Uploaded by dindakarismawibowo

Evaluasi Program Sekolah Lapang Bawang Merah di Wonogiri

advertisement
EVALUASI PROGRAM SEKOLAH LAPANG KOMODITAS BAWANG
MERAH PADA PERUBAHAN PRAKTIK BUDIDAYA DI KECAMATAN
MANYARAN KABUPATEN WONOGIRI
Proposal Skripsi
Diajukan Kepada :
Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
Oleh :
Dinda Karisma Wibowo
H0422031
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2025
EVALUASI PROGRAM SEKOLAH LAPANG KOMODITAS BAWANG
MERAH PADA PERUBAHAN PRAKTIK BUDIDAYA DI KECAMATAN
MANYARAN KABUPATEN WONOGIRI
Proposal Skripsi
Oleh:
Dinda Karisma Wibowo
H0422031
Telah disetujui
Pada tanggal……………….
Pembimbing Utama
.......................................
Dr. Ir. Sugihardjo, M.S.
NIP. 1959030520240401
Pembimbing Pendamping
Dr. Ir. Sapja Anantanyu S.P., M.Si.
.......................................
NIP. 196812271994031002
Mengesahkan,
Ketua Program Studi
Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
Dr. Ir. Emi Widiyanti, S.P., M.Si.
NIP. 197803252001122001
ii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ................................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR ..............................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................1
B. Rumusan Masalah ..........................................................................4
C. Tujuan Penelitian ............................................................................4
D. Manfaat Penelitian ..........................................................................5
BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................6
A. Penelitian Terdahulu .......................................................................6
B. Tinjauan Pustaka ..........................................................................14
1. Pembangunan Pertanian...........................................................14
2. Program Pembangunan Pertanian ............................................15
3. Belajar dalam Penyuluhan .......................................................16
4. Keberhasilan Program terhadap Perubahan .............................17
5. Evaluasi Penyuluhan ................................................................19
6. Usahatani Bawang Merah ........................................................22
C. Kerangka Konseptual ...................................................................23
D. Dimensi Penelitian........................................................................26
BAB III METODE PENELITIAN .....................................................................28
A. Desain Penelitian ..........................................................................28
B. Metode Penentuan Lokasi Penelitian ...........................................28
C. Penentuan Informan .....................................................................29
D. Jenis dan Sumber Data .................................................................30
E. Teknik Pengumpulan Data ...........................................................31
F. Instrumen Penelitian .....................................................................33
G. Teknik Analisis Data ....................................................................33
H. Validitas Data ...............................................................................34
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................37
LAMPIRAN ......................................................................................................... 38
iii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu.............................................................................. 11
Tabel 3.1 Penentuan Informan .............................................................................. 28
Tabel 3.2 Pengumpulan Data Wawancara............................................................. 30
iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka konseptual ......................................................................... 24
Gambar 3.1 Triangulasi sumber ............................................................................ 34
v
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris dengan mayoritas penduduknya
bermata pencaharian sebagai petani. Hal ini didukung dengan luas lahan
yang terbentang dan dapat digunakan sebagai lahan pertanian. Kondisi
tanah di Indonesia dengan kandungan nutrisi yang baik dapat mendukung
pertumbuhan tanaman. Sebagai negara agraris, sebagian besar penduduk
Indonesia menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, baik sebagai
petani langsung maupun pekerja di sektor pendukungnya. Sektor pertanian
memiliki kecenderungan menjadi salah satu sektor basis ekonomi di
beberapa provinsi di Indonesia, hal ini dilihat dari kontribusinya terhadap
pembentukan PDB Indonesia maupun dalam pembentukan PDRB provinsi
(Kurniawati, 2020). Menurut BPS Kab. Pati (2025), lapangan usaha
pertanian di Jawa Tengah mencatat pertumbuhan hingga 15,24% pada
triwulan I tahun 2025.
Sektor pertanian memiliki beberapa subsektor yang berpengaruh
terhadap perekonomian. Subsektor tersebut adalah tanaman pangan,
perkebunan,
hortikultura,
peternakan,
dan
perikanan.
Subsektor
hortikultura menjadi sangat penting karena selain sebagai sumber
pendapatan petani, hortikultura juga mendukung diversifikasi komoditas,
menyerap tenaga kerja, dan memberi nilai tambah tinggi (Amanda et al.,
2024). Jawa Tengah ditetapkan sebagai sentra hortikultura strategis oleh
Kementerian Pertanian terutama untuk komoditas seperti cabai dan
bawang merah. Hal ini menunjukkan bahwa hortikultura adalah subsektor
basis di provinsi ini (Humas Ditjen Hortikultura, 2023). Salah satu daerah
yang strategis dalam produksi bawang merah adalah Kabupaten Wonogiri.
Komoditas bawang merah di Wonogiri memiliki potensi besar sebagai
komoditas strategis karena agroekosistemnya sangat mendukung budidaya
1
2
dan bisa meningkatkan pendapatan petani secara signifikan (Pranadi et al.,
2022).
Kabupaten Wonogiri memiliki ciri khas berbeda dengan daerah lain
di Karesidenan Surakarta karena sektor pertaniannya yang paling
dominan. Dalam publikasi Produksi Sayuran dan Buah-buahan Semusim
Kabupaten Wonogiri 2023/2024, bawang merah disebut sebagai salah satu
komoditas unggulan bersama cabai rawit, cabai keriting, terong, dan
mentimun. Menurut Data Statistik Pertanian Kab. Wonogiri tahun 2022
luas panen bawang merah di Kabupaten Wonogiri tercatat sebanyak
24.789 hektare, dengan produksi sebesar atau 1.799,5 ton untuk seluruh
kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Spesifik lokasi pada Kecamatan
Manyaran produksi bawang merah tercatat sebesar 620 kw atau 62 ton
pada tahun 2020, lalu naik menjadi 990 kw atau 99 ton pada tahun 2021.
Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan produksi.
Meskipun memiliki produktivitas yang cukup tinggi, petani sering
menghadapi berbagai kendala yang membatasi hasil optimal. Hambatan
yang ditemukan di lapangan seperti keterbatasan modal petani, adopsi
teknologi budidaya yang belum optimal, serta keterampilan petani masih
menjadi hambatan (Fajar et al., 2025). Untuk mengatasi hambatan yang
dirasakan petani perlu dilakukan pendekatan dengan metode penyuluhan
yang tepat. Pendekatan melalui program seperti sekolah lapang menjadi
sangat penting untuk memastikan bahwa potensi di tiap daerah bisa
diarahkan ke dalam produktivitas yang lebih tinggi, kualitas hasil yang
lebih baik, dan praktik yang berkelanjutan. Pemerintah melalui
Kementerian Pertanian melaksanakan Program Sekolah Lapang (SL)
sebagai pendekatan pendidikan non-formal bagi petani.
Sekolah Lapang merupakan media belajar interaktif dan partisipatif
dimana petani tidak hanya diberikan teori tetapi juga diajak untuk belajar
melalui praktik langsung di lapangan dengan menggunakan lahan
percontohan. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas petani
dalam memahami dan menerapkan teknologi budidaya yang baik, ramah
3
lingkungan, dan efisien. Melalui sekolah lapang diharapkan petani tidak
hanya memahami teknologi baru, tetapi juga mampu mengaplikasikannya
secara mandiri. Pelaksanaan program sekolah lapang memungkinkan
adanya ketidakseragaman di tiap daerah. Hal ini dikarenakan adanya
perbedaan muatan materi pelatihan, fasilitator, fasilitas atau sarana
pembelajaran, dan metode dalam tatap muka selama pelatihan di Sekolah
Lapang (Wisnujati et al., 2022). Di Kecamatan Manyaran program sekolah
lapang komoditas bawang merah telah dilaksanakan, namun belum
diketahui secara pasti sejauh mana keberlanjutan praktik budidaya.
Beberapa petani mungkin telah menerapkan teknik budidaya yang lebih
ramah lingkungan, tetapi sebagian lainnya masih bergantung pada pola
lama yang intensif terhadap input kimia. Oleh karena itu, penting
dilakukan evaluasi terhadap program Sekolah Lapang Komoditas Bawang
Merah di Kecamatan Manyaran untuk mengetahui sejauh mana program
tersebut efektif dalam mendukung praktik budidaya yang berkelanjutan.
Untuk memperoleh gambaran yang komprehensif, penelitian ini
menggunakan metode evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product)
dan juga memasukkan komponen Outcome. Metode ini dipilih karena
mampu menilai program secara menyeluruh. Metode ini dapat digunakan
untuk mengevaluasi mulai dari konteks kebutuhan dan tujuan pelaksanaan
(Context), ketersediaan sumber daya serta perencanaan program (Input),
pelaksanaan kegiatan (Process), hingga hasil yang diperoleh setelah
kegiatan dilaksanakan (Product), dan Outcome untuk mengukur dampak
jangka menengah program terhadap petani. Selain itu, evaluasi Outcome
juga menilai sejauh mana program berdampak pada keberlanjutan praktik
budidaya
Pendekatan ini memungkinkan penelitian untuk melihat apakah
program Sekolah Lapang yang diikuti oleh petani benar-benar diterapkan
secara berkelanjutan dalam praktik budidaya, seperti pengelolaan lahan
yang efisien penggunaan teknologi ramah lingkungan, pengendalian hama
terpadu dan sebagainya. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya
4
mengukur hasil langsung program, tetapi juga menilai keberlanjutan dan
efektivitas jangka panjang, sehingga menjadi inovasi dibandingkan studi
sebelumnya yang umumnya hanya menilai hasil program secara
sementara. Hasil evaluasi ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi
pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk memperbaiki serta
mengembangkan program pemberdayaan petani di masa mendatang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan program Sekolah Lapang Komoditas Bawang
Merah di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri dilihat dari
aspek context?
2. Bagaimana penerapan program Sekolah Lapang Komoditas Bawang
Merah di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri dilihat dari
aspek input?
3. Bagaimana penerapan program Sekolah Lapang Komoditas Bawang
Merah di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri dilihat dari
aspek process?
4. Bagaimana penerapan program Sekolah Lapang Komoditas Bawang
Merah di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri dilihat dari
aspek product?
5. Bagaimana perubahan praktik budidaya bawang merah pasca program
Sekolah Lapang Komoditas Bawang Merah di Kecamatan Manyaran
Kabupaten Wonogiri?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka dapat diketahui tujuan
penulisan yang dikaji. Adapun tujuan penulisan yang dapat ditekankan
dalam penelitian ini adalah hal-hal yang menyangkut:
5
1. Mengevaluasi penerapan program Sekolah Lapang Komoditas
Bawang Merah di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri dilihat
dari aspek context.
2. Mengevaluasi penerapan program Sekolah Lapang Komoditas
Bawang Merah di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri dilihat
dari aspek input.
3. Mengevaluasi penerapan program Sekolah Lapang Komoditas
Bawang Merah di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri dilihat
dari aspek process.
4. Mengevaluasi penerapan program Sekolah Lapang Komoditas
Bawang Merah di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri dilihat
dari aspek product.
5. Mengetahui perubahan praktik budidaya bawang merah pasca
program Sekolah Lapang Komoditas Bawang Merah di Kecamatan
Manyaran Kabupaten Wonogiri.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penulisan tersebut, maka dapat diketahui
manfaat penulisan yang dapat diperoleh. Adapun tujuan penulisan yang
dapat ditekankan dalam penelitian ini adalah hal-hal yang menyangkut:
1.
Bagi peneliti, sebagai sarana mengembangkan pola pikir, menambah
pengalaman, dan sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana
pertanian di fakultas pertanian UNS.
2.
Bagi pembaca, sebagai sarana untuk menambah wawasan, informasi,
pengetahuan tentang “Evaluasi Program Sekolah Lapang Komoditas
Bawang Merah Pada Perubahan Praktik Budidaya Petani di
Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri.”
