pola pembiayaan usaha kecil (ppuk) pengolahan kerupuk ikan bank

advertisement
POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK)
PENGOLAHAN KERUPUK IKAN
BANK INDONESIA
Direktorat Kredit, BPR dan UMKM
Telepon : (021) 3818043 Fax: (021) 3518951, Email : [email protected]
DAFTAR ISI
1. Pendahuluan ................................ ................................ ............... 2
2. Profil Usaha dan Pola Pembiayaan................................ ............... 6
a. Profil Usaha ................................ ................................ ............... 6
b. Pembiayaan Bank ................................ ................................ ....... 6
3. Aspek Pemasaran................................ ................................ ....... 10
a. Permintaan ................................ ................................ .............. 10
b. Penawaran................................ ................................ ............... 11
c. Analisis Persaingan dan Peluang Pasar ................................ .......... 12
d. Harga ................................ ................................ ..................... 12
e. Rantai Pemasaran ................................ ................................ ..... 13
f. Kendala Pemasaran ................................ ................................ ... 14
4. Aspek Produksi ................................ ................................ .......... 16
a. Lokasi Usaha ................................ ................................ ............ 16
b. Fasilitas Produksi ................................ ................................ ...... 16
c. Bahan Baku Produksi ................................ ................................ . 20
d. Tenaga Kerja ................................ ................................ ........... 20
e. Teknologi................................ ................................ ................. 21
f. Proses Produksi ................................ ................................ ......... 21
g. Jumlah, Jenis dan Mutu Produksi ................................ ................. 27
h. Produksi Optimum ................................ ................................ .... 28
i. Kendala Produksi ................................ ................................ ....... 28
5. Aspek Keuangan ................................ ................................ ........ 30
a. Pemilihan Pola Usaha................................ ................................ . 30
b. Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan ............................ 30
c. Komponen Biaya Investasi dan Biaya Operasional .......................... 31
d. Kebutuhan Dana untuk Investasi dan Modal Kerja .......................... 33
e. Proyeksi Produksi dan Pendapatan Kotor................................ ....... 34
f. Proyeksi Rugi Laba dan Break Even Point ................................ ...... 35
g. Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek ................................ ...... 36
h. Analisis Sensitivitas ................................ ................................ ... 37
6. Aspek Sosial Ekonomi dan Dampak Lingkungan .......................... 41
a. Aspek Sosial Ekonomi ................................ ................................ 41
b. Dampak Lingkungan ................................ ................................ .. 41
7. Penutup ................................ ................................ ..................... 42
a. Kesimpulan ................................ ................................ .............. 42
b. Saran ................................ ................................ ..................... 43
LAMPIRAN ................................ ................................ ..................... 44
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
1
1. Pendahuluan
Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar luas
wilayahnya merupakan perairan. Ikan merupakan salah satu hasil perikanan
yang banyak dihasilkan di Indonesia dan merupakan sumber protein hewani
yang banyak dikonsumsi masyarakat. Ikan mudah didapat dengan harga
yang relatif murah sehingga dapat dijangkau oleh semua lapisan
masyarakat. Kandungan protein yang tinggi pada ikan dan kadar lemak yang
rendah sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia.
Tabel 1.1.
Komposisi Ikan Segar per 100 gram Bahan
Komponen
Kadar (%)
Kandungan air
76,00
Protein
17,00
Lemak
4,50
Mineral dan Vitamin
2,52-4,50
Sumber: www.ristek.go.id
Karena manfaat yang tinggi tersebut banyak orang mengkonsumsi ikan baik
berupa daging ikan segar maupun makanan-makanan yang merupakan hasil
olahan dari ikan. Bahkan di Jepang dan Taiwan ikan merupakan makanan
utama dalam lauk sehari-hari.
Ikan merupakan produk yang banyak dihasilkan oleh alam dan diperoleh
dalam jumlah melimpah. Akan tetapi ikan juga merupakan bahan makanan
yang cepat mengalami proses pembusukan dikarenakan kadar air yang
tinggi. Kadar air yang tinggi adalah kondisi yang memberikan kesempatan
bagi perkembangbiakan bakteri secara cepat. Kelemahan-kelemahan yang
dimiliki ikan dirasakan menghambat usaha pemasaran hasil perikanan dan
tidak jarang menimbulkan kerugian besar, terutama pada saat produksi ikan
melimpah. Karena itulah sejak dahulu masyarakat telah berusaha melakukan
berbagai cara pengawetan ikan agar dapat dimanfaatkan lebih lama. Proses
pengolahan dan pengawetan ikan merupakan bagian penting dari mata
rantai industri perikanan. Tanpa adanya proses tersebut, usaha peningkatan
produksi perikanan akan menjadi sia-sia karena tidak bisa dimanfaatkan
dengan baik.
Pada dasarnya usaha pengawetan ini adalah untuk mengurangi kadar air
yang tinggi di tubuh ikan. Terdapat bermacam-macam usaha pengawetan
ikan dari usaha tradisional sampai usaha modern. Usaha pengawetan ikan
dilakukan melalui penggaraman, pengeringan, pemindangan, perasapan,
peragian, dan pendinginan ikan. Hasil dari usaha-usaha pengawetan tersebut
sangat tergantung pada proses pengawetannya. Untuk mendapatkan mutu
terbaik dari proses pengawetan ikan dapat dilakukan dengan menjaga
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
2
kebersihan bahan dan alat yang digunakan, termasuk ikan yang benar-benar
masih segar dan garam yang bersih. Usaha pengawetan ikan tidak hanya
sebatas pada pengolahan menjadi produk yang masih berbentuk ikan tetapi
juga pengolahan menjadi bentuk lain setelah dicampur dengan bahan-bahan
lain.
Ikan hasil pengolahan dan pengawetan umumnya sangat disukai oleh
masyarakat karena produk akhirnya mempunyai ciri-ciri khusus yakni
perubahan sifat-sifat daging seperti bau (odour), rasa (flavour), bentuk
(appearance) dan tekstur.
Salah satu makanan hasil olahan dari ikan adalah kerupuk ikan. Produk
makanan kering dengan bahan baku ikan dicampur dengan tepung tapioka
ini sangat digemari masyarakat. Makanan ini sering digunakan sebagai
pelengkap ketika bersantap ataupun sebagai makanan ringan. Bahkan untuk
jenis makanan khas tertentu selalu dilengkapi dengan kerupuk. Makanan ini
menjadi kegemaran masyarakat dikarenakan rasanya yang enak, gurih dan
ringan. Selain rasa yang enak tersebut, kerupuk ikan juga memiliki
kandungan zat-zat kimia yang diperlukan oleh tubuh manusia. Komposisi
zat-zat kimia dalam kerupuk disajikan dalam Tabel 1.2. berikut:
Tabel 1.2. Komposisi Kerupuk Ikan dan Udang (per 100 gram)
Kerupuk
Komponen
Kerupuk Ikan
Udang
Karbohidrat (%)
65,6�
68,0
16,6
12,0
Protein (%)
16
17,2
Lemak (%)
0,4
0,6
Kalsium (mg/100 gram)
2,0
332,0
20,0
337,0
0,1
1,7
Vitamin A (mg)
0
50,0
Vitamin B1 (mg)
-
0,04
Air (%)
Fosfor (mg/100 gram)
Besi (mg/100 gram)
Sumber: www.ristek.go.id
Dari Tabel 1.1 dan Tabel 1.2 dapat dilihat bahwa kandungan protein ikan
segar dan kerupuk ikan tidak jauh berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa
kandungan protein pada ikan tidak banyak yang hilang setelah mengalami
pengolahan. Jika dibandingkan dengan kerupuk udang, kandungan vitamin
dan mineral pada kerupuk ikan lebih rendah.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
3
Proses pembuatan kerupuk ikan sangatlah sederhana dan mudah
diusahakan. Industri ini banyak berkembang di wilayah-wilayah perairan
dengan produksi ikan tinggi. Di samping dapat diusahakan dengan peralatan
modern, usaha ini juga dapat dijalankan dengan peralatan tradisional. Oleh
sebab itulah usaha kerupuk ikan banyak dilakukan oleh rumah tangga yang
merupakan industri mikro.
Dari segi skala perusahaan, usaha pengolahan kerupuk ikan dilakukan oleh
perusahaan besar-menengah dan juga perusahaan kecil rumah tangga.
Perbedaan utama dari skala usaha tersebut adalah pada teknologi dan
pangsa pasarnya. Perusahaan besar-menengah dalam proses produksinya
menggunakan peralatan dengan teknologi modern dengan pangsa pasar
tersebar baik di daerah lokal maupun daerah lain bahkan ekspor. Berbeda
dengan perusahaan skala besar-menengah, usaha pengolahan kerupuk kecil
rumah tangga sebagian besar menggunakan peralatan dengan teknologi
yang sederhana dan pangsa pasar yang masih terbatas pada pasar lokal.
Usaha pengolahan kerupuk ikan banyak tersebar di wilayah Indonesia
diantaranya adalah Kepulauan Belitung, Jawa Timur dan Kalimantan. Di Jawa
Timur sendiri, hasil olahan perikanan merupakan salah satu produk andalan
dengan salah satu wilayah sentra produksinya di Kabupaten Sidoarjo.
Sebagai salah satu daerah dengan hasil perikanan yang cukup tinggi,
Sidoarjo memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan usahausaha pengolahan produk perikanan. Hasil olahan produk perikanan yang
terkenal dari Sidoarjo diantaranya adalah kerupuk udang, kerupuk ikan, petis
serta bandeng presto. Meskipun industri pengolahan hasil perikanan tersebar
di wilayah Sidoarjo, pada kecamatan tertentu memiliki sentra industri yang
menghasilkan produk spesifik. Industri kerupuk misalnya banyak
berkembang di kecamatan Candi, Tulangan, Jabon dan Prambon.
Tabel 1.3. Sentra Industri Kerupuk Ikan di Sidoarjo
Kecamatan
Lokasi
Pemasaran
Tulangan
Desa Selasih
Jawa Timur, Jawa Tengah,
Kalimantan
Jabon
Desa Kedung Rejo
Jawa Timur, Jawa Tengah,
Kalimantan
Desa Kedung Pandan
USA, Jepang, Taiwan,
Hongkong, Arab Saudi
Prambon
Desa Jati Kalang
-
Sumber: www.sidoarjo.go.id
Penyusunan pola pembiayaan usaha pengolahan kerupuk ikan ini didasarkan
pada informasi dari studi lapangan yang dilakukan di wilayah kabupaten
Sidoarjo. Survey dilakukan pada industri pengolahan kerupuk ikan yang
merupakan industri kecil rumah tangga. Industri-industri ini pada dasarnya
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
4
tidak hanya memproduksi kerupuk ikan saja tetapi juga kerupuk jenis lain
seperti kerupuk udang dan kerupuk dengan bahan baku tepung lainnya.
