195 – 204 - WordPress.com

advertisement
Jurnal Biologi Indonesia diterbitkan oleh Perhimpunan Biologi Indonesia. Jurnal ini memuat hasil
penelitian ataupun kajian yang berkaitan dengan masalah biologi yang diterbitkan secara berkala dua
kali setahun (Juni dan Desember).
Editor
Ketua
Prof. Dr. Ibnu Maryanto
Anggota
Prof. Dr. I Made Sudiana
Dr. Deby Arifiani
Dr. Izu Andry Fijridiyanto
Dewan Editor Ilmiah
Dr. Abinawanto, F MIPA UI
Dr. Achmad Farajalah, FMIPA IPB
Prof. Dr. Ambariyanto, F. Perikanan dan Kelautan UNDIP
Dr. Didik Widiyatmoko, Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya-LIPI
Dr. Dwi Nugroho Wibowo, F. Biologi UNSOED
Dr. Gatot Ciptadi F. Peternakan Universitas Brawijaya
Dr. Parikesit, F. MIPA UNPAD
Dr. Faisal Anwari Khan, Universiti Malaysia Sarawak Malaysia
Assoc. Prof. Monica Suleiman, Universiti Malaysia Sabah, Malaysia
Dr. Srihadi Agungpriyono, PAVet(K), F. Kedokteran Hewan IPB
Y. Surjadi MSc, Pusat Penelitian ICABIOGRAD
Drs. Suharjono, Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Dr. Tri Widianto, Pusat Penelitian Limnologi-LIPI
Dr. Witjaksono Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Sekretariat
Eko Sulistyadi M.Si, Dewi Citra Murniati M.Si, Hetty Irawati PU, S.Kom
Alamat
d/a Pusat Penelitian Biologi - LIPI
Jl. Ir. H. Juanda No. 18, Bogor 16002 , Telp. (021) 8765056
Fax. (021) 8765068
Email : [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]
Website : http://biologi.or.id
Jurnal Biologi Indonesia :
Akreditasi: No. 657/AU3/P2MI-LIPI/07/2015.
JURNAL BIOLOGI
INDONESIA
Diterbitkan Oleh:
Perhimpunan Biologi Indonesia
Bekerja sama dengan
PUSLIT BIOLOGI-LIPI
OBITUARI
Redaksi Jurnal Biologi Indonesia telah kehilangan seorang editor penelaah Dr. Ir Sri Sulandari, M.Sc.
yang telah berpulang kerahmat Allah SWT pada tanggal 18 Agustus 2015 Jam 16.10 di RSCM,
Jakarta. Jabatan terakhir almarhumah sebagai Peneliti Madya/IVc di Pusat Penelitian Biologi-LIPI
sebagai ahli DNA Molekuler yang menekuni kajian DNA pada ayam lokal Indonesia dan berbagai
hidupan liar khususnya pada burung. Tiga tahun terakhir sangat aktif berusaha menyelamatkan
populasi kambing Gembrong di Kabupaten Karanganyar, Bali. Almarhumah meninggalkan seorang
suami Prof. Dr. Muladno, MSA yang bekerja sebagai guru besar di Fakultas Peternakan, Institut
Pertanian bogor dan saat ini juga sebagai Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan,
Kementerian Pertanian, serta dua anak laki-laki Aussie Andry Vermarchnanto M. dan Endyea
Mendelian.
Jurnal Biologi Indonesia yang diterbitkan oleh PERHIMPUNAN BIOLOGI INDONESIA bekerjasama
dengan PUSLIT BIOLOGI-LIPI. Edisi volume 11 No. 2 tahun 2015 memuat 15 artikel lengkap dan
satu artikel tulisan pendek. Penulis pada edisi ini sangat beragam yaitu dari Balai Besar Penelitian
Veteriner-Deptan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik
Pertanian, Bogor, Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Bandung, Departemen Konservasi
Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan-IPB, Dept. Biokimia FMIPA-IPB, Institut
Sains dan Teknologi Nasional Jakarta, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Pesisir &
Laut, Balitbang Kelautan & Perikanan, Kementerian Kelautan & Perikanan, Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Program Studi Manajemen
Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan-Universitas Maritim Raja Ali HajiTual, Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya–LIPI, Puslit Biologi-LIPI, Puslit Bioteknologi-LIPI.
Jurnal Biologi Indonesia mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para pakar yang telah
turut sebagai penelaah dalam Volume 11 No 2, Desember 2015:
Dr. Niken Tunjung Murti Pratiwi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB
Dr. Agus Prijono Kartono, Fakultas Kehutanan IPB
Ir. Drs. Eko Harsono MSi, Puslit Limnologi-LIPI
Dra. Donowati Tjokrokusumo M.Phil, Pusat Teknologi Bioindustri, BPPT
Ir. M. Syamsul Arifin Zein MSi, Puslit Biologi LIPI
Drh. Anang S. Achmadi MSc, Puslit Biologi LIPI
Dr. Yuyu S. Poerba, Puslit Biologi LIPI
Ir. Dwi Agustiyani MSc, Puslit Biologi LIPI
Dr. Apon Zaenal Mustopa, Puslit Bioteknologi LIPI
Dr. Yopi Puslit Bioteknologi LIPI
Dr. Joeni S. Rahajoe, Puslit Biologi LIPI
Dr. Wartka Rosa Farida, Puslit Biologi LIPI
BIOLOGI
Halaman
Efikasi Vaksin Inaktif Bivalen Avian Influenza Virus Subtipe H5N1 (Clade 2.1.3. dan Clade
2.3.2) di Indonesia
NLP. Indi Dharmayanti & Risa Indriani
169
Klon-klon Kentang Transgenik Hasil Persilangan Terseleksi Tahan terhadap Penyakit
Hawar Daun Phytophthora infestans Tanpa Penyemprotan Fungisida di Empat Lapangan
Uji Terbatas
Alberta Dinar Ambarwati, Kusmana, & Edy Listanto
177
Penambahan Inokulan Mikroba Selulolitik pada Pengomposan Jerami Padi untuk Media
Tanam Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)
Iwan Saskiawan
187
Identifikasi Molekular dan Karakterisasi Morfo-Fisiologi Actinomycetes Penghasil Senyawa
Antimikroba
Arif Nurkanto & Andria Agusta
195
Populasi dan Kesesuaian Habitat Langkap (Arenga obtusifolia Mart.)
di Cagar Alam Leuweung Sancang, Jawa Barat
Didi Usmadi, Agus Hikmat, Joko Ridho Witono, & Lilik Budi Prasetyo
205
Optimasi Produksi Enzim Amilase dari Bakteri Laut Jakarta (Arthrobacter arilaitensis )
Awan Purnawan, Y. Capriyanti, PA. Kurniatin, N. Rahmani, & Yopi
215
Pengaruh Antioksidan Eksopolisakarida dari Tiga Galur Bakteri Asam Laktat pada Sel
Darah Domba Terinduksi tert-Butil Hidroperoksida (t-BHP)
Fifi Afiati, Nina Ainul Widad, & Kusmiati
225
Ekosistem Lamun sebagai Bioindikator Lingkungan di P. Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara
Agustin Rustam, Terry L. Kepel, Mariska A. Kusumaningtyas, Restu Nur Afi
Ati, August Daulat, Devi D. Suryono, Nasir Sudirman, Yusmiana P. Rahayu,
Peter Mangindaan, Aida Heriati, & Andreas A. Hutahaean
233
Identification of Bioactive Compound from Microalga BTM 11 as Hepatitis C Virus RNA
Helicase Inhibitor
Apon Zaenal Mustopa, Rifqiyah Nur Umami, Prabawati Hyunita Putri, Dwi
susilaningsih, & Hilda Farida
243
Kemampuan Cerna Protein dan Energi Metabolisme Perkici Pelangi (Trichoglossus
haematodus )
Rini Rachmatika & Andri Permata Sari
253
Optimasi Enzim α-Amilase dari Bacillus amyloliquefaciens O1 yang Diinduksi Substrat
Dedak Padi dan Karboksimetilselulosa
Yati Sudaryati Soeka, Maman Rahmansyah, & Sulistiani
259
Kajian Aspek Ekologis dan Daya Dukung Perairan Situ Cilala
Niken T.M. Pratiwi, Sigid Hariyadi, Inna Puspa Ayu, Aliati Iswantari,
Novita MZ, & Tri Apriadi
267
Halaman
Penanda Genetik Tarsius (Tarsius spp.) dengan Menggunakan Gen Cytochrome Oxidase I
275
(COI) DNA Mitokondria (mtDNA) Melalui Metode Sekuensing
Wirdateti, Sri Wijayanti Wulandari, & Paramita Cahyaningrum Kuswandi
Carboxymethyl Cellulose Hydrolyzing Yeast Isolated from South East Sulawesi, Indonesia
Atit Kanti
285
Uji Bakteri Simbiotik dan Nonsimbiotik Pelarutan Ca vs. P dan Efek Inokulasi Bakteri pada
Anakan Turi (Sesbania grandiflora L. Pers.)
Sri Widawati
295
TULISAN PENDEK
Mating behavior of Slow Loris (Nycticebus coucang ) at Captivity
Wartika Rosa Farida & Andri Permata Sari
309
Identifikasi Molekular dan Karakterisasi Morfo-Fisiologi Actinomycetes Penghasil
Senyawa Antimikroba
(Molecular Identification and Morpho-Physiological Characterization of
Actinomycetes with Antimicrobial Properties)
Arif Nurkanto & Andria Agusta
Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jl. Jakarta Bogor KM 46, Cibinong,
Bogor 16911
Email : [email protected]
Memasukkan: November 2014, Diterima: Maret 2015
ABSTRACT
The objectives of study were to identify antimicrobial producing Actinomycetes using 16S rDNA analyses and
morphology and physiology characteristics. Eight Actinomycetes strain with the higest antibacterial and
antifungal activity were selected and identified using six primers (20F, 520F, 920F, 1500R, 920R, and 520R).
Morphological observation and physiology analyses were performed to the selected strain to accurately identify
the strains. Morphological characters observed were aerial mycelium, spore chain, colony form, and pigment
production. Physiological characterizations were antimicrobial properties, growth temperature, pH tolerance,
salinity concentration for growth, sugars assimilation, and some enzymes production (arginine dihydrolase,
urease, ß-glucosidase, protease, ß-galactosidase). Based on homology search by BLAST program and
phylogenetic tree analyses, all of isolates were identified as the genus Streptomyces. They belong to eight
different spesies. Isolates RC-SS-37-4, RC-SS-37-16 and BL-22-3 have been identified as Streptomyces
costaricanus (100 %), Streptomyces costaricanus (99.8 %) and Streptomyces parvulus (98.6 %), respectively.
Five isolates were identified as Streptomyces spp. (BL-36-1, BL-20-2, BL-14-2, BL-22-1 and BL-06-5) and can
be presumed as new species because of the low homology value to their closest related spesies.
Keywords : actinomycetes, antimicrobial, morphology, phylogenetic, physiology, 16S rRNA gene.
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengidentifikasi isolat actinomycetes dengan kemampuan
antimikroba menggunakan analisis 16S rDNA dan mengkarakterisasinya secara morfologi dan fisiologi.
