EDISI Maret 2013 Saudara saudari dalam Kristus

advertisement
“ ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3 : 30)
EDISI Maret 2013
Saudara saudari dalam Kristus,
Masa pra-Paskah tahun ini dimulai lebih awal di pertengahan bulan Februari. Waktu
berjalan sangat cepat dan tidak terasa Paskah kembali didepan mata. Paskah dalam
siklus tahunan merupakan suatu peringatan yang penting bagi umat Kristiani, dan redaksi
ingin mengingatkan betapa signifikan-nya persiapan pesta Paskah tersebut. Kalender
gereja telah menempatkan Paskah sebagai even yang paling utama. Ini dapat dilihat baik
mulai persiapannya, seperti puasa dan pantang, misa minggu Palem, Kamis putih dan
Jumat agung, yang mengingatkan kita semua akan betapa besar kasih Allah terhadap
kita manusia, sampai sampai Dia mengurbankan diri-Nya sendiri. Masa pra-Paskah ini
mencapai puncaknya pada minggu Paskah dimana kita memperingati kebangkitan Kristus
dari mati-Nya.
Rangkaian ini wajar dirayakan secara signifikan oleh umat Kristiani karena dasar iman kita
semuanya dibangun atas rangkaian peristiwa tersebut. Tuhan telah meng-ekspresikan
kasih-Nya kepada kita. Harapan tentang kehidupan yang akan datang, yang
sebelum-belumnya selalu dijanjikan, telah dibuktikan dengan kebangkitan Jesus. Kita
tidak perlu lagi kuatir akan kematian yang biasanya dianggap sebagai akhir dari suatu
perjalanan hidup. Tanpa kejadian semuanya ini, iman kita akan kehilangan dasar atau
fondasinya.
Masa pra-Paskah merupakan saat yang tepat sebagai masa refleksi, menilai, mengukur
hubungan kita kepada Tuhan. Dimana kita berdiri dihadapan-Nya? Banyak orang melihat
analogi refleksi sebagai bercermin. Melalui cermin, kita melihat diri kita sendiri apakah
wajah kita sudah bersih, rapi dsb. Banyak orang sampai berucap bahwa orang yang tidak
pernah melakukan refleksi, tidak akan mengenali dirinya sendiri. Dia tidak bisa menikmati
atau menghayati hubungannya dengan Tuhan. Paling-paling, Tuhan hanya tempat kita
untuk meminta rejeki, sukses, kesehatan yang baik, dst dst dst... , relatif dangkal. Ideal
sekali kalau lewat Paskah ini, kita dapat memperbaiki dan meningkatkan hubungan kita
kepada Tuhan.
Paroki-paroki setempat, biasanya memberikan fasilitas refleksi kepada umat melalui
‘Lenten program’. Biasanya umat duduk bersama melakukan refleksi yang relevan
dengan semangat Paskah. Kita dimintakan untuk ‘time out’, melangkah keluar dari
rutinitas kehidupan dan pekerjaan. Hubungan kita dengan Tuhan dilihat ulang dengan
menggunakan nalar dan akal budi. Dalam kesempatan ini, Ben Sugija memberikan
laporan singkat mengenai apa yang dialaminya di paroki setempat tentang Lenten
program ini
Bahan renungan utama masa pra-paskah ini diberikan oleh chaplain kita, romo Wahyu.
Bahan renungannya mengenai pertobatan sejati atau alkitabiah. Pertobatan memang
sebagai salah satu komponen dalam persiapan paskah ini disamping berdoa dan berbuat
amal. Karenanya, bahan renungan ini sangat tepat dan relevan; Selamat menikmatinya.