Dilihat dari aspek ekonomis, usaha kerupuk ikan merupakan bisnis yang
sangat menguntungkan. Peluang pasar dalam negeri maupun ekspor untuk
komoditi ini masih sangat terbuka. Hal ini dikarenakan kerupuk ikan
merupakan konsumsi sehari-hari masyarakat sehingga permintaan untuk
kerupuk ikan relatif stabil bahkan cenderung mengalami kenaikan. Selain
mampu meningkatkan pendapatan bagi pengusaha, usaha ini juga mampu
membantu meningkatkan pendapatan penduduk sekitar yang akhirnya
berpengaruh pada perekonomian daerah.
Dilihat dari aspek sosial, usaha kerupuk ikan mempunyai dampak sosial yang
positif. Industri kecil rumah tangga ini mampu menyerap tenaga kerja dari
lingkungan sekitar. Secara tidak langsung ini merupakan upaya penciptaan
lapangan kerja yang mengurangi jumlah pengangguran di suatu wilayah.
Dilihat dari sisi dampak lingkungan, usaha kerupuk ikan tidak menimbulkan
pencemaran lingkungan. Limbah yang dihasilkan dari usaha ini hanyalah air
sisa pembersihan yang tidak mengandung zat-zat kimia dan langsung
meresap ke dalam tanah.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
5
2. Profil Usaha dan Pola Pembiayaan
a. Profil Usaha
Usaha kerupuk ikan dapat dilakukan oleh industri besar-menengah bahkan
industri kecil rumah tangga karena proses pembuatannya yang sangat
mudah. Jenis usaha kerupuk dapat dibedakan menjadi dua yaitu usaha
kerupuk dengan bahan baku tepung tapioka dan ikan/udang dan usaha
kerupuk dengan bahan baku utama tepung saja (baik tepung tapioka, tepung
gaplek atau tepung lain tanpa campuran ikan/udang). Jenis kerupuk dengan
bahan baku tepung diantaranya adalah kerupuk Kasandra dengan bahan
baku hanya tepung tapioka, kerupuk puli dengan bahan baku tepung tapioka
yang dicampur dengan tepung terigu dan kerupuk impala dengan bahan
baku tepung tapioka yang dicampur dengan tepung gaplek.
Setiap pengusaha tidak hanya memproduksi satu jenis kerupuk saja. Alasan
dari memproduksi lebih dari jenis kerupuk ini adalah bahwa pada prinsipnya
proses pembuatan kerupuk hampir sama sehingga mesin-mesin yang sama
bisa digunakan juga untuk memproduksi jenis yang lain. Mesin yang perlu
ditambahkan adalah mesin pencetak yang sesuai dengan bentuk kerupuk
yang diproses. Usaha dengan jenis produksi lebih dari satu juga akan
membantu produsen dalam variasi produksi sehingga kerugian bisa
diminimalisir. Salah satu sampel pengusaha misalnya, memproduksi kerupuk
ikan setiap harinya. Selain itu dia juga memproduksi kerupuk jenis lain yaitu
kerupuk puli. Jumlah produksi kerupuk puli ini disesuaikan dengan pesanan
yang ada dan juga dipengaruhi oleh pasar kerupuk ikan. Pada saat harga
kerupuk puli naik ataupun saat harga kerupuk ikan kurang menguntungkan
pengusaha akan meningkatkan jumlah produksi kerupuk puli.
Di wilayah Sidoarjo, usaha pembuatan kerupuk ikan terdiri atas usaha
perorangan dan usaha kelompok. Usaha perorangan banyak tersebar di
seluruh wilayah di luar kecamatan sentra industri, sedangkan usaha
kelompok banyak terdapat di wilayah-wilayah sentra industri. Jumlah
produksi usaha perorangan relatif lebih rendah dengan wilayah pemasaran di
dalam negeri, sementara, usaha kelompok mempunyai skala usaha yang
lebih besar karena merupakan gabungan dari beberapa usaha individu
dengan jumlah produksi lebih banyak dan wilayah pemasaran lebih luas
sampai ke luar negeri terutama wilayah Asia, Amerika dan Arab.
b. Pembiayaan Bank
Dari segi pembiayaan, usaha pembuatan kerupuk ikan memerlukan biaya
yang relatif sedikit. Untuk memulai usaha dengan 1 (satu) unit peralatan
teknologi menengah diperlukan dana kurang lebih Rp500.000.000,-.
Kebutuhan modal ini dapat dicukupi dengan modal sendiri ataupun sebagian
dapat dipenuhi dengan pinjaman bank. Kebutuhan biaya untuk investasi dan
modal kerja usaha kerupuk ikan dapat dipenuhi dengan pinjaman bank.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
6
Pinjaman dari bank dapat berupa kredit investasi maupun kredit modal kerja.
Dari survey di Sidoarjo, pengusaha kerupuk ikan yang merupakan industri
kecil memperoleh kredit dari PT. Bank Rakyat Indonesia (persero), Tbk
(selanjutnya disebut Bank BRI). Kebanyakan dari usaha kerupuk ikan yang
memperoleh kredit ini merupakan usaha perorangan. Pihak Bank BRI
Sidoarjo sendiri tidak memberikan kredit untuk usaha kelompok karena
risikonya terlalu besar sebab biasanya usaha kelompok menggunakan
jaminan tanggung renteng. Selain tidak memberikan kredit untuk usaha
kelompok, Bank BRI Sidoarjo juga tidak memberikan kredit untuk usahausaha di wilayah sentra industri. Alasan untuk tidak memberi kredit usaha di
wilayah sentra ini karena hubungan yang erat diantara warga di wilayah
sentra, sehingga jika salah satu pengusaha mengalami masalah pembayaran
kredit akan mempengaruhi pengusaha yang lain. Oleh sebab itu, survey tidak
dilakukan pada pengusaha-pengusaha yang berada di wilayah sentra industri
kerupuk ikan.
Pada umumnya pengusaha yang mendapatkan kredit adalah nasabah yang
telah lama berhubungan dengan Bank BRI sebagai nasabah. Dari ketiga
pengusaha yang mendapatkan kredit dari Bank BRI, dua nasabah
memperoleh kredit sebesar Rp 500.000.000,- dan satu nasabah memperoleh
kredit sebesar Rp 350.000.000,-. Salah satu nasabah dengan kredit Rp
500.000.000,- telah mendapat kredit dari Bank BRI sebanyak 2 kali dengan
jumlah kredit sebelumnya sebesar Rp 300.000.000,-. Untuk nasabah dengan
kredit Rp 500.000.000,- yang lainnya baru memperoleh kredit dari Bank BRI
1 (satu) kali. Nasabah dengan kredit Rp350.000.000,- telah mendapatkan
kredit dari Bank BRI sebanyak 3 (tiga) kali. Masing-masing nasabah tersebut
memiliki jangka waktu kredit selama 1 tahun yang dapat diperpanjang sesuai
dengan kemampuannya.
Jenis kredit yang diberikan Bank BRI Sidoarjo adalah kredit investasi dan
kredit modal kerja yang masing-masing mempunyai persyaratan kredit yang
berbeda. Untuk kredit investasi, Bank BRI memberikan kredit dengan
perbandingan antara biaya sendiri dan kredit dengan proporsi biaya sendiri
sebesar 35% sampai 40%. Kredit investasi jangka waktunya 5 tahun dengan
grace period selama 6 sampai 12 bulan. Untuk kredit modal kerja, plafon
dana sendiri yang harus dimiliki untuk mendapatkan kredit ini sebesar 30%.
Jangka waktu kredit modal kerja antara 1 sampai 3 tahun.
Kredit modal kerja yang diberikan menggunakan pola rekening koran. Pola
rekening koran adalah pembiayaan di mana nasabah yang mendapatkan
kredit diharuskan membuka rekening di bank bersangkutan. Bank akan
memberikan kredit sejumlah pengajuan yang disetujui dengan jangka waktu
tertentu. Kredit tersebut dapat diambil sewaktu-waktu oleh nasabah selama
jangka waktu kredit yang diberikan. Jumlah kredit ini dibayar lunas pada
akhir periode dengan kata lain tidak menggunakan pola angsuran. Dengan
pola ini memungkinkan bagi nasabah untuk mengambil sejumlah dana yang
diperlukan pada waktu-waktu diperlukan. Tingkat suku bunga dihitung per
hari berdasarkan jumlah kredit yang diambil dan jangka waktu pengambilan
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
7
kredit. Jangka waktu pelunasan dapat diperpanjang sesuai dengan
kemampuan nasabah. BRI di tingkat unit akan memberikan Insentif
Pembayaran Tepat Waktu (IPTW) bagi nasabah yang membayar tepat pada
waktunya. Hal ini dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan usaha kecil.
No
Tabel.2.1 Persyaratan Kredit Menurut Jenis dan Jenis Kredit
Persyaratan Kredit
Investasi
Modal Kerja
1
Bunga (% per tahun)
14-18
14-15
2
Grace period (bulan)
6-12
-
3
Jangka waktu kredit (tahun)
5
1-3
4
Dana sendiri nasabah (%
plafon)
30-40
20-30
5
Periode angsuran
Dibayar akhir periode, bisa
diperpanjang
sesuai dengan kemampuan
Sumber : Data primer
Untuk mendapatkan kredit, nasabah harus memenuhi persyaratan yang telah
ditentukan oleh bank. Dua faktor utama yang dipertimbangkan bank adalah
karakter dan agunan. Karakter berkaitan dengan sifat wirausahawan yang
tangguh dan ulet serta bertanggungjawab, sehingga pihak bank dapat
mempercayai bahwa kredit yang diberikan akan dikembalikan melalui usaha
yang sungguh-sungguh. Agunan bisa dikatakan merupakan persyaratan yang
mutlak harus ada dalam pengajuan kredit. Agunan biasanya berupa sertifikat
tanah/bangunan tempat usaha. Untuk pengusaha kerupuk ikan di Sidoarjo
yang mendapatkan kredit dari BRI menggunakan jaminan berupa sertifikat
tanah/bangunan tempat usaha dan tabungan deposito.
