Uploaded by common.user152758

Sindrom Piriformis: Tinjauan Pustaka & Fisioterapi

advertisement
BAB II
TINJUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Kasus
1. Definisi piriformis syndrome
Piriformis syndrome adalah salah satu penyebab nyeri, yang melibatkan
rasa sakit dipantat. Ini biasanya digambarkan sebagai gangguan neuromuskuler
yang disebabkan oleh kompresi atau iritasi saraf skiatik oleh otot piriformis. Saat
kontraksi otot piriformis berperan sebagai eksternal rotator panggul, abduktor
paha, fleksor pinggul dan stabilitas postural selama berdiri dan ambulasi (Barzu,
2013).
Piriformis syndrome adalah kondisi neuromuscular, dikenali oleh
konstelasi gejala yang meliputi sakit pinggul dan pantat. Rasa sakit sering
menjalar ke bagian belakang kaki, kadang ke kaki bagian medial. Hal ini sering
dikaitkan dengan mati rasa di posteromedial tungkai bawah. Neuritis perifer ini
diperkirakan merupakan hasil dari otot piriformis abnormal atau kompresi pada
saraf skiatik. Gejala serupa dengan herniasi diskus lumbal, stenosis dan
radiculopathy dan nyeri neurogenik, piriformis syndrome sering kali sulit untuk
didiagnosis (Norbury, 2012).
5
6
2. Anatomi
a. Anatomi dasar panggul
3
1
3
2
Gambar 2.1
Anatomi dasar panggul (Hopayian, 2010).
Keterangan gambar 2.1 :
(1) Piriformis muscle
(2) Sciative nerve
(3) Gluteus minimus
Otot piriformis berbentuk piramida rata, berasal dari permukaan
ventrolateral vertebra sakrum 2 sampai 4, kemudian melewati foramen
ischiadicum majus dan berada disebelah dorsal nervus ischiadicus sebelum
berinsersio dibagian superomedial trochantor major os femur. Otot piriformis
merupakan otot rotator panggul paling proksimal. Dengan panggul ekstensi,
otot piriformis berfungsi untuk rotasi eksternal panggul. Bila panggul fleksi,
maka otot ini berfungsi sebagai abduktor panggul. Cabang saraf dari L5, S1,
dan S2 menginervasi otot piriformis (Hopayian, 2010).
Otot piriformis adalah salah satu otot pantat yang paling dalam, berasal
dari permukaan anterior sakrum, di dekat kapsul sendi sakroilliaka, melewati
7
permukaan skiatik yang lebih besar dan melekat pada aspek medial superior.
Otot piriformis terletak di permukaan panggul dari sacrum lateral ke foramina
sakralnya, margin foramen skiatik yang lebih besar dan permukaan panggul
dari ligamentum sacrotuberous di dekat sendi sakroiliaka pada tingkat
vestibular S2 sampai S4. Ini menempel pada medial superior throcanter mayor
dan diinervasi oleh saraf tulang belakang (Hopayian, 2010).
b. Nervus ischiadicus
Pada trayek permulaan saraf iskhiadikus melintasi sendi sakroiliaka,
kemudian meninggalkan rongga pelvis melewati foramen iskhiadikus mayor di
bawah otot piriformis. Didekat sendi panggul saraf iskhiadikus berjalan
diantara trochantor major, tulang femur, dan tuberositas iskhiadikus.
Disepanjang permukaan posterior paha keruang poplitea dimana serabut saraf
ini berakhir dan bercabang menjadi saraf tibialis dan saraf peroneus. Rami dari
trunkus tibialis mensuplai m.semitendinosus, m.semimembranosus, m.biceps
femoris caput longus, m.adduktor magnus. Rami dari trunkus peroneus
komunis mensuplai m.biceps femoris caput bervis, karena saraf tibialis dan
saraf peroneus merupakan lanjutan dari saraf iskhiadikus, maka juga dapat
dikatakan bahwa semua otot tungkai bawah merupakan motorik saraf
iskhiadikus. Kawasan sensoris saraf iskhiadikus terletak diseluruh tungkai
bawah yaitu kulit bagian leteral, sedangkan sensibilitas tungkai atas bagian
ventrolateral disarafi oleh saraf kutaneus lateral femoris yang merupakan
cabang fleksus lumbalis (Chusid, 1993).