MISA KKI
Minggu, 7 Apr 2013
St Martin de Porres
25 Bellin Street
Laverton VIC
Pukul: 11.30
Minggu, 14 Apr 2013
St. Joseph Church
95 Stokes Street
Port Melbourne VIC
Pukul: 11.00
Minggu, 21 Apr 2013
St Francis’ Church
326 Lonsdale St
Melbourne VIC
Pukul: 14:45
Minggu, 28 Apr 2013
St. Paschal
98-100 Albion Rd
Box Hill VIC
Pukul: 11.00
MISA MUDIKA
Sabtu pertama
Monastry Hall
St. Francis Church
326 Lonsdale Street
Melbourne VIC
Pukul: 12.00
PDKKI
Setiap Sabtu
St. Augustine’s City Church
631 Bourke Street
Melbourne VIC
Pada bulan lalu, Tim Infokom KKI dimana warta KKI bernaung, mengadakan rapat internal
mengevaluasi kinerja Warta KKI. Salah satu kesimpulan atau butir yang dihasilkan adalah
Pukul: 18.00
menambah isi material maupun jumlah halaman dari Warta KKI. Tentu saja, redaksi
menyambut gembira usulan tersebut. Misi dari Warta KKI adalah wadah berkomunikasi
umat sambil mempererat persatuan, saling berbagi rasa dan pengalaman dan juga
mencakup pembelajaran (learning). Redaksi ingin sekali memperluas anggautanya sehingga dapat mencakup seluruh
kelompok dari yang muda sampai senior. Karenanya, redaksi ingin mengajak seluruh teman-teman lain yang senang
menulis, untuk ber-partisipasi menyumbangkan tulisan atau artikel sehingga warta KKI ter-realisir dapat menjadi forum
komunikasi seluruh umat.
Selamat membaca dan sekali lagi, Selamat Paskah 2013.
1
PERTOBATAN SEJATI
PERTOBATAN ALKITABIAH
Ketika tampil di depan umum Yohanes Pemandi berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat 3:2).
Dan ketika Yohanes ini ditangkap masuk penjara, Yesus tampil dan juga seperti Yohanes mewartakan: ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat” (Mat 4:17). Ternyata tuntutan dasar yang diminta dari setiap murid Yesus Kristus ialah
bertobat. Pertobatan alkitabiah yang dimaksudkan itu dalam bahasa Yunani disebut metanoia. Dalam bahasa Ibrani atau
Aramis bertobat mempunyai makna yang mendalam, bukan sekadar menyesal atas sesuatu yang tidak baik, melainkan
sungguh berubah hati. Artinya berbalik, meninggalkan sikap dan jalan hidup yang ditempuh sampai kini yang ternyata
sesat. Konsekuensinya ialah ganti sikap, ganti haluan, ganti jalan. Pertobatan bukan bersifat sesaat, hanya momentan,
melainkan total dan menetap: transformasi sejati.
Pertobatan berarti:
1. Perubahan sikap manusia yang mendasar dan total seluruh maksud, tujuan dan cara hidupnya.
2. Perubahan sikap batin/rohani/keagamaan, sehingga selalu berhu-bungan dengan Tuhan.
3. Bertobat bukan hanya menyesali dan menyilih dosa yang telah di-lakukan, melainkan menentukan arah
hidup baru.
4. Mengubah pandangan lama, dan memiliki keyakinan iman yang mendalam akan kehendak Allah.
5. Sungguh menanggapi panggilan dan rahmat Allah serta berusaha menyambut penyelamatan yang ditawarkan Allah.
Tujuan pertobatan adalah Allah. Hidup beragama sejati bukanlah sikap hidup netral, melainkan melalui keyakinan iman
berusaha hidup dalam hubungan dengan Allah. Dalam menghayati hubungannya dengan Allah ini, manusia dengan kelemahannya dapat dan sering menipu dirinya sendiri. Penipuan ini terjadi, apabila orang hanya menyibukkan diri dengan
apa yang lahiriah, formal, resmi saja. Memang mungkin ia hari Minggu pergi ke Gereja, besar dananya atau sumbangan
materiil yang diberikan, bahkan sudah berziarah ke Tanah Suci, Roma, Lourdes, mengunjungi pelbagai gua Maria dan sebagainya. Bahkan mungkin banyak berpuasa dan matiraga, Tetapi pelaksanaan segalanya itu bukan otomatis merupakan
ungkapan pertobatan sejati.
Nabi Yoel menegaskan: “Sobeklah hatimu, bukannya pakaianmu!” (Yl 2:13). Dengan demikian ternyata secara alkitabiah
sumber dosa memang terletak di dalam hati manusia. Tetapi keadaan hati orang yang sungguh bertobat selanjutnya harus dibuktikan dalam tindakan dan perbuatan.
