I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Etanol adalah

advertisement
I.
1.1.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Etanol adalah salah satu turunan dari senyawa hidroksil atau gugus OH,
dengan rumus kimia C2H5OH. Etanol adalah suatu cairan transparan, mudah
terbakar, tidak berwarna, mudah menguap, dapat bercampur dengan air, eter, dan
kloroform, yang diperoleh melalui fermentasi karbohidrat dari ragi yang disebut
juga dengan etil alkohol (Bender, 1982). Etanol digunakan pada berbagai produk
meliputi campuran bahan bakar, produk minuman, penambah rasa, industri
farmasi, dan bahan-bahan kimia. Etanol merupakan salah satu sumber energi
alternatif yang dapat dijadikan sebagai energi alternatif dari bahan bakar nabati
(BBN)(Jeon, 2007).
Etanoldapat diperoleh dari berbagai sumber bahan substrat yang
mengandung karbohidrat. Karbohidrat tersebut dapat berupa sukrosa, glukosa, dan
fruktosa. Bahan-bahan tersebut dapat diperoleh dari jerami padi yang merupakan
bahan lignoselulosa yang ketersediaannya melimpah, murah, dan ada secara terus
menerus (Yoswathana et al., 2010). Jerami padi memiliki kandungan
lignosellulosa yang cukup tinggi dan dapat didegradasi menjadi bentuk yang lebih
sederhana menjadi glukosa, sebagai sumber pembentuk etanol. Penggunaan bahan
lignoselulosa sebagai substrat untuk produksi etanol perlu adanya perlakuan
pendahuluan (pretreatmen). Hal ini dikarenakan jerami padi memiliki struktur
lignin yang tebal. Metode yang sering digunakan untuk proses pretreatment
adalah penggunaan basa Ca(OH)2 disertai suhu 85ºC yang bertujuan untuk
memecah struktur lignin, tidak terbentuk senyawa inhibitor bagi aktivitas
mikrobia, dan menyebabkan material selulosa lebih mudah berinteraksi untuk
proses hidrolisis enzimatis.
Proses hidrolisis dari bahan-bahan yang mengandung lignoselulosa
seperti jerami padi dapat dilakukan dengan cara hidrolisis biologis, hidrolisis
kimiawi dan hidrolisis enzimatis. Salah satunya hidrolisis enzimatis,
dengan
keunggulannya dapat meningkatkan hidrolisis selulosa mendekati 100% dan tidak
menghasilkan inhibitor (Marais, 2008).
Jamur merupakan sumber utama enzim selulase dan hemiselulase.
Trichoderma reesei telah lama dianggap sebagai jamur pemecah ikatan kristalin
selulosa yang paling produktif dan kuat (Balat et al., 2008). Jamur ini
memiliki kemampuan
T.reeseimampu
memecah
menghasilkan
selulosa
menjadi
endoglukanase
monomer-monomernya.
sampai
80%
tetapi
β-
glukosidasenya rendah dari yang dibutuhkan untuk menghidrolisis selulosa
sampai menjadi glukosa, sehingga produk utama hidrolisisnya bukan glukosa
melainkan selobiosa yang merupakan inhibitor kuat terhadap endoglukanase dan
eksoglukanase. Persoalan ini dapat diatasi dengan menambahkan β-glukosidase
untuk mempercepat konversi selobiosa menjadi glukosa sehingga dapat
memproduksi selulase dengan cara mengkombinasikan mikroorganisme yang
kemampuan
memproduksi
endoglukanase
dan
eksoglukanasenya
seperti
Trichoderma reesei dengan mikroorganisme yang kemampuan memproduksi βglukosidasenya kuat seperti Aspergillus niger. Penelitian ini mengkombinasikan
T.reeseidan A.niger dengan berbagai perbandingan untuk digunakan pada proses
hidrolisis enzimatis.
Crude enzyme yang dihasilkan oleh T.reesei dan A.niger dapat melarutkan
produk, adanya senyawa pengotor, endapan yang terlarut juga dapat mengganggu
pengukuran aktivitas enzim, sehingga perlu dilakukan pemisahan dengan cara
ekstraksi melalui sentrifugasi.Hal ini sering digunakan dalam tahap awal
pemurnian enzim. Sentrifugasi akan menghasilkan supernatan yang jernih,
endapan yang terikat kuat pada dasar tabungsehingga dapat meningkatkan
aktivitas enzim (Headon, 1994). Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan
perlakuan sentrifugasi dan non sentrifugasi untuk mengetahui pengaruhterhadap
aktivitas enzim dan gula reduksi yang dihasilkan.
Pada
proses
fermentasi,
mikrobia
seperti
Saccharomycescerevisiaedimanfaatkan untuk mengubah gula menjadi etanol.
Khamir uniseluler ini bersifatnonpatogenik dan nontoksik, sehingga sejakdahulu
banyak digunakan dalam berbagai prosesfermentasi seperti pada asamlaktat, dan
alkohol (Thontowi et al. 2007). Salah satu jenis fermentasi yang umum digunakan
oleh S. cerevisiae adalah submerged fermentation yang merupakan tipe fermentasi
dengan menggunakan air dalam jumlah banyak dan dicampur dengan substrat
yang tidak larut dalam air. Submerged fermentation digunakan pada kuantitas
yang lebih besar daripada liquid state fermentation (Smits, 1988).
1.2.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pengaruh perlakuan sentrifugasi dan non sentrifugasi pada
crude enzymeTrichoderma reesei Pk1J2 dan Aspergillus niger FNCC
6114 terhadap aktivitas enzim dan gula reduksi yang dihasilkan ?
2.
Bagaimana pengaruh perbandingan kombinasi aktivitas enzim A.niger dan
T.reesei terhadap glukosa yang dihasilkan dari proses hidrolisis enzimatik
dengan parameter gula reduksi tertinggi?
3.
Bagaimana pengaruh lama inkubasi terhadap produksi etanol dengan
menggunakan Sacharomyces cerevisae FNCC 3012?
1.2.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1.
Mengetahui pengaruh perlakuan sentrifugasi dan non sentrifugasi pada
Trichoderma reeseiPk1J2dan Aspergillus niger FNCC6114 terhadap
aktivitas enzim.
2.
Mengetahui rasio perbandingan aktivitas enzim yang berasal dari
Aspergillus nigerFNCC 6114 dan Trichoderma reeseiPk1J2terhadap
glukosa yang dihasilkan dari proses hidrolisis enzimatik dengan parameter
gula reduksi tertinggi.
3.
Mengetahui pengaruh lama inkubasi terhadap produksi etanol dengan
menggunakan yeast Sacharomyces cerevisiae FNCC 3012.
1.3.Manfaat
Manfaat yang memberikan salah alternatif yang relatif aman dan ramah
lingkungan melalui proses enzimatik dengan mengembangkan potensikombinasi
jamur untuk menghasilkan gula reduksi untuk memproduksi etanol.
Download