Uploaded by common.user152771

Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Jiwa

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PADA KLIEN DENGAN HALUSINASI DI
RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG
Oleh:
Nadia Indri Susanti,S.Kep
NIM. 252311101183
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2026
LAPORAN PENDAHULUAN
KLIEN DENGAN HALUSINASI
Oleh: Nadia Indri Susanti, S.Kep / NIM. 252311101183
A. Masalah Utama
Perubahan persepsi sensori : halusinasi
B. Proses Terjadinya Masalah
Halusinasi adalah suatu gangguan perubahan persepsi sensori tanpa ada
stimulus tetapi persepsi klien ada. Menurut Cook dan Fontaine, 1987 dalam
Nita Fitria, 2011 klien sering merasakan adanya suatu objek, gambaran, dan
pikiran yang sering terjadi tanpa adanya rangsangan dari luar yang meliputi
semua sistem penginderaan (pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan,
atau
pengecapan).
Gangguan
persepsi
sensori
merupakan
diagnosis
keperawatan yang didefinisikan sebagai perubahan persepsi terhadap stimulus
baik internal maupun eksternal yang disertai dengan respon yang berkurang,
berlebihan, atau terdistorsi (SDKI, 2018)
Menurut Stuart dan Sundden, 1995 dalam Nita Fitria, 2011 teori halusinasi ada
2 yaitu :
a. Teori Biokimia
Halusinasi terjadi sebagai respon metabolism terhadap stress yang
mengakibatkan terlepasnya zat halusinogenik.
b. Teori Psikoanalisis
Halusinasi merupakan respon pertahanan ego untuk melawan rangsangan
dari luar yang mengancam untuk muncul dalam alam sadar.
Menurut Stuart dan Sundden, 1998 dalam Nita Fitria, 2011 jenis halusinasi ada
7, yaitu :
a. Halusinasi Dengar
Klien mendengar suara atau bunyi yang tidak ada hubungannya dengan
stimulus yang nyata atau lingkungan.
b. Halusinasi Penglihatan
Klien melihat gambaran yang jelas atau samar terhadap adanya stimulus
yang nyata dari lingkungan dan orang lain tidak melihatnya
c. Halusinasi Penciuman
Klien mencium suatu bau yang muncul dari sumber tertentu tanpa ada
stimulus yang nyata
d. Halusinasi Pengecapan
Klien merasakan sesuatu yang tidak nyata, biasanya merasakan rasa
makanan yang tidak benar
e. Halusinasi Perabaan
Klien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa ada stimulus yang nyata
f. Halusinasi Kinestetik
Klien merasa badannya bergerak dalam suatu ruangan atau anggota
badannya bergerak
g. Halusinasi Viseral
Perasaan tertentu timbul dalam tubuhnya
Faktor Predisposisi dapat meliputi :
a. Faktor Perkembangan
b. Faktor Sosiokultural
c. Faktor Biokimia
d. Faktor Psikologis
e. Faktor Genetik
Faktor presipitasi yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu
sebagai tantangan, ancaman, atau tuntutan yang memerlukan energi ekstra
untuk menghadapinya.
Perilaku klien yang mengalami halusinasi biasanya adalah merasa curiga,
takut, tidak aman, gelisah dan bingung, berperilaku yang merusak diri, kurang
perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, serta tidak dapat membedakan
keadaan nyata dan tidak nyata.
Tahapan halusinasi ada 4, yaitu sebagai berikut :
a. Tahap I (Non Psikotik)
Karakteristik pada tahap ini adalah :
1. Mengalami kecemasan, kesepian, rasa bersalah, dan ketakutan
2. Mencoba
kecemasan
berfokus
pada
pikiran
yang
dapat
menghilangkan
3. Pikiran dan pengalaman sensorik masih ada dalam kontrol kesadaran
Perilaku yang muncul :
1. Tersenyum atau tertawa sendiri
2. Menggerakkan bibir tanpa suara
3. Pergerakan mata cepat
4. Respon verbal lambat, diam, dan berkonsentrasi
b. Tahap II (Non Psikotik)
Karateristik :
1. Pengalaman sensori menakutkan atau merasa
dilecehkan oleh
pengalaman tersebut
2. Mulai merasa kehilangan kontrol
3. Menarik diri dari orang lain
Perilaku yang muncul :
1. Terjadinya peningkatan denyut jantung, pernafasan, dan tekanan darah
2. Perhatian terhadap lingkungan menurun
3. Konsentrasi terhadap pengalaman sensoripun menurun
4. Kehilangan kemampuan dalam membedakan anatara halusinasi dan
realita
c. Tahap III (Psikotik)
Karakteristik :
1. Klien menyerah dan menerima pengalaman sensorinya
2. Isi halusinasi menjadi atraktif
3. Klien menjadi kesepian bila pengalaman sensori berakhir
Perilaku yang muncul :
1. Klien menuruti perintah halusinasi
2. Sulit berhubungan dengan orang lain
3. Perhatian terhadap lingkungan sedikit atau sesaat
4. Tidak mampu mengikuti perintah yang nyata
5. Klien tampak tremor dan berkeringat
d. Tahap IV (Psikotik)
Karakteristik :
1. Klien sudah sangat dikuasai oleh halusinasi dan biasanya terlihat
panik
Perilaku yang muncul :
1. Resiko tinggi mencederai
2. Agitasi atau kataton
3. Tidak mampu merespon rasangan yang ada
C. Pohon Masalah
Resiko tinggi perilaku kekerasan
Perubahan persepsi sensori : halusinasi
Isolasi sosial
Harga diri rendah kronis
D. Masalah Keperawatan
a. Resiko tinggi perilaku kekerasan
b. Perubahan persepsi sensori : halusinasi
c. Isolasi sosial
d. Harga diri rendah kronis
E. Data Yang Perlu Dikaji
Subjektif :
a. Klien mengatakan mendengar sesuatu
b. Klien mengatakan melihat bayangan putih
c. Klien mengatakan dirinya seperti disengat listrik
d. Klien mencium bau-bauan yang tidak sedap, seperti feses
e. Klien mengatakan kepalanya melayang di udara
f. Klien mengatakan dirinya merasakan ada sesuatu yang berbeda pada
dirinya
Objektif :
a. Klien terlihat berbicara atau tertawa sendiri saat dikaji
b. Bersikap seperti mendengar sesuatu
c. Berhenti berbicara ditengah-tengah kalimat untuk mendengar sesuatu
d. Disorientasi
e. Konsentrasi rendah
f. Pikiran cepat berubah-ubah
g. Kekacauan alur pikiran
F.
Diagnosis Keperawatan
Perubahan persepsi sensori : halusinasi
G. Rencana Tindakan Keperawatan
a. Tindakan keperawatan untuk klien
Tujuan :
1. Klien mengenali halusinasi yang dialaminya
2. Klien dapat mengontrol halusinasinya
3. Klien mengikuti program pengobatan secara optimal
Rencana tindakan keperawatan :
1. Bantu klien mengenali halusinasi
2. Diskusikan dengan klien terkait isi halusinasi
3. Latih klien mengontrol halusinasi
4. Bantu klien menghardik halusinasi
5. Bantu klien bercakap-cakap dengan orang lain
6. Bantu klien melakukan aktivitas yang terjadwal
7. Bantu klien dalam mengkonsumsi obat secara teratur
b. Tindakan keperawatan untuk keluarga klien
Tujuan :
Keluarga dapat merawat klien di rumah dan menjadi sistem pendukung
yang efektif untuk klien
Rencana tindakan keperawatan :
1. Beri pendidikan kesehatan kepada keluarga
2. Jelaskan tentang masalah yang dialami klien dan pentingnya peran
keluarga untuk mendukung klien
3. Latih keluarga untuk merawat klien
Daftar Pustaka
Fitria, Nita. 2011. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan
dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP) untuk 7
Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat bagi Program S- 1 Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN HALUSINASI
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Pasien
Klien terlihat berbicara sendiri atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa
sebab, mendekatkan telinga ke arah tertentu, dan menutup telinga. Klien
mengatakan mendengar suara-suara atau kegaduhan, mendengar suara yang
mengajaknya bercakap-cakap, dan mendengar suara menyuruh melakukan
sesuatu yang berbahaya.
2. Diagnosa Keperawatan
Perubahan persepsi sensori : halusinasi
B. STRATEGI
KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN
TINDAKAN
KEPERAWATAN
1. Tujuan Khusus
a. Klien dapat mengenal isi halusinasi
b. Klien dapat mengontrol halusinasi
c. Klien mampu mengikuti program pengobatan secara optimal
d. Keluarga klien dapat merawat klien di rumah dan menjadi sistem
pendukung yang efektif untuk klien
2. Tindakan Keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya
b. Bantu klien mengenal halusinasinya meliputi isi, waktu, frekuensi,
situasi pencetus, dan perasaan saat terjadi halusinasi
c. Latih klien untuk mengontrol halusinasi
d. Beri pendidikan kepada keluarga klien terkait cara merawat klien
SP 1
1. Orientasi
Selamat pagi bu, perkenalkan nama saya Toni, saya perawat yang dinas
disini selama 1 bulan dan saya yang akan merawat ibu selama disini,
biasanya saya dinas mulai jam 7 pagi sampai jam 2 siang. Nama ibu siapa,
senangnya dipanggil apa?
Sudah berapa lama ibu disini? Apa sebelumnya ibu pernah dirawat disini?
Bu kalau hari ini tidak sibuk, bagaimana kalau kita bercakap-cakap
membicarakan
tentang
halusinasi
yang
ibu
alami?
Untuk
lama
pertemuannya terserah ibu saja mau berapa lama? Bagaimana kalau 15
menit? Tempatnya dimana bu? Dikamar atau ditaman?
2. Fase Kerja
Apakah ibu sering mendengar suara tanpa ada wujudnya?
Apa yang dikatakan suara itu?
Apakah ibu melihat bayangan/sesuatu/orang/makhluk?
Seperti apa kelihatannya bu?
Kapan biasanya ibu melihat sesuatu atau mendengar sesuatu itu?
Berapa kali sehari biasanya ibu mengalaminya?
Pada saat apa ibu mengalaminya, apa ketika ibu sendiri?
Apa yang ibu rasakan ketika melihat atau mendengar sesuatu itu?
Apa yang ibu lakukan ketika melihat atau mendengar sesuatu itu?
Apakah dengan cara itu bayangan atau suara itu bisa langsung hilang?
Bagaimana kalau kita belajar cara untuk mencegah suara itu muncul?
Ibu ada 4 cara untuk mencegah suara itu muncul.
Yang pertama adalah dengan menghardik suara itu.
Kedua adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain.
Ketiga adalah melakukan kegiatan terjadwal.
Keempat dengan minum obat secara teratur.
Bagaimana kalau kita belajar 1 cara dulu yaitu menghardik?
Caranya seperti ini ibu :
Jika suara itu muncul ibu langsung bilang pergi pergi saya tidak mau dengar
saya tidak mau dengar. Kamu suara palsu. Begitu terus diulang- ulang
sampai suara itu tidak terdengar lagi. Coba ibu peragakan. Nah begitu.
Bagus ibu. Coba sekali lagi ibu. Yaa bagus ibu sudah bisa sekarang
3. Fase Terminasi
Bagaimana dengan perasaan ibu setelah kita ngobrol-ngobrol tadi?
Ibu merasa senang tidak dengan latihan yang sudah kita lakukan tadi?
Setelah kita ngobrol tadi coba ibu sebutkan bagaimana cara untuk
mencegah suara dan atau bayangan agar tidak muncul lagi?
Nah bagus ibu. Ibu sudah mengerti sekarang. Jadi jika bayangan atau suara
itu muncul lagi ibu bisa coba dengan cara itu.
Karena waktu kontrak kita sudah habis saya ijin pamit dulu ya ibu. Tetapi
sebelum saya pamit bagaimana kalau kita besok ngobrol lagi tentang cara
berbicara dengan orang lain?
Kira-kira waktunya kapan ibu? Bagaimana kalau jam 9 selama 15 menit ibu
bisa?
Lalu tempatnya ibu mau dimana? Tetap disini atau berubah?
Baik karena waktu dan tempat untuk besok sudah kita sepakati maka saya
pamit dulu ya ibu. Selamat pagi bu.
SP 2
1. Orientasi
Selamat pagi ibu. Sesuai dengan kontrak waktu yang kemarin kita akan
ngobrol-ngobrol lagi selama 15 menit tentang cara bercakap-cakap dengan
orang lain. Bagaimana kabar ibu pagi ini? Bagaimana tidurnya semalam
nyenyak?
Bagaimana apakah suara itu masih sering muncul ibu?
Ibu sudah bisa langsung mempraktekkan latihan yang kemarin kan?
Bagus ibu. Ibu sudah mengerti sekarang.
Baik kalau begitu kita langsung saja latihan cara kedua ya ibu tentang cara
bercakap-cakap dengan orang lain. Apakah ibu sudah siap?
2. Fase Kerja
Jika suara itu muncul ibu bisa langsung menghardiknya dengan cara yang
sudah kita lakukan kemarin. Lalu ibu segera mencari teman untuk bercakapcakap dengan orang lain sehingga ibu bisa mengontrol suara ibu. Caranya
adalah :
Ibu bisa berkenalan dengan teman 1 kamar ibu. Kemudian ibu bisa langsung
bercakap-cakap tentang kesenangan ibu, tentang hobbi ibu, keluarga ibu,
tentang apa saja yang bisa mengntrol suara tersebut ibu.
Bagaimana apakah ibu bisa? Coba sekarang ibu praktekkan.
Nah begitu ibu. Bagus ibu.
3. Fase Terminasi
Bagaimana dengan perasaan ibu setelah kita ngobrol-ngobrol tadi?
Ibu merasa senang tidak dengan latihan yang sudah kita lakukan tadi?
Setelah kita ngobrol tadi coba ibu praktekkan sekali lagi bagaimana cara
bercakap-cakap dengan orang lain?
Nah bagus ibu. Ibu sudah mengerti sekarang. Jadi jika bayangan atau suara
itu muncul lagi ibu bisa coba dengan cara itu.
Karena waktu kontrak kita sudah habis saya ijin pamit dulu ya ibu. Tetapi
sebelum saya pamit bagaimana kalau kita besok ngobrol lagi tentang
melakukan kegiatan yang terjadwal?
Kira-kira waktunya kapan ibu? Bagaimana kalau jam 9 selama 15 menit ibu
bisa?
Lalu tempatnya ibu mau dimana? Tetap disini atau berubah?
Baik karena waktu dan tempat untuk besok sudah kita sepakati maka saya
pamit dulu ya ibu. Selamat pagi bu.
SP 3
1. Orientasi
Selamat pagi ibu. Sesuai dengan kontrak waktu yang kemarin kita akan
ngobrol-ngobrol lagi selama 15 menit tentang cara bercakap-cakap dengan
orang lain. Bagaimana kabar ibu pagi ini? Bagaimana tidurnya semalam
nyenyak?
Bagaimana apakah suara itu masih sering muncul ibu?
Ibu sudah bisa langsung mempraktekkan latihan yang kemarin kan?
Bagus ibu. Ibu sudah mengerti sekarang.
Baik kalau begitu kita langsung saja latihan cara ketiga ya ibu tentang cara
mengendalikan halusinasi dengan melakukan aktivitas yang terjadwal.
Apakah ibu sudah siap?
2. Fase Kerja
Cara mengendalikan halusinasi dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan
yang terjadwal ibu.
Nah untuk itu bagaimana kalau kita sekarang membuat kegiatan terjadwal
untuk ibu?
Sekarang kegiatan sehari-hari ibu sudah terjadwal. Jadi ibu harus melakukan
kegiatan sesuai dengan jadwal ini. Jika ibu lupa ibu bisa melihat secara
langsung kegiatan ini.
Untuk itu bagaimana kalau jadwal ini kita temple di kamar ibu agar ibu bisa
melihatnya sewaktu-waktu. Bagaimana ibu?
3. Fase Terminasi
Bagaimana dengan perasaan ibu setelah kita ngobrol-ngobrol tadi?
Ibu merasa senang tidak dengan latihan yang sudah kita lakukan tadi?
Setelah kita ngobrol tadi coba ibu sebutkan 3 saja jadwal kegiatan ibu.
Nah bagus ibu. Ibu sudah mengerti sekarang. Jadi jika bayangan atau suara
itu muncul lagi ibu bisa coba dengan cara itu.
Karena waktu kontrak kita sudah habis saya ijin pamit dulu ya ibu. Tetapi
sebelum saya pamit bagaimana kalau kita besok ngobrol lagi tentang cara
minum obat dengan benar?
Kira-kira waktunya kapan ibu? Bagaimana kalau jam 9 selama 15 menit ibu
bisa?
Lalu tempatnya ibu mau dimana? Tetap disini atau berubah?
Baik karena waktu dan tempat untuk besok sudah kita sepakati maka saya
pamit dulu ya ibu. Selamat pagi bu.
SP 4
1. Orientasi
Selamat pagi ibu. Sesuai dengan kontrak waktu yang kemarin kita akan
ngobrol-ngobrol lagi selama 15 menit tentang cara menyusun dan
melakukan jadwal kegiatan harian. Bagaimana kabar ibu pagi ini?
Bagaimana tidurnya semalam nyenyak?
Bagaimana apakah suara itu masih sering muncul ibu?
Ibu sudah bisa langsung mempraktekkan latihan yang kemarin kan?
Bagus ibu. Ibu sudah mengerti sekarang.
Baik kalau begitu kita langsung saja latihan cara keempat ya ibu tentang
cara minum obat secara teratur. Apakah ibu sudah siap?
2. Fase Kerja
Begini ibu disini kegunaan minum obat adalah agar ibu bisa mengontrol
emosi dengan baik. Ibu juga bisa mengntrol halusinasi yang sering ibu
rasakan. Jika ibu putus obat ibu akan mengalami halusinasi itu lagi dan ibu
akan melakukan latihan dari awal. Cara mendapatkan obat ini ibu bisa
langsung ke ruangan perawat untuk minta obat ini. Ibu minum obat ini secara
oral dengan air atau dengan pisang. Caranya seperti ini ibu. Obat ini
diminum sebanyak 1 butir 3 kali sehari ibu.
Nah sekarang coba ibu mempraktekkan cara minum obat dengan benar. Yaa
bagus ibu. Ibu sudah bisa minum obat dengan benar.
Kalau begitu kita masukkan dalam jadwal kegiatan sehari-hari ibu ya?
3. Fase Terminasi
Bagaimana dengan perasaan ibu setelah kita ngobrol-ngobrol tadi?
Ibu merasa senang tidak dengan latihan yang sudah kita lakukan tadi?
Setelah kita ngobrol tadi coba ibu praktekkan sekali lagi bagaimana cara
minum obat dengan benar?
Nah bagus ibu. Ibu sudah mengerti sekarang. Jadi jika bayangan atau suara
itu muncul lagi ibu bisa coba dengan cara itu.
Karena waktu kontrak kita sudah habis saya ijin pamit dulu ya ibu. Tetapi
sebelum saya pamit bagaimana kalau kita besok ngobrol lagi tentang
mengevaluasi kegiatan harian yang sudah ibu lakukan?
Kira-kira waktunya kapan ibu? Bagaimana kalau jam 9 selama 15 menit ibu
bisa?
Lalu tempatnya ibu mau dimana? Tetap disini atau berubah?
Baik karena waktu dan tempat untuk besok sudah kita sepakati maka saya
pamit dulu ya ibu. Selamat pagi bu.
C. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN PADA KELUARGA
SP 1
1. Orientasi
Selamat pagi pak, perkenalkan nama saya Toni, saya perawat yang dinas
disini selama 1 bulan dan saya yang akan merawat istri bapak selama disini,
biasanya saya dinas mulai jam 7 pagi sampai jam 2 siang. Nama bapak
siapa, senangnya dipanggil apa?
Begini pak saya ingin ngobrol-ngobrol terkait kesehatan istri bapak?
Apakah bapak bersedia? Waktunya 15 menit saja pak. Untuk tempatnya
terserah bapak dimana? Atau disini saja pak?
2. Fase Kerja
Kita berdiskusi saja ya pak. Apakah bapak sudah tahu tentang gangguan
yang dialami oleh istri bapak?
Sejak kapan istri bapak mengalami seperti itu ya?
Apakah bapak tahu apa yang menyebabkan istri bapak seperti itu?
Begini pak istri bapak ini mengalami halusinasi.
Halusinasi itu adalah ……………
Gejala halusinasi itu ada beberapa pak. Yaitu ………………………….
Jenis halusinasi itu ada 7 pak. Yaitu ……………………………
Proses terjadinya halusinasi ini adalah sebagai berikut ………………..
Nah sekarang bapak kan sudah tahu tentang apa itu halusinasi, gejalanya,
jenisnya, dan proses terjadinya. Sekarang coba bapak ulangi sekali lagi
tentang penjelasan saya tadi.
Yaa benar sekali pak. Sekarang bapak sudah tahu terkait gangguan yang
dialami oleh istri bapak.
Sekarang saya akan menjelaskan bagaimana cara merawat istri bapak
dengan benar. Begini pak caranya …………………………………….
Bapak sudah tahu kan. Bapak harus selalu memberikan dukungan kepada
istri bapak.
3. Fase Teminasi
Bagaimana dengan perasaan bapak setelah kita ngobrol-ngobrol tadi?
Bapak sudah tahu kan sekarang tentang apa yang dialami istri bapak.
Karena waktu kontrak kita sudah habis saya ijin pamit dulu ya pak.
Tetapi sebelum saya pamit bagaimana kalau kita besok ngobrol lagi
untuk mempraktekkan cara merawat istri bapak yang sudah saya jelaskan
tadi pak?
Kira-kira waktunya kapan pak? Bagaimana kalau jam 11 selama 15
menit bapak bisa?
Lalu tempatnya pak mau dimana? Tetap disini atau berubah?
Baik karena waktu dan tempat untuk besok sudah kita sepakati maka saya
pamit dulu ya pak. Selamat pagi pak.
SP 2
1. Orientasi
Selamat siang pak. Sesuai dengan kontrak waktu yang kemarin kita akan
ngobrol-ngobrol lagi selama 15 menit tentang cara mempraktekkan
merawat istri bapak dengan benar. Bagaimana pak apakah kita bisa mulai
sekarang?
2. Fase Kerja
Kita mulai ya pak. Saya akan ulangi cara merawat istri bapak adalah
sebagai berikut .....................................................
Nah sekarang bapak praktekkan ya pak.
Bagus pak. Bapak sudah bisa merawat istri bapak dengan benar.
Nah sekarang karena bapak sudah bisa bapak bisa mempraktekkan
langsung kepada istri bapak..
Yaa bagus pak. Begitu caranya.
Ingat yaa pak, bapak harus selalu mendukung istri bapak. Bapak harus
bisa menjadi support sistem bagi istri bapak.
Selalu temani istri bapak ya. Agar dia tidak merasa sendirian lagi.
3. Fase Terminasi
Bagaimana dengan perasaan bapak setelah kita ngobrol-ngobrol tadi?
Bapak sudah tahu kan sekarang tentang cara merawat istri bapak.
Karena waktu kontrak kita sudah habis saya ijin pamit dulu ya pak. Tetapi
sebelum saya pamit bagaimana kalau kita besok ngobrol lagi untuk
merencanakan kepulangan istri bapak ?
Kira-kira waktunya kapan pak? Bagaimana kalau jam 11 selama 15 menit
bapak bisa?
Lalu tempatnya pak mau dimana? Tetap disini atau berubah?
Baik karena waktu dan tempat untuk besok sudah kita sepakati maka saya
pamit dulu ya pak. Selamat siang pak.
SP 3
1. Orientasi
Selamat siang pak. Sesuai dengan kontrak waktu yang kemarin kita akan
ngobrol-ngobrol lagi selama 15 menit tentang rencana kepulangan istri
bapak. Karena bapak sudah bisa cara merawat istri bapak dengan baik dan
kondisi istri bapak juga sudah memungkinkan untuk pulang maka kita hari
ini akan membicarakan tentang rencana kepulangan istri bapak ya?
Bagaimana pak?
2. Fase Kerja
Kondisi istri bapak saat ini adalah ..........................................
Secara medis istri bapak sudah membaik dan diijinkan pulang.
Kapan kira-kira waktu yang tepat untuk kepulangan istri bapak?
Bagaimana kalau lusa pak?
Kita bisa bersiap-siap terlebih dahulu. Bapak juga bisa mempersiapkan
segala sesuatunya. Bagaimana pak?
3. Fase Terminasi
Bagaimana dengan perasaan bapak setelah kita ngobrol-ngobrol tadi?
Bapak pasti senang kan istri bapak bisa pulang dan bapak bisa berkumpul
lagi.
Karena waktu kontrak kita sudah habis saya ijin pamit dulu ya pak. Lusa
kita ketemu lagi disini untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk
kepulangan istri bapak.
Baik kalau begitu saya pamit dulu ya pak. Selamat siang pak.
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PADA KLIEN DENGAN RISIKO PERILAKU
KEKERASAN DI RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG
Oleh:
Nadia Indri Susanti, S.Kep
NIM. 252311101183
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2026
LAPORAN PENDAHULUAN
PADA KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN
Oleh: Nadia Indri Susanti, S.Kep / NIM. 252311101183
1. Masalah
Utama
Perilaku
kekerasan
2. Proses Terjadinya Masalah
a. Pengertian
Perilaku kekerasan adalah respon kemarahan yang maladaptif dalam bentuk perilaku
menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitarnya secara verbal maupun
nonverbal mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi (Siauta et al., 2020). Perilaku
kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan
(Stuart dan Sundeen, 1995 dalam Fitria 2011). Klien dengan perilaku kekerasan, individu
merupakan orang yang ambigue, selalu dalam kecemasan, mempunyai penilaian yang
negatif terhadap diri dan orang lain, ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah
dengan baik sehingga perilaku kekerasan merupakan salah satu cara yang digunakan
untuk menyelesaikan masalah (Siauta et al., 2020).
Perilaku kekerasan merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai
kemarahan yang diekspresikan secara berlebihan dan tidak terkendali secara verbal
sampai dengan mencederai orang lain dan/atau merusak lingkungan (SDKI, 2017)
b. Tanda dan Gejala
1. Mata melotot, pandangan tajam, tangan mengepal, rahang
mengatup, wajah memerah dan tegang, serta postur tubuh kaku
2. Mengumpat dengan kata-kata kotor, berbicara dengan nada
keras, kasar, dan ketus
3. Menyerang orang lain, melukai diri sendiri, merusak lingkungan,
amuk atau agresif
4. Emosi tidak adekuat, merasa terganggu, dendam, jengkel,
ingin berkelahi, menyalahkan, dan menuntut
5. Cerewet, berdebat meremehkan, dan tidak jarang mengeluarkan
kata- kata bernada sakarsme
6. Menahan diri berkuasa, merasa diri benar, tidak bermoral,
kreativitas terhambat
c. Rentang respon
1. Asertif
2. Frustasi
3. Pasif
4. Agresif
5. Kekerasan
d. Faktor Predisposisi
1. Teori biologik
Pengaruh
neurofisiologik,
pengaruh
biokimia,pengaruh
genetik, gangguan otak
2. Teori psikologik
Teori psikoanalitik, teori pembelajaran
3. Teori sosiokultural
Kontrol masyarakat yang rendah dan kecenderungan menerima
perilaku kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah dalam
masyarakat
e. Faktor Presipitasi
1. Kesulitan kondisi sosial ekonomi
2. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu
3. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya
4. Pelaku mungkin mempunyai riwayat antisocial
5. Kematian anggota keluarga yang terpenting
3. Pohon Masalah
Resiko tinggi mencederai diri, orang lain, dan lingkungan
Perilaku kekerasan
PPS : Halusinasi
Regimen
Terapeutik
Inefektif
Harga diri rendah
Isolasi
sosial kronis
menarik diri
Koping keluarga
Berduka
Disfungsional Tidak efektif
4. Masalah Keperawatan
a. Perilaku kekerasan
b. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan
c. Perubahan persepsi sensori : halusinasi
d. Harga diri rendah kronis
e. Isolasi sosial
f. Berduka disfungsional
g. Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif
h. Koping keluarga inefektif
5. Data yang Perlu Dikaji
a. Subjektif
1. Klien mengancam
2. Klien mengumpat dengan kata-kata kasar
3. Klien mengatakan dendam dan jengkel
4. Klien mengatakan ingin berkelahi
5. Klien menyalahkan dan menuntut
6. Klien meremehkan
b. Objektif
1. Mata melotot dan pandangan tajam
2. Tangan mengepal
3. Rahang mengatup
4. Wajah memerah dan tegang
5. Postur tubuh kaku
6. Suara keras
6. Diagnosis Keperawatan
Perilaku kekerasan
7. Rencana Tindakan Keperawatan
a. Tindakan keperawatan untuk klien
Tujuan :
1. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
2. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
3. Klien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang dilakukannya
4. Klien dapat menyebutkan akibat dari
perilaku kekerasan
yang
dilakukannya
5. Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasannya
6. Klien dapat mengontrol perilaku kekerasannya
Tindakan :
1. Bina hubungan saling percaya
2. Diskusikan tentang penyebab perilaku kekerasan yang terjadi dimasa
lalu
3. Diskusikan perasaan klien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan
4. Diskusikan bersama klien mengenai
tanda dan gejala
perilaku
kekerasan
5. Diskusikan bersama klien perilaku verbal yang biasa dilakukan saat
marah
6. Diskusikan bersama klien akibat yang ditimbulkan dari perilaku
kekerasan yang dilakukannya
b. Tindakan keperawatan untuk keluarga
Tujuan :
Keluarga dapat merawat klien dirumah
Tindakan :
1. Diskusi bersama keluarga tentang perilaku kekerasan
2. Latih keluarga untuk merawat anggota keluarga dengan perilaku
kekerasan
3. Anjurkan keluarga untuk selalu memotivasi klien agar melakukan
tindakan yang telah diajarkan oleh perawat
4. Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada klien
5. Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila klien
menunjukkan perilaku kekerasan
6. Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi klien yang perlu segera
dilaporkan kepada perawat
DAFTAR PUSTAKA
Bell, A., Toh, W. L., Allen, P., Cella, M., Jardri, R., Larøi, F., Moseley, P., &
Rossell, S.L. (2024). Examining the relationships between cognition and
auditory hallucinations: A systematic review. Australian and New
Zealand
Journal
of
Psychiatry,
58(6),
467–497.
https://doi.org/10.1177/00048674241235849
Siauta, M., Tuasikal, H., Embuai, S., Ilmu, F., Universitas, K., Indonesia, K.,
Pattimaipauw, J. O., Wainitu, K., Ambon, K., Silale, K., & Ambon, K.
(2020). Upaya Mengontrol Perilaku Agresif Pada Perilaku Kekerasan
Dengan Pemberian Rational Emotive Efforts To Control Aggressive
Behavior in Violence Behavior With Rational Emotive Behavior Therapy.
Jurnal Keperawatan Jiwa, 8(1), 27–32.
Fitria, Nita. 2011. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan
dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP) untuk 7
Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat bagi Program S-1 Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Pasien
a. Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
b. Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya
jika sedang kesal atau marah.
c. Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
d. Mata merah, wajah agak merah.
e. Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.
f. Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
g. Merusak dan melempar barang-barang.
2. Diagnosa Keperawatan
Perilaku kekerasan
B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN
1. Tujuan Khusus
a. Pasien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
b. Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
c. Pasien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah
dilakukannya
d. Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang
dilakukannya
e. Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/mengontrol perilaku
kekerasannya
f. Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara
fisik, spiritual, sosial, dan dengan terapi psikofarmaka.
2. Tindakan Keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya
b. Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan
yang lalu
c. Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan
d. Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
pada saat marah
e. Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya
f. Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan
g. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik
h. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal
i. Latih mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual
j. Latih mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum obat
k. Ikut sertakan pasien dalam Terapi Aktivitas Kelompok
Stimulasi
Persepsi mengontrol Perilaku Kekerasan
SP 1
1. Orientasi
“Selamat pagi mas perkenalkan nama saya Toni, saya perawat yang dinas
di ruangan ini, Nama mas siapa? Biasanya dipanggil siapa suka nya mas?”
“Bagaimana perasaan mas saat ini?, Masih ada perasaan kesal atau
marah?”
“Baiklah kita akan berbincang-bincang sekarang tentang perasaan marah
mas”
“Berapa lama mas mau kita berbincang-bincang?” Bagaimana kalau 10
menit?
“Dimana enaknya kita duduk untuk berbincang-bincang, mas? Bagaimana
kalau di ruang tamu?”
2. Fase Kerja
“Apa yang menyebabkan biasanya mas marah?, masah sebelumnya mas
pernah marah? Terus, penyebabnya apa? Samakah dengan yang sekarang?.
O..iya, amasah ada penyebab lain yang membuat mas marah”
“Pada saat penyebab marah itu ada, seperti mas stress karena pekerjaan atau
masalah uang(misalnya ini penyebab marah pasien), apa yang mas rasakan?”
(tunggu respons pasien)
“Amasah mas merasakan kesal kemudian dada mas berdebar-debar, mata
melotot, rahang terkatup rapat, dan tangan mengepal?”
“Setelah itu apa yang mas lakukan? O..iya, jadi mas marah-marah,
membanting pintu dan memecahkan barang-barang, amasah dengan cara ini
stress mas hilang? Iya, tentu tidak. Apa kerugian cara yang mas lakukan?
Betul, istri jadi takut barang-barang pecah. Menurut mas adakah cara lain
yang lebih baik? Maukah mas belajar cara mengungkapkan kemarahan
dengan baik tanpa menimbulkan kerugian?”
”Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan, mas. Salah satunya
adalahlah dengan cara fisik. Jadi melalui kegiatan fisik disalurkan rasa
marah.”
”Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu?”
”Begini mas, kalau tanda-tanda marah tadi sudah mas rasakan maka mas
berdiri, lalu tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan/tiupu
perlahan –lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan. Ayo coba
lagi, tarik dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan
5 kali. Bagus sekali, mas sudah bisa melakukannya. Bagaimana
perasaannya?”
“Nah, sebaiknya latihan ini mas lakukan secara rutin, sehingga bila
sewaktu-waktu rasa marah itu muncul mas sudah terbiasa melakukannya”
3. Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan mas setelah berbincang-bincang tentang kemarahan
mas?”
”Iya jadi ada 2 penyebab mas marah ........ (sebutkan) dan yang mas rasakan
........ (sebutkan) dan yang mas lakukan ....... (sebutkan) serta akibatnya
(sebutkan)
”Coba selama saya tidak ada, ingat-ingat lagi penyebab marah mas yang lalu,
apa yang mas lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan jangan lupa
latihan napas dalamnya ya mas. „Sekarang kita buat jadual latihannya ya
mas, berapa kali sehari mas mau latihan napas dalam?, jam berapa saja mas?”
”Baik, bagaimana kalau 2 jam lagi saya datang dan kita latihan cara yang
lain untuk mencegah/mengontrol marah. Tempatnya disini saja ya mas,
Selamat pagi”
SP 2
1. Orientasi
“Selamat pagi mas, sesuai dengan janji saya tiga jam yang lalu sekarang
saya datang lagi”
“Bagaimana perasaan mas saat ini, adakah hal yang menyebabkan mas
marah?”
“Baik, sekarang kita akan belajar cara mengontrol perasaan marah dengan
kegiatan fisik untuk cara yang kedua”
“sesuai janji kita tadi kita akan berbincang-bincang sekitar 20 menit dan
tempatnya disini di ruang tamu,bagaimana mas setuju?”
2. Fase Kerja
“Kalau ada yang menyebabkan mas marah dan muncul perasaan kesal,
berdebar-debar, mata melotot, selain napas dalam mas dapat melakukan
pukul kasur dan bantal”.
“Sekarang mari kita latihan memukul kasur dan bantal. Mana kamar mas?
Jadi kalau nanti mas kesal dan ingin marah, langsung ke kamar dan
lampiaskan kemarahan tersebut dengan memukul kasur dan bantal. Nah,
coba mas lakukan, pukul kasur dan bantal. Ya, bagus sekali mas
melakukannya”.
“Kekesalan lampiaskan ke kasur atau bantal.”
“Nah cara inipun dapat dilakukan secara rutin jika ada perasaan marah.
Kemudian jangan lupa merapikan tempat tidurnya
3. Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan mas setelah latihan cara menyalurkan marah tadi?”
“Ada berapa cara yang sudah kita latih, coba mas sebutkan lagi?Bagus!”
“Mari kita masukkan kedalam jadual kegiatan sehari-hari mas. Pukul
kasur bantal mau jam berapa? Bagaimana kalau setiap bangun tidur? Baik,
jadi jam 05.00 pagi. dan jam jam 15.00 sore. Lalu kalau ada keinginan
marah sewaktu-waktu gunakan kedua cara tadi ya mas. Sekarang kita buat
jadwalnya ya mas, mau berapa kali sehari mas latihan memukul kasur dan
bantal serta tarik nafas dalam ini?”
“Besok pagi kita ketemu lagi kita akan latihan cara mengontrol marah
dengan belajar bicara yang baik. Mau jam berapa mas? Baik, jam 10 pagi
ya. Sampai jumpa&istirahat y mas”
C. STRATEGI
KOMUNIKASI
PELAKSANAAN
TINDAKAN
KEPERAWATAN PADA KELUARGA
SP 1
1. Orientasi
Selamat pagi bu, perkenalkan nama saya Toni, saya perawat yang dinas
disini selama 1 bulan dan saya yang akan merawat suami ibu selama disini,
biasanya saya dinas mulai jam 7 pagi sampai jam 2 siang. Nama ibu siapa,
senangnya dipanggil apa?
Begini bu saya ingin ngobrol-ngobrol terkait kesehatan suami ibu?
Apakah ibu bersedia? Waktunya 15 menit saja bu. Untuk tempatnya
terserah ibu dimana? Atau disini saja bu?
2. Fase Kerja
Kita berdiskusi saja ya bu. Apakah ibu sudah tahu tentang gangguan yang
dialami oleh suami ibu?
Sejak kapan suami ibu mengalami seperti itu ya?
Apakah ibu tahu apa yang menyebabkan suami ibu seperti itu?
Begini bu suami ibu ini mengalami perilaku kekerasan.
Perilaku kekerasan itu adalah ……………
Gejala perilaku kekerasan itu ada beberapa bu. Yaitu …………………
Jenis perilaku kekerasan Yaitu ……………………………
Proses terjadinya perilaku kekerasan ini adalah sebagai berikut ………
Nah sekarang ibu kan sudah tahu tentang apa itu perilaku kekerasan,
gejalanya, jenisnya, dan proses terjadinya. Sekarang coba ibu ulangi
sekali lagi tentang penjelasan saya tadi.
