I. PENDAHULUAN

advertisement
BIOLOGI SERANGGA PENGGEREK KAYU
RIDWANTI BATUBARA, S. HUT
Fakultas Pertanian
Program Ilmu Kehutanan
Universitas Sumatera Utara
I. PENDAHULUAN
Kehidupan serangga adalah proses perkembangan atau berubahnya bentuk
dan ukuran tubuhnya yang tidak akan kembali lagi ke bentuk semula dengan
berbagai kegiatannya. Dimana serangga tersebut melakukan berbagai gerakan,
tumbuh, berkembangbiak, peka terhadap lingkungan dan mengadakan proses
metabolisme.
Keberadaan serangga sebagai salah satu komponen biotik dalam suatu
ekosistem mutlak diperlukan.
Keberadaanya dalam ekosistem mengakibatkan
berlangsungnya interaksi antara serangga dengan komponen biotik lainnya. Salah
satu jenis serangga adalah serangga penggerek kayu, dimana penamaan jenis ini
berdasarkan aktivitasnya yang suka menggerek kayu terutama kayu-kayu yang
masih sgar (setelah ditebang).
Ketika serangga menggerek kayu terutama yang dipakai atau yang akan
dimanfaatlkan oleh manusia adalah menjadi suatu masalah karena akan merusak
kayu tersebut dan mengurangi nilai keindahan kayu tersebut.
Hal ini jelas
merugikan bagi manusia.
Mengetahui biologi serangga penggerek kayu adalah suatu hal yang esensial
bagi masyarakat pengendali serangga ini, sedangkan bagi masyarakat umum hal ini
bermanfaat sebagai penambah pengetahuan untuk menghindari kerugian ekonomis
yang diakibatkan oleh serangga ini.
Biologi serangga penggerek kayu yang akan diuraikan dalam tulisan ini
meliputi siklus hidupnya, makanan dan hubungannnya dengan mikroorganisme
dalam saluran pencernaanya. Biologi ini merupakan pengetahuan yang dasar sekali
tentang serangga penggerek kayu ini.
II. BIOLOGI SERANGGA PENGGEREK KAYU
Serangga (klas Insecta) termasuk dalam filum Artrophoda. Karakteristik
Artropoda adalah mempunyai tulang belakang yang keras yang terdiri dari beberapa
bagian. Anggota lain Artropoda adalah laba-laba, kelabang, ketam dan kutu. Bagian
tubuh serangga terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, thorak (rongga dada) dan
abdomen (perut). Ukuran dan bentuk tubuh serangga ini bervariasi tergantung
fungsi dan posisinya.
Kepala serangga bergabung dengan thorak dan mempunyai sepasang antena.
Bagian mulut terdiri dari sepasang rahang, dua pasang maxilla, labrum dan labium
seperti pada pasangan yang menyusun mata.
Rahang bagi larva serangga
penggerek kayu khusus yaitu beradaptasi untuk menggerek kayu.
Rongga dada terbagi dalam tiga bagian (pro, meso dan meta thorak) yang
masing-masing terdapat sepasang kaki. Masing-masing kaki terdiri dari lima bagian
dasar. Pada sebagian besar serangga fungsi sayap tidak berkembang, mungkin
hanya untuk waktu yang singkat dari siklus hidupnya atau mungkin menjadi bekas
atau sisa (vestigial).
2002 digitized by USU digital library
1
Abdomen (perut bagian bawah) terdiri dari beberapa bagian, umumnya tidak
saling merekat, kecuali untuk struktur sensor dan organ perkembangbiakan dari
bagian berikutnya.
A. Siklus Hidup Serangga
Serangga mempunyai tahap pertumbuhan dari awal sampai akhir dalam
hidupnya, mulai dari telur sampai mencapai kematangan seksual, kawin dan
memproduksi generasi selanjutnya.
Perubahan ini terlihat dan disebut
metamorfosis.
Tahap pertumbuhan yang berbeda ini terlihat dan berlaku
berbedabeda untuk tiap jenis serangga.
Siklus hidup serangga dimulai dari
pembuahan sampai kematian. Pada berbagai serangga kayu, siklus serangga dapat
berlaku dalam beberapa tahun.
Secara umum, ada dua tipe berbeda dari siklus pertumbuhan serangga,
metamorposis lengkap dan tidak lengkap.
Dalam metamorposis tidak lengkap ada tiga tahap pertumbuhan serangga,
telur – kepompong – serangga dewasa, dan terlihat pada beberapa
perkembangan kecil grup serangga perusak kayu, contohnya rayap (Isoptera).
Tahap pertama, kepompong tidak seperti serangga dewasa dan kepompong
berkembang dan berganti bentuk menjadi serangga dan menjadi serangga yang
lebih mirip dengan serangga dewasa.
Metamorposis tidak lengkap adalah
hemimetabola. Pada tipe ini ada pertumbuhan sayap keluar dari tubuh serangga.
Dalam metamorposis lengkap, serangga melewati empat tahap pertumbuhan,
teur – jentik-jentik (larva) – kepompong (pupa) – serangga dewasa, dan ini terlihat
lebih berkembang dalam grup serangga perusak kayu, contohnya Coileoptera,
Hymenoptera, lepidoptera. Tahapan jentik-jentik menghabiskan sebagian dari siklus
hidup makan dalam kayu dan meningkatkan ukuran tubuh dalam pertumbuhannya.
Selama menjadi kepompong tidak perlu makan tetapi larva menjadi merubah tahap
kedewasaan. Hal ini merupakan perubahan kasar dalam rupa pada tahapan berbeda
dan tipe metamorposis ini adalah termite hemimetabola, dimana tipe ini
menumbuhkan sayap dari dalam pada tahapan jentik-jentik serangga.
Pada beberapa serangga perusak kayu, kerusakan terbesar pada tahapan
jentik-jentik meskipun pada beberapa hal baik larva maupun serangga dewasa
merusak kayu.
B. Makanan
Serangga perusak kayu melengkapi diri dengan bagian mulut untuk adaptasi
khusus dalam kegiatan makannya, yaitu mencabik-cabik dan mengunyah bahan
makanan padat sehingga dihasilkan partikel yang berbeda ukuran dari beberapa sel
kayu seperti pada Hylotrupus sampai bubuk yang halus seperti lyctus.
Setiap kepingan kayu diserap oleh mulut serangga dimulai dengan
penghancuran dan penyerapan. Untuk pertumbuhannya serangga perusak kayu
butuh untuk mengasimilasi bermacam bahan makanan yang utama seperti air,
nitrogen organik, dan sumber karbon organik , yaitu air bebas dan air terikat dalam
kayu, simpanan air serta bahan struktural kayu. Meskipun mineral dan vitamin
dibutuhkan, namun secara umum dipandang terbatas bagi perkembangan serangga
dalam kayu. Penghancuran dan penyerapan kayu dilakukan dalam sistem usus
serangga.
Secara umum, usus serangga terdiri dari tiga bagian, bagian depan, tengah
dan belakang. Semua bagian usus menunjukkan pengocokan dan gerakan peristaltik
dimana akan mencampur dan membawa partikel kayu serta melewati usus.
2002 digitized by USU digital library
2
Usus bagian depan berfungsi untuk menyimpan meskipun ada reduksi dalam
bentuk partikel untuk meningkatkan areal permukaan makanan dimana enzim
pencernaan dapat dikeluarkan untuk mencapai kayu, beberapa serangga perusak
dengan kapasitas pencernaan yang besar (Anobium functatum). Adaptasi usus
depan dengan empedu penggiling (proventriculus) yang membantu proses.
Pencernaan lebih lanjut untuk karbohidrat, protein dan lemak terjadi dalam
usus bagian tengah. Meskipun beberapa pencernaan selulosa disebabkan oleh
selulase mikrobiologi dalam usus bagian belakang pada beberapa group serangga
dan rayap berukuran lebih kecil. Selulase dari serangga alami pada umumnya
terbentuk di bagian usus tengah.
Penyerapan air degradasi polimer menjadi
monomer (monosakarida, asam amino) dan trigliserida terjadi dalam usus tengah
meskipun beberapa penyerapan terjadi pada usus bagian belakang.
Secara umum, kadar air kayu yang menyokong perkembangan beberapa
serangga perusak kayu dapat lebih rendah daripada yang dibutuhkan pada
perkembangan jamur, tapi harus diingat bahwa ada serangga yang menyerang kayu
basah, terutama pada kondisi kayu segar, contohnya Ambrosia beetle yang hanya
menyerang kayu yang kadar air lebih dari 30 % atau pada kayu yang lapuk dan
lembab, contohnya Warf borer : Nacerdes metamara. Pada selang kadar air yang
kecil, rayap kayu kering (Kalotermes) menyerang kayu dengan kadar air 5-6 %.
