- Kementerian Kesehatan

advertisement
Buku Seri Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak 2012
Etnik Madura
Desa Jrangoan, Kecamatan Omben
Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur
Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan
dan Pemberdayaan Masyarakat
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
2012 Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
i
Buku Seri Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak 2012
Etnik Madura
Desa Jrangoan, Kecamatan Omben,
Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur
Penulis :
1. Ratna Widyasari
2. Ida Diana Sari
3. Aprilliana Lailatul M.
4. Sofyan Haryanto
5. M. Setyo Pramono
Editor :
1. M. Setyo Pramono
Disain sampul
:
Setting dan layout isi :
Agung Dwi Laksono
Sutopo (Kanisius)
Indah Sri Utami (Kanisius)
Erni Setiyowati (Kanisius)
ISBN
: 978-602-235-230-3
Katalog :
No. Publikasi
:
Ukuran Buku
: 155 x 235
Diterbitkan oleh :
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI
Dicetak oleh
: Percetakan Kanisius
Isi diluar tanggungjawab Percetakan
ii
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Buku seri ini merupakan satu dari dua belas buku hasil kegiatan Riset Etnografi
Kesehatan ibu dan Anak tahun 2012 di 12 etnik.
Pelaksanaan riset dilakukan oleh tim sesuai Surat Keputusan Kepala Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia Nomor HK.03.05/2/1376/2012, tanggal 21 Februari 2012, dengan
susunan tim sebagai berikut:
Ketua Pengarah
: Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kese­
hatan Kemkes RI
Penanggung Jawab : Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan
Pemberdayaan Masyarakat
Wakil Penanggung Jawab : Dr. dr. Lestari Handayani, MMed (PH)
Ketua Pelaksana
: dr. Tri Juni Angkasawati, MSc
Sekretariat
: dr. Trisa Wahyuni Putri, MKes
Anggota Mardiyah SE, MM
Drie Subianto, SE
Mabaroch, SSos
Ketua Tim Pembina
: Prof. Dr. Herman Sudiman, SKM, MKes
Anggota
: Prof. A.A.Ngr. Anom Kumbara, MA
Prof. Dr. dr. Rika Subarniati, SKM
Dr. drg. Niniek Lely Pratiwi, MKes
Sugeng Rahanto, MPH, MPHM
Ketua tim teknis
: Drs. Setia Pranata, MSi
Anggota Moch. Setyo Pramono, SSi, MSi
Drs. Nurcahyo Tri Arianto, MHum
Drs. FX Sri Sadewo, MSi
Koordinator wilayah
1. Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah : Dra. Rachmalina S Prasodjo,
MScPH
2. Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Gorontalo : dr. Betty Rooshermiatie,
MSPH, PhD
3. Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua
: Agung Dwi Laksono, SKM,
MKes
4. Daerah Istimewa Yogjakarta, Jawa Timur, Bali: Drs. Kasnodihardjo
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
iii
iv
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
KATA PENGANTAR
Mengapa Riset Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak 2012 perlu dila­
kukan ?
Penyelesaian masalah dan situasi status kesehatan masyarakat di
Indo­nesia saat ini masih dilandasi dengan pendekatan logika dan rasional,
sehingga masalah kesehatan menjadi semakin komplek. Disaat pendekatan
rasional yang sudah mentok dalam menangani masalah kesehatan,
maka dirasa perlu dan penting untuk mengangkat kearifan lokal menjadi
salah satu cara untuk menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat.
Untuk itulah maka dilakukan Riset Etnografi sebagai salah satu alternatif
mengungkap fakta untuk membantu penyelesaian masalah kesehatan
berbasis budaya kearifan lokal. Kegiatan ini menjadi salah satu fungsi dari
Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.
Dengan mempertemukan pandangan rasional dan indigenous
knowledge (kaum humanis) diharapkan akan menimbulkan kreatifitas dan
inovasi untuk mengembangkan cara-cara pemecahan masalah kesehatan
masyarakat dengan kearifan lokal masing-masing daerah. Dengan demi­
kian akan menimbulkan rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa
kebersamaan (sense of togetherness) dalam menyelesaikan masalah dan
meningkatkan status kesehatan di Indonesia.
Tulisan dalam buku seri ini merupakan bagian dari 12 buku seri
hasil Riset Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak 2012 yang dilaksanakan
di berbagai provinsi di Indonesia. Buku seri ini sangat penting guna me­
nyingkap kembali dan menggali nilai-nilai yang sudah tertimbun agar
da­pat diuji dan dimanfaatkan bagi peningkatan kesehatan ibu dan anak
dengan memperhatikan kearifan lokal.
Sentuhan budaya dalam upaya kesehatan tidak banyak dilakukan.
Dengan terbitnya buku hasil penelitian Riset Etnografi ini akan menambah
pustaka budaya kesehatan di Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih
kepada seluruh informan, partisipan dan penulis yang berkontribusi dalam
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
v
penyelesaian buku seri ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan-Kementerian
Kesehatan RI yang telah memberikan kesempatan pada Pusat Humaniora
untuk melaksanakan Riset Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak 2012,
sehingga dapat tersusun beberapa buku seri dari hasil riset ini.
Surabaya, Desember 2012
Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan
dan Pemberdayaan Masyarakat
Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI
Drg. Agus Suprapto, M.Kes
vi
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
SAMBUTAN
kepala Badan Litbang Kesehatan
Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur kepada Allah SWT kami panjatkan, karena hanya dengan
rahmat dan karuniaNya Buku Seri Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak 2012
ini dapat diselesaikan. Buku seri merupakan hasil paparan dari penelitian
etnografi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang merupakan langkah kon­krit
untuk memberikan gambaran unsur budaya terkait KIA yang berbasis il­
miah.
Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) menjadi prioritas utama
Program pembangunan Kesehatan Masyarakat Indonesia. Penyelesaian
masalah KIA belum menunjukkan hasil sesuai harapan yaitu mencapai
target MDGs berupa penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi
102/100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) 23/1000
kelahiran hidup pada tahun 2015. Upaya medis sudah banyak dilakukan,
sedangkan sisi non medis diketahui juga berperan cukup kuat terhadap
status Kesehatan Ibu dan Anak. Faktor non medis tidak terlepas dari
faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan dimana mereka berada.
Melalui penelitian etnografi ini, diharapkan mampu menguak sisi
budaya yang selama ini terabaikan. Budaya memiliki kekhasan tertentu,
sehingga pemanfaatan hasil penelitian ini memerlukan kejelian pelaksana atau pengambil keputusan program kesehatan agar dapat berdaya
guna sesuai dengan etnik yang dipelajari. Kekhasan masing-masing etnik
merupakan gambaran keragaman budaya di Indonesia dengan berbagai
permasalahan KIA yang juga spesifik dan perlu penanganan spesifik pula.
Harapan saya, buku ini dapat dimanfaatkan berbagai pihak untuk memahami budaya setempat dan selanjutnya dimanfaatkan untuk mengurai
dan memecahkan permasalahan KIA pada etnik tertentu.
Ucapan terimakasih khususnya kepada tim peneliti dan seluruh pihak
terkait merupakan hal yang sudah selayaknya. Kerja keras dan cerdas,
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
vii
tanpa kenal lelah, merupakan bukti integritasnya sebagai peneliti Badan
Litbangkes.
Akhir kata, bagi tim peneliti, selamat berkarya untuk kemajuan ilmu
pengetahuan dan keejahteraan masyarakat. Semoga buku ini bermanfaat
bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Wabillahitaufik wal hidayah, wassalamu’alaikum wr. wb.
Jakarta, Desember 2012
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI
DR. dr. Trihono, MSc.
viii
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas selesainya buku ini. Kami
menyadari bahwa buku ini tidak dapat disusun dan diselesaikan dengan
baik tanpa bantuan dan masukan kepada kami, mulai dari awal riset sampai
dengan tahap penyelesaian penyusunan. Untuk itu kami menghaturkan
terima kasih yang tak terhingga kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. dr. Trihono, M.Sc sebagai Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
2. Bapak drg. Agus Suprapto, M.Kes sebagai Kepala Pusat Huma­
niora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan RI yang telah
memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan
Riset Etnografi Budaya Kesehatan Ibu dan Anak.
3. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Sampang, Kepala Puskesmas Jrangoan,
dan Kepala Desa Jrangoan yang telah memberikan izin kepada
kami untuk melaksanakan riset di Desa Jrangoan, Kabupaten
Sampang, Jawa Timur.
4. Seluruh Pejabat Eselon III dan Eselon IV serta staf Humaniora,
Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang
telah memberikan bantuan dan masukan selama riset ini ber­
langsung.
5. Ibu dr. Tri Juni Angkasawati, M.Sc, sebagai Ketua Pelaksana Riset
Khusus Budaya, di mana riset etnografi ini merupakan bagian
dari Riset Khusus Budaya 2012.
6. Tim Teknis, dan Para Reviewer Riset Etnografi Budaya Kesehatan
Ibu dan Anak yang tak henti-hentinya memberikan bantuan,
masukan dan semangat kepada kami.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
ix
Ibu S.R. Devy yang telah memberikan dukungan luar biasa
kepada tim peneliti sehingga dapat menyelesaikan riset ini
dengan baik.
8. Teman-teman peneliti Riset Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak
yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan kerja sama
yang baik selama riset berlangsung dan penyusunan buku ini.
9. Masyarakat Desa Jrangoan, seluruh responden, dan perangkat
desa yang telah meluangkan waktunya serta berpartisipasi
dalam riset ini.
10. Semua pihak yang telah membantu langsung maupun tidak
langsung termasuk memberikan saran dalam penyusunan buku
ini.
7.
Terakhir kami ucapkan terima kasih kepada keluarga tercinta yang
telah memberikan dukungan dan dorongan kepada kami. Kiranya Allah
SWT akan membalas semua budi baik yang telah dipersembahkan kepada
kami. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
x
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR. ................................................................................................................................................. iii
SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG KESEHATAN ...................................................... v
UCAPAN TERIMA KASIH.................................................................................................................................. vii
DAFTAR TABEL............................................................................................................................................................. xiii
DAFTAR GAMBAR.................................................................................................................................................... xv
Bab I Pendahuluan.................................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................................. 1.2 Tujuan..................................................................................................................................................... 1.3 Metode Penelitian. ................................................................................................................. 1
3
3
Bab II Selaksa Budaya Madura di Jrangoan.............................................. 5
2.1 Sejarah Alam dan Budaya ............................................................................................. 2.2. Geografi dan Kependudukan..................................................................................... 2.3 Sistem Religi.................................................................................................................................... 2.4 Organisasi Sosial dan Kemasyarakatan.......................................................... 2.5 Pengetahuan.................................................................................................................................. 2.6. Bahasa.................................................................................................................................................... 2.7. Kesenian. ............................................................................................................................................. 2.8. Mata Pencaharian. .................................................................................................................. 2.9. Teknologi dan Peralatan................................................................................................... 5
9
18
22
27
34
35
36
37
BaB III Budaya Kesehatan Ibu dan Anak............................................................... 39
3.1. Pra Hamil. ........................................................................................................................................... 3.2 Hamil........................................................................................................................................................ 3.3 Acara selametan 7 bulanan ibu hamil (pelet betteng)............... 3.4. Persalinan dan Nifas............................................................................................................. 3.5 Menyusui............................................................................................................................................ 39
48
50
54
64
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
xi
3.6 Neonatus dan Bayi.................................................................................................................. 66
3.7 Anak dan Balita........................................................................................................................... 71
3.8 Health Seeking Behaviour ............................................................................................ 74
Bab IV Kepercayaan terhadap Pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak........................................................................................... 77
Bab V Potensi dan Kendala Budaya dalam
Pembangunan Kesehatan Ibu dan Anak .................................... 81
5.1 Analisis Potensi dan Kendala Unsur Budaya........................................... 85
5.2 Analisis Potensi dan Kendala Siklus KIA ...................................................... 91
Bab VI
Penutup. ......................................................................................................................................... 101
6.1 Simpulan. ............................................................................................................................................ 101
6.2 Saran. ....................................................................................................................................................... 102
DAFTAR ISTILAH........................................................................................................................................................ 105
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................................................... 107
xii
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 5.1 Tabel 5.2 Tabel 5.3
Potensi Sumber Daya Manusia (Berdasarkan Usia)...................... Data Jumlah Penduduk. ................................................................................................... Teori Potensi dan Kendala Fred B. Dunn.................................................... Potensi dan Kendala Unsur Budaya.................................................................. Potensi dan Kendala Siklus KIA ............................................................................. 13
13
81
82
89
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
xiii
xiv
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peta Desa Jrangoan ..................................................................................................... Gambar 2.2 Rumah dengan konsep Taneyan Lanjhang .................................... Gambar 2.3 Denah rumah di Desa Jrangoan ................................................................. Gambar 2.4 Rumah sekotan ................................................................................................................. Gambar 2.5 Rumah pecenan ............................................................................................................... Gambar 2.6 Para santriwati sedang berlatih kesenian untuk
kegiatan imtihan ............................................................................................................. Gambar 3.1 Cara santriwati mengungkapkan ekspresi terhadap
lawan jenis ............................................................................................................................. Gambar 3.2 Kamar mandi santriwati yang tidak beratap ................................ Gambar 3.3 Ibu hamil dipijat perutnya oleh dukun bayi
pada saat acara selametan 7 bulanan ................................................. Gambar 3.4 Salah satu ritual acara selametan pelet betteng
bagi ibu hamil ..................................................................................................................... Gambar 3.5 Bayi berusia kurang dari dua jam disuapi maddhu
(madu) oleh neneknya ............................................................................................ Gambar 3.6 Bayi berusia kurang dari lima jam disuapi ro’-moro’
(kelapa muda) oleh ibunya ................................................................................ Gambar 3.7 Bayi baru lahir dimandikan oleh dukun ............................................. Gambar 3.8 Ibu nifas duduk di kursi ......................................................................................... Gambar 3.9 Di bawah kursi ibu nifas beralas kain tebal
diletakkan tanah untuk menyerap darah nifas ......................... Gambar 3.10 Ibu Nifas yang memakai parem ................................................................... Gambar 3.11 Salah satu proses saat mengubur ari-ari .......................................... Gambar 3.12 Bayi dimandikan oleh dukun ......................................................................... Gambar 3.13 Sesajen untuk mengusir setan . ................................................................... Gambar 3.14Sesajen untuk mengusir setan diletakkan
di dekat bayi yang sedang tidur ................................................................. Gambar 3.15 Bayi dipijat oleh dukun .......................................................................................... Gambar 4.1 Suasana pelaksanaan posyandu di Desa Jrangoan .............. 10
15
16
17
17
36
43
44
50
50
60
60
61
62
62
63
67
68
69
69
73
79
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
xv
xvi
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Dalam Undang-Undang no 17 tahun 2007 disebutkan tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005–2025, bahwa
pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasar pemberdayaan dan
kemandirian, adil dan merata, serta pengutamaan dan manfaat pada
ibu, bayi, anak, manusia usia lanjut, dan keluarga miskin (RPJPK, Depkes
2009). Departemen Kesehatan pada tahun 2005–2009 memprioritaskan
pelayanan kesehatan ibu dan anak sebagai prioritas pertama dalam pem­
bangunan kesehatan. Prioritas berikutnya adalah pelayanan kesehatan bagi
masyarakat miskin, pendayagunaan tenaga kesehatan, penanggulangan
penyakit menular, gizi buruk, krisis akibat bencana, dan peningkatan
pelayanan kesehatan.
Sasaran pembangunan Millenium atau Millenium Development Goals
(MDGs), yaitu delapan tujuan yang diupayakan untuk dicapai pada tahun
2015 yang merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh
dunia, telah disepakati oleh Indonesia bersama 189 negara lain pada
tahun 2000 di New York. Deklarasi yang disepakati ini berisi komitmen
negara masing-masing dan komunitas internasional untuk mencapai 8
buah sasaran pembangunan dalam millenium ini (MDGs) sebagai satu
paket tujuan terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan.
Salah satu sasaran adalah meningkatkan kesehatan ibu dengan target pada
2015 mengurangi dua pertiga ratio kematian ibu dari proses melahirkan
(Depkes, Bappenas, 2007).
Menurut data Direktorat Bina Kesehatan Ibu, rata-rata 10% ibu di
Indonesia tidak pernah memeriksakan kandungan ke petugas kesehatan,
sebanyak 30% ibu di Indonesia tidak melahirkan di pelayanan kesehatan
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
1
seperti dokter atau bidan, melainkan lebih memilih untuk melahirkan ke
paraji atau dukun.
Seluruh kabupaten dan kota di Indonesia telah diidentifikasi berdasar
Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) yang disusun ber­
dasar 24 indikator, termasuk di dalamnya indikator kesehatan ibu dan
anak. Nilai IPKM tersebut menggambarkan status kesehatan kabupaten
dan kota. Salah satu kabupaten yang mempunyai nilai IPKM rendah ada­
lah Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan data Riset
Kese­hatan Dasar tahun 2007, Kabupaten Sampang menempati IPKM pe­
ringkat 20 besar terbawah se-Indonesia.
Di Sampang, peran dukun bayi masih dominan dalam menangani
proses kehamilan hingga persalinan. Selain itu, kesadaran ibu untuk me­
me­riksakan kesehatan kandungannya ke puskesmas maupun tenaga medis
lainnya masih rendah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten
Sampang, pada 2008 lalu, kematian ibu hamil mencapai 15 kasus dari
jumlah 18.293 ibu bersalin.
Sampang adalah salah satu kabupaten di Pulau Madura dengan angka
kematian ibu dan bayi yang tinggi. Sebanyak 99% penduduk Sampang
adalah etnis Madura dan agama Islam dianut oleh hampir seluruh
penduduknya. Kekerabatan yang kuat dan nuansa agamis menyelimuti
kehidupan penduduk di Sampang. Masjid dan mushola terlihat di berbagai
tempat dan menjadi tempat para lelaki melakukan sholat berjamaah.
Mata pencaharian sebagian penduduknya adalah petani dan pedagang.
Madura dikenal sebagai masyarakat yang patriarkal, di mana perem­
puan tidak memiliki posisi yang signifikan, hal ini dapat dilihat dengan
lemahnya posisi tawar perempuan Madura terhadap laki-laki. Lemahnya
posisi tawar perempuan rupanya membawa konsekuensi yang jauh le­
bih besar, yaitu perempuan tidak memiliki akses terhadap kesehatan,
bahkan ketika mereka sedang mengandung. Tentu saja tidak adanya akses
terhadap kesehatan membawa implikasi yang lebih besar, yaitu bahaya
yang dapat menimpa ibu hamil, mulai dari kekurangan asupan gizi, bahaya
sewaktu hamil, ketika melahirkan bahkan pascamelahirkan. Tentu saja
ketiadaan akses terhadap kesehatan dapat menyebabkan kematian, bukan
hanya terhadap ibu namun juga anak yang akan dilahirkannya. Persoalan
kesehatan semakin rumit ketika memperhatikan sumber daya kesehatan
yang disediakan oleh pemerintah dan swasta. Pengelolaan sarana prasarana
dan sumber daya manusia yang tersedia tidak mampu mengurangi angka
kematian bayi secara signifikan dan membantu meningkatkan kualitas
2
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
kesehatan pada ibu hamil. Kedua hal ini sangat dipengaruhi oleh kultur
Madura yang menjadikan laki-laki memiliki kekuasaan atas perempuan,
baik atas tubuhnya maupun atas kesehatannya (Badan Pusat Statistika,
2010).
Berpijak pada kerangka pemikiran tersebut, penelitian ini bertujuan
untuk memahami kehidupan warga etnis Madura dengan harapan dapat
diperoleh masukan-masukan berupa pola perilaku yang merupakan ken­
dala dan simultan terhadap derajat kesehatan dalam rangka program
peningkatan pelayanan kesehatan dan penerapan, yang sesuai atau ti­dak
bertentangan dengan etos kebudayaan warga etnis Madura yang ber­
sangkutan.
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang adat,
istiadat, budaya, serta kebiasaan warga etnis Madura yang mempunyai
konsekuensi terhadap kondisi kesehatan ibu dan anak sesuai dengan
konsep biomedikal, serta pemanfaatan berbagai sarana kesehatan dalam
kaitannya dengan pembangunan kesehatan ibu dan anak di daerah
tersebut.
1.3 Metode Penelitian
Pemilihan lokasi penelitian berawal pada saat peneliti pusat mela­
kukan koordinasi dan diskusi dengan peneliti daerah dan Dinas Kesehatan
Kabupaten Sampang, kemudian dicocokkan dengan data sekunder yang
diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang. Dari hasil diskusi
dan penelusuran informasi yang dillakukan pada saat persiapan lapangan,
akhirnya disepakati lokasi penelitian adalah Desa Jrangoan, Kecamatan
Omben. Pemilihan lokasi tersebut berdasarkan justifikasi sebagai berikut
(Profil Kesehatan Kabupaten Sampang, 2010), 1) daerah tersebut memiliki
cakupan imunisasi terendah di Kabupaten Sampang; 2) daerah tersebut
memiliki Standar Pelayanan Minimal (SPM) terendah di Kabupaten
Sampang; 3) daerah tersebut memiliki cakupan kunjungan ibu hamil K1
dan K4 terendah di Kabupaten Sampang; dan 4) daerah tersebut memiliki
persentase status gizi buruk balita terbesar di Kabupaten Sampang.
Secara konseptual penelitian ini adalah penelitian kualitatif etnografi
nonintervensi. Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara mendalam terhadap
informan kunci (Dinas Kesehatan, puskesmas, tokoh masyarakat, tokoh
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
3
agama, bidan, kader posyandu, dukun beranak, dukun bayi, ibu hamil,
ibu bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, pasangan suami istri usia subur
yang belum memiliki anak, dan remaja) dengan menggunakan pedoman
wawancara mendalam dan observasi partisipasi. Wawancara terhadap
responden dilakukan dengan kunjungan langsung ke rumah responden.
Sementara data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen Desa Jra­
ngoan, Puskesmas Jrangoan, Kecamatan Omben, dan Dinas Kesehatan
Kabupaten Sampang.
Dalam metode penelitian etnografi, instrumen penelitiannya ada­
lah peneliti itu sendiri. Sebagai instrumen penelitian, peneliti melakukan
observasi partisipasi, yaitu peneliti tinggal dan hidup bersama masyarakat
untuk mengeksplorasi dan mengamati informasi yang ingin diketahui
terkait dengan kesehatan ibu dan anak. Instrumen pendukung sebagai
pedoman untuk mencari data meliputi: 1) pedoman wawancara men­
dalam sebagai petunjuk wawancara agar informasi yang diinginkan
tercapai. Wawancara mendalam dilakukan kepada informan kunci, yaitu
pelaku budaya atau informan yang mengetahui tentang budaya KIA di
Desa Jrangoan (Dinas Kesehatan, puskesmas, tokoh masyarakat, tokoh
agama, bidan, kader posyandu, dukun bayi, dukun pijat bayi, ibu hamil,
ibu bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, pasangan suami istri usia subur yang
belum memiliki anak, dan remaja), 2) buku catatan harian yang digunakan
peneliti untuk mencatat setiap kejadian yang dialami peneliti setiap
harinya. Hal ini digunakan untuk menangkap peristiwa yang tak terduga,
3) dokumen yang terkait dengan tempat penelitian dan kesehatan ibu dan
anak yang didapat dari hasil penelusuran dokumen dan tinjuan pustaka.
Setelah semua data terkumpul, yakni hasil wawancara mendalam,
hasil observasi partisipasi, dan hasil penelusuran dokumen, maka da­ta dianalisis dengan mendeskripsikan perekaman data, penyusunan transkrip,
koding, dan penyusunan matriks dengan metode content analysis. Kemudian dilakukan verifikasi dan selanjutnya disajikan dalam bentuk narasi,
kuotasi, dan tabel untuk membantu pembaca memasuki situasi dan pemikiran responden secara langsung dan mengaitkan interpretasi peneliti
itu sendiri serta menghubungkannya dengan teori atau hasil penelitian
orang lain yang bisa mendukung (Moleong JL., 2001).
4
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Bab II
Selaksa Budaya Madura di Jrangoan
2.1 Sejarah Alam dan Budaya
2.1.1 Desa Jrangoan, ajhar sambi ngoan
Perkembangan dan berdirinya Jrangoan tidak dapat dilepaskan da­
ri pendiri-pendiri Pondok Pesantren Al-Ihsan. Menurut babad tanah
Jrangoan, pendiri Desa Jrangoan adalah Buju’ (Buyut) Ahmad yang juga
merupakan pendiri pertama pesantren Al-Ihsan Jrangoan. Buju’ Ahmad
adalah salah satu ulama yang berasal dari Kota Sampang. Beliau mendapat
perintah dari ayahnya, yaitu Raden Qobul yang juga disebut Buju’ Aji
Gunung. Perintah tersebut berasal dari Panembahan Ratu Cakraningrat
atau Adipati Madura yang diasingkan ke Kota Bangkalan oleh pemerintah
kolonial Belanda. Adipati Madura meminta Raden Qobul untuk mencari
asal sinar yang memancar dari suatu tempat di sekitar Kota Sampang. Sinar
tersebut telah dilihat oleh Adipati Madura hingga menembus langit.
Menuruti permintaan Adipati Madura tersebut, putra Raden Qobul,
Buju’ Ahmad, pun mencari ke seluruh wilayah Sampang hingga sampai ke
sebuah tanah perdikan (tanah yang tidak dikenakan pajak oleh pemerintah
kolonial Belanda) di timur Kota Sampang. Wilayah tersebut bernama
Desa Pegaringan yang wilayahnya berupa hutan belantara dan menjadi
tempat tinggal para perampok. Perang tanding antara Buju’ Ahmad dan
gerombolan perampok tersebut tidak bisa dihindarkan, yang kemudian
dimenangkan oleh Buju’ Ahmad. Dalam perjalanan ke Desa Pegaringan
itu Buju’ Ahmad menemukan 2 buah makam yang memancarkan sinar ke
langit. Kedua makam itu tetap menjadi teka-teki, hingga kini masyarakat
Desa Jrangoan tidak mengetahui siapakah pemilik kedua makam tersebut.
Oleh masyarakat Desa Jrangoan kedua makam itu dikenal dengan nama
makam para syekh (ulama agama). Setelah penemuan makam tersebut,
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
5
Buju’ Ahmad menyampaikan kepada Adipati Madura. Dan sesuai per­
mintaan beliau, Buju’ Ahmad merawat kedua makam dan bermukim di
wilayah tersebut. Babad tanah Jrangoan ini diceritakan oleh salah seorang
informan tokoh kepemudaan, MF, di Desa Jrangoan sebagai berikut.
“... Kemudian Raden Qobul memerintah putranya yang bernama
Raden Ahmad, kemudian setelah Raden Ahmad menelusuri
tentang cahaya tersebut, akhirnya beliau menemukan sum­
ber cahayanya adalah bersumber dari 2 kuburan, dan sam­pai
sekarang pun kuburan tersebut masih belum diketaui iden­
titasnya ....”
Wilayah yang semula bernama Desa Pegaringan itu kemudian berubah
menjadi Desa Jrangoan. Kata Jrangoan sendiri berasal dari kata ajhar dan
ngoan. Ajhar yang berarti belajar serta ngoan yang berarti menggembala
ternak. Anak-anak yang tinggal di desa ini biasa mengembala ternak setiap
sore hari. Buju’ Ahmad yang berniat menyebarkan ilmu (agama Islam)
pun memanfaatkan waktu anak-anak menggembala untuk mengajarkan
mereka tentang Islam. Kegiatan yang dilakukan oleh Buju’ Ahmad ke­
pada anak-anak pengembala ini disebut dengan ajhar sambi ngoan yang
artinya “belajar sambil mengembala” sehingga akhirnya disingkat menjadi
“Jrangoan”, seperti yang diceritakan salah satu informan, MF, yang me­
rupakan anggota Badan Permusyawaratan Desa berikut ini.
“... Karena Buju’ Ahmad tersebut termasuk salah satu keturunan
dari seseorang pemuka Islam, maka semangat beliau untuk
mensyi’arkan agama Islam beliau kadang kala belajar sambil
menggembala. Dan Desa Jrangoan diambil dari bahasa ajhar
sambi ngoan yang artinya belajar sambil menggembala. Dan
semenjak itu Buju’ Ahmad tersebut menetap di Desa Jrangoan
hingga delapan generasi ....”
Desa Jrangoan yang menjadi tempat belajar para penggembala ter­
nak itu menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Al-Ihsan. Sejak
Buju’ Ahmad mengembangkan tempat tersebut untuk menimba ilmu
agama bagi warga sekitar desa, banyak santri berminat menimba ilmu
keagamaan. Pondok Pesantren Al-Ihsan ini terus berkembang dan kini
dilanjutkan oleh keturunan kedelapan Buju’ Ahmad, yaitu Kiai Mahrus.
Desa Jrangoan terbagi menjadi 4 dusun, yaitu Rabasan, Bunggentong,
Tambak, dan Tobatoh dengan luas 3.059 Ha. Luasnya Desa Jrangoan ini
6
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
ti­dak terlepas dari kondisi geopolitik desa-desa tetangga, yaitu Desa
Angsokah dan Desa Rongdalem. Pada zaman penjajahan Belanda, ketika
di Desa Angsokah terjadi pembunuhan, klebun dari Desa Angsokah tidak
berani menguburkan mayat korban pembunuhan itu di wilayah mereka
karena takut kepada pemerintah kolonial Belanda. Setelah adanya perun­
dingan, maka diputuskan mayat tersebut dimakamkan oleh klebun Jra­
ngoan, karena besarnya risiko yang harus dipikul oleh klebun Jrangoan,
maka wilayah Desa Angsokah diberikan kepada Desa Jrangoan seluas
1.000 Ha. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh salah seorang tokoh
masyarakat Desa Jrangoan, AR, berikut ini.
“... Waktu itu Kepala Desa Angsokah tidak berani karena risiko
takut disuruh Belanda. Nah, disuruh ambil tanahnya ke Kepala
Desa Jrangoan. Jadi melebar, kira-kira ini tambah 1.000 Ha
luasnya begini, kan ndak berani ini perbatasan Angsokah, ini
Angsokah ini kan ada orang dibunuh orang di sini, ndak berani
ya kalo Kepala Desa Angsokah ini untuk ambil ... mengambil
risiko itu, jadi Jerengoan yang menguburkan orang itu sehingga
desanya juga diambil .…”
Sementara itu, perkembangan wilayah Desa Jrangoan yang berba­
tasan dengan Desa Rongdalem juga terjadi pada masa penjajahan kolo­
nial Belanda. Pada saat itu terjadi perampokan dan pembunuhan di
Du­sun Rabasan (termasuk dalam wilayah Desa Rongdalem) dan klebun
Rongdalem juga tidak mau memakamkan mayat korban di wilayah mereka
sehingga klebun Jrangoan pun kembali memakamkan mayat tersebut.
Kejadian ini mengakibatkan sebagian wilayah Desa Angsokah (Dusun
Rabasan) diserahkan kepada Desa Jrangoan dan menjadi dusun keempat
dalam wilayah Jrangoan. Hal tersebut dikemukakan oleh informan AR:
“… Suka Kepala Desa, lantas di barat juga ada. Ini juga Desa
Rabasan, ada orang meninggal dunia dibunuh oranglah waktu
itu apa perampokan, masa Belanda waktu itu, ya terus diambil
juga waktu itu. Kepala Desa Rabasan ndak mau, nanti risiko
terus diambi patok lagi, tambah kira-kira 1.000 Ha lagi. Ke
utara juga ....”
Perkembangan Pondok Pesantren Al-Ihsan juga merupakan perkem­
bangan Desa Jrangoan dalam hal pemerintahan desa. Kiai yang merupakan
tokoh sentral di Desa Jrangoan berasal dari Pondok Pesantren Al-Ihsan.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
7
Buju’ Ahmad menurunkan pemerintahan Pondok Pesantren dan Desa
Jrangoan kepada keturunan-keturunannya, yaitu Buju’ Muhammad, Buju’
Syaf’i, Buju’ Yasin, Buju’ Baharulloh, Buju’ Baidawi, Buju’ Malik Baidawi,
dan yang terakhir adalah Kiai Mahrus, pemimpin Al-Ihsan saat ini.
Hingga Buju’ Malik Baidawi, ketujuh keturunan Buju’ Ahmad, selain
menjadi tokoh agama, mereka juga merupakan tokoh pemerintahan.
Kondisi ini berubah setelah masa kepemimpinan Buju’ Malik Baidawi.
Kepala pemerintahan desa diserahkan kepada para ustad (pengajar) di
Pondok Pesantren Al-Ihsan, yaitu Nahrawi atau Mat Bahar, Tamzis, serta
Abdul Rohim. Walaupun tokoh pemerintahan sudah bergeser ke orang
yang bukan keturunan langsung dari Buju’ Ahmad, namun sebagai tokoh
agama, baik Buju’ Malik Baidowi maupun Kiai Mahrus tetap menjadi
pengambil keputusan pemerintahan, terutama yang berhubungan dengan
kepentingan warga umum. Klebun tidak langsung memutuskan suatu
hal, tetapi memusyawarahkan terlebih dahulu kepada kiai seperti yang
disampaikan oleh informan AR berikut ini.
“... Yang mengangkat jadi kepala desa itu Kiai Mahrus, kan
begitu jadi ada kesulitan. Ada kesulitan ini sering membicarakan,
sering musyawarah bagaimana pendapatnya kiai, kan begitu
kan .…”
Bahkan, dalam pemilihan klebun pun tetap harus mengikuti saran
kiai. Calon klebun yang menjadi pemenang adalah orang-orang yang
mendapat “restu” atau yang disetujui oleh kiai. Biasanya yang menjadi
klebun adalah ustad (guru) yang mengajar di lingkungan pondok pesantren
atau orang-orang yang memiliki kedekatan dengan pondok pesantren.
Informasi ini berasal dari salah seorang ustad di Pondok Pesantren AlIhsan Desa Jrangoan (MF) sebagai berikut.
“... sangat berpengaruh sekali. Lebih-lebih seperti politik skala
nasional, seperti pilkada dan pilpres. Kalau ada perintah dari
kiai, maka orang akan menuruti perintahnya ... Iya, karena
kalau tidak direstui, dia tidak akan menang ... rata-rata kalau
tidak direstui mundur, tapi ada juga yang berlawanan arah,
tapi akhirnya tidak akan menang, buktinya sudah banyak ...”
