Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia

advertisement
Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia:
Telaah terhadap Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
No. 1400 K/Pdt/1996
Yasin Baidi ∗
Abstrak
Dalam Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan
bahwa pernikahan itu dianggap sah jika dilakukan menurut agama dan kepercayaan
masing-masing pihak, suami isteri. Dipahami oleh mayoritas ahli hakum bahwa
kalimat ‘menurut agama dan kepercayaan masing-masing pihak’ berarti antara calon
suami dan isteri yang akan melangsungkan pernikahan haruslah sama agamanya,
harus seagama. Pemahaman ini dengan demikian berimplikasi bahwa pernikahan
yang dilakukan oleh calon suami dan isteri yang tidak seagama tidaklah sah. Namun
demikian, secara faktual ada banyak masyarakat Indonesia yang melakukan nikah
tidak seagama ini yang secara yuridis sangatlah problematis. Di tengah-tengah
problematika ini muncullah Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.
1400 K/Pdt/1996 yang mencoba ‘menengahi’-nya. Namun, legalkah solusi ini?
Problematika yuridis apa yang dimunculkannya? Tulisan ini menganalisisnya dari
berbagai perspektif.
Kata kunci: nikah beda agama, putusan MA, undang-undang
A. Pendahuluan
Semua agama secara normatif dan prinsipil tidak membolehkan
adanya pernikahan beda agama. Secara yuridis, dibuatlah UU No. 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan dengan seperangkat aturan pelaksanaannya.
Salah satu asas yang dikembangkan dalam U No. 1 Tahun 1974 itu adalah
bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masingmasing agamanya dan kepercayaannya itu. UU No. 1 Tahun 1974 ini
merupakan ‘kata akhir’ dan ‘penghapus berlakunya berbagai peraturan
perundang-undangan sebelumnya yaitu (1) Kitab Undang-undang Hukum
Perdata (KUHP, Burgerlijk Wetbook/ BW), (2) Peraturan Perkawinan
Campuran (Regeling op de Gemengde Huwelijken/ GHR), Stb. 1898 N0. 158,
(3) Ordonansi Perkawinan Kristen Indonesia (Huwelijken Ordonantie voor
Christen Indonesiers/ HOCI), Stb. 1933 No. 74, dan (4) Undang-undang No.
22 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk. Lebih lanjut,
dalam bagian penjelasan dinyatakan bahwa dengan perumusan pada Pasal
∗
Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
672
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
2 (1) ini tidak ada lagi perkawinan di luar hukum masing-masing agamanya
dan kepercayaannya itu sesuai dengan pasal 29 UUD 1945.
Seiring dengan kenyataan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang
sagat majemuk dan heterogen—suku, adat, ras, bahasa, dan agama—serta
semakin pesatnya perkembangan zaman, pergeseran pandangan dan nilai
serta makna terhadap institusi keluarga semakin kuat. Maka, dengan
kondisi kemajemukan dan hetrogenitas itu, ditambah lagi dengan mobilitas
perikehidupan warga masyarakat yang semakin tinggi, fenomena nikah
beda agama itu ternyata sudah semakin banyak dilakukan.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa masalah pernikahan beda
agama dalam konstelasi global perikehidupan berbangsa dan bernegara di
Indonesia, jika tidak dicari jalan keluarnya, tidak saja akan menimbulkan
ketidakjelasan status hukumnya, namun juga sangat dimungkinkan pada
saatnya nanti akan memicu timbulnya instabilitas perikehidupan
masyarakat warga negara Indonesia. Pemecahan terhadap permasalahan
pernikahan beda agama ini jelas merupakan hal yang tidak bisa ditawartawar lagi.
Muncul pro dan kontra tentang status hukumnya: sah-tidak sah,
boleh-tidak boleh. Misalnya, MUI dan kaum ‘tradisionalis’ pada umumnya
mengharamkan sementara Paramadina, Jaringan Islam Liberal (JIL) dan
Pengarusutamaan Gender (PuG) Depag RI membolehkan/mensahkan.
Namun, pemikiran yang digagas dan ditawarkan oleh kedua lembaga
di atas masih saja dipandang 'tidak benar' oleh sebagaian besar para juris
dan para teolog di Indonesia sehingga pemikiran yang sebenarnya bisa
dijadikan solusi alternatif itu masih berkutat dalam tingkatan wacana,
belum bisa teraplikasikan dalam dataran praksis yakni dalam sistem
peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain, gagasan keduanya
masih saja, secara praktis yuridis, belum memuaskan karena pada
kenyataannya belum bisa mengentaskan problematika perkawinan beda
agama yang semakin banyak dilakukan di Indonesia.
Artinya, di satu sisi secara religius masih menimbulkan polemik pro
dan kontra dan di sisi lain secara yuridis normatif terdapat kekosongan
hukum (recht vacuum) yang sudah barang tentu tidak kondisif dalam tata
tertib hukum di Indonesia. Untuk itulah, sehubungan dengan adanya
sebuah permohonan kasasi kasus nikah beda agama itu, maka Mahkamah
Agung mengabulkan permohonan kasasi tersebut dan pada gilirannya
putusan Mahkamah Agung tersebut dijadikan sebagai yurisprudensi dalam
berbagai kasus nikah beda agama di Indonesia. Inti dari putusan tersebut
adalah bahwa nikah beda agama di Indonesia itu boleh dilakukan dan
tidak melanggar UU No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan maupun
peraturan perundang-undangan yang berkaitan. Paradigma yang dipakai
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
673
dan dikembangkan oleh Mahkamah Agung adalah untuk mengisi
kekosongan hukum itu agar tata tertib hukum bisa berjalan dengan baik.
Meskipun demikian, polemik dalam masalah nikah beda agama
tidaklah surut, masih saja menuai pro kontra yang semakin debatable. Maka
menarik untuk dilihat apakah putusan Mahkamah Agung ini benar-benar
“benar” secara yuridis konstitusional? Bagaimana kritik yang dapat
diajukan kepada putusan Mahkamah Agung ini dalam perspektif hukum
Islam? Kira-kira solusi alternatif apakah yang bisa ditawarkan? Inilah yang
akan coba diangkat dan ditilik dalam tulisan ini. Oleh karena itu, muncul
paling tidak tiga persoalan penting, yakni pertama, apa latar belakang
Mahkamah Agung Republik Indonesia membuat putusan itu; kedua,
bagaimana paradigma interpretasi hukum melihat masalah ini; dan ketiga,
solusi alternatif apakah yang dapat ditawarkan. Diharapkan, tulisan ini
dapat menjelaskan latar belakang Mahkamah Agung Republik Indonesia
membuat putusan itu, mengetahui perspektif hukum Islam melihat
masalah ini, dan berusaha mencari solusi alternatif yang dapat ditawarkan.
