8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Kajian Tentang Anak

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Kajian Tentang Anak Tuna Rungu
a. Pengertian Anak Tunarungu
Istilah tunarungu berasal dari kata “tuna” dan “rungu”, tuna yang
berarti kurang dan rungu berarti pendengaran. Seseorang dikatakan
tunarungu apabila ia tidak mampu mendengar atau kurang mampu
mendengar suara. Kurang mampu mendengar disini dapat diartikan bahwa
anak masih memiliki sisa-sisa pendengaran yang masih bisa dioptimalkan.
Berkenaan dengan tunarungu, terutama tentang pengertian tunarungu
terdapat beberapa pengertian sesuai dengan pandangan dan kepentingan
masing-masing. Haenudin (2013 : 53), memaparkan bahwa “tunarungu
adalah peristilahan secara umum kepada anak yang mengalami kehilangan
atau kekurangmampuan mendengar, sehingga ia mengalami gangguan
dalam melaksanakan kehidupannya sehari-hari. Secara garis besar
tunarungu dibedakan menjadi dua yaitu tuli dan kurang dengar”.
Hal itu sejalan dengan yang dikemukakan oleh Dwidjosumarto
dalam Soemantri (1996 : 74) bahwa:
Seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara
dikatakan tunarungu. Ketunarunguan dibedakan menjadi dua
kategori, yaitu tuli (deaf) dan kurang dengar (hard of hearing). Tuli
adalah anak yang indera pendengarannya mengalami kerusakan
dalam taraf berat sehingga pendengarannya tidak berfungsi lagi.
Sedangkan
kurang dengar adalah anak
yang indera
pendengarannya mengalami
kerusakan, tetapi masih dapat
berfungsi untuk mendengar, baik dengan
maupun tanpa
menggunakan alat bantu dengar (hearing aids).
Ketunarunguan dapat dibedakan menjadi 2 kategori yaitu tuli (deaf)
dan kurang dengar (hard of hearing). Disebutkan diatas bahwa tuli (deaf)
adalah anak yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam
taraf berat, hal tersebut berakibat pada kehilangan kemampuan mendengar
8
9
sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran.
Sedangakan seseorang yang kurang dengar (hard of hearing) biasanya
menggunakan alat bantu mendengar karena masih memiliki sisa-sisa
pendengaran yang dapat dipergunakan dalam proses informasi bahasa
melalui pendengaran.
Salim dalam Soemantri (2006 : 93 – 94) menjelaskan, “Anak
tunarungu ialah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan
kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak
berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia
mengalami
hambatan
dalam
perkembangan
bahasanya”.
Menurut
Muhammad (2008 : 55), “Kehilangan pendengaran adalah ancaman utama,
bukan saja terhadap komunikasi, tetapi juga kepada kehidupan pribadi dan
sosial”.
Senada dengan Individual with Disability Education Act (IDEA) 04
dalam Taylor, Smiley dan Richards (2009:258) yang menyebutkan bahwa:
Deafness means a hearing impairment that is so severe the child is
impaired in processing linguistic information through hearing,
with or without amplification, and that adversely affect a child’s
educational performance. Hearing impairment means an
impairment in hearing, whether permanent or fluctuating, that
adversely affect a child’s educational performance but that is not
included under the definition of deafness
Pendapat tersebut mengemukakan bahwa tuli berarti gangguan
pendengaran yang sangat parah, anak mengalami gangguan dalam
memproses informasi linguistik dengan mengggunakan pendengaran
mereka, baik dengan menggunakan alat bantu pendengaran ataupun tidak
yang berdampak pada prestasi akademik anak. Ganguan pendengaran
berarti gangguan pada pendengaran yang bersifat permanen atau berubah,
yang berdampak pada prestasi akademik anak namun tidak dibawah
definisi anak tuli.
Berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh Uden (1997)
dalam Winarsih (2010 : 6) yang menyebutkan bahwa:
10
A deaf person is one whose hearing is disabled to an extent
(usually 70 dB ISO or greater) that precludes the understanding of
speech through the ear alone without or with the use of hearing
aid. A hard hearing person is whose hearing is disabled to an
extent (usually 35 to 69 dB ISO) that makes difficult, but does not
precludes the understanding of speech through the ear alone
without or with the use of hearing aid.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat diartikan bahwa seseorang
dikatakan tuli jika kehilangan kemampuan mendengar pada tingkat 70 dB
atau lebih, sehingga tidak mampu mengerti pembicaraan orang lain
melalui pendengarannya sendiri tanpa ataupun menggunakan alat bantu
dengar. Sedangkan seseorang yang dikatakan kurang dengar jika
kehilangan kemampuan mendengar pada tingkat 35 hingga 69 dB yang
menyebabkan kesulitan untuk megerti pembicaraan orang lain melalui
pendengarannya sendiri sendiri tanpa ataupun menggunakan alat bantu
dengar.
Istilah gangguan pendengaran (hearing impairment) dipakai dalam
menjelaskan baik orang-orang yang benar-benar “tuli” maupun yang hanya
“sulit mendengar”. Menurut definisi yang dikembangkan dalam PL-94-142
(Register dalam Smith, 2006: 271) :
“Sulit mendengar” merupakan gangguan pendengaran (hearing
impairment) yang bisa bersifat permanen maupun sementara, yang
jelas berpengaruh pada prestasi pembelajaran anak, namun tidak
termasuk definisi “tuli” pada bagian ini. “Tuli” berarti suatu
gangguan pendengaran (hearing impairment) yang sangat berat
sehingga si anak tidak bisa melakukan proses informasi bahasa
melalui pendengaran, dengan ataupun tanpa alat pengeras suara,
yang dengan jelas memperngaruhi prestasi pembelajaran
akademis”.
Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa anak
tunarungu ialah anak yang mengalami gangguan pendengaran baik
sebagian ataupun keseluruhan yang mengakibatkan tidak bisa mendengar
baik total maupun sebagian. Tunarungu dibedakan menjadi dua yakni tuli
(deaf) dan kurang dengar (hearing impairment). Ketunarunguan tersebut
11
berdampak pada kehidupan sehari-hari terutama dalam aspek pemerolehan
bahasa dan komunikasi anak.
b. Klasifikasi Tunarungu
Menurut
Dwidjosumarto
(dalam
Soemantri,
1996
:
74)
ketunarunguan dibedakan menjadi dua kategori, yaitu tuli (deaf) dan
kurang dengar
(hard of hearing). Tuli adalah mereka yang indera
pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga
pendengarannya tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah
mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan, tetapi masih
dapat
berfungsi
untuk
mendengar,
baik
dengan
maupun
tanpa
menggunakan alat bantu dengar (hearing aids).
Uden dalam Winarsih (2007 : 26) mengklasifikasikan tunarungu
menjadi 3 yakni berdasar waktu terjadinya ketunarunguan, berdasar tempat
kerusakan pada organ pendengaran (anatomi dan fisiologi organ dengar),
dan berdasar pada taraf penguasaan bahasa.
1) Berdasarkan waktu terjadinya ketunarunguan
Senada dengan yang dikemukakan oleh Soemantri (1996 : 75)
penyebab ketunarunguan disebabkan oleh beberapa faktor :
a)
Pada saat sebelum dilahirkan (pre natal)
Ketunarunguan terjadi saat sebelum anak dilahirkan atau
saat masih di dalam kandungan. Ketunarunguan ini dapat
disebabkan karena berbagai hal, seperti :
Salah satu atau kedua orangtua anak mendertita tunarungu,
mempunyai gen sel pembawa sifat abnormal misalnya: dominat
genes, recesive gen, dan lain-lain. Penyebab lain adalah karena
penyakit yang diderita oleh ibu sewaktu mengandung. Terutama
penyakit-penyakit yang diderita saat kehamilan trisemester
pertama yaitu rubila, morbili, dan lain-lain. Karena keracunan
obat-obatan. Pada saat hamil ibu meminum obat-obatan
melebihi dosis atau meminum obat penggugur kandungan serta
mengkonsumsi alkohol.
12
b)
Pada saat kelahiran (natal)
Ketunarunguan terjadi saat proses melahirkan. Hal tersebut
dapat terjadi karena saat melahirkan ibu mengalami kesulitan
sehingga dibantu dengan alat yakni alat penyedot (tang). Selain
itu karena prematuritas (bayi yang lahir sebelum waktunya) juga
dapat menyebabkan kecacatan.
c)
Pada saat setelah kelahiran (post natal)
Ketunarunguan terjadi setelah proses melahirkan atau
setelah anak dilahirkan. Ketunaan ini dapat disebabkan oleh halhal sebagai berikut :
(1) Karena infeksi, misalnya infeksi pada otak (meningitis) atau
infeksi umum seperti difteri, morbili, dan lain-lain
(2) Karena kecelakaan atau trauma yang mengakibatkan
rusaknya alat pendengaran bagian dalam
(3) Pemakaian obat-obatan ototoksi pada anak
2) Berdasarkan tempat kerusakan
Sependapat dengan Haenudin (2013 : 62-63) menyebutkan bahwa
ketunarunguan secara anatomi fisiologi dapat dikelompokkan menjadi
tigas jenis yaitu :
a)
Tunarungu Hantaran (Konduksi), yaitu ketunarunguan yang
disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya alat-alat
penghantar getaran suara pada telinga bagian tengah dan
menyebabkan terhambatnya getaran suara untuk sampai di
telinga bagian dalam yang terdapat syaraf pendengaran.
b)
Tunarungu Syaraf (Sensorineural), yaitu ketunarunguan yang
disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya alat-alat
pendengaran
bagian
dalam
syaraf
pendengaran
yang
menyalurkan getaran ke pusat pendengaran pada Lobus
Temporali.
13
c)
Tunarungu Campuran, yaitu ketunarunguan yang disebabkan
kerusakan pada penghantar suara dan kerusakan pada syaraf
pendengaran.
3) Berdasarkan taraf penguasaan bahasa
Uden dalam Winarsih (2007 : 27) membagi klasifikasi tunarungu
berdasar taraf penguasaan bahasa menjadi 2, yaitu :
a)
Tuli Pra Bahasa (Prelingually Deaf) yaitu mereka yang
mengalami ketunarunguan sebelum menguasai suatu bahasa.
Pada taraf ini, anak mampu menyamakan tanda (signal) tertentu
seperti mengamati, menunjuk, dan meraih namun belum mampu
membentuk sistem lambang.
b)
Tuli Purna Bahasa (Post Lingually Deaf) yaitu mereka yang
mengalami ketunarunguan setelah mampu menguasai bahasa
yakni telah menerapkan dan memahami sistem lambang yang
berlaku di lingkungan.
Ada beberapa ahli lain yang mengklasifikasikan tunarungu dengan
lebih rinci, Streng dalam Haenudin (2013 : 58) mengemukakan bahwa :
1) Kehilangan kemampuan mendengar 20-30 dB (Mild Losses) memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
a)
Kehilangan kemampuan mendengar percakapan yang lemah,
percakapan melalui pendengaran dan tidak mengalami kelainan
bicara.
b)
Tidak mendapat kesulitan mendengar dalam suasana kelas biasa
namun posisi tempat duduk harus diperhatikan.
c)
Kebutuhan dalam pendidikan memerlukan latihan membaca
ujaran, perlu diperhatikan mengenai perkembangan penguasaan
perbendahaannya.
d)
Jika kehilangan pendengaran melebihi 20 dB dan mendekati 30
dB perlu alat bantu dengar.
14
2) Kehilangan kemampuan mendengar 30-40 dB (Marginal Losses)
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a)
Mereka mengerti percakapan biasa pada jarak satu meter.
Mereka sulit menangkap percakapan dengan jarak normal dan
kadang-kadang mereka mendapat kesulitan dalam percakapan
berkelompok.
b)
Mereka akan mengalami sedikit kelainan dalam bicara dan
perbendaharaan terbatas.
c)
Kebutuhan dalam program pendidikan antara lain belajar
membaca ujaran, latihan mendengar, penggunaan alat bantu
dengar, latihan bicara, latihan artikulasi dan perhatian dalam
perkembangan perbendaharaan kata.
d)
Bila kecerdasan diatas rata-rata maka dapat ditempatkan di kelas
biasa asalkan tempat duduk di perhatikan. Bila
yang
kecerdasannya kurang memerlukan kelas khusus.
