PERILAKU PENJUAL DAN PEMBELI DALAM

advertisement
PERILAKU PENJUAL DAN PEMBELI DALAM
PROSES PEMBENTUKAN HARGA
(Studi Di Pasar Splendid Kota Malang)
JURNAL ILMIAH
Disusun Oleh :
Patricia Diella Budiarto
0910210076
JURUSAN ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013
LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL
Artikel Jurnal dengan judul :
Perilaku Penjual Dan Pembeli Dalam Proses Pembentukan Harga
(Studi Di Pasar Splendid Kota Malang)
Yang disusun oleh :
Nama
:
Patricia Diella Budiarto
NIM
:
0910210076
Fakultas
:
Ekonomi dan Bisnis
Jurusan
:
S1 Ilmu Ekonomi
Bahwa artikel Jurnal tersebut dibuat sebagai persyaratan ujian skripsi yang
dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 7 Februari 2013
Malang, 7 Februari 2013
Dosen Pembimbing,
Dr. Asfi Manzilati, SE.,ME.
NIP. 19680911 199103 2 003
Perilaku Penjual Dan Pembeli Dalam Proses Pembentukan Harga
(Studi Di Pasar Splendid Kota Malang)
Patricia Diella Budiarto
Asfi Manzilati
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Email: [email protected]
ABSTRAK
Bagi Neoklasik, mekanisme pasar merupakan sentral. Sedangkan bagi kelembagaan,
pembentukan harga pasar tidak hanya didasarkan pada mekanisme pasar.Pasar merupakan hal
yang penting bagi pemenuhan kehidupan manusia, namun tidak semua pasar menjual barang
kebutuhan primer, terdapat juga pasar yang menjual barang hobi (hewan dan bunga) seperti Pasar
Splendid Kota Malang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pembentukan
harga serta struktur kekuasaan di Pasar Splendid Kota Malang.Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif dengan triangulasi sumber.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan harga di Pasar Bunga Dan Pasar
Burung Splendid Kota Malang memiliki proses yang berbeda dan tidak hanya berdasarkan
mekanisme pasar. Struktur kekuasaan yang terjadi lebih condong kepada pembeli meskipun
terkadang terjadi kondisi yang mengarahkan struktur kekuasaan condong kepada pembeli.
Kata kunci: pembentukan harga, struktur kekuasaan, Pasar Bunga Dan Pasar Burung Splendid
Kota Malang.
A. LATAR BELAKANG
Secara definisi, pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk
melakukan transaksi.Pasar tidak selalu mengenai lokasi fisik.Produk yang dijual di pasar
bermacam – macam, pada umumnya pasar menjual barang kebutuhan primer seperti bahan-bahan
makanan yaitu beras, sayur, buah, telur, ikan, daging, terdapat juga barang elektronik, bahan
pakaian maupun pakaian jadi.Selain itu terdapat juga pasar yang menjual hewan peliharan serta
tanaman hias.Adanya pasar sangat penting bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia.
Menurut Santosa (2008:46), negara maju seperti negara Amerika Serikat dan Eropa
berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan juga pendapatan per kapita dengan
menggunakan aliran Neoklasik. Hal ini banyak menginspirasi negara yang sedang berkembang
sehingga pendidikan ekonomi di negara berkembang juga condong kepada negara maju dengan
aliran Neoklasiknya.Aliran neoklasik merupakan perkembangan dari aliran Klasik Adam Smith
dengan ciri tidak ada campur tangan pemerintah atau Negara dalam segala urusan ekonomi, dan
penggunaan matematika selalu digunakan untuk menganalisis berbagai peristiwa ekonomi.
Menurut Mubyarto dalam Santosa (2008:46) ilmu ekonomi yang diajarkan dan diterapkan
di seluruh dunia sejak Perang Dunia II, memakai panduan buku Paul Samuelson yang berjudul
Economics an Introductory Analysis (MIT, 1946).Inti ajaran yang dikemukakan oleh Samuelson
dikenal sebagai teori ekonomi Neoklasik.Menurut paham neoklasik, permintaan dan penawaran
dianggap sebagai mekanisme utama (sentral) pada pasar yang berperan menggerakkan ekonomi
dengan sifat bebas nilai.Harga yang berlaku di pasar merupakan harga yang terbentuk dari
keseimbangan mekanisme pasar yaitu keseimbangan dari permintaan dan penawaran. Sehingga
saat terjadi perubahan permintaan maupun penawaran, maka akan terbentuk harga dari
keseimbangan yang baru.
Menurut Pujiati (2011:118) Peran pemerintah dalam aliran neoklasik sangat dibatasi
karena dianggap akan mengganggu proses keseimbangan yang terjadi karena mekanisme pasar.
Jadi intinya, aliran neoklasik mengatakan bahwa pasar akan mencapai keseimbangan dan
efisiensinya secara optimal dan menguntungkan bagi seluruh pihak. Bila pasar dibiarkan bebas
atau tidak dicampuri olah peraturan pemerintah maka pasar akan membuat kesejahteraan bagi
masyarakat secara optimal.
Menurut Hasibuan dalam Santosa (2008:47) inti pokok aliran ekonomi kelembagaan
adalah melihat ilmu ekonomi dengan satu kesatuan ilmu sosial, seperti psikologi, sosiologi, politik,
antropologi, sejarah, dan hukum.Mereka merangkum hal tersebut dalam analisis ekonomi, namun
demikian di antara mereka masih mempunyai ragam dan variasi pandangan.Dalam kelembagaan,
pasar merupakan salah satu lembaga yang dapat menggerakkan ekonomi.Bagi kelembagaan hal
yang penting ialah aturan main yang dapat mengatur segala aspek pasar, baik aspek kekuasaan,
aspek sosial maupun aspek hukum yang jelas agar kegiatan ekonomi dapat berjalan dengan baik
dan mengalami perkembangan.
Di Indonesia terdapat sebuah fenomena yaitu adanya budaya gotong royong dan kerja
sama. Menurut Gurniwan Kamildalam Soegiharsono (2011), gotong-royong dapat dikatakan
sebagai ciri dari bangsa Indonesia terutama mereka yang tinggal di pedesaan yang berlaku secara
turun temurun, sehingga membentuk perilaku sosial yang nyata kemudian membentuk tata nilai
kehidupan sosial.Adanya nilai tersebut menyebabkan gotong-royong selalu terbina dalam
kehidupan komunitas sebagai suatu warisan budaya yang patut dilestarikan.
Di jalan sepanjang Jalan Brawijaya Kecamatan Klojen Kota Malang terdapat Pasar
Splendid, bila dilihat dari barang yang dijual, Pasar Splendid terdapat 2 pasar yaitu pasar burung
yang menjual berbagai jenis hewan (mamalia kecil, unggas, ikan) dan pasar bunga yang menjual
berbagai jenis tanaman (tanaman hias, tanaman buah, bunga potong).
Bagi bebepara pengunjung, Pasar Splendid merupakan tempat wisata yang
menyenangkan dengan hanya membayar biaya parkir saja. Bahkan bagi beberapa pendatang dari
luar kota, Pasar Splendid merupakan lokasi yang wajib dikunjungi bila berkunjung di Kota
Malang. Turis asingpun benyak ditemui menikmati keadaan pasar yang menjual berbagai jenis
bunga dan hewan ini, sehingga dapat dikatakan Pasar Splendid merupakan salah satu ikon
pariwisata di Kota Malang yang tidak pernah sepi pengunjung, baik pengunjung yang memang
ingin membeli tanaman ataupun hewan maupun pengunjung yang hanya sekedar menikmati
pemandangan di sepanjang Jalan Brawijaya ini(www.pesonamalangraya.com).Oleh karena itu
berdasarkan uraian sebelumnya, rumusan masalah yang diajukan adalaha bagaimana pembentukan
harga di Pasar Splendid?Dan bagaimanakah stuktur kekuasaan yang terjadi di dalamnya?
B. KAJIAN TEORI
Pasar Menurut Neoklasik
Awal pemikiran ekonomi dimulai pada masa klasik yaitu aliran yang dipelopori oleh
Adam Smith. Dalam Pujiati (2011) aliran klasik berpendapat, pasar akan menemukan
keseimbangan dengan sendirinya, anggapan ini biasa disebut dengan invisible hand. Konsep
invisible hand ini menekankan mekanisme pasar sebagai faktor utama dalam keseimbangan yang
selanjutnya akan membentuk harga oleh karena itu peran pemerintah sangat dibatasi karena
dianggap akan menghambat proses distribusi sumber daya antara penjual dan pembeli.
Disamping itu munculah Keynes sebagai pengkritik aliran klasik. Keynes memiliki
pendapat bahwa pasar tidak selalu mampu menciptakan keseimbangan sendiri sehingga peran
pemerintah sangat diperlukan untuk membantu proses pencapaian keseimbangan dalam pasar.
Adanya pendapat dari Adam Smith dan Keynes saling bersaing sehingga memunculkan berbagai
aliran, salah satunya ialah neo klasik.
Aliran neoklasik mengatakan bahwa pasar merupakan pusat dalam menggerakkan
ekonomi yang bebas nilai.Harga yang berlaku di pasar terbentuk dari keseimbangan mekanisme
pasar yaitu keseimbangan dari permintaan dan penawaran. Sehingga saat terjadi perubahan
permintaan maupun penawaran, maka akan terbentuk harga dari keseimbangan yang baru.
Dalam Santosa (tahun 2008), aliran neoklasik mengatakan bahwa pasar akan mencapai
keseimbangan dan efisiensinya secara optimal dan menguntungkan bagi seluruh pihak. Bila pasar
dibiarkan bebas atau tidak dicampuri olah peraturan pemerintah maka pasar akan membuat
kesejahteraan bagi masyarakat secara optimal. Hal ini berarti segala sesuatu dalam pasar harus
dibiarkan berjalan tanpa campur tangan pemerintah sekalipun yang bermaksud baik, termasuk
dalam hal pembentukan harga dalam pasar.
Teori Pembentukan Harga
Dalam artikel Teori Pembentukan Harga (Edhiwasisto 2012), terdapat 3 pendekatan yang
digunakan dalam teori pembentukan harga, yang pertama ialah:
1. Pendekatan permintaan dan penawaran (supply demand approach). Pendekatan ini
dihitung dari tingkat permintaan dan penawaran yang ada sehingga dapat ditentukan
harga keseimbangan (equilibrium price). Begitu pula bagi neo klasik pembentukan
2.
3.
harga akan terjadi dari keseimbangan permintaan dan penawaran sehingga teori
pembentukan harga ini lebih mengarah ke pada aliran neo klasik
Pendekatan biaya (cost oriented approach) menentukan harga dengan cara
menghitung biaya yang dikeluarkan produsen dengan tingkat keuntungan yang
diinginkan baik dengan markup pricing dan break even analysis. Harga dibentuk
dengan pendekatan mark up pricing apabila penjual membeli barang – barang
dagangannya untuk dijual kembali namun harga jual yang ditawarkan telah ditambah
dengan jumlah tertentu terhadap harga beli, sehingga dari penambahan atau mark up
inilah pedagang mendapat keuntungan.
Teori pembentukan harga yang kedua ini menggunakan perhitungan metematis
untuk membentuk harga, hal ini menandakan bahwa teori pembentukan harga yang
kedua ini juga menggunakan teori neoklasik yang pada dasarnya selalu menggunakan
perhitungan matematis untuk menganalisa setiap kegiatan ekonomi.
