FARMAKOTERAPI STROKE Dosen Pengampu: Adniana Yeliza, M.Farm Disusun Oleh Nama : NPM: Kelas: Adhania Putri 2023052003 B PROGRAM STUDI FARMAWSI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ADILA BANDAR LAMPUNG 2026 i KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Farmakoterapi Stroke” dengan baik. Makalah ini disusun untuk memberikan pemahaman mengenai stroke, meliputi pengertian, jenis, etiologi, faktor risiko, tanda dan gejala, patofisiologi, serta prinsip penatalaksanaan farmakoterapi pada pasien stroke. Pembahasan dalam makalah ini mencakup berbagai aspek terapi obat yang digunakan dalam penanganan stroke, mulai dari golongan obat, indikasi, mekanisme kerja, efek samping, interaksi obat, hingga penerapan penggunaan obat secara rasional. Penulis berharap materi yang disajikan dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai pentingnya pemilihan dan penggunaan obat yang tepat dalam mendukung keberhasilan terapi serta mencegah terjadinya komplikasi dan stroke berulang. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki keterbatasan dalam penyusunan maupun kedalaman pembahasannya. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan sebagai bahan evaluasi untuk penyempurnaan pada masa mendatang. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menjadi bahan pembelajaran bagi pembaca dalam memahami farmakoterapi stroke. Bandar Lampung, 25 Agustus 2026 Penulis ii DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ....................................................................................... i DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 3 1.3 Tujuan ....................................................................................................... 4 BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 5 2.1 Definisi Stroke .......................................................................................... 5 2.2 Etiologi Stroke .......................................................................................... 6 2.3 Faktor Risiko Stroke ................................................................................. 6 2.4 Klasifikasi Stroke...................................................................................... 8 2.4.1 Stroke Iskemik ................................................................................... 8 2.4.2 Stroke Hemoragik .............................................................................. 8 2.4.3 Transient Ischemic Attack ................................................................. 8 2.5 Patofisiologi Stroke .................................................................................. 9 2.5.1 Patofisiologi Stroke Iskemik .............................................................. 9 2.5.2 Patofisiologi Stroke Hemoragik ......................................................... 9 2.6 Tanda dan Gejala Stroke ........................................................................... 9 2.7 Diagnosis Stroke ..................................................................................... 10 2.8 Tatalaksana Farmakoterapi Stroke ......................................................... 11 2.8.1 Terapi Stroke Iskemik Akut................................................................. 11 2.9 Terapi Farmakologis Stroke Hemoragik ................................................ 13 2.10 Obat-Obatan yang Digunakan dalam Farmakoterapi Stroke ................ 14 2.11 Mekanisme Kerja Obat pada Stroke ..................................................... 14 2.11.1 Mekanisme Alteplase ..................................................................... 14 2.11.2 Mekanisme Aspirin ........................................................................ 15 2.11.3 Mekanisme Clopidogrel ................................................................. 15 2.11.4 Mekanisme Warfarin...................................................................... 15 2.11.5 Mekanisme Antikoagulan Oral Langsung ..................................... 15 2.11.6 Mekanisme Statin ........................................................................... 15 iii 2.11.7 Mekanisme ACE Inhibitor ............................................................. 16 2.11.8 M ekanisme ARB ........................................................................... 16 2.11.9 Mekanisme Amlodipin ................................................................... 16 2.12 Terapi Pencegahan Stroke Berulang ..................................................... 16 2.13 Efek Samping dan Interaksi Obat ......................................................... 17 2.14 Rasionalitas Penggunaan Obat pada Stroke ......................................... 17 BAB III KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ 21 3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 21 3.2 Saran ....................................................................................................... 23 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 24 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan salah satu penyakit neurologis yang menjadi permasalahan kesehatan penting karena dapat menyebabkan gangguan fungsi otak secara mendadak dan menimbulkan kecacatan jangka panjang. Kondisi ini terjadi akibat terganggunya aliran darah menuju jaringan otak, baik karena penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah. Kekurangan aliran darah dan oksigen menyebabkan selsel otak mengalami kerusakan sehingga dapat memengaruhi kemampuan motorik, sensorik, kognitif, bicara, maupun fungsi tubuh lainnya. Tingkat keparahan stroke sangat bergantung pada lokasi dan luas jaringan otak yang mengalami kerusakan serta kecepatan pasien memperoleh penanganan. Secara umum, stroke dibedakan menjadi stroke iskemik dan stroke hemoragik. Stroke iskemik terjadi ketika pembuluh darah yang memasok otak mengalami penyumbatan sehingga jaringan otak kekurangan oksigen, sedangkan stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan di dalam atau sekitar jaringan otak. Perbedaan mekanisme tersebut menyebabkan pendekatan pengobatan pada kedua jenis stroke tidak dapat disamakan. Penentuan jenis stroke melalui pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang menjadi bagian penting sebelum terapi farmakologis diberikan karena obat yang bermanfaat pada stroke iskemik dapat berisiko apabila diberikan pada kondisi perdarahan otak. Farmakoterapi memiliki peranan penting dalam penatalaksanaan stroke karena terapi obat ditujukan untuk menangani kondisi akut, mencegah perluasan kerusakan otak, mengendalikan faktor risiko, mencegah komplikasi, serta mengurangi kemungkinan terjadinya stroke berulang. Pada stroke iskemik, terapi dapat melibatkan antiplatelet, antikoagulan pada indikasi tertentu, obat antihipertensi, antidislipidemia, serta terapi lain sesuai kondisi pasien. Penelitian Anikasari et al. (2024) menunjukkan bahwa pola penggunaan obat pada pasien stroke iskemik dapat melibatkan kombinasi neuroprotektan, antiplatelet, antihipertensi, dan antidislipidemia. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa 2 evaluasi ketepatan indikasi, pasien, obat, dan dosis diperlukan untuk memastikan penggunaan obat berlangsung secara rasional. Pengendalian tekanan darah menjadi salah satu aspek penting dalam farmakoterapi stroke karena hipertensi merupakan faktor yang berkaitan erat dengan kejadian stroke serta dapat memengaruhi kondisi pasien selama maupun setelah serangan stroke. Penggunaan antihipertensi harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien karena penurunan tekanan darah yang terlalu cepat pada kondisi tertentu dapat memengaruhi perfusi otak. Mawarni et al. (2024) menunjukkan bahwa penggunaan obat antihipertensi pada pasien stroke dengan komorbid hipertensi perlu diperhatikan karena berkaitan dengan kondisi pasien dan kualitas hidup. Penelitian tersebut juga menunjukkan pentingnya kepatuhan terhadap terapi antihipertensi dalam pengelolaan pasien. Selain antihipertensi, penggunaan antiplatelet menjadi salah satu bagian penting dalam terapi dan pencegahan stroke iskemik, khususnya pada pasien dengan mekanisme non-kardioembolik sesuai indikasi. Antiplatelet bekerja dengan menghambat agregasi trombosit sehingga pembentukan trombus dapat dikurangi. Pemilihan jenis obat, dosis, kombinasi, serta lama penggunaan perlu disesuaikan dengan kondisi pasien untuk memperoleh manfaat terapi sekaligus meminimalkan risiko perdarahan. Pada pasien tertentu, terapi antikoagulan dapat dipertimbangkan apabila terdapat sumber emboli kardioembolik seperti fibrilasi atrium, sehingga pemilihan obat harus berdasarkan penyebab stroke dan karakteristik klinis pasien. Farmakoterapi stroke juga mencakup pengendalian faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya stroke kembali. Dislipidemia, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit kardiovaskular merupakan kondisi yang perlu mendapatkan perhatian dalam perencanaan terapi jangka panjang. Obat penurun lipid seperti statin dapat digunakan pada pasien dengan indikasi untuk membantu menurunkan kadar LDL dan risiko kejadian vaskular berikutnya. Sementara itu, pengendalian kadar glukosa dan tekanan darah dilakukan sesuai kondisi klinis pasien. Dengan demikian, keberhasilan farmakoterapi stroke tidak hanya ditentukan oleh pengobatan pada fase akut, tetapi juga oleh pengelolaan faktor risiko secara berkelanjutan. 3 Penggunaan obat pada pasien stroke harus dilakukan secara rasional karena pasien sering memperoleh beberapa jenis obat secara bersamaan akibat adanya komplikasi dan penyakit penyerta. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi obat, baik melalui mekanisme farmakokinetik maupun farmakodinamik. Pratiwi et al. (2024) dalam kajian mengenai interaksi obat pada pasien stroke menunjukkan bahwa interaksi obat masih dapat ditemukan pada penggunaan berbagai obat pada pasien stroke dan dapat terjadi melalui mekanisme farmakokinetik maupun farmakodinamik. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan terapi, terutama pada pasien yang mendapatkan banyak obat secara bersamaan. Berdasarkan uraian tersebut, pemahaman mengenai farmakoterapi stroke menjadi penting dalam mendukung penggunaan obat yang tepat, efektif, aman, dan sesuai dengan kondisi pasien. Pemilihan terapi harus mempertimbangkan jenis stroke, mekanisme penyakit, fase pengobatan, faktor risiko, penyakit penyerta, kontraindikasi, efek samping, serta kemungkinan interaksi antarobat. Oleh karena itu, pembahasan mengenai farmakoterapi stroke diperlukan untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai prinsip penggunaan obat pada stroke, mulai dari tujuan terapi, kelompok obat yang digunakan, mekanisme kerja, hingga pemantauan keberhasilan dan keamanan pengobatan. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud dengan stroke? 2. Apa saja jenis dan klasifikasi stroke? 3. Apa saja etiologi dan faktor risiko yang menyebabkan terjadinya stroke? 4. Apa saja tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada pasien stroke? 5. Bagaimana patofisiologi terjadinya stroke? 6. Bagaimana tatalaksana farmakoterapi pada pasien stroke? 4 7. Apa saja golongan obat yang digunakan dalam terapi stroke dan bagaimana mekanisme kerjanya? 8. Apa saja efek samping dan interaksi obat yang perlu diperhatikan dalam farmakoterapi stroke? 9. Bagaimana prinsip penggunaan obat yang rasional pada pasien stroke 1.3 Tujuan Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penulisan makalah ini adalah: 1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian stroke. 2. Untuk mengetahui dan memahami jenis serta klasifikasi stroke. 3. Untuk mengetahui dan memahami etiologi dan faktor risiko yang menyebabkan terjadinya stroke. 4. Untuk mengetahui dan memahami tanda dan gejala yang muncul pada pasien stroke. 5. Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi terjadinya stroke. 