uji aktivitas antibakteri isolat actinomycetes 9isp1

advertisement
JKK, Tahun 2015, Volume 4(2), halaman 30-36
ISSN 2303-1077
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT ACTINOMYCETES 9ISP1 DARI SPONS
ASAL PERAIRAN PULAU RANDAYAN
1
Tiara Kumala1*, Afghani Jayuska1, Puji Ardiningsih1
Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura,
Jln. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi78124,
*email: [email protected]
ABSTRAK
Actinomycetes merupakan mikroorganisme penghasil metabolit sekunder yang memiliki
aktivitas biologi sebagai antimikroba. Actinomycetes dapat ditemukan di tanah dan di dasar
laut. Namun, belum banyak penelitian mengenai kemampuan Actinomycetes yang berasal dari
laut sebagai agen antibakteri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan
Actinomycetes 9ISP1 yang bersimbiosis dengan spons asal perairan Pulau Randayan sebagai
aktimikroba dengan menggunakan metode difusi agar. Isolat bakteri Actinomycetes yang
bersimbiosis dengan spons diuji aktivitas antimikroba awalnya dengan media ISP1. Hasil uji
menunjukkan bahwa isolat tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus cereus
dan Aeromonas hydrophilla dengan zona hambat sebesar 14,4 dan 12,5 mm. Selanjutnya,
isolat Actinomycetes 9ISP1 diproduksi dalam media cair ISP1 kemudian diuji aktivitas
antimikrobanya dengan metode difusi agar (sumur). Hasil uji menunjukkan isolat Actinomycetes
mampu menghambat bakteri uji Gram positif dan negatif yaitu Bacillus cereus, Pseudomonas
aerogenosa, Staphylococcus aureus, Aeromonas hydrophylla, Vibrio cholera, Escherichia coli,
Bacillus subtilis dan Salmonella dengan dosis sebesar 10µL/sumur dan kemampuan
menghambat paling baik terhadap bakteri Escherichia coli dengan diameter zona hambat
sebesar 29,1 mm sehingga isolat bakteri Actinomycetes yang bersimbiosis dengan spons
berpotensi sebagai antibakteri.
Kata kunci : Actinomycetes, spons, antibakteri, simbiosis bakteri dengan spons
PENDAHULUAN
mikroba yang bersimbiosis dengan spons
seperti
Actinomycetes
juga
diketahui
menghasilkan senyawa bioaktif yang dapat
digunakan
sebagai
antimikroba.
Actinomycetes membentuk suatu simbiotik
dengan spons yaitu di dalam inti sel
(simbiosis intranukleus), di dalam sitoplasma
sel tubuh spons (simbiosis intraseluler), di
sisi dalam tubuh spons (endosimbiosis
ekstraseluler) serta dibagian luar tubuh
spons (eksosimbiosis ekstraseluler) (Herlina,
dkk., 2010).
Eksplorasi spons sebagai penghasil
senyawa bioaktif telah banyak dipublikasikan
tetapi penggunaan produk alami laut yang
bersifat antibiotik dan antifungi sebagai hasil
metabolit sekunder dari bakteri yang
bersimbiosis
dengan
spons
lebih
menguntungkan
dibandingkan
dengan
mengisolasi dari inangnya (Abubakar et al.,
2011). Interaksi antara spons dan bakteri
terjadi dalam bentuk simbiosis mutualisme
dimana dalam interaksi ini dihasilkan
senyawa bioaktif (Mahdiyah, dkk., 2012).
Actinomycetes
merupakan
jenis
mikroorganisme yang sangat berpotensi
sebagai penghasil metabolit sekunder yang
memiliki aktivitas biologi sebagai antimikroba
(Kelecom, 2002). Actinomycetes dapat
ditemukan di tanah dan laut, dimana
Actinomycetes yang berasal dari laut dapat
ditemukan di permukaan air laut, di dasar
laut dalam, batu karang dasar laut dan
sedimen.
