Evaluasi Efektivitas Metode Black Bunch Census (BBC) terhadap Estimasi Produksi Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Berdasarkan Umur Tanaman Menghasilkan ABSTRACT Estimation of Fresh Fruit Bunch (FFB) production is an essential component in oil palm plantation management, particularly for harvest planning, labor allocation, transportation preparation, and mill processing efficiency. One commonly applied estimation method is the Black Bunch Census (BBC) method. However, studies evaluating the effectiveness of this method across different productive plant ages are still limited. This study aimed to evaluate the effectiveness of the Black Bunch Census method in estimating oil palm FFB production based on different ages of productive plants (TM6 and TM8). The research was conducted at PT Cahya Vidi Abadi, Banyuasin Regency, South Sumatra Province, from March to June 2025. Data collection was carried out through black bunch census observations in several oil palm blocks consisting of TM6 and TM8 categories. Observed parameters included bunch number per palm, average bunch weight (BJR), and estimated production tonnage. Data were analyzed descriptively and statistically using normality tests and independent sample tests. The results showed that TM8 had a higher average bunch number per palm (5.05 bunches/palm) compared to TM6 (4.41 bunches/palm). However, statistical analysis indicated that production estimation between TM6 and TM8 did not differ significantly (p>0.05). The Black Bunch Census method proved effective as a rapid and practical approach for production estimation, although several limitations such as empty palms, block heterogeneity, and environmental variability affected estimation accuracy. Therefore, BBC can be recommended as an operational estimation method in oil palm plantations with consideration of block uniformity and plant population conditions. Keywords: Black Bunch Census, oil palm, production estimation, productive plant age, Fresh Fruit Bunch PENDAHULUAN Kelapa sawit Kelapa Sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia melalui ekspor minyak sawit mentah (CPO), penyediaan lapangan kerja, dan pengembangan sektor industri hilir. Produktivitas kelapa sawit dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti varietas tanaman, umur tanaman menghasilkan, kondisi lingkungan, serta manajemen budidaya yang diterapkan pada perkebunan. Dalam sistem manajemen perkebunan modern, estimasi produksi tandan buah segar (TBS) menjadi aspek penting dalam mendukung efisiensi operasional perusahaan. Estimasi produksi digunakan sebagai dasar perencanaan tenaga kerja panen, pengangkutan hasil, pengoperasian pabrik kelapa sawit, hingga penentuan target produksi perusahaan. Ketepatan estimasi produksi akan memengaruhi efektivitas pengelolaan sumber daya dan kontinuitas proses pengolahan TBS. Salah satu metode estimasi produksi yang umum diterapkan di perkebunan kelapa sawit adalah metode Black Bunch Census (BBC) atau sensus buah hitam. Metode ini dilakukan dengan menghitung jumlah tandan yang telah terbentuk pada tanaman kelapa sawit sebelum memasuki masa panen. BBC dinilai praktis dan relatif cepat diterapkan di lapangan karena menggunakan sistem sampling pada jalur tertentu dalam suatu blok tanaman menghasilkan. Meskipun metode BBC telah banyak digunakan dalam operasional perkebunan, evaluasi terhadap efektivitas metode ini berdasarkan umur tanaman menghasilkan masih relatif terbatas. Umur tanaman menghasilkan memengaruhi kapasitas produksi tanaman, pembentukan tandan, dan bobot tandan buah segar. Tanaman pada fase produksi aktif cenderung memiliki kemampuan produksi yang berbeda dibandingkan fase produksi awal maupun fase penurunan produktivitas. Pada penelitian sebelumnya, estimasi produksi antara varietas Costarika dan Sriwijaya 1 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan terhadap rerata janjang/pokok maupun tonase produksi meskipun varietas Sriwijaya 1 memiliki rerata produksi lebih tinggi. Namun demikian, analisis terkait efektivitas metode BBC berdasarkan umur tanaman menghasilkan belum dilakukan secara khusus. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas metode Black Bunch Census dalam estimasi produksi tandan buah segar kelapa sawit berdasarkan umur tanaman menghasilkan TM6 dan TM8. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam penerapan metode estimasi produksi pada perkebunan kelapa sawit secara lebih akurat dan efisien. BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di perkebunan kelapa sawit PT Cahya Vidi Abadi yang berlokasi di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia, pada bulan Maret sampai Juni 2025. Alat dan Bahan Alat yang digunakan meliputi: lembar sensus buah hitam, alat tulis, kalkulator, kamera, galah penanda, alat pelindung diri (APD). Bahan penelitian berupa tanaman kelapa sawit tanaman menghasilkan (TM) umur 6 tahun (TM6) dan umur 8 tahun (TM8). Metode Penelitian Penelitian dilakukan menggunakan metode Black Bunch Census (BBC) pada beberapa blok tanaman menghasilkan. Pengamatan dilakukan dengan sistem sampling sebesar 5% dari total luas blok menggunakan jalur sampling tetap pada interval baris tertentu. Pengambilan sampel dilakukan pada: pasar pikul ke-1, ke-5, ke-10, ke-15, ke-20, ke-25, dan ke-30. Parameter yang diamati meliputi: 1. jumlah janjang, 2. jumlah pokok, 3. rerata janjang/pokok, 4. Buah Janjang Rata-rata (BJR), 5. estimasi tonase produksi. Perhitungan rerata janjang/pokok menggunakan rumus: Rerata Janjang/Pokok = Jumlah Janjang Jumlah Pokok Perhitungan estimasi produksi dilakukan menggunakan rumus: Estimasi Produksi = Rerata Janjang/Pokok × BJR × Jumlah Pokok Analisis Data Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Jika data berdistribusi normal maka dilakukan uji independent sample t-test, sedangkan data yang tidak berdistribusi normal dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney. HASIL DAN PEMBAHASAN Produktivitas Berdasarkan Umur Tanaman Menghasilkan Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanaman menghasilkan umur 8 tahun (TM8) memiliki rerata janjang/pokok lebih tinggi dibandingkan tanaman umur 6 tahun (TM6). Pada blok TM8 diperoleh rerata sebesar 5,05 janjang/pokok, sedangkan TM6 sebesar 4,41 janjang/pokok. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan umur tanaman hingga fase produktif aktif berpengaruh terhadap kemampuan pembentukan tandan. Tanaman kelapa sawit pada umur produktif optimal memiliki sistem perakaran dan kapasitas fotosintesis yang lebih baik sehingga distribusi fotosintat menuju organ generatif berlangsung lebih optimal. Selain faktor umur tanaman, perbedaan produktivitas juga dipengaruhi oleh populasi tanaman dan keberadaan tanaman kosong pada blok pengamatan. Blok dengan jumlah tanaman kosong lebih tinggi cenderung menghasilkan estimasi produksi yang lebih rendah karena berkurangnya populasi efektif tanaman menghasilkan. Efektivitas Metode Black Bunch Census Metode BBC terbukti mampu memberikan estimasi produksi secara cepat dan praktis dalam operasional perkebunan. Sistem sampling sebesar 5% dinilai cukup efisien untuk menggambarkan kondisi produksi dalam satu blok tanaman menghasilkan. Namun demikian, penelitian menunjukkan beberapa keterbatasan metode BBC, antara lain: heterogenitas kondisi blok, tanaman kosong, variasi kondisi lingkungan, perbedaan umur tanaman, serta distribusi produksi yang tidak seragam. Hal tersebut terlihat dari hasil uji normalitas data janjang/pokok yang menunjukkan distribusi tidak normal pada beberapa kelompok data. Kondisi ini mengindikasikan adanya variasi produksi antar tanaman dalam satu blok pengamatan. Meskipun demikian, metode BBC tetap relevan diterapkan karena memiliki keunggulan: efisiensi waktu, kemudahan pelaksanaan, biaya operasional lebih rendah, serta mampu mendukung perencanaan panen jangka pendek. Analisis Statistik Estimasi Produksi Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa estimasi produksi antara TM6 dan TM8 tidak berbeda nyata secara statistik (p>0,05). Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan rerata janjang/pokok, variasi data produksi antar blok masih cukup tinggi sehingga secara statistik belum menunjukkan perbedaan signifikan. Fenomena ini dapat dipengaruhi oleh: faktor lingkungan, keseragaman populasi, manajemen pemeliharaan, serta kondisi fisiologis tanaman. Selain itu, nilai BJR yang berbeda pada setiap blok juga memengaruhi total tonase produksi yang dihasilkan. KESIMPULAN 1. Tanaman menghasilkan umur 8 tahun (TM8) memiliki rerata janjang/pokok lebih tinggi dibandingkan tanaman umur 6 tahun (TM6). 2. Metode Black Bunch Census (BBC) efektif digunakan sebagai metode estimasi produksi tandan buah segar kelapa sawit karena praktis, cepat, dan efisien dalam operasional perkebunan. 3. Perbedaan umur tanaman menghasilkan tidak menunjukkan perbedaan signifikan terhadap estimasi produksi tonase berdasarkan hasil analisis statistik. 4. Akurasi metode BBC dipengaruhi oleh kondisi populasi tanaman, keberadaan tanaman kosong, heterogenitas blok, dan faktor lingkungan. SARAN Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan: jumlah blok pengamatan lebih banyak, variasi umur tanaman lebih luas, integrasi teknologi digital seperti GIS dan drone, serta validasi estimasi produksi terhadap realisasi panen aktual. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Politeknik Negeri Sriwijaya dan PT Cahya Vidi Abadi atas dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Abdul, I. (2023). Merancang Kelapa Sawit Sebagai Komoditi Unggulan Nasional. PT Literasi Nusantara Abadi Group. Fahlevi, M. R., et al. (2023). Estimasi produksi blok A16C dengan metode sensus buah hitam. Jurnal Pertanian Agros, 25(3), 2291–2295. Lubis, A. U. (2016). Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Indonesia. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Pahan, I. (2015). Panduan Teknis Budidaya Kelapa Sawit untuk Praktisi Perkebunan. Penebar Swadaya. Qomariah, R., & Iskarlia, H. (2019). Estimasi produksi kelapa sawit menggunakan metode BBC. Jurnal Agroteknologi.