habitat makro dan mikro pada foraminifera 31

advertisement
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Oseana, Volume XXII, Nomor 4, 1997 : 31 - 42
ISSN 0216-1877
HABITAT MAKRO DAN MIKRO PADA FORAMINIFERA
Oleh
Ricky Rositasari *)
ABSTRACT
FORAMINIFERAL MACRO AND MICROHABITATS. Foraminifera have been reported
from marine environments extending from tide pool in a marsh to the abyssal plains, each environments could be identified as macrohabitats. Each environment is characterized by its particular
species, their diversity and densities. Morphological varieties on foraminiferal test were effected by
certain environment which they adapted. Preferences and environments or microhabitats such a
sediment and coral surface etc are related to morphotypes. Microhabitats and morphotypes of foraminifera was avaluable in paleoenviromental studies of marine sedimentary sequences to estimate
past water depth or as basic information on modern environmental studies issues.
berupa kajian sejarah lingkungan (Paleoenvironment) yang sangat diandalkan dalam
kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi, atau
kajian bagi lingkungan modern dengan segala
permasalahanya.
PENDAHULUAN
Sebagai biota yang mampu hidup secara
planktonik atau sebagai mikrobentos, foraminifera memiliki sebaran yang sangat luas. Secara
umum hampir seluruh zona samudra dihuni
oleh biota ini, walaupun dalam sebarannya
secara mikro jenis-jenis tertentu memilih habitat spesifik sesuai dengan kebutuhannya.
Pemilihan habitat (sebaran) makro dan mikro
dari foraminifera merupakan suatu implikasi
dari beragamnya karakteristik kondisi perairan
yang dibutuhkan bagi setiap taxa. Daya adaptasi
dan kemampuan toleransi yang berbeda pada
setiap taxa serta sebarannya yang sangat luas
sejakperioda Cambrian pada era Paleozoic (500
juta tahun yang lalu) merupakan aset yang luar
biasa bagi kegiatan yang berhubungan dengan
studi lingkungan. Studi lingkungan ini dapat
EKOLOGI FORAMINIFERA
Ekosistem bahari merupakan kesatuan
dari sifat fisik, kimia dan dinamika perairan
laut, serta semua organisma yang terdapat
didalamnya. Di dalam ekosistem inilah terdapat
habitat individual atau lingkungan lokal dimana
foraminifera hidup dan beradaptasi. Sebagian
besar foraminifera merupakan biota marin yang
hidup sebagai bentos, walaupun ada beberapa
marga yang hidup sebagai biota planktonik dan
beberapa jenis dari suku Allogromiidae dan
Lagynidae yang hidup di perairan tawar.
31
Oseana, Volume XXII no. 4, 1997
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Penelitian terhadap ekologi foraminifera
resen merupakan kajian yang sangat berharga
bagi penafsiran indikator lingkungan purba
(Paleoenviromental indicators) Kajian terhadap
ekologi foraminifera resen ini sangat
bermanfaat pula bagi penafsiran pengaruh
perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia.
Perubahan pada komunitas foraminifera
sebagai elemen mikrobentik dalam suatu
perairan dapat diasumsikan sebagai respon
lingkungan tersebut secara umum terhadap
perubahan yang terjadi. Perubahan tersebut
dapat berupa perubahan kondisi fisik seperti
adanya pembangunan, meningkatnya proses
sedimentasi akibat drainase dari daratan, adanya
limbah pencemar baik yang berupa nutrien
(eutrofikasi), logam berat, bahan organik atau
buangan airpanas. Beberapa faktor lingkungan
yang berpengaruh secara langsung terhadap
kehidupan foraminifera menurut BRASIER
(1980) adalah sebagai berikut:
faktor yang sangat mempengaruhi tingginya
keanekaragaman jenis di dalam suatu
komunitas foraminifera. Sebaliknya pengaruh
fluktuasi musiman seperti yang terjadi di
lingkungan "boreal" menyebabkan terjadinya
blooming dengan kapadatan tinggi dan
keanekaragaman rendah. Menurut BRASIER
(1980) jenis 'opportunistic' ini biasanya cepat
mencapai kedewasaan dengan tingkat
pertumbuhan yang rendah. Pada foraminifera
planktonik terdapat kecenderungan untuk
mencari habitat dimana sering terjadi 'upwelling' karena biota ini dapat tumbuh subur
di perairan yang kaya akan nutrien.
