musik dalam ibadah gereja hkbp pasar melintang medan

advertisement
MUSIK DALAM IBADAH
GEREJA HKBP PASAR MELINTANG MEDAN:
PENGGUNAAN, FUNGSI, DAN PERUBAHAN
TESIS
Oleh
AGUSTINA HELENA SAMOSIR
NIM. 127037011
PROGRAM STUDI
MAGISTER (S-2) PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014
MUSIK DALAM IBADAH
GEREJA HKBP PASAR MELINTANG MEDAN:
PENGGUNAAN, FUNGSI, DAN PERUBAHAN
TESIS
Oleh
AGUSTINA HELENA SAMOSIR
NIM. 127037011
PROGRAM STUDI
MAGISTER (S-2) PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014
i
MUSIK DALAM IBADAH
GEREJA HKBP PASAR MELINTANG MEDAN:
PENGGUNAAN, FUNGSI, DAN PERUBAHAN
TESIS
Untuk memperoleh gelar Magister Seni (M.Sn.)
dalam Program Studi Magister (S-2) Penciptaan dan Pengkajian Seni
pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara
Oleh
AGUSTINA HELENA SAMOSIR
NIM. 127037011
PROGRAM STUDI
MAGISTER (S-2) PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014
ii
Judul Tesis
Nama
Nomor Pokok
Program Studi
MUSIK DALAM IBADAH GEREJA HKBP PASAR
MELINTANG MEDAN: PENGGUNAAN, FUNGSI
DAN PERUBAHAN
: Agustina Helena Samosir
: 127037011
: Magister (S-2) Penciptaan dan Pengkajian Seni
Menyetujui
Komisi Pembimbing,
Dr. Martongo Sitinjak, M.Th.
Drs. Setia Dermawan Purba, M.Si.
NIP 19560828 198601 1 001
_____________________________
Ketua
_______________________
Anggota
Program Studi Magister (S-2)
Penciptaan dan Pengkajian Seni
Ketua,
Fakultas Ilmu Budaya
Drs. Irwansyah, M.A.
NIP 196212211997031001
Dr. Syahron Lubis, M.A.
NIP 195110131976031001
Dekan,
iii
Tanggal lulus:
Telah diuji pada
Tanggal
:
PANITIA PENGUJI UJIAN TESIS
Ketua
: Drs. Irwansyah, M.A
(_________________________)
Sekretaris
: Drs. Torang Naiborhu, M.Hum
(_________________________)
Anggota II
: Drs. Setia Dermawan Purba, M.Si. (_________________________)
Anggota I
: Dr. Martongo Sintinjak, M.Th
(_________________________)
Anggota III
: Drs. Bebas Sembiring, M.Si.
(_________________________)
iv
ABSTRACT
This study discusses the Music In Worship HKBP Pasar Melintang, covers three
aspects, namely: (1) The use of music in ritual HKBP ‘Market Crossing; (2) The
function of music in worship HKBP Pasar Melintang; and (3) Changes in the
composition of music includes hymns and the use of musical instruments as
accompaniment hymns.
In discussing these three aspects, the author uses the theory of Alan P. Merriam on
the use and function; theory of Carol R. Ember and Sztompka for theory change.
The study of aspects of the use of music in worship can be concluded that the
variation of musical worship hymns to build more vivid and passionate. The use
of hymns in worship at HKBP Pasar Melintang always adapted to HKBP ritual.
Considerations in the selection of hymns of worship based on the text to align to
the theme song of the week. Hymn melody is not the main cause of the results of
the research, it has been found that there are some hymns from the buku Ende
HKBP uses the same melody but different meanings poem.
The study of aspects of the function of music in worship shows that Alan P.
Merriam theory can be applied in accordance with the opinion of his
congregation. Research results in a change aspects of music in worship HKBP,
found that there are some differences in the composition of hymns HKBP the
composition of hymns at first. Changes seen in the melody, rhythm and harmony.
Other changes have occurred is a change in the mindset of people HKBP about
musical understanding in worship, giving rise to a wide variety of musical forms.
This condition is seen ranging from the use of harmonium, trumpet, organ, brass /
brass bands, musical ensembles (two or more keyboards, merging traditional
music), a full band and the use of music box.
Keywords: HKBP Pasar Melintang, Use, Function and Change
v
ABSTRAK
Penelitian ini membahas Musik Dalam Ibadah Gereja HKBP Pasar Melintang
meliputi tiga aspek, yakni: (1) Penggunaan musik sesuai dengan tata ibadah gereja
HKBP Pasar Melintang; (2) Fungsi Musik dalam ibadah Gereja HKBP Pasar
Melintang; dan (3) Perubahan musik meliputi perubahan dalam hal komposisi
musik dari himne dan perubahan penggunaan alat musik dalam mengiringi
himne.
Dalam membahas tiga aspek tersebut, penulis menggunakan pendekatan teori
Alan P. Merriam tentang uses and function dan teori dari Carol R. Ember dan
Sztompka tentang teori perubahan. Hasil dari penelitian dalam aspek pengunaan
musik dalam ibadah dapat disimpulkan bahwa variasi musik dalam mengiringi
himne dapat memberikan suasana ibadah lebih hidup dan bergairah. Penggunaan
lagu-lagu himne dalam ibadah di gereja HKBP Pasar Melintang selalu disesuaikan
dengan tata ibadah HKBP. Pertimbangan pemilihan himne dalam ibadah
didasarkan pada teks nyanyian agar mendukung makna dari tema minggu. Melodi
himne bukan hal yang utama sebab dari hasil penelitian ditemukan bahwa ada
beberapa himne dari Buku Ende (BE) HKBP yang menggunakan melodi yang
sama akan tetapi makna syair yang berbeda.
Hasil penelitian dalam aspek fungsi musik dalam ibadah menunjukkan bahwa
teori Alan P. Merriam dapat diaplikasikan sesuai dengan pendapat jemaat di
gereja HKBP Pasar Melintang. Hasil Penelitian dalam aspek perubahan musik
dalam ibadah gereja HKBP ditemukan bahwa terdapat beberapa perbedaan
komposisi himne HKBP dengan komposisi himne pada awalnya. Perubahan dapat
dilihat dalam hal melodi, ritem dan harmoni. Perubahan lainnya adalah telah
terjadi perubahan pola pikir warga gereja HKBP tentang apa yang dimaksud
dengan musik pengiring dalam ibadah sehingga memunculkan berbagai variasi
bentuk musik pengiring. Kondisi ini dapat dilihat mulai dari penggunaan
harmonium, terompet, organ, musik tiup/brass band, ansambel musik (dua atau
lebih keyboard, penggabungan musik tradisional), full band dan penggunaaan
music box gereja.
Kata kunci: HKBP Pasar Melintang, Penggunaan, Fungsi dan Perubahan.
vi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala
berkat, rahmat dan karunia-Nya yang membimbing dan menyertai penulis dalam
penyelesaian studi di Program Studi Magister (S-2) Penciptaan dan Pengkajian
Seni, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara Medan.
Tulisan dalam bentuk tesis ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat
memperoleh gelar Magister Seni (M.Sn.) pada Program Studi Magister (S-2)
Penciptaan dan Pengkajian Seni, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera
Utara Medan.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada kedua orang tua penulis, yaitu Bapak Kol. L. Samosir dan Ibu R.
Simanjuntak, nasehatmu ibu senantiasa mengiringi langkahku di manapun aku
berada. Segala yang Bapak dan Ibu berikan (doa dan nasehat) membawaku
mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi, saya tidak mampu membalasnya
dengan apapun.
Kepada Suami saya tercinta, Cst Ir. J Hutabarat., yang tidak pernah lelah
mendukung dan memotivasi saya dengan moril maupun materil dalam
perkuliahan hingga selesainya penulisan tesis ini. Tidak lupa terimakasihku
kepada anakku yang sangat kucinta dan kusayangi, Josua Steven Hutabarat, Jovan
Matthew Hutabarat dan Irma Pratiwi Samosir. Hanya tesis ini yang dapat saya
persembahkan sebagai tanda terima kasih atas cinta dan kasih sayang kalian
kepadaku. Dalam kesempatan ini juga, saya mengucapkan terima kasih buat
vii
keluarga besar Hutabarat dan keluarga besar Samosir atas segala dukungan dan
doa bagi penulis dalam proses penyelesaian studi S-2 di Prodi Pengkajian dan
Penciptaan Seni Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Tidak lupa saya berterima kasih kepada Ibu Pdt. Ruth Betty Panjaitan,
S.Th, Ibu Bibelvrouw Nawaris Marpaung, NHKBP Pasar Melintang dan Tim
Musik HKBP Pasar Melintang atas segala dukungan dan informasi yang diberikan
dalam penyelesaian tesis ini.
Secara akademik penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof.
Dr. dr. Syahril Pasaribu., DTM&H, M.Sc. (CTM), Sp.A(K)., selaku Rektor
Universitas Sumatera Utara, dan Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A., sebagai Dekan
Fakultas Ilmu Budaya, yang telah memberi fasilitas, sarana dan prasarana belajar
bagi penulis sehingga dapat menuntut ilmu di kampus Universitas Sumatera Utara
ini dengan baik.
Penulis juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ketua
Program Studi Magister (S-2) Penciptaan dan Pengkajian Seni, Fakultas Ilmu
Budaya, Universitas Sumatera Utara, Drs. Irwansyah, M.A., dan Sekretaris,
Bapak Drs. Torang Naiborhu, M.Hum., atas bimbingan akademis dan arahan yang
diberikan.
Terima kasih yang sebesar-besarnya juga saya ucapkan kepada Bapak Drs.
Setia Dermawan Purba, M.Si., sebagai Dosen Pembimbing I dan Bapak Dr.
Martongo Sitinjak, M.Th., sebagai Dosen Pembimbing II atas semua tuntunan,
nasehat serta bimbingannya dan memotivasi penulis supaya tetap semangat dan
terus maju tidak menyerah. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dosen
viii
Penguji Drs. Bebas Sembiring, M.Si., yang memberikan koreksi dan kritikan demi
perbaikan penulisan tesis ini.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua dosen Program Studi
Magister (S-2) Penciptaan dan Pengkajian Seni atas ilmu yang telah diberikan
selama ini. Begitu juga kepada Bapak Drs. Ponisan sebagai pegawai adminsitrasi,
terima kasih atas segala bantuannya selama ini. Penulis juga mengucapkan
terimakasih untuk seluruh teman-teman di Prodis Magister (S.2) atas segala
bantuan dan kerjasama yang telah terbangun selama ini. Penulis berharap kiranya
tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.
Tentu tesis ini masih jauh dari kesempurnaannya, karena itu kepada semua
pihak, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun
pada tesis ini.
Medan,
Penulis
Agustus 2014
Agustina Helena Samosir
NIM. 127037011
ix
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
IDENTITAS DIRI
1. Nama
2. Tempat/Tgl. Lahir
3. Jenis Kelamin
4. Agama
5. Kewarganegaraan
6. Nomor Telepon
7. Alamat
8. Pekerjaan
: Agustina H. Samosir
: 17 Agustus 1971
: Perempuan
: Kristen Protestan
: Indonesia
: 0812 6549 731
: Jl. Abdul Hamid (Ayahanda) No. 54
Medan
: Dosen Musik di Universitas Negeri Medan
Guru Musik di SMKN 11 Medan
PENDIDIKAN
1. Sekolah Dasar Swasta Kristen Bersubsidi, lulus tahun 1984
2. Sekolah Menengah Pertama Kristen Immanuel Medan , lulus tahun 1987
3. Sekolah Menengah Musik (SMM) 11 Medan, lulus tahun 1991
4. Sarjana Musik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas HKBP Nommensen
Medan, lulus tahun 1997.
5. Akta IV dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Medan, lulus tahun 1999
6. Mahasiswa Program Studi Magister (S-2) Penciptaan dan Pengkajian Seni di
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan Tahun Akedemik
2012/2013.
x
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi,
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini dan disebutkan di dalam daftar pustaka.
Medan,
Agustus 2014
Agustina H. Samosir
NIM 127037011
xi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................
ABSTRACT ...................................................................................................
ABSTRAK .....................................................................................................
KATA PENGANTAR . .................................................................................
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ......................................................................
HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................
DAFTAR ISI ..................................................................................................
DAFTAR GAMBAR .........................................................................................
DAFTAR TABEL .............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN ………………………………………………...
1.1 Latar Belakang ........................................................................
1.2 Pokok Permasalahan .................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................
1.4 Manfaat Penulisan ...................................................................
1.5 Tinjauan Pustaka ……………………………………………….
1.6 Kosep .....................................................................................
1.6.1 Gereja .............................................................................
1.6.2 Musik gereja ...................................................................
1.6.3 Musik dalam ibadah ........................................................
1.6.4 Musik tiup ......................................................................
1.6.5 Defenisi musik koor .......................................................
1.6.6 Music box gereja (MBG) ................................................
1.6.7 Jemaat ............................................................................
1.6.8 Ibadah ............................................................................
1.6.9 Syair lagu ......................................................................
1.7 Teori .......................................................................................
1.7.1 Teori fungsionalisme .....................................................
1.7.2 Teori perubahan .............................................................
1.8 Metode Penelitian .....................................................................
1.8.1 Pendekatan penelitian .....................................................
1.8.2 Lokasi penelitian ............................................................
1.8.3 Observasi/teknik pengumpulan data ...............................
1.8.4 Wawancara ....................................................................
1.8.5 Dokumentasi ..................................................................
1.8.6 Analisis data ...................................................................
1.8.7 Pengecekan keabsahan data ...........................................
1.8.8 Tahap-tahap penelitian....................................................
1.8.9 Tahap pekerjaan lapangan ..............................................
1.8.9.1 Memahami latar penelitian .................................
xii
i
v
vi
vii
x
xi
xii
xvi
xvii
1
1
7
8
8
9
12
12
15
16
17
18
21
23
24
24
25
25
28
30
30
32
32
33
34
34
35
36
38
38
1.8.9.2 Memasuki lapangan ..........................................
1.8.9.3 Berperan serta mengumpulkan data ...................
1.9 Sistematika Penulisan ...............................................................
38
39
39
BAB II TINJAUAN UMUM GEREJA HKBP.........................................
2.1 Sejarah Berdirinya HKBP .........................................................
2.2 Sejarah Singkat Gereja HKBP Pasar Melintang ........................
2.2.1 Latar Belakang Pendirian Gereja ....................................
2.2.2 Susunan Struktur Gereja .................................................
2.2.3 Kegiatan Gereja ..............................................................
2.2.4 Pembangunan Gereja HKBP Pasar Melintang.................
40
40
53
53
57
62
63
BAB III TATA IBADAH GEREJA HKBP DAN PERKEMBANGAN
MUSIK GEREJA ........................................................................
3.1 Tata Ibadah ...............................................................................
3.1.1 Beberapa istilah asing dalam tata ibadah gereja
HKBP……....................................................................
3.1.2 Dasar-dasar teologis tata ibadah hari minggu HKBP…..
3.1.3 Dasar teologis tata ibadah minggu HKBP menurut F.
Tiemeyer ……. .............................................................
3.1.4 Urutan mata acara ibadah HKBP dalam edisi 1904 dan
1998……. .....................................................................
3.1.5 Urutan mata acara menurut Justin Sihombing ……. ......
3.1.6 Kalender gerejawi (Almanak) HKBP ……. ...................
3.1.7 Tata ibadah HKBP dan artinya……. .............................
3.2 Perkembangan Musik Gereja Sebelum Musik Gereja HKBP .........
3.2.1 Perjanjian Lama .............................................................
3.2.2 Jaman gereja mula-mula ................................................
3.2.3 Himne Latin ..................................................................
3.2.4 Jaman kegelapan dan paman pertengahan ......................
3.2.5 Jaman reformasi Protestan .............................................
3.2.6 Pietisme .........................................................................
3.2.7 Moravian .......................................................................
3.2.8 Nyanyian Mazmur .........................................................
3.3 Perkembangan Himne Gereja HKBP .......................................
78
86
90
92
97
97
99
101
102
103
105
106
106
114
BAB IV PENGGUNAAN DAN FUNGSI MUSIK DALAM IBADAH
GEREJA HKBP PASAR MELINTANG MEDAN ....................
4.1 Pengantar .................................................................................
4.2 Penggunaan Alat Musik di HKBP Pasar Melintang ..................
4.3 Penggunaan Himne Sesuai Dengan Tata Ibadah Gereja HKBP .
4.3.1 Penggunaan himne dalam ibadah Advent. .....................
4.3.2 Penggunaan himne dalam ibadah Natal …….................
4.3.3 Penggunaan himne dalam ibadah Tahun Baru. ..............
122
122
126
131
132
137
140
xiii
65
65
65
67
75
4.3.4 Penggunaan himne dalam ibadah Minggu Epiphanias ...
4.3.5 Penggunaan himne dalam ibadah minggu Jumat Agung
4.3.6 Penggunaan himne dalam ibadah Kebangkitan Tuhan
Yesus ............................................................................
4.3.7 Penggunaan himne dalam ibadah Minggu Kenaikan
Tuhan Yesus. ................................................................
4.3.8 Penggunaan himne dalam ibadah Minggu Turunnya
Roh Kudus ....................................................................
4.3.9 Penggunaan himne dalam ibadah Minggu Trinitatis …..
4.3.10 Penggunaan himne dalam ibadah-ibadah Lainnya .........
4.4 Fungsi Musik di Gereja HKBP Pasar Melintang ……. ..............
BAB V PERUBAHAN MUSIK GEREJA DALAM IBADAH DI
HKBP PASAR MELINTANG MEDAN.....................................
5.1 Perubahan dalam Komposisi Himne ……. ...............................
5.2 Perubahan Penggunaan Alat Musik Dalam Ibadah gereja
HKBP ……. ............................................................................
5.2.1 Alat musik tiup ……. .....................................................
5.2.2 Organ ……. ...................................................................
5.2.3 Format ansambel ……. ..................................................
5.2.4 Band ……. .....................................................................
5.2.5 Music box gereja ……. ..................................................
5.3 Perubahan Musik di Beberapa Gereja di Kota Medan ……. ..........
143
148
153
158
163
167
170
171
179
180
189
190
194
195
197
200
201
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 203
6.1 Kesimpulan ............................................................................. 203
6.2 Saran ..................................................................................... 204
KEPUSTAKAAN........................................................................................... 205
GLOSARIUM ................................................................................................ 208
LAMPIRAN: DAFTAR INFORMAN .......................................................... 211
xiv
DAFTAR GAMBAR
2.1 Logo Gereja ..............................................................................................
2.2 Badan Organisasi Gereja HKBP ................................................................
2.3 Denah Gereja HKBP Pasar Melintang ........................................................
2.4 Bagan Organisasi Gereja HKBP Pasar Melintang.......................................
2.5 Hasil Akhir Pembangunan Altar Gereja .....................................................
4.1 Lagu Buku Ende No. 38 “Paruak Ma Harbangan i“ .................................
4.2 Lagu Buku Ende No. 390 “Advent“ ............................................................
4.3 Lagu Buku Ende No. 54 “Sonang ni Borngin i“ .........................................
4.4 Lagu Buku Ende No. 53 “Di Betlehem do Tubu“ ........................................
4.5 Lagu Buku Ende No. 66 “Debata Baen Donganmi“ ...................................
4.6 Lagu Buku Ende No. 64 “Naung Moru Do Muse Sataon“ ..........................
4.7 Lagu Buku Ende No. 74 “Sai Marlas Ni Roha Hita“ ..................................
4.8 Lagu Buku Ende No. 72 “Hehe Ma Hamu Parbegu“ ..................................
4.9 Lagu Buku Ende No. 83 “Na Lao Do Biru-Biru i“ .....................................
4.10 Lagu Buku Ende No. 84 “Aut Na Ginorga Tu Rohangku“ ........................
4.11 Lagu Buku Ende No. 92 “Puji Ma Namanaluhon“ ...................................
4.12 Lagu Buku Ende No. 96 “Nungga Talu Hamatean“ .................................
4.13 Lagu Buku Ende No. 97 “ Ingoton Ma Sadarion“ ....................................
4.14 Lagu Buku Ende No. 98 “Naung Manaek Do Ho “...................................
4.15 Lagu Buku Ende No. 102 “O Tondi Porbadia I Bongoti “ ........................
4.16 Lagu Buku Ende No. 106 “Ale Tuhan Amanami “ ....................................
4.17 Lagu Buku Ende No. 106 “Ditmpo Ho Do Au “........................................
4.18 Lagu Buku Ende No. 111 “Patimbul Be Ma Sangap “ ..............................
5.1 Partitur lagu ”Come, O Come, in Pious Lays” ...........................................
5.2 Partitur lagu ”Nasa Jolma Ingkon Mate” ...................................................
5.3 Analisis Lagu ...........................................................................................
5.4 Pola Iringan ..............................................................................................
5.5 Partitur Lagu „Valent Will ich Geben“ ......................................................
5.6 Partitur Lagu ”Behama Panjalongku” ........................................................
5.7 Analisis Perubahan Melodi .......................................................................
5.8 Analisis Perubahan Harmoni .....................................................................
5.9 Format Duet Keyboard Dalam Mengiringi Ibadah .....................................
5.10 Format Band Dalam Mengiringi Ibadah ..................................................
xv
45
48
56
59
64
134
136
138
139
141
142
146
147
150
152
156
157
161
162
164
166
168
169
183
184
185
186
186
187
188
189
197
199
DAFTAR TABEL
4.1 Bagian Nyanyian Dalam Buku Ende HKBP .............................................. 170
xvi
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Musik memegang peranan penting dalam masyarakat jaman sekarang,
karena musik mempunyai kegunaan dan fungsi di dalam kehidupan manusia.
Terlebih dari semuanya itu, musik dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan. Bruno
Nettl mengatakan bahwa tulisan awal dari etnomusikolog sering berdasar pada
anggapan dalam sejarah, kebudayaan manusia dalam menggunakan musik untuk
mencapai satu tujuan akhir. Musik dipakai sebagai alat untuk menyampaikan arti,
identitas diri dari masyarakat itu sendiri. Acapkali manusia cenderung
menyalahgunakan kata penggunaan dan fungsi dari musik itu sendiri. Meskipun
ada kesamaan, tetapi dua kata tersebut mempunyai arti yang berbeda.1
Musik menurut Webster dictionary adalah; (1) the art and science of
combining vocal or instrumental sounds or tones in varying melody, harmony,
rhythm, and timbre, especially as to form structurally complete and emotionaly
expressive compositions; (2) the sounds or tones so arranged, or the arrangement
of these.2
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata musik didefinisikan sebagai
berikut; (1) ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan atau
kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang
mempunyai kesatuan dan kesinambungan; (2) nada atau suara yang disusun
1
Bruno Nettl, The Study of Ethnomusicology : Twenty – Nine Issues and Concept
(Urbana: University of Illinois Press, 1983 ), hal. 147-148.
2
Jean L. McKechnie, ed., Webster’s New Twentieth Century Dictionary of the English
Language, (New York: Prentice Hall Press, 1979), hal. 1184.
2
sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonian (terutama
yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi itu).3
Dari definisi musik tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa musik
adalah seni dalam memadukan nada atau suara menjadi sebuah karya yang dapat
dinikmati dengan atau tanpa diiringi alat musik. Musik juga adalah hasil karya
yang memadukan suara dan nada yang kemudian menjadi suatu irama yang
harmonis, yang dalam konteks kita sekarang disebut sebagai lagu atau apabila
dilengkapi dengan kata-katanya menjadi nyanyian.
Kata musik banyak digunakan dalam berbagai kebudayaan dan juga
keagamaan. Dalam hal kebudayaan, dapat dilihat bagaimana musik itu digunakan
untuk mengiringi rangkaian upacara yang dilaksanakan. Musik mempunyai peran
penting di sana sebagai bagian yang tidak terlepaskan dalam sebuah upacara.
Dalam hal keagamaan, musik digunakan untuk mengiringi nyanyian ibadah dan
acara keagamaan lainnya. Peran musik menjadi penting dalam ibadah karena
dengan adanya musik, maka jemaat akan terbantu dalam mengekspresikan
imannya.
Penggunaan musik dalam hubungannya dengan keagamaan dapat dilihat
dalam gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Gereja HKBP adalah Gereja
Protestan terbesar di kalangan masyarakat Batak, bahkan juga di antara Gerejagereja Protestan yang ada di Indonesia. Gereja ini tumbuh dari misi RMG
(Rheinische Missions-Gesselschaft) dari Jerman dan resmi berdiri pada 7 Oktober
1861. Gereja HKBP adalah gereja yang berasaskan ajaran Lutheran, HKBP juga
3
Lukman Ali, ed., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ke 2, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994),
hal. 676.
3
menjadi anggota dari Federasi Lutheran se-Dunia (Lutheran World Federation)
yang berpusat di Jenewa, Swiss. Pemerintah Indonesia mengakui HKBP melalui
Beslit No. 48 tanggal 11 Juni 1931, yang tercantum dalam Staatblad Tahun 1932
No. 360 dan Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimas Kristen Protestan
Departemen Agama No. 33 tahun 1988 tanggal 6 Pebruari 1988.
Pengakuan pemerintah terhadap gereja HKBP telah sesuai dengan amanat
Undang-Undang Dasar (UUD) tahun 1945 Bab XI Pasal 29 ayat 1 dan 2 tentang
agama dan kebebasan beragama. Pasal 1 berbunyi bahwa Negara berdasarkan atas
Ketuhanan Yang Maha Esa, selanjutnya pasal
2 berbunyi Negara menjamin
kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan
untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Berdasarkan UUD
1945 negara bertanggung jawab untuk melindungi, memajukan, dan memenuhi
kebebasan beragama sebagai hak asasi manusia. Negara juga harus menjamin
bahwa seseorang tidak diperlakukan secara diskriminatif atas dasar agama yang
diyakini dan ibadah yang dijalankannya.
Musik
gereja
ditampilkan
untuk
mengekspresikan
tujuan
dalam
menjangkau orang-orang melalui pesan dari Tuhan. Sebuah ibadah dengan tujuan
penginjilan itu sendiri akan dipenuhi jemaat ketika pelaksanaannya diperlengkapi
oleh Roh Kudus, dengan demikian menjadi sebuah sarana kebenaran keselamatan
besar melalui Yesus Kristus, dimana pada saat ditanggapi oleh manusia akan
menghasilkan proses menjadikannya Kristen.
Musik dalam gereja HKBP memiliki peran penting dalam setiap ibadah
yang dilaksanakan baik dalam lingkup gereja maupun di luar gereja. Dalam
4
lingkup gereja dapat dilihat bahwa hampir sepertiga tata ibadah adalah dengan
musik (baik nyanyian jemaat, koor, song leader dan musik iringan ibadah). Untuk
ibadah yang dilaksanakan di luar lingkup gereja, seperti ibadah weyk, acara
kebaktian pesta perayaan dan ibadah bagi jemaat meninggal semuanya tidak
terlepas dari musik.
Pengertian kebaktian (ibadah) dalam penelitian ini adalah suatu pertemuan
umat Allah dan jemaat dalam bentuk dialog, bahwa Allah berfirman dan manusia
mendengar, Allah memberi dan jemaat menerima serta mengucap syukur, Allah
mengampuni dan jemaat memuji namaNya. Kebaktian merupakan suatu upacara,
kesempatan jemaat bersekutu di dalam Kristus, bersama-sama mendengarkan
firman Tuhan supaya jemaat diperlengkapi untuk hidup.
David B. Pass berpendapat bahwa sifat musik gereja ditentukan oleh sifat
gereja, dan sifat gereja ditentukan oleh misinya, oleh karena itu dapat dipahami
bahwa penggunaan musik ibadah yang tepat adalah ketika memahami eklesiologi;
memahami sifat dari gereja; memahami bagaimana ibadah, dan musik ibadah dan
bagaimana musik gereja berfungsi di dalam gereja. Dari pendapat tersebut dapat
dipahami bahwa musik dalam gereja bukan semata-mata sebagai pelengkap
ibadah akan teapi musik dalam ibadah mempunyai tujuan yang lebih filosofi.
Penggunaan musik dalam gereja HKBP dapat dilihat dari penggunaan
musik (himne dan paduan suara) selalu dikaitkan dengan tema ibadah seperti,
ibadah minggu Trinitatis, ibadah Jumat Agung, Ibadah Kebangkitan Tuhan Yesus,
Ibadah Pernikahan dan ibadah-ibadah lainnya di gereja HKBP. Musik adalah
sebagai bagian integral dari rangkaian ibadah gereja HKBP, sehingga penggunaan
5
musik gereja akan selalu disesuaikan dengan makna minggu pada saat itu
sehingga keseluruhan ibadah dapat saling mendukung.
Penggunaan instrumen musik dalam mengiringi nyanyian jemaat menjadi
hal penting karena dengan penggunaan variasi bentuk alat musik yang dipakai
akan mempengaruhi semangat bernyanyi dari jemaat. Hal ini bisa dilihat ketika
sebuah gereja HKBP menggunakan instrumen organ saja mengiringi nyanyian
jemaat maka ibadah kurang semangat dan meriah, kesan yang timbul lebih
monoton. Disisi lain, ketikan ibadah diiringi dengan menggunakan paduan musik
tiup dengan keyboard, atau dengan band hasilnya terlihat jelas bahwa jemaat
bernyanyi dengan semangat sehingga ibadah lebih hidup.
Penggunaan variasi alat musik dalam mengiringi nyanyian jemaat dapat
membantu warga gereja dalam bernyanyi, karena melodi lagu lebih bisa terdengar
jelas dibawakan oleh instrumen tiup. Sedangkan bila menggunakan alat musik
organ mengiringi jemaat maka yang terdengar adalah progressi harmoni empat
suara, oleh karena itu terkadang banyak warga gereja kewalahan menyanyikan
himne tertentu karena kurang bisa mendengar melodi lagu secara jelas.4
Pertimbangan penggunaan musik yang sesuai dengan setiap ibadah minggu akan
dibahas di dalam Bab IV.
Fungsi musik dalam ibadah gereja HKBP adalah untuk memuliakan Allah
dan memberikan pendidikan kepada warga jemaat dengan nyanyian. Melalui
musik yang terjadi dalam sebuah liturgi (ibadah), umat mampu berefleksi dalam
kehidupannya. Untuk menunjang pemahaman akan fungsi musik gereja maka
4
Wawancara dengan Ibu Pdt . Ruth Betty A. Panjaitan, STh., tanggal 19 Mei 2014 di HKBP
Pasar Melintang Medan.
6
peranan musik menjadi sesuatu yang penting, organisasi musik yang baik tentu
akan dapat membangun jemaat untuk memuliakan Tuhan.
Sejarah musik dalam gereja HKBP tidak terlepas dari peranan para
missionaris yang dulunya datang ke Tanah Batak Toba untuk memberitakan
firman Tuhan. Missionaris mulai memperkenalkan musik kepada orang Batak
dalam penginjilannya dan secara perlahan musik kemudian digunakan dalam
ibadah. Untuk memudahkan proses pembelajaran, missionaris menterjemahkan
himne Lutheran dalam bahasa Batak Toba dan kemudian himne ini diajarkan
dengan diiringi alat musik harmonium.
Perkembangan selanjutnya dalam
penggunaan alat musik adalah pemakaian trompet dalam mengiringi ibadah
dikarenakan jumlah jemaat yang semakin bertambah sehingga suara harmonium
tidak mampu mengimbangi suara jemaat.
Perkembangan musik dalam gereja HKBP (himne, koor dan alat musik)
telah mengalami perubahan disebabkan oleh berbagai hal seperti perkembangan
teknologi dan informasi serta variasi musik ibadah dalam gereja-gereja sekitar.
Menurut Carol R. Ember bahwa suatu kebudayaan tidaklah pernah bersifat statis,
melainkan selalu berubah. Hal ini berhubungan dengan waktu, bergantinya
generasi, serta perubahan dan kemajuan tingkat pengetahuan masyarakat.
Perubahan musik yang terjadi di gereja HKBP dapat dilihat mulai dari
adaptasi himne Lutheran, penggunaan lagu pop rohani dalam ibadah dan
penggunaan variasi bentuk musik untuk mengiringi nyanyian. Perubahan ini tentu
akan dilandasi oleh pertimbangan-pertimbangan sehingga hal itu dapat terjadi dan
diterima oleh warga gereja HKBP.
7
Perubahan dalam variasi mengiringi nyanyian jemaat yang bisa dikatakan
sangat mendasar adalah dengan lahirnya Music Box Gereja (MBG) sekitar tahun
2010. Kalau sebelumnya perubahan format iringan musik masih tetap dimainkan
secara individu dan kelompok, akan tetapi MBG dimainkan dengan perangkat
komputer. MBG muncul sebagai pengganti musik pengiring nyanyian ibadah.
Salah satu hal positif dari MBG adalah untuk membantu gereja-gereja HKBP
yang belum memiliki sumber daya manusia dalam bidang musik sehingga MBG
ini setidaknya mampu menggantikan peran tersebut. MBG merupakan
seperangkat laptop yang menggunakan platform Linux serta berfungsi khusus
mengiringi nyanyian/lagu. Konsep MBG hampir sama dengan minus one,
seseorang hanya butuh menekan tombol/fitur saja, maka suara iringan musik akan
terdengar.
Perubahan musik gereja HKBP baik dalam himne, komposisi dan alat
musik akan memberikan dampak kepada jemaat dan juga ibadah. Hal ini menjadi
fokus penelitian penulis untuk melihat bagaimana penggunaan, fungsi dan
perubahan musik dalam gereja HKBP. Oleh karena itu penulis memilih judul
sebagai berikut sebagai bahan penelitian MUSIK DALAM IBADAH GEREJA
HKBP PASAR MELINTANG MEDAN: PENGGUNAAN, FUNGSI DAN
PERUBAHAN.
1.2 Pokok Permasalahan
Dalam penulisan karya ilmiah ini perlu dilakukan pembatasan masalah.
Masalah dalam penelitian ini dibuat dengan jelas untuk mempermudah penulisan
dalam menyelesaikan masalah.
8
Adapun yang menjadi pokok masalah yang diteliti adalah:
1.
Bagaimana penggunaan musik dalam tata ibadah gereja HKBP?
2.
Bagaimana fungsi musik dalam gereja HKBP?
3.
Bagaimana perubahan konsep musik gereja HKBP?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui bagaimana penggunaan musik dalam tata ibadah gereja
HKBP
2. Untuk mengetahui bagaimana fungsi musik dalam gereja HKBP
3. Untuk mengetahui bagaimana perubahan musik gereja HKBP.
1.4 Manfaat penelitian
Dalam penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat dan dapat
menjadi kontribusi bagi para pembaca dan khususnya warga gereja dan otoritas
HKBP dalam menentukan instrumen pengiring ibadah.
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Memberikan pemahaman tentang penggunaan musik dalam ibadah gereja
HKBP.
2. Memberikan pemahaman tentang fungsi musik bagi warga gereja HKBP.
3.
Memberikan pemahaman tentang perubahan musik di gereja HKBP.
9
1.5 Tinjauan Pustaka
Sebelum melakukan penelitian ini, penulis terlebih dahulu melakukan
studi kepustakaan, yaitu mencari literatur-literatur yang berhubungan dengan
objek penelitian ini. Tujuan dari studi kepustakaan ini dibagi dalam dua bagian,
yaitu; (1) untuk mendapatkan dasar-dasar teori dan menelaah literatur-literatur
tersebut dengan penelitian dalam lingkup pengkajian dan penciptaan seni secara
umum dan pembahasan tentang musik pengiring ibadah di gereja HKBP; dan (2)
untuk menghindari penelitian yang tumpang tindih.
Sepanjang pengetahuan penulis dari hasil penelitian pustaka yang
dilakukan
menunjukan bahwa hingga saat ini belum ada penelitian mengenai
bagaimana Musik Dalam Ibadah Gereja HKBP Pasar Melintang Medan:
Penggunaan, Fungsi, dan Perubahan.
Untuk mendukung pengetahuan dan pemahaman penulis dalam membahas
permasalahan yang ada, maka penulis mempergunakan beberapa buku acuan,
antara lain :
1. John F. Wilson, 1978. Introduction to Church Music. Moody Press-Chicago.
Buku ini digunakan penulis untuk mendapatkan penjelasan terkait apa yang
dimaksud dengan musik gereja.
2. DR. Pdt. J.R. Hutauruk, 1993. Kemandirian Gereja. BPK. Gunung Mulia.
Jakarta mengatakan bahwa Buku Ende (BE) merupakan terjemahan nyanyiannyanyian rohani dari Eropa, antara lain: dari Belanda dan Jerman. Dalam
partitur nyanyian-nyanyian tersebut memuat beberapa aturan musik yang
10
harus dipedomani dalam hal penyajiannya supaya memberikan hasil yang
baik.
3. Eskew, Harry & Hugh T. Mc Elrath, 1995. Sing With Understanding. Church
Street Press: Nashville, mengatakan: kriteria menjadi nyanyian yang
berdasarkan tahun gerejawi adalah disusun berdasarkan syair nyanyian
tersebut. Nyanyian berdasarkan Kristen lebih ditekankan pada refleksi seharihari.
4. Michel dalam Abineno (1989:9) mengatakan bahwa jemaat adalah anggotaanggota dari satu tubuh (I Kor. 12:12). Anggota-anggota yang takluk kepada
Tuhan.
Menurut Ronal W. Leigh (1996:185) mengatakan bahwa jemaat
adalah gereja yang terdiri dari orang-orang percaya yang diselamatkan, orangorang yang disebarkan untuk menginjili yang tersesat, orang-orang yang
dikumpulkan untuk membangun, dan orang-orang yang dikelompokkan
kembali dalam berbagai lembaga untuk melaksanakan pelayanan-pelayanan
khusus.
5. Boho Pardede dalam tesisnya yang berjudul Koor Di Huria Kristen Batak
Protestan (HKBP): Analisis Sejarah, Fungsi dan Struktur Musik mengatakan
bahwa koor di HKBP lahir seiring dengan masuknya kekristenan di Tanah
Batak. Koor di HKBP merupakan cikal bakal bertambahnya nyayian-nyayian
jemaat. Hal ini dibuktikan dengan fakta sejarah bahwa nyayian gereja di
HKBP pada awalnya merupakan koor-koor yang dibawakan oleh kelompok
Paduan suara baik yang dibawa oleh para missionaris maupun hasil karya dari
jemaat lokal. Koor berperan penting dalam ibadah karena fungsi-fungsi yang
11
melekat pada koor itu sendiri; fungsi-fungsi tersebut adalah: fungsi
pengungkapan emosional, fungsi penghayatan estetis, fungsi hiburan, fungsi
komunikasi, fungsi perlambangan, fungsi reaksi jasmani, fungsi yang
berkaitan dengan norma-norma sosial, fungsi kesinambungan budaya dan
fungsi pengintegrasian masyarakat.
6. Monang Sianturi dalam tesisnya yang berjudul Ensembel Musik Tiup Pada
Upacara Adat Batak Toba: Analisis Perubahan Struktur Penyajian dan
Repertoar Musik
mengatakan bahwa Interaksi agama baru dan nilai-nilai
Barat yang masuk ke tanah Batak mengubah pokok-pokok kebudayaan.
Identifikasi dengan nilai-nilai kemodern-an, kemajuan, pendidikan dan
kemakmuran sering diekspresikan kepada apa yang dianggap modern.
Gondang Sabangunan dan Uning-uningan yang digunakan sebagai alat
komunikasi dengan roh-roh nenek moyang dan sebagai pengiring seperti
upacara perkawinan, upacara kematian, pesta tugu dan acara lainnya. Dalam
tingkatan kebudayaan, penggunaan musik brass band menggeser peranan
gondang sabangunan dengan menggantikan struktur dan repertoar musik
dengan bentuk kaitan antara dua budaya yang berbeda, yaitu agama dan musik
dengan pengtrankulturasian dua budaya (Batak dan Barat). Perubahan terjadi
ketika brass band yang semula kedudukannya mengiringi nyanyian ibadah di
gereja, akhirnya sudah digunakan dalam upacara adat tradisi Batak Toba. Dari
tulisan ini, dapat dipahami bahwa perubahan konsep musik dalam masyarakat
Batak Toba telah terjadi dan hal ini dapat diterima oleh masyarakat
pendukungnya.
12
1.6 Konsep
Menurut Mely G. Tan (1990:21), konsep merupakan defenisi dari apa
yang kita amati, konsep menentukan antara variabel-variabel mana yang kita ingin
menentukan hubungan empiris. Beberapa konsep yang berhubungan topik
penelitian ini adalah memberikan batasan dari “penggunaan’ dan “fungsi” dalam
musik, ia mengatakan bahwa “penggunaan” menunjukkan situasi musik yang
dipakai dalam kegiatan manusia, sedangkan “fungsi” berkaitan dengan alasan
mengapa si pemakai melakukannya. Dengan demikian “penggunaan” lebih
berkaitan dengan sisi praktis, sedangkan “fungsi” lebih berkaitan dengan sisi
integrasi dan konsistensi internal budaya. “Perubahan” merupakan sesuatu yang
terjadi setelah jangka waktu tertentu. Konsep dasar perubahan sosial mencakup
tiga gagasan: (1) perbedaan; (2) pada waktu berbeda; (3) di antara keadaan sistem
sosial yang sama.
1.6.1 Gereja
Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus. Ia
lahir seiring kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus di dunia. Karena itu, apa
yang disebut gereja perdana adalah persekutuan para murid Yesus dan ditambah
dengan beberapa orang lain yang telah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan
menjadi saksi atas kebangkitanNya. Gereja lahir sekitar pada abad pertama biasa
disebut sebagai gereja pada zaman rasul-rasul (apostolic age) kira-kira tahun 30100 M.
13
Gereja perdana ini memiliki semangat persekutuan, pelayanan, dan
kesaksian yang kuat, sehingga iman Kristen mulai tersebar dari Yerusalem,
seluruh daerah Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung dunia (Kis. 1:8). Salah
seorang murid Yesus yang giat dalam pekabaran Injil ini adalah rasul Paulus. Ia
mengabarkan Injil hampir di seluruh wilayah kekuasaan Romawi pada abad
pertama, baik di kalangan orang-orang Yahudi diaspora maupun orang-orang
bukan Yahudi. Selain rasul Paulus, para murid yang lain juga aktif mengabarkan
Injil ke seluruh dunia.
Kata "gereja" atau "jemaat" dalam bahasa Yunani adalah ekklesia; dari
kata kaleo, artinya "aku memanggil/memerintahkan". Secara umum ekklesia
diartikan sebagai perkumpulan orang-orang. Tetapi dalam konteks Perjanjian Baru
kata ini mengandung arti khusus, yaitu pertemuan orang-orang Kristen sebagai
jemaat untuk menyembah kepada Kristus.
Alasan mendasar bagi orang kristen beribadah di gereja adalah sebagai
berikut; (1) Perintah Allah. Perintah ke 4 dari sepuluh perintah Allah mengatakan
“Ingatlah dan kuduskanlah Hari Sabat” (Keluaran 20:8). Hal ini mengandung
makna bahwa manusia wajib meluangkan waktu 1 hari dari seminggu untuk
beribadah kepada Tuhan. Ibadah yang dimaksudkan bukan hanya yang bersifat
pribadi atau keluarga, namun juga ibadah yang bersifat publik atau persekutuan
dengan saudara seiman di gereja. “Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan,
tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, yakni hari
pertemuan kudus; janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah sabat bagi
Tuhan di segala tempat kediamanMu.” (Imamat 23:3). Hal ini masih dilakukan
14
terus di jaman Yesus (Luk 4:16) dan pada jaman gereja mula-mula (Kisah 20:7);
(2) Persekutuan dengan saudara seiman. Umat Kristen dipanggil keluar dari
sistem dunia yang rusak dan bobrok ini untuk membentuk kumpulan jemaat yang
kudus yang kemudian menjadi garam dan terang di tengah dunia. Memang betul
bahwa kata gereja pada mulanya tidak mengacu kepada gedung gereja, namun
bukan berarti tidak ada persekutuan, karena kata gereja justru mengacu kepada
persekutuan orang percaya. Persekutuan orang percaya sangat penting karena
menjadi tempat saling menguatkan, bersama-sama berjuang untuk hidup kudus,
saling memperhatikan dan saling melayani satu dengan yang lain (I Tes 5:11, Ibr
10:24-25);
(3)
Tempat
kita
mengikuti perjamuan
kudus
dan
baptisan.
Dua Sakramen yang Tuhan sudah perintahkan untuk kita lakukan adalah
perjamuan kudus dan baptis. Pada Perjamuan Kudus kita kembali mengingat
kasih Yesus yang mati disalib menggantikan dosa kita. Yesus hadir secara rohani
dalam roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus. Juga dalam Sakramen Baptis,
umat Kristen merayakan pernyataan dan pengakuan kepada publik (jemaat) dari
orang-orang yang terhisap dalam perjanjian kekal, yaitu orang-orang yang baru
bergabung dalam kumpulan jemaat. Perjamuan kudus dan Baptisan hanya dapat
dilakukan dalam pertemuan jemaat. Tidak ke gereja berarti tidak menaati Firman
Tuhan dalam hal ini; (4) Mendengarkan Firman Tuhan. Dalam ibadah di gereja,
pusat penyembahan jemaat berada pada mendengar pemberitaan Firman Tuhan.
Dalam pemeliharaan dan kedaulatan Allah, hamba Tuhan yang menyampaikan
Firman dapat dipakai untuk menegur, memberi nasehat atau malah pengertian
yang justru melepaskan kita dari kegalauan yang kita alami; dan (5)
15
Untuk melayani. Setiap orang diberi talenta, karunia Roh Kudus yang berbedabeda antara seorang dengan yang lainnya. Karunia-karunia itu diberikan Tuhan
untuk saling membangun dalam kehidupan berjemaat (1 Kor 14:26). Orang
Kristen dipanggil bukan untuk menghidupi imannya seorang diri, tetapi untuk
menjadi berkat bagi sesama. Tuhan meminta kita sebagai orang Kristen untuk
saling memperhatikan dan saling melayani seorang akan yang lain.
1.6.2 Musik gereja5
Musik gereja disusun atas beberapa komponen, walaupun bagi orangorang yang berkecimpung di dalamnya tidak akan berkata apa-apa terhadap orang
yang meneliti bagaimana musik gereja itu, serta membuat konsep apa itu musik
gereja. Musik gereja akan memiliki beragam defenisi, sangat tergantung dari
subyek yang menilainya. Bagi seorang musisi gereja, musik gereja merupakan
sebuah program
peran serta dalam paduan suara dan kelompok musik; sebuah saluran bagi
ungkapan sendiri; sebagai penampilan tunggal; pemimpin dan pengiring; sebuah
arti menyeluruh dimana ia mampu menuliskan talenta musiknya dan berlatih
menerapkan dengan baik; sering sebagai sumber penghasilan dan lebih penting
lagi sebagai bukti melayani Tuhannya dan gerejanya.
Agar lebih memahami seluruh fungsi dari musik gereja, seseorang harus
mempelajari cara menghargai satu sama lain dari segala aspek dan melihat hasil
keseluruhan dari lembaga musik gereja kepada setiap individu di gereja lokal, di
5
John F Wilson. 1965. An Introduction to Church Music. Moody Press. Chicago, hal.7
16
luar lembaga, bahkan sampai lintas luar wilayah. Sebelum mempelajari perbedaan
karakteristik dari musik gereja, pertama kita harus mengakui fakta dari musik itu
sendiri. Oleh karena fungsinya sama di segala cara sama seperti musik-musik
yang lain untuk beberapa poin tertentu, yakni mendapatkan hasil yang sama.
