162 162 Bagan Struktur Organisasi Poliklinik LP Kelas II A Narkotika

advertisement
162
Bagan Struktur Organisasi Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Kelas II A Jakarta
Koordinator Poliklinik
drg. Wiwik S.
Penanggung Jawab
Poli Umum
Penanggung Jawab
Poli Gigi
dr. Finahari
drg. Rama. J.S.
PJ. Perawat
dan
Pengawasan
Retno. W.
PJ. Rawat Inap dan
Rujukan
1. dr. Andi K
2. dr. Yusman A.T.
Penanggung
Jawab Obat
Penanggung Jawab
Inventaris Barang
Penanggung Jawab
Administrasi
Makmur. S.
Angkat Mujiono
Rahmawati. S.
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
Penanggung
Jawab Laporan
162
163
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM
Pembukaan
1. Ucapkan terimakasih atas kesediaan untuk diwawancarai.
2. Memperkenalkan nama pewawancara dan nama instansi yang menaungi.
3. Menjelaskan maksud dan tujuan wawancara.
Tujuan
Wawanacara ini bertujuan untuk menggali informasi dan tanggapan dari
bapak/ibu terhadap proses perencanaan perbekalan obat dan alkes habis pakai di
Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007.
Prosedur
1. Wawancara dilakukan oleh Peneliti kepada pihak yang bersangkutan/informan
dengan menggunakan alat perekam (recorder), semua hasil perbincangan baik
itu tanggapan, pendapat maupun pandangan dari informan akan dijaga
kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk tujuan penelitian.
2. Informan bebas untuk mengungkapkan pendapat, gagasan, tanggapan maupun
saran baik yang bersifat positif maupun negatif selama masih dalam norma
kesopanan.
3. Jawaban yang diberikan oleh informan tidak untuk dinilai benar atau salah
akan tetapi murni untuk tujuan penelitian.
4. Pewawancara akan memimpin alur pembicaraan sesuai dengan maksud dan
tujuan penelitian.
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
164
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM
‘GAMBARAN PERENCANAAN PERBEKALAN OBAT DAN ALKES
HABIS PAKAI DI POLIKLINIK LP KELAS IIA NARKOTIKA
CIPINANG
TAHUN 2007’
Tanggal
:…………………….....
Nama
:……………………….
Jabatan
:………………………
Lama menjabat
:....................................
Bagian
:……………………....
A. SDM
1. Apa tugas dan peran anda di dalam proses perencanaan obat dan alkes
habis pakai di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007?
2. Sudah berapa lama anda menjadi pegawai disini dan sudah berapa lama
bertugas di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007?
3. Siapa sajakah yang terlibat di dalam penyusunan rencana kebutuhan obat
di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007?
4. Apakah jumlah tenaga dan kualifikasi SDM pada Poliklinik LP Kelas II A
Narkotika Cipinang sudah cukup memadai jika dilihat dari beban kerja?
5. Bagaimana peran LP Kelas II A Narkotika Cipinang di dalam
pengembangan SDM khususnya pada peningkatan kemampuan manajerial
dalam penyusunan perencanaan kebutuhan obat dan alkes habis pakai pada
Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang ?
6. Apakah pernah dilakukan pelatihan pada tenaga di Poliklinik LP Kelas II
A Narkotika Cipinang? Bila pernah jenis pelatihan apa yang dilakukan?
7. Apakah sudah pernah dilakukan pelatihan mengenai manajemen logistik?
khususnya tentang perencanaan obat dan alkes habis pakai?
8. Jika pernah, apa manfaat yang dirasakan setelah mengikuti pelatihan?jika
belum, apakah anda merasa perlu untuk diadakan pelatihan mnajemen
tersebut?
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
165
9. Apakah anda menerapkan ilmu dan keterampilan yang anda peroleh
melalui pelatihan ke dalam pekerjaan anda sehari-hari?
10. Secara umum, apa yang menjadi harapan anda terkait dengan SDM yang
ada di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang ini?
B. Anggaran
1. Berasal darimanakah sumber dana untuk pengadaan obat dan alkes habis
pakai di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007?
2. Dapatkah anda jelaskan bagaimana alur/prosedur dari sumber dana hingga
turun ke Poliklinik khususnya dalam rangka pengadaan obat dan alkes
habis pakai di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007?
3. Bagaimanakah tingkat kesesuaian antara alokasi anggaran dengan
kebutuhan perbekalan obat dan alkes habis pakai di Poliklinik LP Kelas II
A Narkotika Cipinang tahun 2007?
4. Apabila dana yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan obat dan alkes
seperti yang diharapkan, apa tindakan yang dilakukan?
C. Metode
1. Apakah Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang telah dilengkapi
dengan Standart Operational Procedure (SOP) yang mengatur tentang
kegiatan-kegiatan di Poliklinik?
2. Menurut anda, apakah prosedur kerja yang sudah ada dapat dimengerti dan
diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari di Poliklinik LP Kelas II A
Narkotika Cipinang?
3. Berdasarkan apakah perencanaan kebutuhan perbekalan obat dan alkes
habis pakai di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007
dibuat?
4. Metode analisis apakah yang digunakan di dalam penentuan jenis dan
jumlah
obat dan alkes habis pakai di dalam membuat perencanaan
kebutuhan di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007?
alasannya?
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
166
5. Kriteria apa yang harus dipenuhi dalam melakukan penentuan pemilihan
jenis obat dalam penyusunan perencanaan perbekalan obat dan alkes di
Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007 ?
6. Dapatkah anda jelaskan bagaimana cara perhitungan rata-rata pemakaian
obat perbulan di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007?
7. Apakah memperhitungkan stok pengman yang digunakan untuk
mengantisipasi kemungkinan kenaikan kunjungan narapidana? Berapa
persenkah stok pengaman yang dipakai pda perencanaan obat dan alkes
habis pakai di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang Tahun 2007?
8. Berapa lamakah rata-rata perkiraan waktu tunggu untuk mengantisipasi
kekosongan obat hingga datangnya obat (lead time) yang dilakukan dalam
penyusunan perencanaan kebutuhan obat dan alkes habis pakai di
Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007?
9. Apa kendala atau hambatan yang dihadapi dalam melakukan perencanaan
kebutuhan obat dan alkes habis pakai di Poliklinik LP Kelas II A
Narkotika Cipinang tahun 2007?
10. Apa tindakan yang dilakukan di dalam menghadapi kendala tersebut?
11. Kapan waktunya dan berapa kali dalam setahun dilakukan perencanaan
obat dan alkes habis pakai dalam periode satu tahun di LP Kelas II A
Narkotika Cipinang tahun 2007?