6. Untuk mengetahui dan memahami tatalaksana farmakoterapi pada pasien stroke. 7. Untuk mengetahui dan memahami berbagai golongan obat yang digunakan dalam terapi stroke beserta mekanisme kerjanya. 8. Untuk mengetahui dan memahami efek samping serta interaksi obat yang perlu diperhatikan dalam farmakoterapi stroke. 9. Untuk mengetahui dan memahami prinsip penggunaan obat yang rasional pada pasien stroke. 5 BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN 2.1 Definisi Stroke Stroke merupakan gangguan neurologis yang terjadi akibat terganggunya aliran darah menuju jaringan otak atau akibat pecahnya pembuluh darah di dalam maupun sekitar otak. Gangguan tersebut menyebabkan jaringan otak mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi atau mengalami kerusakan akibat perdarahan. Karena sel otak sangat bergantung pada suplai oksigen dan glukosa yang kontinu, gangguan aliran darah dalam waktu singkat dapat menyebabkan kerusakan fungsi neurologis. Manifestasi klinis stroke bergantung pada bagian otak yang terkena, luas kerusakan, serta kecepatan pemberian terapi. Secara umum, stroke dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Stroke iskemik terjadi akibat adanya penyumbatan atau gangguan aliran pada pembuluh darah otak sehingga jaringan otak mengalami iskemia. Sementara itu, stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah mengalami ruptur sehingga darah keluar ke jaringan otak atau ruang di sekitar otak. Perbedaan mekanisme tersebut sangat penting dalam penentuan terapi karena strategi farmakologis yang diberikan pada stroke iskemik berbeda dengan stroke hemoragik. Fajriansyah (2022) menjelaskan bahwa stroke iskemik merupakan kondisi akibat berkurangnya aliran darah ke otak sehingga kebutuhan darah dan oksigen jaringan otak tidak terpenuhi. Stroke juga merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan secara cepat. Semakin lama jaringan otak mengalami kekurangan oksigen, semakin besar kemungkinan terjadi kerusakan jaringan yang menetap. Oleh sebab itu, identifikasi gejala, penentuan jenis stroke, pemeriksaan penunjang, dan pemberian terapi yang sesuai perlu dilakukan dalam waktu sesingkat mungkin. Pada stroke iskemik akut, penentuan waktu terjadinya gejala sangat penting karena beberapa terapi reperfusi mempunyai batas waktu pemberian tertentu. 6 2.2 Etiologi Stroke Etiologi stroke berbeda berdasarkan jenis stroke. Pada stroke iskemik, penyebab utama adalah tersumbatnya arteri yang menyuplai jaringan otak. Penyumbatan dapat disebabkan oleh trombus yang terbentuk pada pembuluh darah otak, embolus yang berasal dari bagian tubuh lain, atau penyempitan pembuluh darah akibat aterosklerosis. Gangguan tersebut menyebabkan berkurangnya aliran darah ke jaringan otak sehingga terjadi kekurangan oksigen dan glukosa. Stroke iskemik juga dapat berhubungan dengan penyakit jantung, terutama kondisi yang meningkatkan pembentukan embolus seperti fibrilasi atrium. Embolus yang terbentuk di jantung dapat terbawa melalui sirkulasi darah dan menyumbat pembuluh darah otak. Selain itu, penyakit pembuluh darah kecil juga dapat menyebabkan stroke lakunar, terutama pada pasien dengan hipertensi atau diabetes melitus yang berlangsung lama. Pada stroke hemoragik, etiologi utamanya adalah pecahnya pembuluh darah otak. Hipertensi yang tidak terkontrol merupakan salah satu kondisi yang dapat meningkatkan tekanan pada dinding pembuluh darah dan meningkatkan kemungkinan terjadinya ruptur. Penyebab lainnya dapat berupa aneurisma, kelainan pembuluh darah, gangguan pembekuan darah, penggunaan obat antikoagulan tertentu, maupun trauma. Perbedaan etiologi tersebut menentukan pemilihan terapi. Pasien dengan stroke iskemik dapat memerlukan terapi antiplatelet atau terapi reperfusi sesuai indikasi, sedangkan pada stroke hemoragik perhatian utama diarahkan pada pengendalian tekanan darah, penghentian atau pembalikan efek obat antikoagulan jika relevan, pengendalian tekanan intrakranial, serta penanganan sumber perdarahan. 2.3 Faktor Risiko Stroke Faktor risiko stroke dapat dikelompokkan menjadi faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi meliputi usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, serta riwayat stroke sebelumnya. Risiko stroke cenderung meningkat seiring bertambahnya usia karena 7 terjadi perubahan struktur pembuluh darah dan akumulasi berbagai faktor risiko selama kehidupan. Faktor yang dapat dimodifikasi meliputi hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, merokok, obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, konsumsi alkohol berlebihan, serta penyakit jantung. Pengendalian faktor-faktor tersebut merupakan bagian penting dalam pencegahan stroke primer maupun sekunder. Hipertensi menjadi salah satu faktor risiko yang sangat penting karena tekanan darah tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko terjadinya penyumbatan maupun ruptur pembuluh darah otak. Penelitian Saefurrohim et al. (2022) pada populasi di Bogor menunjukkan bahwa diabetes melitus dan tekanan darah sistolik merupakan determinan penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya pencegahan stroke. Diabetes melitus juga berperan dalam meningkatkan risiko stroke melalui berbagai mekanisme, termasuk kerusakan endotel, inflamasi, stres oksidatif, dan percepatan aterosklerosis. Kadar glukosa yang tidak terkendali dalam jangka panjang dapat menyebabkan perubahan pada pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko gangguan vaskular. Selain itu, pasien diabetes sering memiliki faktor risiko lain seperti hipertensi dan dislipidemia yang semakin meningkatkan risiko kejadian stroke. Dislipidemia juga berperan dalam perkembangan aterosklerosis. Peningkatan kadar LDL dapat menyebabkan penumpukan lipid pada dinding arteri sehingga terbentuk plak aterosklerotik. Apabila plak semakin berkembang atau mengalami ruptur, proses pembentukan trombus dapat terjadi dan menghambat aliran darah menuju otak. Merokok merupakan faktor risiko lain yang dapat meningkatkan kejadian stroke. Komponen dalam asap rokok dapat menyebabkan kerusakan endotel, meningkatkan aktivasi trombosit, memperburuk fungsi pembuluh darah, serta meningkatkan kecenderungan pembentukan trombus. Karena itu, penghentian merokok merupakan salah satu intervensi penting dalam pencegahan stroke. 