Uploaded by sagra.preloved

Dasar-Dasar Perjanjian Baru: Pelajaran 1 dari 2

advertisement
Dasar-Dasar Perjanjian Baru:
Hal-hal yang Kita Pikir Kita Tahu
NT217
Pelajaran 1 dari 2
Apa yang akan Kita Lakukan dengan Perjanjian Baru?
Craig L. Blomberg, Ph.D.
Guru Besar dalam studi Perjanjian Baru
Denver Seminary di Littleton, Colorado
I. Pendahuluan
Selamat datang di dalam penyelidikan Perjanjian Baru.
A. Mengapa Membaca Perjanjian Baru?
Ada banyak alasan mengapa hari ini orang-orang tertarik
kepada kumpulan kitab yang berusia hampir 2.000 tahun
ini. Sebagian dari mereka mengakui keindahan sastranya
dan menghargai cara Alkitab memengaruhi banyak karya
sastra besar dunia selama dua ribu tahun terakhir. Alasan
lain lebih bersifat akademis atau historis, yaitu mengakui
pentingnya pribadi Yesus dalam sejarah manusia,
khususnya di Eropa dan Amerika Utara, di mana kekristenan
bertumbuh dari sebuah sekte kecil menjadi agama yang
mendunia. Ketertarikan lain mempelajari Perjanjian Baru
bisa bersifat pribadi, atau bahkan profesional, yaitu karena
mereka ingin lebih memahami dokumen-dokumen yang
mereka yakini adalah firman Tuhan dan melayani Dia,
mungkin sebagai orang Kristen penuh waktu.
B. Tujuan Seri
Tujuan seri pengajaran ini adalah menyajikan sebuah
penyelidikan tentang Perjanjian Baru terutama bagi
mereka yang sudah akrab dan mengetahui isi Perjanjian
Baru, tetapi mungkin belum pernah mempelajari semua
kitabnya secara lengkap dan sistematis. Kita juga
merenungkan perspektif injili yang luas. Sebagai orang
percaya, kita menanggapi firman Tuhan dengan serius.
Sikap iman tersebut akan memengaruhi pernyataan yang
kita buat sepanjang pengajaran ini. Namun, kami akan
berusaha untuk tetap menyadari dan berhati-hati dalam
menyikapi perbedaan pendapat para ahli mengenai isu-isu
yang krusial.
Transkrip - NT217 Dasar-dasar Perjanjian Baru: Hal-hal yang Kita Pikir Kita Tahu
© 2023 Our Daily Bread University. Hak cipta dilindungi undang-undang.
1 of 11
Pelajaran 1 dari 2
Apa yang akan Kita Lakukan dengan Perjanjian Baru?
II. Susunan Perjanjian Baru
Sebelum kita mulai, penting bagi kita untuk mengajukan
pertanyaan, “Apakah Perjanjian Baru itu?” Saat ini kita mungkin
menganggapnya sebagai sebuah kitab, padahal sebenarnya itu
sebuah kumpulan yang terdiri dari 27 kitab, atau lebih tepatnya
gulungan-gulungan kitab—papirus dan perkamen yang di atasnya
naskah-naskah tersebut pertama kali dituliskan. Dalam urutan
kanonis, Perjanjian Baru dimulai dengan empat kitab yang dikenal
sebagai kitab-kitab Injil —Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.
A. Kitab Injil
Kata Injil berasal dari bahasa Yunani, berarti “kabar baik”.
Keempat kitab ini disebut “kabar baik” oleh Kristen mulamula yang mengumpulkannya, karena mereka percaya
bahwa Yesus, tokoh utama dalam kisah-kisah tersebut,
membawa kabar baik bagi umat di dunia. Dari bentuk
tulisan atau genre sastra, Injil mirip buku sejarah atau
biografi, tetapi tidak sama persis dengan dokumen dunia
kuno yang dikenal. Mereka ditulis dengan gaya dan
bentuk penulisan yang membawa kita kepada maksud
penulisnya yang berusaha menyampaikan kebenaran
tentang peristiwa-peristiwa dan orang-orang yang mereka
ceritakan dan gambarkan.