12. Apakah pernah terjadi permintaan cyto atau yang tidak pernah dimasukkan
di dalam perencanaan obat dan alkes habis pakai sebelumnya pada
perencanaan obat dan alkes habis pakai di Poliklinik LP Kelas II A
Narkotika Cipinang tahun 2007?
13. Bagaimana bentuk sistem pelaporan pemakaian obat dan alkes habis pakai
di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang?
14. Apakah pernah terjadi stok kosong di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika
Cipinang ? jika pernah kapan? berapa kali dalam tahun 2007? apa tindakan
yang dilakukan?
15. Menurut anda apa yang menyebabkan terjadinya hal tersebut?
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
167
16. Apakah pernah terjadi over stock di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika
Cipinang ? jika pernah kapan? berapa kali dalam tahun 2007? apa tindakan
yang dilakukan?
17. Menurut anda apa yang menyebabkan terjadinya hal tersebut?
D. Sarana
1. Menurut
anda,
apakah
sarana
dan
prasarana
yang
menunjang
keberlangsungan kegiatan Poliklinik khususnya di dalam perencanaan obat
dan alkes habis pakai LP Kelas II A Narkotika Cipinang
sudah
mencukupi?
2. Bagaimana kondisi sarana dan prasarana tersebut ?
3. Siapakah yang bertanggung jawab di dalam pemeliharaan sarana dan
prasarana di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang ?
4. Seberapa besar manfaat yang diperoleh oleh Poliklinik LP Kelas II A
Narkotika Cipinang dari adanya sarana dan prasarana tersebut, khususnya
dalam menunjang kegiatan perencanaan?
5. Apakah pernah ada hambatan dalam kegiatan di Poliklinik khususnya
dalam perencanaan kebutuhan obat dan alkes habis pakai yang terkait
dengan keberadaan sarana dan prasarana di Poliklinik LP Kelas II A
Narkotika Cipinang?
E. Organisasi
1. Bagaimana pendapat anda mengenai struktur organisasi di LP Kelas II A
Narkotika Cipinang umumnya dan di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika
Cipinang khususnya dalam mempengaruhi perencanaan oabat dan alkes
habis pakai di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007?
2. Bagaimana alur perencanaan obat dan alkes habis pakai secara intern
(Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang) dan ekstern (LP Kelas II A
Narkotika Cipinang)?
3. Apakah ada sistem pengawasan terhadap proses perencanaan obat dan
alkes habis pakai di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang ?
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
168
4. Siapakah yang melakukan pengawasan terhadap proses perencanaan obat
dan alkes habis pakai di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang
tahun 2007?
5. Ditujukan kepada siapakah usulan perencanaan kebutuhan obat dan alkes
habis pakai yang telah disusun?
6. Siapa saja unsur-unsur yang terkait di LP Kelas II A Narkotika Cipinang
di dalam perencanaan obat dan alkes habis pakai di Poliklinik LP Kelas II
A Narkotika Cipinang ?
7. Apa peran dan pengaruh unsur-unsur tersebut dalam perencanaan obat dan
alkes habis pakai di Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang ?
8. Sejauh mana Institusi LP Kelas II A Narkotika Cipinang dan Depkumham
terlibat di dalam perencanaan kebutuhan obat dan alkes habis pakai di
Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang ?
F. Data
1. Dapatkah anda jelaskan informasi atau data apa saja yang diperlukan
sebagai bahan pertimbangan di dalam memuat perencanaan kebutuhan
obat dan alkes habis pakai pada Poliklinik LP Kelas II A Narkotika
Cipinang tahun 2007 ?
2. Darimana sumber data atau informasi yang diperlukan sebagai bahan
pembuatan perencanaan obat dan alkes habis pakai pada Poliklinik LP
Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007?
3. Seberapa besar pengaruh data dan informasi yang diperoleh dalam
menunjang kegiatan perencanaan obat dan alkes habis pakai pada
Poliklinik LP Kelas II A Narkotika Cipinang tahun 2007?
G. Kebijakan
1. Kebijakan apa sajakah yang telah dikeluarkan baik oleh pihak internal (LP
Kelas II A Narkotika Cipinang) maupun eksternal (Departemen Hukum
dan HAM) yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi
kegiatan Poliklinik khususnya pada proses perencanaan obat dan alkes
habis pakai?
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
169
2. Apa sajakah kebijakan yang dikeluarkan baik oleh pihak intern (LP Kelas
II A Narkotika Cipinang) maupun ekternal (Departemen Hukum dan
HAM) yang mendukung di dalam pelaksanaan tugas dan fungsi
Poliklinik?
3. Apa sajakah kebijakan yang dikeluarkan baik oleh pihak intern (LP Kelas
II A Narkotika Cipinang) maupun ekternal (Departemen Hukum dan
HAM) yang menghambat didalam pelaksanaan tugas dan fungsi Poliklnik
LP Kelas II A Narkotika Cipinang?
4. Bagaimanakah pendapat anda mengenai kebijakan pemerintah tentang
sistem perencanaan kebutuhan obat dan alkes habis pakai yang terkait
dengan penulisan obat generik?
5. Apakah Poliklinik LP Kelas II A Narkotika sudah membuat standar terapi
dan formularium?
6. Jika belum, apa alasannya? Aapakah dibutuhkan ? apa kendala yang
dihadapi?
H. Usulan dan saran
1. Apa harapan anda di masa selanjutnya di dalam meningkatkan mutu
perencanaan obat dan alkes habis pakai di Poliklinik LP Kelas II A
Narkotika Cipinang ?
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
MATRIKS WAWANCARA MENDALAM MENGENAI GAMBARAN PERENCANAAN PERBEKALAN OBAT
PADA INFORMAN POLIKLINIK LP KELAS II A NARKOTIKA JAKARTA
Keterangan :
1.
P1 : Kepala Urusan Kepegawaian dan Keuangan
2.
P2 : Penanggung Jawab Rawat Inap dan Rujukan/Penanggung Jawab Sementara Poliklinik
3.
P3 : Penanggung Jawab Poli Umum
4.
P4 : Penanggung Jawab Poli Gigi
5.
P5 : Penanggung Jawab Obat
6.
P6 : Penanggung Jawab Perawat dan Pengawasan
7.
P7 : Penanggung Jawab Administrasi
INPUT
SDM
No. Pertanyaan
1.
