pola pengobatan demam berdarah dengue (dbd)

advertisement
POLA PENGOBATAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)
DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM
SULTAN AGUNG SEMARANG
PERIODE AGUSTUS 2015-MARET 2016
ARTIKEL
Oleh:
NI MADE IRMA SETYANINGRUM
NIM. 050112a061
PROGRAM STUDI ILMU FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO
UNGARAN
2016
1
2
Pola Pengobatan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Instalasi Rawat Inap
Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang Periode Agustus 2015-Maret
2016
Ni Made Irma Setyaningrum
Program Studi Farmasi STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
Email : [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang : Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit demam
akut dapat menyebabkan kematian, yang disebabkan oleh virus dengue.
Penatalaksanaan terapi DBD tidak ada terapi khusus, pengobatan DBD pada
dasarnya bersifat suportif dan simptomatik.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengobatan demam
berdarah dengue di instalasi rawat inap Rumah Sakit Islam Sultan Agung
Semarang periode Agustus 2015-Maret 2016.
Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-eksperimental
menggunakan pendekatan retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Teknik
sampling yang digunakan secara purposive sampling dengan jumlah sampel 40
pasien dengan total populasi 67 pasien.
Hasil : Golongan obat yang diberikan pada pasien DBD adalah rehidrasi 100%,
analgetik-antipiretik 92,5%, antitukak 82,5%, suplemen 60%, anti inflamasi
37,5%, antivirus 27,5%, mukolitik 7,5%, ekspektoran 7,5%, antitusif 2,5%, anti
diare 2,5% dan obat lain yang digunakan (anti jamur 5%). Jenis obat yang paling
banyak diberikan RL 95%, parasetamol 92,5%, ranitidin 37,5%, imesco 17,5%,
vitamin C 17,5%, ondansetron 50%, metilprednisolon 20%, methisoprinol 25%,
vostrin 5%, OBH 5%, codein 2,5%, atapulgit 2,5% dan nystatin 5%. Cara
pemberian obat yang diberikan adalah parenteral 60,4% sedangkan oral 36%.
Simpulan : Pola pengobatan Demam Berdarah Dengue (DBD) di instalasi rawat
inap Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang periode Agustus 2015-2016
adalah golongan obat terbanyak rehidrasi 100%, jenis obat terbanyak yang
digunakan infus RL 95% dan cara pemberian obat terbanyak rute parenteral
60,4%.
Kata kunci : Pola Pengobatan, Demam Berdarah Dengue, RSI Sultan Agung
Kepustakaan : 47 (1969-2016)
1
ABSTRACT
Background : Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is acute fever illness that can
cause death, caused by the dengue virus. Management of DHF has no specific
therapy, DHF treatment is essentially supportive and symptomatic.
Objectives : The study aims to determine the treatment patterns of dengue
hemorrhagic fever in inpatients at Sultan Agung Islamic Hospital Semarang of
period August 2015-March 2016.
Method : The method used in this research was non-experimental and
retrospective approach and was analyzed descriptively. The sampling technique
used puposive sampling with the samples of 40 patients with total population of
67 patiens.
Results : Drug type given to patients with DHF is rehydration 100%, analgeticantipyretic 92,5%, anti-ulcer 82,5%, supplement 60%, anti-inflammatory 37,5%,
antiviral 27,5%, mukolitic 7,5%, expectorant 7,5%, antitussives 2,5%, anti
diarrhea 2,5% and other drugs used (anti fungi 5%). The types of drugs most
widely prescribed are RL 95%, paracetamol 92,5%, ranitidine 37,5%, imesco
17,5%, vitamin C 17,5%, ondansetron 50%, methylprednisolone 20%,
methisoprinol 25%, vostrin 5%, OBH 5%, codeine 2,5%, attapulgite 2,5%,
nystatin 5%. The way of administration drugs is parenteral 60,4% whereas oral
36%.
Conclusion : The treatment patterns of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in
inpatient instalation of Sultan Agung Islamic Hospital Semarang of period August
2015-March 2016, most drug used is rehydration 100%, most type of medication
used is infusion of RL 90% and most treatment given is parenteral way 60,4%.
