PHENI CHALID - SOSIOLOGI EKONOMI

advertisement
Sosiologi
Ekonomi
oleh
Pheni Chalid
Center for Social Economic Studies
Jakarta 2009
Perpustakaan Nasional:
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Pheni Chalid
Sosiologi Ekonomi/Pheni Chalid
Edisi 2, Cet. 2
Jakarta: Center for Social Economic Studies (CSES) Press,
2009
ISBN 979-922 19-1-0
Hak Cipta 2009 pada Penulis
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan
cara apapun, termasuk cara penggunaan mesin fotocopy,
tanpa izin dari penerbit.
Cetakan Pertama, April 2005
Cetakan Kedua, Februari 2009
Cetakan Ketiga, March 2016
Hak Penerbitan pada Center for Social Economic Studies
(CSES) Press
Penulis Drs. Pheni Chalid, SF, MA, Ph.D
CSES Press
Gedung Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam
Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Jl. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat 15412, Jakarta-Indonesia
Telp. (021) 7493318, 7496006, Fax. (021) 7496006
Email: [email protected]
Kata Pengantar
Pada awalnya buku ini merupakan catatan-catatan
yang disarikan dari materi kuliah sosiologi ekonomi yang
disampaikan oleh penulis kepada mahasiswa di Fakultas
Ekonomi jurusan akuntansi dan manajemen serta mahasiswa
pasca sarjana bidang studi ekonomi Islam, Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pembahasan sosiologi masih terbilang langka dalam
ranah ekonomi dan buku ini mencoba memberikan spektrum
yang lebih luas terhadap persoalan ekonomi, tidak hanya
dilihat dari dalam tapi juga berusaha melihat persoalan
ekonomi dari luar, dengan memperhatikan variabel-variabel
sosial yang sesungguhnya melekat (embedded) dalam aktivitas
ekonomi.
Buku ini mencoba memberikan perspektif bahwa
memisahkan aspek sosial dari aspek ekonomi apalagi
mendikotomikan antara keduanya merupakan perspektif yang
kurang tepat dalam menganalisis fenomena ekonomi. Hal
tersebut terlihat dari pembahasan mengenai trust. Sebagai teori
yang ‘besar’ dalam konteks sosiologi ekonomi, trust
merupakan produk sosial yang sarat dengan perhitunganperhitungan rasional ekonomis dan terbentuk melalui
interaksi sosial yang berulang-ulang.
Pertanyaan mengenai faktor apa yang melestarikan
suatu interaksi ekonomis, akan sulit dicarikan jawabannya
hanya dengan menganalisisnya dari variabel ekonomi semata,
iii
seperti faktor-faktor produksi atau teori permintaan dan
penawaran, kecuali dengan menyertakan variabel-variabel
sosial. Dalam konteks inilah sosiologi ekonomi mengisi ruang
kosong kurang bisa diisi oleh ekonomi.
Edisi ini merupakan edisi revisi dan mengalami
perbaikan materi. Buku ini dapat hadir dihadapan pembaca
tidak lepas dari peran Kurniawan Zein dan Isniati Kuswini
yang menulis ulang materi kuliah yang disampaikan kepada
para mahasiswa. Akhir kata, tentunya, berbagai kritikan dan
masukan dari pembaca diperlukan untuk lebih memperbaiki
kekurangan yang ada.
Jakarta, March 2016
Center for Social Economic Studies
iv
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel dan Gambar
Bab 1.
Pendahuluan
1
Bab 2.
Embeddedness Faktor Sosial dan Perilaku
Dalam Perilaku Ekonomi
22
Bab 3.
Trust dan Interaksi Ekonomi
53
Bab 4.
Gender, Perdagangan dan Etnis
70
Bab 5. Social Capital dan
Sumber Daya Ekonomi
95
Bab 6.
Rasionalitas dalam Pertukaran
119
v
Bab 7.
Moral Ekonomi
136
Bab 8.
Sosiologi Uang
164
Bab 9.
Ekonomi Informal
192
Daftar Pustaka
Biodata Penulis
vi
Daftar Tabel dan Gambar
Tabel 1. Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan di
Negara Industri
87
Tabel 2. Gender dan Pilihan Kerja
88
Tabel 3. Gender dan Pilihan Komoditas
Perdagangan
91
Tabel 4. Tipe dan Karaktristik Modal Sosial
98
Tabel 5. Stratifikasi Negara Berdasarkan Tingkat
Pendidikan
106
Gambar 1. Tipe Masyarakat dan Model Pertukaran
128
Gambar 2. Idelologi, Pasar dan Pola Kekuasaan
162
vii
Bab 1
Pendahuluan
D
iskursus sosiologi ekonomi berangkat dari dua disiplin
ilmu sosial yang sama-sama mapan, masing-masing
memiliki perspektif, metodologi dan teori dalam cara melihat
dan mempelajari perilaku individu, kelompok dan masyarakat.
Ilmu ekonomi melihat dan mempelajari indvidu,
kelompok dan masyarakat dari aspek produksi, konsumsi dan
distribusi. Tiga kata kunci ini merupakan konsep dasar yang
dikembangkan oleh ilmu ekonomi dalam ranah sosial.
Produksi merupakan rangkaian kegiatan untuk mengolah
bahan mentah menjadi barang jadi yang siap pakai. Tujuan
produksi adalah menciptakan atau menghasilkan barang.
Sedangkan distribusi merupakan rangkaian kegiatan untuk
mengantarkan barang yang selesai diolah dan siap pakai ke
tangan konsumen. Hal ini dapat dilakukan secara langsung
kepada konsumen atau melalui pasar1. Terakhir, konsumsi
yaitu kegiatan menggunakan barang hasil produksi sesuai
dengan kebutuhan.