Yaa benar sekali bu. Sekarang ibu sudah tahu terkait gangguan yang
dialami oleh suami ibu.
Sekarang saya akan menjelaskan bagaimana cara merawat suami ibu
dengan benar. Begini bu caranya ……………………………
Ibu sudah tahu kan. Ibu harus selalu memberikan dukungan kepada suami
ibu.
3. Fase Teminasi
Bagaimana dengan perasaan ibu setelah kita ngobrol-ngobrol tadi?
Ibu sudah tahu kan sekarang tentang apa yang dialami suami ibu.
Karena waktu kontrak kita sudah habis saya ijin pamit dulu ya bu. Tetapi
sebelum saya pamit bagaimana kalau kita besok ngobrol lagi untuk
mempraktekkan cara merawat suami ibu yang sudah saya jelaskan tadi bu?
Kira-kira waktunya kapan bu? Bagaimana kalau jam 11 selama 15 menit
ibu bisa?
Lalu tempatnya bu mau dimana? Tetap disini atau berubah?
Baik karena waktu dan tempat untuk besok sudah kita sebuati maka saya
pamit dulu ya bu. Selamat pagi bu.
SP 2
1. Orientasi
Selamat siang bu. Sesuai dengan kontrak waktu yang kemarin kita akan
ngobrol-ngobrol lagi selama 15 menit tentang cara mempraktekkan
merawat suami ibu dengan benar. Bagaimana bu amasah kita bisa mulai
sekarang?
2. Fase Kerja
Kita mulai ya bu. Saya akan ulangi cara merawat suami ibu adalah
sebagai berikut .....................................................
Nah sekarang ibu praktekkan ya bu.
Bagus bu. Ibu sudah bisa merawat suami ibu dengan benar.
Nah sekarang karena ibu sudah bisa ibu bisa mempraktekkan langsung
kepada suami ibu..
Yaa bagus bu. Begitu caranya.
Ingat yaa bu, ibu harus selalu mendukung suami ibu. Ibu harus bisa
menjadi support sistem bagi suami ibu.
Selalu temani suami ibu ya. Agar dia tidak merasa sendirian lagi.
3. Fase Terminasi
Bagaimana dengan perasaan ibu setelah kita ngobrol-ngobrol tadi?
Ibu sudah tahu kan sekarang tentang cara merawat suami ibu.
Karena waktu kontrak kita sudah habis saya ijin pamit dulu ya bu. Tetapi
sebelum saya pamit bagaimana kalau kita besok ngobrol lagi untuk
merencsuamian kepulangan suami ibu ?
Kira-kira waktunya kapan bu? Bagaimana kalau jam 11 selama 15 menit
ibu bisa?
Lalu tempatnya bu mau dimana? Tetap disini atau berubah?
Baik karena waktu dan tempat untuk besok sudah kita sebuati maka saya
pamit dulu ya bu. Selamat siang bu.
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PADA KLIEN DENGAN WAHAM DI RSJ Dr.
RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG
Oleh:
Nadia Indri Susanti, S.Kep
NIM. 252311101183
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2026
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN WAHAM
Oleh: Nadia Indri Susanti S.Kep / NIM. 252311101183
1. Diagnosa Keperawatan
Gangguan Proses Pikir: Waham
2. Tinjauan Teori
A. Pengertian
Waham adalah keyakinan terhadap sesuatu yang salah dan secara kukuh
dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan
dengan realita normal (Stuart dan Sundeen, 1998). Waham adalah keyakinan
seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien
tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien.
Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti
adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua
dan aniaya. (Keliat, 1999).
Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah secara logis oleh orang lain.
Keyakinan ini berasal dari pemikiran klien yang sudah kehilangan kontrol
(Depkes RI, 2000).
Waham merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai
keyakinan yang keliru tentang isi pikiran yang dipertahankan secara kuat atau
terus menerus namun tidak sesuai dengan kenyataan (SDKI,2018)
B. Rentang Respon
Rentang respon gangguan adaptif dan maladaptif dari klien dengan waham
yaitu
Respon Adaptif
• Pikiran logis persepsi
akurat
• Emosi konsisten dengan
pengalaman
• Perilaku sesuai dengan
hubungan social
Respon Maldaptif
• Kadang-kadang isi pikir
terganggu ilusi
• Reaksi emosional
berlebihan atau kurang
• Perilaku ganjil atau
tidak lazim
• Gangguan isi pikir waham
halusinasi
• Ketidakmampuan
untuk
mengalami emosi
• Ketidakmampuan
isolasi
sosial
C. Jenis-Jenis Waham
Waham terbagi atas beberapa jenis, yaitu :
1. Waham Kejar
Individu merasa dirinya dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang
yang bermaksud berbuat jahat kepada dirinya, sering ditemukan pada klien
dengan stres anektif tipe depresi dan gangguan organik.
2. Waham Kebesaran
Penderita merasa dirinya paling besar, mempunyai kekuatan, kepandaian
atau kekayaan yang luar biasa, misalnya adalah ratu adil dapat membaca
pikiran orang lain, mempunyai puluhan rumah, dll.
3. Waham Somatik
Perasaan mengenai berbagai penyakit yang berada pada tubuhnya sering
didapatkan pada tubuhnya.
4. Waham Agama
Waham dengan tema agama, dalam hal ini klien selalu meningkatkan
tingkah lakunya yang telah ia perbuat dengan keagamaan.
5. Waham Curiga
Individu merasa dirinya selalu disindir oleh orang-orang sekitarnya sehingga
ia merasa curiga terhadap sekitarnya.
6. Waham Intulistik
Bahwa sesuatu yang diyakini sudah hancur atau bahwa dirinya atau orang
lain sudah mati, sering ditemukan pada klien depresi.
D. Faktor Prediposisi dan Presipitasi
1. Faktor Prediposisi
Faktor predisposisi dari perubahan isi pikir : waham kebesaran dapat
dibagi menjadi 2 teori yang diuraikan sebagai berikut :
a) Teori Biologis
1) Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam
perkembangan suatu kelainan ini adalah mereka yang memiliki
anggota keluarga dengan kelainan yang sama (orang tua, saudara
kandung, sanak saudara lain).
2) Secara relatif ada penelitian baru yang menyatakan bahwa kelainan
skizofrenia mungkin pada kenyataannya merupakan suatu
kecacatan sejak lahir terjadi pada bagian hipokampus otak.
Pengamatan memperlihatkan suatu kekacauan dari sel-sel pramidal
di dalam otak dari orang-orang yang menderita skizofrenia.
3) Teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari dopamin
neurotransmiter yang dipertukarkan menghasilkan gejala-gejala
peningkatan aktivitas yang berlebihan dari pemecahan asosiasiasosiasi yang umumnya diobservasi pada psikosis.
b) Teori Psikososial
1) Teori sistem keluarga Bawen dalam Lowsend (1998 : 147)
menggambarkan
perkembangan
skizofrenia
sebagai
suatu
perkembangan disfungsi keluarga. Konflik diantara suami istri
mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam anak akan
menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada ansielas dan
suatu kondsi yang lebih stabil mengakibatkan timbulnya suatu
hubungan yang saling mempengaruhi yang berkembang antara
orang
tua
dan
anak-anak.
Anak
harus
meninggalkan
ketergantungan diri kepada orang tua dan anak dan masuk ke dalam
masa dewasa, dan dimana dimasa ini anak tidak akan mamapu
memenuhi tugas perkembangan dewasanya.
2) Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami
psikosis akan menghasilkan hubungan orang tua anak yang penuh
akan
kecemasan.
Anak
menerima
pesan-pesan
yang
membingungkan dan penuh konflik dan orang tua tidak mampu
membentuk rasa percaya terhadap orang lain.
3) Teori psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil dari
suatu ego yang lemah. Perkembangan yang dihambat dan suatu
hubungan saling mempengaruhi antara orang tua, anak. Karena ego
menjadi lebih lemah penggunaan mekanisme pertahanan ego pada
waktu kecemasan yang ekstrim menjadi suatu yang maladaptif dan
perilakunya sering kali merupakan penampilan dan segmen diri
dalam kepribadian.
2. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dari perubahan isi pikir : waham, yaitu :
a) Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan neurobiologis yang
maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang
mengatur perubahan isi informasi dan abnormalitas pada mekanisme
pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk
secara selektif menanggapi rangsangan.
b) Stres lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stres yang
berinterasksi dengan sterssor lingkungan untuk menentukan terjadinya
gangguan prilaku.
c) Pemicu gejala
Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologis yang
maladaptif berhubungan dengan kesehatan lingkungan, sikap dan
prilaku individu, seperti : gizi buruk, kurang tidur, infeksi, keletihan,
rasa bermusuhan atau lingkungan yang penuh kritik, masalah
perumahan, kelainan terhadap penampilan, stres gangguan dalam
berhubungan interpersonal, kesepain, tekanan, pekerjaan, kemiskinan,
keputusasaan dan sebagainya.
E. Clinical Pathway
Patofisiologis
• Perubahan sekunder akibat gejala
putus obat
• Perubahan biokimiawi
Situasional
• Trauma emosional
• Penganiayaan
(fisik,seksual,psikologis)
• Penyiksaan
• Trauma masa kanak-kanak
• Rasa takut yang ditekan
• Ansietas tingkat panic
• Stimulasi tingkat rendah yang
terus menerus
• Penurunan rentang perhatuan dan
kemampuan
untuk
berproses
sekunder
akibat
depresi,
ketakutan, amsietas, berduka.
Inefektif koping
individu
Maturasional
• Lansia (Isolasi, depresi kehidupan
akhir)
Isolas s osial
Harga diri
renda
Perubahan proses
pikir : waham
F. Penentuan Diagnosa
1. Batasan Karakteristik
a) Egosentris
b) Intrepetasi terhadap lingkungan tidak sesuai
c) Proses non realistik dan tidak sesuai
d) Ekspresi tegang, mudah tersinggung
e) Tidak mempercayai orang lain
2. Tanda Mayor
Tidak akurat interpretasi tentang stimulasi, internal dan/atau eksterna l.
3. Tanda Minor
a) Kurang kognitif, termasuk anstraksi, pemecahan masalah, deficit
memori
b) Kecurigaan
c) Delusi
a) Halusinasi
b) Fobia
c) Obesitas
d) Konfusi
e) Perilaku ritualistic
f) Impulsivitas
g) Perilaku social yang tidak tepat
h) Pengalihan
i) Kurangnya validasi persetujuan
3. Perumusan Diagnosa Keperawatan
Kognisi (Proses pikir)
Disturbed
Axis 3
Axis 1
Serebral
Aktual
Kronik
Axis 7
Axis 6
Individual
Axis 2
Axis 4
Remaja-Dewasa Tua
Axis 5
4. Rencana Tindakan Keperawatan
A. Tujuan keperawatan pada pasien
1. Perawat membantu orientasi realita pasien.
2. Pasien dapat mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi.
3. Perawat membantu pasien memenuhi kebutuhannya.
4. Perawat menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan
harian.
B. Tindakan keperawatan pada pasien
1. Bantu rencana orientasi
a) Berbicara dengan pasien dalam konteks realitas.
b) Tidak mendukung atau membantah waham pasien, terapi pasien perlu
dikembalikan pada realita bahwa apa-apa yang dia kemukakan tidak
berdasar fakta dan belum dapat diterima orang lain. Penting
sekali bagi pasien mendapatkan konfrontasi dari lingkungannya. Hal
ini sebagai bargaining position agar pasien terbiasa berbeda pendapat
dan menimbang mana yang baik dan tidak baik. Konfrontasi dilakukan
dengan kontrak waktu yang jelas bahwa perawat akan mengemukakan
pendapat yang berbeda dengan pasien. Jelaskan konsekuensi dari
perkataan dan perbuatannya sesuai keagamaan pasien.
c) Yakinkan pasien berada dalam keadaan aman.
d) Beri pujian bila penampilan dan orientasi pasien sesuai realitas serta
bila klien mampu memperlihatkan kemampuan positifnya.
e) Diskusikan dengan pasien kemampuan realistis yang dimilikinya pada
saat lalu dan saat ini.
f) Sertakan pasien dalam TAK: TAK orientasi realita
2. Diskusikan kebutuhan pasien yang tidak terpenuhi
a) Observasi kebutuhan sehari-hari pasien.
b) Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas sehari-hari, personal
hygiene, kebutuhan tidur, makan, interaksi sosial, dll.
c) Diskusikan kebutuhan psikologis atau emosional yang tidak
terpenuhi sehingga menimbulkan kecemasan, takut, marah.
d) Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dengan timbulnya
waham.
3. Bantu pasien memenuhi kebutuhannya
a) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien.
b) Anjurkan pasien melakukan aktivitas sesuai kemampuan yang
dimilikinya.
c) Libatkan dalam kegiatan sehari-hari di rumah sakit serta tingkatkan
aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan emosional pasien.
d) Hindarkan pemikiran penilaian negative, utamakan memberikan
pujian realistis.
e) Diskusikan bersama pasien tingkat aktivitas yang dapat memenuhi
kebutuhan pasien dan memerlukan waktu dan tenaga (aktivitas dapat
dipilih dan dibuat jadwal bersama dengan pasien).
f) Atur situasi agar pasien tidak punya waktu menggunakan wahamnya.
4. Anjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
a) Rencanakan bersama pasien aktivitas yang dapat dilakukan setiap
hari sesuai dengan kemampuannya.
b) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan kondisi pasien.
c) Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang boleh dilakukan pasien
d) Lakukan kontrak dengan pasien untuk berbicara dalam konteks realitas
seperti cara mengisi waktu, cara meningkatkan keterampilan yang
mendatangkan uang, cara belajar menjahit, menjaga kebersihannya,
dll.
e) Anjurkan pasien untuk memasukkan kegiatan tersebut sebagai jadwal
hariannnya.
f) Rekomendasikan pasien untuk mengikuti terapi modalitas terutama
cognitive therapy, psychoreligius therapy, occupational therapy, group
therapy.
C. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK Orientasi Realita)
Sesi 1: Kemampuan mengenal orang lain
Sesi 2: Kemampuan mengenal tempat di rumah sakit
Sesi 3: Kemampuan mengenal waktu
Daftar Pustaka
Carpenito, Lynda Juall & Monyet. 1998. Buku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8.
Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran.
DEPKES RI. 2000. Pedoman Perawatan Psikiatrik. Jakarta: DEPKES RI.
Keliat, Budi Anna & Akemat. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi
I. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran.
Nanda International. 2007. Nursing Diagnoses: Definitions & Classifications
2007-2008. Philadelphia
Stuart dan Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN WAHAM
DI RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG
Oleh: Nadia Indri Susanti, S.Kep / NIM. 252311101183
Tindakan Keperawatan
Interaksi Ke
: I (Pertama)
A. Kondisi Klien
Klien terlihat gelisah, curiga terhadap orang yang berada di sekelilingnya,
kadang-kadang klien berbicara sendiri dan perhatian terhadap lingkungan
sekitar menurun.
B. Diagnosa Keperawatan
Perubahan proses pikir
C. Tujuan Khusus 1 :
Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan orang lain
D. Tindakan Keperawatan :
a) Bina hubungan saling percaya
b) Perkenalan diri dengan klien secara sopan
c) Sapa klien dengan ramah
d) Jelaskan tujuan pertemuan
e) Jujur & tepati janji
f) Beri perhatian kepada klien
g) Tunjukkan sikap empati kepada klien
E. Strategi Komunikasi
1. Fase Orientasi :
Salam Terapeutik:
Selamat pagi, pak. Perkenalkan nama saya Toni, bapak bisa panggil saya
Toni (sambil mengulurkan tangan kepada klien untuk berjabat tangan), saya
perawat disini yang akan membantu bapak selama dirawat di sini. Nah
sekarang saya yang bertanya ya pak? nama Bapak siapa? saya boleh panggil
apa? Baiklah akan saya panggil pak X.
Evaluasi/validasi :
Bagaimana perasaan bapak hari ini? Bapak terlihat segar, tetapi apa yang
membuat bapak terlihat begitu curiga terhadap saya? Ceritakan apa yang
mengganjal di pikiran bapak sekarang? Baiklah semoga setelah bertemu
dengan saya masalah bapak akan teratasi. Begitu ya pak?
Kontrak:
Bapak, tujuan saya menemui bapak saat ini adalah ingin mengenal lebih
dekat pak X sehingga kita bisa saling kenal dan bapak bisa menceritakan
segala masalah bapak selain itu saya dapat membantu apa yang bapak disini.
Bagaimana pak? Apakah bapak setuju? Baiklah bagaimana kalau kita duduk
di kursi teras depan? Berapa lama bapak mempunyai waktu dengan saya?
Bagaimana kalau 20 menit, cukup? Baiklah kalau begitu 15 menit saja ya
pak?
2. Fase Kerja :
Nah, tadi saya sudah menyebutkan nama saya, coba ulangi siapa nama saya?
Lupa? Masih sebentar kok sudah lupa? Saya ulangi lagi nama saya Toni,
bapak bisa memanggil saya Toni ya pak? Baiklah semoga bapak bisa
mengenal saya, begitu pula sebaliknya sehingga bapak bisa merasa nyaman
bercerita kepada saya.
3. Fase Terminasi :
Evaluasi Subyektif :
Baiklah, saya rasa bapak sudah mulai terbuka dan merasa nyaman dengan
kehadiran saya, sekarang bagaimana perasaan bapak setelah bertemu dan
bercerita dengan saya? Bagus, rasa berharap bapak lebih bisa
mengungkapkan perasaan bapak dan lebih terbuka dengan harapan agar
masalah bapak dapat teratasi.
Evaluasi Obyektif :
Nah, sekarang coba sebutkan lagi siapa nama saya? Bagus sekali. Mulai
sekarang kalau ketemu saya jangan lupa panggil saya dengan? Bagus.
Tindak Lanjut :
Baiklah, saya rasa perkenalan kita cukup sekian, kita sudah cukup saling
mengenal saat ini, Saya berharap setiap bapak bertemu dengan saya dan
saat memerlukan bantuan saya, bapak mau memanggil saya supaya selama
bapak di sini dapat bekerjasama dengan saya serta bapak mampu sembuh
kembali.
Kontrak yang akan datang :
Sekarang 15 menitnya sudah habis, berarti pertemuan kita disini juga sudah
selesai. Nanti pukul 11.00 sebelum makan siang saya akan datang kembali
menemui bapak untuk mendiskusikan masalah yang sedang bapak hadapi
sekarang, nanti dimana kita bisa bertemu kembali? Baiklah nanti kita
bertemu lagi disini ya pak?
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
DI RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG
Oleh:
Nadia Indri Susanti, S.Kep
NIM. 252311101183
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2026
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN ISOLASI
SOSIAL
Oleh: Nadia Indri Susanti, S.Kep / NIM. 252311101183
1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Isolasi Sosial
2. TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian
Isolasi sosial adalah keadaan ketika individu atau kelompok mengalami
atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan
dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito,
2006:467). Suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang
lain menyatakan sikap yang negatif ataupun mengancam juga disebut sebagai
isolasi sosial (Townsend, 1998). Pada pasien skizofrenia isolasi sosial adalah
bentuk gejala negatif yang digunakan untuk menghindar dari orang lain agar
pengalaman yang tidak menyenangkan dalam berhubungan dengan orang lain
tidak terulang lagi (Surtiningrum, 2011). Stuart & Laraia (2005) menyatakan
perilaku isolasi sosial sebagai perilaku yang sering muncul pada scizofrenia.