Actinomycetes
ini
sangat
bervariasi spesiesnya sehingga peluang
untuk mendapatkan senyawa antimikroba
baru lebih besar (Das et al., 2006).
Data dari National Cancer Institute
(2005) menunjukkan bahwa beberapa biota
laut memiliki aktivitas biologi. Lebih dari 20
kategori senyawa bioaktif yang berbedabeda telah ditemukan, seperti antivirus,
antibiotik,
antiinflamasi,
antileukimia,
insektisidal, sitotoksin, antihelmentik dan
antikanker dimana senyawa bioaktif tersebut
berasal dari biota laut yaitu spons. Beberapa
30
JKK, Tahun 2015, Volume 4(2), halaman 30-36
ISSN 2303-1077
Penggunaan antibiotik secara tepat
memberikan manfaat yang sangat baik,
namun bila digunakan atau dikomposisikan
secara tidak tepat (irrational prescribing)
dapat menyebabkan munculnya kumankuman patogen yang kebal terhadap satu
atau beberapa jenis antibiotika. Pemakaian
antibiotika lini pertama yang sudah tidak
bermanfaat harus diganti dengan obatobatan lini kedua yang memiliki dosis lebih
tinggi bahkan lini ketiga (Rahayu, 2012). Hal
ini menyebabkan diperlukannya antibiotik
baru yang memiliki daya kerja yang lebih
baik dalam membunuh mikroba patogen
yang telah resistan terhadap antibiotik
sebelumnya.
Banyaknya klasifikasi, pola kepekaan
kuman dan penemuan antibiotika baru
merupakan salah satu faktor pemicu
terjadinya resistansi. Resistansi antibiotik
terhadap mikroba dapat menimbulkan
beberapa konsekuensi yang fatal. Ketika
respon terhadap pengobatan menjadi lambat
bahkan gagal, maka akan terjadi infeksi
untuk waktu yang lama (Deshpande, et al.,
2011).
Actinomycetes merupakan kelompok
mikroba yang paling banyak menghasilkan
senyawa bioaktif antibiotika, antifungi dan
antibakteri (Atlas, 1998). Menurut penelitian
yang dilakukan oleh Sunaryanto dkk pada
tahun 2010, Actinomycetes laut mampu
menghasilkan senyawa aktif citropeptin yang
memiliki efek toksik terhadap sel kanker
paru-paru. Oleh karena itu, pada penelitian
ini akan dilakukan eksplorasi sumber
penghasil antibiotik baru yang berasal dari
Actinomycetes 9ISP1 bersimbiosis dengan
spons yang memiliki aktivitas antimikroba
terhadap beberapa mikroba patogen.
.
METODOLOGI PENELITIAN
Alat
Alat-alat
yang
digunakan
adalah
autoklaf, cawan petri,tabung reaksi, tabung
eppendorf, erlenmeyer, botol vial, jarum ose,
spatula, batang pengaduk, gelas beaker,
blender, thermometer, penangas air, kawat
ose, laminar air flow, pipet mikro, pinset,
neraca analitik, rotary evaporator, dan
seperangkat alat gelas lain yang umum
digunakan.
Prosedur Kerja
Uji Awal Aktivitas Antimikroba dari
Actinomycetes 9ISP1 Berasosiasi Spons
(Herlina,R, dkk., 2010)
Suspensi Actinomycetes dimasukkan
ke dalam sumur pada media padat ISP1
dan diinkubasi pada suhu kamar selama
7 hari. Suspensi mikroba uji seperti
Bacillus
cereus,
Pseudomonas
aerogenosa, Staphylococcus aureus,
Aeromonas hydrophilla, Vibrio cholera,
Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan
Salmonella diinokulasi ke permukaan
cawan petri kemudian Actinomycetes
yang telah ditumbuhkan isolat bakteri
Actinomycetes dan diinkubasi pada suhu
kamar selama 24 jam. Isolat bakteri
Actinomycetes
yang
menunjukkan
aktivitas antimikroba ditandai dengan
terbentuknya zona bening di sekitar
sumur. Zona bening di sekitar sumur
diukur
diameternya
menggunakan
jangka sorong.
