Komunikasi Remaja dan Orang Tua tentang Masalah Seksual (Studi

advertisement
Komunikasi Remaja dan Orang Tua tentang Masalah Seksual
(Studi Kasus pada Remaja Pelaku Seks Pranikah)
M.Teguh Karya AP
Pembimbing: Praesti Sedjo S.Psi, M.Si.
ABSTRAK
Saat ini kasus mengenai perilaku seks pranikah pada remaja semakin
mengkhawatirkan, padahal perilaku tersebut harus dihindari oleh setiap individu. Salah satu
penyebab terjadinya perilaku seks pranikah yaitu karena kurangnya komunikasi antara
remaja dengan orang tua.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perilaku seks
pranikah subjek, komunikasi subjek dengan orang tua tentang masalah seksual, serta untuk
mengetahui faktor yang mempengaruhi komunikasi tersebut. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini yaitu remaja pelaku seks pranikah. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara dan catatan
lapangan.
Faktor yang mempengaruhi perilaku seks pranikah subjek yaitu kurangnya
pendidikan mengenai seks dari orang tua, perilaku teman sebaya, informasi dari media
massa, pendidikan yang relatif rendah, dan tidak adanya rasa bersalah jika melakukan
hubungan seks pranikah.
Gambaran komunikasi yang dilakukan subjek dengan orang tuanya tentang masalah
seksual yaitu kurangnya inisiatif berkomunikasi dan berdiskusi, orang tua suka mengalihkan
pembicaraan, orang tua memberikan pengertian bahwa seks itu sehat selama dilakukan
setelah menikah, orang tua tidak melarang membahas masalah seks sepanjang langsung
bertanya pada orang tua, subjek merasa malu membicarakan masalah seks, orang tua tidak
menjelaskan seks secara terbuka di depan umum.
Faktor yang mempengaruhi komunikasi tersebut yaitu kurangnya keterbukaan,
respons yang kurang baik, rasa empati, penyampaian informasi yang menarik,
ketidaknyamanan saat berkomunikasi, ketidakyakinan bahwa masalah bisa teratasi dengan
berkomunikasi, sikap kasar orang tua, dan kesamaan pola pikir.
Kata kunci : Komunikasi, masalah seksual, remaja, orang tua, seks pranikah
1
menunjukkan
rasa
sayang
kepada
pasangannya. Rupanya gaya pacaran
remaja saat ini sudah berubah. Sekedar
berpegangan tangan, menurut mereka
bukan hubungan pacaran, tapi teman. Mau
tak mau aktivitas pacaran yang disebut
sebagai proses pengenalan diri dan
penjajakan kepada pasangan mereka itu
lambat laun menjadi ekspresi eksploitasi
seksual mereka.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan, setiap manusia
pasti melalui tahapan-tahapan dalam
perkembangan, di antara tahapan-tahapan
tersebut ada suatu tahapan yang bernama
masa remaja, yaitu masa transisi dari anakanak untuk menjadi dewasa.
Masa remaja ditandai dengan
terjadinya perubahan-perubahan fisik yang
pesat dan aktifnya hormon yang
mempengaruhi organ-organ reproduksi.
Pengalaman seksual yang intens pada
masa ini memperbesar ketertarikan remaja
terhadap lawan jenisnya. Salah satu
perilaku seksual yang umum dilakukan
remaja untuk memenuhi ketertarikannya
pada lawan jenis adalah perilaku pacaran.
Perilaku pacaran juga dikarenakan
kebutuhan sosial dan pengaruh teman
sebaya yang semakin besar.
Hasil serupa juga ditemukan oleh
Taufik dan Anganthi (2005) di Surakarta.
sebanyak 13% responden yang masih
berstatus pelajar SMA telah melakukan
hubungan seksual. Hasil survei PKBI pada
tahun 2006 (dalam Lestari, 2007) bahkan
mengungkap bahwa perilaku hubungan
seks pranikah telah merambah remaja di
bawah usia 18 tahun.
Seks pranikah adalah hubungan
seksual yang dilakukan oleh pria dan
wanita yang belum terikat tali perkawinan,
yang pada akhirnya mereka akan menikah
satu sama lain atau masing-masing akan
menikah dengan orang lain (Amelia dalam
Rezha, 2009).
Perilaku
pacaran
merupakan
perilaku yang sudah dianggap sebagai
kelaziman ketika dilakukan oleh para
remaja. Seperti yang dikemukakan oleh
Taufik dan Anganthi (2005) melalui
penelitiannya terhadap remaja SMA
diketahui bahwa sebagian besar subjek
(75,61% laki-laki dan 73,40% perempuan)
sudah
pernah
berpacaran.
Mereka
berpacaran pertama kali berkisar pada usia
15-17 tahun, bahkan ada yang telah mulai
berpacaran ketika berusia 12-14 tahun.
Sikap menerima atau menolak seks
pranikah remaja tidak dapat dilepaskan
dari berbagai pengaruh lingkungan yang
melingkupi kehidupan mereka, salah
satunya yaitu komunikasi seksual antara
orang tua dengan remaja. Menurut Laily
dan Matulessy (2004), informasi atau
pengetahuan mengenai seksualitas yang
diberikan pada remaja lebih baik dan tepat
jika dilakukan dalam keluarga, karena
anak dilahirkan dan dibesarkan dalam
lingkungan keluarga, sehingga salah satu
cara yang dapat diusahakan untuk
mengurangi perilaku seksual pranikah
Dalam penelitian yang dilakukan
oleh Astuti (2005) menemukan bahwa
sebagian proses pacaran pada remaja
mengarah pada perilaku seksual. Dari
sekedar berpegangan tangan, di awal
proses pacaran, selanjutnya lebih daripada
itu, ciuman menjadi hal biasa untuk
2
pada remaja adalah dengan meningkatkan
kualitas komunikasi orang tua-anak.
Kalaupun memiliki kesadaran untuk
mengkomunikasikan
seksualitas,
kebanyakan orang tua hanya bersikap
menunggu anak bertanya. Hal ini
menyebabkan
berkurangnya
sikap
keterbukaan dan memunculkan sikap
menabuhkan pembicaraan masalah seks
(Lestari & Purwandari, 2002).
Komunikasi seksual orang tua dan
remaja merupakan suatu proses saling
tukar informasi, ide-ide dan gagasan antara
orang tua dan remaja tentang masalah
seksual dengan tujuan untuk saling
mempengaruhi tingkah laku (Fisher,
1987).
Bila orang tua tidak memberikan
informasi
yang
memadai
tentang
seksualitas, remaja akan mencari informasi
dari pihak lain, antara lain dari kelompok
teman sebayanya. Remaja yang memiliki
pengetahuan tentang seksualitas yang
terbatas menjadi sumber informasi bagi
remaja lain yang memerlukan informasi
bagi remaja lalin yang memerlukan
informasi tentang seksualitas. Keadaan ini
dapat diibaratkan seperti orang buta
menuntun orang buta (Meikle, Peitchinis,
& Pearce, 1985).
Menurut hasil penelitian Miller
selama 20 tahun, komunikasi orang tua
dengan remaja tentang topik-topik
seksualitas memiliki peran penting untuk
dapat memahami adanya variasi pada
sikap dan perilaku seksual remaja, seperti
sikap untuk tidak melakukan hubungan
seksual sebelum menikah (Somers dan
Canivez, 2003). Akan tetapi komunikasi
seksualitas orang tua dengan remaja baru
akan mempengaruhi sikap remaja bila
orang tua dapat mengkomunikasikan
topik-topik seksualitas dengan remaja
yang nyaman (Whitaker, 1999).
Saat ini masih ada orang tua dan
masyarakat yang menganggap seks adalah
persoalan tabu, kotor, dan tidak pantas
dibicarakan atau orang tua berdalih belum
saatnya untuk membicarakan (Lestari,
2007). Padahal kualitas komunikasi antara
orang tua dan anak dapat menghindarkan
remaja dari perilaku seksual pranikah, hal
ini dikarenakan antara orang tua dan anak
terjalin hubungan atau komunikasi yang
intensif
sehingga
memungkinkan
terjadinya
diskusi,
sharing,
dan
pemecahan masalah secara bersama (Laily
& Matulessy, 2004).
Idealnya, orang tua berperan aktif
dalam melakukan pendidikan seksualitas
bagi putra-putrinya. Hal ini akan berguna
untuk mencegah akses ke media
pornografis yang dilakukan oleh remaja,
atau setidaknya menjadi penyeimbang
paparan pornografi yang dilakukan remaja.
Dalam kenyataannya, belum semua orang
tua menjalankan peran sebagai pendidik
seksualitas secara optimal bagi anakanaknya. Ketika orangtua hanya bersikap
menunggu anak bertanya tanpa bersikap
proaktif, maka akan timbul rasa enggan
pada remaja untuk bertanya seputar
masalah seksualitas. Remaja merasa tidak
yakin orang tuanya akan memberi
tanggapan dengan baik dan memberi
jawaban terhadap rasa ingin tahunya.
Menurut penelitian yang dilakukan
oleh Indrijati (dalam Lestari, 2007),
semakin meningkat (positif) kualitas
komunikasi remaja dan orang tua maka
sikapnya semakin tidak mendukung
(menolak atau menjauh atau negatif)
3
terhadap hubungan seks pranikah atau
sebaliknya, jika semakin menurun
(negatif) terhadap kualitas komunikasi
remaja dan orang tua maka sikapnya
semakin mendukung (menerima atau
positif) terhadap hubungan seks pranikah.
komunikasi
yang
intensif
tersebut
memungkinkan
terjadinya
diskusi,
sharing, dan pemecahan masalah secara
bersama. Berdasarkan pemaparan di atas
maka permasalahan yang ingin dikaji
secara lebih lanjut dalam penelitian ini
yaitu bagaimana komunikasi remaja
pelaku seks pranikah dengan orang tua
tentang masalah seksual.
Umumnya remaja pelaku seks
pranikah tidak memiliki keinginan untuk
mengkomunikasikan
masalah
seksualitasnya dengan orang tua, selain itu
orang tuanya juga tidak bisa menerima
ketertarikan remaja terhadap seksualitas.
Hal ini didukung oleh pernyataan Bennet
& Dickinson (dalam Allgeier & Allgeier,
1991) yang mengungkapkan bahwa ketika
orangtua dapat menerima ketertarikan
anak terhadap seksualitas dan mempunyai
kehendak untuk mendiskusikannya, maka
anak-anak tersebut cenderung menunda
sexual intercourse yang pertama, dan
mengembangkan sikap seksual yang
serupa dengan orangtuanya. Kondisi
tersebut dapat terjadi karena ketika orang
tua dan anak berkomunikasi tentang
seksualitas,
umumnya
juga
mengkomunikasikan sikap dan nilai, tidak
sekedar fakta tentang seksualitas.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui faktor yang mempengaruhi
perilaku seks pranikah subjek, selain itu
untuk mengetahui komunikasi subjek
dengan orang tua tentang masalah seksual,
serta untuk mengetahui faktor yang
mempengaruhi komunikasi subjek dengan
orang tua tentang masalah seksual.
Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Manfaat yang dapat diambil dari
penelitian
ini
adalah
untuk
memberikan sumbangan bagi ilmu
pengetahuan, khususnya psikologi
remaja, psikologi perkembangan, dan
psikologi sosial mengenai komunikasi
remaja dengan orang tua tentang
masalah seksual.
Dari uraian di atas dapat dilihat
bahwa pada saat ini masih ada orang tua
dan masyarakat yang menganggap seks
adalah persoalan tabu dan tidak pantas
untuk
dikomunikasikan,
kalaupun
memiliki
kesadaran
untuk
mengkomunikasikan
seksualitas,
kebanyakan orang tua hanya bersikap
menunggu anak bertanya dan hanya
memberikan informasi yang terbatas.
Padahal kualitas komunikasi antara orang
tua dan remaja sangat penting untuk
menghindarkan remaja dari perilaku
seksual
pranikah,
karena
dengan
2. Manfaat Praktis
Manfaat yang dapat diambil dari
penelitian ini adalah untuk memberi
informasi kepada remaja dan orang tua
mengenai komunikasi remaja dengan
orang tua tentang masalah seksual
sehingga diharapkan dapat tercipta
komunikasi orang tua dan anak yang
berkualitas serta perilaku seksual
remaja yang positif dan sehat.
4
c. Media, alat, saluran, metode atau cara
penyampaian informasi, berita atau
pesan.
TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi Remaja dan Orang Tua
tentang Masalah Seksual
Pola Komunikasi Seksual
Fisher (1987) mengungkapkan
bahwa komunikasi seks orang tua dan
remaja merupakan suatu proses saling
tukar informasi, ide-ide dan gagasan antara
orang tua dan remaja tentang masalah
seksual dengan tujuan untuk saling
mempengaruhi tingkah laku.
Menurut Ehrenberg dan Ehrenberg
(dalam Laily & Matulessy, 2004), ada
empat pola komunikasi yang digunakan
orang tua dalam menyampaikan masalah
seksual kepada anak, yaitu:
a. Pola Sex Repressive, orang tua
memberi penjelasan kepada anak
bahwa seks adalah sesuatu yang kotor,
sehingga mereka lebih sering melarang
anak-anaknya mengucapkan kata-kata
yang berhubungan dengan seks.
Sedangkan menurut Lestari (2007),
komunikasi seksual antara orang tua
dengan remaja adalah cara orang tua
mengungkapkan dan mengekspresikan
pikiran dan perasaan yang berkenaan
dengan seksualitias dirinya pada remaja
melalui diskusi mengenai masalah seksual.
b. Pola Sex Avoidant, orang tua bersikap
toleran dengan memberikan pengertian
secara intelektual bahwa seks itu sehat,
tetapi orang tua merasa malu untuk
memberi penjelasan kepada anak dan
cenderung menghindari diskusi secara
langsung tentang seks.
Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa komunikasi remaja
dan orang tua tentang masalah seksual
merupakan suatu proses bertukar pendapat
dengan
mendiskusikan
atau
menyampaikan informasi, ide-ide dan
gagasan antara orang tua dan remaja
tentang masalah seksual yang bertujuan
untuk saling mempengaruhi tingkah laku.
c. Pola Sex Obsessive, orang tua
menganggap seks sebagai sesuatu yang
sehat dan benar tetapi sikap mereka
terhadap seks sangat bebas dan
cenderung menunjukkan aktivitas yang
berkaitan dengan seks secara terbuka,
sehingga anak justru merasa tidak
nyaman dan tertekan oleh seluruh
perhatian yang diberikan tentang seks.
Komponen Komunikasi
Menurut Prabowo dan Puspitawati
(1997), secara umum ada tiga komponen
utama yang penting dalam komunikasi,
yaitu:
d. Pola Sex Expressive, orang tua
mengintegrasikan seks ke dalam
kehidupan keluarga yang seimbang.
Orang tua memperkenalkan seks
sebagai sesuatu yang sehat dan positif,
tetapi juga menekankan kepada anak
bahwa tidak ada yang bisa diperoleh
secara tergesa-gesa hanya karena seks.
a. Komunikator (pemberi informasi,
berita atau pesan) dan komunikan
(penerima informasi, pesan atau
berita).
b. Informasi, berita, pesan itu sendiri.
5
datang. Diam, tidak mau merespons,
tidak mau mengkritik, atau bahkan
tidak mau bertindak. Mungkin hal itu
tepat untuk situasi tertentu, namun
untuk komunikasi dalam keluarga atau
percakapan sehari-hari barangkali akan
membosankan. Dalam keterbukaan ini
sudah sepatutnya kalau masing-masing
mau bereaksi terbuka terhadap sesuatu
yang dikatakan masing-masing. Tidak
ada yang paling buruk kecuali tidak
perduli (indifference), dan tidak ada
yang paling nikmat selain dihargainya
perbedaan pendapat, walaupun akan
terasa
pahit
bagi
yang
mendengarkannya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Komunikasi tentang Masalah Seksual
Penelitian yang dilakukan oleh
Jaccard, Dittus, dan Gordon (dalam
Lestari, 2007) mengungkap lima faktor
yang mempengaruhi terjadinya kegagalan
komunikasi seksual antara orang tua dan
remaja, yakni:
a. Orang tua tidak memiliki pengetahuan
atau keterampilan yang diperlukan
untuk menjelaskan materi seksual
b. Remaja tidak memperhatikan orang tua
dengan serius
c. Baik orang tua maupun remaja tidak
yakin apakah komunikasi yang
dilakukan akan membawa perbedaan
b. Empati
Kualitas komunikasi yang
sangat sulit dicapai adalah kemampuan
untuk melakukan empati. Empati yang
dimaksudkan adalah kemampuan
untuk
merasakan
sebagaimana
perasaan individu lain atau mencoba
merasakan dengan cara yang sama
dengan perasaan individu lain. Jika
dalam
komunikasi
kerangka
pemikirannya dalam kerangka empati
ini, maka individu akan memahami
posisinya, darimana individu berasal,
dimana individu sekarang, dan kemana
individu akan pergi. Hal yang paling
penting adalah tidak akan memberikan
penilaian pada perilaku atau sikap
individu sebagai perilaku atau sikap
yang salah atau benar. Sedangkan
simpati merasakan untuk individu lain,
misalnya merasa kasihan pada individu
lain.
d. Baik orang tua maupun remaja
kesulitan menemukan waktu dan
tempat yang tepat
e. Orang tua takut mendorong aktivitas
seksual anak.
Menurut Devito (1996), suatu
komunikasi dipengaruhi oleh keterbukaan,
empati, dukungan, kepositifan, dan
kesamaan.
a. Keterbukaan
Kualitas keterbukaan dalam
komunikasi dapat dilihat dari dua
aspek, aspek pertama yaitu: keinginan
untuk terbuka bagi setiap individu
yang berinteraksi dengan individu lain,
keinginan
untuk
terbuka
ini
dimaksudkan agar diri masing-masing
tidak tertutup dalam menerima
informasi untuk dirinya, bahkan juga
mengenai dirinya kalau dipandang
relevan dalam rangka pembicaraan
dengan lawan bicaranya. Aspek kedua
yaitu keinginan untuk menanggapi
secara jujur semua stimuli yang
c. Dukungan
Dengan
dukungan
akan
tercapai komunikasi yang efektif,
dukungan adakalanya terucap dan
6
tidak terucap. Dukungan yang tidak
terucap tidak mempunyai nilai yang
negatif, melainkan dapat merupakan
aspek
positif
dari komunikasi.
Gerakan-gerakan seperti anggukan
kepala, kedipan mata, senyum, atau
tepukan tangan merupakan dukungan
positif
yang
tidak
terucapkan.
Komunikasi tidak dapat hidup dalam
suasana yang penuh ancaman, jika
partisipan dalam suatu komunikasi
merasa bahwa sesuatu yang akan
dikatakannya akan mendapat kritikan
atau diserang, maka mereka akan
segan untuk berlaku terbuka atau
enggan memberi informasi tentang
dirinya dalam cara apapun.
lebih berpartisipasi dalam setiap
kesempatan. Individu dalam suasana
seperti ini tidak lagi mempunyai
perasaan tertutup, individu senang
dianggap bisa berperan. Ketiga, suatu
perasaan
positif
dalam
situasi
komunikasi umum, amat bermanfaat
untuk mengefektifkan kerjasama.
Tidak ada sesuatu yang paling
menyakitkan kecuali berkomunikasi
dengan individu lain yang tidak tertarik
atau tidak mau memberi respons yang
menyenangkan terhadap situasi yang
dibicarakan.
e. Kesamaan
Kesamaan
merupakan
karakteristik yang teristimewa, karena
pada kenyataannya manusia tidak ada
yang sama, individu kembarpun
didapatkan
perbedaan-perbedaan.
Kenyataannya di dunia ini ada individu
yang gagah, ada individu yang kaya,
ada yang cantik, ada pula yang menjadi
petinju, dosen, kuli, dan banyak lagi
yang menunjukkan ketidaksamaan.
Komunikasi akan lebih efektif jika
individu-individu yang berkomunikasi
itu dalam suasana kesamaan. Kondisi
ini bukan berarti bahwa individuindividu yang tidak mempunyai
kesamaan tidak dapat berkomunikasi.
Tetapi jika komunikasi antar individu
diinginkan akan efektif, hendaknya
diketahui
kesamaan-kesamaan
kepribadian diantara individu-individu
yang berkomunikasi. Dengan cara ini
dimaksudkan hendaknya terdapat
pengenalan tak terucapkan bahwa
kedua pihak yang berkomunikasi
dihargai dan dihormati sebagai
manusia yang mempunyai sesuatu
yang penting untuk dikontribusikan
d. Kepositifan
Dalam komunikasi, kepositifan
paling sedikit memiliki 3 aspek
perbedaan atau unsur. Pertama
komunikasi akan berhasil jika terdapat
perhatian yang positif terhadap diri
individu. Jika beberapa individu
mempunyai perasaan negatif terhadap
dirinya
dan
mengkomunikasikan
perasaan tersebut kepada individu lain,
maka individu lain ini kemungkinan
akan mengembangkan rasa negatif
pula. Sebaliknya jika individu-individu
mempunyai perasaan positif terhadap
dirinya dan berkeinginan untuk
menyampaikan perasaannya kepada
individu lain, maka individu lain akan
menanggapi
dan
memperhatikan
perasaan
positif
tadi.
Kedua,
komunikasi akan terpelihara dengan
baik jika suatu perasaan positif
terhadap
individu
lain
itu
dikomunikasikan. Kondisi ini akan
membuat individu lain merasa lebih
baik dan mempunyai keberanian untuk
7
kepada
sesamanya.
Karakteristik
kesamaan dalam komunikasi antara
anggota keluarga dapat pula dilihat
dari kedudukan antara pembicara dan
pendengar.
Misalnya suara tidak sampai karena
pengeras suara rusak, bunyi-bunyian,
halilintar, lingkungan yang gaduh, dan
lain-lain. Gangguan teknis lebih sering
dijumpai pada komunikasi yang
menggunakan medium.