8
Sebanyak 96% populasi, saraf skiatik keluar dari foramen skiatik yang
lebih besar jauh di dalam permukaan otot piriformis inferior. Sebanyak 22%
populasi, saraf skiatik menembus otot piriformis, memisahkan otot piriformis atau
keduanya, menyebabkan predisposisi individu ini terhadap sindrom piriformis.
Saraf skiatik bisa lewat sepenuhnya melalui otot perut atau saraf bisa membelah
dengan satu cabang biasanya bagian fibula menusuk otot dan cabang lainnya,
biasanya bagian tibia berjalan ke inferior atau superior sepanjang otot. Jarang,
nervus skiatik keluar dari foramen skiatik yang lebih besar di sepajang permukaan
superior otot piriformis (Boyajian et all,2008).
Variasi dalam hubungan saraf skiatik dengan otot piriformis : (1) saraf
skiatik keluar dari foramen skiatik yang lebih besar disepanjang permukaan
inferior otot piriformis; saraf skiatik membelah saat melewati otot piriformis
dengan cabang tibialis lewat (2) inferior atau (3) superior; (4) seluruh saraf skiatik
melewati perut otot; (5) saraf skiatik keluar dari formen skiatik yang lebih besar di
sepanjang permukaan superior otot piriformis (Boyajian et all, 2008).
3. Biomekanik sendi panggul
Biomekanik sendi panggul dibentuk oleh caput femur dan acetabulum.
Sendi panggul merupakan ball and socket joint sehingga sangat stabil, berbeda
dengan sendi bahu yang tidak stabil. Sebagian gerak panggul diikuti oleh gerakan
vertebra lumbal. Panggul berfungsi untuk penyanggaan berat badan dan berjalan.
Sendi panggul memiliki 3 aksis yaitu aksis transversal (frontal) untuk gerakan
fleksi dan ekstensi, aksis anterior-posterior (sagital) untuk gerakan anduksi dan
adduksi, aksis vertikal untuk gerakan rotasi (Kapanji, 2011).
9
4. Etiologi
Etiologi sindrom piriformis masih belum jelas namun gejalanya mungkin
akibat neuritis bagian proksimal nervus ischiadicus. Otot piriformis selain
mengiritasi dapat pula menekan nervus ischiadicus terkait dengan spasme atau
kontrakturnya (Rizal, 2010).
Ada dua jenis piriformis syndrome yaitu primer dan sekunder. Piriformis
syndrome primer memiliki penyebab anatomis, seperti otot piriformis split,
nervusskiatik terbelah atau jalur saraf skiatik yang anomaly. Piriformis syndrome
sekunder terjadi akibat dari penyebab presipitasi, termasuk makrotrauma,
mikrotrauma, efek massa iskemik dan iskemia lokal. Di antara pasien dengan
piriformis syndrome, kurang dari 15% kasus memiliki penyebab utama. Piriformis
syndrome paling sering disebabkan oleh mikrotrauma pada bokong yang
menyebabkan radang jaringan lunak, kejang otot atau keduanya karena kompresi
saraf. Mikrotruma dapat berakibat terlalu banyak menggunakan otot piriformis,
seperti berjalan kaki, berlari, duduk untuk waktu yang lama di posisi yang sama
(supir taksi) akan menyebabkan otot kaku dan dengan kompresi langsung.
Penyebab lain yang menyebabkan penggunaan otot piriformis berlebihan, yang
terdaftar oleh Compos adalah otot gluteus lemah, subluksasi kronis pada sendi
sakroiliaka dan disfungsi kaki (Boyajian et al, 2008).
Piriformis syndrome dapat dibagi atas penyebab primer dan penyebab
sekunder. Penyebab primer terjadi akibat kompresi saraf langsung karena trauma
atau faktor instrinsik otot piriformis, termasuk variasi anomaly otot, hipertrofi
otot, inflamasi kronik otot. Penyebab sekunder termasuk gejala yang terkait
10
dengan massa lesi otot dalam pelvis, infeksi, anomali pembuluh darah atau simpai
fibrosis yang melintasi saraf, bursitis tendon piriformis, inflamasi sakroiliaka dan
adanya
titik-titik
picu
myofacial.
Penyebab
lain
dapat
berasal
dari
pseudoaneurysma arteri gluteus inferior, piriformis syndrome bilateral terkait
dengan posisi duduk yang berkepanjangan, cerebral palsy terkait dengan
hipertonus dan kontraktur (Rizal, 2010).