Musik adalah hal yang pasti diantara sains dan seni. Keduanya melibatkan
komposisi, pertunjukan, dan banyak faktor pendegar akan musik. Meskipun
faktanya sangat sulit untuk memutuskan hanya berdasarkan dimana yang satu
akan berakhir dan yang lainnya akan dimulai. Sangat penting untuk
mempertimbangkan aspek penambahan untuk keduanya.
1.6.3 Musik dalam ibadah
Musik memegang peranan yang sangat penting dalam masyarakat jaman
sekarang, karena musik mempunyai kegunaan dan fungsi di dalam kehidupan
manusia. Musik dipakai sebagai alat untuk menyampaikan arti, identitas diri dari
masyarakat itu sendiri. Konsep musik dalam ibadah harus sesuai dengan Firman
Allah dan segala sesuatu yang mendukung itu haruslah sesuai dengan alkitabiah.
Musik merupakan sebuah kebutuhan bagi jemaat yang harus dipenuhi oleh
gereja dalam setiap ibadah. Dengan penyajian musik dalam ibadah berarti gereja
telah memenuhi kebutuhan jemaat. Ibadah bertujuan sebagai wadah jemaat
berkomunikasi dengan Sang Khalik, fakta sosialnya tidak terlepas dari musik
sebagai media doa yang dipanjatkan.
berarti bermanfaat bagi sesuatu,
Musik dalam ibadah secara fungsional
dalam sosiologi berkaitan dengan tindakan
manusia, yang selalu merupakan tindakan yang bertujuan tertentu, tanpa
17
mempersoalkan apakah tujuan itu disadari atau tidak. Sehingga jelas, bahwa
musik dalam ibadah dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu yakni berkomunikasi
dengan Allah, yang dilakukan secara sadar maupun tidak.6
1.6.4 Musik tiup
Tiup adalah kesatuan musik yang terbuat dari bahan logam. Menurut teori
Curt Sachs dalam Wellsprings of Music, pengelompokan musik tentang konsep
sexes dalam klasifikasi alat atau penjenisan musik, musik tiup brass termasuk
dalam kelompok aerofon yakni sumber bunyi berasal dari udara (1962:97-98),
yang dimaksud dengan klasifikasi ini adalah sumber getar berasal dari bunyi yang
dihasilkan oleh udara. Awalnya, bahan untuk instrumen logam ini terbuat dari
kuningan dan sering dinamai brass, dapat menghasilkan bunyi musikal wind blow
(cara ditiup). Kelompok instrumen ini disebut dengan brasses (kuningan) yang
berasal dari tahun 1820-an di tempat asalnya di Inggris.
Sadie dalam The New Grove Dictionary Of Music mengatakan bahwa
musik tiup adalah suatu bentuk musik tiup (wind band) yang keseluruhannya
terdiri dari instrumen logam kuningan yang berasal dari tahun 1820-an (1980:
209). Musik tiup digunakan oleh resimen cavalery (pasukan berkuda) yang
dipakai untuk pemberi semangat dalam berperang dan menjadi sangat terkenal
teristimewa di Inggris dan Amerika Serikat.
Di Inggris musik tiup menjadi tradisi militer bersama-sama dengan musik
tiup kayu; di Amerika Serikat kebanyakan ensembel (musik) memakai bahan
6
Bruce Leafblead, 1999. Music and Worship (Syllabus). Southwestern Baptist
Theological Seminary, hal. 5.
18
kuningan dan kayu pada tahun 1800-an. Tradisi musik tiup yang pada awalnya
muncul di benua Eropa dan Amerika, dewasa ini menjadi tradisi kebudayaan
musik bagi bangsa lain. Tradisi tersebut dapat dikatakan sebagai suatu hasil
kontak kebudayaan Eropa dengan kebudayaan lain melalui daerah-daerah koloni
jajahan mereka dan mempunyai hubungan dengan ekspansi bangsa Eropa ke
berbagai penjuru di dunia melalui bentuk
infiltrasi kebudayaan, penyebaran
agama dan perdagangan antar benua.
Soeharto (1992:17) lebih detail menyebutkan tentang musik brass yaitu:
Alat musik tiup logam. Bukan hanya dibuat dari logam, melainkan karena
bunyinya yang kuat seperti bunyi logam, misalnya: trumpet, trombone, horn dan
tuba. Sedangkan saxofon dan flute tidak termasuk di sini, walaupun seluruh
bagiannya terbuat dari logam tetapi dibedakan dari reed sebagai sumber getar
yang membedakannya.
Pengaruh musik luar, dalam sebutan musik Barat yang datang dalam
komunitas masyarakat Batak, diawali dari aktivitas keagamaan oleh gereja
pertama di tanah Batak. Missionaris membawa
instrumen musik aerophone
trumpet selain harmonium (organ pipa yang disandang) yang digunakan di gereja
dalam mengiringi nyanyian-nyanyian kebaktian.
1.6.5 Defenisi musik koor
Menurut H. A. Pandopo7 istilah koor ini sebenarnya berasal dari kata
khorusi dalam bahasa Latin atau khoros dalam bahasa Yunani, yang berarti dua
7
H.A.Pandopo. 1984. Menggubah Nyayian Jemaat: Penuntun Untuk Pengadaan Nyayian
Gereja. BPK Gunung Mulia, hal, 21.
19
kelompok penyanyi atau penari. Istilah ini kemudian diambil alih dan digunakan
di dalam gereja untuk menyebutkan dua kelompok penyanyi yang bernyanyi
secara berbalas-balasan dalam ibadah jemaat. Lambat laun, kelompok penyanyi
itu sendiri disebut menurut istilah tersebut: di Belanda sebagai koor/ zangkoor dan
di Inggris sebagai choir. Dewasa ini, istilah “koor” masih digunakan juga dalam
beberapa literatur tentang musik dan nyanyian gereja.
Dengan demikian, istilah paduan suara di dalam bahasa Indonesia cukup
tepat, sebab istilah tersebut lebih menekankan sifat dan karakter kelompok
penyanyi ini. Mereka bukan kelompok penyanyi yang di dalam gereja, harus
bernyanyi silih-berganti dengan jemaat sebagaimana penampilan klasiknya,
melainkan juga menekankan perpaduan yang harmonis baik antara suara masingmasing penyanyi yang bernyanyi bersama-sama, serta keseimbangan yang serasi
antara masing-masing kategori/ tipe suara penyanyi (Sopran, Alto, Tenor dan
Bas).
Istilah paduan suara merujuk kepada suatu kelompok penyanyi yang
bernyanyi secara bersama-sama. Dari pengertian ini seluruh jemaat yang
bernyanyi pun dapat dikelompokkan sebagai suatu paduan suara. Akan tetapi, di
dalam perkembangan seni suara di Indonesia, istilah paduan suara telah digunakan
secara khusus untuk menyebutkan suatu kelompok penyanyi (biduan) yang
bernyanyi dalam dua jenis suara (sopran dan alto) atau lebih (sopran, alto, tenor
dan bas). Binsar Sitompul8, salah seorang ahli musik Indonesia, memberikan
batasan bagi istilah paduan suara sebagai suatu himpunan sejumlah penyanyi yang
8
Binsar Sitompul. 1986. Paduan Suara dan Pemimpinnya. BPK Gunung Mulia, hal., 21.
20
dikelompokkan menurut jenis suaranya. Jenis suara yang ia maksudkan di sini
adalah jenis suara yang dikenal dan diklasifikasikan dalam ilmu seni suara, yakni
sopran/ mezzo-sopran (jenis suara anak-anak atau jenis suara tinggi dari kaum
perempuan) dan alto (jenis suara yang rendah/ berat dari kaum perempuan), tenor
(jenis suara yang tinggi dari kaum lelaki) dan bas/ bariton (jenis suara yang
rendah/ berat dari laki-laki).
Paduan suara terdapat secara umum di dalam masyarakat umum sebagai
suatu bentuk seni suara yang klasik. Sub bab ini secara khusus membahas paduan
suara yang berkembang di dalam kehidupan gereja sebagai kelompok biduan
dalam rangka peribadahan atau kesaksian gereja ke luar kepada masyarakat umum
kata “gerejawi” menyiratkan eksistensi paduan suara tersebut sebagai suatu
kelompok penyanyi yang berciri kegerejaan. Artinya paduan suara itu memiliki
karakter religius dalam tampilan dan misinya. Dengan kata lain, sifat gerejawi itu
mengharuskan Paduan Suara Gerejawi tunduk pada kriteria-kriteria teologis
(Liturgis).
Sebenarnya dari segi ilmu seni suara, Paduan Suara Gerejawi (PSG) tidak
berbeda dengan paduan suara lainnya di dalam masyarakat. Namun demikian,
yang membuatnya berbeda adalah kekhususannya sebagai paduan suara yang
berciri kristiani atau gerejawi tersebut. Dalam hubungan ini, dapat dikatakan
bahwa “tempat kehidupan” (setting of life) dari PSG adalah di dalam kehidupan
gereja dan tanpa lingkungan kehidupan gereja, suatu PSG tidak dapat hidup. Ia
dibutuhkan di dalam gereja sebagai salah satu kelompok biduan pendukung
ibadah. Nyanyian yang dibawakannya berhubungan erat dengan peribadahan
21
Kristen atau dengan seluruh ekspresi iman Kristen di dalam gereja itu sendiri
maupun kepada masyarakat luas.
Pada masa-masa tahun 1960-an, banyak orang lebih suka menggunakan
istilah koor atau zangkoor, yang mungkin dipengaruhi oleh kata pinjaman dari
bahasa Belanda, karena pada masa itu istilah “paduan suara” belum populer. Di
samping itu pada masa penjajahan dahulu, istilah “koor” juga digunakan di dalam
partitur nyanyian gereja untuk menandai bagian nyanyian yang harus dinyanyikan
secara bersama-sama oleh seluruh jemaat atau yang harus diulangi oleh para
penyanyi; jadi sama seperti fungsi refrein dalam partitur nyanyian sekarang ini9.
1.6.6 Konsep music box gereja
Music Box Gereja adalah penemuan pertama di dunia yang dikembangkan
oleh tim musik gereja HKBP untuk memenuhi kebutuhan pelayanan musik liturgi
/ gereja dalam setiap aktifitas pujian / bernyanyi memuji Tuhan baik dalam acara
kebaktian umum, pernikahan, penghiburan, kebaktian rumah tangga, ataupun
kebaktian kategorial gereja. Obsesi tim musik gereja / liturgi adalah
membangkitkan semangat pujian dalam setiap ibadah dengan pelayanan musik
yang terbaik untuk Tuhan kita Yesus Kristus. Dengan demikian MBG menjadi
solusi atas kendala pelayanan musik pada setiap kegiatan kebaktian gereja anda.
Music Box Gereja adalah satu perangkat laptop yang menggunakan platform
LINUX serta berfungsi khusus mengiringi nyanyian / lagu. Program ini dirancang
dan disusun secara profesional oleh Tim IT MBG bekerja sama dengan para
musisi yang khusus memahami musik liturgi dan profesional yang dipimpin oleh
9
Ibid.
22
St. Drs. Nurdin Doloksaribu, MSi untuk melakukan rekaman lagu-lagu gereja
sesuai dengan partitur yang resmi baik yang dikeluarkan Yamuger atau Terbitan
Lembaga Gereja lainnya. Iringan musik Box Gereja disesuaikan dengan karakter
lagu dan tema lirik sehingga ada berbagai type iringan musik yang telah kami buat
dalam MBG ini yaitu : Orchestra Classic, Orchestra Populer, iringan full band,
etnis (tradisional).
Lembaga gereja yang pertama kali menggunakan MBG ini adalah HKBP,
kemudian Tim MBG melakukan perluasan pelayanan ke seluruh denominasi
gereja di Indonesia (GKI, GKPI, GKPS, GBKP, Gereja Kharismatik, GKJ, Gereja
Pasundan, Toraja, GPIB, Gereja Indonesia bagian Timur dalam hal ini gerejagereja di Irian Jaya). MBG ini telah disosialisasikan di YAMUGER Jakarta,
seluruh pendeta gereja HKBP dan di berbagai gereja denominasi Indonesia.
Tim MBG dipimpin oleh bapak St. Drs Nurdin Doloksaribu, MSi dibantu
oleh para musisi Hendro Lumbantoruan (musisi / guru musik dan pengajar koor di
HKBP Perumnas II Bekasi), Junaedi Baroes (Guru musik / musisi dan pengajar
koor di GBKP, dan sedang menyelesaikan study musik S1 di Institut Kesenian
Jakarta dan juga seorang musisi ethnis khusus Karo), Pendeta JAU Doloksaribu,
M.Min (beliau adalah juara II tingkat dunia pengarang lagu liturgi yang
diselenggarakan di Philipine tahun 2010, seorang musisi gerejani yang sangat
handal), Resman Yohanes (beliau seorang musisi trumpet dan lulusan sastra
Inggris Universitas Indonesia) dibantu para musisi ethnis yang sifatnya part-time
dari GKPS, gereja Toraja, GKPI, gereja Pasundan dan GKJ, khusus pengeditan
23
teks / lirik lagu berbahasa Jawa kami mendatangkan bapak pendeta Riagung Putra
Nugraha, STH dari gereja GKJ Mijen Klasis Purwodadi.
1.6.7 Jemaat
Istilah ‘Jemaat’
Yunani).
sebenarnya berasal dari kata ekklesia (dalam bahasa
Kata ekklesia kemudian diterjemahkan menjadi sidang jemaat Allah.
Kata ekklesia berarti “orang-orang yang dipanggil keluar.” Kata ekklesia tidak
pernah berarti bangunan atau aliran.
Sidang jemaat adalah suatu himpunan istimewa yang terdiri dari orangorang yang mendengar dan menurut panggilan Allah. Mereka bertobat dari dosa,
percaya kepada Yesus Kristus, dilahirkan kembali oleh Roh Suci, dan sekarang
sebagai milik Allah mereka hidup dalam kesucian. Tanah air mereka ada di sorga
(Roma 1:6,7; Efesus 5:25-28; Filipi 3:20).
Arti ‘Jemaat HKBP’ dalam tulisan ini adalah persekutuan orang-orang
percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
Berdasarkan pengertian ‘Jemaat HKBP’
ini maka semua unsur yang terdapat dalam lingkup gereja HKBP adalah termasuk
dalam istilah ‘Jemaat HKBP’ yang meliputi: Pendeta Resort, Guru Huria, Bible
Vrouw, Sintua (penetua gereja), tim musik, peserta koor dalam gereja dan ruas ni
huria HKBP Helvetia (jemaat gereja).
24
1.6.8 Ibadah
Ibadah mempunyai pengertian yang sama dengan istilah ‘Kebaktian’.
Menurut Abineno10: “Ibadah adalah suatu pertemuan umat Allah dan jemaat
dalam bentuk dialog, dimana Allah berfirman dan manusia mendengar, Allah
memberi dan jemaat menerima serta mengucap syukur, Allah mengampuni dan
jemaat memuji namaNya.”
A.A. Sitompul
mengatakan “Ibadah adalah
persekutuan dengan Allah dan sesama manusia dalam menjawab kasih Allah
dengan mengucap syukur dan memuji serta mengingat karya Tuhan.”
Dari pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa ibadah adalah adanya
suatu pertemuan umat Allah dengan manusia dalam bentuk dialog, nyanyian,
pembacaan firman Tuhan dan juga doa.
1.6.9 Syair lagu
Di dalam kamus musik11 M. Soeharto mengemukakan syair adalah teks,
atau kata–kata lagu, dengan kata lain suatu komposisis puisi yang sering
dilakukan oleh pencipta musik. Tanpa syair maka tidak dapat mengetahui makna
maupun tujuan dari sebuah komposisi musik, karena syair merupakan inti dari
sebuah lagu. Menurut Badudu-Zain12, syair atau teks adalah kata-kata yang asli
dibuat oleh pencipta lagu.
Sigmund Freud dalam Migdolf13 mengemukakan
bahwa syair lagu adalah kata-kata yang keluar dari hati dan keluar dari mulut serta
10
Abineno, 1995. hal., 5.
M. Soeharto. 1992. Kamus Musik. Gramadia Widia Sarana Indonesia. hal., 131
12
Zain Badudu. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Pustaka Sinar Harapan. hal,.
11
1455.
13
Migdolf, 2002 hal., 52
25
diurapi oleh lidah. Syair adalah kata-kata yang terdapat dalam sebuah komposisi
musik melalui syair maka dapat diketahui makna dan tujuan dari sebuah lagu.
1.7 Teori
Menurut Kerlinger (1973), teori adalah sebuah satu konsep atau construct
yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, sebagai
landasan cara berfikir bagi penulis dalam membahas permasalahan penelitian ini,
diperlukan teori-teori yang berhubungan dengan disiplin ilmu etnomusikologi
untuk untuk menunjang data-data atau informasi yang diharapkan bagi penelitian.
1.7.1 Teori fungsionalisme
Malinowski
mengajukan sebuah orientasi teori yang dinamakan
fungsionalisme, yang beranggapan atau berasumsi bahwa semua unsur
kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat di mana unsur itu terdapat. Dengan kata
lain, pandangan fungsionalisme terhadap kebudayaan mempertahankan bahwa
setiap pola kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan dan sikap
yang merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat, memenuhi
beberapa fungsi mendasar dalam kebudayaan yang bersangkutan. Menurut
Malinowski, fungsi dari satu unsur budaya adalah kemampuannya untuk
memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari
kebutuhan dasar yaitu kebutuhan sekunder dari para warga suatu masyarakat.
Kebutuhan pokok adalah seperti makanan, reproduksi (melahirkan keturunan),
merasa enak badan (bodily comfort), keamanan, kesantaian, gerak dan
26
pertumbuhan. Beberapa aspek dari kebudayaan memenuhi kebutuhan-kebutuhan
dasar itu. Dalam pemenuhan kebutuhan dasar itu, muncul kebutuhan jenis kedua
(derived needs), kebutuhan sekunder yang harus juga dipenuhi oleh kebudayaan.
Pemikiran
Malinowski
mengenai
syarat-syarat
metode
geografi
berintegrasi secara fungsional yang dikembangkannya dalam kuliah-kuliahnya
tentang metode-metode penelitian lapangan dalam masa penulisannya ketiga buku
etnografi mengenai kebudayaan Trobriand selanjutnya, menyebabkan bahwa
konsepnya mengenai fungsi sosial dari adat, tingkah laku manusia, dan pranatapranata sosial menjadi mantap juga. Dalam hal itu ia membedakan antara fungsi
sosial dalam tiga tingkat abstraksi (Koentjaraningrat, 1987:167), yaitu:
1. Fungsi sosial dari suatu adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan pada
tingkat abstraksi pertama mengenai pengaruh atau efeknya, terhadap adat,
tingkah laku manusia dan pranata sosial yang lain dalam masyarakat;
2. Fungsi sosial dari suatu adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan pada
tingkat abstraksi kedua mengenai pengaruh atau efeknya, terhadap
kebutuhan suatu adat atau pranata lain untuk mencapai maksudnya, seperti
yang dikonsepsikan oleh warga masyarakat yang bersangkutan;
3. Fungsi sosial dari suatu adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan pada
tingkat abstraksi ketiga mengenai pengaruh atau efeknya, terhadap
kebutuhan mutlak untuk berlangsungnya secara integrasi dari suatu sistem
sosial yang tertentu.
Contohnya: unsur kebudayaan yang memenuhi kebutuhan akan makanan
menimbulkan kebutuhuan sekunder yaitu kebutuhan untuk kerja sama dalam
27
pengumpulan makanan atau untuk produksi; untuk ini masyarakat mengadakan
bentuk-bentuk organisasi politik dan pengawasan sosial yang manjamin
kelangsungan kewajiban kerja sama tersebut di atas. Jadi menurut pandangan
Malinowski tentang kebudayaan, semua unsur kebudayaan akhirnya dapat
dipandang sebagai hal yang memenuhi kebutuhan dasar para warga masyarakat.
Berkenaan dengan penggunaan dan fungsi musik, penulis akan murujuk
pada teori yang ditawarkan Allan P. Merriam (1964 : 223-226) dalam bukunya
The Anthropology of Music yaitu: penggunaan (uses) dan fungsi (function)
merupakan salah satu masalah yang terpenting didalam Etnomusikologi.
Penggunaan musik meliputi pemakaian musik dalam konteksnya atau bagaimana
musik itu digunakan, sedangkan fungsi musik berkaitan dengan tujuan pemakaian
musik tersebut.
Musik dipergunakan dalam situasi tertentu dan menjadi bagiannya. Ketika
saya mengkaitkan tentang penggunaan musik dalam ibadah, maka akan menunjuk
kepada kebiasaan (the ways) musik dipergunakan dalam lingkungan gereja,
sebagai praktek yang biasa dilakukan, atau sebagai bagian dari pelaksanaan adat
istiadat (ibadah), baik ditinjau dari aktivitas itu sendiri maupun kaitannya dengan
aktivitas-aktivitas lain.
Di dalam buku Alan P. Merriam juga disebutkan bahwa terdapat sepuluh
fungsi musik dalam ilmu etnomusikologi yaitu (1) Fungsi pengungkapan
emosional; (2) Fungsi pengungkapan estetika; (3) Fungsi hiburan; (4) Fungsi
komunikasi; (5) Fungsi perlambangan;(6) Fungsi reaksi jasmani; (7) Fungsi yang
berkaitan dengan norma sosial; (8) Fungsi pengesahan lembaga sosial dan upacara
28
keagamaan;
(9)
Fungsi
kesinambungan
kebudayaan;
dan
(10)
Fungsi
pengintregasian masyarakat. Toeri ini akan penulis gunakan untuk membahas
penggunaan dan fungsi musik gereja di HKBP Pasar Melintang.
1.7.2 Teori perubahan
Menurut Carol R. Ember (1987:32), suatu kebudayaan tidaklah pernah
bersifat statis, melainkan selalu berubah. Hal ini berhubungan dengan waktu,
bergantinya generasi, serta perubahan dan kemajuan tingkat pengetahuan
masyarakat. Merriam (1964:172) mengemukakan bahwa perubahan dapat berasal
dari dalam lingkungan kebudayaan atau internal, dan perubahan juga dapat berasal
dari luar kebudayaan atau eksternal. Perubahan secara internal merupakan
perubahan yang timbul dari dalam dan dilakukan oleh pelaku-pelaku kebudayaan
itu sendiri dan disebut juga inovasi. Sedangkan perubahan eksternal merupakan
perubahan yang timbul akibat pengaruh dari luar lingkup kebudayaan tersebut.
Selain itu, teori perubahan yang digunakan dalam penelitian ini juga
bertitik tolak dari persepektif materialistis. Marx (dalam Lauer, 1993:205) secara
ringkas menghimpun mekanisme perubahan dengan ungkapan: “Kincir angin
menimbulkan
masyarakat
feodal;”
“mesin-uap
menimbulkan
masyarakat
kapitalis-industri.” Selanjutnya Velben dan Ogburn yang sangat dipengaruhi oleh
Marx, menekankan pentingnya pengaruh teknologi terhadap perubahan. Velben
menyatakan bahwa pola keyakinan dan perilaku manusia, terutama dibentuk oleh
cara mencari nafkah dan mendapatkan kesejahteraannya, yang selanjutnya disebut
sebagai fungsi teknologi. Ogburn menyatakan bahwa manusia selamanya
29
berupaya memelihara dan dan menyesuaikan diri dengan alam yang senantiasa
diperbaharui oleh teknologi.
Velben dan Ogburn (dalam Lauer,
1993:112-116)
menunjukkan
bagaimana cara perubahan teknologi menimbulkan masalah bagi manusia dalam
empat hal, yaitu (1) teknologi sebagai satu faktor yang sangat mempengaruhi
perubahan. Pandangan ini lebih mencerminkan pandangan Ogburn. Di sisi lain
Velben menganggap teknologi sebagai sebagai pendorong perubahan; (2)
teknologi sebagai kekuatan berpengaruh yang tidak terelakkan terhadap
perubahan; (3) teknologi sebagai “juru selamat”; dan (4) teknologi sebagai anti
agama Kristen.
Keempat pandangan tersebut, walaupun telah memberikan manfaat yang
besar dalam perubahan kebudayaan, telah mendapat kritikan berdasarkan kasuskasus tertentu yang diteliti pada ahli antropologi lainnya. Epstein dalam
penelitiannya di dua desa di India Selatan, menyimpulkan bahwa satu desa yang
telah mengenal sistem irigasi (unsur teknologi) telah meningkatkan kemakmuran,
namun tatanan sosialnya tidak berubah sama
Randall
(dalam Sztompka, 2004: 3) mengatakan,
berbicara tentang
sebuah perubahan, adalah membayangkan sesuatu yang terjadi setelah jangka
waktu tertentu; kita berurusan dengan perbedaan keadaan yang diamati antara
sebelum dan sesudah jangka waktu tertentu. Untuk dapat menyatakan
perbedaannya, ciri-ciri awal unit analisis harus diketahui dengan cermat-meski
terus berubah. Selanjutnya, Sztompka mengatakan bahwa konsep dasar perubahan
30
sosial mencakup tiga gagasan: (1) perbedaan; (2) pada waktu berbeda; (3) di
antara keadaan sistem sosial yang sama.
Perubahan yang terdapat dalam gereja HKBP terkait musik gereja adalah
perubahan dalam hal pola pikir, perubahan dalam penggunaan instrument alat
musik dalam mengiringi ibadah gereja dan perubahan komposisi himne gereja.
1.8 Metode Penelitian
1.8.1 Pendekatan penelitian
Metodologi yang digunakan dalam tulisan ini, adalah hal-hal yang
berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang membidangi pengkajian seni, salah
satunya adalah disiplin etnomusikologi. Hal ini berhubungan dengan penelitian
yang dilakukan di lapangan merupakan ciri khas studi etnografi dalam antroplogi
budaya.
Karena
etnografi
merupakan
pekerjaan
mendeskripsikan
suatu
kebudayaan yang dilakukan secara mendetail. Aktivitas penelitian ini dapat
digunakan untuk memahami pandangan hidup melakukan aktivitas musik dari
sudut pandang masyarakat Batak selaku pemilik kebudayaan ini. Cara yang
dilakuan dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian
kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, baik
berupa tulisan atau pernyataan dari seseorang atau suatu perilaku aktor, maupun
fenomena tertentu yang dapat diamati oleh seorang peneliti. Seperti diungkapkan
Malinowski bahwa tujuan penelitian dengan metode etnografi adalah memahami
sudut
pandang penduduk asli,
hubungannya dengan kehidupan,
mendapatkan pandangannya mengenai dunianya (Malinowski, 1922:25).
untuk
31
Metodologi akan mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan aspekaspek teoritis, konseptual, metode dan teknik penelitian. Gambaran ini sesuai
dengan pendapat Gorys Keraf yang menyebutkan metodologi sebagai kerangka
teoritis yang dipergunakan penulis untuk menganalisa, mengerjakan atau
mengatasi masalah yang dihadapi itu. Kerangka teoritis atau kerangka ilmiah yang
akan diterapkan dalam pelaksanaan tugas itu. Melalui metode-metode yang
digunakan, penerima usul dapat menilai apakah dapat diharapkan hasil yang
memuaskan atau tidak pada tempat dan kondisi tertentu. (Keraf, 1984: 310)
Penelitian adalah suatu kegiatan yang terorganisir atau sistematis guna
memperoleh solusi atau pemecahan terhadap satu atau lebih problema, maka
penelitian ini dilakukan atas 2 (dua) sudut pandang, yakni studi teks dan konteks.
Studi teks tentu behadapan pada kajian struktural, sedang studi kontekstual lebih
dekat pada kajian fungsional. Karena dalam pengkajian ilmu dalam bidang seni
dapat dibagi dalam beberapa cabang seni, salah satunya adalah pertunjukan seni
atau pertunjukan kebudayaan yang didalamnya termasuk seni musik, tari, teater. 14
Fokus dari penelitian ini adalah bagaimana memahami peranan dan fungsi
musik gereja dalam ibadah yang dilakukan serta melihat sejauh apa perubahan
konsep musik gereja HKBP yang telah terjadi dan melihat aspek apa sebenarnya
konsep musik gereja yang masih berlangsung hingga saat ini.
14
Lihat Murgiyanto (1995) dalam Muhammad Takari, et al ”Masyarakat Kesenian di
Indonesia”. Studia Kultura Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
32
1.8.2 Lokasi penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di gereja HKBP Pasar Melintang Medan, akan
tetapi untuk melihat perubahan penggunaan alat musik di gereja HKBP penulis
melakukan observasi di berbagai gereja di Kota Medan seperti Gereja HKBP
Sudirman, Gereja HKBP Simpang Limun dan Gereja HKBP Dame. Gereja HKBP
tersebut di atas setidaknya sudah mewakili bagaimana perubahan konsep musik
gereja yang terjadi saat ini.
Penulis adalah jemaat di Gereja HKBP Pasar Melintang, mulai dari
mahasiswa sudah aktif dalam paduan suara Concordia Universitas HKBP
Nommensen. Dalam perjalanannya, penulis banyak terlibat dalam berbagai
paduan suara dan sudah mengujungi berbagai gereja dalam evangelisasi koor.
Berdasarkan pengamatan penulis, bahwa gereja telah terjadi perubahan dalam
variasi bentuk musik pengiring di gereja-gereja.
1.8.3. Observasi / teknik pengumpulan data
Observasi atau pengamatan sebagai suatu teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini mengacu kepada Harsja W. Bachtiar dalam Koentjaraningrat (1991:
108) mengatakan bahwa usaha pengamatan atau observasi yang cermat, dapat
dianggap merupakan salah satu cara penelitian ilmiah yang paling sesuai bagi para
ilmuan dalam bidang ilmu-ilmu sosial di negara-negara yang belum dapat
mengembangkan prasarana penelitian yang memerlukan biaya amat banyak.
Pengumpulan bahan keterangan mengenai kenyataan yang hendak dipelajari
33
dengan menggunakan cara pengamatan, dapat diselenggarakan oleh seorang
peneliti atau kelompok peneliti.
Secara kebetulan penulis bertempat tinggal di daerah Kota Medan dan dari
dulu sewaktu kuliah S.1 di Universitas HKBP Nommensen aktif dalam paduan
suara Concordia yang selalu dalam kegiatannya melakukan kunjungan gereja di
berbagai gereja HKBP. Sebagai anggota paduan suara waktu mahasiswa dan
sampai saat ini masih aktif dalam berbagai paduan suara, penulis sudah melihat
dan menemukan bahwa konsep musik gereja di berbagai gereja HKBP telah
terjadi perubahan dan itu sepertinya sudah menjadi kecenderungan pada saat ini.
Fokus perhatian pada saat itu adalah mengamati bagaimana otoritas gereja
dan pemusik di gereja terhadap konsep musik yang dibentuk, mengamati
bagaimana suasana peribadatan dengan konsep musik yang ditampilkan,
mengamati jenis-jenis musik yang digunakan, serta hal-hal lain yang terjadi pada
pelaksanaan ibadah.
1.8.4 Wawancara
Koentjaraningrat (1991:162) mengatakan bahwa wawancara dalam suatu
penelitian bertujuan untuk mengumpulkan keterangan tentang kehidupan manusia
serta pendiriannya dalam suatu masyarakat, dan sekaligus merupakan bagian
penting ketika melakukan observasi. Wawancara merupakan proses tanya jawab
antara peneliti dengan informan tentang satu masalah yang diteliti. Selain itu,
wawancara juga sangat mendukung guna melengkapi data yang diperoleh dari
pengamatan, maupun dari data pustaka yang ada.
34
Berkaitan dengan tema penelitian ini adalah tentang peranan, fungsi,
perubahan dan kountinitas musik gereja di HKBP, penulis menentukan informan
dari beberapa otoritas di gereja HKBP. Selanjutnya wawancara dilakukan dengan
beberapa seniman musik gereja yang masih dalam kegiatan ibadah, guna
mendapatkan data yang menyeluruh, baik tentang perenan, fungsi, perubahan dan
kontinuitas musik gereja.
1.8.5 Dokumentasi
Pertama akan ditelusuri data sekunder yang terkait dengan masalah
peranan, fungsi, perubahan dan kountinitas musik gereja di HKBP. Penelusuran
ini dilakukan untuk mengetahui tentang kondisi dan perubahan konsep musik
gereja yang saat ini sedang berlaku dilacak melalui buku-buku, majalah, jurnal,
surat kabar, tesis (hasil penelitian) dan media elektronik seperti internet.
Berikutnya, data-data penelitian yang membahas seputar HKBP dan
budaya masyarakat Batak Toba dapat diperoleh melalui buku-buku, dokumentasi
seminar, dan jurnal yang terbit dalam lingkup kebudayaan daerah Batak Toba.
Seluruh data tersebut merupakan data sekunder yang diperoleh sebelum dan
selama berada di lapangan mengadakan penelitian. Bahan-bahan ini akan
dikumpul untuk dianalisis kaitannya dengan hasil penelitian.
1.8.6 Analisis data
Analisis data, menurut Patton adalah: “ mengatur urutan data,
mengorganisasikanya kedalam suatu pola, kategori, dan suatu uraian dasar’.
35
Taylor mendefenisikan : “ Analisis data merupakan proses yang merinci usaha
secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesa (ide), seperti
yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada
tema dan hiportesis itu”. Maka dari pendapat diatas penulis menggunakan teori
tersebut dengan menarik garis bawah analisis data bermaksud pertama-tama
mengorganisasikan data yaitu data yang terkumpul yang terdiri dari catatan
lapangan dan komentar penelitian gambar.
Foto, dokumen berupa laporan,
biografi, artikel, dan sebagainya.
Pekerjaan penulis dalam menganalisis data ini adalah mengatur,
mengurutkan, mengelompokkan memberikan kode, dan mengkategorikannya.
Pengorganisasiannya dan pengelolaan data dilakukan untuk menemukan tema dan
hipotesis kerja yang akhirnya diangkat menjadi teori substansi. Analisis data
dilakukan penulis dalam suatu poses-proses berarti pelaksanaannya sudah mulai
sejak pengumpulan data dilakukan dan dikerjakan secara intensif, yaitu sesudah
meninggalkan lapangan. Setelah melakukan langkah-langkah ini penulis
menganalisis hasil wawancara yang kemudian menghasilkan satu kesimpulan.
1.8.7 Pengecekan keabsahan data
Dalam teknik pengecekan keabsahan data penulis menggunakan teknik
triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau
sebagai perbandingan terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak
digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber lainnya. Penulis menggunakan
36
teknik triangulasi sesuai dengan teori Patton mengatakan trigulasi sesuai dengan
sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu
informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode
kualitatif. Hal ini dapat dicapai dengan jalan :
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa
yang dikatakannya secara pribadi
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian
dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu
4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai
pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang
berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang Pemerintahan.
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang
berkaitan.
1.8.8 Tahap-tahap penelitian
Bogdan mengatakan 3 tahap penelitian yakni : (1) Pralapangan; (2)
Kegiatan Lapangan; dan (3) Analisa intensif ( analisa data). Sesuai dengan teori
Bogdan maka, sebelum penulis terjun ke lapangan penelitian ada tahap-tahap yang
penulis lakukan yakni :
1. Tahap Pra lapangan. Dalam tahap pralapangan ada enam kegiatan yang
harus dilakukan penelitian pada tahap ini yaitu : (i) Menyusun rancangan
kualitatif paling tidak, latar belakang masalah dan pelaksanaan penelitian,
37
kajian pustaka dan lain-lain; (ii) Memiliki lapangan penelitian, Bogdan
menyatakan bahwa pemilihan lapangan itu harus ditentukan dulu sebelum
peneliti terjun ke lokasi. (iii) Mengurus perizinan, penelitian harus
mengurus izin dari siapa saja yang berkuasa dan berwenang memberikan
izin bagi pelaksanaan penelitian; (iv) Menjejaki dan menilai keadaan
lapangan, tahap ini merupakan tahap bagaimana penelitian masuk
lapangan dalam arti mulai mengumpulkan data yang sebenarnya.
Penjajakan dan penilaian lapangan penulis lakukan terlebih dahulu dari
kepustakaan atau mengetahu melalui dari orang dalam tentang situasi dan
kondisi daerah tempat penelitian penulis. Sebelum menjajaki lapangan
terlebih dahulu penulis mempunyai gambaran umum tentang geografi,
sejarah yang membantu penulis dalam penjajakan.
2. Menyiapkan perlengkapan penelitian. Penulis menyiapkan perlengkapan
penelitian yang diperlukan. Sebelum penelitian dimulai,
peneliti
memerlukan izin mengadakan penelitian, kontrak daerah yang menjadi
latar penelitian melalui orang yang dikenal atau jalur lainnya. Hal- hal
yang perlu juga dipersiapkan oleh peneliti misalnya alat tulis, seperti ball
point, kertas, buku catatan, map, klip, kartu, alat perekam dan kamera foto.
3. Persoalan etika penelitian. Ciri utama penelitian kualitatif adalah orang
sebagai alat yang mengumpulkan data. Dalam pengamatan berperan serta,
wawancara-wawancara pengumpulan dokumen, foto dan sebagainya.
Seluruh metode ini menyangkut hubungan penelitian dengan orang yang
dijadikan informal.
38
1.8.9 Tahap pekerjaan lapangan
Pada tahap pekerjaan terdiri dari 3 bagian yang harus peneliti laksanakan;
1.8.9.1 Memahami latar penelitian
Dalam memahami latar penelitian ada hal-hal yang perlu dilakukan :
a. Pembatasan latar penelitian, untuk memasuki pekerjaan lapangan,
penelitian perlu memahami latar penelitian terlebih dahulu.
b. Penampilan, penampilan yang dimaksud adalah penampilan penelitian itu
sendiri harus disesuaikan dengan kebiasaan adat, tata cara, dan kultur latar
penelitian.
c. Pengenalan hubungan penelitian dilapangan penelitian memamfaatkan
pengamatan pada tahap ini, maka hendaknya penulis menjaga hubungan
akrab antara subjek dan penelitian dapat dibina.
d. Jumlah waktu studi, penulis harus berpegang pada tujuan, masalah dan
jadwal yang telah disusun sebelumnya. Waktu studi tidak boleh
berkepanjangan karena akan menambah biaya penelitian bagi penulis.
1.8.9.2 Memasuki lapangan
Dalam hal ini penulis melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Keakraban hubungan, sikap penelitian hendaknya pasif, hubungan yang
perlu dibina tidak ada dinding pemisah diantara penelitian dan subjek yang
sudah ditentukan.
b. Mempelajari bahasa, jika penelitian berasal dari latar yang lain, penelitian
harus mempelajari bahasa yang digunakan oleh orang-orang yang berda
pada latar penelitian.
39
c. Peran peneliti, sewaktu ada pada penelitian, peneliti akan terjun
kedalamnya dan akan ikut berperan serta didalamnya.
1.8.9.3 Berperan serta mengumpulkan data
Dalam tahap ini penulis melaksanakan hal-hal sebagainya:
a. Pengarahan Batas Studi, pada waktu menyusun usul penelitian batas studi
telah ditetapkan bersama masalah dan tujuan penelitian.
b. Mencatat data, penulis menggunakan catatan lapangan (Field notes). Yang
merupakan catatan hasil pengamatan. Wawancara, atau menjelaskan
kejadian tertentu.
1.9 Sistematika Penulisan
Bab I merupakan Pendahuluan yang meliputi: Latar Belakang Masalah,
Pokok Masalah dan Tujuan Penelitian, Pertanyaan Penelitian, Tujuan Penelitian,
Manfaat Penulisan, Tinjauan Pustaka, Landasan Konsep dan Teori dan Metode
Penelitian (Pendekatan Penelitian, Kehadiran Peneliti, Sumber Data, Prosedur
Pengumpulan Data, Analisis Data, Pengecekan Keabsahan Data, Tahap -Tahap
Penelitian, Tahap Pekerjaan Lapangan, dan Sistimatika Penulisan). Bab II Sejarah
Singkat Gereja HKBP, Bab III membahas Tata Ibadah Gereja HKBP dan
Perkembangan musik gereja secara umum sampai dengan musik gereja di HKBP.
Bab IV Penggunaan dan Fungsi Musik Gereja dalam Ibadah Gereja HKBP Pasar
Melintang Medan, Bab V akan membahas Perubahan Musik Gereja HKBP dan
Bab VI adalah bagian penutup berupa kesimpulan dan saran.
40
BAB II
TINJAUAN UMUM GEREJA HKBP
Pembahasan dalam Bab difokuskan pada sejarah singkat gereja HKBP
secara umum dan sejarah mengenai gereja HKBP Pasar Melintang Medan.
Pembahasan sejarah gereja HKBP secara umum akan memberikan informasi
tentang berdirinya HKBP pada awalnya sampai pada tahapan perkembangan
HKBP selanjutnya. Tujuan pembahasan mengenai berdirinya HKBP Pasar
Melintang Medan adalah untuk memberikan informasi tentang bagaimana awal
dan latar belakang pendirian gereja tersebut serta perkembangannya.
2.1 Sejarah Berdirinya HKBP
HKBP berdiri pada tanggal 7 Oktober 1861, tanggal itu menjadi titik
balik sejarah penginjilan dan sejarah gereja HKBP. Sejarah penginjilan dan
sejarah gereja adalah ibarat dua sisi dari satu mata uang yang sama. Gereja tanpa
penginjilan bukanlah gereja. Itulah sebabnya peristiwa 7 Oktober 1861 diartikan
dan dimaknai dari dua segi, yakni penginjilan dan gereja.
Pada awalnya tanggal 7 Oktober 1861 adalah titik balik penginjilan dari
lembaga sending Rhein di dunia ini. Karena jauh sebelum tahun 1861 sending
Rhein telah membuka daerah penginjlannya di Namibia – Afrika Selatan, Cina,
Kalimantan dan di Afrika Utara. Tetapi sejak 7 Oktober 1861 dibuka suatu
daerah penginjilan baru di Sumatera, “Bataklanden” atau Tanah Batak. Daerah
penginjilan baru ini di beri nama “ Battamission” yang kemudian disebut “
Batak mission “ atau “Mission – Batak “.
Tanggal lahir Batak Mission di
41
tentukan pada 7 Oktober 1861 bertepatan dengan tanggal dari rapat pertama para
penginjill utusan RMG (Rheinische Mission Gesselschaf) di Tanah Batak.
Badan Zending (penginjilan) RMG berdiri di Barmen, Jerman pada
tahun 1828 sebagai gabungan badan-badan zending di Jerman yang
dilatarbelakangi kesalehan, kebangunan rohani dan kebangunan pekabaran
Injil. Pada tanggal tersebut, dua misionaris RMG yang sebelumnya bekerja di
Kalimantan yakni Klammer dan Betz bersama dua misionaris dari Ermelo,
yakni van Asselt dan Heine melakukan Rapat di Sipirok untuk memulai
pekerjaan RMG di tanah Batak. Di samping itu, pada tahun itu juga ditandai
dengan masuknya orang Batak menjadi Kristen untuk pertama kalinya yakni
Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar, melalui baptisan kudus yang
dilakukan Pdt Van Asselt di Sipirok.15
Nama “Batak Mission” telah melekat dalam ingatan para penginjil RMG dan
juga umat Kristen Batak yang terhimpun dalam berbagai huria/jemaat. Penginjil
Dr. Johannes Warneck (Ephorus sejak 1920-1932) menulis sebuah buku dalam
rangka dalam menyambut jubileum Batak- Mission ke-50 dan 60 tahun dengan
judul : “Sechzing Jahre Batakmission in Sumatera “ (60 tahun Mission – Batak di
Sumatera).
16
Pemaknaan sedemikian juga telah dijemaatkan oleh para pelaku
sejarah “Batakmission “ sejak 1905 : tanggal 7 Oktober 1861 adalah hari jadi
“Batak Mission“ di Tanah Batak.
HKBP mengadakan pesta Jubileum ke 75 tahun pada tahun 1936. pada
kesempatan tersebut, diterbitkanlah Buku jubileum sebagai hasil karya tulis
15
Moksa Nadaek, et al. 1995. Krisis HKBP. Biro Informasi HKBP
J. Warneck.1925. “Sechzing Jahre Batakmission in Sumatera” ( 60 tahun Mission –
batak di Sumatera). Berlin.
16
42
majelis pusat
HKBP. 17
Lembaga pengiilan RMG terpaksa
mengakhiri
pelayanannya di Tanah Batak 1940 akibat perang dunia II. Pada tahun 1949
lembaga penginjilan RMG menyerahkan secara resmi seluruh assetnya di Tanah
Batak kepada HKBP sebagai lembaga kegerejaan hasil penginjilan lembaga
Pekabaran Injil RMG.
Pemahaman akan makna hari lahir HKBP sedemikian juga dikemukakan
Ephorus J. Sihombing dalam majalah “Immanuel“ terbitan 1951, untuk mengingat
90 tahun : “parmulaan ni ulaon ni Kongres mission Barmen (R.M.G) di tanonta
on, manang ari hatutubuni hurianta…. Pa 90-halihon”.18 Artinya “Permulaan
pelayanan RMG di tanah kita atau Hari kelahiran Gereja kita”.
DR. T.S.
Sihombing selaku Sekjen HKBP dan redaktur Immanuel mengungkapkan
apresiasi kepada lembaga RMG sebagai “ula-ula ni Debata” (“alat di tangan
Allah”) untuk “pararathon Barita nauli “(menyebarkan berita kesukaan)” dan
“paojakhon Huria ni Kristus i di tongatonga ni bangsonta“ (mendirikan Gereja
Kristus di tengah-tengah bangsa kita ).19 Beliau memandang bahwa lembaga
RMG adalah “ Ina ni Huria Kristen Batak Protestan“ (ibu dari HKBP).
Kata Huria bisa diartikan sebagai Jemaat. Kata "Batak" menjadi salah satu
identitas, sering dipahami khalayak ramai sebagai sisi pembatasan atau
ketertutupan bagi orang lain di luar suku Batak. Hal itu semakin diperkuat
dengan asal muasal, tempat kelahiran dan Kantor Pusatnya di Tapanuli Utara,
latar belakang dan sejarah pertumbuhan, perkembangan dan keanggotaannya
17
Hoofdbestuur ni HKBP, “Eben-Ezer: 75 taon huria Kristen Batak Protestant”.
Laguboti: Sendings-Werkplatsen.
18
Sihombing, “ Parningotan di ari 7 Oktober 1861-1951”, dalam Majalah Immanuel 1861,
hal., 7.
19
T. Sihombing, “ Redaksi : Hata Patujolo “, dalam “ Immanuel 7/10/51”, hal., 3.
43
yang mayoritas orang Batak. Namun dalam Tata Gereja HKBP memakai
istilah Aturan untuk Anggaran Dasar dan Peraturan untuk Anggaran Rumah
Tangga HKBP. Pasal 1 (Aturan) disebutkan bahwa HKBP adalah wadah
persekutuan dari orang yang berasal dari segala kelompok, kalangan dan suku
bangsa yang berada di seluruh Indonesia, serta di seluruh dunia ini, yang
dibaptiskan ke dalam nama Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh
Kudus. Pasal ini dengan jelas memperlihatkan bahwa HKBP bukanlah gereja
atau organisasi kristen yang bersifat kesukuan, melainkan ia terbuka untuk
seluruh suku bangsa dan bangsa-bangsa di dunia.20
HKBP memiliki jemaat sekitar 4.5 juta anggota di seluruh Indonesia.
HKBP juga mempunyai beberapa gereja di luar negeri, seperti di Singapura,
Kuala Lumpur, Los Angeles, New York, Seattle dan di negara bagian Colorado.
