BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan globalisasi dan perubahan gaya hidup manusia berdampak terhadap perubahan pola penyakit. Selama beberapa tahun terakhir ini, masyarakat Indonesia mengalami peningkatan angka kesakitan dan kematian. Untuk mengatasi berbagai keluhan penyakit, berbagai tindakan telah dilakukan, mulai yang paling ringan yaitu secara konservatif atau non operasi sampai pada tindakan yang paling berat yaitu operatif atau tindakan bedah, tentunya upaya operasi ini mempunyai efek samping yakni terdapatnya luka post operasi. Jika perawatan luka operasi tersebut tidak dilakukan dengan baik maka pasien beresiko tinggi terkena infeksi. Infeksi luka operasi terjadi ketika mikroorganisme dari kulit, bagian tubuh lain atau lingkungan masuk kedalam insisi yang terjadi dalam waktu 30 hari. Hal ini bisa terjadi karena lamanya penyembuhan luka operasi serta ketidaktauan dari pasien dan keluarga tentang perawatan pasca operasi salah satunya adalah operasi laparatomi. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa pasien laparatomi di dunia meningkat setiap tahunnya sebesar 10%. Angka jumlah pasien laparatomi mencapai peningkatan yang signifikan pada tahun 2017, terdapat 90 juta pasien operasi laparatomidi seluruh Rumah Sakit di dunia. Dan pada tahun 2018, diperkirakan meningkat menjadi 98 juta pasien post operasi laparatomi. Di Indonesia tahun 2018 laparatomi menempati peringkat 1 Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu 2 ke-5, tercatat jumlah keseluruhan tindakan operasi mencapai 1,2 juta jiwa dan diperkirakan 42% diantaranya merupakan pembedahan laparatomi ( Kemenkes RI, 2018).Infeksi daerah operasi merupakan suatu kejadian infeksi pada pasien setelah menjalani tindakan operasi(Costy 2013). Hasil penelitian WHO didapat bahwa kejadian infeksi daerah operasi di dunia sebesar 5-15%. NNIS USA menemukan IDO adalah kejadian infeksi peringkat 3 dari jumlah 14-16%. Depkes RI tahun 2011 menjelaskan prevalensi kejadian IDO di pelayanan Kesehatan pemerintah sebesar 55,1%. Infeksi nosokomial paling umum terjadi adalah infeki luka operasi (ILO).Menurut WHO tahun 2016 menyatakan bahwa di Eropa prevalensi kejadian infeksi nosokomial setiap tahunnya lebih dari 4 juta-4,5 juta pasien, sedangkan di Amerika Serikat prevalensi pasien terkena infeksi nosokomial pertahunnya diperkirakan sekitar 1,7 juta pasien, prevalensi ini mewakili 4,5 % untuk 99.000 kematia. Hasilpenelitian terdahulu menunjukkan bahwa angka kejadian ILO pada rumah sakit di Indonesia bervariasi antara 2-18% dari keseluruhan prosedur pembedahan. Hasil penelitian Yuwono (2013), membuktikan bahwa angka kejadian ILO di RS Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang sebanyak 56,67% yang terdiri dari ILO superfisial incision 70,6%, ILO deep incision 23,5% dan ILO organ 5,9%. ILO ditemukan paling cepat hari ketiga dan yang terbanyak ditemukan pada hari ke lima dan yang paling lama adalah hari ketujuh. Luka akibat pembedahan pada umumnya berukuran besar dan dalam sehingga membutuhkan waktu penyembuhan yang lama. Hal ini akan menganggu pasien dalam melakukan aktivitas dan dapat menurunkan kualitas Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu 3 hidup pasien, sehingga menimbulkan ketergantungan, meningkatkan kebutuhan hidup akan perawatan dan pelayanan serta meningkatnya biaya perawatan (Priharjo,2018). Pasca operasi laparatomi jika tidak mendapatkan perawatan maksimal dapat memperlambat proses penyembuhan luka operasi. Pada prinsipnya luka akan sembuh dengan sendirinya, setiap luka operasi memiliki keragaman dalam memberikan respon yang mempengaruhi secara lokal dan umum, jika faktor umum dan lokal tidak ditangani dengan baik luka akan sulit sembuh (Arisanti,2016). Beberapa masalah yang sering muncul pada luka pasca pembedahan diantaranya adalah luka yang mengalami stres selama masa penyembuhan akibat nutrisi yang tidak adekuat, gangguan sirkulasi dan perubahan metabolisme yang dapat meningkatkan resiko lambatnya penyembuhan luka (Potter & Perry 2016). Faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya ILO terbagi menjadi faktor pasien dan faktor