Vitamin : Jurnal Ilmu Kesehatan Umum Volume. 4, Nomor. 2 April 2026 E-ISSN .: 3031-0105; P-ISSN .: 3031-0091, Hal 198-206 DOI: https://doi.org/10.61132/vitamin.v4i2.2245 Tersedia: https://journal.arikesi.or.id/index.php/Vitamin Laporan Kasus: Pendekatan Diagnosis dan Tatalaksana Anemia Normokromik Normositer dengan Komorbid Gout Arthritis pada Pasien Geriatri Muhammad Nawawi Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Malikussaleh, Aceh, Indonesia *Penulis Korespondensi: [email protected] Abstract. A Normocytic normochromic anemia is one of the most common types of anemia found in geriatric patients with chronic diseases or acute bleeding. Upper gastrointestinal bleeding (UGIB) may cause continuous blood loss resulting in decreased hemoglobin levels. This case report discusses a 72-year-old woman who presented to the Emergency Department of Cut Meutia Regional General Hospital with complaints of black stools for four days prior to admission accompanied by epigastric pain, nausea, weakness, and pallor. The patient had a history of long-term use of analgesic and anti-gout medications due to chronic joint pain, which was suspected to be a risk factor for UGIB. Physical examination revealed pale conjunctiva and tachycardia, while laboratory findings showed hemoglobin of 7.1 g/dL, hematocrit of 23.3%, MCV of 82 fL, MCH of 29 pg, and uric acid level of 11.56 mg/dL, leading to the diagnosis of normocytic normochromic anemia caused by UGIB accompanied by gout arthritis. The patient received intravenous fluid therapy, proton pump inhibitors, antifibrinolytic agents, gastroprotective therapy, packed red cell transfusion, and other supportive treatments. During hospitalization, clinical improvement was observed, including cessation of gastrointestinal bleeding, reduced epigastric pain, and increased hemoglobin level to 8.6 g/dL. This case highlights the importance of early diagnosis and comprehensive management in geriatric patients with anemia caused by UGIB and comorbid gout arthritis. Keywords: Geriatrics; Gout Arthritis; Normocytic Normochromic Anemia; UGI Bleeding; UGI Tract Hemorrhage. Abstrak. Anemia normokromik normositer merupakan salah satu bentuk anemia yang sering ditemukan pada pasien geriatri dengan penyakit kronik maupun perdarahan akut. Perdarahan saluran makan bagian atas (PSMBA) dapat menyebabkan kehilangan darah secara terus-menerus sehingga menimbulkan penurunan kadar hemoglobin. Laporan kasus ini membahas seorang perempuan usia 72 tahun yang datang ke Instalasi Gawat Darurat RSUD Cut Meutia Aceh Utara dengan keluhan BAB berwarna hitam sejak empat hari sebelum masuk rumah sakit disertai nyeri ulu hati, mual, lemas, dan tampak pucat. Pasien memiliki riwayat konsumsi obat pereda nyeri dan obat asam urat jangka panjang akibat nyeri sendi kronik yang diduga menjadi faktor risiko terjadinya PSMBA. Pemeriksaan fisik menunjukkan konjungtiva anemis dan takikardia, sedangkan pemeriksaan laboratorium didapatkan hemoglobin 7,1 g/dL, hematokrit 23,3%, MCV 82 fL, MCH 29 pg, serta kadar asam urat 11,56 mg/dL sehingga ditegakkan diagnosis anemia normokromik normositer ec PSMBA disertai gout arthritis. Pasien mendapatkan terapi cairan intravena, proton pump inhibitor, antifibrinolitik, gastroprotektor, transfusi packed red cell, dan terapi suportif lainnya. Selama perawatan didapatkan perbaikan klinis berupa berhentinya perdarahan saluran cerna, berkurangnya nyeri ulu hati, dan peningkatan kadar hemoglobin menjadi 8,6 g/dL. Kasus ini menunjukkan pentingnya diagnosis dini dan penatalaksanaan komprehensif pada pasien geriatri dengan anemia akibat PSMBA dan komorbid gout arthritis. Kata kunci: Anemia Normokromik Normositer; Geriatri; Gout Arthritis; Perdarahan Saluran Cerna; PSMBA. 