Pendekatan pasar (market approach) merumuskan harga untuk produk yang
dipasarkan dengan cara menghitung variabel-variabel yang mempengaruhi pasar dan
harga seperti persaingan, sosial budaya, dan lain-lain.
Pembentukan harga dengan pendekatan pasar ini lebih condong kepada teori
kelembagaan karena pendekatan ini bukan hanya sekedar menghitung keseimbangan
permintaan dan penawaran serta biaya yang ditimbulkan, namun juga menyertakan
persaingan, dan sosial budaya sebagai hal yang patut diperhitungkan dalam
pembentukan harga.
Struktur Pasar
Struktur pasar merupakan penggolongan pasar berdasarkan strukturnya. Terdapat
beberapa bentuk pasar yang pada umumnya digolongkan berdasarkan:
1. Banyaknya penjual dan pembeli
2. Jenis atau sifat barang yang diperdagangkan
3. Mudah tidaknya masuk ke dalam pasar
Selain tiga kriteria di atas, dalam penelitian ini akan melihat kriteria lainnya yaitu
pembentukan harga yang terjadi, sehingga dari kriteria tersebut, terdapat 4 struktur pasar berikut
cirinya (Munir,2008):
1. Pasar persaingan sempurna:
a. Penjual merupakan pengambil harga (price taker)
b. Tidak terdapat hambatan bagi penjual baru yang ingin berjualan di pasar tersebut
maupun penjual lama yang ingin keluar dari pasar.
c. Barang yang dijual bersifat homogen atau identik.
d. Terdapat banyak penjual yang ada di pasar.
e. Pembeli memiliki informasi yang sempurna mengenai keadaan pasar
2. Pasar monopoli:
a. Hanya terdapat satu penjual sehingga pembeli tidak memiliki pilihan penjual lain
untuk membeli barang yang dihasilkan perusaan monopoli tersebut.
b. Barang yang dijual merupakan barang yang tidak memiliki barang pengganti
atau satu- satunya jenis barang yang ada.
c. Terdapat hambatan yang tinggi bagi penjual lain yang ingin memasuki pasar.
d. Penjual merupakan penentu harga (price setter).
3. Pasar oligopoli:
a. Barang yang dijual memiliki barang pengganti yang mendekati
b. Pembentukan harga dapat dipengaruhi penjual apabila terdapat kerjasama
(kartel) antar penjual namun bila tidak terdapat kerjasama maka pengaruh harga
dari penjual semakin terbatas.
4. Pasar persaingan monopolistik
a. Terdapat banyak penjual di pasar.
b. Adanya diferensiasi produk.
c. Penjual dalam pasar persingan monopilostis ini dapat mempengaruhi harga.
d. Persaingan yang terjadi antar pedagang merupakan persaingan non harga.
Elastisitas
“Elastisitas adalah konsep umum dalam mengukur respons/tanggapan dari variabel
tertentu ketika variabel lain berubah. Jika variabel A berubah karena variabel B berubah, elastisitas
A terhadap B sama dengan perubahan persentase A dibagi perubahan persentase B. , elastisitas
diukur dengan persentase” (Case dan Fair, 2007).
Terdapat dua jenis elastisitas yaitu elastisitas permintaan serta elastisitas penawaran.
Elastisitas permintaan digolongkan menjadi 3 yaitu (Sasongko dan Siswoyo, 2004:11) :
a. Elastisitas harga permintaan
b. Elastisitas pendapatan
c. Elastisitas permintaan silang
Elastisitas harga permintaan merupakan rasio perubahan persentase dalam kuantitas yang
diminta terhadap perubahan persentase dalam harga (Case dan Fair, 2007).Elastisitas harga
permintaan mengukur reaksi permintaan tarhadap perubahan harga yang bersangkutan (Sasongko
dan Siswoyo, 2004:11).
Elastisitas pendapatan dari permintaan mengukur tanggapan kuantitas yang diminta
terhadap perubahan pendapatan (Case dan Fair, 2007).Elastisitas pendapatan bertanda positif
untuk barang normal. Sebuah barang dikatakan barang mewah apabila memiliki elastisitas
pendapatan lebih kecil dari 1 Sasongko dan Siswoyo, 2004:13).
Elastisitas harga-silang dari permintaan mengukur tanggapan kuantitas yang diminta dari
barang tertentu terhadap perubahan harga dari barang lain (Case dan Fair, 2007).
Elastisitas penawaran mengukur tanggapan kuantitas yang ditawarkan dari barang
tertentu terhadap perubahan harga barang itu sendiri (Case dan Fair, 2007).
Dalam Case dan Fair (2007), berikut adalah tipe- tipe elastisitas yang dilihat dari hasil
dari perhitungan pengukuran elastisitas:
a. Permintaan inelastis sempurna memiliki kuantitas yang diminta yang sama sekali tidak
tanggap terhadap perubahan harganya, nilai elastisitasnya 0 (nol)
b. Permintaan inelastis memiliki perubahan kuantitas yang diminta yang terkadang tanggap
terhadap perubahan harganya dalam kisaran nilai yang tidak besar, nilai elastisitasnya
antara 0 (nol) dan -1
c. Permintaan berelastisitasuniter memiliki hubungan perubahan persentase kuantitas yang
diminta yang sama dengan perubahan persentase harganya, nilai elastisitasnya -1
d. Permintaan elastis memiliki perubahan persentase kuantitas yang diminta yang lebih
besar nilai absolutnya dibandingkan dengan persentase perubahan harganya, nilainya
elastisitasnya kurang dari -1
e. Permintaan elastis sempurna memiliki perubahan kuantitas yang diminta yang langsung
jatuh ke nol hanya akibat peningkatan kecil dari harganya
Posisi Pasar Bagi Ekonomi Kelembagaan
Terdapat 2 aliran Ekonomi Kelembagaan yaitu, Ekonomi Kelembagaan lama (Old
Institutional Economics/OIE) dan Ekonomi Kelembagaan baru (NIE Institutional Economics/NIE).
Ekonomi kelembagaan pertama kali di pelopori oleh Thorstein Veblen dan John R. Commons atau
yang biasa disebut aliran Ekonomi Kelembagaan lama (Old Institutional Economics/OIE).
Ekonomi Kelembagaan lama (Old Institutional Economics/OIE) berasumsi bahwa insitusi faktor
kunci dalam menjelaskan dan mempengaruhi perilaku ekonomi (Manzilati, 2011:24). Ekonomi
Kelembagaan lama (Old Institutional Economics/OIE) menolak semua asumsi aliran
klasik/neoklasik, dan bekerja di luar kerangka ekonomi klasik/neoklasik.
Berbeda dengan teori Neoklasik, dalam ekonomi kelembagaan terdapat banyak hal selain
mekanisme pasar yang mempengaruhi terjadinya transaksi dan harga yang terbentuk di
pasar.Terdapat berbagai permasalahan kelembagaan yang muncul di pasar salah satunya karena
perbedaan pelaku ekonomi.Perbedaan dari setiap pelaku ekonomi merupakan masalah yang besar
terhadap terjadinya transaksi.Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda, baik dalam
rasionalitasnya (rasional terbatas) maupun perbedaan dalam menerima dan mengolah informasi.
Perbedaan tersebut akan menimbulkan adanya informasi yang tidak sempurna yang menyebabkan
adanya biaya transaksi.
Ketiga hal tersebut yaitu informasi tidak sempurna, biaya transaksi dan modal sosial
merupakan beberapa aspek kelembagaan yang mempengaruhi terbentuknya harga di pasar. Harga
yang dibayarkan di pasar oleh setiap orang bisa berbeda meskipun barang yang dibeli sama dan di
tempat yang sama.
Struktur Kekuasaan pada Ekonomi Kelembagaan
. Setiap individu pasti akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sehingga hal itu
akan mendorong interaksi sosial yang akan diaplikasikan dalam tindakan sosial. Tindakan social
dalam masyarakat pada daerah satu dengan daerah lain tentu akan berbeda karena setiap daerah
memiliki nilai ataupun norma serta budaya yang berlaku di masing – masing daerah. Di dalam
masyarakat terdapat struktur sosial dan dalam struktur sosial tersebut setiap individu memiliki
status dan peranan tertentu
Dalam Aprilianto (2012:21), kelas sosial didefinisikan sebagai pembagian anggota
masyarakat atau individu ke dalam suatu hierarki status kelas yang berbeda sehingga para anggota
setiap kelas secara relatif mempunyai status yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Miller (dalam Yustika, 2008:56) membagi ilmu ekonomi dalam empat cakupan: (i)
alokasi sumberdaya (resource allocation), (ii) tingkat pertumbuhan kesempatan kerja, pendapatan,
produksi, dan harga (levels of growth employment, income, production, and prices), (iii) distribusi
pendapatan (income distribution), (iv) struktur kekuasaan (the structure of power). Pendekatan
klasik/neoklasik lebih banyak memakai tiga instrumen yang pertama untuk menguliti setiap
persoalan ekonomi; sebaliknya pendekatan kelembagaan lebih menekankan kepada piranti terakhir
untuk menganalisa fenomena ekonomi.Aliran kelembagaan mempunyai kepedulian terhadap
struktur kekuasaan dan aturan main sedangkan penekanan ajaran ekonomi neoklasik adalah bahwa
mekanisme pasar persaingan bebas, dengan asumsi-asumsi tertentu selalu menuju keseimbangan
dan efisiensi optimal yang baik bagi semua orang.
Dugger (dalam Manzilati, 2011:24) melihat perbedaan fundamental antara posisi pasar ini
pada ekonomi neoklasik dengan institutionalisme. Dalam konteks ekonomi neoklasik, studi
ekonomi yang berlabel „ekonomi pasar‟ akan berimplikasi kepada analisisnya, yaitu untuk
pembuktian hipotesis sistem pasar dengan sedikit sekali melibatkan proses sosial pada modelnya.
Ekonom neoklasik berargumentasi bahawa institusi yang dominan adalah pasar itu sendiri.
Berbeda dengan ekonomi neoklasik, para ahli kelembagaan melihat pasar sebagai institusi yang
melingkupinya.
Di dalam pasar, struktur kekuasaan tidak selalu berbicara mengenai struktur organisasi,
pemerintah, ataupun orang – orang yang menduduki jabatan sebagai pengatur pasar.Struktur
kekuasaan juga mangenai pihak mana yang lebih berkuasa untuk menentukan harga, pihak penjual
ataukah pembeli. Pada umumnya pembeli akan menawar harga dengan harga yang rendah,
sedangkan penjual akan mempertahankan harga yang ditawarkannya, namun seringkali terjadi
penjual tidak memberi kesempatan kepada pembeli untuk menawar harga barang yang dijualnya,
yang berarti penjual lebih berkuasa dibanding pembeli. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa
struktur kekuasaan antara penjual dan pembeli sangat mempengaruhi nominal harga yang akan
disepakati oleh kedua belah pihak.
C. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian
ini
menggunakan
metode
penelitian
kualitatif
dengan
pendekatan
fenomenologis.Fenomenologi ialah aspek subjektif dari perilaku orang.Dengan menggunakan
pendekatan fenomenologi maka diharapkan dapat membantu peneliti dalam melakukan penelitian.
a. Unit Analisis
Berdasarkan tujuan penelitian dalam penelitian ini, maka unit analisis pada penelitian ini
proses pembentukan harga pada Pasar Burung dan Pasar Bunga Splendid.
b.