prosedur. Faktor pasien meliputi jenis operasi skor ASA (American Society of Anesthesiologist) usia, status nutrisi, obesitas, status imunitas, hiperglikemia, hipotermia, hipoksia, anemia, riwayat merokok dan pembedahan. Sedangkan faktor prosedur meliputi lama rawat sebelum operasi dan durasi operasi (Mockford dan O’Grady,2017). Faktor penyakit penyerta pada pasien seperti DM, TBC, HIV/AIDS, kanker dan lainya sangat berperan menentukan terjadinya infeksi karena menurunkan imunitas dari tubuh seseorang sehingga menurunkan respon tubuh terhadap infeksi (Anton,2016). Luka operasi dapat mengalami infeksi peradangan atau inflamasi dan sepsis. Faktor penyebab terjadinya infeksi adalah perdarahan oleh karena Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu 4 hemostatis yang kurang sempurna. Infeksi luka jahitan kurang baik yang ditandai dengan adanya purulent, peningkatan drainase, peradangan/ inflamasi, nyeri, kemerahan, dan pembengkakan di sekeliling luka, peningkatan suhu, dan peningkatan jumlah sel darah putih. Infeksi luka operasi terjadi karena adanya gangguan penyembuhan luka. Luka operasi dikaitkan terinfeksi apabila luka tersebut mengeluarkan nanah atau pus dan kemungkinan terinfeksi apabila luka tersebut mengalami tanda-tanda inflamasi atau mengeluarkan rabas serosa. Infeksi luka operasi merupakan salah satu komplikasi pasca operasi karena dapat meningkatkan lama rawatan yang tentunya akan menambah biaya perawatan, selain itu infeksi luka operasi akan mengakibatkan cacat dan bahkan kematian (Alexandra, 2015). Walaupun penyebab pasti infeksi luka operasi (ILO) sulit ditentukan namun penyebab sering dikaitkan dengan flora mikroba dan pasien sebagai penjamu. Faktor yang memegang peranan penting dalam mempengaruhi kejadian infeksi luka operasi yaitu faktor endogen dan eksogen (Syaifudin, 2015). Faktor endogen merupakan faktor yang ada didalam penderita sendiri seperti umur, jenis kelamin, penyakit predisposisi ILO, dan operasi terdahulu sedangkan faktor eksogen merupakan faktor diluar penderita seperti kebersihan luka, kepatuhan pelaksanaan teknik aseptik, lama operasi, dan jumlah personil dikamar operasi dan perawatan luka pasca operasi (Aribowo, 2018). Penyembuhan luka menjadi cepat sembuh apabila dari pasiennya sendiri mau melakukan pola hidup sehat dengan makan tinggi kalori dan protein. Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu 5 Tindakan yang dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhan luka operasi dengan melakukan hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi tinggi dan teratur mengkonsumsi obat sesuai anjuran dokter, sesuai dengan penjelasan (Brunner & Suddart, 2014). Perawatan yang baik didasarakan oleh terpenuhi kecukupan nutrisi sehingga kebutuhan protein, telur, ikan, daging dll karena protein sangat diperlukan untuk proses penyembuhan luka. Tirah baring yang lama pasca operasi laparatomi dapat menyebabkan pelemahan dinding otot abdomen (Talec, Gaujoux & Samama, 2016). Selain itu dampak pembatasan fisik selama pemulihan pasca operasi, pengalaman emosional pasca operasi serta support dari orang-orang terdekat untuk kembali sehat juga memberi pengaruh terhadap fase pemulihan (Girija, Krishna, Pillai, & Yesoda, 2017). Hal ini dapat dijadikan sebagai pengetahuan pasien agar penyembuhan luka dapat teratasi. Hasil penelitian Ditya (2016) pada 31 pasien pasca operasi laparatomi terdapat 54,8% penyembuhan luka baik, dengan uji chi-squre terdapat hubungan yang bermakna antara mobilisasi dini dengan proses penyembuhan luka. Selain itu berdasarkan laporan Kiik (2013) adanya pengaruh mobilisasi dini terhadap waktu pemulihan peristaltik usus pada pasien pasca operasi abdomen. Berdasarkan penelitian tentang “faktor-faktor yang berhubungan dengan penyembuhan luka post operasi lapataromi di ruang rawat inap RSUD Tugurejo Semarang” yang dilakukan oleh Nurwahyuningsih dari analisis menunjukan adanya hubungan antara status gizi dengan penyembuhan luka dimana pada seseorang dengan status gizi kurang dan mengalami luka sembuh lama sebanyak 78,8% lebih besar dibandingkan dengan status gizi Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu 6 baik dan mengalami luka sembuh lama. Kurangnya gizi pada masa pasca pembedahan dapat mengakibatkan perlambatan penyembuhan luka dan mengakibatkan individu rentan terhadap infeksi. Senada dengan hal tersebut penelitian Said (2013) mengatakan bahwa masalah umum yang dialami oleh pasien pasca operasi adalah gizi kurang, hal ini terjadi karena luka pembedahan dapat mempengaruhi proses metabolisme tubuh dan nyeri pasca operasi dapat menghilangkan nafsu makan sehingga menyebabkan individu rentan mengalami gizi kurang, kekurangan gizi dapat memperlambat proses penyembuhan luka dan rentan terjadi infeksi luka operasi. Hasil wawancara dengan pasien dan keluarga pasien, tiga diantaranya mengatakan setelah pulang dari rumah sakit lukanya tidak sembuh dan tidak tahu bagaimana cara merawat luka operasi yang benar serta tidak mengetahui bahwa makanan yang mengandung protein mempengaruhi proses penyembuhan sehingga baik pasien maupun keluarga tidak terlalu memperhatikan asupan protein pasien sehingga luka operasi lama sembuh. Selain itu hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di Ruang ICU Rumah Sakit Umum Raden Mattaher Jambi, perawat menyatakan pasien post operasi dipantau selama enam jam. Jika kondisi pasien membaik dipindahkan keruang rawat inap, survey yang didapat diruang rawat inap mobilisasi dilakukan dihari ke-3 dan kemampuan aktivitas pasien untuk duduk maupun berjalan sangat lamban, keterlambatan mobilisasi mempengaruhi aktivitas pasien dalam penyembuhan luka. Infeksi luka operasi terjadi ketika mikroorganisme dari kulit, bagian tubuh lain atau lingkungan masuk kedalam insisi yang terjadi dalam waktu 30 hari dan jika ada implant terjadi satu tahun Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu 7 pasca operasi yang ditandai dengan adanya pus, inflamasi, bengkak, nyeri dam rasa panas (Award et al,2009 dalam PP Hikabi,2010). Manfaat dari penelitian ini adalah menurunkan angka kejadian infeksi luka operasi bagi pasien yang menjalani perawatan pasca operasi laparatomi sehingga dapat mempercepat penyembuhan, mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin dan mempersiapkan pasien pulang. Di Rumah Sakit Umum Handayani Kotabumi lampung Utara merupakan RS tipe C yang menyelenggarakan pelayanan rawat inap, intalasi care unit, instalasi gawat darurat, penunjang pelayanan medis dan rawat jalan. selama periode Januari sampai Desember 2019 didapatkan pasien rawat jalan poli bedah sebanyak 500 yang kontrol pasca operasi laparatomi dengan berbagai diagnose antara lain : herniotomi, fistulotomi atau fistulektomi, kolesistoduodenostomi, hepatektomi, splenorafi/splenektomi, appendiktomi, appendiktomi perforasi, colostomi, dan lain-lain. Pada periode Januari sampai dengan Desember 2020 terjadi peningkatan pasien yang menjalani kontrol pasca operasi lapataromi berjumlah 680 pasien (Medical Record, 2020). Di Rumah Sakit Umum Handayani pada bulan September 2020 jumlah operasi laparatomi menduduki urutan ke 6 dari seluruh jumlah pasien yang melakukan operasi. Dari 239 jumlah pasien operasi ada yang mengalami infeksi luka operasi pada pasien rawat inap 3 sedangkan pada pasien rawat jalan ada 5. Peneliti menemukan bahwa dari 7 pasien 5 diantaranya yang menjalani kontrol post operasi laparatomi mempunyai keluhan dalam ketidaktahuan tentang perawatan pasien selama dirumah dengan menjaga asupan nutrisi yang bergizi serta mobilisasi yang dilakukan secara bertahap. Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu 8 Angka infeksi luka operasi (ILO) yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan luka daerah operasi (IDO) mencapai 3,2% diatas dari indikator (2%). Hal ini dikarenakan berbagai faktor salah satunya dari pasien dan keluarga yang tidak mengetahui tentang manfaat dari mobilisasi dini dan asupan nutrisi yang adekuat. Dari fenomena tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengetahuan pasien dengan perilaku pencegahan tanda-tanda infeksi luka operasi post operasi laparatomi di Rumah Sakit Umum Handayani. B. Rumusan Masalah Berdasarkan fenomena tersebut pertanyaan peneliti yaitu “adakah hubungan pengetahuan pasien dengan perilaku pencegahan tanda-tanda infeksi luka operasi post operasi laparotomi di Rumah Sakit Handayani Kotabumi Kabupaten Lampung Utara tahun 2021. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Diketahuinya hubungan pengetahuan pasien dengan perilaku pencegahan infeksi luka post operasi laparotomi di Rumah Sakit Umum Handayani Kotabumi Kabupaten Lampung Utara Tahun 2021. 2. Tujuan khusus a. Diketahuinya karakteristik distribusi frekuensi responden berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan tingkat pendidikan pada poli bedah di RS Handayani Kotabumi Kabupaten Lampung Utara tahun 2021 Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu 9 b. Diketahuinya distribusi frekuensi responden berdasarkan perilakupencegahan infeksi luka operasi post operasi laparatomi pada pasien poli bedah di RS Handayani Kotabumi Kabupaten Lampung Utara Tahun 2021. c. Diketahuinya distribusi frekuensi responden berdasarkan pengetahuan pasien tentang infeksi luka post operasi laparatomi pada pasien poli bedah di RS Handayani Kotabumi Kabupaten Lampung Utara Tahun 2021. D. Manfaat penelitian 1. Manfaat Praktis a. Masyarakat Diharapkan penelitian ini memberikan masukan berupa informasi kepada masyrakat/responden tentang pentingnya pengetahuan keluarga tentang pencegahan infeksi luka operasi. b. Rumah sakit Diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran atau informasi bagi instansi rumah sakit atau pengelola tentang penyembuhan luka pada pasien post operasi laparatomi dan meningkatkan produktivitas pelayanan keperawatan khususnya diruang rawat jalan dalam memberikan pendidikan kesehatan. Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu 10 2. Manfaat Teoritik a. Institusi Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dalam pengembangan dan peningkatan pengetahuan mahasiswa. b. Peneliti selanjutnya Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi atau bahan untuk melakukan penelitian yang sifatnya lebih besar berupa experiment. E. Keaslian Penelitian 1. Nabilah Abubakar (2016) dalam penelitiannya yang berjudul pengetahuan dan sikap pasien rawat inap rumah sakit Haji Surabaya terhadap pencegahan infeksi nosokomial mempunyai pasien rawat inap sebanyak 903 pada 3 bulan pertama. Angka nosokomial akan semakin berkembang jika pencegahan terhadap infeksi tidak dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperiment dengan rancang bangun one grup pretest posttest yaitu dengan observasi kelaurga pasiendi rawat inap RS Haji Surabaya dengan sample accidental sampling. Tujuan dari peneliti ini adalah agar keluarga tetap konsisten dan berpartisipasi dalam pencegahan infeksi nosokomial. Perbedaanya adalah sample, dan tempat dilakukan penelitian. 2. Shammary (2012) dalam penelitiannya yang berjudul faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Wound Dehiscence pada pasien laparatomi di Rumah Sakit pendidikan Al-Kindy menunjukkan dari 66 kasus wound dehisicence sebagian besar (72%) terjadi pada laki-laki diabandingkan Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu 11 perempuan (27,3%). Hal ini dikaitkan dengan kebiasaan merokok cenderung banyak dilakukan oleh laki-laki dimana efek dari merokok dapat menghambat proses penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini agar tenaga kesehatan dapatberperan aktif baik secara mandiri atau kolaborasi dalam upaya pencegahan terjadinya infeksi (sampai dengan wounde dehiscence) pasca operasi laparatomi. 3. Bahtia (2013) dalam penelitian kejadian infeksi luka post operasi di RSUP TB dari 20 pasien yang dilibatkan dalam penelitian terdapat 5pasien (25%) mengalami kejadian infeksi peradrahan dan 15pasien (75%) tidak mengalami infeksi. Kejadian infeksi dialami pasien pada hari ke-7 dan 10 post operasi. Seiring dengan masih tingginya angka kejadian infeksi pasca operasi mengakibatkan bertambahnya biaya perawatan yang ditanggung pasien. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan anatara pelaksanaan prosedur pencegahan infeksi dengan proeses penyembuhan luka post operasi di Rumah Sakit Islam UNISMA- Malang. Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu