Dinamika Identitas Gender Remaja: Perspektif Budaya Bugis dan Modernitas Adolescent Gender Identity Dynamics: Bugis Cultutal Perspective and Modernity Andi Muhammad Yusuf Jundhar1, Tristiadi Ardi Ardani 2 1,2UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; l. Gajayana No.50, Dinoyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65144 1 e-mail: * [email protected], [email protected] Abstrak Penelitian ini mengkaji dinamika identitas gender pada remaja dalam konteks modernitas dengan mempertimbangkan perspektif budaya Bugis. Topik ini penting karena meningkatnya visibilitas identitas gender sering dipahami sebagai fenomena baru, padahal memiliki akar kultural yang kuat. Penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa identitas gender merupakan konstruksi yang dinamis, terbentuk melalui interaksi faktor psikologis, sosial, dan budaya. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan pendekatan analisis tematik terhadap sumber-sumber psikologi dan budaya. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan fenomena identitas gender pada remaja lebih disebabkan oleh meningkatnya visibilitas dan keberanian ekspresi diri dalam era modern, bukan munculnya identitas baru. Perspektif budaya Bugis memperlihatkan bahwa keberagaman gender telah lama ada dalam sistem sosial yang terstruktur. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan kontekstual dalam memahami identitas gender sebagai konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh interaksi antara modernitas dan nilai budaya lokal. Kata kunci: Budaya Bugis, Identitas gender, Modernitas, Remaja, Sosial-budaya Abstract This study examines adolescent gender identity dynamics in the context of modernity by incorporating the Bugis cultural perspective. This topic is important as the increasing visibility of gender identity is often perceived as a new phenomenon, despite its strong cultural roots. The study assumes that gender identity is a dynamic construct shaped by psychological, social, and cultural interactions. A literature review method with thematic analysis was employed to analyze relevant psychological and cultural sources. The findings indicate that the rise in gender identity phenomena among adolescents is primarily driven by increased visibility and confidence in self-expression in the modern era, rather than the emergence of new identities. The Bugis cultural perspective demonstrates that gender diversity has long existed within a structured social system. These findings highlight the importance of a contextual approach in understanding gender identity as a socially constructed phenomenon influenced by the interplay of modernity and local cultural values. Key Words: Bugis culture, Gender identity, Modernity, Youth, Socio-culture Pengantar Perkembangan wacana mengenai identitas gender dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan, khususnya pada kalangan remaja. Fenomena ini tidak hanya muncul dalam ranah global, tetapi juga semakin terlihat dalam konteks Indonesia seiring dengan menguatnya arus modernitas. Remaja kini memiliki akses yang lebih luas terhadap berbagai nilai, norma, dan ekspresi identitas melalui interaksi sosial yang semakin terbuka. Dalam konteks ini, identitas gender tidak lagi dipahami secara biner, melainkan sebagai spektrum yang dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, sosial, dan kultural (Bauermeister et al., 2023; Walia, 2015). Perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang psikologi, khususnya terkait identitas gender, menunjukkan pergeseran paradigma yang cukup signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Identitas gender yang sebelumnya dipahami secara biner kini semakin dipandang sebagai konstruksi yang bersifat spektral, dinamis, dan dipengaruhi oleh interaksi antara faktor biologis, psikologis, serta sosial-budaya (Bauermeister et al., 2023; Walia, 2015). Pendekatan ini menempatkan individu sebagai agen aktif dalam membentuk dan menegosiasikan identitasnya, bukan sekadar sebagai hasil dari determinasi biologis semata. Dalam konteks perkembangan individu, masa remaja menjadi periode penting dalam eksplorasi dan pembentukan identitas gender. Literatur terkini menunjukkan bahwa remaja memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengeksplorasi identitas diri, termasuk identitas gender, sebagai bagian dari proses pencarian jati diri (Gülgöz et al., 2024). Selain itu, penelitian juga menekankan bahwa faktor lingkungan, seperti dukungan sosial, norma kelompok, serta paparan terhadap berbagai wacana identitas, memiliki peran signifikan dalam membentuk pengalaman dan ekspresi