3.
Bagi pemerintah setempat, dapat menjadi bahan informasi dan bahan
pertimbangan dalam menentukan kebijakan-kebijakan selanjutnya
mengenai program-program bagi masyarakat.
4.
Bagi peneliti lain, sebagai referensi dalam penelitian selanjutnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
Supriyanto et al., (2015) melakukan penelitian berupa Kajian
Evaluasi Program Penyuluhan Pupuk Bokashi di Kelompok Tani Angulir
Hasto, Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung. Penelitian bertujuan
untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang pupuk
Bokash. Sampel dari populasi ditetapkan dengan teknik purposive
sampling anggota kelompok tani Angulir Hasto Desa Mojotengah.
Penelitian
menggunakan
kuisioner
sebagai
instrumen
pengukuran
evaluasi, sedangkan analisis data hasil evaluasi menggunakan deskriptif
kuantitatif dan kualitatif. Analisis diskriptif kuantitatif digunakan untuk
menganalisis variabel yang ada secara deskriptif dengan menghitung
distribusi frekuensi berbentuk tabel yang meliputi pengetahuan, sikap dan
keterampilan responden terhadap pembuatan pupuk organik bokashi. Hasil
penelitian pada aspek pengetahuan responden terhadap penyuluhaan
pupuk
organik
bokashi
dinilai
berdasarkan
jawaban
responden
menunjukkan bahwa jumlah skor kumulatif pengetahuan yang diperoleh
responden mencapai 246 dan skor rata-rata sebesar (15,38). Sikap
responden terhadap anjuran pupuk organik bokashi dinilai berdasarkan
jawaban responden menunjukkan bahwa jumlah skor sikap yang diperoleh
responden mencapai 140 dengan skor rata-rata 8,75. Keterampilan
responden terhadap anjuran pupuk organik bokashi dinilai berdasarkan
jawaban responden terhadap 3 pertanyaan keterampilan pada kuesioner
menunjukkan bahwa jumlah skor keterampilan yang diperoleh responden
mencapai 78 dan jumlah skor rata-rata 4,87. Hasil evaluasi program
penyuluhan tercapai sesuai target, namun hasil evaluasi pada aspek
keterampilan kategori kurang terampil.
6
7
Dewi et al., (2020) melakukan penelitian berupa Evaluasi program
sistem pertanian terintegrasi (Simantri). Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui tingkat efektivitas dari program Simantri di Desa Mengani
tahun 2018 ditinjau dari segi CIPP (Context, Input, Process, dan Product).
Penelitian
ini
menggunakan
sampel
berjumlah
39
orang
yang
mendapatkan bantuan program Simantri. Metode yang digunakan adalah
menggunakan instrumen pengumpulan data berupa kuisioner dengan
pengukuran skala likert 5. Data yang telah diperoleh dari dimensi ukur
(CIPP) akan dianalisis menggunakan Z-score yang ditansformasikan
dalam bentuk T-score kemudian diferivikasi kedalam prototype dari
Glickman. Perolehan hasil dari masing-masing dimensi yaitu context
memperoleh hasil positif (+), input memperoleh hasil negatif (-), process
memperoleh hasil positif (+) dan product juga memperoleh hasil yang
positif (+), maka posisi CIPP (+ - + +) di kuadran II. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan program Simantri di Desa Mengani
termasuk dalam kategori cukup efektif.
Priyono & Satispi (2021) melakukan penelitian berupa Evaluasi
Program Pemberian Bantuan Pengembangan Unit Pengolah Pupuk
Organik (UPPO) Dari Kementerian Pertanian di Kabupaten Simalungun
Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyaluran
program bantuan pupuk di Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) Dinas
Pertanian
Kabupaten
Simalungun
dan
mengetahui
faktor-faktor
penghambat dan pendukung penyaluran hibah pupuk oleh Unit Pengolah
Pupuk Organik (UPPO) Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun dalam
rangka produktivitas sawah dan kesejahteraan petani. Metode yang
digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian
ini berdasarkan keempat indikator CIPP dapat diketahui bahwa evaluasi
Program Pemberian Bantuan Pengembangan Unit Pengolah Pupuk
Organik (UPPO) dari Kementerian Pertanian Di Kabupaten Simalungun,
Sumatera Utara sudah berjalan dengan baik, dengan hasil yang sesuai
dengan tujuan dari program tersebut, hasil dari program UPPO petani
8
sangat terbantu karena kualitas dan produktifitas yang meningkat, begitu
pula dengan biaya produksi yang sedikit, tetapi dalam pelaksanaan
penyaluran bantuan program UPPO masih ditemukannya oknum-oknum
yang tidak bertanggung jawab, yang meminta persenan dari jumlah
bantuan yang di salurkan kepada para petani di Kabupaten Simalungun.
Faktor pendukung yaitu adanya anggaran dari pemerintah, dari pemerintah
pusat maupun pemerintah daerah, adanya sumber daya alam yang bisa
dimanfaatkan dan diolah, dan perhatian pemerintah terhadap pertanian.
Faktor penghambat yaitu masih kurangnya pengetahuan masyarakat
khususnya petani, masih adanya oknum pemerintah yang nakal dan tidak
bertanggung jawab, dan kurangnya ketegasan hukum.
Saputra et al., (2022) melakukan penelitian berupa Evaluasi Program
Pemberdayaan Petani Melalui Model CIPP (Context, Input, Process, dan
Product). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi program
pemberdayaan bagi petani kopi melalui model CIPP untuk mengetahui
seberapa
jauh
upaya
pemberdayaan
dilaksanakan
dan
dirasakan
manfaatnya khususnya bagi petani kopi di Desa Muncar, Kecamatan
Gemawang,
Kabupaten
Temanggung.
Penelitian
ini
menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Wawancara dilakukan
dengan metode in-deep kepada petani kopi Desa Muncar, pendamping
desa dari PT. Astra International Tbk, ketua kelompok tani Amrih Mulyo,
Kepala Desa Muncar, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten
Temanggung, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha
Mikro Kecil dan Menengah (Dinperindagkop) Kabupaten Temanggung,
Reporter eRTe FM (Radio Temanggung), serta akademisi dari Universitas
Sebelas Maret dan menggunakan analisis data model Creswell. Hasil
penelitian menunjukan bahwa pemberdayaan petani kopi di Desa Muncar
dilakukan melalui kolaborasi stakehoders. Evaluasi pemberdayaan petani
kopi dilakukan secara komprehensif dari hulu hingga hilir dimulai dari
proses bertani budidaya, proses pasca panen, dan proses pemasaran.
9
Halid et al., (2024) melakukan penelitian berupa Evaluasi Program
Penyuluhan Sistem Tanam Padi Jajar Legowo Terhadap Produksi Dan
Pendapatan Di Desa Dutohe Barat Kecamatan Kabila Kabupaten Bone
Bolango. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis evaluasi program
penyuluhan sistem tanam padi jajar legowo di Desa Dutohe Barat
Kecamatan Kabila Kabupate Bone Bolango dan menganalisis produksi
dan pendapatan petani sebelum dan sesudah mnerapkan program sistem
tanam padi jajar legowo di Desa Dutohe Barat Kecamatan Kabila
Kabupaten Bone Bolango. Metode penelitian yang digunakan yaitu
observasi, wawancara, dan kuesioner. Teknik pengambilan sampel
dilakukan dengan menggunakan metode sampel acak sederhana (simple
random sampling), sehingga jumlah sampel adalah 32 petani. Analisis data
yang digunakan adalah analisis deskriptif menggunakan metode CIPP
(Context, Input, Process, Product) yang dipadukan dengan skoring dan
analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa
evaluasi
program penyuluhan sistem tanam padi jajar legowo terjadi perkembangan
pada penerapan program. Hasil evaluasi program menggunakan model
CIPP programnya berhasil dengan nilai 50,44 adalah nilai yang berada
pada range 41–52. Hasil produksi petani sebelum menerapkan program
sistem tanam padi jajar legowo yaitu 37.770 kg, sedangkan hasil produksi
petani setelah menerapkan program sistem tanam padi jajar legowo yaitu
39.865 kg. Serta rata-rata pendapatan petani padi sebelum menerapkan
program sistem tanam jajar yaitu Rp.9.547.078, dan rata-rata pendapatan
petani padi setelah menerapkan program sistem tanam jajar legowo yaitu
Rp. 10.171.063.
Khairi (2024) melakukan penelitian berupa Evaluasi Perubahan
Perilaku Petani dengan Penyuluhan dan Tanpa Penyuluhan Pengolahan
Lahan Bawang Merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang
variasi pengetahuan, sikap dan keterampilan pada perilaku petani yang
memperoleh penyuluhan dengan yang tidak dapat penyuluhan pengelolaan
lahan. Penelitian ini menggunakan alat analisis deskriptif kuantitatif
10
bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran pengetahuan, sikap dan
keterampilan petani bawang merah dengan penyuluhan dan tanpa
penyuluhan pengolahan lahan menggunakan analisis univariat. Metode
pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dan kajian
pustaka. Kemudian untuk mengukur perspesi responden dalam penelitian
ini menggunakan skala likert. Teknik pengambilan sampel menggunakan
purposive sampling dengan kriteria (1) Petani bawang merah di Kabupaten
Solok Provinsi Sumatera Barat (2) Petani bawang merah nagari alahan
panjang dan air dingin tanpa penyuluhan (3) Petani bawang merah nagari
alahan panjang dan air dingin dengan penyuluhan (4) Petani bawang
merupakan anggota kelompok tani. Berdasarkan hasil dan pembahasan,
perilaku petani bawang merah tanpa penyuluhan di Kecamatan Lembah
Gumanti dilihat dari persentase jumlah petani tergolong cukup baik.
Terkait tahapan pengolahan lahan, jumlah petani dengan pengetahuan
cukup baik sebanyak 52%, aspek sikap sebanyak 44% dan keterampilan
sebanyak 60%. Perilaku petani bawang merah dengan penyuluhan di
Kecamatan Lembah Gumanti dilihat dari persentase jumlah petani
tergolong sangat baik. Terkait tahapan pengolahan lahan, jumlah petani
dengan pengetahuan sangat baik sebanyak 68%, aspek sikap sebanyak
79% dan keterampilan sebanyak 86%. Terdapat perbedaan selisih skor
perilaku petani bawang merah dengan penyuluhan dan tanpa penyuluhan
pengolahan lahan, dimana rata-rata skor perilaku petani dengan
penyuluhan lebih tinggi daripada tanpa penyuluhan. Dari aspek
pengetahuan selisih skor sebesar 8,39 aspek sikap sebesar 8,98 dan aspek
keterampilan sebesar 10,73. Artinya perilaku petani dengan penyuluhan
lebih baik daripada petani tanpa penyuluhan dilihat dari aspek
pengetahuan, sikap dan keterampilan.
11
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No
1
2
Judul Penelitian
Perbedaan
Penelitian Terdahulu
Penelitian Saat Ini
Analisis data yang
digunakan
dalam
evaluasi ini adalah
analisis
deksriptif
kuantitatif
dan
kualitatif.
Hasil
penelitian
menunjukkan
pada
aspek
pengetahuan
petani pada kategori
“tahu” atau sesuai
target, aspek sikap
menunjukkan
hasil
“setuju” atau sesuai
dengan target, dan
aspek
keterampilan
menunjukkan
hasil
“tidak terampil” atau
tidak sesuai dengan
target.
Dewi, N. P. A., Penelitian
ini
Sujana, I. N., & merupakan penelitian
Meitriana, M. A. studi evaluatif dimana
(2020). Evaluasi mengevaluasi program
Pemerintah
program sistem dari
Provinsi Bali yaitu
pertanian
Program
Simantri
terintegrasi
ditinjau dari aspek
(Simantri).