Selain karakter dan agunan, karena industri pembuatan kerupuk merupakan
industri pengolahan makanan, maka ia harus mendapat ijin dari instansi
terkait seperti Departemen Perindustrian dan Perdagangan serta Departemen
Kesehatan. Perijinan tersebut diantaranya adalah tanda daftar industri,
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP),
tanda daftar perusahaan dan ijin SB/MD dari Departemen Kesehatan,dan ijin
bebas gangguan lingkungan (HO).
Pada awal pengajuan kredit, nasabah juga harus menanggung biaya
administrasi yang harus dilunasi sebelumnya. Biaya administrasi tersebut
meliputi:
a. Biaya pengikatan jaminan
b. Biaya notaris
c. Provisi
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
8
d. Biaya administrasi
e. Asuransi resiko
Kelima jenis biaya tersebut semua ditanggung oleh calon debitur dan harus
dibayar tunai sebelum kredit yang diajukan ditandatangani.
Persyaratan-persyaratan yang ditetapkan di atas relatif mudah dan bisa
dipenuhi oleh calon debitur. Kemudahan lainnya adalah waktu yang
diperlukan untuk realisasi kredit yang disetujui hanya membutuhkan waktu 1
(satu) bulan untuk nasabah baru, sedangkan untuk nasabah lama yang
merupakan perpanjangan kredit hanya membutuhkan waktu 3 (tiga) hari.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
9
3. Aspek Pemasaran
a. Permintaan
Permintaan kerupuk ikan berasal dari usaha penggorengan, agen/toko dan
pedagang. Secara kuantitatif belum ada data yang menggambarkan jumlah
konsumsi kerupuk ikan. Meskipun demikian dapat diperkirakan bahwa jumlah
konsumsi kerupuk relatif tinggi, karena makanan olahan ini banyak digemari
oleh masyarakat luas. Menurut data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas), penduduk wilayah perkotaan (urban) lebih banyak mengkonsumsi
kerupuk dibanding penduduk wilayah pedesaan (rural). Dengan kata lain
dapat dikatakan bahwa pengeluaran untuk konsumsi kerupuk wilayah
perkotaan lebih besar dibanding pengeluaran konsumsi kerupuk penduduk
wilayah pedesaan.
Jumlah konsumsi kerupuk di wilayah perkotaan yang lebih tinggi dibanding
pedesaan dikarenakan kepadatan penduduk di kota yang juga lebih tinggi
bila dibandingkan dengan pedesaan. Urbanisasi dan mobilitas penduduk yang
sehari-harinya bekerja di kota telah menumbuhkan usaha penjualan
makanan. Selain itu sifat kerupuk sebagai makanan pelengkap ini sering
diabaikan oleh penduduk desa karena lebih fokus pada pemenuhan
kebutuhan yang lebih pokok. Tabel 3.1 berikut menunjukkan jumlah
konsumsi kerupuk oleh penduduk di wilayah perkotaan dan pedesaan.
Tabel 3.1.
Konsumsi dan Pengeluaran Rata-rata per Kapita untuk Kerupuk Menurut
Wilayah
Banyaknya
Nilai (Rp)
(ons)
Perkotaan (Urban)
0.193
154
Pedesaan (Rural)
0.147
99
Perkotaan + Pedesaan 0.166
122
Sumber: Susenas, Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia, 2003
Dikatakan bahwa kerupuk merupakan makanan yang sangat digemari oleh
masyarakat luas baik penduduk miskin, pendapatan menengah maupun
pendapatan tinggi. Dari tabel 3.2. berikut dapat diketahui bahwa semakin
tinggi pendapatan yang dimiliki oleh seseorang, semakin besar jumlah
konsumsi kerupuk per bulannya.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
10
Tabel 3.2.
Konsumsi Rata-rata per Kapita untuk Kerupuk Menurut Golongan
Pengeluaran per Kapita Sebulan
Golongan Pengeluaran
Konsumsi (ons)
(Rp)
Kurang dari 40.000
40.000-59.999
0.075
60.000-79.999
0.087
80.000-99.999
0.085
100.000-149.999
0.128
150.000-199.999
0.140
200.000-299.999
0.196
300.000-499.999
0.250
500.000 dan lebih
0.305
Rata-rata konsumsi per kapita
0.166
Sumber: Susenas, Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia, 2003
Selain dikonsumsi masyarakat dalam negeri, kerupuk ikan juga telah
diekspor ke luar negeri antara lain ke Belanda, Arab Saudi, Malaysia, Korea
Selatan, Inggris, Singapura dan Belgia. Adapun jumlah ekspor untuk
komoditi kerupuk (kerupuk udang dll) disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 3.3.
Volume Ekspor Kerupuk Indonesia Menurut Jenisnya (ton)
Tahun
Kerupuk Udang Kerupuk Lainnya
1993
5.484.933
2.268.430
1994
4.436.580
2.184.394
1995
4.798.040
1.499.143
1996
6.056.580
2.293.738
1997
3.719.562
1.169.470
1998
1.532.735
1.113.172
Sumber: http://www.investasi.belitungisland.com
b. Penawaran
Usaha kerupuk ikan banyak diusahakan di daerah-daerah yang banyak
menghasilkan ikan terutama daerah-daerah pantai dan sungai-sungai besar
seperti di Kalimantan. Meskipun beberapa daerah telah memproduksi
kerupuk ikan, data mengenai jumlah produksi kerupuk ikan baik di tingkat
nasional maupun daerah belum bisa diperoleh. Sampai saat ini belum ada
survey yang mengidentifikasi jumlah usaha kerupuk ikan baik di tingkat lokal
maupun nasional.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
11
Kerupuk ikan dapat diproduksi sehari-hari dan tidak tergantung pada musim.
Hanya saja kemungkinan terjadi penurunan pasokan kerupuk pada musim
hujan karena produksinya menurun. Tetapi dengan berkembangnya
teknologi, hambatan proses pengeringan pada musim hujan dapat teratasi
sehingga pada musim hujan proses produksi masih bisa dilakukan meskipun
tidak sebanyak pada musim kemarau. Selain itu pasokan ikan yang bisa
diperoleh tiap hari dapat menjamin keberlangsungan usaha sekaligus
pasokan kerupuk.
c. Analisis Persaingan dan Peluang Pasar
Persaingan untuk usaha ini cukup tinggi karena jumlah usaha pembuatan
kerupuk relatif banyak dan jenis kerupuk yang sangat bervariasi. Peluang
pasar untuk produk kerupuk ini dapat diperoleh dengan menghasilkan produk
inovasi baru dengan kualitas rasa yang lebih enak dan warna ataupun bentuk
yang lebih menarik. Berbagai jenis kerupuk yang ada di pasaran membuat
konsumen semakin mempunyai banyak pilihan.
Selain produk inovasi baru peluang pasar untuk kerupuk ikan adalah segmen
pasar yang sangat luas. Produk ini dikonsumsi secara luas dari masyarakat
berpenghasilan rendah sampai masyarakat penghasilan tinggi. Kerupuk ikan
harganya relatif murah sehingga bisa dijangkau oleh semua lapisan
masyarakat. Diperkirakan jumlah konsumsi kerupuk ikan akan meningkat
seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan perkembangan gaya
hidup masyarakat yang menjadikan kerupuk ikan sebagai makanan
pelengkap sehari-hari.
d. Harga
Harga kerupuk ikan mengikuti hukum penawaran dan permintaan. Jika
penawaran menurun maka harga kerupuk cenderung naik. Banyaknya
jumlah usaha dengan berbagai jenis kerupuk yang dihasilkan menyebabkan
jumlah penawaran yang cukup besar. Dalam masalah harga, produsen tidak
bisa menentukan harga seperti pada pasar persaingan sempurna. Pihak yang
dapat mempengaruhi harga adalah pedagang. Banyaknya jenis kerupuk di
pasar membuat konsumen bebas memilih produk sesuai selera, sehingga
produk yang laku tersebut akan naik harganya dan dapat menurunkan harga
kerupuk jenis lain.
Harga rata-rata kerupuk ikan kualitas medium di tingkat produsen pada
tahun 2004 di Sidoarjo mencapai Rp 30.000 sampai Rp 32.500 per bal isi 5
kg kerupuk siap goreng atau Rp 6.000 sampai Rp 6.500 tiap kg. Harga
kerupuk ikan ini cukup fluktuatif. Perubahan harga tersebut bervariasi tetapi
biasanya masih berada pada kisaran 10 persen. Kenaikan harga terjadi pada
saat jumlah produksi menurun yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan
baku dan penurunan produksi terutama pada musim penghujan.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
12
e. Rantai Pemasaran
Rantai pemasaran menggambarkan bagaimana kerupuk ikan sampai kepada
konsumen. Pengusaha kerupuk ikan sebagian besar hanya menghasilkan
produk sampai pada kerupuk mentah siap goreng. Hasil produksi berupa
kerupuk siap goreng dipasarkan ke konsumen akhir (rumah tangga) melalui
3 cara yaitu:
1. Usaha penggorengan. Usaha penggorengan merupakan usaha yang
timbul sebagai usaha pengolahan lanjutan dari kerupuk ikan. Produk
dari usaha ini berupa kerupuk goreng siap konsumsi yang dikemas
kemudian dijual ke konsumen melalui toko, pedagang, pasar ataupun
langsung ke konsumen akhir.
2. Agen/toko. Agen/toko ini berfungsi sebagai pengepul yang akan
menjual produk kerupuk siap goreng pada penjual eceran atau
langsung kepada konsumen akhir.
3. Pedagang. Pedagang merupakan penjual eceran
Dari pola pemasaran produk di atas, dapat diketahui bahwa produk akan
sampai pada konsumen akhir dalam dua bentuk yaitu kerupuk mentah siap
goreng dan kerupuk goreng siap konsumsi. Dalam hal pengiriman produk
dari produsen ke konsumen ada dua cara yaitu:
1. Diambil langsung ke produsen
2. Dikirim oleh produsen kepada agen atau toko pemesan
Foto 1. Kerupuk Ikan Siap Dikirim ke Pedagang
Sumber: Sri Giyanti, Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSE-KP)
UGM
Gambar 1. Diagram Alir Rantai Pemasaran Kerupuk Ikan
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
13
f. Kendala Pemasaran
Kendala dalam pemasaran kerupuk ikan adalah masalah harga. Harga
kerupuk ikan maupun udang per kilogramnya relatif lebih mahal
dibandingkan jenis kerupuk lain yang tidak memakai ikan dan udang sebagai
campuran. Mahalnya harga kerupuk ikan/udang ini menyebabkan pembeli
untuk produk ini masih terbatas. Masyarakat dengan pendapatan menengah
ke atas mungkin akan membeli kerupuk ikan/udang sebagai kebutuhan
sehari-hari, tetapi untuk masyarakat dengan pendapatan yang masih rendah
konsumsi untuk kerupuk ikan/udang ini masih terbatas pada acara-acara
tertentu yang dianggap istimewa dan untuk konsumsi sehari-hari lebih
memilih kerupuk jenis lainnya yang lebih murah. Berikut perbandingan harga
beberapa jenis kerupuk di tingkat produsen di Sidoarjo untuk jenis kerupuk
dengan kualitas medium dapat dilihat pada Tabel 3.4.