Diharapkan pula, tulisan ini dapat menjadi salah satu upaya untuk
mengkritisi fenomena hukum perkawinan yang muncul dan berkembang
di tengah-tengah masyarakat, sebagai sumbangan pemikiran terhadap
dinamika hukum seputar hukum perkawinan di Indonesia, dan sebagai
lemparan wacana yang diharapkan mengundang kritik konstruktif agar
problematika nikah beda agama di Indonesia bisa teratasi secara yuridishumanis.
B. Pengertian dan Dasar Hukum Perkawinan
Menurut pasal 1 UU No. 1/1974 tentang Perkawinan, yang
dimaksud perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga
(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa. Di dalam ketentuan pasal-pasal KUHPerdata, tidak diberikan
pengertian perkawinan itu. Oleh karena itu, untuk memahami arti
perkawinan dapat dilihat pada ilmu pengetahuan atau pendapat para
sarjana.
Ali Afandi mengatakan bahwa “perkawinan adalah suatu
persetujuan kekeluargaan”. Scholten mengatakan bahwa perkawinan
adalah “hubungan hukum antara seorang pria dengan seorang wanita
untuk hidup bersama dengan kekal, yang diakui oleh negara”.1 Jadi Kitab
Undang-undang Hukum Perdata memandang soal perkawinan hanya
1
R. Soetojo Prawirohamidjojo dan Azis Safioedin, Hukum Orang dan Hukum
Keluarga, (Bandung: Alumni, 1985), p. 31.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
674
dalam hubungan-hubungan perdata.2 Hal ini berarti bahwa undangundang hanya mengakui perkawinan perdata sebagai perkawinan yang sah,
berarti perkawinan yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam
Kitab Undang-undang Hukum Perdata, sedang syarat-syarat serta
peraturan agama tidak diperhatikan atau dikesampingkan.
Sementara menurut Kompilasi Hukum Islam Pasal 2 dinyatakan
bahwa perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad
yang sangat kuat atau miitsaaqan gholiidhzan untuk mentaati perintah Allah
dan melaksanakannya merupakan ibadah. Jadi perkawinan adalah suatu
ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita untuk
membentuk suatu keluarga yang kekal. Yang dimaksud dengan hukum
perkawinan adalah hukum yang mengatur mengenai syarat-syarat dan
caranya melangsungkan perkawinan, beserta akibat-akibat hukum bagi
pihak-pihak yang melangsungkan perkawinan tersebut.
C. Hal-ihwal Perkawinan dalam Hukum Perkawinan di Indonesia
Ada beberapa aspek yang penting dikemukakan kaitannya dengan
hal ihwal sebuah pernikahan yang dilakukan di Indonesia. Pertama,
hakekat. Pada Pasal 1 UU No. 1/1974 tentang Perkawinan dinyatakan
bahwa “perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami isteri.” Berangkat dari definisi ini tampak
bawaha hakikat perkawinan menurut undang-undang bukanlah sekedar
ikatan formal belaka tetapi juga ikatan batin antara pasangan yang sudah
resmi sebagai suami dan isteri. Dalam Kompilasi Hukum Islam di
Indonesia (KHI) Pasal 2 dinyatakan bahwa hakikat perkawinan adalah
“untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakanya merupakan ibadah”.
Menurut KUHPerdata, hakikat perkawinan adalah merupakan hubungan
hukum antara subyek-subyek yang mengikatkan diri dalam perkawinan
tersebut. Hubungan tersebut didasarkan pada persetujuan di antara
mereka dan dengan adanya persetujuan tersebut mereka menjadi terikat.
Artinya, KUHPerdata melihat sebuah perkawinan lebih sebagai sekedar
ikatan formal-lahiriah semata-mata.
Kedua, asas. Menurut UU No. 1/1974 Pasal 3, asas perkawinan
adalah monogami relatif atau sering disebut juga dengan monogami
terbuka. Artinya, seorang suami idealnya hanya boleh beristeri satu orang
saja. Namun, sepanjang ada faktor-faktor yang melatarbelakanginya serta
hukum dan agamanya mengizinkan, ia boleh beristeri lebih dari satu
(poligami). Asas tersebut sejalan dengan apa yang dimaksud dengan KHI.
Sedangkan KUHPerdata menganut asas monogami mutlak atau
2
Pasal 26 Kitab undang-undang Hukum Perdata
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
675
monogami tertutup. Artinya, seorang suami hanya boleh beristeri satu
orang saja, tanpa kecuali. Secara histories, ketentuan dalam KUHPerdata
ini berdasarkan kepada doktrin Kristen (Gereja).
Ketiga, syarat sah. Dalam ketentuan Pasal 2 UU No. 1/1974
dijelaskan bahwa perkawinan adalah sah jika dilakukan menurut hukum
masing-masing agama dan kepercayaannya dan setiap perkawinan harus
dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini
sejalan dengan KHI (Pasal 4) bahwa perkawinan adalah sah apabila
dilakukan menurut Hukum Islam, (Pasal 5) bahwa setiap perkawinan
harus dicatat agar terjamin ketertiban perkawinan, dan (Pasal 6) bahwa
perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan pegawai pencatatan nikah
tidak mempunyai kekuatan hukum. Pada pasal 6 s/d 12 UU No. 1/1974
dijelaskan tentang syarat-syarat perkawinan, yaitu adanya persetujuan
kedua calon mempelai, ada izin orang tua atau wali bagi calon yang belum
berusia 21 tahun, usia calon pria berumur 19 tahun dan perempuan
berumur 16 tahun, tidak ada hubungan darah yang tidak boleh kawin,
tidak ada ikatan perkawinan dengan pihak lain, tidak ada larangan kawin
menurut agama dan kepercayaannya untuk ketiga kalinya, tidak dalam
waktu tunggu bagi wanita yang janda. Syarat perkawinan menurut
KUHPerdata adalah syarat material absolut yaitu asas monogami,
persetujuan kedua calon mempelai, usia pria 18 tahun dan wanita 15
tahun, bagi wanita yang pernah kawin harus 300 hari setelah perkawinan
yang terdahulu dibubarkan. Syarat material relatif yaitu larangan untuk
kawin dengan orang yang sangat dekat di dalam kekeluargaan sedarah atau
karena perkawinan, larangan untuk kawin dengan orang yang pernah
melakukan zina, larangan memperbaharui perkawinan setelah adanya
perceraian jika belum lewat waktu 1 tahun. Sementara menurut Pasal 14
KHI dalam melaksanakan perkawinan harus ada calon suami dan isteri,
wali nikah, dua orang saksi serta sighat akad nikah.
