STRATEGI PROMOSI BATIK GUNAWAN SETIAWAN (Studi

advertisement
STRATEGI PROMOSI BATIK GUNAWAN SETIAWAN
(Studi Deskriptif Kualitatif mengenai Strategi Promosi Batik Gunawan
Setiawan dalam Menarik Minat Konsumen untuk Mendukung Penjualan
dalam Rangka Melestarikan Batik)
Oleh
MAYA RIZKY AMALIA
D0207124
Disusun untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
ii
iii
HALAMAN MOTTO
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan
Qalam. Dialah yang mengajar manusia segala yang belum
diketahui” (Q.S Al-‘Alaq 1-5).
“Barang siapa menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan
baginya jalan menuju surga” (Hadist Riwayat Muslim)
Bekerjalah bagaikan tak butuh uang.
Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti.
Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang menonton. (Mark Twain)
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan untuk:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Sang Pencipta Allah SWT
Papa Mahmudi
Mama Sarwanti
Ibu Nurbaya
Adek Fakhrizal
Adek Nafika
Adek Rayhan
Almamater, Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Sebelas Maret
v
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah
melimpahkan
rahmat
dan
hidayah-Nya
sehingga
penulis
dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul “STRATEGI PROMOSI BATIK GUNAWAN
SETIAWAN (Studi Deskriptif Kualitatif mengenai Strategi Promosi Batik
Gunawan Setiawan dalam Menarik Minat Konsumen untuk Mendukung
Penjualan dalam Rangka Melestarikan Batik)”.
Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada
pihak-pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah SWT atas karunia yang telah diberikan petunjuk, kemudahan,
kesempatan dan kesehatan kepada penulis.
2. Kedua orang tua saya Papa dan Mama yang telah memberikan dukungan,
doa, dan semangat kepada anaknya agar bisa menjadi anak yang sukses.
3. Ibu Dra. Prahastiwi Utari, M.Si, Ph.D, Ketua Program Studi Ilmu
Komunikasi FISIP UNS.
4. Terkhusus, penulis menyampaikan banyak ucapan terima kasih kepada
pembimbing skripsi, Bapak Prof. Drs. H. Totok Sarsito SU, MA, Ph.D atas
vi
keikhlasannya membimbing penulis dan memberikan masukan dalam
mengerjakan skripsi ini.
5. Bapak Drs. Agung Priyono, M.Si, Pembantu Dekan I yang telah
memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian.
6. Semua dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sebelas Maret yang telah mengajar saya selama 4
tahun.
7. Gunawan Setiawan, SE (Ketua Paguyuban dan Pemilik Batik Gunawan
Setiawan), Drs. Abdul Mukid Agus Riyanto (Sekretaris Paguyuban), dan
semua pegawai Batik Gunawan Setiawan atas segala informasi dan
bantuannya dalam penyelesaian penelitian ini.
8. Teman-teman seperjuangan di Ilmu Komunikasi FISIP UNS angkatan
2007, terima kasih atas kebersamaan selama masa perkuliahan dan
dukungannya selama pengerjaan skripsi.
9. Sahabatku-sahabatku yang selalu memberi bantuan dan motivasi.
10. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan studi
dan penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun agar skripsi ini dapat dipertanggungjawabkan kepada
semua pihak.
vii
Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca
pada umumnya. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Surakarta, 28 Juli 2012
Penulis
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………………………………………………………….. i
HALAMAN PERSETUJUAN ……………………………………………….. ii
HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………...… iii
HALAMAN MOTTO ……………………………………………………….... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………….... v
KATA PENGANTAR ……………………………………………………….. viii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………...... ix
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………….... xii
DAFTAR TABEL ……………………………………………………………. xiii
ABSTRAK ……………………………………………………………………. xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ……………………………………… 1
B. RUMUSAN MASALAH …………………………………… 4
C. TUJUAN PENELITIAN ……………………………………. 5
D. MANFAAT PENELITIAN …………………………………. 5
E. KERANGKA TEORI ……………………………………….. 6
1. Promosi …………………………………………………… 6
2. Strategi ……………………………………………………. 7
3. Promosi Dalam Organisasi Profit ……………………….. 10
F. METODOLOGI PENELITIAN …………………………… 26
1. Jenis Penelitian ………………………………………….. 26
2. Lokasi Penelitian ………………………………………... 27
3. Sumber Data …………………………………………….. 27
4. Metode Pengumpulan Data ……………………………... 27
5. Teknik Sampling ……………………………………….. 29
6. Teknik Validitas Data ………………………………….. 29
7. Teknik Analisis Data …………………………………... 30
ix
BAB II
DESKRIPSI LOKASI
A. ASAL-USUL KAUMAN ………………………………….. 32
1. Sejarah Kauman …………………………………………. 32
2. Latar Belakang Sosial Masyarakat Kauman …………….. 35
B. BATIK KAUMAN ………………………………………… 37
1. Sejarah Batik Kauman …………………………………... 37
2. Perkembangan Industri Batik di Kauman ………………. 40
C. PAGUYUBAN KAMPUNG WISATA BATIK
KAUMAN …………………………………………………. 44
1. Sejarah Paguyuban ……………………………………… 44
2. Visi dan Misi Paguyuban Kampung Wisata Batik
Kauman Surakarta………………………………………...46
3. Sejarah dan Gambaran Industri Batik Gunawan
Setiawan ………………………………………………... 50
3.1 Produk dan Pemasarannya ………………………… 50
3.2 Struktur Organisasi ………………………………... 52
3.3 Produk: Pengembangan Produk, Pengembangan
Proses ……………………………………………… 52
3.3.1 Perkembangan Produk Batik Gunawan
Setiawan ………………………………………... 52
3.3.2 Perkembangan Proses ………………………… 54
3.3.3 Proses Pembuatan ……………………………… 54
3.3.4 Bahan Baku ……………………………………. 55
3.3.5 Warna ………………………………………….. 56
x
3.3.6 Sumber Daya Manusia ………………………… 57
3.3.7 Keuangan : Sumber Modal, Pengelolaan
Uang …………………………………………... 57
3.3.8 Pemasaran: Strategi, Jaringan Pemasaran …….. 59
BAB III
STRATEGI PROMOSI BATIK GUNAWAN
A. Langkah-Langkah Merumuskan Strategi Promosi ………... 61
B. Proses / Tahapan Pelaksanaan Aktivitas Promosi ………… 69
C. Analisis Strategi Promosi Batik Gunawan Setiawan ……... 82
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN …………………………………………... 95
B. SARAN …………………………………………………... 97
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1
Marketing Communication Mix ……………………………….. 15
Gambar 1.2
Teknik Analisis AInteraktif ……………………………………. 31
Gambar 2.1
Logo Paguyuban Batik Kauman ………………………………. 45
Gambar 2.2
Struktur Organisasi Batik Gunawan …………………………... 52
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1
Kegiatan Batik Gunawan Setiawan …………………………….. 73
xiii
ABSTRAK
MAYA RIZKY AMALIA, D0207124, STRATEGI PROMOSI BATIK
GUNAWAN SETIAWAN (Studi Deskriptif Kualitatif mengenai Strategi
Promosi Batik Gunawan Setiawan dalam Menarik Minat Konsumen untuk
Mendukung Penjualan dalam Rangka Melestarikan Batik), Skripsi, Jurusan
Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas
Maret (FISIP UNS) Surakarta, 2012.
Salah satu perusahaan batik yang berskala nasional adalah Batik Gunawan.
Industri Batik Gunawan yang sebelumnya memiliki motif batik hanya bersandar
pada pakem-pakem yang ada, namun seiring perkembangan jaman motif batik
kian bervariasi lantaran telah terjadi akulturasi. Batik Gunawan hadir sebagai
wujud tanggung jawab dalam melestarikan budaya bangsa melalui seni membatik
pada khususnya dan usaha batik di Indonesia pada umumnya. Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan serta mengevaluasi strategi promosi yang
dilakukan Batik Gunawan dalam menarik minat konsumen untuk mendukung
penjualan dalam rangka melestarikan batik serta untuk mendeskripsikan faktor
pendukung dan penghambat strategi promosi yang dilakukan Batik Gunawan
dalam menarik minat konsumen untuk mendukung penjualan dalam rangka
melestarikan batik.
Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif, yaitu suatu metode yang memaparkan gambaran dan/atau pemahaman
(understanding) mengenai bagaimana dan mengapa suatu gejala atau realitas
komunikasi terjadi. Sedangkan pengumpulan data menggunakan metode
wawancara mendalam (indepth interview), dan studi dokumen/teks. Teknik
purpossive sampling digunakan untuk memilih para informan penelitian,
sementara validitas data diuji melalui teknik triangulasi sumber (data) dan analisa
data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman.
Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa untuk dapat mengembangkan
aktivitas promosi agar tetap berjalan dengan efektif harus melakukan tahapan
mengidentifikasi target audience, menentukan tujuan promosi, merancang pesan,
memilih saluran promosi, menetapkan total anggaran promosi, memutuskan
bauran promosi, mengulur hasil promosi, dan mengelola proses komunikasi
pemasaran terpadu. Penelitian ini juga menemukan bahwa aktivitas promosi yang
telah dijalankan bertujuan agar merek dapat dikenal oleh khalayak dan dapat
memberikan berbagai informasi melalui kegiatan promosi tersebut. Dengan cara
promosi seperti itu ternyata omset penjualan bisa selalu meningkat.
xiv
ABSTRACT
MAYA RIZKY AMALIA, D0207124, THE PROMOTING STRATEGY OF
BATIK GUNAWAN SETIAWAN (A Descriptive-Qualitative Study of the
Promoting Strategy of Batik Gunawan Setiawan in Attracting Consumers’
Interest for Supporting Sale in the Efforts of Batik’s Perpetuation), Thesis,
Communication Science Faculty of Social and Political Science University of
Sebelas Maret, Surakarta, 2012.
One of the national scalable batik corporations in Indonesia is Batik
Gunawan. Previously, Batik Gunawan only had several batik motifs based on
many source books for the Java shadow play stories which are still exist.
However, along with the expansion of the age, the acculturation made batik motifs
become more varied. Batik Gunawan, the national scalable batik corporation in
Indonesia, appears as the realization of responsibility actions to conserve batik
culture itself, especially in the art point-view. Based on the backgrounds above,
this research has certain purposes; to describe the supporting factors and inhibit
factors in promotion strategy, and also to evaluate the promotion strategy to
attract the consumer and to raise the market sale.
The research employed the descriptive method with the qualitative
approach, which is a method explaining the image and/or the understanding about
how and why an indication or a reality of communication happens. While the
collecting data used the in depth interview and the document/text study.
Technique of purposive sampling was used to choose the research informants,
while the data validity was tested through triangulation technique of the source
(data) and the data analysis used interactive model of Miles and Huberman.
The result of this research shown that to expand the promotion activity, so
that its effectiveness still keeps running, is to do certain steps such as: audience
target’s identification, determining promotion purposes, designing orders,
choosing promotion channels, establishing total budgets in promotion, settling up
the promotion diffusion, paying out the promotion’s result, and managing the
integrated communication process in promotion. This research also represents that
promotion activity has several purposes so that the brand will be known by the
mass willfully, and also it will give many benefit information along itself. As the
result, the sale turnover is always increase by such promotion’s way.
xv
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Solo adalah sebuah kota di Jawa Tengah yang memiliki nilai-nilai
kejawaan yang cukup kental. Sebagai sebuah kota di Jawa Tengah, Solo memiliki
sebuah slogan berbahasa Inggris yang berbunyi Solo The Spirit of Java, sebuah
upaya pengenalan Solo lengkap dengan berbagai nilai-nilai kejawaan yang masih
dianut pada kalangan turis asing. Solo terkenal dengan wilayah penghasil batik.
Solo sudah cukup lama dikenal sebagai kota budaya. Salah satu identitas
Solo sebagai kota budaya adalah batik. Penghargaan terhadap batik Solo sangatlah
membanggakan. Namun yang terpenting adalah bagaimana agar kita sebagai
bangsa yang besar mampu melestarikan batik sebagai warisan budaya bangsa.
Untuk itu, sangatlah penting membangun kesadaran bersama agar batik tidak
hanya menjadi euforia dan tren sesaat yang kemudian hilang begitu saja. Batik
harus tetap dikembangkan agar identitas sebagai kota Solo tidak pudar dan
kecintaan terhadap batik juga tidak luntur. Dengan demikian, batik tidak hanya
menjadi warisan sebagai bagian masa lalu, tetapi tetap eksis di masa kini dan
semakin berkembang di masa yang akan datang.
Kota Solo didirikan pada masa Kesultanan Mataram tahun 1745 di desa
Sala di tepi Bengawan Solo dan pernah menjadi pusat pemerintahan pada masa
akhir Kesultanan tersebut. Ketika pada akhirnya Mataram pecah, Solo kemudian
menjadi pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaraan.
2
Bagi masyarakat Solo, batik dan budaya Jawa merupakan dua hal yang tak
terpisahkan. Sudah sejak lama masyarakat Solo mengenakan batik baik dalam
acara-acara di keraton maupun dalam kehidupan sehari-hari. Batik dalam
anggapan umum adalah “sebentuk kain yang memiliki motif-motif tertentu”, yang
mana motif-motif tersebut telah digunakan beratus tahun (mentradisi) pada sebuah
wastra (kain yang bermotif). Pengertian seperti di atas telah menjadi semacam
aksioma bahwa batik atau wastra batik adalah motif itu sendiri.
Dari aspek kultural, batik adalah seni tingkat tinggi. Batik tak sekadar kain
yang ditulis dengan menggunakan malam (cairan lilin). Pola-pola yang ada di
batik, lanjutnya memiliki filosofi yang sangat erat dengan budaya masyarakat.
Batik adalah kebanggaan bangsa Indonesia, sebuah identitas yang telah diwarisi
sejak ratusan tahun lalu. Sayang, identitas ini terancam karena batik-batik ini pun
telah diupayakan bangsa lain untuk didaftarkan sebagai warisan nenek moyang
mereka.
Sebagai suatu kebudayaan tradisional yang telah berlangsung secara turun
temurun, maka Hak Cipta atas seni batik ini akan dipegang oleh negara
sebagaimana diatur dalam Pasa1 10 ayat 2 Undang-Undang No. 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta, yaitu : ”Negara memegang Hak Cipta atas folklore dan hasil
kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng,
legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni
lainnya”.
Dalam penjelasan Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang No. 19 Tahun 2002,
dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan folklore adalah sekumpulan ciptaan
3
tradisional, baik yang dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam
masyarakat, yang menunjukkan identitas sosial dan budayanya berdasarkan
standar dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun temurun termasuk
hasil seni antara lain berupa : lukisan, gambar, ukir-ukiran, pahatan, mosaik,
perhiasan, kerajinan tangan, pakaian, instrumen musik dan tenun tradisional
(termasuk batik di dalamnya). Perangkat hukum yang telah ditetapkan dalam
Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta belum mencukupi
kebutuhan masyarakat akan perlunya perlindungan ekspresi budaya tradisional
termasuk di dalamnya adalah motif batik tradisional. Namun demikian motif batik
tradisional tidak dapat digolongkan sama seperti karya cipta konvensional lain
yang dilindungi oleh UU Hak Cipta. Maka motif batik tradisional lebih tepat
digolongkan bukan sebagai karya cipta biasa, namun sebagai bentuk dari Ekspresi
Budaya Tradisional (Traditional Cultural Expressions/Expressions of Folklore).
Salah satu perusahaan batik yang berskala nasional adalah Batik Gunawan.
Batik Gunawan merupakan salah satu batik besar di kota Solo. Batik Gunawan
berdiri sejak tahun 1972 dan menghasilkan produk batik tulis, batik klasik khas
Surakarta dan batik saudagaran yang memadukan gaya klasik dan tradisional;
diproses secara alami, menggunakan bahan pewarna alam (natural) yang diambil
dari kayu teger, kayu tingi, kayu jambal dan bahan alami lain yang diperoleh dari
alam Indonesia. Industri Batik Gunawan yang sebelumnya memiliki motif batik
hanya bersandar pada pakem-pakem yang ada, namun seiring perkembangan
jaman motif batik kian bervariasi lantaran telah terjadi akulturasi. Batik Gunawan
hadir sebagai wujud tanggung jawab dalam melestarikan budaya bangsa melalui
4
seni membatik pada khususnya dan usaha batik di Indonesia pada umumnya.
Batik Gunawan kian mendunia dengan menghadirkan koleksi-koleksi baru yang
selaras perkembangan mode, mengacu pada kualitas, dan merambah berbagai
bidang. Batik Gunawan memiliki keunikan yang berupa Museum Batik Gunawan.
Sebagai salah satu cara untuk mempromosikan batik Indonesia, Gunawan
Setiawan, pemilik Batik Gunawan ini mendirikan Museum Batik Gunawan yang
berisi ratusan lembar kain batik berusia di atas 35 tahun dan berbagai peralatan
membatik. Di Museum itu juga terdapat Batik Tulis Tradisional khas Surakarta
Hadiningrat dengan motif klasik/kuno. Berbagai kegiatan dilakukan oleh
Gunawan Setiawan untuk memperkenalkan dan mencintai batik kepada
masyarakat luas dengan cara membagikan ilmu membatik. Tamu-tamu yang
datang berbelanja di Rumah Batik Gunawan Setiawan selalu diajak menyaksikan
proses membatik ditempat produksi batik yang berada di rumahnya. Cara
demikian dapat memudahkan orang-orang untuk mengenal batik. Gunawan
Setiawan membuka pintu rumah produksi batik untuk tempat belajar membatik
bagi kalangan pendidikan, termasuk dari luar negeri.
B. RUMUSAN MASALAH
Walaupun memiliki berbagai keunikan, batik Gunawan Setiawan tetap
harus bertahan dalam persaingan bisnis mengingat persaingan industri batik ini
semakin ketat. Oleh karena itulah batik Gunawan Setiawan sebagai salah satu
perusahaan batik terbesar di kota Solo harus mampu merumuskan strategi promosi
yang tepat guna menarik minat konsumen sehingga dapat mendukung penjualan
5
dan sekaligus juga melestarikan batik. Penelitian ini dimaksudkan untuk
mengetahui bagaimana strategi promosi yang dilakukan Batik Gunawan Setiawan
dalam menarik minat konsumen untuk mendukung penjualan dalam rangka
melestarikan batik?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mendeskripsikan serta mengevaluasi strategi promosi yang
dilakukan Batik Gunawan Setiawan dalam menarik minat konsumen untuk
mendukung penjualan dalam rangka melestarikan batik.
2. Untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat strategi
promosi yang dilakukan Batik Gunawan Setiawan dalam menarik minat
konsumen untuk mendukung penjualan dalam rangka melestarikan batik.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
Manfaat Teoritis yang diperoleh dari penelitian ini, dapat menambah
literatur tentang strategi promosi Batik Gunawan Setiawan sebagai salah satu
topik utama dalam kajian ilmu komunikasi.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Batik Gunawan Setiawan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam
merumuskan kebijakan strategi prmosi dalam menarik minat pengunjung
Batik Gunawan Setiawan.
6
b. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman
dalam menerapkan konsep-konsep dasar ilmu komunikasi khususnya teori
strategi promosi yang telah diperoleh dibangku perkuliahan.
E. KERANGKA TEORI
Dalam upaya menarik minat konsumen dalam mendukung penjualan dan
pelestarian Batik Gunawan Setiawan telah melakukan promosi. Agar promosi
dapat mencapai sasaran diperlukan strategi promosi yang tepat dan handal.
Berikut ini akan diuraikan berbagai pengertian tentang strategi promosi dan halhal yang terkait dengan masalah tersebut.
1. Promosi
Promosi merupakan salah satu variabel IMC yang digunakan oleh
perusahaan untuk mengadakan komunikasi dengan pasarnya, dengan tujuan untuk
memberitahukan bahwa suatu produk itu ada dan memperkenalkan produk serta
memberikan keyakinan akan manfaat produk tersebut kepada pembeli atau calon
pembeli. Promosi merupakan salah satu cara yang dibutuhkan perusahaan dalam
meningkatkan volume penjualan. Oleh karena itu, kegiatan promosi ini harus
dapat dilakukan sejalan dengan rencana pemasaran serta diarahkan dan
dikendalikan dengan baik sehingga promosi tersebut benar-benar dapat
memberikan kontribusi yang tinggi dalam upaya meningkatkan volume penjualan.
Promosi berasal dari kata promote dalam bahasa Inggris yang diartikan
sebagai
mengembangkan
atau
meningkatkan.
Pengertian
tersebut
jika
7
dihubungkan dengan bidang penjualan berarti sebagai alat untuk meningkatkan
omzet penjualan (Freddy, 2009: 49).
2. Strategi
Istilah strategi berasal dari bahasa Yunani, yang berarti “kepemimpinan”
(leadership). Strategi adalah keseluruhan tindakan-tindakan yang ditempuh oleh
sebuah organisasi untuk mencapai sasaran-sasarannya (Winardi, 1989: 46).
Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen
(management) untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi untuk mencapai tujuan
tersebut strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah
saja, melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya
(Effendy, 1993: 7).
Untuk mencapai strategi promosi suatu organisasi perlu memiliki cita-cita
atau gambaran masa depan yang diinginkan, sehingga suatu organisasi perlu
memikirkan kegiatan apa yang akan dilakukan dalam beberapa tahun kedepan
untuk mencapai apa yang dicita-citakan tersebut. Dalam menjamin masa depan
organisasi perlu menyepakati arah, sasaran dan program jangka panjangnya.