Tabel 3.4.
Jenis Kerupuk dan Harganya di Sidoarjo
Jenis Kerupuk
Harga per kg
Kerupuk Ikan
6.000
Kerupuk Udang
8.000
Kerupuk Puli
3.000
Kerupuk Kasandra
2.900
Kerupuk Impala
3.000
Sumber: Data primer
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pada tingkat produsen, harga kerupuk
ikan/udang mencapai dua kali lipat dari harga jenis kerupuk dari tepung saja
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
14
(tanpa ikan dan udang). Terlihat harga kerupuk udang mempunyai harga
yang paling tinggi, sebab bahan baku berupa udang harganya lebih mahal
diantara bahan baku jenis kerupuk lain. Dengan komposisi harga yang
demikian tidak mengherankan jika permintaan kerupuk ikan relatif masih
rendah terutama pada masyarakat berpenghasilan rendah.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
15
4. Aspek Produksi
a. Lokasi Usaha
Lokasi usaha pengolahan produk ikan sebaiknya dilakukan di daerah-daerah
yang dekat dengan wilayah perairan baik wilayah dekat pantai ataupun
sungai-sungai besar agar dapat memperoleh bahan baku dengan harga yang
lebih murah. Untuk pembuatan kerupuk ikan tidak memerlukan lokasi usaha
yang spesifik. Rumah tangga pada umumnya dapat melakukan usaha ini
sepanjang memiliki tanah lapang yang cukup terutama untuk proses
penjemuran. Pada lokasi usaha yang hanya memiliki tanah sempit dapat
melakukan penyesuaian dengan membuat tempat penjemuran pada bagian
atas bangunan yang dibuat bertingkat.
b. Fasilitas Produksi
a. Bangunan untuk proses produksi
Bangunan digunakan untuk aktivitas proses produksi yang meliputi
penyiapan bahan baku, pembuatan adonan, pencetakan, pengukusan,
pendinginan, pemotongan, pengeringan/penjemuran dan penyimpanan. Luas
lahan yang digunakan tergantung pada jenis dan banyaknya fasilitas yang
dimiliki atau dengan kata lain skala usaha yang dimiliki. Lay out pabrik diatur
sesuai dengan urutan tahap-tahap produksi. Hal ini memudahkan untuk
proses pemindahan barang dari masing-masing tahap. Ruangan untuk
tempat pemotongan misalnya merupakan ruangan yang langsung tembus ke
lahan penjemuran untuk memudahkan proses pengangkutan kerupuk setelah
dipotong untuk selanjutnya dijemur. Gudang penyimpanan output
disesuaikan dengan jumlah produksi.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
16
Foto 2. Kerupuk yang Disimpan di Gudang Siap Dipasarkan
Sumber : Sri Giyanti, Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSE-KP)
UGM
b. Lahan penjemuran
Lahan penjemuran untuk pengeringan kerupuk ini relatif lebih luas
dibandingkan bangunan tempat produksi yang lain. Tanah yang digunakan
untuk penjemuran disemen agar kerupuk basah yang dijemur tidak kotor
oleh tanah. Di pinggir-pinggir lahan penjemuran diberi atap untuk
penyimpanan sementara kerupuk yang belum kering pada waktu malam hari
atau saat hujan.
Peralatan
Kerupuk ikan dapat diproduksi dengan alat yang sederhana atau dengan
peralatan dengan teknologi modern. Untuk industri rumah tangga yang
memproduksi kerupuk ikan baik untuk dikonsumsi sendiri ataupun dijual
dengan skala yang masih kecil dapat menggunakan alat-alat yang
sederhana. Adapun alat-alat sederhana yang digunakan untuk pembuatan
kerupuk ikan yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
Baskom
Dandang
Alat penghancur bumbu (cobek)
Pisau
Tampah (Nyiru)
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
17
6. Kompor
7. Loyang
8. Sendok
Usaha pembuatan kerupuk ikan dengan skala yang besar menggunakan alatalat dengan teknologi yang lebih modern. Penggunaan teknologi modern ini
dapat mengurangi jumlah pekerja sekaligus menghasilkan produk dengan
jumlah yang lebih banyak dalam waktu yang singkat. Adapun peralatan
modern yang digunakan dalam proses pembuatan kerupuk ikan antara lain:
1. Alat penghancur ikan. Digunakan untuk melumatkan ikan yang telah
dibersihkan kepala dan sisiknya sehingga diperoleh daging ikan yang
telah ditumbuk halus dan siap dicampur dengan bahan lain.
2. Alat pelembut bahan (mulen). Mesin ini digunakan untuk melembutkan
campuran ikan yang telah dihaluskan dan adonan tepung dan bumbu.
Mesin ini berkapasitas hingga 10 kg dan dapat dijalankan oleh 1 (satu)
orang tenaga kerja.
3. Bak pencampur bahan. Bak ini berbentuk persegi empat dengan
ukuran panjang rata-rata 2 meter dan lebar 1 meter yang terbuat dari
kayu. Ukuran bak ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas
muatan yang diinginkan.
4. Pencetak. Mesin pencetak ini digunakan untuk mencetak adonan
berbentuk silinder sebelum dimasukkan ke cetakan sesuai ukuran
yang diinginkan. Terdapat juga meja press agar adonan yang tercetak
menjadi lebih padat dan kenyal. Mesin cetak ini membutuhkan 1
(orang) tenaga kerja untuk menjalankannya.
5. Alat pengukus (dandang). Alat pengukus (dandang) berbentuk tabung
panjang yang terbuat dari aluminium.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
18
Foto 3. Dandang untuk Mengukus Adonan Kerupuk Ikan
Sumber: Sri Giyanti, Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) UGM
6. Mesin pemotong. Mesin pemotong ini digunakan untuk memotong
kerupuk yang telah didinginkan selama 1 hari (24 jam). Mesin ini
dijalankan oleh 2 (dua) orang tenaga kerja.
7. Oven. Oven digunakan untuk mengeringkan kerupuk terutama pada
saat sinar matahari kurang atau pada saat musim hujan. Oven
berbentuk persegi panjang yang terbuat dari cor-coran semen dan
pasir yang terbagi dalam dua bagian. Bagian atas merupakan tempat
kerupuk yang akan dikeringkan sedangkan bagian bawah berupa
kolong untuk mengalirkan panas. Oven terdiri dari dryer dan mesin
diesel.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
19
Foto 4. Oven untuk Pengeringan Kerupuk Pada Musim Hujan
Sumber: Sri Giyanti, Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSE-KP)
UGM
c. Bahan Baku Produksi
Terdapat
bermacam-macam
jenis
kerupuk
yang
pembuatannya
menggunakan bahan baku yang berbeda-beda. Seperti namanya, kerupuk
ikan merupakan kerupuk yang berbahan baku ikan. Berbagai jenis ikan dapat
digunakan untuk pembuatan kerupuk ikan, namun tidak semua jenis ikan
dapat dibuat kerupuk ikan. Adapun jenis ikan yang sering dibuat kerupuk
antara lain ikan tenggiri dan ikan pipih, serta ikan-ikan lainnya. Selain ikan,
usaha ini menggunakan bahan baku lain yaitu tepung tapioka, tepung terigu,
tepung sagu dan telur. Bumbu juga digunakan dalam pembuatan kerupuk
ikan untuk menambah rasa lezat dan gurih. Adapun bumbu-bumbu yang
digunakan adalah garam, gula dan penyedap rasa. Zat pewarna sering
digunakan sebagai bahan tambahan untuk memberikan warna agar lebih
menarik.
d. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang diperlukan dalam pembuatan kerupuk tidak memerlukan
keahlian khusus. Dalam hal ini tenaga kerja pria dan wanita dapat
dipekerjakan pada semua tahap pembuatan. Akan tetapi tenaga kerja lakilaki sebagian besar ditempatkan pada proses penyiapan bahan, pencetakan,
pengukusan, dan pemotongan sedangkan tenaga kerja wanita banyak
digunakan pada tahap pemotongan, penjemuran dan pengepakan. Selain
tenaga kerja tetap, terkadang diperlukan tenaga kerja borongan jika
sewaktu-waktu terjadi lonjakan pesanan atau pada musim kemarau dimana
proses produksi meningkat.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
20
e. Teknologi
Dalam usaha pembuatan kerupuk ikan dapat menggunakan teknologi
tradisional ataupun teknologi modern. Perbedaan teknologi ini berkaitan
dengan jenis peralatan yang digunakan selama proses produksi.
a. Teknologi tradisional
Peralatan yang digunakan pada teknologi ini mudah diperoleh sebab
merupakan peralatan yang sering dipakai dalam rumah tangga pada
umumnya. Selain alat, tenaga kerja merupakan faktor utama dalam hasil
produksi kerupuk, sebab beberapa proses dari produksi ini mengandalkan
tenaga manusia. Penggunaan peralatan sederhana ini sangat mempengaruhi
jumlah produksi yang dihasilkan dan mutu. Dengan hanya menggunakan
teknologi tradisional ini terkadang hanya dapat menghasilkan 1 (satu) kali
adonan. Kapasitas produksi dengan alat sederhana ini sangat kecil dengan
mutu yang kurang baik.
b. Teknologi modern
Pembuatan kerupuk dengan teknologi modern adalah proses dengan
menggunakan peralatan yang lebih modern seperti mesin cetak otomatis
yang menghasilkan bentuk yang lebih variatif, mesin pemotong yang lebih
cepat dan penggunaan oven. Penggunaan teknologi ini dapat menghasilkan
jumlah produksi yang berlipat-lipat jika dibandingkan dengan teknologi
sederhana. Dalam satu hari dapat dilakukan 3-4 kali adonan kerupuk. Selain
itu dengan teknologi ini akan menghemat jumlah tenaga kerja yang
digunakan yang akan menurunkan biaya operasional.
c. Teknologi menengah
Pada pembuatan kerupuk dengan teknologi menengah ini menggunakan
peralatan yang terdiri dari mesin-mesin dengan kapasitas yang relatif masih
rendah.
f. Proses Produksi
Usaha pembuatan kerupuk ikan hanya melakukan pengolahan dari bahan
mentah sampai pada proses kerupuk siap goreng. Adapun proses pembuatan
kerupuk ikan adalah sebagai berikut:
1. Proses penyiapan bahan baku
Proses penyiapan bahan baku adalah persiapan daging ikan yang akan
digunakan, tepung serta bumbu-bumbu yang digunakan beserta perhitungan
komposisi
masing-masing
bahan
untuk
setiap
adonan.