1 Pasar dalam konteks ini dibatasi pada pengertian pasar sebagai
locus (market place), bukan pasar pengertian sebagai sebuah sistempertukaran/transaksi.
Sosiologi Ekonomi
Berdasarkan tiga kata kunci produksi, konsumsi dan
distribusi, ilmuwan ekonomi menformulasikan berbagai asumsi
dan teori tentang berbagai permasalahan di seputar produksi,
seperti teori penawaran dan permintaan (supply and demand)
yang membicarakan lalu-lintas barang yang dipengaruhi oleh
tingkat penawaran dan permintaan.
Hubungan antara produksi, distribusi dan konsumsi
berlangsung dalam hubungan yang kompleks dan sangat
bervariasi. Penawaran dan permintaan merupakan hubungan
timbal-balik yang menjadi mekanisme utama dalam
bertransaksi. Dari mekanisme transaksional tersebut
kemudian tercipta mekanisme tentang harga. Mekanisme
penawaran dan permintaan dan mekanisme harga bukanlah
variabel yang masing-masing berdiri sendiri, akan tetapi
terintegrasi dalam media yang disebut dengan mekanisme pasar
(market mechanism).
Sementara ilmu sosiologi melihat dan mempelajari
individu, kelompok dan masyarakat dari aspek: perilaku,
orientasi dan interaksi. Perilaku sebagai tindakan aktual
dimotivasi oleh kesadaran atau orientasi yang tidak berdiri
sendiri, dipengaruhi oleh faktor luar seperti pranata nilai atau
budaya. Di sisi lain, indvidu sebagai makhluk sosial secara
alamiah akan melakukan interaksi dengan indvidu lainnya.
Dalam berinteraksi, setiap indvidu mengembangkan berbagai
bentuk komunikasi yang merepresentasikan orientasi dalam
2
Sosiologi Ekonomi
dirinya. Pola ini dapat terlihat dalam hubungan kelompok
seumur (peer group).
Variabel Sosial dalam Ekonomi
Berbagai pola dan sistem interaksi ekonomi tersebut
sesungguhnya berawal dari hubungan yang sederhana antara
individu dan masyarakat (interaksi sosial) dalam rangka
memenuhi kebutuhan terhadap hasil produksi atau jasa.
Kelangkaan barang yang dibutuhkan (scarcity) menjadi motor
utama di balik interaksi yang menggerakkan proses ekonomi
ini; mulai dari tingkatan yang sederhana dalam bentuk
kegiatan ekonomi subsisten, seperti penjualan langsung
kepada pemakai di area produksi, atau transaksi antara
pembeli dan penjual di sebuah warung kecil, hingga bergerak
menjadi tingkatan yang sangat maju, seperti ekspor-impor
antarnegara.
Apabila proses ekonomi sesungguhnya berawal dari
interaksi sosial, maka terdapat beberapa pertanyaan mendasar.
Apakah ekonomi itu sesungguhnya adalah fenomena sosial
atau semata-mata gejala ekonomi dan terpisah dari aspek
sosialnya? Atau saling berkaitan satu dengan lainnya?
Pada awal dominasi pikiran filosofis, kegiatan
ekonomi dan perilaku sosial tidak dapat dibedakan.
3
Sosiologi Ekonomi
Keduanya dinilai sebagai satu kesatuan. Pada saat ilmu
semakin terspesifikasi dan terspesialisasi, ilmu ekonomi mulai
terpisah dari ilmu sosial lainnya. Pemisahan ini berimplikasi
dalam melihat individu sebagai pelaku ekonomi yang diisolasi
dari sosialitasnya serta dianalisis sebagai agen yang
teratomisasi (berdaulat untuk dan dalam dirinya sendiri).
Perspektif neoklasik menjelaskan bahwa agen
ekonomi adalah individu yang independen dan rasional ketika
mengejar kepentingan diri (self-interest), dalam rangka
memaksimalkan manfaat atau keuntungan.2 Jika demikian
halnya, lalu bagaimana individu diperlakukan dan dianalisis
dalam konteks ekonomi? Jawabannya adalah uang. Uang
menjadi satu-satunya alat analisis untuk menjelaskan individu
dalam konteks ekonomi. Meskipun penjelasan yang diberikan
hanyalah menyentuh aspek materil dari ekonomi akan tetapi
dengan uang hasil analisis menjadi eksak dan terukur.
Uang sebagai alat analisis ekonomi memang dapat
memberikan penjelasan analisis ekonomi yang eksak dan
terukur. Hanya saja uang sebagai alat analisis ekonomi akan
sulit digunakan untuk mencari jawaban atas orientasi dan
perilaku ekonomi masyarakat. Seperti bagaimana persepsi dan
perilaku masyarakat tentang kerja, perubahan pola dan
David Dequech, Uncertainty and Economic Sociology: a Preliminary Discussion
– Focus on Economic Sociology, American Journal of Economics and Sociology, July,
2003
2
4
Sosiologi Ekonomi
distribusi kerja dalam masyarakat pra dan pasca industri.