3) Kehilangan kemampuan mendengar 40 – 60 dB (Moderat Losses)
memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
a)
Memiliki pendengaran yang cukup untuk mempelajari bahasa
dan percakapan , memerlukan alat bantu dengar.
b)
Mengerti percakapan yang keras pada jarak satu meter.
c)
Sering salah faham, mengalami kesukaran di sekolah umum,
mengalami kelainan bicara.
d)
Perbendaharaan kata terbatas.
e)
Untuk program pendidikan mereka membutuhkan alat bantu
dengar untuk menguatkan sisa pendengaran dan penambahan
alat bantu pengajaran yang sifatnya visual, perlu latihan
artikulasi dan membaca ujaran, serta perly pertolongan khusus
dalam bahasa.
f)
Perlu masuk sekolah luar biasa.
4) Kehilangan kemampuan mendengar 60 – 70 dB (Severe Losses)
memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
15
a)
Mempunyai sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan bicara
dengan menggunakan alat bantu dengar, dan dengan cara
khusus.
b)
Karena mereka tidak belajar bahasa dan percakapan secara
spontan pada usia muda, mereka kadang-kadang disebut “tuli
secara pendidikan yang berarti mereka dididik seperti orang
sungguh-sungguh tuli.
c)
Mereka diajar pada suatu kelas khusus untuk anak-anak
tunarungu karena mereka tidak cukup sisa pendengaran untuk
belajar bahasa dan bicara melalui pendengaran.
d)
Kadang-kadang mereka dapat dilatih untuk dapat mendengar
dengan
alat
bantu
mendengar,
dan
selanjutnya
dapat
digolongkan ke dalam kelompok kurang dengar.
e)
Masih dapat mendengar suara keras pada jarak yang dekat,
misalnya suara pesawat terbang, klakson mobil, dan lolongan
anjing.
f)
Karena masih memiliki sisa pendengaran mereka dapat dilatih
melalui latihan pendengaran.
g)
Dapat membedakan huruf hidup tapi tidak dapat membedakan
bunyi-bunyi huruf konsonan.
h)
Diperlukan latihan membaca ujaran dan pelajaran yang dapat
mengembangkan bahasa dan bicara dari guru khusus, karena itu
mereka harus dimasukkan Sekolah Luar Biasa bagian B, kecuali
bagi anak genius dapat mengikuti kelas normal.
5) Kehilangan kemampuan mendengar 75 dB ke atas (Profound Losses)
memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
a)
Dapat mendengar suara yang keras dari jarak satu inchi atau
sama sekali tidak dapat mendengar.
b)
Tidak sadar akan bunyi-bunyi keras, teapi mungkin ada reaksi
kalau dekat dengan telinga, meskipun menggunakan pengeras
16
suara mereka tidak dapat menggukan pendengarannya dan
memahami bahasa.
c)
Mereka tidak belajar bahasa dan bicara melalui pendengaran,
walaupun menggunakan alat bantu mendengar.
d)
Memerlukan pengajaran khusus yang intensif di segala bidang
tanpa menggunakan mayoritas indra pendengaran.
e)
Dalam pendidikannya memerlukan perhatian khusus adalah:
membeca ujaran, latihan mendengar, yang berfungsi untuk
memepertahankan sisa pendengaran yang masih ada, meskipun
hanya sedikit.
f)
Diperlukan teknik khusus untuk mengembangkan bicara dengan
metode visual, taktil, kinestetik serta semua hal yang dapat
membantu terhadap perkembangan bicara dan bahasanya.
c.
Karakteristik Tunarungu
Menurut Uden dan Meadow, Bunawan dan Yuwati dalam
Haenudin (2013 : 68) mengemukakan beberapa karakteristik atau sifat
yang sering ditemukan pada anak tunarungu yaitu:
1)
Sifat egosentris yang lebih besar daripada anak mendengar. Sifat
ini membuat mereka sulit menempatkan diri pada cara berfikir dan
perasaan orang lain, serta kurang menyadari atau peduli tentang
efek prilakunya terhadap orang lain
2)
Memiliki sifat impulsif, yaitu tindakannya tidak didasarkan pada
perencanaan yang hati – hati dan jelas serta mengantisipasi akibat
yang mungkin tumbul akibat perbuatannya
3)
Sifat kaku (rigidity), menunjuk pada sikap kurang luwes dalam
memandang dunia dan tugas-tugas dalam kesehariannya
4)
Sifat lekas marah dan mudah tersinggung
5)
Perasaan ragu – ragu dan khawatir seiring dengan pengalaman
yang dialaminya secara terus – menerus serta keinginan untuk
berinteraksi dengan lingkungan sekitar sebagai upayanya untuk
dapat tetap survived
17
Sementara menurut Sardjono
dalam Supini
(2009 :
14)
“Karakteristik yang paling cocok dari anak tunarungu yaitu terhambatnya
perkembangan bahasa dan bicara mereka terbatas pada kosakata dan
pengertian kata – kata yang abstrak”. Karakteristik yang menonjol menurut
para ahli diatas adalah penguasaan kosakata anak tunarungu yang kurang
sebagai akibat dari ketunaan dan terhambatnya perkembangan bahasa
anak, sehingga berdampak pada kehidupan sehari-hari anak. Baik di
sekolah maupun di masyarakat luas.
Sebagai dampak dari ketunarunguan, anak tunarungu memiliki
karakteristik yang khas, menurut Haenudin (2013 : 66 – 69), karakteristik
anak tunarungu dapat dilihat dari segi intelegensi, bahasa dan bicara, serta
emosi dan sosial, yaitu sebagai berikut:
1)
Karakteristik dalam Segi Intelegensi
Secara umum, intelegensi anak tunarungu tidak berbeda dengan
intelegensi anak yang mendengar seusianya. Segi intelegensi anak
tunarungu secara potensial tidak berbeda dengan anak normal pada
umumnya, namun dari segi fungsional intelegensi mereka berada
di bawah anak yang mendengar karena anak yang tunarungu
mengalami
kesulitan
dalam
memahami
bahasa.
