Penyelidikan Terpadu Daerah Panas Bumi Oka, Kab. Flores Timur

advertisement
PENYELIDIKAN TERPADU DAERAH PANAS BUMI OKA,
KAB. FLORES TIMUR-NTT
Oleh:
Bakrun, Herry Sundhoro, Setiadarma Dirasutisna, Dendi Suryakusuma,
Ario Mustang, Timor Situmorang
SUBDIT. PANAS BUMI
ABSTRACT
The geothermal manifestation in this area is in the form of hot spring of Oka, Kawaliwu and
Dusun Haras with the surface temperature range from 47-54 °C. Beside the hot springs also
discovered an altered rock distinguished by strong smell of sulphur.
The stratigraphy of Oka geothermal area consists of 14 rock units and generally consists of
volcanic rock which is dominated by quartenary volcanic rock. The oldest rock is the product of the
volcanic activities of mount Kadeka which the age of lower quartenary.
The cap rocks are estimated in the form of altered rock. Partlly these rocks are found on the
surface, mainly as apart of andesite lava of the Kadeka 3 (Qlk3). Locally the andesite lavas have
been fractured, so that the fractures are as the access of the acid geothermal fluid to change the fresh
rocks become altered rocks. This is supported by geophysical structures in the survey area.
The cap rock zone which lay around altered rock generally coincide with the low resistivity
(<25 ohm-meter) of Line F with the prospect area is baout 1 km2. Based on the sounding geoelectrical
survey, the depth of the upper layer of reservoir is deep (>1000 m) and interpreted as at pyroclastic
flow of mount Waikerawak. This interpretasion is supported magnetic datay which shows low
anomalies in the area.
Hot waters are generally grouped into chloride type and sulphate choride type. The
subsurface temperature is estimated around 162 - 173oC based on silica geothermometer.
The heat source of the geothermal system is interpreted underneath of the volcanic body of
mount Waikerawak or mount Kadeka which have been known as a young volcanic cone (quartenary)
and assosiated with altered rock and hot water.
The potency of gethermal energy in this area is estimated about 6 MWe which can be used
for small scale of electricity or for direct uses.
SARI
Manifestasi panas bumi di daerah ini berupa mata air panas Oka, Kawaliwu dan Dusun
Haras dengan temperatur permukaan berkisar antara 47– 54°C, selain air panas ditemukan juga
batuan ubahan yang dicirikan oleh bau belerang yang menyengat.
Bentuk morfologi daerah penyelidikan termasuk jenis perbukitan bergelombang tajam –
sedang, dengan ketinggian antara 300 – 1300 m dari muka laut dapat dikelompokan kedalanm 3
satuan morfologi yaitu satuan morfologi perbukitan bergelombang tajam, satuan morfologi
perbukitan bergelombang lemah-landai dan satuan petadaran.
Stratigrafi daerah panas bumi Oka terdiri dari 14 satuan batuan pada umumnya terdiri dari
batuan vulkanik yang didominasi oleh batuan hasil aktifitas gunung api Kuarter.
Batuan penudung diduga berupa batuan ubahan. Sebagian batuan ini tersingkap di
permukaan, terutama pada tubuh lava andesit Kadeka 3 (Qlk3). Tubuh lava ini secara lokal telah
terkekarkan, sehingga memudahkan adanya akses fluida panas bumi yang bersifat asam yang
merubah batuan segar menjadi batuan alterasi. Hal ini ditunjang oleh adanya beberapa struktur hasil
interpretasi pengukuran geofisika.
Zona batuan penudung yang berada disekitar alterasi pada umumnya bersesuaian dengan
daerah tahanan jenis rendah (<25 Ohm-meter) yaitu lintasan F dengan luas daerah prospek 1 Km2.
Namun demikian kedalaman puncak reservoir dari hasil sounding diduga masih dalam (>1000 m)
dan diperkirakan terdapat pada aliran piroklasatik G. Waikerawak. Hal ini didukung oleh harga
anomali magnet rendah pada lokasi yang sama.
