MAKALAH KONSEP ASUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA IBU HAMIL DAN LANSIA PROGRAM STUDI TERAPI GIGI PROGRAM SARJANA TERAPAN KELAS RPL SEMESTER 1 TAHUN AKADEMIK 2026-2027 Disusun oleh : Ikhsan Ilham Ramadhan Irmawati Nadhiyatul Putri Ni Luh Putu Lidya Ambarawati Siti Maemanah P27825126260 P27825126221 P27825126207 P27825126217 KEMENTERIAN KESEHATAN R.I POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA JURUSAN KESEHATAN GIGI TAHUN 2026 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, karunia, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul "Konsep Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Ibu Hamil dan Lansia" dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Konsep Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Program Studi Sarjana Terapan Terapi Gigi, Jurusan Kesehatan Gigi, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pemahaman mengenai konsep asuhan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil dan lansia, yang merupakan kelompok dengan kebutuhan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang khusus. Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari segi isi maupun penyajiannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah yang telah memberikan arahan dan bimbingan, serta kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun pembaca serta dapat menambah pengetahuan mengenai pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil dan lansia. Surabaya, 25 Juli 2026 Penyusun i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i BAB I .................................................................................................................................. 1 PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 2 1.3 Tujuan Penulisan....................................................................................................... 2 1.4 Manfaat Penulisan ..................................................................................................... 3 BAB II ................................................................................................................................ 4 PEMBAHASAN ................................................................................................................ 4 2.1 Konsep Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Ibu Hamil .................................... 4 2.1 Konsep Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Lansia .......................................... 9 BAB III............................................................................................................................. 14 PENUTUP ........................................................................................................................ 14 3.1 Kesimpulan ............................................................................................................. 14 3.2 Saran ....................................................................................................................... 14 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 16 ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Rongga mulut yang sehat berperan penting dalam proses mengunyah, berbicara, serta mendukung kualitas hidup seseorang. Sebaliknya, gangguan kesehatan gigi dan mulut dapat menimbulkan rasa nyeri, infeksi, gangguan fungsi pengunyahan, hingga memengaruhi kondisi kesehatan umum. Oleh karena itu, upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut perlu dilakukan secara berkesinambungan pada setiap tahap kehidupan. Ibu hamil dan lansia merupakan kelompok yang memerlukan perhatian khusus dalam pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Pada masa kehamilan terjadi perubahan hormonal yang dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan pada rongga mulut, seperti gingivitis kehamilan, karies gigi, serta pembentukan plak yang lebih mudah. Selain berdampak pada kesehatan ibu, kondisi kesehatan gigi dan mulut yang buruk selama kehamilan juga dapat memengaruhi kesehatan janin apabila tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, pemeriksaan, pemeliharaan, dan edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut selama masa kehamilan menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan ibu. Pedoman Kementerian Kesehatan RI juga menegaskan bahwa pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil merupakan bagian dari upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilakukan secara terpadu di fasilitas pelayanan kesehatan. Di sisi lain, lansia mengalami proses penuaan yang menyebabkan perubahan fisiologis pada rongga mulut, seperti berkurangnya jumlah gigi, meningkatnya kejadian karies, penyakit periodontal, serta menurunnya fungsi pengunyahan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi status gizi, kemampuan berbicara, interaksi sosial, dan kualitas hidup lansia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi kesehatan gigi dan mulut pada lansia di Indonesia masih tergolong kurang baik, ditandai dengan tingginya nilai indeks DMF-T dan masih banyaknya lansia yang memiliki kebersihan rongga mulut yang kurang optimal. 1 Asuhan kesehatan gigi dan mulut merupakan suatu rangkaian pelayanan yang meliputi pengkajian, identifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan intervensi, edukasi, serta evaluasi hasil pelayanan. Penerapan konsep asuhan yang tepat pada ibu hamil dan lansia bertujuan untuk mempertahankan kesehatan rongga mulut, mencegah terjadinya penyakit, meningkatkan pengetahuan, serta memperbaiki kualitas hidup pasien. Selain itu, edukasi kesehatan terbukti mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, termasuk pada kelompok ibu hamil maupun lansia. Berdasarkan uraian tersebut, penulis menyusun makalah ini untuk membahas konsep asuhan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil dan lansia, sehingga dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut pada kedua kelompok tersebut. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan konsep asuhan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil? 2. Bagaimana perubahan dan permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang terjadi pada ibu hamil? 3. Bagaimana konsep asuhan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil? 4. Apa yang dimaksud dengan konsep asuhan kesehatan gigi dan mulut pada lansia? 5. Bagaimana perubahan dan permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang terjadi pada lansia? 6. Bagaimana konsep asuhan kesehatan gigi dan mulut pada lansia? 1.3 Tujuan Penulisan A. Tujuan Umum Mengetahui dan memahami konsep asuhan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil dan lansia. B. Tujuan Khusus 1. Menjelaskan pengertian kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil. 2 2. Menjelaskan perubahan dan masalah kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil. 3. Menjelaskan konsep asuhan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil. 4. Menjelaskan pengertian kesehatan gigi dan mulut pada lansia. 5. Menjelaskan perubahan dan masalah kesehatan gigi dan mulut pada lansia. 6. Menjelaskan konsep asuhan kesehatan gigi dan mulut pada lansia. 1.4 Manfaat Penulisan A. Bagi Mahasiswa Menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep asuhan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil dan lansia sebagai bekal dalam proses pembelajaran maupun praktik pelayanan kesehatan B. Bagi Tenaga Kesehatan Menjadi bahan referensi dalam memberikan pelayanan, edukasi, serta upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif kepada ibu hamil dan lansia sesuai dengan kebutuhan masing-masing C. Bagi Masyarakat Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak masa kehamilan hingga lanjut usia guna meningkatkan kualitas hidup 3 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Ibu Hamil A. Pengertian Ibu Hamil Ibu hamil adalah seorang wanita yang sedang mengandung yang dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Kehamilan adalah waktu transisi, yaitu masa antara kehidupan sebelum memiliki anak yang sekarang berada dalam kandungan dan kehidupan nanti setelah anak itu lahir. Kehamilan dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir, untuk wanita yang sehat kurang lebih 280 hari atau 40 minggu. Biasanya kehamilan dibagi dalam tiga bagian atau trimester untuk masing-masing 13 minggu atau 3 bulan kalender. Dalam kehamilan terjadi perubahanperubahan fi siologis di dalam tubuh, seperti perubahan sistem kardiovaskular, hematologi, respirasi dan endokrin. Kadang-kadang disertai dengan perubahan sikap, keadaan jiwa ataupun tingkah laku. Pada wanita hamil, biasanya dapat terjadi perubahan-perubahan sebagai berikut: 1. Perubahan Fisiologis (Perubahan Normal pada Tubuh) • Penambahan berat badan. • Pembesaran pada payudara. • Bisa terjadi pembengkakan pada tangan dan kaki, terutama pada usia kehamilan trimester III (6-9 bulan). • Perubahan pada kulit karena adanya kelebihan pigmen pada tempat-tempat tertentu (pipi, sekitar hidung, sekitar puting susu dan diatas tulang kemaluan sampai pusar). • Dapat terjadi penurunan pH saliva. 