Keywords : Patterns of treatment, Dengue Hemorrhagic Fever, Sultan Agung
Islamic Hospital
Literatures : 47 (1969-2016)
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau dengue haemorrhagic fever
(DHF) merupakan penyakit demam akut dan disertai dengan adanya
perdarahan dalam yang memiliki kecenderungan untuk menimbulkan syok
atau kejang-kejang dan dapat menyebabkan kematian, umumnya penyakit ini
dapat menyerang anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun, maupun
orang dewasa yang berusia 15 tahun keatas (Roose, 2008; Achmadi, 2011).
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan
oleh virus dengue dan mengakibatkan spektrum manifestasi klinis yang
bervariasi antara yang paling ringan, demam dengue (DD), demam berdarah
dengue (DBD) dan demam dengue yang disertai renjatan atau dengue shock
syndrome (DSS) (WHO, 2009); ditularkan nyamuk Aedes aegypti dan Ae.
Albopictus yang terinfeksi (Supartha, 2008). Host alami DBD adalah manusia
agentnya adalah virus dengue yang termasuk dalam family Flaviridae dan
2
genus Flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1, Den-2, Den-3 dan Den-4
(Kurane, 2007).
Berdasarkan Profil Kesehatan Kota Semarang 2014, pada tahun 2014
jumlah kasus DBD sejumlah 1.628 kasus dengan jumlah meninggal 27 orang.
Incidence Rate (IR) DBD adalah 92,43% dan Case Fatality Rate (CFR) DBD
adalah 1,6%. Kematian akibat penyakit DBD Kota Semarang berdasarkan
golongan umur terbanyak pada golongan umur 1 s.d. 4 tahun dengan 11
kematian dan kelompok usia 5 s.d. 9 yaitu 7 kematian. Kelompok usia balita
dan anak sekolah masih merupakan kelompok usia dominan dalam hal
kematian (Dinkes Semarang, 2015). Di Indonesia, penderita penyakit DBD
terbanyak berusia 5-11 tahun (Ginanjar, 2008). Penyakit ini menunjukkan
peningkatan jumlah orang yang terserang setiap 4-5 tahun. Kelompok umur
yang sering terkena adalah anak-anak umur 4-10 tahun, walaupun dapat pula
mengenai bayi dibawah umur 1 tahun (IDAI, 2009).
Terdapat empat derajat spektrum klinis DBD (WHO, 2011), sebagai
berikut :
a. Derajat I
: Demam dan manifestasi perdarahan (uji bending
positif) dan tanda perembesan plasma
b. Derajat II
: Seperti derajat I ditambah perdarahan spontan
c. Derajat III
: Seperti derajat I atau II ditambah kegagalan
sirkulasi (nadi lemah, tekanan nadi ≤ 20 mmHg,
hipotensi, gelisah, diuresis menurun)
d. Derajjat IV : Syok hebat dengan tekanan darah dan nadi yang
tidak terdeteksi
Pengobatan DBD pada dasarnya bersifat simptomatik. Terapi suportif
mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas
kapiler dan sebagai akibat perdarahan. Terapi simptomatik pada penderita
DBD merupakan pemberian terapi untuk mengatasi gejala yang timbul
(Handinegoro, 2004).
2. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pola pengobatan demam berdarah dengue di instalasi
rawat inap Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang bulan Agustus
2015-Maret 2016.
b. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui pola pengobatan demam berdarah dengue di instalasi
rawat inap Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang bulan Agustus
2015-Maret 2016 meliputi golongan obat, jenis obat dan cara pemberian.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian noneksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif. Pengolahan data
dilakukan dengan rancangan deskriptif, yaitu sebuah penelitian yang
bertujuan untuk melakukan deskripsi terhadap kejadian yang ditemukan.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien demam berdarah
dengue di instalasi rawat inap RSI Sultan Agung Semarang pada bulan
Agustus 2015-Maret 2016 yaitu 67 pasien.
3
Sampel dalam penelitian ini adalah bagian dari populasi pasien demam
berdarah dengue di instalasi rawat inap di RSI Sultan Agung Semarang pada
bulan Agustus 2015-Maret 2016 yaitu 40 pasien. Berikut kriteria inklusi dan
ekslusi :
1. Kriteria Inklusi
a. Pasien dengan diagnosis demam berdarah dengue di instalasi rawat inap
di RSI Sultan Agung pada bulan Agustus 2015-Maret 2016.
b. Pasien demam berdarah dengue tanpa penyakit penyerta.