P2
P5
Tugas dan
Peran di dalam perencanaan obat ya? Saya
Peran pada
Kalau dalam perawatan memang pasti, penanggung jawab obat dan PJ. Program Perawat disamping membantu dr.
perencanaa
orang yang dirawat biasanya kan butuh TBC di lapas ini. Meliputi mulai dari Wiwik untuk pengawasan disini.
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
mempunyai
P6
peran
sebagai Saya mempunyai peran sebagai PJ.
170
n obat.
obat-obatan. Biasanya kita liat juga perencanaan, pemberian obat ke napi
banyaknya penyakit yang umum diderita, hingga pelaporan.
TBC-nya, HIV, Narkoba-nya dan dari
semua macam penyakit kita pasti punya
kebutuhan obat untuk penyakit umum
kaya analgesik, antipiretik, anti diare,
vitamin-vitamin . Biasanya pada awalnya
kalau obat kita punya form terus kita isi
sesuai dengan obat yang kita butuhkan, itu
kita tujukan pada awalnya ke Dinas
Kesehatan dan kita sudah ada MOU,
networking per 3 bulan obat kita minta,
nanti kebutuhannya berapa jumlahnya
disesuaikan dengan jumlah napi disini.
Pertanyaan
2.
P2
P4
P6
Tingkat
Yah, sebenarnya sih cukup terbebani. Kita Sudah sesuai dengan beban kerja, kalau
Menurut
kecukupan
bisa 100 kunjungan perhari, masing- dibilang kurang tidak akan pernah
karena kita kerja disini melayani
dan
masing orang beda-beda penyakitnya kan cukup, jadi yang ada aja dioptimalkan.
pasien dari jam 10 sampai jam 12 jadi
kesesuaian
kita jadi terpisah konsentrasinya, kalau
yang berobat sekitar 100 - 120 orang
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
saya
sudah
mencukupi,
171
tenaga
kita konsul agak lama tapi yang nunggu
ada yang jaga di metadon, ruang obat.
pengelola
banyak jadi agak sulit juga, terus untuk
Jadi masih mencukupi begitu juga di
obat
pelayanan obatnya juga ribet.
ruang obat.
Pertanyaan
3.
P2
P5
P6
Upaya
Dokter harus bagi jam waktu kerja, Yah kita sih fleksibel aja, kalau yang Kan sudah ada pembagian kerjanya,
untuk
sebenarnya kita bisa aja masuk tiap hari disana udah ga ada kerjaan ya berarti jadi sesuai itu juga sudah cukup kok,
mengatasi
tapi kan pembagian pasien jadi ga rata. bantuin yang disini yang lagi banyak tapi emang kdang suka keteteran.
kendala
Ada yang maunya sama saya aja atau ke kerjaan. Kaya gitu aja..
kecukupan
dr. Andi jadi suka-suka mereka, jadi
dan
inikan ga enak. Makanya bikin pembagian
kesesuaian
1 hari ada 2-3 dokter jadi waktunya mau-
pengelola
ga mau mereka ke dokter tersebut, jadi
obat
waktu liburnya bisa kita manfaatin buat
istirahat.
Pertanyaan
P2
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
P4
P5
P6
172
4.
terlibat
dalam Kebetulan saya dibantuin Yang
Tenaga
Yang terlibat dalam perencanaan itu ya PJ
Yang
yang
obatnya, perawat yang bantuin sama
perencanaan obat setau saya sama temen saya mas merencanakan obat
terlibat
dokter-dokter juga.
itu Koordinator Poliklinik, PJ angkat,
saya
yang ada
dokter,
obat
dalam
Obat, juga dr. Yusman yang mentahnya nanti dia yang yang akan diadakan
perencanaa
biasanya mengubungi suplier ketik-ketik atau gimana disesuaikan dengan
n kebutuhan
untuk pengadaan obat.
lalu terus hasilnya kasih penyakit yang ada
ke dokter, nanti dokter disini, kemudian do
obat
yang ngurus ke depan,
biasanya dr. Yusman.
5.
Jenis
Kita pernah ikut pelatihan HIV-AIDS, Perawatan mengenai penyakit Pelatihan
pelatihan
TBC, kewaspadaan, Universal Precaution yang biasanya ada pda penjara pernah
yang
yang
kaya
udah Pernah
ada
metadon, pelatihan , dulu sih
telah pokoknya yang melatih dirikita untuk seperti HIV-AIDS, TB. Itu HIV. Kalau dulu pas sering sekarang sih
diadakan
anggap semuanya berisiko, jadi kita selalu dapetnya dari Dirjen bukan awalnya
sering
ada jarang
seperti
anggap napi berisiko walaupun kenanya di dari usulan kita, kita lebih pelatihan, tapi sekarang pelatihan konselor,
bukan penasun, tapi kan bisa aja dia seks banyak nerima. Terus terapi udah
bebas.
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
agak
jarang, pelatihan
HIV-
metadon ini kan Depkes yang padahal sepertinya ada AIDS,
pelatihan
ngadain di beberapa lapas kaya kebutuhan juga .
TBC,
pelatihan
di Grobogan, Bali, pondok
perawat
LP,
Bambu.
kita beda dengan
kan
173
perawat RS karena
disini
risikonya
lebih
tinggi
dibandingkan
dengan
perawat
biasa.
Pertanyaan
6.
P1
kita
P3
Jenis
Kan
pelatihan
berdasarkan
yang
dari
diharapkan
orangnya berapa untuk medis
untuk
pelatihan TC misalnya diikutkan
diadakan
kemudian
P4
P5
pelatihannya Kadang kalau Ya itu tadi, tentang seputar Pelatihan
permintaan bukan
Kanwil,
manajemen
minta masalah
yang
kesehatan. inginkan
Manajemen logistik obat atau logistik
P6
ya
obat,
saya Belum pernah ada
tentang pelatihan
tentang
farmasi manajemen,
yang yang lainnya. Kita kayaknya atau sejenisnya lah. Pada biasanya bukan kita
perlu juga tuh.
kita orang Binadik
awalnya
kita
jejaring
susah
bikin yang ditunjuk kalau
banget, ada
pelatihan
koordinasikan ke kepala atau
kita belajar sendiri atau seperti itu, padahal
bimkemaswat
learning by doing aja, sepertinya penting
mereka
kasih
terus Bimaswat.
nama- Terus
kita ga ada gambaran juga.
namanya, jadi ya buat pelatihan apa
bagaimana
pelatihan terserah dari yang
sampai
yang diatas.
