pembangkit listrik tenaga angin untuk penggerak peralatan mesin

advertisement
Riptek, Vol.1 No.1, November 2007, Hal.: 19-26
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN
UNTUK PENGGERAK PERALATAN
MESIN SEDERHANA
Hatmodjo S. , Darmanto S., Setioko B. *)
Abstrak
Kebutuhan akan tenaga listrik tiap tahun terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk di perkotaan
maupun diperdesaan. Kenaikan harga BBM mendorong masyarakat untuk mencari alternatif baru yang murah dan
mudah didapat untuk mendapatkan tenaga mekanik menjadi tenaga listrik. Sudah banyak diupayakan untuk
mendapatkan tenaga listrik dari pembangkit mikrohidro, namun masih banyak kendala seperti belum tersedianya
turbin air skala mikro di pasaran, bangunan penampung/saluran air yang cukup untuk penggerak turbin air.
Tenaga angin merupakan tenaga gerak yang murah dan mudah didapat namun penggunanan tenaga angin masih
relatif rendah, sehingga peneliti mencoba untuk memanfaatkannya sebagai tenaga penggerak generator listrik untuk
pembangkit listrik. Tenaga angin memutar poros melalui kipas vertikal dan memutar puly generator listrik sehingga
menghasilkan arus listrik, maka usaha untuk meningkatkan kinerja turbin masih sangat diperlukan sehingga turbin
yang dibuat dapat diterapkan di masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan mengoptimalkan jumlah sudu pada
turbin impuls, sudu Michell maupun sudu Pelton, untuk mendapatkan efisiensi terbaik system pembangkit listrik
tenaga mikrohidro.
Tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah membuat generator pembangkit listrik tenaga angin yang mampu
menghasilkan arus listrik ± 1000 Watt. Dan mengharapkan pembangkit listrik tenaga angin dapat dipakai sebagai
alternatif dari pembangkit listrik yang sudah ada seperti pembangkit listrik tenaga air, tenaga diesel (minyak solar)
dan ramah lingkungan (tidak menimbulkan polusi udara).
Sedangkan methoda penelitiannya adalah persiapan gambar, rangka alat hingga pada uji coba seberapa besar
tenaga angin/kecepatan angin yang mampu menggerakkan kipas sehingga dapat memutar dynamo dan
menghasilkan arus listrik, mengukur arus listrik maksimal yang dapat dihasilkan oleh dynamo.
Akhirnya dihasilkan arus listrik yang dihasilkan baru mampu mengerakkan peralatan selama ± 30 menit dan mesin
digunakan tidak secara kontinu. Atau arus listrik yang mampu dihasilkan baru mencapai ± 1500 watt untuk waktu
± 30 menit.
Kata kunci : listrik, angin, turbin,
Abstract
The demand of electricity is getting increased caused by the increase of human population in the world.People tried
to find an alternative energy source from microhydro turbine but the most important difficulties is the availability the
water turbine, and water ponds to mechanize the turbine.
The wind power is the cheapest power but unfortunately this power rarely used.Many researchers used the wind as
the activator of electric generator.
The goal of this research is to built an electicity generator that produses about 1000 Watt of electricity.It is found
that the wind power is an alternative source for electricity genenator besides water turbine, diesel motor. The wind
turbine is friendly for environment and not cause the air pollution.
In this study, we started to prepared the illustration of the turbine until examine the air velocity that could activate
the propeller, and mechanize the dynamo that produce electricity and finally measuring the electricity produced by
the dynamo.
The produced electricity current could mechanize a device only for 30 minuter equal to 1500 watt for 30 minutes.
Keywords : electricity, wind, turbine.
*) Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang
Jl. Prof. Sudarto, SH, Tembalang – Semarang
Telp/fax. (024) 7460058
19
Riptek, Vol. 1 No. 1, November 2007, Hal., 19-26
Pendahuluan
Kenaikan harga bahan bakar
minyak (BBM) mendorong harga-harga
bahan
pokok
kebutuhan
sehari-hari
melonjak cukup signifikan. Belum lagi
ditambah kenaikan tarif transportasi, listrik
dan telepon. Direncanakan pula tahun ini
pemerintah akan menaikkan lagi harga BBM
seperti jenis premium dari Rp. 4.500,00
menjadi Rp. 5.500,00. Kehidupan masyarakat
menengah ke bawah semakin terhimpit,
masyarakat di perkotaan semakin tertekan.
Pada era otonomi daerah saat ini kekuatan
dan kelemahan yang dimiliki tidak bisa
didiamkan begitu saja, untuk menghadapi
ancaman resesi ekonomi dan sosial yang
belum
menunjukkan
perbaikan yang
meyakinkan. Penciptaan peluang-peluang
baru yang lebih kreatif perlu dilakukan
terutama untuk menciptakan tenaga listrik
yang murah. Beberapa penelitian telah
dilakukan seperti system pembangkit listrik
tenaga mikrohidro di beberapa daerah yang
tidak terjangkau oleh jaringan listrik
pemerintah dan potensi tenaga air
melimpah. Untuk daerah perkotaan seperti
kota Semarang yang juga merupakan kota
pelabuhan berada di tepi laut Jawa, memiliki
potensi yang belum tergarap dengan baik
yaitu tenaga angin untuk pembangkit listrik.
Bila potensi ini tergarap dengan baik,
diharapkan
dapat
memberikan
kontribusi terhadap pengadaan tenaga
listrik
yang
murah
dan
dapat
dimanfaatkan sebagai pengerak peralatan
sederhana pada industri kecil. Mengingat
pembangkit listrik tenaga angin ini relatif
baru dan dapat dipakai dimana saja maka
sudah selayaknya perlu dikaji dan
dikembangkan
guna
mensejahterakan
masyarakat.
Dengan jumlah penduduk yang
mendekati 250 juta orang, dan konsumsi
energi nasional dari tahin ketahun terus
meningkat dan sampai saat ini sebagian besar
dipenuhi oleh batu bara dan minyak bumi,
selebihnya oleh energi listrik. Disamping
sebagai energi utama dalam negeri, batu
bara dan minyak/gas bumi sampai saat juga
merupakan sumber devisa yang paling besar
untuk negara. Selama ini eksploitasi yang
dilakukan sering menimbulkan masalah
terutama dari sisi lingkungan misalnya :
rusaknya lahan, terganggunya landscape
wilayah tertentu, pencemaran air dan
pencemaran udara.
Sumber energi tenaga angin dapat
dimanfaatkan dengan cara mengubah energi
tersebut ke dalam bentuk energi listrik
melalui teknologi system pembangkit listrik
yang terdiri dari komponen utama
generator listrik, kipas pemutar poros,
rotor, battery penyimpan arus listrik, rangka
baja dan instalasi/kabel listrik. Kipas pemutar
poros yang digerakkan tenaga angin
merupakan penggerak mula menjadi energi
mekanik
berupa
putaran
poros
menggerakkan puly digunakan untuk
menggerakkan
generator,
sehingga
menghasilkan listrik.
Kebutuhan akan tenaga listrik tiap
tahun terus meningkat seiring dengan
pertambahan penduduk di perkotaan
maupun diperdesaan. Kenaikan harga BBM
mendorong masyarakat untuk mencari
alternatif baru yang murah dan mudah
didapat untuk mendapatkan tenaga mekanik
menjadi tenaga listrik. Sudah banyak
diupayakan untuk mendapatkan tenaga listrik
dari pembangkit mikrohidro, namun masih
banyak kendala seperti belum tersedianya
turbin air skala mikro di pasaran, bangunan
penampung/saluran air yang cukup untuk
penggerak turbin air.
Tenaga angin merupakan tenaga
gerak yang murah dan mudah didapat namun
penggunanan tenaga angin masih relatif
rendah, sehingga peneliti mencoba untuk
memanfaatkannya sebagai tenaga penggerak
generator listrik untuk pembangkit listrik.