Serangga yang biasa terdapat pada kayu struktural di negara temperate Anobium
functatum akan bertahan dalam kayu dengan kadar air 12 %, tapi perkembangan
optimal dari jentik-jentik (larva) pada kadar air titik jenuh serat. Anobium rupanya
dapat bertahan pada kondisi yang lebih basah tapi tidak dapat bertahan dimana kayu
jenuh oleh air secara permanen dan kadar air yang tinggi dapat menghambat
beberapa aktivitas serangga.
Kandungan nitrogen kayu terbesar terdapat pada kayu gubal terluar.
Pengeringan kayu contoh Pinus sylvestris menunjukkan tingkat permukaan nitrogen
o,22 % dimana pada contoh 0,041 % yang sudah diteliti. Kandungan nitrogen pada
umumnya terbatas jumlahnya dalam kayu. Larva Anobium dapat tinggal dalam kayu
dengan kadar atau kandungan nitrogen yang sangat rendah.
Bahan makanan yang menyuburkan sesudah penghancuran mikrobiologi dari
karbohidrat kayu dapat merubah vasio karbon : nitrogen kayu, yang selanjutnya
berpengaruh pada pertumbuhan serangga tetapi pada beberapa rayap bakteri
pengikat nitrogen terisolasi sehingga membatasi jumlah makanan rayap.
Jaringan berkayu dapat hancur menjadi monomer karbohidrat sedangkan
lignin yang dihancurkan terbatas.
Serangga menunjukkan selang lebar dalam
kemampuannya untuk menghancurkan kayu dimana hanya memanfaatkan pati
tampa kayu, contohnya Lyctus, dimana dia mampu untuk mencerna selulosa,
hemiselulosa dan lignin, meskipun penghancuran lignin tidak begitu luas tapi
beberapa rayap bisa mencernanya.
Pilihan beberapa serangga untuk tipe partikulan adalah berhubungan dengan
makanannya. Genera seperti Lyctus tumbuh cepat tapi hanya dapat menyerang
kayu yang kaya akan pati, sedangkan Anobium tumbuh perlahan tapi mampu
mencerna jenis kayu lebih banyak.
Pada beberapa serangga menunjukkan dapat menghasilkan selulosa sendiri,
contohnya Hylotropes bajulus.
Namun demikian banyak membantu pada
pencernaan mereka dengan bermacam ikroorganisme keduanya dengan usus depan
serangga seperti enzim pencernaan mikrobial dengan kayu sama seperti dalam
pengaruh pendahuluan makananatau pengkondisian awal dengan mikroorganisme
untuk dapat memakan.
2002 digitized by USU digital library
3
C. Hubungan Pencernaan Serangga Dan Mikroorganisme
Pencernaan serangga dan asimilasi terhadap kayu dan nutrisi dibantu dengan
adanya mikroorganisme dengan cara-cara tertentu yaitu :
1. Mikroorganisme menghasilkan enzim dalam subtrat lambung
2. Subtrat dari pencernaan mikroorganisme primer digunakan untuk pencernaan
3. Kandungan nutrisi dalam bentuk sel mikroba dari metabolisme
4. Mengubah atau menhancurkan zat ekstraktif kayu
5. Mikroorganisme yang hidup dalam usus menghasilkan dan melepaskan enzim
6. Mikroorganisme yang berfungsi sebagai dekomposit melepaskan karbon utama
untuk serangga mengasimilasi makanannya
III. PENUTUP
Serangga penggerek kayu adalah salah satu hama hutan dan hasil hutan
yang menyebabkan kerugian yang sangat berarti bagi manusia.
Pengetahuan
mengenai biologi serangga penggerek kayu ini bisa dijadikan sebagai modal
pengetahuan untuk mengendalikan serangga ini dengan pengendalian secara
biologis.
DAFTAR PUSTAKA
Borror, D. J, C. A Triplehorn and N. F Johnson. 1982. An Introduction to the Study of
Insecs. Sixth Edition. Saunders Collage Publishing. Advision of Holt. rinehart
and Winston, Inc.
Chapman, R. F. 1982. The Insect : Structur and Function. Third Edition. Harvard
University press. Cambriidge, Masschusett.
Harris Victor, W. 1971. Termites : Their Recognition and Control. Second Edition.
Longman. Bristol, Inggris.
2002 digitized by USU digital library
4
Download