BAB II Tinjauan Pustaka

advertisement
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau adalah area memanjang baik berupa jalur maupun
mengelompok yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, sebagai tempat
tumbuhnya vegetasi-vegetasi, baik yang sudah tumbuh secara alami maupun yang
sengaja ditanam. Ruang terbuka hijau kota merupakan bagian dari penataan
ruang perkotaan yang berfungsi sebagai kawasan lindung atau konservasi. Ruang
terbuka hijau diklasifikasikan berdasarkan status kawasan, bukan berdasarkan
bentuk dan struktur vegetasinya (Fandeli, 2009).
`
Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dinyatakan
bahwa RTH memiliki proporsi 30% dari luas wilayah kota. Tujuan pembentukan
RTH di wilayah perkotaan menurut Permendagri
No.1 Tahun 2007 Pasal 2
dijelaskan, yaitu :
1) menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan perkotaan.
2) mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan
buatan di perkotaan.
3) meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih dan
nyaman.
RTH memiliki fungsi utama yaitu fungsi bio-ekologis dan fungsi
tambahan yakni fungsi arsitektural, sosial, dan ekonomi. Berlangsungnya fungsi
ekologis alami dalam lingkungan perkotaan secara seimbang dan lestari akan
membentuk kota yang sehat dan manusiawi (Purnomuhadi, 2006). Sedangkan
menurut Simond (1983) fungsi dari RTH antara lain : (1) sebagai penjaga kualitas
lingkungan, (2) sebagai penyumbang ruang nafas yang segar dan keindahan
visual, (3) sebagai paru-paru kota, (4) sebagai penyangga sumber air tanah, (5)
mencegah erosi, dan (6) unsur dan sarana pendidikan.
Berdasarkan bobot kealamiannya, bentuk RTH dapat diklasifikasikan
menjadi (a) bentuk RTH alami (habitat liar/alami, kawasan lindung) dan (b)
bentuk RTH non alami atau RTH binaan (pertanian kota, pertamanan kota,
lapangan olahraga, dan pemakaman), sedangkan berdasarkan sifat dan karakter
6
ekologisnya RTH diklasifikasikan menjadi (a) bentuk RTH kawasan (areal, non
linier), dan (b) bentuk RTH jalur (koridor, linier). Kemudian berdasarkan
penggunaan lahan atau kawasan fungsionalnya, RTH diklasifikasikan menjadi (a)
RTH kawasan perdagangan, (b) RTH kawasan perindustrian, (c) RTH kawasan
permukiman, (d) RTH kawasan pertanian, dan (e) RTH kawasan-kawasan khusus,
seperti pemakaman, pertahanan dan keamanan, olahraga, dan alamiah
(Laboratorium Perencanaan Lanskap Departemen Arsitektur Lanskap, 2005
dalam Listyanti,2009). Setiap jenis RTH memiliki fungsi masing-masing secara
lebih spesifik pada lahan dan ruang yang berperan penting bagi kehidupan sekitar
(Tabel 1).
Tabel 1 Jenis dan Fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Jenis RTH
Fungsi
Ekologis
Estetika
Pelayanan umum
Konservasi
Produksi
Lahan
Ruang
Habitat, resapan air, keseimbangan Mengurangi pencemaran,
ekosistem
meredam
kebisingan,
memperbaiki iklim mikro,
penyangga kehidupan
Tajuk,
tegakan,
pengarah, Keindahan,
keserasian,
pengaman, pengisi dan pengalas
nuansa
Pelindung,
penyangga, Kenikmatan,
pendidikan,
pemakaman
kesenangan,
kesehatan,
interaksi.