Keempat Injil disusun berdasarkan urutan yang kita kenal
saat ini—Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes—mungkin
karena begitulah kira-kira urutan yang dipikirkan oleh
gereja mula-mula ketika kitab-kitab tersebut ditulis,
dengan satu pengecualian. Injil Matius mungkin bukanlah
yang pertama ditulis, melainkan Injil Markus. Namun, Injil
Matius ditempatkan pada urutan pertama karena ia paling
menunjukkan keterkaitan dengan Perjanjian Lama, tulisan
yang dipercayai oleh orang Kristen, seperti orang Yahudi,
adalah sesuatu yang sakral, berotoritas, dan diilhami oleh
Allah. Jadi, Matius, Injil yang paling Yahudi di antara
keempatnya, ditempatkan pada urutan pertama; disusul
dengan Markus, Lukas, dan Yohanes, mungkin karena
begitulah urutan penulisannya.
B. Kisah Para Rasul
Kitab kelima dari Perjanjian Baru secara tradisional diberi
judul “Kisah Para Rasul”. Kitab ini menceritakan peristiwaTranskrip - NT217 Dasar-Dasar Perjanjian Baru: Hal-hal yang Kita Pikir Kita Tahu
© 2023 Our Daily Bread University. Hak cipta dilindungi undang-undang.
2 of 11
Pelajaran 1 dari 2
Apa yang akan Kita Lakukan dengan Perjanjian Baru?
peristiwa pilihan dari generasi pertama umat Kristen
setelah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Namun,
kitab ini sesungguhnya hanya menceritakan sedikit
tentang beberapa rasul dan memusatkan perhatiannya
pada dua tokoh tertentu—Petrus, salah satu dari dua
belas murid, dan Paulus, diluar dari mereka, tetapi yang
kemudian mendapatkan penglihatan tentang Kristus yang
telah bangkit dan menganggap dirinya sejajar dengan para
rasul.
C. Surat-surat Paulus
Setelah Kisah Para Rasul, terdapat tiga belas epistel
atau surat penggembalaan, yang semuanya dikaitkan
dengan rasul Paulus. Surat-surat tersebut adalah: Roma,
1 dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2
Tesalonika, 1 dan 2 Timotius, Titus, dan Filemon. Urutan
tersebut bukan urutan yang bersifat teologis atau religius.
Sepertinya surat-surat itu disusun menurut kelompoknya,
dimulai dari yang terpanjang hingga yang terpendek.
Pertama-tama, kita akan melihat surat-surat yang ditulis
kepada jemaat Kristen, lalu yang ditulis kepada individu
tertentu—Timotius, Titus, dan Filemon. Apabila ada dua
surat ditulis kepada jemaat atau individu yang sama, maka
kedua surat tersebut dikelompokkan menjadi satu dan itu
sedikit melanggar aturan tentang urutan panjang surat.
D. Surat-surat Umum
Setelah surat-surat yang dikaitkan dengan Paulus, ada
delapan surat yang lain. Yang pertama adalah surat Ibrani,
yang tidak mencantumkan siapa penulisnya dalam naskah
yang kita miliki saat ini. Ada perbedaan pendapat dalam
Gereja mula-mula antara mereka yang tinggal di belahan
barat yang berbahasa Latin, nantinya disebut Gereja
Katolik Roma, yang meyakini bahwa surat tersebut berasal
dari Rasul Paulus, dengan mereka yang tinggal di belahan
timur, atau disebut Gereja Ortodoks Yunani, yang meyakini
bahwa surat tersebut ditulis oleh orang lain. Dari sekian
banyak pendapat yang ada, semuanya mengarah kepada
murid atau sahabat Paulus. Karena ketidakpastian ini
surat Ibrani ditempatkan persis setelah kumpulan suratsurat yang dikaitkan dengan Paulus. Surat tersebut tidak
ditempatkan sesuai dengan urutan panjangnya.
Transkrip - NT217 Dasar-Dasar Perjanjian Baru: Hal-hal yang Kita Pikir Kita Tahu
© 2023 Our Daily Bread University. Hak cipta dilindungi undang-undang.
3 of 11
Pelajaran 1 dari 2
Apa yang akan Kita Lakukan dengan Perjanjian Baru?
Tujuh surat yang tersisa sering disebut sebagai “SuratSurat Katolis” atau “Surat-Surat Umum”. Arti katolis di sini
berarti universal atau ditulis untuk daerah atau wilayah
yang luas dan beragam; atau juga dipahami sebagai
sekumpulan gereja, bukan hanya gereja tertentu atau
individu. Surat-surat yang dimaksud mencakup Yakobus,
1 dan 2 Petrus, 1, 2, dan 3 Yohanes, dan Yudas. Mengapa
urutannya adalah Yakobus, Petrus, Yohanes, dan Yudas?
Kita tidak begitu yakin, tetapi sepertinya berkaitan dengan
urutan kemasyhuran keempat penulis surat-surat tersebut
pada tahun-tahun awal kekristenan.
Yakobus, yang kita kenal dari paruh pertama Kisah
Para Rasul, yaitu saudara Tuhan kita, adalah penatua
atau pemimpin gereja di Yerusalem pada masa awal
kekristenan. Petrus, yang lebih menonjol tak lama setelah
itu, akhirnya menjadi uskup pertama di Roma. Yohanes
sering digambarkan dalam kitab Injil dan Kisah Para
Rasul sebagai “seorang teman”, meski ia kurang menonjol
dibandingkan Petrus. Lalu, Yudas, saudara Tuhan kita yang
lain, paling tidak terkenal di antara keempatnya. Jadi,
mungkin saja kitab-kitab tersebut disusun dalam urutan
keterkemukaan: Yakobus, Petrus, Yohanes, dan Yudas.
E. Wahyu
Kitab terakhir, yang ke-27 dalam Perjanjian Baru, adalah
Wahyu, yang kadang disebut “Kitab Penyingkapan”—
mungkin ada alasan tertentu teks dalam bahasa Yunani
atau terjemahan modern tidak menggunakan istilah itu
dalam bentuk jamak. Meski Yohanes menerima banyak
penglihatan dari Tuhan Yesus mengenai hal-hal yang ia
gambarkan di dalam kitab tersebut, semuanya merupakan
satu kesatuan—wahyu yang utuh dari Yesus Kristus. Kata
tersebut dalam bahasa Yunani bisa berarti “penyingkapan”,
dan artinya lebih dari sekadar isi yang disingkapkan. Kata
tersebut mengacu kepada bentuk sastra yang terkenal di
dunia Yahudi dan Yunani-Romawi kuno, yang sering kali
merupakan perlambangan terhadap peristiwa di masa
lalu, sekarang, atau masa depan. Hal tersebut muncul dari
perspektif orang-orang yang percaya bahwa Allah akan
membawa sejarah manusia ke sebuah titik puncak dan Ia
mengintervensi secara kosmik atau supranatural untuk
mengakhiri sejarah manusia—untuk membenarkan umatTranskrip - NT217 Dasar-Dasar Perjanjian Baru: Hal-hal yang Kita Pikir Kita Tahu
© 2023 Our Daily Bread University. Hak cipta dilindungi undang-undang.
4 of 11
Pelajaran 1 dari 2
Apa yang akan Kita Lakukan dengan Perjanjian Baru?
Nya, para pengikut-Nya yang setia, dan menjatuhkan
hukuman atas musuh-musuh-Nya.
III. Pertanyaan-pertanyaan yang Harus Diajukan
Kita akan membahas lebih jauh tentang masing-masing tulisan
dan bagian dari Perjanjian Baru ini ketika kita melihat setiap
kitab, satu per satu. Tetapi kita perlu menyiapkan seperangkat
pengantar saat ini; untuk mengingatkan secara singkat jenis
pertanyaan apa yang akan kita ajukan untuk tulisan tersebut ketika
kita menelitinya. Pada dasarnya, ada empat jenis pertanyaan dari
sekian banyak yang dapat diajukan kepada kitab-kitab dalam
Perjanjian Baru.
