analisa kapasitas terpasang dan terpakai mesin las

advertisement
PROSIDING 2012©
Arsitektur
Elektro
Geologi
Mesin
HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK
Perkapalan
Sipil
ANALISA KAPASITAS TERPASANG DAN TERPAKAI
MESIN LAS SMAW BERDASARKAN PERMINTAAN
PEKERJAAN REPARASI KAPAL
A. Muhiddin Rauf, Wahyuddin, Azis Abdul Karim & A. Aswandi
Program Studi Teknik Perkapalan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Tamalanrea – Makassar, 90245
Telp./Fax: (0411) 585637
e-mail: [email protected]
Abstrak
Sumber daya mesin las di galangan kapal beserta faktor-faktor produksi lainnya harus
dikelola secara bersama-sama untuk menghasilkan produk dan jasa secara efisien, efektif
dan aman. Oleh karena itu perlu diketahui besar kapasitas terpasang mesin las sebagai
dasar dalam memprediksi/menentukan volume pekerjaan yang dapat ditangani atau dilayani
mesin las tersebut. Sedangkan besaran kapasitas terpakai perlu diketahui untuk menentukan
daya serap mesin las terhadap volume pekerjaan pada periode tertentu. Fokus utama
penelitian adalah menentukan besar kapasitas terpasang dan kapasitas terpakai mesin las
SMAW berdasarkan permintaan reparasi pada selang waktu 2007 sampai dengan 2011 di
galangan PT. Industri Kapal Indonesia Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kapasitas terpasang (design or rated capacity) mesin las SMAW adalah sebesar 76444 jam
kerja/tahun. Kapasitas terpakai (capacity put to use) sebesar 30406 jam kerja/tahun.
Utilisasi kapasitas (capacity utilization) sebesar 39,8 % artinya terjadi kesenjangan
kapasitas sebesar 60,2 % atau terjadi kelebihan kapasitas (excess capacity) mesin las
SMAW sebanyak 43 unit dari total 72 unit.
Kata Kunci: sumber daya, mesin las, kapasitas terpasang, kapasitas terpakai, utilisasi
kapasitas, reparasi kapal
PENDAHULUAN
Galangan kapal adalah suatu tempat dimana faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja (man), bahan (material),
peralatan dan mesin (machine), tata cara kerja (method), dana (money), area pembangunan (space) dan sistem
(system) dikelola dalam suatu sistem produksi untuk menghasilkan produk (kapal, struktur bangunan lepas
pantai (offshore structures), bangunan apung (floating plants) dan jasa (reparasi atau perbaikan dan penyewaan
galangan) secara efisien, efektif dan aman (Wahyuddin, 2011).
Pembangunan Kapal adalah industri konstruksi yang menggunakan berbagai jenis komponen yang
dimanufaktur/diolah dari bahan baku, setengah jadi dan jadi. Industri ini, memerlukan banyak pekerja dari
berbagai keahlian, lokasi, peralatan serta struktur organisasi yang baik. Tujuan utama perusahaan pembangunan
kapal adalah mendapatkan keuntungan dari pembangunan kapal (Storch R.L et al, 1995).
PT. IKI (Industri Kapal Indonesia) persero Makassar merupakan sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di
bidang pembuatan kapal, reparasi kapal, alat apung, dan produk jasa lainnya untuk mendukung pembangunan
angkutan laut nasional maupun internasional serta menjadi pusat pengembangan industri maritim di kawasan
Timur Indonesia, (www.ikishipyard.com).
Di tengah perkembangan industri maritim Indonesia yang potensial, perusahaan ini justru mengalami
penurunan permintaan bangunan baru dan reparasi kapal. Hal ini terlihat dari penelitian Musrina (2011), bahwa
rerata jumlah permintaan reparasi dari tahun 2007 – 2011 sebesar 33 kapal/Tahun atau 29.309 GT/tahun artinya
mengalami penurunan sekitar 47 % dari data yang dikeluarkan IPERINDO (2009) yang menyebutkan kapasitas
reparasi galangan IKI Makassar dan Bitung sebesar 112.500 GT/tahun. Apabila diasumsikan separuh kapasitas
diperuntukkan bagi galangan IKI Makassar maka besarnya sekitar 56.250 GT/tahun.
Volume 6 : Desember 2012
Group Teknik Perkapalan
TP1 - 1
ISBN : 978-979-127255-0-6
Analisa Kapasitas Terpasang dan…
Arsitektur
Elektro
Geologi
A. Muhiddin Rauf, Wahyuddin, Azis Abdul Karim & A. Aswandi
Mesin
Perkapalan
Sipil
Berdasarkan fenomena di atas tentunya menjadi situasi yang sulit bagi galangan dan diduga bahwa fasilitas
produksi terutama mesin las SMAW akan mengalami kelebihan kapasitas (excess capacity) karena kurangya
permintaan kerja. Oleh karena itu perlu pendalaman lebih lanjut untuk mengetahui berapa kapasitas terpasang
(design or rate capacity) mesin las SMAW saat ini, berapa kapasitas terpakai (capacity put to use) berdasarkan
permintaan reparasi dan terakhir utilisasi kapasitas (capacity utilization) mesin las SMAW.