identitas gender pada remaja (Kågesten et al., 2022). Seiring dengan berkembangnya modernitas, perubahan dalam struktur sosial dan meningkatnya arus globalisasi turut memperluas ruang bagi munculnya berbagai ekspresi identitas gender. Modernitas tidak hanya memfasilitasi pertukaran nilai lintas budaya, tetapi juga mendorong terbentuknya cara pandang baru terhadap identitas, termasuk dalam hal gender dan seksualitas (Bennett et al., 2018). Dalam konteks ini, identitas gender menjadi semakin kompleks karena dipengaruhi oleh interaksi antara nilai global dan lokal yang tidak selalu selaras. Meskipun demikian, perkembangan ilmu pengetahuan tersebut masih didominasi oleh perspektif Barat, sehingga belum sepenuhnya merepresentasikan keragaman konteks budaya non-Barat, termasuk Indonesia. Padahal, sejumlah kajian menunjukkan bahwa masyarakat lokal di Indonesia telah memiliki konsep keberagaman gender jauh sebelum berkembangnya diskursus modern mengenai gender. Dalam budaya Bugis, misalnya, dikenal sistem lima kategori gender yang mencerminkan pemahaman yang lebih fleksibel terhadap identitas gender (Davies, 2010; Davies, 2011). Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk mengkaji fenomena identitas gender secara lebih kontekstual dengan mempertimbangkan dinamika modernitas sekaligus kekayaan perspektif budaya lokal. Dengan demikian, pembahasan mengenai identitas gender tidak hanya berhenti pada perkembangan teori global, tetapi juga perlu dihubungkan dengan realitas sosial dan budaya yang hidup di masyarakat Indonesia. Sejumlah penelitian terdahulu telah berupaya menjelaskan fenomena identitas gender dari berbagai perspektif. Dalam kajian psikologi, fokus utama umumnya terletak pada proses perkembangan identitas individu, termasuk dinamika psikologis yang menyertai pengalaman ketidaksesuaian gender serta implikasinya terhadap kesejahteraan mental (Gülgöz et al., 2024). Penelitian lain menyoroti pentingnya faktor sosial, seperti dukungan lingkungan, norma kelompok, dan relasi interpersonal dalam membentuk serta memperkuat ekspresi identitas gender pada remaja (Kågesten et al., 2022). Di sisi lain, dalam ranah kajian sosial dan budaya, beberapa penelitian telah mengkaji keberagaman gender sebagai fenomena yang tidak terlepas dari konteks kultural. Studi mengenai masyarakat Bugis, misalnya, menunjukkan bahwa konsep gender tidak selalu bersifat biner, melainkan dapat terdiri dari berbagai kategori yang memiliki fungsi sosial dan makna simbolik tertentu (Davies, 2010; Davies, 2011). Selain itu, kajian lain juga menyoroti bagaimana perubahan sosial dan politik mempengaruhi posisi kelompok gender non-biner, seperti bissu, yang mengalami dinamika antara penerimaan dan marginalisasi dalam masyarakat (Hariyono & Bewe, 2022). Dalam konteks yang lebih luas, penelitian mengenai seksualitas dan gender di Indonesia juga menunjukkan adanya ketegangan antara nilai-nilai lokal dengan pengaruh global yang semakin kuat. Modernitas membawa perubahan dalam cara individu memahami identitas diri, namun pada saat yang sama, norma sosial yang berakar pada budaya dan moralitas tetap memiliki peran yang signifikan dalam mengatur perilaku individu (Bennett et al., 2018; Boellstorff, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa identitas gender tidak hanya dibentuk oleh faktor individu, tetapi juga oleh struktur sosial yang lebih luas. Meskipun berbagai penelitian tersebut telah memberikan kontribusi penting dalam memahami identitas gender, sebagian besar kajian masih berjalan secara terpisah antara perspektif psikologis dan kultural. Penelitian psikologi cenderung menekankan aspek individual dan perkembangan, sementara kajian budaya lebih berfokus pada sistem makna dan praktik sosial dalam masyarakat. Akibatnya, masih terdapat keterbatasan dalam memahami bagaimana dinamika identitas gender pada remaja terbentuk melalui interaksi antara faktor psikologis, modernitas, dan nilai-nilai budaya lokal secara simultan. Meskipun berbagai penelitian telah memberikan kontribusi dalam memahami identitas gender dari perspektif psikologis maupun kultural, masih terdapat kesenjangan dalam upaya mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut secara kontekstual. Kajian psikologis cenderung menempatkan identitas gender sebagai bagian dari proses perkembangan individu, sementara kajian kultural lebih menekankan sistem makna dan praktik sosial yang berkembang dalam masyarakat. Keterpisahan ini menyebabkan pemahaman mengenai identitas gender, khususnya pada remaja, menjadi kurang komprehensif ketika dihadapkan pada realitas sosial yang kompleks. Dalam konteks Indonesia, dinamika