Apabila organisasi menjadi semakin besar dengan kegiatan yang semakin
beragam, maka akan sulit untuk dikelola dengan baik tanpa memiliki rencana
stratejik sebagai arahan jangka panjang. Rencana stratejik juga menjadi semakin
penting jika lingkungan berubah, misalnya apa yang harus dilakukan Batik
Gunawan ketika masyarakatnya meninggalkan budaya batik. Untuk mengatasi
perubahan-perubahan lingkungan tersebut, Batik Gunawan perlu melakukan
8
perubahan-perubahan mendasar agar tetap bertahan atau bahkan bisa berkembang
(Permas dan Sedyono, 2003: 35).
Tujuan dari stratejik adalah kunci dari arahan perubahan masa depan.
Artinya bahwa ia mengarahkan apa yang hendak dikejar diwaktu yang akan
datang, yaitu dalam jangka waktu 3 sampai 5 tahun. Arahan itu harus jelas dan
tegas bagi keseluruhan organisasi. Sering juga dikatakan bahwa tujuan stratejik
merupakan planning umbrella (paying perencanaan) dalam mengintegrasikan
usaha dari semua unit kerja dan personil kedalam suatu kegiatan menyeluruh dan
menyatu dari suatu organisasi.
Untuk dapat melakukan itu, tujuan stratejik harus lebih tajam daripada
misi, tetapi masih cukup luas untuk dapat mendorong lahirnya kreatifitas dan
inovasi bagi semua unit kerja. Langkah-langkah dalam merumuskan rencana
stratejik menurut Permas dan Sedyono (2003-37) yaitu:
a. Menetapkan jangka waktu perencanaan stratejik, penetapan jangka waktu
perencanaan stratejik berkisar antara 3 sampai 5 tahun.
b. Menetapkan dan mengkaji ulang misi dan visi organisasi, misi merupakan
alasan dasar mengapa kita mendirikan organisasi. Misi ini juga tercantum
dalam anggaran dasar organisasi. Pernyataan misi pada umumnya
mengandung 4 (empat) hal yaitu, why (maksud atau alasan mendirikan
organisasi), what (bidang kegiatan yang akan dilaksanakan), who (siapa
saja yang akan dilibatkan), dan how (cara dan nilai-nilai yang dianut dalam
melaksanakan kegiatan). Sedangkan visi adalah pernyataan cita-cita,
keinginan atau harapan dari para pendiri, pemimpin dan anggota
9
organisasi mengenai bentuk dan karakteristik organisasi dimasa depan.
Visilah yang akan mengarahkan bagi organisasi dimasa yang akan datang.
Penetapan visi dan misi dilakukan dengan mempertimbangkan harapan
stakeholder (pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi).
c. Menganalisis perkembangan dan kecenderungan faktor-faktor eksternal
yang berpengaruh, yaitu faktor-faktor eksternal apa yang sangat
berpengaruh terhadap keputusan stratejik.
d. Mengidentifikasi posisi organisasi melalui analisis SWOT yang berupa
peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan. Organisasi hendaknya
melakukan analisis SWOT sehingga dapat memperjelas sifat ketegangan
dengan cara menjajarkan dua dimensi pokok, baik (kekuatan atau peluang)
dan buruk (kelemahan atau ancaman) dan masa dating (peluang dan
ancaman). Menurut J.M. Bryson (2003: 147), analisis SWOT (strange,
weakness, opportunity and threat) merupakan bagian dari langkah
pengembangan strategi yang tehniknya dilakukan melalui empat
pertanyaan yaitu: peluang eksternal terpenting apakah yang dimiliki,
ancaman eksternal terpenting apakah yang dihadapi, apa kekuatan internal
apa yang dimiliki, dan apa kelemahan internal terpenting yang dimiliki.
e. Merumuskan sasaran jangka panjang
Program jangka panjang ini yang nantinya dijabarkan lebih lanjut menjadi
rencana kerja operasional tahunan dan bulanan.
Selain memperhatikan langkah-langkah perumusan tersebut, organisasi
dalam menentukan strategi juga harus secara komprehensif melakukan analisis
10
situasi. Hal ini penting agar strategi yang digunakan dapat berjalan efektif dan
efisien. Sangatlah penting bagi organisasi untuk mengamati dan beradaptasi
dengan lingkungan yang berubah secara terus-menerus, artinya bahwa organisasi
untuk mengambil suatu keputusan strategi dapat melihat peluang dari lingkungan
yang berubah terus-menerus (Salusu, 2002: 88).
3. Promosi dalam Organisasi Profit
Pakar manajemen selalu mengajarkan bahwa hubungan antara market
share dan profitabilitas tampaknya tidak hanya sekadar berkorelasi, tetapi sudah
merupakan sebab akibat. Artinya, kalau market share besar, pasti profitabilitasnya
meningkat.
Faktor utama penyebab meningkatnya profitabilitas sebenarnya bukan
market share, melainkan kemampuan perusahaan untuk melakukan efisiensi
dengan memanfaatkan learning curve sehingga perusahaan berhasil bekerja
dengan biaya rendah. Perusahaan-perusahaan yang efisien ini, rata-rata tidak
memiliki market share yang cukup besar, tetapi memiliki profitabilitas yang
sangat mengagumkan (Freddy, 2009: 9).
Pengertian promosi adalah:
“Suatu komunikasi informasi penjual dan pembeli yang bertujuan untuk
merubah sikap da tingkah laku pembeli, yang tadinya tidak mengenal
menjadi mengenal sehingga menjadi pembeli dan tetap mengingat produk
tersebut (Saladin, 1991: 66).
11
Sedangkan menurut Tjiptono (2002: 200) promosi adalah:
“Semua
kegiatan
yang
dimaksudkan
untuk
menyampaikan
atau
mengkomunikasikan suatu produk kepada pasar sasaran, untuk memberi
informasi tentang keistimewaan, kegunaan, dan yang paling penting
adalah tentang keberadaannya, untuk mengubah sikap ataupun untuk
mendorong orang untuk bertindak”.
Agar kegiatan komunikasi dapat efektif perusahaan harus benar-benar
memperhatikan langkah-langkah kegiatan promosi dengan cermat. Menurut
Uyung Sulaksana (2003: 50-51), terdapat delapan perencanaan tahapan kegiatan
komunikasi yang utama yaitu:
a. Mengidentifikasi audiens sasaran
Promosi harus dimulai dengan audiens sasaran yang jelas. Audiens itu
mungkin pembeli potensial produk perusahaan, pemakai sekarang, orang
yang memutuskan, atau orang yang mempengaruhi. Audiens dapat berupa
individu, kelompok, publik tertentu, atau publik umum. Identifikasi
audiens dapat dilakukan dengan membaginya kedalam segmen-segmen
(segmentasi). Terdapat pembagian konsumen dalam berbagai segmen,
yaitu:
Geografis: pembagian konsumen berdasarkan wilayah, baik itu ibu kota
maupun daerah berkembang.
Demografis: pembagian konsumen berdasarkan data-data kependudukan
misalnya usia, jenis kelamin, status perkawinan, pendapatan, pendidikan,
pekerjaan dan agama.
12
Psikologis: Pembagian konsumen berdasarkan hal-hal kejiwaan seperti
kebutuhan, kepribadian, persepsi, pembelajaran, sikap dan gaya hidup
(Soemanagara, 2006: 72).
b. Menentukan tujuan komunikasi
Setelah audiens sasaran teridentifikasi, komunikator pemasaran harus
memutuskan respon audiens yang diharapkan. Komunikator pemasaran
harus mengetahui bagaimana memindahkan audiens sasaran ketingkat
kesiapan membeli yang lebih tinggi (Kotler dan Susanto, 2001: 784).
c. Merancang pesan
Perusahaan atau organisasi perlu mengembangkan pesan yang efektif.
Pesan itu harus memperoleh perhatian, menarik minat, membangkitkan
keinginan, dan menghasilkan tindakan. Dalam memutuskan pesan sendiri
membutuhkan pemecahan empat masalah yaitu: apa yang dikatakan (isi
pesan), bagaimana mengatakan secara logis (struktur pesan), bagaimana
mengatakan secara simbolis (format pesan) dan siapa yang harus
mengatakannya (sumber pesan) (Kotler dan Susanto, 2001: 784).
d. Memilih saluran komunikasi
Saluran komunikasi terdiri dari dua jenis utama, personal dan non
personal. Saluran komunikasi personal melibatkan dua orang atau lebih
yang
langsung
berkomunikasi
satu
sama
lain.
Mereka
dapat
berkomunikasi dari muka ke muka, satu orang terhadap audiens, lewat
telepon, atau melalui surat. Sedangkan saluran komunikasi non personal
menyampaikan pesan tanpa melalui kontak personal atau interaksi.
13
Saluran ini meliputi media, suasana (atmosphere) dan peristiwa (event)
(Kotler dan Susanto, 2001: 789).
e. Mengalokasikan total anggaran promosi
Perusahaan harus pandai memperhitungkan anggaran, jangan sampai
anggaran
yang berlebihan tidak menghasilkan tujuan. Anggaran
disesuaikan dengan kemampuan perusahaan. Pengeluaran untuk promosi
bervariasi tergantung pada produk yang akan ditawarkan (Uyung
Sulaksana, 2003: 164).
f. Memutuskan mengenai bauran promosi
Bauran promosi dapat dibagi menjadi empat elemen yaitu advertising,
public relations, personal selling, dan sales promotion (Kotler dan
Susanto, 2001: 774).
g. Mengukur hasil promosi
Pengukuran efektivitas sangat penting dilakukan bagi manager. Tanpa
dilakukan pengukuran efektivitas akan sulit diketahui apakah tujuan
perusahaan atau organisasi dapat dicapai atau tidak (Kotler dan Susanto,
2001: 778).
h. Mengatur dan mengelola komunikasi pemasaran terpadu
Setelah
dilakukan
pengukuran
efektivitas,
perusahaan
harus
mempertimbangkan jenis-jenis media baru yang lengkap.
Pelaksanaan langkah-langkah promosi dapat membantu tercapainya tujuan
komunikasi. Satu kegiatan pemasaran belum tentu sama tujuannya dengan
14
kegiatan komunikasi yang lainnya. Tujuan promosi secara umum adalah untuk
mencapai tiga tahap perubahan yaitu:
a. Perubahan Pengetahuan
Dalam tahap ini perusahaan memberikan pengetahuan kepada konsumen
tentang keberadaan produk, bentuk produk, untuk apa produk itu
diciptakan dan ditujukan kepada siapa.
b. Perubahan Sikap
Tahap perubahan sikap tentunya mengarah pada keinginan untuk mencoba
produk. Pada tahap ini ditentukan oleh tiga komponen: cognition
(pngetahuan), affection (perasaan) dan conation (perilaku).
c. Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku dimaksudkan agar konsumen tidak beralih pada
produk lain, dan terbiasa menggunakannya (Sulaksana, 2003: 119).
Promosi pada dasarnya sama dengan istilah Komunikasi Pemasaran,
karena terdapat konteks pengertian yang sama dalam memahami proses untuk
konteks pijakan dasar 4P (Price, Place, Placement, dan Promotion). Pada
dasarnya promosi sendiri terdiri atas 4 (empat) elemen dasar, menurut De Loizer,
yang dilanjutkan oleh Kotler, yang kemudian bentuknya dimodifikasi oleh Croiser
dan Shimp dan kemudian konsepsi tersebut dirumuskan oleh Belt pada tahun
1995 menjadi marketing communication mix, menurut Prisgunanto (2006: 9),
terdiri atas empat kegiatan dasar, yaitu:
15
Gambar 1.1
Marketing Communication Mix
Public
Advertising
Relation
Sales
Personal
Promotion
Selling
Sumber: Ilham Prisgunanto, 2006, Komunikasi Pemasaran (strategi dan taktik),
Ghalia Indonesia, Bogor
Menurut Kotler dan Susanto (2001: 774), empat bauran promosi dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a. Periklanan (advertising)
Periklanan memuat bentuk-bentuk komunikasi massa melalui berbagai
macam media seperti koran dan majalah, radio dan televisi, madia outdoor
(poster, rambu dan spanduk udara), souvenir (kotak korek dan kalender), media
berjalan (bis, taksi), katalog, agenda dan referensi, jadwal acara dan menu, brosur
dengan sponsor tertentu. Media-media tersebut dapat menjadi media iklan
berjangka panjang (Andreasen, 1995: 685). Pengertian diatas sama dengan
pendapat yang dikemukakan Rhenal Kasali (1993: 8), bahwa iklan biasanya
disampaikan melalui saluran media massa, baik televisi, radio, surat kabar,
majalah, bahkan internet melalui situs-situs tertentu. Tidak hanya itu, iklan juga
disampaikan melalui media luar ruang seperti baliho, poster dan visual
merchandising.
16
Secara umum media sendiri dikelompokkan menjadi:
1) Media cetak adalah media yang statis dan mengutamakan pesan-pesan
visual. Media ini terdiri dari lembaran dengan sejumlah kata, gambar, foto,
dalam tata warna dan halaman putih. Seperti televisi dan radio, dalam
jajaran medium penyiaran, fungsi utama media cetak adalah memberikan
informasi dan menghibur.
2) Media elektronik, yaitu media dengan teknologi elektronik dan hanya bisa
digunakan bila ada jasa transmisi siaran.
3) Media luar ruang, yaitu media iklan (biasanya berukuran besar) yang
dipasang ditempat-tempat terbuka. Jenis-jenis media luar ruang meliputi
billboard, baleho, poster, spanduk, umbul-umbul dan lain-lain (Tjiptono,
1997: 243).
Periklanan merupakan bagian dari promosi, dimana iklan dianggap
sebagai alat yang paling efektif karena jangkauan iklan luas sehingga pesan yang
disampaikan dapat diterima oleh masyarakat luas. Dalam penyampaiannya, iklan
menggunakan imbuhan yang membuat persuasif yang kuat terhadap konsumen
untuk melakukan tindakan berupa pembelian. Baik melalui ilustrasi atau
visualisasi, copywriting, sampai pada kemasannya. Iklan membujuk melalui
penampilan restis, rasa lapar, kebutuhan, dan dahaga pengakuan sosial yang
semua itu mengacu pada sifat dasar manusia sebagai upaya memikat perhatian
yang dituju (Kasali, 1993: 10).
Periklanan dalam lingkungan organisasi nirlaba, Kotler (1995: 684)
menyebutnya dengan periklanan sosial yaitu pesan yang disampaikan disebut
17
dengan iklan layanan masyarakat. Mencakup segala bentuk periklanan dengan
sejumlah alokasi tempat dan waktu pada suatu media, yang diberikan cuma-cuma
oleh pengelola media yang bersangkutan. Biasanya iklan layanan dalam radio
maupun televisi disiarkan lepas tengah malam atau hari minggu pagi ketika jam
tayangan tersebut tidak diminati audiens dan tidak ada pemasang spot iklan.
b. Penjualan Personal (Personal Selling)
Alat promosi yang sering diabaikan oleh organisasi bukan pencari laba
adalah personal selling (penjualan tatap muka). Perilaku ini terjadi akibat dua
sikap. Pertama, manajer nirlaba umumnya menganggap bahwa apa yang mereka
tawarkan sudah baik, dan hanya perlu penyediaan agar dapat dinikmati oleh
masyarakat. Kedua, mereka sering percaya bahwa penjualan pribadi sama dengan
manipulasi dan oleh karenanya tidak etis dalam derajat tinggi atau rendah. Hal ini
tidak menjadi masalah apabila situasi penjualan melibatkan suatu transaksi
ekonomi seperti yang terjadi ditoko-toko hadiah. Tetapi dalam keadaan dimana
pekerja nirlaba membujuk orang-orang untuk menyumbang acara amal,
menghadiri kuliah, atau bergabung dengan partai politik, perpustakaan, atau
gereja, sering timbul keengganan untuk menggunakan pendekatan yang terencana
dengan baik (Andreasen, 1995 : 748).
c. Promosi Penjualan (Sales Promotion)
Promosi penjualan merupakan berbagai kumpulan alat-alat intensif, yang
sebagian besar berjangka pendek, yang dirangsang untuk merancang pembelian
produk atau jasa tertentu dengan lebih cepat dan lebih besar oleh konsumen
(Kotler dan Susanto, 2001: 803).
18
Promosi penjualan merupakan berbagai ragam alat-alat promosional
berupa intensif jangka pendek yang dirancang untuk menstimulir pasar yang
dituju agar segera memberi respon (tindakan) atas penawaran yang diberikan.
Alat-alat tersebut bisa dikelompokkan dalam sub-sub kelompok menjadi
kelompok alat consumer promotion (misal, memberi contoh produk, kupon
undian, hadiah langsung berupa barang, potongan harga pembelian, dan
demonstrasi produk), middleman promotion (misalnya, pemberian produk cumacuma, keanggotaan perkumpulan pedagang, kerjasama iklan, dan kontes
penjualan antar dealer), dan sales forc promotion (misalnya pemberian bonus
penjualan, kontes). Meski biasanya digunakan oleh perusahaan komersial untuk
meningkatkan volume penjualan produk barang dan jasa, alat-alat promosi juga
bisa digunakan untuk mempengaruhi perilaku sosial seperti donor darah,
pendaftaran sekolah, pendaftaran anggota militer, dan sebagainya.
Consumer uses price as an important extrinsic cue and indicator of
product quality or benefits. High price brands are often perceived to be of
higher quality and less vulnerable to competitive price cuts than low-price
brands (Blattberg and Winniewski 1989 : Dodds Monroe and, Grewal
1991 : Kamakura and Russell 1993: Milgrom and Roberts 1986 : Olsn
1977). Therefore price is positively related to perceived quality. Rao and
Monroe (1989) show that a positive relationship between price and
perceived quality has been supported trough previous research. By
increasing perceived quality, price is positively related to brand equity.
(http://www.springerlink.com/content/ow587880v4557076/)
Kotler (1995: 712), juga mengatakan bahwa promosi penjualan tidak
hanya dipraktekkan dalam organisasi laba, tetapi juga dipraktekkan dalam
organisasi nirlaba, seperti contohnya beberapa perguruan tinggi yang memberikan
19
beasiswa atau membiayai liburan ketempat-tempat eksklusif bagi mahasiswa yang
berpresatasi, rumah sakit menyediakan fasilitas hiburan bagi para pasien.
d. Hubungan Masyarakat (Public Relations)
Pada hakekatnya kegiatan humas adalah kegiatan komunikasi yang
bersifat timbal balik. Humas merupakan upaya komunikasi menyeluruh dari suatu
perusahaan untuk mempengaruhi persepsi, opini, keyakinan, dan sikap berbagai
kelompok terhadap perusahaan tersebut (Tjiptono, 1997: 230).
Para pemraktek public relations yang terhimpun dalam “The International
Public Relations Association” (IPRA) juga mendefinisikan public relations
(hubungan masyarakat) sebagai komunikasi dua arah antara organisasi dengan
publik secara timbal balik dalam rangka mendukung fungsi dan tujuan manajemen
dengan meningkatkan pembinaan kerja sama dan pemenuhan kepentingan
bersama (Effendy, 1992: 23).
Kegiatan Public Relations adalah kegiatan komunikasi yang didalamnya
terdapat suatu usaha untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara suatu
badan dengan publiknya, usaha untuk menanamkan kesan yang menyenangkan
sehingga akan timbul opini publik yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup
badan atau instansi tersebut.
Pada hakekatnya Public Relations adalah kegiatan komunikasi kendati
agak lain dengan kegiatan komunikasi lainnya, karena ciri hakiki dari kegiatan
Public Relations adalah komunikasi dua
arah/timbal balik (two way
communication). Arus komunikasi timbal balik ini harus dilakukan dalam
kegiatan Public Relations, sehingga terciptanya umpan balik yang merupakan
20
prinsip pokok dalam Public Relations (Rachmadi, 1994: 7). Sementara menurut
Rex F. Harlow, Public Relations (hubungan masyarakat) adalah fungsi
manajemen yang khas yang mendukung dan memelihara jalur bersama bagi
komunikasi, pengertian, penerimaan, dan kerja sama antara organisasi dengan
khalayaknya (Effendy, 1992: 21).
Dalam Public Relations terdapat dua macam publik yang menjadi tujuan
yaitu:
1) Public Intern
Public
Intern
adalah
publik
yang
menjadi
bagian
dari
unit/perusahaan/instansi itu sendiri.
2) Public Ekstern
Public Ekstern adalah publik umum/masyarakat dimana industri atau
usaha itu berada, yang harus diberi penerangan/informasi dari tumbuhnya
goodwill dari mereka (Rachmadi, 1994: 13).
Sifat humas adalah:
1) Kredibilitas tinggi, dimana artikel dan berita dimedia massa lebih
dipercaya daripada iklan.
2) Terbuka, yakni hubungan masyarakat dapat menjangkau pihak-pihak yang
menghindari wiraniaga atau iklan.
3) Dramatization, yaitu hubungan masyarakat memiliki potensi untuk
mendramatisasi suatu perusahaan atau produk tertentu (Rachmadi, 1994:
80).
21
Mengenai konsep fungsional dijelaskan sebagai berikut:
1) Memudahkan dan menjamin arus opini yang bersifat mewakili dari publikpublik suatu organisasi, sehingga kebijaksanaan beserta operasionalisasi
organisasi dapat dipelihara keserasiannya dengan ragam kebutuhan dan
pandangan publik-publik tertentu.
2) Menasehati manajemen mengenai jalan dan cara menyusun kebijaksanaan
dan operasionalisasi organisasi untuk dapat diterima secara maksimal oleh
publik.
3) Merencanakan
dan
melaksanakan
program-program
yang
dapat
menimbulkan penafsiran yang menyenangkan terhadap kebijaksanaan dan
operasionalisasi organisasi (Effendy, 1992: 34-36).
Peningkatan profit ini harus dirasakan manfaatnya bukan hanya untuk sisi
internal perusahaan saja, melainkan harus juga dirasakan untuk sisi eksternal
perusahaan. Artinya, profit itu harus mampu memberikan manfaat secara materi
(madiyah) dan nonmateri (insaniyah). Profit yang bersifat insaniyah berarti
perusahaan juga akan memberikan manfaat yang bersifat kemanusiaan melalui
kesempatan kerja, bantuan sosial, dan keselamatan lingkungan. Profit yang
bersifat insaniyah juga akan memberikan manfaat berupa etika bisnis yang terpuji
karena dilandasi oleh akhlak yang baik, serta akan memberikan manfaat berupa
semakin dekatnya diri kepada Sang Pencipta. Artinya, semakin meningkatnya
profit yang diperoleh suatu perusahaan, hal itu akan menyebabkan tindakan dan
perilaku semua karyawan yang ada di perusahaan tersebut semakin mendapat
22
simpati dan dukungan masyarakat karena keberadaan perusahaan itu memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya buat kemanusiaan dan lingkungan.
Secara internal, profit yang diperoleh perusahaan akan digunakan untuk
meningkatkan loyalitas karyawan, dalam bentuk peningkatan gaji, suasana kerja,
fasilitas kerja, dan sebagainya sehingga karyawan akan sukarela melakukan
kegiatan marketing keluar secara luar biasa dan berinteraksi dengan para
pelanggannya (Freddy, 2009: 9-10).
Pemasaran sosial (social marketing) dapat didefinisikan sebagai suatu
penerapan dari konsep pemasaran pada aktivitas non komersial yang berhubungan
dengan kepedulian kemasyarakatan, kesejahteraan rakyat dan pelayanan sosial.
Social communication berkaitan dengan aktivitas-aktivitas program kesejahteraan
kemasyarakatan, kepemerintahan, pembangunan sumberdaya melalui pendidikan,
aktivitas lembaga sosial pemerintah atau pihak swasta non komersial dan lain
sebagainya, baik secara terbatas (lokal) maupun nasional.
Produk dalam pemasaran sosial hampir sama dengan produk-produk
komersial, hanya saja wujud dan tujuan pemasaran dari produk pemasaran sosial
ini tidak seperti produk pemasaran komersial. Apabila produk dari pemasaran
komersial berwujud benda yang nyata serta mengutamakan profit oriented, maka
pemasaran sosial kebanyakan produknya berwujud idea tau gagasan. Sehingga
produk-produk pemasaran sosial dipasarkan
untuk membangun kesadaran
masyarakat agar menindak lanjuti secara positif atas fenomena sosial tertentu
secara berkesinambungan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pemasaran sosial adalah
23
penerapan konsep dan teknik pemasaran untuk mendapatkan manfaat sosial
(Ruslan, 2002: 268).
Ada sedikit perbedaan menurut Notoatmodjo (2005: 184), antara
pemasaran bidang usaha dengan pemasaran sosial, yaitu:
a. Penggunaan produk sosial biasanya lebih rumit daripada produk komersial
b. Produk sosial hasilnya tidak cepat dirasakan
c. Saluran distribusi untuk produk-produk sosial lebih sulit dikontrol karena
biasanya menyangkut banyak pihak
d. Konsumen pada umumnya tidak mampu dan berpendidikan rendah
Menurut Rahmadi (1994: 192), tujuan dari komunikasi pemasaran sosial
sendiri adalah menciptakan hubungan batin yang baik antara lembaga dan
khalayak untuk menciptakan persepsi dan penilaian positif mengenai jasa yang
dikomunikasikan.
Tahapan-tahapan yang perlu dilakukan dalam memasarkan sebuah ide atau
produk sosial pada tahap adopter (kelompok masyarakat yang menjadi sasaran
dari target pemasaran sosial), yaitu:
a. Analizing the social marketing environment
Tahap pertama dalam proses pemasaran sosial adalah melakukan analisis
lingkungan yang terkait dengan kampanye sosial, disini komunikator
melihat keadaan lingkungan sesungguhnya. Dimana perlu diketahui
masalah sebenarnya yang dialami oleh target adopter itu sendiri.
Berdasarkan tahapan ini analisa lingkungan dilakukan dengan penelitian
dan pengumpulan fakta.
24
b. Reseaching the target adopter population
Pemasar sosial perlu memiliki pengertian lengkap dan mendalam tentang
kelompok target adopter dan kebutuhan mereka. Dengan membuat
segmentasi target adopter berdasarkan populasi total target adopter, maka
dapat dilihat karakteristik umum target adopter dalam merespon promosi
yang akan dilakukan. Berdasarkan segmentasi itu, maka pemasar sosial
dapat melakukan promosi dengan berbagai cara yang telah disesuaikan
dengan target adopter.
c. Designing social marketing objectives and strategies
Strategi pemasaran sosial menentukan taktik untuk pencapaian tujuan atau
sasaran. Dilakukannya komunikasi pemasaran sosial dimana strategi ini
juga mencakup alokasi pemasaran (marketing allocation), bauran
pemasaran (marketing mix) dan sistem budgeting pemasaran (marketing
expenditures) yang dipandang mampu mencapai tujuan atau sasaran
segmen target adopter dan tidak lupa bahwa strategi tersebut haruslah
spesifik, dapat diukur dan dapat dicapai. Pemasar sosial harus menentukan
bagaimana anggaran kepada aspek-aspek social marketing mix yang akan
digunakan, aspek-aspek ini dikenal sebagai 4P yaitu:
1) Product, merupakan program-program yang ditawarkan kepada target
adopter.
2) Price, biaya yang harus dikeluarkan target adopter
3) Place, bagaimana suatu produk sosial di sosialisasikan kepada target
adopter
25
4) Promotion, cara produk sosial dipromosikan kepada target adopter.
The 4Ps Marketing Mix has been often the subject of debate and research
as to its capacity to address the relationship marketing. Research done by
Ailawadi et al. (2001) questions the effect of promotions and advertising
as marketing tools for customer retention while the study of Alsem et al.
(1996) confirms that creating long-term relationships with customers is
considered as the main company marketing focus of approximately 60% of
the companies surveyed (this percentage has gone up by 20% in five
years).
(//www.ingentaconnect.com/content/westburn/jmm/2006/00000022/0000
0003/art00008)
Penerapan teknik pemasaran dalam melaksanakan program-program
organisasi nirlaba membutuhkan strategi. Tentu saja strategi yang diterapkan
sedikit berbeda dibandingkan dengan memasarkan produk barang. Perbedaan
yang prinsip terletak pada tambahan 2P, yaitu:
1) Patnership (Kemitraan)
Kemitraan adalah upaya untuk melibatkan berbagai sector kelompok
masyarakat, lembaga pemerintah maupun bukan pemerintah, untuk
bekerjasama berdasarkan atas kesepakatan prinsip dan peranan masingmasing.
2) Policy (Kebijakan)
Produk pemasaran sosial tidak ada artinya apabila kemitraan tidak
dijadikan tujuan organisasi. Penekanannya adalah pada masyarakat luas,
langsung mempengaruhi perilaku, dan kebutuhan serta kepentingan target
sasaran sebagai dasar pertimbangan. Demikian juga, pemasaran sosial
tidak ada artinya apabila tidak diikuti atau dilanjutkan dengan upaya
26
mendorong tersusunnya sebuah kebijakan (Kotler dan Robert, 1989: 3946).
a. Planning social marketing programs
Setelah strategi pemasaran diformulasikan, program social marketing mix
harus dsiapkan, dimana elemen marketing mix harus dibuat dalam tactical
program dibuat untuk mendukung proses distribusi langsung dan
komunikasi personal pada akhirnya.
b. Organizing, implementing, controlling an evaluating the social marketing
plan
Dalam manajemen proses pemasaran sosial tahap akhirnya adalah untuk
mengatur sumber-sumber pemasaran, mengimplementasikan program
sosial marketing mix, melakukan control terhadap pelaksanaan program
dan melakukan evaluasi hasil pelaksanaan program (Kotler dan Robert,
1989: 39-47).
F. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Bogdam dan Taylor (lihat
Moleong, 2005: 4) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan
dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Bersifat deskriptif karena
merupakan metode yang menggambarkan variabel demi variabel tanpa berusaha
untuk menjelaskan lebih lanjut hubungan antar variabel. Data deskriptif yang
dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka, laporan
27
penelitian. Dalam penelitian kualitatif metode yang biasanya dimanfaatkan adalah
wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen.
Penelitian yang bersifat deskriptif bertujuan melukiskan secara sistematis
fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan
cermat (Rakhmat, 2001: 22). Metode deskriptif yang digunakan peneliti bertujuan
untuk memperoleh gambaran tentang Strategi Promosi batik Gunawan Setiawan
Dalam Menarik Minat Konsumen Untuk Mendukung Penjualan Dalam Rangka
Melestarikan Batik.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di Jl. Cakra 21, Kampung Wisata Batik
Kauman Solo.
3. Sumber Data
Sumber data yang penulis gunakan saat ini, ialah :
a. Data Primer, yaitu semua pihak yang terkait langsung dengan
permasalahan yang diteliti, dimana pihak-pihak tersebut adalah semua
orang yang diikutsertakan dalam wawancara.
b. Data Sekunder, yaitu data yang meliputi keterangan-keterangan yang
diperoleh melalui studi pustaka, termasuk literatur, dokumen, dan sumbersumber lain yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.
4. Metode Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data digunakan metode sebagai berikut ini:
28
a. Wawancara
Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan tanya jawab
dengan responden dan informan, dikerjakan secara sistematis dan
berlandaskan pada tujuan penelitian. Tujuan umum wawancara adalah
untuk mendapatkan pernyataan empiris mengenai keadaan pribadi,
peristiwa, aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, tanggapan atau
persepsi, tingkat dan bentuk keterlibatan, dan sebagainya, untuk
merekonstruksi beragam hal seperti itu sebagai bagian dari pengalaman
masa lampau, dan memproyeksikan hal-hal itu dikaitkan dengan harapan
yang bisa terjadi di masa yang akan dating (HB Sutopo, 1998: 58).
b. Observasi
Observasi ini berguna untuk menjelaskan, memberikan, dan
merinci
gejala yang terjadi (Rakhmat, 2001 : 84). Menurut Guba dan Lincoln
(dalam Moleong, 1995 : 126), teknik observasi memungkinkan peneliti
mampu memahami situasi-situasi yang rumit. Dari data observasi ini,
peneliti terjun langsung kelapangan yaitu batik Gunawan Setiawan
Surakarta untuk melihat dan mencatat hal-hal penting yang akan
digunakan untuk melengkapi data yang diperlukan.
c. Dokumentasi
Dokumentasi diperlukan guna melengkapi hal-hal yang dirasa belum
cukup dalam data-data yang telah diperoleh melalui pengumpulan lewat
dokumen atau catatan yang ada dan dianggap relevan dengan masalah
yang diteliti.
29
5. Teknik Sampling
Teknik Sampling merupakan teknik pengambilan sample (Sugiyono, 2009:
81). Peneliti menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan
sampel dengan pertimbangan tertentu atau sampel bertujuan. Sampel ini cocok
digunakan untuk penelitian kualitatif, atau penelitian yang tidak melakukan
generalisasi (Sugiyono, 2009: 85). Hal yang sama juga dikatakan oleh Pawito
yaitu bahwa sifat metode sampling dari penelitian kualitatif adalah purposive
sampling (Pawito, 2007:88).
6. Teknik Validitas Data
Validitas menunjukkan sampai sejauh mana data yang diperoleh telah
secara akurat mewakili realitas atau gejala yang diteliti. Sementara reliabilitas
berkaitan dengan tingkat konsistensi hasil dari penggunaan cara pengumpulan
data (Pawito, 2007: 97).
Validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik
triangulasi data. William dalam Sugiyono menyatakan bahwa triangulasi dalam
pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber
dengan berbagai cara dan berbagai waktu (Sugiyono, 2009: 273).
Pawito (2007: 99-100) mengetengahkan beberapa macam teknik
triangulasi yaitu: (a) Triangulasi data, (b) Triangulasi metode, (c) Triangulasi
teori, (d) Triangulasi peneliti.
Dari keempat data yang dikemukakan oleh Pawito (2007) hanya
triangulasi data yang digunakan dalam penelitian ini. Hal tersebut untuk
mengetahui validitas data yang diperoleh. Penggunaan beberapa sumber data yang
30
berbeda sangat penting dalam penelitian ini guna mendapatkan hasil penelitian
atau kesimpulan yang valid.
7. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke
dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat dirumuskan hipotesis
kerja seperti yang disarankan oleh data (Lexy J. Moleong, 2001: 103). Teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi langkah-langkah
reduksi, display data, kesimpulan dan verifikasi (HB Sutopo, 2002: 37).
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model
Analisis Interaktif (Interactive Models of Analysis), seperti yang dikemukakan
oleh Miles dan Huberman. Penelitian ini bergerak diantara tiga komponen, yaitu
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dimana aktivitas ketiga
komponen tersebut bukanlah linear namun lebih merupakan siklus dalam struktur
kerja interaktif.
Di dalam penelitian kualitatif, proses analisis yang digunakan tidak
dilakukan setelah data terkumpul seluruhnya, tetapi dilakukan pada waktu
bersamaan dengan proses pengumpulan data. Hal ini dilakukan karena analisis ini
dimaksudkan untuk memperoleh gambaran khusus yang bersifat menyeluruh
tentang apa yang tercakup dalam permasalahan yang akan diteliti. Setelah data
terkumpul, dilakukan reduksi data. Data ini sebagai bahan deskripsi keadaan,
kemudian dilakukan penarikan kesimpulan. Adapun teknik analisis data
digambarkan sebagai berikut:
31
Gambar 1.2
Teknik Analisis AInteraktif
Pengumpulan data
Data reduksi
Data display
Conclusion drawing
Yang akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Reduksi data
Reduksi data merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan, dan
abstraksi data (kasar) yang ada dalam fieldnote.
b. Penyajian data
Merupakan suatu rakitan organisasi informasi yang memungkinkan
kesimpulan riset yang dilakukan.
c. Penarikan Kesimpulan
Dalam awal pengumpulan data, peneliti sudah harus mulai mengerti apa
arti dari hal-hal yang ditemui dengan melakukan pencatatan peraturanperaturan, pola-pola, pernyataan-pernyataan, dan proposisi-proposisi.
Kesimpulan akhir tidak akan terjadi sampai proses pengumpulan data
berakhir.
32
BAB II
DESKRIPSI LOKASI
A. ASAL-USUL KAUMAN
1. Sejarah Kauman
Kauman, yang begitu dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Jawa,
sebagai nama kampung yang terletak di tengah-tengah kota, berdekatan dengan
Masjid Agung dan Alun-Alun Keraton atau Alun-alun Kabupaten. Hampir di
setiap Kabupaten atau Kotamadya di Propinsi Jawa Tengah dan sebagian Jawa
Timur terdapat nama Kampung Kauman. Kampung Kauman yang berada di Kota
Surakarta terletak di sebelah barat alun-alun dan dekat dengan Masjid Agung
Keraton, dan namanya memiliki cerita tersendiri yang sejarah kelahirannya
mempunyai kisah yang panjang. Nama Kauman memiliki keterkaitan dengan
keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta. Berdiri seumur dengan dibangunnya
Masjid Agung Surakarta oleh PB III tahun 1757 M. Masjid ini dibangun oleh raja
sebagai bentuk kewajiban raja dalam memimpin rakyatnya di mana raja sebagai
Sayyidin Panatagama Khalifatullah, yang berarti raja selain menjadi pemimpin
Negara (kerajaan) raja juga sebagai pemimpin agama agar rakyat dapat hidup
damai dan sejahtera.
Setelah Masjid berdiri, maka berfungsilah masjid tersebut sebagai pusat
dakwah Islam bagi keraton Kasunanan Surakarta karena kerajaan Surakarta
adalah kelanjutan dari kerajaan Mataram Islam, yang diawali dari kerajaan Islam
Demak kemudian pindah ke kerajaan Pajang, Mataram Islam (Sultan Agung),
33
kerajaan Kartasura dan yang terakhir kerajaan Surakarta Hadiningrat. Raja untuk
melaksanakan tugasnya sebagai Sayyidin Panatagama Khalifatullah ini, maka raja
mengangkat dan menempatkan seorang Penghulu (seorang ahli dibidang agama
sekaligus penasehat raja) di Masjid tersebut. Penghulu ini diberi hak pakai atas
sebidang tanah yang terletak di sebelah utara Masjid. Tanah di sekitar masjid ini
oleh keraton hanya boleh ditempati oleh rakyat yang beragama Islam, maksudnya
adalah bahwa Masijid Agung dan sekitarnya, tanahnya adalah milik Keraton yang
disebut Bumi Pamijen Keraton atau Domein Keraton Surakarta (DKS). Sedangkan
Kauman disebut bumi mutihan atau bumi pamethakan, yaitu wilayah yang hanya
boleh dihuni oleh rakyat (kawulo dalem) yang beragama Islam (dalam,
Musyawaroh 2000).
Lahirnya kampung Kauman dimulai dengan adanya penempatan abdi
dalem pamethakan yang bertugas dalam bidang keagamaan dan kemasjidan yaitu
Kanjeng Kyai Penghulu Mohammad Thohar Hadiningrat (Penghulu dalem ing
keraton dalem Surakarta), yang bermukim di sekitar masjid Agung. Penghulu
membawahi tanah di sekitar masjid yang warganya terdiri dari Abdi dalem
pamethakan dan ulama sebagai pembantu atau mewakili tugas Penghulu apabila
berhalangan. Tanah yang beliau tempati adalah pemberian dari Sunan PB III
dengan status tanah anggaduh, yang berarti hanya berhak menempati atau
nglungguhi dan tidak punya hak milik. Tanah yang ditempati penghulu dan para
abdi dalem pamethakan tersebut oleh keraton diberi nama Perkauman, artinya
tanah tempat tinggal para kaum dan sampai sekarang menjadi Kauman (dikenal
dengan sebutan Kauman). Nama Kampung Kauman ini dijelaskan juga oleh RM
34
Sajid dalam kutipan Babad Sala halaman 42: “Panggenahing abdi dalem
ngulama, saking pangkat bupati sakandhahanipun sadaya, dumugi kaum,
naminipun kampung kauman”.
Jadi penduduk pertama kali kampung Kauman adalah seorang penghulu
yang membawahi beberapa jabatan di bawahnya yang mengurusi dan membantu
tugas penghulu dalam bidang kemasjidan khususnya Masjid Agung. Adapun
Abdi dalem dan ulama tersebut antara lain:
1. Ketib atau Khotib, yaitu ulama yang bertugas memberikan khotbah pada
saat sholat jumat dan sebagai Iman sholat rowatib.
2. Modin, yaitu orang yang bertugas memukul bedhug atau kenthongan saat
tanda waktu sholat wajib telah tiba, kemudian mengumandangkan adzan.
Namun dalam kehidupan sehari-hari modin juga melaksanakan tugas
untuk mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan perkawinan dan kematian,
memberikan doa dalam acara selamatan, memandikan jenazah dan
sebagainya.
3. Qoyyim, yaitu orang yang bertugas membantu tugas dan pekerjaan modin.
4. Merbot, yaitu orang yang bertugas sebagai juru bersih dan mengelola fisik
masjid, seperti menyediakan air, tikar dan alat-alat perkakas masjid.
Dari pernyataan-pernyataan di atas mengenai sejarah Kauman dapat
dikatakan bahwa keberadaan kampung Kauman ada karena memang dikehendaki
keraton sebagai bagian dari 4 komponen pola kota pemerintahan kerajaan
Mataram Islam, yang terdiri dari keraton, alun-alun, masjid dan pasar. Dan para
abdi dalem pamethakan inilah yang mencitrakan Kauman sebagai kampung yang
35
didominasi oleh para Priyayi dari golongan Ulama atau Santri yang ditempatkan
oleh pihak kerajaan (atas kehendak raja) yang mengemban tugas mulia untuk
“meng-Islamkan” masyarakat dan mereka menempati tanah disekitar masjid
kerajaan. Namun tidak menutup kemungkinan sebelum ditempatkannya para abdi
dalem pamethakan oleh raja pada tanah yang berada di sekitar masjid tersebut,
yang jauh sebelumnya telah berpenghuni.
2. Latar Belakang Sosial Masyarakat Kauman
Kampung Kauman sebagai bagian integral dari keberadaan Keraton
Surakarta, merupakan suatu bentuk komunitas. Komunitas adalah konsep
Sosiologi yang menunjuk pada bentuk kesatuan sosial. Warga suatu komunitas
biasanya mempunyai perasaan kesatuan sedemikian kerasnya sehingga rasa
kesatuan itu menjadi sentiment persatuan, hal ini dapat diwujudkan dengan rasa
kepribadian kelompok serta rasa bangga dan cinta pada wilayah dan kelompok
(Koentjaraningrat, 1984).