Penentuan Informan
Penelitian ini mencoba untuk menjelaskan bagaimana proses pembentukan harga pada
dua pasar di Splendid. Berdasarkan hal itu informan yang dibutuhkan adalah :
1. Pedagang di Pasar Burung dan Pasar Bunga Splendid di Kota Malang
2. Pembeli atau konsumen di Pasar Burung dan Pasar Bunga Splendid di Kota Malang
Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari
informan yaitu penjual, pembeli dan pengurus paguyuban di pasar bunga dan pasar burung Kota
Malang melalui wawancara dan dokumentasi.
Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode pengumpulan data, yaitu:
1.
Wawancara
2.
Observasi
3.
Dokumentasi yang akan dilakukan pada saat wawancara maupun observasi
Metode Analisa Data
Penelitian ini menggunakan triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber, yaitu
dengan mengecek data yang telah diperoleh dari beberapa sumber.Pengecekan data dapat dengan
metode pengumpulan data yang berbeda (wawancara dan observasi) maupun dengan
menggunakan informan pendukung. (Sugiyono, 2008:129).
D. PEMBAHASAN
Pembentukan Harga Di Pasar Splendid
Dalam penelitian kualitatif, diperlukan berbagai informasi yang diberikan oleh para
informan.Penelitian ini mambahas pembentukan harga dan struktur kekuasaan pada Pasar Slendid,
sehingga informan pertama yang dipilih adalah pedagang di Pasar Splendid, baik pedagang di
pasar burung maupun pedagang di pasar bunga.Pedagang di Pasar Splendid merupakan informan
yang dapat menggambarkan bagaimana keadaan Pasar Spendid, terutama mengenai pembentukan
harga serta struktur kekuasaan yang terjadi.Berikut ini adalah tabel informan yaitu tabel yang
memuat nama- nama informan yang diwawancarai dalam penelitian ini.
Tabel 1: Informan
Nama
Usia
Keterangan
Lama Berdagang
45
Penjual perlengkapan
memelihara ikan
9 tahun
40
Penjual ikan
20 tahun
Bu Dwi
35
Penjual tanaman
5 tahun
Bu Desi
50
Penjual tanaman
16 tahun
Mas Eka
22
Penjual bunga potong
3 tahun
Mas Andik
27
Penjual Burung
4 tahun
Mas Didik
25
Penjual di pasar burung
7 tahun
Mbak Ragil
20
Pembeli di pasar burung
-
Bu Lidia
32
Pembeli di pasar burung
-
Mbak Ida
25
Pembeli di pasar bunga
-
Mbak Nevia
23
Pembeli di pasar burung
-
Mas Adi
21
Pembeli di pasar bunga
-
Ibu
Kiptiyah
Pak
Budiono
Sumber : Diolah dari Lapangan, 2013
Keberadaan Pasar Splendid ini dapat dikatakan sangat berpengaruh sebagai daya tarik
Kota Malang bagi wisatawan baik yang dari dalam negeri maupun yang dari luar negeri. Selain
karena lokasinya yang berada di belakang gedung Balai Kota Malang berdekatan dengan
Bundaran Tugu Kota Malang yang merupakan pusat atau tengah kota, Pasar Splendid yang berada
di Jalan Brawijaya ini juga berdekatan dengan Splendid Inn, Hotel Tugu, dan Java Dancer dimana
wilayah ini banyak dikunjungi oleh turis asing.
Pembentukan Harga di Pasar Burung Splendid
Sejarah Pasar Burung Splendid ini berawal dari penjual burung yang berjualan di Jalan
Brawijaya pada tahun 1960-an, pada tahun tersebut jalan ini disebut sentra burung. Semakin lama,
pedagang burung yang berjualan di Jalan Brawijaya semakin banyak sehingga mengakibatkan
kemacetan. Oleh karena itu, untuk mengatasi kemacetan, pada tahun 1967 Pemerintah Kota
Malang memutuskan memindahkan ke Pasar Comboran. Selanjutnya, pada Tahun 1993, Pemkot
Malang kembali memindahkan sentra burung ini ke lokasi sebelumnya yaitu Jalan Brawijaya hal
ini dikarenakan wilayah Comboran akan dibangun sekolah. Setelah itu sekitar tahun 1995, sentra
burung dikenal sebagai Pasar Burung Splendid.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kota Malang Tahun 2010 – 2030, Rencana Kawasan Perdagangan dan Jasa pasal
50 ayat 2 yaitu:
Rencana pemenuhan kebutuhan fasilitas perdagangan dan jasa, meliputi :
a.
b.
c.
d.
peningkatan kualitas Pasar Besar, Pasar Dinoyo, Pasar Blimbing, dan Pasar
Tawangmangu serta penambahan Pasar baru di sub wilayah Malang Timur dan
Timur Laut;
pengembangan Pasar Burung dan Pasar Bunga di Kawasan Splendid;
mengarahkan pendistribusian secara merata fasilitas perdagangan dan jasa pada
pendistribusian di daerah pinggiran; dan
mendorong pengembangan fasilitas perdagangan berupa warung oleh masyarakat
secara swadaya.
Dapat dilihat pada poin b, bahwa Pasar Splendid mendapatkan perhatian khusus dari
Pemerintah Kota Malang. Pasar Splendid merupakan fasilitas perdagangan dan jasa yang perlu
dikembangkan. Hal ini diperkuat kembali dengan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 4 Tahun
2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang Tahun 2010 – 2030, Rencana Kawasan
Perdagangan dan Jasa pasal 50 ayat 5 yaitu:
Pembatasan perdagangan sektor informal dengan skala kecil yang mempunyai ciri khusus
dan dalam jumlah yang besar, tetap menggunakan lokasi yang ada antara lain Pasar
Burung, Pasar Ikan dan Pasar Bunga di Splendid.
Meskipun nama pasar ini adalah pasar burung, namun pasar ini tidak hanya menjual
burung saja, terdapat banyak hewan lain seperti unggas, ikan dan hewan mamalia.Aktivitas pasar
burung ini dimulai pukul 7 pagi seperti yang dikatakan oleh Ibu Kiptiyah saat ditanyai mengenai
aktifitas berdagang di pasar burung:
“…Kalau buka jam 7, kalau tutup gak mesti, rata-rata jam 5, tapi kalau masih ada pembeli
ya magrib baru tutup” (toko buka pukul 07.00 dan toko tutup di jam yang tidak menentu
yaitu rata- rata pukul 17.00, namun jika pukul 17.00 masih terdapat pembeli, maka toko
tutup saat maghrib (sekitar pukul 18.00)).
Mengenai jam aktivitas dari pasar burung ini memang tidak ada waktu yang tetap,
karena saat dikunjungi pukul 08.00 juga masih ada toko yang belum menggelar dagangannya
meskipun sudah ramai pembeli, namun bisa dikatakan pukul 08.30 seluruh pedagang sudah siap
mencari nafkah di pasar burung ini. Sedangkan pukul 16.00, beberapa pedagang sudah menutup
dagangannya dan siap untuk pulang, namun ada juga penjual yang menutup tokonya pukul
17.30.Sehingga dapat disimpulkan bahwa aktivitas Pasar Burung Splendid dimulai pukul 07.00
dan diakhiri pukul 18.00.
Harga Ditetapkan Oleh Masing-Masing Penjual
Setiap penjual atau pedagang pasti menginginkan keuntungan yang besar dari barang
dagangannya, pada umumnya dalam sebuah pasar tradisional, penjual tidak akan dapat menaikkan
harga secara individu, karena jika barang yang dijual sama namun dengan harga yang berbeda sari
satu toko ke toko yang lain, maka pembeli pasti akan membeli barang di toko yang lebih murah.
Namun hal ini tidak terjadi di Pasar Burung Splendid yang menjual berbagai macam hewan, hal ini
diungkapkan oleh Ibu Kiptiyah yang menjual berbagai perlengkapan memelihara ikan seperti
akuarium, lampu akuarium, hiasan akuarium, pakan ikan, dan perlengkapan lainnya.
Harga pada setiap toko dapat diketahui dari Ibu Kiptiyah ketika ditanyakan mengenai
harga yang ada di setiap toko di Splendid.
” …Kalo tokonya ini juragan sitok, barangnya ambil sendiri- sendiri, kalau ada yang lebih
murah ya ambil yang lebih murah, jadi setiap toko belum tentu harganya sama dengan
barang yang sama,bersaing mbak” (toko di pasar ini pemiliknya hanya satu, sehingga
pengambilan barang yang dijual juga tergantung pemiliknya, saat ditemui harga yang
lebih murah maka penjual akan mengambil barang (dagangan) di tempat yang lebih
murah tersebut, sehingga setiap toko belum tentu memiliki harga yang sama dengan
barang yang sama, terjadi persaingan di setiap toko).
Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa harga yang ada di setiap toko ditetapkan
oleh masing- masih penjual.Struktur pasar burung ini mendekati pasar jenis monopolistik dimana
penjual menentukan harga barangnya masing- masing. Memang setelah ditinjau kembali, harga
sebuah barang dapat berbeda dari satu toko ke toko yang lain, meskipun demikian barang di toko
tersebut tetap laku karena terdapat pembeli yang selalu membeli di toko tersebut (langganan), serta
adanya strategi khusus yang membedakan toko satu dengan toko yang lain yang akan dibahas
lebih lanjut.
Perbedaan harga di pasar burung terjadi karena tidak ada penetapan harga atas maupun
harga bawah bagi setiap komoditas yang dijual di pasar burung ini, hal ini dapat digali dari Bapak
Budiono yang telah 20 tahun berjualan ikan di Pasar Splendid ini:
“…Tapi biasanya ya harganya nggak sama,saya jual ke sampean harganya ga sama,
sampean beli di sebelah harganya ga sama,ya terserah mau jual berapa, ga ada yang
ngelarang…” ( harga di setiap toko tidak sama, saya menjual (ikan) ke anda harganya
berbeda dengan toko di sebelah toko saya, tidak ada yang melarang berapa harga yang
akan ditetapkan).
Bapak Budiono menjelaskan bahwa harga di setiap toko tidak sama, hal ini sejalan dengan
penjelasan dari Ibu Kiptiyah. Karena harga di setiap toko berbeda, maka besar keuntungan yang
didapat oleh masing- masing penjual juga berbeda. Besar keuntungan yang diambil oleh penjual
dapat digali melalui wawancara dengan Bapak Budiono:
“..Kayak ikan ini (lou han) ambilnya 15 ribu saya jualnya 20, ikan hitam ini saya ambilnya
20rb, dijual 30, yaa nawar 25 tak kasih…” (seperti ikan lou han ini harga asalnya 15 ribu
rupiah saya menjual dengan harga 20 ribu rupiah, sedangkan ikan hitam ini (koi kelelawar)
harga asalnya 20 ribu rupiah, dijual dengan harga 30 ribu rupiah, bila ada yang menawar
25 ribu rupiah akan saya setujui).
Penuturan Bapak Budiono di atas menjelaskan bahwa bapak Budiono mengambil
keuntungan sekitar 25% hingga 30% dari harga pokoknya, namun saat ada pembeli yang aktif
menawar, Bapak Budiono mengaku akan melepaskan barang dagangannya meskipun keuntungan
yang diperolehnya tidak seberapa.