Kolokium Hasil Kegiatan Inventarisasi Sumber Daya Mineral – DIM, TA. 2003
33- 1
Tipe airpanas di daerah ini adalah tipe khlorida dan tipe sulfat khlorida. Estimasi suhu
bawah permukaan berkisar antara 162 – 173 oC didasarkan pada perhitungan dengan menggunakan
unsur geotermometer silika.
Sumber panas diduga berada dibawah dari tubuh vulkanik G. Waikerawak atau gunung
Kadeka yang diketahui sebagai kerucut muda ( Kuarter) dan berasosiasi dengan batuan ubahan dan
air panas.
Potensi energi panas bumi di daerah ini sebesar 6 MWe yang bisa dimanfaatkan untuk listrik
skala kecil atau untuk “ direct uses “
1. PENDAHULUAN
Flores Timur adalah salah satu Kabupaten di
Wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur yang
tidak memiliki sumber energi fosil seperti
minyak bumi, gas dan batubara, maka untuk
konsumsi energi daerahnya, harus dipasok
bahan bakar dari daerah lain, sehingga
subsidinya menjadi lebih mahal. Untuk
memenuhi kebutuhan energi yang semakin
hari terus meningkat, perlu dicarikan sumber
lain dalam penyediaan kebutuhan tersebut.
Dari data inventarisasi yang pernah dilakukan
sebelumnya diketahui, bahwa daerah Flores
Timur ini memiliki sumber panas bumi yang
mungkin bisa dikembangkan sebagai energi
alternatif.
Sub Direktorat Panas Bumi melakukan
penyelidikan secara terpadu yang merupakan
salah satu kegiatan dari rencana kerja Proyek
Inventarisasi Potensi Panas Bumi pada tahun
anggaran 2003 yaitu : pemetaan geologi rinci,
geokimia dan geofisika
pada daerah
manifestasi panas bumi Oka, Larantuka,
kabupaten Flores Timur- NTT.
Secara administratif daerah survei termasuk ke
dalam 3 wilayah kecamatan yaitu wilayah
Kecamatan Ile Mandiri, Tanjung Bunga dan
Larantuka, Kabupaten Flores Timur.
Luas daerah penyelidikan adalah 13 x 15
Km2, pada posisi geografis antara 907.6000
mN – 908.9000 mN LS – 487.156 mN –
123o
502.000 BT atau 122o 53’ 30’’o
o
01’21.25” BT dan 08 14’30” – 08 21’ 13”
LS (gbr.1).. Daerah penyelidikan ini berada
didaratan pulau Flores paling timur termasuk
dalam peta topografi (Bakosurtanal) skala 1 :
25.000 edisi I tahun 1998 lembar Larantuka
no. 2307 - 4-13, Waiklibang no. 2207 – 642
dan Waibalun no. 2207 - 624 )
1.2 Maksud dan Tujuannya
Maksud penyelidikan ini adalah untuk
memperoleh/mengumpulkan semua data yang
lengkap dan terpadu yang mencakup aspek
geologi, geokimia dan geofisika, daerah Oka,
Larantuka dan sekitarnya.
2. GEOLOGI
Stratigrafi
daerah
penyelidikan
dapat
dipisahkan kedalam 14 satuan batuan yang
urut - urutannya dari tua ke muda sebagai
berikut: Satuan batuan lava G. Kadeka (Qlk1
sampai
Qlk3),
kemudian
lava
G.Waikerawak.(Qlke 1), aliran piroklastik
G.Waikerawak.(Qake), lava G.Waikerawak
(Qlke 2 dan Qlke 3), lava G.Ile Mandiri 1
(QlM 1), Jatuhan Piroklastik Ile Mandiri
(Qjm), lava G.Ile Mandiri 2 (QlM 2),
Gamping Terumbu (G), Endapan lahar (Lh),
hasil longsoran/ Debri Avalanches (Ls) dan
yang terakhir adalah Aluvial (Al) (gbr 2).
Tujuan dari penyelidikan terpadu ini adalah
untuk mengetahui keadaan sistem, fluida dan
potensi panas bumi di daerah panas bumi Oka
berdasarkan kompilasi data dari beberapa
metoda penyelidikan (geologi, geokimia dan
geofisika). Hasil akhir yang diperoleh dari
ketiga metoda tersebut digunakan sebagai
acuan untuk melakukan penyelidikan rinci
berikutnya di masa mendatang.
