Mata Kuliah : Metode Penelitian Materi : Sifat Penelitian (Pertemuan 2 dan 3) Outcome : Mahasiswa mampu memahami hakikat penelitian dan berpikir ilmiah, dan metode ilmiah Mahasiswa mampu memahami hakikat penelitian dan berpikir ilmiah, dan metode ilmiah 1. SIFAT PENELITIAN Materi dalam bab ini adalah : ✓ Beberapa Contoh Masalah Pendidikan ✓ Mengapa Penelitian Bernilai ✓ Cara Memperoleh Pengetahuan ✓ Tipe penelitian ✓ Jenis Penelitian Umum ✓ Analisis Penelitian ✓ Tinjauan Singkat Proses Penelitian Setelah mempelajari bab ini, harapanya mahasiswa dapat : 1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah "Penelitian pendidikan" dan memberikan dua contoh penelitian tentang jenis topik pendidikan 2. Menjelaskan mengapa pengetahuan yang didapat dengan penelitian ilmiah bisa bermanfaat bagi pendidik. 3. Menyebutkan dan memberi contoh empat cara memperoleh pengetahuan selain metode yang digunakan oleh ilmuwan. 4. Menjelaskan makna dari istilah “metode saintifik” 5. Menyebutkan contoh dari 6 tipe metodologi penelitian yang digunakan peneliti dibidang pendidikan 6. Menjelaskan dengan singkat tentang riset kritis 7. Menjeaskan perbedaan type penelitian antara deskriptif, asosiasi dan intervensi 8. Menjelaskan perbedaan antara penelitian dasar dan terapan 9. Menjelaskan perbedaan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif 10. Menjelaskan makna tentang mix-method 11. Menjelaskan tentang komponen dasar yang terlibat dalam proses penelitian. ✓ Beberapa Contoh Masalah Pendidikan ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Seorang guru pendidikan jasmani Sekolah Menengah Atas (SMA) di Semarang ingin menanamkan fair play kepada siswanya. Seorang guru pendidikan jasmani sekolah bertanya-tanya apakah model pembelajaran yang dimodifikasi dengan aktivitas fisik dapat mengatasi perilaku menyimpang siswanya. Seorang guru pendidikan jasmani di SMP ingin mengetahui apakah kemampuan dalam satu cabang olahraga berkorelasi dengan kemampuan dalam cabang olahraga lainnya. Dengan maraknya penggunaan gedget, ada indikasi menurunnya tingkat aktivitas fisik. Guru jasmani ingin meningkatkan gaya hidup aktif siswanya melalui pembelajaran penjas . Guru pendidikan jasmani, bertanya-tanya bagaimana dia bisa berkontribusi berupa penyediaan aktivitas fisik dalam menyembuhkan siswa yang autis. Contoh di atas, contoh jenis pertanyaan atau kekhawatiran yang khas yang dihadapi banyak dari kita dalam pendidikan saat ini. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa para guru pendidikan jasmani, orang tua atau pihak terkait lainnya dan siswa terus-menerus membutuhkan informasi untuk melakukan pekerjaan mereka. Sebagai contoh guru penjas perlu mengetahui jenis bahan, strategi, dan kegiatan apa yang paling membantu siswa belajar secara maksimal. Guru BK perlu mengetahui masalah apa yang menghambat atau mencegah siswa dalam belajar dan bagaimana membantu mereka dengan masalah ini. Administrator sekolah perlu tahu bagaimana menyediakan lingkungan untuk pembelajaran yang menyenangkan dan produktif. Orang tua perlu tahu bagaimana membantu anak-anak mereka agar berhasil di sekolah. Siswa perlu tahu cara belajar yang maksimal untuk mengembangkan potensi mereka. ✓ Mengapa Penelitian Bernilai Bagaimana para pendidik, orang tua, dan siswa dapat memperoleh informasi yang mereka butuhkan? Banyak cara untuk mendapatkan informasi. Seseorang dapat berkonsultasi dengan para ahli, mengulas buku dan artikel, bertanya atau mengamati rekan kerja dengan pengalaman yang relevan, memeriksa pengalaman masa lalu seseorang, atau bahkan mengandalkan intuisi. Semua pendekatan tersebut mungkin memberikan informasi apa yang dibutuhkan, akan tetapi tetapi jawaban yang mereka berikan tidak selalu dapat diandalkan. Para ahli mungkin bisa salah; dokumen sumber mungkin tidak atau kurang mengandung unsur nilai; rekan kerja mungkin tidak memiliki pengalaman dalam masalah ini; dan pengalaman atau intuisi sendiri mungkin tidak relevan atau tidak tepat. Inilah sebabnya mengapa pengetahuan tentang metodologi penelitian ilmiah bisa bernilai. Metode ilmiah memberi kita cara lain untuk memperoleh informasi-informasi yang akurat dan dapat diandalkan. Karena itu, berikut kita akan coba bandingkan dengan beberapa cara untuk memperoleh informasi akurat atau pengatahuan. ✓ Cara Memperoleh Pengetahuan 1. Pengalaman Ketika kita melihat, mendengar, mencium, merasakan, dan menyentuh itu semua dapat menjadi sumber informasi. Informasi