Uploaded by common.user152223

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Minum: Tugas Besar

advertisement
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara berkembang yang tengah gencar melakukan
pembangunan. Pertumbuhan penduduk yang masif dan cepat mengakibatkan
banyaknya pembangunan permukiman. Pesatnya pertumbuhan penduduk dan
banyaknya pembangunan permukiman beriringan dengan meningkatnya
jumlah kebutuhan air bersih khususnya air minum. Berdasarkan Permenkes
Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persaratan Kualitas Air Minum,
air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses
pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem
Penyediaan Air Minum, air baku untuk air minum rumah tangga, yang
selanjutnya disebut air baku adalah air yang berasal dari sumber air permukaan,
air tanah, air hujan dan air laut yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air
baku untuk air minum.
Air baku untuk air minum dapat diambil dari air permukaan, air tanah dan
air hujan. Namun, kualitas air tanah dan air permukaan di Indonesia saat ini
telah menurun diakibatkan oleh aktivitas manusia. Kerusakan dan penurunan
sumber daya air terus terjadi dan semakin memburuk dari tahun ke tahun.
Langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan sudah banyak dilakukan,
namun kerusakan tetap saja berjalan dengan kecepatan yang tidak terduga
(Widiyanto, Yuniarno, and Kuswanto, 2015). Aktivitas penduduk di sekitar
sumber air dapat berakibat pada kualitas sumber air tersebut. Pemerintah telah
mengatur bahwa sempadan sungai tidak boleh ditanami tanaman selain rumput
dan
tidak
boleh
pula
didirikan
bangunan.
Namun
begitu,
karena
keterdesakannya, banyak warga yang mendirikan bangunan sebagai tempat
tinggal, beraktifitas dan melakukan kegiatan usaha seperti industri rumahan
dan peternakan hewan di kawasan tersebut (Yogafanny, 2015). Hal tersebut
memungkinkan adanya dampak terhadap kualitas air sungainya. Dalam suatu
sistem DAS, penduduk memiliki peran penting karena berhubungan langsung
ALYA KARMILIA
21080117120036
I-1
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
dengan kegiatan pemanfaatan lahan yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan. Hubungan fungsional antara jumlah penduduk dan tingkat
kerentanan masuknya beban pencemar adalah berbanding lurus (Poedjiastoeti
et al., 2017). Banyaknya zat pencemar yang masuk ke badan air dan tanah
mengakibatkan kualitas air tanah dan air permukaan tidak memenuhi standar
baku mutu air minum.
Oleh karena itu, untuk memperoleh air minum yang sesuai dengan standar
baku mutu dalam Permenkes Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang
Persyaratan Kualitas Air Minum, dibutuhkan suatu instalasi pengolahan air
minum sebelum didistribusikan ke konsumen.
1.2. Rumusan Masalah Perencanaan
Dari latar belakang yang telah dijabarkan, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut :
1. Apa saja alternatif bangunan pengolahan air minum yang dapat diterapkan?
2. Bagimana rancangan detail engineering design bangunan pengolahan air
minum?
1.3. Rumusan Tujuan Perencanaan
1. Menentukan alternatif bangunan pengolahan air minum
2. Merancang detail engineering design bangunan pengolahan air minum
1.4. Rumusan Manfaat Perencanaan
Bagi Mahasiswa :
1. Menambah pengetahuan, pengalaman, ilmu di bidang pengolahan air minum
Bagi Masyarakat
:
1. Mendapatkan air minum yang sesuai dengan standar air minum
Bagi pemerintah :
1. Mendapatkan bantuan dalam mensejahterakan warga
ALYA KARMILIA
21080117120036
I-2
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Karakteristik Parameter Standar Kualitas Air Minum
Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses
pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum
(Permenkes RI No. 492, 2010). Persyaratan Kualitas Air Minum Berdasarkan
Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
492/MENKES/PER/IV/2010 menyatakan bahwa air minum aman bagi
kesehatan apabila memenuhi persyaratan fisika, mikrobiologis, kimiawi, dan
radioaktif yang dimuat dalam parameter wajib dan parameter tambahan.
Dalam analisa standar kualitas air minum ini, Keputusan Menkes RI No.
907/Menkes/SK/ VII/2010 dijadikan referensi atau acuan utama (karena
merupakan peraturan yang paling terbaru diterapkan) di samping peraturan
lainnya yang memuat parameter yang tidak terdapat dalam Kepmenkes No
907/2010.
Tabel 2.1
Standar Air Minum
No
Parameter
1
2
Bau
Jumlah Zat
Padat Terlarut
(TDS)
Kekeruhan
Rasa
Temperatur
Warna
3
4
5
6
1
2
3
4
5
Air Raksa
Aluminium
Arsen
Barium
Besi
ALYA KARMILIA
21080117120036
Satuan
mg/L
NTU
C
TCU
Kadar Maksimum yang
Diperbolehkan
Kepmenkes
FISIKA
1
5
30°
15
Keterangan
Tidak berbau
Tidak berasa
KIMIA
a. Kimia Anorganik
mg/L
0,001
mg/L
0,2
mg/L
0,01
mg/L
0,7
mg/L
0,3
II-1
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
6
7
8
9
10
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
1,5
0,003
500
250
0,05
mg/L
mg/L
mg/L
0,1
200
50
mg/L
3
15
16
Fluorida
Kadmium
Kesadahan
Khlorida
Kromium,
Val. 6
Mangan
Natrium
Nitrat,
sebagai N
Nitrit, sebagai
N
Perak
pH
mg/L
-
0,05
6.5 - 8.5
17
18
19
20
21
22
23
Selenium
Seng
Sianida
Sulfat
Sulfida
Tembaga
Timbal
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
0,01
3
0.07
250
0,05
1
0,01
Aldrina
Benzene
Benzo(a)pyre
ne
klordane
(Total Isomer)
ug/L
ug/L
ug/L
KIMIA
b. Kimia Organik
0,03
10
0,7
ug/L
0,2
5
6
7
7
kloroform
2.4-D
DDT
Heptaklor dan
Heptaklor
Epoxide
ug/L
ug/L
ug/L
ug/L
200
30
2
0,03
8
Hexakloroben
zene
ug/L
0,3
9
Pentakloroph
enol
ug/L
0,009
10
2.4.6-Trichol
orophenol
ug/L
0,2
11
12
13
14
1
2
3
4
Batas min.
dan maks.
KIMIA
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-2
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
11
12
Zat Organik
sebagai
(KmnO4)
Gamma –
HCH
(Lindane)
mg/L
c. Bahan Organik
10
ug/L
0,002
Coliform Tinja
Total Coliform
MIKROBIOLOGI
Jml/100 ml sampel
Jml/100 ml sampel
1
Aktivitas Alpha
RADIOAKTIVITAS
Bq/L
2
Aktivitas Beta
Bq/L
1
2
0
0
0
,
1
1
Sumber: Kepmenkes RI No. 492/Menkes/SK/IV/2010.
2.2. Karaketristik Parameter Standar Kualitas Air Baku
Air Baku untuk Air Minum Rumah Tangga, yang selanjutnya disebut Air
Baku adalah air yang berasal dari sumber air permukaan, air tanah, air hujan
dan air laut yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai Air Baku untuk Air
Minum (PP No. 122 tahun 2015). Sedangkan Kelas air adalah peringkat
kualitas air yang dinilai masih layak untuk dimanfaatkan bagi peruntukan
tertentu. Dalam Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001, klasifikasi mutu air
ditetapkan menjadi 4 (empat) kelas:
a. Kelas 1, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air
minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang
sama dengan kegunaan tersebut.
b. Kelas 2, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana
rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air
yang sama dengan kegunaan tersebut.
c. Kelas 3, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan
ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau
peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan
tersebut.
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-3
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
d. Kelas 4, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi,
pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air
yang sama dengan kegunaan tersebut.
Tabel 2.2
Kriteia Mutu Air Baku
Parameter
Kelas
Satuan
I
II
III
IV
devias
i3
devias
i3
devias
i5
1.000
1.000
2.000
Keterangan
FISIKA
Temperatur
o
C
devias
i3
Residu
terlarut
mg/l
1.000
Residu
tersuspensi
mg/l
50
50
400
Deviasi
temperatur dari
keadaan
alamiahnya
400
Bagi pengolahan
air minum secara
konvensional,
residu tersuspensi
< 5.000 mg/l
Apabila secara
alamiah berada di
luar rentang
tersebut,
ditentukan
berdasarkan
kondisi alamiah
KIMIA ANORGANIK
pH
6–9
6–9
6–9
5-9
BOD
COD
mg/l
mg/l
2
10
3
25
6
50
12
100
DO
mg/l
6
4
3
0
mg/l
0,2
0,2
1
5
mg/l
10
10
20
20
Total fosfat
sebagai P
NO3 sebagai
N
Angka batas
minimum
Sumber: Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001
2.3. Unit Produksi
2.3.1.
Bangunan Pengolahan dan perlengkapannya
Berdasrkan Dirjen Cipta Karya Departemen PU, 2007 bangunan
pengolahan air dan perlengakapnnya terbagi atas 2 bagian, yaitu :
1. Bangunan Intake
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-4
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Bangunan intake berfungsi sebagai bangunan pertama untuk masuknya
air dari sumber air. Pada umumnya, sumber air untuk pengolahan air
bersih, diambil dari sungai. Pada bangunan intake biasanya terdapat bar
screen yang berfungsi untuk menyaring benda-benda yang ikut
tergenang dalam air. Selanjutnya, air akan masuk ke dalam sebuah bak
yang nantinya akan dipompa ke bangunan selanjutnya, yaitu IPA –
Instalasi Pengolahan Air (IPA).
2. Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Instalasi Pengolahan Air (IPA) atau lebih populer dengan akronim IPA
adalah bangunan utama pengolahan air bersih. Biasanya bagunan ini
terdiri dari empat bagian, yaitu: bak koagulasi, bak flokulasi, bak
sedimentasi, dan bak filtrasi.
2.3.2.
Perangkat Operasional
Untuk mengubah kualitas air baku (yang belum memenuhi kualitas air
minum) menjadi air minum diperlukan suatu proses pengolahan air minum.
Proses pengolahan air minum yang digunakan atau dipilih harus sesuai
dengan kualitas air baku berdasarkan kebutuhannya untuk memenuhi syarat
kualitas air minum.
Gambar 2.1 Skema Kegiatan Kegiatan Operasional SPAM dengan
Sumber Air Baku dari Mata Air
Sumber: Dirjen Cipta Karya Departemen PU, 2007
Catatan:
a. Untuk air permukaan dengan kandungan pasir atau material abrasif
lainnya, dapat digunakan bak pengendap pasir atau Grit Chamber
(sejenis bak sedimentasi, biasanya pengendapan dilakukan dengan sistem
gravitasi).
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-5
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
b. Untuk air permukaan yang mengandung Fe dan Mn, maka diperlukan
proses penghilangan Fe dan Mn (Fe & Mn Removal). Proses
penghilangan Fe dan Mn pada dasarnya adalah mengoksidasi Fe dan Mn
sehingga dapat disisihkan. Proses oksidasi dapat menggunakan proses
antara lain:
-
Aerasi
-
Klorinasi
-
Ozonisasi
-
Dan lain-lain
Setelah
proses
oksidasi,
biasanya
diperlukan
proses
flokulasi,
sedimentasi, dan filtrasi, terutama untuk air baku dengan konsentrasi Fe ≥ 5
mg/L.
a. Untuk menghilangkan bau, rasa, warna, dan kekeruhan, dapat
menggunakan proses pengolahan sesuai tabel Pedoman Penyusunan Studi
Kelayakan Pengembangan SPAM.
b. Untuk menghilangkan bahan organik, dapat digunakan teknologi seperti
Karbon Aktif atau menggunakan proses aerasi, adsorpsi, atau kombinasi
aerasi adsorpsi.
c. Untuk menghilangkan kalsium dan magnesium dapat dilakukan pelunakan
dengan kapur dan soda.
d. Untuk menghilangkan ion-ion yang tidak diinginkan dari air baku, dapat
digunakan proses pertukaran ion (ion exchange).
e. Desinfektan digunakan untuk menghilangkan mikroorganisme patogen.
2.3.3.
Alat pengukuran dan peralatan pemantauan
Pengukur aliran air adalah alat yang digunakan untuk mengukur linier,
non linier, laju alir volum atau masa dari cairan atau gas. Bagian ini secara
spesifik menerangkan tentang pengukur aliran air. Pemilihan metode atau
jenis pengukur aliran air tergantung pada kondisi tempat dan kebutuhan
pengukuran yang akurat.
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-6
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Sebagian dari pengukur aliran air, ada beberapa metode yang dapat
mengukur aliran air selama audit. Dua metode umum untuk mendapatkan
perkiraan akurat yang beralasan dari aliran air adalah:
Metode waktu pengisian: Air diisikan pada bejana atau tangki dengan
volume yang telah diketahui (m3). Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi
volume sampai penuh yang dicatat menggunakan stop watch (detik).
Volume dibagi dengan waktu menjadi aliran rata-rata dalam m3/detik.
Metode melayang: Metode ini umumnya digunakan untuk mengukur
aliran pada saluran terbuka. Jarak spesifik (misalnya 25 meter atau 50 meter)
ditandai pada saluran. Bola pingpong diletakkan di air dan dicatat waktu
yang diperlukan untuk bola melayang menuju jarak yang diberi tanda.
Pembacaan diulang beberapa kali untuk menghasilkan waktu yang akurat
(Dirjen Cipta Karya Departemen PU, 2007).
2.3.4.
Bangunan Penampungan Air Minum
Bak penampung / reservoir atau lebih tepatnya Ground Reservoir
berfungsi sebagai penampung/penyimpan air, baik dari hasil olahan (jika
menggunakan pengolahan) maupun langsung dari sumber mata air. Selain
itu, bak penampung berfungsi untuk mengatasi masalah naik turunnya
kebutuhan air dan merupakan bagian dari pengelolaan distribusi air di
masyarakat.
2.4. Proses Pengolahan Air
2.4.1.
Proses Pengolahan Fisika
Proses
pengolahan
fisika
bertujuan
untuk
mengurangi
atau
menghilangkan kotoran - kotoran kasar, penyisihan lumpur dan pasir,
mengurangi zat-zat organik yang ada pada air yang akan diolah. Proses
pengolahan fisik dilakukan tanpa tambahan zat kimia. Bahan tersuspensi yang
mudah mengendap dapat
disisihkan secara
mudah dengan proses
pengendapan, pada proses ini bisa dilakukan tanpa bahan kimia bila
ukurannya sudah besar dan mudah mengendap tapi dalam kondisi tertentu
dimana bahan - bahan tersuspensi sulit diendapkan maka akan digunakan
bahan kimia sebagai bahan pembantu dalam proses ini akan terjadi
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-7
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
pembentukan flok - flok dalam ukuran tertentu yang lebih besar sehingga
mudah diendapkan pada proses yang menggunakan bahan kimia ini masih
diperlukan pengkondisian pH untuk mendapatkan hasil yang optimal.
2.4.1.1. Sedimentasi
Sedimentasi adalah pemisahan partikel dari air dengan memanfaatkan
gaya gravitasi. Dalam proses sedimentasi hanya partikel yang lebih berat
dari air yang dapat dipisahkan. Misalnya : kerikil dan pasir, flok hasil
pengolahan kimia dan lumpur (Siregar, 2005).
2.4.1.2. Flotasi
Flotasi atau pengapungan digunakan untuk memisahkan padatan dari air.
Unit flotasi digunakan bila densitas partikel lebih kecil daripada air sehingga
cenderung mengapung. Oleh karena itu, dalam flotasi perlu ditambahkan
gaya ke atas dengan menambah udara dalam air. Flotasi dapat digunakan
dalam pemisahan air dengan minyak, pengentalan lumpur, pemisahan
padatan dan pemidahan flok setelah pengolahan kimia.
Terdapat tiga jenis flotasi yaitu flotasi alamiah, air flotation, dan dissolved
air flotation. Pada flotasi alamiah, tidak diperlukan tambahan energi dari
luar karena perbedaan densitas sudah cukup besar. Pada air flotation dibantu
dengan memasukkan gelembung ke dalam air menggunakan blower. Pada
DAF, udara dilarutkan dalam air dengan tekanan beberapa bar kemudian
dilepaskan dengan tekanan atmosfer sehingga menghasilkan gelembung
udara halus 40 mm-80 mm (Siregar, 2005).
2.4.1.3. Filtrasi
Penghilangan zat besi dan mangan secara tradisional adalah dengan
penyaringan dari konstituen yang telah dioksidasi. Semua jenis media serupa
sehubungan dengan distribusi ukuran partikel. Media berbeda dari media
filter pasir cepat karena diperlakukan dengan KMnO4 untuk memberikan
lapisan mangan oksida (MnO2) (Mackenzie, 2010 )
Media yang digunakan umumnya disebut green sand karena warnanya.
Green sand adalah silikat kalium besi hijau kusam yang disebut glauconite.
Untuk penghilangan besi dan mangan, secara sintetis dilapisi dengan lapisan
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-8
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
tipis MnO2. Glauconite menunjukkan kapasitas pertukaran ion yang
memungkinkan permukaan jenuh dengan ion mangan (Sommerfeld dalam
Mackenzie, 2010 ).
2.4.2.
Proses Pengolahan Kimia
Pengolahan kimia bertujuan untuk membantu proses pengolahan
selanjutnya, misalnya pembubuhan tawas supaya mmengurangi kekeruhan
yang ada. Penyisihan bahan - bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung
melalui perubahan sifat bahan - bahan tersebut, yaitu dari tak dapat
diendapkan (flokulasi - koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi. Pengendapan
bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan
elektrolit yang mempunyai muatan yang belawanan dengan muatan
koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya
dapat diendapkan.
2.4.2.1. Koagulasi
Koagulasi bertujuan untuk membuat gumpalan - gumpalan yang lebih
besar dengan penambahan bahan - bahan kimia misalnya Al2SO4, FE2Cl3,
FE2SO4, PAC dan lain sebagainya. (Siregar, 2005).
2.4.2.2. Flokulasi
Flokulasi bertujuan untuk membuat gumpalan yang lebih besar daripada
gumpalan yang terbentuk dari proses koagulasi dengan penambahan polimer,
misalnya polimer kationik dan anionik (Siregar, 2005).
2.4.2.3. Adsorpsi karbon
Bahkan setelah perawatan sekunder, koagulasi, sedimentasi dan filtrasi,
bahan organik terlarut yang tahan terhadap kerusakan biologis akan bertahan
dalam limbah. Bahan persisten sering disebut sebagai refraktori organik.
Senyawa organik yang tahan api dapat dideteksi dalam limbah sebagai COD
yang larut. Nilai COD efluen sekunder seringkali 30 hingga 60 mg/L.
Metode yang paling praktis yang tersedia untuk menghilangkan senyawa
organik refraktori adalah dengan menyerapnya pada karbon aktif (AS A.
EPA dalam Mackenzie, 2010 ).
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-9
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
2.4.2.4. Pertukaran ion
Pertukaran ion adalah reaksi reversibel di mana ion yang bermuatan dalam
larutan ditukar dengan ion yang bermuatan sama yang melekat secara
elektrostatik ke partikel padat yang tidak bergerak. Aplikasi terbesar
pertukaran ion dalam pengolahan air adalah untuk pelunakan, di mana
kalsium, magnesium, dan kation polivalen lainnya ditukar dengan natrium
(Clifford dalam Mackenzie, 2010 ).
2.4.2.5. Klorinasi
Desinfeksi juga mungkin diperlukan untuk mencegah pengotoran biologis.
Ketika membran tidak berfungsi, populasi pada membran dapat dengan
cepat berlipat ganda. Klorin adalah bahan kimia desinfektan yang paling
umum digunakan. Istilah klorinasi sering digunakan secara sinonim dengan
desinfeksi. Klorin dapat digunakan sebagai unsur, sebagai natrium hipoklorit
(NaOCl), klorin juga dikenal sebagai pemutih, sebagai kalsium hipoklorit
[Ca(OCl)2], juga dikenal sebagai HTH, atau sebagai kapur diklorinasi
(CaOCl2). Ketika klorin ditambahkan ke air, campuran asam hipoklorat
(HOCl) dan asam klorida (HCl) terbentuk (Mackenzie, 2010 ).
2.4.3.
Proses Pengolahan Biologi
Proses
pengolahan
biologi
bertujuan
untuk
membunuh
atau
memusnahkan bakteri - bakteri terutama bakteri penyebab penyakit yang
terkandung dalam air, misal : bakteri collie yang dapat menyebabkan
penyakit perut. Salah satu proses pengolahannya adalah dengan
penambahan desinfektan misal kaporit.
2.4.3.1. Aerobic digestion
pemutusan ikatan aerobik lumpur biologis adalah kelanjutan dari proses
lumpur aktif. Ketika kultur heterotrof aerobik ditempatkan di lingkungan
yang mengandung sumber bahan organik, mikroorganisme membuang dan
memanfaatkan sebagian besar bahan ini. Sebagian kecil dari bahan organik
yang dihilangkan akan digunakan untuk sintesis biomassa baru. Bahan yang
tersisa akan disalurkan ke metabolisme energi dan dioksidasi menjadi
karbon dioksida, air dan bahan lembam yang dapat larut untuk menyediakan
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-10
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
energi untuk fungsi sintesis dan pemeliharaan (pendukung kehidupan).
Namun, setelah sumber eksternal bahan organik habis, mikroorganisme
masuk ke dalam respirasi endogen, di mana bahan seluler dioksidasi untuk
memenuhi energi pemeliharaan (yaitu, energi untuk persyaratan pendukung
kehidupan). Jika kondisi ini berlanjut selama periode waktu yang panjang,
jumlah total biomassa akan sangat berkurang. Selain itu, bagian yang tersisa
akan ada pada kondisi energi rendah sehingga dapat dianggap stabil secara
biologis dan cocok untuk dibuang di lingkungan. Ini membentuk prinsip
dasar pemutusan ikatan aerobik. Tiga proses stabilisasi aerobik umum
digunakan: pemutusan ikatan aerob konvensional, pemutusan ikatan aerob
oksigen kemurnian tinggi dan pemutusan ikatan aerob autotermal (ATAD)
(Mackenzie, 2010).
2.4.3.2. Anaerobic digestion
Perlakuan anaerobik lumpur biologis melibatkan tiga tahap yang berbeda.
Pada tahap pertama, komponen limbah kompleks, termasuk lemak, protein
dan polisakarida, dihidrolisis menjadi subunit komponennya. Ini dilakukan
oleh kelompok heterogen bakteri fakultatif dan anaerob. Bakteri ini
kemudian menyebabkan produk hidrolisis (trigliserida, asam lemak, asam
amino dan gula) menjadi fermentasi dan proses metabolisme lainnya yang
mengarah pada pembentukan senyawa organik dan hidrogen sederhana
dalam proses yang disebut asidogenesis atau asetogenesis (Mackenzie,
2010).
2.4.4.
Pemilihan proses pengolahan air
2.4.4.1. Beban Parameter Pengolahan Air
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
01/birhukmas/I/1975 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air
Minum. Standar baku air minum tersebut disesuaikan dengan standar
internasional yang ditetapkan WHO. Standarisasi kualitas air tersebut
bertujuan untuk memelihara, melindungi dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat, terutama dalam pengolahan air atau kegiatan usaha
mengolah dan mendistribusikan air minum untuk masyarakat umum.
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-11
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Dengan
adanya
standarisasi
tersebut
dapat
dinilai
kelayakan
pendistribusian sumber air untuk keperluan rumah tangga. Kualitas air yang
digunakan sebagai air minum sebaiknya memenuhi persyaratan secara fisik,
kimia, dan mikrobiologis.
a. Persyaratan Fisik
Air yang berkualitas baik harus memenuhi persyaratan berikut :
1.
Jernih atau tidak keruh.
2.
Tidak berwarna.
3.
Rasanya tawar.
4.
Tidak berbau.
5.
Temperaturnya normal.
6.
Tidak mengandung zat padatan.
b. Persyaratan Kimia
Kualitas air tergolong baik bila memenuhi persyaratan kimia sebagai
berikut :
1.
pH normal.
2.
Tidak mengandung bahan kimia beracun.
3.
Tidak mengandung garam atau ion-ion logam.
4.
Kesadahan rendah.
5.
Tidak mengandung bahan organik.
c. Persyaratan Mikrobiologis
Persyaratan mikrobiologis yang harus dipenuhi oleh air adalah sebagai
berikut :
1. Tidak mengandung bakteri patogen, misalnya bakteri golongan coli,
salmonellatyphi, vibrio cholera dan lain-lain. Kuman-kuman ini
mudah tersebar melalui air (transmitted by water).
2. Tidak mengandung bakteri nonpatogen, seperti actinomycetes,
phytoplankton coliform, cladocera, dan lain-lain.
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-12
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Tabel 2.3
Daftar Persyaratan Kualitas Air Minum
No.
1
A.
1.
2.
3.
PARAMETER
2
FISIKA
Bau
Jumlah zat padat
terlarut (TDS)
Kekeruhan
4.
5.
6.
Rasa Suhu
B.
a.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
KIMIA
Kimia Anorganik
Air raksa
Alumunium
Arsen
Barium
Besi
Fluorida
Kadnium
Kesadahan (CaCO3)
Klorida
Kromium, Valensi 6
Mangan
Natrium
Nitrat, sebagai N
Nitrit, sebagai N
Perak
pH
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
b.
1.
2.
3.
4.
Selenium
Seng
Sianida
Sulfat
Sulfida (sebagai H2S)
Tembaga
Timbal
Kimia Organik
Aldrin dan Dieldrin
Benzena
Benzo (a) pyrene
klordane (total
isomer)
Warna
ALYA KARMILIA
21080117120036
3
Kadar Maksimum
yang
diperbolehkan
4
-
-
Tidak berbau
mg/L
Skala
NTU
oC
Skala
TCU
1.000
5
-
Suhu udara ± 3oC
15
Tidak berasa
-
Satuan
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
-
0,001
0,2
0,05
1,0
0,3
1,5
0,005
500
250
0,05
0,1
200
10
1,0
0,05
6,5 – 8,5
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
0,01
5,0
0,1
400
0,05
1,0
0,05
mg/L
mg/L
mg/L
0,0007
0,01
0,00001
mg/L
0,0003
Keterangan
5
Merupakan batas
minimum
dan maksimum
II-13
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
0,03
0,10
0,03
0,05
0,01
0,0003
mg/L
mg/L
mg/L
0,003
0,00001
0,004
14.
15.
Coloroform
2,4 D
DDT
Detergen
1,2 Discloroethane
1,1 Discloroethene
Heptaclor dan
heptaclor epoxide
Hexaklorobenzene
Gamma-HCH
(Lindane)
Methoxyklor
Pentaklorophanol
mg/L
mg/L
0,03
0,01
No.
PARAMETER
Satuan
1
16.
17.
18.
C.
1.
2
Pestisida Total
2,4,6 uriklorophenol
Zat organik (KMnO4)
Mikro biologik
Koliform Tinja
3
mg/L
mg/L
mg/L
2.
Total koliform
12.
13.
D. Radio Aktivitas
1. Aktivitas Alpha
(Gross Alpha Activity)
2. Aktivitas Beta
(Gross Beta Activity)
Kadar
Maksimum yang
diperbolehkan
4
0,10
0,01
10
Jumlah
pe
r
10
0
ml
Jumlah
pe
r
10
0
ml
0
Bq/L
0,1
Bq/L
1,0
0
Keterangan
5
95% dari
sampel yang
diperiksa selama
setahun.
Kadang-kadang
boleh ada
3 per 100 ml
sampel air, tetapi
tidak
berturut-turut
Sumber: Permenkes Republik Indonesia Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990
Keterangan :
mg = miligram
ml
= mililiter
L = liter
Bq
= Bequerel
NTU = Nephelometrik Turbidity Units
TCU = True Colour Units
Logam berat merupakan logam terlarut
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-14
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
2.4.4.2. Alternatif Pengolahan Air Beberapa Parameter
Berikut ini adalah alternatif pengolahan air dari beberapa parameter
kualitas air yang dipertimbangkan dalam pengolahan air:
Gambar 2.2 Tabel Alternatif Pengolahan Air Beberapa Parameter
Sumber : Montgomery, 1985
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-15
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
2.4.4.3. Kriteria Pemilihan Pengolahan Air
Pemilihan unit-unit pengolahan yang akan digunakan dalam instalasi
pengolahan air minum tergantung kepada kualitas air baku yang akan diolah
dengan mempertimbangkan segi teknis dan segi ekonomis.
1. Kualitas Air
Unit-unit pengolahan dipilih berdasarkan parameter - parameter kualitas air
yang tidak memenuhi baku mutu dan harus diturunkan. Pemilihan ini
didasarkan pada model - model prediksi pemilihan unit pengolahan air.
2. Segi Teknis
 Beberapa pertimbangan dari segi teknis adalah :
 Efisiensi unit - unit pengolahan terhadap parameter yang akan
diturunkan
 Fleksibilitas sistem pengolahan terhadap kualitas air yang berfluktuasi
 Kemudahan operasional dan pemeliharaan dalam jangka waktu yang
panjang
 Kemudahan konstruksi.
 Segi Ekonomis
 Biaya investasi awal, operasional dan pemeliharaan
 Luas lahan yang dibutuhkan
 Optimalisasi jumlah unit pengolahan untuk menurunkan parameter
kualitas air yang hendak diturunkan.
3. Beberapa pertimbangan dari segi ekonomis adalah :
Unit-unit pengolahan air minum untuk negara-negara berkembang dapat
ditentukan berdasarkan model prediksi seperti yang ditunjukkan pada Tabel
dibawah ini.
Tabel 2.4
Model Prediksi Pemilihan Unit-unit Pengolahan Air Minum
Parameter
Parameter
Konse
ntrasi
ALYA KARMILIA
21080117120036
Pra
Pengolahan
S
P
C
P
S
Pengolahan
A
L
S
C
S
RS
F
SS
F
Pengolahan
Khusus
P
S
C
A
C
SC
T
S
W
T
II-16
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Coliform,
MPN Per
100 ml
Rata-rata
bulanan
Turbidity,
NTU
Warna,
mg/l
Pt-Co
0-20
E
20-1
00
O
1005000
E
>
5000
E
0-10
O
10-2
00
O
>
200
O
O
O
E
E
E
O
E
E
E
E O
E
O
E
E
O
O
> 70
O
E
O
Tera
sa
CaCO3,
mg/l
>
200
Fe &
Mn,mg/l
< 0,3
O
O
O
E
O
0,3-1
,0
Senyawa
Phenol,
mg/l
O
20-7
0
Rasa &
Bau
kloride,
mg/l
O
E
O
O
E
E
E
E
O
E
E
O
> 1,0
E
E
E
E
O
O
0-25
0
E
E
E
E
O
O
200500
O
>500
E
0-0,0
05
O
O
O
O
>
0,00
E
E
O
E
ALYA KARMILIA
21080117120036
O
II-17
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
5
Bahan
Kimia
Lain
E
E
E
O
O
O
O
O
Sumber : Babbit, 1976
Keterangan:
S
= Screening
PC = Prechlorination
PS = Plain Settling
A
= Aeration
LS = Lime Softening
SC = Special Chlorination
CS = Coagulation & Sedimentation
O
= Optional,
E = Essential
RSF = Rapid Sand Filter
SSF = Slow Sand Filter
SCT =Special Chemical Treatment
AC
= Activated Carbon
P
= Post chlorination
SWT = Salt Water Treatment
2.5. Bangunan Pengolahan Air Minum
2.5.1.
Bangunan Intake
Berdasarkan Permen PU N0 18/PRT/M/2007 tentang Penyelenggaraan
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, Intake adalah bangunan
penangkap air atau tempat air masuk sungai, danau, situ, atau sumber air
lainnya.
2.5.2.
Bangunan Prasedimentasi
Bak prasedimentasi merupakan bak pengendap awal biasanya berupa bak
yang cukup besar dengan waktu detensi yang cukup lama. Kegunaan bak
pasedimentasi tidak hanya untuk mengurangi beban pada proses
pengendapan dan pada bak filter, akan tetapi partikel - partikel berat juga
berkurang dan bisa menurunkan kekeruhan hingga 1 mg/liter (Al Layla
dalam Ermawati dan Awaluddin, 2018).
2.5.3.
Bangunan Koagulasi
Tipe – tipe bak koagulasi adalah:
a. Pengaduk mekanis, dalam mencampurkan koagulan dengan air, alat ini
menggunakan paddle yang digerakkan oleh motor pengerak.
b. Deflektor Plate Mixr, alat ini bekerja dengan menggunakan pancaran air
yang keluar dari deflector. Air masuk melalui inlet, kemudian
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-18
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
dipancarkan oleh deflector dimana di dekat deflector dibubuhkan
koagulan.
c.
Penggerak pneumatic dan Baffle basins
Kecepatan benturan partikel harus sebanding dengan percepatan, karena
itu gradien kecepatan harus cukup memberikan kecepatan untuk
benturan antar partikel, percepatan juga berhubungan dengan gaya geser
dalam air. Percepatan besar akan menghasilkan gaya geser yang besar
dan mencegah susunan flok yang diinginkan. Jumlah total partikel yang
berbenturan sama dengan perkalian gradien kecepatan (G) dan waktu
detensi (T).
2.5.4.
Bangunan Flokulasi
Flokulasi dilakukan setelah proses koagulasi. Tipe flokulasi antara lain:
a.
Pengaduk mekanis
b.
Bak tersekat (Baffle Type Basins)
Pemisahan flok-flok yang telah terbentuk diendapkan pada operasi
berikutnya. Pada saat ini umumnya unit koagulator, flokulator, dan
sedimentasi dikombinasikan dalam satu unit yang disebut accesalator.
Flokulasi bertujuan untuk mendukung proses tumbukan partikel- partikel
kecil sehingga akan diperoleh partikel yang lebih besar yang memiliki
kemampuan untuk mengendap. Flokulasi dapat dilakukan dengan berbagai
cara, termasuk pemutaran gayung-gayung dengan lambat atau pengaliran
melalui kolam-kolam pengaduk.
2.5.5.
Bangunan Sedimentasi
Bak sedimentasi berfungsi untuk mengendapkan partikel flokulen yang
terbentuk dari proses pengadukan cepat dan lambat. (Ermawati dan
Awaluddin, 2018).
Bangunan pengendap ini digunakan untuk mengendapkan partikel
dengan gaya gravitasi. Tujuan dari pengendap ini adalah untuk terbentuknya
lumpur endapan pada dasar bak sedimentasi. Untuk menjaga efektivitas
pengendapan maka secara periodik lumpur harus dikeluarkan (Totok dan
Suciastuti, 2002).
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-19
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Dalam desain tangki sedimentasi yang ideal, salah satu parameter
pengendali adalah kecepatan pengendapan partikel yang akan dihilangkan.
Untuk tujuan diskusi dan ilustrasi, sifat-sifat pengendapan partikel
dikategorikan ke dalam empat kelas: (1) pengendapan partikel diskrit, (2)
pengendapan flokulan, (3) pengendapan terhambat, dan (4) pengendapan
kompresi. Dengan konvensi, kategori-kategori ini masing-masing diberi
label Tipe I, Tipe II, Tipe III, dan Tipe IV (Mackenzie, 2010)
Tabel 2.5
Alternatif Konfigurasi Bak Pengendapan
Istilah
Horizontal flow
Center feed
Peripheral feed
Upflow clarifiers
Upflow, solids contact
High-rate settler modules
Ballasted sand
Konfigurasi
Long rectangular tanks
Circular, horizontal flow
Circular, horizontal flow
Proprietary
Re circulation of sludge with sludge
blanket, proprietary
Rectangular tank, parallel plates or tubes,
proprietary
Addition of microsand, proprietary
Sumber : Kawamura, 2000
2.5.6.
Bangunan Filtrasi
Terdapat tiga macam tipe media filter (saringan), yaitu :
a. Single Media Filter
Saringan yang menggunakan satu media filter saja, biasanya pasir atau
antrasit.
b. Dual Media Filter
Saringan yang menggunakan dua media biasanya pasir dan antrasit.
c. Multi Media Filter
Saringan yang menggunakan tiga media filter, biasanya pasir, antrasit
dan garnet (Mochtar dalam Ermawati dan Awaluddin, 2018).
Dalam penjernihan air bersih dikenal dua macam saringan :
1. Slow Sand Filter
Saringan ini dibuat dengan pasir halus dengan ukuran efektif sekitar
0,2 mm. Ukuran efektif ayakan dapat meloloskan 10% dari total butir
yang ada atau P10. Saringan pasir lambat membutuhkan ruang yang
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-20