2.2 Rentang Respon
Rentang Respon Sosial
Respon Adaptif
Menyendiri
Otonomi
Kebersamaan
Interdependen
Respon Maladaptif
Kesepian
Menarik diri
Ketergantungan
Manipulasi
Impulsif
Narkisisme
Gambar 1. Rentang Respon Sosial (Stuart, 2006:275)
Respon adaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah
dalam batasan norma yang masih diterima oleh norma sosial dan kebudayaan.
Respon adaptif meliputi menyendiri, otonomi, kebersamaan, interdependen.
Respon menyendiri (solitude) dibutuhkan oleh individu untuk merenungkan
apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan cara mengevaluasi diri
untuk menentukan langkah selanjutnya. Otonomi (autonomy) adalah respon
individu menentukan dan menyampaikan ide pikiran dan perasaan dalam
hubungan sosial. Kebersamaan (mutuality) adalah respon individu di dalam
hubungan interpersonal untuk saling memberi dan menerima. Interdependent
sebagai respon individu saling ada ketergantungan dalam hubungan sosial.
Terdapat beberapa repon dalam rentang antara adaptif dan maladaptif,
mencakup kesepian, menarik diri, dan ketergantungan. Kesepian (loneliness)
sebagai kondisi individu merasa sendiri, sepi, tidak adanya perhatian dengan
orang lain ataupun lingkungannya. Menarik diri (withdrawal) adalah tindakan
melepaskan diri dalam bentuk perhatian dan minat terhadap lingkungan sosial
secara langsung, bersifat sementara atau menetap. Respon saat individu gagal
mengembangkan atau mengembalikan fungsi kepercayaan diri disebut dengan
ketergantungan (dependent).
Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah
menyimpang dari batasan norma sosial dan kebudayaan setempat, meliputi
manipulasi, impulsif, dan narsisme. Manipulasi sebagai gangguan hubungan
sosial pada individu yang menganggap orang sebagai objek karena individu
tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam. Respon manipulasi
memiliki hubungan yang terpusat pada masalah pengendalian orang lain atau
cenderung berorientasi pada tujuan diri sendiri dan bukan orang lain. Impulsif
diindikasikan individu tidak mampu merencanakan sesuatu hal, tidak mampu
belajar dari pengalaman, penilaian buruk, individu tidak dapat diandalkan.
Narkisisme adalah respon merasa harga diri rapuh, berusaha mendapatkan
penghargaan dan pujian secara terus menerus, sikap egosentris, pencemburu,
dan marah jika individu lain tidak mendukung.
2.3 Perilaku yang Berhubungan dengan Isolasi Sosial
a. Mengungkapkan perasaan tidak berguna, penolakan oleh lingkungan
b. Mengungkapkan keraguan tentang kemampuan yang dimiliki
c. Tampak menyendiri dalam lingkungan atau ruangan
d. Tidak berkomunikasi dan menarik diri
e. Tidak melakukan kontak mata
f. Tampak sedih dan afek datar
g. Posisi meringkuk di tempat tidur dengan punggung menghadap ke pintu
h. Adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai atau imatur dengan
perkembangan usianya
i. Kegagalan untuk berinteraksi dengan orang lain di dekatnya
j. Kurang aktivitas fisik dan verbal
k. Tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi
l. Mengekspresikan perasaan kesepian dan penolakan di wajahnya
2.4 Faktor Predisposisi dan Presipitasi
Faktor Predisposisi
a. Faktor Perkembangan
Setiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembangan mempengaruhi
respon sosial maladaptif. Sistem keluarga yang terganggu berperan dalam
perkembangan respon sosial maladaptif.
b. Faktor Biologis
Faktor genetik juga berperan dalam respon sosial maladaptif. Keterlibatan
neurotransmitter berperan dalam perkembangan gangguan ini. Selain itu
juga disebabkan disfungsi otak, rendahnya ambang rangsang dari sistem
limbik, dan tingkat serotonin akibat ada perubahan anatomi, fisiologi, dan
neurokimia pada sistem organ.
c. Faktor Sosiokultural
Faktor sosial budaya seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan,
pekerjaan, status dan pengalaman sosial, latar belakang budaya, agama,
keyakinan, serta kondisi politik. Isolasi sosial diakibatkan oleh transiensi;
norma yang tidak mendukung pada pendekatan terhadap orang lain; tidak
menghargai anggota masyarakat yang kurang produktif; sistem nilai yang
dianut berbeda dengan budaya mayoritas serta adanya harapan yang tidak
realistis terhadap hubungan.
Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi meliputi peristiwa kehidupan yang menimbulkan stres dan
mempengaruhi kemampuan berhubungan dengan orang lain sehingga timbul
kondisi ansietas. Adapun faktor presipitasi meliputi:
a. Stressor biologis
Stressor biologis berkaitan dengan adanya gangguan struktur dan fungsi
tubuh, serta sistem hormonal yang abnormal. Hal ini meliputi penyakit
infeksi dan kronis, kelainan struktur otak, interaksi neuroendokrin, dan
hormon, serta neurotransmitter.
b. Stressor psikologis
Respon sosial maladaptif sebagai hasil pengalaman negatif yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan emosi. Ansietas berat yang berkepanjangan,
terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasinnya
menyebabkan gangguan berhubungan dengan orang lain.
c. Stressor sosiokultural
Stressor sosiokultural ditimbulkan oleh adanya penurunan stabilitas unit
keluarga ataupun kurang support system dan perpisahan dari orang yang
berarti. Stressor yang dapat mencetuskan perilaku isolasi sosial adalah
kondisi lingkungan yang bermusuhan, lingkungan penuh kritik, tekanan
tempat kerja atau sulit mendapat pekerjaan, kemiskinan, stigma yang ada di
lingkungan tempat tinggal (Stuart, 2006:280).
2.5 Clinical Pathway
Patofisiologis
Takut penolakan sekunder akibat: obesitas, kanker (kecacatan
karena pembedahan kepala/leher, bertahayul tentang orang
lain), kecacatan fisik (paraplegia, amputasi, artritis,
hemiplegia), kecacatan emosional (ansietas ekstrem, depresi,
paranoid, fobia, inkontinen (rasa malu, bau), penyakit menular
(AIDS, hepatitis), penyakit psikiatrik (scizhofrenia, gangguan
afektif bipolar, gangguan kepribadian)
Situasional (Personal, Lingkungan)
1. Kematian orang terdekat
2. Perceraian
3. Penampilan cacat
4. Takut penolakan sekunder akibat: obesitas, hospitalisasi
atau penyakit terminal (proses kematian), sangat miskin,
pengangguran
5. Perpindahan ke budaya lain (misal bahasa yang tidak
dikenal)
6. Riwayat ketidakpuasan hubungan sekunder akibat:
penyalahgunaan obat, penyalahgunaan alkohol, perilaku
tidak matang, perilaku sosial tidak dapat diterima, pikiran
delusi
7. Kehilangan cara transportasi biasanya
Gangguan
persepsi
Penilaian negatif pada
diri sendiri, hilang
kepercayaan diri
Gangguan konsep
diri: harga diri
rendah kronik
Isolasi sosial:
menarik diri
Maturasional
Anak-anak
1. Isolasi perlindungan atau penyakit menular
Lansia
1. Kehilangan kontak sosial biasanya
2.6 Penentuan Diagnosa
a. Batasan karakteristik (NANDA)
1) Tidak adanya dukungan dari orang yang penting (keluarga, teman, dan
kelompok)
2) Perilaku bermusuhan
3) Menarik diri
4) Tidak komunikatif
5) Menunjukkan perilaku tidak diterima oleh kelompok kultural dominan
6) Mencari kesendirian atau merasa diakui di dalam subkultur
7) Senang dengan pikirannya sendiri
8) Aktivitas berulang atau aktivitas yang kurang berarti
9) Kontak mata tidak ada
10) Aktivitas tidak sesuai dengan umur perkembangan
11) Keterbatasan mental/fisik/perubahan pada keadaan sejahtera
12) Sedih, afek tumpul
13) Mengekspresikan perasaan kesendirian
14) Mengekspresikan perasaan penolakan
15) Minat tidak sesuai dengan umur perkembangan
16) Tujuan hidup tidak ada atau tidak adekuat
17) Tidak mampu memenuhi harapan orang lain
18) Ekspresi nilai sesuai dengan sub kultural tetapi tidak sesuai dengan
kelompok kultur dominan
19) Ekspresi peminatan tidak sesuai dengan umur perkembangan
20) Mengekspresikan perasaan berbeda dari yang lain
21) Tidak merasa aman di masyarakat (NANDA, 2005-2006:209)
b. Mayor
1) Mengekspresikan perasaan kesepian, penolakan
2) Keinginan untuk kontak lebih banyak dengan orang
3) Melaporkan ketidakamanan dalam situasi sosial
4) Menggambarkan kurang hubungan yang berarti (Carpenito, 2006:468)
c. Minor
1) Merasakan waktu berjalan lambat
2) Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi dan membuat keputusan
3) Perasaan tidak berguna
4) Perasaan penolakan
5) Kurang aktivitas (fisik atau verbal)
6) Tampak depresi, cemas, atau marah
7) Kegagalan untuk berinteraksi dengan orang lain di dekatnya
8) Sedih, afek dangkal
9) Tidak komunikatif
10) Menarik diri
11) Kontak mata buruk
12) Larut dengan pikiran dan ingatan sendiri (Carpenito, 2006:468)
3. PERUMUSAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
(Multi Axis Menurut NANDA)
Isolasi Sosial
(AXIS 1)
Inability
(AXIS 3)
Aktual
(AXIS 7)
Cerebral (N/A)
(AXIS 4)
Kronik
(AXIS 6)
Individual
(AXIS 2)
Adult
(AXIS 5)
4. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
4.1 Tujuan Keperawatan pada Pasien
1) Pasien dapat mengenal penyebab isolasi.
2) Pasien dapat mengenal manfaat dari berhubungan dan kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain.
3) Pasien dapat mengetahui cara berkenalan.
4) Pasien dapat mengingat atau mempelajari cara berkenalan.
4.2 Tindakan Keperawatan pada Pasien
1) Membina hubungan saling percaya
Bantu pasien mengenal penyebab isolasi. Perawat dapat melakukan hal
berikut:
a) Salam yang terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi,
ciptakan lingkungan yang tenang, buat kesepakatan jelas tentang
topik, tempat, waktu, beri perhatian, dan penghargaan.
b) Bicarakan penyebab tidak mau bergaul dengan orang lain.
c) Diskusikan tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
2) Bantu pasien mengenal manfaat berhubungan dan tidak berhubungan
dengan orang lain.
a) Kaji pengetahuan pasien tentang keuntungan memiliki teman.
b) Diskusikan bersama pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan
orang lain.
c) Diskusikan bersama pasien terkait kerugian tidak berinteraksi
dengan orang lain.
d) Jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik pasien.
3) Ajarkan pasien cara berkenalan dan perawat melakukan hal ini:
a) Jelaskan pada pasien cara berkenalan dengan orang lain.
b) Berikan contoh cara berbicara dengan orang lain.
c) Berikan kesempatan pasien mempraktikan cara berinteraksi dengan
orang lain yang dilakukan di hadapan perawat.
d) Bantu pasien berinteraksi dengan satu orang teman atau anggota
keluarga.
4) Ajarkan pasien mengingat/mempelajari cara berkenalan. Perawat dapat
melakukan hal berikut:
a) Lakukan interaksi sering dan singkat dengan pasien.
b) Tingkatkan interaksi secara bertahap.
c) Bila pasien mulai menunjukkan kemajuan, tingkatkan frekuensi dari
interaksi, dengan dua, tiga, empat orang, dst.
d) Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan
oleh pasien.
e) Siap mendengarkan ekspresi pasien setelah berinteraksi dengan
orang lain.
4.3 Tujuan Keperawatan pada Keluarga
1) Keluarga dapat membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial.
2) Keluarga dapat membantu pasien mengenal manfaat berhubungan dan
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
3) Keluarga dapat memfasilitasi saat pasien belajar cara berkenalan.
4) Keluarga mampu menilai perubahan perkembangan kemampuan pasien.
4.4 Tindakan Keperawatan pada Keluarga
1) Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.
2) Jelaskan pada keluarga tentang isolasi sosial yang dialami pasien.
3) Jelaskan cara-cara merawat pasien dengan isolasi sosial.
4) Bantu keluarga menyusun rencana kegiatan pasien di rumah.
4.5 Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
Terapi aktivitas kelompok (TAK) untuk pasien isolasi sosial adalah upaya
memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah pada
hubungan sosial. TAKS pada pasien isolasi sosial dilakukan dengan tujuh
tahap antara lain:
1) Sesi 1 : TAKS : memperkenalkan diri
2) Sesi 2 : TAKS : berkenalan dengan anggota kelompok
3) Sesi 3 : TAKS : bercakap-cakap dengan anggota kelompok
4) Sesi 4 : TAKS : menyampaikan dan membicarakan topik percakapan
5) Sesi 5 : TAKS : menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi
pada orang lain
6) Sesi 6 : TAKS : bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok
7) Sesi 7 : TAKS : menyampaikan pendapat mengenai manfaat kegiatan
TAKS yang telah dilakukan
DAFTAR PUSTAKA
1. Carpenito, L. J. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC.
2. Keliat, B. A. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.
3. Keliat dan Akemat. 2004. Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok.
Jakarta: EGC.
4. NANDA. 2005-2006. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Prima
Medika.
5. Stuart, G. W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
6. Stuart & Laraia. 2005. Principles and Practice of Psyhiatric Nursing. (8th ed).
St Louis: Mosby Year.
7. Surtiningrum, A. 2011. Pengaruh Terapi Suportif Terhadap Kemampuan
Bersosialisasi pada Klien Isolasi Sosial di Rumah Sakit Rumah Sakit Jiwa
Daerah Dr Amino Gondohutomo Semarang. Tesis. Jakarta: Universitas
Indonesia.
8. Townsend, M. C. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan
Psikiatri: Pedoman untuk Pembuatan Rencana Perawatan. Alih bahasa Novi
Helena C. Daulima. 1998. Jakarta: EGC.
9. Yosep, I. 2009. Keperawatan Jiwa. Edisi Revisi. Bandung: Refika Aditama
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
DI RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG
Oleh: Nadia Indri Susanti, S.Kep / NIM. 252311101183
Pertemuan 1
Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
a. Klien mengatakan malas berinteraksi dengan orang lain.
b. Klien mengatakan orang-orang jahat dengan dirinya
c. Klien merasa orang lain tidak selevel.
d. Klien tampak menyendiri
e. Klien terlihat mengurung diri
f. Klien tidak mau bercakap-cakap dengan orang lain.
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3. Tujuan
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
b. Klien dapat menyebutkan penyebab isolasi social
c. Klien mampu menyebutkan keuntungan dan kerugian hubungan dengan
orang lain
d. Klien dapat melaksanakan hubungan social secara bertahap
e. Klien mampu menjelaskan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain
f. Klien mendapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan social
g. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
4. Tindakan Keperawatan
a. Membina hubungan saling percaya
b. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
c. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang
lain.
d. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian berinteraksi dengan orang lain
e. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
f. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang
dengan orang lain dalam kegiatan harian
Strategi Pelaksanaan
Fase Orentasi
Salam Terapeutik:
“Selamat Pagi Bu! Perkenalkan nama saya Toni.
Bagaimana keadaan ibu hari ini? Ibu terlihat segar.”
Evaluasi/validasi :
“Senang ya bisa berkenalan dengan ibu hari ini, bagaimana kalau kita
berbincang-bincang untuk lebih saling mengenal sekaligus agar ibu dapat
mengetahui keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain?”
Kontrak:
“Dimana ibu mau berbincang-bincang dengan saya? Ya sudah, di ruangan ini
saja kita berbincang-bincang. Berapa lama ibu punya waktu untuk berbincangbincang dengan saya? Bagaimana kalau 15 menit saja?
Fase Kerja
“Ibu, kalau boleh saya tau orang yang paling dekat dengan ibu siapa? Menurut
ibu apa keuntungann berinteraksi dengan orang lain dan kerugian tidak berinteraksi
dengan orang lain? Kalau ibu tidak tahu saya akan memberitahukan keuntungan dari
berinteraksi dengan orang lain yaitu bapak punya banyak teman, saling menolong,
saling bercerita, dan tidak selalu sendirian. Sekarang saya akan mengajarkan ibu
berkenalan. Bagus, ibu dapat mempraktekkan apa yang saya ajarkan tadi. Bagaiman
kalau kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain di masukkan kedalam jadwal
kegiatan harian?”
Fase Terminasi
Evaluasi Subyektif :
“Bagaimana perasaan ibu setelah kita berbincang-bincang tadi? Coba ibu
ceritakan kembali keuntungan berinteraksi dan kerugian tidak berinteraksi dengan
orang lain?”
Evaluasi Obyektif :
“Nah, sekarang coba sebutkan lagi siapa nama saya? Bagus sekali. Mulai
sekarang kalau ketemu saya jangan lupa panggil saya dengan? Bagus.”
Tindak Lanjut :
“Tadi saya sudah menjelaskan keuntungan dan kerugian tidak berinteraksi
dengan orang lain dan cara berkenalan yang benar. Saya harap ibu dapat
mencobanya bagaimana berinteraksi dengan orang lain!“
Kontrak yang akan datang :
“Baiklah... pertemuan kita cukup sampai disini. Besok kita akan berbincangbincang lagi tentang jadwal yang telah kita buat dan mempraktekkan cara
berkenalan dengan orang lain? Berapa lama ibu punya waktu untuk berbincangbincang dengan saya besok? Bagaimana kalau 15 menit saja? Dimana ibu mau
berbincang-bincang dengan saya besok? Ya sudah... bagaimana kalau besok kita
melakukannya di teras depan saja?”
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL
Pertemuan 1
Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
a. Klien mengatakan malas berinteraksi dengan orang lain.
b. Klien mengatakan orang-orang jahat dengan dirinya
c. Klien merasa orang lain tidak selevel.
d. Klien tampak menyendiri
e. Klien terlihat mengurung diri
f. Klien tidak mau bercakap-cakap dengan orang lain.
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3. Tujuan
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
b. Klien dapat menyebutkan penyebab isolasi social
c. Klien mampu menyebutkan keuntungan dan kerugian hubungan dengan
orang lain
d. Klien dapat melaksanakan hubungan social secara bertahap
e. Klien mampu menjelaskan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain
f. Klien mendapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan social
g. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
4. Tindakan Keperawatan
a. Membina hubungan saling percaya
b. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
c. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang
lain.
d. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian berinteraksi dengan orang lain
e. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
f. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang
dengan orang lain dalam kegiatan harian
Strategi Pelaksanaan
Fase Orentasi
“Selamat Pagi Bu! Perkenalkan nama saya Toni, saya mahasiswa
Keperawatan Unej. Bagaimana keadaan ibu hari ini? Ibu terlihat segar.”
“Senang ya bisa berkenalan dengan ibu hari ini, bagaimana kalau kita
berbincang-bincang untuk lebih saling mengenal sekaligus agar ibu dapat
mengetahui keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain?”
“Dimana ibu mau berbincang-bincang dengan saya? Ya sudah... di ruangan
ini saja kita berbincang-bincang. Berapa lama ibu punya waktu untuk berbincangbincang dengan saya? Bagaimana kalau 15 menit saja?