Keempat, tujuan. Menurut pasal 1 UU No. 1/1974, tujuan
perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut Pasal 3 Kompilasi
Hukum Islam, tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan kehidupan
berumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Dalam
KUHPerdata tidak ada satu pasalpun yang secara jelas-jelas
mencantumkan mengenai tujuan perkawinan itu. Tampak bahwa Kitab
Undang-undang Hukum Perdata memandang soal perkawinan hanya
dalam hubungan-hubungan perdata semata-mata.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
676
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
D. Perdebatan Pandangan tentang Nikah Beda Agama dalam
Perspektif Hukum Islam
Perkawinan beda agama secara sederhana dipahami sebagai
perkawinan yang dilakukan oleh orang yang berbeda agama. Kaitannya
dengan masalah perkawinan beda agama ini paling tidak muncul empat
kemungkinan, yaitu (1) perkawinan antara pria muslim dengan wanita Ahl
al-Kitab, (2) perkawinan antara pria muslim dengan wanita musyrik, (3)
perkawinan antara wanita muslim dengan pria Ahl al-Kitab, dan (4)
perkawinan antara wanita muslim dengan pria musyrik.
Menanggapi model perkawinan yang pertama, sebagian ulama ada
yang membolehkan (menghalalkan) namun sebagian yang lain
mengharamkannya. Ulama yang membolehkan mendasarkan diri pada
Q.S. al-Ma’idah (5): 5 yang artinya:
“… [dan dihalalkan mengawini] wanita-wanita yang menjaga
kehormatannya di antara wanita-wanita yang beriman dan wanitawanita yang menjaga kehormatannya di antara orang-orang ynag
diberi Al-Kitab sebelum kamu bila kamu telah membayar maskawin
mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina
dan tidak pula menjaikannya gundik-gundik. …”
Berdasarkan ayat ini dapat dipahami bahwa Allah s.w.t.
membolehkan perkawinan pria muslim dengan wanita Ahli Kitab yang
muhsan, yakni wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan
zina. Selain arti itu, ada juga ulama yang memahami kata muhsanât ketika
dirangkaikan dengan ûtû al-kitâb dari ayat di atas dengan arti wanita-wanita
merdeka atau wanita-wanita yang sudah kawin.
Sementara ulama yang mengharamkan mendasarkan diri pada Q.S.
al-Baqarah (2): 221 yang artinya:
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik hingga mereka
beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin itu lebih baik dari
wanita-wanita musyrik meskipun mereka menarik hatimu. Dan
janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik [dengan wanitawanita mukminah] hingga mereka beriman. Sesungguhnya budak lakilaki yang mukmin itu lebih baik dari orang-orang musyrik meskipun
mereka menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedangkan
Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah
menerangkan ayat-ayat (perintah-perintah)-Nya kepada manusia
supaya mereka mengambil pelajaran.”
Berdasarkan pada ayat ini dapat dipahami bahwa Allah
mengharamkan perkawinan antara pria muslim dengan wanita musyrik,
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
677
begitu juga sebaliknya, wanita muslim pun dilarang menikahi pria musyrik.
Golongan ulama yang mengharamkan nikan beda agama mengatakan
bahwa QS al-Ma'idah (5): 5 di atas telah ‘dihapus’ (di-nasakh) oleh Q.S. alBaqarah (2): 221 ini. Ulama yang berpendirian seperti itu antara lain adalah
Syi'ah Imamiyyah dan Syi'ah Zaidiyyah.3
Abdullah ibn 'Umar r.a,. pernah ditanya tentang perkawinan antara
pria muslim dengan wanita Ahl al-Kitab. Ia menjawab: “Allah
mengharamkan wanita musyrik dikawini orang-orang Islam dan aku tidak
melihat kesyirikan yang lebih besar dari seorang wanita yang berkata: 'Isa
adalah Tuhan, atau Tuhannya adalah seorang manusia hamba Allah.” Bisa
dipahami bahwa Ibnu 'Umar tidak membedakan antara Ahli Kitab dan
musyrik karena Ahli Kitab berbuat syirik yang oleh karena itu ia pun
masuk dalam kategori musyrik.4
Menurut kelompok yang membolehkan nikah beda agama,
termasuk Muhammad Quraish Shihab, berdasar zahir teks ayat, bahwa
pendapat yang mengatakan Q.S. al-Ma'idah (5): 5 ‘dihapus’ (di-nasakh)
oleh Q.S. al-Baqarah (2): 221 adalah suatu kejanggalan. Hal ini disebabkan
karena ayat yang disebut pertama (Q.S. al-Ma'idah (5): 5) turun belakangan
daripada ayat yang disebut kedua (Q.S. al-Baqarah (2): 221). Jelas bahwa
tidak logis (ma’qul) sesuatu yang datang terlebih dahulu membatalkan
hukum sesuatu yang belum datang atau yang datang sesudahnya.5
Golongan ulama yang membolehkan juga menguatkan pendapat
mereka dengan menyebutkan beberapa sahabat dan tabi'in yang yang
pernah menikah dengan wanita ahli kitab. Dari kalangan sahabat antara
lain ialah Usman ibn Affan, Talhah, Ibn 'Abbas, dan Jabir ibn Huzaifah,
sedangkan dari kalangan tabi’in antara lain Ibn Musayyab, Sa'id ibn
Zubair, al-Hasan, Mujahid, Tawus, Ikrimah, asy-Sya'bi dan ad-Dahhak.
Selanjutnya, perkawinan bentuk kedua dan keempat umumnya
disepakati oleh jumhur ulama sebagai perkawinan yang diharamkan.
Dasarnya adalah Q.S. al-Baqarah (2): 221. Adapun perkawinan bentuk
ketiga, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam al-Qur'an,
menurut jumhur ulama adalah juga diharamkan. Walaupun pandangan
mayoritas Ulama tidak memasukkan Ahli Kitab dalam kelompok yang
dinamai musyrik, tetapi ini bukan berarti ada izin untuk pria Ahli Kitab
mengawini wanita muslimah. Bukankah mereka, walau tidak dinamai
musyrik, dimasukkan dalam kelompok kafir. Berdasarkan Q.S. alMumtahanah (60): 10 dapat dipahami bahwa wanita-wanita muslimah
3 Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian alQur'an, jilid III, (Jakarta: Lentera Hati, 2001), p. 29.
4 Ibid.
5 Ibid., I, p. 443.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
678
tidak diperkenankan mengawini atau dikawinkan dengan pria kafir,
termasuk juga Ahli Kitab. Arti Q.S. al-Mumtahanah (60): 10 adalah
sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dating berhijrah kepadamu
perempuan-peremppuan yang beriman maka hendaklah kamu uji
[keimanan] mereka. Allah lebih mengetahui keimanan mereka. Maka
jika kamu telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman maka
janganlah kamu kembalikan mereka kepada [suami-suami] mereka
orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan
orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah
kepada [suami-suami] mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan
tidak ada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada
mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali
[perkawinan] dengan wanita-wanita kafir dan hendaklah kamu minta
mahar yang telah kamu bayar, dan hendaklah mereka meminta mahar
yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.”