Demikian pula dengan kampung Kauman menurut tulisan tentang sejarah
Kauman di atas, pada awalnya khusus diperuntukkan bagi abdi dalem
pametahakan yang berada dibawah otoritas Penghulu (Reh Pengulon) yaitu yang
mengurusi masalah keagamaan keraton. Masyarakat Kauman dulu, sebagian besar
berprofesi sebagai abdi dalem pamethakan menampakkan dirinya sebagai
komunitas muslim. Mereka ini ditempatkan di Kauman untuk menyelenggarakan
kegiatan keagamaan dari keraton. Sebagai suatu bentuk komunitas masyarakat
Kauman memiliki perasaan yang begitu kuat mempertahankan komunitas
tersebut. Perasaan tersebut mengandung unsur: seperasaan, sepenanggungan dan
36
saling memerlukan (Soekanto, 1982). Dalam masyarakat Kauman perasaanperasaan sosial individu diorganisasikan untuk menciptakan ikatan-ikatan sosial.
Ikatan-ikatan itu dapat berupa ikatan keagamaan dan pertalian darah.
Ikatan keagamaan masyarakat Kauman merupakan mayoritas masyarakat
Kauman beragama Islam, meminjam istilah dari Clifford Geertz dalam bukunya
Abangan, Santri dan Priyayi dalam masyarakat Jawa (1981) maka masyarakat
Kauman termasuk kategori Santri. Santri menurut Geertz adalah mereka yang
mendasarkan diri pada etikaetika Islam dalam kehidupan sehari-harinya. Kauman
sebagai kampung santri keberadaannyapun dikehendaki oleh raja sebagai tempat
domisili para abdi dalem pamethakan dan pusat dakwah atau syiar Islam,
sehingga kampung Kauman punya hukum atau aturan khusus yang ditetapkan
oleh raja. Peraturan tersebut seperti disebutkan dalam naskah No. 86 b yang
berupa undang-undang bagi para buruh dan Pangindhung yang tinggal di tanah
Pakauman Surakarta untuk tidak berbuat maksiat dan menyembunyikan gamelan
pada saat hajatan. Peraturan ini dikeluarkan oleh Paku Buwana VII ditujukan
kepada penghulu sebagai orang yang dipercaya untuk melaksanakan hukum Islam
di Kauman. Adanya peraturan-peraturan tersebut menjadikan kehidupan di
kampung Kauman pada masa lalu lebih religius dibandingkan dengan kampung
lain.
Simbol lain yang menunjukkan kampung tersebut adalah kampung santri
adalah Masjid Agung. Masjid Agung adalah salah satu Masjid Kerajaan yang ada
di pulau Jawa. Masjid kerajaan adalah sebagai salah satu dari 4 (empat)
komponen yang membentuk suatu pola kota tradisional di Jawa, komponen yang
37
lain adalah keraton, alun-alun dan pasar. Masjid Agung Surakarta didirikan oleh
PB III pada tahun 1757 M. Kenyataan bahwa masyarakat Kauman mayoritas
Islam, tidak mengherankan karena pada awalnya penduduk pertama di sana
adalah para abdi dalem pamethakan bertugas mengurusi segala macam kegiatan
keagamaan di Kauman dan Masjid Agung milik kerajaan.
Pertalian darah maksudnya di sini adalah seperti telah dikemukakan di atas
bahwa sebagian besar masyarakat Kauman pada saat itu atau awalnya adalah abdi
dalem pamethakan, sebagai abdi dalem keraton Surakarta maka mereka dapat
dikategorikan sebagai golongan priyayi yang didasarkan atas tingkatan jabatan
dalam birokrasi administrasi keraton dan atas dasar keturunan. Gambaran ikatan
keagamaan dan pertalian darah tersebut dapat dikatakan bahwa masyarakat
Kauman terbentuk oleh simpul ikatan tali keagamaan, darah keluarga dan
birokrasi keraton. Perkembangan masyarakat Kauman selanjutnya terus
mengalami perubahan sesuai perkembangan peradaban, dan sampai saat ini nilai
keislaman dari masyarakat Kauman tetap menonjol dibandingkan dengan
masyarakat di kampung lain.
B. BATIK KAUMAN
1. Sejarah Batik Kauman
Sejarah pembatikan di Indonesia, tidak jauh berbeda karena seperti
diketahui keberadaan Kauman sejak awal memang tidak bisa dilepaskan dari
keberadaan keraton, yang sejak awal memang telah menempatkan Kauman
sebagai suatu bingkai sistem sosial. Keraton sebagai muara sistem sosial, dan
38
Kauman adalah salah satu sub sistemnya. Realitas pemenuhan kebutuhan sehariharipun juga menjadi salah satu bagian yang disediakan oleh pihak keraton.
Sebagai bagian dari salah satu abdi dalem keraton yaitu abdi dalem
pamethakan atau ulama, yang mengabdi pada raja pihak keraton tetap memenuhi
kebutuhan para abdi dalem tersebut yaitu gaji dan jaminan hidup, mereka tidak
begitu mempermasalahkan gaji yang diberikan keraton karena yang menjadi
perhatian mereka adalah bagaimana mereka mengabdi pada raja. Namun demikian
istri-istri mereka yang umumnya pandai membatik tulis halus mampu mencukupi
atau menambah penghasilan bagi keluarga. Kepandaian membatik ini ilmunya
diperoleh lewat media pembelajaran antara sesama kerabat yang pada awalnya
memang berasal dari kerabat kebangsawanan keraton. Istri-istri tersebut membuat
batik dengan pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan sandang dan utamanya
menutup aurat.
Bermula dari hanya membatik sebagai pengisi waktu luang dan hanya
mencukupi untuk konsumsi keraton, kemudian batik di Kauman ini berkembang
menjadi suatu usaha yang menguntungkan karena seiring dengan perkembangan
zaman dan kebutuhan. Keraton tidak mungkin dapat memenuhi semua kebutuhan
para abdi dalemnya secara keseluruhan dan para abdi dalem pametahakan di
Kaumanpun juga melakukan aktifitas yang sifatnya produktif. Batik adalah
alternatif yang paling memungkinkan bagi mereka. Dimana dengan pola
pembagian kerja yang menempatkan para suami pada tempat-tempat publik dalam
bentuk mengajar/memberi materi agama, sementara istrinya mengisi waktunya
dengan memproduksi batik.
39
Pada perkembangannya selanjutnya ketrampilan tersebut secara intensif
dikembangkan oleh para perempuan istri abdi dalem pamethakan tersebut.
Dengan mengembangkan ketrampilan membatik, sebagian besar warga Kauman
terutama istri-istri abdi dalem memiliki kemampuan untuk menghasilkan kain
batik dalam jumlah besar, ditambah pola kekerabatan yang dimiliki pada akhirnya
mampu mengakumulasi jumlah produksi sebanyak mungkin untuk dikomersilkan.
Perubahan dinamika masyarakat, pada perubahan ruang dan teknologi dilakukan
oleh kaum kolonial juga turut mempengaruhi terhadap berkembangnya peluang
dalam bentuk perdagangan, peluang ini dianggap sangat dinamis seiring dengan
perkembangan, dan semakin beragamnya kebutuhan yang disediakan oleh pasar.
Hal ini membawa dampak yang pada awalnya industri rumah tangga ini yang
hanya untuk konsumsi keraton kemudian meluas menjadi produsen dan pedagang
batik untuk masyarakat luas. Perkembangan industri batik cukup pesat membuat
bermunculan pengusaha dan pedagang batik, dimana pengusaha batik meluas,
tidak hanya istri-istri para abdi dalem pamethakan akan tetapi meluas sampai
kekeluarga dan kerabatnya serta masyarakat umum juga tinggal di Kauman.
Menurut Darban dalam Musyawaroh (2001), profesi rangkap ini berhasil
mengangkat taraf ekonomi/perekonomian masyarakat Kauman sendiri dan
masyarakat luas. Kampung tersebut menjadi makmur karena hidupnya usaha batik
yang mendominasi kehidupan masyarakat di wilayah tersebut dan pengusahanya
dapat membangun rumah yang megah.
40
2. Perkembangan Industri Batik di Kauman
Menilik dari sejarah batik kauman yang ada pada era 1800an, produksi
batik Kauman pada masa itu hanya mengkhususkan pada pemenuhan kebutuhan
batik Keraton yang berupa batik tulis bermotif klasik atau pakem (kuno). Seiring
dengan pemenuhan kebutuhan para produsen batik hal ini para abdi dalem
pamethakan dan istrinya, mereka mulai melebarkan sayapnya tidak hanya untuk
konsumsi keraton saja akan tetapi untuk konsumsi masyarakat luas khususnya
wilayah Surakarta, perluasan ini dilakukan karena melihat peluang pasar dimana
batik pada masa itu merupakan pakaian wajib atau resmi bagi masyarakat.
Perkembangan industri batik di Kauman semakin maju dari tahun ke tahun,
ditandai dengan munculnya inovasi teknis dalam membatik. Inovasi teknis ini
mulai dikenal di Kauman pada tahun 1850an dimana metode membatik yang baru
dari Semarang diperkenalkan oleh seorang pengusaha batik di Kauman. Metode
baru ini menggunakan cap yang terbuat dari garis-garis tembaga yang
ditempelkan pada sebuah alas dan diberi pegangan, sebuah alat yang mampu
membuat batik dalam jumlah banyak dengan tenaga kerja sedikit. Batik dengan
metode ini kemudian oleh masyarakat disebut batik cap. Dengan munculnya
metode cap para pengusaha atau Juragan batik di Kauman yang menggunakan
metode cap semakin banyak jumlahnya. Adanya batik cap serta merta menggeser
batik tulis yang merupakan andalan utama pengusaha batik Kauman era 1850an.
Bercermin dari pola-pola perkembangan sejarah industri batik di kota
Surakarta, terlihat adanya pengkhususan produksi batik di masing-masing wilayah
kota. Seperti Kauman, Keprabon, dan Pasar Kliwon terus membuat batik halus,
41
sementara itu Tegalsari dan Laweyan mengkhususkan diri pada produksi cap
untuk konsumsi massa. Untuk pembidangan ini, Kauman dan Laweyan
menduduki posisi sentral di Surakarta. Kauman sebuah pusat produksi batik yang
sudah cukup lama menjadi pusat perdagangan batik, selain Kauman adalah tempat
bermukimnya para abdi dalem pamethakan.
Pada perjalanan dan perkembangan industri batik selanjutnya yaitu sampai
akhir tahun 1910an batik Surakarta termasuk di dalamnya batik Kauman terus
mendominasi pasar nasional sekaligus pasar setempat, walaupun persaingan
dengan industri batik daerah lain seperti Pekalongan dan Jawa Barat semakin
ketat.
Batik yang berkembang di Kauman bukanlah sekedar batik sebagai barang
dagangan atau produk industri. Tetapi batik Kauman adalah batik pakem yang
bercita rasa seni sangat tinggi. Batik pakem adalah motif batik klasik yang
mempunyai makna filosofi pada setiap motifnya, pemakainyapun harus
disesuaikan dengan situasi dan kondisi, bahkan dengan syarat-syarat tertentu.
Motif yang semula hanya terpaku pada motif pakem pada awal abad 20 yaitu
setelah tahun 1910an. Perkembangan batik Kauman tidak hanya menampilkan
motif klasik saja, tetapi telah memasuki era modifikasi bersifat kontemporer
(menyesuaikan dengan perkembangan zaman). Hal ini tidak menjadikan nilai
seninya
berkurang,
justru
karya-karya
pengusaha-pengusaha
batik
(juragan/saudagar) semakin bervariasi pada akhinya menjadi ciri khas dari batik
Kauman.
42
Dampak dari semua perjalanan dan perkembangan industri batik yang
dialami Kauman khususnya, juga turut andil mempengaruhi dunia tekstil, dimana
tahun 1950an benar-benar dikuasi oleh batik, semua wanita pribumi menggunakan
kain batik dan yang laki-laki menggunakan kain sarung batik, bahkan untuk
pakaian guru, pegawai pemerintah, pegawai keraton, dan para siswa sekolah juga
memakai kain batik.. Jenis kain batik yang diproduksi di Kauman pada masa itu
adalah kain jarik, sarung, dodot, iket dan selendang.
Produksi batik pada saat itu dilakukan secara besar-besaran, di mana
pemasaran batik telah melewati batas propinsi, antara lain Tuban, Gresik,
Bojonegoro, Surabaya dan sebagainya. Pada era 1800an sampai 1950an pakaian
batik khususnya batik tulis halus terus diproduksi di Kauman oleh saudagarsaudagar batik, jenis batik tulis halus yang diproduksi di Kauman untuk
menyediakan kebutuhan untuk acara-acara penting seperti perkawinan, selamatan
atau acara-acara resmi lainnya. Selain itu masyarakat Kauman juga memproduksi
jenis batik kasaran yang harganya juga lebih murah dan dapat dipakai oleh semua
lapisan masyarakat.
Pada perkembangan selanjutnya, perubahan zaman yang disebabkan oleh
kemajuan industri tekstil yang mampu menghasilkan kualitas dan kuantitas dari
berbagai jenis kain dengan warna dan motif yang beraneka ragam pada era
1960an secara langsung berpengaruh terhadap dunia batik. Hal ini semakin
diperparah dengan naiknya harga mori yang berakibat tak terjangkaunya ongkos
produksi oleh pengusaha batik pada umumnya memacu mereka untuk bangkrut
keadaan itu tidak hanya berlaku untuk industri batik Kauman saja, tetapi hampir
43
di seluruh daerah di Indonesia yang menghasilkan kain batik. Hadirnya industriindustri tekstil pada era tersebut, memang membuat perekonomian Indonesia pada
umumnya semakin maju karena tekstil lebih praktis dan luwes sifatnya, kondisi
seperti ini semakin menyudutkan posisi ekonomi para pengusaha (juragan) batik.
Berkembangnya industri tekstil ini juga berpengaruh terhadap pola tata
busana kehidupan masyarakat Jawa, karena masyarakat
yang dulunya
menggunakan kain batik untuk busana sehari-hari seperti jarik dan sarung sejak
tahun 1970an sudah mulai banyak yang meninggalkannya. Mereka lebih
cenderung menggunakan rok, blus, kemeja dan celana, kondisi ini berlaku untuk
semua kalangan masyarakat segala usia.
Industri batik pun akhirnya dimulai pada tahun 1960an akhirnya
mengalami penurunan omzet, kalah dengan tekstil pabrik. Begitu pula yang terjadi
dengan industri batik di Kauman.
Para pengusaha batik mulai merasakan dampaknya, mereka sudah mulai
mengurangi produksinya hal ini terlihat pada batik yang dulunya dikirim sampai
luar kota kini sudah tidak banyak dilakukannya. Produksi batiknya hanya untuk
memenuhi pasar lokal saja, kalaupun dikirim keluar kota hanyalah sekedar
memenuhi pesanan saja dan sebagian pengusaha batik Kauman lebih senang
menitipkan dagangan batiknya di kios batik di Pasar Klewer.
Keadaan seperti ini berlangsung kurang lebih hingga paruh 1980an,
sehingga suasana kampung Kauman semakin sepi tidak ada riuh suara pembatik
dan gemuruh suara api saat membabar kain. Keadaan ini diperkuat dengan
semakin majunya perkembangan di dunia ilmu pengetahuan, para generasi
44
penerus dari pengusaha-pengusaha batik di Kauman ini banyak yang lebih
memfokuskan pada jenjang pendidikan, sehingga sebagian besar dari generasi
penerus yang menjalankan usaha batik leluhurnya sudah banyak yang tidak
melanjutkannya dan beralih ke profesi lain. Untuk melanjutkan usaha batik dari
orang tuanya dan masih aktif berproduksi walaupun ada pengurangan kapasitas
hanya sedikit sekali.
Ironisnya lagi para keturunan pengusaha batik ini, sebagian besar dari
mereka mewujudkan pengabdiannya di luar kota, di Jakarta, Surabaya, Semarang,
dsb, sehingga usaha batik yang dimiliki oleh orang tuanya banyak yang berhenti,
karena minimnya SDM-SDM yang mengerti dunia batik. Hanya sebagian kecil
saja yang sampai saat ini masih mau meneruskan usaha batik tersebut.
Demikianlah perjalanan dan perkembangan batik Kauman sebagai salah satu
sentra dari sekian banyak sentra industri batik di Surakarta dan cukup
berpengaruh bagi pertumbuhan ekonomi perdagangan batik, pasar sandang batik
di Surakarta pada khususnya.
C. PAGUYUBAN KAMPUNG WISATA BATIK KAUMAN
1. Sejarah Paguyuban
Pada awal mulai tumbuh dan berkembangnya industri batik Kauman
sampai sekarang pengusaha-pengusaha batik dan pedagang batik Kauman tidak
terhimpun dalam suatu wadah atau asosiasi, akan tetapi sejak diadakannya festival
1200 pembatik anak di Kauman tanggal 12 Februari 2006 yang digagas oleh salah
satu pengusaha batik di Kauman dengan menggandeng Karang Taruna (muda-
45
mudi) pemikiran untuk membentuk Paguyuban Batik mulai terbangun. Sejak
pertengahan tahun lalu, sejumlah pengusaha batik di Kampung Kauman mulai
menampakkan eksistensinya kembali. Follow up dari pemikiran pembentukan
paguyuban tersebut akhirnya dapat terealisasi yaitu pada tanggal 7 April 2006
masyarakat Kauman yang terdiri dari pengusaha dan pedagang batik serta
pengusaha yang lain telah membentuk dan melantik kepengurusan Paguyuban
Kampung Wisata Batik Kauman Surakarta.
Paguyuban berasal dari kata Guyub yang berarti rukun. Istilah paguyuban
sebagai nama organisasi karena masyarakat kampung Kauman yang memiliki
ikatan kekeluargaan dan gotong royong yang cukup kuat. Guyub menjadi salah
satu modal sosial untuk mengembangkan Kampung Wisata Batik Kauman
Surakarta. Paguyuban memiliki logo yang hampir serupa dengan lambing Keraton
Kasunanan Surakarta karena adanya sejarah hubungan Kampung Kauman dengan
Keraton.
Gambar 2.1
Logo Paguyuban Batik Kauman
46
Keterangan Logo Paguyuban:
1. Burung / Lar: pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Padi dan kapas: menunjukkan kesejahteraan dan kemakmuran Kampung
Batik Kauman
3. Lingkaran: menunjukkan satu kesatuan
4. Bintang: banyaknya UKM (Usaha Kecil Menengah) yang terwadahi
5. Canting: menunjukkan batik, tunggangan menuju kemakmuran
6. Warna coklat (salah satu warna batik khas Solo): sebagai alat
kesejahteraan
Dalam perkembangnnya muncul paguyuban ini semakin banyak tumbuh
pedagang-pedagang batik di Kauman, para pedagang batik ini memanfaatkan
rumah-rumah mereka yang kosong untuk dijadikan show room atau toko dan
mereka mengambil produk batik yang mereka jual sebagian juga berasal dari
pengusaha-pengusaha batik yang berproduksi di Kauman.
2. Visi dan Misi Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman Surakarta
Adapun visi dan misi Paguyuban Kampung Batik Kauman adalah sebagai
berikut:
Visi
Terwujudnya
kampung
batik
Kauman
menjadi
kawasan
wisata,
perdagangan dan budaya yang santun, damai dan penuh berkah; mempertahankan
kerajinan batik supaya tetap bertahan dengan segala inovasi dan seninya.
47
Misi
a. Menciptakan suasana kampung wisata, perdagangan dan budaya yang
terkoordinasi dengan baik.
b. Meningkatkan potensi kampung Kauman.
c. Menciptakan lingkungan kerja yang trampil.
d. Pengembangan kreatifitas generasi penerus Kauman terhadap batik dan
kerajinan yang lain.
e. Pembangunan kampung wisata batik Kauman secara fisik maupun non
fisik.
Tujuan
utama
dari
terbentuknya
paguyuban
ini
adalah
untuk
mempromosikan Kauman terutama dikalangan masyarakat Solo bahwasanya
Kauman ini mempunyai potensi dan keunikan serta mewadahi para pengusaha
batik kauman dan landasan dasarnya adalah meningkatkan taraf ekonomi
masyarakat kauman di dalam bidang sektor batik. Dengan berdirinya paguyuban
ini cita-cita menjadikan kampung Kauman sebagai kampung wisata batik Kauman
seperti halnya Laweyan akhirnya dapat terwujud melalui kerjasama yang
terbangun antara paguyuban, departemen pariwisata kota Surakarta, pemerintah
kota, Kelurahan Kauman, dan agen-agen biro perjalanan wisata. Dalam
perkembangnnya muncul paguyuban ini semakin banyak tumbuh pedagangpedagang batik di Kauman, para pedagang batik ini memanfaatkan rumah-rumah
mereka yang kosong untuk dijadikan show room atau toko dan mereka
mengambil produk batik yang mereka jual sebagian juga berasal dari
pengusahapengusaha batik yang berproduksi di Kauman. Program-program yang
48
selama ini dilakukan paguyuban, dari awal mulai terbentuk sampai sekarang lebih
mengarah ke promosi, yaitu mempromosikan kampung batik Kauman,
kegiatannya seperti:
1. Diawali dengan pameran-pameran foto kauman tempo dulu.
2. Mengajukan proposal-proposal yang diajukan ke dinas-dinas, dimana ini
disetujui dan mendapat perhatian. Serta pada pertengahan 2006 kelurahan
memberikan bantuan blockgrant untuk pengembangan Kampung Wisata
Batik Kauman.
3. Dengan adanya bantuan dana dari Kelurahan Kauman dan para pengusaha
batik Kauman, pameran foto-foto mulai sering dilakukan.
4. Mengikuti pameran-pameran perdagangan baik yang diselenggarakan oleh
pemerintah ataupun pihak swasta.
5. Pembuatan dan pemasangan MMT (poster besar) di salah satu jalan sentral
di Kauman yang merupakan jalan yang banyak terdapat pengusaha dan
pedagang batik, serta pengusaha lain.