“... ya sudah empat kali malah yang menang, kalau direstui
atau ditunjuk oleh Kiai Mahrus. Yang pertama dan kedua tidak
ada yang berani mencalonkan sebagai kades. Yang ketiga dan
8
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
keempat ada calonnya, tapi tidak dapat dukungan dari kiai,
akhirnya kalah .…”
Selain itu, alasan masyarakat mengikuti keputusan kiai karena ada­
nya landasan yang berdasarkan kitab kuning (kitab yang dijadikan sebagai
bahan ajar di pesantren). Di dalamnya terdapat penjelasan bahwa
membahagiakan hati kiai adalah dengan cara menaati beliau, maka akan
mendapatkan pahala, sedangkan jika melanggar, maka akan mendapatkan
dosa besar. Hal ini disampaikan oleh informan (MF) yang juga menjadi
ustad di Pondok Pesantren Al-Ihsan sebagai berikut.
“... tidak. Yang ada landasan seperti itu di kitab kuning. Artinya
begini, kalau kita membahagiakan hati kiai atau guru, maka
orang tersebut akan mendapatkan pahala yang sangat besar.
Tapi, kalau sebaliknya, maka kita akan mendapatkan dosa besa.
Kalau di politik, gampangnya begini, kalau guru kita memilih
A dan kita memilih A juga, maka kita mendapat pahala, dan
kalau sebaliknya maka kita mendapat dosa .…”
Era klebun dari kalangan warga umum diawali dengan pemilihan
klebun yang ditunjuk oleh Buju’ Malik Baidawi langsung pada tahun 1959,
yaitu Nahrawi (Mat Bahar). Kepemimpinan Mat Bahar relatif lama, sekitar
1959 hingga 1990. Pemilihan Mat Bahar bukan merupakan pemilihan
klebun terbuka yang melibatkan warga. Pemilihan klebun terbuka baru
mulai dilaksanakan pada tahun 1990 yang dimenangkan oleh Tamzis
yang menjadi klebun hingga tahun 1998. Pemilihan klebun selanjutnya
dilaksanakan pada tahun 1998 dan dimenangkan oleh Bapak Abdul Rohim
yang menjadi klebun hingga sekarang.
2.2. Geografi dan Kependudukan
2.2.1 Geografi
Desa Jrangoan adalah salah satu desa di Kecamatan Omben, Kabu­
paten Sampang. Desa jrangoan terletak di sebelah timur Kota Sampang.
Dari Desa Jrangoan menuju Kota Sampang membutuhkan waktu sekitar
30 menit, dengan jarak kurang lebih 12 kilometer. Desa Jrangoan mempunyai batas-batas sebagai berikut, sebelah barat berbatasan dengan Desa
Kebun Sereh, sebelah timur berbatasan dengan Desa Rongdalem, sebelah
selatan berbatasan dengan Desa Angsokah, dan sebelah utara berbatasan
dengan Kecamatan Kedungdung.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
9
Gambar 2.1 Peta Desa Jrangoan.
Desa Jrangoan terdiri atas empat dusun, yaitu Tambak, Rabasan,
Bunggentong, dan Tobatoh. Keempat dusun itu dipisahkan oleh jalan.
Antara Tobato dan Tambak dipisahkan oleh jalan beraspal yang diperbaiki
pada tahun 2009, sedangkan antara Rabasan dan Bunggentong dibatasi
oleh Jalan Makadam yang bercampur dengan jalan kerikil kasar.
Kontur tanah dan topografi Desa Jrangoan adalah perbukitan. Setiap
dusun di Jrangoan mempunyai kontur yang berbukit-bukit, kecuali Dusun
Tobatoh yang sedikit berbatu. Pada umumnya tanah berupa tegalan atau
ladang. Total tanah kering di Desa Jrangoan sekitar 2100 Ha. Tidak ada
sawah atau tanah basah. Hal itu terkait dengan jenis tanah yang bersifat
kering dengan curah hujan 5 mm/tahun. Desa Jrangoan terletak pada
ketinggian 650 meter di atas permukaan laut. Kondisi ini menyebabkan
suhu udara relatif lebih sejuk dibandingkan Kota Sampang.
Tanah di Desa Jrangoan cenderung kering dan berbatu-batu sehingga umumnya warga Desa Jrangoan memanfaatkannya untuk berladang.
Umum­nya mereka menanam jagung, kacang tanah, dan ubi jalar. Luas tanah yang dimanfaatkan untuk menanam jagung seluas 300 Ha, sedang­kan
kacang tanah seluas 200 Ha, dan ubi jalar seluas 200 Ha.
Menurut profil Desa Jrangoan, desa ini memiliki 3 mata air yang
dimanfaatkan oleh 106 kepala keluarga (KK) dan keadaannya masih baik.
Sementara sumber mata air yang lain, yaitu sumur gali dan sumur pompa;
10
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
sumur gali sebanyak 32 buah dan dimanfaatkan oleh 202 KK, sedangkan
sumur pompa sebanyak 16 buah dan dimanfaatkan oleh 119 KK. Semua
sumber air dalam kondisi baik dan layak digunakan untuk kebutuhan
sehari-hari. Menurut hasil wawancara sambil lalu, masih ada 500 KK yang
hanya bisa memanfaatkan kubangan-kubangan air maupun mata air kecil
yang terletak di tebing-tebing sekitar tempat mereka.
Pada Tahun 2000-2005, desa ini diintervensi oleh proyek WSLIC
(Water Sanitasion for Low Income Community), yaitu proyek pemerintah
dengan sasaran masyarakat berpenghasilan rendah yang sulit mengakses
air bersih. Proyek WSLIC ini memberikan bantuan berupa pembuatan ma­
sing-masing satu sumur bor di Dusun Rabasan, Dusun Bunggentong, dan
Dusun Tambak. Sementara di Dusun Tobatoh dibangun dua buah sumur
bor. Namun, saat ini hanya sumur bor di Dusun Rabasan yang dapat digunakan dengan baik.
Mengenai sanitasi lingkungan yang lain, pembuangan sampah misalnya, masih belum mencerminkan pola hidup sehat. Berdasarkan hasil wawancara sambil lalu, pembuangan sampah umumnya dibuang di
tebing. Hal ini mereka lakukan ketika musim hujan karena sampah yang
terkumpul tidak dapat dibakar di sekitar rumah. Sementara ketika musim
kemarau, sampah yang terkumpul dibakar oleh sebagian warga karena sebagian warga yang lain lebih sering membuang sampah di tebing di sekitar
tempat tinggal mereka. Lebih mudah membuang sampah di tebing daripada membakarnya menjadi alasan utama mengapa warga melakukannya
seperti yang dipaparkan oleh salah seorang informan wanita, MB, berikut
ini.
“... Di situ ... di jurang, Bu tempatnya ... He’em dikumpulin pakai
apa ... bak, bak cuci kalau anu ... habis masak itu dibuang ...
Kalau ada ... kayak sumur gitu lo Bu ... Memang khusus buat
tempat sampah setiap 2 minggu sekali, 3 minggu sekali dibakar
gitu .…”
Hewan ternak yang umum dipelihara di Desa Jrangoan adalah sapi,
yaitu sejumlah 199 ekor, dan kambing sejumlah 269 ekor. Jumlah ter­
banyak adalah unggas, yaitu 881 ekor ayam broiler dan 269 ekor bebek.
Umumnya, ketika hewan ternak hendak dijual, warga menjual langsung
kepada konsumen atau menjual melalui pasar ternak.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
11
2.2.2 Kependudukan
Usia perkawinan pada remaja wanita di Desa Jrangoan umumnya
sekitar 17-20 tahun. Namun menurut klebun, kondisi ini hanya secara
administratif. Terkadang warga menuakan atau memudakan usia anakanak mereka tanpa alasan yang jelas. Bahkan, tanggal lahir yang tercantum
pada ijazah mereka pun tidak dapat dijamin kebenarannya karena para
orang tua umumnya menentukan usia anak ketika masuk sekolah secara
asal-asalan. Namun, alternatif terakhir untuk mengetahui usia mereka
adalah dengan melihat ijazah tersebut. Hal ini seperti yang dikemukakan
oleh salah seorang penanggung jawab administrasi kependudukan (MF)
berikut ini.
“… kalo sepengetahuan saya tidak ada. Masalahnya begini
Mbak, kalo masalah administrasi kependudukan ada, tetapi
ketika ditanyakan masalah umur yang sebenarnya itu pasti
berbeda, kadang kalau dimudakan kadang kala dituakan soal­
nya harus sesuai dengan ijazah, dan lebih parahnya lagi data
umur yang ada di ijazah tersebut asal-asalan, artinya waktu
mendaftar dulu ke sekolah asal tebak aja ....”
Berdasarkan profil Desa Jrangoan, penduduk di wilayah tersebut
berjumlah 1.748 orang laki-laki, sedangkan perempuan berjumlah 1.764
orang, dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 965 KK. Jumlah terbanyak
terdapat pada kelompok warga usia 0-29 tahun, sedangkan kelompok usia
terbanyak yang kedua adalah kelompok usia 59 ke atas, dan kelompok usia
30-58 menempati tempat ketiga. Usia terbanyak yang mendiami desa ini
adalah kelompok umur antara 0 hingga 29 tahun. Dari kelompok ini jumlah
terbanyak ada pada usia 15-19 tahun. Umumnya mereka masih berdiam
di Desa Jrangoan hingga mereka menikah dan mempunyai anak pertama.
Di atas usia 19 tahun biasanya warga Desa Jrangoan pergi merantau keluar
Pulau Madura, umumnya ke Kota Surabaya serta kota-kota lain di sekitar
Provinsi Jawa Timur.
12
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Tabel 2.1 Potensi Sumber Daya Manusia (Berdasarkan Usia)
Balita
<12 Bulan
1-5 tahun
Pasangan usia subur
15-45
Laki-laki
Perempuan
24
149
30
140
723
736
Sumber : Profil Desa Jrangoan Tahun 2011
Tabel 2.2 Data Jumlah Penduduk
Jumlah laki-laki
Jumlah perempuan
Jumlah total
Jumlah KK
1.748
1.764
3.512
765
Perempuan di desa ini sudah produktif membantu orang tua sejak
masih berusia belasan tahun. Ketika berusia 8-10 tahun, remaja putri
sudah diberikan tanggung jawab oleh orang tua mereka untuk mengasuh
adik-adik mereka yang pada umumnya masih berusia batita (di bawah tiga
tahun). Hal ini disampaikan informan U berikut ini.
“... kakaknya ngemong ngemong ... iya bisa bantuin adik-adik­
nya juga ....”
Setelah itu, ketika sudah menginjak usia 10 tahun, mereka pada
umumnya belajar dan tinggal di asrama pondok pesantren. Usia 10 tahun
ini adalah usia ketika mereka masuk kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah. Orang
tua akan menyerahkan anak ke Pesantren Al-Ihsan untuk mondok dan
menuntut ilmu agama seperti dsampaikan NS berikut ini.
“... dari umur, dari kelas ... kalau kelas 5 baru mondok ... iya,
sudah undang-undangnya gitu .…”
Umumnya mereka menikah sebelum menyelesaikan pendidikan pesantren, yaitu sekitar usia 17 tahun. Ketika remaja putri masih belia, me­
reka sudah harus mampu serta siap menjadi seorang istri yang mengurus
dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Para remaja putri yang kini
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
13
menjadi “nyonya kecil” tersebut harus dapat membantu suami mengurus
ladang yang merupakan tempat mereka mencari nafkah seperti yang di­
sampaikan oleh informan (KH) yang bekerja sebagai buruh tani:
“… ya istirahat, tapi istirahatnya ketika menjelang persalinan
saja. Jadi kalo tidak tetap bekerja gak ada untuk memenuhi
kebutuhan makanan .…”
Ketika bersalin untuk pertama kalinya, peran ibu dari bulin (nenek)
dalam keluarga adalah sebagai penyandang dana bagi persiapan persa­
linan. Selain itu, beliau juga merupakan pengambil keputusan siapa
penolong persalinan ibu hamil, dengan bantuan dukun atau bidan. Beliau
pulalah yang membantu menyiapkan segala kebutuhan persalinan (air
panas dan kain perlengkapan persalinan lainnya) seperti diungkapkan
oleh para perempuan DEsa Jrangoan (BI dan NY) berikut ini.
“... tapi di sini biasanya kalau masih muda apa katanya ibunya.
Yang pegang kendali itu ibunya, yang biayai itu ...” (BI)
“... pengambilan keputusan di keluarga perempuan ... keba­
nyak­an perempuan (ibu dari bulin) yang ngambil untuk ke anu
gitu ....” (NY)
Perempuan Madura adalah perempuan yang kuat. Menurut hasil
wawancara sambil lalu dengan bulin (ibu bersalin), beliau sudah mulai
melaksanakan pekerjaaan sehari-hari mereka di rumah sejak 3 hari
setelah mereka melahirkan dan mulai pergi ke sawah ketika bayi mereka
berusia selapan (35 hari), dengan alasan pada saat itu masa nifas sudah
selesai dan sudah dianggap mampu untuk bekerja di ladang, seperti yang
disampaikan oleh NY, seorang tokoh masyarakat dan tokoh agama, berikut
ini.
“... Ya kalau liat itu ya kebalik, kalau dianu itu kan seharusnya
kerjaan laki ya, kalau semua rumah tangga itu kalau tanya
ya ... itu kan harus dikerjakan laki-laki, tapi karena di Madura
misalnya semua itu ibu yang ngerjain ....” (NY)
Interaksi sosial yang terjadi pada warga Desa Jrangoan umumnya
tergantung dari gender (jenis kelamin) peduduk. Langgar merupakan ruang publik tempat para laki-laki berkumpul, sedangkan dapur atau rumah
merupakan ruang domestik tempat perempuan berkumpul. Kembali informan MF menyampaikan:
14
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
“... tempat-tempat berkumpul bagi kaum laki-laki tempat yang
didominasi oleh laki-laki di mushola (langgar) ... tapi mushola
khusus, di mana setiap KK pasti memiliki mushola .…”
Biasanya laki-laki di desa ini berkumpul setiap malam Jum’at, meng­
ingat pada waktu itu biasa dilakukan pengajian bergilir di lingkungan
desa. Selain malam Jum’at, laki-laki Desa Jrangoan berkumpul ketika ada
upa­cara-upacara keagamaan, misalnya mauludan, pengajian 7 bulanan,
maupun pengajian ketika kelahiran bayi. Sementara waktu berkumpul
untuk perempuan biasanya ketika ada kegiatan posyandu atau saat acara
pernikahan, 7 bulanan, dan pengajian yang dilakukan oleh pengasuh
pon­dok pesantren. Mereka berkumpul untuk membantu pemilik hajat
memasak hidangan dan mempersiapkan acara tersebut.
2.2.3 Pemukiman
Bagi masyarakat Desa Jrangoan, rumah memiliki arti silaturahmi
antarkeluarga dalam satu keturunan. Hal ini dapat dilihat dari pola tata
letak rumah yang disebut taneyan lanjhang yang artinya halaman luas,
dan dalam satu lokasi terdapat 4-6 rumah yang penghuninya memiliki
pertalian keluarga yang dekat.
Tata letak rumah yang demikian menunjukkan bahwa privasi berpusat
pada keluarga dekat, terutama jika dikaitkan dengan filosofi Bhuppa’
Bhabhu’ Ghuru Rato, di mana ayah adalah kepala keluarga dan didampingi
ibu yang bertugas mengasuh anak-anaknya. Biasanya dalam satu halaman
terdiri atas rumah orang tua dan anak-anak yang sudah menikah, seperti
pada gambar berikut ini.
Gambar 2.2 Rumah dengan konsep Taneyan Lanjhang.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
15
Gambar 2.3 Denah rumah di Desa Jrangoan (Lintu Sulistyantoro, 2005).
Satu hal yang terlihat mencolok adalah keberadaan langgar di setiap
halaman rumah. Langgar dipergunakan tidak hanya untuk melaksanakan
sholat, namun juga sebagai tempat berkumpul dan menginap tamu lakilaki yang datang berkunjung seperti yang diceritakan oleh dua informan
tokoh agama (NS dan AR) berikut ini.
“…Ya kadang yang satunya kepingin ke satunya, ndak ada gitu.
Lain kalau seperti saya nanti, soalnya kalau pengasuh pas ada
.... Lain kalau seperti pengasuh ya itu walaupun bukan di sini,
maaf walaupun di Bangkalan di mana misalnya saudara saya
atau saudaranya kiai di sini, itu ndak bisa kumpul ….” (NS)
“… Itu, itu waktu dulu istilahnya mendak apoy itu istilahnya
api waktu masih pawonlah, kekurangan apa minta garam,
minta lombok bukan ... sekalipun tetangga bukan orang lain,
familinya itu sendiri kan begitu kan .…” (AR)
“... ada saudara 3 itu di satu halaman gitu ... Soalnya gitu Bu
kalau di maaf ya ... Kalau lain orang lain kampung itu kan ndak
ada istilah apa ya ... ganti pengasuh gitu ndak ada, lain dengan
kita ini kalau orang kampung itu misalnya kerjaan itu sama jadi
ndak ada ….” (AR)
Bentuk rumah di Desa Jrangoan umumnya memanjang yang disebut
rumah sekotan. Atapnya biasanya berbentuk segitiga sama sisi (seperti
rumah joglo di Jawa) yang bentuknya memanjang dengan kamar-kamar
yang memenuhi sisi bagian belakang rumah tersebut. Kamar-kamar
berderet memanjang di bagian belakang rumah seperti yang disampaikan
seorang informan (MF) berikut ini.
16
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
“... kalo di Madura orang tua harus ada di sebelah kanan.
Jadi tidak boleh anaknya yang berada di sebelah kanan.
Makanya, kalo di Madura rumah berjejernya ke samping bukan
kebelakang ....”
Gambar 2.4 Rumah sekotan. Gambar 2.5 Rumah pecenan.
Beda rumah pecenan dan rumah sekotan terletak pada balok semen
yang terletak di tengah atap dan curamnya bentuk kuda-kuda pada atapnya.
Dapur terletak di sisi lain rumah dan terpisah dengan rumah inti,
sedangkan kamar mandi umumnya terletak jauh dari bagian rumah inti
dan dapur dengan alasan kesehatan dan kenyamanan seperti yang disampaikan oleh Klebun Desa Jrangoan (AR) berikut ini.
“… Tapi itu seakan-akan sepaket, seakan-akan sepaket karena
apa ... karena apa, dulu ini kan bukan jeding (kamar mandi) di
Jerengoan ini, sini kan jeding ya, seperti drum di luar ya apa
namanya keban kalau di rumah bagaimana lagi kan nyamuknya
nanti kan juga bisa bikin rumah yang lebar .…”
Dapur dan kamar mandi umumnya terpisah dengan rumah inti ka­
rena beberapa alasan. Alasan pertama karena menurut warga kedua
bagian rumah itu mereprensentasikan konsep kotor. Alasan yang lain, yaitu
apabila kedua bagian rumah tersebut ada di dalam rumah dan menjadi
satu kesatuan dengan rumah inti, maka jika ada orang di luar keluarga
yang hendak mempergunakan kamar mandi, mereka akan masuk ke dalam
rumah inti, hal ini dianggap tidak baik mengingat rumah merupakan area
pribadi bagi pemilik.
Ventilasi berupa jendela hanya berada di bagian depan rumah. Alasan
keamanan menjadi pertimbangan sehingga ventilasi terdapat di bagian
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
17
depan rumah saja. Terbatasnya ventilasi yang hanya ada di bagian depan
rumah menyebabkan bagian dalam menjadi lembap dan gelap. Bahkan,
terkadang ditemukan jamur di dalam rumah karena rembesan air tidak
dapat kering seperti yang dikemukakan informan MF dan TZ yang mantan
klebun berikut ini.
“… Ya itu kan karena apa itu, air itu tidak bisa anu kan, kadangkadang ya jamuran seperti di rumah saya ada yang jamuran,
soalnya apa itu tanah itu ngembes katanya orang Jawa .…”
(TZ)
“… mungkin kalo menurut saya, kalo kamar mandinya ada
dalam rumah otomatis tamu yang mau ke kamar mandi takut,
malu, dan sebagainya .…” (MF)
2.2.4 Simbol
Simbol-simbol yang ditemui di dalam rumah warga Desa Jrangoan
berupa bungkusan kain putih yang berisi tulisan Arab. Benda ini biasa
disebut dengan jimat dan diletakkan di atas kusen pintu depan rumah
sebagai penolak bala. Harapannya keluarga tersebut terhindar dari
berbagai bencana.
Bahan bangunan yang dipergunakan oleh warga untuk membangun
rumah merupakan perbaduan antara kayu dan batu bata. Batu bata hanya
dipergunakan sekitar 75-100 cm dari tanah, sedangkan sisanya mempergunakan kayu jati atau nangka. Akan tetapi, ada beberapa rumah mempergunakan batu bata seluruhnya (bangunan seperti ini banyak ditemukan di pesantren), serta ada pula beberapa rumah mempergunakan kayu
saja sebagai bahan bangunan. Mayoritas lantai sudah mempergunakan
cor semen atau ubin dari keramik, namun masih ditemukan beberapa rumah berlantai tanah liat yang dipadatkan.
2.3 Sistem Religi
2.3.1 Kosmologi
Keberadaan tempat-tempat keramat sudah tumbuh dan berkembang
sejak masa berdirinya Desa Jrangoan. Di desa ini terdapat beberapa tempat
yang dianggap keramat dan pernah difungsikan oleh sebagian kelompok
orang sebagai tempat untuk mencari ilmu spiritual (ngelmu), salah satunya
adalah air terjun yang terletak di sebelah barat Pondok Pesantren Al-Ihsan.
18
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Air terjun tersebut terletak di sebuah jurang yang ditumbuhi pohonpohon sehingga sinar matahari tidak dapat menembus dasar jurang.
Air terjun itu diterangi lampu bohlam 5 watt baik siang maupun malam
unuk menggantikan penerangan sinar matahari. Air terjun tersebut dalam
beberapa tahun terakhir masih difungsikan sebagai tempat mencari ilmu
spiritual dengan cara bersemedi. Namun, sejalan dengan perkembangan
Pondok Pesantren Al-Ihsan, lokasi tersebut sudah tidak dipergunakan
lagi. Walaupun kini lokasi air terjun tersebut tidak disalahgunakan lagi,
kesan keramat dan angker masih tetap menjadi stigma di sekitar tempat
tersebut.
Tempat keramat lain yang berada di Desa Jrangoan terletak di se­
berang air terjun, yaitu pemakaman desa. Di pemakaman ini juga terdapat
makam-makam para sesepuh Desa Jrangoan yang juga menjadi keluarga
pendiri Pondok Pesantren Al-Ihsan. Pintu masuk pemakaman desa di­
tandai dengan gapura dan jalan setapak menuju makam. Ritual-ritual
be­rupa pengajian rutin dilaksanakan setiap hari Kamis malam, terutama
Jumat manis (Jum’at Legi) dan masih dilaksanakan hingga kini. Selain
untuk mengirimkan doa bagi para leluhur pendiri desa, pengajian ini juga
dilakukan untuk meminta perlindungan dari Allah SWT. Makam lain yang
masih dikeramatkan, namun tidak berada di pemakaman desa, adalah dua
makam syeikh yang memancarkan sinar menembus langit yang ditemukan
oleh Buju’ Ahmad. Al ini dikemukakan oleh AR, Klebun Jrangoan:
“... Kalau dulu masih ada 3 tempat ... daerah pondok tuh ...
daerah teppa’ ini ada juga, itu ada ... teppa’ in kampung, kam­
pungnya Klampok masih Jerengoan .... Memang gitu kalau ada
orang-orang lewat, kekurangan apa, ya kurang kewaspadaan
itu masih diganggu ... itu ya gini, dulu kan ada, dulu ada tapi
setelah mati nggak ada yang ngurusi, gapura itu paling sudah
dapat berapa tahunlah ... 10 tahun itu gapura itu, baru dibangun
itu ... iya pesarean yang saya bilang Bujuk Ahmad itu dan Bujuk
Syekh, itu ke sana arahnya, tapi barusan itu hanya 10 tahun
ya, tahun 2002 ... udah ndak, untuk apa ke air terjun ... itu air
terjun itu bukan untuk rekreasi kok, itu mandinya anak-anak
pondok kecil-kecilan lo .... Iya, tapi dulu itu ada hal semacam
itu, itu tapi sekarang sudah tidak ada pengaruhnya ….”
Tempat keramat lainnya yang kini juga sudah tidak dikeramatkan lagi,
yaitu sebuah jalan setapak. Menurut tokoh masyarakat daerah ini sudah
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
19
cawar/tabar (sudah hilang keangkerannya). Kesan angker muncul karena
jalan setapak tersebut terletak bersebelahan dengan pemakaman. Jalan
ini umumnya dihindari oleh waga Desa Jrangoan, karena jika seseorang
melewati jalan ini tidak dalam keadaan waspada atau pikirannya kosong
biasanya akan tersesat dan berputar-putar di lokasi tersebut seperti
disampaikan informan AR berikut ini.
“... Ya apa bingung apa? Nggak, bukan ... ada suara-suara yang
bukan-bukan .... Seperti jalan biasa, iya ya di sampingnya ada
kuburanlah .... Tapi itu sudah tidak ada pengaruhnya sekarang,
kalau dulu ada, jangan lewat sana ya ... dulu ada itu, sekarang
juga tidak ada pengaruhnyalah ....”
Walaupun masyarakat meyakini tempat-tempat angker di desa ini,
namun mereka percaya bahwa jika salah seorang di antara mereka me­
ninggal dunia, mereka percaya bahwa arwah atau rohnya tidak akan
gentayangan, tetapi langsung kembali kepada Allah. Mereka juga tidak
mempercayai adanya reinkarnasi. Hubungan antara masyarakat dengan
leluhurnya yang sudah meninggal umumnya melalui komunikasi doa. Hal
ini sesuai dengan ajaran Islam, yaitu apabila seseorang sudah meninggal
maka terputuslah hubungan mereka dengan dunia tempat mereka hidup
sebelumnya.
Sementara ritual-ritual yang berhubungan dengan kematian biasa­
nya berupa pembacaan tahlil bersama (dihadiri tetangga-tetangga se­
kitar) selama 7 hari setelah kematian secara berturut-turut. Kemudian
dilanjutkan pada hari ke-40, hari ke-100, dan juga ketika tepat hari ke1.000 sejak meninggalnya orang tersebut. Ritual ini berupa pembacaan
tahlil dan doa-doa untuk keselamatan orang yang meninggal di akhirat
nanti.
2.3.2 Praktik Keagamaan/Kepercayaan Tradisional
Sebagai masyarakat religius, mereka juga melaksanakan upacara ke­
agamaan pada waktu-waktu tertentu yang terdapat dalam penanggalan
Islam, seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di
antara ketiga upacara keagamaan tersebut, yang pelaksanaannya dilakukan dalam kurun waktu selama satu bulan dan dengan mengundang tetangga sekitar yaitu perayaan Maulid Nabi (molodhan). Pada waktu molodhan, tetangga sekitar datang ke rumah keluarga yang memiliki hajat untuk
membaca sholawat dan doa bersama. Tentunya hal ini membutuhkan
20
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
biaya tambahan untuk konsumsi para undangan yang hadir. Tidak jarang
pula masyarakat dengan status ekonomi menengah ke bawah yang men­
sakralkan molodhan dan ingin mengadakannya di rumah harus rela ber­
utang kepada tetangga dan saudara agar dapat menyelanggarakan molo­
dhan dengan mendatangkan penceramah terkenal ke rumah mereka.
Molodhan dalam perspektif masyarakat Desa Jrangoan merupakan
salah satu bentuk perayaan upacara keagamaan yang harus dilakukan
oleh tiap keluarga secara bergantian dengan tetanga-tetangga lainnya.
Pada saat bulan Maulud umumnya anggota keluarga yang merantau akan
pulang. Acara atau ritual ini juga merupakan kesempatan bagi seluruh
keluarga untuk berkumpul dan mendengarkan siraman rohani dari kiai
yang diundang. Menurut kepercayaan mereka, seluruh usaha yang mereka
lakukan dalam penyelenggaraan molodhan bertujuan untuk memperoleh
keberkahan dari Allah SWT dan syafaat dari Rasulullah di akhirat kelak,
sehingga jangankan tenaga, berutang sekalipun akan mereka lakukan
untuk melaksanakan/menggelar sholawatan di rumahnya.
Peran kiai dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dilepaskan da­lam
kehidupan sehari-hari. Setiap aspek kehidupan warga selalu me­nyertakan
restu dari kiai. Budaya chabis (memberikan sejumlah uang) kepada kiai
merupakan suatu bentuk penghormatan warga kepada kiai serta upaya
untuk memperoleh kebarokahan dalam hidup. Bagi mereka, chabis merupakan bentuk rasa terima kasih atas segala hal baik yang telah dilakukan
oleh kiai. Hal baik yang dimaksud adalah memberikan nama bagi anak
yang baru dilahirkan, sebagai tokoh agama yang membaca doa dalam
upa­cara kehamilan (pelet betteng), pernikahan, kelahiran, serta kematian.
Saat ini Kiai Mahrus merupakan kiai besar dalam kehidupan warga Desa
Jrangoan. Selain Kiai Mahrus, istri beliau, Nyai Syifa juga menjadi penga­
yom kehidupan beragama bagi remaja putri dan ibu-ibu di desa ini.
Pantangan dan tabu yang berkembang dalam kehidupan warga
Desa Jrangoan adalah aturan-aturan yang berdasarkan hukum Islam.
Me­nurut Kiai Mahrus, sejauh ini tidak pernah ada perbuatan-perbuatan
maksiat yang mengancam kehidupan warga. Apabila ada perbuatan yang
melanggar hukum agama terjadi di sekitar desa, maka mereka akan kualat
dan dengan sendirinya akan meninggalkan Desa Jrangoan. Sebagai contoh,
beliau menceritakan beberapa saat yang lalu sempat ada sekelompok
pemuda bergerombol dan membuat resah warga karena kegiatan mereka
yang kurang baik, seperti judi dan mabuk-mabukan, tetapi sejalan dengan
waktu mereka pergi dengan sendirinya.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
21
Praktik sihir dan totem tidak ditemukan di wilayah imi. Kehidupan
keagamaan mereka menutup kesempatan warga melaksanakan praktik
sihir. Dalam Islam praktik sihir merupakan salah satu tindakan syirik, yaitu
perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT sehingga praktik sihir merupakan
hal yang dianggap dosa. Ritual yang berkaitan dengan inisiasi pada anak
terbatas pada ritual sirkumsisi (sunat) yang dilakukan kepada laki-laki.
Pada umumnya ritual ini dilakukan anak-anak laki-laki ketika mereka
masih berusia 7–12 tahun. Sirkumsisi (sunat) yaitu pemotongan sebagian
dari ujung penis. Dalam Islam, sunat merupakan kewajiban yang harus
dilakukan. Sebagai penganut Islam yang taat, warga selalu melaksanakan
ritual ini dengan tujuan untuk tetap mejaga kebersihan organ vital.
Manfaat lain sunat yang belum mereka ketahui adalah untuk mencegah
penyakit infeksi saluran kemih bagi laki-laki.
Bentuk tirakat yang dilakukan masyarakat adalah puasa, suatu ritual
yang umum dilakukan oleh warga desa. Puasa dilakukan sesuai dengan
aturan dan ketentuan yang berlaku dalam agama Islam. Puasa yang
mereka lakukan tidak terbatas pada puasa Ramadhan yag merupakan
puasa wajib, tetapi juga puasa sunah yang mereka lakukan setiap Senin
dan Kamis. Tirakat merupakan tindakan asketisme yang bertujuan untuk
memperoleh hasil yang lebih baik melalui pertolongan Tuhan sehingga
masyarakat di desa ini pun melakukannya agar memperoleh keberkahan
dari Allah.
2.4 Organisasi Sosial dan Kemasyarakatan
2.4.1 Keluarga Inti
Dalam kehidupan sehari-hari warga Desa Jrangoan keluarga inti
adalah keluarga yang hidup di bawah satu atap. Pada umumnya dalam satu
atap terdiri atas 3-4 keluarga. Mereka tinggal dalam satu rumah dengan
orang tua (Bapak) menjadi patron dalam keluarga inti tersebut. Otoritas
anggota keluarga tersebut hanya terbatas dalam satu ruang kamar.
Sebuah keluarga biasanya memiliki 6-7 anak dan tetap tinggal ber­
sama orang tuanya selama mereka belum memiliki rumah tinggal sendiri.
Mereka tetap tinggal dengan orang tua mereka walaupun sudah memiliki
satu atau dua orang anak sehingga dalam satu rumah sering dijumpai ada
10 orang atau lebih anggota keluarga yang menempatinya.
Dalam hal pembagian kerja di keluarga, mereka mempunyai kebiasa­
an memisahkan sektor publik dan sektor domestik berdasarkan gender.
22
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Pembagian kerja dalam keluarga pun sudah menjadi suatu kebiasaan
yang tidak tertulis. Pekerjaan mencari nafkah dalam keluarga menjadi
kewajiban seorang suami dan ini dijunjung tinggi oleh laki-laki. Umumnya
mereka bekerja menjadi peladang dan pedagang di kota-kota sekitar
Jawa Timur. Sementara perempuan umumnya hanya berkutat seputar
sektor domestik. Umumnya mereka bekerja sebagai ibu rumah tangga.
Apabila mereka bekerja di sektor publik, mereka terbatas hanya bekerja
membantu suami di ladang atau membuka warung kecil-kecilan di pasar
Desa Jrangoan atau di dalam pesantren.
Seperti dikemukakan sebelumnya, laki-laki memegang peranan
da­lam sektor publik di lingkungan keluarga mereka. Segala keputusan
keluarga merepresentasikan keputusan kepala keluarga, termasuk dalam
hal pemilihan kepala desa maupun pemilihan kepala pemerintahan yang
lain. Hal ini mereka lakukan mengingat dalam Islam seorang laki-laki
merupakan imam dalam kehidupan keluarga yang diejawantahkan sebagai
imam di dunia dan akhirat. Sementara mengenai perwakilan dalam segala
kegiatan kewanitaan, baik yang diselenggarakan oleh masyarakat, desa,
maupun oleh pondok pesantren, biasanya dibebankan pada perempuan,
misalnya seperti kegiatan posyandu, muslimatan, syukuran, dan kegiatan
antartetangga.