Satuan batuan hasil kegiatan vulkanik
G.Kadeka yang tersingkap dipantai maupun
aktifitas awal dari G.Waikerawak merupakan
batuan tertua berumur Kuater bawah yang
tersingkap dibagian utara-timurlaut daerah
penelitian dan diperkirakan manifestasi berupa
ubahan yang terdapat di Riangkotek, sumber
panasnya berasal dari tubuh vulkanik tua
Waikerawak.
1.3 Lokasi Daerah Penyelidikan
Penyelidikan terpadu ini lebih difokuskan
pada daerah vulkanik Kuarter dengan
pemunculan manifestasi panas bumi disekitar
Oka di bagian selatan dan Kawaliwu dibagian
utara.
Aliran lava andesit Waikerawak terdapat
batuan alterasi/ ubahan hidrotermal yang
mengidentifikasikan pada daerah tersebut
diduga zona struktur dan akibat aksesnya
fluida panas bumi yang bersifat asam hingga
merubah batuan segar menjadi batuan alterasi.
Kolokium Hasil Kegiatan Inventarisasi Sumber Daya Mineral – DIM, TA. 2003
33- 2
Di daerah ini dicirikan juga oleh bau belerang
yang sangat menyengat. Sifat fisik batuan
ubahan ini adalah: berwarna putih – putih
kekuningan, mengandung mineral lempung
kaolin, alunit dan kristobalit, agak kedap air
dan tidak memperlihatkan ada panas
dipermukaan.
Tersingkapnya batuan ubahan yang intensitas
sedang - rendah pada tubuh G.Waikerawak,
menunjukkan bahwa struktur rekahan yang
ada pada tubuh vulkanik ini masih aktif dan
sangat memungkinkan terbentuknya sistem
panas bumi dan tubuh reservoir sebagai
tempat terakumulasi panas dikedalaman.
Gejala kenampakan panas bumi di permukaan
daerah penelitian terdapat di Oka, desa
Bantala, Mokantarak dan Kawaliwu diduga
berlatar belakang vulkanik serta struktur
geologi (sesar) sabagai kontrol, juga media
transfer panas yang muncul sebagai panas
bumi dipermukaan. Masa panas dari sisa
panas magmatik berakumulasi dengan air
tanah membentuk sistem air panas yang
terperangkap pada rekahan/retakan batuan.
Tubuh reservoir diperkirakan berada pada
zona struktur rekahan pada kedalaman >1000
meter.
3. GEOKIMIA
Dalam diagram segitiga Cl - SO4 - HCO3
(Giggenbach,1988), tampak bahwa mata air
panas Oka 1, Oka 2 dan Oka 3 termasuk ke
dalam tipe air panas Khlorida (gbr.3). Sedang
untuk membuktikan adanya kontaminasi dari
air permukaan atau air laut dapat dibuktikan
dengan ploting kedalam segitiga boron yang
berada pada posisi immature waters
mengindikasikan pengaruh air permukaan
sangat besar.
Sedang dari perbandingan molar Na/K
diperoleh nilai perbandingan antara 5.55 –
10.42,
perkiraan temperatur di bawah
permukaan harus di atas atau sama dengan
200 oC dan nilai perbandingan ini tidak dapat
dipergunakan sehingga rumus geotermometer
yang menggunakan unsur Na dan K kurang
tepat digunakan untuk perkiraan suhu bawah
permukaan (gbr.4), sedang dari perbandingan
Na terhadap Li berkisar antara 2,561.54 –
5,727.27 yang merupakan indikasi terhadap
suhu bawah permukaan yang tinggi. Jadi
dalam perkiraan suhu bawah permukaan
hanya unsur SiO2 baik T SiO2 adiabatic
cooling atau T SiO2 conductive cooling yang
mungkin dapat dipergunakan untuk perkiraan
suhu bawah permukaan.