A. Latar Belakang Historis
Jenis pertanyaan yang pertama adalah tentang pendahuluan
atau latar belakang historis. Sepanjang kelas ini, kita perlu
mencari tahu lebih rinci dan mencoba menjawab siapa
penulis tiap kitab, situasi saat itu, kapan, siapa audiensnya,
dan masalah apa yang dihadapi. Pertanyaan-pertanyaan
itu sangat penting ketika kita beralih dari masa 2.000
tahun yang lalu, dalam sebuah budaya yang jauh dan
sangat berbeda dengan budaya modern sekarang, untuk
mengaplikasikan teks tersebut dalam kehidupan kristiani
kita saat ini. Di bagian awal, kita akan menghabiskan
beberapa pelajaran tentang latar belakang historis dari
seluruh periode Perjanjian Baru. Tanpa mempelajari
konteks tersebut, mudah bagi kita melepaskan teks dari
konteksnya dan menafsirkannya berbeda dengan apa yang
dimaksudkan oleh penulis aslinya, atau yang tidak pernah
dipahami demikian oleh para pembaca aslinya.
B. Penafsiran
Jenis pertanyaan yang kedua berkaitan dengan penafsiran
atau eksegesis, yaitu menggali gagasan-gagasan utama
dari teks sesuai dengan urutan dan strukturnya, untuk
memahami garis besar atau alur pemikiran penulis di
setiap kitab. Dengan kata lain, eksegesis memusatkan
perhatian pada beberapa masalah yang lebih sulit yang
telah memberatkan para penafsir di sepanjang sejarah
gereja.
Transkrip - NT217 Dasar-Dasar Perjanjian Baru: Hal-hal yang Kita Pikir Kita Tahu
© 2023 Our Daily Bread University. Hak cipta dilindungi undang-undang.
5 of 11
Pelajaran 1 dari 2
Apa yang akan Kita Lakukan dengan Perjanjian Baru?
C. Teologi
Jenis pertanyaan yang ketiga berkaitan dengan teologi. Ini
lebih bersifat sintetis (menggabungkan). Setelah membaca
sebuah kitab secara berurutan, mengenali pokok-pokok
utamanya, beberapa masalah penafsiran, apa pelajaran
utama yang ingin disampaikan oleh penulis kitab tersebut?
Beberapa pertanyaan tambahan yang dapat diajukan,
misalnya: Apa tugas sesungguhnya? Apa perintahperintah yang harus ditaati? Apakah teladan yang harus
diikuti atau dihindari? Singkatnya, apa yang diajarkan
oleh kitab tersebut menyangkut doktrin-doktrin utama
iman Kristen? Semua itu adalah pertanyaan-pertanyaan
teologis.
D. Penerapan Kontemporer
Keempat dan terakhir, pertanyaan tentang penerapan pada
zaman ini (kontemporer). Ini hal yang paling sulit dalam
sebuah penyelidikan singkat atas kitab tersebut karena
setiap budaya, audiens, atau penafsir akan menemukan
dirinya berada dalam situasi yang unik, dan karenanya,
penerapannya pun bervariasi. Mungkin penerapannya akan
sebanyak jumlah orang yang mengikuti seri pengajaran
ini, tetapi makna teks Alkitabnya tetap sama.
IV. Periode Antar Perjanjian
Setelah seluruh pengantar tersebut, kita siap memulai dengan
beberapa bagian tentang latar belakang historis, dan pertamatama terhadap seluruh Perjanjian Baru. Di sini kita akan membagi
tafsiran kita ke dalam dua kategori besar: pertama, perkembangan
sosial dan politik yang lebih luas, yaitu hal-hal yang Anda ingin
ketahui di dalam buku sejarah dunia kuno dari budaya mana
pun; dan kedua, komponen-komponen religius yang membentuk
latar belakang yang penting bagi studi Perjanjian Baru. Dengan
waktu yang tersisa, kita akan membatasi pada perkembanganperkembangan sosio-politik dari sejarah yang berabad-abad,
yang menuntun pada penulisan Perjanjian Baru dan peristiwaperistiwa yang dikisahkan di dalamnya.
Perjanjian Baru tidak muncul begitu saja, dan agama Kristen tidak
lahir hanya karena Yesus lahir tanpa peristiwa-peristiwa penting
yang menuntun pada penulisannya. Semua orang Kristen mulaTranskrip - NT217 Dasar-Dasar Perjanjian Baru: Hal-hal yang Kita Pikir Kita Tahu
© 2023 Our Daily Bread University. Hak cipta dilindungi undang-undang.