Predasi
Cara hidup foraminifera bentik yang
melekat pada substrat sangat mudah untuk
tehisap oleh biota yang memiliki cara makan
dengan menghisap (filter feeder) seperti cacing,
krustasea, gastropoda, echinodermata dan ikan.
Terdapat dugaan yang menyebutkan bahwa
faktor predasi ini dapat mempengaruhi
penyebaran dan ukuran populasi foraminifera
bentik pada suatu tipe lingkungan.
Makanan
Foraminifera memiliki peranan penting
dalam ekosistem marin yakni sebagai mikroomnivora (Organisma mikro pemakan segala).
Jenis makanan foraminifera sangat bervariasi
mulai dari bakteri yang berukuran kecil. algae,
protista dan beberapa jenis invertebrata (LIPPS
& VALENTINE dalam HAQ & BOERMA
1984). Beberapa jenis ada yang memakan
bangkai. Foraminifera yang hidup di
lingkungan terumbu karang dan paparan
karbonat biasanya memilih untuk hidup secara
'endosyimbiotic' dengan beberapa jenis algae.
Dengan cara simbiosa seperti itulah
dimungkinkna beberapa fosil foraminifera
dapat mencapai bentuk 'raksasa', karena algae
menyediakan senyawa hara dari hasil
fotosintesa sehingga tersedia kalsium karbonat
(CaCO3) maksimal. Terdapat dugaan yang kuat
bahwa sumber makanan memadai merupakan
Substrat
Substrat lumpur dan lanau biasanya
kaya akan kandungan organik dan pori-pori
kecil merupakan habitat tempat ledakan
populasi (blooming) bakteri. Substrat seperti ini
sangat disukai foraminifera karena dapat
menyokong populasi yang besar. Kebanyakan
jenis yang hidup di lingkungan tersebut
memiliki cangkang tipis, rapuh dan berbentuk
bulat telur (elongate).
Substrat yang terdiri dari pasir dan
kerikil biasanya memiliki pori-pori yang lebih
besar. Jenis lingkungan tersebut biasanya tidak
memiliki cadangan makanan sebanyak daerah
yang bersubstrat lumpur-lanau, sehingga
32
Oseana, Volume XXII no. 4, 1997
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
populasinyapun cenderung lebih sedikit. Jenis
foraminifera yang terdapat pada lingkungan ini
memiliki cangkang yang lebih tebal, memiliki
ornamen yang jelas dan berbentuk lonjong
memanjang (fusiform) atau cembung-cembung
(biconvex). Tidak semua foraminifera bentos
hidup dipermukaan substrat, adapula yang
dapat bertahan hingga kedalaman 200 mm di
dalambadan sedimen. Padaumumnya foraminifera bentos bergerak untuk mencari makan
hingga kisaran kedalaman 10 mm.
Foraminifera lebih menyukai substrat
yang lebih keras seperti batuan, cangkang,
rumput laut dan algae biasanya hidup dengan
melekatkan dirinya pada substrat tersebut
secara permananen atau temporer. Jenis-jenis
yang hidup dengan melekatkan diri ini biasanya
memiliki salah satu permukaan cangkang yang
rata atau cekung, yakni sisi dimana biota ini
melekatkan dirinya. Selain bentuk kedua
permukaan cangkang yang berlainan, jenis foraminifera inipun biasanya memiliki variabilitas
morfologi yang lebih tinggi dari pada jenis yang
merayap dalam sedimen atau jenis planktonik.
yang menyediakan banyak makanan dan
perlindungan.
Temperatur
Setiap jenis foraminifera beradaptasi
pada kisaran temperatur tertentu. Titik kritis dari
kisaran ini tercapai bila proses reproduksi sudah
tidak dapat berlangsung. Batas kisaran ini akan
semakin sempit pada jenis-jenis yang hidup di
lingkungan beriklim tropis. Pelapisan air di
samudra menyebabkan terjadinya penurunan
temperatur yang progesif pada lapisan air
terdalam. Sebagai contoh temperatur
permukaan air di daerah tropikal berkisar antara
25°C padahal temperatur paparan abisal dapat
mencapai rata-rata 4°C. Perairan dingin di
kedalaman laut ini biasanya dihuni oleh
kumpulan foraminifera bentik yang telah
beradaptasi terhadap lingkungan tersebut,
namun dilain pihak jenis inipun merupakan
jenis endemik di perairan dangkal daerahdaerah dekat kutub (BRASSSIER 1980).