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
diadain
perlu
ya
obat
caranya
ini
ada,
bagaimana cara ngasih
174
sebenarnya
obat ke napi. Waktu itu
sudah
memang
cukup
7.
pelatihan manajemen ya,
mungkin ada
tapi yang dikasih bukan
beberapa
ke
kita
tapi
orang
orang
disini
Bimkemasswat, mungkin
yang
belum
dikira
P2
saya,
ada
banyak ya tapi
P3
yang Kalau
kita
ga
terlalu
butuh itu kali ya..
pernah ikut.
Pertanyaan
pernah
P4
P5
dari Sepertinya sudah cukup yah, Kalau kuantitas sih cukup, tapi kualitas belum
Harapan
Harapan
terhadap
penting SDM ditambah segi kuantitas memang
kita
ga
punya dan memang harus ditingkatkan. Kerjasama
SDM
di terutama ya dokter dan si mencukupi, apoteker tapi kayaknya masih antar dokter dan perawat perlu ditingkatkan
masa
perawat, dialokasikan ke tapi mungkin bisa di handle deh. Perawat- lagi, karena kadang kita minta obatnya apa tapi
selanjutnya.
kesehatan karena selama kualitas
aja perawat juga sudah mencukupi dikasihnya beda.
ini ga ada yang benar- yang
kok.
benar dialokasikan untuk kurang.kendal
kesehatan
a
yang
dihadapi
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
175
sekarang ada
beberapa
perawat yang
ditugaskan di
luar
padahal
SK-nya
dia
dapat di sini.
Anggaran
Pertanyaan
1.
Sumber
P1
P3
P4
P5
sumber
dana Kalau dari LP sendiri, Dana untuk pengadaan Setahu saya anggaran Saya pribadi ga
ditetapkan
oleh dapet dari DIPA tapi obat berasal dari DIPA, dapetnya dari APBN ke tau , saya hanya
Darimana
dana untuk sudah
P2
pengadaan
departemen, dalam hal ini ga besar, tapi ga tau masalah uang ga tau Ka. Lapas kemudian ngerti
obat
Departemen
Hukum
dan ya jumlahnya berapa juga gimana itu ada dibagi
HAM dalam bentuk DIPA dan
yang
ke
pos-pos perencanaan
jelas sama Bu Wiwik, DIPA tersendiri, seperti ke obatnya saja baru
yang sudah diklasifikasikan kebutuhan akan obat memang pertahun tapi obat. Tapi saya ga tahu dokternya
misalnya untuk gaji sekian, semakin
untuk bayar ini sekian dan semakin
lain-lain
untuk
lama dapetnya ya perbulan persis
jumlahnya pesen.
yang
Sumber
bertambah dapetnya dari bendahara berapa, tapi setau saya dana saya ga tau
masing- karena jumlah napi yang megang uang yaitu untuk sekedar estimasi persis
masing kegiatan.
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
yang masuk kan juga bendahara lapas.
ya
sekitar
ya,
Rp.1000 mungkin ada kali
176
meningkat
untuk 1 orang pertahun, ya anggaran ga
Berdasarkan
DIPA
anggep
aja
disini mungkin ga ada
memang sedikit ya
napinya sudah hampir tapi saya ga tau
tapi kita fokus kan
3000 orang, coba itung berapa, saya cuma
pada
obat-obatan
aja ada berapa kira- dapet matangnya
yang paling penting
kira. Yah, sekitar 1,5 – aja dalam bentuk
yang paling esensial.
2 jutaan lah..
Anggaran
kadang
obat,
DIPA
ngerti
tidak
berapa,
saya
harganya
mencukupi
tapi
kebanyakan orang
mengusahakan
obat
bawah ga ngerti
yang
triwulan
(Dinkes)
biasanya
selalu
dapet
dana.
tapi
sekarang
macet.
Logistik
kita
sebenarnya gak kaya
RS,
pasti
anggaran
ada,
RS
Rumah
Sakit Pemerintah juga
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
ga
177
sama.Nah,
kita
bingung Depkumham
yang
punya
pemerintah kan?nah,
kita
dokter
disini
sedangkan yang jadi
masalah obat kita ga
punya, ga ada istilah
anggaran
khusus
untuk obat jadi posnya paling ya buat
makanan,
sandang
yang ada di Binadik.
Kesehatan kan ada
tapi kecil, memang
karena
kita
pembinaan
disini
bukan
pengobatan.
Pertanyaan P1
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
P2
P3
P4
P6
178
2.
Alur
Jadi kita adakan tender pada Para
prosedur
rekanan untuk pengadaan menghitung
perencanaan obat
obat
tersebut
kemudian obat
perawat Saya
yang
tidak
terlalu Saya tidak tahu, coba Yang
jumlah mengetahui.
tanya
keluar
wiwik.
aja
sama
Bu merencanakan
obat
disini
ada
setelah ditentukan PT-nya dengan jumlah pasien
dokter
kita
merencanakan
ajukan
berkas
ke
kelengkapan yang
KPN
pembayarannya
datang
dan berdasarkan
jenis
langsung penyakitnya kan bisa
yang
obat
sesuai
dengan
penyakit
ditujukan kepada rekanan ketauan. Terus hasil
yang diidap oleh
perusahaan
napi
yang dari rekapan perbulan
memproduksi
yang
pesanan
disini,
obat-obatan diajukan ke Kanwil
kemudian dokter
kemudian melalui Binadik yang
merekomendasika
dipesan
datang
sesuai sudah ditandatangani
dengan permintaan.
oleh
TU,
n
ke
perawat
Kepala
kemudian perawat
Kepala
bikin perencanaan
Lapas terus TU untuk
nanti dikasih ke
pengiriman ke kanwil
dokter
dengan
dikasih
ke
Subsi
Binadik
Poliklinik,
Dirjen.
tembusan
terus
Ka.
terus ke keuangan
lapas, selanjutnya
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
179
saya ga tau lagi.
Pertanyaan
3.
P1
engga
P2
sama
P5
Tingkat
Ya,
kesesuaian
anggaran
antara
sebatas cukup dan untuk mencukupi
masih suka
anggaran
anggaran tertentu memang minim
karena masalah uang, karena atau
dengan
kurang
kita
tapi Untuk
P3
memang obat
kebutuhan Kurang sesuai pastinya, Umpamanya
ya
P6
saya Biasanya memang
belum saya sebenarnya kurang mintanya obat ini, tapi kita lebih banyak
apa?pertama, jumlah itu
bicara
masalah
tentang saya dapatnya yang lain pengeluaran
memang
benar daripada
sensitif saya dapatnya obat ini pemasukan
kebutuhan
napi terus meningkat, banget. Lapas itu kan tapi jumlahnya kurang, obatnya makanya
obat
anggaran
semua
terbatas UPT
orang
ya,
jadi
yang misal mintanya 5 tapi seringnya
yang berhak jawab itu ya Ka. Cuma dikasih 3.
kekurangan obat.
sakit harus dikasih Lapas. Kalau menurut
obat
padahal saya sih alokasi untuk
kunjungan
banyak, kesehatan kurang.
bisa cepet habis kan
obatnya?