8 2.4 Klasifikasi Stroke 2.4.1 Stroke Iskemik Stroke iskemik merupakan jenis stroke yang terjadi akibat berkurangnya atau terhentinya aliran darah menuju jaringan otak. Kondisi ini dapat disebabkan oleh trombosis, emboli, atau penyakit pembuluh darah kecil. Kekurangan oksigen menyebabkan gangguan fungsi sel saraf dan apabila berlangsung cukup lama dapat menyebabkan kematian sel atau infark jaringan otak. Berdasarkan mekanismenya, stroke iskemik dapat dikelompokkan menjadi beberapa subtipe, yaitu stroke aterotrombotik, kardioembolik, lakunar, dan stroke dengan penyebab lain atau penyebab yang belum dapat ditentukan. Klasifikasi tersebut penting karena mekanisme yang berbeda dapat membutuhkan strategi pencegahan sekunder yang berbeda. 2.4.2 Stroke Hemoragik Stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah sehingga darah keluar dan menyebabkan kerusakan jaringan otak. Berdasarkan lokasi perdarahannya, stroke hemoragik dapat dibedakan menjadi perdarahan intraserebral dan perdarahan subaraknoid. Perdarahan intraserebral terjadi ketika darah masuk ke jaringan otak, sedangkan perdarahan subaraknoid terjadi ketika darah masuk ke ruang subaraknoid yang mengelilingi otak. Kondisi tersebut dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial, penurunan kesadaran, dan kerusakan jaringan saraf. 2.4.3 Transient Ischemic Attack Transient Ischemic Attack (TIA) merupakan episode gangguan neurologis akibat iskemia otak yang bersifat sementara tanpa menghasilkan infark otak permanen yang dapat terdeteksi secara klinis atau radiologis sesuai definisi yang digunakan. Meskipun gejalanya dapat menghilang, TIA merupakan tanda peringatan penting karena menunjukkan adanya risiko stroke di masa mendatang. 9 2.5 Patofisiologi Stroke 2.5.1 Patofisiologi Stroke Iskemik Pada stroke iskemik, penyumbatan pembuluh darah menyebabkan aliran darah ke jaringan otak menurun. Akibatnya, pasokan oksigen dan glukosa berkurang sehingga produksi energi melalui metabolisme aerobik terganggu. Penurunan energi menyebabkan fungsi pompa ion pada membran sel tidak berjalan secara optimal. Gangguan pompa ion menyebabkan keseimbangan ion di dalam dan luar sel terganggu. Selanjutnya terjadi depolarisasi membran dan pelepasan neurotransmiter eksitatori seperti glutamat secara berlebihan. Aktivasi reseptor glutamat menyebabkan masuknya ion kalsium dalam jumlah besar ke dalam sel sehingga memicu berbagai proses yang dapat menyebabkan kerusakan sel saraf. Pada jaringan sekitar pusat infark terdapat area yang disebut penumbra. Jaringan ini mengalami gangguan fungsi tetapi masih berpotensi diselamatkan apabila aliran darah dapat dipulihkan dengan cepat. Konsep penumbra menjadi dasar penting dalam terapi reperfusi pada stroke iskemik akut. 2.5.2 Patofisiologi Stroke Hemoragik Pada stroke hemoragik, pecahnya pembuluh darah menyebabkan darah masuk ke jaringan otak atau ruang sekitarnya. Darah yang keluar dapat memberikan efek massa dan meningkatkan tekanan intrakranial. Selain itu, produk darah dapat menimbulkan inflamasi dan kerusakan jaringan saraf. Peningkatan tekanan intrakranial dapat menurunkan perfusi otak sehingga kerusakan jaringan menjadi lebih luas. Kondisi tersebut dapat disertai edema otak, penurunan kesadaran, gangguan neurologis, hingga herniasi otak pada kasus berat. 2.6 Tanda dan Gejala Stroke Stroke biasanya menyebabkan gejala neurologis yang muncul secara mendadak. Gejala yang sering ditemukan meliputi kelemahan atau kelumpuhan pada wajah, lengan, atau tungkai, terutama pada salah satu sisi tubuh. Pasien juga dapat mengalami gangguan bicara, kesulitan memahami pembicaraan, gangguan penglihatan, kehilangan keseimbangan, pusing berat, atau gangguan koordinasi. 10 Salah satu pendekatan sederhana untuk mengenali stroke adalah prinsip FAST, yaitu Face, Arm, Speech, dan Time. Face menunjukkan adanya perubahan atau kelemahan pada wajah, Arm menunjukkan kelemahan pada lengan, Speech menunjukkan gangguan bicara, sedangkan Time menekankan pentingnya segera mencari pertolongan medis. Gejala lain yang dapat muncul adalah sakit kepala hebat secara tiba-tiba, terutama pada stroke hemoragik, penurunan kesadaran, mual, muntah, kejang, dan gangguan keseimbangan. Manifestasi klinis sangat bergantung pada lokasi dan luas kerusakan jaringan otak. Stroke yang mengenai area motorik dapat menyebabkan hemiparesis atau hemiplegia, sedangkan kerusakan area bahasa dapat menyebabkan afasia. Apabila bagian otak yang mengatur koordinasi mengalami gangguan, pasien dapat mengalami ataksia dan gangguan keseimbangan. 2.7 Diagnosis Stroke Diagnosis stroke diawali dengan anamnesis dan pemeriksaan neurologis. Dokter perlu mengetahui waktu terakhir pasien berada dalam kondisi normal, gejala yang muncul, perkembangan gejala, riwayat penyakit, obat yang digunakan, serta faktor risiko kardiovaskular. Pemeriksaan pencitraan otak merupakan bagian penting dalam diagnosis karena diperlukan untuk membedakan stroke iskemik dan stroke hemoragik. CT scan kepala tanpa kontras sering digunakan sebagai pemeriksaan awal untuk mendeteksi perdarahan. MRI otak dengan teknik tertentu dapat memberikan informasi yang lebih sensitif mengenai iskemia pada kondisi yang sesuai. Pemeriksaan tambahan dapat mencakup pemeriksaan glukosa darah, darah lengkap, elektrolit, fungsi ginjal, fungsi hati, profil lipid, elektrokardiogram, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan. Pada dugaan stroke kardioembolik, evaluasi jantung dapat dilakukan untuk mencari kemungkinan fibrilasi atrium atau sumber emboli lainnya. 11 2.8 Tatalaksana Farmakoterapi Stroke Tatalaksana farmakoterapi stroke harus disesuaikan dengan jenis stroke, fase penyakit, mekanisme stroke, kondisi klinis, dan penyakit penyerta. Secara umum, tujuan terapi adalah mempertahankan fungsi vital, meminimalkan kerusakan otak, mengembalikan perfusi pada stroke iskemik yang memenuhi syarat, mencegah perluasan kerusakan, mengurangi komplikasi, serta mencegah stroke berulang. 2.8.1 Terapi Stroke Iskemik Akut a. Trombolitik Pada pasien stroke iskemik akut yang memenuhi kriteria, terapi trombolitik dapat digunakan untuk melarutkan trombus dan mengembalikan aliran darah ke jaringan otak. Salah satu agen yang digunakan adalah recombinant tissue plasminogen activator (rtPA) atau alteplase. Alteplase mengaktivasi plasminogen menjadi plasmin. Plasmin kemudian memecah fibrin yang merupakan komponen utama trombus sehingga bekuan darah dapat mengalami lisis. Pemberian trombolitik harus dilakukan secara selektif setelah memastikan tidak terdapat kontraindikasi, terutama perdarahan intrakranial. Lisnawati et al. (2025) dalam scoping review mengenai profil terapi stroke iskemik di Indonesia menunjukkan bahwa penerapan trombolisis dengan rtPA masih menghadapi kendala berupa keterlambatan waktu onset, keterbatasan akses fasilitas, dan hambatan sistem pelayanan. b. Antiplatelet Antiplatelet merupakan salah satu terapi penting pada stroke iskemik, terutama untuk pencegahan stroke berulang pada pasien yang sesuai. Contoh obat yang digunakan adalah aspirin dan clopidogrel. Aspirin menghambat enzim cyclooxygenase-1 (COX-1) pada trombosit sehingga pembentukan tromboksan A2 menurun. Penurunan tromboksan A2 menyebabkan agregasi trombosit berkurang dan pembentukan trombus dapat ditekan. 12 Clopidogrel bekerja dengan menghambat reseptor P2Y12 pada trombosit. Hambatan tersebut mengurangi aktivasi dan agregasi trombosit sehingga pembentukan trombus dapat dikurangi. Agustina et al. (2023) melaporkan bahwa antiplatelet digunakan pada pasien stroke iskemik di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Tingkat III Brawijaya Surabaya dan penelitian tersebut secara khusus mengevaluasi penggunaan terapi antiplatelet pada pasien stroke iskemik. c. Antikoagulan Antikoagulan dapat diberikan pada kondisi tertentu, terutama apabila stroke iskemik berkaitan dengan sumber emboli kardioembolik seperti fibrilasi atrium. Obat yang dapat digunakan antara lain warfarin atau antikoagulan oral langsung sesuai indikasi. Antikoagulan bekerja dengan menghambat proses pembentukan fibrin sehingga pembentukan atau pertumbuhan trombus dapat ditekan. Pemberiannya harus mempertimbangkan risiko perdarahan dan tidak diberikan secara rutin kepada semua pasien stroke iskemik akut. d. Statin Statin digunakan untuk mengendalikan dislipidemia dan menurunkan risiko kejadian vaskular berikutnya. Contoh obatnya adalah atorvastatin dan rosuvastatin. Statin menghambat enzim HMG-CoA reduktase sehingga sintesis kolesterol di hati berkurang. Penurunan kolesterol intraseluler merangsang peningkatan reseptor LDL di hati sehingga pembersihan LDL dari darah meningkat. e. Antihipertensi Pengendalian tekanan darah pada stroke harus dilakukan secara hati-hati. Pada fase akut stroke iskemik, tekanan darah tidak selalu harus segera diturunkan secara agresif karena tekanan darah tertentu dapat membantu mempertahankan perfusi jaringan otak yang mengalami iskemia. Setelah kondisi akut stabil, pengendalian hipertensi menjadi bagian penting dari pencegahan stroke berulang. Obat yang dapat digunakan antara lain ACE 13 inhibitor, ARB, calcium channel blocker, beta-blocker, atau diuretik sesuai kondisi pasien. Nadjamuddin et al. (2024) meneliti penggunaan kombinasi amlodipin dan valsartan pada pasien stroke iskemik di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, menunjukkan bahwa terapi antihipertensi merupakan salah satu bagian penting dalam pengelolaan pasien stroke iskemik dengan hipertensi. 2.9 Terapi Farmakologis Stroke Hemoragik Pendekatan farmakoterapi stroke hemoragik berbeda dengan stroke iskemik. Antiplatelet dan antikoagulan tidak diberikan secara rutin pada fase perdarahan karena dapat memperburuk perdarahan. Salah satu sasaran terapi adalah mengendalikan tekanan darah. Antihipertensi parenteral dapat digunakan pada kondisi tertentu untuk mencapai tekanan darah yang sesuai secara bertahap dan terkontrol. Obat yang dipilih harus mempertimbangkan kondisi hemodinamik dan kebutuhan pemantauan pasien. Pada pasien yang mengalami perdarahan akibat penggunaan antikoagulan, dapat dilakukan terapi pembalikan efek antikoagulan sesuai jenis obat yang digunakan. Sebagai contoh, vitamin K dan konsentrat kompleks protrombin dapat digunakan pada kondisi tertentu yang berkaitan dengan warfarin. Penatalaksanaan edema serebri dan peningkatan tekanan intrakranial dapat memerlukan terapi khusus sesuai kondisi pasien. Pada kasus tertentu, pasien juga memerlukan tindakan bedah atau intervensi neurologis apabila terdapat perdarahan dengan indikasi tertentu. 14 2.10 Obat-Obatan yang Digunakan dalam Farmakoterapi Stroke Tabel 2.1 Golongan Obat dan Mekanisme Kerja Golongan Trombolitik Contoh obat Alteplase Antiplatelet Aspirin Antiplatelet Clopidogrel Mekanisme kerja Tujuan Mengubah plasminogen menjadi plasmin dan melisiskan fibrin Menghambat COX-1 dan pembentukan TXA2 Menghambat reseptor P2Y12 Menghambat vitamin K epoksida reduktase Reperfusi stroke iskemik akut Mencegah agregasi trombosit Menghambat agregasi trombosit Antikoagulan Warfarin Mengurangi pembentukan faktor pembekuan Antikoagulan Apixaban Menghambat faktor Xa Mencegah pembentukan trombus Statin Atorvastatin Menghambat HMG- Menurunkan LDL CoA reduktase ACE inhibitor Lisinopril Menghambat Menurunkan tekanan pembentukan darah angiotensin II ARB Valsartan Menghambat reseptor Menurunkan AT1 vasokonstriksi CCB Amlodipin Menghambat kanal Ca²⁺ Menurunkan tekanan tipe-L darah Diuretik Furosemid Menghambat Mengurangi volume kotransporter Na-K-2Cl cairan Neuroprotektan Citicoline Mendukung Terapi tambahan metabolisme dan sesuai kondisi integritas membran sel saraf Fajriansyah (2022) menemukan bahwa pada pasien stroke iskemik rawat inap di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, citicoline merupakan salah satu obat yang banyak digunakan, sedangkan dari kelompok antiplatelet clopidogrel juga digunakan pada pasien penelitian tersebut. 