5. Patofisologi
Pasien dengan ketimpangan panjang tungkai cenderung mengalami
sindrom piriformis karena terdapat perubahan biomekanika gaya berjalan (gait)
sebagai penyebab hipertropi otot piriformis dan inflamasi kronik, juga akan
memunculkan piriformis syndrome. Dalam proses melangkah, saat fase berdiri
(stand phase) otot piriformis teregang sejalan dengan beban pada panggul yang
dipertahankan dalam posisi rotasi internal. Otot piriformis tetap dalam kondisi
teregang selama proses melangkah dan cenderung lebih hipertropi dibandingkan
dengan otot yang lain di sekitanya. Setiap abnormalitas proses melangkah yang
melibatkan panggul dengan posisi rotasi internal atau adduksi yang meningkat
dapat semakin meregangkan otot piriformis (Rizal, 2010).
Kejang otot piriformis dan disfungsi (sacral misalnya, torsi) menyebabkan
stress pada ligament sakrotuberous. Stress ini dapat menyebabkan kompresi pada
saraf pudendal atau peningkatan tekanan mekanik pada tulang innominate, yang
berpotensi menyebabkan inguinal nyeri. Kompresi saraf skiatik sering
menyebabkan nyeri atau parestasia pada paha posterior (Boyajian et al, 2008).
11
6. Tanda dan gejala klinis
Keluhan yang khas adalah kram atau nyeri di pantat atau di area
hamstring, nyeri ischialgia di kaki tanpa nyeri punggung, dan gangguan sensorik
maupun motorik sesuai distribusi nervus ischiadicus. Keluhan pasien dapat berupa
nyeri yang semakin menjadi ketika membungkuk, duduk lama, bangun dari duduk
atau saat rotasi internal paha serta juga nyeri saat miksi atau defekasi dan
dispareunia (Rizal, 2010).
Parziale mencatat enam ciri dari sindrom ini: (1) riwayat trauma pada
daerah sakroiliaka dan gluteal, (2) rasa sakit di wilayah sendi sakroiliaka skiatik
yang lebih besar dan otot piriformis, mengulurkan kaki yang menyebabkan
kesulitan berjalan, (3) eksaserbasi akut akan terasa sakit dengan cara
membungkuk atau mengangkat kaki dan terasa lega ketika di traksi, (4) massa
berbentuk sosis yang teraba di atas otot piriformis ketika di palpasi, (5) tes lesegue
positif dan 6) kemungkinan atrofi gluteal. Pasien dengan piriformis syndrome
biasanya mengatakan nyeri tekan dengan atau tanpa radiasi ke kaki ipsilateral,
rasa sakit pantat biasanya meluas dari sakrum ke trokanter mayor yang lebih besar
(Benzon et al, 2003).
Gejala yang paling umum adalah meningkatnya rasa sakit setelah duduk
lebih lama dari 15 sampai 20 menit. Banyak pasien mengeluhkan nyeri pada otot
piriformis, terutama di atas ikatan otot di sakrum dan trochantormayor medial.
Gejala, mungkin onset mendadak atau bertahap, biasanya berhubungan dengan
kejang otot pirifromis atau kompresi nervus skiatik. Pasien mungkin mengeluh
kesulitan berjalan dan nyeri dengan rotasi internal sebagai otot piriformis
12
berkontraksi menyebabkan perputaran pinggul ipsilateral. Mungkin ada riwayat
trauma lokal, nyeri pada sendi sakroiliaka, saraf skiatik dan otot pirifromis serta
nyeri yang meningkat ketika membungkuk (John et all, 2012).
7. Prognosis
Prognosis bagi sebagian besar individu dengan piriformis syndrome yang
baik. Apabila gejala gangguan tersebut tidak diatasi, individu biasanya dapat
melanjutkan kegiatan normal mereka. Dalam beberapa kasus, latihan mungkin
perlu
dimodifikasi
untuk
mengurangi
kemungkinan
kekambuhan
atau
memburuknya keadaan (Bathesda, 2007).
8. Diagnosis banding
Diagnosis banding pada kasus piriformis syndrome menurut Jankovic et
all (2013) terdiri dari sebagai berikut : (1) Diagnosis banding sindrom piriformis
(2) Disfungsi, lesi, dan radang sendi sakroiliaka (3) Pseudoaneurisma pada arteri
glutealis inferior setelah ginekologis operasi (4) Trombosis vena iliaka (5)
Disebabkan sindrom kompresi vaskular yang nyeri pada saraf skiatik oleh varises
gluteal (6) Disk intervertebralis yang tereniasi (7) Sindrom pasca-laminektomi
atau coccygodinia (8) Sindrom Pseudoradicular S1 (9) Sindrom sisi posterior pada
L4-5 atau L5-S1 (10) Fraktur panggul yang tidak dikenali (11) Osteochondrosis
lumbal batu ginjal yang tidak terdiagnosis. (Jankovic et all, 2013).