Padahal
harus 2-3 kali lagi
mereka datang.
Pertanyaan
4.
Tindakan
P1
Kita kan ada DIPA misalnya Kita
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
P2
P3
P5
P6
selalu Sebenarnya kita sudah Pada saat saya ga dapet Kita minta obat
180
yang
ada dana sekian ya jadinya melakukan
dilakukan
segitu
dalam
boleh lebih dari itu.
dana
setahun,
mengajukan
ga pengadaan
anggaran obat
dari
LP
atau dari Sudin Jaktim
obat tapi yang kita dapetin ga obatnya kurang, saya tiap bulan bikin
secara
rutin
tiap sesuai
menyiasati
bulan
yang
jadi diinginkan, jadi ya kita bagaimanapun caranya butuh
kekurangan
prioritas untuk obat- minta obat dari Dinkes obat dapet untuk bisa berapa,
obat
obatan
untuk atau BNN.
yang harus
cari
keluar proposal
misal
obat
menutupi kekurangan, pemakaian
penyakit yang paling
kadang kita minta obat berapa, obat yang
banyak terjadi di LP.
dari napi yang dijenguk diterima
Lagipula
keluarganya, tapi itu Selain
dokter
sebagai
kita
bisa
jarang.
berapa.
itu
kita
bikin
paling banyak terjadi
terus
kita
di LP dan yang paling
minta obat sendiri dari langsung
mudah
luar seperti dari Sudin kadang
menular.
TBC
untuk
kadang
kita
juga
Kebanyakan dapet bantuan dari
membaca apa yang
Obat-obatan
proposal BNN tiap 6 bulan
berusaha sekali
kadang
dapet,
perlu
itu ga bayar, selain itu proposal.
Untuk
kita minta dari BNN pengadaan
dari
ambil dari bantuan
tapi
Puskesmas karena ini
tergantung mereka mau kita
juga
program
kasih atau engga kita langsung dari LP,
gratis,
ga bisa paksa harus jadi ga ada uang
pemerintah
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
dengan
itu
semua Poliklinik sendiri
dapetnya
181
kita beli pun mahal
kasih.
di
Poliklinik,
untuk 1 orang butuh
dikasih
dari
obat untuk 6 bulan
Binadik
dalam
kalau 10 orang kan
bentuk
obat.
harus
Makanya
sediain
obat
kita
untuk 60 bulan. Terus
sering kerjasama
karena
dengan
kita
ambil
LSM,
obat-obatan yang jadi
misalnya
prioritas, maka yang
PKBI kita bikin
tidak termasuk daftar
proposal misalnya
perencanaan
untuk ARV, yang
obat
YPI,
seperti infus mereka
buat
harus beli, bisa kita
opportunistik
sediaan terus mereka
misal buat TBC
bayar atau kita kasih
biasanya
sih
resep nanti mereka
dapetnya
sesuai
yang tebus keluar.
dengan
penyakit
permintaan,
tapi
kalau kita minta
ke Sudin belum
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
182
tentu dapet sesuai
dengan
yang
diminta.
Metode
Pertanyaan
1.
Ketersediaan
P2
SOP
yang
P3
P4
P5
P6
mencakup Untuk obat kita punya SOP yang udah ada apa Kita ga ada SOP buat Sebenarnya ga
SOP kegiatan pelayanan kesehatan yang ga ya?kurang tau saya ya?
Oh
SOP obat, mungkin karena ada SOP-nya,
iya,
perencanaan
ada disini diterbitkan oleh tapi kalau buat metadon metadon, tapi untuk SOP Poliklinik tingkatannya kalau
obat
Dirjen
ada
Pemasyarakatan sih ada namun untuk yang lainnya kayaknya masih kecil jadi masih SOP-nya kan
mulai dari bagaimana napi pelayanan-pelayanan
belum ada. Kalau buat mudah
masuk, data berita acara, umum lainnya belum perencanaan
anamnesa,
pemeriksaan
riwayat ada.
Misalnya
aja yang ada.
di
lapas
umum
pimpinan.
kita
ya menjalankan
kadang-kadang
tergantung
kita
untuk kaku
dan
saya mudah
ada kurang tahu, tapi secara koordinirnya, tapi ga bertolak
fisik, kejadian-kejadian
pengobatannya, Cuma itu khusus
obat
termasuk kadang
kebijakan
juga
ya
kalau belakang
metode dokternya
ada
yang jadinya
udah tau
perencanaan obat kok.
nyimpen SOP-nya.
,
disesuaikan
dengan
kondisi
yang
di LP aja.
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
183
Pertanyaan
2.
P2
P4
P6
pakai Saya ga tau tentang metode kaya gitu karena saya Sesuai dengan
Metode yang Metode itu yang tau Bu
.
digunakan
metode
berdasarkan perawat ya, bukan apoteker atau orang manajemen kebutuhan
dalam
konsumsi
ya.
menentukan
soal
jenis
sebagainya
wiwik.
dan
jumlah obat
Sepertinya
P5
metode
Kalau jadi saya ga ngerti yang kaya gitu, tapi yang jelas kita
aja,
dan saya mengutamakan obat yang paling penting untuk konsumsi
tanya ada.
obatnya.
langsung aja sama PJ
Sesuai dengan
obatnya.
yang
dibutuhkan
dan obat apa
yang habis.
Pertanyaan
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
P2
P5
184
3.
Cara
Itu, biasanya yang ngitung perawat-perawat yang
Ya dengan itu, dengan turus-turus itu, misalnya CTM 2 x 1, Amox 2
bertugas di kamar obat.
x 1 terus nanti dihitung obat-obat tersebut selama sebulan habis
perhitungan
berapa.
rata-rata
pemakaian
obat
4.
Berapa
kali
2 kali berdasarkan DIPA, tapi itu ga pasti semakin
Biasanya bisa sampai 6 kali saya minta ke dokter, tapi ga sampai 6
dalam setahun banyak yang berobat, jadi semakin banyak obat yang kali saya dapet obat dalam setahun. Ya itu juga tergantung dananya
dilakukan
dibutuhin, jadi pengadaan bisa 3 kali juga.
yang di depan kan?
perencanaan
obat.
5.