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
luas dan tidak berfungsi dengan baik dalam air dengan kekeruhan
tinggi.
2. Rapid Sand Filter
Filter ini menggunakan dasar pasir silika dengan kedalaman 0,6 0,75 m. Ukuran pasirnya 0,35 - 1,00 mm dengan koefisien
keseragaman umumnya 1,65 (Peavy dalam Ermawati dan Awaluddin,
2018).
2.5.7.
Bangunan Desinfeksi
Air yang telah disaring di unit filtrasi pada prinsipnya sudah
memenuhi
standar
kontaminasi
air
kualitas
oleh
tetapi
untuk
mikroorganisme
keperluan
saat
menghindari
penyimpanan
dan
pendistribusian perlu dilakukan desinfeksi.
Desinfeksi yang umum digunakan adalah dengan cara klorinasi,
walaupun ada beberapa cara lain seperti dengan ozon dan ultra violet (UV)
yang jarang digunakan. Sebagai desinfektan, pembubuhan klorin
dilakukan di lokasi reservoir disebut sebagai postklorinasi (Darmasetiawan,
2001)
Senyawa klor dapat mematikan mikroorganisme dalam air karena
oksigen yang terbebaskan dari senyawa asam hypoklorous mengoksidasi
beberapa bagian yang penting dari sel-sel bakteri sehingga rusak. Teori
lain menyatakan bahwa proses pembunuhan bakteri oleh senyawa klor,
selain oleh oksigen bebas juga disebabkan oleh pengaruh langsung
senyawa klor yang bereaksi dengan protoplasma. Beberapa percobaan
menyebutkan bahwa kematian mikroorganisme disebabkan reaksi kimia
antara asam hipoklorus dengan enzim pada sel bakteri sehingga
metabolismenya terganggu (Darmasetiawan, 2001). Sedangkan menurut
Al-layla (1980), desinfektan yang digunakan dalam desinfeksi haruslah:
1. Dapat mematikan semua jenis organisme patogen
2. Ekonomis dan dapat dilaksanakan dengan mudah
3. Tidak menyebabkan air menjadi toksik dan berasa
4. Dosis diperhitungkan agar terdapat residu untuk mengatasi adanya
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-21
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
kontaminan dalam bakteri
Senyawa klor dapat mematikan mikroorganisme dalam air karena
oksigen yang terbebaskan dari senyawa asam hypoklorous mengoksidasi
beberapa bagian yang penting dari sel-sel bakteri sehingga rusak. Senyawa
klor dalam air akan bereaksi dengan senyawa organik maupun anorganik
tertentu membentuk senyawa baru. Beberapa bagian klor akan tersisa yang
disebut sisa klor.
2.5.8.
Bangunan Clear Well
Clearwell biasanya terletak di ujung proses pengolahana atau di
akhir sistem sumur. Konfigurasi ini digunakan untuk waktu kontak ketika
bahan aditif kimia digunakan. Struktur penyimpanan ini memiliki
penggunaan terbatas sebagai reservoir penyimpanan karena lokasinya.
Biasanya terletak di ujung sistem sumur atau dari proses perawatan, mereka
memiliki persediaan terbatas untuk pasokan sistem distribusi yang dapat
diandalkan jika terjadi keadaan darurat. Penyimpanan Clearwell biasanya
harus dipompa dan akan membutuhkan daya siaga untuk menjadi sumber
yang andal dalam keadaan darurat.
2.5.9.
Bangunan Pengolahan Lumpur
Bangunan Pengolahan Lumpur merupakan bangunan untuk melakukan
rangkaian kegiatan mengolah lumpur buangan melalui proses pengolahan
lumpur. Meliputi thickening, dewatering dan handling lumpur.
Thickening (penebalan)
bagian dari proses dalam pengolahan lumpur
dengan cara memekatkan lumpur dan mengurangi volume lumpur.
Dewatering lumpur bagian dari proses pengolahan air dengan cara
penyisihan air dari sejumlah lumpur dengan tujuan untuk mengurangi
volume air untuk mempercepat proses pengeringan lumpur.
Penanganan/handling lumpur proses pemanfaatan dari hasil olahan pada
proses pengolahan lumpur, sehingga dapat berguna bahan baku alernatif
lainnya.
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-22
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
2.6. Pedoman Operasi BPAM
2.6.1.
Pedoman Operasi Bangunan Intake
Pedoman operasi bangunan intake diatur dalam Peraturan Menteri PUPR
26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar Pengelolaan Sistem
Penyediaan Air Minum.
Tahap pengoperasian meliputi:
a. mengambil sampel air baku untuk diperiksa di laboratorium;
b. menghentikan aliran apabila kualitas air tidak bisa diolah di unit
produksi;
c. mengatur debit pengambilan air baku sesuai kebutuhan;
d. mengalirkan air baku ke unit produksi;
e. apabila menggunakan sistem perpompaan, maka mengoperasikan
pompa sesuai jumlah dan kapasitasnya, sistem kontrol panel pompa dan
kelistrikan atau genset sebagaimana POS Pengoperasian Mekanikal dan
Elektrikal.
2.6.2.
Pedoman Operasi Bangunan Prasedimentasi
Pedoman operasi bangunan prasedimentasi diatur dalam Peraturan
Menteri PUPR 26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar
Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum. Tahap pengoperasian meliputi:
a. membuang lumpur dari bak pra sedimentasi sesuai dengan periode
waktu yang telah ditentukan dalam perencanaan atau tergantung pada
kondisi air baku;
b. mengalirkan air setelah proses prasedimentasi ke instalasi pengolahan
air selanjutnya.
2.6.3.
Pedoman Operasi Bangunan Koagulasi
Pedoman operasi bangunan koagulasi diatur dalam Peraturan Menteri
PUPR 26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar Pengelolaan
Sistem Penyediaan Air Minum.
Pengoperasian pengaduk cepat (proses koagulasi) meliputi membubuhkan
koagulan sesuai dengan dosis yang dibutuhkan pada pengaduk cepat
(berdasarkan hasil jar test di laboratorium).
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-23
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
2.6.4.
Pedoman Operasi Bangunan Flokulasi
Pedoman operasi bangunan flokulasi diatur dalam Peraturan Menteri
PUPR 26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar Pengelolaan
Sistem Penyediaan Air Minum. Meliputi :
a. melakukan pengamatan terhadap pembentukan
dan gangguan
pembentukan flok;
b. melakukan perbaikan pengolahan air pada pengaduk lambat apabila
terjadi gangguan pembentukan flok (flok-flok terapung, flok halus),
sesuai IK troubleshooting.
2.6.5.
Pedoman Operasi Bangunan Sedimentasi
Pedoman operasi bangunan sedimentasi diatur dalam Peraturan Menteri
PUPR 26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar Pengelolaan
Sistem Penyediaan Air Minum. Pengoperasian bak sedimentasi meliputi :
a. mengatur pembuangan lumpur;
b. melakukan pengamatan terhadap kekeruhan air
hasil sedimentasi;
c. melakukan perbaikan pengolahan air pada bak sedimentasi apabila
terjadi gangguan kekeruhan air hasil sedimentasi (sesuai dengan IK
troubleshooting);
d. mengalirkan air olahan ke filter
2.6.6.
Pedoman Operasi Bangunan Filtrasi
Pedoman operasi bangunan filtrasi diatur dalam Peraturan Menteri PUPR
26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar Pengelolaan Sistem
Penyediaan Air Minum. Tahap pengoperasian meliputi :
a. mengatur ketinggian air
b. mengamati
ketinggian kehilangan tekanan maksimum
c. melakukan backwash sesuai ketentuan
d. melakukan perbaikan pengolahan air pada filter apabila terjadi
gangguan proses filtrasi (sesuai dengan IK troubleshooting), seperti:
• tekanan negatif;
• debit yang masuk tidak sesuai dengan desain;
• timbulnya bola lumpur;
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-24
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
• terjadinya pengerasan dan perlengketan media filter;
• terjadi penyumbatan pada under drain;
• proses back wash yang kurang tekanan dan tidak merata; dan
• adanya kehilangan media filter terangkat sewaktu backwash.
2.6.7.
Pedoman Operasi Bangunan Desinfeksi
Operasional dan proses desinfeksi tergantung pada tipe desinfektan yang
digunakan, ukuran IPA dan karakteristik air baku. Sisa klorin bebas yang
terdapat dalam reservoir air bersih harus kurang dari 0,5 mg/l oleh karena itu
sisa klorin pada akhir sistem distribusi harus berkisar antara 0,2 - 0,3 mg/l
setiap saat (Ermawati dan Awaluddin, 2018).
2.6.8.
Pedoman Operasi Bangunan Clear Well
Pedoman operasi bangunan clear well diatur dalam Peraturan Menteri
PUPR 26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar Pengelolaan
Sistem Penyediaan Air Minum. Tahap pengoperasian meliputi :
a. membubuhkan bahan untuk menetralkan pH pada proses stabilisasi;
b. membubuhkan desinfektan.
2.7. Pedoman Pemeliharaan BPAM
2.7.1.
Pedoman Pemeliharaan Bangunan Intake
Pedoman pemeliharaan bangunan intake diatur dalam Peraturan Menteri
PUPR 26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar Pengelolaan
Sistem Penyediaan Air Minum.
Tahap pemeliharaan rutin meliputi:
a. membersihkan sampah di sekitar bar screen;
b. mengontrol sistem perpipaan diseluruh bagian intake dan aksessorisnya
dari kebocoran;
c. mengecek alat ukur aliran;
d. mengecek bangunan sipil umum, papan duga, bar screen dari kerusakan
struktur bangunan;
e. melakukan pengerukan lumpur di sekitar sungai dekat intake;
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-25
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
f. melakukan pengurasan lumpur di saluran masuk ke intake dan bak
penampungnya;
g. menjaga kebersihan papan duga;
h. mengecek kondisi pompa, genset dan kontrol panel, jika pengaliran
dilakukan menggunakan pompa.
Pemeliharaan berkala meliputi:
a. mengecek bangunan sipil umum, bangunan papan duga, bangunan bar
screen dari kerusakan struktur bangunan;
b. mengecat bangunan sipil umum, bangunan papan duga, bangunan bar
screen dan peralatan dan perlengkapan lain yang terbuat dari logam agar
tidak berkarat;
c. memelihara pompa, genset, dan kontrol panel secara berkala, jika
pengaliran dilakukan dengan menggunakan pompa sesuai dengan POS
Pemeliharaan Mekanikal dan Elektrikal.
Identifikasi kerusakan sarana dan prasarana intake bebas meliputi:
a. mengidentifikasi kerusakan fisik bangunan utama dan penunjang
(bangunan sipil);
b. mengidentifikasi kerusakan/kebocoran pipa;
c. mengidentifikasi kerusakan pompa;
d. mengidentifikasi kerusakan genset; dan
e. mengidentifikasi kerusakan motor pompa.
Perbaikan kerusakan sarana dan prasarana intake bebas meliputi:
a. memperbaiki kerusakan tanpa penggantian peralatan atau suku cadang;
b. memperbaiki kerusakan dengan penggantian peralatan atau suku
cadang.
Pelaporan meliputi:
a. menyusun laporan hasil pemeliharaan sarana dan prasarana;
b. menyusun laporan perbaikan kerusakan.
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-26
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
2.7.2.
Pedoman Pemeliharaan Bangunan Prasedimentasi
Pedoman pemeliharaan bangunan prasedimentasi diatur dalam Peraturan
Menteri PUPR 26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar
Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum.
Tahap pemeliharaan rutin meliputi:
a. membersihkan rumput dan kotoran lainnya di lingkungan sekitar area
bak pra sedimentasi;
b. membersihkan bak penampung dan pengendapan dari benda-benda
yang terapung;
c. memeriksa kondisi perpipaan, katup dan aksesorisnya dari kebocoran
dan karat;
d. memeriksa unit prasedimentasi dan perlengkapannya dari kerusakan.
Pemeliharaan berkala meliputi:
a. membuang lumpur pada bagian dasar prasedimentasi secara teratur;
b. melakukan pengecatan bangunan prasedimentasi serta bahan yang
terbuat dari logam agar tidak berkarat;
c. memeriksa konstruksi instalasi bak penampungan dan bak pengendapan
prasedimentasi dari kebocoran akibat retak-retak.
Identifikasi kerusakan meliputi:
a. mengidentifikasi kerusakan pada bangunan prasedimentasi;
b. mengidentifikasi kerusakan pada perpipaan, katup dan aksesoris
lainnya.
Rencana Tindak Perbaikan kerusakan meliputi:
a. memperbaiki kerusakan tanpa penggantian peralatan atau suku cadang;
b. memperbaiki kerusakan dengan penggantian peralatan atau suku
cadang.
Pelaporan meliputi:
a. membuat laporan pemeliharaan sarana dan prasarana;
b. membuat laporan kerusakan untuk ditindaklanjuti perbaikannya.
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-27
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
2.7.3.
Pedoman Pemeliharaan Bangunan Koagulasi
Pedoman pemeliharaan bangunan koagulasi diatur dalam Peraturan
Menteri PUPR 26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar
Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum. Tahap pemeliharaan rutin dan
berkala meliputi:memeriksa pipa penyalur dan kondisi kerja katup.
2.7.4.
Pedoman Pemeliharaan Bangunan Flokulasi
Pedoman pemeliharaan bangunan flokulasi diatur dalam Peraturan
Menteri PUPR 26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar
Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum.Tahap pemeliharaan rutin
meliputi:
a. memelihara dan membersihkan bangunan bak flokulasi;
b. membersihkan busa dan kotoran yang mengapung
c. memelihara katup-katup pembuang lumpur;
d. membersihkan lumut dan lingkungan sekitarnya.
Tahap pemeliharaan berkala meliputi :
a. memberi pelumas pada katup-katup pembuangan lumpur dan melakukan
perbaikan apabila diperlukan;
b. memperbaiki/mengganti peralatan sesuai keperluan;
c. memperbaiki kerusakan pintu dan melakukan pengecatan;
d.
2.7.5.
memperbaiki/mengganti peralatan sesuai keperluan.
Pedoman Pemeliharaan Bangunan Sedimentasi
Pedoman pemeliharaan bangunan sedimentasi diatur dalam Peraturan
Menteri PUPR 26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar
Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum. Tahap pemeliharaan rutin
meliputi:
a. membersihkan bak pengendap;
b. memeriksa dan memastikan kedudukan gutter sesuai dengan ketentuan.
Tahap pemeliharaan berkala meliputi:
a. memberi pelumas pada katup;
b. membersihkan plat settler;
c. menata kembali peletakan plat settler;
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-28
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
d. mengecat bak pengendap;
e. membersihkan ruang lumpur
2.7.6.
Pedoman Pemeliharaan Bangunan Filtrasi
Pedoman pemeliharaan bangunan sedimentasi diatur dalam Peraturan
Menteri PUPR 26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional Standar
Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum. Tahap pemeliharaan rutin
meliputi:
a. membersihkan bak filter;
b. membersihkan busa, lumut dan kotoran yang mengapung pada filter.
Tahap pemeliharaan berkala meliputi:
a. memberikan pelumas pada katup;
b. memelihara komisi dan kondisi media filter sesuai ketentuan;
c. memeriksa dan memperbaiki kinerja under drain melalui pengamatan
aliran;
d. melakukan pengecatan bak dan peralatan filtrasi.
2.7.7.
Pedoman Pemeliharaan Bangunan Pengolahan Lumpur
Pedoman pemeliharaan bangunan pengolahan lumpur diatur dalam
Peraturan Menteri PUPR 26/PRT/2014 tentang Prosedur Operasional
Standar Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum. Tahap pemeliharaan
rutin meliputi:
a. membersihkan pompa dari pengendapan lumpur
b. membersihkan pipa dan peralatannya dari pengendapan lumpur.
Tahap pemeliharaan berkala meliputi:
a. memeriksa dan memperbaiki kerusakan peralatan mekanikal dan
elektrikal serta pompa;
b. memberi pelumas pada sistem mekanikal pompa.
Identifikasi kerusakan sarana dan prasarana unit pengolahan lumpur,
meliputi:
a. terjadinya penyumbatan lumpur
yang mengakibatkan berkurangnya
debit pompa;
b. lumpur yang terbawa pada saat pemompaan;
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-29
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
c. POS Pemeliharaan Mekanikal dan Elektrikal.
Pelaporan meliputi:
a. membuat
laporan pemeliharaan sarana dan prasarana bangunan
pengolahan lumpur;
b. membuat
laporan kerusakan sarana dan prasarana bangunan
pengolahan lumpur untuk ditindaklanjuti perbaikannya.
ALYA KARMILIA
21080117120036
II-30
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
BAB III
METODOLOGI PERENCANAAN
3.1. Tujuan Perencanaan Operasional
Dalam perencanaan IPA ini diperlukan susunan metode perencanaan yang
sistematis mulai dari awal sampai selesai. Berikut tujuan operasonal
perencanaan :
Tabel 3.1
Tujuan Perencanaan
Tujuan Umum
Merencanakan
desain
teknik
Intake
dan
Instalasi Pengolahan Air
(IPA)
Menentukan
standar
operasional
dan
pemeliharaan intake dan
IPA
Menghitung
Rencana
Anggaran Biaya (RAB)
pelaksanaan
pekerjaan
intake
dan
Instalasi
Pengolahan Air (IPA)
beserta unit pengolahan
lumpur
Tujuan Operasional
Penentuan
alternatif
sistem pengolahan air
minum dan lumpur
 Perhitungan desain
 Pembuatan
gambar
teknis
 Penyusunan
standar
operasional
 Penyusunan
standar
pemeliharaan
Data yang Dibutuhkan
 Data kondisi air baku
 Data kebutuhan air
minum
 Kriteria desain