Harga yang ditentukan sendiri oleh masing- masing penjual merupakan salah satu ciri
pasar persaingan monopolistik karena penjual memiliki kemampuan untuk memengaruhi harga,
Chamberlin (dalam Sasongko dan Siswoyo 2004:109) menyatakan bahwa kurva permintaan akan
berubah seiring dengan perubahan beberapa hal yaitu:
1. Penampilan, pelayanan penjualan, dan strategi penjualan yang berubah.
2. Pesaing mengubah harga jual, jumlah output, dan kebijakan penjual.
3. Selera, pendapatan, dan perubahan kebijakan penjualan penjual lainnya.
Sehingga Pasar Burung Splendid ini dapat dikatakan memiliki struktur pasar persaingan
monopolistik yaitu pasar dimana terdapat banyak penjual yang menghasilkan barang serupa tetapi
memiliki perbedaan dalam beberapa aspek (diferensisasi produk). Penjual pada pasar monopolistik
tidak terbatas, namun setiap barang yang dijual memiliki karakter tersendiri yang membedakannya
dengan barang penjual lainnya
.
Pembeli Aktif dan Pembeli Pasif Menawar
Terdapat dua tipe pengunjung atau konsumen yang ada di Pasar Splendid, yang pertama
adalah pengunjung yang datang untuk sekedar melihat- lihat atau sekedar refreshing, yang kedua
adalah pengunjung yang memang akan membeli barang di pasar burung. Keberadaan pembeli
sangat diharapkan oleh semua penjual.Bila dilihat dari keaktifan pembeli dalam menawar, maka
terdapat dua tipe pembeli yaitu pembeli yang aktif menawar dan pembeli yang tidak menawar atau
pasif. Pada dasarnya setiap pembeli pasti ingin mendapatkan barang dengan harga yang murah,
setiap pembeli juga memiliki cara menawar tersendiri agar penjual mau menurunkan harganya.
Berikut penuturan Mbak Ida saat ditanya apakah Mbak Ida menawar saat membeli di
Pasar Splendid:
“Kadang nawar sih mbak, kadang juga engga…ya kalo keliatannya udah murah gitu ya
gak tak tawar mbak…” (kadang menawar, kadang tidak menawar. Kalau kelihatannya
harga yang diberikan penjual sudah murah ya tidak saya tawar.
Dari penuturan Mbak Ida di atas dapat diketahui bahwa pembeli telah memiliki informasi
mengenai harga- harga di pasar sehingga pembeli dapat menyimpulkan apakah harga yang
ditawarkan penjual pantas atau terlalu mahal, namun ketika Mbak Ida ditanya kembali mengenai
harga yang tidak ditawar tersebut ternyata harga yang mahal:
“…Pernah sih kayak gitu, tapi yaaa..gimana ya mbak,, rejekinya yang jualan kali yaa..”
Menurut Mbak Ida, hal tersebut tidak masalah karena setiap penjual pasti mencari untung,
dari percakapan Mbak Ida dapat ditarik kesimpmulan bahwa Mbak Ida merupakan pembeli yang
pasif menawar. Namun tidak semua pembeli pasif menawar seperti Mbak Ida, penulis
menemukan hal yang berkebalikan pada proses tawar- menawar yang dilakukan oleh Ibu Lidia
Berikut adalah rekapan tawar- menawar dari Ibu Lidia yang telah membeli akuarium:
Gambar 1:Alur Tawar Menawar di Pasar Burung Splendid
Sumber : Diolah dari Lapangan, 2013
Percakapan:
1 : “bu, iki gak oleh rongpuluh a?” (akuarium ini tidak boleh dua puluh ribu rupiah kah bu?)
2 : “waduh, pas niku, kacanya tebal” (waduh, (harga) pas itu, kacanya (akuarium) tebal)
3 : “aku njupuk sak iwak’e, sak dulinane ambek lampune lho iku mau” (saya ambil (membeli)
ikan, mainan dan dengan lampunya lho ini)
4 : “selawe nggih?” (dua puluh lima ribu ya?)
5 : “brarti iki mau iwak’e limolas ya, dulinane pitulas, lampune patbelas karo akuariume, piro
dadine?” (berarti ini tadi ikannya lima belas ribu ya, mainannya tujuh belas, lampunya empat
belas ribu ditambah akuarium totalnya berapa?)
6 : “tujuh puluh satu”
7 : “biyuh cek larange ta, enam lima wis?” (mahal sekali, enam puluh lima ribu ya?)
8 : “niki mau njenengan pun murah, lampu niki mboten saget patbelas saking njenengan
mborong” (harganya sudah murah, lampu ini seharusnya tidak boleh empat belas ribu
harganya, (tetapi diberi harga murah) karena anda membeli banyak)
9 ; “emoh aku lek larang- larang” (saya tidak jadi beli kalau harganya mahal)
10 : “tak kasih bonus watu werno werni, niki limangewuan lho watune” (saya beri bonus batu
warna- warni, harga batunya lima belas ribu)
11 : “owalah, yo wis keono watu ae, tujuh puluh nggih?” (iya sudah diberi batu saja, tetapi
harganya jadi tujuh puluh ribu ya?)
12 : “nggih pun” (iya sudah)
Gambar diatas merupakan rekapan proses tawar menawar yang digambarkan dari
percakapan seorang ibu (pembeli) dengan penjual ikan di Pasar Burung Splendid. Pada percakapan
nomor 1 hingga 9, merupakan proses tawar- menawar antara penjual dan pembeli menuju kepada
keseimbangan harga. Pada percakapan ini terlihat bahwa pembeli di atas termasuk pembeli yang
aktif menawar, setiap barang yang dibeli satu- persatu ditawar harganya sehingga mendapat harga
terendah dari setiap barang, setelah seluruh pembeliannya dijumlahkan, pembeli ini menawar
kembali untuk mendapatkan harga yang lebih murah lagi. Sementara itu penjual yang sudah
memberikan harga rendah kepada pembeli yang terus menawar, memiliki sebuah strategi agar
harga yang diberikannya dapat diterima oleh pembeli yaitu dengan memberikan bonus berupa
hiasan batu plastik beraneka warna.
Bundling System Dan Bonus
Dari penelitian di lapangan, peneliti mendapati bahwa seringkali penjual menggunakan
sistem bandel dalam usahanya, yang disebut dengan sistem bandel adalah penjualan dengan
memberikan harga yang lebih murah bila pembeli membeli barang dengan jumlah yang ditentukan
oleh penjual. Contoh sistem bandel ini sering kita temui pada penjual alat- alat rumah tangga yang
biasa disebut dengan “sepuluh ribu tiga” yaitu sepuluh ribu rupiah akan mendapatkan 3 barang
yang sama ataupun barang yang berbeda.
Sistem bandel juga berlaku di Pasar Burung, pembelian burung emprit yang digunakan
untuk pakan ular dan burung hantu akan lebih murah bila membeli 4 ekor dan kelipatannya, bila
membeli 1 ekor, maka per ekornya akan dikenakan harga Rp1500, namun bila membeli 4 ekor,
maka harga yang dikenakan ialah Rp5000. hal ini sejalan dengan penuturan Pak Budiono yang
bekerja sebagai penjual ikan:
“…Ikan gini ini (koi kelelawar) di sana 60, di saya 50, ambil 3 100 tak kasih,ini kan
harga aslinya 30 ribu, saya untunge dikit pokoke lancar..” (ikan koi kelelawar ini
harganya enam puluh di sana (sebelah toko milik Pak Budi), di saya lima puluh ribu, bila
ada pembeli menawar seratus ribu 3 ekor saya berikan, ikan ini harga tengkulaknya tiga
puluh ribu per ekor, bagi saya untung sedikit asalkan lancar).
Bapak Budiono juga menerapkan sistem bandel yaitu saat pembeli membeli ikan per
ekor, maka harga yang dikenakan adalah sekitar lima puluh ribu sebelum ditawar, namun ketika
ada yang menawar 3 ikan dengan harga seratus ribu maka Bapak Budiono akan menerima tawaran
tersebut.
Selain sistem bandel, pada umumnya penjual juga melakukan sistem bonus seperti yang
biasa dilakukan oleh Mas Andik penjual burung:
“Lek tuku iki sak kandange mbak, tak kek’i pakane karo adah ngombene… biasane lek
akeh olehe sing tuku mesti mbalik…aku sek untung masio titik- titik tapine akeh
langganan” (kalau beli burung ini (perkutut) dengan kandangnya mbak, saya beri pakan
(burung) dan tempat minumnya…biasanya kalau diberi banyak bonus pembeli akan
kembali… saya masih untung meskipun sedikit- sedikit tetapi banyak langganan)
Menurut Mas Andik, strategi pemberian bonus dapat menarik pembeli sehingga saat
pembeli ini memerlukan sesuatu, maka pembeli tersebut menjadi langganan atau kembali ke toko
yang sama berharap mendapatkan bonus kembali. Hal ini sejalan dengan penuturan dari Ibu Lidia
ketika ditanyakan mengenai mengapa Ibu Lidia memilih berbelanja di toko Ibu Kiptiyah:
“Soalnyaudah sering ke sini, terus yang jual suka ngasih bonus” (karena sudah sering
(berbelanja) di toko ini, dan ibu yang menjual suka memberi bonus.
Dari penuturan di atas dapat dilihat bahwa strategi memberi bonus sangat berpengaruh
terhadap adanya pelanggan meskipun dengan adanya bonus ini tentunya akan menurunkan harga
jual yang ditawarkan penjual, sehingga dapat dikatakan strategi penjualan ini, baik sistem bandel
maupun pemberian bonus merupakan salah satu hal yang dapat membuat harga jual berubah atau
berpengaruh terhadap pembentukan harga.
Besarnya Nilai Karcis
Seperti yang sudah dibahas di awal bab Pasar Burung Splendid merupakan pasar yang
diatur oleh pemerintah, hal ini sejalan dengan perkataan Bapak Eddy selaku ketua paguyuban
Pasar Splendid :
“Kios antarpedagang sudah tertata rapi, pedagang burung dengan ikan serta tanaman tak
akan bercampur. Mereka punya kios sendiri-sendiri" (peluangusaha.kontan.co.id)
Keadaan pasar burung ini memang sudah tertata rapih dan berada di bawah pengawasan
Dinas Pasar, oleh karena itu setiap pedagang di Pasar Burung ini dikenakan biaya karcis, dimana
setiap harinya petugas dari Dinas Pasar akan datang untuk menarik biaya karcis.Besar biaya yang
dikenakan pada pedagang tidak sama, besar biaya karcisnya tergantung pada apakah pedagang
mendapatkan kios atau tidak, bila pedagang mendapatkan kios, maka biaya yang dikeluarkan akan
lebih besar bila kios yang diambil adalah kios dengan ukuran yang besar. Mas Andik menuturkan:
“…Mbayar telung ewu karcise, sing sewu limangatus yo onok mbak, tergantung gedene
kios sing digawe iki. Kancaku onok sing dodolan ndek jembatan cidek kayutangan iku
karcise mek sewu… ditarik karo wong Dinas Pasar, kadang sore kadang isuk- isuk wis
nariki karcis” (bayar karcis per hari 3000,yang 1500 juga ada tergantung besar bedak
yang dipakai…teman saya yang berjualan dijembatan dekat kayutangan itu hanya
membayar karcis sebesar 1000 rupiah…ditarik oleh orang dari dinas pasar, kadang sore
hari, kadang pagi- pagi sudah menarik karcis.