Dengan kata lain bahwa terdapat variabel-variabel sosial yang
lebih dapat digunakan untuk menjelaskan permasalahan
ekonomi secara komprehensif. Keberadaan aspek-aspek
sosial dalam menganalisis proses ekonomi perlu dipahami
sebagai hal yang given bahwa ekonomi tidak dapat dilepas dari
aspek-aspek nonekonomi. Keynes3 ketika membuat sistem
keseimbangan memperhitungkan beberapa hal sebagai sesuai
yang given dari aspek nonekonomi, seperti kondisi sosial
politik terkini, keterampilan tenaga kerja, level perangkat
teknologi, tingkat persaingan, pola selera konsumen, sikap
penduduk terhadap pekerjaan, dan struktur sosial.
Ilmu Ekonomi dan Analisis Sosiologis
Apabila variabel sosial dapat menjadi alat analisis
ekonomi, maka bagaimana sosiologi mendaftar, menformulasi
dan menerapkan veriabel-variabel tersebut dalam menjelaskan
fenomena ekonomi? Pada batas apa sosiologi beririsan
dengan ilmu ekonomi? Sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu
memiliki perangkat-perangkat dan wilayah analisis yang
berbeda dengan ilmu ekonomi, meski manusia sebagai
individu dan sekaligus anggota masyarakat merupakan obyek
3
hal.33
5
J. Smelser, The Sociology of Economic Life, New Jersey: 1976, Prentice-Hall,
Sosiologi Ekonomi
material bersama dari kedua disiplin tersebut. Sosiologi
berusaha memberikan kategorisasi, diferensiasi, simplifikasi,
dan generalisasi terhadap fakta sosial yang diamati. Dengan
demikian dapat disusun variabel-variabel yang dapat
dioperasionalisasikan dalam analisis. Regularitas, orientasi
sosial individu dan kelompok, struktur sosial, sanksi-sanksi,
norma-norma, dan nilai-nilai merupakan elemen-elemen
observasi sosiologi terhadap fakta-fakta sosial.4 Hubungan
dari aneka variabel itulah yang kemudian membentuk polapola hubungan sosial yang berbeda satu sama lainnya. Variasi
inilah yang kemudian dijadikan objek kajian Sosiologi.
Berbeda
dengan
ekonomi,
variabel
yang
dikembangkan sosiologi tidaklah sederhana, ‘lempeng’ dan
garis lurus. Karena itu, saat menghubungkan antara variabel
dalam sosiologi memiliki titik rawan yang berlainan
tatanannya.
Untuk setiap variabel terikat (dependent),
kemungkinan jumlah dan jenis yang menjadi variabel bebas
yang dapat mempengaruhinya sangatlah besar dan bervariasi.
Bila ekonomi melihat dalam konteks ekonomi
masyarakat dari aspek produksi, distribusi, dan konsumsi,
sosiologi melihat masyarakat dalam konteks ekonomi dalam
spektrum yang lebih luas. Sebab fokus sosiologi terarah
kepada aspek perilaku sosial yang bergerak dalam pola-pola
yang bermakna.
Dengan kata lain, sosiologi sering
4
Smelser, Ibid, hal. 33
6
Sosiologi Ekonomi
memusatkan perhatiannya kepada orientasi individual
terhadap lingkungannya dan bagaimana cara-cara orientasi
tersebut mempengaruhi perilaku.
Untuk memperjelas perbedaan sudut pandang antara
ekonomi dan sosiologi ketika melihat individu dalam konteks
ekonomi, dapat diilustrasikan melalui perilaku individu dalam
kelompok kerja. Kapabilitas dan mobilitas seseorang ketika
melaksanakan tugas dalam tatanan kelompok kecil,
umpamanya dalam subunit kerja di perusahaan, lazim dalam
ekonomi dikaitkan secara langsung dengan kecerdasan,
latihan dan motivasi. Walau demikian, sosiologi tidak merasa
cukup dan membatasi hal yang mempengaruhi kapabilitas dan
mobilitas tersebut pada tiga faktor itu saja. Lebih jauh,
sosiologi mengembangkan analisisnya bahwa banyak faktor
yang dapat mempengaruhi kapabilitas dan mobilitas
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugasnya, seperti
tingkat harmoni dan konflik dirinya dengan lingkungan kerja,
referensi dan disposisi, kehadiran dan ketidakhadiran, perilaku
orang lain yang memberikan tugas, dan lain-lain.
Studi Robert Michels yang memperbandingkan antara
partai politik dan serikat buruh dapat menjadi contoh
kompleksitas sosiologis dalam mendaftar dan menentukan
Kajian ini
variabel-variabel ekonomi yang dianalisis.5
berangkat dari permasalahan sistem wewenang oligarki yang
5
7
Ibid. hal, 39-41
Sosiologi Ekonomi
dikembangkan organisasi-organisasi besar. Menurut dia,
terdapat tiga set variabel yang menciptakan oligarki. Pertama,
ciri-ciri teknis dan administratif organisasi yang tidak
memungkinkan komunikasi dan koordinasi langsung terhadap
keputusan yang diambil banyak orang. Akibatnya, beban
tanggung jawab hanya ada pada kelompok kecil orang.
Kedua, kecenderungan psikologis massa yang mengidolakan
pemimpin. Ketiga, intelektualitas dan kultur pemimpin itu
sendiri. Konsekuensi oligarki, menurut Michels, adalah
sentralisasi kekuasaan.
Hal tersebut disebabkan oleh
kecenderungan model kepemimpinan oligarki yang pada saat
berkuasa, berusaha mendapatkan akses kepada sumber daya,
menganggap dirinya sangat diperlukan dan menganggap
bahwa jabatan sebagai hal yang perlu dan suci.