TINJAUAN PUSTAKA
Galangan kapal adalah suatu tempat dimana faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja (man), bahan (material),
peralatan dan mesin (machine), tata cara kerja (method), dana (money), area pembangunan (space) dan sistem
(system) dikelola dalam suatu sistem produksi untuk menghasilkan produk (kapal, struktur bangunan lepas
pantai (offshore structures), bangunan apung (floating plants) dan jasa (reparasi atau perbaikan dan penyewaan
galangan) secara efisien, efektif dan aman (Wahyuddin, 2011).
Fasilitas Galangan
Suatu Galangan Kapal, minimal mempunyai fasilitas-fasilitas sebagai berikut (Storch., et.al, 1995):
1. Fasilitas Material Handling
Fasilitas material handling merupakan suatu fasilitas galangan yang berfungsi untuk penanganan material.
Fasilitas material handling terdiri dari:
a. Kendaraan industri (fork lift, transporter, etc)
b. Crane (bridge crane, jib crane, gantry crane, mobil crane)
c. Ban berjalan (Conveyor)
2. Fasilitas Produksi
Fasilitas Produksi merupakan suatu fasilitas galangan yang berfungsi untuk tempat penggambaran dengan skala
1 : 1, pemotongan dan pembentukan pelat, profil dan pipa serta pengelasan untuk merakit bagian-bagian
struktur kapal dan system perpipaan. Fasilitas produksi terdiri dari:
a. Lantai kerja ( Mold Loft and Marking )
b. Cutting and preparation
c. Blasting dan painting
d. Pipe pabrication
e. Welding
3. Fasilitas Gudang ( Warehouse Facility )
Tempat yang memiliki fungsi sebagai penyimpanan bahan baku pembuatan kapal atau peralatan yang
digunakan untuk penggunaan pembangunan kapal.
4. Fasilitas Building Bert / Dock
Biasa disebut landasan pembangunan kapal atau dok, umumnya dilengkapi dengan alat angkat (crane).
Landasan pembangunan kapal, mempunyai paling tidak 1 (satu) lajur balok konstruksi beton, yang merupakan
landasan untuk meletakkan lunas kapal pada saat pembangunan kapal (baru). Jenis Fasilitas pengedokan yaitu:
a. Graving dock
b. Slip way
c. Floating dock
Kapasitas
Menurut K. C. Arora (2004) dan B. Mahadevan (2009) kapasitas secara umum diukur terhadap unit fisik
misalnya laju produksi maksimal atau batas kemampuan produksi dan jasa dalam rentang waktu tertentu,
biasanya dinyatakan dengan istilah unit keluaran per unit waktu. Jadi kapasitas itu merupakan ukuran
kemampuan produktif suatu fasilitas per unit waktu.
Menurut Handoko (1993), definisi-definisi kapasitas yang secara umum diterima, dapat dibedakan sebagai
berikut:
ISBN : 978-979-127255-0-6
Group Teknik Perkapalan
TP1 - 2
Volume 6 : Desember 2012
PROSIDING 2012©
Arsitektur
a.
b.
c.
d.
e.
Elektro
Geologi
Mesin
HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK
Perkapalan
Sipil
Design capacity
Yaitu tingkat keluaran per satuan waktu untuk mana pabrik itu dirancang
Rated capacity
Yaitu tingkat keluaran per satuan waktu yang menunjukkan bahwa fasilitas secara teoritis mempunyai
kemampuan memproduksinya. (Biasanya lebih besar dari pada design capacity karena perbaikan-perbaikan
periodik dilakukan terhadap mesin-mesin atau proses-proses).
Standard capacity
Yaitu tingkat keluaran per satuan waktu yang ditetapkan sebagai “sasaran“ pengoperasian bagi manajemen,
supervisi, dan para operator mesin; dapat digunakan sebagai dasar penyusunan anggaran. Kapasitas standar
adalah sama dengan rated capacity dikurangi cadangan keperluan pribadi standar, tingkat sisa (scraft)
standar, berhenti untuk pemeliharaan standar, cadangan untuk pengawasan kualitas standar dan sebagainya.
Actual/operating capacity
Yaitu tingkat keluaran rata-rata per satuan waktu selama periode-periode waktu yang telah lewat. Ini adalah
kapasitas standar ± cadangan-cadangan, penundaan, tingkat sisa nyata, dan sebagainya.
Peak capacity
Yaitu jumlah keluaran satuan waktu (mungkin lebih rendah dari rated, tetapi lebih besar dari pada standard)
yang dapat dicapai melalui maksimasi keluaran, dan mungkin dilakukan dengan kerja lembur,
menghapuskan penundaan-penundaan, mengurangi jam istirahat, dan sebagainya.
Kapasitas atau tingkat keluaran ini pada umumnya dinyatakan dalam satuan-satuan sebutan persamaan, seperti
batang, ton, kilogram, meter, atau jam kerja yang tersedia. Sedangkan satuan-satuan waktu yang sangat penting
bagi perencanaan kapasitas, dapat dinyatakan dalam satuan seperti jam, hari, minggu, bulan. Dalam praktek, di
antara pengertian-pengertian kapasitas di atas, perusahaan biasanya menggunakan tingkat kapasitas nyata atau
kapasitas pengoperasian yang ditentukan dari laporan-laporan atau catatan-catatan pusat kerja. Bila informasi
ini tidak tersedia, “rated capacity” digunakan dan dapat diperkirakan dengan rumusan:
π‘…π‘Žπ‘‘π‘’π‘‘ πΆπ‘Žπ‘π‘Žπ‘π‘–π‘‘π‘¦ = π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘šπ‘’π‘ π‘–π‘› π‘₯ π‘—π‘Žπ‘š π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž π‘šπ‘’π‘ π‘–π‘› π‘₯ π‘˜π‘’π‘‘π‘–π‘™π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘₯ 𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 π‘ π‘–π‘ π‘‘π‘’π‘š
(1)
Kapasitas yang dinyatakan sebagai suatu “rated” tersebut (misalnya, jam standar per minggu) di pengaruhi oleh
berbagai faktor, baik faktor-faktor yang dapat dikendalikan (controllable) seperti tanah, tenaga kerja, fasilitas,
alternatif urutan pekerjaan, pemeliharaan preventif, dan sebagainya, maupun faktor-faktor yang tidak dapat
dikendalikan (uncontrollable) seperti kerusakan mesin, tingkat absensi, kekurangan bahan, pengerjaan kembali
dan sisa produksi, prestasi tenaga kerja, dan masalah-masalah peralatan yang tidak biasa.
Menurut B. Manavedan (2009), kapasitas secara praktis yang digunakan oleh para manufaktur Jepang adalah:
πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  = π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž + π‘π‘’π‘šπ‘π‘œπ‘Ÿπ‘œπ‘ π‘Žπ‘› (π‘€π‘Žπ‘ π‘‘π‘’)
Perusahaan Canon mendeskripsikan sembilan (9) tipe pemborosan yang biasanya didapati dalam sebuah sistem
produksi, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Pemborosan di perencanaan (waste in planning).
Pemborosan di pengoperasian (waste in operations).
Pemborosan saat memulai pekerjaan (waste in start-up).
Pemborosan di peralatan (waste in equipment).
Pemborosan akibat kerusakan/cacat (waste in defects).
Pemborosan di material (waste in materials).
Pemborosan di tenaga kerja langsung (waste in indirect labor).
Pemborosan sumber daya manusia (waste in human resources).
Pemborosan biaya-biaya (waste in expense).
Kelima pemborosan secara berurutan berhubungan/mempengaruhi langsung kapasitas.
Produktivitas
Proses produksi dapat didefinisikan sebagai rangkaian aktivitas yang diperlukan untuk mengelola sekumpulan
masukan (input) menjadi sejumlah keluaran (output) yang memiliki nilai tambah (added value).
Volume 6 : Desember 2012
Group Teknik Perkapalan
TP1 - 3
ISBN : 978-979-127255-0-6
Analisa Kapasitas Terpasang dan…
Arsitektur
Elektro
Geologi
A. Muhiddin Rauf, Wahyuddin, Azis Abdul Karim & A. Aswandi
Mesin
Perkapalan
Sipil
Menurut Wignjoseobroto (2003) dan D.K. Mishra (2009), produktivitas dapat diukur berdasarkan pengukuran
berikut:
π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘‘π‘’π‘˜π‘‘π‘–π‘£π‘–π‘‘π‘Žπ‘  =
𝑂𝑒𝑑𝑝𝑒𝑑 (𝑂)
π‘ƒπ‘’π‘›π‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘–π‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘—π‘’π‘Žπ‘›
=
𝐼𝑛𝑝𝑒𝑑 (𝐼)
π‘ƒπ‘’π‘›π‘”π‘”π‘’π‘›π‘Žπ‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘šπ‘π‘’π‘Ÿ π‘‘π‘Žπ‘¦π‘Ž
(2)
Formula di atas dapat digunakan untuk mengukur penambahan atau pengukuran produktivitas dengan jalan
menghitung rasio indeks keluaran dengan indeks masukan. Semakin tinggi angka perbandingan O/I maka
semakin besar pula produktivitasnya, demikian pula sebaliknya perbandingan O/I semakin rendah menunjukkan
tingkat produktivitas yang kecil.