 Hasil perencanaan
 Daftar harga satuan
bangunan dan upah




Pemilihan spesifikasi
yang sesuai
Perhitungan
volume
pekerjaan
Perhitungan
analisa
harga satuan
Perhitungan
rencana
anggaran biaya
 Diagram
alir
pengolahan
 Referensi dan data
operasional
dan
pemeliharaan
Sumber : Analisi Penulis, 2019.
Untuk memenuhi tujuan tersebut dilakukan perencanaan bertahap. Tahap
perencanaan IPA meliputi :
1. Tahap Persiapan
Dalam tahap ini dilakukan proses administrasi hingga diperoleh
persetujuan pelaksanaan tugas akhir yang dipilih, berikut merupakan objek
dari tugas akhir peneliti yaitu perencanaan IPA. Pada tahap ini juga sudah
dimulai melakukan studi literatur yang relevan.
ALYA KARMILIA
21080117120036
III-1
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
2. Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan meliputi pencarian data - data sekunder
guna menunjang perencanaan yang akan dilakukan.
3. Tahap Perencanaan
Tahap ini memaparkan tentang perencanaan desain IPA berdasarkan data
eksisting dan literatur (pustaka) yang ada. Sesuai dengan tujuan perencanaan,
tahap ini akan menghasilkan desain teknis, standar operasional pemeliharaan
dan RAB.
3.2. Waktu dan Lokasi Perencanaan
Perencanaan Instalasi Pengolahan Air dengan estimasi pelaksanaan selama
enam bulan.
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Untuk membuat rencana umum dan desain IPA, diperlukan data - data
pendukung untuk menunjang pembuatann rencana umum IPA. Data yang
diperlukan di antaranya kondisi lapangan, kualitas air baku dan kuantitas air
baku. Selain itu, juga diperlukan data - data berupa data administratif wilayah
studi, peta wilayah studi, jumlah penduduk wilayah studi minimal data lima
tahun terakhir, data sarana dan prasarana, data kependudukan, data pelayanan
eksisting.
3.3.1. Data Sekunder
Data sekunder yaitu pengumpulan data - data yang digunakan untuk
identifikasi kondisi fisik wilayah perencanaan meliputi :
1. Data kebutuhan air minum
2. Kuantitas dan kualitas air baku
3.3.2. Metode Pengumpulan Data
Dalam perencanaan sistem intake dan IPA diperlukan data - data yang
mendukung sebagai berikut :
Tabel 3.2
ALYA KARMILIA
21080117120036
III-2
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Metode Pengumpulan Data
Data
Kebutuhan air
minum
Sumber
Perhitungan
proyeksi air minum
Kualitas air baku
Standar Operasional
Tugas Besar
PBPAM
BAPPEDA
Kabupaten
Banyumas
Daftar harga
satuan bangunan
dan upah
Metode
Pengambilan data
sekunder berupa
proyeksi kebutuhan
air daerah
pelayanan
Pengambilan data
berupa kualitas air
baku
Pengambilan data
berupa daftar harga
satuan bangunan
dan upah
Alat
Dokumentasi
hasil perhitungan
proyeksi air
minum
Dokumentasi
tertulis
Dokumen tertulis
Sumber :Analisis Penulis,2019.
3.4. Pengolahan dan Analisis Data
Setelah kondisi eksisting diketahui melalui data - data yang dikumpulkan,
data - data tersebut diolah sedemikian rupa sehingga mudah untuk dilakukan
analisis data. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis daerah
perencanaan, analisis kebutuhan air minum, analisis kuantitas air baku dan
analisis lokasi yang direncanakan untuk instansi pengolahan air minum.
3.4.1. Analisis Kualitas Air Baku
Data kualitas air baku digunakan untuk mengetahui kelas air baku yang
akan digunakan. Baku mutu yang digunakan adalah Peraturan Pemerintah No.
82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air. Data kualitas air baku kemudian dibandingkan dengan
standar baku mutu air baku kelas I, II, III dan IV.
Data kualitas air digunakan untuk mngetahui parameter - parameter yang
melebihi baku mutu air minum. Kualitas air baku dianalisis bagaimana
alternatif pengolahn yang tepat untuk meningkatkan kualitas air baku sesuai
dengan baku mutu air minum. Baku mutu yang digunakan adalah Peraturan
Menteri Kesehatan No 492/Menkes/PER/IV/2010 tentang Syarat - syarat dan
Pengawas Kualitas Air Minum. Parameter - parameter yang konsentrasinya
tidak sesuai dengan standar yang ada berarti memerlukan penyesuaian
konsentrasi. Penyesuaian konsentrasi ini dilakukan dengan pengolahan air
ALYA KARMILIA
21080117120036
III-3
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
baku. Dalam menentukan unit proses dan operasi pengolahan yang akan
digunakan didasarkan pada studi literatur dari berbagai sumber.
3.5. Tahapan Perencanaan
3.5.1. Pemilihan Alternatif Unit Pengolahan
Dalam menentukan unit pengolahan air, maka harus dilakukan pertimbangan
- pertimbangan terlebih dahulu agar mempermudah dalam pengambilan
keputusan. Pemilihan alternatif menggunakan metode skoring yang mana
menurut Soegiono (2012) dapat menggunakan skala Likert. Adapun acuan
sebagai bahan pertimbangan menurut AWWA (2005) dan Davis (2010) adalah
sebagia berikut :
1. Efisiensi
2. Kebutuhan lahan
3. Biaya investasi
4. Operation & Maintenance
5. Biaya operasional dan pemeliharaan
3.5.2. Merencanakan Bangunan Instalasi Pengolahan Air
Dalam merencanakan bangunan intake dan instalasi pengolahan air
didasarkan kepada kebutuhan air minum yang akan didistribusikan,
berdasarkan analisa JICA (2008), beberapa hal yang akan dilakukan adalah :
1. Perhitungan dimensi unit pengolahan terpilih
Menghitung besarnya dimensi bangunan instalasi pengolahan air yang
akan direncanakan, meliputi perhitungan :
a. Panjang, lebar dan tinggi bangunan intake, IPA dan unit pengolahan
lumpur
b. Kedalaman penggalian dan volume bangunan intake dan IPA.
c. Dimensi bangunan pendukung lainnya
2. Profil hidrolis dan neraca air sistem
3. Layout (tata letak) dan gambar teknik intake dan IPA
3.5.3. Menyusun Prosedur Operasi dan Pemeliharaan
Penentuan standar Operational and Procedure untuk memudahkan dalam
Pengoperasian dan pemeliharaan bangunan intake dan IPA
ALYA KARMILIA
21080117120036
yang
III-4
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
direncanakan. standar Operational and Procedure dibuat berdasarkan hasil
perencanaan meliputi aspek teknis dari intake, setiap unit pengolahan dan
bangunan penunjang lainnya.
3.5.4. Perhitungan Rancangan Anggaran Biaya
Berdasarkan harga satuan pekerjaan untuk membangun instalasi pengolahan
air akan diketahui berapa anggaran biaya yang harus dikeluarkan oleh
pelaksana dalam pembangunan unit pengolahan air. Perhtiungan RAB
didasarkan pada volume bangunan dan harga satuan barang dan jasa yang
berlaku.
3.5.5. Penyusunan Laporan
Detail perencanaan sistem instalasi air minum yang telah selesai kemudian
disusun dalam bentuk laporan tugas besar.
ALYA KARMILIA
21080117120036
III-5
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
3.5.6. Diagram Alir Perencanaan
Gambar 3.3 Diagram Alir Perencanaan
Sumber : Analisis Penulis, 2019
ALYA KARMILIA
21080117120036
III-6
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
BAB IV
ANALISIS AIR BAKU
4.1. Kajian Kualitas Air Baku Terhadap Standar Kualitas Air Minum
Dalam merencanakan suatu instalasi bangunan pengolahan air minum
dibutuhkan data karateristik air baku yang diolah menjadi air produksi, sehingga
dapat menentukan parameter - parameter yang harus direduksi agar memenuhi
baku mutu air minum dan aman untuk di konsumsi masyarakat. Oleh karena itu,
setiap penyelenggara air minum wajib menjamin air minum yang diproduksinya
aman bagi kesehatan. Dalam Peraturan Daerah perlu ditetapkan sebagai berikut :
a. Kualitas air yang dimaksud sesuai dengan ketentuan peraturan Menteri
Kesehatan
b. Jumlah parameter yang perlu diperiksa di laboratorium daerah sesuai dengan
kemampuan dan fasilitas yang tersedia
c. Pemeriksaan kualitas air dilakukan secara bertahap dan terus ditingkatkan
sehingga tercapai pelaksanaan pemeriksaan sesuai ketentuan dimaksud
d. Parameter yang tidak dapat diperiksa, dirujuk ke laboratorium yang lebih
tinggi kemampuannya sesuai dengan kebutuhan.
Kualitas air yang didistribusikan untuk dikonsumsi oleh masyarakat harus
memenuhi standar baku mutu kualitas air sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Peraturan tentang kualitas air minum yang digunakan untuk menganalisis air
baku pada sungai dengan parameter-parameter yang berhubungan dengan air
minum
seperti
kekeruhan,
padatan
tersuspensi,
zat
organik,
dan
parameter-parameter terkait lainnya dilakukan dengan membandingkan data
dengan Permenkes No. 492 Tahun 2010 Tentang Persyaratan Air Minum.
Kualitas air baku baku yang digunakan dapat
dilihat dari tabel berikut :
1. Warna
2. Kekeruhan
3. Besi
4. Zat Organik
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-1
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
4.2. Tingkat Pengolahan yang Diinginkan
Berdasarkan data parameter air baku yang tidak memenuhi, ditentukan
beberapa alternatif unit pengolahan yang dipakai dan disajikan dalam tabel
berikut:
Tabel 4.1
Perhitungan Kebutuhan Penyisihan
No
Parameter
Konse
ntrasi
Standar
Baku Mutu
Kebutuhan
Penyisihan
Ket
.
1
Warna
60
TCU
15 TCU
(60-15)/60 x 100% =
75%
MP
2
Kekeruhan
200
NTU
5 NTU
(200-5)/200 x 100%
= 97,5 %
MP
3
Besi
0,34
mg/l
0,3 mg/l
(0,34-0,3)/0,34 x
100% = 11,76 %
MP
4
Zat Organik
24,05
mg/l
10 mg/l
KMnO4
(24,05-10)/24,05 x
100% = 58,41 %
MP
Sumber :
1. Data kualitas air baku;
2. PP No. 82 Tahun 2001;
3. Permenkes Nomor.492/Menkes/Per/IV/2010
Keterangan : MP = Memerlukan Pengolahan
4.3. Analisis Kondisi Parameter Kualitas Air Baku
Dalam merencanakan suatu instalasi bangunan pengolahan air minum
dibutuhkan data karateristik air baku yang diolah menjadi air produksi, sehingga
dapat menentukan parameter - parameter yang harus direduksi agar memenuhi
baku mutu air minum dan aman untuk di konsumsi masyarakat. Kualitas air
yang didistribusikan untuk dikonsumsi oleh masyarakat harus memenuhi standar
baku mutu kualitas air sesuai dengan peraturan yang berlaku. Peraturan tentang
kualitas air minum yang digunakan untuk menganalisis air baku pada sungai
dengan parameter - parameter yang berhubungan dengan air minum seperti
kekeruhan, padatan tersuspensi, zat organik dan parameter - parameter terkait
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-2
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
lainnya dilakukan dengan membandingkan data dengan Permenkes No
492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan air minum.
Kualitas air baku Sungai dapat dilihat dari tabel 4.2 berikut ini.
Tabel 4.2
Analisis Kualitas Air Baku
No
Parameter
Satuan
Hasil
Pemeriksaan1
Permenkes
No 492/20102
Keterangan
60
15
Tidak
Memenuhi
5
Tidak
Memenuhi
1
Warna
TCU
2
Kekeruhan
NTU
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Daya hantar listrik
NH4
NO2
NO3
pH
Natrium
Kalium
Kalsium
Magnesium
Besi
Μmhos
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
13
14
15
16
Mangan
CO2
CO2 agresif
Zat organik
17
18
19
20
Bikarbonat
Sulfat
klorida
Kesadahan
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
KmnO4
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
200
650
0,45
0,05
1,5
7,58
25,68
2
36
24
0,34
1,5
3
50
6,5 – 8,5
0,3
0,38
4
1
24,05
0,4
10
35
4,5
15
65
250
250
500
Memenuhi
Memenuhi
Memenuhi
Tidak
Memenuhi
Memenuhi
Tidak
Memenuhi
Memenuhi
Memenuhi
Memenuhi
Sumber :
(1) Data Air Baku
(2) Permenkes No.492 Tahun 2010
Berdasarkan hasil perbandingan kualitas air baku dari data yang diperoleh
dengan kualitas air minum pada Permenkes No. 492 Tahun 2010 tentang
Persyaratan Air Minum,dapat diketahui parameter air yang memenuhi dan tidak
memenuhi peraturan- peraturan tersebut sebagai persyaratan air minum.
Berdasarkan data dan analisis, terdapat beberapa parameter air baku yang
tidak memenuhi, yakni warna, kekeruhan, besi, dan zat organik.
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-3
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
4.3.1. Warna
Menurut Yusuf (2012), warna pada air terjadi karena adanya bahan kimia atau
mikroorganisme yang terlarut di dalam air. Warna yang disebabkan oleh
mikroorganisme disebut true color yang tidak berbahaya bagi kesehatan,
sedangkan warna yang disebabkan bahan-bahan kimia disebut apparent color
yang berbahaya bagi tubuh manusia. Adanya oksida besi menyebabkan air
berwarna kemerahan, sedangkan oksida mangan menyebabkan air berwarna
kecoklatan atau kehitaman. Kadar besi sebanyak 0,3 mg/l dan kadar mangan
sebanyak 0,05 mg/l sudah cukup dapat menimbulkan warna pada perairan (Peavy
et al., 1985 dalam Effendi, 2003).
Warna perlu dihilangkan atau dilakukan pengolahan karena terdapat partikel
TSS (Total Suspended Solid) yang tidak baik digunakan sebagai air minum.
Sehingga warna dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam air dan oksigen
tidak dapat masuk ke air, dan menyebabkan DO dalam air menurun serta makhluk
hidup di air tidak mendapatkan oksigen.
4.3.1.1.
Dampak bagi Manusia
Dampak yang muncul dari adanya warna pada air bagi kesehatan manusia
adalah timbulnya berbagai macam jenis penyakit. Sebagian penyakit yang sering
muncul adalah kategori penyakit pencernaan dan penyakit kulit. Penyakit kulit
dapat dipindahkan ke orang lain melalui air, sebagai akibat kurangnya air bersih
untuk keperluan kebersihan pribadi (Purbowarsito, 2011). Adanya warna pada air
juga dapat mengurangi estetika lingkungan.
4.3.1.2.
Cara Pengolahan
Dalam menghilangkan warna dapat digunakan karbon aktif untuk warna
cokelat tanpa kekeruhan, dan menggunakan pembubuhan PAC jika warna air
adalah putih. Penggunaan karbon aktif dapat mengadsorpsi (menyerap) penyebab
perubahan warna pada air (Tri Joko, 2010).
4.3.2. Kekeruhan
Kekeruhan adalah efek optik yang terjadi jika sinar membentuk material
tersuspensi di dalam air. Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan bahan organik dan anorganik seperti lumpur dan buangan, dari permukaan
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-4
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
tertentu yang menyebabkan air sungai menjadi keruh. Meskipun kekeruhan
hanya sedikit, dapat menyebabkan warna yang lebih tua dari warna
sesungguhnya. Air yang kekeruhannya tidak memenuhi baku mutu (kekeruhan
tinggi) perlu dihilangkan atau disisihkan, karena dapat mengalami kesulitan
dalam proses pengolahan air bersih apabila dengan kekeruhan tinggi.
Kesulitannya antara lain dalam proses penyaringan air. Apabila proses
penyaringan dilakukan dengan kekeruhan tinggi akan memerlukan biaya yang
lebih besar. Serta air dengan kekeruhan tinggi akan sulit untuk didisinfeksi, yaitu