Dalam hal sektor produksi dan reproduksi di satu rumah tangga sudah
berdasarkan gender tertentu. Sektor produksi yang berhubungan dengan
sektor publik lebih didominasi oleh laki-laki. Mereka memegang kewajiban
untuk menafkahi anak dan istri, memberikan kenyamanan serta keamanan
bagi anggota keluarga mereka. Kewajiban tersebut merupakan ketentuan
yang berlaku dalam agama Islam dan tertulis dalam buku perkawinan
mereka, sedangkan hak yang mereka terima adalah penghormatan dan
kepatuhan yang didapatkan dari anak istri mereka. Dalam sektor reproduksi,
perempuan memiliki kondisi yang sudah menempel dan melekat erat
dengan takdir kehidupan mereka. Tugas melahirkan dan merawat anak
serta anggota keluarga yang lain sudah merupakan kewajiban. Mereka
memiliki hak untuk memperoleh kenyamanan, keamanan, dan nafkah
yang disediakan oleh suami mereka.
2.4.2 Sistem Kekerabatan
Dalam kehidupan keluarga besar, penetapan garis keturunan berda­
sarkan garis ayah (patrilineal). Kondisi ini bukan merupakan sebuah ke­
tentuan mutlak seperti dalam kelompok masyarakat dengan budaya yang
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
23
menetapkan garis keturunan dari ayah namun terdapat marga/fam (family
name) yang menyertainya.
Sebagai penganut Islam, mereka menetapkan keturunan mereka berdasarkan hukum Islam. Sistem patrilineal ini sesuai dengan hukum Islam
yang menetapkan garis keturunan berasal dari garis ayah. Ketika seorang
anak lahir, maka ia akan menyandang nama ayahnya, apabila laki-laki akan
menyandang nama dengan sebutan “bin” dan apabila perempuan akan
menyandang nama dengan sebutan “binti”. Nama ini akan menjadi identitas dari mulai anak itu lahir hingga ia dimakamkan nanti. Identitas pribadi
ini selalu menyertai seseorang dalam melewati semua siklus hidupnya.
Sampai ketika dimakamkan pun doa yang dikirimkan kepada sang almarhum dan almarhumah pun akan lebih afdol dengan menyebutkan nama
bin atau bintinya. Salah satu penggunaan wajib dalam pemakaian nama
bin atau binti adalah dalam perkawinan.
Perkawinan dalam kehidupan warga Desa Jrangoan merupakan suatu
fase penting dalam kehidupan seorang anak. Persiapan pernikahan bahkan
sudah dilakukan jauh hari sebelumnya, hal itu disebabkan perkawinan di
Desa Jrangoan umumnya melalui perjodohan. Dalam perjodohan, orang
tua memegang peranan penting, baik di lingkungan keluarga, masyarakat
umum, maupun di kalangan kiai. Perjodohan dilakukan ketika anak masih
berusia balita, bahkan masih di bawah satu tahun. Padahal di masyarakat
umum perjodohan dilakukan ketika anak sudah dirasa cukup usia untuk
dinikahkan. Pertimbangan orang tua ketika menjodohkan anaknya adalah
mereka ingin calon menantunya berasal dari keluarga atau tetangga
terdekat dengan alasan agar orang tua calon mempelai perempuan dapat
mengetahui dan yakin bahwa menantunya adalah laki-laki yang mampu
menghidupi dan melindungi anak dan istrinya, sedangkan perjodohan
untuk keluarga calon mempelai laki-laki dilakukan agar mereka yakin
bahwa perempuan tersebut mampu menjadi istri dan ibu yang baik bagi
anak dan cucunya.
Berbeda dengan keluarga kiai, perjodohan antarkerabat merupakan hal yang umum dan biasa ditemui. Pernikahan antarkerabat adalah
per­nikahan yang dilakukan dengan saudara sepupu baris pertama maupun saudara sepupu baris kedua. Perkawinan yang diatur oleh orang
tua atau keluarga di kalangan kiai dilakukan semenjak anak-anak berusia relatif muda, bahkan untuk anak perempuan perjodohan sering dilakukan ketika anak-anak berusia di bawah dua tahun (baduta). Hal ini
terjadi karena lingkungan pesantren mengonstruksi perempuan sebagai
24
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
makhluk yang harus patuh, taat, dan tunduk terhadap aturan-aturan yang
umumnya dibuat oleh laki-laki. Subordinasi terhadap perempuan dapat
dilihat de­ngan pewarisan tampuk kepemimpinan di kalangan pesantren
atau rege­nerasi pemimpin pondok pesantren yang biasanya diserahkan
ke­pada anak laki-laki kiai. Jika kiai tidak memiliki anak laki-laki, biasanya
kepemimpinan diwariskan kepada saudara laki-laki, keponakan laki-laki,
atau kepada menantu.
Di kalangan kiai pada etnik Madura, extended family merupakan
ladang perjodohan bagi keturunan mereka dan umumnya perjodohan
di­lakukan dengan sesama keturuanan kiai. Pernikahan diatur dengan
sepupu pertama, sepupu kedua, maupun sepupu ketiga baik dari pihak
ayah maupun ibu, tergantung keputusan bersama (orang tua). Sering
terjadi perjodohan dilakukan sejak anak berusia balita, bahkan lebih muda.
Beberapa perjodohan terjadi antara anak perempuan berusia di bawah lima
tahun dengan remaja laki-laki berusia 2 kali usia anak perempuan tersebut.
Pada umumnya anak perempuan tidak mendapatkan kesempatan untuk
menolak proses perjodohan itu. Mereka menerima keputusan orang tua
dan menikah ketika usia sudah dianggap cukup oleh orang tua.
Dari hasil wawancara, usia perkawinan umumnya disebutkan di
atas 16-20 tahun. Tetapi, dari hasil pengamatan ternyata masih banyak
pernikahan yang dilangsungkan ketika pengantin wanita masih berusia
15-16 tahun dengan proses perjodohan. Setelah dilakukan cross check
dengan para pemuka masyarakat, hal ini bisa terjadi karena masyarakat
tidak terlalu menganggap penting tanggal lahir. Mereka hanya mengirangira tanggal dan tahun kelahiran anak-anak mereka sehingga ketika anak
mereka sekolah, tanggal kelahiran yang tercantum adalah tanggal lahir
perkiraan orang tua. Ijazah sekolah yang mencantumkan tanggal lahir
tersebut dijadikan syarat untuk pengajuan ijin perkawinan. Hal itulah yang
menyebabkan kondisi di lapangan berbeda dengan bukti-bukti yang ada
secara administratif.
Secara umum, pola tempat tinggal masyarakat adalah matrilokal,
tetapi juga terdapat beberapa keluarga yang tinggal secara patrilokal
ataupun neolokal. Dengan pola matrilokal, maka penyediaan rumah ting­
gal bagi keluarga baru menjadi tanggung jawab pihak keluarga perempuan
meskipun tidak harus tinggal pada taneyan lanjhang keluarga pihak
perempuan. Pada beberapa kasus, pola tempat tinggal keluarga baru
bergantung pada kemampuan dan kebutuhan masing-masing keluarga
mempelai.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
25
Harta dalam keluarga berasal dari harta warisan dan harta bersama
yang dimiliki oleh pasangan suami istri. Sementara pewarisan dilakukan
sesuai dengan ketentuan dalam hukum waris Islam, tetapi beberapa di
antara mereka ada yang melakukan pembagian warisan berdasarkan
amanat yang diberikan oleh orang tua mereka.
2.4.3 Sistem Kemasyarakatan dan Politik Lokal
Stratifikasi sosial masyarakat Jrangoan terdiri atas dua lapisan, yaitu
kelompok kiai dan masyarakat umum. Kelompok kiai menempati posisi
teratas dalam masyarakat Jrangoan, sehingga kiai dan keluarganya sangat
dihormati dan diberi perlakuan khusus sebagai balasan peran keagamaan
yang mereka emban. Salah satu bentuk hormat masyarakat kepada kiai
adalah masyarakat umum tidak menelepon kiai dan keluarganya. Jika ada
suatu kepentingan dengan keluarga kiai, sebaiknya langsung menemui
beliau di lingkungan pesantren. Contoh lain, yaitu berjalan di lingkungan
pesantren (halaman tempat tinggal kiai) sebaiknya tidak mengenakan alas
kaki karena dianggap sebagai tempat suci.
Warga juga menganggap bekerja di lingkungan kiai sebagai suatu
pengabdian dan kebanggaan. Pengabdian tersebut dapat sebagai ustad,
ustadzah, atau pengurus rumah tangga kiai meskipun penghasilan yang
didapat pas-pasan atau bahkan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Bagi para pengabdi di lingkungan kiai, imbalan yang lebih berharga adalah
berbentuk berkah (barokah) dari kiai yang akan menjadi cara mereka
untuk mendapatkan rezeki dari Allah. Lapisan kedua masyarakat Jrangoan
adalah masyarakat umum yang terdiri atas tokoh masyarakat dan warga
biasa. Pelapisan masyarakat yang terbentuk kemudian mempengaruhi
sistem perjodohan seperti yang dijelaskan di bagian sistem kekerabatan,
yaitu perjodohan antarkeluarga kiai dan antarmasyarakat umum.
Sistem politik lokal di Jrangoan memiliki tiga lapisan, yaitu tokoh
agama (ustad dan kiai), tokoh masyarakat (klebun, mantan klebun, to­
koh kepemudaan, tokoh kewanitaan, bidan, dukun bayi, BPD-Badan Pe­
masyarakatan Desa), dan masyarakat umum. Secara administratif, klebun
adalah pemimpin desa dan segala keputusan yang berhubungan dengan
kehidupan warga Desa Jrangoan diputuskan secara musyawarah dan dilegalisasi oleh klebun. Apabila keputusan tidak tercapai, maka permasalahan
ini akan dibawa kepada kiai untuk mendapat keputusan. Peran kiai dalam
politik lokal semakin terasa ketika ada pemilihan kepala desa (pilkades)
di Desa Jrangoan. Restu dan persetujuan kiai menjadi syarat utama terpi-
26
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
lihnya seorang bakal calon kepala desa. Kiai tidak hanya berperan dalam
kegiataan keagamaan dan berpengaruh dalam politik lokal, namun juga
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa.
Tokoh masyarakat dan agama berperan penting dalam masalah kese­
hatan di Desa Jrangoan. Peran klebun ditunjukkan dengan diadakannya
posyandu yang diadakan di rumahny. Semua program kesehatan tersosia­
lisasikan melalui peran tokoh masyarakat (perangkat desa, terutama kle­
bun) dan tokoh agama (kiai dan nyai). Ketika program-program KIA akan
disosialisasikan, bidan desa meminta bantuan nyai untuk melakukan
sosialisasi program pada acara muslimatan (pengajian yang diperuntukan
bagi perempuan).
Pola kerja sama warga Desa Jrangoan berkembang dari kedekatan
yang terjalin di langgar (tempat sholat kecil), pengajian yang dilaksanakan
setiap Kamis malam dan kegiatan informal lainnya. Pola interaksi tersebut
membangun pola kerja sama yang sementara, hal ini disebabkan setiap
pelaksananaan kegiatan-kegiatan informal mereka bertemu dengan orangorang yang berbeda-beda. Mobilitas sosial maupun vertikal tidak terlihat
secara nyata, mobilitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakat terbatas
pada mobilitas horizontal dalam hal pekerjaan. Mereka umumnya bekerja
menjadi pedagang di luar Pulau Madura.
Konflik antarwarga beretnik Madura umumnya berupa konflik laten
yang tidak tumbuh secara frontal dalam kehidupan bermasyarakat. Namun,
konflik ini menyeret seluruh anggota keluarga dari masing-masing pihak
walaupun tidak secara terang-terangan dan hanya membicarakan lawan
di belakang mereka. Pada masyarakat etnik Madura, carok salah satu cara
menyelesaikan konflik, terutama yang berhubungan dengan harta, harga
diri, dan wanita (istri). Akan tetapi, carok tidak pernah terjadi di wilayah
ini dikarenakan figur kiai dalam kehidupan warga sudah menjadi mediator
dalam penyelesaian konflik di Desa Jrangoan.
2.5 Pengetahuan
2.5.1 Konsepsi Mengenai Sehat dan Sakit
Konsepsi yang berkembang dalam kehidupan warga Desa Jrangoan
tentang sehat adalah seseorang yang masih mampu beraktivitas dan
bekerja, walaupun dalam kondisi sakit yang berat sekalipun. Sebaliknya,
jika seseorang menderita sakit yang ringan seperti flu namun tidak mam­
pu beraktivitas dan bekerja, maka ia disebut tidak sehat (sakit). Terdapat
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
27
dua penyebab sakit, yang pertama adalah penyakit yang umumnya da­
pat disembuhkan secara medis dan yang kedua adalah penyakit yang
disebabkan oleh hal-hal gaib atau kekuatan mistik. Penyakit yang disebab­
kan oleh kekuatan mistik ini disembuhkan melalui kekuatan supranatural
yang dilakukan oleh kiai, ustad, atau dukun.
Derajat kesakitan seseorang umumnya ditandai dengan jenis-jenis
penyakit yang diidap oleh warga. Penyakit ringan adalah penyakit batuk,
pilek, dan ISPA. Penyakit batuk dapat dianggap sebagai penyakit ringan
walaupun batuk menahun dan hanya diobati dengan jeruk dan kecap. Hal ini
dikarenakan rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit TBC.
Penyakit yang dianggap berat oleh warga adalah Diabetes Mellitus (DM)
atau yang mereka kenal dengan “kencing manis”. Bidan desa menyatakan
bahwa banyak warga desa menginap penyakit ini dikarenakan pola hidup
mereka yang gemar menyantap karbohidrat dalam dosis berlebih dan
minum manis (kopi dan teh) secara berlebihan. Umumnya mereka tidak
menyadari akan penyakit ini sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi
bidan desa untuk menyosialisasikan perihal TBC secara terus-menerus.
Konsep dingin tidak terlalu dikenal dalam kehidupan warga, tetapi
konsep panas dikenal sebagai penyakit setan. Ketika seorang balita
mengalami panas selama berhari-hari, ibu akan membawa balitanya ke
dukun atau kiai. Pengobatan oleh dukun dilakukan dengan pemberian
bu’-sobu’ dan kiai akan melakukan ritual penyembuhan melalui mediasi
air putih yang didoakan.
Konsepsi bersih dan kotor merupakan hal yang melatari persepsi
warga dalam pembangunan rumah mereka. Konsep bersih pada masya­
rakat adalah langgar atau mushola yang dipergunakan sebagai tempat
ibadah dan tempat berkumpul. Langgar atau mushola merupakan tem­
pat untuk beribadah kepada Allah SWT sehingga penting untuk dijaga
kebersihannya. Sementara konsep kotor direprensentasikan dengan ka­
mar mandi dan dapur karena di dalam ruangan ini segala kotoran atau
sampah dibersihkan dan dikumpulkan.
Penyakit jiwa atau gila merupakan penyakit yang menurut warga
Desa Jrangoan disebabkan oleh berbagai penyebab. Penyebabnya antara
lain adalah penyakit saraf dan makhluk halus. Gangguan kejiwaan harus
disembuhkan dengan penanganan medis di rumah sakit jiwa, sedangkan
gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh makhluk halus dianggap
berpotensi terjadi tindakan yang tidak wajar, tidak seperti orang yang sehat
jiwa dan rohaninya. Penyakit jiwa yang disebabkan kerasukan makhluk
28
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
halus biasanya disembuhkan dengan bantuan dukun, dengan mediasai
berbagai makhluk hidup, seperti ayam dan air putih. Apabila makhluk
halus di dalam tubuh tidak keluar dari tubuh orang tersebut, maka ia akan
dipasung agar tidak membuat kerusuhan dan merugikan orang lain.
Warga Desa Jrangoan kurang begitu memahami penyakit HIV/Aids.
Bagi mereka, penyakit tersebut sangat jauh dari keseharian mereka.
Pendapat tentang HIV/Aids terbatas berasal dari tenaga kesehatan dan
tokoh kepemudaan saja. Menurut mereka HIV/Aids adalah penyakit yang
disebabkan oleh hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik.
Keterbatasan informasi yang dimiliki terasa sangat berbeda ketika
kami minta informasi mengenai penyakit-penyakit yang lain seperti TBC.
Warga Desa Jrengoan mengenal penyakit TBC ini dengan istilah ceklek.
Ceklek ini lebih bernuansa supranatural dibandingkan medis. Mereka
menganggap ceklek adalah penyakit hasil guna-guna dari orang yang tidak
suka dan iri kepada mereka. Penyakit ceklek dapat dikenali dengan gejala batuk yang tidak berhenti dan menahun atau bahkan muntah darah
sehingga pengobatan ceklek umumnya melalui penyembuhan secara
spiritual. Puskesmas Jrangoan berusaha menyosialisasikan penyakit TBC
kepada warga Jrangoan dengan meminta kepada warga untuk me­lapor
apabila keluarga terdekat atau tetangganya menderita batuk berkepanjangan dalam waktu yang relatif lama serta berat badan yang menyusut
secara drastis.
Warga Jrangoan memandang malaria sebagai penyakit yang disebab­
kan oleh gigitan nyamuk. Desa Jrangoan bukan merupakan daerah en­
demis malaria namun warga mengenal pengobatan pil kina dan beberapa
ada yang menyebut mahoni. Warga tidak mengetahui banyak perihal
pencegahan penyakit malaria.
Penyakit hipertensi/kardiovasikuler sudah sering disosialisasikan
kepada warga desa. Warga mengenal penyakit ini sebagai “darah tinggi”
dan disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi makanan yang terlalu asin
dan juga oleh konsumsi makanan berlemak. Pengobatan “darah tinggi”
yang dipercaya oleh masyarakat adalah dengan pengobatan tradisional
(jamu). Warga memilih untuk mengurangi konsumsi makanan asin untuk
mencegah penyakit ini. Penyakit stroke dikenal oleh warga dengan istilah
“lumpuh separuh”. Warga sudah terbiasa dengan istilah stroke, tetapi
hanya beberapa warga yang bisa menjawab penyebab penyakit ini, yaitu
disebabkan oleh makanan berlemak, tetapi mereka tidak mengetahui
dengan pasti cara pengobatan dan pencegahan penyakit ini.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
29
Warga mengenal diabetes atau kencing manis disebabkan karena
konsumsi minuman dan makanan manis yang berlebihan. Pengobatan
yang dilakukan oleh warga adalah melalui konsumsi jamu atau makanan
yang pahit, seperti pare, biji mahoni, atau pun temulawak yang dibuat
dalam bentuk jamu. Pencegahan yang mereka lakukan pada penyakit ini
terbatas pada mengurangi makanan dan minuman yang bersifat manis.
2.5.2 Penyembuhan Tradisional
Peranan sosial lain dalam proses penyembuhan tradisional di
masyarakat di luar bidang kesehatan tidak ditemukan pada masyarakat ini.
Penyembuh tradisional yang ada di Desa Jrangoan umumnya merupakan
ahli pijat dan urut. Warga Desa Jrangoan cenderung bersifat agamis dan
peranan sosial umumnya berada di tangan kiai dan pemuka masyarakat
seperti klebun sehingga tidak ada peranan penyembuh tradisional yang
melampaui peran mereka dalam bidang kesehatan.
Keahlian para penyembuh tradisional umumnya diwarisi secara turun-temurun. Mereka mendapatkan ilmu tersebut sebagai penerus dari
ilmu yang diperoleh orang tua mereka. Penurunan ilmu tersebut memakan waktu yang tidak sebentar. Mereka mempelajari ilmu dengan cara
membantu orang tua mereka menangani pasien.
2.5.3 Teknik Penyembuhan
Cara perawatan diri sendiri (ibu bersalin) dan bayi yang baru dilahirkan dilakukan oleh dukun yang membantu persalinan (baik persalinan
yang dibantu oleh bidan maupun tidak). Ketika ibu bersalin baru melahirkan, umumnya mereka diminta untuk menyilangkan kaki kanan di atas
kaki kiri. Tujuan tindakan ini adalah agar vagina dapat segera kembali ke
bentuk asal (rapet). Setelah sekurangnya 1 jam beristirahat, makan, dan
minum, ibu bersalin akan dimandikan serta dibersihkan dari sisa-sisa pro­
ses persalinan berupa darah dan kotoran yang lain. Setelah proses pembersihan selesai, maka akan dipasangkan stagen pada perut ibu bersalin
dan menggunakan kain sarung sebagai bawahannya, dilanjutkan dengan
beristirahat di ruangan yang pada lantainya disebar pasir dengan maksud
apabila darah nifas keluar tidak akan menetes di lantai dan terserap oleh
sehingga lebih mudah dibersihkan.
Pada bayi baru lahir, bayi dimandikan dengan menggunakan air panas
dan sabun sambil badannya diurut dan dipijat agar tidur bayi nyenyak.
Setelah diberi pakaian dan dibedong, bayi akan diletakan diatas tampah
30
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
yang telah dialasi kain bersih, dengan tujuan apabila bayi mengompol
tidak akan merusak kasur atau alas tidurnya. Di atas kepala bayi biasanya
diletakkan pisau, silet, atau benda tajam lainnya, kaca dan bawang merah
dan cabai yang ditusuk seperti sate. Penempatan benda-benda tersebut
bertujuan agar bayi tidak diganggu oleh makhluk halus.
2.5.4 Penyembuhan Tradisional dan Biomedikal
Dalam kehidupan sehari-hari, keterikatan warga Desa Jrangoan akan
jamu dan obat-obatan tradisional sangat kuat. Jamu sebagai pertolongan
pertama dalam penyembuhan penyakit-penyakit yang berkembang di
masyarakat, mulai dari penyakit ringan seperti batuk yang diobati oleh
perasan jeruk nipis yang dicampur kecap hingga penyakit-penyakit berat
seperti diabetes mellitus yang mempergunakan campuran kunyit dan
temulawak.
Pemanfaatan obat yang dijual bebas juga mulai dikenal oleh warga
Desa Jrangoan, walaupun terbatas pada obat-obat ringan penyembuh
sakit kepala dan obat flu, tetapi mereka sudah mengetahui dengan pasti
obat yang mereka butuhkan untuk mengobati penyakit mereka.
2.5.5 Pengetahuan tentang Makanan dan Minuman
Persepsi akan makanan pada warga Desa Jrangoan terbatas pada
ma­kanan pokok yang berupa nasi atau nasi jagung (nasi dengan campuran
jagung) dengan lauk pauk baik berupa lauk hewani maupun lauk nabati.
Penggunaan sayuran sebagai makanan pelengkap sulit ditemui pada
warga Desa Jrangoan, apabila ada, jenisnya terbatas, yaitu kacang panjang,
kangkung dan bayam saja. Sayuran pada umumnya diolah dengan cara
direbus dan menjadi rujak (seperti gado-gado yang ditambah dengan petis
sebagai campuran sambalnya) atau ditumis saja. Sementara makanan
ringan terbatas pada makanan yang juga terbuat dari karbohidrat seperti
tepung, singkong, jagung, serta beras.
Prioritas pembagian makanan di dalam keluarga juga sangat tidak
proporsional. Prioritas pertama dalam pembagian dan pemilihan lauk
pauk di keluarga adalah ayah karena posisinya sebagai pencari nafkah dan
pemimpin keluarga. Prioritas kedua adalah anak karena menurut mereka
anak masih dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan makanan yang
lebih untuk aktivitas sehari-hari mereka. Prioritas terakhir adalah ibu
karena dalam persepsi mereka, seorang ibu pasti lebih mementingkan
ayah dan anak dalam pembagian makanan.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
31
Pengetahuan tentang cara pengolahan dan penyimpanan makanan
juga masih kurang. Dalam hal pengolahan makanan, seperti proses me­
masak, umumnya sesuai dengan pengetahuan yang mereka dapatkan dari
orang tua mereka, misalnya mencuci sayuran setelah sayuran tersebut
dipotong-potong adalah salah satu contohnya. Dalam hal penyimpanan
makanan dan minuman, mereka hanya mengenal penyimpanan makanan
yang sudah disajikan di dalam lemari.
Makanan-makanan siap saji juga mulai merambah warga Desa Jra­
ngoan. Sosis dan nugget banyak ditemukan di Pasar Desa Jrangoan. Wa­
laupun dari segi rasa dan kesehatan belum tentu terjamin mengingat
harga makanan siap saji ini relatif murah. Harga jual yang relatif murah
memang sangat membantu dan terjangkau warga Desa Jrangoan.
2.5.6 Pengetahuan tentang Pelayanan Kesehatan
Pada umumnya tempat pelayanan kesehatan yang digunakan oleh
warga Desa Jrangoan adalah polindes yang juga menjadi tempat tinggal
bidan desa. Warga membutuhkan pelayanan polindes untuk memperoleh
pertolongan pertama bagi setiap permasalahan kesehatan mereka yang
tidak dapat mereka selesaikan dengan pengobatan rumah tangga (self
care). Sebenarnya fungsi utama polindes adalah tempat persalinan bagi
warga Desa Jrangoan. Puskesmas sendiri dalam persepsi warga Desa
Jrangoan adalah tempat memperoleh pengobatan yang lebih komprehensif
yang tidak mereka peroleh dari polindes.
Pengobatan rumah tangga yang biasa ditemui di Desa Jrangoan ada­
lah pengobatan tradisional yang mempergunakan jamu dan buk-sebuk
(pertolongan oleh penyembuh tradisional) untuk anak-anak. Selain itu,
warga desa juga mempergunakan obat bebas terutama untuk penyakit
ringan seperti batuk, flu dan pusing yang didapatkan di warung terdekat.
Pengambilan keputusan untuk memperoleh pelayanan kesehatan
pada warga desa biasanya dilakukan oleh kepala rumah tangga, terutama untuk penyakit-penyakit berat yang membutuhkan pengobatan komprehensif. Tetapi, untuk pelayanan KIA, terutama pelayanan persalinan,
pengambil keputusan adalah ibu dari anak yang akan melahirkan (apabila
merupakan kehamilan pertama), sedangkan pada persalinan kedua dan
seterusnya pengambilan keputusan di tangan ibu yang akan bersalin de­
ngan alasan sudah berpengalaman dalam persalinan sehingga bulin dapat
memilih pelayanan kesehatan yang paling nyaman baginya.
32
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Respons masyarakat pada pelayanan kesehatan profesional sangat
baik. Mereka terbuka dengan sosialisasi pelayanan kesehatan yang diper­
kenalkan oleh puskesmas. Seti ap program yang diperkenalkan selalu
mengikutsertakan peran tokoh agama agar dapat diterima oleh masyarakat
dengan baik. Tidak ada penolakan frontal yang dilakukan masyarakat terhadap program kesehatan yang disosialisasikan. Pada umumnya sosialisasi
dilakukan terus-menerus oleh nakes dan toga agar dapat diterima dan dilaksanakan oleh warga desa.
2.5.7 Persepsi Masyarakat terhadap Pelayanan Kesehatan
Klebun menyatakan bahwa keberadaan puskesmas dan polindes
sa­­ngat membantu warga Desa Jrangoan. Dengan adanya polindes, me­
reka tidak perlu pergi ke Kota Sampang untuk memperoleh pelayanan
kesehatan dasar. Sementara ini, untuk memperoleh pelayanan kesehatan
untuk anak-anak, warga Desa Jrangoan harus mencari bantuan kesehatan
ke Desa Rapalaok, Kecamatan Omben yang berjarak sekitar 5 kilometer
dari Desa Jrangoan.
Kebutuhan akan pelayanan kesehatan bagi warga Desa Jrangoan
sangat tinggi. Warga menderita penyakit yang variatif setiap musimnya.
Penyakit yang sering diderita pada musim kemarau adalah ISPA, sedangkan
pada musim penghujan penyakit yang ering merebak yaitu diare.
Kebutuhan akan pelayanan kesehatan dasar juga dibutuhkan oleh
warga desa yang lain di sekitar Jrangoan seperti Desa Kebun Sareh,
Ang­sokah, Napo, dan Rong Dalem. Para warga desa tersebut juga ikut
menggantungkan pemenuhan kebutuhan kesehatan pada Puskesmas
Jrangoan. Sebelum ada Puskesmas Jrangoan, mereka harus menempuh
perjalanan ke Puskesmas Omben atau ke Kota Sampang yang berjarak 12
kilometer dari desa.
Bidan desa merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di Desa
Jrangoan. Meskipun puskesmas juga berdiri di Desa Jrangoan, tetapi
untuk pelayanan-pelayanan darurat mereka sangat membutuhkan tenaga
kesehatan yang dapat siap 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Bidan desa
juga mempunyai kewajiban melakukan pendekatan kepada warga desa
agar mereka percaya dengan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
tenaga kesehatan, serta meninggalkan kepercayaan masyarakat untuk
mencari pertolongan pertama pada kondisi darurat masalah kesehatan
kepada dukun.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
33
Keberadaan bidan yang ditempatkan di Desa Jrangoan dapat diterima
dengan baik oleh warga. Bidan desa Nisa mengabdi di Desa Jrangoan
sekitar 2 tahun. Penerimaan warga terhadap Bidan Nisa dipengaruhi oleh
pembawaan beliau yang sabar dan luwes bergaul dengan warga desa
sehingga dapat memperoleh kepercayaan warga. Kemampuan sosial Bidan
Nisa tidak hanya mendapatkan kepercayaan warga Desa Jrangoan namun
juga warga desa lain di sekitarnya seperti warga Desa Kebun Sareh dan
Napo. Warga sekitar datang ke Bidan Nisa untuk berobat, pemeriksaan
kesehatan, atau bahkan persalinan, meskipun telah ada bidan desa di
desa mereka.
2.6. Bahasa
Mayoritas penduduk Desa Jrangoan adalah keturunan asli penduduk
Desa Jrangoan. Etnik/suku masyarakat Jrangoan, yaitu suku Madura dan
bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Madura. Pada dasarnya, tidak
ada perbedaan antara kosakata dalam bahasa Madura yang digunakan
oleh masyarakat Jrangoan, Kabupaten Sampang dengan kosakata bahasa
Madura yang terdapat di kabupaten lain di Pulau Madura. Hanya saja ada
sedikit kosakata yang berbeda, namun masih dapat saling dimengerti
oleh masyarakat Madura lainnya walaupun dialek pengucapan katanya
berbeda.
Walau demikian, bahasa Madura yang digunakan oleh masyarakat
disesuaikan dengan latar belakang lawan bicaranya. Ada empat tingkatan
dalam bahasa Madura, antara lain bahasa Madura enje’ iye, enggi enten,
enggi bunten, dan tenggi alos. Bahasa enje’ iye digunakan antara dua
orang atau lebih yang usianya sebaya. Sedangkan enggi enten digunakan
jika seseorang berbicara kepada orang yang sedikit lebih tua (kakak).
Enggi bunten merupakan bahasa yang digunakan apabila seseorang
ber­­bicara kepada orang yang jauh lebih tua. Untuk tenggi alos biasanya
digunakan ketika berkomunikasi dengan orang tua kandung, kiai, dan
tokoh masyarakat. Perbedaan keempat tingkatan bahasa tersebut terletak
pada beberapa kosakata tertentu. Misalnya saja untuk kata “saya” dalam
bahasa Madura. Bahasa enje’ iye dan enggi enten “saya” adalah sengko’
atau engko’, jika dalam enggi bunten maka berubah menjadi kaula. Se­
dangkan bahasa tenggi alos “saya” adalah abdhina. Perbedaan tingkat ba­
hasa ini ditujukan agar orang yang lebih muda menghormati yang lebih
tua, begitu pula dengan orang biasa yang selayaknya menghormati kiai
dan tokoh masyarakat lainnya.
34
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Berdasarkan data profil Desa Jrangoan tahun 2011 tingkat pendidikan
masyarakat desa Jrangoan rendah. Hal itu terlihat dari jumlah penduduk
Desa Jrangoan usia 18-56 tahun yang buta huruf sebesar 348 orang
laki-laki dan 350 orang perempuan, dan penduduk Desa Jrangoan usia
18-56 tahun yang pernah bersekolah di SD tetapi tidak tamat sebesar
67 orang laki-laki dan 68 orang perempuan. Sedangkan penduduk Desa
Jrangoan yang hanya tamat SD sebesar 133 orang laki-laki dan 134 orang
perempuan. Banyaknya masyarakat Desa Jrangoan yang buta huruf dan
tidak tamat SD menyebabkan masyarakat Desa Jrangoan tidak terlalu lancar
berbahasa Indonesia, atau bahkan sama sekali tidak dapat berbahasa
Indonesia. Banyaknya jumlah penduduk Desa Jrangoan yang buta huruf
juga disebabkan karena rendahnya status ekonomi keluarga sekaligus
kurangnya lembaga dan fasilitas pendidikan formal yang terdapat di Desa
Jrangoan.
Bagi masyarakat Desa Jrangoan, pendidikan formal seperti sekolah
dasar tidak diwajibkan kepada putra-putrinya. Masyarakat Desa Jrangoan
lebih mengutamakan pendidikan informal berupa pendidikan agama Islam
di pesantren. Anak-anak usia sekolah di Desa Jrangoan mulai bersekolah
pada usia 7 tahun dan ketika menginjak kelas 5 SD, para orang tua cen­
derung memindahkan putra-putrinya ke pesantren. Sedangkan pada usia
antara 5-6 tahun anak-anak tersebut sudah mulai dikenalkan dengan
kehidupan pesantren sehingga pada saat anak-anak tersebut berusia 11
tahun mereka mulai dipondokkan di Pesantren Al-Ihsan oleh orang tua
hingga lulus tingkat Aliyah (sederajat SMA) dan menjadi ustad di pesantren
tersebut. Masyarakat Desa Jrangoan yang bisa berbahasa Indonesia juga
ada. Pada umumnya mereka yang bisa berbahasa Indonesia adalah warga
yang merantau ke Pulau Jawa dan sekitarnya.
Banyaknya masyarakat Desa Jrangoan yang tidak bisa berbahasa
Indonesia dengan lancar menyebabkan bahasa Madura menjadi satusatunya bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam berinteraksi
sosial di masyarakat. Oleh karena itu, petugas kesehatan ketika melak­
sanakan kegiatan health education dan health promotion di Desa Jrangoan
menggunakan bahasa Madura yang merupakan satu-satunya bahasa yang
paling dipahami oleh sebagian besar penduduknya.