Utilitas
Menurut Brown (1992), utilisasi kapasitas ditentukan per tahun kalender dengan menjumlahkan semua bulan
yang dipakai dan membaginya dengan jumlah total bulan yang tersedia.
Menurut Apple, J.M dan Rickel H.V dalam Ichwan (2007), utilisasi adalah perbandingan/selisih antara keluaran
yang dihasilkan dengan keluaran yang diketahui secara teori, seperti persamaan 3.
π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘‘π‘’π‘˜π‘‘π‘–π‘£π‘–π‘‘π‘Žπ‘  =
π΄π‘π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ π‘œπ‘’π‘‘π‘π‘’π‘‘
π‘‘β„Žπ‘’π‘œπ‘Ÿπ‘–π‘‘π‘–π‘π‘Žπ‘™ π‘œπ‘’π‘‘π‘π‘’π‘‘
(3)
Utilisasi adalah merupakan perbandingan dari actual output yang bisa dihasilkan dari suatu fasilitas produksi
dengan total kapasitas teoritisnya. Rasio ini akan mengukur seberapa jauh suatu fasilitas produksi benar-benar
sudah dimanfaatkan.
Menurut B. Manavedan (2009), utilisasi kapasitas diukur sebagai rasio antara kapasitas terpakai (capacity put to
use) dengan kapasitas terpasang (total available capacity) dalam satuan waktu, seperti persamaan 4.
π‘ˆπ‘‘π‘–π‘™π‘–π‘§π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘› π‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘π‘–π‘‘π‘¦ =
πΆπ‘Žπ‘π‘Žπ‘π‘–π‘‘π‘¦ 𝑝𝑒𝑑 π‘‘π‘œ 𝑒𝑠𝑒
π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π‘Žπ‘£π‘Žπ‘–π‘™π‘Žπ‘π‘™π‘’ π‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘π‘–π‘‘π‘¦
(4)
Las Busur Listrik (SMAW)
Proses SMAW juga dikenal dengan istilah proses MMAW (Manual Metal Arc Welding). Dalam pengelasan ini,
logam induk mengalami pencairan akibat pemanasan dari busur listrik yang timbul antara ujung elektroda dan
permukaan benda kerja. Busur listrik yang ada dibangkitkan dari suatu mesin las. Elektroda yang dipakai
berupa kawat yang dibungkus oleh pelindung berupa fluks dan karena itu elektroda las kadang-kadang disebut
kawat las.
Elektroda selama pengelasan akan mengalami pencairan bersama-sama dengan logam induk yang menjadi
bagian kampuh las. Dengan adanya pencairan ini maka kampuh las akan terisi oleh logam cair yang berasal dari
elektroda dan logam induk. Untuk dapat mengelas dengan proses SMAW diperlukan beberapa peralatan, seperti
mesin las, kabel elektroda dan pemegang elektroda, kabel logam induk dan penjepit logam induk serta
elektroda. Selain mencairkan kawat las yang nantinya akan membeku menjadi logam las, busur listrik juga ikut
mencairkan fluks. Karena masa jenisnya yang kecil dari logam las maka fluks berada di atas logam las pada saat
cair. Kemudian setelah membeku fluks cair ini menjadi terak yang membentuk logam las. Dengan demikian,
fluks cair akan melindungi kumbangan las selama mencair dan terak melindungi logam las selama pembekuan.
Terak ini nantinya harus dihilangkan dari permukaan logam las dengan menggunakan palu atau digerinda
(Wiryosumarto, 1988).
SMAW merupakan proses las yang sering digunakan dalam proses pengelasan karena biayanya murah,
flexibility (mampu mengelas material yang tebal maupun tipis dan mampu digunakan dengan posisi apapun),
portability (mesinnya mudah untuk dipindah-pindah), dan versatility (dapat digunakan untuk mengelas logam
maupun alloy termasuk besi, stainless steel, dan nikel). Keuntungan lainnya dalam menggunakan SMAW
adalah filler material yang murah.
ISBN : 978-979-127255-0-6
Group Teknik Perkapalan
TP1 - 4
Volume 6 : Desember 2012
PROSIDING 2012©
Arsitektur
Elektro
Geologi
Mesin
HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK
Perkapalan
Sipil
Kelemahannya adalah lambat dalam penggunaan karena harus mengganti elektroda jika sudah habis, terdapat
lapisan slag yang harus dihilangkan, untuk elektroda low hidrogen dibutuhkan perlakuan yang khusus sebelum
digunakan, efisiensi deposisi sangat rendah. Dengan adanya kelebihan dan kekurangan tersebut aplikasi las
SMAW hanya digunakan dalam pengelasan jarak pendek (tack weld, stopper, dan lain-lain)
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Tujuan Khusus
Maksud dan Tujuan penelitian sebagaimana yang terungkap pada latar belakang di atas adalah:
ο‚· Menentukan kapasitas terpasang mesin las SMAW saat ini.