2. Kriteria Ekslusi
a. Pasien pulang paksa atau rujuk.
b. Pasien meninggal.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Karakteristik Pasien
a. Jenis Kelamin
Tabel 1. Distribusi Jenis Kelamin Pasien DBD
No
Jenis Kelamin
Jumlah Pasien
Persentase
1 Laki-laki
17
42,5%
2 Perempuan
23
57,5%
Total
40
100%
Berdasarkan pada tabel 1, sebagian besar pasien yang terdiagnosa
demam berdarah dengue di instalasi rawat inap RSI Sultan Agung
Semarang adalah jenis kelamin perempuan sebanyak 23 pasien (57,5%).
Pada umumnya seorang laki-laki lebih rentan terhadap infeksi dari pada
perempuan karena produksi imunoglobulin dan antibodi perempuan lebih
banyak dibanding laki-laki (Soedarmo, 2008). Namun, keduanya
mempunyai peluang yang sama untuk tertular penyakit demam berdarah
dengue.
b. Usia
Tabel 2. Distribusi Usia Pasien DBD
No
Usia
Jumlah Pasien
Persentase
1 0-5 tahun
10
25%
2 6-11 tahun
5
12,5%
3 12-16 tahun
6
15%
4 17-25 tahun
12
30%
5 26-45 tahun
6
15%
6 46-55 tahun
1
2,5%
Total
40
100%
Berdasarkan pada tabel 4.2, sebagian besar pasien yang terdiagnosa
demam berdarah dengue adalah usia 17-25 tahun sebanyak 12 pasien
(30%). Lebih tinggi kasus DBD pada remaja akhir karena pada usia
tersebut memiliki mobilitas yang tinggi, sehingga memudahkan untuk
tertular virus dengue yang sebelumnya belum pernah ada pada suatu
daerah (Stoddard, 2013).
4
c. Status Pelayanan
Tabel 3. Distribusi Status Pelayanan Pasien DBD
No
Status Pelayanan
Jumlah Pasien
Persentase
1 Umum
36
90%
2 BPJS
2
5%
3 Asuransi
2
5%
Total
40
100%
Berdasarkan pada tabel 4.3, sebagian besar pasien yang terdiagnosa
demam berdarah dengue di instalasi rawat inap RSI Sultan Agung
Semarang dengan status pelayanan umum sebanyak 36 pasien (90%). Pada
penelitian ini status pelayanan umum lebih banyak pada kelas III. Ini
menunjukkan bahwa masyarakat masih enggan untuk mengurus kartu
BPJS Kesehatan, sehingga masih banyak pasien yang berasal dari keluarga
tidak mampu harus menanggung biaya rumah sakit karena tidak memiliki
kartu BPJS Kesehatan.
d. Status Pulang
Tabel 4 Distribusi Status Pulang Pasien DBD
No
Status Pulang
Jumlah Pasien
Persentase
1 Perbaikan
37
92,5%
2 Sembuh
3
7,5%
Total
40
100%
Berdasarkan pada tabel 4.4, sebagian besar pasien yang terdiagnosa
demam berdarah dengue di instalasi rawat inap RSI Sultan Agung
Semarang dengan status pulang perbaikan sebanyak 37 pasien (92,5%).
Hal ini karena pasien DBD dinilai sudah sembuh jika hasil pemeriksaan
laboratorium darahnya menujukkan hasil yang sudah normal dan didukung
dengan kondisi fisik pasien (nafsu makan meningkat dan aktivitas sudah
tidak terganggu). Sedangkan kondisi pulang pasien dengan perbaikan
dilihat dari nlai trombosit dibawah normal tapi cenderung mengalami
kenaikan.
e. Grade DBD
Tabel 5 Distribusi Grade Pasien DBD
No
Grade DBD
Jumlah Pasien
Persentase
1 DBD derajat I
18
45%
2 DBD derajat II
19
47,5%
3 DBD derajat III
2
5%
4 DBD derajat IV
1
2,5%
Total
40
100%
Berdasarkan pada tabel 4.5, didapatkan hasil diagnosa yang paling
banyak yaitu DBD derajat II sebanyak 19 pasien (47,5%). Pasien datang
ke rumah sakit rata-rata pada hari ke 3-5 demam, pada saat terjadinya fase
kritis. Dimana fase kritis, terjadi pada hari 3-7 sakit dan ditandai dengan
penurunan suhu tubuh disertai permeabilitas kapiler dan timbulnya
5
kebocoran plasma yang biasanya berlangsung selama 24-48 jam
(Kemenkes RI, 2010). Tidak terdapat perbedaan terapi pada DBD grade I,
II, III dan IV.