Seperti telah disinggung di atas seruan kenabian atau profetis untuk bertobat dalam Perjanjian Lama itu, diteruskan oleh
Yohanes Pemandi. Ia mengajak bangsa Yahudi untuk mengubah sikap hidup mereka. Kenyataan bahwa mereka adalah
keturunan Abraham bukanlah garansi atau jaminan kesungguhan pertobatannya. Baptisan yang dilakukan Yohanes
Pemandi dilakukannya untuk pertobatan (lih. Mat 1:4 dll.). Menurut Yohanes Pemandi hanya dengan bertobat orang dapat
meluputkan diri dari pengadilan kemurkaan Allah pada aklhir zaman (lih. Luk 3:7-9).Bila orang mengakui dosa-dosanya
(Mrk 1:5), ia sekaligus menghasilkan buah-buah pertobatan itu (Luk 3:8 dll.), yakni amal kasih kepada sesama.
Pertobatan ternyata mendapat prioritas utama pilihan pelaksanaan karya pe-nyelamatan yang dilakukan oleh Allah.. Ia
meneruskan seruan Yohanes Pemandi, yang harus menyiapkan kedatangan Almasih, yaitu Yesus Kristus. Tetapi ajakan
Yesus untuk bertobat mempunyai arti lebih mendalam. Di mana letak perbedaannya dengan pertobatan yang diserukan oleh Yohanes Pemandi? AjakanYesus untuk ber-tobat mengandung tuntutan, agar orang sungguh percaya akan
kabar penyelamatan-Nya. Ia sungguh diutus dan diberi kuasa mewartakan dan melaksanakan belaskasihan Allah yang
tak terhingga! Yesus diberi kuasa mengampuni dosa dan menyelamatkan siapapun yang hilang! (Mrk 2:10 dll.; 2:17 dll).
Kerelaan dan kesediaan Allah untuk mengampuni dosa semacam itu belum pernah diwartakan sebelum Yesus datang.
Sekarang pewartaan itu sudah diberikan. Tetapi konsekuensi dan tuntutannya, apabila orang mengharapkan kesediaan
Allah untuk mengampuni dosanya, ialah bertobat,
Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32) menyingkapkan apa sesungguhnya disebut pertobatan. Manusia
yang bertobat menjadi insaf akan keada-annya sebagai orang yang kehilangan dirinya sama sekali, tanpa harapan akan
Allah. Maka orang itu mengakui dan menyesali dosanya. Sepenuh hati ia menyerahkan diri kepada pengadilan Allah,
tanpa coba-coba memaafkan diri dan tanpa tuntutan apapun. Ia hanya percaya sepenuhnya akan belas kasihan Allah.
2
Perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14) meng-gambarkan wajah dua manusia, masingmasing seperti adanya. Sungguh berbeda satu sama lain! Wajah palsu orang Farisi sudah dikenal semua orang! Tetapi
wajah si pemungut cukai sungguh berubah! Pemungut cukai itu tidak membanggakan amalnya. Ia hanya dengan rendah
hati mohon agar Allah mengasihani dia..
Dalam Luk 7:36-50 diceriterakan tentang seorang perempuan berdosa yang berlutut membasuh kaki Yesus dengan air
mata penyesalannya atas dosanya. Yesus merasakan kasih murni perempuan itu kepada Allah. Kasihnya telah mengubah total wajah perempuan yang buruk namanya itu. Karena itu Yesus segera mengatakan, bahwa dosa-dosanya
sudah diampuni.
Dari kedua perumpamaan dan ceritera itu kita menyadari, bahwa pertobatan sejati mendorong orang berdosa untuk
mengasihi Allah secara hangat. Tugas Yesus sebagai Almasih ialah membawa pulang orang-orang berdosa kembali
kepada Allah. Karena itu Yesus menjadi sahabat kaum berdosa dan pemungut cukai (Mat 11:19 dll). Ia tidak segan bergaul dengan mereka! (Mrk 2:16 dll). Yesus sangat bergembira karena mereka bertobat, dan kegembiraan-Nya itu sama
dengan kegembiraan Allah, sebab apa yang hilang sudah diketemukan kembali (Luk 15:7.10; Mat 18:15)
Hambatan yang paling melawan pertobatan sejati adalah keangkuhan atau kebohongan hati dan menganggap diri selalu
sebagai orang benar. Dalam perumpa-maan tentang orang Farisi dan pemungut cukai dalam Luk 18:10-14, Yesus secara
sangat mengesankan menggambarkan sikap orang, yang sungguh congkak dan angkuh hati. Si orang Farisi membanggakan amalnya dihadapan Allah. Ia adalah orang yang tidak dapat melihat kelemahan dan kemiskinan rohaninya sendiri.