tersebut menjadi semakin relevan mengingat adanya pertemuan antara arus modernitas dan nilai-nilai budaya lokal. Modernitas menghadirkan berbagai wacana baru mengenai identitas dan ekspresi diri, sementara budaya lokal tetap mempertahankan norma serta nilai sosial yang berfungsi sebagai pedoman perilaku. Kondisi ini tidak selalu bersifat kontradiktif, namun dapat menciptakan ruang negosiasi yang mempengaruhi cara individu memahami dan mengekspresikan identitasnya. Selain itu, meskipun terdapat kajian mengenai keberagaman gender dalam budaya Bugis, penelitian tersebut umumnya berfokus pada deskripsi sistem gender dan peran sosialnya, tanpa mengaitkannya secara langsung dengan dinamika psikologis remaja dalam konteks kontemporer. Di sisi lain, penelitian mengenai remaja dan identitas gender sering kali belum mempertimbangkan secara mendalam nilai-nilai lokal, seperti konsep harga diri dan kehormatan sosial, yang dapat mempengaruhi proses pembentukan identitas. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu pendekatan yang mampu menjembatani perspektif psikologis dan kultural dalam memahami fenomena identitas gender pada remaja. Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menilai benar atau salah suatu bentuk identitas, melainkan untuk memahami bagaimana identitas tersebut terbentuk, dinegosiasikan, dan dimaknai dalam konteks sosial-budaya tertentu. Dengan demikian, analisis yang dilakukan diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai dinamika identitas gender dalam masyarakat Indonesia tanpa mengabaikan kompleksitas yang menyertainya. Berdasarkan hal tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji dinamika identitas gender pada remaja dalam konteks modernitas dengan mempertimbangkan perspektif budaya lokal, khususnya budaya Bugis. Kajian ini difokuskan pada upaya memahami bagaimana identitas gender terbentuk dan dimaknai melalui interaksi antara faktor psikologis, sosial, dan kultural, tanpa menempatkan fenomena tersebut dalam kerangka penilaian normatif. Selain itu, artikel ini juga bertujuan untuk mengisi kesenjangan kajian dengan menghadirkan pendekatan yang lebih integratif antara perspektif psikologi dan budaya dalam memahami identitas gender di Indonesia. Pembahasan Dinamika Identitas Gender pada Remaja dalam Perspektif Psikologis Identitas gender pada remaja dapat dipahami sebagai bagian dari proses perkembangan identitas yang lebih luas, di mana individu berada pada fase eksplorasi dan pembentukan konsep diri. Dalam perspektif psikologi perkembangan, masa remaja merupakan periode transisi yang ditandai dengan meningkatnya refleksi diri serta kebutuhan untuk memahami posisi diri dalam lingkungan sosial. Dalam konteks ini, identitas gender tidak bersifat statis, melainkan berkembang melalui interaksi antara pengalaman internal dan pengaruh eksternal (Gülgöz et al., 2024). Penelitian terkini menunjukkan bahwa remaja yang mengeksplorasi identitas gender seringkali melalui proses yang kompleks, termasuk refleksi terhadap perasaan, persepsi diri, serta respon lingkungan terhadap ekspresi mereka. Gülgöz et al. (2024) mengemukakan bahwa pengalaman terkait identitas gender pada remaja berkaitan dengan aspek kesejahteraan psikologis, terutama ketika terdapat kesesuaian atau ketidaksesuaian antara identitas internal dan ekspektasi sosial. Hal ini menunjukkan bahwa identitas gender tidak hanya merupakan aspek personal, tetapi juga berkaitan erat dengan dinamika sosial yang dihadapi individu. Selain faktor internal, lingkungan sosial memiliki peran signifikan dalam membentuk dan memvalidasi identitas gender pada remaja. Dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, serta komunitas dapat mempengaruhi bagaimana individu memahami dan mengekspresikan identitasnya. Kågesten et al. (2022) menekankan bahwa norma sosial dan relasi interpersonal berfungsi sebagai kerangka yang membatasi sekaligus memungkinkan ekspresi identitas gender. Dengan kata lain, identitas gender terbentuk dalam konteks interaksi sosial yang terus berlangsung, bukan sebagai konstruksi yang berdiri sendiri. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang lebih awal, pendekatan terkini dalam psikologi menunjukkan pergeseran dari pandangan yang bersifat patologis menuju pendekatan yang lebih kontekstual dan afirmatif terhadap keberagaman identitas gender (Walia, 2015). Pergeseran ini mencerminkan perubahan dalam cara ilmu psikologi memahami identitas gender, dari sesuatu yang harus disesuaikan dengan norma tertentu menjadi fenomena yang perlu dipahami dalam konteks pengalaman individu. Namun demikian, pendekatan ini sebagian besar berkembang dalam konteks masyarakat Barat, sehingga belum sepenuhnya mempertimbangkan keragaman nilai dan norma dalam masyarakat non-Barat. Dalam konteks Indonesia, penerapan perspektif psikologis tersebut menghadapi tantangan tersendiri karena adanya perbedaan nilai sosial dan budaya yang mempengaruhi proses pembentukan identitas. Norma kolektivistik yang menekankan harmoni sosial serta kesesuaian dengan ekspektasi kelompok dapat membentuk pengalaman remaja dalam mengekspresikan identitas gender mereka. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika identitas gender pada remaja tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui pendekatan individualistik, melainkan perlu dipahami dalam kerangka sosial yang lebih luas. Dengan demikian, temuan dalam kajian psikologis menunjukkan bahwa identitas gender pada remaja merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor internal dan eksternal. Namun, keterbatasan dalam mengintegrasikan konteks budaya lokal menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih kontekstual. Hal ini menjadi dasar untuk memahami bagaimana dinamika tersebut berinteraksi dengan perubahan sosial yang lebih luas, khususnya dalam konteks modernitas yang akan dibahas pada bagian berikutnya. Modernitas dan Perubahan Cara Pandang terhadap Identitas Gender Perkembangan modernitas membawa perubahan signifikan dalam cara individu memahami dan mengekspresikan identitas, termasuk identitas gender. Modernitas tidak hanya berkaitan dengan kemajuan teknologi atau perubahan struktur sosial, tetapi juga mencakup transformasi nilai, norma, dan cara pandang terhadap diri dan orang lain. Dalam konteks ini, identitas gender menjadi semakin terbuka terhadap berbagai kemungkinan, seiring dengan meningkatnya akses terhadap informasi dan wacana global mengenai keberagaman identitas (Bennett et al., 2018). Dalam perspektif sosial, modernitas memungkinkan terjadinya pertukaran nilai lintas budaya yang memperluas kerangka berpikir individu, khususnya remaja. Remaja sebagai kelompok yang berada dalam fase eksplorasi identitas cenderung lebih responsif terhadap perubahan ini. Mereka tidak hanya menerima nilai-nilai yang diwariskan secara lokal, tetapi juga terpapar pada berbagai alternatif cara memahami identitas gender. Kondisi ini menciptakan ruang yang lebih luas bagi munculnya variasi ekspresi identitas, sekaligus memperkaya proses pembentukan identitas itu sendiri. Namun demikian, penelitian menunjukkan bahwa modernitas tidak selalu berimplikasi pada peningkatan penerimaan sosial secara linear. Bennett et al. (2018) menunjukkan bahwa dalam konteks Indonesia, perubahan nilai yang dibawa oleh modernitas seringkali berinteraksi secara kompleks dengan norma lokal yang masih kuat. Hal ini dapat menghasilkan situasi di mana individu memiliki ruang untuk memahami identitas secara lebih luas, tetapi tetap menghadapi batasan dalam mengekspresikannya secara terbuka. Dengan demikian, modernitas tidak hanya membuka peluang, tetapi juga dapat menciptakan ambivalensi dalam pengalaman identitas. Jika dibandingkan dengan temuan dalam konteks Barat, modernitas sering dikaitkan dengan meningkatnya individualisme dan kebebasan dalam mengekspresikan identitas. Namun, dalam masyarakat yang masih memiliki orientasi kolektivistik, seperti Indonesia, perubahan tersebut tidak selalu berlangsung secara seragam. Nilai-nilai sosial yang menekankan harmoni, norma, dan keteraturan sosial tetap berperan dalam membentuk batas-batas ekspresi identitas individu. Hal ini menunjukkan bahwa dampak modernitas terhadap identitas gender sangat bergantung pada konteks sosial dan budaya tempat individu berada. Selain itu, modernitas juga dapat dipahami sebagai proses yang menghasilkan bentuk-bentuk identitas yang bersifat hibrid, yaitu perpaduan antara nilai global dan lokal. Dalam konteks ini, remaja tidak hanya mengadopsi nilai baru, tetapi juga menyesuaikannya dengan kerangka nilai yang sudah ada. Proses ini mencerminkan adanya negosiasi identitas yang terus berlangsung, di mana individu berusaha menemukan keseimbangan antara ekspresi diri dan penerimaan sosial. Dengan demikian, modernitas dapat dipahami sebagai faktor yang memperluas kemungkinan dalam pembentukan identitas gender, namun tidak secara otomatis menghapus batasan sosial yang ada. Kompleksitas ini menunjukkan bahwa identitas gender pada remaja terbentuk dalam ruang yang dipenuhi oleh interaksi antara peluang dan batasan. Oleh karena itu, untuk memahami fenomena ini secara lebih utuh, perlu dipertimbangkan pula bagaimana nilai-nilai budaya lokal memberikan kerangka makna terhadap keberagaman identitas