Fase Kerja
“Ibu, kalau boleh saya tau orang yang paling dekat dengan ibu siapa? Menurut
ibu apa keuntungann berinteraksi dengan orang lain dan kerugian tidak berinteraksi
dengan orang lain? Kalau ibu tidak tahu saya akan memberitahukan keuntungan dari
berinteraksi dengan orang lain yaitu bapak punya banyak teman, saling menolong,
saling bercerita, dan tidak selalu sendirian. Sekarang saya akan mengajarkan ibu
berkenalan. Bagus... ibu dapat mempraktekkan apa yang saya ajarkan tadi.
Bagaiman kalau kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain di masukkan
kedalam jadwal kegiatan harian?”
Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan ibu setelah kita berbincang-bincang tadi? Coba ibu
ceritakan kembali keuntungan berinteraksi dan kerugian tidak berinteraksi dengan
orang lain?”
“Tadi saya sudah menjelaskan keuntungan dan kerugian tidak berinteraksi
dengan orang lain dan cara berkenalan yang benar. Saya harap ibu dapat
mencobanya bagaimana berinteraksi dengan orang lain!“
“Baiklah... pertemuan kita cukup sampai disini. Besok kita akan berbincangbincang lagi tentang jadwal yang telah kita buat dan mempraktekkan cara
berkenalan dengan orang lain? Berapa lama ibu punya waktu untuk berbincangbincang dengan saya besok? Bagaimana kalau 15 menit saja? Dimana ibu mau
berbincang-bincang dengan saya besok? Ya sudah... bagaimana kalau besok kita
melakukannya di teras depan saja?
Pertemuan 2
Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
a. Klien mengatakan malas berinteraksi
b. Klien mengatakan cepat lelah kalau banyak jalan
c. Klien menyendiri di kamar
d. Klien tidak mau melakukan aktivitas di luar kamar
e. Klien tidak mau melakukan interaksi dengan yang lainnya
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial : Menarik diri
3. Tujuan
a. Klien dapat mempraktekkan cara berkenalan denagn orang lain
b. Klien memiliki keinginan untuk melakukan kegiatan berbincang-bincang
dengan orang lain
4. Tindakan Keperawatan
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
b. Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekkan cara berkenalan
dengan satu orang
c. Membenatu pasien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang
lain sebagai salah satu kegiatan harian
Strategi Pelaksanaan
Fase Orentasi
“Selamat Pagi Bu! Masih ingat dengan saya? Benar ibu! saya perawat Toni
. Bagaimana perasaan ibu hari ini ? masih ingat dengan yang kemarin saya ajarkan?”
“Sesuai dengan janji kita kemarin, hari ini kita akan mempraktekkan
bagaimana cara berkenalan dengan satu. Sesuai dengan kesepakatan kita kemarin,
kita akan melakukannya selama 15 menit, bagaimana menurut ibu? Kesepakatan
kita kemarin! Kita akan melakukannya di teras depan... apakah ibu setuju?”
Fase Kerja
“Sebelum kita berkenalan dengan orang lain, coba ibu perlihatkan kepada saya
bagaimana cara berkenalan dengan orang lain? Hebat...ibu dapat melakukannya
dengan baik.Sekarang, mari kita melakukannya dengan satu orang yang ibu belum
kenal!! Bagus... ibu dapat mempraktekkan dengan baik dan sesuai dengan apa yang
saya ajarkan. Bagaimana kalau kegiatan berkenalan dengan orang lain yang baru
dikenal di masukkan kedalam jadwal kegiatan harian?
Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan ibu setelah kita berbincang-bincang tadi? Siapa nama
orang yang ibu ajak berkenalan tadi? Klien terlihat berkenalan dengan orang yang
baru di kenalnya sebanyak 1 orang”
“Ibu, saat saya tidak ada ibu dapat melakukan hal seperti yang ibu lakukan
tadi dengan orang yang belum ibu kenal... kemudian ibu ingat nama yang pernah
ibu ajak kenalan atau bisa ibu catat di buku saat berkenalan.”
“Baiklah...pertemuan kita cukup sampai disini. Besok kita akan melakukan
interaksi/berkenalan dengan orang lain sebanyak 2 orang atau lebih? Berapa lama
ibu punya waktu untuk interaksi dengan orang lain? Bagaimana kalau besok kita
melakukannya selama 15 menit? Dimana ibu bisa melakukannya besok? Ya
sudah...bagaimana kalau besok kita melakukannya di tempat ini lagi?... selamat
siang ibu!!!”
Pertemuan 3
Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
a. Klien mengatakan sudah dapat berinteraksi dengan orang lain
b. Klien mengatakan sudah mengajak beberapa untuk berkenalan
c. Klien tampak sudah mau keluar kamar
d. Klien dapat melakukan aktivitas di ruangan
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial : Menarik diri
3. Tujuan
a. Klien mempu berkenalan dengan dua orang atau lebih
b. Klien dapat memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian
4. Tindakan Keperawatan
a. Mengevaluasi jadwal kegitan harian pasien
b. Memberikan kesempatan pada klien berkenalan
c. Menganjurkan pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.
Strategi Pelaksanaan
Fase Orentasi
“Selamat Pagi Bu! Masih ingat dengan saya? Benar ibu! saya perawat Toni
. Bagaimana perasaan ibu hari ini ? masih ingat dengan yang kemarin ibu lakukan?”
“Sesuai dengan janji kita kemarin, hari ini ibu akan melakukan interaksi
dengan orang lain sebanyak 2 orang atau lebih pada orang yang tidak ibu kenal atau
orang baru...”
“Sesuai dengan kesepakatan kita kemarin, kita akan melakukannya selama
15 menit... bagaimana menurut ibu? Kesepakatan kita kemarin!! Kita akan
melakukannya di teras... apakah ibu setuju?”
Fase Kerja
“Sebelum kita berkenalan dengan orang lain, coba ibu perlihatkan kepada
saya bagaimana cara berkenalan dengan orang lain? Hebat... ibu dapat
melakukannya dengan baik... sekarang, mari kita melakukannya dengan orang lain
yang ibu tidak kenal sebanyak 2 orang atau lebih!! Bagus... ibu dapat
mempraktekkan dengan baik dan mulai berkembang dalam berinteraksi dengan
orang lain. Bagaimana kalau kegiatan berkenalan dengan orang lain yang baru
dikenal di masukkan kedalam jadwal kegiatan harian?
Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan ibu setelah kita berbincang-bincang tadi? Siapa-siapa
saja nama orang yang ibu ajak berkenalan tadi? Klien terlihat berkenalan dengan
orang yang baru di kenalnya sebanyak 3 orang”
“Nah..saat saya tidak ada, ibu dapat melakukannya hal seperti yang ibu
lakukan tadi dengan orang yang baru ibu kenal... kemudian ibu ingat nama yang
pernah ibu ajak kenalan atau bisa ibu catat di buku saat berkenalan.”
“Baiklah... pertemuan hari ini kita akhiri. Besok kita ulangi apa yang telah kita
pelajari dari kemarin ya bu.. apakah ibu bersedia? Berapa lama ibu mau
melakukannya? Bagaimana kalau besok kita melakukannya selama 15 menit?
Dimana ibu bisa melakukannya besok? Baiklah kita melakukannya di sini saja....
selamat siang ibu!!!”
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PADA KLIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH DI
RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG
Oleh:
Nadia Indri Susanti, S.Kep
NIM. 252311101183
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2026
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HDR
Oleh: Nadia Indri Susanti, S.Kep / NIM. 252311101183
A. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Harga diri rendah
B. TINJAUAN TEORI
1. Pengertian
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri
yang berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan
kemampuan diri (Keliat & Akemat, 2007). Harga diri rendah kronis adalah
keadaan ketika individu mengalami evaluasi diri negatif mengenai diri atau
kemampuan diri dalam waktu yang lama (Carpenito, 2004; NANDA, 20072008).
2. Rentang Respon
Rentang Respon Konsep Diri
Respon Adaptif
Maladaptif
Aktualisasi
Diri
Konsep Diri
Positif
Respon
Harga Diri
Rendah
Kerancauan
Identitas
3. Perilaku yang Berhubungan dengan Harga Diri Rendah
Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah antara lain :
a) Mengkritik diri sendiri dan/atau oarang lain;
b) Penurunan produktivitas;
c) Destruktif yang diarahkan pada orang lain;
d) Gangguan dalam berhubungan;
e) Rasa diri penting yang berlebihan;
f) Perasaan tidak mampu;
g) Rasa bersalah;
h) Mudah tersinggung atau marah berlebihan;
i) Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri;
j) Ketagangan peran yang dirasakan;
k) Pandangan hidup yang pesimis;
Depersonalisasi
l) Keluhan fisik;
m) Penolakan terhadap kemampuan personal;
n) Menarik diri secara sosial;
o) Penyalahgunaan zat (Stuart & Sundeen, 1995; Keliat & Akemat, 2007)
Selain tanda dan gejala tersebut, seseorang dengan harga diri rendah yang
tampak kurang memperhatikan perawaatan diri, berpakaian tidak rapi, selera
makan menurun, tidak berani melawan lawan bicara, lebih banyak menunduk,
dan bicara lambat dengan nada suara lemah (Keliat & Akemat, 2007)
4. Faktor Predisposisi dan Presipitasi
a. Faktor Predisposisi
Faktor yang mempengaruhi harga diri rendah antara lain penolakan orang
tua, harapan orang tua yang tidak realistik, kegagalan yang berulang kali,
kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang
lain, dan ideal diri yang tidak realistik.
b. Faktor Presipitasi
Stresor pencetus mungkin dapat ditimbulkan dari sumber internal dan
eksternal, yaitu:
1) trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan
kejadiaan yang mengancam kehidupan;
2) ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dimana individu yang mengalaminya sebagai frustasi. Ada
tiga jenis transisi peran, yaitu:
a) Transisi peran perkembangan adalah sebuah perubahan normative
yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap
perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga atau norma
budaya, nilai-nilai dan tekanan untuk penyesuaian diri.
b) Transisi peran situasi terjadi denagn bertambah atau berkurangnya
anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
c) Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan
sehat ke keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh
kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan,
dan fungsi tubuh berhubungan dengan tumbuh kembang normal,
prosedur medis, dan keperawatan (Stuart & Sundeen, 1995).
5. Clinical Pathway
Patofisiologi:
Perubahan penampilan sekunder akibat kehilangan fungsi tubuh, bentuk
badan berubah (trauma, pembedahan, dan cacat lahir).
Situasional (personal, lingkungan):
1. Tidak terpenuhinya kebutuhan ketergantungan.
2. Kurangnya umpan balik positif.
3. Perasaan diabaikan sekunder akibat: kematian orang terdekat,
penculikan, terbunuhnya anak, perpisahan dari orang yang terdekat.
4. Perasaan gagal sekunder akibat: tidak bekerja, masalah finansial,
kehilangan pekerjaan atau ketidakmampuan bekerja, masalah hubungan,
masalah perkawinan, perpisahan, orangtua tiri, saudara ipar,
peningkatan/penurunan BB, sindrom premenstruasi.
5. Kegagalan di sekolah.
6. Riwayat ketidakefektifan hubungan dengan orangtua sendiri.
7. Riwayat penyalahgunaan hubungan.
8. Harapan tidak realistis dari diri sendiri.
9. Pengharapan yang tidak realistik dari orangtua oleh anak.
10. Penolakan orangtua.
11. Hukuman yang tidak konsisten.
12. Perasaan tidak berdaya dan/atau kegagalan sekunder akibat institusional.
13. Riwayat berbagai kegagalan.
Maturasional
Bayi/usia bermain/prasekolah:
1. Kurangnya stimulasi atau kedekatan.
2. Perpisahan dari orangta/orang terdekat.
3. Evaluasi negatif yang terus menerus dari orangtua.
4. Ketidakadekuatan dukungan orangtua.
5. Ketidakmampuan untuk mempercayai orang terdekat.
Usia sekolah
1. Kegagalan mencapai tingkat target peringkat.
2. Kehilangan kelompok sebaya.
3. Umpan balik negatif berulang.
Remaja
1. Kehilangan kemandirian dan autonomi sekunder.
2. Gangguan hubungan teman sebaya.
3. Masalah pelajaran di sekolah.
4. Kehilangan ornag terdekat.
Usia sebaya
Perubahan yang terkait dengan penuaan.
Lansia
Kehilangan (orang, fungsi, financial, pensiun).
6. Penentuan Diagnosis
a. Batasan Karakteristik
Harga diri rendah kronik
1) Bergantung pada pendapat orang lain.
2) Menilai diri sendiri tidak mampu melakukan apapun.
Gangguan
Persepsi
Penilaian
negatif
terhadap diri
sendiri,
hilang
kepercayaan
diri
Gangguan
Harga Diri
3) Membesar-besarkan umpan balik negatif mengenai diri.
4) Ekspresi bersalah.
5) Ekspresi malu.
6) Ragu-ragu dalam bertindak.
7) Mencari persetujan/jaminan secara berlebihan.
8) Sedikit kontak mata.
9) Pasif.
10) Tidak aserif.
11) Penolakan positive feedback terhadap dirinya sendiri.
12) Sering merasa gagal.
13) Ragu untuk mencoba hal-hal/situasi baru.
14) Pengungkapan diri yang negatif
b. Tanda Mayor
1) Pengungkapan diri yang negatif.
2) Ekspresi rasa bersalah/malu.
3) Evaluasi diri karena tidak dapat menangani kejadian.
4) Menjauhi rasionalisasi/menolak umpan balik positif dan membesarkan
umpan balik negatif mengenai diri.
5) Ragu untuk mencoba hal-hal atau situasi baru. (Carpenito, 2004)
c. Tanda Minor
1) Sering kurang berhasil dalam kerja atau kejadian hidup lainnya.
2) Penyelesaian diri berlebihan, bergantung pada pendapat orang lain.
3) Buruknya penampilan tubuh (kontak mata, postur, gerak).
4) Tidak asertif/pasif.
5) Keragu-raguan.
6) Mencari jaminan secara keseluruhan. (Carpenito, 2004)
C. PERUMUSAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Diagnosis Keperawatan : Harga Diri rendah Kronik
Harga diri (Self esteem)
(Axis 1)
Aktual
(Axis 7)
Rendah(low)
(Axis 3)
Kronik
(Axis 6)
Individual
(Axis 2)
N/A
(Axis5)
N/A
(Axis4)
D. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Tujuan Keperawatan pada Pasien
a. Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki.
b. Pasien dapah menilai kemampuan yang diinginkan.
c. Pasien dapat memilih kegiatan yang dipilih sesuai dengan kemampuan.
d. Pasien dapat melatih kegiatan yang dipilih sesuai dengan kemampuan.
e. Pasien dapat melakukan kegiatan yang sudah dilatih sesuai dengan jadwal.
2. Tindakan Keperawatan pada Pasien
a. Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki pasien.
Perawat dapat melakukan hal-hal berikut:
1) Diskusikan tentang sejumlah kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki pasien seperti kegiatan di rumah sakit dan di rumah, adanya
keluarga dan lingkungan terdekat pasien.
2) Berikan pujian yang realistik dan hindarkan penilaian yang negatif.
b. Bantu pasien menilai kemampuan yang dapat digunakan dengan cara
berikut:
1) Diskusikan dengan pasien mengenai kemampuan yang masih dapat
digunakan saat ini.
2) Bantu pasien menyebutkan dan beri penguatan terhadap kemampuan
diri yang dapat diungkapkan pasien.
3) Perlihatkan respon yang kondusif dan upayakan menjadi pendengar
yang aktif.
c. Membantu pasien untuk memilih/menetapkan kemampuan yang akan
dilatih. Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai
berikut:
1) Diskusikan dengan pasien kegiatan yang akan dipilih sebagai kegiatan
yang akan pasien lakukan sehari-hari.
2) Bantu pasien untuk memilih kegiatan yang dapat pasien lakukan dengan
mandiri atau dengan bantuan minimal.
d. Latih kemampuan yang dipilih pasien dengan cara berikut:
1) Diskusikan dengan pasien langkah-langkah pendekatan kegiatan.
2) Bersama pasien, peragakan kegiatan yang ditetapkan.
3) Berikan dukungan dan pujian pada setiap kegiatan yang dapat
dilakukan pasien.
e. Bantu pasien menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih.
1) Beri kesempatan kepada pasien untuk mencoba kegiatan yang telah
dilatihkan.
2) Beri pujian atas kegiatan yang dapat dilakukan pasien setiap hari.
3) Tingkatkan kegiatan pasien sesuai dengan tingkat toleransi dan
perubahan setiap kegiatan.
4) Susun jadwal untuk melaksanakan kegiatan yang telah dilatih.
5) Berikan pasien kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah
pelaksanaan kegiatan.
3. Tujuan Keperawatan pada Keluarga
a. Keluarga dapat membantu pasien mengidentifikasi kemampuan yang
dimiliki pasien.
b. Keluarga dapat memfasilitasi pelaksanaan kemampuan yang masih
dimiliki pasien.
c. Keluarga dapat memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan yang sudah
dilatih dan memberikan pujian atas keberhasilan pasien.
d. Keluarga mampu menilai perkembangan perubahan kemampuan pasien.
4. Tindakan Keperawatan pada Keluarga
a. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien.
b. Jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang dialami pasien.
c. Diskusikan dengan keluarga mengenai kemampuan yang dimilki pasien
dan puji pasien atas kemampuannya.
d. Jelaskan cara-cara merawat pasien dengan harga diri rendah kronik.
e. Berikan kesempatan pada keluarga unuk mempraktikan cara merawat
pasien
dengan
harga
diri
rendah
seperti
perawat
yang
telah
didemonstrasikan sebelumnya.
f. Bantu keluarga menyusun rencana kegiatan pasien di rumah.
5. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
TAK untuk pasien harga diri rendah adalah TAK stimulasi persepsi yang
terdiri dari dua hal berikut :
a. Sesi I
: Mangidentifikasi hal positif diri.
b. Sesi II
: Melatih positif diri.
DAFTAR PUSTAKA
1. Keliat, Budi Anna.; & Akemat, 2007. Model Praktik Keperawatan
Profesional Jiwa. Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran.
2. Keliat, Budi Anna.; & Akemat. 2004. Keperawatan Jiwa : terapi Aktivitas
Kelompok. Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran.
3. Stuart, Gail Wiscarz., & Sundeen, Sandra J, 1995. Pocket Guide to
Psychiatric Nursing. 3/E. Mosby Year Book Inc.
4. NANDA
International
2007. Nursing Diagnoses : Definitions &
Clasiifications 2007-2008. Philadhelpia.
5.
2010. Semiloka Keperawatan dan Psikologi 20 Oktober 2012, RSJ Dr.
Radjiman Dediodiningrat Lawang.
6. CarpenitoLynda Juall & Moyet, 2004. Buku Saku Diagnosis Keperawatan.
Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran.
7. Keliat, Budi Anna dkk, 2005. Modul Basic Course Community Mental
Health Nursing. Jakarta.