Variabel-Variabel Sosial
Agama dan Nilai-nilai Tradisional
Agama dan nilai-nilai tradisional mendapat serangan
dari para teoritisi modernisasi-klasik. Kedua hal itu dituding
sebagai faktor yang tidak mendukung industrialisasi karena
sifatnya yang tidak rasional. Tetapi, kenyataannya, serangan
tersebut tidak sepenuhnya terbukti.
8
Sosiologi Ekonomi
Beberapa penelitian tentang agama dan nilai-nilai
tradisional dan budaya lokal memperlihatkan betapa kedua
hal tersebut menjadi pendorong bagi kemunculan kapitalisme.
Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Weber dalam bukunya
Economic and Society, dan secara gamblang dalam bukunya
Christian Ethics and the Spirit of Capitalism. Dalam buku terakhir
ini Weber memperlihatkan reifikasi dari agama Kristen
kepada kerja keras
Kerja keras dan hidup hemat merupakan etika
protestan dalam sekte Calvinis (tidak untuk sekte lainnya
seperti Luther atau Zwing Lie). Dua kata kunci itulah,
menurut Weber, yang menjadi spirit kemunculan kapitalisme.
Ajaran Kristen dipahami oleh sekte Calvin mengandung
ajaran untuk selalu bekerja keras di dunia ini dan berlaku
hemat atas apa yang telah didapat. Atas dasar dua variabel
tersebut, Weber membangun hipotesis bahwa agama memiliki
peran mendorong kemunculan semangat kapitalisme.
Tradisi dalam konsepsi sosiologi adalah upaya cerdas
yang dicapai dan dilakukan oleh masyarakat secara berulangulang dan sebagai pengetahuan yang diwarisi secara turuntemurun yang didukung oleh mekanisme sanksi. Aneka
tradisi yang dipandang sebagai penghalang bagi pembangunan
ekonomi harus dilihat sebagai tantangan untuk memberikan
jalan terhadap kekuatan pasar dan standarisasi proses dan
hasil industri. Standarisasi aneka proses dan produksi
9
Sosiologi Ekonomi
ekonomi adalah batu loncatan kepada masa depan yang
memprasaranai kemajuan.6
Di Jepang, agama Tokugawa dan nilai-nilai tradisional
memberikan kontribusi terhadap akselerasi pembangunan
ekonomi di sana. Proses industrialisasi di Jepang pertama kali
digerakkan bukan oleh kelas pedagang ataupun industriawan,
melainkan oleh kaum samurai. Terdapat suatu etika dalam
tradisi samurai yang memungkinkan nilai-nilai tradisional
tersebut dapat beradaptasi dan dapat pula dijadikan modal
utama dalam proses industrialisasi.
Etika samurai
menekankan pengoperasian semua bentuk usaha dengan
memegang teguh janji demi negara, dan memberikan spirit
untuk bekerja keras dan tangguh dengan tetap
memperhatikan kepentingan dan rasa orang lain.7
Di Indonesia, kelas industriawan dan wiraswastawan
pada awalnya muncul dari kalangan santri, yang memiliki
keyakinan dan taat dalam menjalankan ajaran Islam. Industri
Batik di Solo dan Yogyakarta awalnya banyak dikerjakan oleh
kalangan santri, bukan dari kalangan priyayi. Dalam persepsi
kaum santri8, mandiri dalam ekonomi dengan cara berdagang
5 Patrick Aspers, The Economic Sociology of Alfred Marshall: An Overview,
American Journal of Economics and Sociology, October, 1999.
7
Robert. N. Bellah, Religi Tokugawa; Akar-akar Budaya Jepang,
Jakarta: 1992, Gramedia Pustaka Utama, hal. 92
8
Begitu pula industri batik di Pekalongan hingga tahun 80-an
didominasi secara keseluruhan oleh kaum santri.
10
Sosiologi Ekonomi
merupakan bagian dari ajaran Islam. Persepsi ini terbentuk
merujuk kepada sosok Nabi Muhammad s.a.w. sebagai
pedagang. Selain itu, dalam Islam terdapat ajaran yang
menunjukkan ke arah pencapaian ekonomis tertentu
mengiringi berbagai kewajiban, seperti zakat yang hanya dapat
dilakukan jika seseorang telah mencapai kekayaan dalam
jumlah tertentu dan kewajiban haji hanya berlaku bagi mereka
yang mampu, di antaranya dalam bidang ekonomi.
Selera konsumen merupakan satu variabel yang
dipakai oleh Keynes dalam membuat sistem keseimbangan
antara minat untuk memakai barang tertentu dengan tingkat
ketersediaannya. Selain itu, dari selera konsumen yang
berlaku dalam suatu masyarakat juga dapat diketahui alasan
yang menyebabkan pilihan jenis komoditas yang diproduksi di
suatu wilayah. Seperti jagung yang menjadi bahan pokok
makanan masyarakat Madura, menyebabkan jagung menjadi
komoditas utama yang ditanam untuk memenuhi kebutuhan
itu. Hal ini berimplikasi pada pembentukan pasar dan lokasi
yang jelas dalam pendistribusian jagung megikuti alur
permintaan dan penawaran.
Dalam diri masyarakat sebenarnya telah ditemukan
aktivitas ekonomi yang bersifat subsisten, yaitu masyarakat
memproduksi barang dan komoditas tertentu untuk dipakai
sendiri, bukan berorientasi pada pasar. Aktivitas ekonomi
masyarakat pada tingkat ini berlaku ukuran-ukuran
11
Sosiologi Ekonomi
rasionalitas tertentu yang menjadi referensi dalam tindakan
ekonomi di antara mereka, seperti rasionalitas kelompok.