2.11 Mekanisme Kerja Obat pada Stroke 2.11.1 Mekanisme Alteplase Alteplase merupakan aktivator plasminogen yang bekerja dengan mengubah plasminogen menjadi plasmin. Plasmin memiliki kemampuan memecah jaringan 15 fibrin yang membentuk struktur utama trombus. Dengan terurainya fibrin, bekuan darah dapat mengalami lisis sehingga aliran darah pada pembuluh yang tersumbat dapat dipulihkan. Keberhasilan terapi sangat dipengaruhi oleh waktu pemberian. Semakin cepat reperfusi dilakukan pada pasien yang memenuhi syarat, semakin besar peluang jaringan otak yang masih dapat diselamatkan untuk dipertahankan. 2.11.2 Mekanisme Aspirin Aspirin menghambat COX-1 secara ireversibel pada trombosit. Hambatan tersebut menyebabkan produksi tromboksan A2 menurun. Karena tromboksan A2 berperan dalam aktivasi dan agregasi trombosit, penghambatan produksinya mengurangi kemampuan trombosit membentuk sumbatan. 2.11.3 Mekanisme Clopidogrel Clopidogrel merupakan penghambat reseptor P2Y12. Reseptor tersebut berperan dalam aktivasi trombosit oleh ADP. Penghambatan reseptor P2Y12 menyebabkan aktivasi kompleks glikoprotein IIb/IIIa berkurang sehingga agregasi trombosit menjadi lebih rendah. Ariani et al. (2023) melakukan penelitian mengenai efikasi dan pemantauan reaksi obat merugikan terapi antiplatelet pada pasien pascastroke iskemik di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian tersebut menegaskan pentingnya terapi antiplatelet dalam pencegahan stroke berulang sekaligus perlunya pemantauan keamanan obat. 2.11.4 Mekanisme Warfarin Warfarin menghambat vitamin K epoksida reduktase sehingga regenerasi vitamin K aktif berkurang. Kondisi tersebut menghambat aktivasi beberapa faktor pembekuan, terutama faktor II, VII, IX, dan X. Akibatnya, kemampuan darah untuk membentuk bekuan menurun. 2.11.5 Mekanisme Antikoagulan Oral Langsung Antikoagulan oral langsung bekerja dengan menghambat faktor pembekuan tertentu. Apixaban dan rivaroxaban menghambat faktor Xa, sedangkan dabigatran menghambat trombin. Penghambatan tersebut mengurangi pembentukan fibrin sehingga risiko pembentukan trombus dapat ditekan. 2.11.6 Mekanisme Statin 16 Statin menghambat HMG-CoA reduktase, yaitu enzim penting dalam biosintesis kolesterol. Penurunan kadar kolesterol di hepatosit meningkatkan ekspresi reseptor LDL sehingga LDL dalam sirkulasi lebih banyak diambil oleh hati. Selain menurunkan LDL, statin juga memiliki efek stabilisasi plak aterosklerotik dan membantu menurunkan risiko kejadian vaskular. 2.11.7 Mekanisme ACE Inhibitor ACE inhibitor menghambat enzim angiotensin-converting enzyme sehingga pembentukan angiotensin II berkurang. Penurunan angiotensin II menyebabkan vasodilatasi dan mengurangi stimulasi aldosteron. Akibatnya tekanan darah dan beban kerja sistem kardiovaskular dapat menurun. 2.11.8 M ekanisme ARB ARB seperti valsartan menghambat reseptor angiotensin II tipe AT1. Penghambatan tersebut mengurangi efek vasokonstriksi dan retensi natrium yang dipicu oleh angiotensin II. Hasil akhirnya adalah penurunan tekanan darah dan pengurangan beban vaskular. 2.11.9 Mekanisme Amlodipin Amlodipin merupakan CCB golongan dihidropiridin yang menghambat kanal kalsium tipe-L pada otot polos pembuluh darah. Penghambatan masuknya kalsium menyebabkan relaksasi otot polos arteri sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan tekanan darah. 2.12 Terapi Pencegahan Stroke Berulang Pencegahan sekunder bertujuan menurunkan kemungkinan terjadinya stroke kembali. Strategi ini meliputi pengendalian tekanan darah, kadar lipid, diabetes melitus, penghentian merokok, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, serta penggunaan obat sesuai mekanisme penyebab stroke. Pada stroke iskemik non-kardioembolik, antiplatelet menjadi salah satu komponen penting pencegahan sekunder. Pada stroke yang berkaitan dengan fibrilasi atrium, antikoagulan dapat dipertimbangkan sesuai indikasi. Statin digunakan untuk mengendalikan kadar lipid dan mengurangi risiko kejadian vaskular. 17 Agustina et al. (2023) menunjukkan bahwa terapi antiplatelet merupakan bagian penting dalam pengelolaan pasien pascastroke iskemik. Sementara itu, Ariani et al. (2023) menekankan perlunya pemantauan efikasi dan reaksi obat merugikan selama penggunaan antiplatelet. 2.13 Efek Samping dan Interaksi Obat Farmakoterapi stroke harus memperhatikan efek samping dan interaksi obat karena pasien stroke sering mendapatkan beberapa obat secara bersamaan. Penggunaan antiplatelet dapat meningkatkan risiko perdarahan, sedangkan antikoagulan juga memiliki risiko perdarahan yang perlu dipantau. Alteplase mempunyai risiko utama berupa perdarahan, termasuk perdarahan intrakranial. Oleh sebab itu, sebelum pemberian trombolitik harus dilakukan penilaian yang ketat terhadap indikasi dan kontraindikasi. Antihipertensi dapat menyebabkan hipotensi, pusing, atau gangguan elektrolit tergantung jenis obat. Penurunan tekanan darah yang tidak sesuai kondisi pasien juga perlu dihindari karena dapat memengaruhi perfusi otak. Statin dapat menyebabkan keluhan muskuloskeletal dan pada kasus tertentu dapat menyebabkan peningkatan enzim hati. Penggunaan beberapa obat secara bersamaan dapat meningkatkan risiko interaksi sehingga pemantauan diperlukan. 