Dalam
mempersiapkan bahan baku pembuatan kerupuk ikan yang perlu mendapat
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
21
perhatian utama adalah penyiapan ikan yang akan dijadikan bahan utama.
Mutu ikan yang digunakan akan mempengaruhi mutu produksi kerupuk ikan,
oleh karena itu perlu dipilih ikan yang masih segar. Dengan demikian
diperlukan pengetahuan untuk mengetahui tanda-tanda ikan dengan mutu
yang baik (masih segar).
Sebelum dihaluskan, ikan dibersihkan dahulu dengan cara menghilangkan
sisik, insang, maupun isi perutnya kemudian dicuci sampai bersih. Bagian
tubuh yang keras, seperti duri maupun tulang dibuang karena dapat
menurunkan mutu kerupuk yang dihasilkan. Selanjutnya ikan tersebut
digiling sampai halus. Di samping itu bahan baku berupa tepung dan telur
serta bumbu disiapkan untuk proses adonan.
Tabel 4.1. Ciri-ciri Utama Ikan Segar dan Ikan yang Mulai Membusuk
Ikan yang Mulai
Ikan Segar
Membusuk
Kulit



Warna kulit terang
dan jernih
Kulit masih kuat
membungkus tubuh,
tidak mudah sobek,
terutama pada bagian
perut
Warna-warna khusus
yang ada masih
terlihat jelas
Sisik
Sisik menempel kuat
pada tubuh sehingga
sulit dilepas
Mata
Mata tampak terang,
jernih, menonjol dan
cembung
Insang


Insang berwarna
merah sampai merah
tua, terang dan
lamella insang
terpisah
Insang tertutup oleh
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan



Kulit berwarna suram,
pucat dan berlendir
banyak
Kulit mulai terlihat
mengendur di beberapa
tempat tertentu
Kulit mudah robek dan
warna-warna khusus
sudah hilang
Sisik mudah terlepas dari
tubuh
Mata tampak suram,
tenggelam dan berkerut


Insang berwarna coklat
suram atau abu-abu dan
lamella insang
berdempetan
Lendir insang keruh dan
berbau asam, menusuk
hidung
22
lendir berwarna
terang dan berbau
segar seperti bau ikan
Daging






Daging kenyal,
menandakan rigor
mortis masih
berlangsung
Daging dan bagian
tubuh lain berbau
segar
Bila daging ditekan
dengan jari tidak
tampak bekas
lekukan
Daging melekat kuat
pada tulang
Daging perut utuh
dan kenyal
Warna daging putih
Bila ditaruh dalam air
Ikan segar akan
tenggelam






Daging lunak,
menandakan rigor
mortis telah selesai
Daging dan bagian
tubuh lain mulai berbau
busuk
Bila ditekan dengan jari
tampak bekas lekukan
 Daging mudah lepas
dari tulang
 Daging lembek dan
isi perut sering keluar
 Daging berwarna
kuning kemerahmerahan terutama di
sekitar tulang punggung
Ikan yang sudah
membusuk akan terapung
di permukaan air
Sumber: Eddy Afrianto dan Evi Liviawaty, Pengawetan dan Pengolahan Ikan,
Kanisius, Yogyakarta, 1989.
2. Proses pembentukan adonan
Adonan dibuat dari tepung tapioka yang dicampur dengan bumbu-bumbu
yang digunakan. Tepung diberi air dingin hingga menjadi adonan yang
kental. Bumbu dan ikan yang telah digiling halus dimasukkan ke dalam
adonan dan diaduk/diremas hingga lumat dan rata. Adonan ini kemudian
dimasukkan ke dalam mulen untuk pelembutan, dan akan diperoleh adonan
yang kenyal dengan campuran bahan merata.
3. Pencetakan
Pencetakan adonan dapat dilakukan dengan tangan ataupun dengan mesin.
Dengan menggunakan tangan adonan dibentuk silinder dengan panjang
kurang lebih 30 cm dan diameter 5 cm. Dengan bantuan alat cetak adonan
ini dapat dibuat dalam bentuk serupa. Kemudian adonan berbentuk silinder
ini di "press" untuk mendapatkan adonan yang lebih padat. Selanjutnya
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
23
adonan ini dimasukkan ke dalam cetakan yang berbentuk silinder yang
terbuat dari aluminium.
Foto 5. Proses Pencetakan Adonan Kerupuk Ikan sebelum Dikukus
Sumber : Sri Giyanti, Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSE-KP)
UGM
4. Pengukusan
Adonan berbentuk silinder kemudian dikukus dalam dandang selama kurang
lebih 2 jam sampai masak. Untuk mengetahui apakah adonan kerupuk telah
masak atau belum adalah dengan cara menusukkan lidi ke dalamnya. Bila
adonan tidak melekat pada lidi berarti adonan telah masak. Cara lain untuk
menentukan masak atau tidaknya adonan kerupuk dapat dilakukan dengan
menekan adonan tersebut. Bila permukaan silinder kembali seperti semula,
artinya adonan telah masak.
5. Pendinginan
Adonan kerupuk yang telah masak segera diangkat dan didinginkan. Untuk
melepaskan dari cetakan, biasanya adonan tersebut diguyur dengan air.
Adonan tersebut kemudian didinginkan di udara terbuka kurang lebih 1
(satu) hari atau kurang lebih 24 jam hingga adonan menjadi keras dan
mudah diiris.
6. Pemotongan
Tahap selanjutnya adalah pemotongan adonan kerupuk yang telah dingin.
Sebuah mesin pemotong dijalankan oleh 2 (dua) orang. Proses ini juga dapat
dilakukan secara sederhana yaitu mengiris adonan dengan pisau yang tajam.
Pengirisan dilakukan setipis mungkin dengan tebal kira-kira 2 mm, agar
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
24
hasilnya baik ketika digoreng. Untuk memudahkan pengirisan, pisau dilumuri
dahulu dengan minyak goreng.
7. Penjemuran/pengovenan
Adonan yang telah diiris-iris kemudian dijemur sampai kering. Penjemuran
dilakukan di bawah sinar matahari kurang lebih 4 jam. Pada saat musim
hujan untuk pengeringan kerupuk yang masih basah ini dapat dilakukan
dengan oven (dryer) selama kurang lebih 2 jam. Tetapi kerupuk yang
dikeringkan dengan sinar matahari hasilnya akan lebih bagus dibandingkan
jika menggunakan oven. Kerupuk yang dikeringkan dengan sinar matahari
jika digoreng akan lebih mengembang. Hal ini akan lebih menguntungkan
para pengusaha penggorengan kerupuk dan akan mempengaruhi harga
kerupuk. Karena itulah pengeringan menggunakan sinar matahari lebih
disukai dibandingkan dengan menggunakan oven.
Foto 6. Proses Penjemuran Kerupuk Ikan dengan Sinar Matahari
Sumber: Sri Giyanti, Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSE-KP)
UGM
8. Pengepakan
Setelah kering, kerupuk segera diangkat dari jemuran. Kerupuk yang telah
kering ini dapat segera dibungkus dan dijual. Biasanya kerupuk ikan siap
goreng ini dikemas dalam plastik sejumlah berat tertentu. Kemasan kerupuk
dalam plastik tersebut disebut bal, dimana per bal dapat berisi 5 kg atau 10
kg kerupuk.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
25
Foto 7. Pengepakan Kerupuk Ikan yang Dikerjakan oleh Tenaga Kerja Wanita
Sumber: Sri Giyanti, Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSE-KP)
UGM
Jika digambarkan dalam bentuk diagram alir, pembuatan kerupuk ikan
adalah sebagai berikut:
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
26
Gambar 2. Diagram Alir Pembuatan Kerupuk IKan
g. Jumlah, Jenis dan Mutu Produksi
Dengan menggunakan teknologi sederhana, jumlah produksi kerupuk per
hari yang dihasilkan sedikit. Dengan peralatan yang masih sederhana dan
kapasitas produksi yang masih rendah, serta mengandalkan jumlah tenaga
kerja manusia, pembuatan kerupuk ikan memerlukan waktu yang lebih lama
sehingga dalam sehari terkadang hanya dapat melakukan 1 (satu) kali
adonan dengan jumlah produksi rata-rata 3 kuintal. Dibandingkan dengan
proses teknologi modern dalam satu hari dapat dilakukan 2-3 kali adonan
dengan jumlah produksi per adonan bisa lebih dari 1 ton.
Dalam usaha kerupuk ikan biasanya tidak hanya mengusahakan satu jenis
kerupuk ikan saja. Usaha ini juga menghasilkan jenis kerupuk lain seperti
kerupuk udang atau kerupuk tepung sebagai diversifikasi usaha. Usaha
tersebut dijalankan tidak hanya memenuhi pesanan dari konsumen tetapi
juga mengantisipasi bila bahan baku ikan sulit didapat sehingga usaha tidak
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
27
macet. Terdapat berbagai jenis kerupuk ikan tergantung pada jenis ikan dan
komposisi ikan yang digunakan.
Dari berbagai jenis kerupuk ikan dan komposisinya, produk tersebut harus
memenuhi standar mutu produk kerupuk ikan yang ditetapkan. Selain itu
kerupuk ikan harus bebas dari bahan-bahan pengawet yang dapat
membahayakan kesehatan manusia. Adapun standar mutu kerupuk disajikan
dalam Tabel berikut:
Tabel.4.2. Standar Mutu Kerupuk
STANDAR MUTU
KARAKTERISTIK
I
II
Udang Ikan Udang
Kadar air (%) maksimum
12,0
12,0
12,0
Kadar protein (%) minimum
4,0
5,0
2,0
Kadar abu tidak larut dalam asam (%) 1,0
1,0
1,0
maksimum
Benda asing (%) maksimum
1,0
1,0
1,0
Bau (mg)
Khas
Khas
Khas
Sumber: www.ristek.go.id
Ikan
12,0
5,0
1,0
1,0
Khas
h. Produksi Optimum
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari studi lapangan, komposisi adonan
tepung tapioka dan bumbu yang digunakan memiliki perbandingan sebagai
berikut: Ikan 50 kg, tepung tapioka 300 kg, garam 10 kg, gula 12,5 kg, telur
10 kg serta penyedap dan pewarna secukupnya. Komposisi ini dapat
menghasilkan kerupuk dengan kualitas yang baik yaitu jika digoreng akan
mengembang dengan baik. Apabila proses pembuatan kerupuk ikan berjalan
optimal maka dari 1 adonan tepung tapioka yang dicampur dengan bahanbahan lainnya tersebut dapat dihasilkan 300-330 kg kerupuk (rendemen 7685 persen)
i. Kendala Produksi
Dilihat dari sisi tenaga kerja, usaha kerupuk ikan ini tidak menemui
kesulitan. Setiap proses produksi dapat dikerjakan oleh tenaga kerja tanpa
memerlukan keahlian khusus. Kesulitan yang sering dijumpai dalam usaha
ini adalah ketika terjadi kelangkaan bahan baku ikan dan penurunan
produksi pada saat musim hujan.