Sebagai contoh, dalam masyarakat petani pilihan terhadap
teknologi yang mendukung produksi pertanian didasari oleh
logika dan rasionalisasinya sendiri.
Pilihan terhadap
penggunaan cangkul oleh petani di wilayah Jawa sebagai alat
bercocok tanam dan pupuk kandang merupakan pilihan yang
dipengaruhi atas logika dan rasionalisasi yang berlaku di
antara mereka pada masa itu, yaitu karena keterbatasan
pilihan teknologi dan kemudahan mendapatkan pupuk
kandang. Ini merupakan pilihan rasionalitas masyarakat.
Masyarakat petani memiliki perhitungan rasionalitas
tersendiri atas ekspektasi dari pekerjaan yang dilakukan. Apa
lagi hasil dari pertanian adalah satu-satunya harapan
pendapatan yang tidak boleh meleset. Maka, dapat dipahami
apa sebabnya petani cenderung menghindari tindakan
spekulasi. Karena itu, memperkenalkan teknologi baru
kepada masyarakat petani dalam rangka mendorong ke arah
industrialisasi perlu memperhatikan secara seksama logika dan
rasionalisasi yang mereka pahami. Belajar dari berbagai
pengalaman pengembangan dan pelatihan petani dapat
dikemukakan bahwa, jika ingin memodernisasi petani, jalan
yang paling tepat adalah memberi contoh dan menghadirkan
langsung contoh-contoh sukses yang dapat ditiru.
12
Sosiologi Ekonomi
Ikatan Kekeluargaan
Selain agama dan tradisi, kelompok solider (solidarity
group) yang bersumber dari ikatan kekeluargaan (kinship) juga
merupakan faktor sosial yang berhubungan dengan ekonomi9.
Ikatan kekeluargaan merepresentasikan hubungan sosialafektif yang amat dalam berdasarkan fakta biologis kelahiran
dan hukum perkawinan, yang kemudian diikuti intensitas
hubungan yang tercipta antara sesama anggota keluarga.
Jenis peran dan aktivitas seseorang dalam masyarakat
banyak dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, dan posisinya
dalam keluarga. Lebih kentara pada masyarakat tradisional,
peranan seseorang secara ekonomis acap tersubordinasi ke
dalam pertimbangan keluarga, yang di dalamnya tugas-tugas
tertentu diberikan sesuai dengan tingkatan usia anggota
keluarga dan distribusi kerja. Tanggung jawab lebih banyak
diberikan berdasarkan jenis kelamin (domestic division of labor).
Meskipun telah terjadi perubahan secara besar-besaran
tentang fungsi seseorang berdasarkan gender dan tingkat
umur, pola tersebut masih terus berlangsung, sekalipun dalam
masyarakat modern. Anak-anak yang masih tergolong muda
tidak diperkenankan bekerja, sebagian pekerjaan dengan
spesifikasi tertentu untuk anak laki-laki dan selebihnya untuk
perempuan.
9
Slater dan Tonkiss, Market Society, Market and Modern Social Theory,
Cambridge, United of Kingdom, 2000, Polity Press., hal. 9-13
13
Sosiologi Ekonomi
Gambaran mengenai pengaruh signfikan ikatan
kekeluargaan terhadap perkembangan ekonomi dapat dijejaki
dari bagaimana Familiisme10 atau sumberdaya keluarga11
memiliki kontribusi terhadap perkembangan ekonomi seperti
kelahiran kapitalisme di Cina. Melalui sistem famili yang
dipegang teguh, seorang pemilik industri pemintalan kapas
akan memperoleh keuntungan ekonomis secara cuma-cuma
dengan cara mempertahankan tenaga kerja yang disuplai dari
sistem kekeluargaan pada usaha industri. Apabila terjadi
kebangkrutan atau kemunduran dalam satu usaha, dengan
sistem hubungan kerja paternalisme tersebut, pekerja akan
menarik diri secara individual dengan memilih untuk
mengundurkan diri daripada melakukan tindakan kolektif,
seperti pemogokan masal yang jauh lebih merugikan.
Selain berfungsi sebagai aktiva positif terhadap
perkembangan ekonomi, ikatan kekeluargaan juga
memberikan efek negatif terhadap kemajuan ekonomi.
Sebab, ikatan kekeluargaan sering meletakkan individu ke
dalam suatu jaringan loyalitas. Penerapan cara ini akan
membuat mandul kalkulasi rasional ekonomi yang seharusnya
selalu menyertai setiap tindakan ekonomi. Struktur bisnis
dengan sistem keluarga di Prancis pada awal perkembangan
kapitalisme di sana tidak dapat berkembang karena tidak
Suwarsono dan Alvin Y.So, Perubahan Sosial dan Pembangunan,
LP3ES: 1991. hal. 56
11 Robert W. Hefner (ed.), Budaya Pasar, Jakarta, LP3ES: 2001. hal. 19
10
14
Sosiologi Ekonomi
memberikan kesempatan bagi keluarga untuk mencari modal
dari luar. Padahal, pengembangan usaha selalu membutuhkan
investasi. Selain itu, tidak ada pemisahan antara anggaran
keluarga dengan perusahaan.
Dengan rekruitmen pegawai, perusahaan yang
dikembangkan dengan sistem keluarga di Prancis kerap tidak
didasarkan atas kompetensi bisnis yang dimiliki oleh yang
bersangkutan.
Di berbagai negara Asia terdapat
kecenderungan –meski tidak dapat digeneralisir– anggota
keluarga tidak dilibatkan dalam aktivitas usaha. Alasan yang
melatari kondisi ini adalah bahwa keluarga dipandang
berpotensi memunculkan kecemburuan sosial di antara
pekerja lain, memiliki tingkat kepatuhan yang rendah terhadap
majikan, serta terlalu banyak tuntutan.