proses pembunuhan terhadap kandungan mikroba yang tidak diharapkan.
4.3.2.1.
Dampak bagi Manusia
Menurut Sutrisno (2006), dampak kekeruhan bagi manusia adalah mengurangi
segi estetika dari air itu sendiri. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan
terganggunya sistem ormoregulasi, misalnya pernapasan dan daya lihat
organisme akuatik serta dapat menghambat penetrasi cahaya dalam air (Effendi,
2003).
4.3.2.2.
Cara Pengolahan
Tingkat kekeruhan yang tinggi akan menyebabkan tingkat sedimen yang
tinggi pula pada air. Pada air dengan kekeruhan tinggi disarankan untuk
melakukan tahap pra sedimentasi sebelum melakukan tahap koagulasi dan
flokulasi. Alternatif lainnya adalah menggunakan saringan pasir lambat, dimana
sebelum dilakukan penyaringan harus terlebih dahulu melakukan pengendapan
sampai kekeruhan mencapai 50 mg/lt SiO2 (Tri Joko, 2010).
4.3.3. Besi
Keberadaan besi dalam air bersifat terlarut, menyebabkan air menjadi merah
kekuning-kuningan, menimbulkan bau amis, dan membentuk lapisan seperti
minyak. Dalam air minum, kadar maksimum besi yaitu 0,3 mg/l, sedangkan
untuk nilai ambang rasa pada kadar 2 mg/l. Besi dalam tubuh dibutuhkan untuk
pembentukan hemoglobin namun dalam dosis yang berlebihan dapat merusak
dinding halus sel darah merah (Tri Joko, 2010).
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-5
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
4.3.3.1.
Dampak bagi Manusia
Manusia membutuhkan besi dengan kadar maksimum 0,3 mg/l. Besi dalam
tubuh manusia berguna untuk pembentukan hemoglobin. Namun apabila kadar
besi yang dikonsumsi berlebihan, dapat merusak dinding halus (Tri Joko, 2010).
4.3.3.2.
Cara Pengolahan
Menurut Tri Joko (2010), metode yang sering digunakan untuk
menghilangkan besi, yakni :
a. Oksidasi dan presipitasi
b. Penambahan bahan-bahan kimia dan pengendapan serta filtrasi
c. Pertukaran ion
Besi dalam bentuk ferrous (+2) dioksidasi menjadi ferric hidroksida terlarut
yang dapat dihilangkan melalui presipitasi. Besi ferro (Fe2+) adalah terlarut,
bentuk yang tidak terlihat, mungkin terdapat dalam air sumur atau air yang
anaerobik. Apabila kontak dengan udara, bentuk ini teroksidasi berubah perlahan
menjadi bentuk yang tidak larut, bentuk kelihatan nyata, besi teroksidasi, Ferri
(Fe3+). Besi teroksidasi tersebut dapat seluruhnya dihilangkan dengan proses
pengendapan dan penyaringan (Tri Joko, 2010).
Sementara besi teroksidasi secara kimiawi oleh sisa klor bebas atau
pottasium permanganat pada tingkat oksidasi, lebih besar dari pada oksigen
terlarut. Apabila klor digunakan, sisa klor bebas yang ada dipertahankan melalui
proses pengolahan. Penyaringan yang efektif mengikuti aerasi atau oksidasi
kimiawi adalah penting, bila sejumlah flokulan oksida metal tidak cukup berat
untuk mengendap dengan cara gravitasi (Tri Joko, 2010).
4.3.4. Zat Organik
Zat organik adalah zat yang banyak mengandung unsur karbon. Contohnya
antara lain Benzen, kloroform, Detergen, Methoxyklor, dan Pentaklorophenol.
Dengan adanya kandungan zat organik di dalam air berarti air tersebut sudah
tercemar, terkontaminasi rembesan dari limbah dan tidak aman sebagai sumber
air minum. Itulah sebabnya banyak masyarakat yang mengkonsumsi air isi ulang
sebagai air minum karena bersumber dari pegunungan dan harganya relatif lebih
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-6
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
murah, mudah didapat, meskipun tidak semua kualitas airnya sudah memenuhi
standar departemen kesehatan (A.Tresna Sastrawijaya, 2000).
4.3.4.1.
Dampak bagi Manusia
Salah satu contoh zat organik yang berdampak serius bagi kesehatan
manusia, yaitu Benzena. Dimana pajanan benzena pada manusia melalui inhalasi
bersifat karsinogenik. Adanya pajanan benzena di lingkungan kerja telah
dikaitkan dengan peningkatan insiden leukemia myeloblastic atau erythroblastic
myeloid akut maupun kronis dan leukemia limfoid pada para pekerja (Agency for
Toxic Substance and Disease Register (ATSDR), 2007).
4.3.4.2.
Cara Pengolahan
Air yang mengandung zat organik dapat dihilangkan ataupun ditekan
serendah mungkin kadarnya dengan cara pemakaian karbon aktif granular atau
granular activated carbon (GAC). Pemakaian GAC merupakan suatu proses
efektif dalam menghilangkan zat organik alami atau natural organic matter
(NOM) yang terdapat dalam sumber air minum. Selain itu, dalam
menghilangkan zat organik bias dengan melalui proses adsorpsi (Tri Joko,
2010).
4.4. Alternatif Pengolahan Air
Tabel 4.3
Alternatif Pengolahan Air Beberapa Parameter
No
1
Parameter
Warna
2
Kekeruhan
3
Besi
4
Zat Organik
ALYA KARMILIA
21080117120036
Alternatif Pengolahan
Koagulasi
Adsorpsi GAC, PAC, resin sintetik
Oksidasi dengan klorine, permanganat,
dan klorine dioxide
Prasedimentasi
Koagulasi dan flokulasi
Sedimentasi
Filtrasi
Oksidasi
Transfer Gas (Aerasi)
Chemical Precipitation
Ion Exchange
Reverse Osmosis
Ion Exchange
Air Stripping
IV-7
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Adsorpsi Karbon
Oksidasi
Koagulasi
Sumber : Montgomery, 1985 (*) Tambo, 1974
Keempat aspek tersebut kemudian dinilai untuk mendapatkan alternatif
pengolahan yang diinginkan. Alternatif pengolahan tersebut dibandingkan dengan
alternatif pengolahan yang lain. Setelah mendapatkan beberapa alternatif,
kemudian dibandingkan efisiensi removal tiap unit.
Dalam menentukan tingkat pengolahan yang diinginkan, maka diperlukan
aspek teknis, beban Pengolahan, aspek ekonomis, dan aspek lingkungan. Hal ini
diperlukan agar insinyur dapat merencakan unit pengolahan air minum yang
efektif dan efisien. Adapun aspek teknis yang perlu diperhatikan yaitu :
1.
Ketersediaan lahan
2.
Kemudahan teknis pelaksanaan
3.
Pengadaan bahan – bahan pembangunan IPA
4.
Kemudahan dalam operasional
5.
Pemeliharaan
6.
Ketersediaan tenaga operator
7.
Ketersediaan alat – alat operator
Adapun Aspek Ekonomis yang perlu diperhatikan :
8.
Biaya Konstruksi
9.
Biaya Operasi
10. Biaya Pemeliharaan
Adapun Aspek lingkungan yang perlu diperhatikan agar terciptanya unit
pengolahan air minum yang tidak mengganggu masyarakat sekitar dan
lingkungan di sekitarnya.
Keempat aspek tersebut kemudian dinilai untuk mendapatkan alternatif
pengolahan yang diinginkan. Alternatif pengolahan tersebut dibandingkan dengan
alternatif pengolahan yang lain. Setelah mendapatkan beberapa alternatif,
kemudian dibandingkan efisiensi removal tiap unit.
Tabel 4.4
Efisiensi Pengolahan Air Minum
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-8
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Unit
Pengolahan
Efisiensi Removal
Warna
-
Kekeruhan
40-60 %
Prasedimentasi
Aerasi
Koagulasi
26,9 % *3
-
-
60-70 %
72,89 %*1
Adsorpsi
-
Zat Organik
60-70 %
2
-
*1
-
77,42 % *
Flokuasi
60-70 %
87,90 %
Sedimentasi
10-30 %
91,13 % *1
-
Filtrasi
25-50 %
91,53 %*1
-
Desinfeksi
(Klorinasi)
> 50 %
-
-
Sumber : (1) Degreemont, 1991; (2) Metcalf Eddy, 2004; (3) Joko,2012 ; (4)
Hardini I. Karnaningrum N,2010); (*1) Laporan KP Rani,2013; (*2)
Afifah, Moersidik, Priadi, Red, & Dye, n.d. , 2014; (*3) Noor, 2017
Tabel 4.5
Perbandingan Alternatif
Unit Pengolahan Air Minum
Alternatif 1 (*)
Alternatif 2
Alternatif 3
Screen
Screen
Screen
Intake
Intake
Intake
Prasedimentasi
Prasedimentasi
Prasedimentasi
Koagulasi
Aerasi
Koagulasi
Flokulasi
Koagulasi
Adsorpsi
Sedimentasi
Flokulasi
Flokulasi
Filtrasi
Sedimentasi
Sedimentasi
Desinfeksi
Filtrasi
Filtrasi
Reservoir
Desinfeksi
Desinfeksi
Reservoir
Reservoir
Sumber :
(*)
= (Al-Layla, 1978:142-143)
Tiga alternatif yang didesain didasarkan pada jumlah parameter yang tidak
memenuhi standar baku mutu air dan disesuaikan dengan efisiensi removal pada
setiap unit pengolahannya.
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-9
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
4.4.1. Alternatif Pengolahan Air 1
Alternatif pengolahan air I terdapat enam unit yaitu prasedimentasi, koagulasi,
flokulasi, sedimentasi, filtrasi, desinfeksi dan kemudian ditampung di dalam
reservoir. Keuntungan dalam menggunakan alternatif ini adalah digunakannya
unit prasedimentasi yang dapat mengatasi kekeruhan dan unit yang dipakai
tidak terlalu banyak sehingga dapat mengurangi biaya operasional dan
pemeliharaan. Namun, kekurangannya, tidak adanya proses oksidasi yang dapat
menghilangkan bau dan rasa secara maksimal pada air baku.
Prasedimentasi
Koagulasi
Flokulasi
Sedimentasi
Filtrasi
Desinfeksi
Gambar 4.1 Bagan Alir Alternatif Pengolahan 1
Sumber : Analisis Penulis, 2019
Tabel 4.6
Perhitungan Efisiensi Removal pada Alternatif 1
Bangunan
Pengolahan
Nama
Removal
Kualitas
Air Baku
% Efesiensi
Pengolahan
Nilai
Removal
Treatment
Bar Screen
Pra
Sedimentasi
Kekeruhan
200 NTU
60 %
120
ALYA KARMILIA
21080117120036
Sisa
Removal
Treatme
nt
80
IV-10
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Koagulasi
Flokuasi
Sedimentasi
Filtrasi
Desinfeksi
Reservoir
Kekeruhan
80 NTU
60%
48
32
Warna
Zat
Organik
60 TCU
24,05 mg/l
KmnO4
72,89%
60%
43,734
14,43
16,266
9,62
Besi
Kekeruhan
Warna
Kekeruhan
Warna
0,34 mg/l
32
16,266
12,8
1,968186
45%
60%
87,90 %
50%
91,13 %
0,153
19,2
14,297814
6,4
1,7934384
Kekeruhan
Warna
6,4
1,968186
55%
91,53 %
3,52
1,8014
0,187
12,8
1,968186
6,4
0,174747
6
2,88
0,1667
Kekeruhan
Kekeruhan
2,88
50%
1,44
1,44
Warna
Zat
Organik
Besi
1,44
0,1667
9,62
0,187
Sumber :(1) Laporan KP Rani,2013; (2) Afifah, Moersidik, Priadi, Red, & Dye,
n.d. , 2014
Hasil akhir pada alternatif 1 didapatkan hasil Kekeruhan 1,44 NTU
berdasarkan standar baku mutu PP No 82/2001 golongan 1 dan Permenkes No
492/2010 yaitu minimal 5 NTU artinya telah memenuhi standar baku mutu. Untuk
Warna nilai akhirnya 0,1667 TCU dengan standar minimal 15 TCU artinya
memenuhi standar baku mutu. Untuk Zat Organik senilai 9,62 mg/l dan pada
standar baku mutu minimal 10 mg/l artinya telah memenuhi standar baku mutu.
Untuk besi nilai akhirnya 0,187 TCU dengan standar minimal 0,3 TCU artinya
memenuhi standar baku mutu.
Kelebihan alternatif ini ialah penurunan semua parameter kekeruhan, warna,
dan zat organik yang sesuai sehingga memenuhi baku mutu. Sedangkan
kekurangan dari pengolahan ini adalah tahap-tahapnya yang panjang
membutuhkan unit pengolahan yang banyak dan investasi yang sedikit lebih besar.
Namun hal ini sebanding dengan hasil yang diperoleh yaitu kualitas air yang
tinggi.
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-11
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
4.4.2. Alternatif Pengolahan Air 2
Alternatif pengolahan air 2 terdapat tujuh unit pengolahan yaitu,
prasedimentasi, aerasi, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, desinfeksi dan
kemudian ditampung di dalam reservoir.
Prasedimentasi
Aerasi
Koagulasi
Flokulasi
Sedimentasi
Filtrasi
Desinfeksi
Gambar 4.2 Bagan Alir Alternatif Pengolahan 2
Sumber : Analisis Penulis, 2019
Tabel 4.7
Perhitungan Efisiensi Removal pada Alternatif 2
Bangunan
Pengolahan
Nama
Removal
Bar Screen
-
Pra
Sedimentasi
Kekeruhan
ALYA KARMILIA
21080117120036
Kualitas
Air Baku
% Efesiensi
Pengolahan
Nilai
Removal
Treatment
Sisa Removal
Treatment
-
-
-
-
200 NTU
60%
120
80
IV-12
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Aerasi
Koagulasi
Flokuasi
Sedimentasi
Filtrasi
Desinfeksi
Zat
Organik
24,05 mg/l
KmnO4
26,90%
6,46945
17,58055
Besi
0,34 mg/l
69,1%
0,23494
0,105
Kekeruhan
Warna
Zat
Organik
Besi
Kekeruhan
Warna
Kekeruhan
Warna
Kekeruhan
Warna
Kekeruhan
80 NTU
60 TCU
60%
72,89%
48
43,734
32
16,266
17,58055
60%
10,54833
7,03222
0,105
32
16,266
12,8
1,968186
6,4
0,1745
2,88
69,1%
60%
87,90%
50%
91,13%
55%
91,53%
50%
0,0725
19,2
14,297814
6,4
1,79360
3,52
0,15971
1,44
0,032445
12,8
1,968186
6,4
0,1745
2,88
0,014
1,44
Kekeruhan
Warna
Reservoir
1,44
0,014
Besi
0,032445
Zat
Organik
7,03222
Sumber : (1) Mima Apriani dkk, 2016 (2) Laporan KP Rani, 2013
Keuntungan dari penambahan aerasi pada alternatif pengolahan ini adalah
aerasi dapat mereduksi kadar warna dan mengurangi kekeruhan. Prinsip kerja
aerasi dengan cara mengoksidasi air baku yang telah melewati unit prasedimentasi.
Kerugian dari unit aerasi adalah memakan biaya yang cukup mahal untuk
pemeliharaanya dan operasionalnya.
Pada alternatif 2 didapatkan hasil kekeruhan 1,44 NTU berdasarkan standar
baku mutu PP No 82/2001 golongan1 dan Permenkes No 492/2010 yaitu
minimal 5 NTU artinya telah memenuhi standar baku mutu. Untuk warna nilai
akhirnya 0,014 TCU dengan standar minimal 15 TCU artinya memenuhi standar
baku mutu. Untuk Zat Organik senilai 7,03222 mg/l dan pada standar baku mutu
minimal 10 mg/l artinya telah memenuhi standar baku mutu. Untuk besi senilai
0,097 mg/l dan pada standar baku mutu minimal 0,3 mg/l artinya telah memenuhi
standar baku mutu.
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-13
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
4.4.3. Alternatif Pengolahan Air 3
Alternatif pengolahan air 3 terdapat tujuh unit pengolahan yaitu,
Prasedimentasi, Koagulasi, Adsorpsi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, desinfeksi,
dan kemudian ditampung di dalam reservoir.
Prasedimentasi
Koagulasi
Absorpsi
Flokulasi
Sedimentasi
Filtrasi
Desinfeksi
Gambar 4.3 Bagan Alir Alternatif Pengolahan 3
Sumber : Analisis Penulis, 2019
Tabel 4.8
Perhitungan Efisiensi Removal pada Alternatif
Bangunan
Pengolahan
Nama
Removal
3
Kualitas
Air Baku
% Efesiensi
Pengolahan
Nilai
Removal
Treatment
Sisa
Removal
Treatment
-
-
-
-
Bar Screen
-
Pra
Sedimentasi
Kekeruhan
200 NTU
60%
120
80
Kekeruhan
80 NTU
60%
48
32
Warna
60 TCU
72,89%
43,734
16,266
Koagulasi
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-14
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Adsoprsi
Flokuasi
Sedimentasi
Filtrasi
Desinfeksi
Reservoir
Zat
Organik
Besi
Warna
Kekeruhan
Warna
Kekeruhan
Warna
Kekeruhan
Warna
Kekeruhan
Kekeruhan
Warna
Zat
Organik
Besi
24,05 mg/l
KmnO4
0,34 mg/l
16,266
32
3,6728628
12,8
0,4444
6,4
0,03
2,88
60%
45%
77,42%
60%
87,90%
50%
91,13%
55%
91,53%
50%
14,43
0,153
12,5931372
19,2
3,2884
6,4
0,41
3,52
0,027459
1,44
1,44
0,003
9,62
0,187
3,6728628
12,8
0,4444
6.4
0,03
2,88
0,003
1,44
9,62
0,187
Sumber : (1) P.K. Malik, 2004 (2) ) Laporan KP Rani,2013
Keuntungan dalam menggunakan alternatif ini adalah digunakannya unit
adsorpsi yang dapat mengatasi kekeruhan dengan baik. Adsopsi diletakkan
sebelum flokulasi karena partikel perlu di destabilasi dahulu sebelum terbentuk