Kesulitan bahan baku terjadi ketika pasokan ikan menurun sehingga
menyebabkan harga ikan naik. Pada kondisi ini pengusaha kerupuk
mengalami penurunan pasokan ikan karena jumlah produksi ikan yang
menurun tersebut lebih banyak dialihkan untuk konsumsi sehari-hari secara
langsung. Di pihak lain pengusaha tidak dapat menaikkan harga sesuai
dengan kenaikan harga bahan bakunya karena tidak dapat mempengaruhi
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
28
harga kerupuk ikan di pasar. Hal inilah yang menyebabkan pengusaha
mengurangi jumlah produksinya.
Pada musim hujan terjadi penurunan jumlah produksi dan penurunan mutu
produk. Penurunan jumlah produksi dikarenakan kurangnya sinar matahari
yang menghambat proses penjemuran. Meskipun pengeringan kerupuk dapat
dilakukan dengan oven (dryer), tetapi jumlah produk yang dihasilkan juga
sedikit sebab mutunya tidak sebagus dengan pengeringan dengan sinar
matahari. Sedikitnya sinar matahari pada musim hujan juga menurunkan
mutu kerupuk karena harus dijemur berhari-hari.
Kendala produksi di atas biasanya diantisipasi oleh pengusaha dengan
memproduksi dalam jumlah yang besar pada musim kemarau untuk stok
musim hujan, karena pada musim hujan terjadi kenaikan harga kerupuk
yang diakibatkan oleh jumlah permintaan yang tidak bisa dipenuhi oleh
produsen seperti hari-hari biasanya.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
29
5. Aspek Keuangan
a. Pemilihan Pola Usaha
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa seorang pengusaha
kerupuk tidak hanya memproduksi satu jenis kerupuk saja, tetapi juga
memproduksi kerupuk jenis yang lain. Pada dasarnya ini merupakan salah
satu strategi untuk memperkecil resiko sekaligus pengembangan usaha yang
lebih luas. Untuk menganalisis aspek keuangan dari usaha kerupuk ikan
sebenarnya dipengaruhi juga oleh jenis kerupuk lain yang diproduksi, akan
tetapi dalam analisis ini hanya akan menganalisis aspek keuangan dari usaha
yang hanya memproduksi jenis kerupuk ikan saja. Teknologi yang digunakan
dalam proses produksi adalah teknologi menengah dengan kapasitas
produksi optimal 310 kg kerupuk setiap satu kali adonan.
b. Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan
Analisis keuangan, proyeksi penerimaan dan biaya didasarkan pada asumsi
yang terangkum dalam Tabel 5.1. Periode proyek adalah 5 tahun. Tahun ke
nol sebagai dasar perhitungan nilai sekarang (present value) adalah tahun
ketika
biaya
investasi
awal
dikeluarkan.
Dengan
menggunakan
mesin/peralatan dan jumlah tenaga kerja seperti yang tercantum dalam
tabel asumsi, seorang pengusaha mampu memproduksi 310 kg kerupuk.
Angka rendemen sebesar 79%. Harga kerupuk di pasar lokal sebesar Rp
6.000, Hari kerja selama setahun sebanyak 285 hari. Tenaga kerja borongan
bekerja selama 200 hari.
Tabel 5.1.
Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan
Jumlah/
No
Asumsi
Satuan
Keterangan
Nilai
1 Periode proyek
tahun
5
Periode 5 tahun
2 Luas tanah
m2
2.000
- Luas bangunan
m2
500
- Luas tanah
penjemuran
m2
1.500
3 Sarana Transportasi
unit
1
Mobil box
Hari kerja selama 1
4 tahun
- tenaga kerja tetap
hari
285
- tenaga borongan
hari
200
5 Produksi dan Harga
- Produksi per hari
kg
620
2 adonan per hari.
produksi
@310 kg kerupuk
- Harga kerupuk ikan
kg
6.000
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
30
Penggunaan tenaga
6 kerja
- Tenaga Manajerial
- Tenaga kerja tetap
- Tenaga kerja
borongan
7 Upah tenaga kerja
- Tenaga Manajerial
- Tenaga kerja tetap
- Tenaga kerja
borongan
Penggunaan bahan
8 baku
- Tepung tapioka
- Ikan
- Garam
- Gula
- Telur
- Penyedap
- Pewarna
Discount Factor/suku
9 bunga
orang
orang
2
14
orang
4
Rp/hr
Rp/hr
36.000
18.000
Rp/hr
22.000
Untuk satu kali adonan
kg
kg
kg
kg
kg
kg
kg
300
50
10
12,5
10
2
0,25
%
17%
Sumber: Lampiran 1
c. Komponen Biaya Investasi dan Biaya Operasional
1. Biaya Investasi
Biaya investasi merupakan biaya tetap yang besarnya tidak dipengaruhi oleh
jumlah produk yang dihasilkan. Biaya investasi untuk usaha kerupuk ikan
terdiri dari beberapa komponen diantaranya biaya perijinan, sewa tanah,
pembelian mesin atau peralatan produksi, peralatan pendukung dan sarana
transportasi.
Biaya perijinan meliputi ijin usaha dari Departemen Perindustrian dan
Perdagangan dan Departemen Kesehatan dengan jumlah biaya Rp600.000
dan masa berlaku selama 3 tahun. Sewa tanah dibayarkan tiap tahun,
sehingga setiap tahun harus dikeluarkan biaya untuk komponen sewa tanah
ini. Pada tahun-tahun tertentu dilakukan reinvestasi untuk pembelian mesin
atau peralatan produksi yang umur ekonomisnya kurang dari 5 tahun.
Jumlah biaya investasi keseluruhan pada tahun 0 adalah Rp 299.339.000.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
31
Tabel 5.2.
Biaya Investasi Usaha Kerupuk Ikan
No
Jenis Biaya
Nilai
Penyusutan
1
Perijinan
600.000
0
Sewa Tanah dan
2
Bangunan
150.000.000
0
Mesin/Peralatan
3
Produksi
107.030.000 43.994.750
4
Peralatan lain
1.709.000
221.800
5
Mobil box
40.000.000
4.000.000
Jumlah Biaya Investasi
299.339.000 48.216.550
Sumber : Lampiran 2
Komponen terbesar untuk biaya investasi ini adalah sewa tanah yang
mencapai 50,11% dari total biaya investasi pada awal usaha. Komponen
terbesar kedua adalah biaya pembelian mesin/peralatan produksi yaitu
sebesar 35,74% dari total biaya investasi. Sedangkan 14,15% sisa biaya
untuk investasi merupakan biaya investasi untuk pembelian peralatan
lainnya, mobil angkutan dan perijinan.
2. Biaya Operasional
Biaya operasional merupakan biaya variabel yang besar kecilnya dipengaruhi
oleh jumlah produksi. Komponen dari biaya operasional adalah pengadaan
bahan baku dan pembantu, peralatan operasional, biaya transportasi, listrik
dan telepon, serta upah tenaga kerja. Biaya operasional selama satu tahun
dihitung berdasarkan jumlah hari untuk produksi kerupuk. Jumlah hari kerja
dalam setahun sebanyak 285 hari (asumsi yang digunakan adalah 1
tahun=365 hari, dikurangi hari libur minggu dan libur nasional 64 hari dan
jumlah hari tidak berproduksi selama 16 hari).
Biaya operasional yang diperlukan selama satu tahun mencapai Rp
711.298.900. Biaya bahan baku menyerap sebesar 73,12% dari total biaya
operasional per tahun. Komponen biaya terbesar kedua adalah biaya
penggunaan tenaga kerja yang mencapai 15,45% dari total biaya operasional
tiap tahunnya. Tenaga kerja yang digunakan terdiri dari tenaga kerja tetap
dan borongan ditambah 2 orang tenaga kerja manajerial yang berasal dari
anggota keluarga dengan upah/gaji tenaga manajerial diasumsikan dua kali
lipat upah tenaga kerja tetap. Tenaga kerja borongan hanya digunakan
dengan jumlah hari kerja yang lebih sedikit, karena hanya dibutuhkan pada
saat terjadi kenaikan permintaan.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
32
Tabel 5.3.
Biaya Operasional Usaha Kerupuk Ikan per Tahun
No
Jenis Biaya
Nilai (Rp)
1 Bahan Baku
520.125.000
2 Bahan Pembantu
16.200.000
3 Peralatan Operasional
11.700.000
4 Biaya Transportasi
14.400.000
5 Biaya Listrik
7.200.000
6 Biaya telepon
1.800.000
7 Tenaga Kerja
8 Biaya Pemeliharaan
Jumlah Biaya Operasional Per Tahun
Sumber : Lampiran 3
109.940.000
29.933.900
711.298.900
d. Kebutuhan Dana untuk Investasi dan Modal Kerja
Kebutuhan investasi maupun modal kerja tidak harus dipenuhi sendiri.
Jumlah modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha kerupuk ikan sebesar
Rp 374.212.568. Jumlah kredit investasi yang dibiayai oleh bank sebesar
70% dari total kebutuhan investasi. Dengan kata lain pengusaha harus
menyediakan dana sendiri sebesar 30% dari total dana investasi. Dalam
analisis ini jumlah dana kredit investasi sebesar Rp 209.537.300.