2.7. Kesenian
Madura, sebagai salah satu suku di Indonesia, memiliki beragam ke­
senian, misalnya hadrah yang diiringi musik rebana, senik musik daul dugEtnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
35
dug, dan lain sebagainya. Hanya saja, dalam lingkungan masyarakat Desa
Jrangoan seni-seni budaya daerah tidak berkembang karena masya­rakat
Desa Jrangoan yang bekerja sebagai petani lebih fokus pada pertaniannya
dan mencari sumber pendapatan lain agar kebutuhan hidup sehari-hari
keluarga dapat terpenuhi. Masyarakat Jrangoan pada umumnya tidak begitu tertarik pada pelestarian dan perkembangan kesenian khas Madura.
Namun, dalam lingkungan Desa Jrangoan terdapat pondok pesantren
yang masih melestarikan kesenian lokal Madura saat pelaksanan kegiatan imtiham (kegiatan perayaan kenaikan kelas dan kelulusan/wisuda
para santri). Kegiatan imtihan yang hanya diadakan setahun sekali digelar
dengan meriah. Berbagai macam kegiatan hiburan ditampilkan dan dipe­
rankan oleh masyarakat pesantren yang terdiri atas para pengajar (ustad
dan ustadzah) dan para santriwan dan santriwati. Salah satu hiburan yang
selalu ditampilkan yaitu kesenian musik hadrah yang diiringi suara rebana
yang semuanya dimainkan oleh santri-santri yang telah terlatih.
Gambar 2.6 Para santriwati sedang berlatih kesenian untuk kegiatan imtihan.
2.8. Mata Pencaharian
Menurut data profil Desa Jrangoan tahun 2011, jenis pekerjaan ma­
syarakat Desa Jrangoan mayoritas sebagai petani dan buruh tani. Jumlah
penduduk yang pekerjaan utamanya sebagai petani sebesar 301 orang
laki-laki dan 206 orang perempuan, penduduk yang bekerja sebagai buruh
36
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
tani sebesar 501 orang laki-laki dan 413 orang perempuan, sedangkan
yang bekerja sebagai pedagang baik yang berdagang di lingkungan Desa
Jrangoan maupun yang berdagang hingga ke Pulau Jawa hanya sebagian
kecil. Desa Jrangoan yang terletak di dataran tinggi dan berbatu pada
dasarnya memiliki jenis tanah yang tidak subur, bahkan dapat dikatakan
sebagai tanah tandus. Tanah/ladang di Jrangoan hanya bisa ditanami
beberapa jenis tanaman umbi-umbian. Tidak dapat ditanami jenis tanaman
yang membutuhkan banyak air. Kondisi tersebut mengakibatkan status
ekonomi masyarakat rendah karena mayoritas masyarakatnya bergantung
pada hasil pertanian yang tidak terlalu melimpah dan komoditas hasil
pertaniannya terbatas.
Hasil pertanian yang tidak berlimpah dan penjualan/pemasaran hasil
pertanian yang tidak terlalu besar tersebut berdampak pada pendapatan
masyarakat. Pada umumnya penjualan dari hasil pertanian masyarakat
Jrangoan tidak dapat mencukupi kehidupan sehari-hari petaninya. Hasil
pertanian masyarakat tidak semuanya laku terjual dan dan tidak semua
dijual. Hasil pertanian yang tidak terjual tersebut akhirnya dikonsumsi
sendiri oleh keluarganya. Hal ini menyebabkan variasi makanan yang yang
dikonsumsi keluarga terbatas, sehingga asupan gizi keluarga tidak ter­
penuhi sebagaimana mestinya.
Sebagian kecil masyarakat yang bekerja sebagai pedagang memfung­
sikan sebagian rumahnya untuk membuka warung makan yang pembeli­
nya mayoritas adalah para santri pendatang uamg tinggal di Pondok Pesantren Al-Ihsan dan Pondok Pesantren Bustanul Ulum. Ada juga sebagaian pemuda berdagang kain/pakaian ke Pulau Jawa dengan menjualnya
secara kredit. Umumnya, dalam sebulan pedagang kain/pakaian tersebut
membagi waktunya untuk berkeliling ke beberapa kota di wilayah Provinsi
Jawa Timur, dan beberapa hari sisanya dihabiskan di rumah bersama keluarganya di Jrangoan. Hasil dari berdagang keliling di beberapa kabupaten
tersebut juga tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga. Ha­
nya saja, pilihan berdagang tersebut diambil karena tidak memiliki ladang
sebagai lahan garapan.
2.9. Teknologi dan Peralatan
Di masyarakat Jrangoan tidak banyak jenis teknologi dan peralatan
yang digunakan. Pada umumnya masyarakat desa Jrangoan tidak menciptakan teknologi dan peralatan baru dalam aktivitas sehari-hari. Ke­giatan
siaga lingkungan desa berupa siskamling yang dilakukan rutin oleh santri
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
37
hanya menggunakan kentongan yang sudah umum digunakan. Bagi para
santri yang bertugas keliling desa, kentongan tersebut tidak hanya digunakan untuk menginformasikan bahaya yang mengancam warga, namun
juga digunakan untuk menginformasikan waktu kepada masyarakat. Kentongan tersebut dibawa saat berkeliling dan akan diketuk/dibunyikan
pada jam-jam tertentu.
Dalam hal kesehatan, masyarakat Desa Jrangoan pada umumnya
me­miliki kebiasaan mengonsumsi jamu ramuan secara rutin, baik da­
lam keadaan sehat maupun sakit. Jamu-jamu yang biasa dikonsumsi
masyarakat, yaitu jamu ramuan yang juga diolah sendiri. Namun, meski
masyarakat memiliki kebiasaan minum jamu, tidak ada masyarakat yang
meracik/meramu jamu dalam skala besar. Jamu ramuan tersebut hanya
dibuat untuk sekali minum. Saat meracik jamu, peralatan yang digunakan
berupa tumbukan yang terbuat dari 2 bongkah batu, satu batu memilki
ukuran yang lebih besar dibanding batu lainnya, berbentuk persegi de­
ngan ujung-ujungnya yang tidak lancip/tajam, tampak halus pada masingmasing permukaannya, terutama pada bagian cekung seperti mangkuk
kecil.
Masyarakat Jrangoan juga mempercayai alat-alat tertentu dalam pe­
rawatan kehamilan dan nifas, serta perawatan bayi seperti halnya masya­
rakat Madura pada umumnya. Dalam hal perawatan kehamilan, gelang
dan cincin monil digunakan bila usia kehamilan sudah mencapai 7 bulan,
gelang dan cincin monil tersebut dipercaya dapat memberikan kesehatan
kepada ibu hamil dan bayi dalam kandungannya. Sementara pada ibu nifas, sebelum 40 hari harus membawa (diselipkan di pinggang/perut) gun­
ting atau pisau kecil agar terhindar dari gangguan jin. Dan pada bayi yang
usianya belum genap 40 hari, bayi akan diberi gelang yang berisi tulisan
dari ayat-ayat Alquran dan juga gelang monil. Di atas tempat tidur bayi (di
atas bantal bayi, tidak di permukaan bantal) terdapat gunting kecil. Gun­
ting tersebut juga diyakini untuk menjaga bayi dari gangguan jin jahat.
38
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
BaB III
Budaya Kesehatan Ibu dan Anak
3.1. Pra Hamil
3.1.1 Remaja Jrangoan, Nge-trend di Pesantren
Masyarakat Desa Jrangoan adalah masyarakat yang agamis dan
se­lalu menginginkan generasi penerusnya mampu mendalami agama
Islam dengan baik sehingga setiap anak usia sekolah wajib mengenyam
pendidikan di pesantren. Bahkan ketika sudah beranjak remaja muda,
sekitar usia 10-12 tahun, santriwati diwajibkan tinggal di asrama pesantren,
sedangkan remaja putra yang tempat tinggalnya tidak jauh dari pesantren
tidak diwajibkan tinggal di asrama.
Ada dua pesantren di desa ini, yaitu Pesantren Al-Ihsan yang dipimpin
oleh Kiai Mahrus dan Pesantren Bustanul Ulum yang dipimpin oleh Kiai
Sholeh. Pesantren Al-Ihsan adalah pesantren yang menganut sistem salaf,
yaitu hanya mengajarkan pendidikan agama tanpa adanya pendidikan
for­mal, sedangkan Pesantren Bustanul Ulum sudah menggabungkan pen­
didikan agama yang mengkaji kitab dengan pendidikan formal. Kedua
pesantren tersebut memiliki tingkatan pendidikan yang sama, yaitu
Raudhatul Athfal (RA) setingkat TK, Madrasah Ibtidaiyah (MI) setingkat SD,
Madrasah Tsanawiyah (MTs) setingkat SMP, dan Madrasah Aliyah (MA)
setingkat SMA. Akan tetapi, pesantren yang lebih terkenal dan memiliki
lebih banyak santri adalah Pesantren Al-Ihsan dengan jumlah santri kurang
lebih 500 dan santriwati hampir 300 orang. Oleh karena itu, pendidikan
yang paling berpengaruh di desa ini adalah pendidikan di Pesantren AlIhsan. Alasan lain mengapa Al-Ihsan lebih terkenal karena pesantren ini
berhubungan erat dengan asal-usul Desa Jrangoan yang telah dijelaskan
sebelumnya.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
39
Di pesantren inilah kehidupan remaja berkembang. Banyak ilmu
agama diajarkan, salah satunya tentang menikah dan kesehatan repro­
duksi. Menikah yang merupakan sunnah Rasulullah (dalam agama Islam)
diajarkan secara jelas di pesantren ini. Suami adalah kepala keluarga
yang wajib mencari nafkah, sedangkan istri bertugas melayani suami dan
mengasuh anak. Namun pada kenyataannya, menurut ajaran Nyai Syifa
dan Kiai Mahrus (pengasuh pesantren Al-Ihsan), jika istri mengerjakan
beberapa pekerjaan rumah yang seharusnya dikerjakan oleh suami akan
mendapatkan pahala yang berlimpah. Jadi sah-sah saja apabila dalam kehidupan sehari-hari, selain melayani suami dan mengasuh anak, istri juga
memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyapu halaman,
dan beberapa pekerjaan rumah yang lain. Semua ini dilakukan agar tercipta rumah tangga yang bahagia dan sejahtera.
Wanita (ibu) dalam sebuah keluarga adalah sosok unik yang bukan
saja secara kodrati mampu mengandung dan melahirkan anak, tetapi juga
dengan ikhlas dan tulus merawat, mengasuh, dan mendidik anak-anak
hingga menjadi orang yang berguna dan mandiri. Sosok ibu pula yang
senantiasa melindungi anak ketika dalam bahaya, juga menjadi teman
bermain dan bercanda anaknya. Dengan penuh rasa cinta, seorang ibu
selalu menghibur anak ketika anak sedih dan putus asa. Dengan telaten,
ibu selalu memberi semangat hidup kepada anak dan selalu mendoakan
agar kelak anaknya menjadi “orang” dan dapat hidup dengan layak.
Menurut Mardiya (2008) di era modernisasi, ibu memiliki tugas
dan tanggung jawab yang semakin berat. Karena untuk saat ini dan ke
depannya, ia bukan lagi hanya mengurus suami dan anak-anaknya, te­
tapi juga harus ikut berjuang menopang perekonomian keluarga yang
tidak lagi mampu dicukupi oleh suami. Modernisasi memang identik
dengan kebutuhan hidup yang membengkak, namun kesempatan untuk
memperoleh penghasilan yang layak semakin sulit. Apalagi bagi mereka
yang tidak memiliki pendidikan dan keterampilan yang memadai. Oleh
karena itu, tidak jarang seorang ibu harus bekerja keras membanting
tulang agar anak-anaknya bisa makan atau sekolah pada saat penghasilan
suami tidak menentu. Namun dengan demikian, keluarga akan memiliki
tingkat keharmonisan dan ketahanan yang tinggi. Jadi ada kesesuaian
antara yang diajarkan di Pesantren Al-Ihsan dengan peranan wanita yang
dapat menjadikan sebuah keluarga sebagai keluarga yang memiliki tingkat
ketahanan tinggi.
40
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Selain itu, santri juga diajarkan tentang anak dan manfaat anak.
Me­nurut pengasuh pesantren, anak adalah rezeki yang harus disyukuri
keberadaannya, sehingga orang tua tidak perlu menghalangi kelahiran
seorang anak. Istilah banyak anak banyak rezeki pun masih menjadi trend
dan keyakinan yang paten. Oleh karena itu, program Keluarga Berencana
(KB) diyakini sebagai bentuk pencegahan kepemilikan anak, yang berarti
pencegahan terhadap rezeki. Sementara proses kelahiran dipercaya
sebagai suatu amal perbuatan yang dapat menghapus seribu dosa yang
pernah dilakukan sehingga semakin sering melahirkan, maka akan semakin
sering pula dihapus dosanya seperti yang disampaikan oleh informan MT
berikut ini.
“… Kan kalau orang KB ini, Kak, kata orang kalau hamil, putus
1.000 urat, katanya. Kalau melahirkan itu katanya dihapus
1.000 dosanya ….”
Program KB secara tidak langsung dianggap “membunuh” calon janin
yang akan dikandung. Pernyataan ini diungkapkan oleh Nyai Syifa kepada
para santriwati. Namun ada sebagian santri yang berpendapat bahwa
benar apa yang dikatakan oleh Nyai, akan tetapi jika sudah menikah kelak
ia akan tetap menggunakan alat kontrasepsi (KB) untuk mengatur jarak
kelahiran.
Badan Koordinasi dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menje­
laskan bahwa KB merupakan suatu program pemerintah yang bertujuan
untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan kelu­
arga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui pengendalian kela­hiran serta
pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia. KB yang merupakan
singkatan dari Keluarga Berencana, bila ditilik asal katanya, merupakan
program yang baik dan harus mendapat dukungan sepenuhnya. Sebab
semua orang yang hendak membangun rumah tangga harus memiliki
perencanaan yang baik dan matang mulai dari meluruskan tujuan per­
nikahan, memilih calon pasangan hidup, membina keluarga, anak-anak,
dan seluruh urusan kerumahtanggaan, semuanya perlu direncanakan
dengan baik.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa program KB bukanlah
suatu hal yang buruk, melainkan suatu upaya untuk merencanakan
kehidupan masa depan yang cerah. Tidak selamanya pula memiliki banyak
keturunan itu baik. Memiliki banyak anak juga mengakibatkan banyak
risiko, seperti perhatian terhadap anak-anak kurang, kesehatan reproduksi
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
41
ibu yang bermasalah, dan kematian saat persalinan sehingga bukan rezeki
yang didapatkan, tetapi suatu masalah. KB pun tidak bertujuan untuk
membunuh calon bayi, tetapi lebih pada mengatur jarak kelahiran dan
untuk lebih meningkatkan kualitas anak. Jika jumlah anak cukup banyak,
tetapi kurang berkualitas, hanya akan menjadi beban negara, maka
memiliki anak dalam jumlah cukup namun berkualitas jauh lebih utama.
Namun, budaya tetaplah budaya. Pameo “banyak anak banyak rezeki”
akan tetap melekat pada masyarakat Madura kecuali jika diarahkan pada
suatu pemahaman yang lebih tepat.
Walaupun sudah diajarkan tentang “anak dan pameo tersebut”,
pesantren tetap menyelenggarakan aturan yang ketat mengenai cara
santri bergaul dengan lawan jenis. Bukan bermaksud menghalang-halangi
terjadinya pernikahan, tetapi lebih pada kehati-hatian dalan berperilaku.
Kehidupan di pesantren tidak membolehkan para santri dan santriwati
untuk bertemu. Hari-hari mereka diisi dengan menuntut ilmu agama di
pesantren. Sebagai remaja atau “Anak Baru Gede” (ABG) tentulah para
remaja ini membutuhkan interaksi sosial dengan lawan jenis. Banyak cara
mereka lakukan dalam usaha berinteraksi dengan lawan jenis, antara lain
pada saat acara Jum’at bersih yang dilakukan setiap Jum’at pagi. Para
santriwati ini akan mencari kesempatan keluar gerbang pesantren dengan
alasan membuang sampah, membersihkan karpet, atau menyapu sekitar
lingkungan pesantren hanya untuk melihat para santri yang sedang ada di
warung walaupun hanya dari kejauhan. Untuk menjemur karpet biasanya
harus menaiki tangga dan mencapai tempat tertinggi di pesantren.
Sebenarnya tempat ini dilarang untuk dikunjungi, karena siapa pun yang
ada di tempat ini dapat melihat keadaan luar pesantren, termasuk kondisi
pesantren putra. Namun, demi bisa melihat lawan jenisnya, santriwati
berdalih akan menjemur karpet sehingga dapat mencuri pandang kepada
santri laki-laki yang ada di seberang atau di luar pesantren. Ekspresi
lainnya yang diungkapkan oleh para santriwati adalah mengungkapkan
perasaannya dengan menuliskan kalimat mesra di atas bantal. Hal ini bisa
dilihat pada gambar berikut ini.
Tidak hanya dalam hal bergaul dengan lawan jenis saja yang diatur,
jam makan pun diatur. Baik santri maupun santriwati diperbolehkan
sarapan pagi dan makan malam. Namun, biasanya mereka akan sarapan
pada pukul 9.00 ketika istirahat sekolah. Kemudian pada sore hari akan
makan sebelum magrib. Pola makan para santri dan santriwati di pesantren
bervariasi. Untuk santriwati yang keluarganya tinggal di sekitar lingkungan
42
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Gambar 3.1 Cara santriwati mengungkapkan ekspresi terhadap lawan jenis.
pesantren, makanan diantar oleh keluarga, sedangkan santriwati yang
berasal dari luar Desa Jrangoan, mereka mendapatkan makanan dengan
memesan makanan ke pengurus pesantren. Sementara untuk para santri,
mereka membeli makanan sendiri di warung nasi atau memesan makanan
pada ibu-ibu yang tinggal di sekitar pesantren.
Menu makanan para remaja di pesantren Al-Ihsan sehari-hari adalah
nasi dengan lauk-pauk, antara lain tahu, tempe, telur, ikan asin, dan mi
instan. Lauk daging jarang mereka konsumsi, sedangkan untuk sayuran
hampir tidak pernah mereka konsumsi dengan alasan tidak suka makan
sayur seperti yang diungkapkan oleh informan NF berikut ini.
“… kadang-kadang tahu sama tempe, kadang telur, ya kadang
ada ikan, lauk itu Bu ikan laut itu kadang-kadang … sayurnya
jarang, he’em ... ya banyak yang nggak suka, gitu Bu ....”
Masalah lain yang terjadi di pesantren Al-Ihsan adalah Perilaku Hi­
dup Bersih dan Sehat (PHBS) yang masih kurang dilakukan oleh para
santriwati. Banyak santriwati mengalami keputihan (Fluor albus) dan
dibiarkan saja tanpa diobati. Keputihan ini disebabkan oleh kondisi air
di kamar mandi yang kurang bersih dan higienis. Bak kamar mandi tidak
tertutup, atap kamar mandi pun tidak ada sehingga jika hujan turun, air
dalam bak akan bercampur dengan air hujan. Ada pula kebiasaan santriwati
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
43
yang juga mencemari air untuk mandi, yaitu kebiasaan membilas cucian
dengan cara mencelupkan cucian yang masih berbusa ke dalam bak air.
Hal ini menyebabkan air mengandung sabun. Apabila digunakan untuk
membersihkan organ genital, maka keputihan pun tidak akan terhindarkan.
Keterangan ini disampaikan oleh informan (WS dan SN) berikut ini.
“Di kamar mandinya itu, di kamar mandinya itu, Kak, nggak
ada atapnya. Lumutnya itu, Kak, banyak, Kak. Cuci baju itu,
Kak, kalau udah dibuang air sabunnya ya dimasukkan ke bak
air untuk dibilas.” (WS)
“… Ndak diobatin, Kak, kadang gatel .…”
“…keputihannya dibiarin aja, nggak diobatin, mengganggu
kalau soal ibadah … ya gimana kalau nggak ada obatnya, saya
nggak tahu .…” (SN)
Gambar 3.2 Kamar mandi santriwati yang tidak beratap.
Sebuah jurnal tentang bahaya keputihan (2009) mendefinisikan
keputihan sebagai keluarnya cairan yang berlebihan dari alat kelamin
(vagina) wanita. Vagina normalnya memang memproduksi cairan untuk
menjaga kelembapan, membersihkan dari dalam, dan menjaga keasaman
vagina karena mengandung bakteri-bakteri menguntungkan. Selama
keseimbangan bakteri yang menguntungkan itu baik, tentu saja infeksi
44
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
pada organ reproduksi wanita ini bisa dicegah. Keputihan ada dua macam,
yaitu keputihan yang normal dan yang tidak normal.
Keputihan normal biasanya terjadi sebelum menstruasi atau setelah
menstruasi. Bisa juga terjadi pada masa subur, yaitu sekitar dua minggu
sebelum menstruasi. Keputihan normal terjadi karena perubahan hormonhormon seksual wanita (hormon estrogen dan progesteron). Biasanya
cairan yang keluar berwarna bening, tidak lengket, tidak berbau, tidak
gatal, dan biasanya tidak keluar terus-menerus.
Sementara keputihan tidak normal atau patologis bisa terjadi karena
infeksi bakteri, jamur, virus, atau mungkin karena proses radang karena
alergi. Keputihan patologis ini mempunyai gejala antara lain keluar
banyak cairan banyak dan terus-menerus dari vagina. Cairan tidak jernih,
berwarna putih, kuning, sampai kehijauan. Terasa gatal, berbau tidak
enak sehingga sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Keputihan dapat
menyebabkan kemandulan atau bahkan kematian karena menyebabkan
terserang kanker rahim.
Masalah keputihan yang dialami oleh para santriwati termasuk
da­lam kategori keputihan yang tidak normal karena dialami setiap hari
dan mengganggu akrivitas mereka. Sesuai dengan keterangan informan,
ke­putihan yang dialami santriwati ini dapat mengakibatkan penyakit
kelamin, bahkan kanker mulut rahim sehingga perlu tindakan pengobatan
dan pencegahan yang harus dilakukan oleh pengurus pesantren karena
hal ini akan berpengaruh pada masa depan remaja di desa ini.
3.1.2 Pasangan Suami Istri yang Istrinya Belum Pernah Hamil
Salah satu tujuan menikah adalah untuk memperoleh keturunan.
Apa­lagi masyarakat Madura masih sangat meyakini bahwa anak akan
membawa rezeki yang melimpah. Namun, ada pula pasangan suami istri
yang belum memiliki anak padahal usia pernikahannya sudah 5 tahun,
bahkan ada yang sudah hampir 20 tahun. Menurut informan, mereka sudah
berusaha untuk berobat ke bidan desa dan berkonsultasi ke penyembuh
dengan melakukan pengobatan alternatif, seperti ke dukun beranak dan
terapi jamu. Dukun akan memijat bagian perut dan memeriksa keadaan
rahim si ibu untuk memastikan apakah ada masalah atau tidak. Tidak hanya
dokter saja yang bisa mendeteksi adanya tumor atau polip, tetapi dukun
pun mampu melakukannya. Setelah itu, dukun akan memberikan jamu
untuk terapi. Jamu ini hanya untuk diminum oleh istri, sedangkan suami
tidak. Menurut dukun, jamu ini adalah jamu kesuburan dan informan
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
45
tidak mengetahui komposisi jamu ini. Di samping mengkosumsi jamu yang
diberikan oleh dukun, sang istri juga biasanya mengonsumsi jamu racikan
berupa kunyit yang direbus dengan daun asam, lalu airnya diminum serta
minum air kelapa muda yang dicampur dengan telur ayam kampung.
Tradisi lain yang dilakukan adalah dengan mengambil telur yang
digunakan pada saat acara 7 bulanan ibu hamil, kemudian telur tersebut
dimakan oleh perempuan yang belum mempunyai anak dengan tujuan agar
bisa tertular hamil. Usaha yang lain adalah dengan banyak mengonsumsi
sayuran. Menurut masyarakat, sayuran yang dapat menyuburkan adalah
kecambah. Akan tetapi, masih belum ada. Pasangan suami istri yang belum
memiliki anak tidak ada yang berusaha memeriksakan dirinya ke dokter
spesialis kandungan karena mereka merasa takut dan khawatir terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan atau kabar buruk mengenai kesehatan
reproduksinya. Dalam hal ini orang tua dan keluarga tidak banyak berperan
dalam usaha mereka mendapatkan keturunan. Semua keputusan dan
usaha yang dilakukan diserahkan kepada pasangan suami istri itu. Berikut
ungkapan informan IK.
“... belum pernah ke dokter spesialis, ya baru ke Bidan Nisa
aja … takut (sambil tertawa) … ya takut nggak subur atau
bagaimana gitu .…”
Padahal secara medis, jika pasangan memeriksakan diri ke dokter
kandungan dan bertanya tentang cara hamil, dokter akan memeriksa
dengan sangat detail untuk mengetahui penyebab pasangan tersebut
belum memiliki anak. Biasanya dokter akan memeriksa suami dan istri
sekaligus, karena dokter tidak bisa memastikan siapa yang bermasalah.
Pada wanita ada beberapa hal yang menyebabkan sulit punya anak, di
antaranya adalah gangguan hormon yang menyebabkan siklus menstruasi
tidak teratur, anovulasi, adanya kista atau tumor, kelainan alat kelamin
(misalnya rahim dan tuba falopii), dan sebagainya (Partasari, 2012).
Sementara pada pria, yang menyebabkan sulit memiliki anak adalah
masalah sperma. Sperma yang baik dan dapat membuahi sel telur harus
memenuhi persyaratan baik makroskopis maupun mikroskopis. Secara
makroskopis volume sperma yang dikeluarkan harus cukup, viskositas atau
kekentalannya sedang (tidak terlalu encer maupun terlalu kental), baunya
pun khas, yakni seperti bunga kamboja. Jika sperma berbau busuk, maka
mengindikasikan adanya penyakit atau gangguan.
46
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Secara mikroskopis meliputi bentuk yang sempurna (ada kepala dan
ekor), ukurannya normal dan proporsional (tidak terlalu panjang atau pun
terlalu pendek), dan gerakannya cepat. Setelah mengetahui penyebabnya,
biasanya dokter akan memberi terapi serta memberi penjelasan mengenai
cara hamil. Sementara secara tradisional, pada umumnya orang meminum
ramuan herbal yang diyakini dapat menyuburkan kandungan seperti
pelepah kurma, jamu-jamuan, buah kedondong, buah nanas, buah pisang,
kecambah, rebusan air kacang hijau, dan lain-lain.
Tindakan yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang belum
memiliki anak di Desa Jrangoan ini sudah sesuai dengan yang seharusnya,
yaitu mengonsumsi sayur dan buah yang dapat meningkatkan kesuburan.
Hanya saja pemeriksaan melalui medis belum dilakukan dengan alasan
takut. Padahal seharusnya pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui
masalah atau kondisi kesehatan organ reproduksi pasangan sehingga
dapat ditemukan solusi untuk dapat memiliki anak.
Solusi yang dianggap ampuh oleh masyarakat adalah dengan cara
mengadopsi anak saudaranya. Anak tersebut dirawat oleh pasangan suami
istri ini sebagai “pancingan” agar suatu saat benar-benar bisa melahirkan
anak kandung. Selain itu, jika pada akhirnya tetap tidak dikaruniai anak,
maka anak hasil adopsi tersebut akan menjadi investasi masa depan bagi
pasangan ini di dunia dan akhirat. Investasi yang dimaksud, yaitu suatu
aset yang dapat meneruskan keturunan (walaupun bukan darah daging
sendiri) dalam hal bekerja serta mendoakan keduanya ketika sudah
meninggal kelak.
Ketika suami istri memilih mengadopsi anak, keputusan tersebut
memang dipilih atas kesepakatan bersama (Partasari, 2012). Adopsi men­
jadi pilihan mereka di antara berbagai alternatif yang ada. Harapan ketika
mengadopsi ini juga sudah cukup realistis. Harapan realistis yang dimaksud
adalah memang pasangan itu ingin menjadi orang tua. Ketika suami-istri
sudah ingin mengadopsi anak, ada berbagai hal yang perlu dipersiapkan.
Pertama, yang paling penting adalah kesiapan mental pasangan tersebut.
Pasangan juga harus punya komitmen kuat karena menjadi orang tua bukan
sesuatu yang mudah. Memiliki anak itu adalah suatu perubahan yang
membawa banyak konsekuensi. Segala macam perubahan hidup akan sulit
dijalani kalau belum siap. Bukan hanya kesulitan untuk mengasuh anak saja
yang akan dihadapi pasangan ketika mengadopsi anak sebagai pancingan,
namun pasangan tersebut juga harus siap menghadapi dampak psikologis
ketika mereka sendiri punya anak kandung. Kasih sayang kepada anak
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
47
adopsi (yang awalnya sebagai anak pancingan) akan berkurang sehingga
anak akan merasa tersisihkan. Tentunya kalau hal tersebut terjadi, orang
tua tersebut sudah mengorbankan anak.
Selain harus menyiapkan mental dan komitmen, pasangan ketika ingin
mengadopsi anak harus mengumpulkan informasi. Pengetahuan tentang
adopsi ini penting terutama jika suami-istri ingin mengadopsi anak dari
lembaga formal seperti Panti Asuhan. Orang tua harus punya informasi
yang lengkap. Dari situ mereka bisa menimbang apakah memang sepakat
dengan informasi tersebut.
Jadi, keyakinan masyarakat Desa Jrangoan bahwa dengan mengadopsi
anak dapat memancing memiliki anak kandung dapat dibenarkan. Telah
dipaparkan di atas bahwa dengan mengadopsi anak, rasa percaya diri
untuk memiliki anak kandung akan semakin kuat, motivasi dan semangat
semakin meningkat, dan pada akhirnya berpengaruh pada usaha untuk
memiliki anak yang juga diiringi dengan rasa tenang. Namun, beberapa
hal yang dapat memberikan dampak negatif pada pengadopsian anak,
seperti ketidakadilan dalam mencurahkan kasih sayang kepada anak
angkat dan anak kandung, harus dihindari agar kelak ketika benar-benar
sudah memiliki anak kandung, anak angkat tidak kehilangan kasih sayang
dan diasuh sama seperti anak kandung pasangan suami istri tersebut.
3.2 Hamil
3.2.1 Masa Kehamilan
Permasalahan utama yang saat ini masih dihadapi berkaitan dengan
kesehatan ibu di Indonesia adalah masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI)
yang berhubungan dengan persalinan, yaitu 228 per 100.000 kelahiran
yang seharusnya nol (Kemenkes, 2010). Perawatan kehamilan merupakan
salah satu faktor yang sangat perlu diperhatikan untuk mencegah
terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, di samping itu juga
untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. Memahami perilaku
perawatan kehamilan (ante natal care) adalah penting untuk mengetahui
dampak kesehatan bayi dan ibu sendiri.
Dalam penelitian ini terdapat empat informan ibu hamil yang
usianya berkisar antara 23-37, tahun namun ada satu informan yang ber­
usia >35 tahun sehingga tergolong dalam kehamilan risiko tinggi. Tingkat
pendidikan informan hanya pada tingkat SD. Mata pencaharian atau
pekerjaan informan sehari-hari adalah petani dan ada informan yang
48
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
tidak bekerja atau hanya menjadi ibu rumah tangga. Kegiatan bertani yang
dilakukan oleh informan adalah menanam berbagai jenis tanaman seperti
padi, kacang-kacangan, singkong, ketela, cabai, bawang, dan tembakau.
Ibu hamil tetap bekerja ke sawah walaupun dalam kondisi hamil ka­
rena ingin membantu suaminya mencari nafkah bagi keluarga seperti yang
dikatakan oleh informan KH berikut ini.
“… iya, tapi kalo kandungannya masih 4 bulan. Kalo men­
jelang mau lahir tidak bekerja. Soalnya saya mau bertahan
hidup, jadi kalo tidak bekerja tidak bisa makan, Bu ….”
Anak adalah rezeki yang sangat berharga bagi setiap pasangan suami
istri. Oleh karena itu, perawatan sejak hamil pun sudah diperhatikan.
Ketika mengetahui bahwa si ibu mulai hamil, maka seluruh anggota ke­
luarga akan memberikan perhatian lebih kepadanya, misalnya dengan cara
memanggil dukun bayi dan menyarankan agar ibu hamil pergi ke polindes
untuk memeriksakan kandungannya. Dukun bayi bertugas memijat
ibu hamil, bahkan terkadang memijat perut si ibu agar posisi bayi tidak
sungsang, sedangkan bidan juga dibutuhkan tenaganya untuk memeriksa
kandungan secara medis dan pemberian vitamin.
Beberapa bentuk perawatan kehamilan juga dilakukan dengan ritual
yang dikenal dengan selametan. Pada usia kandungan 4 bulan diadakan
acara pengajian yang mengundang tetangga serta kerabat dekat, kemudian
diikuti dengan doa bersama yang biasanya dipimpin oleh kiai. Hal ini
dilakukan karena menurut mereka, pada saat itu calon bayi sudah mulai
ditiupkan roh oleh Allah. Ritual yang lain yaitu acara selametan saat usia
kandungan 7 bulan yang biasa disebut dengan pelet betteng. Pada acara
ini ibu hamil dipijat bagian perutnya oleh dukun bayi sambil menunggu kiai
dan beberapa tetangga selesai mengaji dan berdoa bersama. Setelah itu,
ibu hamil sambil menggendong telur dan ayam, dimandikan di halaman
rumah. Setiap anggota keluarga dan tetangga yang hadir menyiramkan
air yang sudah dicampur dengan bunga ke atas kepala ibu hamil tersebut.
Kemudian, ibu hamil menginjak telur dan memberikan ayam kepada dukun
bayi. Dukun akan berlari menjauhi ibu hamil sambil menggendong ayam.