2. Pengobatan Pasien Demam Berdarah Dengue
a. Golongan Obat
Tabel 6 Data Golongan Obat
No
Golongan Obat
Jumlah Kasus
Persentase
N = 40
1 Rehidrasi
40
100%
2 Analgetik-Antipiretik
37
92,5%
3 Antitukak
33
82,5%
4 Suplemen
24
60%
5 Antiemetik
20
50%
6 Anti inflamasi
15
37,5%
7 Antivirus
11
27,5%
8 Mukolitik
3
7,5%
9 Ekspektoran
3
7,5%
10 Antitusif
1
2,5%
11 Anti Diare
1
2,5%
12 Lain-lain
2
5%
Berdasarkan tabel 4.6, didapatkan gambaran golongan obat yang
digunakan untuk pasien DBD di instalasi rawat inap RSI Sultan Agung
Semarang adalah rehidrasi sebanyak 40 kasus (100%). Hal ini dikarenakan
pada pengobatan DBD tidak ada terapi khusus selain mempertahankan
terapi suportif dan terapi cairan secara bijaksana. Patofisiologik DBD
adanya peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan perembesan
plasma. Peningkatan hematokrit >20% mencerminkan perembesan plasma
dan merupakan indikasi untuk pemberian cairan.
Kriteria klinis DBD yaitu demam 2-7 hari, panas tinggi terus
menerus (Nadesul, 2016). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa
penggunaan analgetik-antipiretik sebanyak 38 kasus (95%). Sehingga
diperlukan antipiretik untuk menurunkan gejala demam pada pasien DBD.
Penderita DBD memiliki resiko mengalami stress-ulcer
(Kusumawati, 2007). Sehingga perlu diberikan antitukak untuk mencegah
stress ulcer. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan
antitukak sebanyak 29 kasus (72,5%).
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan suplemen
sebanyak 24 kasus (60%). Diberikan suplemen untuk mencukupi
kebutuhan nutrisi serta meningkatkan kekebalan tubuh pasien
Selain demam dan perdarahan gambaran klinis lain yang tidak khas
dijumpai pada penderita DBD adalah keluhan pada saluran pencernaan
seperti anoreksia, mual, mntah, diare, konstipasi (Mubin, 2005). Sehingga
perlu pemberian antiemetik untuk mengobati mual dan muntah, anti diare
mengobati diarenya. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa
6
penggunaan antiemetik sebanyak 20 kasus (50%) dan penggunaan anti
diare sebanyak 1 kasus (2,5%).
Keluhan DBD pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek, susah
menelan (Mubin, 2005). Sehingga diberikan obat batuk seperti mukolitik,
ekspektoran dan antitusif untuk mengobati batuk. Dari hasil penelitian
menunjukkan bahwa penggunaan mukoltik sebanyak 3 kasus (7,5%),
penguunaan ekspektoran sebanyak 1 kasus (2,5%) dan penggunaan
antitusif sebanyak 1 kasus (2,5%).
Pada dasarnya DBD merupakan penyakit yang self-limited, dapat
sembuh sendiri (Porter et al, 2005). Sehingga tidak diperlukan penggunaan
antivirus. Dari penelitian menunjukkan penggunaan antivirus sebanyak 11
kasus (27,5%). Sesuai dengan penelitian Endah (2007), didapatkan
pemberian antivirus (isoprinosin, asiklovir) pada 78 pasien (5,2%) dari
1818 kasus.
Dari hasil penelitian menunjukkan penggunaan anti inflamasi
sebanyak 15 kasus (37,5%). Penggunaan steroid pada penderita DBD
masih menjadi perdebatan. Beberapa panduan ada yang tidak
menyinggung mengenai pemberian kortikosteroid pada penderita DBD.
