, keintiman, status,
umur, jenis kelamin, status perkawinan, dan asal. Namun, berdasarkan hasil
analisis, faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian sapaan dalam bahasa
Weejewa adalah (a) faktor kekerabatan, (b) faktor perbedaan profesi/jabatan, (c)
faktor status sosial, (d) faktor Usia, (e) faktor keakraban, (f) faktor jenis kelamin,
(g) faktor situasi, dan (h) faktor asal penutur.
3.2 Faktor Hubungan Kekerabatan
Hubungan kekerabatan merupakan faktor yang mempunyai pengaruh yang
sangat kuat terhadap pemilihan sapaan. Pemakaian sapaan yang dipengaruhi
faktor kekerabatan menunjukkan adanya hubungan kekerabatan antara penutur
dengan mitra tutur.
Hubungan sosial diantara anggota keluarga relatif tetap dan didasarkan
atas ikatan darah, perkawinan dan atau adopsi. Eggan (dikutip Mansyur, 1988: 21)
51
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
52
menyebutkan bahwa kekerabatan adalah hubungan sosial, baik akibat dari
keturunan darah, perkawinan, maupun karena wasiat.
Sapaan yang dipengaruhi faktor kekerabatan yang terdapat dalam bahasa
Weejewa didasarkan atas ikatan darah dan perkawinan. Sapaan yang dipengaruhi
faktor kekerabatan tersebut digunakan untuk menyebut atau menyapa mitra tutur
yang masih berkerabat dengan penutur. Berikut beberapa contoh penggunaan kata
sapaan oleh penyapa dengan pesapa yang dipengaruhi oleh faktor hubungan
kekerabatan.
(68)
A : Ama, pirra bu’di kirim we riti, dai ba riti gu?
„Bapa, kapan kirim, uang, saya tidak punya uang lagi
sekarang?
B : O’o ba koka bu’di pangindi gu riti
„Iya. Besok dulu baru kirim uang!‟
(69)
A : Na’a gei kako niamu nena?
„Kakak kemana tadi?
B : Hetti ga sawah.
‘Saya pergi ke sawah.‟
Contoh (68) dan (69) menunjukkan penggunaan kata sapaan berdasarkan
hubungan kekerabatan berupa Ama yang berarti „Ayah‟ digunakan untuk
menyebut ayah kandung dan sapaan Na’a digunakan untuk menyapa saudara
laki-laki kandung. Untuk lebih jelasnya, berikut akan ditampilkan beberapa bagan
serta penjelasannya menggunakan tabel hubungan kekerabatan. Pada bagan di
bawah ini dibagi menjadi empat, yaitu (a) hubungan keluarga inti , (b) keluarga
luas I ayah, (c) keluarga luas I ibu, dan (d) keluarga luas II.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
53
3.2.1 Hubungan Kekerabatan Keluarga Inti
Dari perkawinan terbentuklah suatu kelompok kekerabatan yang sering
disebut “keluarga inti”. Suatu keluarga inti adalah keluarga atau kelompok yang
terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang belum dewasa atau belum menikah dan
juga anak angkat atau anak tiri. Seperti tampak pada bagan berikut.
1
Suami
2
3
Istri
3
4
5
Anak
6, 7,8
Bagan 2. Keluarga Inti
Keterangan:
= menurunkan.
= menyebut/menyapa.
= saling menyapa/menyebut.
Anak
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
54
Tabel 7. Penggunaan Kata Sapaan Keluarga Inti
No
Penyapa
Pesapa
1
Suami
Istri
2
Istri
Suami
Anak Laki-laki
3
Ayah/Ibu
Anak Perempuan
4
Anak
Ayah
Ibu
5
Saudara
Laki-laki
Kakak/adik
perempuan
6
Saudara
Perempuan
7
Saudara
Laki-laki
Kakak/adik laki-laki
8
Saudara
perempuan
Kakak/adik
perempuan
Kakak/adik Lakilaki
Kata Sapaan
Inna
Inna diikuti dengan menyebut nama
anak pertama
Menyebut nama diri istri
Ama
Ama diikuti dengan menyebut nama
anak pertama
Menyebut nama diri suami
Ana mane
Ama
Menyebut nama diri
Ana Mawine
Leiro
Inna
Menyebut nama diri
Ama
Inna
Wotto
Leiro
Inna
Menyebut nama diri saudara
perempuan
Na’a
Ama
Menyebut nama diri saudara laki-laki
Ama
Menyebut nama diri kaka/adik lakilaki
Inna
Menyebut nama diri kakak/adik
perempuan
Berikut ini contoh dialog pemilihan sapaan yang dipengaruhi oleh faktor
hubungan kekerabatan pada keluarga inti. Contoh dialog berikut menunjukkan
pemakain sapaan oleh seorang suami kepada istrinya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
55
(70) A: Inna Yanus, strika bai ga kalame kantoragu?
„Mama Yanus, apakah kemeja kantor saya sudah di setrika?‟
B: Indakipo, ba yodikia belli baba pati’i nga’a!
„Belum, sebentar setelah selesai memasak‟.
Contoh dialog (71) berikut ini akan menunjukkan pemakaian sapaan oleh
saudara perempuan ke saudara laki-laki kandung. Sedangkan contoh dialog (72)
menunjukkan penggunaan sapaan oleh saudara laki-laki ke saudara perempuan.
(71)
A : Na’a, bantu beli gai pawili ne PR matematika gu!
„Kakak, bantu saya mengerjakan PR matematika‟
B : Remana belli leiro, b’aba kaku padia ne motora.
„Sabar ya, setelah saya selesai memprebaiki motor ini.‟
(72)
A : Wotto, toba po ne kalambe gereja gu!
„Nona, tolong cuci pakaian gereja saya!
B : Ngindi nemi to!
„Ya bawakan ke sini!‟
Berikut ini contoh dialog (73) menunjukkan penggunaan sapaan oleh
kakak laki-laki kepada adik laki-laki.
(73) A : Pippi, deke ba ruta karambo?
„Pippi, apakah kamu sudah mengambil rumput untuk
kerbau?‟
B : Daku deke ki po.