flok. Namun, kekurangannya, dengan penambahan unit maka membutuhkan
lahan yang besar, terjadi penambahan biaya, serta peningkatan tingkat kesulitan
dalam operasi dan pemeliharaan.
Pada alternatif 3 didapatkan hasil kekeruhan 1,08 NTU berdasarkan standar
baku mutu PP No 82/2001 Gol.1 dan Permenkes No 492/2010 yaitu minimal 5
NTU artinya telah memenuhi standar baku mutu. Untuk warna nilai akhirnya
0,003 TCU dengan standar minimal 15 TCU artinya memenuhi standar baku mutu.
Untuk Zat Organik senilai 5,8 mg/l dan pada standar baku mutu minimal 10 mg/l
artinya telah memenuhi standar baku mutu. Untuk besi senilai 0,187 mg/l dan
pada standar baku mutu minimal 0,3 mg/l artinya telah memenuhi standar baku
mutu.
4.5. Kriteria Pemilihan
Pada saat ini, ketika aturan terhadap pengolahan menjadi lebih ketat, daftar
"alat perdagangan" yang tersedia pun juga ikut bertambah. Semua keputusan
diserahkan kepada perancang untuk mengambil keuntungan dari berbagai
sumber daya pengolahan yang akan dibahas lebih lanjut dalam teks ini
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-15
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
berhubungan dengan pilihan yang dirasa paling optimal dan telah disesuaikan
dengan aplikasi instalasi tertentu.
Terdapat banyak pilihan pengolahan dan opsi kombinasi yang tersedia bagi
perancang dalam merencanakan suatu instalasi pengolahan. Semua opsi tersebut
tetap harus dihitung dan pertimbangkan dari berbagai aspek agar mencapai
pengolahan atau kombinasi pengolahan yang paling cocok untuk diaplikasikan
ke instalasi tertentu.
Hal yang tidak kalah penting selain masalah keefektifan dari pengolahan,
potensi masalah lain pada unit pengolahan juga perlu diperiksa untuk setiap opsi
dan setiap unit pengolahan. Terdapat beberapa persoalan yang berpotensi
muncul dan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam merencakan
pembangunan suatu instalasi pengolahan, yaitu sebagai berikut:
a. Biaya konstruksi
b. Biaya operasi tahunan
c. Area situs yang dibutuhkan
d. Kompleksitas operasi (kemampuan yang dibutuhkan untuk staff
operasional dan pemantauan laboratorium)
e. Risiko operasi (penyebab paling umum, jika terjadi, dapat mengakibatkan
kegagalan pengolahan)
f. Fleksibilitas pengaturan susunan instalasi untuk perubahan di masa depan
g. opsi pembuangan limbah
Selain itu, terdapat beberapa pertimbangan mengenai pemilihan proses suatu
instalasi pengolahan yang terbagi menjadi empat kategori yaitu:
1.
Beban Pengolahan
2.
Aspek Teknis
a. Ketersediaan Lahan
b. Kemudahan Teknis Pelaksanaan
c. Pengadaan Bahan-Bahan Pembangunan
d. Operasional
e. Pemeliharaan
f. Ketersediaan Tenaga Operasional
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-16
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
g. Ketersediaan Alat-Alat Operasional
3.
Aspek Ekonomi/Finansial
a. Biaya Konstruksi
b. Biaya Operasi
c. Biaya Pemeliharaan
4.
Aspek Lingkungan
a. Dampak Terhadap Masyarakat Sekitar
b. Dampak Terhadap Lingkungan Fisik
Dalam merencanakan opsi kombinasi instalasi pengolahan air minum,
seorang perancang wajib mempertimbangkan keempat aspek tersebut. Hal ini
bertujuan agar mendapatkan instalasi pengolahan air minum yang optimal,
sesuai dengan biaya yang dikehandaki, topografi dan keadaan lingkungan sekitar,
serta dapat menciptakan proses pemeliharaan yang mudah dan terstruktur.
Perhitungan dan pertimbangan berbagai opsi dan kombinasi pengolahan juga
berperan penting untuk menyediakan susunan fasilitas yang fleksibel di mana
penambahan dan modifikasi unit dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
pengolahan di masa depan. Perlu diingat bahwa desain pengolahan air minum itu
tidak statis, namun bersifat dinamis, yaitu merupakan sebuah proses yang terus
berubah dan berkembang.
4.6. Pemilihan Alternatif
Berdasarkan beberapa alternatif pengolahan air serta kriteria pemilihan pada
sub-bab 4.4 dan 4.5. Pemilihan alternatif yang paling efisien akan dilakukan
skoring dengan memakai metode Skala Likert. Metode Skala Likert merupakan
penilaian yang diberikan kepada masing-masing alternatif pengolahan terhadap
suatu parameter penilaian tertentu dengan rentang skor tertentu. Berikut ini
merupakan tabel skoring dengan menggunakan Skala Likert :
Tabel 4.9
Skoring Alternatif 1 (Tanpa Aerasi dan Absorbsi)
1.
Tingkat Pengolahan
Aspek Teknis
Ketersediaan Lahan
Kemudahan Teknis Pelaksanaan
ALYA KARMILIA
21080117120036
Bobot
(1-7)
7
6
Nilai
(1-10)
9
3
Nilai x Bobot
63
18
IV-17
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Pengadaan Bahan-bahan Pembangunan
IPA
Operasional
Pemeliharaan
Ketersediaan Tenaga Operator
Ketersediaan Alat-Alat Operasional
2. Aspek Ekonomis
Biaya Konstruksi
Biaya Operasi
Biaya Pemeliharaan
3. Aspek Lingkungan
Gangguan Terhadap Masyarakat Sekitar
Gangguan Terhadap Lingkungan Fisik
TOTAL
5
8
40
5
4
3
3
(1-3)
3
2
2
(1-2)
1
2
6
5
4
7
(1-10)
10
9
8
(1-10)
3
3
30
20
12
21
30
18
16
3
6
277
Sumber : Analisis Penulis, 2019
Tabel 4.10
Skoring Alternatif 2 (Ada Unit Aerasi)
Tingkat Pengolahan
Bobot
Nilai
1. Aspek Teknis
Ketersediaan Lahan
Kemudahan Teknis Pelaksanaan
Pengadaan Bahan-bahan Pembangunan
IPA
(1-7)
6
5
5
(1-10)
7
8
7
Operasional
Pemeliharaan
Ketersediaan Tenaga Operator
Ketersediaan Alat-Alat Operasional
2. Aspek Ekonomis
Biaya Konstruksi
Biaya Operasi
Biaya Pemeliharaan
3. Aspek Lingkungan
Gangguan Terhadap Masyarakat Sekitar
Gangguan Terhadap Lingkungan Fisik
TOTAL
4
3
3
5
(1-3)
3
3
3
(1-2)
1
2
7
7
7
7
(1-10)
6
6
6
(1-10)
8
8
Nilai x Bobot
42
40
35
28
21
21
35
18
18
18
8
16
279
Sumber : Analisis Penulis, 2019
Tabel 4.11
Skoring Alternatif 3
(Tidak Ada Aerasi, tetapi Ada Unit Absorpsi)
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-18
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Tingkat Pengolahan
1.
Bobot
Aspek Teknis
(1-7)
Ketersediaan Lahan
5
Kemudahan Teknis Pelaksanaan
1
Pengadaan Bahan-bahan Pembangunan 5
IPA
Operasional
Pemeliharaan
Ketersediaan Tenaga Operator
Ketersediaan Alat-Alat Operasional
2. Aspek Ekonomis
Biaya Konstruksi
Biaya Operasi
Biaya Pemeliharaan
3. Aspek Lingkungan
Gangguan Terhadap Masyarakat
Sekitar
Nilai
(1-10)
8
4
7
Nilai x Bobot
40
4
35
3
3
2
5
(1-3)
3
2
1
7
6
5
8
(1-10)
9
7
7
21
18
10
40
1
2
2
Gangguan Terhadap Lingkungan Fisik 2
TOTAL
3
6
224
27
14
7
Sumber : Analisis Penulis, 2019
Berdasarkan skoring dengan menggunakan metode likert diatas, didapatkan
bahwa alternatif 2 memperoleh hasil skoring yang lebih besar nilainya
dibandingkan dengan alternatif yang lain. Alternatif dua terdiri dari tujuh unit
yaitu unit prasedimentasi, unit aerasi, unit koagulasi, unit flokulasi, unit
sedimentasi, unit filtrasi dan unit desinfeksi. Ini ditinjau dari ke tiga parameter
penilaian yaitu aspek teknis, aspek ekonomis dan aspek lingkungan.
Pada parameter kebutuhan lahan, alternatif 2 memang membutuhakan lahan
yang lebih besar karena pada alternatif 1 karena adanya pengolahan aerasi.
Namun berdasarkan aspek lingkungan, alternatif 2 ini yang paling baik.
4.7. Rencana Implementasi
Dalam memproduksi air bersih Instalasi Pengolahan Air (IPA) beroperasi
selama 24 jam/hari. Kapasitas Instalasi Pengolahan Air (IPA) adalah sebesar 400
L/dtk yang bersumber dari Sungai Serayu. Air menuju saluran intake diawali
dengan
sebuah
screening
tegak
lurus,
kemudian
mengalami
proses
prasedimentasi. Selanjutnya air baku disalurkan menuju kolam aerasi yang
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-19
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
kemudian disalurkan ke proses pembubuhan koagulan menggunakan alumunium
diiringi dengan pengadukan cepat dengan proses hidrolis (terjunan). Kemudian
terjadi proses flokulasi, air menuju horizontal baffle channel sehingga terjadi
pembentukan flok yang akan menjadi lumpur. Air dari proses horizontal baffle
channel kemudian mengalami proses sedimentasi dengan tipe rectangular.
Pengendapan flok (lumpur) terjadi pada bak sedimentasi. Proses selanjutnya yaitu
filtrasi yang berjumlah lima filter menggunakan saringan dengan bangunan
terbuka. Metode yang digunakan pada filtrasi ini adalah slow sand filter dengan
media pasir. Setelah air mengalami proses filtrasi, air dapat dialirkan menuju
reservoir.
Instalasi Pengolahan Air (IPA) merupakan sebuah Instalasi konvensional
karena lokasi di IPA Sungai Serayu memiliki ketersedian lahan untuk dijadikan
IPA konvensional. Pada prinsipnya sistem pengolahan IPA adalah menjalankan
fungsi seluruh peralatan yang ada, dengan urutan: Listrik PLN, panel induk
(inferter), bangunan utama Instalasi Pengoalahan Air, unit pengolahan lumpur,
dan pompa distribusi. Tahapan proses penglahan air yang di lakukan adalah
sebagai berikut :
1. Sungai Serayu sebagai sumber air baku melewati bangunan intake. Pada
bangunan intake dilengkapi dengan bar screen (10 mm).
2. Air dari intake menuju IPA di pompa,
3. Setelah melewati intake, air baku kemudian ditampung di unit
prasedimentasi untuk mengurangi kekeruhan pada air baku tersebut.
4. Air kemudian disalurkan ke kolam aerasi
5. Selanjutnya di mixing tank terjadi pengadukan cepat dengan injeksi
bahan kimia koagulan berupa alum, proses injeksi koagulan ini disebut
sebagai proses koagulasi karena terjadi destabilisasi partikel air.
Kemudian air dialirkan menuju flokulasi melewati screening atau di
sebut screen mixing (kisi 3 mm).
6. Air dipompa dengan prinsip seperti vakum atau vacum chamber
kemudian diflokulasikan sehingga terjadi pembentukkan flok menjadi
lumpur. Lumpur dari flokulasi dialirkan menuju unit sedimentasi.
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-20
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
7. Efluen dari bak sedimentasi kemudian dialirkan menuju bak filtrasi
untuk diflotasikan menggunakan saringan pasir lambat. Unit filtrasi
berjumlah 4 buah.
8. Melalui pipa transmisi air bersih berdiameter 500 mm, air dari unit
filtrasi disalurkan menuju dua unit reservoir berkapasitas total 3558,98
m3
9. Desinfektan, pembubuhan klor terjadi di pipa transmisi dan netralisasi
dengan kapur pada inlet reservoir, melalui pipa pembubuh berdiameter
1 cm.
10. Air dari reservoir ini kemudian dipompakan menuju pipa distribusi
untuk didistribusikan kepada konsumen.
Prasedimentasi
Aerasi
Koagulasi
Flokulasi
Sedimentasi
Filtrasi
Desinfeksi
Gambar 4.4 Bagan Alir Alternatif Pengolahan terpilih
Sumber : Analisis Penulis, 2019
ALYA KARMILIA
21080117120036
IV-21
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
BAB V
KRITERIA DESAIN DAN PERHITUNGAN
5.1. Umum
Suatu sistem pengolahan air minum harus dirancang sedemikian rupa dengan
suatu standar dan kriteria desain yang dapat memenuhi kebutuhan para
konsumen. Dari sistem yang dirancang tersebut diharapkan dapat mengolah air
baku menjadi air minum yang memiliki kualitas dan kuantitas yang sangat baik.
Keberhasilan dari pengolahan air tersebut ditentukan dari kriteria berikut :
 Sebuah sistem harus dapat menghasilkan air minum yang memiliki kualitas
air yang sesuai dengan batasan standar yang ditetapkan oleh Menteri
Kesehatan
 Sebuah sistem pengolahan harus dapat memproduksi air minum dengan
kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan air minum serta fluktuasi
pemakaian
 Dan sebuah sistem harus bisa mendistribusikan air minum kepada konsumen
dengan harga pasaran yang dapat terjangkau
Setelah melalui pertimbangan-pertimbangan secara teknis, non teknis, serta
hal-hal lainnya, maka seperti yang telah dikemukakan pada Bab IV, perencanaan
sistem pengolahan air minum dilakukan sesuai dengan alternatif terpilih.
Adapun unit - unit pengolahan untuk alternatif terpilih adalah sebagai berikut :
1. Intake
2. Prasedimentasi
3. Aerasi
4. Koagulasi Hidrolic Jump (terjunan)
5. Flokulasi Baffle Chanel Vertikal
6. Sedimentasi (Plate Settler)
7. Filtrasi (Saringan Pasir Cepat)
8. Pembubuhan Desinfektan
9. Reservoir
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-1
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
5.2. Bangunan Penangkap Air (Intake)
Intake merupakan bangunan yang digunakan untuk menyadap air dari
sumber untuk keperluan pengolahan. Intake pada desain ini merupakan intake
sungai (Shore Intake). Bangunan intake dilengkapi dengan :
1. Saluran pembawa
2. Bar screen
3. Bak pengumpul yang dilengkapi dengan pompa
Asumsi-asumsi yang digunakan :
1. Ketinggian muka air bangunan sadap pada saluran pembawa sama
dengan muka air sungai.
2. Elevasi muka air maksimum (HWL)
= + 3 m (dpl)
3. Elevasi muka air minimum (LWL)
= + 1,5 m (dpl)
4. Elevasi muka air rata-rata (AWL)
= + 2 m (dpl)
5. Elevasi lokasi pengolahan air adalah
= + 7 m (dpl)
6. Elevasi dasar sungai
= + 0 m (dpl)
Bangunan intake dilengkapi dengan :
1. Bar screen
2. Saluran pembawa
3. Bak pengumpul yang dilengkapi dengan pompa
5.2.1. Bar Screen
Direncanakan bar screen berfungsi menyisihkan benda-benda kasar yang
terapung sehingga tidak mengganggu kerja pompa dan operasi unit pengolahan
selanjutnya.
5.2.1.1. Kriteria Desain
Tabel 5.1
Faktor Bentuk Kisi
Bentuk kisi
Persegi panjang dengan sudut tajam
Persegi panjang dengan pembulatan di depan
Persegi panjang dengan pembulatan di depan dan
belakang
Lingkaran
Faktor bentuk (𝜷)
2.42
1.83
1.67
1.79
Sumber : Syed, 1985
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-2
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Tabel 5.2
Kriteria Desain Intake
Keterangan
Unit
Kecepatan
Kemiringan
barscreen
Tebalbarscre
Jarak antar
barscreen
H:L
m/s
0
cm
cm
Kawa
mura1
<0.6
60
Droste2
Layla3
Reynolds4
Metcalf5
Qasim6
<0.6
0.4-0.
8
30-75
0.3-0.6
30-45
0.3-0.6
45-60
1.25-2
5-7.5
2-5
5-15
1.25-3.8
2.5-5
5-15
2.5-5
0.4-0.8
cm
1:2
Headloss
2.5-7.
5
7.5-15
2.5-7.5
15
15
Sumber : 1.Kawamura, 1991; 2. Dorste. 1997; 3. Al-Layla, 1980; 4.Reynolds, 1982;
5
.Metcalf, 1991; 6.Qasim, 1985
5.2.1.2. Perencanaan Bar Screen
1. Persegi Panjang dengan sudut panjan β
= 2,42
2. Kedalaman maksimum sumber air baku
= 400 cm
3. Debit pengolahan x (Safety factor 1,3)
= 353 lps x 1,3 = 458,9 l/det = 450
l/det
4. Kemiringan kisi (θ)
= 60° (Kawamura1)
5. Tebal kisi, (w)
= 0,5 inchi = 1,25 cm (Kawamura1)
6. Jarak antar kisi, (b)
= 5 cm (Kawamura1)
7. Kecepatan aliran pada saluran pengarah
= 0,6 m/s
5.2.1.3. Perhitungan Bar Screen
a. Dimensi Sreening
Q = 450 liter/detik = 0,450 m3/detik
A
Q 0,45m3 / dtk

