Uploaded by common.user153170

Tugas Keamanan Sistem Informasi

advertisement
Tugas Bimbingan Khusus
Mata Kuliah : Keamanan Sistem Informasi
Keamanan sistem informasi merupakan bagian penting dari penggunaan
teknologi karena hampir seluruh aktivitas modern bergantung pada komputer,
jaringan, aplikasi, dan data. Sistem digunakan untuk berkomunikasi, menyimpan
dokumen, melakukan transaksi, mendukung kegiatan pendidikan, menjalankan
layanan organisasi, hingga mengendalikan berbagai proses yang berdampak pada
kehidupan sehari-hari. Karena itu, masalah keamanan tidak lagi hanya berkaitan
dengan menjaga perangkat secara fisik, tetapi juga menjaga informasi dan layanan
agar tetap aman.
Perubahan teknologi membuat nilai sebuah organisasi semakin banyak berada
pada aset digital. Data pelanggan, dokumen perusahaan, kode program, foto, email,
catatan akademik, sampai informasi keuangan dapat memiliki nilai yang tinggi.
Bahkan perangkat keras yang secara fisik dapat diganti belum tentu memiliki nilai
sebesar data yang ada di dalamnya, karena sebagian data mungkin tidak dapat
dibuat ulang. Oleh sebab itu, keamanan sistem informasi perlu dipahami sebagai
bagian dari pengelolaan aset, bukan sekadar pekerjaan teknis bagian teknologi
informasi.
Secara umum, pembahasan keamanan sistem informasi dapat dilihat dari
beberapa lapisan: perlindungan aset, pengenalan ancaman dan kerentanan,
pengendalian akses, perlindungan komunikasi dan jaringan, pengamanan basis
data, perlindungan privasi, serta penggunaan kriptografi.
A. Konsep Dasar Keamanan Sistem Informasi
Keamanan komputer pada dasarnya dirancang untuk melindungi komputer
dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, termasuk perangkat kerja,
printer, kabel, media penyimpanan, program, dan terutama informasi.
Perlindungan tidak hanya diarahkan kepada penyusup dari luar. Bahaya dari
dalam juga penting, misalnya berbagi kata sandi, tidak melakukan
pencadangan, salah menghapus data, atau melakukan kesalahan dalam
penggunaan perangkat. Karena itu, langkah pertama dalam keamanan adalah
mengenali apa saja yang dianggap sebagai aset dan seberapa besar nilainya.
1. Aset dan nilai aset
Aset adalah data, perangkat, atau komponen sistem yang memiliki nilai
bagi organisasi atau pengguna. sumber membagi aset secara sederhana
ke dalam perangkat keras, perangkat lunak, dan data. Perangkat keras
meliputi komputer, perangkat penyimpanan, printer, serta peralatan
jaringan. Perangkat lunak mencakup sistem operasi, antivirus, aplikasi,
dan program yang dibuat sendiri. Data mencakup dokumen, foto, video,
email, pekerjaan kuliah, maupun informasi lain yang tersimpan.
Nilai aset tidak selalu sama dengan harga belinya. Nilai dapat
ditentukan oleh pentingnya informasi, biaya penggantian, kelangkaan
salinan, serta waktu. Sebuah file yang dapat diperoleh kembali dengan
mudah mungkin nilainya biasa saja, sedangkan data yang tidak
memiliki salinan lain dapat menjadi sangat berharga. Nilai juga dapat
berubah menurut waktu; misalnya informasi tentang produk baru
mungkin sangat sensitif sebelum dipasarkan, kemudian nilainya
menurun setelah produk dirilis.
2. Kerentanan, ancaman, dan kontrol
Kerangka dasar yang digunakan adalah hubungan antara vulnerability,
threat, dan control. Kerentanan adalah kelemahan pada prosedur,
desain, atau implementasi sistem yang dapat dieksploitasi. Ancaman
adalah keadaan atau peristiwa yang berpotensi menyebabkan kerugian.
Kontrol atau penanggulangan adalah tindakan, perangkat, prosedur,
atau teknik yang digunakan untuk menghilangkan atau mengurangi
kerentanan. Hubungan ketiganya membantu kita berpikir secara
terstruktur: aset apa yang bernilai, ancaman apa yang mungkin terjadi,
celah apa yang dapat dimanfaatkan, dan kontrol apa yang tersedia.