Unsur lain yang mendukung perkiraan suhu
tinggi adalah kandungan Ca yang berkisar
antara 3.26 -9.60 mg/liter dan HCO3 yang
relatif rendah dibandingkan dengan unsur
kimiawi lainnya yaitu antara 1.58 – 3.76
mg/liter.
Berdasarkan pertimbangan bahwa pemakaian
rumus yang memasukan perbandingan unsur
Na/K harus ≤ 1 dan hasil perhitungan
temperatur harus > 200 oC maka pendugaan
suhu pada pendugaan suhu bawah permukaan
menggunakan Geotermometer “SiO2 adiabatic
cooling” dan “SiO2 conductive cooling” yang
menunjukan kisaran temperatur minimum
antara 162.38 °C – 172.90 °C ( entalpi
menengah).
Berdasarkan "ratio atomic elements" tidak
reaktif yaitu Cl/B (dalam Molar) berkisar
antara 168.82 – 1,166.43, nilai nilai ini relatif
tinggi sehingga berdasarkan tabel mengenai
per-bandingan unsur kimiawi yang merupakan
indikasi terhadap suhu disimpulkan bahwa
suhu bawah permukaan daerah panas bumi
Oka mempunyai suhu tinggi.
Pada grafik hasil analisis isotop air panas
Deuterium dan 18O memperlihatkan mata air
panas Oka 1 sedikit menjauhi garis air
meteorik (meteoric water line) atau biasa
disebut SMOW ( standard meteoric and
oceanic water ) dan menunjukkan adanya
pergeseran Oshift menjauhi garis SMOW
tetapi masih relative dekat dengan garis
tersebut sehingga disimpulkan adanya
pengaruh air permukaan atau air laut.
Penyelidikan Hg tanah dan CO2 udara tanah
dilapangan dimulai dengan pengambilan conto
tanah dan udara tanah di daerah penyelidikan
pada kedalaman kurang lebih 1 meter,
kandungan CO2 dalam udara tanah antara 0.13
– 2.63 % , dengan background value 0.81 %
dan threshold value 1.62% dan kandungan
unsur Hg tanah antara 72.56 -1128.62 ppb
dengan nilai background value 444.25 ppb dan
threshold value 690.34 ppb. Sehingga nilai
yang berada di atas nilai background dan
threshold merupakan indikasi adanya anomali
di daerah penyelidikan.
Hasil analisis tanah dan udara tanah unsur Hg
dan CO2 di plot ke dalam peta (gbr 5 dan gbr
6).
4.
GEOFISIKA
4.1 Gayaberat
Peta Anomali Sisa memperlihatkan struktur
yang agak kompleks, dimana pola konturnya
Kolokium Hasil Kegiatan Inventarisasi Sumber Daya Mineral – DIM, TA. 2003
33- 3
mempunyai nilai anomali positif dan negatif
serta
membentuk
kelompok-kelompok
tersendiri. Dari keadaan ini dapat ditafsirkan
adanya struktur yang muncul atau struktur
geologi yang terletak lebih dalam (gbr. 7).
Pola
anomali
ini
memperlihatkan
kemiripannya dengan anomali Bouguer, hal
ini diperkirakan karena pola anomali Bouguer
secara tidak dominan memperlihatkan adanya
struktur lokal yang berada di daerah
penyelidikan.
Dari
kedua
peta
ini
memperlihatkan kondisi pola kontur yang
relatif hampir sama dan diperlihatkan satu
buah struktur yang
mempunyai arah
baratdaya – timurlaut, dua buah mempunyai
arah hampir utara – selatan dan dua buah
mempunyai arah barat laut - tenggara.
Anomali negatif terletak di bagian barat daya,
tengah, selatan dan barat laut Dari kelurusan
struktur memperlihatkan zona lemah berada
disekitar daerah tengah, barat laut, barat daya
dan selatan, hal ini diperkirakan adanya
struktur yang melintasi daerah penyelidikan.
4.2 Geomagnet
Hasil
penafsiran dari data
geomagnet
diperoleh daerah potensial untuk panas bumi
ditafsirkan disekitar daerah yang didominasi
oleh harga anomali magnet rendah yang
terletak di bagian barat daerah penyelidikan
(gbr.8). Hal ini didukung oleh terdapatnya
manifestasi air panas dibagian barat dan
baratdaya daerah penyelidikan, serta dikontrol
oleh adanya kelurusan-kelurusan anomali
yang ditafsirkan sebagai sesar-sesar.