Produksi dan Ekstraksi Actinomycetes
Asosiasi Spons (Herlina,R,dkk., 2010)
Produksi isolat bakteri dengan media cair
dilakukan dengan menginokulasikan bakteri
Actinomycetes ke dalam 2 Liter media cair
ISP1. Isolat Actinomycetes yang telah
diinokulasikan pada media cair ISP1
diinkubasi selama 7 hari pada suhu ruang
dalam kondisi tergojok dengan laju
penggojokan 120 rpm. Pada akhir proses
inkubasi, isolat Actinomycetes kemudian
dipindahkan ke dalam erlenmeyer 250 mL
dengan volume masing-masing sebanyak 75
mL. Produksi dilakukan selama 7 hari.
Proses ekstraksi dilakukan dengan
mengekstraksi pelarut yang digunakan yaitu
etil asetat dengan etanol 70%. Ekstrak
Actinomycetes 9ISP1 dilarutkan dalam
pelarut etil asetat yang diperoleh kemudian
Bahan dan Alat
Bahan Uji dan Bahan Kimia
Bahan- bahan yang digunakan adalah
media ISP1 yang mengandung kasein (5
g/L) dan ekstrak ragi (3 g/L), agar, nutrient
agar (NA), kertas saring, air laut, akuades
(H2O), etanol (C2H5OH), etil asetat
(C2H5COOH), isolat Actinomycetes 9ISP1
dan mikroba uji seperti Bacillus cereus,
Pseudomonas aerogenosa, Staphylococcus
aureus, Aeromonas hydrophilla, Vibrio
cholera, Escherichia coli, Bacillus subtilis,
dan Salmonella.
31
JKK, Tahun 2015, Volume 4(2), halaman 30-36
ISSN 2303-1077
disaring
dan
selanjutnya
dilakukan
sentrifugasi pada kecepatan 3000 x rpm
selama 15 menit. Supernatan dipekatkan
menggunakan rotary evaporator kemudian
ditimbang beratnya. Ekstrak yang diperoleh
diuji aktivitas antimikroba.
Ekstraksi dilakukan pada supernatan
yang diperoleh dengan pelarut etil asetat
dan akan terbentuk dua lapisan. Lapisan
yang diambil adalah lapisan organik. Residu
yang diperoleh juga dilakukan ekstraksi
dengan menggunakan pelarut etil asetat.
Ekstrak yang diperoleh dari supernatan dan
residu digabungkan. Ekstrak dipekatkan
dengan menggunakan rotary evaporator
kemudian ditimbang beratnya. Ekstrak yang
diperoleh diuji aktivitas antimikroba.
melancarkan sirkulasi udara, sehingga udara
dapat masuk ke dalam media serta menjaga
homogenitas atau keseragaman larutan
nutrisi dalam media. Setelah bakteri
Actinomycetes tumbuh pada media cair,
bakteri Actinomycetes kemudian diinokulasi
kedalam media padat dengan menggunakan
metode sumur. Sebanyak 20 µL/sumur
suspensi Actinomycetes diinokulasi ke
dalam sumur yang terlah ditumbuhi bakteri
uji. Bakteri uji yang digunakan sebanyak 8
jenis yaitu Bacillus cereus, Pseudomonas
aerogenosa,
Staphylococcus
aureus,
Aeromonas hydrophilla, Vibrio cholera,
Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan
Salmonella. Kelompok mikroorganisme yang
digunakan dalam penelitian ini merupakan
bakteri yang bersifat patogen. Indikator
besarnya zona hambat yang dihasilkan oleh
isolat penghasil antimikroba dan hasil uji
aktivitas antibakteri isolat bakteri yang
terbaik merupakan penapisan awal seperti
pada tabel 1. Namun, dalam uji aktivitas
antimikroba isolat bakteri Actinomycetes ini
hanya dapat menghambat 2 jenis bakteri uji
saja yaitu B. cereus dan A. hydro.
