Uploaded by jenyustien19

Menara MTQ Kendari: Simbol Persatuan dan Makna Filosofis Arsitektur

advertisement
JURNAL 1
JUDUL
TUJUAN PENELITIAN
METODE
HASIL
Menara MTQ Kendari: Simbol Persatuan dan
Makna Filosofis Arsitektur
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap
bagaimana
struktur
fisik
tugu
tersebut
menerjemahkan nilai sejarah (persatuan) dan religi
(identitas) menjadi sebuah karya arsitektur.
Untuk membedah makna simbolik di balik elemen
arsitektural Menara MTQ sebagai simbol persatuan
kemajemukan etnis dan manifestasi nilai
religiusitas masyarakat Sulawesi Tenggara.
Mengurai makna tersembunyi dari perwujudan
fisik Menara MTQ Kendari sebagai landmark kota
(titik orientasi visual) yang melekat pada ingatan
kolektif masyarakatnya, baik dari aspek historis
maupun identitas kota.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatifdeskriptif dengan metode kritik arsitektur
penafsiran (interpretive architectural criticism).
Data dikumpulkan melalui studi literatur mengenai
gambar teknis menara, dokumentasi visual, serta
teks-teks sejarah terkait pembangunan kawasan
eks-MTQ Kendari. Analisis dilakukan dengan
membedah elemen-elemen bentuk, struktur, dan
ragam hias menara, kemudian mengorelasikannya
dengan nilai sosiologis masyarakat Sultra dan nilai
spiritualitas Islam.
A. Konsep Bentuk dan Geometri Menara
Menara MTQ Kendari menampilkan
langgam arsitektur kontemporer yang
dipadukan dengan metafora bentuk lokal.
Secara struktural, menara ini terdiri dari
tiga bagian utama: pondasi/kaki (substructure), badan menara (mid-structure),
dan puncak menara (upper-structure).
Formasi geometris yang tegak lurus
mencerminkan konsep hablun minallah
(hubungan manusia dengan Tuhan) yang
bersifat vertikal, yang melambangkan
keteguhan iman.
B. Filosofi Angka dan Dimensi Ketinggian
Salah satu aspek paling menonjol dari
bangunan ini adalah dimensi ketinggian
strukturalnya yang memuat angka simbolik:
Ketinggian 99 Meter: Total ketinggian
menara dirancang persis mencapai 99
meter. Angka ini secara eksplisit diambil
dari jumlah Asmaulhusna (nama-nama baik
Allah SWT) dalam ajaran Islam.
Simbolisme ini menegaskan identitas religi
Kota Kendari dan Provinsi Sulawesi
Tenggara yang mayoritas masyarakatnya
menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.
C. Pilar Penyangga Utama sebagai Simbol
Persatuan (Historis)
Struktur badan Menara MTQ ditopang oleh
koridor-koridor pilar beton raksasa. Secara
filosofis, pilar-pilar ini mengacu pada
fondasi sejarah berdirinya Provinsi
Sulawesi Tenggara:
 Representasi 4 Kabupaten Awal: Pilar
utama melambangkan 4 kabupaten pertama
yang membidangi lahirnya Provinsi
Sulawesi Tenggara berdasarkan UU No. 13
Tahun 1964, yaitu Kabupaten Kendari,
Kabupaten Kolaka, Kabupaten Muna, dan
Kabupaten Buton.
 Bersatunya pilar-pilar tersebut menuju satu
titik puncak menara melambangkan
semangat persatuan, kohesi sosial, dan
integrasi antarsuku bangsa (Tolaki, Muna,
Buton, Moronene, Bugis, dll.) yang hidup
berdampingan secara damai di Sulawesi
Tenggara. Oleh karena itu, sebelum dikenal
sebagai Tugu Religi, monumen ini secara
historis dinamakan Tugu Persatuan.