1. PENDAHULUAN Perdarahan saluran makan bagian atas (PSMBA) adalah perdarahan yang berasal dari traktus gastrointestinal bagian proksimal ligamentum Treitz. Kondisi ini dapat ditemukan dalam keadaan ringan hingga gawat darurat tergantung banyaknya perdarahan yang terjadi. Kehilangan darah yang berlangsung secara terus-menerus dapat menyebabkan penurunan Naskah Masuk: 21 Februari 2026; Revisi: 21 Maret 2026; Diterima: 27 April 2026; Terbit: 30 April 2026 Laporan Kasus: Pendekatan Diagnosis dan Tatalaksana Anemia Normokromik Normositer dengan Komorbid Gout Arthritis pada Pasien Geriatri kadar hemoglobin dan berujung pada anemia apabila tidak segera ditangani secara optimal (Kurien & Lobo, 2015). PSMBA merupakan salah satu kasus kegawatdaruratan gastrointestinal yang cukup sering dijumpai dengan angka kejadian sekitar 80–150 kasus per 100.000 penduduk setiap tahunnya. Insidensi PSMBA diketahui lebih tinggi dibandingkan perdarahan saluran makan bagian bawah dan masih menjadi penyebab penting morbiditas serta mortalitas (Coccolini et al., 2021). Manifestasi klinis PSMBA dapat berupa hematemesis, muntah seperti bubuk kopi, hematokezia, maupun melena. Selain itu, pasien dapat mengalami gejala akibat kehilangan darah seperti lemah, mudah lelah, sinkop, hingga penurunan kondisi umum. Berbagai faktor diketahui berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya PSMBA, antara lain usia lanjut, jenis kelamin, penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), terapi antiplatelet, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, dan riwayat gastritis (Kobayashi et al., 2017). Penatalaksanaan pasien dengan PSMBA memerlukan evaluasi dan resusitasi yang cepat untuk menjaga stabilitas hemodinamik. Pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas memiliki peran penting dalam menentukan sumber perdarahan, menegakkan diagnosis, menilai prognosis, sekaligus memberikan tindakan terapeutik. Pada pasien dengan kondisi tidak stabil, endoskopi dianjurkan dilakukan segera setelah resusitasi awal, sedangkan pada pasien stabil dapat dilakukan dalam 24 jam pertama. Selain terapi endoskopi, tata laksana farmakologis dan tindakan radiologi intervensi juga dapat dipertimbangkan sesuai penyebab serta respons klinis pasien. Tujuan utama penatalaksanaan PSMBA adalah menghentikan perdarahan, mencegah perdarahan berulang, dan mempertahankan kondisi hemodinamik pasien tetap stabil (Rivkin & Lyakhovetskiy, 2005; Saleem et al., 2018). 2. METODE Penelitian ini merupakan studi deskriptif observasional dengan desain laporan kasus (case report) yang dilakukan pada seorang pasien perempuan usia 72 tahun dengan diagnosis anemia normokromik normositer ec perdarahan saluran makan bagian atas (PSMBA) disertai gout arthritis yang dirawat di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Cut Meutia pada Februari 2025. Data diperoleh secara retrospektif melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, observasi klinis selama perawatan, serta rekam medis pasien. Pemeriksaan penunjang yang dianalisis meliputi pemeriksaan darah lengkap, fungsi ginjal, fungsi hati, dan kadar asam urat. Pasien mendapatkan tata laksana sesuai indikasi klinis berupa terapi cairan intravena, proton pump inhibitor, antifibrinolitik, gastroprotektor, transfusi packed red cell (PRC), dan terapi suportif lainnya. Evaluasi dilakukan berdasarkan perkembangan klinis 199 VITAMIN - VOLUME. 4, NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN .: 3031-0105; P-ISSN .: 3031-0091, Hal 198-206 pasien, perubahan tanda vital, perbaikan gejala, serta hasil pemeriksaan laboratorium selama masa perawatan hingga pasien diperbolehkan menjalani rawat jalan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan manifestasi klinis, pendekatan diagnosis, serta penatalaksanaan anemia normokromik normositer akibat PSMBA dengan komorbid gout arthritis pada pasien geriatri. Seorang pasien perempuan berusia 72 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat Cut Meutia Regional General Hospital dengan keluhan utama buang air besar berwarna hitam sejak empat hari sebelum masuk rumah sakit. Frekuensi BAB hitam dilaporkan sebanyak tiga hingga empat kali sebelum pasien dibawa ke rumah sakit dan kembali terjadi satu kali saat berada di IGD. Feses tampak berwarna hitam pekat menyerupai ampas kopi, bertekstur lunak padat, lengket, dan berbau khas amis. Selain itu, pasien mengeluhkan nyeri ulu hati seperti sensasi terbakar yang telah dirasakan selama kurang lebih satu minggu dan berlangsung terus-menerus. Intensitas nyeri semakin meningkat dalam tiga hari terakhir tanpa dipengaruhi aktivitas maupun pola makan. Keluhan nyeri menjalar hingga ke dada dan disertai rasa sesak. Pasien juga mengalami mual tanpa muntah yang menyebabkan penurunan nafsu makan, tubuh terasa lemas, dan tampak pucat. Pemeriksaan fisik menunjukkan keadaan umum tampak sakit sedang dengan kesadaran compos mentis. Tanda vital didapatkan tekanan darah 130/70 mmHg, frekuensi nadi 102 kali/menit reguler, frekuensi napas 21 kali/menit, suhu tubuh 37,2°C, dan saturasi oksigen 98% tanpa bantuan oksigen tambahan. Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan konjungtiva anemis, bibir tampak pucat dan kering, serta sianosis pada ekstremitas atas dan bawah. Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 21 Februari 2025 menunjukkan kadar hemoglobin 7,1 g/dL, hematokrit 23,3%, MCV 82 fL, MCH 29 pg, MCHC 33,6 g/dL, RDW-CV 15,8%, kreatinin 1,7 mg/dL, dan kadar asam urat 11,56 mg/dL. Pemeriksaan ulang pada 23 Februari 2025 menunjukkan peningkatan hemoglobin menjadi 8,6 g/dL dan hematokrit 25,5% setelah mendapatkan terapi. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, pasien didiagnosis mengalami anemia normokromik normositer akibat perdarahan saluran makan bagian atas disertai gout arthritis. Diagnosis banding yang dipertimbangkan meliputi ulkus peptikum dan gastritis untuk PSMBA, serta rheumatoid arthritis dan osteoarthritis untuk keluhan sendi. Penatalaksanaan pasien dilakukan secara komprehensif meliputi terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Terapi yang diberikan berupa cairan intravena NaCl 0,9%, omeprazole injeksi, kalnex injeksi, ondansetron injeksi, sucralfate sirup, codein, curcuma, serta terapi suportif lainnya. Selain itu dilakukan monitoring ketat terhadap tanda vital, keseimbangan cairan, dan evaluasi laboratorium secara berkala. Pasien juga diberikan diet makanan lunak Laporan Kasus: Pendekatan Diagnosis dan Tatalaksana Anemia Normokromik Normositer dengan Komorbid Gout Arthritis pada Pasien Geriatri dalam porsi kecil namun sering untuk mempermudah proses pencernaan dan mengurangi iritasi saluran cerna. Selama perawatan didapatkan perbaikan kondisi klinis berupa berkurangnya nyeri ulu hati, berhentinya perdarahan saluran cerna, serta peningkatan kadar hemoglobin. 3. HASIL Selama masa perawatan, kondisi klinis pasien dievaluasi secara berkala menggunakan pendekatan SOAP. Pada hari pertama perawatan, pasien masih mengeluhkan buang air besar berwarna hitam disertai nyeri ulu hati, sesak, mual, lemas, dan tampak pucat. Pemeriksaan fisik menunjukkan keadaan umum tampak sakit sedang dengan tekanan darah 130/70 mmHg, frekuensi nadi 117 kali/menit reguler, frekuensi napas 22 kali/menit, suhu tubuh 37,4°C, dan saturasi oksigen 96%. Diagnosis kerja ditegakkan sebagai perdarahan saluran makan bagian atas (PSMBA) disertai anemia dan gout arthritis. Terapi yang diberikan meliputi cairan intravena NaCl 0,9% 20 tetes/menit, drip Crome 1 ampul setiap 12 jam, injeksi Kalnex 1 ampul setiap 12 jam, injeksi omeprazole 1 vial setiap 12 jam, injeksi ondansetron 1 ampul setiap 12 jam, injeksi Neorages 1 ampul dosis tambahan, sucralfate sirup 3 kali sehari 2 sendok makan, curcuma 3 kali 1 tablet, codein 20 mg dua kali sehari, serta transfusi packed red cell (PRC) sebanyak 2 kolf. Pada hari kedua, pasien masih mengeluhkan BAB disertai darah segar satu kali, nyeri ulu hati, mual, lemas, dan penurunan nafsu makan. Tanda vital stabil dengan tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 112 kali/menit, frekuensi napas 21 kali/menit, suhu 36,2°C, dan SpO2 96%. Evaluasi laboratorium darah lengkap dilakukan dan terapi sebelumnya tetap dilanjutkan. Pada hari ketiga, keluhan BAB berdarah sudah tidak ditemukan, namun pasien masih mengeluhkan nyeri ulu hati, batuk sesekali, dan penurunan nafsu makan. Pemeriksaan menunjukkan tekanan darah 130/80 mmHg, frekuensi nadi 110 kali/menit, suhu 36,9°C, dan saturasi oksigen 99%. Tata laksana farmakologis tetap diteruskan sesuai kondisi klinis pasien. Pada hari keempat, kondisi pasien menunjukkan perbaikan dengan berkurangnya nyeri ulu hati, tidak ada lagi perdarahan saluran cerna, serta mual muntah yang sudah menghilang. Pasien hanya mengeluhkan batuk hilang timbul dan sulit tidur. Pemeriksaan tanda vital menunjukkan tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 61 kali/menit, frekuensi napas 21 kali/menit, suhu 36,5°C, dan SpO2 97% tanpa bantuan oksigen. Hari kelima perawatan menunjukkan kondisi pasien semakin membaik, ditandai dengan nyeri ulu hati yang minimal, tidak ditemukan BAB berdarah, serta tidak ada keluhan mual muntah. Tanda vital pasien stabil dengan tekanan darah 130/90 mmHg, frekuensi nadi 96 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit, suhu tubuh 36,7°C, dan saturasi oksigen 95%. 201 VITAMIN - VOLUME. 4, NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN .: 3031-0105; P-ISSN .: 3031-0091, Hal 198-206 Berdasarkan evaluasi klinis dan perbaikan kondisi umum pasien, pasien diperbolehkan menjalani rawat jalan dengan terapi lanjutan sesuai anjuran dokter. 4. DISKUSI Perdarahan saluran makan bagian atas (PSMBA adalah kondisi perdarahan yang terjadi pada traktus gastrointestinal di atas ligamentum Treitz dan termasuk salah satu keadaan emergensi di bidang gastroenterologi yang cukup sering ditemukan dalam pelayanan medis sehari-hari (Fugazzola et al., 2018). Di negara-negara barat, kejadian PSMBA diperkirakan mencapai 100 kasus per 100.000 populasi setiap tahunnya, dengan angka kejadian yang cenderung meningkat pada kelompok usia lanjut. Meskipun lebih banyak dilaporkan pada lakilaki, risiko kejadian pada perempuan juga meningkat pada usia tua. Gambaran klinis PSMBA dapat berupa hematemesis, muntah berwarna kehitaman menyerupai bubuk kopi, dan melena akibat proses pencernaan darah oleh asam lambung (Kurien & Lobo, 2015). Pada laporan kasus ini, seorang perempuan berusia 72 tahun datang dengan keluhan buang air besar berwarna hitam pekat seperti kopi, lengket, dan berbau khas yang mengarah pada melena sebagai manifestasi perdarahan saluran cerna bagian atas. Pasien turut mengeluhkan nyeri epigastrium, mual, tubuh terasa lemah, dan tampak pucat. Manifestasi tersebut sesuai dengan gejala umum PSMBA yang dapat disertai keluhan sistemik seperti mual, muntah, kelemahan, sinkop, hingga tanda hipovolemia akibat kehilangan darah dalam jumlah besar. Kehilangan darah yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan penurunan kadar hemoglobin dan berkembang menjadi anemia bila tidak segera mendapatkan penanganan yang adekuat (Anggraini, 2022). Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan kadar hemoglobin pasien sebesar 7,1 g/dL dengan nilai MCV 82 fL dan MCH 29 pg yang masih berada dalam rentang normal sehingga mendukung diagnosis anemia normokromik normositer akibat perdarahan akut. Pada perdarahan akut, eritrosit umumnya masih memiliki ukuran dan warna normal karena tubuh belum mengalami perubahan morfologi sel darah merah secara signifikan. Sebaliknya, anemia mikrositik hipokromik lebih sering ditemukan pada perdarahan kronis akibat defisiensi besi yang berlangsung lama. Selain itu, pasien tampak pucat secara klinis yang menunjukkan adanya penurunan kapasitas pengangkutan oksigen oleh darah. Kondisi anemia pada pasien geriatri dapat memperberat keadaan umum pasien dan meningkatkan risiko gangguan perfusi jaringan serta komplikasi kardiovaskular apabila tidak segera dilakukan koreksi hemoglobin (Banigan et al., 2023; Nugraha, 2017). Laporan Kasus: Pendekatan Diagnosis dan Tatalaksana Anemia Normokromik Normositer dengan Komorbid Gout Arthritis pada Pasien Geriatri Penggunaan jangka panjang obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) diduga menjadi faktor utama terjadinya PSMBA pada pasien ini. Berdasarkan anamnesis, pasien rutin mengonsumsi obat pereda nyeri lutut yang dibeli bebas untuk mengatasi keluhan gout arthritis tanpa pengawasan tenaga medis. Penggunaan NSAID diketahui merupakan salah satu faktor risiko tersering PSMBA non-variseal, khususnya pada usia lanjut (Gralnek et al., 2015; Siregar et al., 2011). NSAID bekerja dengan menghambat enzim COX-1 dan COX-2 sehingga produksi prostaglandin menurun. Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya sekresi mukus dan bikarbonat, menurunnya aliran darah mukosa, serta meningkatnya kerentanan mukosa lambung terhadap paparan asam dan pepsin. Selain itu, NSAID juga dapat mengiritasi mukosa secara langsung sehingga memicu gastritis erosif maupun ulkus peptikum (A., 2020). Hambatan terhadap COX-2 turut berperan dalam meningkatkan adhesi leukosit PMN pada endotel gastroduodenal yang dapat menyebabkan iskemia mukosa dan pembentukan ulkus (C & EL., 2024). Peptic ulcer disease (PUD) atau ulkus peptikum masih menjadi penyebab tersering PSMBA non-variseal dengan angka kejadian sekitar 27–40% dari seluruh episode perdarahan saluran cerna atas. Kelompok pasien yang berisiko tinggi mengalami ulkus peptikum antara lain pasien usia lanjut, pengguna NSAID jangka panjang, pasien dengan gagal ginjal kronik, konsumsi alkohol, maupun riwayat gastritis sebelumnya. Pada kasus ini ditemukan peningkatan kadar kreatinin sebesar 1,7 mg/dL yang mengarah pada gangguan fungsi ginjal ringan serta kadar asam urat sebesar 11,56 mg/dL yang mendukung diagnosis gout arthritis (Anggraini, 2022; Kumar et al., 2021). Gout arthritis merupakan penyakit inflamasi akibat deposisi kristal monosodium urat yang sering terjadi pada lansia dan menyebabkan nyeri sendi kronik sehingga pasien cenderung menggunakan analgesik secara terus-menerus. Hal ini secara tidak langsung meningkatkan risiko terjadinya kerusakan mukosa lambung dan perdarahan saluran cerna. Selain faktor penggunaan obat, pasien juga memiliki riwayat sering menunda makan dan penurunan nafsu makan dalam satu bulan terakhir (Mbuyi & Hood, 2020). Kurangnya asupan makanan dapat meningkatkan sekresi asam lambung sehingga memperburuk iritasi mukosa lambung dan memicu timbulnya nyeri ulu hati, mual, maupun muntah (Annita & Handayani, 2018; Arsa et al., 2021; Sholihah, 2014). Pemeriksaan laboratorium memiliki peran penting dalam evaluasi pasien dengan dugaan PSMBA untuk menilai derajat perdarahan, status hemodinamik, serta kemungkinan komplikasi yang menyertai. Pemeriksaan yang dianjurkan meliputi hemoglobin, hematokrit, trombosit, ureum, kreatinin, fungsi hati, pemeriksaan koagulasi seperti PT dan aPTT, serta 203 VITAMIN - VOLUME. 4, NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN .: 3031-0105; P-ISSN .: 3031-0091, Hal 198-206 pemeriksaan golongan darah dan crossmatch sebagai persiapan transfusi darah (Adamson, 2008; Irwandi & Harahap, 2022). Pada kasus ini ditemukan penurunan hemoglobin dan hematokrit yang cukup signifikan sehingga pasien memerlukan transfusi packed red cell (PRC). Penatalaksanaan pasien dilakukan sesuai prinsip tata laksana PSMBA, yaitu mempertahankan stabilitas hemodinamik, menghentikan perdarahan, mencegah perdarahan ulang, dan memperbaiki kondisi umum pasien. Pasien diberikan terapi cairan intravena NaCl 0,9%, proton pump inhibitor berupa omeprazole injeksi, antifibrinolitik, gastroprotektor, antiemetik, serta terapi suportif lainnya. Pemberian proton pump inhibitor bertujuan untuk menurunkan produksi asam lambung sehingga membantu proses penyembuhan mukosa dan mengurangi risiko perdarahan ulang (Rivkin & Lyakhovetskiy, 2005). Pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas merupakan gold standard dalam diagnosis PSMBA karena mampu menentukan sumber perdarahan, menilai stigmata perdarahan ulang, sekaligus memberikan tindakan hemostasis terapeutik. Selain endoskopi, modalitas lain seperti CT angiografi, angiografi kateter, dan skintigrafi nuklir dapat dipertimbangkan sesuai kondisi klinis pasien (Gralnek et al., 2015). Selama masa perawatan, kondisi pasien menunjukkan perbaikan klinis berupa tidak ditemukannya lagi BAB berdarah, berkurangnya nyeri ulu hati, serta peningkatan kadar hemoglobin menjadi 8,6 g/dL. Respons klinis tersebut menunjukkan bahwa tata laksana yang diberikan sudah sesuai dan efektif dalam mengatasi perdarahan saluran cerna atas pada pasien geriatri dengan komorbid gout arthritis. Kasus ini menegaskan pentingnya identifikasi faktor risiko, diagnosis dini, dan penatalaksanaan komprehensif pada pasien usia lanjut dengan PSMBA untuk mencegah komplikasi yang lebih berat dan meningkatkan prognosis pasien. 5. KESIMPULAN Perdarahan saluran makan bagian atas (PSMBA) merupakan kegawatdaruratan gastrointestinal yang dapat menyebabkan anemia akibat kehilangan darah, terutama pada pasien geriatri dengan riwayat penggunaan NSAID jangka panjang. Pada kasus ini, pasien perempuan usia 72 tahun mengalami anemia normokromik normositer akibat PSMBA disertai gout arthritis dengan manifestasi melena, nyeri ulu hati, mual, lemas, dan pucat. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan penurunan kadar hemoglobin dengan indeks eritrosit normal. Penatalaksanaan berupa stabilisasi hemodinamik, pemberian proton pump inhibitor, antifibrinolitik, gastroprotektor, transfusi packed red cell, serta terapi suportif memberikan perbaikan klinis yang baik. Kasus ini menunjukkan pentingnya diagnosis dini dan tata laksana komprehensif Laporan Kasus: Pendekatan Diagnosis dan Tatalaksana Anemia Normokromik Normositer dengan Komorbid Gout Arthritis pada Pasien Geriatri pada pasien geriatri dengan PSMBA untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan prognosis pasien. DAFTAR REFERENSI A., D. (2020). Perdarahan Akut Saluran Cerna Bagian Atas. Bandung. In Bagian Ilmu Penyakit Dalam RS Dr Hasan Sadikin. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Adamson, J. W. (2008). Iron deficiency and other hypoproliferative anemias. Harrison’s Principles of Internal Medicine, 628–634. Anggraini, D. (2022). Aspek klinis hiperurisemia. Scientific Journal, 1(4), 301–310. Annita, A., & Handayani, S. W. (2018). Hubungan diet purin dengan kadar asam urat pada penderita gout arthritis. Jurnal Kesehatan Medika Saintika, 9(2), 68–76. Arsa, P. S. A., Putri, G., & Nurwidyaningtyas, W. (2021). Profil karakteristik individu terhadap kejadian hiperuresemia. Jurnal Ilmiah Kesehatan Media Husada, 10(1), 28–33. Banigan, M., Kranenburg, L., & Vise, J. (2023). Upper gastrointestinal bleeding: evaluation and diagnosis. Gastroenterology Nursing, 46(5), 348–358. C, A., & EL., C. (2024). Upper Gastrointestinal Bleeding. In StatPearls. StatPearls Publishing. Coccolini, F., Mastrangelo, M., Tartaglia, D., & Chiarugi, M. (2021). Gastrointestinal Bleeding in Elderly. In Emergency General Surgery in Geriatrics (pp. 267–284). Springer. Fugazzola, P., Montori, G., Bing, C., Catena, F., Sartelli, M., Ansaloni, L., & Coccolini, F. (2018). Upper and Lower Gastrointestinal Bleeding. In Surgical Management of Elderly Patients (pp. 427–444). Springer. Gralnek, I. M., Dumonceau, J.-M., Kuipers, E. J., Lanas, A., Sanders, D. S., Kurien, M., Rotondano, G., Hucl, T., Dinis-Ribeiro, M., & Marmo, R. (2015). Diagnosis and management of nonvariceal upper gastrointestinal hemorrhage: European Society of Gastrointestinal Endoscopy (ESGE) Guideline. Endoscopy, 47(10), a1–a46. Irwandi, D. A. H., & Harahap, D. A. (2022). Anemia et Causa Perdarahan Saluran Makan Bagian Atas. GALENICAL: Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh, 1(4), 24–35. Kobayashi, L., Costantini, T. W., & Coimbra, R. (2017). Intestinal hemorrhage in the elderly. In Geriatric Trauma and Critical Care (pp. 169–179). Springer. Kumar, M., Manley, N., & Mikuls, T. R. (2021). Gout flare burden, diagnosis, and management: navigating care in older patients with comorbidity. Drugs & Aging, 38(7), 545–557. Kurien, M., & Lobo, A. J. (2015). Acute upper gastrointestinal bleeding. Clinical Medicine, 15(5), 481–485. Mbuyi, N., & Hood, C. (2020). An update on gout diagnosis and management for the primary care provider. The Nurse Practitioner, 45(10), 16–25. Nugraha, D. A. (2017). Diagnosis dan tatalaksana perdarahan saluran cerna bagian atas nonvariseal. Cermin Dunia Kedokteran, 44(5), 323–327. Rivkin, K., & Lyakhovetskiy, A. (2005). Treatment of nonvariceal upper gastrointestinal bleeding. American Journal of Health-System Pharmacy, 62(11), 1159–1170. 205 VITAMIN - VOLUME. 4, NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN .: 3031-0105; P-ISSN .: 3031-0091, Hal 198-206 Saleem, S., Thomas, A. L., & Thomas, A. (2018). Management of upper gastrointestinal bleeding by an internist. Cureus, 10(6). Sholihah, F. M. (2014). Diagnosis and treatment gout arthritis. J Major, 3(7), 39–45. Siregar, L., Rani, A. A., Manan, C., Simadibrata, M., & Makmun, D. (2011). Clinical Profile and Outcome of Non-Variceal Upper Gastrointestinal Bleeding in Relation to Timing of Endoscopic Procedure in Patients Undergoing Elective Endoscopy. The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy, 12(3), 140–145.