Dampak Komunikasi
Perilaku Seks Pranikah
Effendy (2003) mengemukakan
bahwa komunikasi memiliki tiga dampak,
yaitu:
Biran
(dalam
Oriza,
2000)
mengatakan bahwa perilaku seks pranikah
adalah
tindakan
seksual
sebelum
pernikahan yang dilakukan oleh dua orang
yang berbeda jenis kelaminnya. Sementara
Lubis (dalam Oriza, 2000) berpendapat
bahwa perilaku seks pranikah adalah
hubungan antar pribadi yanng di dalam
hubungan tersebut dilakukan hubungan
aktivitas seksual sebelum menikah.
a. Dampak
Kognitif,
berhubungan
dengan pemikiran atau penalaran,
sehingga khalayak yang semula tidak
tahu, tidak mengerti, dan bingung
menjadi jelas.
b. Dampak Afektif, berkaitan dengan
perasaan, akibat dari komunikasi yang
timbul perasaan tertentu pada khalayak
Sarwono
(1997)
mengatakan
bahwa perilaku seks pranikah adalah
segala tingkah laku yang didorong oleh
hasrat seksual, baik dengan lawan jenis
maupun sesama jenis, mulai dari perasaan
tertarik sampai tingkah laku berciuman
(kissing), bercumbuan tidak sampai
menempelkan alat kelamin (necking) dan
belum bersenggama, bercumbuan sampai
menempelkan alat kelamin (petting) tetapi
belum bersenggama dan yang sudah
bersenggama (intercourse) yang dilakukan
di luar hubungan pernikahan.
c. Dampak Konatif, dampak ini tidak
langsung timbul, melainkan didahului
oleh dampak kognitif dan atau dampak
afektif
Hambatan-Hambatan dalam
Komunikasi
Seringkali dalam komunikasi kita
alami lain yang dituju lain yang diperoleh.
Menurut
Widjaja
(2000),
dalam
komunikasi terdapat hambatan-hambatan,
yaitu:
a. Hambatan Bahasa
Pesan disalah artikan sehingga tidak
mencapai apa yang diinginkann,
apabila bahasa yang digunakan tidak
dipahami oleh komunikan, termasuk
penggunaan-penggunaan istilah yang
diartikan berbeda atau tidak dimengerti
sama sekali.
Dari pengertian-pengertian di atas
dapat disimpulkan bahwa perilaku seks
pranikah adalah segala tingkah laku yang
didorong oleh hasrat seksual terhadap
lawan jenis, mulai dari kissing, necking,
petting, dan intercourse yang dilakukan di
luar hubungan pernikahan.
b. Hambatan Teknis
Pesan dapat tidak utuh diterima
komunikan karena gangguan teknis.
8
yang dapat menyebabkan perilaku seksual
pranikah antara lain adalah:
Bentuk-Bentuk Perilaku Seks Pranikah
Sarwono (1997) menyatakan jenisjenis perilaku seks pranikah adalah:
a. Kurangnya pendidikan seksual dalam
keluarga
a. Kissing, berciuman
b. Ketabuan Seksualitas
Ketabuan seksualitas dapat membatasi
komunikasi sehingga anak dapat
menerima informasi yang salah tentang
seks
b. Necking, bercumbuan tidak sampai
menempelkan alat kelamin dan belum
bersenggama
c. Petting,
bercumbuan
sampai
menempelkan alat kelamin tetapi
belum bersenggama
c. Pengaruh Peers (teman sebaya)
Seharusnya pendidikan seksual itu
diberikan oleh orang tua, tetapi teman
adalah salah satu sumber pengetahuan
tentang masalah seksual
d. Intercourse, sudah bersenggama yang
dilakukan
di
luar
hubungan
pernikahan.
Pola Perilaku Seks Pranikah
d. Media Massa
Jika orang tua cenderung jarang
berbicara tentang seks, remaja
seringkali mendapatkan informasi yang
salah tentang seks dari apa yang
disebut popular culture seperti
Televisi, film, majalah, atau novel
Erikson (1968) mengatakan ada
beberapa tahapan dalam pola umum
perilaku seks pranikah, yaitu:
a. The Experimenter, yaitu menilai
pengalaman
seksual
berdasarkan
frekuensi, variasi, dan performance
proficiency, individu yang disebut
experimenter biasanya mempunyai
sikap ”now’s the time to play, because
later I’ll settle down”.
e. Level Pendidikan
Faktor level pendidikan ternyata tidak
memberikan
pengaruh
dalam
kesadaran untuk tidak melakukan
perilaku seksual
b. The Seeker, berusaha mendapatkan
hubungan ideal dan pasangan yang
sempurna dengan mengembangkan
hubungan seksual dan berharap akan
yang terbaik. Biasanya individu yang
bersifat seeker cenderung memutuskan
living together sebelum menikah
f. Revolusi Seksual
Pada pertengahan tahun 1970-an,
ketakutan akan kehamilan, konsep
dosa, dan rasa bersalah serta nilai
keperawanan mengalami perubahan,
dimana perilaku seksual lebih bebas
dilakukan khususnya di kalangan
remaja.
c. The Traditionalist, bersikap willingly
& joyously dalam hal seks tetapi tetap
mempertahankan intercourse hanya
untuk hubungan serius saja.
Remaja
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku
Seks Pranikah
Hurlock (1980) mendeskripsikan
remaja sebagai masa transisi dari kanakkanak ke dewasa, yang berarti berada
diantara dua usia. Pada tahapan ini
Sementara Benokraltis (1996),
mengungkapkan bahwa beberapa faktor
9
individu tidak bisa disebut ikan maupun
unggas, juga bukan anak-anak-anak
maupun dewasa. Menurut Conger (dalam
Rezha, 2009) remaja adalah periode
dimana terjadi perubahan secara fisik,
seksual dan kognitif dan penerimaan serta
penempatan pada dunia sosial orang
dewasa.
pubertas. Akan tetapi secara umum,
remaja perempuan memasuki usia
pubertas dua tahun lebih awal
dibanding remaja laki-laki.
b. Pembentukan Konsep Diri
Menurut
delapan
tahapan
perkembangan Erikson (dalam Dusek,
1996), masa remaja sedang mengalami
periode Identity Vs Identity Confusion.
Kemampuan untuk melihat diri sendiri
secara objektif ditandai dengan
kemampuan
untuk
mempunyai
wawasan tentang diri sendiri, serta
mulai memiliki falsafah hidup tertentu.
Remaja
mulai
memiliki
nilai,
kepercayaan dan keidealan yang
mengarahkan perilaku mereka. Dalam
tahap ini, remaja mulai sanggup untuk
peduli dan mencintai orang lain, serta
alam sekitar.
Remaja terbagi atas beberapa
tahapan
usia
diantaranya
menurut
Konopka (dalam Rezha, 2009) masa
remaja meliputi beberapa pembagian lagi
yaitu remaja awal antara usia 12-15 tahun,
remaja madya usia 15-18 tahun dan remaja
akhir usia 19-22 tahun.
Dari beberapa pengertian diatas
dapat disimpulkan bahwa masa remaja
merupakan masa transisi dari masa kanakkanak menuju masa dewasa yang berusia
antara 12-22 tahun dimana dalam
prosesnya ada perubahan yang menuju ke
arah kematangan fisik, psikis, status sosial
dan bertambahnya tuntutan masyarakat
terhadapnya.
c. Perkembangan Intelegensi
Individu secara keseluruhan
memiliki kemampuan berpikir dan
bertindak
secara
terarah
serta
mengolah dan menguasai lingkungan
secara efektif (Weschler dalam Sarlito,
2001). Menurut Dusek (1996), selama
masa remaja, kemampuan untuk
belajar, berpikir, dan mempergunakan
pengetahuan semakin meningkat. Skor
IQ (Inteligence Quotient) meningkat
dan stabil dalam usia ini, kemampuan
untuk berpikir abstrak, memiliki
beberapa kemungkinan, dan pengertian
mengenai konsekuensi jangka panjang
dalam pengambilan keputusan juga
meningkat.
Karakteristik Remaja
Turner
dan
Helms
(1995)
menyatakan
bahwa
remaja
yang
merupakan kelanjutan dari masa anakanak memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Usia Pubertas
Usia dimana pertumbuhan fisik
ditandai
dengan
kematangan
karakteristik seksual primer dan
sekunder, serta kemampuan untuk
memiliki anak (reproduksi) dikenal
sebagai pubertas. Oleh karena cepat
lambatnya pubertas sangat tergantung
pada kondisi tubuh masing-masing
individu, maka sulit ditetapkan secara
pasti usia berapa seseorang memasuki
d. Keterlibatan dalam Lingkungan Sosial
Hubungan personal diantara
remaja semakin intensif tidak hanya
karena hal ini penting agar diterima
10
f. Perkembangan Moral
Dusek (1996) mengatakan
bahwa remaja memiliki pengertian
pentingnya peraturan dan hubungan
dengan orang lain dalam lingkungan
sosial. Oleh karena remaja memiliki
kemampuan untuk berpikir abstrak,
maka
hal
tersebut
membentuk
pandangan-pandangan baru tentang
benar dan salah, baik dan buruk. Bagi
remaja jalan yang benar untuk
berperilaku ditentukan oleh nilai dan
keyakinan mereka terhadap sesuatu.
Perkembangan
moral
ini
akan
berpengaruh
bagaimana
remaja
memandang lingkungan sosialnya,
politik dan agama.
dalam sebuah peer, akan tetapi karena
remaja memiliki kebutuhan untuk
berbagi perasaan dan pengalaman
mereka yang baru. Pada saat ini, peer
groups menawarkan dukungan dan
perasaan aman kepada remaja yang
berusaha mandiri dan ingin lepas dari
keluarga mereka. Menurut Hurlock
(1980), karena remaja lebih banyak
berasa diluar rumah bersama dengan
teman-teman
sebaya
sebagai
kelompok, maka dapat dimengerti
bahwa pengaruh teman-teman sebaya
tentang sikap, pembicaraan, minat,
penampilan dan perilaku lebih besar
daripada pengaruh keluarga.
e. Perkembangan Perilaku dan Peran
Seksual
Ada
pandangan
yang
menyatakan bahwa seks merupakan
sesuatu hal yang sangat menarik bagi
para remaja. Hal ini ditandai dengan
adanya tingkah laku yang didorong
oleh hasrat seksual, baik dengan lawan
jenisnya, maupun dengan sesama jenis
yang dinamakan perilaku seksual
(Sarlito, 2001). Bentuk tingkah laku ini
bisa bermacam-macam, mulai dari
perasaan tertarik sampai tingkah laku
berkencan,
bercumbu,
dan
bersenggama. Objek seksualnya bisa
berupa orang lain, orang khayalan dan
diri sendiri. Di fase ini, remaja juga
dituntut untuk berperilaku sesuai
dengan peran seksual mereka, baik
sebagai laki-laki atau perempuan.