„Saya belum ambil.‟
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
56
3.2.2 Keluarga Luas I Ayah
Keluarga luas I Ayah meliputi sapaan untuk saudara laki-laki dan
saudara perempuan Ayah. Seperti tampak pada bagan berikut.
Saudara-Saudara Tua
Laki-Laki
Ayah
Perempuan
Laki-Laki
Perempuan
1
1
2
2
3
Anak
Saudara-Saudara Muda
3
4
Anak
4
Bagan 3. Keluarga Luas Ayah
Keterangan:
= menurunkan.
= menyebut/menyapa.
= saling menyapa/menyebut.
Anak
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
57
Tabel 8. Keluarga Luas I Ayah
No
Penyapa
Pesapa
Kakak Laki-laki Ayah
1
Anak
Adik Laki-laki Ayah
2
3
4
Kakak Perempuan Ayah
Anak
Adik Perempuan Ayah
Saudara Lakilaki dan saudara
perempuan
Ayah
Anak dari
saudara Lakilaki/Perempuan
Ayah
Keponakan laki-laki
Keponakan perempuan
Kata sapaan
Amaangua
Ama
Ama diikuti nama
anak pertama/terakhir
Amaangua
Ama
Cama
Tante
Cama
Tante diikuti nama diri tante
Ama
Menyebut nama diri anak
Inna
Leiro
Menyebut nama diri anak
Anguleba
Anak
Menyebut nama diri anak
Berikut ini contoh dialog pemilihan sapaan yang dipengaruhi oleh faktor
hubungan kekerabatan pada keluarga luas I ayah. Contoh dialog berikut
menunjukkan pemakain sapaan oleh seorang anak kepada kakak laki-laki Ayah.
(74) A : Amaangua, wa’i urra ne wanno dana nena?
„Bapak, apakah di kampung tadi ada hujan?‟
B : Wai kaian tapi dana mando’i kia ki.
„Ada tetapi tidak lama.‟
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
58
Contoh dialog (75) berikut ini menunjukkan penggunaan sapaan oleh anak kepada
saudara perempuan ayah.
(75) A : Cama, tanggal pirra Paulus na tama asrama?
„Tante, tanggal berapa Paulus akan masuk asrama?‟
B: Ba tanggal 10 ne wulla.
„Tanggal 10 bulan ini.‟
3.2.3
Keluarga Luas I Ibu
Keluarga luas I Ibu meliputi sapaan untuk saudara laki-laki dan saudara
perempuan Ibu. Seperti tampak pada bagan berikut.
Saudara-Saudara Tua
Laki-Laki
Ibu
Perempuan
Saudara-Saudara Muda
Laki-Laki
Perempuan
1
1
2
2
3
3
3
3
Anak
4
Anak
4
Bagan 4. Keluarga Luas I Ibu
Keterangan:
= menurunkan.
= menyebut/menyapa.
= saling menyapa/menyebut
Anak
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
59
No
Tabel 9. Penggunaan Sapaan Keluarga Luas I Ibu
Penyapa
Pesapa
Kata Sapaan
Kakak Perempuan Ibu
1
Anak
Adik perempuan Ibu
Kakak Laki-laki Ibu
2
3
Anak
Adik Laki-laki Ibu
Saudara-Saudara
Tua/Muda Ibu
Keponakan
Perempuan
Keponakan Laki-laki
4
Anak dari Kakak
perempuan/Lakilaki Ibu
Anak
Innaangua
Inna
Inna diikuti nama anak
pertama/terakhir
Innanagua
Inna
Loka
Om
Loka
Om
Om diikuti nama diri om
Anakabinne
Inna
Leiro
Menyebut nama diri anak
Anakabinne
Ama
Menyebut nama diri anak
Olebei
Menyebut nama anak
Berikut contoh dialog yang menunjukkan penggunaa sapaan yang
dipengaruhi oleh faktor hubungan kekerabatan pada keluarga luas Ibu. Contoh
dialog (76) menunjukkan penggunaan sapaan kepada kakak perempuan Ibu.
(76) A : Inaangua, dengi po rowe yodi. Na luwa langu takk rowe ne
omadana pa eta gu!
„mama, saya minta sayur sedikit. Saya lihat banyak sekali
sayur di kebun!‟
B : Kako wetti do’u, Leiro!
„Petik sudah, sayang.‟
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
60
3.2.4
Keluarga Luas II
Keluarga luas adalah satuan keluarga yang meliputi lebih dari satu
generasi dan satu lingkungan kaum keluarga yang lebih luas daripada hanya ayah,
ibu dan anak-anak atau dengan perkataan lain, keluarga luas merupakan keluarga
inti ditambah dengan anggota-anggota keluarga yang lain. Seperti tampak pada
bagan berikut.
Suami + Istri
Anak Laki-laki
Suami + Istri
Anak Perempuan
Anak Laki-laki
Anak Laki-laki
Anak Laki-laki
Anak Perempuan
Anak Perempuan
Bagan 5. Keluarga Luas II
Keterangan:
= Menurunkan
= Menikah
Anak Perempuan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
61
No
Tabel 10. Penggunaan Sapaan Keluarga Luas II
Penyapa
Pesapa
Kata Sapaan
Cicit perempuan
1
Orangtua dari
kakek/nenek
Cicit Laki-laki
Besan Perempuan
2
Ayah/ibu
Besan Laki-laki
Aiba
Menyebut nama diri
Aiba
Menyebut nama diri
Wera
Inna diikuti nama anak pertama
Wera
Ama diikuti nama anak pertama
Menantu Laki-laki
3
Ayah/Ibu
Menantu Perempuan
Mertua laki-laki
4
Anak
Mertua perempuan
Saudara Ipar laki-laki
5
Saudara Lakilaki/Perempuan
Saudara Ipar
perempuan
Cucu laki-laki
6
Nenek/kakek
Cucu perempuan
Wasse
Ama
Menyebut nama diri menantu
Wasse
Inna
Leiro
Menyebut nama diri menantu
Wera
Ama
Wera
Inna
Olesawa
Menyebut nama diri Ipar
Ippa
Menyebut nama diri Ipar
Umbu
Tamoama
Menyebut nama diri
Umbu
Tamoina
Menyebut nama
Berikut contoh dialog penggunaan sapaan yang dipengaruhi oleh faktor
kekerabatan pada keluarga luas II. Contoh dialog (77) menunjukkan penggunaan
sapaan oleh seorang kakek/nenek kepada cicitnya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
62
(77) A : Aiba, tutu ba mawago ne urra dana ba karoduka d’omo!