Ketika berlari, dukun pun dikejar oleh salah seorang anggota keluarga ibu
hamil sambil melemparkan ranting pohon ke arahnya. Kejadian ini bukan
berarti bentuk pengusiran kepada dukun, tetapi suatu ritual dengan
tujuan agar persalinannya lancar. Dukun pun segera pulang dan tidak akan
mengunjungi tempat lain sebelum tiba di rumahnya. Jika tidak dilakukan,
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
49
maka masyarakat percaya bahwa kelak saat melahirkan, bayi tidak akan
lahir dengan mudah dan tersendat lama di mulut rahim. Sama halnya
dengan dukun yang masih “tersendat” sebelum tiba di rumahnya.
Gambar 3.3 Ibu hamil dipijat perutnya oleh dukun bayi pada saat acara selametan 7 bulanan.
3.2.2 Acara selametan 7 bulanan ibu hamil (pelet betteng).
Gambar 3.4 Salah satu ritual acara selametan pelet betteng bagi ibu hamil.
Selain pemijatan dan selametan, pada saat hamil ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan untuk menjaga keselamatan bayi da­
lam kandungan, yaitu tidak mengonsumsi makanan yang pedas agar nanti
50
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
wajah bayi tidak merah dan kotoran tidak sering menempel di mata bayi.
Pantangan selanjutnya, yaitu tidak boleh mengonsumsi makanan yang
akan terasa panas di dalam perut, seperti daging kambing, buah nanas,
semangka, dan beberapa jenis makanan yang lain. Hal ini disampaikan
oleh informan AN berikut ini.
“… enggi ma’le tak ngis-ngis matana baji’ ka’assa, Bu. Dadi tak
kengeng adha’ar cabbi nya’bennya’. Tak kengeng dha’aran se
panas akadhi nanas, semangka, embe’ ka’assa, Bu ….”
(“… iya agar tidak kotor matanya, jadi ndak boleh terlalu ba­
nyak makan cabai. Ndak boleh makan yang panas seperti
nanas, semangka, kambing, itu Bu ….”)
Sementara kebiasaan yang tidak boleh dilakukan adalah duduk di
depan pintu dan memberikan makanan kepada seseorang yang berada di
luar pagar rumah. Apabila hal ini dilakukan, maka dikhawatirkan bayi akan
tertahan dalam jangka waktu yang agak lama di mulit rahim ketika proses
persalinan. Kebiasaan lain yang harus dihindari adalah melilitkan handuk
atau kerudung ke leher karena akan menyebabkan tali pusat melilit leher
bayi ketika proses kelahiran. Hal ini seperti diungkapkan informan AM dan
AN berikut ini.
“… nggak boleh itu kalau ngasih makanan kaki satu di luar, satu
di dalam pintu, harus kalau yang satu di dalam semua atau di
luar semua … karena katanya kalau mau ngelahirin itu nanti
susah, takut bayinya lama di mulut rahim, jadi nggak keluarkeluar ....” (AM)
“… iya, gak bole melilitkan handuk atau selendang ke leher,
karena kalau diikat-ikat gitu takut lek lek tontonan (tali pusat
melilit leher bayi) .…” (AN)
Mitos yang dipercaya oleh masyarakat Desa Jrangoan ini sebagian
besar benar. Ibu hamil tidak boleh makan daging kambing karena akan
membahayakan janin. Pantangan ini ada benarnya bagi ibu hamil yang
memiliki kelebihan kolesterol dan sakit jantung karena daging kambing
memiliki kadar lemak jenuh tinggi yang akan memengaruhi metabolisme
asam urat. Namun, apabila tidak memiliki masalah kolesterol dan jantung,
ibu hamil diperbolehkan menyantap daging kambing asalkan dengan porsi
yang wajar.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
51
Ibu hamil tidak boleh minum minuman bersoda karena takut mem­
bahayakan janin. Pantangan ini ada benarnya juga, karena hampir semua
minuman bersoda diberi tambahan zat pengawet, zat pewarna, dan zat
perasa yang tidak baik dikonsumsi oleh ibu hamil. Ibu hamil yang sudah terbiasa minum jamu yang aman dan bermanfaat
tetap diperbolehkan minum jamu untuk meningkatkan ketahanan dan
stamina tubuh. Namun, belakangan ini marak sekali beredar jamu-jamu
dengan tambahan berbagai bahan kimia berbahaya. Selain itu, jamu
yang terbuat dari bahan-bahan alami sekalipun, bisa saja didalamnya
terkandung bahan (tanaman) tertentu yang mengandung alkohol sehingga
bisa berbahaya bagi janin. Oleh karena itu, ada baiknya ibu hamil terlebih
dahulu berkonsultasi dengan dokter bila ingin meminum jamu. Mengurut perut sangat berbahaya bagi ibu hamil karena amat
berisiko bagi janin. Janin bisa mengalami stres sehingga bisa mengganggu
pertumbuhan dan perkembangannya. Apabila ada perlekatan plasenta,
mengurut perut dapat menyebabkan perdarahan dan keguguran. Selain ritual, acara selametan, dan pantangan untuk ibu hamil, ada
juga beberapa doa khusus yang harus dipanjatkan oleh calon ibu dan
ayah. Karena sebagian besar penduduk Desa Jrangoan beragama Islam,
maka membaca Alquran dan surat-surat tertentu yang ada di dalamnya
menjadi kebiasaan yang bertujuan untuk keselamatan dan kebaikan calon
bayi. Surat Yusuf dan Maryam adalah surat yang paling sering dibaca agar
proses persalinan menjadi lancar dan bayi menjadi anak yang sholeh/
sholehah.
Masa-masa kehamilan adalah masa yang cukup menegangkan bagi
calon ibu baru. Ada rasa takut, khawatir, resah meski bercampur dengan
bahagia karena menanti sang buah hati, terlebih lagi setelah memasuki
masa-masa persalinan. Ketegangan dan kekhawatiran biasanya semakin
meningkat.
Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa lantunan musik classic
Mozart dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin. Di sebuah situs,
Surabaya Health, dinyatakan bahwa jika ingin memiliki anak yang cerdas
hendaknya orang tua mengoptimalisasi anak sejak dini dan dokter di
website tersebut menyarankan agar memperdengarkan musik Mozart.
Para ilmuwan membuktikan bahwa bayi yang masih di dalam rahim
terpengaruh oleh suara musik. Oleh sebab itu, bila diperdengarkan suara
musik blues, classic, dan musik lain yang tenang, maka akan membantu
pertumbuhannya. Begitu pula dengan bacaan Alquran yang menenangkan.
52
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Bayi pun dapat terbantu pertumbuhannya ketika mendengar bacaan
Alquran tersebut.
Upacara adat atau acara selametan merupakan suatu bentuk du­
kungan psikologis, fisik, dan sosial yang luar biasa dan diwariskan secara
turun-temurun. Di dalamnya juga terkandung nilai-nilai spiritual yang
disesuaikan dengan agama masing-masing. Upacara adat bagi ibu hamil
juga akan memberi rasa percaya diri, menguatkan ibu dalam masa transisi
perubahan peran menjadi seorang ibu, mengubah cara pandang ibu
terhadap perubahan tubuh selama hamil, meningkatkan rasa aman dan
perasaan dihargai (Tari, 2011).
Selain itu, umumnya wanita hamil lebih cepat lelah dan pegal. Stres
pun biasanya meningkat pada wanita yang sedang hamil. Hal ini bisa
disebabkan oleh perubahan hormonal, perubahan bentuk tubuh, ke­
khawatiran akan proses persalinan nanti, atau pun beban berat janin yang
harus ditanggung oleh wanita hamil. Untuk mengatasi rasa lelah, stres,
dan emosi, orang biasanya memilih pijat sebagai solusi yang dipercaya
bisa membantu mengurangi, atau bahkan meredakan keluhan-keluhan
tersebut. Pijat bagi wanita hamil aman-aman saja asalkan memenuhi
standar keamanan bagi ibu dan janin. Yang penting untuk diketahui dan
dilakukan adalah berkonsultasi dengan dokter mengenai kesehatan ibu
dan janin, serta menghindari memijat di daerah perut karena daerah
perut sangat rawan. Jika terjadi penekanan yang tidak benar pada perut
saat memijat, maka bisa menyebabkan plasenta janin lepas sehingga
menyebabkan janin tidak bergerak, kemudian meninggal. Sekalipun posisi
janin sungsang tidak disarankan untuk melakukan pijat untuk memutar
posisi janin.
Pemijatan bisa dilakukan di daerah yang aman seperti punggung,
kaki, dan leher agar tidak terjadi efek samping yang negatif untuk ibu dan
janin yang masih ada di dalam kandungan. Pijat sebaiknya dilakukan oleh
terapis yang benar-benar kompeten dan mengerti benar cara memijat
wanita hamil, misalnya menggunakan meja yang khusus untuk tempat
berbaring, yaitu dengan cekungan di salah satu permukaanya, sehingga bisa
dijadikan tempat untuk menaruh perutagar ibu bisa berbaring tengkurap
dengan nyaman dan terapis dapat memijat punggung untuk melemaskan
otot-otot dan meredakan stres guna menghadapi persalinan.
Berdasar uraian tersebut tampak bahwa pemijatan untuk ibu ha­
mil juga penting untuk mengurangi stres dan rasa lelah. Akan tetapi,
perlu dihindari pemijatan di daerah perut. Sementara pada waktu acara
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
53
selametan 7 bulan ini ibu hamil selalu dipijat oleh dukun. Walaupun
menurut keterangan masyarakat sekitar tidak pernah ada masalah ketika
dipijat oleh dukun, namun menghindari pemijatan di daerah perut cukup
baik dilakukan.
Sehubungan dengan konsumsi makanan ibu hamil, makanan tam­
bahan untuk ibu hamil cukup bervariasi. Ada ibu hamil mengosumsi
makanan tambahan berupa susu yang dicampur dengan telur ayam
kampung dan madu. Ini dilakukan hanya sampai usia kandungan 7 bulan
karena takut bayi menjadi terlalu besar jika dilakukan terus. Pada usia
kehamilan 8-9 bulan, ibu hamil biasanya mengonsumsi jamu. Ada juga
ibu hamil yang hanya mengonsumsi singkong rebus selama masa hamil
karena tidak punya uang untuk membeli makanan tambahan seperti
diungkapkan oleh informan AN dan KH berikut ini.
“… Minum susu sama telur untuk tambahan makanan, madu
juga. Minum susu sampai 7 bulan, soalnya nggak boleh ...
takut bayinya kebesaran katanya, Bu. Harus banyak minum
jamu kalau sudah usia kehamilan 9 bulan .…” (AN)
“… gak ada, Bu, yang dimakan cuma singkong saja soalnya mau
beli makanan tambahan tidak ada uang yang cukup .…” (KH)
Segala sesuatu yang dikonsumsi oleh ibu hamil akan berpengaruh
pada kesehatan dan tumbuh kembang janin. Apabila makanan tersebut
bergizi dan memenuhi kebutuhan, maka janin akan sehat. Sementara
apabila asupan makanan ibu hamil hanya sebatas karbohidrat, singkong
misalnya, tanpa jenis makanan yang lain seperti makanan yang me­
ngandung protein, lemak, dan vitamin, maka kondisi kesehatan janin bisa
terganggu.
3.3 Persalinan dan Nifas
3.3.1 Menjelang Persalinan
Pada saat menjelang persalinan pun, tradisi dan beberapa kepercayaan tetap dianut oleh masyarakat setempat. Sebagian besar masyarakat
menginginkan persalinan dilakukan di rumah masing-masing karena ada
kepercayaan bahwa tempat seseorang dilahirkan akan menjadi tempat
yang barokah dan dipenuhi rezeki. Misalnya, jika persalinan terjadi secara tidak sengaja di atas kendaraan seperti angkot, maka angkot tersebut
akan menjadi angkot yang barokah dan sopirnya mendapatkan rezeki yang
54
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
melimpah. Apabila terjadi di rumah, maka rumah tersebut akan menjadi
tempat yang selalu penuh rezeki. Oleh karena itu, seandainya memungkinkan, persalinan lebih baik dilakukan di rumah daripada di polindes atau
fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
Sebelum persalinan terjadi, ketika ibu sudah mulai kesakitan, ibu
diberi jamu berupa satu siung bawang putih dan beberapa helai daun
jrangoh. Jamu ini berkhasiat untuk menghilangkan rasa sakit jika ternyata
persalinan masih lama dan akan mempercepat proses persalinan jika
memang sudah waktunya. Minuman lain yang diberikan sebelum mulai
bersalin adalah air kelapa yang diberikan oleh kiai ketika acara 7 bulanan
(pelet betteng) agar persalinan berlangsung lancar dan rahim terasa
licin. Ini sudah menjadi kepercayaan turun-temurun dari nenek moyang
terdahulu.
Khasiat air kelapa muda untuk ibu hamil yaitu apabila rajin minum air
kelapa muda, terutama di trimester ketiga kehamilan, maka air ketuban
akan bersih dan bayi yang dilahirkan juga berkulit bersih, berambut lebat,
dan memiliki mata yang bening. Sejauh ini memang belum ada penelitian
yang membuktikan secara ilmiah kebenaran tersebut. Namun, air kelapa
muda memang mengandung berbagai zat yang bermanfaat bagi ibu
hamil. Zat-zat itulah yang barangkali secara tidak langsung membuat bayi
menjadi lebih sehat sebagaimana disebutkan dalam saran tradisional itu.
Air kelapa muda kaya kandungan elektrolit, klorida, kalsium, pota­
sium, magnesium, sodium, dan riboflavin. Sebagai isotonik alami yang
kaya mineral dan memiliki elektrolit sama dengan elektrolit tubuh, air
kelapa muda sangat bermanfaat untuk rehidrasi dan memulihkan stamina
tubuh.
Ibu hamil membutuhkan lebih banyak air dibandingkan orang lain.
Dehidrasi selama kehamilan dapat menyebabkan berbagai komplikasi,
termasuk sakit kepala, kram, edema, bahkan kontraksi yang dapat menye­
babkan persalinan prematur. Sebagai diuretik natural yang steril, air kelapa
muda melancarkan air seni dan membantu membersihkan saluran kemih.
Hal ini berkhasiat mengeluarkan zat-zat toksin dari tubuh dan mencegah
infeksi saluran kemih yang juga cukup umum terjadi pada wanita hamil.
Air kelapa muda mengandung asam lauric, asam yang membantu
melawan penyakit. Asam lauric yang terkandung dalam air kelapa sama
dengan yang terdapat dalam air susu ibu dan memiliki karakteristik
antijamur, antibakteri, dan antivirus sehingga menjaga kesehatan ibu dan
bayi dari virus seperti herpes dan HIV, protozoa giardia lamblia, serta bakteri
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
55
klamidia dan heliokobater. Air kelapa juga dipercaya dapat memperbaiki
fungsi pencernaan. Selama kehamilan, plasenta memproduksi hormon
progesteron yang memperlambat kontraksi otot lambung sehingga
pencernaan pun melambat.
Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa minum air kelapa
akan mempercepat persalinan. Namun, pendapat ini masih belum bisa
dibuk­tikan secara ilmiah. Namun, tidak ada pantangan bagi ibu hamil
untuk minum air kelapa. Justru air kelapa mengandung zat-zat gizi yang
bermanfaat bagi ibu hamil dan janin.
3.3.2 Proses Persalinan
Masa persalinan merupakan periode kritis bagi para ibu hamil karena
segala kemungkinan dapat terjadi, berakhir dengan selamat atau dengan
kematian. Sejumlah faktor, mulai dari ada tidaknya faktor risiko kesehatan
ibu, pemilihan penolong persalinan, keterjangkauan dan ketersediaan
pelayanan kesehatan, kemampuan penolong persalinan sampai sikap
keluarga dalam menghadapi keadaan gawat, ikut menetukan selamat
tidaknya ibu. Berdasarkan data dari Puskesmas Jrangoan tahun 2011,
sasaran ibu hamil di Desa Jrangoan adalah sebanyak 59 ibu hamil dan yang
melakukan persalinan ke tenaga kesehatan sebanyak 56 orang. Sebagian
besar ibu hamil di desa ini sudah mempercayai tenaga kesehatan (bidan
desa), walaupun masih ada sebagian masyarakat yang masih mempercayai
dukun beranak sebagai penolong persalinannya, seperti yang diungkapkan
dua informan berikut ini.
“… ya dukun beranak dulu, Bu, setelah itu baru ke bidan .…”
(KH)
“… Periksa kehamilan ke Bu Bidan dan ke Buk Selli (dukun ber­
anak). Kalau ke Bu Bidan ya cuma di posyandu ... he’em tiap
bulan, kalau ke Buk Selli sering, soalnya sungsang terus .…”
(UM)
“... Waktu dulu kan nggak ada gratisan, terus mau manggil
bidan itu kan kita nggak ada biaya gitu lo Bu, maksudnya harus
emang lebih enakan manggil dukun soalnya biayanya kan lebih
kecil gitu lo maksudnya … kalau pas sekarang kan Ibu bilang itu
nggak usah, kalau manggil saya gratisan, gitu Ibu Bidan bilang
.…” (UM)
56
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Saat persalinan, orang-orang yang ada di samping ibu melahirkan
adalah suami, ibu dari ibu melahirkan, dan mertua ibu melahirkan tersebut.
Namun, pada beberapa kejadian, suami tidak dapat mendampingi istri
karena sedang berada di luar kota untuk bekerja.
Pada saat akan melahirkan, wajah ibu tampak khawatir dan gugup,
bahkan berkali-kali mengatakan sudah tidak kuat menahan sakit dan tidak
bisa bertahan. Namun, suami, ibu, dan ibu mertua yang mendampingi di
ruang persalinan selalu menyemangati, begitu juga dengan bidan yang
tidak henti-hentinya memotivasi ibu agar tetap bertahan dan berusaha
sekuat tenaga. Suami berada di hulu (atas kepala) ibu agar ibu bisa
mengalungkan tangannya ke leher suami sehingga bisa mengejan dengan
kuat. Dengan sabar suami meniup kepala istrinya karena memang kondisi
di dalam ruang bersalin agak panas, berbeda dengan kondisi di luar
yang sangat dingin pada waktu malam hari. Ibu mertua dan ibu kandung
ibu melahirkan senantiasa berdoa dan selalu sigap jika diminta untuk
mengambil barang-barang, misalnya sarung, oleh bidan.
Ibu terus mengerang kesakitan. Bidan sudah siap dengan sarung
tangannya. Sebelumnya, bidan sudah memasang alas khusus orang
melahirkan serta kain di bawah bokong ibu agar nantinya darah yang keluar
tidak merembes ke kasur tempat bersalin. Setelah terpasang dengan
sempurna, ibu mulai mengejan sambil memegang pundak dan leher
suaminya. Ibu dan ibu mertua yang awalnya hanya duduk dan berdoa,
mulai berdiri dan mendekati kasur tempat bersalin. Keduanya terus
memberi motivasi dengan bibir yang terus mengucap doa. Kemudian,
air ketuban pun pecah, dan kepala bayi mulai terlihat di mulut vagina.
Bidan terus menyemangati agar ibu tidak putus asa mengejan. Setelah itu,
akhirnya seorang bayi pun lahir dengan selamat. Semua orang mengucap
syukur bahagia. Ibu terlihat sangat lega dan bahagia.
Bidan melanjutkan tugasnya, yaitu mengeluarkan ari-ari yang masih
berada di dalam rahim. Sebelumnya, bidan telah menjepit saluran ari-ari
yang terhubung dengan tali pusat dengan menggunakan gunting khusus.
Bayi pun menangis dengan keras. Namun, bayi itu dibiarkan menangis
oleh bidan karena bidan masih berusaha mengeluarkan ari-ari dan
memasukkan betadine ke dalam vagina. Lubang vagina tidak robek, hal
ini karena bidan menahan dengan keras bagian bawah vagina ketika ibu
mengejan. Setelah berhasil mengeluarkan ari-ari, tali pusat yang tadinya
hanya dijepit, dipotong oleh bidan dan diikat dengan benang.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
57
Tindakan selanjutnya yang dilakukan oleh bidan adalah meletakkan
bayi di dada ibunya agar mencari puting susu (Inisiasi Menyusui Dini/IMD).
Namun, ketika bayi belum berhasil menemukan puting susu ibu, bidan
menggendong bayi itu karena IMD dirasa cukup. Kemudian, bayi diberikan
kepada suami, yang sudah menjadi seorang ayah, untuk dikumandangkan
adzan di telinga kanan bayi. Bayi yang pada awalnya menangis menjadi
tenang seakan-akan mendengar suara adzan tersebut. Kemudian bayi
diselimuti kain sarung tebal (dibedong) oleh bidan agar bisa digendong
keluar.
Bidan pun melanjutkan tugasnya memasangkan pembalut di celana
dalam ibu dan memasangkannya dengan penuh kasih sayang. Pada saat
melakukan ini, yang ada di ruang bersalin hanya bidan dan atau ibu
saja. Oleh bidan, ari-ari yang pada awalnya berada di bawah bokong ibu
diletakkan di keranjang yang ada di bawah kasur bersalin bersamaan
dengan alasnya. Setelah itu, bidan membantu ibu memakai kain sarung
dan merapikan baju serta kerudungnya. Setelah rapi, bayi dan keluarga
yang ada di luar ruang bersalin diizinkan masuk kembali.
Bayi diimunisasi dan ibu diberikan tablet vitamin A. Bayi juga ditimbang
dan diukur panjang badannya. Bidan menyiapkan vitamin dan obat yang
harus dikonsumsi oleh ibu. Ternyata bidan juga memberikan susu formula
“Lactona 1” kepada ibu, dan tidak lupa juga kain kasa untuk membalut tali
pusat bayi. Kemudian bidan membersihkan peralatan medisnya dan juga
kasur tempat bersalin dengan cairan antikuman.
Proses persalinan seperti ini hampir terjadi pada semua ibu yang
melahirkan di polindes, sedangkan untuk ibu melahirkan yang ditolong di
rumah hanya berbeda pada tempat bersalin. Melahirkan di rumah adalah
hal yang dihindari oleh bidan karena fasilitas kurang memadai. Namun,
hal ini kadang terjadi jika ibu sudah tidak kuat untuk pergi ke polindes.
Peralatan yang digunakan bidan pun sama, tetapi tempat melahirkan
terjadi di rumah ibu melahirkan.
3.3.3 Budaya Setelah Persalinan
Saat pulang dari polindes, tempat bersalin yang paling sering di­
kunjungi, bayi digendong oleh neneknya (ibu dari ibu melahirkan). Karena
saat itu ibu melahirkan pada pukul 3.00 dini hari, maka jalan menuju
rumah, berjarak sekitar 300 meter dari polindes, tampak sepi dan hanya
ada sedikit penerangan jalan. Dalam perjalanan pulang tersebut, paman
dan kakek si bayi ikut menyertai nenek yang menggendong bayi. Nenek
58
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
bayi membawa sebatang lente (lidi) yang diyakini dapat mengusir setan
selama dalam perjalanan. Hal yang sama juga dilakukan oleh ibu habis
melahirkan yang biasanya naik sepeda motor bersama suaminya. Ibu
membawa sebatang lidi agar terhindar dari godaan setan. Ibu yang baru
melahirkan beserta bayi yang dilahirkan dipercaya sangat rentan terhadap
gangguan setan, apalagi pada malam atau dini hari. Berikut merupakan
pemaparan nenek bayi baru lahir (JR) mengenai lidi:
“... lente neka ma’le bajhi’ tak etoro’ bunte’ seta, Bu. Ka’assa
maghi la ebo’en padha abhakta lente jugan. Jha’ mon oreng
se ghi’ bhuru lahir neka seggut ero’-toro’e setan. Daddi kodhu
asedia lente ....”
(“... lidi ini agar bayi tidak diikuti setan, Bu. Itu juga ibunya
bawa lidi. Soalnya orang yang baru melahirkan sering kali
diikuti setan, makanya harus menyediakan lidi ....”)
Sesampainya di rumah, bayi dan ibunya sudah ditunggu oleh anggota
keluarga yang lain seperti paman, bibi, serta tetangga terdekat. Sebuah
nampan beras sudah disiapkan untuk ditabuhkan di dekat telinga bayi.
Tujuannya agar bayi tidak mudah kaget ketika mendengar suara yang
menghentak di kemudian hari. Kemudian, nampan itu akan dijadikan alas
tidur si bayi selama beberapa jam sebelum akhirnya dipindah ke kasur
khusus bayi. Salah seorang informan (AM) mengatakan bahwa:
“... pas tabbhu gaddhang ka’assa, Bu. Enggi ka seddhi’anna
kopengnga bhaji’. Ma’le tak ngejjhiddan mon la rajha ....”
(“ ... lalu ditabuh nampan berasnya, Bu. Ya di dekat telinga
bayi. Agar tidak mudah kaget ketika dewasa kelak ....”)
Bayi mulai diperkenalkan makanan selain ASI beberapa jam setelah
lahir, di antaranya madu dan kelapa muda. Bayi disuapi maddhu (madu)
beberapa tetes dengan menggunakan jari telunjuk neneknya yang belum
cuci tangan. Siapa pun bisa menyuapi madu ini, tidak harus si ibu. Tiga jam
kemudian, bayi disuapi ro’-moro’ (kelapa muda) sekitar 2-3 sendok oleh
ibunya. Ibu pun mengonsumsi kelapa muda setelah menyuapi bayinya.
Menurut keyakinan masyarakat setempat, madu dan kelapa muda ber­
manfaat untuk melicinkan pencernaan bayi sehingga dapat menerima
makanan apa pun yang diberikan kepadanya.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
59
Gambar 3.5 Bayi berusia kurang dari dua jam disuapi maddhu (madu) oleh neneknya.
Gambar 3.6 Bayi berusia kurang dari lima jam disuapi ro’-moro’ (kelapa muda) oleh ibunya.
Sebelum disuapi makanan, bayi baru lahir ini dimandikan oleh dukun
bayi. Duku akan memandikan bayi sampai bayi berusia 7 hari.
60
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Gambar 3.7 Bayi baru lahir dimandikan oleh dukun.
Bayi dimandikan oleh dukun bayi, selain agar bayi dipijat oleh dukun,
ibu juga tidak perlu memikirkan proses memandikan bayinya. Hal ini
merupakan perlakuan istimewa kepada ibu yang baru melahirkan. Ibu yang
baru melahirkan juga tidak diperkenankan melakukan pekerjaan rumah
yang berat seperti mencuci pakaiana dan membersihkan rumah. Ibu hanya
membersihkan dirinya di kamar mandi, sedangkan yang mengerjakan
pekerjaan rumah adalah ibu dari ibu melahirkan tersebut karena sudah
menjadi kebiasaan di masyarakat ketika melahirkan ibu selalu ditemani
oleh orang tuanya. Sesuai dengan tipe kekerabatan yang matrilokal, yaitu
ibu tinggal bersama orang tuanya, maka ketika setelah melahirkan pun, ibu
akan dibantu merawat bayinya oleh orang tua. Walaupun ada juga yang
neolokal, yaitu pasangan suami istri yang tinggal di rumah sendiri (tidak
bersama orang tua), namun ketika melahirkan pun akan pulang ke rumah
orang tua si ibu dengan alasan agar ada yang mendampingi ibu merawat
dan mengasuh bayinya. Tujuannya adalah ibu yang baru melahirkan
diharapkan tenang dan tidak mengkhawatirkan masalah perawatan bayi
baru lahir dan lebih fokus pada perawatan dirinya sendiri.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
61
3.3.4 Masa Nifas
Ada sebuah tradisi yang masih dilakukan oleh ibu hamil, yaitu tidak
memakai pembalut pada hari pertama setelah melahirkan. Ibu hanya
memakai kain sarung dan duduk di atas kursi yang beralaskan kain tebal.
Kain ini digunakan agar darah nifas tidak memabasahi kursi kayu. Karena
ibu tidak memakai pembalut, maka darah menetes langsung dari vagina
dan keluar atau merembes ke bagian paha dan betis hingga menetes
ke lantai (tanah). Agar darah yang berceceran di tanah mudah untuk
dibersihkan, maka di bawah kaki ibu nifas diletakkan tanah. Dengan
tanah ini, darah yang tercecer akan terserap dan jika tanah sudah penuh
dengan darah, maka akan diganti dengan tumpukan tanah yang baru.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, hal ini dilakukan agar dapat
mempercepat keluarnya darah nifas karena tidak tertahan oleh pembalut
seperti yang disampaikan oleh informan JD berikut ini.
“... bunten, Bu, tak ngangguy softex. Deggi’ mon la olle saare
pas ngangguy. Ja’ ca’epon oreng seppo ka’assa tako’ dharana
tak kalowar sadhaja. Enggi kaula la atoro’ dha’neka ....”
(“... tidak, Bu, tidak memakai softex (pembalut). Nanti kalau
sudah sehari baru memakainya. Karena kata orang tua zaman
dahulu dikhawatirkan darahnya tidak keluar semua. Ya saya
nurut saja ....”)
Gambar 3.8 Ibu nifas duduk di kursi beralas kain tebal.
Gambar 3.9 Di bawah kursi ibu nifas
diletakkan tanah untuk menyerap darah nifas.
Super tetra juga digunakan ibu untuk mempercepat keluarnya darah
nifas. Cara menggunakannya adalah dengan menaburkannya di permukaan vagina. Selain itu, ada jamu yang diminum untuk kembali mengen-
62
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
cangkan otot yang kendur pascamelahirkan. Jamu tersebut biasanya dibeli
di toko jamu yang ada di kota (Sampang).
Ada juga parem, semacam lulur, yang dioleskan ke seluruh bagian
tubuh seperti perut, pinggang, dan wajah. Khasiat parem sama dengan
jamu, yaitu untuk mengencangkan kembali otot-otot setelah proses
persalinan. Parem berupa serbuk yang hampir mirip dengan jamu. Parem
ini dicampur dengan air hangat dan kemudian dioleskan ke beberapa
bagian tubuh yang telah disebutkan. Penggunaan parem dilakukan sampai
40 hari pascamelahirkan.
Gambar 3.10 Ibu Nifas yang memakai parem.
Untuk mengembalikan bentuk perut langsing seperti semula, ibu yang
sudah melahirkan menggunakan gurita khusus setiap hari. Gurita ini sama
dengan gurita untuk bayi, hanya saja ukurannya lebih besar. Cara menggunakan gurita adalah dililitkan ke sekeliling perut dan mengencangkan
tali gurita agar dapat menekan perut. Namun, pemakaian gurita ini tidak
membuat perut ibu sakit karena kuat tidaknya tali gurita disesuaikan de­
ngan kenyamanan ibu ketika memakainya. Dengan ditekannya perut oleh
gurita ini, maka diyakini bahwa perut ibu yang awalnya membesar setelah
melahirkan, akan kembali langsing atau kembali ke bentuk semula.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
63
Ibu nifas mendapat perlakuan yang sedikit istimewa dari keluarga,
yaitu tidak diperbolehkan melakukan kegiatan yang melelahkan. Ibu ha­
nya diminta duduk, sedangkan pekerjaan lain yang biasanya dikerjakan sehari-hari seperti memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah
dilakukan oleh suami atau orang tua ibu. Jadi, tugas ibu hanya menyusui
bayinya. Namun, hal ini hanya berlaku bagi ibu yang suaminya tidak pergi
ke luar kota untuk bekerja. Bagi ibu yang ditinggal oleh suaminya, maka
ibu tetap melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci pakaian
dan membersihkan rumah.
Untuk selanjutnya, ibu nifas akan berusaha untuk mencegah keha­
milan selanjutnya dengan cara coitus interuptus, yaitu suami mengeluarkan sperma di luar vagina istri. Namun, walaupun di pesantren telah
diajarkan bahwa alat kontrasepsi (KB) sebaiknya tidak digunakan dengan
alasan KB sama dengan membunuh calon janin serta menghalangi terhapusnya 1.000 dosa, beberapa ibu telah mengikuti program KB karena
bidan desa sudah mempromosikannya dengan baik. KB yang sering digunakan adalah KB suntik dan pil KB. Alasan seorang informan (NF) tetap
menggunakan alat kontrasepsi adalah sebagai berikut.
“... Benni keng ta’ terro aghaduwanna potra, Bu. Samangken
neka manabi tak ngereng KB pas aclorcodhan. Posang se
arabaddha. Daddi ma’le tak pate semma’ se ngandung ghi pas
ngereng KB ....”
(“… Bukannya tidak ingin memiliki anak, Bu. Sekarang kalau
tidak ikut KB jadi tidak bisa direm hamilnya. Bingung nanti yang
mau merawat. Jadi biar tidak terlalu dekat jarak kehamilannya,
saya ikut KB ....”)
3.5 Menyusui
Hari-hari selanjutnya bayi tidak hanya minum ASI, tetapi setiap
pagi dan sore disuapi pisang yang dicampur dengan nasi tim. Menurut
keterangan ibu yang memiliki bayi, jika tidak diberi makanan pendamping
ASI, bayi akan rewel (menangis) karena lapar sehingga akan mengganggu
ibu ketika bekerja di sawah atau di dapur. Ada dua cara untuk menyuapkan
makanan, yaitu dengan menggunakan sendok dan menggunakan cara
tradisional, yaitu bayi diikat di atas kaki penyuap yang sedang berselonjor,
kemudian disuapi dengan tangan tanpa memedulikan bayi yang menangis
meronta. Masyarakat berpikir bahwa cara ini dilakukan untuk membuat
bayi kenyang, bukan bermaksud untuk menyakiti bayi.
64
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Ada beberapa pantangan untuk ibu ketika sedang dalam masa
menyusui bayi, di antaranya adalah ibu tidak diperkenankan mengonsumsi
ikan laut karena dikhawatirkan ASI-nya akan berbau amis. Selain itu, ibu
juga tidak boleh mengonsumsi cabai terlalu banyak karena ASI akan terasa
pedas dan menyebabkan mata bayi kotor serta merah. Untuk pantangan
di luar makanan, yaitu tidak boleh terlalu sering melakukan hubungan
seksual agar ASI tidak panas sehingga bayi kurang menyukainya. Berikut
pernyataan informan AN tentang pantangan makanan saat menyusui:
“... tak kengeng adha’ar juko’ polana pas ma amisan ka
aing soso. Mon cabbi tak kengeng jugan polana pas ngis-ngis
matana bhaji’ Bu ....”
(“... tidak boleh makan ikan karena membuat ASI amis.
Kalau cabai juga tidak boleh karena nanti mata bayi bisa kotor,
BU ....”)