Misalnya laki-laki yang harus mulai
berperan sebagai pemimpin dalam
bidang sekolah, sementara perempuan
mulai tertarik dengan kegiatan seputar
dapur.
g. Adanya Perilaku Menyimpang atau
Kenakalan
Remaja
(juvenile
delinguency)
Menurut Sarlito (2001), semua
tingkah laku yang menyimpang dari
ketentuan
yang
berlaku
dalam
masyarakat (norma agama, etika,
peraturan sekolah dan keluarga, dan
lain-lain) dapat disebut sebagai
perilaku menyimpang. Tetapi jika
perilaku itu terjadi terhadap normanorma hukum pidana barulah disebut
kenakalan.
Adapun
perilaku
menyimpang yang biasanya dilakukan
oleh remaja adalah penggunaan obatobatan
terlarang,
kerusuhan,
pemberontakan terhadap otoritas,
pemerkosaan, dan lain-lain. Menurut
Turner dan Helms (1995), ada
beberapa faktor yang menyebabkan
kenakalan remaja antara lain: keluarga
berantakan (broken home), kurangnya
kasih sayang orangtua, disiplin yang
berlebihan, pengasuhan yang tidak
stabil, dan kemiskinan ekonomi.
11
orang tua lebih mungkin mencari
keintiman seksual dengan teman dekatnya
sebagai kompensasi, selain itu orang tua
yang sangat jarang menghabiskan waktu
bersama anak-anaknya menjadikan remaja
lebih
mengalami
kecenderungan
melakukan seks pranikah.
Tugas Perkembangan Remaja
Tugas pada masa perkembangan
remaja menurut Havighurst (dalam
Hurlock, 1980) adalah sebagai berikut,
yaitu:
a. Mencapai hubungan baru dan yang
lebih matang dengan teman sebaya
baik pria maupun wanita
Komunikasi seksual orang tua dan
remaja merupakan suatu proses saling
tukar informasi, ide-ide dan gagasan antara
orang tua dan remaja tentang masalah
seksual dengan tujuan untuk saling
mempengaruhi tingkah laku. Secara umum
ada tiga komponen utama yang penting
dalam komunikasi, yaitu: komunikator dan
komunikan; informasi, berita, pesan itu
sendiri; serta media, alat, saluran, metode.
b. Mencapai peran sosial pria dan wanita
c. Menerima keadaan fisiknya dan
menggunakan tubuhnya secara efektif
d. Mengharapkan dan mencapai perilaku
sosial yang bertanggung jawab
e. Mencapai kemandirian emosional dari
orangtua dan orang-orang dewasa
lainnya
Adapun komunikasi seksual yang
dikembangkan orang tua selama ini
dibedakan oleh Ehrenberg dan Ehrenberg
(dalam Laily & Matulessy, 2004) menjadi
empat pola, yaitu: pola sex repressive, pola
sex avoidant, pola sex obsessive, pola sex
expressive.
f. Mempersiapkan karir ekonomi
g. Mempersiapkan
keluarga
perkawinan
dan
h. Memperoleh perangkat nilai dan
sistem etis sebagai pegangan untuk
berperilaku mengembangkan ideologi.
Dalam menghadapi permasalahan
seksualitas, remaja masih mengharapkan
bimbingan dari orang tua. Komunikasi
seksualitas orang tua dan remaja
merupakan model ideal bagi remaja,
karena menjamin tersampaikannya norma
tentang perilaku seksual. Namun problem
komunikasi orang tua dan remaja yang
umum terjadi serta sedikitnya perhatian
orang tua terhadap masalah seksualitas
telah menghambat terjalinnya komunikasi
seksualitas antara orang tua dengan remaja
(Fuhrmann, 1990).
Komunikasi Remaja dengan Orang Tua
tentang Masalah Seksual
Kasus mengenai perilaku seks
pranikah pada remaja dari waktu ke waktu
semakin mengkhawatirkan. Sementara di
masyarakat telah terjadi pergeseran nilainilai moral yang semakin jauh sehingga
masalah tersebut
sepertinya sudah
menjadi hal biasa, padahal perilaku seks
pranikah merupakan sesuatu yang harus
dihindari oleh setiap individu. Menurut
Tjahyono (1995), salah satu penyebab
terjadinya perilaku seks pranikah yaitu
karena kurangnya komunikasi antara
remaja dengan orang tua. Menurutnya
remaja yang kurang kasih sayang dari
Berbagai kajian menunjukkan
bahwa remaja kadang-kadang melihat
orang tuanya kurang memahami gaya
hidup dan tekanan yang dialami remaja
12
sekarang. Orang tua pada umumnya lebih
bersikap
judgemental
dan
terlalu
melindungi agar anaknya jangan sampai
berbuat kesalahan. Hal ini menyebabkan
orang tua gagal menghargai kebutuhan
privasi anak dan keinginannya untuk
mandiri. Walaupun demikian, remaja
masih tetap beranggapan bahwa orang tua
merupakan sumber terpercaya tentang
masalah seksualitas (Jaccard dalam
Lestari, 2007).
menekankan
pada
rincian
analisis
kontekstual tentang sejumlah kecil
kejadian atau kondisi atau hubunganhubungan yang ada padanya.
Remaja yang melakukan seks
pranikah sangat jarang menghabiskan
waktu untuk berkomunikasi bersama orang
tuanya. Priyonggo (dalam Hertinjung,
Prasetyaningrum, & Amrillah, 2005)
mengemukakan bahwa berdasarkan hasil
penelitian menunjukkan bahwa orangtua
yang tidak lagi dianggap sebagai tempat
yang aman dan mampu melindungi atau
berkomunikasi
dengan
anggota
keluarganya akan menimbulkan persoalanpersoalan yang semakin pelik pada anak,
salah satunya yaitu masalah perilaku
seksual pranikah. Tjahyono (1995) juga
mengungkapkan bahwa orang tua yang
sangat jarang menghabiskan waktu
bersama anak-anaknya menjadikan remaja
lebih
mengalami
kecenderungan
melakukan seks pranikah.
2. Pernah melakukan hubungan seks
pranikah
Subjek Penelitian
Dalam penelitian studi kasus ini,
subjek yang akan digunakan oleh peneliti
adalah:
1. Remaja (berusia 19 tahun)
Tahap-Tahap Penelitian
Adapun tahap-tahap penelitian
yang dilakukan dalam penelitian ini
meliputi beberapa tahap, yaitu:
1. Tahap Persiapan Penelitian
Peneliti melakukan persiapan
dengan menyusun pertanyaan atau
permasalahan penelitian, mengkaji
konsep dan teori berdasarkan landasan
teori yang digunakan, menentukan
subjek penelitian serta menyusun
pedoman
wawancara,
panduan
observasi dan lembar data diri. Peneliti
juga menyiapkan tape recorder untuk
merekam jalannya wawancara agar
tidak ada satupun isi wawancara yang
terlupa dan terlewatkan.
METODE PENELITIAN
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Sebelum
melakukan
pengumpulan
data,
peneliti
menghubungi dan membuat janji
dengan
subjek
penelitian
dan
significant other terlebih dahulu untuk
melakukan
wawancara.
Setelah
bertemu dengan subjek, peneliti
memperkenalkan
diri
dan
menerangkan maksud atau tujuan
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode kualitatif
dengan pendekatan penelitian studi kasus.
Menurut Moleong (2004) studi kasus
adalah studi yang berusaha memahami
yang khas dan dapat memperluas
pengalaman atau menambah kekuatan
terhadap apa yang telah dikenal melalui
hasil penelitian yang lalu. Lebih lanjut
lagi, dapat dikatakan bahwa studi kasus
13
kedatangan peneliti. Hal ini penting
untuk membuat subjek merasa nyaman
dan
bebas
dalam
menjawab
pertanyaan.
Kemudian
peneliti
mengajukan pertanyaan dan segala
sesuatu yang berhubungan dengan hal
yang akan diteliti. Peneliti melakukan
observasi pada saat pelaksanaan serta
mencatat dan merekam semua jawaban
yang diberikan subjek.
sedang
diwawancarai
secara
sitematis untuk menggali data.
b. Wawancara dengan Pedoman
Umum
Pada proses wawancara ini
peneliti
dilengkapi
dengan
pedoman wawancara yang sangat
umum, yang mencantumkan isu-isu
yang
harus
diliput
tanpa
menentukan urutan pertanyaan,
bahkan mungkin tanpa bentuk
pertanyaan eksplisit. Pedoman
wawancara
digunakan
untuk
mengingatkan peneliti mengenai
aspek-aspek yang harus dibahas,
sekaligus sebagai daftar pengecek
(checklist) apakah aspek-aspek
relevan tersebut telah dibahas atau
ditanyakan. Dengan pedoman
demikian,
peneliti
harus
memikirkan bagaimana pertanyaan
tersebut akan dijabarkan secara
konkrit dalam kalimat tanya,
sekaligus
menyesuaikan
pertanyaan dengan konteks aktual
saat wawancara berlangsung.
3. Tahapan Penyelesaian Penelitian
Setelah peneliti mendapatkan
data- data yang dibutuhkan, peneliti
mengolah
data
tersebut
dan
menganalisanya berdasarkan teori yang
ada kemudian disusun menjadi sebuah
laporan.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam
penelitian
ini,
tipe
pengumpulan data yang akan digunakan
adalah wawancara dan observasi.
1. Wawancara
Menurut Poerwandari (1998)
wawancara adalah percakapan dan
tanya jawab yang diarahkan untuk
mencapai tujuan teertentu.
c. Wawancara dengan
Pedoman
Terstandar yang Terbuka
Dalam bentuk wawancara
seperti ini, pedoman wawancara
ditulis secara rinci, lengkap dengan
seluruh pertanyaan dan penjabaran
dalam kalimat. Peneliti diharapkan
dapat melaksanakan wawancara
sesuai urutan yang tercantum, serta
menanyakannya dengan cara yang
sama pada responden-responden
yang berbeda. Namun, keluwesan
dalam
mendalami
jawaban
terbatas, tergantung pada sifat
wawancara, sehingga peneliti perlu
melakukan administrasi terhadap
Patton (dalam Poerwandari,
2001) mengatakan bahwa wawancara
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Wawancara Informal
Pada proses wawancara ini,
wawancara didasarkan sepenuhnya
pada perkembangan pertanyaanpertanyaan secara spontan dalam
interaksi alamiah. Tipe wawancara
demikian umumnya dilakukan oleh
peneliti yang melakukan observasi
partisipan. Dalam situasi demikian,
orang-orang yang diajak berbicara
mungkin tidak menyadari bahwa ia
14
upaya-upaya
tertentu
untuk
meminimalkan variasi, sekaligus
mengambil
langkah-langkah
menyeragamkan
pendekatan
terhadap responden.
tersebut maka peneliti akan menggunakan
instrumen penelitian berupa:
Menurut Benister, dkk (dalam
Poerwandari, 2001), observasi adalah
kegiatan memperhatikan secara akurat,
mencatat fenomena yang muncul dan
mempertimbangkan hubungan antar
aspek dalam fenomena tersebut.
Observasi selalu menjadi bagian dalam
penelitian psikologi serta dapat
berlangsung
dalam
konteks
laboratorium (ekperimental) maupun
dalam konteks alamiah.
1. Pedoman Wawancara
Pedoman
wawancara
yang
dimaksudkan
adalah
untuk
mempermudah
peneliti
dalam
memberikan pertanyaan. Pedoman ini
berisikan pertanyaan-pertanyaan yang
berkaitan dengan masalah penelitian,
agar apa yang ingin diketahui oleh
peneliti tidak terlewatkan. Pedoman
wawancara
digunakan
untuk
mengingatkan
peneliti
mengenai
aspek–aspek yang harus dibahas
sekaligus menjadi daftar untuk
memeriksa
apakah
aspek-aspek
tersebut telah dibahas atau ditanyakan
(Poerwandari, 1998).
Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan observasi tanpa peran
serta atau observasi nonparticipan.
Karena dalam penelitian ini peneliti
hanya mempunyai satu fungsi, artinya
peneliti
dapat
mengamati
dan
mendapatkan data secara langsung
tentang subjek.
2. Pedoman Observasi
Pedoman observasi ini digunakan
untuk melihat perilaku yang muncul
dalam diri subjek, bagaimana setting
fisik lingkungan dan aktifitas-aktifitas
yang berlangsung. Hasil obesrvasi ini
digunakan sebagai catatan lapangan
yang bersifat deskriptif.
2. Observasi
Alat Bantu Pengumpulan Data
3. Alat Perekam
Alat bantu ini digunakan untuk
merekam semua pertanyaan dan
jawaban yang diberikan oleh subjek,
agar
dapat
menghemat
waktu
pelaksanaan penelitian. Perekaman ini
dilakukan atas sepengetahuan dan izin
subjek.
Menurut Poerwandari (1998),
peneliti
sangat
berperan
dalam
keseluruhan proses penelitian, mulai dari
memilih topik, mendekati topik tersebut,
mengumpulkan
data,
menganalisa,
menginterpretasikan
hingga
menyimpulkan hasil penelitian.
4. Alat Tulis
Alat tulis yang digunakan adalah buku
tulis, pensil, pulpen, dan penghapus.
Tujuan penggunaan alat tulis ini adalah
untuk mencatat semua data atau
informasi dalam suatu penelitian, baik
wawancara maupun observasi.
Istilah kualitatif menghasilkan dan
mengolah data yang sifatnya deskriptif,
seperti transkripsi wawancara, catatan
lapangan, gambar, foto, rekaman video,
dan lain-lain. Berkaitan dengan hal
15
mengurangi kemelencengan dalam
pengumpulan data. Cara lain ialah
membandingkan
hasil
pekerjaan
seorang analis dengan analis lainnya.
Dalam penelitian ini, dosen pembibing
studi
kasus
bertindak
sebagai
pengamat yang memberikan masukan
terhadap hasil pengumpulan data
Keakuratan Penelitian
Menurut
Moleong
(2004),
triangulasi adalah teknik pemeriksaan data
yang memanfaatkan sesuatu yang lain
diluar data itu untuk keperluan pengecekan
atau sebagai pembanding terhadap data itu.
Denzin
(dalam
Moleong,
2004)
membedakan empat triangulasi sebagai
teknik pemeriksaan, yaitu :
4. Triangulasi dengan Teori
Menurut Lincoln dan Guba (dalam
Moleong, 2004), triangulasi ini
berdasarkan anggapan bahwa fakta
tertentu tidak dapat diperiksa derajat
kepercayaannya dengan satu atau lebih
teori. Dalam hal ini, jika analisis telah
menguraikan pola hubungan dan
menyertakan penjelasan yang muncul
dari analisis, maka penting sekali
untuk mencari tema atau penjelasan
pembanding. Secara induktif hal itu
dilakukan dengan mengarahkan pada
upaya penemuan penelitian lainnya.
Sedangkan secara logika dilakukan
usaha pencarian cara lainnya untuk
mengorganisasikan data dengan cara
memikirkan
kemungkinan
logis
lainnya
dan
melihat
apakah
kemungkinan-kemungkinan itu dapat
ditunjang oleh data. Di pihak lain,
Patton (dalam Moleong, 2004)
berpendapat, bahwa hal itu dapat
dilaksanakan dan hal itu dinamakan
penjelasan banding. Dalam penelitian
ini, peneliti mencocokkan hasil
penelitian dengan teori-teori yang
digunakan dalam penelitian ini.
1. Triangulasi dengan Sumber
Menurut Patton (dalam Moleong,
2004) hal ini berarti membandingkan
dan
mengecek
balik
derajat
kepercayaan suatu informasi yang
diperoleh melalui waktu dan alat yang
berbeda dalam metode kualitatif.
Dalam
penelitian
ini
peneliti
menggunakan sumber data dari subjek
dan significant other
2. Triangulasi dengan Metode
Patton (dalam Moleong, 2004)
menyatakan bahwa triangulasi ini
mempunyai dua strategi, yaitu
pengecekan
derajat
kepercayaan
penemuan hasil penelitian beberapa
teknik
pengumpulan
data
dan
pengecekan
derajat
kepercayaan
beberapa sumber data dengan metode
yang sama. Dalam penelitian ini,
peneliti melakukan metode wawancara
yang kebenarannya dicek dengan
metode observasi setelah proses
wawancara selesai
3. Triangulasi dengan Peneliti atau
Pengamat
Hal ini berarti triangulasi ini dilakukan
dengan jalan memanfaatkan peneliti
atau pengamat lainnya untuk keperluan
pengecekan
kembali
derajat
kepercayaan
data.
Pemanfaatan
pengamat
lainnya
membantu
Teknik Analisis Data
Poerwandari (1998) menguraikan
langkah-langkah
operasional
dalam
melakukan analisis data dalam penelitian
kualitatif, yaitu:
16
1. Organisasi Data
Pengolahan dan analisis data
sesungguhnya
dimulai
dengan
mengorganisasikan data. Highlen dan
Finley (dalam Poerwandari, 1998)
mengatakan bahwa organisasi data
yang
sistematis
memungkinkan
peneliti untuk memperoleh kualitas
data yang baik, mendokumentasikan
analisis
yang
dilakukan,
serta
menyimpan data dan analisis yang
berkaitan
dalam
penyelesaian
penelitian.
kemampuan memperoleh “insight”,
memberi makna pada data, memahami
dan memilah mana yang esensial dan
mana yang tidak. Kepekaan teoritis
mengacu pada pemahaman konseptual
tentang data. Sensivitas teoritis itulah
yang
memungkinkan
peneliti
mengembangkan teori yang sungguhsungguh berdasar pada data, padat
secara konseptual dan terintegrasi
dengan baik.
2. Koding dan Analisis
Koding dimaksudkan untuk
dapat
mengorganisasi
dan
mensistematisasi data secara lengkap
dan mendetail sehingga data dapat
memunculkan gambaran tentang topik
yang dipelajari. Dengan demikian,
peneliti dapat menemukan makna dari
data yang dikumpulkannya. Secara
praktis dan efektif, langkah awal
koding dapat dilakukan melalui
beberapa cara, antara lain :
4. Pengujian Terhadap Dugaan
Dengan mempelajari data, kita
mengembangkan dugaan-dugaan yang
merupakan kesimpulan sementara.
Dugaan yang berkembang tersebut
harus
dipertajam
dan
diuji
ketepatannya. Untuk memudahkan
pengujian terhadap dugaan atau
kesimpulan
sementara,
menurut
Highlen
dan
Finley
(dalam
Poerwandari, 1998) peneliti dapat
melakukan beberapa cara, antara lain:
a. Peneliti menyusunan transkripsi
verbatim (kata demi kata) atau
catatan lapangan.
a. Menuliskan
pokok-pokok
pertanyaan penelitian di tempattempat yang bisa dilihat untuk
memungkinkan
peneliti
tidak
melenceng,
melainkan
selalu
memfokus pada analisis yang
sesuai tujuan penelitian.
b. Peneliti secara urut dan kontinyu
melakukan penomoran pada barisbaris transkrip dan/atau catatan
lapangan tersebut.
c. Peneliti memberikan nama untuk
masing-masing berkas dengan kode
tertentu. Kode yang dipilih
haruslah kode yang mudah diingat
dan dianggap paling tepat mewakili
berkas tersebut.
b. Membandingkan tema dan sub-sub
tema
yang
dikembangkanya
dengan
kembali
mempelajari
sumber data yang ada.
c. Menggunakan skema atau matriksmatriks
sederhana
untuk
mendskripsikan kesimpulan.
3. Kepekaan Teoritis
Kepekaan
teoritis
adalah
kualitas personal yang dimiliki
peneliti,
yang
mengindikasikan
kesadaran tentang detail, lipatanlipatan dan kompleksitas makna dari
data. Kepekaan teoritis mengacu pada
5. Tahapan Interpretasi
Klave (dalam Poerwandari,
1998) menyatakan bahwa interpretasi
mengacu pada upaya memahai data
secara ekstensif sekaligus mendalam.
17
Peneliti memiliki perspektif mengenai
apa yang sedang diteliti dan
menginterpretasikan data melalui
perspekstif tersebut. Proses interpretasi
memerlukan
distansi
(upaya
pengambilan jarak) dari data, tercapai
melalui langkah-langkah metodis dan
teoritis yang jelas, serta melalui
dimasukkannya data ke dalam konteks
konseptual yang khusus.
nasehat yang diberikan secara lisan
tidak banyak berpengaruh untuk
subjek karena subjek tidak pernah
menjalani nasehat orang tuanya,
tetapi perilaku seksual ayahnya
yang pernah bermain dengan
wanita lain cukup berpengaruh
bagi subjek.
Dari uraian di atas terlihat
bahwa pendidikan seks yang
didapatkan subjek dari keluarga
masih kurang baik sehingga
memberikan pengaruh negatif
terhadap perilaku seks pranikah
subjek. Hal tersebut memperkuat
pendapat Benokraltis (1996) yang
mengungkapkan bahwa kurangnya
pendidikan seksual dalam keluarga
merupakan salah satu faktor yang
dapat
menyebabkan
perilaku
seksual pranikah.
PEMBAHASAN
1. Faktor
Apa
Mempengaruhi
Pranikah?
Saja
Perilaku
yang
Seks
a. Pendidikan Seks dalam Keluarga
Selama ini hal yang
dibicarakan
subjek
dengan
orangtuanya di rumah lebih banyak
ke masalah pekerjaan, subjek
merasa jika dia bertanya tentang
seks maka orang tuanya lebih
sering mengalihkan pembicaraan,
tetapi orang tua subjek merasa
selama ini subjek jarang bertanya
kepadanya. Menurut subjek, ibunya
sudah menerangkan masalah seks
sejak subjek berusia 9 tahun ketika
ayah subjek mulai senang bermain
dengan wanita lain, sedangkan
ayahnya
mulai
menjelaskan
masalah seks hanya baru-baru ini
saja. Selama ini orang tua sudah
menjelaskan
konsekuensi
melakukan seks pranikah kepada
subjek,
dan
subjek
merasa
informasi yang diberikan orang
tuanya
selama
ini
cukup
berpengaruh
untuknya
dalam
mengambil hal positif dari apa
yang dijelaskan orang tuanya,
namun menurut orang tuanya,
b. Ketabuan Seksualitas
Subjek menilai masalah
seks hanya bisa dibicarakan jika
situasinya cukup mendukung untuk
bercerita, orang tua subjek juga
menilai bahwa masalah seks
bukanlah hal yang tabu, dan akan
lebih efektif jika diberikan oleh ibu
selaku figur yang lebih tepat dalam
membesarkan anak. Selain itu
subjek dan orang tuanya sudah
tidak canggung jika harus berbicara
masalah seks hal ini karena seks
bukan lagi masalah yang amat tabu
untuk mereka. Menurut Benokraltis
(1996), ketabuan seksualitas dapat
membatasi komunikasi sehingga
anak dapat menerima informasi
yang salah tentang seks. Dalam
kasus ini masalah seksualitas
18
diberikan oleh orang tua, tetapi
teman adalah salah satu sumber
pengetahuan
tentang
masalah
seksual.
bukan hal yang tabu bagi subjek
dan orang tuanya.
c. Peers (Teman Sebaya)
Orang tua subjek menilai
selama ini setiap berkumpul
dengan temannya maka subjek
akan selalu mabuk dan bermain
wanita meskipun saat itu subjek
mengatakan bahwa ia hanya
sekedar jalan-jalan ke rumah
temannya. Subjek mengetahui
resiko melakukan seks pranikah,
karena itu ia selalu memakai alat
pencegah kehamilan saat akan
melakukan hubungan seks, selain
itu teman subjek juga telah
mengetahui tentang seks karena itu
mereka
juga
memakai
alat
kontrasepsi walaupun masih ada
sedikit
rasa
takut
akan
pasangannya yang mungkin akan
hamil. Orang tua subjek pun
mengetahui bahwa teman subjek
selama ini telah mengetahui
tentang masalah seks hanya saja
masih meragukan sejauh mana
pendapat teman subjek akan seks.
Karena itulah orang tua subjek
merasa bahwa belum pernah ada
teman
subjek
yang
telah
melakukan seks, berbeda dengan
pendapat subjek yang mengatakan
temannya sudah melakukan seks
pranikah. Selama ini informasi
yang diberikan temannya cukup
berpengaruh terhadap perilaku
subjek, orang tua subjek sendiri
hanya
mengetahui
bahwa
pembicaraan
subjek
dengan
temannya selama ini hanya seputar
masalah wanita atau pekerjaan saja.
Kondisi di atas memperkuat
pendapat Benokraltis (1996), yang
mengungkapkan bahwa peers atau
teman sebaya merupakan salah satu
faktor yang dapat menyebabkan
perilaku
seksual
pranikah.
Seharusnya pendidikan seksual itu
d. Media Massa
Subjek
mendapatkan
informasi tentang seks dari media
elektronik maupun buku, informasi
yang diperoleh melalui media
mempengaruhi
pengetahuannya
tentang seks, dan menurutnya
informasi tersebut lebih jelas jika
diwujudkan dalam bentuk nyata
bukan hanya dalam bentuk visual
saja, sehingga menurut orang tua
subjek semua informasi yang
diperoleh dari media tersebut bisa
membawa dampak negatif untuk
subjek. Kondisi tersebut sesuai
dengan
pendapat
Benokraltis
(1996), yang mengatakan bahwa
media massa merupakan salah satu
faktor yang dapat menyebabkan
perilaku seksual pranikah. Jika
orang tua cenderung jarang
berbicara tentang seks, remaja
seringkali mendapatkan informasi
yang salah tentang seks dari apa
yang disebut popular culture
seperti Televisi, film, majalah, atau
novel.
e. Level Pendidikan
Pendidikan
orang
tua
subjek hanya setara SMP dan
SMU, hal ini tidak jauh beda
dengan subjek yang hanya sampai
tingkat SMP, walaupun sebenarnya
subjek cukup memiliki kemampuan
untuk melanjutkan ke tingkat yang
lebih tinggi, hanya saja sifat subjek
yang malas membuatnya tidak
melanjutkan sekolahnya. Menurut
Benokraltis
(1996),
level
pendidikan merupakan salah satu
19
faktor yang dapat mempengaruhi
perilaku seksual pranikah, namun
faktor
ini
ternyata
tidak
memberikan
pengaruh
dalam
kesadaran untuk tidak melakukan
perilaku seksual.
tidak dilarang oleh orang
tuanya jika pulang sampai larut,
hal ini karena subjek adalah
laki-laki dan bisa menjaga
dirinya.
Subjek
diizinkan
berpacaran karena sudah cukup
umur. Subjek diberikan batasan
oleh orang tuanya dalam
berpacaran hal ini karena
dikhawatirkan akan membuat
malu keluarga jika sampai
terjadi hamil di luar nikah dan
subjek sendiri setuju dengan
batasan
tersebut.
Kondisi
tersebut sesuai dengan ciri-ciri
pola sex avoidant yang
dikemukakan oleh Ehrenberg
dan Ehrenberg (dalam Laily &
Matulesy, 2004) ciri-cirinya
antara lain orang tua lebih
toleran
terhadap
masalah
seksual anak, orang tua juga
tidak berpandangan negatif
tentang seks.
f. Revolusi Seksual
Subjek tidak pernah merasa
bersalah terhadap pasangannya jika
melakukan hubungan seks pranikah
jika dilakukan atas keinginan
bersama meskipun ia merasa tetap
merasa bersalah dari sisi agama. Itu
juga
yang
menyebabkan
keperawanan bukanlah hal yang
sakral bagi subjek, walaupun dia
tidak
pernah
memaksakan
pasangannya untuk melakukan
hubungan
intim.
Benokraltis
(1996) mengungkapkan bahwa
revolusi seksual merupakan salah
satu
faktor
yang
dapat
mempengaruhi perilaku seksual
pranikah. Pada pertengahan tahun
1970-an,
ketakutan
akan
kehamilan, konsep dosa, dan rasa
bersalah serta nilai keperawanan
mengalami perubahan, dimana
perilaku seksual lebih bebas
dilakukan khususnya di kalangan
remaja.
(2) Komunikan
Orang tua subjek akan
mengalihkan pembicaraan jika
subjek
bertanya
seputar
masalah seks. Subjek merasa
pernah ditolak saat akan
bertanya tentang seks karena
takut jika nantinya subjek akan
mencoba
melakukan
hubunngan seksual. Selain itu
orang
tua
subjek
akan
menjawab jika ada pertanyaan
masalah seks, meski demikian
menurut orang tuanya subjek
jarang sekali bertanya tentang
hal tersebut. Orang tua subjek
tidak pernah ikut campur
masalah
subjek
dengan
pacarnya namun orang tuanya
tetap akan memberi saran jika
subjek bertanya, selain itu
2. Bagaimanakah Komunikasi Subjek
dengan Orang Tua tentang Masalah
Seksual?
a. Komunikator atau Komunikan
(1) Komunikator
Subjek
biasanya
berinisiatif
untuk
mulai
bertanya masalah seks terlebih
dulu, pembicaraan tersebut
akan terjadi jika ada masalah
yang sedang dihadapi. Subjek
20
subjek juga tidak senang jika
orangtuanya
mencampuri
masalahnya karena sebagai
seorang laki-laki, subjek ingin
menyelesaikan
masalahnya
sendiri. Hal-hal tersebut sesuai
dengan ciri-ciri pola sex
avoidant yang dikemukakan
oleh Ehrenberg dan Ehrenberg
(dalam Laily & Matulesy,
2004) ciri-cirinya antara lain
orang
tua
cenderung
menghindari diskusi langsung
tentang seks.
(dalam Laily & Matulesy,
2004) ciri-cirinya antara lain
yaitu orang tua memberikan
pengertian secara intelektual
bahwa seks itu adalah sehat dan
lebih baik daripada kejahatan.
c. Metode
(1). Memaksa
Subjek akan dimarahi
jika berkata hal yang berbau
seks
di depan adiknya,
sedangkan orangtuanya tidak
akan melarang membahas
masalah
seks
sepanjang
langsung bertanya pada orang
tua.
Kondisi
tersebut
bertentangan dengan ciri-ciri
pola sex repressive yang
dikemukakan oleh Ehrenberg
dan Ehrenberg (dalam Laily &
Matulesy, 2004), karena pada
pola sex repressive, orang tua
lebih sering melarang anakanaknya mengucapkan katakata yang berhubungan dengan
seks.
b. Isi
(1). Informasi
Selama ini subjek sudah
dijelaskan akan bahaya seks
pranikah
sehingga
sudah
mengetahui resiko yang akan
terjadi. Selama ini orang tua
subjek menjelaskan bahaya
seks yaitu kehamilan dan
penyakit. Orang tua subjek
memberi penjelasan kepada
subjek bahwa seks adalah
sesuatu yang sehat selama
dilakukan setelah menikah.
(2). Menghindar
Selanjutnya orang tua
subjek tidak pernah malu jika
harus menjelaskan tentang seks
pada subjek karena menurutnya
subjek sudah cukup umur untuk
mengetahui masalah tersebut.
Namun subjek kadang merasa
malu jika harus membicarakan
masalah seks dalam waktu
yang tidak tepat. Subjek enggan
membicarakan masalah seks
karena merasa malu jika orang
tuanya mengetahui masalah
seksualnya. Kondisi tersebut
hampir sesuai dengan ciri-ciri
(2). Gagasan
Subjek
jarang
mendiskusikan
masalah
seksualitas
dengan
orang
tuanya dan
menurut orang
tuanya selama ini hanya sekitar
1 sampai 2 kali saja subjek
bertanya. Orang tua subjek
tidak
pernah
menanyakan
hubungan
subjek
dengan
pacarnya.
Uraian di atas sesuai
dengan ciri-ciri pola sex
avoidant yang dikemukakan
oleh Ehrenberg dan Ehrenberg
21
pola sex avoidant yang
dikemukakan oleh Ehrenberg
dan Ehrenberg (dalam Laily &
Matulesy, 2004) ciri-cirinya
antara lain yaitu orang tua
merasa malu untuk memberi
penjelasan kepada anak tentang
masalah seksual.
tidak mendiskusikan masalah
yang
dihadapi
dengan
orangtuanya, kecuali sudah
mendesak.
(2). Keinginan untuk Merespons
Orang tua subjek cukup
responsif dalam menjawab
pertanyaan subjek tentang
masalah seks. Orang tua subjek
akan menjawab dan memberi
solusi saat subjek bertanya
tentang masalah seksual seperti
memberi alternatif positif dan
negatif, setelah itu subjek yang
menentukan pilihannya. Namun
jika subjek mengambil tindakan
yang salah, maka orang tua
subjek cenderung menyalahkan
dan
bukannya
memberi
nasehat.
Menurut
Devito
(1996), keterbukaan merupakan
salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi
komunikasi.
Kualitas keterbukaan dalam
komunikasi dapat dilihat dari
dua aspek, aspek pertama yaitu
keinginan untuk terbuka bagi
setiap
individu
yang
berinteraksi dengan individu
lain, keinginan untuk terbuka
ini dimaksudkan agar diri
masing-masing tidak tertutup
dalam menerima informasi
untuk dirinya, bahkan juga
mengenai
dirinya
kalau
dipandang
relevan
dalam
rangka pembicaraan dengan
lawan bicaranya. Aspek kedua
yaitu
keinginan
untuk
menanggapi secara jujur semua
stimuli
yang
datang.
Komunikasi dapat dikatakan
(3). Liberal
Subjek merasa orang
tuanya tidak menjelaskan seks
secara terbuka atau gamblang,
menurut orang tua hal itu
terjadi karena memang mereka
jarang membicarakan tentang
masalah seks. Selain itu subjek
cukup nyaman saat berbicara
masalah seks dengan orang
tuanya.
Kondisi
tersebut
bertentangan dengan ciri-ciri
pola sex obsessive yang
dikemukakan oleh Ehrenberg
dan Ehrenberg (dalam Laily &
Matulesy, 2004), karena pada
pola sex obsessive, orang tua
cenderung
menunjukkan
aktivitas yang berkaitan dengan
seks secara terbuka, sehingga
anak justru merasa tidak
nyaman dan tertekan oleh
seluruh
perhatian
yang
diberikan tentang seks.
3. Faktor
Apa
Saja
yang
Mempengaruhi Komunikasi Subjek
dengan Orang Tua tentang Masalah
Seksual?
a. Keterbukaan
(1). Keinginan untuk Terbuka
Subjek kurang terbuka
dalam
mengkomunikasikan
masalah seksualnya, subjek
22
efektif jika keterbukaan dalam
komunikasi ini diwujudkan.
Sebaliknya komunikasi akan
sangat tidak efektif jika terjadi
dua individu berkomunikasi
tetapi
saat
yang
satu
mengemukakan pendapatnya,
sedangkan lawan bicaranya dari
awal sampai akhir diam saja
tidak ada reaksi.
lain, misalnya merasa kasihan pada
individu lain.
c. Dukungan
(1). Terucap
Dukungan
yang
diberikan orang tua subjek saat
mengkomunikasikan masalah
seksual
diantaranya
yaitu
menjelaskan
dengan
cara
menarik
seperti
diselingi
candaan, orang tua subjek juga
menjawab pertanyaan subjek
dengan tidak kasar selama
subjek tidak memancing emosi.
Subjek merasa perlu bertanya
kembali apabila penjelasan
yang telah diberikan orang
tuanya tidak dipahaminya,
namun menurut orang tuanya
subjek akan lebih memilih
diam walaupun dia tidak terlalu
paham pada penjelasan yang
diberikan kepadanya karena
khawatir orang tuanya akan
menjadi marah.
b. Empati
Orang tua subjek cenderung
berempati akan masalah yang
dihadapi subjek. Orang tua subjek
tidak larut dalam masalah saat
subjek mengalami masalah seksual,
namun orang tua subjek akan
membantu
subjek
dalam
memecahkan masalahnya. Menurut
Devito (1996), empati merupakan
salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi komunikasi. Empati
yang
dimaksudkan
adalah
kemampuan untuk merasakan
sebagaimana perasaan individu lain
atau mencoba merasakan dengan
cara yang sama dengan perasaan
individu
lain.
Jika
dalam
komunikasi
kerangka
pemikirannya dalam kerangka
empati ini, maka individu akan
memahami posisinya, darimana
individu berasal, dimana individu
sekarang, dan kemana individu
akan pergi. Hal yang paling
penting
adalah
tidak
akan
memberikan
penilaian
pada
perilaku atau sikap individu
sebagai perilaku atau sikap yang
salah atau benar. Sedangkan
simpati merasakan untuk individu
(2). Tidak Terucap
Dukungan tidak terucap
diantaranya
subjek
sering
memperhatikan saat dinasehati
masalah seksual, hal ini tidak
terlepas dari keingintahuan
subjek akan hal-hal positif yang
bisa diambil dari nasehat
tersebut. Subjek tidak pernah
menemui kendala saat ingin
berbicara masalah seksual,
namun seringkali subjek sedikit
malu
untuk
mulai
membicarakannya, selain itu
keduanya juga cukup terganggu
dengan waktu luang yang bisa
mereka dapatkan. Baik subjek
23
maupun orang tua merasa
cukup nyaman saat berbicara
masalah seksualitas di rumah
walau terkadang subjek masih
agak tidak nyaman karena
malu.
keberhasilan
pemecahan
masalah tersebut bergantung
dari subjek sendiri.
(2). Respons Positif
Respons positif dari
orang tua subjek diantaranya
orang tua subjek tidak pernah
kasar saat menasehati subjek,
terutama selama subjek tidak
memancing emosi. Jika subjek
memilih tidak bertanya hal itu
dikarenakan subjek takut akan
sikap kasar yang akan diterima
jika mempunyai kesimpulan
yang berbeda dengan orang
tuanya. Subjek tidak merasa
puas dengan penjelasan yang
diberikan orang tuanya karena
setiap
pertanyaan
yang
diajukan
olehnya
selalu
dijawab dengan singkat.
Dari uraian di atas terlihat
bahwa subjek akan menghindari
pembicaraan
seputar
masalah
seksual karena khawatir orang
tuanya akan menjadi marah. Hal ini
memperkuat pendapat Devito
(1996)
yang
mengungkapkan
bahwa komunikasi tidak dapat
hidup dalam suasana yang penuh
ancaman, jika partisipan dalam
suatu komunikasi merasa bahwa
sesuatu yang akan dikatakannya
akan mendapat kritikan atau
diserang, maka mereka akan segan
untuk berlaku terbuka atau enggan
memberi informasi tentang dirinya
dalam cara apapun.
Uraian di atas memperkuat
pendapat Devito (1996) yang
mengungkapkan
bahwa
jika
beberapa individu mempunyai
perasaan negatif terhadap dirinya
dan mengkomunikasikan perasaan
tersebut kepada individu lain, maka
individu lain ini kemungkinan akan
mengembangkan rasa negatif pula.
Sebaliknya jika individu-individu
mempunyai
perasaan
positif
terhadap dirinya dan berkeinginan
untuk menyampaikan perasaannya
kepada individu lain, maka
individu lain akan menanggapi dan
memperhatikan perasaan positif
tadi.
d. Kepositifan
(1). Perasaan Positif
Subjek sangat meyakini
dengan berdiskusi masalah
yang dialami olehnya bisa
membawa perubahan yang
positif karena pengalaman
orang tuanya yang lebih
banyak, meski demikian subjek
tetap
tidak
yakin
jika
masalahnya bisa teratasi karena
menurutnya itu tergantung pada
kemampuan
masing-masing
individu. Sedangkan menurut
orang tua subjek, mereka tidak
yakin
jika
subjek
bisa
mengatasi masalahnya karena
subjek dinilai memiliki sifat
cuek dan apatis, sehingga
e. Kesamaan
Kedudukan orang tua dan
subjek saat berkomunikasi lebih
24
seperti sahabat. Sebagai laki-laki
subjek memiliki kesamaan pola
pikir dengan ayahnya dan samasama cuek jika membicarakan
masalah seksual. Menurut Devito
(1996), kesamaan merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi
komunikasi. Komunikasi akan
lebih efektif jika individu-individu
yang berkomunikasi itu dalam
suasana kesamaan. Dengan cara ini
dimaksudkan hendaknya terdapat
pengenalan tak terucapkan bahwa
kedua pihak yang berkomunikasi
dihargai dan dihormati sebagai
manusia yang mempunyai sesuatu
yang penting untuk dikontribusikan
kepada sesamanya. Karakteristik
kesamaan dalam komunikasi antara
anggota keluarga dapat pula dilihat
dari kedudukan antara pembicara
dan pendengar.
ayahnya mulai menjelaskan masalah
seks hanya baru-baru ini saja.
Sementara orang tua subjek terkadang
menganggap seks bukanlah suatu hal
yang bisa dibicarakan setiap saat,
mereka lebih sering membicarakan
hanya pada saat tertentu saja walaupun
menurut mereka seks bukanlah hal
yang cukup tabu untuk dibicarakan.
Selain itu subjek juga terpengaruh
untuk melakukan seks pranikah karena
perilaku teman sebayanya yang ratarata juga pernah melakukan hubungan
seks pranikah. Informasi yang didapat
subjek dari media pun cukup
menambah dorongan pada subjek
untuk melakukan seks pranikah.
Pendidikan subjek yang relatif rendah
membuat
subjek
tidak
pernah
memikirkan akibat dari tindakan yang
subjek lakukan, dalam hal ini
melakukan perilaku seks pranikah.
Karena itulah subjek tidak pernah
merasa bersalah terhadap pasangannya
jika melakukan hubungan seks
pranikah yang menurutnya dilakukan
atas keinginan subjek dan pasangannya
meskipun terkadang terselip rasa
bersalah dari sisi agama.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
analisis
observasi dan wawancara subjek dan
significant other, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
2. Komunikasi Subjek dengan Orang
Tua tentang Masalah Seksual
Dalam kasus ini gambaran
komunikasi yang dilakukan oleh
subjek
dengan
orang
tuanya
diantaranya yaitu kurangnya inisiatif
untuk berkomunikasi, biasanya subjek
yang lebih dulu berinisiatif untuk
mulai bertanya masalah seks jika
subjek mempunyai masalah. Orang tua
lebih toleran terhadap masalah seksual
anak serta tidak berpandangan negatif
tentang seks dengan tidak melarang
1. Faktor
yang
Mempengaruhi
Perilaku Seks Pranikah
Faktor yang mempengaruhi
perilaku
seks
pranikah
subjek
diantaranya
yaitu
kurangnya
pendidikan mengenai seks dari orang
tuanya
sehingga
menyebabkan
keingintahuan berlebih pada diri
subjek tentang seks itu sendiri. Ibu
subjek sudah menerangkan masalah
seks sejak subjek berusia 9 tahun
ketika ayah subjek mulai senang
bermain dengan wanita lain, sedangkan
25
subjek untuk menjalin hubungan
dengan seorang wanita saat subjek
sudah cukup umur. Meski demikian
orang tuanya tetap memberi batasan
dalam berpacaran dan subjek sendiri
menyetujui batasan tersebut.
Orang tua subjek tidak merasa
malu jika harus menjelaskan tentang
seks pada subjek karena menurutnya
subjek sudah cukup umur untuk
mengetahui masalah tersebut. Meski
subjek kadang merasa malu jika harus
membicarakan masalah seks dalam
waktu yang tidak tepat. Subjek juga
enggan membicarakan masalah seks
karena merasa malu jika orang tuanya
mengetahui masalah seksualnya. Baik
subjek maupun orang tuanya merasa
tidak pantas jika harus membicarakan
masalah seks di depan umum.