Ekonomi,
kenyamanan
Pelestarian, perlindungan, dan Pelayanan masyarakat dan
pemanfaatan
plasma
nutfah, penyangga lingkungan kota
keanekaragaman hayati, penelitian
Peningkatan
produktivitas Kenyamanan
spasial,
budidaya pertanian dan kehutanan visual, audial dan thermal
Seiring dengan adanya peraturan-peraturan tentang pemenuhan RTH kota,
kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kesegaran udara, kenyamanan
serta keindahan maka RTH berupa taman banyak dibangun. Beberapa lokasi
dalam kota diantaranya hotel, tempat wisata, pusat-pusat perbelanjaan, kawasan
industri, jalur hijau jalan dan ditengah persimpangan jalan (traffic island), serta
daerah penyangga dalam bentuk taman kota (city park), hutan kota (urban forest),
maupun hanya sekedar sabuk hijau (green belt) (Nazarudin, 1996).
7
2.2
Kebun Raya
Kebun raya didefinisikan sebagai suatu kawasan yang mengkoleksi
berbagai jenis tumbuhan dengan dasar ilmiah, informasi ilmiah yang
terdokumentasi dengan baik mengenai koleksi tumbuhan-tumbuhan tersebut.
Selain itu kebun raya juga didefinisikan sebagai lembaga independen, badan
pemerintahan, atau suatu badan yang berkerja sama dengan institusi pendidikan
dan universitas (LIPI, 2010). Menurut Pushpangadan dalam Mamiri (2008)
botanic garden memegang peranan dalam konservasi spesies tumbuhan yang
langka dan terancam punah. Fungsi kebun raya menurut PPRI No. 39 tahun 2002
ialah sebagai tempat konservasi ex-situ, tempat penelitian, tempat pendidikan
lingkungan, dan tempat wisata.
2.3
Iklim dan Iklim Mikro
Cuaca adalah gambaran kondisi fisik atmosfir (kelembaban udara, suhu
udara, tekanan dan angin) yang mempunyai peran penting membentuk ekosistem.
Iklim merupakan gambaran pola cuaca jangka panjang pada kawasan tertentu.
Cuaca dan iklim sangat penting tidak hanya karena mempengaruhi aktivitas
manusia, tetapi juga menentukan distribusi biomas dan ekosistem. Iklim
merupakan kerja sama dari seluruh elemen fisik sebagai suatu sistem ekologi
(Simonds, 2006).
Berdasarkan luas wilayah, iklim dapat dipilah menjadi iklim makro, iklim
meso, dan iklim mikro. Iklim makro memiliki jangkauan wilayah yang sangat
luas, meliputi luasan satu zona iklim, kontinen, sampai pada bumi secara
keseluruhan (global). Iklim meso mengkaji tentang variasi dan dinamika iklim
dalam satu satuan zona iklim (intra-zona iklim). Sementara variasi dalam skala
terkecil termasuk dalam cakupan iklim mikro, misalnya keadaan udara sekitar
atau di bawah kanopi pohon, atau keadaan udara di dalam rumah kaca (Lakitan,
1994).
Iklim
mikro menurut
Tromp
(1980)
dalam Margaretha
(2007)
berhubungan dengan tanaman di atas wilayah yang khas. Iklim mikro
menggambarkan kondisi iklim lingkungan sekitar yang berhubungan langsung
8
dengan organisme hidup dekat permukaan bumi maupun pada lingkungan
terbatas. Dalam Kartasapoetra (2006), menjelaskan bahwa kondisi iklim mikro di
lingkungan bervegetasi lebih baik dibandingkan dengan lapangan terbuka.
Dalam Brown dan Gillespie (1995), dinyatakan bahwa iklim mikro
merupakan kondisi iklim pada suatu ruang yang sangat terbatas (kecil), yang
dipengaruhi oleh radiasi matahari, suhu udara, kelembaban udara dan curah hujan.
Unsur-unsur iklim mikro memiliki peranan yang penting dalam menentukan
kenyamanan suatu wilayah/kawasan karena unsur-unsur iklim tersebut secara
langsung mempengaruhi kegiatan/aktivitas manusia yang berada di dalamnya.
Menurut Laurie (1986) iklim ideal bagi manusia adalah udara yang bersih dengan
suhu udara kurang lebih 27 C sampai dengan 28 C, dan kelembaban udara antara
40% sampai dengan 75%, udara yang tidak terperangkap dan tidak berupa angin
kencang, serta keterlindungan terhadap hujan.