B. Ancaman dan Triad Keamanan C-I-A
Ancaman dapat berupa peristiwa yang mengurangi nilai aset, misalnya
data hilang, sistem rusak, layanan tidak tersedia, atau informasi diakses oleh
pihak yang tidak berwenang. sumber membedakan ancaman yang disengaja
dan tidak disengaja. Serangan kriminal, pencurian informasi, serta tindakan
orang dalam yang berniat buruk termasuk ancaman disengaja. Sementara itu,
kesalahan pengguna, kegagalan teknis, kebakaran, banjir, dan gangguan
lingkungan dapat menjadi ancaman yang tidak disengaja.
1. Confidentiality, Integrity, dan Availability
Tiga sifat keamanan yang paling mendasar dikenal sebagai triad C-I-A:
confidentiality (kerahasiaan), integrity (integritas), dan availability
(ketersediaan). Ketiganya menjadi dasar dalam menentukan kebijakan
keamanan informasi.
Aspek
Makna
Informasi
Contoh
hanya
Data
nilai
Confidentiality / dapat
dilihat
atau mahasiswa, transaksi,
Kerahasiaan
oleh
pihak catatan medis, rencana
diakses
yang berwenang.
Data tetap akurat,
Integrity /
Integritas
hanya diubah melalui otorisasi;
Aset dan layanan
Ketersediaan
Nilai yang tidak
konsisten, utuh, dan boleh berubah tanpa
cara yang sah.
Availability /
produk.
dokumen
tidak dimanipulasi.
Sistem akademik
dapat digunakan oleh tetap
dapat
diakses
pihak berwenang saat saat masa pengisian
diperlukan.
KRS atau ujian.
Kerahasiaan berarti data tidak terbuka kepada orang yang tidak
berwenang. Integritas berhubungan dengan keutuhan dan kebenaran
data, termasuk pencegahan perubahan oleh pihak yang tidak
semestinya. Ketersediaan berarti data atau layanan dapat digunakan
tepat waktu dengan kapasitas dan kinerja yang memadai. Buku juga
menyebut otentikasi, nonrepudiation, dan audit sebagai properti
tambahan yang penting terutama dalam komunikasi dan jaringan.
2. Cara gangguan terjadi
Gangguan keamanan dapat dipahami melalui empat tindakan:
intersepsi, interupsi, modifikasi, dan fabrikasi. Intersepsi berkaitan
dengan penyadapan atau memperoleh informasi tanpa izin. Interupsi
membuat layanan atau akses menjadi terganggu. Modifikasi mengubah
data asli. Fabrikasi membuat data atau pesan yang seolah-olah benar
padahal
sebenarnya
palsu.
Cara
pandang
ini
membantu
menghubungkan jenis serangan dengan sifat keamanan yang dilanggar.
C. Otentikasi dan Kontrol Akses
Otentikasi adalah proses memastikan atau mengonfirmasi identitas
pengguna. Dalam lingkungan digital, sistem tidak dapat melihat pengguna
secara langsung seperti dalam interaksi tatap muka, sehingga diperlukan
mekanisme yang mampu membedakan pihak yang sah dan pihak yang tidak
sah. otentikasi sebagai salah satu garis depan perlindungan sistem karena
kontrol akses tidak akan berjalan dengan baik apabila sistem tidak dapat
mengenali siapa penggunanya.
1. Tiga dasar otentikasi
a) Sesuatu yang diketahui, misalnya kata sandi, PIN, atau jawaban
rahasia. Mekanisme ini umum dan mudah diterapkan, tetapi
dapat diserang apabila informasi rahasia diketahui orang lain.
b) Sesuatu yang dimiliki, misalnya token, kartu, atau perangkat
tertentu. Pengguna harus membuktikan bahwa ia memegang
benda yang menjadi authenticator.
c) Sesuatu yang menjadi karakteristik pengguna, seperti biometrik.
Contohnya sidik jari atau karakteristik fisik yang dapat
digunakan untuk mengenali seseorang.
Autentikasi multifaktor, yaitu penggabungan lebih dari satu jenis
authenticator. Tujuannya adalah menambah lapisan perlindungan
sehingga kegagalan satu mekanisme tidak langsung memberikan akses
penuh kepada penyerang. Namun, kekuatan sistem tidak hanya
ditentukan oleh metode yang dipilih; penerapan, pengelolaan
kredensial, dan proses verifikasi juga sangat menentukan.