Tenaga angin memutar poros melalui kipas
vertikal dan memutar puly generator listrik
sehingga menghasilkan arus listrik.
Tujuan dari penelitian ini adalah :
 Membuat generator pembangkit
listrik tenaga angin yang mampu
menghasilkan arus listrik ± 1000
Watt.
 Membuat
petunjuk
teknis
pengoperasian
generator
pembangkit listrik tenaga angin.
 Memberikan
wawasan
pada
masyarakat bahwa tenaga angin
dapat
dimanfaatkan
untuk
pembangkit listrik yang murah dan
mudah dibuat.
System Mikrohidro dengan Turbin
Impuls
1
Pembangkit listrik...
System
mikrohidro
telah
dikembangkan di beberapa Negara untuk
memenuhi kebutuhan listrik di daerah
pedalaman antara lain : Feltric Set di Nepal,
Columbian Alternator System di Kolombia, dan
Pico Power Pack di Amerika. Ketiga system
tersebut menggunakan turbin impuls sebagai
pengerak (Maher and Smith, 2001).
Turbin impuls pertama kali dibuat
oleh Alan Lester Pelton pada tahun 1830,
turbin ini kemudian dikenal dengan turbin
pelton. Turbin pelton terdiri dari roda jalan
(FT.Undip)
(runner) yang disekelilingnya dipasang sudu
berbentuk Hemispherical, dan sebuah nosel
berpenampang lingkaran. Efisiensi turbin
pelton bias mencapai 80 persen. Seratus
tahun kemudian, Michell telah berhasil
meningkatkan efisiensi turbin pelton dengan
memodivikasi bentuk sudu pelton (Bellis,
2002). Bentuk sudu roda jalan turbin Pelton
dan Michell dapat dilihat pada Gambar 1 dan
2.
(a)
(b)
Gambar 1. (a) Bentuk sudu Michell; (b) Bentuk sudu Pelton
(a)
(b)
Gambar 2. (a) Roda jalan turbin Michell; (b) Roda jalan turbin Pelton
Kinerja turbin dipengaruhi kualitas jet
yang dihasilkan oleh nosel. Kualitas aliran jet akan
berpengaruh terhadap karakteristik aliran selama
berinteraksi dengan permukaan sudu (bucket).
Penelitian tentang hal ini dilakukan oleh Kvloinsky
dkk (2002), dimana analisis aliran jet pada
permukaan sudu turbin dilakukan secara numeric
maupun eksperimen. Nosel yang dipakai dalam
penelitian tersebut berpenampang lingkaran. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kualitas aliran jet
berpengaruh pada distribusi tekanan dan medan
kecepatan pada permukaan sudu sehingga daya dan
efisiensi turbin akan berubah.
Staubli
dan
Hauser
(2004)
memvisualisasikan
aliran
jet
keluar
nosel
2
berpenampang lingkaran dalam berbagai bentuk
divergen dengan cara memodifikasi dalam berbagai
sudut jarum governor. Divergensi jet ternyata
berpengaruh terhadap
karakteristik jet pada permukaan sudu.
Hasil modifikasi menunjukkan peningkatan kinerja
turbin, yang berarti modifikasi geometri nosel dapat
menambah kualitas aliran jet yang dihasilkan nosel.
Nonoshita dkk (2004) meneliti perilaku
aliran jet akibat perubahan laju aliran (flow rate) dan
tinggi jatuh air (head). Hasil penelitian menunjukkan
distribusi kecepatan aliran jet sangat tergantung
dengan jumlah laju aliran dan meningkatnya head
menyebabkan
meningkatnya
diameter
jet.
Penambahan diameter jet, untuk input energi yang
sama menyebabkan menurunnya efisiensi turbin.