6 of 11
Pelajaran 1 dari 2
Apa yang akan Kita Lakukan dengan Perjanjian Baru?
mula dan semua penulis Perjanjian Baru percaya bahwa mereka
telah memiliki Kitab Suci, yang pada masa itu hanya disebut
“Kitab-Kitab” atau “tulisan-tulisan”, tetapi nantinya orang
Kristen menyebutnya sebagai Perjanjian Lama atau Kitab Suci
bahasa Ibrani untuk membedakannya dengan dua puluh tujuh
kitab yang baru, yang dikenal sebagai Perjanjian Baru. Karena
itu, Perjanjian Baru harus dilihat sebagai kitab yang secara sadar
mengklaim dirinya puncak dari sejarah Perjanjian Lama, dan
penggenapan dari begitu banyak janji yang terdapat dalam tiga
puluh sembilan kitab sebelumnya.
Perjanjian Lama selesai ditulis kira-kira abad ke-5 S.M. Kitab
terakhir yang ditulis kemungkinan besar adalah kitab yang
muncul di urutan terakhir dalam kanon Perjanjian Lama, yaitu
kitab Maleakhi. Para ahli yang konservatif biasanya menetapkan
waktu penyampaian nubuat Maleakhi sekitar tahun 425 S.M. Ini
menciptakan celah waktu lebih dari empat abad sebelum sejarah
berlanjut. Periode tersebut sering disebut dengan “Periode
Intertestamental”, yang mengarah kepada masa hidup Tuhan
Yesus dan peristiwa-peristiwa yang menciptakan dan melahirkan
Perjanjian Baru.
A. Kekaisaran Persia
Ketika Maleakhi meninggal, tidak ada perubahan yang
terjadi secara khusus dalam sejarah Yahudi yang membuat
para sejarawan sekuler menandai sebuah era baru dalam
sejarah dunia. Mereka yang akrab dengan kitab-kitab
terakhir dari Perjanjian Lama akan mengingat bahwa
orang-orang Yahudi telah mendekam dalam pengasingan
di bawah pemerintahan beberapa penindas asing.
Namun, pemerintah Persia, terutama penguasanya,
mengizinkan mereka yang ingin kembali ke tanah Israel.
Lalu, dalam rezim penguasa berikutnya, mereka mulai
membangun kembali Bait Allah dan ibu kota, yaitu kota
suci Yerusalem. Ini berlangsung selama periode nabi-nabi
yang menulis kitab-kitab terakhir. Sampai kurang lebih
satu abad berikutnya keadaan relatif tidak berubah dalam
berbagaimasa pemerintahan Kekaisaran Persia.
Transkrip - NT217 Dasar-Dasar Perjanjian Baru: Hal-hal yang Kita Pikir Kita Tahu
© 2023 Our Daily Bread University. Hak cipta dilindungi undang-undang.
7 of 11
Pelajaran 1 dari 2
Apa yang akan Kita Lakukan dengan Perjanjian Baru?
B. Yunani
Periode baru yang menentukan dalam sejarah Timur
Tengah dimulai dengan bangkitnya Aleksander Agung,
seorang jenderal dari Makedonia atau Yunani, yang
dalam waktu yang sangat singkat, mungkin sekitar tiga
belas tahun, menaklukkan hampir seluruh wilayah yang
sebelumnya dikuasai Persia—sebagian besar wilayah di
Timur Tengah. Pada akhirnya ia membangun kekaisaran
terbesar yang pernah ada di zaman Timur Dekat kuno.
Aleksander meninggal pada tahun 323 SM setelah
memasukkan Israel sebagai bagian dari wilayah
taklukannya. Namun, para jenderalnya, yang kepada
mereka wilayah kekaisarannya dibagi-bagi, melanjutkan
proses yang kita sebut awal dari periode Hellenisme atau
Hellenisasi—berasal dari kata Yunani Hellas, yaitu nama
dalam bahasa Yunani untuk negara Yunani. Hellenisasi
adalah proses menyebarkan pengaruh bahasa Yunani,
budaya Yunani, dan agama Yunani ke seluruh Timur
Tengah kuno, yang menyebabkan perubahan besar.
C. Pemerintahan Seleukus dan Ptolemeus
Setelah Aleksander meninggal dan para jenderalnya selesai
memperebutkan kekaisarannya, keadaan menjadi tenang,
sehingga sebagian besar wilayah utara kekaisaran Yunani
berada di bawah kekuasaan Seleukus—diambil dari nama
salah satu jenderal Aleksander, Seleukus I. Separuh wilayah
selatan kekaisaran berada di bawah kekuasaan Ptolemeus.