Sebanyak delapan isolat dengan aktivitas antibakteri dan antifungi tertinggi telah diidentifikasi menggunakan 6
primer (20F, 520F, 920F, 1500R, 920R, and 520R). Karakter morfologi dan fisiologi juga diamati dalam
penelitian ini. Karakter morfologi diamati berdasarkan parameter kunci berupa miselium aerial, bentuk rantai
spora, koloni dan produksi pigmen. Karakter fisiologi berupa aktivitas antimikroba, suhu pertumbuhan,
toleransi keasaman (pH), konsentrasi salinitas, asimilasi gula dan produksi enzim khusus (arginin dihidrolase,
urease, ß-glukosidase, protease dan ß-galaktosidase). Berdasarkan persamaan homologi melalui metode
BLAST dan analisis pohon filogenetik, semua isolat teridentifikasi sebagai Streptomyces. Isolat tersebut
teridentifikasi menjadi tujuh jenis. Isolat RC-SS-37-4, RC-SS-37-16 dan BL-22-3 berturut-turut teridentifikasi
sebagai Streptomyces costaricanus (100 %), Streptomyces costaricanus (99.8 %) dan Streptomyces parvulus
(98.6 %). Lima isolat teridentikasi sebagai Streptomyces spp. (BL-36-1, BL-20-2, BL-14-2, BL-22-1 dan BL06-5) dan merupakan kandidat jenis baru karena memiliki nilai homologi yang rendah terhadap jenis
terdekatnya.
Kata Kunci : actinomycetes, antimikroba, fisiologi, filogenetik, gen 16S rRNA, morfologi.
PENDAHULUAN
Actinomycetes merupakan kelompok bakteri
Gram positif dan terdistribusi luas di alam.
Actinomycetes dikenal sebagai mikroorganisme
saprofitik pada tanah dan seresah (Takisawa et al.
1993). Secara umum, actinomycetes dibedakan
menjadi dua kelompok. Kelompok tersebut adalah
Streptomyces dan rare-actinomycetes (Kurtboke
2001). Rare-actinomycetes digunakan sebagai istilah
untuk menyebut genus selain Streptomyces. Rare-
actinomycetes terdiri dari 201 genus, relatif lebih
sulit diisolasi, dan pertumbuhan yang lebih
lambat dibandingkan dengan Streptomyces
(Miyadoh 1997).
Kelas Actinobacteria memiliki 6 ordo, 46
famili, dan 202 genus. Jumlah spesies yang telah
ditemukan sebanyak 2.335. Jumlah actinomycetes masih terus bertambah seiring dengan banyak
penemuan taksa baru yang didorong oleh penelitian
yang intensif. Streptomyces merupakan genus
terbesar dengan jumlah spesies lebih dari 500. Selain
Nurkanto & Agusta
Streptomyces, genera dominan yang juga banyak
ditemukan di antaranya Nocardia, Actinomadura,
Micromonospora, Microbispora, Streptosporangium,
dan Actinoplanes (Madigan et al. 2003, Goodfellow
et al. 2011).
Identifikasi molekuler terhadap actinomycetes
dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan.
Identifikasi gen-gen tertentu yang menjadi penanda
suatu tingkat takson dalam actinomycetes telah
banyak dikembangkan. Sebagai contoh identifikasi
small sub unit (SSU) DNA, large sub unit (LSU)
DNA, dan multilocus gene. Analisis gen 16S
rRNA dalam SSU merupakan metode identifikasi
actinomycetes yang paling sering digunakan
(Embley & Stackebrandt 1994).
Identifikasi gen 16S rRNA didasarkan pada
banyak faktor. Gen 16S rRNA bersifat multi
copy karena terdapat sekitar 150-300 copy di
dalam genom. Hal tersebut mempermudah
untuk mendapatkannya dalam genom. Dalam
gen 16S rRNA terdapat daerah variabel dan
konservatif yang dapat dijadikan pembeda antar
spesies. Secara umum, gen 16S rRNA adalah
gen non fungsional dan bersifat lebih
konservatif karena evolusi berjalan lambat
(Avise 1994; Palys et al. 1997). Database
tentang bakteri berdasarkan identifikasi 16S
rRNA sudah banyak sehingga memudahkan
dalam pembandingan. Perpindahan gen 16S
rRNA secara horizontal tidak dapat terjadi
sehingga dapat dijadikan penanda spesies. Gen
16S rRNA bersifat universal pada bakteri
(Koonin 2003; Santos & Ochman 2004).
Identifikasi actinomycetes data sekuen 16S
rDNA relatif kompleks. Spesies actinomycetes
yang sama umumnya memiliki homologi
sequence gen 16S rDNA di atas 98 %. Nilai
homologi 98 % atau kurang mengindikasikan
spesies yang berbeda (Jauh-Hsun et al. 2002;
Patel et al. 2004). Walaupun demikian, dalam
beberapa kasus actinomycetes dapat dikelompokkan
menjadi spesies baru walaupun homologi 16S
rDNA di atas 99 %. Hal tersebut terjadi jika
nilai homologi hibridisasi DNA-DNA rendah,
atau kurang dari 70 % (Jauh-Hsun et al. 2002;
Patel et al. 2004).
Karakterisasi morfologi dan fisiologi juga
merupakan faktor penting. Adanya data morfologi
dan fisiologi dalam tahap identifikasi actinomycetes
dapat digunakan untuk mendiskripsikan isolat-isolat
196
yang sudah diidentifikasi secara molekuler.
Dalam beberapa kasus, sering dijumpai
kemiripan jenis dalam actinomycetes secara
molekuler, namun berbeda secara morfologi dan
fisiologi. Hal tersebut dapat terjadi jika
identifikasi molekuler yang dilakukan hanya
terhadap satu atau beberapa gen penanda saja
(Madigan et al. 2003). Adanya data morfologi,
fisiologi, dan molekuler akan memberikan hasil
yang akurat tentang identitas actinomycetes.
Karakterisasi tersebut dapat berupa kemampuan
asimilasi berbagai jenis gula, toleransi suhu
pertumbuhan, toleransi salinitas dan derajat
keasaman (pH), produksi beberapa enzim
tertentu, observasi morfologi miselium dan
spora, serta produksi senyawa tertentu. Perbedaan
karakter morfologi, fisiologi, dan biokimia antar
isolat actinomycetes, dapat menjadi kunci dalam
deskripsi spesies, selain informasi data molekuler.