Berdasarkan paparan singkat di atas, maka tampak jelas bahwa Islam
secara jelas membedakan antara beberapa kemungkinan bentuk
perkawinan. Dengan adanya berbagai bentuk perkawinan tersebut, maka
secara langsung akan menimbulkan dampak hukum yang berbeda-beda
pula. Dalam Islam, perkawinan dianggap sebagai lembaga suci dan sah
untuk mengikat laki-laki dan perempuan dalam suatu ikatan untuk
membina rumah tangga (keluarga) yang bahagia, kekal dalam rangka
mengabdi kepada Allah s.w.t.6 Di sisi lain, menurut Azhar Basyir,
perkawinan memiliki tujuan pokok yaitu untuk memenuhi tuntutan naluri
hidup manusia. Dalam rumusan Pasal 1 Undang-undang Nomor 1 tahun
1974 tentang Perkawinan disebutkan bahwa tujuan perkawinan adalah
untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Mengingat begitu pentingnya arti dan makna perkawinan dalam
Islam, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan pencapaian tujuan
perkawinan harus dipenuhi oleh para pihak yang bersangkutan. Beberapa
hal yang berkaitan dengan perkawinan yang harus dipenuhi sebelum
melangsungkan perkawinan yaitu di antaranya adalah meliputi syarat dan
rukun perkawinan. Menurut Hilman Hadikusuma, untuk mewujudkan
cita-cita perkawinan tersebut, Islam menghendaki perkawinan dilakukan
6
Sayuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, cet. I, (Jakarta: UI-Press, 1974), pp.
47-48.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
679
antara sesama pemeluk agama, yaitu umat Islam dengan umat Islam,
penganut Kristen dengan sesama penganut Kristen, dan begitu
seterusnya.7
Ahmad Sukarja, dalam artikelnya mengemukakan pendapat Yusuf al
Qaradawi, bahwa akan muncul begitu banyak mudarat yang mungkin
terjadi akibat dari perkawinan berbeda agama, di antaranya sebagai
berikut.8 Pertama, akan semakin banyak perkawinan orang Islam dengan
perempuan non-Islam. Hal ini akan berpengaruh kepada perimbangan
antara perempuan Islam dengan laki-laki Islam. Perempuan Muslim akan
semakin banyak yang tidak kawin dengan laki-laki Muslim. Sementara itu,
poligami diperketat dan malahan laki-laki Muslim tidak bisa melakukan hal
itu disebabkan perkawinannya dengan Nasrani atau Yahudi akan
membatasinya tidak boleh berpoligami dalam perkawinan.
Kedua, suami mungkin terpengaruh oleh agama isterinya, demikian
pula sebaliknya, juga anak-anaknya. Bila ini terjadi maka fitnah telah
benar-benar terjadi. Ketiga, perkawinan berbeda agama akan
menimbulkan kesulitan hubungan yang harmonis, baik antara suami dan
isteri, antara anak-anak mereka, terlebih lagi jika mereka berbeda
kebangsaan, bahasa, kebudayaan dan tradisi maka akan lebih sulit lagi. Jadi
perkawinan dalam Islam bukan hanya ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan biologis manusia semata akan tetapi sebagai perintah Allah dan
sunnah Rasulullah. Orang yang melangsungkan sebuah perkawinan berarti
ia telah mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Pernikahan dalam Islam
termasuk katagori ibadah. Hal ini sesuai dengan prinsip umum dari
Maqashid as-syari’ah atau tujuan syariat yaitu untuk menjaga agama serta
keturunan. Berdasarkan beberapa kemungkinan yang terjadi tersebut maka
perbuatan yang menimbulkan kemudlaratan kepada manusia adalah
dilarang untuk dilakukan, termasuk nikah beda agama.
E. Pengertian Nikah Beda agama
Dalam konteks era globalisasi dan komunikasi yang semakin pesat
dewasa ini, pergaulan antar manusia tidak lagi dapat dibatasi hanya dalam
satu lingkungan masyarakat kecil dan sempit semata-mata: suku, golongan,
ras, dan agama. Dengan adanya nuansa era globalisasi dan komunikasi ini,
maka dinding-dinding ‘batas’ itu telah tertembus dengan cepat. Dampak
7 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan, Hukum
Adat,Hukum Agama, cet-3, (Bandung: Bandar Maju, 2007), p. 25.
8 Ahmad Sukarja, “Perkawinan Berbeda Agama Menurut Hukum Islam”, (Ed)
Chuzaimah T.Yanggo dan HA Hafiz Anshary Azolla, dalam Problematika Hukum Islam
Kontemporer, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), pp. 13-14.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
680
dari adanya kondisi ini antara lain adalah banyak dilangsungkannya
perkawinan yang menembus batas-batans ‘dinding’ itu, misalnya
perkawinan antara calon mempelai pria dan calon mempelai wanita yang
tidak seagama. Hal ini terutama terjadi pada titik-titik masyarakat
perkotaan yang sarat dengan hiruk pikuk urbanisasi yang segala aspek
sosiologisnya bernuansa heterogen.9
Secara umum, ada ada dua istilah yang terkait dengan masalah ini,
yaitu perkawinan campuran dan perkawinan beda agama. Dinyatakan
dalam pasal 57 UU No. 1/1974 bahwa perkawinan campuran adalah
pernikahan yang dilakukan antara dua orang di Indonesia, yang tunduk
pada hukum yang berlainan, karena beda warga negara, dan salah satu
warga negaranya adalah warga negara Indonesia. Jadi unsur-unsur yang
terdapat dalan perkawinan campur adalah perkawinan dilakukan di wilayah
hukum Indonesia dan masing-masing tunduk pada hukum yang berlainan
karena perbedaaan kewarganega-raan, yang salah satu pihak harus warga
negara Indonesia. Di sini, berlaku asas lex loci actus yaitu menunjuk di mana
perbuatan hukum tersebut dilangsungkan. Artinya, perkawinan campuran
di Indonesia dilakukan menurut hukum perkawinan Indonesia. Sementara
nikah beda agama yang dimaksudkan di sini adalah proses pernikahan
(akad nikah) antara calon suami dengan calon istri yang salah satunya
berlainan agama. Misalnya, calon mempelai laki-lakinya beragama Hindu
sedangkan calon memperlai putrid beragama Katolik.
