HOMILI — Minggu Sengsara · Yohanes 11:25–26 HOMILI Akulah Kebangkitan dan Hidup Yohanes 11:25–26 Minggu Sengsara · Prapaskah · Tahun A ☦ Bacaan Injil “Yesus berkata kepada Marta: ‘Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau ini?’” Yohanes 11:25–26 I. Pembuka: Kata-Kata yang Melampaui Waktu Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Saya yakin kita semua sudah sering mendengar ayat ini. Kata-kata ini begitu akrab — terutama karena lebih sering kita dengar dalam Misa Peringatan Arwah atau Misa Requiem. Namun justru karena itulah ayat ini punya kekuatan yang begitu dalam: ia hadir di saat-saat manusia paling rapuh, paling kehilangan, paling membutuhkan pegangan. Kata-kata Yesus ini bukan sekadar penghiburan. Ini adalah pewahyuan. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan yang memiliki kuasa atas kematian dan kehidupan — dan pada saat yang sama, sebagai Allah yang hadir dalam kesedihan kita, yang tidak segan-segan mencucurkan air mata-Nya bersama kita. II. Konteks: Tiga Bacaan, Satu Pesan Halaman 1 dari 5 HOMILI — Minggu Sengsara · Yohanes 11:25–26 Hari ini kita memasuki Minggu Sengsara. Kita dihadapkan pada tiga bacaan yang kaya dan saling melengkapi, dan ketiganya mengarahkan kita pada satu keyakinan yang sama. Dalam bacaan pertama, Nabi Yehezkiel berbicara kepada bangsa Israel yang sedang dalam pembuangan. Mereka merasa seperti “tulang-tulang kering” — tanpa harapan, tanpa masa depan. Namun Allah berjanji membuka kubur mereka, menghembuskan Roh-Nya, dan membawa mereka pulang. Allah adalah pembuka kubur dan pemberi kehidupan. Mazmur Tanggapan mengajari kita tentang iman yang lahir bukan dari keadaan nyaman, melainkan dari keberanian untuk berseru kepada Allah justru di tengah kegelapan. “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan.” Iman sejati bukan iman yang tidak pernah mengalami malam — melainkan iman yang tetap berseru meski malam terasa sangat panjang. Dalam bacaan kedua, Paulus menegaskan bahwa Roh Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati adalah Roh yang sama yang kini tinggal dalam diri kita. Hidup menurut daging membawa kematian; hidup menurut Roh membawa kehidupan dan damai sejahtera. Dan bacaan Injil — kisah Yesus membangkitkan Lazarus — menjadi puncak dari semuanya. Ini adalah tanda ketujuh dalam Injil Yohanes: puncak pewahyuan keilahian Yesus sebelum sengsara-Nya sendiri. Dari ketiga bacaan ini, kita diundang untuk melihat satu hal yang sama: Allah adalah Tuhan yang membuka kubur, yang hadir dalam kesedihan manusia, dan yang menyatakan diri-Nya sebagai pemegang kekuasaan atas kematian dan kehidupan. III. Inti Pewahyuan: Bukan Teori, Melainkan Diri-Nya Sendiri Halaman 2 dari 5 HOMILI — Minggu Sengsara · Yohanes 11:25–26 Masa Prapaskah adalah perjalanan batin menuju misteri kematian dan kebangkitan. Melalui pernyataan Yesus ini, kita diajak bukan hanya mengenang penderitaan, tetapi juga masuk ke dalam pengalaman kematian — bukan sekadar kematian fisik, melainkan kematian dalam arti yang lebih rohani: Harapan yang mudah padam. Relasi yang retak. Dosa yang mengikat. Hati yang perlahan mengeras. Betapa sering kita “masih hidup” — bernafas, beraktivitas, bahkan masih pergi ke gereja — tetapi di dalam diri, kita sebenarnya sedang mati. Kita kehilangan arah. Kehilangan makna. Kehilangan cinta. Dan kepada kita yang seperti itu, Yesus tidak datang membawa teori tentang kebangkitan. Ia tidak menyodorkan argumen atau penjelasan panjang. Ia memberikan diri-Nya sendiri: "Akulah kebangkitan dan hidup." Bukan: ‘Aku akan membangkitkanmu suatu saat.’ Bukan: ‘Aku punya kuasa atas kematian.’ Melainkan: Aku adalah kebangkitan itu sendiri. Ia tidak hanya memberi hidup — Ia adalah hidup itu. IV. Pertanyaan yang Menggugah: “Pecayakah Engkau?” Namun ayat ini tidak berhenti pada janji yang agung. Ia berakhir dengan sebuah pertanyaan yang sangat pribadi dan mengena — sebuah pertanyaan yang Yesus ajukan kepada Marta, dan melalui Marta, kepada kita masing-masing: “Percayakah engkau akan hal ini?” Halaman 3 dari 5 HOMILI — Minggu Sengsara · Yohanes 11:25–26 Ini bukan pertanyaan untuk orang banyak. Ini bukan pertanyaan teologis untuk diperdebatkan. Ini adalah pertanyaan yang menatap langsung ke dalam hati kita: “Apakah engkau berani mempercayakan hidupmu kepada-Ku?” Dan Marta menjawab dengan dua kata yang sederhana namun mengubah segalanya: “Ya, Tuhan.” Dua kata. Bukan penjelasan panjang. Bukan argumen teologis. Hanya sebuah penyerahan diri yang tulus: “Ya, Tuhan. Aku percaya.” Itulah iman. Iman yang tidak menunggu semua pertanyaan terjawab. Iman yang tidak menuntut semua kegelapan berlalu terlebih dahulu. Iman yang memilih untuk berkata “Ya” kepada Yesus di tengah situasi yang belum selesai. V. Relevansi: Keluarlah dari Kubur-Kubur Kita Saudara-saudari, percaya di sini bukan sekadar setuju dalam pikiran. Percaya berarti melangkah dalam penyerahan. Percaya berarti berani membuka “kubur-kubur” dalam hidup kita — bagian-bagian yang selama ini kita sembunyikan: kegagalan yang belum kita maafkan dalam diri sendiri, rasa bersalah yang terus menghantui, ketakutan yang tidak berani kita akui, bahkan dosa yang belum kita lepaskan. Mungkin kita masih membawa “kematian-kematian kecil” itu: hubungan yang membeku dan tidak juga mencair, doa yang sering terasa hampa dan tidak sampai ke mana-mana, iman yang redup-redup seperti lilin di tengah angin. Dalam perjalanan Prapaskah ini, kita tidak hanya diajak berpuasa secara lahiriah. Kita diajak untuk membuka hati secara batin — membiarkan Yesus masuk ke dalam kubur-kubur rohani kita yang paling dalam, yang paling berbau busuk sekalipun, dan berseru dengan suara-Nya yang penuh kuasa: "Keluarlah!" Halaman 4 dari 5 HOMILI — Minggu Sengsara · Yohanes 11:25–26 Karena itulah yang Ia lakukan kepada Lazarus. Ia tidak berdiri jauh-jauh sambil berdoa agar Lazarus entah bagaimana keluar sendiri. Ia datang langsung ke mulut kubur. Ia berdiri di depan bau busuk kematian itu. Dan Ia berseru. Demikian pula Ia hadir untuk kita hari ini. Bukan sebagai hakim yang menghakimi kondisi kita. Melainkan sebagai Tuhan yang menangis bersama kita, yang memahami duka kita dari dalam, dan yang memiliki kuasa untuk memanggil kita keluar — keluar dari kubur dosa, kubur keputusasaan, kubur iman yang sudah lama terkunci. Yesus berseru kepada kita semua hari ini: keluarlah dari kubur-kubur itu, lepaskan kain kafan yang menghalang, dan hiduplah kembali sebagai manusia baru. Penutup Hari ini, pertanyaan Yesus yang sama masih bergema — bukan dari halaman Injil yang sudah dua ribu tahun silam, melainkan dari mulut-Nya yang hidup, yang hadir di sini, saat ini, di antara kita: “Percayakah engkau akan hal ini?” Marilah kita jawab bersama — bukan hanya dengan bibir, tetapi dengan seluruh hidup kita, dengan keputusan untuk membuka kubur-kubur kita dan menyerahkannya kepada Dia yang adalah Kebangkitan dan Hidup: "Ya, Tuhan. Aku percaya." Karena Engkaulah kebangkitan dan hidup kami. ☦ • ☦ Laus Deo Halaman 5 dari 5