yang diambil dari lingkungan sekitar melalui indera adalah cara paling cepat untuk mengetahui sesuatu. Dengan menggunakan pengalaman indrawi sebagai sarana untuk memperoleh informasi, guru pendidikan jasmani misalnya, dapat memperoleh informasi sederhana dengan melihat dan mendengar apa yang terjadi selama satu atau dua minggu dalam pembelajaran penjas dikelasnya. Pengetahuan yang bersumber dari pengalaman indrawi disebut pengetahan sensorik. Pengetahuan sensorik tersebut dapat diperbaiki agar lebih akurat. Misalnya dengan melihat suhu pada termometer, kita dapat memperbaiki pengetahuan kita tentang panasnya suhu pada suatu ruangan; dengan stopwatch kita dapat lebih akurat melihat kecepatan lari siswa; dengan pedometer kita dapat mengukur dengan akurat tingkat aktivitas fisik siswa dalam pembelajaran penjas; sama halnya, bau, rasa, dan sentuhan semua dapat ditingkatkan akurasinya. Banyak hasil penelitian terkait “persepsi inderawi” ini yang menyebutkan bahwa data sesnsori tidak selalu tepat sepenuhnya. Analaoginya seperti ini; mata kita sering kali melihat ada genangan air di sebuah jalan aspal yang panas, padahal itu hanyalah fatamorgana; lidah kita sering salah membedakan mana daging ayam dan mana daging kelinci, kulit kita tidak bisa akurat merasakan sebuah suhu ruangan, apalagi terkait pengetahuan yang bersifat psikologi manuasia. Pengetahuan sensorik tidak dapat diandalkan; karena tidak lengkap dan tidak akurat. Karena sumbernya cenderung hanya dari persepsi atau pendangan pribadi, tidak mencakup pengetahuan sebagian besar atau semua manusia. Oleh karena itu untuk mendapatkan pengetahuan yang handal, kita tidak bisa mengandalkan indera kita sendiri tetapi harus memeriksa dari sumber-sumber lain. 2. Pendapat Orang Lain Mungkin pendapat orang lain dapat menjadi salah satu sumber informasi. Kita tidak hanya dapat menyampaikan pendapat kepada orang lain, tetapi juga dapat memeriksa keakuratan dan keaslian pendapat kita dengan mendengarkan pendapat orang lain, misalkan; Apakah kopi ini terasa pas manisnya? Bukankah itu Budi ada di sana? Apakah Anda mendengar seseorang menangis minta tolong? Baunya seperti kasturi, bukan? Dan seterusnya. Dengan meminta pendapat orang lain tentang apa yang kita lakukan, dapat lebih efektif mengelola hidup kita dengan berfokus pada apa yang benar. Sebagai contoh guru pendidikan jasmani di sebuah sekolah, dapat bertanya, meminta pendapat kepada rekan-rekannya apakah mengajar lebih efektif dengan pendekatan taktik atau teknik dalam materi sepak bola. Menyelesaikan masalah dengan pengetahuan seperti itu bisa jadi salah juga. Menyimpulkan pendapat dari mayoritas tidak menjamin kebenaran. Ibarat teman-teman kita mungkin salah tentang dugaan kehadiran mobil yang mendekat atau menjauh ketika mendengar suara deru mobil. Dua kelompok saksi mata yang melihat kecelakaan mungkin tidak setuju dengan pengemudi yang disalahkan. Seorang guru penjas berpendapat bahwa pembelajaran teknik lebih baik dari pada taktik, sedangkan guru penjas yang lain berpendapat sebaliknya. Oleh karena itu, kita perlu mempertimbangkan beberapa cara tambahan untuk mendapatkan pengetahuan yang handal. 3. Pendapat Ahli Ada orang-orang tertentu yang dapat dijadikan tempat konsultasi. Misalnya para pakar yang ahli di bidangnya, para praktisi, orang-orang yang tahu banyak tentang apa yang kita minati dan sebagainya. Seseorang dengan gelar doktor di bidang ekonomi tahu lebih banyak daripada kebanyakan dari kita tentang ekonomi. Kita tentu akan sangat percaya dan mengikuti saran dokter spesialis bukan? Pendapat ahli dapat menjadi sumber untuk memperoleh informasi. Misal seorang guru pendidikan jasmani di sekolah sebelum melakukan pemanduan bakat kepada siswanya dapat bertanya kepada pakar yang terkenal dalam bidang pendidikan jasmani apakah kemampuan dalam satu olahraga berkorelasi dengan kemampuan yang lain. Para pakar atau ahli adalah manusia, yang mungkin bisa salah. Pengetahuan para pakar atau ahli tentunya punya keterbatasan berdasarkan pada apa yang telah mereka pelajari dan dari pengalaman mereka sendiri. Pada umunya tidak semua hal para pakar atau ahli pahami dengan sempurna mereka hanya mempelajari atau berpengalaman dalam bidang tertentu saja, bahkan seorang ahli terkadang tidak akan bisa sepenuhnya yakin atas apa yang mereka tahu. 4. Logika Secara umum kita mampu berpikir logis. Karunia kecerdasan menjadikan kita mampu untuk memikirkan sesuatu, mengembangkan jenis