HKBP adalah anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), anggota
Dewan Gereja-gereja Asia (CCA), dan anggota Dewan Gereja-gereja se-Dunia
(DGD). Sebagai gereja yang berasaskan ajaran Lutheran, HKBP juga menjadi
anggota dari Federasi Lutheran se-Dunia (Lutheran World Federation) yang
berpusat di Jenewa, Swiss. 21
Pada mulanya ruang lingkup HKBP hanya terbatas dalam wilayah dan
kehidupan orang Batak di Tapanuli. Pada masa-masa awal, HKBP hanya
memakai bahasa Batak (Toba, Simalungun, Angkola dan Pakpak) sebagai
bahasa pengantar dalam kehidupan bergereja. Seiring dengan perkembangan
di wilayah Nusantara, terutama setelah Proklamasi Kemerdekaan pada
20
21
Op, Cit., Moksa Nadaek, et al. hal. 5
Jubileum 150 Tahun HKBP – Bahan Penelahan Alkitab
44
tanggal 17 Agustus 1945, HKBP semakin bergerak ke luar tanah Batak,
khususnya ke Sumatera Timur, Jawa dan kemudian ke seluruh pelosok tanah
air dan bahkan luar negeri. Perkembangan yang sedemikian rupa itu, ditambah
dengan amanat Tata Gereja yang terbuka untuk seluruh suku, maka bahasa
yang dipakai di HKBP berubah, tidak lagi hanya bahasa Batak, tetapi juga
bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain yang dimengerti oleh warga. Sejak
tahun 50-an, HKBP telah memulai kebaktian berbahasa Indonesia di gerejagereja HKBP yang ada di wilayah Jawa, khususnya Jakarta. Pada mulanya hal
ini diprakarsai para pemuda dan khusus dilakukan untuk ibadah-ibadah
pemuda. Pemakaian bahasa Indonesia itu kemudian berlanjut
dan
berkembang hingga ke Tapanuli. Dalam berbagai acara dan dokumendokumen HKBP, bahasa Indonesia telah dipakai secara resmi. Dengan tetap
mempertahankan pemakaian bahasa Batak itu, memang harus diakui adanya
kaitan yang khusus antara masyarakat Batak dengan HKBP dan sekaligus menjadi
salah satu bagian yang kuat dalam memelihara kelestarian budaya Batak. Bahasa
sebagai salah satu pengungkapan budaya tetap dipakai dan dikembangkan di
dalam kehidupan bergereja. Warga HKBP yang menyebar keseluruh pelosok
tanah air, bahkan hingga ke luar negeri, minimal dapat mendengar bahasa
Batak secara serius dalam kebaktian maupun acara-acara lain yang bersifat
gerejawi. 22
22
Op, cit., Moksa Nadeak, et al. hal. 6.
45
Gambar 2.1. Logo Gereja HKBP
Sumber: https://www.google.co.id
Pdt Ingwer Ludwig Nommensen merupakan nama yang sangat dihormati
warga HKBP termasuk masyarakat Batak. Ia bahkan sering disebut sebagai
rasul tanah Batak, sebagai pengakuan terhadap berbagai karya dan
ketekunannya dalam memajukan HKBP khususnya dan tanah Batak
umumnya.
Sebelum Nommensen datang ke tanah Batak pada tahun 1862,
beberapa penginjil dari berbagai negara telah menginjakkan kakinya ke tanah
Batak. Penginjil Burton dan Ward adalah yang pertama, sebagai utusan Gereja
Baptis Inggris ke tanah Batak tahun 1824. Mereka langsung kembali tanpa
meninggalkan karyanya. Menyusul kemudian adalah Pdt Munson dan Lyman
dari Badan Zending Amerika pada tahun 1829. Mereka ini mengalami nasib
yang tragis dan menjadi martir, terbunuh di Lobu Pining, Tapanuli Utara. Setelah
itu, van der Tuuk pada tahun 1849 yang menyalin sebagian Injil ke bahasa
Batak dan Pdt van Asselt pada tahun 1857 yang berhasil membaptis orang
Batak menjadi Kristen untuk yang pertama kali. Dua orang terakhir ini berasal
dari Belanda.
Nommensen adalah penginjil yang diutus RMG, suatu Badan Zending di
Jerman. Ia melayani di tanah Batak sejak bulan Mei 1862 dan tercatat sebagai
46
Ephorus23 HKBP yang pertama dan juga orang yang pertama berhasil
membangun jemaat di tanah Batak, yakni di Huta (Desa) Dame, Saitnihuta
Tarutung tanggal 20 Mei 864. Jabatan Ephorus dipangkunya sejak tahun 1881
hingga meninggal dunia pada tanggal 23 Mei 1918 di Sigumpar. Tahun
pengangkatannya sebagai Ephorus merupakan tahun terbitnya Tata Gereja
(Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) HKBP.
Selama kurang lebih 56 tahun melayani dan memimpin, Nommensen
berhasil meletakkan semacam kerangka dasar HKBP, yang di kemudian hari
dikembangkan para pemimpin berikutnya. Selain melaksanakan pemberitaan
Injil sebagai tugas utama, paling tidak ada empat hal lain yang menjadi
benang merah yang berkesinambungan dalam sejarah HKBP yang tidak
dapat dilepaskan dari peranan Nommensen, yakni: pendidikan, kesehatan,
pelayanan sosial komunikasi dan percetakan/penerbitan. Hal itu terbukti
dengan adanya sekolah-sekolah, rumah sakit, panti asuhan yang dibangun pada
masa Nommensen dan hingga kini masih terus dilanjutkan oleh HKBP.
Dalam hal pendidikan, pada tahun 1868 misalnya, HKBP telah
membuka Sekolah Guru di Parausorat, Sipirok. Bahkan dalam bidang
pendidikan teologi, HKBP merupakan pelopor di Indonesia ketika
membuka Sekolah Pendeta pada tahun 1883. Demikian juga dalam hal
kesehatan dan pelayanan sosial. Pada tanggal 2 Juni 1900 berhasil dibangun
rumah sakit di Pearaja yang kemudian dikembangkan menjadi Rumah Sakit
Tarutung dan pada tanggal 5 September tahun yang sama dibangun panti sosial
23
Ephorus adalah pimpinan tertinggi dalam struktur HKBP.
47
bagi orang yang menderita penyakit kusta di Huta Salem. Sementara itu,
dalam bidang komunikasi, pada tanggal 1 Januari 1890, HKBP menerbitkan
majalah Immanuel.
Sekolah untuk umum, walau masih terbatas untuk kalangan tertentu
(seperti anak raja dan tokoh-tokoh masyarakat waktu itu) juga dibuka di
Narumonda pada tahun 1900. Sekolah ini selain memberikan pelajaran umum,
juga memberikan ketrampilan teknik pertukangan. Salah satu tenaga pengajarnya
pada waktu itu adalah Pdt Otto Marcks. Sekolah ini kemudian berubah menjadi
seminari pada tahun 1905 dan anak didiknya tidak lagi terbatas untuk
kalangan elite tetapi sudah terbuka untuk umum. Sekolah umum ini adalah
yang pertama di tanah Batak, sebab baru pada tahun 1911 pemerintah Hindia
Belanda mendirikan Holland Inlands Schools (HIS) di Sigompulon, Tarutung.
48
Gambar 2.2. Bagan Organisasi HKBP
Sumber: https://www.google.co.id
Adapun jabatan-jabatan struktural di HKBP berdasarkan Aturan dan Peraturan
HKBP adalah sebagai berikut:
1. Ephorus. Ephorus adalah yang memimpin segenap HKBP dan wakil HKBP
terhadap pemerintah, gereja dan badan-badan organisasi lainya. Jabatannya
harus diembannya sesuai dengan Konfesi, Tata Gereja dan Siasat Gereja
HKBP.Periode kepemimpinannya selama 4 tahun dan dia dapat dipilih
kembali untuk mimpin selama 2 periode.
49
Adapun yang menjadi tugas-tugas Eporus sesuai dengan Aturan dan Peraturan
HKBP adalah sebagai berikut: (a) Menggembalakan jemaat-jemaat dan
pelayan-pelayan di segenap HKBP; (b) Melaksanakan pembinaan terhadap
pelayan-pelayan tahbisan dalam rangka upaya meningkatkan kemampuan
mereka melaksanakan tugas-tugas pelayanannya, terutama dalam pelayanan
firman dan penggembalaan; (c) Memelihara dan menyuarakan tugas kenabian
HKBP terhadap pemerintah atau penguasa melalui kata-kata maupun
perbuatan nyata untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di tengah-tengah
bangsa dan negara; (d) Mewakili HKBP terhadap pemerintah, gereja, dan
badan-badan lain di dalam maupun di luar negeri; (e) Memimpin segenap
HKBP bersama-sama dengan Sekretaris Jenderal dan kepala departemen
berdasarkan
Alkitab,
Konfessi,
Aturan
Paraturan,
dan
Peraturan
Penggembalaan dan Siasat Gereja sebagai manifestasi kepatuhannya kepada
Yesus Kristus, Raja Gereja. Ephorus dapat mendelegasikan wewenang
melaksanakan tugas-tugas tertentu kepada Sekretaris Jenderal, kepala
departemen, atau praeses sesuai dengan kebutuhannya; (f) Menyelenggarakan
Sinode Agung sesuai dengan ketentuan persidangan Sinode Agung; (g)
Memimpin Rapat Pimpinan HKBP; (h) Melantik praeses; (i) Memimpin Rapat
Praeses; (j) Mempersiapkan dan menyusun Rencana Induk Pengembangan
Pelayanan HKBP yang akan disampaikan kepada Sinode Agung untuk
ditetapkan; (k) Menyusun Rencana Strategis HKBP untuk disampaikan ke
Sinode Agung, dan Rencana Tahunan dan Rencana Anggaran Pendapatan
Belanja yang akan disampaikan kepada Majelis Pekerja Sinode untuk
50
ditetapkan; (l) Mengunjungi jemaat-jemaat untuk memimpin upacara
penahbisan gereja dan peletakan batu alas; (m) Menahbiskan pendeta, guru
jemaat, bibelvrouw, diakones, dan evangelis; (n) Menyampaikan Laporan
Tahunan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugasnya memimpin HKBP ke
Sinode Agung; (o) Menyusun Almanak HKBP; (p) Menerbitkan surat-surat
ketetapan tentang jemaat, resort, distrik baru, yayasan, lembaga, dan komisi,
demikian juga yang berhubungan dengan personalia; dan (q) Menerima usul
amandemen terhadap Aturan Peraturan HKBP.
2. Sekertaris Jenderal Tugasnya
Adapun tugas dari Sekertaris Jenderal adalah sebagai berikut; (a) Menyertai
Ephorus memimpin HKBP bersama-sama dengan kepala departemen; (b)
Memimpin administrasi HKBP sesuai dengan Aturan Peraturan HKBP; (c)
Mewakili Ephorus melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Ephorus
sesuai dengan kebutuhannya; (d) Menerima laporan pelayanan dari organorgan pelayanan di bawahnya; (e) Bersama-sama dengan kepala departemen
menyertai Ephorus menyusun Berita Pelayanan, Rencana Tahunan, dan
Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Tahunan HKBP, yang akan mereka
sampaikan ke Majelis Pekerja Sinode; Laporan Pertanggungjawaban dan
Rencana Strategis ke Sinode Agung; (f) Mempersiapkan segala keperluan
yang berkenaan dengan pelaksanaan Sinode Agung dan rapat-rapat lain
ditingkat Pusat; (g) Bersama-sama dengan Ephorus dan kepala departemen
menyelenggarakan Rapat Pimpinan HKBP; dan (h) Membuat evaluasi dan
menyampaikan pertanggungjawaban kepada Ephorus melalui laporan rutin.
51
3. Kepala Departemen Koinonia Tugasnya
Tugas dari Departemen Koinonia adalah; (1) Menyertai Ephorus bersamasama dengan Sekretaris Jenderal dan kepala departemen lainnya memimpin
HKBP; (2) Mengkordinasikan perencanaan dan pelaksanaan semua usaha
yang mengembangkan dan meneguhkan persekutuan seluruh warga HKBP di
semua tingkat, persekutuan oikumenis di tingkat lokal, nasional, regional dan
internasional; (3) Menyusun kebijakan-kebijakan, peraturan-peraturan, dan
pedoman-pedoman yang perlu dalam kegiatan mengembangkan dan
meneguhkan persekutuan sel uruh warga di semua tingkat, dan menjadi
pegangan semua petugas; dan (4) menyertai Ephorus menyusun Berita
Pelayanan, Rencana Tahunan, dan Rencana Anggaran Pendapatan Belanja
Tahunan HKBP, yang akan mereka sampaikan ke Majelis Pekerja Sinode;
Laporan Pertanggungjawaban dan Rencana Strategis ke Sinode Agung.
4. Kepala Departemen Marturia
Tugas dari Departemen Marturia adalah; (1) Menyertai Ephorus bersamasama dengan Sekretaris Jenderal dan kepala departemen lainnya memimpin
HKBP; (2) Mengkordinasikan perencanaan dan pelaksanaan pekabaran Injil di
setiap tingkat pelayanan HKBP; (3) Menyusun kebijakan-kebijakan,
peraturan-peraturan, dan pedoman-pedoman yang perlu dalam pekerjaan
pemberitaan firman Allah yang akan menjadi pegangan bagi semua pelayan di
semua tingkat pelayanan; dan (4) Bersama-sama dengan Sekretaris Jenderal
dan kepala departemen lainnya menyertai Ephorus menyusun Berita
Pelayanan, Rencana Tahunan, dan Rencana Anggaran Pendapatan Belanja
52
Tahunan HKBP, yang akan mereka sampaikan ke Majelis Pekerja Sinode;
Laporan Pertanggungjawaban dan Rencana Strategis ke Sinode Agung.
5. Kepala Departemen Diakonia
Tugas Departemen Diakonia adalah; (1) Manyertai Ephorus bersama-sama
dengan Sekretaris Jenderal dan kepada departemen lainnya memimpin HKBP;
(2)
Mengkordinasikan
pengelolaan
semua
pelayanan
social
yang
berhubungan dengan pemberian bantuan kepada yang kesusahan, demikian
juga yang berhubungan dengan yayasan pendidikan dasar, menengah, dan
yayasan pendidikan tinggi, yayasan kesehatan dan pengembangan masyarakat
di setiap tingkat pelayanan; dan (3) Menyusun kebijakan-kebijakan, peraturanperaturan, dan pedoman-pedoman yang perlu dalam pekerjaan diakonia yang
menjadi pegangan bagi semua pelayan di semua tingkat pelayanan.
6. Praeses
Tugas Praeses adalah (1) Memimpin distrik bersama-sama dengan para kepala
bidan; (2) Menyusun rencana strategis dan program kerja tahunan distrik sesuai
dengan keputusan Sinode Agung, Majelis Pekerja Sinode, dan Rapat Pimpinan
HKBP;(3) Membina dan menggembalakan pelayan-pelayan tahbisan dalam
pekerjaan yang sesuai dengan tugas pelayanannya masing-masing; (4)
Membimbing dan mengawasi semua kegiatan yan berkenaan dengan kerohanian
dan kekayaan di jemaat-jemaat dan resort-resort;(5) Memimpin sinode distrik,
majelis pekerja sinode distri dan rapat pimpinan distrik; (6) Meresmikan jemaatjemaat dan ressort-ressort baru yang sudah ditetapkan oleh Pimpinan HKBP; (7)
Mengunjungi jemaat-jemaat dan memimpin pesta-pesta jubileum jemaat; (8).
53
Melantik pelayan-pelayan tahbisan penuh waktu pada jabatannya masing-masing
di distrik itu; (9) Menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di jemaat dan
ressort yang tidak dapat diselesaikan oleh majelis ressort; dan (10) Mengawasi
pelaksanaan keputusan Sinode Agung, Majelis Pekerja Sinode, sinode distrik,
rapat majelis pekerja sinode distrik, dan rapat distrik.
2.2 Sejarah Singkat Gereja HKBP Pasar Melintang Medan
Pembahasan sejarah HKBP Pasar Melintang Medan meliputi asal mula
mendirikan gereja; bagaimana susunan Haparladoon ( susunan personalia
pengurus gereja) dan melihat pembangunan gereja HKBP Pasar Melintang pada
awalnya. Penulis menyadari bahwa banyak hal yang tidak terakomodasi dalam
penulisan sejarah gereja HKBP Pasar Melintang. Langkah-langkah yang penulis
lakukan dalam menyusun sejarah HKBP Pasar Melintang adalah dengan
melakukan wawancara terhadap otoritas gereja HKBP Pasar Melintang dan juga
jemaat gereja HKBP Melintang yang ikut terjun dalam pendirian gereja HKBP
Pasar Melintang.
2.2.1 Latar belakang pendirian gereja HKBP Pasar Melintang Medan
Lahirnya keinginan pendirian gereja Pasar Melintang Medan tidak
terlepas dari kondisi ibadah minggu di gereja HKBP Sei Putih yang semakin
ramai dimana jemaat gereja yang terus bertambah yang datang dari desa
naualu. Oleh karena itu ruangan gereja tidak mampu lagi menampung jumlah
jemaat yang semakin banyak. Melihat kondisi tersebut muncullah ide dari
54
Dewan Pembangunan HKBP Sei Putih yang bertempat tinggal di sekitar Pasar
Melintang untuk mendirikan gereja. Beberapa anggota Dewan Pembangunan
tersebut adalah:
1. Bapak M.L.P Siamnjuntak (+)
2. Bapak Drs. P.S. Marbun
3. Bapak Dr. H.T. Sitanggang, SKM
4. Bapak St. C.H. Hutabarat
Dalam menindklanjuti rencana pembangunan gereja sebagai tempat doa dan
ibadah bagi Tuhan, maka diadakanlah rapat di tanggal 5 November 1967 di
rumaha Bapak Dr. H.T. Sitanggang, SKM dan diikuti oleh 12 orang sintua dan
penetua.
Hasil dari rapat tersebut memutuskan untuk mendirikan gereja baru,
dan melalui rapat tersebut terpilihlah sponsor atau panitia Pembangunan gereja
HKBP Pasar Melintang, yaitu:
1. Ketua
: Dr. H.T. Sitanggang, SKM
2. Bendahara
: Drs. P.S. Marbun
3. Sekretaris
: M.L.P. Simanjuntak
4. Anggota
: - Semua Sintua
- Penatua dari Weik-weik
Pada tanggal 19 November 1967 dilaksanakan rapat lanjutan bertempat
di rumah Bapak M.L.P Simanjuntak untuk mengkonsolidasikan rencana
lanjutan pembangunan gereja dan juga untuk menambahi kepanitiaan. Rapat
55
ini juga sekalian mengumpulkan sambangan dana secara ikhlas dan
terkumpullah dana awal waktu itu sebesar Rp. 17.500,00,-.
Pada tanggal 28 Januari 1968 panitia mengadakan rapat di rumah
Bapak Drs. P.S. Marbun. Pada rapat ini membicarakan tentang letah dan
bidang tanah sebagai tempat lokasi pembangunan gereja. Ukuran tanah 8.00 M
x 12.00 dengan harga Rp. 200.000,00,-.
Dalam rapat tersebut panitia
mengumpulkan dana dan melakukan pinjaman obligasi sehingga dana yang
terkumpul sebesar Rp.135.000,00,-.
Tanggal 18 Februari 1968 panitia melakukan rapat lanjutan di rumah
Bapak St. O.H Hutabarat. Pada rapat tersebut dilaporkan bahwa tanah untuk
pendirian gereja sudah didapat dimana ukuran tanah 25 M x 68,5 m = 1.712,5
M. Setelah pengurusan sertifikat tanah ternyata ada selisih perhitungan luas
lahan tanah pembangunan gereja menjadi 1.546 M dengan harga Rp.
81.000.000,00,-. Kekurangan dana untuk pembelian tanah diduluankan
sementara oleh Bapak M.P.L Simanjuntak; Bapak Drs. P.S. Marbun; Bapak
Dr. H.T. Sitanggang; dan Bapak St. O.H Hutabarat.
Setelah perencanaan awal selesai, pada tanggal 24 Februari 1968
beberapa utusan menemui otoritas gereja HKBP Sei Putih untuk meminta
persetujuan untuk mendirikan gereja yang diberi nama Gereja HKBP Pasar
Melintang Resort Medan II Seip Putih. Rencana pendirian gereja mendapat
tanggapan yang positif dengan memberikan izin mendirikan gereja setelah
melalui tahapan penilaian proposal yang diajuakan.
56
Pada tanggal 19 Februari 1968 pendirian gereja sudah dimulai dengan
ukuran gedung gereja 8M x 12M dengan kondisi yang apa adanya (masih
tahap darurat dimana atap gedung masih menggunakan atap rumbai, bangku
darurat dan lantai masih tanah). Di tanggal 31 Maret 1968 ibadah minggu awal
sudah dilakukan yang dipimpin oleh Bapak Pdt. K. Sitorus dengan dibantu
oleh penetua gereja Sei Putih dan pada saat itu juga gereja ini sudah mulai
mandiri dari gereja HKBP Sei Putih.
Berikut adalah denah gereja HKBP Pasar Melintang Medan
Gambar 2.3. Denah Gereja HKBP Pasar Melintang
Sumber : Google Map
Jemaat di gereja HKBP Pasar Melintang masa 1970-an pada awalnya
adalah jemaat gereja HKBP Sei Putih (gereja HKBP Pasar Melintang dulunya
merupakan pagaran dari HKBP Sei Putih). Keberadaan jemaat HKBP Pasar
Melintang sekarang ini adalah berasal dari warga sekitar lokasi gereja dan
57
perantau (berdirinya berbagai sekolah yang tidak jauh dari lokasi gereja seperti
sekolah Farmasi, Universitas Prima, sekolah SMU Negari 4.24
2.2.2 Susunan struktur gereja HKBP Pasar Melintang
Pada Tanggal 20 Maret 1968 para penetua gereja HKBP Pasar Melintang
mengadakan rapat di rumah Bapak St. M.M Siregar yang membahas masa tugas
dari pengurus gereja dalam periode 4 tahun. Susunan pengurus gereja pada
periode 1968-1972 adalah sebagai berikut:
1. Guru Huria
2. Sekretaris Huria
3. Bendahara Huria
4. Parartaon
5. Seksi Pembangunan
6. Seksi Sikola Minggu
7. Seksi Zending Batak
8. Seksi Diakonia
9. Seksi Koor
10. Seksi NHKBP
11. Koor Ina
: St. M.B. Sitompul
: St. K. Sinambela
: St. O.H. Hutabarat
: St. D.J. Hutagalung
: St. M.M. Siregar
: St. M. Sitompul
: St. A. Situmeang
: St. I. Situmeang
: St. K. Sinambela
: Tumpak Situmeang
: Bibilvrow H. Br. Tambunan
Pada tanggal 01 Agustus 1972 HKBP pimpinan pusat HKBP mengangkat M.P
Siahaan sebagai Guru Huria (disingkat dengan Gr.). Tetapi kurang lebih satu
tuhun kemudian, Gr. M.P Siahaan pindah ke gereja HKBP Marindal dan
digantikan oleh Gr. A.D Siahaan. Selama kurang lebih 7 tahun, Gr. A.D
Siahaan pindah tugas ke gereja Sidorame dan kemudian posisi ini digantikan
oleh Gr. S. Siagian dari gereja HKBP Pajak Baru Resort Belawan. Tahun
24
2014.
Wawancara dengan Bapak Tobing di gereja HKBP Pasar Melintang, tanggal 27 Juli
58
1980-an susunan Pengurus gereja HKBP Pasar Melintang dibentuk dengan
susunan sebagai berikut:
1. Guru Huria
: Gr. S. Siagian
2. Parartaon
: St. M. Pangaribuan
3. Sekretaris
: St. J. Pasaribu
4. Bendahara
: St. R.S. Hutagaol
5. Dewan Pembangunan
: St. O.H. Hutabarat
6. Dewan Ina
: St. G. Siagian
7. Dewan NHKBP
: St. K. Sinambela
8. Dewan Sekolah Minggu
: St. H. Sitompul
9. Dewan Diakonia Sosial
: St. W. Siagian
- St. D.J. Hutagalung
- St. S. Pardede
- St. P.M. Simatupang
- St. G.M. Panggabean
- St. J. Sianturi
- Cal. St. C. Pangaribuan, BA
- Cal. St. B. Nadeak
- Cal. St. E. Munthe
- Cal. St. Dr. H.T. Sitanggang
59
Gambar 2.4 Bagan Organisasi Gereja HKBP Pasar Melintang 2013/2014
Sumber : Gereja HKBP Pasar Melintang
Pembagian Tugas Dan Wewenang masing – masing Pengurus Gereja HKBP Pasar
Melintang Medan sebagai berikut :
1. Pendeta Ressort Sesuai dengan Pedoman Penatalayanan HKBP 2010, berikut
diuraikan Tugas Pendeta Ressort.Tugas pokok Pendeta Ressort yaitu
memimpin semua pelayanan di Ressort dan Sabungan.
60
Uraian Tugas Pendeta Ressort; (1) Bertanggung jawab kepada Ephorus
HKBP, Praeses di Distrik dan Rapat Ressort, laporan pertanggungjawaban
disampaikan secara periodik sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam
Aturan dan Peraturan HKBP (2002); (2) Melaksanakan pembagian tugas
sesuai dengan keterampilan, minat dan talenta yang dimiliki para pelayan
penuh waktu yang menerima SK dari Ephorus HKBP. Sebelum menetapkan
pembagian tugas, Pendeta Ressort terlebih dahulu melakukan rapat koordinasi
dengan pelayan penuh waktu lainnya; (3) Mengawasi jalannya tugas para
pelayan penuh waktu yang telah disepakati atau ditetapkan; (4) Menerima
pertanggung jawaban pelaksanaan tugas dari para pelayan penuh waktu di
wilayah pelayanannnya; (5) Menandatangani surat-surat keluar, akte lahir,
menyaksikan iman, nikah dan surat-surat keterangan lainnya; (6) Memimpin
rapat-rapat di sabungan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam
Aturan dan Peraturan HKBP (2002) atau menugaskan salah seorang dari
pelayan penuh waktu lainnya untuk mewakilinya; dan (7) Menyetujui isi warta
jemaat yang akan diwartakan pada setiap kebaktian minggu yang dipersiapkan
Guru Jemaat atau pelayan penuh waktu yang ditugaskan menyusunnya.
2. Guru Huria
Tugas Guru Huria adalah; (a) Memimpin jemaat setempat, merencanakan dan
melaksanakan
pekerjaan-pekerjaan
pelayanan
sesuai
dengan
tritugas
panggilan gereja; (b) Mempimpin pelayan tahbisan sesuai dengan bidang
tugasnya masing-masing; (c) Memimpin rapat jemaat, rapat pelayan, rapat
61
pelayan tahbisan, dan rapat pemilihan pengurus-pengurus dewan, seksi, dan
panitia pembangunan; (d) Melaksanakan keputusan Sinode Agung, Majelis
Pekerja Sinode, sinode distrik, majelis pekerja sinode distrik, rapat resort,
rapat majelis resort dan rapat pelayan tahbisan; (e) Mengawasi, membimbing,
dan meningkatkan mutu pelayanan di bidang penatalayanan dan administrasi
jemaat; (f) Menerima laporan pertanggungjawaban setiap dewan; dan (g)
Menyampaikan laporan pelayanan, statistik, dan keuangan jemaat ke pendeta
ressort, dan rapat jemaat.
3. Bibelvrouw adalah perempuan yang menerima jabatan bibelvouw dari HKBP
melalui Ephorus sesuai dengan Agenda HKBP. Tugas Bibelvrouw adalah; (a)
Sebagaimana tertera dalam Agenda Pemberian Jabatan Bibelvrouw; (b)
Menyampaikan berkat tanpa menumpangkan tangan; (c) Menghadiri Rapat
Bibelvrouw.
4. Penatua gereja adalah yang menerima jabatan penatua dari HKBP melalui
pendeta ressort sesuai dengan Agenda HKBP. Syarat Menjadi Penatua; (a)
Warga jemaat yang mempersembahkan dirinya menjadi penatua di jemaat; (b)
Rajin mengikuti kebaktian minggu dan perjamuan kudus; (c) Berperilaku
tidak bercela; (d) Paling sedikitnya berumur 25 tahun; (e) Sehat rohani dan
jasmani; (f). Dipilih oleh warga jemaat dari antara mereka dan ditetapkan oleh
Rapat Pelayan Tahbisan. Tugas Penetua gereja adalah; (1) Sebagai tertera
dalam Agenda Penerimaan Penatua HKBP; (2) Melaksanakan baptisan
darurat; (3) Menyusun statistik warga jemaat di lingkungannya masing-
62
masing; (4) Mengikuti sermon dan rapat penatua; dan (5) Menyampaikan
berkat tanpa menumpangkan tangan.
2.2.3 Kegiatan huria
Setelah Pdt. K. Sitourus dilantik sebagai pendeta gereja HKBP Pasar
Melintang pada tanggal 31 Maret 1968, Pdt. K. Sitourus langsung membentuk
partangiangan weik (kebaktian weik) yang dilaksanakan hari kamis malam pukul
08.00 wib. Pembagian weik di gereja HKBP Pasar Melintang Medan adalah
sebagai berikut:
1. Weik I
: St. D.J. Hutagalung
2. Weik II
: St. M. Simandalahi
3. Weik III
: St. O.H. Hutabarat
4. Weik IV
: St. K. Sinambela
5. Weik V
: St. H. Sitompul
6. Weik VI
: St. A. Situmeang
Aktivitas gereja dalam hal koor terlihat dari paduan suara yang dibentuk yang
setiap ibadah berparsitifasi melantunkan lagu pujian. Paduan suara terdiri dari:
Punguan Ina Parari Rebo (Koor Ibu yang latihan setiap hari Rabu); Koor Ama
(Koor kaum Bapak); koor gabungan Zion; Koor Ina Maria dan koor dari weik II.
Selama 3 bulan ibadah gereja selalu dipimpin dengan serunai yang
dimotori oleh St. K. Sinambela. Pada tanggal 22 September 1986 gereja membeli
Poti Marende buatan K. Hutagalung – Made in Sipaholon. Perkembangan
selanjutnya, pada tahun 1979 instrumen Poti Marende diganti dengan Elektone.
63
Untuk ibadah minggu yang dilaksanakan, gereja ini membagi tiga
kelompok, yakni:
1. Ibadah Sekolah Minggu
: masuk pukul 07.30 wib - 08.45 wib
2. Ibadah Minggu Pagi
: masuk pukul 09.00 wib - 10.00 wib
3.
: masuk pukul 10.00 wib - 12.00 wib
Ibadah Bahasa Batak
2.2.4 Pembangunan gereja HKBP Pasar Melintang
Pembangunan gereja dimulai 19 Februari 1068 dengan ukuran 8,00 M x
12,00 M dengan kondisi gedung gereja yang masih sederhana. Pembangunan
gereja selanjutnya dengan lantai permanen selesai dikerjakan pada tanggal 4 April
1971. Pada tanggal tersebut diadakan pesta ulang tahun ke III (pesta manuruk
gereja na imbaru artinya: pesta memasuki gereja baru) dimana ketua panitia pesta
ini adalah Bapak R.W. Sinambela.
Ketua pembangunan Bapak M.L.P Simanjuntak kemudian menyerahkan
seksi dewan pembangunan kepada Bapak D.J Panjaitan. Pada masa dewan
pembangunan yang baru, konsentrasi pembangunan gereja terpusat pada bagian
balkon gereja dan membangun dingding gereja dari beton. Pada tahun 1979,
gereja mengadakan pesta pembangunan untuk mengumpulkan dana yang
dikerjakan oleh Bapak B. Panjaitan.dana yang dihasilkan dari acara pesta
pembangunan ini kemudian dipakai untuk memperbaiki pagar yang permanaen.
Tanggal 21 Juni 1981 paniti pesta pembangunan yang di ketuai oleh
Bapak RTDH Pakpahan. Dana yang diperoleh dari acara pesta ini digunakan
64
kepada perbaikan plafon gereja, loudspeaker, pengecetan didngding gereja dengan
aksesorisnya.
Tanggal 8 Agustus 1982 pesta pembangunan gereja dilaksanakan untuk
memperbaiki mimbar depan gereja. Pada tanggal 7-8 Mei 1983 adalah lanjutan
dari pesta pembangunan tahun 1982. Ketua panitia acara ini adalah Bapak A.C.
Sagala, SH. Perencanaan akan pembangunan mimbar gereja dapat tercapai dengan
baik.
\
Gambar 2.5. Hasil Akhir Pembangunan Altar Gereja
Sumber: Dokumentasi Pribadi
65
BAB III
TATA IBADAH GEREJA HKBP
DAN PERKEMBANGAN MUSIK GEREJA
Pembahasan dalam Bab III adalah tentang liturgi gereja HKBP dan
perkembangan Musik gereja. Perkembangan musik gereja dalam penelitian ini
adalah himne dan juga alat musik yang digunakan dalam mengiringi nyanyian
ibadah di gereja HKBP.
3.1 Tata Ibadah
3.1.1 Beberapa istilah asing dalam tata ibadah gereja HKBP
Dalam gereja HKBP, terdapat beberapa istilah-istilah kata asing yang tetap
digunakan hingga saat ini, seperti: Agenda, Votum, Liturgi, Cultus dan Introitus.
Berikut adalah penjelasan dari istilah-istilah tersebut di atas:
1. Agenda berasal dari bahasa Latin yang artinya dalam bahasa Inggris
menunjukkan sebuah daftar tentang hal-hal yang akan dikerjakan;
kemudian kata itu digunanakan oleh gereja-gereja berbahasa Jerman
“Agende” atau “Kirchenagende”,yaitu sebuah buku yang mengumpulkan
tata ibadah yang dipakai oleh gereja antara lain; kebaktian minggu biasa,
kebaktian dengan perjamuan kudus, dengan babtisan, naik sidi,
pemberkatan
nikah,
penguburan,
ordinasi
(die
Ordination
zum
Predigtamt), dan lain-lain. Agenda padanannya sebelum masa Reformasi
disebut
dengan
“Agenda missarum” (perayaan
messe),
“Agenda
mortuorum” (perayaan mengenang para orang mati). Kumpulan Tata
Ibadah HKBP dikenal dengan nama “Agende” sesuai dengan pemakaian
66
kata itu oleh gereja-gereja asal para misionaris yang bekerja di Tanah
Batak (1861–1940).
2. Liturgi berasal dari bahasa Yunani “leiturgia” (leos yang artinya rakyat,
dan
ergon yang artinya kerja): kerja bakti yg dilakukan warga kota
setempat; pajak yang dibayar oleh warga negara; ibadah dalam kuil; dalam
Perjanjian Baru: ibadah atau kebaktian kepada Tuhan (Kis.13:2); mata
acara suatu ibadah, termasuk juga kaidah, sistem atau aturannya.
3. Cultus berasal dari bahasa Latin sebagai padanan kata “latreia” dalam
Perjanjian Baru atau dalam bahasa Jerman disebut dengan “Gottesdienst”
yang artinya ibadah pada Allah; mencerminkan prinsip reformasi Marthin
Luther yg merujuk pada ibadah seutuhnya oleh manusia terhadap Allah,
termasuk tampilan luarnya, sehingga ibadah itu bukan buatan tangan
manusia, seolah-olah manusia dapat merebut kedudukan Allah yang bebas
mendirikan ibadah (tata) untuk Allah sendiri.
4. Votum berasal dari bahasa Latin yang artinya: keinginan, janji, keputusan,
pengesahan, dukungan suara, penyataan Allah bahwa Ia ada dan bersedia
menerima orang yang ingin bertemu dengan Allah. Unsur yang mengawali
ibadah gereja; kebaktian dimulai oleh Allah yg berjanji, yg menyatakan
diri berada.
5. Introitus berasal dari bahasa Latin yang artinya pengantar masuk suatu
prosesi; ayat introitus: sebuah nats Alkitab yang merujuk pada tahun
gerejawi yang berlaku pada hari minggu tertentu, yg berfungsi sebagai
panggilan beribadah.
67
3.1.2 Dasar-dasar teologis tata ibadah hari minggu HKBP
Uraian tentang dasar teologis tata ibadah HKBP diawali dengan paparan
dari segi historisnya, artinya memberi penjelasan kapan lahir, bagaimana lahirnya
serta mengapa dilahirkan sebuah dokumen yang namanya Liturgi (tata ibadah)
HKBP. Sejak awal pekabaran Injil di Tanah Batak tahun 1860-an, keinginan
untuk pengadaan sebuah liturgi atau tata ibadah Minggu dan peristiwa-pristiwa
gerejawi lainnya sudah menggema dan upaya untuk itu sudah dilakukan. Ini
nampak dari laporan-laporan para misionaris, seperti yang nampak dari laporan
kegiatan Pekabaran Injil di lembah Silindung Batak Toba oleh ketiga misionaris
setempat, yaitu I.L.Nommensen, P.H.Johannsen dan A.Mohri.25 Mungkin mereka
di tempat pelayanan masing-masing telah membuat gagasan-gagasan awal untuk
menciptakan tata badah Minggu, ibadah baptisan, perjamuan kudus, peneguhan
sidi, pernikahan, dan lain-lain. Kemungkinan ini semua telah bermuara pada
sebuah buku Agenda, edisi pertama ialah Agenda 1904, dilengkapi dengan
pedoman pemakaiannya, yang diterbitkan pada tahun 1906 dalam bahasa Jerman
dan untuk edisi Batak Toba tahun 1907. Agenda 1904 dan buku pedoman tersebut
menjadi acuan bagi paparan kita dalam mencari dasar-dasar teologis dan praktis
sebuah Agenda HKBP serta menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan revisi
Agenda HKBP untuk masa mendatang.26 F.Tiemeyer mengkaji kembali apa
25
I.L. Nommensen, Missionsarbeit in Silindung, dalam : “Berichte der RMG”, Juni 1866,
hal.167-182 ; I.L. Nommensen, Aus Huta Dame im Bataklande, dalam: “Berichte der RMG”, Juli
1874, hal.193-206; dll. Lihat juga buku J.R.Hutauruk, Menata Rumah Allah. Kumpulan tata gereja
HKBP, Kantor Pusat HKBP, 2001, hal.10-11, bahwa urutan mata acara ibadah Minggu :
pembacaan dasa titah – pengakuan dosa – janji pengampunan dosa, sudah sejak dini dilakukan.
26
“Agenda”, Nirongkom di Pangarongkomon Mission di Narumonda, Sianta – Toba,
1904, selanjutnya dikutib dengan singkatan: Agenda, Edisi 1904. Buku pedoman yang dimaksud
ialah “Aturan ni Ruhut di angka huria na di tongatonga ni Halak Batak.”, Nirongkom di
Panagarongkoman Mission di Si Antar – Toba, 1907, hal.1-35.
68
sebenarnya dasar teologis dari sebuah liturgi (tata ibadah gereja) yang evangelis (
istilah yang lebih popular ialah injili), atau dengan kata lain apa saja yang paling
fundamental dari sebuah agenda gerejawi yang berdasarkan teologi reformatories
M. Luther atau J .Calvin maupun para reformator lainnya. Dasar teologis yang
sangat fundamental menurut Tiemeyer adalah bahwa karya Tuhan Allah sendiri
yang selalu mendominasi sebuah tata ibadah yang otentik sebagaimana ditemukan
kembali oleh para reformator M. Luther dan J. Calvin. Tiemeyer mengatakan
bahwa upaya mencari makna dan hakekat sebuah tata ibadah evangelis
(evangelische Gottesdienst) atau istilah yang lebih dikenal dengan kata ibadah
injili ialah memperlihatkan aksi jemaat yang menunjukkan kepatuhannya terhadap
Allah yang hidup itu. Karena arti tata ibadah yang paling mendasar ialah
perbuatan/tindakan Allah bersama jemaatNya. Allah menghukum dan menghajar.
Allah menegur dan mengampuni. Tiemeyer mengatakan, bahwa tidak ada
perbedaan antara pendeta ( pengkhotbah = Prediger) dan liturgis. Di sini pendeta
dan liturgis sebagai manusia biasa tidak bakal melewati batas antara Allah dan
manusia. Allah telah menyatakan diriNya kepada manusia dan tidak bakal
membagikan kemuliaan-Nya dengan siapapun dari antara manusia.
Tiemeyer telah melakukan pemantauan terhadap berbagai tata ibadah
gerejawi yang pernah dipakai oleh Gereja – gereja dengan tujuan untuk
menunjukkan bahwa sepanjang sejarahnya gereja sepanjang abad itu selalu jatuh
bangun dalam mempertahankan hal-hal yang fundamental dari sebuah tata ibadah.
Salah satu yang paling utama ialah tindakan Allah, Allah yang bertindak, Allah
yang hadir dan manusia merespons kehadiran Allah yang mulia dan agung itu.
69
Dalam lima periode, beliau melihat gereja-gereja itu jatuh bangun dalam
mempergumulkan ke-injil-an dari tata ibadah kristiani itu. Beliau mengibaratkan
perjalanan dari tata ibadah injili itu telah melalui lima stasi / persinggahannya
secara historis, yaitu: Yerusalem, Roma, Wittenberg dan Geneva, kemudian
zaman pasca-reformasi, rasionalisme dan kultur protestantisme Eropa.
Zaman Israel, pada setasi pertama di Yerusalem nampak, bahwa ibadah
pada bait suci memperlihatkan kehadiran Allah yang hidup itu. Sepanjang
perjalanan sejarah bangsa Israel selalu nampak bahwa sebuah tempat tertentu
(sebuah kemah nomadis, tabut pada zaman perjalanan di gurun pasir atau sebuah
tempat yang menetap pada zaman sebelum dan sesudah pembuangan),
fenomenanya tetap sama, yaitu “Allah hadir, mari kita sujud di hadapan-Nya,
demikian yang terjadi pada awalnya. Ketika batas antara Allah dan manusia
dilewati, maka para imam Israel atas kekuatan / kekuasaan jabatannya, mereka
telah membangun ibadah untuk Allah, dan pada saat itulah menghilang kehadiran
Allah. Kehadiran Allah telah menghilang, dan sebagai gantinya ialah ibadah
(“Gottesdienst”) tanpa Allah. Kemudian utusan Allah yaitu Kristus datang
memasuki sejarah bangsa Israel. Firman Allah menjadi daging. Tetapi Kristus
tidak diterima, manusia ingin menguasai Allah dalam bait suci. Kristus
menjatuhkan hukuman. Bait Suci di Yerusalem musnah, tinggal puing-puing.
Demikian Tiemeyer menggambarkan perubahan makna ibadah di Yerusalem,
yang tadinya berpusat pada kehadiran Allah, tetapi oleh kehadiran para imam
Israel tempat Allah telah direbut oleh para imam, dengan demikian imam jadi
pusat ibadah.
70
Zaman Israel kemudian digantikan oleh zaman Kekristenan. Tiemeyer
merujuk ke nats Alkitab Mateus 7:29 sebagai karakteristik dari pemberitaan
Yesus: “sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti
ahli-ahli Taurat mereka”. Demikian beliau mengutipnya serta menambahkan,
bahwa Yesus menerima kewibawaan / kuasa dari Allah; Yesus bukan
mengandalkan wibawa / kuasa sendiri. Kini Allah kembali hadir dan bertindak
dalam ibadah yang dipimpin oleh Yesus. Kehadiran Allah dipertegas lagi oleh
nats Alkitab Lukas 4: 21: ” Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: ‘Pada
hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya’. Dan pada akhir hidupNya, Yesus mendirikan Perjamuan Kudus (“Abendmahl”) sebagai ibadah. Rasul
Paulus melanjutkan ibadah yang mengedepankan kehadiran Allah dalam ibadah
Perjamuan Kudus: “ dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecahmecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu;
perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! ( 1 Korintus. 11:24 ). Inilah menurut
beliau bentuk yang sangat sederhana yang dilayankan oleh Yesus, yaitu makan
roti dan minum anggur; bentuk yang sangat sederhana ini dipakai oleh Yesus
untuk mencerminkan kebesaran dan kehadiran Allah yang berbuat itu. Inilah suatu
ketegangan yang indah, yang nampak dalam ibadah yang dipimpin oleh Yesus:
ketegangan antara unsur roti dan anggur yang bersifat sementara itu dan dalam
bentuknya yang sederhana itu (kata-kata yang biasa tanpa seremoni) dengan
kemuliaan yang abadi dari Tuhan Allah yang hidup itu. Namun ketegangan ini
akhirnya sirna oleh ulah manusia yang tidak sabar dan rindu akan kehadiran
Tuhan Allah. Lagi-lagi terjadi penyimpangan oleh ulah dan perbuatan para pejabat
71
gerejawi abad ke-2. Kehadiran Allah dalam ibadah telah digantikan oleh kegiatan
seremonial para pejabat gerejawi itu. Kehadiran Allah dalam Perjamuan Kudus
telah digantikan oleh unsur-unsur yang diilahikan (roti dan anggur; “die
vergotteten Elemente Brot und Wein”). Artinya, kini yang bertindak ialah manusia
bukan lagi Allah. Imam maju ke depan dan mengorganisasi ibadah itu,
menguasainya, bertindak dan memutuskan melalui seremonial yang saleh. Dalam
hal ini, Tiemeyer menyimpulkan bahwa kini yang terjadi ialah: Ibadah – tanpa
Allah (“Gottesdienst – ohne Gott”).
Zaman Romawi, Pusat ibadah Gereja Katolik Roma ialah Missa, yang
pada hakekatnya adalah Perjamuan Kudus. Dalam Missa Allah telah
dimaterialisasikan (“Gott ist dinglich geworden”) dalam sebuah peti sakral yang
dikenal dengan nama Hostie yang artinya tempat roti yang sudah berubah jadi
tubuh Kristus. Melalui pelayanan ritus seorang imam, maka roti dan anggur itu
telah diilahikan. Ketegangan antara Allah dan manusia telah dihancurkan. Gereja
yang merayakan itu memiliki, berkuasa atas Allah dalam peti sacral hostie.
Kristus telah hadir dalam peti tersebut. Gereja telah menguasai Allah, gereja telah
berkuasa atas Allah, bukan lagi sebaliknya Allah menguasai Gereja. Kejatuhan
dalam dosa telah kembali terjadi di tempat kudus.
Zaman Reformasi abad ke-16. reformator M. Luther dan J. Calvin
bukanlah mereformasi kehidupan kultis gereja, sekalipun mereka menilai Messe
itu sebagai suatu pengilahian (“Abgotterei”) dan oleh karenanya perlu ditiadakan.
Bagi kedua reformator ini, adalah suatu hal yang sangat mendasar bahwa tindakan
Allah sendiri yang terjadi dalam sebuah ibadah dan hendaknya jangan ada yang
72
merampok kemuliaan Allah dalam tempat suci. Ketegangan antara Allah dan
manusia harus ditegakkan kembali: “Allah tidak bertempat tinggal di rumah bait
suci buatan manusia” (Kis.17:24). Dalam ibadah itu harus nyata adanya
perbedaan kualitatif antara Allah dan manusia, dan keduanya jangan
dicampuradukkan, melainkan dalam ibadah itu harus nampak kekuatan dan
anugerah Allah, bahwa Dia yang kudus itu mendekatkan diri kepada orang-orang
berdosa
dan
Dia
memang
membutuhkan
orang-orang
berdosa
dalam
pelayanannya masing-masing. Dengan demikian Allah yang kembali hadir dalam
ibadah sebagai Hakim dan juga sebagai Juru Selamat. Suara Allah yang
mengatakan Tidak pada tindakan-tindakan penuh dosa kembali terdengar nyaring
dalam ibadah, tetapi juga suaraNya yang mengatakan Ya berlaku bagi orang
berdosa. Beliau mengatakan bahwa hal ini dapat terjadi hanya melalui firman
Allah dan bukan melalui Messe. Sekali lagi beliau mengulangi, bahwa melalui
Messe, dalam roti dan anggur yang telah diilahikan itu, Gereja telah menampilkan
diri sebagai pemilik, sebagai yang mempunyai. Tetapi firman Allah itu tak akan
pernah dapat dimiliki atau dikuasai oleh siapapun, melainkan firman Allah itu
mengajar supaya sabar dan berpengharapan. Beliau mengutip nats Alkitab Rom
8:24: ” Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang
dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan
apa yang dilihatnya”. Semua reformator sependapat akan arti dan makna sebuah
ibadah yang injili / evangelis itu. Mereka beda hanya dalam menentukan bentuk
luarnya. Perbedaan antara Luther, Calvin dan Zwingli hanya dalam bentuk
luarnya, bukan secara kualitatif tetapi hanya secara kuantitatif.