Lebih lanjut, pemahaman terhadap makna perkawinan beda
agama menurut undang-undang perkawinan ada tiga penafsiaran yang
berbeda. Pertama, penafsiran yang berpendapat bahwa perkawinan beda
agama merupakan pelanggaran terhadap UU No. 1/1974 Pasal 2 ayat 1 jo
Pasal 8 f. Pendapat kedua bahwa perkawinan antar agama adalah sah dan
dapat dilangsungkan, karena telah tercakup dalam perkawinan campuran,
dengan argumentasi pada Pasal 57 tentang perkawinan campuran yang
menitikberatkan pada dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum
yang berlainan, yang berarti pasal ini mengatur perkawinan antara dua
orang yang berbeda kewarganegaraan juga mengatur dua orang yang
berbeda agama. Pendapat ketiga bahwa perkawinan antar agama sama
sekali tidak diatur dalam UU No. 1/1974. Oleh karena itu, berdasarkan
Pasal 66 UU No. 1/1974, maka persoalan perkawinan beda agama dapat
merujuk pada peraturan perkawinan campuran, karena belum diatur dalam
undang-undang perkawinan.
9
Asmin, Status Perkawinan antar Agama ditinjau dari Undang-undang Perkawinan
No.1/1974, (Jakarta: Dian Rakyat, 1986), p. 65.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
681
Selanjutnya, tampak adanya perbedaan pendapat di kalangan para
pemerhati hukum perkawinan di Indonesia mengenai perkawinan beda
agama khususnya terhadap petunjuk hukum Pasal 2 ayat (1) Undangundang Perkawinan. Sebagian kalangan mengatakan bahwa Pasal 2 ayat (1)
mengatur tentang pernikahan beda agama. Namun, sebagian yang lain
berpendapat bahwa Pasal 2 ayat (1) tidak mengatur tentang perkawinan
beda agama. Hilman Hadikusuma adalah contoh yang mengatakan bahwa
pasal tersebut mengatur tentang perkawinan antara orang yang berbeda
agama.10 Ia mengatakan bahwa perkawinan yang dikehendaki Undangundang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sesuai dengan bunyi Pasal
2 ayat (1) adalah perkawinan yang dilaksanakan menurut tata tertib aturan
hukum yang berlaku dalam agama Islam, Kristen/Katolik, Hindu/Budha.
Klausul dalam kalimat “…hukum masing-masing agamanya…” berarti
hukum dari salah satu agama itu masing-masing, bukan berarti “hukum
agamanya masing-masing” yaitu hukum agama yang dianut oleh kedua
mempelai atau keluarganya. Jadi, menurut Hilman, perkawinan yang sah
menurut Undang-undang Perkawinan jika terjadi perkawinan antar agama
adalah perkawinan yang dilaksanakan menurut tata tertib aturan salah satu
agama, agama calon suami atau agama calon isteri. Jika perkawinan telah
dilakasanakan menurut hukum Islam, misalnya, kemudian dilakukan lagi
menurut agama lain, maka perkawinan itu menjadi tidak sah. Begitu juga
sebaliknya.
Lebih lanjut Hilman menjelaskan bahwa perkawinan yang hanya
dilakukan di depan Kantor Catatan Sipil tanpa terlebih dahulu dilakukan
menurut prosesi agama tertentu jelas-jelas tidak sah menurut Undangundang Perkawinan. Sementara menurut peraturan perundangan atau
KUHPerdata (BW), perkawinan tersebut sah, namun setelah
dikeluarkannya Undang-undang No. 1 tahun 1974 hal itu jelas-jelas
menjadi tidak sah karena tidak dilaksanakan menurut tata tertib agama.
Hilman juga mengatakan bahwa anak yang dilahirkan dari perkawinan
campuran antar agama disebut anak “haram jadah” atau anak tidak sah.
Berdasarkan petunjuk hukum Pasal 2 ayat (1) Undang-undang
Perkawinan itu juga, maka perkawinan yang dilakukan di pengadilan atau
di catatan sipil tanpa terlebih dahulu dilakukan menurut hukum agama
tertentu berarti tidak sah. Perkawinan yang dilakukan menurut hukum
adat atau aliran kepercayaan yang bukan agama, dan tidak dilakukan
menurut tata cara agama yang diakui pemerintah, juga tidak sah. Dengan
demikian, perkawinan yang sah adalah perkawinan yang dilakukan
10
Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan…, pp. 25-27.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
682
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
menurut tata cara yang berlaku dalam agama Islam, Kristen, Katollik,
Hindu, dan Budha di Indonesia.
Hazairin memiliki pandangan yang agak berlainan. Ia mengatakan
bahwa Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Perkawinan ada kaitannya dengan
Undang-undang Dasar sebagai landasan penyusunan Undang-undang di
bawahnya. Menurutnya, meteri Pasal 2 ayat (1) yang berisi klausul
“masing-masing agamanya” merupakan konsistensi dari Pasal 29 ayat (1)
Undang-undang Dasar yang mengatur tentang agama-agama yang diakui
di Indonesia. Oleh karena itu, dalam Pasal 2 ayat (1) tidak ada ruang
interpretasi perkawinan antara orang yang berbeda agama sebagaimana
yang terjadi di masyarakat saat ini.11
Selanjutnya, Hazairin berpendapat bahwa terkait adanya indikasi
kebolehan perkawinan beda agama yang disinyalir dari Pasal 2 ayat (1)
Undang-undang Perkawinan tersebut, maka perkawinan beda agama telah
secara tegas diharamkan oleh agama Islam. Q.S. al-Baqarah (2): 221 telah
secara jelas dan tegas menunjukkan tentang keharaman itu. Mengenai
kontroversi pendapat tentang istilah ‘musyrik’ dan ‘kafir’ ia mengatakan
bahwa istilah itu merupakan setali tiga uang, yakni memiliki pengertian
yang sama yaitu sama-sama non-muslim. Oleh karena itu, perkawinan
anatara orang yang berbeda agama dalam Undang-undang Perkawinan ini
tidak dimungkinkan adanya.
Berbeda dengan Hadikusuma dan Hazairin, Munawir Sjadzali
berpendapat lebih moderat bahkan liberal. Menurutnya, Undang-undang
Perkawinan tidak mengatur perkawinan antara orang yang berbeda agama.
Sementara menurut Mudiarti Trisnaningsih, hukum Indonesia tidak
mengenal perkawinan beda agama. Hukum Indonesia hanya mengenal
perkawinan campuran. Antara perkawinan beda agama dengan
perkawinan campuran memiliki perbedaan mendasar. Perkawinan beda
agama sudah jelas yaitu perkawinan antara orang yang berlainan agama.
Perkawinan beda agama tersebut tidak dikenal dalam lapangan hukum
Indonesia. Mengenai perkawinan campuran, Trisnaningsih mengatakan
hal tersebut telah dikenal sejal Indonesia belum merdeka, namun dengan
pengertian yang berbeda.12
Sebelum masa kemerdekaan Indonesia sampai keluarnya Undangundang tentang No. 1 Tahun 1974 Perkawinan, istilah ‘perkawinan
campuran’ merujuk kepada perkawinan antargolongan penduduk
11 Sayuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, Berlaku Bagi Umat Islam, (Jakarta: UI
Press, 1982), p. lampiran.