Hubungan keluarga dan ekonomi berjalan dengan
saling mempengaruhi. Di satu sisi ia menjadi aktiva bagi
perkembangan ekonomi, di sisi lain juga membawa
perubahan terhadap struktur keluarga. Atau, dengan kata
lain, struktur keluarga berubah secara drastis karena maraknya
industrialisasi. Struktur keluarga dalam masyarakat industri
memperlihatkan bahwa proses industrialisasi dan urbanisasi
telah melahirkan sistem keluarga tunggal atau keluarga inti.
Keluarga jauh, meskipun ada, hampir tidak berpengaruh sama
sekali terhadap kehidupan satu keluarga.
15
Sosiologi Ekonomi
Etnis
Sebagai bagian dari fakta sosial, etnisitas menjadi
bagian dari interaksi sosial tradisional. Etnisitas dapat
dimengerti sebagai pengelompokan manusia karena
perbedaan bawaan dan kelahiran dari aspek warna kulit,
bahasa, lingkungan, yang kesemuanya itu merupakan ciri-ciri
bawaan. Para sosiolog menggunakan istilah etnis untuk
menyebutkan setiap bentuk kelompok – baik kelompok ras
atau bukan kelompok ras – yang secara sosial dianggap berada
dan telah mengembangkan subkulturnya sendiri.12
Interaksi anggota-anggota dalam satu etnis yang sama
berlangsung intensif dan relatif lebih tinggi daripada interaksi
dengan anggota etnik yang berbeda. Pertimbangan etnisitas
dijadikan kriteria inisasi untuk seleksi. Seperti dalam
hubungan perkawinan terdapat kecenderungan untuk lebih
memilih dari kelompok atau golongan yang sama. Suatu hal
yang alami bahwa penilaian stereotip dan prejudice mewarnai
bentuk penilaian hubungan antar individu atau kelompok
dengan etnis yang berbeda.
Tingkat interaksi dalam kolompok etnis tertentu
berpengaruh langsung terhadap akses dan derajat
pengetahuan anggotanya tentang fluktuasi pasar. Untuk
12 Paul. B. Horton dan Chester L. Hunt, Sosiologi (terj.), Jakarta, 1992,
Penerbit Erlangga.
16
Sosiologi Ekonomi
menyiasati agar tidak terlalu mahal dalam membeli sesuatu
komoditas atau memilih jasa, masyarakat cenderung berpaling
kepada anggota dari kelompok etnis yang sama, kerena
terdapat kepercayaan tradisional yang relatif lebih besar
terhadap sesama mereka. Koherensi etnis dalam interaksi
ekonomi selanjutnya berkembang menjadi sebuah jaringan
kerja sesama etnis yang memberikan kontribusi besar
terhadap kemajuan ekonomi.
Secara ringkas, dapat dikatakan bahwa aspek agama
dan nilai- nilai tradisional dalam budaya dapan menjadi
variabel yang memberikan kontribusi terhadap tindakantindakan ekonomi.
Struktur dan Stratifikasi
Dalam struktur sosial, terdapat stratifikasi yang
membedakan kelas dan status sosial antara individu atau
kelompok. Istilah struktur sosial adalah suatu konsep yang
dipakai untuk menjelaskan karakteristik interaksi yang
berulang di antara dua orang atau lebih. Unit dasar dari
struktrur sosial itu tidaklah menunjuk pada pengertian orang,
tapi kepada aspek-aspek interaksi tertentu dari orang-orang,
seperti peranan suami-istri dalam rumah tangga. Konsep ini
dipakai untuk mengindikasikan pola peranan seseorang dalam
masyarakat yang dapat diidentifikasi dari fungsi dan peran
17
Sosiologi Ekonomi
sosialnya, seperti struktur agama, struktur pendidikan, dan
struktur ekonomi.
Stratifikasi hadir dalam masyarakat, menurut Talcott
Parson (1966, 1977), sebagai bagian dari proses evolusi sosial.
Masyarakat memiliki kapasitas untuk beradaptasi dengan
lingkungannya dan stratifikasi merupakan strategi masyarakat
untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan mereka. Menurut
Parson, apabila setiap orang diperlakukan dengan derajat yang
sama, peran-peran seperti kepemimpinan yang bertujuan
untuk mengatasi tantangan dan permasalahan sosial tidaklah
dibutuhkan.
Adanya stratifikasi menyebabkan peran
kepemimpinan
dibutuhkan
dan
berkonsekuensi
mendatangkan reward dan prestise. Stratifikasi Parson terlihat
sangat optimis dengan mengabaikan sebab-sebab lain dari
adanya stratifikasi, seperti eksploitasi. Karena dalam
masyarakat industri, eksploitasi kelas kapitalis berjalan
sistematis melalui sarana-sarana mesin produksi. Gerhard
Lenski (1996) mengemukakan teori stratifikasi berdasarkan
asumsi bahwa manusia mementingkan diri sendiri dan selalu
berusaha menyejahterakan dirinya. Individu berperilaku
menurut kepentingannya sendiri, bekerja sama dengan orang
lain apabila terkait dengan kepentingan dirinya sendiri, dan
akan berkompetisi dengan orang lain apabila melihat peluang
untuk dirinya. Kesamaan kalkulasi ekonomi memungkinkan
individu dapat bekerja sama dan perbedaan kalkulasi itu pula
yang menyebabkan terjadinya konflik stratifikasi. Karena itu,
18
Sosiologi Ekonomi
menurut Lenski, yang menjadi sebab stratifikasi adalah
surplus produksi ekonomi.