„Cicit, jangan bermain di hujan terlalu lama, nanti sakit lagi!‟
B : O’o, Ina Kaweda!
„iya, nenek!‟
Berikut contoh dialog (78) menunjukkan penggunaan sapaan oleh mertua
kepada menantu laki-laki.
(78) A : Wasse, patama beli po gollu dana na wawi!
Anak, tolong masukkan babi itu ke kandang!
B : O’o Inna
„Iya, mama.‟
3.3 Faktor perbedaan Jabatan/Profesi
Dalam masyarakat Sumba, jabatan/profesi atau kedudukan seseorang
sangat dihargai. Oleh karena itu, faktor perbedaan jabatan/profesi dapat
membentuk bermacam-macam sapaan sehingga seseorang yang bekerja sebagai
guru, dokter, camat,
dan lain-lain akan disapa menurut jabatan/profesi masing-
masing.
Dalam bahasa Weejewa terdapat penggunaan/pemilihan sapaan yang
dipengaruhi
oleh
faktor
Jabatan/profesi.
Lawan
bicara
yang
memiliki
jabatan/profesi tertentu cenderung akan disapa sesuai dengan jabatannya.
Kata sapaan yang dipengaruhi faktor perbedaan profesi/jabatan yang
ditemukan dalam bahasa Weejewa Sumba Barat Daya, yaitu Toung guru kabani
(laki-laki), toung guru mawine (perempuan), (ba)pak/(i)bu guru, (ba)pak/(i)bu
bupati,
(ba)pak/(i)bu
camat,
(ba)pak/(i)bu
sekretaris
camat
(sekcam),
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
63
(ba)pak/(i)bu lurah, (ba)pak/(i)bu Dotera ‘dokter’, (i)bu sutera ‘suster’, (i)bu
bidan. Berikut beberapa contoh sapaan yang dipengaruhi faktor jabatan/profesi.
(79) A : Pak Camat, lodo pirra Bapak berangkat dinas ne
Waingapu?
„Pak Camat, hari apa bapak berangkat dinas ke Waingapu?
B : Ba lodo limma budi kako.
„Hari Jumat saya berangkat.‟
(80)
A: Bu bidan garra paremamu?
„Bu bidan sedang menunggu siapa?‟
B: Ne’e ga rema la’i gu.
„Saya sedang menunggu suami saya.‟
Sapaan pak camat pada contoh (79) menunjukkan adanya pengaruh
faktor jabatan. Sapaan tersebut dipakai untuk menyapa mitra tutur yang menjabat
sebagai pemimpin kecamatan. Sedangkan contoh sapaan Bu Bidan pada contoh
(80) juga menunjukkan adanya faktor pengaruh profesi. Sapaan tersebut dipakai
untuk menyapa mitra tutur yang berprofesi sebagai bidan.
(81) A: Toung guru, tanggal pirra wukke pendaftaran ne sekolah?
„Pak guru, tanggal berapa pendaftaran di sekolah bapak di
buka?‟
B : Dapa pande kipo. Noto wula pondo.
„Belum tahu. Mungkin bulan Agustus.‟
Contoh dialog (81) merupakan contoh dialog yang menunjukkan
penggunaan sapaan yang dipengaruhi oleh faktor profesi, yaitu guru. Penggunaan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
64
sapaan yang dipengaruhi oleh faktor jabatan/profesi dalam contoh-contoh diatas
juga dipengaruhi oleh faktor lain. Misalnya, sapaan Pak camat dalam contoh (79)
dipengaruhi juga oleh faktor jenis kelamin. Sapaan pak dipakai untuk menyapa
mitra tutur yang berjenis kelamin laki-laki.
3.4 Faktor Status Sosial
Faktor status sosial mempengaruhi penggunaan kata sapaan dalam
masyarakat Sumba Barat Daya. Status sosial (kedudukan sosial) adalah tempat
seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang-orang lain,
dalam arti lingkungan pergaulannya, prestasinya, dan hak-hak kewajibannya
(Soekanto, 1990: 265). Pemakaian sapaan yang dipengaruhi faktor sosial
menunjukkan adanya perbedaan atau kesejajaran status sosial penutur dan mitra
tutur.
Beberapa bentuk sapaan dalam bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba
Barat Daya yang dipengaruhi oleh faktor status sosial antara lain : Nyora,
Maromba, tokko, rato, dan dawa. Berikut contoh pemakaian sapaan yang
dipengaruhi faktor sosial dalam bahasa Weejewa.
(82) A: Nyora, bisa pa yaga mema gaji wulla koka ne lodo?
„Nyonya, apakah bisa memberikan gaji saya untuk bulan
depan pada hari ini?‟
B: Koka hinnagu dapa bisa ki. Tapi ba lodo lusa bisa ku
payagu.
„Besok belum bisa. Tapi kalau lusa saya bisa berikan.‟
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
65
(83) A : Rato, wa’i tamu ne bei eta, patuka kana tama?
„Raja, ada orang yang ingin bertemu, apakah dia
diperbolehkan
masuk?‟
B: O‟o. Patuka kana tama!
„Ya. Suruh dia masuk!‟
Sapaan Nyora dalam contoh (82) menunjukkan adanya pengaruh status
sosial dalam pemakaiannya.
Pemakain sapaan tersebut menunjukkan adanya
perbedaan status sosialantara penutur dengan mitra tutur. Perbedaan status sosial
antara penutur dan mitra tutr berdasarkan kekayaan. Hal ini ditunjukkan melalui
permintaan penutur kepada mitra tutur yang merupakan bos/majikan dari tempat
penutur bekerja. Sedangkan sapaan Rato pada dialog (83) menunjukkan
perbedaan kedudukan antara raja dengan rakyatnya.
Berikut contoh dialog penggunaan sapaan kepada pastor/romo yang juga
dipengaruhi oleh faktor status sosial.
(84) A : Maromba, tanggal pirra budi wuke pendaftaran kursus
sambut baru?