Oksigen
Pencahayaan
Konsentrasi oksigen di laut dan samudra
tidak berbeda banyak, kecuali di lingkungan
khusus seperti Laut Hitam. Kandungan oksigen rendah pada suatu perairan biasanya
disebabkan oleh tingginya produksi unsur
organik di perukaan air serta gas H2S akibat
dari ledakan populasi bakteri anaerobik di dasar
laut. Namun demikian tedapat dugaan bahwa
kebutuhan oksigen pada biota kecil seperti foraminifera sangatlah kecil. Populasi anaerobik
dicirikan dengan cangkang gampingan, tipis
dan berukuran kecil, tidak ber-ornamen atau
populasi foraminifera dengan cangkang agglutinin. Rendahnya kandungan oksigen mengurangi kemampuan foraminifera untuk
mensekresi kalsium karbonat, keadaan ini akan
bertambah parah bila kondisi perairan juga
Zona dimana matahari masih dapat
menembus kedalam air disebut 'photic zone'.
Di perairan tropik zona ini dapat mencapai
kedalaman sampai 200 meter, dan kedalam ini
terus berkurang ke arah kutub. Kandungan
produsen primer (nutrien yang terdiri dari algae bentik dan planktonik) yang tinggi sangat
menarikbagi foraminifera, terutama jenis-jenis
yang bercangkang porcelaneous (seperti
porselen) seperti Miliolina dan foramini fera
dari jenis yang berukuran besar (larger foraminifera). Kecenderungan foraminifera untuk
memilih zona fotik sebagai habitatnya,
disamping karena sejumlah besar algae sebagai
makanannya, juga karena sebagian besar foraminifera cenderung untuk memilih habitat
33
Oseana, Volume XXII no. 4, 1997
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
bersifat asam (PHLEGER & SOUTAR dalam
BRADDIER 1980).
Pada beberapa jenis foraminifera
planktonik seperti Globigerina pachiderma,
populasi yang hidup di perairan hangat atau
dingin dapat dibedakan dari perputaran
cangkangnya. Perairan hangat didominasi oleh
cangkang yang terputar kerah kanan (sinistral)
dan perairan dingin didominasi oleh cangkang
yang terputar ke arah kiri (dextral). Diagram
ilustrasi dari sebaran foraminifera berdasarkan
perubahan suhu dapat dilihat pada gambar 2.
lebih dingin. Daya larut Kalsium karbonat juga
akan meningkat dengan makin tingginya
tekanan air seperti di perairan dalam (laut
dalam). Oleh sebab itu biota bercangkang
gampingan akan terus berkurang dengan
bertambahnya kedalaman, dan pada zona abisal
hanya biota bercangkang agglutinin yang masih
dapat beradaptasi.