Penelitian bertujuan untuk menemukan
identitas isolat-isolat actinomycetes yang
memiliki aktivitas antimikroba. Actinomycetes
yang diidentifikasi merupakan hasil seleksi dari
seratus isolat actinomycetes dengan aktivitas
antimikroba tertinggi berdasarkan penapisan yang
telah dilakukan pada penelitian sebelumnya.
Analisis filogenetik berdasarkan data molekuler
juga dilakukan untuk mengetahui hubungan
kekerabatan antar isolat yang diidentifikasi
maupun isolat actinomycetes lain. Analisis
filogenetik yang dilakukan sangat membantu
dalam menemukan jenis actinomycetes lain
yang memiliki kekerabatan dekat dengan isolat
yang sedang diidentifikasi. Karakterisasi
morfologi dan fisiologi terhadap isolat tersebut
juga dilakukan dalam penelitian ini untuk
melengkapi data melekuler yang diperoleh dan
digunakan sebagai dasar diskripsi isolat-isolat
yang sudah teridentifikasi.
BAHAN DAN CARA KERJA
Mikroba yang digunakan adalah isolat
actinomycetes yang memiliki aktivitas antimikroba
berdasarkan hasil penapisan yang telah dilakukan.
Isolat tersebut adalah BL-36-1, BL-20-2, BL-14
-2, RC-SS-37-4,RC-SS-37-16, BL-22-1, BL-065 dan BL-22-3. Isolat tersebut ditumbuhkan
pada medium yeast starch agar (YSA),
Internasional standard Streptomyces 2 (ISP2).
Identifikasi Molekular dan Karakterissasi Morfo-Fisiologi Actinomycetes
DNA diekstraksi menggunakan metode
Guanidin EDTA Sarkosil (GES) (Pitcher et al.
1989). Gen 16S rRNA diamplifikasi dengan
menggunakan primer universal untuk bakteri
sesuai yang dilakukan Suriyachadkun et al. (2010),
yaitu 20F (5’-GATTTTGATCCTGGCTCAG–3’)
dan 1500R (5-GTTACCTTGTTACGACTT–3’).
Proses cycle sequencing dengan menggunakan Kit
BigDye Terminator v3.1 (Applied Biosystems) dan
primer 20 F, 520 F (5’-GTGCCAGCAGCCGCGG3’, 920 F (5’-AAACTCAAATGAATTGACGG-3’),
520 R (5’-ACCGCGGCTGCTGGC-3’), 920 R (5’CCGTCAATTCATTTGAGTTT-3’) dan 1500 R
(Yukphan et al. 2004; Nurkanto et al. 2010).
Produk PCR kemudian dianalisis dengan mesin
Automated DNA sequencer (ABI PRISM 3130
Genetic Analyzer; Applied Biosystems).
Analisis DNA menggunakan program BioEdit
dan program Basic Local Alignment Search
Tool (BLAST) pada database Bank gen
National Center for Biotechnology Information
(NCBI) (Hall 1999) dan Ribosomal Database
Project (RDP). Data NCBI BLAST tersedia pada
laman http://www.ncbi.nlm.nih.gov, sedangkan RDP
pada laman http://www.rdp.cme.msu.edu.
Analisis filogenetik menggunakan program
Clustal X versi 1.83 (Thompson et al. 1997).
Konstruksi pohon filogenetik berdasarkan jarak
kekerabatan genetik dengan metode Neighbor
joining (Saitou & Nei 1987). Konstruksi jarak evolusi
dalam derajat kepercayaan menggunakan bootstrap
value pada program NJ plot dengan 1.000 replikasi
bootstrap berdasarkan Felsenstein (1985). Spesies
pembanding yang digunakan adalah spesies type.
Data sekuen spesies type tersebut diperoleh dari
RDP.
Uji antimikroba dilakukan terhadap bakteri
(E. coli, B. subtilis, S. aureus, M. luteus) dan
jamur (C. albicans dan S. cereviceae). Analisis
antimikroba dengan menggunakan metode
difusi agar (Reller et al. 2009; Jorgensen 1999;
Baeur et al. 1996).
Karakterisasi dilakukan terhadap delapan
isolat terseleksi yang telah di sekuensing.
Karakterisasi yang dilakukan berupa pengamatan
morfologi dan fisiologi. Karakterisasi morfologi
dilakukan dengan mengamati ada tidaknya miselium
aerial, bentuk spora, warna koloni, warna miselium,
dan produksi pigmen, yang ditumbuhkan pada
medium yang berbeda (YSA dan ISP2).
Karakterisasi fisiologi dilakukan dengan mengamati
suhu pertumbuhan, toleransi salinitas, toleransi pH,
kemampuan asimilasi berbagai sumber karbon
dan kemampuan memproduksi enzim tertentu.
Masing-masing isolat actinomycetes ditumbuhkan
pada medium ISP2 agar kemudian diinkubasi pada
suhu 4, 10, 20, 27, 37 dan 45 oC. setelah 14 hari
inkubasi, pertumbuhan diamati untuk mendapatkan
data toleransi suhu pertumbuhan. Toleransi salinitas
juga dilakukan dengan pengamatan pertumbuhan
isolat pada medium ISP2 agar dengan penambahan
variasi konsentrasi NaCl 0, 1, 3, 5 dan 10% (w/
v). metode yang serupa juga dilakukan untuk
memperoleh data toleransi pH, isolat ditumbuhkan
pada medium ISP2 dengan variasi pH (3, 5, 7, 9, 11
dan 13) dan diinkubasi pada suhu 28 oC.
Kemampuan asimilasi karbon dan produksi
enzim tertentu dilakukan dengan menggunakan
Api® kit (Biomerieux) dengan metode sesuai
dengan instruksi dari penyedia kit.
HASIL
Sebanyak delapan isolat dengan aktivitas
antimikroba telah diseleksi untuk identifikasi.