2. Kontrol akses
Setelah identitas pengguna diketahui, langkah berikutnya adalah
menentukan apa yang boleh dilakukan pengguna tersebut. Inilah fungsi
kontrol akses. Sistem mengatur subjek yang melakukan tindakan, objek
yang dilindungi, mode akses seperti membaca, menulis, atau
mengeksekusi, serta kebijakan otorisasi. Dengan cara ini, seseorang
dapat diberi akses yang sesuai dengan tugasnya tanpa otomatis
memperoleh seluruh hak dalam sistem. Bentuk kontrol akses yang
dibahas antara lain kebijakan akses, kemampuan atau capability,
pengendalian berbasis prosedur, dan Role Based Access Control
(RBAC). RBAC menghubungkan hak akses dengan peran pengguna.
Pendekatan ini bermanfaat pada organisasi karena hak dapat diberikan
berdasarkan pekerjaan, kemudian diperbarui ketika peran berubah.
3. Prinsip hak istimewa minimum
Gagasan yang berulang dalam keamanan sistem adalah memberikan
hak seperlunya. Semakin luas hak yang dimiliki sebuah akun atau
proses, semakin besar pula dampak yang mungkin terjadi jika akun
tersebut disalahgunakan. Karena itu, kontrol akses yang baik perlu
membatasi akses sesuai kebutuhan tugas dan melakukan peninjauan
secara berkala.
D. Kriptografi sebagai Perlindungan Informasi
Kriptografi adalah penggunaan konsep matematika dan algoritma untuk
mengubah informasi menjadi bentuk yang sulit dipahami tanpa mekanisme
yang tepat. kriptografi digunakan untuk melindungi kerahasiaan, membantu
menjaga keaslian dan integritas, serta mendukung komunikasi aman.
Kriptografi bukan sekadar membuat pesan menjadi “acak”, tetapi merupakan
bagian dari rancangan keamanan yang lebih luas.
1. Enkripsi Simetris
Pada enkripsi simetris, proses enkripsi dan dekripsi menggunakan kunci
rahasia yang sama atau berkaitan secara langsung. Keunggulannya
adalah proses relatif efisien sehingga cocok untuk melindungi data
dalam jumlah besar. DES dan AES sebagai contoh algoritma enkripsi
simetris, serta beberapa algoritma lain seperti RC2, RC4, RC5, dan
RC6. Dalam praktik keamanan modern, pemilihan algoritma dan
pengelolaan kunci sama pentingnya dengan teknik enkripsinya.
2. Enkripsi Asimetris
Enkripsi asimetris menggunakan pasangan kunci yang berbeda, yaitu
kunci publik dan kunci privat. Konsep ini membantu menyelesaikan
masalah distribusi kunci dan mendukung komunikasi aman di jaringan.
RSA merupakan salah satu contoh algoritma yang dibahas. Kunci
publik dapat dibagikan, sedangkan kunci privat harus dijaga oleh
pemiliknya.
3. Hash dan Message Digest
Fungsi hash menghasilkan representasi ringkas dari suatu data. Dalam
pembahasan keamanan, hash berguna untuk membantu mendeteksi
perubahan isi data karena perubahan kecil pada masukan dapat
menghasilkan keluaran hash yang berbeda.
4. Tanda tangan digital dan sertifikat
Tanda tangan digital digunakan untuk membantu memastikan
keaslian pesan atau dokumen sekaligus mendukung integritas dan
nonrepudiation. Sertifikat berfungsi menghubungkan identitas yang
dipercaya dengan kunci publik. Dalam komunikasi melalui jaringan,
mekanisme ini membantu pengguna membedakan layanan yang benar
dari pihak yang hanya menyamar.
E. Keamanan Jaringan Komputer
Jaringan komputer memperluas manfaat sistem informasi sekaligus
memperluas permukaan serangan. Data harus berpindah dari satu perangkat ke
perangkat lain melalui berbagai media dan protokol. Karena itu, keamanan
jaringan tidak hanya berkaitan dengan komputer akhir, tetapi juga komunikasi,
pengalamatan, routing, perangkat jaringan, dan layanan yang berjalan di
atasnya.