Subjek
jarang
mengkomunikasikan
masalah
seksualitasnya dengan orang tuanya
karena tidak mendapatkan penjelasan
masalah seks dengan detil dan lebih
memilih
untuk
mengalihkan
pembicaraan jika subjek mulai
bertanya seputar masalah seks. Selama
ini orang tua subjek juga tidak pernah
ikut campur saat subjek mengalami
masalah dengan pacarnya namun orang
tuanya tetap akan memberi saran jika
subjek bertanya, selain itu subjek
sendiri juga tidak senang jika
orangtuanya mencampuri masalahnya
karena sebagai seorang laki-laki,
subjek
ingin
menyelesaikan
masalahnya sendiri. Oleh karena itu
orang tua subjek tidak pernah
menanyakan hubungan subjek dengan
pacarnya.
3. Faktor
yang
Mempengaruhi
Komunikasi Subjek dengan Orang
Tua tentang Masalah Seksual
Faktor yang mempengaruhi
komunikasi subjek dengan orang
tuanya tentang masalah seksual yaitu
kurangnya keterbukaan, subjek tidak
mendiskusikan masalah seksualnya
kepada orang tua kecuali sudah
mendesak.
Orang tua subjek cukup
responsif dalam menjawab pertanyaan
subjek tentang masalah seks. Orang tua
subjek akan menjawab dan memberi
solusi saat subjek bertanya tentang
masalah seksual seperti memberi
alternatif positif dan negatif, setelah itu
subjek
tetap
berperan
dalam
menentukan pilihannya. Namun jika
subjek mengambil tindakan yang salah,
maka orang tua subjek cenderung
menyalahkan dan bukannya memberi
nasehat.
Orang
tua
memberikan
pengertian secara intelektual bahwa
seks adalah sesuatu yang sehat selama
dilakukan setelah menikah. Orang tua
juga menjelaskan akan bahaya seks
pranikah yang bisa menyebabkan
kehamilan dan penyakit.
Subjek akan dimarahi jika
berkata hal yang berbau seks di depan
adiknya, namun orangtuanya tidak
akan melarang jika subjek membahas
masalah seks sepanjang langsung
bertanya pada orang tua.
Orang tua subjek cenderung
berempati akan masalah yang dihadapi
subjek. Orang tua subjek tidak larut
dalam masalah saat subjek mengalami
masalah seksual, namun orang tua
26
subjek akan membantu subjek dalam
memecahkan masalahnya.
menurutnya itu tergantung pada
kemampuan masing-masing individu.
Orang tua subjek pun tidak yakin jika
subjek bisa mengatasi masalahnya
karena subjek dinilai memiliki sifat
cuek dan apatis.
Dukungan yang diberikan
orang
tua
subjek
saat
mengkomunikasikan masalah seksual
diantaranya yaitu menjelaskan dengan
cara menarik seperti diselingi candaan,
orang tua subjek juga menjawab
pertanyaan subjek dengan tidak kasar
selama subjek tidak memancing emosi.
Subjek merasa perlu bertanya kembali
apabila penjelasan yang telah diberikan
orang tuanya tidak dipahaminya.
Namun jika sudah tidak sepaham
dengan orang tuanya, subjek lebih
memilih diam untuk menghindari
kemarahan orang tuanya.
Respons positif dari orang tua
subjek diantaranya orang tua subjek
tidak pernah kasar saat menasehati
subjek, terutama selama subjek tidak
memancing emosi. Jika subjek
memilih tidak bertanya hal itu
dikarenakan subjek takut akan sikap
kasar yang akan diterima jika
mempunyai kesimpulan yang berbeda
dengan orang tuanya. Subjek tidak
selalu merasa puas dengan penjelasan
yang diberikan orang tuanya karena
terkadang pertanyaan yang diajukan
olehnya dijawab dengan singkat.
Dukungan
tidak
terucap
diantaranya
subjek
sering
memperhatikan saat dinasehati, hal ini
tidak terlepas dari keingintahuan
subjek akan hal-hal positif yang bisa
diambil dari nasehat tersebut. Subjek
tidak pernah menemui kendala saat
ingin berbicara masalah seksual,
namun seringkali subjek sedikit malu
untuk mulai membicarakannya, selain
itu keduanya juga cukup terganggu
dengan waktu luang yang bisa mereka
dapatkan. Baik subjek maupun orang
tua merasa cukup nyaman saat
berbicara masalah seksualitas di rumah
walau terkadang subjek masih agak
tidak nyaman karena malu.
Kedudukan orang tua dan
subjek saat berkomunikasi lebih seperti
sahabat. Sebagai laki-laki subjek
memiliki kesamaan pola pikir dengan
ayahnya dan sama-sama cuek jika
membicarakan masalah seksual.
Saran
Dari
hasil
penelitian
yang
dilakukan, maka saran yang diajukan
peneliti terhadap penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Kepada subjek, dengan adanya
gambaran komunikasi tentang masalah
seksual yang telah dikemukakan dalam
penelitian ini, disarankan subjek dapat
meningkatkan kualitas komunikasi
dengan orang tuanya.
Subjek sangat meyakini dengan
berdiskusi masalah yang dialami
olehnya bisa membawa perubahan
yang positif karena pengalaman orang
tuanya yang lebih banyak, meski
demikian subjek tetap tidak yakin jika
masalahnya bisa teratasi karena
2. Kepada lingkungan terdekat subjek
yaitu keluarga dan kerabat, disarankan
untuk lebih memberikan dukungan
27
positif kepada subjek agar lebih baik
lagi dalam menjalankan kehidupannya
di masa yang akan datang.
Flick, U. (1998). An introduction to
qualitative research. London:
SAGE Publications Fuhrmann.
3. Kepada peneliti selanjutnya disarankan
untuk mengadakan replikasi penelitian
serupa dengan menggunakan metode
penelitian lainnya seperti penelitian
kuantitatif. Dengan keragaman ini
diharapkan hasil yang diperoleh akan
lebih
mendalam
serta
dapat
digeneralisasikan dalam lingkup yang
lebih luas lagi.
Hertinjung, W.S., Prasetyaningrum, J.,
Amrillah, A.A. (2005). Hubungan
antarapengetahuan seksualitas dan
kualitas komunikasi orang tua –
anak dengan perilaku seksual
pranikah.
Jurnal
Psikologi.
Surakarta:
Fakultas
Psikologi
Universitas
Muhammadiyah
Surakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock,
E.B.,
(1991).
Psikologi
perkembangan (suatu pendekatan
sepanjang rentang kehidupan).
(Ed. 5). Alih bahasa: Istiwidayanti
& Soedjarwo. Jakarta: Erlangga.
Allgeier, E.R., & Allgeier, A.R. (1991).
Sexual interactions. (3rd ed).
Massachusetts: D.C. Heat and
company.
Kartono, K. (1992). Psikologi Sosial.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Astuti, Y. (2005). www.ditplb.or.id.
Benokraltis, N.F. (1996). Marriages and
families change choice constrain.
(2nd ed). New Jersey: Prentice Hall.
Laily, N & Matulessy, A. (2004). Pola
komunikasi masalah seksual antara
orangtua dan anak. Journal Anima
Indonesia psychological. Vol.19
No.2.
Surabaya
:
Fakultas
Psikologi Universitas 17 Agustus
1945.
Devito, J.A. (1996). The interpersonal
communication book. (7th ed).
Newyork: Harpers Collins Collage
Publishers.
Dusek,
J.B.
(1995).
Adolescene
development & behaviour (3rd ed.).
New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Lestari, S. (2007). Perilaku pacaran remaja
ditinjau dari intensitas mengakses
situs porno dan komunikasi
seksualitas
dengan
orangtua.
Laporan penelitian dosen muda.
Surakarta:
Fakultas
Psikologi
Universitas
Muhammadiyah
Surakarta.
Effendy, O.U. (2003). Ilmu, teori, dan
filsafat komunikasi. Bandung: PT
Citra Aditya Bakti.
Fisher,
J.D.
(1987).
Family
communication and the sexual
behavior and attitudes of collage
students. Journal of youth and
adolescence. Vol.16, No.5.
Lestari, S., & Purwandari, E. (2002).
Kemampuan komunikasi ibu-anak
tentang seksualitas ditinjau dari
tingkat
pengetahuan
ibu..
Indigenous, vol.6 No.1.
28
Meikle, S., Peitchinis, J.A., & Pearce, K.
(1985). Teenage sexuality. London:
Taylor & Francis.
Sarwono, S.W. (1997). Psikologi sosial:
individu dan teori-teori psikologi
sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
Moleong, L. J. (2004). Metodologi
penelitian kualitatif. Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya.
Somers, C.L., & Canivez, G.L. (2003).
The sexual communication scale: a
measure of frequency of sexual
communication between parents
and adolescents. Adolescence.
www.findarticles.com.
Newman, B.M. & Newman, P.R. (1979).
Development
trough
life
a
psychological App. (Revised ed.).
USA: McGraw-Hill.
Taufik
Oriza, N. (2000). Konstruksi SASPSI
(Skala assertivitas seksual untuk
wanita Indonesia). Skripsi. Tidak
diterbitkan.
Depok:
Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia.
Papalia, D.E. & Old, S.W. (1995). Human
development (6th ed.). USA:
McGraw-Hill.
& Anganthi, N.R.N. (2005).
Seksualitas remaja: Perbedaan
antara seksualitas remaja yang
tidak melakukan hubungan seksual
dan remaja yang melakukan
hubungan
seksual.
Jurnal
penelitian humaniora. Vol.6, No.2.
Tjahyono, E. (1995). Perilaku-perilaku
seksual yang menyimpang. Anima
Vol 2, No 41. Yogyakarta: Fakultas
Psikologi
Universitas
Sanata
Dharma Yogyakarta.
Poerwandari, E. K. (1998). Pendekatan
kualitatif
dalam
penelitian
psikologi.
Jakarta:
Lembaga
Pengembangan Sarana Pengukuran
dan Pendidikan Psikologi (LPSP3)
Universitas Indonesia.
Turner, J.S., & Helms, D.B. (1995).
Lifespan developmental. (5th ed.).
New Jersey : Prentice-Hall, Inc.
Whitaker, D.J., Miller, K.S., May, D.C., &
Levin, M.L. (1999). Teenage
partners communication about
sexual risk and condom use: the
importance of parent-teenager
discussions.
Family
planning
perspectives.
Vol.31,
No.3.
www.findarticles.com.
Poerwandari, E. K. (2001). Pendekatan
kualitatif untuk penelitian manusia.
Jakarta: Lembaga Pengembangan
Sarana Pengukuran dan Pendidikan
Psikologi (LPSP3) Universitas
Indonesia.
Prabowo, H., & Puspitawati, I. (1997).
Psikologi pendidikan. Jakarta:
Gunadarma.
Widjaja, H.A.W. (2000). Ilmu komunikasi
pengantar studi. Jakarta: PT
Rineka Cipta
Rezha, M. (2009). Perilaku seksual pada
remaja putri yang berpacaran.
Skripsi.
(Tidak Diterbitkan).
Depok : Fakultas Psikologi
Universitas Gunadarma.
29
Download