2. Perubahan Psikis (Perubahan yang Berhubungan dengan Kejiwaan) Sering terjadi pada usia kehamilan muda (trimester I atau 0-3 bulan) • Morning sickness (rasa mual dan ingin muntah terutama pada waktu pagi hari). • Rasa lesu, lemas dan terkadang hilang selera makan. 4 • Perubahan tingkah laku diluar kebiasaan sehari-hari seperti “ngidam” dan sebagainya. Keadaan tersebut menyebabkan ibu hamil sering kali mengabaikan kebersihan dirinya, termasuk kebersihan giginya, sehingga kelompok ibu hamil sangat rawan atau peka terhadap penyakit gigi dan mulut. C. Permasalahan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Ibu Hamil Kehamilan menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh dan termasuk juga di rongga mulut. Hal ini terutama terlihat pada gusi berupa pembesaran gusi akibat perubahan pada sistem hormonal dan vaskular 9 bersamaan dengan faktor iritasi lokal dalam rongga mulut. Selama kehamilan, seorang ibu dapat mengalami beberapa gangguan pada rongga mulutnya yang dapat disebabkan oleh perubahan hormonal atau karena kelalaian perawatan gigi dan mulutnya. Ada beberapa hal dalam kesehatan gigi dan mulut yang perlu mendapat perhatian selama masa kehamilan, antara lain: a. Trimester I (masa kehamilan 0 – 3 bulan) Pada saat ini ibu hamil biasanya merasa lesu, mual dan kadangkadang sampai muntah. Lesu, mual atau muntah ini menyebabkan terjadinya peningkatan suasana asam dalam mulut. Adanya peningkatan plak karena malas memelihara kebersihan, akan mempercepat terjadinya kerusakan gigi. Beberapa cara pencegahannya: - Pada waktu mual hindari menghisap permen atau mengulum permen terus-menerus, karena hal ini dapat memperparah kerusakan gigi yang telah ada. - Apabila ibu hamil mengalami muntah-muntah hendaknya setelah itu mulut dibersihkan dengan berkumur menggunakan larutan soda kue (sodium bicarbonate) dan menyikat gigi setelah 1 jam. - Hindari minum obat anti muntah, obat dan jamu penghilang rasa sakit tanpa persetujuan dokter, karena ada beberapa obat yang dapat menyebabkan cacat bawaan seperti celah bibir. Penyedia pelayanan 5 kebidanan dapat menyarankan solusi untuk mengurangi kerusakan gigipada ibu hamil yang sering mengalami mual dan muntah : • Makan dalam jumlah kecil makanan bergizi sepanjang hari. • Kumur dengan secangkir air ditambah satu sendok teh soda kue (sodium bicarbonate) setelah muntah untuk menetralisir asam. • Mengunyah permen karet tanpa gula yang mengandung xylitol setelah makan. • Gunakan sikat gigi berbulu lembut dan pasta gigi yang mengandung fluor untuk mencegah kerusakan permukaan gigi. b. Trimester II (masa kehamilan 4 – 6 bulan) Pada masa ini, ibu hamil kadang-kadang masih merasakan hal yang sama seperti pada trimester I kehamilan. Karena itu tetap harus diperhatikan aspek-aspek yang dijelaskan diatas. Selain itu, pada masa ini biasanya merupakan saat terjadinya perubahan hormonal dan faktor lokal (plak) dapat menimbulkan kelainan dalam rongga mulut, antara lain: - Peradangan pada gusi, warnanya kemerah-merahan dan mudah berdarah terutama pada waktu menyikat gigi. Bila timbul pembengkakan maka dapat disertai dengan rasa sakit. - Timbulnya benjolan pada gusi antara 2 gigi yang disebut Epulis Gravidarum, terutama pada sisi yang berhadapan dengan pipi. Pada keadaan ini, warna gusi menjadi merah keunguan sampai kebiruan, mudah berdarah dan gigi terasa goyang. Benjolan ini dapat membesar hingga menutupi gigi. c. Trimester III (masa kehamilan 7 – 9 bulan) Benjolan pada gusi antara 2 gigi (Epulis Gravidarum) diatas mencapai puncaknya pada bulan ketujuh atau kedelapan. Meskipun keadaan ini akan hilang dengan sendirinya setelah melahirkan, kesehatan gigi dan mulut tetap harus dipelihara. Setelah persalinan hendaknya ibu hamil tetap memelihara dan memperhatikan kesehatan rongga mulut, baik untuk ibunya sendiri maupun bayinya. 