„Tuan, tanggal berapa kursus sambut baru di buka?‟
B: Tanggal 12 budi wuke ne pendaftaran.
„Pendaftaran akan dibuka pada tanggal 12.‟
Sapaan maromba pada dialog (84) secara harafiah berarti „tuan‟. Dalam
masyarakat Sumba, pastor/romo merupakan orang yang sangat dihormati dan
dianggap memiliki kedudukan yang tinggi atau penting dalam masyarakat. Oleh
karena itu, kata sapaan maromba merupakan sapaan yang hanya dikhususkan
untuk menyapa pastor/romo.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
66
3.5 Faktor Perbedaan Usia
Usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penggunaan sapaan
karena sebelum menyapa, si penyapa harus mempertimbangkan terlebih dahulu
siapa yang akan disapa. Penyapa akan mempertimbangkan terlebih dahulu usia
orang yang akan disapa apakah masih anak-anak, remaja, sebaya atau orang
desawa. Perhitungan tersebut dilakukan untuk menghindari kesalapahaman atau
salah menyapa. Dengan demikian penyapa dapat memilih kata sapaan yang tepat
untuk menyapa mitra tutur.
Masyarakat Sumba Barat Daya sangat menghormati orang yang berusia
lebih tua. Hal tersebut juga berkaitan dengan strategi kesantunan dan upaya
membangun komunikasi yang lancar antara penutur dengan mitra tutur, terlebih
lagi pada orang yang memiliki hubungan kekerabatan baik keturunan maupun
perkawinan namun dalam hal ini ditinjau dari segi usia mitra tutur. Kata sapaan
berdasarkan usia sama dengan kata sapaan berdasarkan jenis kelamin. Artinya,
pada kata sapaan jenis kelamin ditentukan juga usia orang yang diisapa.
(85) A : Nga’a ba Rinto?
„Rinto sudah makan?‟
B : O’o nga’a ba nena Inna.
„Iya, saya sudah makan, nenek‟
Pada contoh (85) menunjukkan penggunaan kata sapaan yang didasari oleh
faktor perbedaan usia. Dalam contoh tersebut tampak nenek dapat menyapa
cucunya dengan panggilan nama diri saja tetapi cucu akan menyapa neneknya
dengan panggilan Inna/Inna Kaweda dan tidak boleh menyapa dengan menyebut
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
67
nama neneknya. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan usia antara penutur
dengan mitra tutur.
Berikut contoh dialog seorang anak kepada orang dewasa sebaya dengan
ibu dan kepada orang tua sebaya kakek.
(86) A: Pa’ina, pirra ko arga ne cumi?
„Ibu, cumi ini harganya berapa?‟
B: Du’ada rata iya, alli.
„Seekor harganya dua ribu, adik‟
(87) A: Kaweda ge ne nia umma mu?
„Kakek rumahnya dimana?‟
B : Daku lolo ba ge umma gu.
„Saya tidak ingat dimana rumah saya.‟
Contoh dialog (86) dan (87) menunjukkan penggunaan sapaan yang
dipengaruhi faktor usia. Contoh dialog (86) terdapat kata sapaan Pa’ina yang
digunakan untuk menyapa seorang wanita sebaya dengan Ibu. Contoh (87)
terdapat kata sapaan Kaweda yang digunakan untuk menyapa orang sebaya
dengan kakek/nenek. Pemakaian kata sapaan pada contoh dialog di atas juga
dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin.
3.6 Faktor Keakraban
Faktor keakraban juga mempengaruhi pemakaian kata sapaan dalam
bahasa Weejewa. Faktor ini dibagi menjadi dua, yaitu akrab dan tidak akrab.
Akrab menunjukkan hubungan penutur dan mitra tutur telah saling mengenal
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
68
dengan baik. Sedangkan faktor tidak akrab menunjukkan bahwa penutur dan mitra
tutur belum saling mengenal dengan baik atau tidak saling mengenal. Faktor
perbedaan keakraban menunjukan
hubungan antara penutur dan lawan tutur
apakah penutur mengenal baik dengan lawan tuturnya dan apakah hubungan
tersebut menunjukan keakraban ataupun tidak. Berikut contoh kata sapaan yang
dipengaruhi oleh faktor keakraban.
(88) A : Rini, jam pirra kata belajar kelompok ba koka?
„Rini, jam berapa kita belajar kelompok besok?‟
B : Hanggu bulla mema? jam touda sore ge Ole.
„Lupa lagi? Jam tiga sore, teman.
(89) A: Selamat pagi, garra ngara mu wo’u?
„Selamat pagi, siapa nama kamu?‟
B : O’o slamat pagi kaina. Reta ngaragu. Ba Wo’u?
„Oh iya, selamat pagi juga. Nama saya Leli. Kalau kamu
siapa?‟
Contoh dialog (88) dan (89) menunjukkan pemakaian sapan yang didasari
oleh faktor akrab dan tidak akrab. Dalam contoh (88) penyapa menyapa mitra
tutur dengan sapaan nama diri lengkap, yaitu Rini dan pesapa menggunakan
sapaan Ole. Penggunaan sapaan pada contoh dialog (88) menunjukkan bahwa
penutur memiliki hubungan yang akrab dengan mitra tutur sehingga sapaan yang
digunakan oleh penyapa adalah sapaan nama diri. Selain itu, kata sapaan Ole yang
digunakan pesapa kepada penyapa juga menunjukkan bahwa penyapa dan mitra
tutur memiliki hubungan yang sangat akrab.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
69
Contoh (89) menunjukkan hubungan tidak akrab. Hal tersebut ditunjukkan
dengan penggunaan kata sapaan Wo’u oleh penutur kepada mitra tutur dan begitu
juga mitra tutur kepada penutur/penyapa. Dalam contoh tersebut tampak bahwa
penutur belum mengenal atau berada dalam hubungan yang tidak akrab dengan
mitra tutur sehingga menggunakan sapaan Wo’u.
Jika mitra tutur mempunyai usia lebih tua (lansia) daripada penutur dan
sudah saling mengenal maka sapaan yang digunakan adalah Ina Kaweda, Ama
Kaweda, Inna/Ama diikuti nama anak pertama atau terakhir. Berikut contoh dan
penjelasannya.