1. Kerentanan komunikasi jaringan
Bentuk gangguan komunikasi, seperti intersepsi atau eavesdropping,
modifikasi dan fabrikasi data, serta interupsi layanan. Pemindaian port
juga dibahas sebagai aktivitas yang dapat digunakan untuk mencari
layanan yang terbuka sebelum serangan dilanjutkan. Jaringan nirkabel
memiliki perhatian khusus karena sinyal dipancarkan melalui udara,
sehingga konfigurasi keamanan dan protokol yang digunakan menjadi
sangat penting.
2. DoS dan DDoS
Denial of Service (DoS) merupakan gangguan yang bertujuan membuat
suatu layanan tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Salah satu
caranya adalah membebani sumber daya server dengan permintaan
dalam jumlah besar. DDoS memperluas konsep tersebut dengan
melibatkan banyak sumber sekaligus. Dampaknya terutama berkaitan
dengan ketersediaan, tetapi gangguan layanan juga dapat menimbulkan
dampak bisnis, operasional, dan reputasi.
3. Kriptografi dalam jaringan
Untuk melindungi komunikasi, jaringan dapat menggunakan enkripsi
jaringan, enkripsi pada browser, IPsec, dan Virtual Private Network
(VPN). Tujuannya adalah mengurangi risiko saat data bergerak dari satu
titik ke titik lain. Perlindungan komunikasi perlu dipadukan dengan
autentikasi dan kontrol akses agar pihak yang berkomunikasi dapat
dikenali dan hak aksesnya tetap terkontrol.
4. Arsitektur jaringan dan pemodelan
Materi jaringan juga mengaitkan keamanan dengan konsep berlapis
seperti model OSI. Setiap lapisan memiliki fungsi berbeda dalam proses
komunikasi, sehingga masalah keamanan dapat muncul pada bagian
yang berbeda pula. Pendekatan berlapis membantu administrator
memahami bahwa tidak ada satu alat yang bisa menyelesaikan seluruh
persoalan keamanan jaringan.
Secara keseluruhan, keamanan jaringan membutuhkan kombinasi teknologi,
kebijakan,
dan
praktik
pengelolaan.
Sistem
yang
aman
perlu
mempertimbangkan ancaman yang mungkin datang, layanan apa yang harus
tersedia, serta bagaimana memulihkan sistem ketika terjadi gangguan.
F. Firewall, IDS, dan Manajemen Keamanan Jaringan Firewall
Firewall merupakan mekanisme pengendalian lalu lintas yang digunakan
untuk membantu memisahkan jaringan atau host yang dipercaya dari lalu lintas
yang tidak diinginkan. jenis firewall dapat berbeda sesuai dengan ancaman
yang ingin dihadapi. Firewall sebaiknya dibuat dengan prinsip minimalis, yaitu
menyediakan hanya fungsi yang benar-benar diperlukan agar peluang
penyalahgunaan juga dapat dikurangi.
Pemilihan aturan firewall harus disesuaikan dengan kebutuhan layanan.
Misalnya, jika sebuah layanan memang tidak diperlukan dari jaringan luar,
aksesnya dapat dibatasi. Dengan demikian, firewall bukan sekadar alat untuk
memblokir lalu lintas, melainkan bagian dari kebijakan keamanan yang
menerjemahkan kebutuhan organisasi menjadi aturan teknis.
1. Intrusion Detection System (IDS) dan pencegahan intrusi
IDS berfungsi membantu mendeteksi aktivitas yang diduga merupakan
penyusupan atau pelanggaran kebijakan. Sistem ini menghasilkan
informasi yang dapat digunakan untuk investigasi dan respons insiden.
2. Network management dan SIEM
Manajemen keamanan jaringan tidak berhenti pada pemasangan alat.
Administrasi, pemantauan, pencatatan log, pembaruan sistem,
peninjauan aturan, dan respons insiden merupakan bagian yang sama
pentingnya. Buku membahas Security Information and Event
Management (SIEM) sebagai pendekatan untuk mengumpulkan dan
mengolah informasi keamanan dari berbagai sumber. Lingkungan ini
dapat menghasilkan banyak data sehingga membutuhkan proses
pemantauan, analisis, dan tenaga yang memahami konteks sistem.