CIPP. Jenis data yang
digunakan adalah data
kuantitatif
menggunakan
kuisioner
dengan
skala likert. Hasil
penelitian
menunjukkan program
Simantri
di Desa
Analisis
yang
dilakukan
dalam
penelitian ini adalah
deskriptif kualitatif.
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
mengetahui
hasil
evaluasi
program
Sekolah
Lapang
komoditas bawang
merah
dan
perubahan
praktik
budidaya.
Supriyanto,
S.,
Soeharso, N., &
Achadiati,
N.
(2015).
Kajian
Evaluasi Program
Penyuluhan
Pupuk Bokashi di
Kelompok Tani
Angulir
Hasto,
Kecamatan Kedu
Kabupaten
Temanggung.
Analisis
yang
dilakukan
dalam
penelitian ini adalah
deskriptif kualitatif.
Metode
yang
dilakukan
adalah
dengan wawancara,
observasi,
dan
dokumentasi.
12
3
Priyono, M. V.
(2021). Evaluasi
Program
Pemberian
Bantuan
Pengembangan
Unit
Pengolah
Pupuk
Organik
(UPPO)
Dari
Kementerian
Pertanian
di
Kabupaten
Simalungun
Sumatera Utara.
4
Saputra, Y. A.,
Ulum, M. C., &
Sofiyudin,
A.
(2022). Evaluasi
Program
Pemberdayaan
Petani
Melalui
Model
Cipp
(Context, Input,
Process,
Dan
Product).
Mengani
termasuk
dalam kategori cukup
efektif
Penelitian
ini
menggunakan metode
penelitian deskriptif
kualitatif.
Hasil
penelitian
menggunakan
4
indikator CIPP adalah
secara
keseluruhan
program ini sudah
berjalan dengan baik,
dengan hasil yang
sesuai dengan tujuan
dari program tersebut,
namun terdapat dalam
pelaksanaan
penyaluran
masih
ditemukan
oknum
yang
tidak
bertanggung jawab.
Penelitian
ini
menggunakan metode
deskriptif
dengan
pendekatan kualitatif
dengan
metode
analisis data model
Creswell.
Hasil
penelitian menunjukan
bahwa pemberdayaan
petani kopi di Desa
Muncar
dilakukan
melalui
kolaborasi
stakehoders. Evaluasi
pemberdayaan petani
kopi dilakukan secara
komprehensif
dari
hulu hingga hilir
dimulai dari proses
bertani
budidaya,
proses pasca panen,
dan proses pemasaran
Penelitian
ini
menggunakan
metode
penelitian
deskriptif kualitatif.
Penelitian
menggunakan
4
indikator
CIPP
ditambah
dengan
komponen Outcome
dan menggunakan
teori hierarki Claude
Bennett.
Analisis
yang
dilakukan
dalam
penelitian ini adalah
deskriptif kualitatif.
Penelitian
ini
menggunakan
analisis data Miles
dan Huberman.
13
5
6
Halid, C. A.,
Imran, S., &
Wibowo, L. S.
(2024). Evaluasi
Program
Penyuluhan
Sistem
Tanam
Padi
Jajar
Legowo Terhadap
Produksi
Dan
Pendapatan
Di
Desa
Dutohe
Barat Kecamatan
Kabila Kabupaten
Bone Bolango.
Khairi, A. (2024).
Evaluasi
Perubahan
Perilaku
Petani
dengan
Penyuluhan dan
Tanpa
Penyuluhan
Pengolahan
Lahan
Bawang
Merah.
Penelitian
ini
menggunakan analisis
deskriptif
menggunakan metode
CIPP yang dipadukan
dengan skoring dan
analisis pendapatan.
Hasil
penelitian
menunjukkan evaluasi
program
berhasil
dengan nilai 50,44 dan
hasil produksi dan
pendapatan
meningkat.
Metode
yang
dilakukan
dalam
penelitian
adalah
dengan wawancara,
observasi,
dan
dokumentasi. Serta
menggunakan
analisis
data
triangulasi sumber,
teknik dan waktu.
Penelitian
ini
menggunakan metode
deskriptif kuantitatif
dengan
analisis
univariat.
Hasil
penelitian
menyatakan terdapat
perbedaan
selisih
skor perilaku petani
bawang merah dengan
penyuluhan dan tanpa
penyuluhan
pengolahan
lahan,
dimana rata-rata skor
perilaku
petani
dengan
penyuluhan
lebih tinggi daripada
tanpa penyuluhan.
Analisis
yang
dilakukan
dalam
penelitian ini adalah
deskriptif kualitatif.
Metode
yang
dilakukan
adalah
dengan wawancara,
observasi,
dan
dokumentasi.
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
mengetahui
hasil
evaluasi
program
Sekolah
Lapang
komoditas bawang
merah menggunakan
metode CIPP dengan
komponen O dan
perubahan
praktik
budidaya.
Sumber : Data Olahan Sekunder, 2025
14
B. Tinjauan Pustaka
1. Pembangunan Pertanian
Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam
perekonomian nasional. Pembangunan pertanian adalah upaya yang
dilakukan secara terencana untuk meningkatkan produksi dan
produktivitas pertanian, efisiensi usaha tani, serta kualitas sumber daya
manusia pertanian sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan petani (Soekartawi, 2003). Peran strategis pertanian
sejalan dengan tujuan pembangunan perekonomian nasional yaitu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia (Lepa et al., 2019).
Penempatan
kedudukan
pembangunan
nasional
(positioning)
merupakan
sektor
kunci
pertanian
utama
dalam
keberhasilan
mewujudkan Indonesia yang bermartabat, mandiri, maju, adil dan
makmur (Indraningsih, 2018). Pembangunan pertanian diharapkan
dapat
memperbaiki
pendapatan
penduduk
secara
merata
dan
berkelanjutan. Pembangunan pertanian tidak luput dari pembangunan
sumber daya manusia petani. Petani sebagai pelaku utama dalam
sistem pertanian yang memiliki peran strategis dalam produksi pangan
dan pengelolaan sumber daya alam.
Pembangunan
meningkatkan
SDM
kualitas
merupakan
individu
upaya
dalam
sistematis
aspek
untuk
pengetahuan,
keterampilan, sikap, dan produktivitas agar mampu berkontribusi
secara optimal dalam pembangunan. Pembangunan SDM petani dapat
dijelaskan
melalui
perspektif
Human
Capital
Theory
yang
dikembangkan oleh Gary Becker (1993). Teori ini menekankan bahwa
manusia merupakan aset produktif yang dapat dikembangkan melalui
investasi pada pendidikan, pelatihan, dan pengalaman kerja, yang
kemudian akan meningkatkan produktivitas dan pendapatan individu.
Dalam
konteks
pertanian,
pembangunan
SDM
petani
berarti
memberikan akses terhadap pengetahuan, keterampilan, dan teknologi
15
pertanian yang relevan agar mereka mampu mengelola usaha taninya
secara lebih efisien.
Kualitas SDM petani mencerminkan kemampuan mereka dalam
menerapkan hasil pelatihan dan penyuluhan, termasuk penguasaan
pengetahuan teknis, keterampilan budidaya, serta sikap adaptif
terhadap inovasi pertanian. Petani yang memperoleh pendidikan dan
pelatihan secara berkelanjutan akan memiliki kapasitas lebih baik
dalam mengambil keputusan, mengadopsi inovasi, serta menghadapi
risiko.
Dengan
meningkatkan
pengetahuan,
keterampilan,
dan
kesadaran petani, dapat diharapkan bahwa mereka dapat lebih adaptif
terhadap perubahan lingkungan dan mampu mengadopsi teknologi
pertanian terbaru (Qomariah et al., 2021).
2. Program Pembangunan Pertanian
Program pembangunan pertanian adalah serangkaian kebijakan
dan
kegiatan
yang
bertujuan
untuk
meningkatkan
produksi,
kesejahteraan petani, dan ketahanan pangan melalui berbagai strategi.
Strategi yang dimaksud adalah peningkatan produktivitas, modernisasi,
pemberdayaan, dan pengembangan agribisnis yang berkelanjutan.
Pertanian merupakan suatu kegiatan manusia dalam memanfaatkan
sumber daya hayati untuk dapat menghasilkan bahan pangan, sumber
energi, bahan baku industri dan untuk mengelola lingkungannya
(Sundayana, 2018). Tujuannya mencakup pemenuhan kebutuhan
pangan dan pakan, penguatan daya saing produk, serta mencapai
kemandirian pangan.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian dan
berbagai instansi terkait mengimplementasikan serangkaian program
pembangunan
pertanian
yang
komprehensif.
Dalam
strategi
pembangunan tahun 2025–2029 fokus utama pemerintah mencakup
intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pertanian dengan penggunaan
varietas unggul, peningkatan indeks tanam, serta penyediaan alat dan
mesin pertanian (alsintan) untuk mempercepat produksi serta
16
mengurangi kerugian pasca panen (RPJMN, 2025). Di tingkat
operasional,
berbagai
kegiatan
penyuluhan
dilakukan
untuk
memastikan teknologi dapat diterima dan diadopsi oleh petani melalui
PPL sehingga peningkatan produktivitas dapat tercapai secara merata.
Salah satu wujud implementasi adalah pelaksanaan program
Sekolah
Lapang.
Program
ini
menjadi
bagian
dari
strategi
pemberdayaan dan penyuluhan dalam Program Pengembangan
Kawasan Komoditas Unggulan. Sekolah lapang komoditas bawang
merah termasuk dalam sasaran pembinaan teknis. Keberhasilan
program sektor pertanian akan terwujud apabila didukung oleh sumber
daya alam dan sumber daya manusia, diantaranya adalah keberadaan
tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (Faqih., 2016). Dengan
demikian, pelaksanaan program serta kapasitas penyuluh menjadi
kunci dalam memastikan program sesuai dengan tujuan.
3. Belajar dalam Penyuluhan
Belajar adalah proses perubahan pada diri sebagai hasil dari
interaksi dan pengalaman. Belajar dalam penyuluhan merupakan
proses pendidikan non-formal untuk orang dewasa (andragogi). Dalam
kegiatan penyuluhan, belajar tidak hanya terjadi melalui penyampaian
materi, tetapi juga melalui pengalaman langsung, diskusi kelompok,
demonstrasi, dan praktik lapangan. Menurut Framita et al., (2024)
metode demonstrasi langsung, diskusi kelompok dan penggunaan
media visual dinilai sangat efektif. Selain itu, penyuluh sebagai
fasilitator memberikan ruang untuk diskusi dan dialog, bukan untuk
menggurui. Metode penyuluhan yang bersifat satu arah dan hanya
menekankan pada transfer informasi cenderung kurang efektif jika
tidak disesuaikan dengan cara belajar petani.
Penggunaan teknik penyuluhan yang tepat tidak hanya berfungsi
sebagai alat penyampaian informasi, tetapi juga dapat meningkatkan
pemberdayaan petani. Hal ini sebagai pendorong adopsi teknologi,
membantu meningkatkan produktivitas, serta menjamin keberlanjutan
17
pertanian (Inutan, 2025). Salah satu teknik penyuluhan yang bersifat
partisipatif adalah Sekolah Lapang. Pedoman penyelenggaraan
Sekolah Lapang diatur dalam Permentan No. 50 Tahun 2013 dengan
tujuan untuk memberikan pelatihan dan pedoman sistematis bagi para
pelaku pertanian.
Sekolah Lapang (SL) adalah metode pembelajaran non-formal
yang dilakukan langsung di lahan pertanian. SL berfokus pada
pembelajaran mandiri berbasis pengalaman, analisis masalah nyata,
dan penerapan solusi yang tepat guna. SL memungkinkan petani
mengamati, menganalisis, menyimpulkan, dan mempraktikkan materi
(Ramadhana & Subekti, 2021). Materi disesuaikan dengan kebutuhan
petani, kondisi lokasi, varietas, dan kualitas benih, serta disampaikan
menggunakan bahasa yang sesuai budaya agar mudah dipahami
(Limbong et al., 2020).