ο‚· Menentukan kapasitas terpakai mesin las SMAW berdasarkan permintaan reparasi dari tahun 2007-2011.
ο‚· Menentukan utilisasi kapasitas mesin las SMAW.
Urgensi (Keutamaan) Penelitian
Manfaat atau keutamaan penelitian ini adalah:
1. Tersedianya data dan atau informasi mengenai jumlah mesin las SMAW, jumlah ini sangat berkaitan
dengan volume pekerjaan, ketersediaan tenaga kerja dan penjadwalan.
2. Tersedianya data dan atau informasi mengenai utilitas mesin las SMAW, utilitas mesin las akan sangat
berkaitan erat dengan usaha-usaha untuk meningkatkan produktifitas kerja seperti pengurangan waktu
menunggu (delay), set-up mesin, dan ketidakpastian-ketidakpastian (uncertainty) yang bisa terjadi saat
penggunaan mesin las.
3. Tersedianya data dan atau informasi mengenai kapasitas mesin las SMAW, kapasitas ini dapat dijadikan
tolak ukur terhadap hasil yang dapat dicapai dengan sejumlah mesin las pada periode waktu tertentu.
Berdasarkan kapasitas mesin las SMAW manajemen galangan dapat membuat keputusan apakah pekerjaan
dapat dikerjakan, memprediksi berapa lama pekerjaan pengelasan dapat dilakukan, dan akhirnya dapat
mengetahui apakah kapasitas mesin las SMAW berlebih atau kurang.
METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian di lakukan di PT IKI Makassar dan data yang dikoleksi antara lain:
a.
b.
c.
Spesifikasi teknis dan jumlah mesin las SMAW.
Kondisi/keadaan mesin las SMAW.
Jumlah permintaan pekerjaan pengelasan selama tahun 2007 - 2011, dan standar jam-orang pekerjaan
pengelasan.
Analisis data dan pembahasan dibagi menjadi beberapa tahapan, sebagai berikut:
1.
2.
3.
Identifikasi Ketersediaan dan spesifikasi teknis Mesin las SMAW
Identifikasi dimaksudkan untuk mengetahui ketersediaan mesin las SMAW mencakup spesifikasi teknis,
jumlah, dan kondisi saat ini.
Menentukan kapasitas terpasang fasilitas produksi galangan kapal
Penentuan kapasitas fasilitas produksi dapat diketahui dengan menggunakan persamaan (1). Jam-kerja
atau lazim disebut (DLH) diasumsikan berdasarkan 8 jam untuk setiap hari kerja. Nilai utilitas
menggunakan hasil penelitian Ichwan (2007) sebesar 55 % atau 0,55 mencakup pengurangan
pendayagunaan fasilitas atau peralatan karena set-up mesin dan waktu delay operator.
Sedangkan efisiensi system menggunakan asumsi Hunter (1997) sebesar 95 % atau 0,95 mencakup
pengurangan ketersediaan fasilitas atau peralatan karena perawatan, reparasi, kalibrasi, pengaruh cuaca
dan pemasangan peralatan. Satuan Kapasitas terpasang yang digunakan adalah Jam.kerja/tahun.
Menentukan kapasitas terpakai fasilitas produksi galangan kapal.
Kapasitas terpakai ditentukan berdasarkan fungsi waktu baku pekerjaan pengelasan dan volume kerja
pengelasan per tahun berdasarkan permintaan pekerjaan reparasi selama selang waktu 2007 – 2011,
seperti persamaan (5) berikut:
Volume 6 : Desember 2012
Group Teknik Perkapalan
TP1 - 5
ISBN : 978-979-127255-0-6
Analisa Kapasitas Terpasang dan…
Arsitektur
Elektro
Geologi
A. Muhiddin Rauf, Wahyuddin, Azis Abdul Karim & A. Aswandi
Mesin
Perkapalan
Sipil
π‘ˆπ‘‘π‘–π‘™π‘–π‘§π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘› π‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘π‘–π‘‘π‘¦ = π‘£π‘œπ‘™π‘’π‘šπ‘’ π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿ π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘› π‘₯ π‘Šπ‘Žπ‘˜π‘‘π‘’ π‘π‘Žπ‘˜π‘’
4.
(5)
Satuan kapasitas terpakai adalah jam-kerja/tahun. Waktu baku pekerjaan pengelasan yang digunakan
adalah sebesar 0,2 jam.orang /m atau setara dengan indeks produktifitas 5 m/jam.orang menurut PT.IKI
Makassar.
Menentukan Utilisasi Kapasitas Mesin Las SMAW.
Utilisasi kapasitas adalah perbandingan antara kapasitas terpasang dengan kapasitas terpakai sebagaimana
persamaan 5.
Sedangkan kesenjangan atau in-efisiensi kapasitas dapat di tentukan berdasarkan persamaan 6.