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH
Pertemuan 1
Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
a. Klien tampak sering melamun, lebih suka menyendiri dan banyak
menunduk
b. Klien tidak bersemangat
c. Klien berpenampilan tidak rapi, bajunya kumal
d. Klien tampak sedih
e. Klien tidak berani menatap lawan bicara
f. Klien berjalan lambat lambat
g. Nada suara klien lemah dan pelan
2. Diagnosa Keperawatan
Harga diri rendah
3. Tujuan
a. Pasien dapat mengidentifikasi aspek positif dan kemampuan yang dimilki
b. Pasien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan
c. Pasien dapat memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih
d. Pasien mampu melatih kemampuan yang sudah dipilih
e. Pasien dapat menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan sesuai dengan
kemampuan yang telah dilatih dalam rencana harian
4. Tindakan Keperawatan
a. Pasien mampu membina hupakngan saling percaya dengan perawat
b. Pasien dapat mengidentifikasi aspek positif dan kemampuan yang dimiliki
c. Pasien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan
d. Pasien dapat memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih
e. Pasien mampu melatih kemampuan yang sudah dipilih
f. Pasien dapat menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan sesuai dengan
kemampuan yang telah dilatih dalam rencana harian
Strategi Pelaksanaan
Fase Orentasi
“Selamat Pagi Pak! Perkenalkan nama saya Toni, saya mahasiswa
Keperawatan Unej yang sedang praktek disini. Hari ini saya dines dari jam 07.0012.00 WIB. Nama bapak siapa? Senang dipanggil siapa? Bagaimana perasaan bapak
hari ini? Saya lihat dari tadi bapak melamun, apa ada yang sedang dipikirkan?”
“Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang hobi
atau kegiatan yang bapak sukai?”
“Dimana bapak mau berbincang-bincang dengan saya? Ya sudah... di ruangan
ini saja kita berbincang-bincang. Berapa lama bapak punya waktu untuk berbincangbincang dengan saya? Bagaimana kalau 15 menit saja?”
Fase Kerja
“Bapak, kalau boleh saya tau apa yang sedang bapak pikirkan? Oh…ternyata
bapak merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi dan pengen mengakhiri hidup.
Mengapa bapak berkata demikian? Biasanya kalau dirumah bapak ngapain aja?
Bapak punya hobi apa? Oh…jadi bapak senangnya menggambar desain, memasak,
mempakat cerita komik dan jalan-jalan. Bagus…kegiatan yang bapak lakukan bagus
sekali. Apakah bapak sering melakukan kegiatan tersepakt? Menurut bapak dari
hobi yang sudah bapak sepaktkan tadi mana saja yang mungkin dan dapat kita
lakukan sekarang? Bagaimana jika kita menggambar desain? Jadi bapak bersedia
menggambar desain, kira-kira mau menggambar desain apa bapak? Oh…jadi bapak
mau menggambar desain rumah. Sebentar saya sediakan peralatannya ya bapak.
Kira- kira bapak mau ditemenin atau tidak menggambar desainnya? Wah bagus
sekali gambarnya bapak. Kira-kira bapak mau menggambarnya berapa banyak ni,
bagus lo gambarnya. Oh…jadi bapak mau 5 kali sehari menggambarnya. Bagaimana
kalau kegiatan menggambarnya kita masukkan jadwal pakat bapak? Apakah bapak
mau? Baiklah kalau begitu, saya pakatkan jadwal kegiatannya pakat bapak”
Fase Terminasi
“Bagaimana
perasaan
bapak
setelah
kita
berbincang-bincang
tadi?
Wah…ternyata bapak punya banyak kelebihan ya…salah satunya tadi menggambar
dan hasil gambarnya bagus lo bapak. Seneng dengan hasil gambarnya tadi bapak?”
“Baiklah kalu begitu...saya kira pertemuan kita cukup sampai disini. Besok
kita akan berbincang-bincang lagi tentang kemampuan bapak yang lain yaitu
mempakat cerita komik. Berapa lama bapak punya waktu untuk berbincang-bincang
dengan saya besok? Bagaimana kalau 15 menit saja? Dimana bapak mau
berbincang-bincang dengan saya besok? Ya sudah...bagaimana kalau besok kita
melakukannya di teras depan saja? Baik bapak samapai jumpa besok. Selamat
pagi…”
Pertemuan 2
Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
a. Klien tampak sering melamun, lebih suka menyendiri dan banyak
menunduk
b. Klien tidak bersemangat
c. Klien berpenampilan tidak rapi, bajunya kumal
d. Klien tampak sedih
e. Klien tidak berani menatap lawan bicara
f. Klien berjalan lambat lambat
g. Nada suara klien lemah dan pelan
2. Diagnosa Keperawatan
Harga diri rendah
3. Tujuan
a. Pasien mampu melakukan kegiatan lain yang telah dipilih sesuai dengan
kemampuan
b. Pasien dapat menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan sesuai dengan
kemampuan yang telah dilatih dalam rencana harian.
4. Tindakan Keperawatan
a. Mengevaluasi kegiatan yang sudah dilakukan
b. Melatih kemampuan ke-2 yang telah disepaktkan oleh pasien
c. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan tersepakt kedalam jadwal
kegiatan harian
Strategi Pelaksanaan
Fase Orentasi
“Selamat Pagi Pak! Masih ingat dengan saya? Benar bapak! saya perawat
Toni. Bagaimana perasaan bapak hari ini? Apakah sudah dicoba kegiatan yang
kemarin? Apakah sudah dimasukkan kedalam jadwal kegiatan harian bapak?
Wah…bagus sekali bapak. Sudah berapa banyak gambar yang bapak pakat?
Bolehkan saya melihatnya pak? Wah…hebat dan bagus sekali gambarnya. Apakah
bapak masih ingat kita mau ngapain hari ini? iya benar sekali, kemarin bapak
menyepaktkan selain suka menggambar desain rumah bapak juga suka mempakat
cerita komik. Jadi, hari ini kita akan latihan untuk mempakat cerita komik. Apakah
bapak bersedia?”
“Sesuai dengan kesepakatan kita kemarin, kita akan melakukannya selama
15 menit, bagaimana menurut bapak? Kesepakatan kita kemarin! Kita akan
melakukannya di teras depan... apakah bapak setuju?”
Fase Kerja
“Bagaiamana perasaan bapak setelah menggambar begitu, banyak gambar dan
gambar-gambar desainnya bagus-bagus sekali? Apa yang bapak rasakan. Oh…jadi
bapak merasa masih berguna, pakktinya bapak masih bisa mempakat gambargambar desain yang bagus sekali. Bagaimana dengan hobi bapak yang
lain? Bapak masih ingat? Ya, bagus sekali bapak masih ingat. Jadi bapak punya hobi
lain yaitu: mempakat cerita komik. Bagaiman kalau bapak selain mempakat gambar
desain juga mempakat cerita komik. Apakah bapak bersedia? Baiklah…bapak saya
akan sediakan alat tulis dan pakkunya dulu ya. Bapak pengen ditemeni atau tidak
mempakat cerita komiknya. Kira-kira ceritanya seri atau drama. Oh…jadi bapak
mau langsung mempakat sekarang dan tidak ingin ditemani. Baiklah kalu begitu
saya tinggal dulu kira-kira 30 menit saya balik lagi kesini bagaiman bapak? Baik
bapak bagaimana cerita komiknya sudah dapat berapa halaman. Boleh saya lihat dan
baca. Oke kalau begitu saya baca ya. Wah ceritanya bagus sekali bapak dan
gambarnya sesuai dengan karakter ceritanya. Bapak hebat ya. Saya saja tidak bisa
mempakat komik. Bagaimana kalau bapak pakat lagi cerita-cerita yang lainnya.
Nanti hasil komiknya kita jadiin satu dan dbapakat komik mini seri kan keren.
Bagaimana bapak? Nah, kira-kira bapak mau pakat berapa banyak nih dalam satu
hari. Oh…jadi bapak mau mempakat dua cerita komik mini seri dalam satu hari.
Bagaiman jika kegitan ini saya masukin dalam jadwal kegiatan harian bapak.
Apakah bapak bersedia?”
Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang dan latihan tadi?
Jadi berapa cara yang bisa bapak lakukan pada saat-saat merasa jenuh dan tidak
berarti? Bagus sekali bapak bisa menyepaktkannya kembali. Baik besok saya akan
bertemu dan ngobrol-ngobrol dengan suami bapak, biasanya suami bapak
berkunjung jam berapa? Oh…jadi suami bapak biasanya berkunjung jam satu
siang.”
“Baiklah...saya kira, sekian dulu pertemuan kita cukup sampai disini. Besok
saya akan berkunjung kesini dan berbincang-bincang dengan suami bapak di teras
depan kira-kira jam satu sian, bagaimana bapak bolehkah saya ngobrol dengan
suami bapak? Baiklah kalau begitu…sampai jumpa besok dan selamat pagi.
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PADA KLIEN DENGAN DEFISIT
PERAWATAN DIRI DI RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG
Oleh:
Nadia Indri Susanti, S.Kep
NIM. 252311101183
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2026
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DEFISIT PERAWATAN DIRI
Oleh: Nadia Indri Susanti, S.Kep / NIM. 252311101183
A. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri
B. Proses Terjadinya Masalah
Defisit perawatan diri adalah keadaan dimana individu mengalami kegagalan
kemampuan untuk melaksanakan atau menyelesaikan aktivitas kebersihan diri
(Carpenito, 1977).
Menurut Depkes (2000: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah:
1. Faktor prediposisi
a. Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga terjadi
perkembangan inisiatif terganggu.
b. Biologi
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatan diri.
c. Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk
perawatan diri.
d. Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri di dalam
lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan
dalam perawatan diri.
2. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presiptasi defisit perawatan diri adalah kurang
penurunan motivasi, kerusakan kognisi ataupun perceptual, cemas, dan
lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang
mampu melakukan perawatan diri. Menurut Depkes (2000:59), faktor-faktor
yang mempengaruhi personal hygiene adalah:
a. Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan
diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak
peduli dengan kebersihan dirinya.
b. Praktik Sosial
Pada anak-anak biasanya selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka
kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
c. Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi,
sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya.
d. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang
baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita
diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
e. Budaya
Di sebagian besar masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh
dimandikan.
Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam
perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain–lain.
f. Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu/sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang
dan perlu bantuan untuk melakukannya.
C. Pohon Masalah
Kebersihan diri tidak adekuat (BAB/BAK, Makan minum
Defisit perawatan diri
Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
Isolasi sosial
D. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
1. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
DS: Klien mengatakan saya tidak mampu mandi, tidak bisa melakukan apaapa.
DO: Klien terlihat lebih kurang memperhatikan kebersihan, halitosis, badan
bau, kulit kotor.
2. Isolasi Sosial
DS: Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu
terhadap diri sendiri.
DO: Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup, apatis,
ekspresi sedih, komunikasi verbal kurang, aktivitas menurun, posisi
janin
pada
saat
tidur,
menolak
berhubungan,
dan
kurang
memperhatikan kebersihan
3. Defisit Perawatan Diri
DS: Klien masien merasa lemah, malas untuk beraktivitas, merasa tidak
berdaya.
DO: Rambut kotor dan acak-acakan, badan dan pakaian kotor dan bau, mulut
dan gigi bau, kulit kusam dan kotor, kuku panjang dan tidak terawat.
E. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
2. Isolasi Sosial
3. Defisit Perawatan Diri : kebersihan diri, berdandan, makan, BAB/BAK
F. Strategi Pelaksanaan Pada Pasien
Diagnosa: Defisit Perawatan Diri : kebersihan diri, berdandan, makan,
BAB/BAK
Tujuan Umum: Pasien tidak mengalami defisit perawatan diri
Tujuan Khusus :
1. Pasien mampu melakukan kebersihan diri secara mandiri
2. Pasien mampu melakukan berhias/berdandan secara baik
3. Pasien mampu melakukan makan dengan baik
4. Pasien mampu melakukan BAB/BAK secara mandiri
Intervensi
1. Melatih pasien cara-cara perawatan kebersihan diri
a) Menjelasan pentingnya menjaga kebersihan diri.
b) Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri
c) Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri
d) Melatih pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri
2. Melatih pasien makan secara mandiri
a) Menjelaskan cara mempersiapkan makan
b) Menjelaskan cara makan yang tertib
c) Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan
d) Praktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik
3. Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri
a) Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai
b) Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK
c) Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK
4. Melatih pasien berdandan/berhias
Untuk pasien laki-laki latihan meliputi :
a) Berpakaian
b) Menyisir rambut
c) Bercukur
Untuk pasien wanita, latihannya meliputi :
a) Berpakaian
b) Menyisir rambut
c) Berhias
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI
DI RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT
Oleh : Nadia Indri Susanti, S. Kep/NIM 252311101183
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi
a Klien tampak kumal
2. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri :kebersihan diri berhubungan dengan menurunnya
kemampuan diri motivasi perawatan diri .
3. Tujuan Khusus
a. Klien mengetahui tentang pentingnya perawatan diri
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat pagi. Mas X, masih ingat dengan perawat Toni? Seperti janji kita
kemarin kita akan ngobrol yang bertujuan untuk mengetahui pentingnya menjaga
perawatan diri ,Mas X bersedia?
b. Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasaan Mas X hari ini ? pagi tadi Mas X apakah sudah
mandi,menggosok gigi, keramas?”
c. Kontrak
1) Topik
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang pentingnya menjaga
perawatan diri?
2) Tempat
“Dimana kita akan berbincang-bincang Mas? OK, di teras dekat kamar
mandi ujung, baiklah”.
3) Waktu
“Kita akan bercakap-cakap berapa menit ?”. “15 menit !”, ya baiklah”.
2. Kerja
“yah sekarang kita akan ngobrol tentang pentingnya menjaga perawatan diri.
Nah, sekarang apa yang menyebabkan Mas X tidak melakukan perawatan diri?
Menurut Mas X manfaat perawatan diri secara fisik? mental? sosial? Kemudian
menurut Mas X tanda tanda perawatan diri yang baik seperti apa? (diskusikan
bersama perawat). Kalau orang yang tidak mau menjaga perawatan diri dengan
baik dapat menyebabkan penyakit atau gangguan kesehatan. Bagus sekali Mas A
sudah mengetahui tentang pentingnya perawatan diri.
3. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
“Bagaimana perasaan Mas X setelah bercakap –cakap tentang pentingnya
menjaga perawatan diri?”.
b. Evaluasi Obyektif
“ Tampaknya tadi Mas X sudah dapat menyebutkan alasan Mas X tidak mau
melaksanakan perawatan diri,kemudian manfaat menjaga perawatan diri, tandatanda perawatan diri yang baik dan penyakit atau gangguan kesehatan yang
disebabkan oleh kurangnya perawatan diri.”
c. Rencana Tindak Lanjut
“Baiklah Mas, setelah kita bercakap-cakap, nanti sore Mas X mengingat kembali
tentang tanda-tanda perawatan diri yang baik dan jangan lupa Mas X nanti sore
mandi.
d. Kontrak
1) Topik
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang cara menjaga perawatan
diri:mandi yang benar? Setuju”.
2) Tempat
“Baiklah kalau begitu, dimana kita akan bercaka-cakap, mungkin Mas X
punya tempat yang teduh dan santai untuk ngobrol ?”
3) Waktu
“Berapa lama kita akan bercakap-cakap ?”. ”10 menit atau 15 menit”.
“Sampai jumpa besok ya, Mas!”.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Pasien
a. pasien tampak kotor dan bau, gigi tampak kuning dan kotor, kulit
berdaki, dan kuku panjang
b. Klien tidak ada keinginan untuk membasuh mukaya
c. Rambut klien tampak acak-acakan
d. Pakaian klien kotor dan tidak sesuai
e. Klien tidak mampu melepas pakaian sendiri
f. Klien tidak mampu mengambil makanan sendiri dan makan
berceceran
g. Klien tidak mampu melakukan BAB atau BAK pada tempatnya
h. Klien tidak mampu membersihkan diri dengan baik setelah BAB atau
BAK
2. Diagnosa Keperawatan
a. Defisit perawatan diri : kebersihan diri
b. Defisit perawatan diri : bermasaian/berhias
c. Defisit perawatan diri : makan
d. Defisit perawatan diri : toileting (BAK dan BAB)
B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN
1. Tujuan Khusus
a. Klien mampu melakukan kebersihan diri secara mandiri
b. Klien mampu melakukan berhias atau berdandan secara mandiri
c. Klien mampu melakukan makan dengan baik
d. Klien mampu melakukan BAB dan BAK secara mandiri
2. Tindakan Keperawatan
a. Bina humasngan saling percaya
b. Jelaskan pada klien tentang pentingnya kebersihan diri
c. Jelaskan cara menjaga kebersihan diri
d. Bantu klien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri
e. Jelaskan cara makan yang baik
f. Bantu klien dalam mempraktekkan cara makan yang baik
g. Jelaskan cara eliminasi yang baik
h. Bantu klien dalam mempraktekkan cara eliminasi yang baik
i. Jelaskan cara berdandan atau berhias
j. Bantu klien dalam mempraktekkan cara berdandan atau berhias
k. Diskusikan dengan klien tentang memasukkan dalam jadwal kegiatan
harian
l. Lakukan evaluasi terkait jadwal kegiatan harian klien
m. Berikan pujian saat klien mampu melakukan setiap kegiatan dengan
baik
SP 1
1. Orientasi
“Selamat pagi mas, perkenalkan nama saya Toni, saya perawat yang dinas
disini dan saya yang akan merawat mas selama disini, biasanya saya dinas
mulai jam 7 pagi sampai jam 2 siang. Nama mas siapa, senangnya dipanggil
apa?”
Sudah berapa lama mas disini? Apa sebelumnya mas pernah dirawat disini?
Mas kalau hari ini tidak smask, bagaimana kalau kita bercakap-cakap
membicarakan tentang kebersihan diri? Untuk lama pertemuannya terserah
mas saja mau berapa lama? Bagaimana kalau 15 menit? Tempatnya dimana
mas? Dikamar atau ditaman?
2. Fase Kerja
Selama dirawat disini bagaimana perasaan mas?
Bagaimana perasaan mas pagi ini?
Pagi ini mas kelihat kucel dan agak kotor, apakah pagi ini mas belum
mandi?
Mengapa mas tidak mandi pagi ini?
Bagaimana kalau sekarang kita diskusi tentang pentingnya kebersihan
diri?
Kalau begitu saya jelaskan ya pentingnya kebersihan diri itu apa.
Nah sudah tahu kan betapa penting dalam menjaga kebersihan diri.
Sekarang kita coba diskusi lagi tentang cara menjaga kebersihan diri.
Sekarang mas yang mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri yang
sudah saya jelaskan tadi. Nanti saya akan bantu mas.
Ya bagus mas hebat sekali. Berarti sekarang mas sudah bisa cara menjaga
kebersihan diri. Bagaimana kalau kita memasukkan kegiatan tersemast
dalam jadwal kegiatan mas?
3. Fase Terminasi
Bagaimana perasaan mas sekarang setelah kita bercakap-cakap tadi?
Masih tetap semangat kan mas?
Nah sekarang mas kan sudah tahu apa manfaat dari kebersihan diri itu.
Coba mas jelaskan kepada saya. Ya bagus mas sudah mengerti sekarang.
Selanjutnya coba mas praktekkan sekali lagi bagaimana cara menjaga
kebersihan diri yang sudah kita diskusikan tadi. Ya bagus mas. Mas hebat
sekali.
Baiklah mas, karena waktu sudah 15 menit berarti waktu untuk hari ini
sudah habis sesuai kontrak awal. Tapi kalau mas memmastuhkan bantuan
bisa mencari saya. Saya disini ada sampai jam 2 siang ini. Bagaimana
kalau besok kita berdiskusi lagi tentang cara-cara berdandan atau berhias?
Untuk besok waktu dan tempatnya terserah mas mau bagaimana?