HABITAT MAKRO
Habitat makro pada foraminifera
meliputi seluruh zona dalam samudra, secara
skematis sebaran habitat ini dapat dilihat pada
gambar 1. Secara umum foraminifera dapat
ditemukan mulai dari zona neritik, batial hingga
abisal. Zona neritik yang dapat mencapai
kedalaman 200 meter merupakan habitat yang
banyak dihuni oleh jenis-jenis foraminifera
yang bercangkang gampingan (calcareous)
yang secara umum hidupnya masih tergantung
pada tingginya penetrasi cahaya. Pada zona
perbatasan antara zona neritik (paparan benua)
dengan lereng benua dapat dijumpai foraminifera yang bercangkang gampingan bercampur
dengan foraminifera planktonik. Zona abisal
merupakan habitat yang banyak dihuni oleh
foraminifera planktonik. Foraminifera
planktonik hidup dengan cara melayang-layang
(mengapung) sepanjang kolom air, dengan
demikian daya tembus penetrasi cahaya tidak
banyak mempengaruhi sebaran organisma ini
karena dapat bergerak untuk mendapatkan
intensitas cahaya yang dibutuhkannya. Pada
perbatasan antara zona batial dengan zona
abisal, selain foraminifera planktonik, foraminifera dengan cangkang agglutinin sudah mulai
dapat ditemukan, walaupun masih dalam
kepadatan rendah. Zona abisal merpakan zona
terdalam di samudra, daerah ini merupakan
habitat bagi berbagai jenis foraminifera
aglutinin. Foraminifera dengan cangkang
gampingan tidak dapat ditemukan di zona ini
Salinitas
Kebanyakan foraminifera beradaptasi
pada salinitas normal, sehingga pada
lingkungan tersebut keanekaragaman jenis
foraminifera biasanya tinggi. Lingkungan
bersalinitas rendah seperti teluk berair payau
dan rawa-rawa biasanya dihuni oleh foraminifera agglutinin dengan keanekaragaman
rendah. Foraminifera yang beradaptasi pada
salinitas rendah dicirikan dengan cangkang
yang tersusun dari silikat atau berperekat unsurunsur bersifat besi seperti marga Rheoplax dan
kduargaRotaliacea tertentu seperti Ammonia.
Marga Allogromiina yang lunak dengan
cangkang tektin ditemukan di perairan tawar
dan payau. Konsentrasi kalsium karbonat yang
tinggi pada perairan bersalinitas tinggi (Hypersaline) disukai oleh jenis-jenis bercangkang
seperti porselen (Porcellanous) seperti
Miliolina. Plot berbentuk segitiga yang
menggambarkan proporsi relatif sebaran ketiga
bangsa dalam foraminifera yakni Textulariina,
Miliolina dan Rotaliina dapat dilihat pada
gambar 1.
Kalsium Karbonat.
Day a larut Kalsium karbonat di perairan
hangat, lebih rendah dari pada di perairan yang
34
Oseana, Volume XXII no. 4, 1997
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
karena struktur gampingan tidak cukup kuat
untuk menahan tekanan air yang sedemikian
tinggi. Jenis foraminifera bercangkang agglutinin merupakan organisma yang membangun
cangkang dari materi yang ada disekitarnya.
jenis materi yang biasa digunakan untuk
membangun cangkang agglutinin adalahmika,
silika, fragmen skeletal organisma lain dan lain
sebagainya. Bahan perekatutama dari cangkang
ini adalah oksida besi (BRASIER 1980).
Secara lebih rinci habitat makro ini terbagi
lagi menjadi beberapa tipe lingkungan, yang
dibedakan oleh ciri-ciri ekologi spesifik dari
daerah tersebut. Sebaran foraminifera pada
berbagai tipe lingkungan dapat dilihat pada
gambar 1. Beberapa hasil penelitian berikut ini
akan menggambarkan sebaran foraminifera
mulai dari perairan tawar sampai laut dalam.
Perairan tawar
Foraminifera air tawar merupakan seke-lompok kecil yang masih tegolong primitif, hal
ini dapat dilihat dari struktur cangkangnya yang
hanya terdiri dari selapis jaringan tektin.
Jaringan tektin merupakan lapisan terdalam
cangkang foraminifera pada umumnya. Jaringan ini lunak dan tidak dapat terawetkan. Jika
ada foraminifera dengan struktur cangkang
lebih kompleks (sudah memiliki lapisan
gampingan atau agglutinin) hidup di
lingkungan ini maka biota tersebut akan
memiliki cangkang yang mengalami
penyimpangan (aberrant). Suku Allogromidae
dan Lagynidae merupakan foraminifera bentik
yang biasa menghuni perairan tawar.
35
Oseana, Volume XXII no. 4, 1997
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Paparan benua (continental shelf) dan laut
terbuka
bercangkang gampingan seperti Elphidium,
Ammonia, Nonion, Nonionella, Bulimina,
Bolivina,
Brizalina,
Discorbinella,
Quiqueloculina, Triloculina dan Miliolinella,
seta sejumlah kecil marga agglutinin seperti
Reophax, Textularia, Ammotium, Eggrella dan
Ammoscalaria.