4.3 Geolistrik dan Head-On
Zona tahanan jenis semu rendah (< 25 Ωm)
yang terletak di bagian barat daerah
penyelidikan juga muncul secara konsisten di
semua bentangan AB/2. Pola anomali rendah
berada disekitar alterasi dengan perbedaan
luas tidak begitu mencolok memperlihatkan
anomali tahanan jenis rendah yang semakin
melebar dengan membesarnya bentangan
AB/2 (gbr.9 dan gbr.10).
Pada
umumnya
penampang-penampang
lintasan di daerah ini mempunyai 4 buah
lapisan yaitu lapisan pertama merupakan
lapisan permukaan dengan variasi tahanan
jenis 115 – 175 Ωm, mempunyai ketebalan
antara 50 –250 meter. Lapisan kedua
mempunyai variasi tahanan jenis 125 – 500
Ωm dengan ketebalan rata-rata 175–225
meter. Lapisan selanjutnya adalah lapisan
dengan variasi tahanan jenis 40–120 Ωm
pada ketebalan antara 200–300 meter dan
lapisan yang paling bawah adalah tahanan
jenis dengan variasi 8 – 25 Ωm dengan
ketebalan lebih besar dari 500 meter.
Pada penampang lainnya lapisan pertama
mempunyai tahanan jenis antara 175 – 190
Ωm dengan sisipan tahanan jenis 600 Ωm,
mempunyai ketebalan 75–100 meter di bagian
tenggara. Lapisan kedua mempunyai tahanan
jenis antara 425 – 450 Ωm dengan ketebalan
150-300 meter, kemudian lapisan ketiga
mempunyai tahanan jenis 60–75 Ωm dengan
ketebalan 300 – 450 Ωm dan lapisan yang
paling bawah mempunyai ketebalan lebih
besar dari 500 meter dengan tahanan jenis 10
–15 Ωm. Penampang ini ke arah baratlaut
dibatasi oleh struktur dan mempunyai harga
tahanan jenis yang relatif lebih kecil ,
terutama pada titik amat F-3000 dan F-3500
(gbr. 11). Pada titik F-2500 lapisan hampir
sama dengan ujung tenggara penampang ini.
Profil-profil nilai tahanan jenis sebenarnya
hasil pengukuran Head-On akan memberikan
nilai tahanan jenis semu ρAC, ρBC, ρAC-AB dan
ρBC-AB , bila ρAC dan ρBC atau ρAC-AB dan ρBCAB
di plot terhadap lintasan untuk setiap AB/2
dan terdapat perpotongan kedua kurva tahanan
jenis, perpotongan itu menunjukkan adanya
struktur. Posisi perpotongan yang diperoleh
untuk masing-masing AB/2 kemudian dibuat
penampang AB/4 untuk dapat menentukan dip
dari struktur yang diukur.
Penampang tahanan jenis semu /o ( AC-AB) dan
/o ( BC-AB) dari lintasan W, dibuat berdasarkan
ploting perpotongan antara kurva (gbr.12)
hasil pengukuran dengan sumbu kedalaman
sama dengan AB/4. Pada penampang lintasan
W, tampak 3 sesar. Sesar yang pertama
terdapat pada titik amat W 800 pada
kedalaman yang berhubungan dengan
bentangan AB/2= 200 m sampai AB/2= 800
m, dengan kemiringan 80o arah barat. Sesar
yang kedua terdapat pada titik amat W 1300
pada kedalaman yang berhubungan dengan
bentangan yang sama dengan kemiringan 80o,
dengan arah barat. Sesar ketiga terdapat pada
titik amat W-1600 dan W-1700 dengan
kemiringan 65o ke arah timur.
5. SISTEM PANAS BUMI
Air meteorik dapat langsung meresap
kebawah permukaan melalui struktur, rekahan
dan porositas batuan menjadi air tanah yang
terperangkap jauh dibawah permukaan.