Ia tidak merasa membutuhkan Allah dan belaskasihan-Nya. Karena itu ia tidak juga menerima belaskasihan Allah! Sikap
semacam itu biasanya disertai sikap menghina terhadap sesama manusia. Yesus memberi contoh figur orang semacam
itu dalam sebuah perumpamaan tentang seorang anak sulung, yang marah kepada bapanya, yang berbelaskasih terhadap anaknya yang bungsu. Anak ini memang nakal, namun bertobat dan kembali kepada bapanya! (Luk 15:11-32)
Pertobatan sejati yang mampu membuka hati untuk memasuki Kerajaan Allah hanya mungkin, apabila manusia merasa
diri kecil dan tak berharga di depan Allah, bagaikan seorang anak kecil seperti dimaksudkan Yesus dalam Mat 18:3. Kita
adalah selalu hamba-hamba yang tak berguna (Luk 17:10), selalu berhutang kepada Allah (Mat 6:12). Namun, Allah
meninggikan mereka yang merendahkan diri” (Luk 14:11 dll. 18:14; bdk. Yak 4:10; 1 Ptr 5:6).
Untuk orang “modern”, atau “maju”, atau “terdidik”, atau “terpelajar”, atau merasa diri “orang penting”, atau “orang
berkedudukan tinggi” atau apapun lainnya, pengertian tentang pertobatan menjadi makin suram, kurang “populer”,
kurang sedap didengar. Bahkan “mengaku dosa” sebagai penghayatan pertobatan tak punya daya tarik lagi, malahan
dirasakan sebagai bertentangan dengan harga diri, dianggap kuna.
Betapa berbeda dengan pandangan, sikap, hidup dan perbuatan yang dilakukan Yesus Kristus seperti diungkapkan oleh
Paulus dalam Flp 2:1-11. Sungguh sukar dipahami! Allah menjadi manusia, menyatukan diri dengan umat manusia yang
berdosa, dan atas nama umat berdosa itulah Ia menebusnya di hadapan Allah dengan mati disalib. Yesus sebagai manusia memberi kepada kita pelajaran dan memberi teladan kasih total dan kerendahan hati sejati terhadap Allah. Padahal
Ia tidak berdosa. Bila Dia yang menebus kita bersedia begitu rendah hati terhadap Allah, berkeberatankah kita juga bersikap rendah hati terhadap Allah. Bila Allah mengutus Putera-Nya sendiri untuk menunjukkan belaskasihan-Nya kepada
kita, berkeberatan-kah kita untuk menerima kasih-Nya lewat sakramen pengakuan, yang adalah sacra-men belaskasihan
Allah?
Selama masa Prapaskah marilah kita berusaha memahami pesan alkitabiah yang tercantum dalam Mat 18:2-3 ini:
“Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata: ‘Aku berkata
kepada-mu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam
Kerajaan Sorga’ ”. Mengapa? Yohanes memberi jawabannya: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita
menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1 Yih 1:8).
Kita memiliki sumber kegembiraan di tengah kelemahan kita, “sebab Imam Besar (‘yaitu Yesus, Anak Allah’) yang kita pu3
nya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita,
Ia telah dicobai,hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih
karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya”
(Ibr 4:15-16).
Belaskasihan Allah hanya ditawarkan kepada orang mau bertobat!
SELAMAT PASKAH 2013
by. Joe, O.Carm
PROGRAM MASA PRA-PASKAH 2013
Oleh : Ben sugija
Program masa pra-Paskah merupakan tradisi salah satu kegiatan paroki-paroki di Australia. Gereja menyadari betul
pentingnya perayaan Paskah, dan karenanya, persiapan fisik maupun spiritual juga perlu dilakukan oleh umat. Disamping
meminta umat untuk berpuasa dan berpantang, memberikan amal melalui compassion box, keuskupan agung Melbourne
juga menawarkan sebuah paket refleksi dalam tahun 2013 ini. Buku panduannyapun telah disiapkan dengan judul, ‘We
wish to see Jesus’.