Besarnya biaya karcis yang ditentukan oleh Dinas Pasar tentunya menjadi pengeluaran
tetap bagi pedagang di Pasar Burung.Meskipun terkadang dalam sehari ada pedagang yang tidak
memperoleh pendapatan namun pedagang tersebut tetap harus membayar karcis, sehingga dapat
dikatakan bahwa besarnya karcis dapat mempengaruhi harga yang ditawarkan oleh pedagang.
Elastisitas Harga (Rumor Kenaikan Gaji PNS, Kenaikan Harga Barang Lainnya, Adanya
Hari Besar)
Di Pasar Burung Splendid ditemukan bahwa harga jual akan naik ketika terdapat hari
besar dan pergantian tahun, hal ini dikarenakan harga barang pokok lainnya juga mengalami
kenaikan. Contoh harga barang yang naik adalah beras, jagung, ketan, dan bahan pangan lainnya,
barang yang harganya naik tersebut juga merupakan pakan untuk memelihara burung sehingga
saat hasil pertanian mengalami kenaikan harga, maka biaya untuk memelihara burung juga
meningkat.
Tidak hanya harga pakan burungnya yang akan mengalami kenaikan harga, namun harga
burung juga akan naik karena biaya pemeliharaan yang ditanggung oleh penjual akan meningkat
juga karena penjual burung harus memelihara burungnya dan menjaga kesehatan burungnya
karena bila tidak dijaga maka burung yang dijual dapat mengalami kematian dan menyebabkan
kerugian yang lebih besar dibanding dengan biaya pemeliharaannya. Hal ini sejalan dengan
pernyataan dari Mas Didik:
“Disini gak pernah kehabisan barang mbak, cuma barangnya tinggal dikit pernah…tapi
gak naik harganya soalnya besoknya pasti dateng lagi barangnya… kalo naik itu ya pas
gaji PNS katanya mau naik itu biasanya harganya ikut naik, terus kalo lebaran, natalan
sama mau taun baru juga… harga burung saya juga naik, lha pakannya juga naik” (disini
(toko Mas Didik) tidak pernah kehabisan barang, pernah barangnya tinggal sedikit, tetapi
harganya tidak naik karena barangnya akan datang besok…harga naik saat gaji PNS naik,
lebaran, natal dan tahun baru…harga burung juga naik karena harga pakannya juga naik)
Dari pernyataan di atas terlihat juga terdapat faktor lain selain hari besar dan kenaikan
harga barang pokok, yaitu adanya berita kenaikan gaji PNS. Temuan yang ditemukan di lapangan
adalah harga hewan dan barang yang dijual di Pasar Burung akan naik bila terdengar berita akan
naiknya harga barang pokok atau harga barang pokok tersebut memang sudah naik namun terjadi
di luar kota, sehingga dapat dikatakan ekspektasi yang berlebihan juga dapat mempengaruhi
pembentukan harga di Pasar Burung Splendid ini.
Dari penjelasan di atas ditemukan bahwa harga di Pasar Burung Splendid merupakan
harga yang elastis karena kenaikan harga barang lain dapat mempengaruhi kenaikan harga barang
di Pasar Burung Splendid (Sasongko dan Siswoyo, 2004:13) sehingga penjelasan mengenai
elastisitas harga di pasar ini sesuai dengan teori elastisitas pada teori ekonomi mikro .
Temuan lain yang didapatkan dari observasi penulis adalah harga yang disepakati oleh
penjual dan pembeli akan lebih rendah bila pembeli menggunakan Bahasa Jawa dibandingkan bila
pembeli menggunakan Bahasa Indonesia, hal ini cukup banyak ditemui pada pedagang di Pasar
Burung Splendid, terlebih bila pembeli berasal dari luar negeri atau yang biasa disebut “bule”
penjual akan memberikan harga hingga sekitar dua kali lipat karena kebanyakan turis asing tidak
menawar saat membeli di Pasar Burung Splendid sehingga penjual dapat mengais keuntungan
lebih saat penjual didatangi oleh turis asing.
Pembentukan Harga di Pasar Bunga Splendid
Seperti namanya, Pasar Bunga Splendid menjual berbagai jenis tanaman, baik tanaman
hias, tanaman buah, pohon- pohon, sampai dengan bunga potong beserta jasa merangkai atau
membuat buket bunga.
Pembentukan harga di Pasar Bunga Splendid memiliki beberapa faktor yang serupa
dengan pembentukan harga di Pasar Burung Splendid, namun juga ada beberapa hal yang
berbeda. Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi adanya pembentukan harga di Pasar Bunga
Splendid yaitu harga kerjasama, pembeli pasif/aktif menawar, besarnya nilai karcis, harga
fluktuatif tergantung pada harinya, harga awal dari petani bunga.
Harga Kerjasama
Berbeda dengan pedagang di pasar burung, pedagang di pasar burung ini melakukan
tradisi kerjasama baik dalam penjualan barangnya maupun dalam pembentukan harganya.
Meskipun tidak semua pedagang mau bekerja sama, namun sebagian besar penjual bunga di Pasar
Bunga Splendid ini akan menjualkan barang dagangan milik sesama pedagang di Pasar Bunga bila
pembeli meminta ranaman dalam jumlah yang banyak sementara persediaan barang yang dimiliki
tidak mencukupi. Hal ini dibuktikan dengan perkataan dari Ibu Desi:
“…iya, disini sama semua, kalau saya ada pesanan atau pembeli tapi persediaan kurang
ya ambil punya teman, kerjasama sama yang lain…tapi ya ga semua, ada juga yang
ingin usaha sendiri tapi kebanyakan kerjasama..kalo ada pembeli ambil tanaman 10,
saya punya 7 ya yang 3 saya ambil punya teman saya, saya jualkan”
Adanya kerjasama dalam memutuskan besarnya harga, menandakan bahwa Pasar Bunga
Splendid ini merupakan pasar dengan struktur pasar oligopoli dengan persekutuan dimana struktur
pasar ini bekerjasama dalam mengatur letak masing- masing penjual serta bekerjasama atau kartel
dalam pembentukan harga jual. Pasar ini memperbolehkan penjual untuk menjual berapapun
barangnya dengan melakukan tawar- menawar namun tidak menjual barang dengan harga di
bawah kartel dan penjual bebas melakukan perdagangan sesual dengan pola masing- masing
sehingga dapat dikatakan penjual yang berada di pasar tersebut tidak bersaing berdasarkan harga
jualnya (Sasongko dan Siswoyo 2004:130).
Bila dilihat dari banyaknya jumlah penjual, pasar ini tidak mendekati oligopoli namun
lebih mendekati pasar persaingan monopolistik karena jumlah penjualnya lebih dari 10 namun
tidak sebanyak jumlah penjual pada pasar persaingan sempurna.
Pembeli Aktif/ Pasif
Sama seperti pengunjung di pasar burung, pengunjung di pasar bunga juga tidak jarang
yang datang hanya untuk melihat-lihat saja terlebih pada bagian tanaman hias. Pembeli di pasar
bunga juga ada yang pasif menawar ada juga yang aktif menawar, namun harga di pasar bunga ini
termasuk mudah untuk ditawar,hal ini diungkapkan oleh Mbak Ida mengenai apakah sulit
mendapatkan harga yang diinginkan di pasar bunga ini:
“…Engga mbak, iki mau sek tanya nang ibuk e piro iki buk? Lah ibuknya jawab 25
katanya.Terus tak takoki mbak, ga iso kurang ta buk? Trus jarene, wis gae mbak e
15,ngono mbak, dadi murah yo tak tuku” (tidak mbak, ini tadi saya bertanya ke ibunya
berapa harganya ini bu? Lalu ibunya menjawab Rp. 25.000.lalu saya bertanya lagi, tidak
bisa kurang bu? Lalu katanya, buat mbaknya Rp.15.000 begitu mbak, harganya murah
ya saja beli)
Dari penuturan Mbak Ida dapat dilihat bahwa penjual di pasar bunga sangat ramah
terhadap pembelinya, bahkan Ibu Desi seorang penjual tanaman menuturkan:
“Kalo orang beli gak nawar kan ya gak enak kan mbak ya, ya rejeki itu ada aja mbak,
kayak misalnya harganya 5.000 saya jual 10.000 orang nawar 7.000 kan jadi saya
untung 2.000…”
Ibu Desi menganggap bahwa sudah sewajarnya pembeli yang datang akan menawar
harga terlebih dahulu sehingga pembeli aktif ataupun pembeli yang pasif menawar tentu akan
mendapatkan harga yang berbeda dari penjual.
Besarnya Harga Karcis
Bila sebelumnya telah dibahas mengenai aktif atau tidaknya pembeli dalam menawar
harga telah mempengaruhi terbentuknya harga di Pasar Bunga Splendid, pada subbab ini akan
dibahas mengenai pembayaran karcis yang dibayarkan setiap harinya oleh pedagang tanaman.
Sama seperti pada pedagang di pasar burung, pedagang di pasar bunga ini juga membayarkan
karcis (retribusi) yang besarnya berdasarkan besar area yang digunakan untuk berdagang. Hal ini
sejalan dengan pernyataan dari Ibu Dwi:
“…Tempatnya dikasi pemerintah, dibersihkan sendiri, bayar apa itu namanya, retribusi
bayar tiap hari”
Ibu Dwi menjelaskan bahwa pasar bunga tempatnya bekerja sekarang merupakan pasar
yang kebersihannya sangat dijaga serta diawasi olah pemerintah sehingga penjual harus mambayar
karcis retribusi kepada Dinas Pasar setiap harinya.
Harga Fluktuatif Tergantung Pada Harinya
Hal ini merupakan hal yang membedakan pembentukan harga di pasar burung dengan
pembentukan harga di pasar bunga. Di pasar bunga ini, harga yang ada fluktuatif, hal ini
dikarenakan adanya tradisi di Jawa khususnya di Malang bahwa bunga merupakan kebutuhan
wajib saat ada upacara keagamaan, acara adat seperti pernikahan dan khitanan, serta kegiatan
lainnya. Perubahan harga saat tanggal khusus sesuai dengan teori hukum permintaan.
Teori Adam Smith dalam mikroekonomi menjelaskan bahwa mekanisme pasar akan
berjalan dengan sendirinya termasuk dalam hal pembentukan harga yang juga diatur oleh “tangan
tidak nampak” (invisible hands) yang membawa berbagai sumber daya menuju aktivitas yang
optimal. Terbentuknya harga didapatkan melalui keseimbangan permintaan (demand) dan
penawaran (supply).
Gambar 2:Keseimbangan Harga
Harga
Penawaran
Harga Ekuilibrium
P*
Permintaan
Q*
Kuantitas
Sumber : Nicholson dalam Aprilianto (2012:56)
Sehingga hukum permintaan menyatakan bahwa jika harga barang naik maka permintaan
turun dan sebaliknya dan hukum penawaran menyatakan bahwa jika harga naik maka penawaran
bertambah dan jika harga turun maka penawaran berkurang.
Teori ini berlaku di pasar bunga dikarenakan adat Jawa memiliki tradisi menghitung
weton atau neptu mempengaruhi permintaan bunga potong di Pasar Bunga Splendid.Selain itu
adanya hari valentine juga dapat menaikkan harga bunga mawar potong hingga 3 kali lipat dan
bunga mawar pot hingga 2 kali lipat. Hal ini sejalan dengan pernyataan Mas Eka:
“ Natalan gini ini gak boleh harga 1500, kebanyakan mesti dikasi harga 2000 ada juga
yang dikasih harga 3000, belum lagi kalo tanggal bagus ya beda lagi harganya, valentine
gitu bisa 6000 gini ini mbak”
Namun perubahan harga ini tidak terus bertahap, melainkan akan kembali ke harga awal
saat tanggal termasuk hari biasa. Perubahan harga bunga bunga potong dapat dilihat dari grafik
harga bunga mawar potong.