Besarnya kredit modal kerja ditentukan berdasarkan kebutuhan dana awal
untuk satu kali siklus produksi. Usaha pembuatan kerupuk ikan mempunyai
siklus produksi (dari pembuatan sampai memperoleh penerimaan dari
penjualan) kurang lebih selama 30 hari atau 1 bulan. Sehingga jumlah kredit
modal kerja yang dibutuhkan adalah:
Kebutuhan modal kerja = (siklus produksi/hari kerja dalam setahun) x biaya
operasional selama 1 tahun
= (30/285) x Rp 711.298.900 = Rp 74.873.568
Jumlah kredit modal kerja dari bank dipersyaratkan sebesar 70% dari
kebutuhan dana modal kerja. Dengan demikian jumlah kredit modal kerja
sebesar 70% x Rp 74.873.568 = Rp 52.411.498.
Jumlah dan sumber dana untuk usaha kerupuk ikan disajikan dalam Tabel
5.4. berikut:
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
33
Tabel 5.4.
Kebutuhan Dana untuk Investasi dan Modal Kerja
No
Rincian Biaya Proyek
Total Biaya
1 Dana investasi yang bersumber dari
a. Kredit
209.537.300
b. Dana sendiri
89.801.700
Jumlah dana investasi
299.339.000
2 Dana modal kerja yang bersumber dari
a. Kredit
52.411.498
b. Dana sendiri
22.462.071
Jumlah dana modal kerja
74.873.568
3 Total dana proyek yang bersumber dari
a. Kredit
261.948.798
b. Dana sendiri
112.263.771
Jumlah dana proyek
374.212.568
Sumber : Lampiran 4
Jangka waktu kredit untuk investasi selama 5 tahun tanpa grace period
sedangkan kredit modal kerja yang digunakan dalam analisis ini berjangka
waktu 1 tahun. Kredit modal kerja pada kenyataannya dapat diperpanjang
lagi masa jatuh temponya disesuaikan dengan kemampuan pengusaha
membayarnya. Tingkat suku bunga yang digunakan adalah sebesar 17% per
tahun flat. Dengan demikian jumlah angsuran pokok berikut bunga yang
harus dibayar setiap bulan untuk masing-masing jenis kredit dapat dihitung.
Tabel 5.7. menunjukkan kumulatif angsuran (angsuran pokok dan bunga)
untuk kredit investasi dan modal kerja yang harus dibayar setiap tahunnya.
Tabel 5.5.
Angsuran Pokok dan Bunga Kredit Investasi dan Modal Kerja
Tahun
Angsuran Angsuran
Total
Saldo
Kredit
Saldo Awal
kePokok
Bunga
Angsuran
Akhir
0
261.948.798
261.948.798 261.948.798
1
94.318.958 37.182.277 131.501.235 261.948.798 167.629.840
2
41.907.460 25.231.783 67.139.243 167.629.840 125.722.380
3
41.907.460 18.107.515 60.014.975 125.722.380 83.814.920
4
41.907.460 10.983.247 52.890.707 83.814.920 41.907.460
5
41.907.460 3.858.979 45.766.439 41.907.460
0
Sumber : Lampiran 5
e. Proyeksi Produksi dan Pendapatan Kotor
Jumlah produksi selama satu tahun sebesar 176.700 kg. Jumlah ini diperoleh
dari jumlah adonan per tahun dikalikan dengan jumlah produksi per adonan.
Dalam satu tahun dilakukan adonan sebanyak 570 kali dengan jumlah
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
34
produksi per adonan sebesar 310 kg kerupuk. Harga kerupuk ikan
diasumsikan sebesar Rp 6.000 tiap kg, sehingga pendapatan dari produksi
kerupuk per tahun sebesar Rp 1.060.200.000. Pendapatan sampingan
diperoleh dari penjualan kantong bekas tepung tapioka (sak) per tahun ratarata Rp 1.368.000. Tabel penerimaan kotor dalam setahun disajikan dalam
Tabel 5.6. berikut:
Tabel 5.6.
Produksi dan Pendapatan Kotor per Tahun
Harga
No
Uraian
Satuan
Jumlah satuan Nilai (Rp)
(Rp)
1 Produksi per tahun
Kg
176.700
2 Penjualan per tahun
Kg
176.700
6.000 1.060.200.000
Penjualan sak per
3 tahun
Sak
3.420
400
1.368.000
4 Pendapatan kotor
1.061.568.000
Sumber : Lampiran 6
Dari Tabel 5.6. di atas diketahui bahwa aliran penerimaan usaha pembuatan
kerupuk ikan adalah Rp 1.061.568.000 per tahun. Sedangkan untuk aliran
biaya terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional yang telah dijelaskan
pada sub bab sebelumnya.
f. Proyeksi Rugi Laba dan Break Even Point
Tingkat keuntungan atau profitabilitas dari usaha yang dilakukan merupakan
bagian penting dalam analisis keuangan dari rencana kegiatan investasi.
Keuntungan dihitung dari selisih antara penerimaan dan pengeluaran tiap
tahunnya. Tabel 5.7. menunjukkan keuntungan (surplus) selama periode
proyek.
Hasil perhitungan proyeksi laba rugi menunjukkan bahwa pada tahun
pertama usaha ini telah untung sebesar Rp 144.968.618. Laba ini akan
meningkat untuk tahun-tahun berikutnya karena komponen biaya angsuran
kredit yang semakin berkurang. Laba rata-rata selama periode proyek adalah
Rp 196.001.526 per tahun. Profit margin rata-rata per tahun sebesar
18,46%.
Dengan mempertimbangkan biaya tetap, biaya variabel dan hasil penjualan
kerupuk ikan, dari hasil analisis diperoleh BEP rata-rata selama 5 tahun
untuk usaha ini adalah sebesar Rp 362.713.898 atau dengan jumlah produksi
sebesar 60.452 kg per tahunnya dengan harga kerupuk ikan per kg sebesar
Rp 6.000.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
35
Uraian
Pendapatan
Pengeluaran
a. Biaya
operasional
b. Penyusutan
c. Angsuran
pokok
d. Bunga bank
Jumlah
Laba sebelum
pajak
e. Pajak 15%
Laba rugi
Profit margin %
BEP (nilai
penjualan)
BEP (produksi)
BEP Rp/kg :
- Biaya
operasional
- Total biaya
BEP rata-rata
- Penjualan (Rp)
- Produksi (kg)
- Rp/kg
- Biaya
operasional
- Total biaya
Tabel. 5.7.
Proyeksi Rugi/Laba Usaha Kerupuk Ikan
TAHUN
1
2
3
4
5
1.061.568.000 1.061.568.000 1.061.568.000 1.061.568.000 1.061.568.000
711.298.900
48.216.550
711.298.900
48.216.550
711.298.900
48.216.550
711.298.900
48.216.550
711.298.900
48.216.550
94.318.958
37.182.277
891.016.685
41.907.460
25.231.783
826.654.693
41.907.460
18.107.515
819.530.425
41.907.460
10.983.247
812.406.157
41.907.460
3.858.979
805.281.889
170.551.315
25.582.697
234.913.307
35.236.996
242.037.575
36.305.636
249.161.843
37.374.276
256.286.111
38.442.917
144.968.618
199.676.311
205.731.939
211.787.567
217.843.195
13,66%
18,81%
19,38%
19,95%
20,52%
544.674.507
90.779
349.611.252
58.269
328.019.581
54.670
306.427.910
51.071
284.836.239
47.473
4.025
5.043
4.025
4.678
4.025
4.638
4.025
4.598
4.025
4.557
362.713.898
60.452
4.025
4.703
Sumber : Lampiran 8
g. Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek
Berdasarkan analisis arus kas dilakukan perhitungan B/C ratio, Net B/C ratio,
Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Pay Back Period
(PBP). Sebuah usaha berdasarkan kriteria investasi di atas dikatakan layak
jika B/C ratio atau Net B/C ratio > 1, NPV > 0 dan IRR > discount rate.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
36
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa usaha kerupuk ikan menguntungkan
karena pada tingkat suku bunga 17% per tahun net B/C ratio sebesar 1,60
dan NPV sebesar Rp 223.409.530. Dengan nilai IRR 46,37% artinya proyek
ini layak dilakukan sampai pada tingkat suku bunga sebesar 46,37% per
tahun.
No
1
2
3
4
5
Tabel 5.8.
Kelayakan Usaha Kerupuk Ikan
Kriteria Kelayakan
Nilai
Net B/C ratio pada DF 17%
1,60
NPV pada DF 17% (Rp)
223.409.530
IRR (%)
46,37
PBP (usaha)
3 tahun 11 bulan
PBP (kredit)
2 tahun 6 bulan
Sumber : Lampiran 9
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa jangka waktu pengembalian seluruh
biaya investasi adalah 3 tahun 11 bulan. Dengan demikian usaha ini layak
dilaksanakan karena jangka waktu pengembalian investasi lebih kecil dari
periode proyek. Dilihat dari segi kelayakan kredit, usaha ini layak dibiayai
karena jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan kredit hanya 2
tahun 6 bulan.
h. Analisis Sensitivitas
Dalam analisis proyek investasi kerupuk ikan terdapat ketidakpastian yang
akan mempengaruhi hasil perhitungan. Analisis sensitivitas akan dilakukan
untuk menguji seberapa jauh proyek yang dilaksanakan sensitif terhadap
perubahan dan harga-harga input dan output. Dalam analisis sensitivitas ini
digunakan 3 skenario yaitu :
1. Skenario I
Pendapatan proyek mengalami penurunan sedangkan biaya investasi dan
biaya operasional dianggap tetap. Penurunan pendapatan bisa diakibatkan
oleh penurunan harga kerupuk, jumlah permintaan yang menurun ataupun
jumlah produksi yang menurun.
2. Skenario II
Biaya operasional mengalami kenaikan sedangkan biaya investasi dan
penerimaan proyek investasi tetap. Kenaikan biaya operasional bisa terjadi
karena kenaikan harga input untuk operasional seperti bahan baku,
peralatan operasional, dll.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
37
3. Skenario III
Skenario ini merupakan gabungan dari skenario I dan skenario II yaitu
diasumsikan penerimaan proyek mengalami penurunan dan biaya
operasional mengalami kenaikan, sedangkan biaya investasi tetap.
Hasil analisis sensitivitas disajikan dalam Tabel berikut:
Tabel 5.9.
Hasil Analisis Sensitivitas Skenario I
Penerimaan Turun
No
Kriteria Kelayakan
2,5%
3%
1 Net B/C ratio pada DF
1,37
1,32
17%
2 NPV pada DF 17% (Rp)
138.501.442
121.519.824
3 IRR (%)
35,94
33,76
4 PBP (usaha)
4 tahun 9 bulan
6 tahun
5 PBP (kredit)
3 tahun 9 bulan
4 tahun 5 bulan
Sumber : Lampiran 10 dan Lampiran 11
Tabel 5.10.