Menurut Miller (1970) dalam Margaretha (2007) menyatakan bahwa iklim
mikro banyak dipengaruhi oleh faktor lokal diantaranya karakteristik vegetasi,
badan air yang kecil seperti danau, juga aktivitas manusia dapat mengubah
kemurnian pada iklim mikro pada udara dan permukaan. Beberapa faktor
pengendali iklim mikro diantaranya intensitas energi radiasi matahari, albedo
permukaan yang bervariasi dengan warna komposit dan karakteristiknya ada
permukaan bumi, distribusi daratan atau lautan dan pengaruh pegunungan atau
bentuk topografi dan angin.
Unsur-unsur iklim mikro terdiri dari penerimaan radiasi matahari, suhu
udara, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan dan arah angin. Unsur-unsur
iklim tersebut mudah terpengaruh oleh perubahan pemanasan dan pendinginan
permukaan tanah dan tumbuhan sekitar (Handoko, 1995).
2.4
Unsur-Unsur Iklim Mikro
Iklim merupakan kebiasaan alam yang digerakkan oleh gabungan
beberapa unsur, yaitu radiasi matahari, suhu udara, kelembaban udara, awan,
presifikasi, evaporasi, tekanan udara, dan angin. Unsur-unsur iklim ini berbeda
pada tempat yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu disebabkan karen
adanya faktor iklim atau disebut juga dengan pengendali iklim, yaitu: (1)
9
ketinggian tempat, (2) latitude/ garis lintang, (3) daerah tekanan, (4) arus laut, dan
(5) permukaan tanah (Kartasapoetra, 2006). Dalam Brown dan Gillespie (1995),
dinyatakan bahwa unsur-unsur iklim memiliki peranan yang penting, dalam
menentukan kenyamanan suatu wilayah/kawasan. Unsur-unsur iklim mikro yang
mempengaruhi kenyamanan manusia sebagai berikut.
2.4.1
Suhu Udara
Suhu udara merupakan gambaran umum keadaan energi suatu benda.
Namun, tidak semua bentuk energi yang dikandung suatu benda dapat diwakili
oleh suhu udara, seperti energi kinetik. Suhu udara dikatakan sebagai derajat
panas atau dingin yang diukur berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan
termometer dan merupakan unsur iklim yang sangat penting. Suhu udara ini
berubah sesuai dengan tempat dan waktu (Wikipedia, 2011). Suhu udara akan
berfluktuasi dengan nyata selama setiap periode 24 jam (variasi diurnal). Fluktuasi
suhu udara berkaitan erat dengan proses pertukaran energi yang berlangsung di
atmosfer. Serapan energi radiasi matahari oleh bumi akan menyebabkan suhu
udara meningkat. Pada variasi diurnal, suhu maksimum tercapai beberapa saat
setelah radiasi maksimum.
Suhu dipermukaan dipengaruhi oleh beberapa faktor: (1) jumlah radiasi
yang diterima per tahun, per hari, dan per musim; (2) pengaruh daratan atau
lautan; (3) pengaruh ketinggian tempat, Braak memberikan rumusan sebagai
berikut: makin tinggi suatu tempat dari permukaan laut maka suhu akan semakin
rendah; (4) pengaruh angin secara tidak langsung; (5) tipe tutupan lahan, tanah
yang ditutupi vegetasi yang memiliki suhu udara lebih rendah daripada tanah
tanpa vegetasi; (6) pengaruh panas laten, yaitu panas yang disimpan dalam
atmosfer; (7) tipe tanah, tanah yang gelap indeks suhunya lebih tinggi; (8)
pengaruh sudut datang sinar matahari, sinar yang tegak lurus akan membuat suhu
udara lebih panas daripada yang datangnya miring (Prawirowardoyo, 1996 dan
Kartosapoetra, 2006).