2.14 Rasionalitas Penggunaan Obat pada Stroke Penggunaan obat yang rasional berarti obat diberikan berdasarkan kebutuhan klinis pasien dengan mempertimbangkan ketepatan indikasi, pasien, pemilihan obat, dosis, cara pemberian, durasi, serta pemantauan efektivitas dan keamanan. Prinsip tersebut sangat penting pada pasien stroke karena karakteristik pasien dan mekanisme stroke sangat beragam. Lisnawati et al. (2025) melalui scoping review terhadap penelitian penggunaan obat stroke di Indonesia menemukan bahwa kombinasi obat yang sering digunakan meliputi neuroprotektan, antiplatelet, antihipertensi, dan antidislipidemia. Sebagian besar penelitian yang ditinjau menunjukkan tingkat rasionalitas penggunaan obat yang tinggi, tetapi penerapan terapi hiperakut seperti rtPA masih menghadapi berbagai hambatan. 18 Rasionalitas terapi juga harus mempertimbangkan kondisi khusus pasien, seperti usia, fungsi ginjal, fungsi hati, riwayat perdarahan, tekanan darah, kadar glukosa, serta obat lain yang sedang digunakan. Evaluasi berkala diperlukan untuk memastikan manfaat terapi tetap lebih besar dibandingkan risiko yang mungkin ditimbulkan. 21 BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 3.1 Kesimpulan 1. Stroke merupakan gangguan neurologis akibat terhentinya atau berkurangnya aliran darah ke otak maupun pecahnya pembuluh darah otak yang menyebabkan kerusakan jaringan dan gangguan fungsi neurologis. 2. Jenis stroke secara umum terdiri atas stroke iskemik, stroke hemoragik, dan Transient Ischemic Attack (TIA). Stroke iskemik disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah, sedangkan stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah dan terjadinya perdarahan di otak. 3. Etiologi dan faktor risiko stroke meliputi trombosis, emboli, aterosklerosis, hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, merokok, obesitas, kurang aktivitas fisik, penyakit jantung, usia, serta riwayat keluarga dan riwayat stroke sebelumnya. 4. Tanda dan gejala stroke dapat berupa kelemahan atau kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh, wajah mencong, gangguan bicara, gangguan penglihatan, pusing, kehilangan keseimbangan, gangguan koordinasi, sakit kepala hebat, kejang, hingga penurunan kesadaran. Gejala yang muncul secara tiba-tiba membutuhkan penanganan medis segera. 5. Patofisiologi stroke berbeda berdasarkan jenisnya. Pada stroke iskemik, penyumbatan pembuluh darah menyebabkan berkurangnya suplai oksigen dan glukosa sehingga terjadi kerusakan sel saraf. Pada stroke hemoragik, pecahnya pembuluh darah menyebabkan darah masuk ke jaringan otak atau 22 ruang di sekitarnya sehingga dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan menyebabkan kerusakan jaringan otak. 6. Tatalaksana farmakoterapi stroke disesuaikan dengan jenis stroke dan kondisi pasien. Pada stroke iskemik, terapi dapat meliputi trombolitik pada pasien yang memenuhi kriteria, antiplatelet, antikoagulan pada indikasi tertentu, statin, antihipertensi, serta terapi pendukung. Pada stroke hemoragik, terapi lebih diarahkan pada pengendalian tekanan darah, penanganan perdarahan, pembalikan efek antikoagulan apabila diperlukan, pengendalian tekanan intrakranial, dan pencegahan komplikasi. 7. Golongan obat yang digunakan dalam terapi stroke meliputi trombolitik seperti alteplase, antiplatelet seperti aspirin dan clopidogrel, antikoagulan seperti warfarin dan antikoagulan oral langsung, statin seperti atorvastatin, serta obat antihipertensi seperti ACE inhibitor, ARB, calcium channel blocker, dan diuretik. 8. Mekanisme kerja obat stroke berbeda sesuai golongannya. Alteplase bekerja mengubah plasminogen menjadi plasmin untuk melisiskan trombus, aspirin menghambat COX-1 dan pembentukan tromboksan A2, clopidogrel menghambat reseptor P2Y12, antikoagulan menghambat proses pembekuan darah, statin menghambat HMG-CoA reduktase untuk menurunkan LDL, sedangkan antihipertensi menurunkan tekanan darah melalui berbagai mekanisme. 9. Efek samping dan interaksi obat perlu diperhatikan karena pasien stroke sering memperoleh beberapa jenis obat secara bersamaan. Antiplatelet, antikoagulan, dan trombolitik terutama dapat meningkatkan risiko 23 perdarahan, sedangkan antihipertensi dapat menyebabkan hipotensi dan statin dapat menimbulkan gangguan otot pada kondisi tertentu. Pemantauan terapi diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanan pengobatan. 10. Penggunaan obat yang rasional pada pasien stroke harus mempertimbangkan ketepatan indikasi, pemilihan obat, dosis, pasien, cara pemberian, durasi terapi, efek samping, interaksi obat, serta kondisi klinis dan penyakit penyerta pasien. Peran tenaga kesehatan, termasuk tenaga kefarmasian, diperlukan untuk memastikan terapi berjalan efektif, aman, dan sesuai kebutuhan pasien. 3.2 Saran Farmakoterapi stroke perlu dilakukan secara tepat, rasional, dan berkesinambungan dengan terlebih dahulu memastikan jenis serta penyebab stroke karena perbedaan mekanisme penyakit menentukan pilihan terapi yang diberikan. Tenaga kesehatan diharapkan melakukan pemantauan terhadap efektivitas obat, efek samping, interaksi obat, kondisi klinis, serta kepatuhan pasien selama menjalani pengobatan. Pasien dan keluarga juga perlu diberikan edukasi mengenai penggunaan obat yang benar, pengendalian faktor risiko seperti hipertensi, diabetes melitus, dan dislipidemia, serta penerapan pola hidup sehat untuk membantu mencegah terjadinya stroke berulang. . 24 DAFTAR PUSTAKA Agustina, S., Widjaja, J. S., Puspasari, R., & Chandra, D. (2023). Studi pasien stroke iskemik dengan terapi antiplatelet di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Tingkat III Brawijaya Surabaya, Indonesia, Agustus–November 2022. Cermin Dunia Kedokteran, 50(8), 410–413. https://doi.org/10.55175/cdk.v50i8.998 Agustin, E. D., Dewi, L. V. I., & Hanifah, I. R. (2023). Analisis efektivitas biaya pengobatan golongan statin dalam manajemen penyakit jantung koroner di RSUD Kota Madiun 2021/2022. Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia, 9(2), 282–290. https://doi.org/10.35311/jmpi.v9i2.363 Aisyah, A., Hardy, F. R., Pristya, T. Y. R., & Karima, U. Q. (2022). Kejadian penyakit jantung koroner pada pasien di RSUD Pasar Rebo. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development), 6(4), 250–260. https://doi.org/10.15294/higeia.v6i4.48650 Anikasari, E., Widyaningrum, E. A., Wahyuni, K. P. D., Astuti, L. W., & Lailatul, M. N. (2024). Pola penggunaan dan rasionalitas obat stroke iskemik di RSUD Dr. Saiful Anwar. Kunir: Jurnal Farmasi Indonesia, 2(1). Ariani, R. R., Amalia, L., Gunadharma, S., & Anggadiredja, K. (2023). Studi efikasi dan pemantauan reaksi obat merugikan dari antiplatelet pada pasien pascastroke iskemik di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Jurnal Sains dan Kesehatan, 5(5). https://doi.org/10.25026/jsk.v5i5.1944 Ardiany, F. C. P., Pranyoto, I. N. D. A., Putri, I. R. A., Irtasari, Fajrin, I. R., & Nurhayati, E. (2025). Faktor risiko dan perilaku pencegahan penyakit jantung koroner pada lansia. Jurnal Kesehatan, 3(7). Bachtiiar, L., Gustaman, R. A., & Maywati, S. (2023). Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner (PJK). Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia, 19(1). https://doi.org/10.37058/jkki.v19i1.6862 Clement, L. (2022). Terapi antiangina untuk angina pektoris stabil. Cermin Dunia Kedokteran, 49(12), 702–707. https://doi.org/10.55175/cdk.v49i12.330 Erdania, E., Faizal, M., & Anggraini, R. B. (2023). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner (PJK) di RSUD Dr. (H.C.) Ir. Soekarno Provinsi Bangka Belitung tahun 2022. Jurnal Keperawatan, 12(1), 17–25. https://doi.org/10.47560/kep.v12i1.472 European Society of Cardiology. (2024). 2024 ESC guidelines for the management of chronic coronary syndromes. European Heart Journal, 45(36), 3415– 3537. https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehae177 24 25 Fajriansyah. (2022). Profil pengobatan stroke iskemik pada pasien yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo. Wal'afiat Hospital Journal, 3(2), 165–171. https://doi.org/10.33096/whj.v3i2.91 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1419/2023 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Angina Pektoris Stabil. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Petunjuk teknis penyelenggaraan rumah sakit jejaring pengampuan pelayanan jantung dan pembuluh darah. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Lengga, S., Sugiyanto, S., Anisyah, L., & Hasana, A. R. (2023). Profil pengobatan stroke pada pasien rawat inap di Rumah Sakit “X” Kota Malang periode Januari–Desember 2021. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 2(11), 4578–4586. https://doi.org/10.55681/sentri.v2i11.1768 Lisnawati, R., Panduwiguna, I., & Saepudin. (2025). Scoping review: Profil pengobatan pasien stroke iskemik di Indonesia setelah dikeluarkannya Panduan Nasional Pelayanan Kedokteran Stroke Tahun 2019. Media Farmasi, 21(1). https://doi.org/10.32382/mf.v21i1.1309 Mawarni, O. I., Ilmi, T., Putri, E. M., & Dhafin, A. A. (2024). Penggunaan obat antihipertensi pada kejadian stroke dan korelasinya pada kualitas hidup pasien. Jurnal Inovasi Farmasi Indonesia (JAFI), 6(1), 14–23. https://doi.org/10.30737/jafi.v6i1.6171 Nadjamuddin, M., Manggau, M. A., & Kaelan, C. (2024). Efek penggunaan antihipertensi kombinasi amlodipin dan valsartan pasien stroke iskemik di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Jurnal Sains dan Kesehatan. Pradina, D. A., Rizkifani, S., & Nurbaeti, S. N. (2023). Studi penggunaan obat golongan statin pada pasien penyakit jantung koroner di ruang ICCU RSUD dr. Soedarso Pontianak. Jurnal Sains dan Kesehatan, 5(5), 666–674. https://doi.org/10.30872/jsk.v5i5.565 Pratiwi, M., Gonibala, A. P., & Rahayu, K. W. (2024). Studi interaksi penggunaan obat pada pasien stroke di rumah sakit: Literatur review. Jurnal Ilmiah Pharmacy, 11(2). Saefurrohim, M. Z., Azam, M., Rahayu, S. R., & Cahyati, W. H. (2022). Incidence of stroke and associated risk factors in Bogor, Indonesia: A nested casecontrol study. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 17(4), 621–629. https://doi.org/10.15294/kemas.v17i4.36022 Sumedhi, H. M., Zakiyah, N., Dewi, T. I., Sinuraya, R. K., & Puspitasari, I. M. (2025). Effectiveness of statin and ezetimibe combination on atherosclerotic plaque in patients with coronary heart disease. Media Penelitian dan 26 Pengembangan Kesehatan, https://doi.org/10.34011/jmp2k.v35i3.3198 35(3). Susanti, N., Zahara, A., Darus, N. F., & Zulaila. (2024). Faktor risiko yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner: Literatur review. Jurnal Kesehatan Tambusai, 5(2). Yosmar, R., Febiana, D., & Fitria, N. (2023). Evaluating economic outcomes: Single-use aspirin vs. aspirin-clopidogrel in ischemic stroke patients based on Barthel Index scores. Jurnal Sains Farmasi & Klinis, 10(3), 293–299. https://doi.org/10.25077/jsfk.10.3.293-299.2023 Yustiana, Suharjono, Dwiyatna, S., & Atmajani, W. (2024). Review artikel: Efikasi, keamanan, dan durasi penggunaan antiplatelet golongan P2Y12 inhibitor pada pasien sindrom koroner akut. Jurnal Farmasi Higea, 16(1). McEvoy, J. W., McCarthy, C. P., Bruno, R. M., Brouwers, S., Canavan, M. D., Ceconi, C., Christodorescu, R. M., Daskalopoulou, S. S., Ferro, C. J., Gerdts, E., Hanssen, H., Harris, J., Lauder, L., McManus, R. J., Molloy, G. J., Rahimi, K., Regitz-Zagrosek, V., Rossi, G. P., Sandset, E. C., Scheenaerts, B., Staessen, J. A., Uchmanowicz, I., Volterrani, M., & Touyz, R. M. (2024). 2024 ESC Guidelines for the management of elevated blood pressure and hypertension. European Heart Journal, 45(38), 3912–4018. https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehae178 O’Hagan, E. T., McIntyre, D., Nguyen, T., & Chow, C. K. (2023). Hypertension therapy using fixed-dose polypills that contain at least three medications. Heart, 109(17), 1273–1280. https://doi.org/10.1136/heartjnl-2022-321496 World Health Organization. (2021). Guideline for the pharmacological treatment of hypertension in adults. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/978924003 .