gender, sebagaimana akan dibahas pada bagian berikutnya. Meskipun modernitas sering dikaitkan dengan meningkatnya visibilitas dan ekspresi identitas gender pada remaja, penting untuk mempertimbangkan bahwa keberagaman gender tidak sepenuhnya merupakan fenomena baru. Untuk memahami hal ini secara lebih komprehensif, diperlukan perspektif lain yang menunjukkan bagaimana identitas gender telah dikonstruksikan dalam konteks sosial yang berbeda, termasuk dalam budaya lokal di Indonesia. Perspektif Budaya Bugis terhadap Keberagaman Gender Dalam konteks meningkatnya visibilitas identitas gender pada remaja di era modernitas, penting untuk memahami bahwa keberagaman gender tidak sepenuhnya merupakan fenomena baru. Sejumlah budaya lokal di Indonesia telah lama mengenal sistem gender yang lebih kompleks dibandingkan kategori biner. Salah satu contoh yang sering dikaji adalah masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, yang mengenal lima kategori gender, yaitu oroané, makkunrai, calalai, calabai, dan bissu (Suliyati, 2018; Abdullah, 2024). Secara lebih rinci, oroané merujuk pada laki-laki yang menjalankan peran sosial maskulin sesuai norma budaya, sedangkan makkunrai merujuk pada perempuan dengan peran feminin dalam struktur masyarakat. Di luar kategori tersebut, terdapat calalai, yaitu individu yang secara biologis perempuan tetapi mengambil peran sosial yang umumnya diasosiasikan dengan laki-laki. Sebaliknya, calabai adalah individu yang secara biologis laki-laki namun menjalankan peran sosial yang diasosiasikan dengan perempuan, terutama dalam konteks domestik maupun aktivitas kultural tertentu (Abdullah, 2024). Kategori yang lebih kompleks adalah bissu, yang tidak hanya dipahami sebagai identitas gender, tetapi juga memiliki peran spiritual dalam masyarakat Bugis. Bissu sering dikaitkan dengan fungsi sebagai pemimpin ritual dan penjaga tradisi, sehingga keberadaannya memiliki legitimasi kultural yang kuat dalam sistem sosial tradisional (Suliyati, 2018). Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa pengakuan terhadap keberagaman gender dalam budaya Bugis tidak serta-merta mencerminkan kebebasan ekspresi individu sebagaimana dalam konteks modern. Setiap kategori gender memiliki fungsi sosial dan batasan normatif yang jelas. Dengan demikian, identitas gender lebih dipahami sebagai bagian dari struktur sosial kolektif dibandingkan sebagai ekspresi personal (Baharuddin et al., 2025). Lebih lanjut, dinamika sosial modern menunjukkan bahwa posisi kelompok tertentu, seperti bissu, mengalami perubahan, termasuk dalam bentuk marginalisasi (Hariyono & Bewe, 2022). Hal ini menegaskan bahwa sistem gender dalam budaya lokal juga bersifat dinamis dan tidak terlepas dari pengaruh perubahan sosial yang lebih luas. Dengan demikian, perspektif budaya Bugis memberikan gambaran bahwa keberagaman gender telah lama ada, namun dimaknai dalam kerangka sosial yang berbeda dengan konteks modern. Perbedaan ini menjadi penting untuk memahami bagaimana perubahan sosial mempengaruhi cara identitas gender diekspresikan, yang selanjutnya berkaitan dengan peran nilai sosial seperti siri’ dalam mengatur perilaku individu. Nilai Siri’ sebagai Kerangka Regulasi Sosial dalam Ekspresi Identitas Dalam konteks budaya Bugis, nilai siri’ memiliki peran fundamental sebagai prinsip yang mengatur perilaku individu dalam kehidupan sosial. Siri’ tidak hanya dimaknai sebagai rasa malu atau harga diri secara personal, tetapi juga mencerminkan kehormatan kolektif yang harus dijaga dalam interaksi sosial (Baharuddin et al., 2025). Oleh karena itu, tindakan individu, termasuk dalam mengekspresikan identitas diri, senantiasa dipertimbangkan berdasarkan kesesuaiannya dengan norma dan ekspektasi sosial yang berlaku. Dalam kaitannya dengan identitas gender, siri’ berfungsi sebagai mekanisme regulasi sosial yang membatasi sekaligus mengarahkan ekspresi individu. Meskipun budaya Bugis mengenal keberagaman gender sebagaimana dijelaskan sebelumnya, ekspresi dari identitas tersebut tetap berada dalam kerangka sosial yang terstruktur. Individu tidak sepenuhnya bebas mengekspresikan identitasnya di luar norma, karena setiap tindakan berpotensi memengaruhi persepsi sosial terhadap dirinya maupun kelompoknya (Abdullah, 2024). Dengan demikian, identitas gender dalam konteks ini tidak hanya bersifat personal, tetapi juga bersifat relasional dan kolektif. Jika dikaitkan dengan dinamika kontemporer, khususnya pada remaja, terlihat adanya pergeseran dalam cara individu mengekspresikan identitas diri. Dalam era modernitas, akses terhadap informasi yang luas serta perubahan nilai sosial mendorong meningkatnya