Suhu udara menggambarkan panas dinginnya suatu benda. Menurut
Handoko (1995), suhu udara sangat erat berhubungan dengan radiasi matahari.
Pada siang hari radiasi terlebih dahulu akan memanaskan tajuk bagian atas
10
kemudian makin ke bawah dan akhirnya lantai hutan. Pada malam hari
pendinginan dimulai dari tajuk bagian atas dan akhirnya lantai hutan sehingga
suhu udara terendah terdapat pada tajuk bagian atas dimana panas yang hilang
relatif lebih besar daripada bagian hutan lainnya. Oleh sebab itu, tajuk hutan
bagian atas merupakan suatu permukaan radiasi yang aktif. Pada umumnya,
daerah bervegetasi yang tumbuh baik mampu menekan suhu udara rata-rata
tahunan sebesar 1 C sampai 2 C. Fluktuasi suhu udara harian di daerah yang
bervegetasi sangat rapat akan jauh lebih kecil dibandingkan daerah terbuka.
T rata-rata harian = (2T07.30+T13.30+T17.30)/4
T : suhu
Di daerah tropis, manusia akan merasa relatif nyaman jika berada pada
suhu udara sekitar 27-28 C. Suhu udara yang cukup panas pada suatu area selain
karena radiasi matahari yang tinggi yaitu rata-rata 50%, juga karena pantulan dari
perkerasan jalan, bangunan maupun pantulan perkerasan lainnya yang ada pada
tapak (Laurie, 1986).
2.4.2
Kelembaban Udara
Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara. Menurut
Handoko (1995), kelembaban udara dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak,
kelembaban nisbi, maupun defisit tekanan uap air. Tekanan uap jenuh tergantung
suhu udara, dimana semakin tinggi suhu udara maka kapasitas untuk menampung
uap air dan kelembaban udara rendah. Kelembaban udara juga berhubungan
dengan keseimbangan energi, karena merupakan ukuran banyaknya energi radiasi
berupa bahang laten yang dipakai untuk menguapkan air terdapat di permukaan
yang menerima radiasi. Makin banyak air yang diuapkan makin lembab udaranya
(Lakitan,1994).
Kelembaban udara yaitu banyaknya kadar uap air yang ada di udara. Angka
kelembaban relatif berkisar antara 0-100%, dimana 0% artinya udara kering,
sedangkan 100% artinya udara jenuh dengan uap air, dimana akan terjadi titiktitik air. Keadaan kelembaban yang tertinggi ada di khatulistiwa, sedangkan yang
terendah pada lintang 40 C, yang curah hujannya relatif kecil (Prawirowardoyo,
1996).
11
Keterkaitan suhu udara dan kelembaban udara berhubungan dengan
pengembangan dan pengerutan udara. Semakin tinggi suhu udara, kapasitas udara
menampung uap air persatuan volume udara juga semakin besar. Oleh sebab itu,
pada tekanan uap aktual yang tetap, kelembaban udara (RH) akan lebih kecil bila
suhu udara meningkat dan akan menurun jika suhu udara turun. RH mencapai
maksimum pada pagi hari sebelum matahari terbit, yang dapat menyebabkan
proses pengembunan bila udara bersentuhan dengan bidang atau permukaan yang
suhu udaranya lebih rendah dari suhu udara titik embun (Handoko, 1995).
Perubahan kelembaban udara tidak terlalu jelas karena suhu harian yang
juga sangat kecil. Besarnya kelembaban udara relatif suatu area merupakan faktor
yang dapat menstimulasi curah hujan. Di Indonesia, kelembaban udara relatif ratarata harian atau bulanan relatif tetap sepanjang tahun, dengan kelembaban udara
relatif tertinggi pada musim hujan dan terendah pada musim kemarau.
Kelembaban udara relatif yang tinggi merupakan suatu kondisi lingkungan yang
tidak nyaman bagi manusia. Kelembaban udara relatif yang ideal dimana manusia
dapat beraktivitas dengan nyaman adalah sekitar 40-75% (Laurie, 1989). Pada
dasarnya manusia lebih toleran terhadap kelembaban udara relatif yang lebih
tinggi daripada terhadap suhu udara yang tinggi.