6. Pembuatan leaflet dan buklet yang berisi daftar dan peta wisata batik di
Kauman.
7. Mengikuti
pelatihan-pelatihan
dan
seminar
yang
diadakan
oleh
departemen pariwisata, perindustrian dan perdagangan Kota Surakarta.
Pelatihan ini diikuti oleh pedagang dan pengusaha batik yang terhimpun
dalam Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman.
49
8. Pembuatan buku tentang Kuman yang dibiayai oleh dana block grant,
dimana pembuatan buku ini di dukung oleh para ekspert dosen-dosen UNS
yang tertarik pada pengembangan Kauman.
9. Launching buku Kauman : Religi, Tradisi dan Seni, pada bulan Februari
2007.
(Sumber: Koran dan kesekretariatan Paguyuban Kampung Wisata Batik
Kauman.)
Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman (PKWBK) selain berfungsi
sebagai wadah untuk menjembatani antar anggota paguyuban juga berfungsi
sebagai media publikasi dari industri-industri batik yang ada di Kauman dan
media informasi serta sebagai wadah aspirasi para anggotanya. Dalam mengatur
jalannya paguyuban ada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang telah
dibuat dan disepakati bersama. Dalam struktur organisasi paguyuban ini terdapat
ketua, sekretaris, bendahara, tim pameran dan publikasi. Namun paguyuban ini
sifatnya tidak mengikat atau mengekang, jadi untuk pertemuan rutin setiap
bulannya saat ini belum ada karena mengingat aktivitas dan kesibukan yang
sangat padat dari anggotanya yang berprofesi sebagai pengusaha dan pedagang,
sehingga jika diadakan bertemuan rutin nanti takutnya mengganggu kesibukan
mereka. Pengaturan pertemuannya lebih bersifat informal, yaitu jika bertemu
dalam acara-acara tertentu lalu membicarakan masalah paguyuban, atau
komunikasi via telepon dan jika akan ada kegiatan yang berhubungan dengan
Kampung Wisata Batik Kauman.
50
3. Sejarah dan Gambaran Industri Batik Gunawan Setiawan
Batik sebagai aset budaya dan sebagai penunjang ekonomi rakyat memang
harus seiring sejalan. Geliat batik benar-benar terasa di kota Solo, ini bisa dilihat
dengan gairah para usahawan batik yang berada di Kampung Batik Laweyan dan
yang di Kampung Wisata Batik Kauman. Gunawan Setiawan, Ketua Paguyuban
Usahawan Batik Kauman yang sekaligus pemilik Gallery Batik Gunawan
Setiawan bersama kawan-kawannya menjelaskan kemajuan pesat tentang jumlah
UKM batik di kampungnya itu, yang sekarang telah mencapai 44 UKM. Masingmasing UKM punya ciri khas masing-masing, mulai dari yang cuma sebagai
kepanjangan usaha dari pengrajin, kemudian ada yang memang kuat modalnya &
memang mempekerjakan pengrajin, hingga yang menjual khusus batik tulis, batik
cap, motif pakem sampai dengan yang kontemporer. Lorong-lorong Kampung
Kauman benar-benar terasa hidup, walau utamanya batik, tapi usaha lain pun tak
kalah ikut meriah, seperti mereka yang berjualan baju muslim dan kerudung,
warung makan sampai homestay. Kejayaan batik sebagai produk asli Indonesia
diharapkan bisa kembali mencuat dan mendunia.
3.4 Produk dan Pemasarannya
Batik Gunawan Setiawan merupakan Perusahaan Batik Tulis Tradisional
yang menghasilkan produk Batik Tulis, Batik Klasik Khas Surakarta dan Batik
Saudagaran yang memadukan gaya klasik dan tradisional; diproses secara alami,
menggunakan bahan pewarna alam (natural) yang diambil dari kayu teger, kayu
tingi, kayu jambal dan bahan alami lain yang diperoleh dari alam Indonesia.
51
Untuk memudahkan para pecinta batik mendapatkan koleksi yang berkwalitas dan
bernilai seni tinggi, Batik Gunawan Setiawan juga hadir di:
a. Jalan Veteran 339 B, Solo | 0271 - 765 5003
b. Lobby Bandara Adi Sumarmo Solo | 0271 - 632 214
c. Jalan Solo km 9,5 Sorogenen, Maguwo, Yogyakarta | 0274 - 496 459
d. Jalan Kemang I No. 12 F, Jakarta Selatan | 021 - 717 932 63
Batik Gunawan Setiawan menyediakan berbagai macam batik tulis dan
cap dengan gaya Solo & batik Indonesia. Dengan harga bersaing dan produk yang
spesial. Sehingga para costumer akan memiliki batik lain dari yang lain. Dalam
memasarkan produknya Batik Gunawan Setiawan memiliki sebuah kampung
wisata yaitu “Kampung Wisata Kauman” yang menawarkan berbagai fasilitas
wisata seperti wisata pendidikan, wisata rumah-rumah kuno, wisata religi, wisata
berbelanja, sehingga wisata-wisata inilah yang bisa dijadikan sebagai daya tarik
bagi pengunjung agar mau berkunjung ke Kampung Kauman.
Ketua Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman Gunawan Setiawan
mengakui bahwa semakin sedikit perajin batik yang mau mencoba menggunakan
pewarna alami. Alasannya tidak efisien dan justru menambah biaya produksi.
“Prosesnya lama, biaya tinggi, butuh kesabaran, dan harga jualnya tinggi”.
Dia mencontohkan, untuk mewarnai kain sepanjang 2 meter dibutuhkan satu
kilogram warna alami. Sedangkan jika menggunakan pewarna kimia, hanya butuh
satu gram. Belum lagi dengan proses pewarnaan yang dilakukan berkali-kali.
“Standarnya butuh 30 kali celupan. Tapi sekarang kami cukup dengan 5-7 kali
dengan konsekuensi warna batik tidak terlalu kental”.
52
3.5 Struktur Organisasi
Gambar 2.2
Struktur Organisasi Batik Gunawan
3.3 Produk: Pengembangan Produk, Pengembangan Proses
3.3.1 Perkembangan Produk Batik Gunawan Setiawan
Perkembangan produk selain berubah seiring perkembangan jaman juga
seiring beralih fungsi batik bagi masyarakat yang mana saat jaman kerajaan fungsi
batik yaitu menjadi baju sehari-hari masyarakat sehingga saat generasi pertama
Gunawan Setiawan saat itu bernama batik Putra Mas dan belum begitu banyak
pesaing. Seiring perkembangan zaman pada tahun 70an mulai muncul batik
printing dan baju-baju kasual berbahan katun menjadi pesaing utama produk batik
saat itu. Citra batik saat itu menjadi baju formal yang mana masyarakat memakai
hanya saat-saat acara formal saja dan untuk anak muda batik terkesan tua atau
serius. Akan tetapi pada tahun 2008 saat UNESCO mematenkan batik sebagai
53
seni budaya Indonesia, maka batik mulai bangkit kembali. Dan mulai berinovasi
dengan model dan desain yang lebih bervariatif.
Batik Gunawan Setiawan adalah salah satu family bussiness yang mana
Gunawan menjadi generasi ke tiga yang mana penerus dari generasi ke dua batik
MHD dan Putra Emas sebagai pendiri family bussiness ini. Produk Gunawan
Setiawan menyesuaikan perkembangan jaman. Akan tetapi batik Gunawan
Setiawan tetap konsisten pada filosofi-filosofi yang terdapat pada setiap motif
batik tersebut. Seperti halnya batik Gunawan Setiawan memiliki ciri khas batik
tertentu bernama “ Dopo Dipo Cemeng”. Batik Dopo Dipo Cemeng ini hanya ada
di batik Gunawan Setiawan.
Melihat dari warna batik Gunawan Setiawan ini lebih cenderung kalem
terkesan gelap itu dikarenakan filosofi yang tertanam bahwa Solo itu daerah
pedalaman sehingga warna yang digunakan pun terkesan kalem atau gelap. Akan
tetapi seiring perkembangan jaman batik Gunawan Setiawan juga harus melihat
selera pasar dan kemauan pasar maka dari itu model- model batiknya pun lebih
beraneka ragam, yang mana memberi kesan batik juga dapat digunakan sebagai
baju santai. Selain itu batik Gunawan Setiawan juga lebih memberi inovasiinovasi dalam desain segmen anak muda yang mana batik juga dimasukan dalam
aksen-aksen pembuatan tas, desain baju batik untuk segmen anak muda lebih
modis.
54
3.3.2 Perkembangan Proses
Perkembangan proses pembuatan batik di dalam Gunawan Setiawan itu
menggunakan beberapa cara mulai cara lama hingga cara terbaru. Seperti
menggunakan teknik klasik, teknik kontemporer dan pengecapan.
Teknik klasik dilakukan dengan cara seperti halnya membatik dengan
menggunakan malam dan canting yang mana membuatnya membutuhkan waktu
yang lama. Teknik Kontemporer dilakukan dengan cara membatik diatas kain
dengan menggunakan pensil atau dengan kata lain membuat pola, lalu pola
tersebut diberi lilin lalu kemudian dengan pola tersebut dipertebal.
Teknik
pengecapan dilakukan dengan cara mencelupkan cetakan pola batik di dalam
malam lalu. Seiring perkembangan jaman semua teknik dilakukan oleh gunawan
setiawan agar selalu mengikuti selera pasar.
3.3.3 Proses Pembuatan
Proses batik tradisional adalah merupakan proses yang digunakan pada
pembuatan batik tradisional, yaitu batik yang menggunakan warna biru indigo dan
soga dengan tahapan sebagai berikut:
1. Nyorek: Menggambarkan pola batik pada kain mori putih memakai pensil.
2. Mbathik: Membuat pola pada mori dengan menempelkan lilin batik
menggunakan canthing tulis.
3. Nembok: Menutup bagian-bagian pola yang akan dibiarkan tetap berwarna
putih dengan lilin batik.
4. Medel: Mencelup mori yang sudah diberi lilin batik ke dalam warna biru.
55
5. Ngerok dan Nggirah: Menghilangkan lilin dari bagian-bagian yang akan
diberi warna soga (coklat).
6. Mbironi: Menutup bagian-bagian yang akan tetap berwarna biru dan
tempat-tempat yang terdapat cecek.
7. Nyoga: Mencelup mori kedalam warna soga.
8. Nglorod: Menghilangkan lilin batik dengan air mendidih. Tahap ini
sekaligus tahap terakhir dari proses batik tradisional.
9. Njemur: Batik yang sudah terselesaikan kemudian dijemur di atas tratag
pada kasau-kasau.
3.3.4 Bahan Baku
Bahan baku yang paling tepat untuk membuat kain batik adalah: kapas,
sutera, rayon dan lain-lain. Meskipun demikian pada jaman sekarang proses
membuat kain batik dapat dilakukan di atas kain berbahan serat tiruan.
Penggunaan katun, yaitu kain yang terbuat dari benang kapas, sebagai bahan
utama kain batik, mulai digunakan sekitar abad 17. Jenis kain ini dibawa oleh
pedagang-pedagang dari India dengan pasokan terbesar dari pabrik-pabrik di India
dan Inggris. Pada masa berikutnya digunakanlah mori (sebutan umum dunia batik
untuk kain putih sebagai bahan baku membuat kain batik) dari Belanda dengan
cap dagang Cap Sen, Cap Jangkrik, dan Cap Leo. Menyusul kemudian mori dari
Jepang dengan merek dagang Cap Kupu dan Cap Ruji. Perkembangan mori ini
kemudian dapat diproduksi di Indonesia dengan kualitas yang lebih bagus lagi
56
dengan sebutan Primissima, dengan merek dagang Cap Kereta Kencana, Cap
Gong, Cap Tari Kupu, dan Cap Canting Mas.
Selain mori sebagai bahan baku, pembuatan kain batik juga menggunakan
bahan pembantu berupa malam atau lilin batik sebagai bahan perintang dan
pewarna. Malam atau lilin batik sebagai bahan perintang dalam proses
pembatikan digunakan untuk menutup hiasan sehingga membebaskannya dari
bahan pewarna ketika dilakukan proses pencelupan.
Lilin batik merupakan campuran dari beberapa macam bahan, antara lain:
parafin, kote (lilin lebah), gondorukem, damar “mata kucing”, microwax, lilin
gladhangan (lilin bekas), dan minyak kelapa atau lemak hewan. Kecuali
microwax, semua bahan tersebut dapat diperoleh di dalam negeri.
3.3.5 Warna
Bahan pewarna pada proses pewarnaan bisa terbuat dari bahan alami
(nabati) dan pewarna buatan (kimia). Zat pewarna alami dapat berasal dari daun,
kulit kayu, pokok kayu, akar pohon atau umbi. Contoh pewarna nabati adalah:
daun nila untuk pewarna biru atau biru-hitam, akar pohon mengkudu untuk warna
merah, kayu tegeran atau kunyit untuk warna kuning, kulit kayu tingi untuk warna
merah-coklat, dan kayu soga untuk warna coklat.
Semua bahan pewarna alami dapat diperoleh di dalam negeri, sedangkan
zat pewarna buatan sampai saat ini masih didatangkan dari luar negeri, antara lain
dari Jerman (Hoechst), Inggris (ICI), Swiss (CIBA), Perancis (Francolor),
Amerika (Du Point), dan Italy (ACNA).
57
3.3.6 Sumber Daya Manusia (SDM)
Dalam perekrutan pegawai peruasahaan Batik Gunawan Setiawan tidak
menspesifikkan pada lulusan tertentu tetapi lebih diutamakan pada bagaimana niat
dan kemauan dari calon karyawan tersebut untuk bekerja. Setelah perekrutan
dilakukan, karyawan akan mendapatkan pelatihan untuk memperkenalkan dan
mengembangkan kemampuan mereka dalam hal membatik. Hal ini menjadi salah
satu bagian penting yang memang harus dilakukan oleh setiap perusahaan
terhadap karyawan demi menjaga kelancaran dari proses pekerjaan itu sendiri.
Untuk lebih meminimalkan kesalahan yang terjadi, diadakan evaluasi yang
dihadiri oleh orang-orang tertentu dalam Batik Gunawan Setiawan. Hasil dari
evaluasi ini sendiri nantinya akan disampaikan oleh perwakilan dari pihak yang
menghadiri forum evaluasi kepada pihak terkait baik itu berupa kritik ataupun
saran untuk dapat mempertahankan ataupun meningkatkan kinerja mereka.
Namun, tidak jarang pemilik dari batik Gunawan Setiawan turun langsung untuk
mengevaluasi pada pihak-pihak yang terkait.
3.3.7 Keuangan : Sumber Modal, Pengelolaan Uang
Menurut Gunawan Setiawan yang merupakan pemilik dari Batik Gunawan
Setiawan naik turunnya batik dipengaruhi oleh perkembangan zaman, seperti
zaman dahulu batik merupakan pakaian kerjaan keraton yang sangat dikagumi
oleh seluruh masyarakat di sekitarnya sehingga pada saat itu batik sangat menjadi
trend dan memiliki nilai tersendiri bagi pemakainya, tetapi sesuai dengan
perkembangan zaman yang masyarakat tidak lagi menggunakan batik sebagai
pakaian sehari-hari, oleh karena itu kini batik lebih banyak digunakan sebagai
58
pakaian formal untuk berbagai event resmi. Maka bapak Setiawan merasa dimana
permintaan (demand) akan bahan baku batik lebih tinggi daripada penawarannya
(Supply).
Saat memulai bisnisnya modal awal tidak menggunakan pinjaman apapun
dan selama menjalankan usahanya, Batik Gunawan Setiawan memiliki manajerial
yang baik dalam memanage keuangannya, mereka memiliki laporan keuangan
berupa neraca, laporan laba/rugi, dan kegiatan surat menyurat yang baik pula.
Sehingga mereka dapat mengetahui seberapa besar laba kotor dan laba bersih dari
seluruh total penjualan yang ada. Penjualan Batik Gunawan Setiawan per hari
rata-rata berkisar 20-30 lembar untuk baju dan bahan. Dimana harga untuk baju
dan bahan pada Batik Gunawan Setiawan sangat beragam, hal ini karena
penyesuaian harga dilihat dari kualitas, motif, dan proses dari pembuatan batik itu
sendiri. Adapun kisaran harga Batik Gunawan Setiawan :
a. Batik tulis asli berkisar Rp 1.000.000 – Rp 2.500.000/ lmbr
b. Batik tulis dengan kualitas kurang baik berkisar Rp 600.000/ lmbr
c. Batik tulis pelimis (Bahan) : panjang 2 meter berkisar Rp 325.000 dan
panjang 2,5 meter berkisar Rp 550.000
Dari hasil penjualan, pembagian keuntungan yang di peroleh dilakukan
dengan azaz kekeluargaan, dimana kesepakatan keluarga dan rasa patriotisme dari
keluarga besar Gunawan Setiawan sangat tinggi. Sehingga bisnis keluarga Batik
Gunawan Setiawan dapat terus berproduksi dan berkembang dengan baik hingga
sekarang.
59
3.3.8 Pemasaran : Strategi, Jaringan Pemasaran
Strategi pemasaran dan jaringan pemasaran yang dilakukan oleh Gunawan
Setiawan ialah dengan menggunakan:
1. Saluran internet atau menggunakan web
2. Dengan memaanfaatkan bentuk-bentuk wisata yang ada di solo tepatnya
kampung kauman ini, wisata – wisata tersebut seprti wisata religi, wisata
pendidikan dan wisata batik.
3. Strategi lainnya dilakukan dengan cara membuat acara- acara yang
berhubungan dengan batik seperti 1000 anak membatik dan pelatihanpelatihan membatik yang gunawan setiawan itu menyediakan khusus
untuk orang-orang yang berminat membatik.
4. Dengan aktif dalam kegiatan pameran.
60
BAB III
STRATEGI PROMOSI BATIK GUNAWAN SETIAWAN
Batik Gunawan Setiawan merupakan salah satu bentuk kreativitas seni
yang dimiliki negeri ini. Keberadaan karya seni ini yang masih tetap dilestarikan
menjadi suatu icon bahwa batik merupakan warisan leluhur dan sebagai simbol
kekayaan karya seni negeri ini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan supaya
warisan leluhur ini dapat lestari adalah dengan memanfaatkan karya seni ini
menjadi sesuatu yang bermanfaat dari segi finansial, yaitu dengan membuat usaha
atau bisnis batik. Dengan melakukan usaha atau bisnis batik, akan muncul ide-ide
atau kreativitas-kreativitas baru tentang motif-motif batik, sehingga kelestariannya
tetap terjaga.
Dalam dunia bisnis dagang yang profit oriented, peran promosi sangat
penting terutama dalam memperlancar kegiatan pemasaran. Dalam dunia
pemasaran, salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program pemasaran
adalah promosi. Pada hakikatnya promosi adalah bentuk komunikasi pemasaran,
karena merupakan aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi,
mempengaruhi, dan mengingatkan pasar sasaran atau perusahaan dan produknya
agar bisa menerima, membeli, dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan
yang bersangkutan.
Batik Gunawan Setiawan sebagai salah satu merek dagang produk batik
yang berada di kompleks sentra pengusaha batik yaitu kelurahan Kauman,
kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, Propinsi Jawa Tengah. Dalam menjalankan
61
usahanya yang telah berjalan selama 40 tahun, batik Gunawan Setiawan
menunjukkan eksistensinya dengan dukungan dari berbagai elemen perusahaan
mulai dari produksi sampai promosi. Kegiatan promosi tidak serta merta hanya
berupa tindakan menyampaikan atau memperkenalkan suatu produk kepada
masyarakat, akan tetapi supaya dalam kegiatan promosi dapat mencakup atau
menjangkau pangsa pasar yang dikehendaki, perlu adanya sebuah strategi promosi
yang baik dan matang. Pada bab ini akan membahas strategi promosi yang
dilakukan dalam usaha batik Gunawan Setiawan, yang dijelaskan sebagai berikut
ini.
A. Langkah-Langkah Merumuskan Strategi Promosi
1. Menetapkan jangka waktu perencanaan stratejik
Perusahaan batik Gunawan telah berdiri sejak tahun 1972. Dalam
kurun waktu tersebut, perusahaan secara matang menentukan waktu
perencanaan promosi yang telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan,
dalam hal ini langsung dikoordinir oleh Bapak Gunawan Setiawan sendiri
selaku pemiliknya. Penetapan jangka waktu strategi promosi yang hendak
digunakan ditetapkan selama 3 tahun. Artinya dalam jangka waktu 3
tahun, perusahaan dengan menggunakan strategi promosi yang dipilih
mengalami peningkatan laba bersih atau justru mengalami penurunan.
2. Menetapkan dan mengkaji ulang visi dan misi organisasi
Visi dan misi dari usaha batik Gunawan secara umum adalah
bekerja sebagai salah satu sarana ibadah. Sementara dari segi manfaat,
dalam menjalankan usahanya, Bapak Gunawan Setiawan memiliki suatu
62
pemikiran yang terinspirasi dari amanah orang-orang tua jaman dulu
bahwa hidup itu harus bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan,
karyawan, dan agama. Pesan dari orang tua tersebut, juga diaplikasikan
dalam usaha batiknya tersebut. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara
dengan Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
Kalau visi misi secara umum ya kita pengen kerja sebagai salah
satu sarana ibadah. Tujuannya itu. Apa ya, manfaatnya itu.