pengetahuan baru dan seterusnya. Contoh silogisme yang umum dikenal: Semua manusia fana. Sally adalah manusia. Karena itu, Sally adalah makhluk fana. Untuk menegaskan pernyataan pertama, kita hanya perlu menggeneralisasi dari pengalaman kita tentang kematian individu. Kita memahami siapapun yang akan mati dan hilang atau fana, jadi di nyatakan bahwa semua manusia adalah manusia yang fana. Pernyataan kedua (disebut premis minor didasarkan sepenuhnya pada pengalaman indrawi. Misal dicontohkan pada kalimat diatas, maknanya bertemu dengan Sally dan mengklasifikasikannya sebagai manusia. Maka kita tidak harus bergantung pada indera kita, untuk mengetahui bahwa pernyataan ketiga (disebut kesimpulan) harus benar. Logika memberi tahu kita apa adanya. Selama dua pernyataan pertama benar, pernyataan ketiga akan benar. Contoh lain, seorang guru yang diminta untuk memberi saran kepada seorang siswa tentang cara meningkatkan hasil belajarnya. Dengan menggunakan logika, ia mungkin menyajikan argumen berikut: Siswa yang mencatat secara teratur di kelas menemukan bahwa nilai mereka meningkat. Jika Anda membuat catatan secara teratur, maka nilai Anda juga akan meningkat. Tentu saja ini bukan alasan logis, tetapi cukup memberi Anda gambaran tentang cara lain untuk mencari pengetahuan. Namun, ada hal penting mendasar dalam penalaran logis: Kesimpulannya dijamin benar hanya ketika premis mayor dan minor dari silogisme keduanya benar. Jika salah satu premisnya salah, kesimpulannya mungkin benar atau mungkin bisa salah.* *Dalam contoh pembuatan catatan, premis utama (semua siswa yang mencatat secara teratur di kelas meningkatkan nilai mereka) mungkin tidak benar. Masih ada cara lain untuk mendapat pengetahuan yang dapat digunakan yaitu : metode ilmiah. 5. Metode Ilmiah Ketika banyak orang mendengar kata sains (ilmiah), yang terpikir oleh kebanyakan orang adalah hal-hal seperti jas lab putih, laboratorium, tabung reaksi, atau eksplorasi ruang angkasa. Ilmuwan (scientists) adalah orang-orang banyak pengetahunnya, dan istilah sains menunjukkan sebuah inti pengetahuan yang luar biasa. Namun, yang dibahas disini adalah sains sebagai metode ilmiah untuk memperoleh pengetahuan. Metode ilmiah adalah hal yang penting bagi para peneliti. Apa yang dimaksud metode ilmiah? Pada dasarnya metode ini dilakukan dengan menguji ide-ide di area publik. Hampir semua dari manusia mampu menciptakan koneksi yaitu melihat hubungan dan asosiasi dari informasi yang didapatkan. Sebagian besar dari kita kemudian mengidentifikasi hubungan-hubungan ini sebagai “fakta”. Kita dapat berspekulasi atau menduga, misalnya; bahwa siswa mungkin kurang aktif di kelas ketika kita memberi materi daripada ketika kita melibatkan mereka dalam diskusi. Seorang dokter memperkirakan bahwa orang yang tidur antara 6 sampai 8 jam setiap malam akan lebih sehat daripada mereka yang tidur kurang dari itu. Seorang guru penjas menduga bahwa siswa saat ini menghabiskan sebagian besar waktu luang untuk gedget-nya dari pada untuk melakukan aktivitas fisik. Dari berbagai spekulasi atau dugaan tersebut, kita tidak sepenuhnya yakin apakah hal tersebut benar, karena kita hanya sebatas menduga, atau dalam bahasa ilmiah disebut hipotesis. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya adalah menguji setiap dugaan tersebut dengan seksama untuk melihat apakah dugaan tersebut benar atau tidak. Untuk mengetahui kebenaran dugaan tersebut dilakukan penyelidikan atau investigasi secara ilmiah. Kita dapat mengamati dengan cermat dan sistematis dengan alat ukur yang sesuai; seberapa besar perhatian siswa kita ketika kita memberi materi dan ketika kita mengadakan diskusi kelas. Dokter dapat menghitung jumlah jam tidur individu-individu, kemudian mengukur dan membandingkan tingkat kesehatan mereka. Guru penjas dapat membandingkan aktivitas diwaktu luang antara siswa yang memiliki gedget dan yang tidak. Hasil investigasi atau penelitian yang dilakukan tersebut, belum menjadi sebuah ilmu pengetahuan jika belum dipublikasikan. Hal ini berarti menuntut bahwa semua aspek investigasi atau penelitian harus dijelaskan detail sebaik mungkin sehingga penelitian yang sama dapat diulangi oleh siapa saja yang mempertanyakan hasil — dengan syarat, orang yang akan meneliti ulang memiliki kompetensi dan sumber daya yang diperlukan. Prosedur, dugaan dan kesimpulan tidak menjadi sebuah pengetahuan ilmiah jika tidak dipublikasikan. Maka, tidak ada rahasia tentang bagaimana