 0,75m2
v
0,6m / dtk
A = 0,75 m2
H=L=
0,75 = 0,87 m
Ambil H = 0,87 m; L = 0,87 m
b.
Jumlah kisi
Lebar kisi (w)
ALYA KARMILIA
21080117120036
= 1,25 cm = 0,0125 m
V-3
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
c.
Jarak kisi (b)
= 5 cm = 0,05 m
Jumlah kisi (n)
=
L
87cm
1 
 1  16buah
b
5cm
Lebar saluran kisi
L
= (n + 1) b + (n . w)
= (16 + 1) 5 + (16 . 1,25)
= 105 cm
d.
Lebar efektif lubang
Lef
= (n+1)b
= (16+1)5
= 85 cm
e.
Tinggi efektif lubang
Tinggi efektif lubang jika kemiringan screen 60º
Hef = H / sin 60º
= 87 cm / sin 60º
= 100
f.
cm
Luas efektif
Aef
= Lef x Hef
= 85 cm x 100 cm
= 8500 cm2
= 0,85 m2
Kecepatan aliran saat melewati kisi
v
Q 0,45m3 / dtk

 0,53m / dtk
A
0,85m2
Tinggi Kecepatan (Δh)
𝛥h =
h 
𝑣ef 2
2.g
................................................................................................... (2.1)
(0,53m / dtk ) 2
 0,0143m
29,81m / dtk 2 
Kehilangan Energi
4
𝑤 3
𝐻𝑓 = 𝛽 𝑠𝑖𝑛 6 00 ( 𝑏 ) 𝛥ℎ .............................................................................. (2.2)
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-4
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
 3 0,0143
 2,42  sin 6000, 0125
, 05
4
 0,0047m
= 0,47 cm < 15 cm (memenuhi)
Jadi screen yang digunakan mempunyai karakteristik
Lebar
= 87 cm
Panjang
= 87 cm
Kisi berbentuk persegi Panjang dengan sudut tajam sebanyak 16 buah dengan
lebar 87 cm, jarak antar kisi 5 cm.
5.2.2. Bak Pengumpul
5.2.2.1. Kriteria Desain
Tabel 5.3
Kriteria Desian Bak Pengumpul
Keterangan
Waktu detensi, td
Kedalaman bak, h
Kriteria desain
 1,5 menit
3-5m
Sumber : JWWA, 1978
5.2.2.2. Perencanaan Bak Pengumpul
Bentuk bak persegi panjang dengan perbandingan P : L = 2 : 1
Waktu detensi, td = 120 detik
Kedalaman bak, h = 3 m
5.2.2.3. Perhitungan
Bak Pengumpul
a. Volume bak (V)
V = Q x td = 0,45 m3/s x 120 s = 54 m3
b. Luas permukaan bak (A)
A = V/h = 54 m3/ 3 m = 18 m2
c. Dimensi bak
= P x L = 2L2
A
18
= 2L2
L
=3m
Maka, panjang bak, P = A/L = 6 m
Free board = 20 % x h = 20 % x 6 m = 1,2 m
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-5
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan:
Tabel 5.4
Hasil Perhitungan Bak Pengumpul
Desain
Satuan
Lebar
m
Panjang
m
Kedalaman
m
Free board
m
Td
dtk
Sumber : Analisis Penulis, 2019
Hasil
3
6
3
1,2
120
5.2.3. Intake Transmisi
5.2.3.1. Perencanaan Intake Transmisi
 Elevasi sumber
= 21 m dpl
 Elevasi IPA
= 22 m dpl
 Beda elevasi sumber air ke IPA = 1 m
 Bend 90°
= 5 (K=0,3) (kawamura, 1992)
 Check valve
= 1 (K=1,5) (kawamura, 1992)
 Gate valve
= 1 (K=0,2) (kawamura, 1992)
 Debit, Q produksi
= 450 l/dtk = 0,45 m3 /detik

Kecepatan Aliran menggunakan rumus Hazen William

Panjang pipa transmisi
= 10 m
5.2.3.2. Perhitungan Intake Transmisi
Berdasarkan persamaan
Q = V.A
A = 1/4
D
 D2
4Q
4  0,45

 0,535m  535mm
2 
2
Diameter pasaran = 550 mm
Q = V x ¼ x  x D2/
Q  V  1   D2
4
0,45  V  1    0,552
4
V  1,89m / s
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-6
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
D pipa transmisi = 0,55 m = 550 mm
1,85
Q


HeadlossMa yor  

2 , 63
 0,2785  C  D 
L
1,85
0,45


HeadlosMay or  

2 , 63
 0,2785 110  0,55 
HeadlossMa yor  0,07m
10m
Headloss minor pada 1 Bend 90° (K=0,3), 1 gate valve (K = 0,2), dan 1
check valve (K = 1,5)
Headloss minor

1,892  
1,89  
1,89 
  1 0,2 
 1 0,3 
  11,5 

2  9,8  
2  9,8  
2  9,8 

 0,05  0,02  0,27
 0,34
Headloss total = headloss mayor + headloss minor
= 0,07 + 0,34
= 0,41 m
Sisa Tekan = perbedaan tinggi – headloss total
= 1 – 0,41
= 0,59 m
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan:
Tabel 5.5
Hasil Perhitungan Intake
Desain
Diameter
Diameter Pasaran
Kecepatan
Headloss Total
Sisa Tekan
Satuan
mm
mm
m/s
m
m
Hasil
535
550
1,89
0,41 m
0,59 m
Sumber : Analisis Penulis, 2019
5.3. Prasedimentasi
5.3.1. Fungsi dan Komponen
Prasedimentasi: digunakan jika sumber air baku alirannya deras, berfungsi
menyisihkan SS yang tinggi, bahan kimia dapat ditambah kan untuk mengoksidasi
zat organik atau menahan oksidasi biologinya. Prasedimentasi terdiri atas 4 zona :
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-7
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
1.
Zona Inlet
2.
Zona Lumpur
3.
Zona Pengendapan
4.
Zona Outlet
5.3.2. Perencanaan Prasedimentasi
a.
Zona Inlet
Type Rectangular Tank
 P:H
=6:1
 P:L
=5:1
 Minimum tank
=2
 K (factor safety)
= 1,75
 V horizontal
= 0,05 m/s
 Kedalaman air
=3m
 Ukuran partikel pasir
= 0,1 m
 Kecepatan Pengendapan = 0,0069 m/s (1-2 x10-3 )
b.
 Waktu detensi
= 10 menit
 Slope
= 1 : 100
Zona Pengendapan
 Beban permukaan (vo) diambil = 0,00694 m/s
 Waku detensi
= 10 menit
 Debit (Q)
= 450 L/detik = 0,45 m/detik
 P:L
=5:1
 P:H
=6:1
 H
=3m
 Freeboard
= 50% H
 Viskositas kinematis
= 0,893 x 10-6 m2/detik (25oC)
 Viskositas dinamis
= 0,890 x 10-3 kg/m*detik
 Kerapatan air
= 997 kg/m3
 Kerapatan lumpur
= 2600 kg/m3
 Tinggi air di v-notch, ho
=3m
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-8
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
c.
 Tebal gutter
= 2 cm = 0,02 m
 Slope
=2%
 Waktu pengurasan
= 3 hari
 Minimum tank
= 2K
 K(safety factor)
= 1,75
 V horizontal
= 0,05 m/s
Zona Outlet
 Debit (Q)
= 436,5 l/detik = 0,4365 m/detik
 Keperluan IPA
= 10%
 Viskositas kinematis
= 0,893 x 10-6 m2/detik (25oC)
 Viskositas dinamis
= 0,890 x 10-3 kg/m.detik
 Kerapatan air
= 997 kg/m3
 Berat jenis air
= 9,77 KN/m3
 Kerapatan lumpur
= 2600 kg/m3
 Tebal gutter
= 2 cm
 Kadar lumpur
=3%
 Kecepatan Pengendapan
= 0,0069 m/s
 K (faktor safety)
= 1,75
 v horizontal
= 0,05 m/s
 Ukuran partikel pasir
= 0,1 m
 Slope
= 1 : 100
 Freeboard
= 0,3
5.3.3. Kriteria Desain
Tabel 5.6
Kriteria Desain Bangunan Prasedimentasi
Keterangan
Beban permukaan (vo)
waktu detensi
P:L
P:H
NFr
NRe
Kecepatan Inlet (vi)
ALYA KARMILIA
21080117120036
Kriteria desain
20 – 80 m/hari, diambil = 60 m3/m2/hari
0,5 – 3 jam
(2-6) : 1, diambil 3 : 1
(5-20) : 1, diambil 10 : 1
> 10-5
< 2000
0,2 – 0,5 m/detik
V-9
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
2 – 5 cm, diambil 3 cm = 0,03 m
1 – 3 hari
60 – 80 %
min 30 cm (50 – 60 %)
(100–60) % * kekeruhan
1–2%
45 – 60o
25 – 100 cm
2,5 – 5 m
1000 – 2500 mm
1000 – 1200 mm
1 – 1,4 m
0,3 – 0,4 m
1 – 1,2 m
1000 l/detik = 1 m/detik
0,893 x 10-6 m2/detik (25oC)
0,890 x 10-3 kg/m*detik
997 kg/m3
9,77 KN/m3
2600 kg/m3
3%
Tinggi air di V-notch (ho)
Waktu Pengurasan
% Removal
Freeboard
Konsentrasi Effluen
Slope
Kemiringan plate
Jarak antar plate (wp)
Tebal plate (tp)
Panjang plate (Pp)
Lebar plate (Lp)
Jarak plate ke pipa inlet
Jarak gutter ke plate
Tinggi plate
Debit (Q)
Viskositas kinematis
Viskositas dinamis
Kerapatan air
Berat Jenis Air
Kerapatan lumpur
Kadar Lumpur
5.3.4. Perhitungan Prasedimentasi
a. Zona Inlet
Diketahui Debit rencana 450 L/detik = 0,45 m3/detik
Dimensi saluran inlet :
V inlet = 0,3 m/detik (Trijoko, 2010)
Q rencana = 450 L/detik = 0,45 m3/detik
Diameter Pipa Inlet
4 𝑥 𝑄 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖
= √
=
𝜋 𝑥 𝑣
4  0,45
 0,977  977mm
 0,6
Maka Diameter pasarannya adalah 1066,8 mm
Cek Kecepatan di Inlet
4 𝑥 𝑄 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖
V= √
V=
b.
𝜋 𝑥 𝐷2
4  0,45
 0,7 m / dtk
 (1,067) 2
Zona Pengendapan
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-10
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
 Luas Pengendapan
𝐴=
𝑄
𝑣𝑜
0,45m3 / dtk
 1
3
2
86400  60m / m .dtk

0,45
6,94 10  4
 648m 2
 Dimensi Zona, dengan perbandingan P : L = 5 : 1
A
= P x L ; P = 5L
A
= 5L x L = 5L2
648 = 5L2
L2
= 129,6 m2
L
= 11,38 ≈ 11 m
P
= 5L = 5 x 11 = 55 m
H
= P/6 = 55/6 = 9,2 = 9 m
 Cek Waktu Tinggal (Td)
𝑇𝑑 =
Td 
𝑣𝑜𝑙
𝑃 𝑥 𝐿 𝑥 𝐻
=
𝑄
𝑄
(55 11 9)m3
 12100 det ik  201,67menit
0,45m3 / dtk
 Jari-jari Hidrolis
L H
(11 9)m2
R

 3,4m  3m
L  2H (11  (2  9))m
 Cek Bilangan Reynolds
𝑁𝑟𝑒 =
N re 
𝑣ℎ 𝑥 𝑅
𝑣
(0,05  3,4)m2 / dtk
 19036  20000(memenuhi)
0,893 106 m / dtk
 Cek Bilangan Froud
𝑁𝐹𝑅 =
ALYA KARMILIA
21080117120036
𝑣ℎ 𝑥 𝐻 2
𝑔𝑅
V-11
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
0,05(9m2 / dtk ) 2
N FR 
 0,12  105 (memenuhi)
2
2
9,81m / dtk  3,4m
c.
Zona Lumpur
a. Konsentrasi effluen dan lumpur
Cef = (100 % - 60%) x kekeruhan (Darmasetiawan, 2001)
= 40 % x
Cs
200 mg/l = 80 mg/l
= 60 % x kekeruhan = 60 % x 200 mg/l = 120 mg/l
b. Berat lumpur per hari/bak
Ws = Q x Cs x 86400
= 450 x 120 x 86400 x 10-6
= 4666 kg/hari
c. Debit lumpur kering
Qds = Ws/ρs = 4666 /2600 = 1,8 = 2 m3/hari
d. Debit lumpur
Qs = Qds/% lumpur = (2 m3/hari)/3 % = 66,67 m3/hari
e. Volume bak lumpur
V = Qs x td = 66,67 m3/hari x 3 hari
= 200,01 m3
f. Luas profil ruang lumpur
L
= V bak lumpur/Lebar zona pengendapan
=
200,01m3
 18,2m 2
11m
Asumsi D pipa penguras = 0,25 m
Profil ruang lumpur adalah trapesium dengan perbandingan kedua sisi =
1:2
Tinggi lumpur = 0,5 m
L trapesium
= (jumlah sisi sejajar x t) x 0,5 m
11 m2
= (jumlah sisi sejajar x 0,5 m) x 0,5 m
Jumla sisi sejajar= 44 m
Sisi
=1:2→
L + 2L
= 44
L = 15 m
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-12
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Jadi sisi ke-1 = 15 m dan sisi ke-2 = 30 m
0,5
 0,03    1,72
30  15
A  90  1,72  88,28
tg 
d.
Zona Outlet
Lebar gutter (Lg)
= 1,5 x ho, ho = tinggi air dalam gutter
= 1,5 x 0,03 = 0,0045 m
Vo
= 6,94 x 10-4 m/s
Jumlah pelimpah, n → Q/n x L < 5 x H x vo 
n
0,4365
 5  3  6,94 10  4
n 10
< 4,2
rencana jumlah gutter untuk zona outlet, n = 4 dengan 45о V-notch
Debit tiap gutter
Qg= Q/n = 0,4365m3/s / 4 = (0,109125 m3/s x 35,3088) Cfs = 3,85 Cfs
Dimensi tiap gutter
Qg
= 2,49 x Lg x Ho3/2
4,85Cfs
= 2,49 x (1,5. Ho) x Ho3/2
Ho
= 1,11 m
Lg
= 1,5 x 0,03= 0,045 m
Hg
= Ho + 20% Ho+ ho+ freeboard
= 1,11 + (0,2 x 1,11) + 0,03+ 0,3
= 1,662 m
Pg
= ½ P= ½ 55= 27,5 = 28 m
5.4. Aerasi (Cascade Tower)
Karakteristik masing-masing alat aerasi dapat dilihat pada tabel 5.7. Dengan
membandingkan ke-empat alat aerasi pada tabel di bawah ditambah dengan
keterangan sumber buku yang sama (Montgomery, 1985; hal 510), maka dipilih
aerasi tipe Cascade Towers untuk digunakan dalam perencanaan bangunan
pengolahan air minum ini. Alasan pemilihannya karena sistem aerasi tersebut
dapat menyisihkan gas CO2 agresif, zat organik dan senyawa ammonia. Ketiga
parameter tersebut merupakan parameter yang perlu dipertimbangkan untuk
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-13
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
dilakukan pengolahan agar air baku dari sungai dapat dijadikan sebagai air minum.
Waktu kontak udara dengan air relatif singkat kurang dari 2 detik, mampu
mereduksi 90% CO2.
Tabel 5.7
Karakteristik Alat Aerasi
Kriteria dan Desain
Cascade Towers
Transfer O2
-
Tinggi Hidrolis m (ft)
0,9 – 3 (3 – 10)
Waktu kontak udara (s)
0,5 – 1,5
Waktu Detensi
-
Aplikasi
Penyisihan CO2, kontrol bau dan rasa, nilai estetik
Sumber : Montgomery, 1985
Tipe cascade towers dapat mencegah korosi dan alga. Sebelum air baku masuk
ke dalam aerator akan melewati pintu sorong untuk menentukan besarnya debit air
baku yang akan diolah dan masuk ke dalam bak penampung.
5.4.1. Kriteria Desain Perencanaan
5.4.1.1. Bak Penampung
a) Waktu tinggal (td)
= 3 menit = 180 detik
b) Volume (V) = Q x td
= 0,4365 m3/detik x 180 det = 78 m3
c) maka panjang bak
= 4,3 m
d) lebar bak
= 4,3 m
e) tinggi bak
= 4,3 m
5.4.1.2. Aerator
-
Menggunakan Cascade Towers
-
Tinggi setiap tahap cascade = 0,5 m (Droste, Ronald R, 1997)
-
Menggunakan 10 tahap untuk 1 unit aerator (Droste, Ronald R,1997)
-
Luas yang dibutuhkan : 4 – 9 m2 (Droste, Ronald R,1997),
untuk 100 l/s  diambil 5 m2  (5/100) = 0,05 m2.s/l
-
Debit (Q) = 436,5 l/s
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-14
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
5.4.2. Perhitungan
-
Kedalaman
= 3- 5m
-
Lebar
= 5-9 m
-
Waktu Kontak
= 10 – 30 menit
-
Gas yang dibutuhkan = 10 – 100 l gas
untuk 100 l/s air  diambil 55 l  (20/100) = 0,15 m2.s/l
5.4.2.1. Luas Cascade
Luas cascade = 0,05 m2.s/l x 436,5 l/s = 21,825 m2
5.4.2.2. Dimensi Cascade
Panjang (P) : Lebar (L) = 1 : 1
Luas
= Panjang (L) x Lebar (L)
21,82 m2
=
L
= 4,67 m = 4,7 m
LxL
L = 4,7 m; P = 4,7 m
Panjang tiap cascade = 4,7/ 10 = 0,47 m
HL cascade = 0,5 x 10 = 5 m
Jadi, dimensi cascade towers yang dibutuhkan :
Panjang = 4,7 m
Lebar
= 4,7 m
Tinggi
=5m
Panjang tiap tahap = 0,47 m
5.4.2.3. Tenaga Pompa
Z2 – Z1 = 9 m
p
= 0,15 m
L
= 3,15 m
Qk
= 0,18 m3/s
Kehilangan tekanan sepanjang pipa (HM)
1
1
HM