Bermanfaat bagi diri sendiri, bermanfaat untuk keluarga,
bermanfaat untuk lingkungan, bermanfaat untuk karyawan, dan
bermanfaat untuk agama. Dulu welinge orang tua kan kira-kira
hanya seperti itu. Lha itu diterapkan di pekerjaaan. Mugkin
kemampuan masih skalanya baru apa. Diri sendiri alhmdulillah
sudah, keluarga Alhamdulillah hampir sudah. Ke masyarakat
belum. Baru mulai. Ke karyawan ya sudah, ya ini kita pengen
kalau bisa maksimal semua. Istilahe kalau botol-botol
kemanfaatan itu tadi sudah terpenuhi semua. Itu visi misinya
seperti itu (wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan pada
tanggal 21 April 2012).
Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat dilihat bahwa dalam
menjalankan usahanya, Bapak Gunawan Setiawan menerapkan unsur religi
yang lebih kental, karena pada dasarnya kelurahan Kauman mayoritas
warganya beragama Islam, dan sangat kental ke-Islamannya, sehingga
dalam menjalankan usaha batik yang dilakukan oleh sebagain warga
kelurahan ini, selalu menanamkan nilai-nilai luhur agama Islam.
3. Menganalisis perkembangan dan kecenderungan faktor-faktor eksternal
yang berpengaruh
Usaha dagang yang profit oriented membutuhkan strategi
pemasaran atau promosi yang terkondisikan dengan terlebih dahulu
mencari informasi sebanyak mungkin mengenai faktor-faktor eksternal
63
yang berpengaruh cukup kuat terhadap usaha yang digeluti, diantaranya
adalah persaingan usaha, perkembangan teknologi, dan permintaan selera
pasar yang berubah-ubah sesuai dengan trend fashion waktu tertentu.
Faktor eksternal pertama yang menjadi landasan bagi batik
Gunawan dalam merancang strategi promosi adalah terkait dengan
persaingan usaha. Batik Gunawan dalam menjalankan usahanya senantiasa
menerapkan
nilai-nilai
Islami,
sehingga
setiap
bentuk-bentuk
penyimpangan dari ajaran Islam dalam prktek perdagangan batik Gunawan
akan langsung ditegur oleh pemiliknya yaitu Bapak Gunawan Setiawan.
Kelurahan Kauman pada mulanya dikenal sebagai kampung agamis,
karena mayoritas atau bahkan hampir semua penduduknya memeluk
agama Islam yang taat. Saat ini kelurahan Kauman justru dikenal oleh
wisatawan domestik maupun mancanegara sebagai kampung batik, karena
di kampung tersebut berdiri banyak usaha batik. Hampir di setiap jalan di
kampung ini, terdapat toko atau butik yang menjual batik. Persaingan
usaha yang terjadi antara pengusaha batik yang satu dengan yang lain, di
Kauman sangat sehat. Hal tersebut terjadi karena unsur agama yang
dominan, artinya siapa saja masyarakat Kauman yang hendak berbuat
kecurangan dalam usahanya, pasti akan merasakan ketidaknyamanan
usaha karena nilai-nilai ajaran Islam yang telah mendarah daging selalu
membentengi setiap tindakan negatif yang hendak dilakukan. Sehingga
dalam menjalankan usaha batiknya, masyarakat Kauman selalu bersaing
64
dengan sehat, dan tidak melakukan tindakan-tindakan negatif yang justru
akan menjatuhkan citra dari usaha batik yang dimiliki.
Faktor eksternal kedua yang melandasi batik Gunawan merancang
strategi promosi adalah perkembangan teknologi, artinya batik yang
dikenal dahulu baik dari segi motif, segi pewarnaan, dan alat produksi
batik yang digunakan masih menggunakan model dan alat tradisonal, saat
ini kreatifitas telah berkembang sehingga selalu memunculkan ide-ide atau
kreatifitas-kreatifitas baru. Oleh karena itu, saat ini mulai banyak
bermunculan motif-motif atau desain-desain batik kontemporer yang
selalu up to date dan membutuhkan teknologi canggih dalam proses
produksinya. Menanggapi tantangan tersebut, batik Gunawan selalu
mengedepankan kualitas daripada ikut-ikutan latah dengan perkembangan
bisnis batik kontemporer yang sedang digemari masyarakat saat ini. Hal
ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan
berikut ini:
“Memang saat ini kecenderungan masyarakat Indonesia itu latah,
latahnya begini...kalau ada sesuatu yang baru dan menjadi
omongan banyak orang, terus orang-orang tu ngikutin tapi
biasanya dengan kreasi-kreasi yang lain. Memang ada segi
kreatifnya, tapi kreatifitasnya itu menggunakan ide orang lain,
jadi ya bukan hasil kreasi original dong. Nah meskipun banyak
yang latah, apalagi tentang fashion, untuk batik Gunawan
Setiawan tidak demikian. Batik Gunawan Setiawan selalu
mengedepankan kualitas daripada menjadi bagian dari masyarakat
yang suka latah itu. Bagi kami kualitas itu nomer satu, karena
segala sesuatu, batik misalnya kalau kreasinya sebagus apapun
tapi kualitas kain batiknya sendiri jelek, ya tetap aja jelek.
Sebaliknya, kalau kreasinya biasa-biasa saja tapi dengan kualitas
batik yang bagus, maka akan memancarkan keindahan dengan
sendirinya kok. Benar itu.” (wawancara dengan Bapak Gunawan
Setiawan pada tanggal 21 April 2012).
65
Faktor eksternal terakhir atau ketiga yang menjadi landasan
perancangan strategi promosi batik Gunawan adalah permintaan selera
pasar yang bermacam-macam sesuai dengan perkembangan trend busana
waktu tertentu. Menanggapi adanya permintaan pasar yang menginginkan
supaya batik Gunawan juga mengikuti trend dalam hal style potonganpotongan pakaian yang dijual, batik Gunawan selalu mengikuti
perkembangan jaman, seperti yang dijelaskan Bapak Gunawan Setiawan
berikut ini:
“Untuk style atau potongan-potongan pakaian batik yang kami
jual memang kami mengikuti trend, tapi bukan berarti latah lho.”
(wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 21
April 2012).
Hal ini dilakukan karena pangsa pasar tidak pernah stagnan akan
tetapi selalu berubah mengikuti trend pasar. Untuk itu, batik Gunawan
selalu berinovasi dalam menciptakan kreasi-kreasi pakaian batik yang
mengikuti trend fashion yang berkembang di masyarakat. Penjelasan
tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan
berikut ini:
“Jadi begini ya mbak ya...meskipun moto kami itu adalah ‘Batik
Gunawan Setiawan, Seni Batik Tulis Tradisional’, kami tetap
selalu memberikan ke-tradisionalan itu dalam wadah modern
yaitu trend fashion yang berkembang di masyarakat. Jadi kami
selalu sebisa mungkin berusaha untuk berkreasi menciptakan
sebuah karya batik yang modern tapi tidak kehilangan jati diri ketradisionalannya.” (wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan
pada tanggal 21 April 2012).
66
Berdasarkan pemaparan faktor-faktor eksternal yang melandasi
perencanaan pembuatan strategi promosi batik Gunawan, dapat diketahui
bahwa dalam menjalankan usahanya, batik Gunawan selalu melihat situasi
pasar waktu tertentu. Artinya setiap strategi promosi yang hendak
digunakan dalam memasarkan produk-produk batik andalannya, batik
Gunawan mencoba untuk menerapkan keinginan pasar dalam setiap
produksi. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi penimbunan barang karena
tidak laku dijual.
4. Mengidentifikasi posisi organisasi melalui analisis SWOT
Analisis SWOT adalah instrument perencanaan strategis yang
klasik. Dengan menggunakan kerangka kerja kekuatan dan kelemahan dan
kesempatan eksternal dan ancaman, instrument ini memberikan cara
sederhana untuk memperkirakan cara terbaik untuk melaksanakan sebuah
strategi. Instrument ini menolong para perencana apa yang bisa dicapai,
dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan.
Analisis SWOT yang diterapkan dalam usaha batik Gunawan,
berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan selaku
direktur utama batik Gunawan sebagai berikut:
a. Strenght (kekuatan)
Kekuatan sebagai landasan utama suatu perusahaan yang ingin
berkembang dan bersaing dengan kompetitornya dimiliki oleh batik
Gunawan Setiawan, karena pada dasarnya batik Gunawan telah
memiliki nama yang cukup populer di kalangan pengusaha batik kota
67
Solo, bahkan sampai keluar daerah. Kekuatan yang dimiliki oleh batik
Gunawan berupa kualitas produk dan merek dagang yang telah
dikenal oleh masyarakat luas, menjadikan usaha ini tak tertandingi,
dalam artian telah memiliki pangsa pasar sendiri. Hal tersebut sesuai
dengan hasil wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan berikut
ini:
“Ya kalau ditanya kita itu sudah punya nama dipasaran apa
belum...ya kami tidak tahu, itu kan penilaian masyarakat. Tapi
alhamdulillah banyak orang yang sudah tahu mengenai
keberadaan batik Gunawan Setiawan ini, bahkan sampai ada
wisatawan luar kota yang bela-belain datang ke Solo hanya
untuk membeli batik Gunawan. Kalau untuk pangsa
pasar...alhamdulillah lagi kami sudah punya pelanggan tetap.
Kami juga sudah memiliki showroom di luar kota, yaitu di
Jogja.” (wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan pada
tanggal 3 Mei 2012).
b. Weakness (kelemahan)
Kelemahan bukan merupakan faktor yang merugikan dalam setiap
usaha, akan tetapi dengan adanya kelemahan sedini mungkin harus
dapat mencari antisipasi yang dapat dilakukan untuk menutupi
kelemahan tersebut. Hal serupa juga diterapkan pada usaha dagang
batik Gunawan. Kelemahan yang dimiliki oleh batik Gunawan terletak
pada kemampuan SDM karyawan-karyawan di perusahaan tersebut.
Kelemahan
yang
dimaksud
berupa
keterbatasan
kemampuan
(pendidikan) yang dimiliki oleh karyawan yang bekerja di perusahaan
tersebut, yang berimbas pada manajemen organisasi, yang sampai saat
ini masih dikelola oleh keluarga Bapak Gunawan Setiawan sendiri.
68
Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Bapak Gunawan
Setiawan berikut ini:
“Karena itu tadi keterbatasan SDM. Pengennya kita yo lulusan
UNS magang di sini, lulusan UGM magang UII magang disini.
Enak, nanti yang mau meneruskan ayo kita kerja professional. Ya
kita lebih professional maksudnya. Yang magang juga lebih
professional.” (wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan
pada tanggal 3 Mei 2012).
c. Opportunity (peluang)
Persaingan dalam industri batik semakin ketat, akan tetapi masih ada
celah pasar yang menjadi peluang untuk Batik Gunawan. Peluang
yang ada pada Batik Gunawan adalah memiliki motif yang beragam
asli karya Batik Gunawan sendiri yang yang belum dimiliki oleh
pesaing dari Batik Gunawan. Selain itu, batik Gunawan juga mencoba
untuk memanfaatkan peluang usaha dengan membuka gerai dalam
berbagai event kesenian, misalnya di pameran, atau pasar-pasar yang
kerap kali dikunjungi wisatawan. Hal ini sesuai dengan hasil
wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
“Memang kalau untuk peluang pemasaran batik itu saat ini kecil,
karena tahu sendiri kan pengusaha batik sekarang itu banyak
sekali yang menawarkan kekhasannya sendiri-sendiri, tapi
dengan kreasi-kreasi original yang kami buat misalnya saja
masalah motif yang memang asli buatan kami sendiri dan tidak
dimiliki batik lain.” (wawancara dengan Bapak Gunawan
Setiawan pada tanggal 3 Mei 2012).
d. Threat (ancaman)
Ancaman yang dimiliki oleh Batik Gunawan adalah banyaknya
persaingan di kawasan Kauman dan tidak adanya koordinator
monitoring yang memantau persaingan. Sehingga akan mengalami
69
penurunan jumlah pengunjung di Batik Gunawan. Hal ini sesuai
dengan hasil wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan berikut
ini:
“Permasalahan tentang persaingan usaha atau bisnis, itu memang
sebuah ancaman bagi usaha ini, akan tetapi bukan merupakan
ancaman yang besar, karena bagi kami khususnya saya,
persaingan usaha itu wajar tapi persaingan yang sehat ya...nggak
pakai cara-cara kotor. Nah untuk mengantisipasi persaingan itu,
kita tunjukin aja kelebihan batik kita, gitu aja sih kalau saya.”
(wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 3
Mei 2012).
B. Proses / Tahapan Pelaksanaan Aktivitas Promosi
Untuk
dapat
menjalankan
dan
mengembangkan
aktivitas
promosinya, Batik Gunawan perlu menjalankan beberapa tahapan yang
disebutkan oleh Uyung Sulaksana (2003: 56), yaitu mengidentifikasi
audience sasaran, menentukan tujuan komunikasi, merancang pesan,
pemilihan saluran komunikasi, menetapkan total anggaran komunikasi,
memutuskan bauran komunikasi, mengukur hasil komunikasi, dan mengelola
proses komunikasi pemasaran terpadu.
B.1. Mengidentifikasi audiens sasaran
Aktivitas promosi yang dijalankan oleh Batik Gunawan ini
bertujuan untuk memperkenalkan merk serta produk Batik Gunawan
agar dapat dikenal oleh masyarakat dan target audience-nya sehingga
dapat meningkatkan jumlah pengunjung Batik Gunawan. Hal ini seperti
yang dijelaskan oleh Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
70
“Salah satu upaya yang kita lakukan supaya masyarakat tahu
mengenai batik Gunawan Setiawan ini ya dengan
memperkenalkan merek ini kepada target sasaran pemasaran
kami. Cara itu kita lakukan supaya produk-produk batik kami itu
dapat dikenal oleh target audience.” (wawancara dengan Bapak
Gunawan Setiawan pada tanggal 3 Mei 2012).
Dalam menetapkan target audience, Batik Gunawan Setiawan di
dasarkan pada:
a. Jenis kelamin: Laki-laki dan perempuan
b. Usia: 3– 50 Tahun
c. Status Ekonomi Sosial: B+ dan A (Kelas menengah keatas)
d. Geografis: Solo Jawa Tengah
e. Life style: Elegant
Bedasarkan wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan
menyatakan bahwa:
“Segmentasi dari Batik Gunawan adalah hampir semua kalangan
mulai dari anak-anak usia 3 tahun, remaja sampai usia dewasa.
Dengan mengambil segmentasi utama yaitu masyarakat kelas
menengah keatas, karena Batik Gunawan menyediakan produk
batik dengan kualitas yang baik, Batik Gunawan juga
menyediakan batik mulai dari harga Rp. 30.000,-” (wawancara
dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 3 Mei 2012).
Setelah menentukan target audience-nya, Batik Gunawan
menentukan tujuan komunikasi.
B.2. Tujuan Komunikasi
Tujuan komunikasi pemasaran yang ingin dicapai Batik Gunawan
adalah memberikan informasi kepada masyarakat tentang produk dan
keberadaan gerainya agar masyarakat dapat mengenal dan mengetahui
Batik Gunawan Setiawan.
71
Ada tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang ingin dicapai
oleh Batik Gunawan Setiawan. Tujuan jangka pendeknya adalah
Memperkenalkan produk dan merk Batik Gunawan Setiawan. Dan
tujuan jangka panjangnya adalah dapat meningkatkan jumlah pelanggan
Batik & Kabaya Mangkoro. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari
Bapak Gunawan Setiawan pada wawancara tanggal 3 Mei 2012,
menyatakan bahwa:
“Batik Gunawan Setiawan melaksanakan aktivitas promosi
dengan maksud agar masyarakat dapat mengenal dan tahu akan
keberadaan dari Batik Gunawan Setiawan. Dan nantinya dapat
meningkatkan jumlah pelanggan Batik Gunawan Setiawan”.
B.3. Merancang Pesan
Ada dua pesan yang terangkum dalam slogan Batik Gunawan.
Pada Batik Gunawan pesan yang disampaikan adalah “Batik Gunawan
Setiawan, Seni Batik Tulis Tradisional ”.
Dalam
merancang
pesannya,
Batik
Gunawan
berusaha
merangkum pesan yang mampu menggambarkan keunggulan, keunikan
produk Batik Gunawan serta pesannya mudah dipahami oleh
konsumen. Menurut hasil wawancara pada tanggal 3 Mei 2012 dengan
Bapak Gunawan Setiawan mengungkapkan bahwa:
“Pesan yang terangkum dalam slogan Batik Gunawan Setiawan,
Seni Batik Tulis Tradisional dimaksudkan agar dapat memberikan
gambaran kepada konsumen dapat memberikan informasi singkat
yang membuat suatu produk memiliki keunikan”.
72
B.4. Saluran Komunikasi
Pada tahap ini Batik Gunawan Setiawan memilih saluran
komunikasi yang akan digunakan dalam aktivitas promosi. Berdasarkan
pada wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan yang menjelaskan
bahwa:
Jadi dulu kampong Kauman ini dulu sudah ada, termasuk kami
Gunawan Setiawan. Awalnya promosinya sendiri-sendiri. Yang
tercepat saya lihat Gunawan Setiawan. Sebelum tahun 1986 itu
ada yang sudah maju dan ada juga yang stagnan. Ada yang naik
tapi lambat. Kalau Gunawan Setiawan itu dipegang anak-anak itu
naik pesat. Pesatnya ini punya niat untuk mensejahterakan.”
(wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 3
Mei 2012).
Berdasarkan hasil wawancara di atas, tampak bahwa media
promosi yang digunakan oleh batik Gunawan Setiawan dalam
menyampaikan produk yang ditawarkannya adalah dengan mengadakan
acara-acara atau event-event tentang batik, yang pada dasarnya
bertujuan untuk mengenalkan batik kepada masyarakat luas. Batik
Gunawan Setiawan sendiri tidak pernah memiliki media promosi yang
khusus, akan tetapi selalu menggunakan media-media sosial yang dapat
langsung berinteraksi dengan masyarakat, contoh kegiatan tersebut
adalah dengan judul “Ibu dan Anak Membatik”. Hal ini sesuai dengan
hasil wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
“Pernah kami mengadakan acara Ibu dan Anak Membatik, tujuan
awalnya adalah mengajari anak-anak membatik tapi tanpa diduga
ternyata itu juga menjadi ajang promosi bagi kami. Dahulu juga
kami mengadakan promosi lewat brosur. Sekarang we malah
agak santai.” (wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan
pada tanggal 3 Mei 2012).
73
Berdasarkan hasil kutipan wawancara di atas, dalam aktivitas
promosinya, batik Gunawan Setiawan hanya menggunakan saluran
komunikasi berupa komunikasi langsung dari penjual kepada pembeli,
dengan menggunakan metode persuasif yaitu berusaha meyakinkan
pembeli bahwa batik Gunawan Setiawan memiliki kualitas yang bagus
dengan harga yang terjangkau sesuai dengan kualitas produknya.
B.5. Mengalokasikan total anggaran promosi
Biaya yang dikeluarkan oleh batik Gunawan Setiawan dalam
mempromosikan produknya terdiri atas:
Tabel 3.1
Kegiatan Batik Gunawan Setiawan
No
1.
Tanggal
11 Oktober 2011
Keterangan
Banner Puasa di Kelurahan
Jumlah
150.000
Kauman
2.
14 Oktober 2011
Jogja Fashion Week
3.
16 Oktober 2011
Pameran batik di atrium Mall
2.200.000
500.000
Solo Paragon
4.
26 Oktober 2011
Promosi Jogja Fashion Week
74.000
5.
31 Oktober 2011
Tiket Jogja Fashion Week
150.000
6.
10 Desember 2011
Yellow Pages
230.611
7.
6 Februari 2011
Paket Pameran
357.000
8.
6 Februari 2011
Sewa Pameran
1.000.000
9.
26 Februari 2011
Pelunasan Dos Sutera
637.500
10.
17 Maret 2011
Banner Batik Gunawan
200.000
11.
27 Maret 2011
Penyelenggaraan acara “Ibu
5.000.000
dan Anak Membatik”
TOTAL
10.499.111
74
Biaya yang dikeluarkan tersebut diambil dari kas keuangan batik
Gunawan Setiawan, tanpa menggunakan sponsor. Saat memulai
bisnisnya modal awal tidak menggunakan pinjaman apapun dan selama
menjalankan usahanya, Batik Gunawan Setiawan memiliki manajerial
yang baik dalam memanage keuangannya, mereka memiliki laporan
keuangan berupa neraca, laporan laba/rugi, dan kegiatan surat menyurat
yang baik pula. Sehingga mereka dapat mengetahui seberapa besar laba
kotor dan laba bersih dari seluruh total penjualan yang ada. Hal ini
sesuai dengan penjelasan yang disampaikan oleh Bapak Gunawan
Setiawan berikut ini:
“Awal mula saya merintis usaha ini, saya tidak pinjam modal ke
mana-mana, saya hanya pakai tabungan saya sendiri. Yang
namanya pake tabungan sendiri, ya modalnya cuma kecil, usaha
yang kami lakukan juga masih kecil-kecilan saja. Tapi
alhamdulillah berkat keuletan dan kesolidan sistem manajerial
usaha ini, kami bisa sampai sekarang yang anda lihat ini.”
(wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 3
Mei 2012).