3. Respons terhadap gangguan
Ketika insiden terjadi, organisasi perlu mengetahui apa yang harus
dilakukan: mengenali gangguan, membatasi dampak, memulihkan
layanan, dan mengevaluasi penyebab. Pendekatan seperti ini sejalan
dengan konsep kontrol sebagai upaya mengurangi kerugian, bukan
sekadar menutup satu celah teknis.
G. Keamanan Database, Data Mining, dan Big Data
Database merupakan aset penting karena menyimpan informasi terstruktur
yang mendukung proses bisnis dan organisasi. Buku mendefinisikan basis data
sebagai kumpulan informasi yang disimpan secara sistematis dan dikelola
menggunakan Database Management System (DBMS). Karena database sering
berisi data penting atau sensitif, aspek keamanan harus menjadi bagian dari
desain dan pengelolaannya.
1. Keamanan database
Persyaratan keamanan database tetap terkait dengan triad C-I-A.
Kerahasiaan memastikan hanya pihak yang berwenang dapat melihat
data. Integritas menjaga agar isi data tetap akurat dan konsisten.
Ketersediaan memastikan layanan database dapat digunakan sesuai
kebutuhan. DBMS juga dapat memerlukan autentikasi pengguna secara
khusus karena sistem database tidak seharusnya menerima begitu saja
identitas yang diberikan oleh komponen lain. Kontrol akses pada
database lebih kompleks dibanding kontrol akses pada file biasa. Data
dapat diakses pada tingkat tabel, catatan, atau bidang tertentu. Selain
akses langsung, terdapat persoalan inferensi, yaitu seseorang dapat
menyimpulkan nilai informasi yang dilindungi dari data lain yang
secara terpisah sebenarnya boleh diakses. Hal ini membuat keamanan
database membutuhkan pertimbangan yang lebih halus.
2. Data sensitif, inferensi, dan agregasi
Semakin banyak data yang dapat digabungkan, semakin besar
kemungkinan muncul informasi baru yang sebelumnya tidak terlihat.
Karena itu, pembatasan akses harus memperhatikan hubungan
antardata, bukan hanya satu tabel atau satu file. Buku menekankan
pentingnya kontrol akses yang sesuai dengan prinsip hak istimewa
minimum.
3. Data mining dan big data
Data mining digunakan untuk menemukan pola atau informasi dari satu
atau lebih kumpulan data. Teknologi ini memiliki manfaat besar untuk
analisis, tetapi juga membawa persoalan keamanan dan privasi. Big
data dapat menyimpan data dalam jumlah sangat besar dan
menggunakan penyimpanan terdistribusi, sehingga lokasi fisik data bisa
tersebar di banyak tempat. Replikasi dapat membantu ketersediaan,
tetapi sekaligus menambah titik yang perlu dilindungi. Pada lingkungan
big data, keamanan tetap harus memperhatikan kerahasiaan, integritas,
dan ketersediaan. Kontrol akses yang terlalu kasar, misalnya hanya
membatasi satu file penuh, dapat membatasi fleksibilitas analisis.
Karena itu, kontrol akses yang lebih granular membantu memastikan
proses hanya memperoleh data yang benar-benar diperlukan.
H. Privasi Informasi, Web, Email, dan Cloud
Privasi berbeda dari keamanan secara keseluruhan, tetapi keduanya saling
berkaitan. Keamanan berfokus pada perlindungan aset, sedangkan privasi
berhubungan dengan bagaimana informasi tentang individu dikumpulkan,
digunakan, disimpan, dan dibagikan. Dalam lingkungan digital, batas antara
informasi pribadi dan aktivitas online menjadi semakin penting untuk
diperhatikan.
1. Prinsip perlindungan privasi
Informasi pribadi perlu dikelola secara bertanggung jawab, terutama
ketika data dikumpulkan untuk layanan tertentu. Pengguna perlu
memahami informasi apa yang diberikan, untuk tujuan apa data
digunakan, dan pihak mana yang berpotensi memperoleh akses.
2. Privasi di web
Aktivitas web dapat meninggalkan berbagai jejak, mulai dari
pendaftaran akun, penggunaan portal, transaksi, hingga pola
penelusuran.
Perlindungan
privasi
karena
itu
tidak
hanya
mengandalkan perangkat lunak keamanan, tetapi juga kebiasaan
pengguna. Pengguna perlu berhati-hati ketika memasukkan informasi
pribadi, melakukan pembayaran online, atau mengakses situs yang
tidak dikenal.