12 Mudiarti Trisnaningsih, Relevansi Kepastian Hukum Dalam Mengatur Perkawinan
Beda Agama di Indoneisa (The Relevance Of Certaintly Of Law Regulating Inter Religious Marriages
In Indonesia), (Bandung: Utomo, 2007), p. 57.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
683
Indonesia, yaitu misalnya antara golongan penduduk Eropa, Timur Asing,
dan Bumi Putera. Berkaitan dengan perkawinan campuran ini, kolonial
Belanda secara khusus mengeluarkan regulasi tentang perkawinan
campuran yang disebut Regeling Op De Gemengde Huwelijken, berdasarkan
Koninklijk Besluit Van 29 December 1896 No. 23, Staatblad 1898 No. 158
yang pada intinya apabila terjadi perkawinan antara golongan penduduk
yang berbeda, maka berlakulah regulasi ini dengan menekankan pada
pemberlakuan hukum dari status Golongan Penduduk pihak suami.
Namun, setelah tahun 1974 atau setelah diundangkannya Undangundang Perkawinan, pengertian ‘perkawinan campuran’ mengacu pada
perkawinan campuran antara WNI dan WNA. Dalam Pasal 57 Undangundang Perkawinan disebutkan sebagai berikut:
Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam
Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang
di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena
perbedaan kewarga-negaraan dan salah satu pihak
berkewarganegaraan Indonesia.
Jadi jelas bahwa nikah beda agama tidak sama dengan perkawinan
campuran.
F. Putusan Mahkamah Agung No. 1400 K/Pdt/1986 sebagai
Yurisprudensi
Merujuk pada Undang-undang No. 1/1974 pada Pasal 57 yang
menyatakan bahwa perkawinan campuran adalah perkawinan antara dua
orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena
perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan
Indonesia. Berdasarkan pada Pasal 57 ini, maka perkawinan beda agama di
Indonesia bukanlah merupakan perkawinan campuran sehingga
semestinya pengajuan permohonan perkawinan beda agama baik di KUA
dan Kantor Catatan Sipil dapat ditolak.
Menurut Purwoto S. Gandasubrata, perkawinan campuran atau
perkawinan beda agama belum diatur dalam undang-undang secara tuntas
dan tegas. Oleh karenanya, ada Kantor Catatan Sipil yang tidak mau
mencatatkan perkawinan beda agama dengan alasan perkawinan tersebut
bertentangan dengan Pasal 2 UU No.1/1974 namun ada pula Kantor
Catatan Sipil yang mau mencatatkan berdasarkan GHR, bahwa
perkawinan dilakukan menurut hukum suami, sehingga isteri mengikuti
status hukum suami.
Jika dicermati secara saksama maka adanya ketidakjelasan dan
ketidaktegas-an dalam masalah perkawinan antar agama adalah berangkat
dari Pasal 2 yang bunyinya “…menurut hukum masing-masing agama atau
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
684
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
kepercaya-annya”. Artinya, jika agma kedua calon suami-isteri adalah
sama, tidak ada kesulitan. Tetapi jika agama atau kepercayaannya berbeda
maka dalam hal adanya perbedaan kedua agama atau kepercayaan itu harus
dipenuhi semua. Hal ini berarti satu kali menurut hukum agama atau
kepercayaan calon dan satu kali lagi menurut hukum agama atau
kepercayaan dari calon yang lainnya. Dalam praktiknya, perkawinan antar
agama ini dapat dilaksanakan dengan salah satu calon ‘menganut’ agama
pasangannya terlebih dahulu. Artinya, salah calon yang lain mengikuti atau
menundukkan diri kepada salah satu hukum agama atau kepercayaan
pasangannya.
Oleh karena itu, tampak bahwa alasan mengapa Mahkamah Agung
mencoba mengisi kekosongan hukum ini adalah karena dalam UU No.
1/1974 tidak secara tegas diatur tentang perkawinan antaragama. Menurut
MA, UU No. 1/1974 tidak menyatakan (mengatur) bahwa perbedaan
agama antara calon suami dan calon isteri merupakan larangan
perkawinan. MA mendasarkan diri pada ‘semangat’ UUD 1945 Pasal 27
yang menyatakan bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di
dalam hukum. Semangat ini mencakup juga kesamaan hak asasi untuk
kawin dengan sesama warga negara sekalipun berlainan agama. Untuk itu,
selama oleh undang-undang tidak ditentukan bahwa perbedaan agama
merupakan larangan untuk perkawinan maka asas itu adalah sejalan
dengan jiwa Pasal 29 UUD 1945 tentang dijaminnya oleh negara
kemerdekaan bagi setiap warga negara untuk memeluk agama masingmasing.
Pertimbangan lainnya adalah bahwa meskipun ada ‘lampu hijau’ dari
adanya GHR dan HOCI yang mengatur nikah antar agama namun kedua
peraturan ini tetap tidak dapat dipakai karena terdapat perbedaan prinsip
maupun falsafah yang sangat lebar antara UU No. 1/1974 dengan kedua
ordonansi tersebut sehingga dalam perkawinan antar agama terjadi
kekosongan hukum.
Pertimbangan lainnya adalah bersifat factual empirical, yakni bahwa
dalam kenyataan hidup di Indonesia yang masyarakatnya bersifat
pluralistik, tidak sedikit terjadi perkawinan antaragama. Oleh karenanya,
MA berpendat bahwa tidak dapat dibenarkan terjadinya kekosongan
hukum tersebut karena diasumsikan akan menimbulkan dampak negatif
dari segi kehidupan bermasyarakat maupun beragama.
Untuk itu, solusi yang paling tepat menurut Mahkamah Agung
adalah bahwa perkawinan antar agama dapat diterima permohonannya di
Kantor Catatan Sipil sebagai satu-satunya instansi yang berwenang untuk
melangsungkan permohonan di mana kedua calon suami isteri berlainan
agama.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
685
Tentu saja putusan MA ini senantiasa menuai pro dan kontra,
kontroversial. Namun, itulah ‘ijtihad’ MA dalam mengisi kekosongan
hukum dalam masalah ini. Namun demikian, Putusan Mahkamah Agung
Reg. No. 1400 K/Pdt/1986 ini pada gilirannya dapat dijadikan sebagai
yurisprudensi sehingga dalam menyelesaikan perkara perkawinan antar
agama dapat menggunakan putusan tersebut sebagai salah satu dari
sumber-sumber hukum yang berlaku di Indonesia.
Akibat hukum selanjutnya adalah dalam proses perkawinan antar
agama maka paka para pihak dapat mengajukannya kepada Kantor
Catatan Sipil. Jika itu terjadi maka, sebagai misal, bagi salah satu calon
yang Islam ditafsirkan atas dirinya sebagai ‘tidak berkehendak’ untuk
melangsungkan perkawinannya tidak secara Islam. Ini berarti pula bahwa
dengan mengajukan permohonan tersebut pemohon sudah tidak lagi
menghiraukan status agamanya sehingga Pasal 8 point f UU No. 1/1974
tidak lagi merupakan halangan untuk melangsungkan perkawinan dengan
anggapan bahwa kedua calon suami isteri tidak lagi beragama Islam.