B.6. Memutuskan mengenai bauran promosi
Bauran promosi dapat dibagi menjadi empat elemen yaitu
advertising, public relations, personal selling, dan sales promotion,
yang dijelaskan sebagai berikut ini:
75
a. Advertising (periklanan)
Periklanan
yang
digunakan
Batik
Gunawan
dalam
menawarkan produknya adalah dengan menggunakan iklan di
website. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Bapak
Gunawan Setiawan berikut ini:
“Kami sudah memiliki website, pada akun jejaring sosial
facebook, tapi saat ini masih dalam tahap pembaharuan, jadi ya
belum bisa diakses oleh masyarakat.” (wawancara dengan
Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Pada umumnya iklan di website yang menjelaskan tentang
produk-produk Batik Gunawan adalah pada akun jejaring sosial
Facebook milik Bapak Gunawan Setiawan. Pada media sosial ini,
Batik Gunawan Setiawan memajang beberapa gambar koleksi batik
yang dijual. Media lain yang digunakan oleh batik Gunawan
Setiawan adalah berupa majalah, yaitu majalah Kartini. Iklan yang
ditayangkan oleh batik Gunawan Setiawan di majalah Kartini
berupa koleksi-koleksi batik yang dimiliki oleh batik Gunawan
Setiawan, serta penambahan alamat toko yang ditulis selengkaplengkapnya, dengan tujuan supaya pembeli tahu alamt tersebut dan
langsung berkunjung ke toko. Hal ini diperkuat oleh pernyataan
salah seorang pengunjung yaitu Hj. Fauziah berikut ini:
“Saya tahu ada toko batik Gunawan Setiawan ya dari
majalah...majalah Kartini....trus waktu anak saya buka
internet, dia juga bilang kalau koleksi baju maupun kain di
batik Gunawan bagus, jadi saya putuskan untuk datang
langsung ke sini, mumpung lagi di Solo” (wawancara dengan
salah seorang responden pada tanggal 4 Juni 2012).
76
b. Personal Selling (penjualan personal)
Aktivitas promosi berupa personal selling komunikasi timbal
balik antara pembeli dengan pramuniaga yang bekerja di gerai
batik Gunawan Setiawan. Bentuk komunikasi dari personal selling
adalah berupa ucapan persuasif yang dilakukan oleh pramuniaga
terhadap pengunjung atau calon pembeli batik Gunawan yang
datang ke gerai. Tata cara pelaksanaan ucapan persuasif tersebut
adalah ketika pengunjung menanyakan harga dari produk yang
ditawarkan di gerai, kemudian pramuniaga menjawabnya dan
selanjutnya berusaha untuk menawarkan produk-produk lain yang
dijual di gerai tersebut. Tujuan dari ucapan persuasif tersebut
adalah supaya ketika pengunjung telah memilih produk yang
disenangi, pengunjung menjadi tahu mengenai produk-produk lain
yang dijual di gerai tersebut. Kelebihan dari aktivitas promosi ini
adalah lebih cepat berinteraksi dengan pengunjung dan memiliki
waktu yang banyak dalam merayu pengunjung supaya tertarik
membeli produk-produk yang lain. Hal tersebut sesuai dengan hasil
wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
77
“Untuk strategi promosi berupa penjualan personal, kita
menggunakan metode persuasif, maksudnya metode ini
dilakukan oleh pramuniaga di toko kami. Pramuniaga tersebut
melakukan tindakan-tindakan seperti ketika ada pengunjung
datang, mengucapkan salam selamat datang, kemudian ketika
pengunjung menanyakan harga atau butuh pelayanan lain, ya
dilayani, sampai pada akhirnya ketika pengunjung itu hendak
membayar barang yang dibelinya, pramuniaga baru
melancarkan metode persuasif itu dengan menawarkan barang
atau produk lain yang kita jual, dengan menyebutkan
keunggulan-keunggulannya, sehingga pengunjung itu tertarik
untuk menambahkan barang itu ke dalam daftar belanjaannya.”
(wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 4
Juni 2012).
Pernyataan di atas diperkuat dengan kutipan wawancara seorang
pengunjung bernama Hj. Fauziah berikut ini:
“Waktu saya pertama kali masuk toko, saya disambut dengan
senyuman dan ucapan selamat datang dari pelayan toko...trus
pas mau bayar, sama kasirnya ditawarin produk atau koleksi
lain dari batik Gunawan, yang bagus-bagus...saya senang
belanja di sini..pelayanannya memuaskan” (wawancara pada
tanggal 4 Juni 2012).
c. Promosi Penjualan (Sales Promotion)
Promosi penjualan merupakan berbagai ragam alat-alat
promosional berupa intensif jangka pendek yang dirancang untuk
menstimulir pasar yang dituju agar segera memberi respon
(tindakan) atas penawaran yang diberikan. Kegiatan promosi
berupa sales promotion dilakukan ketika Batik Gunawan Setiawan
menggelar event-event tertentu atau ketika ikut ambil bagian dalam
pameran-pameran batik di berbagai wilayah di Indonesia. Kegiatan
yang dilakukan oleh sales promotion baik laki-laki maupun
perempuan adalah dengan memberikan sebuah brosur atau
78
selebaran kepada pengunjung yang datang ke event-event atau
pameran yang diikuti oleh Batik Gunawan Setiawan. Tujuan dari
promosi ini adalah untuk menjual batik, akan tetapi tujuan awal
dari promosi ini adalah supaya masyarakat tahu terlebih dahulu
mengenai Batik Gunawan dan produk-produk yang dijual. Hal
tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan Bapak Gunawan
Setiawan berikut ini:
“Brosur memang menjadi salah satu cara promosi penjualan
kami. Brosur itu dibagikan pada waktu kita menggelar eventevent batik di suatu tempat. Di situ kami menggunakan
bantuan seseorang untuk menyebarkan brosur tersebut,
kemudian menawarkan kepada konsumen jika ingin melihatlihat atau membeli produk batik Gunawan, dapat dijumpai di
salah satu gerai atau stand, atau bahkan bisa datang ke toko
kami di Kauman.” (wawancara dengan Bapak Gunawan
Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
d. Hubungan Masyarakat (Public Relations)
Salah satu bauran promosi yang digunakan oleh Batik
Gunawan dalam menjual produk-produknya adalah dengan upaya
pendekatan hubungan masyarakat. Aplikasi tindakannya adalah
salah satu karyawan dari batik Gunawan terjun langsung ke
masyarakat, dan berupaya berinteraksi dengan masyarakat tentang
produk-produk
kerajinan
batik
yang
memiliki
keefektifan
penggunaan yang lebih intens. Upaya tersebut bertujuan supaya
ketika diketahui kebutuhan masyarakat tentang kerajinan batik
yang sangat sering digunakan oleh masyarakat, tim pengrajin batik
dari batik Gunawan Setiawan dapat langsung merealisasikan
79
keinginan
masyarakat
tersebut
supaya
ketika
masyarakat
mengetahui bahwa produk yang dibutuhkan dapat dijumpai di batik
Gunawan Setiawan, mereka langsung akan membelinya ke batik
Gunawan.
Selain bertujuan untuk mengetahui keinginan masyarakat
mengenai kerajinan batik yang sering dibutuhkan oleh masyarakat,
tujuan
lain
dari
kegiatan
public
relation
adalah
untuk
mempromosikan produk-produk yang dijual di gerai batik
Gunawan dan berusaha meyakinkan masyarakat bahwa produkproduk tersebut memiliki kualitas yang baik dengan harga yang
bervariasi. Penjelasan di atas sesuai dengan hasil wawancara
terhadap Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
“Salah satu cara yang kita gunakan untuk mengetahui keinginan
masyarakat tentang batik, kita mengirim beberapa orang karyawan
kita untuk terjun langsung ke masyarakat, mencari tahu apa yang
dibutuhkan oleh masyarakat...khususnya batik atau produk-produk
tradisional yang lebih dibutuhkan masyarakat.” (wawancara
dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
B.7. Mengukur Hasil Promosi
Pengukuran dari hasil kegiatan promosi yang telah dilakukan
adalah dengan meninjau hasil penjualan. Kesuksesan bauran promosi
yang digunakan dalam mempromosikan produk-produk batik Gunawan
dapat diketahui dari hasil penjualannya. Hasil penjualan dapat
dibandingkan ketika sebelum menggunakan bauran promosi dalam
menjual produk-produk batik Gunawan Setiawan dan sesudah
diaplikasikan bauran promosi dalam menjual produk-produknya.
80
Setelah diketahui jumlah hasil penjualan baik sebelum maupun sesudah
penggunaan bauran promosi, dapat dibandingkan sejauh mana
keefektifan metode promosi yang digunakan terhadap peningkatan
penjualan produk-produk batik Gunawan. Hal ini sesuai dengan
penjelasan dari Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
“Secara logikanya ya...untuk sukses atau tidaknya penggunaan
bauran promosi penjualan itu adalah dengan membandingkan
besarnya pendapatan ketika sebelum menggunakan promosi
penjualan, dengan besarnya pendapatan setelah menggunakan
promosi penjualan...nah..dari situ kan kelihatan berapa
perbandingannya...dari situ kan bisa dianalisis apakah penggunaan
promosi itu efektif atau tidak.” (wawancara dengan Bapak
Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan,
diketahui
bahwa
hasil
penjualan
produk-produk
batik
setelah
menggunakan bauran promosi yang telah disebutkan sebelumnya
menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil
penjualan sebelum menggunakan bauran promosi. Hal ini disebabkan
karena sebelum penggunaan bauran promosi, lingkup promosi hanya
berupa komunikasi dari mulut ke mulut yang hanya dapat menjangkau
cakupan
wilayah
yang
sempit
saja,
berbeda
halnya
setelah
menggunakan bauran promosi, hasilnya menjadi meningkat karena
cakupan wilayah promosi dapat terjangkau sampai seluruh wilayah
Indonesia dengan menggunakan media iklan baik di TV dan koran atau
majalah. Berikut ini adalah kutipan hasil wawancara dengan Bapak
Gunawan Setiawan, yang dilakukan pada tanggal 4 Juni 2012:
81
“Hasilnya memang jauh berbeda setelah menggunakan bauran
promosi penjualan...hasilnya ya jelas meningkat karena kalau
sebelum menggunakan bauran promosi penjualan, kan hanya dari
mulut ke mulut, cakupannya sempit...sementara setelah
menggunakan bauran promosi cakupannya menjadi luas, bisa
sampai ke penjuru nusantara, bahkan sampai ke luar negeri,
melalui media website.”
B.8. Mengatur dan mengelola komunikasi pemasaran terpadu
Pengaturan dan pengelolaan komunikasi pemasaran terpadu yang
digunakan batik Gunawan Setiawan dalam mempromosikan produkproduknya adalah dengan mengevaluasi atas bauran promosi yang telah
digunakan dalam jangka waktu sekitar satu bulan, sehingga dapat
sesegera mungkin mengambil langkah untuk mengoptimalkan tujuan
promosi yang dilakukan. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara
terhadap Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
“Untuk evaluasi tentang penggunaan bauran promosi penjualan,
kita biasanya melakukannya dalam jangka waktu satu bulan. Ini
kita lakukan supaya sesegera mungkin kita bisa mengetahui
kesuksesan bauran promosi yang kita gunakan itu.” (wawancara
dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Tujuan promosi secara umum adalah untuk mencapai tiga tahap
perubahan yaitu:
a. Perubahan Pengetahuan
Pada tahap ini, batik Gunawan berusaha untuk memberitahukan
pengetahuan
kepada
masyarakat
atau
konsumen
tentang
keberadaan, bentuk, dan target market dari batik Gunawan.
82
b. Perubahan Sikap
Tahap perubahan sikap yang dikehendaki oleh manajemen batik
Gunawan Setiawan terhadap konsumennya yang telah melihat
promosi batik Gunawan Setiawan adalah supaya konsumen atau
masyarakat berubah sikap terhadap batik Gunawan Setiawan yang
berusaha ingin lebih mengetahui bahkan ingin membeli produk
batik Gunawan Setiawan yang ditawarkan.
c. Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku yang diharapkan adalah berupa perubahan
perilaku masyarakat agar tidak beralih ke produk batik lain, dan
supaya konsumen terbiasa menggunakan produk batik Gunawan
Setiawan.
C. Analisis Strategi Promosi Batik Gunawan Setiawan
Sistematika pembahasan strategi promosi Batik Gunawan yang telah
dikemukakan dalam analisa situasi, serta melakukan beberapa tahapan
promosi untuk mengembangkan promosi agar berjalan lebih efektif. Aktivitas
promosi yang dijalankan oleh Batik Gunawan meliputi periklanan
(advertising), public relation, sales promotion, dan personal selling.
Dari hasil sajian data yang telah disajikan diatas, maka dapat diketahui
bahwa Batik Gunawan merupakan perusahaan yang bergerak pada industri
batik yang berada pada wilayah Solo Jawa Tengah. Batik Gunawan Setiawan
memberikan berbagai informasi yang berkaitan dengan produk Batik
83
Gunawan Setiawan, menggunakan berbagai aktivitas promosi melalui
berbagai media saluran komunikasi. Tujuan dilaksanakan aktivitas tersebut
adalah untuk menginformasikan
kepada masyarakat tentang produk dan
keberadaan gerainya agar masyarakat dapat mengenal dan mengetahui Batik
Gunawan Setiawan, karena sebagian besar konsumen masih belum
mengetahui merk dan informasi tentang Batik Gunawan Setiawan. Hal
tersebut sesuai dengan hasil wawancara terhadap Bapak Gunawan Setiawan
berikut ini:
“Ya alasannya simpel aja dong, kenapa kita pakai bauran promosi
penjualan itu...simpelnya ya Cuma bertujuan supaya masyarakat tahu
tentang keberadaan batik Gunawan Setiawan, dengan berbagai
macam produknya..itu aja.” (wawancara dengan Bapak Gunawan
Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Berdasarkan hasil penelitian, permasalahan yang dihadapi oleh Batik
Gunawan Setiawan adalah merk serta produk dari Batik Gunawan Setiawan
belum banyak dikenal oleh masyarakat. Sehingga Batik Gunawan Setiawan
berusaha lebih giat lagi dalam memperkenalkan merek dan produk Batik
Gunawan Setiawan dengan berbagai aktivitas promosi. Karena dalam dunia
bisnis usaha dagang, peran promosi sangat penting terutama dalam
memperlancar kegiatan pemasaran dari barang ataupun jasa yang akan
ditawarkan perusahaannya kepada konsumen sasarannya sesuai dengan target
yang diinginkan perusahaan. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara
terhadap Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
84
“Seperti yang saya jelaskan tadi tentang alasan menggunakan bauran
promosi...tidak jauh beda dengan yang anda tanyakan barusan...kita
menggunakan atau mengaplikasikan bauran promosi itu karena merek
dagang kita itu belum dkenal oleh masyarakat....di Solo ini kan
banyak pengusaha batik, jadi akan sangat sulit bagi masyarakat ketika
harus berpikir tertuju pada satu merek...oleh karena itu, selain dengan
bauran promosi yang lebih efektif dan menarik, kita juga berusaha
mempertahankan mutu batik kami.” (wawancara dengan Bapak
Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Sebelum menyusun aktivitas promosinya, terlebih dahulu Batik
Gunawan mengganalisisnya dengan pengawasan lingkungan (enviromental
monitoring) atau biasa disebut analisis situasi (situation analysis) yang terdiri
dari aspek internal dan external perusahaan atau sering disebut dengan istilah
SWOT yaitu Strenght (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity
(peluang), dan Threat (ancaman). Dari hasil analisis yang telah dilakukan
oleh Batik Gunawan mampu membantu dalam merumuskan perencanaan
aktivitas promosi yang akan digunakan. Penggunaan analisis ini tepat
digunakan sebelum melakukan aktivitas promosi yang akan dijalankan,
karena dapat menekan anggaran biaya agar praktiknya berjalan dengan efektif
dan dapat menghindari pemborosan. Penjelasan tersebut sesuai dengan
penjelasan Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
“Sebelum menentukan bauran promosi...atau sebelum kita
memutuskan menggunakan promosi dalam penjualan produk
kami...tentunya banyak unsur yang menjadi bahan pertimbangan
kami, yaitu kekuatan yang kami miliki, kelemahan dari produk kami
atau kelemahan sistem manajemen kami, peluang dari keikutsertaan
merek dagang kami dalam persaingan bisnis penjualan batik, serta
yang terakhir adalah ancaman dari pesaing kami. Kesemua unsur
tersebut kita olah..untuk kemudian kita menentukan bauran promosi
yang digunakan.” (wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan
pada tanggal 4 Juni 2012).
85
Tahapan pertama yang dilakukan agar dapat mengembangkan serta
membuat komunikasi dapat berjalan dengan efektif yang harus dilakukan
oleh Batik Gunawan adalah mengidentifikasi dengan jelas target audience
sasaran yang akan dituju dengan tujuan agar komunikasi dapat berjalan
dengan efektif. Menurut Uyung Sulaksana (2007: 51), mengatakan bahwa
proses komunikasi pemasaran mesti diawali dengan pendefinisian yang jelas
tentang audience sasaran. Proses pendefinisian yang jelas tentang audience
sasaran, kepada siapa pesan ditujukan, karena target audience sangat
mempengaruhi keputusan komunikator tentang apa, bagaimana, kapan, di
mana, dan kepada siapa pesan hendak disampaikan. Penentuan segmentasi
pasar merupakan suatu aktivitas yang dilakukan untuk membagi dan
menentukan calon konsumen secara spesifik berdasarkan jenis kelamin, usia,
Status Ekonomi Sosial (SES), letak geografis maupun gaya hidup dari target
konsumen. Segmentasi dari Batik Gunawan adalah hampir semua klasifikasi
golongan mulai dari orangtua, dewasa, remaja dan anak-anak. Hal ini sesuai
dengan hasil wawancara terhadap Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
“Segmentasi atas target pemasaran produk kami adalah mulai dari
kalangan anak-anak sampai orang tua.” (wawancara dengan Bapak
Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Dalam membidik pasarnya, Batik Gunawan Setiawan mempunyai target
market dengan klasifikasi kelas menengah ke atas. Segmentasi pasar akan
membantu perusahaan untuk dapat memuaskan konsumen. Secara efekif,
menjamin mereka kembali dan menciptakan loyalitas konsumen (Lupiyadi,
2001:39).
86
Segmentasi merupakan faktor kunci untuk mengalahkan pesaing,
dengan memandang pasar dari sudut yang unik dan cara yang berbeda dari
yang dilakukan pesaing. Batik Gunawan dalam hal ini sangat jeli dalam
membidik segmentasi kalangan menengah ke atas sehingga kualitas produk
sangat dijaga oleh Batik Gunawan untuk dapat terus membangun
kepercayaan terhadap konsumen. Hal ini sesuai dengan wawancara terhadap
Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
”Ya..memang sasaran kami adalah dari kalangan menengah ke atas,
karena batik produksi kami memang untuk bahannya, kami gunakan
kualitas yang baik. Bagi kami kepuasan pelanggan dengan produk
kami yang berkualitas lebih penting daripada mengejar omset
penjualan yang banyak tapi kualitasnya pasaran. Intinya kami lebih
mementingkan mutu produk kami ke depannya..begitu.” (wawancara
dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Proses pengidentifikasian audience sasaran ini sangat mempengaruhi
keputusan komunikator tentang apa, bagaimana, kapan, dimana dan kepada
siapa pesan hendak disampaikan. Dengan adanya identifikasi target audience,
tentunya dapat mempermudah pesan yang akan disampaikan, dan tepat
tersampaikan kepada khalayak sasaran.
Tahapan yang kedua, adalah menentukan tujuan komunikasi. Menurut
Uyung Sulaksana (2007 : 56) komunikator pemasaran harus merumuskan
respon audience yang diinginkan. Tujuan utama komunikasi adalah
menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk serta mengingatkan target
audience tentang perusahaan dengan bauran pemasarannya, sehingga pesanpesan yang disampaikan bersifat informatif. Pada dasarnya fungsi, tugas dan
tujuan komunikasi pemasaran Batik Gunawan Setiawan adalah untuk
87
memperkenalkan Batik Gunawan Setiawan.
Dengan adanya proses
pengenalan tersebut dapat membuka peluang besar masyarakat mulai tertarik
dan menjadikan merk dari Batik Gunawan Setiawan ada di benak konsumen.
Seperti yang dikatakan oleh Freddy Rangkuti, bahwa: promosi yang bersifat
informatif ini lebih disukai dan dilakukan pada tahap-tahap awal dalam siklus
kehidupan produk. Promosi yang yang bersifat informatif ini membantu
konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli. (Rangkuti 2009 : 5253)
Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, Batik Gunawan berusaha
menjalin hubungan yang lebih baik dengan konsumen, dan selalu berusaha
meningkatkan kualitas produk dan pelayanan yang terbaik untuk para
pelanggan dan calon pelanggan. Fungsi marketing pemasaran bagi Batik
Gunawan Setiawan adalah memberikan output berupa rencana pemasaran
serta promosi pemasaran. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara terhadap
Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
“Tujuan komunikasi yang kami lakukan semata-mata adalah untuk
mengetahui keinginan masyarakat, oleh karena itu kami senantiasa
berusaha untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan
konsumen, serta meningkatkan kualitas produk dan pelayanan.”
(wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni
2012).
Sedangkan Uyung Sulaksana (2003: 60) menyatakan bahwa tujuan
komunikasi ini dikategorikan dapat menambah persepsi pelanggan terhadap
suatu kebutuhan, dapat memperkenalkan dan memberi pemahaman tentang
suatu produk kepada konsumen (brand awareness), mendorong pemilihan
terhadap merk, dapat membujuk pelanggan untuk membeli, dapat
88
mengimbangi kelemahan unsur bauran pemasaran lain, dan dapat
menanamkan citra dan perusahaan dibenak konsumen. Dengan menetapkan
tujuan komunikasinya, maka tujuan yang akan dicapai Batik Gunawan
Setiawan dapat terarah yang diharapkan dapat dikenal oleh khalayak dan
dapat menjadikan merk dari Batik Gunawan Setiawan ada di benak
konsumen. Selain itu adanya tujuan tersebut, perusahaan akan lebih tahu,
bagaimana cara yang akan digunakan untuk dapat memperkenalkan serta
memberikan suatu pemahaman kepada konsumen sehingga dapat membujuk
konsumen untuk melakukan pembelian produk yang ditawarkan. Dalam
tujuan komunikasi ini mencakup banyak hal dalam pencapaian keberhasilan
komunikasi pemasaran.