Bentuk
Ya, kita pakai yang kaya di puskesmas aja, ada Kita pakai seperti yang ada di Puskesmas, kita kan dapet standar
pelaporan
laporan pemakaian obat bentuknya kaya LPLPO pencatatan obat seperti puskesmas, dapetnya dari Sudin Jakarta
pemakaian
gitu.
Timur tapi nanti kita kasih ke atasan kita.
obat.
Sarana
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
185
No
Pertanyaan
P2
P3
P4
1.
Ketersediaan
Sarana dan prasarana yang Kayaknya
dan
menunjang
kecukupan
obat sih cukup, kan hanya perencanaan
sarana
sederhana aja kan. Seperti obat cukup aja, kalau
penunjang
buku stok dan lain-lain.
P5
sih Mengenai sarana dan Untuk perencanaan obat Standar aja yah, udah
buat prasarana secara umum sih
perencanaan kalo
P6
sarananya
cukup cukup
lumayan.
kita sih sudah berusaha memadai kok, kan hanya Peralatannya
tapi kalo yang dengan
udah
dibandingkan buku stok, pengeluaran, masing-masing
RS
mungkin pemesanan
obat
ada
dan yang buat Poli Gigi,
Poliklinik masih jauh tapi klaau komputer sama printer ada yang buat Poli
perencanaan
di
obat
yang
masih dengan LP-LP yang lain aja buat ngetik-ngetik.
Umum, ada yang buat
kurang
ruang kita jauh lebih baik.
Ruang Obat.
rawat inapnya,
sudah
tidak
layak huni lagi,
udah
melebihi
kapasitas.
2.
Sarana
dan Sarana
penunjang Sarana
yang Kita sepertinya perlu Masih
seperti kita
butuhkan Mini Lab tapi terbentur contohnya
kurang
sih, Buat
laboratorium
prasarana
operasional
yang
laboratorium, terus kamar adalah
oleh SDM. Dulu pernah sama rontgen kita ga ada. ada SDM-nya, yah
diharapkan
rawat inap kan kurang. Itu laboratorium,
diadakan peralatan lab- Peralatan itu kan penting, untuk sementara ini
semua bisa berakibat tidak memang pernah nya kalau ga salah oleh untuk
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
laboratorium belum cukup, kita ga
menegakkan masih bisa diakalin
186
langsung pada stok obat ingin diadakan BNN, tapi karena ga diagnosa dari dokter jadi sih kita pake Lab
lho. Cuma yang penting tapi
ada ada
ga
diingat belum tentu semua analisnya.
ditarik
LP memiliki persediaan Padahal
yang lengkap begitu juga cukup
dengan
sarana
SDM-nya,
lab peralatannya.
penting
dan apalagi
untuk
jadi ketauan
jelas
apa Paramita, kita undang
lagi penyakitnya jadi ga salah mereka
kasih obat juga.
mereka
kesini
ambil
,
urin
atau darahnya terus
kita bayar.
prasarana. LP di jakarta menegakkan
aja, sarana dan prasarana diagnosa.
masih ada yang kurang.
Kita bilang LP kita ini LP
percontohan,
tapi
kenyataanya
masih
kurang,
masih
banyak
yang belum memadai.
Struktur Organisasi
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
187
No
Pertanyaan
P2
P4
1.
Pengaruh
Organisasi ya? Birokrasi kalau di Struktur organisasi sebenarnya Pengaruh
struktur
Poliklinik si ga berbelit-belit, kalau dibuat
untuk
P5
dan Poliklinik misalnya ingin melakukan rujukan ga
pimpinan Kalau disini birokrasi
mempermudah lumayan
organisasi LP di LP ya memang itu prosedurnya kegiatan kan?tapi kenyataannya juga
semakin
mudah
P6
berpengaruh ga
terhadap
terlalu
berbelit-
kinerja belit kita selalu saling
juga. disini, kalau pimpinan kerjasama, kita di LP
terhadap
napi di RS, berarti harus minta Misalnya Poliklinik lagi butuh yang
dulu
sih
enak memang sudah ada
perencanaan
persetujuan dari Ka.Lapas, kalau obat atau perlu perizinan untuk banget kita udah akrab, bidangnya
obat
beliau ga ada yang ditunggu sampai merujuk napi ke RS tapi susah tapi kalau yang sekarang masing dan berjalan
masing-
ada. Mungkin ini terkait juga dan jadi masalah kalau ga ada mungkin karena masih dengan baik. Di LP
dengan status napi itu sendiri sih.
Ka.
Lapas,
persiapan,
selain
itu
pengawasan
perlu baru jadi belum terlalu sendiri
dan kenal
lainnya padahal ini sifatnya cyto.
sifatnya
Suwono gimana.
ga
ada
Pak hambatan karena ada
prosedur
dan
peraturan sejauh ini
berjalan lancar, kita
saling bantu aja.
Pertanyaan
2.
Pengawasan
P1
P2
P5
Pengawasan ya jelas ada, tapi kita Kalau secara struktur organisasi Pengawasan
dan pelaporan ga tau jelasnya bagaimana kalau di yang ngawasin Poliklinik ya langsung
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
P6
dilakukan Biasanya ada, kalau
oleh
Pak dari
LP
yang
188
terkait
Poliklinik, jadi tanya aja sama Pak Binadik,
pengelolaan
Suwono di Binadik, atau tanya aja operasional
obat
di sama PJ. Polikliniknya.
poliklinik.
tapi
kalo
untuk Suwono sebagai Kepala ngawasin
Binadik,
kegiatan Poliklinik Bimkemaswat, pokoknya Kepegawaian, Kanwil
keseluruhan ya drg. Wiwik sama segala apa yang terjadi di atau
Ibu Retno.
Poliklinik
harus
Pak Suwono.
dari
Dirjen.
lapor Bentuk
pengawsannya
macem-macem
tapi
biasanya dilihat dari
absen.
Data
No
Pertanyaan
P1
P2
P5
P6
.
1.
Data
dan Kalau secara umum yang buat Data kunjungan pasien, jenis Data stok obat, kunjungan Berapa jumlah pasien
informasi yang dimasukin di RKAKL seperti penyakit,
kebutuhan
obatnya, pasien,
jenis
penyakit dalam
sebulan,
diperlukan
informasi jumlah napi terus data- jumlah stok obatnya ada semua pasien, itu yang biasanya jumlah
dalam
data penunjang seperti surat-surat di laporan bulanan. Itu nanti diperluin.
diterima, dan jumlah
perencanaan
tagihan, nota, data bangunan dan langsung
obat
obat.
lain-lain, kalau yang di Poliklinik Koordinator Poliklinik langsung
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
diserahkan
oleh
obat
yang
yang
dikonsumsi.