Walaupun peningkatan kelembaban udara di daerah tropis menyebabkan
kenyamanan manusia berkurang, namun gerakan air akan menimbulkan kesejukan
dari segi psikologis. Posisi suatu area terhadap elemen air mempengaruhi efek
penyejukan air terhadap iklim mikro area tersebut, dimana area yang terletak pada
sisi arah datangnya angin dari danau tidak akan mendapatkan keuntungan dari
efek penyejukan oleh angin yang bertiup melintasi danau (Brooks, 1988). Elemen
penutup permukaan lahan yang berbeda sifatnya akan memberikan tingkat
kelembaban udara yang berbeda pula. Pepohonan dapat meningkatkan
kelembaban udara relatif lingkungan yang dinaunginya dan diperlukan untuk
memberikan keteduhan yang dapat menurunkan suhu udara lingkungan (Lakitan,
1994).
12
2.4.3 Angin
Angin merupakan gerakan atau perpindahan massa udara dari satu tempat
ke tempat yang lain secara horizontal. Massa udara adalah udara dalam ukuran
yang sangat besar yang mempunyai sifat fisik (suhu udara dan kelembaban udara)
yang seragam dalam arah yang horizontal (Kartasapoetra, 2006). Namun menurut
Lakitan (1994) angin dapat bergerak secara horizontal maupun vertikal dengan
kecepatan yang bervariasi dan berfluktuasi secara dinamis. Faktor pendorong
bergeraknya massa udara adalah perbedaan tekanan udara antara satu tempat
dengan tempat lainnya. Angin selalu bertiup dari tempat dengan tekanan udara
tinggi ke tempat dengan tekanan udara yang lebih rendah.
2.5
Kenyamanan
Kenyamanan merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan
pengaruh keadaan lingkungan fisik atmosfer atau iklim terhadap manusia. Kondisi
yang nyaman adalah kondisi dimana sebagian besar energi manusia dibebaskan
untuk kerja produktif, yang berhubungan dengan usaha pengaturan suhu tubuh
yang minimum. Kondisi nyaman menunjukan keadaan yang bervariasi untuk
setiap individu, sehingga kenyamanan bersifat subyektif dan berhubungan dengan
keadaan tingkat aktivitas, pakaian, suhu udara, kecepatan angin, rata-rata suhu
pancaran radiasi dan kelembaban udara (Gates, 1972).
Menurut Lakitan (1994), kenyamanan suatu daerah juga sangat
dipengaruhi oleh iklim mikro setempat, karena secara langsung unsur-unsur iklim
akan terlibat dalam aktivitas dan metabolisme manusia yang ada di dalamnya.
Namun untuk menentukan tingkat kenyamanan suatu daerah, kita tidak dapat
menggunakan semua parameter iklim secara langsung. Suhu udara dan
kelembaban udara
merupakan parameter iklim yang biasa digunakan dalam
mempelajari masalah kenyamanan udara (Gates, 1972 dan Brooks, 1988) yang
dinyatakan dalam bentuk “Indeks Suhu Kelembaban” atau Temperature Humidity
Index (THI).
Menurut Laurie (1986) dinyatakan bahwa Indeks Kenyamanan dalam
kondisi nyaman ideal berada pada kisaran THI 21-27. Nilai THI ini dipengaruhi
oleh besarnya suhu udara ( C) dan kelembaban udara (%). Semakin tinggi suhu
13
udara maka kelembaban udara harus diturunkan untuk mendapatkan nilai THI
yang sama, dan begitu pula sebaliknya.
Elemen lanskap yang banyak mempengaruhi kenyamanan di suatu tapak
yaitu tanaman. Tanaman memberikan manfaat yang sangat besar bagi bumi.