Sehingga
perkembangan intelegensi anak tunarungu tidak sama dengan
perkembangan intelegensi anak yang mendengar. Rendahnya
prestasi belajar anak tunarungu bukan berasal dari kemampuan
intelektual yang rendah, tetapi karena intelegensi anak tunarungu
tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang optimal akibat
ketunarunguan yang dialami.
2)
Karakteristik dalam Segi Bahasa dan Bicara
Anak tunarungu dalam segi bahasa dan bicara memiliki
karakteristik yaitu sangat terbatas dalam pemilihan kosakata , sulit
mengartikan kiasan dan kata – kata yang bersifat abstrak.
18
3)
Karakteristik dalam Segi Emosi dan Sosial
Dalam segi emosi dan sosial, anak tunarungu memiliki perasaan
yang sangat peka dan sensitif. Anak tunarungu memiliki perasaan
terasing dari lingkungannya karena anak tunarungu hanya mampu
melihat kejadian tanpa bisa mendengar dari proses kejadian
sehingga menimbulkan karakteristik sebagai berikut:
a)
Egosentris yang melebihi anak normal
b)
Memiliki perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas
c)
Ketergantungan terhadap orang lain
d)
Perhatian mereka lebih sukar dialihkan
e)
Umumnya anak tunarungu memiliki sifat yang polos,
sederhana, dan tidak banyak masalah
f)
Lebih mudah marah dan cepat tersinggung
Adapun karakteristik anak tunarungu dalam segi perbendaharaan
kata atau bahasa antara lain:
(a)
Perbendaharaan kata yang dimiliki terbatas dibandingkan
dengan anak normal seusianya
(b)
Kesulitan mengartikan kata – kata yang mengandung arti
kiasan
(c)
Kesulitan mengartikan kata – kata yang bersifat abstrak
(d)
Nada bicaranya kadang tidak teratur, ada yang monoton dan
nada tinggi
(e)
Bicaranya terputus – putus akibat pernafasan dan penguasaan
kosakata yang terbatas
(f)
Bicaranya cenderung diikuti gerakan anggota tubuh untuk
memperjelas ucapannya (Supini, 2009 : 14)
Dari berbagai pedapat ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
secara umum karakteristik yang dimiliki oleh anak tunarungu dari segi
inteligensi sama dengan anak dengar seusianya, namun prestasi belajar
anak tunarungu cenderung rendah karena terhambatnya proses informasi
akibat ketunarunguaannya. Dari segi emosi dan sosial anak tunarungu
19
cenderung memiliki perasaan yang sensitif sehingga cepat marah dan
tersinggung. Dari segi pekembangan bahasa anak tunarungu jauh
dibawah anak dengar seusianya terlebih dalam penguasaan kosakata dan
perbendaharaan kata.
d. Perkembangan Bahasa Anak Tunarungu
Anak tunarungu mengalami perkembangan bahasa yang berbeda
dari anak yang mendengar. Menurut Myklebust yang dikutip oleh Munir
(2012 : 58) perbedaan perkembangan bahasa anak tunarungu dengan anak
yang mendengar dijelaskan sebagai berikut :
1)
Pada tahap pertama pengenalan bahasa anak dengan pendengaran
normal dengan anak tunarungu memiliki pengalaman bahasa
melalui situasi, maksudnya pada tahap ini anak dikenalkan dengan
lingkungan oleh ibu dengan pendekatan yang sama yaitu
pendekatan seorang ibu yang mendidik anaknya.
2)
Pada
tahap
kedua,
anak
dengan
pendengaran
normal
mengembangkan bahasa melalui bahasa batin hubungan antara
lambang pendengaran dengan kemampuan bahasa sehari – hari,
yakni dengan mengartikan lingkungan dan apa yang didengarnya.
Sedangkan anak tunarungu mengembangkan bahasanya melalui
bahasa
batin
hubungan
antara
lambang
penglihatan
dan
pengalaman sehari – hari. Jadi anak tunarungu hanya mampu
mengartikan apa yang terjadi di sekitarnya melalui indra
penglihatannya.
3)
Pada tahap ketiga, anak dengan pendengaran normal akan mulai
memasuki tahap Bahasa Reseptif Auditori (mendengarkan ujaran
dan bahasa dengan perkembangan yang baru). Sedangkan pada
anak tunarungu tahap ini merupakan tahap Bahasa Reseptif Visual
(membaca ujaran dan isyarat). Pada tahap ini, anak tunarungu
dikembangkan untuk dapat berbahasa dengan isyarat.
4)
Pada tahap keempat, anak dengan pendengaran normal akan mulai
memasuki tahap Bahasa Ekspresif Auditori yaitu tahap anak sudah
20
mulai bisa mengekspresikan apa yang didengarnya dan mengerti
apa yang didengarnya. Sedangkan pada anak tunarungu tahap ini
merupakan tahap Bahasa Ekspresif Kinestetik yaitu tahap anak
mulai memahami dan berbahasa dengan gerakan tubuh.
5)
Pada tahap kelima, anak dengan pendengaran normal dan anak
tunarungu sama – sama memasuki tahap Bahasa Represif. Pada
tahap ini anak dikembangkan lagi untuk dapat membaca.
6)
Pada tahap keenam, anak dengan pendengaran normal dan anak
tunarungu sama – sama memasuki tahap Bahasa Ekspresif Visual
yaitu tahap di mana anak dikembangkan lagi untuk dapat
menuliskan apa yang dilihatnya.
7)
Tahap terakhir, anak dengan pendengaran normal dan anak
tunarungu sama – sama memasuki tahap Perilaku Bahasa Verbal.
Sedangkan menurut Carrol dalam Indah (2012: 43-44) menyatakan
bahwa perkembangan bahasa anak tunarungu dipengaruhi oleh 3 faktor
yaitu :
1) Tingkat kerusakan pendengaran
2) Status pendengaran orang tua ( apakah normal atau menderita
tunarungu) dan
3) Usia diperkenalkan pada sistem komunikasi tertentu serta
konsistensi latihan berkomunikasi.
e.