Kegiatan SL terdiri dari sosialisasi, rembug tani, kursus tani, dan
ditutup dengan Farmer Field Day (FFD) dan Rencana Tindak Lanjut
(RTL). Sosialisasi merupakan pengenalan awal kegiatan yang
melibatkan petani, PPL, dan dinas pertanian, sedangkan rembug tani
membahas permasalahan petani serta solusi dari PPL dan pemerintah
daerah. Materi yang disampaikan meliputi pengolahan lahan, persiapan
benih, penanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit
tanaman (HPT), perawatan, panen dan pasca panen.
4. Keberhasilan Program terhadap Perubahan
Keberhasilan program merupakan tingkat pencapaian tujuan
yang telah ditetapkan melalui pelaksanaan serangkaian kegiatan secara
terencana dan sistematis. Menurut Kettner, Moroney, dan Martin
(2017) keberhasilan program tercermin dari ketercapaian output dan
outcome, ketepatan sasaran, serta dampak positif yang dirasakan oleh
kelompok penerima manfaat. Dengan demikian, keberhasilan program
tidak hanya dilihat dari pelaksanaan kegiatan, tetapi juga dari hasil dan
18
manfaat nyata yang mampu mendorong perubahan kondisi sosial,
ekonomi, maupun perilaku sasaran program.
Terdapat tiga pilar aktivitas dalam mengoperasikan program,
yaitu pengorganisasian, interpretasi dan penerapan atau aplikasi (Esa,
2015). Pengorganisasian berkaitan dengan pengaturan sumber daya,
pembagian peran, serta koordinasi antar pelaksana agar program
berjalan sesuai rencana. Interpretasi berhubungan dengan pemahaman
pelaksana dan sasaran program terhadap tujuan, manfaat, serta
mekanisme pelaksanaan program, sehingga program dapat diterima
dan dilaksanakan secara tepat. Sementara itu, penerapan atau aplikasi
merupakan tahap implementasi nyata dari program dalam bentuk
kegiatan yang langsung dirasakan oleh sasaran. Ketiga pilar ini saling
berkaitan dan menentukan tingkat keberhasilan program, karena
pengorganisasian yang baik, interpretasi yang tepat, dan penerapan
yang efektif akan meningkatkan peluang tercapainya tujuan program.
Keberhasilan tersebut pada akhirnya tercermin melalui perubahan
positif, baik dalam aspek pengetahuan, sikap, perilaku, maupun kondisi
sosial ekonomi sasaran program.
Perubahan perilaku merupakan salah satu indikator keberhasilan
dalam kegiatan penyuluhan pertanian. Secara umum, perilaku terdiri
dari tiga komponen utama, yaitu pengetahuan (kognitif), sikap
(afektif), dan tindakan (psikomotorik). Menurut Rogers (2003),
perubahan perilaku terjadi sebagai hasil dari proses pembelajaran,
pengalaman, dan interaksi individu dengan informasi atau lingkungan
barunya. Perubahan perilaku petani dipengaruhi oleh berbagai faktor,
baik internal maupun eksternal. Menurut Rogers (2003) Faktor internal
meliputi umur, tingkat pendidikan, pengalaman bertani, pendapatan
dan sumber daya ekonomi, sikap terhadap perubahan, kebutuhan dan
motivasi, persepsi terhadap resiko, pengetahuan dan keterampilan..
Sementara itu, faktor eksternal mencakup akses terhadap informasi,
19
peran penyuluh, kelompok sosial, infrastruktur dan saran produksi,
kebijakan dan lembaga pertanian, lingkungan ekonomi dan pasar.
5. Evaluasi Penyuluhan
Evaluasi penyuluhan merupakan proses sistematis untuk menilai
sejauh mana kegiatan penyuluhan pertanian telah mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Evaluasi penyuluhan adalah kegiatan menilai
keberhasilan suatu program penyuluhan (Adhriana et al., 2025)
Evaluasi tidak hanya dilakukan di akhir kegiatan, tetapi juga dapat
dilakukan pada tahap awal (evaluasi kebutuhan), saat proses
berlangsung (evaluasi proses), dan setelah kegiatan selesai (evaluasi
hasil), untuk memastikan bahwa penyuluhan berjalan secara efektif
dan efisien. Melalui evaluasi yang menyeluruh, program penyuluhan
dapat dinilai keberhasilannya secara objektif dan dijadikan dasar untuk
perbaikan berkelanjutan dalam pembangunan SDM petani.
Evaluasi program penyuluhan pertanian dapat dilakukan dengan
menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product) yang
dikembangkan oleh Daniel L. Stufflebeam pada tahun 1971. Model ini
dirancang untuk memberikan dasar yang sistematis dalam menilai dan
memperbaiki suatu program melalui empat komponen utama, yaitu
konteks, masukan, proses, dan produk. Menurut Stufflebeam (1971),
evaluasi bukan sekadar menilai keberhasilan program, tetapi juga
sebagai alat untuk membantu pengambilan keputusan yang berorientasi
pada peningkatan mutu program (decision-oriented evaluation).
Dalam pelaksanaan evaluasi program penyuluhan pertanian,
model CIPP (Context, Input, Process, Product) dari Stufflebeam (1971)
dapat ditambahkan alternatif model Bennett’s Hierarchy (1976) untuk
memperoleh hasil evaluasi yang lebih komprehensif. Model CIPP
berfokus pada proses pengambilan keputusan dengan menilai
keseluruhan aspek program mulai dari perencanaan hingga hasil yang
dicapai. Sedangkan model Bennett menekankan pada hierarki hasil
yang menggambarkan tahapan perubahan peserta, mulai dari input,
20
aktivitas, partisipasi, reaksi, hingga perubahan pengetahuan, sikap,
keterampilan, perilaku, dan dampak akhir (end results). Dalam konteks
evaluasi program dengan menggunakan metode CIPP dengan
tambahan komponen Outcome fokus utama evaluasi yaitu :
a. Context
Menurut Stufflebeam (2003), evaluasi konteks bertujuan
untuk menentukan sejauh mana tujuan program sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi lingkungan tempat program dilaksanakan.
Menurut Arikunto et al., (2014) indikator dalam evaluasi konteks,
meliputi kebutuhan yang belum terpenuhi, tujuan pengembangan
yang belum tercapai maupun dapat membantu, serta tujuan yang
paling mudah tercapai. Berdasarkan pendapat tersebut, indikator
yang digunakan dalam penelitian ini berupa pemenuhan kebutuhan
dan tujuan serta prioritas program.
b. Input
Menurut Stufflebeam (2003) evaluasi input membantu
pengambil keputusan dalam memilih tindakan yang paling tepat
dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya manusia,
dana, sarana prasarana, serta metode pelaksanaan. Indikator dalam
evaluasi input, meliputi sumber daya manusia, sarana dan peralatan
pendukung, dana, dan prosedur serta aturan yang diperlukan
(Nurbiyati, 2015). Berdasarkan pendapat tersebut, indikator yang
digunakan dalam penelitian ini berupa sumber daya pelaksana,
sumber daya pendukung, sarana dan prasarana, serta kualitas
bantuan. Dengan demikian, hasil evaluasi input memberikan dasar
untuk memastikan bahwa program memiliki kapasitas dan strategi
yang memadai sebelum dilaksanakan.
c. Process
Evaluasi ini berfokus pada pelaksanaan program untuk
memastikan bahwa kegiatan yang direncanakan berjalan sesuai
dengan kebutuhan dan tujuan yang telah ditetapkan. Menurut
21
Stufflebeam (2003) evaluasi proses dilakukan untuk memantau,
mengontrol,
sehingga
dan
dapat
mendokumentasikan
pelaksanaan
ditemukan
penyimpangan,
hambatan,
program,
atau
kelemahan selama pelaksanaan. Menurut Arikunto et al., (2014)
indikator dalam evaluasi proses, meliputi kegiatan dalam program,
penanggung jawab, waktu kegiatan, kemampuan penanganan, dan
pemanfaatan sarana dan prasarana, serta hambatan. Berdasarkan
pendapat tersebut, indikator yang digunakan dalam penelitian ini
berupa rencana kegiatan, mekanisme kegiatan, pelaksanaan
program, dan evaluasi program.
d. Product
Hasil dari evaluasi produk membantu dalam membuat
keputusan selanjutnya, baik pencapaian hasil maupun hal yang
perlu dilakukan setelah program berjalan, dengan kata lain evaluasi
ini merupakan penilaian untuk mengukur keberhasilan pencapaian
tujuan (Winaryati et al., 2021). Evaluasi produk menjadi hal yang
diharapkan dari pelaksanaan program, dimana perubahan yang
terjadi dinilai berdasarkan pengukuran perubahan atau dampak
program. Indikator penilaian product menggunakan teori Claude
Bennet yang ditunjukkan melalui hierarki, berupa input, aktivitas,
keterlibatan
orang,
reaksi,
perubahan
pengetahuan,
sikap,
keterampilan, dan aspirasi, perubahan praktik, serta hasil akhir
(Bennett, 1979). Dalam evaluasi produk ini, dilakukan penilaian
terhadap
perubahan
pengetahuan,
sikap, keterampilan, dan
perubahan
perilaku
dikarenakan
penilaian
input,
aktivitas,
keterlibatan, hingga hasil akhir telah dapat dinilai melalui indikator
input, process, hingga outcome.
e. Outcome
Terdapat satu tambahan komponen O, yaitu outcome atau
dampak. Outcome merupakan perubahan, baik kondisi, perilaku,
sikap, pengetahuan, maupun keterampilan dari sasaran program.
22
Terkait penjelasan evaluasi model CIPP dilengkapi dengan
Outcome di atas, selanjutnya dapat ditentukan indikator/aspek
evaluasi program sekolah lapang. Pemilihan indikator/aspek
evaluasi dengan metode CIPP dengan tambahan komponen
Outcome dalam penelitian ini disesuaikan dengan program yang
dievaluasi, yaitu program sekolah lapang komoditas bawang
merah, sehingga indikator outcome yang digunakan ialah
perubahan praktik budidaya pasca pelaksanaan program.
6. Usahatani Bawang Merah
Usahatani sebagai ilmu adalah hal-hal yang mempelajari tentang
cara mengelola faktor-faktor produksi/input (tanah, tenaga kerja,
modal, pupuk, benih, pestisida) dengan efektif, efisien, dan kontinyu.
Dengan tujuan untuk menghasilkan produksi yang tinggi sehingga
pendapatan meningkat. Pendapat lainnya menurut Soekartawi (2002),
usahatani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana
seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan
efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu
tertentu. Dikatakan efektif bila petani dapat
mengalokasikan
sumberdaya yang mereka miliki atau kuasai sebaik-baiknya, dan
dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan
keluaran (output). Tersedianya sarana atau faktor produksi (input)
belum berarti produktivitas yang diperoleh petani akan tinggi, sehingga
perlu upaya agar petani bisa melakukan usahanya secara efisien.
Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan
salah satu komoditas hortikultura strategis di Indonesia yang memiliki
nilai ekonomi tinggi. Menurut data BPS tahun 2022 komoditas bawang
merah di Indonesia mengalami produksi nasional tertinggi pada bulan
April sekitar 199,11 ribu ton dengan provinsi Jawa Tengah, Jawa
Timur dan Sumatera Barat sebagai penyumbang utama. Di wilayah
Jawa Tengah, termasuk Kabupaten Wonogiri khususnya Kecamatan
23
Manyaran. Budidaya bawang merah mulai berkembang dan menjadi
salah satu sumber pendapatan petani.