Paparan benua yang dapat mencapai
kedalaman hingga 150 meter tercirikan oleh
beberapa jenis-jenis foraminifera kecil (smaller
foraminifera) bercangkang gampingan dan
sejumlah kecil jenis aggutinin. Foraminifera
planktonik belum dapat ditemukan pada tipe
lingkungan ini. Jenis agglutinin yang terdapat
di lingkungan ini membangun cangkang dengan
interior sederhana BARMAWIDJAYA et al
(1992), JORISSEN (1987), HOHENGER et al.
(1989) dan HOHENEGER (1993) telah
melakukan penelitian di Laut Adriatik yang
merupakan salah satu laut dangkal di dalam
kawasan paparan benua. Peneliti-peneliti
tersebut menemukan lebih kurang 40 sampai
50 marga foraminifera bentik kecil yang
Perairan payau, estuari dan mangrove
Karakteristik substrat perairan payau
berupa sedimen berukuran lebih halus yang
tercampur dengan serpihan tumbuhan yang
membusuk. Faktor pembatas bagi biota yang
hidup di perairan ini adalah kadar salinitas
yang rendah. Faktor lain yang turut serta
mempengaruhi lingkungan perairan ini pada
umumnya adalah proses pasang surut serta
pembahan temperatur, salinitas, kedalaman air,
36
Oseana, Volume XXII no. 4, 1997
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
turbiditas dan kandungan kimiawi air akibat
pengaruh musim (HAQ & BOERSMA 1984).
Penelitian tentang foraminifera bentos
sebagai indikator berbagai bidang yang
berhubungan dengan proses alam di perairan
estuarin telah dilakukan beberapa peneliti
seperti WANG & MURRAY (1983); ALVE &
NAGY (1990); ALVE (1990) dan
ROSITASARI (1997). Hasil-hasil penelitian
tersebut telah berhasil menunjukkan
kemampuan foraminifera bentos dari jenis
tertentu sebagai indikator (petunjuk).
& BOERSMA 1984). Foraminifera planktonik
terdapat di lingkungan ini berkisar antara 50
sampai 85% dari seluruh mikrofauna yang
terdapat di lingkungan tersebut. Populasi foraminifera bentik tidak dapat ditemukan di
sepanjang lereng. Pada zona abisal jenis-jenis
bentik mulai dapat ditemukan kembali,
walaupun jenis planktonik masih dominan di
lingkungan ini, yakni mencapai 75 - 90% dari
seluruh mikrofauna. Semakin dalam suatu
perairan maka CCD (Calsium carbonate compensation depth) akan bertambah. CCD adalah
keadaan dimana kandungan kalsium karbonat
terlarut dalam air setara dengan persediaan yang
ada (BRASIER 1980). Tingginya CCD ini
berdampak pada kelarutan cangkang
gampingan, sehingga perairan dalam cenderung
didominasi oleh jenis-jenis non-gampingan.
Jenis-jenis yang biasa ditemukan di zona abisal
adalah foraminifera bercangkang agglutinin.
Cangkang ini biasanya terdiri dari partikel
gampingan halus dengan tekstur yang tampak
seperti gula. Interior bagian dalam biasanya
kompleks. Dari hasil penelitian CORLISS
(1979) diketahui bahwa sebaran foraminifera
bentos di Lautan Hindia bagian Tenggara hanya
terdiri dari 12 sampai 25 jenis. Sebagian besar
jenis-jenis tersebut hanya muncul sebanyak
10% dari seluruh stasiun.
CORLISS & CHEN (1988) Dalam
penelitian di Laut Norwegia menemukan 9 tipe
morfologi yang berubah dengan bertambahnya
kedalaman. Tipe morfologi (morphotype) ini
berhubungan erat dengan habitat mikro jenis
yang bersangkutan. Kesembilan tipe morfologi
ini hanya mewakili foraminifera yang
bercangkang gampingan, sedangkan tipe
morfologi jenis agglutinin hingga saat ini belum
dapat digunakan sebagai standar. Dalam
penelitian lain CORLISS (1985) menyimpulkan bahwa secara garis besar terdapat dua
cara hidup foraminifera bentos di laut dalam,
yakni sebagai epifauna (melekat/merayap di
Paparan karbonat dan terumbu karang
Menurut HAQ & BOERSMA (1984)
terumbu modern terbentuk diantara 30° lintang
Utara dan 30° lintang Selatan, yakni daerah
perairan hangat yang memiliki penetrasi cahay a
dan kandungan kalsium karbonat tinggi.