Hambatan Khusus Bagi Tunarungu
Widjaya dan Ardhi (2012 : 18) menjelaskan “apabila anak yang
baru lahir menderita kurang pendengaran atau tunarungu, dan tidak segera
diatasi, maka akan mengakibatkan anak menjadi lambat dalam berbicara.
Yang lebih buruk lagi mengakibatkan anak menjadi tunawicara/ bisu”.
Sementara itu, ada berbagai hambatan yang dialami oleh
tunarungu, Myklebust dalam Bunawan dan Yuwati (2000 : 4)
mengemukakan suatu konsep tentang sensory deprivation atau kehilangan/
kemiskinan penginderaan. Melalui kelima indera seseorang memperoleh
informasi mengenai segala perubahan yang terjadi dalam lingkungannya,
sehingga seseorang dapat mengatur keseimbangan antara kebutuhan diri
21
dengan keadaan luar. Kelima indera tetap bekerjasama, walaupun yang
dirangsang hanya salah satu indera namun pengalaman penginderaan
melalui indera tersebut akan diartikan berdasarkan pengalaman yang telah
diperoleh sebelumnya melalui indera – indera lainnya. Maka jika salah
satu indera tidak berfungsi akan terjadi kesalahan dalam perolehan
informasi dari luar, sesuatu yang hilang atau kurang lengkap dalam
keseluruhan dunia persepsi seseorang.
Sejalan dengan pendapat dari Cruickshank dalam Efendi (2006 :
78) bahwa anak tunarungu seringkali memperlihatkan keterlambatan
dalam belajar dan kadang-kadang tampak terbelakang. Kondisi ini tidak
hanya disebabkan oleh derajat gangguan pendengaran yang dialami oleh
anak, melainkan juga tergantung kepada potensi kecerdasan yang
dimikinya. Tidak hanya mengalami hambatan dalam hal bahasa dan
komunikasi, anak tunarungu juga mengalami hambatan dalam belajar.
Slobin mengutip Furth (Bunawan dan Yuwati, 2000 : 38) yang
menyimpulkan bahwa:
1)
Orang yang miskin dalam kemampuan dan pengalaman bahasa
secara umum tidak akan menderita keterbelakangan dalam
kemampuan intelektualnya. Namun bahasa secara tidak langsung
mempengaruhi perkembangan intelektual secara umum sehingga
seseorang itu mungkin mengalami keterbelakangan sementara atau
keterlambatan dalam fase perkembangan tertentu, sebagai akibat
kurangnya pengalaman secara umum. Mungkin terbelakang pada
tugas – tugas khusus dimana penyelesaiannya membutuhkan
pengetahuan akan lambing kata – kata dan kebiasaan berbahasa.
2)
Bahasa dapat memberikan pengaruh secara tak langsung atau
spesifik/
khusus
yaitu
melalui
adanya
kesempatan
guna
memperoleh pengalaman tambahan melalui tersedianya informasi
dan penukaran ide serta lambang (berupa kata – kata) dan
kebiasaan berbahasa dalam situasi khusus.
22
Dari berbagai kajian tunarungu menurut para ahli di atas, peneliti
menyimpulkan bahwa hambatan khusus yang dimiliki oleh anak tunarungu
tidak hanya dalam aspek bahasa dan komunikasi saja. Secara tidak
langsung hambatan dalam aspek bahasa dan komunikasi mempengaruhi
perkembangan intelektual anak secara umum dan perkembangan sosial
anak dengan keluarga ataupun masyarakat luas.
2. Kajian Tentang Penguasaan Kosakata Bahasa Inggris
a.
Pengertian Kosakata Bahasa Inggris
Istilah kosakata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kosakata
berarti pembendaharaan kata. Menurut Poerwadarminta dalam Nuryati
(2005 : 18) “Kosakata adalah perbendaharaan kata. Dengan banyaknya
perbendaharaan
kata
yang
dimiliki
akan
memudahkan
dalam
berkomunikasi dengan anggota masyarakat yang lain”.
Kosakata
Kosakata
adalah kunci utama dalam memahami suatu bahasa.
merupakan himpunan kata yang digunakan seseorang untuk
membuat suatu kalimat baru yang bertujuan untuk mempermudah
komunikasi. Menurut Purwanto (2003: 1), “Vocabulary is one of the
subjects taught when students are learning in language. It can be studied
directly and indirectly”. Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa
kosakata adalah salah satu dari subjek yang diajarkan ketika seseorang
mempelajari bahasa.
Kosakata disebut juga perbendaharaan kata (Tim Penyusun Kamus
Pusat Bhasa 1995:527) mengemukakan bahwa “Kosakata adalah semua
kata yang terdapat dalam suatu bahasa, kekayaan kata yang dimiliki oleh
seseorang pembicara atau penulis, kata yang dipakai dalam suatu bidang
ilmu pengetahuan”.
Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai
wahana untuk meningkatkan interaksi global dimana dalam interaksi itu
memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi. Pentingnya bisa berbahasa
Inggris karena bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa internasional.
23
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kosakata
bahasa Inggris
adalah seluruh kata yang ada dalam bahasa Inggris yang memiliki arti dan
dapat digunakan untuk memperlajari bahasa Inggris.
b. Jenis – Jenis Kosakata Bahasa Inggris
Terdapat bebrapa jenis kosakata dalam bahasa Inggris, menurut
Thornbury (2002 : 3-12) ada 6 jenis kosakata
dalam bahasa Inggris
diantaranya :
1.
Word Classes
Word classes adalah kelas kata yang biasanya dipanggil dengan
sebutan part of speech. Contoh dari word classes yaitu noun,
pronoun, adjective, verb, adverb, preposition, dan conjunction.
2.
Word Families
Word families adalah turunan kata yang membahas tentang
imbuhan atau pergeseran bentuk sebuah kata yang mana bisa
berupa inflection dan derivation.
3.
Word Formation
Dalam bahasa Inggris ada beberapa jenis formasi atau bentuk
gabungan kata seperti :
Compounding: second-hand, word processor, typewriter
Compounding: second-hand, word processor, typewriter
Conversion: I always google every information I need. Kata google
sebenarnya noun tapi diubah menjadi kata kerja
Clipping: electronic mail = email, influenza = flu
4.