Dengan demikian Kantor Catatan Sipil berkewajiban untuk menerima
permohonan tersebut bukan karena kedua calon pasangan dalam kapasitas
sebagai mereka yang berbeda agama, tetapi dalam status hukum agama
atau kepercayaan salah satu calon pasangannya.
Bentuk lain untuk melakukan perkawinan antaragama dapat
dilakukan dengan cara melakukan perkawinan bagi pasangan yang berbeda
agama tersebut di luar negeri. Berdasarkan pada Pasal 56 UU No. 1/1974
yang mengatur perkawinan di luar negeri, dapat dilakukan oleh sesama
warga negara Indonesia, dan perkawinan antar pasangan yang berbeda
agama tersebut adalah sah bila dilakukan menurut hukum yang berlaku di
negara di mana perkawinan itu berlangsung. Setelah suami isteri itu
kembali di wilayah Indonesia, paling tidak dalam jangka waktu satu tahun
surat bukti (akte) perkawinan dapat didaftarkan di kantor pencatatan
perkawinan tempat tinggal mereka. Artinya, perkawinan antaragama yang
dilakukan oleh pasangan suami isteri yang berbeda agama tersebut adalah
sah karena dapat diberikan akta perkawinan.
G. Perspektif Interpretasi Hukum dan Perspektif Filosofis
Setelah diuraikan latar belakang dan berbagai pertimbangan
Mahkamah Agung dalam menangani masalah nikah antaragama di atas
tampak bahwa kesemuanya bermuara kepada penafsiran hukum.
Dikarenankan model penafsiran hukum itu berbeda-beda dan variatif
maka dampak pro-kontra terhadap hasil akhir dari sebuah penafsiran
hukum pun tidak bisa terelakkan.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
686
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
Menurut hemat penulis, tampaknya Mahkamah Agung lebih
cenderung menggunakan model penafsiran hukum secara teleologis
(sosiologis) semata, tidak menghiraukan—apalagi mengelaborasikan—
beberapa model penafsiran yang lainnya. Model penafsiran hukum secara
teleologis (sosiologis) adalah menafsirkan (baca: memahami) undangundang dengan mengingat maksud dan tujuan dari sebuah undangundang, di mana bunyi undang-undang itu tetap sementara ‘kebutuhankebutuhan’ masyarakat senantiasa berubah dan berkembang. Maksud MA,
mungkin pada masa-masa dulu nikah beda agama—karena berbagai
alasan—sangat tidak mungkin dilakukan. Namun, pada masa-masa kini hal
ketidakbolehan itu sudah tidak cocok lagi sehingga sudah semestinya
nikah beda agama harus dibolehkan, terutama juga karena adanya alasan
kekosongan hukum.
Sementara Mahkamah Agung ‘lupa’ bahwa, pertama, jika ditilik
menurut model penafsiran sahih (gramatikal), jelas bahwa Undang-undang
No.1/1974 tentang Perkawinan sudah secara jelas dan tegas menyatakan
bahwa nikah dikatakan sah jika dilakukan menurut agama dan
kepercayaannya. Maksudnya, kedua calon suami dan istri harus sama-sama
seagama, agamanya sama, satu agamanya. Itu artinya, jika tidak sama agama
dan kepercayaannya maka tidak sah. Kedua, jika ditilik memalui model
penafsiran historis, nyata bahwa maksud (semangat) dari sejarah
diundangkannya Undang-undang No.1/1974 itu adalah berbasis semangat
religiusitas sesuai dengan jiwa sila pertama Pancasila. Ketiga, menurut
model penafsiran a contrario, bahwa apa yang ‘sebaliknya’ tidak boleh/tidak
sah. Jelas bahwa keabsahan pernikahan sebuah pasangan adalah menurut
agama dan kepercayaannya. Ini artinya jika tidak sama agama dan
kepercayaannya maka pernikahannya tidak sah.
Berdasarkan analisis berbasis teori penafsiran hukum di atas tampak
bahwa pilihan MA dalam menggunakan model penafsirannya kurang adil
dan kurang komprehensif sehingga kesimpulan yang dimunculkannya
terkesan timpang. Hal ini mungkin bisa dianalogkan dengan kasus lain,
misalnya sudah maraknya kehidupan keluarga-tanpa-nikah di Indonesia.
Keluarga-tanpa-nikah yang dimaksudkan di sini adalah sebuah ‘keluarga’
yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak tetapi hanya dilakukan dengan dasar
suka sama suka semata-mata, tanpa didahului oleh ikatan perkawinan.
Tentu, sekali lagi, ini hanyalah sekedar contoh atu lebih tepatnya asumsi.
Analoginya adalah seperti berikut ini. Apakah karena pertama,
bahwa jelas-jelas UU No. 1/1974 tidak memuat suatu ketentuan tentang
keluarga-tanpa-nikah secara tegas dan jelas; kedua, sejalan dengan UUD
1945 Pasal 27 yang menyatakan bahwa “segala warga negara bersamaan
kedudukannya di dalam hukum” sehingga tercakup di dalamnya kesamaan
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
687
hak asasi untuk hidup ‘berkeluarga’ dengan cara apapun yang ini berarti
bahwa asas itu sejalan dengan jiwa Pasal 29 UUD 1945 tentang dijaminnya
oleh negara kemerdekaan bagi setiap warga negara untuk menentukan cara
hidup ‘berkeluarga’-nya masing-masing; ketiga, dengan tidak diaturnya
keluarga-tanpa-nikah di dalam UU No. 1/1974 maupun dalam ketentuan
peraturan perundangn-undangan lain; keempat, dalam kenyataan hidup di
Indonesia yang masyarakatnya bersifat pluralistik sudah semakin banyak
terjadi keluarga-tanpa-nikah, sehingga tidak dapat dibenarkan terjadinya
kekosongan hukum tersebut karena pada gilirannya sangat dimungkinkan
akan menimbulkan dampak negatif dari segi kehidupan bermasyarakat
maupun beragama; dan kelima, solusi hukum yang tepat bagi perkawinan
antar agama adalah bahwa model keluarga-tanpa-nikah dapat diterima
permohonannya di Kantor Catatan Sipil sebagai satu-satunya instansi yang
berwenang untuk itu, apakah dengan demikian perilaku dan model
keluarga-tanpa-nikah di Indonesia harus dibolehkan dan dilegalkan?
Menurut hemat penulis tentu tidak boleh.