Apakah tetap 15 menit ditempat yang sama atau mas ingin berubah?
Baiklah mas karena waktu dan tempat sudah ditentukan dan disepakati,
sekarang saya pamit dan sampai berjumpa besok lagi mas. Selamat pagi mas.
SP 2
1. Orientasi
“Selamat pagi mas, sesuai dengan kontrak yang sudah kita sepakati kemarin.
Pagi ini selama 15 menit kita akan berdiskusi tentang cara berdandan atau
berhias.
Bagaimana perasaan mas saat ini? Saya lihat mas tampak segar. Apa mas
sudah mempraktekkan yang kemarin kita diskusikan? Wah mas hebat. Mas
sudah mau mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri yang sudah kita
diskusikan kemarin.
2. Fase Kerja
Nah sesuai janji yang sudah kita sepakati kemarin Bagaimana kalau
sekarang kita mulai berdiskusi tentang cara berdandan atau berhias?
Saya jelaskan dulu ya mas bagaimana cara berdandan atau berhias?
Sekarang mas yang mempraktekkan cara berdandan atau berhias yang
sudah saya jelaskan tadi. Nanti saya akan bantu mas.
Ya bagus mas hebat sekali. Berarti sekarang mas sudah bisa cara berdandan
atau berhias. Bagaimana kalau kita memasukkan kegiatan tersemast dalam
jadwal kegiatan mas?
3. Fase Terminasi
Bagaimana perasaan mas sekarang setelah kita bercakap-cakap tadi?
Masih tetap semangat kan mas?
Nah sekarang mas kan sudah tahu bagaimana cara berdandan atau berhias
itu. Coba mas jelaskan kepada saya. Ya bagus mas sudah mengerti sekarang.
Selanjutnya coba mas praktekkan sekali lagi bagaimana cara berdandan atau
berhias yang sudah kita diskusikan tadi. Ya bagus mas. Mas hebat sekali.
Baiklah mas, karena waktu sudah 15 menit berarti waktu untuk hari ini sudah
habis sesuai kontrak awal. Tapi kalau mas memmastuhkan bantuan bisa
mencari saya. Saya disini ada sampai jam 2 siang ini. Bagaimana kalau besok
kita berdiskusi lagi tentang cara-cara makan yang baik?
Untuk besok waktu dan tempatnya terserah mas mau bagaimana?
Apakah tetap 15 menit ditempat yang sama atau mas ingin berubah?
Baiklah mas karena waktu dan tempat sudah ditentukan dan disepakati,
sekarang saya pamit dan sampai berjumpa besok lagi mas. Selamat pagi
mas.
SP 3
1. Orientasi
“Selamat pagi mas, sesuai dengan kontrak yang sudah kita sepakati kemarin.
Pagi ini selama 15 menit kita akan berdiskusi tentang cara makan yang baik.
Bagaimana perasaan mas saat ini? Saya lihat mas tampak segar dan terlihat
lebih cantik. Apa mas sudah mempraktekkan yang kemarin kita diskusikan?
Wah mas hebat. Mas sudah mau mempraktekkan cara berdandan atau
berhias yang sudah kita diskusikan kemarin.
2. Fase Kerja
Nah sesuai janji yang sudah kita sepakati kemarin Bagaimana kalau
sekarang kita mulai berdiskusi tentang cara makan yang baik?
Saya jelaskan dulu ya mas bagaimana cara makan yang baik?
Sekarang mas yang mempraktekkan cara makan yang baik yang sudah
saya jelaskan tadi. Nanti saya akan bantu mas.
Ya bagus mas hebat sekali. Berarti sekarang mas sudah bisa cara makan
yang baik. Bagaimana kalau kita memasukkan kegiatan tersemast dalam
jadwal kegiatan mas?
3. Fase Terminasi
Bagaimana perasaan mas sekarang setelah kita bercakap-cakap tadi?
Masih tetap semangat kan mas?
Nah sekarang mas kan sudah tahu bagaimana cara makan yang baik itu.
Coba mas jelaskan kepada saya. Ya bagus mas sudah mengerti sekarang.
Selanjutnya coba mas praktekkan sekali lagi bagaimana cara makan yang
baik yang sudah kita diskusikan tadi. Ya bagus mas. Mas hebat sekali.
Baiklah mas, karena waktu sudah 15 menit berarti waktu untuk hari ini
sudah habis sesuai kontrak awal. Tapi kalau mas memmastuhkan bantuan
bisa mencari saya. Saya disini ada sampai jam 2 siang ini. Bagaimana kalau
besok kita berdiskusi lagi tentang cara-cara BAB atau BAK secara
mandiri?
Untuk besok waktu dan tempatnya terserah mas mau bagaimana?
Apakah tetap 15 menit ditempat yang sama atau mas ingin berubah?
Baiklah mas karena waktu dan tempat sudah ditentukan dan disepakati,
sekarang saya pamit dan sampai berjumpa besok lagi mas. Selamat pagi
mas.
SP 4
1. Orientasi
“Selamat pagi mas, sesuai dengan kontrak yang sudah kita sepakati
kemarin. Pagi ini selama 15 menit kita akan berdiskusi tentang cara BAB
atau BAK secara mandiri.
Bagaimana perasaan mas saat ini? Saya lihat mas tampak segar dan terlihat
lebih cakep dan saya lihat sudah tidak ada lagi makanan yang berceceran
dilantai tadi ketika mas sarapan. Apa mas sudah mempraktekkan yang
kemarin kita diskusikan? Wah mas hebat. Mas sudah mau mempraktekkan
cara makan yang baik yang sudah kita diskusikan kemarin.
2. Fase Kerja
Nah sesuai janji yang sudah kita sepakati kemarin Bagaimana kalau
sekarang kita mulai berdiskusi tentang cara BAB atau BAK secara
mandiri?
Saya jelaskan dulu ya mas bagaimana cara BAB atau BAK secara mandiri?
Sekarang mas yang mempraktekkan cara BAB atau BAK secara mandiri
yang sudah saya jelaskan tadi. Nanti saya akan bantu mas.
Ya bagus mas hebat sekali. Berarti sekarang mas sudah bisa cara BAB atau
BAK secara mandiri. Bagaimana kalau kita memasukkan kegiatan
tersemast dalam jadwal kegiatan mas?
3. Fase Terminasi
Bagaimana perasaan mas sekarang setelah kita bercakap-cakap tadi?
Masih tetap semangat kan mas?
Nah sekarang mas kan sudah tahu bagaimana cara BAB atau BAK secara
mandiri itu. Coba mas jelaskan kepada saya. Ya bagus mas sudah mengerti
sekarang.
Selanjutnya coba mas praktekkan sekali lagi bagaimana cara BAB atau
BAK secara mandiri yang sudah kita diskusikan tadi. Ya bagus mas. Mas
hebat sekali.
Baiklah mas, karena waktu sudah 15 menit berarti waktu untuk hari ini
sudah habis sesuai kontrak awal. Tapi kalau mas memmastuhkan bantuan
bisa mencari saya. Saya disini ada sampai jam 2 siang ini. Bagaimana kalau
besok kita berdiskusi lagi untuk mengevaluasi kegiatan yang sudah kita
lakukan selama 4 kali pertemuan?
Untuk besok waktu dan tempatnya terserah mas mau bagaimana?
Apakah tetap 15 menit ditempat yang sama atau mas ingin berubah?
Baiklah mas karena waktu dan tempat sudah ditentukan dan disepakati,
sekarang saya pamit dan sampai berjumpa besok lagi mas. Selamat pagi
mas.
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PADA KLIEN DENGAN RISIKO BUNUH
DIRI DI RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG
Oleh:
Nadia Indri Susanti, S.Kep
NIM. 252311101183
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2026
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN RESIKO BUNUH DIRI
Oleh: Nadia Indri Susanti, S.Kep / NIM. 252311101183
1. Masalah Utama
Resiko bunuh diri
2. Proses Terjadinya Masalah
a. Pengertian
Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko untuk
menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam
nyawa (Stuart dan Sudden, 1995 dalam Fitria 2011).
b. Tanda dan Gejala
1. Mempunyai ide untuk bunuh diri
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati
3. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
4. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan
5. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
6. Berbicara tentang kematian, menanyakan obat dosis mematikan
7. Terlihat depresi, psikosis, dan menyalahgunakan alcohol
8. Terlihat panik, cemas, marah, dan mengasingkan diri
9. Klien memiliki penyakit kronis atau terminal
10. Klien adalah pengangguran atau kegagalan karier atau kehilangan
pekerjaan
11. Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun
12. Mengalami kegagalan dalam pernikahan
13. Konflik interpersonal
14. Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil
c. Rentang respon
1. Peningkatan diri
2. Berisiko destruktif
3. Destruktif diri tidak langsung
4. Pencederaan diri
5. Bunuh diri
d. Perilaku
1. Upaya bunuh diri
Sengaja melakukan kegiatan menuju bunuh diri, dan apabila kegiatan itu
sampai tuntas akan mengakibatkan kematian. Kondisi ini terjadi setelah
tanda peringatan yang terlewatkan atau diabaikan.
2. Isyarat bunuh diri
Bunuh diri yang direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang
lain.
3. Ancaman bunuh diri
Suatu peringatan baik secara langsung atau tidak langsung, verbal atau
non verbal bahwa seseorang sedang mengupayakan bunuh diri.
e. Faktor predisposisi
1. Diagnosis psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri siklus hidupnya dengan
bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa.
2. Sifat kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan resiko bunuh diri
adalah antipasti, impulsive, dan depresi.
3. Lingkungan psikososial
Pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian negative
dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan, atau bahkan perceraian.
4. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor
penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh
diri.
5. Faktor biokimia
Terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat dalam otak.
f. Faktor Presipitasi
Biasanya berupa kejadian hidup yang sangat memalukan bagi dirinya atau
dengan melihat atau mebaca pada media mengenai orang yang melakukan
bunuh diri atau percobaan bunuh diri bagi orang yang labil emosinya dapat
menjadi pencetus terjadinya bunuh diri.
3. Pohon Masalah
Bunuh diri
Resiko bunuh diri
Isolasi sosial
Harga diri rendah kronis
4. Masalah Keperawatan
a. Resiko bunuh diri
b. Bunuh diri
c. Isolasi sosial
d. Harga diri rendah kronis
5. Data yang Perlu Dikaji
a. Subjektif
1. Mengungkapkan keinginan bunuh diri
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati
3. Mengungkapkan rasa bersalah atau keputusasaan
4. Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri
5. Berbicara tentang kematian, menanyakan tentang dosis obat yang
mematikan
6. Mengungkapkan konflik interpersonal
7. Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku kekerasan sejak kecil
b. Objektif
1. Impulsif
2. Menunjukkan perilaku yang mecurigakan
3. Ada riwayat penyakit mental
4. Ada riwayat penyakit fisik
5. Pengangguran, kehilangan pekerjaan, kegagalan karier
6. Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun
7. Status pernikahan tidak harmonis
6. Diagnosis Keperawatan
Resiko bunuh diri
7. Rencana Tindakan Keperawatan
a. Tindakan keperawatan pada klien
Tujuan :
1. Klien tetap aman dan selamat
2. Klien mendapat perlindungan dari lingkungan
3. Klien dapat mengungkapkan perasaannya
4. Klien dapat meningkatkan harga dirinya
Tindakan :
1. Tetap menemani klien sampai dipindahkan pada tempat yang aman
2. Menjauhkan semua benda yang berbahaya
3. Memastikan klien benar-benar telah minum obat
4. Meningkatkan harga diri klien
5. Memmberikan
kesempatan
pada
klien
dalam
mengungkapkan
perasaannya
6. Berikan pujian bila dapat mengungkapkan perasaannya
7. Meyakinkan klien bahwa dirinya berarti untuk orang lain
8. Mendiskusikan tentang keadaan yang sepatutnya disykuri klien
9. Merencanakan aktivitas yang dapat klien lakukan
10. Mendiskusikan cara menyelesaikan masalah
b. Tindakan keperawatan pada keluarga
Tujuan :
1. Keluarga berperan serta melindungi klien
2. Keluarga mampu merawat klien
Tindakan :
1. Mengajurkan keluarga turut serta mengawasi klien
2. Mengajurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhkan bendabenda yang berbahaya
3. Mendiskusikan dengan keluarga untuk menjaga klien
4. Menjelaskan pada keluarga tentang pentingnya klien minum obat secara
teratur
5. Menjelaskan pada keluarga tentang cara melindungi klien
6. Mengajarkan pada keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan
apabila klien melakukan percobaan bunuh diri
Daftar Pustaka
Fitria, Nita. 2011. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan
dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP) untuk 7
Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat bagi Program S-1 Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN RESIKO BUNUH DIRI
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
-
Ia selalu tampak murung dan sedih
-
Menjauhi orang yang ingin mendekatinya
-
Klien mengatakan“ segala sesuatu akan lebih baik jika tanpa saya. Saya
adalah orang yang selalu membawa musibah sudah sepantasnya saya
pergi jauh dari sini”.
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko bunuh diri
B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN
1. Tujuan Khusus
a. Klien mampu mengendalikan dorongan bunuh diri
b. Klien mampu mengidentifikasi aspek positif yang ada pada dirinya
c. Klien mampu berpikir positif tentang dirinya
d. Klien mampu menghargai dirinya
e. Klien mampu memilih pola koping yang konstruktif
f. Klien mampu mempraktekkan pola koping yang konstruktif
g. Klien mampu membuat rencana yang realistis untuk masa depan
h. Klien mampu melakukan kegiatan dalam mencapai masa depan
i. Keluarga mampu mengenali masalah klien
j. Keluarga mampu merawat klien
2. Tindakan Keperawatan
a. Identifikasi benda yang membahayakan klien
b. Amankan benda yang membahayakan klien
c. Ajarkan cara mengendalikan bunuh diri
d. Identifikasi aspek positif diri klien
e. Bantu klien untuk berfikir positif tentang dirinya
f. Bantu klien dalam menghargai dirinya
g. Identifikasi pola koping yang biasa dilakukan oleh klien
h. Ajarkan klien dalam memilih pola koping yang konstruktif
i. Ajarkan klien mempraktekkan pola koping yang konstruktif
j. Bantu klien dalam membuat rencana yang realistis untuk masa depan
k. Bantu klien dalam melakukan kegiatan untuk masa depan yang
realistis
l. Jelaskan pada keluarga tentang masalah yang dihadapi klien
m. Ajarkan pada keluarga tentang cara merawat klien
SP 1
a. Orientasi
Selamat pagi mbak, Apakah benar ini Nn X. senang dipanggil apa ? Ohh
Nn X. Baiklah Nn X, perkenalkan nama saya adalah Toni, saya bertugas
pada shift pagi mulai pukul 08.00- 14.00.
Bagaimana perasaan Nn X hari ini? Saya akan selalu menemani Nn X
disini mulai dari pukul 08.00-14.00, nanti akan ada perawat yang
menggantikan saya untuk menemani Nn X selama dirawat di rumah
sakit ini.
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang apa yang mbak rasakan
selama ini, saya siap mendengarkan sesuatu yang ingin mbak
sampaikan. Bagaimana kalau kita lakukan disini saja? Jam berapa kita
akan berbincang – bincang? Bagaimana kalau jam 13.00 setelah makan
siang mbak?
b. Fase Kerja
Bagaimana perasaan Nn X setelah rencana itu terjadi? Apakah dengan
rencana tersebut Nn X merasa paling menderita di dunia ini? Apakah
Nn X kehilangan kepercayaan diri? Apakah Nn X merasa tidak
berharga dan lebih rendah dari pada orang lain? Apakah Nn X sering
mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi? Apakah Nn X berniat untuk
menyakiti diri sendiri seperti ingin bunuh diri atau berharap Nn X mati?
Apakah Nn X mencoba untuk bunuh diri? Apa sebabnya?
Jika klien telah menyampaikan ide bunuh diri, segera memberikan
tindakan untuk melindungi klien.
Baiklah tampaknya Nn X memerlukan bantuan untuk menghilangkan
keinginan untuk bunuh diri. Saya perlu memeriksa seluruh kamar Nn X
untuk memastikan tidak ada benda-benda yang membahayakan Nn X.
Nah, karena Nn X tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat
untuk mengakhiri hidup Nn X, maka saya tidak akan membiarkan Nn
X sendiri.
Apakah yang akan Nn X lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul?
Ya, saya setuju. Nn X harus memaggil perawat yang bertugas di tempat
ini untuk membantu Nn X. Saya percaya Nn X dapat melakukannya.
c. Fase Terminasi
Bagaimana perasaan Nn X setelah kita bincang – bincang selama ini ?
Coba mbak sebutkan cara tersebut ?
Nn X, untuk pertemuan selanjutnya kita membicarakan tentang
meningkatkan harga diri pasien isyarat bunuh diri. Jam berapa Nn X
bersedia
bercakap-cakap
lagi?
mau
berapa
lama? Nn X,
mau dimana tempatnya?
SP 2
a. Orientasi
Selamat pagi Nn X, masih ingat dengan saya? Ya betul sekali.
Bagaimana perasaan Nn X saat ini? Masih adakah dorongan mengakhiri
kehidupan? Baik, sesuai janji kita kemarin sekarang kita
akan membahas tentang rasa syukur atas pemberian Tuhan yang masih
Nn X miliki. Mau berapa lama? Dimana?
b. Fase Kerja
Apa saja dalam hidup Nn X yang perlu disyukuri, siapa saja kira-kira
yang sedih dan rugi kalau Nn X meninggal. Coba Nn X ceritakan hal-hal
yang baik dalam kehidupan Nn X. Keadaan yang bagaimana yang
membuat Nn X merasa puas? Bagus. Ternyata kehidupan Nn X masih
ada yang baik yang patut Nn X syukuri. Coba Nn X sebutkan kegiatan
apa yang masih dapat Nn X lakukan selama ini. Bagaimana kalau Nn X
mencoba melakukan kegiatan tersebut, Mari kita latih.
c. Fase Terminasi
Bagaimana perasaan Nn X setelah kita bercakap-cakap? Bisa sebutkan
kembali apa-apa saja yang Nn X patut syukuri dalam hidup Nn X? Ingat
dan ucapkan hal-hal yang baik dalam kehidupan Nn X jika terjadi
dorongan mengakhiri kehidupan. Bagus Nn X. Coba Nn X ingat lagi halhal lain yang masih Nn X miliki dan perlu di syukuri! Nanti jam 2 siang
kita bahas tentang cara mengatasi masalah dengan baik. Tempatnya
dimana? Baiklah, tetapi kalau ada perasaan-perasaan yang tidak
terkendali segera hubungi saya ya!
SP 3
a. Orientasi
Selamat pagi Nn X.
Bagaimana perasaan Nn X hari ini? Masihkah ada keinginan bunuh
diri?
Apalagi hal-hal positif yang perlu disyukuri? Bagus!
Sekarang kita akan berdiskusi tentang bagaimana cara mengatasi
masalah Nn X selama ini. Mau berapa lama Nn X? Mau disini saja?
b. Fase Kerja
Coba ceritakan situasi yang membuat Nn X ingin bunuh diri. Selain
bunuh diri apalagi kira-kira jalan keluarnya. Wow, banyak juga ya Nn
X. Nah, sekarang coba kita diskusikan tindakan yang menguntungan
dan merugikan dari seluruh cara tersebut. Mari kita pilih cara mengatasi
masalah yang paling menguntungkan! Menurut Nn X cara yang mana?