Tahapan yang ketiga yaitu: merancang pesan. Komunikator harus
memikirkan
bagaimana
penyusunan
rancangan
pesan
yang
akan
dikomunikasikan dan bagaimana penyampaian pesannya. Keberhasilan
komunikasi
pemasaran
secara
tidak
langsung
berhubungan
dengan
komunikasi yang efektif dan efisien sehingga isi pesan, struktur pesan
maupun format pesan harus disesuaikan dengan tujuan komunikasi, serta
kesesuaian dengan produknya (Sulaksana, 2007: 28).
Ada pesan yang terangkum dalam slogan Batik Gunawan, yaitu “Seni
Batik Tulis Tradisional”. Pesan yang terangkum dalam slogan tersebut adalah
Batik Gunawan Setiawan ingin menggambarkan bahwa produknya adalah
karya orisinil dari Batik Gunawan Setiawan yang dibuat secara ekslusif untuk
konsumennya dengan menggunakan tehnik tulis tradisional. Dengan adanya
89
kemenarikan yang terangkum dalam pesan “Seni Batik Tulis Tradisional”
tentunya dapat menimbulkan minat yang dapat memicu keinginan serta
mendorong konsumen untuk melakukan pembelian. Hal ini sesuai dengan
penjelasan yang disampaikan Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
“Slogan dari batik kami adalah Seni Batik Tulis Tradisional. Slogan
tersebut ada maknanya, yaitu pada kata seni batik tulis...yang
namanya batik tulis itu kan, hasil tulisan kan bukan dari cap, kalau
cap itu kan berarti akan banyak jumlahnya, sementara kalau batik tulis
itu terbatas karena hasil karya tulisan dari pengrajin batik, meskipun
motifnya sama akan tetapi setiap pembuatnya memiliki ciri
tersendiri....sedangkan untuk arti kata tradisional adalah batik
Gunawan masih mengedepankan unsur-unsur tradisional, karena bagi
kami tradisional itu klasik dan memiliki makna sendiri dibalik
pengungkapannya....jadi, secara umum makna dari slogan Batik Tulis
Tradisional adalah batik Gunawan ingin menggambarkan bahwa
produk kami adalah karya orisinil, yang dibuat secara eksklusif,
menggunakan teknik tulis tradisional.” (wawancara dengan Bapak
Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Uyung Sulaksana, menjelaskan bahwa idealnya, pesan tersebut harus menarik
perhatian (attention), menimbulkan minat (interest), memicu keinginan
(desire), dan mendorong orang untuk berbuat (action). Pesan harus dapat
menarik perhatian (attention), menimbulkan niat (interest), memicu
keinginan (desire), dan mendorong orang untuk berbuat (action) sebagaimana
model AIDA yang dapat menggambarkan ciri-ciri ideal komunikasi.
(Sulaksana, 2007 : 60)
Tahapan yang keempat, yaitu bagaimana memilih saluran komunikasi.
Batik Gunawan memilih media yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat,
yaitu website, khususnya situs jejaring sosial facebook. Dengan itu, pesan
yang disampaikan dapat memperoleh hasil yang diharapkan, yaitu konsumen
percaya terhadap merek Batik Gunawan Setiawan yang nantinya dapat
90
menimbulkan tindakan pembelian pada konsumen. Hal tersebut sesuai
dengan hasil wawancara terhadap Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
“Kami sudah memiliki website, pada akun jejaring sosial facebook,
tapi saat ini masih dalam tahap pembaharuan, jadi ya belum bisa
diakses oleh masyarakat.” (wawancara dengan Bapak Gunawan
Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Tahapan yang kelima, bagaimana penetapan anggaran komunikasi.
Dalam menetapkan seberapa besar biaya promosi yang harus dianggarkan,
penetapan jumlah anggaran untuk periklanan yang dilakukan oleh Batik
Gunawan adalah Metode Tujuan dan Tugas, yaitu dengan cara menetapkan
tujuan promosi yang khas, menetapkan kegiatan untuk mencapai tujuan, dan
memperkirakan biaya pelaksanaan kegiatannya. Menurut Machfoedz, Metode
Tujuan dan Tugas merupakan metode penetapan anggaran yang paling logis
yang
digunakan
perusahaan
untuk
menetapkan
anggaran
promosi
(Machfoedz, 2010: 9-11). Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Bapak
Gunawan Setiawan berikut ini:
“Untuk penetapan besarnya jumlah anggaran yang kita anggarkan
untuk kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan promosi batik,
kami mencoba menganalisisnya dengan menggunakan metode tujuan
dan tugas, artinya anggaran yang hendak kita keluarkan itu tujuannya
untuk apa, selanjutnya tugas itu menjadi tanggung jawab
siapa..semuanya harus jelas..dan semuanya itu merupakan bagian dari
penentuan bauran promosi yang kita gunakan.” (wawancara dengan
Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Tahapan yang keenam yaitu, memutuskan bauran komunikasi. Batik
Gunawan Setiawan berusaha memasarkan produknya agar dapat sejajar
dengan kompetitornya dengan cara menggunakan berbagai media komunikasi
yang dirasa efektif dalam mempromosikan produknya. Bauran komunikasi
91
yang dilakukan oleh Batik Gunawan Setiawan mencakup seluruh sarana
promosi, yaitu: advertising, sales promotion, personal selling, dan public
relation. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara terhadap Bapak
Gunawan Setiawan berikut ini:
“ya..kami memilih menggunakan bauran promosi yang tadi sudah
saya jelaskan...ya supaya bisa memasarkan produk kami secara
maksimal, ya paling enggak bisa sejajar dengan pengusaha batik yang
telah lebih dahulu sukses.” (wawancara dengan Bapak Gunawan
Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Perusahaan harus dapat memadukan keseluruhan bauran pemasaran
agar dapat efektif mengkomunikasikan pesan yang konsisten kepada
konsumen. Tujuan dari pemakaian bauran pemasaran adalah jika terdapat
kekurangan dalam salah satu sarana komunikasi yang satu, dapat ditutupi
oleh sarana komunikasi yang lain. Karena pada dasarnya setiap alat promosi
mempunyai karakter yang berbeda-beda.
Tahapan
berikutnya
yaitu
tahapan
ketujuh,
mengukur
hasil
komunikasi. Untuk mengukur hasil penjualan produk, maka setiap bulannya
diadakan evaluasi hasil penjualan. Penaikan serta penurunan angka penjualan
Batik Gunawan Setiawan berhubungan dengan efektivitas komunikasi
pemasaran yang dijalankan. Dalam mengukur keefektifan hasil komunikasi,
Batik Gunawan menggunakan ukuran dengan tingkat kunjungan kembali dan
hasil volume penjualan. Melalui hal tersebut perusahaan bisa mengukur dan
mengetahui sampai dimana kesetiaan pelanggan terhadap Batik Gunawan
Setiawan. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara terhadap Bapak
Gunawan Setiawan berikut ini:
92
“Pengukuran hasil komunikasi berarti merupakan hasil dari bauran
komunikasi yang kita gunakan, ini berarti bahwa dari bauran promosi
yang kita gunakan akan diketahui hasilnya dari jumlah penjualan
produk dan tingkat kepuasan pelanggan yang ditunjukkan dengan
frekuensi kunjungan kembali para pelanggan ke toko batik
Gunawan.” (wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan pada
tanggal 4 Juni 2012).
Tahapan yang terakhir yaitu mengelola proses komunikasi pemasaran
terpadu. Dalam mengelola proses komunikasi pemasarannya, Batik Gunawan
Setiawan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Perusahaan
berusaha memberikan berbagai pelayanan dan fasilitas yang memudahkan
bagi konsumennya untuk berbelanja melalui berbagai bauran komunikasi
mulai dari advertising (iklan) di website, penawaran terhadap konsumen pada
setiap event-event yang diselenggarakan Batik Gunawan, penjualan langsung
di butik batik Gunawan, serta pendekatan terhadap masyarakat melalui public
relation. Seluruh bauran promosi yang dipilih dan digunakan oleh Batik
Gunawan tersebut semata-mata bertujuan untuk dapat membangun kesadaran
merk pada konsumen. Selain itu, Batik Gunawan berusaha mengelola proses
komunikasi pemasaran dengan baik serta dilakukan secara rutin dan terus
menerus. Penjelasan tersebut seperti yang dijelaskan oleh Bapak Gunawan
Setiawan berikut ini:
“Pengelolaan komunikasi pemasarannya kami selalu mngikuti
perkembangan teknologi, misalnya saja...sekarang ini kan eranya
dunia maya ya...sekarang tu kalau berkomunikasi atau mencari
informasi sedetil mungkin itu kan pakai internet. Nah dari situ kita
juga mencoba menggunakan internet untuk promosi kami.”
(wawancara dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni
2012).
93
Dengan dilakukannya kedelapan tahapan yang dilakukan oleh Batik
Gunawan Setiawan secara berurutan, tentunya komunikasi yang dijalankan
dapat berjalan secara terstruktur dan dapat berjalan dengan efektif karena
setiap tahapan yang satu dengan tahapan yang lain saling terkait dan saling
mempengaruhi. Promosi Batik Gunawan dilatarbelakangi oleh banyaknya
produk-produk batik di Solo, sehingga Batik Gunawan berusaha terus
menerus mengeluarkan inovasi produk batik terbarunya untuk dapat
mengembangkan bisnisnya. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara terhadap
Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
“Latar belakang yang paling utama kami menggunakan bauran
promosi dalam memasarkan produk kami adalah karena saat ini sudah
banyak sekali pengusaha batik, di setiap daerah pasti banyak sekali,
khususnya di Solo ini...nah dalam mengantisipasi kehilangan pasar,
kami mencoba untuk melakukan inovasi-inovasi produk batik, yang
kemudian dipromosikan melalui strategi promosi.” (wawancara
dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Selanjutnya, Batik Gunawan juga menentukan bauran komunikasi
yang akan digunakan. Untuk mengkomunikasikan variable-variable dalam
bauran komunikasi bertujuan untuk mencapai tujuan program yang telah
direncanakan. Sesuai dengan pernyataan Swasta dan Irawan yang
menyatakan bahwa, bauran promosi adalah kombinasi strategi yang paling
baik dari variable-variabel periklanan, personal selling, dan alat promosi
yang lain, yang semuanya direncanakan untuk mencapai tujuan program
penjualan. (Swastha dan Irawan,1993:349).
Penggunaan berbagai bauran komunikasi melalui berbagai bentuk
komunikasi ini bertujuan agar dapat mempengaruhi konsumen dan promosi
94
dapat berjalan lebih efektif. Karena menurut Uyung Sulaksana, setiap alat
promosi punya karakter kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Untuk itu,
dalam mengkomunikasikan suatu produk hendaknya memakai berbagai
media agar komunikasi bisa lebih efektif. Bauran komunikasi pemasaran
yang dapat digunakan di dalam komunikasi persuasif. (Sulaksana, 2003 : 25)
Dalam mengkomunikasikan suatu produk agar dapat meningkatkan
penjualan, maka Batik Gunawan memakai berbagai promosi yang biasanya
disebut dengan promotion mix (bauran promosi) agar komunikasi bisa lebih
efektif, karena kekurangan dari alat promosi yang satu dapat ditutupi dengan
alat promosi yang lainnya. Hal ini seperti yang dijelaskan Bapak Gunawan
Setiawan berikut ini:
“Komunikasi merupakan faktor paling penting dari suatu strategi
promosi. Dalam mengkomunikasikan produk yang kami ciptakan,
kami menggunakan berbagai bentuk promosi, penggunaan berbagai
bentuk promosi itu karena jika salah satu bentuk promosi itu tidak
dapat sukses memasarkan produk kami, kami bisa menggunakan
bentuk yang lain, jadi istilahnya saling melengkapi antara bentuk
promosi yang satu dengan bentuk promosi yang lainnya.” (wawancara
dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 4 Juni 2012).
Menurut Uyung Sulaksana, setiap alat promosi punya karakter
kekurangan
dan
kelebihan
sendiri-sendiri.
Untuk
itu,
dalam
mengkomunikasikan suatu produk hendaknya memakai berbagai media agar
komunikasi bisa lebih efektif. Bauran komunikasi pemasaran yang dapat
digunakan di dalam komunikasi persuasif (Sulaksana, 2003 : 25).
95
BAB IV
PENUTUP
C. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa untuk dapat mengembangkan aktivitas promosi agar tetap berjalan
dengan efektif harus melakukan tahapan mengidentifikasi target audience,
menentukan tujuan promosi, merancang pesan, memilih saluran promosi,
menetapkan total anggaran promosi, memutuskan bauran promosi, mengulur
hasil promosi, dan mengelola proses komunikasi pemasaran terpadu.
Aktivitas promosi yang dilakukan oleh Batik Gunawan Setiawan
dalam menarik minat konsumen untuk membeli produknya melakukan
aktivitas promosi dengan memfokuskan pada periklanan, khususnya media
internet berupa website pada salah satu situs jejaring sosial facebook. Hal
tersebut juga didukung dengan kegiatan promosi penjualan yang didukung
dengan personal selling, sales promotion, serta public relation.
1. Kegiatan periklanan yang dijalankan meliputi iklan media internet yaitu
dengan menggunakan situs sosial pertemanan facebook, dengan
menampilkan barang-barang yang dijual pada koleksi foto, yang
selanjutnya dishare kepada teman-teman yang telah bergabung menjadi
teman dari akun tersebut.
96
2. Kegiatan promosi berupa sales promotion dilakukan ketika batik
Gunawan Setiawan menggelar event-event yang berhubungan dengan
batik atau ikut berpartisipasi dalam pameran batik.
3. Kegiatan yang dilakukan sales promotion adalah menawarkan kepada
konsumen atau pengunjung tentang produk-produk dari batik Gunawan
Setiawan dan menjelaskan kualitasnya. Pada kegiatan promosi berupa
personal selling adalah kegiatan yang dilakukan oleh pramuniaga di butik
Batik Gunawan Setiawan dengan menggunakan metode penawaran yang
persuasif sehingga dapat membuat konsumen mengikuti tawarannya.
4. Kegiatan promosi berupa public relation lebih mengarah pada pendekatan
yang dilakukan oleh batik Gunawan Setiawan kepada masyarakat dengan
tujuan untuk memperoleh informasi mengenai keinginan masyarakat yang
berhubungan dengan produk batik, serta untuk menawarkan kepada
masyarakat tentang produk-produk unggulan yang dijual di batik
Gunawan Setiawan.
Pada dasarnya aktivitas promosi penjualan yang dilakukan batik
Gunawan Setiawan menggunakan berbagai jenis bauran promosi. Tujuan dari
penggunaan berbagai jenis bauran promosi tersebut adalah sebagai alternatif
jenis promosi, jika salah satu jenis promosi tidak dapat memberikan hasil
yang maksimal, maka menggunakan jenis promosi yang lainnya.
Setelah dilakukan berbagai aktivitas promosi, kemudian mengukur
hasil promosi dan mengelola serta mengkoordinasi proses komunikasi yang
telah dijalankan, dapat diketahui bahwa hasil penjualan batik Gunawan
97
Setiawan mengalami omset penjualan yang selalu meningkat. Hal ini sesuai
dengan hasil wawancara terhadap Bapak Gunawan Setiawan berikut ini:
“Tentunya setelah menggunakan berbagai macam bentuk promosi,
penjualan saya meningkat dong...ya sebagai contoh sebelum pakai
promosi hasil penjualannya dalam sebulan cuma mencapai kisaran
dua puluh juta, tapi setelah menggunakan promosi pendapatannya
mencapai lima puluhan juta...itu misalnya saja lho...” (wawancara
dengan Bapak Gunawan Setiawan pada tanggal 21 April 2012).
Aktivitas promosi yang telah dijalankan bertujuan agar merek dapat dikenal
oleh khalayak dan dapat memberikan berbagai informasi melalui kegiatan
promosi tersebut.
D. SARAN
Adapun beberapa saran yang dapat peneliti ajukan adalah sebagai
berikut:
1. Diharapkan kepada Batik Gunawan Setiawan untuk tetap konsisten
menggunakan konsep yang dipromosikan sebagai ciri khas Batik
Gunawan Setiawan tanpa melupakan aspek keunggulan dari suatu
produk, kenyamanan pengunjung, pelayanan prima yang diberikan untuk
memuaskan pelanggan. Selain itu, Batik Gunawan Setiawan memperluas
pasar merek dengan membuka cabang di kota lain agar memudahkan
konsumen dalam berbelanja, karena pada dasarnya pengunjung dari batik
Gunawan Setiawan berasal dari berbagai daerah luar kota Solo.
2. Diharapkan bagi Batik Gunawan Setiawan untuk dapat lebih memberikan
inovasi-inovasi dalam setiap karyanya, dan selanjutnya dipublikasikan ke
masyarakat melalui kegiatan promosi yang variatif. Hal tersebut harus
98
dilakukan oleh manajemen dan tim kreatif Batik Gunawan dalam
menghadapi persaingan bisnis, khususnya bisnis batik yang telah
menjamur di kota Solo, supaya kedepannya usaha keluarga yang dirintis
oleh Bapak Gunawan Setiawan tetap eksis dan tidak kehilangan
penggemarnya. Terkait dengan upaya promosi yang inovatif, Batik
Gunawan hendaknya memiliki kreasi-kreasi atau inovasi-inovasi baru
dalam usaha memperkenalkan batik Gunawan kepada masyarakat umum
pencinta seni kerajinan batik, sehingga dengan upaya promosi yang
kreatif dan inovatif tersebut masyarakat pencinta seni kerajinan batik
tidak merasa bosan dengan cara-cara promosi yang monoton.
99
DAFTAR PUSTAKA
Andreasen, K. 1995. Strategi Pemasaran Untuk Organisasi Nirlaba. UGM Press.
Yogyakarta.
Boong hee Yoo ;Naveen Donthu Sungho Lee. An examination of selected
marketing mix elements and brand equity. Journal of The Academy
Marketing Studies, volume 28 no.2 Academy Of Marketing Science.
2000. http://www.springerlink.com/content/ow587880v4557076/. (28
January 2010)
Bryson, J.M., 2003. Strategic Perencanaan Strategis Bagi Organisasi Sosial,
Edisi ke-1, M. Miftahuddin, Cetakan ke-5, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Constantinides. E. The Marketing Mix Revisited: Towards the 21st century
Marketing. Journal of Marketing Management Volume 22, number 3.
WestBurn Publisher Ltd. 2006.
(//www.ingentaconnect.com/content/westburn/jmm/2006/00000022/00
000003/art00008). (28 January 2010)
Effendy, Onong Uchjana. 1993. Ilmu, Teori & Filsafat Komunikasi. Bandung :
PT. Citra Aditya Bakti.
H.B. Sutopo, 1998, Metodologi Penelitian Hukum Kualitatif Bagian II, Surakarta
: UNS Press.
Kasali, Rhenald.1993. Manajemen Periklanan Konsep Dan Aplikasinya Di
Indonesia. Jakarta : Pustaka Utama Gafiti.
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta:
Penerbit PT. Gramedia.
Kotler, (terjemahan A.B. Susanto), 2001, Manajemen Pemasaran di Indonesia,
Edisi Pertama, Salemba Empat: Jakarta.
Machfoedz, Mahmud. (2010). Komunikasi Pemasaran Modern. Yogyakarta :
Cakra Ilmu.
Moleong, L. J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : PT. Lkis
100
Permas, A., C. Hasibuan-Sedyono, L.H. Pranoto, dan T. Saputro (2003)
Manajemen Organisasi Seni Pertunjukan. Pustaka Binaman Pressindo.
Jakarta.
Prisgunanto, Ilham. (2006). Komunikasi Pemasaran: Strategi dan Taktik. Bogor:
Ghalia Indonesia.
Rachmadi, F. 1994. Public Relation Dalam Teori dan Praktek. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Rakhmat, Djalaludin. 2001. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Rangkuti, Freddy (2009). Measuring Custumer Satisfaction : Teknik Mengukur
dan Strategi Meningkatkan Kepuasan Pelanggan, PT. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Ruslan, Rosady, (2005), Manajemen Public Relation dan Media Komunikasi:
Konsep dan Aplikasinya, Jakarta: Rajawali Pers.
Saladin, D., (1991), Unsur-unsur Inti Pemasaran dan Manajemen Pemasaran,
Bandung: Mandar Maju.
Salusu, (2002), Pengambilan Keputusan Strategik Untuk Organisasi Publik dan
Organisasi Non Profit, Jakarta: PT. Grasindo.
Soekanto, S., (1982), Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum, Jakarta:
Rajawali.
Soemanagara, (2006), Strategic Marketing Communication, Bandung: CV.
Alfabeta.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. CV.Alfabeta:
Bandung.
Tjiptono, Fandy, (2002), Strategi Pemasaran, Yogyakarta: Penerbit Andi.
Uyung Sulaksana, (2003), Integrated Marketing Kommunications, Yogyakarta,
Pustaka Pelajar.
Winardi, (1989), Ilmu dan Seni Menjual, Bandung: Nova.
Download