Kemudian untuk perspektif filosofisnya yang terkandung sekaligus
mewarnai UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dapat dilihat dalam
kerangka pemikiran Abdul Ghofur Anshori. Menurutnya, ada dua hal
yang sangat mendasar yang perlu dicermati dalam Undang-undang
No.1/1974 ini. Pertama, sebenarnya undang-undang ini bermaksud untuk
menata rakyat Indonesia agar ‘tertib-teratur’. Kedua,—dan ini yang paling
utama—menilik Pasal 1-nya menandakan bahwa secara hakiki-substansial
pernikahan di Indonesia merupakan suatu perbuatan yang berdimensi
transendental, bukan semata-mata hubungan keperdataan saja. Perkawinan
harus dilandaskan pada nilai-nilai agama. Untuk mendukung kerangka
dasar filosofi ini, maka diaturlah agar setiap pernikahan sebuah pasangan
yang dilakukan di Indonesia itu diniscayakan harus seagama, agamanya
sama.13
Kerangka normatif hukum positif suatu negara pada dasarnya
adalah aturan yang diciptakan atas dasar kepentingan negara mengatur
kehidupan masyarakat agar tertib, damai, dan aman sesuai dengan asas
bahwa setiap aturan hukum hendaknya dibentuk dengan memenuhi asas
keadilan, kepastian hukum, dan keamanfaatan. Dalam hal hukum keluarga,
maka bagaimana dan akan seperti apakah aturan hukum itu dirumuskan
sepenuhnya tergantung kepada kebutuhan an perkembangan hidup
bermasyarakat dan bernegara dan dengan tetap mengacu pada landasan
13
Abdul Ghofur Anshori, “Orientasi Nilai Filsafat HukumKeluarga: Refleksi
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan”, pidato pengukuhan jabatan
Guru Besar pada Universitas Gadjah Mada, 12 Desember 2005, Yogyakarta, p. 7.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
688
filosofinya. Landasan filosofis ini penting bagi suatu atuaran hukum karena
sebuah aturan hukum positif akan berlaku efektif jika memenuhi tiga
syarat pokok, yaitu keabsahan secara sosiologis, yuridis, dan filosofis.14
Berdasarkan telaah filosofis-yuridis di atas, maka sebaiknya (1)
yurisprudensi Mahkamah Agung itu dicabut karena sesungguhnya
‘kekosongan hukum’ itu tidak terjadi. Cukup dikembalikan dan
menggunakan UU No. 1/1974 saja secara konsisten; (2) memberikan
suatu ‘maklumat’ bahwa siapapun yang menikah dengan pasangan yang
berlainan agama, apapun alasannya, adalah tidak sah; (3) melakukan
sosialisasi kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa nilai dasar perkawinan
di Indonesia—yang berbasis terutama kepada sila pertama Pancasila—
adalah bersifat transendental, ada nilai-nilai religius-filofofis di dalamnya,
bukan hanya hubungan keperdataan semata. Ini mensyaratkan bahwa
tidak bisa tidak pernikahan harus dilakukan dengan pasangan yang
seagama, sama agamanya.
J. Penutup
Setelah dilakukan pencermatan dan pengkajian di dalam Bab-bab
terdahulu maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Pertama, bahwa
latar belakang Mahkamah Agung Republik Indonesia membuat putusan
itu adalah untuk mengisi ‘kekosongan hukum’ sebagai akibat dai adanya
interpretasi hukum yang beragam terhadap Pasal 2 ayat 1 UU No.1/1974
di satu sisi dan maraknya kasus nikah beda agama di tengah-tengah rakyat
Indonesia di sisi lain. Kedua, menurut paradigma hukum yang ada,
Mahkamah Agung hanya menitik beratkan pada model penafsiran
sosiologis semata-mata dan ‘lupa’ terhadap model penafsiran lainnya,
terutama model penafsiran gramatikal dan historis. Ditambah lagi,
Mahkamah Agung ‘melupakan’ semangat religiusitas-filosofis dari hukum
pernikahan di Indonesia yang sangat transendental. Ketiga, solusi yang
dapat ditawarkan adalah back to basics, kembali ke posisi semula. Artinya,
semua pernikahan yang dilangsungkan di Indonesia harus dikembalikan
kepada asas transendensial yang terdapat dalam UU No.1 Tahun 1974
yakni bahwa antar calon suami isteri harus seagama, sama agamanya.
Dengan demikian, harus secara tegas dinyatakan bahwa perkawinan yang
dilakukan oleh calon suami isteri yang tidak seagama, berbeda agama,
agamanya tidak sama adalah tidak sah, ilegal, sehingga tidak ada satu pun
lembaga di negeri ini yang berwenang untuk menikahkan pasangan yang
seperti ini.
14
Ibid., p. 19.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Yasin Baidi: Fenomena Nikah Beda Agama di Indonesia...
689
Daftar Pustaka
Anshori, Abdul Ghofur, “Orientasi Nilai Filsafat HukumKeluarga:
Refleksi Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan”, pidato pengukuhan jabatan Guru Besar pada
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 12 Desember 2005.
Asmin, Status Perkawinan antar Agama ditinjau dari Undang-undang Perkawinan
No.1/1974, Jakarta: Dian Rakyat, 1986.
Hadikusuma, Hilman, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan,
Hukum Adat,Hukum Agama, cet-3, Bandung: Bandar Maju, 2007.
Prawirohamidjojo, R. Soetojo, dan Azis Safioedin, Hukum Orang dan
Hukum Keluarga, Bandung: Alumni, 1985.
Prawirohamidjojo, R. Soetojo, Pluralisme dalam Perundang-undangan
Perkawinan di Indonesia, Surabaya: Airlangga University Press, 1988.
Shihab, Muhammad Quraish, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian alQur'an, Jakarta: Lentera Hati, 2001.
Sukarja, Ahmad, "Perkawinan Berbeda Agama Menurut Hukum Islam"
dalam Chuzaimah T. Yanggo dan A. Hafiz Anshary AZ,
Problematika Hukum Islam Kontemporer I, Jakarta: Pustaka Firdaus,
1999.
Sukarja, Ahmad, “Perkawinan Berbeda Agama Menurut Hukum Islam”,
dalam Chuzaimah T.Yanggo dan HA Hafiz Anshary Azolla (ed.),
Problematika Hukum Islam Kontemporer, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.
Thalib, Sayuti, Hukum Kekeluargaan Indonesia, Berlaku Bagi Umat Islam,
Jakarta: UI Press, 1982.
_______, Hukum Kekeluargaan Indonesia, cet. I, Jakarta: UI-Press, 1974.
Trisnaningsih, Mudiarti, Relevansi Kepastian Hukum Dalam Mengatur
Perkawinan Beda Agama di Indoneisa (The Relevance Of Certaintly Of Law
Regulating Inter Religious Marriages In Indonesia), Bandung: Utomo,
2007.
SOSIO-RELIGIA, Vol. 9, No. 3, Mei 2010
Download