Multi-word Units
Bentuk dari multi-word units umumnya berbentuk phrasal verbs
dan idioms, contoh :
Look for, look after, wipe off, throw on
Famous last word, eat your words, jack me around
24
c.
Pentingnya Penguasaan Kosakata Bahasa Inggris
Kosakata adalah hal yang paling dasar dan utama untuk seseorang
dalam belajar bahasa. Purwanto (2003:2) memaparkan bahwa sebuah
kalimat sering membuat siswa bingung dan salah mengartikan isi dari
sebuah kalimat karena kata yang digunakan dalam kalimat tersebut tidak di
pahami dan asing bagi siswa sehingga anak sulit dalam menangkap arti
dari kalimat tersebut, walaupun hanya beberapa kata saja yang tidak
dimengerti hal ini dapat menyebabkan siswa gagal dalam memahami ide
pokok dari suatu kalimat. Purwanto (2003:3) juga menjelaskan bahwa
“students are demanded to learn vocabulary seriously and productively”.
Dari kutipan tersebut, disebutkan bahwa siswa dituntut untuk mempelajari
vocabulary (Kosakata ) secara serius dan produktif.
Berbeda dengan Hiebert dan Kamil (2005:27) mengemukakan
bahwa dari banyaknya manfaat menguasai banyak vocabulary hal yang
paling bernilai adalah bahwa vocabulary mempunyai kontribusi yang
positif dalam pemahaman suatu bacaan. Hiebert dan Kamil juga
memaparkan bahwa pemahaman seseorang terdiri dari dua keterampilan,
yaitu word knowledge or vocabulary dan reasoning. Sedangkan Thornbury
(2002:13) mengemukakan “without grammar very little can be conveyed,
without
vocabulary
nothing
can
be
conveyed”.
Pernyataan
ini
mengemukakan bahwa kosakata adalah hal yang sangat penting dikuasai
oleh siswa yang belajar bahasa asing.
Pendapat
lain
tentang
pentingnya
penguasaan
kosakata
diungkapkan oleh Stahl dan Nagy (2005:5):
Words divide the world; the more words we have, the more
complex ways we can think about the world. A person who knows
more words can speak, and even think, more precisely about the
world. A person who knows the terms scarlet and crimson and
azure and indigo can think about colors in a different way than a
person who is limited to red and blue. A person who can label
someone as pusillanimous or a recreant can better describe a
person's cowardly behavior.
25
Nagy dan Stahl mengungkapkan bahwa orang yang mengetahui
lebih banyak kata pasti bisa berbicara, dan bahkan bisa berpikir, lebih
tepatnya, tentang dunia. Orang yang mengerti istilah scarlet (merah tua),
azure (biru langit), dan indigo (biru laut) lebih bisa berpikir tentang warna
dengan cara berbeda daripada orang yang (pengetahuannya) sebatas pada
red (merah) dan blue (biru). Orang yang bisa menjuluki seseorang dengan
nama pusillanimous (kecut hati) atau recreant (pengecut) lebih bisa
mengungkapkan (menggambarkan) tentang watak pengecut seseorang.
Kata-kata membagi sebuah dunia; semakin banyak kata kita kuasai,
semakin bermacam-macam kita bisa berpikir tentang dunia.
Semakin banyak kosakata
yang dimiliki seseorang maka akan
semakin mudah pula seseorang memahami pembicaraan atau tulisan orang
lain dalam bahasa itu dan semakin mudah pula mengemukakan isi pikiran
dalam suatu bahasa secara lisan maupun tulisan. Senada dengan Keraf
(2010 : 64-65) yang menyatakan bahwa kosakata harus terus menerus
diperbanyak dan diperluas, sesuai dengan perkembangan dan kemajuan
masyarakat yang selalu menciptakan kata-kata baru.
Semakin sedikit kosakata
bahasa Inggris yang dimiliki, akan
semakin sulit untuk memahami pembicaraan atau tulisan orang lain dalam
bahasa Inggris dan akan semakin sulit pula mengungkapkan isi pikiran
dalam bahasa Inggris, secara lisan maupun tulisan. yang akan berpengaruh
pada kemampuan mendengarkan (listening), berbicara (speaking),
membaca (reading), dan menulis (writing).
Berdasarkan pernyataan diatas kosakata
merupakan salah satu
komponen yang sangat penting dalam mempelajari bahasa, karena
kosakata
adalah hal dasar yang harus dipelajari dalam belajar atau
mengenal bahasa. Terlebih bahasa Inggris merupakan bahasa yang
digunakan di dunia internasional, di era modern ini seseorang dituntut
untuk menguasai bahasa Inggris agar dapat bersaing di dunia internasional.
26
d. Penguasaan Kosakata Bahasa Inggris Anak Tunarungu
Agar dapat berbahasa dengan baik dan lancar harus ditunjang oleh
fungsi pendengaran yang baik, sebab pemerolehan bahasa terbentuk
melalui proses meniru dan mendengar. Bila fungsi pendengaran
mengalami gangguan, maka proses pemerolehan bahasa akan terganggu,
karena kemampuan ini berkembang melalui pendengaran. Anak yang
fungsi pendengarannya mengalami hambatan dalam proses pemerolehan
bahasa anak, akan mengalami hambatan pula dalam berkomunikasi.
Kemampuan pemerolehan
kosakata
merupakan proses seorang anak
memperoleh kata-kata. Pemerolehan kosakata memungkinkan seseorang
dapat berbahasa dengan baik dan benar. Dengan kata lain, kualitas
keterampilan berbahasa seseorang jelas
bergantung pada kualitas dan
kuantitas kosakata yang dimilikinya. Semakin kaya kosakata semakin
besar
pula
kemungkinan
keterampilan
berbahasa
kita.
Kosakata
merupakan unsur bahasa yang penting dan perlu dipelajari, dipahami, dan
dimengerti agar dapat digunakan dengan baik dan benar.