Gambar 3Perubahan Harga Bunga Mawar Potong
Bunga Mawar Potong
7000
6000
5000
4000
3000
2000
1000
0
Bunga Mawar Potong
Hari Biasa
Musim
Hari
Hari Besar
Pernikahan Valentine dan tahun
baru
Sumber: Diolah dari Lapangan, 2013
Harga Awal Dari Petani Bunga.
Hal terakhir yang ditemukan penulis dalam penelitian di lapangan adalah harga akan
berubah ketika harga dari petani bunga juga meningkat. Kebanyakan petani meningkatkan
harganya saat harga pupuk naik, ataupun tergantung musim pada bulan itu. Mas Eka menjelaskan
bahwa:
“Selain hari – hari yang tadi itu ya kadang juga dari petaninya harganya naik, kalo petani
naikin harga ya di sini ikut naik juga harganya”
Penjual satu dengan penjual yang lain tidak mengambil barang dagangannya dari satu
petani, hal ini berlaku untuk penjual bunga potong saja, oleh karena itu terkadang harga bunga
potong di toko satu dengan yang lainnya berbeda meskipun bedanya tidak terlalu jauh.
Petani akan mengirim bunga potong rata- rata setiap tiga hari sekali, bunga yang tidak
laku selama tiga hari tersebut pasti sudah mekar dan terkadang layu, namun tidak dikembalikan
kepada petani namun oleh penjual bunga diambil kelopaknya untuk dijadikan bunga tabur dan
tentunya harga berubah menjadi lebih rendah.
Struktur Kekuasaan Pasar Splendid
Dalam Yustika (2008:127) induk dari ilmu ekonomi murni yang berkembang hingga saat
ini adalah ilmu ekonomi politik yang juga merupakan gagasan dari John Stuart Mill dalam
bukunya Principles of Political Economy yang menjabarkan berbagai isu ilmu ekonomi yang
menjadi dasar dari perkembangan ilmu ekonomi. Saat ini pendekatan ekonomi politik semakin
pudar dan digantikan dengan pendekatan ilmu ekonomi murni sebagai alat untuk menganalisis
gejala san persoalan masyarakat.Hal yang paling membedakan ilmu ekonomi politik dengan ilmu
ekonomi murni adalah mengenai pandangan dari kedua ilmu tersebut mengenai struktur kekuasaan
yang ada di dalam masyarakat. Ilmu ekonomi politik menganggap bahwa struktur kekuasaan akan
mempengaruhi pencapaian ekonomi, namun ilmu ekonomi murni menganggap bahwa struktur
kekuasaan bersifat given.
Pada bahasan berikutnya akandijelaskan mengenai bagaimana struktur kekuasaan yang
terjadi di Pasar Splendid, baik di pasar bunga maupun di pasar burungnya. Struktur kekuasaan
yang dimaksud bukanlah struktur kekuasaan yang bersifat politik, atasan- bawahan, atau
kekuasaan pemerintah, namun struktur kekuasaan yang akan dibahas dalam bab ini merupakan
struktur kekuasaan yang dikuasai oleh penjual atau pembeli mengingat bahwa penjual dan pembeli
merupakan oknum utama yang ada di dalam pasar.
Struktur Kekuasaan di Pasar Burung
Struktur kekuasaan yang ada dalam sebuah pasar tentunya bertujuan untuk kesejahteraan
bersama, baik yang ada di dalam pasar maupun yang ada di luar pasar.Struktur kekuasaan di dalam
penelitian ini diambil dalam sudut pandang posisi tawar (bargaining position), mana yang lebih
kuat antara penjual ataukah pembeli.
Bargaining power adalah negosiasi, kapasitas satu pihak untuk mendominasi pihak yang
lainnya karena pengaruh, kekuatan, ukuran, status, atau melalui kombinasi dari taktik persuasi
yang berbeda (Sukirno, 2002 dalam repository.usu.ac.id).
Struktur Kekuasaan Ada Pada Pembeli
Berdasarkan temuan di lapangan, struktur kekuasaan di Pasar Burung akan berada pada
pembeli bila pembeli merupakan pelanggan tetap, calon pembeli akan membeli barang dengan
jumlah yang banyak, pembeli membeli barang yang harganya dinilai besar, pembeli menggunakan
Bahasa Jawa.
1. Pembeli Adalah Pelanggan
Di Pasar Burung Splendid, pembeli dapat memegang kekuasaan bila pembeli tersebut
sudah sering membeli barang di sebuah toko tertentu, sehingga pada saat pembeli yang sudah
langganan tersebut membeli barang kembali maka penjual akan dengan mudah memberikan harga
yang murah. Hal ini dikarenakan penjual sudah mengenali pembeli tersebut, sedangkan pembeli
telah memiliki informasi yang sempurna mengenai harga dan kualitas barang yang akan dibelinya.
Bahkan sering kali proses tawar menawar untuk mencapai keseimbangan harga antara penjual dan
pembeli tidak terjadi dalam transaksi antara pelanggan dengan penjual karena pembeli sudah
mempercayai penjual akan harga yang diberikannya.
2.
Pembeli Membeli Banyak Barang
Pembeli akan memiliki posisi tawar yang tinggi atau memegang struktur kekuasaan pada
saat pembeli akan membeli barang dalam jumlah yang banyak, tentu saja penjual akan
mempertahankan pembeli tersebut agar membeli di tokonya sehingga penjual mendapatkan
keuntungan dari pembelian yang dilakukan oleh pembeli.
Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan percakapan dari Ibu Kiptiyah:
“Niki wau njenengan pun murah, lampu niki mboten saget patbelas saking njenengan
mborong” (harganya sudah murah, lampu ini seharusnya tidak boleh empat belas ribu
harganya, (tetapi diberi harga murah) karena anda membeli banyak).
Ibu Kiptiyah adalah seorang penjual ikan serta peralatan memelihara ikan, percakapan
diatas dikutip dari proses tawar menawar dengan Ibu Lidia yang saat itu membeli ikan, akuarim,
hiasan dalam akuarium, serta lampu akuarium. Ibu Lidia telah mendapatkan harga yang murah
untuk beberapa barang, namun beliau menawar lagi ketika ingin membeli akuarium, ketika Ibu
Lidia mengatakan:
“Emoh aku lek larang- larang” (saya tidak jadi beli kalau harganya mahal).
Ibu Kiptiyah langsung menawarkan bonus batu hiasan plastik berwarna- warni dan
menaikkan sedikit harga yang diminta oleh Ibu Lidia, hingga akhirnya tercapai harga kesepakatan
setelah melewati proses tawar menawar yang cukuo panjang.
3.
Pembeli Membeli Barang yang Harganya Tinggi
Setiap penjual di Pasar Burung Splendid mayoritas memiliki barang unggulan yang
dijualnya. Apabila ada pembeli yang ingin membeli barang unggulan, maka penjual akan berusaha
untuk menyenangkan pembelinya sehingga pembeli menyetujui harga yang mendekati harga
penawaran dan bersedia melakukan transaksi.
4.
Pembeli Menggunakan Bahasa Jawa
Persamaan suku dan bahasa antara penjual dengan pembeli seringkali menjadi alat untuk
mendapatkan harga yang lebih murah, hal ini juga terjadi di Pasar Burung Splendid.
Bila pembeli menggunakan Bahasa Jawa, maka kebanyakan penjual akan lebih “longgar”
dalam proses tawar- menawar yang terjadi karena hal tersebut merupakan tradisi yang selalu
dijalankan oleh pedagang di Pasar Burung Splendid. Penjual dan pembeli juga lebih “akrab” dalam
proses tawar menawar.
Hal- hal diatas merupakan temuan dari observasi yang dilakukan penulis di lapangan, bila
salah satu dari empat hal diatas terjadi, maka pembeli dapat menekan penjual (terus-menerus
menawar) untuk mendapatkan harga yang rendah untuk barang yang diinginkannya.
Struktur Kekuasaan Ada Pada Penjual
Setelah membahas struktur kekuasaan yang berada pada pembeli,selanjutnya akan
dibahas struktur kekuasaan yang dipegang oleh penjual dimana temuan yang ada di lapangan
adalah barang yang dimiliki penjual adalah barang yang jarang, penjual bukan merupakan pemilik
toko, serta pengunjung datang untuk menjual hewannya.
1.
Barang yang dimiliki penjual adalah barang yang tergolong langka atau jarang.
Di Pasar Burung Splendid menjual berbagai macam hewan dari ikan unggas hingga
mamalia. Setiap hewan memiliki keunggulan serta keindahan masing- masing, seperti kucing
misalnya, harga akan berbeda ketika kucing berbulu panjang atau berbulu pendek, berhidung
pesek atau berhidung mancung. Tidak jarang penjual mendapatkan hewan baru yang beredar di
pasaran, memiliki peminat namun masih belum banyak dijual di pasar burung, bahkan baru dua
toko saja yang menjualnya.
Contoh dari hewan yang baru ada di tahun 2012 ini adalah sugar glider , hewan ini baru
berada di satu kios dan satu penjual yang berada di jembatan pada waktu penulis melakukan
observasi.
Harga yang beredar di pasaran adalah 500.000 rupiah untuk sugar glider yang masih
bayi, dan 300.000 rupiah untuk sugar glider yang sudah dewasa, karena hewan ini masih
merupakan hewan yang jarang diperdagangkan di pasar burung, jadi harga yang diminta oleh
pembeli tidak akan menjauhi harga yang ditawarkan oleh penjual. Penjual akan bersifat “kaku”
bila terhadap pembeli yang menawar harga di bawah harga penawaran awal. Sehingga dapat
dikatakan bahwa kelangkaan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kenaikan atau
tingginya harga.
2.
Penjual Bukan Merupakan Pemilik Toko
Berbagai toko yang terdapat di Pasar Burung Splendid, namun tidak semua toko dijaga
oleh pemilik dari toko tersebut. Beberapa toko dijaga oleh karyawan yang dipekerjakan oleh
pemilik toko tersebut, tentu saja karyawan tidak akan dapat menurunkan harga sesuka hati tanpa
sepengetahuan pemilik toko, sehingga pada posisi demikian karyawan yang dalam hal ini termasuk
penjual terlihat berkuasa atau memiliki posisi tawar yang tinggi serta “kaku” terhadap penawaran
pembeli
3.
Pengunjung Datang Untuk Menjual Hewannya.
Penjual di Pasar Burung Splendid tidak selalu “berlaku” sebagai penjual, namun sewaktuwaktu pengunjung datang untuk menawarkan hewannya untuk dibeli oleh penjual tersebut
sehingga terjadi tawar- menawar yang “terbalik” karena penjual menginginkan harga yang murah
dan pembeli saat itu berlaku sebagai penjual akan menawarkan harga yang lebih tinggi.
Sering kali penjual juga menolak mentah- mentah barang yang ditawarkan oleh pembeli
tersebut karena stok penjual masih mencukupi.Hewan yang biasa ditawarkan kepada penjual
adalah hamster, kelinci dan mamalia lainnya.
Struktur Kekuasaan di Pasar Bunga
Selain struktur pasar yang terjadi di Pasar Burung Splendid, selanjutnya penulis akan
menyajikan penjelasan singkat mengenai struktur kekuasaan yang terjadi di Pasar Bunga Splendid.