Gambar isolat terseleksi tersebut tersaji pada
Gambar 1. DNA delapan isolat telah teramplifikasi
seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Berdasarkan
marker 1 kilobasa (1 kb) yang telah digunakan,
terlihat bahwa semua DNA yang teramplifikasi
memiliki panjang sekitar 1500 pasang basa
(1500 bp). Hal tersebut sesuai dengan target
identifikasi gen 16S rRNA, yaitu nukletida
dengan panjang sekitar 1500 bp.
Hasil sekuensing yang telah dilakukan
menggunakan enam jenis primer diperoleh
panjang nukleotida yang berbeda untuk tiap
primer yang digunakan. Panjang nukleotida
untuk tiap primer berkisar antara 325 – 975.
Nukleotida yang diperoleh untuk tiap primer
telah disambung (contiq) untuk mendapatkan
urutan hasil sekuen penuh dari gen 16S rRNA.
Kalkulasi hasil sekuensing seperti pada Tabel 1.
Hasil contiq yang telah dilakukan, diperoleh
urutan nukleotida dari delapan isolat actinomycetes.
Panjang nukleotida tersebut berkisar 1400 bp.
Identitas isolat actinomycetes telah diperoleh
melalui BLAST berdasarkan urutan basa tersebut.
Hasil identifikasi molekuler isolat actinomycetes
adalah seperti pada Tabel 2.
197
Nurkanto & Agusta
Konstruksi pohon filogenetik
Konstruksi pohon filogenetik yang
menggambarkan hubungan kekerabatan antar spesies
dapat dilakukan untuk mempermudah analisis hasil
identifikasi. Konstruksi pohon filogenetik dalam
penelitian ini digunakan untuk mengetahui
hubungan kekerabatan secara kladistik antar
isolat actinomycetes terseleksi. Hubungan
tersebut ditunjukkan pada Gambar 3.
Karakterisasi morfologi dan fisiologi isolat
Actinomycetes
Pengamatan yang telah dilakukan dengan
membandingkan karakter antar isolat. Karakter
yang diambil dalam penelitian ini adalah
aktivitas antimikroba (Tabel 3), bentuk rantai
spora, warna koloni, warna pigmen (Tabel 4),
toleransi suhu pertumbuhan, salinitas dan
derajat keasaman (pH), kemampuan asimilasi
gula dan produksi enzim tertentu (Tabel 5).
1
A
B
C
D
E
F
G
H
2
3
Gambar 1. Bentuk koloni isolat actinomycetes
terseleksi aktivitas antimikroba tertinggi, dimana A : isolat BL-36-1; B : isolat BL-06-5;
C : isolat BL-20-2; D : isolat RC-SS-37-4; E :
isolat RC-SS-37-16; F : isolat BL-14-2; G :
isolat BL-22-1; dan H : isolat BL-22-3.
Gambar 2. Hasil elektroforesis produk PCR gen
16S rRNA dari delapan isolat actinomycetes.
dari kiri ke kanan : marker 1 kb, BL-36-1,
BL-20-2, BL-14-2, RC-SS-37-4, RC-SS-3716, BL-22-1, BL-06-5, BL-22-3 dan BL-225.
198
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil identifikasi gen 16S rRNA,
delapan isolat actinomycetes masuk dalam genus
Streptomyces. Sebanyak lima isolat memiliki
persentase homologi terhadap strain type terdekatnya
dengan nilai kurang dari 98 %. Isolat tersebut adalah
BL-36-1, BL-20-2, BL-14-2, BL-22-1, dan BL-06-5.
Menurut Jauh-Hsun et al. (2002) dan Patel et al.
(2004), nilai homologi 98 % atau kurang
mengindikasikan spesies yang berbeda atau dapat
dipertimbangkan sebagai spesies baru. Walaupun
demikian, dalam beberapa kasus, actinomycetes
dapat dikelompokkan menjadi spesies baru walaupun
homologi 16S rDNA di atas 98 %. Hal tersebut
terjadi jika nilai homologi hibridisasi DNA-DNA
rendah, atau kurang dari 70 % (Jauh-Hsun et al.
2002; Patel et al. 2004).
Analisis filogenetik pada Gambar 2
menunjukkan bahwa delapan isolat actinomycetes
terpisah menjadi tujuh kelompok. Isolat RC-SS-3716 dan RC-SS-37-4 berada dalam satu cabang
dengan spesies terdekatnya, Streptomyces
costaricanus (T); NBRC 100773; AB249939.
Isolat BL-22-3 berkerabat dekat dengan
Streptomyces parvulus (T); NBRC 13193;
AB184326. Isolat BL-36-1, BL-20-2, dan BL22-1 secara filogenetik terpisah dengan spesies
Tabel 1. Kalkulasi panjang nukleotida hasil sekuensing gen 16S rRNA terhadap delapan
isolat actinomycetes dengan menggunakan
enam primer yang berbeda
Identifikasi Molekular dan Karakterissasi Morfo-Fisiologi Actinomycetes
terdekatnya. Hasil analisis filogenetik menunjukkan
hasil yang hampir sama dengan homologi
sekuen DNA dimana lima isolat (BL-36-1, BL20-2, BL-14-2, BL-22-1, dan BL-06-5)
merupakan kandidat jenis baru berdasarkan full
sequence gen 16S rRNA
Gambar 3 menunjukkan hampir semua
spesies terdekat dari actinomycetes yang
diidentifikasi memiliki aktivitas antimikroba.
Hal tersebut menunjukkan bahwa studi filogenetik
yang telah dilakukan tidak hanya berperan dalam
mengetahui hubungan kekerabatan terhadap spesies
lain maupun perubahan evolusi dari nenek moyang
bersama secara genetik. Pengelompokan aktivitas
biologi juga dapat diketahui melalui analisis
filogenetik. Hal tersebut berarti analisis filogenetik
dapat dimanfaatkan untuk studi pencarian senyawa
obat yang bersumber dari mikroba.