Surplus ekonomi dalam perspektif Lenski, didorong
oleh kemajuan teknologi. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa peralihan teknologi dari masyarakat agraris ke
masyarakat industrialis menyebabkan surplus ekonomi yang
menyebabkan perebutan di antara individu yang
berkonsekuensi masyakarat menjadi terstratifikasi. Stratifikasi
juga terdapat dalam masyarakat pra-industri dalam derajat
yang berbeda. Pertanyaan yang muncul dari teori Lenski
adalah, apa yang mendorong masyarakat atau individu
menggunakan teknologi untuk mendatangkan surplus
ekonomi? Lalu bagaimana apabila tidak terjadi surplus? Dan,
bagaimana memulainya?
Michael Harner (1970), Morton Fried (1967), dan
Rasser Blumberg (1978) memiliki kesamaan perspektif bahwa
tekanan penduduk telah menghilangkan apa yang dinamakan
dengan kepemilikan bersama, dan perbedaan akses terhadap
sumber daya menjadi tak terelakkan. Suatu kelompok pada
akhirnya memaksa kelompok lain bekerja lebih keras untuk
menghasilkan surplus ekonomi melebihi apa yang
dibutuhkan. Sejak kemajuan teknologi mengiringi tekanan
pertumbuhan penduduk, surplus ekonomi dimungkinkan.
Peningkatan tekanan penduduk dan teknologi menjadikan
perbedaan akses terhadap sumber daya dan stratifikasi dalam
19
Sosiologi Ekonomi
masyarakat semakin real. Proses ini berjalan dalam kontinum
waktu yang terus menerus. Pemikiran Michael Harner,
Morton Fried, dan Rasser Blumberg merupakan deviasi
terhadap teori kelangkaan (scarcity).
Stratifikasi dalam struktur ekonomi menunjukkan
perbedaan pola dan tingkat produksi, serta pendapatan.
Perbedaan tersebut terjadi merupakan determinasi dari
penguasaan teknologi dan keahlian yang dimiliki. Pada
masyarakat agraris, proses produksi berlangsung lamban dan
tidak terorganisir. Daya dukung yang dimiliki, seperti
teknologi, juga dilakukan dengan cara-cara yang masih
sederhana dan padat karya-bahkan hingga saat ini tentunya
berpengaruh langsung terhadap pendapatan masyarakat
agraris yang memiliki tingkat pendapatan rendah dan hasil
produksi yang terbatas.
Pada masyarakat industri pola produksi dikerjakan
dengan cara-cara yang sangat maju, terorganisir, modern, dan
berbasiskan teknologi yang telah termekanisasi. Sehingga
proses produksi dapat dijalankan lebih cepat dalam kuantitas
yang massal dan tidak terbatas.
Karena itu, tingkat
pendapatan dalam masyarakat industri pun menjadi lebih
tinggi dibandingkan dengan masyarakat agraris.
Jika
dibandingkan antara kedua pola produksi ini, akan kita
temukan aneka perbedaan di antara keduanya.
20
Sosiologi Ekonomi
Stratifikasi dalam masyarakat agraris bersifat
sederhana dan belum bervariasi sebagaimana stratifikasi
dalam masyarakat industri.
Namun bagi Karl Marx,
masyarakat petani tidak dapat dikatakan telah menciptakan
kelas sosial tersendiri karena tidak ada petani yang hidup
dalam pola produksi pertanian yang bersifat individual,
terpisah dari yang lain. Penolakan atas stratifikasi dalam
masyarakat agraris bertumpu pada pandangan Marx terhadap
penguasaan atas faktor produksi yang masih belum
terindividualisasi. Sedangkan stratifikasi dalam masyarakat
industri banyak ditentukan oleh prestasi individu dalam
mengambil bagian dalam aneka penawaran pekerjaan dan
pengisian pos-pos pekerjaan yang muncul dalam proses
produksi, karena industrialisasi telah melahirkan beragam
jenis pekerjaan yang dapat dimasuki oleh setiap anggota
masyarakat yang memiliki kualfikasi keahlian. ‘Booming’
pekerjaan di sektor industri tidak saja menciptakan prakondisi
dalam bentuk kualifikasi keahlian tertentu namun juga telah
merubah perilaku produksi dan persepsi masyarakat mengenai
pekerjaan. Identifikasi paling mudah dapat dilihat dari adanya
mobilisasi masyarakat petani memasuki bidang-bidang
pekerjaan di sektor industri.
21
Daftar Pustaka
Auster, Carol J., 1996. Sociology of Work, California, 1996, Pine
Grass Forga Press
Beckert, Jens, Economic Action and Embeddedness: The Problem of
Structure Action, John F. Kennedy Institute, 1999.
Bellah, Robert N., 1992. Religi Tokugawa; Akar-akar Budaya
Jepang, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
Bendix, Richard dan Seymour Martin Lipset, (ed.), 1966.
Class, Status, and Power; Social Stratification in
Comparative Prespectives, New York, The Press Collier
McMillan Publishing.
Budiman, Arief, 1985. Pembagian Kerja Secara Seksual, Sebuah
Pembahasan Sosiologis tentang Peran Wanita dalam
Masyarakat, Jakarta PT Gramedia.
____________, 1995. Teori Pembangunan Dunia Ketiga, Jakarta
PT Gramedia Pustaka Utama
Burt, Ronald S., 1992. Structural Holes: The Social Structure of
Competition. Cambridge, Harvard University Press.