Riptek, Vol.1 No. 1, November 2007, Hal. 19-26
Modifikasi geometri nosel juga dilakukan
oleh Sahid dkk (2005) dengan mengubah bentuk
penampang nosel menjadi segi empat, seperti
terlihat pada Gambar 3. penampang nosel
divariasikan menurut rasio panjang dan lebar segi
empat (R), masing-masing adalah 0,67; 0,83; 1,0; dan
1,2. hasil uji karakteristik terhadap turbin Pelton
menunjukkan nosel berpenampang segi empat R =
1,0 memberikan efek paling baik terhadap efisiensi
turbin. Efisiensi turbin meningkat 18 persen jika
disbanding
dengan
menggunakan
nosel
berpenampang lingkaran. Hasil uji karakteristik
turbin Pelton dengan nosel berpenampang segi
empat dan lingkaran dapat dilihat pada Gambar 4.
berdasarkan hasil penelitian Sahid dkk tersebut,
dapat dikatakan bahwa nosel berpenampang segi
empat mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
kinerja turbin Pelton, oleh karenanya perlu diujikan
pada type turbin lain yang sejenis (turbin impuls),
dalam hal ini adalah turbin Michell.
(a)
(b)
Gambar 3. (a) Nosel berpenampang lingkaran; (b)
Nosel berpenampang segi empat
Metodologi Penelitian
Rancang bangun pembangkit listrik tenaga
angin untuk peralatan mesin sederhana ini
menggunakan :
Bahan
a.
b.
c.
d.
e.
Pipa besi Ø 4 “dipakai untuk tiang rangka
Pipa besi Ø 3 “ dipakai untuk pembagi
dan skoor
Besi poros Ø 1,5” dipakai untuk as kipas
pemutar
Pipa besi Ø 1,5 “ dipakai untuk rangka
daun kipas
Plat strip dipakai untuk penjepit daun
kipas
f.
Plat besi tebal 5 mm dan 3 mm dipakai
untuk dudukan generator dan dinding
penutup.
g. Plat alumunium tebal 1mm dipakai untuk
daun kipas
h. Laker dudukan poros dan bola baja
dipakai untuk menempatkan poros
i. Dynamo Ampere dipakai untuk pengisi
Accu
j. Accu 40 Ampere 12 Volt dipakai untuk
pengerak awal dynamo DC
k. Dynamo DC dipakai untuk pemutar
dynamo AC
l. Dynamo AC dipakai untuk pembangkit
listrik
m. Rotor/reducer dipakai untuk mengubah
arah putaran dan menambah kecepatan
putaran
n. Pully dan vanbelt dipakai untuk memutar
dynamo ampere
o. Perlengkapan instalasi listrik
Peralatan
a. Mesin gergaji besi
b. Mesin gerinda
c. Mesin las
d. Peralatan pengukur kecepatan angin
e. Peralatan pengukur arus listrik
f. Peralatan untuk pengecatan
Jalannya Penelitian
Proses penelitian dibagi tiga tahap meliputi :
a. Tahap I perencanaan dan persiapan yaitu
menyiapkan gambar kerja, menyiapkan
bahan dan peralatan yang digunakan.
b. Tahap II pelaksanaan yaitu membuat
rangka,
membuat
kipas
pemutar,
memasang reducer/rotor, dynamo, puly
dan
battery
kering
sebagai
penyimpan/cadangan
sementara
arus
listrik, dan instalasi listrik.
c. Tahap III uji coba seberapa besar tenaga
angin/kecepatan angin yang mampu
menggerakkan kipas sehingga dapat
memutar dynamo dan menghasilkan arus
listrik, mengukur arus listrik maksimal
yang dapat dihasilkan oleh dynamo.
Data yang diperlukan dan teknik
pengumpulan data
a. Data jumlah kipas
Jumlah kipas dicari yang optimum artinya
dengan tekanan angin yang rendah mampu
untuk memutar kipas secara konstan.
b.
Data sudut kipas
23
Pembangkit listrik...
-
c.
d.
(Hatmojo,dkk)
Besarnya sudut kipas dicari yang optimum
artinya dengan tekanan angin yang rendah
mampu untuk memutar kipas secara
konstan.