(90) A : Co Inna Meri, ge kako niamu kapotta dana?
„Mama meri, pergi kemana gelap-gelap begini?
B : Hetti gai wo’i gula ne kios iyaro!
„Saya pergi beli gula di kios depan!‟
Jika mitra tutur memiliki umur lebih tua (dewasa) daripada penutur dan
saling mengenal maka sapaan yang digunakan adalah om, tante diikuti nama diri
mitra tutur. Tetapi jika belum mengenal maka sapaan yang digunakan adalah tante
dan om tanpa diikuti nama diri. Berikut contoh dan penjelasannya.
(91) A : Om Hanis, maida kata rai rujak!
„Om Hanis, ayo bikin rujak!‟
B : Rai yemmi to. Ba paddo ga yawa wadde.
„Kalian buat sudah. Nanti bagikan ke saya.‟
(92) A : Om, pirra ne beras igha kilo?
„Om beras satu kilo berapa?
B : Kabullu rat igha kilo.
„Sepuluh ribu satu kilo.‟
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
70
Contoh dialog (91) menunjukkan penggunaan sapaan kepada orang
dewasa dalam hubungan akrab atau sudah saling mengenal sedangkan contoh
dialog (92) menunjukkan penggunaan sapaan kepada orang dewasa dalam
hubungan tidak akrab atau tidak saling mengenal.
Apabila mitra tutur memiliki umur yang lebih tua dalam artian masih
tergolong muda dan mitra tutur memiliki umur yang lebih muda daripada penutur
dan dalam hubungan yang akrab maka sapaan yang digunakan adalah ka’a/alli
diikuti nama diri. Tetapi jika belum saling mengenal maka dapat digunakan kata
sapaan Wou, ka’a tanpa diikuti nama diri, dan alli tanpa diikuti nama diri.
(93) A : Ka’a Rambu, pirra duki ne sumba? Tabba ka’bola ponggu e.
„Kakak Rambu, kapan tiba di sumba? Kakak makin cantik‟
B: Bu’di du’ki gu manna male.
„Saya baru tiba kemarin malam.‟
3.7 Faktor Perbedaan Jenis Kelamin
Kelamin merupakan sifat jasmani ataupun rohani yang membedakan dua
makhluk sebagai betina dan jantan atau wanita dan pria. Pemakaian kata sapaan
yang dipengaruhi faktor jenis kelamin yaitu berdasarkan jenis kelamin mitra tutur.
Oleh karena itu, faktor jenis kelamin merupakan salah satu faktor pembeda sapaan
dalam bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba Barat Daya.
Sapaan yang dipengaruhi oleh faktor perbedaan jenis kelamin dalam
bahasa Weejewa ada dua, yaitu sapaan yang digunakan untuk orang berjenis
kelamin laki-laki dan sapaan yang digunakan untuk orang berjenis kelamin
perempuan. Sapaan dalam bahasa Weejewa yang digunakan untuk menyapa orang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
71
yang berjenis kelamin laki-laki adalah Ama Kaweda, Ama, Ana Mane, Na’a,
Umbu, Tamoama, Aiba, Amaangua, Loka, Anakabine, Anguleba, Olebei, Wera,
Olesawa, Wasse, Pa’ama, Om, Ka’a, Alli, Tokko, Maromba, Toungguru kabani,
Tokko, (Ba)pak. Sedangkan sapaan yang digunakan untuk menyapa orang yang
berjenis kelamin perempuan adalah Inna Kaweda, Inna, Ana Mawine, Leiro,
Wotto, Umbu, Tamoina, Aiba, Inaangua, Loka, Cama, Anakabine, Anguleba,
Olebei, Wera, Wasse, Ippa, painna, Ka’a, Alli, Nyora, Dawa, sutera, (i)bu.
Berikut bebrapa contoh dialog yang menunjukkan penggunaan sapaan yang
dipengaruhi oleh faktor perbedaan jenis kelamin.
(94) A : Leiro, patama beli ne motora dana. Na male ba ne.
„Anak, masukkan motor itu ke dalam. Hari sudah malam‟
B : O‟o, Ama.
„Iya, Bapak.‟
(95) A : Wotto, tolong isi beli gai pulsa 5 rata.
‘Nona, tolong isikan saya pulsa lima ribu’
B : Arroge dai kaiki ritigu ge Na’a.
„Aduh, saya tidak punya uang, kakak.‟
Contoh dialog (94) dan (95) menunjukkan adanya pengaruh faktor jenis
kelamin. Dalam contoh (94) terdapat sapaan Leiro dan Ama. Penutur
menggunakan sapaan Leiro karena mitra tutur yang diajak bicara berjenis kelamin
perempuan dan mitra tutur menanggapi penyapa dengan menggunakan kata
sapaan Ama yang menunjukkan bahwa penutur atau penyapa berjenis kelamin
laki-laki. Sedangkan pada contoh (95) terdapat kata sapaan Wotto dan Na’a.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
72
Penutur menggunakan sapaan Wotto karena mitra tutur berjenis kelamin
perempuan dan mitra tutur menggunakan sapaan Na’a karena penyapa berjenis
kelamin laki-laki. Penggunaan sapaan-sapaan pada contoh dialog di atas juga
dipengaruhi oleh faktor lain, yaitu faktor hubungan kekerabatan.
Berikut contoh dialog yang juga menunjukkan perbedaan jenis kelamin.
(96) A : Ibu sutera,na ana gu bisa kana priksa dara lengkap belli ne
lodo?
„Ibu Suster, Apakah hari ini anak saya boleh menjalani
pemeriksaan darah lengkap?‟
B : „O’o na bisa we Bapa.’
„Iya, sudah boleh, Bapak.‟
(97) A : Ge la’a mu, maromba?
„Mau ke mana, Pater?
B : Etiga pimpin misa ne wanno kalembuweri?
„Saya mau pergi pimpin misa di kampung kalembuweri‟
3.8 Faktor Situasi
Faktor situasi juga mempengaruhi penggunaan sapaan dalam bahasa
Weejewa. Situasi adalah unsur-unsur luar bahasa yang berhubungan dengan
ujaran
atua
wacana
sehingga
ujaran
atau
wacana
tersebut
bermakna
(Kridalaksana, 1982: 115). Dalam hal ini, situasi yang dimaksud adalah situasi
resmi dan situasi tidak resmi.