73
Luther berpijak pada tradisi lama yaitu liturgi Messe ketika dia
memperkenalkan tata ibadahnya, yaitu Messe Jerman. Tetapi bagi Luther Messe
Jerman ini tidak dianggap bersifat hukum / aturan ibadah yang harus dipatuhi atau
dilaksakan Menurut Tiemeyer, ada perbedaan antara kosep liturgi antara M.
Luther dan J. Calvin. Menurutnya, Calvin mengambil pijakannya dari tradisi
alkitabiah. Beliau mengetahui, bahwa ketika Calvin melayani di Strassburg beliau
sudah mengenal sebuah buku nyanyian yang dikenal dengan nama Nyanyian
Mazmur, dan buku nyanyian ini beliu perkenalkan kepada jemaatnya di Geneva
sebagai “Nyanyian rakyat” (Volksgesang). Buku liturgi karangan Calvin tahun
1545 memanfaatkan Nyanyian Mazmur tersebut. Aspek kuantitatif dari sebuah
tata ibadah adalah relative dan tidak mengurangi esensinya atau istilah yang beliau
pakai “kualitasnya” sebuah tata ibadah.
Zaman pasca-reformasi, menurut Tiemeyer terjadi juga penyimpangan
dalam Gereja zaman pasca-reformasi di kalangan Gereja reformasi. Aliran
Ortodoksi telah menjadikan tata ibadah itu sebagai suatu pemberitaan ajaran
(“Lehrverkuendigung”). Firman Allah telah menjadi buku hukum/aturan
(“Gesetzbuch”). Dan isinya telah disimpan dalam sebuah lemari buatan roh
manusia. Tetapi, demikian beliau, Roh Allah tidak identik dengan roh manusia.
Roh Allah berembus ke mana Dia inginkan. Roh Allah tidak mau berkompromi
dengan roh manusia sekalipun ajaran yang benar itu dibutuhkan.
Aliran Ortodoksi ketika itu berseberangan dengan aliran Pietisme. Struktur
pemikiran pietisme ialah “Mistik dan Injil”. Berangkat dari pemikiran inilah maka
kaum Pietisme selalu menekankan kehidupan (“Leben”) dan tidak ajaran
74
(“Lehre”). Dan sikapnya terhadap Gereja resmi (arus utama) tidaklah besahabat,
malahan anti-gereja. Yang diutamakan bukan ajaran ortodoksi, tetapi kehidupan
jiwa-jiwa dalam hubungan pribadi yang sangat hangat dan emosional dengan
Allah, dengan kata-kata yang membelai seperti: ‘Yesus sang bayi yang cantik,
buah hati yang setia.’ (“ lieben Jesulein’, dem ‘treuen Herzlein”). Dosa dirasakan
sangat menekan dan ini terjadi secara mistis. Dalam hal ini kebenaran hanya oleh
iman sudah sangat menurun. Yang menjadi pergumulan pokok dalam kehidupan
ini ialah bagiamana seseorang dapat meraih kekudusan/kesalehan. Dalam hal ini
ia mengatakan, bahwa yang terjadi di sini ialah bahwa manusialah yang
mengambil prakarsa dan yang ingin memisahkan diri dari ’Dunia, Gereja dan
Dosa’, tetapi hasilnya ialah bahwa manusia tetap tinggal sebagai orang yang
ditipu oleh dosa. Demikian penyimpangan yang terjadi dalam aliran atau kaum
Pietisme.
Tetapi bukan hanya dalam gerakan kegerejaan, seperti dalam Pietisme itu
terjadi penyimpangan; penyimpangan terjadi juga akibat aliran atau semangat
Rasionalisme dan Kulturprotestantisme, sebagaimana masih menguasai pemikiran
dan pola pikir manusia Barat sezaman para misionaris Jerman yang melayani di
Tanah Batak. Beliau hanya ingin mengangkat yang paling pokok dari kedua aliran
itu yang mempengaruhi pola pikir dan sikap menggereja atau beragama ketika itu.
Misalnya nilai-nilai kemanusiaan seperti kebaikan (Tugend), kesejahteraan
(Wohlfahrt), solidaritas persaudaraan (Bruederlichkeit) dianggap sebagai ibadah –
pengganti (Ersatz-Gottesdienst) manusia Barat saat itu, yang memang adalah
anggota Gereja di Jerman saat itu. Dan sejak Schleiermacher ( seorang tokoh
75
teologi abad ke-19 di Jerman ) sangat menguasai diskusi tentang tata ibadah dan
sedang mempengaruhi pola pikir teologis para pendeta di Jerman termasuk para
misionaris Jerman di Tanah Batak, artinya juga mereka yang sedang
mendiskusikan pembaharuan tata ibadah untuk Gereja Batak HKBP. Alasannya
mengatakan demikian ialah bahwa lahirnya Agenda Union yang lama (die alte
Unionsagende buat Gereja Senegeri Prusia atau lazim disebut Gereja Evangelis
Union) sangat banyak dipengaruhi oleh Teologi Schleiermacher, yang berpusat
pada perasaan manusia yang sangat bergantung pada suatu kekuasaan diatasnya
atau diluarnya (“das schlechthinnige Abhaengigkeitsgefuehl”). Agenda Union
itulah yang dipakai saat menyusun tata ibadah Gereja Batak (HKBP) edisi
pertama.
3.1.3 Dasar teologis tata ibadah minggu HKBP menurut F. Tiemeyer
Untuk menjadikan dasar teologis tata ibadah Minggu HKBP, Tiemeyer
mengambil alih dasar teologis tata ibadah injili sebagaimana ia temukan dalam
sejarah tata ibadah. Tata ibadah yang sudah dipaparkan mulai dari zaman umat
Yahudi hingga zaman pasca-Reformasi. Kesimpulannya ialah bahwa tata ibadah
Injili selalu mengedepankan tindakan Allah bersama jemaat-Nya. Itulah yang
diisyaratkan ibadah yang diawali oleh rumusan ’Dalam nama Bapa, Anak dan
Roh Kudus’ (Votum). Ibadah Injili bukan dibuka oleh sebuah nyanyian (oleh
jemaat). Ini mau menjelaskan, bahwa manusia (dalam hal ini liturgis) bukan
bertindak atas kekuatan atau wibawa jemaat atau pribadi sendiri tetapi atas
penugasan Allah yang berindak itu. Dan makna serta arti sebuah nyanyian yang
76
dinyanyikan
bersama
oleh
jemaat
dan
pendeta
(liturgis)
hendaknya
mengisyaratkan pernyataan bersama akan kehadiran Allah dan kerelaan jemaat
untuk sujud dan berdoa di hadapan Allah. Suara Allah yang gemuruh hendaknya
bergaung untuk menyadarkan manusia supaya rela melepaskan diri dari roh yang
selalu ingin menguasai (Allah). Suara Allah seperti itu pernah didengar oleh Musa
saat dia menggembalakan ternak mertuanya Yetro: “Janganlah datang dekatdekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri
itu, adalah tanah yang kudus.” ( Kel. 3:5). Kutipan ini mau mengingatkan setiap
orang yang mau menyusun atau membaharui tata ibadah (HKBP) agar selalu
mewaspadai bahwa pengaruh kehadiran Allah selalu membangkitkan rasa kagum
dan gentar (“Erschrecken”, harafiah “terkejut”), penyesalan (Reue) dan pertobatan
(Busse). Itulah sebabnya dalam ibadah nampak unsur pengakuan dosa dari pihak
jemaat (bersama liturgis). Baik liturgis maupun jemaat sama-sama pihak yang
berdosa di hadapan Allah. Ketergerakan hati dan pikiran mengaku dosa
mendorong manusia untuk rindu menerima pengampunan dosa melalui janji
anugerah melalui pembacaan firman Allah (yang dikutib dari Alkitab). Setiap
orang akan tergerak hatinya mengatakan: “ya Tuhan Yesus, seandainya Engkau
tidak ada dekatku, apalah saya ini!”.
Pengakuan dosa dan pengampunan dosa tersebut dilanjutkan oleh sebuah
doa jemaat. Doa tersebut akan mengantar pengkhotbah yang akan memberitakan
firman Tuhan, artinya pengkhotbah bertindak sebagai mulut Allah pada hal dia
juga adalah orang berdosa; dan itulah sebabnya jemaat mendoakan pengkhotbah
dan jemaat itu sendiri, agar Allah sendiri yang akan membuka hati, mulut dan
77
telinga mereka untuk memahami dan menerima firman Tuhan. Doa ini dilanjutkan
dengan sebuah nyanyian khusus untuk menghantar khotbah yang akan segera
disampaikan oleh pengkhotbah. Melalui khotbah Allah berbicara kepada jemaat
yang datang dalam sikap penyesalan dan rasa serba kekurangan. Allah datang
melalui firman yang disampaikan melalui khotbah. Allah menyampaikan
pengampunan dosa terhadap jemaat yang berhimpun itu. Allah menyampaikan
seluruh kekayaan anugerahnya kepada jemaat. Ini pula yang diisyaratkan salam
anugerah dari pengkhotbah. Inti sari dari khotbah ialah: firman Allah selalu punya
kekuatan untuk mengikat (bindend) dan membebaskan (loesend). Jemaat terikat
untuk tetap setia terhadap tuntutan Allah: “engkau adalah milik-Ku!”. Allah
membebaskan orang-orang yang telah menyesali dosa-dosanya: ”’pergilah dalam
damai, imanmu telah menolong engkau!’”. Kemudian pengkhotbah dan jemaat
mengucapkan doa ucapan terimakasih kepada Allah yang mencurahkan
anugerahnya yang melimpah itu dan ini diakhiri dengan sebuah nyanyian.
Memang anugerah Allah tidak akan berkesudahan. Setiap hari kasih karunianya
selalu baru. Dalam situasi yang demikian, jemaat bangkit berdiri untuk
mengucapkan Pengakuan Percaya (Kredo). Artinya, melalui firman Allah yang
disampaikan melalui khotbah, jemaat dipanggil kembali untuk mengucapkan
pengakuan umat Allah sepanjang abad kepada Allah bersama-sama dengan
seluruh umat Allah di dunia ini, baik jemaat terdahulu, maupun jemaat terkini dan
jemaat yang akan datang. Bersama-sama dengan umat Allah sepanjang zaman,
jemaat yang berkumpul itu patut mengucapkan kembali Pengakuan Percaya yang
universal itu. Menurut Tiemeyer, di sini yang berbicara bukan perasaan (Gefuehl)
78
yang sangat subjektif itu, tetapi Pengakuan sekalipun dengan kata-kata yang
diulangi dan dengan pikiran yang cerah. Kemudian jemaat bernyanyi. Melalui
nyanyian itu, jemaat diingatkan akan tanggungjawab jemaat terhadap kehidupan
orang-orang yang berkekurangan, terhadap tanggungjawab jemaat terhadap tugas
pelayanan Allah di seluruh dunia (diakonia). Itulah alasannya maka jemaat
mengumpulkan persembahan (Kollekte) sesudah selesai khotbah. Kemudian
dilanjutkan dengan doa penutup. Jemaat menyampaikan doa pujian dan terimaksih
atas perbuatan Tuhan Allah di dalam dan melalui firman-Nya dan kepedulian
Allah kepada Gereja-Nya dalam segala kekuatan dan kekurangannya, dan atas
kesempatan yang diberikan oleh Allah kepada jemaat-Nya untuk menyampaikan
persembahannya ke hadapan takhta Tuhan Allah yang mulia itu; dan ini semuanya
permohonan itu dirangkum dalam doa “Bapa kami”. Dan di dalam berkat Allah
dan janji perlindungan-Nya bagi jemaat yang selalu menghadapi berbagai cobaan,
serta diakhiri nyanyian permohonan: Sai tiop ma tanganhu (So nimm denn meine
Haende), maka jemaat kembali ke dunia sehari-hari, menjalani kehidupan
sehariannya, dan di sana akan mempelajari, bahwa seluruh hidup ini adalah
sebuah ibadah kepada Tuhan Allah (Gottesdienst), bahwa hidup kita seutuhnya
adalah sebuah pertobatan
3.1.4 Urutan mata acara ibadah HKBP dalam agenda edisi 1904 dan 1998.
Uraian teologis di atas telah sekaligus memperkenalkan urutan mata acara
ibadah yang diinginkan oleh F. Tiemeyer. Keinginan tersebut tidak jauh dari
susunan mata acara ibadah HKBP yang menurut Edisi 1904 dikenal dengan nama
79
“Agende” HKBP. Urutan mata acara ibadah tersebut disusun dalam 23 mata acara
seperti berikut:
1. Marende (Bernyanyi)
2. Pasu -pasu (Votum )
3. Manjaha sada ayat na tongon tu ganup Minggu manang ari pesta sian
bagian .IIA. (Membaca ayat sesuai dengan tema minggu atau acara pesta
dari bagian II A)
4. Martangiang sian bagian II D ); Huria mandok: Amen! (Berdoa diambil
bagian II D) Jemaat menyambut : Amin!
5. Pandita mandok: Didongani Debata ma hamu!; Huria mandok: Amen!
Tangihon hamu ma patik ni Debata: ( manang singungkun angka patik tu
na torop i ). Terjemahan bebas: Pendeta berkata: Tuhan menyertai seluruh
jemaat: Jemaat menyambut dengan kata : Amin.
6. Huria mandok di ujung : “Ale Tuhan Debata! Sai pargogoi ma hami,
mangulahon na hombar tu patikmi!” Amen! (jemaat mengatakan: ya
Tuhan! Kuatkanlah kami melakukan titahMu)
7. Marende huria: “O Jesus Panondang di portibi on” (No.24)27; manang
No.21,3: “Paian Panondangmu ale Panondang i. Ambati ma na lilu di
hasiangan i.”; manang ayat ni Ende na asing pinillit, jadi do.
8. Panopotion di dosa: Tatopoti ma dosanta! ( Dijaha tangiang on, manang
sada na asing taringot tu panopotion, na tarsurat di bag. II B ).28
Pengampunan dosa (membaca doa atau ayat tentang pengampunan yang
tertulis pada bagian II B).
9. Pandita mandok: Bege hamu ma baga-baga ni Debata, taringot tu
hasesaan ni dosa: “Molo tatopoti angka dosanta, haposan do Ibana jala
bonar, manesa dosanta jala paiashon hita sian saluhutna hadeduhon i.”
27
Nomor ini adalah nomor Buku Logu (BL) dari Buku Ende HKBP; nomor BL sudah
berubah, sehingga nomor 24 sudah menjadi nomor 143 dalam BL yang dipakai HKBP kini.
28
Isi doa yang sudah ditiadakan dari Agenda yang kini dipakai oleh HKBP ialah :”
Angkup ni i, sai dongani ma hami, ingani ma rohanami marhite-hite Tondimi, asa lam ture roha
dohot parangenami tu joloan on, asa unang be hualo hami roham na denggan jala na badia i, asa
sonang hami saleleng di tano on, sonang dohot sogot di lambungmi, dung ro panjoum di hami.
Amen!
80
Manang hata baga-baga nasing na tarsurat di bagian II C. Pendeta
mengatakan: dengarkanlah janji Tuhan tentang pengampunan dosa: “bila
kita mengakui dosa-dosa yang telah kita lakukan, Tuhan akan menghapus
dosa-dosa kita.
10. Huria marende: “Amen, Amen, Amen na tutu do i, Sai marhasonangan na
porsea i. Sesa do dosana salelengna i, Lehonon ni Jesus haposanta i!”
(jemaat bernyanyi: Amin, Amin, Amin, Yang percaya akan selalu
mendapatkan suka cita selama-lamanya.
11. Pandita mandok: Tabege ma hata ni Debata turpuk ni ari Minggu on:
(jahaon sian Evangelium manang sian Epistel manang sian Padan na
Robi, na so sipajojoron di na sadari i di parjamitaan). Pendeta
mengatakan: mari kita dengarkan nats pada minggu ini.
12. Pandita mandok : Martua do angka na tumangihon hata ni Debata, jala
na umpeopsa. Amen! (Pendeta: diberkatilah orang yang mendengarkan
firman Tuhan dan melakukannya. Amin!)
13. Huria mandok : “Hatami ale Tuhanhu, arta na ummarga i.” (Jemaat
menyambut dengan lagu “Firman mu ya Tuhan, Harta yang paling
berharga)
14. Pandita mandok : Tahatindanghon ma hata haporseaonta , ( rapmandok
Pandita dohot huria ): …. (Pendeta: marilah kita mengucapkan Pengakuan
Iman Rasuli: ...)
15. Huria marende : “Na martungkot sere au etc.” ( No.168 ); manang
“Ojahan on do ingananhu”(No.155,6); manang “Pos ma ho rohanghu di
Debata” (No. 166); mamang: ”Jahowa do haposanghi na, na mangapoi
rohanghu” ( No.148 ); manang: “Loas hutiop Jesushi” (No. 172, 4 ).
16. Pandita ro tu parjamitaan, dohononna ma :”Dame ni Debata, na
sumurung sian saluhut roha, i ma mangaramoti angka ate-atemuna dohot
rohamuna, marhute-hite Jesus Kristus. Amen!
(Doa Pendeta sebelum
berkotbah: Damai sejaterah yang dari pada Tuhan Yesus yang menyertai
hati dan pikiran di dalam Tuhan Yesus. Amin)
17. Marjamita. Dung sun marjamita, martangiang sian roha. (Khotbah-Doa)
81
18. Tingting. Tiningtinghon angka sitingtinghononhon di huria. (Warta gereja)
19. Huria
marende.
(Andorang
marende
mardalan
durung-durung/
persembahan). (Bernyanyi – kolekte persembahan)
20. Pandita ro tu jolo ni langgatan, martangiang : Dijaha ma sada tangiang,
na tongon tu minggu manang pesta ( ida di bagian II E di buku on ).
Udutna luhut (pendetan naik ke altar, berdoa: membaca salah satu doa
sesuai dengan makna minggu – bagian II E)
21. huria mandok: “Ale Amanami na di banua ginjang ….Amen! (jemaat
menyambut: “Ya Tuhan Yesus yang bertahta dalam kerajaan Allah ...,
Amin)
22. Pasu-pasu: “Dipasu-pasu jala diramoti ….” Manang: “Didongani asi ni
roha ni Tuhanta Jesus Kristus ….” Berkat: ”diberkati dan disertai ...
”atau: ” disertai dengan kasih karunia Tuhan Yesus...”
23. Laho haruar: marende angka anak dohot boru sikola, sada ende na pinillit
hian. (sebelum keluar: bernyanyi satu lagu yang sebelumnya sudah dipilih)
Melihat susunan mata acara ibadah Agenda Edisi 1904 tersebut di atas, jika
dibandingkan dengan susunan mata acara ibadah dalam Agenda edisi terkini
misalnya Edisi 1998, maka beberapa diantaranya punya tempat yang tetap, tetapi
ada pula yang sudah bergeser, ada penambahan, pengurangan, bahkan ada pula
penghapusan. Sampai kapan tata ibadah 1904 digunakan sebagai pedoman resmi
untuk memimpin ibadah minggu, belum dapat dipastikan. Mungkin tidak lama
sesudah Konferensi 1936. Indikasi untuk itu dapat digunakan data-data dari
sebuah buku catatan kuliah seorang siswa Sekolah Pendeta, Gomar Sihombing di
Seminari Sipoholon, yang mencatat susunan tata ibadah Jumat Agung, Tahun
Baru, Kenaikan, Natal untuk tahun 1933 dan 1934. Mata acara Tingting masih
ditempatkan sesudah mata acara khotbah.
82
Pertama, dalam satuan Votum: dalam Agenda 1904 (nomor 1-5), mata
acara no. 4 dan 5 sudah ditiadakan dalam Agenda 1998; mungkin sebagai
gantinya dalam Agenda 1998 ialah mata acara no 3 di mana jemaat menyambut
votum ( dan introitus) dengan menyanyian Haleluya 3 kali.
Kedua, mata acara tentang pembacaan Hukum Taurat (Dasa Titah) berada
dalam posisi yang sama dalam kedua Agenda, di mana tempatnya sesudah satuan
mata acara yang termasuk bagian votum dan introitus (Agenda 1904 dalam nomor
5-6 ) sedang dalam Agenda 1998 dalam nomor 6-7). Sebagai catatan tambahan:
mata acara ini tidak disinggung oleh Tiemeyer dalam paparannya tahun 1936 itu.
Ada juga perubahan dalam mata acara (no. 8) menyanyi dalam Agenda 1904, di
mana beberapa nyanyian tertentu sudah dipilih untuk menyambut Hukum Taurat
Tuhan, sedangkan dalam Agenda 1998 nyanyian tersebut dapat dipilih sesuai
dengan fungsinya.
Ketiga, satuan mata acara berikut ialah tentang pengakuan dosa serta janji
penghapusan dosa (Agenda 1904, mata acara nomor 9-11 dan Agenda 1998, mata
acara 9-11). Dalam kedua Agenda tersebut mata acara ini ditempatkan sesudah
mendengar Hukum Taurat. Namun dalam mata acara tentang janji penghapusan
dosa, Agenda 1904 telah menyusun doa tertentu: ”Molo hitatopoti angka dosanta
…!” Doa ini dapat juga diganti oleh salah satu doa yang tersedia dalam bagian
II.C. Doa tersebut sudah dihilangkan dalam Agenda 1998. Perubahan lain yang
terjadi diantara kedua Agenda tersebut ialah dalam hal menyanyikan nyanyian
menyambut mata acara pengakuan dosa dan janji penghapusan dosa. Agenda 1904
(mata acara nomor 11) mencantumkan nyanyian tertentu yaitu: ”Amen, Amen,
83
Amen, na tutu do i, Sai marhasonangan na porsea i. Sesa do dosana, salelengna I,
Lehonon ni Jesus, haposanta i!” Agenda 1998 tidak membatasinya, artinya bisa
diambil nyanyian yang sesuai dengan mata acara tersebut.
Keempat, satuan tentang pembacaan firman Allah (Epistel) ditempatkan
sesudah pengakuan dosa dan janji penghapusan dosa dalam kedua Agenda
tersebut (Agenda 1904 dalam mata acara nomor 12-14, dan dalam Agenda 1998
dalam mata acara nomor 12-13). Dalam Agenda 1904, jemaat menyambut
pembacaan firman dengan nyanyian yang sudah ditentukan dalam Agenda, yaitu:
”Hatami ale Tuhanku, arta na ummarga.” Agenda 1998 tidak membatasinya.
Kelima, satuan mata acara berikut untuk kedua Agenda ialah jemaat
mengucapkan Pengakuan Percaya Rasuli (Agenda 1904,nomor 15-16 dan Agenda
1998, nomor 14). Tetapi Agenda 1998 telah menambahkan kalimat ajakan liturgis
untuk pengucapan secara bersama melalui kalimat berikut: “…..songon na
hinatindanghon ni donganta sahaporseaon di sandok portibi on. Rap ma hita
mandok: .…” Agenda 1904 menyebutkan beberapa nyanyian (5 nyanyian) untuk
menguatkan pengakuan percaya jemaat tersebut, dan Agenda 1998 tidak
membatasinya.
Keenam, ada perbedaan yang signifikan dalam mata acara berikutnya.
Agenda 1904 (mata acara nomor 17-19) menempatkan mata acara untuk khotbah
yang didahului oleh doa peneguhan akan janji Allah yang telah memberikan
damai sejahteraNya dan akan memberikan-Nya lagi melalui firman Allah yang
dikhotbahkan oleh pengkhotbah. Sesudah khotbah, jemaat mendengar “Tingting”
(warta jemaat: mata acara nomor 19); kemudian dilanjutkan dengan nyanyian
84
menyambut khotbah dan tingting, dan pada saat bernyanyi jemaat mengumpulkan
persembahan (durung-durung ). Dapat dicatat, bahwa persembahan dilakukan satu
kali, dan dalam Agenda 1998 sebanyak dua kali, dan akhir-akhir ini persembahan
sudah dilakukan tiga kali (tiga kantongan persembahan). Agenda 1998
menempatkan mata acara tentang Tingting (mata acara nomor 15) sesudah mata
acara Pengkuan Iman Percaya, kemudian menyanyi sebagai penghantar khotbah
(mata acara nomor 17) sambil jemaat mengumpulkan persembahan (dengan dua
kantongan: mata acara nomor 16). Khotbah disambut oleh jemaat dengan
menyanyi; dan tanpa dicantumkan dalam mata acara 18, jemaat juga
mengumpulkan persembahan kedua kali (dengan satu kantongan).
Dengan demikian nampak adanya pergeseran tempat dari mata acara
Tingting: Agenda 1904 menempatkannya sesudah khotbah, sedang Agenda 1998
menempatkanannya sebelum khotbah. Melalui penempatan ini, nampak bahwa
Agenda 1904 lebih dekat kepada susunan mata acara ibadah dari Agenda Gereja
Injili Union (Die Evangelische Kirche Der Union di Prusia, Jerman ).
Ketujuh, mata acara ibadah diakhiri dengan doa penutup dan berkat oleh
Pendeta yang berkhotbah, namun caranya berbeda-beda. Dalam Agenda 1904
liturgis mengambil sebuah doa yang dapat dipilih dari bagian II E, kemudian
mengundang jemaat bersama-sama mengucapkan doa “Bapa Kami..!”, kemudian
ditutup dengan pengucapan Berkat (mata acara 21-22), dan jemaat mendengar
sebuah nyanyian dari para anak-anak sekolah Dasar (mata acara 23). Dalam
Agenda 1998, Pendeta/Liturgis membacakan doa persembahan (mata acara nomor
19 a), kemudian membacakan “Doa Bapa Kami” (mata acara 19b), dan bagian
85
terakhir dari Doa tersebut dinyanyikan oleh jemaat : “Karena Engkau yang punya
kerajaan …” (mata acara nomor 20), dan diakhiri dengan ucapan Berkat (mata
acara nomor 21) serta disambut oleh jemaat dengan menyanyikan “Amin, Amin,
Amin!” (mata acara nomor 22). Dalam mata acara untuk hari-hari raya gerejawi
tertentu (Paskah dll), diucapkan juga sebuah doa khusus untuk itu yang diambil
dari Agenda bagian II E), dan tempatnya sebelum pengucapan Doa Bapa Kami.
Kedelapan, dalam Agenda 1904 ada tata ibadah Minggu yang khusus
untuk jemaat muda yang dipimpin oleh seorang Guru Jemaat. Ada beberapa mata
acara yang ditiadakan, yaitu mata acara tentang votum dan introitus, pengakuan
dosa dan janji penghapusan dosa, serta doa yang menghantar Doa Bapa Kami,
demikian juga pengucapan Berkat. Besar kemungkinan alasannya ialah bahwa
mata acara tersebut hanya dapat dilayankan oleh Pendeta sebagai liturgis. Namun
nampak bahwa penghapusan ini sudah mengurangi esensi teologis dari mata acara
ibadah itu. Artinya yang dihilangkan itu tidak lagi dihargai sebagai bagian yang
esensial dari sebuah ibadah injili. Dalam Agenda 1998, susunan tata ibadah untuk
jemaat muda sudah ditiadakan. Namun dalam Agenda 1998, masih ada sisa
pemahaman tentang perbedaan pelayanan ibadah oleh pendeta dan non-pendeta.
Ini nampak dalam sapaan yang berbeda antara pendeta dan non-pendeta dalam
pemberian berkat, antara kata “engkau” / “ho” untuk pendeta sebagai liturgis dan
“kita” / “hita” untuk yang non-pendeta (Guru Huria atau Sintua, atau Diakones
atau Bibelvrouw). Ada baiknya pembedaan ini dipikirkan, apakah pembedaan itu
bisa dibenarkan dari sudut teologi Martin Luther, yang menghilangkan
pembedaan antara klerus / imam dan non-klerus. Fungsi imam dalam Perjanjian
86
Lama sudah digenapi oleh jabatan rajani setiap orang Kristen dan khususnya oleh
ketiga jabatn Yesus Kristus yang sudah bangkit itu.
3.1.5 Urutan mata acara menurut Justin Sihombing.
Masih ada penjelasan tentang susunan mata acara tata ibadah minggu yang
harus diperhatikan, yakni dari kalangan para pendeta HKBP masa kepemimpinan
para misionaris RMG dan pada awal masa kemandirian HKBP sejak 10-11 Juli
1940. Diantara mereka ialah Pdt. M. Pakpahan dan Pdt. Dr.Justin Sihombing,
Ephorus Emeritus kedua dari kalangan pendeta HKBP tahun 1942-1962. Pada
kesempatan ini cukup kalau diambil pikiran dan penjelasan dari Justin Sihombing,
yang dalam usia lanjut masih menuliskan sebuah buku tentang khotbah dan tata
ibadah HKBP tahun 1963.29 Beliau melihat bahwa sedikitnya ada empat hal yang
mendasar yang harus dipenuhi oleh sebuah tata ibadah Minggu.
Pertama, tata ibadah itu harus mencerminkan makna dan arti dari
persekutuan kristiani, yakni “parsaoran ni Debata dohot huria-Na dohot
parsaoran ni huria dohot Debata.” artinya, persekutuan Allah dengan gereja-Nya
dan persekutuan gereja dengan Allah.” Segala sesuatu yang tidak mendukung
unsur
hakiki,
hendaknya
dijauhkan,
sebaliknya
segala
sesuatu
yang
mendukungnya hendaknya diupayakan. Lebih jauh lagi, beliau menekankan
bahwa persekutuan gereja dengan Allah, bukanlah persekutuan seseorang dengan
Allah, karena itu apa yang hanya menguntungkan orang per-orang hendaknya
jangan dilakukan dalam ibadah itu, tetapi segala sesuatu yang terjadi dalam
29
J.Sihombing, Homiletik ( Poda Parjamitaon ) Dohot Deba Hatorangan Na Mardomu
Tu Agenda, Penerbit HKBP, edisi 2000 ( edisi I 1963 ), hal.42-6.
87
ibadah, hendaknya berkaitan dengan kepentingan “hatopan” (umum / publik).
Beliau sangat mengedepankan arti dan makna sebuah “huria”, sebuah Gereja,
persekutuan orang-orang percaya; Gereja yang aktif, bukan individunya orang
perorang. Ketika pemberitaan firman diberikan melalui khotbah, maka yang
menjawab bukan individu, tetapi jemaat sekalipun bukan dengan suara yang
kedengaran, tetapi melalui suara hati para pendengar khotbah itu. Beliau
menjelaskan makna yang terdalam dari persekutuan itu dengan menerapkannya
akan arti sebuah nyanyian atau paduan suara dalam ibadah. Beliau mengatakan,
bahwa “rapma” i do pangkal manang ojahan ni parendeon di bagasan
parpunguan Kristen, ndada holan ende ni angka koor. Ai ndada holan na
marende na arga, alai na rap marende i do. .. ia merande pe angka koor ala na
dipasahat huria i do tu nasida…. ingkon domu do parendeon nasida tu
pangkilaan ni huria na mangutus nasida taringot tu ganjang ni ende, loguna
dohot hata ni ende i. Asa ndang na bebas nasida mambahen lomo-lomona. Dalam
terjemahan bebas “rapma” adalah dasar dari bernyanyi dalam komunitas Kristen,
bukan hanya lagu-lagu kor. Bernyanyi bukan satu-satunya yang berharga, akn
tetapi kebersamaan dalam bernyanyi, ... jika koor melantunkan lagu nyanyian itu
dikarenakan diberikan izin oleh gereja bagi mereka ... nyanyian mereka haruslah
padu dan mendukung kegiatan gereja, keberadaan mereka selalu sejalan dengan
gereja dan tidak bisa melakukan sesuatu dengan sesuka hati. Misalnya, dalam
sebuah doa, kata yang digunakan ialah kata “kita”, bukan “saya” (dalam
terjemahan bebas: ”rapma” adalah dasar dari nyanyian dalam Kristen, tidak hanya
koor. Bukan hanya nyanyian yang lebih berharga, akan tetapi adalah kebersamaan
88
dalam bernyanyi, ...jikalau kelompok koor bernyanyi itu karena telah diberikan ...
haruslah kelompok koor memberikan mamfaat bagi jemaat.
Kedua, adapun caranya Allah bersekutu dengan gereja/jemaat-Nya ialah
melalui manusia yang Allah utus bagi jemaat itu. Dan cara yang dipakai oleh
utusan Allah hanya satu, yakni melalui pemberitaan firman itu (“marhite sian na
mangkatahon hata i sambing) masih ada pendukungnya, yakni berupa simbol
untuk lebih menekankan arti dan makna firman itu sendiri. Pada saat melayankan
kedua sakramen, di sana muncul juga bebagai bahasa simbolis/kiasan atau
gerakan simbolis,
misalnya pada saat
memercikkan air
baptisan dan
mempersiapkan tanda-tanda nyata perjamuan kudus dalam rupa roti dan anggur,
atau pada saat liturgis mengangkat kedua tangannya saat menyampaikan berkat
Tuhan Allah; juga pada saat jemaat berdiri. Semuanya itu punya muatan simbolis.
Beliau menekankan, bahwa muatan-muatan simbolis itu bukan untuk mensahkan
apa yang dilayankan itu, hanya sebagai alat menolong penghayatan atau
penerimaan sakramen itu.
Ketiga, dia yang berbicara ditengah-tengah persekutuan yang beribadah itu
bertindak sebagai wakil jemaat untuk berbicara kepada Tuhan Allah melalui doa,
atau sebagai wakil Allah menyapa jemaat itu melalui khotbah . Dan menurut
beliau, mereka yang bertindak sebagai wakil Allah dan juga sebagai wakil jemaat,
tidak perlu harus seorang pendeta atau guru , tetapi dia harus yang diangkat
(pinabangkit) oleh jemaat itu; artinya, dia yang diberi oleh jemaat wewenang dan
tugas untuk melakukannya. Seseorang tidak berhak mengangkat dirinya untuk
89
berdiri di depan jemaat sebagai wakil Allah dan sekaligus sebagai wakil jemaat.
Allah itu adalah Allah yang cinta keteraturan.
Keempat, segala sesuatu yang terjadi dalam ibadah harus sesuai dengan
kehadiran atau keberadaan (haadongon) Allah dalam persekutuan itu. Jemaat
harus merasakan bahwa Allah hadir dari awal hingga akhir ibadah, bahwa jemaat
itu bersekutu di hadapan Allah. Untuk itu,hedaknya diupayakan supaya ibadah itu
dapat berjalan dalam suasana keteduhan, jangan ada orang yang keluar masuk
tempat ibadah, atau jangan ada orang yang keluar sebelum ibadah ditutup.
Beliau dalam memberikan penjelasan dan arti dari setiap mata acara
ibadah, beliau mengacu pada susunan mata acara ibadah dalam Agenda HKBP
terakhir (misalnya edisi 1998). Muatan teologis dari penjelasan-penjelasan yang
diberikan J. Sihombing hampir sama dengan apa yang diberikan F.Tiemeyer,
bedanya hanya bahwa J. Sihombing tidak meberikan pemikiran atau refleksi yang
kritis terhadap beberapa mata acara ibadah itu, seperti yang dilakukan oleh
F.Tiemeyer. J. Sihombing lebih fokus pada upaya mengingatkan jemaat
khususnya para liturgis / pengkhotbah, supaya tata ibadah itu dipakai secara
sungguh-sungguh dan menjauhkan sikap membaca tanpa menghayatinya, atau
sikap acak-acakan. Misalnya, ketika jemaat bernyanyi, hendaklah jemaat
merasakan bahwa melalui nyanyian itu jemaat ingin berbicara dengan Allah.
Mustahil jemaat berbicara dengan Allah dengan suara yang dilagukan secara tidak
baik; makanya setiap anggota jemaat harus mengetahui melodi dari nyanyian
dalam Buku Ende HKBP, karena itulah harta yang sangat berharga. Atau, ketika
liturgis menyampaikan votum, “patut tarsunggul di bagasan rohana nang di roha
90
ni huria i, angka na binahen ni Debata Ama na tarsurat di Padan na Robi sahat
ro di nuaeng.” Artinya, mendengar nama Allah Tritunggal itu, maka liturgis dan
jemaat terus merasakan dalam batin mereka alangkah besarnya dan banyaknya
tindakan Allah demi keselamatan umat-Nya sepanjang zaman.
3.1.6 Kalender gerejawi (Almanak) HKBP
Almanak HKBP adalah bacaan Alkitab yang telah ditentukan untuk satu
tahun berdasarkan tahun Gerejawi. Yang dimaksud Tahun Gerejawi adalah hari
raya liturgi yang tersusun berdasarkan kehidupan Yesus. HKBP memulai tahun
liturginya pada Minggu Advent Pertama. Karena itu, Minggu sebelum Advent,
yaitu Minggu ke-24 setelah Minggu Trinitatis, disebut juga sebagai Minggu ujung
tahun, di sinilah dibacakan barita jujur taon (berita tentang perjalanan kegiatan
gereja sepanjang satu tahun) dan peringatan akan mereka yang telah meninggal
sepanjang tahun tersebut. HKBP menentukan Minggu Advent ini dengan
menghitung mundur 4 hari Minggu dari Hari Natal. Demikian jenis Minggu dalam
kalender gerejawi HKBP:
Nama Minggu/Artinya
1. Advent I – IV (akhir bulan November-Desember)
2. Natal (25 Desember)
3. Setelah Tahun Baru I – IV Setelah Epifani / Hapapatar (Makin Terang,
Makin Jelas)
4. Septuagesima / 70 hari sebelum kebangkitan
91
5. Sexagesima / 60 hari sebelum kebangkitan
6. Estomihi / Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu
pertahanan untuk menyelamatkan aku (Mzm 31:3)
7. Invocavit / Bia Ia berseru kepadaku, aku akan menjawab-Nya (Mzm
91:15a)
8. Reminiscere / Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya Tuhan
(Mzm 25:6)
9. Okuli / Mataku tetap terarah kepada Tuhan (Mzm 25:15a)
10. Letare / Bersukacitalah (Yesaya 66:10a)
11. Judika / Luputkanlah aku ya Allah! (Mzm 43:1a)
12. Palmarum (Maremare) / Minggu Palma
13. Pesta I Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus (Paskah Pertama) / Paskah
14. Quasimodo Geniti / Seperti bayi yang baru lahir (1 Pet 2:2)
15. Miserekordias Domini / Tanah ini penuh dengan kasih Allah (Mzm 33:5b)
16. Jubilate / Pujilah Tuhan, hai segala bangsa (Mzm 66:1)
17. Kantate / Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Allah (Mzm 98:1a)
Rogate / Doa (Yer 29:12)
18. Exaudi / Dengarlah suaraku ya Tuhan (Mzm 27:7)
19. Pentakosta / Turunnya Roh Kudus
20. Trinitatis / Memperingati Allah Tritunggal
21. I – XXIV Setelah Trinitatis / Minggu Biasa
Berdasarkan minggu-minggu tersebut, bacaan Alkitab dalam setahun disusun
dalam Almanak HKBP. Bacaan Alkitab itu akan diulang kembali setelah tiga
92
tahun, artinya apabila kita memang mengikuti bacaan tersebut, maka Alkitab akan
selesai kita baca dalam waktu 3 tahun.
3.1.7 Tata ibadah HKBP dan artinya
Setiap urutan dalam tata ibadah HKBP memiliki makna yang dalam.
Banyak dari kita yang mungkin hanya mengikuti kebaktian Minggu di HKBP
tanpa mengetahui makna dari setiap acara. Hal ini mungkin menjadi penyebab
kenapa kita merasa bosan dan tidak bergairah mengikuti kebaktian tersebut,
karena kita sendiri tidak tahu apa yang kita ikuti! Berikut adalah urutan dalam
Tata Ibadah Kebaktian Minggu biasa yang tertulis di Agenda HKBP serta
keterangannya.
Sebelum memasuki acara yang pertama, jemaat telah memasuki ruang
kebaktian dan bersiap menunggu lonceng dibunyikan (di kota besar penggunaan
lonceng mungkin telah ditiadakan). Setelah lonceng dibunyikan, jemaat akan
bersaat teduh untuk menyerahkan diri kepada Tuhan, menyiapkan hatinya untuk
mengikuti ibadah.
1. Nyanyian Bersama. Nyanyian pembukaan ini sebenarnya merupakan
nyanyian panggilan beribadah. Tetapi hati kita sudah harus siap untuk
mengikuti ibadah sejak lonceng dibunyikan. Karena itu, nyanyian ini
adalah kesiapan hati kita untuk mengikuti panggilan ibadah tersebut.
2. Votum – Introitus – Doa Pembukaan. Votum adalah meterai pertanda
bahwa Allah hadir di dalam ibadah tersebut dengan ucapan: “Di dalam
Nama Allah Bapa, dan Nama Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus, dan Nama
Roh Kudus.” Inilah yang membedakan ibadah dengan pertemuan biasa,
93
ibadah adalah persekutuan umat percaya yang menyambut kedatangan dan
kehadiran Allah. Introitus adalah pernyataan atau ajakan yang dikutip dari
nas Alkitab. Bacaan ini diambil berdasarkan Minggu Gerejawi tertentu.
Nas Alkitab ini juga menandakan bahwa jemaat sedang berada dalam
suasana perayaan Minggu Gerejawi tertentu. Nas Alkitab ini disambut
jemaat dengan menyanyikan “Haleluya” yang artinya “Pujilah Tuhan!”
Sambutan Jemaat disusul dengan doa pembukaan yang menekankan unsur
kebersamaan. Doa ini disampaikan bersama, memohon agar Tuhan Allah
mengatur dan memimpin ibadah tersebut.
3. Nyanyian Bersama. Nyanyian ini harus sesuai dengan Hari Raya
Gerejawi dan merupakan respons Jemaat terhadap doa pembukaan.
4. Pembacaan Hukum Taurat. Bagian ini adalah lanjutan dari nyanyian
pembukaan dalam ibadah. Maksudnya, dengan memperdengarkan serta
memahami Hukum Taurat dari Allah, anggota Jemaat yang beribadah
sadar akan kesalahan-kesalahan dan pelanggaran yang dia lakukan (Roma
3:20b). Hukum Taurat yang dibacakan bisa juga berfungsi sebagai cermin
diri dan peringatan akan dosa kita. Jemaat menyambut dengan memohon
kekuatan untuk melakukan Taurat-Nya.
5. Nyanyian Bersama. Nyanyian ini berisi respons Jemaat atas harapan
Allah untuk menjalankan hukum Tuhan. Isi nyanyian ini harus berkaitan
dengan Hukum Taurat.
6. Pengakuan Dosa. Setelah Jemaat sadar akan dosa-dosanya, maka tibalah
saat untuk mengaku dosa-dosa tersebut ke hadapan Tuhan. Melalui ‘doa
94
pengampunan dosa’, Jemaat memohon dalam kerendahan hati dan
mengiba kepada Tuhan agar dosanya diampuni (bnd. Luk 15:21). Untuk
masuk ke dalam persekutuan dengan Allah, maka segala dosa harus
terlebih
dahulu
dibersihkan.
Setelah
berdoa,
janji
Allah
akan
pengampunan dosa kita akan dibacakan. Allah mengampuni dosa dari
orang yang telah mengakui dan menyesali dosa-dosanya (Yeh. 33:11).
Setelah mendengar pengampunan dosa, kita bersukacita dan memuji
Tuhan dengan mengucapkan “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha
Tinggi. Amin.”
7. Nyanyian Bersama. Nyanyian ini adalah respon Jemaat atas pengampunan
dosanya.
8. Pembacaan Firman (Epistel). Setelah umat mengakui dosanya, maka
Allah datang menyapa umatNya melalui Firman yang dibacakan sebagai
petunjuk hidup baru. Ini adalah kata-kata Allah menyapa umatNya melalui
surat kiriman (Epistel), yang isinya untuk mendorong umat berbuat baik
dan
bersaksi.
Setelah pembacaan
Alkitab,
Liturgis
membacakan
“Berbahagialah mereka yang mendengarkan dan memelihara Firman
Allah. Amen.” Perkataan ini bermaksud agar umat mengingat bahwa
Firman Allah adalah untuk diindahkan, bukan untuk didiamkan saja.
9. Nyanyian Bersama. Nyanyian ini adalah respon umat atas pembacaan
Alkitab. Karenanya, nyanyiannya pun harus sesuai dengan pembacaan
Epistel.
95
10. Pengakuan Iman Rasuli. Bagian ini adalah bagian yang harus ada dalam
setiap ibadah Umat Kristen karena melalui bagian ini kita mengucapkan
pengakuan iman kita akan Trinitas: Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan
Roh Kudus. Kita mengakui ini karena dosa yang telah dihapuskan dan
Firman Allah (Epistel) yang telah dibacakan mendorong kita untuk
mengakui iman kepercayaan kita.
11. Warta Jemaat. Bagian ini seringkali dirasa tidak perlu terdapat di dalam
ibadah. Namun, HKBP memasukkan Warta Jemaat sebagai bagian dari
ibadah karena semua kegiatan Jemaat adalah karya Allah dalam hidup kita.
Karena itu, Warta Jemaat sebenarnya hanya berisi hal-hal yang ada
kaitannya langsung dengan kehidupan Jemaat. Setelah Warta, Jemaat
mendoakan hal-hal tersebut.
12. Nyanyian Bersama. Nyanyian ini merupakan respons Jemaat akan
pengakuan imannya, sekaligus pengantar untuk kotbah yang akan
didengarkan. Persembahan juga dikumpulkan pada pada waktu ini. Hal ini
berarti bahwa mereka yang bersaksi melalui Pengakuan Iman, bersaksi
juga melalui pengakuan akan berkat Tuhan yang diterimanya dan
kesediaan hatinya untuk memberikan “persembahan syukur” sesuai
dengan Taurat.
13. Kotbah. Kotbah adalah puncak dari acara kebaktian Minggu. Semua
bagian dari ibadah minggu tidak boleh lepas dari nas kotbah yang akan
disampaikan. Kotbah bukanlah pidato atau ceramah, melainkan Allah yang
96
berbicara melalui pengkotbah, sebagai bekal hidup, pegangan dan
penuntun hidup Jemaat.
14. Nyanyian Bersama. Nyanyian bersama ini adalah untuk merespons
Firman Tuhan yang baru saja didengar, dan sekaligus sebagai penekanan
kembali kotbah tersebut. Karena kotbah adalah klimaks, maka sebaiknya
tidak ada lagi acara yang dilakukan setelah kotbah.
15. Doa Persembahan dan Nyanyian Persembahan. Sebelum pulang ke
tempat
masing-masing
jemaat
masih
diajak
untuk
mendoakan
persembahan yang telah diberikan karena segala sesuatu perlu dibawa di
dalam Dia (Kol. 1:3). Jemaat menyambut doa tersebut dengan nyanyian
bersama, yang menyatakan bahwa segala hal harus diserahkan kepada
Tuhan (BE 204:2).
16. Doa Penutup/Doa Bapa Kami. Jika ibadah dibuka dengan doa, maka
diakhir juga dengan doa. Doa penutup juga harus disesuaikan dengan hari
raya gerejawi. Setelah itu doa tersebut disambung dengan Doa Bapa Kami.