Paket refleksi ini merupakan persiapan spiritual dan kadarnyapun sangat memadai. Refleksi ini membahas bacaan injil
pada hari minggu berikutnya. Bahasan atau refleksi injil diberikan oleh Mark Coleridge, Uskup agung Brisbane, yang
dikenal sebagai salah satu pakar kitab suci tingkat internasional. Pengalaman saya mengikuti program ini di paroki setempat, sangat berguna, sesuai dengan akal budi saya. Dalam artikel ini, saya ingin berbagi rasa dengan teman-teman,
dengan mengingat kembali butir-butir yang di-diskusikan oleh peserta refleksi. Artikel inipun hanya memuat sebagian
program refleksi ini karena programnya belum selesai sementara artikel ini diturunkan ke Warta KKI. Sekali lagi, tulisan
ini-pun tidak mampu meliput seluruh bahan dan kepada siapa yang berminat untuk membaca buku panduan-nya, tentu
saja boleh meminjamnya.
Bacaan injil minggu pertama masa pra-paskah adalah karangan Lukas 4:1-13. Disini diceritakan bagaimana Jesus dicobai oleh setan. Kita diingatkan untuk jangan terlalu mengejar kenikmatan hidup yang digambarkan sebagai penolakan
Jesus untuk merubah batu menjadi roti, lambang kekenyangan. Jesus juga menolak kekuasaan dunia yang ditawarkan
setan berupa kerajaan di dunia. Penolakan ketiga, permintaan setan untuk Jesus melakukan mukjisat, untuk Jesus menjatuhkan dirinya tanpa terluka karena akan pasti akan ditolong Tuhan; memang harus diingat bahwa mukjisat itu terserah
kepada Tuhan sendiri dan karenanya, mukjisat itu hanya dilakukan dengan penuh ke-kudusan. Dalam kesempatan ini,
pesertapun diingatkan untuk jangan menjadi ‘pengembara (= wanderer)’ yang berjalan tanpa arah dan tujuan, tetapi berjalan dengan pernuh arti bersama Tuhan.
Bacaan injil minggu ke dua adalah karangan Lukas 9:28-36, mengenai transfigurasi Jesus yang disaksikan oleh Petrus,
Jakobus dan Yohanes. Rasu-rasul terdekat ini telah menyaksikan Jesus bersama nabi Musa dan Elia dalam tahap penuh
kemuliaan. Mereka tidak menyadari bahwa dalam waktu dekat, Jesus akan memasuki tahap kehidupan yang paling
gelap, dikhianati, disiksa dan dibunuh. Gambaran ini melukiskan realitas dalam kehidupan nyata dimana kitapun akan
mengalami gelombang hidup diatas maupun dibawah. Untuk itu kita diminta untuk tetap setia, beriman kepada Tuhan.
Bacaan injil minggu ke tiga, Jesus guru yang arif, dikutib dari Lukas 13:1-9. Dalam bacaan ini, Jesus dicobai untuk masuk
perangkap waktu ditanyakan komentarnya tentang orang-orang Galilea yang dihukum mati oleh Herodes secara brutal
dan tidak adil. Begitupun tentang orang-orang yang meninggal tertimpa runtuhnya menara Siloam. Jesus dengan gamblang mengatakan bahwa para korban ini tidaklah lebih buruk atau berdosa dari kita. Musibah itu bukanlah hukuman
Tuhan atas dosa-dosa mereka. Tuhan bukanlah Tuhan yang senang menghukum, tetapi Tuhan yang penuh kasih dan
maha rahim. Yang dimintakan dari kita adalah mengakui dengan rendah hati dosa-dosa kita dan mohon kerahiman atau
pengampunan-Nya. Jesus juga meningatkan kesabaran Tuhan yang besar, seperti parabel untuk tidak menebang sembarangan pohon ara yang tidak berbuah, tapi memberikan cukup kesempatan untuk berbuah.