Pemakaian kata sapaan dalam bahasa Weejewa sebagian besar terjadi
dalam situasi tidak resmi atau santai. Dalam situasi ini penutur dan lawan bicara
tidak terikat pada hubungan-hubungan atau kepentingan yang bersifat
resmi/formal.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
73
Dalam situasi resmi, seperti kegiatan adat perkawinan misalnya, sapaan
yang biasa digunakan untuk kepala desa/lurah atau pastor/romo sesuai dengan
jabatan dan kedudukannya. Dalam hal ini, seseorang yang umurnya lebih tua
daripada kepala desa/lurah atau pastor/romo tersebut tetap akan menyapa kepala
desa/lurah atau pastor/romo dengan sapaan Pak Lurah dan pastor/room dengan
maromba.
Sebagaimana dalam kehidupan masyarakat Sumba Barat Daya, yakni
dalam kegiatan adat perkawinan, misalnya masuk minta/meminang, keluarga akan
mengirim utusan yang disebut ata panewe. Jika yang menjadi ata panewe itu
seorang Ayah dan anaknya adalah Lurah atau romo/pastor, sang ayah akan
menyapa anaknya yang berstatus sebagai Lurah/pastor/romo itu dengan sapaan
Pak Lurah/Maromba bukan menggunakan sapaan yang biasa digunakan ketika
sedang berada di rumah. Hal tersebut terjadi dalam kegiatan resmi/formal lainnya.
Seorang ayah/ibu biasa menggunakan sapaan Pak Bupati atau Pak Dokter kepada
anaknya jika anaknya mempunyai kedudukan sebagai Bupati/Dokter. Demikian
pula halnya dengan seorang yang bekerja sebagai guru akan disapa toung guru
oleh ayah/ibunya jika peristiwa tutur itu berlangsung dalam situasi resmi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
74
3.9 Faktor Asal Penutur
Faktor asal penutur juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi
penggunaan sapaan dalam bahasa Weejewa. Dalam hal ini, kata sapaan yang
digunakan oleh penutur kepada mitra tutur berubah sesuai dengan asal penutur.
Dalam peristiwa komunikasi, ada beberapa sapaan yang digunakan oleh
masyarakat di perkotaan berbeda dengan di desa, khususnya sapaan kekerabatan.
Misalnya, seorang cucu yang baru datang dari kota akan menyapa kakeknya
dengan kata „Opa‟ bukan „Ama Kaweda’. Hal tersebut disebabkan penutur
merupakan orang yang baru datang /tinggal di kota. Sapaan untuk menyapa kakek
kandung di masyarakat perkotaan bukan lagi „Ama Kaweda’ melainkan „Opa‟.
Kata sapaan lain yang dipengaruhi oleh faktor asal penutur, yaitu Inna Kaweda
menjadi Oma , Cama menjadi tante, dan
Loka menjadi Om. Sapaan-sapaan
tersebut dipandang juga sebagai pembeda antara orang berpendidikan dengan
yang tidak. Artinya, orang yang tinggal di kota diangap memiliki pendidikan lebih
baik daripada yang tinggal di desa.
Berikut beberapa contoh dialog yang menunjukkan penggunaan sapaan
yang dipengaruhi oleh faktor penutur. Berikut contoh dialog (98) menunjukkan
seorang cucu yang baru datang dari kota/tinggal di kota berbicara kepada
kakeknya dan contoh dialog (99) menunjukkan seorang anak yang juga baru
datang atau tinggal di kota berbicara kepada bibinya.
(98) A : Opa, masih nga’a po pama’ma debe hinna?
„Kakek, apakah kakek masih makan srih dan pinang saat ini?
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
75
B : Mando’i ba ku ngau nga’a pamama debe hinna. Da’i ba
ngundugu ge, Tamoama.
„Sudah lama saya berhenti makan sirih dan pinang. Saya
sudah tidak ada gigi lagi sekarang, cucu.‟
(99) A : Tante, pirra ba anamu debe hinna?
„Kakek, apakah kakek masih makan srih dan pinang saat ini?
B : Dua’da ba ana gu nebe hinna, Anakabine.
„Anak saya sudah dua, ponakan.‟
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab II dan bab III, didapatkan dua temuan.
Pertama, Jenis-jenis sapaan dalam bahasa Weejewa di Kabupaten Sumba Barat
Daya berdasarkan referannya dapat dibedakaan atas (a) sapaan berdasarkan
hubungan kekerabatan (Ama Kaweda, Inna Kaweda, Ama, Inna, Ana Mane, Ana
Mawine, Leiro, Na’a. Wotto, Umbu, Tamoama, Tamoina, Aiba, Amaangua,
Inaangua, Loka, Cama, Anakabine, Anguleba, Olebei, Wera, Wera, Olesawa,
Wasse, Ippa), (b) hubungan nonkekerbatan (Kaweda, Paiina, Tante,Paama, Om,
Ka’a, Alli), (c) sapaan berdasarkan profesi/jabatan (Toung guru kabani (laki-laki),
Toung guru mawine (perempuan), (ba)pak/(i)bu guru, (ba)pak/(i)bu bupati,
(ba)pak/(i)bu camat, (ba)pak/(i)bu sekretaris camat (sekcam), (ba)pak/(i)bu
lurah, (ba)pak/(i)bu Dotera ‘dokter’, (i)bu sutera ‘suster’, (i)bu bidan),
(d)
sapaan berdasarkan nama yang mencakup nama lengkap (Tina, Rini, dsb), nama
penggal (Martinus menjadi tinus/nus),dan nama anak pertama/terakhir (Ama
rinto/Inna rinto), (e) sapaan berdasarkan kata ganti mencakup kata ganti orang
kedua tunggal (Wo’u, Oda, Ole) dan kata ganti orang kedua jamak (Yemmi), (f)
sapaan berdasarkan status sosial (Nyora, Maromba, Tokko, Rato, Dawa).