kepercayaan diri individu dalam mengekspresikan identitas, termasuk identitas gender. Keterbukaan ruang sosial dan perubahan wacana global turut berkontribusi terhadap meningkatnya keberanian individu dalam menampilkan identitasnya di ruang publik (Bennett et al., 2018). Perbedaan ini menunjukkan bahwa, dalam konteks masyarakat dengan nilai siri’ yang kuat, ekspresi identitas cenderung lebih dikendalikan oleh pertimbangan sosial, sedangkan dalam konteks modern, individu memiliki ruang yang lebih besar untuk mengekspresikan diri secara terbuka. Dengan kata lain, peningkatan visibilitas identitas gender pada remaja saat ini dapat dipahami tidak hanya sebagai perubahan dalam identitas itu sendiri, tetapi juga sebagai perubahan dalam tingkat kepercayaan diri individu untuk mengekspresikan identitas tersebut (Bennett et al., 2018). Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa proses ini tidak berlangsung secara sepenuhnya bebas. Nilai-nilai sosial, termasuk yang bersumber dari budaya lokal, tetap berperan dalam membentuk batasan ekspresi individu, meskipun dalam bentuk yang mungkin lebih fleksibel. Oleh karena itu, dinamika identitas gender pada remaja dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara meningkatnya kepercayaan diri individu dan keberlanjutan norma sosial yang masih mempengaruhi perilaku mereka. Dengan demikian, konsep siri’ dalam pembahasan ini memberikan kerangka untuk memahami bagaimana ekspresi identitas gender sebelumnya berada dalam kontrol sosial yang kuat, sementara dalam konteks modern, kontrol tersebut mengalami pergeseran. Pergeseran inilah yang kemudian menjadi dasar untuk memahami mengapa fenomena identitas gender pada remaja saat ini tampak semakin meningkat, yang selanjutnya akan dianalisis melalui perspektif perbandingan antara budaya dan modernitas pada bagian berikutnya. Budaya Bugis sebagai Perspektif Pembanding dalam Dinamika Modernitas Jika dibandingkan dengan kondisi kontemporer, meningkatnya visibilitas identitas gender pada remaja dalam era modernitas menunjukkan pola yang berbeda. Modernitas menghadirkan perubahan dalam cara identitas dipahami, di mana ekspresi diri individu menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan keterikatan pada peran sosial tertentu (Bennett et al., 2018). Namun, melalui perspektif budaya Bugis, dapat dilihat bahwa keberagaman gender sebenarnya bukan fenomena baru, melainkan telah lama ada dalam bentuk yang berbeda. Perbedaan utama terletak pada cara identitas tersebut dimaknai dan diekspresikan. Dalam budaya Bugis, identitas gender terikat pada struktur sosial dan fungsi tertentu, sedangkan dalam konteks modern, identitas lebih dipahami sebagai bagian dari ekspresi personal (Suliyati, 2018; Abdullah, 2024). Perbandingan ini menunjukkan bahwa peningkatan fenomena identitas gender pada remaja tidak semata-mata disebabkan oleh munculnya bentuk identitas baru, tetapi lebih pada perubahan dalam tingkat visibilitas dan cara individu mengekspresikan identitas tersebut. Modernitas memberikan ruang yang lebih luas bagi ekspresi, sementara budaya lokal menunjukkan bahwa keberagaman tersebut telah memiliki bentuk sebelumnya, meskipun dalam kerangka yang berbeda. Di sisi lain, nilai-nilai sosial seperti siri’ tetap berperan dalam membentuk batas ekspresi dalam konteks tertentu (Baharuddin et al., 2025). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat perubahan akibat modernitas, proses pembentukan identitas tetap berlangsung dalam interaksi dengan norma sosial yang ada. Dengan demikian, dinamika identitas gender pada remaja dapat dipahami sebagai hasil dari perubahan cara pemaknaan dan ekspresi, bukan semata-mata kemunculan fenomena baru. Perspektif budaya Bugis dalam hal ini berfungsi sebagai pembanding untuk memahami bahwa peningkatan fenomena tersebut lebih berkaitan dengan perubahan dalam visibilitas dan kepercayaan diri individu dalam mengekspresikan identitasnya di ruang sosial yang terus berkembang. Implikasi Teoretis dan Kontekstual Pembahasan mengenai dinamika identitas gender dalam konteks budaya Bugis dan modernitas memberikan sejumlah implikasi, baik secara teoretis maupun kontekstual. Secara teoretis, temuan ini menegaskan bahwa identitas gender tidak dapat dipahami sebagai konsep yang bersifat universal dan statis, melainkan sebagai konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh konteks budaya, nilai, dan struktur sosial tertentu (Abdullah, 2024; Bennett et al., 2018). Dengan demikian, pendekatan biner dalam memahami gender menjadi kurang memadai ketika dihadapkan pada realitas sosial yang lebih kompleks, seperti yang terlihat dalam sistem gender