189
kurang ngerti.
2.
Sumber
dan
ke Kepala LP.
data Yaa, kurang lebih sama aja, Laporan bulanan aja udah ada
informasi paling dari laporan bulanan.
yang diperlukan kok.
Biasanya data itu kita Bisa
dilihat
dari
dapet dari pencatatan obat laporan bulanan.
yang diperlukan
secara
harian
yang
dalam
dikumpulkan setiap bulan.
perencanaan
obat.
Kebijakan
No
Pertanyaan
1.
Pengaruh
kebijakan
P1
P5
P6
Kebijakan yang berpengaruh? Kebijakan yang di LP pada Pengaruh
LP Saya gak begitu tau kayaknya umumnya
terhadap
tanya aja sama Bu Yuli.
sebagian
udah
ada
bagus
yang
kebijakan
P7
LP Sekarang sih ga ada
ya, terhadap persediaan obat masalah, dulu awalsaling secara langsung sih ga ada.
awalnya memang ada
persediaan obat
mendukung misalnya setiap napi
karena
secara langsung
yang ingin berobat harus lapor
komunikasi
sih ga ada
dan ngebon dulu dengan penjaga
sekarang
baru boleh ke poliklinik, jadinya
teratasi.
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
kurang
tapi
sudah
190
kan yang dateng ke Poliklinik
yang memang beneran sakit aja.
Terus
buat
kebijakan
PRTM
dari
kan
Depkes
itu
kita
cukup kebantu juga.
Pertanyaan
2.
Ketersediaan
Standar
P5
P6
Kita ga punya standar terapi atau formularium, itu semua Kita pakai aja yang ada dari standar puskesmas yang
terapi tergantung yang dikasih dokter ke napi-nya.
dikasih dari Sudin.
dan
Formularium di
Poliklinik
PROSES
No
1.
Pertanyaan
P2
P3
P4
P5
P6
Dasar
Kita hitung berdasarkan jumlah Sesuai dengan apa Perencanaan
perencanaan
napi yang ada disini nanti yang dibutuhkan oleh berdasarkan
obat
kemudian dihitung berdasarkan poliklinik, karena kita dan jenis obat yang mbak..perencanaan
penyakit
napi
kemari
berapa
yang
jumlah konsumsi
datang kan sudah ada standar habis. Obat habis kan obat
jumlahnya, jika sakit ini minum karena
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
obat Kayaknya berdasarkan Seperti
deh umumnya
aja
deh,
dilakukan misalkan
pemakaian berdasarkan jumlah dan jumlah yang
191
kebanyakan
dari
mereka obat ini dan juga akibat penyakit yang jenis obat yang paling dateng
menderita penyakit kulit, gatel- memperhitungkan
gatel
tapi
yang
simptomnya
aja
diobatin jumlah
bukan tersedia.
dana
diderita
yang disini.
oleh
napi banyak
dikonsumsi berapa, terus
napi atau yang paling kita cek obat
cepat habis di lemari yang
habis
penyebabnya padahal yang jadi
obat, lagian kan bisa apa aja.
penyebabnya ada di dalam sana,
dilihat para napi yang
jadi sulit sehingga tetap terus-
dateng penyakitnya apa
terusan
jadi tentu aja obatnya
sakit
Kesimpulannya,
kulit.
berdasarkan
tertentu
yang
habis
kebutuhan obatnya, berdasarkan
misalnya
jenis
pasti salep yang paling
penyakitnya,
kunjungannya berapa jumlahnya
sakit
gatel
banyak habis.
kan kita bisa rata-rata bentuk
sediaan. Kita prioritas pake
yang
generik,
yang
paten
biasanya dari BNN tapi ada juga
sih beli yang paten tapi ga
banyak.
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
192
Pertanyaan
2.
Kriteria
yang
P2
obat Yah sesuai dengan kebutuhan, kita usahain beli obat Kami disini yang penting obat tersedia, jumlahnya banyak dan
harus generik supaya budget yang ada bisa kita maksimalin.
murah, jadi ngapain beli obat paten kalau generik aja bisa
dipenuhi dalam
sembuh, jadi saya maunya beli yang generik aja tapi ada juga
pemilihan obat.
kita beli obat paten kalau yang generiknya susah didapat.
Pertanyaan
3.
P3
P5
P6
Lama rata-rata Itu ga bisa dipatok ya, kemarin aja saya sebulan ga dapet Lead time-nya biasanya 1-2 bulan, jadi kita minta sebelum
waktu tunggu
obat. Terus bantuan dari Sudin dan BNN juga ga bisa habis, kan kasihan juga mereka kalau obat-nya habis
dipatok juga, itu tergantung dari sananya.
OUTPUT
No
1.
Pertanyaan
P2
P3
P5
Kejadian stok Stok kosong sering terjadi, kalau untuk rata-rata Stok kosong biasanya terjadi pada Stok kosong sering banget
kosong
dan sebulan, 2 bulan, 3 bulan. Kita kadang ditransfer oleh obat-obat
seperti
salep
untuk terjadi, terutama untuk obat-
penyebab
BNN mungkin 2 bulan sekali. Tapi itu kan tergantung penyakit kulit, karena banyak napi obatan buat penyakit yang
terjadinya
anggaran masih ada atau engga, kalau kita punya yang dateng dengan gejala seperti mayoritas dialami oleh napi
stok kosong
plan tapi duitnya belum ada ya percuma, karena kita itu,
jadi
salep
gampang
habis disini, seperti penyakit kulit.
dapat bantuan dari DIPA tapi tidak alokasi buat obat, sebelum ada pengadaan obat lagi.
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
193
tapi
buat
makanan,
baju,
listrik.
Sebenarnya
penyebabnya saya ga tau pasti, kita selalu berusaha.
Kalo dibilangin DIPA buat anggaran kesehatan ga
ada tapi kita menjalin networking dengan puskesmas
kecamatan dan Dinkes Jakarta Timur, kebutuhan
yang dituliskan di form berapa kemudian dilaporkan
ke Kanwil.
Pertanyaan
2.
P3
P5
P6
Kejadian over Obat yang paling banyak stoknya biasanya obat yang Over stock terjadi pada obat yang Over stock biasanya pada
stock
dan dikasih dari BNN atau Dinkes, seperti obat jarang dipake, jarang habis kayak obat-obat penenang seperti
penyebab
psikotropik. Mungkin karena kita LP narkotika jadi analgesik yang buat orang sakau, Diazepam,
terjadinya
dikira butuh banyak obat kaya gitu.
over stock
obat kolesterol, diabetes, jantung. banyak
Memang ada sih napi yang pake, karena
tapi jarang.
dapet
banget
dipikir
kiriman
mungkin
kita
LP
narkotika jadi butuh banyak
Diazepam, padahal disini ga
terlalu butuh-butuh amat.