πΎπ‘’π‘ π‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  =
πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘” − π‘˜π‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘–
π‘₯100%
πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘”
(6)
Hasil perhitungan menggunakan persamaan (5) dapat memperlihatkan besar kesenjangan kapasitas mesin
las SMAW apakah besar (kapasitas berlebih), atau kecil.
HASIL DAN BAHASAN
Ketersediaan dan Spesifikasi Teknis Mesin Las SMAW
(a)
(b)
Gambar 1. ESAB LCF 1200 (a) Galangan PT.IKI, (b) Katalog Produk ESAB
(Sumber: Stepanus, 2012 dan www.product.esab.com, 2012)
Tabel 1. Spesifikasi Teknis Mesin Las SMAW ESAB LCF 1200
Rectifiers ESAB LCF 1200
External dimensions, L x W x H mm
1020 x 870 x 1434
Weight, kg
540
Enclosure class, protection
IP 22
Mains supply, V/Hz
400/50
Fuse, slow, A
160
Mains cable, Ø mm2
4 x 50
Max output at 100% duty cycle, A
1200
Active power, P kW
81
Apparent power, S kVA
87
No load power, W
500
Open circuit voltage, V
50 – 55 – 60
Power factor at max current
0,93
Efficiency at max current
92
Setting range, A
6 – 593 (RC)
Sumber: PT.IKI Makassar dan www.products.esab.com, 2012
Fasilitas produksi di PT. Industri Kapal Indonesia (persero) antara lain mesin las SMAW, mold loft,
sandblasting machine, pipe bending, hydraulic press, automatic CNC optic T cut, brander otomatis, brander
ISBN : 978-979-127255-0-6
Group Teknik Perkapalan
TP1 - 6
Volume 6 : Desember 2012
PROSIDING 2012©
Arsitektur
Elektro
Geologi
Mesin
HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK
Perkapalan
Sipil
tangan, profile bending, lathe machine (long bed), lathe machine (medium), lathe machine (small) dan peralatan
pengecatan.
Hasil identifikasi di galangan menunjukkan bahwa banyak mesin las SMAW dalam kondisi rusak atau tidak
bisa dioperasikan, sehingga ketersediaan mesin las SMAW dari total 120 unit hanya 72 unit atau 60 % yang
dapat digunakan. Jenis mesin las yang digunakan di PT.IKI Makassar adalah ESAB LCF 1200, seperti tampak
pada gambar 1.a.
LCF 1200 ini, merupakan pengarah arus listrik (rectifiers) yang dirancang untuk memasok energy ke juru las
pada saat yang sama. Konsep multi operator ini, sangat cocok jika di instalasi tetap dan setiap operator disuplai
oleh sebuah resistor. Investasi per juru las rendah, karena suplai hanya pada satu tempat, artinya, biaya
pemeliharaan rendah. Tiga tegangan rangkaian terbuka yang berbeda, 50, 55 dan 60 volt, dapat dipilih.
Spesifikasi Teknis mesin las SMAW dan fitur dapat di lihat pada gambar 1.b dan tabel 1.
Kapasitas Terpasang Mesin Las SMAW
Kapasitas terpasang merupakan kemampuan jam kerja standar per tahun dari fasilitas produksi. Variabel yang
mempengaruhi kapasitas terpasang fasilitas produksi yaitu jumlah, utilisasi dan efisiensi sistem fasilitas
produksi.
Penentuan kapasitas terpasang mesin las SMAW menggunakan persamaan (1) sebagai berikut:
πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘” = π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘šπ‘’π‘ π‘–π‘› π‘₯ π‘—π‘Žπ‘š π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž π‘šπ‘’π‘ π‘–π‘› π‘₯ π‘˜π‘’π‘‘π‘–π‘™π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘₯ 𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 π‘ π‘–π‘ π‘‘π‘’π‘š
Jika diketahui:
Jumlah mesin
= 72 unit
Waktu kerja per tahun = hari setahun – hari sabtu-minggu – hari libur
Jam kerja mesin
Utilitas
Efisiensi sistem
= 365 – 96 – 15
= 254 hari
= Waktu kerja per tahun x Standar Jam kerja
= 254 x 8
= 2.032 jam kerja
= 0,55
= 0,95
Maka,
πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘” = 72 π‘₯ 2.032 π‘₯ 0,55 π‘₯ 0,95
πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘” = 76.443,84
πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘” = 76.444 π‘—π‘Žπ‘š π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž/π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘›
Kapasitas Terpakai Mesin Las SMAW
Kapasitas terpakai yang dimaksud adalah kemampuan dari mesin las dalam melayani pekerjaan reparasi kapal
dalam satuan jam kerja/tahun. Variabel yang berpengaruh pada kapasitas terpakai adalah jumlah volume
pekerjaan per tahun dan waktu baku pekerjaan pengelasan.