Sama halnya seperti struktur kekuasaan yang ada di pasar burung, struktur kekuasaan yang ada di
pasar bunga juga dilihat dari sisi penjual dan pembelinya. Bila “posisi tawar” pembeli lebih kuat
maka struktur kekuasaan juga berada di “tangan” pembeli, namun sebaliknya jika “posisi tawar”
penjual lebih kuat maka struktur kekuasaan berada di “tangan” penjual.
Struktur Kekuasaan Ada Pada Pembeli
Apabila pada pasar bunga terjadi beberapa keadaan yaitu pembeli yang datang merupakan
sebuah instansi atau sebuah perusahaan, pembeli yang ada saat itu hanya sedikit, pembeli membeli
barang dengan kuota besar, serta adanya kesamaan persepsi pembeli maka kemungkinan besar
struktur kekuasaan akan berpihak pada pembeli.
1.
Pembeli merupakan sebuah instansi
Berbeda dengan pedagang pasar burung yang memiliki pelanggan tetap, pasar bunga ini
jarang memiliki pelanggan perorangan yang rutin membeli bunga atau membeli peralatan untuk
merawat tanaman, hal ini dikarenakan merawat bunga tidak sesulit memelihara hewan yang butuh
perhatian khusus dalam memeliharanya.
Di pasar bunga, yang membeli bunga potong secara rutin adalah sebuah organisasi,
instansi atau perusahaan yang mewajibkan pengadaan bunga setiap hari, contohnya seperti hotel,
bank, rumah sakit, serta perusahaan lainnya, sedangkan yang membeli tanaman adalah rumah
tangga perorangan atau oknum yang bergerak di bidang pertamanan.
Keberadaan instansi serta rumah tangga inilah yang menjadi pelanggan bagi pedagang di
pasar bunga, kebanyakan pembeli (instansi, dan lain lain) akan membeli bunga di pasar bunga
dalam jumlah yang banyak sehingga penjual akan “longgar” dalam hal tawar menawar.
2.
Pembeli yang ada di kios saat itu hanya sedikit
Keadaan yang selanjutnya adalah bila pembeli yang ada di kios waktu itu berjumlah satu
atau dua pembeli, penjual berani memberikan harga yang lebih murah karena tidak ada pembeli
lain.
Hal ini dilakukan agar pembeli yang sedikit tersebut jadi melakukan transaksi karena bila
penjual tidak memberikan harga yang murah maka pembeli akan pergi begitu saja dan pindah ke
kios yang lainnya.
3.
Pembeli membeli banyak barang
Sama halnya seperti yang terjadi di pasar burung, di penjual di pasar bunga akan senang
bila barang dagangannya “diborong” oleh pembeli dan penjual akan memberikan diskon khusus
atau bonus barang bagi pembeli yang membeli barang dengan kuota yang besar, sehingga bila
keadaan ini terjadi maka struktur kekuasaan lebih condong kepada pembeli.
4. Fenomena kesamaan persepsi
Keadaan keempat merupakan keadaan khusus yang sering terjadi saat hari raya atau hari
khusus lainnya. Hal ini bisa dilihat dari pernyataan Mbak Ida ketika ditanyai mengenai harga:
“…Iyalah mbak, yang didepan kan lebih kelihatan, kata orang- orang juga gitu kok, gak
cuma tanaman aja, bunga potong itu juga lebih murah yang di bawah jadi kalo mau beli
banyak ya mbaknya ke bawah- bawah aja biar murah, tapi kalo satu aja ya di atas-atas aja
daripada capek jalan…”
Letak kios- kios di Pasar Bunga Splendid beraneka ragam, ada yang didepan, ada yang
dibelakang, ada yang di pinggir jalan, bahkan ada yang tidak dapat dijangkau oleh kendaraan
sehingga bila ada pembeli yang ingin mengunjungi toko tersebut, maka pembeli harus berjalan
turun beberapa meter ke dalam pasar.
Pada hari menjelang Natal 2012, penulis melakukan pengamatan mengenai persepsi
“harga di bawah lebih murah dibanding harga di atas” dengan membandingkan jumlah pembeli,
jumlah barang serta harga bunga potong di kios atas dibandingkan dengan di kios bawah, dan
ternyata hal tersebut memang dipersepsikan oleh banyak orang sehingga pembeli lebih memilih
membeli bunga potong di bawah dibanding di atas.
Struktur Kekuasaan Ada Pada Penjual
Hal di bawah merupakan keadaan dimana struktur kekuasaan akan dipegang oleh penjual
karena penjual akan kaku terhadap harga yang ditawarkannya.
1.
Barang yang Dimiliki Penjual Adalah Barang yang Memiliki Harga Tinggi
Bunga baby breath dan bunga Casablanca memiliki harga yang tinggi, baby breath
memiliki harga Rp 150.000 per ikat (1 ons), sedangkan Casablanca memiliki harga Rp 250.000 per
ikat (10 tangkai), kedua jenis bunga ini dijual dalam bentuk bunga potong, menurut beberapa
penjual bunga memiliki harga yang mahal dikarenakan tanamannya yang jarang berbunga dan
memiliki jumlah bunga yang sedikit. Kedua jenis bunga ini jarang diketahui oleh pembeli karena
ada di toko bunga bila ada yang memesannya, hal ini dilakukan agar penjual tidak rugi bila
menyiapkan bunga ini untuk dijual namun tidak laku.
Adanya bunga dengan harga yang mahal ini membuat struktur kekuasaannya berada di
tangan penjual karena penjual sangat jarang menurunkan harga untuk bunga yang tergolong mahal
ini.
2.
Posisi Toko
Seperti yang sudah dibahas pada struktur kekuasaan yang dipegang oleh pembeli pada
pasar bunga bahwa kios atau toko yang ada di Pasar Bunga Splendid terletak di depan dan ada
yang di belakang, setiap toko memiliki inovasi tersendiri untuk menarik pelanggan, ada yang
khusus menerima pembelian hanya berupa bunga rangkaian, ada yang menerima menerima
pembelian bunga dukacita atau ucapan selamat, ada juga yang menjual tanaman hidup yang sudah
dikemas dengan cantik, ada yang menjual tanaman hidup yang masih didalam polybag, dan lain
sebagainya.
Keberadaan posisi toko serta adanya diversifikasi produk inilah yang dapat membawa
struktur kekuasaan dalam hal posisi tawar di Pasar Burung Splendid. Temuan yang didapatkan
penjual adalah ketika kios yang hanya melayani pembelian bunga dalam bentuk buket atau
rangkaian saja didatangi oleh calon pembeli yang akan membeli bunga potong, penjual akan
menolak pembeli tersebut, hal ini dikarenakan penjual merasa sekalipun ia menolak pembeli yang
ingin membeli bunga potong, ia yakin bunga yang hanya dijualnya hanya dalam bentuk rangkaian
atau buket tersebut pasti akan laku oleh pelanggan lainnya. Selain itu posisi kios ini berada di
depan (dipinggir jalan) yang mudah dijangkau oleh kendaraan serta posisi toko tersebut mudah
terlihat oleh pengunjung yang lewat.
Menurut Mbak Ida, harga di kios depan memang lebih murah dibandingkan harga bunga
atau tanaman di kios belakang:
“Iyalah mbak, yang didepan kan lebih kelihatan..”
Penuturan Mbak Ida di atas menjelaskan bahwa adanya posisi kios atau toko ini
merupakan “iklan” atau promosi tersendiri bagi toko yang berada di depan, pengunjung yang tidak
ingin berjalan kaki lebih jauh pasti akan membeli barang di kios depan. Hal ini menyebabkan
posisi tawar pada penjual di kios depan lebih kuat dalam hal tawar menawar, penjual akan lebih
rela “melepas” pembeli yang menawar dengan harga dibawah yang ditawarkannya daripada
“melepas” barang yang dijualnya dengan harga yang murah.
3.
Terdapat banyak pembeli yang ada di kios saat itu.
Temuan terakhir yang ditemukan peneliti dalam observasi struktur kekuasaan yang
dipegang penjual di Pasar Bunga Splendid adalah ketika terdapat banyak pembeli yang ada di kios
tersebut, maka pembeli akan memiliki posisi tawar yang lebih tinggi dibanding penjual pada saat
itu. Hal ini dikarenakan penjual melihat bahwa bila terdapat pembeli yang diberi harga murah oleh
penjual maka pembeli lainnya akan meminta harga yang sama bahkan harga yang lebih rendah lagi
sehingga akan berpotensi mengurangi laba penjual.
Pada saat terdapat banyak pembeli di kios tersebut dan salah satu pembeli menawar harga
yang lebih murah, seringkali penjual menjadikan pembeli sebelumnya sebagai alat “pengangkat”
harganya. Seperti yang dikatakan salah satu penjual yang saat itu sedang melayani pembeli bunga
potong berikut ini:
“Ibu tadi sama kayak mbak minta harga 1500 ya gak tak kasih, wong emang gak dapet
mbak segitu”
Pernyataan penjual bunga ini membuat pembeli menyetujui harga yang ditawarkan oleh
penjual, tidak jarang penjual menggunakan pernyataan yang sama untuk melayani pembeli
selanjutnya yang ingin menawar harga barangnya.
Temuan- temuan di atas baik pada Pasar Burung Splendid maupun Pasar Bunga Splendid
merupakan temuan yang didapat peneliti melalui observasi yang tidak terencana di lapangan,
sehingga memungkinkan masih banyak hal lain yang menyebabkan struktur kekuasaan atau posisi
tawar satu pihak lebih kuat dari pihak lainnya, baik dipihak penjual ataupun di pihak pembeli.
Perilaku Penjual di Pasar Burung Splendid
Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi pembeli untuk mengambil keputusan dalam
memilih toko mana yang akan ia datangi untuk membeli barang beberapa di antaranya adalah
faktor kebutuhan, lingkungan dan lain sebagainya.
Temuan yang ditemukan di Pasar Splendid, salah satu faktor yang mempengaruhi pilihan
pembeli adalah bentuk layanan atau perilaku penjual.Terdapat dua bentuk layanan yang
mempengaruhi pilihan calon pembeli, yaitu bentuk layanan yang dihindari serta bentuk layanan
yang membuat pembeli merasa nyaman untuk berbelanja serta kembali ke toko tersebut.
“Digodain mas-mas”
Temuan di lapangan menunjukkan bahwa perilaku penjual sangat menentukan pilihan
pembeli. Salah satu pembeli yang bernama Mbak Ragil sedang mengunjungi pasar burung
menjadikan perilaku penjual sebagai alasan memilih toko:
“… iya, yang jual baik, kalau di atas suka digodain sama mas- mas yang jualan, jadi
males…”
Pernyataan di atas membuktikan bahwa pembeli tidak mau membeli barang di kios atau
toko yang dijaga oleh penjual dengan perilaku yang membuat calon pembeli merasa tidak
nyaman.Meskipun barang yang dicari ada di toko tersebut atau mungkin harga yang ditawarkan
lebih murah namun pembeli lebih memilih membeli barang di toko dengan penjual yang dianggap
berperilaku baik.
Beberapa penjual pria di Pasar Splendid memang sering menggoda pengunjung wanita
yang lewat di depan kiosnya, penjual melontarkan kata “I love you”, bersiul “suit-suit”,
menyebutkan warna baju pengunjung “baju merah, baju merah”, dan lain-lain. Perilaku tersebut
membuat pembeli merasa tidak nyaman saat mengunjung Pasar Splendid sehingga saat pembeli
datang kembali, ia menghindari toko tersebut .