 0 , 54

 0 , 54
Q
0,4365

  4,7
 L 
= 
2, 63 
2, 63 
0
,
2785
.
C
.
op


0
,
2785
.
130
.
0
,
15
HW




HM
= 13,53 m = 13 m
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-15
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Kehilangan tekanan pada fitting (Hm)
Hm = 30% x HM
Hm = 0,3 x 13 = 3,9 m
Kehilangan tekanan total (HT)
HT = (Z2 – Z1) + HM + Hm
HT = 9 + 13+ 3,9
HT =25,9 m
Tenaga pompa (Efisiensi = 75%)
P=
𝛾×𝑄×𝐻𝑡
𝜂
Keterangan :
P = daya pompa (kg m/dtk)
Q = debit (m3/dt)
 = efisiensi pompa, diasumsikan 75 %
= berat jenis air (pada suhu 27oC = 1017,1 kg/m3)
P=
1017,1 0,4365  25,9
 153,31  153kg.m / s
75
Karena 1 Hp = 75 kg. m/dtk maka daya pompa
=
153 / 75 = 2,04 Hp
1 Hp =745,7 watt maka, daya pompa = 2,04 Hp = 1521,2 watt
5.5. Koagulasi
Pada perencanaan ini, unit koagulasi yang digunakan adalah koagulasi yang
memanfaatkan gaya hidrolis sebagai pengaduk. Gaya hidrolis dimunculkan
dengan melewatkan air pada sebuah terjunan. Unit koagulasi terdiri atas
kelengkapan sebagai berikut:
1. Bak Koagulasi
2. Saluran menuju bak koagulasi
3. Bak pembubuh koagulan
4. Pompa pembubuh
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-16
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
5.5.1. Kriteria Desain
Tabel 5.8
Kriteria Desain Koagulasi Hidrolis dengan Terjunan
Kriteria
Gradien kecepatan (G)
Satuan
1/detik
Nilai
400 - 1000
Waktu detensi (td)
Headloss
Ketinggian pencampuran (H)
Bilangan Froud (Fr)
Rasio Kedalaman (Y2/Y1)
Detik
m
m
-
20 – 60
≥ 0,6
≥ 0,3
≥2
> 2,83
Sumber
Nasrullah & Oktiawan,
2005
Reynolds, 1982
Kawamura, 1991
Schulz dan Okun, 1984
Schulz dan Okun, 1984
Schulz dan Okun, 1984
5.5.2. Perencanaan
Jumlah bak (n)
=2
Tinggi terjunan (H)
=2m
Lebar bak (b)
=4m
Lebar terjunan (w)
=1m
G
= 400/detik
Td
= 20 detik
Massa jenis air
= 997 kg/m3
Keperluan IPA
= 10%
Debit rencana (Q)
= 436,5 l/detik = 0,4365 m/detik
Debit rencana (q) tiap bak = 0,4365 / 2 = 0,21825 m3/s
5.5.3. Perhitungan
a. Nilai Headloss
𝐻𝐿 =
𝐺 2 . 𝑡𝑑. 𝜇
4002 . 20.0,89𝑥10−3
=
= 2,86 𝑚
𝜌
997
> 0,6 (𝑚𝑒𝑚𝑒𝑛𝑢ℎ𝑖 𝑘𝑟𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑎)
b. Bilangan terjunan
q = Q / w = 0,21825 / 1 = 0,21825 m/s
q2
0,218252
D

 6,069 104
3
3
g.H
9,81.2
c. Panjang terjunan
Ld
= 4,3 x H x D0,27
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-17
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM

Ld  4,3  2  6,069 104
Ld  1,16m

0, 27
d. Kedalaman air di titik 1 (Y1) dan titik 2 (Y2)
Y1
= 0,54 x H x D0,425
= 0,54 x 2 x (6,069x10-4) 0,425
= 0,046 m
Y2
= 1,66 x H x D0,27
= 1,66 x 2 x (6,069x10-4) 0,27
= 0,45 m
Rasio kedalaman = Y2/Y1 = 0,45 / 0,046 = 9,8 > 2,83 (ok)
e. Bilangan Froud
9,8 
1
2
 1  8F 1
𝑌2 1
= ((√1 + 8𝐹 2 ) − 1)
𝑌1 2
2
F = 7,3 = 7 > 2 (memenuhi kriteria)
f. Panjang Loncatan Hidrolis
Untuk bilangan Fr = 7 maka L/Y2 = 6,1 (dari hasil plot pada grafik di atas)
L/Y2 = 6,1
L = 6,1 x Y2 = 6,1 x 0,45 = 2,745 m
g. Panjang bak setelah terjunan (Lb)
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-18
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Waktu loncatan hidrolis t2 = 2 detik (asumsi)
Waktu terjunan t1 = 1 detik
𝐿𝑏 =
Lb 
(𝑡𝑑 − 𝑡1 − 𝑡2) 𝑥 𝑄
𝑌2 𝑥 𝑏
20  1  2 0,21825  2,1m
0,45  4
h. Panjang bak unit koagulasi (Lmin)
Lmin = Ld + L + Lb = 1,16 + 2,745 + 2,1 = 6,005 = 6 m
i.Saluran Menuju Bak Koagulasi
Saluran beton dengan koefisien Manning (n) = 0,015
Lebar saluran (L)
= 10 cm = 0,1 m
Panjang saluran (p)
=6m
Freeboard
= 15 % dari h saluran m
 Tinggi muka air di atas saluran (h)
= Y2 + HL – H
h
= 0,45 + 2,86 – 2
= 1,31 m
Hsal = 1,31 + 0,2 (freeboard) = 1,33 m
 Kecepatan pada saluran
Vsal = Q / (Hsal x L) = 0,21825 / (1,33x 0,1) = 1,64 m/s
 Jari-jari hidrolis (R)
R=
L H
0,1 2

 0,07m
L  2h 0,1  (2 1,31)
 Kemiringan saluran (S)
S (
vsal.n 2 1,64  0,015 2
) (
)  0,021
2
R 23
0,07 3
 Headloss saluran
HLsal  S  p  0,021 6  0,126m
j.Bak Pembubuh Koagulan
Koagulan yang digunakan
= Aluminium Sulfat (Al2(SO4)3.14H2O)
Massa jenis = 134 gr/100 ml
= 1,34 kg/l
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-19
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Konsentrasi larutan alum
= 5%
Dosis alum maksimum
= 25 mg/l
Pembubuhan alum dilakukan 24 jam sekali
 Kebutuhan Alum
𝑀 = 𝑄 𝑥 𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑎𝑙𝑢𝑚
M  0,21825  25 1000  5456,25mg / dtk  471kg / hari
 Debit Koagulan
 M   471 
Q’=    
351L / hari  0,351m3 / hari
 p   1,34 
 Volume alum yang dibutuhkan selama pencampuran
Val = Q’ x t = 351 x 1 hari = 351 L = 0,351 m3
 Volume pelarut
1  0,05
1  Cal
 471
0,05
Cal
Vlar 
 td 
1  8,9  9m3
air
997
 Dimensi Bak Pembubuh
Diameter bak
= 2 meter
Luas alas bak
=
Ketinggian (h)
= Vol.Pelarut / luas alas = 9 / 3,14 = 2,8 m
Freeboard
= 0,2 m
1
𝜋𝑑 2 =
4
1
4
𝑥3,14𝑥22 = 3,14 𝑚2
 Pompa Pembubuh Koagulan
Jumlah pompa
= 2 buah (sesuai jumlah bak)
Efisiensi pompa
= 0,75
Head pompa yang disediakan (H)
= 10 m
Debit larutan alum (Qal) = 0,0806 m3/hari = 0,9 x 10-6 m3/s
 Massa jenis larutan yang akan dipompa:
𝜌=
1
1
=
= 1009,93 𝑘𝑔/𝑚3
𝐶𝑎𝑙 1 − 𝐶𝑎𝑙
0,05 1 − 0,05
+ 𝜌𝑎𝑖𝑟
1340 + 997
𝜌𝑎𝑙
 Daya pompa yang dibutuhkan:
𝑃=
𝜌𝑙 𝑥 𝑔 𝑥 𝑄𝑎𝑙 𝑥 𝐻
ALYA KARMILIA
21080117120036

=
1009,93 𝑥 9,81 𝑥 0,9 𝑥 10−6 𝑥 10
0,75
= 0,12 𝑤𝑎𝑡𝑡
V-20
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
k. Perhitungan Efisiensi Removal
Pada tahap koagulasi, paramater BOD, COD, TSS, & kekeruhan
mengalami removal treatment, namun perhitungan removal akan di
lanjutkan terlebih dahulu ke tahap flokulasi. Pada tahap koagulasi,
memiliki efisiensi removal sebesar 72,89% terhadap paramater warna
(Rani, 2013).
Tabel 5.9
Efisiesi Removal Koagulasi
Bangunan
Pengolahan
Nama
Removal
Kualitas
air baku
(mg/l)
% Efesiensi
Pengolahan
Nilai
Removal
Treatment
Sisa
Removal
Treatment
Koagulasi
Warna
60 TCU
72,89
43,734
16
5.6. Flokulasi
5.6.1. Kriteria Desain
Kriteria desain flokulasi (pengadukan lambat) beberapa jenis flokulator
adalah sebagai berikut:
Tabel 5.10
Kriteria Desain Unit Flokulasi
Kriteria Desain
Baffle
Channels
Gradien kecepatan (dt-1)
Waktu detensi (menit)
Tahapan flokulasi
Kec. aliran maksimum
Area blade/tangki
Blade: D/T
Shaft (rpm)
20 – 70
10 – 20
6 – 10
3 fps
-
Flokulator Mekanis
Horizontal Shaft
Vertical Shaft
dengan Paddle
dengan Blade
10 – 60
10 – 70
30 – 40
20 – 40
3–6
2–4
3 fps
6 – 9 fps
5 – 20 %
0,1 – 0,2 %
0,5 – 0,75
0,2 – 0,4
1–5
8 – 25
Sumber: Kawamura, 1991
5.6.2. Perencanaan
Tabel 5.11
Perencaan Unit Flokulasi
Keterangan
Jarak antar baffle
ALYA KARMILIA
21080117120036
Perencanaan
1m
V-21
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
Kedalaman (H)
Jumlah channel (n)
Jumlah belokan (n-1)
Kecepatan pengendapan (v)
Waktu detensi
5m
6 buah
5 buah (HL = 1-2 ft ≈ 0,3 – 0,6 m)
0,8975 x 10-6 m2/s
15 menit = 900 detik
Sumber: Analisis Penulis, 2019
5.6.3. Perhitungan
Dimensi Ruang
Q = 0,4365 m3/s
Volume Bak (V) = Q x td = 0,4365 m3/s x 900 s = 392,85 m3
Volume tiap zona = 392,85 m3 / 6 = 65,5 m3
H=5m
L:P=1:1
Maka P = √(65,5 m3 / 5 m )
P=
13,1 m
P = 3,6 m; L = 3,6 m
Jadi direncanakan masing-masing zona dengan H= 5 m ;P = 3,6 m; L =
3,6m.
Zona 1 :
a. Perhitungan Kecepatan Aliran (v):
v
Q
0,4365

 0,0873m / dtk
BH
1 5
b. Perhitungan Tinggi Muka Air (h):
v  td  G 2 0,8975 106  900  702
h

 4,03m
g
9,81
c. Perhitungan Gradien Kecepatan (G):
1
1
2
0,4365  4,03

 2
 Qh 
G

 0,875 10 6  5 13,1  55,4 / dtk

v  H  A


td = 900 dtk
G  td  55,4  900  49,860( sesuai )
d. Perhitungan Jari-Jari Hidrolis (R):
𝐵 𝑋 𝐻
R = 𝐵+2𝐻 =
ALYA KARMILIA
21080117120036
1 𝑥 5
1+2𝑥5
= 0,45
V-22
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
e. Perhitungan Slope (S):
2
 v.n   0,0873  0,012 
 0,000003
S =  2   
2

0,45 3
 R 3  

2
f. Perhitungan Volume Bak
Volume bak = Q x td = 0,4365 x 900 =392,85 m3
g. Perhitungan Panjang Lintasan (L)
L=
V
392,85

 79m
BH
1 5
h. Perhitungan jumlah Lintasan (N)
Jumlah lintasan (N) =
L 79

 7,9  8buah
Ls 10
i. Perhitungan Headloss (Kehilangan Tinggi Tekan)
Kehilangan tekanan pada belokan :
hf =
Kv2 1,5  0,08732

 5,83 104
2g
2  9,81
Headloss total sepanjang satu segmen Ls :
hf total = [
𝑄(𝐵+2𝐻)2/3 .𝑛.𝑁1/2 .𝐿𝑠1/2
]
(𝐵𝐻)5/3
2
𝑁.𝐾.𝑄 2
+ 2𝑔(𝐵𝐻)2
Hf total =
5.7. Sedimentasi
Menurut Reynolds (1982), sedimentasi adalah pemisahan zat padat - cair
yang memanfaatkan pengendapan secara gravitasi untuk menyisihkan padatan
tersuspensi. Sedimentasi terdiri atas empat zona, yaitu :
1. Zona Inlet
2. Zona Lumpur
3. Zona pengendapan
4. Zona outlet
5.7.1. Data Desain
Bentuk bangunan Rectangular Tank
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-23
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
P:L
=5:1
L:H
=6:1
Q inlet
= 436,5 L/dtk = 0,4365 m3/dtk
Q outlet
= 436,5 L/dtk – (3% x 436,5) = 423,4 L/dtk = 0,4234 m3/dtk
Beban permukaan (vo)
= 5,54 x 10-4 m/s
Kecepatan inlet dan outlet (v)
= 0,3 m/s
Td
= 1,5 jam = 5400 detik
Kedalaman bak (H)
=3m
Jarak antar plate (wp)
= 100 mm = 0,1 m
Tinggi plate (h)
=1m
Sudut kemiringan plate
= 60˚
Tebal plate
= 5 mm = 0,005 m
Faktor keamanan (K)
= 0,75
Viskositas kinematik air pada suhu 25˚C
= 0,893 x 10-6 m2/s
Tinggi air di V-notch (ho)
= 3 cm = 0,03 m
Tebal gutter
= 2 cm = 0,02 m
5.7.2. Kriteria Desain
Tabel 5.12
Kriteria Desain Sedimentasi
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Keterangan
Beban permukaan
Tinggi air
Td
Kemiringan plate
Panjang
Lebar
P:L
L:H
Freeboard
Re
Fr
Kecepatan
Removal efisiensi
Faktor keamanan
Unit
M/jam
M
Jam
˚
M
M
M
m/mnt
%
Kriteria desain
0,83 – 2,5
3–5
1,5 – 4
60 – 90
30
10
6:1 – 4:1
3:1 – 6:1
0,6
< 2000
> 10-5
0,3 – 1,7
50 – 70
0 –1
Sumber: Kawamura, 1991
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-24
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
5.7.3. Rumus Perhitungan Desain
5.7.3.1. Zona Inlet
ALYA KARMILIA
21080117120036
V-25
Download