Penentuan kapasitas terpakai mesin las SMAW menggunakan persamaan (5) sebagai berikut:
πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘– = π‘£π‘œπ‘™π‘’π‘šπ‘’ π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿ π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘› π‘₯ π‘€π‘Žπ‘˜π‘‘π‘’ π‘π‘Žπ‘˜π‘’
Rerata jumlah atau volume kerja per tahun berdasarkan permintaan pekerjaan reparasi dalam rentang tahun
2007 – 2011 ditentukan dengan cara sebagai berikut:
π‘‰π‘œπ‘™π‘’π‘šπ‘’ π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž/π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘› = π‘Ÿπ‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Ž π‘π‘Žπ‘›π‘—π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘›π‘”π‘’π‘™π‘Žπ‘ π‘Žπ‘› π‘₯ π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘Ÿπ‘’π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘– π‘˜π‘Žπ‘π‘Žπ‘™ π‘π‘’π‘Ÿ π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘›
π‘‰π‘œπ‘™π‘’π‘šπ‘’ π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž/π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘› = 4.460,8 π‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘Ÿ/π‘˜π‘Žπ‘π‘Žπ‘™ π‘₯ 33 π‘˜π‘Žπ‘π‘Žπ‘™/π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘›
π‘‰π‘œπ‘™π‘’π‘šπ‘’ π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž/π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘› = 148.990,4 π‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘Ÿ/π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘›
Volume 6 : Desember 2012
Group Teknik Perkapalan
TP1 - 7
ISBN : 978-979-127255-0-6
Analisa Kapasitas Terpasang dan…
Arsitektur
Elektro
Geologi
A. Muhiddin Rauf, Wahyuddin, Azis Abdul Karim & A. Aswandi
Mesin
Perkapalan
Sipil
π‘Šπ‘Žπ‘˜π‘‘π‘’ π‘π‘Žπ‘˜π‘’ π‘π‘’π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Žπ‘Žπ‘› π‘™π‘Žπ‘  = 0,2 π‘—π‘Žπ‘š. π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”/π‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘Ÿ (π‘Žπ‘ π‘’π‘šπ‘ π‘– π‘‘π‘’π‘›π‘Žπ‘”π‘Ž π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž 1 π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”)
π‘Šπ‘Žπ‘˜π‘‘π‘’ π‘π‘Žπ‘˜π‘’ π‘π‘’π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Žπ‘Žπ‘› π‘™π‘Žπ‘  = 0,2 π‘—π‘Žπ‘š/π‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘Ÿ
Maka,
π‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘Ÿ
π‘—π‘Žπ‘š
π‘₯ 0,2
π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘›
π‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘Ÿ
πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘– = 29.798,08 π‘—π‘Žπ‘š. π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘›
πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘– = 148.990,4
Utilisasi Kapasitas Mesin Las SMAW
Utilisasi kapasitas ditentukan berdasarkan rasio antara kapasitas terpakai dan terpasang mesin las SMAW,
sesuai dengan persamaan 4.
π‘ˆπ‘‘π‘–π‘™π‘–π‘§π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘› π‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘π‘–π‘‘π‘¦ =
πΆπ‘Žπ‘π‘Žπ‘π‘–π‘‘π‘¦ 𝑝𝑒𝑑 π‘‘π‘œ 𝑒𝑠𝑒
π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π‘Žπ‘£π‘Žπ‘–π‘™π‘Žπ‘π‘™π‘’ π‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘π‘–π‘‘π‘¦
π‘ˆπ‘‘π‘–π‘™π‘–π‘§π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘› π‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘π‘–π‘‘π‘¦ =
29.798
π‘₯ 100
76.444
π‘ˆπ‘‘π‘–π‘™π‘–π‘§π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘› π‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘π‘–π‘‘π‘¦ = 39,0 %
Sedangkan besar gap atau in-efisiensi kapasitas mesin las SMAW menggunakan persamaan (6) sebagai berikut:
πΎπ‘’π‘ π‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  =
πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘” − π‘˜π‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘–
π‘₯100%
πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘”
πΎπ‘’π‘ π‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  =
76.444 − 29.798
π‘₯100%
76.444
πΎπ‘’π‘ π‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› πΎπ‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘–π‘‘π‘Žπ‘  = 61 %
Hal ini menunjukkan terjadinya in-efisiensi kapasitas sebesar 61 %, artinya dari total 72 unit mesin las SMAW
yang tersedia, 43 unit dapat dikatakan menganggur sedangkan yang terpakai hanya sebanyak 29 unit.
Hasil ini tentu selaras dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan telah terjadi penurunan permintaan
pekerjaan reparasi kapal sebesar 47 % per tahun dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2007-2011). Implikasi
kelebihan kapasitas mesin las tentu dapat mempengaruhi biaya operasional galangan khususnya biaya overhead
galangan secara keseluruhan.