Berdasarkan hasil observasi karakter morfologi
dan fisiologi seperti pada Tabel 3-5, diketahui
bahwa delapan isolat terpilih memiliki karakter
yang berbeda. Semua isolat memiliki kemampuan
memproduksi metabolit yang bersifat sebagai
antimikroba, namun selektif terhadap jenis mikroba
Tabel 2. Hasil identifikasi gen 16 S rRNA isolat actinomycetes yang memiliki kemampuan antimikroba
tertinggi.
Kode isolat
BL-36-1
BL-20-2
BL-14-2
RC-SS-37-4
RC-SS-37-16
BL-22-1
BL-06-5
BL-22-3
Jumlah
nukleotida
1328
1454
1409
1404
1453
1448
1515
1470
Spesies identik
Streptomyces mobaraensis (T); NRRL B-3729T; DQ442528
Streptomyces violarus (T); NBRC 13104; AB184316
Streptomyces kanamyceticus (T); NRRL B-2535T; DQ442511
Streptomyces costaricanus (T); NBRC 100773; AB249939
Streptomyces costaricanus (T); NBRC 100773; AB249939
Streptomyces labedae (T); NBRC 15864; AB184704
Streptomyces kunmingensis (T); NRRL B-16240T; DQ442513
Streptomyces parvulus (T); NBRC 13193; AB184326
Persentase
homologi
95.2
97.4
93.9
100
99.8
94.6
96.2
98.6
Gambar 3. Pohon filogenetik delapan isolat actinomycetes yang diidentifikasi berdasarkan full sequence gen
16S rRNA, metode Neighbor-Joining dengan 1.000 replikasi bootstrap, Dimana GP = anti bakteri gram
positif, GN = antibakteri gram negatif, AF = antifungi, AK = antikanker, dan [--] = tidak memiliki aktivitas antimikroba.
199
Nurkanto & Agusta
Tabel 3. Aktivitas antimikroba isolat actinomycetes setelah 7 hari inkubasi pada medium cair ISP2.
Isolat
Antimikroba B-36-1 BL-20-2 BL-14-2 RC-S S -37-4RC-S S -37-16 BL-22-1 BL-06-5 BL-22-3
E.coli
-
+
+
-
-
-
-
-
B.subtilis
+
+
S. aureus
+
+
+
-
+
+
-
+
-
+
+
+
-
+
M. luteus
+
+
+
+
+
+
-
+
C.albicans
S.
cereviceae
-
-
-
-
-
-
+
-
+
+
-
+
+
+
+
+
Tabel 4. Karakterisasi morfologi actinomycetes terseleksi
Parameter Pengamatan
B-36-1
+
Isolat
BL-20-2 BL-14-2 RC-S S -37-4 RC-S S -37-16 BL-22-1 BL-06-5 BL-22-3
+
+
+
+
+
+
+
Aerial mycelium
Bentuk rantai spora
Rectiflexibiles
+
Spirales
+
+
Verticillate
Rectinaculiaperti
Warna koloni, miselium dan pigmen pada medium YS A
Warna koloni
abu-abu merah
merah
Produksi pigmen ke media
Koloni bawah
abu-abu oranye
merah
Warna koloni, miselium dan pigmen pada medium IS P2
Warna koloni
abu-abu coklat
merah
Produksi pigmen ke media abu-abu
Koloni bawah
abu-abu coklat
merah
tertentu, seperti isolat BL-14-2 hanya memiliki
aktivitas antibakteri dan satu isolat BL-06-5 hanya
memiliki aktivitas antifungi. Enam isolat yang
lain memiliki aktivitas antibakteri dan antifungi.
Semua isolat memiliki aerial miselium tetapi
memiliki bentuk rantai spora yang berbeda,
yang dikatagorikan menjadi empat bentuk. Hal
yang unik adalah bahwa dalam satu isolat dapat
memiliki warna koloni, miselium, dan produksi
pigmen yang tidak selalu sama ketika ditumbuhkan
pada medium yang berbeda (ISP-2 dan YSA). Hal
tersebut menunjukkan bahwa perbedaan komposisi
medium dapat mempengaruhi sebagian karakter
morfologi dari actinomycetes. Semua isolat
memiliki toleransi suhu dan pH pertumbuhan
yang sama, yaitu 20-37 oC dan 7-9. Toleransi
salinitas bervariasi, namun tidak lebih dari 3 %.
Kemampuan asimilasi gula menunjukkan profil
yang berbeda untuk setiap isolat, tidak ada isolat
yang memiliki kemampuan menggunakan jenis
200
+
-
+
-
+
-
abu-abu
kuning
hitam
abu-abu
kuning
hitam
kuning
kuning
putih
kuning
kuning
putih
kuning
kuning
kuning
kuning
+
-
+
-
Putih abu-abu
coklat
kuning
abu-abu abu-abu
coklat
coklat
coklat
putih
putih
gula yang sama persis. Uji produksi enzim
menunjukkan hasil yang positif, kecuali pada
kemampuan pengasaman glukosa, semua tidak
aktif kecuali isolat BL-06-5.
Berdasarkan analisis filogenetik dan hasil
identifikasi, isolat RC-SS-37-4 dan RC-SS-3716 merupakan spesies yang sama. Kedua isolat
tersebut teridentifikasi sebagai Streptomyces
costaricanus. Analisis alignment menggunakan
program Clustal X 2.0.11 dan BLAST 2
sequences pada NCBI gene bank menunjukkan
tidak terdapat berbedaan nukleotida antara
kedua isolat dengan homologi sebesar 100 %.