D. Ragam Hias dan Ornamen Akulturasi
Fasad dan interior menara mengadopsi
pola-pola geometri Islam kontemporer yang
dikombinasikan dengan sentuhan dekoratif
KESIMPULAN
lokal. Penggunaan material modern seperti
kaca tempered dan pencahayaan lampu
dinamis memberikan kesan transparan dan
adaptif terhadap perkembangan zaman
(modernitas), sementara bentuk dasar
lengkungan di beberapa sudut mengadopsi
stilasi kubah dan rumah adat lokal di Sultra.
Menara MTQ Kendari bukan sekadar karya
rekayasa sipil atau struktur beton kosong. Melalui
analisis arsitektural, disimpulkan bahwa menara ini
merupakan perwujudan material dari identitas
kolektif masyarakat Sulawesi Tenggara. Komposisi
ketinggian 99 meter mengakar pada nilai
spiritualitas Islam (hablun minallah), sedangkan
formasi struktur pilar-pilarnya mengakar pada nilai
sejarah persatuan antarkabupaten induk (hablun
minannas). Sebagai landmark kota, Menara MTQ
sukses menjalankan perannya dalam merekatkan
aspek historis, religiusitas, dan kebanggaan
kultural dalam satu kesatuan arsitektur yang ikonik.
JURNAL 2
JUDUL
TUJUAN PENELITIAN
METODE
Representasi Kota Dalam Perspektif Generasi
Z Di Kota Kendari
Tujuan penelitian dalam jurnal tersebut adalah
untuk melihat bagaimana Generasi Z memandang
dan mengenali Kota Kendari, terutama dari dua
sisi, yaitu bentuk fisik kota (seperti landmark dan
ruang kota) serta representasinya di dunia digital.
Penelitian ini juga ingin mengetahui faktor apa saja
yang memengaruhi cara Generasi Z membentuk
citra tentang kota, termasuk peran media sosial,
pengalaman langsung di kota, dan karakteristik
sosial mereka.
Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif
dengan menggunakan metode survei melalui
kuesioner. Pendekatan ini dipilih karena fokus
utama adalah untuk menganalisis persepsi generasi
Z terhadap Kota Kendari secara sistematis,
terstruktur, dan terukur (Duevel, 2019). Data yang
dikumpulkan berupa tanggapan dan pertanyaan
terstruktur menggunakan kuesioner.
HASIL
KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z
mengenali identitas Kota Kendari melalui beberapa
landmark utama, seperti Masjid Al Alam, Jembatan
Bahteramas, dan Tugu Religi MTQ. Landmark
tersebut dianggap sebagai simbol yang paling
mudah diingat dan mewakili citra kota. Selain itu,
media sosial juga memiliki pengaruh besar dalam
membentuk pandangan Generasi Z terhadap Kota
Kendari. Konten visual di Instagram dan TikTok
menjadi sumber utama mereka dalam mengenali
dan menggambarkan kota.
Identitas Kota Kendari saat ini tidak hanya
terbentuk dari kondisi fisik kota, tetapi juga dari
representasi digital yang berkembang di media
sosial. Bagi Generasi Z, pengalaman melihat dan
mengakses informasi kota melalui internet
memiliki pengaruh yang cukup besar dalam
membentuk persepsi mereka terhadap identitas
Kota Kendari.
JURNAL 3
JUDUL
TUJUAN PENELITIAN
METODE
Peran Arsitektur Lansekap dalam Perkotaan
Berkelanjutan Pengembangan: Implementasi
Desain Universal
Tujuan utama dari penelitian ini berfokus pada
evaluasi mengenai sejauh mana ruang terbuka
publik di Kota Kendari, khususnya di kawasan
Tugu Religi, telah menerapkan prinsip desain
universal yang inklusif bagi semua kalangan.
Peneliti ingin melihat apakah infrastruktur yang
ada saat ini sudah mendukung konsep perkotaan
berkelanjutan, di mana fasilitas tersebut seharusnya
tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga bisa
diakses dengan mudah oleh penyandang disabilitas,
lansia, wanita hamil, hingga anak-anak tanpa
hambatan fisik yang berarti. Melalui studi ini,
diharapkan muncul rekomendasi desain yang lebih
matang agar pembangunan ruang publik ke
depannya benar-benar bisa dinikmati oleh seluruh
lapisan masyarakat secara mandiri dan aman.