6 C. Konsep Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Ibu Hamil 1. Pengkajian (Assessment) Pengkajian bertujuan mengidentifikasi kondisi kesehatan gigi dan mulut lansia secara menyeluruh. a. Anamnesis o Identitas pasien (usia, jenis kelamin, pekerjaan, alamat). o Keluhan utama, misalnya gusi bengkak dan berdarah, sariawan atau bau mulut. o Riwayat kesehatan umum, seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung , anemila dll. o Riwayat kesehatan gigi dan mulut, termasuk kebiasaan menyikat gigi, serta kunjungan ke dokter gigi. o Pola makan b. Pemeriksaan Klinis o Kondisi jaringan lunak (bibir, lidah, mukosa, gingiva). o Kondisi gigi (karies, gigi hilang, gigi goyang, abrasi, erosi). o Status periodontal (radang gusi, perdarahan, poket periodontal). o Kebersihan mulut (plak, kalkulus). o Produksi saliva (xerostomia atau mulut kering). o Evaluasi kondisi dan kebersihan gigi 2. Diagnosis Keperawatan/Kesehatan Gigi Diagnosis dibuat berdasarkan hasil pengkajian. Contoh diagnosis: o Kebersihan rongga mulut tidak efektif penurunan kemampuan perawatan diri. berhubungan dengan o Risiko kerusakan jaringan periodontal akumulasi plak dan kalkulus. berhubungan dengan o Nyeri akut berhubungan dengan kondisi gusi o Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan fungsi mengunyah 7 o Risiko infeksi rongga mulut berhubungan dengan kebersihan mulut yang buruk. 3. Intervensi Intervensi bertujuan mengatasi masalah kesehatan gigi dan mulut yang ditemukan. a. Intervensi promotif o Mendorong kebiasaan menyikat gigi minimal dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluor. o Menganjurkan penggunaan benang gigi atau sikat interdental bila memungkinkan. o Meningkatkan konsumsi makanan bergizi seimbang. b. Intervensi preventif o Membersihkan plak kewenangan tenaga kesehatan. o Aplikasi fluor bila diperlukan. o Pemeriksaan kesehatan gigi secara berkala sesuai anjuran dari poli kandungan dan kalkulus sesuai c. Intervensi kuratif o Merujuk untuk perawatan karies, pencabutan gigi yang tidak dapat dipertahankan, atau terapi periodontal. o Penatalaksanaan xerostomia dengan meningkatkan asupan cairan, penggunaan saliva buatan, atau permen karet bebas gula sesuai indikasi. o Perawatan dan penyesuaian gigi tiruan bila diperlukan. d. Intervensi rehabilitatif o Membantu pemulihan fungsi pengunyahan 4. Edukasi Pendidikan kesehatan diberikan kepada ibu hamil agar mampu menjaga kesehatan gigi dan mulut : Materi edukasi meliputi: o Cara menyikat gigi yang benar. 8 o Pentingnya membersihkan lidah dan sela-sela gigi. o Mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula. o Pentingnya kontrol rutin ke dokter gigi setelah kontrol di Poli kandungan o Mengenali tanda-tanda penyakit mulut, seperti gusi berdarah, sariawan yang tidak sembuh, nyeri, atau benjolan di rongga mulut. 5. Evaluasi Evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan asuhan yang telah diberikan. Indikator keberhasilan antara lain: o Kebersihan dan kesehatan rongga mulut meningkat (plak dan kalkulus berkurang, sariawan tidak ada). o Tidak terdapat nyeri atau keluhan pada gigi dan mulut. o Gusi tampak sehat, tidak bengkak atau berdarah. o Ibu hamil mampu melakukan perawatan gigi dan mulut secara mandiri atau dengan bantuan keluarga. o Fungsi mengunyah membaik. o Ibu hamil mematuhi jadwal kontrol kesehatan gigi dan mulut. o Tidak terjadi komplikasi seperti infeksi akibat kondisi gusi 2.1 Konsep Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Lansia A. Pengertian Lansia Lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun atau lebih, yang mengalami proses penuaan secara alami sehingga terjadi penurunan fungsi biologis, psikologis, dan sosial. Proses penuaan tersebut juga memengaruhi kondisi rongga mulut, seperti meningkatnya risiko kehilangan gigi, penyakit periodontal, karies, penurunan produksi saliva, serta berkurangnya kemampuan mengunyah. Oleh karena itu, lansia memerlukan perhatian khusus dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut agar kualitas hidup tetap terjaga. B. Permasalahan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Lansia b. Kehilangan gigi (edentulisme) 9 Kehilangan gigi merupakan masalah yang paling banyak ditemukan pada lansia. Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan mengunyah, berbicara, status gizi, dan kualitas hidup secara keseluruhan c. Penyakit Periodontal Penyakit periodontal masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang banyak dialami lansia. Apabila tidak ditangani, penyakit ini dapat mempercepat kehilangan gigi dan memperburuk fungsi rongga mulut d. Jumlah gigi berfungsi yang rendah Menjelaskan bahwa sebagian besar lansia memiliki jumlah gigi berfungsi kurang dari 20 gigi, padahal WHO menganjurkan minimal 20 gigi berfungsi agar kemampuan mengunyah tetap optimal e. Rendahnya pengetahuan kesehatan gigi dan mulut Mayoritas lansia memiliki tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut yang rendah, sehingga kurang memahami fungsi gigi, cara merawat gigi, serta dampak kehilangan gigi terhadap kesehatan umum. Kondisi ini memengaruhi perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut C. Konsep Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Lansia Asuhan kesehatan gigi dan mulut pada lansia merupakan proses pelayanan yang sistematis untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan rongga mulut, mencegah penyakit, serta meningkatkan asuhan meliputi kualitas pengkajian, hidup lansia. diagnosis, intervensi, Tahapan edukasi, dan evaluasi. 1. Pengkajian (Assessment) Pengkajian bertujuan mengidentifikasi kondisi kesehatan gigi dan mulut lansia secara menyeluruh. a. Anamnesis o Identitas pasien (usia, jenis kelamin, pekerjaan, alamat). o Keluhan utama, misalnya gigi goyang, nyeri gigi, mulut kering, sulit mengunyah, atau bau mulut. o Riwayat kesehatan umum, seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, osteoporosis, dan penggunaan obat-obatan. 10 o Riwayat kesehatan gigi dan mulut, termasuk kebiasaan menyikat gigi, penggunaan gigi tiruan, serta kunjungan ke dokter gigi. o Pola makan, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol. b. Pemeriksaan Klinis o Kondisi jaringan lunak (bibir, lidah, mukosa, gingiva). o Kondisi gigi (karies, gigi hilang, gigi goyang, abrasi, erosi). o Status periodontal (radang gusi, perdarahan, poket periodontal). o Kebersihan mulut (plak, kalkulus). o Produksi saliva (xerostomia atau mulut kering). o Pemeriksaan fungsi mengunyah dan berbicara. o Evaluasi kondisi dan kebersihan gigi tiruan bila digunakan. 2. Diagnosis Keperawatan/Kesehatan Gigi Diagnosis dibuat berdasarkan hasil pengkajian. Contoh diagnosis: o Kebersihan rongga mulut tidak efektif berhubungan dengan penurunan kemampuan perawatan diri. o Risiko kerusakan jaringan periodontal berhubungan dengan akumulasi plak dan kalkulus. o Nyeri akut berhubungan dengan karies atau penyakit periodontal. o Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan fungsi mengunyah. o Risiko infeksi rongga mulut berhubungan dengan kebersihan mulut yang buruk. 3. Intervensi Intervensi bertujuan mengatasi masalah kesehatan gigi dan mulut yang ditemukan. e. Intervensi promotif 11 o Mendorong kebiasaan menyikat gigi minimal dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluor. o Menganjurkan penggunaan benang gigi atau sikat interdental bila memungkinkan. o Meningkatkan konsumsi makanan bergizi seimbang. f. Intervensi preventif o Membersihkan plak dan kalkulus sesuai kewenangan tenaga kesehatan. o Aplikasi fluor bila diperlukan. o Pemeriksaan kesehatan gigi secara berkala setiap 6 bulan. g. Intervensi kuratif o Merujuk untuk perawatan karies, pencabutan gigi yang tidak dapat dipertahankan, atau terapi periodontal. o Penatalaksanaan xerostomia dengan meningkatkan asupan cairan, penggunaan saliva buatan, atau permen karet bebas gula sesuai indikasi. o Perawatan dan penyesuaian gigi tiruan bila diperlukan. h. Intervensi rehabilitatif o Membantu pemulihan fungsi pengunyahan melalui penggunaan gigi tiruan yang sesuai. o Melatih lansia dalam penggunaan dan perawatan gigi tiruan. 4. Edukasi Pendidikan kesehatan diberikan kepada lansia dan keluarganya agar mampu menjaga kesehatan gigi dan mulut secara mandiri. Materi edukasi meliputi: o Cara menyikat gigi yang benar. o Pentingnya membersihkan lidah dan sela-sela gigi. 12 o Cara membersihkan gigi tiruan setiap hari dan melepasnya saat tidur. o Mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula. o Menghentikan kebiasaan merokok. o Pentingnya kontrol rutin ke dokter gigi setiap enam bulan atau sesuai kebutuhan. o Mengenali tanda-tanda penyakit mulut, seperti gusi berdarah, sariawan yang tidak sembuh, nyeri, atau benjolan di rongga mulut. 