Data karakterisasi antara kedua isolat tersebut
hampir sama. Walaupun demikian, terdapat
sedikit perbedaan dari karakterisasi fisiologi,
dimana isolat RC-SS-37-16 dapat menghambat
B. subtilis sedangkan RC-SS-37-4 tidak dapat.
Isolat RC-SS-37-4 mampu mengasimilasi
adipat, malat, dan fenil asetat, sedangkan isolat
Identifikasi Molekular dan Karakterissasi Morfo-Fisiologi Actinomycetes
Tabel 5. Karakterisasi fisiologi actinomycetes terseleksi
Isolat
Parame te r
pe ngamatan
Suhu pe rtumbuhan
4 oC
10 o C
20 o C
27 o C
37 o C
45 o C
B-36-1
BL-20-2 BL-14-2 RC-SS-37-4 RC-SS-37-16BL-22-1
BL-06-5
BL-22-3
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
-
-
-
-
-
-
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
-
-
+
-
+
+
+
-
-
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
-
-
-
-
-
-
-
Asimilasi gula
Glukosa
Arabinosa
Mannosa
Mannitol
N-acetyl glukosamin
Maltosa
Glukonat
Kaprat
Adipat
Malat
Sitrat
Fenil-asetat
+
+
+
+
+
-
+
+
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
Produksi e nz im
Pengasaman glukosa
Arginin dihidrolase
Urease
ß-glukosidase
Protease
ß-galaktosidase
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
Tole ransi salinitas
0%
1%
3%
5%
10%
Tole ransi pH
3
5
7
9
11
13
RC-SS-37-16 tidak mampu mengasimilasi gula
tersebut. Sedikit perbedaan karakter antar kedua
isolat diduga hanya menunjukkan perbedaan
pada level strain, sedangkan spesiesnya tetap
sama, yaitu Streptomyces costaricanus.
Analisis menyimpulkan bahwa isolat RCSS-37-4 dan RC-SS-37-16 adalah satu spesies,
namun kemungkinan berbeda strain atau sub
spesies didukung oleh data penelitian lain.
-
Penelitian yang dilakukan oleh Esnard et al.
(1995) menyatakan bahwa actinomycetes dalam
satu spesies dapat memiliki karakter morfologi
dan fisiologi yang berbeda, seperti yang terjadi
pada S. hygroscopicus dan S. hygroscopicus subsp.
decoyinus. Kedua spesies S. hygroscopicus tersebut
memiliki perbedaan warna koloni, kemampuan
asimilasi gula, toleransi salinitas dan pH, serta
resistensi beberapa jenis antibiotik. Walaupun
201
Nurkanto & Agusta
demikian, sekuen gen 16S rRNA kedua isolat
tersebut identik.
KESIMPULAN
Berdasarkan full sequence identifikasi
menggunakan pendekatan molekuler gen 16S rRNA
dan karakterisasi morfologi serta fisiologi, delapan
isolat yang memiliki aktivitas antimikroba masuk
dalam genus Streptomyces. Isolat RC-SS-37-4 dan
RC-SS-37-16 teridentifikasi sebagai S. costaricanus.
Isolat BL-36-1 adalah S. mobaraensis (95,2%), isolat
BL-20-2 teridentifikasi sebagai S. violarus (97,4%)
dan BL-14-2 adalah S. kanamyceticus (93,9%).
Sedangkan isolat BL-22-1, BL-06-5 dan BL-22-3
berturut-turut teridentifikasi sebagai S. labedae
(94,6%), S. kunmingensis (96,2%) dan S. parvulus
(98,6%).
UCAPAN TERIMAKASIH
Penelitian ini dibiayai oleh DIPA Pusat
Penelitian Biologi LIPI serta Kementerian Riset
dan Teknologi. Ucapan terimakasih kami
ucapkan kepada Dian Alfian dari Puslit Biologi
LIPI, atas bantuan selama sekuensing.
DAFTAR PUSTAKA
Avise, JC. 1994. Molecular Markers, Natural
History and Evolution. New York: Chapman
& Hall.
Embley TM. & E. Stackebrandt. 1994. The
Molecular Phylogency and Systematics
of the Actinomycetes. Annual Review of
Microbiology 48: 257-289.
Esnard, J., TL. Potter & BM. Zuckerman. 1995.
Streptomyces costaricanus sp. nov.,
isolated from Nematode-suppresive soil.
International Journal of Systematic and
Evolutionary Microbiology. 5(4): 775-779.
Felsenstein, J. 1985. Confidence limitson
phylogenies: an approach using the bootstrap.
Journal Organism Evolution. 39: 783-789.
Goodfellow, M., P. Kämpfer, HJ. Busse, ME.
Trujillo, KI. Suzuki, W. Ludwig & WB.
Whitman. 2011. Bergey's Manual of
Systematic Bacteriology 2nd Edition volume
5. Springer, New York.
Jauh-Hsun, C., T. Vinh, JK. Davies & D. Figdor.
202
2002. Molecular approaches to the
differentiation of Actinomycetes spesies.
Journal of Molecular Oral Microbiology. 14:
250-256.
Jorgensen, TJA. 1999. Antibacterial susceptibility
tests: dilution and disk diffusion
methods. Manual of Clinical Microbiology,
seventh ed. ASM Press, Washington, DC,
1526-1543.
Koonin, EV. 2003. Comparative genomics,
minimal gene-sets and the last common
universal ancestor. Natural Review of
Microbiology. 1: 127-136.
Kurtboke, I. 2001. Selective isolation of rare
Actinomycetes. Queensland, Australia.
Madigan, MT., JM. Martiko & J. Parker. 2003.
Biology of Microorganisms. Tenth Edition.
Pearson Education, Inc. USA.
Miyadoh, S. 1997. Atlas of Actinomycetes.
Asakura Publishing Co Ltd. Japan.
Nurkanto, A., F. Listyaningsih, H. Julistiono & A.
Agusta. 2010. Eksplorasi keanekaragaman
Actinomycetes tanah Ternate sebagai sumber
antibiotik. Jurnal Biologi Indonesiai. 6 (3):
325-339.
Palys, T., LK. Nakamura & FM. Cohan. 1997.
Discovery and classification of ecological
diversity in the bacterial world: the role
of DNA sequence data. International
Journal Systematic and Evolutionary
Microbiology. 47: 1145-1156.
Patel, JB., RJ. Wallace Jr., BA. Coklat-Elliott,
T. Taylor, C. Imperatrice, DBG. Leonard,
RW. Wilson, L. Mann, KC. Jost & I.