masyarakat Bugis. Selain itu, keberadaan lima kategori gender dalam budaya Bugis menunjukkan bahwa keragaman identitas telah lama diakui dalam kerangka sosial tertentu, meskipun dengan fungsi dan batasan yang jelas (Suliyati, 2018). Hal ini memperkuat pandangan dalam ilmu sosial bahwa identitas individu selalu berelasi dengan struktur sosial yang membentuknya. Oleh karena itu, analisis terhadap fenomena identitas gender pada remaja masa kini perlu mempertimbangkan dimensi historis dan kultural, bukan hanya melihatnya sebagai fenomena kontemporer semata. Secara kontekstual, peningkatan visibilitas identitas gender pada remaja dapat dipahami sebagai hasil dari perubahan kondisi sosial yang lebih luas, seperti globalisasi, perkembangan teknologi, dan keterbukaan informasi (Bennett et al., 2018). Faktor-faktor ini mendorong terbentuknya ruang sosial baru yang memungkinkan individu untuk mengekspresikan identitasnya dengan lebih terbuka dibandingkan dengan konteks tradisional. Namun demikian, nilai-nilai lokal seperti siri’ tetap memiliki peran dalam membentuk batasan ekspresi individu, meskipun dalam bentuk yang lebih fleksibel (Baharuddin et al., 2025). Hal ini menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak sepenuhnya menghilangkan pengaruh budaya lokal, melainkan menciptakan proses negosiasi antara nilai tradisional dan tuntutan modernitas. Dengan demikian, implikasi dari pembahasan ini adalah perlunya pendekatan yang lebih kontekstual dalam memahami dinamika identitas gender, khususnya pada remaja. Pendekatan tersebut tidak hanya mempertimbangkan faktor individual, tetapi juga memperhatikan interaksi antara individu dengan struktur sosial, budaya, dan perubahan zaman yang melingkupinya. Sintesis Kritis dan Posisi Penelitian Berdasarkan keseluruhan pembahasan, dapat disintesis bahwa fenomena meningkatnya identitas gender pada remaja tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai “penyimpangan” atau fenomena baru, melainkan sebagai hasil dari perubahan dalam cara identitas tersebut dimaknai dan diekspresikan dalam konteks sosial yang berbeda. Perspektif budaya Bugis menunjukkan bahwa keberagaman gender telah lama ada dalam sistem sosial, meskipun berada dalam kerangka yang lebih terstruktur dan terikat pada fungsi sosial tertentu (Suliyati, 2018; Abdullah, 2024). Di sisi lain, modernitas menghadirkan perubahan signifikan dalam cara individu memahami dan mengekspresikan identitasnya. Peningkatan akses informasi dan perubahan nilai sosial berkontribusi terhadap meningkatnya kepercayaan diri individu, khususnya remaja, dalam menampilkan identitas mereka di ruang publik (Bennett et al., 2018). Hal ini menjelaskan mengapa fenomena identitas gender saat ini tampak semakin meningkat, bukan karena munculnya identitas baru, tetapi karena meningkatnya visibilitas dan keberanian dalam ekspresi diri. Namun, penting untuk dikritisi bahwa peningkatan visibilitas ini juga berpotensi menimbulkan ketegangan dengan nilai-nilai sosial yang masih bertahan, seperti konsep siri’ dalam budaya Bugis (Baharuddin et al., 2025). Ketegangan ini mencerminkan adanya proses negosiasi antara kebebasan individu dan ekspektasi sosial, yang dalam banyak kasus dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis individu, terutama pada remaja yang masih berada dalam tahap pencarian identitas. Dalam konteks ini, posisi penelitian menekankan bahwa fenomena identitas gender pada remaja perlu dipahami secara lebih komprehensif dan kontekstual, dengan mempertimbangkan interaksi antara faktor budaya, sosial, dan psikologis. Penelitian ini tidak mengambil posisi normatif yang menilai benar atau salah suatu identitas, melainkan berupaya memahami dinamika yang melatarbelakangi munculnya fenomena tersebut. Dengan demikian, kontribusi utama dari penelitian ini adalah memberikan perspektif alternatif yang menghubungkan antara budaya lokal dan dinamika modernitas dalam memahami identitas gender. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkaya kajian psikologi sosial dan budaya, serta mendorong pemahaman yang lebih inklusif dan kontekstual terhadap fenomena identitas gender pada remaja. Penutup Fenomena meningkatnya visibilitas identitas gender pada remaja dalam konteks modern tidak dapat dipahami sebagai kemunculan identitas baru, melainkan sebagai perubahan dalam cara identitas tersebut dimaknai dan diekspresikan. Perspektif budaya Bugis menunjukkan bahwa keberagaman gender telah lama eksis melalui sistem lima gender, namun berada dalam kerangka sosial yang terstruktur, fungsional, dan dikendalikan oleh norma kolektif. Sebaliknya, dalam konteks modernitas, identitas gender mengalami pergeseran makna menjadi lebih personal, dengan ruang ekspresi yang semakin terbuka seiring meningkatnya akses informasi dan perubahan nilai sosial. Temuan ini menegaskan bahwa perbedaan utama terletak pada tingkat visibilitas dan keberanian individu dalam mengekspresikan identitas, bukan pada keberadaan identitas itu sendiri. Dalam hal ini, nilai budaya seperti siri’ berperan sebagai mekanisme regulasi sosial yang sebelumnya membatasi ekspresi individu, namun dalam konteks modern mengalami pergeseran fungsi menjadi lebih fleksibel. Oleh karena itu, dinamika identitas gender pada remaja merupakan hasil interaksi antara dorongan ekspresi diri dalam modernitas dan keberlanjutan nilai sosial budaya yang masih mempengaruhi perilaku individu. Dengan demikian, kontribusi utama kajian ini terletak pada penegasan bahwa identitas gender perlu dipahami sebagai konstruksi sosial yang kontekstual, yang tidak hanya dibentuk oleh faktor individual, tetapi juga oleh struktur budaya dan perubahan sosial yang melingkupinya. Pendekatan ini memberikan perspektif yang lebih komprehensif dalam memahami fenomena identitas gender pada remaja, khususnya dalam konteks masyarakat yang masih memiliki keterikatan kuat dengan nilai-nilai lokal. Saran Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan pendekatan empiris, khususnya metode kualitatif, guna menggali secara lebih mendalam pengalaman subjektif remaja dalam mengekspresikan identitas gender. Pendekatan ini penting untuk memahami bagaimana interaksi antara nilai modernitas dan budaya lokal membentuk cara remaja memaknai identitas diri mereka dalam konteks sosial yang dinamis. Selain itu, pendidik dan praktisi psikologi perlu mengembangkan pendekatan yang sensitif terhadap konteks budaya dengan mempertimbangkan nilai-nilai lokal seperti siri’. Hal ini bertujuan untuk mendukung perkembangan identitas remaja secara adaptif, sekaligus menjaga keseimbangan antara ekspresi diri individu dan norma sosial yang berlaku. Pernyataan Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karuniaNya yang memungkinkan penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada kedua orang tua atas doa dan dukungan yang tiada henti, serta kepada temanteman dan rekan sejawat yang telah memberikan semangat, saran, dan dukungan moral selama proses penyusunan artikel ini. Penulis juga berterima kasih kepada seluruh pihak di lingkungan akademik Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang telah memberikan bimbingan dan fasilitas selama proses penulisan berlangsung. Pendanaan Penelitian ini tidak menerima dukungan dana dari organisasi, lembaga, atau pihak manapun. Seluruh proses penulisan dan penyusunan dilakukan secara mandiri oleh penulis. Kontribusi Penulis AJ bertanggung jawab dalam proses konseptualisasi, perancangan struktur artikel, pengumpulan literatur, analisis tematik, dan penulisan naskah. TAA berperan sebagai pembimbing akademik yang memberikan arahan konseptual, supervisi ilmiah, dan penyempurnaan redaksional terhadap naskah akhir. Seluruh penulis telah membaca, meninjau, dan menyetujui versi akhir manuskrip untuk publikasi. Pernyataan Konflik Kepentingan Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas Ujian Tengah Semester pada mata kuliah Psikologi Kepribadian yang diampu oleh Bapak Tristiadi Ardi Ardani, selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi Kepribadian di Program Studi Psikologi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Orcid ID Andi Muhammad Yusuf Jundhar *https://orcid.org/0009-0000-4867-2832 Referensi Abdullah, A. H. (2024). Beyond binary: Gender fluidity in Bugis traditional pantheism. Jurnal Kinabalu, 30. Baharuddin, B., Malik, A., & Rizqullah, R. (2025). The sociology of gender roles in traditional and modern Bugis families. Journal Social Humanity, 3(2), 102–113. Bennett, L. R., Davies, S. G., & Hidayana, I. M. (Eds.). (2018). Seksualitas di Indonesia: Politik seksual, kesehatan, keragaman, dan representasi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Butler, J. (1990). Gender trouble: Feminism and the subversion of identity. Routledge. Hariyono, S., & Bewe, N. (2022). Bissu’s transvestites in the Buginese-Makassar tradition through the transformation of Faisal Oddang’s literary works: An intertextuality study. MANUSYA: Journal of Humanities, 25, 1–23. https://doi.org/10.1163/26659077-24020006 Suliyati, T. (2018). Bissu: Keistimewaan gender dalam tradisi Bugis. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 2(1). West, C., & Zimmerman, D. H. (1987). Doing gender. Gender & Society, 1(2), 125–151. https://doi.org/10.1177/0891243287001002002