Hasil pengujian aktivitas antibakteri dari
bakteri Actinomycetes yang berasosiasi
dengan spons ditunjukkan dengan ada atau
tidaknya zona bening disekitar sumur.
Adanya zona bening disekitar sumur
menunjukkan adanya aktivitas antimikroba
dari bakteri Actinomycetes asosiasi spons
Uji
Aktivitas
Actinomycetes
Antimikroba
Ekstrak
Pengujian aktivitas antimikroba ekstrak
Actinomycetes terhadap bakteri uji dilakukan
pada
media
NA.
Ekstrak
pekat
Actinomycetes sebanyak 20 µL/sumur
dimasukkan ke dalam sumur pada media NA
yang telah diinokulasi dengan bakteri uji dan
diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C.
Zona bening yang terbentuk di sekitar sumur
diukur diameternya menggunakan jangka
sorong.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Aktivitas Antimikroba Awal Isolat
Actinomycetes Asosiasi Spons
Bakteri hasil isolasi dan peremajaan pada
media padat ISP1 memiliki ciri berwarna
abu-abu dan membentuk spora yang dapat
disimpulkan sebagai bakteri Actinomycetes.
Penggunaan media ISP1 bertujuan sebagai
pemicu
untuk
memperkaya
atau
menyuburkan
populasi
spesies
Streptomyces.
Actinomycetes hasil
isolasi kemudian dilakukan uji aktivitas
antimikrobanya
dengan
cara
menumbuhkannya kembali pada media cair
ISP1.
Bakteri Actinomycetes diinokulasi ke
dalam media cair ISP1 dan dibiarkan tumbuh
selama 7 hari pada suhu ruang. Selama
waktu pertumbuhan, bakteri dishaker atau
dikocok menggunakan rotary shaker. Tujuan
pengocokan adalah untuk menggiatkan
kontak antara permukaan bakteri dengan
larutan media, memudahkan peresapan
larutan nutrisi ke dalam jaringan bakteri,
(Gambar a)
(Gambar b)
Gambar 1. (a) Aeromonas hydrophylla (b)
Bacillus cereus
Isolat Actinomycetes hanya menghambat
2 bakteri uji yaitu Aeromonas hydrophilla
(Gambar a) dan Bacillus cereus (Gambar b).
Hal
ini
disebabkan
karena
isolat
Actinomycetes dapat menghambat sintesis
dinding
sel
dari
bakteri
uji
yang
mengakibatkan penurunan tekanan osmotik
sel sehingga pertumbuhan bakteri uji
menjadi terhambat (Jawetz, dkk., 2007).
Sedangkan untuk bakteri uji yang lain, isolat
bakteri Actinomycetes masih belum mampu
32
JKK, Tahun 2015, Volume 4(2), halaman 30-36
ISSN 2303-1077
menghambatnya. Kemampuan isolat bakteri
yang berasosiasi dengan spons dalam
menghambat pertumbuhan mikroba uji
merupakan bentuk aktivitas antagonis yang
diduga dilakukan dengan menghasilkan
kandungan
senyawa
yang
bersifat
antimikrobial. Dari hasil pengukuran lingkar
zona hambat terhadap Bacillus cereus besar
zona hambat yang terbentuk adalah sebesar
13,5 mm, sedangkan terhadap Aeromonas
hydrophilla besar zona hambat yang
terbentuk adalah sebesar 12,5 mm. Zona
bening yang terbentuk disekeliling isolat
disebabkan
oleh
adanya
senyawa
antimikroba ekstraseluler yang dikeluarkan
oleh Actinomycetes.