Data jumlah putaran kipas permenit
Jumlah putaran kipas permenit sangat
berpengaruh terhadap putaran dynamo
dan arus listrik yang dihasilkan.
Data perbandingan putaran kipas dengan
putaran dynamo
Kecepatan putaran kipas maksimal yang
mampu memutar dynamo sehingga
menghasilkan arus listrik yang maksimal.
Teknik pengolahan dan analisis data
Data
jumlah
kipas,besarnya
sudut,
kecepatan angin dan jumlah putaran dicatat dan
ditabelkan kemudian dibuat grafiknya.
Data jumlah putaran kipas, jumlah putaran
dynamo dan besar arus listrik yang dihasilkan dicatat
dan ditabelkan kemudian dibuat grafiknya.
Data besarnya arus listrik yang dihasilkan
tiap hari dan lama waktu pemanfaatan ditabelkan dan
dibuat grafik sehingga dapat diketahui efektifitas
pembangkit listrik tenaga angin dioperasionalkan, hal
tersebut dapat dianalisis menggunakan metoda
regresi.
Untuk menganalisis data jumlah kipas,
besarnya sudut kipas, jumlah putaran kipas,
kecepatan angin, jumlah putaran dynamo, besar arus
yang dihasilkan dan lama waktu pemanfaatan
digunakan analisis regresi dan korelasi. Analisis
regresi digunakan sebagai metode untuk menyusun
hubungan fungsional antara dua variabel.
Y = a0 + a1X,
dimana : Y = variabel tak bebas
X = variabel bebas
a0 , a1 = parameter regresi
Koefisien korelasi (r atau R) menunjukkan
adanya korelasi kuat antar variabel. Nilai r terletak
antara 0 sampai 1, jika nilai r = 0 maka tak ada
korelasi dan jika r = 1 maka ada korelasi. Setiap
besaran variabel bebas berubah, maka akan
mempengaruhi nilai variabel tak bebasnya.
r
n x
n xy   x  y
2

  x  n y   y 
2
2

2 1/ 2
Rumus nilai r untuk data diskrit :
r
6 D 2


n n2  1
Dimana : n = jumlah data dan D = deviasi X
dan Y
(Ritonga, 1987).
24
Hasil dan Pembahasan
Struktur Rangka Tiang
Rangka tiang dengan tinggi 9,00 m diharapkan
pada ketinggian tersebut diperoleh tiupan angin yang
cukup kencang karena sudah di atas ketinggian
rumah penduduk dan pepohonan disekitarnya.
Rangka berbentuk segi empat dan disekat menjadi
tiga ruangan terdiri dari : ruangan atas untuk kipas,
ruangan tengah untuk dynamo DC maupun AC dan
accu, sedangkan ruangan bawah yang berhubungan
dengan pondasi tiang rangka.
Hubungan antar tiang satu dengan yang lain
dipasang pipa horizontal dan pipa diagonal agar
kokoh dan tidak goyah. Bagian bawah tiang yang
berhubungan dengan pondasi dipasang angkur dan
dilas dengan pipa tiangnya agar bila terjadi angin
kencang konstruksi tidak roboh/ambruk.
Gambar 5. Pengerjaan Konstruksi Struktur Rangka
Jumlah kipas
Jumlah kipas pada kincir vertical terdiri dari
empat daun dengan lebar 1,30 m dan tinggi 2,50 m,
daun kipas menggunakan lembaran alumunium yang
dipasang pada rangka menggunakan mur baut.
Konstruksi kipas
Hasil gambar kerja sudah diterapkan untuk
pembuatan struktur rangka, demikian juga
pembuatan rangka kipas/kincir vertikalnya. Terdapat
beberapa penyesuaian mengingat rancang bangun ini
selalu berkembang dan mencari solusi yang lebih
baik agar diperoleh hasil yang optimal.