Masa pemerolehan bahasa anak tunarungu tidak dapat dilalui
seperti halnya anak
yang bisa mendengar. Jika anak sehat mampu
menghubungkan pengalaman dan lambang bahasa melalui pendengaran,
pada anak tunarungu tidak. Hal ini disebabkan karena adanya disfungsi
pada pendengarannya. Jadi, anak tunarungu memperoleh bahasanya lebih
difokuskan melalui fungsi penglihatannya. Tetapi tidak menutup
kemungkinan dengan memaksimalkan fungsi pendengarannya, bagi siswa
tunarungu yang kurang dengar.
Paul (1996 : 3) mengemukakan “the low English reading
achievement level of deaf students (with severe to profound hearing losses)
has been well documented in there search and scholarly literature. It is
suspected that these low levels are attributed to several language variables
one of which is reading vocabulary knowledge”. Paul mengemukakan
rendahnya prestasi membaca dari anak tunarungu telah didokumentasikan
27
dalam penelitian dan literature. Hal tersebut diduga berhubungan dengan
variabel bahasa, salah satunya adalah pengetahuan kosakata .
Tabel 2.1. Nilai Rata-Rata Pelajaran Bahasa Inggris Siswa
Tunarungu Kelas VIII di SLB-B YRTRW Surakarta Tahun Ajaran
2015/2016
No
Inisial Anak
Nilai Rata-rata
1
DL
77
2
HCW
78
3
PS
74
4
LY
74
5
AA
76
6
HA
75
7
ADW
72
8
INS
75
Dapat dilihat pada tabel rata-rata nilai bahasa Inggris anak
tunarungu kelas VIII diatas, bahwa nilai pada mata pelajaran bahasa
Inggris cenderung rendah. Hal tesebut dipengaruhi oleh tingkat
penguasaan kosakata
bahasa Inggris anak tunarungu yang cenderung
rendah, hal ini dikarenakan bahasa Inggris bukan merupakan bahasa
keseharian anak. Bahasa Inggris memiliki pelafalan yang berbeda jika
dibandingkan dengan bahasa Indonesia, anak tunarungu juga merasa
kesulitan dalam mengingat kata dalam bahasa Inggris karena bahasa
tersebut terasa asing bagi anak.
28
3.
Kajian Tentang Model Pembelajaran Word Square
a. Pengertian Model Pembelajaran Word Square
Menurut Winataputra dalam Sugiyanto (2009 : 3) “model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar peserta didik
untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman
bagi perencana pembelajaran dan guru dalam merencanakan dan
melaksanakan aktifitas belajar mengajar”.
Model pembelajaran word square menurut Widodo (2009:13)
adalah model pembelajaran yang memadukan kemampuan menjawab
pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak-kotak
jawaban. Mirip seperti mengisi teka-teki silang tetapi bedanya jawabannya
sudah ada namun disamarkan dengan menambahkan kotak tambahan
dengan sembarang huruf atau angka penyamar atau pengecoh.
Menurut Kurniasih dan Sani (2015:97), “Model pembelajaran word
square adalah model pengembangan dari metode ceramah yang diperkaya
sedemikian rupa dan berorientasi kepada keaktifan siswa dalam
pembelajaran. Model ini juga memadukan kemampuan menjawab
pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak-kotak
jawaban”.
Sedangkan pendapat dari Winataputra (2009:27) mengenai
pengertian dari model pembelajaran word square “merupakan salah satu
model yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa
menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokkan jawaban pada
kotak-kotak jawaban.
Dari pendapat-pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa
Model Pembelajaran Word Square adalah model pembelajaran yang
memadukan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam
mencocokkan jawaban pada kotak jawaban. Mirip seperti mengisi tekateki silang, bedanya dalam word square sudah terdapat jawaban namun
disamarkan dengan menambah huruf/ angka penyamar atau pengecoh yang
29
bertujuan untuk menambah ketelian dan kejelian siswa sehingga melatih
siswa berfikir kritis. Model pembelajaran ini dapat digunakan dalam
semua mata pelajaran, tinggal bagaimana guru dapat menerapkan sesuai
dengan kebutuhan siswa.
b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Word Square
Menurut
Widodo
(2009:4)
langkah-langkah
dalam
model
pembelajaran word square adalah sebagai berikut :
1)
Buat kotak sesuai keperluan, buat soal sesuai KD
2)
Guru menyampaikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai
3)
Guru membagikan lembaran kegiatan sesuai contoh
4)
Siswa menjawab soal kemudian mengarsisr huruf dalam kotak
sesuai jawaban
5)
Berikan poin setiap jawaban dalam kotak.
Menurut
Uno
&
Mohammad,
(2011:130)
sintaks
model
pembelajaran word square adalah sebagai berikut:
1)
Guru menyiapkan materi sesuai kompetensi
2)
Guru memberikan motivasi kepada siswa
3)
Guru membagi lembar kegiatan sesuai contoh
4)
Siswa disuruh menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam
kotak sesuai jawaban
5)
Berikan poin pada setiap jawaban dalam kotak
Hal serupa juga dikemukakan oleh Aqib (2013 : 31) tentang
langkah-langkah model pembelajaran word square yaitu :
1)
Sampaikan materi sesuai TPK
2)
Bagikan lembar kegiatan sesuai contoh
3)
Siswa disuruh menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam
kotak sesuai dengan jawaban
4)
Berikan point pada setiap jawaban dalam kotak
30
Contoh lembar jawab word square yang belum diisi:
T
Y
E
N
I
O
K
N
R
A
U
A
N
K
U
O
A
B
A
R
T
E
R
M
N
A
N
I
R
R
S
I
S
D
G
I
I
T
G
N
A
O
N
L
S
A
I
A
K
L
A
A
I
S
R
L
S
A
C
E
K
B
O
S
I
R
I
N
G
G
I
T
Berikut ini adalah soalnya :
1.
Sebelum mengenal uang, orang melakukan pertukaran dengan cara ...
2.
... digunakan sebagai alat pembayaran yang sah
3.
Uang ... saat ini banyak dipalsukan
4.
Nilai bahan pembuatan uang disebut ...
5.
Kemampuan uang untuk ditukar dengan sejumlah barang atau jasa
disebut nilai ...
6.
Nilai perbandingan uang dalam negara dengan mata uang asing disebut ...
7.
Nilai yang tertulis pada mata uang disebut nilai ...