Perairan inipun tercirikan dengan kadar
salinitas yang tinggi seta merupakan zona
turbulen. Foraminifera terdapat di lingkungan
ini sebagai biota penempel seperti Homotrema
dan Miniacina, dan sebagai epifauna yang
hidup dalam kerangka terumbu seperti
Calcarina, Amphistegina dan Marginophora.
BRASIER (1975), HALLOCK (1984),
HELFINALIS & ROSITASARI (1988),
ROSITASARI (1988) dan ROSITASARI
(1989) masing-masing telah meneliti
lingkungan terumbu sebagai salah satu habitat
bagi foraminifera bentik. Marga-marga yang
beradaptasi dengan baik di lingkungan ini
adalah Marginophora, Amphistegina,
Peneroplis, Operculina, Archaias, Rotorbinella,
Borelis, Calcarina dan Baculogypsina.
Laut Dalam
Yang biasa disebut sebagai laut dalam
adalah bagian lereng benua (continental slope)
hingga abisal. Litologi dan struktur dari lereng
benua ini cukup kompleks dan bervariasi (HAQ
37
Oseana, Volume XXII no. 4, 1997
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
atas sedimen) dan sebagai infauna (hidup di
dalam badan sedimen). Chilostomella olina,
Globulimina affinis dan Melonis barleanum
merupakan jenis bentos laut dalam yang hidup
secara infauna Cibicidoides kullenbergi,
Hoeglundina elegans, Oridorsalis tener dan
Planulina wuellerstorfi merupakan jenis
mikrobentosyangcenderungbersifat epifauna,
walaupun mampu hidup secara infauna pada
kedalaman terbatas.
HABITAT MIKRO
Habitat mikro adalah lokasi tertentu
dimana biota dari taxa tertentu memiliki
kecenderungan untuk hidup pada suatu
lingkungan. Salah satu contoh dari habitat
mikro adalah permukaan sedimen dan
permukaan rangka karang bagi biota epifauna,
badan sedimen bagi biota infauna, helai daun
atau batang algae dan lamun bagi biota epifauna
38
Oseana, Volume XXII no. 4, 1997
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
39
Oseana, Volume XXII no. 4, 1997
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
40
Oseana, Volume XXII no. 4, 1997
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
Habitat mikro ini erat hubungannya dengan
kajian sebaran mikro seperti pada penelitianpenelitian yang telah dilakukan oleh
HOHENERGER et al. (1983), HOHENEGER
et al (1985), LEE et al (1969) dan CORLISS
(1985).
CORLISS
(1985)
melakukan
pengamatan terhadap distribusi mikro pada
foraminifera bentik yang hidup di laut dalam,
yakni pada sedimen hingga kedalaman 15 cm.
Data sebaran memperlihatkan terdapatnya dua
kelompok biota yang memiliki cara hidup
berbeda yakni epifauna dan infauna. Kedua
kelompok ini memperlihatkan perbedaan pula
pada morfologi cangakangnya, dimana
CORLISS (1985) menyebutkan sebagai tipe
morfologi (morphotype). Ditemukannya biota
yang mampu hidup secara infauna
membuktikan bahwa penyebaran foraminifera
tertentu tidak hanya dipengaruhi secara
langsung oleh kondisi dasar perairan, tapi juga
oleh kondisi fisikokimia sedimen.
Penelitian mengenai pemilihan habitat
mikro secara vertikal ke dalam badan sedimen
pada foraminifera juga dilakukan oleh
BARMAWIDJAJA et al. (1992) di Laut
Adriatik. Penggambaran secara skematik
sebaran mikro dari foraminifera bentik di Laut
Adriatik sebelah Utara dapat dilihat pada
gambar 3,4 dan 5. Dari penggambaran tersebut
dapat dilihat bahwa Bolivina seminuda,
Stainfothia fusiformis, Hopkinsia pacifica
kemampuan untuk hidup secara infaunal.