Ini merupakan doa yang mencakup segala kepentingan Allah dan
kebutuhan manusia. Itulah sebabnya ini menjadi bagian akhir pada doa
penutup.
17. Doksologi. Doksologi adalah bagian dari Doa Bapa Kami yang
dinyanyikan Jemaat sebagai respons atas seluruh karya anugerah Allah.
Allah dipuji dan dimuliakan karena Dia adalah pemilik segala sesuatu dan
pemberi segala sesuatu (Lihat Mat 6:13).
97
18. Berkat. Berkat yang ditulis di Bil 6:24-26 adalah berkat yang juga
diberikan kepada Umat Israel. Melalui berkat ini kita memahami bahwa
Allah juga telah memberkati Jemaat dengan berkat yang sama. Sebagai
sambutan iman, maka Jemaat menyanyikan “Amin, Amin, Amin!”, yang
berarti “ya benar! Terjadilah.”
3.2 Perkembangan Musik Gereja Sebelum Musik Gereja HKBP
3.2.1 Jaman perjanjian lama
Di dalam Perjanjian Lama terdapat Mazmur yang selalu digunakan dalam
ibadah-ibadah di Bait Allah, ibadah pribadi bangsa Israel, bahkan dalam
perayaan-perayaan. Mazmur ini dikumpulkan dari beberapa penulis yang berbeda,
seperti: Daud, Musa, bani Asaf, bani Korah, dll. Namun sangat disayangkan,
bahwa kita tidak dapat mengenal musik yang bangsa Israel gunakan untuk
menyanyikan mazmur-mazmur mereka. Bangsa Israel hanya mengajarkan secara
oral saja, tanpa meninggalkan catatan-catatan; dan tradisi menyanyikan mazmur
ini masih ada sampai jaman Yesus di Perjanjian Baru. Yesus dan murid-muridNya menyanyikan himne pada akhir dari perjamuan terakhir mereka. Hal ini
merupakan contoh dari tradisi bangsa Yahudi dalam merayakan Paskah.30
Selain mazmur, kita juga mengenal “canticles”, yaitu nyanyian yang
dinyanyikan oleh orang-orang tertentu yang bukan dikutip dari mazmur.
Canticles yang ada di Perjanjian Lama31; Nyanyian Musa (Keluaran 15:1-26),
disebut juga “NyanyianKeselamatan” (Song of Salvation), sebuah nyanyian
30
Harry Eskew and Hugh T. McElrath, Sing with Understanding, 2nd ed., (Nashville:
Church Street Press, 1995), h. 78.
31
Ibid, h. 78-79.
98
kelepasan dari perbudakan Mesir dan kehancuran pasukan Mesir di Laut Merah;
Nyanyian Musa (Ulangan 32: 1-43), yang berisi perintah Allah kepada bangsa
Israel, pada saat Musa akan mengakhiri masa kepemimpinannya, sebelum
kematiannya; Nyanyian Yesaya (Yesaya 26:1-21), yang dibuka dengan pujian
kepada Allah atas terlindunginya orang-orang benar dan juga merupakan tangisan
akan keadaan bangsa yang sedang dalam kekacauan; Nyanyian Hana (1 Samuel
2:1-10), mengekspressikan pujian kepada Allah tentang kemahakuasaan-Nya atas
semua ciptaan dan nyanyian kepercayaan bahwa Allah berkuasa atas sejarah
manusia, memberkati yang benar dan menghukum yang jahat; Nyanyian Yunus
(Yunus 2:2-9), doa Yunus ketika sedang berada di dalam perut ikan; Nyanyian
Habakuk (Habakuk 3:2-19), berisikan kepercayaan yang kokoh kepada Allah,
berdasarkan apa yang Allah sudah perbuat di tengah-tengah bangsa Israel, bahwa
Allah akan membebaskan Israel dari musuh-musuhnya.
Canticles yang ada di Perjanjian Baru; Gloria in Excelsis Deo – Nyanyian
Malaikat (Lukas 2), teks ini masih dipakai terus oleh gereja-gereja Katolik,
Anglikan, dan beberapa gereja tradisional lainnya dalam ibadah-ibadah mereka
atau dalam misa-misa. Disebut juga “The Greater Doxology”; Magnificat –
Nyanyian Maria (Lukas 1:46-56), teks ini dinyanyikan dalam Verpers (ibadah saat
matahari terbenam), dan merupakan bagian dalam ibadah Evening Prayer atau
Evensong di gereja Anglikan; Benedictus – Nyanyian Zakaria (Lukas 1:67-80),
dinyanyikan pada ibadah Lauds di gereja Roma Katolik dan pada ibadah Morning
Prayer di gereja Anglikan; Nunc Dimitis – Nyanyian Simeon (Lukas 2:27-32),
dinyanyikan pada ibadah Compline (setelah Vespers) di gereja Roma Katolik,
99
pada ibadah Even song di gereja Anglikan, dan pada kebaktian Perjamuan Kudus
di gereja Lutheran.
3.2.2 Jaman gereja mula-mula
Jaman gereja mula-mula dibagi dalam: jaman Perjanjian Baru, Himne
Yunani (Greek Hymnody) dan Himne Latin (Latin Hymnody).
Jaman Perjanjian Baru
Setelah kehancuran Bait Allah (tahun 70 Masehi), ada beberapa latar
belakang sosial-politik yang mempengaruhi keadaan orang Kristen dan orang
Yahudi pada waktu itu. Keadaan-keadaan itu adalah; Penganiayaan terhadap
orang-orang percaya meningkat; Pertemuan-pertemuan ibadah dilakukan secara
sembunyi-sembunyi dengan pengawasan yang ketat; Upacara dan ritual orang
Yahudi perlahan-lahan mulai ditinggalkan; Injil diberitakan secara luas, bahkan
kepada orang-orang bukan Yahudi; Adanya persekutuan antara orang Yahudi dan
yang bukan Yahudi, dan mereka disebut sebagai orang Kristen.
Karena keadaan yang kurang menguntungkan tersebut, maka nyanyian
jemaat tidaklah dinyanyikan secara terang-terangan dan mulai bermunculanlah
puisi-puisi rohani yang kadang dinyanyikan atau dibacakan saja, yang disebut
juga himne, seperti: 1 Kor. 2:9; Ef. 5:14; 1 Tim. 1:17; 1 Tim. 3:16; 2 Tim. 2:1113; Kisah. 16:25; dan lain-lain. Ini merupakan cikal bakal berkembangnya lagulagu himne.
Himne Yunani (Greek Hymnody)
100
Bahasa Yunani adalah bahasa resmi di seluruh daerah pendudukan
kerajaan Romawi. Kitab-kitab di Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani,
bahkan Perjanjian Lama diterjemahkan juga ke dalam bahasa Yunani, yang
disebut Septuaginta. Sehingga himne-himne dan unsur-unsur dalam ibadah
sekalipun menggunakan bahasa Yunani.
Pada tahun 367 Masehi, Konsili di Laodikia memutuskan bahwa jemaat
biasa tidak diperbolehkan terlibat aktif di dalam ibadah/misa, hanya penyanyi
yang sudah terlatih dan yang memenuhi syarat saja yang diperbolehkan menyanyi,
dan penggunaan instrumen tidak diperbolehkan. Namun dari jaman inilah muncul
teks-teks himne yang asli32, dalam pengertian murni, bukan saduran atau kutipan,
atau parafrase. Seperti: Phos Hilaron, tidak diketahui siapa penulisnya, digunakan
dalam Verpers atau Evensong, yang berarti Terang Kemuliaan Ilahi Bapa.33
Penulis himne Yunani yang lain adalah Clement dari Alexandria (160-215),
Synesius dari Cyrene (375-430), St. Andrew dari Kreta, St. John dari Damaskus,
dll. Himne-himne yang muncul dan terkenal sampai sekarang, antara lain: Ter
Sanctus (Suci, Suci, Suci, Allah Maha Tinggi), Gloria in Excelsis Deo
(Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi), Gloria Patri (Mat.28:19),
TeDeum.34
Dalam jaman Yunani ini, mulai dikenal bentuk himne dengan metrikal.
Tidak lagi berbentuk bebas seperti karya prosa, tetapi lebih berbentuk seperti
puisi; bahkan St. Andrew dari Kreta mengembangkan suatu bentuk kanon untuk
32
Eskew & McElrath, h. 85.
John Julian, Dictionary of Hymnology – vol.2, (Grand Rapids: Kregel Publications,
1985), h. 894.
34
Ibid, “Greek Hymnody”, h. 456-466.
33
101
menyanyikan canticles. Bentuk lain seperti: Troparia, doa pendek yang
dinyanyikan di tengah-tengah pembacaan Mazmur; Kontakion, terdiri dari 18-30
bait dengan refrain, biasanya berurutan secara alfabetikal.
3.2.3 Himne latin (Latin hymnody)
Nyanyian jemaat berbahasa Latin berkembang secara paralel dengan
bagian akhir nyanyian jemaat berbahasa Yunani.
Hanya saja perkembangan
nyanyian jemaat berbahasa Latin lebih lambat dibandingkan dengan nyanyian
jemaat berbahasa Yunani. Belahan dunia Timur menggunakan bahasa Yunani,
dan belahan dunia Barat menggunakan bahasa Latin. Di belahan dunia Barat ini
terdapat larangan untuk menggunakan teks-teks himne yang bukan berasal dari
Alkitab, sebagai suatu usaha untuk mencegah berkembangnya ajaran-ajaran sesat,
yang pada waktu itu merebak,seperti: Arius.
Kaum ortodoks mulai menggiatkan penulisan teks-teks himne untuk
menangkal ajaran-ajaran sesat itu, bahkan sebagian mereka harus berjuang secara
fisik hingga menimbulkan pertumpahan darah. Penulis-penulis teks himne
beraliran ortodoks itu antara lain: Bishop John Chrysostom dari Konstantinopel;
Hilary dari Poitiers; yang sangat terkenal yaitu Ambrose dari Milan dengan O lux
beata dan Trinitas, yang keduanya adalah nyanyian malam untuk memuji Allah
Tritunggal. Juga Veni, Redemptor Gentium, yang banyak digunakan pada masamasa Advent, bahkan Martin Luther juga menggunakannya dalam bahasa Jerman.
102
Masih banyak lagi penulis himne yang lain, yang sudah menulis teks-teks himne
untuk menangkal ajaran-ajaran sesat.35
3.2.4 Jaman kegelapan (dark ages) dan jaman pertengahan (middle ages)
Tahun 500-1000 Masehi disebut Jaman Kegelapan karena kerajaan
Romawi runtuh, sehingga mengakibatkan perkembangan nyanyian jemaat
berbahasa Yunani pun mulai hilang; yang tersisa hanyalah nyanyian jemaat
berbahasa Latin. Pada jaman ini, perkembangan intelektual dan kebudayaan
meningkat secara drastis, sehingga mengakibatkan beberapa penulis himne juga
menampilkan kejayaan dalam karya-karya mereka yang kreatif.36
Penulis himne yang sangat terkenal dari Jaman Kegelapan ini adalah Pope
Gregory I (590-604), atau yang dikenal dengan sebutan The Great, karena beliau
banyak melahirkan tulisan-tulisan yang spektakuler tentang khotbah-khotbah,
theologia sistematis, misi, dan pelayanan, serta dalam bidang musik dan liturgi.
Dalam bidang musik dan liturgi, Pope Gregory I memperkenalkan suatu melodi
yang sering dikenal dengan sebutan Gregorian Chant, dengan ciri-ciri yang khas,
yaitu: monofonik (satu suara saja), tanpa iringan, melodi diatonik, ketukan bebas
dalam arti melodi dan ketukan disesuaikan dengan ritme dari teks. 37
Dari Jaman Kegelapan ini nyanyian jemaat berbahasa Latin masih terus
berkembang sampai Jaman Pertengahan (Middle Ages). Penulis-penulis himne
yang terkenal dari Jaman Pertengahan ini antara lain: Bernard dari Clairvaux
35
Eskew & McElrath, h. 85-89.
Ibid, h. 89.
37
Jhon Julian, 1985 Dictionary of Hymnology, 2nd Edition, 2 volumes. Grand Rapids:
Kregel Publications, h. 469-470.
36
103
(1091-1153) dengan himnenya yang terkenal “Jesus, the Very Thought of Thee”
(Jesus, Dulcis Memoria); Berbard dari Cluny (1145) dengan “Of Scorning the
World” (De Contemptu Mundi) dan “Jerusalem, the Golden”; St. Francis dari
Assisi (1182-1226). St. Francis dari Assisi banyak menulis teks himne, antara lain
“All Creatures of Our God and King”.
Jaman Pertengahan banyak memberikan sumbangsih di dalam bidang
musik dan liturgi, karena pada jaman inilah orang Kristen mulai mengenal
Sequence dan Tropes, yaitu penggabungan teks dan musik yang diaplikasikan ke
dalam liturgi. Tujuannya adalah untuk menghidupkan liturgi di dalam perayaan
misa. Bahkan sequence dan tropes ini sebagian masih dipakai oleh gereja-gereja
reformed pada jaman reformasi. Selain itu, St. Francis dari Assisi, juga mulai
menggunakan
bahasa
Itali
dalam
himne-himnenya,
dan
beliau
juga
mengembangkan lagu-lagu rakyat (folksong) yang lebih dikenal dengan istilah
carol.38
3.2.5 Jaman reformasi protestan
Reformasi Protestan membawa angin baru di dalam nyanyian jemaat,
khususnya di Eropa. Di Jerman dan negara-negara Scandinavia, lagu-lagu himne
dengan style Chorale sangat dikenal; sedangkan Mazmur yang dinyanyikan lebih
dikenal di Perancis, Belanda dan Inggris.
Karakteristik dari musik pada jaman ini adalah: perubahan musik dari
monofonik musik menjadi polifonik musik; Gereja Roma Katolik masih
38
Eskew & McElrath, h. 93-95.
104
mempertahankan “Musik Sakral” dengan Church Modes mereka. Sedangkan
orang-orang dari golongan rendah lebih mengenal musik sekuler, sehingga musik
sekuler juga berkembang pesat.
Church Modes mulai ditinggalkan ke arah
tonalitas mayor-minor; garis paranada (garis lima) mulai dikenal untuk penulisan
notasi musik; dan teknologi percetakan juga mulai berkembang, sehingga musik
literatur terus berkembang di seluruh Eropa.
Karakteristik dari melodi Chorale, yang dikembangkan oleh Martin
Luther, yang bekerja sama dengan Johann Sebastian Bach, yaitu: musik frase
sangat jelas dan lebih teratur; ritme dikenal lambat, tetap, dan adanya penekananpenekanan; menggunakan tonalitas mayor-minor; polifonik; mudah dinyanyikan
karena range (batasan nada terendah dan tertinggi) tidak besar, melodi yang
sederhana, pendek dan tetap. Chorale menggunakan bahasa Jerman, bukan Latin,
sehingga dengan mudah dipelajari oleh orang awam.
Martin Luther masih
menggunakan teks dan melodi lagu-lagu dari Gereja Roma Katolik: “Ia mengubah
musik dan teks dari nyanyian Gereja Roma Katolik supaya sesuai dengan theologi
barunya. Hasilnya, orang-orang mengenal himne-himne dan chants yang sudah
dikenal dan mereka merasakan kehadiran “Gereja Baru” di dalam rumah mereka
masing-masing. Luther menggunakan musik yang sudah dikenal bagi mayoritas
masyarakat Jerman.”39
Himne-himne terkenal yang ditulis oleh Martin Luther antara lain: Ein’
feste Burg ist unser Gott (Allah Jadi Benteng Kukuh) yang berdasarkan Mazmur
46; Aus tiefer Not Schrei ich zu dir (Out of the depths I cry to Thee) yang
39
Johannes Riedel, The Lutheran Chorale, Its Basic Traditions, (Minneapolis: Augsburg
Publishing House, 1967), h. 38.
105
berdasarkan Mazmur 130; Von Himmel hoch da komm ich her (From Heaven
above to Earth I Come) sebuah himne Natal untuk anak-anak berdasarkan lagu
sekuler Aus fremden Landen komm ich her (Good news from far abroad I bring);
Chirst lag in Todesbanden (Christ Jesus lay in death’s strong bands) sebuah
himne Paskah yang berdasarkan himne Latin dalam Sequence Paskah, Victimae
paschali laudes; Nun komm der heiden Heiland (Savior of the Nations, Come)
himne Advent yang diilhami oleh himne Veni redemptor genitum gubahan
Ambrose.40
Sekitar 20.000 himne telah ditulis di Jerman sampai dengan akhir abad 16,
sampai tahun 1618 jumlah ini hanya mencapai 25.000 saja. Hal ini disebabkan
oleh adanya “Perang 30 Tahun” antara golongan Gereja Roma Katolik dan Gereja
Reformed Protestan. Sehingga dapat dikatakan bahwa penulisan himne tidak
mengalami kebangunan yang berarti. Ada beberapa penulis himne seperti Johann
Hermann (1585-1647), Martin Rinkart (1568-1649) dengan “Now Thank We All
our God”, Johann Cruger dengan “Nun Danket”, “Praxis Pietatis Melica”,
“Herliebster Jesu (Ah, Holy Jesus)”, “Jesu, meine Freude (Jesus, All my
Gladness)”, dan lain-lain.
3.2.6 Pietisme
Pada akhir abad 17 dan memasuki abad 18, gerakan Pietisme mulai
merebak. Gerakan ini dipelopori Phillip Jakob Spener pada tahun 1670, yang
memberikan reaksi terhadap meningkatnya formalitas dan kekakuan di dalam
40
Eskew & McElrath, h. 99.
106
Gereja. Gerakan Pietisme ini mendorong orang-orang Kristen untuk hidup di
dalam kerohanian mereka dan memperhatikan ibadah pribadi mereka. Sehingga
gerakan Pietisme ini menghasilkan himne-himne yang bersifat subyektif, lebih
menekankan karakter-karakter pribadi.
Karena karakter inilah, maka himne-
himne Pietisme lebih sesuai untuk ibadah pribadi daripada ibadah bersama di
dalam Gereja. Himnis-himnis dari gerakan Pietisme ini antara lain: Johann J.
Schultz, Adam Drese, dan yang terkenal adalah Joachim Neander dengan
himnenya Lobe den Herren, dem machtigen Konig der Ehren (Praise to the Lord,
the Almighty/Mari Memuji Tuhan).
3.2.7 Moravian
Kelompok Moravian adalah para pengikut John Hus dari Bohemia, sekarang
Cekoslovakia, yang mati secara martir pada tahun 1415. Kelompok ini sering
mendapatkan penganiayaan, baik dari Gereja Roma Katolik maupun dari Gereja
Protestan. Kelompok ini sangat kuat dalam pengiriman tenaga-tenaga misionaris
ke luar Eropa.41 Himne-himne yang terkenal dari kelompok Moravian ini antara
lain: Nicolaus Ludwig von Zinzendorf (1700-1760); Christian Gregor (17231801).
2.3.8. Nyanyian mazmur
Nyanyian Mazmur berkembang hanya di Perancis, Belanda dan Inggris.
Mereka hanya menyanyikan Mazmur, karena mereka sulit menerima lagu-lagu
41
Julian, h. 765-769.
107
himne hasil tulisan manusia. Mereka hanya menerima yang berasal dari Firman
Tuhan saja.
a. Nyanyian Mazmur Di Prancis
Di Perancis, pelopor nyanyian Mazmur ini adalah John Calvin, seorang
ahli theologia reformed. Berbeda dengan Luther, Calvin menolak semua musik
dan liturgi peninggalan Gereja Roma Katolik, bahkan dia juga menolak
penggunaan organ, paduan suara dan himne-himne yang ditulis oleh manusia;
hanya mazmur atau himne yang berdasar dari Mazmur saja yang boleh
dinyanyikan dalam ibadah-ibadah, itupun harus dinyanyikan secara unison tanpa
iringan. Dengan filosofi seperti ini, mereka menghasilkan peningkatan nyanyian
Mazmur di Perancis. Ini terbukti dengan terbitnya buku Calvin’s Strassburg
Psalter pada tahun 1539, yang diikuti oleh buku-buku Pslater yang lain yang
diterbitkan di Geneva. Puncaknya dengan terbitnya Genevan Psalter pada tahun
1562, yang memuat 150 Mazmur, ditambah 10 Perintah Allah dan Nunc Dimittis.
Buku ini memuat 125 melodi dalam 110 meter yang berbeda.42
b. Nyanyian Mazmur di Inggris
Yang melatarbelakangi kelompok penyanyi Mazmur dari Inggris ini
adalah penganiayaan terhadap orang-orang Kristen Protestan oleh Queen Mary
pada tahun 1553-1558, yang terkenal dengan sebutan “Bloody Mary”. Sehingga
orang-orang Kristen Protestan melarikan diri keluar dari Inggris, sebagian besar
42
Eskew & McElrath, hal. 115.
108
lari ke Geneva dan membentuk Gereja Anglo-Genevan yang digembalakan
pertama kali oleh John Knox pada tahun 1555. Kelompok Genevan Psalter inilah
yang mempengaruhi kelompok Anglo-Genevan ini untuk menyanyikan Mazmur
di dalam ibadah-ibadah mereka.43
Mereka menyanyikan nyanyian-nyanyian Mazmur gubahan Sternhold dan
Hopkins serta William Willingham.
Pada tahun 1561, mereka menerbitkan
Anglo-Genevan Psalter, yang sebagian lagunya diambil dari buku Genevan
Psalter. Tradisi menyanyikan Mazmur ini terus berlanjut setelah mereka kembali
ke Inggris, sesudah Queen Mary meninggal.
c. Nyanyian Mazmur di Skotlandia
Pada awalnya orang-orang Skotlandia bersatu dengan orang-orang Inggris
di Geneva karena mereka juga mengalami penganiayaan yang sama dari Queen
Mary. Mereka juga menyanyikan mazmur dari sumber yang sama, yaitu AngloGenevan Psalter. Namun pada tahun 1559, orang-orang Skotlandia ini kembali
ke tanah air mereka dan mulai merevisi Anglo-Genevan Psalter. Pada tahun 1564,
mereka menerbitkan versi mereka sendiri yang diberi nama The Forme of Prayers
and Ministration of the Sacraments.
d. Nyanyian Himne di Inggris
Untuk membahas nyanyian himne di Inggris, kita tidak bisa melupakan 2
(dua) nama, yaitu Isaac Watts dan keluarga Wesley. Isaac Watts adalah orang
43
Ibid, h. 117-119.
109
yang memulai penulisan dan penggunaan nyanyian himne di Inggris, khususnya
di Gereja Anglikan, yang sebelumnya hanya menyanyikan nyanyian-nyanyian
Mazmur saja. Pada waktu itu sebagai seorang muda yang berusia 21 tahun, Isaac
Watts mengeluh tentang kualitas dari nyanyian-nyanyian Mazmur itu. Ayahanda
Isaac Watts lalu memberikan tantangan kepada Isaac Watts untuk menulis yang
teks yang lebih baik. Selanjutnya Isaac Watts membuktikannya dengan
menampilkan salah satu karyanya, yaitu “Behold Glories of the Lamb”, yaitu teks
dari Mazmur yang diparafrase.44
Setelah itu Isaac Watts banyak menulis “nyanyian baru” yang diilhami
dari pengalamannya, pemikirannya, perasaannya, dan aspirasinya. Watts masih
menggunakan bentuk-bentuk musik yang sudah ada, namun syair-syairnya
memiliki kekhususan, yaitu: satu lagu hanya memiliki satu tema, kalimat-kalimat
yang sederhana namun dapat memuat makna yang dalam, jalan pemikiran yang
menuju ke klimaks, dan syair-syairnya juga sangat cocok dengan khotbah, serta
lebih sesuai digunakan untuk persekutuan bersama orang-orang Kristen, tidak
cocok untuk ibadah pribadi. Penekanannya adalah pada masyarakat Kristiani
yang telah ditebus dan penebusan melalui kayu salib. Karena itulah, Isaac Watts
disebut sebagai “Bapak Nyanyian Himne Inggris”.
Nyanyian himne yang ditulis oleh Isaac Watts, antara lain: “Alas! And did
my Savior bleed”, “Am I a soldier of the cross?”, ”Come, we that love the Lord”,
“I sing the almighty power of God”, “When i survey the wondrous cross”, dll.
Sedangkan parafrase dari Mazmur yang ditulis olehnya, antara lain: “My
44
James Sallee, 1978. A History of Evangelistic Hymnody, (Grand Rapids: Baker Book
House), h. 11.
110
Shepherd will supply my need (Mzm 23)”, “Jesus shall reign (Mzm 72)”, “O God
our help in ages past (Mzm 90)”, “Joy to the world (Mzm 98)”, “From all that
dwell below the skies (Mzm 117)”, “This is the day that the Lord hath made (Mzm
118)”, “I’ll praise my maker while I’ve breath (Mzm 146)”, dll.
Selain Isaac Watts, dua bersaudara yang tidak boleh kita lupakan yaitu
John dan Charles Wesley. Mereka adalah pendiri denominasi Methodist. Charles
Wesley yang berbakat menulis nyanyian-nyanyian himne. Dia sudah menulis
8989 puisi religius, paling sedikit 6000 di antaranya adalah himne. Penekanan
nyanyian-nyanyian himne Wesley adalah sebagian besar menekankan tentang
penginjilan, diilhami oleh pengalaman pribadi.
Secara teks mengalami
peningkatan mutu daripada himne-himne sebelumnya, biasanya dinyanyikan
tanpa iringan, dan penekanan John Wesley adalah pada sikap hati dalam
menyanyi.
Hasil karya Charles Wesley, antara lain: “Praise the Lord who reigns
above”, “Come, Thou long-expected Jesus”, “Hark! The herald angels sing”,
“And can it be that I should gain”, “Tis finished! The Messiah dies”, “Christ the
Lord is risen today”, “Hail the day that sees Him rise”, “Jesus, lover of my
soul”, “Rejoice the Lord is King”, “Lo, He comes with clouds descending”, “O
for a thousand tounges”, “Love divine, all loves excelling”, “Depth of mercy!
Can it be”, “Ye servants of God”, dll.
Selain Isaac Watts dan Wesleys, sebenarnya masih banyak penulis-penulis
himne yang lain, namun karena keterbatasan waktu, maka penulis hanya
menyebutkan satu nama lagi, yaitu John Newton, yang sudah menulis sekitar 280
111
himne, di antaranya yaitu: “Amazing Grace”, “Glorious things of thee are
spoken”, “How sweet the name of Jesus sounds”, “May the grace of Christ our
Saviour”, dll.
e. Nyanyian Himne di Amerika
Mulai abad ke-16 sampai dengan awal abad ke-18, Nyanyian Mazmur
masih aktif digunakan di gereja-gereja Amerika.
Pada umumnya tradisi
menyanyikan Mazmur dibawa dari benua Eropa, baik dari Perancis maupun dari
Inggris oleh para misionaris mereka.
Huguenot membawa French Metrical
Psalms ke Florida, khususnya kepada orang-orang Indian, pada tahun 1562-1565.
Sir Francis Drake dari Inggris baru datang pada tahun 1579, dan Henry Ainsworth
juga dari Inggris datang pada tahun 1620. Kemudian orang Puritan mendirikan
Massachusetts Bay Colony di bagian Utara Boston pada tahun 1630. Selanjutnya
pada tahun 1640, mereka menerbitkan The Whole Book of Psalms Faithfully
Translated into English Metre, yang sekarang disebut sebagai Bay Psalm Book.
Pada edisi ke-9 dari buku ini mereka menggunakan notasi FaSoLaMi (FSLM),
yang merupakan solmisasi tua yang digunakan di Inggris.
Pada tahun 1734, Jonathan Edward dan George Whitefield mempelopori
gerakan “Kebangunan Besar” (Great Awakening) di Northampton, Massachusetts,
yaitu suatu gerakan yang bereaksi melawan institusi keagamaan yang tradisional.
Pada masa ini, memang nyanyian Mazmur masih digunakan di gereja-gereja,
namun orang-orang lebih menyukai nyanyian-nyanyian himne Isaac Watts yang
dibawa oleh Whitefield dari Inggris.
112
Pada akhir abad ke-18, nyanyian rakyat juga diadopsi sebagai nyanyian
jemaat, pada umumnya tidak dicatat karena mereka melestarikannya dari mulut ke
mulut. Mereka menggunakan melodi dari lagu-lagu rakyat yang sudah dibawa
oleh para pendatang sebelumnya dari Inggris, sehingga lebih dikenal dengan
sebutan Anglo-American Folksongs. Mereka menggunakan musik pentatonik dan
melodi modal (seperti: Dorian, Myxolydian, dll). Tema-tema yang umumnya
dipakai dalam himne-himne mereka adalah pertobatan orang berdosa, antisipasi
terhadap kematian, dan kepastian akan penghakiman terakhir.
Pada awal abad ke-19, gerakan Camp-meeting juga melanda Amerika,
dimulai dari Carolina dan Kentucky. Gerakan ini adalah gerakan interdenominasi,
karena gerakan ini dipelopori oleh gereja-gereja Methodist, Presbiterian dan juga
Baptist.
Lagu-lagu camp-meeting ini menggunakan bahasa yang sederhana;
lagunya seperti lagu rakyat sehingga mudah dipelajari dan mudah dinyanyikan
serta banyak pengulangan; pada umumnya bertemakan keselamatan bagi yang
berdosa. Selain itu, gerakan ini juga memperhatikan masalah-masalah sosial,
seperti: kepentingan anak-anak, hak-hak wanita, tenaga kerja anak-anak, hak-hak
buruh, dan lain-lain; khususnya gerakan anti-perbudakan yang menyebabkan
Perang Sipil (Civil War) di tahun 1861.
Dari abad ke-18 sampai awal abad ke-19, banyak gerakan-gerakan baru
bermunculan di Amerika, antara lain: Gerakan Sekolah Minggu (Sunday School
Movement), 1824; Negro Spiritual, 1870; Gospel Songs, 1874; dan lain-lain.
Banyak sekali lagu-lagu himne yang tercipta untuk kebutuhan Gerakan
Sekolah Minggu ini.
Komposer-komposer yang terkenal antara lain adalah
113
William Bradbury (1816-1868), yang sudah menulis: Jesus loves me (Yesus kasih
‘kan daku-PPR 334), He leadeth me (Mukhalislah Pemimpinku-PPR 111), Sweet
hour of prayer (Inilah saat minta doa-PPR 160), Just as I am, without one plea
(Seadanya ku tak layak-PPR 42), My hope is built on nothing less, Saviour like a
shepherd lead us (Yesus seperti gembala). Selain itu adalah Fanny Crosby (18201915), penulis syair yang sudah buta sejak lahir, yang syair-syairnya ditambahkan
oleh William H. Doane (1832-1915) sehingga dapat dinyanyikan, seperti: Blessed
Assurance (Jaminan mulia), Praise Him! Praise Him! (Puji! Puji!), Pass me not,
O gentle Saviour (Jangan Engkau lalui), Jesus keep me near the cross (Bawalah
aku dekat ke salib), To the work (Marilah bekerja). Robert Lowry (1826-1899)
juga adalah penulis lagu-lagu himne yang terkenal, juga Elizabeth P. Prentiss,
Phoebe P. Knapp dengan “Jesus is tenderly calling thee home”; Joseph M.
Scriven dengan “What a friend we have in Jesus” (Yesus sahabat sejati); juga
Londoner Katherine Hankey yang menulis “I love to tell the story” (Kusuka
mengabarkan Injil); dll.
Dalam masa Gospel Era, penginjilan keliling merebak dan di belakang
masing-masing penginjil besar itu terdapat penulis lagu-lagu himne, contohnya:
Major D.W. Whittle, penginjil bekerja sama dengan Phillip P. Bliss. Lagulagunya antara lain adalah: I gave My life for thee (Nyawaku diberikan), It is well
with my soul (Nyamanlah Jiwaku), Whosoever will (Lemah lembut suara Yesus
memanggil), Wonderful words of life (Kalam memberi hidup).
Kemudian
pasangan D.L. Moody dan Ira D. Sankey, kumpulan dari lagu-lagu himne pada
masa Gospel Era ini dibukukan dalam buku-buku: Gospel Songs (milik Bliss,
114
1874); Gospel Hymns and Sacred Songs (milik Sankey dan Bliss, 1875);
sedangkan Sankey, Stebbins dan McGranahan menerbitkan Gospel Hymns nomor
2-6 masing-masing pada tahun 1876, 1878, 1883, 1887, 1891. Lalu semuanya
dikumpulkan menjadi satu edisi Gospel Hymns Complete pada tahun 1894.
3.3 Perkembangan Himne Gereja HKBP
Dalam sejarah kekristenan di Tanah Batak, musik berperan sebagai alat
penginjilan dan membangun persekutuan orang-orang Batak. Para missionaris
yang datang ke Tanah Batak sudah dilengkapi dengan pengetahuan teori musik
dan mampu memainkan alat-alat musik.
Salah satunya adalah missionaris
Nommensen yang menterjemahkan lagu-lagu rohani berbahasa Jerman ke dalam
bahasa Batak Toba di Sipirok tahun 1871-1872 (Nomensen, tth:93).
Penerjemahan lagu gereja ke bahasa Batak Toba juga dilakukan oleh
missionaris
Johannsen, Puse, Metzler, Meerwaldt, Pdt. Otto Marcks, Paul
Gerhard dan Pdt. Batak yang pertama. Hasil dari terjemahan lagu-lagu yang
kemudian menjadi lagu-lagu dalam Buku Ende HKBP (Immanuel, 1907:75-84).
Sebagian besar sumber melodi nyanyian jemaat HKBP berasal dari
nyanyian rohani Jerman dan Belanda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Batak
Toba (Kruger, 1966:223; Hutauruk, 1993:60).
Tahun 1881 mencatat beberapa peristiwa penting antara lain diadakannya
konfrensi di Silindung yang diikuti oleh 3.500 orang Kristen; pekabaran injil
mulai ke arah Danau Toba; berdirinya gereja di Balige; ditetapkannya aturan
gereja yang pertama; RMG mengangkat Pdt. I. L. Nommensen menjadi Ephorus
115
(Almanak HKBP, 2003:376); dan terbitnya sebuah buku nyanyian jemaat dalam
bahasa Batak Toba yang diberi judul “Ende ni Halak Kristen Batak di Sumatera”.
Buku nyanyian ini terdiri dari 121 nyanyian yang merupakan terjemahan lagulagu rohani dari Jerman dan Belanda. Nyanyian ini dibagi dalam beberapa bagian
sesuai dengan tema lagu, yaitu: 1. Nomor Ende 1-6 :
Ende
Pujipujian
(Puji-
pujian); (2) Nomor Ende 1-18: Ende doa (Nyanyian Doa); (3) Nomor Ende 19-34:
Ende Jamita (Nyanyian khotbah); (4) Nomor Ende 35-38
:
Ende
Adventus
(Nyanyian Advent); (5) Nomor Ende 39-46: Ende Hatutubu ni Tuhan Jesus
(Nyanyian tentang kelahiran Tuhan Yesus); (6) Nomor Ende 47-49: Ende di
Hamamate ni Tuhan Jesus (Nyanyian tentang kematian Tuhan Yesus); (7)Nomor
Ende 50-58 : Ende di Haheheon ni Tuhan Jesus (Nyanyian tentang kebangkitan
Tuhan Yesus); (8) Nomor Ende 59-61: Ende di Hananaek ni Tuhan Jesus
(Nyanyian tentang kenaikan Tuhan Yesus); (9) Nomor Ende 62-64: Ende di
Hasasaor ni Tondi Porbadia (Nyanyian tentang turunnya Roh Kudus); (10) Nomor
Ende 65: Ende di Pandidion Nabadi (Nyanyian Baptisan Kudus); (11) Nomor
Ende 66-70: Ende di Ulaon Nabadia (Nyanyian Perjamuan Kudus); (12) Nomor
Ende 71-83: Ende taringot tu Haporseaon (Nyanyian untuk Tuhan Yesus); (13)
Nomor Ende 84-87: Ende taringot tu Parungkilon (Nyanyian tentang penderitaan);
(14) Nomor Ende 88-92: Ende taringot tu Hasesaan ni Dosa (nyanyian tentang
dosa dan penghapusan dosa); (15) Nomor Ende 93-102: (16) Ende taringot tu
Ajal ni Jolma dohot Masa Songot (Nyanyian tentang kematian dan pengharapan);
(17) Nomor Ende 103-108: Ende Manogot (Nyanyian pagi hari); (18) Nomor
116
Ende 109-114: Ende Botari (nyanyian sore hari); dan (19) Nomor Ende 115-121:
Ende suplement (nyanyian tambahan).
Pada tahun 1886 buku nyanyian dicetak edisi kedua dengan menambahkan
41 nyanyian baru sehingga jumlah nyanyian dalam buku nyanyian cetakan kedua
adalah 162 nyanyian.
Tanggal 30 Januari 1901, Pdt. F.H. Meerwaldt
menterjemahkan dua buah nyanyian ke dalam bahasa Batak Toba yang berjudul
“Hohom ahu nuaeng dan Na mungkap do surgo” (Immanuel, 1901:73). Tahun
1907, Paul Gerhard menterjemahkan sebelas nyanyian jemaat45, yaitu:
1. Behama panjalongku di Ho, o Tuhanki
2. Hamu ale donganku
3. O ulu na sap mudar
4. Adong do Biru-biru i
5. Sai tiur ma langka muna
6. Bongoti ma rohangku
7. Sai hehe ma rohangku
8. Mata ni ari binsar saonnari
9. Lao modom do luhutna
10. Pasahat ma sudena
11. Tung beasa ma holsoan
Pada tahun 1901, nyanyian jemaat yang telah dikumpulkan berjumlah 227
nyanyian, nyanyian ini ditulis dalam not balok. (Hutauruk, 1993:60). Tahun
1926, diterbitkan cetakan pertama buku nyanyian yang berjudul “Bokoe Ende na
Marragam” dengan jumlah nyanyian 332 buah.
45
Kantor Pusat HKBP. Majalah Immanuel. Pematang Siantar: Percetakan HKBP 1907.
117
Tahun 1940 terbitlah Buku Ende HKBP yang sampai saat ini digunakan
dalam ibadah-ibadah yang dilakukan oleh gereja HKBP. Jumlah nyanyian dalam
Buku Ende HKBP berisikan 373 nyanyian. Adapun sumber nyanyian ini adalah46:
1. EKG = Evangelisches Kirchen Gesangbuch, stammausgabe 1950 / 1951.
Kitab nyanyian gereja– gereja evangelist di jerman. Sammausgabe adalah
bagian pokok yang di pakai oleh semua gereja regional di Jerman.
2. EKG B = Evangelisches Kirchen Gesanbuch, Sonderausgabe. Sama
dengan EKG tapi ditambah dengan bagian khusus “sonderausgabe” yang
dipakai oleh gereja evangelis di daerah Berlin / Braindenburg.
3. EKGR = Sama dengan EKG. Kitab nyanyian ini dipakai oleh gereja
evangelis di daerah Rhendland, Wesfalen dan Lippe.
4. EvPs = Evangelicher Psalter 1912. Kitab nyanyian Jerman yang berwarna
pietis.
5. EvPs A = Sama dengan EvPs di tambah suplemen “ anhang”
6. HAM = Hymns Ancient And Modern, London 1924.
7. M.H = Methodist Hymn Book, London 1934
8. HCL = Hymns of The Christian Life, Christian publication Inc,
Harrisburg 1936
9. L.U = Liber Usualis, kitab nyanyian Gregorian dari gereja Katolik.
10. Gtsl = Gotteslob, Katholisches Gebet – und Gesangbuch, Keuskupan
Regensburg, 1975.
11. Gms = Gemainshaft lieder, Basel 1950
46
Kantor Pusat HKBP. Buku Ende HKBP. Pematang Siantar: Percetakan HKBP, 1990.
118
12. Mzm =Mazmur jenewa, 1562.
13. EvGz = Evangelische Gezangen , Buku nyanyian Belanda 1805 /1807
14. Julian = John Julian, Dictionary of hymonologi, New York 1957
15. Buku nyanyian gereja Protestant di Swiss 1952.
Tahun 1934 Elfriede Harder menterjemahkan banyak lagu-lagu ke dalam
bahasa Batak Toba yang kemudian dikenal dengan nama “Haluan na Gok”
(Hutauruk, 1986:220) yang berisi 232 nyanyian.
Sumber melodi nyanyian
“Haluan na Gok” berasal dari 26 sumber, yaitu: Buku Logu; Cantare;
Chrischonalicder; Ende Angkola; Evangelischer jilid I dan II, Jugendbundlieder;
Missionsharfe;
Musikant;
Rettungsjubel;
Reichslieder;
Sankey
Lieder;
Sangergruss; Siegeslieder; Singet dem Herrn; Unser Lied; Vereinslieder; Wehrund Waffenlieder; Zangbundel J. de Herr; Zangbundel Leger des Heils; dan
Zoeklicht.
Tahun 1934, nyanyian “Haluan na Gok” belum digunakan dalam ibadah di
gereja HKBP karena adanya pandangan yang berbeda dari para pendeta tentang
nyanyian tersebut.
Mereka mengatakan bahwa nyanyian dalan “Buku Ende
Haluan na Gok” seperti nyanyian orang yang kerasukan/ ende ni na tonditondion.47 Kondisi ini juga disebabkan oleh sekelompok warga jemaat HKBP
Janji Matogu dengan berpakaian serba putih naik ke menara gereja sambil
menyanyikan beberapa nyanyian dari “Buku ende Haluan na Gok” seraya
mengangkat tangan ke atas dan kadang-kadang bertepuk tangan, mereka berkata
47
Riris Johanna Siagian, 2001. Satu Visi menuju HKBP yang Baru. Kantor Pusat HKBP.
119
bahwa akhir jaman sudah dekat dan marilah kita naik ke surga. Perkataan ende na
tondi-tondiaon adalah sebuah ejekan terhadap apa yang dilakukan oleh Elfriede
Harder yang mendidik para wanita Batak Toba menjadi Bibelvrouw (pelayan
wanita). Pada tahun 1959, “Buku Ende Haluan na Gok” sudah diterima HKBP
sebagai nyanyian jemaat dan dapat digunakan pada kebaktian minggu (Immanuel,
1959:7).
Tahun 1995 HKBP menerbitkan buku Bibel/AIkitab yang digabung
dengan buku Ende HKBP yang bernotasi angka. Disana penomoran Buku Ende
bagian Haluaon Na Gok tidak lagi dimulai dan nomor 1 sampai 232 tetapi dimulai
dengan nomor 374 sampai 556 pada saat penggabungan ini ada 49 nyanyian yang
dibuang dari Haluaon Na Gok karena nyanyian tersebut telah ada pada Buku Ende
HKBP bagian pertama.48 Buku Ende Haluaon na gok dicetak dengan penomoran
yang dimulai dan nomor 1 sampai 232. Baru pada tahun 1995 penomorannya
dirubah dengan menggabungkannya ke Buku Ende yang sebelumnya, dimulai
dengan nomor 374 sampai 556. Sejak Szuster Elifiede Harder mengumpulkan
nyanyian ini, beliau telah menuliskan sumber nyanyian dalam buku nyanyian
Haluaon Na Gok. Berikut sumber lagu Haluaon Na Gok: Buku Logu, Cantate,
Carstem,
Chrishhonalieder,
Ende
Angkola,
Evangelischer
Psalter,
Evangeliumssanger, Fellowship Hymns, Frohe Botshaft, Guitarreileder jilid 1
dan 2, Judgenbundlieder, Missionsharfe, Musikant, Rettungsjubel, Reichslieder,
Sankey Lieder, Sangergruss, Siegeslieder, Singet dem Herrn, Unser Lied ,
48
Wawancara dengan Pdt B. Lumbantobing, MTh, di Pematang Siantar 10 januari 2011.
120
Vereinslieder, Wehr – und Waffenlieder, Zangbundel J. De Herr, Zangbundel
Leger des Heils, Zoeklicht dan “Selesele” semuanya berjumlah 26 sumber lagu49.
Tahun 1999 diterbitkan Buku Ende HKBP berbahasa Indonesia yang
disebut dengan “Kidung Jemaat HKBP” yang dikerjakan oleh Pdt. Waldemar
Silitonga yang pada saat itu memegang jabatan sebagai kepala Biro Musik HKBP.
Pada Tahun 2003, melalui Rapat Pendeta HKBP yang diselenggarakan
tanggal 8-10 Oktober menyepakati penggunaan Buku Ende Suplemen HKBP
yang berjudul “Sangap di Jahowa” dalam ibadah gereja HKBP. Jumlah nyanyian
Buku Ende Suplemen adalah sebanyak 306 nyanyian yang disesuaikan dengan
tema gereja. Buku Ende HKBP dan Buku Ende Suplemen kemudian disatukan
dalam cetakan berikutnya sehingga jumlah nyanyian jemaat HKBP sampai saat ini
berjumlah 862 buah.
Sumber lagu-lagu dalam “Sangap di Jahowa” banyak berasal dari lagulagu koor dan lagu Sekolah Minggu, himne lagu gereja-gereja Barat dan lagu-lagu
tradisi Batak. Lagu-lagu ini kemudian diterjemahkan serta sebagian lagu
diarransemen kembali dari buku Lutheran Worship; Zangbundel; with one Voice;
Evangelisches Gesangbuch; Libens lieder; Gesange aus Tize; Hyms for The
Living Church; Thuma Mina; The Book Of Hyms; Singing Youth ; Global Praise;
Kidung Pujian Kristen; Mazmur dan Nyanyian Rohani.
Beberapa lagu Suplemen “Sangap di Jahowa” diantaranya: Las Rohangku
Lao Mamuji (BE 656) Ale Amanami (BE 840); Husomba Ho Tuhan (BE 857);
Dison Adong Huboan Tuhan (BE 848); Sangap Ma di Debata (BE 582); Nunga
49
Kantor Pusat HKBP. Buku Ende HKBP. (Pematang Siantar: Percetakan HKBP, 1990).
121
hehe Kristus (BES 632); Beta hita ale dongan (BES 661); Begema Tuhan i (BES
660); Hupillit asa marparbue (BES 727); O Tuhan togu-togu ma (BES 743).
Penambahan lagu nyanyian dalam ibadah gereja HKBP saat ini tidak
terbatas pada Buku Ende HKBP dan Kidung Jemaat, akan tetapi sering dengan
dinamika dan perkembangan teknologi maka sebahagian gereja HKBP sudah
melakukan ibadah alternatif dengan konsep lagu nyanyian diambil dari lagu-lagu
pop rohani seperti yang dilakukan oleh gereja Karismatik. Lagu-lagu disesuaikan
dengan tema gereja dan juga tidak merubah liturgi gereja HKBP. Jadi tata ibadah
yang digunakan tetap seperti konsep awalnya, hanya lagu-lagu yang dinyanyikan
bersumber dari luar Buku Ende HKBP dan Kidung Jemaat.
Dari hasil observasi lapangan, penulis menemukan konsep ini di gereja
HKBP Pasar Melintang Medan. Khusus untuk ibadah alternatif, gereja ini
memilih lagu-lagu pop rohani yang banyak dinyanyikan oleh gereja Karismatik
dalam ibadah gereja. Penentuan lagu-lagu untuk ibadah alternatif ini disusun oleh
Bibelvrouw dengan tetap memperhatikan tema gereja saat itu. Instrumen
pengiring ibadah dalam ibadah alternatif di gereja HKBP Pasar Melintang tidak
terfokus pada instrumen tunggal akan tetapi sudah menggunakan Musik Band
yang terdiri dari; keyboard, gitar elektrik, bass dan drum. Terkadang dalam
beberapa acara besar kalender gereja HKBP dan juga perayaan-perayaan gereja
yang dilakukan, tak jarang musik tiup juga ikut ambil bagian dalam mengiringi
ibadah.