Penelitian ini adalah penelitian lapangan, di mana
pengumpulan data dilakukan untuk mengamati
sebuah fenomena dalam konteks alaminya.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif
deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan
HASIL
sebuah fenomena sosial dan menggambarkan sifat
dari situasi yang sedang berlangsung pada saat
penelitian. Pendekatan kualitatif ini memastikan
informasi yang komprehensif untuk pengembangan
ilmiah dan penerapannya pada berbagai masalah.
Penelitian ini berfokus pada Taman MTQ Tugu
Religi dan Taman Kota Walikota Kendari, Taman
kota terkemuka yang saat ini menerima perhatian
yang cukup besar dari penduduk Kendari.
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus
untuk ruang terbuka hijau (RTH) di daerah
perkotaan, berfokus pada pengamatan langsung,
wawancara, dan analisis dokumen desain ruang
publik. Para peneliti melakukan wawancara dengan
pengguna ruang dan pemangku kepentingan untuk
mendapatkan perspektif mereka tentang efektivitas
desain. Menganalisis data menggunakan teknik
kualitatif dan kuantitatif untuk mengevaluasi
kesesuaian desain dengan prinsip desain universal
dan keberlanjutan ekologis. Alat penilaian
didasarkan pada kriteria internasional, seperti ADA
untuk aksesibilitas, serta kualitas ruang yang
mendukung berbagai aktivitas sosial dan fisik.
Tinjauan literatur menetapkan landasan teoritis
untuk desain universal, aksesibilitas, dan ruang
terbuka
hijau
dalam
perencanaan
kota
berkelanjutan Ahmad Yani. Hasil pengamatan
lapangan dikategorikan berdasarkan elemen taman
kota, dan analisis selanjutnya menilai kepatuhan
terhadap standar aksesibilitas dan prinsip desain
universal.
Temuan di lapangan menunjukkan bahwa Kawasan
Tugu Religi sejauh ini belum sepenuhnya
memenuhi standar desain yang inklusif. Masih
banyak ditemukan ketidaksesuaian antara kondisi
fisik bangunan dengan regulasi yang berlaku,
seperti tidak adanya pegangan tangan pada area
tangga dan jalur pemandu bagi tunanetra yang
seringkali terputus atau tidak konsisten. Selain itu,
fasilitas pendukung seperti bangku taman dan area
parkir belum memberikan aksesibilitas yang
memadai bagi pengguna kursi roda karena letaknya
yang sulit dijangkau atau minimnya penanda
khusus. Secara lingkungan pun, kawasan ini dinilai
masih sangat panas dan kurang nyaman bagi
pejalan kaki karena persentase vegetasi hijau yang
masih rendah dibandingkan dengan luas material
keras seperti aspal dan beton yang mendominasi
kawasan tersebut. Secara garis besar, penelitian ini
menyimpulkan
bahwa
kawasan
tersebut
membutuhkan renovasi dan strategi penataan ulang
yang lebih serius agar bisa menjadi ruang publik
yang benar-benar adaptif dan inklusif.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil survei dan analisis, desain Ruang
Terbuka Hijau Tugu Religi belum sepenuhnya
merangkul prinsip desain universal. Banyak
fasilitas gagal mengakomodasi kebutuhan
disabilitas, anak-anak, dan lansia. Perencana dan
pemerintah Sulawesi Tenggara harus menyusun
strategi penerapan desain universal yang
komprehensif. Renovasi dapat dilakukan sesuai
solusi desain yang diusulkan untuk memfasilitasi
kemudahan bagi semua pengguna.
Pengakuan: Penelitian ini didukung oleh
Pemerintah Kota Kendari (PUPR), Balitbang
Provinsi Sulawesi Tenggara, dan Kantor
Lingkungan Hidup Kota Kendari.
Download