8.
Dorongan seseorang menyimpan uang untuk keperluan jual beli disebut
motif ...
9.
Perintah tertulis dari seseorang yang mempunyai rekening di bank untuk
membayar sejumlah uang disebut ...
Dari contoh kotak pada bagian awal, siswa diminta untuk
menjawab pertanyaan dengan mengarsir jawaban yang sudah ditemukan
dalam kotak dan selanjutnya akan menjadi seperti ini,
31
Contoh lembar jawab word square yang sudah terisi:
8) T
Y
6) K
7) N
R
A
U
O
A
1) B
A
5) R
T
E
R
M
N
A
N
I
R
R
S
I
S
D
G
I
I
T
G
N
A
O
N
L
S
A
I
A
K
L
A
A
I
S
R
L
S
A
9) C
E
K
B
O
S
I
R
I
N
G
G
I
T
2)
E
N
U
A
4) I
N
O
3) K
c. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Word Square
Dalam setiap model pembelajaran pasti terdapat kelebihan dan
kekurangan yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam proses
belajar mnegajar, Widodo (2009 : 15) menyatakan bahwa :
Model pembelajaran word square dapat digunakan untuk mendorong
pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, dapat melatih
kedisiplinan siswa, dapat melatih sikap teliti dan kritis, dan
merangsang siswa untuk berfikir efektif. Model pembelajaran ini
mampu sebagai pendorong dan penguat siswa terhadap materi yang
disampaikan. Melatih ketelitian dan ketepatan dalam menjawab dan
mencari jawaban dalam lembar kerja. Dan tentu saja yang
ditekankan disini adalah dalam berfikir efektif, jawaban mana yang
paling tepat.
Menurut Supartono (2003 : 9) “Model pembelajaran word square
merupakan salah satu model yang membutuhkan suatu kejelian dan
ketelitian siswa yang dapat merangsang siswa untuk berfikir efektif
melalui permainan acak huruf dalam pembelajaran”. Sesuai dengan
pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa kelebihan model
32
pembelajaran word square adalah mampu melatih siswa untuk lebih jeli
dan teliti serta melatih siswa untuk berfikir efektif.
Dibalik kelebihan suatu model pembelajaran terdapat pula
kelemahannya. Menurut Widodo (2009 : 15), “kelemahan model
pembelajaran word square yaitu mematikan kreatifitas siswa, siswa tinggal
menerima bahan mentah, siswa tidak dapat mengembangkan materi yang
ada dengan kemampuan atau potensi yang dimilikinya”.
Dari
penjelasan
tentang kelebihan
dan
kelemahan
model
pembelajaran word square, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
kelebihan model pembelajaran word square adalah untuk melatih ketelian,
kejelian siswa, dan melatih berfikir efektif. Sedangkan kelemahannya
adalah mematikan kreatifitas siswa.
B. Kerangka Berfikir
Berdasarkan pada kajian teori yang telah dikemukakan di atas,
maka dapat disusun kerangka pemikiran sebagai berikut:
Siswa tunarungu memiliki hambatan dalam pemerolehan bahasa
dikarenakan rendahnya pengalaman bahasa yang dimiliki, terlebih lagi
pengalaman bahasa asing. Siswa tunarungu mengalami masalah dalam
memahami bahasa Inggris karena rendahnya penguasaan kosakata yang
dimiliki, bahasa Inggris bukanlah bahasa yang digunakan sehari-hari bagi
anak tunarungu sehingga pemerolehan kosakata anak cenderung rendah.
Bahasa Inggris merupakan salah satu mata pelajaran yang perlu dikuasai
oleh siswa tunarungu kelas VIII, namun karena rendahnya penguasaan
kosakata anak, pemahaman terhadap mata pelajaran bahasa Inggris pun
kurang dan nilai siswa masih berada di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan
Minimal). Model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran
bahasa Inggris siswa tunarungu kelas VIII di sekolah sebagian besar masih
menggunakan model pembelajaran yang konvensional yakni ceramah dan
pemberian tugas. Salah satu upaya untuk meningkatkan penguasaan
kosakata bahasa Inggris siswa tunarungu adalah dengan penggunaan
33
model pembelajaran Word Square. Model pembelajaran word square
merupakan model pembelajaran yang memadukan kemampuan menjawab
pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokkan jawaban pada kotak
jawaban. Model pemebelajaran word square ini digunakan dan
disesuaikan dengan materi ajar untuk melatih siswa memperlajari
kosakata. Tidak hanya dapat melatih ingatan dan ejaan kata, word square
merupakan permaianan yang menyenangkan dan banyak diminati. Word
square digunakan sebagai model pembelajaran dalam mempelajari
kosakata bahasa Inggris sehingga penguasaan kosakata bahasa Inggris
siswa tunarungu dapat meningkat.
Dari uraian diatas maka kerangka berpikir dalam penelitian ini
dapat digambarkan sebagai berikut:
Anak tunarungu
mengalami hambatan
dalam pemerolehan
bahasa
Kosakata bahasa Inggris anak
tunarungu kelas VIII rendah
sehingga prestasi belajar bahasa
Inggris masih di bawah KKM
Penggunaan model pembelajaran
word square sebagai model
pembelajaran untuk meningkatkan
penguasaan kosakata bahasa
Inggris anak tunarungu kelas VIII
Penguasaan kosakata bahasa
Inggris anak tunarungu kelas
VIII meningkat
34
C. Hipotesis
Hipotesis merupakan pernyataan atau dugaan sementara bahwa
masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah atau belum tentu benar
sehingga harus diuji secara empiris (Purwanto & Sulistyastuti, 2007 : 137).
Sejalan dengan pendapat tersebut Arikunto (2006 : 45) mengemukakan
“Hipotesis adalah kebenaran yang masih berada dibawah (belum tentu
benar) dan baru dapat diangkat menjadi suatu kebenaran jika memang telah
disertai dengan bukti-bukti”.
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir di atas maka dapat
dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:
Model pembelajaran Word Square berpengaruh positif terhadap
penguasaan kosakata Bahasa Inggris siswa tunarungu kelas VIII di
SLB-B YRTRW Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016.
Download