Sementara ramuan untuk memperlancar ASI terbuat dari air hangat
hasil rendaman abu bekas pembakaran tungku, abu biasa (tanah), dan
asam jawa. Ramuan ini biasa disebut dengan pejje. Mayoritas masyarakat
meyakini dan percaya bahwa ramuan ini benar-benar bisa memperlancar
ASI karena sudah terbukti khasiatnya.
Bagi ibu yang melahirkan di polindes akan langsung dibimbing oleh
bidan untuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sehingga ASI yang pertama
kali keluar (kolostrum) diberikan kepada bayi. Hanya saja, terkadang
bidan tidak membiarkan IMD ini secara sempurna hingga bayi berhasil
me­nemukan puting susu ibu. Ketika bayi berada di atas dada ibu dan
mencari puting, bidan sudah menggendong bayi kembali sebelum bayi
berhasil menyusu ASI. Pada saat tiba di rumah, sebagian ibu membuang
kolostrum dengan alasan kolostrum adalah ASI yang kotor. Namun, ada
juga ibu yang sudah menyadari bahwa kolostrum baik untuk bayi dan
memberikannya. Pengetahuan ibu tentang kolostrum ini disebabkan oleh
promosi kesehatan yang dilakukan oleh bidan di posyandu.
Bagi ibu yang baru pertama kali melahirkan dan belum pernah me­
nyusui sebelumnya, cara menyusui yang benar diajari oleh ibu dari ibu yang
melahirkan tersebut. Caranya yaitu ibu duduk di kursi dan di pangkuannya
diletakkan sebuah bantal, kemudian bayi didekap di atas bantal tersebut,
lalu mulut bayi diarahkan ke puting ibu. Bantal yang ada di pangkuan
ibu memudahkan mulut bayi menggapai puting ibu. Apabila bayi sedang
berada di tempat tidur, maka cara menyusui yang diajarkan adalah ibu
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
65
memiringkan posisi tubuhnya menghadap bayi dan meletakkan puting
susu ke mulut bayi. Posisi yang lain adalah ibu berdiri sambil menggendong
bayi dengan menggunakan gendongan, lalu bayi dimiringkan menghadap
dada ibu sehingga bisa langsung disusui.
Frekuensi menyusui bayi adalah sesering mungkin. Jika bayi menangis
karena merasa lapar, maka ibu akan segera menyusui bayinya. Tidak peduli
siang atau malam, ibu tetap menyusui bayinya. Namun, ada beberapa ibu
memberikan susu formula, bahkan pada saat bayi masih berusia kurang
dari 7 hari. Ibu merasa bahwa ASI-nya kurang mencukupi dan bayi masih
lapar.
3.6 Neonatus dan Bayi
Perawatan neonatus diawali dengan “penghormatan” kepada ari-ari
atau plasenta. Sebelum dikuburkan, ari-ari dicuci hingga bersih oleh dukun,
kemudian diberi garam, bawang merah, bawang putih, merica, ketumbar,
laos, jahe, kencur, dan kunyit. Bahan-bahan ini dimaksudkan agar bayi
menjadi anak yang pintar dan hatinya selalu bersinar terang (menjadi
anak yang baik). Ari-ari ini dikuburkan di halaman depan rumah oleh
suami ibu melahirkan. Namun, jika suami sedang merantau, maka yang
menguburkan adalah bapak mertua atau bapak kandung ibu melahirkan.
Ari-ari yang sudah diberi bahan-bahan tersebut kemudian dibungkus
dengan kantong plastik, lalu diletakkan di dalam sebuah lubang galian
di tanah. Sebelum lubang ditutup, adzan dan iqomah dikumandangkan
oleh bapak yang menguburkan ari-ari tersebut. Ini merupakan suatu
penghormatan kepada ari-ari yang dianggap sebagai kembaran bayi
selama dalam kandungan. Jadi, ketika dikuburkan pun diperlakukan sama
seperti menguburkan manusia yang sudah meninggal sesuai dengan
aturan Islam, yaitu diadzani dan dikumandangkan iqomah.
Untuk menandai tempat ari-ari dikubur, di atasnya ditanam tanaman
berduri. Selain sebagai tanda, tanaman ini dapat mengusir ayam atau
hewan lain yang biasanya mengorek-ngorek tanah. Namun, ada juga
tradisi lain untuk menandai tempat ari-ari ini, yaitu dengan meletakkan
kurungan dan lampu di atasnya.
Seperti telah diceritakan sebelumnya, dukun akan memandikan
bayi selama 7 hari. Ini merupakan bentuk perhatian kepada ibu agar ibu
yang baru saja melahirkan dapat beristirahat tanpa perlu memikirkan
bagaimana memandikan bayinya karena kondisi ibu pascamelahirkan
masih lemah dan terasa sakit di bagian rahim. Alasan lain, yaitu agar
66
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Gambar 3.11 Salah satu proses saat mengubur ari-ari.
ketika bayi dimandikan oleh dukun, maka bayi dapat dipijat. Menurut
keyakinan masyarakat setempat, badan bayi yang baru lahir terasa sakit
karena telah berjuang untuk lahir ke dunia. Oleh karena itu dibutuhkan
pemijatan. Namun demikian, ada sebagian bayi yang tidak dimandikan
oleh dukun, tetapi dimandikan oleh neneknya (ibu dari ibu bayi). Biasanya
karena tempat tinggal dukun bayi yang biasa memeriksa ibu hamil jauh,
maka yang memandikan bayi adalah neneknya.
Biasanya bayi dimandikan di atas lencak (tempat duduk dari bambu)
yang terletak di halaman rumah. Dukun atau orang lain yang memandikan
bayi duduk berselonjor di atas lencak. Kemudian, bayi ditidurkan di atas
kaki yang berselonjor ini. Bayi dibiarkan menangis karena bayi yang me­
nangis pada pagi hari akan membuat bayi sehat. Air hangat yang digunakan
untuk memandikan bayi ada di dalam baskom kecil. Ada beberapa orang
meletakkan batu berwarna hitam di dalam baskom berisi air untuk mandi
bayi. Menurut keterangan nenek bayi (yang memandikan bayi) tersebut,
batu itu merupakan batu yang sudah didoakan oleh kiai. Batu tersebut
berkhasiat untuk mengencangkan kulit bayi dan mencegah bayi menjadi
kurus. Selain itu, di pergelangan tangan bayi sebelah kiri terdapat gelang
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
67
yang terbuat kain. Nenek bayi mengatakan bahwa gelang tersebut terbuat
dari selimut bayi. Dukun, yang membantu merawat bayi, mengambil sedikit
bagian selimut bayi untuk dijadikan gelang. Khasiat gelang tersebut sama
dengan batu yang ada di baskom air mandi bayi, yaitu mengencangkan
kulit bayi dan mencegah bayi menjadi kurus.
Gambar 3.12 Bayi dimandikan oleh dukun.
Di samping baskom terdapat peralatan bayi seperti sabun dan sampo
bayi, bedak bayi, minyak telon, popok kain, baju bayi, gurita, cella’, handuk, dan kain gheddhung (bedong). Ketika memandikan bayi, tidak hanya
dukun atau nenek bayi yang menyaksikan, tetapi juga kerabat dekat. Me­
reka tampak antusias menonton bayi baru lahir. Jika bapak si bayi tidak
sedang berada di luar Madura, maka ia akan berdiri di samping lencak,
bersama kerabat dan tetangga, dan siap membantu mengambilkan peralatan bayi yang mungkin masih tertinggal di dalam rumah.
Mula-mula gheddhung bayi atau apa pun yang sedang dikenakan oleh
bayi dilepas. Bayi yang tidak mengenakan baju tersebut langsung disiram
air hangat dari baskom dengan tangan. Bayi yang merasa kedinginan
lang­sung menangis. Dukun pun melanjutkan membersihkan badan bayi
dengan sabun sambil dipijat. Begitu pula saat menggunakan sampo pada
rambut bayi. Posisi bayi yang telentang lalu dibalik ke posisi tengkurap.
Dalam posisi tengkurap itu, punggung bayi dipijat dengan lembut. Tidak
68
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
lupa bagian kaki dan tangan serta kening juga dipijat. Bayi yang masih
penuh sabun dan sampo langsung dibilas dengan air hangat. Selanjutnya,
bayi dilap dengan handuk bayi. Karena tali pusat bayi masih belum lepas,
dukun dengan terampil mengganti kain kasa yang membungkus tali pusat
bayi. Kain kasa yang dibawa dukun merupakan pemberian bidan sebagai
bentuk kepercayaan kepada dukun, yang sudah menjadi mitranya, untuk
merawat bayi. Kemudian, bayi diolesi minyak telon dan dilumuri bedak
dan dilanjutkan dengan memakaikan gurita, popok, baju, dan terakhir
egheddhung (dibedong). Sebelum diberikan kepada ibunya untuk diberi
ASI, dukun memberikan cella’ di kelopak mata bayi bagian bawah agar
bayi terlihat tampan atau cantik. Ritual lain yang dilakukan adalah meniup
bulu mata bagian atas dengan keras agar bulu matanya lentik. Bulu mata
yang lentik menambah ketampanan atau kecantikan seseorang seperti
yang disampaikan oleh informan MD berikut ini.
“... esrepoh neka ma’le mletthek bulu kejha’en, Bu. Sajen mlet­
thek sajen ganteng. Cella’ se celleng neka maghantengan jugan
....”
(“... ditiup ini agar bulu matanya lentik, Bu. Semakin lentik se­
makin tampan. Cella’ yang hitam ini membuat bayi tampan
juga ....”)
Setelah mandi pagi selesai, bayi diberikan kepada ibunya untuk
disusui. Jika bayi masih berumur 1 hari, maka setelah mandi, bayi tidak
diberi ASI, tetapi disuapi ro’-moro’. Apabila sudah kenyang, bayi akan
tertidur. Di tempat tidur bayi, selain terdapat peralatan tidur, juga ada
sesajen pengusir setan, di antaranya sebutir telur ayam, segenggam beras,
bawang merah, bawang putih, cabe, lidi, pisau, dan cermin kecil.
Gambar 3.13 Sesajen untuk mengusir setan.
Gambar 3.14 Sesajen untuk mengusir setan
diletakkan di dekat bayi yang sedang tidur.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
69
Cara lain agar bayi terhindar dari gangguan setan adalah meminta
orang yang akan menengok bayi untuk berhenti sejenak di teras rumah
sebelum masuk ke rumah karena dikhawatirkan orang tersebut membawa
setan dari luar rumah dan setan tersebut dapat mengganggu bayi dan
membuat bayi menangis/rewel. Usaha pencegahan ini dilakukan karena
bayi yang baru lahir sangat rentan terhadap gangguan setan.
Upaya perlindungan terhadap bayi tidak hanya dengan menghindarkan bayi dari gangguan setan, tetapi juga dengan menyelenggarakan acara
selametan atas kelahiran bayi. Acara selametan pun tidak hanya dilakukan ketika bayi dalam kandungan, tetapi juga ketika bayi berusia 7 dan 40
hari. Upacara selametan 7 hari tersebut meliputi pemberian nama bayi
yang sudah diusulkan oleh kiai. Untuk pemberian nama bayi, ada sebagian
masyarakat memohon pertimbangan kiai karena nama yang diberikan oleh
kiai diharapkan dapat memberikan kebarokahan bagi bayi dan bayi akan
menjadi anak yang baik ketika dewasa kelak. Jadi, setiap nama yang diusulkan oleh kiai selalu diterima oleh orang tua bayi. Namun, ada sebagian
orang menamai bayinya sesuai dengan ide dan harapannya sendiri.
Kemudian, pada saat acara selametan itu dilakukan juga pemotongan sebagian rambut bayi dan sunat yang dilakukan oleh dukun. Alat
yang digunakan untuk memotong rambut bayi adalah gunting, sedangkan
alat untuk sunat adalah silet. Setelah itu, dukun akan memberikan jamu
(komposisi jamu tidak diketahui oleh ibu bayi) kepada bayi agar bayi sehat. Acara ini tidak seramai acara selametan ketika bayi berusia 40 hari.
Ketika bayi berusia 40 hari, keluarga akan mengadakan pengajian dengan
mengundang kerabat dan tetangga, serta membagi makanan (kue) untuk warga sekitar. Dalam acara ini nama bayi pun diumumkan agar seluruh kerabat dan tetangga mengetahuinya. Bagi keluarga dengan kondisi
ekonomi menengah ke atas, di dalam dus makanan (kue) yang diberikan
kepada para tetangga dan kerabat disertakan pula kartu yang berisi nama
dan tanggal lahir bayi sehingga masyarakat mengetahui nama bayi dan
tanggal lahirnya. Diharapkan para tetangga ikut mendoakan keselamatan
bayi tersebut.
Upacara selametan tidak hanya dilakukan pada saat bayi berusia 7
dan 40 hari, tetapi juga ketika bayi berusia 1 tahun yang dikenal dengan
nama toron tana (turun tanah). Upacara ini merupakan tanda bahwa bayi
sudah bisa diajari berjalan di atas tanah. Pada saat upacara, bayi duduk di
atas nampan yang berisi tettel (kue dari ketan, makanan khas Madura). Di
atas tettel itu bayi didudukkan agar dapat memilih beberapa barang yang
70
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
disediakan. Barang tersebut antara lain sisir, cermin, Alquran, tasbih, uang,
buku, dan bolpoin. Karena ada di hadapan bayi, bayi akan mengambil
barang-barang tersebut. Jika bayi mengambil sisir atau cermin, maka
dipercaya kelak ketika dewasa ia akan menjadi orang yang suka berhias.
Apabila memilih Alquran atau tasbih, dia akan menjadi orang yang rajin
beribadah. Selanjutnya, jika bayi memilih uang mencerminkan bahwa bayi
akan menjadi orang kaya. Sementara jika bayi memilih buku dan bolpoin
mengisyaratkan kelak dia akan menjadi orang pintar.
Acara terakhir adalah bayi diberdirikan di atas tanah sebagai simbol
bahwa ia sudah bisa belajar berjalan di atas tanah. Pada acara toron tana
ini, banyak anak hadir untuk menonton. Anak-anak tersebut akan diberi
suguhan makanan oleh orang tua bayi, begitu pula dengan tetangga yang
ada di sekitar tempat tinggal bayi. Hal ini bertujuan untuk mengumumkan
kepada seluruh masyarakat bahwa bayi sudah bisa diajari berjalan.
Upacara ini tidak selalu dilakukan oleh masyarakat Madura karena upacara
ini sudah bukan merupakan keharusan lagi.
3.7 Anak dan Balita
Keyakinan akan banyak anak banyak rezeki membuat banyak ke­
luarga memiliki anak lebih dari dua. Tentu saja hal ini berpengaruh pada
pengasuhan anak, belum lagi kebiasaan banyak orang tua (ayah) bekerja
di luar Madura dan pulang 1 atau 2 bulan sekali. Ibu yang bekerja di luar
Madura biasanya pulang ketika usia kandungannya 8-9 bulan. Setelah
bayi berusia 40 hari, ibu kembali merantau bersama suaminya, sedangkan
bayi dititipkan kepada nenek atau bibinya. Nenek atau bibi yang memiliki
kesibukan lain selain mengasuh bayi, misalnya bertani atau merawat
anak­nya sendiri, kurang memperhatikan pengasuhan bayi yang dititipkan
kepadanya sehingga pengasuhan pun ala kadarnya. Ketika berusia kurang
dari 1 tahun, balita yang dititipkan tersebut masih mendapat perhatian
yang lebih. Namun, ketika balita sudah mulai bisa makan sendiri, pola
makannya tidak terlalu diawasi. Yang penting sudah makan dan tidak
menangis, tanpa memedulikan menu dan jadwalnya, berarti tidak ada yang
perlu dikhawatirkan. Tak heran jika pola makan kebanyakan balita menjadi
tidak teratur, dan hal inilah yang mempengaruhi pertumbuhannya.
Ada juga kasus lain yang terjadi pada balita yang tinggal bersama
ibunya, tetapi memiliki banyak saudara dengan rentang usia tidak lebih
dari 2 tahun. Perhatian ibu tidak hanya diberikan untuk satu anak, tetapi
semua anak. Ibu juga harus mengerjakan pekerjaan rumah sehingga anakEtnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
71
anak yang masih balita diasuh oleh anak yang lebih besar. Sementara
anak yang lebih tua, kurang dari 10 tahun, sudah bisa mengurus dirinya
sendiri. Ibu tidak peduli anak-anaknya makan berapa kali sekali. Yang
penting semua anak tidak kelaparan dan menangis, maka tidak perlu
mengingatkan mereka untuk makan. Jika si balita enggan makan, hal ini
pun tidak menjadi masalah. Kedua hal tersebut menjadi permasalahan di
desa ini dalam hal pola pengasuhan dan pola makan anak.
Selain pola pengasuhan dan pola makan, ada juga pola pengobatan
untuk anak. Pengobatan yang dilakukan ibu ketika bayi sakit adalah
dengan membawanya ke dukun bayi untuk dipijat. Beberapa penyakit
yang biasanya diobati oleh dukun adalah oleh dan saben. Oleh adalah
penyakit yang menyebabkan bayi kurus seperti malnutrisi dan suhu
badannya naik. Cara mengobatinya adalah dengan dipijat oleh dukun bayi
dan diberi jamu. Pemijatan dilakukan di bagian kaki, pinggang, punggung,
tangan, dan kening. Sedangkan jamu dibuat dari berbagai macam daun
dan bahan-bahan tradisional berupa empon-empon seperti temulawak
(Curcuma xanthorrhiza Roxb.), kencur (Kaempferla galanga L.), jahe
(Zingiber officinale Rosc.), kunyit (Curcuma domestica Val.), temu ireng
(Cur­cuma aeruginosa Roxb.), dan lempuyang emprit (Zingiber americans
L.); sambiloto (Andrographis paniculata Nees.); brotowali (Tinospora
tuberculata Beumee.); kapulogo (Amomum cardamomum Willd.); adas
(Foeniculum vulgare Mill.); dan daun pepaya (Carica papaya L.). Bahanbahan ini dicampur dan ditumbuk dengan menggunakan alat khusus
berupa batu yang berbentuk seperti cobek dan batu lain yang dijadikan
penggerusnya. Setelah semuanya tercampur dan diberi sedikit air, hasil
ulekan tersebut dibungkus kain yang tampaknya sudah digunakan berkalikali tanpa dicuci. Jamu yang terbungkus kain ini tidak langsung diberikan,
tetapi diletakkan di gelas atau piring karena dukun harus memijat bayi
terlebih dahulu. Jika bayi sudah dipijat, bayi yang masih tersengal-sengal
dan kehausan akan langsung dicekoki jamu dari bungkusan kain itu. Bayi
tidak menolak untuk meminum jamu walaupun terasa pahit karena sudah
merasa kehausan. Setelah meminum jamu, bayi langsung diberi ASI untuk
menenangkannya. Selain jamu, ada obat lain untuk menyembuhkan pe­
nyakit oleh, yaitu dengan air dari sumber oleh. Sumber air ini terdapat
di Desa Karang Penang, yaitu desa yang terletak di sebelah utara Desa
Jrangoan. Tidak ada penjelasan mengenai asal usul sumber air oleh ini.
Tetapi masyarakat sangat mempercayai khasiat air ini karena sudah
terbukti manjur mengobati bayi yang sakit oleh.
72
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Begitu pula dengan sakit saben. Saben adalah suatu kondisi ketika
bayi sering menangis walaupun sudah minum ASI dan disuapi makanan.
Jika bayi diare, bayi akan dipijat di bagian pinggang dan pinggulnya.
Jamu akan selalu diberikan kepada bayi setelah dipijat. Namun, untuk
menyembuhkan sakit saben, bayi tidak diberi air yang diambil dari sumber
oleh.
Gambar 3.15 Bayi dipijat oleh dukun.
Jumlah balita ada di Desa Jrangoan yang ditimbang setiap bulan
adalah 50,27%, yang mengalami BGM sebanyak 6,23%, dan yang termasuk
dalam gizi buruk 0,21%, tepatnya 3 anak balita dengan gizi buruk (Dinas
Kesehatan Sampang, 2010). Posyandu pun dilaksanakan setiap bulan di
desa ini. Mayoritas ibu sudah sadar akan pentingnya mengetahui tumbuh
kembang anak sehingga jumlah balita yang datang ke posyandu cukup
banyak. Hal ini tidak terlepas dari peran bidan dan kader setempat yang
bekerja keras mengubah paradigma masyarakat tentang kesehatan anak.
Namun, dalam kasus imunisasi, ada beberapa ibu kurang setuju dan
enggan untuk mengimunisasikan balitanya. Mereka khawatir balitanya
demam dan jatuh sakit setelah diimunisasi. Meski demikian, sebagian
besar ibu sudah mulai peduli terhadap imunisasi.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
73
3.8 Health Seeking Behaviour
Ada tiga bentuk perilaku pencarian pengobatan yang dilakukan oleh
masyarakat Madura, khususnya di Desa Jrangoan ini, yaitu pengobatan
ke kiai, dukun, dan tenaga kesehatan. Pengobatan dengan pertolongan
kiai dilakukan ketika si sakit mengalami demam yang ditengarai akibat
perbuatan makhluk halus. Kiai akan memberikan air yang sudah didoakan,
lalu diminumkan atau disemburkan ke pasien. Apabila setelah diobati
kiai, pasien sudah sembuh, maka ia tidak akan mencari pengobatan lain,
seperti ke dukun dan tenaga medis. Kiai dianggap sebagai orang yang dapat
mengusir setan karena kiai merupakan tokoh agama yang memahami ilmu
agama lebih daripada yang lain. Setan merupakan makhluk yang hanya
bisa diusir oleh orang yang dekat dengan Tuhan, termasuk kiai. Hal ini
disampaikan oleh informan UM berikut ini.
“... ka kiai ka’assa manabi songkan panas, Bu. Pola ma’ ero’toro’ setan. Kiai kan semma’ sareng se kobasa, daddi kengeng
ngusir setan. Ban pole sambi nyare barokana kiai ....”
(“... ke kiai itu kalau sakit panas, Bu. Mungkin si sakit diikuti
setan. Kiai kan dekat dengan Yang Mahakuasa, jadi bisa ngusir
setan. Lagi pula sambil mencari barokahnya kiai ....”)
Dukun dimintai pertolongannya untuk menyembuhkan pasien ketika
pasien menderita pegal-pegal. Dukun ini dikenal dengan dukun pijat. Selain
ketika pegal-pegal, pasien akan meminta pertolongan dukun pijat ketika
pasien terjatuh atau ada yang bermasalah dengan bagian tulang. Pemijatan
dilakukan di bagian yang sakit. Akan tetapi, bagi pasien yang menderita
pegal-pegal akan dipijat seluruh bagian tubuhnya. Biasanya dukun pijat
ini adalah orang yang sudah tua dan seorang perempuan. Kemampuan
memijat merupakan kemampuan yang diperoleh secara turun-temurun.
Apabila ada dukun baru, maka masyarakat tidak akan mempercayai
kemampuannya sebelum mengetahui bahwa dukun tersebut merupakan
anak atau keponakan dari dukun terdahulu yang sudah meninggal atau
pun masih hidup. Proses pemijatan dilakukan di rumah dukun, atau bisa
di langgar yang berada di halaman rumah dukun. Sebelum dipijat, bagian
tubuh yang terasa pegal atau sakit diolesi minyak jelantah sebagai pelicin
agar dapat dipijat dengan mudah. Masyarakat yang berobat dengan cara
dipijat oleh dukun ini merasa bahwa pijatan dukun cukup manjur, terbukti
rasa pegal pada bagian tubuh akan hilang setelah dipijat sehingga dapat
74
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
bekerja seperti semula seperti yang diinfokan oleh informan NS berikut
ini.
“... Alhamdulillah kaki saya sekarang sudah tidak lagi sakit
setelah dipijat oleh Bu NK (dukun pijat). Saya jatuh di kamar
mandi tadi, takutnya ada yang patah karena keseleo, jadi saya
ke Bu NK ini biar dipijat ....”
Walaupun mayoritas dukun perempuan, tetapi pasien tidak terbatas
pada warga berjenis kelamin perempuan. Banyak pasien laki-laki meminta
bantuan dukun pijat untuk menyembuhkan rasa pegal yang dialaminya.
Alternatif lain ketika warga sakit dan membutuhkan pengobatan
adalah ke tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan yang biasa dikunjungi oleh
masyarakat adalah bidan dan dokter. Bidan yang bertugas di polindes
adalah tenga kesehatan utama yang menjadi tujuan berobat warga desa
karena lebih dekat dan mudah dijangkau. Bidan yang ada di puskesmas
jarang ditemui oleh masyarakat. Masyarakat juga lebih mengenal dan
akrab dengan bidan di polindes karena menurut mereka bidan tersebut
sabar dan ramah kepada setiap warga walaupun baru dua tahun bertugas
di Desa Jrangoan ini. Bidan polindes juga sangat aktif dalam kegiatan
posyandu sehingga warga lebih mengenalnya dan lebih percaya bahwa
obat yang diberikan oleh bidan adalah obat yang manjur. Sedangkan
bidan yang bertugas di puskesmas kurang dikenal oleh warga. Tak heran
jika warga lebih memilih berobat ke bidan polindes yang sudah sangat
dekat dengan warga.
Polindes terletak di dekat Pesantren Al-Ihsan dan akses jalannya
mudah. Polindes ini juga berada dalam lingkungan Madrasah Al-Ihsan.
Karena lingkungan pesantren dan madrasah merupakan lokasi yang sangat
dikenal warga, maka warga pun tidak sulit untuk menuju polindes.
Pengobatan yang memanfaatkan jasa dokter sangat jarang dilakukan
oleh masyarakat di desa ini, karena alternatif pertama yang dituju ketika
sakit adalah bidan. Namun, apabila pasien belum sembuh setelah
mendapat pertolongan bidan, maka dokter dan rumah sakit yang ada di
kota menjadi alternatif terakhir. Dokter yang bertugas di puskesmas pun
jarang ada di tempat dengan alasan yang tidak pernah dijelaskan oleh
mereka. Masyarakat pun jarang berobat ke dokter puskesmas karena
menganggap bahwa bidan sudah cukup baik dan manjur obatnya, jadi
tidak perlu ke puskesmas meskipun terletak di pinggir jalan utama, namun
agak jauh dari jangkauan masyarakat.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
75
76
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Bab IV
Kepercayaan terhadap Pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak
Pada umumnya fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan oleh
warga Desa Jrangoan adalah polindes yang juga menjadi tempat tinggal
bidan desa. Mereka membutuhkan pelayanan polindes untuk memperoleh pertolongan pertama bagi setiap permasalahan kesehatan yang tidak
dapat mereka selesaikan dengan pengobatan rumah tangga. Sebenarnya
fungsi utama polindes adalah sebagai tempat persalinan warga Desa Jra­
ngoan. Puskesmas dalam persepsi warga Desa Jrangoan adalah tempat
untuk memperoleh pengobatan yang lebih komprehensif, yang tidak mereka dapatkan di polindes.
Sementara pengobatan rumah tangga yang biasa ditemui di Desa
Jrangoan adalah pengobatan tradisional yang mempergunakan jamu dan
bu’-sobu’ (pertolongan oleh penyembuh tradisional) untuk anak-anak.
Namun, selain pengobatan tradisional, warga juga mempergunakan obat
bebas yang didapatkan di warung terdekat, terutama untuk penyakit
ringan seperti batuk, flu, dan pusing.
Pengambilan keputusan untuk memperoleh pelayanan kesehatan
biasanya dilakukan oleh kepala rumah tangga, terutama untuk penyakitpenyakit berat yang membutuhkan pengobatan komperehensif, tetapi
untuk pelayanan KIA, terutama pelayanan persalinan, pengambil kepu­
tusan adalah ibu dari ibu yang akan melahirkan (apabila merupakan ke­
hamilan pertama). Sementara untuk persalinan kedua dan seterusnya,
pengambilan keputusan di tangan ibu yang hendak bersalin dengan alasan
sudah berpengalaman dalam persalinan sehingga ibu bersalin dapat me­
milih pelayanan kesehatan yang paling nyaman baginya.
Respons masyarakat terhadap pelayanan kesehatan profesional sa­
ngat baik, terbukti mereka terbuka dengan sosialisasi yang dilakukan oleh
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
77
tenaga kesehatan dari puskesmas. Setiap program yang diperkenalkan
selalu mengikutsertakan peran tokoh agama agar dapat diterima oleh
masyarakat dengan baik. Tidak ada penolakan frontal dari masyarakat
terhadap setiap program kesehatan yang disosialisasikan. Pada umumnya
sosialisasi dilakukan terus-menerus oleh nakes dan toga agar dapat
diterima dan dilaksanakan oleh warga Desa Jrangoan.
Menurut klebun, keberadaan puskesmas dan polindes sangat mem­
bantu warga Desa Jrangoan, karena mereka tidak perlu pergi ke Kota
Sampang untuk memperoleh pelayanan kesehatan dasar. Bahkan, untuk
memperoleh pelayanan kesehatan bagi anak-anak balita, warga mencari
bantuan ke Desa Rapa Laok, Kecamatan Omben, yang berjarak sekitar 5
kilometer dari Desa Jrangoan.
Kebutuhan akan pelayanan kesehatan bagi warga Desa Jrangoan
sa­ngat tinggi. Umumnya warga menderita penyakit yang berbeda-beda
setiap musim. Pada musim kemarau biasanya sering terjadi kasus ISPA,
sedangkan pada musim penghujan sering terjadi kasus diare.
Bidan desa merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di Desa
Jrangoan. Walaupun ada puskesmas, tetapi untuk pelayanan darurat
me­reka membutuhkan tenaga kesehatan yang siap siaga 24 jam sehari
dan 7 hari seminggu. Bidan desa juga mempunyai kewajiban melakukan
pendekatan kepada warga desa agar mereka percaya dengan pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan, serta meninggalkan
kepercayaan untuk mencari pertolongan pertama kondisi darurat masalah
kesehatan ke dukun.
Masyarakat sangat puas dengan pelayanan yang diberikan bidan
desa itu meski ia baru sekitar 2 tahun menjadi bidan di Desa Jrangoan.
Kesabaran dan keluwesannya bergaul dengan warga desa membuatnya
lebih dipercaya sehingga warga mau ditangani langsung olehnya. Bahkan,
warga desa sekitar Desa Jrangoan, seperti warga Desa Kebun Sareh dan
Napo, datang ke bidan Desa Jrangoan untuk berobat, check up kesehatan
dan persalinan, walaupun di desa mereka juga ada bidan. Dari hasil wa­
wancara sambil lalu, banyak warga menyatakan bahwa bidan desa Jrangoan
ramah, suka bergaul, suka bermasyarakat, dan terampil dalam melakukan
persalinan. Keberadaan bidan sangat membantu meningkatkan program
pelayanan kesehatan masyarakat desa, terutama pelayanan kesehatan
ibu dan anak.
Di Desa Jrangoan terdapat posyandu yang dilaksanakan empat kali
dalam sebulan secara bergiliran. Jadi, pelaksanaan di masing-masing dusun
78
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
adalah setiap seminggu sekali. Posyandu ini dikelola oleh klebun sebagai
penanggung jawab umum dan putri tertua klebun sebagai penanggung
jawab operasional yang dibantu oleh para kader PKK. Sementara bidan
berperan sebagai tenaga pelaksana di lapangan. Adapun kegiatan yang
dilakukan dalam posyandu ini adalah pelayanan pemantauan pertumbuhan
(penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan) balita, pelayanan
imunisasi, dan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Pelayanan ibu berupa
pelayanan ANC (Ante Natal Care), kunjungan pascapersalinan (nifas) dan
pelayanan anak berupa deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang
balita.
Gambar 4.1 Suasana pelaksanaan posyandu di Desa Jrangoan.
Pada gambar tersebut tampak bahwa pelayanan posyandu tidak
didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Di setiap tempat
pelaksanaan posyandu tidak ada meja untuk pelayanan. Pelayanan pos­
yandu dilakukan secara lesehan di lantai. Menurut Prasetyawati (2012),
pelayanan posyandu kepada masyarakat dilakukan dengan sistem 5 meja,
yakni meja I: pendaftaran, meja II: penimbangan, meja III: pengisian
KMS (Kartu Menuju Sehat), meja IV: komunikasi/penyuluhan perorangan
berdasarkan KMS, meja V: tindakan (pelayanan imunisasi, pemberian
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
79
vitamin A dosis tinggi berupa obat tetes mulut tiap bulan Februari dan
Agustus, pengobatan ringan, pembagian pil atau kondom, dan konsultasi
KB-Kesehatan). Petugas di meja I sampai IV dilaksanakan oleh kader,
sedangkan meja V merupakan meja pelayanan paramedis (bidan desa).
Namun, pada kenyataannya, hal ini tidak dapat dilakukan karena dirasa
terlalu memberatkan pekerjaan kader untuk menyiapkannya. Jadi, bidan
memutuskan untuk lesehan di rumah salah seorang kader karena menurut
bidan terlaksananya posyandu lebih penting daripada keberadaan meja.
Akan tetapi, kegiatan yang seharusnya ada di lima meja tersebut sudah
dilaksanakan, walaupun tidak ada wujud meja secara nyata. Hanya saja
untuk kegiatan penyuluhan tidak dilakukan setiap bulan, melainkan
setiap empat bulan sekali karena kader merasa malu dan berat hati jika
melakukannya setiap bulan. Hal positif yang dapat dilihat yaitu ibu-ibu
sudah mulai menyadari akan pentingnya posyandu.
80
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Bab V
Potensi dan Kendala Budaya dalam
Pembangunan Kesehatan
Ibu dan Anak
Pada bab ini dilakukan analisis kendala dan potensi tujuh unsur
kebudayaan berdasarkan semua tindakan yang berhubungan dengan
kesehatan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Jrangoan. Kendala dan
potensi ini merupakan persepsi masyarakat Desa Jrangoan. Menurut
Fred B. Dunn (1976) dalam Nico S. Kalangie (1994) faktor-faktor perilaku
manusia yang mempengaruhi kesehatan dapat digolongkan dalam dua
kategori, yaitu perilaku yang terwujud secara sengaja dan sadar, dan
perilaku yang terwujud secara tidak sengaja dan tidak sadar. Perilakuperilaku yang sengaja atau tidak sengaja kadang membawa manfaat bagi
kesehatan individu atau kelompok kemasyarakatan, sebaliknya kadang
berdampak merugikan bagi kesehatan masyarakat. Hal ini dapat dilihat
pada model alternatif perilaku kesehatan berikut ini.