DAFTAR PUSTAKA
ALVE. E. 1990. Variations in estuarine foraminiferal biofacies with diminishing
oxygen conditions in Drammesfyard,
SE Norway. Paleoeco., Biostra.,
Paleoocean, and Taxon. of agglutinated
foraminifera: 661-694.
ALVE. E. and J. NAGY 1990. Main features
of foraminiferal distribution reflecting
estuarine hydrography in Oslo Fyord.
Mar. Micropal 16 : 181-206.
BARMAWIDJAJA, D.M., F.J. JORISSEN., S.
PUSKARIC and G.J. VAN DER
ZWAAN 1992. Mikrohabitat selection
by benthic foraminifera in the northern
adriatic sea. Jour. For am. Res. 22 (4):
297-317.
BRASIER, M.D. 1980. Microfossil George
Allen & Unwin. Sidney: 380 pp.
BRASIER, M.D. 1975. Morphology and habitat of living benthonic foraminiferids
from caribean carbonate environments.
Revista Espanola de Micropaleontologia VII (3) p: 567-578.
CORLISS, B.H. and C. CHEN 1988. Morphotype patterns of Norwegian Sea deepsea benthic foraminifera and ecological
implications. Geology 16: 716-719.
CORLISS, B.H. 1985.Microhabitat of benthic
foraminifera within deep-sea sediments.
Nature 314 (6010): 435-438.
CORLISS, B.H. 1979. Recent deep-sea benthonic foraminiferal distributions in the
Southeast Indian Ocean: interfered bottom-water routes and ecologycal implications. Marine Geology 31 : 115-138.
HALLOCK, P. 1984. Distribution of selected
species of living algal symbiont-bearing
foraminifera on two Pacific coral reef.
Jour Foram. Res. 14 (4): 250-261.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terimakasih
kepadarekan-rekan seksi Kartografi yang telah
membantu dalam scanning gambar-gambar
yang dibutuhkan untuk penulisan ini.
41
Oseana, Volume XXII no. 4, 1997
sumber:www.oseanografi.lipi.go.id
HAQ, B.U. and A. BOERSMA1984. Introduc-
LEE, J.J.,W.A. MULLER, RJ.STONE, M.E.
McENERY and W. ZUCKER 1969.
Standing crop of foraminifera in
sublitoral epiphytic communities of a
Long Island salt marsh. Int. Jour, on Life
in Oce. and Coas. Waters 4 (1): 44-61.
ROSITASARI. R. 1988. Calcarina sebagai genus indikator pada lingkungan terumbu
karang resen.(B. SITUMORANG ed.)
Pros. Simp. IAGI XVII: 79-85.
ROSITASARI. R. 1989. Beberapa karakteristik
komunitas foraminifera resen di perairan
terumbu karang Pulau Genteng Besar,
Kepulauan Seribu, Jakarta. Makalah
pada acara lustrum VII Fakultas Biologi
UGM, Yogyakarta..
WANG, P and J.W. MURRAY 1983. The use
of foraminifera as indicators of tidal effects in estuarine deposits. Mar.
Geology 51: 239 -250.
tion to marine micropaleontologi.
Elsevier Biomedical, Oxford : 376 pp.
HELFINALIS dan R. ROSITASARI 1988.
Foraminifera di lingkungan terumbu
karang Pulau Pari. Teluk Jakarta.
(M.K. MOOSA, D.P.PRASENO
dan SUKARNO eds.). Puslitbang
Oseanologi-LIPI. Jakarta: 119-124.
HOHENEGER. J., W.E. PILLER and C. BAAL
1989.
Reasons
for
spatial
microdistributions of foraminifers in an
intertidal pool (Northern Adriatic Sea).
Marine Ecology 10(1): 43-78.
HOHENEGER, J., W.E.PILLER and C. BAAL
1993. Horizontal and spatial
microdistribution of foraminifers in the
shallow subtidal gulf of Trieste, Northern Adriatic Sea. Jour. Foram. Res.
23(2): 79-101.
JORISSEN, FJ. 1987. The distribution of
benthic foraminifera in the Adriatic Sea.
Marine Micropaleontology 12:21-48.
42
Oseana, Volume XXII no. 4, 1997
Download