122
BAB IV
PENGGUNAAN DAN FUNGSI MUSIK DALAM IBADAH
GEREJA HKBP PASAR MELINTANG MEDAN
4.1 Pengantar
Dalam Bab ini, penulis akan membahas penggunaan alat musik dalam
mengiringi ibadah di gereja HKBP Pasar Melintang dan penggunaan himne sesuai
dengan tata ibadah gereja HKBP. Kata penggunaan dan fungsi dalam penelitian
ini memiliki pengertian seperti apa yang sudah dibicarakan dalam Bab I. Menurut
Bronislaw Malinowski, yang dimaksud fungsi itu intinya adalah bahwa segala
aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari
sejumlah keinginan naluri makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh
kehidupannya. Kesenian sebagai contoh dari salah satu unsur kebudayaan, terjadi
karena pada dasarnya manusia ingin memuaskan keinginan nalurinya terhadap
keindahan. Ilmu pengetahuan juga timbul karena keinginan naluri manusia untuk
tahu. Teknologi seperti halnya penemuan alat-alat musik elektronik adalah untuk
memenuhi keindahan di bidang bunyi-bunyian. Internet pula diciptakan untuk
berkomunikasi di dunia maya atau virtual. Namun banyak pula aktivitas
kebudayaan yang terjadi karena kombinasi dari beberapa macam human need itu.
Dengan pemahaman ini seorang peneliti bisa menganalisis dan menerangkan
banyak masalah dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan manusia.50 Sesuai
dengan pendapat Malinowski, musik di dalam kehidupan jemaat di gereja HKBP
Pasar Melintang Medan tetap eksis dan berkembang karena diperlukan untuk
50
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi 1. hal.171.
123
memuaskan suatu rangkaian keinginan naluri masyarakat pendukungnya yang
haus akan cinta kasihnya kepada agama Kristen. Musik menjadi unsur penting di
dalam ibadah yang mereka laksanakan. Dengan menggunakan musik, para jemaat
dapat dengan khidmat memuji, menyembah, dan berdoa kepada Tuhan. Musik
memberikan sumbangannya sebagai sarana komunikasi antar jemaat dan Tuhan
serta antara jemaat dengan pendeta, dan sesama mereka.
A.R. Radcliffe-Brown mengemukakan bahwa fungsi sangat berkait erat
dengan struktur sosial masyarakat. Bahwa struktur sosial itu hidup terus,
sedangkan individu-individu dapat berganti setiap masa. Dengan demikian,
Radcliffe-Brown yang melihat fungsi ini dari sudut sumbangannya dalam suatu
masyarakat, mengemukakan bahwa fungsi adalah sumbangan satu bagian aktivitas
kepada keseluruhan aktivitas di dalam sistem sosial masyarakatnya. Tujuan fungsi
adalah untuk mencapai tingkat harmoni atau konsistensi internal, seperti yang
diuraikannya berikut ini.
By the definition here offered ‘function’ is the contribution which a
partial activity makes of the total activity of which it is a part. The
function of a perticular social usage is the contribution of it makes
to the total social life as the functioning of the total social system.
Such a view implies that a social system ... has a certain kind of
unity, which we may speak of as a functional unity. We may define it
as a condition in which all parts of the social system work together
with a sufficient degree of harmony or internal consistency, i.e.,
without producing persistent conflicts can neither be resolved not
regulated (1952:181).
Dalam terjemahan bebas dikatakan bahwa definisi 'fungsi' adalah kontribusi
aktivitas parsial menjadi bagian aktivitas keseluruhannya. Fungsi dari penggunaan
sosial tertentu merupakan kontribusi itu membuat total kehidupan sosial sebagai
124
fungsi sistem sosial keseluruhan. Kita dapat mendefinisikan sebagai suatu kondisi
di mana semua bagian dari sistem sosial bekerja sama dengan tingkat yang cukup
harmoni atau konsistensi internal.
Sesuai dengan pandangan Radcliffe-Brown, musik di dalam kehidupan
jemaat HKBP Pasar Melintang Medan, merupakan bahagian dari struktur sosial
mereka. Musik dalam hal ini merupakan salah satu bahagian aktivitas yang bisa
menyumbang kepada keseluruhan aktivitas, yang pada akhirnya akan berfungsi
bagi kelangsungan kehidupan budaya masyarakat pengamalnya, dalam hal ini
jemaat gereja HKBP tersebut. Fungsinya lebih jauh adalah untuk mencapai tingkat
harmoni dan konsistensi internal. Pencapaian kondisi itu, dilatar belakangi oleh
berbagai kondisi sosial, budaya, dan religi.
Bertolak dari teori fungsi, yang kemudian mencoba menerapkannya dalam
etnomusikologi, lebih lanjut secara tegas Merriam membedakan pengertian fungsi
ini dalam dua istilah, yaitu penggunaan dan fungsi. Menurutnya, membedakan
pengertian penggunaan dan fungsi adalah sangat penting. Para pakar
etnomusikologi pada masa lampau tidak begitu teliti terhadap perbedaan ini. Jika
kita berbicara tentang penggunaan musik, maka kita menunjuk kepada kebiasaan
(the ways) musik dipergunakan dalam masyarakat, sebagai praktik yang biasa
dilakukan, atau sebagai bagian daripada pelaksanaan adat istiadat, baik ditinjau
dari aktivitas itu sendiri maupun kaitannya dengan aktivitas-aktivitas lain
(1964:210). Lebih jauh Merriam menjelaskan perbedaan pengertian antara
penggunaan dan fungsi sebagai berikut.
Music is used in certain situations and becomes a part of them,
but it may or may not also have a deeper function. If the lover
125
uses song to w[h]o his love, the function of such music may be
analyzed as the continuity and perpetuation of the biological
group. When the supplicant uses music to the approach his god,
he is employing a particular mechanism in conjunction with
other mechanism as such as dance, prayer, organized ritual, and
ceremonial acts. The function of music, on the other hand, is
enseparable here from the function of religion which may
perhaps be interpreted as the establishment of a sense of security
vis-á-vis the universe. “Use” them, refers to the situation in
which music is employed in human action; “function” concerns
the reason for its employment and perticularly the broader
purpose which it serves. (1964:210).
Dari kutipan di atas, secara umum dapat diartikan bahwa musik digunakan
dalam situasi tertentu dan menjadi bagian dari mereka, tetapi mungkin atau tidak
mungkin juga memiliki fungsi yang lebih dalam. Jika seorang kekasih
menggunakan lagu untuk kekasihnya, maka fungsi musik tersebut dapat dianalisis
sebagai fungsi kesinambungan dan pelestarian keturunan. Ketika seseorang
menggunakan musik untuk pendekatan Tuhan, ia juga menggunakan mekanisme
tertentu dalam hubungannya dengan mekanisme lain seperti tari, doa, ritual yang
diselenggarakan, dan seremonial. Fungsi musik di sisi lain, tidak dapat dipisahkan
dari sini fungsi agama yang mungkin dapat diartikan sebagai pembentukan rasa
aman dalam alam semesta. Kata "Guna" mengacu pada situasi di mana musik
yang digunakan dalam tindakan manusia; kata "Fungsi" lebih menyangkut pada
tujuan pelayanan yang lebih luas.
Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa “Penggunaan” menunjukkan
situasi musik yang dipakai dalam kegiatan manusia; sedangkan “fungsi” berkaitan
dengan alasan mengapa si pemakai melakukan, dan terutama tujuan-tujuan yang
lebih jauh dari sekedar apa yang dapat dilayaninya. Dengan demikian, sesuai
126
dengan Merriam, penggunaan lebih berkaitan dengan sisi praktis, sedangkan
fungsi lebih berkaitan dengan sisi integrasi dan konsistensi internal budaya.
4.2 Penggunaan Alat Musik di Gereja HKBP Pasar Melintang
Kebaktian minggu adalah ibadah yang dilaksanakan di gereja setiap hari
Minggu merupakan suatu persekutuan hidup dengan Tuhan dan juga sesama
anggota jemaat lainnya. Kebaktian minggu merupakan suatu pertemuan yang
terbuka, dimana umat Kristen berkumpul bersekutu kepada Tuhan dengan sesama
manusia.
Sitompul51
mengatakan: “Kebaktian Minggu adalah persekutuan
dengan Allah dan sesama manusia dalam menjawab kasih Allah dengan
mengucap syukur dan memuji namaNya serta mengingat karya Tuhan.“ Born
Strom52
mengatakan
Kebaktian Minggu yaitu suatu upacara, sebagainya
contohnya adalah kebaktian pada hari Minggu pagi digereja HKBP Pasar
Melintang. Saat kebaktian Minggu pagi ini jemaat bersama-sama menelaah dan
mendengarkan Firman Tuhan supaya mereka diperlengkapi untuk hidup bersama.
Bersama-sama mereka bernyanyi memuji Allah, sebagai tanda ucapan syukur atas
anugerah Allah dan bersama-sama berdoa untuk kehidupan mereka sendiri, untuk
saudara-saudara, untuk musuh-musuh serta untuk dunia ini dengan suka dukanya.
Musik di dalam kehidupan jemaat HKBP Pasar Melintang Ressort Pasar
Melintang digunakan di dalam berbagai kegiatan. Penggunaan yang utama musik
ini adalah di dalam ibadah-ibadah mereka. Di antaranya adalah ibadah hari
Minggu,
51
52
A. A. Sitompul, 1993. hal., 10.
Bons Strom, 2001. hal., 14.
127
yang di dalamnya mengandung sistem keagamaan yang telah berulang-ulang
dilakukan jemaat ini.
Kebaktian Minggu di gereja HKBP Pasar Melintang Medan dibagi atas
tiga bagian, yaitu; (1) Ibadah Sekolah Minggu masuk pukul 08.00 wib-09.30 wib;
(2) Ibadah Minggu Pagi masuk pukul 08.00 wib -09.30 wib; dan (3) Ibadah
Minggu Umum masuk pukul 10.00 wib-12.00 wib. Jumlah jemaat yang hadir
pada minggu pagi berkisar 350 orang dan jumlah jemaat yang hadir dalam minggu
siang berkisar 200 orang. Untuk jumlah jemaat yang terdaftar di gereja HKBP
Pasar Melintang adalah 450 Kepala Keluarga.
Ibadah Sekolah minggu menggunakan peralatan musik solo keyboard
dengan memakai style musik. Dari hasil wawancara dengan Fani53 (Guru Sekolah
Minggu yang mengajar di kelas V SD) mengatakan bahwa pemilihan lagu
biasanya lebih fleksibel tergantung hasil pembicaraan dalam sermon sekolah
minggu yang dilaksanakan setiap hari kamis jam 20.00 wib bertempat di ruang
konsistori gereja. Penggunaan style musik dalam ibadah sekolah minggu
dilakukan untuk lebih menghidupkan suasana ibadah. Menurut Nova54 (pemain
musik dalam ibadah sekolah minggu) bahwa pada awalnya, iringan musik cukup
hanya menggunakan suara string dan terkadang suara piano dalam mengiringi
nyanyian. Akan tetapi dari hasil pengamatan dan evaluasi, anak-anak sekolah
minggu kurang semangat dan meriah dalam bernyanyi dan cenderung lagu
dinyanyikan dengan tempo melambat dan mendayu-dayu. Anak-anak sekolah
53
Wawancara dengan Fani pada hari minggu, tanggal 01 Juni 2014 di gereja HKBP Pasar
Melintang.
54
Wawancara dengan Nova pada hari minggu, tanggal 01 Juni 2014 di gereja HKBP
Pasar Melintang.
128
minggu kurang bisa mengikuti tempo dan melodi jika hanya dengan
menggunakan suara string dan piano. Oleh karena itu, guru sekolah minggu dan
pemain musik bersepakat untuk menggunakan style musik dalam mengiringi
ibadah sekolah minggu. Pada sermon tersebut, guru sekolah minggu melatih lagulagu pujian dengan musik. Penggunaan style musik dalam mengiringin ibadah
sekolah minggu memberikan efek yang cukup besar pada anak-anak sekolah
minggu, mereka dapat bernyanyi lebih baik dengan mengikuti tempo dan melodi
yang tepat. Anak-anak sekolah minggu bernyanyi dengan lebih semangat dan
riang, terkadang nyanyian juga diikuti dengan gerekan sesuai arahan dari guru
sekolah minggu yang memimpin pujian.
Ibadah Minggu Pagi menggunakan alat musik Band dengan lagu nyanyian
dari pop rohani populer. Penggunaan alat musik band dalam ibadah minggu pagi
dilatar belakangi perkembangan musik ibadah tetangga dan juga perkembangan
musik pop rohani dikalangan masyarakat luas. Dari hasil wawancara penulis
dengan Bapak St. L. Hutasoit, SE (seksi musik gereja HKBP Pasar Melintang)
mengatakan bahwa format iringan ini mulai digunakan sekitar kira-kira 5 tahun
yang lalu. Salah satu faktor utama diadakannya musik band dalam minggu pagi
adalah untuk memberikan efek sosiologis bahwa jemaat gereja HKBP Pasar
Melintang bisa menyuguhkan musik dalam ibadah sesuai dengan perkembangan
jaman. Dengan keberadaan musik band ini, para jemaat secara khusus bagi kaum
muda/i dapat bernyanyi lebih hidup. Mereka tidak lagi mencari alternatif ibadah di
gereja lain sebab ekspresi musik mereka dalam ibadah sudah terakomodir di
gereja sendiri.
129
Berikut adalah rangkaian ibadah minggu pagi tanggal 01 Juni 2014:
sebelum acara dimulai terlebih dahulu para pelayan gereja dan penetua gereja
berkumpul di konsistori dan berdoa. Setelah itu, mereka memasuki gereja dan
menempati posisi masing-msing sesuai dengan tugas pelayanan pada hari itu.
Liturgis kemudian mengajak seluruh jemaat untuk saat teduh yang diiringi oleh
musik. Setelah saat teduh dilanjutkan dengan pujian ”Kau Mengenal Hatiku” dan
Votum. Bagian berikutnya adalah melantunkan lagu pujian berjudul ”Bersyukur”
dan pembacaan Hukum Tuhan. Setelah itu dilanjutkan dengan kembali
mengangkat pujian dengan judul lagu ”Tuhan Dengar Doaku” dan Pengakuan
Dosa. Bagian berikutnya adalah Pujian dengan judul ”Jadikanku Rumah Doa” dan
Pembacaan Epistel. Setelah Epistel kemudian mengangkat pujian dengan judul
lagu ”Hatiku Percaya” dan Pengakuan Iman. Setelah itu adalah koor NHKBP dan
dilanjutkan dengan pembacaan warta jemaat dan doa syafaat. Tata acara ketiga
belas adalah mengangkat pujian dengan judul ”Indahnya Hidup Ini” (sekaligus
dengan kolekte/pengumpulan persembahan Ia dan Ib). Acara kemudian
dilanjutkan dengan Khotbah oleh Pdt. B.T Simarmata, M.Th dengan nats dari
Yohannes 17: 1-11. Setelah khotbah selesai kemudian ditutup dengan doa dan
dilanjutkan mengangkat pujian dengan judul ”Hidupku Berharga Bagi Allah”
(Persembahan II) dan acara ditutup dengan doa Pengutusan dari Bapak Pendeta.
Ibadah Minggu Umum menggunakan alat musik duet keyboard (organ dan
piano) dengan lagu dari Buku Ende HKBP. Penggunaan alat musik duet keyboard
dalam ibadah minggu umum untuk memberikan nuansa lebih syahduh dan tenang.
Dari hasil wawancara penulis dengan Bapak St. L. Hutasoit, SE mengatakan
130
bahwa jemaat yang datang pada kebaktian Minggu Umum didominasi oleh orang
tua. Mereka lebih bisa mengikuti nyanyian dengan iringan musik duet keyboard
dari pada musik band. Musik dengan iringan keyboard lebih fleksibel dalam hal
tempo sehingga ketika bernyanyi jemaat tidak merasa kejar-kejaran anatara musik
dan jemaat, hal ini bertolak belakang ketika digunakan musik band dalam
mengiringi ibadah minggu umum. Banyak orang tua, khususnya usia yang sudah
lanjut merasa kurang nyaman diiringi oleh band.
Berikut adalah rangkaian ibadah untum kebaktian Minggu Umum di gereja
HKBP Pasar Melintang pada hari minggu tanggal 01 Juni 2014. Sebelum
kebaktian dimulai, pelayan gereja dan penetua gereja terlebih dahulu berdoa di
ruang konsistori dan kemudian memasuki ruang ibadah gereja. Liturgis kemudian
memimpin jalannya ibadah dan selanjutnya mengajak jemaat bernyanyi dari BE
No. 27: 1-3. Setelah itu acara dilanjutkan dengan Votum/Introitus dan kemudian
jemaat kembali bernyanyi dari BE No. 649: 1+3. Setelah itu dilanjutkan dengan
pembacaan Hukum Taurat dan koor Ina Parari Rabu. Setalah koor kemudian
dilanjutkan dengan kembali mengangkat pujian dari BE No. 122: 1+4 dan
diteruskan dengan pengakuan dosa. Setelah itu baru dilanjutkan dengan koor
gabungan dari weik I dan kemudian disusul dengan pujian dari BE No. 658: 2-3.
Pembacaan Epistel dari Psalmen 68: 2-11 + 33-36 dan dilanjut dengan
melantunkan koor gabungan dari weik II. Setelah koor acara dilanjutkan dengan
kembali bernyanyi dari BE No. 656 : 1+3 dan dilanjutkan Pengakuan Iman,
setelah itu baru warta gereja dibacakan. Setelah warta gereja, dilanjutkan dengan
koor Ama dan kemudian jemaat kembali bernyanyi dari BE No. 755 : 1---
131
sekaligus pengumpulan persembahan Ia dan Ib. setelah persembahan, dilanjutkan
dengan Khotbah oleh Pendeta B.T. Simarmata, M.Th. Setelah Khotbah acara
dilanjutkan dengan bernyanyi dari BE No. 655 : 1----- (persembahan II) dan
kemudian ditutup dengan doa berkat.
4.3 Penggunaan Himne Sesuai Tata Ibadah Gereja HKBP
Penggunaan musik di gereja HKBP PasarMelintang Medan dalam
penelitian ini menyangkut kepada lagu-lagu yang dinyanyikan dalam ibadah yang
disesuaikan dengan konteks acara gereja, artinya bahwa tidak semua nyanyian
yang berasal dari Buku Ende dapat dinyanyikan dalam satu kebaktian. Seperti
contoh, lagu dari Buku Ende No. 88 ”Di Surgo do Alealenta” tidak akan pernah
dinyanyikan dalam ibadah kebaktian Trinitatis atau Advent. Hal ini tentu dilandasi
adanya makna teks nyanyian yang mendukung kepada acara kebaktian, oleh sebab
itu maka lagu tersebut akan sesuai dinyanyikan pada ibadah Jumat Agung atau
ibadah gereja yang memperingati hari kematian Tuhan Yesus; disamping itu juga,
lagu ini sering dinynyikan dalam konteks ibadah yang dilaksanakan pada saat ada
jemaat yang meninggal dunia.
Melihat hal di atas, maka dapat dikatakan bahwa teks lagu adalah hal yang
utama dalam penentuan lagu apa yang tepat untuk sebuah kebaktian di gereja
HKBP. Melodi dan harmoni juga ikut memberikan penguatan akan teks lagu yang
dinyanyikan. Alasan pertimbangan penulis lebih menitikberatkan bahwa teks
sebagai yang utama dalam
penentuan lagu yang akan dinyanyikan dalam
kebaktian yang dilaksanakan di gereja HKBP adalah dikarenakan bahwa didalam
132
banyak lagu Buku Ende mempunyai melodi yang sama akan tetapi teks yang
dipakai berbeda-beda.
4.3.1 Penggunaan himne dalam ibadah Advent
Advent dalam Gereja Kristen adalah nama periode sebelum Natal. Nama
Adven diambil dari kata Latin Adventus yang artinya adalah Kedatangan. Dalam
masa Advent umat Kristen Katolik Roma maupun Protestan menyiapkan diri
untuk menyambut pesta Natal dan memperingati kelahiran dan kedatangan Yesus
yang kedua kalinya pada akhir zaman. Advent diduga mulai dirayakan di
kalangan umat Kristen sejak abad keempat.55
Advent selalu mulai pada hari Minggu yang terdekat dengan tanggal 30
November (hari St. Andreas) yaitu antara tanggal 27 November dan 3 Desember
dan berlangsung sampai Malam Natal 24 Desember. Dengan ini panjangya masa
advent per tahun berbeda-beda, tetapi sebuah masa advent selalu terdiri dari 4 hari
Minggu.
Dalam perayaan Advent, salah satu bagian yang selalu muncul adalah lilin
yang diletakkan di depan Altar. Ada bebarapa aturan dalam penggunaan lilin akan
tetapi pada perkembangannya saat ini, warna lilin tidak menjadi permasalahan
akan tetapi jumlah pemakaian lilin dalam setiap minggu Advent adalah tetap
sama.
Lilin-lilin itu dinyalakan sebagai berikut:
1. Minggu Pertama: sebatang lilin ungu
2. Minggu Kedua: dua batang lilin ungu
55
http://www.netglimse.com/holidays/advent/history_of_advent.s html.
133
3. Minggu Ketiga (Gaudete): dua batang lilin ungu dan satu lilin merah
jambu
4. Minggu Keempat: tiga batang lilin ungu dan satu lilin merah jambu
5. Malam Natal: keempat liin dan satu lilin natal berwarna putih di tengah
rangkaian lilin adven.
6. Hari Raya Natal: semua lilin dinyalakan.
Lilin dan warna liturgi ungu melambangkan warna pertobatan dan penyesalan
yang ditandai oleh masa puasa. Lilin merah jambu dinamai juga lilin "Sukacita"
(Gaudete) dan lilin ini berasal dari sejarah Advent. Puasa pada masa Advent
dibuka pada hari Minggu yang ketiga sebagai penantian akan peristiwa besar yang
akan datang. Seringkali sebatang lilin putih dinyalakan di tengah lingkaran. Ini
adalah Lilin Kristus (lilin natal), yang melambangkan kelahiran Kristus. Lilin ini
dinyalakan pada Malam Natal atau pada hari Natal itu sendiri.
Untuk mendukung situasi dan makna akan minggu Advent maka lagu-lagu
yang dinyanyikan oleh jemaat dalam minggu advent di gereja HKBP adalah lagu
nyanyian dimana teksnya melambangkan sukacita dalam menyambut kedatangan
Tuhan Yesus. Sebagai bahan analisis, penulis akan mengambil dua lagu yang
dinyanyikan dalam ibadah Advent di gereja HKBP. Lagu yang pertama adalah
Buku Ende No. 38 ” Paruak ma Harbangan i”.
134
Gambar 4.1. Lagu Buku Ende No. 38 “Paruak Ma Harbangan i“
Sumber: Buku Ende HKBP
Dari Teks lagu di atas dapat diartikan bahwa lagu ini sangat mendukung
makna Advent secara keseluruhan. Paruakma harbangani ai nungga ro Rajanta i
memiliki arti bahwa membuka pintu-pintu hati manusia sebab Tuhan Yesus yang
dikenal sebagai Raja dari segala raja akan datang ke dunia ini. Sigonggom raja
sasude, sitobus hajolma on pe, memiliki arti bahwa Ia adalah raja yang
mengayomi semua manusia dan Ia adalah penebus manusia. Kalimat Siboan
hatuaon, pasuang hasonangan memiliki arti bahwa Tuhan Yesus adalah pembawa
berkat dan sukacita. Kalimat terakhir bait pertama ditutp dengan Ipe tapuji ma,
Tuhanta Debata yang memiliki arti bahwa kita manusia harus dengan sungguhsungguh memuji Dia dalam kehidupan ini.
Dalam Bait keempat dikatakan O Jesus, Roma Ho tuson, ai nungga
ungkap rohangku menggambarkan keterbukaan hati manusia didalam menyambut
kedatangan Tuhan Yesus. Patongon asi ni roha, Patolhas denggan basaM
mengandung arti bahwa kedatangan yesus adalah merupakan belas kasihanNya
bagi manusia yang penuh dengan dosa sehingga Yesus datang kedunia didalam
135
menggenapi firman Tuhan. Kalimat berikutnya mengatakan Tu ahu marhite
tondiMi, togihon au tu surgoi menggambarkan bahwa manusia menginginkan
Yesus memberikan kuasa Roh Kudus dan mengharapkan sukacita dengan
mengikut sertakan manusia kedalam kerajaan surgawi. Kalimat terakhir bait
keempat mengatakan Ai naeng tongtong disi, hupuji goarMi memberikan arti
yang jelas akan pengharapan manusia. Manusia mengharapkan kelak di akhirat ia
bisa bersama-sama dengan Tuhan, dan disana manusia bernyanyi, bersukacita
memuliakan dan memuji Tuhan.
Lagu yang kedua adalah Buku Ende No. 590 ”Advent”. Berdasarkan teks
nyanyian dijelaskan bahwa Advent adalah waktu untuk manusia dalam
mempersiapkan diri menyambut kedatangan Juru S’lamat (Advent ido ditingkion
namarsaringar di tano on, ingkon rade rohantai, managam Sipalua i). Di ayat
dua dikatakan bahwa Advent adalah sukacita didalam dunia sebagai tanda
kedatangan Tuhan Yesus bagi jemaatnya (Advent, gok olopolop do di langit ni
parlangitan i, mandok naro ma Tuhan i manopot huriaNa i).
136
Gambar 4.2. Lagu Buku Ende No. 390 “Advent“
Sumber: Buku Ende HKBP
Dari kajian teks lagu Buku Ende No. 38 ”Paruak Ma Harbangan i” dan lagu
Buku Ende No. 390 ”Advent” maka dapat disimpulkan bahwa kedua lagu tersebut
sesuai dinyanyikan pada masa Advent I-IV.
Pilihan lagu-lagu lainnya untuk
ibadah advent di gereja HKBP adalah sebagai berikut:
1. BE. No. 39 ”Heha Ma Panjalongku”
2. BE. No. 40 ”Las Be Ma Rohamuna”
3. BE. No. 41 ”Parripe Ni Tuhanta”
4. BE. No. 42 ”Hamu Sude Naung Tinoruan”
5. BE. No. 43 ”Padiri Rohamuna”
6. BE. No. 44 ”Hamuna Na Porsea i Sai Tomu Tuhan Jesus i”
7. BE. No. 45 ”Hosianna Anak Ni Raja David”
8. BE. No. 591 ”Boru Sion”
9. BE. No. 592 ”Hosianna Di Anak ni Raja Daud
10. BE. No. 593 ”Na Hinirim Na Sai Laon
11. BE. No. 594 ”Sai Ro Ma Ho Immanuel
137
4.3.2 Penggunaan himne dalam ibadah Natal
Dalam bahasa Inggris, kata Christmas (Hari Natal) dipastikan berasal dari
kata Cristes maesse, frasa dalam bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa
Kristus). Kadang-kadang kata Christmas disingkat menjadi Xmas. Dalam bahasa
Yunani, X adalah kata pertama dalam nama Kristus (Christos). Huruf ini sering
digunakan sebagai simbol suci. Tradisi Natal diawali oleh Gereja Kristen
terdahulu untuk memperingati sukacita kehadiran Juru Selamat "Mesias" di dunia.
Sampai hari ini, Hari Raya Natal adalah hari raya umat Kristen di dunia untuk
memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Secara tarikh, tidak ada tanggal
berapa tepatnya hari lahir Kristus, namun kalender masehi telah menetapkan
tanggal memperingati/merayakan Hari Natal pada tanggal 25 Desember. Pada hari
itu, gereja kemudian mengadakan ibadah perayaan keagamaan khusus. Selama
masa Natal, umat Kristen mengekspresikan cinta-kasih dan sukacita mereka
dengan bertukar kado dan menghiasi rumah mereka dengan daun holly dan pohon
Natal. Kelahiran Tuhan Yesus adalah penggenapan dari nubuat yang sudah ada
dalam Kitab Suci. Melalui nubuat ini, manusia diingatkan bahwa Yesus Kristus
adalah pusat dari rencana Allah bagi dunia.
Sesuai dengan makna Natal yang sudah dijelaskan di atas, maka pemilihan
lagu dalam ibadah Natal yang dilakukan di gereja HKBP akan disesuaikan dengan
teks nyanyian. Berikut adalah analisis terhadap dua lagu yang dinyanyikan dalam
ibadah Natal di gereja HKBP Pasar Melitang, yaitu BE No. 54 ”Sonang ni
Bornginna i”.
138
Gambar 4.3. Lagu Buku Ende No. 54 “Sonang ni Bornginna i“
Sumber: Buku Ende HKBP
Teks lagu ”Sonang ni Bonginna i” mengandung makna tentang kelahiran Tuhan
Yesus di dunia ini. Kalimat Sonang ni bognginna i uju ro Jesus i. Sonang modom
do halak sude, holan dua na dungo dope; mangingani Anakna, Jesus Tuhanta i
menggambarkan pada malam kudus, malam yang tenang disaat dunia terlena,
hanya dua yang berjaga terus untuk menjaga Anak yang kudus. Bait kedua
nyanyian ini adalah Denggan ni bornginna i, uju ro Jesus i, tu parmahan di
Betlehem i, dipaboa na disurgoi; nungga ro Sipangolu, Jesus Tuhanta i
mengandung makna bahwa kabar kelahiran Tuhan Yesus telah diberitahukan
kepada para pengembala di Betlehem pada saat itu. Kabar kelahiran Sang Juru
Slamat menjadi sukacita bagi orang kristen sebab Ia adalah penebus dosa
manusia. Dari makna syair tersebut, maka lagu ini sangat mendukung konteks arti
dari Natal sehingga nyanyian ini selalu dinyanyikan dalam ibadah Natal.
139
Lagu kedua sebagai bahan analisis penulis adalah nyanyian BE No. 53 ”Di
Betlehem do Tubu”. Lagu ini dengan jelas menceritakan lokasi tempat kelahiran
Tuhan Yesus, sehingga teks nyanyian ini mendukung makna dari ibadah Natal
yang dilakukan di gereja HKBP Pasar Melintang Medan.
Gambar 4.4. Lagu Buku Ende No. 53 “Di Betlehem do Tubu“
Sumber: Buku Ende HKBP
Teks bait pertama dalam lagu nyanyian ini menggambarkan bahwa Betlehem
adalah tempat dimana Tuhan Yesus dilahirkan. Melalui kelahiran Tuhan Yesus,
maka Raja yang diharapkan manusia telah datang kedunia. Pada bait kedua
dikatakan Tu holong ni rohaNa hubonom rohangku, hulehon di Ibana sude na
diau on. Olo, olo sude na ni au on. Bait ini menggambarkan bagaimana manusia
membenamkan hatinya ke dadalam kasih Tuhan, melalui itu maka manusia
menyerahkan semua miliknya kepadaNya. Pernyataan ini kembali diulang dengan
menyebutkan, amin, amin kuserahkan milikku semuanya kepadaNya.
Dari dua lagu yang dianlisis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teks
nyanyian dari dua lagu tersebut sangat mendukung akan arti dari Natal. Selain dua
140
lagu di atas, ada beberapa nyanyian yang menjadi refrensi dalam pemilihan lagu
ibadah Natal di gereja HKBP Pasar Melintang, diantaranya adalah:
1. BE. No. 46 ”Na Sian Ginjang Do Au Ro”
2. BE. No. 48 ”Ria Ma Hita Sasude”
3. BE. No. 49 ”Sai Ro Ma Tu Bara”
4. BE. No. 50 ”Marende Ma Hamu”
5. BE. No. 56 ”Sai Ro Ma Hamuna”
6. BE. No. 57 ”Nungga Jumpang Muse Ari Pesta i”
7. BE. No. 62 ”Hahalas Ni Roha Godang”
8. BE. No. 598 ”Bege Ende Ni Suruan”
9. BE. No. 608 ”O Betlehem Na Metmet i”
10. BE. No. 615 Tarbege Surusuruan Marende”
11. BE. No. 618 ”Ulina i Di Borngin Na Badia”
4.3.3 Penggunaan himne dalam ibadah Tahun Baru
Ibadah Tahun Baru di gereja HKBP dilaksanakan 7 hari setelah ibadah
Natal. Gereja HKBP menyakini bahwa Tuhan Allah yang tidak ber-Awal dan
tidak ber-Akhir; Allah yang kekal sampai selama-lamanya. Tahun dan Hari Tuhan
tidak terbatas dan berakhir, akan tetapi tahun dan hari kehidupan manusia cepat
berlalu. Gereja HKBP mengucap syukur kepada Tuhan karena Ia senantiasa
menghidupi dan memelihara manusia; mencukupkan kebutuhan hidup dan
pekerjaan manusia yang selalu diberkati.
Melalui ibadah Tahun Baru, jemaat gereja HKBP merenungkan segala
perbuatan yang dilakukan selama satu tahun yang lampau. Melalui perenungan ini
sepatutnya manusia malu dihadapanNya karena banyak hari-hari pengasihanNya
disia-siakan oleh manusia. Melalui ibadah tersebut, jemaat HKBP memohon
pengampunan dan penghapusan akan dosa dan segala kesalahan yang diperbuat.
Dan melalui ibadah ini juga, jemaat HKBP menyerahkan seluruh hidupnya dalam
tangan pengasihan Tuhan.
141
Dari makna ibadah Tahun Baru yang sudah dijelaskan di atas, maka
pemilihan nyanyian dalam ibadah Tahun Baru di gereja HKBP Pasar Melintang
juga akan merujuk kepada makna Tahun Baru bagi gereja HKBP. Berikut adalah
analisis terhadap dua nyanyian pada ibadah Tahun Baru yang dilaksankan di
gereja HKBP.
Gambar 4.5. Lagu Buku Ende No. 66 “Debata Baen Donganmi “
Sumber: Buku Ende HKBP
Bait pertama lagu ”Debata Baen Donganmi” adalah debata baen donganmi lao
mangula ualonmu menggambarkan bahwa jemaat gereja HKBP menyadari penuh
bahwa dalam menjalani kehidupan dalam tahun yang baru akan senantiasa
menggantungkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Baen Ibana haporusanmu, sai
paserep
rohami.
Debata
baen
donganmi,
Debata
baen
donganmi,
menggambarkan bahwa jemaat HKBP akan menjadikan Tuhan adalah sebagai
pegangan hidupnya dalam menjalani hari-hari kedepan, segala status kehidupan
kiranya dihilangkan dan merendahkan hati, biarlah Allah senantiasa menyertaimu.
Makna syair lagu ”Debata Baen Donganmi” mendukung konsep ibadah Tahun
142
Baru yang menekankan akan penyerahan hidup yang penuh kepada Tuhan serta
meminta pertolongan dan penyertaan Tuhan setiap saat dalam kehidupan
jemaatnya.
Lagu kedua yang menjadi bahan analisis adalah BE No. 64 ”Naung Moru
Do Muse Sataon”.
Gambar 4.6. Lagu Buku Ende No. 64 “Naung Moru Do Muse Sataon “
Sumber: Buku Ende HKBP
Bait pertama lagu ini adalah naung moru do muse sataon, huhut lam suda
bohalhi. Beha do ahunasai laon, ture dopangalahonki? Lam ganda haporsea on
hu, nang holong ni rohangku pe; di Jesus dohot Debatangku, nang didonganhu
sasude? Menggambarkan bahwa jemaat menyadari setahun telah berlalu maka
makin dekatlah ajalku. Intropeksi diri akan segala tindak tanduk yang dilakukan
selama satu tahun ini menjadi penting dilakukan agar mengetahui apakah benar.
143
Selain itu, pertanyaan yang mendasar bagi jemaat HKBP adalah apakah iman,
kecintaan kepada Tuhan dan sesamanya semakin baik dan meningkat?
Perenungan ini diharapkan akan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik dalam
tahun yang baru.
Pada bait kedua dikatakan Aut alusanhu Debatangku, ra, tung maila au
disi. Marningot salpu ni rohangku, ro di sude ulaonhi. Ai dosa do binahen ni
tangan, gok dosa nang rohangku; nang pat, nang mata, nang pamangan luhut
marsal do hape. Bait ini menggambarkan bahwa jika jemaat memberi jawaban
akan pertanyaan pada bait pertama di atas, tentu akan malu mengingat sifat
kecongkakan. Tanganku mengerjakan dosa, hatikupun penuh cela, kaki, mata dan
lidah juga ikut membuat dosa.
Syair lagu yang menekankan akan intropeksi diri dan kesadaran yang
penuh akan sifat dasar manusi yang penuh dengan dosa selama satu tahun, tentu
mendukung kontek ibadah Tahun Baru yang dilakukan di gereja HKBP Pasar
Melintang. Selain lagu tersebut di atas, ada beberapa lagu yang menjadi refrensi
dalam ibadah Tahun Baru di Gereja HKBP Pasar Melintang, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
BE. No. 63 ”Jesus Ho Do Sai Tongtong”
BE. No. 65 ”Majumpang Taon Na Imbaru”
BE. No. 67 ”Hamu Ale Donganhu”
BE. No. 68 ”Marsilelean Angka Taon”
BE. No. 70 ”Naung Salpu Taon Naburuki”
4.3.4 Penggunaan himne dalam ibadah minggu Epiphanias
Epifani dirayakan oleh Gereja Katolik ritus latin pada 6 Januari, namun
Gereja memperbolehkan Konferensi Uskup setempat untuk menggeser hari raya
ini ke hari Minggu terdekat. Sebagai mana kata-kata serapan lain dalam kosakata
144
gerejawi (ekaristi, liturgi, epiklese, dsb), kata Epifani berasal dari bahasa Yunani,
dan berarti “manifestasi” atau “pewahyuan”.
Epifani mulai dirayakan pada abad ke-3 di Gereja Timur pada 6 Januari
dengan maksud untuk menghormati Pembaptisan Kristus. Lambat laun, Epifani
diperhitungkan sebagai salah satu dari tiga festival Gereja yang utama selain
Paskah dan Pentakosta. St.Yohanes Krisostomus yang berkhotbah di Anthiokia
pada 6 Januari 387 menjelaskan mengapa Epifani menjadi perayaan yang lebih
agung dibandingkan dengan Natal. “Mengapa hari ini disebut Epifani? Karena
bukan ketika Ia lahir, Ia bermanifestasi (menyatakan diri) kepada semua orang,
namun ketika Ia dibaptis. Hingga pada hari inilah Ia tidak dikenal oleh orang
banyak.” Pusat ritual dalam liturgi Timur adalah pemberkatan meriah atas air
baptis.
Epifani muncul dalam kalender Gereja Barat
pada abad ke-4 namun
dengan fokus yang berbeda. Alih-alih merayakan pembaptisan Kristus, Epifani
dihubungkan dengan manifestasi Kristus pada bangsa kafir yang hadir dalam
pribadi Tiga Orang Majus. Teks-teks kuno menyebutkan bahwa Pembaptisan
Kristus dan Mukjizat Perjamuan Nikah di Kana juga dirayakan dalam perayaan
tersebut. Ketika terjadi pembaharuan liturgi pada 1955, maka tidak ada lagi vigili
dan oktaf (suatu masa 8 hari pasca hari raya) Epifani, selain itu Pesta Pembaptisan
Tuhan kini dirayakan pada hari Minggu setelah Epifani. (Pembaharuan ini
kemudian diikuti dengan penetapan aturan yang memperbolehkan konferensi
uskup setempat untuk menggeser Epifani ke hari Minggu antara 2-8 Januari, agar
Epifani bisa dirayakan oleh umat secara meriah, mengingat situasi dan kondisi
145
daerah setempat yang tidak memungkinkan untuk menjadikan Epifani sebagai hari
libur nasional).
Liturgi yang berkaitan dengan Epifani seharusnya mengandung 3 aspek,
yaitu: kunjungan orang majus, pembaptisan Kristus, dan mukjizat di Kana, dan
memang, Ibadat Pagi (Laudes) pun mengekspresikan betapa kaya makna Epifani
dalam antifon Kidung Zakharia: “Hari ini pengantin surgawi disatukan dengan
Gereja, sebab di Yordan Kristus membasuh dosa umat-Nya. Para sarjana bergegas
membawa persembahan untuk perkawinan raja, dan para tamu bergembira atas air
yang diubah menjadi anggur, alleluya.”
Makna Epifani menjadi semakin jelas jika melihat hubungan antara bacaan
Injil pada Epifani dengan Paskah. Sebagai contoh Yesus mendapat tekanan dari
penguasa yaitu Raja Herodes pada saat kelahiran-Nya, pun dari pemimpin Yahudi
menjelang penyaliban-Nya. Yesus menyatakan diri-Nya kepada bangsa kafir
yang terwakilkan melalui para majus, dan adalah bangsa kafir pula, yaitu perwira
romawi, yang kemudian mengenali Yesus sebagai Anak Allah pada kaki salib.
Peristiwa yang paralel ini mengingatkan kita bahwa Liturgi gereja mempunyai
“tema besar”, yaitu bahwa, sebagai Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan
Apostolik, kita selalu merayakan misteri Paskah; hidup, wafat, dan kebangkitan
Yesus Kristus!
Istilah Epifani dalam gereja HKBP dikenal dengan sebutan Epiphanias.
Makna Epiphanias bagi gereja HKBP adalah bersyukur karena Engkau
menyatakan kasih dan pengasihanNya dalam AnakMu Tuhan Yesus yang menjadi
manusia, untuk menyelematkan dan menebus manusia. Gereja HKBP merasakan
146
Kasih Tuhan yang tidak dapat diukur panjang dan lebarnya, tidak tersalami
dalamnya dan tidak terhingga tingginya. Berdasarkan makna Epiphanias dalam
gereja HKBP maka seluruh lagu nyanyian dalam ibadah minggu Epiphanias akan
mendukung tujuan di atas. Berikut adalah analisis terhadap dua lagu nyanyian
dalam ibadah minggu Epiphanias. Lagu pertama adalah BE 74. Sai Marlas Ni
Roha Hita.
Gambar 4.7. Lagu Buku Ende No. 74 “Sai Marlas Ni Roha Hita“
Sumber: Buku Ende HKBP
Bait pertama lagu ini dimulai dengan kata Sai marlas ni roha hita ale dongan
Krsiten i, sai tapuji ma Tuhanta napasaehon dosa i mengandung arti bahwa
marilah kita bersuka cita umat Kristen beriman, kita puji Tuhan Allah penebus
manusia. Lanjutan bait pertama adalah Ditogihon Jesus I, hita huria i. Naung
dijakkon Debatanta hita on baen anakhonNa berarti Yesus datang mendesak
masuk kejemaatNya, Tuhan Allah menerima kita menjadi AnakNya. Pada bait
ketiga dikatakan O hamu ale pardosa molo naeng sonang hamu. Sai tangihon ma
soara ni Tuhanta i burju mengandung arti datanglah orang berdosa jika mau
147
bahagia, dan dengarkanlah seruan dari Tuhan yang rahman.
Sai pauba rohana,
jangkom Jesus i tutu. Asa saut paluaonNa tondimuna sian dosa artinya ubalah
perangaimu, sambut Yesus, Penebus agar jiwamu selamat dari dosa dan yang
jahat. Dari penjelasan makna teks di atas maka dapat dilihat teks nyanyian sesuai
dan
mendukung
makna
Epiphanias
sebagai
wujud
pengasihan
Tuhan
penyelematan dan penebusan manusia.
Lagu kedua yang dianalisis adalah BE No 72 “Hehe Ma Hamu Parbegu”.
Pada bait pertama disebutkan Hehe Ma Hamu Parbegu asa tung tiur hamu. Ai
naung binsar di ginjangmu do panondang dihamu. Haholomon munai, disondangi
jesus i mengandung arti bangkitlah hai orang kafir dan bersinarlah terang. Di
atasmu sudah hadir sinar kasih cemerlang. Suasana yang kelam kini menjadi
terang. Dari bait pertama ini dapat dilihat bahwa kasih Kristus mendatangkan
sukacita bagi orang Kristen.
Gambar 4.8. Lagu Buku Ende No. 72 “Hehe Ma Hamu Parbegu“
Sumber: Buku Ende HKBP
Pada bait keempat dikatakan Jesus sondang ni tondingku na patiur sasude, sai
palua ma rohangku sian dosa sasude. Taiti dohot rohangku tu na tiur i tongtong
148
mengandung arti bahwa Yesus adalah cahaya jiwaku yang menyorot dunia, tolong
lepaskan aku dari dosa dan cela, dan arahkan jiwaku menghampiri sinarMu. Dari
bait empat ini dapat dilihat bahwa hanya Tuhan yang mampu untuk memberikan
pertolongan dalam melepaskan belenggu dosa manusia.
Dari dua lagu di atas dapat simpulkan bahwa teks lagu nyanyian mendukung tema
minggu Epiphanias.
4.3.5 Penggunaan himne dalam ibadah minggu Jumat Agung
Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Paskah, yang perhitungan
tanggalnya berbeda antara Gereja Timur dan Gereja Barat. Paskah jatuh pada hari
Minggu pertama sesudah Bulan Purnama Paskah, bulan purnama pada atau
sesudah 21 Maret, yang dijadikan tanggal dari vernal equinox. Perhitungan Barat
menggunakan Kalender Gregorian, sedangkan perhitungan Timur menggunakan
Kalender Julian, di mana tanggal 21 Maret-nya kini bertepatan dengan tanggal 3
April menurut kalender Gregorian. Perhitungan-perhitungan untuk menentukan
tanggal bulan purnama tersebut juga berbeda. Karena Paskah di Gereja Barat
dapat jatuh pada salah satu tanggal mulai tanggal 22 Maret sampai 25 April
menurut kalender Gregorian, maka Jumat Agung dapat jatuh antara tanggal 19
Maret sampai 22 April. Dalam Gereja Timur, Paskah dapat jatuh antara 22 Maret
sampai 25 April menurut kalender Julian (antara 4 April dan 8 Mei menurut
kalender Gregorian, untuk periode 1900 dan 2099), jadi Jumat Agung dapat jatuh
antara 19 Maret dan 22 April (atau antara 1 April dan 5 Mei menurut kalender
Gregorian).
149
Ibadah Jumat Agung dalam gereja HKBP dikenal dengan Ibadah
mengenang Kematian Tuhan Yesus. Makna Jumat Agung dalam gereja HKBP
adalah menunjukkan kasih Tuhan jauh lebih besar dari kasih ibu bapa kepada
anak-anaknya. Anugrah kasihNya tak ternilai karena AnakMu yang tunggal
menjadi manusia, menderita sengsara, dihina dan disesah hingga disalibkan, dan
mati untuk manusia. Segala hutang dosa manusia telah dihapuskan dan
diselamatkan dari kuasa dosa, maut dan iblis. Oleh sebab itu, jemaat gereja HKBP
memuji Tuhan yang kudus karena dengan kematiannya, manusia didamaikan dan
dipersatukan dengan Allah Bapa.
Melalui ibadah Jumat Agung, jemaat gereja HKBP menyadari bahwa
Allah yang menanggung dosa seluruh umat manusia. Pengharapan jemaat HKBP
adalah peneguhan bagi keampunan dosa dan damai yang telah dianugrahkan
Tuhan bagi umat manusia. Kuduskanlah kami agar dipersatukan didalam
persekutuan yang Kudus di Surga. Salibkan kemanusian kami yang lama dengan
segala keinginan yang tidak baik didalamnya, agar jemaat kudus menghadap Bapa
di surga. Warga gereja HKBP membuka hati karena mereka adalah milikNya.