Teknik budidaya bawang merah yang baik meliputi beberapa
tahap penting, mulai dari persiapan lahan, pemilihan bibit unggul, pola
tanam, pemupukan berimbang, pengairan yang cukup, hingga
pengendalian hama dan penyakit seperti ulat grayak, thrips, dan
penyakit layu fusarium. Tahap panen dan pascapanen juga memegang
peranan penting dalam menjaga kualitas dan daya simpan umbi
bawang merah. Salah satu kendala dalam budidaya bawang merah
karena terdapat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang
akan menggangu produktivitas tanaman bawang merah (Triwidodo &
Tanjung, 2020). Permasalahan ini mendorong perlunya pendampingan
melalui program penyuluhan yang mampu mengubah pola pikir dan
perilaku petani menuju praktik pertanian yang lebih efektif dan
berkelanjutan.
C. Kerangka Konseptual
Pembangunan pertanian tidak hanya bergantung pada ketersediaan
sarana produksi, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia,
khususnya petani sebagai pelaku utama. Pengetahuan petani terhadap
teknik budidaya yang baik dan ramah lingkungan menjadi faktor penting
dalam keberhasilan pertanian berkelanjutan. Program Sekolah Lapang
(SL)
dilaksanakan
sebagai
bentuk
penyuluhan
edukatif
untuk
meningkatkan kapasitas petani dalam budidaya bawang merah secara lebih
baik. Program ini diharapkan mampu mengubah perilaku budidaya petani
ke arah yang lebih ramah lingkungan dan efisien melalui pendekatan
pembelajaran berbasis pengalaman langsung di lapangan.
Untuk memastikan efektivitas program tersebut, diperlukan suatu
evaluasi yang komprehensif. Evaluasi tidak hanya difokuskan pada hasil
akhir, tetapi juga proses pelaksanaan, konteks sosial dan kebutuhan petani,
serta input-input yang digunakan selama program berlangsung. Penelitian
24
ini menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, dan
Product) dengan tambahan komponen Outocome sebagai pendekatan
sistematis dalam menilai Program Sekolah Lapang. Kerangka konseptual
hubungan antara evaluasi melalui metode CIPP program Sekolah Lapang
dengan perubahan perilaku petani dapat digambarkan sebagai berikut:
Program Sekolah Lapang Komoditas
Bawang Merah Kecamatan Manyaran
Evaluasi Program Sekolah Lapang Komoditas Bawang Merah Kecamatan Manyaran
dengan metode CIPP (Context, Input, Process, Product) dan Outcome
Context
1. Kebutuhan petani
2. Tujuan program
Sekolah Lapang
Input
1. Sumber daya
pelaksana
2. Sumber daya
pendukung
3. Sarana prasarana
4. Kualitas bantuan
Process
1. Rencana kegiatan
2. Mekanisme
kegiatan
3. Pelaksanaan
program
4. Evaluasi kegiatan
Gambar 2.1 Kerangka konseptual
25
Product
1. Pengetahuan
petani terhadap
materi budidaya
dalam program SL
2. Sikap petani
terhadap materi
budidaya dalam
program SL
3. Keterampilan
petani menerapkan
materi budidaya
dalam program SL
4. Perilaku petani
menerapkan materi
budidaya dalam
program SL
Outcome
Perubahan praktik
budidaya bawang
merah (penerapan
inovasi teknologi
pasca program SL)
D. Dimensi Penelitian
Terdapat dimensi penelitian atau batasan-batasan pengertian pada
kerangka konseptual yang ada pada penelitian ini untuk menghindari
kesalahan pengertian :
1.
Aspek context (konteks) merupakan deskripsi perencanaan program
yang harus mempertimbangkan beberapa hal sebelum program
dijalankan. Aspek yang dikaji adalah:
a. Kebutuhan, yaitu adanya pelatihan untuk meningkatkan praktik
budidaya yang baik (good agricultural practices.
b. Tujuan program, yaitu kesesuaian program dalam memenuhi
kebutuhan kelompok sasaran, yaitu petani komoditas bawang
merah.
2.
Aspek input (masukan) merupakan aspek yang mengkaji penggunaan
berbagai sumber yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan
program, meliputi:
a. Sumber daya pelaksana, yaitu sasaran atau pelaksana program
sekolah lapang.
b. Sumber daya pendukung, yaitu peran dari pendukung jalannya
program sekolah lapang, termasuk pemerintah dan penyuluh
pertanian.
c. Sarana dan prasarana, yaitu ketersediaan fasilitas fisik serta yang
dibutuhkan saat program SL dilaksanakan.
d. Kualitas bantuan, yaitu pemberian bantuan benih, alat tulis sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan.
3.
Aspek process (proses) merupakan hal yang berkaitan dengan
seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan dalam program telah
dilaksanakan sesuai perencanaan, meliputi:
a. Rencana kegiatan, yaitu perencanaan yang dilakukan pada seluruh
kegiatan dalam program SL yang mengacu pada keterlibatan
sumber daya.
26
27
b. Mekanisme kegiatan, yaitu proses dan kualitas pelaksanaan
kegiatan.
c. Pelaksanaan program, yaitu frekuensi waktu pelaksanaan kegiatan
dalam program SL.
d. Evaluasi kegiatan, yaitu waktu pelaporan dari tiap pertemuan yang
dijalankan.
4.
Aspek product (produk) merupakan hasil dari proses kegiatan
program yang menggambarkan tingkat keefektifan program. Evaluasi
aspek hasil merupakan penilaian yang dilakukan guna untuk melihat
ketercapaian dan keberhasilan suatu program. Aspek yang dikaji
yaitu:
a. Pengetahuan berarti pengetahuan yang dimiliki petani setelah
menerima informasi dari materi yang diberikan saat SL.
b. Sikap berarti sikap yang dimiliki petani setelah menerima
informasi dari materi yang diberikan saat SL.
c. Keterampilan berarti praktik atau skill yang dimiliki petani setelah
menerima informasi dari materi yang diberikan saat SL
d. Perilaku berarti perubahan perilaku petani dalam menerapkan
informasi dari materi yang diberikan saat SL mulai dari
pengolahan lahan hingga panen dan pascapanen.
5.
Aspek outcome (dampak)
Perubahan praktik budidaya adalah keberlanjutan penerapan
inovasi teknologi yang didapatkan saat sekolah lapang. Mulai dari
pengolahan
lahan,
persiapan
benih,
penanaman,
pemupukan,
pengendalian hama dan penyakit tanaman (HPT), perawatan, panen
dan pasca panen.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Metode dasar yang digunakan dalam penelitian adalah metode
deskriptif. Metode deskriptif bertujuan untuk memberikan uraian
mengenai gejala sosial yang diteliti. Peneliti mendiskripsikan suatu gejala
berdasarkan pada indikator-indikator yang dijadikan sebagai dasar dari ada
tidaknya suatu gejala yang diteliti. Deskripsi ini dilakukan dengan cara
deskripsi
kualitatif.
Penelitian
kualitatif
adalah
penelitian
yang
menggunakan metode kualitatif akan menghasilkan data yang mendalam
tentang suatu kasus tertentu melalui pengumpulan data dari berbagai
sumber informasi (Raco, 2018). Pada penelitian kualitatif data penelitian
didapatkan melalui hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil analisis
dokumen dan catatan lapangan yang disusun oleh peneliti pada lokasi
penelitian. Metode penelitian kualitatif yang dilakukan dengan wawancara
mendalam (in- depth interview) untuk menggali informasi terkait Evaluasi
Program Sekolah Lapang Komoditas Bawang Merah pada Perubahan
Praktik Budidaya.
B. Metode Penentuan Lokasi Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, lokasi penelitian dipilih secara
purposive atau sengaja berdasarkan pertimbangan tertentu yang relevan
dengan fokus penelitian. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive,
yaitu dipilih dengan pertimbangan tertentu, misalnya lokasi tersebut
dianggap dapat memberikan data yang paling lengkap dan relevan dengan
fokus penelitian (Sugiyono, 2017). Pemilihan lokasi penelitian dilakukan
dengan sengaja (purpossive) yaitu di Kecamatan Manyaran Kabupaten
Wonogiri dengan mempertimbangkan bahwa Kecamatan Manyaran adalah
tempat terlaksana Sekolah Lapang komoditas bawang merah pada bulan
Juni-Juli 2025. Selain itu berdasarkan data BPS Kabupaten Wonogiri
Kecamatan Manyaran termasuk dalam lima kecamatan dengan produksi
28
29
bawang merah terbesar dengan rata-rata produksi 753 kw, angka tersebut
berada diatas rata-rata produksi cabai rawit. Hal ini menunjukkan adanya
keberadaan dan potensi pengembangan komoditas bawang merah di
wilayah tersebut.
C. Penentuan Informan
Pemilihan informan dilakukan secara sengaja (purposive) untuk
menemukan
informan
kunci
yang
secara
dominan
memahami
permasalahan program sekolah lapang. Menurut Sugiyono (2019),
purposive sampling digunakan untuk memilih informan yang dianggap
paling memahami permasalahan penelitian. Selain purposive dalam
pengambilam sampel, juga digunakan snowball sampling. Pertama-tama
dipilih satu atau dua orang, namun jika dengan dua orang ini belum merasa
lengkap terhadap data yang diberikan maka peneliti mencari orang lain
yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh
dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel
semakin banyak.
Dalam penelitian kualitatif terdapat tiga jenis informan, yaitu
informan kunci, informan utama dan informan pendukung. Informan kunci
merupakan informan yang dapat memberikan informasi secara menyeluruh
tentang permasalahan yang diangkat dalam penelitian secara garis besar
dan juga memahami tentang informan utama. Informan utama merupakan
pelaku utama dalam penelitian atau orang yang mengetahui secara teknis
dan detail tentang masalah yang diangkat dalam penelitian. Informan
pendukung merupakan seseorang dalam penelitian yang dapat memberikan
informasi tambahan sebagai pelengkap analisis dan pembahasan dalam
penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini adalah petani anggota SL,
informan utama adalah PPL Kecamatan Manyaran dan informan
pendukung adalah koordinator dan staf bidang penyuluhan Dispertan
Wonogiri.
30
Tabel 3.1 Penentuan Informan
No
Informasi yang digali
Informan
1
Identifikasi kebutuhan petani,
identifikasi tujuan program SL
(Context)
Sumber daya pelaksana, sumber
daya pendukung, sarana prasarana
dan kualitas bantuan (Input)
PPL Kecamatan Manyaran
Rencana kegiatan, mekanisme
program SL, pelaksanaan program
SL dan evaluasi kegiatan
(Process)
Reaksi, pengetahuan, sikap,
seterampilan dan perilaku
(Product)
Perubahan praktik budidaya
bawang merah dan penerapan
inovasi teknologi pasca program
SL (Outcome)
PPL Kecamatan Manyaran
dan Petani anggota SL
2
3
4
5
Koordinator dan Staf bidang
penyuluhan Dinas Pertanian
Wonogiri, PPL Kecamatan
Manyaran
dan
Petani
Anggota SL
Petani anggota SL
Petani anggota SL
Sumber : Analisis Peneliti, 2025
D. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian meliputi data pokok dan data
pendukung. Sedangkan menurut cara memperolehnya dibedakan menjadi:
1. Data primer, yaitu adalah data yang diperoleh langsung dari hasil
wawancara kepada informan yang memiliki potensi berdasarkan
informasi yang di sampaikan selama penelitian. Data diambil melalui
wawancara mendalam kepada informan yaitu Koordinator dan Staf
Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Wonogiri, PPL
Kecamatan Manyaran, dan petani anggota sekolah lapang.