Ya saya juga setuju dengan pilihan Nn X. Sekarang kita buat rencana
kegiatan untuk mengatasi perasaan Nn X ketika mau bunuh diri dengan
cara tersebut.
c. Fase Terminasi
Bagaimana perasaan Nn X, setelah kita bercakap-cakap?
Apa cara mengatasi masalah yang Nn X gunakan. Coba Nn X
melatih cara yang Nn X pilih tadi.
Besok di jam yang sama kita akan bertemu lagi untuk membahas
pengalaman Nn X menggunakan cara yang Nn X pilih.
SP 4
a. Orientasi
Selamat pagi Nn X. gimana nih kabarnya? Bagaimana semalam
tidurnya nyenyak?
Oya sesuai dengan janji yang kemarin kita akan bercakmap-cakap
lagi tentang penentuan kegiatan yang realistis untuk masa depan Nn
X. sebelumya saya mau tanya bagaimana tentang pola koping yang
kemarin sudah diajarkan? Sudah bisa dilakukan dengan baik?
Wah bagus sekali mbak. Baiklah sekarang kita mulai untuk membuat
rencana ya. Bagaimana sudah siap?
b. Fase Kerja
Oya menurut mbak rencana apa yang akan mbak lakukan untuk masa
depan?
Wak bagus mbak. Rencana yang mbak akan lakukan ternyata banyak
ya. Baiklah sekarang saya bantu untuk memilih rencana yang akan
dilakukan dan dimasukkan dalam jadwal kegiatan yaa.
Nah ini kegiatan yang akan dilakukan mbak untuk masa depan.
Bagaimana apakah mbak setuju?
Bagaimana kalau langsung kita masukkan dalam kegiatan harian?
Bagus mbak. Sekarang Nn X sudah punya rencana kegiatan untuk
masa depan ya.
c. Fase Terminasi
Baiklah Nn X karena waktu sudah 15 menit saya akan pamit yaa.
Jangan lupa jadwal yang sudah dibuat tadi dilaksanakan ya.
Besok saya akan datang lagi untuk mengevaluasi apa yang sudah saya
ajarkan. Besok saya akan datang jam 9 pagi ya. Bagaimana apakah Nn
X setuju?
Baiklah karena waktu sudah disepakati maka saya akan pamit. Selamat
pagi mbak.
C. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN PADA KELUARGA
SP 1
1. Orientasi
Selamat pagi pak, perkenalkan nama saya Toni, saya perawat yang dinas
disini selama 1 bulan dan saya yang akan merawat anak bapak selama disini,
biasanya saya dinas mulai jam 7 pagi sampai jam 2 siang. Nama bapak
siapa, senangnya dipanggil apa?
Begini pak saya ingin ngobrol-ngobrol terkait kesehatan anak bapak?
Apakah bapak bersedia? Waktunya 15 menit saja pak. Untuk tempatnya
terserah bapak dimana? Atau disini saja pak?
2. Fase Kerja
Kita berdiskusi saja ya pak. Apakah bapak sudah tahu tentang gangguan
yang dialami oleh anak bapak?
Sejak kapan anak bapak mengalami seperti itu ya?
Apakah bapak tahu apa yang menyebabkan anak bapak seperti itu?
Begini pak anak bapak ini mengalami resiko bunuh diri.
Resiko bunuh diri itu adalah ……………
Gejala resiko bunuh diri itu ada beberapa pak. Yaitu …………………
Jenis resiko bunuh diri Yaitu ……………………………
Proses terjadinya resiko bunuh diri ini adalah sebagai berikut ……………
Nah sekarang bapak kan sudah tahu tentang apa itu resiko bunuh diri,
gejalanya, jenisnya, dan proses terjadinya. Sekarang coba bapak ulangi
sekali lagi tentang penjelasan saya tadi.
Yaa benar sekali pak. Sekarang bapak sudah tahu terkait gangguan yang
dialami oleh anak bapak.
Sekarang saya akan menjelaskan bagaimana cara merawat anak bapak
dengan benar. Begini pak caranya …………………………………
Bapak sudah tahu kan. Bapak harus selalu memberikan dukungan kepada
anak bapak.
3. Fase Teminasi
Bagaimana dengan perasaan bapak setelah kita ngobrol-ngobrol tadi?
Bapak sudah tahu kan sekarang tentang apa yang dialami anak bapak.
Karena waktu kontrak kita sudah habis saya ijin pamit dulu ya pak.
Tetapi sebelum saya pamit bagaimana kalau kita besok ngobrol lagi
untuk mempraktekkan cara merawat anak bapak yang sudah saya
jelaskan tadi pak?
Kira-kira waktunya kapan pak? Bagaimana kalau jam 11 selama 15
menit bapak bisa?
Lalu tempatnya pak mau dimana? Tetap disini atau berubah?
Baik karena waktu dan tempat untuk besok sudah kita sepakati maka
saya pamit dulu ya pak. Selamat pagi pak.
SP 2
1. Orientasi
Selamat siang pak. Sesuai dengan kontrak waktu yang kemarin kita akan
ngobrol-ngobrol lagi selama 15 menit tentang cara mempraktekkan
merawat anak bapak dengan benar. Bagaimana pak apakah kita bisa mulai
sekarang?
2. Fase Kerja
Kita mulai ya pak. Saya akan ulangi cara merawat anak bapak adalah
sebagai berikut .....................................................
Nah sekarang bapak praktekkan ya pak.
Bagus pak. Bapak sudah bisa merawat anak bapak dengan benar.
Nah sekarang karena bapak sudah bisa bapak bisa mempraktekkan
langsung kepada anak bapak..
Yaa bagus pak. Begitu caranya.
Ingat yaa pak, bapak harus selalu mendukung anak bapak. Bapak harus
bisa menjadi support sistem bagi anak bapak.
Selalu temani anak bapak ya. Agar dia tidak merasa sendirian lagi.
3. Fase Terminasi
Bagaimana dengan perasaan bapak setelah kita ngobrol-ngobrol tadi?
Bapak sudah tahu kan sekarang tentang cara merawat anak bapak.
Karena waktu kontrak kita sudah habis saya ijin pamit dulu ya pak. Tetapi
sebelum saya pamit bagaimana kalau kita besok ngobrol lagi untuk
merencanakan kepulangan anak bapak ?
Kira-kira waktunya kapan pak? Bagaimana kalau jam 11 selama 15 menit
bapak bisa?
Lalu tempatnya pak mau dimana? Tetap disini atau berubah?
Baik karena waktu dan tempat untuk besok sudah kita sepakati maka saya
pamit dulu ya pak. Selamat siang pak.
SP 3
1. Orientasi
Selamat siang pak. Sesuai dengan kontrak waktu yang kemarin kita akan
ngobrol-ngobrol lagi selama 15 menit tentang rencana kepulangan anak
bapak. Karena bapak sudah bisa cara merawat anak bapak dengan baik dan
kondisi anak bapak juga sudah memungkinkan untuk pulang maka kita hari
ini akan membicarakan tentang rencana kepulangan anak bapak ya?
Bagaimana pak?
2. Fase Kerja
Kondisi anak bapak saat ini adalah ..........................................
Secara medis anak bapak sudah membaik dan diijinkan pulang.
Kapan kira-kira waktu yang tepat untuk kepulangan anak bapak?
Bagaimana kalau lusa pak?
Kita bisa bersiap-siap terlebih dahulu. Bapak juga bisa mempersiapkan
segala sesuatunya. Bagaimana pak?
3. Fase Terminasi
Bagaimana dengan perasaan bapak setelah kita ngobrol-ngobrol tadi?
Bapak pasti senang kan anak bapak bisa pulang dan bapak bisa
berkumpul lagi.
Karena waktu kontrak kita sudah habis saya ijin pamit dulu ya pak. Lusa
kita ketemu lagi disini untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk
kepulangan anak bapak.
Baik kalau begitu saya pamit dulu ya pak. Selamat siang pak.
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PADA KLIEN DENGAN DISTRESS
SPIRITUAL DI RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG
Oleh:
Nadia Indri Susanti, S.Kep
NIM. 252311101183
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2026
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DISTRESS SPIRITUAL
Oleh : Nadia Indri Susanti, S.Kep / NIM : 252311101183
1. Masalah Utama
Distress Spiritual (Gangguan Kebutuhan Spiritual)
2. Proses Terjadinya Masalah
a. Pengertian
Distres spiritual adalah kondisi yang mengganggu aspek eksistensial, keyakinan,
atau agama seseorang, sehingga menyebabkan kesulitan dalam menjalankan
aktivitas spiritual (Wisuda et al., 2024). Keadaan ini dapat dipicu oleh faktor fisik
maupun psikososial dan mencerminkan keterbatasan individu dalam memahami
serta menginternalisasi makna dan tujuan hidup, baik dalam hubungannya dengan
diri sendiri, orang lain, maupun entitas yang lebih tinggi.
b. Tanda dan Gejala
Klimasiński et al (2022) menjelaskan bahwa terdabat beberapa tanda dan gejala
distres spiritual, diantaranya :
1) Kurangnya Ketenteraman:
Pasien mengalami tekanan emosional dan kesulitan menemukan kedamaian
batin.
2) Perasaan Terisolasi:
Pasien merasa tidak ada yang dapat memahami kondisi yang mereka alami.
3) Kesedihan:
Perasaan sedih yang sangat dalam dapat dialami oleh pasien.
4) Kemarahan:
Pasien bisa merasa marah terhadap keadaan yang sedang dihadapi.
5) Penyesalan:
Pasien cenderung merenungkan bagaimana seharusnya kehidupan mereka
berjalan lebih baik.
6) Ketakutan terhadap Masa Depan:
Kekhawatiran terhadap hal-hal yang akan datang sering kali muncul.
7) Ketidakbermaknaan:
Pasien merasa bahwa rencana atau tujuan hidup mereka kehilangan makna.
8) Kehilangan Makna dan Tujuan:
Banyak pasien merasakan bahwa hidup mereka tidak lagi memiliki arah atau
makna yang jelas.
9) Kebutuhan untuk Berbagi Perasaan:
Ada dorongan kuat untuk mengungkapkan pemikiran dan perasaan kepada
orang lain.
c. Rentang respon
1) Kepercayaan
2) Kemauan Memberi Maaf
3) Kasih sayang dan Keterikatan
4) Keyakinan
5) Kreativitas dan Harapan
6) Makna dan Tujuan hidup
7) Rasa syukur
d. Faktor Predisposisi
Gangguan dalam aspek biologis dapat memengaruhi fungsi kognitif seseorang,
yang pada akhirnya berdampak pada interaksi sosial. Dalam konteks ini, pertukaran
pengalaman menjadi elemen penting dalam pertumbuhan spiritual individu. Selain
itu, faktor sosiokultural turut berperan, termasuk usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, pendapatan, pekerjaan, status sosial, latar belakang budaya, keyakinan,
pandangan politik, pengalaman sosial, serta tingkat keterlibatan dalam masyarakat.
e. Faktor Presipitasi
1) Peristiwa yang menimbulkan stres secara signifikan dapat menghambat
perkembangan spiritual seseorang. Hal ini bisa disebabkan oleh perubahan
dalam tujuan hidup, kehilangan orang terdekat akibat kematian, atau kegagalan
dalam membangun hubungan yang harmonis dengan diri sendiri, orang lain,
lingkungan, serta entitas yang lebih tinggi
2) Tekanan hidup yang berkepanjangan juga berkontribusi terhadap munculnya
stres spiritual. Beberapa di antaranya meliputi kesulitan dalam menjalankan
praktik keagamaan, konflik dalam keyakinan, serta ketidakmampuan
menjalankan peran spiritual dalam keluarga, kelompok, maupun komunitas
3. Pohon Masalah
4. Masalah Keperawatan
a. Afiliasi agama
•
Partisipasi pasien dalam kegiatan agama apakah dilakukan secara aktif atau
tidak aktif
•
Jenis partisipasi dalam kegiatan agama
b. Keyakinan agama atau spiritual mempengaruhi
•
Praktik kesehatan diet, mencari dan menerima terapi, ritual, atau upacara
agama
•
Persepsi penyakit hukuman cobaan terhadap keyakinan
•
Strategi koping
c. Nilai agama atau spiritual mempengaruhi
•
Tujuan dan arti hidup
•
Tujuan dan arti kematian
•
Kesehatan dan pemeliharannya
•
Hubungan dengan tuan, diri sendiri, dan orang lain
4. Data yang Perlu Dikaji
Berdasarkan SDKI
a. Subjektif
1. Mempertanyakan makna/tujuan hidupnya
2. Menyatakan hidupnya terasa tidak/kurang bermakna
3. Merasa menderita/tidak berdaya
b. Objektif
1. Tidak mampu beribadah
2. Marah pada Tuhan
5. Diagnosis Keperawatan
Distres Spiritual [SDKI D.0082]
6. Rencana Tindakan Keperawatan
Tujuan Umum: Status spiritual membaik (L.09091)
Tujuan Khusus
:
a) Pasien mampu membina hubungan saling percaya degan perawat
b) Pasien mampu mengungkapkan penyebab gangguan spiritual
c) Pasien mampu mengungkapkan perasaan dan pikiran tentang spiritual yang
diyakini
d) Pasien mampu mengembangkan skill untuk mengatasi masalah atau penyakit
atau perubahan spiritual dalam kehidupan
e) Pasien dapat aktif melaksanakan kegiatan spiritual dan keagamaan
Intervensi
Dukungan Spiritual (I.09276)
Observasi
1)
Identifikasi perasaan khawatir, kesepian, dan ketidakberdayaan
2)
Identifikasi pandangan tentang hubungan antara spiritual dan Kesehatan
3)
Identifikasi harapan dan kekuatan pasien
4)
Identifikasi ketaatan dalam beragama
Terapeutik
5)
Berikan kesempatan mengekspresikan perasaan tentang penyakit dan
kematian
6)
Berikan kesempatan mengekspresikan dan meredakan marah secara tepat
7)
Yakinkan bahwa perawat bersedia mendukung selama masa
ketidakberdayaan
8)
Sediakan privasi dan waktu tentang untuk aktivitas spiritual
9)
Diskusikan keyakinan tentang makna dan tujuan hidup, jika perlu
10) Fasilitasi melakukan kegiatan ibadah
Edukasi
11) Anjurkan berinteraksi dengan keluarga, teman, dan/atau orang lain
12) Anjurkan berpartisipasi dalam kelompok pendukung
13) Ajarkan metode relaksasi, meditasi, dan imajinasi terbimbing
Kolaborasi
14) Atur kunjungan dengan rohaniawan (mis: uztadz, pendeta, romo, biksu)
Daftar Pustaka
Klimasiński, M., Baum, E., Praczyk, J., Ziemkiewicz, M., Springer, D., Cofta, S., &
Wieczorowska-Tobis, K. (2022). Spiritual Distress and Spiritual Needs of
Chronically Ill Patients in Poland: A Cross-Sectional Study. International Journal
of
Environmental
Research
and
Public
Health,
19(9),
5512.
https://doi.org/10.3390/ijerph19095512
Wisuda, A., Suraya, C., & Emiliasari, D. (2024). Implementasi Modul Aris (Anxiety And
Depression Reduction Through Islamic Spiritual Care) Dalam Memenuhi
Kebutuhan Spiritual PASIEN. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Citra
Delima, 2(1), 12–25. https://doi.org/10.33862/jp.v2i1.507
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator
Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN DISTRESS SPIRITUAL DI RSJ Dr. RADJIMAN
WEDIODININGRAT LAWANG
Oleh : Nadia Indri Susanti, S.Kep / NIM : 252311101183
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi
a.
Klien menanyakan tujuan hidupnya sendiri
b.
Klien mengatakan hidupnya kurang bermakna
c.
Klien tidak mampu beribadah
2. Diagnosa Keperawatan
Distress Spiritual
3. Tujuan Khusus
a.
Klien memiliki makna dan tujuan hidup yang jelas
b.
Klien merasa puas terhadap dirinya sendiri
c.
Klien mampu melakukan ibdaha dengan baik
4. Tindakan Keperawatan
a. Membina hubungan saling percaya
b. Memfasilitasi peningkatan perasaan seimbang dan terhubung (dukungan
spiritual)
c. Meningkatkan upaya kognitif dan perilaku
Strategi Pelaksanaan
Fase Orientasi
a. Salam terapeutik :
“Selamat pagi bu, perkenalkan saya Ana. Bagaimana keadaan ibu hari ini”
b. Evaluasi/Validasi :
“Senang bisa berkenalan dengan ibu, bagaimana jika kita berbincang bincang
untuk mengetahui masalah ibu saat ini”
c. Kontrak
Topik
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keadaan ibu dengan tujuan
suapaya ibu lebih tenang dalam menghadapi keadaan ibu, siapa tahu dengan ibu
berbagi cerita, mungkin kesedihan ibu bisa berkurang”
Tempat
“Dimana kita akan berbincang-bincang pak? OK, di teras dekat depan,
baiklah”.
Waktu
“Kita akan bercakap-cakap berapa menit ?”. “15 menit !”, ya baiklah”.
Fase Kerja
“Ibu coba ceritakan masalah yang sedang dialami saat ini!, bu coba ceritakan
kembali mengapa ibu tidak mau sholat dan ibadah seperti dulu lagi”.
“Bisa certain bu tentang keyakinan ibu terhadap tuhan dan agama ibu ? apa yang
mmebuat ibu tidak dekat dengan tuhan?”
“Kira kira ibu tau tidak kerugian jika ibu lebih banyak sendiri dan bahkan tidak
dekat kepada tuhan lagi?”
“Ya benar mungkin kalua sendiri ibu akan merasa lebih nyaman, tetapi jika ibu
bersikap seperti itu lama lama ibu pasti akan merasa sendirian dan bosan. Apalagi
ibu tidak dekat dengan tuhan dan tidak pernah berdoa. Tambah lagi jika ibu ada
masalah dan tidak dengan tuhan akan terbebani pikirannya. Jika ibu ada masalah
tidak akan menyelesaikan masalah ibu yang membuat tidak Ikhlas kehilangan”
“Sebaiknya ibu sadar dan mulai bersyukur dan menerima kenyataan dan Ikhlas
harus banyak berdoa kepada tuhan dan selalu mendoakan keluarganya pasibanyak
yang akan merasakan ketenangan dalam diri ibu”
Fase Terminasi
1.
Evaluasi subyektif
“Bagaimana perasaan ibu setelah kita berbincang bincang tadi ? Coba ibu
ceritakan apa manfaat dari ikhlas bersyukut, berpikir positif dan mendekatkan
diri kepada tuhan?”
2.
Evaluasi Obyektif
“kalau begitu coba ibu jelaskan kembali manfaat yang didapatkan daro
percakapan kita tadi dan ibu dapat mencoba mengualangi zikir yang telah
dilakukan”
3.
Rencana Tindak Lanjut
“Baiklah ibu, setelah kita bercakap-cakap, nanti ibu dapat mengingat kembali
tentang manfaat bersyukur”
4.
Kontrak
Topik
“Bagaimana kalau besok kita bercakap-cakap tentang alat ibadah yang akan
ibu gunakan ”.
Tempat
“Baiklah kalau begitu, dimana kita akan bercaka-cakap, mungkin ibu punya
tempat yang teduh dan santai untuk ngobrol ?”
Waktu
“Berapa lama kita akan bercakap-cakap ?”. ”10 menit atau 15 menit”.
“Sampai jumpa besok ya, pak, dan jangan lupa diterapakan ya zikirnya!”.
Download