Tabel 5. 1 Teori Potensi dan Kendala Fred B. Dunn
PERILAKU
Sengaja/Sadar/
Tahu
Menguntungkan
Merugikan
PERILAKU
Tidak Sengaja/Tidak
Sadar/Tidak Tahu
1
4
Potensi/Dorongan
(Stimulan)
2
3
Kendala (Hambatan)
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
81
Kotak 1 menunjukan kegiatan manusia yang secara sengaja ditujukan
untuk menjaga, meningkatkan kesehatan, dan menyembuhkan diri dari
penyakit atau gangguan kesehatan.
Kotak 2 mencakup semua bentuk perilaku baik merugikan atau pun
merusak kesehatan dan berdampak kematian yang secara sadar atau
sengaja dilakukan.
Kotak 3 berhubungan dengan semua tindakan yang tidak disadari
dan berakibat mengganggu kesehatan individu atau kelompok sosial.
Kotak 4 adalah kegiatan-kegiatan atau gejala-gejala yang secara tidak
disadari atau tidak sengaja membawa manfaat positif bagi kesehatan
individu atau kelompok sosial.
Kehidupan masyarakat Desa Jrangoan dalam hubungannya dengan
tujuh unsur budaya dapat dibagi menjadi kendala dan potensi sebagai
berikut.
Tabel 5.2 Potensi dan Kendala Unsur Budaya
Unsur budaya
Sengaja/Sadar /Tahu
Religi
1. Setiap bayi
Menguntungkan
perempuan harus
disunat
2. Takut dan patuh
terhadap kiai
3. Sering membaca
Alquran surat Yusuf
dan surat Maryam
1. Banyaknya jumlah
anak mengakibatkan
mereka kesulitan
dalam mengasuh
anak
Organisasi sosial 1. Besarnya pengaruh 1.
kemasyarakatan
orang tua dalam
Menguntungkan
pemilihan jodoh,
terutama jodoh
yang berasal dari
keluarga dekat
Buku Seri Etnografi Kesehatan
2. Besarnya pengaruh
Ibu dan Anak 2012
orang tua dalam
penentuan
penolong
Merugikan
82
Tidak Sengaja/Tidak
Sadar/Tidak Tahu
1. Ibu hamil dan bayi
Potensi/Doronga
yang belum
n
berusia 40 hari
(Stimulan)
dilarang keluar
pada senja
hari/magrib (rop
sorop areh)
2. Ibu hamil dan bayi
dilarang pergi ke
tempat-tempat
yang angker atau ke
tempat-tempat
yang gelap
3. Mitos banyak anak
banyak rezeki
Kendala
(Hambatan)
Potensi /
Dorongan
(Stimulan)
dalam mengasuh
anak
Organisasi sosial 1. Besarnya pengaruh 1.
kemasyarakatan
orang tua dalam
Menguntungkan
pemilihan jodoh,
terutama jodoh
yang berasal dari
keluarga dekat
2. Besarnya pengaruh
orang tua dalam
penentuan
penolong
persalinan bagi
anaknya
3. Orang tua
memberi anjuran
obat-obatan
tradisional kepada
anak yang sedang
hamil dan masa
nifas
4. Orang tua
memberi anjuran
kepada anak agar
dipijat ketika hamil
untuk
membetulkan
posisi bayi
5. Orang tua
memberi anjuran
agar anak diberi
makanan supaya
tidak rewel dan
lapar
6. Orang tua
memberi anjuran
agar anak tidak
diimunisasi karena
bisa
mengakibatkan
badan panas
7. Orang tua tidak
menganjurkan
anak untuk KB
karena KB sama
dengan
membunuh calon
bayi
8. Mitos banyak anak
banyak rezeki
Merugikan
1. Perkawinan
antarkerabat
mengakibatkan
keturunan dalam
anggota keluarga
memiliki risiko
tinggi mengidap
penyakit
degeneratif
2. Ketidakpatuhan
Potensi /
Dorongan
(Stimulan)
Kendala
(Hambatan)
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
83
84
dengan
membunuh calon
bayi
8. Mitos banyak anak
banyak rezeki
Merugikan
1. Perkawinan
antarkerabat
mengakibatkan
keturunan dalam
anggota keluarga
memiliki risiko
tinggi mengidap
penyakit
degeneratif
2. Ketidakpatuhan
dalam
melaksanakan KB
Pengetahuan
1. Tidak boleh
1. Larangan untuk
Menguntungkan
ribut/heboh/diketa
makan makanan
hui orang lain
yang amis (ikan,
ketika akan
daging, dan telur)
bersalin (sak
ketika dalam masa
kasak)
nifas
2. Lebih
2. Larangan untuk
mengutamakan
makan makanan
suami dalam
yang panas seperti
pembagian
daging kambing,
makanan
durian, dan laindibandingkan
lain
untuk anaknya
Merugikan
1. Takut memeriksakan
kehamilan pertama
kali ke tenaga
kesehatan, maka
lebih memilih ke
dukun
2. Tidak memperoleh
ilmu perawatan anak
yang baik, mereka
mendapatkan
pengetahuan tentang
kesehatan reproduksi
hanya terbatas pada
ilmu bagaimana
melayani suami
(untuk
menyenangkan
suami)
Mata
1. Dalam kondisi hamil
pencaharian
masih bekerja di
Menguntungkan
sawah hingga
menjelang
melahirkan
2. Bekerja di luar kota
Merugikan
1. Karena akan bekerja
Buku Seri Etnografi Kesehatan
di luar kota, maka
Ibu dan Anak 2012
anak dititipkan ke
saudara terdekat
atau orang tua
Kendala
(Hambatan)
Potensi/Doronga
n
(Stimulan)
Kendala
(Hambatan)
Potensi /
Dorongan
(Stimulan)
Kendala
(Hambatan)
hanya terbatas pada
ilmu bagaimana
melayani suami
(untuk
menyenangkan
suami)
Mata
1. Dalam kondisi hamil
pencaharian
masih bekerja di
Menguntungkan
sawah hingga
menjelang
melahirkan
2. Bekerja di luar kota
Merugikan
1. Karena akan bekerja
di luar kota, maka
anak dititipkan ke
saudara terdekat
atau orang tua
Peralatan
1. Penggunaan alat
Menguntungkan
pembuatan jamu
untuk membuat
jamu
Merugikan
Potensi /
Dorongan
(Stimulan)
Kendala
(Hambatan)
Potensi /
Dorongan
(Stimulan)
Kendala
(Hambatan)
5.1 Analisis Potensi dan Kendala Unsur Budaya
Seperti dikemukakan sebelumnya, kendala yang ada pada masyarakat
Desa Jrangoan umumnya terjadi karena sudah turun-temurun dan men­
jadi kebiasaan pada masyarakat tersebut. Menurut Max Webber, tindakan-tindakan tersebut merupakan tindakan tradisional yang bersifat irasional, karena seorang individu memperlihatkan perilaku yang menjadi
kebiasaan tanpa refleksi yang sadar atau dengan perencanaan. Individu
akan membenarkan atau menjelaskan tindakan itu kalau diminta, dengan
hanya mengatakan bahwa mereka bertindak seperti itu karena merupakan kebiasaan bagi mereka. Sementara tindakan menitipkan anak kepada
keluarga terdekat selama orang tua merantau dan tetap bekerja di ladang
dalam kondisi hamil besar adalah tindakan rasional yang beroroentasi nilai
(wertrationalitat). Tindakan rasional dan berorientasi pada nilai-nilai yang
menempatkan alat (menitipkan anak kepada saudara atau bekerja selama
masa kehamilan) yang dipergunakan merupakan objek pertimbangan dan
perhitungan yang sadar untuk mencapai tujuan (kemakmuran bersama
dalam keluarga) dan tujuan-tujuan tersebut ada dalam hubungan dengan
nilai-nilai individu yang bersifat absolut atau merupakan nilai akhir baginya (menciptakan keluarga sakinah mawaddah dan warahmah).
Dalam sistem religi masyarakat Desa Jrangoan terdapat beberapa
potensi yang berhubungan dengan KIA. Beberapa potensi tersebut berupa
tindakan-tindakan yang disengaja, antara lain: setiap bayi harus disunat,
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
85
takut dan patuh kepada kiai, dan sering membaca surat Maryam dan surat
Yusuf ketika hamil. Sementara tindakan melarang ibu hamil dan bayi yang
belum berusia 40 hari keluar pada senja hari/magrib (rop sorop areh),
ibu hamil dan bayi dilarang pergi ke tempat-tempat yang angker atau ke
tempat-tempat yang gelap, dan mitos banyak anak banyak rezeki sebagai
potensi berupa tindakan yang tidak disengaja. Hal tersebut dilakukan oleh
masyarakat Desa Jrangoan sebagai tindakan preventif agar tidak terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya penyakit saben (sawan) dan
penyakit-penyakit spiritual lainnya.
Mayoritas masyarakat Madura beragama Islam, begitu juga dengan
masyarakat Desa Jrangoan yang merupakan suku asli Madura beragama
Islam. Masyarakat Madura memiliki kepatuhan yang lebih tinggi terhadap
kiai (tokoh agama) daripada terhadap pemerintah maupun tenaga ke­
sehatan. Kepatuhan terhadap kiai tersebut dilakukan secara sadar oleh
masyarakat Desa Jrangoan. Berdasarkan teori Fred B. Dunn, kepatuhan
yang tinggi kepada kiai setempat akan menjadi sebuah potensi yang meng­
untungkan bagi petugas kesehatan dalam mengubah perilaku masyarakat
Desa Jrangoan yang dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan
medis modern dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Petugas kesehatan setempat harus dapat menjalin kerja sama yang baik dengan tokoh-tokoh agama yang dijadikan panutan oleh masyarakat, sehingga kegiatan health promotion yang dilakukan oleh tenaga kesahatan dapat
dengan mudah diterima oleh masyarakat Madura, khususnya masyarakat
Desa Jrangoan. Dalam kegiatan health promotion yang dilakukan oleh
petugas kesehatan, keterlibatan langsung kiai (tokoh agama) akan menjadi sangat penting. Selain kiai, petugas kesehatan juga dapat melibatkan
klebun dan orang tua/mertua ibu hamil, karena pada dasarnya pengambilan keputusan dalam tindakan perawatan kehamilan dan pascapersalinan
ibu hamil tidak lepas dari campur tangan orang tua/mertua.
Kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Jrangoan sangat kental de­
ngan ajaran Islam. Terdapat pula anjuran bagi ibu hamil yang dilakukan
secara sadar oleh ibu hamil dan termasuk potensi yang menguntungkan
(berdasarkan teori perilaku Fred B. Dunn) dalam perawatan kehamilannya,
yaitu berupa anjuran bagi ibu hamil untuk memperbanyak membaca
Alquran, terutama surat-surat khusus dalam Alquran, seperti surat Yusuf
dan Surat Maryam. Anjuran untuk banyak membaca Alquran tersebut
dilakukan oleh ibu hamil karena ibu hamil berharap terjaganya kesehatan
ibu dan bayi, serta keselamatan pada saat proses persalinannya. Kegiatan
86
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
membaca Alquran surat Yusuf dan surat Maryam secara rutin akan
memberikan ketenangan jiwa bagi ibu hamil. Ketenangan jiwa ibu hamil
pada masa kehamilan dapat berdampak positif pada kesehatan ibu
hamil karena ibu hamil menjadi lebih tenang sehingga upaya perawatan
kehamilannya menjadi lebih baik. Sedangkan yang menjadi kendala adalah
adanya mitos banyak anak banyak rezeki yang mengakibatkan orang tua
mengalami kesulitan dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya.
Pada unsur organisasi dan kemasyarakatan, tindakan yang meng­
untungkan dan sengaja dilakukan oleh masyarakat Desa Jrangoan adalah
besarnya pengaruh orang tua dalam pemilihan jodoh, terutama berasal
dari keluarga dekat, besarnya pengaruh orang tua dalam penentuan pe­
nolong persalinan bagi anaknya, orang tua memberi anjuran obat-obatan
tradisional kepada anak yang sedang hamil dan masa nifas, orang tua
memberi anjuran kepada anak agar dipijat ketika hamil untuk membetulkan posisi janin, orang tua memberikan anjuran agar anak diberi makan
supaya tidak rewel dan lapar, dan mencegah anak diimunisasi merupakan
tindakan preventif yang dilakukan orang tua untuk mencegah anak menderita sakit panas. Sementara kendala yang ditemukan adalah perkawinan
yang diatur antarkerabat akan menyebabkan penyakit dege­neratif seperti
diabetes mellitus, hipertensi, jantung, asthma, dan bebe­rapa penyakit lain
seperti hemofillia dan thalasemia yang apabila kondisinya ekstrem akan
menyebabkan kematian. Tindakan orang tua yang menganjurkan anak
tidak ber-KB juga dapat menimbulkan kematian dalam kondisi ekstrem,
terutama apabila kehamilan dalam usia lanjut dan dengan risiko tinggi.
Pada unsur pengetahuan, tindakan yang merugikan dan disengaja
adalah ibu hamil disarankan memeriksakan kehamilan pertama kali ke
dukun bayi, tidak boleh ribut/heboh/diketahui orang lain ketika akan
bersalin (sa’-kasa’), tidak memperoleh ilmu dalam perawatan anak yang
baik, mereka mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi
hanya terbatas pada ilmu bagaimana melayani suami (untuk menyenangkan suami), tindakan di atas dapat menyebabkan kematian dalam kondisi ekstrem. Sedangkan tindakan yang merugikan namun tidak disengaja
adalah larangan untuk makan makanan yang amis-amis (ikan, daging dan
telur) pada masa nifas, larangan untuk makan makanan yang panas seperti daging kambing, durian, dan lain-lain merupakan tindakan preventif
agar tidak terjadi kondisi yang tidak diinginkan menurut perspektif budaya
mereka. Tindakan lebih mengutamakan suami dalam pembagian makanan dibandingkan untuk anaknya merupakan tindakan yang dilakukan
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
87
oleh ibu untuk menjelaskan kepada anak bahwa penghormatan kepada
orang tua (ayah) sangatlah penting. Sementara kendala yang ditemukan
adalah tidak memperoleh ilmu dalam perawatan anak yang baik, mereka
mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi hanya terbatas
pada ilmu bagaimana melayani suami (untuk menyenangkan suami) dan
takut memeriksakan kehamilan pertama kali ke tenaga kesehatan, namun
memilih ke dukun karena takut akan terjadi keguguran.
Pada unsur pekerjaan, potensi berupa tindakan yang disengaja adalah tetap bekerja ketika hamil hingga waktu bersalin tiba. Hal ini dilakukan
untuk membantu perekonomian keluarga, sedangkan tindakan yang lain
adalah bekerja di luar kota dengan tujuan untuk membantu perekonomian
keluarga. Tindakan yang disengaja namun menyebabkan kerugian dalam
hal kesehatan adalah tindakan tersebut dapat menyebabkan ketidakoptimalan pertumbuhan janin.
Pada unsur peralatan, potensi berupa tindakan yang disengaja yaitu
penggunaan alat pembuat jamu untuk membuat jamu bagi ibu bersalin
dan ibu dalam masa nifas, juga jamu-jamu yang akan dikonsumsi oleh
anggota keluarga dalam pengobatan penyakit. Sementara tiga unsur lain
seperti bahasa, kesenian, dan informasi tidak menimbulkan tindakan-tindakan yang dapat menyebabkan kerugian di bidang kesehatan.
Pada unsur geografi dan pemukiman, potensi berupa konsep pemukiman taneyan lanjhang yang digunakan masyarakat Desa Jrangoan,
seperti halnya masyarakat Madura lainnya. Pola taneyan lanjhang dalam
pemukiman masyarakat memiliki potensi yang baik pada masa kehamil­
an. Keuntungannya yaitu keluarga ibu hamil yang lain, misalnya saudarasaudaranya, bisa turut serta memberikan perhatian kepada ibu hamil yang
suaminya merantau untuk mencari nafkah. Konsep taneyan lanjhang pada
dasarnya dapat lebih memudahkan petugas kesehatan dalam menyampaikan informasi-informasi penting seputar kesehatan, baik program kese­
hatan secara umum maupun program kesehatan ibu dan anak berupa kegiatan posyandu. Konsep taneyan lanjhang dalam pemukim­an masyarakat
Madura jika dikaitkan dengan teori perilaku Dunn merupakan suatu hal
menguntungkan yang dilakukan secara tidak sadar oleh masyarakat.
88
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
SADAR
TIDAK SADAR
SADAR
1
SADAR
(MENGUNTUNGKAN)
1
SADAR
1
(MENGUNTUNGKAN)
1
(MENGUNTUNGKAN)
1
(MENGUNTUNGKAN)
(MENGUNTUNGKAN)
Remaja
(MENGUNTUNGKAN)
Remaja
 Perilaku santriwati mencelupkan cucian yang
Remaja
Remaja
 Perilaku
santriwati
mencelupkan
cucian yang
Remaja
berbusa
ke dalam
bak mandi
 masih
Perilaku
santriwati
mencelupkan
cucian yang
Remaja
 masih
Perilaku
santriwati
mencelupkan
cucian
berbusa
ke
dalam
bak
mandi
Perilaku
santriwati
mencelupkan
cucian yang
yang
masih
berbusa
ke
dalam
bak
mandi
 masih
Perilaku
santriwati
mencelupkan
cucian yang
berbusa
ke
dalam
bak
mandi
masih berbusa
keIstri
dalam
bak mandi
Pasangan
Suami
yang
Istrinya
Belum
masih berbusa
dalam
bak mandi
Pasangan
Suami keIstri
yang
Istrinya Belum
Pernah
Hamil
Pasangan
Suami Istri yang Istrinya Belum
Pasangan
Suami
Istri
yang
Istrinya
Belum
Pernah
Hamil
Pasangan
Suami diri
Istrike bidan
yang dan
Istrinya
 Memeriksakan
dukun Belum
Pernah
Hamil
Pasangan
Suami
Istri
yang
Istrinya
Belum
Pernah
Hamil
 Memeriksakan
diri
ke ada
bidan
dan 7dukun
Pernah
Hamil telur
Mengambil
saat
acara
bulanan
Memeriksakan
diri
ke bidan
dan dukun
Pernah
Hamil
 Memeriksakan
diri
ke
bidan
dan
dukun
Mengambil
telur
saat
acara
bulanan
Memeriksakan
diri
ke ada
bidan
dan 7
dukun
Meminum
jamu
Mengambil
telur
saat
acara
bulanan
Memeriksakan
diri
ke ada
bidan
dan 7
dukun
Mengambil
telur
saat
ada
acara
7
bulanan
 Meminum
jamu
Mengambil
telur
saat
ada
acara
7
bulanan
Memperbanyak
konsumsi
kecambah
Meminum
jamu
Mengambiljamu
telurkonsumsi
saat ada acara
7 bulanan
Meminum
 Memperbanyak
kecambah
Meminum
jamu
Mengadopsi
anak
saudara kecambah
sebagai pancingan
Memperbanyak
konsumsi
Meminum jamu
Memperbanyak
konsumsi
 Mengadopsi
anak
saudara kecambah
sebagai pancingan
Memperbanyak
konsumsi
kecambah
Mengadopsi
anak
saudara
sebagai pancingan
Memperbanyak
konsumsi
kecambah
 Mengadopsi
anak
saudara
Mengadopsi
anak saudara sebagai
sebagai pancingan
pancingan
Masa
Kehamilan
 Mengadopsi
anak saudara sebagai pancingan
Masa
Kehamilan

Tetap
bekerja
di
sawah/ladang
ketika
hamil
Masa Kehamilan
Masa
Kehamilan
 Tetap
bekerja
di perut
sawah/ladang
ketika
hamil
Masa
Kehamilan
Melakukan
pijat
jika
bayi
sungsang
Tetap
bekerja di sawah/ladang ketika hamil
Masa
Kehamilan
Tetap
bekerja
di
sawah/ladang
ketika
hamil
 Melakukan
pijat
perut
jika
bayi
sungsang
Tetap bekerja
dikehamilan
sawah/ladang
ketika
hamil
bidan
desa
Melakukan
pijat
perut
jika ke
bayi
sungsang
 Memeriksakan
Tetap
bekerja
dikehamilan
sawah/ladang
ketika
hamil
Melakukan
pijat
perut
jika
bayi
sungsang
Memeriksakan
ke
bidan
desa
Melakukan pijat
perutselametan
jika ke
bayi
sungsang
 Mengadakan
upacara
saat
usia
Memeriksakan
kehamilan
bidan
desa
Melakukan
pijat
perut
jika
bayi
sungsang
Memeriksakan
kehamilan
ke
desa
 Mengadakan
upacara
selametan
saat
usia
Memeriksakan
kehamilan
ke bidan
bidan
desa
4
dan
7
bulan
 kandungan
Mengadakan
upacara
selametan
saat
usia
kehamilan
ke bidan
desa
 Memeriksakan
Mengadakan
upacara
selametan
saat
usia
kandungan
4
dan
7
bulan
Mengadakan
upacara
selametan
saat
usia
 Pantangan
mengonsumsi
makanan
pedas
kandungan
4
dan
7
bulan
upacara
selametan
saat
usia
kandungan
4
dan
7
bulan
 Mengadakan
Pantangan
mengonsumsi
makanan
pedas
kandungan
4 dan 7 bulan makanan pedas
panas
 dan
Pantangan
mengonsumsi
kandungan
4
dan
7
bulan
 dan
Pantangan
mengonsumsi makanan
pedas
panas minum
Pantangan
makanan
pedas
 Kebiasaan
susu dicampur
dengan
dan
panas mengonsumsi
mengonsumsi
makanan
pedas
dan
panas
 Pantangan
Kebiasaan
minum
susu
dicampur
dengan
dan panas
dan
madu
 telur
Kebiasaan
minum
susu
dicampur
dengan
dan
panas
 telur
Kebiasaan
minum
dan madu
Kebiasaan
minum susu
susu dicampur
dicampur dengan
dengan
dan madu
 telur
Kebiasaan
minum susu dicampur dengan
telur
dan
madu
telur dan
madu
Menjelang
Persalinan
telur dan
madu
Menjelang
Persalinan
 Persalinan
di rumah lebih diutamakan karena
Menjelang
Persalinan
Menjelang
Persalinan
 Persalinan
diakan
rumah
lebihdidiutamakan
Menjelang
Persalinan
rezeki
tidak
berada
luar rumahkarena

Persalinan
di rumah
lebih diutamakan
karena
Menjelang
Persalinan
 Persalinan
di
rumah
lebih
diutamakan
rezeki
tidak
akan
berada
di
luar
rumahkarena
Persalinan
di
rumah
lebih
diutamakan
karena
 Meminum
air
kelapa
muda
untuk
rezeki
tidak
akan
berada
di
luar
rumah
Persalinan
diakan
rumah
lebih
diutamakan
karena
berada
di
rumah
 rezeki
Meminum
kelapa
muda
untuk
rezeki tidak
tidakair
akan
berada
di luar
luar
rumah
persalinan
 memperlancar
Meminum
air
kelapa
muda
untuk
rezeki
tidak
akan
berada
di
luar
rumah
 Meminum
air
kelapa
muda
untuk
memperlancar
persalinan
Meminum air kelapa
muda untuk
persalinan
 memperlancar
Meminum air kelapa
muda untuk
memperlancar
persalinan
memperlancar
persalinan
Proses
Persalinan
memperlancar
persalinan
Proses
Persalinan
 Melahirkan
dengan pertolongan bidan desa
Proses
Persalinan
Proses
Persalinan
 Melahirkan
dengan
pertolongan
bidan desa
Proses
Persalinan
Bayi
diimunisasi
segera
setelah dilahirkan
Melahirkan
dengan
pertolongan
bidan desa
Proses
Persalinan
Melahirkan
dengan
pertolongan
bidan
 Bayi
diimunisasi
segera
setelah
dilahirkan
Melahirkan
dengan
pertolongan
bidan desa
desa
Bayi
diimunisasi
segera
setelah
dilahirkan
Melahirkan
dengan
pertolongan
bidan desa
 Bayi
diimunisasi
segera
setelah
dilahirkan
Bayi
diimunisasi
segera
setelah
dilahirkan
Setelah
 Bayi Persalinan
diimunisasi segera setelah dilahirkan
Setelah
Persalinan
 Membawa
lidi setelah melahirkan agar tidak
Setelah
Persalinan
Setelah
Persalinan

Membawa
lidi setelah melahirkan agar tidak
Setelah
Persalinan
diganggu
setan
 Membawa
lidi setelah melahirkan agar tidak
Setelah
Persalinan
 diganggu
Membawa
lidi
setelah
melahirkan
agar tidak
setan
Membawasetan
lidinampan
setelah dekat
melahirkan
 Menabuhkan
telingaagar
bayitidak
baru
diganggu
Membawa
lidinampan
setelah dekat
melahirkan
agar
diganggu
setan
 Menabuhkan
telinga
bayitidak
baru
diganggu
setan
agar
bayi
tidak
mudah
kaget
 lahir
Menabuhkan
nampan
dekat
telinga
bayi
baru
setan
 diganggu
Menabuhkan
nampan
dekat
telinga
bayi
lahir
agar
bayi
tidak
mudah
kaget
Menabuhkan
nampan
dekatkaget
telinga
bayi baru
baru
 Pemberian
madu
dan
kelapa
muda
pada
bayi
lahir
agar
bayi
tidak
mudah
nampan
dekatkaget
telinga
bayi baru
lahir
bayi
tidak
mudah
 Menabuhkan
Pemberian
madu
dan
kelapa
muda pada
bayi
lahir 1agar
agar
bayi
tidak
mudah
kaget
hari
 usia
Pemberian
madu
dan
kelapa
muda
pada
bayi
agar
bayi
tidak
mudah
kaget
 lahir
Pemberian
madu
dan
kelapa
muda
pada
usia
1
hari
Pemberian
madu dan kelapa muda pada bayi
bayi
usia
1
hari
 Pemberian
madu dan kelapa muda pada bayi
usia
usia 1
1 hari
hari
usia 1 hari
TIDAK
4SADAR
TIDAK
(POTENSI)
4SADAR
TIDAK
4SADAR
(POTENSI)
SADAR
Tabel
5.3
Potensi dan Kendala SiklusTIDAK
KIA 4SADAR
SADAR
TIDAK
SADAR
1
4
(POTENSI)
4
(POTENSI)
Remaja (POTENSI)
(POTENSI)
Remaja
 Pola makan tanpa
Remaja
Remaja
 Pola
makan tanpa
Remaja
 sayur-sayuran
Pola makan tanpa
Remaja
 sayur-sayuran
Pola
Pola makan
makan tanpa
tanpa
 sayur-sayuran
Pola makan tanpa
sayur-sayuran
sayur-sayuran
sayur-sayuran
Setelah Persalinan
Setelah
 BayiPersalinan
dimandikan oleh
Setelah
Persalinan
Setelah
Persalinan
 Bayi
dimandikan
oleh
Setelah
Persalinan
dukun
atau kerabat

Bayi
dimandikan
oleh
Setelah
Persalinan
 dukun
Bayi
dimandikan
oleh
atau
kerabat
Bayi dimandikan
oleh
yang
lain
sampai
bayi
dukun
atau
kerabat
 Bayi
dimandikan
oleh
dukun
atau
kerabat
yang
lain
sampai
bayi
dukunlain
atau
kerabat
berusia
7
hari
yang
sampai
bayi
dukun
atau
kerabat
yang
lain
sampai
bayi
berusia
7
hari
yang lain7 sampai
bayi
berusia
hari
yang
lain7 sampai
bayi
berusia
hari
berusia 7 hari
berusia 7 hari
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
89
Masa Nifas
 Tidak menggunakan pembalut pada saat
masa nifas hari pertama
 Penaburan super tetra pada vagina dapat
mempercepat keluarnya darah pada masa
nifas
 Penggunaan jamu dan param pada masa
nifas
 Penggunaan gurita
 KB dengan metode coitus interuptus
 KB pil dan suntikan untuk pencegah
kehamilan
Menyusui
 Pemberian MP ASI sebelum bayi berusia 6
bulan
 Menghindari pantangan makan ikan
 Menghindari pantangan makan cabai
 Mengonsumsi pejje untuk memperlancar ASI
 Kolostrum dibuang karena dianggap kotor
 Pemberian ASI sesering mungkin pada awal
kelahiran
Neonatus dan Bayi
 Penghormatan kepada ari-ari
 Pemijatan bayi saat mandi
 Batu hitam dari kiai dan gelang dengan
tulisan Arab untuk mencegah bayi menjadi
kurus
 Sesajen di tempat tidur bayi untuk
menangkal setan
 Menahan orang masuk menemui bayi yang
baru lahir agar setan yang mengikutinya
pergi
 Selametan pada saat bayi berusia7 dan 40
hari untuk keselamatan bayi
 Sunat (pemotongan sebagian klitoris) untuk
bayi perempuan
 Acara toron tana untuk peringatan 1 tahun
bayi
90
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Anak dan Balita
 Anak diasuh oleh kerabat karena orang
tuanya merantau ke luar Madura
 Jarak kelahiran sangat dekat antarsaudara
 Pijat bayi untuk mengobati sakit oleh dan
saben
 Pergi ke posyandu setiap bulan
2
(MERUGIKAN)
Remaja
 Pengabaian pengobatan penyakit keputihan
pada santriwati
3
(KENDALA)
Proses Persalinan
 IMD tidak sempurna
Pasangan Suami Istri yang Istrinya Belum
Pernah Hamil
 Tidak memeriksakan diri ke dokter
5.2
5.2 Analisis
AnalisisPotensi
Tabel dan Rendah Siklus KIA
Berikut merupakan analisis tabel 5.2. Penentuan suatu
Berikut merupakan analisis tabel 5.3. Penentuan suatu perilaku
perilaku digolongkan sebagai potensi (menguntungkan) dan
digolongkan sebagai potensi (menguntungkan) dan kendala (merugikan)
kendala (merugikan) berdasarkan pada pola pikir masyarakat.
berdasarkan pada pola pikir masyarakat. Selanjutnya akan dibahas sesuai
Selanjutnya
akan dibahas
sesuai dengan etiket kesehatan yang
dengan
etiket kesehatan
yang berlaku.
berlaku.
Pada remaja tampak bahwa perilaku santriwati Pondok Pesantern
Al-Ihsan yang mencelupkan cucian yang masih berbusa ke dalam bak
5.2.1 merupakan
Potensi perilaku yang dilakukan secara sadar. Bagi mereka, ini
mandi
merupakan perilaku yang menguntungkan karena dengan mencelupkan
Pada remaja
tampak
bahwa
santriwati
Pondok
cucian ke dalam
bak mandi
membuat
baju perilaku
mereka menjadi
bersih.
Dilihat
Pesantern
Al-Ihsanperilaku
yang mencelupkan
cucian
yang masih
berbusa
dari
sisi kesehatan,
ini merupakan
perilaku
yang merugikan
ke merupakan
dalam bak kendala
mandi merupakan
perilaku
yang dilakukan
secara
dan
karena hal ini
menyebabkan
air mengandung
sabun.
digunakan
untuk membersihkan
genital maka akan
sadar.Apabila
Bagi mereka,
ini merupakan
perilaku organ
yang menguntungkan
menyebabkan
terjadinya
keputihan.
karena dengan mencelupkan cucian ke dalam bak mandi
Pola makan
sehari-hari
santriwati
Pondokdari
Pesantren
Al-Ihsan
membuat
baju mereka
menjadi
bersih.di Dilihat
sisi kesehatan,
yang
tanpa
sayuran
merupakan
perilaku
yang
mereka
lakukan
secara
perilaku ini merupakan perilaku yang merugikan dan merupakan
tidak
sengaja/tidak
ini merupakan
orang tuasabun.
mereka
kendala
karena sadar
hal inikarena
menyebabkan
air tradisi
mengandung
yang
membiasakan
mereka
dari
kecil
tidak
mendapatkan
asupan
sayurApabila digunakan untuk membersihkan organ genital maka akan
sayuran.
Berdasarkan
teori
alternatif
perilaku
Dunn,
hal
ini
mendatangkan
menyebabkan terjadinya keputihan.
keuntungan
bagi
mereka
karena dengan
jarangnya
mereka Pesantren
mengonsumsi
Pola
makan
sehari-hari
santriwati
di Pondok
sayur-sayuran
maka
pengeluaran
unttuk
berbelanja
lauk
pauk
menjadi
Al-Ihsan yang tanpa sayuran merupakan perilaku yang mereka
lakukan secara tidak sengaja/tidak sadar karena ini merupakan
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
91
lebih irit. Dari sisi kesehatan ini merupakan perilaku yang merugikan dan
menjadi kendala karena remaja masih dalam masa pertumbuhan dan
tentu masih membutuhkan asupan gizi dan energi yang cukup untuk
aktivitas mereka.
Banyak santriwati di Pondok Pesantren Al-Ihsan yang mengalami penyakit kewanitaan seperti keputihan. Kurangnya penge­tahuan dan padatnya kegiatan para santriwati di pesantren menyebabkan mereka mengabaikan pengobatan penyakit keputihan ini. Mereka menyadari perilaku
ini merugikan bagi mereka karena hal ini dapat mengganggu aktivitas
mereka sehari-hari akibat efek gatal-gatal yang ditimbulkan dari keputihan. Dari sisi kesehatan ini merupaka kendala/hambatan karena keputihan dapat menyebabkan kemandulan atau bahkan kematian. Mungkin
hal ini merupakan tamparan keras bagi wanita yang selalu menyepelekan
keputihan. Sebenarnya masalah keputihan merupakan masalah yang dari
dulu menjadi masalah bagi kaum perempuan. Hal yang paling menyedihkan adalah ketika para wanita tahu apa itu keputihan dan terkadang menganggap remeh masalah ini. Padahal mereka tahu bahwa keputihan tidak
bisa dianggap enteng. Apabila keputihan lambat untuk ditangani dapat
menjadi sangat fatal karena tidak hanya bisa mengakibatkan kemandulan dan hamil di luar kandungan, keputihan pun bisa menjadi gejala awal
kanker leher rahim. Apabila sudah begitu, kematian pun bukan menjadi
hal yang mustahil.