5. Evaluasi Evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan asuhan yang telah diberikan. Indikator keberhasilan antara lain: o Kebersihan rongga mulut meningkat (plak dan kalkulus berkurang). o Tidak terdapat nyeri atau keluhan pada gigi dan mulut. o Gusi tampak sehat, tidak bengkak atau berdarah. o Lansia mampu melakukan perawatan gigi dan mulut secara mandiri atau dengan bantuan keluarga. o Fungsi mengunyah dan berbicara membaik. o Lansia mematuhi jadwal kontrol kesehatan gigi dan mulut. o Tidak terjadi komplikasi seperti lebih lanjut. 13 infeksi atau kehilangan gigi BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan umum yang harus dipelihara pada setiap tahap kehidupan, terutama pada kelompok ibu hamil dan lansia yang memiliki karakteristik serta kebutuhan pelayanan kesehatan yang berbeda. Selama kehamilan terjadi perubahan hormonal yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan gigi dan mulut, seperti gingivitis kehamilan, karies, dan pembentukan plak. Oleh karena itu, ibu hamil memerlukan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut melalui pemeriksaan rutin, penerapan kebersihan rongga mulut yang baik, serta edukasi yang berkesinambungan. Pada lansia, proses penuaan menyebabkan berbagai perubahan pada rongga mulut, seperti kehilangan gigi, penyakit periodontal, penurunan produksi saliva, serta berkurangnya kemampuan mengunyah. Kondisi tersebut dapat memengaruhi status gizi, kesehatan umum, dan kualitas hidup sehingga memerlukan perhatian khusus dalam pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Konsep asuhan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil maupun lansia dilaksanakan melalui tahapan yang sistematis, yaitu pengkajian, penetapan diagnosis, perencanaan dan pelaksanaan intervensi, edukasi kesehatan, serta evaluasi. Penerapan asuhan yang tepat diharapkan mampu meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut, mencegah terjadinya komplikasi, meningkatkan pengetahuan pasien, serta mendukung tercapainya kualitas hidup yang lebih baik 3.2 Saran 1. Ibu hamil dan lansia diharapkan lebih memperhatikan kebersihan gigi dan mulut dengan menyikat gigi secara benar, menjaga pola makan yang sehat, 14 serta melakukan pemeriksaan gigi secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan. 2. Tenaga kesehatan, khususnya terapis gigi dan mulut, diharapkan terus meningkatkan upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif melalui pelayanan yang komprehensif serta edukasi kesehatan gigi dan mulut kepada ibu hamil dan lansia. 3. Institusi pendidikan diharapkan terus meningkatkan pembelajaran mengenai konsep asuhan kesehatan gigi dan mulut sehingga mahasiswa memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam memberikan pelayanan kepada kelompok rentan, khususnya ibu hamil dan lansia. 4. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan sebagai bahan perbaikan dan penyempurnaan makalah di masa mendatang. 15 DAFTAR PUSTAKA Akbar, F., Darmiati, D., Arfan, F., & Putri, A. A. Z. (2021). Pelatihan dan Pendampingan Kader Posyandu Lansia di Kecamatan Wonomulyo. Jurnal Abdidas, 2(2), 392–397. https://doi.org/10.31004/abdidas.v2i2.282 Anggraini, R., & Andreas Peter. (2015). Kesehatan Gigi Mulut dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi Mulut pada Ibu Hamil (Studi Pendahuluan di Wilayah Puskesmas Serpong, Tangerang Selatan). Arifin, A., Dosen, S., Keperawatan, J., & Poltekkes Denpasar, G. (2025). GIGI LANSIA. Auli, I., Mulyanti, S., Insanuddin, I., Supriyanto, I., & Studi Diploma Tiga Kesehatan Gigi Jurusan Keperawatan Gigi Politeknik Kesehatan Bandung, P. (2020). MULUT PADA LANSIA DI BEBERAPA KOTA INDONESIA. In JURNAL KESEHATAN SILIWANGI No (Vol. 1). http://juriskes.com79 Komang Ayu Purnama Dewi, Bambang Hadi Sugito, Siti Fitria Ulfah, & Sunomo Hadi. (2026). Hubungan Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Jumlah Gigi Berfungsi pada Lansia (Studi di Sekolah Lansia Tangguh, Kelurahan Mojo, Surabaya). Jurnal Ilmu Psikologi Dan Kesehatan (SIKONTAN), 5(1), 34–45. https://doi.org/10.47353/sikontan.v5i1.4837 Kusniati, R., Tiyas Anggraini, M., Nikmaturrizqi, N., Rizky Sofiatun, K., Daffa Yulianto, C., & Fawwaz Alhakim, H. (2023). Edukasi dan Pemeriksaan Kesehatan Gigi-Mulut Pada Ibu Hamil. Jurnal Inovasi Dan Pengabdian Masyarakat Indonesia, 2(3). https://jurnalnew.unimus.ac.id/index.php/jipmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Pedoman pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut ibu hamil dan anak usia balita bagi tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. 16