4
Bacaan injil minggu ke empat, dikutib dari injil Lukas 15:1-3, 11-32, perumpamaan anak yang hilang. Kisah klasik ini
sangat menarik menceritakan dua anak yang berbeda tetapi sebetulnya mempunyai kesamaan. Yang muda berfoyafoya menghabiskan harta yang diberikan orang tuanya, tidak berbakti. Hidupnya berakhir bekerja di kandang babi. Dia
sadar dari kesalahannya, ketidak-layakan hidupnya sebagai anak. Ia mengatur dan menghafalkan kata-kata untuk minta
ampun karena ketidak-layakan sebagai anak. Anak yang tua bekerja di ladang membantu dan membaktikan dirinya
kepada orang tuanya. Waktu ia pulang dan menyadari bahwa, bapanya mengadakan pesta kepulangan adiknya yang
tidak layak, ia menjadi marah. Disinilah adanya kesamaan antara sang adik dan kakak, yang terlalu menitik beratkan
‘kelayakan’ sebagai anak dan membandingkan satu sama lain. Tuhan merasa hal ini tidak perlu kalau kita menganggap
lebih atau kurang layak dari orang yang lain.
Seperti pada parabel lainnya dalam pengajaran Jesus, injil Lukas bab 15 ini mengandung cerita yang belum selesai (unfinished story). Misalnya apakah si adik pasti tidak mengulangi kelakuannya lagi; si kakakpun tidak jelas apakah ia akan
ikut berpesta adiknya, atau keras kepala tetap menolak kedatangan adiknya. Pertanyaan inilah yang harus kita renungkan dan kita sendirilah yang menentukan langkah-langkah berikutnya. Kita sebaiknya bertanya kepada diri sendiri, siapa
dan dimana kita berdiri, di tempat sang kakak atau sang adik? Kebebasan memilih ini memang diberikan oleh Tuhan dan
bukanlah untuk ikut-ikutan.
Saya mohon maaf, tidak bisa mencakup laporan ini sampai selesai pada minggu keenam karena terlalu lama untuk
warta KKI diterbitkan. Semoga laporan singkat masa pra-Paskah 2013 ini kita dapat renungkan bersama dan bermanfaat
bagi teman teman yang senang melakukan refleksi. Selamat ber-refleksi!
SUSUNAN PENGURUS KKI 2012-2015
Website: www.kki-mel.org
Moderator/Pembimbing Rohani:
Romo Antonius Wahyu Anggono O.Carm
Ketua: Prabudi Darmawan
Wakil ketua: Robin Surjadi
Bendahara: Matheus Huang, Eko Ariyanto, Linda
Munanto
Sekretaris: Yudo Baskoro, Natalia Teguhputri
Kegiatan Reguler Port Melbourne: Arman Sukiri,
Yovinus, Linda Munanto, Frank Halim, Swan Halim
Kegiatan Reguler Boxhill: Heru Prasetyo, Ida Pangestu, Aline Salim, Yoseph Pegu, Ling Ling, Bertha
Lim, Yovita Un Bria, Berta Ngadha, Yoseph Keli Odji,
Anton Salim, Dwi Sutanto, Danny Renato
Retret & Rekoleksi: Stefano Wahono, Bradley Riyanto, Siska Setjadiningrat
InfoComm: Hanny Santoso, Eric Kuncoro, Angelina
Ng, Adrian Poermandya, Kevin Widodo, Yoga Adipraja, Angela Satyawan, Anthony Glenn Hidayat, Rufin
Kedang, Ben Sugiya, Edy Lianto, Istas Hidayat, Dina
Budiarto, Anton Salim, Dwi Sutanto, Fernanda Sidarta
Sie Liturgie: Andi Mihardja, Ray Christian, Linda
Munanto, Anton Lukmanjaya, Rudy Pangestu, Adolfus
Sekawago, Herru Sugihardjo, Adrieza Martiono, Simon Santoso, David Sunario, Melia Sunario, Suria Winarni, Aureine Wibrata, Wenda Gumulia, Agus Wijaya
Komisi Keluarga: Richard & Lee Lian Oei, Roy &
Angela Nuryati
Sosial: Paulus Ang, Chandra Goenawan, Poppy
Setiawan, Claresta Belinda, Janto Djunaedi, Lia Tanamas, Inge Salindeho, Bernadette Sidharta, Yenny Lim
Natal, Paskah & HUT KKI: Jimmy Tjahya, Melia Sunario, Teresa Claydius
Download