Uji awal aktivitas antimikroba hanya
mampu menghambat 2 bakteri uji dapat pula
disebabkan oleh beberapa faktor seperti
isolat tersebut memiliki gen yang mengkode
pembentukan senyawa metabolit sekunder
namun tidak terekspresi pada keadaan
normal. Gen tersebut baru akan terekspresi
ketika diinduksi terlebih dahulu dengan cara
menambahkan senyawa prekursor. Selain
itu, dapat pula disebabkan karena isolat
bakteri menghasilkan senyawa antimikroba
namun tidak bersifat aktif terhadap bakteri uji
dan dapat pula disebabkan karena bakteri
menghasilkan senyawa antimikroba secara
intraseluler
sehingga
senyawa
yang
dihasilkan tidak terekskresi dan terakumulasi
di media tumbuh (Jawetz, dkk., 2007).
Berikut adalah tabel untuk lingkar zona
hambat yang dihasilkan dari uji aktivitas
antimiroba bakteri Actinomycetes terhadap
bakteri uji tersebut:
Produksi dan Ekstraksi Actinomycetes
Asosiasi Spons
Produksi bakteri Actinomycetes asosiasi
spons dilakukan dengan menginokulasikan
bakteri Actinomycetes pada media cair ISP1
kemudian diinkubasi sambil dikocok selama
7 hari pada suhu ruang (Herlina, dkk., 2010).
Waktu 7 hari bertujuan untuk menghasilkan
metabolit
sekunder
dari
bakteri
Actinomycetes.
Metabolit
sekunder
dihasilkan pada saat bakteri menjelang fase
stasioner.
Pertumbuhan bakteri pada
media cair ditunjukkan dengan adanya hifa
pada media cair sehingga warna larutan
media menjadi agak keruh. Tujuan
pengocokan
adalah
untuk
menjaga
homogenitas atau keseragaman larutan
nutrisi dalam media serta menggiatkan
kontak antara larutan media dengan
permukaan bakteri sehingga memudahkan
peresapan larutan nutrisi ke dalam jaringan
bakteri dan sirkulasi udara dapat masuk ke
dalam media.
Bakteri Actinomycetes yang tumbuh pada
media cair ISP1 kemudian dilarutkan ke
dalam etil asetat dengan tujuan untuk
memisahkan metabolit sekunder yang ingin
diperoleh. Etil asetat digunakan karena
tingkat kepolarannya yang dekat dengan
tingkat kepolaran metabolit sekunder dari
bakteri Actinomycetes. Etil asetat dapat
mengikat metabolit sekunder dari bakteri
Actinomycetes. Setelah dilarutkan ke dalam
etil asetat,dilakukan sentrifugasi pada
kecepatan 3000 rpm selama 15 menit
dengan tujuan memisahkan residu bakteri
dengan
supernatan
yang
dihasilkan
sebelumnya.
Residu dan supernatan
masing-masing diekstraksi kembali dengan
etil asetat. Hasil ekstraksi dari residu dan
supernatan kemudian digabungkan. Ekstrak
yang diperoleh dari hasil ekstraksi residu
dan supernatan yang digabungkan tersebut
kemudian dipekatkan dengan menggunakan
rotary evaporator untuk mendapatkan
metabolit sekunder yang diinginkan. Berat
ekstrak yang diperoleh yang didapat dari
hasil perhitungan adalah sebesar 5,43 gram.
Persen rendemen yang dihasilkan adalah
sebesar 0,329%. Ekstraksi dilakukan dengan
tujuan
untuk
memperoleh
metabolit
sekunder dari ekstrak Actinomycetes yang
berasosiasi dengan spons. Ekstrak metabolir
sekunder dari Actinomycetes yang diperoleh
kemudian digunakan untuk uji aktivitas
antimikroba selanjutnya terhadap 8 bakteri
Tabel 1. Diameter zona bening yang
dihasilkan
pada uji aktivitas antimikroba
awal (mm)
Zona Hambat
Bakteri Uji
(mm)
B. cereus
13,5
P. Aerogenosa
S. Aureus
A. hydro
12,5
V. Cholera
E. Coli
B. subtilis
Salmonella
-
33
JKK, Tahun 2015, Volume 4(2), halaman 30-36
ISSN 2303-1077
uji yang digunakan pada saat uji aktivitas
awal untuk mengetahui kemampuannya
dalam menghambat pertumbuhan bakteri
patogen.