Pengharapan lainnya dari peringatan Jumat Agung dalam gereja HKBP adalah
penguatan iman warga gereja HKBP agar teguh sampai akhir hidup; seluruh
anggota jemaat memberitakan kasih dan jalan kehidupan seperti yang Tuhan
perbuat; dan jemaat HKBP menyadari bahwa mati dan hidup manusia adalah tetap
bersama Tuhan. Sebagai pengharapan terakhir dari ibadah Jumat Agung adalah
warga gereja HKBP menginginkan kemurahan Tuhan untuk mengingat
150
jemaatNya di dalam kemulianMu dan di dalam kesentosaan bersama dengan
Allah di surga.
Dengan melihat makna ibadah Jumat Agung dalam gereja HKBP di atas,
maka pemilihan nyanyian dalam ibadah tersebut tidak akan terlepas dari teks
nyanyian yang mendukung makna dari ibadah. Dalam hal ini, penulis akan
membahas dua lagu himne yang dinyanyikan pada ibadah Jumat Agung. Lagu
yang pertama adalah BE No. 83 “Na Lao Do Birubiru I” dan BE No. 84 “Aut Na
Ginorga Tu Rohangku.
Gambar 4.9. Lagu Buku Ende No. 83 “Na Lao Do Birubiru i“
Sumber: Buku Ende HKBP
Pada bait pertama disebutkan Nalao do Biru-biru i, mamorsan angka dosa. Ni
nasa hajolmaon di benget ni rohana. Diporsan sahit ta i, di lehon do diriNa i tu
151
tangan ni pamunu. Ditaonido na bernit i, rodi na tos hosaNa i, didok naeng
porsanonhu mengandung arti bahwa Sang Anak domba maju terus memikul dosa
dunia. Ia rela dan tabah menebus dosa orang bersalah. Ia merasakan sakit dan
lesu, Ia disiksa tanpa mengeluh, Ia dihina dan dicerca dan Ia mati di salibkan di
Golgata. Pada bait ketiga dikatakan Na olo do au ale Amang sian sandok
rohangku, pasauthon lomo ni rohaM, rohaM sambing do guru. O holong ni
rohaNa i, tung aha dotudisanMi, na songon Ho margogo. Dilehon Debata hape,
AnakNa lao manaon sude, sitaonon ni na mago memiliki pengertian ya Bapa,
akan kutempuh dengan hati yang tulus, niatku dalam mulutMu. Tugaskulah
sabdaMu, alangkah ajaib kasihNya. Apakah yang bisa dibandingkan manusia
dengan pengutusan anakNya ke dunia ini? Ya Tuhan, engkau perkasa yang
meretakkan kuburan dan azab manusia. Dalam bait keempat menguatkan arti dari
penyerahan diri manusia, manusia menyadari bahwa ia adalah milik Tuhan baik
mati maupun hidup. Berikut adalah kalimat dari bait keempat saleleng ahu
mangolu, naeng ingotonhu Jesus. Sude na binahenMi di ahu, hataM naeng
hupatulus. Ho naeng haholonganhu do, huhut ihuthononhu do di dalan
hangoluan. Tung ingkon Ho nampuna au, mangolu manang mate au, sai Ho do
tioponhu mengandung arti bahwa sepanjang masa hayatku aku mengingat Yesus
selalu. Semua kasih sayangMu akan tetap kuurus. Engkau adalah sinar jiwaku,
bila jiwaku terbentur, Engkau tinggal di dalam hatiku. Tuhan adalah pemilik
diriku, baik hidup ataupun mati. Dari makna syair di atas dapat dilihat bahwa lagu
ini mendukung arti ibadah Jumat Agung secara keseluruhan.
152
Lagu kedua sebagai bahan analisis adalah BE No.84 “Aut na Ginorga Tu
Rohangku”. Bait pertama lagu ini dikatakan Aut na ginorga tu rohangku, bohiM
dinalao mate Ho. Aut na huingot o Tuhanhu, tongtong panghophopMi diau. Ai Ho
do paluahon ahu, dosangku do pinorsanMi; didaoni Ho parsahiton hu; martua au
binahenni mengandung arti bila kuukir dalam hati wajahMu pada salibMu. Seraya
aku menghayati pengorbananMu padaku. Engkaulah juru slamat dunia; engkaulah
yang memikul segala dosaku; Engkau menyembuhkan luka-lukaku agar aku
sentosa dan teduh.
Gambar 4.10. Lagu Buku Ende No. 84 “Aut Na Ginorga Tu Rohangku“
Sumber: Buku Ende HKBP
Pada bait kedua dikatakan Sai jalo m’au ale Tuhanku baen upa ni na tinaonMi.
Sai naeng ingoton ni rohangku tung sasude binahenMi. Humophop au pardosa
godang, dibahen holong ni rohaM, hinorhon ni tarbaen au sonang, laho
mandapothon banuaM mengandung arti sambutlah aku ya Tuhanku, sebagai upah
siksaMu; akan kuukir di benakku semua perbuatan yang Tuhan berikan padaku.
153
Engkau membela aku dari segala dosa dan oleh karena itu aku bersukacita dan
bergembira menuju pintu sorgaMu. Dari makna syair di atas dapat dilihat bahwa
lagu nyanyian ini mendukung akan arti dari ibadah Jumat Agung seperti yang
sudah dijelaskan di atas. Selain dua himne tersebut, berikut beberapa himne yang
dinyanyikan dalam ibadah Jumat Agung:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
BE. No. 76 ”Sada Nama Sangkap Ni Rohangku”
BE. No. 77 ”Hamu Saluhut Halak”
BE. No. 78 ”O Ulu Na Sap Mudar”
BE. No. 86 ” Silang Na Badia”
BE. No. 619 ”Di Golgota”
BE. No. 622 ”Mansai Nalnal Di Angka Partingkian”
4.3.6 Penggunaan himne dalam ibadah Kebangkitan Tuhan Yesus
Tanpa kebangkitan, iman Kristen tidak mungkin muncul. Murid-muridNya hanyalah simbol kekalahan dan kehancuran. Mungkin mereka akan
mengingat Yesus sebagai guru terkasih mereka, dan penyaliban hanya akan
melenyapkan harapan akan mesias. Salib akan kelihatan menyedihkan dan
memalukan sebagai akhir karir Yesus. Kekristenan mula-mula sangat bergantung
kepada kepercayaan murid-murid-Nya bahwa Tuhan telah membangkitkan Yesus
dari kematian.
Jika ditanya mengapa kebangkitan Yesus Kristus disebut sebagai bukti
diri-Nya adalah Anak Allah? Jawabnya adalah (1) Dia bangkit dengan kuasa-Nya
sendiri. Dia mempunyai kuasa untuk memberikan nyawa-Nya dan untuk
mengambilnya kembali (Yohanes 10:18). Ini tidak bertentangan dengan pasal lain
yang menyatakan Yesus dibangkitkan oleh kuasa Bapa, karena Bapa dan Anak
bekerja bersama-sama, seperti halnya penciptaan, tiga pribadi Allah, yaitu: Bapa,
154
Anak dan Roh Kudus bekerja sama secara harmonis; dan (2) Secara jelas Yesus
telah menyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah, kebangkitan-Nya dari kematian
merupakan materai/persetujuan dari Allah Bapa akan kebenaran pernyataan-Nya.
Jika Allah tidak menyetujui pernyataan Yesus sebagai Anak Allah, maka Allah
tidak akan membangkitkan Yesus dari kematian.
Kenyataannya
Allah
membangkitkan Yesus dari kematian, seolah Allah Bapa mengatakan: "Engkaulah
Anak-Ku, hari ini Aku menegaskan sejelas-jelasnya."
Khotbah Petrus saat hari Pentakosta juga berdasar kepada Kebangkitan
Kristus (Kisah Para Rasul 2:14-40). Tidak sekedar tema khotbah, tetapi
menekankan pentingnya kebangkitan. Kalau ajaran kebangkitan dihilangkan,
maka semua ajaran kekristenan akan hilang. Kebangkitan merupakan; (1)
Penjelasan kematian Yesus; (2) Penggenapan nubuat dalam Perjanjian Lama
tentang Mesias; (3) Sumber kesaksian murid-murid; (4) Alasan pencurahan Roh
Kudus; dan (5) Menegaskan posisi Yesus sebagai Mesias dan Raja.
Tanpa kebangkitan, posisi Yesus sebagai Mesias dan Raja tidak akan
terjelaskan. Tanpa kebangkitan, pencurahan Roh Kudus akan meninggalkan
misteri yang tidak dapat dijelaskan. Tanpa kebangkitan, sumber kesaksian muridmurid hilang. Kebangkitan adalah penggenapan dari nubuat mengenai Mesias
yang akan bangkit di dalam Mazmur 16:10, 'tidak membiarkan Orang Kudus-Mu
melihat kebinasaan.' Jelaslah bahwa khotbah pertama kekristenan berdasar kepada
Yesus yang telah bangkit. Perjanjian Baru bergaung kepada fakta Kebangkitan
Yesus. Injil-injil mencatat pernyataan Yesus bahwa Ia akan dikhianati, dibunuh
dan bangkit lagi. Mereka menyaksikan bahwa kubur telah kosong dan Ia
155
menampakkan diri kepada murid-murid-Nya seperti yang telah dikatakan-Nya.
Kisah Para Rasul mencatat Kebangkitan Kristus sebagai fakta dan membuatnya
menjadi pusat pengajaran. Surat-surat dalam Perjanjian Baru dan Kitab Wahyu
menjadi tak berarti tanpa kebangkitan Yesus. Kebangkitan diterima baik oleh: (1)
Keempat Injil yang terpisah; (2) Sejarah kekristenan mula-mula (Kisah Para
Rasul); dan (3) Surat-surat: Paulus, Petrus, Yohanes, Yudas, dan Surat Ibrani.
Makna ibadah minggu Kebangkitan Tuhan Yesus bagi gereja HKBP
adalah ungkapan terimakasih dan pujian umat manusia karena melalui
Kebangkitan telah melahirkan pengharapan yang hidup. Dia adalah Juru Selamat
dan hidup serta Tuhan kami dan menjadi Kepala yang harus ditaati. Melalui
kebakitanNya, iblis, dosa dan maut telah ditaklukkan dan warga gereja HKBP
tidak akan takut lagi menghadapinya dan segala sengatnya karena kemenangan
Tuhan kami, Panglima perkasa yang menuntun kami dari kematian hingga kepada
kebangkitan daging. Melalui Kebangkitan Tuhan Yesus, wagra gereja HKBP
memohon kasih dan pertolongan Tuhan agar warga gereja tidak bimbang dalam
menghadapi maut.
Dari makna Kebangkitan Tuhan Yesus, maka pemilihan himne dalam
ibadah ini akan disesuaikan dengan makna tersebut. Berikut adalah analisis
terhadap dua himne yang dinyanyikan sewaktu ibadah minggu Kenaikan Tuhan
Yesus, yaitu: BE No. 92 ”Puji Ma Na Manaluhon” dan BE No. 96 ”Nungga Talu
Hamatean”.
156
Gambar 4.11. Lagu Buku Ende No. 92 “Puji Ma Na Manaluhon“
Sumber: Buku Ende HKBP
Pada bait pertama dikatakan Puji hamu namanaluhon dosa hamatean i,
Puji ma na pangoluhon saluhut pardosa i. Jesus na dung mate i, las roham o
huria Na, ala namamillit ho, Jesus i mangolu do mengandung arti Pujilah yang
menaklukkan dosa kerajaan maut. Pujilah yang membebaskan manusia yang sesat.
Yesus yang telah wafat, sambut Dia hai jemaat, agar kau hidup tenang, Yesus
bangkit dan menang..
Bait kedua dikatakan Tole hita mangendehon halalas ni roha i. Dohot
marolopolophon sangap ni na monang i. Na tongtong mangolu i, Tole hita
mangendehon halalas ni roha di parngolu Jesus i mengandung makna bahwa
manusia menyanyikan kesukaan ceria dan juga mengelu-elukkan hormat bagi
Yesus pemenang hidup yang kekal. Manusia menyanyikan dan merayakan hari
kebangkitannya. Dari makna teks tersebut di atas maka dapat dilihat bahwa lagu
nyanyian ini mendukung tujuan ibadah minggu Kebangkitan Tuhan Yesus.
157
Lagu kedua sebagai bahan analisis diambil dari BE No. 96 ”Nungga Talu
Hamatean”
Gambar 4.12. Lagu Buku Ende No. 96 “Nungga Talu Hamatean“
Sumber: Buku Ende HKBP
Pada bait pertama dikatakan nungg talu hamatean dibahen Tuhan Jesus i. Ai
nahehe di Ibana songon nadidok nai. Haleluya, haleluya nunga hehe Jesus i;
Haleluya, haleluya nunga hehe Jesus i mengandung arti Yesus telah menaklukkan
kematian, Ia bangkit dari makam berdasarkan janjiNya. Haleluyah, haleluyah,
Yesus bangkit dan jaya. Selanjutnya pada bait ketiga dikatakan Marlas niroha ma
hita ala hehe Jesus i. Ai malua sude hita sian hamagoan i. Haleluya, haleluya
nunga hehe Jesus i; Haleluya, haleluya nungga hehe Jesus i mengandung arti
bahwa dengan kebangkitan Yesus maka manusia bersuka cita karena sudah
dibebaskan dari dosa yang kelam. Haleluyah, haleluyah, Yesus bangkit dan jaya.
Dari dua himne yang dianalisis di atas dapat dilihat bahwa teks nyanyian dalam
ibadah bertujuan mendukung makna dari ibadah Kebangkitan Tuhan Yesus.
158
Selain dua lagu himne di atas, berikut adalah beberapa lagu nyanyian yang
dinyanyikan dalam ibadah minggu Kenaikan Tuhan Yesus:
1.
2.
3.
4.
5.
BE. No. 89 ”Ate Di Dia Soropmi”
BE. No. 90 ”Sai Tapuji Debatanta”
BE. No. 93 ”Pesta Paskah Hatuaon”
BE. No. 94 ”Ale Tondingku Naung Hehe”
BE. No. 637.a ”Patimbul Ma Huaso Ni Goar Ni Jesus i”
4.3.7 Penggunaan himne dalam ibadah Kenaikan Tuhan Yesus
Makna dari Kenaikan Tuhan Yesus ke surga dapat dilihat dalam Injil Mat.
21:43; Kis. 1”8,11 yang mengatakan bahwa menjadi orang Kristen adalah sebuah
kepercayaan, karena ada Roh Kudus yang tinggal dan diam dalam hidup orang
percaya, serta mau meresponi keberadaan Roh Kudus. Matius 21:43 "Sebab itu,
Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan
akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan
itu." Ayat di atas membuktikan bahwa kita sebagai orang percaya di beri kuasa
dan otoritas oleh Tuhan sebagai bangsa cangkokan bukan sebagai bangsa pilihan,
yang sebenarnya sebagai bangsa plilihan adalah Israel karena tidak berkenan
kepada Tuhan, sehingga di tolak oleh Tuhan. Ditolak karena tidak menghasilkan
buah kerajaan. Jangan kita bangga karena hanya mempunyai status sebagai orang
Kristen karena fasilitas tetapi tidak berfungsi secara maksimal. Ketika kita diberi
kepercayaan dan diberi tanggung jawab kepada Tuhan itu menunjukkan
kedewasaan. Oleh karena itu Gereja harus jadi dewasa, artinya siap diberi
kepercayaan dan tanggung jawab untuk menghasilkan buah kerajaan. Kisah Rasul
1:11 "dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu
159
berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu,
akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke
sorga." Kis. Rasul 1:8 "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus
turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh
Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Yesus naik ke Sorga supaya warga gereja terlibat dalam rencana Tuhan,
(1) Yesus Naik Ke Sorga untuk Menyediakan Tempat bagi kita. Rumah
sebenarnya bukan bangunannya melainkan bagaimana suasana rumah tersebut,
apakah membuat kenyamanan dan kerasan untuk tinggal di situ, adakah fellowship
atau persekutaannya. Oleh karena itu kekristenan sangat dibutuhkan sekali
hubungan (fellowship); (2) Yoh. 14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah
kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat
tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku
pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu."; (3) Yesus Naik ke Sorga untuk
Kembali sebagai Raja atas segala Raja. (Wahyu 21: 1-4) "Lalu aku melihat langit
yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang
pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi." Perumpamaan untuk
kedatangan Tuhan Yesus seperti lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh. Apa
yang membedakan antara mereka yaitu persiapan. Orang yang mempunyai
persiapan dalam hidupnya itulah yang menunjukkan pengharapannya bahwa
Tuhan akan dan pasti datang kedua kali untuk menggenapi setiap janjinya dengan
sempurna. Pastikan diri kita untuk percaya bahwa Yesus telah naik ke Sorga untuk
menggenapi janji-janjiNya yaitu kita akan menjadi orang-orang yang didewasakan
160
dan diberdayakan, Tuhan Yesus akan menyediakan tempat di sorga dan Tuhan
Yesus pasti datang kedua kali untuk menjadi Raja atas segala Raja.
Makna Kenaikan Tuhan Yesus bagi gereja HKBP adalah bahwa mereka
mereka meyakini Tuhan Yesus Kristus telah naik ke surga dan duduk disebelah
kanan Allah Bapa. Kekuasaan dan kemuliaan jemaat persembahkan sampai
selama-lamanya. Jemaat bersukacita karena Engkau telah menang dan Allah telah
mengangkat Engkau menjadi Raja atas segala sesuatu. Jalan Tuhan penuh rahasia,
Engkau telah merendahkan diriMu serendah-rendahnya, kemudian Engkau
menjadi lebih tinggi di atas segala sesuatu dan menerima Nama yang terindah atas
segala Nama, dan supaya semua orang bertekuk lutut menyembah Engkau, dan
segala lidah mengaku, bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Gereja HKBP
berterima kasih karena Engkau telah membuka jalan ke surga, Engkau menjadi
Iman Besar bagi manusia untuk selama-lamanya.
Dengan makna Kenaikan Tuhan Yesus di atas, maka pemilihan lagu dalam
ibadah yang dilakukan di gereja HKBP akan dikaitkan dengan teks yang
mendukung makna Kenaikan Tuhan Yesus. Berikut ini, penulis akan menganalisis
dua buah lagu yang dinyanyikan dalam ibadah Kenaikan Tuhan Yesus di gereja
HKBP Pasar melintang, lagu pertama adalah BE No. 97 “Ingoton Ma Sadarion”
161
Gambar 4.13. Lagu Buku Ende No. 97 “Ingoton Ma Sadarion“
Sumber: Buku Ende HKBP
Pada bait pertama dikatakan Ingoton ma sadarion parnaek ni Tuhan Jesus. Tu
habangsaNa na tongtong, naso tarbaen be meret. Tasomba ma Tuhan tai, naung
mulak tu Amana I; tapujima Ibana mangandung arti bahwa umat gereja harus
merayakan dan merenungkan Hari Kenaikan Yesus. Ia naik ke tahta yang megah,
yang tidak akan runtuh. Sembahlah Dia yang jaya, yang pulang pada Bapanya;
terpujilah namaNya.
Pada bait keempat dikatakan Ai mulak do Tuhanta I di ari paruhuman. Sai
dabuonNa do disi sude parhajahaton tu api na so mintop i. alai haholonganNa I,
tu surgo bahennNa mengandung arti bahwa warga gereja HKBP percaya Tuhan
akan datang kelak di hari penghakiman. Semua orang bejat dihalau dan
dicampakkan kedalam api neraka; tetapi orang-orang yang beriman akan Tuhan
tempatkan di surga. Dari makna syair di atas dapat dilihat bahwa teks lagu
mendukung makna ibadah Kenaikan Tuhan Yesus.
162
Lagu kedua yang menjadi bahan analisis adalah BE No. 98 “Naung
Manaek Do Ho”.
Gambar 4.13. Lagu Buku Ende No. 98 “Naung Manaek Do Ho“
Sumber: Buku Ende HKBP
Pada bait pertama dikatakan Naung manaek do Ho lao tu surgo i. Ale Jesus Raja
nami, Ho do ihuthonon nami. Ho partogi i, lao tu surgo i mengandung arti bahwa
Yesus naik ke surga, Ia adalah Raja yang kami ikuti sampai mati. Tuntun umatMu
masuk surga. Selanjutnya pada bait kedua dikatakan Maol do dalan I, togu hami
on; asa tung malu hami, sian angka musu nami. Na di tano an, togu hami on
mengandung arti bahwa warga gereja HKBP menyadari perjalanan hidup manusia
di dunia ini penuh dengan kesulitan dan oleh karena itu manusia membutuhkan
tuntunan yang dari pada Tuhan agar semua jalan yang penuh pergumulan dapat
dilalui dengan sukacita. Dari dua lagu yang dianalisis di atas dapat disimpulkan
bahwa teks dari dua lagu tersebut sangat mendukung akan makna dari ibadah
minggu Kenaikan Tuhan Yesus. Selain dua lagu tersebut, beberapa lagu yang
menjadi refrensi nyanyian dalam ibadah minggu Kenaikan Tuhan Yesus adalah:
163
1.
2.
3.
4.
5.
BE No. 99 “O Ulubalang Na Gogo”
BE No. 100 “Mardongan Olop-Olop Manaek Tuhanta i”
BE No. 101 “Taiti Gogo Ihut Tu Ho”
BE No. 636 “Jesus Do Raja Bolo i”
BE No.638 “Patimbul Tuhan i”
4.3.8 Penggunaan himne dalam ibadah Turunnya Roh Kudus
Ibadah Turunnya Roh Kudus disebut juga dengan Hari Pentakosta
merupakan puncak dari rangkaian 50 hari masa acara/peringatan sekitar Paskah,
dimulai dari minggu sengsara Tuhan Yesus yang berakhir pada hari Perjamuan
Malam
dan
penyaliban
Yesus
disusul
dengan
kematian
Yesus,
lalu
kebangkitanNya yang dirayakan sebagai Paskah. Kemudian Yesus memberikan
Amanat Agung Penginjilan dan 40 hari setelah hari Paskah, Yesus naik ke surga.
Sepuluh hari kemudian atau 50 hari setelah Paskah, pada hari Pentakosta, terjadi
Pencurahan Roh Kudus kepada murid seperti yang sudah dijanjikan oleh Yesus.
Hari Pentakosta adalah akhir dari penebusan dan pelayanan Yesus dibumi
sebelum Ia mengutus Roh Kudus sebagai penerus usahaNya mendampingi para
muridNya, namun Hari Pentakosta sekaligus menjadi awal sejarah gereja, sebab
sejak itu terjadi Pekabaran Injil keseluruh dunia dan dimana-mana berdiri gerejagereja Kristen sampai dengan saat ini.
Harapan warga gereja HKBP pada hari Pentakosta adalah Roh Kudus
mempersatukan jemaatNya agar saling menerima dan saling mengasihi selaku
anggota Tubuh Kristus yang Kudus. Jemaat mengharapkan limpahkan karunia
agar semakin banyak pemberita Injil, pengajar dan rela mengasihi sesamanya
manusia.
164
Melalui makna dari hari Pentakosta yang sudah dijelaskan di atas, maka
pemilihan himne dalam ibadah akan disesuaikan sesuai dengan makna tersebut.
Dalam hal ini, penulis akan menganalisis dua lagu yang dinyanyikan dalam
ibadah minggu Pentakosta di gereja HKBP Pasar Melintang. Himne pertama
adalah BE No. 102 “O Tondi Porbadia I Bongoti”. Bait pertama dikatakan O
Tondi Parbadia i, bongoti roha name be, ro, sipatiur roha. O sondang sian
surgoi, sondangi roha name be, tu halalas ni roha. Asa masa patupahon,
pinodahon ni hataMu. Sai tu hami ma rohaMu mengandung arti ya Rohul kudus
datanglah ke dalam hati yang resah, pelita hati kami. Ya sinar kasih yang terang,
sinari hati yang kelam, penghibur hati kami. Agar kuat melakukan, pengajaran
firman Tuhan. Jangan lupakan kami. Dari pengertian di atas dapat dipahami
bahwa warga gereja HKBP bahwa Rohul Kudus datang kedunia sebagai
penghibur hati manusia; sebagai penguat hati manusia untuk memberitakan firman
Tuhan keseluruh dunia.
Gambar 4.14. Lagu Buku Ende No. 102 “O Tondi Porbadia I Bongoti“
Sumber: Buku Ende HKBP
165
Pada bait kelima dikatakan Ho batu mamak na togu na tau ojahan situtu, paojak
rohanami tu hata hasintongan i. tung unang olo lilu be, nang sada sian hami.
Lehon roha na tumogo, na umburju manggoari Jesus Kristus Tuhannami
mangandung arti kau batu karang yang teguh, landasan yang sungguh teguh.
Tegakkan iman kami dan jaga kami senantiasa agar tak seorang pun jemaatnya
sesak dengan pedang rohani. Bina jiwa yang terkuat, lebih giat menyaksikan
Kaulah Yesus Tuhan Kami.
Lagu himne kedua yang di analisis adalah BE No. 106 “Ale Tuhan
Amanami”. Pada bait pertama dikatakan Ale Tuhan Amanami, namorholong roha
i. suru TondiMi tu hami angka natinoguMi. Paimbaru tondingki, gabe joroMi ma
I, sai olio pangidoanhu, sian asi ni rohaMu mengadung arti ya Bapa Tuhan kami,
Tuhan yang maha pengasih. Masuklah kedalam hati dan pimpinlah kami.
Pugarlah jiwa kami supaya menjadi bait yang kudus. Ya Tuhan dengarkanlah
doaku dalam kasih setiaMu.
166
Gambar 4.15. Lagu Buku Ende No. 106 “Ale Tuhan Amanami“
Sumber: Buku Ende HKBP
Pada bait enam dikatakan Tondi sai ajari ahu jala togutogu ma, asa au
marpangalaho na badia na tama. Sai paburju rohangku mangoloi hataM
tongtong, asa molo ro ajalhu sahat au tu ingananMu mengandung arti bahwa
melalui Roh Kudus, manusia mengharapkan mereka di ajar, dituntun dengan budi
pekerti agar senantiasa kudus dihadapan Tuhan. Melalui Roh Kudus, manusia
menginginkan agar hatinya digiatkan untuk mentaati firman Tuhan. Dengan
melakukan semua itu, ia berharap agar disaat ajal menjemput, aku tiba di rumah
Bapa di surga. Beberapa lagu yang menjadi refrensi nyanyian dalam ibadah
minggu Turunnya Roh Kudus adalah:
1.
2.
3.
4.
BE No. 103 “O Pangapul Na Lumobi”
BE No. 105 “Ro Ma Tondi Porbadia”
BE No. 109 “Sai Songgopi Hami On”
BE No. 640 “Haholongan Sian Ginjang”
167
4.3.9 Penggunaan himne dalam ibadah Trinitatis
Makna Trinitatis dalam gereja HKBP adalah dimana warga jemaat penuh
dengan sukacita karena Tuhan telah memperlihatkan dan menyatakan kasih dan
pengasihanNya, memberikan pengampunan dosa, memberikan kehidupan yang
kekal, harta surgawi dan pada waktunya akan memberikan penghukuman kelak.
Semua ini disadari oleh warga gereja HKBP sebagai sesuatu yang tidak ternilai
dengan apapun di dunia ini, karena yang tidak pernah dipahami manusia telah
Tuhan ungkapkan kepada kami; yang tidak pernah dilihat manusia Tuhan telah
nyatakan kepada kami; yang tidak dapat diberikan diberikan dunia ini Tuhan
limpahkan kepada kami; oleh karena itu warga gereja HKBP menyerahkan Tubuh
Jiwa, Roh dan segala yang ada pada kami, agar Tuhan melayakkan kami
menerima kerajaan Tuhan di surga. Dari makna akan Trinitatis di atas, maka
dalam ibadah minggu Trinitatis pemilihan lagu yang dinyanyikan akan sesuai
dengan teks himne. Berikut adalah dua lagu yang dinyanyikan dalam ibadah
Trinitatis yang dijadikan penulis sebagai bahan analisis. Lagu yang pertama
adalah BE No. 116 “Ditompa Ho Do Au.
168
Gambar 4.16. Lagu Buku Ende No. 116 “Ditompa Ho Do Au“
Sumber: Buku Ende HKBP
Pada bait pertama dikatakan Ditompa Ho do au, sondangi rohangkon. Tung basabasaMi sudena di au on. Gomgomi pamatangku, naeng Ho do aloanhu. Sai lehon
ma gogongku, lomoM naeng ulaonhu. Urupi, tatap au tutu, panompa na burju
mengandung arti bahwa warga gereja percaya Tuhan adalah pencipta manusia dan
menyinari jiwa. Jiwaku kuserahkan menjadi persembahan yang kudus bagi Tuhan.
Semua tenagaku akan kugunakan dalam jemaat Tuhan. Jemaat menyadari akan
keterbatasan manusia sehingga senantiasa memohon pertolongan dan penyertaan
Tuhan senantiasa dalam perjalanan hidupnya.
Bait keempat dikatakan Ale Debatangki, Sitolusada i. Bongoti rohangki,
parbadiai ma i. sai Ho ma lam hutanda, gogongku lam paganda; manangkap
haluaon, maniop hatuaon, ni Ama, Anak, Tondi I na tong pujion i mengandung
arti ya Bapa, Anak dan Roh Kudus, akulah milikMu siapkanlah hatiku menjadi
169
bait kudus. Jelaskan kepadaku kasihMu yang bermutu; aku bahagia menyebut
Bapa, Anak dan Roh.
Lagu kedua sebagai bahan untuk analisi adalah BE No.111 “Patimbul Be
Ma Sangap”.
Gambar 4.17. Lagu Buku Ende No. 111 “Patimbul Be Ma Sangap“
Sumber: Buku Ende HKBP
Bait pertama dikatakan Patimbul be ma sangap ni Jahowa Debatanta. Dokma
mauliate i tu Debata Amanta. Ai pardangolan i do sude, nang saluhut na jorbut
pe dialo Debatanta memiliki arti bahwa warga gereja HKBP haruslah
memuliakan Allah semesta atas segala rahmatnya, yang membebaskan umatNya
dari mara bahaya Allah sungguh baik dan benar, denganNya terwujud damai yang
besar sehingga berakhirlah segala permusuhan.
Bait kedua dikatakan Tongtong sombaon nami Ho, mamuji salelengna.
Dibaen na digonggomi Ho huriaMu sasude. Naso tardodo gogoMi, sai ingkon
saut do rohaMi; on pe martua hami memiliki arti bahwa jemaat gereja HKBP
memuji, menyembah dan bersyukur setiap masa karena Engkaulah Allah dan
Bapa yang memerintah dunia. Hikmat Tuhan tak ternilai dan semua rencanaNya
170
akan terwujud bagi setiap umatNya dan oleh sebab itu jemaat gereja HKBP
sungguh beruntung.
Dengan melihat makna teks lagu ini, maka dapat dilihat lagu himne ini
mendukung makna dari Trinitatis. Berikut adalah beberapa refrensi lagu dalam
ibadah minggu Trinitatis di gereja HKBP Pasar Melintang:
1.
2.
3.
4.
5.
BE No. 110 “Haleluya Pinuji Ma”
BE No. 114 “Ale Jahowa Debata”
BE No. 115 “Tuhan Debata”
BE No. 641 “O Tondi Porbadia i”
BE No. 646a “Sai Gohi Roha Dohot Tondingku”a
4.3.10 Penggunaan himne dalam ibadah-ibadah lainnya
Di gereja HKBP masih terdapat kebaktian ibadah lainnya selain yang
sudah dipaparkan di atas, dimana pemilihan lagu nyanyian akan disesuaikan
dengan teks sehingga lagu-lagu dalam ibadah tersebut mendukung konteks ibadah
yang dilaksanakan. Berikut adalah bagian nyanyian dalam konteks ibadah yang
dilakukan di gereja HKBP secara umum:
No
1
Pembangian Himne
Lagu Pujian
2
Lagu Pengampunan Dosa
3
4
Lagu Hidup Beriman
Lagu Masa Pergumulan
5
6
7
8
9
Lagu Tentang Ajal Manusia
Lagu Tentang Akhir Zaman
Lagu Baptisan
Lagu Perjamuan Kudus
Lagu Pernikahan
Buku Ende
BE No 1-17
BE No 557-589
BE No 161-182
BE No 681-701
BE No 183-235
BE No 279-298
BE No 731-752
BE No 329-340
BE No 341-355
BE No 144-147
BE No 153-155
BE No 158-160
Tabel 4.1. Bagian Nynyian dalam Buku Ende HKBP
Sumber: Buku Ende HKBP
171
4.4 Fungsi Musik di HKBP Pasar Melintang
Pada Bab I telah diterangkan bahwa ada sepuluh fungsi musik menurut
teori Allan P. Merriam. Penulis akan mengaplikasi kesepuluh teori ini untuk
melihat fungsi musik di gereja HKBP Pasar Melintang. Kesepuluh fungsi musik
tersebut adalah sebagai berikut; (1) Fungsi pengungkapan emosional; (2) Fungsi
pengungkapan estetika; (3) Fungsi hiburan; (4) Fungsi komunikasi; (5) Fungsi
perlambangan;(6) Fungsi reaksi jasmani; (7) Fungsi yang berkaitan dengan norma
social; (8) Fungsi pengesahan lembaga sosial dan upacara keagamaan; (9) Fungsi
kesinambungan kebudayaan; dan (10) Fungsi pengintregasian masyarakat. Untuk
mendapatkan bagaimana pendapat jemaat di gereja HKBP Pasar Melintang
tentang fungsi musik, penulis melakukan wawancara dan juga menyebarkan
kuesioner
dengan
pertanyaan
terbuka
yang
memungkinkan
responden
memberikan pendapatnya seputar pertanyaan yang diajukan. Berikut adalah fungsi
musik menurut jemaat gereja HKBP:
1. Fungsi Pengungkapan Emosional. Musik di gereja HKBP Pasar Melintang
(himne, koor, song leader dan musik instrumen) bukan diposisikan hanya
sebagai pelengkap/pengisi dalam sebuah ibadah, akan tetapi musik gereja
harus mampu untuk senantisa membantu penguatan akan konteks ibadah.
Musik dalam gereja harus mampu membantu untuk mempertajam
pengungkapan makna iman. Kegiatan ibadah tidak jatuh hanya pada ruang
akal-perasaan semata, tetapi membantu mengekspresiksan sedikit jauh
kedalaman (depth) spiritual. Melalui musik gereja, ruang spiritual
penghayatan dan kesadaran tentang kebesaran kuasa dan kasih Tuhan,
172
orang-orang percaya menjadi lebih diperkaya dalam iman. Contoh BE No.
565 ”Las Rohangku Lao Mamuji” (ayat 2. Sude jadi-jadianMu, laut, tano,
langit i. Angka bintang dohot bulan nang mata ni ari i. Hauma, ladang
nang harangan, rura dohot dolok i. Saluhutna mangendehon sangap di
Tuhanta i.) dan Kidung Pujian ”Allah Peduli” (Banyak perkara yang tak
dapat ku mengerti. Mengapakah harus terjadi di dalam kehidupan ini. Satu
perkara yang kusimpan dalam hati. Tiada sesuatu kan terjadi tanpa Allah
peduli. Allah mengerti, Allah peduli segala persoalan yang kita hadapi.
Tak akan pernah dibiarkanNya, kubergumul sendiri, s’bab Allah
mengerti).
2. Fungsi Penghayatan Estetis. Musik gereja tidak hanya sekedar diorganisasi
hanya dalam hal penampilan agar musik gereja yang dihasilkan dapat
dikatakan bagus, indah, dan menarik. Akan tetapi yang terpenting adalah
bagaimana mengekspresikannya dalam cerminan pada sikap iman kepada
Kristus. Membantu memberi kesempurnaan penghayatan dalam ibadah
melalui keutuhan, kekhidmatan dan kesucian ibadah sehingga musik gereja
bisa menyentuh batin tiap jemaat. Contoh BE No. 686 “Ramun Do Au”
(ayat 1. Ramun do au di joloMi, gok dosangki. Urasi au, o Jesus Biru-biru
i, dison do au, patau ma au”).
3. Fungsi Hiburan. Musik gereja dapat menjadi sebuah media didalam
memberikan penghiburan pada warga jemaat HKBP Pasar Melintang
secara khusus dapat dilihat jika ada jemaat yang sedang mengalami
pergumulan, maka melalui musik gereja ini sesama warga gereja mmampu
173
memberikan penghiburan bagi mereka yang sedang mengalami duka cita.
Contoh BE No. 219 “Ise Do Ale-Alenta” (ayat 1. Ise do ale-alenta, naso
olo muba I, Ale-ale nasumurung, ima Tuhan Jesus i. Ai torop pe ale-ale na
dihasiangan on, saluhutna i mansadi molo mate danging on).
4. Fungsi Komunikasi. Musik gereja yang disuguhkan dalam ibadah bertujuan
untuk membina hubungan yang personal dengan Tuhan: sebagai bagian
dari jemaat, musik gereja dapat mengkomunikasikan pesan-pesan iman dan
kepercayannya secara pribadi dengan Allah. Musik gereja harus mampu
menyatakan kesaksian iman kepada dunia. Tentang kebesaran Tuhan, kita
dipanggil untuk bersaksi kepada dunia ini bahwa Allah di dalam Kristus
adalah Allah yang mengasihi dan menyelamatkan seluruh umat manusia.
Melalui musik gereja yang merupakan komunikasi/berbicara langsung
dengan Tuhan, meminta pengampunan dosa, pertobatan, dan untuk
memanggil seluruh umat manusia untuk datang kepada Kristus atas kasih
kasihNya. Untuk himne ibadah yang dinaikkan hendaknya disesuaikan
dengan tema bacaan dan khotbah yang akan disampaikan dalam ibadah
pada hari itu sehingga menolong jemaat yang hadir untuk semakin dapat
memahami berita sukacita yang terdapat dalam Kitab suci dan dapat lebih
mudah mengkomsumsi isi firman Tuhan yang diberitakan. Contoh BE No.
213 “Dung Sonang Rohangku” (ayat 1. Dung sonang rohangku dibaen
Jesus i, porsuk pe hutaon dison. Napos do rohangku di Tuhanta i,
dipasonang tongtong rohangkon. Sonang do, sonang do; dipasonang
tongtong rohangkon).
174
5. Fungsi Perlambangan. Dalam kitab Mazmur telah diiberikan penegasan
yang amat kuat akan pentingnya sebuah persekutuan sebagai dasar
kehidupan bersama. Kehidupan akrab yang menghasilkan pertumbuhan
pribadi dan rohani yang baik dilambangkan dengan embun yang turun dari
Hermon ke bukit Sion. Sedangkan pentingnya setiap anggota memainkan
peran yang menyejukkan hati sesama, saling membangun semangat dan
motivasi diantara sesama, serta saling menyembuhkan luka batin yang
dihadapi dalam kehidupan; disimbolkan oleh minyak dan embun. Sangat
sulit bagi sebuah kelompok untuk mempertahankan keberadaan dirinya dan
meningkatkan mutu persekutuan antar anggota dan pelayanannya kepada
jemaat apabila di dalam diri mereka terdapat ganjalan hubungan antar
pribadi yang satu dengan yang lainnya. Ganjalan hubungan antar pribadi
akan melemahkan semangat kebersamaan. Contoh BE No 173 “Sai Mulak”
(ayat 1. Sai mulak, sai mulak ho naung lao jalang i. Ai nadao ho nuaeng,
holong sian tuam. O parjalang ho, mulak, mulak ma ho. Mulak, mulak ma
ho).
6. Fungsi Reaksi Jasmani berhungan dengan biologis dim ana pada saat kita
bernyanyi dengan sunguh-sungguh sehingga kita dapat menggerakkan
tubuh kita untuk memuji Tuhan. Contoh. BE No. 178. ”Roma Tu Jesus ”
7. Fungsi yang berkaitan dengan norma-norma sosial.
Puji-pujian yang
diangkat sebagai pujian dalam kebaktian sama sekali tidak bermaksud
menggantikan tugas dan ekspresi jemaat untuk memuji Tuhan. Karena itu
dalam
menyanyikan
puji-pujian
perlu
berusaha
untuk
senantiasa
175
mengikutsertakan jemaat atas kesadarannya sendiri. Contoh BE No. 753
”Dipardalanan Jesus di Jolongku” (ayat 1. Dipardalan Jesus di jolongku,
holong ni tanganMi manogu au. Nang di ngolungku Ho do sombaonhu,
tung sonang mardalan raphon au. Huboto do tangkas panoguonMu,
diiring Ho do langkangki. Sahat rodi ujung ni pardalanhu, toguma au
jonok tu lambungMi).
8. Fungsi Pengesahan Lembaga Sosial dan Upacara Agama. Melalui musik
gereja yang dinaikkan oleh tim musik, paduan suara dan song leader isi
firman Tuhan ditafsirkan, diperdalam sehingga iman umat diperkuat,
kesatuan antar warga gereja dipererat dan keterlibatan warga gereja dalam
kehidupan gereja dan di lingkungan masyarakatnya dapat semakin terlihat.
Dengan demikian kita dapat katakan bahwa musik gereja mempunyai
makna sosial. Mereka bernyanyi bukan saja untuk dirinya sendiri
melainkan juga untuk jemaat. Contoh BE No. 792 ” Pasu-Pasu Hami O
Tuhan” (ayat 1. Pasu-pasu hami o Tuhan, sai usehon dame Mi. Sai
ampehon tanganMi Tuhan, lehon tu au gogoMi. Diportibion, baen ma au
Tuhan, habaoron ni las ni roha tu namarsak i, tuna dangol i, gabe
pangapuli i).
9. Fungsi Kesinambungan kebudayaan. Budaya adat istiadat yang terdapat
pada suku-suku kususnya Batak Toba memiliki budaya. Budaya bernyanyi
dan bermain musik yang diwariskan turun temurun oleh leluhur itu tidaklah
sasuatu hal yang perlu dianggap sepele. Agar terdapatnya kesinambungan
yang baik perlunya perhatian yang yang serius dalam hal itu. Contoh BE
176
No. 585 ” Somba Ma Jahowa” (ayat. 1 Somba ma Jahowa Debatanta,
amen haleluya. Sigomgom langit tano on rodi isina, amen haleluya. Beta
hita lao marsinggang tu joloNa, amen haleluya. Nasongkal jala nabadia do
Jahowa, amen haleluya. Endehon amen haleluya; endehon amen haleluya;
endehon amen haleluya; endehon amen haleluya).
10. Fungsi Pengintegrasian Masyarakat.
Himne dalam ibadah yang
dinyanyikan itu untuk membina hubungan yang personal dengan anggota
jemaat pada umumnya. Dalam hal ini himne merupakan bagian yang
integral dengan jemaat. Mereka memuji Tuhan untuk menguatkan
persekutuan dengan jemaat. Melalui puji-pujian yang mereka nyanyikan,
mereka sedang merajut bersama persekutuan sebagai tubuh Kristus.
Persekutuan yang hangat antar tim musik dapat tercipta apabila dapat
dikembangkan rasa saling percaya, saling menghargai pendapat dan talenta
yang ada, menjalin komunikasi yang terbuka tanpa harus mengorbankan
dan melukai perasaan orang lain. Setiap ide atau pemikiran untuk
mengembangkan musik gereja hendaknya dibicarakan bersama. Sebab
bagaimana pun dibutuhkan sebuah kerja sama tim yang berakar dari sebuah
persekutuan yang hangat dalam pelayanan untuk melakukan pekerjaan
yang besar dari Allah. Contoh BE No. 656. Parhahamaranggion” (ayat 1.
Parhahamaranggion i lam hot jala togu. Singkop ma hasadaon i di Jesus i
burju. Rap sauduran hita be marholong na tutu, mar dame, mar las
rohama di Jesus i tutu).
177
Selain fungsi musik menurut Merriam di atas, masih terdapat beberapa fungsi
musik lainnya bagi jemaat gereja HKBP Pasar Melintang seperti:
1. Sebagai wadah pendewasaan iman Jemaat. Tim musik, song leader dan
paduan suara gereja mengadakan latihan satu kali dalam seminggu.
Sebelum latihan dimulai biasanya terlebih dahulu diawali dengan
kebaktian singkat dan adanya pendalaman Alkitab. Melalui kegiatan
ini tim musik, song leader dan kelompok-kelompok paduan suara
gereja dibekali dengan firman Tuhan56.
2. Lambang keberhasilan. Bila suatu gereja HKBP mampu mengorganisir
semua sumber daya yang dimiliki dan sekaligus mengembangkannya
maka akan terlihat kepaduan sebuah tim musik, song leader dan paduan
suara. Keberhasilan ini tentu akan berdampak dalam ibadah kebaktian,
penampilan dan persiapan yang baik akan memberikan kualitas musik
gereja yang baik pula57.
3. Sebagai wadah bertukar pikiran baik dalam pergumulan kehidupan
sehari-hari maupun dalam hal pembicaraan tentang iman. Sebelum
latihan dimulai biasanya tim musik ini melakukan pembicaraan tentang
pergumulan sehari-hari baik dalam hal keluarga, pekerjaan, cita-cita,
cinta, dan yang lainnya58.
56
Wawancara dengan Joy Ferianto Manullang (Pemain Keyboard) di Gereja HKBP Pasar
Melintang, Minggu 15 Juni 2014.
57
Wawancara dengan Wati Damanik anggota paduan suara) di Gereja HKBP Pasar
Melintang, Minggu 15 Juni 2014.
58
Wawancara dengan Veli Sianipar (song leader) di Gereja HKBP Pasar Melintang, Sabtu
28 Juni 2014.
178
4. Sebagai motivasi mengikuti ibadah minggu dan pelayanan-pelayanan
lainnya diluar ibadah minggu.59 Menjadi anggota tim musik
mengharuskan seseorang harus menghadiri kebaktian setiap minggu
demi memberikan pelayanan yang terbaik.
5. Merupakan wadah pembelajaran musik. Menjadi anggota tim musik
mengharuskan seseorang mengikuti latihan musik gereja. Dalam latihan
mereka
mendapatkan berbagai pengetahuan musik dalam hal cara
membaca notasi, nilai not, tempo, dan yang lainnya. Seperti yang sudah
dijelaskan sebelumnya bahwa banyak latar belakang tim musik gereja
di HKBP Pasar Melintang Medan yang memahami musik secara
otodidak.60
6. Merupakan eksistensi jemaat dalam pelayanan gereja. Menjadi salah
satu dari tim musik menunjukkan eksitensi seseoarang dalam pelayanan
di gereja61.
7. Tempat menemukan pasangan hidup. Salah satu tim musik yang ada di
HKBP Pasar Melintang Medan menemukan pasangan hidupnya melalui
aktivitas melayani musik di gereja.62
59
Wawancara dengan Josua Sinurat (Pemain Bass) di Gereja HKBP Pasar Melintang,
Minggu 15 Juni 2014.
60
Wawancara dengan Irwin Pangaribuan (Pemain Drum dan Bass) di Gereja HKBP Pasar
Melintang, Minggu 15 Juni 2014.
61
Wawancara dengan Felix Silitonga (Gitaris) di Gereja HKBP Pasar Melintang, Sabtu 28
Juni 2014
62
Ibid., wawancara dengan Irwin Pangaribuan.
179
BAB V
PERUBAHAN MUSIK GEREJA DALAM IBADAH
DI HKBP PASAR MELINTANG MEDAN
Dalam pembicaraan tentang musik gereja sering kali di jumpai istilah
musik di asumsikan dengan rangkaian nada yang dimainkan oleh para pemain
dalam bentuk instrumen lagu atau dalam bentuk harmoni yang dimainkan untuk
mengiringi lagu/pujian yang dinyanyikan oleh soloist, vokal group, koor dan
jemaat. Pendapat seperti ini sebenarnya tidak dapat mendefenisikan pengertian
musik gereja secara keseluruhan sebab ada hal lain yang penting diperhatikan,
yaitu sifat musik gereja tidak semata-mata dilihat dari jenis musik yang
ditampilkan.
