Kegiatan Kelompok II - V Pengantar Etika merupakan bagian filsafat

advertisement
Kegiatan Kelompok II - V
Pengantar
Etika merupakan bagian filsafat yang meliputi hidup baik, menjadi orang yang baik, berbuat
baik, dan menginginkan hal baik dalam hidup. Berbeda dengan etika, moralitas adalah
pandangan tentang kebaikan/kebenaran dalam masyarakat. Bioetik adalah studi interdisipliner
tentang masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran,
dalam skala mikro maupun makro, termasuk dampaknya terhadap masyarakat luas serta sistem
nilainya, kini dan masa mendatang. Kaidah dasar bioetik terdiri atas: sikap berbuat baik
(beneficence), jangan merugikan (nonmaleficence), menghargai otonomi (autonomy), dan
sikap berbuat adil (justice). Kaidah dasar bioetik merupakan konsep dasar etika yang sangat
penting dalam profesi kedokteran/kesehatan.
Hasil yang diharapkan
Setelah diberikan kasus etik sebagai pemicu, mahasiswa mampu:
1. Memahami dan mendemonstrasikan kaidah dasar bioetik yang relevan pada kasus tersebut
2. Mendemonstrasikan cara berpikir kontekstual dalam mengajukan pendapatnya tentang
kaidah dasar bioetik yang relevan
3. Mendemonstrasikan cara memahami pendapat orang lain dalam mempertahankan kaidah
dasar bioetik yang dikemukakannya
4. Mendemonstrasikan cara berpikir deduktif logis sederhana
Lingkup bahasan
Ciri khas, konsep, dan kontekstualitas kaidah dasar bioetik:
1. Beneficence
2. Nonmaleficence
3. Autonomy
4. Justice
Tugas
1. Mahasiswa mengisi quick test dan dikumpulkan ke tutor sehari sebelumnya
2. Tutor memberikan umpan balik hasil quick test saat kegiatan kelompok
3. Mahasiswa berdiskusi untuk mendalami dan memantapkan konsep dan kontekstualitas
masing-masing kaidah dasar bioetik (beneficence, non-maleficence, autonomy, justice)
4. Mahasiswa berdiskusi untuk memantapkan ciri khas masing-masing kaidah dasar bioetik
dibandingkan dengan kaidah dasar bioetik lainnya
Rujukan
1.
2.
3.
4.
5.
Purwadianto A. Segi kontekstual pemilihan prima facie kasus dilemma etik dan penyelesaian kasus konkrit etik.
Naskah pada Pertemuan Nasional III Jaringan Bioetik & Humaniora Kesehatan Indonesia, Jakarta 2004
Purwadianto A. Kaidah dasar bioetik & upaya menyuburkan pemikiran kritis mahasiswa. Modul Etika Kedokteran
2006
Sampurna B. Prinsip moral etika kedokteran. Modul Etika Kedokteran 2005
WHO SEARO Medical Ethics cases as teaching materials. Bangkok 2004
Beauchamp TL, Childress JF. Principles of Biomedical Ethics 4 th ed. New York: Oxford University Press 1994
6.
7.
8.
9.
Mapples TA, Zembaty JS. Biomedical ethics. New York: McGraw-Hill Book Co 1981
Veatch RM. The basics of bioethics. New Jersey: Prentice Hall Inc 2000
Suseno FM. Etika dasar edisi ke-2. Yogyakarta: Penerbit Kanisius 1993
Khushf G. Handbook of bioethics. Dodrecht: Kuwer Academic Publisher 2004
Dr. Tenar
Dokter Tenar yang praktik di Jalan Ramai sejak 2 tahun yang lalu adalah seorang dokter umum
yang memiliki pasien cukup banyak, terutama pada hari Sabtu dan Minggu.
Dengan ruangan praktik yang cukup luas dr. Tenar menempatkan 2 bed dalam kamar praktiknya
yang dibatasi dengan gorden sehingga dr. Tenar dapat leluasa memeriksa pasiennya dari satu
tempat ke tempat lainnya. Namun disisi lain terdapat kesulitan bila ada pasien yang datang
dengan kelainan kulit dimana ia harus memeriksa pasien dalam keadaan setengah telanjang.
Pada hari Sabtu minggu lalu, sudah ada 10 antrean pasien pada saat beliau datang. Dengan tujuan
memasyarakatkan budaya antre, dr. Tenar memeriksa pasien sesuai dengan nomor urut
pendaftaran. Sesuai dengan dugaan, pasien pertama, kedua dan ketiga datang dengan keluhan
batuk pilek. Maka dr. Tenar pun memberikan puyer batuk pilek pada ketiganya serta nasehat
untuk istirahat cukup, banyak minum air putih serta mengkonsumsi buah-buahan.
Pasien keempat sore itu adalah seorang ibu berusia 60 tahun diantar oleh anak laki-lakinya
datang dengan keluhan nyeri uluhati yang menjalar ke punggung. Merasa tidak yakin dengan
kemungkinan sakit maag yang diderita ibu ini, maka dr. Tenar melakukan pemeriksaan EKG
(elektrokardogram) karena kecurigaan terjadi penyempitan pembuluh darah jantung. Hasil yang
diperoleh tidak ada kelainan. Melihat usia, kondisi fisik ibu yang cukup gemuk serta tekanan
darah 140/90 maka dr. Tenar memberikan surat rujukan beberapa pemeriksaan laboratorium.
Dr. Tenar merujuk ibu tersebut ke LAB KLINIK “Titrasi Cepat”, langganannya yang tak begitu
jauh dari tempat praktiknya. Dari Lab. Klinik ini Dr.Tenar mendapat bingkisan kue yang dia amati
ternyata sejajar jumlahnya dengan pasien yang dia kirim kesitu. Pernah dua bulan yang lalu,
dengan 20 pasien yang ia kirim, ia memperoleh voucher belanja Rp.300.000,- di supermarket
terkenal dikotanya.