13
B. Deksripsi Problematika Fisioterapi
Problematika fisioterapi yang sesuai dengan International Classification of
Functioning (ICF) (WHO, 2001) yaitu impairment, functional limitation dan
participation restriction yang sering dihadapi oleh pasien piriformis syndrome.
Gangguan impairment meliputi, (1) adanya spasme di otot piriformis, (2) nyeri di
daerah pantat dan paha, (3) terjadi penurunan kekuatan otot, dan (4) adanya
penurunan kemampuan fungsional.
Gangguan ini berhubungan dengan functional limitation seperti pasien
merasa nyeri ketika berjalan, berdiri dan duduk ke berdiri. Sedangkan
hubungannya dengan participation restriction adalah menghambat pasien dalam
mengikuti kegiatan sosial di dalam masyarakat apabila nyeri berat atau yang
menjadi kronis seperti acara arisan, karang taruna, pengajian dan lain-lain.
C. Teknologi Intervensi Fisioterapi
1. Ultrasound
a. Definisi
Ultrasound adalah gelombang suara yang frekuensinya 20.000 Hz.
Ultrasound mengacu pada getaran mekanis yang pada dasarnya sama dengan
gelombang suara tetapi frekuensinya lebih linggi. Gelombang semacam itu berada
diluar jangkauan pendengaran manusia dan karenanya disebut ultrasounic
(Singh,2012).
14
Ultrasound adalah gelombang suara yang frekuensinya 20.000 Hz.
Ultrasound mengacu pada getaran mekanis yang pada dasarnya sama dengan
gelombang suara tetapi frekuensinya lebih linggi. Gelombang semacam itu berada
diluar jangkauan pendengaran manusia dan karenanya disebut ultrasounic
(Singh,2012).
a. Indikasi
Adapun indikasi-indikasi saat memberikan ultrasound theraphy antara lain
: (1) Kontraktur sendi dan jaringan parut, (2) Nyeri dan spasme otot, (3)
Subakut/kronik inflamasi jaringan lunak, (4) Inflamasi jaringan lunak, (5)
Inflamasi saraf perifer, (6) Luka terbuka, (7) Fraktur (Michlovitz et all, 2012).
b. Kontraindikasi
Selain itu, adapun beberapa kontraindikasi atau larangan yang tidak di
perbolehkan saaat melakukan ultrasound theraphy antara lain : (1) Didaerah
pacemaker (Alat pacu jantung), (2) Masa kehamilan : daerah pelvic, perut, lumbal,
(3) Mata dan testis, (4) Daerah pendarah aktif dan infeksi, (5) Daerah tumor dan
keganasan, (6) Daerah deep vein thrombosis atau thrombophlebitis, (7) Ganglia
serviks, (8) Pertumbuhan tulang (Michlovitz et all, 2012).
c. Efek fisiologis ultrasound
Efek fisiologis ultrasound ada 3 antara lain: (1) efek thermal (2) efek
mekanik (3) dan efek fisiologis. Efek thermal ultrasound yakni berupa kenaikan
suhu setempat yang digunakan untuk mempercepat penyembuhan, hal ini juga
dapat membantu mengurangi rasa sakit. Sedangkan untuk efek mekanik akan
mempengaruhi pergerakan cairan jaringan diruang interstitial.hal ini dapat
15
mengurangi oedema dikombinasikan efek thermal,efek mekanik juga dapat
membuat peregangan lebih mudah terjadi. Dan terakhir efek biologis ultrasound
berupa efek inflammantory,ploriferativ,remodeling (Singh,2012)
d. Teknik aplikasi
teknik aplikasi menggunakan ultrasound yaitu pemberian kopling medium
sebelum di temnpelkannya tranduser ke permukaan bahu, lalu mesin dihidupkan
dengan mengatur dosis waktu, intensitas dan frequensi. Pergerakan tranduser
yaitu secara sircular dengan irama pelan dan teratur. Tranduser harus selalu
kontak dengan kulit (Watson, 2017)
d. Dosis ultrasound
1) Frekuensi
Dalam pengaturan alat ultrasound diatur dengan frekuensi 1 Mhz atau 3
Mhz . Frekuensi 1 Mhz digunakan untuk kedalaman jaringan 3cm dan untuk
frekuensi 3Mhz digunakan untuk kedalaman 2 cm atau jaringan superfisial.