Hasil ini pun memberikan pengertian bahwa galangan harus berusaha mengembalikan reputasinya, sehingga
para pelaku usaha kemaritiman dapat kembali untuk bekerjasama dengan galangan dalam membangun baru
kapal atau mereparasi kapalnya. Reputasi tidak dapat dilakukan dengan pencitraan saja tetapi harus dibarengi
dengan kerja keras seluruh departemen atau divisi yang ada di galangan.
Sebagai ilustrasi divisi pemasaran dapat menjual jasa reparasi kapal dan produk bangunan baru apabila divisi
produksi dapat membangun baru kapal dan mereparasi kapal tepat waktu, divisi produksi dapat merakit kapal
secara tepat apabila divisi perencanaan merancang desain yang baik, dan di dukung perawatan yang baik
seluruh fasilitas galangan dari divisi support serta divisi logistik yang menjamin ketersediaan material selama
proses pembangunan dan reparasi kapal berlangsung.
SIMPULAN
1.
2.
3.
Kapasitas terpasang mesin las SMAW adalah sebesar 76.444 jam kerja / tahun.
Kapasitas terpakai mesin las SMAW adalah sebesar 30.406 jam kerja / tahun.
Utilisasi Kapasitas mesin las SMAW adalah sebesar 39,8 % atau 0,4.
ISBN : 978-979-127255-0-6
Group Teknik Perkapalan
TP1 - 8
Volume 6 : Desember 2012
PROSIDING 2012©
Arsitektur
Elektro
Geologi
Mesin
HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK
Perkapalan
Sipil
SARAN
Perlu pengukuran secara detail mengenai efisiensi sistem (factor ketersediaan) pengoperasian mesin las SMAW
dan ketersediaan data perencanaan konstruksi las setiap item reparasi karena dapat mempengaruhi penentuan
kapasitas secara keseluruhan.
DAFTAR PUSTAKA
Arora, K.,C., (2004), Comprehensive Production and Operation Management, Laxmi Publication (P) LTD,
India, diakses, 01 Agustus 2012, www.scholar.google.co.id.
Buffa, S., (1999), Manajemen Operasi dan Produksi Modern. Edisi ke-8 jilid 2, Binarupa Aksara, Jakarta.
Brown, Richard, A., (1992), A Naval Shipyard Optimal Drydock Loading and Capacity Utilization Model,
Master's thesis Naval Postgraduate School, Monterey, USA., di akses
25 Maret 2012
www.scholar.google.co.id.
Handoko, Hani, (1993), Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.
Hunter, H., (1997), Depot Maintenance Capacity and Utilization Measurement Handbook, Under Secretary of
Defense for Acquisition and Technology Washington, DC, diakses, 25 Maret 2012
www.scholar.google.co.id.
Ichwan, Wahyuddin, (2007), Studi Pendayagunaan Mesin Las SMAW Nomor 2016175729 pada PT. Industri
Kapal Indonesia (Persero), Skripsi S1Jurusan Perkapalan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Mahadevan, B., (2009), Operations Management Theory and Practice, Dorling Kindersley Pvt, Ltd, New
Delhi, India, diakses 31 Juli 2012 di www.books.google.co.id.
Mishra, D.,K., (2009), Operations Management Critical Perspectives on Business, Global India Publications
Pvt, Ltd, New Delhi, India, diakses 30 Juli 2012 di www.books.google.co.id.
Musrina, Syamsul Asri, Wahyuddin, (2011), Analisa Kapasitas dan Skala Produksi Galangan Kapal PT.
Industri Kapal Indonesia (Persero) Makassar, Skripsi S1 Jurusan Perkapalan Fakultas Teknik Universitas
Hasanuddin, Makassar.
Storch, R.,L., et.al., (1995), Ship Production, Second Edition, Maryland, Cornell Maritime Press, Centreville.
Stepanus, Sunarto, Wahyuddin, (2012), Analisa Kapasitas Fasilitas Produksi Galangan Kapal PT. IKI
Makassar, Skripsi S1 Jurusan Perkapalan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Makassar.
Wahyuddin, (2011), Handout/Catatan Kuliah Tata Galangan”, Program studi Teknik Perkapalan Universitas
Hasanuddin, Makassar.
Wignjoseobroto, S., (2003), Ergonomi Studi Gerak dan Waktu: Teknik Analisis untuk Peningkatan
Produktifitas Kerja, Guna Widya, Surabaya.
Wiryosumarto, H., Okumura, T., (1988), Teknologi Pengelasan Logam, Pradnya Paramita, Jakarta.
http:// www.ikishipyard.com.
http://www.product.esab.com
Volume 6 : Desember 2012
Group Teknik Perkapalan
TP1 - 9
ISBN : 978-979-127255-0-6
Analisa Kapasitas Terpasang dan…
Arsitektur
Elektro
ISBN : 978-979-127255-0-6
Geologi
A. Muhiddin Rauf, Wahyuddin, Azis Abdul Karim & A. Aswandi
Mesin
Perkapalan
Sipil
Group Teknik Perkapalan
TP1 - 10
Volume 6 : Desember 2012
Download