Kedua,
faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian sapaan dalam
bahasa Weejewa, adalah (a) faktor kekerabatan, (b) faktor profesi/jabatan, (c)
faktor perbedaan status sosial, (d) faktor perbedaan jenis kelamin, (e) faktor
perbedaan usia, (f) faktor situasi dan (g) perbedaan asal penutur.
76
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
77
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat Sumba
Barat Daya sangat mengutamakan
atau menempatkan hubungan kekerabatan
sebagai sesuatu yang penting dalam budaya komunikasi. Hal tersebut dapat dilihat
dengan banyaknya jumlah sapaan pada hubungan kekerabatan, yaitu 25 (50%)
kata sapaan dibandingkan dengan jumlah sapaan berdasarkan hubungan
nonkekerabatan, berdasarkan jabatan/profesi, berdasarkan berdasarkan nama,
berdasarkan kata ganti, dan berdasarkan status sosial.
4.2 Saran
Di Indonesia terdapat 1158 bahasa daerah. Sistem bahasa-bahasa daerah
tersebut menunjukkan representasi dari pola budaya masyarakat penuturnya,
termasuk sapaan. Oleh karena itu penelitian-penelitian tentang sistem sapaan
dalam bahasa daerah perlu dilakukan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. “Geografi dan Peta Wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya”.
Diunduh dari:http://sbdkab.go.id/lama/index.php/selayangpandang/geografi:
23/05/2017, 16:21.
________. 2015. “Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumba Barat Daya”. Diunduh
dari: https://sumbabaratdayakab.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/7:
23/05/2017, 16:56.
Chaer, Abdul. 1994. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit
Bhatara.
_________. 1998. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia.Jakarta: Rineka Cipta.
Gusthia, M., Morelent, Y., & Gusnetti.(2014).Kata Sapaan Bahasa Minangkabau
Di Kanagarian Lubuk Ulang Aling Selatan Kecamatan Sangkir Batang
Hari Kabupaten Solok Selatan.Dalam Jurnal Bahasa dan Seni, Vol. 3
No.7, hlm.1-12.
Hasna, 1995.Kata sapaan bahasa Minangkabau dalam Hubungan Perkawinan di
Kecamatan Kota Kampuang Dalam Pariaman. Dapartemen Pendidikan
dan Kebudayaan.Pusat penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.
Hasan Alwi. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.Jakarta : Balai Pustaka.
Holmes, Janet. 2013. An Introduction to Sociolinguistics: Fourth Edition: London
and New York: Routledge Taylor & Francis Group.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus linguistik. Jakarta: penerbit gramedia.
Koentjaraningrat. 1974. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian
Rakyat.
Kusuma, Trimastoyo Jati. (2007). Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa.
Cetakan I, hlm.41-73. Yogyakarta : Carasvatibooks.
Lisniarti, H.Faizah, AR., dan Auzar (2015).“Sistem Sapaan Bahasa Melayu Riau
Subdialek Inuman Kabupaten Kuantan Singingi. Jurnal Online
78
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
79
Mahasiswa (JOM)”. Bidang Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Vol 2 No.1,
hlm. 1-13.
Mansur, M. Yahya. 1988. “Sistem Kekerabatan (Kinship) Masyarakat Aceh Utara
dan Aceh Besar” dalam Sistem Kekerabatan dan Pola Pewarisan.
Jakarta:Pustaka Grafika Kita.
Muzamil, dkk. 1997. Sistem Sapaan Bahasa Melayu Sambas. Jakarta. Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan.
Nababan, P.W.J. 1991. Sosiolingustik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Nasution, M. Dj., Sulistiati, dan S.M.Atika. 1994. Sistem Sapaan Dialek
Jakarta.p. 7. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Pateda, Mansoer. 1986. Semantik Leksikal. Flores: Nusa Indah.
Sari, N., Ermanto, dan Ismail M. 2013. “Sistem Kata Sapaan Kekerabatan dalam
Bahasa Melayu di Kepenghuluan Bangko Kiri Kecamatan Bangko
Pusako Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau”. Dalam jurnal Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 1, No. 2, Maret 2013, hlm. 513-520.
Sartika, Maria Anggelina. 2017. “Sapaan dalam Bahasa Manggarai di Provinsi
Nusa Tenggara Timur”. Skripsi pada Program Studi Sastra Indonesia,
Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo
Persada
Subagyo, P. Ari. 2010. “Penggunaan Bahasa di Universitas Sanata Dharma: Potret
Sekilas Bahasa Indonesia di Era Globalisasi”. Dalam Jurnal, Rampak
Serantau, Bilangan 17 Maret 2010. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan
Pustaka, hlm. 236.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa; Pengantar
Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta; Duta
wacana University pers.
_______. 2015. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa; Pengantar Penelitian
Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Jakarta: Diandra Primamitra.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
80
Suhardi, R., Wijana, H. Abubakar, dan Soenaron.1985. Sistem Sapaan Bahasa
Jawa .Yogyakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Supriyanto, dkk. 1986. Penelitian Bentuk Sapaan Bahasa Jawa Dialek Jawa
Timur. Jakarta :Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Dapertemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Syafyahya, L., Aslinda, Noviatri, dan Efriyades. 2000. Kata Sapaan Bahasa
Minangkabau di Kabupaten Agam. 3.Jakarta : Pusat Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995. Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Wardhaugh, Ronald. 2010. An Introduction to Sociolinguistics: Wiley-Blackwell.