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
194
3.
Penyebab
Permintaan cyto ga ada , paling untuk obat yang
Permintaan cyto ga pernah sih, tapi
Tidak pernah terjadi
terjadinya
emang ga ada sama kita terus oleh keluarganya yang
dulu pas tahun 2005 waktu ada
permintaan cyto, kalau
permintaan
nebus.
wabah diare pernah terjadi, jadi saya
misalnya kita memang ga
minta
punya obat kan bisa kasih
cyto.
Ka.lapas
langsung
dan
uangnya
uangnya
dari
memang
langsung dari Ka. Lapas sendiri.
resep nanti minta
keluarganya yang beli di
luar.
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
195
196
CHECK LIST/ DAFTAR TILIK PERENCANAAN PERBEKALAN OBAT
DI POLIKLINIK LEMBAGA PEMASYARAKATAN
KELAS II A NARKOTIKA JAKARTA
No.
Kegiatan
Ya
Tidak
Keterangan
Data
1.
Terdapat buku agenda penerimaan dan
√
Disesuaikan
pengeluaran obat/LPLPO
dengan
standar yang
ada di
puskesmas
√
2.
Terdapat Kartu stok obat
3.
Terdapat catatan harian penggunaan obat
√
4.
Terdapat data jumlah kunjungan pasien
√
5.
Terdapat data jenis penyakit
√
6.
Mempunyai standar/ pedoman pengobatan
√
7.
Mempunyai formularium
√
8.
Membuat berita acara obat kadaluarsa/rusak
√
9.
Terdapat data alokasi dana/ anggaran
√
10.
Terdapat data obat stok kosong
√
11.
Tersedia catatan pemusnahan, mutasi obat
√
terdiri dari tanggal, waktu, saksi dan cara
pemusnahan.
12.
√
Terdapat kebijakan dari LP khusus untuk
yankes dan obat di poliklinik.
Metode
1.
Terdapat petugas yang bertanggung jawab
√
untuk melakukan penerimaan obat.
2.
Petugas memeriksa kemasan pada waktu
penerimaan
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
√
197
3.
Petugas
penerima
membuat
catatan
√
penerimaan sesuai dengan form yang tersedia.
4.
Petugas
memeriksa
kesesuaian
antara
√
obat/alkes yang diterima dengan item obat
yang dikirim yang tercatat pada LPLPO
5.
Petugas
penerima
mencatat
dokumen
√
penyerahan barang dalam buku penerimaan
barang.
6.
Petugas
memeriksa
item
obat
yang
√
seharusnya disimpan dalam lemari pendingin
7.
Petugas memeriksa masa kadaluarsa obat
√
yang diterima.
8..
√
Petugas membuat Berita Acara penyerahan
obat yang rusak atau kadaluarsa.
9..
Petugas menyimpan obat yang kadaluarsa
√
atau rusak secara terpisah
10.
Petugas melakukan perhitungan harian obat
√
Dibuat
yang dipakai.
dengan
menggunakan
turus obat
yang dipakai
11
Petugas melakukan perhitungan rata-rata
√
Merupakan
penggunaan obat dan alkes habis pakai
akumulasi
perbulan
dari
perhitungan
obat harian
12.
√
Petugas memperhitungkan lead time dalam
perencanaan obat
13.
√
Petugas memperhitungkan stok cadangan
dalam perencanaan obat
14.
Petugas menghitung stok kosong obat
15.
Petugas menghitung stok yang berlebih
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
√
√
198
16.
√
Stok optimum dihitung untuk masing-masing
item obat
17.
√
Stok optimum dicatat pada masing-masing
kartu stok obat
Tidak
memiliki
kartu stok
obat
18.
Petugas membuat permohonan tertulis waktu
√
melaksanakan pemesanan (LPLPO)
19.
Petugas menulis informasi pada permintaan
√
obat dengan jelas.
Sarana
1.
Tersedia meja dan kursi administrasi yang
√
memadai
2.
Tersedia komputer dan printer
√
3.
Tersedia alat komunikasi (Telepon/ Faximile)
√
4.
Tersedia Alat Tulis Kantor (ATK) yang
√
cukup
5.
Tersedia rak dan lemari penyimpanan arsip.
6.
Tersedia ruangan khusus untuk penyimpanan
√
obat .
√
7.
Tersedia rak/lemari penyimpanan obat.
√
8.
Tersedia
ventilasi,
sirkulasi
udara
dan
√
penerangan yang memadai.
9.
√
Kunci ruangan penyimpanan hanya dipegang
oleh petugas obat dan Kepala Poliklinik.
Kunci
ruangan di
pegang oleh
petugas piket.
10.
Gudang obat terpisah dari ruang pelayanan .
11
Atap gudang dalam keadaan baik dan tidak
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
√
√
199
ada yang bocor.
12.
Jendela mempunyai teralis dan dipasangi
√
gorden.
13.
√
Tersedia ketentuan dilarang masuk ke tempat
penyimpanana selain petugas.
14.
Tersedia ruang yang cukup untuk bergerak di
√
Masih bisa
dalam ruangan penyimpanan.
bergerak tapi
kurang leluasa
15.
√
Pengelompokkan obat dilakukan menurut
alfabetis dan bentuk sediaan.
16
Lemari pendingin/ kulkas ada dalam kondisi
√
Terdapat dua
baik. Obat yang membutuhkan suhu dingin
buah lemari
disimpan dalam kulkas.
es, yang satu
kondisi baik,
yang satulagi
kondisinya
rusak.
17.
√
Obat dikelompokkan dalam jumlah yang
mudah dihitung.
18.
Obat kadaluarsa dipisahkan dari obat yang
√
belum kadaluarsa
19.
Penyimpanan obat kadaluarsa terpisah/tidak
√
dalam satu lemari
Sumber acuan :
Departemen Kesehatan RI. 1990. Pedoman Perencanaan dan Pengelolaan Obat.
Dirjen POM, Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 2002. Daftar Tilik Jaminan Mutu (Quality Assurance)
Pelayanan Kefarmasian di Pelayanan Kesehatan Dasar. Dirjen Pelayanan
Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Jakarta .
Gambaran perencanaan..., Amalia Zulfah D.H.W., FKM UI, 2008
Download