Hasil Analisis Sensitivitas Skenario II
Biaya Operasional Naik
No
Kriteria Kelayakan
4%
5%
1 Net B/C ratio pada DF 17%
1,35
1,29
2 NPV pada DF 17% (Rp)
132.381.873
109.624.959
3 IRR (%)
35,16
32,22
4 PBP (usaha)
4 tahun 10 bulan 6 tahun 1 bulan
5 PBP (kredit)
3 tahun 11 bulan 4 tahun 8 bulan
Sumber : Lampiran 12 dan Lampiran 13
Tabel 5.11.
Hasil Analisis Sensitivitas Skenario III
Penerimaan Turun dan Biaya
Operasional Naik
No
Kriteria Kelayakan
1,5%
2%
1 Net B/C ratio pada DF 17%
1,37
1,29
2 NPV pada DF 17% (Rp)
138.329.306
109.969.231
3 IRR (%)
35,91
32,26
4 PBP (usaha)
4 tahun 7 bulan 6 tahun 1 bulan
5 PBP (kredit)
3 tahun 8 bulan 5 tahun 7 bulan
Sumber : Lampiran 14 dan Lampiran 15
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
38
Pada skenario I, dengan penurunan pendapatan proyek sebesar 2,5%,
proyek ini masih layak dibiayai karena pada tingkat suku bunga 17% net B/C
sebesar 1,37, NPV sebesar Rp 138.501.442 nilai IRR 35,94%, periode
pengembalian baik kredit investasi dan kredit modal kerja kurang dari 5
tahun sehingga proyek ini layak diusahakan dan dibiayai oleh bank.
Pada penurunan pendapatan sebesar 3%, diperoleh Net B/C ratio sebesar
1,32, NPV yang diperoleh sebesar Rp 121.519.824 dan IRR 33,76. Jangka
waktu pengembalian kredit selama 4 tahun 5 bulan tetapi jika dilihat dari
jangka waktu pengembalian investasi, usaha ini tidak layak dilakukan karena
payback periodnya melebihi periode proyek yang hanya 5 tahun.
Pada skenario II, dengan kenaikan biaya operasional sebesar 4%, proyek ini
masih layak dilakukan dengan net B/C sebesar 1,35, NPV Rp 132.381.873,
IRR sebesar 35,16% dan jangka waktu pengembalian kredit investasi dan
kredit modal kerja kurang dari 5 tahun. Dengan demikian pada tingkat
kenaikan biaya operasional sebesar 4%, usaha ini masih layak untuk dibiayai
oleh bank.
Pada skenario kenaikan biaya 5%, proyek ini tidak layak diusahakan jika
dilihat dari payback period usahanya, karena jangka waktu pengembalian
investasi melebihi periode proyek. Tetapi jika dilihat dari kriteria investasi
lainnya proyek ini masih layak diusahakan dengan net B/C sebesar 1,29, NPV
Rp 109.624.959 dan IRR sebesar 32,22%. Sedangkan pay back period kredit
selama 4 tahun 8 bulan.
Pada skenario III, pada saat terjadi penurunan pendapatan sekaligus
kenaikan biaya operasional masing-masing sebesar 1,5%, proyek ini masih
layak dibiayai dengan net B/C sebesar 1,37, NPV sebesar Rp 138.329.306,
IRR 35,91% dan lama pengembalian kredit selama 4 tahun 7 bulan. Dilihat
dari jangka waktu pengembalian kredit, usaha ini layak dibiayai oleh bank
karena pay back period untuk kredit selama 3 tahun 8 bulan.
Pada penurunan pendapatan dan kenaikan biaya operasional masing-masing
sebesar 2%, proyek ini masih layak dilaksanakan Hal tersebut bisa dilihat
dari Net B/C yang diperoleh 1,29, NPV sebesar Rp 109.969.231. IRR yang
diperoleh masih jauh dari tingkat suku bunga yaitu 32,26%. Tetapi jika
dilihat jangka waktu pengembalian investasi proyek ini menjadi tidak layak
karena memerlukan 6 tahun 1 bulan dimana jangka waktu ini melebihi
periode proyek.
Hasil analisis sensitivitas di atas menunjukkan bahwa proyek ini lebih sensitif
dengan penurunan pendapatan dibandingkan kenaikan biaya operasional.
Dengan memperhatikan kriteria jangka waktu pengembalian investasi (pay
back period usaha), proyek ini sensitif pada penurunan pendapatan sebesar
3%, artinya jika penurunan pendapatan lebih besar dari 3% tiap tahunnya
proyek ini menjadi tidak layak/merugi. Sedangkan jika dilihat dari perubahan
biaya operasional, proyek ini sensitif pada kenaikan biaya operasional
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
39
sebesar 5% dengan asumsi biaya investasi dan pendapatan tetap. Analisis
sensitivitas gabungan menunjukkan bahwa proyek ini sensitif pada kondisi
terjadi penurunan pendapatan sekaligus kenaikan biaya operasional masingmasing sebesar 2%.
Hasil analisis aspek keuangan di atas menunjukkan bahwa usaha kerupuk
ikan memberikan pendapatan yang tinggi sehingga proyek ini layak
dilaksanakan dan dibiayai oleh bank.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
40
6. Aspek Sosial Ekonomi dan Dampak Lingkungan
a. Aspek Sosial Ekonomi
Usaha pembuatan kerupuk ikan mempunyai dampak yang positif baik bagi
pengusaha, penduduk wilayah setempat. Bagi pengusaha dampak ekonomis
dari usaha ini adalah peningkatan pendapatan. Usaha kerupuk ikan
merupakan bisnis yang sangat menguntungkan karena mempunyai peluang
pasar yang sangat luas. Banyaknya industri rumah tangga untuk usaha ini
dapat memacu kenaikan pendapatan rumah tangga sehingga kesejahteraan
rumah tangga meningkat. Secara makro produksi kerupuk ikan yang tinggi
dapat memberikan kontribusi kepada pendapatan daerah setempat.
Meskipun bisa dikatakan harga per unit kerupuk ikan relatif murah, tetapi
perlu diingat bahwa komoditi ini dapat diproduksi dalam jumlah besar dalam
waktu yang singkat. Kesempatan untuk ekspor ke luar negeri masih terbuka
lebar sehingga dapat menjadi peluang untuk menambah devisa.
b. Dampak Lingkungan
Aspek dampak lingkungan berkaitan dengan dampak limbah yang dihasilkan
dari usaha ini adalah tidak menghasilkan limbah yang membahayakan bagi
manusia maupun lingkungan tempat tinggalnya. Hasil limbah sebagian besar
merupakan air kotor sisa pembersihan. Biasanya air ini dibuang melalui
saluran air yang dapat langsung meresap ke tanah. Air limbah ini tidak
mengandung zat-zat kimia yang membahayakan organisme tanah, dan
tanaman. Selain air usaha ini juga menimbulkan bau amis dari ikan yang
diolah. Akan tetapi bau ini tidak sampai mengganggu udara secara luas
karena jangkauannya tidak jauh. Dapat dikatakan bahwa usaha kerupuk ikan
relatif aman bagi lingkungan karena tidak menghasilkan limbah yang
membahayakan bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
41
7. Penutup
a. Kesimpulan
1.
Usaha pembuatan kerupuk ikan yang dilakukan oleh masyarakat di
Sidoarjo merupakan usaha dengan skala kecil.
2.
Kegiatan usaha yang
teknologi menengah.
3.
Dana untuk investasi dan modal kerja bersumber dari bank dan modal
sendiri. Banyak industri kerupuk yang mudah memperoleh pembiayaan
dari bank.
4.
Permintaan kerupuk ikan relatif tinggi dengan konsumen dari berbagai
lapisan masyarakat.
5.
Usaha kerupuk ikan mempunyai peluang yang besar untuk
dikembangkan baik untuk konsumen dalam negeri maupun untuk
ekspor.
6.
Harga kerupuk ikan pada tahun 2004 di tingkat produsen berkisar
antara Rp 6.000,- sampai Rp 6.500,- per kg. Sedangkan harga di
tingkat konsumen akhir mencapai Rp 9.000,- sampai Rp 10.000,- per
kg. Harga ini sering mengalami fluktuasi dengan kisaran 10%.
7.
Dari segi teknis, usaha kerupuk ikan sangat mudah dan cepat diadopsi
oleh masyarakat karena prosesnya sangat sederhana.
8.
Usaha dalam analisis ini menggunakan kredit (investasi dan modal
kerja) sebesar Rp 261.948.798. dengan jangka waktu kredit investasi 5
tahun dan kredit modal kerja 1 tahun dan bunga 17% (menurun) per
tahun.
9.
Berdasarkan analisis kelayakan finansial terhadap usaha kerupuk ikan,
pada tingkat discount rate 17%, net B/C ratio sebesar 1,60 NPV sebesar
Rp 223.409.530,- dan nilai IRR 46,37%. Dari analisis PBP, proyek ini
mampu mengembalikan modal investasinya dalam waktu 3 tahun 11
bulan. Pay back period untuk kredit selama 2 tahun 6 bulan.
dilakukan
menggunakan
peralatan
dengan
10. Dengan mengacu pada jangka waktu pengembalian investasinya, dari
analisis sensitivitas terhadap perubahan penerimaan dengan asumsi
biaya operasional dan investasi konstan, menunjukkan bahwa proyek ini
sensitif pada penurunan penerimaan sebesar 3% sehingga proyek ini
tidak layak diusahakan
11. Analisis sensitivitas terhadap perubahan biaya operasional dengan
asumsi penerimaan proyek dan biaya investasi konstan menunjukkan
bahwa proyek ini sensitif pada kenaikan biaya operasional sampai 5%
dan proyek ini tidak layak diusahakan
12. Analisis sensitivitas terhadap perubahan penerimaan proyek dan biaya
operasional, proyek ini sensitif pada penurunan pendapatan proyek dan
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
42
kenaikan biaya operasional masing-masing 2% dan proyek ini tidak
layak diusahakan.
b. Saran
1. Untuk menjaga kelangsungan produksi dengan biaya yang relatif
rendah pengusaha kerupuk ikan perlu menjalin kerjasama dengan
pemasok bahan baku, terutama untuk tepung tapioka yang jumlah
produsennya terbatas dengan harga yang fluktuatif.
2. Untuk meningkatkan jumlah penjualan perlu pemasaran yang baik,
pada usaha kerupuk ikan ini hubungan personal antara produsen
dengan penjual merupakan kunci untuk melebarkan jaringan
pemasaran.
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
43
LAMPIRAN
Bank Indonesia – Pengolahan Kerupuk Ikan
44
Download