para ilmuwan bekerja dalam mencari informasi atau pengetahuan. Kita dapat melanjutkan cara tersebut ketika kita menemui “masalah-masalah” untuk dapat diselesaikan dengan penelitian. Prosedurprosedur ilmiah tersebut dapat diringkas menjadi lima langkah sebagai berikut: Pertama, ada masalah — secara sederhana masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Masalah juga disebut sebagai sesuatu yang mengganggu dari kehidupan normal atau yang diinginkan. Bagi kebanyakan dari yang bukan peneliti, itu mungkin bukan merupakan masalah. Contohnya, jika siswa tidak atau kurang aktif di kelas saat pembelajaran penjas. Hal ini mungkin bukan suatu masalah bagi bidang pengetahuan seseorang, sehingga dianggap sebuah hal yang biasa. Namun bagi peneliti ketidakaktifan siswa tersebut merupakan sebuah masalah yang harus dicari solusinya dan diselesaikan. Kedua, langkah selanjutnya mendefinisikan lebih spesifik masalah atau pertanyaan yang harus dijawab, untuk menjadi lebih jelas tentang apa tujuan dari penelitian yang akan dilaksanakan. Sebagai contoh, kita harus memikirkan apa yang kita maksud dengan ‘keaktifan siswa’ dan mengapa kita menganggapnya tidak atau kurang aktif. Ketiga, berupaya menentukan jenis informasi apa yang akan menyelesaikan masalah. Secara umum, ada dua hal: 1) mempelajari apa yang sudah diketahui atau 2) melakukan sebuah penelitian. Pertama adalah prasyarat untuk yang kedua; kedua adalah fokus utama dari teks ini. Dalam persiapan, kita harus terbiasa dengan berbagai kemungkinan untuk memperoleh informasi, sehingga dapat memperoleh informasi langsung tentang masalah tersebut. Misalnya, guru memberikan kuesioner kepada siswa atau meminta seseorang untuk mengamati selama pembelajaran di kelas selama pembelajaran. Menjabarkan detail pengumpulan informasi adalah aspek utama dari perencanaan penelitian. Keempat, memutuskan kemungkinan seluas mungkin, bagaimana kita akan mengolah informasi yang diperoleh. Tidak jarang, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian, kita tidak dapat memahami semua informasi yang kita miliki (kadangkadang disebut sebagai informasi yang sangat umum atau bisa jadi dianggap berlebihan). Peneliti pasti akan menghadapi hal ini, begitu juga guru dalam contoh kasus ini, kecuali peneliti (guru) telah menemukan cara untuk menggunakan dan mengolah kuesioner dan informasi pengamatan yang diperoleh. Kelima, setelah informasi dikumpulkan dan dianalisis, kemudian ditafsirkan. Misalkan dari contoh kasus diatas, guru (peneliti) dapat menyimpulkan bahwa siswanya kurang aktif karena mereka tidak menyukai materi pembelajaran tertentu, tetapi mungkin bisa jadi peneliti salah menafsirkan informasi tersebut. Dalam banyak contoh penelitian, ada beberapa dugaan yang mungkin dari suatu masalah atau fenomena. Hal ini disebut hipotesis. Beberapa peneliti menyatakan hipotesis (misalnya., "Siswa kurang aktif selama materi daripada saat diskusi atau dalam pembelajaran penjas, siswa lebih aktif bergerak ketika materi dikemas dengan permainan dari pada dengan drill ") muncul diawal studi. Dalam kasus lain, hipotesis muncul saat penelitian berlangsung, kadang-kadang bahkan baru muncul ketika informasi yang telah dikumpulkan dianalisis dan ditafsirkan. Hal penting harus diperhatikan dari penelitian ilmiah adalah : kebebasan berpikir dan prosedur yang berlaku secara umum. Pada setiap langkah penelitian, peneliti harus terbuka dan terpublikasi tentang fokus masalah, mengumpulkan dan menganalisis informasi, dan menafsirkan hasil. Proses penelitian bukan permainan pribadi atau internal sekelompok orang. Nilai penelitian ilmiah adalah dapat direplikasi (diulang) oleh siapa pun yang tertarik untuk melakukannya. * *Ini tidak mengisyaratkan bahwa mereplikasi sebuah penelitian adalah hal gampang/sederhana. Namun memerlukan sumber daya dan pelatihan bahkan mungkin imposible untuk mengulangi penelitian apa pun dengan cara yang sama seperti yang dilakukan seperti semula. Namun, prinsip penting adalah bukti publikasi (yang bertentangan dengan pengalaman pribadi) adalah kriteria untuk kepercayaan. Maka urutan umum dari metode ilmiah adalah sebagai berikut: Identifikasi masalah atau pertanyaan Klarifikasi masalah Menentukan informasi yang diperlukan dan bagaimana cara mendapatkannya. Mengelola informasi. Menafsirkan/menginterpretasi hasil Inti dari semua penelitian berasal dari rasa ingin tahu — keinginan untuk menemukan bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi, termasuk