Konsultasi Pribadi
Sebelumnya telah dibahas mengenai perilaku penjual yang dihindari oleh pembeli,
selanjutnya akan dibahas mengenai perilaku penjual yang membuat pembeli datang kembali ke
kios atau toko yang sama. Hal ini diungkapkan oleh salah satu pengunjung di Pasar Splendid:
“Iyo, sing jual enak dijak ngobrol, lek tanya- tanya tentang ikan gitu masnya seneng ngajari,
jadi iwakku awet sampe manak- manak” (iya, yang jual enak diajak ngobrol, kalau bertanya
tentang ikan masnya (penjual) senang mengajari (cara memelihara ikan), jadi ikan saya
awet hingga beranak)
Penuturan diatas membuktikan kembali bahwa perilaku penjual menentukan pilihan
pembeli dalam memilih toko. Adanya perilaku “berbagi” ilmu dalam memelihara hewan yang
dibeli pembeli membuat pembeli merasa nyaman dan akan kembali ke toko yang sama bila
mengalami kesulitan atau permasalahan dalam memelihara hewan peliharaannya. Sehingga dapat
disimpulkan kenyamanan pembeli memang penting untuk mempertahankan pembeli dan menarik
pelanggan.
Kesimpulan dan saran
Hasil dan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab- bab sebelumnya menghasilkan
beberapa kesimpulan yaitu:
1. Dari hasil temuan peneliti, didapatkan beberapa faktor yang mempengaruhi proses
pembentukan harga di Pasar Burung Splendid, antara lain:
a. Di Pasar Burung Splendid, masing-masing pedagang memiliki perhitungan secara
individu dalam memberikan harga pada barang yang dijualnya, dari temuan ini dapat
disimpulkan bahwa Pasar Burung Splendid termasuk jenis pasar persaingan
monopolistik.
b. Bila dilihat dari keaktifan menawar pembeli, maka pembeli dapat digolongkan
menjadi dua tipe yaitu pembeli yang aktif menawar maupun pembeli yang pasif
menawar. Tertunya bila pembeli aktif menawar, terdapat kemungkinan pembeli
tersebut mendapatkan harga lebih rendah dibandingkan dengan pembeli yang pasif
menawar.
c. Penjual di pasar burung memiliki strategi khusus untuk memikat pembeli yaitu
bundling system dan pemberian bonus.
d. Pedagang di Pasar Burung Splendid wajib membayar karcis atau pajak retribusi.
e. Harga di Pasar Burung Splendid dapat dikatakan sebagai harga yang elastis.
2. Dari hasil temuan peneliti, didapatkan beberapa faktor yang mempengaruhi proses
pembentukan harga di Pasar Bunga Splendid, antara lain:
a. Pedagang di pasar bunga melakukan kerjasama baik dalam penjualan barang
maupun harga jual di pasar bunga.Dari pembentukan harganya dapat dikatakan Pasar
Bunga Splendid mendekati struktur pasar oligopoli dengan persekutuan (collusive
oligopoly), namun dilihat dari jumlah penjualnya, pasar ini mendekati pasar
persaingan monopolistik.
b. Keadaan yang kedua sama dengan pasar burung yaitu bila pembeli aktif menawar,
terdapat kemungkinan pembeli tersebut mendapatkan harga lebih rendah
dibandingkan dengan pembeli yang pasif menawar.
c. Pedagang di Pasar Bunga Splendid juga wajib membayar karcis atau pajak retribusi
setiap hari..
d. Di pasar bunga terdapat hal diluar pasar juga yang mempengaruhi terutama yang
berkaitan dengan tanggal dan hari khusus seperti tanggal 12-12-12 dan hari
valentine, namun harga akan kembali ke harga normal bila tanggal atau hari tersebut
sudah terlewati.
e. Faktor utama yang menjadi kenaikan harga di Pasar Bunga adalah harga tengkulak
dari petani bunga, kenaikan harga ini biasanya disebabkan oleh kenaikan harga
pupuk dan musim atau pergantian cuaca yang membuat jumlah panen lebih sedikit
dari biasanya.
3. Dari hasil temuan peneliti, didapatkan bahwa struktur kekuasaan pada Pasar Burung dan
Pasar Bunga Splendid berada di tangan pembeli karena pembeli dapat memilih dimana
tempat yang akan dipilih untuk membeli barang, dan pembeli memiliki kesempatan untuk
“survey” harga dari satu toko ke toko yang lain (bebas mencari informasi), namun
terdapat beberapa keadaan yang membuat penjual lebih berkuasa terhadap pembeli.
Temuan lain yang didapatkan di lapangan adalah terdapat bentuk layanan yang disukai
pembeli yaitu adanya konsultasi pribadi dari penjual mengenai cara-cara memelihara
hingga mengembangbiakkan hewan peliharaannya, namun terdapat juga bentuk layanan
yang dihindari khususnya dihindari oleh para wanita yaitu “Digodain mas-mas”.
Bahasan mengenai proses pembentukan harga di Pasar Burung dan Pasar Bunga
Splendid sebelumnya masih jarang penelitian yang mengkaji tentang pasar yang ini. Pada
penelitian ini berfokus pada pembentukan harga serta struktur kekuasaan pada penjual
dan pembeli saja. Sebenarnya masih banyak sudut pandang dan sisi lain yang dapat dikaji
pada Pasar Splendid ini seperti alur distribusi barang dari peternak atau petani hingga ke
penjual dipasar, kontrak pedagang dengan pemerintah, kontrak peternak atau petani
dengan penjual, dan lain sebagainya. Diharapkan kepada peneliti selanjutnya yang ingin
mengambil topik serupa dapat menggali kajian lain dari bahasan mengenai Pasar
Splendid ini, sehingga dapat saling melengkapi informasi serta memberikan manfaat yang
lebih baik kepada peneliti selanjutnya maupun kepada pembaca.
Daftar Pustaka
Admin, Profauna. 2012. http://Www.Profauna.Net/Id/Perdagangan-Satwa-Liar/2012/MonitoringPerdagangan-Satwa-Dilindungi-Di-Pasar-Burung-Pada-Bulan-Februari
2012#.Uo2ps1ixsDiakses Pada 9 Januari 2012
Admin.2011.
Pasar
Burung
“Splendid”
Malang;
Tak
Pernah
Sepi
Pengunjung|http://www.Pesonamalangraya.Com/?P=1206.Diakses Pada 26 September
2012
Admin.Kamus
Inggris
Indonesia.Http://Www.Masinosinaga.Com/Id/Kamus/Kamus-InggrisIndonesia/Terjemahan-DariSplendidRepository.Usu.Ac.Id/Bitstream/.../Chapter%20ii.Pdf Diakses Pada 15 Januari
2013
Anonim. Analisa Posisi Tawar Petani Kelapa Sawit Di Kabupaten Labuhan Batu Dan Kabupaten
Serdang Bedagai drepository.usu.ac.id/bitstream/.../Chapter%20II.pdf Diakses Pada 9
Januari 2013
Aprilianto, Fitrian 2012 Analisis Dinamika Transaksi Dan Struktur KekuasaanPada Underground
Economy(Studi Pada Komunitas Pedagang Rombengan Malam Malang). Skripsi.
Buyuang, Syahyuti. 2009. Peran Social Capital dalam Kelembagaan Perdagangan Hasil Pertanian.
http://icnie.org. Diaskses Pada 8 Oktober 2012
Case,
Karl E dan Ray C. Fair. 2007. Prinsip- Prinsip Ekonomi. Edisi 8.Jilid
2.femanajemen.unila.ac.id/.../PrinsipEkonomi%20CaseFair%20Ed8%20Jld2.ppt diakses
pada 19 Februari 2013
Departemen Perdagangan Dalam Negeri 2011, Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 4 Tahun
2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang Tahun 2010 – 2030 Salinan
No. 1/E http:// Jdih.Depdagri.Go.Id/.../Kota_Malang_4_2011.... Diakses Pada 9 Januari
2013
Dharmesta. 2011. Sentra burung Splendid: Biar sering pindah, rezeki tak ikut pergi
(1)http://Peluangusaha.Kontan.Co.Id/News/Sentra-Burung-Splendid-Biar-Sering-PindahRezeki-Tak-Ikut-Pergi-1-1/2011/05/06 Diakses Pada 9 Januari 2013
Edhiwasisto.
2012.
Teori
Pembentukan
Harga
http://edhiwasisto.wordpress.com/2012/10/31/harga-pasar/ diakses pada 26 September
2012
Manzilati, Asfi.2011.Tata Kelola Kelembagaan (Institutional Arrangement) Kontrak Usaha Tani
Dalam Kerangka Persoalan Keagenan (Principal-Agent Problem) Dan Implikasinya
Terhadap Keberlanjutan Usaha Tani (Studi Pada Komoditi Jagung). Disertasi.
Moelong, Lexy J. 2011. Metode Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Munir, Sahibul. 2008. Pengantar Mikroekonomi Struktur Pasar Modul 9. Pusat Pengembangan
Bahan Ajar-UMB
Nugraha, Mahendra 2012 Analisis Fungsi Produksi Dan Kelayakan Bagi Masyarakat Pada Proses
Penentuan Harga Gas Bumi. Skripsi.
Pujiati, Amin. 2011. Menuju Pemikiran Ekonomi Ideal: Tinjauan Filosofis Dan Empiris. Vol. 10
No. 2 : 114-124 http://www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/fe2/article/download/237/174
Diakses pada 26 September 2012
Santosa, Purbayu Budi. 2008. Relevansi Dan Aplikasi Aliran Ekonomi Kelembagaan. Vol. 9 No. 1
: 46 – 60 Www.Jurnal.Pdii.Lipi.Go.Id/Admin/Jurnal/91084660.PdfDiakses Pada 26
September 2012 09:25
Sasongko dan Siswoyo, Bambang. 2004. Teori Ekonomi Mikro. Malang. Cetakan 1: Penerbit
Universitas Negeri Malang.
SBM, Nugroho. 2006. Modernism, Pos Modernism Serta Kritik Terhadap Pos Modernism Dalam
Ilmu
Ekonomi.
Vol.
3
No.
2
:
174183
http://Eprints.Undip.Ac.Id/.../Modernisme,_Pos_Modernisme_Serta_Kritik_...
Diakses
Pada 26 September 2012 10:16
Shinta, 2010. Identifikasi Struktur Pasar Dan Persepsi Pelaku Industri Rumahan Sangkar Burung
Mengenai Kerjasama Dan Persaingan (Studi Kasus Di Desa Kaumrejo Kecamatan
Ngantang Kabupaten Malang). Skripsi.
Soegiharsono.
2011.
Bentuk
Hubungan
Sosial
dan
Pranata
Sosial.
Http://Www.Crayonpedia.Org/Mw/Bentuk_Hubungan_Sosial_Dan_Pranata_Sosial.
Diakses Pada 8 Oktober 2012
Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Cv. Alfabeta.
Yustika, Ahmad Erani. 2008. Ekonomi Kelembagaan Definisi, Teori, Dan Strategi. Malang:
Bayumedia
Yustika, Ahmad. 2006. New Institutional Economics Atau Ekonomi Kelembagaan (Definisi, Teori
Dan Aplikasi). Pada Orasi Ilmiah Ahmad Erani Yustika 4 Januari 2006 Dalam Berita
Jurnal FIA-UB.
Download