Kolokium Hasil Kegiatan Inventarisasi Sumber Daya Mineral – DIM, TA. 2003
33- 4
Keadaan air tanah yang terperangkap didaerah
penyelidikan cukup dalam terbukti dari
kebanyakan sungai-sungai utama merupakan
sungai musiman diseluruh wilayah penelitian,
kecuali pada tubuh tua G. Waikerawak
sebelah tenggara dan sebelah barat G. Kadeka
terdapat sumber mata air dingin. Air tanah
kemudian terpanasi oleh sumber panas dari
sisa magma yang membentuk G. Ile Kadeka
dan G. Ile Karawak di bagian barat daerah
penyelidikan. Air yang sudah terpanasi
mengalir ke dalam batuan reservoir (batuan
tersier), kemudian mengalir melalui sesarsesar normal dan muncul sebagai outflow
berupa mata airpanas Oka dan Kawaliwu
Batuan penudung berupa batuan ubahan
muncul di permukaan pada tubuh lava andesit
Kadeka 3 (Qlk3) yang mengidentifikasikan
zona struktur dan adanya akses fluida panas
bumi yang bersifat asam hingga merubah
batuan segar menjadi batuan alterasi, hal ini
ditunjang oleh adanya beberapa struktur hasil
interpretasi pengukuran geolistrik (sounding)
dan head-on.
Tubuh lava andesit Kadeka 3 merupakan
batuan penudung dari suatu sistem panas
bumi, kemudian reservoir dari hasil sounding
diduga masih dalam dan berada dibawah
lapisan ini (>1000 meter).
Sumber panas diperkirakan berada dibawah
dari tubuh vulkanik G. Waikerawak atau
gunung Kadeka sebagai kerucut muda (
Kuarter) yang tercermin dari adanya batuan
ubahan dan air panas.
5.1 Model Panas Bumi
Penampang
model
panas
bumi
menggambarkan bentuk dan posisi akumulasi
panas di zona-zona hancuran sepanjang
struktur rekahan. Penampang model ini
dihubungkan dengan dua vulkanik berarah
yaitu timur – barat, sehingga dapat
menampakan/menggambarkan posisi reservoir
bawah permukaan (gbr. 13).
Masa panas dari sisa panas magmatik akibat
kegiatan vulkanik, berakumulasi pada daerah
dikedalaman tertentu dengan pengaruh fluida
dan air tanah membentuk sistem panas bumi
yang terperangkap pada rekahan/retakan
batuan dan diperkirakan sebagai reservoir
dengan kedalaman dibawah 1000 meter. Air
yang telah terpanasi akan naik kembali
kepermukaan dan muncul sebagai mata air
panas. Dugaan adanya daerah akumulasi
panas dibawah permukaan terindikasi
pemunculan batuan ubahan dan mata air panas
dipermukaan seperti Oka di selatan dan
Kawaliwu di utara, desa Sinarhading yang
merupakan daerah penekukan morfologi.
6. POTENSI SUMBER DAYA PANAS
BUMI
Perkiraan potensi panas bumi dapat dihitung
dari nilai suhu bawah permukaan dan luas
daerah aktif yang didapat dari zona
maksimum pada peta Hg tanah dan CO2 udara
tanah yang ada korelasinya dengan anomali
rendah hasil pengukuran geolistrik, sehingga
diperoleh perkiraan maksimum dan minimum
sebagai berikut:
Pendugaan suhu reservoir ( TRes) berkisar
dari 162.38o C sampai 172.80o C
Luas daerah potensi (A ) ± 0.074. km 2 dan
dari rumus tersebut di atas diperoleh nilai
maksimum dan minimum sebagai berikut :
Luas daerah prospek berdasarkan hasil
pengukuran geolistrik (mapping AB/2=1000
meter) untuk tahanan jenis < 25 Ohm-meter
adalah 1 Km2 .
Luas daerah prospek 1 Km2, asumsi ketebalan
reservoir untuk wilayah Indonesia Timur
adalah 1 Km2, Factor Recovery (Rf=0.5) dan
konversi termal ke listrik = 0.1 (10%).