mengapa orang melakukan hal- hal yang mereka sesuatu, serta apakah cara tertentu dalam melakukan sesuatu dapat lebih baik daripada yang lain. Gambar.1 Ilustrasi Cara Memperoleh Pengetahuan ✓ JENIS PENELITIAN Dalam semua aktivitas hidup kita tidak lepas dari beberapa karakteristik penelitian, walaupun mungkin kita tidak menyadarinya. Misalnya saat mencoba metode pengajaran baru, materi baru, mempelajari buku pelajaran baru dan lain-lain. Membandingkan apa yang dilakukan tahun ini dengan apa yang dilakukan tahun lalu. Guru sering bertanya kepada siswa dan rekan guru lainnya, pendapat mereka tentang kegiatan sekolah dan kelas. Kepala sekolah mewawancarai siswa, guru, dan orang tua tentang kegiatan sekolah. Seorang dekan mengadakan pertemuan rutin untuk mengukur perasaan anggota fakultas tentang berbagai masalah. Administrator minta data kepada dewan sekolah, administrator sekolah meminta data kepada guru, guru bertanya siswa dan satu sama lain. Kita mengamati, kita menganalisis, kita mempertanyakan, kita berhipotesis, kita mengevaluasi. Tetapi jarang kita melakukan hal-hal ini secara sistematis. Jarang kita mengamati dalam kondisi terprogram. Jarang instrumen kita akurat dan dapat diandalkan. Jarang kita menggunakan berbagai teknik penelitian dan metodologi yang kita miliki. Secara garis besar berdasarkan tujuannya dibedakan menjadi dua yaitu penelitian dasar (basic research) dan penelitian Terapan (applied research). Penelitian dasar (basic research) disebut juga penelitian murni (pure research) atau penelitian pokok (fundamental research) adalah penelitian yang diperuntukan bagi pengembangan suatu ilmu pengetahuan serta diarahkan pada pengembangan teoriteori yang ada atau menemukan teori baru. Peneliti yang melakukan penelitian dasar memiliki tujuan mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa memikirkan pemanfaatan secara langsung dari hasil penelitian tersebut. Penelitian dasar justru memberikan sumbangan besar terhadap pengembangan serta pengujian teoriteori yang akan mendasari penelitian terapan. Penelitian dasar lebih diarahkan untuk mengetahui, menjelaskan, dan memprediksikan fenomena-fenomena alam dan sosial. Hasil penelitian dasar mungkin belum mapu mengatasi secara langsung masalah namun dapat menajadikannya lebih baik. Tujuan penelitian dasar adalah untuk menambah pengetahun ilmiah dan hukum-hukum dalam kehidupan . Penelitian dasar dapat digeneralisisakan karena bersifat abstak dan umum. Penelitian dasar tidak secara langsung menyelesaikan masalah praktis melainkan dijadikan sebagai dasar dalam menyelesaikan masalah-masalah praktis. Dengan kata lain, hasil penelitian dasar dapat mempengaruhi kehidupan praktis. Contoh penelitian dasar yang terkait erat dengan bidang pendidikan misalnya penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan manusia terhadap hasil belajar. Hasil penelitian tersebut dapat dijadikan referensi dalam mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses pembelajaran Penelitian terapan dilakukan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan. Penelitian terapan hasilnya tidaklah untuk dipertahankan didepan pakar ataupun disimpan dalam perpustakaan melainkan harus diuji di dalam kenyataan yaitu impelementasinya harusnya dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tingkat kecermatan tidak boleh mempengaruhi pelaksanaan penelitan menjadi lamban karena banyak masalah yang membutuhkan penanganan secepatnya. Penelitian terapan dilakukan karena manusia membutuhkan solusi dari sebuah masalah yang dihadapi dimana adanya ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang terdapat dalam kondisi yang dihadapinya. Tanpa kebutuhan tersebut maka penelitian terapan tidak banyak manfaatnya karena kondisi sekarang banyak hal yang perlu disempurnakan agar kehidupan menjadi lebih baik. PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF Perbedaan lain melibatkan perbedaan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Meskipun kami akan membahas perbedaan mendasar antara kedua jenis penelitian ini secara lebih lengkap di Bab lain, kami akan memberikan tinjauan singkat di sini. Dalam pengertian yang paling sederhana, data kuantitatif terutama berurusan dengan angka, sedangkan data kualitatif terutama melibatkan kata-kata. Tapi ini terlalu sederhana dan terlalu singkat. Metode kuantitatif dan kualitatif berbeda dalam asumsi mereka tentang tujuan penelitian itu sendiri, metode yang digunakan