2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari instansi atau lembaga
yang terkait dengan cara pencatatan. Sumber data yang diperoleh
dengan cara membaca, mempelajari, dan memahami melalui media
lain yang bersumber dari literatur, buku-buku serta dokumen melalui
instansi terkait yang berkompeten. Data sekunder itu berupa bukti,
31
catatan, atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip atau data
dokumenter. Data sekunder dalam penelitian ini berupa laporan yang
telah tersusun dalam arsip yang diperoleh dari instansi atau lembaga
yang bersangkutan langsung dengan penelitian, laporan, publikasi, dan
data statistik
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data ialah suatu aktifitas yang digunakan untuk
memperoleh data-data yang dibutuhkan dalam penilitian. Suatu penilitian
bisa dilaksanakan secara efektif dan efisien baik dalam waktu, biaya dan
tenaga perlu menerapkan pendekatan yang tepat. Pengumpulan data bisa
dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber dan berbagai cara.
Secara umum ada tiga macam teknik pengumpulan data yaitu observasi,
wawancara serta dokumentasi. Metode pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah :
1. Wawancara
Menurut Hardani et al., (2020) wawancara ialah tanya jawab
lisan antara dua orang atau lebih secara langsung atau percakapan
dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu
pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang
diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan
itu. Wawancara mendalam (in-depth interview) adalah metode
penelitian kualitatif yang melibatkan percakapan satu lawan satu
secara intensif antara pewawancara dan satu narasumber untuk
menggali informasi rinci mengenai topik tertentu dengan tujuan
memahami perspektif, pengalaman, dan pandangan narasumber secara
mendalam melalui pertanyaan terbuka yang fleksibel. Dalam proses ini
peneliti mengajukan pertanyaan langsung kepada informan untuk
menggali
data
terkait
pelaksanaan
program
Sekolah
Lapang
Komoditas Bawang Merah Kecamatan Manyaran, serta perubahan
praktik budidaya petani dari program yang dijalankan.
32
Tabel 3.2 Pengumpulan Data Wawancara
No
Data
Teknik
1
Evaluasi context
Purposive
2
Evaluasi input
Snowball
3
Evaluasi process
Snowball
4
Evaluasi product
Snowball
5
Dampak (outcome)
Snowball
Sumber : Analisis Peneliti, 2025
2. Observasi
Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengetahui atau
menyelidiki tingkah laku non-verbal ialah dengan menggunakan teknik
observasi. Observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara
langsung ke lapangan untuk melihat dan mencatat fenomena yang
terjadi dengan sistematis (Moleong, 2019). Melalui kegiatan observasi
peneliti dapat belajar tentang perilaku dan makna dari perilaku
tersebut. Peneliti mengidentifikasi hal yang akan diobservasi,
observasi pada penelitian ini berupa mengikuti kegiatan monitoring
yaitu mengikuti kegiatan Sekolah Lapang,
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah informasi atau data yang mendukung
berbagai fakta yang ditemukan dilapangan. Menurut Sugiyono (2017),
teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber
tertulis atau visual, seperti arsip, laporan, catatan, foto, video, atau
dokumen
resmi
lainnya.
Data
dokumentasi
digunakan
untuk
melengkapi data hasil wawancara dan observasi dalam penelitian
kualitatif. Dokumentasi yang dilakukan terkait lokasi penelitian dan
kegiatanya. Dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan bukti-bukti
penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini berarti,
dokumentasi merupakan data berupa foto atau gambar yang diperoleh
dari proses observasi, wawancara dan dokumen-dokumen yang
33
mendukung penelitian. Suatu hasil penelitian akan dapat lebih
dipercaya jika didukung dengan adanya suatu dokumentasi.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam
mengumpulkan data. Instrumen penelitian yang digunakan pada
penelitian kualitatif, yaitu peneliti itu sendiri dengan cara mengamati,
bertanya dan mengambil data penelitian. Fungsi dari instrumen ini yaitu
peneliti dapat menetapkan fokus penelitian dan memilih informan
sebagai sumber data sampai membuat kesimpulan atas penelitian yang
telah dilakukannya. Instrumen pada penelitian ini juga menggunakan
pedoman wawancara untuk membantu peneliti ketika mengumpulkan
data agar berfokus pada tujuan penelitian. kualitas instrumen sangat
menentukan validitas dan reliabilitas data, sehingga instrumen harus
dirancang sedemikian rupa agar data yang dikumpulkan akurat, relevan,
dan konsisten dengan tujuan penelitian (Sugiyono, 2018).
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah proses mencari dan mengorganisasi
serta menganalisis secara sistematis data yang diperoleh dari wawancara,
catatan lapangan, dan dokumen lainnya agar data tersebut dapat dengan
mudah dipahami. Proses analisis data pada penelitian ini terjadi saat
peneliti mulai membaca keseluruhan transkrip untuk memperoleh
informasi-informasi
secara
umum
(general)
dari
masing-masing
transkrip, kemudian pesan-pesan umum tersebut dikompilasi untuk
diambil pesan khususnya (specific messages) atau peneliti melakukan
koding, yaitu memberikan label pada kata atau frasa yang mewakili tema
penting (dan berulang) di setiap tanggapan informan, dari pesan-pesan
khusus tersebut akan diketahui pola umum data. Selanjutnya, data
tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan urutan kejadian, kategori, dan
topologinya.
34
Menurut Miles dan Huberman (2014), dalam analisa data kualitatif
terdapat empat alur proses yang dilakukan secara bersamaan yaitu
pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan.
1. Pengumpulan data, mengacu pada proses mencatat dan memfokuskan
data yang muncul dalam catatan lapangan tertulis. Pengumpulan data
dalam penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara mendalam,
observasi, dan dokumentasi.
2. Kondensasi data, proses analisis yang dilakukan dengan memilih,
menyederhanakan, dan memfokuskan data untuk merangkum hasilhasil penelitian dengan menitik beratkan pada hal-hal yang dianggap
penting oleh peneliti. Kondensasi data bertujuan untuk mempermudah
pemahaman terhadap data yang telah terkumpul sehingga data yang
direduksi memberikan gambaran lebih rinci.
3. Penyajian data, dilakukan melalui pembuatan uraian singkat, tabel,
bagan, flowchart atau lain sebagainya. Setelah itu data yang tersaji
juga dijelaskan secara naratif dalam bentuk teks. Penyajian data
dimaksudkan untuk menemukan pola-pola yang bermakna serta
memberikan
kemungkinan
adanya
penarikan
simpulan
serta
memberikan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan.
4. Penarikan kesimpulan, tahap akhir dalam proses penelitian untuk
memberikan makna terhadap data yang telah dianalisis. Upaya
penarikan kesimpulan dilakukan peneliti secara terus-menerus setelah
penyajian data. Sehingga dapat dilihat hasil evaluasi program sekolah
lapang komoditas bawang merah pada perubahan praktik budidaya di
Kecamatan Manyaran.
H. Validitas Data
Validitas data hasil penelitian yaitu untuk mengetahui keabsahan
data dalam suatu penelitian. Validitas data hasil penelitian menggunakan
teknik triangulasi data. Hasil atau data penelitian kualitatif dapat
35
dikatakan valid apabila tidak terdapat perbedaan antara apa yang
dilaporkan peneliti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada objek yang
diteliti. Kebenaran realitas data menurut penelitian kualitatif tidak
bersifat tunggal melainkan jamak, sesuai dengan konstruksi manusia
yang muncul dalam diri manusia akibat proses mental setiap individu
yang berbeda asal usulnya. Uji validitas yang digunakan dalam penelitian
ini adalah menggunakan teknik triangulasi sumber, triangulasi teknis dan
triangulasi waktu.
Triangulasi sumber merupakan pengecekan data dari beberapa
sumber. Menurut Sugiyono (2019), Triangulasi sumber digunakan untuk
menggali kebenaran data yang dilakukan dengan cara mengecek data
yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Triangulasi sumber
merupakan membandingkan, mengecek ulang derajat kepercayaan suatu
informasi yang diperoleh dari sumber yang berbeda. Selanjutnya, jika
sumber informasi tersebut memberikan informasi yang sama, maka
informasi
yang
diperoleh
dianggap
sudah
jenuh
dan
terbukti
kebenarannya tidak hanya dari satu sumber saja.
A
Wawancara
B
Mendalam
C
Gambar 3.1 Triangulasi sumber
Triangulasi teknik bertujuan untuk menguji kredibilitas data dengan
cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang
berbeda, misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan
observasi, dan dokumentasi. Apabila dengan tiga teknik pengujian
36
kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda, maka
peneliti melakukan diskusi lebih lanjut pada sumber data yang
bersangkutan atau yang lain. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan
data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar, karena
sudut pandangnya yang berbeda-beda (Sugiyono, 2019)
Triangulasi waktu merupakan salah satu bentuk triangulasi yang
digunakan untuk menguji kredibilitas data dengan cara melakukan
pengecekan data melalui pengumpulan informasi pada waktu yang
berbeda. Tujuan dari triangulasi waktu adalah untuk melihat konsistensi
data atau informasi yang diperoleh dari sumber yang sama, tetapi pada
situasi dan kondisi yang berlainan. Dengan demikian peneliti dapat
memastikan bahwa hasil temuan tidak dipengaruhi oleh faktor stuasional
atau kondisi tertentu yang bersifat sementara. Perbedaan waktu
pengumpulan data membantu mengurangi bias akibat kondisi sesaat dan
memberikan gambaran yang lebih akurat tentang perilaku, praktik, atau
fenomena yang sedang diteliti (Sugiyono, 2019).
37
DAFTAR PUSTAKA
Adhriana, A., Nurlaela, S., & Tustiyani, I. 2025. Evaluasi Penyuluhan Pertanian
Perbanyakan Trichoderma sp. di Kelompok Tani Tunas Tani Rukun,
Tirtomartani, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. JMM-Jurnal
Masyarakat Merdeka, 8(1), 71-77.
Amanda, M., Suharno, S., & Astuti, S. 2024. Pengaruh Jenis dan Konsentrasi ZPT
terhadap Keberhasilan Sambung Pucuk Alpukat (Persea
Americana). Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 31(1), 56-63.
Arikunto S, Jabar C, Yustianti F (2014). Evaluasi Program Pendidikan Ed. 2, Cet.
5. Jakarta: Bumi Aksara.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Pati. (2025, 8 Mei)
Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri. 2022. Statistik Pertanian Kabupaten
Wonogiri 2022. Wonogiri: BPS Kabupaten Wonogiri.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri. 2024. Produksi Sayuran dan
Buah-Buahan Semusim Kabupaten Wonogiri 2023/2024. Wonogiri:
BPS Kabupaten Wonogiri. .
Dewi N. P. A., Sujana, I. N., & Meitriana, M. A. 2020. Evaluasi program sistem
pertanian terintegrasi (Simantri). Jurnal Pendidikan Ekonomi
Undiksha, 12(1), 107-116.
Esa Smaradhana. 2015. Pelaksanaan Program Pembangunan Manusia Oleh
Pemerintah Desa di Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten
Pangandaran. Skripsi FISIP Universitas Galuh Ciamis: Tidak
diterbitkan.
Fajar, A., Ht, A. M. A., & Said, S. A. (2025). Kontribusi Teknologi, Modal, dan
Keterampilan Petani Terhadap Produktivitas Bawang Merah. Jurnal
Sosial Ekonomi Pertanian, 21(1).
Faqih, Acmad. 2016. Model Pemberdayaan Kelompok Tani Tanaman Pangan
Pesisir Pantai. Yogyakarta: Deeplubish Publisher
Framita, R. M., Emiyati, E., Taufik, M., Purnawinata, D. T., Kurniawan, I., &
Yuliastuti, W. (2024). Implementasi Education Of Sustainable
Development (ESD) Dalam Pengolahan Limbah Organik Menjadi
Kompos. Jumat Pertanian: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(3),
147-155.
Halid, C. A., Imran, S., & Wibowo, L. S. 2024. Evaluasi Program Penyuluhan
Sistem Tanam Padi Jajar Legowo Terhadap Produksi Dan Pendapatan
Di Desa Dutohe Barat Kecamatan Kabila Kabupaten Bone
Bolango. Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 8(1), 139-153
Hardani, dkk. 2020. Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif .Yogyakarta:
CV.Pustaka Ilmu Grup.