Jika kita melihat peta, kita akan melihat bahwa Israel berada
tepat di tengah-tengah wilayah yang diperebutkan oleh
kedua kekaisaran tersebut. Selama paruh pertama periode
Helenistik, Israel berada di bawah kendali Ptolemeus. Pada
paruh kedua, wilayah ini makin di bawah kendali Seleukus.
Pemerintah Seleukus tidak seramah Ptolemeus. Mereka
terus menaikkan pajak atas rakyat yang ditaklukkannya.
Mereka memengaruhi rakyat untuk meninggalkan agama
leluhur dan mendorong mereka mengadopsi agama dan
praktik-praktik kehidupan Yunani—banyak di antaranya
dianggap perbuatan laknat oleh orang-orang Yahudi pada
masa itu.
Transkrip - NT217 Dasar-Dasar Perjanjian Baru: Hal-hal yang Kita Pikir Kita Tahu
© 2023 Our Daily Bread University. Hak cipta dilindungi undang-undang.
8 of 11
Pelajaran 1 dari 2
Apa yang akan Kita Lakukan dengan Perjanjian Baru?
Situasi memuncak pada tahun 160-an SM, setelah hampir
satu setengah abad wilayah tersebut berada di bawah
kekuasaan Ptolemeus lalu Seleukus. Seorang kaisar
Seleukus bernama Antiokhus Epifanes, yaitu Antiokhus IV
yang mengklaim dirinya Epifanes, yang berarti “manifestasi
Tuhan”, mengklaim segala macam hal yang keterlaluan di
mata orang-orang Yahudi. Tidak hanya mengaku sebagai
Tuhan, dia juga melarang semua praktik mendasar agama
Yahudi seperti membaca gulungan Taurat atau sunat. Yang
terburuk dari semua kejahatan Antiokhus terjadi pada tahun
167 SM, ketika ia menodai Bait Suci dengan menyembelih
seekor babi di atas mezbahnya. Ini memicu pemberontakan
yang disebut perang gerilya pada zaman ini.
D. Makabe / Dinasti Hasmonean
Seorang imam tua bernama Mattathias dan putraputranya—dipimpin oleh seorang bernama Yudas,
yang dijuluki Makabeus, “Sang Pemalu”—memimpin
pemberontakan. Pada hari ini itu akan dianggap sebagai
pemberontakan teroris, karena ia dan sekelompok kecil
pejuang kemerdekaan Yahudi yang kalah jumlah naik ke
bukit-bukit, mengadopsi taktik gerilya dan mengalahkan
pasukan Siria atau Seleukia. Dalam kurun waktu tiga tahun
ia berhasil membebaskan Bait Suci. Pembebasan ini terus
dirayakan hingga saat ini melalui upacara atau festival
Yahudi yang dikenal dengan Hanukkah.
Peristiwa tersebut menandai periode besar kedua dalam
sejarah intertestamental yang dapat disebut sebagai
periode Hasidisme— berasal dari kata dalam bahasa Yahudi
yang berarti “yang saleh”. Periode ini juga dikenal dengan
“Dinasti Hasmonean” karena itu adalah masa ketika
Mattathias, Yudas, dan penerus mereka, yang semuanya
berasal dari keluarga leluhur yang bernama Hasmoneus,
memerintah. Singkatnya, itu adalah periode orang-orang
Yahudi merdeka selama satu abad dan juga masa keemasan
dalam sejarah Yahudi.
Namun, ada efek negatif dari periode tersebut. Karena
semua peperangan dan tahun-tahun pengasingan tersebut,
orang-orang Yahudi makin terpolarisasi terhadap orangorang non-Yahudi, yang hidup di sekeliling mereka dan
kadang bersama mereka. Dalam banyak kasus, mereka
makin keras menentang agama-agama lain dan pengaruh
Transkrip - NT217 Dasar-Dasar Perjanjian Baru: Hal-hal yang Kita Pikir Kita Tahu
© 2023 Our Daily Bread University. Hak cipta dilindungi undang-undang.