oleh peneliti, jenis studi yang dilakukan, peran peneliti, dan sejauh mana generalisasi dimungkinkan. Peneliti kuantitatif biasanya mendasarkan pekerjaan mereka pada keyakinan bahwa fakta dan perasaan dapat dipisahkan, bahwa dunia adalah realitas tunggal yang terdiri dari fakta yang dapat ditemukan. Peran peneliti yang ideal dalam penelitian kuantitatif adalah peran pengamat yang terpisah, sedangkan peneliti kualitatif cenderung tenggelam dalam situasi di mana mereka melakukan penelitian. Studi prototipikal dalam tradisi kuantitatif adalah eksperimen; untuk peneliti kualitatif, ini adalah etnografi. Terakhir, sebagian besar peneliti kuantitatif ingin membuat generalisasi yang melampaui situasi langsung atau pengaturan tertentu. Peneliti kualitatif, di sisi lain, sering bahkan tidak mencoba untuk menggeneralisasi di luar situasi tertentu, tetapi dapat menyerahkannya kepada pembaca untuk menilai penerapan. Ketika mereka melakukan generalisasi, generalisasi mereka biasanya sangat terbatas cakupannya. Banyak perbedaan yang baru saja dijelaskan, tentu saja, tidak mutlak. Terkadang peneliti akan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam studi yang sama. Jenis penelitian ini disebut sebagai penelitian metode campuran. Keuntungannya adalah bahwa dengan menggunakan beberapa metode, para peneliti lebih mampu mengumpulkan dan menganalisis jenis data yang jauh lebih banyak dan berbeda daripada mereka hanya dapat menggunakan satu pendekatan saja. Studi metode campuran dapat menekankan satu pendekatan di atas yang lain atau memberikan masing-masing pendekatan dengan bobot yang hampir sama Pertimbangkan sebuah contoh. Seringkali dalam survei digunakan pertanyaan tertutup yang cocok untuk analisis kuantitatif (seperti melalui perhitungan persentase berbagai jenis respons), tetapi juga pertanyaan terbuka yang memungkinkan analisis kualitatif (seperti menindaklanjuti tanggapan yang diwawancarai yang diberikan kepada pertanyaan tertentu dengan pertanyaan lebih lanjut oleh peneliti untuk mendorong mereka untuk menguraikan dan menjelaskan pemikiran mereka). Studi di mana peneliti menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif menjadi lebih umum, seperti yang akan kita lihat di Bab selanjutnya. PENELITIAN EKSPERIMENTAL Penelitian eksperimental adalah metode ilmiah yang paling konklusif. Karena peneliti benar-benar membuat pengobatan yang berbeda dan kemudian mempelajari efeknya, hasil dari jenis penelitian ini cenderung mengarah pada interpretasi yang paling jelas. Misalkan seorang guru sejarah tertarik pada pertanyaan berikut: Bagaimana saya dapat secara efektif mengajarkan konsep-konsep penting (seperti sportifitas atau fair play) kepada siswa saya? Guru dapat membandingkan efektivitas dua atau lebih metode pengajaran (biasanya disebut variabel bebas) dalam mempromosikan pembelajaran konsep-konsep olahraga. Setelah secara sistematis menugaskan siswa ke bentuk kontras dari instruksi gerak (seperti inkuiri versus unit yang diprogram), guru dapat membandingkan efek dari metode kontras ini dengan menguji pengetahuan konseptual siswa. Pembelajaran siswa dalam setiap kelompok dapat dinilai dengan tes objektif atau alat pengukur lainnya. Jika skor rata-rata pada tes (biasanya disebut variabel dependen) berbeda, mereka akan memberikan beberapa gagasan tentang efektivitas berbagai metode. Grafik sederhana dapat diplot untuk menunjukkan hasilnya, seperti yang diilustrasikan dalam Gambar 2. Gambar 2 Contoh Hasil Penelitian Eksperimental: Pengaruh Metode Instruksi pada Skor Sportifitas Sebuah contoh data yang disajikan di seluruh teks ini, termasuk yang ditunjukkan pada Gambar 2, bersifat hipotetis. Ketika data aktual ditampilkan, sumber ditunjukkan. Tentu saja, kami ingin memiliki kontrol sebaik mungkin atas penugasan individu ke berbagai kelompok perlakuan, untuk memastikan bahwa kelompok tersebut sama. Tetapi di sebagian besar sekolah, tugas sistematis siswa untuk kelompok perlakuan sulit, bahkan tidak mungkin untuk dicapai. Meskipun demikian, perbandingan yang bermanfaat masih memungkinkan. Anda mungkin ingin membandingkan efek dari metode pengajaran yang berbeda (teknik versus taktis, misalnya) terhadap hasil belajar siswa dalam dua atau lebih kelas penjas di sekolah yang sama. Jika ada perbedaan antara kelas dalam hal apa yang diukur, hasil ini dapat menyarankan bagaimana kedua metode membandingkan, meskipun penyebab pasti perbedaan itu agak diragukan. Kami membahas