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan
oleh
Herlina
dkk,
isolat
Actinomycetes yang diisolasi dari spons
termasuk ke dalam genus Streptomyces sp
yang menghasilkan metabolit sekunder aktif
terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus
resisten antibiotik dengan kadar 0,0195 µg
atau setara dengan 20 µL. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang telah dilakukan yaitu
sebanyak
20 µL ekstrak bakteri dapat
menghambat bakteri yang diujikan.
besarnya. Pengukuran ekstrak bakteri
Actinomycetes dilakukan terhadap 8 bakteri
dan jamur uji, yaitu B. cereus, P.
aerogenosa, S. aureus, A. hydro, V. colera,
E. coli, B. subtilis dan Salmonella.
Hasil
pengukuran
ekstrak
bakteri
Actinomycetes terhadap bakteri dan jamur
uji tersebut menunjukkan besar zona bening
untuk bakteri uji B. cereus adalah sebesar
17,6 mm. Besar zona bening bakteriostatik
yang terbentuk dari pengujian ekstrak bakteri
Actinomycetes terhadap bakteri uji P.
Aerogenosa adalah sebesar 26,6 mm. Pada
zona bening yang dihasilkan oleh bakteri uji
ini, terdapat daerah zona bening di
dalamnya yang disebut daerah bakterisida.
Daerah bakterisida merupakan daerah
dimana ekstrak bakteri Actinomycetes dapat
membunuh bakteri uji, sedangkan zona
bening yang terdapat di luar bakterisida
namun masih merupakan wilayah zona
bening disebut dengan daerah bakteriostatik
yang berarti daerah dimana ekstrak bakteri
Actinomycetes hanya dapat menghambat
bakteri yang diujikan. Besar zona bening
bakterisida yang terbentuk dari pengujian
ekstrak bakteri Actinomycetes terhadap
bakteri uji S. aureus adalah sebesar 13,15
mm.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Herlina,R
dkk pada tahun 2010,
menyimpulkan bahwa senyawa antibakteri
yang dihasilkan dari Actinomycetes asosiasi
spons diduga merupakan senyawa turunan
karboksilat serta isolat Actinomycetes yang
diisolasi dari spons termasuk ke dalam
genus Streptomyces sp yang menghasilkan
metabolit sekunder aktif terhadap bakteri S.
aureus resisten antibiotik dengan kadar yang
masih bisa menghambat 0,0195 µg. Besar
zona bening yang terbentuk oleh ekstrak
bakteri Actinomycetes terhadap bakteri uji A.
hydro adalah sebesar 24,65 mm.
Besar zona bening yang terbentuk oleh
ekstrak bakteri Actinomycetes terhadap
bakteri uji V. cholera adalah sebesar 17,4
mm. Besar zona bening yang terbentuk oleh
Actinomycetes terhadap bakteri uji E. coli
adalah sebesar 29,1 mm. Besar zona bening
yang terbentuk oleh ekstrak bakteri
Actinomycetes terhadap bakteri uji B. subtilis
adalah sebesar 25,7 mm. Besar zona bening
yang terbentuk oleh ekstrak bakteri
Actinomycetes
terhadap
bakteri
uji
Salmonella adalah sebesar 24,8 mm.
Uji
Aktivitas
Antimikroba
Ekstrak
Actinomycetes
Hasil pengujian aktivitas antibakteri dari
ekstrak bakteri yang berasosiasi spons
ditunjukkan dengan ada atau tidaknya zona
bening
disekitar
sumur
yang
telah
diinokulasikan
bakteri
Actinomycetes.