Kortikosteroid digunakan untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan
didalam otak. Golongan obat lain yang digunakan adalah anti jamur
sebanyak 2 pasien (5%).
b. Jenis Obat
Tabel 4.7 Data Jenis Obat Pada Pasien DBD
No
1
Golongan Obat
Rehidrasi
2
3
Analgetik-Antipiretik
Antitukak
4
Suplemen
5
6
Antiemetik
Anti Inflamasi
7
Antivirus
8
Mukolitik
9
Ekspektoran
10
11
12
Antitusif
Anti Diare
Lain-lain
Nama Obat
RL
2A ½ N
Asering
Parasetamol
Pantoprazol
Omeprazole
Ranitidin
Sukralfat
Lanzoprazole
Antasida
Cernevit
Imesco
Dehaf
Vitamin K
Curcuma
Vitamin C
Escovit
Starmuno
Zanmel
Curvit
Anabion
B Complex
Ondansetron
Metilprednisolon
Dexamethason
Methisoprinol
Acyclovir
Bisolvon
Vostrin
OBH
Coparcetin
Codein
Atapulgit
Nystatin
Jumlah
38
3
1
37
4
8
15
8
2
4
5
7
1
2
2
7
6
1
1
2
1
1
20
8
6
10
1
1
2
2
1
1
1
2
Persentase
95%
7,5%
2,5%
92,5%
10%
20%
37,5%
20%
5%
10%
12,5%
17,5%
2,5%
5%
5%
17,5%
15%
2,5%
2,5%
5%
2,5%
2,5%
50%
20%
15%
25%
2,5%
2,5%
5%
5%
2,5%
2,5%
2,5%
5%
7
Pada penelitian ini terlihat pemberian cairan rehidrasi paling banyak
ialah pemberian RL (Ringer Laktat) sebanyak 38 pasien (95%). RL
(Ringer Laktat) merupakan golongan cairan kristaloid. Kristaloid standar
terapi cairan pada DBD. Keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat
adalah komposisi elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan
yang dikandung cairan ekstraseluler. Komposisi Ringer Laktat adalah
natrium (Na), kalium (K), kalsium (Ca), klorida (Cl) dan laltat. Elektrolitelektrolit ini dibutuhkan untuk mengganti kehilangan cairan pada dehidrasi
dan syok hipovolemik termasuk syok perdarahan. Dibandingkan dengan
koloid, kristaloid lebih mudah didapat dan lebih murah. Jenis cairan yang
ideal yang sebenarnya dibutuhkan dalam penatalaksanaan antara lain
memiliki sifat bertahan lama di intravaskular, aman dan relatif mudah
dieksresikan, tidak mengganggu sistem koagulasi tubuh dan memiliki efek
alergi yang minimal. Secara umum, penggunaan kristaloid dalam
tatalaksana DBD aman dan efektif. Cairan infus lain yang didapat dari
hasil penelitian adalah asering sebanyak 1 pasien (2,5%) dan 2A ½ N 3
pasien (7,5%). Asering yang mengandung natrium (Na), kalium (K),
kalsium (Ca) dan asetat, memiliki indikasi untuk terapi cairan pada DBD.
D5 ½ NS yang disebut 2A ½ N mengandung natrium (Na), klorida (Cl),
dekstrosa, memiliki indikasi untuk mengganti cairan. Pada kondisi DBD
derajat 1 dan 2, cairan diberikan untuk kebutuhan rumatan (maintenance)
dan untuk mengganti cairan akibat kebocoran plasma. Pada DBD dengan
kondisi hemodinamik tidak stabil (derajat 3 dan 4) cairan diberikan dengan
tetesan cepat dan setelah hemodinamik stabil secara bertahap kecepatam
cairan dikurangi hingga kondisi benar-benar stabil.
Penggunaan parasetamol sebanyak 24 pasien (60%). Parasetamol
merupakan pilihan pertama untuk penderita DBD. Pada pasien DBD,
penggunaan analgetik-antipiretik yan tidak tepat dapat menyebabkan
perdarahan, iritasi lambung, dan keadaan yang lebih parah. Ibuprofen dan
golongan NSAID (Non Steroidal Inflammatory Drugs) dapat
memperburuk perdarahan dan iritasi lambung. Penggunaan aspirin pada
anak tidak dianjurkan karena berhubungan dengan Reye’s Syndrome.
Terapi antitukak terbanyak ialah penggunaan ranitidin sebanyak 15
pasien (37,5%). Pada pasien DBD dapat terjadi perdarahan spontan, salah
satunya pada saluran cerna. Untuk mencegah terjadinya perdarahan
spontan pada saluran cerna sehingga perlu diberikan obat anitukak.