Chalid, Pheni, 2005. Keuangan Daerah, Investasi, dan
Desentralisasi: Tantangan dan Hambatan, Jakarta,
Kemitraan
Damsar, 1997. Sosiologi Ekonomi, Jakarta, Raja Grafindo
Persada.
Duncan, Hugh Dalziel, 1997. Sosiologi Uang (terj.), Yogyakarta,
Pustaka Pelajar
Effendi, Tadjoedin Noer, 2000. Pembangunan, Krisis dan Arah
Reformasi, Solo, Muhammadiyah University Press.
211
Durkheim, Emile, 1933, The Division of Labor in Society (trans.),
by G. Simpson, New York.
Fukuyama, Francis, 1995, The Social Virtues and The Creation of
Properity, London, Hamish Hamilton London.
Gorz, A. 1978. The Division of Labor: the Labor Process and Class
Struggle in Modern Capitalism. Sussex, Harvester.
Granovetter, Mark dan Richard Swedberg (ed.), 1992. The
Sociology of Economic Life, San Francisco, Westview
Press.
Hatta, Mohammad, 1985, Pengantar ke Jalan Sosiologi Ekonomi,
Jakarta, Inti Dayu Press.
Hefner, Robert W., (ed.), 2001. Budaya Pasar, Jakarta, LP3ES.
Hirsh, Fred, 1977. Social Limits to Growth, London, Routledge
and Kegan Paul Ltd.
Horton, Paul B. dan Chester L. Hunt, 1992. Sosiologi (terj.),
Jakarta, Penerbit Erlangga.
Johnson, Doyle Paul, 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern
(terj.), Jakarta, PT. Gramedia.
Kasali, Rhenald, 1997. Sembilan Fenomena Bisnis, Jakarta, PT
Gramedia Pustaka Utama.
Koentjaraningrat, 1985. Women, Work and Ideology in the Third
World. London, Tavistock Publications.
Maliki, Abdurrahman, 2001. Politik Ekonomi Islam (terj.),
Bangil, Al-Izzah.
Mannan, M. Abdul, 1995. Teori dan Praktek Ekonomi Islam
(terj.), Yogyakarta, PT Dana Bhakti Wakaf.
Manning, Chris dan T. N. Effendi, ed., 1985. Urbanisasi,
Pengangguran dan Sektor Informal di Kota, Jakarta,
Gramedia.
212
Manulang, M., 1985. Pengantar Teori Ekonomi Moneter, Jakarta,
Ghalia Indonesia.
Omori, Takashi, 2003. Economic Effects of Social Capital,
Economic and Social Research Institute, Cabinet
Office, Government of Japan.
Sayer, Andrew, 2004. Market, Embeddedness and Trust: Problem
of Polysemy and Idealism, Centre for Research on
Innovation and Competition, University of
Manchaster.
Sanderson, Stephen K., 1991.
Makro Sosiologi, Sebuah
Pendekatan Terhadap Realitas Sosial (terj.), Jakarta, PT
Raja Grafindo.
Sen, Amartya, 2001. Masih Adakah Bagi Kaum Miskin (terj.),
Bandung, Mizan.
Slater, Don dan Fran Tonkiss, 2000. Market Society, Market
and Modern Social Theory, Cambridge, United of
Kingdom, Polity Press.
Smelser, Neil J, 1976. The Sociology of Economic Life, New
Jersey, Prentice-Hall.
Smelser, Neil J dan Richard Swedberg, ed, 1994, The
Handbook of Economic Sociology, West Sussex,
Princeton University Press.
Suwarsono dan Alvin Y. So, 1991. Perubahan Sosial dan
Pembangunan, Jakarta LP3ES.
Suparlan, Parsudi (peny.), 1995. Kemiskinan di Perkotaan,
Jakarta, Yayasan Obor Indonesia.
Turner, Jonathan H., 1991. The Structure of Sociological Theory,
California, Wadsworth Publishing Company.
213
Jurnal/Hasil Penelitian
Aspers, Patrick, 1999. The Economic Sociology of Alfred Marshall:
An Overview, American Journal of Economics and
Sociology, October.
Chalid, Pheni, 2004. Ekonomi Informal Pasca Jumatan dan
Majelis Taklim, Laporan Penelitian, Jakarta, Center of
Social Economic Studies (CSES).
Dequech, David, 2003. Uncertainty and Economic Sociology: A
Preliminary Discussion – Focus on Economic Sociology,
American Journal of Economics and Sociology, July.
Deflem, Mathieu, 2003. The Sociology of The Sociology of Money:
Simmel and The Contemporary Battle of The Classic;
Journal of Classical Sociology, Vol. 3.
Evers, Hans Dieter, 1991. Ekonomi Bayangan, Produksi
Subsisten dan Sektor Informal, Jakarta, Prisma, Vol. 5.
Subangun, Emmanuel, 1991. Sektor Informal di Indonesia Dari
Titik Pandang Non-Akademik, Jakarta, Prisma, Vol. 5.
Uslaner, Eric M., Trust and Economic Growth in The Knowledge
Society, University of Maryland,
www.bsos.umd.edu/gypt/uslaner
Vriend, Nicolass J., 1996. Rational Behaviour and Economic
Theory, Journal of Economic Behaviour and
Organization, USA, 1996, Santa Fe Institute, USA,
vol. 29
214
Wirahadikusumah, Miftah, 1991. Sektor Informal Sebagai
Bumper pada Masyarakat Kapitalis, Jakarta, Prisma,
Vol. 5.
215
Download