Adanya zona bening mengindikasikan
adanya aktivitas antibakteri dari ekstrak
bakteri Actinomycetes yang berasosiasi
spons. Zona bening disekitar sumur
menandakan
bahwa
ekstrak
bakteri
Actinomycetes
dapat
menghambat
pertumbuhan bakteri patogen.
Ekstrak bakteri Actinomycetes hasil
evaporasi diencerkan ke dalam etil asetat.
Pengujian aktivitas antimikroba ekstrak
bakteri Actinomycetes terhadap bakteri dan
jamur uji dilakukan pada media padat
Nutrient Agar (NA). Media NA merupakan
suatu medium yang mengandung sumber
nitrogen dalam jumlah cukup, yaitu 0,3 %
ekstrak daging sapi, 0,5 % pepton tetapi
tidak mengandung sumber karbohidrat jadi
baik untuk pertumbuhan bakteri namun
kapang dan khamir tidak dapat tumbuh
dengan baik. Media padat NA digunakan
sebagai media universal untuk pertumbuhan
bakteri. Ekstrak bakteri Actinomycetes
dimasukkan ke dalam sumur pada media
padat yang telah diinokulasi dengan bakteri
atau jamur uji selama 24 jam pada suhu
37°C. Penggunaan waktu 24 jam bertujuan
untuk mengetahui laju pertumbuhan bakteri.
Semakin lama waktu inkubasi, maka laju
pertumbuhan bakteri semakin meningkat,
sedangkan
penggunaan
suhu
37°C
bertujuan agar kondisi lingkungan dari
bakteri tetap stabil. Setelah 24 jam, zona
bening yang terbentuk kemudian dihitung
34
JKK, Tahun 2015, Volume 4(2), halaman 30-36
ISSN 2303-1077
Reaksi positif ditunjukkan oleh ekstrak
bakteri Actinomycetes yang diujikan pada 8
bakteri uji pada uji aktivitas antimikroba yang
ditandai dengan terbentuknya zona bening
disekitar sumur seperti yang ditunjukkan
pada Tabel 2.
bakteri uji. Hal ini dapat disebabkan karena
aktivitas
spesifik
dari
Actinomycetes
meningkat. Sebab, pada saat proses
ekstraksi,
Actinomycetes
menghasilkan
metabolit sekunder (Lee, dkk., 2000).
SIMPULAN
Tabel 2. Diameter zona bening ekstrak
bakteri Actinomycetes hasil uji aktivitas
antimikroba terhadap 8 bakteri uji dalam mm
dengan konsentrasi 20µL/sumur
Diameter zona bening (mm)
Bakteri Uji
Pengulangan
1
B. cereus
17,7
P. aerogenosa 25,4
S. aureus
12,9
A. hydro
23,5
V. cholera
16,7
28,25
E. coli
B. subtilis
25,9
Salmonella
24,95
2
17,75
23,3
13,7
26
17,05
29,5
24,7
25,25
3
17,3
30,1
12,8
25,6
17,7
29,5
26,6
23,8
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Bakteri Actinomycetes hasil isolasi
berbentuk spora dan memiliki warna abuabu.
2. Bakteri Actinomycetes yang bersimbion
dengan spons yang ditumbuhkan pada
media ISP1 terbukti menghasilkan
senyawa
antimikroba
yang
dapat
menghambat 8 bakteri patogen Gram
positif dan Gram negatif.
3. Zona terbaik pada ekstrak bakteri
Actinomycetes adalah E. coli dengan
zona hambat rata-rata sebesar 29,1 mm.