Tanaman dapat mengurangi sinar dan pantulannya, baik dari cahaya matahari
maupun sinar lampu kendaraan, dan menutupi pemandangan yang tidak
diinginkan, membentuk ruang yang pribadi, dan dapat menegaskan pandangan ke
arah pemandangan yang diinginkan. Carpanter et al (1975) mengatakan tanaman
dapat mengontrol radiasi matahari dan suhu tanaman mampu merubah dan
memodifikasi suhu udara melalui pengontrolan radiasi matahari dengan proses
evapotranspirasi. Tanaman memberikan keteduhan dengan adanya efek bayangan
yang dapat melindungi pengguna suatu tapak dari panas matahari dan menyaring
radiasi matahari 60% - 90%, serta dapat mempercepat hilangnya radiasi yang
diserap. Dengan fungsinya ini, tanaman dapat menciptakan rasa nyaman pada
suatu tapak.
Menurut Vitasari (2004), pohon yang baik dalam memberikan naungan
adalah pohon yang memiliki kriteria tinggi sedang yaitu < 15 meter, bentuk tajuk
spreading, globular, dome, irigular, dan piramida. Daun memiliki kerapatan yang
tinggi dengan massa daun padat, percabangan 5 meter di atas tanah, serta ditanam
secara kontinyu agar mendapatkan hasil yang maksimal. Menurut Simonds
(1983), pohon yang memiliki batas kanopi yang tinggi berguna untuk menangkap
radiasi matahari. Kriteria tanaman yang dapat digunakan untuk menghalangi sinar
matahari dan menurunkan suhu yaitu :
a) memiliki tajuk yang lebar
b) bentuk daun lebar dengan kerapatan tinggi
c) ketinggian kanopi lebih dari 2 meter .
2.6
Pengaruh RTH Terhadap Iklim Mikro
RTH di kota memiliki tiga manfaat sekaligus yakni ekologis, estetika, dan
sosial. RTH sangat penting, mengingat tumbuh-tumbuhan mempunyai peranan
sangat penting dalam alam, yaitu dapat dikategorikan menjadi fungsi lanskap
(sosial dan fisik), fungsi lingkungan (ekologi) dan fungsi estetika (keindahan).
14
Akan tetapi keberadaan RTH di kota yang memenuhi persyaratan jumlah dan
kualitas akan menurunkan kenyamanan kota karena terjadi penuruanan kapasitas
dan daya dukung wilayah. Selain memperluas RTH, apabila Pemerintah kota
dapat mengembangkan dan membangun RTH
yang berstruktur
dengan
keanekaragam tumbuhan dan jumlah yang banyak serta ditata dengan baik.
Dengan demikian, RTH tersebut dapat memenuhi tingkat kenyamanan yang
dikehendaki, karena RTH dapat memodifikasi iklim mikro.
Kualitas RTH berkaitan dengan jumlah pepohonan yang rindang. Semakin
banyak jumlah pohon yang rindang di perkotaan, maka radiasi matahari tidak
langsung sampai ke bumi tetapi tertahan oleh tajuk pohon sehingga suhu udara
disekitarnya menjadi menurun atau rendah yang memberikan kenyaman kepada
masyarakat di sekitarnya. Perubahan iklim terjadi secara perlahan dalam jangka
waktu yang cukup panjang antara 50-100 tahun. Walaupun terjadi terjadi secara
perlahan, menurut Astani (2007) perubahan iklim memberikan dampak yang
sangat besar pada kehidupan manusia. Sebagian besar wilayah menjadi panas,
sementara bagian lainya akan berubah menjadi dingin. Kenyamanan menjadi
faktor penting bagi penduduk dalam memilih tempat tinggal, sedangkan unsurunsur iklim sangat menentukan kenyamanan. Faktor iklim yang berpengaruh pada
kenyamanan diantaranya suhu udara, radiasi matahari, curah hujan, kelembaban
udara, dan angin. Setiap kawasan memiliki nilai dari unsur-unsur iklim tersendiri
tergantung pada kawasannya.
Download