9 of 11
Pelajaran 1 dari 2
Apa yang akan Kita Lakukan dengan Perjanjian Baru?
budaya. Sebagian besar kebencian dan permusuhan antara
orang Yahudi dengan bukan Yahudi yang kita rasakan ketika
membaca Perjanjian Baru—yang diklaim dapat diatasi oleh
agama Kristen—adalah akibat dari periode seratus tahun
atau lebih kemerdekaan Yahudi tersebut.
E. Pengaruh Romawi
Meski semua hal yang baik harus berakhir, dan sembari
orang-orang Yahudi merayakan kebebasan yang baru
mereka temukan di Israel, sebuah kekuatan baru muncul di
Barat, yaitu Kekaisaran Romawi. Mereka terus menaklukkan
wilayah demi wilayah Kekaisaran Yunani, dan akhirnya,
pada tahun 63 SM, tiba di perbatasan Israel. Pada dasarnya,
Israel mempersilakan Romawi masuk agar mereka dapat
menyelesaikan perselisihan suksesi internal. Namun,
yang terjadi adalah berakhirnya kemerdekaan mereka dan
periode ketiga dan terakhir dari sejarah intertestamental
yang terus berlanjut hingga abad pertama dan penulisan
semua dokumen Perjanjian Baru, yang disebut periode
Romanisasi atau pemerintahan Romawi.
Pada awalnya, itu bukan hal yang buruk bagi gereja yang
baru terbentuk pasca Kristus dan rasul-rasul yang pertama.
Berkat kebijakan persatuan Romawi, bahasa Yunani yang
telah menyebar luas selama berabad-abad terus menjadi
bahasa pergaulan, sehingga Perjanjian Baru ditulis dalam
bahasa Yunani, dan dapat dibaca dan dimengerti oleh
hampir semua orang. Sistem transportasi dan komunikasi
yang sangat baik; kebijakan Pax Romana atau kedamaian
Romawi yang terkenal; fakta bahwa orang-orang Kristen,
seperti orang-orang Yahudi sebelumnya diizinkan untuk
memerintah secara otonom meski terbatas—semuanya
adalah anugerah bagi penyebaran agama Kristen mulamula. Itu berlaku pada masa kehidupan Kristus sampai satu
generasi setelahnya. Namun, bersama dengan munculnya
Nero pada tahun 60-an Masehi, kita melihat contoh
pertama penganiayaan Romawi terhadap orang-orang
Kristen. Secara khusus, penganiayaan tersebut terkait
dengan fakta bahwa mereka mulai menyadari bahwa
orang Kristen bukan sekadar sekte Yahudi; dan karenanya,
mereka tidak secara otomatis menikmati kebebasan yang
diberikan kepada orang Yahudi.
Transkrip - NT217 Dasar-Dasar Perjanjian Baru: Hal-hal yang Kita Pikir Kita Tahu
© 2023 Our Daily Bread University. Hak cipta dilindungi undang-undang.
10 of 11
Pelajaran 1 dari 2
Apa yang akan Kita Lakukan dengan Perjanjian Baru?
Namun, pada tahun 70 M, orang-orang Yahudi menjadi
sasaran pemerintah Romawi, beserta pemberontakan oleh
kaum Zelot Yahudi di Yerusalem. Itu mendorong jenderal
Romawi, Titus, menyerbu Yerusalem, membakar Bait
Suci, menghancurkannya hingga rata dengan tanah, dan
mengakhiri negara Yahudi di Israel. Tahun 70 M, dari sudut
pandang sekuler, mungkin adalah tonggak terpenting
dalam sejarah abad pertama. Ada satu pemberontakan
Yahudi yang singkat di awal abad kedua, yaitu pada tahun
130-an M, yang dengan cepat dipadamkan, tetapi Yudaisme
tidak pernah lagi menjadi negara merdeka sampai tahun
1940-an.
Penjelasan-penjelasan singkat tersebut mengungkapkan
peristiwa-peristiwa politik yang menjadi kondisi latar
bagi kedatangan Yesus dan peristiwa-peristiwa yang akan
berkembang dalam Perjanjian Baru.
Transkrip - NT217 Dasar-Dasar Perjanjian Baru: Hal-hal yang Kita Pikir Kita Tahu
© 2023 Our Daily Bread University. Hak cipta dilindungi undang-undang.
11 of 11
Download