3. Keamanan email
Email merupakan media komunikasi yang penting, tetapi isi dan
metadata komunikasi dapat berisiko diakses oleh pihak yang tidak
semestinya. Buku membahas bagaimana pesan berpindah dan siapa saja
yang mungkin memiliki peluang mengaksesnya. Karena itu, keamanan
email berkaitan dengan autentikasi, perlindungan isi pesan, pengelolaan
akun, dan kewaspadaan terhadap komunikasi yang mencurigakan.
4. Privasi pada cloud dan teknologi yang muncul
Cloud menawarkan kemudahan penyimpanan dan akses dari berbagai
lokasi, tetapi menimbulkan pertanyaan mengenai lokasi data, pihak
yang mengelola infrastruktur, serta siapa yang memiliki dan
mengontrol informasi. Buku juga membahas dampak privasi dari
teknologi seperti RFID, pemungutan suara elektronik, VoIP, dan
layanan cloud. Setiap teknologi baru membawa manfaat sekaligus
konsekuensi yang perlu dianalisis. Dari sudut pandang pengguna,
perlindungan privasi paling efektif biasanya berasal dari kombinasi
kebijakan organisasi, kontrol teknis, dan kebiasaan yang baik.
Keamanan akun, pembatasan informasi yang dibagikan, penggunaan
autentikasi yang tepat, dan kehati-hatian ketika berinteraksi secara
online merupakan bagian dari perlindungan yang berkelanjutan.
I.
Penilaian Risiko dan Strategi Pengamanan
Keamanan sistem informasi tidak dapat menjamin bahwa seluruh ancaman
akan hilang. Buku menjelaskan bahwa jumlah dan jenis ancaman pada
dasarnya sangat luas, sedangkan waktu, tenaga, dan biaya untuk perlindungan
selalu terbatas. Karena itu, organisasi perlu menentukan prioritas: aset mana
yang paling penting, ancaman mana yang perlu diperhatikan, serta kontrol
mana yang paling masuk akal untuk diterapkan.
1. Menilai risiko keamanan
Penilaian risiko dimulai dengan mengenali nilai aset, kemudian melihat
kemungkinan dan tingkat keparahan bahaya yang dapat terjadi. Setelah
itu, organisasi membandingkan kebutuhan perlindungan dengan
sumber daya yang tersedia. Pendekatan ini membantu agar pengamanan
tidak dilakukan secara acak, tetapi diarahkan pada risiko yang paling
relevan terhadap aset dan kegiatan organisasi.
2. Metode, peluang, dan motif
Dalam pembahasan tentang penyerang, buku menekankan tiga unsur
yang perlu diperhatikan, yaitu metode, kesempatan, dan motif. Metode
berkaitan dengan pengetahuan serta keterampilan untuk melakukan
serangan. Kesempatan berkaitan dengan waktu, akses, dan kondisi yang
memungkinkan serangan dilakukan. Motif merupakan alasan yang
mendorong seseorang menyerang. Ketiga unsur tersebut membantu
memahami mengapa sebuah ancaman dapat terjadi dan bagaimana
organisasi perlu menyiapkan perlindungan.
3. Kontrol dan risiko residual
Kontrol atau penanggulangan digunakan untuk mengurangi kerentanan
maupun dampak ancaman. Bentuknya dapat berupa kebijakan,
prosedur, perangkat, pembatasan akses, pencadangan, atau teknologi
keamanan. Namun, tidak semua risiko dapat dihilangkan. Risiko yang
masih tersisa setelah kontrol diterapkan disebut risiko residual. Karena
itu, pengamanan perlu dipandang sebagai proses memilih perlindungan
yang wajar sesuai tingkat risiko dan sumber daya yang dimiliki.
J.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, keamanan sistem informasi merupakan upaya
melindungi aset agar kerahasiaan, integritas, dan ketersediaannya tetap terjaga.
Perlindungan dilakukan dengan mengenali aset, memahami ancaman dan
kerentanan, menerapkan autentikasi serta kontrol akses, melindungi
komunikasi dan database, menjaga privasi, dan menggunakan kriptografi
sesuai kebutuhan. Pembahasan buku menunjukkan bahwa keamanan
merupakan kombinasi antara teknologi, kebijakan, prosedur, dan perilaku
manusia.
Download