38
Humas Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian. 2023. Jateng jadi penyangga
terbesar bawang merah dan cabai nasional. Direktorat Jenderal
Hortikultura.
Indraningsih, K. S. (2017). Strategi diseminasi inovasi pertanian dalam
mendukung pembangunan pertanian. In Forum Penelitian Agro
Ekonomi (Vol. 35, No. 2, pp. 107-123).
Inutan, S. M. B., Dujali, I. L., Bacus, M. S., Quijano-Pagutayao, A. S., & Sarita,
V. B. (2025). The role of agricultural extension in farmers’ technology
adoption for sustainable agricultural practices in Davao Oriental,
Philippines. International Journal of Research and Innovation in
Applied
Science,
10(3),
45–58.
https://rsisinternational.org/journals/ijrias/articles/the-role-ofagricultural-extension-in-farmers-technology-adoption-forsustainable-agricultural-practices-in-davao-oriental-philippines
Jamal, E. (2009). Telaahan penggunaan pendekatan sekolah lapang dalam
pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi: kasus di Kabupaten Blitar
dan Kediri, Jawa Timur. Analisis Kebijakan Pertanian, 7(4), 337-349.
Kettner, P. M., Moroney, R. M., & Martin, L. L. (2017). Designing and Managing
Programs: An Effectiveness-Based Approach (5th ed.). Thousand
Oaks, CA: Sage Publications.
Khairi, A. 2024. Evaluasi Perubahan Perilaku Petani dengan Penyuluhan dan
Tanpa Penyuluhan Pengolahan Lahan Bawang Merah. Jurnal
Kridatama Sains dan Teknologi, 6(01), 290-304.
Kurniawati, S. 2020. Kinerja sektor pertanian di Indonesia. In Prosiding Seminar
Akademik Tahunan Ilmu Ekonomi Dan Studi Pembangunan (Vol.
2020, pp. 24-31).
Lepa, O., Pangemanan, S., & Rachman, I. (2019). Peran Pemerintah Daerah
Kabupaten Bolaang Mongondow dalam Pembangunan Pertanian
(Studi di Kecamatan Passi Timur). Jurnal Eksekutif, 3(3).
Limbong, E., Gayatri, S., & Prayoga, K. 2020. Dampak Sekolah Lapang
Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) Terhadap Tingkat Penerapan
Pengendalian Hama Terpadu Usahatani Kubis Di Kabupaten
Semarang. Agroland: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian, 27(3), 287-298.
Moleong, L. J. 2019. Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Nurbiyati, T. 2015. Evaluasi Pengembangan Sumber Daya Manusia: Sebuah
Review. Jurnal Kajian Bisnis, 23(1), pp : 52-63
Permentan No. 50 Tahun 2013
39
Pranadi, B., Darsono, D., & Ferichani, M. 2022. Peramalan Luas Tanam dan
Strategi
Pengembangan
Bawang
Merah
di
Kabupaten
Wonogiri. Jurnal Pangan, 31(2), 155-166.
Priyono, M. V. 2021. Evaluasi Program Pemberian Bantuan Pengembangan Unit
Pengolah Pupuk Organik (UPPO) Dari Kementerian Pertanian di
Kabupaten Simalungun Sumatera Utara. GEMA PUBLICA, 6(1), 5875.
Qomariah, N., Nursaid, & Satoto, E. B. 2021. Improving financial performance
and profits of pharmaceutical companies during a pandemic:
Study on environmental performance, intellectual capital and
social responsibility. Qual.-Access Success, 22, 154–165.
Raco, Jozef. 2018. Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik Dan
Keunggulannya. In Grasindo.
Ramadhana, Y. D., & Subekti, S. 2021. Pemanfaatan metode penyuluhan
pertanian oleh petani cabai merah. Jurnal Kirana, 2(2), 113-133
Saputra, Y. A., Ulum, M. C., & Sofiyudin, A. 2022. Evaluasi Program
Pemberdayaan Petani Melalui Model Cipp (Context, Input, Process,
Dan Product). Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Administrasi Negara
Vol, 6(02).
Soekartawi. 2002. Analisis Usahatani. UI Press. Jakarta.
Stufflebeam, D. L. (2003). The CIPP model for evaluation. In T. Kellaghan & D.
L. Stufflebeam (Eds.), International handbook of educational
evaluation (pp. 31–62). Dordrecht: Kluwer Academic Publishers
Sugiyono. (2018). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sugiyono. 2017. Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D (Revisi).
Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2019. Metode penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, kualitatif,
dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sundayana, R. F. (2018). Efektivitas pelaksanaan program pertanian oleh
penyuluh pertanian dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani di
Desa Cintaratu Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran. Moderat:
Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, 4(4), 103-113.
Supriyanto, S., Soeharso, N., & Achadiati, N. 2015. Kajian Evaluasi Program
Penyuluhan Pupuk Bokashi di Kelompok Tani Angulir Hasto,
Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung. Jurnal Pengembangan
Penyuluhan Pertanian, 11(22), 36-48
40
Triwidodo, H., & Tanjung, M. H. 2020. Hama penyakit utama tanaman bawang
merah (Allium ascalonicum) dan tindakan pengendalian di Brebes,
Jawa Tengah. Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi, 13(2), 149-154.
Winaryati E, Munsarif M, Mardiana and Suwahono (2021). Model-Model
Evaluasi Aplikasi dan Kombinasinya. Yogyakarta: KBM Indonesia.
Wisnujati, N. S., Patiung, M., & Rahindra, H. A. (2022). ANALISIS
EKSISTENSI SEKOLAH LAPANGAN PERTANIAN TANAMAN
PANGAN DI JAWA TIMUR. SEMAGRI, 3(1).
41
LAMPIRAN
42
Lampiran 1. Pedoman Wawancara
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM
EVALUASI PROGRAM SEKOLAH LAPANG KOMODITAS BAWANG
MERAH PADA PERUBAHAN PRAKTIK BUDIDAYA PETANI DI
KECAMATAN MANYARAN KABUPATEN WONOGIRI
(OLEH: DINDA KARISMA WIBOWO)
PROGAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
I.
Informan : Petani anggota SL
Waktu Wawancara :
Hari :
Tanggal :
Nama :
Jenis kelamin :
Umur :
Pendidikan :
Alamat :
II.
Daftar Pertanyaan
A. Kondisi umum
1. Bagaimana keadaan usaha tani Bapak/Ibu saat ini (luas lahan,
jenis tanaman, jumlah produksi)?
2. Bagaimana pengalaman Bapak/Ibu dalam budidaya bawang
merah sebelum mengikuti SL?
3. Bagaimana
akses
Bapak/Ibu
terhadap
sarana/prasarana
pertanian (alat, pupuk, benih, air irigasi) sebelum program?
B. Evaluasi Input
a) Sumber daya pelaksana
43
1. Bagaimana pengalaman Bapak/Ibu dalam menanam bawang
merah sebelum ada program Sekolah Lapang?
2. Darimana biasanya Bapak/Ibu mendapatkan pengetahuan
atau informasi tentang cara budidaya bawang merah sebelum
mengikuti program ini?
3. Apakah Bapak/Ibu sudah pernah mengikuti sekolah lapang
sebelumnya?
4. Bagaimana kebiasaan Bapak/Ibu dalam hal memilih bibit,
mengatur jarak tanam, pemupukan, dan pengendalian hama
sebelum program berjalan?
5. Apa kesulitan utama yang sering dihadapi dalam bertani
bawang merah sebelum adanya program Sekolah Lapang?
6. Bagaimana kesiapan Bapak/Ibu dalam menerima atau
menerapkan teknologi baru sebelum program dilaksanakan?
b) Sumber daya pendukung
1. Sebelum adanya Sekolah Lapang, apakah ada kegiatan atau
program dari pemerintah (dinas pertanian) yang mendukung
petani bawang merah di wilayah Bapak/Ibu?
2. Bagaimana perhatian pemerintah daerah terhadap kebutuhan
petani sebelum program dilaksanakan (misalnya bantuan,
penyuluhan, kebijakan harga, atau fasilitas)?
3. Apakah penyuluh pertanian sudah aktif mendampingi atau
memberikan bimbingan kepada petani sebelum ada Sekolah
Lapang?
4. Seberapa
sering
penyuluh
datang
ke
lapangan
atau
berinteraksi dengan petani pada waktu itu?
5. Bagaimana
kemampuan
dan
cara
penyuluh
dalam
memberikan solusi terhadap masalah pertanian sebelum
program berjalan?
6. Menurut Bapak/Ibu, apakah jumlah dan kualitas penyuluh
sudah mencukupi untuk membantu petani saat itu?
44
7. Bagaimana hubungan antara petani dengan penyuluh atau
pihak pemerintah sebelum adanya Sekolah Lapang, apakah
komunikasi berjalan baik atau masih kurang?
8. Menurut Bapak/Ibu, apa yang kurang dari pemerintah atau
penyuluh pada masa sebelum program, dan apa yang
sebaiknya diperbaiki?
B. Evaluasi Process
a) Mekanisme kegiatan
1. Bisa Bapak/Ibu ceritakan bagaimana proses kegiatan
Sekolah Lapang dilakukan?
2. Bagaimana cara penyuluh atau fasilitator menyampaikan
materi kepada peserta? Apakah mudah dipahami?
3. Menurut Bapak/Ibu, apakah metode pembelajaran yang
digunakan (diskusi, demonstrasi, praktik, atau kunjungan
lapang) sudah efektif?
4. Bagaimana keterlibatan peserta dalam kegiatan, apakah
semua petani aktif bertanya dan berdiskusi?
5. Apakah penyuluh memberi kesempatan bagi petani untuk
menyampaikan pengalaman atau masalah di lapangan?
6. Menurut Bapak/Ibu, bagaimana kualitas materi yang
disampaikan, apakah sesuai dengan kebutuhan petani
bawang merah di Manyaran?
7. Bagaimana kualitas interaksi antara penyuluh dan peserta
(misalnya dalam hal komunikasi, kejelasan penjelasan, dan
sikap penyuluh)?
8. Menurut Bapak/Ibu, bagian dari kegiatan apa yang paling
bermanfaat dan mengubah cara bertani Bapak/Ibu?
b) Pelaksanaan kegiatan
1. Apakah jadwal kegiatan Sekolah Lapang disampaikan
dengan jelas kepada peserta di awal?
45
2. Bagaimana
ketepatan
waktu
pelaksanaan
kegiatan,
apakah sesuai dengan jadwal yang direncanakan?
3. Bagaimana durasi setiap pertemuan, apakah cukup untuk
memahami materi yang diberikan?
4. Apakah pernah ada kegiatan yang dibatalkan, ditunda,
atau tidak berjalan sesuai rencana? Jika ya, mengapa?
5. Menurut Bapak/Ibu, frekuensi kegiatan yang ada sudah
cukup, atau sebaiknya lebih sering?
6. Bagaimana kehadiran dan partisipasi petani lain selama
kegiatan berlangsung?
7. Menurut Bapak/Ibu, bagaimana sebaiknya pengaturan
waktu kegiatan Sekolah Lapang agar lebih efektif di masa
depan?
C. Evaluasi Product
a) Pengetahuan
1. Apa saja hal baru yang Bapak/Ibu pelajari dari kegiatan
Sekolah Lapang tentang budidaya bawang merah?
2. Apakah materi yang disampaikan mudah dipahami?
3. Bagaimana pengetahuan Bapak/Ibu sekarang tentang
teknik budidaya bawang merah dibandingkan sebelum ikut
Sekolah Lapang?
4. Apakah pengetahuan yang didapat dari Sekolah Lapang
membantu Bapak/Ibu dalam pengambilan keputusan
pertanian (misalnya waktu tanam, pemupukan, atau
panen)?
b) Sikap
1.