Pasien pulang dengan membawa obat maag, penenang dan surat permintaan laboratorium serta
diminta datang kembali setelah memperoleh hasil laboratorium.
Setelah menyelesaikan
administrasi ibu tersebut masuk kembali ke kamar periksa karena merasa ada yang kurang yaitu
belum disuntik seperti yang biasa ia dapatkan bila berobat ke dokter. Pada saat masuk, tanpa
sengaja ibu tadi melihat pasien laki-laki muda bertato di perut bawah sedang menutup kembali
celana dalamnya. Anak muda tadi “tidak mengikuti nomor antrian” karena mengaku teman SMP
dr.Tenar, sehingga zuster memasukkan lebih dahulu ke ruang sekat kiri, ruang tempat pasien yang
memerlukan perlakuan khusus. Ia sempat sepintas melihat celana dalam tadi bervlek-vlek putih
kekuningan. Anak muda tadi memoloti si ibu, kemudian dr.Tenar meminta sang ibu keluar
sebentar menunggu giliran sehabis anak muda ini. Ibu yang agak cerewet tadi minta maaf, namun
tanpa dosa ia nyrocos menanyakan apa penyakit anak muda tadi. Dr. Tenar agak terpana untuk
menjawab pertanyaan awam si ibu ini. “Ah, Cuma panas dalam di perut “, jawab Tenar kalem.
“Saya suntiknya sambil berdiri saja dok, kalu tiduran takut ketularan penyakit kelaminnya anak
tadi”, cerocos sang pasien.
Pasien kelima dan keenam adalah seorang wanita muda dan setengah baya. Sebut saja Mba
Modis dan Ibu Menor. Mba Modis mengeluh beberapa hari ini badannya panas dingin, mual dan
beberapa kali muntah. Sedangkan Ibu Menor mengeluh kepala pusing yang hilang timbul. Dia
sudah beberapa kali datang ke dokter yang berbeda-beda dan dikatakan tidak ada apa-apa,
hanya pusing biasa. Dokter terakhir yang dia kunjungi menyarankan dilakukan CT scan kepala.
Kemudian ia datang ke dr. Tenar dengan membawa hasil CT scan. Surat keterangan yang
terdapat di dalam amplop CT scan tersebut menyatakan kecurigaan adanya SOL (space
occupying lesion). Tanpa memberikan penjelasan mengenai isi di dalam surat keterangan
tersebut, dr. Tenar memberikan surat rujukan ke Rumah Sakit bagian Saraf. Sementara Ibu
Menor, yang tak sempat dilakukan pengukuran tekanan darahnya, langsung diberikan resep sakit
kencing yang sudah langganan ia derita 5 tahun ini. Dr.Tenar hanya memeriksa sekilas dan
menyalin resep dari catatan medis yang disodorkan zuster.
Zuster telah mengingatkan DR. Tenar bahwa dua pasien berikutnya adalah Tn. Garputala, 46
tahun dengan muntah berak belasan kali dan satu lagi seorang pelajar putri, 15 tahun sebut saja
Nn. Rana Omnivora yang ia kenal sebagai anak pertama OKB (orang Kaya Baru) tetangganya,
yang anggota DPRD salah satu parpol besar. Dr. Tenar baru saja menerima telepon ada pasien
langganannya yang gawat mau datang.
Garputala adalah hansip setempat yang merasa tak afdol kalau belum “dipegang” dr. Tenar. Ia
keluar kamar praktik dan melongok sebentar pasien tadi, memegang nadinya yang terasa kecil
dan lemah, mencubit kulit perutnya yang ternyata sudah mengendur. “Zus carikan bajaj !”
instruksinya ke Zoster setelah meyakinkan sang hansip agar cepat dirawat. Tak lupa ia
menitipkan amplop berisi Rp.25.000,- bagi sang hansip. “Untuk transportnya, ya Pak Tala.
Cepat sembuh deh” sambil memberi sebungkus oralit dan lalu mengirimkannya ke RSU setempat.
Saat mempersilahkan Nn. Rana masuk ke ruang sekat kanan, dr. Tenar terkaget karena
serombongan orang menyela masuk sambil menggendong pasien anak laki-laki 9 tahun, si
Malthus bin Darwin yang tadi pagi ia khitan, ternyata datang kembali dalam keadaan berdarah.
Ia menolong Malthus dulu selama 45 menit, sementara Rana terpana sendirian karena Zoster
juga sibuk membantu dr. Tenar mengatasi perdarahan si Malthus di ruang sekat kiri. Tenar tak
sempat bicara ke Nn. Rana. Para pengantar Malthus justru yang meminta Rana bersabar. Tentu
sambil mencuri pandang, karena walaupun bukan bernama menor, Rana memang menor malam
itu.
Sambil bersimbah peluh, Tenar akhirnya mendengarkan keluhan Rana. Ia stress karena baru saja
mengambil uang ayahnya tanpa ijin demi menolong sahabatnya seumuran untuk aborsi di klinik
Antah Berantah. Tenar menawarkan untuk menjadi mediator menyampaikan apa adanya
kepada bapak Rana. Toh menurutnya dan menurut Rana, sang anggota DPRD ini cukup mampu
menolong sahabat Rana. “Biar uang saku saya dipotong deh dok asal papi tak nyap-nyap ama
saya”, kata si manis Rana.
Begitulah keseharian dr. Tenar dalam membantu menyelesaikan masalah pasien-pasiennya sampai
ia rela pulang larut malam.
Download