jenis penelitian eksperimental ini di Bab selanjutnya. Bentuk lain dari penelitian eksperimental, sigle subject research (penelitian subjek tunggal), melibatkan studi intensif dari satu individu (atau kadang-kadang satu kelompok) dari waktu ke waktu. Desain ini sangat sesuai ketika mempelajari individu dengan karakteristik khusus melalui pengamatan langsung. Kami membahas jenis penelitian ini di bab lain. PENELITIAN KORELASI Jenis penelitian lain dilakukan untuk menentukan hubungan antara dua atau lebih variabel dan untuk mengeksplorasi implikasinya untuk sebab dan akibat; ini disebut penelitian korelasional. Jenis penelitian ini dapat membantu kita membuat prediksi yang lebih cerdas. Misalnya, dapatkah seorang guru penjas memprediksi apakah pembelajaran penjas di sekolah berdampak terhadap gaya hidup aktif siswa? Kita dapat membuat prediksi yang cukup akurat dalam hal ini, maka mungkin kita dapat menyarankan beberapa langkah korektif untuk digunakan guru untuk membantu individu-individu tersebut sehingga sejumlah besar "pembenci penjas" yang kurang baik tidak dilakukan lagi. Bagaimana kita melakukan ini? Pertama, kita perlu mengumpulkan berbagai jenis informasi tentang siswa yang kita terkait dengan aktivitas fisik mereka dalam kehidupan sehari-hari. Informasi tersebut dapat mencakup kinerja mereka pada sejumlah aktivitas terkait dengan fisik (seperti jenis olahraga, volumenya, intersitasnya), aktivitas jalan kaki mereka, kebiasaan dirumah mereka, kebiasaan nonton TV/aktivitas dengan degdet mereka, dan hal lain yang mungkin menunjukkan bagaimana siswa yang menjalani keseharian yang melibatkan fisik aktif maupun tidak aktif. Kita kemudian memeriksa data untuk melihat apakah ada hubungan antara beberapa atau semua karakteristik ini dan keberhasilan berikutnya dalam penjas. Mungkin mereka yang memliki kemampun lebih baik dalam kelas penjas memiliki tingkat aktivitas fisik yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. Informasi seperti itu dapat membantu kita memprediksi dengan lebih akurat kemungkinan dampak pembelajaran penjas. Bahkan mungkin dapat memberikan rekomendasi beberapa cara spesifik untuk membantu siswa belajar lebih baik dan menjalani gaya hidup aktif. Singkatnya, penelitian korelasional berupaya menyelidiki sejauh mana satu atau lebih hubungan dari beberapa jenis ada. Pendekatan ini tidak memerlukan manipulasi atau intervensi pada bagian dari peneliti selain dari administrasi instrumen yang diperlukan untuk mengumpulkan data yang diinginkan. Secara umum, orang akan melakukan jenis penelitian ini untuk mencari dan menggambarkan hubungan yang mungkin ada di antara fenomena yang terjadi secara alami, tanpa berusaha dengan cara apa pun untuk mengubah fenomena ini. Kita berbicara lebih banyak tentang penelitian korelasional dalam lain. PENELITIAN CAUSAL-KOMPARATIF Jenis penelitian lain dimaksudkan untuk menentukan penyebab atau konsekuensi dari perbedaan antara kelompok orang; ini disebut penelitian kausal-komparatif. Misalkan seorang guru ingin menentukan apakah siswa dari keluarga dengan orang tua tunggal (yatim) memiliki hasil belajar yang lebih buruk daripada siswa dari keluarga dengan dua orang tua. Untuk menyelidiki pertanyaan ini secara eksperimental, guru tidak mungkin akan secara sistematis memilih dua kelompok siswa dan kemudian memasukkan masing-masing ke dua kelompok yang berbeda, kelompok anak yatim dan anak dg orang tua utuh – Hal tersebut sangat tidak etis dalam penelitian. Untuk menjawab atau menguji pertanyaan penelitian tersebut menggunakan desain kausal-komparatif, guru dapat membandingkan dua kelompok siswa yang sudah termasuk dalam satu atau tipe keluarga lain untuk melihat apakah mereka berbeda dalam prestasi belajar mereka. Interpretasi dari penelitian kausal-komparatif terbatas, karena peneliti tidak dapat mengatakan secara bersamaan apakah faktor tertentu merupakan penyebab atau hasil dari perilaku yang diamati. Dalam contoh yang disajikan di sini, guru tidak dapat memastikan apakah (1) ada perbedaan dalam pencapaian antara kedua kelompok karena perbedaan dalam situasi dan kondisi rumah, (2) status atau kondisi orang tua, (3) beberapa faktor yang lain diluar orang tua dan sekolah yang peneliti tidak tahu. Namun demikian, terlepas dari masalah interpretasi, studi kausal-komparatif bernilai dalam mengidentifikasi kemungkinan penyebab variasi yang diamati dalam pola perilaku siswa. Dalam hal ini, mereka sangat mirip dengan studi korelasional. PENELITIAN SURVEI Penelitian survei yaitu jenis penelitian yang memperoleh data untuk menentukan karakteristik spesifik suatu kelompok. Ambil kasus seorang kepala sekolah menengah yang ingin mengetahui bagaimana perasaan guru atau siswanya tentang kebijakan administratifnya. Apa yang mereka sukai dari kebijakannya? Apa yang mereka sukai? Mengapa? Kebijakan apa yang paling mereka sukai atau paling tidak mereka sukai? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini dapat dijawab dengan baik melalui beragam teknik survei yang mengukur sikap fakultas terhadap kebijakan administrasi. Sebuah survei deskriptif melibatkan mengajukan serangkaian pertanyaan yang sama (sering disiapkan dalam bentuk kuesioner tertulis atau tes kemampuan) dari sejumlah besar individu baik melalui surat, melalui telepon, atau secara langsung. Ketika jawaban atas serangkaian pertanyaan diajukan secara langsung, penelitian ini disebut wawancara. Respons kemudian ditabulasi dan dilaporkan, biasanya dalam bentuk frekuensi atau persentase dari mereka yang menjawab dengan cara tertentu untuk setiap pertanyaan. Kesulitan yang terlibat dalam penelitian survei terutama tiga kali lipat: (1) memastikan bahwa pertanyaannya jelas dan tidak menyesatkan, (2) membuat responden untuk menjawab pertanyaan dengan penuh pertimbangan dan jujur, dan (3) mendapatkan jumlah kuesioner yang cukup lengkap dan kembali untuk memungkinkan membuat analisis yang bermakna. Keuntungan besar dari penelitian survei adalah bahwa ia memiliki potensi untuk memberi kami banyak informasi yang diperoleh dari sampel individu yang cukup besar. Jika diinginkan perincian lebih lanjut tentang pertanyaan survei, kepala sekolah (atau orang lain) dapat melakukan wawancara pribadi dengan staf pengajar atau siswa. Keuntungan dari sebuah wawancara (lebih dari kuesioner) adalah bahwa pertanyaanpertanyaan terbuka (yang membutuhkan respon cukup lama) dapat digunakan dengan kepercayaan yang lebih besar, pertanyaan-pertanyaan khusus yang menarik atau nilai dapat dikejar secara mendalam, pertanyaan-pertanyaan lanjutan bisa ditanyakan, dan barang yang tidak jelas bisa dijelaskan. PENELITIAN ETNOGRAFI Dalam semua contoh yang disajikan sejauh ini, pertanyaan yang diajukan melibatkan seberapa baik, seberapa banyak, atau seberapa efisien pengetahuan, sikap, atau pendapat dan sejenisnya ada atau sedang dikembangkan. Namun, kadang-kadang, para peneliti mungkin ingin mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang proses pendidikan daripada jawaban atas pertanyaan di atas. Ketika mereka melakukannya, beberapa bentuk penelitian kualitatif diperlukan. Penelitian kualitatif berbeda dari metodologi (kuantitatif) sebelumnya baik dalam metode maupun filosofi yang mendasarinya. Misal subjek pendidikan jasmani. Bagaimana guru pendidikan jasmani mengajar mata pelajaran mereka? Apa saja yang mereka lakukan saat melakukan rutinitas seharihari? Apa saja yang dilakukan siswa? Dalam kegiatan apa mereka terlibat? Apa aturan permainan yang eksplisit dan implisit di kelas PE yang tampaknya membantu atau menghambat proses pembelajaran? Untuk mendapatkan beberapa wawasan tentang masalah tersebut, studi etnografi dapat dilakukan. Penekanan dalam jenis penelitian ini adalah pada mendokumentasikan atau menggambarkan pengalaman sehari-hari individu dengan mengamati dan mewawancarai mereka dan orang lain yang relevan. Sebuah kelas dasar, misalnya, dapat diamati secara teratur mungkin, dan siswa dan guru yang terlibat mungkin diwawancarai dalam upaya untuk menggambarkan, sepenuh dan sekaya mungkin, apa yang terjadi di kelas itu. Deskripsi (kata yang lebih baik mungkin menjadi penggambaran) mungkin menggambarkan suasana sosial kelas; pengalaman intelektual dan emosional siswa; cara guru bertindak dan bereaksi terhadap siswa dari etnis, jenis kelamin, atau kemampuan yang berbeda; bagaimana "aturan" kelas dipelajari, dimodifikasi, dan ditegakkan; jenis pertanyaan yang diajukan oleh guru dan siswa; Dan seterusnya. Data tersebut dapat mencakup uraian terperinci oleh siswa tentang kegiatan kelas, audio konferensi guru-siswa, rekaman video diskusi kelas, contoh rencana pelajaran guru dan pekerjaan siswa, sosiogram yang menggambarkan hubungan "kekuatan" di kelas, dan bagan alur yang menggambarkan arah dan frekuensi jenis komentar tertentu (misalnya, jenis pertanyaan yang diajukan oleh guru dan siswa satu sama lain dan tanggapan yang dihasilkan berbagai jenis).