Q = 0.11585 * 1 * (173-120) Mwe = 6
MWe
Naiknya panas kepermukaan berlangsung
tanpa terperangkap pada lapisan batuan wadah
(reservoir) melalui cara konduktif, konvektif
dan
radiasi sebagai kehilangan panas
dipermukaan.
Pengukuran panas yang lepas kepermukaan
secara terperinci pada setiap lokasi
pemunculan, sehingga akan memberikan suatu
gambaran penyerapan temperatur kenampakan
yang teralir kepermukaan. Penghitungan panas
atau energi yang hilang di suatu lokasi akan
sangat
besar
manfaatnya
dalam
memperkirakan energi cadangan yang
tersimpan dibawah permukaan.
7. KESIMPULAN
1. Dari hasil pengamatan lapangan satuan
batuan terdiri dari aliran lava. dan aliran
piroklastik dari aktifitas gunung api yang
terdapat didaerah ini menunjukkan
adanya
struktur
strato
vulkano.
Penyebarannya terutama di sebelah
baratdaya daerah penyelidikan berupa
lava andesit berwarna abu gelap, segar
dan sebagian telah mulai melapuk,
porfiritik,
kompak,
berkomposisi
plagioklas dan piroksen
Kolokium Hasil Kegiatan Inventarisasi Sumber Daya Mineral – DIM, TA. 2003
33- 5
2.
Sumber panas diperkirakan berada
dibawah dari tubuh vulkanik G.
Waikerawak atau gunung Kadeka
sebagai kerucut muda ( Kuarter) yang
tercermin dari adanya batuan ubahan dan
air panas.
3.
Tipe air panas yang terdapat di daerah
penyelidikan dapat dimasukan ke dalam
tipe khlorida dan tipe sulfat – khlorida.
4.
Terdapat korelasi antara anomali rendah
hasil
pengukuran geolistrik dengan
anomali Hg dan CO2, hasil pengukuran
geokimia.
5.
Dari perhitungan dengan menggunakan
unsur geotermometer silika disimpulkan
bahwa perkiraan suhu bawah permukaan
berkisar antara 162.38o C – 172.90o C.
6.
Munculnya air panas Sinar Hading dan
alterasi di bagian barat laut daerah
penyelidikan ini diperkirakan adanya
struktur sesar yang mempunyai arah
tenggara – barat laut dan ditunjang oleh
densitas tinggi yang muncul disekitar G.
Waikerawak sebagai sumber panas
7.
Daerah prospek berada disekitar alterasi
yang mempunyai tahanan jenis rendah
(<25 Ohm-meter) berada disekitar alterasi
yaitu lintasan F, ditunjang oleh harga
anomali magnet rendah yang terletak
dibagian barat daerah penyelidikan.
8.
Struktur Utama dari hasil pengukuran
Head-On pada lintasan Z berarah hampir
utara-selatan dengan kemiringan ke arah
timur. Pada lintasan W terdapat dua buah
struktur besar dengan kemiringan hampir
tegak lurus berarah utara-selatan.
9.
Diperkirakan panas bumi di daerah ini
mempunyai kedalaman >1000 meter.
12. Luas Daerah Prospek 1 Km2 dengan
potensi terduga sebesar 6 MWe
8. SARAN
Disarankan agar dilanjutkan penyelidikan
terpadu kearah barat yaitu Ile Padung, Ile
Angie wilayah desa Blepanawa, kecamatan
Larantuka, mengingat dari data inventarisasi
yang baru bahwa kenampakan manifestasi
dipermukaan berupa tanah panas maupun
lumpur panas cukup menarik ( temp. 93 oC )
Dari
hasil
inventarisasi
gas
yang
menghasilkan
perkiraan
suhu
bawah
diisarankan
permukaan 193.44o C.
penyelidikan lanjutan di arahkan ke daerah
barat dari daerah penyelidikan panas bumi
Oka ( Daerah Desa Blepenawa).
DAFTAR PUSTAKA
1.
Bemmelen, van R.W., 1949. The Geology
of Indonesia. Vol. I A. The Hague.
Netherlands.
2. Chasin,
M.,
1974.
Inventarisasi
Kenampakan Gejala Panas Bumi
Daerah Flores. Direktorat Geologi.