4
17,6
27,6
13,2
23,5
18,1
29,1
25,6
25,2
DAFTAR PUSTAKA
Abubakar Hermawaty, Aris Tri Wahyudi,
Munti Yuhana., 2011, Skrining
Bakteri yang Berasosiasi dengan
Spons Jaspis sp. Sebagai Penghasil
Senyawa Antimikroba, ilmu kelautan,
16 (1) : 35-40.
Atlas, R., 1998, Principle of Microbiology,
WmC, Brown Publisher, USA.
Das, S., Lyla, P.S., and Khan, S.A., 2006,
Marine Microbial Diversity and
Ecology, Importance and Future
Perspective, Curr. Science, 90 (10) :
1325–1335.
Deshpande,
J.D., Joshi,
M.,
2011,
Antimicrobial Resistance : The Global
Public Health Challenge, International
Journal of Student Research, 1 (2)
Jawetz, Melnick dan Adelberg., 2007,
Mikrobiologi
Kedokteran,
EGC,
Jakarta, 165-174.
Kelecom, A, 2002, Secondary Metabolites
From Marine Microorganisms, An.
Acad. Bras. Scienc, 74 (1) : 151–170.
Herlina,Rante., Wahyono, Yosi, B. Murti.,
Gemini Alam., 2010, Purifikasi dan
karakterisasi senyawa antibakteri dari
Actinomycetes
asosiasi
spons
terhadap bakteri patogen resisten,
Majalah Farmasi Indonesia, 21 (3) :
158–165.
Ekstrak bakteri menunjukkan aktivitas
dari metabolit sekunder yang mampu
menghambat bahkan mematikan bakteri uji.
Zona penghambatan pertumbuhan bakteri uji
disebabkan oleh metabolit sekunder yang
dihasilkan oleh ekstrak isolat bakteri
Actinomycetes.
Ekstrak
bakteri
Actinomycetes selalu membentuk zona
bening pada setiap uji aktivitas antibakteri.
Hasil ini menunjukkan bahwa senyawa aktif
ekstraseluler yang dihasilkannya memiliki
spektrum
yang
luas
sebagai
agen
antimikroba. Ekstrak bakteri Actinomycetes
memiliki aktivitas terhadap jenis bakteri
berGram positif maupun negatif. Hal inilah
yang mengindikasikan bahwa ekstrak isolat
bakteri Actinomycetes memiliki spektrum
luas yang mampu bekerja untuk bakteri
Gram positif dan Gram negatif.
Aktivitas antibakteri yang dihasilkan oleh
bakteri simbion berhubungan erat dengan
kemampuan spons yang telah menjadi salah
satu penghasil senyawa bioaktif paling
prospektif dari semua invertebrata laut dan
juga peranan besar bakteri simbion itu
sendiri dalam proses metabolisme dan
pertahanan kimiawi dari spons. Pada uji
awal aktivitas antimikroba, Actinomycetes
hanya mampu menghambat 2 bakteri uji
sedangkan pada saat uji aktivitas akhir,
Actinomycetes dapat menghambat seluruh
35
JKK, Tahun 2015, Volume 4(2), halaman 30-36
ISSN 2303-1077
Lee, Y. K., Lee, J.-H. & Lee, H. K., 2001,
Microbial Symbiosis In Marine
Sponges. J Microbiol 39 : 254-264.
Mahdiyah, Dede dan Bayu Hari Mukti., 2012,
Penapisan Bakteri Yang Berasosiasi
Dengan Spons Jaspis Sp. Penghasil
Enzim Amilase, Bioscientiae 9 (2) : 914.
Rahayu, Eka. U., 2012, Antibiotika,
Resistensi dan Rasionalitas Terapi,
Fakultas Sains dan Teknologi UIN
Maliki Malang, Saintis 1 (1).
Sunaryanto, R., Marwoto, B., Matsuo, Y.,
2010, Isolasi Actinomycetes Laut
Penghasil Metabolit Sekunder Yang
Aktif Terhadap Sel Kanker A549,
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi
Kelautan dan Perikanan, 5(2).
36
Download