(Watson, 2017)
2) Intensitas
Intensitas pada ultrasound yaitu : (1) akut dengan intensitas antara 0,1 –
0,3 W/cm2 ,(2) sub akut dengan intensitas antara 0,2 – 0,5 W/cm2, (3) kronis
dengan intensitas antara 0,5 – 1,0 W/cm2. (Watson, 2017)
3) Waktu
Waktu lama terapi tergantung dari luas area terapi, pulse ratio, dan efective
radiating area (ERA) yang terdapat pada tranduser. Sehingga rumus untuk
16
menentukan dosis waktu (t) terapi dengan ultrasound menurut Watson (2017),
adapun sebagai berikut:
Luas area
t=1
X pulse ratio
ERA
4) Pulse ratio
Pada jaringan akut menggunakn pulse ratio 1:3 (20% , 25%), Pada
jaringan sub akut menggunakan pulse ratio 1:2 (33% , 55%), Pada jaringan kronis
menggunakan pulse ratio 1:1 (50% , 100%).
2. Stretching
Strecthing otot piriformis adalah suatu terapi yang digunakan untuk
mengurangi spasme dan nyeri disepanjang saraf ischiadicus. Beberapa terapi
latihan yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi spasme dan nyeri
disepanjang saraf ischiadicus anatara lain strecthing otot piriformis, otot
hamstring dan ekstensor panggul (Miller et all, 2012). Latihan peregangan adalah
salah satu bentuk latihan yang merangsang kerja otot rangka yang salah satu
aksinya adalah menghasilkan panas, dan pada saat otot berkontraksi energi
kontraksi dipenuhi pemecahan ATP dan kalsium yang nantinya dapat
memperlancar sirkulasi darah sehingga mekanisme pengangkutan zat-zat yang
terkandung dalam otot berjalan lancar (Barbara, 1998).
Strecthing pada otot piriformis bertujuan untuk mencegah terjadinya
penjepitan pada saraf sciatic dan mencegah terjadinya kontraktur pada otot itu
sendiri. Strecthing merupakan suatu bentuk terapi yang ditujukan untuk
memanjangkan otot yang mengalami penurunan elastisitas dan fleksibilitas otot
17
baik karena faktor trauma atau infeksi. Strecthing secara perlahan akan
menghasilkan pemanjangan otot pada jaringan kontraktil dan non kontraktil.
Pemanjangan terjadi pada serabut otot serta jaringan fibrous pembungkus otot dan
tendon. Pemanjangan tersebut akan mengurangi atau menghilangkan spasme otot,
jika spasme berkurang maka akan menurunkan tekanan saraf sensoris di perifer
sehingga terjadi pengurangan nyeri (Kisner, 2016).
Strecthing otot piriformis berkebalikan dari fungsi otot piriformis yaitu
eksternal rotasi, abduksi, ekstensi. Arah dari penguluran otot piriformis yaitu
internal rotasi, adduksi dan fleksi. Tahan peregangan selama 5-7 detik, lalu
perlahan-lahan kembali ke posisi awal (Miller et all, 2012).
Gambar 2.2 Penguluran otot piriformis (William, 2015).
Keterangan gambar 2.2 : Gerakan ke arah bahu yang berlawanan.
Posisi berbaring terlentang. Tekuk lutut kanan sehingga kaki kanan rata di
lantai. Salib kaki kiri disebelah kanan sehingga pergelangan kaki kiri berada di
lutut kanan. Gunakan tangan kanan untuk meraih lutut kiri dan tarik perlahan
kearah bahu yang berlawanan. Tahan 5-7 detik. Tahan, lalu ulangi siklus ini 5-7
kali (William, 2015).
18
1
2
Gambar 2.3 Penguluran otot piriformis (Barzu, 2013).
Keterangan gambar 2.3
(1) Tangan kiri terapis menarik ilium pada tungkai yang sakit ke arah
belakang (2) Tangan kanan terapis mendorong dengan arah berlawanan.
Penguluran ini dilakukan secara pasif oleh terapis. Terapis menarik
ilium pada tungkai yang sakit dan tangan yang satunya mengadduksikan knee.
Diulur sampai pasien merasa nyeri ini dilakukan secara pasif oleh terapis
(Barzu, 2013). Dosis yang diberikan terapis selama 5 detik dan kemudian
diulang 5 kali per sesi (Shah, 2012).
Download