Berbentuk silinder berdiameter 3, 00 m dan
tinggi 2,50 m, pada konstruksi tersebut dipasang 4
(empat) kipas. Karena tinggi kipas mencapai 2,50 m
maka agar daun kipas (lembaran alumunium) tidak
melengkung diperkuat dengan rangka tambahan pada
bagian tengahnya.
Riptek, Vol.1 No. 1, November 2007, Hal. 19-26
Pada penelitian ini perbandingan putaran kipas
dengan putaran dynamo ampere ditetapkan/diseting
1 : 20, dengan putaran kipas kemudian dipercepat 20
kali maka dapat memutar dynamo ampere dan dapat
mengisi strum accu sehingga accu mampu memutar
dynamo DC dan dynamo AC ikut berputar
menghasilkan arus listrik.
Gambar 6. Konstruksi Rangka Kipas/Kinci Vertikal
Gambar 7. Pemasangan Lembaran Alumunium
pada Rangka Kipas/Kincir Vertikal
Data sudut kipas
Kipas dipasang dengan lebar rangka 1,50 m dan
yang diberikan daun dari lembaran alumunium
selebar 1,30 m dibuat melengkung dengan selisih
bagian tengah terhadap pinggir 0,20 m sedang
besarnya sudut kipas menjadi 90º karena dalam satu
lingkaran terdiri dari empat daun saja.
Jumlah putaran kipas permenit
Jumlah putaran kipas permenit pada waktu
pengujian sangat bervariasi tergantung kecepatan
angin.
No
1
2
3
Tabel 2. Jumlah Putaran Kipas/kincir
Vertikal Permenit
Waktu
Rata-rata Jumlah
Pengamatan
Putaran/menit
Jam 08.00 s/d 11.00
32
Jam 11.01 s/d 14.00
40
Jam 14.01 s/d 17.00
19
Jumlah putaran yang terbesar adalah waktu
antara jam 11.00 sampai dengan jam 14.00 WIB
dengan jumlah 40 putaran kipas/menit.
Perbandingan putaran kipas dengan putaran
dynamo ampere
Arus Listrik yang Dihasilkan
Arus listrik yang mampu dihasilkan baru
mencapai ± 1500 watt untuk waktu ± 30 menit.
Pada
kondisi
tersebut
karena
hanya
menggunakan satu buah accu (40 ampere, 12 volt)
maka dapat menghasilkan arus listrik yang mampu
untuk mengerakkan peralatan mesin seperti mesin
ketam kayu tangan, bor tangan dan mesin amplas
tangan, secara bergantian.
Arus listrik yang dihasilkan baru mampu
mengerakkan peralatan selama ± 30 menit dan
mesin digunakan tidak secara kontinu.
Putaran kipas belum mampu mengisi accu
secara kontinu karena selalu kekurangan strum
untuk memutar dynamo DC kembali sehingga untuk
menghasilkan arus listrik kembali harus menunggu
sampai accu kembali penuh dengan strum.
Analisa korelasi dan regresi tidak dapat
dilaksanakan mengingat jumlah data pada masingmasing variabel tidak memenuhi syarat dan hampir
semua variabel ditetapkan.
Kesimpulan
Dari bab pembahasan maka dapat
disimpulkan antara lain :
a. Semua peralatan dapat berfungsi dengan
baik mulai dari putaran kipas, pully, van
belt, dynamo ampere, accu, dynamo DC,
dynamo AC, dan instalasi kabel listrik.
b. Jumlah putaran kipas terbesar adalah waktu
antara jam 11.00 sampai dengan jam 14.00
WIB dengan jumlah 40 putaran kipas/menit.
c. Karena hanya menggunakan satu buah accu
(40 ampere, 12 volt) maka dari putaran
kipas tersebut dapat menghasilkan arus
listrik untuk mengerakkan peralatan mesin
seperti mesin ketam kayu tangan, bor
tangan dan mesin amplas tangan, secara
bergantian.
d. Arus listrik yang dihasilkan baru mampu
mengerakkan peralatan selama ± 30 menit
dan mesin digunakan tidak secara kontinu.
e. Putaran kipas belum mampu mengisi accu
secara kontinu karena selalu kekurangan
strum untuk memutar dynamo DC
kembali, sehingga untuk menghasilkan arus
25
Pembangkit listrik...
f.
g.
listrik kembali harus menunggu sampai accu
kembali penuh strum terlebih dahulu
Arus listrik yang mampu dihasilkan baru
mencapai ± 1500 watt untuk waktu ± 30
menit.