Pemberian Histamine 2-Receptor Antagonists (ranitidin) dan PPI
(pantoprazole, omeprazole, lanzoprazol) dapat diberikan untuk mencegah
perdarahan saluran cerna. Antasida diberikan pada pasien yang mengalami
syok disertai muntah-muntah hebat dan epigastrium yang tidak jelas.
Sukralfat diberikan untuk melindungi mukosa lambung dari serangan asam
lambung.
Penggunaan suplemen terbanyak ialah imesco dan vitamin C
masing-masing 7 pasien (17,5%). DBD disebabkan oleh virus dengue,
yang bersifat selft-limited, dapat sembuh sendiri. Dibutuhkan suplemen
untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien.
8
Terapi antiemetik terbanyak ialah penggunaan ondansetron sebanyak
18 pasien (45%). Gejala DBD ialah mual muntah secara terus menerus.
Pemberian ondansetron digunakan untuk mengurangi rasa mual dan
muntah pada penderita DBD.
Pada penelitian ini anti inflamasi yang paling banyak digunakan
ialah metilprednisolon diberikan pada 8 pasien (20%). Inflamasi
merupakan suatu kejadian normal dari tubuh yang berkaitan dengan sistem
kekebalan tubuh. Inflamasi ini terjadi akibat sistem pertahanan yang ada
dalam tubuh sudah tidak mampu lagi melawan paparan benda asing dari
tubuh (virus dengue) secara biologis tempat-tempat yang mendapatkan
serangan dari luar tersebut akan terjadi inflamasi. Ciri inflamasi yaitu
rubor (kemerahan), kalor (panas), dolor (nyeri), tumor (bengkak) dan
fungtion lesa (hilangnya sebagian fungsi kerja organ/jaringan/tubuh).
Demam pada pasien DBD merupakan reaksi inflamasi, sehingga
digunakan anti inflamasi membantu meredakan demam yang sulit turun
dengan antipiretik.
Terapi antivirus yang paling banyak digunakan ialah penggunaan
methisoprinol sebanyak 10 pasien (25%). DBD disebabkan oleh virus
dengue merupakan penyakit self-limited, dapat sembuh sendiri. Sehingga
pada pengobatannya tidak diperlukan antivirus. Pada penelitan ini
penggunaan antivirus ditemukan pada anak dan balita, ini dimungkinkan
karena pada usia tersebut mempunyai imunitas yang rendah sehingga
diberikan antivirus untuk meningkatkan sistem imun, karena methisoprinol
merupakan obat imunostimulan yang dapat digunakan untuk
meningkatkan sistem imun serta pengobatan infeksi virus.
Keluhan DBD pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek, susah
menelan (Mubin, 2005). Sehingga diberikan mukolitik, ekspektoran dan
antitusif untuk mengobati batuknya. Terapi mukolitik terbanyak ialah
penggunaan vastrin sebanyak 2 pasien (5%), terapi ekspektoran terbanyak
ialah penggunaan OBH sebanyak 1 pasien (2,5%) dan penggunaan
antitusif sebanyak 1 pasien (2,5%).
Terapi anti diare terbanyak ialah penggunaan atapulgit sebanyak 1
pasien (2,5%). Gejala lain yang tidak khas dijumpai pada saluran
pencernaan yaitu diare. Sehingga diberikan obat anti diare untuk
mengobati gejala diarenya. Golongan obat lain yang digunakan adalah
nystatin sebanyak 2 pasien (5%)
c. Cara Pemberian Obat
Tabel 4.8 Data Pemberian Obat Pada Pasien DBD
No
Cara Pemberian Obat
Jumlah
Persentase
1 Oral
88
36%
2 Parenteral
134
60,4%
Total
222
100%
Berdasarkan data tabel 4.8, didapatkan hasil cara pemberian obat
pada pasien demam berdarah dengue di instalasi rawat inap RSI Sultan
Agung Semarang yang paling banyak adalah secara parenteral sebanyak
9
134 (60,4%). Saat pasien diindikasikan untuk rawat inap berarti kondisi
pasien lemah. Sehingga perlu pengobatan dengan efek terapi yang cepat.
Kondisi umum pasien saat masuk kebanyakan tidak bisa mengkonsumsi
obat secara peroral, karena mual maka cairan berkurang agar tepat
mendapatkan nutrisi dan mencegah dehidrasi pasien diberi secara
parenteral. Pemberian obat melalui selang intravena merupakan salah satu
cara pemberian obat dengan cara menyuntikkan obat melalui selang
intravena pada pasien yang sedang diinfus dengan tujuan agar obat bekerja
lebih cepat.
D. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pola pengobatan
Demam Berdarah Dengue (DBD) di instalasi rawat inap RSI Sultan Agung
Semarang periode Agustus 2015-Maret 2016 sebagai berikut :
1. Golongan obat yang diberikan pada pasien DBD meliputi rehidrasi 100%,
analgetik-antipiretik 92,5%, antitukak 82,5%, suplemen 60%, antiemetik
50%, anti inflamasi 37,5%, antivirus 27,5%, mukolitik 7,5%, ekspektoran
7,5%, antitusif 2,5%, anti diare 2,5% dan obat lain yang digunakan (anti
jamur 5%).
2. Jenis obat yang paling banyak diberikan RL 95%, parasetamol 92,5%,
ranitidin 37,5%, imesco 17,5%, vitamin C 17,5%, ondansetron 50%,
metilprednisolon 20%, methisoprinol 25% vostrin 5%, OBH 5%, codein
2,5%, atapulgit 2,5% dan nystatin 5% .
3. Cara pemberian obat yang paling banyak diberikan pada pasien DBD ialah
pemberian secara parenteral 60,4%.
E. UCAPAN TERIMAKASIH
Seluruh civitas akademika STIKES Ngudi Waluyo Ungaran, Ketua
Program Studi Farmasi STIKES Ngudi Waluyo Ungaran Drs. Jatmiko Susilo,
Apt., M.Kes, dan RSI Sultan Agung Semarang.
F. DAFTAR PUSTAKA
1. Roose, A. 2008. Hubungan Sosiodemografi dan Lingkungan dengan
Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Bukti
Raya Kota Pekanbaru tahun 2008. Universitas Sumatera Utara, Sekolah
Pascasarjana Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.
2. Achmadi. 2011. Dasar-Dasar Penyakit Berbasis Lingkungan. PT Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
3. World Health Organization. 2009. Regional Guideline for diagnosis,
treatment, prevention and control.
4. Supartha I. 2008. Pengendalian Terpadu Vektor Virus Demam Berdarah
Dengue, Aedes argypti (Linn.) dan Aedes albopictus (Skuse). Universitas
Udayana. Denpasar.
5. Kurane, I. 2007. Dengue Hemmorhagic Fever with Spesial Emphasis on
Immunopathogenesis. Comparative Immunology, Microbiology &
Infectious Disease.
10
6. Dinkes Semarang. 2015. Profil Kesehatan Kota Semarang. Semarang.
7. Ginanjar K. 2008. Demam Berdarah : A Survial Guide. 2-4. Bentang
Pustaka. Bandung.
8. IDAI. 2009. Demam
Penanggulangannya.
Berdarah
Dengue,
Masalah
dan
Cara
9. World Health Organization-South East Asia Regional Office. 2011.
Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue and
Dengue Hemorrhagic Fever.
10. Handinegoro, Sri Rezeki, Soegijanto WS. dan Suroso. 2004. Tatalaksana
Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Depkes RI, Jakarta.
11. Soedarmo S.S., Garna H., Hadinegoro S.R. dan Satari H.I. 2008. Buku
Ajar Infeksi dan Pediatrik Tropis. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.
12. Stoodard. 2013. House to house human movement dreves dengue virus
transmission. PNAS.
13. Kemenkes RI. 2010. Demam Berdarah Dengue 1968-2009. Buletin
Jendela Epidemiologi. Vol 2 :1,5 Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
14. Nadesul. 2016. Demam Berdarah dan Virus Zika.
Kompas. Jakarta.
Penerbit Buku
15. Kusumawati, C. 2007. Ringkasan Studi Penggunaan Obat Pada
Penderita Demam Berdarah Dengue di Rumkital Dr. Ramelan Surabaya.
Surabaya.
16. Mubin. 2005. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam Diagnosis dan
Terapi. EGC. Jakarta.
17. Endah C, Sri RH dan Arwin APA. 2007. Diagnosis dan Tatalaksana
Demam Berdarah Dengue pada Kejadian Luar Biasa Tahun 2004 di
Enam Rumah Sakit di Jakarta. Departemen Ilmu Kesehatan Anak,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
11
Download