Pada pasangan yang istrinya belum pernah hamil, beberapa perilaku yang merupakan suatu dorongan menuju peningkatan kesehatan ibu
dan anak yang lebih baik, adalah memeriksakan dirinya ke bidan desa.
Masyarakat menyadari bahwa dengan memeriksakan dirinya ke bidan
desa, maka mereka akan mendapatkan keuntungan karena akan mengetahui sebab terhambatnya keinginan mereka untuk memiliki anak. Hal
ini pun sesuai dengan etika kesehatan yang memang menyarankan agar
pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak segera memeriksakan
dirinya ke tenaga kesehatan.
Usaha lain yang dilakukan adalah dengan meminum jamu dari kunyit
dan daun asam. Jamu yang lain yaitu kelapa muda dicampur dengan telur
ayam kampung. Sering kali pasangan suami istri mengonsumsi kecambah
untuk menambah kesuburan. Semua perilaku tersebut merupakan perilaku positif yang dapat dilakukan untuk memperoleh keturunan.
92
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Pengadopsian anak dijadikan alternatif terakhir dalam usaha memiliki anak. Menurut mereka, perilaku ini menguntungkan karena dapat dijadikan sebagai pancingan untuk memiliki anak. Adopsi anak bisa menjadi
sebuah dorongan dan juga hambatan. Menjadi dorongan jika anak yang
diadopsi tidak bermasalah pada masa depan. Kemudian akan menjadi
hambatan jika ternyata kelak pasutri ini memiliki anak kandung, perhatian
kepada anak adopsi menjadi berkurang.
Pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak tidak memeriksakan
diri mereka ke dokter spesialis dengan alasan takut jika ternyata didiagnosis mandul selamanya. Mandul merupakan hal yang sangat dikhawatirkan
karena dapat memicu sanksi sosial dari masyarakat sekitar. Biasanya yang
dipersalahkan adalah pihak istri, sehingga istri tidak berkenan untuk diperiksa kondisinya. Padahal pemeriksaan ke dokter spesialis merupakan
suatu tindakan yang sebenarnya dapat membantu mereka untuk segera
memiliki anak. Dokter spesialis akan mencari penyebabnya dan akan
memberikan solusi sebagai suatu upaya atau usaha untuk memiliki anak.
Pada masa kehamilan, hal positif yang dilakukan oleh masyarakat
sebagai bentuk perilaku menguntungkan antara lain pemeriksaan keha­
milan ke polindes, menghindari makanan pedas dan panas, serta meng­
hindari duduk di depan pintu dan melilitkan handuk ke leher untuk
pencegahan proses kelahiran yang terhambat. Perilaku lain yaitu ibu hamil
minum susu yang dicampur dengan telur dan madu untuk meningkatkan
stamina serta daya tahan tubuh ibu hamil.
Namun, ada perilaku negatif yang dapat memberikan risiko buruk
kepada ibu hamil, yaitu tetap bekerja di sawah/ladang meski usia kan­
dungan hampir mendekati persalinan. Walaupun demikian, mereka
meng­anggap bahwa perilaku ini menguntungkan karena dapat dikatakan
sebagai olahraga kecil sehingga ibu hamil tetap sehat dan kuat. Kemudian,
ibu hamil juga biasa memijatkan perutnya ke dukun beranak untuk
menghindari posisi bayi sungsang. Hal ini menjadi baik jika dilakukan
dengan cara pemijatan yang benar. Akan tetapi, akan menjadi bermasalah
apabila cara memijatnya dilakukan dengan penuh tekanan sehingga dapat
mengganggu janin.
Pada masa menjelang persalinan, perilaku positif yang dilakukan
adalah meminum air kelapa muda karena berdasarkan pola pikir mereka,
air kelapa akan melicinkan jalan lahir bayi. Menurut sudut pandang
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
93
kesehatan, air kelapa muda memang mengandung elektrolit yang baik
untuk kesehatan ibu. Sementara memilih persalinan di rumah merupakan
suatu hal yang baik karena rezeki di rumah itu tidak akan hilang. Akan
tetapi, hal ini menyebabkan persalinan tanpa fasilitas kesehatan yang
memadai walaupun bidan desa selalu membawa bidan kit ketika menolong
persalinan di rumah.
Sebelum melahirkan, ibu diberi minuman berupa ramuan bawang
putih dan daun jrangoh agar berkurang rasa sakitnya. Namun, khasiat
jamu ini belum diketahui, sehingga masih belum bisa disimpulkan apakah
baik secara kesehatan atau tidak.
Pada saat proses persalinan, semuanya ditangani oleh bidan desa
sehingga kemungkinan terjadi hal yang negatif menjadi sangat kecil. Bayi
yang diberi imunisasi segera setelah lahir dan tidak ada penolakan dari
pihak keluarga merupakan suatu potensi yang patut dikembangkan. Orang
tua tidak menolak karena menganggap imunisasi akan membuat bayinya
sehat.
Pada saat setelah persalinan, sebagai bentuk perlindungan ke­pa­
da bayi dan ibu dari gangguan setan yang mungkin mengikuti selama
perjalanan pulang dari polindes ke rumah, maka siapa pun yang meng­
gendong bayi serta ibu tersebut membawa sebatang lidi. Tidak ada yang
mampu menjelaskan mengapa lidi bisa mengusir setan. Hanya saja ini
adalah suatu tradisi turun-temurun dari sejak zaman dahulu. Ini merupa­
kan suatu tindakan perlindungan terhadap bayi dan ibunya. Segala macam
perlindungan tersebut tentunya untuk kebaikan dan tidak ada yang dirugikan dengan aktivitas membawa lidi tersebut. Jadi, membawa lidi untuk
penangkal setan termasuk suatu stimulan untuk lebih memperhatikan
keadaan bayi dan ibunya. Bentuk perhatian ini menunjukkan bahwa bayi
dan ibunya sangat istimewa sehingga akan selalu dilindungi, termasuk di­
lindungi dari penyakit (yang disebabkan oleh gangguan setan).
Perilaku selanjutnya adalah menabuhkan nampan di dekat telinga
bayi agar bayi tidak mudah kaget ketika dewasa kelak. Namun, apabila
ditelaah lebih lanjut, tindakan ini tidak berhubungan dengan apa pun,
termasuk pengaruh terhadap potensi untuk menjadi tidak mudah kaget
pada saat dewasa kelak. Tindakan tersebut hanya dilakukan satu kali dan
belum ada fakta yang membuktikan kebenaran kepercayaan mereka. Akan
tetapi, tidak ada pengaruh negatif yang ditimbulkan dari tindakan ini.
94
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Selanjutnya adalah pemberian madu dan kelapa muda kepada bayi
yang baru berusia beberapa jam yang menurut keyakinan masyarakat
setempat bertujuan untuk melicinkan pencernaan bayi sehingga dapat
menerima jenis makanan apa pun. Pendapat ini jelas bertentangan dengan
keputusan WHO yang mengharuskan pemberian ASI eksklusif hingga
bayi berusia 6 bulan karena pencernaan bayi belum mampu menerima
makanan lain selain ASI. Oleh karena itu, perilaku ini akan memberikan
dampak negatif terhadap kesehatan bayi sehingga dapat dikategorikan
sebagai hambatan dalam usaha meningkatkan kesehatan anak.
Suatu bentuk perhatian kepada ibu yang baru saja melahirkan adalah
ibu dibiarkan beristirahat dan tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Bah­
kan, kegiatan memandikan bayinya pun tidak dilakukan sendiri, tetapi
dilakukan oleh dukun bayi atau saudara. Menurut mereka, tindakan ini
bertujuan agar ketika dimandikan bayi juga dipijat oleh dukun karena bayi
yang baru lahir pasti merasa lelah. Hal positif yang dapat disimpulkan
sebagai suatu potensi adalah ibu dapat memulihkan kondisi dirinya pas­
camelahirkan tanpa harus khawatir memikirkan kondisi bayinya karena
sudah mendapat perhatian dari dukun atau kerabat yang lain.
Pada masa setelah persalinan, Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dila­
kukan dengan bantuan bidan. Namun, bidan desa mengajarkan Inisiasi
Menyusui Dini tidak sampai tuntas. Ketika bayi berada di dada ibu dan
belum menemukan puting, bidan langsung menggendong bayi. Hal ini
tentu sedikit merugikan karena alangkah lebih baiknya jika IMD dilakukan
dengan sempurna.
Pada masa nifas, masyarakat Jrangoan khususnya dan masyarakat
Madura pada umumnya percaya bahwa darah nifas seharusnya dibuang
dan tidak dihalang-halangi. Oleh karena itu, sebagian ibu nifas tidak
menggunakan pembalut pada hari pertama pascamelahirkan. Namun,
apabila seseorang tidak menggunakan pembalut pada saat nifas, keber­
sihan vagina tidak terjamin karena langsung berhubungan dengan udara
luar dan hanya beralaskan kain sarung. Ceceran darah di atas lantai juga
dapat mengundang bakteri ke dalam rumah sehingga kebiasaan ini dapat
disimpulkan sebagai suatu hal yang menyebabkan menurunnya derajat
kesehatan ibu dan anak.
Penggunaan supertetra yang diyakini dapat melancarkan darah keluar
dari vagina sebenarnya merupakan antibiotik yang dapat menyembuhkan
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
95
luka. Apabila penggunaanya sesuai dengan saran medis, maka obat ini
dapat memulihkan luka yang dialami ibu pascamelahirkan.
Meminum jamu pascamelahirkan dan menggunakan parem (param)
merupakan suatu tindakan yang positif karena jamu mengandung bahan
herbal yang dapat memulihkan kondisi fisik ibu, sedangkan param yang
mengandung kencur, sereh, klabet, dan jahe dapat melemaskan otot-otot
setelah melahirkan.
Begitu pula dengan penggunaan gurita yang dikenakan ibu bertujuan
mengembalikan bentuk perut ibu seperti semula. Gurita yang dipakai tidak
terlalu erat, tetapi sesuai dengan kenyamanan. Gurita ini merupakan suatu
cara tradisional yang tidak berdampak negatif pada kondisi ibu, tetapi
berdampak positif, yaitu mengembalikan bentuk perut ibu walaupun
membutuhkan jangka waktu yang cukup lama. Bagaimanapun juga setiap
ibu yang sudah melahirkan menginginkan perutnya menjadi langsing
kembali dan pemakaian gurita ini sangat membantu tanpa memberikan
dampak yang negatif.
Untuk mengatur jarak kelahiran biasanya masyarakat di desa ini
melakukan cara ber-KB alami, yaitu coitus interuptus (senggama terputus)
dan sebagian dengan menggunakan pil dan suntikan. Walaupun masih
banyak ibu tidak mengikuti KB dengan alasan meyakini bahwa banyak
anak banyak rezeki, tetapi sebagian sudah mulai menyadari pentingnya
KB untuk mengatur jarak kelahiran. Namun, KB tetap bertujuan untuk
mengatur jarak kelahiran, bukan membatasi kelahiran sehingga anak yang
dimiliki tetap banyak.
Pada masa menyusui, bayi tidak sepenuhnya diberi ASI, tetapi
sudah diberi makanan tambahan seperti pisang yang dicampur dengan
nasi sebelum bayi berusia 6 bulan dengan tujuan untuk menghindari bayi
menangis karena kelaparan. Akan tetapi, pada dasarnya pemberian ASI
pada bayi sebelum berusia 6 bulan akan membahayakan pencernaan bayi
karena bayi belum siap menerima makanan padat.
Sebuah pantangan yang sangat dipatuhi oleh masyarakat Desa Jra­
ngoan ketika dalam masa menyusui adalah menghindari konsumsi ikan
karena menyebabkan ASI berbau amis. Padahal ikan mengandung protein
yang sangat dibutuhkan oleh ibu dan bayinya. Lagi pula tidak ada suatu bukti bahwa ASI akan menjadi amis jika ibu mengonsumsi ikan. Pantangan lain
adalah mengonsumsi cabai yang akan membuat mata bayi menjadi kotor.
96
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Ramuan yang dipercaya dapat memperlancar keluarnya ASI adalah
pejje yang terdiri atas campuran asam jawa dan abu sisa pembakaran yang
diseduh dengan air panas lalu disaring. Masyarakat sekitar percaya dan
sudah membuktikan bahwa ramuan ini berkhasiat untuk memperlancar
ASI. Namun, apabila dikaji ulang, asam jawa adalah tanaman yang
mengandung vitamin C yang sangat baik untuk daya tahan tubuh dan
antioksidan. Akan tetapi, abu sisa tungku pembakaran seharusnya tidak
dikonsumsi. Bisa saja abu tersebut mengandung banyak bakteri yang
dapat mengganggu kesehatan seseorang jika dikonsumsi. Namun, masih
belum ada penelitian nyata mengenai abu sisa pembakaran ini berkaitan
dengan ramuan pelancar ASI.
Jika untuk memperlancar ASI msyarakat Desa Jrangoan membuat
ramuan pejje, maka untuk melindungi bayinya dari ASI yang akan dimi­
numkan adalah dengan membuang ASI yang pertama kali keluar karena
dianggap kotor. Padahal ASI yang dibuang tersebut merupakan kolostrum
yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi karena termasuk dalam
kategori antibodi alami. Oleh karena itu, hal ini perlu dijelaskan kepada
msyarakat agar menjadi suatu dorongan menuju peningkatan kesehatan
ibu dan anak yang lebih baik.
Walaupun demikian, ibu menyusui tetap menyadari bahwa bayi
membutuhkan ASI dengan volume yang sangat banyak pada masa awal
disusui sehingga ibu akan memberikan ASI sesering mungkin kepada bayi.
Namun, masalah lain timbul ketika ibu memberikan makanan pendamping
ASI ketika bayi masih berusia 40 hari. Ada dua hal yang bertolak belakang,
yaitu hal positif dilakukan ibu ketika masa awal menyusui, namun
selanjutnya ibu melakukan hambatan bagi kesehatan bayinya dengan cara
memberikan makanan tambahan sebelum bayi genap berusia 6 bulan.
Pada neonatus dan bayi, ari-ari merupakan plasenta yang kela­
hirannya selalu bersamaan dengan lahirnya bayi sehingga masyarakat
meyakini bahwa ari-ari merupakan “kembaran” bayi. Secara biologis,
pada saat kehamilan ari-ari memang “mendampingi” janin di dalam
perut ibu, karena ari-ari mengemban beragam fungsi, yaitu sebagai alat
respiratorik, metabolik, nutrisi, endokrin, penyimpanan, transportasi dan
pengeluaran dari tubuh. Dengan fungsi ari-ari yang seperti ini maka bukan
suatu hal yang tabu apabila penguburan ari-ari sangat diistimewakan.
Penghormatan kepada ari-ari tidak hanya dilakukan oleh masyarakat
etnis Madura, tetapi juga etnis lain seperti Jawa, bahkan masyarakat di
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
97
negara-negara lain. Jika dihubungkan dengan kesehatan, maka hal ini
tidak memiliki dampak postif atau pun negatif. Oleh karena itu, apabila
maksud dari penghormatan ini untuk berterima kasih kepada ari-ari yang
telah menjaga bayi ketika masih dalam kandungan, maka tentu termasuk
perilaku yang baik. Sudah selayaknya untuk melakukan yang terbaik untuk
segala sesuatu yang baik.
Selain ari-ari, keistimewaan juga didapatkan oleh bayi yang baru
lahir karena dipijat oleh dukun hingga usia 7 hari. Pemijatan ini dapat
memberikan relaksasi kepada bayi yang ketika dilahirkan mendapat
tekanan dari mulut rahim ibu. Seperti orang dewasa yang lelah lalu
dipijat dan menjadi merasa nyaman, bayi yang “lelah” pun akan merasa
nyaman ketika dipijat. Pemijatan ini dapat melemaskan otot-otot bayi dan
memperlancar peredaran darahnya. Jadi, pijat bayi pada masa awal hidup
di dunia merupakan suatu hal yang positif.
Ketika mandi, bayi tidak hanya dipijat, tetapi sebagian ibu juga
melakukan tindakan yang diyakini dapat mencegah bayi kehilangan berat
badannya dengan cara mencelupkan batu yang sudah didoakan oleh kiai
ke dalam baskom air mandi bayi. Batu ini berwarna hitam dan terlihat
bersih. Karena batu ini tidak mengotori air yang akan digunakan untuk
memandikan bayi, serta dapat dijadikan suatu keoptimisan bahwa bayi
akan bertambah berat badannya, maka tindakan ini bukanlah suatu hal
yang dapat berujung pada kesakitan bayi. Begitu pula pada tindakan
memberikan gelang yang terdapat tulisan Arab sebagai bentuk pencegahan
bayi supaya tidak kurus.
Bentuk perlindungan lain adalah perlindungan dari gangguan setan.
Banyak hal dilakukan untuk melindungi bayi dari gangguan setan seperti
meletakkan sesajen dan meminta tamu yang datang untuk tidak langsung
menemui bayi karena dikhawatirkan masih dibuntuti oleh setan. Tindakan
ini merupakan suatu bentuk perlindungan agar bayi tidak celaka atau
menemui bahaya. Segala bentuk tindakan yang menjauhkan bayi dari
bahaya termasuk dalam tindakan yang menguntungkan bagi bayi.
Perlindungan tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi berlanjut
dengan diadakannya upacara selametan bayi saat berusia 7 dan 40 hari.
Dengan upacara ini, berbagai pihak berdoa untuk keselamatan bayi.
Upacara juga dilakukan ketika bayi berusia 1 tahun yang dikenal dengan
sebutan acara toron tana. Toron tana adalah sebuah upacara menyambut
bayi yang sudah siap untuk belajar berjalan, namun sebelumnya ada
sebuah ritual yang dilakukan anak untuk mengambil barang-barang yang
98
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
diasumsikan sebagai cerminan masa depan anak. Ritual ini juga dapat
dijadikan sebagai harapan positif bagi anak pada masa depan.
Sementara acara sunat klitoris bagi bayi perempuan berpotensi untu
meningkatkan kesehatan bayi karena sunat tersebut dapat membersihkan
bagian-bagian yang kotor. Hanya saja perlu perhatian lebih pada alat yang
digunakan untuk memotong/menyunat serta cara yang dilakukan oleh
dukun. Ada beberapa kasus di desa ini saat klitoris bayi mengeluarkan
banyak darah sehingga dibutuhkan penanganan secara medis. Oleh karena
itu, perilaku ini akan menjadi sebuah potensi jika dilaksanakan dengan
cara yang benar.
Pada anak dan balita, masyarakat Desa Jrangoan biasa menitipkan
balita atau anaknya kepada kerabat dekat ketika mereka harus merantau
ke luar Madura. Akan tetapi, jika ditelaah lebih lanjut, anak membutuhkan
kasih sayang dan pengasuhan orang tua karena orang tualah yang paling
memahami anak. Apabila anak diasuh oleh kerabat, maka perhatian kerabat
tersebut tidak sekuat perhatian orang tua. Mereka hanya mengasuh tanpa
terlalu memedulikan keadaan anak, baik dalam hal kesehatan, makanan,
atau pun perasaan. Selain itu, anak yang sudah diasuh oleh kerabat mulai
dari kecil, jelas sekali tidak akan memperoleh ASI yang cukup. Hal ini pun
mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Begitu pula dengan kasus jarak kelahiran anak yang terlalu dekat.
Alasan mereka melakukan ini karena menginginkan banyak anak. Keya­
kinan bahwa banyak anak banyak rezekilah yang mendasari perilaku ini.
Namun, hal ini perlu dipikirkan kembali karena dengan dekatnya jarak
kelahiran anak, maka akan ada yang dikorbankan dalam pemberian ASI.
Anak yang seharusnya masih memperoleh ASI akan terhambat karena
ibu sudah hamil lagi. Dekatnya jarak kelahiran ini juga mempengaruhi
kesehatan ibu terkait dengan risiko tinggi ketika melahirkan sehingga ini
menjadi dampak negatif.
Kepercayaan masyarakat terhadap dukun pijat bayi bukan tidak
beralasan karena memang setelah dipijat dan diberi jamu, demam yang
dialami bayi menjadi turun (saben). Akan tetapi, penyembuhan penyakit
oleh yang dilakukan dengan cara pemberian air dari sumber oleh masih
perlu dipertanyakan khasiatnya. Pijat bayi juga dianjurkan oleh tenaga
medis asalkan tidak menyakiti bayi dan terjamin kehigienisannya. Setelah
dipijat, bayi akan merasa lebih tenang karena otot-ototnya menjadi lemas
serta peredaran darah menjadi lancar.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
99
100
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Bab VI
Penutup
6.1 Simpulan
Dalam Riset Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak tahun 2012 di Desa
Jrangoan Kecamatan Omben Kabupaten Sampang, Madura terdapat
beberapa simpulan, antara lain:
1. Kontur tanah di Desa Jrangoan kering dan berbatu, serta
sulit­nya sumber mata air membuat lahan-lahan tandus dan
kering sehingga tidak banyak variasi komuditas tanaman yang
dapat ditanam di lahan pertanian. Penduduk Desa Jrangoan
mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh tani sehingga ratarata memiliki status ekonomi yang tergolong rendah. Pekerjaan
utama masyarakat sebagai petani tidak hanya melibatkan kepala
keluarga (ayah bapak), namun perempuan (sebagai istri) juga
turut serta membantu pekerjaan suaminya di sawah/ladang.
Bahkan, ketika istri sedang hamil pun masih tetap ikut bekerja
di ladang.
2. Perkembangan Desa Jrangoan dan masyarakatnya tidak bisa
dilepaskan dari keberadaan Pondok Pesantren Al-Ihsan yang
ada di tengah desa. Masyarakat desa ini lebih menghabiskan
masa remajanya di pondok pesantren. Perilaku remaja yang
kurang menjaga kehigienisan personal mengakibatkan mereka
men­derita penyakit kulit dan keputihan. Selain itu, sejak remaja
mereka sudah jarang mengonsumsi sayuran. Tradisi perawatan
kehamilan dan pascapersalinan tidak terlepas dari anjuran dan
pantangan yang berasal dari kepercayaan dan agama Islam.
3. Dalam masyarakat Desa Jrangoan garis keturunan diambil dari
garis keturunan ayah (patrilineal) dan setelah menikah pola
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
101
4.
5.
6.
7.
tempat tinggal mereka termasuk dalam matrilokal dengan
konsep pemukiman taneyan lanjhang.
Keluarga di Desa Jrangoan umumnya memiliki banyak anak (5-7
orang, bahkan lebih). Mereka tidak melakukan Inisiasi Menyusui
Dini (IMD) pada bayi yang baru lahir, tetapi bayi langsung diberi
madu dan kelapa muda. Kebanyakan bayi diberi makanan
tambahan sebelum berusia 6 bulan sehingga ASI eksklusif
belum terlaksana. Tradisi merantau dan memiliki banyak anak
mempengaruhi pola pengasuhan anak.
Ada tiga bentuk perilaku pencarian pengobatan yang dilakukan
oleh masyarakat Madura, khususnya di Desa Jrangoan ini, yaitu
pengobatan ke kiai, dukun, dan tenaga kesehatan. Keputusan
pencarian pengobatan tergantung pada derajat kesakitan yang
dirasakan oleh pasien. Untuk persalinan, ibu ditolong oleh bidan
melalui kerja sama dengan dukun.
Polindes lebih diutamakan dibandingkan puskesmas karena
masyarakat lebih percaya kepada bidan desa yang ada di
polindes daripada dokter di puskesmas yang jarang berada
di tempat. Posyandu sudah dijalankan dengan baik walaupun
empat meja yang seharusnya disediakan masih belum ada.
Pasangan suami istri yang belum memiliki anak memilih untuk
memeriksakan dirinya ke bidan dan dukun daripada ke dokter
dengan alasan khawatir istri mandul dan mendapat sanksi sosial
dari masyarakat. Usaha yang dilakukan untuk memiliki anak
adalah dengan meminum jamu dan mengonsumsi sayuran.
Pada masa kehamilan banyak sekali ritual selametan dan juga
pantangan yang harus dihindari untuk melindungi ibu dan
janinnya. Tidak ada hal negatif dari upacara ini. Termasuk juga
kebiasaaan minum susu dicampur dengan telur dan madu.
6.2 Saran
1. Masyarakat Desa Jrangoan sangat menghormati kiai dan nyai
yang memimpin pondok pesantren, serta akan melakukan segala
hal yang diperintahkan oleh mereka. Ketundukan ini dapat
dijadikan suatu jalan untuk mempromosikan kesehatan, yaitu
tenaga kesehatan bermitra dengan kiai dan nyai (pesantren).
Melalui pesantren ini dapat dipromosikan segala hal yang ber­
hubungan dengan kesehatan ibu dan anak. Selanjutnya, kiai dan
102
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
2. 3. 4. 5. 6. nyai yang telah bermitra dengan nakes menyosialisasikannya
kepada masyarakat.
Konsep taneyan lanjhang atau pola extended family yang dianut
oleh masyarakat etnis Madura juga dapat dijadikan sebagai
prasarana untuk mempromosikan kesehatan. Jika selama ini
di­bentuk kader di setiap dusun, maka alangkah lebih baik lagi
jika dibentuk kader yang bertanggung jawab atas setiap satu
taneyan lanjhang. Kader ini dibimbing oleh tenaga kesehatan
setempat terkait dengan segala hal yang berhubungan dengan
kesehatan, khususnya kesehatan ibu dan anak, dan terutama
lebih ditekankan pada pola pengasuhan anak.
Semakin mempererat kemitraan bidan desa dengan dukun.
Selain dalam hal perawatan bayi, juga dalam hal pemijatan
dan sunat bagi bayi perempuan agar terhindar dari masalah
kesehatan yang tidak diinginkan.
Posyandu yang sudah mulai menjadi perhatian warga sebaiknya
lebih dikembangkan dengan diberikannya penyuluhan kesehatan
oleh nakes, dan bisa juga oleh kader. Penyuluhan tidak selalu
bernuansa memberikan ilmu, tetapi juga bisa dikreasikan
dengan berbagai perlombaan yang edukatif seperti memasak
makanan menu sehat dan seimbang sebagai bentuk pancingan
kepada ibu-ibu agar memperhatikan kandungan gizi masakan
sehari-hari.
Puskesmas yang menjadi ujung tombak atau pusat kesehatan
masyarakat sebaiknya lebih bisa mendekati masyarakat dan
beradaptasi dengan budaya-budaya setempat sehingga da­pat
menentukan suatu pendekatan berbasis budaya untuk me­
ningkatkan kesehatan masyarakat.
Kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ibu
dan anak sudah mulai meningkat dari tahun ke tahun walaupun
masih belum terbilang baik. Perlu upaya keras petugas kesehatan
untuk menyosialisasikan program-program kesehatan ibu dan
anak seperti program KB, ASI ekslusif, imunisasi, dan kesehatan
reproduksi bagi remaja.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
103
104
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
DAFTAR ISTILAH
Ajhar
Ajara
Amper
Biting
Buju’
: belajar.
: menjarah.
: beranda/teras.
: lidi.
: sesepuh dan merupakan ulama terdahulu yang dihor­
mati. Ketika sudah wafat, maka makamnya disebut
pula dengan buju’.
Bu’ sobu’
: sesaji/sesajen
Cabis
: Bertamu dan berbincang-bincang ke rumah kiai.
Cabis/bis-cabisan adalah bahasa halus yg digunakan
warga ketika bertamu ke rumah kiai. Biasanya pada
akhir per­bin­cangan warga memberikan sejumlah
uang sebagai tanda terima kasih.
Carok
: pertengkaran antara dua orang atau lebih yang biasa­
nya menggunakan senjata tajam seperti clurit dan
bisa mengakibatkan kematian.
Ceklek
: Penyakit dengan gejala muntah darah, kadang disertai
dengan keluarnya kelabang. Warga percaya bahwa
penyakit ini disebabkan oleh guna-guna.
Egheddhung
: dibedong.
Gheddhung
: bedong (kain yang menyelimuti bayi setelah mandi).
Klebun
: kepala desa (dipilih langsung oleh masyarakat).
Langgar
: tempat sholat seperti mushola yang ada di setiap ha­
laman ruma.
Lente
: lidi.
Le’-le’ tontonan : leher bayi terlilit tali pusat.
Molodhan
: Upacara memperingati hari kelahiran Rasulullah Mu­
hammad SAW dengan membaca shalawat berjemaah
di setiap rumah warga
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
105
Maddhu
Na’-kana’
Ngoan
Oleh
: madu.
: anak-anak.
: kegiatan menggembala ternak.
: kondisi bayi dengan gizi kurang atau gizi buruk dan
lemah.
Parem
: param.
Pejje
: ramuan jamu untuk memperlancar ASI.
Pelet betteng
: ritual pemijatan ibu pada saat usia kehamilan 7 bulan
yang dipimpin oleh dukun bayi.
Ro’-moro’
: kelapa muda.
Saben
: demam yang dialami balita disertai kejang-kejang.
Sa’-kasa’
: ribut atau heboh.
Salaf
: sistem pendidikan pesantren yang hanya mengajarkan
ilmu agama, tanpa dicampur dengan ilmu pendidikan
formal.
Selametan
: upacara sebagai wujud syukur atas sesuatu yang telah
dimiliki.
Syekh
: ulama agama
Taneyan Lanjhang: tatanan bangunan dalam satu halaman.
Tettel
: kue basah dengan bahan dasar ketan.
Teppa’
: tepat (menunjukkan lokasi, waktu, bergantung de­
ngan kata setelahnya)
106
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta:
JNPKKR-POGI.
Anonimous. 2011. Banyak Anak Banyak Risiko. http://ibuanak.net/2011/
banyak-anak-banyak-risiko/. Sitasi: 9 Oktober 2012
Anonimous. 2011. Bolehkah Menggunakan Stagen atau Gurita Setelah
Melahirkan?
http://bidanku.com/index.php?/bolehkahmenggunakan-stagen-atau-gurita-setelah-melahirkan. Sitasi: 9
Oktober 2012
Anonimous. 2009. Bahaya Keputihan. http://kamissore.blogspot.
com/2009/06/bahaya-keputihan.html. Sitasi: 9 Oktober 2012
Anonimous. 2009. Kembali Cantik Usai Melahirkan. http://female.kompas.
com/read/2009/09/25/17151060/kembali.cantikusai.melahirkan.
Sitasi: 9 Oktober 2012
Anonimous. 2012. Amankah Pijat untuk Ibu Hamil?. http://wanitahamilku.com/amankah-pijat-untuk-ibu-hamil. Sitasi: 9 Oktober 2012
Anonimous. 2012. Efek Buruk Madu pada Bayi. http://www.parenting.
co.id/article/bayi/efek.buruk.madu.pada.bayi/001/002/161.
Sitasi: 9 Oktober 2012
Anonimous. 2012. Khasiat air kelapa muda untuk ibu hamil. http://
manfaat.org/khasiat-air-kelapa-muda-untuk-ibu-hamil#. Sitasi: 9
Oktober 2012.
Anonimous. 2012. Pantangan Seputar Kehamilan, Mitos atau Fakta?.
http://jasalogounik.blogspot.com/2012/07/pantangan-seputarkehamilan-mitos-atau_10.html. Sitasi: 9 Oktober 2012.
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
107
Anonimous. 2012. Perlukah Anda memberi minum air pada bayi Anda?.
http://www.bayi.web.id/perlukah-anda-memberi-minum-airpada-bayi-anda.html. Sitasi: 9 Oktober 2012.
Anonimous. 2012. Pro Kontra KB. http://azzha09.blogspot.com/2012/05/
pro-kontra-kb.html. Sitasi: 9 Oktober 2012.
Badan Pusat Statistika. 2007. Survey Demografi Kesehatan Indonesia 2007.
Jakarta: Badan Pusat Statistika, Macro International, Bappenas.
Badan Pusat Statistika, 2010. “Sensus Penduduk Indonesia 2010. Jakarta:
Badan Pusat Statistika.
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen kesehatan RI, Laporan
Nasional Riskesdas 2007, Jakarta.
Bappenas, Rancang Bangun: Percepatan Penurunan Angka Kematian
Ibu untuk mencapai Sasaran Millenium Developtment Goals.
Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), 2007.
Departemen Kesehatan RI. 2009. Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Bidang Kesehatan 2005-2025.
Dinar. 2011. Mengencangkan Kulit Perut Setelah Melahirkan dan Diet.
http://www.tipsmesra.info/2011/03/mengencangkan-kulit-perutsetelah.html. Sitasi: 9 Oktober 2012.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. 2003. Asuhan Persalinan Normal
58 Langkah. http://putragamaru.blogspot.com/2011/05/asuhanpersalinan-normal-58-langkah.html. Sitasi: 9 Oktober 2012.
Effendi, Mukhti. 2012. Maha Agung Allah, Janin Ternyata Sujud Jika
Dibacakan Alquran. http://muktiblog.com/unik-dan-aneh/mahaagung-allah-janin-ternyata-sujud-jika-dibacakan-alquran. Sitasi: 9
Oktober 2012.
Iskandar, Zulkarnain, dkk. 2003. Sejarah Sumenep. Sumenep: Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep.
Kalangian Nico S., 1994. Kebudayaan dan Kesehatan, Jakarta: PT Blanc
Indah Corp.
Maas T Linda. 2004. Kesehatan Ibu dan Anak : Persepsi Budaya dan Dampak
Kesehatannya. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Suma­
tera Utara.
108
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Moleong, JL. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif (third edition).
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Partasari, Wieka Dyah. 2012. Bahaya Jika Adopsi Anak Hanya untuk
Dijadikan Pancingan Hamil. http://wolipop.detik.com/read/201
2/03/30/161837/1881308/857/bahaya-jika-adopsi-anak-hanyauntuk-dijadikan-pancingan-hamil. Sitasi: 9 Oktober 2012
Prasetyawati, AE. 2012. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam Milenium
Development Goals (MDGs), Yogyakarta: Mutia Medika.
Profil Kesehatan Kabupaten Sampang, 2010.
Profil Puskesmas Jrangoan, 2011.
Profil Desa Jrangoan, 2011.
Tari, Romana. 2011. Mengenal Tradisi Budaya Nusantara Seputar Ke­
hamilan. http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/
10/02/mengenal-tradisi-budaya-nusantara-seputar-kehamilan/.
Sitasi: 9 Oktober 2012
Etnik Madura di Desa Jrangoan
Kabupaten Sampang Provinsi Jawa Timur
109
110
Buku Seri Etnografi Kesehatan
Ibu dan Anak 2012
Download