Setelah mengikuti Sekolah Lapang, bagaimana pandangan
Bapak/Ibu terhadap penggunaan teknologi atau inovasi
baru dalam pertanian?
2.
Apakah Bapak/Ibu menjadi lebih terbuka untuk mencoba
cara-cara baru dalam budidaya bawang merah?
46
3.
Apakah Bapak/Ibu merasa lebih percaya diri dalam
mengelola usaha tani bawang merah sekarang?
4.
Bagaimana pandangan Bapak/Ibu terhadap kerja sama
dengan petani lain setelah kegiatan Sekolah Lapang
(misalnya berbagi pengalaman, gotong royong, belajar
bersama)?
5.
Menurut Bapak/Ibu, apakah program ini menumbuhkan
sikap peduli terhadap kelestarian tanah dan lingkungan?
c) Keterampilan
1.
Setelah mengikuti kegiatan, keterampilan apa yang paling
Bapak/Ibu rasakan meningkat? (contoh: pengolahan lahan,
pemilihan
benih,
pemupukan,
pengendalian
hama,
mempraktikkan
teknik
penentuan waktu panen)
2.
Apakah
Bapak/Ibu
mampu
budidaya yang diajarkan secara mandiri di lahan sendiri?
3.
Apakah
pelatihan
praktik
di
lapangan
membantu
Bapak/Ibu memahami cara kerja yang benar?
4.
Bagaimana kemampuan Bapak/Ibu dalam menggunakan
alat atau sarana pertanian setelah mengikuti program?
5.
Apakah keterampilan baru tersebut berdampak pada
peningkatan hasil atau efisiensi kerja di lahan?
d) Perilaku
1.
Apakah Bapak/Ibu menerapkan teknik budidaya yang
diajarkan dalam Sekolah Lapang di lahan sendiri?
2.
Praktik apa saja yang Bapak/Ibu ubah setelah mengikuti
kegiatan (misalnya penggunaan pupuk, jarak tanam,
pengairan, pengendalian hama)?
3.
Apakah ada kebiasaan lama yang ditinggalkan karena
sudah tahu cara yang lebih baik?
4.
Apakah Bapak/Ibu membagikan ilmu atau pengalaman
hasil dari Sekolah Lapang kepada petani lain di sekitar?
47
5.
Menurut Bapak/Ibu, perubahan perilaku apa yang paling
berdampak positif bagi usaha tani Bapak/Ibu?
D. Outcome (Keberlanjutan praktik budidaya)
1. Apakah praktik budidaya saat SL Bapak/Ibu pertahankan hingga
saat ini, atau hanya sementara setelah pelatihan? Mengapa?
2. Bagaimana cara Bapak/Ibu mengolah lahan saat ini, apakah
sama seperti yang diajarkan di Sekolah Lapang?
3. Apakah Bapak/Ibu masih menggunakan jenis atau varietas benih
yang direkomendasikan di Sekolah Lapang?
4. Apakah Bapak/Ibu melakukan perlakuan benih seperti yang
diajarkan (perendaman dengan PGPR)?
5. Apakah Bapak/Ibu masih menerapkan jarak tanam dan pola
tanam seperti yang diajarkan di Sekolah Lapang?
6. Bagaimana cara Bapak/Ibu memberikan pupuk saat ini, apakah
masih mengikuti petunjuk dari Sekolah Lapang (jenis, dosis, dan
waktu pemberian)?
7. Apakah Bapak/Ibu masih menerapkan pengendalian hama
terpadu (PHT) seperti yang diajarkan dalam Sekolah Lapang?
(penggunaan jamur trichoderma)
8. Apakah Bapak/Ibu masih menerapkan cara perawatan yang
diajarkan
di
Sekolah
Lapang?
(pengairan,
penyiangan,
pembuatan asam amino)
9. Apakah cara panen masih sesuai dengan anjuran SL?
10. Apakah hasil panen lebih baik dibandingkan sebelum mengikuti
SL?
11. Apa manfaat yang Bapak/Ibu rasakan setelah menerapkan
teknologi inovasi pasca SL? Apakah ada kendala dalam
mempertahankan cara budidaya yang diajarkan di SL?
12. Jika tidak lagi menggunakan cara dari SL, apa alasan Bapak/Ibu
tetap menggunakan cara biasa?
48
I.
Informan : PPL Kecamatan Manyaran Waktu Wawancara :
Hari :
Tanggal :
Nama :
Jenis kelamin :
Umur :
Alamat :
II.
Daftar Pertanyaan
A. Evaluasi Context
a) Kebutuhan petani
1. Menurut Bapak/Ibu, apa saja masalah utama yang dialami
petani bawang merah di wilayah ini sebelum adanya Sekolah
Lapang?
2. Praktik budidaya mana yang paling dibutuhkan oleh petani
(misalnya pengolahan lahan, pemupukan, pengendalian
hama, pascapanen)?
3. Apakah petani memiliki pengalaman atau pengetahuan
sebelumnya mengenai praktik budidaya bawang merah?
4. Bagaimana Bapak/Ibu menilai tingkat kesiapan petani dalam
menerima pelatihan atau inovasi baru?
5. Apakah ada kebutuhan khusus yang berbeda antar kelompok
petani (misalnya usia, pengalaman)
b) Tujuan program
1. Apa tujuan utama dari program Sekolah Lapang bawang
merah di wilayah ini?
2. Bagaimana tujuan program SL disesuaikan dengan kebutuhan
petani yang telah Bapak/Ibu identifikasi?
3. Apakah materi pelatihan yang diberikan mencakup semua
aspek yang paling dibutuhkan petani?
4. Apakah ada tujuan atau kegiatan dalam program yang
menurut Bapak/Ibu kurang relevan dengan kebutuhan petani?
49
5. Bagaimana Bapak/Ibu menilai keberhasilan program SL
dalam memenuhi kebutuhan petani sampai saat ini?
B. Evaluasi Input
a) Sumber daya pelaksana
1. Bagaimana kondisi petani sasaran sebelum program SL
dimulai (misalnya pengetahuan, keterampilan, pengalaman
bertani bawang merah)?
2. Apakah petani memiliki motivasi dan kesiapan mengikuti
pelatihan?
3. Apakah ada perbedaan kemampuan atau pengalaman antar
kelompok petani yang perlu diperhatikan?
4. Bagaimana Bapak/Ibu menilai kesiapan petani dalam
menerapkan
praktik
budidaya
bawang
merah
yang
diajarkan?
5. Apakah ada faktor yang dapat mempengaruhi partisipasi
dan keberhasilan petani dalam SL (misalnya usia,
pendidikan, luas lahan)?
b) Sumber daya pendukung
1. Bagaimana kesiapan Bapak/Ibu dan tim penyuluh sebelum
melaksanakan
program
SL
(misalnya
pengalaman,
kompetensi, jumlah penyuluh)?
2. Bagaimana koordinasi antara penyuluh dengan pemerintah
daerah atau instansi terkait sebelum program dimulai?
3. Apakah ada pelatihan atau persiapan khusus yang diterima
penyuluh sebelum SL?
c) Sarana dan prasarana
1. Apa saja sarana dan prasarana yang tersedia untuk
mendukung SL (misalnya lahan praktik, alat pertanian,
pupuk, media pelatihan)?
2. Apakah sarana/prasarana tersebut memadai untuk mencapai
tujuan program?
50
3. Apakah ada kendala terkait sarana/prasarana sebelum dan
selama program berlangsung?
4. Bagaimana
Bapak/Ibu
mengatasi
keterbatasan
sarana/prasarana tersebut?
5. Apakah sarana/prasarana yang ada mendukung keberhasilan
petani dalam menerapkan praktik SL?
d) Kualitas bantuan
1. Bagaimana cara Bapak/Ibu memberikan bantuan atau
bimbingan kepada petani selama program?
2. Bagaimana Bapak/Ibu menilai respons petani terhadap
bantuan yang diberikan?
3. Apakah ada upaya untuk meningkatkan kualitas bantuan?
C. Evaluasi Process
a) Rencana kegiatan
1. Bagaimana Bapak/Ibu merencanakan kegiatan Sekolah
Lapang (misalnya jumlah pertemuan, topik, urutan praktik
budidaya)?
2. Apakah rencana kegiatan disusun berdasarkan kebutuhan
petani yang sudah dianalisis sebelumnya?
3. Bagaimana penentuan lokasi dan jadwal pertemuan
program?
4. Apakah ada pedoman tertulis atau modul yang digunakan
selama perencanaan?
b) Mekanisme kegiatan
1.
Bagaimana alur pelaksanaan kegiatan SL dari awal hingga
akhir pertemuan?
2.
Bagaimana Bapak/Ibu memastikan semua petani terlibat
aktif dalam kegiatan?
3.
Apakah materi dan metode yang digunakan mudah
dipahami dan diterapkan oleh petani?
51
4.
Bagaimana Bapak/Ibu menilai kualitas interaksi dan
komunikasi selama pertemuan?
c) Pelaksanaan program
1. Berapa frekuensi pertemuan SL yang dilaksanakan, dan
apakah sesuai dengan rencana awal?
2. Apakah durasi tiap pertemuan cukup untuk menyampaikan
materi dan praktik budidaya?
3. Bagaimana Bapak/Ibu mengatur waktu agar semua
kegiatan SL dapat dilaksanakan dengan efektif?
4. Apakah ada kendala yang mempengaruhi pelaksanaan
sesuai jadwal (misalnya cuaca, ketersediaan petani,
alat/prasarana, dan jika terjadi hambatan bagaimana
mengatasinya?
d) Evaluasi kegiatan
1. Apakah setiap pertemuan dicatat atau dilaporkan secara
resmi? Bagaimana bentuk pelaporannya?
2. Bagaimana Bapak/Ibu menilai hasil setiap pertemuan?
3. Apakah ada tindak lanjut dari hasil evaluasi pertemuan
untuk pertemuan berikutnya?
4. Sejauh mana laporan dan evaluasi kegiatan digunakan
untuk meningkatkan kualitas program SL?
52
I.
Informan : Koordinator & Staf Bidang Penyuluhan Dispertan Wonogiri
Waktu Wawancara :
Hari :
Tanggal :
Nama :
Jenis kelamin :
Umur :
Alamat :
II.
Daftar Pertanyaan
A. Evaluasi Input
a) Sumber daya pendukung
1. Bagaimana kondisi dan kesiapan SDM dari Dinas Pertanian
dan PPL sebelum program SL dimulai?
2. Apakah jumlah PPL dan staf Dinas sudah memadai untuk
membimbing petani?
3. Bagaimana Bapak/Ibu menilai kompetensi teknis dan
pengalaman PPL dalam budidaya bawang merah?
4. Apakah ada pelatihan atau persiapan khusus bagi PPL
sebelum program SL?
5. Bagaimana koordinasi antara Dinas Pertanian, PPL, dan
petani sebelum program dimulai?
b) Sarana dan prasarana
1. Apa saja sarana dan prasarana yang disediakan oleh Dinas
untuk mendukung program SL?
2. Apakah sarana dan prasarana tersebut memadai untuk
mencapai tujuan program?
3. Bagaimana distribusi dan ketersediaan sarana/prasarana di
lapangan?
4. Apakah
ada
kendala
terkait
mempengaruhi pelaksanaan SL?
sarana/prasarana
yang
53
5. Bagaimana Bapak/Ibu mengatasi keterbatasan sarana dan
prasarana tersebut?
c) Kualitas bantuan
1. Bagaimana mekanisme bantuan yang diberikan oleh Dinas
dan PPL kepada petani selama SL?
2. Apakah bantuan yang diberikan tepat sasaran?
3. Bagaimana frekuensi dan intensitas pendampingan dari PPL
kepada petani?
4. Apakah ada upaya untuk meningkatkan kualitas bantuan,
misalnya pelatihan lanjutan, demonstrasi lapangan, atau
penyediaan media tambahan?
Download