Nachamkin.
2004.
Sequence-based
identification of aerobic Actinomycetes.
Journal Clinical microbiology. 42 (6):
2530-2540.
Pitcher, DG., NA. Saunders & RJ. Owen. 1989.
Rapid extraxtion of bacterial genomic DNA
with Guanidium thiocyanate. Journal Letter
Applied Microbiology. 8: 108 – 114.
Reller, L. B., M. Weinstein, JH. Jorgensen, &
MJ. Ferraro. 2009. Antimicrobial
susceptibility testing: a review of
general principles and contemporary
practices. Clinical infectious diseases. 49
(11): 1749-1755.
Saitou, N. & M. Nei. 1987. The Neighbor-Joining
method: a new method for reconstruction
Identifikasi Molekular dan Karakterissasi Morfo-Fisiologi Actinomycetes
phylogenetic tree. Journal Molecular Biology
Evolution 4 : 406-425.
Santos, SR. & H. Ochman. 2004. Identification and
phylogenetic sorting of bacterial lineages with
universally conserved genes and protein.
Journal Environmental Microbiology. 6: 754759.
Suriyachadkun, C., S. Chunhametha, T. Tamura, C.
Thawai, W. Potacharoen, K. Kirtikara & JJ.
Sanglier. 2010. Planotetraspora thailandica
sp. nov., isolated from soil in Thailand.
International Journal Systematic and
Evolutionary Microbiology 60 (9) : 20762081.
Takisawa, M., RR. Colwel & RT. Hill. 1993.
Isolation and diversity of Actinomycetes
in the Chesapheake bay. Journal Applied
Environmental
Microbial. 59: 997–
1002.
Thompson, JD., TJ. Gibson, F. Plewniak & DG.
Higgins. 1997. Clustal X windows interface:
flexible strategies for multiple sequence
aligment aided by quality analysis tools.
Journal Nucleic Acids Research. 25: 48764882.
Yukphan, P., W. Potacharoen , S. Tanasupawat,
M. Tanticharoen, & Y. Yamada. 2004.
Asaia krungthepensis sp. nov., an acetic
acid bacterium in the alpha-Proteobacteria.
International Journal of Systematic and
Evolutionary Microbiology. 54: 313–316.
203
PANDUAN PENULIS
Naskah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah disusun dengan urutan:
JUDUL (bahasa Indonesia dan Inggris), NAMA PENULIS (yang disertai dengan alamat Lembaga/
Instansi), ABSTRAK (bahasa Inggris, dan Indonesia maksimal 250 kata), KATA KUNCI (maksimal 6
kata), PENDAHULUAN, BAHAN DAN CARA KERJA, HASIL, PEMBAHASAN, UCAPAN
TERIMA KASIH (jika diperlukan) dan DAFTAR PUSTAKA. Penulisan Tabel dan Gambar ditulis di
lembar terpisah dari teks.
Naskah diketik dengan spasi ganda pada kertas HVS A4 maksimum 15 halaman termasuk gambar,
foto, dan tabel disertai CD. Batas dari tepi kiri 3 cm, kanan, atas, dan bawah masing-masing 2,5 cm
dengan program pengolah kata Microsoft Word dan tipe huruf Times New Roman berukuran 12 point.
Setiap halaman diberi nomor halaman secara berurutan. Gambar dalam bentuk grafik/diagram harus asli
(bukan fotokopi) dan foto (dicetak di kertas licin atau di scan). Gambar dan Tabel di tulis dan ditempatkan
di halaman terpisah di akhir naskah. Penulisan simbol a, b, c, dan lain-lain dimasukkan melalui fasilitas
insert, tanpa mengubah jenis huruf. Kata dalam bahasa asing dicetak miring. Naskah dikirimkan ke alamat
Redaksi sebanyak 3 eksemplar (2 eksemplar tanpa nama dan lembaga penulis).
Penggunaan nama suatu tumbuhan atau hewan dalam bahasa Indonesia/Daerah harus diikuti nama
ilmiahnya (cetak miring) beserta Authornya pada pengungkapan pertama kali.
Pustaka didalam teks ditulis secara abjad.
Contoh penulisan Daftar Pustaka sebagai berikut :
Jurnal :
Achmadi, AS., JA. Esselstyn, KC. Rowe, I. Maryanto & MT. Abdullah. 2013. Phylogeny, divesity , and
biogeography of Southeast Asian Spiny rats (Maxomys). Journal of mammalogy 94 (6):1412-123.
Buku :
Chaplin, MF. & C. Bucke. 1990. Enzyme Technology. Cambridge University Press. Cambridge.
Bab dalam Buku :
Gerhart, P. & SW. Drew. 1994. Liquid culture. Dalam : Gerhart, P., R.G.E. Murray, W.A. Wood, & N.R.
Krieg (eds.). Methods for General and Molecular Bacteriology. ASM., Washington. 248-277.
Abstrak :
Suryajaya, D. 1982. Perkembangan tanaman polong-polongan utama di Indonesia. Abstrak Pertemuan
Ilmiah Mikrobiologi. Jakarta . 15 –18 Oktober 1982. 42.
Prosiding :
Mubarik, NR., A. Suwanto, & MT. Suhartono. 2000. Isolasi dan karakterisasi protease ekstrasellular dari
bakteri isolat termofilik ekstrim. Prosiding Seminar nasional Industri Enzim dan Bioteknologi II.
Jakarta, 15-16 Februari 2000. 151-158.
Skripsi, Tesis, Disertasi :
Kemala, S. 1987. Pola Pertanian, Industri Perdagangan Kelapa dan Kelapa Sawit di Indonesia.[Disertasi].
Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Informasi dari Internet :
Schulze, H. 1999. Detection and Identification of Lories and Pottos in The Wild; Information for surveys/
Estimated of population density. http//www.species.net/primates/loris/lorCp.1.html.
Download