Wijana, D. P dan M. Rohmadi.2011. Semantik Teori dan Analisis. Surakarta:
Yuma Pustaka.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
81
LAMPIRAN 1
DAFTAR JENIS-JENIS SAPAAN DALAM BAHASA WEEJEWA
No Penyapa
Lawan tutur
A Kata Sapaan Hubungan Kekerabatan
Kata Sapaan
1
2
3
4
Ego
Ego
Ego
Ego
kakek kandung
Nenek kandung
Ayah kandung
Ibu kandung
Ama Kaweda
Inna Kaweda
Ama
Inna
5
Ego
Anak laki-laki kandung
Ana Mane
6
7
Ego
Ego
Ana Mawine
Leiro
8
9
10
11
Ego
Ego
Ego
Ego
12
Ego
13
14
15
16
17
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
18
19
20
21
22
23
24
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Anak peremppuan kandung
Anak perempuan yang memiliki
hubungan kerabat
Kakak/adik laki-laki
Kakak/adik perempuan
Cucu laki-laki/perempuan
Cucu yang mempunyai nama
sama dengan kakek kandung
Cucu yang mempunyai nama
sama dengan nenek kandung
Cicit perempuan/laki-laki
Saudara laki-laki kandung ayah
Saudara perempuan kandung Ibu
Saudara laki-laki kandung ibu
Saudara perempuan kandung
ayah
Keponakan laki/perempuan
Sepupu dari pihak Ayah
Sepupu dari pihak Ibu
Mertu laki-laki/perempuan
Besan laki-laki/perempuan
Saudara ipar laki-laki
Anak menantu perempuan/lakilaki
Na’a
Wotto
Umbu
Tamoama
Tamoina
Aiba
Amaangua
Inaangua
Loka
Cama
Anakabine
Anguleba
Olebei
Wera
Wera
Olesawa
Wasse
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
82
25
Ego
B
26
27
28
30
Kata Sapaan Hubungan Nonkekerabatan
Ego
Orang tua sebaya kakek/nenek
Ego
Orang sebaya ibu
Ego
Orang sebaya Ayah
Orang sebaya kakak lakiEgo
laki/perempuan
Orang sebaya adik lakiEgo
laki/perempuan
C
31
Kata Sapaan Berdasarkan Nama Diri
Ego
32
Ego
D
33
36
Kata Sapaan Berdasarkan Kata Ganti
Ego
Orang yang umurnya sebaya
dengan penutur atau lebih muda
dari penutur
Ego
Orang yang umurrya sebaya
dengan penutur
Ego
Orang yang umurrya sebaya
dengan penutur
Ego
E
37
38
39
40
41
Kata Sapaan Berdasarkan Kata Ganti
Ego
Nyonya
Ego
Tuan
Ego
Raja
Ego
Raja
Ego
Orang kota
F
42
43
44
45
Kata Sapaan Berdasarkan Jabatan/profesi
Ego
Bupati
Ego
Camat
Ego
Sekcam
Ego
Lurah
46
Ego
29
34
35
Saudara ipar perempuan
Guru (laki-laki)
Ippa
Kaweda
Painna
pa’ama
Ka’a
Alli
Menyebut nama lengkap/penggal
Menyebut nama anak
pertama/terakhir
Wou
Oda
Ole
Yemmi
Nyora
Maromba
Tokko
Rato
Dawa
Pak Bupati, Bapak Bupati
Pak camata, Pak, Bapak Camata
Pak/bu sekcam, Bapak/ibu sekcam.
Pak lurah, Bapak Lurah, Pak
Toungguru, Toungguru kabani, Pak,
Pak guru, Bapak Guru, Guru
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
83
47
48
49
50
Ego
Ego
Ego
Ego
Guru (perempuan)
Suster
Dokter
Bidan
Toungguru, Toungguru mawine, Bu,
Bu
Guru, Ibu Guru, Guru
Sutera, Bu suter, ibu suter
Dotera, Pak Dotera, bapak dokter
Bu bidan, Ibu bidan, Ibu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
84
LAMPIRAN II
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN SAPAAN DALAM BAHASA WEEJEWA
Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan sapaan
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
Penyapa
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Kata
Sapaan
Kekerabatan
Jenis kelamin
Usia
Keakraban
Kerabat
Bukan
kerabat
Pria
Wanita
Tua
Muda
Akrab
Tidak
Akrab
Ama
Inna
Ana Mane
Ana Mawine
Leiro
Na’a
Wotto
Ama Kaweda
Opa
Inna Kaweda
Oma
Umbu
Tamoama
Tamoina
Aiba
Amaangua
Inaangua
Loka
Om
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
Status Profesi/
Sosial Jabatan
-
-
Asal penutur
Desa
Kota
+
+
+
-
+
+
+
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
85
Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan sapaan
NO
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
Penyapa
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Kata
Sapaan
Kekerabatan
Jenis kelamin
Kerabat
Bukan
kerabat
Pria
Wanita
Tua
Muda
Akrab
Tidak
Akrab
Cama
Tante
Anakabine
Anguleba
Olebei
Wera
Wera
Olesawa
Wasse
Ippa
Kaweda
Painna
pa’ama
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
Usia
Keakraban
Status Profesi/
Sosial Jabatan
-
-
Asal penutur
Desa
Kota
+
-
+
-
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
86
Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan sapaan
NO
Penyapa
33
34
Ego
Ego
35
Ego
36
Ego
37
38
39
40
41
42
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Ego
Kata
Sapaan
Ka’a
Alli
Menyebut
nama
lengkap/peng
gal
Menyebut
nama anak
pertama/terak
hir
Wou
Oda
Ole
Yemmi
Nyora
Maromba
Kekerabatan
Jenis kelamin
Usia
Keakraban
Status Profesi/
Sosial Jabatan
Kerabat
Bukan
kerabat
Pria
Wanita
Tua
Muda
Akrab
Tidak
Akrab
-
+
+
+
+
+
+
+
-
+
-
+
+
-
+
+
+
+
-
+
+
-
+
+
+
+
-
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
Asal penutur
Desa
Kota
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
+
+
+
+
+
+
+
-
-
-
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
87
Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan sapaan
NO
Penyapa
Kata
Sapaan
Kekerabatan
Jenis kelamin
Usia
Keakraban
Kerabat
Bukan
kerabat
Pria
Wanita
Tua
Muda
Akrab
Tidak
Akrab
Status Profesi/
Sosial Jabatan
Asal penutur
Desa
Kota
43
44
45
Ego
Ego
Ego
Tokko
Rato
Dawa
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
-
-
-
-
46
Ego
(ba) pak diikuti
profesi/jabatan
-
+
+
-
+
+
+
-
-
+
-
-
47
Ego
+
+
-
+
+
+
+
-
-
+
-
-
48
Ego
-
+
+
-
+
+
-
+
-
+
-
-
49
Ego
-
+
-
+
+
+
+
-
-
-
-
-
(i)Bu diikuti
profesi/jabatan
Toungguru,
Toungguru
kabani,
Toungguru,
Toungguru
mawine
Download