Analisa korelasi dan regresi tidak dilakukan
mengingat data tidak memenuhi jumlah
sampel.
Ucapan terima kasih
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Bappeda
Kota Semarang yang telah memberikan dana
penelitian
lewat
Bidang
Penelitian
dan
pengembangan di tahun 2006.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak
Walikota Semarang H. Sukawi Sutarip, SH,SE, dan
bapak Ketua Bappeda Kota Semarang yang telah
bersedia menjadi patner kerjasamanya dalam
mendanai kegiatan penelitian ini.
Daftar Pustaka
Bellis, (2002), “Lester Allan Pelton-Water Turbines and
the Beginnings of Hydroelectricity”, Inventor Journal,
http://Inventor.abuot.com/gi/ dynamic/offsite.htm
Bono, Sahid, Sunarwo, (2003), “Rancang Bangun
Turbin Pelton untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro
Hidro Kapasitas Daya 1kW”, Proseding Workshop
dan Seminar Nasional Hasil-hasil Penelitian, Badan
Penelitian dan Pengembangan Propinsi Jawa Tengah,
Semarang.
Kvicinsky, S., J.L. Kueny, F. Avellan, E. Parkinson,
(2002), Experimental and Numerical Analysis of Free
Surface Flows in A Rotating Bucket”, Proceedings of
st
the XXI IAHR Symposium on Hydraulic Machinery
and Systems, Lausanne.
Maher P., and N. Smith, (2001), “Pico Hydro for
Village Power”, Practical Manual for Schemes Up To
5 kW in Hilly Areas, Edition 2.
Monoshita, T., K. Takahashi, S. Ikeo, Y. Matsumoto,
(2004), “Numerical Analysis of a Pelton Turbine Jet”,
Proceeding of ASME/JSME Fluids Engineering
Division
Summer
Meeting,
California,
htpp://asme.pinetec.com/
fedsm99/data/s295/7832.html
Ritonga Abdulrahman, (1987), “Statistika Terapan
untuk Penelitian”, Lembaga Penerbit FE – UI, Jakarta.
26
(Hatmojo,dkk)
Sahid, Sunarwo, Bono, (2005), “Pengaruh Nosel
Berpenampang Segi Empat terhadap Kinerja Turbin
Pelton”, Proseding Seminar Nasional Rekayasa
Teknologi Industri dan Informasi (ReTII), STT
Nasional, Yogyakarta.
Soewarto, (1980), “Pemakaian Batery untuk
Penggerak Kendaraan dan Sebagai Salah Satu Aspek
Dalam Rangka Diversifikasi Pemakaian Energi Sektor
Angkutan,
Lokakarya
Pengembangan
Energi
Nonkonvensional”, Dirjen Ketenagaan, Departemen
Pertambangan dan Energi, Jakarta.
Staubli, T., and H.P. Hauser, (2004), “Flow
Visualization-Adiagnosis Tool for Pelton Turbines”,
IGHEM2004, Lucerne.
Sunarto, M. Edy, (1994), “Turbin Pelton Mikro”, Andi
Offset, Yogyakarta.
Sutisna N., (2004), “Departemen Energi Kembangkan
Sistem
Mikrohidro”,
Tempo
NewsRoom,
http://www.tempo.co.id/hg/nusa/jawamadura/.../ork,
20040417-08,id.html.
Zulkarnain, Soekarno, H., Berlian A., (2002), “Sistem
Piko Hidro untuk Daerah Terpencil”, Majalah P3TEK,
http://www.p3tek.com/conten/publikasi/2002
/publikasi04.htm.
Download