Bandung.
3. Fournier, R.O., 1981. Application of
Water Geochemistry Geothermal
Exploration
and
Reservoir
Engineering, “Geothermal Sistem:
Principles and Case Histories”. John
Willey & Sons. New York.
4. Giggenbach, W.F., 1988. Geothermal
Solute Equilibria Deviation of Na-KMg – Ca Geo- Indicators.
Geochemica Acta 52. pp. 2749 –
2765.
5. Lawless, J., 1995. Guidebook: An
Introduction to Geothermal Sistem.
Short course. Unocal Ltd. Jakarta.
6. Mahon K., Ellis, A.J., 1977. Chemistry
and Geothermal Sistem. Academic
Press Inc. Orlando.
7. Noya., Y & Koesoemadanata,. S 1991
Peta geologi Regional Lembar Pantar
dan Wetar skala 1 :
250.000,.
Pusat Penelitian dan Pengembangan
geologi.
8. Santoso
MS,
1978
Inventarisasi
Kenampakan Panas Bumi di sekitar
Flores Timur, P. Lomblen, P.
Adonara dan P. Solor, Nusatenggara
Timur, Direktur Geologi, Bdg.
9. Suwarna,
N.,
Santosa,
S.
dan
Koesoemadinata, S., 1990. Peta
Geologi Regional Bersistem Lembar
Ende, Nusa Tenggara Timur. Skala
1:250.000. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi. Bandung.
10. Telford, W.M. et al, 1982. Applied
Geophysics. Cambridge University
Press. Cambridge
11. Purwanto S dkk (1994) Peta Hidrogeologi
Lembar Waikukang dan Dilli;
Direktorat Geologi Tata Lingkungan,
Bandung.
12. Parasnis D.S, 1971 : Principle
of
Applied Geophysics, publisher
Kolokium Hasil Kegiatan Inventarisasi Sumber Daya Mineral – DIM, TA. 2003
33- 6
LOKASI PENYELDIKAN
Gambar 1. Peta Lokasi Daerah Penyelidikan
Gambar 5 Peta Sebaran Hg tanah Daerah Panas
Bumi Oka-NTT
Gambar 2 Peta Geologi Daerah Panas Bumi OkaLarantuka
Cl
Ma
Gambar 6 Peta Sebaran CO2 udara tanah Daerah
Panas Bumi Oka-NTT
tu r
ew
80
at e
er
Vo
Ph
40
lca
ni c
wa
ter
s
rs
60
i ph
er
al
20
wa
te
rs
Steam heated waters
20
SO4
40
60
80
HCO3
Gambar 2.1.3 Diagram segitiga tipe air panas daerah Panas Bumi
Oka, Flores segitiga
Timur, NTT
Gambar 3. Diagram
Cl, SO4, HCO3
Na/1000
80
% Na K
60
Full equilibrium
160°
T Km
T Kn
0°
22
10
0°
Partial equilibrium
Gambar 7. Peta Anomali Sisa Daerah Panas
Bumi Oka-NTT
we
ir
bo
x
40
20
Immature waters
ROCK
K/100
20
40
60 % Mg
80
Mg
Gambar 2.1.4 Diagram segitiga kandungan relatif Na, K, Mg daerah Panas Bumi
Oka, Flores Timur, NTT
Gambar 4. Diagram segitiga Na, K, Mg
Kolokium Hasil Kegiatan Inventarisasi Sumber Daya Mineral – DIM, TA. 2003
33- 7
Gambar 8. Peta Anomali Magnetik Daerah Panas
Bumi Oka-NTT
Gambar 11 Penampang Tahanan Jenis Sebenarnya
Lintasan F,B,C
Gambar 12. Penampang Head-On Lintasan W
Gambar 9. Peta Sebaran Tahanan Jenis Semu
AB/2=250 m
Gambar 10. Peta Sebaran Tahanan Jenis Semu
AB/2=1000 m
Gambar 13. Model Tentatif Panas Bumi OkaLarantuka, NTT
Kolokium Hasil Kegiatan Inventarisasi Sumber Daya Mineral – DIM, TA. 2003
33- 8
Download