Saat ini dapat dilihat bahwa gereja HKBP sedang mengalami sebuah
“revolusi” dalam musik gereja. Ada kecendrungan sebahagian besar masyarakat
HKBP untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan dalam pelayanan musik
sehingga memunculkan perubahan musik dalam ibadah.
David B.Pass berpendapat bahwa sifat musik gereja ditentukan oleh sifat
gereja, dan sifat gereja ditentukan oleh misinya, oleh karena itu dapat dipahami
bahwa penggunaan musik ibadah yang tepat adalah maka ketika memahami
eklesiologi; memahami sifat dari gereja; memahami bagaimana ibadah, dan musik
ibadah dan bagaimana musik gereja berfungsi di dalam gereja.
Selanjutnya beliau mengatakan bahwa ada tiga tujuan dasar dari musik
gereja, yaitu:
kerygma (pewartaan), koinonia, (persekutuan), dan leitourgia
(untuk melayani). Ketiga unsur di atas saling terkait dan diperlukan gereja untuk
180
memenuhi misinya menyampaikan pesan dan
pengampunan kepada dunia.
Ibadah yang seimbang harus mencerminkan tiga model ini secara teratur, kreatif,
sistematis, dan hati-hati.
Menurut Carol R. Ember (1987:32), suatu kebudayaan tidaklah pernah
bersifat statis, melainkan selalu berubah. Hal ini berhubungan dengan waktu,
bergantinya generasi, serta perubahan dan kemajuan tingkat pengetahuan
masyarakat. Merriam (1964:172) mengemukakan bahwa perubahan dapat berasal
dari dalam lingkungan kebudayaan atau internal, dan perubahan juga dapat berasal
dari luar kebudayaan atau eksternal. Perubahan secara internal merupakan
perubahan yang timbul dari dalam dan dilakukan oleh pelaku- pelaku kebudayaan
itu sendiri dan disebut juga inovasi. Sedangkan perubahan eksternal merupakan
perubahan yang timbul akibat pengaruh dari luar lingkup kebudayaan tersebut.
5.1 Perubahan dalam Komposisi Himne
Dari aspek sejarah diketahui bahwa masuknya musik Barat dalam
masyarakat Batak Toba tidak terlepas dari peran missionaris dalam Pekabaran
Injil di tanah Batak. Musik menjadi salah satu sarana yang digunakan missionaris
dalam menarik simpatik masyarakat agar mau menerima kedatangan mereka dan
dengan proses belajar musik yang dilakukan missionaris pada waktu itu, orang
Batak Toba mulai belajar musik tradisi Barat.
Selain musik, missionaris juga mengajarkan lagu-lagu nyanyian/himne
gereja Lutheran yang sebelumnya teks lagu diterjemahkan dalam bahasa Batak.
Perkembangan selanjutnya, sebahagian besar himne gereja HKBP bersumber dari
himne Lutheran.
181
Tradisi bernyanyi dalam gereja HKBP sampai saat ini sudah berjalan
kurang lebih 152 tahun. Kebanyakan warga gereja HKBP menyadari bahwa lagulagu himne bersumber dari himne lutheran dengan syair yang diterjemahkan
dalam bahasa Batak Toba.
Dalam penelitian ini, penulis menemukan bahwa selain syair yang sudah
diterjemahkan, terdapat sebahagian himne dalam Buku Ende dengan perubahanperubahan dalam komposisi musik. Hal ini terjadi dikarenakan dua faktor, yaitu
dikarenakan penyesuaian teks dan komposisi awal yang lebih sulit sehingga lebih
susah untuk dipelajari dan dinyanyikan. Perubahan komposisi musik dapat dilihat
dari perubahan tonalitas, melodi, harmoni dan pola iringan.
Perubahan dalam tonalitas diakibatkan kerumitan dalam hal membaca
notasi, oleh karena itu banyak tonalitas himne gereja HKBP diturunkan. Sebagai
contoh, jika himne Lutheran menggunakan tonalitas E Mayor, maka dalam Buku
Logu akan dituliskan menjadi Es Mayor; jika lagu dalam A Mayor maka dalam
Buku Logu akan dituliskan dalam As Mayor.
Hal di atas dapat dipahami sebuah proses pemudahan dalam bermain
musik karena musisi Batak Toba lebih nyaman bermain dalam tangga nada mol
dari pada tangga nada kres. Kerumitan bermain musik dalam tangga nada kres
(misalnya lagu dalam 4 kres) dapat dilihat pada instrumen tiup; trumpet akan
main dalam 6 kres dan Saxophone Alto akan dimaainkan dalam 7 kres. Bermain
musik dalam 5 kres dan selanjutnya akan memerlukan latihan yang cukup lama
diakibatkan posisi penjarian dalam tangga nada kres.
182
Menurut pangaribuan, seringkali dalam setiap mengiringi ibadah di gereja
HKBP, tim musik tiup kewalahan memainkan lagu dalam dalam 3 kres dan 4
kres, sehingga pemain tiup meminta pemain keyboard untuk melakukan transpose
turun satu kali sehingga bunyi yang dihasilkan sebenarnya menjadi 3 mol dan 4
mol.63
Perubahan dalam hal melodi terjadi karena terkait pola meter dari syair
sehingga menyebabkan nilai melodi menjadi di augmentasi dan dimunuentasi
serta penambahan melodi baik dengan menggunakan passing tone atau dengan
teknik lainnya. Perubahan komposisi musik dalam hal harmoni terjadi karena
perubahan melodi dan hal ini juga berpengaruh pada perubahan polo iringan.
Perubahan dalam empat aspek yang sudah dijelaskan di atas setidaknya
akan mempengaruhi ’musikalitas’ lagu himne yang bagaiman pada awalnya karya
tersebut diciptakan. Hilangnya beberapa unsur musik ini juga akan berpengaruh
pada sebahagian pandangan warga gereja HKBP yang mengatakan bahwa
komposisi musik gereja kurang terasa monoton. Dalam hal analisis perubahan
dalam komposisi musik, penulis akan mengambil dua karya himne Lutheran dan
dua karya himne HKBP. Lagu pertama berjudul ”Come, O Came, in Pious Lays”
dengan lagu ”Nasa Jolma Ingkon Mate.
63
Wawancara dengan Johannes Pangaribuan, S.Sn pada tanggal 17 Mei 2014. Ia adalah
pemain musik tiup dan juga pemain drum.
183
Gambar 5.1 Partitur Lagu ”Come, O Come, in Pious Lays”
Sumber: HymnBook for Christian Worship
184
Gambar 5.2 Partitur Lagu ”Nasa Jolma Ingkon Mate”
Sumber: Buku Logu HKBP
Hasil Analisis:
1. Dalam hal tonalitas dapat dilihat bahwa lagu ”Come, O Come, in Pious Lays”
dimainkan dalam D Mayor, sedangkan dalam Buku Logu ”Nasa Jolma Ingkon
Mate” dimainkan dalam C Mayor.
2. Dalam hal melodi dapat dilihat bahwa terjadi perubahan dalam lagu ”Nasa
Jolma Ingkon Mate”. Perubahan dalam hal nilai not terjadi karena ada
augmentasi dan dimunuentasi. Perubahan lainnya adalah pengurangan beberapa
melodi pada lagu ”Nasa Jolma Ingkon Mate”. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat dalam partitur berikut:
185
Gambar 5.3 Analisis Lagu
Sumber: HymnBook dan Buku Logu
3. Dalam hal perubahan harmoni terjadi pada hampir seluruh birama, sebagai
contoh dalam bar pertama ketukan kedua pada lagu pertama dalam Bm (tingkat
vi) sedangkan ketukan kedua dalam lagu kedua adalah C (tingkat I). Pada
ketukan keempat juga berubah dari tingkat IV pada lagu pertama dan lagu
kedua pada tingkat ii.
4. Dalam hal perubahan pola iringan lagu pertama lebih dinamis bila
dibandingkan dengan lagu kedua. Bagian kunci F pada lagu pertama
didominasi note seperdelapan sedangkan untuk lagu kedua lebih didominasi
not seperampat
186
Gambar 5.4 Pola Iringan
Sumber: HymnBook dan Buku Logu
Lagu kedua sebagai bahan analisis adalah lagu ” Valent will ich Geben” dan lagu
”Behama Panjalongku”.
Gambar 5.5 Partitur Lagu ”Valent will ich Geben”
Sumber: Harmonium – Schuile dalam Von Friederich Eckhardt
187
Gambar 5.6 Partitur Lagu ”Behama Panjalongku”
Sumber: Buke Ende dan Buku Logu
Hasil Analisis:
1. Dalam hal tonalitas dapat dilihat bahwa lagu ”Valent will ich Geben” dan lagu
”Behama Panjaolongku” sama-sama dimainkan dalam C Mayor.
2. Dalam hal melodi dapat dilihat bahwa terjadi perubahan dalam lagu ”Behama
Panjalongku”. Perubahan dalam penggunaan alterasi pada melodi lagu dan
munculnya melodi baru terutama pada dua birama terakhir.
188
Gambar 5.7 Analisis Perubahan Melodi
Sumber: Harmonium Schuile dan Buke Ende
3. Dalam hal perubahan harmoni terlihat jelas pada birama 5-7. Birama kelima
ketukan tiga, lagu pertama dalam harmoni D (II) sedangkan lagu kedua dalam
G7 (V7).
189
Gambar 5.8 Analisis Perubahan Harmoni
Sumber: Harmonium Schuile dan Buke Ende
4. Dalam hal pola iringan bahwa lagu ”Valent will ich Geben” dan lagu ”Behama
Panjaolongku” adalah hampir sama, tidak terdapat perubahan yang mendasar.
5.2 Perubahan Penggunaan Alat Musik dalam Ibadah Gereja HKBP
Penggunaan instrumen musik sangat penting artinya bagi jemaat, karena
melalui musik anggota jemaat tertolong untuk menginternalisasikan makna ibadah
dan kehikmatan penyembahan kepada Allah dalam kebaktian. Dengan kata lain
musik di dalam gereja berkuasa dan mempunyai peranan penting di dalam
pembinaan rohani anggota jemaat. Oleh karena itu kedudukan atau penggunaan
instrumen musik dalam kebaktian gereja, bukanlah sebagai tambahan melainkan
merupakan hal yang integral sejak awal sampai berakhirnya kebaktian.
190
Luther D. Reed64, mengatakan: “Fungsi utama dari musik ialah: “to clothe
the text of liturgi” (Pembungkus teks liturgi). To clote sama dengan melapisi,
menutupi. Musik itu adalah sebagai pembungkus teks liturgi agar teks liturgi
dapat lebih indah, lebih mudah dihayati.65 Sebab jika ditinjau dari sudut
praktisnya, kegunaan musik itu bukan hanya kepada yang menyanyikannya, tetapi
juga kepada orang-orang yang mendengarkan.
Dengan demikian musik dapat dikatakan sebagai alat puji-pujian dan
sebagai alat untuk memberitakan Firman Allah. Dengan kata lain penggunaan
instrumen musik dalam kebaktian adalah tata cara yang diorganisir di dalam
pelaksanaan kebaktian. Maka dalam ibadah HKBP haruslah tercipta komunikasi
yang baik antara Tuhan dengan manusia. Komunikasi yang dimaksud adalah
hubungan antara jemaat yang hadir di dalam kebaktian dengan Tuhan yang hadir.
5.2.1 Alat musik tiup
Dalam konteks tradisi umat Allah dalam Perjanjian Lama, terompet
digunakan pada masa peperangan dan tiupan terompet digunakan sebagai adanya
tanda bulan baru, tahun Yobel, gerakan militer, upacara sipil, penobatan raja,
puji-pujian, serta penyembahan. Pada dasarnya alat musik ini dibuat bukan untuk
mengiringi pujian, tetapi untuk memberikan tanda/ peringatan.66
Seiring dengan penyebaran agama Kristen Protestan, para misionaris turut
membangun sarana-sarana seperti pendidikan dengan membuka sekolah,
64
Luther D. Reed, Workship A Study of Corpurate Devation, Philadelphia: 1959), hal.,
159.
65
Ibid. hal., 160.
E. Martasudjita dan Karl Edmund, Musik Gereja Zaman Sekarang. (Yogyakarta: Pusat
Musik Liturgi, 2009), hal., 35-36.
66
191
kesehatan dengan membuka rumah sakit dan balai pengobatan maupun
membangun sarana transportasi. Hal ini mendorong berakarnya agama Kristen di
dalam budaya masyarakat Batak Toba. Perubahan itu selaras dengan konsep
hidup orang Batak Toba di dunia, yaitu mencari hamoraon (kekayaan), hagabeon
(memiliki keturunan
yang
berhasil),
dan hasangapon (kemuliaan atau
kehormatan).
Kebaktian menjadi bagian dari masyarakat Batak Toba Kristen. Perhatian
masyarakat terhadap eksistensi gereja juga didorong oleh pengetahuan tambahan
terhadap pengenalan musik-musik gereja yang berasal dari Eropa. Setiap acara
kebaktian gereja, jemaat dikenalkan dengan lagu-lagu melalui notasi Barat.
Bersamaan dengan itu para misionaris memperkenalkan alat-alat musik seperti:
trumpet, saksofon alto, saksofon tenor, trombon, dan Bariton. Instrumen tersebut
dipakai untuk mengiringi nyanyian-nyanyian gereja.
Para misionaris juga mengajarkan bagaimana cara memainkan alat musik
tersebut kepada sekelompok warga jemaat yang dianggap sungguh-sungguh
mengikuti ajaran agama Kristen dan mempunyai minat dan perhatian yang tinggi
untuk bermain musik. Mereka diajar mengenal notasi musik yang ada. Melalui
proses belajar yang cukup lama, akhirnya beberapa warga jemaat mahir
memainkan ensambel musik tiup tersebut.
Pengetahuan tentang alat-alat musik organ dan brass sama sekali masih
baru bagi masyarakat Batak Toba, demikian juga tentang musik gereja yang
bertangga nada diatonik. Instrumen musik brass yang pertama hanya terdiri dari
sebuah trumpet,
yang digunakan untuk mengiringi kebaktian di gereja yang
192
dimainkan oleh Berausgegeben Van D. Johansen Ruhlo, putra Nommensen
sendiri, mengingat saat itu belum ada warga jemaaat Batak Toba yang dapat
memainkannya.
Perkembangan agama Kristen Protestan semakin lama semakin pesat dan
pertunjukan solo trumpet tidak sanggup lagi mengimbangi tingkat intensitas
paduan suara jemaat, sehingga ditambahlah trumpet tersebut menjadi empat buah.
Untuk
itu Johansen terpaksa harus
mengajari
beberapa warga untuk
memainkannya, juga mengajarkan notasi balok khususnya yang tertuang dalam
Buku Logu, buku nyanyian pokok gereja HKBP.
Setelah penjajahan berakhir tahun 1943, para zending Jerman juga
meninggalkan Tanah Batak, namun aktivitas kerohanian tetap berjalan. Para
Pendeta yang telah diajar kerohanian dan pengenalan musik oleh para misionaris
mengambil alih kepemimpinan gereja. Selain digunakan untuk kegiatan gereja,
brass band juga digunakan mengiringi kegiatan-kegiatan para militer Jepang yang
hendak berperang, seperti saat pemberangkatan tentara yang hendak berperang.
Menurut Bapak St. Edison Pasaribu dalam Pardede mengatakan bahwa
awal sejarah masuknya alat musik tiup di HKBP dapat ditelusuri mulai dari gereja
HKBP Pearaja yang mendapatkan sumbangan dari Misionaris Jerman. Setelah
alat musik tiup diserahkan kepada jemaat di sana, kemudian Misionaris Jerman
mengiringi kegiatan ibadah dengan menggunakan alat musik tiup. Setelah itu,
mereka mengumpulkan jemaat yang benar-benar mau belajar alat musik tiup
tersebut. Setelah beberapa bulan kemudian, Misionaris dari Jerman pun berangkat
193
dari Pearaja dan kebaktian di gereja Pearaja sudah diiringi oleh alat musik tiup
yang pemainnya adalah jemaat HKBP Pearaja.
Masuknya alat musik tiup ini semakin memperluas kabar ke hampir
seluruh
Distrik II Silindung dan kerinduan jemaat dari berbagai gereja di
sekitarnya untuk beribadah di gereja Pearaja. Alat musik tiup yang sudah ada
dipakai dan dirawat sedemikian rupa supaya tetap terpelihara dan bisa digunakan
dalam waktu yang sangat lama.
Alat musik ini masih tetap dipergunakan sampai pada tahun 1974 di
HKBP Pearaja.
Namun setelah hampir beberapa puluh tahun dipergunakan,
ternyata tidak ada lagi yang mempergunakannya setelah tahun 1974. Bahkan
anggota Gereja HKBP Pearaja sendiri tidak mengetahui mengapa alat musik
tersebut tidak nampak lagi. Menghilangnya alat musik tiup tersebut mempunyai
efek yang negatif dalam kemerosotan jemaat yang mengikuti kebaktian di gereja
tersebut, dengan alasan bahwa ternyata alat musik tiup tersebut mempunyai
dampak yang sangat besar dalam proses pelaksanaan ibadah di gereja. Tanpa
adanya yang mengiringi lagu-lagu pujian di gereja jadi terasa hambar dan tidak
meresap ke dalam hati, demikian tutur Bapak St. Edison Pasaribu.
Sampai tahun 1975, alat musik tiup juga sudah dipadu dengan poti
marende yang pada awalnya juga adalah merupakan sumbangan dari para
Misionaris Jerman yang datang ke Pearaja untuk melihat perkembangan dari
gereja tersebut. Poti marende ini juga disumbangkan supaya dipadu dengan alat
musik tiup. Sama halnya seperti proses awal diberikannnya alat musik tiup, para
missionaris juga mengajari jemaat setempat yang mempunyai minat dalam hal
194
memainkan poti marende. Setelah sekian lama prosesnya, akhirnya ada juga
beberapa orang yang mahir menggunakannya. Kemudian dalam setiap kebaktian,
alat musik tiup digabungkan dengan poti marende sehingga lebih merdu dan
membuat jemaat lebih bersemangat dalam menyanyikan lagu-lagu pujian.
Dari sejarah yang sudah diteliti melalui wawancara tersebut, beliau juga
masih sempat menyimpan satu sejarah yang sudah lama tersimpan dan selalu
diingat ketika ditemukannya kembali alat musik tiup tersebut pada tahun 1992 di
bagian belakang gereja HKBP Pearaja namun tidak lengkap lagi seperti yang dulu
dan sudah dalam keadaan tidak bisa dipergunakan lagi. Sangat disayangkan jika
alat musik tersebut sudah tidak bisa dipergunakan namun muncul secara tiba-tiba
dan mengherankan semua anggota jemaat pada masa itu. Sehingga setelah tahun
1975, hanya poti marende67 yang digunakan dalam mengiringi kebaktian setiap
hari minggunya.
5.2.2 Organ
Organ sudah dikenal di Silindung tepatnya di gereja Pearaja berkat
sumbangan seorang dermawan yang merupakan salah satu jemaat di gereja.
Beliau menyumbangkan sebuah organ yang mempunyai beberapa nada yang
sudah mengimbangi penggunaan alat musik tiup dan poti marende jika dipadu.
Penggunaan organ ini akhirnya menutup masa penggunaan poti marende yang
masih tersimpan sampai sekarang di gereja tersebut. Dari hasil yang ditemukan
dari beberapa gereja yang sudah diteliti, ada beberapa gereja yang menggunakan
67
Poti Marende adalah sebutan untuk Orgel.
195
poti marende yang masih disimpan di gereja masing-masing, yakni gereja
Simanungkalit, Ressort Sipoholon I, dan gereja Pintubosi, Ressort Sipoholon VI.
Menurut mereka poti marende dibuat oleh generasi sebelumnya karena sudah
diajari oleh seorang keturunan Jerman yang pekerjaannya adalah membuat poti
marende di Jerman dan datang ke tanah Batak untuk membantu proses pembuatan
poti marende supaya dipergunakan di setiap gereja. Hal ini berlangsung sudah
berpuluh-puluh tahun.
Menjelang akhir abad 18 mutu musik organ dalam ibadat tidak lagi seperti
tahun 1750-an. Jabatan organis merupakan suatu tugas sampingan dan sering
dipegang oleh orang pensiunan. Maka komposisi organ pun menurun. Dalam
ibadat selama abad 19 permainan organ terbatas pada iringan nyanyian Gregorian
dalam Katolik.
Komposisi semacam ini diciptakan banyak selama abad 19.
Perkembangan organ Gereja pada awal abad 19 pun mengalami penurunan drastis
dan hampir hilang, dibandingkan dengan piano yang mengalami peningkatan
ekspresi, dimana organ dirasakan statis.
5.2.3 Format ansambel
Format ansambel musik adalah gabungan dari berbagai instrumen musik
seperti dua atau tiga keyboard; keyboard dengan saxophone, keyboard dengan
organ dan berbagai bentuk lainnya. Perkembangan musik yang demikian
dirasakan pekembangannya pada tahun 2000-an, dimana kemajuan teknologi yang
semakin meningkat dan arus informasi tantang musik yang meningkat.
196
Pada era tersebut, sudah semakin banyak sarjana musik yang dihasilkan
oleh berbagai institusi musik di Indonesia, secara khusus di kota Medan, seperti:
Prodi Seni Musik Universitas HKBP Nommnsen Medan, Jurusan Etnomusikologi
USU, Seni Musik Universitas Negeri Medan dan Sekolah Menengah Musik 11.
Keempat institusi formal ini setidaknya telah membawa perubahan dalam hal
format mengiringi ibadah karena baik alumni, mahasiswa dan siswa kebayakan
aktif juga melayani di gereja masing-masing.
Pada tahun 2002 sampai sekarang, Prodi Seni Musik UHN secara
berkesinambungan sudah menggunakan format ini melalui penjemaatan kegerejagereja HKBP yang ada di Sumatra Utara. Pada tahun 2000 an yang lalu, musik
pengiring ibadah masih mayoritas organ tunggal, ini ditemui hampir sebahagian
gereja HKBP di kabupaten Tapanuli, Kabupaten Samosir, Kota Siantar, Kota
Tanjung Balai, Kabupaten Deli Sedang, Kabupaten Kaban Jahe dan kota
Pangkalan Susu.68
Pelayanan Musik gereja HKBP Pasar Melintang dibagi atas dua bagian;
(1) untuk kebaktian siang dalam bahasa Batak Toba menggunakan ansambel
musik keyboard (keyboard 1 memainkan suara organ dan keyboard 2 memainkan
suara piano).
68
Wawancara dengan Drs. Kamaluddin Galingging, M.Sn – Kaprodi Seni Musik Fak.
Bahasa dan Seni Univ. HKBP Nommensen, 17 Mei 2014 di Medan.
197
Gambar 5.9 Format Duet Keyboard dalam Mengiringi Ibadah
Sumber: Dokumentasi Pribadi
5.2.4 Band
Suatu kebudayaan tidaklah pernah bersifat statis, melainkan selalu
berubah. Hal ini berhubungan dengan waktu, bergantinya generasi, serta
perubahan dan kemajuan tingkat pengetahuan masyarakat. Perubahan dalam
penggunaan musik digereja HKBP dapat dilihat dari penggunaan Band dalam
mengiringi ibadah.
Musik Band menjadi alat musik pengiring di gereja HKBP Medan mulai
menjamur sekitar tahun 2004. Ini mau tidak mau adalah karena adanya pengaruh
dari musik ibadah yang ada di gereja tetangga. Banyaknya warga jemaat HKBP
yang beribadah di gereja tersebut, mendorong otoritas gereja untuk bersikap dan
mengambil sebuah langkah dalam memecahkan permasalahan ini.
198
Alasan sebahagian warga gereja, adalah penggunaan alat musik dan lagulagu yang ditawarkan di gereja tersebut lebih bisa diterima jemaat dari pada lagu
himne HKBP. Untuk mengantisipasi ini, otoritas gereja diberbagai ressort mulai
membuat ibadah alternatif khusus bagi jemaat yang menginginkan konsep ibadah
seperti itu.
Dengan demikian, permintaan format musik band mulai dibentuk
diberbagai gereja HKBP yang melaksanakan ibadah alternatif. Pergeseran lagu
himne gereja HKBP mulai digantikan dengan musik pop rohani pada ibadah
alternatif. Dengan pelaksaan ibadah ini, setidaknya para muda/i gereja HKBP
Pasar Melintang tidak lagi beribadah digereja lain, akan tetapi mereka sudah
senang beribadah di gereja sendiri.
Untuk kebaktian alternatif yang dilaksanakan sekali sebulan setiap
minggu keempat adalah band. Personil musik band dan song leader didominasi
oleh pemuda/i gereja. Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan
Ibu Pendeta Ressort diketahui bahwa ibadah alternatif ini segaja dilakukan untuk
menampung aspirasi kaum muda/i yang menginginkan musik yang lebih hidup
dan tidak ”konvensional”. Akan tetap kemampuan sumber daya manusia di gereja
yang memiliki kemampuan dibidang musik dianggap masih sangat minim
sehingga ibadah alternatif ini masih dilaksanakan sekali sebulan. Waktu yang
demikian lama dapat dimanfaatkan oleh tim musik dan song leader untuk melatih
lagu pop rohani berulang kali dalam hari-hari yang berbeda, sehingga para
personil musik lebih siap ketika tampil melayani ibadah gereja.
199
Gambar 5.10 Format Band dalam Mengiringi Ibadah
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Wawancara yang dilakukan penulis dengan tim musik dan song leader
ditemukan bahwa hampir seluruhnya mereka tidak mempunya basic musik yang
didapat melalui institusi musik formal. Sebahagian dari mereka memperoleh
pengetahuan musik dari aktivitas privat musik dan sebagian lagi memperoleh
pengetahuan musik belajar otodidak.
Perubahan yang terjadi bukan hanya semata-mata dalam hal pergantian
sumber nyanyian, akan tetapi ada hal yang fundamental seperti kaitan himne
dengan tata ibadah. Liturgi gereja HKBP sudah disusun sedemikian rupa dan
disesuaikan dengan teks nyanyian di Buku Ende. Artinya, nyanyian untuk ibadah
Jumat Agung harusnya mendukung makna tentang kematian Tuhan Yesus
sehingga pesannya dapat diterima jemaat dengan baik akan tetapi di Ibadah
alternatif, nyanyian ini diganti dengan lagu pop rohani yang berjudul ”Kasih Yang
Sempurna”. Perubahan makna terjadi dalam situasi ini, lagu ”kasih Yang
200
Sempurna” dapat dinyanyikan dalam berbagai konteks kehidupan jemaat; baik itu
dalam konteks sukacita dan lain sebagainya. Dilain hal lagu ”O Ulu Na Sap
Mudar” hanya dinyanyikan dalam kebaktian Jumat Agung karena pemilihan teks,
melodi dan harmoni mendukung makna Jumat Agung.
5.2.5 Music box gereja (MBG)
MBG mulai dikenal secara luas sekitar 6 tahun yang lalu, MBG ini
merupakan perangkat yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
musik liturgi dalam gereja HKBP pada awalnya. Obsesi tim musik gereja / liturgi
adalah membangkitkan semangat pujian dalam setiap ibadah dengan pelayanan
musik yang terbaik untuk Tuhan kita Yesus Kristus. MBG adalah satu perangkat
laptop yang menggunakan platform LINUX serta berfungsi khusus mengiringi
nyanyian / lagu. Program ini dirancang dan disusun secara profesional oleh Tim
IT MBG bekerja sama dengan para musisi yang khusus memahami musik liturgi
dan profesional yang dipimpin oleh St. Drs. Nurdin Doloksaribu, MSi untuk
melakukan rekaman lagu-lagu gereja sesuai dengan partitur yang resmi baik yang
dikeluarkan Yamuger atau Terbitan Lembaga Gereja lainnya. Iringan musik MBG
disesuaikan dengan karakter lagu dan tema lirik sehingga ada berbagai type
iringan musik yang telah kami buat dalam MBG ini yaitu : Orchestra Classic,
Orchestra Populer, iringan full band, etnis (tradisional).
Lembaga gereja yang pertama kali menggunakan MBG ini adalah HKBP,
kemudian Tim MBG melakukan perluasan pelayanan ke seluruh denominasi
gereja di Indonesia (GKI, GKPI, GKPS, GBKP, Gereja Kharismatik, GKJ, Gereja
201
Pasundan, Toraja, GPIB, Gereja Indonesia bagian Timur dalam hal ini gerejagereja di Irian Jaya). MBG ini telah disosialisasikan di YAMUGER Jakarta,
seluruh pendeta gereja HKBP dan di berbagai gereja denominasi Indonesia.
Tim musik MBG dipimpin oleh bapak St. Drs Nurdin Doloksaribu, MSi
dibantu oleh para musisi Hendro Lumantoruan (musisi / guru musik dan pengajar
koor di HKBP Perumnas II Bekasi), Junaedi Baroes (Guru musik / musisi dan
pengajar koor di GBKP, dan sedang menyelesaikan study musik S1 di Institut
Kesenian Jakarta dan juga seorang musisi ethnis khusus Karo), Pendeta JAU
Doloksaribu, M.Min.
5.3 Perubahan Musik di beberapa Gereja HKBP Di Kota Medan
Untuk melihat perubahan konsep musik gereja secara lebih luas lagi,
penulis melakukan observasi di beberapa gereja HKBP di Kota Medan. Melalui
aktivitas tersebut penulis menemukan beberapa format musik yang ada di gereja
HKBP selain yang ada di HKBP Pasar Melintang, diantaranya adalah.
1. Format Ansambel
Keyboard dan Alat Musik Saxophone. Di gereja
HKBP Ressort Melati Satu Helvetia, HKBP Dame Simpang Zipur dan
HKBP Simpang Limun memakai format musik ini dalam ibadah
kebaktian yang dilakukan. Keyboard bertugas untuk memblok suara
organ sedangkan saxophone memainkan melodi dan kadang kala
melakukan improvisasi kecil terhadap melodi yang dimainkan
2. Format Keyboard dengan Style. Penulis menemukan format ini
dimainkan di gereja HKBP Simpang Limun. Sistem permainan format ini
202
adalah dengan memilih style yang cocok dengan lagu-lagu yang
dinyanyikan dalam ibadah tersebut.
3. Format MBG. Dari beberapa gereja yang penulis observasi, penulis
menemukan pada ibadah kebaktian di gereja HKBP Simpang Limun
penggunaan Music Box dalam mengiringi ibadah kebaktian. Biasanya
musik di set terlebih dahulu dalam satu folder (lagu-lagu yang akan
dinyanyikan pada acara minggu).
4. Format Organ Tunggal. Format ini penulis temukan di gereja HKBP
Sudirman. Konsep ini lebih dengan eloborasi suara-suara instrumen yang
ada dalam perangkat organ, sehingga meskipun satu orang yang
mengiringi ibadah akan tetapi dengan kreatif organis dapat memunculkan
suara organ yang lebih variatif.
203
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Musik dalam gereja HKBP dimaknai dalam beberapa hal, yaitu: himne,
koor dan alat musik pengiring. Ketiga bagian ini menjadi bagian yang integral
dalam pelaksanaan ibadah. Penggunaan musik dalam ibadah gereja HKBP Pasar
Melintang selalu disesuaikan dengan makna dari kebaktian minggu, sehingga
seluruh himne dan koor yang dinyanyikan jemaat seluruhnya mendukung akan
tema ibadah minggu.
Penggunaan alat musik di gereja HKBP Pasar Melintang dapat dilihat
dalam ibadah yang dilakukan. Untuk ibadah Sekolah Minggu menggunakan solo
keyboard dengan memakai style; ibadah Minggu Pagi menggunakan format Band;
dan Ibadah Minggu Umum menggunakan duet keyboard. Penggunaan variasi
instrumen pengiring nyanyian ibadah di gereja HKBP Pasar Melintang dapat
meningkatkan partisipasi jemaat dalam kebaktian dan juga mendorong kehadiran
jumlah jemaat yang datang beribadah semakin meningkat.
Teori fungsi musik yang dikemukakan oleh Merriam secara keseluruhan
terdapat di gereja HKBP Pasar Melintang meliputi; Fungsi Pengungkapan
Emosional; Fungsi Penghayatan Estetis; Fungsi Hiburan; Fungsi Komunikasi;
Fungsi Perlambangan; Fungsi Reaksi Jasmani; Fungsi yang berkaitan dengan
norma-norma sosial; Fungsi Pengesahan Lembaga Sosial dan Upacara Agama;
Fungsi Kesinambungan kebudayaan; dan
Fungsi Pengintegrasian Masyarakat.
Fungsi musik selain apa yang dikemukakan oleh Merriam menurut jemaat di
204
HKBP Pasar Melintang adalah sebagai berikut: (1) Wadah pendewasaan iman
jemaat; (2) Lambang keberhasilan; (3) Wadah bertukar pikiran; (4) Sebagai
motivasi; (5) wadah pembelajaran musik; dan (6) Tempat menemukan pasangan
hidup.
Dalam hal perubahan musik di Gereja HKBP dapat dilihat melalui
perubahan terhadap komposisi himne Lutheran pada himne Buku Ende.
Perubahan dalan variasi/bentuk instrumen mengiringi nyanyian dalam ibadah
HKBP dapat dilihat mulai dari musik harmonium sampai dengan music box
gereja. Perubahan lainnya adalah dalam hal penggunaan lagu-lagu pop rohani
menggantikan himne Buku Ende pada ibadah Minggu Pagi.
6.2 Saran
Dengan mengkaji tulisan ini, diharapkan terjadinya penelitian-penelitian
lanjutan tentang topik Musik Dalam Ibadah ini yang akan dijadikan sebagai
perbendaharaan baru dalam mengenal lebih lanjut bagaimana penggunaan, fungsi
dan perubahan musik gereja, antara lain disarankan:
1. Meneliti lebih lanjut tentang proses adaptasi himne dalam Buku Ende HKBP.
2. Penelitian lanjutan tentang kajian teks himne gereja HKBP.
3. Membuat penelitian tentang pengaruh MBG dalam ibadah gereja HKBP.
205
KEPUSTAKAAN
Abineno, C. H. 1993. Ibadah Jemaat. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Abineno, C. H. 2005. Unsur-unsur Liturgi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Ali, Lukman, 1994. ed., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ke 2, Jakarta:
Balai Pustaka
Anscar, Chupungco. 1987. Penyesuaian Liturgi Dalam Budaya. Yogyakarta:
Kanisius.
Banoe, Pono. 2003. Pengantar Pengetahuan Harmoni. Yogyakarta: Kanisius.
Bogdan dalam Moeloeng J. Lexy. 1984. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung:
Rosda Karya.
Brink. 1956. Ibadah Minggu. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Bruno. Nettl, 1983. The Study of Ethnomusicology : Twenty – Nine Issues and
Concept. Urbana: University of Illinois Press.
Christanday, Andreas. 2008. Pujian dan Penyembahan. Yogyakarta: Gloria.
Cutter, Benjamin. t.t. Harmonic Analisis. Pennsylvania: Oliver Ditson Company.
Edwin, Liemohn. 1968. The Organ and Choir in Protestant Worship. Philadephia:
Fortress Press.
Eskew, Harry and Hugh T. McElrat. 1995. Sing with Understanding, 2nd ed.,
Nashville: Church Street Press.
H.M. Best & D. Huttar, 1978. “Music, Musical Instrument,” in Merryl C. Tenney,
ed., The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible, Grand Rapids:
Eerdmans.
HKBP. 1907. Majalah Immanuel. Pematang Siantar: Percetakan HKBP.
HKBP. 2004. Kidung Jemaat HKBP. Pematang Siantar: Percetakan HKBP.
HKBP. 2011. Agenda HKBP. Pematang Siantar: Percetakan HKBP.
HKBP. 2011. Buku Ende HKBP. Pematang Siantar: Percetakan HKBP.
HKBP.2006. Buku Logu HKBP. Pematang Siantar: Percetakan HKBP.
Hoofdbestuur ni HKBP, tt. Eben-Ezer: 75 taon huria Kisten Batak Protestant,
Laguboti: Sendings-Werkplatsen.
Huttar, D. & H.M. Best &, 1978. “Music, Musical Instrument,” in Merryl C.
Tenney, ed., The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible.
Jean L. McKechnie, ed., 1979. Webster’s New Twentieth Century Dictionary of
the English Language. New York: Prentice Hall Press.
Julian, John. 1985. Dictionary of Hymnology-vol. 2. Grand Rapids: Kregel
Publications.
Leafblead. Bruce, 1999. “Music and Worship (Syllabus).” Southwestern Baptist
Theological Seminary.
Leigh, W. Rowald. 1984. Pujian dan Penyembahan. Jakarta Barat: Mimery Press
Lembaga Alkitab Indonesia. 2000. Holy Bible. Jakarta: LAI.
Lembaga Alkitab Indonesia. 2003. Alkitab. Jakarta: LAI.
Lof Land dalam Moeloeng J. Lexy. 1984. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung:
Rosda.
Lukman Ali, ed., 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ke 2, (Jakarta:
Balai Pustaka.
M. Soeharto, 1992. Kamus Musik. Jakarta: Gramadia Widia Sarana Indonesia.
206
Malinowski, 1987. “Teori Fungsional dan Struktural,” dalam Teori
Antroplologi.
Martin, Ralph. 1964. Worship in the Early Church. London: Marshall, Morgan &
Scott.
Mawene. 2004. Gereja Yang Bernyanyi. Yogyakarta: Penerbit Andi.
McDowell, Josh The New Evidence that Demands a Verdict, Thomas Nelson
Publisher.
McKechnie, Jean L, ed., 1979. Webster’s New Twentieth Century Dictionary of
the English Language. New York: Prentice Hall Press.
Merriam, Alan P. 1964. The Anthropology of Music. Evaston Ill: Northwestern
University Press.
Mneil, Rhdorrek. J. 1998. Sejarah Musik II. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Nadeak, Moksa, 1995. Krisis HKBP. Biro Informasi HKBP.
Nettl, Bruno. 1964. Theory And Methode In Ethnomusicology. Newyork: The Free
Press Of Glencoe.
Nettl, Bruno. 1983. The Study of Ethnomusicology: Twenty–Nine Issues and
Concept. Urbana: University of Illinois Press.
Pandopo, H.A, 11984. Menggubah Nyayian Jemaat: Penuntun Untuk Pengadaan
Nyayian Gereja. Jakarta:BPK Gunung Mulia
Prier, Karl Edmund. 1991. Sejarah Musik I. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.
Prier, Karl Edmund. 1995. Pedoman Untuk Nyayian dan Musik Dalam Ibadat
Dokumen Universal Laus. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.
Prier, Karl Edmund. SJ. 1979. Ilmu Harmoni. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.
Radcliffe-Brown, A.R., 1952. Structure and Function in Primitive Society.
Glencoe: Free Press.
Riedel, Johannes. 1967. The Lutheran Chorale, Its Basic Traditions. Minneapolis:
Augsburg Publishing House
Rowald, Leigh, W, 1984. Pujian dan Penyembahan. Jakarta Barat: Mimery Press
Sallee, James. 1978. A History of Evangelistic Hymnody. Grand Rapids: Baker
Book House.
Saragih Winnardo. 2008. Misi Musik. Yogyakarta: Percetakan Andi Offset.
Siagian. Johanna Riris, 2001. Satu Visi Menuju HKBP Yang Baru. Tarutung:
Kantor Pusat HKBP.
Sihombing, J., 2000. Homiletik (Poda Parjamitaon) Dohot Deba Hatorangan Na
Mardomu Tu Agenda. Tarutung: Penerbit HKBP
Sihombing, T. “ Parningotan di ari 7 Oktober 1861-1951”, dalam Immanuel 18617 Oktober -1851 nomor parolopolopon.
Simanjuntak Alfred. 2007. Kisah Kidung. Jakarta: Yamuger.
Siregar, Jannus. 1996. Tata Kebaktian Minggu HKBP. Pematang Siantar:
Pecetakan HKBP.
Sitanggang, R. L. 2002. Kebaktian Minggu yang Beranekaragam. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.
Sitompul A.A. 1993. Kebaktian Minggu. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Sitompul, Binsar, 1986. Paduan Suara dan Pemimpinnya. Jakarta: BPK Gunung
Mulia.
Soeharto, M, 1992. Kamus Musik. Jakarta: Gramadia Widia Sarana Indonesia.
207
Spradley, P. James. 1997. Etnografi dan Kebudayaan. Metode Etnografi. terj.
Misbah Zulfa Elizabeth.
Takari Muhammad, 2005 “Musik Populer Batak Toba: Kajian Terhadap Aspek
Sejarah, Fungsi dan Struktur”, Studi Kultura, Fakultas Sastra
Universitas Sumatera Utara Medan, Nomor 10 Tahun 5 Agustus.
Takari Muhammad. 2008. ”Masyarakat Kesenian di Indonesia.” Studia Kultura
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
Warneck, J. 1952. “Sechzing Jahre Batakmission in Sumatera (60 tahun Mission –
Batak di Sumatera).” Berlin.
Wilson, F. John. 1965. An Introduction to Church Music. Chicago: Moody Press.
Zain Badudu. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
208
GLOSSARIUM
Advent, berasal dari bahasa Latin Adventus yang artinya Kedatangan. Minggu
Advent adalah minggu-minggu dalam menyambut kelahiran Tuhan Yesus.
Agenda, berasal dari bahasa Latin yang artinya dalam bahasa Inggris
menunjukkan sebuah daftar tentang hal-hal yang akan dikerjakan;
kemudian kata itu digunanakan oleh gereja-gereja berbahasa Jerman
“Agende” atau “Kirchenagende”,yaitu sebuah buku yang mengumpulkan
tata ibadah yang dipakai oleh gereja antara lain; kebaktian minggu biasa,
kebaktian dengan perjamuan kudus, dengan babtisan, naik sidi,
pemberkatan nikah, penguburan, ordinasi (die Ordination zum
Predigtamt), dan lain-lain.
Bibelvrouw, adalah perempuan yang menerima jabatan bibelvouw dari HKBP
melalui Ephorus sesuai dengan Agenda HKBP. Tugasnya adalah turut
membantu Pendeta Ressort dalam pelayanan firman Tuhan bagi jemaat
gereja HKBP.
Buku Ende, merupakan kumpulan himne-himne gereja HKBP
Buku Logu, edisi harmoni empat suara yang dipakai sebagai iringan dari lagu
himne gereja HKBP
Cultus, berasal dari bahasa Latin sebagai padanan kata “latreia” dalam Perjanjian
Baru atau dalam bahasa Jerman disebut dengan “Gottesdienst” yang
artinya ibadah pada Allah
Durung-durung, adalah persembahan yang dibarikan oleh jemaat. Biasanya
dilakukan dua kali di gereja HKBP yaitu sebelum khotbah dan sesudah
khotbah.
Doksologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti ucapan pemuliaan. Doksologi
dalam liturgi adalah pernyataan pujian kepada Allah Tritunggal yang
menghakiri Doa Syukur Agung, Madah pujian atau Gloria disebut
doksologi besar. Ayat ‘kemuliasan kepada Bapa dan Putera dan Roh
Kudus…” yang ditambahkan pada Mazmur dan Kidung dalam Ibadat
Harian disebut doksologi kecil.
Estomihi, adalah tema minggu Jadikan bagiku gunung batu perlindungan, kubu
pertahanan untuk menyelamatkan aku.
Exaudi, artinya dengarkanlah suaraku ya Tuhan
209
Guru Huria, adalah sebuatan untuk Guru Jemaat yang bertugas membantu
Pendeta Resort dalam menjalankan pelayanan gereja kepada jemaat
HKBP.
Harmoni, adalah perihal keselarasan paduan bunyi atau secara teknis meliputi
susunan, peranan, dan hubungan dari sebuah paduan bunyi dengan
sesamanya maupun bentuk keseluruhan.
Ibadah, mempunyai pengertian yang sama dengan ‘kebaktian’ adalah merupakan
pertemuan umat Allah dan jemaat dalam bentuk dialog dimana Allah
berfirman dan manusia mendengar.
Introitus, berasal dari bahasa Latin yang artinya pengantar masuk suatu prosesi
Invocavit, artinya bila Ia berseru kepadakau, aku akan menjawab-Nya
Jemaat, yaitu persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus, baik yang
di satu tempat maupun keseluruhan persekutuan Kristen
Jubilate, artinya pujilah Tuhan hai segala bangsa
Judika, artinya luputkanlah aku ya Tuhan
Kantate, artinya nyanyikanlah nyanyian baru bagi Allah
Kidung Jemaat, kumpulan himne gereja dengan syair berbahasa Indonesia
Letare, artinya bersukacita
Liturgi, berasal dari bahasa Yunani “leiturgia” (leos yang artinya rakyat, dan
ergon yang artinya kerja)
Mazmur, yaitu Doa gereja yang dinyanyikan. Oleh karena itu, mazmur harus
mendapat tempat liturgis sendiri di dalam ibadah dan Mazmur adalah
nama salah satu Buku dalam Alkitab Perjanjian Lama.
MBG, adalah suatu perangkat laptop yang menggunakan platform Linux dan
berfungsi untuk mengiringi lagu/nyanyian dalam ibadah.
Melodi, adalah rangkaian dari sejumlah nada atau bunyi yang di tanggapi
berdasarkan perbedaan tinggi-rendah atau naik turunnya.
Miserekordias Domini, artinya tanah ini penuh dengan kasih Allah.
Okuli, artinya mataku tetap terarah kepada Tuhan
210
Palmarum, artinya minggu Palma
Paskah, artinya kebangkitan Tuhan Yesus
Pendeta Resort, adalah sebagai pemimpin gereja dalam lingkup Ressort. Ia
bertugas memimpin semua pelayanan di gereja Ressort.
Penatua gereja adalah Warga jemaat yang mempersembahkan dirinya menjadi
penatua di jemaat. Sebuatan lain dari Penetua gereja adalah ‘sintua’.
Pentakosta, artinya Turunnya Roh Kudus
Remeniscere, artinya ingatlah segala rahmatMu dan kasih setiaMu ya Tuhan
Quasimodo Geniti, artinya seperti bayi yang baru lahir
Ritme, dapat disebt sebagai irama atau variasi pengaturan dari durasi nada yang
tidak teratur dalam satu pola metric ( birama ).
Syair, adalah teks atau kata-kata lagu, dengan kata lain suatu komposisi puisi
yang sering dilakukan.
Tangga nada, adalah susunan nada-nada secara berurutan dengan pola jarak
tertentu, yang dimulai dengan nada dasr samapai kepada nada oktaf.
Tempo, merupakan cepat-lambatnya suatu komposisi musik dinyanyikan ataupun
melalui musik instrumental.
Trinitatis, artinya memperingati Allah Tritunggal
Septuagesiama, adalah 70 hari sebelum kebangkitan Tuhan Yesus
Sexagesimama, adalah 60 hari sebelum Kebangkitan Tuhan Yesus
Weyk, adalah sebuah sebutan yang menggambarkan pemetaan wilayah
berdasarkan blok/daerah dimana warga jemaat gereja HKBP bertempat
tinggal. Pada umumnya, setiap weyk akan mengadakan partangiangan
weyk (ibadah weyk) pada setiap hari rabu dan hari kamis sesuai dengan
jadwal yang sudah diatur oleh gereja sebelumnnya. Setiap weyk ikut serta
secara aktif dalam berbagai kegiatan/acara yang dilaksanakan oleh gereja.
Votum, berasal dari bahasa Latin yang artinya: keinginan, janji, keputusan,
pengesahan, dukungan suara, penyataan Allah bahwa Ia ada dan bersedia
menerima orang yang ingin bertemu dengan Allah.
Download